BAB II Landasan Teori 2.1 Extrinsic Cues Sebuah produk terdiri dari seperangkat isyarat yang berperan sebagai pengganti indikator kualitas bagi konsumen (Richardson, 1994). Dalam dunia marketing, dapat dinyatakan bahwa dalam pencarian produk yang berpengalaman (experience goods) terkadang tidak efektif, dan konsumen harus bergantung pada beberapa isyarat (cues) dalam membuat penilaian sebuah produk (Aqueveque, 2006). Jurnal Richardson (1994) menyebutkan definisi cue, yaitu produk yang terdiri dari susunan isyarat (cues) yang bertindak sebagai pengganti indikator dari kualitas. Ketika konsumen mencari produk yang akan dibeli, konsumen selalu menggunakan quality cues untuk memprediksi atribut yang mereka inginkan dalam sebuah produk (Northen, 2000). Dalam jurnal tersebut (Richardson, 1994; Aqueveque, 2006; Zeithaml, 1988; Northen, 2000) juga menyebutkan bahwa cues secara lebih jauh juga dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu extrinsic cues dan intrinsic cues. Extrinsic cues adalah atribut yang terkait dengan produk, seperti harga, merek, dan kemasan, dan informasi yang tersedia pada produk, yang merupakan bukan bagian dari fisik produk. Sebaliknya, intrinsic cues mewakili atribut yang terkait dengan produk, seperti komposisi, yang tidak dapat dimanipulasi tanpa mengubah properti fisik produk (Chang, 1996; Vaela, 2007; Raisanen, 2010; Northen). Bagaimanapun, konsumen menggunakan extrinsic cues untuk menetapkan preferensi dan membuat pilihan sebagaimana atribut extrinsic yang juga bertindak sebagai isyarat (cues) performa sebuah produk (Raisanen, 2010). Dalam sebuah studi literatur (Richardson, 1994; Chang, 1996; Raisanen, 2010) menyebutkan bahwa konsumen begantung pada extrinsic cues seperti harga, merek, kemasan, nama toko, dan warna ketika membuat sebuah kualitas penilaian. Dalam riset yang lebih jauh juga dikemukakan bahwa konsumen terkadang menggunakan intrinsic dan extrinsic cues bersamaan untuk mempertajam persepsi mereka dalam mengevaluasi kualitas produk (Vaela, 2007; Patwardhan, 2010; Northen, 2000). Dari sudut pandang pemasaran, extrinsic cues sangatlah menarik karena dapat dimanipulasi tanpa perlu mengubah fisik produk (Northen, 2000). Riset yang dilakukan Richardson (1994) menyebutkan bahwa ekspektasi tercipta oleh extrinsic cues yang mempengaruhi keputusan konsumen terhadap kualitas suatu produk. Konsumen menggunakan extrinsic cues ketika berhadapan dengan situasi konsumsi umum sebagai sebuah cara untuk menghindari hasil yang negatif (Aqueveque, 2006). Dalam hal komunikasi, pada jurnal yang tulis oleh Northen (2000) menyebutkan bahwa atribut kepercayaan (credence) tidak dapat diprediksi oleh intrinsic cues, karena itu satu-satunya cara yang berhasil adalah memprediksinya dengan atribut extinsic cues, seperti informasi yang tersedia pada label. Selain itu, faktor utama pada extrinsic cues seperti kualitas label / informasi yang terkandung pada kemasan adalah atribut yang sepenuhnya menghasilkan sinyal atribut kualitas terpercaya, dimana atribut ini akan dipakai oleh konsumen untuk memprediksikan persepsinya mengenai kualitas suatu produk. Para peneliti telah menyatakan bahwa konsumen terkadang tidak dapat mengevaluasi isyarat (cues) secara akurat terkait dengan pembelian atau penilaian kualitas dalam sebuah evaluasi paska-pembelian karena kurangnya kepercayaan diri, salah menafsirkan atau keterbatasan dalam mengakses informasi (Veale, 2009). Atribut extrinsic tidak berpengaruh secara langsung terhadap performa fungsi produk (Raisanen, 2010). Meskipun demikian, konsumen dapat menggunakan kualitas penilaian yang telah dibuat untuk berbagai alasan, meliputi (Chang, 1996; Raisanen, 2010): • Ketidakmampuan atau kurangnya motivasi untuk memproses informasi atribut intrinsic yang tersedia. • Persepsi gabungan antara atribut extrinsic dan atribut intrinsic. • Adanya keberadaan kualitas fungsional yang tidak terlihat (intangible) yang tidak dapat diatribusikan seluruhnya kepada atribut intrinsic secara umum. • Adanya keberadaan kualitas non-fungsional (misalnya, kualitas simbolis atau kualitas prestis) sesuai dengan atribut extrinsic. Menurut Chang (1996), pada beberapa kasus, atribut extrinsic dan intrinsic berhubungan satu sama lain. Misalnya, banyak konsumen yang menghubungkan beberapa merek dengan atribut positif intrinsic. Hubungan ini dapat menuntun konsumen untuk percaya bahwa beberapa atribut extrinsic adalah indikator kualitas produk yang efisien dan akurat. Pada hasil penelitian yang disebutkan dalam jurnal yang ditulis oleh Teas (2000) mengemukakan bahwa extrinsic cues mempunyai hubungan yang kuat dengan persepsi kualitas. Secara literatur disebutkan bahwa konsumen dapat dipengaruhi oleh beberapa atribut extrinsic, seperti garansi, kemasan, dan iklan. Peneliti telah menetapkan bahwa konsumen tidak dapat mengevaluasi cues ini secara tepat sebelum melakukan pembelian maupun penilaian kualitas setelah pasca-pembelian (Veale, 2007). Maka itu konsumen menggunakan extrinsic cues pada saat (Zeithaml, 1988; Veale, 2007): • Konsumen hanya mempunyai sedikit pengalaman terhadap produk atau tidak ada sama sekali. • Konsumen tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mengevaluasi atribut intrinsic, misalnya konsumen yang sibuk, sesuai menurut penelitian yang pernah dilakukan, dalam berbelanja biasanya akan menggunakan informasi yang tersedia pada kemasan. • Konsumen tidak siap untuk mengevaluasi atribut intrinsic. Pada penelitian yang pernah dilakukan menyebutkan bahwa extrinsic cues dapat menjadi sensor persepsi kualitas yang sangat kuat (Veale, 2007; Dodds, 1991). a. Expert opinion Menurut Aqueveque (2006), expert opinion dapat dipertimbangkan sebagai sebuah extrinsic cue karena merupakan sebuah atribut yang tidak terlihat (intangible) yang ditentukan oleh pasar, dan dapat diubah tanpa mengubah fisik produk. Expert opinion sangat penting karena dapat dipertimbangkan sebagai sebuah ukuran kualitas objektif, dan karena itu adalah sebuah sumber utama dari reputasi kualitas. Penelitian yang dilakukan oleh Aqueveque (2006) menyebutkan bahwa expert opinion berhubungan langsung dengan minat membeli (purchase intention) karena expert opinion adalah sebuah evaluasi, dan karena itu tidak ada proses inferensial (inferential) yang diperlukan dalam membuat kesimpulan mengenai properti dari sebuah produk. Jenis produk seperti buku, konsumen cenderung lebih bergantung pada infomasi mengenai buku tersebut ketika membuat sebuah keputusan. Informasi yang terkandung dapat dilihat dari deskripsi yang tertera label produk (sampul). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ketika konsumen membandingkan berbagai alternatif produk, mereka cenderung mempercayai keputusan mereka terhadap spesifikasi produk yang disediakan oleh produsen. Maka itu produsen harus menempatkan informasi yang tepat pada sebuah produk sehingga dapat memudahkan konsumen untuk memutuskan produk mana yang akan dipilih (Chang, 2009; Kim, 2007). Selain itu informasi yang tersedia dapat mempengaruhi konsumen dalam mempersepsikan sebuah produk (Kim, 2007). Seorang pengulas (individu atau organisasi) dapat diartikan sebagai seseorang yang dipertimbangkan karena memiliki keahlian dibidang tertentu yang dapat dipromosikan. Biasanya pengulas dipilih karena pengetahuan atau pengalamannya (Lindeberg, 2004). Untuk melihat seberapa efektif ulasan yang diberikan pengulas terhadap sebuah buku dalam rangka menciptakan komunikasi antara sebuah buku dengan pembaca, maka dipergunakanlah TEARS model yang terdapat pada jurnal Lindeberg (2004): 1. Trustworthiness, merujuk pada seseorang yang dapat diandalkan dan seseorang yang dapat dipercaya. Kepercayaan seorang pengulas bergantung pada persepsi pembaca terhadap motivasi yang diberikan pengulas. Jika seorang pembaca percaya bahwa pengulas memberikan ulasan hanya untuk kepentingannya sendiri, maka pengaruh yang diberikan akan lebih rendah jika dibandingkan dengan pengulas yang memberikan ulasan untuk meningkatkan motivasi terhadap sebuah buku. 2. Expertise, merujuk pada keahlian, pengetahuan, atau kemampuan tertentu yang dimiliki oleh seseorang terkait dengan mempengaruhi konsumen terhadap suatu produk. Shimp (Lindeberg, 2004) menyatakan bahwa seorang pengulas yang benar-benar ahli atau tidak dibidangnya tidaklah penting, semuanya tergantung bagaimana konsumen mempersepsikan orang tersebut. Jika pengulas dipersepsikan sebagai seseorang yang ahli, maka pengulas dapat mengubah opini konsumen daripada pengulas yang dipersepsikan bukan seseorang yang ahli. 3. Attractiveness, merujuk pada persepsi konsumen terhadap karakter seorang, seperti kepintaran, memiliki kepribadian yang menarik, gaya hidup yang unik, dan kemampuan atletis. 4. Respect, merujuk pada seorang pengulas merupakan orang yang dihormati dan dikagumi dibidangnya. 5. Similarity, merujuk pada adanya kesesuaian antara pengulas dengan target konsumen dari sebuah buku, baik dari umur, gender, etnis, kelas sosial, dan lain-lain. Shimp (Lindeberg, 2004) mengatakan bahwa hal ini sangat penting karena konsumen cenderung menyukai individu yang memiliki kesamaan karakteristik. b. Packaging Desain adalah totalitas fitur yang mempengaruhi penampilan produk, perasaan terhadap produk, dan fungsi-fungsi dalam ketentuan konsumen (Kotler, 2009, p365). Kemasan (packaging) adalah segala aktivitas mendesain dan memproduksi wadah dari produk (Kotler, 2009, p379). Menurut Kotler (2009, p379) kemasan yang didesain dengan menarik dapat mendorong penjualan. Kemasan adalah pertemuan pertama antara pembeli dengan produk dan langsung tercipta kesan pertama baik kualitas maupun nilai yang pada akhirnya akan menentukan minat membeli konsumen (Lofgren, 2005). Riset menunjukkan bahwa konsumen membuat keputusan untuk membeli produkproduk yang ditawarkan hanya dalam waktu beberapa detik saja. Dalam waktu beberapa detik tersebut, kemasan harus menjadi silent salesman yang akan memasarkan produk, menarik konsumen, dan mendapatkan perhatian khusus untuk “melawan” “teriakan” visual dari produk kompetitor (Lofgren, 2005). Untuk mencapai tujuan pemasaran bagi kepuasan konsumen, marketer harus memilih keindahan aestetik (aesthetic) dan komponen fungsional kemasan yang tepat. Pertimbangan aestetik berhubungan dengan ukuran, bentuk, bahan, warna, tulisan, dan grafik. Elemen kemasan harus sesuai satu sama lain dan dengan harga, iklan, dan bagian lain dari program pemasaran. Perubahan kemasan dapat berdampak langsung pada penjualan (Kotler, 2010). Pada penelitian yang dilakukan oleh Raisanen (2010) mengenai pemilihan produk obat-obatan tanpa resep dokter (non-prescrition drug) menunjukkan bahwa konsumen dipengaruhi oleh atribut yang terkait dengan aspek desain kemasan, misalnya warna kemasan, bahan, bentuk, dan ukuran tulisan. Atribut-atribut ini digunakan konsumen pada saat akan melakukan pembelian sebagai isyarat (cues) performa produk. Konsumen lebih memilih menetapkan preferensinya pada atribut extrinsic produk yang ditemukan pada kemasan daripada memilih performa produk pada atribut intrinsic. Preferensi konsumen terhadap suatu produk berdasarkan desain kemasan, maka itu desain sangat penting bagi kesuksesan sebuah produk. Iklan pada sebuah produk yang mendukung kualitas akan meningkatkan ekpektasi persepsi kualitas. Efek yang sama ini juga berlaku jika desain sebuah kemasan dirubah dalam mengkomunikasikan sebuah pesan baru yang memperlihatkan kualitas produk yang tinggi (Lofgren, 2005). Sebuah kemasan juga meliputi atribut desain seperti warna, bentuk, bahan, dan ukuran tulisan. Pada penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa atributatribut ini dapat mempengaruhi preferensi konsumen (Raisanen, 2010). Dengan demikian, tiga fungsi utama yang mempengaruhi dapat diketahui dari (Raisanen, 2010): 1. Atribut-atribut desain menarik perhatian konsumen. 2. Pilihan konsumen mungkin saja berdasarkan nilai aestetik atribut tersebut. 3. Atribut-atribut desain ini menimbulkan persepsi seperti yang ingin dikomunikasikan produk tersebut. Sebuah produk yang berada dalam toko, dalam rangka mempengaruhi konsumen, sebuah rangsangan haruslah menarik perhatian, hal ini merupakan sebuah prasyarat dalam memproses informasi lebih lanjut. Untuk mewujudkan hal ini, konsumen haruslah memberi perhatian pada rangsangan tersebut. Pada penelitian sebelumnya mendokumentasikan bahwa warna dan bentuk pada kemasanlah yang menarik perhatian konsumen. Dengan demikian, buku yang memiliki baik warna, bahan, maupun bentuk yang unik dapat menarik perhatian. Penelitian sebelumnya pada warna kemasan menggambarkan lebih jauh bahwa warna-warna hangat seperti kuning, oranye, dan merah menarik perhatian. Sebagai tambahan, warna unik dan bersemangat pada sebuah buku dapat menarik perhatian, selain itu warna dapat mempengaruhi evaluasi performa produk yang pada akhirnya dapat menuntun konsumen terhadap persepsi kualitas suatu produk (Raisanen, 2010). Hal ini menunjukkan bahwa peran warna dapat memberikan penegasan secara khusus, seperti halnya warna yang berperan sebagai atribut yang pertama kali menarik perhatian konsumen (Raisanen, 2010). Pemilihan warna atau bentuk berdasarkan selera pribadi masing-masing konsumen. Pernyataan ini ditemukan dapat mempengaruhi pilihan-pilihan, dan menurut keindahan aestetik ini merupakan pengaruh dari desain kemasan produk (Raisanen, 2010). Secara tradisional, kemasan sering kali dipertimbangkan sebagai bagian yang paling penting dari fisik produk. Seiring dengan perubahan ekspektasi konsumen dan permintaan yang berubah-ubah menjadikan peran kemasan menjadi sangat penting terkait dengan kegunaannya dalam menyediakan fungsi dan informasi (Lofgren, 2005). Banyak penelitian yang telah dilakukan mengatakan bahwa kualitas produk tercermin dari desain kemasan produk dan ketentuan yang diinginkan konsumen (Lofgren, 2005). Pada jurnal yang ditulis oleh Patwardhan (2010) mengatakan bahwa desain kemasan dengan gambar produk dapat meningkatkan penilaian konsumen dalam menciptakan pengalaman aestetik dan juga menciptakan kesan positif terhadap produk secara keseluruhan. Pada penelitian yang lebih lanjut mengatakan bahwa (Patwardhan, 2010) konsumen dapat dipengaruhi oleh atribut yang terkait dengan aspek desain dari kemasan sebuah produk, misalnya warna kemasan, bahan dan bentuk, dan ukuran huruf. Atribut-atribut ini juga digunakan oleh konsumen pada saat pembelian produk sebagai indikator (cues) dari performa produk dan pernyataan terhadap preferensi produk. Pengaruh fungsional yang dapat dideteksi dari sebuah kemasan produk adalah: a. atribut desain kemasan dapat menarik perhatian konsumen. b. pilihan konsumen berdasarkan atribut nilai keindahan aestetik. c. atribut kemasan dapat menimbulkan persepsi yang ingin disampaikan sebuah produk terhadap konsumen. Pada penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya (Patwardhan, 2010) menyebutkan secara rinci bahwa warna dan bentuk yang dapat menarik perhatian konsumen. Dalam mengidentifikasi atribut kualitas yang terdapat pada kemasan, Lofgren (2005) membaginya ke dalam 3 bagian: a. Ergonomic, meliputi semua yang berkaitan dengan fisik manusia dan perilaku ketika menggunakan produk (misalnya, kemasan yang mudah dipergunakan). Indikatornya adalah • Easy to grip • User-friendly • Easy to open • Facilitates the sorting out of housesold waste • Easy to empty completely • Easy to dose • Fit in storage spaces • Contain just the right quantity • Easy to throw on the household waste b. Technical, fungsi teknik, susunan, dan produksi dari produk tersebut (misalnya, jika sebuah kemasan diproduksi dengan menggunakan bahan yang dapat didaur ulang). Indikatornya adalah • Protection • Leakage • Resealability • Recyclable material • Addtional functions • Attractive and nice looking print • hygienic c. Communicative, kemampuan produk dalam berkomunikasi dengan manusia (dalam menyampaikan pesan dan penyesuaian produk terhadap persepsi manusia). Misalnya, atribut kualitas dalam bagian ini merupakan atribut yang terlibat dalam kemampuan sebuah kemasan untuk berkomunikasi dengan manusia melalui tulisan dan simbol. Indikatornya adalah • Declaration of contents • Instructions • Symbols • Open-dating • Aesthetically appealing • Communicates product family category • Communicates a certain brand • Appearance = content 2.2 Persepsi Kualitas Menurut Aaker (Northen, 2000), persepsi kualitas adalah persepsi konsumen terhadap penilaian keseluruhan atau keunggulan sebuah produk tehadap maksud tujuan yang terkait dengan alternatif. Secara mendalam, persepsi kualitas dapat didefinisikan sebagai penilaian konsumen mengenai keunggulan produk secara keseluruhan (Zeithaml, 1988; Knight, 2007; Kwak, 2009; Northen, 2000). Persepsi kualitas adalah (Zeithaml, 1988): • Kualitas yang berbeda dari kualitas objektif atau kualitas sebenarnya. • Sebuah level abstraksi yang tinggi daripada sebuah atribut produk. • Sebuah penilaian global yang pada beberapa kasus menyerupai perilaku. • Sebuah penilaian yang biasanya dibuat berdasarkan penilaian yang pernah dibuat oleh konsumen dari pengalaman sebelumnya. Beberapa peneliti telah membuat perbedaan antara kualitas objektif dan persepsi kualitas (Zeithaml, 1988). Kualitas objektif (objective quality) digunakan dalam literatur untuk menggambarkan keunggulan teknis sebenarnya atau keunggulan produk, misalnya keunggulan mekanis atau teknik dari sebuah produk (Zeithaml, 1988; Kwak, 2009). Persepsi kualitas adalah penilaian konsumen mengenai keunggulan produk (Zeithaml, 1988; Kwak, 2009). Kualitas produk dievaluasi sebagai produk yang berkualitas tinggi atau rendah bergantung pada keunggulannya diantara produk lain yang dilihat sebagai produk subtitusi oleh konsumen (Zeithaml, 1988). Persepsi kualitas konsumen dapat terus berubah seiring bertambahnya informasi, bertambahnya persaingan dalam sebuah kategori produk, dan perubahan ekspektasi. Maka itu (Aqueveque, 2006) konsumen lebih sering menggunakan pilihan yang mempunyai atribut kualitas yang kuat. Sebuah pandangan yang baru diterima mengenai persepsi kualitas dan tipe atribut adalah salah satu dimana persepsi konsumen mengenai kualitas terkait dengan pembelian adalah berdasarkan isyarat kualitas (quality cues) (Northen, 2000). Sejumlah penelitian terhadap extrinsic cues telah ditemukan secara signifikan dalam mempengaruhi persepsi konsumen terhadap performa produk dan kualitas (Veale, 2007; Richardson, 1994). Bonner dan Nelson (Zeithaml, 1988) memastikan bahwa bentuk suatu produk terkait dengan persepsi kualitas, kesimpulannya, kemampuan sebuah kemasan dalam menjaga isi produk dibedakan berdasarkan tipe dan bentuk yang dapat menyampaikan isi produk dengan baik sehingga dapat meningkatkan market share. Kualitas dari sudut pandang konsumen diperoleh dari dua dimensi yang berbeda, yaitu performa produk dan derajat kebebasan (freedom from deficiencies). Performa produk adalah derajat kemampuan suatu produk dalam memenuhi kebutuhan konsumen, sedangkan derajat kebebasan adalah bagaimana produk tersebut dapat diandalkan dengan memenuhi spesifikasinya (Lofgren, 2005). Banyak penelitian yang telah dilakukan menemukan bahwa kualitas produk tercermin dalam desain produk dari produk itu sendiri dan permintaan konsumen, selain itu konsumen akan tertarik dengan kemasan yang baik dan menarik (Patwardhan, 2010). Penelitian yang dilakukan oleh Northen (2000) mengenai permintaan konsumen terhadap daging segar menyimpulkan bahwa ketika mencari sebuah produk yang diinginkan, konsumen akan menggunakan isyarat kualitas yang biasa dipakai (misalnya, kelembutan sebuah daging, rasa, dan kadar air yang terkandung didalamnya) untuk memprediksikan atribut yang mereka inginkan dalam sebuah produk (seperti kadar lemak, cara pemotongan, dan kandungan air). Dalam jurnal Lofgren (2005) menyebutkan lima kategori dari persepsi kualitas: 1. Attractive quality Atribut attractive quality dapat digambarkan sebagai atribut kejutan dan kesenangan; atribut ini menyediakan kepuasan ketika ekspektasi konsumen tercapai tetapi tidak akan menyebabkan ketidakpuasan bila ekspektasi konsumen tidak terpenuhi. Atribut-atribut ini secara normal tidak diharapkan, misalnya, sebuah termometer pada kemasan susu menunjukkan temperatur pada susu. 2. One-dimensional quality Atribut ini dihasilkan oleh kepuasan dan ketidakpuasan. Atribut ini dapat “berbicara” dimana atribut ini dapat bersaing bersama dengan perusahaan. Misalnya, sebuah kemasan susu tertulis mengandung susu lebih banyak 10% dengan harga yang sama biasanya menimbulkan kepuasan bagi konsumen, tetapi bila hanya mengandung susu lebih banyak 6%, biasanya konsumen akan merasa kecewa, yang pada akhirnya menimbulkan ketidakpuasan. 3. Must-be quality Atribut must-be quality diterima begitu saja ketika ekspektasi konsumen terpenuhi yang menghasilkan kepuasan dan ekspektasi yang tidak terpenuhi yang menghasilkan ketidakpuasan. Misalnya dalam kemasan susu dapat diperlihatkan dalam bentuk kemasan yang cacat. Konsumen kecewa ketika kemasan cacat, tetapi ketika kemasan tersebut dalam keadaan sempurna, kepuasan konsumen juga tidak akan meningkat. 4. Indifferent quality Indifferent quality merujuk pada aspek tidak baik atau buruk, dan konsekuensinya tidak terlihat pada kepuasan atau ketidakpuasan konsumen. 5. Reverse quality Reverese quality merujuk pada derajat tinggi pencapaian ketidakpuasan (dan kebalikannya, derajat rendah pencapaian kepuasan) dan pada kenyataannya tidak semua konsumen menyukainya. Misalnya, seorang konsumen lebih memilih produk berteknologi tinggi, ketika konsumen yang lain lebih memilih produk yang modelnya biasa saja (basic model of a product) dan akan kecewa bila produk tersebut memiliki fitur yang terlalu banyak. 2.3 Purchase Intention Konsumen mungkin berniat membeli beberapa produk tertentu karena persepsi produk yang terbentuk memberikan fitur, kualitas, atau keuntungan yang tepat. Persepsi terhadap kualitas yang tinggi mungkin hampir terkait dengan diferensiasi dan keunggulan dari sebuah produk dan karena itu memotivasi konsumen untuk memilih suatu produk daripada produk lainnya (Lee, 2008). Pada saat titik pembelian, konsumen selalu tidak dapat mengevaluasi atribut intrisic dari sebuah produk, kecuali disediakan contoh sampel karena konsumen tidak dapat mencoba produk tersebut sebelum membelinya. Misalnya, konsumen tidak tahu berapa lama sebuah mesin cuci akan bertahan lama sampai konsumen membeli dan memakainya. Pada kasus yang sama, konsumen bergantung pada atribut extrinsic seperti garansi, merek, dan kemasan sebagai pengganti atribut intrinsic (Zeithaml, 1988). Minat konsumen untuk membeli suatu produk biasanya berdasarkan persepsi dan representasi mereka terhadap kualitas dan keamanan (Patwardhan, 2010). Pada jurnal yang ditulis oleh Kwak (2009) terdapat teori yang mengatakan bahwa, telah ditemukan bahwa persepsi kualitas mempunyai hubungan langsung yang positif dengan purchase intention. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Kwak (2009) juga membuktikan bahwa persepsi kualitas memberikan pengaruh positif terhadap purchase intention. Keputusan pembelian biasanya berdasarkan persepsi kualitas konsumen terhadap suatu produk (Patwardhan, 2010).