Intelektual, Modal dan Negara di Indonesia: Faktor

advertisement
Studi Politik Edisi 1, Vol.
I, N0.1, 2010
Intelektual, Modal dan Negara di Indonesia:
Faktor-Faktor yang Menkondisikan
dan Implikasinya
M. Fajar
Penulis adalah staf pada Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID)
',
Abstract
"Reformesi" era, there are hvo factors determine how relations omong
intellectual, capital and stqte are formed. Structurally, the first factor is about state's
seeking effort of the drive to loo(< for. political legitimacy tion by the state, and the
second is aboutthe influence of neoliberqlism. Both coses show us thatit cqnbe traced on
relations qmong between Bokrie Group-Freedom Institute-State and relations between
Asian Agri-university basedcollege intellectuql. First, intellectual group (community) are
affirmating bourgeoisie behaviour, with liberqlism as their medium. The second case
still show us that intellectuql community are supporting claims of truth in the low fteld
thr ough r es ear ch pr oj ects.
ln Indonesia's
lntelle ctual,
C
apital, State, N e olib
er
alism, C apitalism.
Dalam pengalaman relasi intelektual, modal dan negara pada era Reformasi, terdapat
dua faktor yang mempengaruhi bagaimana relasi tersebut terbentuk. Secara struktural,
faktor pertar-na ialah dorongan pencarian legitimasi politik oleh negara dan faktor kedua,
pengaruh neo-liberalisme. Dua kasus yang menunjukkan relasi tersebut dapat dilacak
pada kasus Kelompok Bakrie-Freedom Institute-negara dan relasi Asian Agri-intelektual
kampus. Pada kasus pertama, kelompok intelektual mengafirmasi perilaku kelas borjuis
dengan perantara ideologi liberalisme. Sementara kasus kedua menunjukkan kelompok
intelektual yang mendukung klaim-klaim kebenaran dalam ranah hukum lewat kerjakerja penelitian.
Kata
inteleletuql, modal, negqr a, neo -liber qlisme, kapitalisme
e
Baru,
dimana
poHtik
terbuka lebih luas unfuk masyarakat, yakni
fase'Transisi demokrasi'. Dua halyangperlu
ditekankan di sini. Pertama, "transisi" tidak
berarti dengan sendirinya seluruh sifat dan
kondisi yang membentuk otoritarianisme
Orde Baru hilang. Mengkoreksi dilrtum
Marx 'all that solids melts into the air",
peralihan ke era demolrrasi justru masih
a-,
I
meninggalkan watak otoritariannya.
Kedua, kondisi otoritarian yang masih
bertahan ini ternyata mempengaruhi
kelompok-kelompok (ama maupun baru)
yang berada di dalam era reformasi dengan
dampak yang berbeda-beda.
Salah satu yang merasakan dampaknya
ialah kelompok intelektual.' Sudah sering
I Daoiel Dhfidae
dengan menggunakan istilah
cendekian-an. mendefinisikannya sebagai "...senan-
M. Faiar, Intelektud. \todel dm \egara
dibicarakan bahwa intelektual pada masa
Orde Baru meruPakan sebuah
Posisi
sosial yang ditempa oleh kekuatan negara
dan modal. Beberapa studi terkemuka
menunjukkan hal tersebut.' Intinya,
mereka menyimpulkan kalau intelektual
Indonesia masa Orde Baru sulit lepas dari
modal. Modal
kerja akademis
bahkan afiliasi
politiknya.
'
Sebenarnya, kaum intelektual dapat
dan agen yang Penulis adoPsi
dari
Menurutnya,
Archer.'
pendapat Margaret
struktur dan agen harus dianalisis dalam
tiga momen utama Yang bersilangan
dengan variabel ruang dan u'aktu.
Pertama, momen dimana strulrtur dan
kultur mengkondisikan tindakan agen
(structural conditioning) . Kedua, momen
dimana pengkondisian itu melahirkan
jenis interaksi tertentu antar-agen (sociocultural interaction). Terakhir, output
interaksi antar-agen berupa perluasan
struktural ktructurql elaboration) dalam
bentuk reproduksi atau transformasi
struktural.
Sejalan dengan Penjelasan Archer,
bagian pertama tulisan ini akan membahas
pengkondisian historis-struktural yang
terdiri dari faktor pencarian legitimasi
oleh negara dan Pengaruh
neo-
liberalisme. Bagian kedua, penulis akan
modal di Indonesia era Reformasi. Contoh
akan diambil dari kasu s Freedom Institute
(FD dan perseteruan Tempo -PT AsianAgri
yang melibatkan lembaga penelitian. Dua
kasus ini dipilih karena rentang pengaruh
modal yang berbeda. Satu kasus melintas
wilayah negara, bisnis dan masyarakat
sipil (kasu s Freedom Institute), sementara
kasus lainnya mencakup wilayah bisnis
dan universitas, suatu wilayah yang
kerap diasosiasikan sebagai tempat
intelektual bermukim. Keduanya memiliki
potensi munculnya kontradiksi peranan
intelektual dan hubungannya dengan
akumulasi modal.
Kerangka penulisan tulisan ini dibagi
berdasarkan logika hubungan struktur
tiasa terlibat di dalam apa yang disebut sebagai speech
2 Dhukidu. menjelaskan relasi ini delga-n cukup baik
dalam C ende k iaw an dan Ke kaasaan.
Ibid'
menggambarkan kasus FI dan Asian Agri,
serta peranan intelektuai di dalamnva'
Bagian ketiga adalah penelusuran penulis
terhadap dampak kasus FI dan -'a<!ar
Agri terhadap strukfur modai-inie^ekua^Terakhir, bagian kesimPulan
-
Pengkondisian Historis-S tmkrural
A.Pencarian Legitimasi Politik
Masih terbukanya potensi dominasi
modal terhadap kelompok intelektual
bukanlah berlangsung tanpa sebab.
Terdapat beberapa faktor historis-
Studi Polirik Edisi 1, Vol.
I,
No.t, 2010
struktural yang
mempengaruhinya.
Pada era Orde Baru, modal berkembang
mengikuti jalur yang dibuat oleh negara.
Hal ini bukanlah tanpa alasan. Saat
kolonialisme tidak memproduksi kelas
borjuasi yang tangguh, maka inisiatif
pembangunan terpaksa diambil alih
oleh negara.n Kegagalan kebijakan
ekonomi Orde Lama, yang ditandai
dengan melonjaknya angka inflasi
(hiperinflasi) dan infrastruktur yang
minim, mengakibatkan negara Orde Baru
mengambil inisiatif untuk memegang
kendali atas pembangunan.
Setelah percobaan kudeta 196b.
pembantaian anggota dan simpatisan
Partai Komunis Indonesia (pKD,
pelarangan
4 Untuk
ideologi
Marxisme.
penjelasan klasik, terutama dalam konteks
fuia Tenggara, lihat yoshihara
Kurrio. (1??1. Knpitalisrne Sernu Asia Tenggara.
[akarta: LP3ES). Hlm 3-5.
negara-negara
Komunisme dan Leninisme; kebijakan
pembangunan Indonesia berbalik arah
menuju ideologi liberalisme. Berbeda
dari rezim Orde Lama yang berkiblat
pada bantuan ekonomi Uni Soviet, kali
ini pembangunan hampir sepenuhnya
mengandalkan bantuan dari negaranegara Blok Barat.u Tidak hanva dari
segi modal, tetapi juga melalui pengaruh
pemikiran modernisasi dan liberalisme
M.Fajag Intelektual, llodal dan \egara
yang diadopsi oleh rezim pembangunan
Orde Baru.u
Dalam proses demikian,
negara
memerlukan segala dukungan politik
untuk melindungi
pembangunan
ekonomi. Kerap disinggung kalau
proses ini menjadikan ekonomi sebagai
panglima dan politik sebagai persoalan
sekunder. Maksudnya, politik dianggap
tidak penting jika inisiatif politik datang
dari masyarakat. Hanya partisipasi yang
menguntungkan atau sejalan dengan
pembangunan-lah yang diizinkan.
Salah satu contohnya adalah upaya
penyederhanaan partai politik (Golkar,
PPP dan PDI) atau strategi korporatisme
untuk merangkul sebanyak mungkin
kelompok-kelompok di masyarakat
sebagai bagian dari negara, termasuk
kelompok intelektual.
Secara khusus, manifestasi strategi
korporatisme' Orde Baru pada kelompok
6 Herbert Feith. Reprusiue-Dealopnrentalist
Regimes
in Asia: Old Strengtbs, New Vulnerabilities. Dalam
PRISMA No 19, Desember 1980
7
Banding'kan misalnya dengan penjelasan Huntington mengenai absorbsi kekuatan politik. Ia
mengemukakannya dalam kerangka relasi sistem
politik dengan kekuatan politik eksternal. Relasi
tersebut menentukan otonom-tidaknya suatu sistem
politik. Pada sistem politik yang maju, derajat
otonomi lebih tinggi daripada sistem politik pada
politik yang lebih
maju mampu mengurangi atau bahkan meniadakan
efek penggunaan kekerasan dalam sistem. Huntington
neg-ara berkembang karena sistem
melanjutkan dengan mengkaitkannya pada perubahan
sosial. Saat sistem politik berada di tengah perubahan,
maka terdapat pula kecenderungan munculnya
kelompok-kelompok baru yang berpartisipasi dalam
politik. Saat suatu sistem politik tidak memiliki
otonomi, kelompok ini masuk ke dalam proses politik
tanpa mengikuti aturan dalam sistem tersebut. Dalam
kasus Indonesia bukan hal ini yang terjadi karena
bukan semata-mata pengaruh dari sistem politik,
tetapi perkembangan ekonomilah yang menarik
kekuatan politik untuk masuk ke dalam negata.
Efek penguatan sistem politik melalui penrbahan
di sistem ekonomi iustru meniadi fakor penarik
potel
memperebutkan posisi di
dalam negara. Untuk penjelasan mengenai pemikiran
mengapa kekuatan
Huntington dapat dilihat pada Samuel P Huntington.
(197 5). Political Ord,er
in Changing Societies. Bombay:
Vakils, Feffer & Simons Private ltd. Hlm 22.
intelektual
transformasi
intelektual menjadi teknokrat. Guna
mendukung argumen ini, dapat diambil
contoh kelompok Mafia Berkeley',
sekelompok ekonom lulusan Universitas
tserkeley yang menjadi penasihat
ekonomi Soeharto dengan halauan utama
ideologi liberalisme ekonomi. Keiompok
ini mengikuti model pembangunan
negara-negara Blok Barat dan mengacu
kepada teori-teori modernisasi sepeni
yang dikemukakan oleh Rostow.e Dalam
model ini, perkembangan menuju
masyarakat modern dapat dicapai dengan
meningkatkan jumlah modal. Vadasinr-a.
pandangan ini juga menekankan perlunr-a
mentalitas modern masyarakat ] ang
sesuai dengan kebutuhan pembangunan.
adalah
misalnya
pengutamaan rasio da::
perhitungan dalam mengambil seijai
tindakan.
Pelaksanaan program pembanguna:l
Orde Baru sangat terbanru dengar
kenaikan harga minyak dunia pad.a
periode I973-L982. Penl'ebab oa:-mengalirnya rejeki minyak ini berada o:
Timur Tengah. Konflik antara Israel dan
negara-negara Arab pada Perang Yomm
Kippur berhasil menggalang solidaritas
negara-negara Arab yang tergabung
dalam OPEC. Bentuk dari solidaritas
8 Otung-ot"ng yang termasuk generasi pertama kelompok ini adalah Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana,
JB Sumarlin, Emil Salim dan Mohammad Sadli.
Kelompok ini muncul sebagai konsekuensi kebij akan
donor asing (Ford Foundation) di
Indonesia
pasca jatuhnya Soekarno untuk menyekolahkan
mereka agar dapat menjadi tulang pungg-ung
kebiiakan ekonomi pasca rezim Soekarno. Untuk
penjelasan tentang kelompok Mafia Berkeley ini,
lihat Alexander Irwan, "Institutions, Discourses and
Conflicts in Economic Tltought," dalam Vedi Hadiz &
Daniel Dhakidae. (2005). Social
Indonesia. Singapore: ISEAS.
Sciences and Power
Hlm
42 -43
in
.
9 Menurut Lwan, pembagian aliran pemikiran ekonomi
ini tidak bisa dilepaskan dari bagaimana suatu
pemikiran sudah sampai ke tahap intitusionalisasinya.
Saat tahap ini sudah dicapai, maka pemikiran tersebut
telah mencakup statusnya sebagai ide dan praktik
sekaligus posisi strukturalnya. Lebih lengkapnya
lihat Alexander Irwan. Ibid. HIm 51.
Studi Politik Edisi
t, Vol. I, N0.1, 2010
tersebut ialah mereka
menaikkan
harga minyak sehingga negara-negara
pengimpor minyak rnengalami kesulitan.
Bagi negara pengekspo4 konflik politik
itu merupakan berkah. Sebagai salah satu
negara pengekspor rninyak, Indonesia
mengalami lonjakan penerirnaan nninyak
yang cukup signifikan. Tahun lg70
trndonesia mengalami peningkatan ekspor
minyak sebesar hampir 40% dan tahun
1975 hidrokarbon menyurnbang 70"h d,ari
total ekspor Indonesia, dan puncaknya
pada tahun 1981 saat kontribusinya
mencapai hampir 80%. Angka
perturnbuhan ekonorni trndonesia pun
mencapai 7'/" dan hanya sekali mengalarni
penurunan di bawah 6% dalam periode
n967-1981.10 Membengkaknya kas negara
pada periode boom minyak membuat
negara begitu leluasa berinvestasi di
segala bidang, yang berarti rnenopang
ideologi pembangunanisme, sernbari
tetap mempertahankan represi terhadap
oposisi politik."
Dalam kondisi ini,
peranan
teknokrat liberal adalah membantu
mengoperasionalkan ideologi liberalisme
dan modernisasi dalam kebijakan
pembangunan" Dalarn perjalanannya,
para teknokrat liberal ini
memiliki
teknokrat
Orde tsaru lainnya. Berdasarkan paham
ekonominya, perseteruan itu timbul
ke permukaan antara teknokrat liberal
dengan teknokrat nasionalis'" yung
perseteruan dengan
faksi
l0Philip Barnes.
!!,:r9,.
Hlm 20.
l
Ind.onesia: The political Economy of
(Oxford: Oxford University Press, 1995).
lHerbert Feith menyebutnya sebagai *rezim
pembanzunan represif'. Lihat Herbert Feith.
Repressit'e-Deit/optnentalist Regirues in Asia: Ot(l
Stt'englts, l:eiL' Vuhrernltilities. Dalam PRISMA No
19, Desernber 1980.
semakin mernperlihatkan pengaruhnya
dalam rnenentukan kebi.jakan ekonomi
nasional. Bila faksi teknokrat liberal
berhasil mendorong liberalisasi secara
luas" pada dekade 1g80-an akibat
desakan penerimaan rninyak yang rnakin
ntrenurun, faksi teknokrat nasionalis
berusaha mernpertahankan intervensi
negara lewat konsesi monopoli yang
diberikan negara. Persaingan kedua faksi
teknokrat ini pada akhirnya menghasilkan
era keterbukaan yang secara prosedur
bercorak liberal, tetapi dalarn praktiknya
masih mengizinkan intervensi negara.
Pada contoh ekstrimnya,
karakter
intervensionis justrul ditunggangi oleh
kepentingan koruptif kroni-kroni dan
lingkaran keluarga Soeharto.'*
Apa yang dapat dikatakan dari
berkumpulnya intelektual di sekitar
negara adalah pembentukan pola dimana
selain aparatus militer dan birokrasi yang
menjaga halaman kekuasaan Orde Baru,
kaurn teknokrat juga dibutuhkan untuk
merubah sesuatu yang teoritis menjadi
13
ini dimulai dari tahun
19g3
gram seperti mobilisasi modal
derhanaan sistem perpajakan
impor terhadap
32eti:{i,'f,ff;, ltrnnt8,
impor terhadap 548 jenis barang (1987),
;:j:f:i
akses bebas
terhadap kepemilikan asing (1987), kesempatan
asing (1988),
dan merger pe
din Djafar.
Re
takaJaya,2006
l4Pitrto masuk bagi krom
ke sektor bisniJdilakuk
mempertahankan kontr
terhadap restrukturisasi,
sektor monopoli
ti
negara
manufaktur dan proyek
membentuk aliansi bisnis
kapitalis Cina dan investor
ur ke modal asing dan
akan sektor perbankan
s jangkauan bisnis mereka
menyerahkamila pada mektrnisme pasar. Lihat
Inlan. Op. cit. Hlm -i3-4-i.
Alexander
. Richard Robison & Vedi
Power in Ind.onesia: Tbe
Age of Marker. London:
3-7 4.
il
M.Fajag Intelektual, Modal dan Negara
ft
fl
B. Pengaruh (Neo) Liberal
Fengkondisian relasi intelektualmodal juga berhubungan dengan
penganuh neo-liberal. Krisis finansial
ketika itu (1998) mernperlernah posisi
reztm terhadap oposisi politik dan
segera rnengungkap realitas buruknya
kinerja ekonomi rezirn" Pengelolaan
pernbangunan yang buruk di masa
Orde tsaru terasa efek sampingnya
saat otoritas negara di tahun 1998
goyah oleh krisis. Di tengah-tengah
krisis ekonomi, lembaga multitrateral
t
seperti IMF dan Bank Dunia mendesak
diterapkannya agenda liberalisme
sebagai resep mengatasi krisis
ekonorni. Melalui Letter of Intent (I-oI)
trndonesia diharuskan menerapkan
program-progranl yang memaksa
negara mengurangi intervensi pada
kornoditas-komoditas vital. Hai ini
dilakukan dengan mencabut subsidi
dibeberapa sektor penting seperti
' Bahan Bakar Minyak @BM) dan
, kebutuhan pokok.
: Akselerasi agenda neo-liberal
I di Indonesia berlangsung dengan
menumpang pada kesepakatan
. antara keduanya, program IMF dan
, pemerintah Indonesia. Konsensus
.: pefiamamunculdalarnpaketkebijakan
I
pertama pada bulan November 1997.
Bentuk implementasi dari kebijakan
.,,,1 ini adalah penutupan 16 bank swasta
. I yangdinilai tidak mampu nxenghadapi
badai krisis finansial.
Konsensus
j kedua muncul pada pertengahan
teknis dan kemudian
preskriptif.t5
Kedekatan antara intelektual dengan modal
dan negara kemudian direplikasi dalam
berbagai bentuk yang kemudian menjadi
semacam praktik yang wajar dilakukan.
Pembentukan kultur inilah yang masih
bertahan sampai era Reformasi.
iSlgnas Kleden, "Model Rasionalitas Teknokrasi",
dilam Ignas Kleden. (1987). Sikap Iltniab dan Kritik
Kebud,nyaan. J akarra: LP3ES. Hlm 101.
bulan Januari 1998. Bentuk konkrit
konsensus kedua adalah independensi
yang lebih besar kepada Bank Indonesia
(BI), penarikan privilise pajak terhadap
proyek mobil nasional (rnobnas) milik
anak dari Presiden Soeharto, yaitu
Tommy Soeharto, penghilangan kartel
semen, kertas dan kayu lapis, penarikan
privilise kredit dan dukungan budget
negara atas Industri Pener bangan dan
Teknologi Negara (IPTI.{), penghilangan
Studi Politik Edisi 1, Vol.
I, No.l, 2010
larangan disektor ll n _L _ _ -.,_
tidak sebesar dua
retait, penghilan;;; SebenornYa, demokroftsosl tidok sektor sebelummonopoli industri sepenuh nYa membeboskon mosyara- f,ya,, tetapi men-
komoditi seperri to
bulan Maret
ori tekqnqn elit. Dolqm ber- jadi lima besar dari
onloh, kekuoton politik don sektor yang paling
banyak memberiru fposco Reformosi) ternyo- kan penerimaan
mosih memainkctn perannyo ber- dari privatisasi."
Iogiko potron-klien seperfi
Hubungan konpodo
sensus
neo-liberal
teriodi
moso sebepy
1998.
sempat
terjadi
perdebatan antara pemerintah dan IME
Pemerintah menginginkan peranan
Bulog sebagai pemberi subsidi pada
barang kebutuhan pokok impor tetap
dipertahankan. Menyetujui hal tersebut,
IMF menukarnya dengan keharusan
pemerintah untuk mendivestasikan s aham
enam perusahaan milik negara, privatisasi
tujuh perusahaan negara lainnya dan
menghilangkan monopoli. Tiga konsensus
ini kemudian menjadi dasar dari pengaruh
neo-liberal di Indonesia era Reformasi.
Khusus mengenai program privatisasi, beberapa kasus menunjukan kecende
rungan yang mengarah pada pengorga
nisasian negara neo-liberal. Hal itu dapat
dilihat pada kasus privatisasi sektor-sektor vital perekonomian Indonesia. Sampai
tahun 200I, selrtor perbankan merupakan
penyumbang terbesar penerimaan privatisasi dengan jumlah Rp. 64.169 miliar dan
total aset sebesar Rp. 475. 361 miliar. Sektor lain yang menyumbang cukup banyak
terhadap privatisasi adalah energi. penerimaan dari sektor ini mencapai Rp. 33.491
miliar dengan total aset Rp 83.823 miliar.
Sektor lainnya seperti telekomunikasi,
penerbangan dan asuransi menyumbang
di atas dengan demokratisasi adalah
bahwa demokratisasi ternvata membawa konsekuensi tersembunyi. Disatu
sisi, demokratisasi memang membuka
lebih luas ruang-ruang partisipasi politik
dibanding masa Orde Baru. Dulu kegiatan
politik selalu berada dalam pengawasan
aparatus negara. Sekarang, aktualisasi
kepentingan dari kelompok-kelompok di
masyarakat bebas untuk muncul. Namun,
pada sisi yang lain, demokratisasi juga
disertai oleh kepentingan neo-liberal yang
berlangsung di sekitar lingkaran rezim demokrasi."
Sebenarnya, demokratisasi tidak
sepenuhnya membebaskan masyarakat
sipil dari tekanan elit. Dalam berbagai
contoh, kekuatan politik dan bisnis
baru (pasca Reformasi) ternyata masih
memainkan perannya berdasarkan logika
patron-klien seperti halnya yang terjadi
pada masa sebelumnya.ls perbedaannya,
liberalisme saat ini sudah menvertakan
kebebasan politik, disamping juga
l TTotry Prasetianton o. Political
Economy of Priaatisatiott
of State-Owned Enterprises in Indoiesia. Dalam M
Chatib Basri & Pierre Van Der Eng. (2004). Business
in Indonesia: New Cballengu, Old Problems. pasir
Panjang: ISEAS. IJlm 144.-
l8Richard Robison. What Son
and. Ne o - L ib era I A gend, as
Kinnvall
of Democraw? pred,atott,
e s i a. D alam Catarini
in In ion
& Krisiina Jonsson. Q002).
and. Democratization in Asia.
Roudedge. Hlm 93.
Globalization
London & New York:
lgPendapat
ini dapat diwakili oleh studi Robison dan
Hadiz. Lihat Richard Robison & Vedi R Hadiz.
Reorganising Power in Indonesia. Bab 2.
M. Fajar, Intelektual, Modal dan Negara
liberalisasi ekonomi.'o Sebagai bahan
pertimbangan, perlu diselidiki bahwa
liberalisasi politik secara struktural telah
membuka kesempatan sebuah kompetisi
yang tidak seimbang antata aktor-aktor
lama dan kelomPok-kelomPok Prodemokrasi sehingga memungkinkan
"pembajakan" demokrasi." Hal Yang
dikarenakan ketiadaan kekuatan politik
pro-demokrasi yang menguasai negara
sesaat setelhh Soeharto jatuh. Absennya
kekuatan potitik pro-demokrasi yang
menguasai negara berkontribusi terhadap
kemunculan liberalisme politik yang
memasukkan unsur kekuatan politik lama
maupun pro-demokrasi secara bersamaan
dalam sistem politik. Kondisi inilah yar'g
juga menjadi latar belakang bagi kasus FI
dan Asiqn Agri-lembaga penelitian.
Freedom Institute
(FI),
KelomPok
Bakrie dan Negara
Secara singkat, FI meruPakan
pertemuan kelompok intelektual dengan
kelas borjuis. Yang pertama diwakili oleh
kelompok intelektual "lingkaran Ohio"",
20Ktitik yang sama pernah terlontar saat periode
liberalisasi di perten
Bahkan pendapat itu d
sendiri.
sedangkan yang kedtla direpresentasikan
oleh kelompok Bakrie. Secara singkat,
kelahiran kelompok Bakrie dibidani
oleh Achmad Bakrie pada tahun 1942 di
Teluk Betung, Lampung. Awalnya mereka
berkonsentrasi di sektor perkebunan.
Dalam sejarah perkembangannya, unit
bisnis mereka mengalami kemajuan pesat
dan mencakup sektor Pertambangan,
infrastruktur dan telekomunikasi. Kinerja
kelompok ini sempat menurun, terutama
akibat imbas krisis regional kawasan Asia
Tenggara pada 1997. Seperti kebanyakan
konglomerasi lainnya, kelompok Bakrie
menumpuk hutang dalam jumlah besar.
Tercatat sampai dengan tahun 2004,
kelompok Bakrie masih memiliki hutang
sejumlah US$ I miliar. Kondisi tersebut
berbalik secara drastis pada tahun 2005.
Dari kondisi berhutang, kelompok Bakrie
membukukan keuntungan pada tahun yang
sama sejumlah Rp.267 miliar dan Rp. 223
miliar secara berurutan." Pada saat yang
sama, Aburizal Bakrie terpilih menjadi
Menteri Koordinator Perekonomian &
Perindustrian Menko Ekuin) dalam
Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Pertama'
Pada tahun 2001, FI terbentuk sebagai
hasit pertemuan antara
kelomPok
Pansestu
mengapa liberilisasi ini
setengah", terutama pad
Persamaannya
dengan
kalau
selalu
ranah
zulasi
Indonesia, lihat Mari Pangestu. Onll Hatf H"en'rted
Deregulation Dalam Ia L Chalmers & Vedi Hadiz.
(1997). The Politia
in
Indonesia: Conrcn
Routledse. Kritik
oolitik nlo-marxian I
Hadiz.Ibid Bab 2.
2
1
Istilah " pembajakan demokrasi" dipopulerkan oleh
lemb
demokrasi
alih oleh
Lihat A.E
rarg-umen bahwa
keadaan diambil
studi
kelas dominan.
ist et al' Q007).
Meniadikan Demokrasi Bennakna: Masalah dan Pilihan
di lidonuia. J akarta: DEMOS.
22Petryebotan lingkaran
Hlm
86-87
.
Ohio penulis adaptasi dari
23Bil1
Go..in. "Politics and Basiness
Asia Times,22 juli 2006.
Mix in Indonesia"
Studi Politik Edisi 1, Vol.
I,
No.1, 2010
intelektual lingkaran Ohio dengan
kelompok Bakrie. Relasi ini bisa
disimpulkan sementara, yakni pada awal
berdirinya, FI sangat tergantung dari
keberadaan kelompok Bakrie. Semenjak
awal berdirinya, FI melakukan sederet
program yang berorientasi p ada penguatan
diskursus liberalisme di ranah masyarakat
sipil dan akademis. Hal ini tidak lepas dari
orientasi intelektual para punggawanya.
Promosi nilai-nilai demokrasi liberal
dilakukan melalui kegiatan diskusi
tema-tema aktual, penerbitan buku
dan pemberian penghargaan terhadap
pencapaian dalam bidang ilmu sosial
maupun kesusasteraan."n Penghargaan itu
mengambil nama Achmad Bakrie Award,
merujuk pada pendiri kelompok Bakrie.
Signifikansi relasi FI dengan kelompok
Bakrie dapat dilihat dari beberapa segi.
Pertama, aksis antara poros negara dengan
civil sociely. Kedua, kesesuaian dengan
konteks demokratisasi. Secara vertikal,
relasinya dengan negara teraktualisasi
saat Aburizal Bakrie, pendiri dan
pendonor utama FI, masuk dalam Kabinet
Indonesia Bersatu Jilid Pertama sebagai
Menko Ekuin. Hal tersebut diperkuat oleh
kehadiran Rizal Mallarangeng sebagai staf
ahli Menko Ekuin saat itu. Penempatan
anggota FI dalam ranah negara dapat
diartikan sebagai potensi lobi yang cukup
kuat terhadap kebijakan negara yang
memanfaatkan jaringan yang merentang
dari wilayah masyarakat sipil sampai
negara.
Kedua, secara horizontal,
FI
merupakan organisasi yang memiliki
jaringan luas, terutama dengan sesama
organisasi yang berhaluan liberal, sesuai
dengan ideologi utama FI. Tercatat, FI
mempunyai karakteristik keanggotaan
dengan komitmen pada perkembangan
demokrasi liberal Indonesia.
2
4http, / / wrvw. fr
Pada
e e d o m - i n s ti tu te . o r g / i d / in d ex.
php?page=penghargaan diunduh pada 2 5 Desember
2010, jam 12.31
tingkatan individu, orang seperti Rizal
Mallarangeng ataupun Ulil Abshar
Abdalla adalah orang yang umum
diketahui aktif dalam promosi nilainilai demokrasi liberal dan pluralisme.
Sedangkan pada tingkat hubungan
antar LSM, FI berafiliasi dengan LSM
yang turut serta, pertama, dalam
pengembangan demokrasi, dan kedua,
tentu saja, berkarakteristik liberal,
misalnya Jaringan Islam Liberal (JIL),
Institut Studi Arus Informasi (ISAI), The
Indonesian Institute dan Komunitas Utan
Kayu.'u
Biografi individu anggota FI saling
bersilangan dengan keanggotaan dalam
afiliasi jaringan FI di atas. Misalnya,
Saiful Mujani, doktor ilmu politik dari
Ohio State University, yang
selain
tergabung dalam FI juga menjadi dewan
penasihat dari The Indonesian Institute.
Sedangkan persilangan jaringan FI
dengan LSM lainnya terwujud dalam
bentuk keanggotaan FI pada Pustq.ka
Bersama, sebuah gabungan perpustakaan
LSM yang bertujuan memudahkan penca
rian literatur sekaligus penyebaran penge
tahuan bagi masy arakat.
PT Asian Agri dan Intelektual Kampus
Aliansi modal dan intelektual pada
kasus PT. Asian Agri terbentuk saat
mereka memiliki persoalan hukum
dengan salah satu media terkemuka di
Indonesia, TEMPO. Pangkal masalahnya
berawal dari pemberitaan TEMPO yang
dianggap mendiskreditkan PT. Asian
Agri. Pemberitaan itu dimuat di majalah
TEMPO edisi 2l Mei-27 Mei 2007 yang
menjelaskan tentang bagaimana
Asian Agri melakukan
PT.
penggelapan
pajak. Hal ini diungkap TEMPO dengan
mewawancarai salah satu sumber dalam
Asiqn Agri, Vincentius Irawan, yang
justru ditetapkan statusnya sebagai
tersangka oleh kepolisian.
25 tbid.
M. Frjar, Intelektual, Modal dan Negara
Awal masalah dimulai
dengan
Asiqn Agri oleh
penggeledahan kantor
petugas pajak pada bulan Januari 2007
di daerah Duta Merlin dan kantot Asian
Agri di Jakarta dan Medan. Dalam
penggeledahan itu ditemukan bukti
penggelapan pajak yang merugikan
negara sebesar Rp. 800 miliar. Aksi
penggeledahan ini merupakan tindak
lanjut dari laporan Vincetius Irawan
mengenai 'penggelapan pajak Asian
Agri. Menurutnya, Asian Agri memakai
untuk melakukan
penggelapan, semisal membuat biaya
beragam modus
fihif, menjual Produk murah
perusahaan afiliasi
dan
ke
merekayasa
pembukuan.'u
Budi Irawanto melancarkan
Menanggapi pemberitaan tersebut,
Asion Agri menyewa jasa beberaPa
penetiti guna membuktikan kalau
berita yang ditulis oleh TEMPO telah
menyudutkan mereka. Para peneliti
iru berasal dari kampus terkemuka,
antara lain Wahyu Wibowo, peneliti
komunikasi dari Universitas Indonesia,
Hermin Wahyuni, doktor di bidang
komunikasi dari Universitas Gajah
\Iada dan Tjipta Lesmana, ahli ilmu
komunikasi Universitas Pelita Harapan.
Hasil penelitian mereka menyatakan
bahwa berita-berita yang ditulis oleh
TEMPO dianggap bias dan menempatkan
posisi Asian Agri dalam posisi bersalah
sepenuhnya terhadap kasus itu.
Menindaklanjuti hasil penelitian itu,
-{sian Agri bersama dengan lembaga
penelitian Veloxxe Consulting membuat
>-uatu seminar bertajuk "Menguak Misteri
Cibalik Tabir Berita 'Kasus Pajak Asian
-{gri' Pertaruhan Kredibilitas, Nama
Baik dan Objektifitas", di Hotel Sultan,
Jakarta, pada tanggal 18 Desember
2r107. Undangan menghadiri seminar
disebar melalui media berskala nasional
seperti Bisnis lndonesia,
Investor Daily, Kontan, Media Indonesia,
Rakyat MerdeL<.a, Sinar Harapan, Suara
Pembaruan, dan Wartq Kotq.
Dari seminartersebut, makabergulirlah
berbagai persoalan yang menyangkut
pemberitaan TEMPO terhadaP Asiqn
Agri. Konflik terj adi tidak terelakkan, dan
meletup pada masing-masing institusi
asal para peneliti tersebut. Misalnya saja,
di Universitas Gajah Mada, institusi asal
Hermin Wahyuni, perdebatan muncul
mengenai sah tidaknya penelitian itu
dari segi etikanya, mengingat Asian
Agri adalah perusahaan yang sedang
bermasalah secara hukum. Salah satu
dosen di Jurusan Komunikasi UGM,
Menurutnya, dikalangan dosen jurusan
komunikasi sendiri sudah ada beberapa
orang yang menolak untuk ikut serta
dalam penelitian itu karena alasan etis."
Tidak hanya itu, berbagai
elemen
masyarakat pun turut melakukan protes
terhadap pihak universitas yang dianggap
melindungi para peneliti Asian Agri.
Misalnya saja, aksi demonstrasi oleh
mahasiswa kepada pihak Universitas
Gajah Mada pada 26 Desember 2007.'"
Gabungan elemen tersebut menuntut
pihak universitas untuk mencabut hasil
penelitian pesanan yang disponsori
Asiqn Agri. Efek lanjutan dari penelitian
tersebut terlihat melebar dan menyeret
tidak hanya para penelitinya, tetapi juga
institusi lain seperti universitas dan
negara sebagai pihak yang seharusnya
menyelesaikan persoalan hukum dari
kasus tersebut.
27
IndoPos,
Hlm 104-112.
2007.
http, / / *ww. t e m p o in t e r akti f . c o m/h g/n a s i o n av 2007 / 12 / 2 | /brk,2007 122 | - | 13 9 5 3,id html, diunduh pada 25 Desember 2010 jam 10.18
28
l'5\trirlah rEMpo No. 13l)oo(v/21-27 Mei
Protes
terkait penelitian pesanan tersebut.
http, / / w\4r\4,.
t e m p o . c o . i d / h g / nu s a/ j aw am a d u t
tz
t
z
6
/brk,2 007 122 6 - | I +l 63,id html, diunr al I oo7
duh pada 25 Desember 2010 jam10.22
Sodi Politik Fdisi l, !bl.
I, No.l, 2010
(hrQut Interaksi Modal-Intelektual Era
Reformasi
Fenjelasan Teoritik
Menganalisis relasi negara-intelektualmodal dalam kasus FI dan Asian AgriLembaga Penelitian, penulis meminjam
argumen Nicholas Abercrombie. Ia
kalau eksistensi suatu
mode produksi perlu diperkuat
menyatakan
dengan . sokongan
ideologi. Misalnya
saja, perlunya ideologi
liberalisme
membenarkan praktik akumulasi modal
oleh kelas borjuis. Karena tidak mungkin
berlaku sebaliknya, yaitu mode produksi
kapitalisme yang dibenarkan oleh
ideologi komunisme yang mensyaratkan
kepemilikan kolektif. Abercrombie pun
melanjutkan bahwa mode produksi dan
ideologi perlu diperantarai oleh variabel
kepentingan." Mode produksi tidak
mungkin membutuhkan suatu ideologi
tertentu tanpa adanya kepentingan yang
dibawa aktor dalam mode produksi
tersebut. Ideologi liberalisme dibutuhkan
oleh mode produksi kapitalisme
melalui kepentingan yang dimiliki oleh
kelas borjuis. Kepentingan itu adalah
kepentingan pntuk mengakumulasi modal.
Tanpa adanya kepentingan akumulasi
modal, ideologi liberalisme tentu tidak
dibutuhkan untuk. membenarkan praktik
yang memang tidak ada. Untuk lebih
jelasnya, bisa dilihat pada bagan berikut:
Mode of production
Faktor-faktor
----------->
Classformation
kondisional
yang
telah diungkap di bagian pendahuluan
memberikan pengaruh terhadap interaksi
modal-negara-intelektual saat ini.
Ada dua dampak dari relasi tersebut.
Pertama, reproduksi kondisi intelektualmodal-negara. Struktur yang cenderung
menghimpun kelompok intelektual
di sekitar modal masih bertahan dan
karenanya hanya membutuhkan aktor
baru untuk masuk ke dalamnya dan
menjalankan logika lama itu lagi. FIkelompok Bakrie merepetisi pola
tersebut dengan memakai terbukanya
kesempatan partisipasi politik dalam
konteks demokratisasi Indonesia.
Keterbukaan kesempatan politik
memberikan kesempatan kepada kongsi
Fl-kelompok Bakrie menjelma menjadi
aksis intelektual-kelas borjuis yang solid.
Pada saat yang bersamaan, semenjak
demokratisasi
barisan
tertampung dalam gerbong patronase
teknokrat-negara. Mereka menghasilkan
paduan serasi antara basis ekonomi
kapitalisme (kelompok Bakrie) dengan
sistem pengetahuan liberal (FD. pihak
pertama memberi penopang dalam hal
materi bagi pihak kedua, begitu juga
sebaliknya, pihak kedua melegitimasi
perilaku pihak pertama. Mode produksi
yang berlaku dan ditegaskan oleh FI
sendiri bukanlah kapitalisme yang
umum dikenal seperti di negara-negara
Barat. Intervensi negara yang masih
-----------+
Ideologl,,
kental pada beberapa sektor dan masih
kuatnya kepentingan kroni dalam sistem
kapitalisme
yang
menjadi
29 filih"t Mcholas Abercrombie- (1980).
Chss, Suzrmtre
and Knrutledge. fford: Basil Blackwell. Hlm 175.
hadir pula
intelektual yang di era sebelumnya tidak
pe
y
liberalisme
bagi
FI.
Nl, Fajar, Intelektual, Modal dan
Untuk kasus Asian Agri, kehadiran
intelektual berperan mendukung gugatan
Asian Agri terhadap TEMPO, baik pada
ranah diskursus publik maupun ranah
hukum. Melaluipenelitianyang dilakukan
oleh tiga orang peneliti sewaan, diperoleh
kesimpulan bahwa isi pemberitaan
TEMPO telah merusak citra Asian
Agri. Karena faktor historis-struktural
yang sama, relasi tersebut dalam kasus
Asian Agri-lembaga penelitian menjadi
terwujud. Sedangkan FI yang mengusung
ideologi liberalisme diuntungkan oleh
konteks demokratisasi. Kandungan
liberalisme dalam sistem politik maupun
ekonomi Indonesia saat ini memudahkan
gerak FI. FI pun mudah menyesuaikan
diri dengan Kelompok Bakrie sebagai
representasi dari sistem kapitalisme
Indonesia. Implikasinya bisa bercabang
ke dua arah: pertama, akan terus terjadi
reproduksi gagasan demokrasi liberal
oleh FI, dan kedua, penumpukan modal
)'ang dilakukan oleh Kelompok Bakrie
juga mendapat legitimasi oleh FI.
Mengenai implikasi kedua, bisa
dilihat contoh kasus dukungan FI atas
kebijakan kenaikan Bahan Bakar Minyak
(BBM). Saat pemerintahan Yudhoyono
dipaksa untuk menaikkan harga BBM,
dukungan muncul dari FI melalui
iklan di beberapa surat kabar dengan
menghimpun intelektual-intelektual
terkemuka. Dukungan FI tentu tidak
lepas dari keberadaan Aburizal Bakrie
sebagai Menko Ekuin, selain memang
taham liberalisme pasar yang dianut
lembaga ini. Contoh lainnya ialah peran
Rizal Mallarangeng sebagai negosiator
Blok Cepu mewakili pemerintah dengan
E:oron Mobile. Sebaliknya, FI sendiri,
tentu saja, bisa
mempertahankan
dukungan dana dari kelompok Bakrie
sebagai donor utamanya sebagai imbalan
atas dukungannya terhadap kebijakan
negara dimana Aburizal Bakrie ada di
rl^lamnya.
\
egara
Implikasi Teoritis dan Strategis Relasi
Modal-Intelektual pada Era Reformasi
Kasus FI dan Asian Agri terjadi dalam
kerangka yang hampir sama. Liberalisasi
telah membuka peluang konsentrasi
modal di berbagai tempat. Dalam pada
itu, bukan modal saja yang menjadi
salah satu faktor penentu, tetapi struktur
keterbukaan ekonomi-politiklah yang
menjadi arena perkembangan modal.
Interaksi modal dan intelektual
era
Reformasi dimainkan diatas kedua faktor
kondisional yang telah diungkapkan
sebelumnya, yakni penyerapan kekuatan
politik dan liberalisasi ekonomi.
Melemahnya negara meyebabkan
inisiatif pembentukan aliansi modal
dengan kekuatan politik lain tumbuh
tidak melalui negara saja. Kasus FI
dan Asiqn Agri menunjukkan bahwa
kelas borjuis dapat menjadi lokus bagi
dimulainya persilangan modal dengan
kelompok intelektual. Negara tidak lagi
dibutuhkan sebagai induk bagi kelompok
intelektual. Aksis strategis terbentuk saat
basis material dan basis pengetahuan bisa
disatukan sebagai alat kepentingan kelas.
Jika sebelumnya modal dan kekuatan
politik terkumpul di sekitar negarakarena
karakter korporatis negara; maka kali ini
modal mengumpulkan kekuatan politik,
dimulai dari wilayah masyarakat sipil,
khususnya kelompok intelektual yang
berkolaborasi dengan kelas borjuasi.
Jika membandingkan kasus FI dengan
Asian Agri, posisi FI bisa dikatakan relatif
lebih kuat karena memiliki jaringan sampai ke ranah negara. Meski demikian, bukan berarti kongsi modal-intelektual yang
tidak meluas ke ranah negara bisa dianggap lemah, seperti terjadi pada kasusAsion
Agri-peneliti. Bahkan, relasi tersebut cenderung akan menguat jika mempertimbangkan faktor tumbuhnya generasi baru
intelektual terdidik di universitas-universitas dan agenda liberalisasi pendidikan
yang menarik garis lurus antara lembaga
pendidikan tinggi dan pasar. Faktor-faktor
Srudi Politik Edisi 1, Vol,
I, No.l, 2010
itu akan semakin 44
kuat bekerja jika
menambahkan lun-
turnya
kritisisme
dalam lingkungan
akademis yang
hanya mementingkan bagaimana lulusan perguruan
tinggi bisa diserap
oleh pasar.
Kasus FI memperlihatkan bahwa
ideologi liberalisme
yang FI perjuang-
kan dapat men-
jadi alat pembenar
praktik kelas bor-
penjelosan mengenoi kelompok
intelektuol yong mengabdi podo kepentingan modol perlu diimbongi
oleh eksp/onosi ofos suoro-suara kelompok intelektuol yqng mengkritisi
relosi kuoso anlara modol-negorakelompok intelektuql. Menjodi perlu
kemudion memperlihotkon bogoimono suoro-suoro tersebut mompu menemukan ruangnYq guna membangun
opos,si pemikiran terhqdop kelompok
intelektuol dominan podo era Reformosl ini..,, tt
juasi. Ideologi libe
ralisme, tidak perlu disangsikan lagi,
merupakan pasangan serasi pertumbuhan
kapitalisme semenjak di Eropa dahulu.
Akan tetapi, dalam konteks kapitalisme
dan liberalisme sistem demokrasi Indonesia era Reformasi. sistem tersebut tidak
lah benar-benar berjalan sesuai dengan
pengalaman negara-negara Barat. Sistem
kapitalisme di Indonesia masih berpotensi mengundang patronase politik sebagai
alat penumpukan modal. Konsekuensi
nya, akan terdapat pertanyaan-pertanyaan
bagaimana jika ternyata kelompok Bakrie melakukan praktik-praktik tersebut,
apakah liberalisme versi FI dapat membenarkan hal tersebut?
FI dengan ideologi liberalismenya yang
kuat seolah membenarkan kehadiran kelompok Bakrie. Idealnya, "kompetisi bebas" di dalam pasar merupakan tujuan
ideal dari penyebaran diskursus liberalisme. Tapi dengan mempertimbangkan
bahwa struktur politik Indonesia era Reformasi ternyata masih memungkinkan
patronase politik, maka hubungan basis-superstruktur bersifat kontradiktif.
Kontradiksi itu bisa dimengerti pada dua
kondisi: pertama, kontradiksi antara basis
kapitalisme dengan ideologi liberalisme
yang menaunginya.
Kelompok Bakrie
memiliki persinggungan yang repro
duktif dan
seka-
ligus kontradiktif dengan FI, tepat pada saat
FI
ternyata berusaha
untuk menguatkan
dan membenarkan
perilaku kelompok
Bakrie, tapi masih dalam warisan
historis masa lalu,
yaitu
berkumpul-
nya kekuatan politik di sekitar rezim
berdasar patronase
politikrente. Kedua,
kontradiksi eksis dalam tubuh liberalisme
yang dibawa FI sendiri. Apa yang berusaha untuk direproduksi adalah kondisi
yang sebenarnya bertentangan, paling tidak, dengan liberalisme sebagai ide. Konsekuensi lanjutannya bisa bercabang ke
banyak skenario. Yang terlihat cukup jelas
adalah diskrepansi antara ide demokrasi
liberal dan kesediaan negara menanggung
efek dari semburan lumpur Sidoarjo yang
banyak terkait dengan kelompok Bakrie. Bagaimana ideologi liberalisme yang
diusung FI dapat membenarkan praktik
penanggungan negara, sementara pada
saat yang bersamaan, liberalisme dengan
jelas mengharamkan campur tangan nega
ra terhadap eksistensi kelas borjuasi?
Sementara itu, untuk kasus Asiqn
Agri, reproduksi relasi intelektual-modal
memang terlihat manakala lembaga
penelitian dan kelas kapitalis berkontribusi
memberikan sebentuk drama dirnana
modal mendominasi perilaku intelektual.
Contohnya adalah saat panggung diskusi
untuk memperdebatkan kasus berita
TEMPO versus Asiqn Agri digelar pada
18 Desember 2007. Lakon dari drama
seminar publik itu ialah Asio n Agri sebagai
M, Fajar, Intelektual, Modal dan Negara
sponsor utama diskusi, menampilkan
pembicara dari ketiga peneliti yang
dibayar oleh Asion Agri untuk menyelidiki
pemberitaan TEMPO. Di sini terlihat
dua rangkap reproduksi relasi modalintelektual. Pertama, Asian Agri yang
mensponsori kegiatan diskusi, dan kedua
Asiqn Agri yang mensponsori penelitian
ketiga orang peneliti tersebut. Mereka
pun hadir saat diskusi berlangsung.
Semuanya dikemas dalam satu diskusi
yang juga menghadirkan pembicara dari
pihak TEMPO guna memPerlihatkan
"obyektifitas".
Hubungan subjek-objek muncul di sini.
Subjek modal membentuk kePatuhan
intelektual dan objek kajian beritanya
justru bertindak sebagai afirmasi
kebenaran hasil penelitian tersebut. Jika
hanya mementaskan para peneliti yang
notabene disewa oleh Asion Agri, maka
citra j ustifikasi hanya sepihak dap at terlihat
benar. Dengan menghadirkan pembicara
dari pihak berlawanan (IEMPO), seolah
kedua pihak berdiri dalam posisi sama
kuat. Akan tetapi bukan itu yang ingin
dicapai, konstruksi demikian adalah upaya
menjadikan suatu ritus pengorbanan
saat satu pihak diberikan kesempatan
muncul untuk kemudian dihilangkan
argumentasinya karena pembuktian ilmiah
dari pihak lainnya berhasil dimunculkan
ke permukaan.
Kesimpulan
Dari uraian singkat di atas,
daPat
diambil kesimpulan bahwa kelas borjuasi
dan sistem kapitalisme membutuhkan
satu kaki di wilayah pemikiran (yang
bersifat ideotogis) guna mendukung
praktik akumulasi modal. Argumen ini
bukan eklektisme belaka, tetapi lebih
kepada: pertama, alasan teoritik, yakni
karena pemahaman Marxisme klasik yang
menempatkan basis ekonomi sebagai
penentu perkembangan superstruktur
sulit dipakai untuk menjelaskan mengapa
kongsi intelektual-modal bisa berjalan.
Kedua, dengan menerima argumen bahwa
posisi ekonomi dapat dilegitimasikan
oleh superstruktur ideologis, peranan
keduanya (kelas borjuasi dan kelompok
intelektual) menjadi terlihat cukup
signifikan dalam sistem demokrasi yang
tidak hanya mengizinkan kompetisi
ekonomi saja, tetapi juga kompetisi
diskursus.
Sebagai bahan PenYelidikan lebih
lanjut, penjelasan mengenai kelompok
intelektual yang mengabdi
Pada
kepentingan modal perlu diimbangi oleh
eksplanasi atas suara-suara kelompok
intelektual yang mengkritisi relasi
kuasa antara modal-negara-kelompok
intelektual. Menjadi perlu kemudian
memperlihatkan bagaimana suara-suara
tersebut mampu menemukan mangnya
guna membangun oPosisi Pemikiran
terhadap kelompok intelektual dominan
pada era Reformasi ini. Dibutuhkan
pula penyelidikan mengenai pemikiran
intelektual kritis yang berkaitan erat
dengan konteks demokratisasi Indonesia
dan liberalisasi perekonomian.
studi Politik Bdisi 1, vol.
I,
No,1, 2010
Referensi
Mqsalah dan Pilihan
Buku
Abercrombie, Nicholas. (19S0). Closs,
Structure and Knowledge. (Oxford:
(Jakarta: DEMOS)
Basil Blackwell)
Archer, Margaret S.. (1995) . Rea.list Social
Theory: The Morphogenetic Approach.
(Cambridge: Cambridge University
Press)
.
Barnes, Philip. (1995). Indonesia: The
Political Economy of Energy. (Oxford:
Oxford University Press)
Dhakidae, Daniel. (2003). Cendekiawan
dqn KeL?uasqqn Dulqm Negara Orde
Baru. (Jakarta: Gramedia
Pustaka
Utama)
Djafar, Zainuddin. (2006). Rethinking
lndonesian Crisis. (Jakarta: Pustaka
Jaya)
Green, Marshall. (1990).
Indonesio":
Crisis and Transformation 1965-1968.
(Washington DC: Compass Press)
Huntington, Samuel P. (1975). Political
Order in Changing Societies. @ombay:
Vakils, Feffer & Simons Private ltd).
Kleden, Ignas. "Model Rasionalitas
Teknokrasi", dalam Ignas Kleden.
(1987). Sikap Ilmiah dan Kritik
Kebuday aan. (J akarta: LP3ES)
akarta: LP3ES)
.
Pangestu, Mari. "Only Half Hearted
Deregulation", dalam Ian Chalmers
& Vedi Hadiz. (1997). The Politics of
Economics Development in Indonesia.:
Contending Perspectives. (London:
Routledge)
Priyono, A.E., Olle Tornquist et al. (2007).
Menjadihan Demohrz"si
Prasetiantono, Tony. "Political Economy of
P r iv qtis ation of State - Ow n e d Enter p r is e s
in Indonesie", dalam M Chatib Basri &
Pierre Van Der Eng. (2004). Business
in Indonesia: New Challenges, Old
Problems. @asir Panjang: ISEAS)
Robison, Richard. "Whqt
Sort
of
redatory and N eo -Lib er a.l
Agendas in Indonesio", dalam Catarina
emocr aqt?
D
P
& Kristina Jonsson. (2002).
Globalization qnd Democratizatton in
Asio. (London & NewYork: Routledge)
Robison, Richard & Vedi R Hadiz. (2004).
Reorganising Power in Indonesia: The
Politics of Oligharchy in on Age of
Mqrket. (London: Routledge Curzon)
Kinnvall
Robison, Richard & Andrew Rosse4
"Surviving The Meltdown: I-iberql
Reform and Politicql Oligarchy in
Indonesia", dalam Richard Robison (et
at). (2000) . Politics and Murl?ets in The
Wake of The Asian Crisis. (London &
NewYork: Routledge)
Guerin, Bill. '?olitics and Business Mk in
Indonesiq.", Asie Times, 22 Juli 2006.
Feith, Herb ert, " Repr e s siv e -D evlo p mentalist
Regimes in Asia: Old Strengths,'New
Vulnerabilities", dalam PRISI\4A. No 19.
Desember 1980.
Majalah TEMPO, No. 13D(XXVZI-27 Mei
2007.
Kunio, Yoshihara. (1991). Kapitalisme
(J
Indonesiq.
Sumber Lainnya
Itwan, Alexande t, "Institutions, Disc ourses
and Conflicts in Economic Thought,"
dalam Vedi Hadiz & Daniel Dhakidae.
(2005). Sociql Sciences snd Power in
Indonesiq. (Singapura: ISEAS)
Semu Asia Tenggara.
di
BermaLznq.:
http //www. temp o. co. id/hg I n:us al jawama dural2007l|2l26lbrk.2007I2261l4163,id.html
:
http ://www. temp ointeraktif . com/hgl
nasi onaU2007ll2l2Ihrk,2007l22l113953,id.html
http ://www. freedom-institute. org/id/index.
php?page=penghargaan
Download