BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Investasi Investasi adalah

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Investasi
Investasi adalah penundaan konsumsi sekarang untuk digunakan didalam produksi
yang efesien selama periode waktu tertentu (Jogiyanto, 2009). Investasi juga di
definisikan oleh beberapa pakar seperti Relly dan Brown (1997) dalam
Nurmayanti dan Indrawati (2010) yang menyatakan bahwa investasi adalah
“Investment is the current commitment of dollar for a period of time to derive
future payment that will compensate the investor for (1) the time the funds
commited, (2) the expected rate of inflation, (3) the uncertainty of the future
payment”. Sementara itu Halim (2005) mendefinisikan investasi sebagai kegiatan
penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan akan memperoleh
keuntungan dimasa mendatang. Suatu investasi dikatakan menguntungkan
(profitable) kalau investasi tersebut bisa membuat pemodal menjadi lebih kaya,
dengan kata lain kemakmuran pemodal menjadi lebih besar setelah melakukan
investasi (Husnan, 1996).
Selanjutnya dengan begitu dapat dikatakan bahwa seseorang melakukan investasi
pada dasarnya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari apa yang di
investasikannya saat ini untuk masa mendatang atau jangka panjang. Investasi
dengan melakukan penanaman modal melalui pembelian surat berharga dapat
8
dilakukan dipasar modal. Surat berharga yang diperjualbelikan dipasar modal juga
beragam berupa obligasi, saham, reksa dana dan lainnya.
2.1.1 Tipe-tipe Investasi Keuangan
Menurut Nurmayanti dan Indrawati (2010) tipe investasi keuangan dibagi menjadi
dua yaitu:
A. Direct Investment (Investasi Langsung)
Melalui direct investment mereka yang memiliki dana dapat langsung berinvestasi
dengan membeli secara langsung suatu aktiva keuangan dari suatu perusahaan
yang dapat dilakukan baik melalui perantara atau berbagai cara lainnya. Direct
investment dapat dilakukan dimana saja seperti di pasar uang, pasar modal, pasar
turunan, dan dapat pula dilakukan dengan membeli aktiva keuangan yang tidak
dapat diperjualbelikan melalui bank komersial seperti tabungan atau sertifikat
deposito. Direct investment ini masih dapat dibagi lagi dalam beberapa macam
model investasi seperti:
1. Investasi langsung yang tidak dapat diperjualbelikan. Contohnya adalah
tabungan dan deposito.
2. Investasi langsung yang dapat diperjualbelikan. Dalam hal ini investasi
langsung dibagi lagi berdasarkan tempatnya yaitu:
(1) Investasi langsung di pasar uang
Aktiva yang dapat diperjualbelikan pada pasar uang meliputi aktiva
yang mempunyai risiko gagal yang kecil, jatuh temponya pendek
dengan likuiditas yang tinggi. Contohnya T-bill yang digunakan
sebagai proksi return bebas risiko dalam penelitian bidang keuangan,
9
dan deposito yang dapat dinegosiasikan atau sertifikat depositonya
dapat di jual kembali.
(2) Investasi langsung di pasar modal
Investasi dipasar modal meliputi investasi jangka panjang dengan
aktiva yang dapat diperjualbelikan terdiri dari:
i.
Surat-surat berharga pendapatan tetap (fixed-income securities)
yaitu (1) T-bond (treasury bond) adalah surat berharga yang
memiliki jatuh tempo yang panjang, berkisar 10 sampai 30 tahun;
(2) federal agency securities adalah surat berharga agen federal
yang dikeluarkan oleh pemerintah federal Amerika Serikat untuk
tujuan membantu sektor-sektor ekonomi tertentu; (3) municipal
bond adalah surat utang (obligasi) yang dikeluarkan oleh
pemerintah provinsi dan pemerintah daerah yang diterbitkan
dengan tujuan untuk membantu pembiayaan modal pemerintah
seperti pembangunan jalan, rumah sakit bandara dan lain-lain; (4)
corporate bond adalah surat utang (obligasi) jangka panjang yang
dikeluarkan oleh perusahaan dengan nilai utang akan dibayarkan
kembali pada saat jatuh tempo dengan pembayaran kupon atau
tanpa kupon yang sudah ditentukan dikontrak utangnya; (5)
convertible bond adalah surat utang (obligasi) yang dapat
dikonversikan ke dalam saham.
ii.
Saham-saham (equity securities). Terdapat dua jenis saham yaitu
saham preferen atau istimewa (prefered stock) dan saham biasa
(common stock). Menurut Fahmi (2014) saham biasa adalah suatu
10
surat berharga yang dijual oleh suatu perusahaan yang
menjelaskan nilai nominal (rupiah, dolar, yen, dan sebagainya)
dimana pemegangnya diberi hak untuk mengikuti RUPS (Rapat
Umum Pemegang Saham) dan RUPSLB (Rapat Umum
Pemegang Saham Luar Biasa) serta berhak untuk menentukan
membeli right issue (penjualan saham terbatas) atau tidak, yang
selanjutnya diakhir tahun akan memperoleh keuntungan dalam
bentuk deviden. Sedangkan saham istimewa adalah suatu surat
berharga yang dijual oleh suatu perusahaan yang menjelaskan
nilai nominal (rupiah, dolar, yen, dan sebagainya) dimana
pemegangnya akan memperoleh pendapatan tetap dalam bentuk
deviden yang biasanya akan diterima disetiap kuartal (tiga
bulanan).
(3) Investasi langsung di pasar turunan
Contoh dari bentuk investasi langsung dipasar turunan seperti:
i.
Opsi. Opsi dibedakan menjadi 3 jenis berupa (1) put option yaitu
memberi hak kepada pemegangnya untuk menjual sejumlah saham
perusahaan lain dalam kurun waktu tertentu dengan harga yang
sudah di tetapkan; (2) call option yaitu memberi hak kepada
pemegangnya untuk membeli sejumlah saham perusahaan lain
dalam kurun waktu tertentu dengan harga yang sudah di
tetapkan;dan (3) warrant yaitu suatu hak yang diberikan kepada
pemegangnya untuk membeli saham dari perusahaan bersangkutan
dengan harga tertentu dalam kurun waktu yang sudah ditentukan
11
dengan nilai waran merupakan jabaran (turunan) dari harga saham
terkait.
ii.
Future contract yaitu persetujuan untuk menyediakan komoditas
(aktiva) di masa mendatang dengan harga pasar yang sudah di
tentukan di muka. Biasanya yang diperdagangkan adalah
komoditas hasil bumi.
B. Indirect Investment (investasi tidak langsung)
Indirect investment atau investasi tidak langsung adalah kegiatan membeli suratsurat berharga dari perusahaan investasi. Yang dimaksud dengan perusahaan
investasi adalah perusahaan yang menyediakan jasa keuangan dengan cara
menjual sahamnya ke publik dan menggunakan dana yang diperoleh untuk di
investasikan ke dalam portofolionya. Dalam indirect investment para pembeli
cenderung tidak terlibat dalam pengambilan keputusan karena kegiatan penjualan
dan pembelian saham atau obligasi di lakukan di pasar modal dengan melalui
perantara.
2.1.2 Proses Investasi
Adanya proses investasi maka investor dapat terbantu dalam membuat keputusan
dengan prosedur yang tepat dalam menentukan dimana investasi akan dilakukan.
Dalam Nurmayanti dan Indrawati (2010) dijelaskan bahwa terdapat lima proses
atau prosedur dasar dalam proses investasi yang dapat digunakan investor
sebelum membuat keputusan, yaitu:
12
1. Kebijakan Investasi
Untuk menentukan kebijakan investasi langkah pertama yang dilakukan
adalah dengan menentukan tujuan dari investor dan kemampuan atau
kekayaan yang dapat diinvestasikan. Hal ini dilakukan karena seorang
investor pastinya akan mempertimbangkan risiko dan return yang nantinya
akan diterima. Setelah melakukan kedua hal tersebut selanjutnya
mengidentifikasi kategori potensial dari aset finansial untuk portofolio
dengan di dasarkan pada beberapa hal seperti tujuan investasi, jumlah
kekayaan yang akan di investasikan, dan status pajak dari investor.
2. Analisis Sekuritas
Analisis sekuritas dilakukan dengan menilai sekuritas secara individual
(atau beberapa kelompok sekuritas) yang masuk dalam kategori luas dari
aset finansial yang telah di identifikasi sebelumnya. Penilaian ini dilakukan
dengan tujuan untuk mengidentifikasi sekuritas yang salah harga
(mispriced). Terdapat dua bentuk pendekatan yang dapat dilakukan untuk
analisis sekuritas yaitu:
i.
Analisis teknis. Analisis yang dilakukan meliputi studi harga pasar saham
dalam upaya meramalkan gerakan harga pada masa depan untuk saham
perusahaan tertentu.
ii.
Analisis fundamental. Dalam analisis fundamental nilai instrinsik dari
aset finansial harus sama dengan present value dari semua aliran tunai
yang di harapkan di terima oleh pemilik aset. Analisis fundamental
dilakukan dengan tujuan untuk meramalkan saat dan besarnya aliran
13
tunai dan kemudian mengkonversikannya menjadi nilai sekarang (present
value) dengan menggunakan tingkat diskon yang tepat.
3. Pembentukan Portofolio
Pembentukan portofolio dilakukan dengan mengidentifikasi aset untuk
menentukan aset khusus mana yang akan dijadikan investasi dan
menentukan berapa besar bagian dari investasi seorang investor pada setiap
aset tersebut. Untuk pembentukan portofolio investor perlu memperhatikan
selektivitas, penentuan waktu dan diversifikasi. Selektivitas sendiri merujuk
pada analisis sekuritas dan memfokuskan pada peramalan pergerakan harga
tiap sekuritas sedangkan penentuan waktu meliputi peramalan pergerakan
saham secara umum dan diversifikasi meliputi konstruksi portofolio
investor sedemikian rupa sehingga meminimalkan risiko.
4. Revisi Portofolio
Revisi portofolio berhubungan dengan pengulangan periodik dari tiga
langkah sebelumnya yang disebabkan kemungkinan investor mengubah
tujuan
dari
investasinya
sehingga
menyebabkan
portofolio
yang
dipegangnya tidak lagi optimal. Revisi portofolio juga terjadi karena
berjalannya waktu. Seiring berjalannya waktu biasanya sekuritas yang
dimiliki investor sudah tidak menarik lagi sehingga muncul keinginan
investor untuk menambah sekuritas yang menarik dalam portofolionya
dengan menjual sekuritas yang tidak menarik tersebut dan menggantikannya
dengan membeli sekuritas yang saat ini dianggap menarik.
14
5. Evaluasi Kinerja Portofolio
Evaluasi dilakukan secara periodik terhadap return yang selama ini diterima
dan juga risiko yang dihadapi. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui apakah
tindakan yang dilakukan selama ini sudah maksimal atau belum. Apabila
belum maksimal maka akan dilakukan perbaikan untuk menghindari
kerugian dimasa mendatang.
Melalui proses investasi seperti dengan menentukan kebijakan investasi dapat
berguna untuk memberikan batasan terhadap jumlah dari investasi yang akan
dilakukan. Selanjutnya dengan melakukan analisis terhadap tiap-tiap sekuritas
dapat mempermudah dalam membentuk portofolio. Saat portofolio sudah
terbentuk maka perlu dilakukan revisi portofolio agar dapat diketahui bagaimana
kinerja portofolio yang telah dimiliki dan dapat melakukan evaluasi ulang.
2.2 Pasar Modal
Pasar modal adalah jaringan tatanan yang memungkinkan pertukaran klaim
jangka panjang, penambahan financial assets (dan hutang) pada saat yang sama,
memungkinkan investor untuk mengubah dan menyesuaikan portofolio investasi
(melalui pasar sekunder)(Anoraga dan Pakarti, 2008). Pasar modal memang
bentuk umum surat berharga yang diperjualbelikan berupa obligasi, saham
preferens dan saham biasa. Sehingga dari setiap bentuk tersebut menjelaskan
bahwa orang yang memilikinya adalah pemilik modal dalam lembaga atau
perusahaan yang mengeluarkannya. Wai dan Patrick dalam sebuah makalah IMF
menyebutkan 3 pengertian tentang pasar modal sebagai berikut: (Fahmi, 2014)
15
a. Definisi yang luas
Pasar modal adalah kebutuhan sistem keuangan yang terorganisasi,
termasuk bank-bank komersial dan semua perantara dibidang keuangan
serta surat-surat berharga jangka panjang dan jangka pendek, primer, dan
tidak langsung.
b. Definisi dalam arti menengah
Pasar modal adalah semua pasar yang terorganisasi dan lembaga-lembaga
yang memperdagangkan warkat-warkat kredit (biasanya yang berjangka
waktu lebih dari 1 tahun) termasuk saham-saham, obligasi, pinjaman
berjangka, hipotek dan tabungan, serta deposito berjangka.
c. Definisi dalam arti sempit
Pasar modal adalah pasar terorganisasi yang memperdagangkan sahamsaham dan obligasi dengan memakai jasa makelar, komisioner, dan
underwriter.
Di Indonesia, terdapat beberapa undang-undang yang menjelaskan dan mengatur
tentang pasar modal seperti Undang-undang Nomor 8 tahun 1995 Tertanggal 10
November 1995 tentang pasar modal. Dalam Undang-undang ini dijelaskan
bahwa pasar modal adalah segala kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran
umum dengan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek
yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.
Di pasar modal, pemerintah juga menyediakan lembaga keuangan bukan bank
(LKKB) dan lembaga pembiayaan investasi yang disini berfungsi untuk menjadi
penghimpun dana untuk diperjualbelikan. Hal ini juga diatur dalam Keputusan
16
Menteri Keuangan Nomor Kep. 38/MK/IV/1/1972, pada tanggal 18 Januari 1972
dan Kep. 280/KMK.01/1989 pada tanggal 25 Maret 1989 yang menjelaskan
bahwa LKBB adalah badan usaha yang melakukan kegiatan dibidang keuangan
yang secara langsung maupun tidak langsung menghimpun dana dengan jalan
mengeluarkan surat berharga dan menyalurkannya kepada masyarakat guna
membiayai investasi perusahaan. Sedangkan lembaga pembiayaan seperti yang
diatur dalam Kepres Nomor 61 Tahun 1988 tanggal 20 Desember 1988 adalah
merupakan badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk
penyediaan dana atau barang modal dengan tidak menarik dana secara langsung
dari masyarakat.
Berdasarkan dari beberapa pengertian pasar modal dapat diartikan sebagai tempat
terjadinya transaksi jual-beli yang menggunakan intrumen keuangan sebagai
sesuatu yang diperjualbelikan. Pasar modal juga dianggap sebagai suatu tempat
yang memungkinkan terpenuhinya kebutuhan dana jangka panjang untuk investasi
dalam jangka panjang dala bentuk bangunan, peralatan dan sarana produksi
lainnya.
2.2.1 Manfaat Pasar Modal
Manfaat yang didapatkan dari pasar modal bermacam-macam tergantung pada
pihak mana yang menggunakannya seperti:
a. Bagi para emiten.
(1) Jumlah dana yang dapat dihimpun bisa berjumlah besar dan dapat
sekaligus diterima oleh emiten pada saat pasar perdana.
17
(2) Tidak ada covenant sehingga manajemen dapat lebih bebas (mempunyai
keleluasaan) dalam mengelola dana yang diperoleh perusahaan.
(3) Solvabilitas perusahaan tinggi sehingga memperbaiki citra perusahaan
dan ketergantungan terhadap bank kecil. Jangka waktu penggunaan dana
tak terbatas.
(4) Cash flow hasil penjualan saham biasanya akan lebih besar daripada
harga nominal perusahaan. Emisi saham sangat cocok untuk membiayai
perusahaan yang beresiko tinggi.
(5) Tidak ada beban finansial yang tetap, profesionalisme manajemen
meningkat.
b. Bagi para pemodal atau investor.
(1) Nilai
investasi
berkembang
mengikuti
pertumbuhan
ekonomi.
Peningkatan tersebut tercermin pada meningkatnya harga saham yang
mencapai capital gain.
(2) Memperoleh deviden bagi mereka yang memiliki atau memegang saham
dan bunga tetap atau bunga yang mengambang bagi pemegang obligasi.
(3) Mempunyai hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS),
dan mempunyai hal suara dalam Rapat Umum Pemegang Obligasi
(RUPO).
(4) Dapat dengan mudah mengganti instrumen investasi, misal dari saham A
ke saham B sehingga dapat meningkatkan keuntungan atau mengurangi
risiko.
(5) Dapat sekaligus melakukan investasi dalam beberapa instrumen yang
mempengaruhi risiko.
18
c. Bagi lembaga penunjang.
(1) Menuju kearah profesional didalam memberikan palayanan yang sesuai
dengan bidang tugas masing-masing.
(2) Sebagai pembentuk harga dalam bursa paralel.
(3) Semakin memberi variasi kepada jenis lembaga penunjang.
(4) Likuiditas efek semakin tinggi.
d. Bagi pemerintah.
(1) Sebagai sumber pembiayaan badan usaha milik negara sehingga tidak
lagi tergantung pada subsidi dari pemerintah.
(2) Manajemen badan usaha menjadi lebih baik, manajemen dituntut untuk
lebih profesional.
(3) Meningkatkan pendapatan dari sektor pajak, penghematan devisa bagi
pembiayaan pembangunan serta memperluas kesempatan kerja.
2.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Pasar Modal
Menurut Rijayanto (1990) dalam Anoraga (2006) Perkembangan suatu pasar
modal dipengaruhi oleh partisipasi yang aktif, baik dari perusahaan yang akan
menjual sahamnya (go public) maupun investor serta pihak-pihak lain yang
terlibat dalam kegiatan pasar modal. Dengan ini dapat diartikan bahwa ada
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan atau transaksi dalam pasar
modal seperti partisipasi aktif dari perusahaan yang potensial untuk go public,
peran aktif para investor untuk menanamkan dananya dengan membeli surat
berharga, dan adanya lembaga-lembaga pasar modal. Dengan adanya faktor
tersebut ditambah dengan kualitas yang memadai dan perilaku baik dan rasa
19
tanggung jawab sosial yang besar dapat meningkatkan perkembangan bagi pasar
modal. Selain itu, peraturan dan pengawasan terhadap pasar modal juga ikut
mempengaruhi perkembangan pasar modal. Dengan adanya peraturan dan
pengawasan yang memadai dan efektif maka akan mendorong investor untuk
terjun ke dalam pasar modal.
2.3 Risiko
2.3.1 Definisi dan Ukuran Risiko
Risiko dapat didefinisikan sebagai probabilitas tidak dicapainya keuntungan yang
diharapkan atau expected return dimana kemungkinan return yang diterima
menyimpang dari return yang diharapkan (Sartono, 2008). Dalam hal ini semakin
besar penyimpangan yang terjadi maka semakin besar pula risiko yang akan
diterima. Setiap individu pastinya tidak menyukai adanya risiko sehingga
timbullah sifat dimana seorang individu yang mengalami kenaikan dalam tingkat
risiko yang akan diterimanya meminta tambahan keuntungan atas hal tersebut.
Berdasarkan hal tersebut maka individu dikelompokan menjadi tiga kelompok
yaitu:
a. Individu yang menyukai risiko atau risk seeker. Mereka adalah yang senang
menghadapi risiko, hal ini dapat ditunjukan saat mereka dihadapkan oleh
dua pilihan dimana pilihan tersebut memiliki tingkat keuntungan yang sama
namun memiliki tingkat risiko yang berbeda. Bagi para risk seeker mereka
akan cenderung memilih investasi pada saham dengan risiko yang lebih
besar. Mereka juga biasanya akan meminta tambahan keuntungan yang
lebih kecil untuk setiap tambahan risiko yang akan diterima.
20
b. Individu yang tidak menyukai atau menghindari risiko atau risk averter.
Mereka yang termasuk dalam risk averter akan lebih senang membuat
pilihan pada investasi yang memiliki risiko yang lebih kecil dan dengan
tingkat keuntungan yang sama.
c. Individu yang bersifat netral terhadap risiko atau risk neutrality. risk
neutrality adalah kelompok investor atau individu yang bersikap netral
terhadap risiko artinya investor akan meminta kenaikan tingkat keuntungan
yang sama untuk setiap tingkat kenaikan risiko.
Definisi risiko yang telah diuraian sebelumnya mengartikan bahwa risiko sebagai
sebuah kerugian yang akan atau diterima oleh individu atau perusahaan disaat
terjadi suatu kesalahan atau penyimpangan. Risiko muncul karena adanya
ketidakpastian.
Oleh
sebab
itu
dibutuhkan
suatu
informasi
dalam
mempertimbangkan pengambilan keputusan untuk menghadapi terjadinya risiko
tersebut.
2.3.2 Pengukuran Risiko
Hanafi (2014) mengatakan bahwa teknik standar deviasi dapat digunakan untuk
melihat risiko dalam suatu investasi. Risiko yang diukur dengan standar deviasi
dihitung dengan rumus (Hanafi, 2014):
𝜎 2 = Σ (Ri – E(R))² Pi
............................................................(2.1)
Dimana:
Ri
= Return yang terjadi
E(R)
= Return yang diharapkan atau return rata-rata
Pi
= Probabilitas kejadian
21
Selain itu, dalam menghitung risiko juga dapat menggunakan koefesien variasi
(coefficient of variation) yang merupakan hasil dari pembagian standar deviasi
dengan return yang diharapkan.
2.3.3 Mengelola Risiko
Fahmi (2014) menjelaskan bahwa pada dasarnya risiko itu dapat dikelola dengan
empat cara yaitu:
a. Memperkecil risiko. Yaitu dengan cara tidak memperbesar setiap keputusan
yang mengandung risiko tinggi tetapi membatasinya dan meminimalisirnya
agar risiko tersebut tidak bertambah menjadi besar diluar control pihak
manajemen perusahaan.
b. Mengalihkan risiko. Yaitu dengan cara mengalihkan resiko yang diterima
ketempat lain seperti dengan mengansurasikan bisnis yang dijalankan untuk
menghindari risiko yang sifatnya tidak diketahui kapan waktu datangnya.
c. Mengontrol
risiko.
Yaitu
dengan
cara
membuat
kebijakan
guna
mengantisipasi timbulnya risiko sebelum risiko tersebut terjadi.
d. Pendanaan risiko. Hal ini menyangkut dengan penyediaan sejumlah dana
sebagai reserve (cadangan) yang nantinya akan digunakan untuk
mengantisipasi timbulnya risiko dikemudian hari.
2.4 Return
Menurut Shook dalam Fahmi (2014) return merupakan laba investasi baik melalui
bunga ataupun deviden. Dalam berinvestasi terdapat dua bentuk return yang
dihasilkan oleh investor pertama pembayaran bunga atau deviden dan kedua
22
berupa keuntungan atau kerugian dari modal yang di investasikan. Return
menjelaskan bagaimana investasi yang dilakukan investor dengan harapan dapat
memberikan hasil dimasa mendatang sesuai dengan nilai yang ditanamkan.
Return menurut Jogiyanto (2003) dapat berupa return realisasi dan return
ekspektasi, dimana dijelaskan bahwa return realisasi (realized return) merupakan
return yang telah terjadi dan dihitung berdasarkan data historis sedangkan return
ekspektasi (expected return) adalah return yang diharapkan akan diperoleh oleh
investor dimasa mendatang. Selain return realitas dan return ekspektasi juga
terdapat return nominal. Sharpe (1997) menjelaskan bahwa tingkat bunga yang
penduduk dapat memperdagangkan uang ‘kini’ untuk uang ‘masa depan’
tergantung ada investasi yang dilakukan dan itu disebut return nominal atau
tingkat bunga nominal. Dari pengertian return dapat diartikan sebagai suatu
keuntungan yang diterima secara continue oleh investor dalam tingkat tertentu
dari investasi yang dilakukannya.
2.4.1 Menghitung Return Realisasi
Menghitung return realisasi dapat dilakukan dengan beberapa cara salah satunya
yaitu dengan menggunakan return total. Return total merupakan return
keseluruhan dari suatu investasi dan suatu periode tertentu (Jogiyanto,2003).
Return total atau yang sering disebut return menurut Jones terdiri dari dua
komponen yaitu (Nurmayanti dan Indrawati, 2010):
a. Yield, merupakan persentase penerimaan kas periodik terhadap harga
investasi periode tertentu dari suatu investasi. Untuk saham, yield adalah
persentase deviden terhadap harga saham periode sebelumnya sedangkan
23
untuk obligasi yield adalah persentase bunga pinjaman yang diperoleh
terhadap harga obligasi periode sebelumnya.
b. capital gain (loss), merupakan selisih dari harga investasi sekarang relatif
dengan harga periode yang lalu. Jika harga investasi sekarang (𝑃𝑑 ) lebih
tinggi dari harga investasi periode lalu (𝑃𝑑−1 ), ini berarti terjadi keuntungan
modal (capital gain). Sebaliknya jika harga investasi sekarang (𝑃𝑑 ) lebih
rendah dari harga investasi periode lalu (𝑃𝑑−1 ) disebut capital loss.
Perhitungan return dapat dihitung dengan menggunakan rumus-rumus seperti:
1. Return = Capital Gain (loss) + Yield
2. Capital gain atau capital loss =
3. Return =
𝑃1 −𝑃𝑑−1
𝑃𝑑−1
4. Return saham =
......................................(2.2)
𝑃1 −𝑃𝑑−1
𝑃𝑑−1
.......................................(2.3)
+ Yield ..............................................................(2.4)
𝑃1 −𝑃𝑑−1
𝑃𝑑−1
𝐷𝑑
+𝑃
𝑑−1
=
𝑃1 −𝑃𝑑−1 + 𝐷𝑑
𝑃𝑑−1
..............................(2.5)
Keterangan:
Return
= tingkat pengembalian
Capital gain/capital loss
= Selisih untung atau rugi dari harga investasi
𝑃𝑑
= Harga investasi sekarang
𝑃𝑑−1
= Harga investasi tahun sebelumnya
𝐷𝑑
= Besarnya deviden periodik perlembarnya
2.5 Portofolio
Menurut Hanafi (2014) portofolio adalah kumpulan lebih dari satu aset yang
digambarkan suatu misal kita memiliki empat saham maka dapat dikatakan kita
memiliki portofolio yang terdiri dari empat saham. Jogiyanto (2003)
24
mengungkapkan bahwa portofolio yang efesien dapat ditentukan dengan memilih
tingkat return ekspektasi tertentu kemudian meminimumkan risikonya atau
menentukan tingkat risiko yang tertentu dan kemudian memaksimumkan return
ekspektasinya. Jones dalam Nurmayanti dan Indrawati (2010) menyatakan bahwa
untuk membentuk suatu portofolio meliputi beberapa langkah seperti:
a) mengidentifikasi kombinasi return dan risiko dari set aktiva berisiko dengan
menggunakan efficient frontier Markowitz. Langkah ini meliputi penentuan
return ekspektasi, varian, dan kovarian dari suatu set sekuritas.
b) Mempertimbangkan aktiva bebas risiko atas effecient frontier Markowitz.
Langkah ini memperkenalkan kemungkinan borrowing dan leading untuk
mencapai portofolio optimal dengan aktiva berisiko dan mempunyai
pengaruh yang signifikan atas cara berfikir investor mengenai proses
investasi.
c) Memilih portofolio akhir yang terdiri dari aktiva bebas risiko dan optimal
portofolio dari aktiva berisiko berdasarkan preferensi investor.
Sunariyah (2006) dalam Rahmasita et.al. (2014) mengartikan portofolio sebagai
serangkaian kombinasi beberapa aktiva yang diinvestasi dan dipegang oleh
investor, baik perorangan maupun lembaga. Kombinasi yang dimaksudkan berupa
kombinasi dari saham-saham yang ada dalam pasar modal karena dalam
berinvestasi seorang investor tidak hanya akan memilih satu saham saja
melainkan memilih beberapa saham. Melalui diversifikasi saham-saham akan
dipilih dengan harapan investor dapat memperoleh return yang maksimal dengan
tingkat risiko tertentu. Berdasarkan pengertian yang diungkapkan oleh beberapa
pakar, dapat disimpulkan bahwa portofolio adalah saham-saham
yang
25
dikumpulkan menjadi satu yang dibagi berdasarkan proporsi tertentu untuk
menentukan jumlah investasi yang akan dilakukan untuk tiap-tiap sahamnya
sehingga keuntungan yang diperoleh akan maksimal.
2.5.1 Portofolio Pasar
Portofolio pasar adalah portofolio semua aset dalam perekonomian yang dalam
praktiknya suatu indeks pasar saham yang luas digunakan untuk menggambarkan
pasar (Brealey et.al 2008). Portofolio pasar sebenarnya berhubungan dengan
semua aset yang ada dalam perekonomian makro seperti saham, obligasi,
sekuritas asing, real estate, dan lainnya. Namun, seperti yang dijelaskan dalam
pengertiannya portofolio pasar hanya menggunakan indeks pasar saham untuk
melakukan analisis.
2.5.2 Portofolio Optimal
Menurut Tandelilin (2001) dalam Rahmasita et.al (2014) portofolio optimal
merupakan portofolio yang dipilih investor dari sekian banyak pilihan yang ada
pada kumpulan portofolio yang efesien. Jadi dapat dikatakan bahwa portofolio
optimal merupakan portofolio yang dianggap paling baik diantara banyaknya
portofolio yang membentuk portofolio efesien. Portofolio optimal sudah pasti
bagian dari portofolio efesien sedangkan portofolio efesien belum pasti portofolio
optimal. Hal ini dikarena portofolio optimal merupakan bagian dari portofolio
efesien yang dapat membentuk portofolio sendiri.
Penentuan portofolio optimal dapat menggunakan model Markowitz. Dalam
pemilihan portofolio optimal biasanya investor akan memilih sesuai dengan
26
keinginannya dengan pertimbangan tertentu. Investor sendiri dalam penentuan
portofolio optimal dapat dibedakan menjadi dua. Pertama investor yang menyukai
risiko, mereka yang menyukai risiko cenderung akan memilih investasi terhadap
portofolio yang memiliki risiko yang tinggi dengan return yang tinggi pula
sedangkan yang kedua investor yang tidak menyukai risiko. Investor yang tidak
menyukai risiko akan memilih portofolio yang memiliki risiko kecil walaupun
return yang diterima juga kecil.
2.5.3 Portofolio Optimal Berdasarkan Model Markowitz
Untuk menentukan portofolio optimal investor dapat menggunakan model
Markowitz sebagai bahan untuk penentuannya. Model Markowitz yang
dikemukan pada tahun 1952 ini didasarkan pada pendekatan mean (rata-rata) dan
variance (varian) dimana mean merupakan pengukuran tingkat return dan varian
merupakan pengukuran tingkat risiko. Jogiyanto (2003) menjelaskan bahwa
dalam model Markowitz terdapat empat buah asumsi-asumsi yang digunakan
seperti:
a) Waktu yang digunakan hanya satu periode.
b) Tidak ada biaya transaksi.
c) Preferensi investor hanya didasarkan pada return ekspektasi dan resiko
dari portofolio.
d) Tidak ada pinjaman dan simpanan bebas resiko.
27
2.6 Beta
Jogiyanto (2003) mendefinisikan beta sebagai suatu pengukuran volatilitas
(volatility) return suatu sekuritas atau return portofolio terhadap return pasar.
Beta dapat berupa beta sekuritas dan beta portofolio. Brealey et.al. (2008)
mendefinisikan
beta
sebagai
sensitifitas
pengembalian
saham
terhadap
pengembalian portofolio dimana dijelaskan bahwa saham yang agresif memiliki
beta yang tinggi dengan angka beta yang lebih besar dari 1,0 yang berarti bahwa
pengembalian yang diterima cenderung lebih dari satu berbanding satu terhadap
perubahan pengembalian pasar keseluruhan. Beta saham defensif atau yang
nilainya kurang dari 1,0 maka dapat diartikan bahwa pengembalian saham ini
bervariasi lebih rendah dari satu berbanding satu terhadap pengembaliaan pasar.
Beta volatilitas didefinisikan sebagai fluktuasi dari return-return suatu sekuritas
atau portofolio dalam suatu periode tertentu. Jika fluktuasi return-return sekuritas
suatu portofolio secara stastistik mengikuti fluktuasi dari return-return pasar,
maka beta dari sekuritas atau portofolio dikatakan bernilai 1. Karena fluktuasi
juga sebagai pengukur dari risiko, maka beta bernilai 1 menunjukan bahwa risiko
sistematis suatu sekuritas atau portofolio sama dengan risiko pasar (Jogiyanto,
2009). Sehingga, beta dapat diartikan sebagai suatu model pengukuran yang dapat
menunjukan tingkat return sekuritas maupun portofolio yang mampu menunjukan
resiko sistematik dari portofolio yang tidak hilang walau dilakukan diversifikasi.
28
2.6.1 Estimasi Beta
Untuk menghitung beta suatu sekuritas dapat menggunakan beberapa teknik
seperti: (Nurmayanti dan Indrawati, 2010)
a) Beta yang di hitung berdasarkan data historis berupa data pasar (return
sekuritas dan return pasar) untuk mengestimasi beta masa depan disebut
juga dengan beta pasar.
b) Beta yang dihitung dengan data akuntansi disebut beta akuntansi.
c) Beta yang dihitung dengan data fundamental disebut dengan beta
fundamental.
Estimasi beta dapat dihutung dengan menggunakan persamaan model market.
Model market dapat dihitung dengan melakukan regresi antara return sekuritas
yang akan dinilai dengan return indeks pasar. Dengan melakukan regresi maka
akan dihasilkan nilai αi dan ßi dimana αi menunjukan ukuran return sekuritas i
yang tidak terkait dengan return pasar, sedangkan ßi menunjukan besarnya slope
yang mengindikasi peningkatan return ekspektasi pada sekuritas i untuk setiap
kenaikan return pasar sebesar 1%. Model market dapat di hitung dengan rumus:
𝑅𝑖 = 𝛼𝑖 + 𝛽𝑖 π‘…π‘š + πœ€π‘– .................................................................(2.6)
Keterangan:
𝑅𝑖
= return sekuritas ke-i
π‘…π‘š
= return indeks pasar
𝛼𝑖
= intersep
𝛽𝑖
= slope
πœ€π‘–
= random residual error
29
2.6.2 Beta Akuntansi
Beta akuntansi juga digunakan untuk menghitung estimasi beta dimana bila dalam
estimasi beta pasar digunakan data return saham dan return pasar maka dalam
beta akuntasi yang digunakan data laba akuntasi. Beta akuntansi dapat dihitung
dengan cara sama dengan beta pasar dengan mengganti data return dengan data
laba akuntansi. Beta akuntansi pertama kali diperkenalkan oleh Brown dan Ball
(1969) dengan menggunakan persamaan regresi. Dalam analisisnya mereka
menggunakan laba akuntansi bukan tingkat laba akuntasi. Dalam analisisnya
tersebut, Brown dan Ball (1969) menggunakan model pasar dan model beta
akuntansi untuk menghitung kolerasi beta pasar dan beta beta akuntansi dengan
hasil kolerasi ini terlihat bahwa beta akuntansi cukup berhubungan dengan beta
pasar.
2.5.3 Beta Fundamental
Beta fundamental dikenalkan oleh Beaver, et.al (1970) dengan mengembangkan
penelitian sebelumnya milik Brown dan Ball dengan menyajikan perhitungan beta
menggunakan variabel fundamental. Terdapat 7 variabel fundamental yang dapat
digunakan seperti (Nurmayanti dan Indrawati, 2010):
a) Devidend Payout
Devidend payout diukur sebagai deviden yang dibayarkan di bagi dengan
laba yang tersedia untuk pemegang saham biasa. Litner (1956) memberikan
alasan rasional bahwa perusahaan-perusahaan enggan untuk menurunkan
deviden oleh sebab itu mereka cenderung membayar devidend payout lebih
kecil agar tidak perlu memotong deviden jika laba yang diperoleh turun.
30
b) Asset Growt
Variabel pertumbuhan aktiva (asset growt) didefinisikan sebagai perubahan
tingkat pertumbuhan tahunan dari aktiva total. Variabel ini diprediksi
mempunyai hubungan positif dengan beta. Hubungan ini tidak didukung
oleh teori.
c) Leverage
Leverage didefinisikan sebagai nilai buku total hutang jangka panjang
dibagi dengan total aktiva. Laverage diprediksi mempunyai hubungan
positif dengan beta, Bowman (1980) menggunakan nilai pasar untuk total
hutang dalam menghitung laverage dan mendapatkan hasil yang tidak
berbeda jika digunakan dengan nilai buku.
d) Liquidity
Likuiditas (liquidity) diukur sebagai current ratio yaitu aktiva lancar dibagi
dengan hutang lancar. Likuiditas diprediksi mempunyai hubungan yang
negatif dengan beta, yaitu secara rasional diketahui bahwa semakin likuid
perusahaan, semakin kecil risikonya.
e) Asset size
Variabel ukuran aktiva (asset size) diukur sebagai logaritma dari total
aktiva. Variabel ini juga diprediksi mempunyai hubungan yang negatif
dengan resiko dan variabel ini juga digunakan untuk mengukur proxy
besarnya perusahaan. Hal ini dikuatkan dengan asumsi bahwa perusahaan
yang besar dianggap mempunyai risiko yang lebih kecil dibandingkan
dengan perusahaan yang lebih kecil. Asumsi ini lalu dibuktikan oleh Watts
31
dan Zimmerman (1978) melalui penelitiannya yang hasilnya menyatakan
bahwa hubungan antara ukuran perusahaan dengan beta adalah negatif.
f) Earnings Variability
Variabilitas laba (earnings variability) diukur dengan nilai deviasi standar
dari PER (price earning ratio) atau rasio P/E (harga saham dibagi dengan
laba perusahaan). Variabilitas dari laba dianggap sebagai risiko dari
perusahaan, sehingga hubungan antara variabel ini dengan beta adalah
positif.
g) Accounting Beta
Beta akuntansi (accounting beta) diperoleh dari koefesien regresi dengan
variabel dependen perubahan laba akuntansi dan variabel independen adalah
perubahan indeks laba pasar untuk laba akuntansi portofolio pasar. Karena
beta akuntansi dan beta pasar keduannya pengukur risiko yang sama, maka
diprediksi keduanya mempunyai hubungan yang positif.
2.6.4 Beta Portofolio
Beta sekuritas menunjukan risiko sistematis yang tidak dapat dihilangkan dengan
diversifikasi. Untuk menghitung beta portofolio maka dapat dilakukan dengan
cara:
ß𝑝=
𝑛
𝑑=1 π‘Š 𝑖 . ß𝑖
..............................................................................(2.7)
Keterangan:
𝛽𝑝
= Beta Portofolio
𝛽𝑖
= Beta individual sekuritas ke-i
π‘Šπ‘–
= proporsi sekuritas ke-i
32
Beta portofolio dari keseluruhan beta dianggap sebagai beta yang lebih akurat
dibandingkan dengan yang lainnya, dengan alasan: (Nurmayanti dan Indrawati,
2010)
a) Beta individual sekuritas diasumsikan konstan dari waktu ke waktu.
Kenyataannya beta individual sekuritas dapat berubah dari waktu ke waktu.
Perubahan beta individual sekuritas dapat berupa perubahan naik atau
perubahan turun. Beta portofolio akan meniadakan perubahan individual
sekuritas dengan perubahan individual sekuritas yang lainnya. Dengan
demikian jika diasumsikan beta akan konstan dari waktu ke waktu oleh
sebab itu beta portofolio akan lebih tepat dibandingkan dengan beta
individual sekuritas.
b) Perhitungan beta individual sekuritas juga tidak lepas dari kesalahan.
Pengukuran (measurement error) atau kesalahan acak (random error).
Pembentukan portofolio akan mengurangi kesalahan acak ini, karena
kesalahan acak satu sekuritas mungkin akan ditiadakan oeleh kesalahan
acak sekuritas yang lainnya. Dengan demikian beta portofolio juga
diharapkan akan lebih tepat dibandingkan dengan beta individual sekurtitas.
2.7 Capital Asset Modal Pricing (CAPM)
Definisi CAPM menurut Francis dalam Ahmad (1996) adalah teori penilaian
risiko dan keuntungan aset yang didasarkan koefesien beta (indeks risiko yang
tidak di diversifikasikan). CAPM merupakan suatu model keseimbangan yang di
gunakan untuk mengestimasi return pada suatu sekuritas yang dianggap penting.
CAPM dikenalkan pertama kali oleh Sharpe (1964), Lintner (1965), dan Mossin
33
(1969). Menurut Jogiyanto (2003) terdapat beberapa asumsi-asumsi yang
digunakan dalam CAPM sebagai berikut:
a) Semua investor mempunyai cakrawala waktu satu periode yang sama.
Investor memaksimumkan kekayaannya dengan memaksimumkan utiliti
harapan dalam satu periode waktu yang sama.
b) Semua investor melakukan pengambilan keputusan investasi berdasarkan
pertimbangan antara nilai return ekspektasi dan deviasi standar return dari
portofolionya.
c) Semua investor mempunyai harapan yang seragam (homogeneous
expectation) terhadap faktor-faktor input yang digunakan untuk keputusan
portofolio. Faktor-faktor input yang digunakan adalah return ekspektasi
(expected return), varian dari return dan kovarian antara return-return
sekuritas. Asumsi ini mempunyai implikasi bahwa dengan harga-harga
sekuritas dan tingkat bunga bebas risiko yang tertentu dan dengan
menggunakan input-input portofolio yang sama, maka setiap investor akan
menghasilkan efficient frontier yang sama pula.
d) Semua investor dapat meminjamkan sejumlah dananya (lending) atau
meminjam (borrowing) sejumlah dana dengan jumlah yang tidak terbatas
pada tingkat suku bunga bebas risiko.
e) Penjualan pendek (short sale) diijinkan. Investor individual dapat menjual
pendek berapapun yang dikehendaki.
f) Semua aktiva dapat dipecah-pecah menjadi bagian yang lebih kecil dengan
tidak terbatas. Ini berarti bahwa dengan nilai yang terkecilpun investor dapat
34
melakukan investasi dan melakukan transaksi penjualan dan pembelian
aktiva setiap saat dengan harga yang berlaku.
g) Semua aktiva dapat dipasarkan secara likuid sempurna. Semua aktiva dapat
dijual dan dibeli dipasar dengan capat (likuid) dengan harga yang berlaku.
h) Tidak ada biaya transaksi. Penjualan atau pembelian aktiva tidak dikenai
biaya transaksi.
i) Tidak terjadi inflasi.
j) Tidak ada pajak pendapatan pribadi. Karena tidak ada pajak pribadi, maka
investor mempunyai pilihan yang sama untuk mendapatkan deviden atau
capital gain.
k) Investor adalah penerima bunga (price-takers). Investor individual tidak
dapat mempengaruhi harga dari suatu aktiva dengan kegiatan membeli dan
menjual aktiva tersebut. Investor secara keseluruhan bukan secara individual
menentukan harga dari aktiva.
l) Pasar modal dalam kondisi ekulibrium.
Asumsi-asumsi tersebut nantinya akan digunakan untuk membantu agar CAPM
dapat mudah dipahami dan diuji. CAPM dapat disimpulkan sebagai suatu model
yang dapat menghitung atau memberikan suatu gambaran tetang return dan resiko
yang akan diterima disaat suatu investasi dilakukan. Dalam CAPM dijelaskan
bahwa untuk menghitungnya kondisi pasar harus ekuilibrium atau dalam kondisi
dimana harga-harga aktiva berada di tingkat yang tidak memberikan intensif lagi
untuk melakukan perdagangan. Dalam keadaan ekuilibrium berarti semua aktiva
berisiko harus berada di portofolio pasar agar portofolio yang ada didalamnya di
diversifikasi dengan sempurna.
35
2.7.1 Garis Pasar Modal (Capital Market Line)
Kondisi ekuilibrium pasar yang berhubungan dengan return ekspektasi dan resiko
akan di gambarkan melalui Capital Market Line (CML). Menurut Jogiyanto
(2003) CML adalah garis yang menunjukan semua kemungkinan kombinasi
portofolio efesien yang terdiri dari aktiva-aktiva berisiko dan aktiva bebas risiko.
CML menunjukan hubungan antara return ekspektasi dengan risiko total dari
portofolio yang terbentuk pada saat kondisi pasar yang seimbang. Hal ini
diperkuat dengan asumsi bahwa pada saat kondisi pasar seimbang maka semua
investor akan memilih untuk berinvestasi pada portofolio pasar karena portofolio
pasar merupakan portofolio aset berisiko yang optimal.
Saat portofolio pasar hanya berisi aktiva tidak berisiko, maka risikonya akan sama
dengan nol (𝛿𝑝 = 0) dan return ekspektasinya sama dengan 𝑅𝑓 , namun jika
portofolio terdiri dari semua aktiva yang ada maka risikonya akan dihitung
sebesar π›Ώπ‘š dan return ekspektasinya sebesar E(𝑅𝑀 ). Selisih return pasar dan
return bebas risiko ini disebut juga dengan premi risiko pasar atau (E(𝑅𝑀 ) - 𝑅𝑓 ).
Dengan hal ini maka akan dibentuklah garis yang menunjukan tingkat kemiringan
CML atau slope yang menggambarkan harga pasar risiko (market price of risk)
untuk portofolio yang efesien atau harga keseimbangan risiko dipasar. Besarnya
slope nantinya akan mengidentifikasi bertambahnya return yang disyaratkan pasar
untuk setiap 1% kenaikan risiko portofolio. Slope dapat dihitung dengan rumus:
Slope =
𝐸(𝑅𝑀 )− 𝑅 𝑓
π›Ώπ‘š
....................................................................(2.8)
36
2.6.2 Garis Pasar Sekuritas (Security Market Line)
Garis pasar sekuritas adalah garis yang menunjukan tradeoff antara risiko dan
return ekspektasi untuk sekuritas individual yang merupakan penggambaran
secara grafis dari CAPM (Jogiyanto,2003). Dalam sekuritas individu, tambahan
return ekspektasi diakibatkan oleh tambahan risiko sekuritas individual yang
diukur dengan beta. Beta digunakan untuk menentukan besarnya tambahan return
ekspektasi dalam sekuritas. Beta untuk portofolio pasar bernilai 1, sehingga bila
beta lebih kecil atau lebih besar berarti risiko sistematiknya lebih kecil atau lebih
besar dari risiko pasar.
Untuk CAPM hubungan khusus antara return ekspektasi dan standar deviasi atau
risiko total dari sekuritas individu tidak disimpulkan. Maka untuk menghitung
return ekspektasi dari sekuritas individu perlu dilakukan analisis terlebih dahulu
pengaruh masing-masing kovarian sekuritas untuk mengetahui kontribusi dari
masing-masing sekuritas terhadap standar deviasi portofolio pasar. Melalui
analisis ini dapat disimpulkan bahwa kovarian sekuritas adalah ukuran risiko
sekuritas yang relevan. Selanjutnya kovarian pasar dapat digunakan untuk
menghitung return ekspektasi dari suatu sekuritas dengan menggunakan rumus:
E(𝑅𝑖 ) = 𝑅𝑓 + 𝛽𝑖 [(Eπ‘…π‘š - 𝑅𝑓 )] .........................................................(2.9)
Keterangan:
E(𝑅𝑖 ) = return ekspektasi sekuritas ke i
𝑅𝑓
= return bebas risiko
𝛽𝑖
= koefesien beta sekuritas ke i
𝐸(π‘…π‘š ) = return ekspektasi portofolio pasar
37
2.8 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No.
1.
Peneliti
Judul
Imron, 2013 Analisis
(Skripsi)
Portofolio
Optimal dengan
Menggunakan
CAPM
pada
Saham
Syariah
Jakarta Islamic
Index (JII)
Variabel
Return
ekspektasi,
resiko
saham dan
pasar, beta
sekuritas,
return
bebas
resiko
2.
Subandi,
Analisis
et.al., 2014 Optimalisasi
(Jurnal)
Portofolio
Menggunakan
CAPM
Pada
Saham LQ-45
3.
Tama, 2012 Pembentukan
(Skripsi)
Portofolio
Optimal dengan
Metode
CAPM
pada Saham LQ45
Periode
september 2009sep
Return
ekspektasi,
resiko
saham dan
pasar, beta
sekuritas,
return
bebas
resiko
Return
ekspektasi,
resiko
saham dan
pasar, beta
sekuritas,
return
bebas
resiko
4.
Yusnita,
2011
(Skripsi)
Pembentukan
Portofolio
Optimal dengan
Pendekatan
CAPM
Return
ekspektasi,
resiko
saham dan
pasar, beta
sekuritas,
return
bebas
resiko
Hasil Penelitian
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan diketahui bahwa
portofolio yang dibentuk
dengan
menggunakan
metode CAPM memiliki
return ekspektasi sebesar
0,232%
dengan
tingkat
resiko sebesar 1,403% hal ini
menunjukan bahwa return
ekspektasi yang diprediksi
oleh investor lebih kecil
daripada
resiko
yang
diterima.
Berdasarkan dari analisis
yang dilakukan menunjukan
bahwa portofolio memiliki
return sebesar 4,43% dan
resiko 7,64% dengan saham
yang membentuk portofolio
optimal terdiri dari sahamsaham seperti ADRO, LSIP,
AALI, GGRM, dan BBNI.
Hasil dari penelitian ini
menyatakan
bahwa
portofolio yang dibentuk
dengan
menggunakan
metode CAPM memiliki
return ekspektasi sebesar
0,03419% dengan tingkat
resiko sebesar 0,0198% yang
berarti return ekspektasi
lebih besar di bandingkan
dengan resiko yang diterima.
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan terhadap indeks
saham LQ-45 dengan 14
saham sebagai sampelnya
menunjukan bahwa sahamsaham tersebut banyak yang
memiliki nilai negatif dalam
membentuk
portofolio
sehingga
investor
perlu
melakukan short sale guna
meminimalisir resiko yang
diterima.
38
Penelitian tentang portofolio optimal menggunakan Capital Pricing Asset Model
sebelumnya telah dilakukan oleh beberapa peneliti seperti yang terurai dalam
tabel 2.1.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui saham-saham apa saja
yang termasuk dalam portofolio optimal dari seluruh saham yang membentuk
portofolio efesien dalam indeks saham IDX30. Selanjutnya dengan menggunakan
metode CAPM return dan risiko portofolio akan diketahui sehingga investor
mendapatkan informasi tentang kondisi investasinya sehingga dapat mengambil
keputusan apakah perlu untuk menambah atau mengganti investasi ke saham lain.
Penelitian ini juga memberikan informasi tentang besarnya proporsi dari tiap-tiap
saham yang membentuk portofolio optimal sehingga dapat diketahui berapa
return dan resiko yang diterima dari masing-masing saham. Perbedaan penelitian
ini dari penelitian sebelumnya adalah dalam penggunaan indeks saham yang
diteliti dan juga periode penelitiannya.
2.9 Kerangka Pemikiran
Investasi menjadi sebuah tren hingga saat ini. Melalui investasi investor
mengharapkan suatu keuntungan yang nantinya didapat baik dalam waktu dekat
atau jangka pendek maupun dimasa mendatang atau jangka panjang. Investasi
biasanya banyak dilakukan di pasar modal hal ini disebabkan dalam pasar modal
banyak ditawarkan berbagai bentuk investasi yang bisa dipilih oleh investor
seperti saham, obligasi, reksadana, right, opsi dan warrant. Dari beberapa bentuk
investasi yang ada, banyak investor yang memilih untuk berinvestasi dengan
membeli saham.
39
Indeks saham yang terdapat di pasar modal terdiri dari beberapa jenis indeks
saham yang bisa menjadi altenatif investor untuk berinvestasi seperti LQ-45, IDX
30, Jakarta Islamic Index (JII), Indeks Srikehati, Indeks Kompas 100, Indeks
Saham Syariah, dan lain sebagainya. Salah satu indeks saham yaitu IDX 30
merupakan kumpulan dari saham-saham unggulan yang ada pada indeks LQ-45
yang dapat dikatakan bahwa saham-saham disini merupakan saham-saham yang
memiliki nilai yang tinggi. Dari saham-saham tersebut, dapat dijadikan alternatif
bagi investor dalam berinvestasi untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Sebelum berinvestasi, investor perlu mengetahui tentang return dan risiko yang
akan terjadi nantinya. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena dalam investasi return
dan risiko sudah menjadi bagian didalamnya. Return dan risiko sendiri selalu
berjalan beriringan dimana saat investor mengharapkan return yang diterimanya
tinggi maka itu berarti risiko yang akan ditanggung juga akan meningkat. Oleh
sebab itu, untuk mendapatkan hasil yang maksimal dengan tingkat risiko tertentu
perlu dilakukan pendiversifikasian dalam saham yang akan dibeli.
Diversifikasi ini dilakukan dengan tujuan untuk memaksimalkan return yang akan
diterima pada tingkat risiko tertentu melalui pembentukan portofolio. Dengan
adanya portofolio berarti investasi dilakukan bukan hanya terhadap satu saham
saja atau sekuritas melainkan beberapa sekuritas sebagai alternatif untuk
meminimalisir risiko pada tingkat return tertentu. Dengan pembentukan
portofolio risiko pun akan terbagi dibeberapa sekuritas sehingga bila salah satu
sekuritas mengalami masalah yang menyebabkan kerugian maka hal itu tidak
akan berdampak terhadap sekuritas lainnya karena adanya diversifikasi tadi.
40
Dilakukannya diversifikasi atau pembentukan portofolio investasi diharapkan
dapat bekerja semaksimal mungkin oleh karenanya dibutuhkan strategi dalam
penentuan portofolio agar dapat membentuk suatu portofolio bukan hanya yang
efesien melainnya yang terbentuk adalah portofolio optimal. Terdapat berbagai
alternatif yang dapat digunakan untuk menentukan portofolio optimal salah
satunya yaitu dengan model keseimbangan yang menggunakan metode Capital
Asset Pricing Model (CAPM). Melalui metode ini diharapkan portofolio optimal
akan terbentuk sehingga investasi yang dilakukan dapat bekerja secara maksimal.
Penggunakan metode CAPM dimaksudkan untuk memberikan informasi tentang
return ekspektasi dan risiko yang akan diterima saat suatu portofolio terbentuk.
Hal ini diasumsikan karena CAPM merupakan suatu model yang menjelaskan
hubungan return ekspektasi dan risiko dimana tingkat return bebas risiko
ditambah dengan risiko premium akan menghasilkan suatu return pada tingkatan
tertentu. Maka, dari hasil penjelasan baik latar belakang sebelumnya dibentuklah
suatu kerangka yang menggambarkan secara singkat tentang pembentukan
portofolio optimal pada gambar 2.1.
41
Investasi Saham di
Pasar Modal
Return
Resiko
Strategi Investasi
Pembentukan
Portofolio
CAPM (Capital Asset
Pricing Model)
Portofolio Optimal
Gambar 2.1 Kerangka pemikiran
Download