efektivitas keteladanan guru dalam meninkgkatkan kesadaran

advertisement
EFEKTIVITAS KETELADANAN GURU
DALAM MENINKGKATKAN KESADARAN SHALAT LIMA WAKTU
SISWA KELAS VIII DI MTS MUHAMMADIYAH SRUMBUNG
MAGELANG JAWA TENGAH
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar
Sarjana
Strata Satu Pendidikan Islam
Disusun oleh:
Novita Eka Wulandari
NIM: 11410169
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015
i
ii
iii
iv
v
MOTTO
)‫صلِّ ْي (رواه البحارى‬
َ ُ‫اراَ ْيتُ ُم ْونِ ْي ا‬
َ ‫صلُّ ْوا َك َم‬
َ
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”.
(H.R. Bukhari)1
1
Abdurrahman Ar-Nahlawi, Prinsip-Prinsip Metode Pendidikan Islam: dalam Keluarga,
di Sekolah dan di Masyarakat (Bandung: CV. Diponegoro, 1989), Hal. 373.
vi
HALAMAN PERSEMBAHAN
Kupersembahkan karya sederhana ini kepada :
Jurusan Pendidikan Agama Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta
vii
KATA PENGANTAR
,‫ْل َا ِهَّلِلاَا َا ِهَّلِل ُهّللا ُد َا َا ْل َا ُد َا ُد َا ًد َا ُد ْل ُد ِهَّلِل‬
‫ْلْلَا ْلنبِهَّلِل َا ِهَّلِلء َا ْلا ُد رْل َا لِهَّلِل ْل َا ُد ٍ َا َاعلَاي َااِهَّلِل ِهَّلِل َا َاصْل َا بِهَّلِل ِهَّلِل‬
‫ َا ْل َا ُد َا‬, ‫َا ْلا َا ْل ُد ِهَّلِل ِهَّلِل َا ِّب ْلا َا اَا ِهَّلِل ْل َا‬
‫ف‬
‫َا اص َاَلةُد َا اس َاَل ُدم َاعلَاي َا ْل َار ِهَّلِل‬
. ‫ َا بَا ْل‬, ‫َاجْل َا ِهَّلِل ْل‬
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah
melimpahkan rahmat dan pertolongan-Nya. Shalawat dan salam semoga tetap
terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang telah menuntun manusia
menuju jalan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Penyusunan skripsi ini merupakan kajian singkat tentang Efektivitas
Keteladanan Guru dalam Meningkatkan Kesadaran Shalat Lima Waktu Siswa
Kelas VIII di MTs Muhammadiyah Srumbung Magelang Jawa Tengah. Penulis
menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya
bantuan, bimbingan, dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan
segala kerendahan hati pada kesempatan ini penulis mengucapkan rasa terima
kasih kepada:
1. Bapak Dr. H. Tasman Hamami, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
2. Bapak Dr. Suwadi, M. Ag, M.Pd., dan Bapak Drs. Radino, M. Ag.,
selaku
Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
3. Bapak Drs. H. Sarjono, M.Si. selaku Pembimbing skripsi.
4. Bapak Sukiman, S.Ag, M.Pd. selaku Penasehat Akademik.
viii
5. Segenap Dosen dan Karyawan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta.
6. Bapak Endro Purwanto, S.Pd. selaku Kepala MTs Muhammadiyah Srumbung.
7. Bapak Sulistiyono, S.Pd.I. selaku guru Agama, serta seluruh Bapak dan Ibu
Guru MTs Muhammadiyah Srumbung.
8. Orang Tuaku tercinta, Bapak Tarmono dan Ibuk Harni yang selalu
memberikan semangat, motivasi dan doa yang tiada henti-hentinya.
9. Mas Ibnu Arif yang selalu memberikan semangat.
10. Teman-teman terbaikku, Aen, Yesi, Zizah, Zahra, Tika dan semua keluarga
besar E. Community yang selalu menghadirkan keceriaan.
11. Keluarga baruku kelompok 22 PPL-KKN Integratif 2014, Fila, Weny, Tika,
Rini, Fadhan, Pinda. Ainna, Owi, Mbak Min, Immah, Reza, dan Mas Rijal.
12. Semua pihak yang telah ikut berjasa dalam penulisan skripsi ini yang tidak
mungkin disebutkan satu persatu.
Yogyakarta, 23 Maret 2015
Penulis
Novita Eka Wulandari
NIM.11410169
ix
ABSTRAK
NOVITA EKA WULANDARI. Efektivitas Keteladanan Guru dalam
Meningkatkan Kesadaran Shalat Lima Waktu Siswa Kelas VIII di MTs
Muhammadiyah Srumbung Magelang Jawa Tengah. Skripsi. Yogyakarta: jurusan
Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2015.
Latar belakang penelitian ini adalah shalat adalah dasar dari pendidikan islam.
Selain itu, masyarakat mengidentikkan keshalehan seseorang dari shalatnya. Ada
berbagai metode yang dilakukan untuk mendidik anak untuk melaksanakan shalat.
Salah satu yang efektif dan merupakan metode yang dipakai Rasulullah SAW
yaitu keteladanan. Selain Rasulullah, teladan bagi anak adalah orang tua dan guru.
Pembiasaan shalat dengan keteladanan Guru diterapkan di MTs Muhammadiyah
Srumbung. Karena guru adalah sosok ideal yang tingkah lakukanya akan ditiru
oleh siswa. Yang menjadi permasalahan penelitian ini adalah kesadaran shalat
siswanya, efektivitas keteladanan guru dalam mengingkatkan kesadaran shalat,
dan faktor pendukung maupun penghambatnya. Tujuan dari penelitian ini adalah
mendeskripsikan dan menganalisis secara kritis tentang efektivitas keteladanan
guru dalam meningkatkan kesadaran shalat lima waktu siswa kelas VIII di MTs
Muhammadiyah Srumbung dan kendala yang dihadapi.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan mengambil latar
MTs Muhammadiyah Srumbung. Pengumpulan data dilakukan dengan
mengadakan pengamatan atau observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis
data dilakukan dengan memberikan makna terhadap data yang berhasil
dikumpulkan, dan dari makna dengan mengadakan triangulasi dengan
menggunakan triangulasi sumber.
Hasil penelitian menunjukkan: (1) Kesadaran shalat siswa kelas VIII
setelah diberi keteladanan adalah masih kurang. Dibuktikan dengan: ketika di
sekolah siswa yang tertinggal shalat berjamaah tetap melaksanakan shalat. Akan
tetapi shalatnya masih belum benar dan masih bercanda. Ketika dirumah, banyak
yang shalatnya harus diingatkan orang tua. Tetapi, dibandingkan dengan sebelum
diberi keteladanan hampir seluruh siswa kelas VIII mengalami peningkatan
kesadaran shalatnya walaupun secara umum masih kurang. (2) Keteladanan guru
adalah salah satu faktor yang efektif dalam peningkatan kesadaran shalat lima
waktu siswa kelas VIII. Dikatanan efektif karena hampir seluruh siswa kelas VIII
mengalami peningkatan kesadaran shalatnya walau tidak terlalu besar
dibandingkan dengan kesadaran shalat sebelum diberi keteladanan dan masih
tergolong kurang. (3) Faktor pendorong pembiasaan shalat diantaranya adalah
harapan guru untuk menjadikan siswa lebih baik, ketika di rumah shalatnya tidak
diawasi, pentingnya ibadah shalat, untuk menghasilkan lulusan yang berakhlak
mulia yang mampu melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim. Adapun faktor
penghambat pembiasaan shalat lima waktu adalah lemahnya kontrol dan figur
orang tua, keterpaksaan, bercanda ketika shalat, mencari-cari alasan untuk tidak
shalat, menghabiskan waktu bermain Playstation (PS), handphone, menononton
televisi, bermain dengan teman, malas, dan ketiduran.
x
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .......................................................................................
i
HALAMAN SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ......................................
ii
HALAMAN PERNYATAAN BERJILBAN ..................................................
iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..............................................
iv
HALAMAN PENGESAHAN .........................................................................
v
HALAMAN MOTTO ......................................................................................
vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................
vii
HALAMAN KATA PENGANTAR ................................................................
viii
HALAMAN ABSTRAK .................................................................................
x
HALAMAN DAFTAR ISI ..............................................................................
xi
HALAMAN TRANSLITERASI .....................................................................
xiv
HALAMAN DAFTAR TABEL ......................................................................
xvi
HALAMAN DAFTAR LAMPIRAN .............................................................. xvii
BAB I
: PENDAHULUAN .................................................................
1
A. Latar Belakang Masalah .................................................
1
B. Rumusan Masalah ...........................................................
5
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian .......................................
6
D. Kajian Pustaka ................................................................
7
E. Landasan Teori................................................................
9
F. Metode Penelitian ...........................................................
23
G. Sistematika Pembahasan .................................................
30
xi
BAB II
BAB III
: GAMBARAN UMUM MTS MUHAMMADIYAH
SRUMBUNG .........................................................................
32
A. Letak dan Keadaan Geografis .........................................
32
B. Sejarah dan Proses Perkembangannya ............................
33
C. Visi, Misi dan Tujuan Pendidikannya .............................
35
D. Struktur Organisasinya....................................................
39
E. Keadaan Guru, Karyawan, dan Siswa,............................
40
F. Keadaan Sarana dan Prasarana .......................................
45
: EFEKTIVITAS KETELADANAN GURU DALAM
MENINGKATKAN KESADARAN SHALAT LIMA
WAKTU SISWA KELAS VIII DI MTS
MUHAMMADIYAH SRUMBUNG ..................................... 48
A. Kesadaran Shalat Lima Waktu Siswa Kelas
VIII di MTs Muhammadiyah Srumbung Setelah
diberi Keteladana ............................................................ 48
B. Efektivitas Keteladanan Guru dalam Meningkatkan
Kesadaran Shalat Lima Waktu Siswa Kelas VIII
di MTs Muhammadiyah Srumbung ................................ 65
C. Faktor Pendorong dan Penghambat Pembiasaan Shalat
Lima Waktu Kelas VIII di MTs Muhammadiyah
Srumbung ........................................................................ 90
xii
BAB IV
: PENUTUP
A. Simpulan .......................................................................... 100
B. Saran-saran ....................................................................... 101
C. Kata Penutup .................................................................... 102
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 103
LAMPIRAN-LAMPIRAN .............................................................................. 105
xiii
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN
Berdasarkan surat Keputusan Menteri Agama RI dan Menteri Pendidikan
danKebudayaan RI Nomor 158/1987 dan 0543 b/U/1987, tanggal 22 Januari
1988.
Konsonan Tunggal
Huruf Arab
Nama
Huruf Latin
Keterangan
alif
Tidak dilambangkan
Tidak dilambangkan
ba‟
B
Be
‫ت‬
ta‟
T
Te
‫ث‬
sa‟
S
Es (dengan titik di atas)
‫ج‬
jim
J
Je
‫ح‬
ha‟
H
Ha (dengan titik di bawah)
‫خ‬
kha‟
Kh
Ka dan Ha
‫د‬
dal
D
De
‫ذ‬
zal
Z
Zet (dengan titik diatas)
ra‟
T
Er
‫ز‬
zai
Z
Zet
‫س‬
sin
S
Es
‫ش‬
syin
Sy
Es dan Ye
‫ص‬
sad
S
Es (dengan titik di bawah)
‫ض‬
dad
D
De (dengan titik di bawah)
xiv
‫ط‬
ta‟
T
Te (dengan titik di bawah)
‫ظ‬
za‟
Z
Zet (dengan titik di bawah)
‫ع‬
„ain
-
Koma terbalik di atas
‫غ‬
gain
G
Ge
‫ف‬
fa‟
F
Ef
‫ق‬
qaf
Q
Qi
‫ك‬
kaf
K
Ka
lam
L
El
mim
M
Em
nun
N
En
wawu
W
We
‫ه‬
ha‟
H
Ha
‫ء‬
hamzah
.
Apostrof
‫ي‬
ya‟
Y
Ye
‫م‬
Untuk bacaan panjang ditambah:
‫ = َا‬ā
‫ = ِهَّلِلي‬i
‫ = َا‬ū
xv
DAFTAR TABEL
Table I
: Struktur organisasi MTs Muhammadiyah Srumbung ............... 40
Tabel II
: Keadaan siswa Tahun 2011/2012 ............................................. 41
Tabel III : Keadaan siswa Tahun 2012/2013 ............................................. 41
Tabel IV : Keadaan siswa Tahun 2013/2014 ............................................. 41
Table V
: Keadaan siswa Tahun 2014/2015 ............................................. 42
Tabel VI : Keadaan Guru dan Karyawan ................................................... 42
Tabel VII : Guru-guru MTs Muhammadiyah Srumbung ............................ 43
Tabel VIII : Tenaga kependidikan MTs Muhammadiyah Srumbung ........... 45
Tabel IX : Sarana dan Prasarana ............................................................... 46
Tabel X
: Jadwal Shalat Hari Senin .......................................................... 70
Tabel XI : Jadwal Shalat Hari Selasa, Rabu, Sabtu.................................... 70
Tabel XII : Jadwal Shalat Hari Jum‟at ........................................................ 71
Tabel XIII : Jadwal Shalat Ketika UCO ....................................................... 72
Tabel XIV : Jadwal Shalat Ketika UCO Siang ............................................. 72
Tabel XV : Perubahan Kesadaran Shalat Siswa kelas VIII ......................... 82
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I
: Pedoman Pengumpulan Data
Lampiran II
: Catatan Lapangan
Lampiran III
: Daftar Nara Sumber
Lampiran IV
: Berita Acara Seminar Proposal
Lampiran V
: Bukti Seminar Proposal
Lampiran VI
: Surat Penunjukan Pembimbing
Lampiran VII
: Kartu Bimbingan Skripsi
Lampiran VIII
: Surat Keterangan Telah Melakukan Pra Penelitian di
MTs Muhammadiyah Srumbung
Lampiran IX
: Surat Ijin Penelitian dari BAKESBANGLINMAS
Lampiran X
: Surat Ijin Penelitian dari Badan Penanaman Modal
Daerah Jawa Tengah
Lampiran XI
: Surat Ijin Penelitian dari KESBANGPOL
Lampiran XII
: Surat Ijin Penelitian dari Badan Penanaman Modal
dan Pelayanan Perizinan Terpadu
Lampiran XIII
: Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian di
MTs Muhammadiyah Srumbung
Lampiran XIV
: Dokumentasi Pelaksanaan Shalat
Lampiran XV
: Sertifikat SOSPEM
Lampiran XVI
: Sertifikat PPL I
Lampiran XVII : Sertifikat PPP-KKN
xvii
Lampiran XVIII : Sertifikat Ujian Sertifikasi TIK
Lampiran XIX
: Sertifikat TOEC
Lampiran XX
: Sertifikat IKLA
Lampiran XXI
: Daftar Riwayat Hidup Penulis
xviii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Guru adalah komponen utama dalam pendidikan. Jika gurunya
memiliki kualitas yang baik, maka pendidikan akan menjadi baik pula.
Karena di tangan guru yang baik keterbatasan apapun yang mempengaruhi
proses pendidikan dapat diatasi atau diminimalkan.
Sebagai komponen yang utama, keberhasilan dalam pendidikan
sebagian besar ditentukan oleh mutu profesionalisme seorang guru. Guru
yang professional bukanlah guru yang hanya dapat mengajar dengan baik
tetapi juga guru yang dapat mendidik. Untuk ini selain hanya menguasai ilmu
yang diajarkan dan cara mengajarkannya dengan baik sekaligus memiliki
akhlak yang mulia. Dengan demikian seorang guru tidak hanya menjadi
sumber informasi, ia juga dapat menjadi motivator, inspirator, dinamisator,
fasilitator, evaluator dan contoh hidup bagi peserta didik dan masyarakatnya.2
Guru dikatakan pendidik profesional, karena guru telah menerima dan
memikul beban dari orangtua untuk mendidik anak-anaknya. Dalam hal ini,
orangtua harus tetap sebagai pendidik yang pertama dan utama bagi anakanaknya, sedangkan guru adalah tenaga profesional yang membantu orang tua
untuk mendidik anak-anak pada jenjang pendidikan sekolah.
2
Moh Roqib, & Nurfuadi, Kepribadian Guru: Upaya Mengembangkan Kepribadian Guru
Yang Sehat di Masa Depan (Yogyakarta: Grafindo Letera Media, 2009) Hal. 3-4.
1
Diantara faktor penyerahan tugas dan kewajiban orang tua dalam
mendidik anak kepada guru di sekolah adalah karena keterbatasan waktu
yang tersedia bagi orang tua, keterbatasan penguasaan ilmu dan teknologi
yang dimiliki, efisiensi biaya yang dibutuhkan dalam proses pendidikan anak,
dan efektivitas program kependidikan anak (karena pada umumnya anak
lebih konsentrasi dan serius apabila diajar oleh guru dari pada orang tuanya
sendiri meskipun orang tuanya mungkin lebih mempuni dalam penguasaan
ilmu).3
Dalam dunia pendidikan, guru memiliki berbagai peranan diantaranya
adalah sebagai pendidik (peran yang paling utama), sebagai model atau
teladan, sebagai pengajar dan pembimbing, sebagai pelajar, dan lain-lain.4
Sebagai seorang yang memiliki peran sebagai model atau teladan, guru harus
bisa menjaga diri dengan tetap mengedepankan profesionalismenya dengan
penuh amanah, arif, dan bijaksana sehingga siswa lebih mudah meneladani
guru yang berkepribadian baik.5
Keteladanan sendiri dalam pendidikan adalah metode paling ampuh dan
efektif dalam membentuk anak secara moral, spiritual dan sosial. Karena guru
adalah sosok contoh ideal dalam pandangan anak didiknya, yang tingkah
lakunya akan ditiru. Meskipun memiliki potensi untuk mendapatkan sifatsifat baik dan dasar-dasar pendidikan yang mulia, ia akan jauh dari kenyataan
3
Ibid., Hal. 10.
Yustista N, Hypnoteaching: Seni Ajar Mengeksplorasi Otak Peserta Didik (Yogyakarta:
Ar Ruzz Media, 2012), Hal. 36-37.
5
Moh Roqib, & Nurfuadi, Kepribadian Guru …, Hal. 13.
4
2
positif atau perbuatan baik tersebut bila ia melihat langsung pendidikan yang
tidak bermoral.
Memang yang mudah bagi guru adalah mengajarkan berbagai teori
pendidikan kepada siswanya, sedangkan yang sulit bagi siswa adalah
mempraktekkan teori tersebut jika orang yang mendidiknya tidak pernah
melakukannya atau antara ucapan dan perbuatannya bertentangan.6 Oleh
karena itu dalam melaksanakan tugasnya, disamping mendidik dan mengajar,
guru juga harus melatih,7 sehingga tujuan pendidikan yang diharapkan akan
dapat tercapai.
Dalam kaitannya dengan pendidikan agama (Islam), keteladanan
dikatakan sebagai metode yang paling efektif. Konsep keteladanan yang
dapat dijadikan sebagai cermin dan model dalam pembentukan kepribadian
seorang muslim sendiri adalah ketauladanan yang di contohkan oleh
Rasulullah. Rasulullah mampu mengekspresikan kebenaran, kebajikan,
kelurusan, dan ketinggian pada akhlaknya.8
Dasar Pendidikan keagamaan secara umum adalah pendidikan shalat.
Arah dan tujuan dari pendidikan agama ini tidak lain adalah al-akhlaq alkarimah dalam hal keduniaan, dan taqarrub (kedekatan) dalam kaitan
hubungan dengan Allah. Dengan pendidikan shalat beserta penghayatannya,
seseorang diharapkan mampu dan dapat menerjemahkan dua dimensi
6
Abdulloh Nashih Ulwan, Pendidikan Anak Menurut Islam: Kaidah-Kaidah Dasar
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992), Hal. 1-2.
7
Ngainun Naim, Mejadi Guru Inspiratif: Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup
Siswa (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), Hal. 10.
8
Ahmad Umar Hasyim, Menjadi Muslim Kaffah: Berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi
SAW (Yogjakarta: Mitra Pustaka, 2004), Hal. 29.
3
kehidupan secara total, yaitu dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan
yang akan menjadikannya khalifah di muka bumi.9
Selain itu, orang tua juga menaruh perhatian lebih terhadap shalat
karena masyarakat awam mengidentikkan keshalehan seseorang dengan
shalatnya. Ketika melihat seseorang yang rajin melaksanakan shalat lima
waktu, masyarakat akan menilai bahwa dia adalah anak yang taat beragama.
Permasalahannya adalah bagaimana mendidik shalat yang benar-benar
mampu membuat anak untuk secara sadar tanpa ada pengaruh-pengaruh dari
pihak lain untuk melaksanakan shalat lima waktu. Karena sangat sulit untuk
membiasakan anak untuk tetap shalat dalam keadaan apapun.
Dalam lingkup pendidikan di sekolah berbasis sekolah Islam pun, tetap
dijumpai permasalahan mengenai pembiasaan shalat. Orang tua pasti lebih
menuntut kepada sekolah berbasis Islam dibandingkan dengan sekolah umum
mengenai bagaimana menjadikan anak lebih baik dalam bidang agama
khususnya mengenai shalat. Meskipun orang tua tetap menginginkan anaknya
menjadi lebih baik di sekolah manapun, tetapi ada yang lebih diharapkan
ketika disekolahkan di sekolah berbasis Islam. Mengingat disekolah umum
materi agama pun hanya secara umum, meski pendidikan atau pembentukan
budi pekerti tetap dilaksanakan di luar materi PAI.
Dari uraian diatas penulis ingin melakukan sebuah penelitian mengenai
dampak apa yang timbul ketika diterapkannya keteladanan guru dalam
peningkatan kesadaran shalat lima waktu siswa. Memberikan kontribusi
9
Muhammad Sholikhin, The Power of Sabar (Solo: Tiga Serangkai, 2009), Hal. 198.
4
terhadap kesadaran shalat atau tidak, sehingga akan diketahui apakah
keteladanan guru yang diterapkan efektif atau tidak dalam meningkatkan
kesadaran shalat lima waktu.
Untuk lokasi penelitian ini dilakukan di MTs Muhammadiyah
Srumbung. Alasannya adalah karena di sekolah ini menetapkan Shalat Dhuha
dan Shalat Dzuhur berjamaah sebagai kegiatan wajib. Untuk Shalat Dhuha
dilakukan pada istirahat pertama yaitu pada jam 09.40 dan Shalat Dzuhur
pada istirahat kedua sekitah jam 12.00. Dan untuk Shalat Dhuha ada kultum
yang dilakukan oleh siswa secara bergantian tiap harinya10.
Ketika tiba waktu untuk melaksanakan shalat, semua siswa dan guru
bergegas menuju mushola. Tidak hanya guru yang bertugas sebagai imam
atau guru agama saja tetapi seluruh guru ikut melaksanakan shalat. Dan tidak
ada satupun siswa yang tidak melaksanakan shalat kecuali yang sedang
berhalangan.11
Berdasarkan dengan uraian diatas penulis ingin melakukan sebuah
penelitian yang berjudul “Efektivitas Keteladanan Guru Dalam Meningkatkan
Kesadaran Shalat Lima Waktu Siswa Kelas VIII Di Mts Muhammadiyah
Srumbung Magelang”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah kesadaran shalat siswa kelas VIII di MTs Muhammadiyah
Srumbung setelah diberikan keteladanan guru?
10
Wawancara dengan Sulistiyono, selaku guru Fiqih MTs Muhammadiyah Srumbung
Magelang, 23 Oktober 2014.
11
Observasi di MTs Muhammadiyah Srumbung Magelang, 23 oktober 2014
5
2. Bagaimana efektivitas keteladanan guru dalam meningkatkan kesadaran
shalat lima waktu siswa kelas VIII di MTs Muhammadiyah Srumbung?
3. Faktor apa sajakah yang menjadi pendukung dan penghambat dalam
pembiasaan shalat lima waktu siswa kelas VIII MTs Muhammadiyah
Srumbung?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Mengetahui kesadaran shalat siswa kelas VIII di MTs Muhammadiyah
Srumbung setelah diberikan keteladanan guru
b. Mengetahui efektivitas keteladanan guru dalam peningkatan kesadaran
shalat lima waktu siswa kelas VIII MTs Muhammadiyah Srumbung
c. Mengetahui Faktor yang menjadi pendukung dan penghambat dalam
pembiasaan shalat lima waktu siswa kelas VIII MTs Muhammadiyah
Srumbung
2. Kegunaan Penelitian
a. Kegunaan Akademis
1) Dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi semua pihak
mengenai efektivitas keteladanan guru dalam meningkatkan
kesadaran shalat lima waktu.
2) Untuk memperdalam dan menambah wawasan bagi peneliti pada
khususnya dan pembaca pada umumnya.
6
b. Kegunaan Praktis
1) Untuk menambah wawasan tentang peranan keteladanan guru
dalam meningkatkan kesadaran shalat lima waktu.
2) Sebagai pengetahuan dan masukan bagi guru, mahasiswa, dan
semua pihak dalam dunia pendidikan mengenai efektivitas
keteladanan guru dalam meningkatkan kesadaran shalat lima
waktu.
D. Kajian Pustaka
Penulis tidak menemukan judul skripsi yang sama persis. Namun ada
beberapa yang memiliki sedikit kesamaan, diantaranya adalah:
Skripsi Salsiyah yang berjudul “Keteladanan Guru Dalam Pembinaan
Akhlak Dan Kepribadian Siswa (Studi Tentang Peran Guru PAI di SD
Keputren VIII Kraton Yogyakarta)”. Skripsi ini meneliti tentang kondisi
akhlak dan kepribadian siswa SD Keputren, peran keteladanan guru PAI
dalam pembinaan akhlak, dan faktor yang menjadi pendukung dan
penghambat.12
Skripsi Siti Umi Latifah yang berjudul “Pola-pola metode keteladanan
untuk penanaman akhlak Peserta didik di SD N Pengkol Godean”. Hasil
penelitiannya ini yaitu pola keteladanan untuk membentuk akhlak yang
12
Salsiyah, “Keteladanan Guru Dalam Pebinaan Akhlak Dan Kepribadian Siswa (Studi
Tentang Peran Guru PAI Di SD Keputren VIII Kraton Yogyakarta)”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah
Dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, 2010.
7
digunakan meliputi pola pembiasaan, pola pemantauan, dan pengawasan,
pola heteronomus moralitu, pola norma-norma interpersonal.13
Skripsi Sri Sumarni yang berjudul “Peningkatan Kesadaran Sholat
Lima Waktu Melalui Metode Pembiasaan Pada Siswa Kelas IV dan V Di SD
Negeri
Nglahar
Kabupaten
Sleman”.
Meneliti
tentang
bagaimana
meningkatkan kesadaran shalat dengan pembiasaan.14
Skripsi Dede Wulansari yang berjudul “ Upaya Guru PAI dalam
Meningkatkan Motivasi Peserta Didik untuk Melaksanakan Shalat di SMA
Islam Prambanan Sleman Yogyakarta”. Dalam skripsi ini dijelaskan bahwa
upaya yang dilakukan oleh guru PAI adalah dengan membiasakan peserta
didik untuk melaksanakan shalat, memberikan keteladanan menegakkan
disiplin, memberikan motivasi, memberikan hadiah, dan menghukum yang
bersifat mendidik serta menciptakan suasana yang kondusif, ternyata
menunjukkan hasil 70% dengan kriteria cukup.15
Skripsi Syahrul Imam yang berjudul “Upaya Guru Fiqih dalam
Meningkatkan Pelaksanaan Ibadah Sholat Siswa Kelas VIII di MTsN
Ngemplak Sleman Yogyakarta”. Dalam skripsi ini dijelaskan bahwa upaya
yang dilakukan guru fiqih dalam meningkatkan pelaksanaan sholat adalah
dengan menggunakan metode pembiasaan, metode keteladanan, dan metode
13
Siti Umi Latifah, “Pola-Pola Metode Keteladanan Untuk Penanaman Akhlak Peserta
Didik di SD N Pengkol Godean”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga,
2010.
14
Sri Sumarni, “Peningkatan Sholat Lima Waktu Melalui Metode Pembiasaan Pada Siswa
Kelas IV dan V di SD Negeri Nglahar Kabupaten Sleman”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan
Keguruan UIN Sunan Kalijaga, 2011.
15
Dede Wulandari, “Upaya Guru PAI Dalam Meningkatkan Motivasi Peserta Didik Untuk
Melaksanakan Shalat DI SMA 1 Prambanan Sleman Yogyakarta”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan
Keguruan UIN Sunan Kalijaga, 2011.
8
motivasi serta menambahkan sarana dalam meningkatkan pelaksanaan ibadah
sholat. Secara kognitif dikategorikan cukup baik, secara afektif dikatakan
kurang atau belum berhasil dan secara psikomotor dikatakan cukup baik.16
Penelitian
yang
dilakukan
oleh
Salsiyah
dan
Umi
Latifah
menghubungkan keteladanan guru dengan penanaman akhlak, sedangkan
pada penelitian ini dihubungkan dengan kesadaran shalat. Penelitian yang
dilakukan oleh Sri Sumarni memfokuskan peningkatan kesadaran shalat
dengan pembiasaan sedangkan penelitian ini memfokuskan pada keteladanan.
Penelitian yang dilakukan oleh Dede Wulandari dan Syahrul Imam
adalah mengemukakan bagaimana upaya guru meningkatkan kesadaran
shalat, dimana dilakukan dalam berbagai cara. Sedangkan dalam penelitian
ini cara meningkatkannya adalah memfokuskan pada keteladanan guru dan
menguji apakah keteladanan yang sudah ada tersebut efektif atau tidak.
Penulis berkesimpulan bahwa penelitian ini belum pernah dilakukan
oleh peneliti lain.
E. Landasan Teori
1. Kesadaran Shalat
a. Pengertian
Kesadaran berasal dari kata dasar sadar, yang berarti insaf,
merasa, tahu dan mengerti, siuman,17 ingat kepada keadaan yang
16
Syahrul Imam, “Upaya Guru Fiqih Dalam Meningkatkan Pelaksanaan Ibadah Sholat
Siswa Kelas VIII DI MTsN Ngemplak Sleman Yogyakarta”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan
keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2010.
17
Peter Salim, Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (Jakarta: Modern
English Press, 1991), Hal. 1301
9
sebenarnya, keadaan ingat (tahu akan dirinya), ingat kembali.18
Sedangkan kesadaran adalah keinsafan, keadaan mengerti, hal yang
dirasakan atau dialami oleh seseorang.19
Kesadaran adalah kemampuan individu mengadakan hubungan
dengan lingkungannya serta dengan dirinya sendiri (melalui panca
indranya) dan mengadakan pembatasan terhadap lingkungannya serta
terhadap dirinya sendiri (melalui perhatian).20
Sedangkan shalat secara bahasa berarti doa. Sedangkan secara
istilah shalat adalah sekumpulan ucapan yang diawali takbir dan
diakhiri dengan salam. Disebut shalat karena menghubungkan seorang
hamba
kepada
penciptanya.21
Menurut
Imam
al-Qasthalaani
sebagaimana dikutip oleh Sayyid Shaleh Al-Ja‟fari, shalat disebut shalat
karena:
1) Shalat dapat menyampaikan manusia ke surga
2) Shalat berasal dari kata shillah (koneksi). Artinya orang yang
shalat berarti sedang berinteraksi dengan Allah Swt
3) Shalat mempunyai arti at-tashliyyah. Artinya didalam shalat
seorang muslim itu harus mengevaluasi diri, akal, dan hatinya
4) Shalat adalah kasih sayang Allah Swt kepada hambanya
18
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesi (Jakarta: Balai Pustaka, 1976),
Hal. 553.
19
Peter Salim, Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer…, Hal. 1301
20
Sunaryo, Psikologi Untuk Keperawatan (Jakarta:EGC, 2004), Hal. 77.
21
Abdul Aziz Muhammad Azam, Abul Wahab Sayyed Hawwas, Fiqih Ibadah ( Jakarta:
Amzah, 2010), Hal. 145.
10
5) Shalat membawa orang yang meninggalkannya pada neraka22
Kata shalat memiliki akar hubungan makna dengan kata
“shilah” yang bermakna hubungan (contohnya, shilah al-rahim
bermakan silaturahmi). Dalam kaitannya dengan kata shilah ini, shalat
bermakna medium hubungan manusia dengan Allah Swt23.
Kesadaran shalat berarti keadaan tahu dan paham, bahwa shalat
itu wajib dilaksanakan sebagai seorang muslim yang taat kepada Allah
SWT., sehingga timbul dorongan dari dirinya sendiri untuk
melaksanakannya tanpa paksaan.
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesadaran Shalat
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
kesadaran beragama seseorang adalah sebagai berikut:
1) Faktor Pembawaan (Internal)
Manusia memiliki fitrah untuk mempercayai suatu zat yang
mempunyai kekuatan (memberikan kebaikan atau mencelakakan.
Dalam perkembangannnya ada yang berjalan alamiah (pada
masyarakat primitif muncul kepercayaan terhadap roh-roh ghaib
yang bisa mendatangkan kebaikan dan malapetaka sehingga perlu
diberikan sesaji) dan ada juga yang mendapat bimbingan dari para
Rasul Allah sehingga fitrahnya berkembang sesuai kehendak
Allah.
22
Sayyid Shaleh Al-Ja‟fari, The Miracle of Shalat (Jakarta: Gema Insani, 2007), Hal. 79-81.
Haidar Bagir, Buat Apa Shalat: Kecuali Jika Anda Hendak Mendapatkan Kebahagian
dan Ketenangan Hidup (Bandung: Mizania, 2007), Hal. 23.
23
11
2) Faktor Lingkungan (Eksternal)
a) Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi
anak-anak. Orangtua memiliki peranan yang sangat penting
dalam menumbuhkembangkan fitrah beragama anak.
b) Lingkungan Sekolah
Pengaruh sekolah terhadap perkembangan kepribadian
anak sangat besar. Dalam upaya mengembangkan kesadaran
beragama, sekolah terutama guru agama mempunyai peranan
yang sangat penting dalam mengembangkan wawasan
pemahaman, pembiasaan pengamalan ibadah atau akhlak
mulia. Agar dapat melaksanakan tugas tersebut maka guru
agama dituntut untuk memiliki karakteristik:
(1) Kepribadian mantap sehingga bisa menjadi teladan
(2) Menguasai ilmu tentang agama (shalat)
(3) Memahami ilmu lain yang menunjang kemampuannya
Faktor lain yang menunjang perkembangan fitrah
beragama:
(1) Kepedulian kepada sekolah, guru-guru dan staf sekolah
terhadap pelaksanaan pendidikan agama (shalat) di sekolah
melalui pemberian contoh
(2) Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai
12
c) Lingkungan Masyarakat
Yang dimaksud lingkungan masyarakat disini adalah
situasi atau kondisi sosial atau budaya sosial yang berpengaruh
terhadap perkembangan kesadaran beragama manusia.24
c. Upaya Peningkatan Kesadaran Shalat
Secara umum, untuk mewujudkan proses pembelajaran yang
kondusif serta hasil yang sesuai dengan harapan, ada beberapa hal
yang bisa dilakukan oleh seorang guru antara lain:
1) Keteladanan atau percontohan
Keteladanan merupakan upaya untuk memberikan contoh
yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Pemberian
teladan harus dilakukan oleh seluruh pegawai yang terkait dengan
pelaksanaan pendidikan. Guru erupakan orang yang paling utama
dan orang pertama yang berhubungan dengan siswa. Baik buruknya
perilaku guru akan mempengaruhi perilaku siswanya.
2) Pendisiplinan
Pendisiplinan sebagai salah satu upaya pendidikan pada
dasarnya merupakan upaya menciptakan keadaan yang dapat
mempengaruhi atau mengarahkan siswa untuk senantiasa menaati
peraturan yang ditetapkan oleh sekolah.
24
Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2004), Hal. 136-141)
13
3) Pembiasaan
Pembiasaan merupakan upaya yang dilakukan dalam rangka
membiasakan siswa untuk berperilaku sesuai dengan tujuan
pembelajaran atau tujuan sekolah.
25
Dalam pendidikan islam
pembiasaan merupakan sebuah cara yang dilakukan untuk
membiasakan anak berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan
tuntutan ajaran agama islam.26
Kebiasaan memainkan peran penting dalam perilaku remaja
secara
khusus.
Itu
karena
pengalaman-pengalaman
remaja
bertambah dan perilakunya berbeda dari fase kanak-kanak. Juga
karena ruang lingkup interaksi remaja dengan lingkungan sosialnya
bertambah luas.
Dengan begitu muncul kumpulan dari perlaku sosial dan
mental semenjak permulaan fase ini. Remaja pun menemukan
kecenderungan kepada tipe-tipe tertentu. Kalau perilaku ini
berulang-ulang, dia menjadi kebiasaan yang diterapkannya
sepanjang hidupnya, atau dalam waktu panjang.27 Syarat-syarat
dalam menerapkan pembiasaan adalah:
a) Memulainya sebelum terlambat, yaitu sedini mungkin.
b) Dilaksanakan secara terus-menerus, teratur dan terprogram.
25
Ngainun Naim, Mejadi Guru Inspiratif…, Hal. 62-63.
Binti Maunah, Metode Pengajaran Agama Islam: Metode Penyusun dan Desain
Pembelajarannya (Yogyakarta: Sukses Offset, 2009), Hal. 107.
27
Muhammad Sayyid Muhammad Az-Za‟balawi, Pendidikan Remaja Antara Islam Dan
Ilmu Jiwa, penerjemah: Abdul Hayyie Al-Kattani, dkk. (Jakarta: Gema Insani Press, 2007), Hal.
347-348.
26
14
c) Diawasi secara ketat, konsisten dan tegas.28
4) Pengondisian lingkungan
Pengkondisian lingkungan pada dasarnya adalah upaya
merekayasa keadaan lingkungan sekolah sedemikian rupa sehingga
menjadi
keadaan
yang
mendukung
tercapainya
tujuan
pembelajaran.29
d. Perkembangan Kesadaran Beragama pada Remaja
Pada masa remaja awal (13-16 tahun) terjadi perubahan jasmani
yang cepat, sehingga memungkinkan terjadinya kegoncangan emosi.
Kepercayaan agama yang tumbuh pada masa sebelumnya mungkin
mengalami kegoncangan. Kepercayaan kepada Tuhan terkadang
sangat kuat dan terkadang berkurang yang terlihat pada ibadahnya
yang kadang-kadang rajin dan kadang-kadang malas.
Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptis (was-was) sehingga
muncul kemalasan untuk melakukan ritual keagamaan (seperti ibadah
shalat). Kegoncangan ini muncul disebabkan oleh faktor internal dan
eksternal. Faktor internal berkaitan dengan kematangan organ seks
yang mendorong untuk memenuhi kebutuhan tersebut namun di sisi
lain ia tahu bahwa hal tersebut dilarang agama, sehingga timbul
konflik pada dirinya. Faktor internal lainnya adalah bersifat psikologis
yaitu keinginan untuk bebas.
28
29
Binti Maunah, Metode Pengajaran Agama Islam…, Hal. 98.
Ngainun Naim, Mejadi Guru Inspiratif…, Hal. 63.
15
Sedangkan faktor eksternal berkaitan dengan budaya masyarakat
yang tidak jarang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Selain itu
mungkin remaja melihat orang di sekitarnya memiliki gaya hidup
yang kurang mempedulikan agama. Bila tidak mendapatkan
bimbingan keagamaan dalam keluarga maupun di sekolah akan
memicu perbuatan yang menentang.30
2. Keteladanan Guru
a. Efektivitas
Efektivitas berasal dari kata efektif. Efektif yang berarti ada
efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya), membawa hasil atau
berhasil guna (tentang usaha atau tindakan),31 memanfaatkan waktu
dengan cara sebaik-baiknya.32 Efektivitas bisa diartikan sama dengan
keefektivan, yaitu hal berkesan atau berpengaruh, jika dikaitkan
dengan usaha atau tindakan berarti keberhasilan.33 Dapat diartikan
pula sebagai suatu keadanaan atau sifat efektif.
Efektivitas merupakan hubungan antara output dengan tujuan
yang ditetapkan. Suatu organisasi, program, atau kegiatan dikatakan
efektif apabila output yang dihasilkan dapat memenuhi tujuan yang
ditetapkan.34 Efektivitas juga diartikan sebagai suatu keadaan yang
30
Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan..., Hal. 204-205.
Heppy El Rias, Kamus Ilmiah Populer (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), Hal. 162.
32
J.S. Badudu & Sutan Muhammad Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 1994), Hal. 371.
33
Peter Salim, & Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (Jakarta: Modern
English Press, 1991), Hal. 376.
34
I Gusti Agung Rai, Audit Kinerja pada Sektor Publik: Konsep, Praktik Studi Kasus
(Jakarta: Salemba Empat, 2008), Hal. 24
31
16
menunjukkan tingkatan keberhasilan atau kegagalan suatu kegiatan
dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.35
Dapat diartikan pula sebagai azas yang memungkinkan
tercapainya tujuan secara optimal. Prinsip efektivitas akan tercapai
manakala seorang guru mampu menyusun, merencanakan, dan
melaksanakan pembelajaran secara cermat dan mengatasi berbagai
persoalan dengan baik.36
Sehingga dapat disimpulkan bahwa efektivitas adalah usaha atau
tindakan yang memberikan hasil atau pengaruh sesuai dengan tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya. Keteladanan guru dikatakan efektif
dalam meningkatkan kesadaran shalat apabila terjadi peningkatan
kesadaran shalat pada mayoritas siswa kelas VIII. Kriteria kesadaran
shalat yang dimaksud adalah dapat melaksanakan shalat lima waktu
dan atas kesadaran sendiri.
b. Keteladanan Guru
1) Pengertian
Secara etimologis keteladanan berasal dari kata teladan,
yaitu: perbuatan atau barang dan yang lainnya yang patut untuk
dicontoh. Sedangkan dalam bahasa arab berasal dari kata “uswah”
dan “qudwah”. Kata uswah termasuk dari huruf-huruf: hamzah,
as-sin, dan al-waw. Secara etimologis setiap kata bahasa arab yang
35
36
Komarudin, Ensiklopedia Manejemen (Jakarta: Bumi Aksara, 1994) Hal. 269.
Ngainun Naim, Mejadi Guru Inspiratif …, Hal. 11.
17
terbentuk dari ketiga huruf tersebut memiliki persamaan arti yaitu
“pengobatan dan perbaikan.37
Keteladanan (uswah) adalah metode pendidikan yang
diterapkan dengan cara memberi contoh-contoh (teladan) yang baik
berupa perilaku nyata, khususnya ibadah dan akhlak. Dalam AlQur‟an teladan sama dengan uswah yang kemudian dilekatkan
dengan kata hasanah, sehingga menjadi padanan kata uswatun
hasanah yang berarti teladan yang baik. Dalam Al-Qur‟an kata
uswatuh hasanah dilekatkan kepada Rasulullah SAW juga sering
dilekatkan kepada Nabi Ibrahim a.s.38
Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur‟an Surat al-Ahzab
ayat 21 yaitu:
            
    
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.39
Uswatun hasanah adalah memberikan teladan yang baik, baik
di dalam kelas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dengan
37
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pers,
2002), Hal. 117
38
Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 2001), hal.
95.
39
Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur‟an, Al-Qur’an dan Terjemahnya Edisi
Tahun 2002 (Jakarta: CV Darus Sunnah, 2007), Hal. 421.
18
begitu peserta didik dengan tanpa paksaan akan meniru dan
mencontohnya seperti shalat berjamaah, kerja keras, dan lain-lain.40
Sedangkan Istilah guru berasal dari India, yang bermakna orang
yang mengajarkan tentang kelepasan dari sengsara. Dalam tradisi agama
Hindu, guru dikenal sebagai “maharesi guru”, yaitu para pengajar yang
bertugas untuk mendidik dan mengajar para calon biksu.41
“Dalam bahasa arab kata guru dikenal dengan beberapa
istilah seperti al-mu’min, al-muaddib, al-mudarris, almursyid, dan al-ustadz; orang yang bertugas memberkan ilmu
dalam majlis taklim (lokasi proses pembelajaran ilmu). Sama
dengan pengertian dalam agama hindu, al-mu’min atau al
ustadz, juga mempunyai pengertian orang yang mempunyai
tugas untuk membangun aspek spiritualitas manusia”.
Pengertian guru kemudian menjadi semakin luas, tidak hanya
terbatas dalam kegiatan keilmuan yang bersifat kecerdasan spiritual
dan kecerdasan intelektual, tetapi juga menyangkut kecerdasan
kinestik jasmaniyah, seperti guru tari, guru olah raga, guru senam,
dan
guru
musik
dan
kecerdasan
sosial-emosional
seperti
kepemimpinan, manajemen.
Sementara guru dalam bahasa jawa adalah merujuk pada
seorang yang harus digugu dan ditiru oleh semua anak didinya.
Harus digugu artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya
senantiasa dipercaya dan diyakini sebagai kebenaran oleh semua
40
41
Abdul mujib, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2010), Hal. 197
Yustista N, Hypnoteaching: Seni Ajar…, Hal. 15.
19
anak didiknya. Seorang guru harus ditiru artinya seorang guru
harus menjadi suri tauladan (panutan) bagi semua muridnya.42
Dalam Undang-Undang tentang guru dan dosen disebutkan
bahwa guru adalah
“pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini
jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah”.43
Pendidik atau guru dalam pendangan Islam adalah orang
dewasa yang bertanggungjawab memberi pertolongan pada peserta
didiknya dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar
mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri, mampu
mandiri dalam melaksanakan tugasnya sebagai hamba Allah,
khalifah dan sebagai makhluk sosial dan individu.44
Dapat dikatakan bahwa guru yang efektif adalah bila dia
mampu mendayagunakan waktu dan tenaga yang sedikit, tetapi
dapat
mencapai
hasil
yang
banyak.
Guru
yang
pandai
menggunakan strategi mengajar dan mampu menerapkan metodemetode mengajar secara berdaya guna akan disebut guru yang
efektif.45 Sehingga dapat dikatakan bahwa keteladanan guru adalah
perilaku yang ditunjukkan oleh pendidik yang dapat dicontoh oleh
siswanya (teladan baik).
42
Moh Roqib, Nurfuadi, Kepribadian Guru…, Hal. 20-22.
UU nomer 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, Hal. 3.
44
Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam…, Hal. 87.
45
Ngainun Naim, Mejadi Guru Inspiratif…, Hal. 39.
43
20
2) Bentuk Keteladanan
a) Pengaruh keteladanan yang tidak disengaja
Guru tampil sebagai figur yang dapat memberikan
contoh-contoh
yang
baik.
Keberhasilan
lebih
banyak
tergantung pada kualitas kesungguhan realisasi karakteristik
guru yang diteladani, seperti kualitas kepemimpinannya,
kualitas
kemuliaannya,
kualitas
keikhlasannya,
dan
sebagainya. Setiap orang yang diharapkan menjadi teladan
hendaknya memelihara tingkah lakunya serta tanggungjawab
kepada Allah Swt.
b) Pengaruh keteladanan yang disengaja
Guru dengan sengaja memberikan contoh yang baik
kepada siswanya supaya mereka dapat menirunya. Contohnya
adalah guru sebagai iman ketika melaksanakan shalat
berjamaah
disekolah,
membaikkah
shalatnya
dalam
mengajarkan shalat yang sempurna kepada makmumnya atau
siswa.46
3) Metode Keteladanan dalam Pendidikan
Metode keteladanan memiliki peranan yang besar dalam
upaya untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Karena secara
psikologis anak didik banyak meniru dan mencontoh perilaku
sosok idolanya diantaranya adalah pendidik atau guru. Oleh karena
46
Syaihidin, Menelusuri Pendidikan dalam Al-Qur’an (Bandung: Alfabeta, 2009), Hal.
157-159.
21
itu keteladanan banyak kaitannya dengan perilaku dan perilaku
yang baik adalah tolak ukur keberhasilan pendidikan.47
Dr. Abdullah Nashih Ulma sebagaimana yang dikutip oleh
Ahmad Yani mengemukakan bahwa:
“salah satu metode pendidikan terhadap anak yang harus
dilakukan adalah mendidik dengan keteladanan yang baik.
Bahkan oleh beliau hal itu ditetapkan dalam urutan pertama.
Itu artinya, kalau orang tua ingin punya anak yang saleh,
yang harus saleh duluan itu adalah orang tua”.48
Allah berfirman: Q.S. Al-Baqarah (2): 44
     
       
 
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian,
sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal
kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu
berpikir?49
Q.S. Al-Shaff (61): 2-3
           
      
Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu
mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?(2). Amat
besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apaapa yang tidak kamu kerjakan.50
Dari firman Allah di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa
seorang guru hendaknya tidak hanya mampu memberikan teori
kepada siswa, tetapi lebih dari itu ia harus mampu menjadi panutan
47
Binti Maunah, Metode Pengajaran Agama Islam…, Hal. 107.
Ahmad Yani, 53 Materi Khotbah Ber-angka (Jakarta: Gema Insani, 2008), Hal. 246.
49
Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur‟an, Al-Qur’an dan Terjemahnya…, Hal. 8.
50
Ibid., Hal. 552.
48
22
bagi siswanya, sehingga siswa dapat mengikutinya tanpa
merasakan adanya unsur paksaan. Oleh karena itu keteladanan
merupakan
faktor
dominan
dan
sangat
menentukan
bagi
keberhasilan pendidikan.51
F. Metode Penelitian
Jenis Penelitian
1.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research), yaitu
penelitian yang langsung di lapangan untuk mendapatkan data-data yang
dibutuhkan.52 Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah
kualitatif deskriptif, yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang, perilaku yang
diamati, dan fenomena-fenomena yang muncul.53
2. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan psikologi
agama. Psikologis agama merupakan cabang psikologi yang meneliti dan
mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh
keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dengan perkembangan
usianya.54
Menurut Zakiyah Daradjat sebagaimana dikutip oleh Abudin Nata,
perilaku seseorang yang tampak lahiriah terjadi dikarenakan pengaruh
51
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan…, Hal. 122.
Burhan Bungin, Penelitian kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan ilmu
Sosial Lainnya (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2010), Hal. 68.
53
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2004), Hal. 13.
54
Jalaludin, Psikologi Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), Hal. 15
52
23
keyakinan yang dianutnya. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh jiwanya,
di mana gejala-gejala kejiwaan yang berkaitan dengan agama itu dapat
dicontohkan dalam beberapa perilaku, seperti: sikap beriman dan
bertakwa kepada Allah, jujur dan selalu berbuat baik.55
3. Teknik Penentuan Subjek
Metode atau teknik penentuan subjek dalam penelitian ini
menggunakan teknik purposive sampling. Teknik purposive sampling
adalah teknik pengambilan sumber data dengan pertimbangan tertentu.56
Jadi nara sumber yang diambil yaitu orang-orang yang memiliki kriteria
sebagai berikut:
a) Mempunyai waktu untuk dimintai informasi
b) Mengetahui kondisi sekolah dengan baik (Kepala Sekolah)
c) Memiliki pengetahuan yang baik tentang shalat dan terlibat langsung
dalam kegiatan pembiasaan shalat (Guru Agama atau Fiqih)
d) Orang yang menjadi subjek pendidikan shalat (Siswa Kelas VIII)
Banyaknya
nara
sumber
yang
ditentukan
berdasarkan
pertimbangan informasi. Ketika telah sampai pada taraf Redundancy
(datanya telah jenuh dan sudah tidak memberikan informasi baru), maka
jumlah nara sumber sudah cukup.57 Adapun subjek penelitian (nara
sumber) yang diambil yaitu:
55
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: Rajawali Press, 2011), hal.50.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D
(Bandung: Alfabeta, 2010), Hal. 300.
57
Ibid., Hal. 302.
56
24
a. Siswa kelas VIII MTs Muhammadiyah Srumbung
Pembiasaan shalat lima waktu tidak bisa secara instan,
membutuhkan waktu dan proses yang bertahap. Dibandingkan dengan
Siswa kelas VII yang belum genap setahun mendapatkan pendidikan
tentang shalat dengan keteladanan guru, siswa kelas VIII jauh lebih
cocok dijadikan sebagai subjek penelitian karena telah mendapatkan
pendidikan pembiasaan shalat cukup lama.
Jika melihat dari lamanya mereka mendapatkan pendidikan
tentang pembiasaan shalat dengan keteladanan guru, siswa kelas IX
memang lebih tepat. Namun, waktu dan kondisinya yang tidak
memungkinkan (ditakutkan mengganggu fokus mereka dalam
mempersiapkan UN) serta kebanyakan sekolah tidak mengijinkan
penelitian yang subjeknya adalah kelas VI atau IX atau XII.
Oleh karena itu peneliti menentukan bahwa subjek penelitian
atau nara sumber yang dipakai adalah siswa kelas VIII MTs
Muhammadiyah Srumbung. Jumlah siswa kelas VIII yang menjadi
nara sumber adalah 24 siswa.
b. Kepala Sekolah
Orang yang paling tahu dan penentu kebijakan sekolah adalah
pemimpinnya atau Kepala Sekolah. Karenanya, untuk mendapatkan
informasi-informasi mengenai kebijakan-kebijakan serta situai dan
kondisi di MTs Muhammadiyah Srumbung perlu Kepala Sekolah
sebagai sumber informasi. Informasi dari Kepala Sekolah atau yang
25
lebih dikenal sebagai Kepala Madrasah sangat membantu peneliti
dalam pertanyaan yang ingin diketahui jawabannya.
c. Guru mata pelajaran fiqih
Penelitian ini sangat berhubungan dengan masalah Fiqih.
Untuk itu, peneliti mengambil guru mata pelajaran Fiqih sebagai
nara sumber atau sumber informasi yang akan diwawancarai
mengenai pemahaman agama siswa kelas VIII, kesadaran shalat
siswa
kelas
VIII,
makna
keteladanana
guru
dan
keteladanan,
factor
pembiasaan
pendorong
dan
dengan
penghambat
pembiasaan shalat siswa kelas VIII.
d. Orang tua/wali siswa kelas VIII
Penelitian ini adalah penelitian tentang pembiasaan shalat lima
waktu, sehingga melibatkan orang tua sebagai nara sumber. Dengan
bertanya secara langsung pada orang tua, akan semakin memperkuat
jawaban dari wawancara yang telah dilakukan kepada siswa kelas
VIII. Pada akhirnya nanti akan didapat kesimpulan yang benar
berdasarkan dari keterangan guru, siswa dan orang tua siswa.
Banyaknya orang tua/wali siswa kelas VIII yang menjadi nara
sumber adalah 24.
4. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data-data yang mendukung penelitian yang
dilakukan dan dapat menjawab rumusan-rumusan masalah yang ada,
26
maka penulis menggunakan beberapa metode.
Adapun metode
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
a. Observasi
Menurut
Nasution
sebagaimana
dikutip
oleh
Sugiyono
menyatakan bahwa observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan.
Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta
mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi.58
Observai-observasi yang dilakukan meliputi observasi awal
sebelum melakukan penelitian (pra penelitian), observasi tentang
kondisi kelas VIII ketika waktu pelaksanaan shalat, kondisi guru-guru
ketika waktu shalat tiba, serta pelaksanaan shalat berjamaah di MTs
Muhammadiyan Srumbung.
b. Wawancara/interview
Wawancara adalah perteman dua orang untuk bertukar informasi
dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna
suatu topik tertentu.59
Wawancara yang dilakukan adalah untuk mendapatkan data atau
jawaban tentang tingkat kesadaran shalat lima waktu siswa kelas VIII,
efektivitas keteladanan guru dalam meningkatkan kesadaran shalat
lima waktu dan faktor-faktor yang mendorong serta menghambat
pembiasaah shalat di MTs Muhammadiyah Srumbung. Untuk subjek
58
59
Sugiyono, Metode Penelitian pendidikan…, Hal. 310.
Ibid., Hal. 317.
27
yang akan diwawancarai adalah Kepala sekolah, Guru mata pelajaran
Fiqih, Siswa kelas VIII sendiri, dan Orang tua siswa.
c. Dokumentasi
Metode dokumentaasi adalah mencari data mengenai hal-hal
yaitu berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, agenda,
dll60. Hasil penelitian dari observasi atau wawancara akan lebih
kredibel atau dapat dipercaya kalau didukung data-data.
Dalam penelitian ini, dokumentasi yang dilakukan adalah untuk
mendapatkan data-data tentang gambaran umum kondisi sekolah, dan
hal-hal yang terkait dengan keteladanan guru dalam meningkatkan
kesadaran shalat lima waktu siswa kelas VIII (baik foto-foto
pelaksanaannya maupun dokumen-dokumen yang terkait).
5. Teknik Analisis Data
Analisis data kualitatif adalah proses mencari dan menyusun data
yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi
dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke
dalam unit-unit, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan
membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun
orang lain61. Adapun langkah-langkah yang diambil dalam analisis data
ialah sebagai berikut:
60
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan praktis (Jakarta: Rineka
Pustaka, 1991), Hal. 91.
61
Sugiyono, Metode Penelitian pendidikan…,., Hal. 335.
28
a.
Reduksi Data
Selama peneliti di lapangan, peneliti akan memperoleh data
yang cukup banyak dan semakin lama akan semakin rumit. Untuk itu
perlu dilakukan analisis data-data yang diperoleh tersebut melalui
reduksi data. Reduksi data adalah merangkum, memilih hal-hal
pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dan membuang
yang tidak perlu.
b.
Penyajian Data
Setelah melakukan reduksi data, langkah selanjutnya adalah
menyajikan data tersebut. Dalam hal ini, penyajian dilakukan dengan
bentuk teks yang bersifat naratif. Ini akan memudahkan untuk
memahami apa yang terjadi.
c.
Penarikan Kesimpulan/Verifikasi
Langkah terakhir adalah melakukan penarikan kesimpulan dan
verifikasi.
Pemeriksaan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan
pengecekan atau pembanding terhadap data. Dalam penelitian ini
trianggulasi yang dipakai adalah triangulasi sumber. Triangulasi sumber
menguji keabsahan data dengan mengecek melalui berbagai sumber.62
62
Ibid., Hal. 373.
29
Dalam penelitian ini, untuk menguji keabsahan data yang diperoleh
mengenai Efektivitas Keteladanan Guru dalam Meningkatkan Kesadaran
Shalat Lima Waktu maka pengumpulan dan pengujian data yang telah
diperoleh dilakuan ke kepala sekolah, guru, siswa dan orang tua. Dari
keempat sumber data tersebut kemudian dideskripsikan, dikategorikan,
dibandingkan dan mengecek ulang kesamaan dan perbedaan dari
beberapa sumber tersebut dengan metode yang sama.
G. Sistematika Pembahasan
Untuk memberi kejelasan pada pepembahasan skripsi ini, maka peneliti
akan menguraikan sistematika pembahasan, sebagai berikut:
Bagian
: Pada bagian ini terdiri dari halaman judul, surat pernyataan
formalitas
keaslian, persetujuan pembimbing, pengesahan, halaman
motto, persembahan, kata pengantar, abstrak, daftar isi,
daftar tabel dan daftar lampiran.
BAB I
:
Pada Bab ini berisi gambaran umum penulisa skripsi atau
disebut dengan bagian pendahuluan, yang meliputi: latar
belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan
penelitian, kajian pustaka, landasan teori, metode penelitian
(jenis penelitian, pendekatan penelitian, teknik penentuan
subyek, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data)
dan sistematika pembahasan.
30
BAB II
:
Berisi tentang gambaran umum sekolah, yaitu sejarah
sekolah, letak geografis, visi dan misi, struktur organisasi,
guru dan karyawan, siswa, sarana dan prasarana.
BAB III
:
Bab III berisi tentang analisis mengenai efektivitas
keteladanan guru di MTs Muhammadiyah Srumbung. Pada
bagian ini peneliti memfokuskan untuk menemukan
jawaban tentang tingkat kesadaran shalat siswa kelas VIII,
efektivitas
keteladanan
guru
dalam
meningkatkan
kesadaran shalat lima waktu siswa kelas VIII dan faktor
pendukung serta faktor penghambat dalam pembiasaan
shalat di MTs Muhammadiyah Srumbung.
BAB IV
:
Penutup, pada bagian ini terdiri dari kesimpulan, saransaran, dan penutup. Bagian akhir dari skripsi ini juga
dicantumkan daftar pustaka dan berbagai lampiran dari
penelitian.
31
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah penulis melakukan penelitian tentang efektifitas keteladanan
guru dalam meningkatkan kesadaran shalat lima waktu siswa kelas VIII di
MTs Muhammadiyah Srumbung, maka penulis menyimpulkan hal-hal
sebagai berikut:
1. Kesadaran shalat siswa kelas VIII di MTs Muhammadiyah Srumbung
setelah diberi keteladanan adalah masih kurang. Hal ini dibuktikan
dengan: ketika di sekolah siswa yang tertinggal untuk melaksanakan
shalat berjamaah tetap melaksanakan shalat sendiri setelah shalat jamaah
berakhir. Akan tetapi shalatnya masih belum benar (terlihat dari
gerakannya yang sangat cepat). Selain itu banyak yang shalatnya masih
bercanda. Kemudian ketika dirumah, masih banyak yang shalatnya harus
diingatkan oleh orang tua. Akan tetapi, dibandingkan dengan sebelum
diberi keteladanan hampir seluruh siswa kelas VIII mengalami
peningkatan kesadaran shalatnya walaupun secara umum masih kurang.
2. Keteladanan yang ditunjukkan oleh guru MTs Muhammadiyah
Srumbung adalah salah satu faktor yang efektif dalam meningkatkan
kesadaran shalat lima waktu siswa kelas VIII. Dikatanan efektif karena
hampir seluruh siswa kelas VIII mengalami peningkatan kesadaran
99
shalatnya walau tidak terlalu besar dibandingkan dengan kesadaran shalat
sebelum diberi keteladanan dan masih tergolong kurang.
3. Faktor pendorong pembiasaan shalat siswa kelas VIII di MTs
Muhammadiyah Srumbung diantaranya adalah harapan dari guru untuk
menjadikan siswa lebih baik dalam hal shalatnya, sebagian siswa ketika
di rumah shalatnya tidak diawasi oleh orang tuanya, pentingnya ibadah
shalat, basis sekolah islam mendorong untuk dapat menghasilkan lulusan
yang
berakhlak
mulia
yang
mampu
melaksanakan
kewajiban-
kewajibannya sebagai umat muslim, ada guru dan orang tua yang
mengingatkan, pemahaman mereka tentang kewajiban shalat, ingin selalu
dekat dengan Allah, untuk mendapatkan pahala, dan shalat sunnah juga
perlu untuk diajaran kepada siswa (shalat dhuha). Adapun faktor
penghambat pembiasaan shalat lima wakut siswa kelas VIII di MTs
Muhammadiyah Srumbung adalah lemahnya kontrol dan figur orang tua,
takut aturan sekolah, bercanda ketika shalat, mencari-cari alasan untuk
tidak shalat, lupa ketika sibuk, menghabiskan waktu bermain Playstation
(PS), asyik menonton televisi, bermain handphone (browsing atau sosial
media), bermain dengan teman, malas, tidak ada air untuk wudhu ketika
di sekolah, ketiduran, dan bangun kesiangan.
B. Saran-Saran
1. Bagi Guru
a. Perlu ada kerja sama antara guru dengan orang tua untuk pembiasaan
shalat.
100
b. Perlu diadakan pertemuan rutin dengan orang tua/ wali siswa untuk
mengevaluasi pembiasaan shalat yang telah dilakukan.
c. Guru harus bisa lebih dekat dengan siswa, agar siswa lebih mudah
disuruh untuk melaksanakan shalat.
2. Bagi Orang tua/Wali Siswa
a. Orang tua harus berperan aktif untuk selalu mengontrol shalat putraputrinya.
b. Orang tua juga harus bisa menjadi teladan, seperti melaksanakan
shalat berjamaah ketika di rumah.
3. Bagi Siswa
a. Merubah pemahaman tentang shalat sebagai kewajiban menjadi
shalat sebagai kebutuhan.
b. Banyaklah membaca buku tentang manfaat shalat.
c. Menghentikan segala aktifitas ketika waktu shalat tiba.
C. Kata Penutup
Rasa syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas
segala nikmat dan petunjuknya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini tanpa ada halangan yang berarti. Namun demikian penulis menyadari
bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh sebab itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca.
Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca, para Guru Pendididikan Agama
Islam pada khususnya.
101
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ja‟fari, Sayyid Shaleh, The Miracle of Shalat, Jakarta: Gema Insani, 2007.
Arief, Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat
Pers, 2002.
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktis, Jakarta:
Rineka Pustaka, 1991.
Ar-Nahlawi, Abdurrahman, Prinsip-Prinsip Metode Pendidikan Islam: dalam
Keluarga, di Sekolah dan di Masyarakat, Bandung: CV. Diponegoro,
1989.
Azam, Abdul Aziz Muhammad & Abul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqih Ibadah,
Jakarta: Amzah, 2010.
Az-Za‟balawi, Muhammad Sayyid Muhammad, Pendidikan Remaja Antara Islam
dan Ilmu Jiwa, penerjemah: Abdul Hayyie Al-Kattani, dkk., Jakarta:
Gema Insani Press, 2007.
Bagir, Haidar, Buat Apa Shalat: Kecuali Jika Anda Hendak Mendapatkan
Kebahagiaan dan Ketenangan Hidup, Bandung: Mizania, 2007.
Badudu, J.S. & Sutan Muhammad Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 1994.
Bungin, Burhan, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik
dan Ilmu Sosial Lainnya, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2010.
Hasyim, Ahmad Umar, Menjadi Muslim Kaffar: Berdasarkan Al-Qur’an dan
Sunnah Nabi Saw, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2004.
Imam, Syahrul, “Upaya Guru Fiqih dalam Meningkatkan Pelaksanaan Ibadah
Sholat Siswa Kelas VIII di MTsN Ngemplak Sleman Yogyakarta”,
Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
2010.
Jalaludin, Psikologi Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.
Komarudin, Ensiklopedia Manejemen, Jakarta: Bumi Aksara, 1994.
Latifah, Siti Umi, “Pola-Pola Metode Keteladanan Untuk Penanaman Akhlak
Peserta Didik di SD N Pengkol Godean”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2010.
Maunah, Binti, Metode Pengajaran Agama Islam: Metode Penyusun dan Desain
Pembelajarannya, Yogyakarta: Sukses Offset, 2009.
102
Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT
Rosdakarya, 2004.
Remaja
Mujib, Abdul, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2010.
N, Yustista, Hypnoteaching: Seni Ajar Mengeksplorasi Otak Peserta Didik,
Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2012.
Naim, Ngainun, Mejadi Guru Inspiratif: Memberdayakan dan Mengubah Jalan
Hidup Siswa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Nata, Abudin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 2001.
____________ Metodologi Studi Islam, Jakarta: Rajawali Press, 2011.
Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,
1976, Hal. 266.
Rai, I Gusti Agung, Audit Kinerja pada Sektor Publik: Konsep, Praktik Studi
Kasus, Jakarta: Salemba Empat, 2008.
Rias, Heppy El, Kamus Ilmiah Populer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.
Roqib, Moh, & Nurfuadi, Kepribadian Guru: Upaya Mengembangkan
Kepribadian Guru Yang Sehat di Masa Depan, Yogyakarta: Grafindo
Letera Media, 2009.
Peter Salim & Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Jakarta:
Modern English Press, 1991.
Salsiyah, “Keteladanan Guru Dalam Pembinaan Akhlak dan Kepribadian Siswa
(Studi Tentang Peran Guru PAI di SD Keputren VIII Kraton
Yogyakarta)”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga, 2010.
Sholikhin, Muhammad, The Power of Sabar, Solo: Tiga Serangkai, 2009.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D, Bandung: Alfabeta, 2010.
Sumarni, Sri, “Peningkatan Kesadaran Sholat Lima Waktu Melalui Metode
Pembiasaan Pada Siswa Kelas IV dan V di SD Negeri Nglahar Kabupaten
Sleman”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga, 2011.
Sunaryo, Psikologi Untuk Keperawatan, Jakarta: EGC, 2004.
Syaihidin, Menelusuri Pendidikan dalam Al-Qur’an, Bandung: Alfabeta, 2009.
Ulwan, Abdulloh Nashih, Pendidikan Anak Menurut Islam : Kaidah-Kaidah
Dasar, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992.
103
UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.
Wulandari, Dede, “Upaya Guru PAI dalam Meningkatkan Motivasi Peserta Didik
Untuk Melaksanakan Shalat di SMA 1 Prambanan Sleman Yogyakarta”,
Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, 2011.
Yani, Ahmad, 53 Materi Khotbah Ber-angka, Jakarta: Gema Insani, 2008.
Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur‟an, Al-Qur’an dan Terjemahnya
Edisi Tahun 2002, Jakarta: CV Darus Sunnah, 2007.
Yusuf, Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2004.
104
Pedoman Observasi
i.
Observasi
105
Pedoman Wawancara
Kepala MTs Muhammadiyah Srumbung Magelang
1. Bagaimanakah pemahaman agama siswa MTs Muhammdiyah srumbung?
2. Bagaimanakah kesadaran shalat siswa MTs Muhammadiyah Srumbung?
3. Sejak kapan pelaksanaan shalat di MTs Muhammadiyah srumbung ini
ditetapkan?
4. Apakah tujuan diterapkannya shalat dhuha dan dzhuhur sebagai kegiatan
wajib?
5. Apakah tujuan yang diharapkan sudah tercapai?
6. Apakah semua guru ikut melaksanakan shalat bersama dengan siswa?
7. Apakah ada peraturan yang mengharuskan semua guru ikut melaksanakan
shalat?
8. Apakah ada reward atau penghargaan bagi guru yang tertib dalam
melaksanakan shalat?
9. Apakah ada hukuman apabila ada guru yang ketika tiba waktu shalat tidak
melaksanakan shalat tanpa alasan yang tepat?
10. Bagaimana tanggapan orang tua tentang peraturan ini?
11. Faktor apa sajakah yang menghambat dan mendorong pembiasaan shalat
di MTs muhammadiyah srumbung?
106
Pedoman wawancara
Guru Mata Pelajaran Fiqih MTs Muhammadiyah Srumbung
A. Tingkat kesadaran Shalat
1. Apakah sejak pertama kali masuk atau terdaftar sebagai siswa di MTs
Muhammadiyah Srumbung siswa kelas VIII rata-rata sudah memiliki
bekal pengetahuan agama yang baik?
2. Bagaimanakah pemahaman mereka tentang ibadah shalat?
3. Apakah semua siswa kelas VIII melaksanakan shalat ketika di
sekolah?
4. Seperti apakah kondisis siswa kelas VIII ketika tiba waktu shalat?
5. Apa sajakah kesulitan-kesulitan yang dihadapi para guru dalam
membiasakah shalat siswa kelas VIII?
6. Berapa persen siswa kelas VIII yang sudah melaksanakan shalat lima
waktu dalam sehari?
B. Efektivitas Keteladanan Guru
1. Menurut pendapat
Bapak, apakah makna
keteladanan dalam
pendidikan islam?
2. Siapakah sosok yang seharusnya menjadi teladan dalam pendidikan
islam (terutama pembiasaan shalat?
3. Seberapa pentingkah keteladanan guru dalam pendidikan islam,
terutama dalam pembiasaan shalat?
4. Sejak kapan pelaksanaan pembiasaan shalat di MTs Muhammadiyah
Srumbung diterapkan?
5. Apakah
yang
melatarbelakangi
pembiasaan
shalat
di
MTs
Muhammadiyah Srumbung?
6. Apakah yang menjadi tujuan dari pelaksanaan shalat secara berjamaah
di MTs Muhammadiyah Srumbung?
7. Apakah ketika dalam pembelajaran di kelas penyampaian materi
disertai dengan keteladanan?
107
8. Seperti apakah wujud keteladanan yang ditunjukkan oleh guru saat
pembelajaran di kelas?
9. Kalau untuk shalat, wujud keteladanan yang ditunjukkan guru di dalam
kelas seperti apa?
10. Apakah ada peraturan yang mengharuskan semua guru ikut
melaksanakan shalat berjamaah di sekolah?
11. apakah semua guru telah melaksanakah shalat berjamaah di sekolah
bersama dengan siswa?
12. Apakah ada reward bagi guru yang rajin dalam melaksanakan shalat?
13. Apa sajakah yang menjadi alasan bagi guru untuk melaksanakan shalat
berjamaah di sekolah bersama dengan siswa?
14. Apakah keteladanan yang ditunjukkan oleh guru sebagai upaya untuk
meningkatkan kesadaran shalat siswa?
15. Apakah ketika para guru memberikan teladan untuk melaksanakan
shalat, ada peningkatan terhadap kesadaran shalat siswa kelas VIII?
16. Apakah keteladanan dari guru merupakan metode yang efektif dalam
meningkatkan kesadaran shalat siswa?
C. Faktor Pendorong dan Penghambat
1. Faktor apa sajakah yang mendorong pembiasaan shalat 5 waktu siswa
kelas VIII di MTs Muhammadiyah Srumbung?
2. Faktor apa sajakah yang menghambat pembiasaan shalat 5 Waktu
Siswa kelas VIII di MTs Muhammadiyah Srumbung?
108
Pedoman Wawancara
Siswa Kelas VIII MTs Muhammadiyah Srumbung
A. Tingkat Kesadaran Shalat
1. Dimana anda mendapatkan pendidikan tentang shalat pertama kali
(misal: TPA, Keluarga, Sekolah Dasar, MTs)?
2. Menurut anda apakah makna shalat itu?
3. Apakah anda wajib melaksanakan shalat?
4. Berapa kali anda shalat dalam sehari? Sebutkan!
5. Jika anda melaksanakan shalat 5 waktu dalam sehari, apa yang
menjadi alasan anda untuk melaksanakannya?
6. Jika anda belum melaksanakan shalat 5 waktu dalam sehari, jelaskan
alasannya!
7. Menurut anda apakah yang menyebabkan seseorang tidak perlu
melaksanakan shalat?
8. Ketika anda dalam situasi yang menguras waktu anda, apakah anda
tetap melaksanakan shalat tepat waktu?
9.
Selain mendapat pahala dari Allah SWT, apakah manfaat shalat
menurut anda?
10. Apakah anda melaksanakan shalat dengan terpaksa karena tuntutan
maupun paksaan dari orang lain atau melaksanakannya atas kesadaran
anda sendiri?
B. Efektivitas Keteladanan Guru
1. Apakah di sekolah ini ada kegiatan shalat berjamaah? Shalat apa saja?
2. Apakah ketika waktu shalat tiba, semua guru juga melaksanakan
shalat?
3. Jika anda tidak melaksanakan shalat di sekolah, apakah Bapak/Ibu
Guru mengingatkan anda untuk segera shalat?
109
4. Bersemangatkah anda Ketika melihat guru juga melaksanakan shalat
bersama anda?Sebutkan alasannya!
5. Apakah keteladanan yang ditunjukkan oleh guru-guru dalam
melaksanakan shalat berpengaruh pada diri anda? Jelaskan!
6. Apakah ada reward atau hadiah ketika anda rajin melaksanakan shalat
ketika di sekolah?
7. Apakah ada hukuman ketika anda tidak melaksanakan shalat ketika di
sekolah?
8. Bagaimanakah tanggapan anda ketika anda diharuskan shalat
berjamaah setiap hari ketika di sekolah dengan hukuman bila tidak
melaksanakannya, absentsi, tetapi para guru tidak pernah ikut
mengerjakan shalat seperti anda?
9. Apakah dampak atau perubahan yang anda alami ketika di sekolah ini
setiap hari anda diajarkan shalat oleh Bapak dan Ibu guru?
10. Faktor apa saja yang mendorong dan menghambat anda untuk
melaksanakan shalat lima waktu?
110
PEDOMAN WAWANCARA
ORANG TUA/WALI SISWA KELAS VIII
1. Bagaimanakah shalat putra/putri anda ketika dirumah? (Rajin atau jarang)
2. Sebutkan shalat apa saja yang selalu dikerjaakan putra/putri anda ketika
dirumah!
3. Bagaimanakah shalat putra/putri anda setelah masuk MTs Muhammadiyah
Srumbung?
4. Apakah
Bapak/Ibu
selalu
mengingatkan
putra/putri
anda
untuk
melaksanakan shalat?
5. Apakah Putra/putri anda sulit untuk disuruh melaksanakan shalat?
111
Dokumentasi
1. Dokumen terkait gambaran umum MTs Muhammadiyah Srumbung
2. Dokumentasi tentang keadaan siswa dan keadaan ekonomi orang tua siswa
3. Dokumen terkait jadwal pelaksanaan shalat
4. Dokumen yang terkait dengan keteladanan guru dalam meningkatkan
kesadaran shalat siswa kelas VIII
112
Catatan lapangan 1
Metode Pengumpulan Data: Observasi dan Wawancara
Hari/Tanggal : Kamis, 23 Oktober 2014
Jam
: 09.00 WIB
Lokasi
: MTs Muhammadiyah Srumbung Magelang
Sumber Data : Bapak Endro Purwanto, S.Pd., Bapak Sulistiyono, S.Pd.I.
Deskripsi Data:
Bapak
Muhammadiyah
Endro
Purwanto
Srumbung.
S.Pd.
Yang
adalah
pertama
Kepala
dilakukan
Madrasah
penulis
MTs
sebelum
melaksanakan penelitian adalah menemui Bapak Kepala untuk meminta izin
untuk melaksanakan penelitian. Setelah mendapatkan izin, kemudian penulis
menemui Bapak Sulistiyono, S.Pd.I. selaku guru Fiqih untuk melakukan
wawancara awal. Dari hasil wawancara dengan Bapak Sulis diketahui tentang
Bagaimana kegiatan Shalat berjamaah di MTs Muhammadiyah dilaksanakan.
Selain wawancara, penulis juga melakukan observasi langsung menegnai
bagaimana keadaan guru ketika tiba waktu shalat.
Interpretasi:
Dari hasil wawancara diketahui bahwa di MTs Muhammadiyah ada
kegiatan rutin yaitu shalat Dhuha dan Dhuhur berjamaah. Setelah shalat dhuha ada
doa bersama dan dilanjutkan dengan kultum yang disampaikan oleh siswa secara
bergantian setiap harinya. Dari hasil observasi diketahui bahwa semua guru
melaksanakan shalat ketika tiba waktu shalat, bersama dengan siswa.
113
Catatan lapangan 2
Metode Pengumpulan Data: Dokumentasi
Hari/Tanggal : Jum‟at, 19 Desember 2014
Jam
: 08.05
Lokasi
: MTs Muhamadiyah Srumbung
Sumber Data : Bapak Endro Purwanto, S.Pd.
Deskripsi Data:
Sebelum melakukan penelitian, penulis terlebih dahulu mengurus surat
dinas dari kampus yang ditujukan untuk BAKESBANGPOL DIY, kemudian surat
yang diperoleh dari BAKESBANGPOL DIY diantarkan ke BAPEDA Semarang,
kemudian ke KESBANGPOL Kabupaten Magelang kemudian melanjutkan ke
Badan Penanaman Modal dan Perizinan Kabupaten Magelang.
Izin yang telah didapat kemudian diserahkan kepada Bapak Endro
Purwanto selaku kepala MTs Muhammadiyah Srumbung. Kemudian penulis
menjelaskan proses penelitian yang akan dilaksanakan dan meminta data tentang
profil MTs Muhammadiyah Srumbung untuk penyusunnan Bab II.
Interpretasi:
Data yang diperoleh tentang gambaran umum MTs Muhammadiyah
Srumbung adalah tentang sejarah berdirinya, visi, misi dan tujuan, keadaaan
siswa, guru dan karyawan, serta sarana prasarana di MTs Muhammadiyah
Srumbung.
114
Catatan lapangan 3
Metode Pengumpulan Data: Dokumentasi
Hari/Tanggal : Sabtu, 20 Desember 2014
Jam
: 08.00
Lokasi
: MTs Muhammadiyah Srumbung
Sumber Data : Bapak Endro Purwanto, S.Pd.
Deskripsi Data:
Data yang penulis dapat mengenai profil MTs Muhammadiyah Srumbung
tidak didapat data mengenai struktur organisasinya. Kemudian penulis menemui
Bapak Endro Purwwanto untuk menanyakannya. Dikarenanakan hari libur
pegawai TU tidak datang, sehingga tidak didapat soft filenya. Untuk itu, penulis
mengambil gambar struktur organisasi yang terpasang di ruang Kepala Sekolah
dengan izin Bapak Endro Purwanto.
Interpretasi:
Struktur Organisasi di MTs Muhammadiyah adalah Kepala Madrasah,
WAKA Sarana Prasarana, WAKA Kesiswaan, WAKA Kurikulum, Bendahara,
Sekretaris, Ketua TU, Kepala Lab. IPA dan Komputer, serta Kepala Perpustakaan.
115
Catatan lapangan 4
Metode Pengumpulan Data: Dokumentasi
Hari/Tanggal : Sabtu, 03 Januari 2015
Jam
: 09.30
Lokasi
: MTs Muhammadiyah Srumbung
Sumber Data : Dokumentasi Jadwal Pelajaran
Deskripsi Data:
Untuk melengkapi data tentang gambaran umum MTs Muhammadiyah
Srumbung,
penulis
melakukan
dokumentasi
jadwal
pelajaran
di
MTs
Muhammadiyah Srumbung. Jadwal pelajaran yang didapat juga berisi nama-nama
guru dan tugas mengajarnya.
Interpretasi:
Dari data yang diperoleh diketahui bahwa ada perbedaan jadwal shalat di
hari Senin (ada upacara di pagi hari), hari biasa, dan Hari Jum‟at.
116
Catatan lapangan 5
Metode Pengumpulan Data: Wawancara
Hari/Tanggal : Rabu, 28 Januari 2015
Jam
: 07.30
Lokasi
: MTs Muhammadiyah Srumbung
Sumber Data : Bapak Endro Purwanto, S.Pd., Siswa Kelas VIII
Deskripsi Data:
Penulis menemui Bapak Endro selaku Kepala Sekolah, kumudian meminta
izin untuk wawancara dengan beliau dan wawancara dengan siswa kelas VIII.
Setelah mendapatkan izin penulis melakukan wawancara dengan siswa kelas VIII
yang sudah diperbolehkan untuk masuk pada jam Aqidah Akhlak. Dari hasil
wawancara dengan siswa penulis mendapatkan data yang cukup mengenai
kesadaran shalatnya, efektivitas keteladanan guru, dan hal-hal yang mendorong
mereka untuk melaksanakan shalat dan hal-hal yang membuat mereka malas
melaksanakan shalat.
Kemudian dari wawancara dengan Bapak Endro Purwanto didapat
informasi mengenai keadaan siswa MTs Muhammadiyah Srumbung secara
umum, bagaimana keagamaannya, pelaksanaan shalat di MTs Muhammadiyah
Srumbung dan faktor pendorong dan penghambat pembiasaan shalat di MTs
Muhammadiyah Srumbung.
Interpretasi:
Siswa kelas VIII memiliki kesadaran shalat yang cukup bagus, lebih dari
setengahnya sudah melaksanakan shalat lima waktu. keteladanan guru juga
117
mempengaruhi kesadaran shalat mereka. Untuk guru tidak ada peraturan yang
mengharuskan melaksanakan shalat bersama dengan siswa, tetapi mereka tetap
melaksanakan shalat atas kesadaran dan untuk upaya pembiasaan.
118
Catatan lapangan 6
Metode Pengumpulan Data: Wawancara
Hari/Tanggal : Rabu, 28 Januari 2015
Jam
: 14.00
Lokasi
: Dermo II, Sudimoro, Kemukus
Sumber Data : Orang tua/Wali Siswa Kelas VIII
Deskripsi Data:
Setelah mendapatkan keterangan dari siswa tentang data orang tua, penulis
kemudian menemui orang tua siswa kelas VIII dan melakukan wawancara tentang
bagaimana shalat putra-putrinya ketika di rumah. Pada hari pertama ini penulis
mendatangi tujuh rumah, yang berlokasi di Dusun Dermo II, Sudimoro dan
Kemukus. Yang jaraknya tidak begitu jauh.
Interpretasi:
Diperoleh data bahwa empat siswa rajin melaksanakan shalat dan tiga
jarang melakanakan shalat. Dan beberapa shalatnya masih harus diingatkan oleh
orang tua.
119
Catatan lapangan 7
Metode Pengumpulan Data: Wawancara dan Observasi
Hari/Tanggal : Rabu, 29 Januari 2015
Jam
: 09.00
Lokasi
: MTs Muhammadiyah Srumbung
Sumber Data : Bapak Sulistiyono, S.Pd.I
Deskripsi Data:
Setelah melakukan wawancara dengan kepala Madrasah, penulis
kemudian melakukan wawancara dengan salah satu guru agama yaitu guru fiqih,
sekaligus pencetus pelaksanaan pembiasaan shalat di MTs Muhammadiyah
Srumbung. Wawancara yang dilakukan mengenai kesadaran shalat siswa kelas
VIII, bagaimana keteladanan guru dilaksanakan, efektivitas keteladanan guru,
serta faktor pendorong dan penghambat pembiasaan shalat. Selain itu juga penulis
melakukan observasi bagaimana pelaksanaan shalat.
Interpretasi:
Dari hasil wawancara tersebut diketahui bahwa kesadaran shalat siswa
kelas VIII sedang. Keteladanan guru merupakan metode yang efektif dalam
pendidikan islam.
120
Catatan lapangan 8
Metode Pengumpulan Data: Wawancara
Hari/Tanggal : Rabu, 29 Januari 2015
Jam
: 10.00
Lokasi
: Dusun kronggahan, Kedung sari, dan Babadan
Sumber Data : Orang tua siswa
Deskripsi Data:
Untuk wawancara orang tua tahap kedua, penulis mendatangi tujuh rumah
orang tua siswa di Dusun Kronggahan, Kedung sari dan Babadan yang jaraknya
tidak begitu jauh. Pertanyaan yang diajukan adalah sama dengan pertanyaan yang
diberikan pada wawancara pertama, yaitu tentang bagaimana shalat siswa kelas
VIII ketika di Rumah.
Interpretasi:
Data yang diperoleh adalah empat orang belum melaksanakan shalat lima
waktu, dan tiga orang sudah melaksanakan shalat lima waktu
121
Catatan lapangan 9
Metode Pengumpulan Data: Wawancara
Hari/Tanggal : Kamis, 30 Januari 2015
Jam
: 09.00
Lokasi
: Dusun Karanglo, Mandungan, Bringin Kulon, Trasan,
Bringin wetan, Tompangan, Ngresap.
Sumber Data : Orang tua/Wali Siswa Kelas VIII
Deskripsi Data:
Pada wawancara terakhir ini, penulis mendatangi sepuluh rumah orang tua
atau wali siswa kelas VIII. Wawancara yang dilakukan adalah mengenai
bagaimana shalat siswa kelas VIII ketika di rumah.
Interpretasi:
Data yang diperoleh adalah tiga siswa sudah melaksanakan shalat lima
waktu dalam sehari, dan tujuh orang masih belum. Kebanyakan siswa masih harus
diingatkan untuk melaksanakan shalat lima waktu.
122
Catatan lapangan 10
Metode Pengumpulan Data: Wawancara
Hari/Tanggal : Senin, 02 Januari 2015
Jam
: 15.00 WIB
Lokasi
: MTs Muhammadiyah Srumbung
Sumber Data : Bapak Sulistiyono, S.Pd.I
Deskripsi Data:
Penulis melakukan wawancara yang kedua kalinya kepada Bapak Sulis
untuk memperolah informasi tentang keteladanan guru yang dilakukan di dalam
kelas.
Interpretasi:
Dalam pembelajaran di dalam kelas, banyak wujud keteladanan yang
ditunjukkan oleh para guru. diantaranya adalah tentang adab berdoa, memberi
salam ketika masuk ruang dan sebagainya.
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153
CURICULUM VITAE
Nama Lengkap
: Novita Eka Wulandari
Tempat/
: Magelang, 09 November 1993
Tanggal
Lahir
Alamat
: Dermo II, Rt. 055 Rw. 023, Bringin,
Srumbung
56483,
Magelang,
Jawa
Tengah.
Status
: Belum Menikah
Pekerjaan
: Mahasiswa
Pendidikan Formal
: 1. Bustanul Atfal Aisyiyah Dermo,
tahun 1998/ 1999
2. Madrasah
Ibtidaiyah
Ma‟arif
Bringin, tahun 2004/ 2005
3. Madrasah
Tsanawiyah
Muhammadiyah Srumbung, tahun
2007/ 2008
4. Sekolah Menengah Kejuruan Negeri
1 Tempel Sleman, tahun 2010/ 2011
Nama Ayah
:
Tarmono
Nama Ibu
: Harni
No. Telp/ HP
:
085742323121
154
Download