implementasi peraturan pemerintah republik indonesia nomor 19

advertisement
IMPLEMENTASI PERATURAN PEMERINTAH
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999
TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN
DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT
(Studi Kasus Wilayah Laut Marunda Jakarta Utara)
SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Sosial pada Konsentrasi Kebijakan Publik
Program Studi Ilmu Administrasi Negara
Oleh
SEPTI ROSMALIA
NIM 6661110907
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
SERANG, Juni 2015
ABSTRAK
SEPTI ROSMALIA. NIM 6661110907. 2015. Skripsi. Implementasi
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian
Pencemaran dan/atau Perusakan Laut (Studi kasus: wilayah laut
Marunda Jakarta Utara). Program Studi Ilmu Administrasi Negara.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa. Pembimbing I : Leo Agustino Ph.D. dan Pembimbing II :
Deden M.Haris M.Si
Kata Kunci: Kebijakan, Implementasi, Pengendalian Pencemaran Laut
Laut mempunyai arti penting bagi kehidupan makhluk hidup seperti
manusia, juga ikan, tumbuh-tumbuhan dan biota laut lainnya. Hal ini
menunjukkan bahwa sektor kelautan mempunyai potensi yang sangat besar
untuk dapat ikut mendorong pembangunan di masa kini maupun masa
depan. Oleh karena itu, wilayah laut yang merupakan salah satu potensi
sumber daya alam yang sangat perlu untuk dilindungi dari berbagai
pencemaran/perusakan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
Implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun
1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut (Studi
Kasus:wilayah laut Marunda Jakarta Utara). Penelitian ini menggunakan
metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah
dengan wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Untuk keperluan
analisis data peneliti menggunakan analisis data interaktif Prasetya Irawan
(2006:19) dengan uji validitas triangulasi data. Hasil penelitian bahwa
Implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun
1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Laut (Studi kasus: wilayah Laut
Marunda Jakarta Utara) belum optimal. Hal tersebut dikarenakan tingkat
kepatuhan pada kebijakan masih rendah dan rendahnya partisipasi
masyarakat serta fungsi koordinasi, pengawasan dan upaya rehabilitasi yang
belum optimal. Untuk meningkatkan optimalisasi, perlu kepatuhan pada
prosedur secara terpadu semua sektor dan penguatan kelembagaan dengan
menambah SDM untuk melakukan pengawasan serta peran aktif dari
masyarakat melalui pengawasan sosial seperti pengaduan,pemberian
informasi atau laporan.
ABSTRACT
SEPTI ROSMALIA. NIM 6661110907. 2015. Thesis. Implementation of
Government Regulation No. 19 of 1999 on pollution control and / or
destruction of the Sea (Case study: the area of North Jakarta Marunda
sea). Department of Public Administration. Faculty of Social Science and
Political Science. Sultan Agung University Tirtayasa. Preceptor I: Leo
Agustino Ph.D. and Preceptor II : Deden M.Haris M.Si
Keywords:Policy, Implementation, Marine Pollution Control
Sea is of significant importance for the survival of living beings such as
humans, as well as fish, plants and other marine biota. This shows that the
marine sector has a huge potential to help drive development in the present
and the future. Therefore, the sea area is one of the natural resources that
are essential to protection from various pollution / perusakan.Penelitian
aims to determine the implementation of the Indonesian Government
Regulation Number 19 of 1999 concerning Pollution Control and / or
destruction of the Sea (Case Study : Marunda area of North Jakarta sea).
This study uses qualitative data collection techniques used were interviews,
observation and documentation study. For the purposes of data analysis the
researchers use interactive data analysis Prasetya Irawan (2006: 19) to test
the validity of data triangulation. Results of the study that the
implementation of the Indonesian Government Regulation Number 19 of
1999 on Marine Pollution Control (Case Study: Sea region Marunda North
Jakarta) has not been optimal. That is because the level of compliance with
the policy is still low and low community participation as well as the
functions of coordination, supervision and rehabilitation efforts are not
optimal. To improve the optimization, it is necessary adherence to the
procedures in an integrated manner all sectors and institutional
strengthening by adding human resources to conduct surveillance and
active participation of the community through social control such as a
complaint, information or statements.
‘’Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia
supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar
mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: 'Lakukanlah perjalanan di muka bumi
dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dulu. Kebanyakan dari
mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)" (Ar-Rum 41-42)’’
Skripsi ini ku persembahkan
untuk Bapak dan Mama ku tercinta
dan keluarga ku..Mbak Ifath, Mas
Okto dan Yudi
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur Penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas berkah dan
inayah-Nya, Alhamdulilah penulis dapat menyelesaikan skripsi tentang
Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang
Pengendalian Pencemaran dan/atau perusakan laut (Studi kasus wilayah Laut
Marunda Jakarta Utara). Puji syukur yang tak terhingga ini belum sebanding
dengan nikmat yang telah kita terima sebagai makhluk yang paling sempurna
diantara makhluk ciptaan-Nya.
Ucapan Terimakasih penulis sampaikan kepada pihak yang telah memberikan
pengajaran, bantuan, serta dorongan dalam upaya menyelesaikan skripsi ini.
Untuk itu penulis sampaikan rasa Terima kasih kepada :
1. Bapak Prof.DR.H.Sholeh Hidayat, M.pd Rektor Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa
2. Bapak Dr.Agus Sjafari S.Sos M.Si Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
3. Bapak Kandung Sapto Nugroho S.Sos M.si wakil Dekan I Fakultas Ilmu
Sosial Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
4. Ibu Mia Dwianna S.Sos M.Ikom wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial Ilmu
Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
5. Bapak Ismanto.S.Sos MM. Selaku wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial
Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
6. Ibu Rahmawati S.Sos M.Si Ketua Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas
Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
7. Bapak Leo Agustino Ph.D Dosen Pembimbing 1 skripsi. Terima kasih
dengan sangat atas bimbingan dan motivasi selama proses penyusunan
skripsi.
8. Bapak Deden M. Haris M.Si. Dosen Pembimbing II skripsi. Terima kasih
dengan sangat atas bimbingan dan motivasi selama proses penyusunan
skripsi.
9. Semua dosen dan staff Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas
Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
10.Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara, terutama Ibu MG Evy
Subid.Pengawasan dan Pengendalian Dampak Lingkungan Terima kasih
telah membantu penulis dalam memberikan data penyusunan skripsi ini.
11.Suku Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara, terumata
Seksi.Perikanan dan Kelautan. Terima kasih telah membantu penulis dalam
memberikan data penyusunan skripsi ini.
12.Kesbangpol Jakarta Utara, terutama Ibu Nadia. Terima Kasih sudah
membantu penulis dalam izin rekomendasi penelitian.
13.WALHI, KIARA dan LSM Lingkungan Hidup yang lain yang turut
membantu penulis dalam memberikan data penyusunan skripsi ini.
14. Para nelayan, Industri dan masyarakat pesisir laut Marunda, Terima kasih
selama ini yang turut membantu dan memberikan pengetahuan selama
penulis menyusun skripsi ini.
15. Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta. Terima kasih
telah membantu penulis dalam memberikan data penyusunan skripsi ini.
16. Terima kasih kepada kedua orang tua ku tercinta dan kakak adik ku yang
senantiasa memberikan doa dan semangatnya yang tak pernah putus
selama ini.
17. Terima kasih kepada Ahmad Ibrahim Hardianto, Ryan Chandra Ardyanto,
atas bantuan dan semangatnya. Anak-anak kosan Bu Nining Blok A2
No.13 serta sahabat dan teman-teman Administrasi Negara 2011
khususnya Reguler kelas A atas dukungan dan motivasinya.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis menyadari masih banyak
terdapat kekurangan-kekurangan sehingga penulis mengharapkan adanya saran dan
kritik yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini.
Serang, 2015
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN ORISIONALITAS
LEMBAR PERSETUJUAN
LEMBAR PENGESAHAN
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR...........................................................................
DAFTAR ISI..........................................................................................
DAFTAR TABEL..................................................................................
DAFTAR GAMBAR.............................................................................
DAFTAR LAMPIRAN.........................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah................................................................
1
1.2 Identifikasi Masalah......................................................................
17
1.3 Batasan Masalah...........................................................................
17
1.4 Rumusan Masalah.........................................................................
18
1.5 Tujuan Penelitian...........................................................................
18
1.6 Manfaat Penelitian.........................................................................
18
1.7 Sistematika Penulisan....................................................................
21
BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN
ASUMSI DASAR PENELITIAN
2.1 Landasan Teori.....................................................................
22
2.1.1 Definisi Kebijakan........................................................
24
2.1.2 Definisi Publik..............................................................
26
2.1.3 Kebijakan Publik............................................................
27
2.1.4 Implementasi Kebijakan Publik.....................................
29
2.1.5 Pendekatan Implementasi Kebijakan.............................
31
2.1.6 Model Implementasi Kebijakan......................................
32
2.1.7 Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Laut..............
41
2.1.8 Deskripsi Kebijakan........................................................
45
2.2 Penelitian Terdahulu...............................................................
46
2.3 Kerangka Pemikiran...............................................................
51
2.4 Asumsi Dasar..........................................................................
52
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan Metode Penelitian..................................................
53
3.2 Ruang Lingkup/Fokus Penelitian.....................................................
54
3.3 Lokasi Penelitian..............................................................................
55
3.4 Variabel Penelitian...........................................................................
56
3.5 Instrumen Penelitian.........................................................................
59
3.6 Informan Penelitian..........................................................................
68
3.7 Teknik Pengolahan dan Analisis Data...............................................
70
3.8 Jadwal Penelitian................................................................................
75
BAB IV HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Objek Penelitian................................................................
76
4.1.1 Profil Wilayah Kota Administrasi Jakarta Utara.............. .........
76
4.1.1.2 Potensi Kota Administrasi Jakarta Utara.................................
78
4.1.1.3 Profil Wilayah Kecamatan Cilincing......................................
80
4.2
Deskripsi Data dan Analisis Data Hasil Penelitian......................... .......
4.2.1 Implementasi Peraturan Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1999
Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut.
84
(Studi kasus: wilayah laut Marunda Jakarta
Utara)...................................................................................... ..........
88
4.2.1.2 Tingkat Kepatuhan (Complience)........................................ ...........
89
4.2.1.3 Lancarnya Pelaksanaan Aktivitas Fungsi............................ ...........
101
4.2.1.4 Kinerja dan Dampak yang dikehendaki..........................................
114
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian................................................................
119
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan...........................................................................................
127
5.2 Saran.....................................................................................................
129
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
DAFTAR TABEL
1.1
Waktu dan lokasi peristiwa kematian masal ikan di Teluk Jakarta.....
4
1.2
Tingkat Pencemaran Teluk Jakarta......................................................
10
3.4
Pedoman Wawancara Penelitian.........................................................
60
3.6
Deskripsi Informan Penelitian............................................................
64
3.7
Analisis Data Miles dan Huberman...................................................
66
3.8
Jadwal Penelitian..............................................................................
75
4.1
Jumlah penduduk menurut kecamatan dan
jenis kelamin tahun 2013.................................................................
78
4.2
Kepadatan penduduk dan sex ratio menurut kecamatan tahun 2013........
82
4.3
Jumlah penduduk menurut kecamatan dan jenis kelamin tahun 2013.....
83
4.4
Deskripsi Informan Penelitian Setelah Observasi................................
93
4.5
Rekapan Data Produksi Ikan Tangkap Suku Dinas Kelautan,
Pertanian dan Ketahanan Pangan Jakarta
Utara...................................................................................................
102
4.6 Hasil Penelitian dan Hambatan.............................................................
129
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.2 Kerangka Berpikir Penelitian....................................................
51
Gambar 3.7 Proses Analisis data Prasetya Irawan......................................
71
Gambar 4.1 Peta Administrasi Kota Jakarta Utara.....................................
77
Gambar 4.2 Jumlah penduduk menurut kecamatan dan jenis kelamin tahun
2013..........................................................................................
78
Gambar 4.3 Peta wilayah Cilincing Jakarta Utara.......................................
81
Gambar 4.4 Struktur Organisasi Suku Dinas Peternakan,Perikanan dan kelautan
JakartaUtara................................................................................
91
DAFTAR GRAFIK
Grafik 4.1......................................................................................................... 77
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Surat Izin Penelitian
Lampiran 2 : Dokumentasi Penelitian
Lampiran 3 : Pedoman Wawancara
Lampiran 4 : Transkrip Data
Lampiran 5 : Koding Data
Lampiran 6 : Kategorisasi Data
Lampiran 7 : Lembar Catatan Bimbingan Skripsi
Lampiran 8 : Data-data Dokumen Penelitian
Lampiran 9 : Daftar Riwayat Hidup Peneliti
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lingkungan hidup merupakan komponen penting dalam kehidupan
manusia. Salah satu bagian dari lingkungan hidup adalah laut. Laut memiliki
peran besar dalam penyediaan sumber daya alam yang tidak terbatas bagi
manusia. Pengelolaan sumber daya di laut memberikan manfaat yang besar bagi
manusia, namun dalam pengelolaan lingkungan laut tersebut, tentunya memiliki
dampak terhadap laut itu sendiri. Memberikan perhatian dalam perlindungan dan
pelestarian wilayah lingkungan laut adalah salah satu cara untuk tetap
mempertahankan dan melestarikan sumber daya tersebut. Berdasarkan uraian
sebelumnya, maka dapat dikatakan bahwa laut, sumber daya alam dan segala
fungsinya dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Namun, perlu diingat bahwa laut dan potensi kekayaan yang ada, jika
dikelola
dan
dimanfaatkan
secara
tidak
bertanggungjawab
dan
tanpa
memperhatikan batas kemampuan alam, maka akan menimbulkan kerusakan pada
lingkungan laut.
Kehidupan manusia di bumi ini sangat bergantung pada lautan, manusia
harus menjaga kebersihan dan kelangsungan kehidupan organisme yang hidup
didalamnya. Dengan demikian laut seakan-akan merupakan sabuk pengaman
kehidupan manusia di muka bumi ini. Di lain pihak, lautan merupakan tempat
pembuangan benda-benda asing dan pengendapan barang sisa yang di produksi
oleh manusia. Lautan juga menerima bahan-bahan yang terbawa oleh air dari
1
2
daerah pertanian dan limbah rumah tangga, dari atmosfer, sampah dan bahan
buangan dari kapal, tumpahan minyak dari kapal tanker dan pengeboran minyak
lepas pantai, dan masih banyak lagi bahan yang terbuang ke lautan.
Lautan juga melarutkan dan menyebarkan bahan-bahan tersebut sehingga
konsentrasinya menjadi menurun, terutama di daerah laut dalam. Kehidupan laut
dalam juga terbukti lebih sedikit terpengaruh daripada laut dangkal. Daerah
pantai, terutama daerah muara sungai, sering mengalami pencemaran berat, yang
disebabkan karena proses pencemaran yang berjalan sangat lambat. (Darmono
2010:47)
Pencemaran adalah salah satu masalah terbesar dalam pelestarian
lingkungan laut. Pencemaran
laut (perairan pesisir) di definisikan sebagai
‘’dampak negatif’’ (pengaruh yang membahayakan) terhadap kehidupan biota,
sumber daya, dan kenyamanan (amenities) ekosistem laut serta kesehatan manusia
dan nilai guna lainnya dari ekosistem laut yang disebabkan secara langsung
maupun tidak langsung oleh pembuangan bahan-bahan atau limbah (termasuk
energi) ke dalam laut yang berasal dari kegiatan manusia (Rokhmin Danuri
2008:109). Pencemaran lingkungan laut semakin banyak mendapat perhatian dari
mata dunia internasional maupun nasional. Hal tersebut disebabkan karena
dampak yang diakibatkan oleh aktifitas suatu negara dalam melakukan
pengelolaan laut mulai mengganggu ketersediaan sumber daya alam tersebut baik
bagi negara pantai itu sendiri maupun bagi negara-negara lain dalam hal ini adalah
negara tetangga yang bersinggungan garis pantainya.
3
Awalnya pencemaran yang sedikit mungkin tidak akan terlalu menjadi
masalah bagi negara maupun negara lain, hal ini dikarenakan laut masih memiliki
kemampuan untuk membersihkan dirinya sendiri, dengan tetap mempertahankan
fungsi dari laut itu sendiri. Dewasa ini seiring dengan meningkatnya teknologi dan
industri membuat pemakaian laut semakin tinggi dan berakibat masuknya zat-zat
baru ke dalam laut, ditambah zat-zat yang sebelumnya telah ada mengakibatkan
penumpukan yang membuat laut menjadi kotor dan berkurang kualitasnya
sehingga berpengaruh kepada daya guna serta fungsi dari laut itu sendiri.
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari
17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang 81.000 km dan luas laut sekitar 3,1
juta km2 (0,3 juta km2 perairan teritorial dan 2,8 juta km2 perairan nusantara) atau
62% dari luas teritorialnya. Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan
keanekaragaman hayati laut terbesar didunia, karena memiliki ekosistem pasir
seperti hutan bakau, terumbu karang, padang lamun yang sangat luas dan beragam
(Rokhmin Dahuri 2008:1).Kekayaan alam dan keanekaragaman hayati laut
tersebut terancam oleh pencemaran laut yang terus meningkat di Indonesia.
Pencemaran air merupakan masalah global utama yang membutuhkan evaluasi
dan revisi kebijakan sumber daya air pada semua tingkat (dari tingkat
internasional hingga sumber air pribadi dan sumur). Beberapa contoh pencemaran
laut yang terjadi di Indonesia seperti penangkapan ikan dengan cara pengeboman
dan trawl, peluruhan potasium yang dilakukan nelayan asal dalam maupun luar
negeri yang selalu meninggalkan kerusakan dan pencemaran di lautan Indonesia.
Belum lagi pencemaran minyak dan pembuangan limbah berbahaya jenis lainnya.
4
Komponen-komponen yang menyebabkan pencemaran laut seperti partikel
kimia, limbah industri, limbah pertambangan, limbah pertanian dan perumahan,
atau penyebaran organisme invasif (asing) di dalam laut yang berpotensi memberi
efek berbahaya. Pencemaran laut ini terjadi hampir di seluruh pesisir lautan di
Indonesia.
Teluk Jakarta salah satu kawasan dengan pencemaran laut yang cukup
parah. Warna air laut di teluk ini semakin menghitam dan sampah yang rapat
mengambang di permukaan air. Kepala Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara
menyebutkan pada wawancara awal dengan peneliti 7 November 2014
pencemaran terjadi dari hulu sampai hilir, hal itu berasal dari limbah domestik dan
industri yang dibawa 13 sungai bermuara di sana. Beberapa kejadian kematian
masal dari ikan-ikan di Teluk Jakarta belum diketahui penyebab pasti tetapi tidak
dipungkiri bahwa kematian masal ikan-ikan berkaitan dengan tidak mencukupinya
kadar oksigen terlarut untuk mendukung kehidupan biota perairan lainnya
didalam perairan atau keracunan bahan tercemar lainnya. Tabel dibawah ini data,
waktu, kondisi, dan lokasi kematian masal ikan di Teluk Jakarta.
5
Tabel 1.1
Waktu dan lokasi peristiwa kematian masal ikan di Teluk Jakarta
Tanggal
07 April 2004
Kondisi
Air laut berwarna
kemerahan
30 November 2004
Air laut tenang (Pasang
duduk) dan malamnya
terjadi hujan,air berwarna
kecoklatan (tingkat
kekeruhan cukup tinggi)
Air laut keruh
13 April 2005
15 Juni 2005
05 Agustus 2005
Air laut keruh dan pada
saat itu terjadi hujan lebat
Air laut berwarna coklat
kemerahan, dimana
sample air laut di pinggir
pantai berwarna coklat, di
tengah laut berwarna
merah
16 Oktober 2005
Air laut keruh, pada sore
(15/10) terjadi hujan
deras
Sumber : BPLHD DKI Mei 2005 Hal 2
Lokasi
Pantai Ancol meluas ke
P.Nirwana, P.Bidadari,
P.Domar, P.Onrus
Muara Marina sampai
Hotel Horison
Hotel Horison, Pantai
Festival, Pulau
H.Mecure, Pulau Bandar
Jakarta, Pantai Karnaval
Pantai Marina, Pantai
Festival, H.Mecure,
Pulau Bandar Jakarta,
Pantai Karnaval
Pulau Zukung Sekati,
P.Panggang, P.Pramuka,
P.Karya
Pantai Ancol sampai
Marunda
24
7
Masalah pencemaran laut kembali terulang dalam perairan wilayah Indonesia.
Kasus kebocoran ladang minyak dan gas lepas pantai yang terjadi di Laut Timor
pada tanggal 21 Agustus 2009 oleh operator kilang minyak PTT Exploration and
Production (PTTEP) Australia merupakan contoh pencemaran lingkungan laut
lintas batas yang melibatkan 3 negara, yaitu Indonesia, Timor Leste dan Australia.
Kebocoran ladang minyak tersebut mencemari 16.420 kilometer persegi wilayah
Indonesia dan mempunyai implikasi pada banyak hal antara lain pencemaran
lingkungan laut dan biota laut, kematian terhadap organisme laut dan makhluk
hidup lainnya, serta implikasi langsung pada kondisi ekonomi nelayan Indonesia
yang mengandalkan penghidupan pada sektor perikanan di daerah tersebut.
PTTEP merupakan operator kilang minyak Thailand yang berlokasi di Ladang
Montara (The Montara Well Head Paltform) Laut Timor atau 200 km Pantai
Kimbrley, Australia. Dari sudut kepentingan Indonesia, tumpahan minyak dengan
volume 500.000 liter per hari menimbulkan efek pencemaran yang besar di
wilayah perairan Indonesia, terutama di wilayah Kabupaten Rode Ndao dan
Kabupaten Sabu Raijua. Perlu diadakan penelitian guna mengetahui pengaruh
serta
kerugian
yang
ditimbulkan
bencana
ini
sehingga
8
pemerintah Indonesia dapat mengajukan klaim ganti rugi kepada PTTEP tersebut
dengan tetap menjaga komunikasi diplomatik dengan Pemerintah Australia dan
Thailand.(Ahdiat 2012:3)
Status pencemaran laut di Indonesia, terutama di daerah padat penduduk,
kegiatan industri, pertanian intensif dan lalu lintas pelayaran seperti di Teluk
Jakarta, Selat Malaka, Semarang, Surabaya, Lhoksumawe dan Balikpapan sudah
memprihatinkan. Konsentrasi logam berat Hg di di perairan Teluk Jakarta pada
tahun 1977-1978 berkisar antara 0.002-0,35 ppm (BATAN,1979:32). Kemudian
pada tahun 1982 tercatat antara 0,005-0,029 ppm (LONLIPI,1983:12). Sementara
itu baku mutu lingkungan dalam KEPMEN KLH No.02/1988 adalah sebesar
0,003 ppm1. Dengan demikian kondisi perairan Teluk Jakarta tercemar logam
berat. Hal ini terjadi juga parameter BOD (Biological Oxygen Demand), COD
(Chemical Oxygen Demand), dan kandungan minyak di tiga stasiun pengamatan
sekitar perairan Pelabuhan Tanjung Priok, Teluk Jakarta pada bulan Oktober
1992, juga menunjukan status tercemar (PPLH-IPB,1992). Nilai BOD berkisar
antara 39-312 ppm dengan baku mutu lebih kecil dari 45 ppm. Nilai COD berkisar
antara 419-416 ppm, dengan baku mutu lebih kecil daripada 80 ppm. Sedangkan
kandungan minyak dipermukaan perairan berkisar antara 41,5-87,5 ppm, dengan
baku mutu lebih kecil dari 5 ppm.(Rokhmin Dahuri,2008:10)
Dampak dari pencemaran laut dan limbah telah mengakibatkan penurunan
hasil tangkapan nelayan di sejumlah kawasan di Indonesia. Pencemaran perairan
mempengaruhi kegiatan perikanan, karena secara tidak langsung mengurangi
jumlah populasi, kerusakan habitat dan lingkungan perairan sebagai media
hidupnya. Kondisi yang berpengaruh terhadap kegiatan perikanan di antaranya
menurunnya kandungan oksigen dalam perairan (anoxic) yang akan menyebabkan
pembatasan habitat ikan, khususnya ikan dasar dekat pantai. Eutrofikasi perairan
yang menyebabkan pertumbuhan alga yang tidak terkendali (blooming alga),
contohnya pada peristiwa red tides yang menimbulkan keracunan pada ikan, dan
terakumulasinya limbah logam berat beracun (Hg) akan menimbulkan kematian
PPM atau “Part per Million” jika dibahasa Indonesiakan akan menjadi “Bagian per Sejuta Bagian” adalah
satuan konsentrasi yang sering dipergunakan dalam di cabang Kimia Analisa. Satuan ini sering digunakan
untuk menunjukkan kandungan suatu senyawa dalam suatu larutan misalnya kandungan garam dalam air laut,
kandungan polutan dalam sungai, atau biasanya kandungan yodium dalam garam juga dinyatakan dalam ppm.
9
pada ikan. Bila kondisi ini tidak dikendalikan, akan dapat mengurangi potensi
sumber daya perikanan. Hal ini sesuai dengan apa yang terjadi dilapangan bahwa
Bpk.Kubil selaku ketua nelayan Marunda menyebutkan dalam wawancaranya
pada 13 Desember 2014 bahwa dampak yang kita rasakan hanya menurunnya
hasil tangkapan ikan, rajungan dan sebagainya, padahal kalau saja tidak tercemar
kita dapat 10-20kg tetapi jika laut dirasa sedang tercemar paling banyak dapat
1kg.
Pencemaran limbah ke dalam perairan dapat mempengaruhi keamanan
dalam mengkonsumsi ikan dan kerang-kerangan. Masalah ini terjadi, akibat
terkontaminasinya limbah rumah tangga yang bersifat patogen dan berbahaya
(contohnya tipoid, logam beracun dan pestisida) dengan biota perairan seperti
ikan dan kerang. Sektor pariwisata pesisir dan laut Indonesia juga menerima
dampak dari pencemaran laut ini.
Melihat pencemaran laut di Indonesia yang masih sangat tinggi terutama
terjadi di kawasan laut sekitar dekat muara sungai dan kota-kota besar. Maka
dibutuhkan suatu alat yang dapat mengontrol pihak yang melakukan pengelolaan
lingkungan laut. Antara lain adalah dengan diadakannya suatu perangkat hukum
yang isinya mengatur dan membantu pelestarian lingkungan laut tersebut Tingkat
pencemaran laut ini telah menjadi ancaman serius bagi laut Indonesia dengan
segala potensinya.
Pencemaran laut menurut PP No. 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran dan/atau Perusakan Laut dalam pasal 1 adalah masuknya atau
10
dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam
lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai tingkat
tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu
dan/atau fungsinya. Maka jika telah terjadi pencemaran terhadap laut kebijakan
tersebut telah mengatur dari mulai pencegahan, penanggulangan, pengawasan
hingga ke pembiayaan. Seperti dalam pasal 16 ayat 1 setiap orang atau
penanggung jawab usaha dan/kegiatan yang mengakibatkan pencemaran dari /atau
perusakan laut wajib melakukan penanggulangan pencemaran dan atau perusakan
laut yang diakibatkan oleh kegiatannya. Pedoman mengenai penanggulangan
pencemaran dan/atau perusakan laut yang sebagaimana dimaksudkan ditetapkan
oleh instansi yang bertanggung jawab. Peraturan tersebut juga menyebutkan setiap
orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang mengakibatkan
pencemaran dan/atau perusakan laut wajib menanggung biaya penanggulangan
pencemaran dan/atau perusakan laut serta biaya pemulihannya.
Jika dilihat dari pasal 25 dijelaskan bahwa tata cara perhitungan biaya atas
ganti rugi pencemaran ditetapkan oleh Menteri yang berwenang dalam hal ini kita
mengacu pada UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup dalam konteks penegakan hukum harus ditekankan pada
pengawasan dan penerapan atau dengan ancaman, penggunaan instrumen
administratif, kepidanaan atau keperdataan dicapailah penaatan ketentuan hukum
dan peraturan yang berlaku umum dan individual.
Tentu hal ini sejalan dengan prinsip undang-undang lingkungan yang
mengandung tiga sanksi, yakni administrasi, perdata dan pidana. Permasalahan
11
kemudian sering tindak pidana lingkungan, khususnya yang berhubungan dengan
masalah standar baku lingkungan yang sangat minim dalam penegakan hukum
selama ini.
Pasal 1 butir 13 UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH) disebutkan bahwa baku mutu
lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau
komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang
keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup.
Pasal 1 butir 15 juga disebutkan bahwa kriteria baku kerusakan lingkungan hidup
adalah ukuran batas perubahan sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup
yang dapat ditenggang oleh lingkungan hidup untuk dapat tetap melestarikan
fungsinya.
Pencemaran laut ini terjadi hampir di seluruh pesisir lautan di Indonesia.
Teluk Jakarta salah satu kawasan dengan pencemaran laut yang cukup parah.
Warna air laut di teluk ini semakin menghitam dan sampah yang rapat
mengambang di permukaan air. Salah satu contoh kasus pencemaran yang cukup
memprihatinkan adalah di Utara ibukota Indonesia, yaitu Pantai Utara Jakarta.
Wilayah perairan Teluk Jakarta berbentuk semi tertutup, namun kondisi teluk
Jakarta saat ini telah menerima beban berat bahan pencemar baik berupa limbah
domestik, organik, industri, logam berat maupun tumpahan minyak dari waktu ke
waktu membuat khawatir karena limbah yang terdapat di teluk Jakarta telah
melewati batas daya dukung Teluk Jakarta.
12
Perairan Teluk Jakarta terletak pada 1060 21'-107o03' BT dan 5 o10'- 6o10'
LS dibatasi oleh Tanjung Pasir di sisi barat dan Tanjung Karawang di sisi timur.
Teluk ini memiliki luas kawasan laut 514 Km2 dengan panjang garis pantai 76
km, serta ke dalaman rata-rata 18 m. Terdapat 13 sungai (Sungai Angke, Bekasi,
Cakung, Cidurian, Ciliwung, Cikarang, Cimancuri, Ciranjang, Cisadane, Citarum,
Karawang Krukut dan Sunter) yang bermuara ke Teluk Jakarta dan membawa
lebih kurang 1400 m3 /hari limbah padat, di mana 1100 m3 /limbah padat langsung
masuk ke teluk ini (Suhendar I.S dan Heru D.W 2007: 3).
Tabel 1.2
Tingkat Pencemaran Teluk Jakarta
Derajat
Pencemaran
Tercemar
Sangat Ringan
Tercemar
Ringan
Tercemar
Sedang
Tercemar
Berat
PERSENTASE INDEKS KEBERAGAMAN (H)
2008 2009
2010
2011
2012
2013
17% 4%
17,4% 37,7%
23%
0%
2014
4%
48%
13%
34,8%
26,1%
27%
4%
22%
39%
29.0%
13,0%
32%
13%
43%
18,8%
23,2%
18%
11,0
%
42,0
%
47%
48%
39%
Sumber: BPLHD Provinsi DKI Jakarta (2014)
Pada tabel 1.2 tingkat pencemaran di Teluk Jakarta meningkat dari tahun
ke tahun pada tahun 2014 wilayah tercemar sebesar 39% sudah tercemar berat.
Pada tahun 2013 justru hampir setengah perairan laut tercemar sedang yaitu pada
13
tingkat presentasi 42% dan tidak ada yang tidak tercemar. Kondisi pencemaran
Teluk Jakarta ini memberikan dampak negatif untuk lingkungan sekitarnya. Dari
segi lingkungan, dampak penurunan kualitas perairan Teluk Jakarta ini telah
dirasakan hingga ke perairan Kepulauan Seribu yang berjarak lebih dari 50 km
dari Teluk Jakarta. BPLHD Provinsi DKI Jakarta menyebutkan kualitas perairan
Teluk Jakarta dirasa sangat buruk terutama pada perairan yang dekat dengan
pantai (5 km dari pantai).
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pada 28 September
2014 bahwa mayoritas masyarakat di sekitar Marunda Cilincing adalah nelayan,
dengan adanya pencemaran di wilayah laut marunda jumlah tangkapan ikan
nelayan semakin berkurang. Akibatnya, menurut salah seorang nelayan bernama
Bapak Suparjo para nelayan di sekitar laut marunda jarang melaut karena
pencemaran yang tinggi dan sulitnya menangkap ikan, hal ini berdampak pada
pemasukan nelayan dan pemenuhan ekonomi nelayan dalam memenuhi
kebutuhan hidup yang semakin menurun. Hal ini berpengaruh pada tingkat
kemiskinan dan kesejahteraan yang semakin rendah dari tahun ke tahun pada
nelayan di sepanjang Teluk Jakarta. Selain itu, dari segi pemenuhan kebutuhan
dasar juga sulit dirasak an oleh nelayan. Berdasarkan data yang peneliti dapat dari
situs (beritajakarta.com) pada tanggal 14 Juni 2014 bahwa ada lima sentra nelayan
yang pada wilayah laut Jakarta sudah tercemar termasuk Marunda, Cilincing,
Muarabaru, Angke, dan Kapal muara. Dan ada beberapa kategori pantai yang tak
layak dikunjungi sesuai berita yang dilansir (yahoo.com) pada tanggal 26 Mei
14
2014 dari 10 pantai diberbagai negara pantai Marunda masuk dalam kategori
pantai yang tak layak kunjung karena kontaminasi sampah dan limbah.
Badan Pengelola lingkungan Hidup Jakarta yang dilansir dalam Kompas
pada tanggal 11 Mei 2014 menyebutkan kandungan amoniak, merkuri, dan fenol
di perairan pantai utara dan sekitarnya telah melebihi ambang batas baku mutu
yang ditetapkan Menteri Lingkungan Hidup. Pencemaran air di area teluk Jakarta
juga semakin meluas, hal ini dilihat dari kandungan amoniak tertinggi mencapai
1,06 mg sedangkan normalnya untuk biota laut hanya 0,03 mg/1 dan untuk
kawasan bahari 0. Kandungan merkuri tertinggi mencapai 0,056 mg dari batas
normal baku mutu 0.02/1 untuk wisata bahari dan 0,001 untuk biota laut,
kandungan fenol mencapai 0,010 mg/1 padahal batas normalnya untuk biota laut
hanya sebesar 0,002 mg ) berdasarkan hasil uji laboratorium BPLHD penyebab
kematian ikan-ikan yang merugikan para nelayan ada dua kemungkinan yang
terjadi yaitu fenomena alam pasang merah dan pencemaran limbah industri yang
ditandai dengan adanya kandungan amoniak dan fenol yang tinggi.
Pengamatan yang dilakukan oleh peneliti di wilayah laut Marunda pada
tanggal 28 september 2014 kondisi tanah di Marunda Pulo pada umumnya adalah
tanah berwarna hitam yang didominasi oleh pasir laut. Saat ini kondisi tanah
mengalami pencemaran yang cukup parah baik yang berada di daratan maupun di
perairannya.Hal ini menjadi salah satu sebab rusaknya ekosistem di wilayah ini,
misalnya pohon bakau yang tinggal beberapa batang, daratan yang terus-menerus
mengalami penurunan permukaannya dan punahnya binatang-binatang yang
tinggal di sekitar wilayah ini.
15
Peneliti juga melihat kondisi airnya tidak lebih baik dari daratannya,
banyaknya sampah yang mengotori perairan ditambah dengan limbah industri
yang berada di wilayah ini mengakibatkan air yang berada di permukaan dan air
tanahnya sudah tidak layak untuk kehidupan biota laut. Permasalahan yang terjadi
terkait pencemaran diwilayah tersebut sejumlah nelayan di sekitar Cilincing
Jakarta Utara, mengeluhkan penurunan hasil tangkapan ikan yang diduga akibat
pencemaran. Salah seorang nelayan bermana Bpk.Jumani menyebutkan dalam
wawancaranya pada 27 Desember 2014 akibat pencemaran limbah tersebut, ikan,
kepiting, udang, dan bahkan kerang hijau yang sengaja dibudidayakan nelayan
tidak sedikit yang di temukan mati mengambang.
Air laut ketika sedang tercemar berwarna coklat pekat dan pinggiran
pantai Marunda Pulo banyak sampah plastik, kayu, dan kertas yang mengapung di
laut. Kadar oksigen terlarut (DO) dan (BOD) mengalami penurunan pada saat
pasang sedangkan pada waktu surut kadar BOD cenderung meningkat terutama di
muara Cilincing, Marunda dan Bekasi. Sementara DO hampir tidak ada perubahan
kecuali di beberapa tempat seperti seperti Muara Karang, Angke dan Cengkareng.
Secara umum kondisi DO dan BOD di muara sungai sepanjang pantai Teluk
Jakarta berada di bawah baku mutu dan tidak layak untuk mendukung kehidupan
ikan dan biota laut didalamnya, maka tidak mengherankan dikawasan pantai
dalam radius kurang dari 5km sering terjadi kematian ikan massal.
Berbagai kasus-kasus pencemaran selama ini tak pernah diselesaikan
dengan tuntas, apalagi sampai menyeret pencemarnya secara serius ke pengadilan.
Padahal di dalam aturannya Pemerintah Indonesia mengeluarkan suatu aturan
16
dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur pencemaran secara
khusus yaitu Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1999
tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut. Peraturan tersebut
menyatakan bahwa setiap orang, penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
dilarang melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan pencemaran/kerusakan
laut. Selain itu, PP Nomor 19 Tahun 1999 juga mengisyaratkan bahwa setiap
orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak hanya wajib
melakukan pencegahan terjadinya pencemaran lingkungan, namun wajib pula
melakukan penanggulangan pencemaran dan/atau perusakan laut yang diakibatkan
oleh kegiatannya, melakukan pemulihan mutu laut tersebut.
Ketentuan pidana pada UU PPLH merupakan tidak pidana kejahatan, salah
satunya tindak pidana baku mutu lingkungan diatur dalam pasal 98 yakni:
(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang
mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air,
baku mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling
lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp3.000.000.000,00
(tiga miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh
miliar rupiah).
(2) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mengakibatkan orang luka dan/atau bahaya kesehatan manusia, dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12
(dua belas) tahun dan denda paling sedikit Rp 4.000.000.000,00 (empat
miliar rupiah) dan paling banyak Rp12.000.000.000,00 (dua belas miliar
rupiah).
(3) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mengakibatkan orang luka berat atau mati, dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan
denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
17
Pasal diatas memberi makna bahwa lingkungan hidup yang ada ini harus
dilakukan upaya perlindungan dan pengelolan, dengan memperhatikan batas atau
kadar baku mutu lingkungan yang ada, supaya daya dukung lingkungan dan daya
tampung lingkungan seimbang, sehingga pada akhirnya tercipta pembangunan
berkelanjutan lingkungan hidup dalam menjaga keberlangsungan kehidupan
manusia serta makhluk lain.
Hal
ini
dikarenakan
berbagai
pihak tersebut
tidak lepas
dari
ketidakmampuan dalam mengkoordinasikan pengelolaan terpadu lintas batas
(transboundary management). Dengan berbagai persoalan yang terjadi dalam
pembahasan sebelumnya yaitu :
Pertama terkait dengan kurang optimalnya perencanaan dan pelaksanaan
kebijakan pengendalian laut untuk mempertahankan mutu laut sehingga kerusakan
pesisir dan laut semakin meluas akibat rusaknya hutan mangrove, penumpukan
sampah limbah rumah tangga dilaut, warna air laut yang berubah karena tercemar.
Kerusakan semakin luas, disebabkan laut dan pesisir juga tercemar berbagai
limbah seperti limbah organik, limbah anorganik, surfaktan, pestisida, zat kimia
beracun, dan sedimentasi. Jumlah dan jenis pencemaran cenderung bertambah.
Kawasan pesisir dan laut yang tinggi tingkat kerusakan dan pencemarannya
adalah kawasan industri, pelabuhan, dan wisata.
Kemudian kedua kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh pihak yang
berwenang sehingga memunculkan celah-celah pelanggaran terhadap pencemaran
lingkungan hidup.
18
Ketiga lemahnya penegakan hukum dari pihak yang berwenang sehingga
dengan tidak tegasnya pemerintah dalam menindak pelaku pengerusakan sumber
daya alam menyebabkan pencegahan terhadap kerusakan sumber daya alam sulit
dilakukan.
Keempat kurangnya sosialisasi kebijakan pengendalian pencemaran yang
dilakukan kepada masyarakat. Seperti pelaksanaan edukasi, pemberdayaan dan
peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Pada hakikatnya sumber daya alam harus dijamin kelestariannya antara
lain dengan tetap mempertahankan lingkungan laut, kondisi yang menghubungkan
bagi hakikat laut, juga sistem pengelolaan dalam mengupayakan sumber daya
alam yang ada. Maka dengan hal itu dengan masalah yang telah diungkapkan
dalam latarbelakang diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana
‘’Implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun
1999 tentang Pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut yang
terjadi di wilayah laut Marunda Jakarta Utara.’’
19
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan hasil observasi di lapangan, maka dapat diidentifikasi
beberapa permasalahan sebagai berikut :
1. Kurang
optimalnya
perencanaan
dan
pelaksanaan
kebijakan
pengendalian laut untuk mempertahankan mutu laut. Sehingga terjadi
penurunan kualitas air laut dari ringan, sedang hingga berat.
2. Kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh pihak yang berwenang
dalam mencegah pencemaran dan/atau perusakan laut
3. Lemahnya penegakan hukum atas pelanggaran yang menyebabkan
pencemaran laut terus berulang.
4. Kurangnya sosialisasi kebijakan pengendalian pencemaran yang
dilakukan
kepada
masyarakat.
Seperti
pelaksanaan
edukasi,
pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat dalam
pengelolaan lingkungan hidup.
1.3 Batasan Masalah
Penelitian ini hanya dibatasi mengenai implementasi Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran
dan/atau perusakan laut di lokasi penelitian kawasan pesisir laut Marunda Jakarta
Utara
20
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan pendahuluan di atas dan dengan memperhatikan
fokus penelitian pada batasan masalah, maka hal yang menjadi kajian peneliti
yaitu ‘’Bagaimanakah Implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut
di lokasi penelitian kawasan pesisir laut Marunda Jakarta Utara.’’
1.5 Tujuan Penelitian
Penelitian harus ditentukan tujuan yang ingin dicapai sebab tanpa adanya
tujuan yang jelas dan tegas maka seorang peneliti akan mengalami kesulitan.
Sesuai dengan latar belakang rumusan masalah yang ada, maka tujuan penelitian
yang ada yaitu ‘’Mengetahui Implementasi Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian pencemaran dan/atau
perusakan laut di lokasi penelitian kawasan pesisir laut Marunda Jakarta Utara.
1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Secara Teoritis
a. Hasil penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan keilmuan dan
pengetahuan, karena akan menambah khasanah keilmuan dan
pengetahuan yang terutama berkaitan dengan Implementasi kebijakan
publik.
21
b. Selain itu karena penelitian ini tentang Implementasi kebijakan publik
maka dapat bermanfaat juga untuk pengembangan ilmu yang berkaitan
dengan kebijakan publik khususnya dalam studi penanggulangan
pencemaran laut.
2. Secara Praktis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran bagi
Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara dan Suku
Dinas Peternakan,Pertanian dan Kelautan Jakarta Utara dan Dinas
Kelautan dan Perikanan Provinsi DKI Jakarta dalam memecahkan
permasalahan pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut.
b. Selain itu karya ilmiah ini diharapkan dapat berguna untuk
pengembangan kemampuan dan penguasaan ilmu-ilmu yang pernah
diperoleh peneliti selama mengikuti program pendidikan di Program
Studi Administrasi Negara Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Dan
juga, karya peneliti ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi
tambahan bagi pembaca atau peneliti selanjutnya.
1.7 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan merupakan garis besar penyusunan penelitian ini
yang berujuan untuk memudahkan dalam memahami secara keseluruhan isi
dari penyusunan penelitian ini. Adapun sistematika penulisan penelitian
mengenai “Implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19
Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut.
22
(Studi kasus wilayah Laut Marunda Jakarta Utara)”, tersusun atas sistematika
sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
1.2. Identifikasi Masalah
1.3. Batasan Masalah
1.4. Rumusan Masalah
1.5. Tujuan Penelitian
1.6. Manfaat Penelitian
1.7.Sistematika Penulisan
BAB II DESKRIPSI TEORI
2.1. Deskripsi Teori
2.2. Penelitian Terdahulu
2.3. Kerangka Berpikir
2.4. Asumsi Dasar
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Pendekatan dan Metode Penelitian
3.2. Ruang Lingkup Penelitian
3.3. Lokasi Penelitian
3.4. Instrumen Penelitian
3.5. Informan Penelitian
3.6. Teknik Analisis dan Uji Keabsahan Data
3.7. Jadwal Penelitian
23
BAB IV Hasil Penelitian
4.1 Deskripsi Objek Penelitian
4.2 Deskrpsi Data
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2Saran
BAB II
KAJIAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN
ASUMSI DASAR PENELITIAN
2.1 Landasan Teori
Teori dalam administrasi/manajemen mempunyai peranan yang sama dengan teori
yang ada dalam ilmu fisika, kimia, atau biologi yaitu berfungsi untuk menjelaskan
dan panduan dalam penelitian. Seperti yang dikemukakan oleh Hoy & Miskel
(dalam Sugiyono 2004:55)
Theory in administration, however has the same role as theory in
physics, chemistry, or biology that is providing general explanations
and guiding research.
Selanjutnya di definisikan bahwa teori adalah seperangkat konsep, asumsi,
dan generalisasi yang dapat digunakan untuk mengungkapkan dan menjelaskan
perilaku dalam berbagai organisasi.
Berdasarkan definsi di atas dapat dikemukakan disini bahwa, teori itu
berkenaan dengan konsep, asumsi, dan generalisasi yang logis. Teori berfungsi
mengungkapkan, menjelaskan dan memprediksi perilaku yang memiliki
keteraturan, juga sebagai stimulan dan panduan untuk mengembangkan
pengetahuan. Hipotesis itu adalah merupakan pernyataan yang dibangun dengan
teori untuk memprediksi hubungan antara konsep dalam suatu sistem. (Sugiyono
2007:56)
23
25
Dalam administrasi atau manajemen, teori secara spesifik berguna untuk
menentukan cara atau strategi agar kegiatan administrasi dapat di kelola secara
efektif dan efisien. Dengan teori, akan dapat ditemukan cara-cara yang tepat untuk
mengelola sumber daya, cara yang termudah dalam mengerjakan pekerjaan, dana
yang termurah, untuk membiayai pekerjaan, waktu yang tersingkat untuk
melaksanakan pekerjaan, alat yang tepat untuk memperingan beban dan
memperpendek jarak dalam melaksanakan pekerjaan.
Keterkaitan antara judul dengan kajian Administrasi Negara yaitu Peraturan
Pemerintah merupakan suatu kebijakan publik dan administrasi Negara mengkaji
salah satu mengenai masalah kebijakan publik karena mempunyai arti penting
antara lain membantu para praktisi dalam memecahkan masalah-masalah publik
dengan demikian para praktisi akan memiliki dasar teoritis tentang bagaimana
membuat kebijakan publik yang baik dan memperkecil kegagalan dari suatu
kebijakan publik sehingga akan sangat sesuai dengan kajian Administrasi Negara.
Dalam penelitian ini peneliti mengklasifikasi ke dalam beberapa teori yakni Teori
Kebijakan
Publik,
Deskripsi
tentang
Implementasi
Kebijakan,
Konsep
Pengendalian Pencemaran/Kerusakan Laut dan Peraturan Pemerintah Nomor 19
Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut. Adapun
penjelasannya sebagai berikut:
26
2.1.1 Definisi Kebijakan
Istilah Policy (Kebijakan) seringkali penggunaannya dipertukarkan dengan
istilah-istilah lain seperti tujuan (goals) program, keputusan, undang-undang,
ketentuan-ketentuan, usulan-usulan, dan rancangan-rancangan besar.
‘’Menurut Perserikatan bangsa-bangsa, kebijakan itu diartikan sebagai
pedoman untuk bertindak. Pedoman itu boleh jadi amat sederhana atau
kompleks, bersifat umum atau khusus, luas atau sempit, kabur atau jelas,
longgar atau terperinci, bersifat kualitatif atau kuantitatif publik atau
privat. Kebijakan dalam maknanya seperti ini mungkin berupa deklarasi
mengenai suatu dasar pedoman bertindak, suatu arah tindakan tertentu,
suatu program mengenai aktivitas-aktivitas tertentu atau suatu rencana.
Sedangkan Anderson merumuskan kebijakan perilaku dari sejumlah
aktor (pejabat, kelompok, instansi pemerintah) atau serangkaian aktor
dalam bidang kegiatan tertentu.’’ (Wahab:2005:1)
Dewasa ini istilah kebijakan lebih sering dan secara luas dipergunakan
dalam kaitannya dalam tindakan-tindakan atau kegiatan-kegiatan pemerintah serta
perilaku Negara pada umumnya. Dalam kaitan inilah maka mudah dipahami jika
kebijakan itu acapkali diberikan makna sebagai tindakan politik. Makna kebijakan
sebagaimana kita kemukakan tadi akan makin jelas bila kita ikuti pandangan
seorang ilmuwan politik, Friedrich (dalam Wahab 2005:3) yang menyatakan
bahwa :
‘’Kebijakan adalah suatu tindakan yang mengarah pada tujuan yang
diusulkan seseorang, kelompok atau pemerintah dalam lingkungan
tertentu sehubungan dengan adanya hambatan-hambatan tertentu seraya
mencari peluang-peluang untuk mencapai tujuan atau mewujudkan
sasaran yang diinginkan.’’
27
Mirip dengan definisi Friedrich diatas, Anderson merumuskan kebijakan
sebagai langkah tindakan secara sengaja dilakukan oleh seorang aktor atau
sejumlah aktor berkenaan dengan adanya maslah atau persoalan tertentu yang
dihadapi.
Asal usul Estimologis kata policy sama dengan dua kata penting isinya
policy dan politics. Inilah salah satu alasan mengapa banyak bahasa-bahasa
modern, misalnya Jerman dan Rusia, hanya mempunyai satu kata (politik,
politika) untuk dua pengertian policy dan politics. Ini juga merupakan salah satu
faktor yang saat ini menimbulkan kebingungan seputar batas disiplin ilmu politik
administrasi Negara, dan ilmu kebijakan, semuanya menaruh perhatian besar pada
studi politik (politics) dan kebijakan (policy). (Dunn 2003:51)
Dari berbagai pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan itu
diartikan sebagai pedoman untuk bertindak. Kebijakan adalah suatu tindakan yang
mengarah pada tujuan yang diusulkan oleh seseorang , kelompok atau pemerintah
dalam lingkungan tertentu sehubungan dengan adanya hambatan-hambatan
tertentu seraya mencari peluang-peluang untuk mencapai tujuan atau mewujudkan
sasaran yang diinginkan. Kebijakan sebagai langkah tindakan yang secara
disengaja dilakukan oleh seorang aktor atau sejumlah aktor berkenaan dengan
adanya masalah atau persoalan tertentu yang dihadapi. Kebijakan tindakantindakan atau kegiatan-kegiatan pemerintah serta perilaku Negara pada umumnya.
28
2.1.2 Definisi Publik
Pengertian publik dalam rangkaian kata public policy memiliki tiga
konotasi, yaitu pemerintah, masyarakat, dan umum (Abidin 2012:7). Hal ini dapat
dilihat dalam dimensi subjek, objek, dan lingkungan dari kebijakan. Dalam
dimensi subjek, kebijakan publik adalah kebijakan dari pemerintah, sehingga
salah satu ciri kebijakan adalah ‘’what government do or not to do’’. Kebijakan
dari pemerintahlah yang dapat dianggap sebagai kebijakan yang resmi, sehingga
mempunyai kewenangan yang dapat memaksa masyarakat untuk mematuhinya.
2.1.3
Teori Kebijakan Publik
Carl J Federick sebagaimana dikutip Agustino (2008:7) mendefinisikan
kebijakan sebagai serangkaian tindakan/kegiatan yang diusulkan seseorang,
kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu dimana terdapat
hambatan-hambatan (kesulitan -kesulitan) dan kesempatan - kesempatan terhadap
pelaksanaan usulan kebijaksanaan tersebut dalam rangka mencapai tujuan
tertentu. Pendapat ini juga menunjukan bahwa ide kebijakan melibatkan perilaku
yang memiliki maksud dan tujuan merupakan bagian yang penting dari definisi
kebijakan, karena bagaimanapun kebijakan harus menunjukan apa yang
sesungguhnya dikerjakan daripada apa yang diusulkan dalam beberapa kegiatan
pada suatu masalah.
Thomas R Dye sebagaimana dikutip oleh Islamy (2009:19) Defisini lain
mengatakan bahwa kebijakan publik adalah apa yang dipilih oleh pemerintah
untuk dikerjakan atau tidak dikerjakan’’. Melalui definisi ini kita mendapat
29
pemahaman bahwa terdapat perbedaan antara apa yang dikerjakan pemerintah dan
apa yang sesungguhnya harus dikerjakan oleh pemerintah. Lain dari itu Chandler
dan Plano sebagaimana dikutip Tangkilisin (2003:1) yang menyatakan bahwa
kebijakan publik adalah pemanfaatan yang strategis terhadap sumberdayasumberdaya yang ada untuk memecahkan masalah-masalah publik atau
pemerintah.
Konsep kebijakan ini menitikberatkan pada apa yang sesungguhnya
dikerjakan daripada apa yang diusulkan atau dimaksud. Hal inilah yang
membedakan kebijakan dari suatu keputusan yang merupakan pilihan diantara
beberapa alternatif yang ada. Kebijakan publik merupakan keputusan politik yang
dikembangkan oleh badan dan pejabat pemerintah. Karena itu, karakteristik
khusus dari kebijakan publik adalah bahwa keputusan politik tersebut dirumuskan
oleh apa yang disebut David Easton sebagaimana yang dikutip oleh Muchsin dan
Fadillah Putra dalam buku Hukum dan Kebijakan Publik, mendefinisikan
kebijakan publik adalah sebuah proses pengalokasian nilai-nilai secara paksa
kepada seluruh masyarakat yang dilakukan oleh lembaga yang berwenang seperti
pemerintah (Muchsin dan Fadillah 2002:23).
Dalam kaitannya dengan definisi-definisi tersebut diatas maka dapat
disimpulkan beberapa karakteristik utama dari suatu definisi kebijakan publik.
Pertama, pada umumnya kebijakan publik perhatiannya ditujukan pada tindakan
yang mempunyai maksud atau tujuan tertentu daripada perilaku yang berubah atau
acak. Kedua, kebijakan publik pada dasarnya mengandung bagian atau pola
kegiatan yang dilakukan oleh pejabat pemerintah daripada keputusan yang
30
terpisah-pisah. Ketiga, kebijakan publik merupakan apa yang sesungguhnya
dikerjakan oleh pemerintah dalam mengatur perdagangan, ,mengontrol inflasi,
atau menawarkan perumahan rakyat, bukan apa maksud yang dikerjakan atau
akan yang akan dikerjakan. Keempat, kebijakan publik dapat berbentuk positif
maupun negatif. Secara positif, kebijakan melibatkan beberapa tindakan
pemerintah yang jelas dalam menangani suatu permasalahan, secara negatif
kebijakan publik dapat melibatkan suatu keputusan pejabat pemerintah untuk
tidak melakukan suatu tindakan atau tidak mengerjakan apapun padahal dalam
konteks tersebut keterlibatan pemerintah amat diperlukan. Terakhir kelima,
kebijakan publik paling tidak secara positif didasarkan pada hukum dan
merupakan tidnakan yang bersifat memerintah. Kebijakan publik yang bersifat
memerintah kemungkinan besar mempunyai sifat yang memaksa secara sah, yang
mana hal ini tidak dimiliki oleh kebijakan-kebijakan organisasi swasta.
Berdasarkan pendapat berbagai ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa
kebijakan publik adalah serangkaian tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukan
oleh pemerintah yang berorientasi pada tujuan tertentu guna memecahkan
masalah-masalah publik atau demi kepentingan publik. Kebijakan untuk
melakukan sesuatu biasanya tertuang dalam ketentuan-ketentuan atau peraturan
perundang- undangan yang dibuat pemerintah sehingga memiliki sifat yang
mengikat dan memaksa.
31
2.1.4 Implementasi Kebijakan
Implementasi kebijakan merupakan suatu proses dalam kebijakan publik
yang mengarah pada pelaksanaan kebijakan. Dalam praktiknya implementasi
kebijakan merupakan suatu proses yang begitu kompleks bahkan tidak jarang
bermuatan politik karena adanya intervensi dari berbagai kepentingan. Untuk
melukiskan kerumitan dalam proses implementasi tersebut, Eugene Bardach, Van
Meter Van Horn dan Daniel Mazmanian (dalam Agustino 2008:153)
mengemukakan bahwa implementasi kebijakan sebagai :
‘’adalah cukup untuk membuat sebuah program dan kebijakan umum yang
kelihatannya bagus di atas kertas. Lebih sulit lagi merumuskannya dalam
kata-kata dan slogan-slogam yang kedengaranya mengenakan bagi telinga
para pemimpin dan para pemilih yang mendengarkannya. Dan lebih sulit
lagi untuk melaksanakannya dalam bentuk yang memuaskan semua
orang.’’
Van Meter dan Van Horn (1975:65), mendefinisikan implementasi
kebijakan sebagai:
‘’Tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu atau
pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang
diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam
keputusan kebijaksanaan.’’
Sedangkan Daniel Mazmanian dan Paul Sabatier dalam bukunya
Implementation and Public Policy (1983:61) mendefinisikan implementasi
kebijakan sebagai berikut:
‘’Pelaksanaan keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentuk undangundang namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atau keputusankeputusan eksekutif yang penting atau keputusan lembaga peradilan.
Lazimnya, keputusan tersebut mengidentifikasikan masalah yang ingin
32
diatasi, menyebutkan secara tegas tujuan atau sasaran yang ingin dicapai,
dan berbagai cara untuk menstrukturkan atau mengatur proses
implementasinya.’’
Dari tiga definisi diatas dapat diketahui bahwa implementasi kebijakan
menyangkut (minimal) tiga hal, yaitu (i) adanya tujuan atau sasaran kebijakan, (ii)
adanya aktivitas atau kegiatan pencapaian tujuan dan (iii) adanya hasil kegiatan.
Berdasarkan uraian ini maka dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan
merupakan suatu proses yang dinamis, dimana pelaksana kebijakan melakukan
suatu aktivitas atau kegiatan, sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu
hasil yang sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri.
2.1.5
Pendekatan-pendekatan dalam Implementasi Kebijakan
Beberapa pendekatan dalam implementasi kebijakan publik adalah
pendekatan secara top-down, yaitu pendekatan secara satu pihak dari atas ke
bawah. Dalam proses implementasi peranan pemerintah sangat besar, pada
pendekatan ini asumsi yang terjadi adalah para pembuat keputusan merupakan
aktor kunci dalam keberhasilan implementasi, sedangkan pihak-pihak lain yang
terlibat dalam proses implementasi dianggap menghambat, sehingga para pembuat
keputusan meremehkan inisiatif strategi yang berasal dari level birokrasi rendah
maupun subsistem-subsistem kebijaksanaan yang lain. Yang kedua adalah
pendekatan secara bottom-up, yaitu pendekatan yang berasal dari bawah
(masyarakat). Pendekatan bottom-up didasarkan pada jenis kebijakan publik yang
mendorong masyarakat untuk mengerjakan sendiri implementasi kebijakannya
atau masih melibatkan pejabat pemerintahan namun hanya ditataran rendah.
33
Asumsi yang mendasari pendekatan ini adalah bahwa implementasi berlangsung
dalam lingkungan pembuat keputusan yang terdesentralisasi. Model ini
menyediakan suatu mekanisme untuk bergerak dari level birokrasi paling bawah
sampai pada pembuatan keputusan tertinggi di sektor publik maupun sektor
privat.
Dalam pelaksanaannya implementasi kebijakan publik memerlukan model
implementasi yang berlainan, karena ada kebijakan publik yang perlu
diimplementasikan secara top-down atau secara bottom-up. Kebijakan-kebijakan
yang bersifat top-down adalah kebijakan yang bersifat secara strategis dan
berhubungan
antiterorisme,
dengan
berbeda
keselamatan
negara,
seperti
dengan
kebijakan
yang
kebijakan
lebih
mengenai
efektif
jika
diimplementasikan secara bottom-up, yang biasanya berkenaan dengan hal-hal
yang tidak secara langsung berkenaan dengan national security, seperti kebijakan
alat kontrasepsi, padi varietas unggul, pengembangan ekonomi nelayan dan
sejenisnya.
Dalam implementasi sebuah kebijakan pilihan yang paling efektif adalah
jika kita bisa membuat kombinasi implementasi kebijakan publik yang
partisipatif, artinya bersifat top-down dan bottom-up. Model ini biasanya lebih
dapat berjalan secara efektif, berkesinambungan dan murah, bahkan dapat juga
dilaksanakan untuk hal-hal yang bersifat national security.
Dalam penelitian ini pendekatan yang paling sesuai adalah pendekatan
secara partisipatif dimana kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah dapat
direspon dengan baik oleh masyarakat. Satu hal yang paling penting adalah
34
implementasi kebijakan haruslah menampilkan keefektifan dari kebijakan itu
sendiri. Nugroho (2011:673), pada dasarnya ada “lima tepat” yang perlu dipenuhi
dalah hal keefektifan implementasi kebijakan, yaitu :
1. Apakah kebijakannya sendiri sudah tepat? Ketepatan kebijakan dinilai
dari sejauh mana kebijakan yang ada telah bermuatan hal-hal yang
memang memecahkan masalah yang hendak dipecahkan.
35
2. Ketepatan pelaksana. Aktor implementasi tidaklah hanya pemerintah,
ada tiga lembaga yang dapat menjadi pelaksana, yaitu pemerintah,
kerjasama antara pemerintah masyarakat/swasta atau implementasi
kebijakan yang diswastakan (privatization atau contracting out).
3. Ketepatan target implementasi. Ketepatan berkenaan dengan tiga hal,
yaitu: a) Apakah target yang diintervensi sesuai dengan yang
direncanakan, apakah tidak ada tumpang tindih dengan intervensi yang
lain, atau tidak bertentangan dengan intervensi kebijakan lain; b) Apakah
targetnya dalam kondisi siap untuk diintervensi ataukah tidak, kesiapan
bukan saja dalam arti secara alami, namun juga apakah kondisi target ada
dalam konflik atau harmoni, dap apakah kondisi target ada dalam kondisi
mendukung atau menolak; c) Apakah intervensi implementasi kebijakan
bersifat baru atau memperbarui implementasi kebijakan sebelumnya.
4. Apakah lingkungan implementasi sudah tepat? Ada dua lingkungan
yang paling menentukan, yaitu a) lingkungan kebijakan, merupakan
interaksi diantara lembaga perumus kebijakan dan pelaksana kebijakan
dan lembaga lain yang terkait; b) lingkungan eksternal kebijakan yang
terdiri atas public opinion, yaitu persepsi publik akan kebijakan dan
imlementasi kebijakan, interpretive institutions yang berkenaan dengan
interprestasi dari lembaga-lembaga strategis dalam masyarakat.
5. Tepat proses. Secara umum implementasi kebijakan publik terdiri atas
tiga proses, yaitu: a) policy acceptane, di sini publik memahami kebijakan
seb agai sebuah aturan main yang diperlukan untuk masa depan, di sisi
lain pemerintah memahami kebijakan sebagai tugas yang harus
dilaksanakan; b) policy adoption, publik menerima kebijakan sebagai
sebuah aturan main yang diperlukan untuk masa depan, disisi lain
pemerintah menerima kebijakan sebagai tugas yang harus dilaksanakan; c)
strategic readiness, publik siap melaksanakan atau menjadi bagian dari
kebijakan, di sisi lain birokrat pelaksana siap menjadi pelaksana kebijakan
36
2.1.6 Model-Model Implementasi Kebijakan
Untuk lebih memahami tentang pendekatan-pendekatan dalam implementasi
kebijakan akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Implementasi kebijakan Model George C. Edward III
Beberapa ilmuan penganut aliran Top Down salah satunya adalah George C.
Edward III. Model Implementasi kebijakan yang dikembangkan oleh George C.
Edward III yang menamakan model implementasi kebijakan publiknya dengan
Direct and Indirect Impact On Implementation dalam Agustino (2008:149)
dimana terdapat empat variabel yang sangat menentukan keberhasilan
implementasi suatu kebijakan yaitu : (i) Komunikasi, (ii) Sumberdaya, (iii)
Disposisi, (iv) Struktur Birokrasi.
1.
Komunikasi
Variabel pertama yang mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu
kebijakan menurut George C. Eward III, adalah komunikasi. Komunikasi
menurutnya lebih lanjut sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari
implementasi kebijakan publik. Implementasi yang efektif terjadi apabila para
pembuat keputusan sudah mengetahui apa yang akan mereka kerjakan.
Pengetahuan atas apa yang akan mereka kerjakan dapat berjalan bila komunikasi
berjalan dengan baik, sehingga setiap keputusan kebijakan dan peraturan
implementasi harus ditransmisikan (atau dikomunikasikan) kepada bagian
personalia yang tepat. Selain itu, kebijakan yang dikomunikasikan pun harus
tepat, akurat, dan konsisten. Komunikasi (atau pentransmisian informasi)
37
diperlukan agar para pembuat keputusan di dan para implementor akan semakin
konsisten dalam melaksanakan setiap kebijakan yang akan diterapkan dalam
masyarakat.
2.
Sumberdaya
Variabel atau faktor kedua yang mempengaruhi keberhasilan implementasi
suatu kebijakan adalah sumberdaya. Sumberdaya merupakan hal penting lainnya,
menurut George C. Edward III dalam Agustino (2008 : 151) dalam
mengimplementasikan kebijakan. Indikator sumber-sumberdaya terdiri dari
beberapa elemen, yaitu:
a. Staf sumberdaya utama dalam implementasi kebijakan adalah staf. Kegagalan
yang sering terjadi dalam implementasi kebijakan salah satunya disebagiankan
oleh karena staf yang tidak mencukupi, memadai, ataupun tidak kompeten
dibidangnya. Penambahan jumlah staf dan implementor saja tidak mencukupi,
tetapi diperlukan pula kecukupan staf dengan keahlian dan kemampuan yang
diperlukan (kompeten dan kapabel) dalam mengimplementasikan kebijakan atau
melaksanakan tugas yang diinginkan oleh kebijakan itu sendiri.
b. Informasi dalam implementasi kebijakan, informasi mempunyai dua bentuk,
yaitu pertama informasi yang berhubungan dengan cara melaksanakan kebijakan.
Implementor harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan disaat mereka
diberi perintah untuk melakukan tindakan. Kedua informasi mengenai data
kepatuhan dari para pelaksana terhadap peraturan dan regulasi pemerintah yang
telah ditetapkan. Implementor harus mengetahui apakah orang lain yang terlibat di
dalam pelaksanaan kebijakan tersebut patuh terhadap hukum.
38
c. Wewenang pada umumnya kewenangan harus bersifat formal agar perintah
dapat dilaksanakan. Kewenangan merupakan otoritas atau legitimasi bagi para
pelaksana d alam melaksanakan kebijakan yang ditetapkan secara politik. Ketika
wewenang itu nihil, maka kekuatan para implementor dimata publik tidak
terlegitimasi, sehingga dapat menggagalkan proses implementasi kebijakan.
Tetapi, dalam konteks yang lain, ketika wewenang formal tersebut ada, maka
sering terjadi kesalahan dalam melihat efektivitas kewenangan. Di satu pihak,
efektivitas kewenangan diperlukan dalam pelaksanaan implementasi kebijakan
tetapi di sisi lain, efektivitas akan menyurut manakala wewenang diselewengkan
oleh para pelaksana demi kepentingannya sendiri atau demi kepentingan
kelompoknya.
d. Fasilitas fasilitas fisik juga merupakan faktor penting dalam implementasi
kebijakan. Implementor mungkin memiliki staf yang mencukupi, mengerti apa
yang harus dilakukannya, dan memiliki wewenang untuk melaksanakan tugasnya,
tetapi tanpa adanya fasilitas pendukung (sarana dan prasarana) maka implementasi
kebijakan tersebut tidak akan berhasil.
3. Disposisi
Disposisi atau sikap dari pelaksana kebijakan adalah faktor penting ketiga dalam
pendekatan mengenai pelaksanaan suatu kebijakan publik. Jika pelaksanaan suatu
kebijakan ingin efektif, maka para pelaksana kebijakan tidak hanya harus
mengetahui apa yang akan dilakukan tetapi juga harus memiliki kemampuan
untuk melaksanakannya, sehingga dalam praktiknya tidak terjadi bias.
4. Struktur Birokrasi
39
Variabel keempat, menurut Edward III, yang mempengaruhi tingkat keberhasilan
implementasi kebijakan publik adalah struktur birokrasi. Walaupun sumbersumber untuk melaksanakan suatu kebijakan tersedia, atau para pelaksana
kebijakan mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, dan mempunyai keinginan
untuk melaksanakan suatu kebijakan, kemungkinan kebijakan tersebut tidak dapat
terlaksana atau terealisasi karena terdapatnya kelemahan dalam struktur birokrasi
b. Implementasi Kebijakan Model Van Metter dan Van Horn
Model pendekatan top-down yang dirumuskan oleh Donald Van Metter dan
Van Horn sebagaimana dalam Agustino (2008:141) disebut dengan A model of the
Policy Implementation. Dalam teori ini ada enam variabel yang mempengaruhi
kinerja suatu kebijakan, yaitu:
1. Ukuran dan Tujuan Kebijakan
Kinerja implementasi kebijakan dapat diukur tingkat keberhasilannya jika-danhanya-jika ukuran dan tujuan dari kebijakan memang realisits dengan sosi-kultur
yang mengada pada level pelaksana kebijakan. Ketika ukuran kebijakan atau
tujuan kebijakan terlalu ideal (bahkan terlalu utopis) untuk dilaksanakan di level
warga, maka agak sulit memang merealisasikan kebijakan publik hingga titik
yang dapat dikatakan berhasil.
2. Sumberdaya
Keberhasilan proses implementasi kebijakan sangat terbantung dari kemampuan
memanfaatkan sumberdaya yang tersedia. Manusia merupakan sumberdaya yang
terpenting dalam menentukan suatu keberhasilan proses implementasi. Tetapi di
luar
sumberdaya
manusia,
sumberdaya-sumberdaya
lain
yang
perlu
40
diperhitungkan juga adalah sumber daya financial dan sumberdaya waktu. Ketiga
sumber daya ini akan saling mendukung dalam implementasi sebuah kebijakan.
3. Karakteristik Agen Pelaksana
Pusat perhatian pada agen pelaksana meliputi organisasi formal dan informal yang
akan terlibat pengimplementasian kebijakan publik. Hal ini sangat penting kerena
kinerja implementasi akan sangat banyak dipengaruhi oleh ciri-ciri yang tepat
serta cocok dengan para agen pelaksananya. Selain itu, cakupan atau luas wilayah
implementasi kebijakan perlu juga diperhitungkan manakala hendak menentukan
agen pelaksana. Semakin luas cakupan implementasi kebijakan, maka seharusnya
semakin besar pula agen yang dilibatkan.
4. Sikap/Kecenderungan para Pelaksana
Sikap penerimaan atau penolakan dari agen pelaksana akan sangat banyak
mempengaruhi keberhasilan atau tidaknya kinerja implementasi kebijakan publik.
Hal ini sangat mungkin terjadi oleh karena kebijakan yang dilaksanakan bukanlah
hasil formulasi warga setempat yang mengenal betul persoalan dan permasalahan
yang mereka rasakan. Tetapi kebijakan yang akan diimplementasikan adalah
kebijakan “dari atas” yang sangat mungkin para pengambil keputusannya tidak
pernah mengetahui (bahkan tidak menyentuh) kebutuhan, keinginan, atau
permasalahan yang warga ingin selesaikan.
5. Komunikasi Antarorganisasi dan Aktivitas Pelaksana
Koordinasi merupakan mekanisme yang ampuh dalam implementasi kebijakan.
Semakin baik koordinasi komunikasi di antara pihak-pihak yang terlibat dalam
41
suatu proses implementasi, maka asumsinya kesalahan-kesalahan akan sangat
kecil untuk terjadi.
6. Lingkungan Ekonomi, Sosial, dan Politik
Hal terakhir yang perlu juga diperhatikan guna menilai kinerja implementasi
kebijakan dalam perspektif yang ditawarkan adalah sejauh mana lingkungan
eksternal turut mendorong keberhasilan kebijakan yang telah ditetapkan.
Lingkungan sosial, ekonomi, dan politik yang tidak kondusif dapat menjadi
biang keladi dari kegagalan kinerja implementasi kebijakan. Karena itu, upaya
untuk
mengimplementasikan
kebijakan
harus
pula
memperhatikan
kekondusifan kondisi lingkungan eksternal.
C. Model Implementasi menurut G. Shabbir Cheema dan Dennis A.
Rondinelli
Berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan
suatu program, Subarsono dalam bukunya yang berjudul Analisis Kebijakan
Publik (Konsep, Teori dan Aplikasi), mengutip pendapat G. Shabbir Cheema
dan Dennis A. Rondinelli mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi implementasi kebijakan program- program pemerintah yang
bersifat desentralistis. Faktor-faktor tersebut diantaranya:
1. Kondisi lingkungan
Lingkungan sangat mempengaruhi implementasi kebijakan, yang dimaksud
lingkungan ini mencakup lingkungan sosio kultural serta keterlibatan penerima
program.
42
2. Hubungan antar organisasi
Dalam banyak program, implementasi sebuah program perlu dukungan dan
koordinasi dengan instansi lain. Untuk itu diperlukan koordinasi dan kerjasama
antar instansi bagi keberhasilan suatu program.
3. Sumberdaya organisasi untuk implementasi
Program Implementasi kebijakan perlu didukung sumberdaya baik
sumberdaya manusia (human resources) maupun sumberdaya non-manusia
(non human resources).
4. Karakteristik dan kemampuan agen pelaksana
Yang dimaksud karakteristik dan kemampuan agen pelaksana adalah
mencakup struktur birokrasi, norma-norma, dan pola-pola hubungan yang
terjadi dalam birokrasi, yang semuanya itu akan mempengaruhi implementasi
suatu program. Cheema dan Rondinelli (dalam Subarsono, 2005:101).
Berdasarkan faktor-faktor diatas, yaitu kondisi lingkungan, hubungan antar
organisasi, sumberdaya organisasi untuk implementasiprogram, karakteristik dan
kemampuan agen pelaksana merupakan hal penting dalam mempengaruhi suatu
implementasi program. Faktor –faktor tersebut akan menghasilkan kinerja dan
dampak suatu program yaitu sejauh mana suatu program dapat mencapai sasaran
yang
telah
ditetapkan,
mengetahui
bagaimana
perubahan
kemampuan
administratif pada organisasi lokal, serta berbagai keluaran dan hasil yang lain.
43
d. Model Implementasi Ripley dan Franklin
Di dalam bukuya yang berjudul Policy Implementation and Bureaucracy
dalam Yustianus ( 2008: 19), Ripley dan Franklin menyatakan:
“the nation of success in implementation has no single widely
accepted definition. Different analists and different actors have very
different meanings in mind when they talk about or think about
successful implementation. There are three dominant ways of
thingking about successful implementation”
Dari pengertian di atas, dapat kita pahami bahwa tidak ada definisi yang
sama yang dapat diterima secara luas tentang bagaimana
melaksanakan
implementasi kebijakan yang baik. Aktor pelaku kebijakan (implementor) yang
berbeda dengan analisa yang berbeda memberikan arti yang berbeda pula
tentang faktor yang mempengaruhi berhasilnya suatu implementasi kebijakan
dilaksanakan.
Menurut Ripley dan Franklin (dalam Alfatih 2010:51-52) ada tiga cara
yang dominan bagi suksesnya implementasi kebijakan, yaitu:
1. Tingkat kepatuhan pada ketentuan yang berlaku (the degree of
compliance on the statute), tingkat keberhasilan implementasi kebijakan
dapat diukur dengan melihat tingkat kepatuhan terhadap isi kebijakan
dengan mandat yang telah diatur.
2. Lancarnya pelaksanaan rutinitas fungsi, (smoothly functioning routine
and the absence of problem), keberhasilan implementasi kebijakan dapat
ditandai dengan lancarnya rutinitas fungsi dan tidak adanya masalah yang
dihadapi.
3. Terwujudnya kinerja dan dampak yang dikehendaki (the leading of the
desired performance and impact), bahwa dengan adanya kinerja dan
dampak yang baik merupakan wujud keberhasilan implementasi
kebijakan.
44
Ketiga perspektif tersebut digunakan untuk mengukur keberhasilan
implementasi kebijakan, sehingga menjadi lebih mudah untuk diidentifikasi.
Teori Ripley dan Franklin ingin menekankan tingkat kepatuhan para implementor
kebijakan terhadap isi kebijakan itu sendiri. Setelah ada kepatuhan terhadap
kebijakan yang ada, pada tahap selanjutnya melihat
kelancaran pelaksanaan
rutinitas fungsi, serta seberapa besar masalah yang dihadapi dalam implementasi.
Pada akhirnya setelah semua berjalan maka akan terwujud kinerja yang baik dan
tercapainya tujuan (dampak) yang diinginkan.
Pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut dapat dipakai untuk mengukur apakah
tugas pokok organisasi implementor tersebut telah berjalan dengan lancar atau
belum. Fungsi selanjutnya dapat untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada,
yang dapat menghambat lancarnya implementasi sebuah kebijakan.
2.1.6 Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Laut
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang
Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan laut bahwa pada hakikatnya
Pencemaran laut didefinisikan sebagai peristiwa masuknya partikel kimia, limbah
industri, pertanian dan perumahan, kebisingan, atau penyebaran organisme invasif
(asing) ke dalam laut, yang berpotensi memberi efek berbahaya. Sedangkan
perusakan laut adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung dan/atau
tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang melampaui kriteria
baku kerusakan laut. Hal ini berarti bahwa perlu ditetapkan kriteria baku
kerusakan laut yang berfungsi sebagai tolak ukur untuk menentukan tingkat
45
kerusakan laut. Selain itu juga sangat berguna bagi penentuan status mutu laut.
Dalam sebuah kasus pencemaran, banyak bahan kimia yang berbahaya berbentuk
partikel kecil yang kemudian diambil oleh plankton dan binatang dasar, yang
sebagian besar adalah pengurai ataupun filter feeder (menyaring air). Dengan cara
ini, racun yang terkonsentrasi dalam laut masuk ke dalam rantai makanan,
semakin panjang rantai yang terkontaminasi, kemungkinan semakin besar pula
kadar racun yang tersimpan. Pada banyak kasus lainnya, banyak dari partikel
kimiawi ini bereaksi dengan oksigen, menyebabkan perairan menjadi anoxic.
Sebagian besar sumber pencemaran laut berasal dari daratan, baik tertiup angin,
terhanyut maupun melalui tumpahan.
Pencemaran air tidak hanya menimbulkan dampak negatif terhadap
makhluk hidup, tetapi juga mengakibatkan ‘’gangguan’’ secara estetika, seperti air
yang mengandung minyak atau bahan lain yang mengapung. Bahan pencemar
yang masuk ke suatu perairan biasanya merupakan limbah suatu aktivitas. (Manik,
2009:146). Menurut sumbernya, limbah sebagai bahan pencemar air dibedakan
sebagai :
1. Limbah domestik (limbah rumah tangga, perkantoran, pasar
dan pusat perdagangan).
2. Limbah industri, pertambangan, dan transportasi
3. Limbah laboratorium dan rumah sakit
4. Limbah pertanian dan peternakan
5. Limbah pariwisata
46
2.1.7 Upaya Pengendalian Pencemaran di Perairan Laut
Secara keseluruhan, terdapat dua strategi dasar pencegahan pencemaran
lingkungan laut yang berasal dari daratan ( land – based ) maupun dari lautan
( sea – based ) yaitu:
1.Analisis dampak lingkungan/AMDAL (environmental impact
assessment), yang pada dasarnya merupakan proses dan prosedur untuk
menprediksi dampak ekologis dan sosial dari suatu proyek pembangunan
sehingga selanjutnya keputusan tentang alternatif proyek dan lokasi serta
pilihan desain proyek dapat dibuat.
2.Kajian bahan kimia berbahaya (chemical hazard assessment), yang
merupakan pendekatan yang digunakan dalam studi manufaktur dan
pengembangan bahan kimia beracun dan berbahaya ( seperti peptisida, dan
bahan kimia industri).
Strategi pengendalian pencemaran yaitu:
1. Pengendalian Kualitas Lingkungan Laut (marine environmental quality
controls) Standar kualitas lingkungan laut (marine environmental
quality standards) disusun berdasarkan batasan kualitas air, biodata dan
sedimen yang harus dijaga untuk suatu tingkat pemanfaatan tertentu.
2.Pengendalian emisi atau Sumber Pencemaran (Emission Suorces
Controls)
Penentuan standar emisi (effluent) pada suatu jenis kegiatan sebagai
sumber pencemaran umumnya didasarkan pada kemampuan atau
ketersediaan teknologi yang dapat digunanakan untuk mengurangi
emisi atau effluent kontaminan dari kegiatan tersebut.
3. Pengelolaan limbah (waste Management )
Metode pendekatan dalam pengelolaan limbah dapat bervariasi dari satu
jenis limbah dengan jenis limbah lainnya. Berbagai upaya pengelolaan
berbagai jenis limbah dapat diuraikan secara singkat berikut ini:
a. Limbah Padat (solid waste)
Limbah padat domestik atau perkotaan umumnya dibuang ke tempat
pembuangan terbuka (open dumping). Teknis penanganan yang umumnya
digunakan terhadap limbah padat tersebut adalah pembakaran terbuka
(open burning), meskipun teknik ini kurang direkomendasikan. Teknik
penanganan yang direkomendasikan adalah teknik sanitariy landfill,
inceneraor, serta pengomposan . Metoda pembuangan limbah padat yang
selama ini diterapkan adalah 80% dibuang ke landfill, 5% diincenerasi,
10% dikomposkan dan 5% dengan teknis lainnya.
47
b. Limbah Cair Domestik (Sewage)
Sistem pengolahan limbah cair domestik (sewage treatmen plant)
adalah teknik yang direkomendasikan bagi penanganan limbah cair
domestik meskipun di Indonesia teknik ini belum banyak diterapkan.
c. Limbah Industri (Industrial Waste)
Berbagai teknologi dan metoda penanganan limbah cair industri dapat
diterapkan baik secara biologis, kimiawi maupun fisis tergantung pada
jenis limbah yang ada. Kemampuan dan ketersediaan teknologi yang ada
dalam penanganan limbah cair industri, merupakan dasar dalam penentuan
standar baku mutu limbah cair industri yang telah ditetepkan selama ini.
d. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Hazardous Waste)
Pengelolalaan terhadap limbah B3 di Indonesia telah dilakukan dengan
didirikannya Pusat pengolahan limbah B3 di Cileungsi, Bogor, yang
dikelola oleh PT. PPLI dibawah pengawasan Bapedal. Pengolahan limbah
dilakukan dengan serangkaian teknik seperti stabilisasi dan landfiling.
Dalam konteks pencegahan, teknologi diarahkan untuk usaha mitigasi
pencemaran laut, pemilihan bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan dalam
proses industri, perencanaan manajemen lingkungan dengan pendekatan up-todate, pengembangan baku mutu lingkungan, penataan kelembagaan pengelolaan
lingkungan laut, dan pemberlakuan peraturan perundangan tentang perlindungan
dan pengelolaan lingkungan. Pengendalian pencemaran laut diarahkan untuk
memastikan adanya usaha pengendalian limbah-limbah yang dihasilkan oleh
proses produksi pada industri dan kegiatan domestik, sebelum akhirnya sisa
kegiatan atau limbah tersebut dibuang ke lingkungan laut secara aman.
Penanggulangan pencemaran dilakukan ketika kejadian pencemaran telah
terlanjur
terjadi
Penanggulangan
diarahkan
untuk
melokalisir
dampak
pencemaran, memindahkan bahan berbahaya ke tempat yang semestinya, dan
membersihkan polutan dari lokasi pencemaran. Metode penanggulangan fisik dan
kimia banyak digunakan, misalnya oil boom, oil skimmer, absorbent, dispersant,
48
dan pembakaran untuk penanggulangan tumpahan minyak di laut (Mukhtasor
2007:43).
2.1.8 Deskripsi Kebijakan
Secara umum Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 mengatur tentang
Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut dimaksudkan juga untuk
melaksanakan tujuan yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan
sebelumnya yang ada kaitannya dengan masalah lingkungan hidup serta
melaksanakan misi yang tercantum dalam konvensi internasional yang berkaitan
dengan hukum laut atau pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut.
Peraturan Pemerintah ini berkaitan sangat erat pula dengan pelaksanaan Peraturan
Pemerintah tentang Analisis
Mengenai
Dampak
Lingkungan, Peraturan
Pemerintah tentang Pengendalian Pencemaran Air, Peraturan Pemerintah tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun dan Peraturan Pemerintah
tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pengendalian Dampak Lingkungan ke
Daerah. Pengendalian Pencemaran dan/atau perusakan laut dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 merupakan kegiatan yang mencakup:
a. Inventarisasi kualitas laut dilakukan dengan mempertimbangkan
berbagai kriteria yang ada dalam pengendalian pencemaran dan/atau
perusakan laut.
b. Penetapan baku mutu air laut dan kriteria baku kerusakan laut yang
digunakan sebagai tolok ukur utama pengendalian pencemaran
dan/atau perusakan laut.
c. Pemantauan kualitas air laut dan pengukuran tingkat kerusakan laut
yang diikuti dengan pengumpulan hasil pemantauan yang dilakukan
oleh instansi lain, evaluasi dan analisis terhadap hasil yang diperoleh
serta pembuatan laporan.
49
d. Penetapan status mutu laut di suatu daerah.
e. Perencanaan dan pelaksanaan kebijakan pengendaliannya untuk
mempertahankan mutu laut agar tetap baik atau memperbaiki mutu
laut yang telah tercemar atau rusak.
f. Pengawasan terhadap penaatan peraturan pengendalian pencemaran
dan/atau perusakan laut termasuk penaataan mutu limbah yang
dibuang ke laut dan/atau penaataan terhadap kriteria baku kerusakan
laut serta penindakan, pemulihan dan penegakan hukumnya.
2.2
Penelitian Terdahulu
Sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian ini akan dicantumkan
beberapa hasil penelitian terdahulu oleh beberapa peneliti yang pernah penulis
baca diantaranya :
Penelitian yang dilakukan oleh Ferasari Budiawan dalam jurnal dengan
judul penelitian ‘’Analisis Implementasi program dan kegiatan pengelolaan
kawasan pesisir teluk Kendari’’. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi isuisu kawasan pesisir Teluk Kendari saat ini, menganalisis implementasi isu-isu
pokok kawasan pesisir Teluk Kendari melalui program secara komprehensif
dalam dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintah Kota Kendari,
serta menganalisis implementasi pengelolaan berdasarkan RPJMD (SKPD)
dengan kondisi yang berkembang saat ini. Penelitian tersebut menggunakan
Deskriptif Kualitatif dengan hasil penelitian menunjukan pendangkalan dan
pencemaran,
implementasi
program
dan
kegiatan
didalam
dokumen
Perencanaan Pembangunan telah mencakup program dan kegiatan penanganan
isu-isu pokok pada kawasan pesisir Teluk Kendari. Saran yang dianjurkan
peneliti adalah kegiatan pembuatan cek dam di daerah hulu harus segera
50
dilaksanakan dibarengi dengan upaya rehabilitasi daerah hilir dengan cakupan
yang luas secara rutin dan berkala.
Penelitian selanjutnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Meldi Yanto
Abu, Fakultas Hukum Universitas Mulawarman 2013. Penelitian berjudul
‘’Sinergitas Upaya penanggulangan pencemaran wilayah pesisir Berdasarkan
UU Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau kecil. (Studi kasus: di kelurahan Muara Sembilag Kec.Samboja
Kab.Kutai Kartanegara)’’. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui peran
pemerintah daerah kabupaten Kutai Kartanegara dan masyarakat dalam upaya
penanggulangan pencemaran wilayah pesisir kelurahan Muara Sembilang
Kecamatan
Samboja
Kabupatem
Kutai
Kartanegara.
Penelitian
ini
menggunakan metode Empiris yang mengacu pendekatan perundang-undangan
dan observasi. Hasil dari penelitian ini adalah masih banyaknya masyarakat
yang belum memiliki kesadaran dalam pengelolaan wilayah pesisir karena
minimnya tingkat pendidikan masyarakat sekitar yang mempengaruhi
kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir dan belum adanya peraturan yang
tegas dari Pemerintah Daerah. Saran yang dianjurkan peneliti adalah sebagai
pengatur kebijakan pemerintah daerah kabupaten kutai kartanegara harus
segera menyusun dan menerbitkan peraturan pemerintah tentang pengelolaan
wilayah pesisir.
Berdasarkan kedua penelitian terdahulu yang dijadikan acuan peneliti
dalam penelitian mengenai “Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19
Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut. (Studi
51
kasus : Laut Marunda Jakarta Utara)”, maka dapat digambarkan persamaan
serta perbedaan dalam penelitian yang akan peneliti lakukan. Persamaan
penelitian dalam hal ini adalah peneliti meneliti obyek yang sama dengan
penelitian-penelitian
sebelumnya,
yaitu
implementasi
pengendalian
pencemaran di laut. Dalam hal ini tujuan penelitian yang akan dilakukan
peneliti juga hampir sama dengan penelitian terdahulu yang dijadikan acuan
dalam penelitian ini, yaitu mengetahui bagaimana implementasi Pengendalian
Pencemaran dan/atau Perusakan Laut yang terjadi di sekitar pesisir pantai
dengan mengacu suatu peraturan pemerintah atau perundang-undangan.
Perbedaan yang akan dimunculkan peneliti dalam penelitian ini yaitu
dalam kedua penelitian terdahulu belum ditampilkan secara jelas peraturan
yang digunakan terhadap kondisi pencemaran serta pengendalian yang
dilakukan oleh pemerintah dan beberapa hal melakukan penelitian bagaimana
tingkat kepatuhan pada ketentuan yang berlaku, lancarnya pelaksanaan
rutinitas, sehingga terwujudnya kinerja dan dampak yang dikehendaki. Untuk
itu dengan melakukan penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
dalam pemecahan masalah terutama untuk Badan Pengelola Lingkungan Hidup
Daerah, Kantor Lingkungan Hidup, Suku dinas kelautan dan masyarakat untuk
menjadi tinjauan lebih lanjut tentang Pengendalian pencemaran mulai dari
pencegahan, penanggulangan serta pemulihan laut.
Adanya persamaan dan perbedaan yang terdapat dalam penelitian ini
dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya tentu akan membawa konsekuensi
pada hasil penelitian yang diperoleh. Untuk itu penelitian ini diharapkan untuk
52
menghasilkan gambaran tentang Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19
Tahun 1999 Tentang Pengendalian pencemaran dan/atau Perusakan laut di
Laut Marunda Jakarta Utara.
2.3 Kerangka Berpikir Penelitian
Kerangka berpikir penelitian adalah kerangka teori dan konsep yang
relevan dengan masalah yang diteliti, sehingga mencerminkan alur pemikiran
keseluruhan dari penelitian tersebut. Kerangka berpikir menggambarkan konsep
penelitian mengenai “Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999
Tentang Pengendalian Pencemaran laut dan/atau Perusakan Laut di Laut Marunda
Jakarta Utara”, yang ditujukan untuk menjawab rumusan masalah penelitian dan
mencapai tujuan dari penelitian yang akan dilakukan. Dalam penelitian ini,
peneliti menggunakan teori Implementasi Menurut Ripley dan Franklin ada tiga
cara yang dominan bagi suksesnya implementasi kebijakan, yaitu:
1. Tingkat kepatuhan pada ketentuan yang berlaku (the degree of
compliance on the statute), tingkat keberhasilan implementasi
kebijakan dapat diukur dengan melihat tingkat kepatuhan terhadap isi
kebijakan dengan mandat yang telah diatur.
2. Lancarnya pelaksanaan rutinitas fungsi, (smoothly functioning routine
and the absence of problem), keberhasilan implementasi kebijakan
dapat ditandai dengan lancarnya rutinitas fungsi dan tidak adanya
masalah yang dihadapi.
3. Terwujudnya kinerja dan dampak yang dikehendaki (the leading of the
desired performance and impact), bahwa dengan adanya kinerja dan
dampak yang baik merupakan wujud keberhasilan implementasi
kebijakan.
53
Teori itulah yang nantinya dijadikan acuan peneliti dalam mengumpulkan
data, sehingga data-data yang didapat akan mampu menjawab rumusan masalah
dan mencapai tujuan penelitian ini. Berikut adalah alur kerangka pemikiran terkait
penelitian mengenai “Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999
Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut di Marunda Jakarta
Utara”, sebagai berikut:
54
Gambar 2.2
Kerangka Berpikir Penelitian
Identifikasi Masalah
1. kurang optimalnya perencanaan dan pelaksanaan kebijakan pengendalian laut untuk mempertahankan
mutu laut.
2. kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh pihak yang berwenang
3. Lemahnya penegakan hukum atas pelanggaran yang menyebabkan pencemaran laut terus berulang.
4. Kurangnya sosialisasi kebijakan pengendalian pencemaran yang dilakukan kepada masyarakat.
Bagaimanakah Implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun
1999 tentang Pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut di lokasi penelitian kawasan
pesisir laut Marunda Jakarta Utara.
Menurut Ripley dan Franklin ada tiga cara yang dominan bagi suksesnya implementasi kebijakan, yaitu:
1. Tingkat kepatuhan pada ketentuan yang berlaku (the degree of compliance on the statute), tingkat keberhasilan
implementasi kebijakan dapat diukur dengan melihat tingkat kepatuhan terhadap isi kebijakan dengan mandat
yang telah diatur.
2. Lancarnya pelaksanaan rutinitas fungsi, (smoothly functioning routine and the absence of problem),
keberhasilan implementasi kebijakan dapat ditandai dengan lancarnya rutinitas fungsi dan tidak adanya masalah
yang dihadapi.
3. Terwujudnya kinerja dan dampak yang dikehendaki (the leading of the desired performance and impact),
bahwa dengan adanya kinerja dan dampak yang baik merupakan wujud keberhasilan implementasi kebijakan.
Untuk Mengetahui Implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1999 tentang
Pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut di lokasi penelitian kawasan pesisir laut Marunda Jakarta
Peneliti, 2014
Utara.
Sumber : Peneliti, 2015
55
2.4. Asumsi Dasar
Asumsi dasar dalam penelitian kualitatif adalah kesimpulan sementara yang
diambil berdasarkan atas pada saat observasi awal dengan kajian teoritis dan sifat
dari asumsi dasar ini adalah tidak untuk diuji kebenarannya. Maka peneliti
berasumsi “Implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19
Tahun 1999 Tentang Pengendalian pencemarn dan/atau perusakan laut di lokasi
Laut Marunda Jakarta Utara” dapat dikatakan belum optimal.
Asumsi peneliti terkait belum maksimalnya implementasi penerapan
program-program penanggulangan pencemaran laut serta pengawasan yang
dilakukan.Permasalahan
yang
muncul
kemudian
dikaji
dengan
cara
membandingkan dengan teori yang digunakan guna mengetahui apakah masalah
yang muncul benar-benar sebagai masalah yang sesuai dengan teori yang ada. Hal
inilah yang nantinya dijadikan sebagai bahan pengkajian untuk menemukan solusi
yang bersifat praktis sehingga dapat memberikan jalan yang terbaik bagi Kantor
Lingkungan Hidup kota Jakarta Utara dan Suku Dinas Peternakan,Perikanan dan
Kelautan Jakarta Utara dalam menerapkan dari mulai pencegahan sampai
penanggulangan pencemaran laut.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan Metode Penelitian
Metode penelitian menurut Soehartono (2004:9) adalah cara atau strategi
menyeluruh untuk menemukan data yang diperlukan. Hal ini sejalan dengan apa
yang diungkapkan oleh Suryabrata (2008:11) bahwa metode penelitian adalah
suatu proses yaitu suatu rangkaian langkah-langkah yang dilakukan secara
terencana dan sistematis guna mendapatkan pemeceahan masalah atau
mendapatkan
jawaban
terhadap
pertanyaan-pertanyaan
tertentu.
Dalam
penelitian mengenai ‘’Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut di Laut
Marunda Jakarta Utara.
Menurut Moleong (2007:6) Metode Penelitian Kualitatif adalah penelitian
yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh
subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dll, secara
holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada
suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode
ilmiah. Sedangkan menurut Lincoln dan Denzim (2009:2) menyebutkan bahwa
penelitian kualitatif mencakup penggunaan subjek yang dikaji dan kumpulan
berbagai data empiris, studi kasus, pengalaman pribadi, intropeksi, perjalanan
hidup, wawancara, teks-teks hasil pengamatan, historis, interaksional dan visual
yang menggambarkan saat-saat dan makna keseharian dan problematis dalam
kehidupan seseorang.
56
57
Dalam penelitian kualitatif data yang dikumpulkan adalah berupa katakata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal ini bertujuan untuk mengetahui lebih
dalam tentang bagaimana kenyataan sosial yang terjadi dalam penelitian
‘’Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang
Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut di Laut Marunda Jakarta
Utara.’’ Dengan demikian, laporan penelitian kan berisi kutipan-kutipan data
untuk memberi gambaran penyajian laporan penelitian.
3.2 Ruang Lingkup atau Fokus Penelitian
Ruang lingkup penelitian dibuat untuk membatasi penelitian yang sangat luas
ruang lingkupnya dilihat dari segi cakupan wilayah, rentang waktu, atau aspek
dan sektornya yang tidak mungkin diteliti secara keseluruhan karena beberapa
pertimbangan. Ruang lingkup dan batasan penelitian akan berpengaruh pada
penarikan kesimpulan. Ruang lingkup atau keterbatasan penelitian ini
mengungkapkan keterbatasan penelitian baik dari segi cakupan maupun dari segi
metodologis. Dengan itu maka diharapkan dapat memudahkan peneliti untuk lebih
fokus pada penelitian yang akan dilakukan yaitu mengenai “Implementasi
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran
dan/atau Perusakan Laut di Laut Marunda Jakarta Utara”.
Pembatasan ruang lingkup penelitian sendiri didasarkan pada penjabaran
yang terdapat pada latar belakang masalah yang mana dipaparkan secara ringkas
dalam identifikasi masalah. Adapun, ruang lingkup dalam penelitian ini adalah
mendeskripsikan fenomena terkait Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19
58
Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut di Laut
Marunda Jakarta Utara secara mendalam pada sasaran penelitian.
3.3 Lokasi Penelitian
Pemilihan lokasi harus didasarkan pada pertimbangan pertimbangan
kemenarikan, keunikan, dan kesesuaian dengan fokus penelitian yang dipilih.
Pemilihan lokasi ini, diharapkan menemukan hal-hal yang bermakna dan baru
atau sesuai dengan fenomena sosial atau peristiwa dalam penelitian. Jadi
mengemukakan lokasi penelitian adalah menyebutkan tempat penelitian misalnya
desa, komunitas atau lembaga tertentu dan menjelaskan alasan dipilihnya lokasi
tersebut.
Pesisir Laut Marunda dipilih sebagai lokasi penelitian didasarkan pada
permasalahan-permasalahan yang muncul sebagaimana yang telah dipaparkan
pada latar belakang masalah penelitian. Sebagai suatu pantai publik jika terjadi
pencemaran maka akan berakibat ke beberapa sektor, misalnya sektor
keaneragaman hayati, sektor perekonomian, sektor pariwisata dan lainnya. Semua
elemen dan stakeholder di tuntut untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Alasan lain yaitu masih banyak terdapat permasalahan-permasalahan
mengenai aspek pengendalian terhadap pencemaran dan kerusakan fungsi
lingkungan hidup yang meliputi pencegahan, penanggulangan dan pemulihan
yang tidak segera diselesaikan. Berdasarkan data yang peneliti dapat dari situs
(Beritajakarta.com) bahwa ada lima sentra nelayan yang pada wilayah laut jakarta
sudah tercemar termasuk Marunda, Cilincing, Muarabaru, Angke, dan Kapal
muara. Dan ada beberapa kategori pantai yang tak layak dikunjungi sesuai berita
59
yang dilansir (yahoo.com) dari 10 pantai diberbagai negara pantai Marunda
masuk dalam kategori pantai yang tak layak kunjung karena kontaminasi sampah
dan limbah. Hal tersebut yang membuat peneliti memilih lokasi penelitian di laut
Marunda sehingga dapat mengetahui bagaimana Implementasi Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau
Perusakan Laut di wilayah sentra nelayan tersebut karena jika terus dibiarkan akan
memberikan dampak yang signifikan kepada kehidupan para nelayan dan untuk
kelestraian lingkungan.
3.4 Variabel Penelitian/Fenomena yang diamati
Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk
apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh
informasi
tentang
hal
tersebut,
kemudian
ditarik
kesimpulannya.
(Sugiyono,2007:63)
3.4.1 Definisi Konsep
Definisi konseptual merupakan pemberian penjelasan tentang konsep dari
variabel yang akan diteliti menurut pendapat peneliti berdasarkan kerangka
pemikiran
teori
yang
digunakan.
Adapun
definisi
konsep
dari
judul
‘’Implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1999
Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut (Studi kasus wilayah
laut Marunda Jakarta Utara)’’ yaitu :
1. Peraturan Pemerintah (disingkat PP) adalah Peraturan Perundang-undangan di
Indonesia yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang
60
sebagaimana mestinya. Materi muatan Peraturan Pemerintah adalah materi untuk
menjalankan Undang-Undang. Di dalam UU No.12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan dinyatakan bahwa Peraturan
Pemerintah sebagai aturan organik daripada Undang-Undang menurut hirarkinya
tidak boleh tumpang tindih atau bertolak belakang. Peraturan Pemerintah
ditandatangani oleh Presiden.
2. Pengendalian Pencemaran. Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya
atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lainnya
kedalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun
sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tersebut tidak
dapat berfungsi sebagimana peruntukkannya (PP no.27 th 1997 UU lingkungan
hidup). Dalam Peraturan Pemerintah nomor 20 tahun 1990 tentang pengendalian
pencemaran air disebutkan bahwa ”Pengendalian adalah upaya pencegahan dan
atau penanggulangan dan atau pemulihan pada kondisi semula (pasal 1 ayat 3).
Purwono, (2002 :32) dalam bukunya mendefinisikan pengendalian lingkungan
adalah Setiap hal yang dilakukan atas kegiatan manusia baik secara perseorangan
maupun secara kelompok dalam kegiatan usaha memperoleh tatanan hidup
menjadi lebih baik perlu dilakukan pengendalian agar mampu menyeimbangkan
dengan lingkungan sekitarnya, baik pengendalian financial atau keuangan maupun
pengendalian secara struktural.
3. Laut kumpulan air asin dalam jumlah yang banyak dan luas yang menggenangi
dan membagi daratan atas benua atau pulau. Jadi laut adalah merupakan air yang
61
menutupi permukaan tanah yang sangat luas dan umumnya mengandung garam
dan berasa asin. Biasanya air mengalir yang ada di darat akan bermuara ke laut.
3.4.2 Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan penjabaran konsep atau variabel
penelitian dalam rincian yang terukur (indikator penelitian). Variabel penelitian
dilengkapi dengan tabel matriks variabel, indikator, sub indikator dan nomor
pertanyaan sebagai lampiran. Namun dalam penelitian kualitatif tidak perlu
dijabarkan menjadi indikator maupun sub indikator tetapi cukup menjabarkan
fenomena yang akan diamati. Adapun definisi operasional dari judul
‘’Implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1999
Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut. (Studi kasus
Wilayah Laut Marunda Jakarta Utara)’’ yaitu:
Keberhasilan dari Implementasi kebijakan dapat diukur melalui variabel-variabel.
Menurut Ripley dan Franklin (dalam Alfatih 2010:51-52) ada tiga cara yang
dominan bagi suksesnya implementasi kebijakan, yaitu:
1. Tingkat kepatuhan pada ketentuan yang berlaku (the degree of compliance on
the statute), tingkat keberhasilan implementasi kebijakan dapat diukur dengan
melihat tingkat kepatuhan terhadap isi kebijakan dengan mandat yang telah diatur.
2. Lancarnya pelaksanaan rutinitas fungsi, (smoothly functioning routine and the
absence of problem), keberhasilan implementasi kebijakan dapat ditandai dengan
lancarnya rutinitas fungsi dan tidak adanya masalah yang dihadapi.
62
3. Terwujudnya kinerja dan dampak yang dikehendaki (the leading of the desired
performance and impact), bahwa dengan adanya kinerja dan dampak yang baik
merupakan wujud keberhasilan implementasi kebijakan.
3.5 Instrumen Penelitian
Dalam penelitian mengenai Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19
Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut di Laut
Marunda Jakarta Utara yang menjadi instrumen utama penelitian adalah peneliti
sendiri. Menurut Moleong (2006:168) menyebutkan bahwa yang dilakukan
peneliti
dalam
penelitian
kualitatif
merupakan
perencana,
pelaksanaan,
pengumpulan data, dan pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya.
Peneliti sebagai key instrument juga harus “divalidasi” seberapa jauh
peneliti siap melakukan penelitian yang selanjutnya turun ke lapangan. Validasi
terhadap peneliti sebagai instrumen meliputi validasi terhadap pemahaman
metode penelitian kualitatif, penguasaan wawasan terhadap bidang yang diteliti,
kesiapan peneliti untuk memasuki objek penelitian, baik secara akademik maupun
logistiknya. Yang melakukan validasi adalah peneliti sendiri, melalui evaluasi diri
seberapa jauh pemahaman terhadap metode kualitatif, penguasaan teori dan
wawasan terhadap bidang yang diteliti, serta kesiapan dan bekal memasuki
lapangan. Peneliti kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan
fokus
penelitian,
memilih
informan
sebagai
sumber
data,
melakukan
pengumpulan data, analisis data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas
temuannya (Sugiyono 2011: 22).
63
Sebelum melakukan penelitian, peneliti harus mengetahui apa yang harus di
teliti dan data-data apa saja yang dibutuhkan dalam menyusun laporan penelitian.
Dalam penelitian ini peneliti melakukan penelitian di Kawasan Pesisir Laut
Marunda Cilincing Jakarta Utara dan kemudian untuk melengkapi data peneliti
mengambil data dari berbagai stakeholder yang berwenang. Menurut Bugin
(2003:129) teknik pengumpulan data adalah bagian instrumen pengumpulan data
yang menentukan keberhasilan suatu penelitian. Peneliti melakukan pengumpulan
data dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi.
1. Observasi
Secara luas observasi atau pengamatan berarti setiap kegiatan untuk
melakukan pengukuran. Akan tetapi, observasi atau pengamatan disini diartikan
lebih sempit, yaitu pengamatan dengan menggunakan indera penglihatan yang
berarti
tidak
mengajukan
pertanyaan-pertanyaan
(Soehartono
2004:69).
Pengamatan dapat diklasifikasikan atas pengamatan melalui cara berperan serta
dan tidak berperan serta. Pada pengamatan tanpa berperanserta pengamat hanya
melakukan satu fungsi, yaitu mengadakan pengamatan. Pengamatan dapat pula
dibagi atas pengamatan terbuka dan pengamatan tertutup. Yang terbuka atau
tertutup disini adalah pengamat dan latar penelitian. Pengamat secara terbuka
diketahui oleh subjek,sedangkan sebaliknya para subjek dengan sukarela
memberikan kesempatan kepada pengamat untuk mengamati peristiwa yang
terjadi dan mereka menyadari bahwa ada orang yang mengamati hal yang
dilakukan oleh mereka (Moleong 2007:176). Dalam penelitian ini, teknik
observasi/pengamatan
yang
digunakan
adalah
observasi
berperanserta
64
(observation participant). Pengamatan berperan serta dianggap cocok untuk
meneliti bagaimana manusia berperilaku dan memandang realita kehidupan
meraka dalam lingkungan mereka yang biasa, rutin, dan alamiah.
2. Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu
dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan
pertanyaan dan terwawancara (inteviewee) yang memberikan jawaban atas
pertanyaan itu. (Moleong 2007:186). Maksud mengadakan wawancara seperti
yang dimaksudkan oleh Lincoln dan Guba dalam Moleong adalah mengkontruksi
mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian
dan lain-lain kebulatan; merekontruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai
yang dialami masa lalu, memproyeksi kebulatan-kebulatan sebagai yang
diharapkan untuk dialami pada masa yang akan datang, memverifikasi,
mengubah, dan memperluas informasi yang diperoleh dari orang lain, baik
manusia maupun bukan manusia (triangulasi), dan memverifikasi, mengubah dan
memperluas kontruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekan
anggota.
Metode yang dilakukan dalam wawancara penelitian tentang ‘’Implementasi
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran
dan/atau Perusakan Laut di Laut Marunda Jakarta Utara’’ adalah dengan teknik
wawancara terstruktur yaitu wawancara yang pewawancaranya menetapkan
sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Pada wawancara
ini digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data
65
telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Dalam
prakteknya selain membawa instrumen sebagai pedoman wawancara, maka
pengumpul data juga dapat menggunakan alat bantu seperti tape recorder, gambar,
brosur, dan material lain yang dapat membantu dalam wawancara. (Sugiyono,
2007:138)
Penelitian tentang ‘’Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut: studi kasus di
Laut Marunda Jakarta Utara’’ menggunakan teori untuk mengukur keberhasilan
Implementasi menurut Ripley dan Franklin ada tiga indikator serta sub-sub
indikator yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
66
Tabel 3.4
Pedoman Wawancara Penelitian
No
1.
Indikator
Sub
Pertanyaan
Indikator
Tingkat
Perilaku
1.Apakah Implementor
Kepatuhan
Implementor sudah mematuhi prosedur
(Complience)
dan mekanisme pencegahan
hingga pemulihan mutu
laut?
2. Bagaimana bentuk
dukungan
masyarakat/LSM/pihak
industri dalam pencegahan
hingga pemulihan
pencemaran?
3.Bagaimana selama ini
perizinan dokumen izin
lingkungan dilakukan?
Pemahaman 1. Bagaimana kejelasan dan
Implementor konsistensi para pelaksana
terhadap
pada sasaran program?
kebijakan
2. Bagaimana pembinaan
pegawai di lingkungan
birokrasi?
Peran dari
pihak yang
berwenang
1.Bagaimana peran dari
pihak yang berwenang
dalam hal pengendalian
pencemaran laut?
2.Sejauhmana tingkat
partisipasi
masyarakat/LSM/Industri
dalam mematuhi kebijakan
tersebut?
3.Bagaimana pelaporan dan
Informan
Kantor Lingkungan
Hidup Jakarta Utara
Badan Pengelola
Lingkungan Hidup
Provinsi DKI Jakarta
Suku dinas
Peternakan,Perikana
n dan Kelautan
Jakarta Utara
LSM
(WALHI,KIARA)
Masyarakat nelayan
Industri
Kantor Lingkungan
Hidup Jakarta Utara
Badan Pengelola
Lingkungan Hidup
Provinsi DKI Jakarta
Suku dinas
Peternakan,Perikana
n dan Kelautan
Jakarta Utara
LSM
Masyarakat nelayan
Kantor Lingkungan
Hidup Jakarta Utara
Badan Pengelola
Lingkungan Hidup
Provinsi DKI Jakarta
Suku dinas
Peternakan,Perikana
n dan Kelautan
Jakarta Utara
LSM
Masyarakat nelayan
67
pertanggung jawaban
pelaksanaan tugas dan
fungsi?
Kantor Lingkungan
Hidup Jakarta Utara
Badan Pengelola
Lingkungan Hidup
Provinsi DKI Jakarta
Suku dinas
Peternakan,Perikana
n dan Kelautan
Jakarta Utara
68
Lancarnya
pelaksanaan
rutinitas
fungsi
Fungsi
koordinasi
dalam
penyusunan
program
1.Apakah koordinasi dan
sinkronisasi dengan instansi
terkait dalam melaksanakan
pengawasan dan
pengendalian di bidang
lingkungan kelautan sudah
berjalan efektif?
2.Bagaimana koordinasi
antar lembaga pemerintah
dengan pihak non
pemerintahan?
(LSM/Masyarakat/Industri)
Fungsi
Pelayanan
informasi
1.Apakah fungsi pengaduan
mengenai pencemaran
lingkungan sudah berjalan
secara efektif?
2.Bagaimana upaya
sosialisasi programkepada
masyarakat dalam hal untuk
meningkatkan partisipasi
masyarakat?
Kantor Lingkungan
Hidup Jakarta Utara
Badan Pengelola
Lingkungan Hidup
Provinsi DKI
Jakarta
Suku dinas
Peternakan,Perikana
n dan Kelautan
Jakarta Utara
Kantor Lingkungan
Hidup Jakarta Utara
Badan Pengelola
Lingkungan Hidup
Provinsi DKI
Jakarta
Suku dinas
Peternakan,Perikana
n dan Kelautan
Jakarta Utara
LSM
(WALHI,KIARA)
Masyarakat nelayan
Industri
Kantor Lingkungan
Hidup Jakarta Utara
Badan
Pengelola
Lingkungan Hidup
Provinsi
DKI
Jakarta
Suku
dinas
Peternakan,Perikana
n dan Kelautan
Jakarta Utara
LSM
(WALHI,KIARA)
Masyarakat nelayan
Kantor Lingkungan
Hidup Jakarta Utara
Badan Pengelola
Lingkungan Hidup
Provinsi DKI
Jakarta
Suku dinas
Peternakan,Perikana
n dan Kelautan
Jakarta Utara
LSM
(WALHI,KIARA)
Masyarakat nelayan
Fungsi
Regulasi
1.Apakah selama ini
kewenangan daerah dalam
rangka membuat regulasi
kebijakan terjadi disharmoni
atau terdapat tumpang
tindih kebijakan?
2.apa sajakah program
strategis yang dilakukan
dalam rangka pengendalian
pencemaran lingkungan?(air
laut)
Kantor Lingkungan
Hidup Jakarta Utara
Badan Pengelola
Lingkungan Hidup
Provinsi DKI
Jakarta
Suku dinas
Peternakan,Perikana
n dan Kelautan
Jakarta Utara
LSM
(WALHI,KIARA)
Kantor Lingkungan
Hidup Jakarta Utara
Badan Pengelola
Lingkungan Hidup
Provinsi DKI
Jakarta
Suku dinas
Peternakan,Perikana
n dan Kelautan
Jakarta Utara
Fungsi
Penegakan
Hukum
1.Bagaimana pelaksanaan
kebijakan penegakan hukum
lingkungan dalam hal ini
fasilitasi penyelesaian
sengketa lingkungan dan
Kantor Lingkungan
Hidup Jakarta Utara
Badan Pengelola
Lingkungan Hidup
berbagai tindakan
pencemaran?
3
Terwujudnya
kinerja
dampak yang
dikehendaki
Implementasi 1.Bagaimana proses
program
implementasi pengendalian
pencemaran laut dan/atau
perusakan laut dilakukan?
2.apa saja yang berhasil
dicapai dalam target
program?
3.Apakah visi-visi
Lingkungan Jakarta yang
berkelanjutan sudah
tercapai?
4.Apakah sejauh ini
masyarakat pesisir laut
marunda sudah merasakan
dampak kebijakan yang
menjadi tujuan yang
dikehendaki?
Provinsi DKI
Jakarta
Suku dinas
Peternakan,Perikana
n dan Kelautan
Jakarta Utara
LSM
(WALHI,KIARA)
Kantor Lingkungan
Hidup Jakarta Utara
Badan Pengelola
Lingkungan Hidup
Provinsi DKI
Jakarta
Suku dinas
Peternakan,Perikana
n dan Kelautan
Jakarta Utara
LSM
(WALHI,KIARA)
Masyarakat nelayan
Kantor Lingkungan
Hidup Jakarta Utara
Badan Pengelola
Lingkungan Hidup
Provinsi DKI
Jakarta
Kantor Lingkungan
Hidup Jakarta Utara
Badan Pengelola
Lingkungan Hidup
Provinsi DKI
Jakarta
Masyarakat Nelayan
Marunda
Faktor
penentu
keberhasilan
1.Apakah SDM menjadi
faktor keberhasilan
kebijakan tersebut?
2.Bagaimana alokasi
anggaran pengelolaan
lingkungan?
Hambatanhambatan
3.Apakah infrastruktur
sudah memadai dalam
mendukung kebijakan?
1.Apakah terdapat kendala
yang paling utama dalam
implementasi kebijakan?
2.Apakah selama ini sasaran
program atau SDM
menentang kebijakan?
3.Apakah upaya Rehabilitas
lingkungan berjalan secara
Optimal?
Kantor Lingkungan
Hidup Jakarta Utara
Badan Pengelola
Lingkungan Hidup
Provinsi DKI
Jakarta
Suku dinas
Peternakan,Perikana
n dan Kelautan
Jakarta Utara
Kantor Lingkungan
Hidup Jakarta Utara
Badan Pengelola
Lingkungan Hidup
Provinsi DKI
Jakarta
Suku Dinas
Peternakan,Perikana
n dan Kelautan
Jakarta Utara
LSM
(WALHI,KIARA)
Sumber : Peneliti,2015
3. Studi Dokumentasi
Penggunaan dokumen ini berkaitan dengan apa yang disebut analisa isi.
Cara menganalisa isi dokumen ialah dengan memeriksa dokumen secara
sistematik bentuk-bentuk komunikasi yang dituangkan secara tertulis dalam
bentuk dokumen secara obyektif. Kajian isi atau content analysis document ini
didefinisikan oleh Berelson yang dikutip Guba dan Lincoln, sebagai teknik
penelitian untuk keperluan mendeskripsikan secara objektif, sistematis dan
kuantitatif tentang manifestasi komunikasi. Sedangkan Weber menyatakan
bahwa kajian isi adalah metodologi penelitian yang memanfaatkan seperangkat
prosedur untuk menarik kesimpulan yang sahih dari sebuah buku atau dokumen.
72
Definisi lain dikemukakan Holsti, bahwa kajian isi adalah teknik apapun yang
digunakan untuk menarik kesimpulan melalui usaha menemukan karakteristik
pesan, dan dilakukan secara objektif, dan sistematis (Moleong 2007:220).
Data dalam penelitian ini adalah berupa dokumen peraturan-peraturan,
struktur organisasi, tupoksi dan data-data lain yang menunjang dalam penelitian
tentang pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut.
3.6 Informan Penelitian
Informan adalah objek penting dalam sebuah penelitian. Informan adalah
orang-orang dalam latar penelitian yang dimanfaatkan untuk memberikan
informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Oleh sebab itu kita sangat
membutuhkan
Informan,tanpa
seorang
Informan
kita
tidak
mungkin
mendapatkan hasil atau inti dari sebuah penelitian. Informan juga harus
berbentuk adjective, itu dikarenakan akan mempengaruhi valid atau tidaknya
data yang kita teliti, dan hal itu pun mempengaruhi ke absahan data yang kita
teliti. Informan dipilih secara purposive (dengan memiliki kriteria inklusi) dan
key person. Key person ini digunakan apabila peneliti sudah memahami
informasi awal tentang objek penelitian maupun informan penelitian, sehingga
membutuhkan key person untuk melakukan wawancara mendalam.
73
Tabel 3.6
Deskripsi Informan Penelitian
Kode
Informan
I1
Informan
Status Informan
Kantor Lingkungan Hidup
Jakarta Utara
Key Informan
I2
Suku
dinas
Peternakan, Secondary Informan
Perikanan dan Kelautan Jakarta
Utara
WALHI (Wahana Lingkungan
Key Informan
I3
I4
Hidup)
Kemangteers Jakarta (Kesemat
Mangrove Valounteer)
Key Informan
I5
KIARA (Koalisi Rakyat Peduli
Perikanan)
Key Informan
I6-10
Nelayan
Key Informan
I11
PT.Asianagro Agungjaya
Secondary informan
I12
PT. Orson Indonesia
Secondary informan
I13
PT. Dua Kuda Indonesia
Secondary informan
3.7 Teknik Pengolahan dan Analisis Data
3.7.1. Teknik Pengolahan Data
Analisis data kualitatif menurut Bogdan dan Biklen dalam Moleong
(2007:248) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,
mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola,
mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting
dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada
74
orang lain. Di pihak lain, Analisis Data Kualitatif menurut Seidel dalam Moleong
(2007:248) prosesnya berjalan sebagai berikut:
1. Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dengan hal itu diberi
kode agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri.
2. Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, mensintesiskan,
membuat ikhtisar, dan membuat indeksnya.
3. Berpikir dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai
makna, mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan dan
membuat temuan-temuan umum.
Sedangkan Irawan mendefinisikan teknik analisis data kualitatif sebagai
kegiatan analisis yang dilakukan terhadap data-data non angka seperti wawancara,
catatan laporan, buku-buku, artikel, juga termasuk non tulisan seperti foto,
gambar, atau film (2006:19). Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan
sejak seorang peneliti memasuki lapangan, selama dilapangan dan setelah selesai
dilapangan berbagai macam analisis data kualitatif, salah satunya yang akan
peneliti gambarkan dalam penelitian ini yakni analisis data kualitatif yang
dikemukakan oleh Prasetya Irawan. Seperti yang digambarkan berikut ini :
Gambar 3.7 Proses Analisis Data
Pengumpulan data
mentah
Transkrip data
Penyimpulan akhir
Pembuatan koding
Triangulasi
(Sumber: Irawan,2006:42)
Kategorisasi
data
Penyimpulan
sementara
75
Adapun Penjelasan dari proses analisis data di atas adalah sebagai berikut :
1. Pengumpulan data mentah
Tahap pertama yang dilakukan oleh peneliti adalah mengumpulkan data
mentah. Hal ini diperoleh melalui wawancara, observasi ke lapangan,
kajian pustaka.
2. Transkrip data
Pada tahap ini peneliti mulai merubah data yang diperoleh (baik dari hasil
rekaman saat wawancara, hasil observasi maupun catatan lapangan yang
sebelumnya tersusun rapih) ke dalam bentuk tertulis.
3. Pembuatan koding
Pada tahap ketiga, peneliti membaca secara teliti transkrip data yang telah
dibuat sebelumnya, kemudian memahami secara seksama sehingga
menemukan kata kunci yang akan diberi kode. Hal ini dilakukan untuk
mempermudah peneliti pada saat akan mengkategorisasikan data.
4. Kategorisasi data
Pada tahap keempat peneliti mulai menyederhanakan data dengan
membuat kategori-kategori tertentu.
5. Penyimpulan sementara
Pada tahap ini peneliti mengambil kesimpulan sementara dari data yang
telah dikategorikan sebelumnya.
6. Triangulasi
Triangulasi adalah proses check and recheck antara satu sumber dengan
sumber data lainnya.
76
7. Penyimpulan akhir
Pada tahap terakhir, peneliti melakukan penyimpulan akhir atas hasil
penelitian. Dimana pada tahap ini peneliti dapat mengembangkan teori
baru, maupun mengembangkan teori yang sudah ada.
3.7.2
Uji Keabsahan Data
Uji keabsahan data melalui Triangulasi dan membercheck. Triangulasi yaitu
teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik
pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Secara sederhana triangulasi
merupakan proses membandingkan data-data yang telah didapat melalui metode
pengupulan data. Bahkan dapat pula membandingkan data yang ditemukan oleh
peneliti dengan data yang ditemukan oleh peneliti lain yang meneliti tema yang
sama. Tujuan trianulasi untuk menguji validitas data serta meningkatkan
pemahaman peneliti terhadap apa yang telah ditemukan. (Sugiyono,2007:32)
Penelitian mengenai “Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan laut”, menggunakan
dua teknik triangulasi pendekatan untuk menguji keabsahan data yang peneliti
dapatkan dari hasil penelitian lapangan. Berikut adalah teknik triangulasi
pendekatan yang digunakan peneliti, yang diantaranya:
a. Triangulasi sumber, dapat dilakukan dengan mengecek data yang sudah
diperoleh dari berbagai sumber. Data dari berbagai sumber tersebut
kemudian dipilah dan dipilih dan disajikan dalam bentuk tabel matriks.
77
Data dari sumber yang berbeda dideskripsikan, dikategorisasikan, mana
pandangan yang sama, berbeda dan mana yang lebih spesifik.
b. Triangulasi teknik, dapat dilakukan dengan melakukan cek data dari
berbagai
macam
menggunakan
teknik
teknik
pengumpulan
wawancara
data.
mendalam,
Misalnya
dengan
observasi,
dan
dokumentasi. Data dari ketiga teknik tersebut dibandingkan, adakah
konsistensi. Jika berbeda, maka dapat dijadikan catatan dan dilakukan
pengecekkan selanjutnya mengapa data bisa berbeda (Fuad dan
Nugroho, 2014: 19-20).
Berdasarkan pemaparan diatas, dalam menguji keabsahan data, peneliti
menggunakan dua teknik triangulasi pendekatan. Dengan menggunakan teknik
triangulasi sumber, peneliti memperoleh data dari kategori yang berbeda, yaitu
dari sudut pandang pemerintah, LSM dan masyarakat. Sedangkan, teknik
triangulasi teknik, peneliti melakukan cek data dari berbagai sumber, yaitu
wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hal ini dijadikan dasar oleh
peneliti, untuk mengetahui apakah data yang didapatkan terdapat perbedaan atau
tidak. Dan jika terdapat perbedaan, maka selanjutnya peneliti dapat melakukan
pengecekkan ulang di lapangan, mengapa data yang diterima berbeda, dan
digunakan sebagai catatan penelitian.
3.8 Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian terhitung persiapan, pelaksanaan dan pelaporan hasil
penelitian. Waktu penelitian diuraikan dalam waktu bulan dan disajikan dalam
bentuk tabel. Berikut adalah rincian jadwal peneliti
78
Tabel 3.8
Jadwal Penelitian
No.
Waktu
Uraian
Kegiatan
Sep
Okt
Nov
Des
Jan
Feb
Mar April Mei
2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Pengajuan
judul
Pre LinearResearch
Bab I
Pendahuluan
Bab II
Deskripsi
Teori
Bab III
Metode
Penelitian
Sidang
Proposal
Penelitian
Pengumpulan
data
Pengolahan
dan analis
data
Bab IV
Pembahasan
Bab V Hasil
Penelitian
Sidang hasil
penelitian
Sumber : Peneliti, 2015
Juni
Sept
2015 2015 2015
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Objek Penelitian
4.1.1 Profil Wilayah Kota Administrasi Jakarta Utara
Wilayah daratan Jakarta Utara saat ini mencapai luas 154,11 km2. Jakarta
Utara membentang dari barat ke timur sepanjang kurang lebih 35 km, menjorok
ke darat antara 4-10 km. Ketinggian dari permukaan laut antara 0-2 m, di tempat
tertentu ada yang berada dibawah permukaan laut yang sebagian besar terdiri dari
rawa-rawa/ empang air payau. Wilayah kotamadya Jakarta Utara merupakan
pantai beriklim panas, dengan suhu rata-rata 28,60 C pada tahun 2012, curah hujan
setiap tahun rata-rata 127,3 mm3. Kondisi wilayah merupakan daerah pantai dan
tempat bermuaranya 13 sungai. (BPS Kota Administrasi Jakarta Utara 2014)
Sesuai dengan pembagian Kotamadya, maka Wilayah Jakarta Utara
mempunyai batas pemisah dengan Kotamadya lainya, sebagai berikut:
Wilayah Kotamadya Jakarta Utara dibatasi dengan batas sebagai berikut : Sebelah
Utara : Laut Jawa Koordinat 1060 29-00 BT 150 10-00 LS 1060 07-00 BT 050
10-00 LS Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kotamadya Jakarta Pusat dan
Kotamadya Jakarta Timur. Sebelah Barat : Berbatasan dengan. Berbatasan dengan
wilayah Kotamadya Jakarta
Barat dan Kabupaten Tangerang Provinsi
Banten.Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kotamadya Jakarta Timur dan
Kabupaten Administratif Bekasi Provinsi Jawa Barat. (Buku Saku Profil Kota
Administrasi Jakarta Utara
79
Gambar 4.1
Peta Administrasi Kota Jakarta Utara
Sumber : BPS kota Administrasi Jakarta Utara (2014)
Grafik 4.1
Sumber : BPS Jakarta Utara
81
Pada grafik 4.1 jumlah penduduk Jakarta Utara pada tahun 2010 1.653.178
jiwa kemudian pada tahun 2011 mengalami kenaikan yaitu pada angka
1.672.882 jiwa dan pada tahun 2012 jumlah penduduk naik menjadi 1.692.338
jiwa disusul pada tahun 2013 yang juga mengalami kenaikan pada angka
1.711.036 jiwa dan terakhir pada tahun 2014 terus mengalami peningkatan
jumlah penduduk menjadi 1.729.444 jiwa. Jumlah penduduk yang terus
meningkat ini perlu dicermati karena dapat menimbulkan berbagai bidang.
Masalah yang berkaitan erat dengan jumlah penduduk yang tinggi antara lain
pemukiman, kesehatan, dan lingkungan.
4.1.2 Potensi Kota Administrasi Jakarta Utara
Jakarta Utara sebagai bagian dari wilayah Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta mempunyai potensi bidang peternakan perikanan dan kelautan.
Sebagai informasi jumlah nelayan Jakarta Utara tahun 2013 adalah sebanyak
24.028 orang tersebar di wilayah pesisir kelurahan Kamal Muara, Kelurahan
Pluit, Kelurahan Pademangan, Kelurahan Tanjung Priok, Kelurahan Lagoa,
Kelurahan Kalibaru, Kelurahan Cilincing dan Kelurahan Marunda. Selain
nelayan tersebut, juga terdapat pengolah, pedagang ikan, pembudidaya ikan
hias, konsumsi maupun pelaku ekonomi di sektor perikanan banyak terdapat
di Kotamadya Jakarta Utara.(Buku Saku Suku Dinas Peternakan,Perikanan
dan Kelautan Jakarta Utara 2013:2)
Sektor peternakan banyak pembudidaya ternak seperti pembudidaya itik,
ayam buras, burung puyuh, perkutut, serta olahan hasil ternak banyak tersebar
di Jakarta Utara disamping sektor perikanan dan peternakan juga banyak
kelompok masyarakat yang tinggal di Jakarta Utara belum mengetahui potensi
peternakan perikanan dan kelautan seperti para pelajar para santri maupun
masyarakat lainnya.
Untuk memudahkan dalam pembinaan maupun operasional bagi para
petani nelayan maupun peternak perlu adanya organisasi atau kelompok
sejenis yang bisa menjembatani antara pelaku ekonomi tersebut dengan pihakpihak yang terkait maupun organisasi/kelompok maka perlu dilakukan
pembinaan yang berkelanjutan.
Visi dan Misi Kota Jakarta Utara
VISI : “Mewujudkan Kota Jakarta Utara Menjadi Kota yg Bersaing di Era
Pasar Bebas”
MISI :
Pembenahan dan Penataan Infrastruktur
Peningkatan Daya Saing Usaha Kecil Menengah
Pembangunan Kota menuju kota Smart City
Pengembangan Kawasan PelabuhanVisi dan Misi Kota Administrasi
Jakarta Utara.
83
4.1.3 Profil Wilayah Kecamatan Cilincing
Wilayah Kecamatan Cilincing Kota Administrasi Jakarta Utara sesuai
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1974 Tentang Perubahan wilayah,
bahwa Desa Pusaka Rakyat masuk ke Kelurahan Sukapura Kecamatan Cilincing
Jakarta Utara wilayah Pemerintahan daerah DKI Jakarta dan sesuai dengan SK
Gubernur Provinsi DKI Jakarta nomor 1251 tahun 1986 tanggal 19 Juli 1986
tentang Pemecahan, Penyatuan batas, Perubahan Nama yang sama/kembar dan
Penerapan luas wilayah DKI Jakarta, maka Kecamatan Cilincing yang semula
terdiri dari 5 kelurahan berubah menjadi 7 kelurahan setelah ada 2 kelurahan yang
dimekarkan yaitu Kelurahan Semper dipecah/dimekarkan menjadi Kelurahan
Semper Barat dan Semper Timur, serta Kelurahan Sukapura dan Kelurahan
Rorotan, sehingga Kecamatan Cilincing mempunyai 7 Kelurahan. Adapun luas
wilayah Kecamatan Cilincing Jakarta Utara setelah pemekaran wilayah menjadi
3.969.960 Ha. Kecamatan Cilincing terdiri dari 87 RW dan 1017 RT dengan
paling padat berada di wilayah kelurahan Semper Barat. (Kecamatan
Cilincing,2011)
Kecamatan Cilincing merupakan salah satu Kecamatan yang berada di
Wilayah Kota Administrasi Jakarta Utara, dengan batas - batas sebagai berikut
Sebelah Timur berbatasan dengan Wilayah Kecamatan TarumaJaya Kabupaten
Bekasi Jawa Barat Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa 60.6 LS dan 116.2
BT Sebelah Barat berbatasan dengan Wilayah Kecamatan Koja Sebelah Selatan
berbatasan dengan Wilayah Kecamatan Cakung Kota Administrasi Jakarta Timur.
(BPS Kota Administrasi Jakarta Utara)
Gambar 4.3
Peta wilayah Cilincing Jakarta Utara
Sumber: Google Maps.Cilincing Jakarta Utara.com
Masyarakat Kecamatan Cilincing cukup heterogen, terdiri dari berbagai
Suku Bangsa antara lain Betawi, Sulawesi, Jawa Barat, Madura dan sebagainya
terlebih di Daerah Industri KBN banyak datangi tenaga kerja dari luar Jakarta
bahkan dari luar Pulau Jawa. Interaksi masyarakat cukup berjalan harmonis
walupun dengan latar belakang budaya yang berbeda. Kecamatan Cilincing
menjadi Tujuan Wisata dan daerah Industri seperti Rumah Si Pitung dan Masjid
Al-A’lam bersejarah dipinggiran pantai Marunda Pulo, yang merupakan bagian
rencana pembangunan Pantai Publik dan Gedung Pusat Kesenian Betawi juga
merupakan salah satu jalur wisata pesisir, kemudian Rumah Abu Wan Lin Chie
merupakan seni budaya Budha dan juga dapat ditampilkan seni Barongsai dalam
setiap pentas seni Tionghoa. Gedung Penampungan mayat agama Hindu
(krematorium) dengan lahan yang masih sangat luas untuk memperkaya
kebudayaan dan wisata, Gereja Tugu yang merupakan salah satu jalur destinasi
87
wisata pesisir, pesta laut (Nadran) yang diadakan tiap tahun sebagai objek wisata
tahunan, Rencana Pantai Publik yang dikunjungi oleh wisatawan lokal dan luar
sebagai wisata pantai dan wisata kuliner pesisir dan menjadi pusat industri yaitu
di Kawasan Berikat Nusantara kemudian terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
di Kalibaru dan Cilincing yang menyokong kebutuhan ikan baik lokal maupun
internasional. (Kecamatan Cilincing, 2011)
Tabel 4.2
Kepadatan penduduk dan sex ratio menurut kecamatan tahun
2013
Luas (Km2)
%
Penjaringan
45,4057
30,96
Pademangan
11,9187
8,13
Tanjung Priok
22,5174
15,35
Koja
12,2544
8,36
Kelapa Gading
14,8670
10,14
Cilincing
39,6996
27,07
Kecamatan
Jakarta Utara
146,6628
100,00
Sumber : BPS Kota Administrasi Jakarta Utara (2013)
Berdasarkan pada Tabel 4.4 diatas
Kecamatan Penjaringan termasuk
salah satu kecamatan terpadat di Jakarta Utara. Tingkat kepadatan penduduk
sekitar 30,96 persen . Dari luas wilayah 45,4057 Km2, 90 hektar di antaranya
untuk industri dan sisanya untuk permukiman bagi 46.328 jiwa. (BPS
Kota Administrasi Jakarta Utara 2013
89
Tabel 4.3
Jumlah penduduk menurut kecamatan dan jenis kelamin tahun 2013
Kecamatan
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
Penjaringan
152.089
143.973
296.062
Pademangan
82.032
77.169
159.201
Tanjung Priok
200.493
191.388
391.881
Koja
162.995
154.382
317.377
63.387
64.426
127.813
197.503
190.742
388.245
Jakarta Utara
2012
858.499
869.518
822.080
818.961
1.680.579
1.688.479
2011
888.004
829.505
1.717.509
Kelapa Gading
Cilincing
2010
777.771
645.840
1.423.611
Sumber : BPS Kota Administrasi Jakarta Utara, 2013
Pada tabel 4.3 diatas menurut data jumlah penduduk tingkat kecamatan
tertinggi terletak di kecamatan Tanjung Priok yaitu sejumlah 391.881 jiwa
disusul oleh kecamatan Cilincing pada angka 388.245 jiwa kemudian pada
kecamatan Penjaringan sejumlah 296.062 jiwa dan Kelapa Gading terendah yaitu
127.813 jiwa. Jumlah penduduk mengalami penurunan pada tahun 2013 yaitu
dari 1.688.479 menjadi 1680.579. Jumlah penduduk yang tinggi di kecamatan
Cilincing memberi peluang terhadap berbagai permasalahan di sekitar lingkungan
yang memang berada di dekat laut Marunda Cilincing Jakarta Utara.
87
4.2 Deskripsi Data
4.2.1 Deskripsi Data dan Analisis Data Hasil Penelitian
Data yang akan disajikan dibawah ini merupakan data yang sudah melalui
proses reduksi. Deskripsi data menjelaskan hasil penelitian yang diolah dari data
mentah dengan menggunakan analisis yang relevan. Dalam penelitian ini
menggunakan teori model Implementasi Ripley dan Franklin (1986:11) yang
menyebutkan bahwa keberhasilan implementasi ditentukan dengan adanya
kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku, pelaksanaan rutinitas fungsi dan
dampak yang ingin dikehendaki. Mengingat bahwa jenis dan analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, maka dapat yang
diperoleh bersifat deskriptif yang berbentuk kata dan kalimat dari hasil
wawancara, observasi lapangan serta data atau hasil dokumentasi lainnya. Berikut
adalah daftar informan setelah observasi.
Tabel 4.4
Deskripsi Informan Penelitian Setelah Observasi
Kode
Informan
I1
I2
Keterangan Informan
Kategori Informan
Kantor Lingkungan Hidup
Key Informan
Jakarta Utara
(Sub.Bidang Pengawasan dan
Pengendalian Pencemaran
Lingkungan) dengan
Ibu MG Evy Sulistyowati
Suku
dinas
Peternakan, Key Informan
Perikanan dan Kelautan Jakarta
Utara.
(Seksi Perikanan dan Kelautan)
dengan Bpk.A.Choliq S.P Msi
I10
WALHI (Wahana Lingkungan
Hidup) DKI JAKARTA
Deputi WALHI dengan
Bpk.Zainal Muttaqin
KIARA (Koalisi Rakyat Peduli
Perikanan)
Koordinator Monitoring dan
Evaluasi KIARA dengan Ibu
Susan Herawati Romica
Nelayan
1. Bpk.Kubil (I6) sebagai
ketua nelayan Marunda
2. Bpk.Jumani (I7) sebagai
ketua nelayan Kalibaru
barat
3. Bpk.Suhajan (I8) sebagai
anggota nelayan
4. Bpk.Suparjo (I9) sebagai
anggota nelayan
PT.Asianagro Agungjaya
I11
PT. Orson Indonesia
112
PT. Dua Kuda Indonesia
I13
Badan Pengelola Lingkungan
Hidup Provinsi DKI Jakarta
Bidang Penegakan Hukum
Lingkungan.
Bpk.Arifudin Nur
I3
I4
I6-9
Key Informan
Key Informan
Key Informan
Secondary informan (Tidak
bersedia di wawancara karena
suatu hal)
Secondary informan (Bersedia
diwawancara)
Secondary Informan (Tidak
bersedia diwawancara karena
suatu hal)
Secondary informan
Berdasarkan teknik analisis data kualitatif mengikuti konsep model
Interaktif oleh Prasetya Irawan (2006:149), data-data tersebut dianalisis selama
penelitian berlangsung. Selama penelitian dilakukan dengan menggunakan tujuh
tahap penting, diantaranya pengumpulan data mentah, analisis data dimulai
dengan melakukan pengumpulan data mentah, misalnya dengan wawancara,
observasi lapangan, kajian pustaka. Pada tahap ini dibutuhkan alat-alat pendukung
89
seperti tape recorder, kamera dan lain-lain. Data yang dicatat adalah data apa
adanya (verbatim), tidak diperkenankan untuk mencampuradukan pikiran,
pendapat, maupun sikap dari peneliti itu sendiri. Transkrip data, pada tahap ini
catatan hasil wawancara dirubah kebentuk tertulis seperti apa adanya (verbatim)
bukan hasil pemikiran atau pendapat pribadi peneliti. Untuk mempermudah dalam
melakukan transkrip data maka peneliti menggunakan kode pada aspek tertentu :
1. Kode Q1.2.3 dan seterusnya menandakan daftar urutan pertanyaan
2. Kode I1.2.3 dan seterusnya menandakan daftar urutan informan.
Kemudian Pembuatan koding, pada tahap ini membaca ulang seluruh data
yang sudah ditranskrip dengan mengambil kata kuncinya, data kata kunci ini
kemudian diberi kode. Kategorisasi data, pada tahap ini peneliti mulai
‘’menyederhanakan’’ data dengan cara mengikat konsep-konsep (kata-kata) kunci
dala satu besaran yang dinamakan ‘kategori’. Penyimpulan sementara, membuat
penyimpulan sementara berdasarkan data yang ada tanpa memberi penafsiran dari
pikiran peneliti sendiri. Kesimpulan ini 100% harus berdasarkan data. Kemudian
triangulasi, temuan yang dihasilkan dicek ulang derajat keabsahannya dengan
menggunakan teknik triangulasi sumber dan teknik.
Teknik pengumpulan data dengan triangulasi data yaitu dengan
menggabungkan teknik pengumpulan data interview (wawancara), teknik
pengumpulan data melalui dokumentasi serta dilengkapi dengan catatan lapangan
yang kemudian diberi kode. Keabsahan yang digunakan yaitu membercheck dan
90
triangulasi. Triangulasi yang digunakan oleh peneliti yaitu triangulasi sumber dan
teknik.
Pembahasan dan analisis dalam penelitian ini merupakan suatu data dan
fakta yang peneliti dapatkan langsung dari lapangan serta disesuaikan dengan
teori yang peneliti gunakan yaitu teori implementasi model Ripley dan Franklin.
Menurut Ripley dan Franklin (dalam Alfatih 2010:51-52) ada tiga cara yang
dominan bagi suksesnya implementasi kebijakan, yaitu:
1. Tingkat kepatuhan pada ketentuan yang berlaku (the degree of
compliance on the statute), tingkat keberhasilan implementasi kebijakan
dapat diukur dengan melihat tingkat kepatuhan terhadap isi kebijakan
dengan mandat yang telah diatur.
2. Lancarnya pelaksanaan rutinitas fungsi, (smoothly functioning routine
and the absence of problem), keberhasilan implementasi kebijakan dapat
ditandai dengan lancarnya rutinitas fungsi dan tidak adanya masalah yang
dihadapi.
3. Terwujudnya kinerja dan dampak yang dikehendaki (the leading of the
desired performance and impact), bahwa dengan adanya kinerja dan
dampak yang baik merupakan wujud keberhasilan implementasi kebijakan.
91
4.2.1 Implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19
Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Dan/atau Perusakan Laut
(Studi kasus Wilayah Laut Marunda Jakarta Utara)
Sebagian besar wilayah Republik Indonesia berupa perairan laut yang
letaknya sangat strategis. Perairan laut Indonesia selain dimanfaatkan sebagai
sarana perhubungan laut lokal maupun internasional, juga memiliki sumber daya
laut yang sangat kaya dan penting, antara lain sumber daya perikanan, terumbu
karang, padang lamun, mangrove dan pada daerah pesisir dapat dimanfaatkan
sebagai obyek wisata yang menarik. Laut juga mempunyai arti penting bagi
kehidupan makhluk hidup seperti manusia, juga ikan, tumbuh-tumbuhan dan biota
laut lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa sektor kelautan mempunyai potensi
yang sangat besar untuk dapat ikut mendorong pembangunan di masa kini
maupun masa depan. Oleh karena itu, wilayah laut Marunda Jakarta Utara yang
merupakan salah satu potensi sumber daya alam, sangat perlu untuk dilindungi.
Hal ini berarti pemanfaatannya harus dilakukan dengan bijaksana dengan
memperhitungkan kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. Agar laut
dapat bermanfaat secara berkelanjutan dengan tingkat mutu yang diinginkan,
maka kegiatan pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut menjadi sangat
penting. Pengendalian pencemaran dan/atau perusakan ini merupakan salah satu
bagian dari kegiatan pengelolaan lingkungan hidup.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup juga menyebutkan hak setiap anggota masyarakat atas lingkungan hidup
yang baik dan sehat yang diikuti dengan kewajiban untuk memelihara dan
92
melestarikan fungsi lingkungan hidup, sehingga setiap orang mempunyai peran
yang jelas tentang hak dan kewajiban-nya didalam upaya pengenda1ian
pencemaran dan/atau perusakan laut.
Peraturan Pemerintah ini dimaksudkan juga untuk melaksanakan tujuan
yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan sebelumnya yang ada
kaitannya dengan masalah lingkungan hidup serta melaksanakan misi yang
tercantum dalam konvensi internasional yang berkaitan dengan hukum laut atau
pengenda1ian pencemaran dan/atau perusakan laut. Peraturan Pemerintah ini
berkaitan sangat erat pula dengan pelaksanaan Peraturan Pemerintah tentang
Analisis
Mengenai
Dampak
Lingkungan,
Peraturan Pemerintah
tentang
Pengendalian Pencemaran Air , Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan
Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun dan Peraturan Pemerintah tentang
Penyerahan Sebagian Urusan Pengendalian Dampak Lingkungan ke Daerah.
4.2.1 Tingkat Kepatuhan pada ketentuan yang berlaku
Kepatuhan menunjuk apakah implementor patuh terhadap prosedur dan
standar aturan yang ditetapkan. Dalam suatu kebijakan termasuk salah satunya
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran
dan/atau Perusakan Laut (Studi kasus wilayah laut Marunda Jakarta Utara) dalam
implementasinya membutuhkan beberapa hal yang mendukung keberhasilan dari
suatu kebijakan. Ada beberapa kriteria yang menggambarkan kondisi faktual dari
pelaksanaan kebijakan tersebut. Seperti sejauhmana tingkat kepatuhan semua
elemen pada prosedur yang ditetapkan oleh aturan tentang lingkungan hidup,
93
seperti bagaimana pemenuhan baku mutu laut, pedoman kerusakan mangrove,
serta tata cara perizinan pembuangan limbah ke laut. Kemudian untuk mengetahui
bagaimana yang terjadi dilapangan kita dapat melihat apakah rutinitas fungsi
berjalan lancar atau tidak serta apa kendalanya yang sesuai dengan dampak yang
dikehendaki
oleh
suatu
kebijakan.
Kepatuhan
implementor
dalam
hal
pengendalian pencemaran meliputi banyak sektor yang terlibat seperti pemerintah,
masyarakat, dan swasta (industri). Mekanisme pengendalian pencemaran yaitu
mulai dari pencegahan meliputi KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis),
Baku Mutu Lingkungan Hidup, Amdal, UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan)
/UPL (Upaya Pemantauan Lingkungan) dan lain sebagainya kemudian
penanggulangan sampai pemulihan.
Hasil wawancara dan observasi peneliti pada lokasi penelitian yaitu di
kawasan laut Marunda bahwa memang mekanisme dan aturan yang ada belum
sepenuhnya dipatuhi oleh seluruh yang terlibat seperti dalam wawancara ke
Subid.Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan di Kantor
lingkungan Hidup Jakarta menjelaskan bagaimana implementor belum semuanya
mematuhi aturan yang berlaku. I1 menyatakan bahwa :
‘’Selama ini implementor belum sepenuhnya mematuhi, tetapi tahun ini
Subid.Pengawasan
dan
Pengendalian
Pencemaran
Lingkungan
memfokuskan untuk melakukan pengawasan pada kawasan industri yaitu
dengan cara mengeluarkan Status Ketaatan Lingkungan. Dengan itu dapat
dilihat apakah industri taat atau tidak. Karena selama ini khusus di
kawasan Marunda permasalahannya itu tidak semua mempunyai IPAL,
padahal secara teknis harusnya yang menyediakan adalah pengelola
kawasan industri tersebut (KBN) bukan dari perusahaan masing-masing
karena mereka beranggapan sudah mengontrak dan pengelolaan limbah
dari pengelola kawasan. Ini yang menjadi ketidakjelasan aturan yang
selama ini tidak dipatuhi sehingga pencegahan juga tidak ditaati. (Rabu, 22
April 2015 pukul 11.02 wib)
94
Tingkat kepatuhan yang selama ini menjadi masalah tentang ketersediaan
IPAL khususnya di KBN Marunda harus diselesaikan sehingga prosedur
pencegahan pencemaran terlaksana dengan baik seperti yang diungkapkan oleh
Kantor Lingkungan Hidup yaitu:
‘’kita dari pemerintah akan melakukan upaya mediasi terhadap
permasalahan ini yaitu dengan mencarikan solusi antara si pengelola
kawasan dengan industri yang berada disitu. Memang waktu itu sudah
akan dilaksanakan mediasi tetapi gagal karena terkendala waktu tetapi
secepatnya kita akan melakukan upaya agar cepat terselesaikan dengan
baik. (wawancara dengan Subid.Pengawasan dan Pengendalian Dampak
Lingkungan Ibu MG Evy Sulistyawati S.Si pada tanggal 23 September
2015 pukul 15.32 wib)
Dengan hal tersebut menunjukan bahwa sejumlah pabrik dikawasan
industri tersebut juga tidak memenuhi prosedur atau persyaratan yang telah
tertuang dalam peraturan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang
pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut yang didalamnya mengatur
bahwa setiap penanggung jawab usaha/kegiatan yang membuang limbah harus
memenuhi baku mutu air laut, baku mutu limbah cair sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Hal tersebut dikatakan dalam wawancara peneliti kepada
pihak Kantor lingkungan Hidup menyatakan bahwa:
‘’Prosedur yang telah ditetapkan dalam mengendalikan pencemaran laut
melalui pemenuhan baku mutu, tata cara perizinan pembuangan limbah,
dan pengelolaan limbah’’ (wawancara dengan ibu MG Evy Sulistyawati
Ssi pada tanggal 23 September 2015 pukul 15.20 wib).
Dalam kondisi dilapangan yaitu pada Kawasan Industri yang terletak di
sekitar laut Marunda kenyataannya tidak semua memiliki IPAL (Instalasi
Pengolahan Air Limbah) sebagai sarana atau lokasi pembuangan limbah hampir
95
seluruh industri tersebut hanya memiliki dokumen lingkungan. Seperti yang
dikutip dari wawancara dengan Sub.bidang Pengawasan dan Pengendalian
Dampak Lingkungan bahwa perusahaan yang memiliki IPAL
serta tidak
memiliki kelayakan UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan) dan UPL (Upaya
Pemantauan Lingkungan) yang memadai, hal tersebut menunjukan bahwa
sejumlah sektor industri tidak patuh. Saat peneliti mengkonfirmasi kepada
beberapa industri di Kawasan berikat nusantara Marunda, PT.Orson Indonesia
bagian produksi dan pengelolaan limbah menyebutkan:
‘’Perusahaan hanya memiliki limbah domestik jadi hanya mengelola
limbahnya sederhana, tetapi perusahaan berusaha taat terhadap laporan
yang tiap enam bulan sekali itu, kita akan bersikap kooperatif terhadap
instansi yang berwenang. (Wawancara pada Rabu, 10 Juni 2015 pukul
14.30 wib).
Peneliti kemudian hendak melakukan wawancara kembali terkait
pengelolaan limbah industri di perusahaan pengolahan minyak nabati dan sabun
dengan hal ini mengirimkan surat izin penelitian tertanggal 07 April 2015 dan
pihak perusahaan mengkonfirmasikan tidak bersedia di wawancara dengan alasan
ada beberapa hal yang tidak bisa disampaikan atau diinformasikan. Kemudian
peneliti mengkonfirmasi mengenai beberapa hal yang ingin diketahui melalui
pihak pemerintah yang memiliki data perihal tersebut.
‘’Kalau untuk PT.Asianagro sih 2tahun yang lalu laporan lingkungannya
bagus karena merupakan salah satu perusahaan yang ikut proper dan
memang sudah memilki IPAL memang terkadang ada beberapa masalah
pada alat IPAL nya tersebut. Pembuangan limbah yang mereka lakukan
melalui IPAL tersebut. Tetapi memang masih banyak perusahaan yang
tidak memiliki IPAL yang baik’’ (wawancara dengan Subid.Pengawasan
dan Pengendalian Dampak Lingkungan Ibu MG Evy Sulistyawati S.Si
pada tanggal 23 September pukul 15.52 wib)
96
Dalam hal ini ketaatan yang tidak dipenuhi oleh oleh industri juga I1
Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Sub bidang Pengawasan dan
Pengendalian Pencemaran Lingkungan dalam wawancara mengungkapkan :
‘’Untuk yang tahun kemarin (2014) 24 perusahaan yang saya ambil sample
di wilayah Jakarta Utara hanya 2 yang taat ketika saya cek dilapangan
yang memenuhi baku mutu, yang sisa 22 ini saya kejar untuk
memberikan progress masuk dalam pembinaan satu, jika nanti bulan mei
(masuk dalam tahap pembinaan 2) tidak memberikan progress sudah
akan saya eksekusi langsung untuk sanksi.’’ (Rabu, tanggal 22 April
2017 pukul 10.45 wib)
Bentuk pengawasan yaitu melalui teguran surat yang ditujukan kepada
perusahaan yang berisi beberapa poin penting perbaikan baku mutu limbahnya
agar sesuai dengan aturan yang berlaku. Melalui bentuk surat tersebut perusahaan
dituntut melaporkan progress terhadap perbaikan kepada instansi pemerintah yang
berwenang. Pemerintah bukan hanya mengawasi perusahaan saja tetapi
melakukan identifikasi terhadap pencemaran yang terjadi melalui kegiatan
inventarisasi air laut.
Selain permasalahan tentang IPAL, sumber pencemaran juga dapat berasal
dari berbagai hal seperti limbah yang dibawa oleh sungai dan limbah masyarakat
sekitar. Berikut pernyataan dari kepala seksi perikanan dan kelautan Jakarta Utara:
‘’Kalau berbicara pencemaran disitu sebenarnya karena dari 13 sungai
yang bermuara ke Teluk Jakarta, pencemaran terjadi dari hulu sampe hilir.
Jika dilihat bagaimana implementornya kalau pencemaran dibawah
koordinasi Asisten kesejahteraan masyarakat yang disitu membawahi
suku-suku dinas seperti BPLHD, Perikanan dan Kelautan, Perhubungan
dan yang berhubungan dengan SDM Industri itu ketenagakerjaan. Kami
perikanan hanya melaporkan dampak negatif dari pencemaran yang
diterima oleh nelayan, walaupun aturan-aturan tersedia seperti aturan
larangan sampah, AMDAL, UKL/UPL tetapi pengawasan masih rendah
jadi selama ini masih terjadi pencemaran.’’ (Rabu,22 April 2015 pukul
12.32 wib).
97
Limbah domestik yang berasal dari masyarakat juga memberikan peluang
terhadap pencemaran yang terjadi di wilayah perairan laut Marunda kondisi ini
menurut I1 mengungkapkan dalam wawancaranya:
‘’Jika berbicara limbah yang mencemari perairan laut Marunda selama ini
jika dari masyarakat aturannya paling hanya UU No.3 Tahun 2013 tentang
sampah yaitu , dan untuk pengelolaan limbah domestik yang grey water
dan black water sudah ada yang dari masyarakat kan. Padahal sebenarnya
spitank itu kan sudah tidak boleh digunakan lagi, tetapi apakah masyarakat
sudah menaati, nyata nya belum. jadi selain kita menekan pihak industri
untuk mengolah limbahnya, domestik juga harus membuatkan pengolahan
limbah untuk komunal (dari masyarakat) itu yang belum ada IPAL
komunal, yang dari rumah tangga pun juga harus menaati. (wawancara
pada Rabu 22 April 2015 pukul 10.32 wib)
Kondisi tersebut menyebabkan dampak negatif yang dirasakan akibat tidak
mematuhi prosedur dalam pengendalian pencemaran laut terhadap lingkungan
sekitar seperti masyarakat nelayan. I6 yang berperan sebagai Ketua nelayan
Marunda mengungkapkan dalam wawancara yang dilakukan oleh peneliti yaitu:
‘’Aturan memang ada, dari mulai pencegahan pencemaran sampai
pemulihan, tetapi kenyataannya laut masih saja tercemar walaupun sering
ada pembinaan kelompok-kelompok nelayan tetapi outputnya belum ada
yang bisa dirasakan langsung manfaatnya sama kita.’’ (Bpk.Kubil Ketua
nelayan Marunda pada Minggu, 19 April 2015 pukul 16.13 wib)
Dampak dari pencemaran yang selama ini terjadi di laut Marunda Cilincing
membuat nelayan mengeluh dengan keadaan tersebut, karena jumlah tangkapan
ikan menurun.seperti yang diungkapkan oleh I7 dalam wawancaranya bahwa :
‘’Dengan misalnya laut tercemar selama ini aturan hanya aturan, tapi
dampak pencemarannya begitu kita rasakan untuk mendapatkan ikan kita
harus benar-benar ke tengah tetapi ikan yang kita dapatkan sedikit, dengan
ke tengah kan biaya solar nambah, makanya aturan apapun kita harap
segera dilakukan tindakan tegas kepada yang berwenang’’. (Wawancara
dengan Bpk.Jumani Minggu, 19 April 17.02 wib)
98
Dengan tidak dilaksanakan prosedur dan aturan yang berlaku maka akan
memperparah pencemaran yang terjadi sehingga berdampak ke lingkungan
sekitar, terutama para nelayan di sekitar Marunda Cilincing yang mengeluhkan
penurunan hasil tangkapan ikan. Senada yang diungkapkan oleh I2 selaku Kepala
Seksi Suku Dinas Peternakan,Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara yaitu untuk
status pencemaran yang terjadi dikawasan laut Marunda sudah berat dan
diambang batas, kita dari sisi perikanan adalah korban dari pencemaran tersebut
sehingga memang terjadi penurunan tangkapan hasil ikan.’’(Rabu, 22 April 2015
pukul 12.05 wib)
99
Tabel 4.5
Rekapan Data Produksi Ikan Tangkap Suku Dinas
Kelautan,Pertanian dan Ketahanan Pangan Jakarta Utara
REKAPAN DATA PRODUKSI IKAN TANGKAP
SUKU DINAS KELAUTAN, PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN KOTA
ADMINISTRASI JAKARTA UTARA TAHUN 2014
TRIWUL
AN
TRI
WULAN I
(JanuariMaret
2014
2
TRI
WULAN
II
(April-Juni
2014
3
TRI
WULAN
III
(JuliSeptember
2014
4
TRI
WULAN
IV
(OktoberDesember
2014
JUMLAH
TOTAL
KUB
Produ
ksi
(Kg)
Nilai
256.09
7
Jumlah Total
NON KUB
Produk
si
(Kg)
Nilai
Produk
si
(Kg)
Nilai
4.012.401.5
17
248.404
1.764.808.5
00
504.501
5.777.210.0
17
259.73
1
2.852.262.5
00
515.533
3.844.060.2
00
775.264
6.696.322.7
00
380.66
8
9.882.786.0
00
1.151.8
13
14.113.721.
100
1.532.4
81
23.996.507.
100
433.65
5
7.483.430.5
00
169.468
3.650.998.0
00
603.123
11.134.428.
500
1.330.1
51
24.230.880.
517
2.085.2
18
23.373.587.
800
3.415.3
69
47.604.468.
317
( Rp)
( Rp)
( Rp)
1
Sumber : Suku dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jakarta
Utara 2014
100
Dari tabel 4.8 tersebut dapat dilihat pada periode Triwulan III yaitu pada
bulan Juli hingga September mencapai angka 1.532.481 kg, dan ketika pada hasil
rekapan pada Triwulan IV yaitu sekitar bulan Oktober hingga Desember terjadi
penurunan yang drastis hingga mencapai 603.103 kg. Penurunan hasil tangkapan
ikan dikeluhkan oleh para nelayan.
Kepatuhan menjadi hal yang paling dibutuhkan dalam keberhasilan
implementasi kebijakan, sebagai organisasi yang konsen terhadap permasalahan
lingkungan Deputi WALHI Jakarta yakni Bpk.Zainal Muttaqin mengungkapkan
sejauhmana implementor sudah mematuhi aturan pengendalian pencemaran dari
pencegahan hingga pemulihan dalam wawancaranya sebagai berikut:
‘’Kalau di lihat dari IPAL yang sudah sesuai aturan yang dibuat, aturan
sudah jelas, tetapi jika melihat limbah yang masih tidak bagus kan
berarti ada masalah. Misalnya dari pengawasan yang kurang ketat,
kemudian IPAL yang dimainkan oleh industri sehingga faktanya limbah
tidak diurus secara baik dan dampaknya terhadap lingkungan, nelayan
juga.’’(Rabu, 29 April 2015 pukul 13.20 wib)
Pemerintah sebagai stakeholder pemangku kebijakan berwenang untuk
mengatur ataupun mengendalikan apa saja yang berkaitan dengan pengelolaan
lingkungan hidup di Indonesia, dalam hal ini Kantor Lingkungan Hidup Jakarta
Utara selaku stakeholder yang mempunyai tugas pencegahan hingga penegakan
hukumnya. Untuk mengimplementasikan maka pemerintah harus mewujudkan
tumbuhnya komitmen untuk meningkatkan kesadaran dan ketaatan terhadap
upaya-upaya pengendalian pencemaran lingkungan laut. Peran dari BPLHD
dalam hal ini sebagai stakeholder tingkat provinsi yang memegang komando
101
pengelola permasalahan lingkungan hidup wilayah DKI Jakarta, maka untuk
mengatasi pengendalian pencemaran laut, mempunyai tugas dalam pengawasan
seperti yang dikatakan oleh I13 selaku Bidang Penegakan Hukum Lingkungan
BPLHD Provinsi DKI Jakarta yaitu:
‘’Peran kita secara aktif dan pasif. Kalau aktif sudah pasti karena mereka
yang melapor dan kita nilai dari dokumennya sedangkan pasif biasanya
sesuai dengan prioritas misalnya yang laporannya terlalu jelek dan terlalu
bagus maka akan kita cek ke lapangan’’. (Senin, 27 April 2015 pukul
12.15 wib)
Maka disini peran pemerintah sangat diperlukan, seperti yang disebutkan
oleh I4 yaitu sebagai berikut :
‘’Peran mereka (pemerintah) biasanya hanya setelah terjadi dampak.
Kejelasan dan konsistensi juga belum ada i’tikad yang baik untuk
menjelaskan duduk permasalahan karena dinas itu biasanya hanya turun
secara programatis saja misalnya mereka tidak perhatian secara hal lain
dalam hal ini contohkan saja menanam mangrove, tidak memikirkan
maintanance nya jadi mereka hanya based programatic. (wawancara
dengan Ibu Susan Herawati Romica koordinator monitoring dan
evaluasi KIARA pada senin, 20 April 2015 pukul 14.02 wib)
Pada kesempatan lain peneliti juga menanyakan perihal yang sama dengan
pihak LSM yang selama ini konsen terhadap permasalahan lingkungan hidup di
daerah DKI Jakarta, informan menyebutkan ketidakpatuhan dari suatu kebijakan
juga tidak luput dari peran dari pihak yang berwenang, I3 mengungkapkan :
‘’Sejauh ini peran tidak terlihat dan cenderung tidak ada tindakan yang
berarti, harusnya kan minimal jika memang terjadi pelanggaran upaya
penyegelan harus dilakukan karena jika memang yang menyebabkan
pencemaran salah satunya aktivitas industri maka jika IPAL nya buruk
maka seharusnya aktivitas industri harus disegel sampe perusahaan
mengikuti prosedur yang benar, konsistensi dari para pelaksana
program tidak ada dan kita tidak pernah tahu apa yang terjadi
dilapangan. (Zaenal Muttaqim, Deputi WALHI Jakarta wawancara pada
Rabu, 29 April 2015 pukul 13.11 wib)
102
Dari beberapa hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti perihal
ketidakpatuhan meliputi bagaimana prosedur dijalankan dengan benar atau tidak,
yang terjadi dilapangan adalah ada beberapa hal seperti pihak industri yang diduga
mempunyai peluang terhadap pencemaran mereka sebagian tidak mengikuti
prosedur dengan benar seperti ada beberapa pihak industri yang tidak mempunyai
IPAL (instalasi pengelolaan limbah) kemudian ada beberapa industri yang tidak
taat tentang laporan pengelolaan limbahnya kepada instansi terkait dalam hal ini
BPLHD atau Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara, kemudian kepatuhan
dalam hal ini peran dari instansi yang berwenang dari beberapa wawancara yang
dilakukan oleh peneliti bahwa pihak nelayan dan LSM menyatakan bahwa
pemerintah yang berwenang tidak optimal dalam pelaksanaan tupoksinya, hal ini
ditandai dari peran dari mereka tidak terlihat dan tidak adanya tindakan yang
berarti yang mengatasi pencemaran laut selama ini.
Belum maksimalnya peran dari pihak pemerintah, keberhasilan kebijakan
pengendalian pencemaran laut memang perlu dukungan dari berbagai pihak
seperti masyarakat, LSM, dan industri. Dukungan dari masyarakat dan LSM juga
sangat berpengaruh bagaimana meminimalisir dampak dari pencemaran laut
tersebut, seperti dalam penjelasan dukungan mereka I4 terhadap masyarakat
pesisir Marunda :
‘’Kami sudah beberapa kali melakukan sesuatu diantaranya mengingatkan
perusahaan tersebut walaupun akses masuk dibatasi, melakukan advokasi
terhadap pemangku kebijakan , kami ciptakan ruang kepada nelayan untuk
mediasi dengan pemerintah dan membawa kasus pencemaran ini ke
nasional, dilain hal kita juga coba membangkitkan semangat nelayan untuk
meningkatkan kreativitas mereka contohnya di Marunda Kepu ibu-ibu kita
ajar untuk melakukan pengolahan kerang atau pembinaan ekonomi kreatif.’’
103
(wawancara dengan Ibu Susan Herawati Romica koordinator monitoring
dan evaluasi KIARA pada senin, 20 April 2015 pukul 14.02 wib)
Dukungan-dukungan yang ada dari pihak non pemerintah diharapkan
pengendalian pencemaran dalam hal ini dalam konteks pemulihan pencemaran
dapat berjalan dengan baik sesuai dengan mekanisme yang tertuang dalam
peraturan, senada dengan pernyataan dari I3 dalam wawancaranya yaitu :
‘’Secara khusus walhi memberikan dukungan dalam bentuk masih berupa
kampanye, walaupun kita tidak fokus ke Marunda saja tetapi pada
lingkungan Jakarta Marunda menjadi salah satu keys, karena kita sendiri
kan ketika menghadapi situasi limbah di Teluk Jakarta dan sungai,kita
dorong isunya dengan Revitalisasi lingkungan sesuai dengan UU PPLH
tahun 2009 dengan stand posisi itu walhi juga menolak reklamasi dan
pembuatan tanggul raksasa. Kita prioritaskan di kampanye kita
Revitalisasi Sungai yang mana 13 sungai membawa banyak sekali
berbagai macam limbah seperti rumah tangga, industri dan semacamnya
diperparah dengan keberadaan pabrik sepanjang pinggir laut seperti pabrik
kaca yang tinggi limbah B3nya makanya kita sekarang mengkampanyekan
dengan konteks pemulihan. (Rabu,29 April 2015 pukul 13.01 wib)
Dari beberapa hasil wawancara dan pernyataan diatas menunjukan bahwa
Pengelolaan lingkungan termasuk pencegahan, penanggulangan kerusakan dan
pencemaran
serta
pemulihan
kualitas
lingkungan
telah
menuntut
dikembangkannya berbagai perangkat kebijakan dan program serta kegiatan yang
didukung oleh sistem pendukung pengelolaan lingkungan lainnya. Sistem tersebut
mencakup kemantapan kelembagaan, sumberdaya manusia dan kemitraan
lingkungan, disamping perangkat hukum dan perundangan, informasi serta
pendanaan. Keterkaitan dan keseluruhan aspek lingkungan telah memberi
konsekuensi bahwa pengelolaan lingkungan, termasuk sistem pendukungnya tidak
104
dapat berdiri sendiri, akan tetapi berintegrasi dengan seluruh pelaksanaan seperti
pemerintah, masyarakat, swasta (industri) dan LSM. Tetapi dari hasil wawancara
diatas dapat disimpulkan ketidakpatuhan perilaku implementor di beberapa sektor
seperti industri, beberapa industri tidak memiliki IPAL sesuai dengan prosedur
peraturan yang ada, kemudian tidak konsistennya stakeholder pemangku
kebijakan dalam hal pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut, masih
rendahnya peran pemerintah dalam keseriusan menghadapi pencemaran yang ada.
4.2.2 Lancarnya Pelaksanaan aktvitas Fungsi
Dalam perkembangannya fungsi dan tugas pokok pemerintah menghadapi
tantangan dan hambatan yang semakin meningkat dan penuh dengan
permasalahan yang sangat kompleks. Dalam melaksanakan kinerjanya, banyak
permasalahan yang dihadapi oleh aparatur pemerintah. Masalah yang dihadapi
aparatur pemerintah, baik yang berasal dari lingkungan internal maupun eksternal
muaranya lebih banyak diarahkan pada kinerja aparatur pemerintah daerah dalam
menjalankan tugas yang diamanatkan kepadanya.
Faktor lingkungan internal birokrasi bisa berupa situasi dan kondisi, baik
berupa organisasi (struktur, penempatan personel, efektifitas kegiatan) efektifitas
komunikasi antar unit, sumber daya dan pemberdayaannya. Sedangkan faktor
eksternal berupa situasi dan kondisi disekeliling organisasi yang berpengaruh
terhadap kelancaran pelaksanaan kinerja aparat. Sehingga dalam pelaksanaan
tugas
pemerintahan banyak terjadi ketidakefektivitasan dan implementasi
kebijakan tidak berjalan secara optimal.
105
Dalam kebijakan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19
Tahun 1999 mempunyai ruang lingkup mengatur tentang inventarisasi kualitas air
laut dengan mempertimbangkan yang ada dalam pengendalian pencemaran
dan/atau perusakan laut, serta berbagai penetapan baku mutu air limbah,
melakukan pembinaan dan pengawasan serta penyediaan informasi. Kebijakan
dalam mengatasi pencemaran laut ini dapat berhasil apabila semua aktivitas
penunjang keberhasilan implementasi dapat berjalan dengan baik, seperti fungsi
koordinasi, fungsi pengaduan dan pemberian informasi, fungsi regulasi kebijakan
dan fungsi pengawasan dan penegakan hukum.
Suatu kebijakan mencapai keberhasilan apabila terdapat koordinasi yang
selaras antar pihak-pihak yang terkait. Dengan koordinasi yang selaras dan
seimbang ini tujuan dari suatu kebijakan akan dengan mudah tercapai. Koordinasi
adalah salah satu faktor penting dalam pelaksanaan Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1999 ini tentang Pengendalian pencemaran
dan/atau perusakan laut karena pelestarian lingkungan laut adalah kewajiban dari
beberapa stakeholder seperti Kelautan dan Lingkungan Hidup.
Dalam wawancaranya I2 yakni Kepala Seksi Perikanan menyebutkan
bagaimana koordinasi yang dilaksanakan yaitu :
‘’Koordinasi biasa dilaksanakan yang dibawahi oleh Asisten Kesejahteraan
disitu membawahi suku-suku dinas terkait, membahas dan mencari solusi
permasalahan. Koordinasi sektor pemerintah dengan pemerintah cukup
efektif karena semua stakeholder memahami maupun dengan non
pemerintah berjalan cukup efektif karena kita koordinasikan dengan LSMLSM atau masyarakat.’’ (Rabu, 22 April 2015 pukul 12.05 wib)
106
Tetapi hal lain dinyatakan oleh I1 mengenai kendala yang selama ini
dihadapi dalam melakukan koordinasi yaitu :
‘’Koordinasi memang kita lakukan, desember tahun kemarin dilakukan
koordinasi dengan kelautan membahas edukasi ke nelayan dan masyarakat
pesisir tetapi sekarang belum ada koordinasi yang lebih lanjut karena
kendala rolling jabatan pada bulan januari kemarin. Tetapi terkadang kita
juga ada koordinasi dengan formapel (forum masyarakat peduli lingkungan)
untuk mengecek kondisi dilapangan. Itu koordinasi antar pemerintah tetapi
koordinasi antara pemerintah dengan non pemerintah tidak berjalan efektif
paling hanya formapel saja’’(Rabu, 22 April 2015 pukul 11.00 wib)
Sehingga dengan tidak berjalannya koordinasi secara efektif baik di
lingkungan pemerintahan maupun non pemerintah akan mengakibatkan kondisi
disharmonis antar stakeholder yang dipastikan akan memunculkan pandangan
negatif terkait kinerja pemerintah. Masyarakat nelayan dalam hal ini I9
mengatakan bahwa masyarakat menilai koordinasi yang belum cukup baik
misalnya hubungan koordinasi antar yang berwenang dalam hal ini dari segi
lingkungan hidup atau perikanan dan kelautan’’.(Wawancara dengan Bpk.Suparjo
masyarakat nelayan Marunda pada Minggu 19 April 2015 pukul 17.23 wib)
Hal yang sama juga diungkapkan oleh I3 saat wawancara mengenai
koordinasi dalam mengatasi pencemaran laut Marunda:
‘’Secara mekanismenya sih saya tidak begitu paham, tapi sejauh ini pihak
pemerintah tidak pernah mengajak kita (masyarakat nelayan) untuk ikut
mengatasi itu. Tidak seperti dulu ketika saya sempat dilibatkan dalam
pengambilan air laut sebagai sample untuk uji tes laboratorium dalam kasus
dugaan pencemaran oleh pabrik kayu lapis.’’ (Wawancara dengan
Bpk.Suhajan pada Minggu 19 April 2015 pukul 16.20 wib
107
Dari hasil wawancara dengan pihak masyarakat nelayan sekitar Marunda
tersebut dapat disimpulkan terjadi koordinasi yang disharmoni antara pemerintah
dengan pihak non pemerintah. Mereka merasa selama ini tidak dilibatkan secara
aktif dalam menangani kasus pencemaran yang telah terjadi. Padahal dampak
yang dirasakan adalah kepada orang-orang sekitar yang menggantungkan
hidupnya pada laut sekitar. Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti
setelah hasil wawancara koordinasi yang dilakukan hanya sebatas administratif
keterlibatannya. Padahal kendalanya masyarakat Marunda dalam hal ini yang
diungkapkan oleh Ketua Nelayan Marunda Bpk.Kubil yaitu :
‘’Kita sebagai nelayan jika diajak rapat dengan mereka di kantor walikota
atau di dinas kan harus meninggalkan pekerjaan. Tetapi jika ikut-ikut rapat
tidak ada ongkos mengganti kita tidak bekerja, Sehingga ini yang menjadi
rendahnya partisipasi kita kepada pemerintah. Kita berharapnya pemerintah
lebih aktif mengajak kita cek langsung ke lapangan apa yang terjadi.’’
(Wawancara pada Minggu 19 April 2015 pukul 17.00 wib)
Perbedaan persepsi antara pemerintah dengan masyarakat ini terjadi karena
fungsi koordinasi tidak berjalan secara efektif dan tidak menemukan solusi dalam
mengatasi hal tersebut. II mengungkapkan dalam wawancaranya sebagai berikut :
‘’Sejauh ini tingkat partisipasi masyarakat masih rendah, harapan kita
masyarakat juga ikut dalam pengawasan, seperti misalnya ketika ada
pencemaran langsung menghubungi kita tapi pada saat melaporkan harus
disertakan foto/sample pada saat itu, karena yang namanya di laut kan
kondisi air berapa jam saja sudah berbeda.’’ (Wawancara dengan pihak
Kantor Lingkungan Hidup pada Rabu, 22 April 2015 pukul 11.04 wib)
Hal tersebut menunjukan koordinasi telah dilakukan antar sektor
pemerintahan tetapi belum berjalan secara optimal karena peneliti melihat
koordinasi tidak dilakukan secara rutin untuk menjawab permasalahan-
108
permasalahan yang terjadi. Jadi koordinasi dilakukan setelah ada dampak. Jika
dilihat bagaimana koordinasi yang dilakukan pemerintah dengan masyarakat
dalam hal ini LSM yang sering dianggap dilibatkan dalam prosesnya
mengungkapkan I3 dalam wawancaranya :
‘’Secara teknis koordinasi antar lembaga pemerintah yang berwenang kita
tidak tahu lebih dalam, hanya WALHI diajak dalam penandatanganan
sidang AMDAL tetapi hanya bersifat administrasi. Artinya sejauh mengecek
dilapangan atau seperti apa WALHI tidak pernah. Jadi koordinasi dengan
kita hanya bersifat administratif (Rapat yang isinya mengundang seluruh
elemen kemudian perusahaan melakukan presentasi disitu masyarakat
berpartisipasi dan melakukan tanda tangan) kita tidak terlibat dalam kroscek
dilapangan degan berbagai kemungkinan seperti manipulasi maka dari itu
WALHI banyak menolak dalam sidang AMDAL. (Rabu, 29 April 2015
pukul 13.20 wib)
Dapat disimpulkan dari beberapa wawancara yang dilakukan oleh peneliti
terkait lancar atau tidaknya fungsi koordinasi bahwa selama ini tidak
terlaksananya koordinasi yang baik antar sektor yaitu pihak pemerintah dengan
masyarakat dan LSM yang mengakibatkan disharmoni dan tidak menyatukan
pemahaman yang sama dalam suatu kegiatan dalam mencegah, mengendalikan
dan pemulihan mutu lingkungan laut. Koordinasi dilakukan bukan hanya ketika
terjadi permasalahan tetapi harus secara rutin membahas dan membangun
kerjasama bagaimana mengupayakan pencegahan pengendalian pencemaran.
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu koordinasi dalam pengelolaan
lingkungan, berbagai indikator dapat dipergunakan, seperti tersusunnya pedoman
dan aturan, terlaksananya rapat koordinasi, terlaksananya monitoring dan
evaluasi, dan terutama kualitas lingkungan laut.
109
Tidak efektifnya fungsi koordinasi sehingga menghambat penanganan
permasalahan lingkungan hidup, dengan permasalahan tersebut kemudian
pemerintah dalam hal ini BPLHD membuat suatu pelayanan terhadap kasus-kasus
lingkungan hidup yang biasa disebut layanan pengaduan.
Layanan tersebut dapat melalui berbagai media seperti pengaduan
langsung, website dan telepon. Dengan dibentuknya pos pengaduan lingkungan
hidup agar meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kasus pencemaran dan
kerusakan lingkungan. Seperti dalam wawancara dengan Subbidang Pengawasan
dan Pengendalian dampak lingkungan Jakarta Utara yaitu :
‘’Pengaduan sudah berjalan efektif selain melalui surat kita juga
menyediakan pengaduan melalui web/phone ada pegawai yang memang
bertugas selalu mengecek pengaduan baik melalui email/sms di
handphonenya tetapi kendalanya masyarakat kurang sosialisasi.’’
(wawancara pada Rabu, 22 April 2015 pukul 11.43 wib)
Mengenai hal rendahnya partisipasi masyarakat, LSM KIARA bidang
Monitoring dan evaluasi dengan Ibu Susan Herawati Romica mengatakan dalam
wawancaranya bahwa tingkat partisipasi masih rendah, dari industri saja sudah
jelas bagaimana akan membahas limbah akses saja dipersulit nelayan juga minim
pemahaman kebijakan’’. (Senin, 20 April 2015 pukul 14.02 wib)
Sejalan dengan WALHI Jakarta yakni LSM yang mengkampanyekan isuisu lingkungan ketika ditanyakan hal yang sama mengenai sejauhmana tingkat
partisipasi masyarakat dan industri dalam memenuhi kebijakan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian
Pencemaran dan/atau perusakan laut menyebutkan bahwa:
110
‘’jika kita bicara laju kerusakan lingkungan dengan partisipasi, tindakan
perusakan lingkungan itu begitu masive, tinggi dan luas sedangkan
tindakan rehabilitasi lingkungan hanya simbolik jadi kalau dikatakan
partisipasi menyelesaikan masalah, sampai saat ini belum dan karena
luasan dan jangkauannya tidak masive hanya titik-titik kecil saja,
masyarakat hanya berpartisipasi dalam jangkauan dekat saja misalnya
tentang sampah dilingkungannya, tidak menyelesaikan masalah-masalah
besar tentang bagaimana IPAL/lingkungan luas, justru sekarang-sekarang
ini jika masyarakat melakukan partisipasi dalam bentuk unjuk rasa hanya
dianggap bertentangan dengan pemerintah, pemerintah melindungi
mereka-mereka yang mempunyai modal atau perusahaan.’’ (wawancara
dengan Bpk.Zaenal Muttaqin Deputi WALHI Jakarta pada Rabu, 29
April 2015 pukul 13.11 wib)
Fungsi pengaduan yang telah disediakan oleh Kantor Lingkungan Hidup
dalam implementasinya tidak direspon positif oleh masyarakat sekitar Marunda.
Seperti dalam wawancaranya dengan Bpk Jumani yaitu :
‘’pengaduan tidak berjalan efektif, apalagi di sektor suku
lingkungan hidup yang kita tahu paling pengaduan ke suku
perikanan dan kelautan. Memang ditanggapi tetapi sepertinya
dikoordinasikan ke beberapa yang berwenang’’. (wawancara
Minggu, 19 April 2015 pukul 16.48 wib)
dinas
dinas
tidak
pada
Hal yang sama juga dikatakan oleh Bpk.Suhajan selaku masyarakat
nelayan Marunda yang sudah lebih dari 30 tahun menjadi nelayan disekitar
Marunda beliau mengungkapkan dalam wawancara bahwa:
‘’fungsi pengaduan yang disediakan belum efektif, karena banyak
masyarakat yang tidak tahu,kurang sosialisasi’’. (Minggu, 19 April 2015
pukul 17.02 wib)
Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan pembentukan layanan
pengaduan lingkungan hidup, yang berisikan tata cara penanganan pengaduan,
sanksi administratif belum efektif karena kurangnya sosialisasi dan minimnya
111
kesadaran dari masyarakat. Padahal tingkat kesadaran dan partisipasi yang rendah
yang selama ini menjadikan masalah pencemaran tidak selesai hingga tuntas.
pencemaran merupakan permasalahan lingkungan yang paling banyak terjadi.
Karena itu, diperlukan upaya pengendalian pencemaran lingkungan laut dan
kawasan pesisir melalui gerakan penyadaran dan kepedulian masyarakat.
Berbagai kebijakan yang dikeluarkan selalu melibatkan berbagai instansi
baik pemerintah maupun swasta, karena pengelolaan lingkungan merupakan
pekerjaan besar yang tidak dapat dilaksanakan sendiri. Pengelolaan lingkungan
harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Permasalahan yang selalu muncul
adalah terkait regulasi kebijakan dan tumpang tindihnya ruang atas kepentingan
dengan kepentingan yang lain. Ada perbedaan yang tajam antara persepsi
pemerintah dengan masyarakat memandang suatu kawasan dan
dalam
perencanaan program (termasuk pengelolaan lingkungan hidup) terjadi tumpang
tindih antara satu sektor dan sektor lain. Misalnya dalam wawancara yang peneliti
tujukan kepada LSM KIARA bagian Monitoring dan Evaluasi yang selama ini
peduli terhadap masyarakat pesisir mengatakan :
‘’tumpang tindih kebijakan memang terjadi, jadi tidak pernah jelas ini
kewenangan siapa dan kerjaan siapa, masyarakat juga tidak paham
ranah kebijakan jadi permasalahan jadi blunder sendiri. kita ambil
kasus UU No.27 Tahun 2007 yang isinya ada salah satu pasal yang
membolehkan laut di privatisasi, KIARA pernah menggugat ke
Mahkamah Konstitusi tahun 2010-2011 dan memenangkan tetapi
kemudian tahun 2014 pemerintah kembali merevisi dan menggolkan
aturan tersebut. Dengan aturan yang telah dibuat sedemikian rupa
tetapi SDMnya tidak menjalankan secara baik maka implementasi
sangat jauh apa yang diharapkan.’’ (wawancara pada Rabu, 20 April
2015 pukul 14.03 wib)
112
Dapat disimpulkan Undang-undang di Indonesia yang terkait dengan
pengelolaan lingkungan hidup bersifat terperinci dan luas. Namun tidak memiliki
visi yang sama atau keterpaduan, dan sering tumpang-tindih dan bertentangan
dengan kerangka kerja undang-undangnya. Deputi WALHI Jakarta menyebutkan
dalam waw ancaranya:
‘’kalo di tingkat UU iya tumpang tindih contohnya di UU lingkungan
mensyaratkan secara ketat proses perusakan hutan diimbangi dengan
proses reboisasi menggunakan lahan pertanian harus disiapkan lahan
pengganti tetapi ketika berbicara investasi, persyaratannya dibuka seluasluasnya asing untuk masuk investasi dibidang lingkungan. Hal ini kan
menjadi bentrok karena ketika kemudahan diberikan sementara UU lain
melakukan pengetatan ini kan yang menjadi kontradiksi sehingga selama
ini bisa dibilang undang-undang lingkungan hidup disharmoni dan
tumpang tindih’’. (wawancara pada Rabu, 29 April 2015 pukul 13.04 wib)
Dapat disimpulkan bahwa beberapa hal diatas mencontohkan bagaimana
regulasi kebijakan yang dibuat dalam mengatasi permasalahan lingkungan hidup
terjadi disharmoni. Peneliti melihat dalam kasus pencemaran laut Jakarta aturan
dalam kebijakan yang telah dibuat disharmoni terhadap lingkungan laut dan
sekitarnya, dalam hal ini kasus Reklamasi Pantai Utara Jakarta yang berdampak
terhadap kerusakan lingkungan hidup, pencemaran laut dan kerusakan pantai.
Menurut I4 dalam wawancaranya terkait reklamasi yang akan dilakukan sepanjang
pantai utara Jakarta yaitu :
‘’Reklamasi Pantura akan menggusur kurang lebih 25.000 KK (125.000
jiwa) nelayan di sepanjang pesisir pantura yang sebenarnya saat ini sudah
hidup dalam kemiskinan. Penggusuran ini dilakukan karena kawasan elit
membutuhkan pemandangan yang juga elit di bibir pantai yang selama ini
ditempati nelayan, dan kawasan indah ini juga menuntut laut di sekitarnya
bersih dari bagang-bagang (perangkap ikan) nelayan.’’ (wawancara pada 19
April 2015 pukul 17.12 wib)
113
Proyek Reklamasi Pantai Utara Jakarta membentang 32 km dari sebelah
timur perbatasan Cilincing dengan Kabupaten Bekasi, sampai sebelah barat
perbatasan dengan Penjaringan dengan Kabupaten Tangerang. Proyek ini harus
melalui uji prasayarat AMDAL yang ketat dan transparan. Kebijakan Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta yang mendukung reklamasi, dianggap bertentangan dengan
pemerintah pusat yang merencanakan peningkatan kualitas lingkungan hidup di
kawasan tersebut. Hal tersebut dapat disimpulkan Otonomi daerah yang
diharapkan dapat melimbahkan sebagian kewenangan mengelola lingkungan
hidup di daerah belum mampu dilaksanakan dengan baik. Ego kedaerahan masih
sering nampak dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup, demikian juga
ego sektor. Pengelolaan lingkungan hidup sering dilaksanakan overlapping antar
sektor yang satu dengan sektor yang lain.
Terjadinya pencemaran laut tersebut dibutuhkan program-program
strategis untuk menanggulangi dan mengurangi dampak dari pencemaran laut
tersebut, seperti yang dikatakan oleh BPLHD Provinsi DKI Jakarta dalam
wawancaranya kepada peneliti yaitu:‘’Program strategis dalam menanggulangi
pencemaran laut ini ya minimal dari stop nyampah di kali karena kontribusi
pencemaran laut ini juga berasal dari 13 sungai yang mengalir ke laut’’. (Bidang
Penegakan Hukum Lingkungan BPLHD Provinsi DKI Jakarta.Senin,27 April
2015 pukul 12.00 wib)
Tetapi Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara yang mempunyai
wewenang dalam pengendalian pencemaran yang berada dalam wilayahnya
menyebutkan program strategis yang akan dilaksanakan yaitu:
114
‘’Kita secara acak akan mengecek kondisi dilapangan tetapi cenderung
tidak mempunyai IPAL yang baik. Kita juga mempunyai program status
ketaatan yang dapat melihat sejauhmana perusahaan aktif melaporkan
pengelolaan limbahnya/tidak.’’ (wawancara pada Rabu,22 April 2015
pukul 11.21 wib)
Tetapi dalam menjalankan fungsinya dalam hal melakukan kegiatan
pengendalian dan pengawasan beberapa hal mengalami hambatan seperti
kurangnya SDM (Sumber Daya Manusia) yaitu Pejabat Pengawas Lingkungan
untuk menganalisis pengawasan dan pengendalian pencemaran seperti yang
dikatakan oleh Subid.Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
yaitu:
‘’kendalanya memang klasik yaitu kurangnya SDM dalam melakukan
pengawasan. Sejauh ini kita juga terus mengupayakan untuk penambahan
SDM yang kosong dalam posisinya, saya saja merangkap sebagai Kasubid
dan Pengawas juga. Kita mengupayakan mengajukan analisis jabatan
melalui BPLHD kemudian ke Menpan juga tetapi saat ini memang belum,
makanya kita berdayakan yang ada saja.’’ (wawancara pada tanggal 23
September 2015 pukul 15.31 wib)
Melihat dampak akibat pencemaran tersebut, pihak Suku dinas perikanan
dan kelautan juga mempunyai program strategis dalam pemulihan dampak
pencemaran tersebut terhadap kondisi perairan laut seperti :
‘’akibat dari pencemaran, program kita adalah dengan kita membuatkan
rumah-rumah ikan yang baru, karena sudah tercemar maka kita harus
membuatkan lokasi penangkapan ikan yang baru dan memang tidak
mudah harus melalui kajian-kajian terlebih dahulu. Kita juga melakukan
revitalisasi alat tangkap’’ (wawancara pada Rabu, 22 April 2015 pukul
12.32 wib)
Kesimpulannya adalah peneliti melihat dari beberapa sektor mempunyai
program-program yang memang dianggap strategis dalam mengatasi pencemaran
115
laut tersebut. Program strategis tersebut diharapkan mampu memulihkan kondisi
laut yang sudah tercemar.
Ketika dalam proses mengimplementasikan program atau kegiatankegiatan yang bertujuan sebagai pencegahan serta memulihkan kondisi laut
tentulah harus disertai dengan kebijakan yang tepat. Di Indonesia, perangkat
hukum pada umumnya dianggap cukup memadai untuk pengelolaan lingkungan
berkelanjutan, seperti dalam UU lingkungan hidup Undang-Undang No. 23 Tahun
1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang sekarang diganti dengan
dengan Undang-Undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) dan secara rinci diturunkan oleh
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran
dan/atau perusakan laut sudah tertuang jelas sanksi dan denda jika
seseorang/badan usaha menimbulkan pencemaran tetapi masih ada kelemahan
serius dalam penegakan hukum tersebut. Seperti yang dikatakan oleh I13 dalam
wawancaranya :
‘’Selama ini penyelesaian kasus, kalau dapat diselesaikan ditingkat kota ya
tingkat kota, tetapi tingkat provinsi juga bisa. Kalau berbicara kasus yang
sampai dibawa ke pengadilan jarang, dulu pernah pada kasus pengambilan
air tanah, tetapi jika konteks nya melihat kasus ikan yang banyak mati kita
tidak bisa menduga itu limbah siapa karena banyak perusahaan-perusahaan
yang ‘’nakal’’ mereka rame-rame membuang limbah pada saat hujan dan
malam hari. Kelemahan kita dalam penegakan hukum itu dibagian
pengawasan hanya ada 2 orang tidak mungkin mengawasi 24 jam dengan
jumlah industri yang sebegitu banyak.’’ (Bidang Penegakan Hukum
Lingkungan BPLHD Provinsi DKI Jakarta.Senin,27 April 2015 pukul
12.16 wib)
116
Tetapi di lain kesempatan ketika peneliti menanyakan hal yang sama
kepada I3 untuk masalah kendala dari lemahnya penegakan hukum adalah :
‘’ini bukan soal SDM tapi soal mental korupnya terlalu tinggi, jual beli
perizinan dan manipulasi. Jika memang pengawasan kendala oleh
kurangnya SDM pemerintah punya infrastruktur lain seperti polisi, satpol
pp, tentara dan lain-lain.’’ (wawancara pada Rabu,29 April 2015 pukul
13.20 wib)
Kesimpulan
peneliti
yang
diungkapkan
oleh
I3
bahwa
tradisi
menyelesaikan pelanggaran di tempat telah memberikan reputasi pada dinas untuk
terlibat dalam korupsi dan pemerasan. Ini diperparah dengan pengamatan bahwa
kewenangan mengeluarkan izin dan lisensi menciptakan peluang untuk menerima
hadiah sebagai balasan atas diabaikannya kewajiban lingkungan. Hal ini yang
memunculkan perspektif yang beda antar masyarakat dengan pemerintah.
Pencemaran yang terus terjadi menimbulkan pemahaman bahwa pencemaran
sudah dianggap tradisi atau sudah menjadi hal yang tidak asing lagi bagi
masyarakat nelayan sekitar.
Di lain hal dalam fungsi penegakan hukumnya, I1 menyatakan
ketidakpatuhan atas badan usaha/kegaiatan industri dalam wawancaranya sebagai
berikut :
‘’Selama ini KLH (Kantor Lingkungan Hidup) sebagai mediator dalam
penyelesaian kasus lingkungan hidup, jika kasusnya dapat diselesaikan
dalam wilayah kota kita usahakan samapai tuntas, tetapi jika memang
harus ke provinsi atau ke pengadilan tidak menutup kemungkinan seperti
kasus pada tahun 2014 ketika melakukan pengawasan, saya prioritaskan
yang laporan nya jelek-jelek saja, saya buatkan berita acara dan kasih
waktu untuk melakukan perbaikan, tetapi hanya 10% yang taat.’’ (Rabu,
22 April 2015 pukul 11.48 wib)
117
Kesimpulan dari beberapa wawancara yang dilakukan oleh peneliti
mengenai lancarnya aktivitas fungsi untuk mendukung keberhasilan implementasi
kebijakan pengendalian pencemaran tersebut yaitu prosedur-prosedur yang tidak
dipatuhi oleh industri dan partisipasi masyarakat yang rendah terhadap kasus
pencemaran laut yang selama ini terjadi, tidak adanya peran yang jelas yang
dimiliki oleh dinas terkait karena inkonsistensi dalam melaksanakan program
serta kurang optimalnya fungsi koordinasi yang dilakukan oleh seluruh
stakeholder sehingga tidak efektifnya layanan untuk mengatasi kasus pencemaran
tersebut. Hal ini juga diperparah dengan kurangnya pengawasan di Lapangan dan
penegakan hukum yang lemah untuk kebijakan pengendalian pencemaran laut di
kawasan laut Marunda Jakarta Utara
4.2.3 Terwujudnya Kinerja/Dampak yang dikehendaki
Kebijakan dibuat dengan tujuan-tujuan dan harapan yang dikehendaki,
kebijakan Pengendalian Pencemaran Laut yang tertuang dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 menghendaki sumber daya alam dalam hal ini
laut dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan tetap
memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Sumber daya alam memiliki
dua peran, yaitu sebagai modal pertumbuhan ekonomi dan sebagai penopang
sistem kehidupan. Atas dasar fungsi tersebut, sumber daya alam senantiasa harus
dikelola secara seimbang untuk menjamin keberlanjutan pembangunan. Karena
dalam kebijakan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 ini menyatakan
bahwa meningkatnya pembangunan di darat maupun di laut yang memanfaatkan
118
laut beserta sumber daya alamnya akan mengakibatkan pencemaran yang akhirnya
menurunkan fungsi laut itu sendiri. Maka dari itu untuk melaksanakan
pembangunan
haruslah
mengedepankan
prinsip-prinsip
pembangunan
berkelanjutan dan berbasis lingkungan.
Implementasi dari pelestarian lingkungan laut melalui pengendalian
pencemaran mendeskripsikan tingkat ketercapaian dampak yang ingin di
kehendaki. Implementasi dari suatu kegiatan menjelaskan bagaimana proses
kegiatan yang dilaksanakan itu guna mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Dalam implementasinya pengendalian pencemaran laut di kawasan laut Marunda,
salah satu ketua kelompok nelayan 16 mengungkapkan dalam wawancara :
‘’implementasi selama ini berjalan saja tetapi ya begitu tidak ada dampak
yang dirasakan ke arah yang lebih baik, padahal beberapa waktu sering d
iambel sample air yang tercemar untuk diteliti tetapi hasil dan tindak
lanjutnya kita tidak tahu.’’ (wawancara pada Minggu, 19 April 2015 pukul
16.14 wib)
Kemudian peneliti
menanyakan hal
yang sama kepada 17 juga
mengungkapkan dampak dari proses implementasi yang tidak berjalan secara
optimal seperti berikut :
‘’ya selama ini sih aturan hanya aturan, tetapi dampak pencemarannya
begitu kita rasakan untuk mendapatkan ikan kita harus benar ke tengah
tetapi kendalanya kan ikan yang kita dapat sedikit tetapi justru biaya solar
nambah, makanya aturan apapun kita ingin segera dilakukan yang tegas
kepada yang berwenang.’’ (wawancara pada Minggu, 19 April 2015 pukul
17.02 wib)
Hal yang sama diungkapkan oleh I8 yakni sebagai masyarakat nelayan
dengan pertanyaan wawancara yang sama terkait bagaimana proses implementasi
pengendalian pencemaran laut. Masyarakat menilai bahwa implementasi
119
pengendalian pencemaran selama ini kurang memberikan dampak apa-apa,
pencemaran tidak berkurang.’’ (wawancara dengan Bpk.Suparjo pada Minggu, 19
April 2015 pukul 17.48 wib)
Bahwa terkait masalah implementasi kebijakan pengendalian pencemaran
laut ini, BPLHD Provinsi Jakarta mengatakan dalam wawancaranya bahwa
langkah upaya implementasi dari pengendalian pencemaran laut saat ini
implementasinya proses menuju baik’’ (wawancara dengan Bpk.Arifudin Nur
Kepala Sub bidang Penegakan Hukum BPLHD DKI Jakarta pada Rabu, 27 April
2015 pukul 12.04 wib)
Belum optimalnya implementasi kebijakan pengendalian pencemaran yang
tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun1999
ada beberapa kendala yang dihadapi seperti yang diungkapkan Kantor
Lingkungan Hidup Jakarta Utara Sub.Bidang Pengawasan dan Pengendalian
dampak lingkungan.
‘’kendalanya dari ketaatan dari pengelolaan limbah industri dan
rendahnya partisipasi masyarakat sekitar, serta kurangnya SDM dari
bidang pengawasan, sasaran program cenderung tidak patuh karena cari
aman’’. (wawancara pada Rabu, 22 April 2015 puku; 11.32 wib)
Tujuan dari implementasi kebijakan pengendalian pencemaran laut adalah
menghendaki sumber daya alam dalam hal ini laut dimanfaatkan untuk sebesarbesarnya kemakmuran rakyat dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi
lingkungan hidup. Untuk mencapai tujuan tersebut adalah melakukan upaya
Rehabilitasi Lingkungan akibat pencemaran tersebut. Namun pada kenyataannya
rehabilitasi lingkungan laut sepertinya belum berjalan secara efektif, seperti yang
120
dikatakan oleh I2 mengenai upaya rehabilitasi seperti rehabilitasi memang
dilakukan, tetapi belum efektif karena masuknya limbah jadi habitat laut masih
terganggu.(wawancara dengan Bpk.Abdul Cholik Kepala Seksi Perikanan dan
Kelautan Jakarta Utarapada Rabu, 22 April 2015 pukul 12.05 wib)
Dari sudut pandang bidang perikanan dan kelautan upaya rehabilitasi
memang sedang dilakukan tetapi kenyataan dilapangan bahwa pencemaran terus
terjadi sehingga upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka memenuhi target
pemulihan mutu laut tidak berjalan efektif. Upaya yang dilakukan tidak sebanding
dengan pencemaran yang terjadi akibat beberapa sumber. Pengelola lingkungan
hidup dalam hal ini yang mempunyai wewenang dalam pengendalian dampak
lingkungan mengatakan :
‘’upaya rehabilitasi lingkungan belum efektif, kita masih sulit merehabilitasi
lingkungan, karena kita belum pernah penjarakan orang/ untuk kasus
lingkungan, untuk kasus perusahaan yang membuang limbah diatas baku
mutu, kita tutup saluran limbahnya, bayangkan berapa ratus juta untuk
menyedot limbahnya jika dimisalkan 400ribu/per tangki sedangkan dalam
sehari mereka bisa menghasilkan berapa banyak limbah.’’ (wawancara
dengan Ibu Evy Sulistyawati Kepala Subbidang Pengawasan dan
Pengendalian Dampak Lingkungan Jakarta Utara pada Senin, 27 April 2015
pukul 12.00 wib)
Untuk kasus pencemaran yang diduga dari limbah industri pihak pemerintah
dalam hal ini pengelola lingkungan hidup melakukan tindakan preventif dan
represif. Preventif dilakukan melalui pengawasan aktif dan pasif sedangkan upaya
preventif dalam hal ini melakukan upaya penutupan saluran limbah yang dinilai
cukup efektif untuk membantu proses rehabilitasi lingkungan. Dalam hal yang
sama LSM KIARA mengungkapkan dalam penilaiannya kepada masyarakat
mengenai rehabilitasi lingkungan yaitu.
121
‘’upaya rehabilitasi lingkungan laut tidak efektif, karena mindset
masyarakat kita adalah laut menjadi tempat pembuangan terakhir
sampah, masyarakat juga tidak pernah diajak untuk lebih arif terhadap
alam mereka beranggapan karena udah ada limbah disitu ya kemudian
buang sampah disitu.’’ (wawancara pada Senin, 20 April 2015 pukul
14.21 wib)
Jika berbicara mengenai tidak efektifnya upaya rehabilitasi lingkungan
laut yang bertujuan untuk pemulihan mutu laut dari pencemaran, maka terdapat
beberapa hal yang menjadi kendala seperti yang diungkapkan oleh I2 Kepala Seksi
Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara yaitu kendala yang dihadapi yaitu
pengawasan untuk industri, industri sekitar, pengawasan pencemaran dan
partisipasi masyarakat yang masih rendah. (wawancara dengan Bpk.Abdul cholik
pada Rabu, 22 April 2015 pukul 12.03 wib)
Ketika peneliti menanyakan hal yang sama kepada I13 menyatakan
beberapa hal yang menghambat implementasi pemulihan mutu laut yaitu :
‘’SDM menjadi faktor keberhasilan dari implementasi kebijakan ini
karena kesadaran dari masyarakat amatlah berpengaruh. Sedangkan
untuk alokasi anggaran untuk lingkungan hidup selama ini tidak begitu
masalah dan dalam hal infrastruktur juga sudah memadai seperti
sekarang laboratorium-laboratorium swasta sudah banyak walaupun
finalnya tetap di BPLHD sehingga sebenarnya masalahnya klasik karena
kurangnya SDM dalam pengawasan dari kita tetapi terkadang dibantu
oleh Formapel/LSM yang melapor ke kita’’. (wawancara dengan
Bpk.Zaenal Muttaqin Deputi WALHI Jakarta pada senin, 27 April 2015
pukul 11.53 wib)
Dalam memenuhi target pemulihan pencemaran laut yang terjadi Badan
Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta dan Kantor Lingkungan Hidup
Jakarta Utara belum dapat menargetkan beberapa tingkat ketercapaiannya, seperti
dalam wawancaranya berikut ini :
122
‘’kita tidak bisa memprediksikan pemerintah mampu berapa % (persen)
untuk mengatasi hal tersebut karena untuk taat saja perusahaan susah
makanya dibuatkanlah SKL (Status Ketaatan Lingkungan) untuk melihat
berapa % (persen) mereka taat. (wawancara pada Rabu, 22 April 2015
pukul 11.56 wib)
Dengan demikian dapat disimpulkan dampak kinerja yang dikehendaki
dari pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut masih terkendala dalam
implementasi program-programnya dan upaya rehabilitasi lingkungan laut belum
berjalan secara efektif , mengingat masih terdapat kendala-kendala yang dihadapi
di lapangan. Upaya rehabilitasi laut perlu segera dilakukan secara berkelanjutan
dalam pemulihan mutu laut.
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian
Langkah selanjutnya dalam proses analis data adalah melakukan kegiatan
interprestasi hasil penelitian, yaitu menggabungkan temuan hasil penelitian di
lapangan dengan dasar operasional yang telah ditetapkan sejak awal. Pembahasan
merupakan isi dari hasil analisis data fakta yang peneliti dapatkan dilapangan
serta disesuaikan dengan teori yang peneliti gunakan. Peneliti dalam penelitiannya
ini menggunakan teori Implementasi Ripley dan Franklin ada tiga variabel yang
mempengaruhi keberhasilan suatu kebijakan yaitu i.) Tingkat Kepatuhan ii.)
Lancarnya aktivitas fungsi dan iii.) Terwujudnya kinerja dan dampak yang
dikehendaki.
Adapun pembahasan yang dapat peneliti paparkan dalam tabel adalah sebagai
berikut:
123
1. Tingkat Kepatuhan
Berkaitan dengan tingkat kepatuhan terhadap kebijakan ini merujuk
apakah implementor patuh terhadap prosedur dan standar aturan yang telah
ditetapkan. Dalam suatu kebijakan termasuk salah satunya Peraturan Pemerintah
Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan
Laut (Studi kasus wilayah laut Marunda Jakarta Utara) dalam implementasinya
membutuhkan beberapa hal yang mendukung keberhasilan dari suatu kebijakan.
Ada beberapa kriteria yang menggambarkan kondisi faktual dari pelaksanaan
kebijakan tersebut. Seperti sejauhmana tingkat kepatuhan semua elemen pada
prosedur yang ditetapkan oleh aturan tentang lingkungan hidup, seperti bagaimana
pemenuhan baku mutu laut, baku mutu limbah yang dihasilkan oleh industri,
pedoman kerusakan mangrove, serta tata cara perizinan pembuangan limbah ke
laut. Kepatuhan implementor dalam hal pengendalian pencemaran meliputi
banyak sektor yang terlibat seperti pemerintah, masyarakat, dan swasta (industri).
Mekanisme pengendalian pencemaran yaitu mulai dari pencegahan meliputi
KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis), Baku Mutu Lingkungan Hidup,
Amdal, UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan) /UPL (Upaya Pemantauan
Lingkungan) dan lain sebagainya kemudian penanggulangan sampai pemulihan.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa beberapa unsur seperti
industri, masyarakat belum mematuhi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan
Laut (Studi kasus wilayah laut Marunda Jakarta Utara) seutuhnya. Dari beberapa
temuan yang peneliti dapatkan perihal ketidakpatuhan meliputi bagaimana
124
prosedur dijalankan dengan benar atau tidak, yang terjadi dilapangan adalah ada
beberapa hal seperti pihak industri yang diduga mempunyai peluang terhadap
pencemaran mereka sebagian tidak mengikuti prosedur dengan benar seperti ada
beberapa pihak industri yang tidak mempunyai IPAL (Instalasi Pengelolaan
Limbah) dan kalaupun memiliki terkadang IPAL tidak berfungsi dengan
semestinya kemudian ada beberapa industri yang tidak taat tentang laporan
pengelolaan limbahnya kepada instansi terkait dalam hal ini BPLHD atau Kantor
Lingkungan Hidup Jakarta Utara, kemudian kepatuhan dalam hal ini peran dari
instansi yang berwenang bahwa pihak nelayan dan LSM menyatakan bahwa
pemerintah yang berwenang tidak optimal dalam pelaksanaan tupoksinya yaitu
dalam hal pengawasan dan pelaksanaan koordinasi pengendalian dampak
lingkungan serta pembinaan terhadap kegiatan yang belum memiliki dokumen
lingkungan, hal ini ditandai dari peran dari mereka tidak terlihat dan tidak adanya
tindakan yang berarti yang mengatasi pencemaran laut selama ini. Belum
maksimalnya peran dari pihak pemerintah, keberhasilan kebijakan pengendalian
pencemaran laut memang perlu dukungan dari berbagai pihak seperti masyarakat,
LSM, dan industri.
2. Lancarnya Pelaksanaan Rutinitas Fungsi
Dalam kebijakan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19
Tahun 1999 mempunyai ruang lingkup mengatur tentang inventarisasi kualitas air
laut dengan mempertimbangkan yang ada dalam pengendalian pencemaran
dan/atau perusakan laut, serta berbagai penetapan baku mutu air limbah,
melakukan pembinaan dan pengawasan serta penyediaan informasi ataupun
125
layanan pengaduan terkait permasalahan sengketa lingkungan. Kebijakan dalam
mengatasi pencemaran laut ini dapat berhasil apabila semua aktivitas penunjang
keberhasilan implementasi dapat berjalan dengan baik, seperti fungsi koordinasi,
fungsi pengaduan dan pemberian informasi, fungsi regulasi kebijakan dan fungsi
pengawasan dan penegakan hukum.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa mengenai kelancaran
aktivitas fungsi untuk mendukung keberhasilan implementasi kebijakan
pengendalian pencemaran, prosedur-prosedur yang tidak dipatuhi oleh industri
dan partisipasi masyarakat yang rendah terhadap kasus pencemaran laut yang
selama ini terjadi, tidak adanya peran yang nyata yang dimiliki oleh dinas terkait
seperti tindak lanjut atas pencemaran yang telah terjadi, menginventarisasi mutu
laut atau melakukan upaya pemulihan segera. Hal ini karena inkonsistensi dalam
melaksanakan program serta kurang optimalnya fungsi koordinasi yang dilakukan
oleh seluruh stakeholder sehingga dari lemahnya fungsi koordinasi tersebut
menyebabkan tidak optimalnya layanan untuk mengatasi kasus pencemaran
padahal peran aktif masyarakat sangat diperlukan dalam pengawasan berupa
pengawasan sosial seperti pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan,
penyampaian informasi dan/atau laporan. Hal ini juga diperparah dengan
kurangnya pengawasan di Lapangan dan penegakan hukum yang lemah untuk
kebijakan pengendalian pencemaran laut di kawasan laut Marunda Jakarta Utara.
Selama ini pemerintah belum mampu menegakan aturan dengan tegas terhadap
siapa yang diduga melakukan pencemaran air laut.
126
3. Terwujudnya Kinerja dan Dampak yang dikehendaki
Kebijakan dibuat dengan tujuan-tujuan dan harapan yang dikehendaki,
kebijakan Pengendalian Pencemaran Laut yang tertuang dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 menghendaki sumber daya alam dalam hal ini
laut dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan tetap
memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Untuk mencapai tujuan
tersebut adalah melakukan upaya Rehabilitasi Lingkungan akibat pencemaran
tersebut. Namun pada kenyataannya dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa
rehabilitasi lingkungan laut sepertinya belum berjalan secara optimal sesuai
dengan yang dikehendaki. Hal ini ditandai dengan belum adanya upaya-upaya
pemulihan laut. Pemulihan mutu laut yang sudah tercemar selain dari pihak
pemerintah, masyarakat juga mempunyai peran penting dalam meningkatkan
partisipasi dan kepedulian terhadap lingkungannya tetapi fakta dilapangan adalah
sulitnya rehabilitasi lingkungan juga karena tidak adanya dukungan dari
masyarakat sekitar untuk tidak membuang limbahnya ke laut serta belum ada
dukungan dalam bentuk kegiatan-kegiatan memperbaiki fungsi laut yang diadakan
secara mandiri maupun bermitra dengan pemerintah.
127
Tabel 4.6
Hasil penelitian
No
1.
Indikator
Kepatuhan
Hasil Temuan di Lapangan
Ketidakpatuhan
beberapa
industri sekitar laut Marunda,
yang terjadi dilapangan tidak
semua industri memiliki IPAL
(Instalasi Pengolahan Limbah)
yang memadai, dan tidak patuh
dalam memenuhi baku mutu
yang telah ditetapkan. Dengan
hal tersebut menunjukan bahwa
sejumlah
pabrik
dikawasan
industri tersebut juga tidak
memenuhi
prosedur
atau
persyaratan yang telah tertuang
dalam
peraturan
Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun
1999
tentang
pengendalian
pencemaran dan/atau Perusakan
Laut.
Kendala
Disharmoni
terhadap pengelola
kawasan
industri
tentang
ketersediaan
fasilitas
kepemilikan
IPAL.
Partisipasi masyarakat yang
rendah terhadap kebersihan
Masyarakat tidak
lingkungan laut Marunda.
begitu
paham
terhadap kebijakan
yang ada.
2.
Lancarnya
Tidak konsistennya stakeholder Kurangnya SDM
pemangku kebijakan dalam hal dalam
pengendalian
pencemaran pengawasan.
dan/atau perusakan laut, masih
rendahnya peran pemerintah
dalam keseriusan menghadapi
pencemaran yang ada.
Pihak masyarakat nelayan sekitar
128
aktivitas fungsi
Marunda
tersebut
dapat
disimpulkan terjadi koordinasi
yang
disharmoni
antara
pemerintah dengan pihak non
pemerintah
(LSM
dan
masyarakat). Mereka merasa
selama ini tidak dilibatkan secara
aktif dalam menangani kasus
pencemaran yang telah terjadi.
Padahal dampak yang dirasakan
adalah
kepada
orang-orang
sekitar yang menggantungkan
hidupnya pada laut sekitar.
Koordinasi
antar
sektor
pemerintah tidak optimal dalam
menangani
Pengendalian
Pencemaran dan/atau Perusakan
laut.
Dalam
rangka
memberikan
pelayanan kepada masyarakat maka
Kantor Lingkungan Hidup dan
BPLHD membentuk Pos Pengaduan
dan
Pelayanan
Penyelesaian
Sengketa Lingkungan. Layanan ini
salah satu tujuan dibentuknya adalah
agar masyarakat dapat melakukan
pelaporan,
apabila
terjadi
permasalahan lingkungan hidup
yang berdampak dan merugikan
bagi lingkungan dan layanan
tersebut merupakan wadah untuk
memediasi
seandainya
terjadi
sangketa
lingkungan
hidup.
Pemerintah
mempunyai
peran
sebagai mediator, serta sebagai
pihak
yang
menyepakati
perhitungan ganti rugi atau tindakan
tertentu bagi pencemar dan perusak
lingkungan hidup. Sebagaimana
diatur dalam UU No. 32 Tahun
2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Kurangnya
sosialisasi kepada
Masyarakat.
Minimnya
kesadaran
dari
masyarakat,
selama ini mindset
masyarakat
pemerintah hanya
akan merugikan
dan merepotkan
masyarakat.
129
Lemahnya pengawasan
penegakan hukum.
3.
dan Kurangnya SDM
dalam pengawasan
aktif.
Belum optimalnya implementasi Kurangnya SDM
Terwujudnya
Partisipasi
kinerja
dan program-program strategis dalam dan
Pencemaran dari Masyarakat
dampak
yang Pengendalian
dan/atau Perusakan Laut.
dalam mendukung
dikehendaki
kebijakan.
SDM sangat mempengaruhi
keberhasilan
Implementasi
Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia No.19 Tahun 1999
Tentang
Pengendalian
Pencemaran Laut.
Tidak terdapat kendala dalam
Anggaran
dan
Infrastruktur
pendukung kebijakan.
Upaya Rehabilitasi Lingkungan Tidak
adanya
Laut yang terdapat di wilayah dukungan
dari
Laut Marunda belum berjalan seluruh
secara optimal.
stakeholder
(Peneliti,2015)
130
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang
Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan laut di wilayah laut Marunda
Jakarta Utara belum optimal.
1. Jika melihat dengan beberapa indikator yaitu tingkat kepatuhan
(complience)
yang
paling
mempunyai
pengaruh
besar
terhadap
ketidakoptimalan sebuah kebijakan dalam Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 19 Tahun 1999 seperti dalam pencegahan hingga
pemulihan mutu air laut. Pada implementasinya yang terjadi di lapangan
adalah beberapa stakeholder sebagai instrumen pencegahan hingga
pemulihan mutu laut telah melanggar prosedur yang ditetapkan dalam
kebijakan seperti dalam pencegahan pencemaran yang terjadi justru
beberapa industri tidak patuh terhadap aturan karena beberapa diantara
industri disekitar tidak memiliki IPAL yang memadai, rendahnya
partisipasi dari masyarakat dalam menjaga kebersihan laut dan belum
adanya keseriusan pemerintah dalam pengendalian pencemaran dan/atau
perusakan laut.
2. Pada indikator terhadap Lancarnya Aktivitas Fungsi yaitu pelaksanaan
aktivitas fungsi-fungsi dari pemangku kebijakan masih terjadi kendalakendala seperti pengawasan yang kurang optimal dan koordinasi juga tidak
berjalan dengan baik. Koordinasi antar pemerintah maupun dengan non
131
pemerintah. Kendala pengawasan yaitu kurangnya SDM yang ada dalam
pengawasan aktif.
3. Untuk mencapai Kinerja dan dampak yang dikehendaki dari
Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan laut yang dilakukan adalah
dengan upaya Rehabilitasi tetapi pada implementasinya belum berjalan
dengan baik dengan kendala karena untuk dalam upaya pencegahan
pencemaran saja belum dilakukan secara efektif sehingga upaya
pemulihanpun tidak optimal. Kendala yang dialami dalam upaya
rehabilitasi yaitu belum adanya dukungan secara nyata terhadap pemulihan
mutu lingkungan laut.
Keberhasilan implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan
Laut (Studi kasus di wilayah laut Marunda Jakarta Utara) ini mencakup
keterkaitan dan keseluruhan aspek lingkungan yang telah memberi konsekuensi
bahwa pengelolaan lingkungan, termasuk sistem pendukungnya tidak dapat
berdiri sendiri, akan tetapi berintegrasi dengan seluruh pelaksanaan seperti
pemerintah, masyarakat, swasta (industri) dan LSM.
132
5.2 Saran
Berdasarkan hasil dari penelitian yang berjudul Implementasi Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau
Perusakan Laut (Studi kasus di wilayah laut Marunda Jakarta Utara) ini, maka
peneliti
dapat
memberikan
saran
agar
dapat
melaksanakan
atau
mengimpelemntasikan peraturan berjalan dengan semestinya. Adapun saran-saran
tersebut yaitu:
1. Pada tingkat kepatuhan perlu ditingkatkan lagi dengan cara diberikan
pembinaan dan sanksi yang tegas agar segala prosedur pengendalian
dampak lingkungan dilaksanakan.Ketidakpatuhan yang selama ini
terjadi seyogianya dilakukan secara terpadu semua sektor, dan bukan
saja tugas dari dinas terkait saja tetapi dikerjakan secara multisektoral
dari sektor pemerintah saja tetapi swasta/masyarakat.
2. Dalam kelancaran aktivitas fungsi perlu ditingkatkan lagi bentuk
pengawasan secara aktif yaitu target pengawasan secara langsung
ditambah agar tidak hanya sebagian saja tetapi diharapkan mampu
menjangkau seluruhnya sehingga tidak adanya lagi celah pelanggaran
dalam
dokumen
pengawasan
pasif
yang
berbentuk
laporan.
Pengawasan aktivitas usaha dan/atau kegiatan secara ketat baik itu
industri besar, industri kecil, aktivitas budidaya, transportasi sampai
kepada rumah tangga (domestik).
3. Dalam menunjang kelancaran aktivitas fungsi juga perlu dilakukan
Penguatan Kelembagaan Lingkungan Hidup, dalam hal ini tambah
133
4. jumlah SDM dalam pembinaan dan pengawasan lingkungan hidup
agar upaya pengawasan dapat secara rutin dilakukan aktif ke lapangan
agar tidak memiliki celah terhadap yang melanggar peraturan serta
meningkatkan koordinasi seluruh stakeholder. Peran aktif masyarakat
sangat diperlukan dalam pengawasan berupa pengawasan sosial, yaitu
seperti pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan,
penyampaian
informasi
dan/atau
laporan
karena
prakteknya
masyarakat cukup pasif terhadap pencemaran yang telah terjadi.
5.
Dalam upaya mencapai kinerja dan dampak yang ingin dikehendaki
perlu dilakukan kegiatan yang dilakukan secara mandiri dan/atau
bermitra dengan Pemerintah Daerah dan/atau lembaga lainnya, serta
pemerintah memberikan sosialisasi mengenai kebijakan pengendalian
pencemaran dan/atau perusakan laut khususnya dalam hal pemulihan
mutu air laut.
6. Dalam mencapai upaya kinerja dan dampak yang dikehendaki yaitu
melalui rehabilitasi sudah selayaknya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
meninjau kembali upaya Reklamasi yang akan dilakukan dengan
proses AMDAL secara transparan karena upaya Reklamasi Teluk
Jakarta yang akan dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
yang salah satunya berkaitan erat dengan properti untuk bisnis dan
perumahan bagi warga Jakarta hanya menambah permasalahan bukan
hanya lingkungan tetapi sosial. Ini bertolak belakang dengan upaya
rehabilitasi lingkungan laut yang selama ini juga belum berjalan
134
7. dengan baik, dengan begitu sudah selayaknya pemerintah melakukan
Restorasi mengembalikan fungsi semula dengan cara memperbaiki hutan
mangrove sekitar alam pesisir Jakarta bukan melakukan Reklamasi Teluk
Jakarta.
135
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Abdul Wahab, Solichin. 2005. Analisis Kebijaksanaan: Dari Formulasi ke
Implementasi Kebijaksanaan Negara (Edisi Kedua). Jakarta: Bumi Aksara
Abidin, Said Zainal, 2012. Kebijakan Publik. Jakarta: Salemba Humanika.
Agustino, Leo, 2008. Dasar-dasar Kebijakan Publik. Bandung: CV.Alfabeta
Alfatih, Andy, 2010. Implementasi kebijakan dan Pemberdayaan masyarakat.
Bandung : Unpad Press.
A.G, Subarsono, 2005. Analisis Kebijakan Publik, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Bungin, Burhan, 2003. Analisis Penelitian Kualitatif. Pemahaman Filsofis dan
Metodologi ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: Raja Grafindo,
Persada
Dahuri Rokhmin dan Ginting Sapta Putra, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah
Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta : Balaipustaka.
Darmono, 2010. Lingkungan Hidup dan Pencemaran. Jakarta: UI-Press
Denzin dan Licoln. 2009. Handbook of Qualitatif Research. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Dunn, William N., 2003. Pengantar Analisis Kebijakan Publik, (Edisi Kedua).
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Emzir, 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif, Analisis Data. Jakarta: Rajawali Pers
Fuad, Anis dan Kandung Sapto N, 2014. Panduan Praktis Penelitian Kualitatif.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Irawan,Prasetya.2006. Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif untuk ilmu-ilmu
sosial.Departemen Ilmu Administrasi Fisip UI.
Islamy, Irfan. 2009. Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijakan Negara. Jakarta: Bumi
Aksara.
Manik, K.E.S, 2009. Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta : Djambatan
Moleong, Lexy.J., 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Muchsin, dan Fadillah. P., 2002. Hukum dan Kebijakan Publik. Malang: Averroes
Press
Mukhtasor, 2007. Pencemaran Pesisir dan Laut. Jakarta:Pradnya Paramita
Nugroho, riant,2011. Public Policy. Jakarta : Elex Media Komputindo
Soehartono, Irawan. 2004Metode Penelitian Sosial Suatu Teknik Penelitian Bidang
Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung:PT Remaja
Rosdakarya.
Suryabrata.Sunadi.2008.Metode Penelitian. Jakarta: PT.Raja Grafindo
Sudini, Luh Putu. 2012. Pengelolaan Pencemaran Laut di Indonesia. Jakarta:Titah
Surga.
Sugiyono, 2007. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D. Bandung :
Alfabeta
136
Sugiyono, 2004. Metode Penelitian Administrasi. Bandung:Alfabeta.
_____., 2011. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D. Bandung :
Alfabeta
Tangkilisin, Hesel Nogi 2003. Implementasi Kebijakan Publik. Yogyakarta: Lukman
Offset YPAPI.
Yustinus, W. 2008. Policy Implementation and Bureaucracy. Yogyakarta: JNP MAP
Universitas Gadjah Mada.
Jurnal
Akib, Header. Jurnal Administrasi Publik:volume 1 (Nomor 1) Tahun 2010
Lestari dan Edward 2004. Dampak Pencemaran Logam Berat Terhadap Kualitas Air
Laut dan Sumber Daya Perikanan (Studi Kasus Kematian Massal Ikan-ikan
di Teluk Jakarta).Makara Sains Vol.8 No.2 52-58.
Don.Suherta. 2013. Implementasi Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010
Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.Universitas Sriwijaya
Suhendar I.S dan Heru D.W 2007. Kondisi Pencemaran Lingkungan Perairan di
Teluk Jakarta.Vol.3 1-14.
Syarli.Marisha.Implementasi Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2003 Tentang
Perizinan Penyelenggaraan Hiburan di Kota Cilegon (Studi pada jenis
hiburan Life Music) FISIP UNTIRTA
Sumber Lain
Ahdiat,2012. Pencemaran Laut dan Upaya Penegakan hukumnya di Indonesia.
Universitas Hasanudin Makassar.
http://vivienanjadi.blogspot.com/2012/02/pencemaran-pesisir-dan-laut.html.
Di
unduh pada 02-01-2015 19.12 wib.
Don Suherta.2011. Implementasi Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Di unduh 10-02-2015 19.20wib.
Peraturan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1999 Tentang
Pengendalian dan/atau Perusakan Laut
137
LAMPIRAN
138
I. Surat Ijin Penelitian
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
II. Dokumentasi Lapangan
149
Wawancara dengan Sub bidang Pengawasan dan Pengendalian Dampak Lingkungan di
Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara
Wawancara dengan Ketua nelayan dan Masyarakat Marunda Jakarta Utara
Wawancara dengan Bidang Penegakan Hukum Lingkungan BPLHD Provinsi DKI
Jakarta
150
Wawancara dengan LSM KIARA (Koalisi Rakyat Untuk Peduli Perikanan) Bidang
Monitoring dan Evaluasi
Wawancara dengan Kepala Seksi Perikanan dan Kelautan Suku Dinas
Perikanan,Kelautan dan Ketahanan Pangan Jakarta Utara
Wawancara dengan LSM WALHI (Wahana Lingkungan Hidup) DKI Jakarta
151
Wawancara dengan Kepala Bagian Produksi PT.Orson Indonesia
Foto : Pantai Marunda Pulo Cilincing Jakarta Utara
c
Foto : Kondisi air di sungai bidara yang terlihat hitam berminyak yang diduga
pembuangan limbah ke sungai yang kemudian dialirkan ke laut
152
Foto : Kondisi pinggir laut yang dipenuhi oleh sampah
Foto : Industri yang terletak dikawasan Laut Marunda
III. Data Relevan Penelitian
1. Kadar Logam Berat ( Pb, Lead, Timah Hitam)
153
2. Kadar Phospat
Berdasarkan Grafik diatas kadar Phospat berkisar antara 0.060-0.270 Mg/L Menurut
Kepmen LH no 51 Tahun 2004 lampiran II yaitu Wisata Bahari meliputi stasiun A1,
154
A2, A3, A4, B1, B2, B3, B4, C3, C4,D3, D4 rata rata kadar phosphate 0.17 Mg/L
nilai ini masih diatas baku mutu sebesar 0.015 Mg/L.
Lampiran III yaitu untuk Biota Laut meliputi A5, A6, A7, B5, B6, B7, C2, C5, C6,
D6 rata rata kadar phosphate sebesar 0.116 Mg/L ini masih diatas baku mutu sebesar
0.015 Mg/L.
Berdasarkan zona untuk zona A meliputi A1, A2, A3, A4, A5, A6, A7 tertinggi di A4
sebesar 0.160 Mg/L dengan rata rata kadar phosphate sebesar 0.13 Mg/L, zona B
meliputi B1, B2, B3, B4, B5, B6, B7 tertinggi di B4 sebesar 0.270 rata rata kadar
phosphate di zona B sebesar 0.116 Mg/L. Untuk zona C yang meliputi C2, C3, C4,
C5, C6 tertinggi di C4 sebesar 0.200 dan rata rata kadar phosphate di zona C sebesar
0.164 Mg/L, Zona D yang meliputi D3,D4, D5, D6 tertinggi di D4 0.350 Mg/L
dengan rata rata 0.170 Mg/L.
3. Konsentrasi Amonia di Perairan Teluk Jakarta
Pada grafik diatas menunjukan bahwa konsentrasi amonia sebagian besar telah
melebihi ambang batas baku mutu. Hal ini menunjukan bahwa sumber pencemar berasal
155
dari limbah domestik yang mengalir ke sungai dn bermuara ke laut. Berdasarkan grafik
diatas nilai amoniak berkisar antara <0,011-0,017 tertinggi di A4 berdekatan dengan
pulau Damar antara 35-81 Mg/L untuk nilai tertinggi D5 merupakan daerah pelabuhan.
Berdasarkan Kepmen LH No 51 Tahun 2004 lampiran 1 yaitu pelabuhan stasiun D5
dengan nilai amoniak <0,011 baku mutu 0,30 nilai itu masih dibawah baku mutu,
lampiran II wisata bahari yaitu stasiun A1,A2,A3,A4,B1,B2,B3,B4,D4 kadar amoniak
sama <0.011 Mg/L untuk wisata bahari tidak ada baku mutunya. Lampiran III yaitu biota
laut A5,A6,A7,B5,B6,B7,C2,C5,C6,D6 kadar amoniaknya <0,011 ini masih dibawah
baku mutu.
4. Konsentrasi Fenol di Perairan Teluk Jakarta
Sumber : BPLHD Provinsi DKI Jakarta Hasil Pemantauan 2013 (Hal:518)
Tingginya parameter fenol2 di perairan dapat terjadi karena adanya pengaruh
aktifitas manusia dan kondisi lingkungan di sekitar, seperti adanya aktifitas industri
kimia, minyak, tekstil, dan plastik. Selain itu sumber pencemar Fenol berasal dari limbah
domestik berupa pemutih pakaian dan limbah pewarna. Berdasarkan Kepmen LH Nomor
51 Tahun 2004 lampiran satu yaitu pelabuhan stasiun D5 kadar phenol sebesar 0.3 Mg/L
nilai ini masih diatas baku mutu sebesar 0.002 Mg/L,lampiran II Wisata Bahari yaitu
2
Fenol atau asam karbolat atau benzenol adalah zat kristal tak berwarna yang memiliki bau khas. Senyawa fenol dapat
pula ditemukan di perairan. Keberadaanya dapat menjadi sumber pencemar yang membahayakan kehidupan manusia
maupun hewan air lainnya.
156
stasiun A1, A2, A3, A4, B1, B2, B3, B4, C3, C4, D3, D4 kadar phenol rata rata 0.20
Mg/L untuk wisata bahari tidak ada baku mutunya, Lampiran III yaitu untuk Biota Laut
meliputi A5, A6, A7,B5, B6, B7, C2, C5, C6, D6 rata rata 0.21 Mg/L nilai ini diatas
baku mutu 0.002 Mg/L.
Berdasarkan zona untuk zona A meliputi AI, A2, A3, A4, A5, A6, A7 tertinggi di
A7 rata rata kadar phenol di zona A sebesar 0.21 Mg/L sebesar 0.30 Mg/L, zona B
meliputi B1, B2, B3, B4, B5, B6, B7 tertinggi di B1 sebesar 0.26 Mg/L rata rata kadar
phenol zona B 0.197 Mg/L. Untuk zona C yang meliputi C2, C3, C4, C5, C6 tertinggi di
C2dan C5 sebesar 2.40 Mg/L, Zona D yang meliputi D3,D4,D5, D6 kadar phenol
tertinggi di D6 sebesar 0.30 Mg/L rata rata kadar phosphate di zona D sebesar 0.170
Mg/L.
157
DAFTAR PEGAWAI KANTOR LINGKUNGAN HIDUP KOTA ADMINISTRASI
JAKARTA UTARA
NO
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
NAMA/NIP/NRK
Ir. Rusman E. Sagala, MT
196011161989031001/113133
Agus Sartono
196108251984021002/083336
Drs.Andy Setiady
196005161985031008/086472
Endah Wahyuningsih ST.MT
196804131998032003/124124
MG. Evi Sulistyowati S.Si
197203191998032003/127613
Rusliyanto, SAP
196610121987031005/110376
Broto Damaryanto, SE
196312211987031005/110376
Ria Latansih
197506212006042020/165273
Rusmiyati
195807071979032003/079233
Hadiyati
195812171983092001/079233
Eddy Marluli
196410271987031006/11047
Sumi Fathimah S.ST
198009102010012015/177630
Dwi Meirina Handayani, ST
198505022010012046/177313
Retno Budi Mahmudahani ,ST
198411142010012017/183126
Susmono
195902101985031008/087688
GOLONGAN
IV/B
III/D
III/D
III/D
III/D
III/D
III/C
III/C
III/B
III/B
III/B
III/B
III/B
III/B
III/A
158
Tupoksi
Kantor Pengelola Lingkungan Hidup Kota Administrasi Jakarta Utara
1. KPLH Kota Merupakan Unit kerja BPLHD pada Kota Administrasi
2. KPLH kota dipimpin oleh seorang Kepala Kantor yang secara teknis dan
administrasi berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala
Badan serta operasional berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada
Walikota
Kantor Pengelola Lingkungan Hidup
1. KPLH Mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup daerah
pada lingkup kota administrasi
2. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) KPLH Kota
menyelenggarakan fungsi :
a. Penyusunan rencana strategis dan rencana kerja dan anggaran KPLH Kota
b. Pelaksanaan rencana strategis dan dokumen pelaksanaan anggaran KPLH
Kota
c. Pelaksanaan regulasi teknis penyelenggaraan urusan pengelolaan lingkungan
hidup, limbah bahan berbahaya dan beracun lingkup kota administrasi
d. Pelaksanaan kegiatan pengawasan dan pengendalian pemulihan pengelolaan
lingkungan hidup, UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan) /UPL (Upaya
Pemantauan Lingkungan), limbah kegiatan/usaha pada lingkup kota
administrasi
e. Pelaksanaan sistem penanggulangan dan pengelolaan limbah berbahaya dan
beracun lingkup Kota Administrasi
f. Pelaksanaan dan pengkoordinasian kegiatan pencegahan dan penanggulangan
pencemaran, kerusakan lingkungan dan pemulihan lingkungan lingkup kota
Administrasi
g. Pelaksanaan kegiatan pembinaan, konsultasi, dan pendampingan teknis
pencegahan penanggulangan pencemaran
kerusakan lingkungan dan
pemulihan kualitas lingkungan hidup Kota Administrasi
h. Pengawasan, pengendalian, dan evaluasi UKL (Upaya Pengelolaan
Lingkungan) /UPL (Upaya Pemantauan Lingkungan) dan SPPL pada
kegiatan/usaha
i. Penanganan pengaduan kasus pencemaran dan/atau perusakan lingkungan
hidup
j. Penerapan sanksi administratif di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup sesuai lingkup tugasnya berdasarkan peraturan perundangundangan
k. Pelaksanaan edukasi, pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat
dalam pengelolaan lingkungan hidup
l. Pelaksanaan koordinasi, pemberian bimbingan, konsultasi dan pendampingan
teknis pelaksanaan perizinan dan pengelolaan lingkungan hidup terhadap
SKPD/UPD, dan/atau instansi pemerintah/masyarakat/swasta.
m. Pelaksanaan pengelolaan kepegawaian, keuangan dan barang KPLH Kota
n. Penyediaan, penatausahaan, penggunaan, pemeliharaan dan perawatan sarana
prasarana kerja KPLH Kota
159
o. Pengelolaan kearsipan, data dan informasi KPLH Kota
p. Pelaksanaan kegiatan kerumahtanggan dan ketatausahaan KPLH Kota
q. Pelaksanaan publikasi kegiatan dan pengaturan acara KPLH Kota dan
r. Pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi KPLH Kota
3. Pelaporan dan pertanggung jawaban pelaksanaan tugas dan fungsi KPLH Kota
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf r, untuk teknis dan administrasi
disampaikan Kepala Kantor kepada Kepala BPLHD dan untuk operasional
disampaikan Kepala Kantor kepada Walikota.
KPLH Kota terdiri dari :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
Kepala kantor
Subbagian Tata Usaha
Subbagian Pelestarian dan Tata Lingkungan
Subbagian Pencegahan Dampak Lingkungan
Subbidang pengawasan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
Subbidang Penataan Hukum Lingkungan dan
Subkelompok Jabatan Fungsional
Kepala Kantor mempunyai tugas :
a. Memimpin dan mengoordinasikan pelaksanaan tugas dan fungsi KPLH Kota
sebagaimana dimaksud pasal 33
b. Mengoordinasikan pelaksanan tugas Subbagian, Subbidang dan Subkelompok
Jabatan Fungsional
c. Melaksanakan kerja sama dan koordinasi dengan SKPD/UKPD dan/atau instansi
pemerintah/swasta dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi KPLH Kota dan
d. Melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas dan fungsi KPLH
Kota
Sub bagian Tata Usaha
1. Subbagian Tata Usaha merupakan Satuan Kerja KPLH Kota dalam pelaksanaan
administrasi KPLH Kota
2. Subbagian Tata Usaha dipimpin oleh seorang Kepala Subbagian yang
berkedudukan dibawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Kantor
3. Subbagian Tata Usaha mempunyai tugas :
a. Menyusun bahan rencana strategis dan rencana kerja dan anggaran, KPLH
kota sesuai dengan lingkup tugasnya
b. Melaksanakan rencana strategis dan dokumen pelaksanaan anggaran KPLH
Kota sesuai dengan lingkup tugasnya
c. Melaksanakan monitoring, pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana
strategis dan dokumen pelaksanaan anggaran KPLH Kota
d. Melaksanakan pengelolaan kepegawaian, keuangan dan barang KPLH Kota
e. Melaksanakan pengelolaan ketatausahaan dan kerumahtanggan KPLH Kota
f. Melaksaakan penyediaan, penatausahaan, pemeliharaan dan perawatan
prasarana dan sarana kerja KPLH Kota
160
g. Melaksanakan kegiatan pemeliharaan kebersihan, keindahan, keamanan dan
ketertiban kantor KPLH Kota
h. Melaksanakan pengelolaan ruang rapat/ruang pertemuan KPLH Kota
i. Melaksanakan publikasi keguatan dan pengaturan acara KPLH Kota
j. Melaksanakan kegiatan pengelolaan kearsipan, data dan informasi KPLH
Kota
k. Mengoordinasikan penyusunan rencana strategis dan rencana kerja dan
anggaran KPLH Kota
l. Mengoordinasikan penyusunan laporan kegiatan, keuangan, kinerja dan
akuntabilitas KPLH Kota dan
m. Melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas Subbagian
Tata Usaha
Sub Bagian Pelestarian dan Tata Lingkungan
1. Subbagian pelestarian dan Tata Lingkungan merupakan Satuan Kerja lini KPLH
Kota dalam pelaksanaan kegiatan pelestarian dan tata lingkungan hidup daerah
pada lingkup Kota Administrasi
2. Subbidang Pelestarian dan Tata Lingkungan dipimpin oleh seorang Kepala
Subbidang yang berkedudukan dibawah dan bertanggungjawab kepada Kepala
Kantor
3. Subbidang Pelestarian dan Tata Lingkungan mempunyai tugas:
a. Menyusun bahan rencana strategis dan rencana kerja dan anggaran KPLH
Kota sesuai dengan lingkup tugasnya
b. Melaksanakan rencana strategis dan dokumen pelaksanaan anggaran
KPLH Kota sesuai dengan lingkup tugasnya
c. Melaksanakan upays pelestarian melalui mitigasi, adaptasi perubahan
iklim, konservasi dan penataan lingkungan terkait dengan daya tampung
serta daya dukung lingkungan
d. Melaksanakan kegiatan pengendalian upaya pelestarian melalui mitigasi,
adaptasi perubahan iklim, konservasi dan penataan lingkungan terkait
dengan daya tampung dan daya dukung lingkungan
e. Melaksanakan
kegiatan
pembinaan
teknis
pencegahan
dan
penanggulangan pencemaran, kerusakan lingkungan dan pemulihan
kualitas lingkungan
f. Melaksanakan kegiatan pemantauan dan evaluasi upaya pelestarian
melalui mitigasi, adaptasi perubahan iklim, konservasi dan penataan
lingkungan terkait dengan daya tampung serta daya dukung lingkungan
g. Melaksanakan kegiatan koordinasi, pemantauan, evaluasi dan penyajian
informasi kualitas lingkungan
h. Melaksanakan kegiatan upaya pelestarian melalui mitigasi, adaptasi dan
konservasi dan penataan lingkungan terkait dengan daya tampung dan
daya dukung lingkungan berkoordinasi dengan SKPD/UKPD dan/atau
instansi pemerintah/swasta/masyarakat
i. Melaksanakan kegiatan bimbingan, konsultasi dan pendampingan teknis
pelaksanaan upaya pelestarian melalui mitigasi, adaptasi dan konservasi
dan penataan lingkungan terkait dengan daya tampung dan daya dukung
lingkungan terhadap SKPD/UKPD
161
j. Melaksanakan kegiatan bimbingan, konsultasi dan pendampingan
terhadap
penataan
lingkungan
antara
Green
and
Clean,
Adiwayata,Kalpataru dan Adipura
k. Melaksanakan kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan terhadap
upaya pemulihan lingkungan antara lain resapan air dan penghijauan
l. Menghimpun, mengolah , menyajikan, memelihara, mengembangkan dan
memanfaatkan data dan informasi mengenai bahan perusak ozon
m. Melaksanakan pemantauan dan penertiban penggunaan bahan perusak
ozon
n. Melaksanakan investarisasi , identifikasi, evaluasi dan pelaporan
ekosistem dan
o. Melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas Subbidang
Pelestarian dan Tata Lingkungan
Sub Bidang Pencegahan Dampak Lingkungan
Subbidang Pencegahan Dampak Lingkungan merupakan Satuan Kerja lini KPLH
dalam pelaksanaan kegiatan pencegahan dampak lingkungan dalam lingkup kota
Administrasi
1.
2.
Subbidang Pencegahan Dampak Lingkungan dipimpin oleh seorang Kepala
Subbidang yang berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab kepada
Kepala Kantor
Subbidang Pencegahan Dampak Lingkungan mempunyai tugas:
a. Menyusun bahan rencana strategis dan rencana kerja dan anggaran
KPLH Kota sesuai dengan lingkup tugasnya
b. Melaksanakan rencana strategis dan dokumen pelaksanaan anggaran
KPLH Kota sesuai dengan lingkup tugasnya
c. Melaksanakan pembinaan UKL-UPL dan SPPL
d. Melaksanakan pengawasan, pengendalian dan evaluasi implementasi
dokumen lingkungan skala UKL-UPL dan SPPL
e. Melaksanakan inventarisasi, identifikasi kegiatan yang belum
memiliki dokumen lingkungan dan perizinan Perlindungan serta
Pengelolaan Lingkungan Hidup
f. Pelaksanaan koordinasi, pemberian bimbingan, konsultasi dan
pendampingan teknis pelaksanaan perizinan dan pengelolaan
lingkungan hidup terhadap SKPD/UKPD, dan/atau instansi
pemerintah/swasta/masyarakat
g. Melaksanakan pembinaan dan pengawasan kegiatan yang belum
memiliki dokumen lingkungan dan perizinan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup dan
h. Melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas
Subbidang Pencegahan Dampak Lingkungan
162
Sub Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
1. Subbidang Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan adalah
Satuan Kerja lini KPLH Kota dalam pelaksanaan kegiatan pengawasan dan
pengendalian pencemaran lingkungan pada lingkup kota administrasi
2. Subbidang pengawasan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan dipimpin
oleh seorang Kepala Subbidang yang berkedudukan dibawah dan bertanggung
jawab kepada Kepala Kantor
3. Subbidang Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
mempunyai tugas :
a. Menyusun bahan rencana strategis dan rencana kerja dan anggaran
KPLH Kota sesuai dengan lingkup tugasnya
b. Melaksanakan rencana strategis dan dokumen pelaksanaan anggaran
KPLH sesuai dengan lingkup tugasnya
c. Melaksanakan inventarisasi dan identifikasi kegiatan sumber
instansional dan non instansional penghasil air limbah dan/atau emisi
udara dan/atau limbah padat dan/atau limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun (B3)
d. Melaksanakan kegiatan pengawasan, pemantauan, dan evaluasi
pengendalian pencemaran air, emisi udara, limbah padat dan limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) terhadap kegiatan usaha skala UKLUPL dan SPPL
e. Melaksanakan kegiatan pembinaan teknis pencegahan, penanggulangan
dan pemulihan kualitas lingkungan akibat pencemaran air limbah, emisi
udara, limbah padat dan limah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
terhadap kegiatan usaha skala UKL-UPL dan SPPL
e. Kegiatan bimbingan, konsultasi dan pendampingan teknis kepada
kegiatan usaha skala UPL-UKL dan SPPL penghasil air limbah, emisi
udara, limbah padat dan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
f. Menyiapkan bahan laporan KPLH Kota Administrasi yang berkaitan
dengan tugas Subbidang Pengawasan dan Pengendalian Lingkungan dan
g. Melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas
Sub Bidang Pengawasan dan Pengendalian Dampak Lingkungan
1.
2.
3.
Subbidang Penataan Hukum Lingkungan merupakan Satuan Kerja lini KPLH
Kota dalam pelaksanaan kegiatan penataan hukum lingkungan pada lingkup
kota administrasi
Subbidang Penataan Hukum Lingkungan dipimpin oleh Kepala Subbidang yang
berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Kantor
Subbidang Penataan Hukum Lingkungan mempunyai tugas :
a. Menyusun bahan rencana strategis dan rencana kerja dan anggaran KPLH
Kota sesuai dengan lingkup tugasnya
b. Melaksanakan rencana strateis dan dokumen pelaksanaan anggaran KPLH
Kota sesuai dengan lingkup tugasnya
c. Melaksanakan pengelolaan pengaduan kasus pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan hidup dalam bentuk menerima, menelaah,
mengklarifikasi, memverifikasi dan menindaklanjuti hasil verifikasi
163
d. Melaksanakan fasilitasi penanganan pengaduan penyelesaian kasus
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup
e. Melaksanakan koordinasi penanganan pengaduan penyelesaian kasus
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup dengan instansi terkait
f. Melaksanakan penerapan sanksi administratif di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup sesuai lingkup tugasnya berdasarkan
peraturan perundang-undangan
g. Melaksanakan koordinasi penerapan penegakan hukum di bidang
perlindugan dan pengelolaan lingkungan hidup dengan Instansi terkait
h. Melaksanakan analisis yuridis dan menyusun dokumen sanksi
administratif skala UKL-UPL
i. Melaksanakan pengawasan, pengendalian, evaluasi dan penyusunan status
ketaatan terhadap pelaksanaan sanksi administratif
j. Melaksanakan sosialisasi peraturan perundang-undangan dibidang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan lingkup
tugasnya
k. Melaksanakan edukasi di bidang lingkungan hidup sesuai dengan lingkup
tugasnya
l. Melaksanakan pembinaan, pemberdayaan, dan peningkatan peran serta
masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup
m. Melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas Subbidang
Penataan Hukum Lingkungan.
Suku Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Administrasi
Jakarta
Utara
Sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No.10 Tahun 2008 tentang
Organisasi Perangkat Daerah dan Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta No.87 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kelautan dan
Pertanian, maka Suku Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan kota Administrasi
Jakarta Utara yang secara teknis dan administrasi berkedudukan di bawah dan
bertanggung jawab kepada Dinas Kelautan dan Pertanian serta secara operasional
berkedudukan di bawah dan bertanggung jawb kepada Walikota. Tugas Suku Dinas
Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Administrasi Jakarta Utara: Melaksanakan
pelayanan bidang peternakan, perikanan dan kelautan di wilayah kota Administrasi
Jakarta Utara.
164
Fungsi Suku Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Administrasi Jakarta
Utara :
a. Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) dan Dokumen Pelaksanaan
Anggaran (DPA) Suku Dinas
b. Pelaksanaan dokumen pelaksanaan Anggaran (DPA) Suku Dinas
c. Pelaksanaan bimbingan, konsultasi, dan fasilitasi kegiatan dan usaha peternakan,
perikanan dan kelautan
d. Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian kegiatan dan usaha peternakan,
perikanan dan kelautan pada lingkup kota administrasi jakarta utara
e. Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan hewan,hasil perikanan, bahan asal hewan
dan hasil bahan asal hewan
f. Pemberian,
pengawasan,
pengendalian
dan
evaluasi
perijinan/rekomendasi/sertifikasi di bidang peternakan, perikanan dan kelautan
g. Pelaksanaan pengembangan peran serta masyarakat dalam peternakan, perikanan
dan kelautan
h. Menghimpun, pengolahan dan penyajian data dan informasi peternakan,
perikanan dan kelautan pada lingkup kota administrasi jakarta utara
i. Pelaksanaan supervisi pelaksanaan tugas seksi peternakan, perikanan dan
kelautan kecamatan
j. Pelaksanaan pemungutan, penata usahaan, penyetoran, pelaporan dan
pertanggungjawaban penerimaan retribusi pelayanan dan perikanan
k. Pelaksanaan koordinasi peternakan, perikanan dan kelautan pada lingkup wilayah
kota administrasi
l. Penyelenggaran ketatausahaan, pengelolaan kepegawaian , keuangan, barang
suku dinas
m. Pembinaan dan pendayagunaan pesisir dan pantai
n. Penyediaan, penata usahaan, penggunaan, pemeliharaan dan perawatan
prasaranan dan sarana kerja suku dinas
o. Penyusunan bahan laporan Dinas Kelauran dan Pertanian kota Administrasi yang
terkait dengan tugas dan fungsi Suku Dinas
p. Pelaksanaan pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi
Suku Dinas
165
Gambar 4.4
Struktur Organisasi Suku Dinas Peternakan,Perikanan dan kelautan Jakarta
Utara
Kepala Suku Dinas Peternakan, Perikanan
dan Kelautan Jakarta Utara
Sub Bagian Tata
Usaha
Seksi Peternakan
Sek.P2K
Kec.Koja
Seksi.P2K
Kec.Cilincing
Seksi Pengawasan
dan Pengendalian
Sek.P2K
Kec.Kelapa
Gading
Seksi Perikanan dan
Kelautan
Seksi.P2K
Kec.Pade
mangan
Jabatan Fungsional
Seksi.P2K
Kec.Tj.Priok
Seksi.P2K
Kec.Penjarin
gan
166
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999
TENTAG
PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU
PERUSAKAN LAUT
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :
a. bahwa lingkungan laut beserta sumber daya alamnya berdasarkan Wawasan Nusantara
merupakan salah satu bagian lingkungan hidup yang merupakan karunia Tuhan Yang
Maha Esa, berfungsi sebagai ruang bagi kehidupan Bangsa;
b.
bahwa pengelolaan lingkungan laut beserta sumber daya alamnya bertujuan untuk
memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat dan kelangsungan
hidup makhluk hidup lainnya baik masa sekarang maupun masa yang akan datang;
c. bahwa meningkatnya kegiatan pembangunan di darat dan di laut maupun pemanfataan
laut beserta sumber daya alamnya dapat mengakibatkan pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan laut yang akhirnya menurunkan mutu serta fungsi laut ;
d. bahwa sehubungan dengan hal tersebut diatas, dipandang perlu menetapkan
PeraturanPemerintah tetnang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusahaan Laut;
Mengingat :
1. Pasal 5 ayat (2), Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945;
167
2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan
Pokok
Kehutanan(Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 2823);
3.Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia
(Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2994);
4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di
Daerah(Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3037);
5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona ekonomi Ekslusif Indonesia
(Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3260);
6. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara
Tahun1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274);
7.Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun
1985 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299);
8.Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan
Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut Tahun 1982;
9. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber DayaAlam Hayati
Dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49,Tambahan Lembaran
Negara Nomor
10. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran (Lembaran Negara
Tahun 1992 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3493);
11. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara
Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501);
12. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia (Lembaran
Negara Tahun 1996 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3647);
13. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup(Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3699);
168
MEMUTUSKAN :
Menetapkan :
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGENDALIAN PEN-CEMARAN
DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT.
BAB I KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini, yang dimaksud dengan :
1.
Ruang wilayah lautan yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur
terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional;
2.
Pencemaran laut adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi,
dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga
kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak
sesuai lagi dengan baku mutu dan/atau fungsinya;
3.
Baku mutu air laut adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau
komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang
keberadaannya di dalam air laut;
4.
Perusakan laut adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak
langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang melampaui kriteria baku
kerusakan laut;
5. Kerusakan laut adalah perubahan fisik dan/atau hayati laut yang melewati kriteria baku
kerusakan laut;
6. Kriteria baku kerusakan laut adalah ukuran batas perubahan sifat fisik dan/atau hayati
lingkungan laut yang dapat ditenggang;
7. Status mutu laut adalah tingkatan mutu laut pada lokasi dan waktu tertentu yang dinilai
berdasarkan baku mutu air laut dan/atau kriteria baku kerusakan laut;
169
8.
Perlindungan mutu laut adalah setiap upaya atau kegiatan yang dilakukan agar mutu
laut tetap baik;
9.
Pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut adalah setiap upaya atau kegiatan
pencegahan dan/atau penanggulangan dan/atau pencemaran dan/atau perusakan laut;
10. Pembuangan (Dumping) adalah pembuangan limbah sebagai residu suatu usaha
dan/atau kegiatan dan/atau benda lain yang tidak terpakai atau daluwarsa ke laut;
11. Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan;
12. Limbah cair adalah sisa dari proses usaha dan/atau kegiatan yang berwujud
cair;
13. Limbah padat adalah sisa atau hasil samping dari suatu usaha dan/atau kegiatan yang
berwujud padat termasuk sampah;
14. Orang adalah orang perseorangan, dan/atau kelompok orang, dan/atau badan hukum;
15. Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang
pengendalian dampak lingkungan;
16. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup;
Pasal 2
Perlindungan mutu laut meliputi upaya atau kegiatan pengendalian pencemaran
dan/atau perusakan laut bertujuan untuk mencegah atau mengurangi turunnya mutu laut
dan/atau rusaknya sumber daya laut.
BAB II PERLINDUNGAN MUTU LAUT
Pasal 3
Perlindungan mutu laut didasarkan pada baku mutu air laut, kriteria baku kerusakan
laut dan status mutu laut.
Pasal 4
Baku Mutu Air Laut dan kreteria baku kerusakan laut sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 ditetapkan oleh Menteri dengan mempertimbangkan masukan dari menteri
lainnya dan Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen terkait lainnya.
170
Pasal 5
(1) Status mutu laut ditetapkan berdasarkan inventarisasi dan/atau penelitian data mutu
air laut, kondisi tingkat kerusakan laut yang mempengaruhi mutu laut.
(2) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dapat menetapkan status mutu laut berdasarkan
pedoman teknis penetapan status mutu laut yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang
bertanggung jawab.
(3) Dalam hal Gubernur Kepala Daerah Tingkat I tidak menetapkan status mutu laut,
maka
Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan status mutu laut.
Pasal 6
Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis penilaian dan
penetapan status mutu laut.
Pasal 7
(1) Air laut yang mutunya memenuhi baku mutu air laut dinyatakan sebagai air laut
yang status mutunya berada pada tingkatan baik.
(2) Air laut yang mutunya tidak memenuhi baku mutu air laut dinyatakan sebagai air
laut yang status mutunya berada pada tingkatan tercemar.
Pasal 8
(1) Lingkungan laut yang memenuhi kriteria baku kerusakan laut dinyatakan sebagai
lingkungan laut yang status mutunya pada tingkatan baik.
(2) Lingkungan laut yang tidak memenuhi kriteria baku kerusakan laut dinyatakan
sebagai lingkungan laut yang status mutunya berada pada tingkatan rusak.
BAB III
171
PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT Pasal 9
Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dilarang melakukan
perbuatan yang dapat menimbulkan pencemaran laut.
Pasal 10
(1) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang dapat menyebabkan
pencemaran laut, wajib melakukan pencegahan terjadinya pencemaran laut.
(2) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang membuang limbahnya ke
laut, wajib memenuhi persyaratan mengenai baku mutu air laut, baku mutu limbah cair,
baku mutu emisi
dan ketentuan-ketentuan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Pasal 11
Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis pencegahan
pencemaran laut.
Pasal 12
Limbah cair dan/atau limbah padat dari kegiatan rutin operasional di laut wajib dikelola
dan dibuang di sarana pengelolaan limbah cair dan/atau limbah padat sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAB IV PENCEGAHAN PERUSAKAN LAUT
Pasal 13
Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dilarang melakukan
perbuatan yang dapat menimbulkan kerusakan laut.
Pasal 14
172
(1) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang dapat mengakibatkan
kerusakan laut wajib melakukan pencegahan perusakan laut.
(2) Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis pencegahan
perusakan laut.
BAB V
PENANGGULANGAN PENCEMARAN DAN ATAU PERUSAKAN LAUT
Pasal 15
(1) Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang mengakibatkan
pencemaran dan/atau perusakan laut wajib melakukan penanggulangan pencemaran
dan/atau perusakan laut yang diakibatkan oleh kegiatannya.
(2) Pedoman
sebagaimana
mengenai
dimaksud
pennggulangan
ayat
(1)
pencemaran
ditetapkan
oleh
dan/atau
Kepala
perusakan
laut
instansi
yang
bertanggungjawab.
BAB VI PEMULIHAN MUTU LAUT
Pasal 16
(1) Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang mengakibatkan
pencemaran dan/atau kerusakan laut wajib melakukan pemulihan mutu laut.
(2) Pedoman mengenai pemulihan mutu laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditetapkan oleh Kepala instansi yang bertanggung jawab.
BAB VII KEADAAN DARURAT
Pasal 17
(1) Dalam keadaan darurat, pembuangan benda ke laut yang berasal dari usaha dan/atau
kegiatan di laut dapat dilakukan tanpa izin, apabila :
a.
laut.
pembuangan benda dimaksudkan untuk menjamin keselamatan jiwa kegiatan di
BAB V
b.
pembuangan benda sebagaimana dimaksud pada huruf a disebabkan oleh adanya
kerusakan pada peralatannya dengan syarat bahwa semua upaya pencegahan yang
layak telah dilakukan atau pembuangan tersebut merupakan cara terbaik untuk
mencegah kerugian yang lebih besar.
(2) Dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemilik dan/atau
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib dan segera memberitahukan kepada
pejabat yang berwenang dan/atau instansi yang bertanggung jawab.
(3) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) di atas, wajib menyebutkan
tentang benda yang dibuang, lokasi, waktu, jumlah dan langkah-langkah yang telah
dilakukan.
(4) Instansi yang menerima laporan wajib melakukan tindakan pencegahan meluasnya
pencemaran dan/atau kerusakan laut dan wajib melaporkan kepada Menteri.
(5) Biaya penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan laut serta pemulihan mutu
laut yang ditimbulkan oleh keadaan darurat, ditanggung oleh penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan.
DUMPING Pasal 18
(1) Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melakukan
dumping ke laut wajib mendapat izin Menteri.
(2) Tata cara dumping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan lebih lanjut oleh
Menteri.
BAB IX PENGAWASAN
Pasal 19
(1) Menteri melakukan pengawasan terhadap penaatan penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan yang dapat menyebabkan terjadinya pencemaran dan/atau perusakan
laut.
(2) Untuk melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri dapat
menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan.
Pasal 20
(1) Untuk melaksanakan tugasnya, pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19
berwenang melakukan pemantauan, meminta keterangan, membuat salinan dari
dokumen dan/atau membuat catatan yang diperlukan, memasuki tempat tertentu,
mengambil contoh, memeriksa peralatan, memeriksa instalasi dan/atau alat transportasi,
serta meminta keterangan dari pihak yang bertanggung jawab atas usaha dan/atau
kegiatan.
(2) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang dimintai keterangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), wajib memenuhi permintaan petugas pengawas sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(3) Setiap pengawas wajib memperlihatkan surat tugas dan/atau tanda pengenal serta
wajib memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan tersebut.
Pasal 21
Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan, wajib :
a.
mengizinkan pengawas memasuki lingkungan kerjanya dan membantu terlaksananya
tugas pengawasan tersebut;
b. memberikan keterangan dengan benar, baik secara lisan maupun tertulis apabila hal itu
diminta pengawas;
c. memberikan dokumen dan/atau data yang diperlukan oleh pengawas;
d.
mengizinkan pengawas untuk melakukan pengambilan contoh limbah atau barang
lainnya yang diperlukan pengawas; dan
e.
mengizinkan pengawas untuk melakukan pengambilan gambar dan/atau melakukan
pemotretan di lokasi kerjanya.
Pasal 22
(1) Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib menyampaikan
laporan hasil pemantauan pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut yang telah
dilakukan kepada instansi yang bertanggung jawab, instansi teknis dan instansi terkait
lainnya.
(2) Pedoman dan tata cara pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
lebih lanjut oleh Kepala instansi yang bertanggung jawab.
BAB X PEMBIAYAAN
Pasal 23
(1) Biaya inventarisasi dan/atau penelitian dalam rangka penetapan status mutu laut
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah dan/atau sumber dana lain sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.
(2) Biaya pengawasan penaatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dibebankan
pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau sumber dana lain sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAB XI GANTI RUGI
Pasal 24
(1) Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang mengakibatkan
pencemaran dan/atau perusakan laut wajib menanggung biaya penanggulangan
pencemaran dan/atau perusakan laut serta biaya pemulihannya.
(2) Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan
kerugian bagi pihak lain, akibat terjadinya pencemaran dan/atau perusakan laut wajib
membayar ganti rugi terhadap pihak yang dirugikan.
Pasal 25
Tata cara perhitungan biaya, penagihan dan pembayaran ganti rugi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 18 ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri.
BAB XII KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 26
Setelah diundangkannya Peraturan Pemerintah ini, setiap usaha dan/atau kegiatan wajib
menyesuaikan persyaratan berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.
BAB XIII KETENTUAN PENUTUP
Pasal
27
Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini semua peraturan perundang-undangan
yang berkaitan dengan pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut yang telah
ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan
Peraturan Pemerintah ini.
Pasal 28
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah
ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 27 Pebruari 1999
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
ttd.
BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 27 Pebruari 1999
MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA
ttd.
AKB AR TANDJUNG
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 32
PENJELASAN ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 19 TAHUN 1999
TENTANG
PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT
A. UMUM
Sebagian besar wilayah Republik Indonesia berupa perairan laut yang letaknya sangat
strategis. Perairan laut Indonesia selain dimanfaatkan sebagai sarana perhubungan laut
lokal maupun internasional, juga memiliki sumber daya laut yang sangat kaya dan
penting, antara lain sumber daya perikanan, terumbu karang, padang lamun, mangrove
dan pada daerah pesisir dapat dimanfaatkan sebagai obyek wisata yang menarik. Laut
juga mempunyai arti penting bagi kehidupan makhluk hidup seperti manusia, juga ikan,
tumbuh-tumbuhan dan biota laut lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa sektor kelautan
mempunyai potensi yang sangat besar untuk dapat ikut mendorong pembangunan di
masa kini maupun masa depan. Oleh karena itu, laut yang merupakan salah satu sumber
daya alam, sangat perlu untuk dilindungi. Hal ini berarti pemanfaatannya harus
dilakukan dengan bijaksana dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang
dan yang akan datang. Agar laut dapat bermanfaat secara berkelanjutan dengan tingkat
mutu yang diinginkan, maka kegiatan pengendalian pencemaran dan/atau perusakan
laut menjadi sangat penting. Pengendalian pencemaran dan/atau perusakan ini
merupakan salah satu bagian dari kegiatan pengelolaan lingkungan hidup.
1.
Pencemaran laut diartikan dengan masuknya atau dimasukannya makhluk hidup, zat,
energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan laut oleh kegiatan manusia
sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan
laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu dan/atau fungsinya. Hal ini berarti, bahwa perlu
ditetapkan baku mutu air laut yang berfungsi sebagai tolok ukur untuk menentukan
telah terjadinya pencemaran laut. Selain itu juga sangat berguna bagi penentuan status
mutu laut. Karena sangat erat kaitannya antara tingkat pencemaran laut dengan status
mutu laut itu sendiri.
2. Perusakan laut adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung dan/atau tidak
langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang melampaui kriteria baku
kerusakan laut. Hal ini berarti bahwa perlu ditetapkan kriteria baku kerusakan laut yang
berfungsi sebagai tolok ukur untuk menentukan tingkat kerusakan laut. Selain itu juga
sangat berguna bagi penentuan status mutu laut. Karena sangat erat kaitannya antara
tingkat kerusakan laut dengan status mutu laut itu sendiri.
3.
Mengacu kepada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup menetapkan bahwa sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah
tercapainya keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan
hidup dengan mempertimbangkan
generasi kini dan yang akan datang serta
terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana. Pengendalian pencemaran
dan/atau perusakan laut mengacu kepada sasaran tersebut sehingga pola kegiatannya
terarah dan selaras dengan tetap mempertimbangkan hak dan kewajiban serta peran
masyarakat.
4.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup juga
menyebutkan hak setiap anggota masyarakat atas lingkungan hidup yang baik dan sehat
yang diikuti dengan kewajiban untuk memelihara dan melestarikan fungsi lingkungan
hidup, sehingga setiap orang mempunyai peran yang jelas tentang hak dan
kewajibannya didalam upaya pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut.
5. Peraturan Pemerintah ini dimaksudkan juga untuk melaksanakan tujuan yang tercantum
dalam peraturan perundang-undangan sebelumnya yang ada kaitannya dengan masalah
lingkungan
hidup serta melaksanakan
misi yang
tercantum
dalam konvensi
internasional yang berkaitan dengan hukum laut atau pengendalian pencemaran
dan/atau perusakan laut. Peraturan Pemerintah ini berkaitan sangat erat pula dengan
pelaksanaan Peraturan Pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan,
Peraturan Pemerintah tentang Pengendalian Pencemaran Air, Peraturan Pemerintah
tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun dan Peraturan Pemerintah
tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pengendalian Dampak Lingkungan ke Daerah.
6.
Pengendalian Pencemaran dan/atau perusakan laut merupakan kegiatan yang
mencakup:
a. Inventarisasi kualitas laut dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai kriteria yang
ada dalam pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut.
b. Penetapan baku mutu air laut dan kriteria baku kerusakan laut yang digunakan sebagai
tolok ukur utama pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut.
c. Pemantauan kualitas air laut dan pengukuran tingkat kerusakan laut yang diikuti dengan
pengumpulan hasil pemantauan yang dilakukan oleh instansi lain, evaluasi dan analisis
terhadap hasil yang diperoleh serta pembuatan laporan.
d. Penetapan status mutu laut di suatu daerah.
e. Perencanaan dan pelaksanaan kebijakan pengendaliannya untuk mempertahankan mutu
laut agar tetap baik atau memperbaiki mutu laut yang telah tercemar atau rusak.
f. Pengawasan terhadap penaatan peraturan pengendalian pencemaran dan/atau perusakan
laut termasuk penaataan mutu limbah yang dibuang ke laut dan/atau penaataan terhadap
kriteria baku kerusakan laut serta penindakan, pemulihan dan penegakan hukumnya.
B. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Angka 1
Unsur terkait adalah semua benda, daya, keadaan, dan makluk hidup yang ada di laut.
Angka 2
Cukup jelas
Angka 3
Cukup jelas
Angka 4
Cukup jelas
Angka 5
Cukup jelas
)
Angka 6
Cukup jelas
Angka 7
Cukup jelas
Angka 8
Yang dimaksud mutu laut tetap baik adalah mutu laut sama atau di bawah ambang
batas baku mutu air laut atau kriteria baku kerusakan laut.
Angka 9
Cukup jelas
Angka 10
Cukup jelas
Angka 11
Cukup jelas
Angka 12
Cukup jelas
)
Angka 13
Cukup jelas
Angka 14
Cukup jelas
Angka 15
Cukup jelas
Angka 16
Cukup jelas
Pasal 2
Cukup jelas
Pasal 3
Cukup jelas
Pasal 4
Baku mutu air laut ditetapkan berdasarkan peruntukannya, antara lain: baku mutu air
laut untuk pariwisata dan rekreasi (mandi, renang, dan selam); baku mutu air laut untuk
konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Sedangkan kriteria baku
kerusakan laut ditetapkan berdasarkan pada kondisi fisik ekosistem laut yaitu antara
lain: terumbu karang, mangrove dan padang lamun.
Pasal 5
)
Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas
Pasal 6
Cukup jelas
Pasal 7
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan memenuhi baku mutu air laut adalah jika nilai atau kadar
parameter mutu air laut yang diukur berada dalam batas atau sesuai dengan ketentuan
baku mutu air laut yang ditetapkan oleh Menteri .
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan tidak memenuhi baku mutu air laut adalah jika nilai atau kadar
parameter mutu air laut yang diukur tidak berada dalam batas atau tidak sesuai dengan
ketentuan baku mutu air laut yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 8
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan lingkungan laut yang memenuhi kriteria baku kerusakan laut
adalah jika kondisi fisik lingkungan laut yang dimaksud antara lain berada dalam :
Kondisinya "baik" sampai "baik sekali", untuk terumbu karang. Kondisinya "sedang"
sampai "sangat padat", untuk mangrove. Kondisinya "kaya" sampai "sangat kaya",
untuk padang lamun. Ayat (2)
)
Yang dimaksud dengan lingkungan laut yang tidak memenuhi kriteria baku kerusakan
adalah jika kondisi fisik lingkungan laut yang dimaksud antara lain berada dalam :
Kondisinya "sedang" sampai "buruk", untuk terumbu karang. Kondisinya "jarang"
sampai "sangat jarang", untuk mangrove. Kondisinya "agak miskin" sampai "miskin",
untuk padang lamun.
Pasal 9
Cukup jelas
Pasal 10
Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas
Pasal 11
Cukup jelas
Pasal 12
Yang dimaksud limbah padat adalah termasuk sampah.
Yang dimaksud dengan kegiatan rutin operasional di laut antara lain: kapal, kegiatan
lepas pantai
(off shore) dan perikanan.
Pasal 13
Cukup jelas
)
Pasal 14
Ayat (1)
Kewajiban untuk melakukan pencegahan dimaksud merupakan upaya untuk
mengurangi terjadinya kemungkinan resiko terhadap setiap ekosistem laut berupa
terjadinya perusakan
Pasal 15
Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 16
Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 17
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan keadaan darurat adalah suatu keadaan yang memerlukan
penanggulangan sesegera mungkin sehingga mengesampingkan prosedur normal.
Yang dimaksud dengan benda adalah barang dan/atau bahan dan/atau zat dan/atau
limbah. Ayat (2)
Yang dimaksud dengan pejabat yang berwenang antara lain Menteri Perhubungan,
Menteri
)
Pertambangan dan Energi, dan Menteri Kehutanan dan Perkebunan. Ayat (3)
Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas
Pasal 18
Ayat (2)
Dalam rangka menetapkan tata cara dumping, Menteri wajib melakukan koordinasi
dengan instansi terkait.
Pasal 19
Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2)
Dalam hal menetapkan pejabat yang berwenang dari instansi lain untuk melakukan
pengawasan, Menteri melakukan koordinasi dengan pimpinan instansi yang
bersangkutan.
Pasal 20
Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3)
Yang dimaksud dengan memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan adalah
menghormati nilai dan norma yang berlaku baik tertulis maupun yang tidak tertulis.
Pasal 21
Cukup jelas
Pasal 22
Ayat (1)
)
Laporan tentang kegiatan pengendalian pencemaran dan/atau yang disampaikan antara
lain berisi hasil pemantauan kualitas dan kuantitas limbah yang dibuang ke laut, kinerja
instalasi pengolahan air limbah, luas penambangan pasir atau batu yang telah dilakukan
dan upaya minimalisasi dampak, reklamasi pantai.
189
Pasal 23
Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 24
Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 25
Cukup jelas
Pasal 26
Cukup jelas
Pasal 27
Cukup jelas
Pasal 28
Cukup jelas
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR
3816
PEDOMAN WAWANCARA PENELITIAN
Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang
Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut. (Studi kasus wilayah
laut Marunda Jakarta Utara)
Penelitian ini dilakukan dalam rangka penyusunan Skripsi pada Program
Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Sultan Ageng Tirtayasa. Untuk memperoleh data yang berkaitan dengan
Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian
Pencemaran dan/atau Perusakan Laut. (Studi kasus wilayah laut Marunda Jakarta
Utara) maka disusunlah pedoman wawancara seperti dibawah ini.
Pedoman wawancara untuk Kategori : Unsur Pemerintah
1. Kantor Lingkungan Hidup
2. Suku Dinas Perikanan,Kelautan dan Ketahanan Pangan Jakarta
Utara
3. Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta
I. Tingkat kepatuhan
1. Apakah Implementor sudah mematuhi aturan seperti standar operasi,
prosedur dan mekanisme? mulai dari pencegahan hingga pemulihan mutu
lingkungan.
2. Bagaimana bentuk dukungan masyarakat/LSM/pihak industri dalam
pencegahan hingga pemulihan pencemaran?
3. Bagaimana status pencemaran yang terjadi di kawasan laut marunda?
(Ringan/sedang/berat)
4. Bagaimana kejelasan dan konsistensi para pelaksana pada sasaran
program?
5. Bagaimana pembinaan pegawai di lingkungan birokrasi?
6. Bagaimana peran dari pihak yang berwenang dalam hal pengendalian
pencemaran laut
7. Sejauhmana tingkat partisipasi masyarakat/LSM/Industri dalam mematuhi
kebijakan tersebut?
8. Bagaimana pelaporan dan pertanggung jawaban pelaksanaan tugas dan
fungsi?
II. Lancarnya rutinitas fungsi
9. Apakah koordinasi dan sinkronisasi dengan instansi terkait dalam
melaksanakan pengawasan dan pengendalian di bidang lingkungan
kelautan sudah berjalan efektif?
10. Bagaimana koordinasi antar lembaga pemerintah dengan pihak non
pemerintahan? (LSM/Masyarakat/Industri)
11. Apakah fungsi pengaduan mengenai pencemaran lingkungan sudah
berjalan secara efektif?
12. Bagaimana upaya sosialisasi programkepada masyarakat dalam hal untuk
meningkatkan partisipasi masyarakat?
13. Apakah selama ini kewenangan daerah dalam rangka membuat regulasi
kebijakan terjadi disharmoni atau terdapat tumpang tindih kebijakan?
14. apa sajakah program strategis yang dilakukan dalam rangka pengendalian
pencemaran lingkungan?(air laut)
15. Bagaimana pelaksanaan kebijakan penegakan hukum lingkungan dalam
hal ini fasilitasi penyelesaian sengketa lingkungan dan berbagai tindakan
pencemaran?
III. Terwujudnya kinerja dampak yang dikehendaki
16. Bagaimana proses implementasi pengendalian pencemaran laut dan/atau
perusakan laut dilakukan?
17. apa saja yang berhasil dicapai dalam target program?
18. Apakah visi-visi Lingkungan Jakarta yang berkelanjutan sudah tercapai?
19. Apakah SDM menjadi faktor keberhasilan kebijakan tersebut?
20. Bagaimana alokasi anggaran pengelolaan lingkungan?
21. Apakah infrastruktur sudah memadai dalam mendukung kebijakan?
22. Apakah terdapat kendala yang paling utama dalam implementasi
kebijakan?
23. Apakah selama ini sasaran program atau SDM menentang kebijakan?
24. Apakah upaya Rehabilitas lingkungan berjalan secara efektif?
2. Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta
I. Tingkat kepatuhan
25. Apakah Implementor sudah mematuhi aturan seperti standar operasi,
prosedur dan mekanisme? mulai dari pencegahan hingga pemulihan mutu
lingkungan.
26. Bagaimana bentuk dukungan masyarakat/LSM/pihak industri dalam
pencegahan hingga pemulihan pencemaran?
27. Bagaimana status pencemaran yang terjadi di kawasan laut marunda?
(Ringan/sedang/berat)
28. Bagaimana kejelasan dan konsistensi para pelaksana pada sasaran
program?
29. Bagaimana pembinaan pegawai di lingkungan birokrasi?
30. Bagaimana peran dari pihak yang berwenang dalam hal pengendalian
pencemaran laut
31. Sejauhmana tingkat partisipasi masyarakat/LSM/Industri dalam mematuhi
kebijakan tersebut?
32. Bagaimana pelaporan dan pertanggung jawaban pelaksanaan tugas dan
fungsi?
II. Lancarnya rutinitas fungsi
33. Apakah koordinasi dan sinkronisasi dengan instansi terkait dalam
melaksanakan pengawasan dan pengendalian di bidang lingkungan
kelautan sudah berjalan efektif?
34. Bagaimana koordinasi antar lembaga pemerintah dengan pihak non
pemerintahan? (LSM/Masyarakat/Industri)
35. Apakah fungsi pengaduan mengenai pencemaran lingkungan sudah
berjalan secara efektif?
36. Bagaimana upaya sosialisasi programkepada masyarakat dalam hal untuk
meningkatkan partisipasi masyarakat?
37. Apakah selama ini kewenangan daerah dalam rangka membuat regulasi
kebijakan terjadi disharmoni atau terdapat tumpang tindih kebijakan?
38. apa sajakah program strategis yang dilakukan dalam rangka pengendalian
pencemaran lingkungan?(air laut)
39. Bagaimana pelaksanaan kebijakan penegakan hukum lingkungan dalam
hal ini fasilitasi penyelesaian sengketa lingkungan dan berbagai tindakan
pencemaran?
III.Terwujudnya kinerja dampak yang dikehendaki
40. Bagaimana proses implementasi pengendalian pencemaran laut dan/atau
perusakan laut dilakukan?
41. apa saja yang berhasil dicapai dalam target program?
42. Apakah visi-visi Lingkungan Jakarta yang berkelanjutan sudah tercapai?
43. Apakah SDM menjadi faktor keberhasilan kebijakan tersebut?
44. Bagaimana alokasi anggaran pengelolaan lingkungan?
45. Apakah infrastruktur sudah memadai dalam mendukung kebijakan?
46. Apakah terdapat kendala yang paling utama dalam implementasi
kebijakan?
47. Apakah selama ini sasaran program atau SDM menentang kebijakan?
48. Apakah upaya Rehabilitas lingkungan berjalan secara efektif?
3. Suku Dinas Peternakan,Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara
I. Tingkat kepatuhan
1. Apakah Implementor sudah mematuhi aturan seperti standar operasi,
prosedur dan mekanisme? mulai dari pencegahan hingga pemulihan mutu
lingkungan.
2. Bagaimana bentuk dukungan masyarakat/LSM/pihak industri dalam
pencegahan hingga pemulihan pencemaran?
3. Bagaimana status pencemaran yang terjadi di kawasan laut marunda?
(Ringan/sedang/berat)
4. Bagaimana kejelasan dan konsistensi para pelaksana pada sasaran
program?
5. Bagaimana pembinaan pegawai di lingkungan birokrasi?
6. Bagaimana peran dari pihak yang berwenang dalam hal pengendalian
pencemaran laut
7. Sejauhmana tingkat partisipasi masyarakat/LSM/Industri dalam mematuhi
kebijakan tersebut?
8. Bagaimana pelaporan dan pertanggung jawaban pelaksanaan tugas dan
fungsi?
II. Lancarnya rutinitas fungsi
9. Apakah koordinasi dan sinkronisasi dengan instansi terkait dalam
melaksanakan pengawasan dan pengendalian di bidang lingkungan
kelautan sudah berjalan efektif?
10. Bagaimana koordinasi antar lembaga pemerintah dengan pihak non
pemerintahan? (LSM/Masyarakat/Industri)
11. Apakah fungsi pengaduan mengenai pencemaran lingkungan sudah
berjalan secara efektif?
12. Bagaimana upaya sosialisasi programkepada masyarakat dalam hal untuk
meningkatkan partisipasi masyarakat?
13. Apakah selama ini kewenangan daerah dalam rangka membuat regulasi
kebijakan terjadi disharmoni atau terdapat tumpang tindih kebijakan?
14. apa sajakah program strategis yang dilakukan dalam rangka pengendalian
pencemaran lingkungan?(air laut)
III. Terwujudnya kinerja dampak yang dikehendaki
15. Bagaimana proses implementasi pengendalian pencemaran laut dan/atau
perusakan laut dilakukan?
16. apa saja yang berhasil dicapai dalam target program?
17. Apakah visi-visi Lingkungan Jakarta yang berkelanjutan sudah tercapai?
18. Apakah SDM menjadi faktor keberhasilan kebijakan tersebut?
19. Bagaimana alokasi anggaran pengelolaan lingkungan?
20. Apakah infrastruktur sudah memadai dalam mendukung kebijakan?
21. Apakah terdapat kendala yang paling utama dalam implementasi
kebijakan?
22. Apakah selama ini sasaran program atau SDM menentang kebijakan?
23. Apakah upaya Rehabilitas lingkungan berjalan secara efektif?
Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang
Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut. (Studi kasus wilayah
laut Marunda Jakarta Utara)
Penelitian ini dilakukan dalam rangka penyusunan Skripsi pada Program
Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Sultan Ageng Tirtayasa. Untuk memperoleh data yang berkaitan dengan
Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian
Pencemaran dan/atau Perusakan Laut. (Studi kasus wilayah laut Marunda Jakarta
Utara) maka disusunlah pedoman wawancara seperti dibawah ini.
Pedoman wawancara untuk Kategori : Unsur LSM
1. WALHI (Wahana Lingkungan Hidup) DKI JAKARTA
2. KIARA (Koalisi Rakyat Peduli Perikanan)
I. Tingkat Kepatuhan
1. Apakah Implementor sudah mematuhi aturan seperti standar operasi,
prosedur dan mekanisme? mulai dari pencegahan hingga pemulihan mutu
lingkungan.
2. Bagaimana bentuk dukungan masyarakat/LSM/pihak industri dalam
pencegahan hingga pemulihan pencemaran?
3.Bagaimana status pencemaran yang terjadi di kawasan laut marunda?
4. Bagaimana kejelasan dan konsistensi para pelaksana pada sasaran
program?
5. Bagaimana peran dari pihak yang berwenang dalam hal pengendalian
pencemaran laut?
6. Sejauhmana tingkat partisipasi masyarakat/LSM/Industri dalam
mematuhi kebijakan tersebut?
II. Lancarnya Rutinitas Fungsi
7. Bagaimana koordinasi antar lembaga pemerintah dengan pihak non
pemerintahan? (LSM/Masyarakat/Industri)
8. Apakah fungsi pengaduan mengenai pencemaran lingkungan sudah
berjalan secara efektif?
9. Bagaimana upaya sosialisasi program kepada masyarakat dalam hal
untuk meningkatkan partisipasi masyarakat?
10. Apakah selama ini kewenangan daerah dalam rangka membuat
regulasi kebijakan terjadi disharmoni atau terdapat tumpang tindih
kebijakan?
III. Terwujudnya kinerja dampak yang ingin dikehendaki
11. Bagaimana proses implementasi pengendalian pencemaran laut
dan/atau perusakan laut dilakukan?
12. Apakah SDM menjadi faktor keberhasilan kebijakan tersebut?
13. Apakah terdapat kendala yang paling utama dalam implementasi
kebijakan?
14.Apakah selama ini sasaran program atau SDM menentang kebijakan?
15.Apakah upaya Rehabilitas lingkungan berjalan secara efektif?
Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang
Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut. (Studi kasus wilayah
laut Marunda Jakarta Utara)
Penelitian ini dilakukan dalam rangka penyusunan Skripsi pada Program
Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Sultan Ageng Tirtayasa. Untuk memperoleh data yang berkaitan dengan
Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian
Pencemaran dan/atau Perusakan Laut. (Studi kasus wilayah laut Marunda Jakarta
Utara) maka disusunlah pedoman wawancara seperti dibawah ini.
Pedoman wawancara untuk Kategori : Unsur Industri
1. PT.Asianagro Agungjaya
2.PT.Orson Indonesia
3.PT.Dua Kuda Indonesia
I. Tingkat Kepatuhan
1. Apakah industri telah melakukan upaya minimasasi limbah untuk
mencegah/memperkecil dampak negatif yang timbul dari kegiatan produksi?
2. Faktor-faktor apa yang menyebabkan penerapan pengolahan air limbah
kurang optimal?
3. Apakah industri mematuhi prosedur pelaporan pengelolaan limbah ke
instansi berwenang?
4. Apakah selama ini industri mendukung pencegahan hingga pemulihan mutu
lingkungan?
5. Dukungan apa yang industri lakukan dalam hal tersebut? Apakah memiliki
program CSR?
6. Bagaimana hubungan industri dengan masyarakat sekitar?
7. Bagaimana koordinasi industri dengan pemerintah dalam hal ni pengelolaan
limbah?Apakah industri bersikap kooperatif?
8. Apakah selama ini industri memenuhi baku mutu limbah?
- Jika limbah berbentuk cair, berapa volume limbah yang dihasilkan setiap
hari?
- Berapa ukuran IPLC? (Instalasi pengolahan limbah cair)
- Berapa jarak antara kolam limbah dengan badan air penerima limbah?
9. Apakah selama ini industri mendapat isu lingkungan sekitar? Bagaimana
jika masyarakat protes terhadap dugaan pencemaran?
10. Bagaimana menurut anda, status pencemaran yang terjadi di kawasan laut
Marunda?
Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang
Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut. (Studi kasus wilayah
laut Marunda Jakarta Utara)
Penelitian ini dilakukan dalam rangka penyusunan Skripsi pada Program
Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Sultan Ageng Tirtayasa. Untuk memperoleh data yang berkaitan dengan
Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian
Pencemaran dan/atau Perusakan Laut. (Studi kasus wilayah laut Marunda Jakarta
Utara) maka disusunlah pedoman wawancara seperti dibawah ini.
Pedoman wawancara untuk Kategori : Unsur Nelayan Marunda
1 Apakah Implementor sudah mematuhi aturan seperti standar operasi, prosedur
dan mekanisme? mulai dari pencegahan hingga pemulihan mutu lingkungan.
2. Bagaimana bentuk dukungan masyarakat/LSM/pihak industri dalam
pencegahan hingga pemulihan pencemaran?
3.Bagaimana status pencemaran yang terjadi di kawasan laut marunda?
4. Bagaimana kejelasan dan konsistensi para pelaksana pada sasaran program?
5. Bagaimana peran dari pihak yang berwenang dalam hal pengendalian
pencemaran laut?
6. Sejauhmana tingkat partisipasi masyarakat/LSM/Industri dalam mematuhi
kebijakan tersebut?
7. .Bagaimana koordinasi antar lembaga pemerintah dengan pihak non
pemerintahan? (LSM/Masyarakat/Industri)
8. Apakah fungsi pengaduan mengenai pencemaran lingkungan sudah berjalan
secara efektif?
9. Bagaimana upaya sosialisasi programkepada masyarakat dalam hal untuk
meningkatkan partisipasi masyarakat?
10. Bagaimana proses implementasi pengendalian pencemaran laut dan/atau
perusakan laut dilakukan?
11. Apakah sejauh ini masyarakat pesisir laut marunda sudah merasakan dampak
kebijakan yang menjadi tujuan yang dikehendaki?
12. Apakah terdapat kendala yang paling utama dalam implementasi kebijakan?
13. Apakah selama ini sasaran program atau SDM menentang kebijakan?
TRANSKRIP DATA DAN KODING
Keterangan
Q=Pertanyaan
A= Jawaban
I= Informan
Q/I
A
Q1
Apakah impelementor sudah mematuhi prosedur dan
mekanisme
pencegahan
hingga
KODING
pemulihan
mutu
lingkungan?
I1
Belum, tahun ini Subid.Pengawasan dan Pengendalian
1
Pencemaran lingkungan memfokuskan untuk melakukan
pengawasan pada kawasan industri yaitu dengan cara
mengeluarkan status ketaatan lingkungan. Nah disitu dapat di
nilai taat pada aturan atau tidak, karena selama ini khusus
dikawasan Marunda itu tidak semuanya mempunyai IPAL.
Padahal secara teknis harusnya yang menyediakan adalah
pengelola kawasan bukan dari perusahaan masing-masing, ini
yang menjadi ketidakjelasan aturan yang tidak dipatuhi.
Sehingga pencegahan juga tidak ditaati, standar operasi dan
prosedur semua tertuang di dokumen pengelolaan limbah
industri.
I2
Kalau berbicara pencemaran disitu sebenarnya karena 13
sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta, pencemaran dari hulu
2
sampai hilir. Jika dilihat bagaimana implementornya kalau
pencemaran
dibawah
koordinasi
Asisten
Kesejahteraan
masyarakat nah disitu banyak membawahi suku-suku dinas
seperti
BPLHD,
Perikanan,
Perhubungan
dan
yang
berhubungan dengan ketenagakerjaan jika berbicara SDM
Industri. Kami (perikanan) hanya melaporkan dampak
pencemaran karena banyak dampak negatif yang diterima oleh
nelayan walaupun aturan tersedia seperti AMDAL, UKL/UPL
cuma bagaimana yang mengawasi. Lemahnya pengawasan
yang terjadi.
I3
Kalau di lihat dari IPAL yang sudah sesuai aturan yang dibuat
3
aturan sudah jelas, tetapi jika melihat limbah yang masih tidak
bagus kan berarti ada masalah. Misalnya, dari pengawasan
yang kurang ketat, kemudian IPAL dimainkan oleh industri
sehingga faktanya limbah tidak diurus secara baik dan
dampaknya terhadap lingkungan nelayan juga
I4
Selama ini memang interaksi antara industri, pemerintah dan
masyarakat agak timpang contohnya di Marunda Kepu
beberapa limbah yang terjadi tidak diurus tidak pernah ada
upaya/tindakan yang konkrit dari perusahaan sekitar untuk
menangani/meminimalisir limbah yang ada. Interaksi antar
mereka cenderung lebih tegang. Jadi menurut kami, standar
dan prosedur yang telah dibuat tidak di implementasikan
4
secara baik
I6
Aturan memang ada, dari mulai pencegahan pencemaran
5
sampai pemulihan, tetapi kenyataannya laut masih saja
tercemar walaupun sering ada pembinaan dari pemerintah
tetapi outputnya tidak ada yang bisa dirasakan langsung
manfaatnya sama kita
I7
Sebenarnya kalau dari aturan pencegahan sudah berjalan
sesuai aturan, tapi kalau dari pemulihan saat sudah ada limbah
6
di laut belum, terutama kesadaran dari pihak-pihak industri
yang di duga membuang limbahnya ke laut
I8
Dulu ketika tahun 1991 saya ikut dalam pengambilan sample
7
air atas dugaan pencemaran dari pabrik kayu lapis dan pabrik
kertas, mekanisme dan prosedur menurut saya cukup baik,
nelayan diajak dalam penanganan kasus pencemaran, tetapi
sekarang sudah mulai lemah segala pengawasannya. Padahal
dulu aktif mencari limbah berasal darimana bersama
BAPEDAL. Pemerintah mulai lemah dengan kekuatan swasta
dan lemahnya aturan-aturan tersebut
I9
Menurut saya sih tidak, limbah selalu ada terus, perusahaan
disini kan banyak harusnya lebih tegas lagi, nelayan kaya kitakita ini kan gak begitu paham gimana kebijakannya. Dulu
kalau gak ada ikan ya kita anggapnya ada limbah gitu aja,
tanpa tau itu limbah berasal darimana lagian kalau air sample
8
di uji gitu hasilnya tetap bagus bagus aja versi mereka
(pemerintah)
I13
Kalau secara umum sudah mematuhi dengan ditandai dengan
9
sudah mempunyai dokumen
Q2
Bagaimana bentuk dukungan masyarakat/LSM/Pihak
industri
dalam
pencegahan
hingga
pemulihan
pencemaran?
I1
Belum ada
10
I2
Dukungan dari LSM biasanya mereka melaporkan dan mereka
11
juga memberikan pendapat dan solusi, ketika rapat koordinasi
di tingkat walikota biasanya LSM disertakan
I3
Kalau secara khusus WALHI memberi dukungan dalam
bentuk masih berupa kampanye, kita tidak fokus ke Marunda
saja tetapi pada lingkungan jakarta Marunda hanya menjadi
salah satu keys, karena kita sendiri kan ketika menghadapi
situasi limbah di Teluk Jakarta dan sungai kita dorong isunya
dengan Revitalisasi lingkungan sesuai dengan UU PPLH tahun
2009 dengan stand posisi itu WALHI juga menolak Reklamasi
dan pembuatan Tanggul Raksasa. Kita hanya prioritaskan di
kampanye kita Revitalisasi Sungai yang mana 13 sungai ini
membawa banyak sekali berbagai macam limbah yang
bermuara ke laut. Limbah rumah tangga, industri dan
semacamnya, itu juga ditambah dengan keberadaan pabrik
12
sepanjang pinggir laut seperti pabrik kaca yang tinggi limbah
B3nya makanya kita sekarang mengkampanyekan dengan
konteks pemulihan.
14
Kami sudah beberapa kali melakukan sesuatu diantaranya
13
mengingatkan perusahaan tersebut walaupun akses masuk
dibatasi, melakukan advokasi terhadap pemangku kebijakan,
kami ciptakan ruang kepada nelayan untuk mediasi dengan
pemerintah dan membawa kasus ini ke nasional, di lain hal
kita juga coba membangkitkan semangat nelayan untuk
meningkatkan kreativitas mereka contohnya di Marunda Kepu
ibu-ibunya
kita
ajar
untuk
melakukan
pengolahan
kerang/ekonomi alternatif.
I6
Kalau dukungan setahu saya LSM seperti KIARA pernah
14
datang ke Marunda sini, kalau dari pemerintah ya cuma
sebatas binaan saja, kalau industri cuek-cuek saja
I7
Bentuk dukungan yang saya tahu ya hanya melarang
15
membuang sampah atau apapun ke laut
I8
Kalau dari kita (nelayan) biasanya melakukan pengaduan-
16
pengaduan tapi karena tidak ditindak lanjuti lebih dalam kita
jadi malas seperti dulu.
I9
Kalau dari pemerintah (suku dinas perikanan dan kelautan)
saja yang gencar melakukan pembinaan-pembinaan ke
nelayan, tapi dari pihak industri sekitar sama sekali tidak ada,
17
yang dibilang CSR itu kita tidak pernah merasakan,atau tidak
menjangkau ke nelayan-nelayan sini
I13
Kalau dukungan dari pihak LSM sih seperti WALHI kita
18
libatkan dalam pembahasan dokumen AMDAL
Q3
Bagaimana status Pencemaran yang terjadi di Kawasan
Laut Marunda?
I1
Kalau untuk menetapkan apakah berat/sedang/ringan harus
19
melihat hasil pemantauan kualitas air laut di BPLHD Provinsi
bagian Pelestarian Lingkungan
I2
Udah berat dan diambang batas
20
I3
Kalau dari data terakhir yang keluar dari BPS itu situasi
21
Jakarta yang tercemar ringan 2-8% sedangkan air yang
tercemar 82% (pantai) dan itu yang sesuai dengan kondisi
dilapangan
I4
Sebenarnya sudah berat karena tidak pernah ditangani,
22
perusahaan tertutup, CSR disini juga tidak jelas
I6
Cukup tercemar di tandai dengan kondisi air yang hitam dan
23
kadang putih seperti susu.
I7
Sudah cukup tercemar, bagaimana tidak tercemar ada
beberapa hal pemerintah kecolongan seperti perusahaanperusahaan tertentu membuang limbah bersamaan dengan
turunnya hujan. Dan pembangunan-pembangunan mereka juga
sebenarnya mencemari. Kondisi air laut Marunda kadang
24
sampai hitam dan kecoklatan seperti air teh.
I8
Sudah cukup tercemar, warna air laut sampai kadang sampai
25
kaya warna teh kadang keruh
I9
Wah laut Marunda Cilincing sudah cukup parah tercemarnya,
26
air pekat kaya air teh kadang hitam, sehingga kalau lagi ada
limbah ya berkurng tangkapan ikannya.
I13
Kalau untuk tahu apakah tercemar berat/sedang/ringan ke
bagian
kelestarian
lingkungan
yang
lebih
27
mengetahui
detailnya.
Q4
Bagaimana kejelasan dan konsistensi para pelaksana pada
sasaran program?
I1
Kalau dari Kantor Lingkungan Hidup sendiri ya melalui
pembinaan
dan
pengawasan
untuk
28
mempertahankan
konsistensi terhadap pengendalian pencemaran tersebut
I2
Kalau
kebijakan
sudah
jelas,
tetapi
konsistensi
dari
29
Karena pengawasan masih lemah, bahwa aturan tidak
30
implementasi belum maksimal
I3
dilaksanakan menurut saya sih tidak ada konsistensi dari para
pelaksana program
I4
Tidak konsisten dan belum ada i’tikad yang baik untuk
menjelaskan duduk permasalahan, karena dinas itu biasanya
hanya turun secara programatis saja misalnya mereka tidak
perhatian secara hal lain dalam hal ini contohkan saja
31
menanam mangrove, tidak memikirkan maintanance nya jadi
mereka hanya based programatic
I6
Konsisten dalam program tetapi kadang tidak tepat sasaran
32
dan alasan pencemaran hanya karena dari sungai-sungai saja.
I7
secara konsistensi sih belum ada, biarpun aturan sudah ada
33
I8
Jelas sih, Cuma konsisten sih sepertinya engga, ganti
34
pemimpin ya ganti pula budayanya.
I9
Tidak konsisten, kalau konsisten laut bersih-bersih saja dan
35
nelayan sejahtera
I13
Kalau konsistensi kan dapat dilihat bagaimana implementasi,
36
bagaimana pengawasan aktif dan pasifnya, pasif itu dapat
berupa laporan yang rutin kemudian aktif kita meninjau ke
lapangan kalau terjadi kejanggalan atau memang ada yang
harus di cek langsung.
Q5
Bagaimana pembinaan pegawai dilingkungan birokrasi?
I1
Pembinaan pegawai, pengawasan dan penegakan hukum sudah
sesuai
tupoksinya
dan
sudah
sesuai
dengan
37
bidang
kompetensinya.
I2
Kita selalu melakukan pembinaan, bukan hanya dalam
38
lingkungan birokrasi tetapi langsung ke kelompok-kelompok
nelayan.
I13
Kita sesuaikan kebijakan-kebijakan dari pemda masalah
kepegawaian dan memang sudah sesuai dengan kompetensi
39
dibidangnya.
Q6
Bagaimana peran dari pihak yang berwenang dalam
pengendalian pencemaran laut?
I1
Kita melakukan pengawasan dan menekankan tiap perusahaan
40
untuk mengelola limbahnya dengan baik tapi nyata nya tidak
semua perusahaan mempunyai IPAL yang memadai
I2
Sejauh ini dari pihak kita selalu menampung aspirasi dari
korban
dampak
pencemaran
(nelayan)
kemudian
41
kita
koordinasikan kepada yang terkait dengan hal tersebut.
I3
Sejauh ini peran tidak terlihat dan tidak ada peran, harusnya
42
kan tindakan minimal jika terjadi pelanggaran itu lakukan
penyegelan, karena yang menyebabkan pencemaran kan salah
satunya aktivitas industri. Jika IPALnya buruk maka
seharusnya
aktivitas
produksi
harus
di
segel
sampai
perusahaan mengikuti prosedur yang baik, konsistensi dari
para pelaksana tidak ada, dan kita tidak pernah tau apa yang
terjadi dilapangan.
I4
Peran mereka hanya setelah terjadi dampak, misalnya banjir
43
rob mereka hanya datang kasih bantuan dan setelah itu tidak
dipikirkan lagi, itu yang menjadi selama ini masalah tidak
teratasi sampai tuntas
I6
Perannya belum terlalu menyentuh para nelayan
44
I7
Tidak begitu paham sama peran mereka
45
I8
Peran sih ada, cuma dari beberapa dinas saja, dulu BAPEDAL
46
aktif mengajak nelayan tapi sekarang tidak begitu keliatan
perannya
I9
Peran hanya dari suku dinas kelautan, mengumpulkan
47
masyarakat melakukan musyawarah tentang kenelayanan tapi
dari lingkungan hidup tidak pernah kelihatan komunikasi
dengan masyarakat sekitar atau tidak pernah tahu bagaimana
pemantauannya.
I13
Peran dalam bentuk aktif dan pasif, kalau aktif sudah pasti,
48
karena mereka yang melapor dan kita nilai dan aktif biasanya
sesuai dengan prioritas ( misalnya yang laporannya terlalu
jelek dan terlalu bagus)
Q7
Sejauh mana tingkat partisipasi masyarakat/LSM/Industri
dalam mematuhi kebijakan tersebut?
I1
Sejauh ini masih rendah, harapan kita masyarakat juga ikut
49
dalam pengawasan, seperti misalnya ketika ada pencemaran
langsung menghubungi kita tapi pada saat melaporkan harus
disertakan foto/sampel pada saat itu karena namanya di laut
kondisi air beberapa jam saja sudah berbeda.
I2
Kalau dari masyarakat kan ada formaswas (forum masyarakat
pengawas) tugas mereka melihat, mencatat, dan melaporkan,
formaswas juga aktif dalam pelaporan pencemaran, ketika
melaporkan
kita
teruskan
ke
stakeholder
yang
50
bertanggungjawab.
I3
Jika kita berbicra laju kerusakan lingkungan dengan
51
partisipasi, tindakan perusakan lingkungan itu begitu masive,
tinggi dan luas sedangkan tindakan rehabilitasi lingkungan
hanya simbolik jadi kalau dikatakan partisipasi menyelesaikan
masalah sampai saat ini belum dan karena luasan dan
jangkauannya gak masive hanya titik-titik kecil saja,
masyarakat itu berpartisipasinya hanya jangkauan-jangkauan
dekat seperti tentang sampah saja di lingkungannya, tidak
menyelesaikan masalah-masalah besar tentang bagaimana
IPAL/lingkungan luas, justru sekarang-sekarang ini jika
masyarakat melakukan partisipasi dalam bentuk unjuk
rasa/apa malah biasanya bertentangan dengan pemerintah.
Pemerintah melindungi mereka-mereka yang mempunyai
modal/perusahaan.
I4
Tingkat partisipasinya masih rendah, dari industri saja sudah
52
jelas bagaimana mau membahas limbah, akses saja dipersulit
nelayan juga minim pemahaman kebijakan
I6
Kondisi tercemar laut ini sudah dianggap tradisi, kita sebagai
53
nelayan jadi tidak bisa berbuat apa-apa kalau industri
partisipasinya hanya membuang limbah.
I7
Kalau LSM pernah sesekali datang kesini, nanya-nanya saja,
kalau partisipasi dari masyarakat ya tidak begitu tahu tentang
54
aturan-aturan yang ada, paling tahu tidak boleh buang
sampah/limbah ke laut tapi nyata nya sampah masih banyak
aja.
I8
Partisipasi masyarakat ya aktif dengan membuat kelompok-
55
kelompok dan paguyuban untuk menampung aspirasi para
nelayan tetapi untuk industri kadang ada industri yang nakal
dengan limbahnya sehingga persoalan pencemaran tidak
pernah selesai.
I9
Masyarakat sudah jenuh, LSM saya tidak begitu tahu
56
bagaimana partisipasinya, industri juga sangat tertutup
terhadap masyarakat.
I13
Tingkat kesadaran dan partisipasi yang rendah menjadi
57
permasalahan pencemaran selama ini.
Q8
Bagaimana
pelaporan
dan
pertanggung
jawaban
pelaksanaan tugas dan fungsi?
I1
Dalam bentuk Berita acara dan Rekapan hasil pengawasan
58
I2
Kita bertanggung jawab menanggapi banyak laporan terkait
59
dampak pencemaran tersebut, selain itu kita juga rutin
melaksanakan
pembinaan
terhadap
kelompok-kelompok
nelayan.
I3
Dalam bentuk nota dinas, laporan hasil kunjungan lapangan
Q/II
Q9
60
KODING
Apakah
koordinasi
terkait
dalam
melaksanakan
pengawasan dan pengendalian lingkungan kelautan sudah
berjalan secara efektif?
I1
Desember kemarin telah dilakukan koordinasi dengan kelautan
61
membahas edukasi ke nelayan dan masyarakat pesisir tetap
sekarang belum ada koordinasi lebih lanjut karena kendala
rolling jabatan pada bulan januari kemarin tetapi kita juga ada
koordinasi dengan formapel (forum masyarakat peduli
lingkungan) untuk mengecek kondisi lapangan.
I2
Sejauh ini cukup baik, dari segi LSM masyarakat kita selalu
62
koordinasikan.
I13
Kalau dari BPLHD sering membina LSM-LSM tertentu
63
WALHI, FORMAPEL dan lainnya biasanya kalau kita cek ke
lapangan.
Q10
Bagaimana koordinasi antar lembaga pemerintah dengan
non pemerintah?
I1
Koordinasi belum berjalan efektif, selain melalui, tetapi
64
terkadang formapel membantu cek lapangan dan pengawasan.
I2
Sejauh ini cukup baik, dari segi LSM atau masyarakat kita
65
selalu koordinasikan
I3
Kalau koordinasi antar lembaga pemerintah yang berwenang,
kita tidak tahu lebih dalam hanya WALHI diajak dalam
penandatanganan
sidang
AMDAL
tapi
hanya
bersifat
administrasi. Artinya sejauh mengecek dilapangan atau
66
gimana sejauh ini WALHI tidak pernah. Jadi koordinasi
dengan kita hanya bersifat administratif. (Rapat, mengundang
seluruh
elemen,
perusahaan
presentasi,
masyarakat
berpartisipasi dan tanda tangan) tidak terlibat dalam kroscek
dilapangan dengan berbagai kemungkinan seperti manipulasi.
WALHI banyak menolak dalam sidang AMDAL.
I4
Tidak ada koordinasi yang dirasa cukup baik misal suku dinas
67
perikanan dengan BPLHD
I6
Tidak ada koordinasi
68
I7
Saya sih tidak begitu tau bagaimana koordinasinya, cuma
69
kayaknya tidak ada koordinasi yang bermanfaat nantinya,
seperti BPLHD dengan perikanan/perhubungan.
I8
Secara mekanismenya sih saya tidak paham, tapi sejauh ini
70
pihak pemerintah tidak pernah mengajak kita untuk mengatasi
itu tidak seperti dulu ketika saya dilibatkan pengambilan
sample air sampai di uji di laboratorium
I9
Sepertinya tidak ada koordinasi yang cukup baik, dari
71
perikanan sama lingkungan hidup atau dengan perhubungan
I13
Kalau dari BPLHD sering membina LSM-LSM tertentu
WALHI,
FORMAPEL
(Forum
Masyarakat
Peduli
Lingkungan) dan LMK biasanya kalau kita ke lapangan
Q11
Apakah
fungsi
pengaduan
mengenai
lingkungan sudah berjalan secara efektif?
pencemaran
72
I1
Pengaduan sudah berjalan efektif, selain melalui surat kita
73
juga menyediakan pengaduan melalui web/phone tetapi
kendalanya masyarakat kurang sosialisasi
I2
Jelas efektif, ketika pengaduan ditanggapi dibuat rapat
74
koordinasi
I3
Tidak efektif
75
I4
Tidak efektif, pengaduan hanya ditanggapi namun tindakannya
76
tidak jelas
I6
Kurang tahu, pengaduan kita (nelayan) hanya sebatas dengan
77
pihak Sudin Perikanan ketika sedang pembinaan
I7
Tidak berjalan efektif, apalagi di lingkungan hidup, kita paling
78
melakukan pengaduan ke suku dinas perikanan, selalu di
tanggapi tetapi sepertinya tidak di koordinasikan ke beberapa
yang berwenang terhadap hal tersebut
I8
Belum efektif, banyak masyarakat yang tidak tahu
79
I9
Pengaduan hanya sebatas ditanggapi tidak tahu bagaimana
80
kelanjutannya
I13
Biasanya masyarakat dapat melakukan tentang masalah
lingkungan bisa melalui sms, web, dan langsung kita
tindaklanjuti. Sekarang tidak ada istilah akses pengaduan sulit,
pengaduan berjalan efektif tetapi yang menjadi permasalahan
kita contohkan pencemaran laut Marunda, pencemaran laut
yang luas kan kita tidak pernah tahu limbah siapa, dan dengan
81
arus laut yang sebegitu cepat tidak bisa dipredikasi waktunya,
kalau sekarang tercemar sesaat kemudian sudah tidak.
Q12
Bagaimana upaya sosialisasi program kepada Masyarakat
dalam hal untuk meningkatkan partisipasi masyarakat
menjaga kelestarian laut?
I1
Kita koordinasikan dengan kelautan, mereka yang memiliki
82
masyarakatnya, kemudian kita yang melakukan edukasi.
I2
Sosialisasi dilakukan melalui pembinaan ke masyarakat
83
nelayan terkadang selain membicarakan pencemaran, kita juga
membahas alat tangkap nelayan dan tentang kenelayanan
I3
Karena mengingat energi WALHI belum begitu kuat makanya
84
tidak seluruh kita advokasi kita hanya melakukan kampanyekampanye untuk masyarakat memulihkan lingkungan.
I4
Sosialisasi tidak berjalan secara rutin, menyapa masyarakatpun
85
tidak, jadi bagaimana masyarakat termotivasi.
I6
Ada pertemuan beberapa kali dengan sudin perikanan,
86
masyarakat melapor mengenai limbah hanya ditanggapi tetapi
tidak ada hasil
I7
Sosialisasi paling dalam pembinaan-pembinaan ke kelompok
87
kelompok nelayan saja
I8
Tidak pernah tahu gimana sosialisasinya mungkin hanya
88
kadang LSM datang tapi saya tidak tahu persis.
I9
Sosialisasi secara aktif sih tidak ada, tetapi paling dari sudin
89
perikanan pas pembinaan-pembinaan ke kelompok nelayan.
I13
Dengan melalui ancaman-ancaman hukum yang ada di UU
PPLH
bagaimana
sanksi
nya.
Sosialisasi
90
program
pengendalian biasanya dilakukan tingkat kota.
Q13
Apakah selama ini kewenangan daerah dalam membuat
regulasi kebijakan terjadi disharmoni atau terdapat
tumpang tindih kebijakan?
I1
Sekarang sih pembagian wewenang sudah jelas, misalnya
91
dalam pembinaan dan pengawasan tingkat kota hanya untuk
dokumen UKL/UPL kalau tingkat provinsi AMDAL. Kalau
untuk jakarta sih tidak ada tumpang tindih karena kebijakan
semua ada di provinsi.
I2
Saya dari perikanan dan kelautan tidak begitu menganalisis
92
jauh ke hal itu
I3
kalo di tingkat UU iya tumpang tindih contohnya di UU
lingkungan mensyaratkan secara ketat proses perusakan hutan
diimbangi dengan proses reboisasi menggunakan lahan
pertanian harus disiapkan lahan pengganti tetapi ketika
berbicara investasi, persyaratannya dibuka seluas-luasnya
asing untuk masuk investasi dibidang lingkungan. Hal ini kan
menjadi
bentrok
karena
ketika
kemudahan
diberikan
sementara UU lain melakukan pengetatan ini kan yang
menjadi kontradiksi sehingga selama ini bisa dibilang undang-
93
undang lingkungan hidup disharmoni dan tumpang tindih.
I4
tumpang tindih kebijakan memang terjadi, jadi tidak pernah
94
jelas ini kewenangan siapa dan kerjaan siapa, masyarakat juga
tidak paham ranah kebijakan jadi permasalahan jadi blunder
sendiri. kita ambil kasus UU No.27 Tahun 2007 yang isinya
ada salah satu pasal yang membolehkan laut di privatisasi,
KIARA pernah menggugat ke Mahkamah Konstitusi tahun
2010-2011 dan memenangkan tetapi kemudian tahun 2014
pemerintah kembali merevisi dan menggolkan aturan tersebut.
Dengan aturan yang telah dibuat sedemikian rupa tetapi
SDMnya tidak menjalankan secara baik maka implementasi
sangat jauh apa yang diharapkan.
I13
Oh tidak, kan kita satu komando
95
Q14
Apa saja kah program strategis yang dilakukan dalam
rangka pengendalian pencemaran laut?
I1
kita secara acak akan mengecek kondisi dilapangan tetapi
96
cenderung tidak mempunyai IPAL yang baik. Kita juga
mempunyai program status ketaatan yang dapat melihat
sejauhmana
perusahaan
aktif
melaporkan
pengelolaan
limbahnya/tidak.
I2
akibat dari pencemaran, program kita adalah dengan kita
membuatkan rumah-rumah ikan yang baru, karena sudah
tercemar maka kita harus membuatkan lokasi penangkapan
97
ikan yang baru dan memang tidak mudah harus melalui kajiankajian terlebih dahulu. Kita juga melakukan revitalisasi alat
tangkap.
I13
Program strategis dalam menanggulangi pencemaran laut ini
98
ya minimal dari stop nyampah di kali karena kontribusi
pencemaran laut ini juga berasal dari 13 sungai yang mengalir
ke laut.
Q15
Bagaimana pelaksanaan kebijakan penegakan hukum
lingkungan?
Dalam
penyelesaian
kasus
sengketa
lingkungan
I1
selama ini KLH sebagai mediator dalam penyelesaian kasus
99
lingkungan hidup, jika kasusnya dapat diselesaikan dalam
wilayah kota kita usahakan samapai tuntas, tetapi jika memang
harus ke provinsi atau ke pengadilan tidak menutup
kemungkinan seperti kasus pada tahun 2014 ketika melakukan
pengawasan, saya prioritaskan yang laporan nya jelek-jelek
saja, saya buatkan berita acara dan kasih waktu untuk
melakukan perbaikan, tetapi hanya 10% yang taat.
I13
Selama ini penyelesaian kasus, kalau dapat diselesaikan
ditingkat kota ya tingkat kota, tetapi tingkat provinsi juga bisa.
Kalau berbicara kasus yangsampai dibawa ke pengadilan
jarang, dulu pernah pada kasus pengambilan air tanah, tetapi
jika konteks nya melihat kasus ikan yang banyak mati kita
100
tidak bisa menduga itu limbah siapa karena banyak
perusahaan-perusahaan yang ‘’nakal’’ mereka rame-rame
membuang limbah pada saat hujan dan malam hari.
Kelemahan kita dalam penegakan hukum itu dibagian
pengawasan hanya ada 2 orang tidak mungkin mengawasi 24
jam dengan jumlah industri yang sebegitu banyak.
Q16
Bagaimana
proses
Implementasi
Pengendalian
Pencemaran dan/atau Perusakan Laut dilakukan?
I1
Implementasi pengendalian pencemaran kita giat dalam hal
101
mengawasi walaupun masih terkendala beberapa hal seperti
kurangnya SDM tetapi implementasi proses menuju baik
I2
Selama ini masih lemahnya pengawasan.
102
I3
Jadi selama ini pemerintah belum ada tindakan dalam
103
pengendalian pencemaran ini buktinya selama ini kita lihat
justru makin tercemar.
I4
Tidak berjalan secara efektif selama ini, apalagi sekarang mau
104
dibuat tanggul raksasa dengan reklamasi yang semakin gencar,
biarpun sudah melalui AMDAL tapi kita tidak pernah tahu
yang terjadi di balik meja. Padahal efeknya pencemaran itu
terkena langsung yaitu nelayan, pemilik modal yang di
lindungi.
I6
Implementasi selama ini berjalan saja tetapi ya begitu tidak
ada dampak yang dirasakan ke arah yang lebih baik, padahal
105
beberapa waktu sering diambil sample air yang tercemar untuk
diteliti tetapi hasilnya tidak tahu.
I7
Ya selama ini sih aturan hanya aturan, tapi dampak
106
pencemarannya begitu kita rasakan untuk mendapatkan ikan
kita harus benar ke tengah tetapi kelandanya kan ikan yang
kita dapatkan sedikit tetapi biaya solar nambah makanya
aturan apapun kita ingin segera dilakukan yang tegas kepada
yang berwenang.
I8
Implementasi selama ini kurang memberikan dampak apa-apa,
107
pencemaran tidak berkurang.
I9
Selama ini tidak ada kerjasama yang berarti untuk mengatasi
108
pencemaran, banyak faktor yang diduga menjadi sumber
pencemar tapi begitu-gitu aja banyak oknum dan partisipasi
rendah
I13
.Proses menuju baik implementasinya
Q17
Apa saja yang berhasil dicapai dalam target program
109
pengendalian pencemaran laut?
I1
Susah mendeskripsikan tetapi yang kita gencarkan untuk
110
ketaatan semua yang terlibat.
I2
Ada revitalisasi alat tangkap, pembuatan lokasi tangkap yang
111
baru dan selektivitas alat tangkap nelayan
I13
Sulit dijelaskan, karena berbicara pencemaran dari dulu ya
begitu begitu aja tetapi jika melihat kualitas air sungai sudah
112
cukup bagus
Q18
Apakah visi-visi lingkungan Jakarta yang berkelanjutan
sudah tercapai?
I1
Sedikit demi sedikit sedang dijalankan dengan baik
113
I13
Sudah dan dalam proses
114
Q19
Apakah SDM menjadi faktor keberhasilan?
I1
Iya jelas, sedangkan SDM kita masih kurang
115
I2
Ya, SDM menjadi faktor keberhasilan kebijakan
116
I3
ini bukan soal SDM tapi soal mental korupnya terlalu tinggi,
117
jual beli perizinan dan manipulasi. Jika memang pengawasan
kendala oleh kurangnya SDM pemerintah punya infrastruktur
lain seperti polisi, satpol pp, tentara dan lain-lain.
I4
Dengan penegakan aturan yang lemah, misalnya aturan yang
118
telah sedemikian rupa baik tetapi SDM nya tidak menjalankan
secara baik, implementasi sangat jauh apa yang diharapkan.
Kita ambil kasus UU No.27 Tahun 2007 yang isinya ada salah
satu yang membolehkan laut di privatisasi, KIARA pernah
menggugat ke MK tahun 2010-2011 dan menang tetapi
kemudian tahun 2014 pemerintah kembali merevisi dan
menggolkan aturan tersebut.
I13
Ya tentu, kesadaran dari masyarakat amatlah berpengaruh
terhadap keberhasilan kebijakan.
Q20
Apakah selama ini masyarakat sekitar Marunda sudah
119
merasakan dampak yang dikehendaki dari kebijakan
tersebut?
I6
Dampak yang kita rasakan hanya menurunnya hasil tangkapan
120
ikan, rajungan dan sebagainya, padahal kalau saja tidak
tercemar kita dapat 10-20kg tetapi jika laut dirasa sedang
tercemar paling banyak dapat 1kg. Begitu dampak yang
dirasakan, untuk tujuan yang dikehendaki dari kebijakan
tersebut nelayan tidak merasakannya.
I7
Belum merasakan dampak yang dikehendaki
121
I8
Dampak negatifnya saja, misalnya
122
biasanya dapat ikan
banyak kalau lagi ada limbah berkurang sekali
I9
Belum
Q21
Bagaimana alokasi anggaran pengelolaan lingkungan?
I1
Sistem alokasi anggaran sekarang jauh lebih baik, karena kita
123
124
sendiri yang mengajukan bukan dikasih dalam jumlah tertentu
I2
Kalau untuk anggaran untuk melakukan pengelolaan kita
125
mengajukan dan tidak ada masalah
I13
Sejauh ini tidak ada masalah
Q22
Apakah infrastruktur sudah memadai dalam mendukung
126
kebijakan?
I1
Infrastruktur memadai tapi SDM sangat kurang jadi ada
127
beberapa target yang tidak terpenuhi
I2
Memang dalam jumlah misalnya untuk mengatasi dampak
128
pencemaran itu kita masih kurang, karena jumlahnya cukup
banyak tapi kita selalu usahakan untuk kesejahteraan nelayan
I13
Sudah
memadai,
tetapi
sekarang
kan
laboratorium-
129
laboratorium swasta sudah banyak walaupun finalnya tetap di
BPLHD
Q23
Apakah terdapat kendala yang paling utama dalam
Implementasi kebijakan?
I1
Ketaatan dari pengelola limbah industri, dan rendahnya
130
partisipasi masyarakat sekitar, serta kurangnya SDM dari
bagian bidang pengawasan.
I2
Pengawasan untuk industri-industri sekitar, pengawasan
131
pencemaran dan partisipasi yang belum efektif
I3
Ketidaktegasan dari pemerintah mungkin lobby lobby
132
investasi yang tinggi
I4
Kewenangan yang tumpang tindih, kemudian implementasi
133
dilapangan juga berbeda kemudian partisipasi masyarakat
dalam memahami aturan-aturn juga rendah, implementasi
tidak ada tindak lanjut.
I6
Dari industri-industri itu yang melakukan pencemaran.
134
I7
Kendalanya tidak ada kelanjutan atas pengaduan-pengaduan
135
kita.
I8
Pemerintah kurang peduli terhadap kondisi dilapangan,
pengaduan selama ini tidak berdampak apa-apa sehingga
136
masalah tidak pernah tuntas.
I9
Kurang tegas dan kurang serius pemerintah dalam mengatasi
137
pencemaran.
I13
Sebenarnya masalah klasiknya kurangnya SDM dalam
138
pengawasan dari kita tapi kadang dibantu formapel/lsm yang
melapor ke kita.
Q24
Apakah
selama
ini
sasaran
program
menentang
kebijakan?
I1
Tidak, cuma cari aman dan tidak patuh biasanya.
139
I2
Dibilang menentang sih tidak, hanya mematuhi tapi tidak
140
efektif
I3
Menentang sih tidak, cuma banyak oknum saja
141
I4
Banyak aktor pihak industri tidak patuh dan tidak ada warning
142
oleh pejabat yang berwenang
I6
Iya menentang, kalau tidak kan laut bersih- bersih saja
143
I7
Tidak begitu sih, memang pencemaran sudah menjadi masalah
144
dari dulu-dulu
I8
Menentang sih tidak, cuma tidak patuh saja
145
I9
Kalau yang tidak mengikuti aturan ya berarti menentang cuma
146
masalahnya kita tidak pernah tahu limbah berasal darimana
dan bagaimana mengatasinya.
I13
Menentang sih tidak, tetapi cenderung cari aman saja
Q25
Apakah upaya Rehabilitasi lingkungan berjalan secara
147
efektif?
I1
Sedang dalam proses ke arah yang lebih baik
148
I2
Rehabilitasi memang dilakukan tetapi belum efektif karena
149
masuknya limbah jadi habitat laut masih terganggu
I3
Belum efektif
150
I4
Tidak, mindset masyarakat kita adalah laut menjadi tempat
151
pembuangan terakhir sampah masyarakat juga tidak pernah
diajak untuk lebih arif terhadap alam mereka beranggapan
karena udah ada limbah disitu kemudian buang sampah disitu.
I13
Belum, kita masih sulit merehabilitasi lingkungan, karena kita
152
belum pernah penjarakan orang untuk kasus lingkungan, untuk
kasus perusahaan yang membuang limbah diatas baku mutu
kita tutup saluran limbahnya bayangkan berapa ratus juta
untuk menyedot limbahnya, misal 400rb/tanki sedangkan
dalam sehari mereka bisa menghasilkan berapa banyak
limbah.
Q26
Mampu berapa persen pemerintah untuk mengatasi hal
ini?
I1
Tidak bisa memprediksikan, karena untuk taat saja perusahaan
153
susah, makanya dibuatkanlah SKL untuk melihat berapa
persen perusahaan yang taat.
I13
Tidak bisa memprediksi
154
KODING DATA
Kode
1
Rincian Kategori
Implementor (dalam hal ini industri) belum mematuhi prosedur
kebijakan yang telah ditentukan seperti tidak tersedianya IPAL
2
Implementor belum mematuhi prosedur kebijakan yang telah ditentukan,
karena kurang pengawasan
3
Lemahnya pengawasan sehingga terjadi oknum-oknum pencemaran
4
Standar dan aturan prosedur yang dibuat tidak diimplementasikan dengan
baik, kondisi disharmoni antara swasta dan masyarakat
5
Prosedur dan aturan yang telah dibuat tidak berpengaruh terhadap
pengendalian pencemaran
6
Aturan sudah dibuat dengan baik,tetapi kurang kesadaran dari beberapa
pihak
7
Peraturan sudah dibuat dengan baik, tetapi pemerintah lemah
pengawasan terhadap pelaku swasta
8
Implementor belum melaksanakan aturan dengan baik, kurangnya
ketegasan menindak pelaku pencemaran
9
Implementor mematuhi melalui dokumen-dokumen
10
Belum adanya dukungan dari semua pihak terhadap pengendalian
pencemaran
11
Dukungan dari LSM berbentuk koordinasi dengan pemerintah
12
Dukungan dari WALHI berbentuk kampanye Revitalisasi lingkungan
13
Dukungan dari KIARA berbentuk advokasi dengan pemangku kebijakan
dan meningkatkan kreativitas nelayan
14
Dukungan dari pemerintah berbentuk pembinaan-pembinaan ke nelayan
15
Dukungan masyarakat dengan cara tidak membung sampah di laut
16
Nelayan dan masyarakat melakukan dukungan dengan bentuk pengaduan
17
Dukungan dari pemerintah berbentuk pembinaan-pembinaan ke nelayan
18
Dukungan dari LSM berbentuk koordinasi dengan pemerintah
19
Tidak tahu tingkat pencemaran
20
Tingkat pencemaran sudah berat dan diambang batas baku mutu
21
Laut tercemar
22
Pencemaran sudah berat
23
Cukup tercemar, air laut hitam
24
Cukup tercemar, air laut coklat pekat
25
Cukup tercemar, air laut coklat pekat
26
Cukup tercemar, air laut coklat pekat
27
Tidak tahu tingkat pencemaran yang terjadi di laut Marunda
28
Melalui pembinaan dan pengawasan dalam menjaga konsistensi
29
Konsistensi belum maksimal
30
Tidak konsisten, ditandai dengan lemahnya pengawasan
31
Tidak konsisten, hanya based programatic
32
Konsisten, tapi tidak tepat sasaran
33
Tidak konsisten terhadap aturan yang telah dibuat
34
Tidak konsisten, karena beda pemimpin beda budaya
35
Tidak konsisten, laut masih saja tercemar
36
Konsistensi melalui pengawasan aktif dan pasif
37
Sudah sesuai dengan bidang kompetisinya
38
Selalu melakukan pembinaan pegawai
39
Sudah sesuai dengan bidang kompetisinya
40
Peran yang dilakukan menekan perusahaan untuk menaati aturan
41
Menampung aspirasi nelayan yang kemudian akan dikoordinasikan
dengan yang berwenang
42
Peran tidak terlihat
43
Peran instansi cenderung setelah ada dampak
44
Peran belum menyentuh ke nelayan
45
Tidak paham peran mereka
46
Peran hanya dari beberapa dinas saja
47
Peran hanya pembinaan dari Sudin Perikanan kelautan
48
Peran berbentuk aktif dan pasif, secara pasif pasti dilakukan tetapi aktif
dengan melihat prioritas
49
Partisipasi masyarakat rendah
50
Forum masyarakat aktif melaporkan
51
Partisipasi masih belum maksimal, karena masih dalam ruang lingkup
kecil
52
Partisipasi masih rendah, terutama industri
53
Masyarakat jenuh dengan pencemaran sehingga cenderung apatis
54
Masyarakat berpartisipasi dengan tidak membuang sampah/limbah ke
laut
55
Masyarakat berpartisipasi dengan membuat paguyuban untuk
menampung aspirasi
56
Masyarakat cenderung jenuh dan apatis
57
Tingkat kesadaran dan partisipasi yang rendah
58
Pertanggungjawaban kinerja dalam bentuk berita acara dan Rekapan
hasil pengawasan
59
Rutin melakukan pembinaan terhadap kelompok nelayan
60
Dalam bentuk nota dinas laporan hasil kunjungan lapangan
61
Koordinasi tahun lalu membahas edukasi terhadap nelayan dan
masyarakat pesisir
62
Koordinasi cukup baik dengan LSM dan masyarakat
63
BPLHD selalu berkoordinasi dengan LSM saat turun ke lapangan
64
Koordinasi pemerintah dengan non pemerintah belum efektif
65
Koordinasi pemerintah dengan non pemerintah cukup baik
66
Koordinasi dengan LSM hanya bersifat administratif
67
Tidak terjalin koordinasi yang baik
68
Tidak ada koordinasi
69
Tidak terjalin koordinasi yang baik
70
Pemerintah dirasa tidak berkoordinasi dengan masyarakat setempat
71
Tidak terjalin koordinasi yang baik
72
BPLHD berkoordinasi dengan LSM LSM dalam pembinaan ketika cek
ke lapangan
73
Pengaduan berjalan efektif, terkendala kurang sosialisasi
74
Pengaduan efektif, dan langsung dikoordinasikan
75
Tidak efektif
76
Tidak efektif, tidak ada tindak lanjut
77
Tidak begitu mengetahui mengenai layanan pengaduan
78
Tidak berjalan efektif layanan pengaduan
79
Belum efektif, masyarakat tidak mengetahui
80
Tidak adanya tindak lanjut dari pengaduan tersebut
81
Layanan pengaduan efektif, tetapi untuk tindaklanjut masih terdapat
kendala
82
Upaya sosialisasi program melalui kegiatan edukasi
83
Sosialisasi melalui program pembinaan terhadap nelayan dan masyarakat
pesisir
84
LSM melakukan advokasi dan mengkampanyekan pemulihan lingkungan
85
Sosialisasi program tidak berjalan efektif
86
Sosialisasi pernah dilakukan membahas limbah
87
Sosialisasi dengan pembinaan-pembinaan nelayan
88
LSM terkadang datang melakukan sosialisasi program pelestarian laut
89
Sosialisasi memang dilakukan tetapi tidak rutin
90
Sosialisasi program hukum PPLH
91
Regulasi kebijakan pembagian wewenang sudah efektif, membedakan
wewenang kota dan provinsi
92
Tidak begitu mengetahui bagaimana regulasi kebijakan lingkungan
93
Kalau di tingkat UU terjadi tumpang tindih misal dalam UU Kehutanan,
antara kerusakan hutan dan reboisasi
94
Tumpang tindih kebijakan terjadi tumpang tindih misal dalam UU No.27
Tahun 2007 didalamnya terdapat pasal laut dapat di privatisasi
95
Regulasi kebijakan tidak terjadi tumpang tindih kebijakan
96
Program strategisnya SKL (Status Ketaatan Lingkungan)
97
Program strategisnya membuat lokasi penangkapan ikan yang baru
akibat dari pencemaran
98
Program strategisnya stop nyampah di sungai
99
Kita selalu berusaha menyelesaikan penegakan hukum atas sengketa
lingkungan sampai tuntas
100
Penyelesaian penegakan hukum atas sengketa lingkungan masih
terkendala beberapa hal seperti oknum pembuangan limbah dan
kurangnya SDM dalam pengawasan
101
Implementasi pengendalian pencemaran laut proses menuju baik
102
Implementasi masih lemahnya pengawasan
103
Implementasi belum efektif
104
Implementasi belum efektif
105
Implementasi pengendalian pencemaran belum baik
106
Implementasi masih terkendali dari kurang tegasnya yang berwenang
107
Implementasi pengendalian pencemaran belum memberikan dampak
yang baik
108
Implementasi pengendalian pencemaran masih terkendala dari
rendahnya partisipasi masyarakat dan kurang kerjasama
109
Proses menuju baik implementasi pengendalian pencemaran laut
110
Target program adalah melalui ketaatan lingkungan
111
Target program adalah melalui revitalisasi alat tangkap, pembuatan
lokasi tangkap yang baru dan selektivitas alat tangkap nelayan
112
Yang berhasil dicapai dari target program sulit dijelaskan, namun melihat
kualitas air sungai sudah cukup baik
113
Visi lingkungan hidup Jakarta belum tercapai
114
Visi lingkungan hidup Jakarta belum tercapai
115
SDM jelas menjadi faktor keberhasilan tetapi SDM kurang
116
SDM menjadi faktor keberhasilan kebijakan
117
SDM memang menjadi faktor keberhasilan,tetapi yang lebih penting
mental dari para pelaksana
118
SDM menjadi faktor keberhasilan kebijakan
119
Kesadaran dari SDM menjadi faktor keberhasilan kebijakan
120
Masyarakat belum merasakan dampak dari tujuan kebijakan
pengendalian pencemaran
121
Masyarakat belum merasakan dampak dari tujuan kebijakan
pengendalian pencemaran
122
Masyarakat belum merasakan dampak dari tujuan kebijakan
pengendalian pencemaran
123
Masyarakat belum merasakan dampak dari tujuan kebijakan
pengendalian pencemaran
124
Tidak ada masalah dengan alokasi anggaran
125
Tidak ada masalah dengan alokasi anggaran
126
Tidak ada masalah dengan alokasi anggaran
127
Infrastruktur cukup memadai
128
Jumlah dalam pemenuhan infrastruktur masih terbatas
129
Infrastruktur cukup memadai
130
Kendala utama yaitu ketaatan dari industri,rendahnya partisipasi
masyarakat dan kurangnya SDM dalam pengawasan
131
Kendala utama yaitu kurang pengawasan dan rendahnya partisipasi
masyarakat
132
Kendala utama yaitu kurang tegasnya dari pihak yang berwenang
133
Kendala utama yaitu kewenangan tumpang tindih,masyarakat tidak
paham aturan, implementasi dilapangan berbeda
134
Kendala utama yaitu dari industri yang diduga pencemaran
135
Kendala tidak ada kelanjutan atas pengaduan
136
Kendala utama yaitu pemerintah kurang peduli terhadap kondisi
dilapangan
137
Kendala utama yaitu kurang tegas dan kurang serius pemerintah dalam
mengatasi hal tersebut
138
Kendala utama yaitu kurangnya SDM
139
Sasaran kebijakan tidak menentang kebijakan, tidak patuh
140
Sasaran kebijakan tidak menentang kebijakan, mematuhi tetapi tidak
efektif
141
Sasaran kebijakan tidak menentang kebijakan, hanya banyak oknum saja
142
Sasaran kebijakan tidak menentang kebijakan, hanya tidak patuh
143
Sasaran kebijakan menentang kebijakan
144
Sasaran kebijakan mengabaikan peraturan kebijakan
145
Sasaran kebijakan tidak menentang kebijakan, hanya tidak patuh
146
Sasaran kebijakan cenderung menentang kebijakan
147
Sasaran kebijakan tidak menentang kebijakan, hanya cari aman saja
148
Upaya rehabilitasi lingkungan masih dalam proses
149
Upaya rehabilitasi lingkungan belum efektif
150
Upaya rehabilitasi lingkungan belum efektif
151
Upaya rehabilitasi lingkungan belum efektif
152
Upaya rehabilitasi lingkungan masih sulit dilakukan
153
Pemerintah belum dapat memprediksikan mampu berapa persen dalam
mengatasi pencemaran laut
154
Pemerintah belum dapat memprediksikan mampu berapa persen dalam
mengatasi pencemaran laut
KATEGORISASI DATA
NO
1.
Kategori
Kepatuhan
Rincian Isi Kategori
Perilaku Implementor terhadap kebijakan
Implementor (dalam hal ini industri)
belum mematuhi prosedur kebijakan
yang telah ditentukan seperti tidak
tersedianya IPAL
Implementor belum mematuhi prosedur
kebijakan yang telah ditentukan, karena
kurang pengawasan
Lemahnya pengawasan sehingga terjadi
oknum-oknum pencemaran
Standar dan aturan prosedur yang dibuat
tidak diimplementasikan dengan baik,
kondisi disharmoni antara swasta dan
masyarakat
Prosedur dan aturan yang telah dibuat
tidak berpengaruh terhadap pengendalian
pencemaran
Aturan sudah dibuat dengan baik,tetapi
kurang kesadaran dari beberapa pihak
Peraturan sudah dibuat dengan baik,
tetapi pemerintah lemah pengawasan
terhadap pelaku swasta
Implementor belum melaksanakan aturan
dengan baik, kurangnya ketegasan
menindak pelaku pencemaran
Implementor mematuhi melalui
dokumen-dokumen
Dukungan terhadap kebijakan
Belum adanya dukungan dari semua
pihak terhadap pengendalian pencemaran
Dukungan dari LSM berbentuk
koordinasi dengan pemerintah
Dukungan dari WALHI berbentuk
kampanye Revitalisasi lingkungan
Dukungan dari KIARA berbentuk
advokasi dengan pemangku kebijakan
dan meningkatkan kreativitas nelayan
Dukungan dari pemerintah berbentuk
pembinaan-pembinaan ke nelayan
Dukungan masyarakat dengan cara tidak
membung sampah di laut
Nelayan dan masyarakat melakukan
dukungan dengan bentuk pengaduan
Dukungan dari pemerintah berbentuk
pembinaan-pembinaan ke nelayan
Dukungan dari LSM berbentuk
koordinasi dengan pemerintah
Konsistensi Pelaksana Program
Melalui pembinaan dan pengawasan
dalam menjaga konsistensi
Konsistensi belum maksimal
Tidak konsisten, ditandai dengan
lemahnya pengawasan
Tidak konsisten, hanya based
programatic
Konsisten, tapi tidak tepat sasaran
Tidak konsisten terhadap aturan yang
telah dibuat
Tidak konsisten, karena beda pemimpin
beda budaya
Tidak konsisten, laut masih saja
tercemar
Konsistensi melalui pengawasan aktif
dan pasif
Pembinaan SDM birokrasi
Sudah sesuai dengan bidang
kompetisinya
Selalu melakukan pembinaan pegawai
Sudah sesuai dengan bidang
kompetisinya
Peran dari pihak yang berwenang
Peran yang dilakukan menekan
perusahaan untuk menaati aturan
Menampung aspirasi nelayan yang
kemudian akan dikoordinasikan dengan
yang berwenang
Peran tidak terlihat
Peran instansi cenderung setelah ada
dampak
Peran belum menyentuh ke nelayan
Tidak paham peran mereka
Peran hanya dari beberapa dinas saja
Peran hanya pembinaan dari Sudin
Perikanan kelautan
Peran berbentuk aktif dan pasif, secara
pasif pasti dilakukan tetapi aktif dengan
melihat prioritas
Partisipasi terhadap isi kebijakan
Partisipasi masyarakat rendah
Forum masyarakat aktif melaporkan
Partisipasi masih belum maksimal,
karena masih dalam ruang lingkup kecil
Partisipasi masih rendah, terutama
industri
Masyarakat jenuh dengan pencemaran
sehingga cenderung apatis
Masyarakat berpartisipasi dengan tidak
membuang sampah/limbah ke laut
Masyarakat berpartisipasi dengan
membuat paguyuban untuk menampung
aspirasi
Masyarakat cenderung jenuh dan apatis
Tingkat kesadaran dan partisipasi yang
rendah
Pelaporan dan Pertanggungjawaban
pelaksana kebijakan
Pertanggungjawaban kinerja dalam
bentuk berita acara dan Rekapan hasil
pengawasan
Rutin melakukan pembinaan terhadap
kelompok nelayan
Dalam bentuk nota dinas laporan hasil
kunjungan lapangan
2.
Lancarnya Pelaksanaan
Fungsi Koordinasi instansi terkait
Rutinitas Fungsi
Koordinasi tahun lalu membahas edukasi
terhadap nelayan dan masyarakat pesisir
Koordinasi cukup baik dengan LSM dan
masyarakat
BPLHD selalu berkoordinasi dengan
LSM saat turun ke lapangan
Koordinasi Pemerintah dengan Non
Pemerintah
Koordinasi pemerintah dengan non
pemerintah belum efektif
Koordinasi pemerintah dengan non
pemerintah cukup baik
Koordinasi dengan LSM hanya bersifat
administratif
Tidak terjalin koordinasi yang baik
Tidak ada koordinasi
Tidak terjalin koordinasi yang baik
Pemerintah dirasa tidak berkoordinasi
dengan masyarakat setempat
Tidak terjalin koordinasi yang baik
BPLHD berkoordinasi dengan LSM
LSM dalam pembinaan ketika cek ke
lapangan
Fungsi Layanan Pengaduan
Pengaduan berjalan efektif, terkendala
kurang sosialisasi
Pengaduan efektif, dan langsung
dikoordinasikan
Tidak efektif
Tidak efektif, tidak ada tindak lanjut
Tidak begitu mengetahui mengenai
layanan pengaduan
Tidak berjalan efektif layanan pengaduan
Belum efektif, masyarakat tidak
mengetahui
Tidak adanya tindak lanjut dari
pengaduan tersebut
Layanan pengaduan efektif, tetapi untuk
tindaklanjut masih terdapat kendala
Fungsi Sosialisasi program
Upaya sosialisasi program melalui
kegiatan edukasi
Sosialisasi melalui program pembinaan
terhadap nelayan dan masyarakat pesisir
LSM melakukan advokasi dan
mengkampanyekan pemulihan
lingkungan
Sosialisasi program tidak berjalan efektif
Sosialisasi pernah dilakukan membahas
limbah
Sosialisasi dengan pembinaan-pembinaan
nelayan
LSM terkadang datang melakukan
sosialisasi program pelestarian laut
Sosialisasi memang dilakukan tetapi
tidak rutin
Sosialisasi program hukum PPLH
Fungsi Regulasi Kebijakan
Regulasi kebijakan pembagian
wewenang sudah efektif, membedakan
wewenang kota dan provinsi
Tidak begitu mengetahui bagaimana
regulasi kebijakan lingkungan
Kalau di tingkat UU terjadi tumpang
tindih misal dalam UU Kehutanan, antara
kerusakan hutan dan reboisasi
Tumpang tindih kebijakan terjadi
tumpang tindih misal dalam UU No.27
Tahun 2007 didalamnya terdapat pasal
laut dapat di privatisasi
Regulasi kebijakan tidak terjadi tumpang
tindih kebijakan
Fungsi penyusunan program strategis
Program strategisnya SKL (Status
Ketaatan Lingkungan)
Program strategisnya membuat lokasi
penangkapan ikan yang baru akibat dari
pencemaran
Program strategisnya stop nyampah di
sungai
Fungsi Penegakan hukum
Kita selalu berusaha menyelesaikan
penegakan hukum atas sengketa
lingkungan sampai tuntas
Penyelesaian penegakan hukum atas
sengketa lingkungan masih terkendala
beberapa hal seperti oknum pembuangan
limbah dan kurangnya SDM dalam
pengawasan
3.
Terwujudnya Kinerja
Implementasi Program kebijakan
Dampak yang dikehendaki
Implementasi pengendalian pencemaran
laut proses menuju baik
Implementasi masih lemahnya
pengawasan
Implementasi belum efektif
Implementasi belum efektif
Implementasi pengendalian pencemaran
belum baik
Implementasi masih terkendali dari
kurang tegasnya yang berwenang
Implementasi pengendalian pencemaran
belum memberikan dampak yang baik
Implementasi pengendalian pencemaran
masih terkendala dari rendahnya
partisipasi masyarakat dan kurang
kerjasama
Proses menuju baik implementasi
pengendalian pencemaran laut
Tingkat Pencapaian Program Kebijakan
Target program adalah melalui ketaatan
lingkungan
Target program adalah melalui
revitalisasi alat tangkap, pembuatan
lokasi tangkap yang baru dan selektivitas
alat tangkap nelayan
Yang berhasil dicapai dari target program
sulit dijelaskan, namun melihat kualitas
air sungai sudah cukup baik
Visi lingkungan hidup Jakarta belum
tercapai
Visi lingkungan hidup Jakarta belum
tercapai
Faktor Penentu Keberhasilan Kebijakan
SDM jelas menjadi faktor keberhasilan
tetapi SDM kurang
SDM menjadi faktor keberhasilan
kebijakan
SDM memang menjadi faktor
keberhasilan,tetapi yang lebih penting
mental dari para pelaksana
SDM menjadi faktor keberhasilan
kebijakan
Kesadaran dari SDM menjadi faktor
keberhasilan kebijakan
Tidak ada masalah dengan alokasi
anggaran
Tidak ada masalah dengan alokasi
anggaran
Tidak ada masalah dengan alokasi
anggaran
Infrastruktur cukup memadai
Jumlah dalam pemenuhan infrastruktur
masih terbatas
Infrastruktur cukup memadai
Faktor penghambat Keberhasilan Kebijakan
Kendala utama yaitu ketaatan dari
industri,rendahnya partisipasi masyarakat
dan kurangnya SDM dalam pengawasan
Kendala utama yaitu kurang pengawasan
dan rendahnya partisipasi masyarakat
Kendala utama yaitu kurang tegasnya
dari pihak yang berwenang
Kendala utama yaitu kewenangan
tumpang tindih,masyarakat tidak paham
aturan, implementasi dilapangan berbeda
Kendala utama yaitu dari industri yang
diduga pencemaran
Kendala utama yaitu pemerintah kurang
peduli terhadap kondisi dilapangan
Kendala utama yaitu kurang tegas dan
kurang serius pemerintah dalam
mengatasi hal tersebut
Kendala utama yaitu kurangnya SDM
Sasaran kebijakan tidak menentang
kebijakan, tidak patuh
Sasaran kebijakan tidak menentang
kebijakan, mematuhi tetapi tidak efektif
Sasaran kebijakan tidak menentang
kebijakan, hanya banyak oknum saja
Sasaran kebijakan tidak menentang
kebijakan, hanya tidak patuh
Sasaran kebijakan menentang kebijakan
Sasaran kebijakan mengabaikan
peraturan kebijakan
Sasaran kebijakan tidak menentang
kebijakan, hanya tidak patuh
Sasaran kebijakan cenderung menentang
kebijakan
Sasaran kebijakan tidak menentang
kebijakan, hanya cari aman saja
Upaya rehabilitasi lingkungan masih
dalam proses
Upaya rehabilitasi lingkungan belum
efektif
Upaya rehabilitasi lingkungan belum
efektif
Upaya rehabilitasi lingkungan belum
efektif
Upaya rehabilitasi lingkungan masih sulit
dilakukan
Pemerintah belum dapat memprediksikan
mampu berapa persen dalam mengatasi
pencemaran laut
Pemerintah belum dapat memprediksikan
mampu berapa persen dalam mengatasi
pencemaran laut
Dampak yang dikehendaki dari kebijakan
Masyarakat belum merasakan dampak
dari tujuan kebijakan pengendalian
pencemaran
Masyarakat belum merasakan dampak
dari tujuan kebijakan pengendalian
pencemaran
Masyarakat belum merasakan dampak
dari tujuan kebijakan pengendalian
pencemaran
Masyarakat belum merasakan dampak
dari tujuan kebijakan pengendalian
pencemaran
Sumber : Peneliti, 2015
IV. Lembar Catatan Bimbingan Skripsi
249
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
IDENTITAS PRIBADI
Nama
: Septi Rosmalia
NIM
: 6661110907
Tempat,Tanggal Lahir
: Tegal, 27 September 1993
Agama
: Islam
Alamat
: Jl.Kayu Tinggi No.93 RT 001/03 Cakung Timur
Cakung Jakarta Timur
Email
: [email protected]
RIWAYAT PENDIDIKAN
1999-2000 TK Al-Wathoniyah Jakarta
2000-2006 Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama 02 Kertasari Tegal
2007-2009 SMP Al-Akhyar Jakarta
2009-2011 SMA Negeri 102 Jakarta
2011-2015 Ilmu Administrasi Negara FISIP
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
RIWAYAT ORGANISASI
Tahun 2007-2008 : Ketua OSIS SMP Al-Akhyar Jakarta
Tahun 2009-2010 : Anggota OSIS SMA N 102 Jakarta
Tahun 2013-2014 : Anggota EDC Untirta
Download