22 Bab III Pengolahan dan Analisis Data Dalam bab pengolahan

advertisement
Bab III Pengolahan dan Analisis Data
Dalam bab pengolahan dan analisis data akan diuraikan berbagai hal yang
dilakukan peneliti untuk mencapai tujuan penelitian yang ditetapkan. Data yang
diolah dan dianalisis adalah terdiri dari data batuan inti bor, data log sumur, data
seismik atribut, data log hasil perhitungan. Dalam hal ini data batuan inti bor akan
digunakan untuk menentukan interpretasi fasies pada sumur yang memiliki data
batuan inti bor. Selanjutnya data log sumur akan digunakan untuk interpretasi
fasies pada sumur yang tidak memiliki data batuan inti bor setelah dilakukan
kalibrasi. Data atribut seismik akan digunakan untuk membantu dalam korelasi
antara sumur secara lateral. Data log hasil perhitungan berupa nilai porositas dan
permeabilitas selanjutnya akan disimulasikan pada setiap fasies.
III.1 Deskripsi dan Analisis Batuan Inti Bor
Data batuan inti bor yang mewakili obyek penelitian diambil pada sumur Bekasap
36, Bekasap 65 dan Bekasap 83 (Gambar III.1). Analisis batuan inti merupakan
awal yang sangat penting dalam penelitian ini. Aktivitas yang dilakukan adalah
melakukan deskripsi terhadap data batuan inti bor yang meliputi warna batuan,
ukuran butir, struktur sedimen, tekstur, komposisi mineral, intensitas dan jenis
bioturbasi. Hasil deskripsi selanjutnya dapat digunakan untuk interpretasi
litofasies dan asosiasi fasies pada obyek penelitian. Hasil deskripsi batuan inti bor
secara detail dapat dilihat di Lampiran 1, Lampiran 2, dan Lampiran 3.
Setelah dilakukan analisis pada batuan inti bor yang terdapat di sumur-sumur
tersebut, maka dari beberapa litofasies dapat dikelompokkan dalam 5 asosiasi
fasies. Asosiasi fasies dapat disebutkan sebagai berikut:
1. Transgressive lag
Asosiasi fasies ditemukan pada kedalaman 2631 – 2634 kaki untuk sumur
Bekasap 36, kedalaman 2431 – 2434 kaki pada sumur Bekasap 65, dan kedalaman
2650.5 – 2652 kaki pada sumur 83. Asosiasi fasies ini merupakan interpretasi dari
litofasies batu pasir sedang karbonatan. Litofasies ini dicirikan oleh batupasir,
22
berwarna coklat muda, ukuran butir pasir sedang, kompak, sortasi sedang, dengan
semen karbonat, bentuk butir membundar tanggung, bioturbasi cukup banyak,
flaser, laminasi bergelombang (bawah) laminasi paralel (atas), dan bersifat
karbonatan.
U
Lokasi sumur batuan inti
Gambar III.1 Lokasi sumur batuan inti bor.
2. Tidal mud flat
Asosiasi fasies ini pada sumur 36 berada di kedalaman, 2710 – 2716 kaki, pada
sumur 65 pada kedalaman 2477 – 2478,5 kaki dan pada sumur 83 2635 – 2638
kaki. Asosiasi fasies ini terdiri dari litofasies batulanau wavy dengan ciri berupa:
warna abu-abu gelap, ukuran butir lanau, struktur sedimen wavy, lentikuler,
bioturbasi burrow berukuran kecil, non-karbonatan.
3. Tidal prograding bar
Asosiasi fasies ini pada sumur 36 berada di kedalaman, 2636 – 2646 kaki, pada
sumur 65 pada kedalaman 2440 – 2450 kaki dan pada sumur 83 pada kedalaman
2551 – 2575 kaki. Asosiasi fasies dicirikan batupasir, berwarna abu - abu
kecoklatan, ukuran butir halus sampai sedang, sortasi sedang, dengan semen
silikat, bentuk butir membundar tanggung - menyudut tanggung, struktur sedimen
23
cross laminasi dan flaser, bioturbasi, ukuran butir semakin ke atas menunjukkan
pola semakin kasar.
4. Tidal channel
Asosiasi fasies ini pada sumur 36 berada di kedalaman 2646 – 2664 kaki, pada
sumur 65 pada kedalaman 2450 – 2481 kaki dan pada sumur 83 pada kedalaman
2472,5 – 2598 kaki. Asosiasi fasies dicirikan dengan batupasir, berwarna abu abu kecoklatan, ukuran butir pasir sedang - halus, kompak, sortasi sedang, dengan
semen silikat, bentuk butir membundar tanggung - menyudut tanggung, struktur
sedimen wavy dan flaser, bioturbasi, laminasi bergelombang (bawah) laminasi
paralel (atas). Butiran semakin ke atas menunjukkan ukuran yang semakin halus.
5. Tidal fluvial channel
Asosiasi fasies ini pada sumur 36 berada di kedalaman 2671,5 – 2695 kaki, pada
sumur 65
pada kedalaman 2482,5 – 2488 kaki dan pada sumur 83 pada
kedalaman 2597 – 2635 kaki. Asosiasi fasies dicirikan dengan batupasir, berwarna
abu - abu kecoklatan, ukuran butir sedang-kasar, sortasi sedang, dengan semen
silikat, bentuk butir membundar tanggung - menyudut tanggung, struktur sedimen
cross laminasi dan flaser, bioturbasi dengan intensitas sedang, di beberapa tempat
bersifat kerikilan.
Interpretasi asosiasi fasies ini menggunakan model fasies yang dibuat oleh
Dalrymple (1992) (Lampiran III). Berdasarkan fasies model Dalrymple, maka
lingkungan pengendapan objek penelitian adalah tide dominated estuarine.
III.2. Kalibrasi data batuan inti bor dan log sumur
Tahapan yang penting untuk melakukan interpretasi asosiasi fasies dengan
menggunakan data log sumur adalah mencari hubungan antara profil log sumur
secara vertikal dan data batuan inti bor. Hal ini dilakukan karena sebagian besar
data yang dimiliki oleh sumur adalah data log sumur GRN, Resistivitas dan
24
RHOB (log sumur densitas). Hasil dari kalibrasi data batuan inti bor dan log
sumur adalah sebagai berikut:
1. Fasies tidal fluvial channel ditunjukkan dengan profil log sumur GRN
yang berbentuk blocky, dengan nilai GRN berkisar 50 – 70 API, nilai log
sumur densitas rendah.
2. Fasies tidal channel ditunjukkan dengan profil log sumur GRN yang
berbentuk lonceng, dengan nilai GRN berkisar 60 – 100 API.
3. Fasies tidal prograding bar ditunjukkan dengan profil log sumur GRN
yang berbentuk corong, dengan nilai GRN berkisar 50 – 70 API, nilai log
sumur densitas rendah.
4. Fasies mud flat ditunjukkan dengan kombinasi nilai GRN berkisar > 100
API, nilai log sumur densitas yang tinggi, sedangkan nilai log sumur
resistivitas < 10 ohm
5. Fasies transgressive lag, ditunjukkan dengan kombinasi GRN berkisar 50
– 60 API, nilai log sumur densitas tinggi dan nilai log sumur resistivitas
juga tinggi.
Parameter-parameter di atas selanjutnya akan digunakan untuk mengidentifikasi
jenis asosiasi fasies dengan menggunakan data log sumur yang akan dianalisis.
III.3 Korelasi dan analisa log sumur
Langkah awal dalam analisis data log sumur adalah korelasi stratigrafi yang
bertujuan untuk mengetahui penyebaran suatu reservoir secara lateral. Korelasi
stratgrafi adalah melakukan penentuan marker-marker stratigrafi sebagai bidang
kronostratigrafi (kesamaan waktu) yang menerus. Korelasi stratigafi dilakukan
dengan datum stratigrafi yang sudah disamakan.
Korelasi terhadap bidang kesamaan waktu menggunakan nama marker R, S, dan
T dengan alasan menyamakan dengan nama marker yang sudah ada sebelumnya.
Penentuan marker R didasarkan atas munculnya serpih yang memiliki nilai log
GRN harga tinggi dan nilai log RHOB bernilai tinggi. Marker S ditentukan
berdasarkan titik puncak terjadinya perubahan pola log
25
berbentuk lonceng menjadi corong. Marker T juga ditentukan adanya serpih break
dan nilai log GRN yang tinggi, nilai RHOB yang tinggi juga. Marker-marker
tersebut akan digunakan sebagai batas interval dalam pemetaan distribusi fasies.
Dengan demikian perubahan fasies dapat diketahui secara lateral.
Arah dari penampang korelasi dipilih berarah baratdaya-timurlaut (Gambar III.3)
baratlaut-tenggara (Gambar III.4) dan satu penampang yang melewati sumur
batuan inti bor (Gambar III.2). Alasannya adalah agar penampang korelasi yang
dilakukan mewakili arah yang sejajar dan tegak lurus dengan arah pengendapan
regional. Jumlah penampang korelasi adalah sebanyak 4 garis untuk masingmasing arah.
III.4 Atribut seismik
Data atribut seismik digunakan sebagai data sekunder untuk membantu
interpretasi pola sebaran fasies di obyek penelitian. Atribut seismik yang
digunakan adalah atribut seismik dekomposisi spektral. Dekomposisi spektral
merupakan salah satu alat interpretasi seismik yang digunakan untuk
penggambaran dan pemetaan ketebalan lapisan dan diskontinuitas pada survei 3D
seismik. Teknologi ini dapat mendeteksi prospek di bawah resolusi tuning seismik
dan dapat menjawab permasalahan yang tidak bisa dijawab pada domain waktu.
Aplikasi dekomposisi spektral dapat dijabarkan sebagai berikut:
-
Deliniasi fasies atau stratigrafi seperti batas reef, batas batupasir channel,
batupasir incised valley fill, dan lapisan tipis lainnya.
-
Pemetaan struktur secara detail termasuk zona sesar yang lengkap seperti
kompartementalisasi
-
Pemodelan reservoir seperti pemetaan perubahan fluida, perubahan tekanan
reservoir dan perubahan survei seismik 4 dimensi.
Dekomposisi spektral mentransformasi data seismik pada domain frekuensi
dengan Discrete Fourier Transform (DFT) atau dengan Maximum Entropy
Methode (MEM). Spektra amplitudo yang ditransformasi akan digunakan untuk
mendeliniasi variasi ketebalan batuan, dan spektral fase digunakan untuk
29
mengindikasikan diskontinuitas geologi secara lateral. Teknik ini merupakan
pendekatan yang baik untuk estimasi ketebalan (Patryka, 1999 op. cit. Landmark,
2003)
Pendekatan yang sering dipakai dalam karakterisasi reservoir menggunakan
dekomposisi spektral adalah dengan “zone of interest tuning cube”. Dimulai
dengan pemetaan temporal dan batas vertikal dari obyek penelitian. Selanjutnya
pada obyek penelitian akan ditransformasi dari domain waktu ke domain
frekuensi, yang akan menghasilkan tuning cube. Peta tuning dapat digunakan
untuk mengidentifikasi tekstur dan pola yang menunjukkan suatu proses geologi.
Dengan melakukan animasi terhadap peta tuning, maka didapat peta variasi lateral
bawah permukaan.
Secara kualitatif maupun kuantitatif, peta dekomposisi spektral menunjukkan
kebenaran yang lebih baik dibanding atribut seismik konvensional. Dapat
dikatakan bahwa apabila kejadian geologi tidak dapat dilihat dengan dekomposisi
spektral, maka dapat dipastikan tidak terpetakan oleh atribut seismik
konvensional.
Proses transformasi data seismik dari domain waktu menjadi domain frekuensi
dilakukan dengan menggunakan aplikasi Specdecom (Openwork). Langkah
pertama yang dilakukan adalah menentukan batas jendela yang akan
ditransformasi. Batas atas jendela yang digunakan adalah horison top batupasir
2420 Formasi Menggala. Data horison yang digunakan adalah hasil interpretasi
oleh ahli geologi terdahulu yang sudah ada dalam database. Sementara untuk
batas bawah jendela merupakan duplikasi dari horison 2420 Formasi Menggala
yang diturunkan 50 milidetik (Gambar III.5).
30
Download