(Melastoma Candidum D. Don.)TERHADAP PERTUMBUHAN

advertisement
ISBN : 979-498-467-1
Kimia Organik, Bahan Alam, dan Biokimia
AKTIVITAS ANTIMIKROBAEKSTRAK DAUN SENGGANI
(Melastoma Candidum D. Don.)TERHADAP PERTUMBUHAN
Shigella dysentriae DAN Staphylococcus aureus SERTA PROFIL
KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS NYA
Estu Retnaningtyas N1&Sri Mulyani2
Jurusan Biologi FMIPA UNS, Jl Ir. Sutami 36 Surakarta
2
Prodi P.Kimia PMIPA FKIP UNS, Jl Ir. Sutami 36 Surakarta
1
ABSTRAK
Tumbuhan senggani (Melastoma candidum D. Don) banyak
digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan (dispepsi), disentri
basiler, diare, hepatitis, keputihan (leukorea), sariawan, wasir darah,
pendarahan rahim, berak darah (melena), radang dinding pembuluh
darah. Studi pustaka menunjukkan bahwa daun senggani mengandung
senyawa saponin, flavonoida, dan tanin, dimana senyawa tersebut
mempunyai khasiat salah satunya sebagai antimikroba. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui efek antimikroba ekstrak daun M. candidum
D. Don terhadap pertumbuhan Shigella dysentriae dan Staphylococcus
aureusserta profil Kromatografi Lapis Tipisnya. Aktivitas antimikroba
diketahui dari adanya zona hambat pertumbuhan bakteri uji. Proses
ekstraksi senyawa aktif menggunakan pelarut metanol dan kloroform
sertadilakukan denganmetode maserasi. Hasil ekstraksi selanjutnya diuji
aktivitas antimikroba dan profil KLT nya. Hasil menunjukkan bahwa
pada ekstrak metanol terdapat zona hambat pertumbuhan bakteri uji,
sementara pada ekstrak kloroform tidak terdapat zona hambat. Diameter
zona hambat pertumbuhan bakteri Shigella dysentriae terkecil sebesar
15,76mm (konsentrasi ekstrak 20%) dan 23,60mm (konsentrasi ekstrak
80%), sedangkan pada bakteri Staphylococcus aureus diameter hambat
terkecil sebesar 17,44mm (konsentrasi ekstrak 20%) dan terbesar
22,24mm ( konsentrasi ekstrak 80%). Dari analisis KLT diperoleh hasil
bahwa ekstrak metanol daun M. candidum D. Don mengandung senyawa
fenolik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa antibakteri dalam
daun M. candidum D. Don bersifat polar sehingga hanya terdapat pada
ekstrak metanol. Dari uji KLT dapat dilihat bahwa senyawa antibakteri
tersebut termasuk golongan fenolik. Perlu penelitian lanjutan tentang uji
MIC dan MBC untuk mengetahui konsentrasi hambat dari bakteri uji
serta fraksinasi dari senyawa ekstrak sehingga diperoleh senyawa
antimikroba yang lebih murni.
Kata kunci: Daun Senggani (Melastoma
antimikroba, fraksi aktif
candidum D. Don),
Prosiding Seminar Nasional Kima dan Pendidikan Kimia 2009
487
Kimia Organik, Bahan Alam, dan Biokimia
ISBN : 979-498-467-1
PENDAHULUAN
Indonesia yang beriklim tropis, mempunyai sumber daya hayati
yang beraneka ragam dan berpotensi menghasilkan beraneka ragam
senyawa
kimia
karbon
alami
juga.
Dalam
pengobatan
tradisional,sebagian besar ramuan berasal dari sumber daya hayati seperti
tumbuhan baik berupa akar, kulit batang, kayu, daun, bunga atau biji.
Agar pengobatan secara tradisional dapat dipertanggungjawabkan, maka
diperlukan penelitian ilmiah seperti uji farmakologi, toksikologi,
antimikroba, identifikasi dan isolasi senyawa zat aktif yang terdapat
dalam tumbuhan tersebut.
Tumbuhan senggani (M. candidum D. Don) tumbuh liar pada
tempat-tempat yang mendapat cukup sinar matahari. Selama ini senggani
banyak digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan (dispepsi),
disentri basiler, diare, hepatitis, Keputihan (leukorea), sariawan, haid
berlebihan, wasir darah, ; Pendarahan rahim, berak darah (melena),
keracunan singkong, ; Radang dinding pembuluh darah. Daun Senggani
rasanya pahit. dan diketahui mengandung saponin, flavonoida, dan tanin,
dimana senyawa ini mempunyai khasiat salah satunya sebagai
antimikroba.
Penggunaan tanaman ini sebagai obat perlu dibuktikan secara
ilmiah sehingga studi mengenai tumbuh-tumbuhan yang berkaitan dengan
kandungan senyawa kimia yang bersifat aktif farmakologis sangat
penting untuk dilakukan mengingat manfaat dan khasiatnya. Untuk itulah
perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai uji antimikrobanya dan
kandungan kimia tanaman senggani terkait dengan fungsi dan khasiatnya
sebagai antimikroba.
Senyawa dari suatu tanaman dapat dikatakan berpotensi sebagai
antimikroba apabila senyawa tersebut memiliki sifat toksik terhadap
pertumbuhan sel suatu mikroba tertentu. Langkah awal untuk mengetahui
apakah senyawa tersebut memiliki potensi atau tidak sebagai antimikroba
dilakukan uji zona hambatan pertumbuhan mikroba tertentu. Dalam hal
ini akan dilihat bagaimana daya hambatnya terhadap pertumbuhan 10
jenis mikroba patogen.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antimikroba dari ekstrak
daun senggani (M. candidum D. Don) terhadap pertumbuhan bakteri
488
Prosiding Seminar Nasional Kima dan Pendidikan Kimia 2009
ISBN : 979-498-467-1
Kimia Organik, Bahan Alam, dan Biokimia
Staphylococus aureus dan Shigella dysentriae serta profil kromatografi
lapis tipisnya.
BAHAN DAN METODE KERJA
Bahan penelitian berupa Daun senggani ((M. candidum D. Don)
yang diambil dari Tawangmangu. Bahan lain adalah pelarut organik yang
digunakan untuk proses ekstraksi yaitu metanol dan kloroform. Bakteri
uji yang digunakan adalah Shigella dysentriae dan Staphylococcus
aureus. Sedangkan media berupa Nutrient Agar (NA), Muller Hilton dan
Pepton.
Bahan untuk KLT meliputi silika gel PF 256 (E. Merck) dengan
ukuran partikel lebih dari 60 µm. Fase gerak CCl4, n-heksan, dan Etil
asetat dengan derajat pro analisis masing-masing diukur pada komposisi
77 % : 15 % : 8 %. Adapun uji pendahuluan digunakan berbagai macam
eluen seperti kloroform, methanol, etil asetat, benzol, Dietil eter, nheksan dengan variasi komposisi.
PREPARASI SAMPEL DAN EKSTRAKSI
Daun segar dikeringkan pada suhu 40-50C, selanjutnya diserbuk
dan diayak. Proses ekstraksi menggunakan metode maserasi dua tahap,
pertama dengan penyari kloroform berikutnya dengan metanol. Ekstraksi
berlangsung selama 24 jam dalam wadah tertutup disertai pengadukan
beberapa kali. Selanjutnya disaring dan dikeringkan dengan rotary
evaporator.
Pengujian Aktivitas Antimikroba. Ekstrak kloroform dan metanol diuji
aktivitasnya terhadap bakteri Shigella dysentriae dan Staphylococcus
aureus. Bakteri uji diregenerasi dalam media NA miring dan diinkubasi
pada suhu 37°C selama 24 jam. Media MH disterilisasi pada suhu 121oC
selama 15 menit. Media steril didinginkan hingga suhu 50oC kemudian
diinokulasi dengan bakteri uji sebanyak 1-2 ose, dihomogenkan dan
dibagi ke cawan petri masing-masing sebanyak 10 ml.
Senyawa uji dibuat seri konsentasi dari 20%-100%. Masingmasing konsentrasi senyawa uji, standar amoksisilin dan pelarut diujikan
pada kedua mikroba uji dengan metode sumuran, diinkubasi pada suhu
Prosiding Seminar Nasional Kima dan Pendidikan Kimia 2009
489
Kimia Organik, Bahan Alam, dan Biokimia
ISBN : 979-498-467-1
37C selama 24 jam. Setelah diinkubasi, dilakukan pengamatan
pertumbuhan dan pengukuran diameter zona hambat.
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Penentuan Golongan
Komponen Bioaktif. Profil kandungan senyawa kimianya didapat dari
metode kromatografi lapis tipis (Stahl, 1985). Ekstrak daun senggani
dilarutkan dalam pelarut kemudian ditotolkan pada lempeng KLT silica
gel 60 PF256 No. 1.07749.1000 menggunakan pipa kapiler.
Pengembangan dilakukan dalam bejana pengembang dengan jarak
pengembangan 7,5 cm dan menggunakan fase gerak yang sesuai.
Hasilnya dideteksi dengan sinar tampak dan disemprot dengan FeCl3.
HASIL & PEMBAHASAN
Daun senggani ((M. candidum D. Don) dari Tawangmangu yang
diekstrak dengan larutan metanol menunjukan aktivitas antibakteri
terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Shigella dysentriae.
Aktivitas antibakteri ini ditunjukkan dengan terbentuknya zona hambat
pertumbuhan bakteri uji disekitar sumuran yang telah diisi dengan ekstrak
metanol daun senggani (Gambar 1). Sementara itu ekstrak kloroform
tidak
menunjukkan
adanya
zona hambat. Sementara
itu
Dimethylsulfoxide (DMSO) dan Carbonilmethylcelulose (CMC) sebagai
pelarut memberikan hasil tidak adanya zona bening disekitar
pertumbuhan bakteri uji. Hal ini berarti DMSO sebagai pelarut ekstrak
kloroform dan CMC sebagai pelarut ekstrak metanol tidak memberikan
pengaruh aktivitas penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri S.
aureus sehingga yang bekerja menghambat pertumbuhan bakteri tersebut
adalah senyawa ekstrak yang diujikan.
Ekstrak metanol memberikan aktivitas antibakteri lebih besar
daripada ekstrak kloroform pada uji antibakteri. Kepolaran senyawa yang
berada dalam ekstrak metanol inilah yang mengakibatkan senyawa ini
lebih mudah menembus dinding sel bakteri gram positif (Hartini, 2008).
Ekstrak biasanya lebih mudah untuk menghambat pertumbuhan bakteri
gram positif daripada gram negatif seperti ditunjukkan pada penelitian
Yuharmen (2002), Dumaz (2006), Hermawan (2007) dan Masduki
(1996). Hal ini dikarenakan untuk dapat membunuh mikroorganisme,
490
Prosiding Seminar Nasional Kima dan Pendidikan Kimia 2009
ISBN : 979-498-467-1
Kimia Organik, Bahan Alam, dan Biokimia
bahan uji harus mampu masuk ke dalam sel melalui dinding sel. Jenis
bakteri gram positif dan negatif memiliki komposisi dinding sel yang
berbeda dimana bakteri gram positif memiliki struktur dinding sel dengan
lebih banyak peptidoglikan dan sedikit lipid sedangkan bakteri gram
negatif lebih banyak mengandung lipid (Jawetz et al.,2005). Tabel 1 dan
2 menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan diameter zona
hambatan dengan memakai berbagai besaran konsentrasi ekstrak.
Senyawa antibakteri yang terdapat dalam daun Senggani cenderung
bersifat polar. Hal ini ditunjukkan oleh tidak adanya satupun zona
hambatan pada ekstrak kloroform terhadap pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus dan Shigella dysentriae, namun zona
penghambatan justru ditunjukkan oleh ekstrak metanol.
Tabel 1. Diameter Zona hambat pertumbuhan Staphylococcus aureus
NO
KONSENTRASI
(%)
DIAMETER
ZONA
HAMBAT
(mm)
NO
KONSENTRASI
(%)
DIAMETER
ZONA
HAMBAT
(mm)
1
20
17,45
6
70
22,24
2
30
19,10
7
80
19,41
3
40
18,10
8
90
20,88
4
50
22,77
9
100
23,99
5
60
20,88
DMSO
0,0
Amoksisilin
26,721
CMC
0,0
Metanol
0,0
Aquades
0,0
Tabel 2. Diameter Zona hambat Pertumbuhan Shigella dysentriae
NO KONSENTRA
SI
(%)
DIAMETER
ZONA HAMBAT
(mm)
NO KONSENTRA
DIAMETER
SI
ZONA HAMBAT
(%)
(mm)
1
20
15,77
6
70
23,44
2
30
19,10
7
80
23,60
3
40
18,32
8
90
18,35
4
50
19,14
9
100
20,88
5
60
18,97
Prosiding Seminar Nasional Kima dan Pendidikan Kimia 2009
491
Kimia Organik, Bahan Alam, dan Biokimia
ISBN : 979-498-467-1
Berbagai konsentrasi senyawa antimikroba
imikroba dari tanaman Senggani
secara umum mampu menghambat laju pertumbuhan enterobakteriase
gram positif dan negatif. Bahkan pada konsentrasi terkecil sekalipun. Ini
membuktikan bahwa kandungan senyawa metabolit sekunder pada
tanaman senggani berpotensi sebagai bahan antimikroba serta merupakan
suatu bakterisidal. Penghambatan ini bisa terjadi dalam beberapa
alternatif tetapi hal ini belum bisa dibuktikan pada tahap mana fraksi aktif
ini
menghambat
pertumbuhan
Staphylococcus
aureus
dan
Shigelladysentriae.
A
B
C
Gambar 1. Pertumbuhan mikroba uji disekitar ekstrak daun senggani
senggani. A.
Zona hambat ekstrak daun senggani 50% terhadap
pertumbuhan Shigella dysentriae
dysentriae. B. Zona hambat ekstrak
daun senggani 50% terhadap per
pertumbuhan Staphilococcus
aureus. C. Zona hambat kontrol aquades, metanol dan
amoksisilin 0,5%
Pertama, hal ini bisa terjadi karena kemampuan substansinya
dalam menghambat laju pertumbuhan mikroba pada konsentrasi yang
rendah, sekitar 20 % sampai 30 % mempunyai aktivitas spektrum yang
luas
as dalam menghambat mikroba (Schlegel, Hans G. 1994). Uji
pengenceran yang dilakukan ternyata tidak menunjukkan pertumbuhan
kadar minimum bakteriostatik. Ini menunjukkan senyawa antimikroba
menunjukkan toksisitas selektif atau bisa dimungkinkan bahwa bakte
bakteri
patogen ini masih berada dalam kondisi fase adaptif terhadap pengaruh
bahan antimikroba. Antimikroba akan bertindak dengan mekanisme
selektif yakni membunuh bakteri yang peka dan membiarkan tumbuh,
bakteri yang resisten. Dalam penelitian ini tidak digu
digunakan bakteri jenis
492
Prosiding Seminar Nasional Kima dan Pendidikan Kimia 2009
ISBN : 979-498-467-1
Kimia Organik, Bahan Alam, dan Biokimia
wild type (jinak) tetapi bakteri yang dibiakkan melalui kultur lokal yaitu
masih terdapat bakteri yang resisten terhadap suatu penyakit.
Kedua, penghambatan pertumbuhan ini dapat dimungkinkan
karena adanya penghambatan terhadap sistesis dinding sel. Dinding sel
ini mampu mempertahankan bentuk mikroba dan pelindung sel bakteri,
yang mempunyai tekanan osmotik internal yang tinggi.( Jawetz et al.
2005). Senyawa antimikroba yang menyerang bakteri akan merusak
dinding selnya atau mencegah sistesisnya, sehingga akan menyebabkan
terbentuknya sel-sel yang peka terhadap tekanan osmotik atau dikenal
dengan istilah trauma. (Staf pengajar FKUI. 1994)
Dinding sel yang rusak akan menimbulkan plasmolisis. Jika
protoplast ini diletakkan pada lingkungan dengan tekanan osmotik
tertentu, mereka akan mengambil cairan dengan cepat, mengembang, dan
pecah. Membran sitoplasma pada bakteri berperan sebagai barier
permeabillitas selektif, membawa fungsi transpor aktif, dan kemudian
mengontrol komposisi internal sel. Jika fungsi intregitas ini dirusak maka
makromolekul dan ion keluar dari sel, kemudian terjadi sel lisis bahkan
terjadi kematian. Membran sitoplasma dapat dengan mudah dikacaukan
oleh agen antimikroba yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan
bakteri patogen ini (Jawetz et al. 2005).
Dinding sel bakteri yang diujikan memiliki kandungan polimer
mukopeptida komplek (peptidoglikan) yang secara kimia berisi
polisakarida dan campuran rantai polipeptida yang tinggi. Polisakarida
berisi amino N-asetil glukosamin dan asam asetil muramik yang biasa
dijumpai pada bakteri. Di dalamnya melekat rantai peptida pendek.
Kekerasan dinding sel disebabkan oleh hubungan saling silang rantai
pepida sebagai hasil reaksi transpeptidasi yang dilakuan beberapa enzim.
Lapisan peptidoglikan kebanyakan lebih tipis pada bakteri gram negatif
(Jawetz et al. 2005). Oleh karena itu efek zona hambatan yang diberikan
oleh bakteri Shigelladysentriae bisa disebabkan oleh sruktur dan
kekerasan dinding selnya yang tipis.
Ketiga, hal ini juga disebabkan oleh kemampuan enzim otolitik
pada dinding sel bakteri Shigelladysentriae dalam mempertahankan diri
dari pengaruh aktivitas antimikroba. Mekanisme kerja antimikroba ini
berlangsung efektif pada proses penghambatan reaksi transpeptidasi serta
Prosiding Seminar Nasional Kima dan Pendidikan Kimia 2009
493
Kimia Organik, Bahan Alam, dan Biokimia
ISBN : 979-498-467-1
pemblokiran sintesis peptidoglikan. Selanjutnya meliputi inaktivasi
inhibitor enzim otolitik pada dinding sel bakteri. Aktivitas enzim ini akan
mengalami lisis jika lingkungan isotonik. ( Jawetz et al. 2005).
Keempat, keefektifan kerja agen anti mikroba ini juga dipengaruhi
oleh pH lingkungannya serta aktivitas metabolik bakteri itu sendiri.
Dalam percobaan ini pH dipertahankan basa dengan cara menjaga suhu
ruangan bakteri sebab Shigelladysentriae mampu hidup pada suasana
basa sehingga dapat dilihat bagaimanakah laju pertumbuhannya terhadap
agen antimikroba.
Mikroba yang terdapat pada media dengan pH asam dapat dibasmi
pada suhu yang lebih rendah dan dalam waktu yang lebih singkat
dibandingkan dengan mikroba yang sama di dalam lingkungan basa
antimikrobanya (Pelczar, Michael J. and E.C.S Chan et.al .1988) tentu
saja hal ini harus dihindari karena penelitian ini melihat peranan
antimikroba bukan keadaannya. Namun perlu diketahui juga bahwa pada
umumnya mikroba yang tumbuh dengan cepat dan aktif, lebih peka
terhadap efek agen antimikroba dibanding organisme yang berada pada
fase istirahat ( Jawetz et al. 2005).
Untuk mengetahui kandungan senyawa kimia dalam ekstrak
metanol digunakan kromatografi lapis tipis dengan menggunakan fase
diam silika gel PF256. Dalam penelitian ini digunakan beberapa macam
komposisi fase gerak. Namun eluen terpilih yaitu CCl4 : n-heksan : Etil
Asetat dengan perbandingan masing-masing 77 %: 15 %: 8 % mampu
menampilkan hasil kromatogram terbaik.
Proses elusi berlangsung sampai batas maksimum yang telah
ditentukan selanjutnya penentuan golongan senyawa fraksi teraktif
menggunakan sinar tampak dan deteksi spesifik pereaksi semprot FeCl3
untuk mendeteksi adanya tanin/ fenolik
Kromatogram yang tersaji pada gambar 2. menunjukkan bahwa
penggunaan eluen kloroform dan berbagai macam pelarut polar dengan
variasinya memberikan hasil kromatogram yang tidak dapat memisahkan
komponen senyawa didalamnya. Sedangkan kromatogram yang tersaji
pada gambar 18 menunjukkan adanya pemisahan komponen-komponen
senyawanya. Kromatogram terbaik ditunjukkan oleh fase gerak CCl4 : n-
494
Prosiding Seminar Nasional Kima dan Pendidikan Kimia 2009
ISBN : 979-498-467-1
Kimia Organik, Bahan Alam, dan Biokimia
heksan : Etil Asetat dengan perbandingan masing-masing 77 %: 15 %: 8
%
Profil KLT pada kromatogram yang tersaji pada gambar 20
menunjukkan ada perbedaan Rf pada fraksi metanol dan fraksi kloroform,
dengan fase gerak terpilih yakni CCl4 : n-heksan : Etil Asetat dengan
perbandingan masing-masing 77 %: 15 %: 8 %. Digunakan pelarut ini
karena pertimbangan kepolarannya terhadap fraksi aktif yang berpotensi
besar dalam menghambat laju bakteri, yaitu fraksi metanol dan fraksi
kloroform sehingga dalam sistem kromatografi lapis tipis, fraksi ini dapat
dikembangkan. Setelah elusi akan terjadi pemisahan spot-spot pada plat
kromatografi. Setiap spot memberikan jarak yang berbeda ( Rf ) yang
menunjukkan kandungan senyawa yang terdapat di dalamnya.
1
0.5
0
Gambar 2. Hasil Kromatogram dengan Deteksi Sinar Tampak, Fase diam
Silika Gel PF256 dan Fase Gerak = CCl4 : n-heksana : Etil
Asetat = 77:15:8 (v/v/v)
Dilihat dari Rf penyari kloroform dan penyari metanol ternyata
hampir memiliki kesamaan. Ini menunjukkan senyawa yang ada di
dalamnya adalah sama, hanya saja kandungan senyawa yang terdapat
dalam penyari metanol tinggal sedikit karena sudah tersari ke dalam
kloroform, ini dilihat dari spot-spot yang tidak terlalu jelas. Pola
kromatogram menunjukkan 6 bercak berwarna hijau kebiruan dan kuning
dengan Rf pada tabel yang telah diberikan. Menurut teori, pemisahan fase
diam dengan menggunakan eluen ini menunjukkan bahwa gugus umum
didalamnya mengandung karbonil ( C = O ) dengan rantai C alifatik atau
Prosiding Seminar Nasional Kima dan Pendidikan Kimia 2009
495
Kimia Organik, Bahan Alam, dan Biokimia
ISBN : 979-498-467-1
tunggal. Gugus fungsi ini menjurus pada gugus fungsi asam karboksilat.
Referensi ini diperkuat dengan uji coba menggunakan pereaksi semprot
FeCl3, pada plat silika gel yang menunjukkan noda berwarna biru
kehijauan pada Rf 0,313 yang menunjukkan uji positif bahwa dalam
ekstrak senggani fraksi metanol terdapat golongan senyawa fenolik.
Diduga senyawa dari golongan ini bertanggung jawab sebagai agen
antimikroba yanng melawan pertumbuhan kuman Staphylococcus aureus
dan higella dysentriae.
Menurut Michael (1988) struktur kimiawi fenol dan beberapa
turunannya bekerja dengan cara mendenaturasi protein sel dan merusak
membran sel. O-fenilfenol dan persenyawaan fenolat lain dengan derajat
substitusi yang tinggi ternyata efektif pada pengenceran yang tinggi.
Persenyawaan fenolat dapat bersifat bakterisidal atau bakteriostatik
bergantung kepada konsentrasi yang digunakan. Spora bakteri lebih
resisten terhadap persenyaaan tersebut dibandingkan dengan sel vegetatif
bakteri. (Pelczar, Michael J. and E.C.S Chan et.al .1988). Dari
pengamatan warna di atas diduga bahwa senyawa metabolit sekunder dari
daun senggani ini yang bertanggung jawab terhadap penghambatan laju
pertumbuhan bakteri Staphylococus aureus dan Shigelladysentriaekarena
mengandung agen anti mikroba fenolik yang berpotensi sebagai
disinfektan.
KESIMPULAN
• Ekstrak metanol daun senggani (M. candidum D.Don) mampu
menghambat pertumbuhan Shigella dysentriaemaupun Staphylococcus
aureus
• Zona hambat pertumbuhan Shigella dysentriae terbesar yaitu
23,60mm (pada konsentrasi 80%) dan terkecil 15,76 mm (pada
konsentrasi 20%)
• Zona hambat pertumbuhan Staphylococcus aureus terbesar yaitu
22,24mm (pada konsentrasi 70%) dan terkecil 17,44 mm (pada
konsentrasi 20%)
496
Prosiding Seminar Nasional Kima dan Pendidikan Kimia 2009
ISBN : 979-498-467-1
Kimia Organik, Bahan Alam, dan Biokimia
Pertanyaan
1. Mengapa ekstrak kloroform tidak menunjukkan aktivitas
penghambatan ?
2. Bagaimana mekanisme penghambatan pada pertumbuhan mikroba?
Jawaban
1. Dari hasil penelitian bahwa senyawa antimikroba cenderung bersifat
polar sehingga tidak larut dalam pelarut kloroform, dengan demikian
ekstrak kloroform tidak menunjukkan aktivitas pengambatan.
2. Mekanisme penghambatan dapat terjadi karena :
a. Terganggunya fungsi membran sel
Antibakteri ini bekerja dengan mengubah tegangan permukaan dan
merusak permeabilitas selektif dari membran sel mikroba. Kerusakan
membran sel akan menyebabkan keluarnya berbagai komponen
penting dalam sel yaitu protein, asam nukleat, nukleotida dan lainlain.
b. Penghambatan sintesis dan penyusunan protein
Antibakteri ini bekerja dengan mengganggu sintesis protein yang
dilakukan oleh mRNA dan tRNA yang berlangsung di ribosom.
c. Penghambatan asam nukleat
Antibakteri ini bekerja menghambat enzim DNA girase pada kuman
yang fungsinya untuk menata kromosom sehingga sintesis asam
nukleat terhambat. (Jawetz et al.,2005)
Sehingga mekanisme kerja penghambatan senyawa antibakeri yang
berada di dalam daun senggani belum diketahui secara pasti karena
untuk mengetahui cara kerja senyawa antibakteri tersebut diperlukan
penelitian secara molekuler.
DAFTAR PUSTAKA
Dumaz, H., Tarakci, Z., Sagun, E. and Ozgokce, F. 2006. Antibacterial
activities of Allium vineale, Chaerophyllum macropodum and
Prangos ferulacea. African Journal of Biotechnology 5 (19): 17951798
Hartini, Y.S., Soegihardjo, Maria dan Kurniawan, K. 2006. Daya
Antibakteri Campuran Ekstrak Etanol Buah Adas (Foeniculum
Prosiding Seminar Nasional Kima dan Pendidikan Kimia 2009
497
Kimia Organik, Bahan Alam, dan Biokimia
ISBN : 979-498-467-1
vulgareMill)dan Kulit Batang Pulasari (Alyxia reinwardtii BL).
Laporan penelitian Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta
Hermawan, A.2006. Pengaruh Ekstrak daun Sirih (Piper betle L.)
Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia
coli Dengan Metode Difusi Disk. Laporan Peneltian. Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Surabaya
Hutchinson, J. 1959. The Families of Flowering Plants. Volume 1.The
Clarendon Press, Oxford
Jawetz. E., Melnick, J.L. and Adelberg, E.A. 2005. Microbiology Untuk
Profesi Kesehatan. Diterjemahkan oleh Huriati dan Hartanto.
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Masduki, I.1996. Efek Antibakteri Ekstrak Biji Pinang (Areca catechu)
terhadap S.aureus dan E. coli in vitro.Cermin Dunia Kedokteran
1:12-13
Pelczar, Michael J. and E.C.S Chan et.al .1988. Elements Of
Microbiology. Jakarta : Universitas Indonesia Press
Schlegel, H.G., 1994. Mikrobiologi Umum, Edisi keenam, Gadjah Mada
University Press, Yogyakart
Stahl, E. 1985. Analisis Obat secara Kromatografi dan Mikroskopi,
diterjemahkan oleh Kokasih Padmawinata dan Iwang Soedira. ITB,
Bandung
Yuharmen, Yum E. dan Nurbalatif. 2002. Uji Aktivitas Antimikroba
Minyak Atsiri dan Ekstrak Metanol Legkuas (Alpinia galanga).
Laporan Penelitian. Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Riau
498
Prosiding Seminar Nasional Kima dan Pendidikan Kimia 2009
Download