7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Pengertian

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoritis
1. Pengertian Akuntansi
Dewasa ini peranan akuntansi sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusankeputusan ekonomi dan keuangan, semakin disadari oleh semua pihak. Peranan akuntansi
dalam membantu tugas pihak manajemen sangatlah diperlukan, khususnya dalam
melaksanakan fungsi perencanaan dan pengawasan.
Sebagian besar informasi yang diperlukan oleh para manejer adalah informasi
akuntansi, oleh karena itu di dalam suatu perusahaan dituntut adanya akuntansi yang
benar-benar dapat memberikan informasi keuangan yang memadai bagi pihak-pihak yang
berkepentingan yang akan digunakan dalam pengambilan keputusan. Al Haryono Yusuf
(2004 : 7) menyatakan bahwa :
Akuntansi dapat didefinisikan dari dua sudut pandang yakni dari sudut pemakai
jasa akuntansi dan dari sudut proses kegiatannya. Ditinjau dari sudut
pemakaiannya akuntansi didefinisikan sebagai suatu proses pencatatan,
penggolongan, peringkasan, pelaporan dan penganalisaan data-data keuangan
suatu organisasi.
Smith dan Skousen (2004 : 3) mendefinisikan :
Akuntansi adalah suatu aktivitas jasa, fungsinya adalah untuk menyediakan
informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan, tentang entitas (kesatuan)
usaha yang dipandang akan bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi
dalam menetapkan pilihan yang tepat di antara berbagai alternatif tindakan.
Dari beberapa defenisi di atas maka dapat kita ketahui bahwa pada dasarnya
akuntansi bertujuan untuk memberikan informasi keuangan dari suatu organisasi, yang
mana informasi tersebut digunakan dalam pengambilan keputusan oleh pihak-pihak yang
berkepentingan.
7
Universitas Sumatera Utara
8
2. Pengertian dan Penggolongan Piutang
a.
Pengertian Piutang
Piutang merupakan salah satu elemen modal kerja yang merupakan hak
perusahaan di kemudian hari, piutang timbul dari transaksi di masa lalu maupun saat
sekarang. Bagi kebanyakan perusahaan, piutang merupakan suatu pos penting yang acap
kali menunjukkan suatu bagian besar harta lancar perusahaan, oleh karena itu sangatlah
perlu ditetapkan suatu kebijaksanaan kredit serta dilakukannya pengendalian untuk
menjamin penagihan piutang yang tepat waktunya yang akan mengurangi resiko kerugian
akibat piutang yang tak tertagih. Dilakukannya pengendalian internal yang sehat serta
sistem akuntansi yang layak atas piutang akan sangat berpengaruh pada kemampun
operasi perusahaan dalam mencapai laba.
Untuk memperjelas pengertian piutang maka akan diberikan beberapa definisi
piutang. Niswonger dan Fees (2002 : 232), yang dimaksudkan dengan piutang adalah
sebagai berikut ”Piutang meliputi semua tagihan dalam bentuk uang terhadap perorangan,
badan usaha atau pihak tertagih lainnya”.
Pihak lain yang dimaksudkan adalah orang atau badan di luar perusahaan yang
mempunyai hubungan transaksi dengan perusahaan. Timbulnya tuntutan tersebut
tentunya disebabkan oleh beberapa jenis transaksi, namun sumber yang utama adalah
transaksi penjualan secara kredit atas barang dan jasa. Hak dalam bentuk uang, misalnya
penyerahan barang atau jasa yang akan dilunasi dan penyelesaian atas kontrak yang telah
ditandatangani.
Smith dan Skousen (2004 : 286) mendefinisikan piutang sebagai berikut
”Piutang dalam arti yang luas istilah piutang dipergunakan bagi semua hak terhadap
Universitas Sumatera Utara
9
pihak lain atas uang, barang ataupun jasa. Sedangkan dalam arti sempit piutang adalah
berupa klaim yang diharapkan akan diselesaikan melalui penerimaan kas”.
Ralph Estes (2002 : 32) menyatakan bahwa ”Piutang adalah jumlah yang akan
diterima dengan pihak lain, biasanya hanya terbatas pada jumlah yang timbul dari
penjualan barang atau jasa”. Abdul Halim (2004 : 39) ”Piutang adalah klaim kepada
pihak lain yang pada umumnya berakhir dengan penerimaan di masa yang akan datang”.
Piutang merupakan tagihan terhadap pihak lain sebagai suatu perkiraan dan
penyelesaiannya dilakukan dengan penerimaan uang. Penagihan piutang dilakukan jika
piutang telah jatuh tempo. Pelaksanaan penagihan yang berhasil akan mendatangkan
penerimaan pembayaran berupa uang, jasa atau barang. Apabila piutang telah dibayarkan
secara keseluruhan, akan mengakibatkan klaim terhadap seseorang atau badan usaha telah
selesai dan perkiraan piutang akan menjadi nihil. Penagihan piutang yang tidak
menghasilkan penerimaan pembayarannya atau pelunasan, akan mengakibatkan kerugian
bagi pihak perusahaan.
Dari pengertian di atas maka dapatlah disimpulkan piutang merupakan suatu
keseluruhan tuntutan terhadap pihak tertentu baik berupa uang, barang maupun jasa dan
pada umumnya piutang timbul karena adanya transaksi secara kredit.
b.
Penggolongan Piutang
Di dalam akuntansi, penggolongan atas piutang juga memegang peranan yang
penting. Dengan adanya pengelompokan harta atau hutang tertentu maka pembaca
laporan keuangan dapat memahami apa yang disajikan oleh penyusun laporan keuangan.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI : 2004 : 9.07) menyatakan bahwa piutang dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
Universitas Sumatera Utara
10
Menurut sumber terjadinya piutang digolongkan dalam dua kategori, yaitu
Piutang usaha dan Piutang lain-lain. Piutang usaha meliputi piutang yang timbul
karena penjualan produk atau penjualan jasa dalam rangka kegiatan usaha normal
perusahaan. Piutang yang timbul di luar kegiatan usaha normal perusahaan
digolongkan sebagai piutang lain-lain yang diharapkan dapat ditagih dalam satu
tahun atau siklus usaha normal perusahaan, diklasifikasikan sebagai aktiva lancar.
Kadang-kadang seluruh usaha diklasifikasikan sebagi aktiva lancar tanpa
memandang batas waktu penagihannya. Dalam kasus demikian jumlah piutang
usaha yang jangka waktu penagihannya lebih dari satu tahun atau siklus usaha
normal harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
Penggolongan piutang ke dalam piutang usaha atau piutang dagang lebih
memberikan gambaran yang luas menyangkut jenis-jenis aktivitas perusahaan yang
utama. Jenis kegiatan utama perusahaan itu hanya merupakan penjualan barang dagangan
atau hanya merupakan kegiatan penyerahan jasa ataupun kombinasi dari keduanya.
Jadi dapat diketahui bahwa piutang dapat digolongkan atas :
1. Piutang Usaha
Piutang usaha adalah piutang yang timbul dari penjualan barang atau jasa yang
dihasilkan oleh perusahaan, piutang usaha pada umumnya adalah piutang jangka pendek ,
sehingga piutang ini dikelompokkan ke dalam aktiva lancar adalah seluruh tagihan yang
penyelesaiannya lebih dari satu tahun atau siklus usaha normal perusahaan akan
digolongkan sebagai investasi.
Piutang usaha digolongkan ke dalam dua kelompok, yaitu :
a. Piutang Dagang
Merupakan janji lisan dari pembeli untuk membayar barang dan jasa yang dijual,
biasanya dapat ditagih di dalam waktu 30 sampai 60 hari dan merupakan ”piutang
terbuka” yang berasal dari perluasan kredit jangka pendek.
Universitas Sumatera Utara
11
b. Piutang Wesel (Wesel Tagih)
Wesel tagih didukung oleh nota promes adalah suatu janji tertulis untuk
membayar sejumlah uang tertentu pada suatu saat tertentu di masa yang akan
datang. Wesel tagih juga merupakan piutang, tetapi di dalam bentuk atau memiliki
ciri yang berbeda dengan piutang usaha. Piutang usaha umumnya diperkirakan
akan tertagih dalam jangka waktu yang relatif pendek, biasanya 30 sampai 60
hari. Sedang wesel tagih biasanya digunakan untuk periode kredit lebih dari 60
hari.
Niswonger (2004 : 324) mendefinisikan ”Wesel tagih adalah jumlah yang terhutang bagi
pelanggan dimana pelanggan dimaksud telat menerbitkan surat hutang formal kepada
perusahaan”.
Wesel tagih dapat digolongkan atas dua jenis :
a. Wesel Tagih Berbunga
Pada wesel ini, dinyatakan berapa persen tingkat bunga dan berapa hari jangka
waktu pelunasannya. Pada hari pelunasannya, pihak yang mengeluarkan wesel
harus membayar sejumlah nilai nominal ditambah dengan bunganya.
b. Wesel Tagih Tanpa Bunga
Pada wesel ini dinyatakan jumlah yang harus dibayar dan jangka waktu
pelunasannya, pada saat pelunasan jumlah yang harus dibayar hanya sebesar nilai
jatuh temponya..
2. Piutang Lain-lain
Piutang ini adalah piutang yang timbul bukan dari penjualan barang atau jasa yang
dihasilkan perusahaan. Smith dan Skousen (2004 : 39) menyatakan bahwa :
Universitas Sumatera Utara
12
Piutang lain-lain timbul dari transaksi-transaksi sebagai berikut :
a.
Penjualan sekuritas atau harta benda lain selain persediaannya
b.
Uang muka kepada pemegang saham, para direktur, pejabat,
karyawan, dan perusahaan afiliasi.
c.
Setoran kepada kreditur, perusahaan kebutuhan umum dan instalasiinstalasi yang lain.
d.
Pembayaran di muka atas pembelian.
e.
Setoran-setoran untuk menjamin pelaksanaan kontrak atau
pembayaran biaya
f.
Tuntutan atas kerugian atau kerusakan.
g.
Saham yang masih harus disetor.
h.
Piutang deviden dan bunga.
Dari penjelasan di atas piutang lain-lain merupakan tagihan perusahaan karena
berbagai transaksi di luar kegiatan normal perusahaan. Biasanya piutang ini didukung
oleh persetujuan atau bukti-bukti yang telah disepakati bersama.
Piutang dapat digolongkan dengan menggunakan beberapa dasar sebagai berikut :
1. Berdasarkan Jangka Waktu
Berdasarkan jangka waktu piutang dapat digolongkan atas :
a. Piutang Lancar atau Piutang Jangka Pendek (Current Receivable)
Piutang lancar atau piutang jangka pendek meliputi suatu piutang yang akan jatuh
tempo dalam jangka waktu satu periode akuntansi atau kurang, terhitung sejak
tanggal neraca yang bersangkutan. Untuk neraca tanggal 31 Desember 2004 atau
sebelumnya, piutang jangka pendek atau piutang lancar akan disajikan dalam
neraca sebagai elemen aktiva. Di dalam neraca ini termasuk juga bagian piutang
yang sebelumnya termasuk elemen piutang jangka panjang, tetapi karena telah
berjalannya waktu telah menjadi hutang jangka pendek.
b. Piutang Jangka Panjang
Piutang jangka panjang meliputi semua piutang yang akan jatuh tempo dalam
jangka waktu lebih dari satu periode akuntansi sejak tanggal neraca yang
Universitas Sumatera Utara
13
bersangkutan. Untuk neraca tanggal 31 Desember 2007, maka piutang jangka
panjang yang akan jatuh tempo setelah 31 Desember 2007. Piutang jangka
panjang akan disajikan di dalam neraca sebagai elemen investasi jangka panjang
atau aktiva lain-lain dengan berjalannya waktu piutang jangka panjang ini
sebagian demi sebagian atau secara keseluruhan akan berubah menjadi piutang
jangka pendek.
2. Atas dasar transaksi penyebabnya
Atas dasar transaksi yang menyebabkab timbulnya piutang, piutang dapat
digolongkan menjadi dua, yaitu :
a. Piutang dagang atau piutang usaha
Piutang dagang atau piutang usaha (trade receivable) meliputi semua piutang yang
timbul karena :
-
Penjualan barang dagangan secara kredit.
-
Penjualan produk selesai secara kredit, atau
-
Penjualan jasa yang merupakan produk utama perusahaan secara kredit
b. Piutang non dagang atau piutang di luar usaha
Piutang non dagang ini meliputi semua piutang yang terjadinya bukan karena
transaksi :
-
Penjualan barang dagangan secara kredit
-
Penjualan produk selesai secara kredit, atau
-
Penjualan jasa yang merupakan produk utama perusahaan secara kredit
Universitas Sumatera Utara
14
Transaksi yang menyebabkan timbulnya piutang non dagang ini antara lain memperoleh
laba maksimum, aktifitas ini dapat berbeda antara satuan usaha dengan satuan usaha
lainnya. Kedua telah terjadi pertukaran dan penyerahan.
Pengakuan atas timbulnya suatu perkiraan piutang yang berasal dari kegiatan atau
aktifitas perusahaan yang pokok berarti juga menentukan adanya pendapatan perusahaan.
Pendapatan ini biasanya berasal dari kegiatan seperti penjualan produk, penyerahan jasa,
atau pemberian izin kepada pihak lain untuk menggunakan sumber daya perusahaan yang
kemudian dikompensasikan ke dalam bentuk bunga, sewa atau bentuk lain dan
kompensasi ini dapat dilakukan secara tunai ataupun ditangguhkan terlebih dahulu.
Kompensasi yang ditangguhkan inilah yang pada akhirnya menimbulkan perkiraan
piutang. Adapun ayat jurnal untuk mengakui piutang dari penjualan barang atau jasa
yaitu :
Piutang Usaha
xxx
Penjualan
xxx
Dalam banyak transaksi piutang, jumlah yang akan diakui adalah harga pertukaran di
antara kedua pihak. Harga pertukaran adalah jumlah yang merupakan hutang dari yang
berhutang (pelanggan atau peminjam) dan umumnya dibuktikan dengan beberapa jenis
dokumen bisnis, sering kali berupa faktur. Menurut Kieso & Weygandt (2005 : 241)
”Dua faktor yang memperumit pengukuran harga pertukaran adalah (1) Ketersediaan dari
potongan/discount (potongan dagang atau tunai) dan, (2) lamanya waktu antara penjualan
dan pembayaran tanggal jatuh tempo (elemen bunga)”.
Universitas Sumatera Utara
15
1. Potongan Dagang (Trade Discount)
Pelanggan seringkali mengutip harga-harga dari daftar atau katalog harga yang bisa
mendapat potongan dagang atau kuantitas. Potongan dagang (rabat) digunakan untuk
menghindarkan perubahan yang sering terjadi dalam katalog, untuk mengutip harga
yang berbeda untuk pembelian kuantitas yang berbeda, atau untuk menyembunyikan
harga faktur yang sebenarnya dari pesaing.
2. Potongan Tunai (Potongan Penjualan)
Potongan tunai ditawarkan sebagai pengurangan untuk pembayaran segera dan
dinyatakan dalam bentuk persyaratan 2/10-
n
/30 (2% jika dibayarkan dalam jangka
10 hari, jumlah kotor jatuh tempo dalam 30 hari), atau 2/10- E.O.M (2% jika
dibayarkan dalam jangka 10 hari, jatuh tempo akhir bulan).
Perusahaan
tidak
menggunakan
potongan
penjualan,
biasanya
tidak
menggunakan uang mereka secara bermanfaat. Sebuah perusahaan yang mendapat
pengurangan 1% atas harga penjualan untuk pembayaran dalam jangka 10 hari,
dengan total pembayaran jatuh tempo dalam 30 hari, secara efektif menghasilkan
18,25% (0,01: [20/365]), atau paling sedikit menghemat biaya tingkat bunga. Untuk
alasan ini, perusahaan biasanya mengambil potongan itu kecuali kalau uang kasnya
sangat terbatas.
Metode pencatatan yang paling mudah dan umum digunakan untuk transaksi
penjualan dan potongan yang bersangkutan adalah memasukkan piutang dan
penjualan pada jumlah kotor. Dalam metode ini, potongan penjualan diakui dalam
perkiraan hanya bila pembayaran diterimadalam periode potongan. Potongan
Universitas Sumatera Utara
16
penjualan kemudian akan diperlihatkan dalam perhitungan rugi laba sebagai
pengurangan dari penjualan untuk mendapatkan penjualan bersih.
Beberapa akuntan menyatakan bahwa potongan penjualan yang tidak diambil
mencerminkan denda yang ditambahkan pada harga yang ditetapkan untuk
mendorong pembayaran secepatnya. Jadi, penjual menawarkan penjualan kredit pada
harga yang sedikit lebih tinggi dari pada penjualan tunai, dan kenaikannya dioffset
dengan potongan tunai yang ditawarkan. Dengan demikian, pelanggan yang
membayar di dalam periode potongan membeli pada harga potongan, sedangkan
mereka yang membayar sesudah berakhirnya periode potongan didenda karena
mereka harus membayar dalam jumlah yang melebihi harga tunai. Jika pendekatan ini
yang digunakan, penjualan dan piutang dicatat pada harga bersih, dan setiap potongan
yang tidak diambil kemudian didebet ke piutang dagang dan dikredit kehilangan
potongan penjualan. Ayat jurnal berikut menggambarkan perbedaan antara metode
kotor dan bersih.
Metode Kotor
Metode Bersih
Penjualan Rp. 10.000, syarat 2/10-n/30
Piutang dagang
10.000
Penjualan
Piutang dagang
10.000
Penjualan
9.800
9.800
Pembayaran Rp. 4.000 yang diterima dalam periode potongan
Kas
3.920
Potongan penjualan
Piutang dagang
Kas
80
3.920
Piutang dagang
3.920
4.000
Pembayaran Rp. 6.000 diterima sesudah periode potongan
Universitas Sumatera Utara
17
Kas
6.000
Piutang dagang
Piutang dagang
6.000
120
Kehilangan potongan penjualan 120
Kas
6.000
Piutang dagang
6.000
Jika metode kotor yang digunakan, potongan penjualan harus dilaporkan sebagai
pengurangan atas penjualan di dalam perhitungan rugi laba. Jika metode bersih yang
digunakan, kehilangan potongan penjualan harus dipandang sebagai pos pendapatan
lain. Secara teoritis, pengakuan kehilangan potongan penjualan benar karena piutang
dinyatakan lebih dekat pada nilai realisasinya dan angka penjualan bersih mengukur
pendapatan yang dihasilkan dari penjualan tersebut.
Akan tetapi dari segi praktis metode bersih jarang digunakan karena
memerlukan analisis dan pembukuan tambahan. Untuk satu hal metode bersih
mensyaratkan ayat penyesuaian untuk mencatat kehilangan potongan penjualan pada
piutang dagang yang teleh melewati periode potongan.
3. Tidak ada pengakuan atas elemen bunga
Secara ideal, piutang harus diukur dalam pengertian nilai sekarangnya, yaitu nilai
yang didiskontokan dari kas yang akan diterima di masa depan. Bila diperkirakan
penerimaan kas memerlukan periode tunggu, jumlah nominal piutang tidak senilai
dengan jumlah akhir diterima.
Untuk menggambarkan, asumsikan bahwa perusahaan melakukan penjualan
kredit sebesar $ 1,000 dengan pembayaran jatuh tempo dalam 4 bulan. Tingkat bunga
tahunan yang berlaku adalah 12% dan pembayaran dilakukan pada akhir empat bulan.
Nilai sekarang dari piutang tersebut bukan $ 1,000 tetapi $ 961.59 ($ 1,000 x 0,96154,
Universitas Sumatera Utara
18
tabel 6 -2; n=1, I = 4%). Dengan perkataan lain $ 1,000 yang akan diterima 4 bulan
dari sekarang tidak sama dengan $1,000 yang diterima hari ini.
Secara teoritis, setiap pendapatan setelah periode berjalan adalah pendapatan
bunga. Dalam praktek, akuntan telah memilih untuk mengabaikan hal ini umumnya
untuk piutang dagang. Karena jumlah potongan tersebut biasanya tidak material
dalam kaitan dengan laba bersih untuk periode bersangkutan.
4. Pencatatan Piutang
Di dalam pencatatan piutang ada beberapa transaksi yang mempengaruhi
piutang yaitu :
1. Transaksi Penjualan Kredit
Transaksi ini dicatat dalam jurnal penjualan atas dasar faktur penjualan yang
dilampiri dengan surat order pengiriman. Transaksi timbulnya piutang ini
dipostingkan ke dalam kartu piutang atas dasar-dasar yang telah dicatat dalam
jurnal penjualan tersebut.
2. Transaksi Retur Penjualan
Transaksi ini dicatat dalam jurnal retur penjualan atas dasar memo kredit yang
dilampiri dengan laporan penerimaan barang. Transaksi atas berkurangnya
piutang ini diposting ke dalam kartu piutang atas dasar data yang telah dicatat
dalam jurnal.
3. Transaksi Penerimaan Kas
Transaksi ini dicatat dalam jurnal penerimaan kas atas dasar bukti kas masuk yang
dilampiri surat pemberitahuan dari debitur. Transaksi-transaksi yang mengurangi
Universitas Sumatera Utara
19
piutang akibat terjadinya pelunasan tersebut diposting ke dalam kartu piutang atas
dasar yang ada pada jurnal penerimaan kas.
4. Transaksi Penghapusan Piutang
Transaksi ini dicatat dalam jurnal umum atas dasar bukti memorial yang dibuat
oleh bagian kredit. Transaksi berkurangnya piutang akibat penghapusan tersebut
diposting ke dalam kartu piutang atas dasar data yang ada dalam jurnal umum.
Mulyadi (2001 : 261) menyatakan bahwa di dalam pencatatan atas piutang ada
empat metode yang dapat digunakan untuk mengerjakan jurnal dan posting yaitu :
1. Metode Konvensional
Dalam metode ini posting ke dalam kartu piutang dilakukan atas data-data yang telah
dicatat dalam jurnal penjualan penerimaan kas, dimana faktur-faktur yang diterima
dicatat dalam jurnal penjualan diposting ke dalam buku piutang, dan penerimaan yang
terjadi pada setiap harinya dicatat dalam jurnal penerimaan kas kemudian diposting
ke dalam buku pembantu piutang.
2. Metode Posting Langsung ke dalam Kartu Piutang atau pernyataan Piutang
a. Metode Posting Harian
Dalam metode ini posting ke dalam kartu piutang dilakukan dengan dua cara yaitu
1.
Posting langsung ke dalam kartu piutang dengan tulisan tangan, jurnal
hanya menunjukkan jurnal total harian saja (tidak rinci). Dalam metode
ini, faktur penjualan yang merupakan dasar untuk pencatatan timbulnya
piutang diposting langsung setiap hari secara rinci ke dalam kartu piutang.
Ada dua cara media yang digunakan dalam posting ke dalam kartu
piutang.
Universitas Sumatera Utara
20
-
Media disortir menurut abjad sebelum diposting satu persatu ke
dalam kartu piutang, kemudian dibuat pita pembuktian ketelitian
posting dari kartu piutang.
-
Media diposting ke dalam kartu piutang sesuai dengan urutan pada
waktu diterima dari bagian penagihan.
2.
Posting langsung ke dalam kartu piutang dan pernyataan piutang.
Dalam metode ini media diposting ke dalam pernyataan piutang dengan
kartu piutang sebagai tembusannya atau tembusan lembar kedua berfungsi
sebagai kartu piutang.
b. Metode Periodik
Dalam metode ini ada dua cara yaitu :
1.
Posting Ditunda
Posting ke dalam kartu piutang dilakukan secara sekaligus setelah faktur
yang ada terkumpul semua. Faktur penjualan yang diterima dari bagian
penagihan oleh bagian piutang disimpan sementara, untuk nantinya secara
sekaligus diposting ke dalam kartu piutang.
2.
Penagihan Bersiklus
Selama sebulan dokumen disortir dan diarsipkan menurut nama pelanggan
dan pada akhir bulan dilakukan kegiatan posting terhadap dokumen
tersebut serta menghitung dan mencatat saldo kartu piutang.
3.
Metode Tanpa Buku Pembantu (Ledgerless Bookkeeping)
Dalam metode pencatatan ini tidak digunakan buku pembantu piutang, di mana
faktur penjualan beserta dokumen pendukungnya yang diterima dari bagian penagihan,
Universitas Sumatera Utara
21
oleh bagian piutang diarsipkan menurut nama pelanggan dalam arsip faktur yang belum
dibayar (unpaid invoice file). Arsip faktur penjualan ini berfungsi sebagai catatan
piutang. Pada saat diterimanya pembayaran ada dua cara yang dapat dilakukan :
1. Jika pelanggan membayar penuh atas jumlah yang ada pada faktur penjualan
maka faktur tersebut diambil dari faktur yang belum dibayar dan dicap
lunas. Kemudian dipindahkan ke dalam arsip faktur yang telah dibayar.
2. Jika pelanggan hanya membayar sebagian dari jumlah dalam faktur, maka
jumlah kas yang diterima dan sisa uang yang belum dibayar dicatat dalam
faktur tersebut, kemudian dibuat faktur kedua yang berisi informasi yang
sama dengan faktur aslinya dan faktur kedua tersebut disimpan dalam arsip
faktur yang telah dibayar, lalu faktur yang asli disimpan kembali dalam arsip
faktur yang belum dibayar.
4.
Metode Pencatatan dengan Komputer
Dalam metode ini semua dokumen tentang piutang dikumpulkan dan sekaligus
dipostingkan pada setiap harinya. Di dalam sistem komputer dibentuk dua macam arsip
yaitu transaksi dan arsip induk, dimana arsip transaksi digunakan untuk memutakhirkan
arsip induk, dan setiap bulannya arsip induk digunakan untuk menghasilkan berbagai
laporan bagi manajemen.
5.
Penilaian Piutang
Penilaian piutang berarti menetapkan nilai piutang yang akan dilaporkan di dalam
neraca pada akhir satu periode. Di dalam Standar Akuntansi Keuangan (PSAK : 2004 :
02.2) disebutkan bahwa “Piutang dinyatakan sebesar jumlah kotor tagihan dikurangi
dengan taksiran jumlah yang tidak dapat ditagih”.
Universitas Sumatera Utara
22
Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa untuk melaporkan nilai piutang
pada neraca adalah sebesar jumlah yang direalisasikan, yaitu jumlah yang diharapkan
akan dapat ditagih. Dalam bukunya Smith dan Skousen (2004 : 290) : “ Piutang
dilaporkan sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan atau nilai kas yang diharapkan”.
Ini berarti bahwa piutang harus dicatat dengan nilai bersih setelah memperhitungkan
estimasi piutang ragu-ragu, potongan dan retur serta pengurangan harga jual. Ini
dimaksudkan agar piutang dilaporkan sebesar klaim terhadap pelanggan yang diharapkan
akan tertagih dalam bentuk kas.
a.
Piutang yang Tidak Tertagih
Apabila barang dagangan atau jasa dijual secara kredit, maka sebagian dari
klaim kepada pelanggan tersebut biasanya akan tidak tertagih, hal ini terjadi tanpa
memandang betapa hati-hatinya dalam pemberian kredit dan betapa baiknya prosedur
penagihan yang digunakan oleh setiap perusahaan.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan tidak tertagihnya piutang, yaitu :
1. Debitur pailit
2. Debitur meninggal dunia
3. Debitur melarikan diri
Tidak ada satupun aturan umum yang menentukan kapan suatu piutang tidak dapat
ditagih. Adanya kenyataan bahwa debitur tidak dapat membayar hutangnya pada saat
telah jatuh tempo bukanlah suatu petunjuk atas tidak tertagihnya piutang tersebut.
Philip (2006 : 239) menyatakan ”Ada dua metode yang diterima secara
umum untuk memperlakukan piutang-piutang yang diperkirakan tidak akan tertagih
yaitu metode penghapusan langsung dan metode penyisihan”.
Universitas Sumatera Utara
23
1. Metode Penghapusan Langsung (Direct Write off Methode)
Metode ini umumnya digunakan oleh perusahaan yang sebagian besar transaksi
penjualannya dilakukan secara tunai, dan jumlah beban dari piutang yang tidak
tertagih biasanya sangatlah kecil. Berdasarkan metode ini beban piutang yang tidak
tertagih tidak akan dicatat sampai dibuatnya suatu keputusan bahwa piutang tersebut
memang benar-benar tidak akan tertagih lagi. Jadi dalam metode ini akun penyisihan
dan ayat jurnal penyesuaian tidak diperlukan pada akhir periode. Adapun jurnal yang
diperlukan dalam metode ini adalah :
Beban piutang tidak tertagih
xxx
Piutang Usaha
xxx
Jika ternyata di kemudian hari piutang yang telah dihapuskan tersebut dilunasi oleh
pelanggan yang bersangkutan, maka perusahaan harus menimbulkan kembali piutang
tersebut dengan cara membalik ayat jurnal penghapusan sebelumnya.
Piutang Usaha
xxx
Beban piutang tidak tertagih
xxx
2. Metode Penyisihan (Allowance Methode)
Penghapusan piutang yang tidak tertagih akan dilakukan apabila tersedia bukti
positif mengenai tidak tertagihnya sebagian atau seluruh piutang tersebut.
Penghapusan piutang akan dilakukan dengan mendebet perkiraan penyisihan yang
sebelumnya telah dibentuk dan mengkredit piutang usaha. Bukti positif atas
ketidaktertagihan piutang ditemukan dalam hal kepailitan, kematian, atau
kaburnya debitur, kegagalan dalam melaksanakan penagihan akibat adanya
keterbatasan daya upaya sehingga bukti-bukti yang cukup dari pihak-pihak terkait
Universitas Sumatera Utara
24
seperti : pengadilan, ahli hukum atau lembaga penagihan harus diotorisasi secara
tertulis oleh pejabat yang berwenang.
Adapun pencatatan jurnal yang dilakukan pada saat diketahui piutang tidak dapat
ditagih yaitu :
Penyisihan piutang ragu-ragu
xxx
Piutang Usaha
xxx
Apabila nantinya piutang yang telah dihapuskan tersebut secara tidak terduga dilunasi
oleh debitur maka pencatatannya adalah sebagai berikut :
Piutang Usaha
xxx
Penyisihan piutang ragu-ragu
xxx
Dan pada saat piutang tersebut dilunasi oleh debitur, adapun pencatatannya adalah
sebagai berikut :
Kas
xxx
Piutang Usaha
xxx
b. Estimasi Terhadap Piutang yang Tidak Tertagih
Estimasi terhadap piutang yang tidak tertagih didasarkan atas pengalaman
yang telah lampau yang disesuaikan dengan perkiraan kegiatan perusahaan di masa
mendatang. Apabila kegiatan dari volume penjualan secara umum naik dan secara
relatif perusahaan dalam kapasitas penuh maka besarnya biaya piutang yang tidak
tertagih besarnya lebih kecil bila dibandingkan dengan kondisi perusahaan yang
sebaliknya. Niswonger (2004 : 329) menyatakan ”perkiraan untuk piutang tidak
tertagih tersebut biasanya didasarkan atas jumlah penjualan untuk seluruh periode
fiskal, atau jumlah piutang secara umum pada akhir periode fiskal”.
Universitas Sumatera Utara
25
1. Taksiran Berdasarkan Penjualan
Piutang usaha diperoleh dari hasil penjualan secara kredit, oleh karena itu volume
penjualan selama satu tahun dapat digunakan sebagai petunjuk untuk jumlah
piutang yang akan tertagih.
2. Taksiran Berdasarkan Analisa Piutang
Dalam mengetahui piutang yang tidak tertagih berdasarkan analisa piutang seperti
dilakukan dengan dua cara :
a.
Berdasarkan Saldo Piutang
Dalam metode ini estimasi terhadap piutang yang tidak tertagih didasarkan
pada persentase total piutang yang beredar, yaitu dengan jalan mengalikan
persentase tertentu dengan saldo piutang yang beredar.
b.
Berdasarkan Umur Piutang
Dalam metode ini titik tolak penentuan umur piutang adalah tanggal jatuh
tempo piutang tersebut, karena semakin lama peredaran piutang maka
akan semakin kecil kemungkinan piutang tersebut akan tertagih. Estimasi
dilakukan dengan menganalisa dari masing-masing piutang untuk
mengetahui waktu jatuh tempo dari masing-masing piutang.
Metode ini lebih disukai, karena memberikan estimasi yang lebih cermat
mengenai nilai piutang yang dapat direalisasikan, serta piutang mana yang
sudah jatuh tempo dan sudah saatnya ditagih. Berikut ini disajikan contoh
dari analisa umur piutang.
Universitas Sumatera Utara
26
Tabel 2.1
PT. X
Daftar Analisa Umur Piutang
31 Desember 2003
Nama
Jumlah
Belum
Lewat Jatuh Tempo
Pelanggan
Saldo
Jatuh
1 - 30
31-60
61-90
91-180
181-365
>365
Piutang
Tempo
hari
hari
hari
hari
hari
hari
PT. A
1.360.000
360.000
1.000.000
-
-
-
-
-
PT. B
400.000
-
-
-
400.000
PT. C
890.000
890.000
-
-
-
-
-
-
PT. D
1.010.000
-
-
1.010.000
-
-
-
-
PT. E
1.200.000
800.000
200.000
-
-
200.000
-
-
PT. F
500.000
250.000
-
250.000
-
-
-
-
PT. G
840.000
500.000
-
-
340.000
-
-
-
PT. H
1.800.000
-
-
-
-
-
900.000
-
Total
8.000.000 2.800.000 1.200.000 1.360.000
740.000
200.000
900.000
900.000
Sumber : Rollin C. Niswonger, Philip E. Fess, Prinsip-prinsip Akuntansi, Jilid 1, Edisi ke
sembilan belas, Erlangga, Jakarta, Tahun 2004
Setelah piutang masing-masing langganan dikelompokkan berdasarkan umur
jatuh temponya seperti di atas maka selanjutnya ditentukan besarnya persentase kerugian
piutang untuk total masing-masing kelompok umur. Persentase dapat didasarkan pada
langganan masa lalu atau berdasarkan lamanya waktu menunggak. Persentase kerugian
berdasarkan masa lalu maksudnya adalah jika rasio jumlah piutang dan kelompok umur
piutang yang belum jatuh tempo antara tahun berjalan dengan tahun sebelumnya tidak
Universitas Sumatera Utara
27
banyak mengalami perubahan maka persentase yang digunakan pada tahun sebelumnya
dapat dijadikan sebagai pengalaman oleh perusahaan.
Sedangkan persentase yang didasarkan pada lamanya waktu menunggak,
maksudnya adalah jika semakin lama piutang tersebut menunggak maka kemungkinan
tidak tertagihnya piutang akan semakin tinggi.
Tabel 2.2
PT. X
Taksiran Umur Piutang
31 Desember 2003
Kelompok Umur
Jumlah
Persentase
Taksiran Kerugian
Piutang
Kerugian
Piutang
Belum Jatuh Tempo
Piutang
Telah jatuh Tempo
280.000
15
28.000
1 – 30 hari
2.800.000
2%
24.000
31 – 60 hari
1.260.000
3%
37.000
61 – 90 hari
740.000
4%
29.600
91 – 180 hari
200.000
5%
10.000
181 – 365 hari
900.000
6%
54.000
>365 hari
900.000
7%
63.000
Total
8.000.000
245.800
Sumber : Niswonger Rollin C, Philip E. Fess, Prinsip-prinsip Akuntansi, Jilid 1, Edisi ke
sembilan belas, Erlangga, Jakarta, Tahun 2004
Dari analisa terhadap umur piutang menunjukkan bahwa jumlah piutang sebesar
Rp. 8.000.000,- dan taksiran atas piutang yang tidak tertagih sebesar Rp. 245.800,merupakan jumlah yang harus dikurangi dari total piutang, dan jika diketahui bahwa
Universitas Sumatera Utara
28
perkiraan penyisihan sebelumnya bersaldo kredit sebesar Rp. 50.000,- maka yang akan
menjadi piutang ragu-ragu adalah sebesar Rp. 195.800,-. Jurnal penyesuaian yang dibuat
adalah sebagai berikut :
Beban Piutang Ragu-ragu
Penyisihan Piutang ragu-ragu
6.
xxx
xxx
Penyajian Piutang di Neraca
Pada akhir periode, perusahaan akan menyusun laporan keuangan di mana laporan
tersebut terdiri atas : laporan laba rugi, laporan laba ditahan, laporan perubahan posisi
kas, dan neraca.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa piutang merupakan salah satu unsur dalam
aktiva lancar, sehingga penyajiannya di dalam neraca haruslah tepat dan jelas agar tidak
menyesatkan para pembaca atau pemakai laporan keuangan tersebut. Jika hal ini terjadi
berarti fungsi laporan keuangan sebagai alat penyampaian informasi belum tercapai.
Smith dan Skousen (2004 : 309) menyatakan mengenai piutang yang akan disajikan di
dalam neraca :
Piutang yang memenuhi syarat sebagai pos-pos lancar dapat dikelompokkan
sebagai golongan berikut untuk penyajiannya di neraca : (1) wesel tagih – piutang
dagang, (2) piutang usaha – piutang dagang, dan, (3) piutang lain-lain. Biasanya
juga wesel tagih dan piutang usaha dilaporkan dalam jumlah tunggal. Rincian
yang dilaporkan untuk piutang lain-lain tergantung pada signifikan relatif dari
berbagai pos yang termasuk di dalamnya.
Mulyadi (2002 : 88) menyatakan prinsip-prinsip akuntansi yang berterima umum
di dalam penyajian piutang pada neraca antara lain :
1. Piutang usaha harus disajikan sebesar jumlah yang diperkirakan dapat ditagih
dari debitur pada tanggal neraca.
2. Piutang usaha disajikan di neraca dalam jumlah brutto dikurangi dengan
taksiran tidak tertagihnya piutang.
Universitas Sumatera Utara
29
3. Jika perusahaan tidak membentuk cadangan kerugian piutang usaha maka
harus dicantumkan pengungkapannya di neraca bahwa saldo piutang usaha
tersebut adalah jumlah bersih.
4. Jika piutang usaha bersaldo kredit (terdapat di dalam kartu piutang) pada
tanggal neraca harus disajikan ke dalam kelompok hutang lancar.
5. Jika jumlahnya material, piutang non usaha harus disajikan terpisah dari
piutang usaha.
Dari prinsip di atas dapat diketahui bahwa piutang dilaporkan pada neraca sebesar
jumlah bersih yang direalisasikan yaitu jumlah yang diharapkan dapat ditagih. Jumlah
tersebut dihitung dengan cara mengurangkan jumlah piutang yang ditaksir tidak dapat
ditagih dengan jumlah piutang yang ada. Berikut ini disajikan contoh dari penyajian
piutang usaha dalam neraca.
Tabel 2.3
PT. X
Penyajian Piutang pada Neraca
Per 31 Desember 2004
Aktiva Lancar
Kas
10.000.000
Piutang Usaha
8.000.000
Penyisihan Kerugian Piutang
(196.400)
Total Piutang Usaha
7.803.000
Sumber : Charles T. Horngren, Walter Harrison, Mikhael A. Robinson & Thomas
Secukusuma, Akuntansi Intermediate, Jilid 1, Edisi Ketujuh, Terjemahan Tim
Penerjemah Penerbit Erlanggan, Jakarta, Erlangga, 2005
7.
Pengertian Elektronik Data Processing
Meningkatnya kemampuan daya cipta manusia akan komputer semakin membawa
kemudahan bagi dunia usaha. Setiap perusahaan, terutama perusahaan yang relatif besar
dan kompleks sudah mampu membangun sistem komputernya sendiri.
Universitas Sumatera Utara
30
Menurut sebuah buku yang dikarang oleh Donald H. Sandus seperti yang dikutip
oleh Jogiyanto Hartono mendefinisikan komputer sebagai berikut :
Komputer adalah suatu sistem elektronik untuk memanipulasi data yang cepat dan
tepat serta dirancang dan diorganisasikan sistem agar secara otomatis menerima
dan menyimpan data input, memprosesnya dan menghasilkan output di bawah
pengawasan serta langkah-langkah interaksi-interaksi program yang tersimpan
dalam memori (stored program)
Penggunaan komputer dalam suatu organisasi atau badan usaha untuk tujuan
pengolahan data dikenal dengan sebutan Elektronik Data Processing (EDP). Definisi dari
EDP tersebut menurut Burry E. Cushing seperti yang dikutip oleh Zaki Baridwan di
dalam skripsi Alfan Syahrin (2003 : 20), adalah ”Peralatan dan program yang
digabungkan menjadi satu instalasi yang berhubungan untuk melaksanakan suatu tuga
tertentu dan suatu kumpulan tugas-tugas yang berkaitan pada suatu komputer”.
Sistem komputer atau sistem akuntansi otomatis elektronik adalah pengolahan
data akuntansi yang jumlahnya besar dengan peralatan akuntansi seperti komputer.
Metode ini lebih cepat, jika dibandingkan dalam pengolahan data manual. Peralatan
otomatis tersebut memungkinkan sistem akuntansi memperoleh, memproses, dan
mendistribusikan jumlah informasi yang besar terutama setiap bentuk bisnis. Proses
pengolahan data akuntansi akan dapat dilakukan dengan cepat bila digunakan komputer,
hal ini dapat terjadi karena kemampuan komputer mengolah data lebih efektif
dibandingkan manusia.
Pengertian Pengolahan Data Elektronik
atau
EDP dapat dilakukan dengan
memisahkan tiga unsur kata yang membentuknya, yaitu pengolahan, data serta elektronik
yang memungkinkan menggabungkannya kembali menjadi satu pengertian utuh.
Pengolahan berarti serangkaian, tindakan dan atau operasi untuk mencapai suatu tujuan
Universitas Sumatera Utara
31
tertentu. Data dalam hal ini berarti sekumpulan catatan tentang fakta yang belum
terorganisasikan atau sering pula diartikan sebagai informasi yang masih mentah.
Sedangkan kata elektronik berarti memakai atau menggunakan komputer.
Menurut Anies Basamalah (2001 : 5) pengolahan data elektronik adalah
”Serangkaian kegiatan dengan menggunakan komputer untuk mengubah informasi yang
masih mentah (data) menjadi informasi yang berguna sesuai dengan tujuannya”.
Menurut George Bodnar dan William Hopwood (2000 : 2) memberikan
pengertian sebagai berikut ”Elektronik Data Processing adalah pemanfaatan teknologi
komputer untuk melakukan pengolahan data transaksi-transaksi dalam suatu organisasi”.
Dari dua pengertian di atas dapat dijelakan bahwa sistem pengolahan data
elektronik itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Pengolahan dan pemrosesan data dilakukan dengan bantuan komputer.
b. Dalam pengolahan data, komputer itu telah terbatas.
Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa pengolahan data secara
otomatis mengikuti seperangkat instruksi dan serangkaian kegiatan terperinci yang
menggunakan komputer secara tepat dan konsisten. Komputer hanya akan bekerja sesuai
dengan instruksi yang dinyatakan dalam bahasa program yang telah diinput dalam
komputer.
Menurut George Bodnar dan William Hopwood (2000 : 5) yang menjadi
rangkaian kegiatan sebagai berikut :
a. Proses masukan (Inputing)
b. Penyimpanan (Storing)
c. Proses menghasilkan keluaran (Outputing)
Universitas Sumatera Utara
32
d. Pengendalian (Controlling)
Berikut ini uraian dari rangkaian kegiatan dalam peralatan komputer yang menjadi
suatu alat Elektronik Data Processing dalam perusahaan di atas.
a. Proses memasukkan (Inputing), yaitu mengumpulkan dan mencatat transaksi atau
fakta-fakta yang terjadi di dalam perusahaan (organisasi). Proses pemasukan data
inilah yang disebut Inputing.
b. Penyimpanan (Storing), yaitu menyimpan data atau informasi sehingga pada waktu
yang lain, pemakaiannya dapat menggunakan kembali data atau informasi sehingga
pada waktu yang lain, pemakaiannya dapat menggunakan kembali data atau informasi
tersebut untuk diproses lebih lanjut atau sekedar melihat data informasi tersebut
fasilitas penyimpanan ini yang merupakan salah satu kebaikan dari penggunaan
komputer yang memungkinkan bagi pemakainya untuk mengerjakan data yang sama
secara berulang-ulang.
c. Pengolahan (Processing), yaitu manipulasi masukan untuk menjadi keluaran
serangkaian kegiatan yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam
hubungan dengan komputer maka pengolahan berarti manipulasi (pemakaian atau
penggunaan) masukan untuk dijadikan keluaran sesuai dengan yang diharapkan.
d. Proses menghasilkan keluaran (Outputing), yaitu menghasilkan informasi yang
berguna seperti dalam bentuk hasil cetakan (print out), neraca, atau disimpan ke
dalam disket atau media penyimpanan lainnya.
e. Pengendalian (Controlling), yaitu mengarahkan pola dan urutan-urutan sehingga
keempat operasi yang disebut di atas dapat terlaksana sesuai dengan yang
dikehendaki oleh perusahaan atau organisasi yang bersangkutan. Dengan kata lain
Universitas Sumatera Utara
33
pengendalian bertujuan untuk mengarahkan perilaku ke arah pencapaian tujuan
organisasi. Ada pengendalian ini memungkinkan kegiatan orang-orang dan operasi di
dalam organisasi diarahkan ke arah tercapainya tujuan organisasi.
Manajemen memerlukan sistem pengendalian yang memadai agar keakuratan,
kelengkapan dan kehandalan PDE dapat membuat informasi yang dihasilkan tersebut
tidak kehilangan manfaat dan tetap dapat dipercaya. Di dalam operasinya komputer
sebagai alat data dan manusia terbatas sebagai pelaksana yang mengarahkan komputer
dengan menghasilkan program yang akan digunakan. Dengan demikian penerapan
pengolahan data secara elektronik yang baik tentu didukung oleh suatu sistem pengolahan
yang baik pula.
8. Sistem komputer PT. Indosat NSR
Mengingat kemampuan daya cipta manusia akan komputer semakin membawa
kemudahan bagi dunia usaha. Setiap perusahaan, terutama perusahaan yang relatif besar
dan kompleks sudah mampu membangun sistem komputernya sendiri.
Sebagai salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, PT. Indosat tidak lagi
menggunakan sistem manual dalam menjalankan aktivitas bisnisnya namun sepenuhnya
digunakan sistem yang berbasis komputer (full computerized). Dalam pemrosesan data
komputer yang menghasilkan sistem informasi, semua bagian/dinas/unit yang tercakup
dalam struktur organisasi berperan sesuai dengan tugasnya masing-masing (multi user).
Sistem komputer di Indosat dikelola oleh bagian Teknologi dan Informasi. Untuk
memproses data agar menghasilkan informasi yang dibutuhkan oleh pengambil keputusan
di tiap-tiap bagian/dinas/unit diperlukan suatu software atau program aplikasi khusus.
Dalam perkembangannya PT. Indosat sudah beberapa kali berganti software khususnya
Universitas Sumatera Utara
34
dalam memproses data keuangan. Pertama sekali setelah sistem komputerisasi
dilaksanakan software yang digunakan adalah Sistem Akuntansi Semi Manual yaitu
menggabungkan
sistem
akuntansi
manual
dengan
sistem
akuntansi
yang
berkomputerisasi. Saat ini PT. Indosat menggunakan software yang disebut System
Application Processing (SAP).
a. Gambaran Umum Software SAP
SAP adalah merupakan perangkat lunak (software) yang digunakan untuk
memproses data system, data aplikasi dan data produk berdasarkan fungsi organisasinya
(modul-modul).
Perangkat lunak SAP yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan di Waldorf,
Jerman ini dirancang untuk digunakan pada perusahaan-perusahaan guna meningkatkan
performansi perusahaan itu sendiri terutama di bagian financial/Accounting, Controlling
and Human Resources (SDM), Produksi/Operasi, Logistik, Penjualan dan Distribusi.
Software ini berfungsi untuk mendukung dan menyederhanakan proses-proses bisnis
dalam suatu perusahaan dengan kemampuan integrasi antar proses bisnis.
Software SAP ini memiliki beberapa modul aplikasi antara lain :
1. Modul Sales & Distribution(SD)
2. Modul Material Management (MM)
3. Modul Production Planning (PP)
4. Modul Financial/Accounting (FI)
5. Modul Controlling (CO)
6. Modul Fixed Asset Management (AM)
7. Modul Quality Management (QM)
Universitas Sumatera Utara
35
8. Modul Plan Maintenance (PM)
9. Modul Human Resources (HR)
10. Modul Project System (PS)
11. Modul Office & Communication (OC)
12. Modul Industry Solution (IS)
Modul-modul tersebut terintegrasi satu dengan yang lain sehingga seluruh
dokumen yang diperlukan oleh perusahaan dapat disimpan dalam system basis data dan
selanjutnya dapat dianalisis dalam rangka pengambilan keputusan .
Modul-modul ini dikelompokkan menjadi 6 modul utama yaitu :
1. Modul Sales and Distribution (SD)
Modul ini terdiri dari beberapa sub modul yaitu :
a. Sales support
b. Sales
c. Shipping
d. Transportation
e. Foreign Trade
f. Billing
2. Modul Material Management (MM)
Modul ini terdiri dari beberapa sub modul yaitu :
a. Purchasing
b. Vendor Evaluation
c. Contract Agreement
d. Inventory Management
Universitas Sumatera Utara
36
e. Goods Issue
f. Goods Receipt
g. Invoice Verification
3. Modul Production Planning (PP)
Modul ini terdiri dari sub modul yaitu :
a. Master data, yang terdiri dari :
1.
Bill Material
2.
Work Center
3.
Routing
b. Sales and Operation Planning
c. Master Planning
d. Capacity Planning
e. Material Requirement Planning
f. Production Orders
g. Kanban
4. Modul Finance (FI)
Modul ini terdiri dari beberapa sub modul yaitu :
a. General Ledger
b. Account Receivable
c. Account payable
d. Cash Management
e. Asset Management
Universitas Sumatera Utara
37
5. Modul Controlling (CO)
Modul ini terdiri dari sub modul yaitu :
a. Profitability Analysis
b. Product Costing
c. Internal Order
d. Profit Center Accounting
e. Cost Center Accounting
6. Modul Human Resources (HR)
Modul ini terdiri dari beberapa sub modul yaitu :
a. Master Data, yang terdiri dari sub modul :
1.
Personal Data
2.
Personal ID
3.
Organization Assignment
4.
Monitoring of Data
5.
Address
6.
Internal Control
7.
Family/Related Person
8.
Date Specification
b. Time Management, yang terdiri dari beberapa sub modul :
1.
Planning Working Time
2.
Time Recording Information
3.
Leave Entlement
4.
Absence
Universitas Sumatera Utara
38
5.
Over Time
c. Payroll
1.
Basic pay
2.
Tax
3.
Assurance
4.
Number Account Bank Transfer
5.
Loan
6.
Loan payment
7.
Additional Payment (Bonus)
8.
Medical
Untuk dapat menggunakan software SAP ini, setiap pengguna (user) harus masuk
melalui password masing-masing. Setiap pengguna diberikan profile authorization yang
dimaksudkan agar setiap user hanya dapat melakukan transaksi data dan aplikasi sesuai
dengan bidang dan jabatannya.
b. Modul Financial / Accounting
Guna pemrosesan data keuangan agar mendapatkan hasil berupa informasi
akuntansi, modul SAP yang digunakan adalah Modul Financial/Accounting. Modul ini
memiliki beberapa kemampuan, antara lain :
1.
Mencatat semua transaksi harian yang terjadi baik akuntansi biaya, kas
bank maupun gaji secara double entry.
2.
Membuat semua jurnal yang diperlukan dan memastikan jurnal yang
dibuat balance.
Universitas Sumatera Utara
39
3.
Melakukan posting secara otomatis seluruh jurnal entry ke general ledger
maupun subsidiary ledger yang terkomputerisasi.
4.
Mencatat aktiva tetap dan aktiva lancar secara aktiva tidak berwujud
5.
Mencatat utang perusahaan baik utang lancar dan utang jangka panjang
6.
Mencatat utang baik piutang usaha maupun piutang lain-lain
7.
Menetapkan saldo awal untuk semua balance account dan reversal entry.
8.
Melakukan pencatatan dan pengaturan terhadap kas (Cash Management)
9.
Menghasilkan laporan keuangan secara otomatis berupa Neraca, laporan
laba rugi, laporan arus kas, dan laporan ekuitas perusahaan baik posisi
keuangan sementara begitu data diinput hingga posisi keuangan tahunan.
10.
Membandingkan dua laporan keuangan dalam dua periode yang berbeda,
yaitu periode pada saat laporan dengan periode sebelum laporan.
Adapun jurnal-jurnal yang dapat diterima oleh Modul Finance/Akunting adalah
semua jurnal yang ada pada umumnya. Jurnal dapat dibagi dalam empat kategori antara
lain :
1. Financial Journal, yaitu suatu jurnal yang minimal harus memiliki satu entry
kredit. Apabila lebih dari satu maka total entry debet harus sama dengan total
entry kredit. Financial journal terdiri dari jurnal umum dan jurnal khusus.
2. Statistical Journal, yaitu suatu jurnal yang hanya memiliki entry debet saja atau
entry kredit saja namun kedua saldonya tidak harus sama.
3. Reversal Journal digunakan untuk pos-pos accrual accounting yang terjadi karena
adanya biaya yang akan dibebankan pada periode berikutnya.
Universitas Sumatera Utara
40
4. Recurring Journal yaitu jurnal yang berulang pada tiap periode dengan sedikit
atau tanpa perubahan.
Data-data yang diinput ke dalam Modul Finance software SAP tidak langsung
diterjemahkan sesuai dengan nama akun transaksinya, namun dalam SAP akun-akun
tersebut diterjemahkan dalam bentuk kode dan angka tertentu dan nantinya pada saat
akhir periode akuntansi, urusan akuntansi menerjemahkannya menjadi suatu laporan
akuntansi yang konvensional.
c. Pemrosesan Data Akuntansi
Akuntansi merupakan alat penting bagi perusahaan untuk mengetahui sejauh
mana perencanaan-perencanaan yang telah dibuat dapat berjalan sesuai dengan yang telah
digariskan. Akuntansi lazim disebut sebagai ”Bahasa Bisnis” (The Language of
Business), namun istilah yang lebih baik adalah ”Bahasa dari keputusan-keputusan
keuangan”. Semakin baik seseorang memahami bahasa tersebut maka semakin baik pula
orang tersebut akan mengelola aspek-aspek keuangan.
Dalam menjalankan aktivitas jasa yang fungsinya menyediakan informasi yang
kualitatif, akuntansi memerlukan data-data yaitu berupa data keuangan yang selanjutnya
diproses menjadi informasi oleh suatu sistem informasi akuntansi. Sistem akuntansi
merupakan sistem pengolahan data akuntansi agar menjadi informasi yang siap untuk
digunakan.
Permohonan data akuntansi di PT. Indosat pada awalnya dilakukan secara manual.
Namur seiring perkembangan perusahaan PT. Indosat menggunakan sistem komputer
untuk untuk memproses data tersebut. Adapun langkah-langkah pemrosesan data
dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Universitas Sumatera Utara
41
1.
Bukti-bukti transaksi dan registrasi dikumpulkan dan digolongkan menurut
akunnya masing-masing. Bukti transfer ini berupa bukti memorial, bukti kas
masuk, perintah pembayaran, faktur, bukti kas keluar, bukti laporan bank dan
kartu jam kerja sebagai bukti registrasi.
2.
Setelah dikumpulkan yang digolongkan, urusan akuntansi menginput data
yang terdapat bukti transaksi ke dalam komputer dengan menggunakan
software SAP Modul Finance/Accounting.
3.
Data diinput melalui menu input yang tersedia di software SAP sesuai dengan
nama akun transaksi yang akan dimasukkan tetapi nama akun yang terdapat
pada SAP disimpulkan dengan kode angka tertentu dan hanya orang yang
berwenang yang mengetahui arti kode tersebut sesuai dengan peran dan
jabatannya dalam perusahaan.
4.
Kemudian tekan enter pada keyboard komputer dan software SAP akan secara
otomatis membuat jurnal entry adapun jurnal yang dibuat sama dengan sistem
akuntansi manual, lalu jurnal tersebut diposting ke buku besar (General
Ledger), sistem dalam Modul Finance memilah jurnal tersebut, mana yang
masuk ke neraca, ke laba/rugi atau laporan arus kas.
5.
Setelah selesai maka data tadi disimpan dalam file pada sistem basis data yang
sewaktu-waktu dapat dibuka kembali.
6.
Bila sewaktu-waktu diperlukan laporan keuangan sementara, maka pengguna
(user) dapat memilih laporan keuangan apa yang dibutuhkannya, setelah
dipilih tekan enter maka laporan tersebut langsung ditampilkan di layar
(screen) komputer.
Universitas Sumatera Utara
42
7. Pada akhir periode akuntansi, urusan akuntansi mencetak laporan-laporan
keuangan yang diperlukan, lalu menerjemanhkan kode-kode angka yang
melambangkan akun, kemana akun yang sesuai dengan akuntansi pada
umumnya.
9.
Peranan SAP Dalam Pengolahan Data Piutang pada PT. Indosat
Sistem pengolahan data berbasis komputer akan memudahkan para pelaku bisnis
untuk meperoleh data akuntansi. Dengan adanya komputer, prosedur manual dapat
diganti dengan program komputer, dan record-record disimpan secara magnetis. Datadata akuntansi yang menggunakan sistem berbasis komputer lebih praktis sebab telah
dipilih dalam suatu file. Record akuntansi dalam sistem berdasarkan komputer disajikan
dalam empat jenis file magnetis yang berbeda yaitu file induk, file transaksi, file referensi
dan file arsip, sehingga memudahkan untuk membentuk jejak audit. Penyajian laporan
data akuntansi yang menggunakan sistem komputerisasi lebih cepat dapat disajikan.
Electronic Data Processing dapat melaksanakan tugas pengolahan data dengan
tingkat kecepatan yang luar biasa, sehingga dapat memenuhi kebutuhan dengan tingkat
kualitas yang sesuai. Sistem informasi merupakan suatu kesatuan komponen dalam suatu
perusahaan yang memproses seluruh transaksi keuangan untuk menyediakan informasi
bagi mereka. Proses pengolahan data akuntansi dapat dilaksanakan dengan cepat apabila
menggunakan sistem komputerisasi. Hal ini terjadi karena kemampuan komputer untuk
mengolah data yang jauh melebihi kecepatan manusia. Selain dapat mengolah data dalam
bentuk dan jumlah yang esar serta waktu yang relatif singkat, komputer juga dapat
menyimpan data yang sewaktu-waktu dapat dipergunakan kembali. Sistem pengolahan
data SAP
yang dipergunakan oleh perusahaan adalah suatu sistem komputerisasi
Universitas Sumatera Utara
43
pencatatan dan pengolahan piutang dalam perusahaan. SAP dalam perusahaan dimulai
dari pencatatan apliaksi pengolahan data piutang dari para pelanggan, dengan pengiriman
modern setiap pelanggan ke dalam file induk, sehingga diketahui jumlah piutang yang
harus dibayar oleh para pelanggan.
Berdasarkan komputer dalam perusahaan disajikan dalam file yang berbeda
diantaranya adalah :
1.
File Induk
File induk dalam perusahaan berisikan data-data akun. Buku besar umum dan buku
besar pembantu adalah contoh dari file induk. Nilai data-data dalam file induk
diperbarui dari transaksi.
2.
File Transaksi
Sebuah file transaksi adalah file sementara yang menyimpan record transaksi yang
akan digunakan untuk mengubah atau meperbaharui data dalam file induk. Pesanan
penjualan, penerimaan persediaan dan penerimaan kas adalah contoh-contoh dari
file transaksi.
3.
File Referensi
Sebuah file referensi menyimpan data yang digunakan sebagai standard untuk
memproses transaksi. Misalnya, program pembayaran gaji dapat merujuk ke tabel
pajak untuk menghitung jumlah yang sebenarnya dari pajak yang ditahan untuk
transaksi pembayaran gaji. File referensi lainnya meliputi daftar harga yang
digunakan untuk menyiapkan faktur-faktur pelanggan, daftar pemasok yang
diotorisasi, daftar nama pegawai, dan file kredit pelanggan untuk persetujuan
penjualan kredit.
Universitas Sumatera Utara
44
4.
File Arsip
Sebuah file arsip record-record tentang transaksi masa lalu yang dipertahankan
untuk referensi akan datang. Bentuk transaksi ini merupakan bagian yang penting
dari jejak audit. File arsip meliputi jurnal-jurnal, informasi pembayaran gaji periode
sebelumnya, daftar nama pegawai sebelumnya, record tentang akun yang dihapus
dan buku besar periode sebelumnya. File komputer memberikan jejak audit. Kita
mulai dengan penangkapan peristiwa ekonomi. Dalam contoh ini, penjualan dicatat
secara manual pada dokumen sumber, seperti pada sistem manual. Langkah
berikutnya dalam proses ini adalah mengkonversi dokumen sumber ke bentuk
magnetis. Hal ini dilakukan dalam langkah input data, dimana transaksi diedit. Dan
sebuah file transaksi pesanan penjualan diproduksi. Sebagian sistem komputer tidak
menggunakan sumber fisik, melainkan transaksi ditangkap secara langsung di
media magnetis dan selanjutnya akan mempengaruhi file induk dari akun-akun
kontrol dan buku besar pembantu.
10. Proses Pengolahan Piutang dengan Sistem SAP pada PT. Indosat NSR
Prosedur merupakan suatu alat yang akan membuat perusahaan menjadi mudah
dalam melaksanakan pekerjaan dan aktivitasnya. Prosedur pengolahan piutang yang
digunakan oleh perusahaan terbagi-bagi sesuai dengan kebutuhan, prosedur dimaksudkan
untuk menjadi satu pedoman dan alat bagi perusahaan untuk memudahkan cara kerja para
bagian yang terkait dalam pencatatan piutang.
Prosedur pengolahan data piutang dengan sistem SAP pada PT. Indosat NSR
dimulai dari timbulnya piutang (lihat lampiran 2).
Universitas Sumatera Utara
45
Berikut ini uraian dari flowchart prosedur sistem SAP pada PT. Indosat NSR untuk
pembuatan program aplikasi baru mulai timbulnya piutang dalam perusahaan. Adminpen
staff membuat nota dinas/kontrak/berita acara lapangan selanjutnya diserahkan ke bagian
Collection staff untuk memeriksa nota dinas/kontrak/berita acara lapangan, apabila nota
dinas tersebut benar maka akan diproses lebih lanjut dan apabila salah maka
dikembalikan ke bagian adminpen staff.
Setelah nota dinas tersebut diproses lebih lanjut maka Collection Staff membuat
invoice yang sesuai dengan kontrak dan nota dinasserta berita acara lapangan untuk
diserahkan ke bagian Collection Staff A/R dan Customer.
Invoice tersebut dari bagian Collection staff A/R diperiksa kembali, apabila salah
dikembalikan ke bagian Collection Staff dan apabila benar akan di-create invoice ke SAP
dimana create invoice tersebut diserahkan ke bagian Tax Division Staff untuk membuat
laporan pajak keluaran setelah itu diserahkan ke bagian CM Staff untuk diposting
rekening koran.
Setelah dilakukan posting rekening korang diclearing untuk diserahkan ke
Collection Staf untuk mengetahui data tunggakan, lalu data tersebut diserahkan ke
Customer dimana apabila tidak dibayar oleh Customer tersebut maka data tersebut akan
dikirim ke Jakarta dan apabila telah dibayar maka selesai prosedur timbulnya piutang.
B. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang digunakan penulis sebagai bahan perbandingan terdapat
dalam tabel berikut :
Universitas Sumatera Utara
46
Tabel 2.4
Tabel Komparasi Penelitian Terdahulu
No
Nama Peneliti
Tahun
Masalah yang
Diteliti
Penyisihan
atas Piutang
Variabel yang
Diamati
Laporan
Keuangan
Perum
Pegadaian
Metode yang
Digunakan
Metode
Observasi
dan
Studi
Pustaka
1
Dedek
Mawardi
2003
2
Nur’ainun
2003
Sistem
Pengawasan
intern Piutang
Pencatatan
akuntansi dan
dokumen
piutang
Metode
Wawancara
dan
Studi
Pustaka
3
Riana Astuti
2004
Penerapan
Elektronik
Data
Processing
dalam
pengawasan
piutang
Sistem
Standard
Operational
Procedure
pengawasan
piutang
Metode
Observasi
dan
Studi
Pustaka
4
Yuniar
2004
Penerapan
Elektronik
Data
Processing
Data
Akuntansi
Data keuangan
PT Telkom
Metode
Observasi
dan
Studi
Pustaka
Hasil Temuan
Perusahaan
tidak
melakukan penyisihan
atas piutang yang
dimilikinya sehingga
jumlah piutang yang
disajikan dalam neraca
belum mencerminkan
jumlah
bersih
sebagaimana
diatur
dalam
Standar
Akuntansi Keuangan
Kurang diterapkannya
pengawasan
yang
efektif pada piutang
tak tertagih karena
tidak adanya bagan alir
sistem
yang
menjelaskan bagianbagian yang berkaitan
serta
dokumen
maupun
catatan
akuntansi
Standard Operational
Procedure
hanya
berfungsi
sebagai
pengolahan data dan
informasi piutang yang
masuk
saja
tetapi
belum
berfungsi
sebagai
alat
pengawasan
piutang
yang timbul yang
menyebabkan
perusahaan
masih
mengalami
piutang
ragu-ragu
Pengolahan
data
dilakukan
secara
kelompok dan terpisah
sehingga jika terjadi
kesalahan
dalam
pengerjaannya maka
kesalahan
tersebut
tidak dapat diketahui
sehingga data yang
telah selesai harus
diedit ulang
Sumber : Skripsi Peneliti Terdahulu
Universitas Sumatera Utara
Download