BAB II KAJIAN PUSTAKA A.Kerangka Teori 1. Keseimbangan

advertisement
9
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.Kerangka Teori
1. Keseimbangan
Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan pusat gravitasi
pada bidang tumpu terutama ketika saat posisi tegak. (Pengertian
keseimbangan menurut O’Sullivan). Keseimbangan adalah kemampuan untuk
mempertahankan tubuh dalam posisi kesetimbangan maupun dalam keadan
static atau dinamik, serta menggunakan aktivitas otot yang minimal.
(Pengertian keseimbangan menurut Ann Thonson)
Keseimbangan juga bisa diartikan kemampuan relatife untuk mengontrol
pusat massa tubuh (center of mass) atau pusat gravitasi (center of gravity)
terhadap bidang tumpu (base of support). Keseimbangan melibatkan berbagai
gerakan di setiap segmen tubuh dengan didukung oleh sistem muskuloskeletal
dan bidang tumpu. Kemampuaan untuk menyeimbangkan massa tubuh dengan
bidang tumpu akan membuat manusia mampu untuk beraktivitas secara efektif
dan efesien.
Keseimbangan terdiri atas dua kelompok, yaitu keseimbangan statis dan
keseimbangan dinamis. Keseimbangan statis adalah kemampuan tubuh untuk
mejaga kesetimbangan pada posisi tetap. Keseimbangan dinamis adalah
kemampuan
untuk
mempertahankan
kesetimbangan
ketika
bergerak.
Keseimbangan merupakan interaksi yang kompleks dari integrasi atau interaksi
sisem sensorik (vestibular, visual, dan somatosensorik termasuk proprioceptor)
dan musculoskeletal (otot, sendi, dan jaringan lunak lain) yang dimodifikasi
10
atau diatur dalam otak (control motorik, sensorik, basal ganglia, cerebellum,
area asosiasi) sebagai respon terhadap perubahan kondisi internal dan
eksternal. Dipengaruhi juga oleh factor lain seperti, usia, motivasi, kognisi,
lingkungan, kelelahan, pengaruh obat dan pengalaman terdahulu.
a. Fisiologi keseimbangan
Keseimbangan merupakan komponen dasar aktivitas
yang
ditentukan oleh tonus postural (mobility, stability). Keseimbangan timbul
dari interaksi yang kompleks dari “sensory dan musculoskeletal system”
yang terintegrasi dan dimodifikasi di CNS (central nervous system) atau
system saraf pusat direspon untuk merubah kondisi lingkungan baik
internal maupun eksternal. Sistem sensori utama terkait dengan
keseimbangan meliputi sistem visual, vestibular dan proprioseptif
(Suhartono, 2005). Gangguan visual salah satunya adalah atropi dan
hialinisasi pada muskulus siliaris yang dapat meningkatkan amplitudo
akomodasi.
Hal ini dapat meningkatkan ambang batas visual sehingga dapat
mematahkan impuls afferen yang kemudian dapat menurunkan visual, dan
pada akhirnya akan mempengaruhi keseimbangan. Selain itu juga terjadi
perubahan lapang pandang, penurunan tajam penglihatan, sensitivitas
penglihatan kontras akibat berkurangnya persepsi kontur dan jarak.
Reseptor visual ini memberikan informasi tentang orientasi mata dan
posisi tubuh atau kepala terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya.
Gangguan keseimbangan akan tampak lebih jelas lagi jika impuls afferen
untuk visual ditiadakan, misalnya pada saat mata tertutup, maka kelihatan
11
ayunan tubuh (sway) menjadi berlebihan (Suhartono,2005). Gangguan
fungsi vestibular, faktor predisposisi dari munculnya gangguan fungsi
vestibular meliputi infeksi pendengaran, bedah telinga (ear surgery),
aminoglyosides, quinidine, dan furosemid (Hazzard, 1994). Pada sistem
vestibular terjadi degenerasi sel-sel rambut dalam macula sebesar 40% dan
sel syaraf.
Organ vestibular memberikan informasi ke CNS tentang posisi dan
gerakan kepala serta pandangan mata melalui reseptor makula dan krista
ampularis yang terdapat di telinga dalam (Suhartono, 2005). Gangguan
proprioseptif, susunan proprioseptif ini memberikan informasi ke CNS
tentang posisi tubuh terhadap kondisi di sekitarnya (eksternal) dan posisi
antara segmen badan badan itu sendiri (internal) melalui reseptor-reseptor
yang ada dalam sendi, tendon, otot, ligamentum dan kulit seluruh tubuh
terutama yang ada pada kolumna vertebralis dan tungkai. Informasi itu
dapat berupa tekanan, posisi sendi, tegangan, panjang, dan kontraksi otot
(Suhartono, 2005).
Hal ini dapat meningkatkan ambang batas rangsang muscle
spindle, sehingga dapat mematahkan umpan balik afferen dan secara
berurutan dapat mengubah kewaspadaan tentang posisi tubuh keadaan ini
dapat menimbulkan gangguan keseimbangan (Suhartono, 2005).CNS
dibutuhkan dalam memelihara respon postural. Central Nerves System
(CNS) melalui jaras-jarasnya menerima informasi sensoris perifer dari
sistem visual, vestibular, dan proprioseptif di gyrus post central lobus
parietal kontralateral. Selanjutnya infomasi ini diproses dan diintegrasikan
12
pada semua tingkat sistem syaraf. Akhirnya dalam waktu latensi ± 150
mdet akan terbentuk suatu respon postural yang benar secara otomatis dan
akan diekspresikan secara mekanis melalui efektor dalam suatu rangkaian
pola gerakan tertentu. Tetapi pada aktivitas dengan pola baru yang belum
pernah disimpan dalam otak, maka reaksi keseimbangan tubuh perlu
dipelajari dan dilatih sampai reaksi tersebut dapat dilakukan dengan tanpa
perlu berfikir lagi. Proses kontrol postural pada CNS dimulai dari:
Persepsi sensoris,
Perencanaan motorik, Pelaksanaan motorik ke perifer (Suhartono,
2005). Sistem efector merupakan system musculoskeletal yang mana tugas
utama dari sistem efektor adalah mempertahankan pusat gravitasi tubuh /
Center Of Gravitation (COG). Dimana tugasnya meliputi duduk, berdiri,
atau
berjalan.
Dalam
posisi
berdiri
respon
motor
(effector)
mempertahankan atau menyokong sikap dan keseimbangan, yang disebut
muscle synergies (Guccione, 2000).Gerakan dilakukan oleh suatu
kelompok sendi dan otot dari kedua sisi tubuh, maka komponen efektor
yang normal harus ada supaya dapat melakukan gerakan keseimbangan
postural yang normal. Komponen efektor yang dibutuhkan adalah LGS
(Lingkup Gerak Sendi), kekuatan dan ketahanan (endurance) dari
kelompok otot kaki, pergelangan kaki, lutut, pinggul, punggung, leher, dan
mata.
Gangguan
pada
komponen
efektor
akan
mempengaruhi
kemampuan dalam mengontrol postur sehingga akan terjadi gangguan
keseimbangan postural (Suhartono, 2005). Kemampuan tubuh untuk
13
mempertahankan keseimbangan dan kesetabilan postur oleh aktivitas
motorik tidak dapat dipisahkan dari faktor lingkungan dan regulasi yang
berperan
dalam
pembentukan
keseimbangan.
Tujuan
dari
tubuh
mempertahankan keseimbangan adalah untuk menyanggah tubuh melawan
gravitasi dan faktor eksternal lain, untuk mempertahankan pusat massa
tubuh agar seimbang dengan bidang tumpu, serta menstabilisasi bagian
tubuh ketika bagian tubuh lain bergerak.
Fisiologi terbentuknya keseimbangan postural, berawal dari adanya
input atau stimulus atau informasi baik dari luar (eksteroseptif) adau pun
informasi dari dalam (propioseptif) yang di terima oleh reseptor yaitu
system sensorik yang meliputi visual, vestibular dan propioseptif.
Kemudian stimulus masuk ke medulla spinalis melalui serabut aferen ke
bagian posterior horn cell (PHC), selanjutnya stimulus akan diteruskan ke
thalamus melalui traktus asenden (traktus yang mengantarkan informasi
aferen) dalam hal ini traktus yang berkaitan atau yang berfungsi sebagai
pengantar informasi aferen yang terkait dengan keseimbangan postural
yaitu Kolumna dorsalis, berfungsi dalam membawa sensasi raba,
proprioseptif, dan berperan dalam diskriminasi lokasi dan Traktus
spinoserebellaris ventralis berperan dalam menentukan posisi dan
perpindahan, traktus spinoserebellaris dorsalis berperan dalam menentukan
posisi dan perpindahan.
Ketika informasi sampai di thalamus maka thalamus akan
mengolah atau mengintegrasikan informasi tersebut untuk memberikan
perintah atau memberikan respon terhadap informasi yang di terima ke
14
efektor melalui traktus desenden yang mana traktus desenden yang
berhubungan dengan keseimbangan postural yaitu Traktus kortikospinalis
yang merupakan lintasan yang berkaitan dengan gerakan-gerakan terlatih,
berbatas jelas, volunter, terutama pada bagian distal anggota gerak dan
Traktus vestibulospinalis, akan mempermudah otot-otot ekstensor,
menghambat aktivitas otot-otot fleksor, dan berkaitan dengan aktivitas
postural yang berhubungan dengan keseimbangan.
Kemudian respon diteruskan ke bagian medulla spinalis anterior
yaitu di anterior horn cell (AHC), lalu ke serabut eferen dan kemudian ke
efektor (terbentuk keseimbangan postural). Kualitas keseimbangan
tergantung pada integritas susunan saraf pusat dan susunan saraf tepi serta
musculoskeletal. Pada dasarnya keseimbangan adalah mempertahankan
pusat gravitasi di bidang tumpu. Pergeseran pusat gravitasi dapat
disebabkan oleh tubuh sendiri dan karena faktor eksternal.
b. Keseimbangan pada posisi berdiri statik
Eksistensi aktivitas postural yang mendahului gerakan dikembangkan
oleh Balenkii dengan Coleganya (1967) yang mendemonstrasikan bahwa
subjek diminta untuk mengangkat satu lengan secepat mungkin dan dilihat
dengan menggunakan EMG pada otot tertentu (deltoid anterior) dan
gerakan lengan disiapkan oleh aktivitas otot biceps femoris dari sisi
ipsilateral kaki dan otot-otot collateral sacrolumbal. Meskipun kita jarang
berdiri tegak dengan kondisi betul-betul diam, ketika melakukan gerakan
tubuh yang kecil maka adaptasi based of support akan timbul untuk
memperbaiki balance yang disebut sway. Dengan kata lain walaupun kita
15
berdiri diam dan kemudian melakukan gerakan kecil maka akan timbul
proses yang aktif dari otot yang merubah aktivitasnya.
Pada posisi berdiri seimbang, susunan saraf pusat berfungsi untuk
menjaga pusat massa tubuh (center of body massa)dalam keadaan stabil
dengan batas bidang tumpu tidak berubah kecuali membentuk batas bidang
tumpu lain. Selain itu masukan (input)visual berfungsi sebagai kontrol
keseimbangan,
pemberi
informasi,
serta
memprediksi
datangnya
gangguan. Masukan (input) dari kulit di telapak kaki juga merupakan hal
yang penting untuk mengatur keseimbangan saat berdiri. Postur adalah
posisi atau sikap tubuh.
Tubuh dapat membentuk banyak postur yang memungkinkan tubuh
dalam posisi yang nyaman selama mungkin. Pada saat berdiri tegak, hanya
terdapat gerakan kecil yang muncul dari tubuh, yang biasa disebut dengan
ayunan tubuh. Luas dan arah ayunan diukur dari permukaan tumpuan
dengan menghitung gerakan yang menekan di bawah telapak kaki, yang
disebut pusat tekanan (center of pressure). Jumlah ayunan tubuh ketika
berdiri tegak di pengaruhi oleh factor posisi kaki dan lebar dari bidang
tumpu. Posisi tubuh ketika berdiri dapat dilihat kesimetrisannya dengan
kaki selebar sendi pinggul, lengan di sisi tubuh, dan mata menatap ke
depan.
c. Komponen pengontrol keseimbangan
1) Sistem informasi sensori
Sistem
informasi
somatosensoris.
sensoris
meliputi
visual,
vestibular,
dan
16
a). Visual
Visual memegang peranan penting dalam system sensoris.
Visual system juga dikategorikan sebagai bagian propriosepsi
sebab sitem visual
juga menyediakan informasi tentang
orientasi dan gerakan tubuh Cratty & Martin (1996)
menyatakan bahwa keseimbangan akan terus berkembang
sesuai umur, mata akan membantu agar tetap focus pada titik
utama untuk mempertahankan keseimbangan, dan sebagai
monitor tubuh selama melakukan gerak static atau dinamik.
Penglihatan juga merupakan sumber utama informasi
tentang lingkungan dan tempat kita berada, penglihatan
memegang peranan penting untuk mengidentifikasi dan
mengatur jarak gerak sesuai lingkungan tempat kita berada.
Penglihatan muncul ketika mata menerima sinar yang berasal
dari obyek sesuai dengan jarak pandang. Dengan informasi
visual, maka tubuh dapat menyesuaikan atau bereaksi terhadap
perubahan
bidang
pada
lingkungan
aktivitas
sehingga
memberikan kerja otot yang sinergis untuk mempertahankan
keseimbangan tubuh. Pada dasarnya informasi visual meliputi
acuity
(membedakan
bentuk
),
contrast
sensitivity
(membedakan pola dan bayangan), peripheral vision (melihat
samping), dan depth perception (membedakan jarak).
17
b). Sistem vestibular
Merupakan informasi gerak dan posisi kepala ke susunan
saraf pusat yang menyangkut respon sikap, memelihara
keputusan tentang perbedaan gambaran visual dan gerak yang
sebenarnya. Komponen vestibular adalah system sensoris yang
berfungsi dalam keseimbangan, control kepala dan gerak bola
mata. Reseptor sensoris vestibular berada di dalam telinga,
yang meliputi kanalis semisirkularis, utrikulus, serta sakulus.
Reseptor tersebut disebut dengan system labyrinthine. Sistim
labyrinthine
mendeteksi
perubahan
posisi
kepala
dan
percepatan perubahan sudut.
Melalui reflex vestibule-occular, mereka mengontrol gerak
mata, terutama ketika melihat obyek yang bergerak. Pesan
diteruskan melalui saraf kranialis VIII ke nucleus vestibular
yang berlokasi di batang otak. Ada beberapa stimulus tidak
menuju nucleus vestibular tetapi ke serebelum, formation
retikularis, thalamus dan korteks serebri. Nukleus vestibular
menerima masukan (input) dari reseptor labyrinth, reticular
informasi, dan serebelum. Keluaran (autput) dari nucleus
vestibular menuju ke motor neuron melalui medulla spinalis,
terutama ke motor neuron yang menginervasi otot – otot
proximal, kumparan otot –otot punggung (otot-otot postural).
Sistem vestibular bereaksi sangat cepat sehingga membantu
18
mempertahankan keseimbangan tubuh dengan mengontrol otototot postural.
c). Somatosensoris
Sistem somatosensoris terdiri dari taktil atau proproseptif
serta persepsi-kognitif. Propriosepsi terdiri dari otot, sendi dan
reseptor cutaneous yang menyediakan informasi-informasi dari
alat tubuh seperti kekuatan otot, posisi di ”space” dan informasi
dari lingkungan, seperti kondisi permukaan lantai. Propriosepsi
menyediakan informasi gerakan dari tubuh yang berhubungan
dengan “based support” dan gerakan orientasi gerakan
segmental yang berhubungan antar segmen.
Informasi propriosepsi disalurkan ke otak melalui kolumna
dorsalis medulla spinalis. Sebagian besar masukan (input)
proprioseptif menuju serebelum, tetapi ada pula yang menuju ke
korteks serebri melalui lemnikus medialis dan thalamus.
Kesadaran akan posisi berbagai bagian tubuh dalam ruang
bergantung pada impuls yang datang dari alat indera dalam dan
sekitar sendi. Alat indera tersebut adalah ujung-ujung saraf
yang beradaptasi lambat di sinovia dan ligament. Impuls dari
alat indera ini dari reseptor raba di kulit dan jaringan lain, serta
otot diproses di korteks menjadi kesadaran akan posisi tubuh
dalam ruang.
19
2) Respon otot-otot postural yang sinergis
Respon otot-otot postural yang sinergis mengarah pada waktu dan
jarak
dari
aktivitas
mempertahankan
kelompok
keseimbangan
otot
dan
yang
control
diperlukan
postur.
untuk
Beberapa
kelompok otot baik pada ekstremitas atas maupun bawah berfungsi
mempertahankan
postur
saat
berdiri
tegak
serta
mengatur
keseimbangan tubuh dalam berbagai gerakan. Keseimbangan pada
tubuh dalam berbagai posisi hanya akan dimungkinkan jika respon dari
otot-otot postural bekerja secara sinergi sebagai reaksi dari perubahan
posisi, titik tumpu, gaya gravitasi, dan aligment tubuh. Kerja otot yang
sinergi berarti bahwa adanya respon yang tepat antara kecepatan dan
kekuatan suatu otot terhadap otot yang lainnya dalam melakukan
fungsi gerak tertentu.
3) Kekuatan otot
Kekuatan
otot
umumnya
diperlukan
dalam
melakukan
aktivitas. Semua gerakan yang dihasilkan merupakan hasil dari adanya
peningkatan tegangan otot sebagai respon motorik. Kekuatan otot
dapat digambarkan sebagai kemampuan otot menahan beban baik
berupa beban eksternal maupun beban internal. Kekuatan otot sangat
berhubungan dengan system neuromuskuler yaitu seberapa besar
kemampuan system saraf mengaktifasi otot untuk melakukan
kontraksi. Sehingga makin banyak serabut otot yang teraktifasi, maka
semakin besar pula kekuatan yang dihasilkan oleh otot. Kekuatan otot
dari kaki, lutut serta pinggul harus adekuat untuk mempertahankan
20
keseimbangan tubuh saat adanya gaya dari luar. Kekuatan otot
berhubungan langsung dengan kemampuan otot untuk melawan gaya
gravitasi serta beban eksternal lainnya yang secara terus menerus
mempengaruhi posisi tubuh.
4) Adaptive system
Kemampuan adaptasi akan memodifikasi input sensoris dan
keluaran motorik ketika terjadi perubahan tempat sesuai dengan
karakteristik lingkungan.
5) Lingkup gerak sendi / ROM
Kemampuan sendi untuk membantu gerak tubuh dan
mengarahkan gerakan terutama saat gerakan yang memerlukan
keseimbangan yang tinggi.
d. Faktor – faktor yang mempengaruhi keseimbangan
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keseimbangan tubuh
diantaranya :
1).Center of gravity (pusat gravitasi)
Pusat gravitasi terdapat pada semua obyek, pada benda, pusat
gravitasi terletak tepat di tengah benda tersebut. Pusat gravitasi
adalah titik utama pada tubuh yang akan mendistribusikan massa
tubuh secara merata. Bila tubuh selalu ditopang oleh titik ini,
tubuh dalam keadaan seimbang. Pada manusia, pusat gravitasi
berpindah sesuai dengan arah atau perubahan berat. Pusat gravitasi
manusia ketika berdiri tegak adalah tepat di atas pinggang diantara
21
depan dan belakang vertebra sacrum ke dua. Derajat stabilisasi
tubuh dipengaruhi oleh empat factor yaitu : ketinggian dari titik
pusat gravitasi dengan bidang tumpu, ukuran bidang tumpu, lokasi
garis gravitasi dengan bidang tumpu, dan berat badan.
2).Line of gravity ( garis gravitasi)
Garis gravitasi merupakan garis inajiner yang berada vertical
melalui pusat gravitasi dengan pusat bumi. Hubungan antara garis
gravitasi, pusat gravitasi dengan bidang tumpu adalah menentukan
derajat stabilisasi tubuh.
3).Base of support (bidang tumpu)
Bidang tumpu merupakan bagian dari tubuh yang berhubungan
dengan permukaan tumpuan. Ketika garis gravitasi tepat berada di
bidang tumpu, tubuh dalam keadaan seimbang. Stabilisasi yang baik
terbentuk dari luasnya area bidang tumpu. Semakin besar bidang
tumpu, semakin tinggi stabilitas. Begitu juga semakin dekat bidang
tumpu dengan pusat gravitasi, maka stabilitas tubuh makin tinggi.
2. STROKE
a. Pengertian stroke
Menurut Iskandar Junaidi (2006) stroke merupakan penyakit
gangguan fungsional otak berupa kelumpuhan saraf atau defisit
neurologik akibat gangguan aliran darah pada salah satu bagian otak.
Dan pengertian stroke menurut Lionel Ginsberg(2007),Stroke adalah
sindrom yang terdiri dari tanda dan gejala hilangnya fungsi sistem saraf
22
pusat fokal ( atau global ) yang berkembang cepat ( dalam detik atau
menit ).
b. Jenis Stroke
Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu stroke iskemik dan stroke
hemoragik
1). Stroke Iskemik
Kebanyakan stroke yang terjadi merupakan stroke iskemik.
Penyebab
stroke
iskemik
adalah
penyumbatan
aliran
darah.Penyumbatan dapat terjadi karena penumpukan timbunan
lemak yang mengandung kolesterol (disebut plak) dalam pembuluh
darah besar (arteri karotis) atau pembuluh darah sedang (arteri
serebri) atau pembuluh darah kecil. Penyumbatan pada pembuluh
darah kecil tidak memberikan dampak stroke yang parah. Biasanya
disebut infarction lacunar.
Plak menyebabkan dinding dalam arteri menebal dan kasar
sehingga aliran darah tidak lancar , mirip aliran darah yang terhalang
oleh batu. Berbeda dengan air, darah yang kental akan tertahan dan
menggumpal (thrombosis), sehingga aliran darah menjadi semakin
lambat. Akibatnya, otak akan mengalami kekurangan pasokan
oksigen. Jika kelambatan pasokan oksigen ini berlarut, sel-sel
jaringan otak akan mati. Tidak heran ketika bangun tidur, korban
stroke akan merasa sebelah badannya kesemutan. Hal itu terus
berlanjut pada hari yang sama, sehingga ia akan menjadi lemas dan
23
lumpuh. Mungkin juga kelumpuhan itu sudah terjadi di saat ia masih
tertidur, sehingga waktu bangun ia sudah tidak bisa apa-apa lagi.
Ditinjau dari lokasi terbentuknya gumpalan, stroke iskemik
dibedakan lagi menjadi stroke embolik yaitu terjadi pada arteri di
luar otak dan stroke trombotik yaitu bila terjadi pada arteri otak.
Stroke embolik seringkali terjadi di jantung dan kemudian terbawa
oleh aliran darah hingga kepembuluh di otak. Meskipun berukuran
kecil, gumpalan tersebut dapat menyumbat pembuluh darah di otak.
Pada stroke trombotik, gumpalan baru terbentuk dalam pembuluh
darah di otak dan setelah sekian waktu gumpalan tersebut akan
membesar hingga menyumbat aliran darah.
2). Stroke Hemoragik
Sekitar 20 persen kasus stroke lainnya terjadi karena salah satu
ruang-ruang pada sel-sel otak serta merusak jaringan otak di
sekitarnya (intracerebral hemorrhage). Ada pula pendarahan yang
terjadi dalam ruangan sekitar otak (subarachnoid hemorrhage).
Dampaknya paling mencelakakan, karena cairan yang mengelilingi
otak
(cerebrospinal)akan
mengalir
mengelilingi
otak
dan
menyebabkan pembuluh darah di sekitarnya menjadi kejang sehingga
menyumbat pasokan darah ke otak. Karena itulah, subarachnoid
hemorrhagedapat meninggalkan dampak kelumpuhan yang sangat
luas, bahkan risiko kematian sekitar 50 persen.
Salah satu penyebab stroke hemoragik adalah penyumbatan pada
dinding
pembuluh
darah
yang
rapuh
(aneurisme),
mudah
24
menggelembung, dan rawan pecah, yang umumnya terjadi pada usia
lanjut atau karena factor keturunan (genetik). Tetapi, yang paling
umum, kerapuhan terjadi karena mengerasya dinding pembuluh darah
akibat tertimbun plak atau dikenal sebagai arteiosklerosis. Keadaan
ini akan lebih diperburuk bila terdapat gejala hipertensi dan stress.
Pembuluh darah yang sudah rengas dengan sendirinya akan mudah
retak atau pecah akibat tekanan darah yang naik secara tiba-tiba,
misalnya saat seseorang sedang melakukannn latihan olah raga berat
atau mengalami perubahan emosi yang berat. Stroke yang terjadi pada
usia muda biasanya adalah tipe hemoragik ini. Penyebab lain stroke
hemoragik adalah akibat kekusutan pembuluh darah (ateriovenous
malformation)atau adanya pembuluh kapiler yang kurang berfungsi,
yaitu tidak letur lagi dan mudah pecah.
3). Klasifikasi stroke menurut defisit neurologisnya :
a) Transien ischemic attack(TIA)
Merupakan
gangguan
pada
pembuluh
darah
otak
yang
menyebabkan timbulnya deficit neurologis akut yang berlangsung
kurang dari 24 jam. Pada serangan stroke ini tidak meninggalkan
gejala sisa, sehingga orang tersebut terlihat seperti tidak pernah
mengalami stroke.
b) Reversible ischemic neurologic deficit(RIND)
25
Sama seperti kondisi pada TIA, hanya berlangsung lebih lama,
timbul gejala neurologis dan gejala itu akan hilang antara 1 hari
sampai 21 hari. RIND tidak meninggalkan gejala sisa.
c) Progressing stroke/stroke in evolution
Pada kelompok ini timbul kelainan defisit neurologis. Gejala ini
berlangsung secara bertahap dari yang ringan menjadi berat.
Stroke ini merupakan jenis stroke yang terberat dan sulit
ditentukan prognosanya, hal ini disebabkan karena
kondisi
pasien yang cenderung labil, berubah-ubah, dan mengarah pada
kondisi yang lebih buruk.
d) Completed stroke
Pada stroke ini, kelainan neurologis sudah menetap dan tidak
bertambah berat.
c. Penyebab Stroke
Banyak kondisi – kondisi yang dapat menyebabkan stroke, tetapi
awalnya adalah dari pengerasan arteri atau yang disebut juga
arteriosklerosis.” Jangan berpikir bahwa penyumbatan pembuluh darah
itu terjadi sebagai proses penuaan yang wajar,” menurut Virgil
Brown,M.D, pimpinan American Heart Association dan professor ilmu
kedokteran pada Emory University diAtlanta, karena arteriosklerosis
merupakan akibat dari gaya hidup modern yang penuh stress, pola
makan tinggi lemak, dan kurang berolah raga. Ketiganya sebenarnya
tergolong dalam faktor risiko yang dapat dikendalikan. Tentu saja ada
pula faktor-faktor yang lain yang tidak dapat dikendalikan.
26
Faktor risiko tak dapat terkendalikan, yang termasuk dalam
kelompok factor usia ini adalah usia, jenis kelamin, garis keturunan, dan
lain-lain
Faktor Usia, semakin bertambah tua usia, semakin tinggi
risikonya. Setelah berusia 55 tahun, risikonya berlipat ganda setiap
kurun waktu sepuluh tahun. Dua per tiga dari serangan stroke terjadi
pada orang yang berusia diatas 65 tahun. Tetapi, itu tidak berati bahwa
stroke hanya terjadi pada orang lanjut usia karena stroke dapat
menyerang semua kelompok umur.
Faktor jenis kelamin, pria lebih beresiko terkena stroke dari pada
wanita, tetapi penelitian menyimpulkan bahwa justru lebih banyak
wanita yang meninggal karena stroke. Resiko stroke pria 1,25 lebih
tinggi dari pada wanita, tetapi serangan stroke pada pria terjadi di usia
muda sehingga tingkat kelangsungan hidup juga lebih tinggi. Dengan
perkataan lain walau lebih jarang terkena stroke, pada umumnya wanita
terserang pada usia lebih tua, sehingga kemungkinan meninggal lebih
besar.
Faktor keturunan-sejarah stroke dalam keluarga, nampaknya
stroke terkait dengan keturunan.Faktor genetic yang sangat berperan
antara lain adalah tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes, dan
cacat pada bentuk pembuluh darah. Gaya hidup dan pola suatu keluarga
juga dapat mendukung risiko stroke. Cacat pada bentuk pembuluh darah
(cadasil)mungkin merupakan factor genetic yang paling berpengaruh di
bandingkan faktor stroke yang lainnya.
27
Faktor risiko terkendali, ada faktor-faktor risiko yang sebenarnya
dapat dikendalikan dengan bantuan obat-obatan atau perubahan gaya
hidup.Faktor tersebut diantaranya :
Hipertensi, tekanan darah tinggi merupakan factor risiko yang
utama yang menyebabkan pengerasan dan penyumbatan arteri.Penderita
hipertensi memiliki factor risiko stroke empat hingga enam kali lipat
dibandingkan orang yang tanpa hipertensi dan sekitar 40 hingga 90
persen pasien stroke ternyata menderita hipertensi sebelum terkena
stroke.Secara medis, tekanan darah diatas 140/90 tergolong dalam
penyakit hipertensi. Oleh karena dampak hipertensi pada keseluruhan
risiko stroke menurun miring dengan pertambahan umur, pada orang
lanjut usia, factor-faktor lain di luar hipertensi berperan lebih besar
terhadap risiko stroke.Pada orang yang tidak menderita hipertensi, risiko
stroke meningkat terus hingga usia 90, menyamai risiko stroke pada
orang yang menderita hipertensi.
Setelah hipertensi, faktor risiko berikutnya adalah penyakit
jantung, terutama penyakit yang disebut atrial fibrillation, yakni
penyakit jatung dengan denyut jantung yang tidak teratur di bilik kiri
atas. Denyut jantung di atrium kiri mencapai empat kali cepat
dibandingkan di bagian-bagian lain jantung. Ini menyebabkan aliran
darah menjadi tidak teratur dan secara insidentil terjadi pembentukan
gumpalan darah. Gumpalan darah inilah yang kemudian dapat mencapai
otak dan penyebabkan stroke.
28
Faktor risiko yang selanjutnya yaitu diabetes, penderita diabetes
memiliki risiko tiga kali lipat terkena stroke dan mencapai tingkat
tertinggi pada usia 50-60 tahun. Setelah itu, risiko itu akan menurun.
Namun, ada factor penyebab lain yang dapat memperbesar risiko stroke
karena sekitar 40 persen penderita diabetes pada umumnya juga
mengidap hipertensi.
Selain diabetes kadar kolesterol darah juga merupakan faktor
risiko stroke, penelitian menunjukkan bahwa makanan kaya lemak jenuh
dan kolesterol seperti daging, telur, dan produk susu dapat meningkatkan
kadar kolesterol dalam tubuh dan berpengaruh pada risiko aterosklerosis
dan penebalan pembuluh darah. Kadar kolesterol di bawah 200 mg/dl
dianggap aman, sedangkan di atas 240 mg/dl sudah berbahaya dan
menempatkan seseorang pada risiko terkena penyakit jantung dan stroke.
Selain dari itu merokok juga merupakan faktor risiko stroke yang
sebenarnya paling mudah diubah, dan pola mengkonsumsi alkohol yang
berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah sehingga memperbesar
factor risiko stroke, dan masih banyak lagi faktor risiko stroke lainnya.
d. Patofisiologi Stroke
Dalam keadaan fisiologis, otak yang beratnya 1200-1400 gram (2%
dari berat badan), tiap menit memerlukan oksigen 600 cc dan glukosa
100 mg yang hanya dapat dibawa melalui 1000 cc darah. Ini berati
bahwa 20% dari curah jantung harus beredar ke otak setiap menitnya,
karena otak tidak memiliki cadangan glukosa dan oksigen. Dari
sejumlah darah yang diperlukan otak tersebut, 80% dibawa oleh arteri
29
basilaris. Aliran darah otak dipengaruhi oleh factor-faktor yaitu tekanan
darah sistemik, diameter pembuluh darah, kualitas darah, autoregulasi,
factor biokimiawi dan susunan saraf otonom. Aliran darah otak bersifat
dinamis, artinya dalam keadaan istirahat nilainya stabil, pada saat
melakukan kegiatan fisik maupun psikis, aliran darah regional pada
daerah yang bersangkutan akan meningkat sesuai dengan aktivitasnya.
Pengurangan alirah darah yang disebabkan oleh sumbatan akan
menyebabkan iskemik disuatu daerah otak. Bila aliran darah otak turun
pada batas kritis yaitu 28 ml/100 gr otak /menit maka akan terjadi
penekanan aktivitas neuronal tanpa perubahan dari struktur sel.
Stroke terjadi akibat adanya gangguan pada pembuluh darah otak,
baik itu karena tersumbat ataupun karena pecahnya pembuluh darah di
otak. Tersumbatnya pembuluh darah dikarenakan adanya penebalan
pada dinding pembuluh darah yang kemudian mengeras (aterosklerosis)
sehingga pembuluh darah menjadi sempit serta bisa juga pembuluh
darah otak pecah, dan akibatnya aliran darah ke otak tersumbat atau
terganggu. Tersumbatnya aliran darah otak mengakibatkan berkurangnya
suplai darah di otak sehingga suplai nutrisi dan oksigen otak menurun,
neuron dan kapiler halus mati (nekrosis). Kematian sel-sel otak dapat
terjadi pada bagian saraf pusat sehingga dapat menimbulkan kelainan
pada tubuh sesuai dengan fungsi bagian susunan saraf pusat yang
mengalami kematian selnya. Perjalanan penyakit stroke sendiri dibagi
dalam 4 tahapan. Tahap pertama, disebut tahap hyper akut atau
emergency yang berlangsung sampai dengan 3 hari. Pada tahap ini,
30
penderita stroke memerlukan perawatan intensif yang biasanya
dilakukan di ruang Intermediate Care/NICU (Neurology Intensif Care
Unit). Tahap kedua yang disebut tahap akut, berlangsung sampai dengan
2 minggu. Pada tahap ini, pasien dirawat di stroke unit. Tahap ketiga,
disebut tahap sub akut dari 2 minggu sampai 6 bulan. Sedangkan tahap
keempat, disebut tahap kronik,lebih dari 6 bulan. Gejala atau tanda awal
ini tidak selalu timbul, oleh karena itu sangatlah penting apabila Anda
mengambil langkah dini dengan melakukan skrining awal kesehatan
(medical check up) dan lakukan konsultasi dengan dokter yang terkait.
e. Gejala dan Akibat dari Stroke
Serangan stroke terjadi secara tiba-tiba. Namun, sebenarnya
gejala-gejalanya sudah muncul jauh sebelum serangan itu terjadi. Karena
mirip dengan gejala penyakit biasa, orang sering menyepelekannya
sebagai masalah yang tidak serius. Gejala- gejala serangan stroke pada
seseorang dapat dikenali antara lain seperti tiba- tiba lemah (lumpuh)
pada sisi tubuh (sisi kanan atau kiri), rasa baal dan kesemutan pada satu
sisi tubuh, pandangan gelap, tiba-tiba tidak dapat atau tidak lancar
berbicara, pelo, mulut jadi mencong (miring ke kanan atau ke kiri), tiba
–tiba perasaan mau jatuh saat akan berjalan, kadang-kadang disertai
pusing terasa berputar, mual-mual dan muntah, sakit kepala, sulit
memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat, tidak mampu
mengenali bagian dari tubuh, pergerakan yang tidak biasa, hilangnya
pengedalian terhadap kandung kemih, ketidak seimbangan dan terjatuh,
dan kesadaran tiba-tiba menurun (pingsan).Gejala-gejala tersebut bisa
31
muncul tiba-tiba saat sedang santai atau ketika beraktivitas atau ketika
bangun tidur. Gejala–gejala stroke dapat munculnya bervariasi
tergantung pada bagian otak yang terserang serta seberapa luas
kerusakannya.
f. Perubahan Tonus pada stroke
Perubahan tonus pada stroke terjadi sebagai manifestasi klinis dari
hilangnya kontrol supra spinal yakni berupa hipotonus (flaccid) dan
hipertonus (spastik). Pada perubahan tonus flaccid (hipotonus) dapat
terjadi secara permanen atau sementara, dalam keadaan ini tidak terdapat
tahanan pada gerakan pasif, ekstremitas dirasakan berat, lemas, tonus
menurun sampai hilang, sehingga dengan demikian penderita tidak
mampu mempertahankan posisinya.
Pada perubahan tonus spastik (hipertonus) dapat timbul secara
bertahap dan derajatnya berbeda dari ringan sampai berat. Disini terdapat
tahanan terhadap gerakan pasif dan besarnya tahanan sebanding dengan
kecepatan gerakan pasif yang diberikan, semakin cepat gerakan pasif
yang akan terjadi akan semakin besar pula tahanannya. Spastisitas ini
mengakibatkan terjadinya pola tertentu yang merupakan ciri khas
hemiplegia, yaitu:
1) Kepala lateral fleksi ke sisi sakit dan rotasi ke sisi sehat.
2) Trunk lateral fleksi dan rotasi ke sisi sakit
3) Lengan; scapula retraksi dan depressi, bahu; adduksi dan internal
rotasi, siku; fleksi dan pronasi (kadang-kadang supinasi),
32
pergelangan tangan; fleksi dan deviasi ke ulnar, jari-jari; fleksi dan
adduksi.
g. Pola Gerakan Sinergis
Gerakan sinergis berada dalam reaksi asosiasi atau pola spasitisitas
dan hal ini dapat dilihat pada bayi, mereka bergerak dalam posisi massal
tetapi jika di test tidak terdapat spasitisitas. Demikian pula halnya
dengan beberapa penderita hemiplegia, kemungkinannya tonusnya tidak
tinggi, tetapi pada waktu dia bersama meluruskan siku maka yang terjadi
adalah gerakan seluruh lengannya, yaitu; abduksi-internal rotasi bahu,
pronasi lengan bawah, ekstensi pergelangan tangan dan fleksi jari-jari.
h. Gangguan Sensorik
Pada gerakan yang normal dibutuhkan fungsi motorik dan sensorik
yang baik. Semua gerakan yang terjadi sesungguhnya
merupakan
respon dari rangsang sensorik dari luar melalui eksteroreseptor,
proprioseptor, mata dan telinga. Semua rangsangan tersebut diolah oleh
sistem syaraf pusat yang kemudian akan menghasilkan respon yang
sesuai.
i. Gangguan keseimbangan pada stroke
Pasien stroke mengalami banyak gangguan, tidak hanya yang bersifat
fungsional. Gejala stroke dapat juga bersifat fisik, psikologis, dan prilaku.
Gejala fisik yang paling khas adalah hemiparalisis, hilangnya sensasi pada
wajah, lengan atau tungkai di salah satu sisi tubuh, kesulitan berbicara atau
memahami (tanpa gangguan pendengaran), kesulitan menelan dan
hilangnya sebagian penglihatan di satu sisi. Kelemahan ekstremitas sesisi,
33
control tubuh yang buruk serta ketidak stabilan pola berjalan merupakan
aspek pada pasien stroke yang tidak terpisahkan. Kelemahan lengan,
tungkai, kelemahan sebagian otot-otot wajah yang merupakan hal yang
umum yang terjadi pada stroke.
Pasien stroke juga akan mengalami berbagai gangguan keseimbangan.
Gangguan keseimbangan berdiri pada stroke berhubungan dengan adanya
kerusakan pada system informasi sensorik sehingga informasi baik dari
internal atau pun eksternal tidak dapat diterina dengan baik oleh reseptor,
bisa juga dikarenakan adanya kerusakan pada jalur aferen sehingga infor
masi atau stimulus tidak sampai ke bagian posterior medulla spinalis, atau
juga ada kerusakan pada traktus- traktus asenden(berfungsi untuk
keseimbangan postural) sehingga informasi tidak dapat disampaikan ke
thalamus, selain itu bisa terjadi kerusakan pada traktus- traktus desenden
(berfungsi untuk keseimbangan), terjadi kerusakan pada jalur eferen
sehingga respon dari thalamus terhadap informasi (input) tidak dapat
disampaikan ke efektor sehingga keseimbangan postural terganggu, yang
akan menyebabkan timbulnyan ketidak mampuan untuk mengatur
perpindahan berat badan dan kemampuan gerak yang menurun sehingga
kesetimbangan tubuh akan menurun. Pada pasien stroke mereka berusaha
membentuk gerakan kompensasi untuk gangguan kontrol postur mereka,
kompensasi ini tidak selalu menjadi hasil yang optimal.
Gangguan fungsi keseimbangan terutama pada saat berdiri tegak,
merupakan akibat stroke yang paling berpengaruh pada faktor aktivitas
sejak kemampuan keseimbangan tubuh di bidang tumpu mengalami
34
gangguan sensorik dan motorik post stroke mengakibatkan gangguan
keseimbangan, penurunan fleksibilitas jaringan lunak, serta gangguan
control sensorik dan motorik . Fungsi yang hilang akibat gangguan control
motorik pada pasien stroke mengakibatkan hilangnya koordinasi,
hilangnya kemampuan merasakan keseimbangan tubuh dan postur
(kemampuan untuk mempertahankan posisi tertentu).
Penurunan fungsi otot pada ekstermitas bawah mengakibatkan
penurunan
pada
kemampuan
untuk
menyanggah,
menahan
dan
menyeimbangkan massa tubuh. Selain itu terjadi kesulitan untuk memulai,
mengarahkan,
mengukur
kecepatan
kemampuan
otot
untuk
mempertahankan keseimbangan tubuh.
3. Anatomi dan fisiologi Susunan Saraf Pusat
Sistem saraf adalah salah satu organ yang berfungsi untuk
menyelenggarakan kerja sama yang rapih dalam organisasi dan koordinasi
kegiatan tubuh. Dengan pertolongan saraf dapat kita menerima suatu
rangsangan dari luar pengendalian pekerjaan otot. Sistem saraf dalam tubuh
dapat dibagi menjadi dua yaitu system saraf pusat dan system saraf tepi. Sistem
saraf pusat meliputi otak dan medulla spinalis.
a. Otak
Adalah organ vital. Otak bertangguang jawab atas fungsi
mental dan intelektual kita, seperti berfikir dan mengingat. Otak
mengendalikan interaksi kita dengan dunia luar. Otak terdiri dari
sel-sel- otak yang disebut neuron, sel-sel penunjang yang dikenal
sebagi sel ganglia, cairan serebrospinal, dan pembuluh darah (arteri
35
dan vena). Otak tidak menyimpan oksigen dan nutrient lain dalam
jumlah yang signifikan, sehingga agar berfungsi dengan baik,
organ ini memerlukan pasokan darah secara konstan 24 jam dari
arteri. Agar berfungsi normal, otak harus menerima lebih kurang
satu liter darah per menit, yaitu sekitar 15% dari darah total yang
dipompakan oleh jantung saat istirahat. Tidak ada organ lain di
tubuh yang secara konsisten mendapatkan pasokan darah
sedemikian intensif.
Otak mendapat darah arterial dari sepasang sistem sirkulasi
sirkulasi utama. Yang pertama terdiri dari dua arteri, yaitu arteri
karotis (kanan dan kiri), yang menyalurkan darah ke bagian depan
otak. Ini dikenal sebagai sirkulasi arteri serebrum anterior. Yang
kedua adalah system vertebrobasilar, yang memasok arah kebagian
belakang otak. Neuron merupakan sel tubuh yang paling sensitive
terhadap kekurangan oksigen dalam darah. Interupsi aliran darah
arteri ke otak hanya selama 7-10 detik sudah dapat menimbulkan
kerusakan yang tidak dapat diperbaiki di bagian otak yang
bersangkutan. Tidak
seperti organ lain, otak memiliki sisten
autoregulasi sendiri, yang menjamin konsistensi sirkulasi darah di
dalam batas-batas fisiologis tertentu. Jika terjadi kondisi yang
melebihi batas-batas ini, maka system autoregulasi gagal, dan
terjadilah stroke.
Otak merupakan pusat koordinasi dalam tubuh. Otak berada
di dalam tulang tengkorak dan diselubungi oleh jaringan yang
36
disebut selaput meningens. selaput ini tersusun atas tiga lapisan,
yaitu lapisan yang terluar yang melekat pada tulang disebut
duramater, lapisan tengah disebut archnoid, serta lapisan dalam
yang melekat pada permukaan sumsum disebut piamater. Otak
terbagi menjadi 3 bagian besar, yaitu otak besar (serebrum), otak
kecil (serebelum), batang otak (brainstem). Ketiga bagian otak ini
mempunyai fungsi tertentu yaitu
1) Otak besar (serebrum)
Merupakan otak yang terbesar berada pada bagian
depan yang terdiri dari sepasang hemisfer/belahan (kanan dan
kiri) dan tersusun dari korteks yang terdiri dari : substansia
grisea (masa kelabu) yang bersifat sel saraf, substansia alba
(masa putih) yang bersifat serabut-serabut saraf, dan ganglia
basalis. Korteks ditandai dengan celah-celah (sulkus) dan biraibirai (girus) dengan demikian serebrum terbagi menjadi
beberapa lobus yaitu : lobus frontalis, lobus parietalis, lobus
temporalis, lobus oksipitalis dan lobus limbik, Otak besar
berkaitan dengan fungsi intelektual yang lebih tinggi, yaitu
fungsi bicara, integrasi sensorik (rasa), dan kontrol gerakan
yang
halus
(keterampilan
mengendalikan
yang
kegiatan-kegiatan
berpikir, kepribadian dan ingatan.
a) Lobus Frontalis
dilatih).
sadar
Otak
seperti
besar
belajar,
37
Lobus frontalis mencakup bagian dari korteks serebrum
ke depan dari sulcus sentralis dan di atas sulcus lateralis.
Bagian ini mengandung daerah-daerah motorik dan premotor.
Daerah broca terletak di lobus frontalis dan mengontrol
expresi bicara. Lobus frontalis bertanggung jawab untuk
perilaku
bertujuan,
penentuan
keputusan
moral,
dan
pemikiran yang kompleks. Lobus ini juga memodifikasi
dorongan-dorongan emosional yang dihasilkan oleh sistem
limbik.
Badan sel di daerah motorik primer lobus frontalis
mengirim tonjolan-tojolan akson ke korda spinalis, yang
sebagian besar berjalan dalam alur yang disebut sebagai
sistem piramidalis. Pada sistem ini neuron-neuron motorik
menyeberang ke sisi yang berlawanan. Informasi motorik sisi
kiri korteks serebrum berjalan ke bawah ke sisi kanan korda
spinalis dan mengontrol gerakan motorik sisi kanan tubuh,
demikian sebaliknya.Sedangkan akson-akson lain dari daerah
motorik berjalan dalam jalur ekstrapiramidalis. Serat ini
mengontrol gerakan motorik halus dan berjalan di luar
piramidal ke korda spinalis.
b) Lobus Parietalis
Lobus parietalis adalah daerah korteks yang terletak di
belakang sulkus sentralis, di atas fisura lateralis dan meluas
ke belakang ke fisura parieto-oksipitalis.
Lobus
ini
38
merupakan daerah sensorik primer otak untuk rasa raba dan
pendengaran.
c) Lobus Occipitalis
Lobus oksipitalis adalah lobus posterior korteks
serebrum. Lobus ini terletak di sebelah posterior dari lobus
parietalis dan di atas fisura parieto-oksipitalis. Lobus ini
menerima informasi yang berasal dari retina mata.
d) Lobus Temporalis
Lobus temporalis mencakup bagian korteks serebrum
yang berjalan ke bawah dari fisura lateralis dan sebelah
posterior dari fisura parieto-oksipitalis. Lobus ini adalah
daerah asosiasi untuk informasi auditorik dan mencakup
daerah wernicke tempat interpretasi bahasa. Lobus ini juga
terlibat dalam interpretasi bau dan penyimpanan ingatan.
e) Lobus Limbik
Lobus limbic terletak pada bagian medial hemisfer cerebri.
Fungsi susunan limbic berkaitan dengan prilaku emosional
terutama reaksi takut dan marah serta emosi-emosi yang
berhubungan dengan prilaku seksual. Susunan limbic juga
berkaitan dengan memori yang baru saja terjadi. Memori
untuk masa lalu yang sudah lama biasanya tidak berpengaruh
oleh lesi-lesi pada struktur ini.
39
Gambar 2.1 lobus otak
Sumber: www.google.com (gambar otak)
Bagian luar dari hemisfer cerebri terdiri dari lapisan substansia
grisea yang disebut cortex cerebri. Menurut fungsinya cortex
cerebri dibagi atas :
a) Area Motorik
Area motorik terdiri atas area motorik primer, area premotor,
dan area broca.
(1). Area motorik primer (Br 4) disebut juga area somatoprimer,
terletak terletak di dinding sulcus centralis rolandi dan
gyrus presentralis lobus frontalis hemisferium cerebri.
Axonnya membentuk jaras (traktus) yang berakhir di
beberapa nuclei motorikus nervi cranialis disebut traktus
cortocobulbaris dan nuclei motorikus medulla spinalis
disebut traktus corticospinalis. Neuron-neuronnya disebut
sel-sel pyramidal beyz yang berfungsi mengontrol gerakan
40
sadar di otot-otot skelet pada sisi yang berlawanan, dan
impuls saraf berjalan sepanjang akson sel saraf tersebut
dalam tractus corticobulbaris dan corticospinalis menuju
nuclei cerebrospinalis.
(2). Area premotor yaitu neuron-neuronnya terletak di depan
sulcus precentralis lobus frontalis. Berfungsi mengaktifkan
pusat-pusat motor baik yang ada di gyrus precentralis
maupun yang ada di sub cortical hemisferium cerebralis
(ganglia basal) dan sel-sel lain. Gerakan- gerakan itu
berupa gerakan yang telah dipelajari terlebih dahulu
(keterampilan)
(3). Area broca terletak di basis area premotor gyrus frontalis
(Br
44)
dan
umumnya
di
hemisferium
cerebralis
sinistra.Disebut juga area bicara motorik. Yang berfungsi
mengatur gerakan otot-otot yang ada pada bibir, pengunyah
(masticasi), mulut lidah, larynx dan fharynx.
b) Area Sensorik
Terdapat di gyrus lobus parietalis, temporalis dan ocipitalis.
Terdiri dari :
(1). Area sensorik primer
Sesuai area Br 1,2,3 terletak dalam gyrus postcentralis
lobus parietalis. Berfungsi menerima informasi yang datang
41
dari kulit, tendo, otot dan capsula areticularis pada sisi
tubuh yang berlawanan, serta menentukan bagian tubuh
mana yang menerima rangsangan.
(2). Area asosiasi somatosensorik
Disebut juga area somaestetik, sesuai area Br 7 terletak di
gyrus lobus parietalis superior (di dorsal area sensorik
primer) area sensorik primer dan area somatosensorik
saling berhubungan satu sama lain. Fungsi utamanya adalah
untuk mengintegrasikan dan menganalisa rangsangan yang
datangnya dari area sensorik primer.
(3). Cortex visualis (area visualis)
Terletak pada gyrus lobus ocipitalis dan terdiri atas area
visual primer (Br 17) dan area asosiasi visualis (Br 18,19).
Area visualis primer menerima informasi dari retina bahwa
ada sesuatu benda, kemudian rangsangan diteruskan ke area
asosiasi visual untuk di analisis dan diintegrasikan sesuai
pengalaman.
(4). Area olfacorik (penghidu)
Terletak dalam sulcus (bagian dari rhinencephalon). Pada
manusia
rhinencephalon
mengalami
evolusi
menjadi
system limbic (fungsinya berhubungan dengan emosi dan
ingatan). Bagian rhinencephalon yng berhubungan dengan
42
penciuman hanya bulbus dan tractus olfactorius. Berfungsi
membedakan berbagai bau.
(5). Area pendengaran (auditori)
Terdapat pada gyrus temporalis, terdiri atas area auditori
primer (Br 42) yang terletak di gyrus superior lobus
temporalis sekitar sulcus lateralis sylvii. Area asosiasi
auditorius (Br 41), area ini mengelilingi area auditori
primer.Area auditorius primer berfungsi mendengarkan dan
menentukan arah suara, kemudian oleh area asosiasi
auditorius diintepretasikan berdasarkan pengalaman.
(6). Area wernicke (Br 39)
Merupakan area sensorik integrasi umum dan terletak di
gyrus angularis. Merupakan area sensorik integritas umum,
yang berhubungan dengan area visualisasi dan area
pendengaran
melalui
serabut-serabut
asosiasi.
Area
wernicke ini mengintegrasi impuls-impuls yang datang
dalam satu pengertian dan mengaktifkan bagian kortex
yang lain untuk mendapatkan jawaban yang sesuai.
(7). Area bahasa effektif
Terletak kontra lateral dengan area bicara motorik broca
dan wernicke. Berfungsi mengontrol ekspresi
berhubungan vokalisasi.
(8). Area prefrontalis
yang
43
Terletak pada bagian ventra lobus frontalis. Berfungsi
untuk pikiran yang bersifat analitis, motivasi, intelegensia
dan kepribadian.
2) Otak kecil (serebelum)
Terletak di bawah otak besar, merupakan pusat koordinasi
untuk keseimbangan dan tonus otot melalui suatu kompleks
mekanisme regulasi dan umpan balik, juga memungkinkan
system somatic tubuh untuk bergerak secara tepat dan terlatih.
Otak
kecil
berfungsi
untuk
koordinasi
gerakan
dan
keseimbangan. Otak kecil menerima informasi dari otot dan
telinga
tentang
sikap
tubuh
dan
keseimbangan
serta
mengkoordinasikan gerakan. Secara anatomis, hemisfer dan
vermis serebelum di bagi atas beberapa kelompok dan
diklasifiksi menjadi 3 sub divisi yaitu :
a) Arkhi serebelum, merupakan bagian tertua serebelum,
terdiri dari flokulus dan nodulus vermis, berhubungan
erat
dengan
system
vestibular,
yang
berfungsi
memodulasikan secara sinergis semua impuls motor
spinal setiap saat untuk menjaga keseimbangan, posisi
dan gerakan tubuh. Kerusakan lobus flokulunodularia
ini akan menyebabkan terjadi gangguan keseimbangan
berdiri (ataksia) dan berjalan (abasia), langkah berjalan
akan melebar dan sempoyongan (ataksia trunkel/aksial).
Ataksia yang terjadi disini tidak berkaitan penurunan
44
sensasi proprioseptif, tetapi cenderung akibat ketidak
mampuan otot untuk bekerja secara terkoordinir
(asinergis),
jika
melumpuhkan
kerusakan
respon
kalori
pada
dan
nodulus
akan
rotasi
pada
pemeriksaan fungsi vestibular.
b) Paleoserebelum, terdiri dari lobus anterior rostal fisura
primer, para flokulus dan tonsil serebelum, dapat
menerima aferen dari jaras spinoserebralis. Impuls
eferennya memodulasikan aktivitas muskulator untuk
melawan gaya berat (gravitasi) dan mempertahankan
tonos otot untuk keseimbangan saat berdiri/bergerak.
Kombinasi paleoserebelum dengan arkhi serebelum
adalah untuk mengontrol tonus otot rangka dam
koordinasi sinergis kelompol otot agonis dan antagonis
untuk membentuk gaya berjalan dan sikap yang
seimbang.
Kerusakan
pada
paleoserebelum
akan
mengakibatkan ataksia trungkel.
c) Neoserebelum, merupakan bagian termuda dan terbesar
serebelum, terdiri dari senua bagian vermis dan
hemisfer yang terletak diantara fisura primer dan
posterolateral, berhubungan dengan gerakan motorik
terlatih.
3) Brainstem (batang otak)
45
Adalah pangkal otak merilei pesan-pesan antara medulla
spinalis dan otak. Brainstem berhubungan dengan deinsefalon
diatasnya dan medulla spinalis dibawahnya. Brainstem terdiri
dari tiga segmen yaitu : mesensefalon (otak tengah), pons, dan
medula oblongata. Pons varoli merupakan bagian tengah batang
otak dan memiliki jalur lintas naik turun seperti pada otak tengah.
Selain itu juga terdapat banyak serabut yang berjalan menyilang
pons untuk menghubungkan kedua lobus cerebelum, dan
menghubungkan
oblongata
cerebelum
membentuk
menghubungkan
pons
dengan
bagian
kortex
bawah
dengan
serebri.Medula
batang
medula
otak,
spinalis.
dan
Medula
Oblongata terletak dalam fosa kranialis posterior dan bersatu
dengan medula spinalis tepat di bawah foramen magnum tulang
oksipital. Medula oblongata mengandung nukleus berbagai saraf
otak yang penting serta mengandung pusat vital yang
mengendalikan
pernafasan
dan
sistem
kardio-vaskular.
Brainstem berfungsi untuk mengendalikan berbagai fungsi dasar
organ seperti koordinasi gerakan mata, menjaga keseimbangan,
kesadaran, mengatur pernapasan, dan fungsi jantung (tekanan
darah).
46
Gambar 2.2 Brainstem
Sumber : www.google.com (ssp)
b. Medula Spinalis
Merupakan bagian susunan saraf pusat mulai dari foramen
magnum tengkorak ke bawah sepanjang lebih kurang 45cm (18
inci) sampai setinggi vertebra lumbal (VL1) dan dikelilingi serta
dilindungi oleh tulang vertebra dan meningens (duramater,
araknoid, piamater). Medula spinalis tersusun dari 31 pasang saraf
spinalis yaitu : 8 pasang saraf cervical, 12 pasang saraf thorakal, 5
pasang saraf lumbal, 5 pasang saraf sacral, I pasang saraf cocsigeal.
Setiap saraf yang keluar dari foramen intervertebralis akan
didistribusikan sebagai saraf segmental tubuh. Radiks semua saraf
kaudal terhadap konus terminalis akan membentuk seutas saraf
yang disebut “kauda ekuina”. Setiap saraf memiliki radik anterior
dan posterior. Pada radiks anterior berisi serabut-serabut eferen
47
yang berasal dari kolumna grisea ventralis dan lateralis. Sedangkan
pada radiks posterior berisi serabut-serabut aferen yang berasal dari
sel-sel saraf ganglion spinalis.
Gambar 2.3 medula spinalis
Sumber : www.google.com (anatomi MS)
Medulla spinalis terdiri dari inti bagian dalam berupa
substantia grisea, yang dikelilingi oleh pembungkus luar berupa
substantia alba. Substantia grisea berisikan sel-sel saraf dan
prossesusnya, neuroglia dan pembuluh darah, terlihat sebagai pilar
berbentuk hufur H dengan columna grisea anterior dan posterior.
48
Sedangkan sustantia alba terdiri dari serabut-serabut saraf,
neuroglia,dan pembuluh darah. Substantia alba mengelilingi
substantia grisea dan warnanya yang putih disebabkan oleh
proporsi yang besar serabut saraf bermielin.
c. Vascularisasi otak
Fungsi otak akan bekerja secara optimal jika mendapatkan
pasokan oksigen yang mencukupi. Oksigen diperoleh dari darah
yang diangkut melalui pembuluh darah. Jika pembuluh darah
mengalami gangguan atau kerusakan, maka sirkulasi darah ke otak
mengalami gangguan dan penyaluran oksigen pun akan terganggu,
akibatnya fungsi kerja otak akan menurun bahkan sampai hilang
karena kekurangan suplai oksigen.
Sirkulasi darah otak, otak menerima 17 % curah jantung
dan menggunakan 20 % konsumsi oksigen total tubuh manusia
untuk metabolisme aerobiknya. Otak diperdarahi oleh dua pasang
arteri yaitu arteri karotis interna dan arteri vertebralis. Di dalam
rongga kranium, keempat arteri ini saling berhubungan dan
membentuk
sistem
anastomosis,
yaitu
sirkulus
Willisi.(Satyanegara, 1998)
Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteria
karotis komunis kira-kira setinggi rawan tiroidea. Arteri karotis
interna masuk ke dalam tengkorak dan bercabang kira-kira setinggi
kiasma optikum, menjadi arteri serebri anterior dan media. Arteri
serebri anterior memberi suplai darah pada struktur-struktur seperti
49
nukleus kaudatus dan putamen basal ganglia, kapsula interna,
korpus kolosum dan bagian-bagian (terutama medial) lobus
frontalis dan parietalis serebri, termasuk korteks somestetik dan
korteks motorik. Arteri serebri media mensuplai darah untuk lobus
temporalis, parietalis dan frontalis korteks serebri. Arteria
vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteria subklavia sisi yang
sama. Arteri vertebralis memasuki tengkorak melalui foramen
magnum, setinggi perbatasan pons dan medula oblongata. Kedua
arteri ini bersatu membentuk arteri basilaris, arteri basilaris terus
berjalan sampai setinggi otak tengah, dan di sini bercabang
menjadi dua membentuk sepasang arteri serebri posterior. Cabangcabang
sistem
vertebrobasilaris
ini
memperdarahi
medula
oblongata, pons, serebelum, otak tengah dan sebagian diensefalon.
Arteri serebri posterior dan cabang-cabangnya memperdarahi
sebagian diensefalon, sebagian lobus oksipitalis dan temporalis,
aparatus koklearis dan organ-organ vestibular (Sylvia A. Price,
1995)
Darah vena dialirkan dari otak melalui dua sistem :
kelompok vena interna, yang mengumpulkan darah ke Vena galen
dan sinus rektus, dan kelompok vena eksterna yang terletak di
permukaan hemisfer otak, dan mencurahkan darah, ke sinus
sagitalis superior dan sinus-sinus basalis lateralis, dan seterusnya
ke vena-vena jugularis, dicurahkan menuju ke jantung (Harsono,
2000).
50
Gambar 2.4 sirkulasi arteri otak
Sumber: www.google.com (sirkulasi darah otak)
4. Metode Bobath pada Stroke
a. Pengertian Bobath
Metode Bobath diperkenalkan oleh Karel dan Bertha Bobath. Metode
ini di gunakan sebagai aplikasi assessment dan penanganan pada penderita
stroke dan kondisi-kondisi neurologi lainnya, kususnya susunan saraf pusat.
Prinsip bobath adalah teori plastisitas otak dan dengan merangsang terus
menerus dapat membangkitkan sel-sel saraf otak yang tertidur.
Plastisitas otak yaitu kemampuan dari otak dimana otak adalah suatu
organ yang sangat mudah beradaptasi. Penelitian-penelitian terakhir
memperlihatkan bahwa pertumbuhan otak dan perubahan sel saraf tidak
terbatas pada masa anak-anak seperti yang semula disangka. Meskipun
neuron yang mati tidak mengalami regenerasi, kemapuan adaptif, atau
51
plastisitas, otak manusia sangatlah luar biasa, terutama pada kaum muda.
Terdapat bukti bahwa dalam situasi tertentu bagian-bagian otak dapat
mengambil alih fungsi dari bagian-bagian yang rusak. Dengan kata lain,
bagian-bagian otak seperti belajar kemampuan baru.
Metode Bobath adalah suatu metode terapi latihan pada stroke yang
berasumsi bahwa penderita stroke seolah-olah pasien stroke kembali pada
usia bayi sehingga pertumbuhan dan perkembangannya sesuai dengan
pertumbuhan bayi normal. Oleh karena itu pasien stroke harus dilatih mulai
dari posisi berbaring, miring, tengkurap, merangkak, duduk, berdiri, dan
berjalan. Jangan mencoba untuk latihan berdiri kalau miring saja belum
bisa. Jangan juga latihan untuk berdiri kalau duduk saja belum stabil. Di
samping itu untuk mengatasi tonus otot yang berlebihan, berikan posisi
inhibisi (posisi yang dapat menghambat terjadinya hypertonus) dan fasilitasi
(posisi yang dapat mengurangi hypertonus). Setelah itu baru latihan gerak
pada pola norma.
Metode Bobath pada awalnya memiliki konsep perlakuan yang
didasarkan atas inhibisi aktivitas abnormal reflex dan pembelajaran kembali
gerak normal, melalui penanganan manual dan fasilitasi. Dengan
perkembangan ilmu dan teknologi, maka konsep bobath juga mengalami
perkembangan dimana konsep bobath terkini adalah :
Pendekatan problem solving dengan cara pemeriksaan dan tindakan secara
individual yang diarahkan pada tonus otot, gerak dan fungsi akibat lesi pada
system saraf pusat
52
b. Tujuan Intervensi Bobath
Tujuan dari intervensi metode Bobath adalah optimalisasi fungsi
dengan peningkatan kontrol postural dan gerakkan selektif melalui fasilitasi,
sebagaimana yang dinyatakan oleh IBITA tahun 1995.
”The goal of treatment is to optimize function by improving postural control
and selective movement trought fasilitation”(IBITA 1995).
Tujuan yang akan dicapai dengan konsep bobath
1) Melakukan identifikasi pada area-area spesifik otot-otot antigravitasi
yang mengalami penurunan tonus.
2) Meningkatkan kemampuan input propioceptive.
3) Melakukan identifikasi tentang gangguan fungsi setiap individu dan
mampu melakukan aktivitas fungsi yang efesien ”normal”.
4) Fasilitasi specific motor activity.
5) Minimalisasi gerakan kompensasi sebagai reaksi dari gangguan gerak.
6) Mengidentifikasi kapan dan bagaimana gerakan menjadi lebih efektif.
c. Prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam intervensi bobath.
1). Pola Gerakan
a) Gerakan yang ada dalam suatu pola yang telah dikontrol oleh system
persarafan, yaitu saraf pusat (bukan gerakan perotot)
b) Gerakan yang dilakukan untuk meningkatkan aktivitas dilakukan
berdasarkan pada pola gerakan dan perkembangam normal.
c) Dilakukan pada gerakan yang dikarenakan oleh
-
Perkembangan pola gerakan yang abnormal.
-
Kompensasi / adaptasi terhadap abnormalitas.
53
d) Tujuan penerapan Bobath
- Seluruh gerakan diajarkan dalam kondisi yang normal atau kondisi
yang mendekati normal.
- Meningkatkan kwalitas dari gerakan.
e) Harus memahami pola – pola gerakan yang abnormal untuk
menimbulkan lebih banyak pola gerakan yang normal.
2). Komponen Gerakan
a). Tonus postural yang normal untuk menahan gravitasi bila bagian lain
bergerak.
b). Gerakan yang responsive dan efektif hanya terjadi pada penanganan
yang benar.
c). Penanganan untuk menormalisasi postural, meningkatkan sikap dari
gerakan, meningkatkan keterampilan dan meningkatkan adaptasi
terhadap rangsang.
3). Konsep / prinsip kerja terapi bobath, meliputi ;
a) Fasilitasi
Suatu bentuk bantuan yang diberikan untuk memudahkan
pasien dalam melaksanakan aktivitasnya sehari – hari, hal ini dapat
dilakukan dengan tehnik posisioning. Fasilitasi adalah salah satu
cara yang menggunakan kontrol sensory dan proprioceptive untuk
mempermudah gerakan. Pemberian fasilitasi adalah bagian dari
satu proses belajar secara aktif (IBITA 1997) dimana individu
memungkinkan untuk mengatasi inersia, inisiatif, melanjutkan atau
menyelesaikan
satu
tugas
fungsional.
Pemberian
fasilitasi
54
digunakan untuk membantu individu dalam pemecahan masalah,
memungkinkan dia untuk melakukan gerakan yang sebaik
mungkin selama bekerja. Memberikan kinerja fasilitasi -terhadap
performance bisa ditingkatkan dengan pengulangan dalam latihan.
“Facilitation is one way of using sensory and proprioceptive
controls to make movement easier. Facilitation is part of an active
learning process in which the individual is enabled to overcome
inertia, initiate, continue or complete a functional task. Facilitation
is used to assist the individual in problem-solving, enabling him to
experience the patterns of movement required as well as success in
achieving the task. Facilitating task-performance allows increased
repetition of the task”. (IBITA 1997) Pada pendekatan bobath
maka fisioterapi memberikan fasilitasi yang memungkinkan pasien
secara aktif melakukan pola gerak normal dan bukan pasif, karena
dari gerak aktif pasien yang akan memungkinkan terjadinya proses
pembelajaran motorik pada pasien. Salah satu yang dapat diberikan
yaitu pegangan fisioterapi dalam bentuk lumbrikal. Dengan posisi
lumbrikal maka informasi yang diberikan oleh fisioterapi saat
melakukan fasilitasi gerakan akan lebih mudah untuk dimengerti
pasien. Selain itu juga posisi lumbrikal akan meminimalisasikan
support saat gerak dilakukan, sehingga memberi kecenderungan
pasien bergerak secara lebih aktif.
55
b) Stimulasi
Merupakan suatu bentuk pemberian rangsangan yang terdiri dari
dua bentuk antara lain ;
a). Stimulasi verbal (dengan aba – aba, suara/bunyi – bunyian)
b). Stimulasi non verbal (menggunakan rangsang taktil dan
propioseption)
c) Stability
Merupakan salah satu bagian dari teknik terapi yang bertujuan
untuk membentuk stability untuk mengurangi gerakan yang
abnormal. Stabilisasi yang diberikan antara lain postural stability
dan proximal stability.
d. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pemberian terapi
dengan mengunakan metoda Bobath yaitu :
1) Penanganan Dini
Penanganan dini akan memberikan respon yang lebih baik, karena
belum terjadi kontraktur dan pola gerakan yang abnormal belum
berkembang.
2) Sensory Motor Learning Proses
Dengan seringnya pasien merasakan tonus dan gerakan yang normal,
maka pasien akan berkembang dan melakukan suatu gerakan yang
normal pula.
3) All Day Management
Untuk memberikan rangsang sensory motor learning proses, keluarga
dilibatkan dalam kehidupan sehari – hari pada pola pengasuhannya.
56
4) Key point of control
Merupaka semua bentuk handling yang diberikan oleh fisioterapi saat
melakukan latihan (pada bahu, pelvic, knee). Key Point of Control
(KPOC) : menghambat spastisitas dan pola gerak abnormal sekaligus
memberi fasilitasi pola gerak yang normal. Proximal KPOC (shoulder,
hip dan trunk). Distal KPOC (tangan dan kaki) Tidak menganjurkan
pemakaian alat bantu jalan, oleh karena latihan Bobath menekankan
penggunaan dan weight bearing pada sisi lumpuh
e. Aplikasi metode Bobath pada pasien stroke
Pada prinsipnya bentuk latihan dengan pendekatan metode bobath bersifat
individual, tergantung problem yang di temukan pada pemeriksaan. Langkah
awal dalam terapi latihan bobath yaitu dengan aktifasi otot-otot internal
trunk (otot abdominal, otot para spinal,otot pelvic floor). Otot-otot tersebut
merupakan otot yang memberikan stabilitas yang utama pada postur.
Dengan stabilitas postur yang adekuat, maka fungsi mobilitas dari
ekstremitas menjadi lebih mudah. Beberapa bentuk latihan dalam
pendekatan metode bobath yang umum diberikan pada pasien stroke,
diantaranya :
1) Latihan dengan posisi tidur terlentang di atas bed
a) . latihan 1
(1). Posisi awal pasien tidur terlentang
(2). Tekuk kedua lutut 900
(3). Kedua tangan berada disamping badan dengan posisi pronasi
57
(4). Berikan instruksi untuk melakukan secara aktif gerakan
foreward dan backward pada pelvic.
(5). Setiap gerakan dilakukan bersamaan dengan ekspirasi.
(6). Lakukan dengan 10 kali pengulangan
Gambar.2.5 latihan foreward dan backward pelvic
Sumber : pribadi
b). latihan 2
(1). Posisi awal pasien tidur terlentang
(2). Kedua lutut ditekuk 900
(3). Kedua tangan berada disamping badan dengan posisi pronasi
(4). Berikan instruksi kepada pasien untuk mengangkat pantatnya
(5). Lakukan dengan 10 kali pengulangan
Gambar2.6 latihan bridging
Sumber: pribadi
58
c). latihan 3
(1). Posisi awal pasien stroke tidur terlentang.
(2). Berikan fiksasi pada bagian pelvic.
(3). Letakkan tangan pada sisi lateral telapak kaki sebagai fasilitasi.
(4). Berikan intruksi melakukan gerakan menekuk pada lutut
dengan tetap mempertahankan alignment dari tungkai.
Gambar 2.7 latihan gerak fleksi pada tungkai
Sumber: pribadi
d). latihan 4
(1). Posisi pasien tidur terlentang dengan lengan posisi supinasi.
(2). Pegangan fisioterapis pada proksimal lengan bawah pasien.
(3). Pegangan berbentuk lumbrikal grip.
(4). Instruksikan agar kepala fleksi hingga dagu mencapi sternum.
(5).Berikan fasilitasi agar pasien melakukan gerakan mengangkat
tubuh ±450,tidak sampai pada posisi duduk.
(6). Kemudian kembali baringkan ke bed secara perlahan.
(7). Instruksikan agar pasien bernafas seperti biasa.
(8). Lakukan pengulangan sebanyak 10 kali.
59
Gambar 2.8 latihan gerak postural
Sumber: pribadi
e). latihan 5
(1). Posisi awal pasien tidur terlentang
(2).Berikan sanggahan berupa box sehingga hip dan knee
membentuk 900.
(3). Lakukan koreksi alignment kepala terhadap sternum.
(4). Berikan fasilitasi agar kepala mengarah ke sternum (fleksi
leher).
(5). Berikan fasilitasi agar pasien mengangkat tubuh kearah fleksi.
(6). Berikan fasilitasi pada upper thorakal untuk melakukan
gerakan fleksi.
(7). Berikan instruksi agar pasien meniup setiap gerakan dilakukan.
60
Gambar 2.9 latihan aktif abdominal
Sumber : pribadi
f). latihan 6
(1). Posisi awal pasien tidur terlentang.
(2). Kedua tungkai berada di tepi bed.
(3). Berikan fasilitasi pada siku untuk melakukan tumpuan.
(4). Berikan fiksasi pada salah satu sisi pelvic (ipsilateral dengan
tumpuan siku).
(5). Berikan fasilitasi pada lengan sisi kontra lateral agar
mengangkat tubuh diawali dengan fleksi kepala sejajar dengan
sternum.
(6). Lakukan secara perlahan agar terjadi tumpuan tubuh pada
salah satu sisi pinggul.
61
Gambar 2.10 latihan aktif persiapan posisi tidur ke duduk
Sumber : pribadi
2) Latihan dengan posisi pasien duduk
a). Latihan 1
(1). Posisi awal pasien duduk di tepi bed/kursi
(2). Gunakan bed dimana telapak kaki dapat menyentuh
lantai(menapak di lantai)
(3). Berikan koreksi kepada kedua telapak kaki agar menapak
secara sempurna (BOS yang baik)
(4). Berikan koreksi pada tungkai atas (paha) agar berada pada
posisi alignment yang benar. Koreksi ini akan memperbaiki
posisi duduk terhadap bed (BOS pada bed)
(5). Posisi fisioterapis ada di samping atau pun di depan pasien.
(6). Berikan fasilitasi pada abdominal dan back muscle untuk
melakukan backward dan foreward.
(7). Pastikan upper trunk tidak ikut bergerak sehingga gerakan
pelvic dapat dilakukan secara selektif.
(8). Lakukan gerakan sebanyak 10 kali pengulangan.
62
Gambar2.11 : fasilitasi pd abdominal.back,hip muscle
Sumber: pribadi
b). latihan 2
(1). Posisi pasien duduk di bed/kursi
(2). Berikan stabilisasi pada daerah bahu.
(3). Posisi tangan fisioterapis pada margo medial scapula
(4). Lakukan mobilisasi pada daerah scapula dengan arah medial
dan lateral.
(5). Lakukan pengulangan sebanyak 10 kali.
Gambar 2.12 latihan mobilisasi scapula
Sumber : pribadi
63
3). Latihan pasien pada posisi berdiri
a). latihan 1
(1). Posisi pasien berdiri dengan topangan meja
(2). Pastikan agar kedua telapak kaki menapak dengan sempurna.
(3). Posisi tungkai lurus (netral)
(4). Posisi tangan full ekstensi siku dan 350- 450ekstensi bahu
(5). Berikan fasilitasi pada kedua lengan.
(6). Anjurkan pasien untuk menatap ke depan (tidak menunduk).
Gambar2.13 : fasilitasi posisi berdiri
Sumber: pribadi
b). latihan 2
(1). Posisi pasien berdiri.
(2). Letakkan alat bantu dengan menggunakan kotak detinggi 30
cm yang dapat menopang salah satu kaki.
(3). Tempatkan salah satu kaki di atas kotak, sehingga membentuk
sudut 900 fleksi.
(4). Posisi tangan fisioterapi pada posisi abdominal dan gluteal.
64
(5). Lakukan fasilitasi pada pelvic ke arah backward dan superior.
(6). Lakukan secara bergantian kearah foreward.
Gambar 2.14 latihan stabilisasi postur
Sumber : pribadi
Analisa tentang gerak normal menjadi dasar utama penerapan aplikasi
metode ini. Dengan pemahaman gerak normal, maka setiap fisioterapis akan
mampu melakukan identifikasi problematik gerak kepada setiap pasien atas
penyimpangan gerak akibat gangguan saraf pusat.
Akibat adanya gangguan sistem saraf pusat (SSP) akan mengakibatkan
abnormal tonus postural, dari abnormal tonus postural tersebut melahirkan
gangguan atau abnormalitas pada umpan balik sensoris yang akhirnya
memunculkan kompensasi gerak.
Pada aktivitas gerak, maka tonus postural akan sangat menentukan
efektifitas dan efesiensi gerak yang akan dihasilkan. Beberapa hal yang
berhubungan dengan tonus postural yaitu berupa gaya gravitasi, centre of
gravity, base of support, kemampuan tubuh untuk tetap tegap adalah reaksi dari
65
otot postural melawan gravitasi tersebut dengan adanya penyesuaian dari tubuh
melalui centre of gravity (COG) dan base of support (BOS).
Untuk dapat melakukan aktifitas, dimana gaya gravitasi memberikan
tekanan secara terus menerus menuntut kerja yang adekuat dari otot postural,
salah satu fokus utama dalam intervensi ini adalah meningkatkan aktifasi otototot postural tersebut, dengan beberapa bentuk latihan
yang disebut core
stability exercise.
Dalam gerak normal, terdapat unsur utama yaitu stabilitas dan mobilitas.
Suatu gerak normal yang terjadi diawali oleh adanya stabilitas pada otot
stabilisator. Jika stabilitas tidak mendukung dalam proses pembentukan gerak
maka yang akan terjadi adalah gerak yang tidak normal (abnormal movement)
termasuk adanya gerak kompensasi.
Setiap bentuk latihan yang akan diberikan harus selalu melibatkan kedua
unsur tersebut, dengan kata lain bahwa sebelum pasien melakukan gerak
tertentu sesuai fasilitasi yang diberikan oleh fisioterapis, maka terlebih dahulu
persiapan gerak yang diberikan adalah memfasilitasi tonus otot untuk
meningkatkan stabilitas.
f. Latihan fungsional sehari-sehari
Salah satu kondisi yang sangat dekat dengan gangguan fungsional
sehari-hari adalah pada pasien stroke. Stroke merupakan gangguan fungsi
saraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat
timbul secara mendadak dalam beberapa detik atau secara cepat dalam
beberapa jam dengan gejala atau tanda-tanda sesuai dengan daerah yang
terganggu. Tidak satupun bagian tubuh manusia yang dapat bertahan bila
66
terdapat gangguan suplai darah dalam waktu relatif lama sebab darah sangat
dibutuhkan dalam kehidupan terutama oksigen pengangkut bahan makanan
yang dibutuhkan pada otak dan otak adalah pusat kontrol sistem tubuh
termasuk perintah dari semua gerakan fisik.
Gangguan fungsi otak yang timbul pada kasus stroke antara lain adalah
gangguan koordinasi, gangguan keseimbangan, gangguan kontrol postur,
gangguan sensasi dan gangguan reflek gerak. Adanya permasalahan tersebut
diatas menyebabkan kompensasi gerakan meningkat, dengan kompensasi
yang meningkat maka akan menurunkan kemampuan keterampilan motorik
(motor skill) sehingga pasien akan mengalami gangguan fungsional aktivitas
sehari-hari. Pada pasien dengan kompensasi gerak yang tinggi termasuk
adanya spastisitas akan mengalami kesulitan untuk melakukan fungsional
aktivitas sehari-hari dengan pola yang tepat. Tingkat spastisitas yang tinggi
akan mengakibatkan ketidakmampuan pasien dalam mempertahankan
postur, gerakan motorik dan pada akhirnya mengganggu kemampuan
fungsional aktivitas sehari-hari. Adapun beberapa gangguan fungsional aktivitas
sehari-hari yang sering di jumpai pada pasien stroke antara lain :
a) Kemampuan Mobilitas
Pada sebagian besar pasien stroke, masalah mobilitas akan
muncul ± 1 tahun setelah serangan stroke. Selain disebabkan oleh
gangguan tingkat kesadaran, gangguan motorik yang berat seperti
kelemahan, ataksia, dan apraksia, gangguan sensorik (proprioseptif)
dan gangguan penglihatan, patologi lain seperti arthritis (radang sendi)
dan fraktur hip juga dapat meningkatkan masalah mobilitas, khususnya
67
ketidakmampuan berjalan. Penentuan gangguan mobilitas pasien
dengan tepat beserta penyebabnya akan memberikan gambaran yang
tepat bagi terapis untuk menentukan jenis latihan, bantuan, alat bantu,
dan pengaturan lingkungan sekitar yang sesuai dengan kondisi pasien.
b) Kemampuan Toileting
Masalah pada urinaria dan inkontinensia feses akan
menyebabkan ketergantungan pasien pada orang lain hingga ± 1 tahun
setelah serangan Ketergantungan ini disebabkan ketidakmampuan
untuk transfer secara mandiri, berjalan, dan berpakaian. Terapis harus
dapat
menentukan
tingkat
gangguan
penggunaan
toilet
dan
penyebabnya. Kemampuan pasien untuk mandiri menggunakan toilet
sangat tergantung pada kondisi lingkungan rumah, misalnya lebar
pintu kamar dan kamar mandi, posisi dan tinggi toilet, dan posisi
pegangan pada toilet.
c) Aktivitas Mandi (membersihkan diri)
Gangguan pada motorik, sensorik, penglihatan dan kognitif
akan berpengaruh pada ketidakmampuan mandi secara mandiri.
Walaupun buruknya fungsi lengan menyebabkan kegiatan mandi dan
berdandan menjadi lebih sulit, sebagian besar pasien menggunakan sisi
sehatnya untuk melakukan pekerjaan ini. Tetapi pasien dengan defisit
kognitif dan penglihatan, walaupun fungsi lengan kelihatan bagus,
pasien tidak mampu untuk mandi dan berdandan sendiri secara
mandiri. Kemandirian untuk mandi tergantung pada kemandirian
dalam mobilitas dan transfer.
68
d) Aktivitas Berpakaian
Gangguan dalam berpakaian berkaitan dengan kombinasi dari
kelemahan lengan atau inkoordinasi, ketidakmampuan berdiri mandiri,
gangguan kognitif, dan penglihatan. Nyeri pada bahu akan
menyulitkan saat berpakaian. Pemberian nasehat yang tepat dalam
memilih pakaian, misalnya menghindari pakaian ketat dengan kancing
yang kecil dan sepatu dengan tali akan membantu proses latihan
kemandirian dlam berpakaian.
e) Aktivitas Makan
Gangguan fungsi lengan dan tangan merupakan penyebab
utama masalah makan, walaupun gangguan lain seperti keseimbangan
duduk, kelemahan otot-otot wajah, fungsi sensorik dan penglihatan
juga sama pentingnya. Pada sebagian kecil pasien akan mengalami
masalah menelan. Tipe makanan yang dimakan juga menentukan pada
masalah ini.
Latihan fungsional sehari-hari atau sering disingkat ADL (activity daily
living), perlu diberikan untuk meningkatkan kemandirian pasien stroke.
Beberapa aktivitas fingsional yang diberikan tentu saja memerlukan
penyesuaian dengan kemampuan pasien stroke. Awali latihan dengan kegiatan
yang sederhana akan tetapi merupakan kegiatan yang rutin dilakukan oleh
pasien stroke sebelum mengalami serangan stroke, seperti aktivitas
mengenakan baju, mandi, naik turun tangga dan libatkan yang merupakan
kegemaran pasien stroke. Latihan ADL diantaranya :
1). Tata cara berpakaian (cara menggunakan kemeja)
69
a). Masukkan terlebih dahulu lengan yang lemah ke dalam lengan baju
b). Tarik lengan baju ke atas sampai bahu.
c). Putar baju kearah lengan lengan yang sehat.
d). Masukkan tangan yang sehat ke lengan baju lainnya.
Gambar 2.15 Cara berakaian
Sumber : pribadi
2). Tata cara berpindah (dari tempat tidur ke kursi)
a). Letakkan kursi roda/kursi disebelah sisi yang lemah.
b). Pastikan bahwa tempat tidur dan kursi roda dalam keadaan terkunci.
c). Anjurkan agar pasien bergeser ke tepi tempat tidur, duduk dengan
telapak kaki menapak di lantai.
d). Pegang pinggang pasien dengan kedua tangan anda, anjurkan pasien
untuk memegang kedua bahu FT.
e). Bantu pasien untuk berdiri dan mundur ke belakang untuk duduk di
kursi.
70
Gambar 2. 16Cara berpindah
Sumber : pribadi
3). Melatih keseimbangan berdiri
a). Sediakan cermin besar supaya pasien dapat melihat apakah berdirinya
sudah tegak atau belum.
b). Berikan kesempatan kepada pasien untuk berusaha berdiri sendiri
semaksimal mungkin.
c). Berdirilah dekat sisi pasien yang lumpuh untuk memberikan
pererasaan aman padanya.
71
Gambar 2.17 Melatih keseimbangan berdiri
Sumber : pribadi
4). Latihan naik turun tangga
a). Naik tangga dibantu penolong
Penolong berdiri di belakang pasien. langkahkan kaki yng sehat
terlebih dahulu sambil tangan berpegang pada pergelangan tangga,
kemudian kaki lumpuh langkahkan pada anak tangga yang sama.
b). Turun tangga dibantu penolong
Sambil berpegang pada pegangan tangga, langkahkan terlebih dahulu
kaki yang lemah, kemudian diikuti kaki yang sehat. Penolong berdiri
di depan pasien menghadap ke pasien.
72
Gambar 2.18 Latihan naik turun tngga
Sumber : pribadi
5). Latihan berjalan menggunakan tongkat berkaki empat
a). Posisi pasien berdiri tegak
b). Anjurkan pasien untuk meletakkan tongkat di depannya agak
kesamping
c). Langkahkan kaki yang lemah terlebih dahulu diikuti kaki yang sehat
d). Ulangi cara ini untuk belajar jalan selanjutnya.
Gambar 2.19 latihan berjalan dengan tongkat berkaki empat
Sumber : pribadi
Download