BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan aspek yang sangat penting bagi kesehatan manusia.
Dalam Undang-undang no 23 tahun 1992 dijelaskan bahwa kesehatan adalah
keadaan sejahtera badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang dapat
hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Atas dasar definisi kesehatan tersebut,
dapat dikatakan bahwa kesehatan jiwa merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari kesehatan dan unsur utama dalam terwujudnya kualitas hidup manusia yang
utuh.
Masalah gangguan jiwa di seluruh dunia memang sudah menjadi masalah
yang sangat serius. Skizofrenia merupakan salah satu gangguan kesehatan jiwa
yang menjadi perhatian dan dikategorikan dalam gangguan psikis yang paling
serius
karena
dapat
menyebabkan
menurunnya
fungsi
manusia
dalam
melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti kesulitan dalam merawat diri
sendiri, bekerja atau bersekolah, memenuhi kewajiban peran, dan membangun
hubungan yang dekat dengan seseorang (Jeste & mueser, 2008). Skizofrenia
mempunyai prevalensi sebesar 1% dari populasi di dunia (rata-rata 0,85%) dengan
angka insidensi skizofrenia adalah 1 per 10.000 orang per tahun (Sinaga, 2007).
Riset kesehatan dasar tahun 2007 melaporkan angka kejadian skizofrenia di
Indonesia adalah 4,6 per 1000 penduduk meningkat dari tahun sebelumnya yang
hanya 1-3 per 1000 penduduk (Menteri Kesehatan RI, 2010).
.
1
2
Pada pasien skizofrenia terjadi pemisahan antara pikiran, emosi, dan
perilaku. Gejala yang timbul pada setiap penderita skizofrenia sangat beragam,
diantaranya adalah ketidakmampuan dalam berkomunikasi, kognitif, berbahasa,
daya ingat, emosi dan ketidakmampuan dalam adaptasi sosial.
Obat antipsikotik telah menjadi terapi farmakologi utama untuk
skizofrenia sejak 1950-an. Antipsikotik dapat digunakan untuk mengatasi
skizofrenia dengan gejala halusinasi, delusi, dan untuk pencegahan keterulangan
(British Medical Association, 2004). Terapi skizofrenia dengan menggunakan
obat antipsikotik dibagi dalam 3 episode, yaitu terapi awal selama 7 hari pertama,
terapi stabilisasi selama 6-8 minggu dan terapi penjagaan selama 12 bulan setelah
membaiknya episode pertama psikotik, sedangkan untuk pasien dengan episode
akut yang multiple sebaiknya terapi penjagaan dilakukan minimal selama 5 tahun
(Crismon dkk., 2008).
Skizofrenia memerlukan terapi pemberian antipsikotik dalam jangka
waktu yang cukup lama, sehingga sangat mungkin dalam proses pengobatan dapat
ditemukan permasalahan dalam penggunaan antipsikotik. Beberapa jurnal ilmiah
menyatakan hubungan antara penggunaan antipsikotik terutama antipsikotik
atipikal dengan efek samping metabolik pada tingkat yang bervariasi dari
penambahan berat badan, dislipidemi dan risiko terhadap diabetes tipe 2.
Perubahan fisik seperti berat badan, perubahan kadar kolesterol maupun gula
darah bisa menjadi indikasi efek samping metabolik pada pasien yang diobati
dengan antipsikotik ini. Berdasarkan penelitian epidemiologi, cross-sectional, dan
prospektif
menyatakan
jika
antipsikotik
terutama
antipisikotik
atipikal
3
menyebabkan peningkatan secara drastis berat badan dan perubahan metabolik
seperti peningkatan glukosa darah puasa, resistensi insulin dan trigliserida (Teff &
Kim, 2011). Potensi munculnya efek samping ini bisa dipengaruhi oleh berbagai
faktor seperti dosis, pola dan durasi penggunaan antipsikotik, serta kerentanan
seseorang terhadap munculnya efek samping ini juga berbeda-beda. Hingga saat
ini belum ada penelitian yang melihat gambaran munculnya efek samping ini
terutama pengaruhnya terhadap perubahan kadar glukosa darah pada pasien
skizofrenia yang menggunakan antipsikotik dengan berbagai aturan penggunaan
yang biasa digunakan di Rumah Sakit Jiwa di Indonesia. Sehingga penelitian ini
perlu dilakukan terutama untuk melihat potensi munculnya efek samping ini pada
pasien yang menggunakan kombinasi antipsikotik tipikal dan atipikal.
Rumah sakit Grhasia merupakan rumah sakit pemerintah yang secara
khusus menangani penyakit kejiwaan di provinsi DIY. Skizofrenia merupakan
salah satu penyakit kejiwaan yang ditangani di rumah sakit tersebut, dan
memiliki prevalensi lebih tinggi dibanding penyakit kejiwaan lain. Selain itu,
penelitian tentang evaluasi efek samping obat berupa hiperglikemia akibat
penggunaan kombinasi antipsikotik tipikal dan atipikal belum pernah dilakukan di
Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Grhasia DIY dan diharapkan hasil penelitian ini
nantinya dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dan evaluasi dalam terapi
pada pasien.
4
B. Rumusan Masalah
Adakah perubahan kadar glukosa darah yang terjadi pada pasien
skizofrenia sebagai efek samping dari penggunaan kombinasi obat antipsikotik
tipikal dan atipikal di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta
selama periode penelitian Februari-April 2013 ?
C. Tujuan Penelitian
1.
Tujuan umum
Untuk mengetahui potensi munculnya efek samping penggunaan
kombinasi obat antipsikotik tipikal dan atipikal terhadap kadar glukosa darah
pasien skizofrenia di instalasi rawat inap Rumah Sakit Jiwa Grhasia
Yogyakarta selama periode penelitian Februari-April 2013.
2.
Tujuan khusus
Mengetahui adanya kenaikan kadar glukosa darah yang terjadi pada
pasien skizofrenia sebagai efek samping penggunaan kombinasi obat
antipsikotik tipikal dan atipikal di instalasi rawat inap Rumah Sakit Jiwa
Grhasia Yogyakarta selama periode penelitian Februari-April 2013.
D. Manfaat Penelitian
1.
Bagi peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran informasi
terkait risiko sindrom metabolik terutama pengaruhnya terhadap kadar
glukosa darah sebagai efek samping dari penggunaan kombinasi antipsikotik
5
tipikal dan tipikal pada pasien skizofrenia. Selain itu juga untuk menjawab
permasalahan peneliti.
2.
Bagi rumah sakit
Untuk mengetahui seberapa besar tingkat perubahan kadar glukosa
darah yang timbul sebagai efek samping dari penggunaan antipsikotik tipikal
dan atipikal pengobatan pada pasien skizofrenia sehingga dapat dijadikan
sebagai dasar pertimbangan dan evaluasi dalam terapi pada pasien
skizofrenia.
3.
Bagi institusi pendidikan
Menjadi
sumber
referensi
yang
dapat
membantu
penelitian
selanjutnya guna perkembangan terapi pada pasien skizofrenia
E. Tinjauan Pustaka
1.
Skizofrenia
a. Definisi
Skizofrenia secara etimologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani
yaitu schizo yang berarti ‘terpotong’ atau ‘terpecah’ dan phren yang
berarti pikiran, sehingga skizofrenia berarti pikiran yang terpecah
(Veague, 2007). Arti dari kata-kata tersebut menjelaskan tentang
karakteristik utama dari gangguan skizofrenia, yaitu pemisahan antara
pikiran, emosi, dan perilaku dari orang yang mengalaminya. Definisi
skizofrenia yang lebih mengacu kepada gejala kelainannya adalah
gangguan psikis yang ditandai oleh penyimpangan realitas, penarikan diri
6
dari interaksi sosial, juga disorganisasi persepsi, pikiran, dan kognisi
(Wiramihardja, 2007).
Dalam DSM-IV, skizofrenia didefinisikan sebagai sekelompok ciri
dari gejala positif dan negatif, ketidakmampuan dalam fungsi sosial,
pekerjaan ataupun hubungan antar pribadi, dan menunjukkan terus gejalagejala ini selama paling tidak enam bulan. Referensi lain juga
menyebutkan bahwa skizofrenia merupakan suatu gangguan yang
mencakup gejala kelainan kekacauan pada isi pikiran, bentuk pikiran,
persepsi, afeksi, perasaan terhadap diri sendiri, motivasi, perilaku, dan
fungsi interpersonal (Halgin & Whitboume, 1997). Berdasarkan definisidefinisi yang telah diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa skizofrenia
adalah salah satu jenis kelainan mental yang mengacaukan hampir seluruh
fungsi manusia yang mencakup fungsi berpikir, persepsi, emosi, motivasi,
perilaku, dan sosial.
b. Epidemiologi
Skizofrenia mempunyai prevalensi sebesar 1% dari populasi di
dunia (rata-rata 0,85%) dengan angka insidensi skizofrenia adalah 1 per
10.000 orang per tahun (Sinaga, 2007). Riset kesehatan dasar tahun 2007
melaporkan angka kejadian skizofrenia di Indonesia adalah 4,6 per 1000
penduduk meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 1-3 per 1000
penduduk (Menteri Kesehatan RI, 2010).
7
Prevalensi skizofrenia berdasarkan jenis kelamin, ras dan budaya
adalah sama. Perempuan cenderung mengalami gejala yang lebih ringan,
lebih sedikit rawat inap dan fungsi sosial yang lebih baik di komunitas
dibandingkan dengan laki-laki (Sinaga, 2007). Onset skizofrenia pada lakilaki terjadi lebih awal dari pada wanita. Onset puncak pada laki-laki terjadi
pada umur 15-24 tahun sedangkan pada wanita terjadi pada usia 25-35
tahun. Skizofrenia jarang terjadi pada penderita sebelum remaja atau
setelah umur 40 tahun. Prevalensinya 8 x lebih besar pada tingkat sosial
ekonomi rendah dari pada tinggi (Ikawati, 2009).
Walaupun skizofrenia bukanlah penyakit yang fatal, namun ratarata kematian orang yang menderita skizofrenia lebih tinggi dibandingkan
dengan populasi umum. Tingginya angka kematian berkaitan dengan gaya
hidup yang tidak sehat, efek samping obat yang menyebabkan status
kesehatan yang menurun, dan juga kondisi buruk di institusi perawatan
yang berkepanjangan yang menyebabkan tingginya angka penyakit
menular.
c. Etiologi
Skizofrenia disebabkan oleh berbagai faktor. Penyebab skizofrenia
telah diselidiki dan menghasilkan beraneka ragam pandangan. Sebagian
besar ilmuwan meyakini bahwa skizofrenia adalah penyakit biologis yang
disebabkan oleh faktor – faktor genetik, ketidakseimbangan kimiawi di
otak, atau abnormalitas dalam lingkungan prenatal. Berbagai peristiwa
8
stress dalam hidup dapat memberikan kontribusi pada perkembangan
skizofrenia pada mereka yang telah memiliki predisposisi pada penyakit
ini.
Penyebab munculnya skizofrenia terbagi menjadi berbagai
pendekatan seperti pendekatan biologis, teori psikogenik, dan pendekatan
gabungan atau stree-vulnerability model.
1) Pendekatan biologis
Pada pendekatan biologis menyangkut faktor genetik, struktur
otak, dan proses biokimia sebagai penyebab skizofrenia (Halgin dkk.,
1997).
a) Teori genetik
Teori ini menekankan pada ekspresi gen yang bisa
menyebabkan gangguan mental. Hasil dari beberapa penelitian
menunjukan bahwa faktor genetik sangat berperan dalam
perkembangan skizofrenia, dimana ditemukan hasil bahwa
skizofrenia cenderung menurun dalam keluarga. Hal ini
dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan National Institute of
Mental Health (NIMH) pada keluarga penderita skizofrenia yang
menyatakan bahwa skizofrenia muncul pada 10% populasi yang
memiliki keluarga dengan riwayat skizofrenia seperti orang tua
dan saudara kandung. Berdasarkan American Journal of Medical
Genetiks, menyatakan bahwa apabila kedua orang tuanya
mengidap skizofrenia, maka kemungkinan anaknya mengalami
9
skizofrenia adalah sebesar 40%. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa semakin dekat hubungan biologis dengan individu yang
sakit, maka semakin besar juga kemungkinan seseorang
menderita skizofrenia (Semiun, 2006).
Beberapa tahun terakhir telah diteliti mengenai gen yang
spesifik berkontribusi terhadap timbulnya skizofrenia. Gen-gen
tersebut di antaranya adalah Disrupted in Schizophrenia (DISC),
G-Protein
Signalling-4
(RGS4),
Prolyne
Dehidrogenase
(PRODH), dan Neuregulin-1 (NRG-1) (Dawe dkk., 2009 ;
Harrison & Owen, 2003). Dengan adanya kelainan gen-gen
tersebut maka akan berpengaruh terhadap sintesis protein,
misalnya akan menyebabkan disfungsi protein yang membentuk
kompleks reseptor NMDA. Tentu saja hal ini akan menyebabkan
hipofungsi
reseptor
NMDA
yang
pada
akhirnya
akan
menyebabkan timbulnya gejala-gejala psikosis (Dawe, 2009).
Hasil penelitian lain menunjukkan proporsi yang tinggi
dari orang-orang skizofrenia mengalami masalah dengan suatu
gen khusus pada kromosom 5 (Semiun, 2006). Hal ini menjadi
logis karena gen ini mempengaruhi dopamin dan reseptor
dopamin yang berperanan penting dalam timbulnya simptom
skizofrenia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa lebih dari satu
gen dapat menyebabkan gangguan skizofrenia.
10
Pengaruh genetik tidak sesederhana itu, lingkungan
individu merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap
proses perkembangan skizofrenia. Ada kemungkinan jika
individu-individu
yang
hubungannya
lebih
erat
memiliki
lingkungan yang sama. Dengan begitu, tidak bisa disimpulkan
dengan pasti mengenai satu dasar genetik pada skizofrenia. Selain
itu juga, faktor-faktor genetik tidak dapat menjelaskan semua
kasus skizofrenia. Dapat dikatakan jika gen-gen tersebut hanya
meningkatkan kerentanan seseorang untuk menjadi seorang
dengan skizofrenia.
b) Teori neurostruktural
Berdasarkan pemeriksaan MRI dan CT scan otak pada
orang-orang dengan skizofrenia menunjukkan ada tiga tipe
abnormalitas struktural, yaitu pembesaran pada ventrikel otak,
atrofi kortikal, dan asimetri serebral yang terbalik (reversed
cerebral asimetry) (Semiun, 2006).
(1) Pembesaran pada ventrikel otak
Ventrikel adalah rongga atau saluran otak tempat
cairan serebrospinal mengalir, diperkirakan pada pasien
skizofrenia terjadinya pembesaran pada daerah ini hingga 20
hingga 50%. Kerusakan pada ventrikel berhubungan dengan
skizofrenia kronis dan simptom negatif
(Semiun, 2006).
Struktur otak yang tidak normal seperti pembesaran ventrikel
11
otak diyakini menyebabkan tiga sampai empat orang yang
mengalaminya menderita skizofrenia (Nevid dkk., 2005).
Pembesaran ventrikel otak ini menyebabkan otak
kehilangan sel–sel otak, sehingga otak akan mengecil
ukurannya dibandingkan otak yang normal.
Gambar 1. Pembesaran ventrikel otak pada pasien skizofrenia
(Stefan dkk., 2002)
(2) Atrofi kortikal
Pendapat lain menyatakan bahwa skizofrenia dapat
terjadi pada seseorang yang kehilangan jaringan otak yang
bersifat degeneratif atau progresif, kegagalan otak untuk
berkembang normal, dan juga karena infeksi virus pada otak
ketika masa kandungan (Nevid dkk., 2005). Atrofi juga
menyebabkan kerusakan suci yang menutupi selaput otak
atau pembesaran celah antara bagian-bagian otak. Sebanyak
12
20 hingga 35% orang dengan skizofrenia mengalami kelainan
ini (Semiun, 2006).
(3) Asimetri serebral yang terbalik (reversed cerebral asimetry)
Pada orang normal, sisi kiri otak lebih besar daripada
sisi kanan, tetapi kondisi yang terbalik terjadi pada orangorang dengan skizofrenia. Padahal otak kiri bertanggung
jawab dalam kemampuan bahasa, sedangkan otak kanan
bertanggung jawab dalam kemampuan spasial. Hal ini
menyebabkan perbedaan dalam memahami masalah-masalah
kognitif pada pasien skizofrenia.
Abnormalitas
skizofrenia,
pada
seperti
struktur
pengurangan
otak
pada
pasien
massa
otak
karena
pembesaran ventrikel otak mungkin dapat mempengaruhi
dalam
produksi
neurotransmitter
yang
terlibat
dalam
skizofrenia dan menentukan simptom-simptom yang nantinya
akan muncul. Selain itu, kemungkinan lain yang diungkapkan
adalah pengurangan massa otak ini dapat menyebabkan
pegurangan ukuran dari daerah-daerah otak yang penting
untuk fungsi normal (Semiun, 2006). Namun, masih
dibutuhkan
penelitian
kepastian teori-teori ini.
lebih
lanjut
untuk
mengetahui
13
c) Teori biokimia
Pada teori biokimia, dikenal hipotesis dopamin dan
serotonin-glutamat. Overaktivitas reseptor dopamin saraf pada
jalur mesolimbik bisa menyebabkan timbulnya gejala positif,
sedangkan penurunan aktivitas dopamin neuron pada jalur
mesokortek di dalam kortek prefrontalis bisa menyebabkan gejala
negatif. Pada teori glutamat disebutkan bahwa, penurunan kadar
glutamat akan menyebabkan penurunan regulasi reseptor Nmethyl-D-aspartate (NMDA) dan menyebabkan gejala-gejala
psikotik serta defisit kognitif (Dawe, 2009).
Banyak literatur yang menyatakan hubungan peningkatan
aktivitas dari neurotransmiter dopamin dengan skizofrenia.
Tingginya konsentrasi dopamin yang ditemukan di daerah korteks
pada lobus frontalis berperan dalam mengintegrasikan fungsi
manusia (Semiun, 2006). Konsentrasi dopamin yang tinggi
menyebabkan aktivitas neurologis yang tinggi dalam otak,
sehingga memunculkan simptom-simptom skizofrenia. Tingginya
aktivitas dopamin menyebabkan rangsangan yang tinggi pada
daerah khusus pada otak, rangsangan tersebut mengganggu fungsi
kognitif yang kemudian mengakibatkan halusinasi dan delusi.
Penjelasan ini yang mengemukakan hubungan antara faktor
biokimiawi dan faktor kognitif.
14
Ada tiga faktor yang mungkin menjadi penyebab
tingginya aktivitas dopamin (Semiun, 2006).
(1) Konsentrasi dopamin yang tinggi
(2) Sensitivitas yang tinggi dari reseptor dopamin
(3) Jumlah reseptor dopamin yang terdapat pada sinapsis
Pada orang dengan skizofrenia ditemukan memiliki
jumlah reseptor dopamin yang lebih banyak daripada orang
normal. Penurunan drastis jumlah reseptor dopamin pada lakilaki terjadi pada usia antara 30-50 tahun, sedangkan pada
perempuan penurunan jumlah reseptor terjadi perlahan-perlahan
(Wong dkk., 1986). Teori ini dapat menjadi penjelasan mengenai
perbedaan onset yang terjadi pada laki-laki dan perempuan.
2) Teori psikogenik
Teori psikogenik, yaitu skizofrenia sebagai suatu gangguan
fungsional dan penyebab utama adalah konflik, stress psikologik dan
hubungan antar manusia yang mengecewakan.
3) Stress-Vulnerability Model
Pendekatan ini meyakini bahwa orang – orang tertentu yang
memiliki kerentanan genetis terhadap skizofrenia akan memunculkan
gejala skizofrenia jika mereka hidup dalam lingkungan yang penuh
dengan stress (Semiun, 2006). Peristiwa dalam hidup dapat
15
memberikan kontribusi pada perkembangan skizofrenia pada mereka
yang telah memiliki predisposisi pada penyakit ini.
d. Gejala skizofrenia
Skizofrenia ditandai oleh gejala positif, negatif, dan kognitif.
Gejala positif mencakup delusi, halusinasi, disorganisasi pikiran,
pembicaraan, dan perilaku.
1) Delusi yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional. Meskipun telah
dibuktikan secara obyektif bahwa keyakinan itu tidak rasional,
namun penderita tetap meyakini kebenarannya.
2) Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa ada rangsangan.
Penderita skizofrenia merasa melihat, mendengar, mencium,
meraba atau menyentuh sesuatu yang tidak ada.
3) Disorganisasi pikiran dan pembicaraan meliputi tidak runtutnya
pola pembicaraan dan penggunaan bahasa yang tidak lazim pada
orang dengan skizofrenia. Gangguan berpikir pada skizofrenia
biasa disebut sebagai gangguan berpikir formal yang ditandai oleh
kecenderungan untuk melompat dari satu topik ke topik lain ketika
berbicara. Orang dengan skizofrenia seringkali menjawab dengan
sedikit sekali hubungannya dengan pertanyaan yang diajukan.
4) Disorganisasi perilaku meliputi aktivitas psikomotor yang tidak
biasa dilakukan orang normal, seperti gaduh, gelisah, tidak dapat
diam, mondar-mandir, agresif.
16
5) Gejala lain yang biasanya muncul adalah seperti pikirannya penuh
dengan
kecurigaan atau seakan – akan ada ancaman terhadap
dirinya dan juga menyimpan rasa permusuhan.
Pada gejala negatif ditandai dengan saffective flattening, alogia dan
avolition.
1) Affective flattening adalah suatu gejala dimana seseorang hanya
menampakkan sedikit reaksi emosi terhadap stimulus, sedikitnya
bahasa tubuh dan sangat sedikit melakukan kontak mata. Hal ini
bukan berarti orang dengan skizofrenia kurang atau tidak
merasakan emosi, orang dengan skizofrenia tetap saja merasakan
emosi namun tidak mampu mengekspresikannya.
2) Alogia adalah kurangnya kata pada seseorang sehingga dianggap
tidak
responsif
dalam
suatu
pembicaraan.
Orang
dengan
skizofrenia seringkali tidak memilki inisiatif untuk berbicara
kepada orang lain bahkan merasa takut berinteraksi dengan orang
lain sehingga sering menarik diri dari lingkungan sosial.
3) Avolition adalah kurangnya inisiatif pada seseorang seakan-akan
orang tersebut kehilangan energi untuk melakukan sesuatu.
Gejala ketiga adalah gejala kognitif yang melibatkan masalah
memori dan perhatian. Gejala ini mungkin yang paling mengganggu pada
pasien skizofrenia karena mempengaruhi kemampuan penderita untuk
17
melakukan tugas sehari-hari seperti masalah dalam memahami informasi
dan menentukan pilihan, kesulitan dalam memberikan perhatian, dan
masalah ingatan.
e. Klasifikasi skizofrenia
Skizofrenia dapat dibedakan menjadi beberapa tipe menurut
PPDGJ III tahun 1993, yaitu :
1) Skizofrenia paranoid (F 20. 0)
a) Memenuhi kriteria skizofrenia
b) Halusinasi dan / waham harus menonjol : halusinasi
auditori yang memberi perintah atau auditorik yang
berbentuk
tidak
verbal;
halusinasi
pembauan
atau
pengecapan rasa atau bersifat seksual;waham dikendalikan,
dipengaruhi, pasif atau keyakinan dikejar-kejar
c) Gangguan afektif, dorongan kehendak, dan pembicaraan
serta gejala katatonik relative tidak ada.
2) Skizofrenia hebefrenik (F 20. 1)
a) Memenuhi kriteria skizofrenia
b) Pada usia remaja dan dewasa muda (15-25 tahun)
c) Kepribadian premorbid : pemalu, senang menyendiri
d) Gejala bertahan 2-3 minggu
e) Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan
proses pikir umumnya menonjol. Perilaku tanpa tujuan, dan
18
tanpa maksud. Preokupasi
dangkal dan dibuat-buat
terhadap agama, filsafat, dan tema abstrak.
f) Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat
diramalkan, mannerism, cenderung senang menyendiri,
perilaku hampa tujuan, dan hampa perasaan
g) Afek dangkal (shallow) dan tidak wajar (in appropriate),
cekikikan, puas diri, senyum sendiri, atau sikap tinggi hati,
tertawa menyeringai, mengibuli secara bersenda gurau,
keluhan hipokondriakal, ungkapan kata diulang-ulang
h) Proses pikir disorganisasi, pembicaraan tak menentu,
inkoheren
3) Skizofrenia katatonik (F 20. 2)
a) Memenuhi kriteria diagnosis skizofrenia
b) Stupor (amat berkurang reaktivitas terhadap lingkungan,
gerakan, atau aktivitas spontan) atau mutisme
c) Gaduh-gelisah (tampak aktivitas motorik tak bertujuan
tanpa stimuli eksternal)
d) Menampilkan posisi tubuh tertentu yang aneh dan tidak
wajar serta mempertahankan posisi tersebut
e) Negativisme (perlawanan terhadap perintah atau melakukan
ke arah yang berlawanan dari perintah)
f) Rigiditas (kaku)
19
g) Flexibilitas cerea (waxy flexibility) yaitu mempertahankan
posisi tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar
h) Command automatism (patuh otomatis dari perintah) dan
pengulangan kata-kata serta kalimat
i) Diagnosis
katatonik
dapat
tertunda
jika
diagnosis
skizofrenia belum tegak karena pasien yang tidak
komunikatif
4) Skizofrenia tak terinci atau undifferentiated (F 20. 3)
a) Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofernia
b) Tidak paranoid, hebefrenik, katatonik
c) Tidak memenuhi skizofren residual atau depresi pascaskizofrenia
5) Skizofrenia pasca-skizofrenia (F 20. 4)
a) Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofernia selama 12
bulan terakhir ini
b) Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak
lagi mendominasi gambaran klinisnya)
c) Gejala – gejala depresif menonjol dan mengganggu,
memenuhi paling sedikit kriteria untuk episode depresif
(F32.-), dan telah ada dalam kurun waktu paling sedikit 2
minggu.
Apabila pasien tidak menunjukkan lagi gejala skizofrenia,
diagnosis menjadi episode depresif (F32.-). Bila gejala skizofrenia
20
masih jelas dan menonjol, diagnosis harus tetap salah satu dari
subtipe skizofrenia yang sesuai (F20.0 - F20.3).
6) Skizofrenia residual (F 20. 5)
a) Gejala “negatif” dari skizofrenia yang menonjol, misalnya
perlambatan psikomotorik, aktifitas yang menurun, afek yang
menumpul, sikap pasif dan ketiadaan inisiatif, kemiskinan
dalam kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non verbal
yang buruk sperti dalam ekspresi muka, kontak mata,
modulasi suara dan posisi tubuh, erawatan diri dan kinerja
sosial yang buruk.
b) Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas
dimasa lampau yang memenuhi kriteria untuk diagnosis
skizofrenia;
c) Sedikitnya sudah melewati kurun waktu satu tahun dimana
intensitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan
halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan telah timbul
sindrom “negatif” dari skizofrenia;
d) Tidak terdapat dementia atau penyakit/gangguan otak organik
lain, depresi kronis atau institusionalisasi yang dapat
menjelaskan disabilitas negatif tersebut.
21
7) Skizofrenia simpleks (F 20. 6)
a) Diagnosis
skizofrenia
meyakinkan
simpleks
karena
sulit
tergantung
dibuat
pada
secara
pemantapan
perkembangan yang berjalan perlahan dan progresif dari :
(1) Gejala “negatif” yang khas dari skizofrenia
residual tanpa didahului riwayat halusinasi,
waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik
(2) Disertai dengan perubahan – perubahan perilaku
pribadi yang bermakna, bermanifestasi sebagai
kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat
sesuatu, tanpa tujuan hidup, dan penarikan diri
secara sosial.
b) Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan
subtipe skizofrenia lainnya.
8) Skizofrenia lainnya (F.20.8)
Termasuk
skizofrenia
chenesthopathic
(terdapat
suatu
perasaan yang tidak nyaman, tidak enak, tidak sehat pada bagian
tubuh tertentu), gangguan skizofreniform YTI.
9) Skizofrenia tak spesifik (F.20.7)
Merupakan tipe skizofrenia yang tidak dapat diklasifikasikan
kedalam tipe yang telah disebutkan.
22
f. Diagnosis
Diagnosis skizofrenia yang biasa digunakan adalah berdasarkan
DSM-IV.
Kriteria diagnosis skizofrenia menurut DSM-IV :
1) Gejala Karakteristik : dua atau lebih gejala berikut ini yang muncul
dalam jangka waktu yang signifikan dalam periode 1 bulan, yaitu :
a) Delusi (waham, keyakinan yang kuat terhadap sesuatu yang
sebenarnya tidak nyata)
b) Halusinasi (seperti mendengar suara-suara atau melihat
sesuatu yang sebenarnya tidak ada)
c) Cara bicara tak teratur
d) Tingkah laku yang tak terkontrol
e) Gejala negatif, yaitu afek datar, alogia, atau tidak ada
kemauan (avolition)
Catatan : jika wahamnya bersifat aneh/ganjil, atau halusinasinya
terdiri dari suara-suara yang mengomentari orang itu atau suarasuara yang berbicara satu sama lain, maka satu gejala karakteristik
saja cukup untuk mendiagnosa skizofrenia.
2) Disfungsi sosial/pekerjaan : adanya gangguan terhadap fungsi
sosial atau pekerjaan untuk jangka waktu yang signifikan.
3) Durasi : tanda gangguan terjadi secara terus menerus selama enam
bulan, yang merupakan gejala karakteristik seperti pada poin 1.
23
4) Gejala psikotik bukan disebabkan karena gangguan mood seperti
pada bipolar.
5) Gejala psikotik bukan disebabkan karena penggunaan obat atau
kondisi medik tertentu.
g. Penatalaksanaan skizofrenia
Tujuan utama dari terapi skizofrenia adalah mengembalikan fungsi
normal pasien dan mencegah kekambuhan penyakitnya. Tidak ada
pengobatan yang spesifik untuk masing-masing subtipe skizofrenia.
Pengobatan hanya dibedakan berdasarkan gejala apa yang menonjol pada
pasien. Terapi yang bisa dilakukan pada penderita skizofrenia meliputi
terapi farmakologi dan non farmakologi.
1) Terapi farmakologi
Obat-obatan yang biasa digunakan pada terapi farmakologi
pada pasien skizofrenia adalah golongan obat antipsikotik. Pada
awalnya, obat antipsikotik hanya digunakan saat episode akut saja,
namun selanjutnya digunakan juga untuk mencegah risiko
kekambuhan. Oleh karena itu, obat antipsikotik ini digunakan
dalam jangka waktu yang lama karena memang berfungsi untuk
terapi
pemeliharaan. Selain untuk mencegah kekambuhan,
antipsikotik juga berguna untuk mengurangi gejala.
24
2) Terapi non farmakologi
Terapi non farmakologi pada penderita skizofrenia meliputi
pendekatan psikososial dan ECT (electro convulsive therapy).
Peningkatan kualitas hidup dan kesembuhan pasien skizofrenia
akan lebih baik jika diberikan juga terapi non farmakologi
disamping terapi obat. Kombinasi kedua terapi ini akan mampu
memberikan manfaat yang banyak bagi pasien. Pendekatan
psikososial bertujuan untuk memberikan dukungan emosional
kepada pasien sehingga pasien mampu meningkatkan fungsi sosial
dan pekerjaannya dengan lebih baik. Ada beberapa jenis
pendekatan psikososial yang biasa dilakukan pada pasien
skizofrenia, diantaranya yaitu Program for Assertive Community
Treatment (PACT), intervensi keluarga, terapi perilaku kognitif
(cognitive behavioural therapy), dan pelatihan keterampilan sosial
(Ikawati, 2011). Selain pendekatan psikososial, ada juga terapi non
farmakologi menggunakan ECT (electro convulsive therapy).
Penggunaan
ECT
yang
dikombinasi
dengan
obat-obatan
antipsikotik bisa dijadikan pilihan terapi bagi pasien yang
menginginkan perbaikan umum dan pengurangan gejala dengan
cara yang cepat (Tharyan, 2005).
Sasaran terapi pada pasien skizofrenia bervariasi berdasarkan fase
dan keparahan penyakitnya. Pada fase akut, sasarannya adalah mengurangi
25
atau menghilangkan gejala psikotik dan meningkatkan fungsi normal
pasien. Sedangkan pada fase stabilisasi, sasarannya adalah mengurangi
risiko kekambuhan dan meningkatkan adaptasi pasien terhadap kehidupan
dalam masyarakat.
Ada tiga tahap pengobatan dan pemulihan skizofrenia (Ikawati, 2011) :
1) Terapi fase akut
Pada fase ini pasien menunjukkan gejala psikotik yang
intens. Biasanya pada fase ini ditandai dengan munculnya gejala
positif dan negatif. Pengobatan pada fase ini bertujuan untuk
mengendalikan gejala psikotik sehingga tidak membahayakan
terhadap diri sendiri maupun orang lain. Terapi utamanya adalah
dengan menggunakan obat dan biasanya dibutuhkan rawat inap.
Pemilihan antipsikotik yang benar dan dosis yang tepat dapat
mengurangi gejala psikotik dalam waktu enam minggu.
2) Terapi fase stabilisasi
Pada fase ini pasien masih mengalami gejala psikotik
dengan intensitas yang lebih ringan. Pada fase ini pasien masih
memiliki kemungkinan yang besar untuk kambuh sehingga
dibutuhkan pengobatan yang rutin untuk menuju ke tahap
pemulihan yang lebih stabil.
3) Terapi tahap pemeliharaan
Pada tahap ini dilakukan terapi jangka panjang dengan
harapan dapat mempertahankan kesembuhan, mengontrol gejala,
26
mengurangi risiko kekambuhan, mengurangi durasi rawat inap, dan
mengajarkan keterampilan untuk hidup mandiri. Terapinya
meliputi obat-obatan, terapi suportif, pendidikan keluarga dan
konseling, serta rehabilitasi pekerjaan dan sosial.
2.
Antipsikotik
Obat–obat ini pernah disebut neuroleptik, antiskizofrenia, antipsikotik,
dan transkuilizer mayor. Istilah yang paling sering digunakan adalah
neuroleptika dan antipsikotik. Antipsikotik memiliki aktivitas yang hampir
sama terutama dalam mengeblok aktivitas dari neurotransmitter dopamin. Hal
ini sesuai dengan teori yang menyatakan terjadinya peningkatan aktivitas
dopamin pada pasien skizofrenia. Namun, terdapat berbagai tipe skizofrenia
yang menggambarkan penyebab fisiologi yang berbeda maka dapat dikatakan
antipsikotik ini memiliki tingkat efektivitas yang berbeda untuk setiap pasien
yang berbeda.
Terdapat dua jenis antipsikotik yaitu antipsikotik tipikal dan atipikal.
Pada dasarnya semua antipsikotik mempunyai efek klinis yang sama pada
dosis ekivalen. Perbedaan utama pada efek samping. Pemilihan jenis
antipsikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek
samping obat. Bila gejala negatif lebih menonjol dari gejala positif pilihannya
adalah obat antipsikosis atipikal (golongan generasi kedua), sebaliknya jika
gejala positif lebih menonjol dibandingkan gejala negatif pilihannya adalah
tipikal (golongan generasi pertama).
27
Antipsikotik tidak bersifat kuratif (karena tidak mengeliminasi
gangguan berpikir mendasar), tetapi biasanya membantu pasien berfungsi
normal. Obat-obat ini hanya memperbaiki ketidakseimbangan untuk
sementara dan tidak dapat memecahkan masalah fisiologis yang mendasar.
Hal ini dibuktikan dengan beberapa kasus pasien yang kambuh setelah
menghentikan penggunaan obat-obat ini.
Antipsikotik dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
a.
Antipsikotik tipikal (FGA)
Antipsikotik tipikal merupakan antipsikotik generasi lama
yang mempunyai aksi untuk mengeblok reseptor dopamin D2.
Antipsikotik jenis ini lebih efektif untuk mengatasi gejala positif yang
muncul. Efek samping ekstrapiramidal banyak ditemukan pada
penggunaan antipsikotik tipikal sehingga muncullah antipsikotik
atipikal yang lebih aman. Contoh obat-obatan yang termasuk dalam
antipsikotik tipikal diantaranya adalah klorpromazin, tiorizadin,
flufenazin, haloperidol, loxapin, dan perfenazin (Ikawati, 2011).
b. Antipsikotik atipikal (SGA)
Antipsikotik atipikal adalah generasi baru yang banyak muncul
pada tahun 1990an. Aksi obat ini yaitu mengeblok reseptor 5-HT2 dan
memiliki efek blokade pada reseptor dopamin yang rendah.
Antipsikotik atipikal merupakan pilihan pertama dalam terapi
skizofrenia karena efek sampingnya yang cenderung lebih kecil jika
dibandingkan dengan antipsikotik tipikal. Antipsikotik atipikal
28
menunjukkan penurunan dari munculnya efek samping karena
penggunaan obat dan masih efektif diberikan untuk pasien yang telah
resisten terhadap pengobatan (Shen, 1999). Antipsikotik ini efektif
untuk mengatasi gejala baik positif maupun negatif. Contoh obat yang
termasuk antipsikotik atipikal adalah clozapin, risperidon, olanzapin,
ziprasidon, dan quetiapin. Klasifikasi dan dosisnya dapat dilihat pada
tabel I.
Tabel I. Klasifikasi dan dosis antipsikotik ( Crismon dkk., 2008)
Nama Generik
Nama Dagang
Dosis Ekuivalensi
Tipikal (mg)
Rentang Dosis
yang sering
Digunakan
(mg/hari)
Antipsikotik Tipikal ( Generasi Pertama )
Chlorpromazine
Thorazine
100
Fluphenazine
Prolixin
2
Haloperidol
Haldol
2
Loxapine
Loxitane
10
Molindone
Moban
10
Mesoridazine
Serentil
50
Perphenazine
Trilafon
10
Thioridazine
Mellaril
100
Thiothixene
Navane
4
Trifluoperazine
Stelazine
5
Antipsikotik Atipikal ( Generasi Kedua )
Aripiprazole
Abilify
TA
Klozapin
Clozaril
TA
Olanzapine
Zyprexa
TA
Quetiapine
Seroquel
TA
Risperidone
Risperdal
TA
Ziprasidone
Geodon
TA
Keterangan :
TA : parameter ini tidak digunakan pada atipikal antipsikotik
Dosis
Maksimum
Menurut
Pabrik
(mg/hari)
100-800
2-20
2-20
10-80
10-100
50-400
10-64
100-800
4-40
5-40
2000
40
100
250
225
500
64
800
60
80
15-30
50-500
10-20
250-500
2-8
40-160
30
900
20
800
16
200
29
Tahap 1 : Episode pertama psikosis
Mencoba Antipsikotik tunggal
Antipsikotik atipikal (SGA) sebagai drug of choice. Dimulai dengan dosis rendah antipsikotik
dan monitoring efek samping serta sensitifitas pasien terhadap pengobatan.
Respon parsial atau
tidak ada respon
FGA = First Generation
Antipsychotic= Antipsikotik
Tipikal (contoh : loxapine,
perphenazine, molindone,
haloperidol,
trifluoroperazine,
thiothixine, chlorpromazine)
SGA = Second Generation
Antipsychotic=Antipsikotik
atipikal (contoh : aripipraole,
olanapine, quatiapine,
risperidone atau ziprasidone)
Tahap 2
Tipikal atau atipikal tunggal
(bukan antipsikotik pada Tahap 1)
Respon parsial atau
tidak ada respon
Tahap 3
CLOZAPINE
CLOZAPINE
Pertimbangkan penggunaan
clozapin jika pasien
memiliki riwayat
percobaan bunuh diri
(Level A), riwayat
penyalahgunaan obat
(Level B/C), dan tidak ada
perbaikan gejala lebih dari
2 tahun setelah menjalani
pengobatan dengan
antipsikotik.
Respon parsial atau
tidak ada respon
J
Pasien tidak patuh
Pertimbangkan penggunaan
long-acting antipsikotik
seperti microspheres
risperidon, haloperidol
dekanoat, atau fluphenazine
dekanoat.
Tahap 4
CLOZAPINE
+
(FGA, SGA atau ECT)
Tahap 4-6 berdasarkan
pendapat ahli dan
laporan kasus
Tidak ada respon
Tahap 5
Tipikal atau atipikal tunggal
(tidak digunakan pada Tahap 1 atau 2)
Tahap 6
Terapi Kombinasi
Contoh : SGA + FGA, kombinasi dari SGA,
(FGA atau SGA) + ECT, (FGA + SGA) + agen lain (seperti mood stabilizer)
Gambar 2. Alghoritma terapi Skizofrenia ( Crismon dkk., 2008)
30
3.
Efek samping antipsikotik
Selain manfaat antipsikotik yang telah dijelaskan sebelumnya, obatobat antipsikotik ini juga memiliki efek samping yang bermakna terutama
jika digunakan dalam dosis besar dalam jangka waktu yang lama. Efek
samping utama yang paling sering muncul dan dijadikan bahan pertimbangan
dalam pemberian terapi adalah efek samping ekstrapiramidal pada
penggunaan antipsikotik generasi lama. Termasuk dalam efek samping
ekstrapiramidal ini yaitu distonia akut, pseudoparkinsonisme, dan akatsia.
Efek samping ini umumnya muncul setelah beberapa hari sampai beberapa
minggu setelah penggunaan antipsikotik dan biasanya sulit untuk diatasi
(Holloman dkk.,1994). Selain adanya efek samping ekstrapiramidal yang
muncul, efek samping lain yang ditimbulkan oleh penggunaan antipsikotik
yaitu sedasi, neuroleptic malignant syndrome, gangguan kardiovaskular, efek
antikolinergik dan antiadrenergik, gangguan metabolisme, kenaikan berat
badan, dan disfungsi seksual (Crismon dkk., 2009).
Salah satu cara untuk mengatasi efek samping dan meningkatkan
kemanfaaatan dari antipsikotik adalah dengan menggunakan dosis obat
serendah mungkin yang masih dapat memberikan efek farmakologis. Dosis
tersebut harus tetap dikontrol.
4.
Sindrom metabolik
Beberapa penelitian menunjukkan pengaruh pengobatan antipsikotik
terhadap gangguan metabolisme dalam
tubuh. Komponen utama dari
31
sindrom metabolik ini meliputi resistensi insulin, obesitas abdominal/sentral,
hipertensi, dan dislipidemia (peningkatan kadar trigliserida, penurunan kadar
HDL kolesterol). Adanya peningkatan berat badan, gangguan metabolisme
glukosa, dan hiperglikemi telah diketahui menjadi salah satu dampak dari
penggunaan antipsikotik. Hiperglikemia dan diabetes melitus tipe 2 banyak
terjadi pada pasien skizofrenia. Prevalensi peningkatan berat badan dan
diabetes pada pasien skizofrenia adalah 1,5 sampai 2 kali lebih besar
dibandingkan populasi umum (Woo dkk., 2005). Adanya peningkatan berat
badan, ataupun hiperglikemia ini menjadi masalah yang serius karena dapat
meningkatkan morbiditas dan mortalitas akibat adanya peningkatan risiko
penyakit kardiovaskular dan diabetes melitus tipe 2.
Banyak teori yang mengemukakan tentang mekanisme yang mungkin
memperantarai terjadinya perubahan metabolisme yang terjadi pada pasien
yang menggunakan antipsikotik.
1.
Teori yang pertama menyatakan jika penggunaan antipsikotik pada
pasien skizofrenia menyebabkan peningkatan berat badan. Bertambahnya
berat badan pada pasien yang diobati dengan antipsikotik disebabkan
oleh peningkatan nafsu makan yang tidak diseimbangi dengan
peningkatan
penggunaan
energi.
Akibatnya
terjadi
peningkatan
penyimpanan lemak dalam jaringan adiposa yang mengakibatkan
penambahan berat badan. Keadaan yang berlanjut menyebabkan
terjadinya obesitas yang dilihat dari Body Mass Index (BMI). Obesitas
32
dihubungkan dengan resistansi insulin dan merupakan faktor utama
penyebab diabetes tipe 2 (Castagna, 2011).
2.
Penggunaan antipsikotik banyak dikaitkan dengan kelainan dalam
regulasi
glukosa.
Penggunaan
antipsikotik
dapat
menyebabkan
peningkatan penyimpanan lemak dalam jaringan adiposa yang kemudian
memicu penurunan sensitivitas insulin (Newcomer dkk., 2002).
Antipsikotik generasi kedua seperti clozapin dan olanzapin berhubungan
dengan efek samping terhadap regulasi glukosa dalam berbagai tingkatan
keparahan yang berbeda tergantung dari potensinya dalam peningkatan
penyimpanan lemak dalam jaringan adiposa dibandingkan dengan
antipsikotik tipikal. Clozapin dan olanzapin menyebabkan peningkatan
berat badan dan meningkatkan massa lemak tubuh secara signifikan,
dengan resistensi insulin dan risiko diabetes mellitus (Newcomer dkk.,
2002).
3.
Aktifitas antipsikotik atipikal adalah antagonis pada berbagai sistem
neurotransmitter termasuk dopaminergik, adrenergik, serotonergik,
histaminergik dan subtipe reseptor muskarinik (Teff & Kim, 2011).
Neurotransmitter ini berhubungan baik secara langsung maupun tidak
langsung dengan jalur metabolisme dan juga regulasi asupan makanan.
Reseptor yang mungkin berpengaruh terhadap timbulnya diabetes adalah
dopamin, 5-HT1A , 5-HT2c, histamin-1 (Gianfrancesco dkk., 2003).
33
a. Reseptor muskarinik dan histaminergik
Suatu
hipotesis
yang
menyimpulkan
jika
reseptor
muskarinik dan histaminrgik memiliki peranan penting dalam
kasus gangguan metabolisme yang berkaitan dengan penggunaan
antipsikotik. Histamin dan muskarinik dikatakan sebagai mediator
pada peningkatan berat badan dan abnormalitas dalam metabolisme
glukosa. Ikatan pada reseptor histamin H-1 dapat memicu
peningkatan nafsu makan dan berat badan, sedangkan ikatan pada
muskarinik M3 menyebabkan kelainan pada regulasi insulin (Teff
& Kim, 2011).
Perbedaan
kemampuan pengikatan
reseptor mungkin
menjadi penyebab tingkat perubahan metabolisme, berat badan,
dan peningkatan asupan makanan untuk setiap antipsikotik
berbeda. Clozapin dan olanzapin adalah antagonis reseptor
asetilkolin muskarinik kuat dan dikaitkan dengan kenaikan berat
badan. Risperidon tidak diketahui afinitas terhadap reseptor
asetilkolin muskarinik namun menyebabkan beberapa kasus new
onset diabetes bila diberikan bersamaan dengan antagonis
muskarinik yang biasa diresepkan untuk mengatasi efek samping
ekstrapiramidal (Lean & Pajonk, 2003). Ini merupakan bukti peran
reseptor asetilkolin muskarinik dalam sindrom metabolik yang
terjadi pada pasien skizofrenia yang menggunakan antipsikotik.
34
b. Dopamin
Jalur dopamin di otak tengah berperan dalam kontrol
asupan makanan. Regulasi glukosa darah berpusat di hipotalamus.
Antipsikotik
yang
berperan
sebagai
antagonis
dopamin
menyebabkan glukosa darah tidak terkontrol (Gianfrancesco dkk.,
2003). Sebuah bukti mengenai peran dopamin ini berdasarkan studi
yang menunjukkan penggunaan agonis dopamine sentral dapat
meningkatkan kontrol glukosa (Lipscombe, 2009).
c. Aktivitas reseptor serotonin 5-HT1A dan 5-HT2 juga di hubungkan
dengan
pengaruhnya
terhadap
kontrol
glukosa.
Walaupun
mekanisme yang menghubungkan kedua reseptor ini sangat
kompleks (Haupt & Newcomer, 2001). Reseptor 5-HT2c mungkin
terlibat dalam kontrol asupan makanan. Jika reseptor ini diblok
dapat menimbulkan kenaikan berat badan kecuali ziprasidon dan
quetiapin (Lean & Pajonk, 2003).
Saat terjadi resistensi insulin, tubuh berusaha untuk mengatasinya
dengan mensekresi lebih banyak lagi insulin yang menyebabkan terjadinya
hiperinsulinemia. Hiperinsulinemia yang terjadi menyebabkan resistensi
insulin dan keadaan yang lebih parah dapat menyebabkan kegagalan dalam
regulasi reseptor insulin (Lean & Pajonk, 2003). Kelainan yang berhubungan
dengan resistensi insulin termasuk intoleransi glukosa, hipertensi, dan
dislipidemia (Handerson dkk., 2005). Resistensi insulin yang terjadi akibat
penggunaan antipsikotik kemungkinan diakibatkan karena efek langsung dari
35
peningkatan massa lemak di abdominal dan fungsi transport glukosa (Haupt
& Newcomer, 2001).
Faktor genetik dan gaya hidup sangat berpengaruh pada peningkatan
berat badan dan gangguan metabolisme pada pasien skizofrenia. Sehingga
perlu dipertimbangkan mengenai faktor risiko lain yang juga berperan dalam
perkembangan diabetes melitus (Haddad, 2004), seperti:
1. Riwayat DM keluarga
2. Peningkatan usia
3. Obesitas
4. Ras ( insiden paling banyak terjadi pada ras asia dan afrika-karibia )
5. Merokok
6. Diet tinggi karbohidrat
7. Jarang olahraga
Oleh karena itu pasien-pasien skizofrenia
yang mendapatkan
antipsikotik sebaiknya dilakukan monitoring berat badan, kadar glukosa
darah, profil lemak darah, sehingga akan mencegah morbiditas dan mortalitas
akibat sindrom metabolik sebagai dampak penggunaan antipsikotik ini.
36
F. Keterangan Empiris
Skizofrenia memiliki perjalanan penyakit yang kronis dan berulang
sehingga membutuhkan terapi jangka panjang. Obat antipsikotik telah menjadi
terapi farmakologi utama untuk pasien skizofrenia. Pemberian antipsikotik dalam
jangka waktu yang cukup lama ini memungkinkan munculnya berbagai masalah
selama proses penggunaannya, seperti peningkatan kadar glukosa darah yang
banyak dilaporkan oleh berbagai jurnal ilmiah. Penelitian ini dilakukan dengan
harapan dapat melihat gambaran perubahan glukosa darah puasa pasien
skizofrenia di Rumah Sakit Grhasia Yogyakarta akibat penggunaan kombinasi
obat antipsikotik tipikal dan atipikal.
Download