PEMANFAATAN KULIT BAKAU ( Rhizophora

advertisement
Ecogreen Vol. 2 No. 2, Oktober 2016
Halaman 89 – 96
ISSN 2407 - 9049
PEMANFAATAN KULIT BAKAU (Rhizophora mucronata) SEBAGAI
BAHAN PENGAWET BAMBU BETUNG (Dendrocalamus asper)
TERHADAP SERANGAN KUMBANG BUBUK (Dinoderus minutus)
Mangrove Bark Extract (Rhizophora mucronata) On Durability Of Bamboo Betung
(Denrocalamus asper) Against Powder Beetles Attacks (Dinoderus minutus)
Nurhayati Hadjar♠, Niken Pujirahayu dan Muh. Khaeruddin
Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo.
♠
Email : [email protected]
ABSTRAK
Bambu merupakan salah satu sumber daya alam Non kayu yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia.
Permasalahan yang sering ditemukan adalah bambu mudah terserang kumbang bubuk, dan untuk mengatasi kendala tersebut
perlu perlakuan pengawetan agar umur pakai bambu bisa lebih lama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh berbagai konsentrasi kulit bakau terhadap peningkatan retensi bahan pengawet bambu Betung dan daya tahan
bambu dari serangan kumbang bubuk. Pengaplikasian bahan pengawet menggunakan metode perendaman panas dengan
konsentrasi bahan pengawet 5%, 10% dan 15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bahan pengawet ekstrak
kulit Bakau memberikan pengaruh sangat nyata terhadap retensi dan penurunan berat. Perlakuan pemberian konsentrasi
15% memberikan hasil yang terbaik pada peubah retensi, dan derajat kerusakan keawetan bambu Betung. Bagian pangkal
bambu lebih rentan terhadap serangan kumbang bubuk dibandingkan dengan bagian tengah dan ujung bambu sehingga
diperlukan konsentrasi bahan pengawet yang lebih tinggi.
Kata kunci : Bambu Betung, pengawetan, ekstrak kulit Bakau, serangga bubuk.
PENDAHULUAN
Salah satu hasil hutan non kayu yang
banyak
dimanfaatkan
oleh
masyarakat
Indonesia adalah bambu. Bambu dapat
dijadikan sebagai bahan alternatif pengganti
kayu untuk mengatasi kelangkaan pasokan
bahan baku kayu bagi industri perabotan.
Bambu sebagai bahan baku mempunyai
beberapa keunggulan yaitu mudah ditanam,
laju
pertumbuhan
yang
cepat,
tidak
memerlukan pemeliharaan secara khusus,
mudah didapat, harganya murah, mudah diolah
dan pada arah sejajar serat mempunyai sifat
mekanik yang lebih baik dari pada kayu.
Perkembangan dunia industri dan mesin-mesin
pengolahan membuat bambu juga dapat diolah
menjadi panel komposit struktural seperti
plywood, particleboard, sandwich board, strand
board yang memiliki kekuatan sebanding
dengan kayu (Nurkertamanda, 2011).
Salah satu kelemahan bahan baku bambu
adalah tingkat keawetan alami yang rendah
sehingga rentan terhadap organisme perusak
seperti kumbang bubuk dan rayap. Frekuensi
kerusakan bambu yang disebabkan serangga
cukup tinggi yaitu 92,6 %. Kerusakan ini
disebabkan oleh rayap kayu kering sebesar 51
%, bubuk kayu kering sebesar 18 % dan sisanya
31% disebabkan oleh rayap tanah dan
kumbang Xylocopha sp (Barly, 2009).
Peningkatan
ketahanan
terhadap
organisme perusak dapat dilakukan dengan
cara pengawetan. Pengawetan bertujuan untuk
menggantikan bahan-bahan bambu yang
disukai oleh organisme perusak dengan bahan
lainnya yang berfungsi sebagai racun sekaligus
memperpanjang umur pakai produk bambu.
Bahan pengawet yang lazim digunakan
dalam pengawetan bambu adalah boraks yang
merupakan bahan kimia beracun, efektif dalam
membunuh serangga/organisme perusak tetapi
berbahaya bagi manusia dan dapat mencemari
lingkungan. Pengawetan kayu atau bambu
menggunakan bahan kimia hasil sintesis pada
akhirnya dapat menimbulkan efek samping
terhadap lingkungan karena tidak dapat
diuraikan secara alami dan tidak dapat
diperbaharui
Upaya yang bisa dilakukan untuk
meningkatkan keawetan bambu salah satunya
yaitu dengan melakukan proses pengawetan
terutama pengawetan dengan menggunakan
bahan-bahan alami. Bahan-bahan alami
tersebut dapat diisolasi atau diekstrak dari
tumbuh-tumbuhan. Beberapa hasil penelitian
menunjukkan bahwa ekstrak bagian tanaman
seperti dari kayu, kulit batang, daun, bunga,
Pemanfaatan Kulit Bakau sebagai Pengawet Bambu – Nurhayati Hadjar et al.
buah
dan
biji
berpotensi
mencegah
pertumbuhan jamur dan serangga perusak
kayu. Yanti (2008), menyatakan bahwa
kandungan zat ekstraktif terbanyak yang
terdapat pada bagian tanaman selain pada kayu
teras juga terdapat pada kulit batangnya.
Pohon Bakau (Rhizophora mucronata)
merupakan salah satu tanaman yang memiliki
kandungan tanin yang besar terutama di bagian
kulitnya. Pohon bakau juga merupakan
tanaman yang berpotensi dijadikan alternatif
bahan pengawet alami. Komponen kimia aktif
yang terdapat dalam ekstraktif kayu bakau
adalah tanin, saponin, flavonoid dan quinon
(Yusro, 2010) dan kandungan tanin pada kulit
kayu bakau mencapai 26% (Danarto et al.,
2011). Tanin yang terdapat pada kulit kayu dan
kayu dapat berfungsi sebagai penghambat
kerusakan akibat serangan serangga dan jamur,
karena memilki sifat antiseptik (Hathway, 1962
dalam Risnasari, 2002).
Berdasarkan hal tersebut, maka dirasa
perlu melakukan penelitian untuk melihat
pengaruh ekstrak kulit bakau (Rhizophora
mucronata) sebagai bahan pengawet bambu
Betung (Dendrocalamus asper) terhadap
serangan Kumbang Bubuk (Dinoderus minutus).
METODE PENELITIAN
Penelitian
ini
dilaksanakan
di
Laboratorium Jurusan Kehutanan Fakultas
Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas
Halu Oleo, Kendari.
Bahan yang digunakan adalah bambu
Betung (Dendrocalamus asper) sebanyak 3
batang, kulit kayu Bakau yang telah dibersihkan
dan dihancurkan, aquadest untuk melarutkan
pengawet, kantong plastik, dan kertas label.
Alat yang digunakan meliputi peralatan
di lapangan dan di laboratorium. Peralatan di
lapangan berupa kapak, gergaji manual, parang,
meter, dan kamera digital. Sedangkan peralatan
yang digunakan di laboratorium timbangan
analitik, blender kayu, gelas kimia ukuran 1000
ml, saringan berukuran 40 – 60 mesh, hot plate,
kaliper digital, oven dan alat tulis-menulis.
Pengambilan contoh uji
Bambu yang digunakan adalah bambu
jenis betung yang sudah agak tua. Pemilihan
jenis bambu dan bagian bambu yang digunakan
90
dipengaruhi oleh faktor kerentanan bambu
terhadap kumbang bubuk dan juga tingkat
kadar air dan kandungan pati yang dimiliki oleh
bagian tersebut. Contoh uji kemudian dibuat
dalam bentuk bilah yang berasal dari bagian
pangkal, tengah dan ujung sebatang bambu
dengan ukuran panjang 10 cm, lebar 2,5 cm dan
tebal bilah menyesuaikan tebal bambunya
dengan ulangan 3 kali sehingga tersedia 12
contoh uji. Bilah bambu yang digunakan adalah
bambu bagian dalam yang sudah dibuang
bagian kulit terluar (Nurketamanda et al. 2011).
Pengeringan bambu
Sebelum diawetkan, bambu harus dalam
kondisi kering udara, sampel dikeringkan untuk
menurunkan kadar air bambu sehingga akan
mempermudah penyerapan zat yang terdapat
dalam bahan pengawet (ekstrak kulit bakau).
Pada tahap ini, bambu dikeringkan dengan
menggunakan oven selama kurang lebih 4 jam
dengan suhu 600C hingga kadar air bambu
mencapai 12 %. Rata-rata kadar air bambu
sebelum proses pengeringan yaitu 22 % untuk
bagian luar bambu dan 24 % untuk bagian
dalam bambu. Kemudian diukur panjang dan
lebar untuk menghitung volume, kemudian
ditimbang untuk mengetahui berat kayu
sebelum pengawetan (Bo).
Perhitungan
besarnya kadar air menurut Rochadi (1996)
dalam Handayani (2007), adalah sebagai
berikut:
W air (%) =
(W1 W2)
W2
x 100 %
dimana:
W air = Kadar air (%)
W1 = Berat spesimen bambu awal (gr)
W2 = Berat spesimen bambu akhir (gr).
Persiapan bahan pengawet
Kulit kayu bakau diambil dari pohonnya
secara acak, lalu dipotong kecil-kecil dan
diblender menjadi serbuk kemudian disaring
dengan menggunakan saringan berukuran 60
mesh.
Pembuatan ekstrak kulit bakau
menggunakan 3 variasi konsentrasi yaitu 50,
100 dan 150 gram/liter (5%, 10% dan 15%).
Ekstrak kulit bakau diperoleh dengan cara
merebus serbuk kulit bakau dalam air panas
didalam suatu penangas air panas sampai
Ecogreen Vol. 2(2) Oktober 2016, Hal 89 - 96
mendidih sehingga diperoleh larutan ekstrak
kulit bakau di dalam air yang digunakan untuk
merebus bilah bambu betung.
Proses pengawetan
Metode pengawetan yang digunakan
adalah metode perendaman panas bambu pada
suhu 55oC - 65oC selama 60 menit.
Sampel-sampel
bambu
direndam
kedalam larutan ekstrak kulit bakau yang
bersuhu 60o C. Suhu perendaman dikontrol
dengan menggunakan kompor listrik agar
larutan tetap berada pada suhu 55oC - 65oC
selama 60 menit. Setelah proses pengaplikasian
bahan pengawet, bambu langsung dikeringkan
kembali ke kondisi kering udara.
Pengujian terhadap serangga kumbang bubuk
Contoh uji dibiarkan didalam ruang gelap
pada suhu kamar (kering angin), tanpa
diletakkan serangga bubuk pada contoh uji,
dibiarkan selama 3 bulan, akan tetapi diamati
secara berkala setiap 1 bulan, apakah timbul
lubang-lubang jarum dan serbuk kuning pada
permukaan kulit bambu, kemudian ditimbang
untuk menentukan berat contoh uji (Susilaning
dan Suheryanto, 2012).
Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan
Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan yaitu
posisi bambu pada bagian pangkal (P), tengah
(T), ujung (U) dan konsentrasi bahan pengawet
K0 (0%), K1 (5%), K2 (10%), K3 (15%) Tarigan
et al. (2012), yang terdiri dari 12 kombinasi
perlakuan untuk variabel derajat kerusakan
dan diulang sebanyak 3 kali, 12 x 3 = 36 unit
percobaan. Untuk variabel retensi terdiri dari 9
kombinasi perlakuan tanpa kontrol dan diulang
sebanyak 3 kali, 9 x 3 = 27 unit percobaan.
Variabel Yang Diamati
1. Retensi
Retensi adalah jumlah bahan pengawet
tanpa larutan yang telah masuk kedalam
bambu, yang merupakan selisih berat berat
kering angin contoh uji sebelum dan setelah
pengawetan. Menurut Tarigan et al. (2012),
retensi dapat dihitung dengan rumus:
R=
(B1 B0)
V
xK
Dimana :
R
= retensi bahan pengawet (Kg/m3)
B1 = berat sebelum diawetkan (g)
B0 = berat setelah diawetkan (g)
K
= konsentrasi larutan (%)
V
= volume contoh uji (m3).
2.
Derajat Kerusakan
Menurut Susilaning dan Suheryanto
(2012), skala yang digunakan untuk mengukur
derajat
kerusakan
didasarkan
pada
pengurangan berat contoh uji (tanpa
pengumpanan) untuk kemudian dibandingkan
dengan kontrol. Dihitung dengan menggunakan
persamaan:
P=
(W1 W2)
W1
x 100 %
Dimana:
P
= penurunan bobot, dinyatakan dalam
persen (%)
W1 = bobot awal contoh uji kering oven,
dinyatakan dalam gram (g)
W2 = bobot akhir contoh uji kering oven,
dinyatakan dalam gram (g).
Tabel 1. Klasifikasi ketahanan bambu terhadap
serangan kumbang bubuk secara
visual.
Kelas
Ketahanan
Derajat Kerusakan
Nilai
I
Sangat kuat
Utuh, atau serangan
ringan: ≤ 5%
Serangan ringan: 6–
15 %
Serangan
sedang,
berupa
saluran–
saluran
yang
dangkal dan sempit :
16–30 %
Serangan
berat,
berupa saluran yang
dalam dan lebar: 3150 %
Serangan
sangat
berat : > 50 %
0
II
III
Tahan
Sedang
IV
Tidak
tahan
V
Sangat
tidak tahan
Sumber: SNI 7207:2014.
40
70
90
100
Analisis Data
Data primer dianalisa menggunakan
Anova (Analysis of variance), selanjutnya untuk
mengetahui perbedaan antar perlakuan maka
91
Pemanfaatan Kulit Bakau sebagai Pengawet Bambu – Nurhayati Hadjar et al.
pengujian dilanjutkan dengan uji nyata DMRT
(Duncan Multiple Range Test) jika berpengaruh
nyata pada taraf kepercayaan 95%. Analisis
data dilakukan dengan alat bantu software SAS
9.1.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Retensi
Nilai rata-rata retensi pada pengaruh
perlakuan beda konsentrasi bahan pengawet
kulit Bakau disajikan pada tabel 2.
Tabel 2. Rata-Rata Retensi Pada Pengaruh
Perlakuan Beda Konsentrasi bahan
Pengawet Kulit Bakau.
Retensi
P
T
5%
0,12
0,18
10%
0,43
0,45
15%
0,63
0,64
Ket : P = pangkal; T= tengah; U = ujung.
Konsentrasi
U
0,11
0,48
0,21
Rata-Rata
0,14
0,45
0,49
Tabel 3. Hasil Uji Lanjut DMRT Pengawetan
Bambu Pada Berbagai Konsentrasi
Bahan
Pengawet
Kulit
Bakau
Terhadap Retensi.
Perlakuan
PK1
PK2
PK3
TK1
Rata-Rata Retensi
0,12d
0,43abc
0,63a
0,18cd
TK2
0,45abc
UK1
0,12d
TK3
UK2
UK3
DMRT 95%
(Kg/m3)
0,64a
0,47ab
0,20bcd
18
Ket :Huruf yang berbeda pada kolom yang sama
adalah berbeda nyata pada taraf
kepercayaan 95%.
Hasil uji lanjut DMRT pada Tabel 3, dapat
dilihat bahwa pemberian konsentrasi pengawet
sebesar 15% (PK3 dan TK3) adalah perlakuan
terbaik terhadap retensi.
Derajat Kerusakan
Untuk menentukan ketahanan bambu
terhadap serangan dilakukan dengan cara
menentukan persentase penurunan berat
92
setelah bambu tersebut diserang oleh hama
perusak bambu. Secara detail hubungan antara
ketahanan bambu dan persentase penurunan
berat dapat dilihat pada Tabel 4. Dimana
semakin rendah persentase penurunan berat
bambu setelah diserang hama perusak bambu
maka semakin baik ketahanan bambu tersebut.
Tabel 4. Hasil Uji Lanjut DMRT Pengawetan
Bambu Pada Berbagai Konsentrasi
Bahan
Pengawet
Kulit
Bakau
Terhadap Penurunan Berat.
Rata-Rata Penurunan Berat
Perlakuan
(%)
PK0
45,23a
PK1
39,07ab
TK0
28de
PK2
PK3
TK1
36,69bc
29,38cd
27,68de
TK2
26,62def
UK1
19,02fgh
TK3
UK0
UK2
UK3
17,78gh
20,15efg
20,52efg
10,94h
DMRT
22
95%
Ket: Huruf yang berbeda pada kolom yang sama
adalah berbeda nyata pada taraf
kepercayaan 95%.
Hasil uji lanjut DMRT pada tabel 4, dapat
dilihat bahwa PK0 (kontrol) adalah cenderung
memberikan hasil tertinggi pada parameter
penurunan berat, namun hasil yang terbaik
terdapat pada perlakuan UK3.
Tabel 5. Derajat Kerusakan Pada Posisi Bambu
Dalam Batang.
Posisi
Rata-rata Penurunan Berat (%)
Bambu
Tanpa
Diberi
dalam
Pengawet
Pengawet
Batang
P
45,23
35,04
T
28,00
24,02
U
20,15
20,01
Rata-Rata
31,12
26,35
Ket : P = pangkal; T
= tengah; U = ujung.
Persen Penurunan Berat (%)
Ecogreen Vol. 2(2) Oktober 2016, Hal 89 - 96
40
30
20
10
0
31.12
0%
28.59
5%
27.94
10%
19.36
15%
Konsentrasi Larutan Serbuk Tanin Kulit Bakau
Gambar 1. Histogram pengaruh beda
konsentrasipengawet kulit bakau terhadap
penurunan berat.
Histogram pada Gambar 1 menunjukkan
persentase penurunan berat tertinggi terdapat
pada konsentrasi 0% (K0) yakni sebesar
31,12% dan terendah pada perlakuan
konsentrasi 15% (K3) yakni sebesar 19,36%.
Pembahasan
Retensi
Setiap
metode
pengawetan
yang
digunakan, bertujuan untuk memasukan bahan
pengawet sedalam dan sebanyak yang
dipersyaratkan. Menurut Nandika
et al.
(1996) dalam Meiyandi (2013), efektivitas
pengawetan kayu tidak hanya ditentukan oleh
sifat-sifat yang dimiliki oleh bahan pengawet,
akan tetapi juga ditentukan oleh jumlah bahan
pengawet yang masuk ke dalam kayu.
Berdasarkan hasil uji lanjut DMRT, pada
taraf kepercayaan 95% menunjukkan bahwa
pemberian bahan pengawet dengan konsentrasi
15% (K3) memberikan pengaruh terbaik pada
parameter retensi dibandingkan dengan
perlakuan yang lainnya.
Pengaruh konsentrasi pengawet menjadi
satu-satunya perlakuan yang berpengaruh
sangat nyata pada hasil pengamatan retensi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin
tinggi konsentrasi pengawet serbuk kulit
Bakau, maka semakin tinggi pula retensi bahan
pengawet yang diperoleh. Hal ini menunjukkan
bahwa semakin tinggi konsentrasi pengawet
maka semakin banyak pula ekstrak bahan
pengawet yang terdifusi ke dalam bambu. Hal
ini didukung oleh penelitian yang dilakukan
Tarigan et al. (2012), dimana peningkatan
konsentrasi pengawet larutan asam asetat dari
konsentrasi 10% - 25% pada kayu Kemiri
(Aleurites moluccana) dapat meningkatkan nilai
retensi. Sesuai dengan penelitian Mandasyari
(2007) dalam Tarigan et al. (2012), bahwa
semakin tinggi konsentrasi pengawet yang
digunakan maka semakin besar nilai retensi
bahan pengawet yang didapat.
Hasil penelitian menunjukkan pula
bahwa rata-rata nilai retensi yang diperoleh
masih belum memenuhi standar yang telah
ditentukan, baik untuk penggunaan di dalam
maupun di luar ruangan. Secara umum ratarata nilai retensi yang diperoleh lebih rendah
dari nilai standar (0,14 hingga 0,49 Kg/m3
berbanding 8,0 Kg/m3 (di bawah atap) dan 11,9
Kg/m3 (di luar atap) sebagaimana SNI 035010.1-1999).
Rendahnya konsentrasi pengawet serbuk
kulit Bakau diduga menjadi penyebab
rendahnya hasil retensi bahan pengawet pada
bambu Betung. Menurut Sulthoni (1985) dalam
Susanti (2001), retensi bahan pengawet
tergantung pada beberapa faktor, seperti
konsentrasi bahan pengawet, lama pengawetan,
sifat bahan kimia yang digunakan umur dan
dimensi bambu, kadar air dan sebagainya.
Penyebab rendahnya nilai retensi yang
dihasilkan diduga karena bahan pengawet. Hal
ini diduga karena pelarut tanin pada kulit
Bakau yang menggunakan air. Menurut
Hathway (1962) dalam Risnasari (2002),
umumnya
tanin
diekstrak
dengan
menggunakan pelarut air, karena lebih murah
dan hasil yang relatif cukup tinggi, tetapi tidak
menjamin jumlah senyawa polifenol yang ada
dalam bahan tanin tersebut.
Menurut
Browning (1966) dalam Risnasari (2002),
untuk memperoleh ekstrak dengan kualitas dan
kuantitas yang tinggi, maka umumnya
digunakan etanol atau asetol dengan
konsentrasi volume air yang sebanding.
Derajat Kerusakan
Derajat kerusakan adalah salah satu
tolak ukur untuk melihat intensitas serangan
serangga bubuk bambu. Derajat kerusakan
dinyatakan sebagai persentase perbandingan
antara penurunan berat yang diberi perlakuan
terhadap penurunan berat contoh uji kontrol,
sehingga faktor-faktor yang mempengaruhinya
tidak berbeda dengan faktor-faktor yang
93
Pemanfaatan Kulit Bakau sebagai Pengawet Bambu – Nurhayati Hadjar et al.
mempengaruhi nilai pengurangan berat
(Susilaning dan Suheryanto, 2012).
Untuk menentukan ketahanan bambu
terhadap serangan hama perusak bambu
dilakukan dengan cara menentukan persentase
penurunan berat setelah bambu tersebut
diserang hama perusak bambu. Secara detail
klasifikasi ketahanan bambu terhadap serangan
kumbang bubuk secara visual berdasarkan
pada persentase penurunan berat dapat dilihat
pada Gambar 1., dimana semakin rendah
penurunan berat bambu setelah diserang hama
perusak bambu maka semakin baik ketahanan
bambu tersebut.
Berdasarkan hasil uji lanjut DMRT, pada
taraf kepercayaan 95% menunjukkan bahwa
bambu yang tidak diberikan perlakuan dalam
hal ini sebagai kontrol mengalami penurunan
berat yang lebih besar dibandingkan dengan
bambu yang diberikan perlakuan, dalam hal ini
pemberian bahan pengawet tanin dari kulit
Bakau. Menurut Yusro (2010), pohon bakau
merupakan tanaman yang berpotensi dijadikan
alternatif bahan pengawet alami. Komponen
kimia aktif yang terdapat dalam ekstraktif kayu
bakau adalah tanin, saponin, flavonoid dan
quinon. Tanin yang terdapat pada kulit kayu
dan kayu dapat berfungsi sebagai penghambat
kerusakan akibat serangan serangga dan jamur,
karena memilki sifat antiseptik (Hathway, 1962
dalam Risnasari, 2002).
Pada perlakuan beda konsentrasi
pengawet (Gambar 4) penurunan berat
keempat
konsentrasi
pengawet
yang
diaplikasikan memberikan pengaruh sangat
nyata. Hal tersebut disebabkan selisih persen
penurunan berat setiap konsentrasi pengawet
yang cukup jauh. Penurunan berat terendah
terdapat pada konsentrasi pengawet 15% (K3)
dengan nilai sebesar 19,36%. Sedangkan
penurunan berat yang tertinggi terdapat pada
konsentrasi pengawet 0% (K0) dengan nilai
sebesar 31,12%. Adapun penurunan berat yang
terdapat pada konsentrasi 5% (K1) dan 10%
(K2) sebesar 28,59% dan 27,94%.
Penentuan kelas ketahanan kayu/bambu
terhadap serangan kumbang bubuk didasarkan
pada presentase penurunan berat. Tingkat
ketahanan bambu terhadap serangan kumbang
bubuk didasarkan pada SNI 7207:2014 (Tabel
1).
94
Berdasarkan
Klasifikasi
ketahanan
bambu bagian konsentrasi pengawet 5% (K1),
10% (K2) dan 15% (K3) termasuk dalam
tingkat ketahanan yang sedang dengan kelas
kawetan III dimana telah terjadi serangan
sedang, berupa saluran–saluran yang dangkal
dan sempit. Sedangkan pada bagian konsentrasi
pengawet 0% (K0) termasuk dalam tingkat
ketahanan tidak tahan dengan kelas keawetan
IV dimana telah terjadi serangan berat, berupa
saluran yang dalam dan lebar. Dengan kata lain
pengawet serbuk tanin kulit Bakau dapat
meningkatkan kelas keawetan bambu Betung
dari kelas awet IV tanpa bahan pengawet
menjadi kelas awet III dengan bahan pengawet.
(a)
(b)
Gambar 2. Ketahanan bambu,
(a) serangan sedang berupa saluran yang
dangkal dan sempit; (b) serangan berat berupa
saluran yang dalam lebar.
Berdasarkan rata-rata penurunan berat
pada posisi bambu dalam batang, derajat
kerusakan masing-masing pada bagian pangkal
(P), tengah (T) dan ujung (U) baik yang
diawetkan maupun tidak diawetkan yang paling
besar serangannya terdapat pada bagian
pangkal (P) dengan nilai rata-rata penurunan
berat sebesar 45,23% (tanpa pengawet)
35,04% (diberi pengawet). Bagian tersebut
menunjukkan perbedaan yang nyata pada
bagian tengah (T) dan ujung (U) dimana selisih
persentase penurunan berat ketiga bagian
tersebut sangat jauh. Hal ini disebabkan karena
kandungan pati yang terdapat pada bagian
pangkal (P) bambu sangat tinggi dibandingkan
dengan bagian tengah (T) dan ujung (U)
sehingga lebih mudah diserang oleh hama
perusak dalam hal ini kumbang bubuk dan
jumlah pati yang dikandung bambu sangat
menentukan keawetan bambu. Dari data ini
dapat dilihat bahwa semakin ke arah ujung
bambu, maka kandungan pati semakin rendah.
Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan
Duryatmo (2000) dalam Yusuf (2007), bambu
Ecogreen Vol. 2(2) Oktober 2016, Hal 89 - 96
yang kandungan patinya lebih tinggi lebih
rentan terhadap serangan kumbang bubuk
dibandingkan bambu yang kandungan patinya
lebih rendah dimana kandungan pati yang
terdapat pada bagian pangkal (0,61%) bambu
lebih besar dibandingkan dengan bagian tengah
(0,53%) dan ujung (0,50%) bambu.
Beberapa penelitian salah satunya yaitu
penelitian yang dilakukan oleh Tarigan et al.
(2012), menunjukkan bahwa, semakin tinggi
retensi bahan pengawet pada kayu/bambu
maka semakin rendah pula pengurangan berat
kayu/bambu
tersebut
akibat
serangan
organisme perusak. Meskipun rata-rata retensi
yang diperoleh belum memenuhi standar SNI
03-5010.1-1999, penggunaan ekstrak kulit
bakau sebagai bahan pengawet cukup untuk
menaikkan kelas awet pada bambu Betung.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan
pembahasan maka kesimpulan yang dapat
diambil pada penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Ekstrak kulit bakau dapat meningkatkan
keawetan bambu betung terhadap
serangan kumbang bubuk dari kelas awet
IV menjadi kelas awet III.
2. Perlakuan pemberian larutan konsentrasi
pengawet 15% memberikan hasil yang
terbaik terhadap peningkatan retensi
bahan pengawet bambu betung dan daya
tahan bambu dari serangan kumbang
bubuk.
3. Bagian pangkal bambu lebih rentan
terhadap serangan kumbang bubuk
dibanding dengan bagian tengah dan ujung
sehingga perlu pemberian konsentrasi
pengawet yang tinggi.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah
dilaksanakan, maka disarankan:
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
terhadap konsentrasi bahan pengawet
yang digunakan dengan menambahkan
konsentrasi bahan pengawet sehingga
dapat diperoleh hasil yang optimal.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
terhadap lama waktu perendaman dan
keawetan bambu betung terhadap faktor
3.
perusak biologis lainnya yaitu terhadap
serangan jamur perusak.
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
terhadap
pemberian
konsentrasi
pengawet pada bagian pangkal harus lebih
banyak daripada bagian ujung.
DAFTAR PUSTAKA
Arif A.M, Natsir U, Fatmawaty S. 2012. Sifat Anti
Rayap Dari Ekstrak IjukAren (Arenga
pinnata Merr). Jurnal Parrenial 3:1518.
Barly.2009. Standarisasi Pengawetan Kayu dan
Bambu Serta Produknya. Prosiding
PPI StandarisasiPusat Penelitian dan
Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.
DanartoY.C, Prihananto S.A, Pamungkas Z.A.
2011. Pemanfaatan Tanin dari Kulit
Kayu Bakau sebagai PenggantiGugus
Fenol pada Resin Fenol Formaldehid.
Jurusan Teknik Kimia FT UNS.
Surakarta.
Handayani S. 2007. Pengujian Sifat Mekanik
Bambu (Metode Pengawetan Dengan
Boraks). [Skripsi] Fakultas Teknik
Universitas Negeri Semarang.
Meiyandi D. 2013. Pengawetan Kayu Jabon
(Anthocephalus
cadamba
Roxb.
Miq)dengan Bahan Pengawet DiffusolCB. [Skripsi] Departemen Hasil
Kehutanan
Fakultas
Kehutanan
Institut Pertanian Bogor.
Nurkertamanda D, Andreina W, Widiani M.
2011. Pemilihan Parameter Pre
Treatment Pada Proses Pengawetan
Bambu Leminasi. Jurnal J@TI Undip,
Vol VI, No 3.
Risnasari I. 2002. Tanin. Digital libraryFakultas
PertanianJurusan
Ilmu
KehutananUniversitas
Sumatera
Utara.
SNI Standar Nasional Indonesia 03-5010.11999.,1999. Pengawetan Kayu Untuk
Perumahan dan gedung. Badan
Standar Nasional (BSN) Indonesia.
Jakarta.
SNI Standar Nasional Indonesia 7207:2014.,
2014. Uji Ketahanan Kayu dan
Terhadap Organisme Perusak Kayu.
Badan Standar Nasional (BSN)
Indonesia. Jakarta.
95
Pemanfaatan Kulit Bakau sebagai Pengawet Bambu – Nurhayati Hadjar et al.
Susanti E. 2001. Pengawetan Bambu Tali
(Gigantochloa apus Kurz) dengan
Menggunakan Metode Boucherie.
[Skripsi] Jurusan Teknologi Hasil
Hutan Fakultas Kehutanan Institut
Pertanian Bogor.
Susilaning L dan Suheryanto D. 2012.Pengaruh
Waktu Perendaman Bambu dan
Penggunaan Borak-Borik Terhadap
Tingkat Keawetan Bambu. Prosiding
SeminarNasional Aplikasi Sains &
Teknologi
(SNAST)
Periode
III.Yogyakarta.
Tarigan F.H, Hakim L dan Hartono R. 2012.
Asetilasi Kayu Kemiri
(Aleurites
moluccana),
Durian
(Durio
zibethinus), dan Manggis (Garcinia
mangostana). [Skripsi] Program Studi
Kehutanan,
Fakultas
Pertanian,
Universitas Sumatera Utara. Medan.
Yanti H. 2008. Bioaktivitas Ekstraktif Kulit
AkasiaAcacia auriculiformis A. Cunn.
Ex.
Benth
Terhadap
Rayap
TanahCoptotermes
curvignathus
Holmgren. Jurnal Tengkawang. 2:8293.
Yusro F. 2010. Rendemen Ekstrak Etanol dan Uji
Fitokimia Tiga Jenis Tumbuhan Obat
Kalimantan
Barat.
Jurnal
Tengkawang. 1:29-36.
Yusuf M. 2007. Penurunan Kadar Pati Bambu
Hitam (Gigantochloa atroviolaceae
Widjaja) oleh Fermentasi suspensi
Bakteri Biakan Murni dengan Metode
Vertical Soak Diffusion. [Skripsi]
Departemen Kehutanan Fakultas
Pertanian
Universitas
Sumatera
Utara. Medan.
96
Download