Keberlanjutan Kehidupan Sosial- Ekonomi Masyarakat, Tanpa

advertisement
I. PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang
Prospek pertambangan energi dan mineral di Indonesia pada 20 tahun
terakhir ini mengalami kemajuan pesat, kemajuan ini ditandai dengan meningkatnya volume produksi dan berkembangnya usaha eksploitasi jenis sumberdaya
energi dan mineral yang pada tahun-tahun 1970-an
sampai 1980-an belum
banyak berkembang di Indonesia. Hasil penyelidikan dan pemetaan geologi yang
telah dilakukan di sekitar 90 % dari luas wilayah daratan Indonesia, telah
mengidentifikasikan wilayah negara dari Sabang sampai Merouke memiliki
potensi kekayaan berbagai jenis mineral dan energi yang sangat diminati pasar
ekspor (Ness, 1999), termasuk kawasan Timur Indonesia juga memiliki kekayaan
sumber daya mineral dan energi pertambangan yang sangat bersar (Katili, 2002).
Sumbangan atau kontribusi pertambangan terhadap Produk Domestik Bruto
(PDB) Indonesia tahun 1996 telah mencapai 5,25%, angka ini jauh meningkat bila
dibanding dengan capaian tahun 1983 yang hanya sebesar 1,13% dari PDB
Indonesia. Pertumbuhan yang sangat signifikan ini, menunjukkan bahwa sektor
pertambangan dapat menjadi sektor andalan bagi pembangunan perekonomian
suatu negara (Ness,1999).
Penambangan bijih nikel di Pulau Gebe dilakukan sejak tahun 1979 oleh
PT Aneka tambang ( PT ANTAM) pada lahan areal kontrak karya seluas 1.225
ha, namun sampai tahun 2003 (PT ANTAM berhenti mengeksploitasi nikel) areal
yang terganggu langsung hanya seluas 422 ha. Jenis nikel yang dihasilkan, adalah
nikel saprolit dan nikel limonit. Hasil produksi nikel jenis saprolit dipasok ke
pabrik Ferronikel (FeNi) di Pomala dan bagian terbesar di pasarkan ke Jepang,
dan jenis nikel limonit seluruhnya diekspor ke Australia. Produksi tahun 2000
masih dibawah target yang ditetapkan yakni 730.823 wmt atau 83 % jumlah
(target) kadar tinggi dan 931.355 wmt atau 85 % untuk kadar rendah.
2
Dengan prinsip “kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyat”, maka bahan
tambang perlu diolah dengan tujuan: meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sebagai
implementasi dari tujuan tersebut, keberadaan PT ANTAM selama 24 tahun di
Pulau Gebe telah mampu memberi kontribusi cukup nyata terhadap pembangunan
wilayah Pulau Gebe, pembangunan daerah dan perekonomian nasional. Terhadap
daerah penambangan menyebabkan penerimaan royalti dari eksploitasi nikel telah
memberikan masukan berarti terhadap kas APBD Kabupaten Halmahera Tengah,
dan efek positif yang timbul dari kegiatan eksploitasi telah menaikan pendapatan
asli daerah dari pos retribusi dan pajak kendaraan bermotor serta pajak bumi dan
bangunan (PBB). Namun demikian, kegiatan penambangan juga memunculkan
sisi negatif, seperti terjadinya degradasi sumberdaya dan lingkungan, kesenjangan
sosial ekonomi di masyarakat dan terjadi reduksi nilai terhadap tatanan sosial dan
budaya. Karena itu menurut Salim (1989) pengelolaan sumberdaya pertambangan
perlu dilakukan secara berhati hati agar mampu menjaga keberlanjutan aset
generasi masa depan, untuk itu konsep pembangunan harus berkelanjutan.
Sebagai negara penganut “paham” sumber daya alam untuk kesejahteraan
rakyat, Indonesia cenderung menggunakan prinsip pembangunan berkelanjutan
yaitu mengolah kekayaan sumberdaya alam dan energi secara bijaksana agar
kondisi lingkungan tetap lestari dan bermutu tinggi. Lingkungan yang lestari,
pembangunan akan tetap berlangsung dari generasi ke generasi, dan lingkungan
yang lestari hanya dapat dilahirkan dari pola pikir yang memiliki rasa bijak
lingkungan yang besar (Naiola, 1996).
Konsep pembangunan berkelanjutan diperkenalkan pertama pada tahun 1987
oleh The World Commission on Enviroment and Development (WCED) melalui
laporan “Our Common Future” yang disampaikan oleh Cicin-Sain et al. (1998).
Substansinya, adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan saat ini
tanpa membatasi peluang generasi mendatang. Tidak menyebabkan penurunan
kapasitas produksi ekonomi di masa mendatang (Barry, 1997). Keberlanjutan
secara ekologis, ekonomi, sosial, budaya dan politik (Rahim, 2000). Mengandung
prinsip “justice as fairness” yang berarti manusia dari generasi yang berbeda
3
mempunyai tugas dan tanggungjawab satu terhadap manusia lainnya seperti yang
ada dalam satu generasi (Beller, 1990).
Kegiatan penambangan selalu memunculkan pengaruh positif dan negatif.
Pengaruh positif kegiatan penambangan dapat dilihat dari kontribusinya terhadap
pendapatan asli daerah, membuka isolasi keterisolasian wilayah, menyumbangkan
devisa negara, menyediakan kesempatan kerja, serta pengadaan barang dan jasa
untuk konsumsi dan yang berhubungan dengan kegiatan produksi, disamping itu
dapat menyediakan prasarana bagi pertumbuhan sektor ekonomi lainnya
(Mangkusubroto, 1995).
Namun secara alamiah keberadaan deposit sumberdaya tambang selalu
berinteraksi dan kait mengkait dalam lingkungan habitatnya sendiri, seperti tanah,
air dan tumbuh-tumbuhan, maka salah satu faktor mendasar yang tidak bisa
dihindarkan pada saat dilakukan eksploitasi deposit tambang tersebut adalah
terjadinya kerusakan lingkungan. Pengelolaan sumberdaya tambang yang tidak
berpedoman pada prinsip-prinsip ekologi, dapat menimbulkan kerusakan
lingkungan yang apabila melewati ambang batas terpulihkan akan berakibat pada
kerusakan permanen dengan akibat terjadinya degradasi lingkungan yang
parmanen. Beberapa kejadian sebagai dampak negatif dari kegiatan pertambangan
dapat dilihat dari terjadinya ancaman terhadap lingkungan fisik, biologi, sosial,
budaya, ekonomi dan warisan nasional (Barton, 1993), ancaman terhadap ekologi
dan pembangunan berkelanjutan (Makurwoto, 1995). Ancaman terhadap dimensi
ekologi seperti terjadinya perubahan bentang alam yang cukup luas, perubahan
morfologi dan fungsi lahan, penimbunan tanah kupasan, penimbunan limbah
pengolahan dan jaringan infrastrukturnya, seperti lahan bekas tambang emas di
PT Newmont Minahasa Raya (PTNMR, 2000), mempengaruhi iklim dalam skala
lokal seperti yang terjadi di lokasi penambangan PT Batu Bara Bukit Asam
(1996), berbagai mikro organisme pada horizon top soil A dan B menjadi musnah,
sehingga produktivitas dan stabilitas lahan menurun (Latifah, 2000). Menurut
Hardiyanti (2000) dalam penelitiannya di PT Freeport, luas wilayah operasi
penambangan juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan munculnya
malapetaka ekologi yang besar setelah habis masa tambang, terjadi pemborosan
4
sumberdaya tambang yang cukup besar, serta musnahnya keanekaragaman hayati.
Akibat dampak negatif terhadap komponen ekologi banyak daerah bekas tambang
mengalami degradasi ekologi seperti tambang emas di Kalgoorie Australia Barat,
bekas tambang timah di Pulau Dabo Singkep yang menyebabkan air tergenang
pada lubang-lubang bekas galian sebagai sarang malaria, hamparan tanah gundul
yang tidak produktif (Kasus ANTAM Pomala dan PT. Inco), rona kota terkesan
sebagai kota mati (Katili, 1998), serta menurunnya kualitas tanah dan air.
Dampak penambangan di bidang sosial ekonomi sangat terasa pada saat
menjelang dan berhentinya operasi perusahaan, seperti pendapatan masyarakat
menurun, tidak ada lapangan kerja, terjadi pemutusan tenaga kerja (Katili, 1998),
menimbulkan perubahan pada : lapangan kerja, tingkat dan pola pendapatan, pola
produksi dan konsumsi, pendapatan dan penerimaan pemerintah dari pajak
tambang dan retribusi menurun kasus di PT Tambang Timah Bangka (1990).
Konflik antar etnis, konflik budaya, konflik tanah, kemiskinan dan pengangguran,
persepsi negatif terhadap perusahaan, kualitas hidup, partisipasi dan peranan
wanita seperti yang terjadi di Freeport, PT Inco dan PT Minahasa, kekerasan fisik
dan pelecehan seksual, seperti kasus yang terjadi di PT Kelian Equtorial Mining.
Penambangan nikel di Pulau Gebe yang mulai berproduksi pada tahun 1979
tidak disangkal lagi telah menimbulkan beberapa dampak positif di bidang sosial
dan ekonomi, seperti kontribusi terhadap produksi nikel nasional, kontribusi
terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Daerah, kesempatan kerja, pendidikan,
kesehatan, pengusaha kecil dan koperasi, sarana dan prasarana umum, serta
keterbukaan wilayah. Namun, perlu juga diakui bahwa sebagai penambangan
terbuka, juga telah menimbulkan sisi negatif terhadap komponen biofisik seperti
terjadinya perubahan sifat tanah dan kualitas air di sekitar lokasi tambang. Sisi
negatif di bidang sosial ekonomi, mulai muncul di saat perusahaan melakukan
pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 484 karyawan perusahaan operasional
(KPO) dan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM). Akibat dari PHK tersebut telah
terjadi: (1) Arus penduduk keluar Pulau Gebe antara bulan Januari 2003- Maret
2003 sebanyak ± 817 jiwa; (2) Terdapat 218 bekas karyawan perusahan yang
tetap bermukim di Pulau Gebe kehilangan lapangan kerja; (3) Pendapatan
5
nelayan, petani, pedagang dan usaha informal dan formal mengalami penurunan;
(Anonim, 2003).
Menyadari bahwa masyarakat tetap membutuhkan keberlangsungan hidup
secara sosial dan ekonomi, sementara kegiatan penambangan telah berakhir pada
tahun 2005, dengan demikian terjadi lagi PHK terhadap 486 karyawan sisa.
Akibat yang muncul adalah berpindahnya bekas karyawan ke daerah lain dan
sebagian pulang ke kampung halaman asal. Dari hasil survei yang dilakukan Tim
Fakultas Ekonomi Unkhair di Pulau Gebe tahun 2003 diperoleh beberapa harapan
masyarakat, adalah : (1) Perbaikan lingkungan biofisik di areal tambang secara
langsung dapat berpengaruh terhadap lingkungan pesisir pantai; (2) Perlu adanya
investor yang dapat mengembangkan sektor- sektor primer yang bertumpu pada
potensi sumberdaya lokal agar masyarakat dapat melangsungkan kehidupannya;
(3) Perusahaan harus memperbaiki dan membangun fasilitas umum di bidang
sosial dan ekonomi;
Sebagai sebuah pulau kecil yang letaknya berhadapan langsung dengan laut
pasifik, Pulau Gebe memiliki potensi sumberdaya laut dan perikanan yang cukup
besar baik dari segi kuantitas maupun keragamannya, di samping itu sumberdaya
lain juga memiliki potensi yang relatif baik. Tercatat, wilayah perairan Pulau
Gebe mempunyai potensi sumberdaya ikan demersal dan palagis yang sangat
besar, dan merupakan salah satu potensi untuk layak dikembangkan, selain sektor
ekonomi lainnya yang juga memiliki potensi dan daya dukung yang relatif baik
pada saat Pulau Gebe tanpa tambang nikel. Upaya ini dirasakan sangat urgen dan
mendesak, karena seperti pulau - pulau kecil lainnya, masyarakat Pulau Gebe juga
mempunyai tingkat ketergantungan yang sangat besar dengan pihak luar, sehingga
upaya ini sangat penting untuk dapat mempertahankan keberlanjutan hidup
masyarakat secara sosial ekonomi di saat Pulau Gebe tanpa tambang nikel.
6
Kerangka Pemikiran
Pembangunan yang dilaksanakan di pulau-pulau kecil mengacu pada
konsep pembangunan wilayah pesisir, karena kondisi ekologis dan sosial budaya
masyarakat yang mendiami pulau kecil dan pulau besar relatif sama (Brookfield,
1990). Agenda 21, mengamanatkan arah pembangunan berkelanjutan kelautan
dan wilayah pesisir, yakni pembangunan berkelanjutan pulau-pulau kecil (Cicin
Sain dan Knecht, 1998). Oleh Direktorat Jenderal PPPK DKP (2000) adalah untuk
mencegah munculnya konflik pemanfaatan, menjamin keberlanjutan pemanfaatan,
serta optimalisasi ruang dan sumberdaya untuk peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Pembangunan Pulau Kecil juga diperkuat oleh Beatley et al, (1994),
dan World Coast Conference (1993), yakni sangat ditentukan oleh kemampuan
penduduknya mempertahankan sumberdaya, seperti: (1) energi, air, dan
sumberdaya lainnya; (2) sistem alami; (3) tekhnologi; (4) fleksibiltas penduduk
atas ekses pembangunan; (5) ketahanan ekosistem dari bencana alam; (6)
kerjasama pemerintah dan masyarakat dalam mencegah kerusakan lingkungan; (7)
tata nilai budaya. Cicin Sain dan Knecht, (1998) perlu memperhatikan ekonomi,
lingkungan dan keadilan sosial. Berlanjut secara ekologis, ekonomi, lingkungan,
keadilan, moral dan kelembagaan (OECD,1993).
Seiring dengan berakhirnya penambangan nikel di Pulau Gebe, persoalan
mendasar yang muncul adalah bagaimana mengelolah sumberdaya yang terdapat
di Pulau Gebe kehidupan sosial ekonomi masyarakat dapat dipertahankan.
Mengacu pada kajian teori dan penelitian terdahulu, penelitian ini mencoba
mendasarkan pada suatu kerangka pemikiran bahwa keberlanjutan kehidupan
sosial ekonomi masyarakat sangat dipengaruhi oleh: (1) Daya dukung lingkungan;
(2) Sumberdaya alam; (3) Sumberdaya manusia;(4) Sarana dan prasarana; dan (5)
Sumberdaya finansial; (6) Sosial budaya; Menurut laporan Bank Dunia (2003),
keberlanjutan kehidupan dipengaruhi oleh: sumberdaya manusia, sumberdaya
alam, sumberdaya buatan manusia, pengetahuan, dan sumberdaya sosial.
Kerangka pemikiran upaya meningkatkan keberlanjutan kehidupan sosial
ekonomi masyarakat Pulau Gebe, dapat dilihat pada Gambar 1.
Prioritas
Kebijakan
SUMBERDAYA
MANUSIA
Prioritas
Program
SUMBERDAYA
ALAM
Sistem
alam
ASSET
SOSIAL
EKONOMI
SARANA
PRASARANA
Tidak ada
tambang, tingkat
kehidupan tinggi
Berkelanjutan
Program
Pengembangan
SUMBERDAYA
KAPITAL
Sistem
Sosial
1. Ada tambang, tingkat
kehidupan tinggi
2. Tidak ada tambang, tingkat
Kehidupan rendah
Tidak berkelanjutan
Pemberlanjutan
Gambar 1. Kerangka pemikiran pilihan pengembangan sektor ekonomi sebagai upaya mempertahankan keberlanjutan kehidupan
masyarakat di pulau Gebe, pada saat pasca tambang nikel.
1
1. 3. Perumusan Masalah
Perkembangan eksploitasi sumberdaya mineral dan energi pada beberapa tahun
terakhir ini telah menimbulkan banyak kasus terhadap kehidupan manusia dan
lingkungan sekitar. Kasus penambangan terkini yang paling memprihatinkan dunia
pertambangan adalah pencemaran di teluk Buyat Minahasa akibat kegiatan penambangan
emas oleh PT NMR. Kejadian-kejadian seperti ini kemudian memunculkan kesan bahwa
dalam hubungan dengan lingkungan hidup, tidak ada sektor lain yang lebih terpuruk
dibanding sektor pertambangan. Masalah yang sering muncul adalah pencemaran
terhadap sumber daya tanah, dan air yang berakibat pada turunnya kualitas dan
produktivitas tanah dan air, sehingga dalam pengembangan ekonomi bukan tambang
setelah pasca tambang, aspek daya dukung lingkungan sering menjadi kendala utama.
Pihak perusahaan sering kurang memperhatikan kewajiban pembangunan
masyarakat, pemerintah daerah juga kurang memperhatikan pembangunan sarana
prasarana daerah penghasil. Akibatnya setelah masa penambangan daerah yang
ditinggalkan ibarat kota hantu, karena jumlah penduduk berkurang dan kondisi sosial
ekonomi masyarakat yang ada di sekitar lokasi tambang menjadi miskin, karena hasilnya
hanya untuk manfaat ekonomi jangka pendek (Anwar, 1993).
Tingkat kehidupan masyarakat secara sosial ekonomi, merupakan salah satu isu
kunci yang selalu muncul pada saat berakhirnya kegiatan penambangan karena
berkurangnya lapangan kerja, sehingga ketergantungan masyarakat untuk mendapatkan
pekerjaan di luar Pulau Gebe sangat besar, kondisi ini sesuai dengan salah satu
karakteristik pulau kecil yaitu ketergantungan ekonomi lokal pada ekonomi luar
(Brookfield, 1990) juga (Retraubun dan Dahuri, 2002). Kekuatiran ini muncul karena
kenyataan yang terjadi seperti kasus PHK terhadap 484 karyawan KPO dan TKBM yang
dilakukan pihak manajemen perusahaan pada bulan Januari hingga Maret 2003.
Permasalahan sosial ekonomi yang lain adalah menyangkut dengan pengalih-an
aset-aset milik PT ANTAM ke pemerintah Kabupaten yang kemudian diikuti dengan
penerapan kebijakan dan peraturan daerah. Aset perusahaan yang diserahkan ke
pemerintah Kabupaten yaitu pasar, jaringan listrik, jaringan air bersih, dan sarana
prasarana. Dengan pengalihan ini masyarakat akan dibebani retribusi pasar, iuran listrik
2
dan tarif jasa air bersih padahal selama aset-aset ini dalam penanganan perusahaan
sebagian besar masyarakat terutama yang bermukim di Kapaleo, Kecapi, Sanafi dan
Mamin mendapat secara gratis. Selain itu pendapatan
masyarakat yang bekerja di
perusahaan akan terhenti sementara kebutuhan hidup tidak berkurang, pendapatan petani,
nelayan dan usaha jasa dan sektor informal juga mengalami penurunan. Prasarana dan
sarana perkantoran, rumah dinas petinggi perusahaan dan bangunan perumahan yang
ditempati karyawan perusahaan kalau tidak dimanfaatkan akan mengalami kerusakan
yang sangat cepat.
Permasalahan-permasalahan ini harus ditangani secara terpadu dan melalui
pelibatan para pihak agar tidak memunculkan konflik sosial yang pada gilirannya
menjurus pada kegiatan anarkis. Secara spesifik dapat dirumuskan dua masalah penelitian
sebagai berikut.
1. Berapa besar indeks keberlanjutan kehidupan masyarakat dilihat dari dimensi ekologi,
dimensi ekonomi, dimensi sosial budaya dan dimensi gabungan (multi dimensi) di
Pulau Gebe pada saat ini.
2. Kebijakan strategi apa yang dapat dirumuskan agar kehidupan sosial ekonomi
masyarakat pada saat pasca tambang di Pulau Gebe masih tetap berlanjut.
1. 4. Tujuan Penelitian
Mengacu pada latar belakang dan permasalahan-permasalahan yang telah
dikemukakan, penelitian ini bertujuan :
1. Mengidentifikasi keberlanjutan kehidupan masyarakat Pulau Gebe yang hidup di pulau
kecil dari pengaruh sumberdaya dimensi ekologi (sifat tanah, kualitas air), dimensi
ekonomi (modal, dana, jalan, bangunan, jaringan air, jaringan listrik, pelabuhan, dan
pasar), dimensi sosial budaya (pendidikan, kesehatan, partisipasi, kekosmopolitan,
kondisi perumahan, kelembagaan, adat istiadat, nilai-nilai budaya, persepsi dan konflik
sosial), sebagai aset untuk meningkatkan keberlanjutan kehidupan sosial ekonomi
masyarakat di saat Pulau Gebe tanpa tambang nikel.
3
2. Merumuskan
kebijakan
strategi
sebagai
upaya
meningkatkan
keberlanjutan
kehidupan`secara sosial ekonomi masyarakat Pulau Gebe pada saat pasca tambang
nikel.
1. 5. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat:
1. Dirumuskan kebijakan strategi untuk meningkatkan keberlanjutan kehidupan sosial
ekonomi masyarakat Pulau Gebe pada saat pasca tambang nikel.
2. Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan bahan informasi dan data awal bagi
penelitian bidang ilmu yang terkait dengan aspek kehidupan sosial dan ekonomi
masyarakat di pulau-pulau kecil bekas tambang.
1. 6. Hipotesis
Mengacu pada kerangka pemikiran konseptual keberlanjutan kehidupan sosial
ekonomi masyarakat Pulau Gebe sebagai suatu masyarakat yang mendiami Pulau kecil
yang pada saat ini terdapat penambangan nikel,
hipotesis
yang diajukan dalam
penelitian ini meliputi
1. Untuk meningkatkan keberlanjutan kehidupan sosial ekonomi masyarakat Pulau Gebe
sebagai
suatu masyarakat yang tinggal di pulau kecil pada saat PT ANTAM
menghentikan kegiatan penambangan nikel, sangat ditentukan oleh sumberdayasumberdaya dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dan dimensi sosial-budaya.
2. Strategi kebijakan sebagai upaya meningkatkan keberlanjutan kehidupan secara sosial
ekonomi masyarakat Pulau Gebe pada saat pasca tambang nikel dapat dirumuskan.
4
1. 7. Kebaruan
Kehidupan masyarakat yang mendiami Pulau Gebe yang memiliki kandungan
tambang nikel, sampai tahun 2000-an belum banyak mendapat perhatian dalam
studi/kajian-kajian akademik. Kajian tentang kondisi hidup masyarakat di wilayah ini,
hampir seluruhnya merupakan bagian dari kondisi hidup masyarakat Maluku Utara.
Anhar, et al. (2003) dalam penelitian data base sosial ekonomi di wilayah pengaruh
tambang emas PT NHM (Nusa Halmahera Minerals) di Halmahera Utara, menemukan
aspek community development dijalankan perusahaan masih bersifat insidentil. Marsaoly
et al. (2000) dalam penelitiannya rencana penambangan nikel oleh PT Weda By di
wilayah pengaruh tambang nikel Halmahera Tengah, lebih menyoroti aspek pengaruh
tambang terhadap kondisi ekologi dan masyarakat pesisir.
Khusus di Pulau Gebe, studi lebih spesifik relatif baru dilaksanakan pada tahun
1996 oleh Sumanagara, yang mengkaji peran serta unit pertambangan Nikel Pulau Gebe
dalam perkembangan wilayah dan daerah, sedangkan Darijanto (1999) melakukan
penelitian tentang pengaruh morfologi dan penyebaran endapan nikel unit penambangan
Pulau Gebe. Selanjutnya, untuk kepentingan rumusan visi pembangunan Maluku Utara
tentang pembangunan Pulau-pulau kecil dan pesisir, penelitian dilakukan kerjasama
Dinas Perikanan Propinsi Maluku utara dengan Pusat Studi Kelautan dan perikanan
Universitas Khairun (2003). Hasyim, et al. (2003) mengeksplorasi pengaruh PHK dan
persiapan pasca tambang terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat Pulau Gebe.
Beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan di daerah lain, tentang pengaruh
tambang terhadap kehidupan masyarakat, antara lain : Haswanto (2000) pembangunan
pedesaan dan melawan kemiskinan di sekitar wilayah tambang, Hardiyanti (2000),
Purwadhi (2002), dan Sembiring (1997), tentang pengelolaan Pulau-pulau kecil, secara
holistik belum mengkaji keterkaitan dimensi : ekologi, ekonomi dan sosial budaya,
sebagai upaya meningkatkan kehidupan masyarakat yang hidup di Pulau kecil yang di
dalamnya pernah beroperasi tambang nikel seperti pada penelitian ini.
Download