Templat tesis dan disertasi

advertisement
PEMANFAATAN SENYAWA METABOLIT BAKTERI ENDOFIT
UNTUK MENEKAN CENDAWAN PATOGEN TERBAWA BENIH
KEDELAI
NOVI MALINDA
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Pemanfaatan Senyawa
Metabolit Bakteri Endofit untuk Menekan Cendawan Patogen Terbawa
Benih Kedelai adalah benar karya saya denganarahan dari komisi pembimbing
dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun.
Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun
tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan
dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, November 2015
Novi Malinda
NIM A352130091
RINGKASAN
NOVI MALINDA.Pemanfaatan Senyawa Metabolit Bakteri Endofit untuk
Menekan Cendawan Patogen Terbawa Benih Kedelai. Dibimbing oleh BONNY
POERNOMO WAHYU SOEKARNO dan TITIEK SITI YULIANI.
Salah satu kendala dalam penyediaan benih kedelai yang bermutu adalah patogen
terbawa benih yang dapat menyebabkan kejadian penyakit pada tanaman di
lapangan. Cendawan merupakan salah satu kelompok patogen terbawa benih yang
penting. Salah satu pengendalian cendawan patogen terbawa benih adalah dengan
menggunakan bakteri endofit. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bakteri
potensial dan mengetahui kemampuan bakteri endofit beserta senyawa
metabolitnya untuk menghambat pertumbuhan cendawan patogen terbawa benih.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Balai Proteksi Tanaman
Pangan dan Hortikultura Medan Sumatera Utara dan Laboratorium Mikologi
Tumbuhan Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian
Bogor.Isolasi bakteri endofit dari tanaman kedelai dilakukan dengan
menggunakan metode sterilisasi permukaan sedangkan isolasi cendawan patogen
dilakukan dengan metode inkubasi yaitu blotter test. Pemilahan bakteri yang
berpotensi dilakukan dengan uji respons hipersensitif pada daun tembakau dan uji
daya hambat bakteri terhadap cendawan Fusarium oxysporum. Ekstraksi senyawa
metabolit dilakukan dari ketiga bakteri yang berpotensi.Senyawa metabolit yang
diperoleh diuji terhadap cendawan patogen secara in vitro dan in vivo untuk
mengetahui metabolit yang paling berpotensi menekan pertumbuhan F.
oxysporum.
Hasil pengujian menunjukkan dari 48 isolat bakteri endofit nonpatogenik
yang dapat diisolasi terdapat tiga bakteri endofit potensial yang mampu
menghambat pertumbuhan cendawan patogen Fusarium oxysporum. secara in
vitro. Ketiga isolat bakteri endofit tersebut adalah EDA 3 (Listeria sp.), EBA 6
(Pseudomonas sp.), dan EBA 7 (Xenorhabdus sp.) dengan daya penghambatan
sebesar 60.14%, 57.69%, 57.08% secara berturut-turut. Senyawa metabolit dari
ketiga bakteri yang menunjukkan daya hambat tertinggi berasal dari bakteri
Xenorhabdus sp. dan Listeria sp. yaitu sebesar 34.88% dan 25.53% secara
berturut-turut. Perlakuan perendaman benih dengan senyawa metabolit bakteri
endofit Xenorhabdus sp. dan Listeria sp. juga mampu menurunkan infeksi F.
oxysporum.Xenorhabdus sp. mampu menekan tingkat infeksi sebesar 76.6789.47% pada metode blotter test dan growing on test. Listeria sp. mampu
menekan tingkat infeksi sebesar 63.16-78.24% pada metode blotter test dan
growing on test.
Bakteri endofit asal tanaman kedelai yang memiliki potensi untuk
menghambat pertumbuhan F. oxysporum adalah Listeria sp., Pseudomonas sp.
dan Xenorhabdus sp. secara in vitro.Senyawa metabolit yang berpotensi dalam
menghambat pertumbuhan F. oxysporum adalah Xenorhabdus sp. dan Listeria sp.
secara in vitro dan in vivo. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman
dalam pengembangan pengendalian cendawan patogen terbawa benih penyebab
penyakit tanaman.
Kata kunci:
blotter test, Fusarium oxysporum, respons hipersensitif
SUMMARY
NOVI MALINDA.Utilization of Endhophytic Bacteria’s Metabolite Compound to
Inhibit Growth of Seedborne Pathogenic Fungi of Soya Seed.Supervised by
BONNY POERNOMO WAHYU SOEKARNO and TITIEK SITI YULIANI.
The most problems to supply of soya seed is seedborne pathogen that causes
disease incidenct on plant in yard. The fungi is one of the important pathogenic
seedborne. One of the disease control of the seedborne pathogenic fungi is using
endophytic bacteria from soybean plant as biological control agent. The research
aimed to know the ability of endophytic bacteria and metabolites compound to
inhibit growth of fungal seedborne in soya seed.
The research was conducted at the Laboratory of Balai Proteksi Tanaman
Pangan dan Hortikultura Medan, North Sumatera and Laboratory of Mikologi
Tumbuhan Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian of Institut Pertanian
Bogor. The Isolation procedure of these endophytic bacteria from soybean plant
was done using surface sterilization method.The isolation procedure of pathogenic
fungi was done using blotter test method. The screening of the potencial bacteria
was done by hypersensitive response test and inhibitory test toward pathogenic
fungi Fusarium oxysporum.Extraction of the metabolites compound was done
from the three potencial isolates of bacteia. The metabolite compoundwas tested
toward the pathogenic fungi by in vitro and in vivo to knowing the most
metabolite able to suppressed growth of F. oxysporum.
Result of test showed that from forty eight of the nonpathogenic isolates
endophytic bacteria. There are three potential isolates from in vitro test that able
inhibit the growth of Fusarium oxysporum which is EDA 3 (Listeria sp.), EBA 6
(Pseudomonas sp.), and EBA 7 (Xenorhabdus sp.) with 60.14%, 57.69%, and
57.08% respectively. The metabolites compound also able to inhibited colony of
F. oxysporum by in vitro and in vivo test are Xenorhabdus sp. and Listeria sp. The
metabolites from three isolates showed that Xenorhabdus sp. and Listeria sp. are
isolates that can inhibit F. oxysporumof 34.88% and 25.53% by in vitro
respectively. Seedtreatment with the metabolites compound of Xenorhabdus sp.
and Listeria sp. also can reduce the pathogenic fungi infection. Xenorhabdus
sp.able to suppress infection of pathogenic fungi of 76.67-89.47% on blotter test
and growing on test method.Listeria sp.able to suppress infection of pathogenic
fungi of 63.16-78.24% on blotter test and growing on test method.
The potential of endophytic bacteria from soybean plant are Listeria sp.,
Pseudomonas sp. and Xenorhabdus sp. to inhibit F. oxysporum by in vitro. The
potential of metabolite compound are Xenorhabdus sp. and Listeria sp. to inhibit
F. oxysporum by in vitro and in vivo. The research was expected can be
orientation in development of controlling the seedborne pathogenic fungi caused
plant disease.
Keywords: blotter test, Fusarium oxysporum, hypersensitive response
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
PEMANFAATAN SENYAWA METABOLIT BAKTERI ENDOFIT
UNTUK MENEKAN CENDAWAN PATOGEN TERBAWA BENIH
KEDELAI
NOVI MALINDA
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Fitopatologi
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis:
Dr Ir Elis Nina Herliyana, MSi
Judul Tesis : Pemanfaatan Senyawa Metabolit Bakteri Endofit untuk Menekan
Cendawan Patogen Terbawa Benih Kedelai
Nama
: Novi Malinda
NIM
: A352130091
Disetujui oleh
Komisi Pembimbing
Dr Ir Bonny PW Soekarno, MS
Ketua
Dr Ir Titiek Siti Yuliani, SU
Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi
Fitopatologi
Dekan Sekolah Pascasarjana
Prof Dr Ir Sri Hendrastuti Hidayat, MSc
Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr
Tanggal Ujian:08 Oktober 2015
Tanggal Lulus:
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas
segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang
dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan September 2014 ini ialah
cendawan patogen terbawa benih penyebab penyakit tanaman, dengan judul
Pemanfaatan Senyawa Metabolit Bakteri Endofit untuk Menekan Cendawan
Patogen Terbawa Benih Kedelai.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr Ir Bonny Poernomo Wahyu
Soekarno, MS dan Dr Ir Titiek Siti Yuliani, SU selaku pembimbing yang telah
banyak memberi arahan dan saran selama penulis melaksanakan penelitian hingga
menjadi suatu bentuk karya ilmiah serta Dr Ir Elis Nina Herliyana, MSi selaku
dosen penguji luar komisi yang telah banyak memberi saran yang membangun
dalam penulisan karya tulis ilmiah ini. Ungkapan terima kasih juga disampaikan
kepada orangtua tercinta, ayahanda Tasman dan ibunda Suryati, SH atas segala
doa dan kasih sayang yang tulus dan tak ternilai harganya kepada penulis.
Ungkapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada yang terhormat, Bapak
Saidin Piliang dan Ibu Jamilah atas dukungan dan perhatiannya kepada penulis.
Ungkapan terima kasih juga penulis ungkapkan kepada keluarga besar ayah dan
ibu yang telah bersedia memberikan semangat kepada penulis.Terima kasih
kepada staf Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Utara atas
bantuan dan dukungannya, serta kepada Ditjen Dikti atas pemberian beasiswa
selama menjalankan studi di Institut Pertanian Bogor.Ungkapan terima kasih juga
penulis sampaikan kepada laboran dan anggota Laboratorium Mikologi
Tumbuhan Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB.Teman-teman
Fitopatologi SPs IPB angkatan 2013 Juwi, kak Novi, kak Jabal, mbak Putze,
Mbak Mei, Nisa, Irwanto, Wafa, Ipul, Diana, Pandu, Kak Tika, Kak Cica, Kak
Ria, Bulan, Hamda, Mbak Santi, dan Maman atas kebersamaannya. Penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada teman-teman di kost Bu Roma atas segala
perhatian yang tulus layaknya keluarga bagi penulis.Ungkapan terima kasih
penulis sampaikan khusus kepada sahabat seperjuangan Andini Hanif, Arifda
Ayu, dan Dewi Novina.Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada temanteman yang telah membantu selama penyelesaian tugas akhir ini.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, November 2015
Novi Malinda
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
vi
DAFTAR GAMBAR
vi
DAFTAR LAMPIRAN
vi
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Ruang Lingkup Penelitian
1
1
2
2
2
3
2 TINJAUAN PUSTAKA
Sejarah dan Manfaat Kedelai (Glycine max L. Merril)
Mutu Benih dan Cendawan Patogen Terbawa Benih Kedelai
Bakteri Endofit Tanaman
Pengendalian Patogen Terbawa Benih Penyebab Penyakit Tanaman
4
4
5
7
8
3 METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Bahan
Uji Perendaman Benih
Isolasi Bakteri Endofit dari Kedelai
Isolasi Cendawan Patogen Terbawa Benih Kedelai
Uji Daya Hambat Bakteri Endofit terhadap Cendawan Patogen
secara in Vitro
Pengukuran Kurva Pertumbuhan Bakteri Endofit
Ekstraksi dan Uji Daya Senyawa Metabolit Bakteri Endofit terhadap
Cendawan Patogen secara in Vitro
Uji Perlakuan Benih dengan Senyawa Metabolit Bakteri Endofit
Analisis KomponenSenyawa Metabolit Bakteri Endofit
Analisis Data
10
10
10
10
10
11
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
Perendaman Benih
Isolat Bakteri Endofit dari Kedelai
Isolat Cendawan Patogen Terbawa Benih Kedelai
Daya Hambat Bakteri Endofit terhadap Fusarium oxysporum
secara in Vitro
Kurva Pertumbuhan Bakteri Endofit
Daya Hambat SenyawaMetabolit Bakteri Endofit terhadap
Fusarium oxysporum secara in Vitro
Perlakuan Benih dengan Senyawa Metabolit Bakteri Endofit
Karakterisasi dan Identifikaasi Isolat Bakteri Endofit
Analisis Komponen Senyawa Metabolit Isolat Bakteri Endofit
11
12
12
13
14
14
15
15
15
16
19
21
22
23
27
29
5 SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran
32
32
32
DAFTAR PUSTAKA
33
LAMPIRAN
37
RIWAYAT HIDUP
42
DAFTAR TABEL
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Waktu perendaman benih kedelai di dalam cairan
Isolat bakteri endofit dari tanaman kedelai
Jenis cendawan patogen
Daya hambat bakteri endofit terhadap F. oxysporum secara in vitro
Daya hambat senyawa metabolit bakteri endofit terhadap F. oxysporum
secara in vitro
Tingkat infeksi dan penekanan infeksi cendawan patogen terbawa benih
kedelai
Pengaruh senyawa metabolit bakteri endofit terhadap pertumbuhan
tanaman kedelai
Karakteristik isolat bakteri endofit (Sumber ICBB)
Hasil Py-GCMS senyawa metabolit isolat bakteri EBA 7
Hasil Py-GCMS senyawa metabolit isolat bakteri EDA 3
15
16
17
19
23
24
25
27
29
30
DAFTAR GAMBAR
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Bagan alir ruang lingkup penelitian
Metode pengukuran daya hambat bakteri terhadap koloni cendawan
Isolat bakteri endofit asal tanaman kedelai
Jenis cendawan patogen terbawa benih kedelai
Fusarium oxysporum
Penghambatan koloniF. oxysporum oleh bakteri endofit
Pertumbuhan isolat bakteri endofit
Penghambatan koloniF. oxysporumoleh senyawa metabolit
bakteri EBA 7
Penghambatan koloniF. oxysporum oleh senyawa metabolit
bakteri EDA 3
Tingkat infeksi F. oxysporum pada benih kedelai
Penekanan tingkat infeksi cendawan patogen terbawa benih kedelai
Daya berkecambah kedelai
Tinggi tanaman kedelai
Pertumbuhan tanaman kedelai
3
12
15
17
18
19
21
22
22
24
24
26
26
26
DAFTAR LAMPIRAN
1 Respons hipersensitifpada daun tembakau oleh bakteri endofit
2 Analisis komponen senyawa metabolit isolat bakteri EBA 7
3 Analisis komponen senyawa metabolit isolat bakteri EDA 3
37
40
41
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kedelai (Glycine max(Linneous) Merril) merupakan salah satu tanaman
sumber protein yang penting di Indonesia.Berdasarkan luas panen, kedelai
menempati urutan ketiga sebagai tanaman palawija setelah jagung dan ubi kayu di
Indonesia. Menurut Badan Pusat Stastistik atau BPS (2013),produksi kedelai
tahun 2013 (ARAM II) diperkirakan sebesar 807.57 ribu ton biji kering, menurun
sebanyak 35.58 ribu ton (4.22%) dibandingkan tahun 2012. Penurunan produksi
kedelai tahun 2013 tersebut diperkirakan terjadi di Jawa sebesar 61.71 ribu
ton.Penurunan produksi kedelai diperkirakan terjadi karena turunnya luas panen
seluas 13.49 ribu hektar (2.38%) dan produktivitas sebesar 0.28 kuintal/ha
(1.89%). Kedelai mempunyai banyak manfaat, sehingga merupakan tanaman
penting bagi masyarakat di Indonesia.Sebagai bahan makanan, kedelai banyak
mengandung protein, lemak, dan karbohidrat, sehingga baik untuk memenuhi
kebutuhan gizi masyarakat. Kebutuhan kedelai setiap tahun meningkat, sedang
peningkatan produksi rendah bila dibandingkan dengan peningkatan kebutuhan
yang mencapai 18% tiap tahun (Ratulangi 2004).
Kebutuhan kedelai nasional sangat tinggi, sehingga sebagian harus
mengimpor dari Amerika, oleh karena itu perlu upaya untuk peningkatan
produktivitas kedelai nasional.Berkaitan dengan hal tersebut, maka dibutuhkan
benih kedelai yang berkualitas serta mempunyai daya kecambah yang
baik.Peningkatan produksi kedelai dalam negeri harus ditingkatkan sebagai upaya
untuk mengurangi impor kedelai (Indartono 2011).
Salah satu kendala dalam penyediaan benih kedelai yang bermutu adalah
kesehatan benih. Berbagai penyakit tanaman di lapang disebabkan oleh patogen
terbawa benih. Cendawan merupakan salah satu kelompok patogen terbawa benih
yang penting. Cendawan patogen terbawa benih kedelai antara lain Phomopsis sp.,
Penicillium sp.,Aspergillus sp., Cercospora sp., Alternaria sp., dan Fusarium sp.
Colletotrichum dematium var. trucata (Schwein) Arx.(McGee & Nyvall 2008;
Wain-Tassi et al. 2011).
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengendalikan patogen terbawa
benih secara fisik, kimia dan biologi. Secara fisik, benih dikeringkan baik secara
alami maupun dengan bantuan alat pengering untuk menurunkan kadar air benih.
Selain itu, perlakuan fisik lainnya adalah dengan menyimpan benih pada suhu
rendah untuk meminimalkan tumbuhnya patogen terbawa benih.Walaupun
demikian, perlakuan tersebut kurang efektif karena tidak berlaku untuk benihbenih tertentu karena akan mengurangi vigor dan viabilitas benih serta beberapa
patogen tertentu masih mampu tumbuh atau dorman saat penyimpanan. Secara
kimia, benih diberi perlakuan dengan penambahan bahan kimia yaitu fungisida.
Penggunaan bahan kimia yang berlebih tentunya akan berdampak pada kesehatan
konsumen maupun lingkungan, sehingga dicari alternatif yaitu pengendalian
secara biologi.
Salah satu cara pengendalian hayati yang sedang banyak dikembangkan
untuk mengendalikan penyakit tanaman adalah pemanfaatan potensi bakteri
endofit. Bakteri endofit merupakan bakteri yang bersimbiosis dengan tanaman
2
tanpa menimbulkan gejala penyakit. Bakteri endofit memberikan keuntungan bagi
tanaman inangnya seperti menstimulasi zat pengatur tumbuh, fiksasi nitrogen, dan
induksi ketahanan terhadap patogen tumbuhan.
Pemanfaatan bakteri endofit asal tanaman kedelai diharapkan dapat
digunakan sebagai agens pengendali cendawan patogen terbawa benih kedelai.
Isolasi bakteri endofit dapat diambil dari akar, nodul (bintil akar), batang dan daun
tanaman kedelai yang sehat. Menurut penelitian yang dilakukan Shu-Mei et al.
(2008), bakteri endofit Bacillus amyloquafaciens (Priest) asal tanaman kedelai
mampu menghambat pertumbuhan cendawan patogen Fusarium oxysporum
(Schlecht) Synder & Hansen sebesar 80.2%-96.7% secara in vitro. Bagian nodul
dari tanaman kedelai lebih banyak mengandung bakteri endofit. Bakteri endofit
yang terdapat pada nodul tanaman kedelai adalah Deinococcus radiophilus
(Lewis) Brooks & Muray, Staphylococcus lentus (Kloose), B. fastidiosus (den
Dooren Jong), dan Tsukamurella inchonensis (Yassin) (Hung & Annapurna 2004).
Perlakuan benih dapat dilakukan dengan perendaman menggunakan metabolit
sekunder dari bakteri endofit.B. endoradicis juga ditemukan berada pada akar
tanaman kedelai (Zhang et al. 2012).
Perumusan Masalah
Pengendalian pasca panen benih kedelai masih menjadi kendala dalam
produktivitas dan kualitas benih.Banyak patogen terbawa benih kedelai yang
dapat menurunkan produktivitas dan kualitas benih saat ditanam.Untuk itu perlu
dilakukan penelitian dalam mengendalikan cendawan patogen terbawa
benih.Salah satunya dengan menggunakan senyawa metabolit bakteri endofit asal
tanaman kedelai untuk perlakuan benih sebelum benih ditanam di lapangan.
Pengendalian dengan senyawa metabolit tersebut diharapkan lebih efisien dan
efektifdibanding dengan pengendalian fisik dan penggunaan fungisida.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bakteri endofit yang mampu
menghambat pertumbuhan cendawan patogen terbawa benih kedelai dan
mengetahui potensi senyawa metabolit yang dihasilkan oleh bakteri endofit yang
mempunyai potensi mengendalikan cendawan patogen terbawa benih.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi kepada masyarakat,
khususnya tentang kemampuan bakteri endofit asal tanaman kedelai.Bakteri
endofit dengan senyawa metabolitnya dapat mengendalikan cendawan patogen
terbawa benih sehingga mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi
kedelai serta mengurangi biaya pengelolaan benih pascapanen serta berwawasan
lingkungan.
3
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah uji perendaman benih kedelai, isolasi
bakteri endofit dari tanaman kedelai dan seleksi bakteri endofit, isolasi cendawan
patogen terbawa benih kedelai, uji daya hambat bakteri endofit terhadap
cendawan patogen terbawa benih kedelai, identifikasi isolat bakteri endofit,
pengukuran kurva pertumbuhan, uji daya hambat senyawa metabolit bakteri
endofit terhadap cendawan patogen, perlakuan benih dengan senyawa metabolit
bakteri endofit, dan analisis senyawa metabolit bakteri endofit (Gambar 1).
Uji perendaman
benih
Karakterisitik dan
identifikasi
bakteri endofit
Isolasi bakteri
endofit
Isolasi cendawan
patogen benih
Uji respon
hipersensitif
Karakterisitik dan
identifikasi
cendawan endofit
Uji kultur ganda
Pengukuran kurva
pertumbuhan
Produksi senyawa
metabolit bakteri endifit
Analisis senyawa
metabolit
Uji daya hambat
senyawa
metabolit
Uji perlakuan
benih
Gambar 1 Bagan alir ruang lingkup penelitian
4
2 TINJAUAN PUSTAKA
Sejarah dan Manfaat Kedelai (Glycine max L. Merril)
Kedelai awalnya dikenal dengan beberapa nama botani, yaituGlycine soja
dan Soja max. Namun pada tahun 1948 telah disepakati bahwa nama botani yang
dapat diterima dalam istilah ilmiah, yaitu Glycinemax (L.) Merril (Irwan 2006).
Klasifikasi tanaman kedelai adalah kingdom Plantae, divisi Spermatophyta,
subdivisi Angiospermae, kelas Dicotyledoneae, ordo Rosales, famili
Leguminoceae, genus Glycine, spesies Glycine max (L.) Merril.
Kedelai (Glycine max(L.)Merril) merupakan salah satu bahan pangan yang
banyak digunakan di Indonesia. Menurut Sudantha (2010), tanaman kedelai
merupakan salah satu jenis palawija yang penting di Indonesia, karena biji kedelai
banyakdibutuhkan oleh masyarakat sebagai bahanpembuat tahu, tempe, oncom
dan kecap. Kedelai berkulit kuning lebih banyak manfaatnya misalnya untuk
kebutuhan industri tempe, tahu, susu, dan minuman sari kedelai (Purwanti 2004).
Kacang kedelai yang diolah menjadi tepung kedelai secara garis besar dapat
dibagimenjadi dua kelompok manfaat utama, yaitu olahan dalam bentuk protein
kedelai danminyak kedelai. Kedelai dalam bentuk protein dapat digunakan
sebagai bahan industri makanan seperti susu, vetsin, kue-kue, permen dan daging
nabati serta sebagai bahan industri bukan makanan seperti kertas, cat cair,
tintacetak dan tekstil.Sedangkan kedelaidalam bentuk minyak kedelai digunakan
sebagai bahan industri makanan dan non makanan. Industri makanan dari minyak
kedelai yang digunakansebagai bahan industri makanan berbentuk gliserida untuk
bahan pembuatan minyak goreng, margarin dan bahan lemak lainnya sedangkan
untuk industri non makanan minyak kedelai digunakan sebagai bahan baku tinta,
kosmetik, insektisida, danfarmasi (Prihatman 2000).
Kedelai merupakan tanaman asli daratan Cina dan telahdibudidayakan oleh
manusia sejak 2500 SM. Sejalan dengan makinberkembangnya perdagangan
antarnegara yang terjadi pada awal abadke-19, menyebabkan tanaman kedelai
juga ikut tersebar ke berbagainegara tujuan perdagangan tersebut, yaitu Jepang,
Korea, Indonesia,India, Australia, dan Amerika Serikat. Kedelai mulai dikenal di
Indonesia sejakabad ke-16.Awal mula penyebaran dan pembudidayaan kedelai
yaitu diPulau Jawa, kemudian berkembang ke Bali, Nusa Tenggara, dan pulaupulau lainnya (Irwan 2006).
Di Indonesia kedelai ditanam pada lahan sawah (setelah panen padi)dan
pada lahan kering (terutama pada lahan kering yang tidak masam).Di Sulawesi,
Kalimantan, dan Sumatera ada juga kedelai ditanam pada lahan pasang
surut/lebak yaitu pada musim kemarau. Penyebaran kedelai diIndonesia terluas
masih di pulau Jawa sampai saat ini. Kedelai ditanam sebagian besar dilahan
sawah di Jawa.Lahan yang sesuai untuk tanaman kedelai adalah tidak lahan
dengan pH >5.0, tekstur lempung dan kandungan bahan organik tinggisampai
sedang. Kandungan hara tanah (N, P, K, Ca, Mg) yangcocok atau sesuai adalah
tinggi sampai sedang.Curah hujan 1 000 –2 500 mm/tahun dan temperatur 20 –
35°C (Kementerian Pertanian 2013).
5
Pencapaian peningkatan produksi kedelai dilakukan melalui strategi sebagai
berikut: (1) peningkatan kualitas dan kuantitas sistem perbenihan kedelai,
perbaikan teknikbudidaya kedelai di tingkat petani, memperlancar modal dan
teknologi, sosialisasi, pemantauan, pendampingan dan koordinasi, (2) perluasan
areal dan pengelolaan lahan yang dilaksanakan dengan menarik minat petani dan
investor dalam pengembangan kedelai, optimalisasi lahan, danteknologi,
perluasan wilayah baru, untuk mengembangkan pusat pertumbuhan,
pengembangan kerjasama investor dengan petanidan kooperasi, pengembangan
produksi kedelai skala besar untuk bahan baku industri, dan pengembangan
budidaya tumpang sari dengan ubi kayu, dan (3) pengamanan produksi yang
dilakukan melalui pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman)
danantisipasi dampak fenomena iklim serta pengurangan kehilanganhasil dengan
menerapkan gerakan manajemen pasca panen,teknologi panen melalui mobilisasi
peralatan (Kementrian Pertanian 2013).
Mutu Benih dan Cendawan Patogen Terbawa Benih Kedelai
Pengelolaan pasca panen menjadi salah satu faktor penting dalam produksi
kedelai dan dapat menentukan kualitas dan kuantitas produksi selanjutnya.
Penyakit tanaman tidak terlepas kaitannya dengan benih. Benih atau biji kedelai
berkeping dua yang dibungkus oleh kulit biji. Embrio terletak di antara keping biji.
Warna kulit biji bermacam-macam yaitu kuning, hitam, hijau dan coklat.Bentuk
biji kedelai umumnya bulat lonjong, bundar atau bulat pipih. Ukuran biji
bervariasi, tergantung varietas. Di Indonesia ukuran biji bervariasi dari 6 – 30 g
(Suprapto 2001). Menurut SNI 01-3922-1995, syarat mutu kedelai secaraumum
adalah (1) bebas hama penyakit, (2) bebas bau busuk, bau asam, bau apek, dan
bau asing lainnya, (3) bebas dari bahan kimia seperti insektisida dan fungisida,
dan (4) memiliki suhu normal (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Pascapanen Pertanian 2010).
Benih kedelai yang digunakan pada dasarnya harus benih yang baik dan
bermutu tinggi. Benih kedelai yang baik dan bermutu tinggi akan menjamin
pertanaman yangbagus dan hasil panen yang tinggi, dan ini dicerminkan oleh
tingginya tingkatkeseragaman biji,daya tumbuh dan tingkat kemurnian. Benih
yang bermutu adalah benih yang memenuhi persyaratan sebagai berikut: (1) murni
dan diketahui nama varietasnya, (2) daya tumbuhnya tinggi (minimal 80%), serta
vigornya baik, (3) biji sehat, bernas, mengkilat, tidak keriput dan dipanen dari
tanaman yang telah matang dan sehat, tidak terkena penyakit virus, tidak
terinfeksi cendawan, bakteri atau virus, dan (4) bersih, tidak tercampur biji
tanaman lain atau biji rerumputan (Sunantora 2000).
Patogen terbawa benih penyebab penyakit merupakan suatu aspek yang
umum dalam penyakit tumbuhan yang menghubungkan antara patogen tumbuhan
dengan bagian perbanyakan tumbuhan baik benih maupun umbi. Oleh karena itu,
penyakit benih adalah hasil interaksi antara inang yang rentan, patogen,
lingkungan, dan agen penular (Agarwal & Sinclair 1997). Dengan demikian,
benih yang digunakan untuk pertanian harus mempunyai mutu yang baik.Mutu
benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam pertanaman untuk
mendapatkan hasil yang optimal.Benih bermutu ditandai dengan daya
berkecambah yang tinggi, tumbuh cepat, serempak, dan seragam, serta
6
mempunyai akar primer yang panjang dan akar sekunder paling sedikit tiga.
Pengujian mutu fisiologis benih dilakukan dengan mengukur vigor benih.
Indikator untuk menentukan vigor benih antara lain melalui indikasi biokimia dan
fisiologisnya. Ukuran benih memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan
tanaman di lapangan.Benih yang berukuran besar umumnya memberikan
penampilan tanaman yang lebihvigor dibanding tanaman yang berasal dari benih
berukuran kecil (Rahmawati 2009).
Mutu benih mencakup mutu genetis, mutu fisiologis, mutu fisik dan
patologis. Aspek patologis benih bermutu yaitu terbebas dari serangan penyakit
(Ilyas 2012). Menurut Copeland dan Donald (1985), faktor lain yang
mempengaruhi beberapa benih yang terserang atau bergejala penyakit yaitu kadar
air benih dan suhu lingkungan. Kadar air benih yang mengalami peningkatan
dapat terjadi apabila suhu dan kelembaban tempat penyimpanan tinggi. Kondisi
tempat penyimpanan benih yang umumnya tertutup rapat dan kurang baiknya
sirkulasi udara mengakibatkan kelembaban menjadi semakin meningkat.
Akibatnya dapat memicu munculnya aktivitas mikroorganisme terutama
cendawan terbawa benih.
Cendawan patogen terbawa benih akan mempengaruhi timbulnya penyakit
ketika benih ditanam lalu berkecambah hingga tumbuh sampai tanaman dewasa.
Cendawan patogen terbawa benih yang utama pada benih kedelai adalah dari
genus Fusarium (Wu et al. 1964), Peronospora manshurica (Naumov) Syd.
(Medic-pap et al. 2007) serta Phomopsis dan C. truncatum (Wain-Tassi et al.
2011). Menurut Wu et al. (1964), cendawan yang berhasil diisolasi dari benih
kedelai adalah dari genus Alternaria, Cephalothecium, Cercospora, Cladosporium,
Corynespora, Fusarium, Nigrospora, Penicillium, Pestalozia, dan Stemphylum.
Berdasarkan 10 genus tersebut, cendawan yang bersifat patogen adalah Alternaria,
Cercospora, dan Fusarium. Infeksi cendawan tersebut dapat menurunkan
kapasitas vigor benih dan perkecambahan benih di lapangan (Medic-pap et al.
2007; Alves & Pozza 2012). Cendawan dari genus Fusarium yang diketahui
sebagai cendawan patogen yang dapat terbawa oleh benih adalah F. oxysporum
(Schlecht) dan F. solani (Mart) (Agarwal & Sinclair 1997). Cendawan terebut
memiliki kisaran tanaman inang yang luas yaitu tanaman pangan dan hortikultura
di Indonesia. Salah satu wilayah, seperti provinsi Sumatera Utara, tercatat bahwa
cendawan patogen terbawa benih kedelai adalah C. dematium (Pers) Grove, C.
kikuchi (Matsumoto & Tomoy), Macrophomia sp., C. casiicola, P. sojae (Lehm &
Wolf), Botryodiplodiasp., Peronosporasp., Rhizoctonia solani (Kuhn), Phoma sp.,
F. oxysporum, F. moniliforme (Sheld), F. equisetii, F. semitectum(Berk. &
Ravenel) Matsush, Fusarium spp. (UPT BPSB SUMUT 2013). Hal ini menjadi
salah satu faktor penyebab rendahnya produktivitas benih kedelai di Sumatera
Utara.
Penyakit pada tanaman kedelai yang disebabkan cendawan patogen
terbawa benih kedelai antara lain rebah kecambah, layu Fusarium, hawar dan
karat daun. Penyakit yang umumnya menyerang adalah layu Fusarium yang
disebabkan oleh Fusarium spp. Cendawan dari genus Fusarium merupakan
cendawan patogen yang sering menyerang kedelai mulai masa persemaian.
Penyakit yang disebabkan oleh Fusarium spp. menunjukkan gejala layu pada
tanaman. Hal ini sesuai dengan laporan Sudantha (2010) bahwa F. oxysporum f.
sp. glycine menyebabkan penyakit rebah kecambah dan layu. Begitu juga dengan
7
laporan Li et al. (2008), F. solani juga dapat menyebabkan rebah kecambah pada
kedelai.F. solani mulai menginfeksi dari akar tanaman kedelai.
F. oxysporum adalah salah satu patogen utama karena strain patogen dari
cendawan ini dapat dorman selama 30 tahun sebelum melanjutkan virulensi dan
menginfeksi tanaman. Menurut Jasnicet al.(2005), kerugian akibatinfeksi F.
oxysporummenyebabkan pengurangan hasil produksi mencapai 59%.Pada saat
tanaman menunjukkan tanda-tanda gejala penyakit dari infeksi patogen, maka
untuk pengendaliannya sudah terlambat, dan tanaman akan mati. Selain itu, F.
oxysporum bersifat broad spectrum karena dapat menyebabkan penyakit di
hampir setiap tanaman pertanian penting. F. oxysporum terbukti sangat sulit
dikendalikan karena konidia F. oxysporum juga dapat bertahan di tanah untuk
jangka waktu yang lama, sehingga rotasi tanaman bukan merupakan metode
kontrol yang tepat (Djaenuddin 2011).
Menurut Li et al. (2008), F. solani f.sp. glycines menyebabkan gejala mati
tiba-tiba (sudden death syndrome/SDS) pada tanaman kedelai. Infeksi dimulai
dari akar tanaman dan jarang menyerang dari daun. Namun, kedelai yang
terinfeksi oleh F. solani menunjukkan gejala pada daun yaitu daun menjadi
klorosis, nekrotik, dan defoliasi, lama-kelamaan tanaman akan layu secara
keseluruhan. F. solani f.sp.glycines dapat menimbulkan kehilangan hasil
mencapai 100% .
Kegiatan yang perlu dilakukan untuk mengurangi kejadian penyakit pada
kedelai adalah pengamanan produksi dari gangguan Organisme Pengganggu
Tumbuhan (OPT), pengurangan kehilangan hasil melalui pengelolaan pascapanen,
perbenihan dan kegiatan lainnya seperti pembinaan, supervisi, monitoring,
evaluasi dan pelaporan. Kegiatan pendukung tersebut agar dapat dilakukan secara
terencana dan terkoordinasi (Kementrian Pertanian 2013).
Bakteri Endofit Tanaman
Bakteri endofit tumbuhan adalah bakteri yang berada dalam jaringan
tumbuhan dan tidak patogenik sehingga tidak menimbulkan gejala penyakit pada
tanaman inang serta dapat diisolasi dengan teknik sterilisasi permukaan.Hampir
seluruh tumbuhan bersimbiosis dengan mikroorganisme yang bersifat
endofit.Salah satu tumbuhan yang banyak mengandung mikroba endofit adalah
dari kelompok kacang-kacangan.Sejumlah endofit bakteri dan cendawan
dilaporkan ada di dalam jaringan tumbuhan seperti akar, nodul, daun, bunga, dan
kecambah kacang-kacangan.Endofit pada tanaman kacang-kacangan dapat
mempercepat perkecambahan, memicu pertahanan tanaman, dan mempengaruhi
pertumbuhan tanaman (Dudeja et al. 2012).
Bakteri endofit berada di dalam tanaman yang sehat sehingga tidak mudah
dipengaruhi oleh lingkungan.Beberapa bakteri endofit menguntungkan bagi
tanaman seperti pemicu pertumbuhan, fiksasi nitrogen, dan pencegahan penyakit
yang disebabkan oleh patogen.Penelitian sebelumnya telah dilakukan dengan
tujuan memperoleh isolat bakteri endofit yang mampu mengendalikan penyakit
yang disebabkan oleh bakteri dan cendawan patogen.Bakteri endofit dapat
menghambat pertumbuhan cendawan patogen F. oxysporum f. soybean (Shu-Mei
et al. 2008). Bakteri endofit juga pernah dilaporkan dapat menghambat bakteri
8
patogen Xanthomonas axonopodis f.sp glicine penyebab pustul bakteri dan
meningkatkan pertumbuhan serta hasil kedelai (Habazar et al. 2012).
Keberadaan bakteri endofit pada tanaman kedelai telah diketahui dari hasil
penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Menurut Dalal dan Kulkarni
(2013), beberapa bakteri endofit dapat diisolasi dari tanaman kedelai antara lain
genus Bacillus, Pseudomonas, Xanthomonas, Enterobacter, Rhizobium, Klebsiella,
Acetobacter, dan Burkholderia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Hung dan
Annapurna (2004), bakteri endofit dari genus Staphylococcus, Leuconostoc,
Tsukamurella, Deinococcus dan Clavibacter juga ditemukan di dalam jaringan
tanaman kedelai.
Populasi bakteri endofit di dalam jaringan tanaman tergantung pada
beberapa faktor seperti umur (tahap) perkembangan tanaman, lokasi geografi
tanaman, dan lokasi bakteri di dalam jaringan tanaman.Tahap perkembangan
tanaman kedelai mempengaruhi jumlah bakteri.Semakin tua suatu tanaman,
semakin berkurang jumlah bakteri endofit.Fase vegetatif lebih sedikit
mengandung bakteri dibandingkan dengan fase generatif tanaman kedelai.Bakteri
endofit pada kedelai lebih banyak berada di akar daripada di batang dan daun
(Dalal & Kulkarni 2013). Lokasi jaringan yang banyak dihuni oleh bakteri endofit
pada tanaman kedelai adalah daerah nodul (bintil akar). Nodul lebih banyak
mengandung bakteri endofit daripada batang dan akar tanaman (Hung &
Annapurna 2004).
Berbagai mikroba mensekresi metabolit yang dapat mempengaruhi
aktivitas dan pertumbuhan patogen tanaman (Pal & Gardener 2006).Mikroba
endofit menghasilkan metabolit sekunder yang penting bagi tanaman dan
mengaktifkan sistem respon cekamanlebih cepat dan lebih kuat pada tanaman
sehingga tanaman lebih resisten dalam melawan patogen.Endofit juga mampu
membantu menghilangkan kontaminan, melarutkan fosfat atau membantu
asimilasi nitrogen untuk tanaman.Sebagai tambahan, bakteri endofit menyalurkan
vitamin esensial bagi tanaman.Produksi senyawa seperti auksin meningkatkan
produksi benih dan perkecambahan sepanjang peningkatan titik tumbuh. Dampak
lain dari keberadaan endofit di dalam jaringan tanaman adalah penambahan
osmotik, regulasi stomata, modifikasi morfologi akar, meningkatkan pengambilan
mineral dan mengubah nitrogen (Dudeja et al. 2012).
Pengendalian Patogen Terbawa Benih Penyebab Penyakit Tanaman
Pengendalian penyakit tanaman sejak dari benih akan mengurangi
kejadian penyakit di lapangan. Pengendalian patogen terbawa benih secara hayati
dengan memanfaatkan bakteri endofit merupakan salah satu upaya dalam
mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh patogen terbawa benih.Hal ini
disebabkan karena salah satu kemampuan endofit dapat memberikan ketahanan
bagi tanaman. Bakteri endofit yang berasal dari kacang-kacangan yang lain belum
banyak dipelajari. Penelitian pada tanaman kacang kapri dan kedelai
membuktikan bahwa bakteri endofit dapat menginduksi ketahanan tanaman
terhadap cendawan patogen atau meningkatkan pertumbuhan kedelai (Dudeja et al.
2012).
Pengendalian cendawan patogen terbawa benih kedelai dengan
memanfaatkan bakteri endofit dilakukan untuk mengurangi penggunaan bahan
9
kimia sintetik (fungisida) dalam pengelolaan pascapanen. Salah satu cara
penggunaan bakteri endofit adalah dengan memanfaatkan metabolit yang
dihasilkan oleh bakteri. Menurut Ramarathnam et al. (2007), bakteri endofit yaitu
Bacillus spp. yang diisolasi dari tanaman kedelai menghasilkan senyawa fengisin
dan basilomisin. Kedua senyawa tersebut dapat menghambat pertumbuhan F.
graminearum. Perlakuan benih dengan menggunakan metabolit sekunder tersebut
memliki kemampuan untuk melindungi benih dari serangan patogen terbawa
benih maupun kontaminan selama penyimpanan. Bakteri endofit yang sering
diisolasi adalah dari genus Bacillus. Senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan
oleh Bacillus spp. anatara lain basilomisin, subtilin, iturin, surfaktin, dan lisenisin.
Senyawa-senyawa tersebut bersifat antimikrobia dan anticendawan (Athukorala et
al. 2009). Dengan demikian, pemanfaatan senyawa metabolit sekunder dari
bakteri endofit dapat dijadikan sebagai agens pengendali hayati dalam menekan
pertumbuhan cendawan patogen terbawa benih.
10
3 METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2014 sampai dengan
Agustus 2015 di Laboratorium Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura
Medan Sumatera Utara dan Laboratorium Mikologi Tumbuhan Departemen
Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat.
Bahan
Bahan penelitian yang digunakanantara lain terdiri atas kertas saring cakram
ukuran 0,6 cm (Oxoid), media potato dextrose agar (PDA), tripton soya
agar/broth (TSA/TSB), mueller hinton broth/MHB (beef extract 2 g; acid
hydrolysate of casein 17.5 g; starch 1.5 g; aquades 1 L), luria bertani /LB
(tryptone 12.5 g; NaCl 6.25 g; yeast extract 6.25 g; aquades 1 L), dan fungisida
sintetik (bahan aktif Mankozeb 80%). Isolat bakteri endofit dan cendawan patogen
diperoleh dari tanaman dan benih kedelai varietas Buluh (lokal) asal Kecamatan
Medan Labuhan dan varietas Anjasmoro asal Kecamatan Tanjung Selamat,
Sumatera Utara.
Uji Perendaman Benih Kedelai
Benih kedelai sebanyak 100 biji (≈11.22 g) direndam dalam 100 mL air
selama 15, 30, dan 45 menit.Hal ini dilakukan untuk melihat sifat benih saat
direndam dalam cairan sehingga dapat diketahui selang waktu yang efektif untuk
perendaman kedelai di dalam cairan.Kedelai kemudian dikeringanginkan dan
ditimbang dengan timbangan analitik.Pengukuran dilakukan dengan menghitung
selisih berat awal dengan berat akhir. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah
cairan meresap pada selang waktu yang diuji. Selang waktu yang paling baik
dalam menjaga sifat benih dan mampu menyerap cairan akan digunakan sebagai
dasar pada saat perlakuan perendaman benih dalam metabolit dan fungisida.
Isolasi Bakteri Endofit dari Kedelai
Isolasi bakteri endofit dilakukan dari benih dan tanaman kedelai yang
paling sehat. Bagian tanaman kedelai yang diisolasi adalah akar, batang,
daun.Masing-masing bagian tersebut disterilisasi permukaan dengan alkohol 70%,
lalu NaOCl 3%. Benih disterilisasi permukaan dengan NaOCl 1%.Bagian-bagian
tersebut dicuci dengan air steril sebanyak tiga kali. Masing-masing bagian
tanaman dan benih diletakkan pada media TSA 20 % sebelum dimaserasi dengan
pistil dan mortar, lalu diinkubasi selama 24 jam pada suhu ruang. Hal ini
dilakukan sebagai indikator keberhasilan sterilisasi permukaan. Sterilisasi
permukaan berhasil apabila media tidak ditumbuhi oleh bakteri kontaminan.
Setelah dilakukan indikator sterilisasi, bagian tanaman yang telah steril dimaserasi
menggunakan pistil dan mortar.Hasil maserasi dibuat pengenceran berseri sampai
10-3 di dalam tabung reaksi. Sebanyak 0.1 mL diambil dari masing-masing tingkat
pengenceran dengan menggunakan mikropipet dan dituang pada media TSA lalu
11
diinkubasi selama 24 jam pada suhu ruang. Bakteri yang tumbuh diamati warna,
bentuk, tepi, elevasi koloni.Lalu dibuat biakan murni untuk setiap bakteri yang
diperoleh (Munif et al. 2012).
Isolat yang diperoleh diuji dengan pengujian HR (Hypersensitive
Response). Pengujian menggunakan tanaman tembakau untuk mengetahui bakteri
tersebut patogen atau nonpatogen. Masing-masing isolat ditumbuhkan pada media
TSB 5 mL. Media diinkubasi selama 24 jam dengan diletakkan pada shaker.
Selanjutnya diambil sebanyak 2 mL dengan menggunakan alat injeksi, kemudian
suspensi tersebut diinokulasikan pada daun tembakau.Tanaman tembakau
diinkubasi selama 24 jam.Jika tidak terjadi nekrotik menandakan bahwa isolat
bakteri bersifat nonpatogenik.
Isolasi Cendawan Patogen Terbawa Benih Kedelai
Isolasi cendawan patogen terbawa benih kedelai dilakukan dengan metode
inkubasi berdasarkan standar ISTA (2014) yaitu metode blotter test.Metode
blotter test menggunakan kertas hisap steril di dalam cawan petri.Benih kedelai
disterilisasi permukaan dengan menggunakan NaOCl 1% selama 1 menit dan
dicuci dengan air steril sebanyak 3 kali lalu dikeringanginkan. Sebanyak 10 benih
ditanam pada cawan petri yang berisi kertas hisap steril dengan ulangan sebanyak
40 kali. Benih diinkubasi pada suhu ruang selama 24 jam dengan penyinaran NUV 12 jam terang dan 12 jam gelap. Inkubasi dilanjutkan dengan meletakkan
benih pada ruang dengan suhu -20°C selama 24 jam. Benih diinkubasi kembali
pada suhu ruang dengan penyinaran 12 jam terang dan 12 jam gelap sampai hari
ke-8 dan ke-14. Gejala dan cendawan patogen yang muncul diamati dengan
mikroskop.Cendawan patogen dideteksi dan identifikasi langsung.Parameter yang
diamati adalah tingkat infeksi cendawan terbawa benih yang muncul. Cendawan
yang paling dominan tumbuh pada benih dimurnikan pada media PDAdan
diinkubasi selama 5-7 hari pada suhu ruang, kemudian dikarakterisasi dan
diidentifikasi secara makroskopis dan mikroskopis. Identifikasi patogen
menggunakan buku identifikasi cendawan Barnett dan Hunter (1999) dan Dugan
(2006).
Uji Daya Hambat Bakteri Endofit terhadap Cendawan Patogen
secarain Vitro
Isolat bakteri endofit yang bersifat nonpatogenik (tidak menimbulkan
nekrosa) pada uji HR digunakan untuk uji daya hambat terhadap cendawan
patogen benih kedelai. Uji daya hambat dilakukan dengan mengadopsi metode
Suryanto et al. (2011) yang telah dimodifikasi yaitu menggunakan metode kultur
ganda pada media PDA. Cendawan patogen ditumbuhkan di tengah media.
Kemudian dibuat suspensi bakteri endofit (108 sel/mL). Kertas cakram direndam
di dalam suspensi selama 30 menit. Kemudian kertas cakram diletakkan pada
kedua tepi media dan diinkubasi 6-7 hari pada suhu ruang. Diamati dan diukur
daya hambat bakteri endofit terhadap cendawan patogen (Gambar 2).
12
Gambar 2 Metode
pengukuran daya hambat bakteri terhadap koloni
cendawan; A. koloni cendawan; B. zona hambat bakteri endofit; C.
titik tengah cendawan diletakkan; D. koloni bakteri endofit; X.
diameter koloni cendawan yang terhambat pertumbuhannya; Y.
diameter koloni cendawan normal (Suryanto et al. 2011)
Rumus perhitungan penghambatan pertumbuhan cendawan patogen yaitu:
Daya hambat :
Keterangan : Y = diameter koloni cendawan patogen normal (cm)
X = diameter koloni cendawan patogen yang terhambat
pertumbuhannya (cm)
Sebanyak tiga isolat bakteri yang menunjukkan daya penghambatan
tertinggi (di atas 50%) digunakan untuk percobaan lebih lanjut.Tiga bakteri yang
berpotensi tersebut diidentifikasi secara morfologi, fisiologi dan biokimia dengan
menggunakan jasa identifikasi di Laboratorium Bioteknologi Lingkungan
Indonesian Center for Biodiversity and Biotechnology (ICBB) Bogor.
Pengukuran Kurva Pertumbuhan Bakteri Endofit
Pengukuran kurva pertumbuhan bakteri endofit dilakukan berdasarkan
metode Sunatmo (2009) yang telah dimodifikasi. Isolat yang berumur 24-48 jam
pada media TSA 20% diinokulasi ke dalam 20 mL LB dan diinkubasi pada shaker
dengan kecepatan 150 rpm selama 24 jam. Dilakukan pengamatan dan
pengukuran OD600 kultur tersebut tiap 1.5 jam dengan menggunakan
spektrofotometer. Hasil pengukuran dibuat dalam bentuk kurva pertumbuhan.
Umumnya bakteri menghasilkan metabolit dalam fase statis.
Ekstraksidan Uji Daya Hambat SenyawaMetabolit Bakteri Endofit terhadap
Cendawan Patogen secara in Vitro
Produksi senyawametabolit dilakukan mengikuti Elita et al. (2013) yang
telah dimodifikasi yaitu isolat ditumbuhkan pada 100 mL media MHBdalam
Erlenmeyer dan digoyang dengan shaker pada kecepatan 150 rpm suhu ruang
dengan selang waktu berdasarkan kurva pertumbuhan sampai menghasilkan
metabolit sekunder. Kultur bakteri disentrifugasi pada kecepatan 3800 rpm selama
13
20 menit untuk memisahkan supernatan dari massa selnya. Supernatan disaring
dengan millipore syringe filter 0.2µm yang kemudian digunakan sebagai ekstrak
kasar untuk pengujian selanjutanya.
Pembuatan konsentrasi senyawametabolit di dalam media PDA mengikuti
metode Faturrahman (2001) yang telah dimodifikasi.Sebanyak 20 mL
senyawametabolit dicampur dengan 80 mL media PDA (untuk pengenceran 20%),
selanjutnya dilakukan pengenceran 10% dan 5%, kemudian campuran media dan
senyawa metabolit dituang pada cawan petri. Cendawan patogen diletakkan di
tengah media dengan lima ulangan. Cendawan patogen yang ditumbuhkan pada
media PDA ditambah dengan fungisida sintetik dengan konsentrasi yang
dianjurkan sebagai kontrol positif dan cendawan patogen yang ditumbuhkan pada
media PDA saja dijadikan sebagai kontrol negatif. Cendawan patogen yang
ditumbuhkan pada media tumbuh dari masing-masing perlakuan diinkubasi pada
suhu ruang selama 10 hari. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan koloni
cendawan patogen pada masing-masing perlakuan dan dibandingkan dengan
pertumbuhan koloni cendawan patogen pada kontrol. Selanjutnya dihitung daya
hambat masing-masing perlakuan dengan rumus:
Keterangan : D1 = diameter koloni cendawan patogen kontrol negatif (cm)
D2 = diameter koloni cendawan patogen perlakuan (cm)
Uji Perlakuan Benih dengan SenyawaMetabolit Bakteri Endofit
Perlakuan perendaman benih dilakukan mengikuti metode Dewi et al.
(2013) yang telah dimodifikasi. Benih kedelai direndam di dalam senyawa
metabolit bakteri endofit dengan konsentrasi yang paling baik dalam menekan
pertumbuhan cendawan diatas 50%.Selanjutnya, benih dikeringanginkan di dalam
Laminar Air Flow dan dilakukan pengujian benih dengan metode blotter test dan
growing on test pada media agar air dan tanah steril. Pertama, pada pengujian
blotter test sebanyak 10 butir benih kedelai ditanam pada kertas saring lembab di
dalam cawan petri, masing-masing perlakuan diulang 10 kali, kemudian benih
tersebut diinkubasi seperti pada percobaan isolasi cendawan patogen terbawa
benih kedelai. Kedua, pada pengujian growing on test pada media agar air, benih
ditanam pada media agar air dengan 10 kali ulangan masing-masing 10 benih dan
inkubasi selama 8 hari. Ketiga, benih ditanam pada campuran tanah dan kompos
steril di dalam pot plastik dengan 10 kali ulangan masing-masing 5 benih dan
diinkubasi selama 14 hari dengan penyiraman teratur. Benih yang direndam di
dalam air steril dijadikan sebagai kontrol negatif. Benih yang direndam dalam
fungisida sintetik dijadikan sebagai kontrol positif. Parameter yang diamati adalah
gejala nekrotik (tingkat infeksi), daya berkecambah, dan tinggi tanaman.
14
Keterangan:
I1 = jumlah tanaman terinfeksi
I2 = jumlah tanaman yang tumbuh
Keterangan:
k1 = jumlah benih berkecambah
k2 = jumlah benih yang ditanam
Analisis KomponenSenyawaMetabolit dengan Py-GCMS
Isolat ditumbuhkan pada 100 mL media MHB (Mueller Hinton Broth)
dalam Erlenmeyer dan digoyang dengan shaker pada kecepatan 150 rpm suhu
ruang dengan selang waktu berdasarkan kurva pertumbuhan sampai menghasilkan
metabolit sekunder. Kultur bakteri disentrifugasi pada kecepatan 3800 rpm selama
20 menit. Supernatan disaring dengan millipore syringe filter 0.2 µm yang
kemudian digunakan untuk selanjutnya dianalisis dengan Pyrolisis Gas
Chromatrography Mass Spectrometry (Py-GCMS), di Laboratorium Litbang
Kehutanan, Gunung Batu, Bogor.
Analisis Data
Pengujian penghambatan pertumbuhan cendawan oleh metabolit sekunder
disusun dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Data yang
diperoleh kemudian diolah menggunakan program SAS 9.1. Perlakuan yang
menunjukkan beda nyata diuji lanjut dengan uji Duncan pada taraf 5%.
15
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
Perendaman Benih Kedelai
Tabel 1 menunjukkan bahwa perendaman benih kedelai paling baik pada
selang waktu 30 menit.Hal ini disebabkan oleh sifat fisik benih masih terlihat baik
dan bobot benih bertambah sebesar 2.44 g. Benih yang memiliki sifat fisik baik
dapat mempengaruhi viabilitias dan pertumbuhan.
Tabel 1 Waktu perendaman benih kedelai
Waktu (menit)
15
30
45
Bobot benih (g)
Awal
Akhir
11.22
12.82
11.22
13.66
11.22
15.53
Selisih bobot
benih (g)
1.60
2.44
4.31
Sifat fisik benih
Baik
baik
kulit benih rusak
Kedelai memiliki benih dengan kulit benih yang tipis sehingga sangat
rentan terhadap kerusakan secara fisik yang akhirnya akan mempengaruhi daya
perkecambahan. Oleh karena itu perlakuan yang diberikan pada benih sebelum
ditanam di lahan dapat mempengaruhi daya berkecambah benih.Salah satu
perlakuan yang dilakukan untuk memaksimalkan perkecambahan dan
pertumbuhan benih adalah dengan merendam benih di dalam suspensi.
Pemilihan lama waktu perendaman menjadi hal yang penting. Perendaman
sebaiknya tidak terlalu lama karena perendaman yang terlalu lama akan merusak
kulit benih kedelai. Menurut Sofia (2007), lama perendaman benih kedelai yang
optimum adalah 30 menit. Perendaman benih selama 30 menit dalam senyawa
kimia kolkhisin menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman lebih baik bila
dibandingkan dengan perendaman 45 menit. Menurut Angggraeni dan Suwarno
(2014), perendaman benih akan mempengaruhi viabilitas benih. Benih kedelai
dengan tingkat viabilitas 80% dapat diperoleh dengan merendam benih di dalam
larutan etanolselama 22 menit 31.8 detik.
Isolat Bakteri Endofit dari Kedelai
Hasil isolasi bakteri endofit dari tanaman kedelai diperoleh 102 isolat
(Gambar 3). Jumlah isolat bakteri endofit lebih banyak diperoleh dari tanaman
kedelai varietas Anjasmoro daripada varietas Buluh. Jumlah isolat yang berasal
dari varietas Anjasmoro adalah sebanyak 73 isolat yang terdiri dari 18 isolat dari
bagian akar, 28 isolat dari bagian batang, 17 isolat dari bagian daun dan 10 isolat
dari bagian benih. Jumlah isolat yang berasal dari varietas Buluh adalah sebanyak
29 isolat yang terdiri atas 9 isolat dari bagian akar, 8 isolat dari bagian batang, 6
isolat dari bagian daun dan 6 isolat dari bagian benih (Tabel 2).
Jumlah dan keragaman bakteri endofit yang diperoleh dari tanaman
tergantung dari jenis tanaman, usia tanaman, faktor lingkungan dan musim. Faktor
jenis tanaman berdasarkan varietas dan genetik dari tanaman tersebut. Faktor
lingkungan yang mempengaruhi adalah suhu, tanah, dan kelembaban. Faktor
musim juga dapat mempengaruhi keberadaaan bakteri endofit seperti musim
16
kemarau atau musim hujan. Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi
keberadaan bakteri endofit di dalam tanaman. Bakteri endofit yang berasal dari
tanaman kedelai varietas Anjasmoro lebih banyak daripada bakteri endofit yang
berasal dari varietas Buluh. Sampel tanaman kedelai varietas Anjasmoro diambil
saat musim hujan sedangkan sampel tanaman kedelai varietas Buluh diambil saat
musim kemarau. Hal ini dapat menyebabkan adanya perbedaan jumlah dan
keragaman bakteri endofit yang diperoleh.
Tabel 2 Waktu perendaman benih kedelai
Varietas
Buluh
Anjasmoro
Bagian
Akar
Batang
Daun
9
8
6
18
28
17
Total Isolat
Benih
6
10
Total
29
73
102
Uji Hipersensitif
Patogenik
Nonpatogenik
22
7
32
41
54
48
Gambar 3 Isolat bakteri edofit asal tanaman kedelai
Jumlah dan keragaman bakteri endofit juga bergantung pada
perkembangan tanaman kedelai.Pada penelitian ini, isolat bakteri endofit lebih
banyak ditemukan pada tanaman kedelai varietas Anjasmoro berumur dua bulan
yaitu pada saat fase reproduktif.Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan
oleh Dalal dan Kulkarini (2013), jumlah isolat bakteri endofit lebih tinggi terdapat
dapat tahap reproduktif.
Hasil uji hipersensitif pada tanaman tembakau menunjukkan bahwa dari
102 isolat diperoleh 54 isolat bersifat patogenik dan 48 isolat bersifat
nonpatogenik. Bakteri endofit diketahui sebagai bakteri yang bersimbiosis
mutualisme pada tanaman inangnya.Namun, dapat berpotensi patogenik pada
tanaman tersebut suatu saat. Hasil uji hipersensitif pada tanaman tembakau
menunjukkan bahwa sebagian isolat yang diperoleh bersifat patogenik.Hal ini
dikarenakan adanya gejala nekrotik pada daun tembakau yang diinokulasi
suspensi bakteri endofit.
Isolat Cendawan Patogen Terbawa Benih Kedelai
Hasil isolasi cendawan patogen terbawa benih kedelai dengan metode
blotter test menunjukkan bahwa terdapat 8 jenis cendawan.Cendawan yang
diperoleh adalah Fusarium oxysporum, Aspergillus spp., Penicillium sp.,
Curvularia sp., cendawan dengan hifa coklat keabuan (CP1) dan cendawan
berhifa coklat (CP2) disajikan dalam Gambar 4.Cendawan yang paling dominan
17
menginfeksi benih kedelai pada kedua varietas adalah Fusarium
oxysporum.Tingkat infeksi F. oxysporum pada varietas Buluh yaitu sebesar
15.25% dan pada varietas Anjasmoro yaitu sebesar 13.25% (Tabel 3). Oleh karena
itu, F.oxysporum dijadikan sebagai cendawan model untuk pengujian selanjutnya.
Tabel 3 Jenis cendawan patogen yang diperoleh dari blotter test
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
Tingkat infeksi (%)
Varietas Buluh
Varietas Anjasmoro
15.25
13.25
4.25
3.5
3.5
0
0.25
4.25
0.5
2
1.25
0
0.75
1
0
0.5
Cendawan Patogen
Benih
F. oxysporum
Penicillium sp.
Curvularia sp.
Aspergillus sp. 1
A.flavus
A.niger
CP 1
CP 2
Gambar 4
a
b
c
d
e
f
g
h
Jenis cendawan patogen terbawa benih kedelai: (a) konidia F.
oxysporum, (b) Penicillium sp., (c) konidia Curvularia sp., (d)
Aspergillus sp. 1, (e) A.flavus, (f) A. niger, (g) CP 1, (h) CP 2
(Perbesaran 40x10)
Cendawan-cendawan yang diperoleh dari benih kedelai berasal dari filum
Ascomycota.F. oxysporum merupakan cendawan yang paling tinggi tingkat
infeksi pada benih kedelai. Klasifikasi berdasarkan Webster dan Weber (2007)
menyatakan oxysporum adalah berasal dari filum Ascomycota, kelas
Pyrenomycetes, ordo Hypocreales, famili Nectriaceae, dan spesies Fusarium
oxysporum(tahap anamorf).
Ciri-ciri koloni F.oxysporum secara makroskopis yaitu hifa berwarna putih
dan setelah hari ketujuh berubah menjadi ungu dan kemerahan pada media
PDA.Ciri-ciri secara mikroskopis yaitu mikrokonidia berbentuk lonjong bersekat
dan tidak bersekat, makrokonidia berbentuk bulan sabit bersekat (umumnya
bersekat 3), hifa bersekat (Gambar 5).
18
a
a
cc
Gambar 5
b
b
dd
Fusarium oxysporum: (a) pada media PDA umur 7 hari, (b)
makrokonidia, (c) mikrokonidia, (d) hifa (Perbesaran 40x10)
Warna koloni Fusarium sp. dapat berubah warna sesuai dengan kondisi
nutrisi media seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Nugraheni (2010), yang
berhasil mengisolasi beberapa Fusarium sp. dari tanaman cabai. Hasil isolasi
menunjukkan bahwa Fusarium sp. memiliki jenis pigmen hifa yang berbedabedadiantaranya koloni berwarna krem, ungu, merah jambu, putih seperti kapas
dan putih krem.
Cendawan yang menyerang benih kedelai selain F. oxysporum adalah
Penicillium sp. Menurut Webster dan Weber (2007), klasifikasi cendawan
Penicillium sp. dan Aspergillus spp. adalah berasal dari filum Ascomycota, kelas
Plectomycetes, ordo Eurotiales, famili Eurotiaceae. Klasifikasi cendawan
Curvularia sp. adalah berasal dari filum Ascomycota, kelas Loculoascomycetes,
ordo Pleosporales, genus Cochliobolus, spesies Curvularia sp. (tahap anamorf).
Menurut Narayanasamy (2011), cendawan terbawa benih seperti
Aspergillus sp., Penicillium sp., dan Fusarium sp. menghasilkan mikotoksin pada
beberapa benih pangan seperti padi dan jagung. Mikotoksin dapat menyebabkan
benih rusak dan dapat berdampak pada kesehatan manusia apabila benih dijadikan
sebagai biji-bijian yang diolah untuk bahan dasar makanan.Mikotoksin yang
dihasilkan dapat menyebabkan pemicu penyakit kanker pada manusia.
Cendawan-cendawan patogen selain dapat menyebabkan kerusakan pada
benih juga dapat menyebabkan penyakit pada tanamannya.Fusarium sp.
merupakan salah satu cendawan patogen penting yang menyebabkan penyakit
pada kedelai.Menurut Li dan Hartman (2003), Fusarium solani f.sp glycine yang
dideteksi secara molekular pada bagian akar kedelai dan tanah sekitar kedelai
menyebabkan penyakit Sudden Death Syndrome (SDS) pada tanaman
tersebut.Penyakit ini menyebabkan kehilangan hasil yang cukup signifikan.
Menurut Jasnic et al. (2005), Fusarium sp. dapat menyebabkan gejala layu dan
nekrosis pada akar dan batang terendah dari tanaman kedelai, klorosis pada daun,
layu pada bagian apical tanaman, polong tidak berkembang dan benih lebih kecil
dan pucat. Kelompok Fusarium yang menyebabkan penyakit tersebut adalah F.
avenaceum (Fr.) Sacc., F. equiseti (Corda.) Sacc., F. oxysporum, F. poae (Peck.)
19
Wollenw.Uji patogenesitas menunjukkan bahwa F. oxysporum merupakan
cendawan yang paling patogenik pada kedelai.
Daya Hambat Bakteri Endofit terhadap Fusarium oxysporum secara in Vitro
Hasil uji antagonis bakteri endofit terhadap F. oxysporum pada hari ke-7
menunjukkan bahwa terdapat 9 isolat yang memiliki daya hambat di atas 50%.
EDA 3 memiliki daya hambat tertinggi yaitu sebesar 60.14%, diikuti dengan
EBA 6 dan EBA 7 yaitu sebesar 57.69% dan 57.08% secara berturut-turut
(Gambar 6).
EDA 3 merupakan isolat bakteri endofit yang diperoleh dari daun tanaman
kedelai sedangkan EBA 6 dan EBA 7 merupakan isolat yang diperoleh dari
batang tanaman kedelai. Ketiga isolat tersebut memiliki kemampuan antibiosis
yang tinggi sehingga mampu menghambat pertumbuhan F. oxysporum (Tabel 4).
b
a
Gambar 6
c
d
Penghambatan koloni F. oxysporum oleh bakteri endofit : (a)
tanpa bakteri (kontrol), (b) EBA 6, (c) EBA 7 dan (d) EDA 3
pada media PDA umur 7 hari
Tabel 4 Daya hambat bakteri endofit terhadap koloni Fusarium oxysporum
Daya hambat pertumbuhan (%)
No.
Kode isolat
Hari ke- … setelah inokulasi
Varietas
2
3
4
5
6
7
1
EAB1
Buluh
7.26
7.23
22.63
17.50
22.57
20.87
2
EAB5
Buluh
4.77
15.82
29.93
42.12
48.85
51.25
3
EAB9
Buluh
5.52
11.64
27.68
32.28
35.30
40.43
4
EAA1
Anjasmoro
9.93
8.99
14.61
29.58
35.00
38.62
5
EAA2
Anjasmoro
1.29
6.83
20.48
34.22
37.65
39.69
6
EAA3
Anjasmoro
6.59
6.07
22.76
34.14
32.91
30.62
7
EAA6
Anjasmoro
17.20
19.69
26.96
30.76
26.48
28.72
8
EAA8
Anjasmoro
0.59
21.64
34.52
42.91
47.61
52.62
9
EAA9
Anjasmoro
6.14
19.45
30.94
42.10
45.25
45.10
10
EAA11
Anjasmoro
1.37
3.87
23.80
19.38
4.81
2.11
11
EAA12
Anjasmoro
4.40
16.04
32.45
41.24
49.36
55.99
12
EAA14
Anjasmoro
2.92
9.37
24.97
29.62
28.98
34.97
20
Lanjutan Tabel 4
Daya hambat pertumbuhan (%)
No.
Kode isolat
Hari ke- … setelah inokulasi
Varietas
2
3
4
5
6
7
0.77
8.57
25.40
38.20
46.06
51.19
13
EAA17
Anjasmoro
14
EBB3
Buluh
11.76
24.63
36.47
46.95
51.69
54.07
15
EBB8
Buluh
4.46
13.92
28.69
37.03
42.30
47.42
16
EBA1
Anjasmoro
8.53
5.63
11.87
26.55
21.58
12.79
17
EBA2
Anjasmoro
6.62
4.51
20.16
31.50
26.64
17.91
18
EBA 6
Anjasmoro
7.23
24.63
37.45
48.21
53.16
57.69
19
EBA 7
Anjasmoro
23.64
27.63
36.85
46.92
52.63
57.08
20
EBA9
Anjasmoro
2.07
13.52
30.52
37.69
44.02
37.43
21
EBA10
Anjasmoro
4.12
6.92
24.89
23.22
21.23
17.59
22
EBA11
Anjasmoro
4.13
6.08
23.50
37.27
41.63
46.01
23
EBA12
Anjasmoro
8.37
19.28
23.61
29.82
33.06
36.10
24
EBA15
Anjasmoro
6.90
16.15
20.35
30.66
30.21
31.65
25
EBA16
Anjasmoro
9.33
16.36
23.21
16.77
19.28
19.55
26
EBA18
Anjasmoro
5.12
6.18
17.68
7.67
6.38
5.54
27
EBA19
Anjasmoro
2.20
7.10
10.78
16.41
17.25
18.98
28
EBA21
Anjasmoro
7.88
12.08
13.37
22.20
19.50
25.04
29
EBA22
Anjasmoro
7.05
10.27
13.70
22.48
20.59
25.05
30
EBA23
Anjasmoro
10.93
13.03
17.67
24.79
27.23
28.48
31
EBA26
Anjasmoro
12.67
16.82
23.45
30.61
29.49
32.79
32
EBA27
Anjasmoro
13.69
16.70
19.84
27.28
31.21
33.33
33
EBA28
Anjasmoro
12.47
16.44
21.23
27.81
33.13
34.79
34
EDB1
Buluh
13.36
21.91
30.80
44.08
53.56
54.46
35
EDA1
Anjasmoro
6.14
10.55
17.66
20.52
24.67
22.10
36
EDA 3
Anjasmoro
5.20
24.61
38.05
49.94
56.51
60.14
37
EDA8
Anjasmoro
2.37
11.22
24.83
34.50
35.20
37.06
38
EDA10
Anjasmoro
1.54
8.57
24.08
36.69
25.75
23.53
39
EDA11
Anjasmoro
0.80
0
19.19
25.74
29.38
30.30
40
EDA13
Anjasmoro
0
2.93
18.58
23.67
31.38
33.08
41
EDA14
Anjasmoro
1.60
4.64
22.09
18.92
14.48
13.67
42
EDA15
Anjasmoro
0
5.20
18.20
15.08
10.49
4.46
43
EDA16
Anjasmoro
0
6.67
18.00
18.04
19.63
18.75
44
BNB1
Buluh
4.29
27.31
39.17
38.81
36.52
31.97
45
BNA2
Anjasmoro
2.86
11.11
28.87
31.67
21.18
15.36
46
BNA3
Anjasmoro
1.38
7.99
9.98
11.38
12.23
7.47
47
BNA4
Anjasmoro
5.71
23.80
34.62
33.36
36.36
31.19
48
BNA7
Anjasmoro
1.55
8.25
25.63
18.66
13.15
9.57
Keterangan : EAB = Endofit Akar Buluh, EAA= Endofit Akar Anjasmoro, EBB = Endofit Batang
Buluh, EBA = Endofit Batang Anjasmoro, EDB = Endofit Daun Buluh, EDA =
Endofit Daun Anjasmoro, BNB = Endofit Benih Buluh, BNA = Endofit Benih
Anjasmoro
21
Bakteri yang memiliki kemampuan antibiosis biasanya memiliki senyawa
yang dapat mengganggu pertumbuhan morfologis maupun fisologis
cendawan.Menurut Purwantisari et al. (2005), ada bebarapa cara penghambatan
serangan cendawan patogen oleh bakteri. Pertama, bakteri menghasilkan senyawa
bioaktif yang dapat mendegradasi komponen struktural cendawan. Senyawa
tersebut mendegradasi dinding sel cendawan. Kedua, senyawa bioaktif juga
mempengaruhi permeabilitas membran sel cendawan sehingga mengganggu
transportasi zat-zat yang diperlukan untuk metabolisme. Hal ini mengakibatkan
metabolisme cendawan terganggu. Ketiga, senyawa yang dihasilkan bakteri dapat
berfungsi sebagai inhibitor terhadap suatu enzim yang dihasilkan oleh cendawan.
Apabila enzim jamur tersebut berperan penting dalam metabolisme cendawan,
maka aktivitas enzimatik sel akan terganggu. Akibatnya akan menekan
pertumbuhan cendawan. Mekanisme keempat, yaitu senyawa yang dihasilkan oleh
bakteri mampu menekan sintesis protein pada cendawan. Apabila sintesis protein
terganggu menyebabkan cendawan kekurangan protein tertentu sehingga
menyebabkan pertumbuhan cendawan terganggu.
Kurva Pertumbuhan Bakteri Endofit
Kerapatan populasi (sel/ml)
Hasil pengukuran kurva pertumbuhan menunjukkan bahwa EBA 7
memiliki kecepatan pertumbuhan tertinggi karena mampu mencapai fase stasioner
dengan selang waktu 10.5 jam inkubasi. Selanjutnya diikuti dengan isolat EDA 3
dengan kecepatan pertumbuhan mencapai fase stasioner dalam selang waktu 15
jam inkubasi dan EBA 6 dalam selang waktu 16.5 jam inkubasi (Gambar 7).
2,4
2,2
2
1,8
1,6
1,4
1,2
1
0,8
0,6
0,4
0,2
0
EBA 6
EBA 7
EDA 3
1,5 3 4,5 6 7,5 9 10,5 12 13,5 15 16,5 18
Waktu inkubasi (jam)
Gambar 7 Pertumbuhan isolat bakteri endofit
Pertumbuhan bakteri pada media berbeda-beda sesuai dengan fisiologis
bakteri itu sendiri. Fase-fase pertumbuhan bakteri terdiri dari fase lag, fase log,
fase stasioner (fase statis) dan fase kematian. Metabolit sekunder paling banyak
dihasilkan pada saat fase akhir log dan awal stasioner. Meryandini et al (2009),
menyatakan bahwa aktivitas enzim-enzim seperti selulase akan meningkat seiring
dengan pertumbuhan selnya.
Menurut Akhdiya (2003), pengukuran biomasa dan aktivitas enzim
menunjukkan puncak produksi enzim protease alkalin dan selulase paling tinggi
pada fase stasioner. Namun ketika sel mencapai akhir fase stasioner, aktivitas
22
selulase menurun. EBA 7 memiliki pertumbuhan yang cepat yaitu 10.5 jam sudah
memasuki fase stasioner. Berdasarkan hal itu, waktu optimum untuk ekstraksi
metabolit EBA 7 adalah 10.5 jam setelah inokulasi. Waktu optimum untuk
ekstraksi metabolit EDA 3 dan EBA 6 adalah 13.5 jam dan 16.5 setelah inokulasi,
secara berturut-turut.
Daya Hambat Senyawa Metabolit Bakteri Endofit terhadap Fusarium
oxysporum secara in Vitro
Hasil uji senyawa metabolit terhadap F. oxysporum pada media PDA
menunjukkan bahwa adanya daya penghambatan pertumbuhan cendawan sampai
hari terakhir pengamatan.Senyawa metabolit dari bakteri endofit EBA 6, EBA 7
dan EDA 3 memiliki kemampuan daya hambat yang berbeda-beda setiap tingkat
konsentrasi 5%, 10% dan 20%. EBA 7 memiliki daya hambat tertinggi yaitu
sebesar 34.88% pada konsentrasi 20% (Gambar 8). EDA 3 memiliki daya hambat
tertinggi kedua setelah EBA 7 yaitu sebesar 25.53% pada konsentrasi 20%
(Gambar 9).
a
Gambar 8
c
d
e
Penghambatan koloni F. oxysporum oleh senyawa metabolit bakteri
EBA 7 dengan konsentrasi: (a) 5%, (b) 10%, dan (c) 20%, (d)
kontrol negatif dan (e) kontrol positif pada media PDA umur 10
hari
a
Gambar 9
b
b
c
d
e
Penghambatan koloni F. oxysporum oleh senyawa metabolit bakteri
EDA 3 dengan konsentrasi: (a) 5%, (b) 10%, dan (c) 20%, (d)
kontrol negatif dan (e) kontrol positif pada media PDA umur 10
hari
EBA 7 memiliki daya hambat yang lebih tinggi dibanding dengan yang
isolat yang lain dapat disebabkan oleh kandungan senyawa metabolit yang
dihasilkannya lebih kompleks dibandingkan dengan senyawa metabolit yang
dikandung oleh EDA 3 dan EBA 6. Selain itu, media yang digunakan selama
fermentasi metabolit juga dapat mempengaruhi pembentukan senyawa metabolit
sekunder bakteri. Media dengan komposisi karbon yang kompleks merupakan
kondisi yang kritis bagi pertumbuhan bakteri endofit sehingga bakteri endofit
akan menghasilkan senyawa metabolit untuk mepertahankan kehidupannya
(Kumala et al. 2006).
23
Senyawa metabolit EBA 7 lebih baik dalam menghambat pertumbuhan
cendawan daripada metabolit EDA 3 dan EBA 6. Hal ini berbeda dengan uji daya
hambat sebelumnya, dimana pada uji kultur ganda EDA 3 merupakan isolat yang
paling tinggi dalam menghambat pertumbuhan F. oxysporum. Dua isolat bakteri
ini yang akan digunakan untuk pengujian selanjutnya (Tabel 5). Mekanisme kerja
metabolit bakteri endofit terhadap cendawan patogen dapat bersifat racun bagi
organisme lain dalam hal ini cendawan patogen F. oxysporum.Mekanisme yang
terjadi yaitu berupa antibiotik.Senyawa antibiotik ini adalah senyawa yang
bersifat anticendawan.Seperti yang dilaporkan Widowati 2013, bakteri endofit
yang diisolasi dari tanaman Taxus sumatrana menghasilkan senyawa metabolit
bersifat anticendawan.Hal ini ditunjukan oleh senyawa antifungal dari B.
amyloliquefaciens dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans.
Tabel 5 Daya hambat senyawa metabolit bakteri endofit terhadap F.
oxysporum
Daya hambat pertumbuhan koloni cendawan (%)a
Hari ke-…. setelah inokulasi
Perlakuan
2
3
4
5
6
7
8
9
10
EBA 65 %
10.44d
4.81d
1.85d
8.88bc
5.29b
5.52c
2.85c
5.11c
7.39c
EBA 6 10 %
15.30bcd
7.98d
7.31bc
11.63bc
8.76b
11.77c
6.97c
11.42c
10.42c
EBA 6 20 %
23.07abc
24.15bc
11.32bc
12.40bc
13.60b
15.28bc
15.61bc
15.93bc
17.11bc
EBA 75 %
5.67d
6.06d
2.95c
2.30c
4.35b
3.04c
3.50c
3.81c
8.17c
EBA 7 10 %
13.44cd
8.51d
8.24bc
12.33bc
12.10b
9.30c
9.42c
9.60c
14.32c
EBA 7 20 %
30.70a
31.71ab
30.07a
30.80a
30.94a
31.90a
32.06a
33.35a
34.88a
EDA 35 %
24.67ab
15.04cd
8.27bc
11.17bc
9.80b
9.05c
5.90c
5.47c
8.95c
EDA 3 10 %
30.09a
28.73ab
17.13b
16.60b
12.20b
10.26c
9.69c
10.37c
15.33bc
EDA 3 20 %
31.04a
39.79a
35.01a
34.51a
30.34a
24.97ab
23.08ab
24.46ab
25.53ab
a
Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak
berbeda nyata pada taraf uji 5% (uji selang berganda Duncan).
Perlakuan Benih dengan SenyawaMetabolit Bakteri Endofit
Senyawa metabolit EBA 7 dan EDA 3 mempengaruhi tingkat infeksi
cendawan patogen terbawa benih.Benih yang direndam dalam senyawametabolit
bakteri endofit dapat menurunkan tingkat infeksi cendawan patogen terbawa benih.
Tabel 6 menunjukkan bahwasenyawae metabolit EBA 7 dan EDA 3mampu
menekan infeksi cendawan pada benih kedelai dibandingkan dengan kontrol (-),
baik pada metode blotter test maupun growing on test.
Hasil perlakuan perendaman benih menunjukkan persentase infeksi tertinggi
terjadi pada air steril atau kontrol (-) yaitu sebesar 19% pada metode blotter test
dan pada metode growing on test pada media agar air dan media tanah steril
sebesar 44% dan 37.71% secara berturut-turut. Persentase infeksi terendah terjadi
pada perlakuan perendaman benih didalam senyawametabolit yang dihasilkan
isolat EBA 7 yaitu sebesar 2% (blotter test), 5.21% (growing on test pada media
agar air) dan 8.33% (growing on test pada media tanah steril). Selanjutnya diikuti
oleh perlakuan perendaman benih di dalam fungisida atau kontrol (+).
24
Perendaman benih di dalam senyawa metabolit yang dihasilkan oleh EDA 3
menunjukkan persentase infeksi sebesar sebesar 7% (blotter test), 9.57% (growing
on test pada media agar air) dan 10.87% (growing on test pada media tanah steril).
Hal ini dapat dilihat pada Gambar 10.
Tabel 6 Tingkat infeksi dan penekanan tingkat infeksi cendawan patogen
terbawa benih kedelai
Blotter test
Perlakuan
Tingkat
infeksi
(%)
Penekanan
tingkat
infeksi (%)
19
6
2
7
68.42
89.47
63.16
Kontrol (-)
Kontrol (+)
EBA 7
EDA 3
Growing on test
Media agar air
Media Tanah steril
Penekanan
Tingkat Penekanan
Tingkat
tingkat
infeksi
tingkat
infeksi
infeksi
(%)
infeksi (%)
(%)
(%)
44
35.71
12.36
71.91
6.67
81.33
5.21
88.16
8.33
76.67
9.57
78.24
10.87
69.60
Tingkat infeksi (%)
50
40
Kontrol (-)
30
Kontrol (+)
20
EBA 7
10
EDA 3
0
Blotter test
Blotter
test
Gambar 10
Agar air
Tanah steril
Tingkat infeksi benih kedelai oleh F.oxysporum pada media
blotter test, agar air dan tanah steril
Penekanan tingkat
infeksi (%)
100
80
60
Kontrol (+)
40
EBA 7
EDA 3
20
0
Blotter test
Blotter
test
Gambar 11
Agar air
Tanah steril
Penekanan tingkat infeksi cendawan patogen terbawa benih
kedelai pada media blotter test, agar air dan tanah steril
25
Gambar 11 menunjukkan bahwa senyawa metabolit EBA 7 dan EDA 3
mampu menekan infeksi cendawan pada benih yang ditanam dengan metode
blotter test yaitu sebesar 89.47% dan 63.16% secara berturut-turut. Metabolit
EBA 7 dan EDA 3juga mampu menekan infeksi cendawan pada benih yang
ditanam dengan metode growing on test pada media agar air yaitu sebesar 88.16%
dan 78.24% secara berturut-turut. Senyawa metabolit EBA 7 dan EDA 3juga
mampu menekan infeksi cendawan pada benih yang ditanam dengan metode
growing on test pada media tanah steril yaitu sebesar 76.67% dan 69.60% secara
berturut-turut. Menurut Shu-Mei et al. (2008), senyawa anticendawan yang
dihasilkan oleh isolat bakteri endofit yang berasal dari tanaman kedelai dapat
mencegah penyakit yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp glycine.
Tabel 7 menunjukkan bahwa perlakuan perendaman benih di dalam
senyawametabolit bakteri tidak mempengaruhi pertumbuhan benih kedelai.Hal ini
dapat dilihat berdasarkan daya berkecambah dan tinggi tanaman.Bahkan,
perendaman dengan senyawametabolit bakteri lebih meningkatkan daya
berkecambah benih dibandingkan dengan perendaman di dalam air steril dan
fungisida.
Tabel 7 Pengaruh metabolit bakteri endofit terhadap pertumbuhan tanaman
kedelai pada media agar air dan tanah steril
Perlakuan
Kontrol (-)
Kontrol (+)
EBA 7
EDA 3
Media agar air
Daya
Tinggi
berkecambah
tanaman
(%)
(cm)
75
9.24
89
10.46
96
11.63
94
10.60
Media tanah steril
Daya
Tinggi
berkecambah
tanaman
(%)
(cm)
84
24.79
90
30.30
96
31.38
92
30.55
Senyawa metabolit EBA 7 menunjukkan daya berkecambah tertinggi yaitu
sebesar 96%.Selanjutnya diikuti oleh perlakuan dengan senyawametabolit EDA 3
yang menunjukkan daya berkecambah sebesar 92-94%.Perendaman benih di
dalam air steril memiliki daya berkecambah sebesar 75-84% (Gambar 12).Hal ini
dipengaruhi oleh adanya kemampuan senyawametabolit dalam melindungi benih
dari infeksi cendawan F. oxysporum yang menyebabkan benih mati sebelum
berkecambah.
Perlakuan dengansenyawa metabolit bakteri tidak memberi pengaruh
buruk pada pertumbuhan kedelai.Hal ini dapat dilihat berdasarkan tinggi tanaman
kedelai (Gambar 13).Tinggi tanaman tertinggi terjadi pada perlakuan dengan
senyawametabolit EBA 7 yaitu sebesar 11.63 cm pada media agar air dan 31.38
cm pada media tanah steril. Selanjutnya diikuti oleh EDA 3 yaitu sebesar 10.60
cm pada media agar air dan 30.55 cm pada media tanah steril. Hal ini
menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman dengan perlakuan senyawa metabolit
bakteri memiliki pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol
negatif, seperti disajikan pada Gambar 14.
26
Daya berkecambah (%)
120
100
80
Kontrol (+)
60
Kontrol (-)
40
EBA 7
EDA 3
20
0
Agar air
Tinggi tanaman (cm)
Gambar 12
Tanah steril
Daya berkecambah kedelai pada media agar air dan tanah
steril
35
30
25
20
15
10
5
0
Kontrol (+)
Kontrol (-)
EBA 7
EDA 3
Agar air
Gambar 13
Tanah steril
Tinggi tanaman kedelai pada media agar air dan tanah steril
a
i
ii
iii
iv
v
vi
vii
viii
b
Gambar 14
Pertumbuhan tanaman kedelai pada media: (a) agar air
(perlakuan i. kontrol negatif, ii. kontrol positif, iii. EBA 7, iv.
EDA 3) dan (b) tanah steril (perlakuan v. kontrol negatif, vi.
kontrol positif, vii. EBA 7, viii. EDA 3)
27
Hal ini dapat disebabkan oleh senyawa yang terkandung di dalam
metabolit yang memicu pertumbuhan dan mencegah perkembangan penyakit.
Kontrol (-) memiliki pertumbuhan yang rendah dapat disebabkan oleh faktor
lingkungan dan penyakit.Menurut Alcivar et al. (2007), tinggi dan hasil tanaman
berkurang terjadi karena penyakit tanaman, defesiensi unsur hara dan air.
Karakterisasi dan Identifikasi Isolat Bakteri Endofit
Bakteri endofit EBA 6, EBA 7 dan EDA 3 merupakan bakteri endofit
terpilih untuk dikarakterisasi dan diidentifikasi secara morfologi, fisiologi dan
biokimia. Berdasarkan identifikasi yang dilakukan oleh ICBB Bogor (Tabel
8),ketiga isolat tersebut merupakan kelompok bakteri Xenorhabdus sp. (EBA 7),
Listeria sp. (EDA 3) dan Pseudomonas sp. (EBA 6).
Tabel 8 Karakteristik isolat bakteri endofit (Sumber ICBB)
Kode isolat
No.
Pengamatan
EBA 7
EDA 3
EBA 6
1
Ukuran koloni
0.5 mm
1-4 mm
1-2 mm
2
Bentuk koloni
Irregular
Circular
Circular
3
Elevasi
Flat
Flat
Flat
4
Tepi koloni
Lobate
Entire
Entire
5
Warna
Yellow
Cream Bucam
Yellowfish
translucent
6
Permukaan
Smooth Shiny
Smooth (rather Shiny)
Smooth shiny
7
Morfologi sel
Bacill
Cocobacilli/ oval
Bacill
8
Gram
Negatif
Positif
Negatif
9
Ukuran sel
(p=0.5, l=o.25)
µm
(p=0.5-0.75, l=0.5)
µm
(p=0.75, l=0.5)
µm
10
Penggunaan
oksigen
+
+
+
11
Penggunaan
glukosa
+
+
-
12
Endospora
Tidak
Tidak
Tidak
13
Motil
-
+
+
14
Nitrat
-
-
+
15
Lisin
+
-
+
16
Ornitin
-
-
-
17
H2S
-
-
-
18
Mannitol
-
+
-
19
Xylose
-
+
-
20
Indol
-
-
-
28
Lanjutan Tabel 8
Kode isolat
No.
Pengamatan
EBA 7
EDA 3
EBA 6
21
Urease
-
-
-
22
Sitrat
-
-
-
23
ONPG
-
+
-
24
V-P
-
+
-
25
TDA
-
-
-
26
Gelatin
-
+
+
27
Malonate
-
-
-
28
Inositol
-
-
-
29
Sorbitol
-
-
-
30
Rhamnose
-
-
-
31
Sukrose
-
-
-
32
Lactose
-
-
-
33
Arabinose
-
-
-
34
Adonitol
-
-
-
35
Raffinose
-
-
-
36
Salisin
-
-
-
37
Arginin
+
-
+
38
Oksidase
-
-
+
39
Hemolisis
Negatif
Negatif
Negatif
Xenorhabdus sp.
Listeria sp.
Pseudomonas sp.
Bakteri
Ketiga bakteri endofit yang berpotensi dalam menekan pertumbuhan
cendawan patogen terbawa benih berasal dari kelompok bakteri gram negatif
(Xenorhabdus sp. dan Pseudomonas sp.) dan kelompok gram positif (Listeria sp.).
Bakteri endofit tersebut tidak bersifat patogen pada manusia karena menunjukkan
hasil yang negatif pada pengujian hemolisis. Menurut Yang et al. (2012),
Xenorhabdus sp. merupakan bakteri yang bersismbiosis dengan nematoda patogen
serangga. Menurut Dayle et al. (2015), bakteri dari genus Listeria ada yang
bersifat patogen dan nonpatogen. Umumnya bakteri Listeria diketahui sebagai
bakteri kontaminan pada makanan seperti L. monocytogenes dan bakteri yang
nonpatogen yaitu L. seeligeri dan L. innocua. Selain Xenorhabdus sp. dan Listeria
sp., bakteri yang ditemukan adalah Pseudomonas sp. yang merupakan bakteri
umum ditemukan sebagai bakteri endofit pada tumbuhan.
Namun pada penelitian ini Xenorhabdus sp. dan Listeria sp. menunjukkan
daya hambat yang lebih tinggi dibandingkan dengan Pseudomonas sp. Hal ini
29
dapat disebabkan oleh senyawa metabolit yang dihasilkan bakteri Xenorhabdus sp.
(EBA 7) dan Listeria sp. (EDA 3) memiliki komponen yang lebih berpotensi
dalam menekan cendawan patogen terbawa benih.
Analisis Komponen SenyawaMetabolit Bakteri Endofit
Komponen kimia senyawa EBA 7 dan EDA 3 dianalisis dengan
menggunakan Pyrolysis Gass Chromatography Mass Spectrometry (Py-GCMS).
Hasil analisis senyawa metabolit bakteri menunjukkan adanya perbedaan jumlah
kandungan senyawa satu sama lain.
Tabel 9Hasil Py-GCMS senyawa metabolit isolat bakteri EBA 7
No.
Persentase (%)
Nama Senyawa
1
3.24
Phenol
2
2.31
Phenol, 4-methyl-
3
2.52
Pentanal
4
4.20
4-methyloxazole
5
2.49
Oxirane, (1,1-dimethylbutyl)-
6
1.54
2,3-dihydro-benzofuran
7
1.69
Cyclohexanone, 2-methyl-, oxime
8
2.37
Piperidine, 1,2-dimethyl-
9
3.96
1,6-heptadiene-3-d, 5-methyl-
10
4.98
Piperidine, 1,2-dimethyl-
11
6.12
7-hydroxy-6-methyl-bicyclo
12
4.42
Propandinitril, cyclooctyliden-
13
5.62
Propandinitril, cyclooctyliden
14
11.21
3-(4-methyl-1-quinolinio)-1-propanesulfonate
15
4.71
L-Leucine
16
5.59
Cycloalanylleucine
17
5.70
N-(3-butenyl)-dipropylamine
18
3.04
1,4-diaza-2,5-dioxo-3-isobutyl bicyclo
19
5.24
1,4-diaza-2,5-dioxo-3-isobutyl bicyclo
20
4.87
1,4-diaza-2,5-dioxo-3-isobutyl bicyclo
21
5.62
1,4-diaza-2,5-dioxo-3-isobutyl bicyclo
22
0.86
6-Octadecenoic acid, methyl ester
23
1.70
1,4-diaza-2,5-dioxo-3-isobutyl bicycle
24
3.16
3-benzyl-1,4-diaza-2,5-dioxobicyclo
25
2.84
3-benzyl-1,4-diaza-2,5-dioxobicyclo
30
Tabel 10 Hasil Py-GCMS senyawa metabolit isolat bakteri EDA 3
No.
Persentase (%)
Nama senyawa
1
2.47
2-propynoic acid
2
5.11
Phenol
3
3.22
(z)-1-(1-butenyl)aziridine
4
2.31
2 –propen-1-amine
5
2.61
Cyclopropane, 2-chloro-1,1,3-trimethyl-
6
1.36
1,6-diimino-2,9-dioxocyclodecane
7
1.73
3a,7a-epoxy-3a,4,5,6,7,7a-hexahydro-4-indanone
8
1.76
2,3-dihydro-benzofuran
9
2.12
Spiro[3.4]octan-5-one
10
1.05
Cyclooctanone, 2-bromo-
11
1.50
1-tetradecanol
12
1.06
2,5-dibora-1,4-dioxan, 2,3,5-triethyl-6-propyl-
13
1.92
5-ethoxy-4-ethoxycarbonylmethyloxazole
14
1.16
Morpholine, 4-acetyl-
15
3.24
Cyclohexane, 1,2,3-trimethyl-
16
1.00
3-pyrrolidin-2-yl-propionic acid
17
4.88
Cycloalanylleucine
18
2.03
Cocaine
19
6.23
1,4-diaza-2,5-dioxobicyclo
20
3.97
Cycloglycylserine
21
4.30
1,4-diaza-2,5-dioxo-3-isobutyl bicyclo
22
2.14
Methyl-n
23
9.31
1,4-diaza-2,5-dioxo-3-isobutyl bicyclo
24
3.94
1,4-diaza-2,5-dioxo-3-isobutyl bicyclo
25
6.24
1,4-diaza-2,5-dioxo-3-isobutyl bicyclo
26
10.88
5,10-diethoxy-2,3,7,8-tetrahydro-1h,6h-dipyrrolo
27
0.78
9-octadecenoic acid, methyl ester
28
1.19
1,4-diaza-2,5-dioxo-3-isobutyl bicyclo
29
5.09
3-benzyl-1,4-diaza-2,5-dioxobicyclo
30
5.40
3-benzyl-1,4-diaza-2,5-dioxobicyclo
31
Hasil Py-GCMS manunjukkan bahwa ada beberapa senyawa dominan yang
terdapat pada masing-masing senyawa EBA 7 (Xenorhabdus sp.) dan EDA 3
(Listeria sp.). EBA 7 memiliki 25 jenis komponen senyawa metabolit sedangkan
EDA 3 memiliki 30 jenis komponen senyawa metabolit. Komponen kimia yang
dominan terdapat pada isolat bakteri endofit EBA 7 adalah 3-(4-methyl-1quinolinio)-1-propanelsulfonate (11.21%) bersifat anticedawan, 7-hydroxy-6methyl-bicyclo (6.12%), propandinitril-cyclooctyliden (5.62%), dan 1,4-diaza-2,5dioxo-3-isobutyl bicyclo (5.62%)(Tabel 9). Komponen kimia yang dominan
terdapat pada isolat bakteri endofit EDA 3 adalah 5,10-diethoxy-2,3,7,8tetrahydro-1H,6H-dipyrrolo (10.88%) bersifat anticendawan, 1,4-diaza-2,5dioxo-3-isobutyl bicyclo (9.31%), dan fenol (5.11%) bersifat anticendawan
(Phenomenex 2015).
Senyawa-senyawa kimia yang dominan dari senyawa kedua isolat bakteri
belum tentu menjadi senyawa yang aktif dalam menghambat pertumbuhan koloni
F. oxysporum. Oleh karena itu untuk mengetahui senyawa yang berperan penting
dalam menghambat F. oxysporum perlu dilakukan fraksinasi dan pengujian
masing-masing senyawa kimia tersebut terhadap cendawan.
Penelitian tentang metabolit yang dihasilkan oleh Xenorhabdus sp. dan
Listeria sp. belum banyak dilaporkan. Namun menurut Yang et al. (2012),
Xenorhabdus sp. mengeluarkan senyawa metabolit sekunder berupa toksin yang
dapat digunakan sebagai agen pengendali serangga pada tanaman.Hal ini
disebabkan karena protein toksinnya yang bersifat insektisidal. Namun, pada
penelitian ini, senyawa yang diketahui secara umum dapat bersifat antimikrobia
adalah fenol.
Fenol merupakan salah satu senyawa komponen yang terdapat pada kedua
metabolit bakteri. Fenol ditemukan sebesar 3.24% pada senyawa metabolit bakteri
Xenorhabdus sp. dan 5.11% pada senyawa metabolit bakteri Listeria sp. Menurut
Oku (1994), fenol merupakan senyawa yang bersifat antimikrobia yang dapat
menghambat pertumbuhan cendawan.
32
5 SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Bakteri endofit asal tanaman kedelai yang memiliki potensi untuk
menghambat pertumbuhan Fusarium oxysporum adalah Listeria sp.,
Pseudomonas sp. dan Xenorhabdus sp. secara in vitro. Senyawa metabolit yang
berpotensi dalam menghambat pertumbuhan F. oxysporum adalah Xenorhabdus
sp. dan Listeria sp. secara in vitro. Senyawa metabolit Xenorhabdus sp. dan
Listeria sp. juga mampu menurunkan tingkat infeksi F. oxysporum pada metode
blotter test dan growing on test.
Saran
Senyawa metabolit Xenorhabdus sp. dan Listeria sp. perlu difraksinasi
untuk mengetahui senyawa yang paling penting dalam menekan serangan
cendawan patogen terbawa benih kedelai. Aplikasi senyawametabolit
Xenorhabdus sp. dan Listeria sp. secara in vivo dapat dilakukan dengan berbagai
metode aplikasi sehingga diperoleh hasil yang utuh. Senyawa metabolit
Xenorhabdus sp. dan Listeria sp. sebaiknya dapat diuji terhadap bakteri patogen
terbawa benih.
33
DAFTAR PUSTAKA
Agarwal VK, Sinclair JB. 1997. Principles of Seed Pathology. Second Edition.
New York (US): Lewis Publishers.
Akhdiya A. 2003. Isolasi bakteri penghasil enzim protease alkalin termostabil.
Buletin Plasma Nutfah. 9(2): 38-44.
Alcivar A, Jacobson J, Rainho J. 2007. Genetic analysis of soybean plant height,
hypocotyl and internode lengths.Journal of Agricultural, Food, and
Environmental Sciences.1(1): 1-20.
Alves MDC, Pozza EA. 2012. Scanning electron microscopy detection of seed
borne fungi in blotter test. Current Microscopy Contributions to
Advances in Science and Technology.230-238.
Anggraeni ND, Suwarno FC. 2014. Kemampuan benih kedelai (Glycine max L.)
untuk mempertahankan viabilitasnya setelah didera dengan etanol. Bul
Agrohorti. 1(4): 34-44.
Athukorala SNP, Fernando WGD, Rashid KY. 2009. Identification of antifungal
antibiotics of Bacillus species isolated from different microhabitats using
polymerase chain reaction and MALDI-TOF mass spectrometry.
Journal ofCanada Microbiology. 55: 1021-1032.
Barnett HL, Hunter BB. 1999. Illustrated Genera of Imperfect Fungi. Fourth
Edition. Minnesota (US): APS Pr.
[BBPPP] Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. 2010.
Standar Mutu Fisik Biji Kedelai. Informasi Ringkas Bank Pengetahuan
Tanaman Pangan Indonsesia.
[BPS] Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. 2013.Berita Resmi Statistik:
Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai (Angka Ramalan II tahun 2013).
[diunduh 2014 Des 19]. Tersedia pada: http://www.bps.go.id.
[BPSB] Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih IV.2013. Evaluasi Pelaksanaan
Kegiatan UPT.BPSB THP Satuan Kerja Dinas Pertanian Provinsi
Sumatera Utara. Laporan Tahunan. Medan (ID): BPSB.
Copeland LO, Mc Donald MB. 1985. Principles of Seed Science and
Technology. New York (US): Burgess Publishing Company.
Dailey RC, Welch LJ, Hitchins AD, Smiley RD. 2015. Effect of Listeria seeligeri
or Listeria welshimeri on Listeria monocytogenes detection in and
recovery from buffered Listeria enrichment broth.Food Microbiology. 46:
528-534. doi: 10.1016/j.fm.2014.09.008.
Dalal J, Kulkarni N. 2013. Population dynamics and diversity of endophytic
bacteria associated with soybean (Glycine max (L) Merril). Journal of
British Microbiology Research. 3(1): 96-105.
Dewi R, Sutrisno H, Nazirwan. 2013. Pemulihan detiorisasi benih kedelai
(Glycine max L.) dengan aplikasi giberelin. Jurnal Penelitian Pertanian
Terapan. 13 (2): 116-122
Djaenuddin N. 2011. Bioekologi Penyakit Layu Fusarium oxysporum.Seminar
dan Pertemuan Tahunan XXI PEI, PFI Komda Sulawesi Selatan dan Dinas
Perkebunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tanggal 7 Juni 2011 di
Makassar.
34
Dudeja SS, Giri R, Saini R, Suneja-Madan P, Kothe E. 2012.Interaction of
endophytic microbes with legumes.Journal of Basic Microbiology. 52:
246-260.
Dugan FM. 2006. The Identification of Fungi. Minnesota (US): APS Pr.
Elita A, Saryono S, Christine J. 2013. Penentuan waktu optimum produksi
antimikroba dan uji fitokimia ekstrak kasar fermentasi bakteri endofit
Pseudomonas sp. dari umbi tanaman dahlia (Dahlia variabilis).Journal
of Indonesian Chemistry Acta. 3(2): 56-62.
Faturrahman.2001. Kemampuan Bacillus subtilis GB03 yang diberi sumber
karbon alami yang berbeda dalam menghambat pertumbuhan Fusarium
oxysporum.J Pen Unram. 2 (12).
Habazar T, Resti Z, Yanti Y, Trisno J, Diana A. 2012. Penapisan bakteri endofit
akar kedelai secara in planta untuk mengendalikan penyakit pustul bakteri.
J Fitopatol Indones. 8 (4): 103-109.
Hung PQ, Annapurna K. 2004. Isolation and characteristic of endophytic
bacteria in soybean (Glycine sp.).Journal of Omonrice. 12: 92-101.
Ilyas S. 2012. Ilmu dan Teknologi Benih: Teori dan Hasil-hasil Penelitian. Bogor
(ID): IPB Pr.
Indartono. 2011. Pengkajian suhu ruang penyimpanan dan teknik pengemasan
terhadap kualitas benih kedelai. Jurnal Gema Teknologi. 16(3): 158163.
Irwan AW. 2006. Budidaya Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merill).
Jatinangor (ID): Universitas Padjajaran.
ISTA. 2014. International rules for seed testing. Seed Sci Technol. 24:39-42.
Jasnic SM, Vidic MB, Bagi FF, Dordevic VB. 2005. Pathogenecity of Fusarium
species in soybean.Proc Nat Sci. 109:113-121.
Kumala S, Shanny F, Wahyudi P. 2006. Aktivitas antimikroba metabolit bioaktif
mikroba endofitik tanaman trengguli (Cassi fistula L.).Jurnal farmasi
Indonesia. 3(2): 97-102.
[Kementrian Pertanian] Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2013. Pedoman
Teknis Pengelolaan Produksi Kedelai Tahun 2013. Jakarta (ID): Kementan.
Li S, Hartman GL, Domier LL. 2008. Quantification of Fusarium solani f. sp.
glycinesisolates in soybean roots by colony-forming unit assays and
real-time quantitativePCR. Journal of Theory Application Genetic. 117:
343-352. doi:10.1007/s00122-008-0779-2.
Li S, Hartman GL. 2003. Molecular detection of Fusarium solani f.sp.glycines in
soybean roots and soil. Plant Pathology. 52: 74-83
McGee DC, Nyvall RF. 2008. Soybean Seed Health.Iowa State University.
Medic-Pap S, Milosevic M, Jasnic S. 2007.Soybean seed-borne fungi in the
vojvodina province.Journal of Phytopathology. 45:55-65.
Meryandini A, Widosari W, Maranatha B, Sunarti TC, Rachmania N, Satria H.
2009. Isolasi bakteri selulolitik dan karakterisasinya.Makara sains. 13(1):
33-38.
Munif A, Hallmann J, Asikora R. 2012. Isolation of endophytic bacteria from
tomato and their activities against fungal diseases.Journal of
Microbiology Indonesian. 6(4): 148-156. doi: 10.5454/mi.6.4.2.
35
Narayanasamy P. 2011.Microbial plant-pathogens, detection and disease
diagnosis: fungal pathogens.Volume 1.Springer Science+business media.
doi:10.1007/978-90-481-9735-4_2.
Nugraheni ES. 2010. Karakterisasi biologi isolat-isolat Fusarium sp. pada
tanaman cabai merah (Capsicum annum L.) asal Boyolali. [Skripsi].
Surakarta (ID): Universitas Sebelas Maret.
Oku H. 1994. Plant Pathogenesis and Disease Control. New York (US): CRC
Pr.
Pal KK, Gardener BM. 2006. Biological Control of Plant Pathogens.The Plant
Health Instructor.doi: 10.1094/PHI-A-2006-1117-02.
[Phenomenex] Phenomemex product. 2015. [diunduh Okt 28]. Tersedia pada:
http://www.phenomenex.com.
Prihatman K. 2000. Sistem Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan,
ProyekPEMD, BAPPENAS tentang Budidaya Pertanian Kedelai (Glycine
max).[diunduh 2014 Mei 4]. Tersedia pada:http://www.ristek.go.id.
Purwantisari S, Pujiyanto S, Ferniah R. 2005. Uji Efektivitas Bakteri Kitinolitik
sebagai Pengendali Pertumbuhan Kapang Patogen Penyebab Penyakit
Utama Tanaman Sayuran dan Potensinya sebagai Bahan Biofungisida
Ramah Lingkungan.[Laporan penelitian]. Semarang (ID): Universitas
Diponogoro.
Purwanti S. 2004. Kajian suhu ruang simpan terhadap kualitas benih kedelai
hitam dan kedelai kuning.Ilmu Pertanian. 11(1): 22 31.
Rahmawati. 2009. Mutu Fisiologis Benih Dari Berbagai Tingkat Bobot Biji
Selama Periode Simpan. Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009. Hlm:
273-282.
Ramarathnam R, Bo S, Chen Y, Fernando WGD, Xuewen G, Kievit TD. 2007.
Molecular and biochemical detection of fengycin and bacillomysin D
producing Bacillus spp., antagonistic to fungal pathogens of canola and
wheat. Can J Microbiol. 53: 901-911.
Ratulangi MM. 2004. Control of Sclerotium wilt deaseas on soybean by soil
solarization. Eugenia 10(1): 1-7.
Shu-Mei Z, Chang-Qing S, Yu-Xia W, Jing L, Xiao-Yu Z, Xian-Cheng Z. 2008.
Isolation and characteristic of antifungal endophytic bacteria from
soybean.Institute of Microbiology. 35(10): 1593-1599.
Sofia D. 2007. Pengaruh Konsentrasi dan Lama Waktu Pemberian Kolkhisin
terhadap Pertumbuhan dan Poliploid pada Biji Muda Kedelai yang
Dikultur secara in Vitro.[Karya tulis]. Medan (ID): Universitas Sumatera
Utara.
Sudantha I. 2010.Pengujian beberapa jenis jamur endofit dan saprofit
Trichoderma Spp. terhadap penyakit layu Fusarium pada tanaman kedelai.
Jurnal Agroteksos. 20(2-3): 90-102.
Sunantora IMM. 2000. Teknik Produksi Benih Kedelai. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Tanaman Pangan.Instalasi Penelitian dan Pengkajian
Teknologi Pertanian Denpasar. Bali (ID).
Sunatmo TI. 2009. Eksperimen Mikrobiologi Dalam Laboratorium. Jakarta (ID):
Ardy Agency.
Suprapto HS.2001. Bertanam Kedelai. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
36
Suryanto D, Irawati N, Munir E. 2011. Isolation and characterization of
chitinolytic bacteria and their potential to inhibit plant pathogenic fungi.
J Mikrobiol Indones.5(2): 144-148.
Wain-Tassi AL, Dos Santos JF, Panizzi RDC, Vieira RD. 2011.Seed-borne
pathogens and electrical conductivity of soybean seeds. Journal of
Scientia Agricola. 69 (1): 19-25
Webster J, Weber RWS. 2007. Introduction to Fungi. Third Edition. New York
(US): Cambrige University Pr
Widowati T. 2013. Identifikasi senyawa Kimia Antifungal dari Bakteri Endofit
Asal Taxus sumatrana. [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Wu LC, Lin YS, Chiu KY. 1964. Seed-borne diseases of soybean in taiwan II
survey of the seed-borne pathogens from soybean seeds. Botanical
Bulletin of Acedemia Sinica. 5: 105-112.
Yang J, Zeng HM, Lin HF, Yang XF, Liu Z, Guo LH, Yuan JJ, Qiu DW. 2012.
An insecticidal protein from Xenorhabdus budapestensis that result in
prophenoloxidase activation in the wax moth, Galleria mellonella. Journal
of Invertebrate Pathology. 110: 60-67. doi: 10.1016/j.jip.2012.02.06
Zhang YZ, Chen WF, Li M, Sui XH, Liu HC, Zhang XX, Chen WX. 2012.
Bacillus endoradicis sp. nov., an endophytic bacterium isolated from
soybean root. International Journal of Systematic and Evolutionary
Microbiology. 62: 359–363.
37
LAMPIRAN
Lampiran 1Respon hipersensitif pada daun tembakau oleh bakteri endofit
No.
Kode Isolat
Asal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
EAB1
EAB2
EAB3
EAB4
EAB5
EAB6
EAB7
EAB8
EAB9
EBB1
EBB2
EBB3
EBB4
EBB5
EBB6
EBB7
EBB 8
EDB1
EDB2
EDB3
EDB4
EDB5
EDB6
EAA1
EAA2
EAA3
EAA4
EAA5
EAA6
EAA7
EAA8
EAA9
EAA10
EAA11
EAA12
EAA13
EAA14
EAA15
EAA16
EAA17
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Daun
Daun
Daun
Daun
Daun
Daun
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Akar
Varietas
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Hipersensitif
(+)
(-)
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
38
Lanjutan Lampiran 1
No.
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
Kode Isolat
Asal
EAA 18
EBA 1
EBA 2
EBA3
EBA4
EBA5
EBA6
EBA7
EBA8
EBA9
EBA10
EBA11
EBA12
EBA13
EBA14
EBA15
EBA16
EBA17
EBA18
EBA19
EBA20
EBA21
EBA22
EBA23
EBA24
EBA25
EBA26
EBA27
EBA28
EDA1
EDA2
EDA3
EDA4
EDA5
EDA6
EDA7
EDA8
EDA9
EDA10
EDA11
EDA12
EDA13
EDA14
EDA15
Akar
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Batang
Daun
Daun
Daun
Daun
Daun
Daun
Daun
Daun
Daun
Daun
Daun
Daun
Daun
Daun
Daun
Varietas
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Hipersensitif
(+)
(-)
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
39
Lanjutan Lampiran 1
No.
Kode Isolat
Asal
Varietas
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
Total
EDA16
EDA17
BNB1
BNB2
BNB3
BNB4
BNB5
BNB6
BNA1
BNA2
BNA3
BNA4
BNA5
BNA6
BNA7
BNA8
BNA9
BNA10
102 isolat
Daun
Daun
Benih
Benih
Benih
Benih
Benih
Benih
Benih
Benih
Benih
Benih
Benih
Benih
Benih
Benih
Benih
Benih
Anjasmoro
Anjasmoro
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Buluh
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Anjasmoro
Hipersensitif
(+)
(-)
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
54 isolat
48 isolat
Keterangan : Hipersensitif positif (+) = bersifat patogenik, hipersensitif negatif (-)
= bersifat nonpatogenik
40
Lampiran 2 Analisis komponen senyawa metabolit isolat bakteri EBA 7
41
Lampiran 3 Analisis komponen senyawa metabolit isolat bakteri EDA 3
42
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 30 November 1989 sebagai anak
tunggal dari pasangan Bapak Tasman dan Ibu Suryati, SH.
Penulis lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Medan tahun 2008
dan pada tahun yang sama penulis diterima di Program Studi Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara melalui
program SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Penulis
lulus pendidikan sarjana pada tahun 2013. Pada tahun 2013, penulis diterima di
Program Studi Fitopatologi pada Program Magister Pascasarjana Institut Pertanian
Bogordengan perolehan bantuan biaya pendidikan daribeasiswa pendidikan
pascasarjana program BPPDN-DIKTI (Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam
Negeri-Direktorat Pendidikan Tinggi). Penulis menamatkanpendidikan magister
pada tahun 2015. Sebagian dari tesis pernah dipresentasikan pada Kongres dan
Seminar Persatuan Fitopatologi Indonesia (PFI) XXIII.
Download