Implementasi Sensor Kapasitif Pada Sistem Pengering Gabah

advertisement
1
Implementasi Sensor Kapasitif Pada Sistem
Pengering Gabah Otomatis
Yoni Widhi Prihana, Muhammad Rivai, Siti Halimah Baki
Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: [email protected]
Abstrak—Bulir padi atau gabah setelah panen memiliki
kadar air yang masih tinggi sehingga memerlukan proses
pengeringan agar dapat disimpan dalam jangka waktu yang
panjang atau dilanjutkan pada proses penggilingan. Para
petani padi biasanya terlebih dahulu mengeringkan
gabahnya sebelum dijual dengan cara menjemurnya di terik
matahari. Hal ini akan memerlukan halaman yang luas,
bergantung pada cuaca dan waktu yang lama. Pada
penelitian ini telah dibuat suatu alat pengering gabah yang
mampu bekerja secara otomatis menggunakan energi listrik.
Pada alat ini untuk mendeteksi kadar air gabah digunakan
sensor kapasitif. Sensor ini terdiri dari dua elektroda yang
bekerja berdasarkan prinsip kapasitansi dimana nilai
kapasitansi suatu bahan tergantung pada nilai permitifitas
bahan pemisah, luas penampang elektroda dan jarak
pemisah antar elektroda. Hasil pengukuran sensor digunakan
untuk mengendalikan panas yang dihasilkan oleh heater
dengan menggunakan metode proportional integral derivatif
(PID). Sistem ini menggunakan tabung pengering yang
diputar agar didapat gabah kering yang merata. Untuk
kepentingan pemerataan panas oleh heater maka digunakan
blower yang akan memasukkan udara dari luar ke dalam
tabung pengering. Sistem akan berhenti secara otomatis pada
saat gabah berkadar air maksimum 14%. Hasil pengujian
keseluruhan sistem menunjukkan bahwa alat ini telah
mampu mengeringkan gabah dari kadar air 35% sampai
mencapai 14% selama 140 menit.
Kata Kunci— Kadar air gabah, kontrol PID, sensor kapasitif,
sistim pengering
I
I. PENDAHULUAN
ndonesia merupakan negara agraris dimana sebagian
besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2013
jumlah petani di Indonesia mencapai 31,7 juta orang yang
mana dari jumlah tersebut 20,4 juta orang merupakan
petani pangan. Diantara para petani pangan tersebut
merupakan petani padi.
Petani padi biasa menjual padi yang masih dalam
bentuk gabah hasil panen mereka dalam keadaan kering.
Berdasarkan inpres No 3 Tahun 2012 tentang Kebijakan
Pengadaan Gabah/ Beras dan Penyaluran Beras
Pemerintah, harga pembelian pemerintah (HPP) untuk
gabah kering panen (GKP) dengan kadar air 18% - 25%
adalah Rp 3300/kg ditingkat petani dan Rp 3350/kg
ditingkat penggilingan sedangkan untuk gabah kering
giling (GKG) dengan kadar air maksimum 14% adalah Rp
4150/kg ditingkat penggilingan dan 4200/kg di gudang
bulog [1]. Oleh sebab itu, para petani padi biasanya
terlebih dahulu mengeringkan gabahnya sebelum dijual
dengan cara menjemurnya di terik matahari. Untuk dapat
menjemur padi diperlukan sinar matahari yang cukup dan
halaman yang luas. Permasalahan muncul ketika musim
penghujan, para petani tidak dapat menjemur hasil padi
mereka. Permasalahan ini akan bertambah apabila petani
tidak memiliki halaman yang luas untuk menjemur padi.
Pada penelitian ini telah diimplementasikan sensor
kapasitif pada sistem pengering gabah, sehingga pengering
gabah tersebut mampu menghasilkan gabah dengan tingkat
kadar air maksimum 14%. Penelitian ini diharapkan
mampu menjadi solusi bagi para petani untuk
mendapatkan gabah dalam keadaan kering tanpa harus
terpengaruh oleh sinar matahari dan halaman untuk
pengeringan.
II. METODE PENELITIAN
A. Gabah
Bulir padi atau gabah merupakan komoditas vital
bagi Indonesia, Pemerintah memberlakukan regulasi harga
dalam perdagangan gabah. Berdasarkan Instruksi Presiden
Nomor 3 tahun 2012 tentang kebijakan pengadaan gabah /
beras dan penyaluran beras oleh pemerintah, terdapat
istilah-istilah khusus yang mengacu pada kualitas gabah
sebagai dasar penentuan harga,
 Gabah
Kering
Panen (GKP),
gabah
yang
mengandung kadar air lebih besar dari 18% tetapi
lebih kecil atau sama dengan 25% (18%<KA<25%),
hampa / kotoran lebih besar dari 6% tetapi lebih kecil
atau sama dengan 10% (6%<HK<10%), butir hijau /
mengapur lebih besar dari 7% tetapi lebih kecil atau
sama dengan 10% (7%<HKp<10%), butir kuning /
rusak maksimal 3% dan butir merah maksimal 3%.
 Gabah Kering Simpan (GKS), adalah gabah yang
mengandung kadar air lebih besar dari 14% tetapi
lebih kecil atau sama dengan 18% (14%<KA<18%),
kotoran / hampa lebih besar dari 3% tetapi lebih kecil
atau sama dengan 6% (3%<HK<6%), butir
hijau/mengapur lebih besar dari 5% tetapi lebih kecil
atau sama dengan 7% (5%<HKp<7%), butir
kuning/rusak maksimal 3% dan butir merah
maksimal 3%.
 Gabah Kering Giling (GKG), adalah gabah yang
mengandung kadar air maksimal 14%, kotoran /
hampa maksimal 3%, butir hijau / mengapur
maksimal 5%, butir kuning/rusak maksimal 3% dan
butir merah maksimal 3%.
2
Ketentuan-ketentuan
itu
dipakai Bulog dalam
menentukan harga gabah / beras berdasarkan kualitasnya
[1].
B. Sensor Suhu LM35
LM35 merupakan salah satu jenis sensor suhu yang
merubah besaran suhu menjadi besaran tegangan. IC LM
35 sebagai sensor suhu yang teliti dan terkemas dalam
bentuk Integrated Circuit (IC), dimana output tegangan
keluaran sangat linier berpadanan dengan perubahan suhu.
Sensor ini berfungsi sebagai pengubah dari besaran fisis
suhu ke besaran tegangan yang memiliki koefisien sebesar
10 mV /°C yang berarti bahwa kenaikan suhu 1° C maka
akan terjadi kenaikan tegangan sebesar 10 mV.
LM35 memiliki 3 buah pin. Pin1 sebagai supply (Vs),
pin2 sebagai output, dan pin3 sebagai ground (GND)
melepas muatan listrik kepada rangkaian, peristiwa ini
disebut discharging. Kapasitor umumnya terbuat dari dua
konduktor yang diantaranya terdapat materi dieleketrik.
Umumnya bahan dielektrik adalah bahan isolator atau
bahan yang tidak bisa menghantarkan listrik. Namun
akibat adanya aliran listrik yang merupakan aliran
elektron, atom penyusun dielektrik menjadi tidak seimbang
dan akhirnya menimbulkan muatan-muatan listrik.
Sehingga setiap bahan dielektrik memiliki nilai
permitivitas masing-masing, yang akhirnya mempengaruhi
nilai kapasitansi.
Sensor kapasitif merupakan sensor elektronika yang
bekerja berdasarkan konsep kapasitif. Sensor ini bekerja
berdasarkan perubahan muatan energi listrik yang dapat
disimpan oleh sensor akibat perubahan jarak lempeng,
perubahan luas penampang dan perubahan volume
dielektrikum sensor kapasitif tersebut. Konsep kapasitor
yang digunakan dalam sensor kapasitif adalah proses
menyimpan dan melepas energi listrik dalam bentuk
muatan-muatan listrik pada kapasitor yang dipengaruhi
oleh luas permukaan, jarak dan bahan dielektrikum[3].
(1)
Gambar 1. Konfigurasi pin sensor suhu LM35
IC LM 35 ini tidak memerlukan pengkalibrasian atau
penyetelan dari luar karena ketelitiannya sampai lebih
kurang seperempat derajat celcius pada temperature ruang.
Kisaran sensor mulai dari – 55°C sampai dengan 150°C.
IC LM 35 dapat dialiri arus 60 mA dari supply sehingga
panas yang ditimbulkan sendiri sangat rendah kurang dari
0 ° C di dalam suhu ruangan. LM35 memiliki impedansi
keluaran yang rendah, keluaran yang linear, dan sifat
ketepatan dalam pengujian membuat proses interface untuk
membaca atau mengontrol sirkuit lebih mudah. tingkat
efek self-heating yang rendah yaitu 0,08 derajad Celcius.
dimana ε0 permitivitas ruang hampa (8,85.10-12 F/m), εr
permitivitas relatif (udara = 1), A luas plat/lempeng dalam
m2, d jarak antara plat /lempeng dalam m [4].
Pada penelitian ini digunakan model sensor kapasitif
silinder sejajar,
(2)
(3)
Gambar 3. Sensor kapasitif silinder sejajar
dimana b Jarak pemisah antar silinder, a Jari – jari
silinder, L Panjang silinder [5].
Gambar 2. Grafik akurasi LM35 terhadap suhu[2]
C. Sensor Kapasitif
Kapasitor adalah salah satu komponen pada
rangkaian listrik yang dapat menyimpan dan melepas
energi listrik dalam bentuk muatan-muatan listrik. Saat
pertama kali dihubungkan dengan sumber listrik, kapasitor
akan mengisi dirinya dengan muatan-muatan listrik,
peritstiwa inilah yang disebut dengan proses charging.
Setelah penuh, kapasitor akan menghentikan arus listrik di
dalamnya sehingga rangkaian listrik akan bersifat open.
Namun saat sumber listrik dimatikan dari rangkaian,
kapasitor dapat bersifat sebagai sumber listrik dengan cara
D. Osilator CD4046B
Pada penelitian ini CD4046B digunakan sebagai
osilator yang digunakan untuk menghasilkan sinyal kotak
dengan frekuensi yang bergantung dari sensor kapasitif.
Gambar 4. CD4046B
3
kekurangan. Dalam implementasinya masing-masing cara
dapat bekerja sendiri maupun gabungan dari ketinganya.
Dalam perancangan sistem kontrol PID yang perlu
dilakukan adalah mengatur parameter P, I, D agar
tanggapan sinyal luaran sistem sesuai dengan masukan
yang diinginkan pengguna.
Beberapa pengaruh dari kontroler PID terhadap
sistem adalah dapat memperbaiki respon transien,
menghilangkan error steady state, memberikan efek
redaman.[8]
Gambar 5. Grafik karakteristik frekuensi output 4046 berdasarkan nilai
kapasitor[6]
E. Microcontroller ATMEGA32
Mikrokontroler ATMEGA32 memiliki clock kerja
tinggi sampai 16 MHz, ukuran flash memorinya cukup
besar, yaitu 32Kb kapasistas SRAM sebesar 2 KiloByte, 32
buah port I/O yang sangat memadai untuk berinteraksi
dengan LCD dan keypad.
Gambar 6. Konfigurasi pin ATMEGA32
Pada mikrokontroller terdapat Analog to Digital
Converter (ADC) yang digunakan untuk mengubah sinyal
tegangan analog menjadi informasi digital. ADC yang
digunakan disini merupakan ADC 10 bit artinya ADC ini
akan menghasilkan bilangan 0 sampai dengan 1023 untuk
mewakili tegangan analog yang terbaca.
Untuk keperluan pencacah biner, ATMEGA32
memiliki 3 buah timer yaitu timer/counter 0 yang besarnya
8 bit, timer/counter 1 yang besarnya 16 bit, dan
timer/counter 2 yang besarnya 8 bit. Timer 1 digunakan
untuk menghitung jumlah pulsa yang dihasilkan oleh
osilator.
Mikrokontroller juga dirancang untuk mengeluarkan
outputan tegangan berupa Pulse Width Modulation (PWM)
yang dinyatakan dalam duty cycle. PWM ini merupakan
outputan dari kontroller untuk mengatur suhu heater.[7]
F. Kontroler PID
Sistem kontrol Proportional – Integral – Derivative
(PID) adalah kontroler yang digunakan untuk menentukan
ketepatan suatu sistem instrumentasi dengan apa yang
diinginkan pengguna dengan karakteristik adanya umpan
balik pada sistem tersebut (feedback).
Sistem kontrol PID terdiri dari tiga buah kontroler,
yaitu kontrol P (Proportional), D (Derivative), dan I
(Integral), dengan masing-masing memiliki kelebihan dan
G. Solid State Relay (SSR)
SSR adalah sebuah perangkat semikonduktor yang
dapat digunakan menggantikan relay mekanik untuk
menghubungkan arus listrik ke beban. SSR biasanya
mempunyai kemampuan mengisolasi listrik beberapa ribu
volt antara kontrol dan beban. Karena isolasi ini, beban
sendiri hanya diberi power dari switch line dan hanya akan
terhubung apabila ada kontrol sinyal yang mengoperasikan
relay.
SSR berisi satu atau lebih LED di input (drive). Input
ini menyediakan kopling optik sebuah phototransistor atau
photodiode array, yang pada gilirannya menghubungkan
ke sirkuit driver yang menyediakan sebuah interface ke
perangkat switching atau perangkat pada output. Perangkat
swithing biasanya MOS-FET atau TRIAC.
Dalam sebuah perangkat solid-state relay, tidak ada
perangkat yang akan menjadi aus karena pergerakan
kontak/gesekan , dan mereka mampu menghidupkan dan
mematikan jauh lebih cepat daripada angker relay
mekanik. Tidak ada memicu antara kontak, dan tidak ada
masalah dengan korosi kontak yang ada[9].
H. Motor Induksi
Motor induksi, merupakan motor listrik bolak-balik
yang bekerja berdasarkan induksi medan magnet antara
rotor dan stator.
Motor induksi bekerja berdasarkan induksi
elektromagnetik dari kumparan stator kepada kumparan
rotornya. Garis-garis gaya fluks yang diinduksikan dari
kumparan stator akan memotong kumparan rotornya
sehingga timbul tegangan induksi dan karena penghantar
kumparan rotor merupakan rangkaian yang tertutup, maka
akan mengalir arus pada kumparan rotor. Kumparan rotor
yang dialiri arus ini berada dalam garis gaya fluks yang
berasal dari kumparan stator sehingga kumparan rotor
akan mengalami gaya Lorentz yang menimbulkan torsi
yang cenderung menggerakkan rotor sesuai dengan arah
pergerakan medan induksi stator. Pada rangka stator
terdapat kumparan stator yang ditempatkan pada slotslotnya yang dililitkan pada sejumlah kutup tertentu.
Jumlah kutup ini menentukan kecepatan berputarnya
medan stator yang terjadi yang diinduksikan ke rotornya.
Makin besar jumlah kutup akan mengakibatkan makin
kecilnya kecepatan putar medan stator dan sebaliknya.
Kecepatan berputarnya medan putar ini disebut kecepatan
sinkron [10].
4
I. Gambaran Umum Sistem
Cara kerja sistem diawali dengan penentuan set point
kadar air dan suhu. Kemudian sistem dinyalakan dengan
cara menghidupkan semua komponen sistem. Pada saat
sistem aktif, sensor kadar air mulai membaca nilai kadar
air gabah dan sensor suhu mulai membaca suhu udara yang
masuk. Sensor kadar air tidak langsung dibaca oleh
mikrokontroller tetapi terlebih dahulu dirubah besarannya
menjadi besaran frekuensi oleh osilator. Frekuensi ini
kemudian dihitung didalam mikrokontroller untuk
menentukan kadar air gabah. Suhu udara yang masuk,
dijaga agar sesuai set point. Pada saat sistem aktif, sensor
kadar air akan terus membaca nilai kadar air gabah. Sistem
akan mati saat sensor kadar air mendeteksi bahwa gabah
sudah kering dengan nilai kadar air gabah sesuai set point.
Berikut diagram blok sistem secara umum,
K. Perancangan Perangkat Lunak
Perancangan perangkat lunak terdiri dari program
untuk pembacaan sensor dan program untuk kontrol.
Gambar 9. Diagram blok pembacaan sensor kadar air
Gambar 10. Diagram blok pembacaan sensor suhu
Proses kontrol sistemnya digambarkan melalui
diagram blok berikut,
Gambar 11. Diagram blok kontrol sistem
Gambar 7. Diagram Blok Sistem
J. Perancangan Perangkat Keras
Proses kontrol sistem diawali dengan penentuan set
point kadar air gabah yang ingin dicapai. Setpoint ini
kemudian akan dihitung selisihnya dengan pembacaan
aktual dari sensor kadar air untuk mendapatkan error. Dari
nilai error ini, masuk kedalam kontroller P untuk
mendapatkan setpoint suhu dalam derajat celcius.
Kemudian akan dicari selisihnya terhadap pembacaan
aktual sensor suhu untuk mendapatkan error suhu. Error
ini kemudian akan masuk kedalam kontroller PID.
Outputan dari kontroller PID ini berupa pulsa PWM yang
digunakan untuk mengontrol panas heater. Dari proses ini
dihasilkan suhu heater yang terkontrol. Proses ini akan
berjalan terus menerus sampai didapatkan gabah dengan
kadar air sesuai set point secara otomatis.
III. HASIL PENGUJIAN
A. Pengujian Sensor Kadar air
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui nilai
frekuensi yang dihasilkan osilator berdasarkan pembacaan
sensor kadar air terhadap kadar air gabah.
Gambar 8. Diagram blok perangkat keras sistem
perangkat keras sistem terdiri dari blower untuk
memasukkan udara dari luar masuk ke tabung pengering
dimana gabah diletakkan. Heater sebagai komponen
penghasil panas, sensor suhu untuk mendeteksi suhu udara
panas yang masuk ke tabung pengering. Didalam tabung
pengering terdapat sensor kapasitif untuk mendeteksi
kadar air gabah. SSR digunakan untuk mengaktifkan
heater, blower, dan motor
penggerak melalui
mikrokontroller.
Gambar 12. Skematik rangkaian osilator CD4046B
Terdapat dua sensor kadar air yang diuji dalam
penelitian ini yaitu sensor kapasitif plat sejajar dan sensor
kapasitif silinder sejajar.
5
Hasil pengujian sensor kapasitif silinder sejajar
ditunjukkan oleh tabel 2
Tabel 2. Data hasil pengujian sensor kapasitif silinder sejajar
Gambar 13. Sensor kapasitif plat sejajar tampak atas
Spesifikasi sensor kapasitif plat sejajar memiliki
panjang plat 12 cm, tebal plat 7 mm, tinggi plat 3,9 cm,
jarak pemisah antar plat 2cm, plat ditutup dengan bahan
teflon berwarna putih.
Pengujian dilakukan dengan cara membandingkan
antara kadar air yang terbaca pada grain moisture meter
MD7822 dengan nilai frekuensi osilator berdasarkan
pembacaan sensor kapasitif terhadap kadar air gabah yang
ditunjukkan pada tabel 1.
Kadar
Air
(%)
Range Frekuensi (Hz)
Frekuensi Rata Rata (Hz)
14
595955 - 596221,8
596088,4
15
570538,4 - 571329,2
570933,8
22
535763,4 - 537572,5
536668
30
434333,4 - 436773,8
435553,6
Dari data pada tabel 2 kemudian dilakukan proses
linierisasi untuk mendapatkan persamaan yang digunakan
untuk mendekati nilai kadar air berdasarkan frekuensi
output osilator.
Gambar 14. Penggunaan MD7822
Tabel 1. Data hasil pengujian sensor kapasitif plat sejajar
Kadar
air
(%)
14%
Range Frekuensi
(kHz)
Frekuensi ratarata (kHz)
681,466 - 688,247
684,8565
15%
674,112 - 680,845
677,4785
16%
655,037 - 669,713
662,375
17%
671,786 - 681,755
676,7705
18%
633,891 - 648,491
641,191
20%
618,067 - 618,067
618,067
21%
591,163 - 606,129
598,646
22%
573,487 - 573,487
573,487
23%
562,534 - 589,264
575,899
26%
556,42 - 570,955
563,6875
27%
554,057 - 567,476
560,7665
32%
464,377 - 510,867
487,622
Spesifikasi sensor kapasitif silinder sejajar yang
diuji terbuat dari bahan aluminium, memiliki panjang 17
cm, diameter silinder masing – masing 8 mm, antar
silinder dipisahkan jarak sebesar 1,5 cm, dan memiliki
nilai kapasitansi 80, 5 pF.
Gambar 15. Sensor kapasitif silinder sejajar
Gambar 16. Grafik linierisasi data sensor kapasitif
Dari grafik yang ditunjukkan pada gambar 16
didapatkan persamaan
Frekuensi (Hz) = -9330*kadar air + 723750
Atau
Kadar air (%) =
(4)
(5)
Untuk mengetahui nilai kapasitansi sensor terhadap
kadar air dilakukan pengujian menggunakan LCR meter.
Hasil pengujian ditunjukkan pada tabel 3.
Tabel 3. Data kapasitansi sensor terhadap kadar air
Kadar Air
Gabah (%)
Kapasitansi
Sensor (pF)
24
171,3
22,5
122,8
19
112,2
18,5
111,5
17
104,7
16
101,3
15
97,3
14
94
6
Kemudian dilakukan linierisasi untuk mendapatkan
persamaan yang digunakan untuk mendekati nilai
kapasitansi sensor terhadap kadar air gabah yang
ditunjukkan pada gambar 17.
Tabel 4. Data hasil pengujian sistem keseluruhan
Terlihat pada tabel 4 bahwa sistem telah mampu
mengeringkan gabah basah menjadi gabah kering dengan
kadar air maksimum gabah 14%. Dari tiga kali pengujian,
terlihat bahwa pada pengujian awal, sistem membutuhkan
waktu yang sangat lama untuk dapat mengeringkan gabah.
Hal ini disebabkan karena kadar air awal gabah pada
pengujian pertama ini lebih tinggi dibandingkan dua
pengujian berikutnya.
IV. KESIMPULAN
Gambar 17. Grafik linierisasi kapasitansi sensor terhadap kadar air gabah
Kapasitansi (pF) = 6,5038 x kadar air (%) – 3,8808
(6)
B. Pengujian Heater
Pengujian heater dilakukan dengan memberikan
sinyal unit step pada sistem dan melihat responnya.
Pengujian ini diperoleh parameter-parameter PID Kp = 35,
KI = 9, KD = 3.
Pada penelitian ini telah dibuat suatu alat pengering gabah
yang menggunakan sensor kapasitif dan kontrol PID untuk
mengendalikan suhu heater. Sensor kapasitif yang dibuat
telah mampu mengukur kadar air gabah dari 12 % sampai
35%. Hubungan antara tingkat kadar air gabah dengan
frekuensi output osilator adalah berbanding terbalik,
dimana semakin tinggi kadar air gabah akan menghasilkan
frekuensi sinyal output osilator yang semakin rendah. Suhu
tabung pengering dijaga sebesar 90oC. Dari hasil pengujian
menunjukkan bahwa sistem ini telah mampu
mengeringkan gabah dari kadar air 35% menjadi 14%
dalam waktu 140 menit secara otomatis.
V. DAFTAR PUSTAKA
1.
Gambar 18. Grafik pengujian PID pada heater
C. Pengujian sistem keseluruhan
`Pada tahap ini dilakukan pengujian sistem secara
keseluruhan dengan menerapkan kontroller pada sistem
untuk mendapatkan kadar air gabah maksimum 14%.
Gambar 19. Perangkat keras sistim keseluruhan
Instruksi presiden Republik Indonesia nomor 3 tahun 2012 Tentang
Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras Oleh
Pemerintah .
2. Datasheet LM35,National Semiconductor,Inc.2000.
3. Bell, David (1981). Solid State Pulse Circuits.Virginia : Reston
publishing.
4. Baxter, Larry., “Capasitive Sensors Design and Application”,
IEEE Press, New York, 1997.
5. Carr, Josep (1993). Sensors and Circuits.New Jersey : Prentice Hall
6. Datasheet 4046, Texas Instruments, Inc.2003.
7. Datasheet ATMEGA32,Atmel,Inc.2006
8. Ogata.
Katsuhiko.,”Teknik
Kontrol
Automatik”,Erlangga,
Jakarta,1996
9. Purnama. Agus, “Solid State Relay”, <URL: http://
http://elektronika-dasar.web.id/artikel-elektronika/kelebihan-dankekurangan-solid-state-relay-ssr/>,2014.
10. Arif,
Alpin.,
“motor
AC”,
<URL:
http://blogs.itb.ac.id/el2244k0112211077alpinarief/2013/05/02/moto
r- ac/>,2014.
Download