Chapter II

advertisement
BAB II
URAIAN TEORITIS
2.1 Kerangka Teori
Dalam penelitian, seorang peneliti haruslah terlebih dahulu menyusun teori
yang bersangkutan dengan penelitinya. Karena dengan adanya kerangka teori
peneliti dapat lebih mudah menghubungkan teori dengan berbagai faktor yang
terdapat dalam perumusan masalah. Menurut Kerlinger, teori adalah definisi
proporsi yang meengemukakan pandangan sistematis tentang gejala yang
menjabarkan relasi diantara variabel untuk menjelaskan dan meramalkan
gejala tersebut (Rakhmat, 2004:6). Berikut teori yang digunakan dalam
penelitian ini:
2.1.1 Komunikasi
Sebagai mahluk sosial dan individual, manusia memiliki keingin tahuan dan
berkembang. Salah satu sarana untuk mencapai semua itu adalah melalui komunikasi.
Oleh karena itu, komunikasi merupakan kebutuhan mutlak bagi manusia.
Istilah komunikasi berasal dari perkataan bahasa Inggris ”communication”
yang berasal dari istilah bahasa latin ”communis” yang dalam bahasa Indonesia
berarti ”sama” dan menurut Sir Gerald Barry dalam Effendy, ”communicare” yang
berarti bercakap-cakap. Jika kita berkomunikasi, berarti kita mengadakan kesamaan
dalam
hal
ini
kesamaan
makna/pengertian.
Informasi
yang
disampaikan
seseorangkepada orang lain harus sama-sama dan dimengerti. Kalau tidak dimengerti,
komunikasi tidak akan terjadi. Percakapan berlangsung apabila hal yang
dipercakapkan dan bahasa yang dipergunakan dalam percakapan itu sama-sama
dimengerti. Kalau tidak, percakapan tidak akan terjadi (Effendy, 1991:1)
Komunikasi pada hakekatnya adalah proses pernyataan antar manusia. Yang
dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan
menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Dalam “bahasa” komunikasi
pernyataan dinamakan pesan (message), orang yang menyampaikan pesan disebut
Universitas Sumatera Utara
komunikator (communicator), sedangkan orang yang menerima pernyataan diberi
nama (communicate). Untuk tegasnya, komunikasi berarti proses penyampaian pesan
oleh komunikator kepada komunikan (dalam Effendy, 2004:10). William Albig
dalam bukunya Public Opinion, mengatakan bahwa komunikasi adalah proses
pengoperan lambang-lambang yang berarti antara individu. Sedangkan menurut Carl
I. Hovland, ilmu komunikasi adalah : upaya yang sistematis untuk merumuskan
secara tegas asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan silkap
(Effendy, 2004:10). Defenisi Hovland tersebut menunjukkan bahwa yang dijadikan
objek studi ilmu komunikasi bukan saja penyampaian informasi, melainkan juga
pembentukan pendapat umum (public opinion) dan sikap publik (public attitude)
yang dalam kehidupan sosial dan kehidupan politik memainkan peranan yang amt
penting.
Bahkan,
dalam
defenisinya
secara
khusus
mengenai
pengertian
komunikasinya sendiri, Hovland mengatakan bahwa komunikasi adalah proses
mengubah perilaku orang lain (communication is the process to modify the behaviour
of other individuals). Selanjutnya, menurut Muhammad Arni (2005:5) dalam
bukunya “komunikasi organisasi”, disebutkan bahwa komunikasi merupakan suatu
proses penyampaian atau pengoperan lambang-lambang dalam bentuk informasi
sehingga terjadi perubahan pada diri si komunikan. Akan tetapi, seseorang akan dapat
mengubah sikap, pendapat, atau perilaku orang lain apabila komunikasinya itu
memang komunikatif.
2.1.2 Proses Komunikasi
Proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap, yakni secara primer dan secara
sekunder.
2.1.3 Proses Komunikasi Secara Primer
Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau
perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol)
sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah
bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara langsung
mampu “menerjemahkan” pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan.
Universitas Sumatera Utara
Bahwa bahasa yang paling banyak dipergunakan dalam komunikasi adalah jelas
karena hanya bahasalah yang mampu “menerjemahkan” pikiran seseorang kepada
orang lain. Apakah itu berbentuk ide, informasi atau opini, baik mengenai hal yang
konkret maupun yang abstrak; bukan saja tentang hal atau peristiwa yang terjadi pada
saat sekarang, melainkan juga pada waktu yang lalu dan masa yang akan datang.
Adalah berkat kemampuan bahasa maka kita dapat mempelajari ilmu pengetahuan
sejak ditampilkan oleh Aristoteles, Plato, dan Socrates; dapat menjadi manusia yang
beradap dan berbudaya; dan dapat memperkirakan apa yang akan terjadi pada tahun,
dekade bahkan abad yang akan datang.
Kial (gesture) memang dapat “menerjemahkan” pikiran seseorang sehingga
terekspresikan secara fisik. Akan tetapi menggapaikan tangan, atau memainkan jarijemari, atau mengedipkan mata, atau menggerakkan anggota tubuh lainnya hanya
dapat mengkomunikasikan hal-hal tertentu saja (sangat terbatas).
Demikian pula isyarat dengan menggunakan alat seperti tongtong, bedug,
sirene, dan lain-lain serta warna yang mempunyai makna tertentu. Kedua lambang itu
amat terbatas kemampuannya dalam mentransmisikan pikiran seseorang kepada
orang lain. Gambar sebagai lambang yang banyak dipergunakan dalam komunikasi
memang melebihi kial, isyarat, dan warna dalam hal kemampuan “menerjemahkan”
pikiran seseorang, tetapi tetap tidak melebihi bahasa.
Akan tetapi, demi efektifnya komunikasi, lambang-lambang tersebut
dipadukan penggunaannya. Dalam kehidupan sehari-hari bukanlah hal yang luar
biasa apabila kita terlibat dalam komuniksi yang menggunakan bahasa disertai
gambar-gambar berwarna.
Berdasarkan paparan di atas, pikiran dan atau perasaan seseorang baru akan di
ketahui oleh dan akan ada dampaknya kepada orang lain apabila ditransmisikan
dengan menggunakan media primer tersebut, yakni lambang-lambang. Dengan
perkataan lain, pesan (message) yang disampaikan oleh komunikator kepada
komunikan terdiri atas isi (the content) dan lambang (symbol).
Bagaimana belangsungnya proses komunikasi yang terdiri atas proses
komunikasi yang terdiri atas proses rohaniah komunikator dan proses rohaniah
Universitas Sumatera Utara
komunikan dengan bahasa sebagai media atau penghubungnya itu? Komunikasi
berlangsung apabila terjadi kesamaan makna dalam pesan yang diterima oleh
komunikan. Dengan perkataan lain, komunikasi adalah proses membuat sebuah pesan
setala (tuned) bagi komunikator dan komunikan.
Pertama-tama komunikator menyandi (encode) pesan yang akan disampaikan
kepada komunikan. Ini berarti ia memformulasikan pikiran dan/atau perasaannya ke
dalam lambang (bahasa) yang diperkirakan akan dimengerti oleh komunikan.
Kemudian menjadi giliran komunikan untuk mengawa–sandi (decode) pesan dari
komunikator itu. Ini berarti ia menafsirkan lambang yang mengandung pikiran dan
atau perasaan komunikator tadi dalam konteks pengertiannya. Dalam proses itu
komunikator berfungsi sebagai penyandi (encoder) dan komunikan berfungsi sebagai
pengawa sandi (decoder).
Yang penting dalam proses penyandian (coding) itu ialah bahwa komunikator
dapat menyandi dan komunikan dapat mengawa – sandi hanya dalam kata bermakna
yang pernah diketahui dalam pengalamannya masing-masing. Jika A sedang
berbicara, ia menjadi encoder; dan B yang sedang mendengarkan menjadi decoder .
ketika B memberikan tanggapan dan berbicara kepada A, maka B kini menjadi
encoder, dan A menjadi decoder. Tanggapan B yang disampaikan kepada A itu
dinamakan umpan balik atau arus balik (feedback).
Umpan balik memainkan peranan yang sangat penting dalam komunikasi
sebab ia menentukan berlanjutnya komunikasi atau berhentinya komunikasi yang
dilancarkan oleh komunikator. Oleh karena itu, umpan balik bisa bersifat positif,
dapat pula bersifat negatif. Umpan balik positif adalah tanggapan atau respon atau
reaksi komunikan yang menyenangkan komunikator sehingga komunikasi berjalan
lancar. Sebaliknya, umpan balik negatif adalah tanggapan komunikasi yang tidak
menyenangkan komunikatornya sehingga komunikator enggan untuk melanjutkan
komunikasinya.
Seperti halnya penyampaian pesan secara verbal , yakni dengan menggunakan
bahasa dan secara nonverbal, yaitu dengan menggunakan kial, isyarat, gambar, atau
warna, umpan balikpun dapat disampaikan oleh komunikan secara verbal atau secara
Universitas Sumatera Utara
non verbal. Umpan balik secara verbal adalah tanggapan komunikan yang dinyatakan
dengan kata-kata, baik secara singkat maupun secara panjang lebar. Umpan balik
secara nonverbal adalah tanggapan komunikan yang dinyatakan bukan dengan katakata.
Umpan balik yang dipaparkan di atas adalah umpan balik yang disampaikan
oleh atau datang dari komunikan. Dengan kata lain umpan balik yang timbul dari luar
komunikator. Oleh karena itu, umpan balik jenis ini disebut umpan balik eksternal
(external feedback). Dalam pada itu sudah terbiasa pula kita memperoleh umpan
balik dari pesan kita sendiri. Ini terjadi kalau kita sedang bercakap-cakap atau sedang
berpidato di depan khalayak. Ketika kita sedang berbicara, kita mendengar suara kita
sendiri dan kita menyadari bahwa kita berucap salah, maka kita pun segera
memperbaikinya.
Komunikator yang baik adalah orang yang selalu memperhatikan umpan balik
sehingga ia dapat segera mengubah gaya komunikasinya dikala ia mengetahui bahwa
umpan balik dari komunikan bersifat negatif. Beda dengan komunikasi bermedia
yang umpan baliknya tertunda (delayed feedback); komunikator mengetahui
tanggapan komunikan setelah komunikasi selesai adakalanya umpan balik ini harus
diciptakan mekanismenya.
2.1.4 Proses Komunikasi Secara Sekunder
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh
seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media
kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Seorang komunikator
menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan
sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat,
telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan banyak lagi adalah
media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi.
Pada umumnya, memang bahasa yang paling banyak digunakan dalam
komunikasi karena bahasa sebagai lambang mampu mentransmisikan pikiran, ide,
pendapat, dan sebagainya, baik mengenai hal yang abstrak maupun yang konkret ;
tidak saja tentang hal atau peristiwa yang terjadi pada saat sekarang, tetapi juga pada
Universitas Sumatera Utara
waktu yang lalu atau masa mendatang. Karena itulah maka kebanyakan media
merupakan alat atau sarana yang diciptakan untuk meneruskan pesan komunikasi
dengan bahasa.
Pada akhirnya, sejalan dengan berkembangnya masyarakat beserta peradaban
dan kebudayaannya, komunikasi bermedia (mediated communication) mengalami
kemajuan pula dengan memadukan komunikasi berlambang bahasa dengan
komunikasi berlambang gambar dan warna. Maka film, televisi, dan video pun
sebagai media yang mengandung bahasa, gambar, dan warna melanda masyarakat di
negara manapun.
Akan tetapi, keefektifan dan efisiensi komunikasi bermedia hanya dalam
menyebarkan Pesan-pesan yang bersifat informatif, efektif dan efisien dalam
menyampaikan pesan persuasif adalah komunikasi tatap muka karena kerangka acuan
(frame of reference) komunikan dapat diketahui oleh komunikator, sedangkan dalam
proses komunikasinya, umpan balik berlangsung seketika, dalam arti kata
komunikator mengetahui tanggapan atau reaksi komunikannya pada saat itu juga. Ini
berlainan dengan komunikasi bermedia. Apalagi dengan menggunakan media massa,
yang tidak memungkinkan komunikator mengetahui kerangka acuan khalayak yang
menjadi sasaran komunikasinya, sedangkan dalam proses komunikasinya, umpan
balik berlangsung tidak pada saat itu.
Karena proses komunikasi sekunder ini merupakan sambungan dari
komunikasi primer untuk menembus dimensi ruang dan waktu, maka dalam menata
lambang-lambang untuk memformulasikan isi pesan komunikasi, komunikator harus
memperhitungkan ciri-ciri atau sifat-sifat media yang akan digunakan. Penentuan
media yang akan dipergunakan sebagai hasil pilihan dari sekian banyak alternatif
perlu didasari pertimbangan siapa komunikan yang akan dituju.
Agar komunikasi efektif, proses penyandian oleh komunikator harus bertautan
dengan proses pengawasandian oleh komunikan. Wilbur Schramm melihat pesan
pesan sebagai tanda esensial yang harus dikenal oleh komunikan. Semakin tumpang
tindih bidang pengalaman (field of experience)komunikator dengan bidang
pengalaman komunikan, akan semakin efektif pesan yang akan dikomunikasikan.
Universitas Sumatera Utara
Akan tetapi, dalam teori komunikasi dikenal istilah empathy, yang berarti
kemampuan memproyeksi diri kepada peranan orang lain. Jadi, meskipun antar
komunikator dan komunikan terdapat perbedaan dalam kependudukan, jenis
pekerjaan, agama, suku bangsa, tingkat pendidikan, ideologi, dan lain-lain, jika
komukator bersifat empatik, komunikasi tidak akan gagal.
2.1.5 Komunikasi Massa
Banyak defenisi tentang komunikasi massa yang telah dikemukakan para ahli
komunikasi. Banyak ragam dan titik tekan yang dikemukakannya. Tetapi, dari sekian
banyak defenisi itu ada benang merah kesamaan defenisi satu sama lain. Pada
dasarnya komuikasi massa adalah komunikasi melalui media massa (media cetak dan
elektronik). Komunikasi massa bersal dari pengembangan kata media of mass
communication (media komunikasi massa).
Pertama, komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa,
kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khalayak
meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang membaca atau semua orang yang
menonton televisi, agaknya ini tidak berarti pula bahwa khalayak itu besar dan pada
umumnya agak sukar didefenisikan. Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi
yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio atau visual. Komunikasi massa
barangkali akan lebih mudah dan lebih logis bila didefenisikan menurut bentuknya;
televisi, radio, surat kabar, majalah, film, buku dan pita (dalam Nurudin, 2003:11).
Sedangkan menurut Jay Black dan Frederick G. Whitney, disebutkan, ”Mass
Comunication is a process whereby massproduced message are transmitted to large,
anonymous, and heterogeneous masses of receivers (komunikasi massa adalah
sebuah proses dimana pesan-pesan yang diproduksi secara massal/ tidak sedikit itu
disebarkan kepada massa penerima pesan yang luas, anonim, dan heterogen).” (dalam
Nurudin, 2003:11).
”Large” di sini berarti lebih luas dari sekedar kumpulan orang yang
berdekatan secara fisik, sedangkan ”Anonymous” berarti bahwa individu yang
menerima pesan cenderung menjadi asing satu sama lain atau tidak saling mengenal
satu sama lain, dan ”Heterogeneous” berarti bahwa pesan yang dikirim ”to whom it
Universitas Sumatera Utara
may concern” (kepada yang berkepentingan) yakni kepada orang-orang dari berbagai
macam atribut, status, pekerjaan, dan jabatan dengan karakteristik yang berbeda satu
sama lain dan bukan penerima pesan yang homogen.
Gambar 3
Alat Komunikasi Massa
Televisi
Film
Radio
Surat
Kabar
Buku
Alat
Komunikasi
Massa
Kaset /
Cd
Majalah
Tabloid
Internet
Bagi para pengelola media massa adalah suatu hal yang tidak mungkin untuk
memenuhi segala keingininan khalayak. Satu-satunya cara untuk dapat mendekati
keingininan seluruh khalayak sepenuhnya ialah dengan mengelompokkan mereka
menurut jenis kelamin, usia, agama, pekerjaan, pendidikan, kebudayaan, hobi, dan
lainnya berdasarkan perbedaan sebagaimana dikemukakan diatas.
Pengelompokan tersebut telah dilaksanakan oleh berbagai media massa dengan
mengadakan rubrik atau acara tertentu untuk kelompok pembaca-pendengar-penonton
tertentu. Berdasarkan pengelompokan tersebut di atas maka sejumlah rubrik atau
acara diperuntukkan bagi kelompok tertentu sebagai sasarannya atau dapat disingkat
kelompok sasaran (target group), disamping khalayak keseluruhan sebagai
sasarannya atau disebut khalayak sasaran (target audience)
Universitas Sumatera Utara
a. Fungsi Media Massa
Fungsi komunikasi massa bagi masyarakat terdiri dari surveillance
(pengawasan), interpretation (penafsiran), Linkage (ketertarikan), transmission of
vallues (penyebaran nilai), dan entertainment (hiburan). (Ardianto, 2004:16-20).
Sedangkan fungsi komunikasi massa menurut Alexis Tan adalah:
Tabel 2
FUNGSI KOMUNIKASI MASSA ALEXIS S TAN
No
1
TUJUAN
KOMUNIKATOR TUJUAN KOMUNIKAN (Menyesuaikan
(Penjaga Sistem)
diri pada sistem; pemuasan kebutuhan)
Memberi Informasi
Mempelajari
ancaman
memahami
dan
lingkungan;
peluang;
menguji
kenyataan; meraih keputusan
2
Mendidik
Memperoleh
pengetahuan
dan
keterampilan yang berguna memfungsikan
dirinya,
secara
efektif
dalam
masyarakatnya; mempelajari nilai, tingkah
laku yang cocok agar diterima dalam
masyarakatnya.
3
Memberi keputusan; mengadopsi nilai,
Mempersuasi
tingkah laku dan aturan yang cocok agar
diterima dalam masyarakatnya
4
Menyenangkan;
memuaskan Menggembirakan;
kebutuhan komunikasi
mengendorkan
urat
syaraf, menghibur, mengalihkan perhatian
dari masalah yang dihadapi.
b. Proses Komunikasi Massa
Universitas Sumatera Utara
Pengertian proses komunikasi massa pada hakikatnya merupakan proses
pengoperan lambang-lambang yang berarti, yang dilakukan melalui saluran
(channel), biasanya dikenal dengan media printed (press ), media auditif (radio),
media visual (gambar, lukisan) atau media audio visual (televisi dan film). Harold D.
Lasswell seorang ahli politik di Amerika Serikat mengemukakan suatu ungkapan
yang sangat terkenal dalam teori dan penelitian komunikasi massa. Ungkapan
tersebut merupakan suatu formula dalam menentukan scientific study dari suatu
proses komunikasi massa dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
who (siapa), says what (berkata apa), in which channel (melalui saluran apa), to
whom (kepada siapa), with what effect (dengan efek apa)?
Tabel 3
Formula Lasswell
WHO
SAYS WHAT
IN
WHICH TON WHOM
CHANNEL
Siapa
Berikan apa
Melalui
WHIT WHAT
EFFECT
Kepada Siapa
Saluran Apa
Dengan
Efek
Apa
komunikator
Pesan
Media
Penerima
Efek
Control studies
Analisis Pesan
Analisis Media
Analisis
Analisis Efek
Khalayak
(Ardianto, 2004:3)
Dengan mengikuti Formula Lasswell dapat dipahami bahwa dalam proses
komunikasi massa terdapat lima unsur yang disebut komponen atau unsur dalam
proses komunikasi yaitu : (Ardianto, 2004: 33-34)
a. Who (siapa): komunikator, orang yang menyampaikan pesan dalam proses
komunikasi massa, bisa perorangan atau mewakili suatu lembaga, organisasi
maupun instansi. Segala masalah yang bersangkutan dengan unsur “siapa”
memerlukan analisis control (control analysis) yaitu analisis yang merupakan
subdivisi dari riset lapangan.
Universitas Sumatera Utara
b. Says what (apa yang dikatakan): pernyataan umum, dapat berupa suatu ide,
informasi, opini, pesan dan sikap, yang sangat erat kaitannya dengan masalah
analisis pesan.
c. In which channel (melalui saluran apa): media komunikasi atau saluran yang
digunakan untuk melaksanakan kegiatan komunikasi. Dalam hal ini dapat
digunakan primary technique, secondary technique, direct communication atau
indirect communication.
d. To whom (kepada siapa): komunikan atau audience yang menjadi sasaran
komunikasi. Kepada siapa pernyataan tersebut ditujukan, berkaitan dengan
masalah penerima pesan. Dalam hal ini diperlukan adanya analisis khalayak
(audience analysis).
e. With what effect (dengan efek apa): hasil yang dicapai dari usaha penyampaian
pernyataan umum itu pada sasaran yang dituju berkaitan dengan efek ini
dipelukan adanya analisis efek.
2.1.6 Media Massa Radio
Radio – tepatnya radio siaran (broadcasting radio) merupakan salah satu jenis media
massa (mass media), yakni sarana atau saluran komunikasi massa (channel of mass
communication), seperti halnya suratkabar, majalah, atau televisi. Ciri khas utama
radio adalah AUDITIF, yakni dikonsumsi telinga atau pendengaran. “Apa yang
dilakukan radio adalah memperdengarkan suara manusia untuk mengutarakan
sesuatu” (Saturday Review) (Romli, 2004:19)
Radio memiliki daya tarik disebabkan oleh tiga unsur yang melekat padanya
(Munthe, 1996:99-101), yakni:
a. Kata-kata Lisan (spoken words)
Pengunaan lambang kata sangat penting melalui radio. Karena pengiriman
pesan dalam komunikasi radio tidaklah ditujukan untuk kebebasan. Penyiar harus
menganggap bahwa pendengarnya hanya mempunyai satu kesempatan untuk
mendengar satu bagian tertentu dari suatu penyajian pesan tertentu. Untuk alasan ini,
pendengar hendaknya hanya menggunakan kata-kata yang umum digunakan
Universitas Sumatera Utara
kelompok sasaran tertentu. Kata-kata yang digunakan hendaknya menimbulkan kesan
dialog. Dialog dapat digunanakan untuk menunjukkan informasi latar belakang
seperlunya kepada pendengar. Dengan cara ini, diharapkan pendengar dapat
memahami apa yang sedang terjadi. Tetapi, dialog yang berlebihan justru dapat
menimbulkan efek statis. Kalau ini yang terjadi maka pendengar akan pindah dari
program yang disiarkan.
b. Musik (music)
Penggunaan musik menciptakan suasana yang membangkitkan emosi. Agar
hal ini tercapai, menurut Hilliard, penyiar harus tahu dimana dan bagaimana
penggunaan musik dalam program. Setidaknya ada lima tujuan dasar menggunakan
musik, yaitu: (a) sebagai isi untuk program musik, (b) Sebagai tema untul banyak
program (c) untuk menjembatani devisi dalam sebuah program, (d) sebagai sebuah
efek suara, dan (e) untuk latar belakang atau isi hati.
c. Efek Suara (Sound Effect)
Efek suara bermanfaat untuk memberikan pengertian khusus dari suatu pesan. Karena
itu, efek suara mampu mendorong pendengar untuk bereaksi. Efek suara tepat
digunakan terutama dalam menggunakan bahasa tindakan. Dapat juga digunakan
secara deskriptif.
Efek suara menurut Mc.loney (dalam Munthe, 1996:100) dapat digunakan untuk
menyatakan:
1) Tindakan atau gerakan dalam suatu keadaan. Contohnya adalah langkah-langkah
kaki, pintu yang ditutup, ketukan mesin tik, dan sebagainya.
2) Suasana atau perasaan mengenai tindakan. Sebuah efek suara pintu hanya berarti
sebuah gerakan, yaitu sebuah pintu dibuka atau ditutup. Sebuah pintu yang
terderak berarti gerakan yang sama. Tapi juga menyatakan sesuatu tentang
setting (latar) dan memberitahu sesuatu yang misterius.
3) Sifat dari keadaan. Suatu latar keadaan dalam radio tanpa mengemukakan secara
verbal akan memberi karakteristik suatu latar belakang.
Kata-kata lisan, musik, dan efek suara hendaknya diramu dengan tepat agar program
radio tidak monoton dan kaku. Dalam meramu, dapat dilakukan melalui banyak cara.
Universitas Sumatera Utara
Apakah komposisinya sama antara kata, musik, dan efek suara bergantung keinginan
pendengar, format programnya, jenis masalahnya, dan waktu siaran.
2.1.7 Sejarah Perkembangan Radio
Perkembangan radio siaran di Indonesia dimulai dari masa penjajahan Belanda,
Penjajahan Jepang, zaman kemerdekaan, dan zaman orde baru. (Ardianto, 2004:117119)
a. Jaman Belanda
Radio siaran yang pertama di Indonesia (waktu itu bernama Nederlands Indie
– Hindia Belanda), ialah Bataviase radi siaran Vereniging (BRV) di Batavia, yang
resminya didirikan pada tanggal 16 Juni 1925, pada saat Indonesia masih dijajah
Belanda, dan berstatus swasta.
b. Jaman Jepang
Ketika Belanda menyerah pada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, sebagai
konsekuensinya,
radio
siaran
yang tadinya berstatus
perkumpulan
swasta
dinonaktifkan dan diurus oleh jawatan khusus bernama Hoso Kanri Kyoku,
merupakan pusat radio siaran yang berkedudukan di Jakarta, serta mempunyai
cabang-cabang yang dinamakan Hoso Kyoku di Bandung, Purwakarta, Yogyakarta,
Surakarta, Semarang, Surabaya, dan Malang. Rakyat Indonesia pada masa ini hanya
boleh mendengarkan siaran dari Hoso Kyoku saja.
c. Jaman Kemerdekaan.
Dengan demikian, ketika Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia, tidak dapat disiarkan langsung melalui radio siaran karena
radio siaran masih dikuasai oleh Jepang. Tak lama kemudian dibuat pemancar gelap
yang berhasil berkumandang di udara radio siaran denagn stasiun call “Radio
Indonesia Merdeka”.
d. Jaman Orde Baru
Sampai akhir tahun 1966 RRI adalah satu-satunya radio siaran di Indonesia
yang dikuasai dan dimiliki oleh pemerintah. Peran dan fungsi radio siaran
Universitas Sumatera Utara
ditingkatkan. Selain berfungsi sebagai media informasi dan hiburan, pada masa orde
baru, radio siaran melalui RRI menyajikan acara pendidikan dan persuasi.
Lembaga penyiaran radio Indonesia sesuai Undang-undang No.32 tahun 2002 tentang
penyiaran, terdiri atas lembaga penyiaran publik, lembaga penyiaran komersial,
lembaga penyiaran komunitas, dan lembaga penyiaran berlangganan.
a. Lembaga Penyiaran Publik
Lembaga penyiaran yang berbentuk badan hukum yang didirikan oleh negara,
bersifat independent, netral, tidak komersial, dan berfungsi memberikan pelayanan
untuk kepentingan masyarakat.
b. Lembaga Penyiaran Komersial
Lembaga penyiaran yang berbentuk badan hukum Indonesia, yang bidang
usahanya khusus menyelenggarakan siaran radio.
a. Lembaga Penyiaran Komunitas
Lembaga penyiaran yang berbentuk badan hukum Indonesia, didirikan oleh
komunitas tertentu, bersifat independen, dan tidak komersial, dengan daya pencar
rendah, luas wilayah jangkauan terbatas, serta untuk melayani kepentingan
komunitasnya.
d. Lembaga Penyiaran Berlangganan
Merupakan lembaga penyiaran berbentuk badan hukum Indonesia,yang bidang
usahanya menyelenggarakan jasa penyiaran berlangganan melalui satelit, melalui
kabel dan melalui terrestrial (Djuroto, 2007: 64-66).
2.1.8 Pola Penyiaran Radio
Menurut Undang-undang No.32 tahun 2002, penyiaran adalah kegiatan
pemancar luasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi darat, di
laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekwensi radio melalui udara,
kabel atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh
masyarakat dengan perangkat penerima siaran (Riswandi, 2009:1).
Universitas Sumatera Utara
Penyiaran radio adalah media komunikasi massa dengar, yang menyalurkan gagasan
informasi dalam bentuk suara secara umum dan terbuka, berupa program yamg
teratur dan berkesinambungan (Riswandi, 2009:1).
Ketika para pengelola stasiun penyiaran radio merencanakan untuk beroperasi, salah
satu faktor yang menjadi kajian khusus adalah cara menetapkan target pendengar.
Apalagi dimasa sekarang ini kompetisi sedemikian tinggi sehingga target pendengar
menjadi prioritas (Prayudha, 2004:23). Dari target pendengar dapat ditentukan suatu
pola penyiaran.
Pada umumnya terdapat dua metode penggolongan bahan siaran yang dianut oleh
badan-badan radio siaran di dunia. Yang pertama adalah metode menurut “unsur
acara siaran”, yang kedua menurut “tujuan acara siaran” (Effendi, 1990:114-117).
a. Pembagian menurut unsur acara siaran
berdasarkan unsur acara siaran, bahan siaran dibagi menjadi dua golongan
1. Siaran kata
2. Siaran seni suara
Yang dimaksud dengan siaran kata adalah segala bahan siaran yang pokok isinya
dilukiskan dengan kata-kata (spoken words). Sedang yang dimaksud dengn seni suara
adalah segala bentuk kesenian yang pokok isinya dilukiskan dengan musik.
Persentase golongan siaran kata dan siaran seni suara antara negara yang satu
dengan yang lainnya tidaklah sama ada negara yang megutamakan siaran kata,
misalnya siaran kata 60% da seni suara 40%, atau siaran kata 55% dan seni suara
45%. Atau sebaliknya, ada yang mengutamakan seni suara, misalnya seni suara 55%
dan siaran kata 45%.
Komposisi siaran seni suara
Indonesia = 50%
Daerah = 50%
Komposisi siaran kata
Siaran kata umum
Informasi = 30%
Universitas Sumatera Utara
Musik = 70%
(Redaksi BaSS FM)
Pembagian menurut tujuan acara siaran
seperti halnya dengan negara-negara lain yang tergabung dalam Asian Broadcasting
Union (ABU) dan European Broadcasting Union (EBU), dalam menentukan
penggolongan acara siaran, Indonesia mengikuti pola yang dianut oleh UNESCO.
Berikut ini adalah penggolongan jenis-jenis acara siaran:
1.Siaran pemberitaan dan penerangan
a. Warta Berita
b. Reportase
c. Penerangan Umum
d.Pengumuman
2. Siaran Pendidikan
a. Siaran Kanak-Kanak
b. Siaran Remaja
c. Siaran Sekolah
d. Siaran Pedesaan
e. Siaran Keluarga
f. Siaran Agama
g. Siaran Wanita
h. Pengetahuan Umum
3. Siaran Kebudayaan
a. Kesusasteraan
b. Kesenian Daerah
c. Apresiasi Seni
4. Siaran Hiburan
a. Musik Daerah
Universitas Sumatera Utara
b. Musik Indonesia
c. Musik Asing
d. Hiburan Ringan
5. Siaran Lain-lain
a. Ruangan Iklan
b. Pembukaan/ penutup Siaran
Tujuan utama memproduksi acara siaran radio adalah untuk menarik minat
masyarakat agar mau mendengarkan atau menjadi pendengar setianya. Dlam
membuat atau menyusun siaran radio, harus berpedoman pada tiga fungsi medium
radio, yaitu:
1. Siaran radio sebagai media penerangan (information)
2. Siaran radio sebagai sarana pendidikan(education)
3. Siaran radio sebagai tempat hiburan (entertainment)
Selain memperhatikan tiga fungsi siaran radio tersebut, pembuat atau
penyusun acara siaran harus memperhatikan keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki
oleh medium radio. Keterbatasan itu antara lain:
1. Radio hanya bisa dikonsumsi oleh indera pendengaran/telinga (ear catching)
2. Radio tidak dapat dipertontonkan (visual) tingkah laku/action dari orang-orang
yang menyiarkannya.
3. Pendengar radio sifatnya perseorangan (individual) dan hidup dalam
psycolically independen yang kompleks. Itu sebabnya pendengar radio
senantiasa berubah-ubah.
Disamping memperhatikan keterbatasan-keterbatasan radio, hal lain yang
perlu diperhatikan adalah sifat pendengar radio. Pendengar adalah sasaran
komunikasi massa melalui media radio siaran. Komunikasi dapat dilakukan efektif,
apabila endengr terpikat perhatiannya, tertarik terus minatnya, mengerti, tergerak
hatinya dan melakukan kegiatan apa yang diinginkan si pembicara. Berikut ini adalah
Universitas Sumatera Utara
sifat-sifat pendengar radio siaran yang turut menentukan gaya bahasa radio (Effendi,
1990:85-86) :
a. Heterogen
Pendengar adalah massa, sejumlah orang yang sangat banyak yang sifatnya
heterogen, terpencar-pencar di berbagai tempat. Dan mereka berbeda dalam jenis
kelamin,umur, tingkat pendidikan, dan kebudayaan. Dan selain itu pendengar berbeda
dalam pengalaman dan keinginan, tabeat, dan kebiasaan, yang kesemuanya itu
menjadi dasar pola bagi gaya bahasa sebagai penyalur pesan kepada pendengar.
b. Pribadi
Karena pendengar berada dalam keadaan heterogen, terpencar-pencar di berbagai
tempat dan umumnya dirumah-rumah maka sesuai isi pesan akan dapat diterima dan
dimengerti, kalau sifatnya pribadi (personal) sesuai dengan situasi dimana pendengar
itu berada. Sesuatu uraian disampaikan kepada pendengar yang berada di rumahnya
itu secara pribadi. Pembicara radio seolah-olah bertamu dan memberikan uraian
kepad seseorang dalam suatu rumah tangga.
c. Aktif
Pada mulanya para ahli komunikasi mengira bahwa pendengar radio sifatnya pasif.
Ternyata tidak demikian. Hal ini telah dibuktikan oleh hasil penelitian yang dilakukan
oleh Wilbur Schramm, Paul Lazarsfeld dan Raymond Bauer, ahli-ahli komunikasi di
AS.mereka semua berpendapat bahwa pendengar radio sebagai sasaran komunikasi
massa jauh daripada pasif. Mereka aktif. Apabila mereka menjumpai sesuatu yang
menarik dari sebuah stasiun radio, mereka aktif berpikir, aktif melakukan interpretasi,
mereka bertanya-tanya pada dirinya, apakah yang diucapkan oleh penyiar atau
seorang penceramah radio atau pembaca berita, benar atau tidak. (Effendi, 1990:85)
d. Selektif
Pendengar sifatnya selektif. Ia dapat dan akan memilih program radio siaran yang
disukainya. Pabrik pesawat radio menyadari hal itu, maka setiap pesawat radio
dilengkapi dengan alat yang memungkinkan mereka melakuka pilihannya itu. Dengan
memutar knop jarum gelombang pada pesawat radionya, pendengar dapat mencari
Universitas Sumatera Utara
apa yang disenanginya, baik programa musik maupun uraian atau drama siaran dalam
negeri maupun luar negeri.
Begitu banyak stasiun radio siaran, tidak terhitung sudah, dengan aneka jenis
acara siarannya yang masing-masing berlomba-lomba untuk memikat perhatian
pendengar. Yang tidak memenuhi selera pendengar, sudah tentu akan sia-sialah isi
siaran yang diancarkannya itu. Oleh karena itulah maka dalam proses komunikasi
massa, unsur pendengar banyak diteliti, karena sasaran yang kompleks ini
menyangkut berbagai segi sosiologis, psikologis, edukatif, kultural, dan bahkan juga
politis dan ekonomis.
Dikarenakan sifat pendengar yang aktif dan selektif maka setiap stasiun radio
berusaha semaksimal mungkin untuk dapat meraih sebanyak mungkin pendengar.
Sambil terus membina hubungan baik dengan pendengar setia, satu stasiun berusaa
merebut pendengar stasiun lain. Inilah perang stasiun radio, yang hanya dibekali oleh
acara sebagai senjatanya.
Sampai saat ini, yang masih menjadi kendala bagi banyak stasiun radio adalah
mendesain
acara.
Penyelenggara
siaran
terus
berusaha
memperbaiki
dan
menyempurnakan acaranya.
Agar acara yang disiarkan menarik, ada beberapa petunjuk yang dapat dijadikan
sebagai patokan. Sasarannya harus jelas, acaranya spesifik, memiliki kebutuhan,
beragam waktu penyiaran yang tepat, orisinil, kualitas terjaga, disamping bahasanya
harus sederhana (Munthe, 1996:58-61).
1. Acara harus sesuai sasaran
Pastikanlah siapa sasaran yang akan di tuju. Hal ini penting untuk memudahkan
pengelola siaran dalam mengolah bahan siaran. Jangan bermimpi bahwa suatu acara
dapat ditujukan kepada siapa saja. Bila hal ini terjadi, maka pembahasan bisa jadi
melebar tidak terarah.
Pengalaman menunjukkan acara-acara yang tidak mempunyai sasaran yang konkrit
tidak pernah populer dan biasanya akan turun dengan sendiri.
Universitas Sumatera Utara
2. Acara harus spesifik
Isi acara hendaknya membahas materi yang khusus. Umpamanya saja bidang
masalahnya olahraga, maka isinya hanya mempersoalkan salah satu cabang olahraga,
misalnya sepakbola. Dalam hal ini isinya tidak mempersoalkan sepak takraw, bulu
tangkis, dll.
Jadi hanya satu topik yang dibahas secara menyeluruh. Artinya, dalam membahas
harus diperhatikan aspek yang terkait dengan bidang olahraga sepakbola.
3. Acara harus utuh
Pembahasan materi harus terjaga. Tidak keluar dari konsep yang telah dipatok. Mulai
dari pengantar, permasalahan, pembahasan, dan penyelesaian masalah secara
sistematis. Misalnya dari topik sepakbola di atas, pengantar acara dapat berisi paparan
perkembangan sepakbola di Indonesia, mempertanyakan tentang sepakbola di negeri
ini yang sulit berkembang. Pembahasan berisi jawaban mengapa sulit berkembang
dan jawaban bagaimana agar dapat berkembang.
Pada akhirnya di bagian penyelesaian dijabarkan tentang usulan sebagai jalan
keluar untuk mengembangkan olahraga sepakbola di Indonesia. Dengan demikian
sistematika dan kesinambungan tetap terjaga.
4. Kemasan acara harus bervariasi
Acara dikemas dalam bentuk yang bervariasi. Variasi dapat ditampilkan
dalam dua bentuk yaitu dialog dan monolog. Dalam dialog dapat ditampilkan dua
orang atau lebih yang memiliki warna suara berbeda. Kontras warna suara ini sangat
mendukung acara karena radio merupakan media audio yang hanya mampu
menstimuli indera pendengaran. Dengan warna suara yang berbeda memudahkan
pendengar untuk mengenali tokoh-tokoh yang terlibat dalam dialog tersebut.
Umumnya pendengar lebih menyukai acara yang disajikan dalam bentuk dialog.
Sedangkan dalam bentuk monolog penyelenggara siaran dapat membuat variasi
dengan menampilkan dua orang penyiar secara bergantian menyampaikan topik
bahasan.
Universitas Sumatera Utara
5. Acara harus ditempatkan pada waktu yang tepat
Pengelola program harus yakin bahwa waktu yang dipilih untuk penyiaran
suatu acara sudah tepat. Ketepatan ini didasari pada kebiasaan mendengar dari
khalayak. Dengan demikian, acara tersebut akan efektif.
6. Acara harus orisinil
Penyelenggara siaran harus menyajikan acara yang benar-benar hasil kerja tim
kreatif studio tersebut. Bukan tiruan, dalam arti acara seperti ini pernah disajikan
stasiun lain yang kemudian dimodifikasi di sana-sini sehingga tampaknya orisinil.
Bukan juga acara jiplakan. Acara jiplakan dan acara tiruan tidak akan membawa
banyak keuntungan bagi stasin radio yang pertamakali menyajikan acara tersebut.
Sedangkan stasiun radio yang menjiplak atau meniru akan dicap sebagai stasiun
plagiat.
7. Acara harus disajikan dengan kualitas baik
Mutu tekhnik suatu acara ikut menentukan sukses tidaknya acara di pasar.
Pendengar selalu menuntut hasil yang prima tanpa noise (gangguan). Sebab
pendengar sangat mendambakan kenyamanan dalam mendengarkan suatu acara
siaran. Jangan sekali-kali menerima ungkapan yang menyatakan bahwa penyajian
masalah tekhnik adalah nomor dua setelah produk. Anggapan ini tidak benar, sebab
antara acara dan tekhnik berjlan seiring, sama-sama ikut menentukan. Yang penting
diingat adalah konsep memberikan yang terbaik kepada pendengar wajib menjadi
pegangan penyelenggara siaran.
8.Acara harus disajikan dengan bahasa sederhana
Gunakan bahasa sederhana, artinya bahasa yang dipakai sehari-hari atu bahasa
pergaulan. Jangan disajikan acara dengan bahasa ilmiah, kata-kata asing, atau katakata baru. Pendengar akan mengalami kesulitan mencerna isi acara. Sebab tidak
semua pendengar memiliki kemampuan yang merata sehingga kemudahan
menangkap isi acara berbeda-beda. Apabila ada kalimat yang tidak dapat meminta
agar pembawa acara mengulangi kalimat tersebut seperti jika ia membaca
suratkabar.usahakan menghindari kalimat-kalimat asing, angka-angka pecahan, juga
kalimat-kalimat yang terbalik.
Universitas Sumatera Utara
Yang tak kalah penting dari semua hal yang telah diuraikan sebelumnya
adalah seorang penyiar (announcer). Penyiar adalah orang yang menyajikan materi
siaran kepada para pendengar. Materi siaran tersebut adalah hasil yang telah di olah
oleh bagian produksi siaran berdasarkan programa yang telah disusun oleh staf
khusus. Sampainya sebuah acara kepada par pendengar adalah hasil kerja sama
penyiar, operator siaran, dan petugas pemancar.
Sasaran komuniksi seorang penyiar berjumlah jutaan orang, tetapi jumlah
yang demikian banyak itu terdiri dari unit-unit kecil, seseorang atau sebuah keluarga.
Seorang yang berkomunikasi dengan pendengarnya adalah bagaikan sedang bertamu
kepada sebuah rumah. Baginya penghuni rumah tersebut anonim. Ia tidak kenal
kepadanya, sebagai seorang tamu yang berkunjung kepada orang yang tidak
dikenalnya, jelas ia harus ramah. Karena orang-orang yang didatangi itu heterogen,
baik pekerjaan, usia, jenis kelamin, maka informasi yang disampaikan kepada tuan
rumah harus dapat diterima, dimengerti dan menarik perhatian, dan selanjutnya
semuanya berminat untuk melakukan apa yang diserukan penyiar.
Faktor lain yang perlu dicantumkan ialah bahwa pendengar itu aktif. Ia tidak
pasif. Ia tidak begitu saja menerima isi pesan yang diutarakan oleh seorang penyiar.
Ia mungkin menerima tetapi mungkin juga menolak. Ia bisa jadi memberikan reaksi
yang lain daripada yang diharapkan penyiar. Hal ini telah dibenarkan oleh Wilbur
Schramm.
Ditinjau dari segi seni bicara (speech), pekerjaan penyiar merupakan suatu
pekerjaan yang benar-benar khas (highly specialized). Pekerjaan tersebut memang
dapat dipelajari seperti pekerjaan lainnya, tetapi untuk menjadi penyiar seorang harus
memiliki kualifikasi yang tepat dan keinginan untuk memahirkan dirinya dalam
lapangan penyiaran radio.
Sehubungan dengan itu, Ben G. Henneke telah menghimpun beberapa hal
penting dalam announcing, lalu merumuskannya menjadi apa yang ia sebut
“announcer’s skill” meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Komunikasi gagasan (communications of ideas)
2. komunikasi kepribadian (communication of personality)
Universitas Sumatera Utara
3. Proyeksi kepribadian (projection of personality)
Ini mencakup:
a. Keaslian (naturalness)
b. Kelincahan (vitality)
c. Keramah-tamahan (friendliness)
d. Kesanggupan menyesuaikan diri (adaptability)
4. Pengucapan (pronounciation)
5. Kontrol suara (voice controle)
Faktor lain yang perlu dicantumkan ialah bahwa pendengar itu aktif. Ia tidak
pasif. Ia tidak begitu saja menerima isi pesan yang diutarakan oleh seorang penyiar.
Ia mungkin menerima tetapi mungkin juga menolak. Ia bisa jadi memberikan reaksi
yang lain daripada yang diharapkan penyiar. Hal ini telah dibenarkan oleh Wilbur
Schramm.
Ditinjau dari segi seni bicara (speech), pekerjaan penyiar merupakan suatu pekerjaan
yang benar-benar khas (highly specialized). Pekerjaan tersebut memang dapat
dipelajari seperti pekerjaan lainnya, tetapi untuk menjadi penyiar seorang harus
memiliki kualifikasi yang tepat dan keinginan untuk memahirkan dirinya dalam
lapangan penyiaran radio.
Sehubungan dengan itu, Ben G. Henneke telah menghimpun beberapa hal penting
dalam announcing, lalu merumuskannya menjadi apa yang ia sebut “announcer’s
skill” meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Komunikasi gagasan (communications of ideas)
2. komunikasi kepribadian (communication of personality)
3. Proyeksi kepribadian (projection of personality)
Ini mencakup:
a. Keaslian (naturalness)
b. Kelincahan (vitality)
c. Keramah-tamahan (friendliness)
d. Kesanggupan menyesuaikan diri (adaptability)
Universitas Sumatera Utara
4. Pengucapan (pronounciation)
5. Kontrol suara (voice controle)
Ini mencakup:
a. Pola titi-nada (pitch)
b. Kerasnya suara (loudness)
c. Tempo (time)
d. Kadar suara (quality)
(Effendy, 1990:129)
Yang juga kiranya patut diketengahkan dalam soal penyiaran ini, ialah apa
yang disyaratkan oleh Columbia Broadcasting System (CBS), sebuah badan radio
siaran terkenal di AS, bagi seorang penyiar.
Dua hal yang disyaratkan oleh CBS:
1. Gaya bicara yang baik dan pengucapan yang cermat, tidak mengandung logat
daerah (excellent diction and accurate pronounciation not identifiablewith any
particular section).
2. Kepribadian suara yang mengutarakan yang khas tanpa dibuat-buat (voice and air
personality which is distinguished without affectation)
(Effendy, 1990:130)
2.1.9Teori Uses And Gratification
Teori Uses and Gratifications milik Blumer dan Katz ini mengatakan bahwa
pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media
tersebut. Dengan kata lain, pengguna media itu adalah pihak yang aktif dalam proses
komunikasi. Pengguna media berusaha untuk mencari sumber media yang paling baik
di dalam usaha memenuhi kebutuhannya. Artinya, teori uses and gratifications
mengasumsikan bahwa pengguna media kebutuhannya.
Teori uses and Gratifications ini lebih menekankan pada pendekatan
manusiawi di dalam media. Artinya, manusia itu punya otonomi, wewenang untuk
memperlakukan media. Blumer dan Katz percaya bahwa tidak hanya ada satu jalan
bagi khalayak untuk menggunakan media.
Universitas Sumatera Utara
Sementara Schramm dan Porter dalam bukunya Men, Women, Message and
Media pernah memberikan formula untuk menjelaskan bekerjanya teori ini (Nurudin,
2003:182-183).
Gambar 5
Bekerjanya Teori Uses And Gratification
Janji Imbalan
Upaya yang Diperlukan
= probabilitas seleksi
Imbalan di sini bisa berarti imbalan yang saat itu juga diterima (segera) atau
imbalan yang tertunda. Imbalan itu memenuhi kebutuhan khalayak. Misalnya, anda
pemirsa suatu acara televisi tertentu karena acara itu bisa memuaskan kebutuhan anda
akan menonton suatu acara pada televisi tertentu karena acara media tersebut
menyediakan atau memuaskan anda akan kebutuhan informasi dan hiburan. Upaya
yang diperlukanuntuk memenuhi kebutuhan itu sangat bergantung pada tersedia
tidaknya media dan kemudahan memanfaatkannya. Bila kita membagi janji imbalan
dengan upaya yang diperlukan, kita memperoleh probabilitas seleksi dari media
massa tertentu.
Kita bisa memahami interaksi orang dengan media melalui pemanfaatan media oleh
orang itu (uses) dan kepuasannya (Gratifications). Gratifikasi yang sifatnya umum
antara lain pelarian dari rasa khawatir, peredaan rasa kesepian, dukungan emosional,
perolehan informasi dan kontak sosial.
Katz dan Dennis McQuail, menggambarkan logika yang mendasari
kepentingan Uses And Gratification sebagai berikut: (Ardianto, 2004:72)
Gambar 6
Logika Yang Mendasari Kepentingan Uses And Gratification
Faktor
sosial
psikolo
gis
yang
menim
bulkan
(1)
Kebutu
han
yang
melahir
kan (2)
Harapanharapan
terhadap
media
massa atau
sumber
lain yang
mengarah
pada (3-4)
Berbag
ai pola
pengha
dapan
media
(5)
Menghasilkan
gratifikasi
kebutuhan (6)
Konsekuensi
lain yang tidak
Universitasdiinginkan
Sumatera
(7) Utara
Setiap individu memilih media yang mampu memenuhi kebutuhannya.
Adapun yang menjadi kebutuhan individu atau individual needs adalah:
6. Kebutuhan Kognitif (Cognitive Needs)
Yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan informasi, pengetahuan, dan
pemahaman mengenai lingkungan; juga memuaskan rasa penasaran kita dan
dorongan penyelidikan.
7. Kebutuhan Afektif (Afektive Needs)
Yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang
estetis, menyenangkan dan emosional.
8. Kebutuhan Pribadi Secara Integratif (Personal Integrative Needs)
Yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kredibilitas, kepercayaan,
stabilitas, dan status individual. Hal-hal tersebut diperoleh dari hasrat dan harga diri.
9. Kebutuhan Sosial Secara Integratif (Social Integrative Needs)
Yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kontak dengan keluarga, teman,
dan dunia. Hal-hal tersebut didasarkan pada hasrat untuk berafiliasi.
10. Kebutuhan Pelepasan (Escapist Needs)
Yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kontak dengan upaya
menghindari tekanan, ketegangan, dan hasrat akan keanekaragaman.(Effendy,
2004:294).
Universitas Sumatera Utara
Download