Analisis Pengaruh SBI, Jumlah Uang Beredar, Inflasi dan Nilai

advertisement
1
Analisis Pengaruh SBI, Jumlah Uang Beredar, Inflasi dan
Nilai Tukar Rupiah terhadap Kinerja Reksa Dana Saham di Indonesia
Oleh Nurlis
Abstract
This study has the objective to determine the impact of independent
variables SBI Rate, Money Supply, Inflation and Rupiah Exchange Rate against
the dependent variable Equity Fund Performance in Indonesia 2006-2011 period.
Data processing technique used is multiple linear regression analysis with
the F test of hypothesis testing to test the effect of simultaneous and t tests to
examine the effect of independent variables on the dependent variable partially
with a significance level of 5%.
The results of this study indicate that macroeconomic factors (Rate
Interest Rates, Money Supply, Inflation and Exchange Rate Rupiah / USD) is
used to predict the relevant Net Asset Value of Mutual Fund Shares of Indonesia
is a very significant effect on the level of less than 1% (0.000). It is also
strengthened by the power of prediction and Adjusted R2 of 97.4%.
Key words : SBI Rate, Money Supply, Inflation and Rupiah Exchange Rate to
USD and Net Asset Value of Mutual Fund Shares
A.
Latar Belakang Masalah
Peningkatan kesejahteraan dan tingkat harapan hidup akan membuat
seseorang berpikir mengenai masa depan dan akan membawa dampak terhadap
perlunya penempatan dana yang umumnya disisihkan dari pendapatan, tetapi
dalam sesuatu yang diharapkan akan meningkat nilainya di masa datang. Kegiatan
menempatkan dana (asset) pada sesuatu (aktiva/aset keuangan) yang diharapkan
akan meningkat nilainya di masa mendatang disebut sebagai kegiatan investasi.
Ada tiga hal utama yang mendasari perlunya melakukan investasi, yaitu adanya
kebutuhan masa depan atau kebutuhan saat ini, adanya keinginan untuk
2
menambah nilai aset dan adanya kebutuhan untuk melindungi nilai aset yang
sudah dimiliki, dan karena adanya inflasi. Oleh karena itu, orang berusaha untuk
menyisihkan sebagian pendapatannya di masa produktif dan menyimpannya untuk
masa depan yang umumnya sudah kurang produktif.
Investasi memiliki arti yang sangat luas dan umum karena berhubungan
dengan nilai dari aset baik berupa uang maupun benda. Sekolah sejak TK hingga
lulus sarjana adalah sebuah investasi bagi diri pribadi. Jika kita saat ini bisa
membaca, menulis, berpikir, mempunyai keahlian, dan memiliki pekerjaan, ini
semua merupakan hasil investasi yang kita lakukan tersebut. Selanjutnya,
pengertian investasi dalam tulisan ini akan membahas dalam cakupan investasi
keuangan (financial investment). Investasi keuangan ini dilakukan di pasar
keuangan (financial market) yang pada umumnya dibagi menjadi dua, yaitu pasar
uang dan pasar modal. Pasar uang (money market) merupakan pasar untuk surat
berharga jangka pendek seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga
Pasar Uang (SBPU) dan commercial paper sedangkan dalam pasar modal (capital
market) merupakan pasar untuk surat berharga jangka panjang dimana instrumen
yang diperjualbelikan seperti saham dan obligasi.
Secara perlahan namun pasti, pasar modal Indonesia bagi dunia usaha,
memberikan alternatif pembiayaan yang menarik melalui kemungkinankemungkinan
menggalang
dana
dimana
perusahaan-perusahaan
menjadi
institutionalized, atau melembaga secara ekonomi dan sosial (sosial karena
perusahaan yang go public disebut public company) dalam sistem ekonomi
sementara dari sudut perusahaan, pasar modal membuat perusahaan itu
mempunyai public accountability yang menjadikan ia lebih “transparan” (lebih
jelas terbaca kegiatan maupun hasil-hasilnya secara finansial) dan terbuka bagi
kritik masyarakat secara meluas. Di sisi lain, bagi para pemilik dana, pasar modal
memberikan berbagai pilihan investasi. Jumlah dan bentuk pilihan ini semakin
banyak mulai dari yang relatif tinggi resikonya sampai pada pilihan-pilihan
beresiko rendah. Alternatif yang semula terbatas pada saham dan obligasi, kini
menjadi semakin beragam dengan adanya portofolio, yang merupakan cikal bakal
terbentuknya reksa dana.
3
Gambar 1
Proses Pembentukan Portofolio Melalui Reksa Dana
Portofolio
Manajer Investasi
Investor Individu
dengan Dana Terbatas
Sumber: Eduardus Tandelilin (2007 : 21)
Lahirnya reksa dana merupakan suatu pemecahan baru terhadap wahana
investasi
dimana
seorang
pemodal
dapat
mengimplementasikan
prinsip
diversifikasi, “don’t put all your eggs into one basket”, tanpa harus mempunyai
modal yang relatif besar, pengetahuan yang cukup dan tidak perlu mengorbankan
waktu untuk memilih dan mengawasinya terus-menerus untuk memperhatikan
kondisi dan perkembangan pasar. Per definisi, Reksa Dana (mutual fund) adalah
institusi jasa keuangan yang menerima uang dari para pemodal yang kemudian
menginvestasikan dana tersebut dalam portofolio yang terdiversifikasi pada
efek/sekuritas.
Reksa Dana sendiri sebagai produk adalah cukup sederhana dan menarik.
Sederhana karena produk merupakan dalam bentuk sertifikat yang terdiri dari
berbagai instrumen pasar modal dan pasar uang. Pengetahuan yang baik mengenai
kondisi perusahaan-perusahaan akan menjadikan sertifikat reksa dana sangat
menguntungkan bagi calon investor yang tidak harus memilih hanya sahamsaham tertentu. Begitupun, dalam situasi bursa efek yang berkepanjangan
mengalami depresi, banyak sekali kalangan yang melihat reksa dana sebagai
“resep” untuk membuat bursa menjadi bullish kembali.
4
Tabel 1
Perkembangan Industri Reksa Dana Periode 2006-2010
2006
Jumlah
Reksa
Dana
403
2007
473
92.1
53.589
2008
2009
2010
567
610
726
74.0
112.9
146.6
60.976
69.978
81.464
Tahun
Nilai Aktiva Bersih
(dalam triliun rupiah)
51.6
Jumlah Pemegang
Unit Penyertaan
(juta)
36.140
Sumber: Diolah dari berbagai sumber
Fenomena maraknya produk reksa dana ini tidak bisa ditutup-tutupi dan
yang paling menonjol dari perkembangan industri reksa dana adalah semakin
banyaknya jumlah produk reksa dana. Jadi, bukan tidak mungkin krisis perbankan
justru bukan bencana bagi industri reksa dana malah sebaliknya merupakan
blessing in disguise. Data memperlihatkan sejak 2006 sampai 2010 produk reksa
dana tumbuh pesat dan terus mengalami pertumbuhan yang signifikan. Setiap
tahun rata-rata muncul lebih dari 10 reksa dana baru yang akan semakin
memberikan banyak pilihan investasi bagi masyarakat pemodal.
Jenis reksa dana itu sendiri cukup banyak, seperti reksa dana pendapatan
tetap yang 80 persen portofolio investasinya pada efek yang berbentuk surat utang
seperti obligasi, reksa dana pasar uang yang portofolio investasinya pada jenis
instrumen pasar uang seperti SBI, reksa dana saham yang portofolio investasinya
terdiri dari saham dan reksa dana campuran yang instrumen investasinya bisa
berbentuk saham dan obligasi atau dikombinasikan dengan instrumen lainnya.
Nilai Aktiva Bersih reksa dana semakin memperlihatkan peningkatan, meski
pada awal tahun 2006 industri reksa dana di Indonesia di tandai dua peristiwa
penting. Pertama terjadinya kasus manipulasi Reksa Dana Prudence oleh Bank
Global yang sedikit banyak berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat
terutama menyangkut fungsi perbankan sebagai channel of distribution produk
5
reksa dana di Indonesia, yang lainnya menyangkut pemberlakuan metode
penilaian portofolio dengan menggunakan metode marked to market.
Semangat investasi pada reksa dana adalah market-based return yang
berarti mekanisme pasarlah yang akan menentukan besar kecilnya rate of return
yang akan diperoleh oleh seorang investor. Hal tersebut menjadikan masyarakat
mulai menyadari bahwa tingkat pengembalian (yield) investasi di reksa dana
ternyata lebih tinggi dari investasi deposito atau produk perbankan lainnya dimana
tingkat pengembalian industri reksa dana ini didukung oleh faktor makroekonomi
seperti pertumbuhan GDP, kondisi moneter, suku bunga SBI, nilai tukar rupiah
dan laju inflasi. Akan tetapi, faktor makroekonomi jugalah yang membuat kinerja
reksa dana terpuruk.Adanya kendala dari faktor-faktor tersebut, maka reksa dana
saham muncul menjadi pilihan tepat karena umumnya pemodal mengalami
kesulitan untuk melakukan investasi sendiri pada instrumen saham tersebut. Di
lain pihak, catatan historis menunjukkan, dalam jangka panjang, investasi pada
reksa dana saham dapat memberikan hasil yang lebih baik.
Reksa Dana saham tidak hanya memberikan manfaat secara langsung
kepada emiten maupun investor tetapi juga secara tidak langsung akan
memberikan manfaat bagi industri pasar modal dan bagi pertumbuhan ekonomi
karena turut menjadi salah satu penopang berputarnya roda perekonomian, yakni
sebagai intermediary (perantara) yang menyediakan sumber dana bagi kegiatan
investasi. Keberhasilan penggalangan dana masyarakat untuk tujuan investasi ini
pada akhirnya akan berperan dalam pertumbuhan ekonomi nasional yang
berorientasi pada penggunaan sumber dana dalam negeri. Hal ini akan dapat
memperbaiki struktur pembiayaan nasional yang selama ini sangat tergantung
pada pinjaman luar negeri.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan deskripsi yang dituangkan di atas, dapat dirumuskan masalah
mengenai variabel-variabel makroekonomi Indonesia dalam kaitannya dengan
kinerja reksa dana saham sebagai berikut :
6
1. Apakah variabel tingkat bunga SBI, jumlah uang beredar, inflasi dan nilai tukar
rupiah berpengaruh secara serentak terhadap kinerja reksa dana saham di
Indonesia
2. Apakah variabel tingkat bunga SBI, jumlah uang beredar, inflasi dan nilai tukar
rupiah berpengaruh secara parsial terhadap kinerja reksa dana saham di
Indonesia
C.
Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai penulis dari penelitian ini, dengan berdasarkan
masalah-masalah
yang
tercantum
dalamrumusan
masalah
adalah
untuk
menganalisis pengaruh variabel tingkat bunga SBI, jumlah uang beredar, inflasi
dan nilai tukar rupiah baik secara serentak maupun parsial terhadap kinerja reksa
dana saham di Indonesia.
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai tambahan pengetahuan
serta referensi bagi pihak akademis maupun umum yang hendak melakukan
penelitian yang lebih mendalam, selain itu hasil penelitian ini diharapkan dapat
berguna bagi investor yang ingin menanamkan dananya pada pasar modal
Indonesia sebagai alternatif investasi.
D.
Landasan Teoritis dan Kerangka Pikir
1.
Reksa Dana
Menurut Undang-undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995, Pasal 1 ayat (27),
Reksa dana dapat didefinisikan sebagai berikut: “Reksa Dana adalah wadah yang
dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk
selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi”.
Reksa Dana muncul karena umumnya investor mengalami kesulitan untuk
melakukan investasi sendiri secara terpisah pada berbagai efek yang ada.
Kesulitan yang dihadapi investor antara lain menyangkut kemampuan dan
pengalaman untuk melakukan berbagai analisa dan memonitor kinerja efek
maupun kondisi pasar secara terus-menerus yang menyita banyak waktu dan
7
tenaga. Disamping itu dibutuhkan pula dana yang relatif besar untuk dapat
melakukan investasi pada berbagai surat berharga yang ditawarkan oleh pasar.
Istilah Nilai Aktiva Bersih (NAB) tidak bisa dipisahkan dari reksa dana,
karena istilah ini merupakan salah satu tolok ukur dalam memantau hasil dari
suatu reksa dana.Yang dimaksud dengan NAB adalah sejumlah aktiva setelah
dikurangi kewajiban-kewajiban yang ada. Sedangkan NAB per saham atau per
unit penyertaan adalah harga wajar dari portofolio suatu reksa dana setelah
dikurangi semua biaya operasional (kewajiban) dan dibagi dengan jumlah saham
atau unit penyertaan yang beredar (dimiliki investor) pada saat tersebut. NAB per
saham/unit penyertaan dihitung setiap hari oleh bank kustodian setelah
mendapatkan data dari manajer investasi dan nilainya dapat dilihat pada surat
kabar tertentu setiap hari. Besarnya NAB bisa berfluktuasi setiap hari, tergantung
pada perubahan nilai efek dalam portofolio reksa dana. Meningkatnya NAB
mengindikasikan meningkatnya investasi pemegang saham/unit penyertaan,
begitu pula sebaliknya
Gambar 2
Mekanisme Kerja Reksa Dana
BAPEPAM
INVESTOR
MANAJER
INVESTASI
PERANTARA
PASAR MODAL
& PASAR UANG
BANK
KUSTODIAN
Sumber: Eko Priyo Pratomo & Ubaidillah Nugraha (2004 :43)
Harga pasar reksa dana merupakan harga yang telah disesuaikan dengan
kondisi pasar. Sesungguhnya harga pasar ini tergantung juga pada nilai reksa
8
dana. Sebagaimana diketahui, nilai reksa dana merupakan NAB, dimana untuk
menentukan NAB sangat bergantung pada hasil portofolio investasi yang
dilakukan manajer investasi. Dengan demikian NAB akan dipengaruhi oleh harga
instan isi portofolio reksa dana dan pada akhirnya NAB juga akan mempengaruhi
harga pasar.
Pengertian NAB adalah total market value dari suatu portofolio dikurangi
kewajibannya, dibagi dengan total jumlah saham yang beredar. Dengan demikian
rumus perhitungan NAB per saham/unit penyertaan sebagai berikut:
NAB per saham/unit penyertaan 
 Nilai Pasar Waja r dari Aset -  Kewajiban
 Unit Penyertaan yang beredar
2. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
Adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh bank Indonesia sebagai
pengakuan utang berjangka waktu pendek (1-3 bulan) dengan sistem
Diskonto/bunga, SBI merupakan salah satu mekanisme yang digunakan Bank
Indonesia untuk mengontrol kestabilan nilai rupiah, dengan menjual SBI, Bank
Indonesia dapat menyerap kelebihan uang primer yang beredar.
Tingkat suku bunga yang berlaku pada setiap penjualan SBI ditentukan
oleh mekanisme pasar berdasarkan sistem lelang. sejak awal juli 2005, BI
menggunakan mekanisme “BI Rate” (Suku bunga BI), yaitu BI mengumumkan
target suku bunga SBI yang diinginkan BI untuk pelelangan pada masa periode
tertentu. BI rate ini kemudian yang digunakan sebagai acuan para pelaku pasar
dalam mengikuti pelelangan.
SBI merupakan
instrumen hutang (debt instrument) karena aset ini
mengharuskan penerbitnya melakukan pembayaran kembali dalam jumlah
tertentu yang terdiri dari nilai pokok ditambah bunga. Tingkat suku bunga SBI
ditentukan pada pelelangan di kantor pusat Bank Indonesia pada hari Rabu setiap
minggunya.
Sertifikat Bank Indonesia memiliki pengaruh terhadap kinerja reksa dana
saham (NAB) antara lain:
9

Jika tingkat suku bunga SBI mengalami kenaikan, tingkat suku bunga
deposito berjangka juga akan naik sehingga penanaman modal dalam
bentuk deposito berjangka menjadi lebih menarik, di sisi lain tingkat
bunga pinjaman perbankan juga akan naik yang akan menyebabkan
turunnya pendapatan perusahaan karena peningkatan jumlah pembayaran
bunga hutang sehingga penanaman modal pada instrumen saham justru
akan berkurang, akibatnya NAB reksa dana saham juga akan mengalami
penurunan.

Jika tingkat suku bunga SBI mengalami penurunan, SBI akan menjadi
pilihan investasi yang kurang menarik dibandingkan instrumen investasi
lain seperti saham atau obligasi sehingga permintaan instrumen investasi
saham mengalami kenaikan akibatnya harga saham di bursa naik yang
akhirnya akan meningkatkan NAB reksa dana saham.
3. Jumlah Uang Beredar
Yang dimaksud dengan jumlah uang beredar adalah nilai keseluruhan
uang yang berada di tangan masyarakat. Jumlah uang beredar dalam arti sempit
(narrow money) adalah jumlah uang beredar yang terdiri atas uang kartal dan
uang giral.
Uang kartal adalah uang tunai yang terdiri dari uang kertas dan logam
(yang dikeluarkan oleh pemerintah atau bank sentral) yang langsung dapat
digunakan oleh masyarakat umum. Uang giral adalah seluruh nilai saldo rekening
koran (giro) yang dimiliki masyarakat pada bank-bank umum.
Penciptaan uang / besarnya uang beredar dalam masyarakat dapat digambarkan
sebagai proses pasar (Daryon : 2003). Jumlah Uang Beredar juga mempunyai
keterikatan dengan suku bunga deposito. Semakin banyak jumlah uang yang
beredar dimasyarakat, investasi menjadi lebih menarik bila dibandingkan dengan
menyimpan dalam bentuk tabungan.
Secara teknis, yang dihitung sebagai jumlah uang beredar adalah uang yang
benar-benar berada di tangan masyarakat. Uang yang berada di tangan bank (bank
10
umum dan bank sentral), serta uang kertas dan logam (kuartal) milik pemerintah
tidak dihitung sebagai uang yang beredar
Perkembangan jumlah uang beredar mencerminkan atau seiring dengan
perkembangan
ekonomi.
Biasanya
bila
perekonomian
bertumbuh
dan
berkembang, jumlah uang beredar juga bertambah, sedang komposisinya berubah.
Bila perekonomian makin maju, porsi penggunaan uang kartal makin sedikit,
digantikan uang giral atau near money. Biasanya juga bila perekonomian makin
meningkat, komposisi M1 dalam peredaran uang semakin kecil, sebab porsi uang
kuasi makin besar. Jumlah uang beredar dapat mempengaruhi Nilai Aktiva Bersih
(NAB) reksa dana. Pada saat terjadi kenaikan jumlah uang beredar, masyarakat
dianggap memiliki proporsi lebih untuk berinvestasi sehingga permintaan
instrumen investasi saham mengalami kenaikan yang berarti akan meningkatkan
NAB reksa dana saham, dan sebaliknya
4. Inflasi
Inflasi adalah proses kenaikan harga- harga umum barang-barang secara terus
menerus. Tapi kenaikan harga tersebut tidak selalu dalam prosentase yang sama
(Nopirin : 2000). Kenaikan harga tersebut diukur dengan beberapa cara antara lain
dengan,a. Indeks biaya hidup (consumer price index), b. Indeks harga
perdagangan besar (whole sale price index) danc. GNP Deflator.
Inflasi Tinggi (hyper inflation) adalah inflasi yang sangat mengkhawatirkan,
karena harga-harga barang meningkat sampai dengan lima atau enam kali,
sehingga nilai uang turun secara tajam (Nopirin : 2001). Inflasi yang tinggi
biasanya dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang terlalu panas (over heated),
artinya kondisi ekonomi mengalami permintaan atas produk yang melebihi
kapasitas penawaran produknya, sehingga harga-harga cenderung mengalami
mengalami kenaikan. Kondisi ekonomi yang over heated tersebut juga akan
menurunkan daya beli uang (purchasing power of money) dan mengurangi tingkat
pendapatan riil yang diperoleh investor dari investasinya (Tandelilin : 2001).
Inflasi meningkatkan pendapatan dan biaya perusahaan. Jika peningkatan biaya
produksi lebih tinggi dari peningkatan harga yang dapat dinikmati oleh
perusahaan maka profitabilitas perusahaan akan turun.
11
Indikator inflasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Indeks Harga
Konsumen (IHK) Indonesia. IHK merupakan pengukur perkembangan daya beli
Rupiah yang dibelanjakan untuk membeli barang dan jasa dari bulan ke bulan.
Rumus perhitungan inflasi sebagai berikut:
INFt 
(IHK t  IHK t 1 )
 100%
IHK t 1
Kenaikan inflasi akan menyebabkan harga-harga meningkat (dalam hal ini
instrumen investasi saham). Karena sebagian besar dari pemilik unit penyertaan di
reksa dana saham adalah investor institusi dan investor dari masyarakat golongan
menengah ke atas, maka kenaikan inflasi ini akan meningkatkan NAB reksa dana
saham, dan sebaliknya.
5. Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar/kurs (exchange rate) adalah nilai suatu mata uang dimana negaranegara melakukan pertukaran di pasar dunia. Nilai tukar rupiah terutama terhadap
dollar AS merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi perkembangan
dunia usaha. Fluktuasi nilai tukar yang berlebihan (over fluctuation) merupakan
kendala operasional yang paling ditakuti oleh para pengusaha, karena di dalam
dunia usaha sangat diperlukan kestabilan dan kepastian dalam perencanaan usaha
dan investasi. Nilai tukar mata uang suatu negara dikatakan mengalami apresiasi
jika nilai mata uangnya meningkat relatif terhadap mata uang negara lain dan
dikatakan depresiasi jika nilai mata uangnya menurun relatif terhadap mata uang
negara lain.
Apresiasi rupiah terhadap mata uang dollar AS maka masyarakat bisa melihat
bahwa mata uang rupiah sebagai salah satu indikator makroekonomi negara
mengalami perbaikan. Hal ini akan meningkatkan ekspektasi dalam berinvestasi
sehingga meningkatkan permintaan terhadap reksa dana saham, akibatnya NAB
reksa dana saham juga akan meningkat, dan sebaliknya.
12
6. Kerangka Pikir dan Hipotesis
a. Hubungan Tingkat suku bunga SBI terhadap Kinerja Reksadana Saham
Jika tingkat suku bunga SBI mengalami kenaikan, tingkat suku bunga
deposito berjangka juga akan naik
sehingga penanaman modal dalam
bentuk deposito berjangka menjadi lebih menarik, di sisi lain tingkat bunga
pinjaman perbankan juga akan naik yang akan menyebabkan turunnya
pendapatan perusahaan karena peningkatan jumlah pembayaran bunga
hutang sehingga penanaman modal pada instrumen saham justru akan
berkurang, akibatnya NAB reksa dana saham juga akan mengalami
penurunan.
Jika tingkat suku bunga SBI mengalami penurunan, SBI akan menjadi
pilihan investasi yang kurang menarik dibandingkan instrumen investasi
lain seperti saham atau obligasi sehingga permintaan instrumen investasi
saham mengalami kenaikan akibatnya harga saham di bursa naik yang
akhirnya akan meningkatkan NAB reksa dana saham.
b. Hubungan Jumlah Uang Beredar terhadap Kinerja Reksadana Saham
Secara teknis, yang dihitung sebagai jumlah uang beredar adalah uang
yang benar-benar berada di tangan masyarakat. Uang yang berada di tangan
bank (bank umum dan bank sentral), serta uang kertas dan logam (kuartal)
milik pemerintah tidak dihitung sebagai uang beredar.
Perkembangan jumlah uang beredar mencerminkan atau seiring dengan
perkembangan ekonomi. Biasanya bila perekonomian bertumbuh dan
berkembang, jumlah uang beredar juga bertambah, sedang komposisinya
berubah. Bila perekonomian makin maju, porsi penggunaan uang kartal
makin sedikit, digantikan uang giral atau near money. Biasanya juga bila
perekonomian makin meningkat, komposisi M1 dalam peredaran uang
semakin kecil, sebab porsi uang kuasi makin besar. Jumlah uang beredar
dapat mempengaruhi Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana. Pada saat
terjadi kenaikan jumlah uang beredar, masyarakat dianggap memiliki
proporsi lebih untuk berinvestasi sehingga permintaan instrumen investasi
13
saham mengalami kenaikan yang berarti akan meningkatkan NAB reksa
dana saham, dan sebaliknya
c. Hubungan Tingkat Inflasi terhadap Kinerja Reksadana Saham
Yang dimaksud dengan inflasi adalah proses kenaikan harga- harga
umum barang-barang secara terus menerus, Indikator inflasi yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia. IHK
merupakan pengukur perkembangan daya beli Rupiah yang dibelanjakan
untuk membeli barang dan jasa dari bulan ke bulan
Kenaikan inflasi akan menyebabkan harga-harga meningkat (dalam hal
ini instrumen investasi saham). Karena sebagian besar dari pemilik unit
penyertaan di reksa dana saham adalah investor institusi dan investor dari
masyarakat golongan menengah ke atas, maka kenaikan inflasi ini akan
meningkatkan NAB reksa dana saham, dan sebaliknya.
d. Hubungan Nilai Tukar Rupiah terhadap USD terhadap Kinerja Reksadana
Saham
Fluktuasi nilai rupiah terhadap mata uang asing yang stabil akan sangat
mempengaruhi iklim investasi di dalam negeri, khususnya pasar modal.
Terjadinya apresiasi kurs rupiah terhadap dolar misalnya, akan memberikan
dampak terhadap perkembangan pemasaran produk Indonesia di luar negeri,
terutama dalam hal persaingan harga. Apabila hal ini terjadi, secara tidak
langsung akan memberikan pengaruh terhadap neraca perdagangan, karena
menurunnya nilai ekspor dibandingkan dengan nilai impor. Seterusnya, akan
berpengaruh pula kepada neraca pembayaran Indonesia. Dan memburuknya
neraca pembayaran tentu akan berpengaruh terhadap cadangan devisa.
Berkurangnya cadangan devisa akan mengurangi kepercayaan investor
terhadap perekonomian Indonesia, yang selanjutnya menimbulkan dampak
negatif terhadap perdagangan saham di pasar modal sehingga terjadi capital
outflow.
Selanjutnya bila terjadi penurunan kurs yang berlebihan, akan
berdampak pada perusahaan–perusahaan go public yang menggantungkan
faktor produksi terhadap barang barang impor. Besarnya belanja impor dari
14
perusahaan seperti ini bisa mempertinggi biaya produksi, serta menurunnya
laba perusahaan. Selanjutnya dapat ditebak, harga saham perusahaan itu akan
anjlok.
Hal ini akan meningkatkan ekspektasi dalam berinvestasi sehingga
mempengaruhi permintaan terhadap reksa dana saham, akibatnya NAB reksa
dana saham juga akan terpengaruh.
Atas dasar analisis tersebut maka pengaruh dari masing - masing
variabel tersebut terhadap NAB Reksadana Saham dapat digambarkan dalam
model paradigma seperti ditunjukan dalam gambar berikut :
Gambar 3.
Model Penelitian
E.
E.
E.
15
E.Hipotesis
Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
H1 :
Diduga bahwa Tingkat Suku Bunga SBI (X1) , Jumlah Uang
Beredar (X2), Tingkat Inflasi (X3) dan Nilai Tukar Rupiah/USD
(X4) secara serentak mempunyai pengaruh signifikan terhadap
Kinerja Reksadana Saham (Y) Indonesia
H2 :
Diduga bahwa Tingkat Suku Bunga SBI (X1) , Jumlah Uang
Beredar (X2), Tingkat Inflasi (X3) dan Nilai Tukar Rupiah/USD
(X4) mempunyai pengaruh secara parsial terhadap Kinerja
Reksadana Saham (Y) Indonesia
F. Desain Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Jakarta, terhadap kinerja reksa dana saham di
Indonesia yang terjadi pada periode 2006-2011. Penelitian dilaksanakan pada
bulan Desember 2011 sampai dengan Juli 2012
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian kausal yaitu
untuk mengetahui pengaruh satu atau lebih variabel tertentu terhadap variabel
tertentu lainnya, yaitu untuk menguji dan menganalisis Pengaruh Suku Bunga
SBI, Jumlah uang rupiah beredar, Inflasi dan Nilai tukar Rupiah/USD baik secara
serentak maupun parsial terhadap kinerja Reksadana Saham periode tahun 20062011.
G. Variabel dan Skala Pengukuran
a. Variabel Independen/Bebas (X)
1. Tingkat Suku Bunga SBI, dalam hal ini tingkat suku bunga SBI
bulanan yang didapat berdasarkan mekanisme sistem lelang, dengan
rumus sebagai berikut :Rata-rata tingkat SBI = Jumlah tingkat suku
bunga periode harian selama 1 bulan dibagi dengan jumlah periode
waktu selama 1 bulan. Data Tingkat Suku Bunga Data mengenai SBI
16
didapat
dari
Situs
resmi
Bank
Sentral
Republik
Indonesia
(www.bi.go.id).
2. Jumlah Uang Beredar, dalam hal ini adalah total keseluruhan uang
yang ada di masyarakat dan dihitung dengan cara,
Jumlah uang
beredar = Uang Kartal + Uang Logam + Uang Giral + Deposito
Berjangka + Saldo Tabungan. Data mengenai jumlah uang beredar
didapatkan dari Situs resmi Kementrian Perdagangan Republik
Indonesia (http://www.kemendag.go.id)
3. Tingkat Inflasi, dalam hal ini penghitungan dipengaruhi, Index Harga
Konsumen Indonesia, dan data tersebut didapatkan dari Situs resmi
Bank Sentral Republik Indonesia (www.bi.go.id).
4. Nilai Tukar Rupiah atas Dollar Amerika Serikat (Kurs) , dalam hal ini
adalah harga 1 USD terhadap mata uang Rupiah
b. Variabel Dependen/Terikat (Y)
Variabel terikat adalah NAB Reksadana Saham di Indonesia Periode
tahun 2006 – 2011 yang diperoleh situs resmi Bapepam LK
(www.bapepamlk.go.id).
Skala Pengukuran yang digunakan untuk variable Independen dan
Variabel Dependen adalah skala Rasio.
H. Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara studi
kepustakaan (Library Research) yaitu untuk memperoleh data dengan cara
mempelajari teori teori dari buku–buku literatur atau jurnal serta tulisan
tulisan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas
guna memperoleh pemahaman mengenai konsep-konsep dan landasan teori
yang akan digunakan untuk mengevaluasi permasalahan yang sedang dibahas
dan data sekunder yang di dapat melalui Situs-situs resmi Bank Sentral
17
Republik Indonesia, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dan
Bapepam LK
I. Populasi dan Sampel
Penelitian ini dilakukan untuk meneliti apakah tingkat suku bunga SBI,
Jumlah uang beredar, Tingkat Inflasi dan Kurs Rupiah/USD berpengaruh
secara signifikan terhadap NAB Reksadana Saham. Karena yang menjadi
objek penelitian adalah Reksadana saham , maka yang menjadi populasi
dalam penelitian ini adalah NAB Reksadana saham yang terdaftar dari
Januari 2006 sampai dengan 31 Desember 2011.
Sampel adalah sebagian data jumlah dan karakteristik yang dimiliki
oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2005:35 Sementara penentuan sampel
dalam penelitian ini yaitu menggunakan purposive sampling dengan kriteria
sampel yang dipilih hanya NAB reksadana saham selama tahun 2006
sampai dengan 2011 untuk 72 data yang diperoleh setiap bulan selama 6
tahun
J. Analisis Statistik Deskriptif
Tabel 2
Descriptive Statistics
N
SBI
Uang_Beredar
Inflasi
KURS
NAB_RD
Valid N (listwise)
Minimum
72
72
72
72
72
72
Maximum
.060
.128
(Nov 11)
(Jan 06)
1190834
2877220
(Jan 06)
(Des 06)
-.310
2.460
(April 09)
(Juni 08)
8508
12151
(Juli 11)
(Nov 11)
27124166
163150847
(Peb 06)
(Des 11)
Mean
Std. Deviation
.08344
.020307
1862952.17
459352.147
.53806
.492543
9378.22
759.855
94263606.27
38101602.833
18
K. Uji Asumsi Klasik

Uji Normalitas data
Uji data dilakukan dengan analisa One-Sample Kolmogorov-Smirnov
dengan menggunakan hipotesis sebagai berikut :
Ho : Data residual berdistribusi normal
Ha : Data residual tidak berdistribusi normal
Pengambilan keputusan untuk menentukan data variabel penelitian
terdistribusi secara normal atau tidak adalah sebagai berikut :
1. Nilai Asymp.Sig. (2-tailed) ≥ 0,05, maka data berdistribusi normal.
2. Nilai Asymp.Sig. (2-tailed) ≤ 0,05, maka data berdistribusi tidak
normal.
Tabel 3
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardize
d Residual
N
Normal Parametersa,,b
72
Mean
Std. Deviation
Most Extreme
Differences
.0000000
6.10934873E6
Absolute
.122
Positive
.122
Negative
-.064
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
1.039
.231
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai Asymp.Sig. (2-tailed)nya
sebesar 0,231 atau nilainya lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan
bahwa data pada penelitian ini berdistribusi normal. Hal ini menunjukkan Ha
ditolak dan Ho tidak dapat ditolak, yang berarti data berdistribusi normal.

Uji Multikolinearitas
19
Tabel 4
Coefficientsa
Unstandardized Coefficients
Model
1
B
(Constant)
Collinearity Statistics
Std. Error
t
Sig.
Tolerance
VIF
84647631.524
13504593.000
6.268
.000
-547657558.044
63091620.043
-8.680
.000
.339
2.947
59.146
2.778
21.289
.000
.342
2.924
Inflasi
5059487.182
1586998.522
3.188
.002
.912
1.097
KURS
-6141.537
1033.448
-5.943
.000
.903
1.107
SBI
Uang_Beredar
a.
Dependent Variable: NAB_RD
Dilihat dari nilai Tolerance yang besar dari 0,10 dan nilai VIF kurang dari 10
untuk setiap variabel, maka dapat disimpulkan tidak ada Multikolonieritas antar
variabel independen.
Berdasarkan tabel 4.4 Coefficient Correlations, besaran korelasi antar variabel
independen kurang dari 0,90, juga dapat disimpulkan tidak ada Multikolonieritas
antar variabel independen.
Tabel 5
Coefficient Correlationsa
Model
1
KURS
Correlations
SBI
1.000
-.031
.239
-.142
Uang Beredar
-.031
1.000
.168
.804
.239
.168
1.000
.108
-.142
.804
.108
1.000
1068014.730
-89.809
3.925E8
-9.235E9
Uang Beredar
-89.809
7.719
742679.987
1.410E8
Inflasi
3.925E8
742679.987
2.519E12
1.080E13
-9.235E9
1.410E8
1.080E13
3.981E15
SBI
KURS
SBI
a. Dependent Variable: NAB_RD

Inflasi
KURS
Inflasi
Covariances
Uang Beredar
Uji Autokorelasi
20
Tabel 6.
Model Summaryb
Model
R
1
.987a
R Square
Adjusted R
Square
.974
Std. Error of
the Estimate
DurbinWatson
.973 6289073.770
.538
a. Predictors: (Constant), KURS, Jumlah_Uang_Beredar, Inflasi, SBI
b. Dependent Variable: NAB_RD
Dari hasil pengolahan data di atas dapat disimpulkan bahwa nilai DW
0,538 berada dibawah dl 1,5029 dan diatas 0, maka dapat disimpulkan terjadi
autokorelasi positif.

Uji Heteroskedastisiitas
Tabel 7
Dari grafik Scatterplot terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak serta
tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini dapat
disimpulkan bahwa tidak terjadi Heteroskedastisitas pada model regresi,
sehingga model regresi layak dipakai untuk memprediksi NAB_RD
berdasarkan masukkan variabel SBI, jumlah uang beredar, inflasi dan Kurs.
21
L. Uji Hipotesis
 Analisis Koefisien determinasi
Tabel 8
Model Summaryb
Model
R
1
.987a
R Square
Adjusted R
Square
.974
Std. Error of
the Estimate
.973 6289073.770
a. Predictors: (Constant), KURS, Jumlah_Uang_Beredar, Inflasi, SBI
b. Dependent Variable: NAB_RD
Koefisien determinasi digunakan untuk melihat berapa % dari variasi
variasi dependen (NAB) dijelaskan oleh variasi dari variabel independen. Nilai
koefisien determinasi (Adjusted R2 ) sebesar 0,973. Berarti variasi variabel
Independen dalam menjelaskan variasi variabel NAB adalah 97,3% dan sisanya
2,7% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diteliti. Nilai Adjusted R2 untuk NAB
yang besar akan membuat model regresi semakin tepat dalam memprediksi NAB
Reksadana saham.
Dengan melihat kemampuan model dalam menjelaskan variasi perubahan
nilai variabel NAB, maka model persamaan regresi linier berganda tersebut dapat
dinyatakan baik untuk dijadikan sebagai penaksir nilai variabel NAB yang akan
datang. Untuk meyakinkan keakuratan model persamaan regresi, maka model
persamaan regresi tersebut perlu diuji dengan pengujian hipotesis.

Uji Anova (F)
Tabel 9
ANOVAb
Model
1
Sum of Squares
Df
Mean Square
Regression
1.004E17
4
2.511E16
Residual
2.650E15
67
3.955E13
Total
1.031E17
71
a. Predictors: (Constant), KURS, Jumlah_Uang_Beredar, Inflasi, SBI
b. Dependent Variable: NAB_RD
F
634.746
Sig.
.000a
22
Pengujian hipotesis 1 dilakukan dengan uji F seperti dalam Tabel 4.8
Pengujian ini bertujuan untuk melihat apakah variabel independen secara bersama
sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Dengan
menggunakan signifikansi 5% (α = 0,05) dan degree of freedom (k-1) dan (n-k),
dihasilkan nilai Ftabel sebesar 2,38 Nilai Fhitung dalam Tabel 4.8 sebesar 634,746
sehingga nilai Fhitung lebih besar dari Ftabel (634,746 >2,38). Nilai
signifikansinya juga sebesar 0,000 (sig. < 0,05) sehingga Ho ditolak dan Ha
diterima. Hal ini berarti bahwa secara bersama sama variasi variabel–variabel
independen (Tingkat Suku Bunga SBI, Inflasi, Nilai Tukar Rupiah/USD dan
Jumlah Uang Beredar) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variasi
variabel dependen NAB Reksadana. Dengan demikian Hipotesis 1 yang
menyatakan: “Diduga bahwa variabel variabel independen Nilai Tingkat Suku
Bunga SBI (X1), Tingkat Inflasi (X2), Nilai Tukar Rupiah/USD (X3) dan Jumlah
Uang Beredar (X4) secara bersama sama mempunyai pengaruh signifikan
terhadap NAB Reksadana Saham (Y) di Indonesia periode tahun 2006 – 2011”
dikatakan diterima.

Uji Partial (t)
Tabel 10
Unstandardized Coefficients
Model
B
1 (Constant)
Std. Error
T
Sig.
84647631.524
13504593.000
6.268
.000
-547657558.044
63091620.043
-8.680
.000
59.146
2.778
21.289
.000
Inflasi
5059487.182
1586998.522
3.188
.002
KURS
-6141.537
1033.448
-5.943
.000
SBI
Uang_Beredar
Pengujian hipotesis 2 dilakukan dengan uji t terlihat dalam tabel 4.9
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI,
Jumlah Uang Beredar, Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah/USD secara parsial
terhadap NAB Reksadana Saham Indonesia. Dengan menggunakan signifikansi
23
5% (α=0,05) dan degree of freedom
(n-k)= 70 diperoleh ttabel sebesar 1,67. Dari
perhitungan dihasilkan thitung variabel tingkat SBI, Jumlah Uang Beredar, Tingkat
Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah/USD semua lebih besar 8.680 dan tingkat
signifikansi kecil dari 5%, hal ini berarti bahwa variasi variabel Tingkat Suku
Bunga SBI Jumlah Uang Beredar, Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah/USD
secara parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap variasi variasi NAB
Reksadana Saham, sehingga hipotesis 2 diterima.

Analisis Regresi linear berganda
Analisis ini digunakan untuk menghitung besarnya pengaruh Nilai Tukar
Rupiah/USD dan Tingkat Suku Bunga SBI terhadap NAB Reksadana Saham
di Indonesia.
Dari Tabel 4.9 dapat diketahui persamaan regresi sebagai berikut :
NAB_RD = 84.647.631,524 - 547.657.558,044 SBI +59,146 J_UB+
5.059.487,182 INFLASI – 6.141,537 KURS + e
Persamaan regresi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Konstanta sebesar 84.647.631.524; artinya jika SBI, Jumlah Uang
Beredar, Inflasi dan Nilai Kurs 0, maka Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana
Saham (Y) sebesar Rp 84.647.631.524.000.
b. Koefisien regresi
SBI (X1)sebesar - 547.657.558,044; artinya pada
variabel SBI terdapat hubungan negatif Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana
Saham dengan. Hal ini menunjukkan setiap kenaikan 1 persen SBIakan
menyebabkan penurunan Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana Saham sebesar
Rp547.657.558,044. Hasil ini memiliki pendapat bahwa variabel ekonomi
makro yang direfleksikan dengan Tingkat SBI mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap NAB Reksadana Saham. Jika tingkat suku bunga SBI
mengalami kenaikan, tingkat suku bunga deposito berjangka juga akan
naik sehingga penanaman modal dalam bentuk deposito berjangka menjadi
lebih menarik, di sisi lain tingkat bunga pinjaman perbankan juga akan
naik yang akan menyebabkan turunnya pendapatan perusahaan karena
peningkatan jumlah pembayaran bunga hutang sehingga penanaman
24
modal pada instrumen saham justru akan berkurang, akibatnya NAB reksa
dana saham juga akan mengalami penurunan. Jika tingkat suku bunga SBI
mengalami penurunan, SBI akan menjadi pilihan investasi yang kurang
menarik dibandingkan instrumen investasi lain seperti saham atau obligasi
sehingga permintaan instrumen investasi saham mengalami kenaikan
akibatnya harga saham di bursa naik yang akhirnya akan meningkatkan
NAB reksa dana saham
c. Koefisien regresi Jumlah Uang Beredar(X2)sebesar 59,146; artinya pada
variabel Jumlah Uang Beredarterdapat hubungan positif dengan Nilai
Aktiva Bersih Reksa Dana Saham. Hal ini menunjukkan setiap kenaikan
Rp 1 jumlah Uang beredar akan menyebabkan Nilai Aktiva Bersih Reksa
Dana Saham sebesar Rp 59.146.000. Dapat disimpulkan bahwa Nilai
Jumlah Uang Beredar berpengaruh signifikan terhdap NAB Reksadana
Saham. Berdasarkan hasil penelitian tersebut berarti
Perkembangan
jumlah uang beredar seiring dengan perkembangan ekonomi. Biasanya
bila perekonomian bertumbuh dan berkembang, jumlah uang beredar juga
bertambah, sedang komposisinya berubah. Bila perekonomian makin
maju, porsi penggunaan uang kartal makin sedikit, digantikan uang giral
atau near money. Biasanya juga bila perekonomian makin meningkat,
komposisi M1 dalam peredaran uang semakin kecil, sebab porsi uang
kuasi makin besar. Jumlah uang beredar dapat mempengaruhi Nilai Aktiva
Bersih (NAB) reksa dana. Pada saat terjadi kenaikan jumlah uang beredar,
masyarakat dianggap memiliki proporsi lebih untuk berinvestasi sehingga
permintaan instrumen investasi saham mengalami kenaikan yang berarti
akan meningkatkan NAB reksa dana saham, dan sebaliknya
d. Koefisien regresi Inflasi (X3) sebesar 5.059.487,182; artinya pada variabel
Inflasiterdapat hubungan positif dengan Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana
Saham. Hal ini menunjukkan setiap kenaikan 1 persen dari Inflasiakan
menyebabkan kenaikkan Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana Saham sebesar
Rp 5.059.487,182. Dapat disimpulkan bahwa Tingkat Inflasi berpengaruh
25
signifikan terhdap NAB Reksadana Saham. Berdasarkan hasil penelitian
tersebut berarti Kenaikan inflasi akan menyebabkan harga-harga
meningkat (dalam hal ini instrumen investasi saham). Karena sebagian
besar dari pemilik unit penyertaan di reksa dana saham adalah investor
institusi dan investor, maka kenaikan inflasi ini akan meningkatkan NAB
reksa dana saham, dan sebaliknya.
e. Koefisien regresi Kurs (X4) sebesar – 6.141,537; artinya pada variabel
Kurs terdapat hubungan negatif dengan Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana
Saham. Hal ini menunjukkan setiap penurunan Rp1 dari Kurs rupiah
terhadap USD akan menyebabkan penurunan Nilai Aktiva Bersih Reksa
Dana Saham
sebesar Rp 6.141,537. Dapat disimpulkan bahwa Nilai
Tukar Rupiah/USD berpengaruh signifikan terhadap NAB Reksadana
Saham. Berdasarkan hasil penelitian tersebut berarti Terjadinya apresiasi
kurs rupiah terhadap dolar misalnya, akan memberikan dampak terhadap
perkembangan pemasaran produk Indonesia di luar negeri, terutama dalam
hal persaingan harga. Apabila hal ini terjadi, secara tidak langsung akan
memberikan pengaruh terhadap neraca perdagangan, karena menurunnya
nilai ekspor dibandingkan dengan nilai impor. Seterusnya, akan
berpengaruh
pula
kepada
neraca
pembayaran
Indonesia.
Dan
memburuknya neraca pembayaran tentu akan berpengaruh terhadap
cadangan devisa. Berkurangnya cadangan devisa akan mengurangi
kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia, yang selanjutnya
menimbulkan dampak negatif terhadap perdagangan saham di pasar modal
sehingga terjadi capital outflow.Selanjutnya bila terjadi penurunan kurs
yang berlebihan, akan berdampak pada perusahaan–perusahaan go public
yang menggantungkan faktor produksi terhadap barang barang impor.
Besarnya belanja impor dari perusahaan seperti ini bisa mempertinggi
biaya produksi, serta menurunnya laba perusahaan. Selanjutnya dapat
ditebak, harga saham perusahaan itu akan anjlok. Hal ini akan
meningkatkan ekspektasi dalam berinvestasi sehingga mempengaruhi
26
permintaan terhadap reksa dana saham, akibatnya NAB reksa dana saham
juga akan terpengaruh.
M. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa faktor makroekonomi (Tingkat
Suku Bunga SBI, Jumlah Uang Beredar, Inflasi dan Nilai Tukar
Rupiah/USD) sangat relevan digunakan untuk memprediksi Nilai Aktiva
Bersih Reksadana Saham Indonesia yang sangat signifikan berpengaruh
pada level kurang dari 1% (0,000). Hal ini juga diperkuat dengan kekuatan
prediksi dan Adjusted R2 sebesar 97,3%.

Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka saran-saran yang dapat diberikan
melalui hasil penelitian ini baik kepada investor, perusahaan maupun untuk
pengembangan penelitian yang lebih lanjut adalah sebagai berikut:
1. Investor sebaiknya memperhatikan informasi-informasi mengenai Tingkat
Suku Bunga SBI, Jumlah Uang beredar,Inflasi dan Nilai Tukar
Rupiah/USD yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia karena dengan adanya
informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk
memprediksi NAB
Reksadana saham yang kemudian digunakan dalam pengambilan
keputusan yang tepat sehubungan dengan investasinya,
2. Agar tidak terjadi penurunan NAB reksa dana saham yang disebabkan
oleh tingginya suku bunga SBI, maka hendaknya pemerintah, Dirjen
Pajak, menghapus pajak tarif umum terhadap capital gain bagi reksa dana
saham dan penghapusan ini juga berkaitan dengan penutupan buku secara
harian bagi reksa dana saham dalam menghitung NAB/unit penyertaan,
disamping itu juga karena reksa dana sebagai katalisator yang akan
mendorong perbaikan struktur pembiayaan nasional yang selama ini
sangat tergantung pada pinjaman luar negeri. Jadi, sebaiknya diterapkan
pajak final seperti yang telah diterapkan terhadap capital gain saham
dibursa.
27
3. Ketika terjadi depresiasi rupiah yang dapat menyebabkan “redemption
besar-besaran” dan berdampak terhadap menurunnya NAB reksa dana
saham, maka sebaiknya pemerintah memberi insentif yang lebih kepada
investor yaitu dengan menghapus pajak deviden sebesar 20 persen
sehingga nantinya dalam second round effect, perusahaan tidak
mengandalkan pembiayaannya dari pihak perbankan dan jika krisis
perbankan terjadi, perusahaan tetap mendapatkan suntikan modal.
4. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada para
investor minimal dapat menambah referensi dalam pengambilan keputusan
investasi. Disamping itu penelitian ini juga diharapkan dapat mendorong
penelitian yang lebih lanjut mengenai topik ini pada NAB Reksadana
Saham.
Daftar Pustaka
Anoraga, Panji dan Piji Pakarti. 2011. Pengantar Pasar Modal. PT. Rineke Cipta,
Jakarta
Avonti, Amos Amoroso dan Hudi Prawoto. 2004. Analisis Pengaruh Nilai Tukar
Rupiah/USD dan Tingkat Suku Bunga SBI Terhadap Indeks Harga Saham
di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Akuntansi Bisnis, Vol. III No.5
Eko Priyo Pratomo & Ubaidillah Nugraha, 2004,Reksa Dana Solusi Perencanaan
Investasi di Era Modern, Cetakan Ketiga, PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Eduardus Tandelilin, 2007, Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio; Edisi
Pertama, Cetakan ketiga, BPFE, Yogyakarta.
28
Rahardjo, Sapto. 2005. Investasi Reksadana, PT.Elex Media Komputindo,
Jakarta
Gozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS,
Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Sitinjak, Elyzabeth Lucky Maretha dan Widuri Kurniasari. 2003. Indikatorindikator Pasar Saham Dan Pasar Uang Yang Saling Berkaitan Ditinjau
Dari Pasar Saham Sedang Bullish dan Bearish, Jurnal Riset Ekonomi dan
Manajemen, Vol. 3 No.3
Sudjono. 2002. Analisis Keseimbangan Dan Hubungan Simultan Antara Variabel
Ekonomi Makro terhadap Nab Reksadana Saham di Indonesia, Jurnal Riset
Ekonomi dan Manajemen, Vol.2 No.3
Saepudin, Asep. 2005. Reksa dana sebagai alternatif investasi di Pasar Modal,
Himpunan Manajemen UNPAR, Bandung
Sasana, Hadi. 2006. Analisis Variabel Ekonomi yang mempengaruhi Jumlah
Uang beredar di Indonesia, Jurnal Ekonomi Bisnis Akuntansi Ventura,
Vol.9 No.1
Uyanto, Stanislaus S. 2009. Pedoman Analisis Data Dengan SPSS, Graha Ilmu,
Yogyakarta.
http://www.bi.go.id, http://www.kemendag.go.id dan http://www.bapepamlk.go.id
29
Download