BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Public Relations Komunikasi

advertisement
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Public Relations
Komunikasi merupakan aktivitas yang sangat penting di dalam suatu
organisasi/perusahaan, tujuannya adalah untuk mencegah kesimpangsiuran
suatu informasi yang ada dan untuk memelihara serta menciptakan pengertian
bersama di dalam organisasi tersebut sehingga tercapai suatu kesepahaman.
Di dalam suatu organisasi/perusahaan, fungsi yang mengelola komunikasi ini
adalah Public Relations.
Beberapa definisi Public Relations adalah sebagai berikut menurut Insitute
of Public Relations (IPR), Public Relations adalah keseluruhan upaya yang
dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan
dan memelihara niat baik (goodwill) dan saling pengertian antara suatu
organisasi dengan segenap khalayaknya.5 Sementara menurut Frank Jefkins,
Public Relations adalah semua bentuk komunikasi yang terencana baik itu ke
dalam maupun ke luar, antara semua organisasi dengan semua khalayaknya
dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling
pengertian.
Menurut kamus Fund and Wagnal, American Standard Desk Dictionary
terbitan 1994, Public Relations adalah segenap kegiatan dan teknik/kiat yang
5
Frank Jefkins, Public Relations, Airlangga, Edisi Kelima, 2004, hal 9-10
12
digunakan oleh organisasi atau individu untuk menciptakan atau memelihara
suatu sikap dan tanggapan yang baik dari pihak luar terhadap keberadaan dan
sepak terjangnya.6
Sementara menurut Scott M. Cutlip, Allen H. Center, Glen M. Broom,
menyatakan bahwa Public Relations
adalah
fungsi manajemen yang
membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan bermanfaat antara
organisasi dengan publik yang memengaruhi kesuksesan atau kegagalan
organisasi tersebut. 7
Menurut Cutlip, Center & Broom, beberapa kesamaan dari semua definisi
Public Relations adalah bahwa Public Relations
melaksanakan program
terencana dan berkelanjutan sebagai bagian dari manajemen, menangani
hubungan antar organisasi dan masyarakatnya, memantau kesadaran,
pendapat, sikap dan perilaku di dalam dan di luar organisasi, menganalisis
dampak kebijaksanaan, prosedur dan tindakan terhadap masyarakat,
menyesuaikan kebijaksanaan, prosedur dan tindakan yang diketahui
bertentangan dengan kepentingan masyarakat dan kelangsungan hidup
organisasi, memberi anjuran kepada Manajemen perihal pembentukan
kebijaksanaan, prosedur, dan tindakan yang saling menguntungkan organisasi
dan masyarakatnya, membentuk dan mengelola komunikasi dua arah antara
6
M. Linggar Anggoro, Teori & Profesi Kehumasan serta Aplikasinya di Indonesia, Bumi Aksara,
2008, hal. 2
7
Scott M. Cutlip, Allen H. Center, Glen M. Broom, Effective Public Relations, Kencana Prenada
Media Group, Edisi Kesembilan, 2007, hal. 6
13
organisasi dan masyarakatnya, menghasilkan perubahan khusus dalam hal
kesadaran, pendapat, sikap dan perilaku di dalam dan di luar organisasi,
menghasilkan hubungan yang baru dan atau terpelihara antara organisasi dan
masyarakatnya.8
Dapat disimpulkan oleh Penulis bahwa Public Relations adalah fungsi dari
management yang berupaya secara berkesinambungan melakukan kegiatan
yang membangun citra perusahaan melalui program-program kegiatan yang
diadakannya.
2.2.
Fungsi dan Tugas Public Relations
Beberapa definisi Fungsi dan Tugas Public Relations menurut para ahli
adalah sebagai berikut; menurut Robert F. Harlow dalam bukunya A Working
Definition, Fungsi Public Relations dibagi menjadi dua yaitu sebagai method
of communication dan sebagai state of being. Sebagai method of
communication, Public Relations
merupakan rangkaian/sistem kegiatan
komunikasi yang dilakukan oleh perusahaan, baik pimpinan, karyawan
maupun staf. Sebagai state of being, Public Relations merupakan perwujudan
kegiatan komunikasi yang “dilembagakan” ke dalam bentuk biro, bagian,
divisi, atau seksi dalam sistem manajemen Public Relations yang mempunyai
pemimpin.9
8
9
Firsan Nova, Crisis Public Relations, Gramedia Widia Sarana Indonesia, 2009, hal 35-36
Ibid. hal 36
14
Sedangkan menurut Ivy Ledbetter Lee, bapak Public Relations modern,
fungsi Public Relations adalah menyediakan berbagai macam informasi yang
cepat serta akurat, khususnya mengenai segala sesuatu yang bernilai tinggi
dan menyangkut kepentingan umum sehingga memang perlu diketahui oleh
segenap lapisan masyarakat. Sebagai fungsi manajemen, Public Relations
bertanggung jawab mengelola dan mengembangkan reputasi perusahaan.
Sebagai fungsi komunikasi, Public Relations mengembangkan komunikasi
antar perusahaan dan publik yang dianggap penting untuk menciptakan dan
mempertahankan goodwill dan mutual understanding publik terhadap tujuan,
kebijakan dan kegiatan perusahaan. Idealnya Public Relations adalah
merupakan perpaduan dari kedua fungsi tersebut.10
Sementara itu menurut International Public Relations Association (IPRA)
tahun 1981 fungsi umum Public Relations adalah memberikan konseling yang
didasari pemahaman masalah perilaku manusia, membuat analisis trend masa
depan dan ramalan akan akibat-akibatnya bagi institusi, melakukan riset
pendapat, sikap dan harapan masyarakat terhadap institusi dan memberi saran
tindakan-tindakan yang diperlukan institusi untuk mengatasinya, menciptakan
dan membina komunikasi dua arah berlandaskan kebenaran dan informasi
yang utuh, mencegah konflik dan salah pengertian, meningkatkan rasa saling
hormat dan rasa tanggung jawab sosial, melakukan penyerasian kepentingan
institusi terhadap kepentingan umum, meningkatkan itikad baik institusi
10
Firsan Nova, Crisis Public Relations, Gramedia Widia Sarana Indonesia, 2009, hal. 37
15
terhadap anggota, pemasok dan konsumen, memperbaiki hubungan industrial,
menarik tenaga kerja yang baik agar menjadi anggota dan mengurangi
keinginan anggota untuk keluar dari institusi, memasyarakatkan produk atau
layanan, mengusahakan perolehan laba maksimal, menciptakan jati diri
institusi, memupuk minat mengenai masalah-masalah nasional maupun
internasional, meningkatkan pengertian mengenai demokrasi.11
Edwar L. Bernay membagi 3 fungsi utama Public Relations yaitu
memberikan penerangan kepada masyarakat, melakukan persuasi untuk
mengubah sikap dan perbuatan masyarakat secara langsung dan berupaya
untuk mengintegrasikan sikap dan perbuatan suatu badan/lembaga sesuai
dengan sikap dan perbuatan masyarakat atau sebaliknya.12 Fungsi-fungsi ini
disimpulkan menjadi satu fungsi utama dari Public Relations menurut Firsan
Nova adalah menumbuhkan dan mengembangkan hubungan baik antar
lembaga/organisasi dengan publiknya internal maupun eksternal dalam rangka
menanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik
dalam upaya menciptakan iklim pendapat/opini publik yang menguntungkan
lembaga organisasi. Selain menjalankan fungsi-fungsi sebagaimana di
sampaikan oleh para ahli komunikasi, seorang Public Relations juga memiliki
beberapa tugas-tugas sehubungan dengan fungsi-fungsinya tersebut.13
11
Firsan Nova, Crisis Public Relations, Gramedia Widia Sarana Indonesia, 2009, hal. 39-40
Rosady Ruslan, Manajemen Public Relations & Media Komunikasi, Rajagrafindo Persada, 2010,
hal. 18
13
Firsan Nova, op.cit.,hal. 38
12
16
Menurut Frank Jefkins tugas seorang Public Relations adalah menciptakan
dan memelihara suatu citra yang baik dan tepat atas perusahaan atau
organisasinya, baik yang berkenaan dengan kebijakan-kebijakan, produk, jasa
maupun dengan para personelnya, memantau pendapat eksternal mengenai
segala sesuatu yang berkaitan dengan citra, kegiatan, reputasi maupun
kepentingan-kepentingan organisasi/perusahaan, dan menyampaikan setiap
informasi yang penting langsung kepada pihak manajemen atau pimpinan
puncak untuk segera ditanggapi atau ditindaklanjuti, memberi nasihat atau
masukan kepada pihak manajemen mengenai berbagai masalah komunikasi
yang penting, berikut teknik-teknik untuk mengatasinya, menyediakan
berbagai informasi kepada khalayak perihal kebijakan organisasi, kegiatan,
produk, jasa dan personalia selengkap mungkin demi menciptakan suatu
pengetahuan yang maksimal dalam rangka menjangkau pengertian khalayak.14
Menurut Prof. Dr. Sholeh Soemirat dan Drs. Elvinaro Ardianto, ruang
lingkup tugas Public Relations adalah ke dalam, pertama, membina sikap
mental karyawan agar dalam diri mereka tumbuh ketaatan, kepatuhan dan
dedikasi terhadap lembaga/perusahaan dimana mereka bekerja, kedua
menumbuhkan semangat korp atau kelompok yang sehat dan dinamis serta
mendorong
tumbuhnya
kesadaran
lembaga/perusahaan,
14
Frank Jefkins, Public Relations, Airlangga, Edisi Kelima, 2004, hal. 31
ke
luar,
17
mengusahakan tumbuhnya sikap dan citra/image public yang positif terhadap
segala kebijakan dan langkah tindakan organisasi/perusahaan.15
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan oleh Penulis bahwa
fungsi dan tugas Public Relations adalah sebagai Boundary Spanner yaitu
jembatan komunikasi antara organisasi dengan publik baik publik internal
maupun publik eksternalnya yang mengupayakan agar komunikasi kepada
publik dapat terjalin dengan baik sehingga dapat menciptakan hubungan yang
harmonis dan akhirnya opini Publik dapat dibentuk untuk membangun citra
perusahaan dan tentunya organisasi akan semakin berkembang dan tujuan
organisasi dapat tercapai.
2.3.
Peranan Public Relations
Menurut Scott M. Cutlip, Allen H. Center & Glen M. Broom ada empat
peranan PR yakni sebagai Teknisi Komunikasi, Expert Prescriber, Fasilitator
Komunikasi dan Fasilitator Pemecah Masalah. Sebagai Teknisi Komunikasi,
Public Relations harus memiliki keahlian komunikasi dan keahlian jurnalistik,
antara lain mengedit dan menulis newsletter karyawan, menulis news release
dan feature, mengembangkan isi Web dan menangani kontak Media. Sebagai
Expert Prescriber, Public Relations mendapatkan authority dari Manajemen
untuk mengatasi berbagai persoalan dalam perusahaan. Pihak manajemen
15
Soleh Soemirat dan Elvinaro Ardianto, Dasar-dasar Public Relations, Remaja Rosda Karya, 2008,
hal. 89
18
hanya berperan pasif saja. Public Relations bertugas mendefinisikan problem,
mengembangkan
program
dan
bertanggung
jawab
implementasinya. Public Relations dilihat sebagai orang
penuh
atas
yang memiliki
otoritas penuh. Sebagai Fasilitator Komunikasi, peran Public Relations adalah
sebagai perantara, interpreter dan mediator antara organisasi dan publiknya.
Mereka menjaga komunikasi dua arah dan memfasilitasi percakapan dengan
menyingkirkan rintangan dalam hubungan dan menjaga agar saluran
komunikasi tetap terbuka. Tujuannya adalah memberikan informasi yang
dibutuhkan baik oleh manajemen maupun publik untuk membuat keputusan
demi kepentingan bersama. Sebagai Fasilitator Pemecah Masalah, Public
Relations berkolaborasi dengan manajer lain untuk mendefinisikan dan
memecahkan masalah. Public Relations menjadi bagian dari tim perencanaan
strategis.16
Menurut Rosady Ruslan, peranan Public Relations sebagai teknisi
komunikasi meliputi unsur-unsur 7 P yaitu People, Process, Plans, Practices,
Product, Plant dan Publications. Penjelasannya adalah sebagai berikut,
People, untuk mengetahui hubungan komunikasi organisasi dengan siapa
khalayak sebagai sasarannya dan sekaligus untuk menentukan berhasil atau
tidaknya dalam melaksanakan suatu komunikasi yang berkaitan dengan
perbedaan budaya, lingkungan, pemahaman dan keinginan dari berbagai
16
Scott M. Cutlip, Allen H. Center, Glen M Broom, Effective Public Relations, Kencana Prenada
Media Group, Edisi kesembilan, 2007, hal. 46-47
19
publik yang dihadapi oleh organisasi tersebut. Process, merupakan suatu
proses langkah-langkah suatu perencanaan program komunikasi organisasi
untuk menyebarluaskan informasi atau pesan-pesannya terhadap publik.
Plans, perencanaan komunikasi organisasi dalam upaya penjelasan kepada
publik, baik untuk suatu program Public Relations bertujuan jangka pendek
maupun jangka panjang, Practices, yaitu berkaitan dengan praktik
pelaksanaan dari rencana tahapan-tahapan suatu komunikasi organisasi yang
meliputi teknik-teknik dan metodenya yang akan ditentukan oleh kemampuan
komunikator, situasi dan kondisi publik serta dukungan media komunikasi
yang dipergunakan. Product, merupakan produk atau bentuk keberhasilan
komunikasi yang telah atau sebelum disampaikan oleh komunikator apakah
akan mendapat sambutan positif atau sebaliknya negatif dari pihak publik.
Plant, yaitu berkaitan dengan sarana dan kemampuan komunikasi yang ada
dari pihak organisasi untuk menyampaikan dan menerima informasi atau
pesan-pesan terhadap publiknya. Publications, teknik pelaksanaan publikasi
dalam komunikasi organisasi untuk menyampaikan informasi, pesan-pesan
dan pemberitaan di berbagai media komunikasi yang dipergunakan oleh
komunikator.17
17
Rosady Ruslan, Manajemen Public Relations & Media Komunikasi, Rajagrafindo Persada, 2010,
hal. 123-124
20
2.4.
Tujuan Public Relations
Tujuan utama kegiatan Public Relations menurut Firsan Nova adalah
membangun kredibilitas dan membangkitkan motivasi bagi stakeholders
perusahaan
guna
meminimalkan
biaya
pengeluaran
proses
transfer
komunikasi. Tujuan ini dapat dikelompokkan menjadi performance objective
dan support of consumer market objective. Performance objective
maksudnya, Public Relations merupakan kegiatan komunikasi yang
mempresentasikan citra perusahaan kepada publiknya (stakeholders),
melaksanakan serangkaian kegiatan untuk membentuk dan memperkaya
identitas, serta citra perusahaan di mata Stakeholders. Support of consumer
market objective maksudnya, kegiatan Public Relations dapat digunakan
untuk mengidentifikasi permasalahan yang timbul sehubungan dengan
kegiatan
komunikasi
yang
dilaksanakan
oleh
perusahaan
dengan
menitikberatkan pembahasan pada identifikasi tingkat kesadaran konsumen,
sikap dan persepsi konsumen terhadap produk dan layanan yang ditawarkan
perusahaan.
Hasil
identifikasi
kemudian
dijadikan
sebagai
bahan
pertimbangan perusahaan untuk menerapkan strategi pendekatan yang sesuai.
Tujuan lainnya adalah untuk komunikasi internal dan eksternal. Komunikasi
internal adalah dengan memberikan informasi sebanyak mungkin dan sejelas
mungkin mengenai institusi, menciptakan kesadaran anggota/personil
21
mengenai peran institusi dalam masyarakat, menyediakan sarana untuk
memperoleh umpan balik dari anggotanya. Sementara komunikasi eksternal
yakni komunikasi kepada masyarakat meliputi pemberian informasi yang
benar dan wajar mengenai institusi, kesadaran mengenai peran institusi dalam
tata kehidupan umumnya, dan motivasi untuk menyampaikan citra baik.18
2.5.
Sasaran Kegiatan Public Relations
Menurut H. Fayol, beberapa sasaran kegiatan Public relations adalah
membangun identitas dan citra perusahaan (building corporate identity and
image) yang positif dan mendukung kegiatan komunikasi timbal balik dua
arah dengan berbagai pihak, Menghadapi krisis (facing of crisis) dengan
membentuk Manajemen krisis dan Public relations recovery of image yang
bertugas memperbaiki lost of image and damage, mempromosikan aspek
kemasyarakatan (promotion public causes) yakni hal-hal yang menyangkut
kepentingan publik dan mendukung kegiatan kampanye sosial. 19
Selain dari itu, menurut Rosady Ruslan, sasaran dari Public Relations
adalah proses transfer dari Permusuhan (Hostility) menjadi simpati
(Sympathy),
Prasangka
(Prejudice)
menjadi
menerima
(Acceptance),
18
19
Firsan Nova, Crisis Public Relations, Gramedia Widia Sarana Indonesia, 2009, hal. 40-41
Ibid. hal. 43-44
22
Ketidakpedulian (Apathy) menjadi Berminat (Interest) dan ketidaktahuan
(Ignorance) menjadi pemahaman (Knowledge).20
Menurut Prof. Dr. Soleh Soemirat dan Drs. Elvinaro Ardianto, hasil yang
ingin dicapai sebagai sasaran dari kegiatan Public Relations adalah good
image (citra yang baik), goodwill (itikad baik), mutual understanding (saling
pengertian), mutual confidence (saling mempercayai), mutual appreciation
(saling menghargai) dan tolerance (toleransi).21
Kesimpulan penulis, sasaran dari kegiatan Public Relations adalah
membangun identitas dan citra perusahaan.
2.6.
Strategi Public Relations
Untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi diperlukan strategi Public
Relations. Dalam menentukan strategi Public Relations yang akan dijalankan
perlu diperhatikan terlebih dahulu visi dan misi suatu perusahaan/organisasi,
kebijakan perusahaan (aturan dasar formal dan informal atau kriteria yang
diterapkan selama pembuatan keputusan), tujuan (pernyataan terukur dan
realistis mengenai apa yang harus dicapai), sasaran (sebuah tujuan konkrit
yang dianggap memiliki jangka waktu lebih pendek), maksud (sebuah
kombinasi antara sasaran dan tujuan dimana keduanya mungkin berjangka
pendek
atau
berjangka
panjang,
yang
kadang-kadang
menyangkut
20
Rosady Ruslan, Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations, Rajagrafindo Persada, 2008, hal. 45
Soleh Soemirat dan Elvinaro Ardianto, Dasar-dasar Public Relations, Remaja Rosda Karya, 2008,
hal. 14
21
23
harapan/aspirasi), taktik (keputusan dan tindakan yang dimaksud untuk
mencapai tujuan jangka pendek).22
Menurut Scott M. Cutlip, Allen H. Center dan Glen M. Broom, proses
perencanaan strategis dalam Public Relations adalah dengan proses empat
langkah yakni pertama, mendefinisikan masalah (masalah, kepentingan atau
peluang apa yang sedang terjadi saat ini) dan analisa situasi baik internal
maupun eksternal mengenai kekuatan positif dan negatif yang sedang terjadi
saat ini, siapa saja yang terpengaruh atau terlibat, kedua, membuat rencana
dan program meliputi tujuan program, publik sasaran dan sasarannya, ketiga
dengan bertindak dan berkomunikasi, strategi tindakan dan komunikasi yang
dilakukan serta rencana implementasi program dan keempat langkah terakhir
adalah mengevaluasi program meliputi rencana evaluasi dan umpan balik dan
penyesuaian program.23
Lain halnya dengan Smith dalam strategic planning for Public Relations
menawarkan model Nine Steps of Strategic PR yaitu meliputi : fase pertama
Formative Research (analisa situasi, analisa organisasi dan analisa publik),
fase kedua Strategi (menetapkan sasaran dan tujuan, formulasi aksi dan
respon strategi serta memilih komunikasi efektif), fase ketiga Taktik, memilih
22
Sandra Oliver, Strategi Public Relations, Glora Aksara Pratama, 2007, hal 3
Scott M. Cutlip, Allen H. Center, Glen M. Broom, Effective Public Relations, edisi kedelapan, 2005,
Hal. 302
23
24
taktik komunikasi, implementasi perencanaan strategis, fase keempat Riset
Evaluasi (evaluasi perencanaan strategis)24
Menurut J.L. Thomson (1995), ada strategi yang luas untuk keseluruhan
organisasi dan strategi kompetitif untuk masing-masing aktivitas. Strategi
fungsional mendorong secara langsung strategi kompetitif.25
Menurut Bennett (1996), strategi sebagai arah yang dipilih organisasi
untuk diikuti dalam mencapai misinya. Sementara menurut Mintzberg, ada
lima kegunaan dari kata strategi, yaitu sebuah rencana (suatu arah tindakan
yang diinginkan secara sadar), sebuah cara (suatu manuver spesifik yang
dimaksudkan untuk mengecoh lawan atau kompetitor), Sebuah pola (dalam
suatu rangkaian tindakan), Sebuah posisi (suatu cara menempatkan organisasi
dalam sebuah lingkungan), Sebuah perspektif (suatu cara yang terintegrasi
dalam memandang dunia). Mintzberg melihat hubungan di antara kelima
kegunaan selalu menekankan
bahwa sangat penting
untuk menggali
perspektif yang berbeda dari sebuah organisasi dan aktivitasnya.26
Lain halnya dengan Strategi Public Relations menurut Sandra Oliver,
strategi Public Relations meliputi tiga bidang yaitu strategi komunikasi bisnis
yang meliputi permasalahan pemerintah/publik dan reputasi korporasi, strategi
24
Muslim Basya, Irmulan Sati, Tantangan Indonesia Baru Strategi & Aktivitas Public Relations,BPP
Perhumas, 2006
25
Sandra Oliver, Strategi Public Relations, Glora Aksara Pratama, 2007, hal. 2
26
Ibid. hal 3
25
internal atau sumber daya manusia dan strategi komunikasi pemasaran yang
terintegrasi.27
Strategi Public Relations menurut Ahmad S. Adnanputra, President
Institut Bisnis dan Manajemen Jayakarta, adalah alternatif optimal yang
dipilih untuk ditempuh guna mencapai tujuan public relations dalam kerangka
suatu rencana Public Relations (public relations plan).
Tujuan Public
Relations seperti telah disebutkan sebelumnya adalah untuk mengembangkan
suatu
citra
yang
menguntungkan/favourable
image
bagi
organisasi/
perusahaan, sehingga strategi Public Relations diarahkan untuk menggarap
persepsi para stake holder untuk mendapatkan citra yang diinginkan. Strategi
Public Relations dibentuk melalui dua komponen yang saling terkait erat yaitu
komponen sasaran dan komponen sarana. Komponen sasaran adalah satuan
atau segmen yang akan digarap, sedangkan komponen sarana adalah paduan
atau bauran sarana untuk menggarap suatu sasaran. Tahap-tahap dari kegiatan
strategi Public Relations adalah pertama untuk komponen sasaran umumnya
adalah para stakeholder dan public yang mempunyai kepentingan yang sama.
Sasaran umum tersebut secara struktural dan formal yang dipersempit melalui
upaya segmentasi yang dilandasi seberapa jauh sasaran itu menyandang opini
bersama, potensi polemik dan pengaruhnya bagi masa depan organisasi
lembaga nama perusahaan dan produk yang menjadi perhatian sasaran khusus.
Maksud sasaran khusus di sini adalah publik sasaran (target public), kedua
27
Sandra Oliver, Strategi Public Relations, Glora Aksara Pratama, 2007, hal 3-4
26
untuk komponen sarana dilaksanakan melalui pola dasar the 3-C’s option
(Conservation, Change dan Crystallization) dari stake holder yang
disegmentasikan
menjadi publik sasaran. Mengukuhkan (conservation),
strategi Public Relations terhadap opini yang aktif – Pro (Proponen),
Mengubah (change) yaitu strategi Public Relations terhadap opini yang aktif –
Contra (Oponen) dan Mengkristalisasi (Crystallization) terhadap opini yang
pasif (Uncommited). 28
Strategi Public Relations menurut Ruslan :2002, yang lebih dikenal
dengan bauran Public Relations adalah Publication, Event (Calendar Event,
Special Events, moment Event), News, Community involvement, inform or
image, lobbying and negotiation, social responsibility29
Landasan umum dalam proses penyusunan strategi Public Relations
menurut Ahmad S. Adnanputra dalam makalah ”Public Relations Strategy”
yaitu mengidentifikasikan permasalahan yang muncul, identifikasi unit-unit
sasaran, mengevaluasi mengenai pola dan kadar sikap tindak unit sebagai
sasarannya, mengidentifikasi tentang struktur kekuasaan pada unit sasaran,
pemilihan opsi atau unsur taktikal strategi Public Relations, mengidentifikasi
dan evaluasi terhadap perubahan kebijaksanaan atau peraturan pemerintahan
dsb, dan menjabarkan strategi Public Relations dan taktik atau cara
28
Rosady Ruslan, Manajemen Public Relations & Media Komunikasi, Rajagrafindo Persada, Cetakan
Kesepuluh, 2010, hal 134-135
29
Firsan Nova, Crisis Public Relations, Gramedia Widia Sarana Indonesia, 2009, hal 41-42
27
menerapkan langkah-langkah program yang telah direncanakan, dilaksanakan,
mengkomunikasikan dan melakukan penilaian/evaluasi hasil kerja.30
Menurut Kasali, untuk dapat bertindak strategis, kegiatan Public Relations
harus menyatu dengan visi dan misi organisasi/perusahaan. Salah satu strategi
yang dapat dilakukan oleh Public Relations adalah dengan melakukan analisa
SWOT (Strenghts/kekuatan, Weaknesses/Kelemahan, Opportunities/peluang,
dan Threats/ancaman) terhadap persepsi dari luar maupun dari dalam
perusahaan misalnya terhadap citra yang dimiliki oleh perusahaan. Kontribusi
Public Relations dalam proses strategic management dapat dilakukan melalui
dua cara yakni pertama melakukan survey atas lingkungan dan membantu
mendefinisikan misi, sarana dan objective organisasi/perusahaan. Kedua,
mengelola kegiatannya secara strategis artinya bersedia mengorbankan
kegiatan jangka pendek demi arah perusahaan secara menyeluruh.31
Kegiatan Public Relations pada hakikatnya merupakan bagian dari teknik
kegiatan berkomunikasi dengan ciri khas komunikasi dua arah (two way
traffic communication) antara lembaga/organisasi yang diwakilinya dengan
publik atau sebaliknya. Setelah melakukan kegiatan komunikasi tersebut,
pihak Public Relations menganalisa untuk mengetahui efeknya (feed back),
yaitu opini pribadi, opini publik, opini mayoritas, sikap dan tingkah laku serta
30
Rusady Ruslan, Manajemen Public Relations & Media Komunikasi, Rajagrafindo Persada, Cetakan
kesepuluh, 2010, hal 139
31
Soleh Soemirat dan Elvinaro Ardianto, Dasar-dasar Public Relations, Remaja Rosda Karya, 2008,
hal 93
28
pandangan, persepsi dan kepercayaan apakah berdampak baik terhadap citra
atau sebaliknya menjadi negatif sehingga kurang menguntungkan posisi
organisasi atau lembaga bersangkutan di mata masyarakat. Untuk itu strategi
komunikasi mutlak harus dikuasai oleh seorang Public Relations.
Strategi Public Relations dalam berkomunikasi, menurut Cutlip, Center &
Broom dikenal dengan istilah 7-Cs PR Communications yaitu Credibility
(Kredibilitas), komunikasi itu dimulai dari suasana saling
percaya yang
diciptakan oleh pihak komunikator secara sungguh-sungguh, untuk melayani
publiknya yang memiliki keyakinan dan respek, Contex (konteks)
menyangkut sesuatu yang berhubungan dengan lingkungan kehidupan sosial,
pesan yang harus disampaikan dengan jelas serta sikap partisipatif.
Komunikasi efektif diperlukan untuk mendukung lingkungan sosial melalui
pemberitaan di berbagai media massa, Content (Isi) pesannya menyangkut
kepentingan orang banyak sehingga informasi dapat diterima sebagai sesuatu
yang bermanfaat secara umum bagi masyarakat. Clarity (kejelasan) pesan
harus disusun dengan kata-kata yang jelas, mudah dimengerti serta memiliki
pemahaman yang sama antara komunikator dan komunikan dalam hal
maksud, tema dan tujuan semua pihak. Continuity and Consistency
(kontinuitas dan konsistensi), komunikasi merupakan proses yang tidak
pernah berakhir, oleh karena dilakukan berulang-ulang dengan berbagai
variasi pesan. Dengan cara demikian untuk mempermudah proses belajar,
29
membujuk dan tema dari pesan-pesan tersebut harus konsisten. Channels
(saluran), mempergunakan saluran media informasi yang tepat dan terpercaya
serta dipilih oleh khalayak sebagai target sasaran. Pemakaian saluran media
yang berbeda akan berbeda pula efeknya. Dengan demikian seorang Public
Relations harus dapat memahami perbedaan dan proses penyebaran informasi
secara
efektif.
Capacity
of
the
Audience
(kapasitas
khalayak),
memperhitungkan kemampuan yang dimiliki oleh khalayak. Komunikasi
dapat menjadi efektif bagi masyarakat bila berkaitan dengan faktor-faktor
yang bermanfaat seperti kebiasaan dan peningkatan kemampuan membaca
dan pengembangan pengetahuan. 32
Rosady Ruslan menambahkan taktik persuasi di dalam strategi komunikasi
Public Relations, yakni berusaha mencari tahu sesuatu yang telah diyakini dan
dapat membujuk komunikan, sekaligus mempengaruhi agar opini ”digiring”
sesuai dengan keinginan dan tujuan komunikasi tersebut melalui teknik dan
kiat-kiat tertentu. Taktik ini dilakukan dalam strategi komunikasi kampanye
yang dilakukan oleh Public Relations. Konsep kampanye adalah serangkaian
kegiatan komunikasi yang terorganisasi dengan tujuan untuk menciptakan
dampak tertentu terhadap sebagian khalayak sasaran secara berkelanjutan
dalam periode tertentu. (rogers dan Storey)33
32
Rosady Ruslan, Manajemen Public Relations & Media Komunikasi, Rajagrafindo Persada, Cetakan
Kesepuluh, 2010, hal 122-123
33
Rosady Ruslan, Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations, Rajagrafindo Persada, 2008, hal 23
30
Strategi ini menggunakan media sebagai saluran/alat menyampaikan
komunikasi. Public Relations juga harus melakukan strategi pendekatan
kepada komunikan/sasaran/obyek (target audience). Strategi dapat dilakukan
berdasarkan pendekatan kependudukan atau pendekatan psikologis. Selain
dari itu, didalam strategi komunikasinya, Public Relations menggunakan
media relations untuk menjaga hubungan baik organisasi dengan pihak media
massa. Tujuannya adalah apabila organisasi telah dikenal baik oleh media,
maka jika ada undangan liputan, mereka akan mempublikasikan informasi
organisasi dengan sukarela.34
Strategi memilih dan menggunakan media yang tepat juga sangat
diperlukan oleh Public Relations dalam mengatasi krisis yang mungkin
dihadapi, selain tentunya kemampuan Public Relations dalam membuat
keputusan pesan-pesan yang paling baik untuk menghentikan desas-desus
penyebab krisis.35
Strategi
Public
Relations
yang
handal
sangat
diperlukan
untuk
mempertahankan citra suatu perusahaan/organisasi.
Berikut adalah bagan dari orientasi public relations yaitu image building
yang dapat dilihat sebagai model komunikasi dalam Public Relations.36
34
Diah Wardhani, Media Relations Sarana Membangun Reputasi Organisasi, Graha Ilmu, 2008, hal.
13
35
Frazier Moore, HUMAS membangun Citra dengan Komunikasi, Remaja Rosda Karya, 2005, hal.
111
36
Soleh Soemirat dan Elvinaro Ardianto, Dasar-dasar Public Relations, Remaja Rosda Karya, 2008,
hal 118
31
Dari bagan di atas, Penulis menyimpulkan bahwa untuk membentuk dan
mempertahankan citra suatu perusahaan/lembaga/organisasi, peranan Public
Relations dalam membuat
program-program kegiatan yang menarik
merupakan strategi yang penting yang dapat membentuk opini positif publik
terhadap citra suatu perusahaan/lembaga/organisasi.
Menurut Prof. Dr. Soleh Soemirat dan Drs Elvinaro Ardianto, proses
pembentukan citra dalam struktur kognitif adalah public relations
digambarkan sebagai input dan output, proses internnya adalah pembentukan
citra, sedangkan input adalah stimulus yang diberikan dan output adalah
tanggapan atau perilaku tertentu, citra itu sendiri yang digambarkan melalui
persepsi-kognisi-motivasi-sikap.37
Salah satu faktor terpenting sebagai pembentuk citra adalah opini publik
atau pendapat umum. Dalam praktik kehumasan, menciptakan opini publik
37
Soleh Soemirat dan Elvinaro Ardianto, Dasar-dasar Public Relations, Remaja Rosda Karya, 2008,
hal 115
32
dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu, tekanan (pressure), membeli (buying)
dan membujuk/persuasi (persuasive). Memperoleh opini publik dengan
tekanan biasanya menggunakan pengaruh baik secara individu yang memiliki
kharisma pribadi maupun kekuasaan jabatan atau kekuatan tertentu.
Memperoleh opini publik dengan buying sama dengan membeli suara publik
dengan money politic agar dapat memperoleh dukungan biasanya dilakukan
untuk menjaga publisitas melalui media pers. Opini Publik yang dilakukan
melalui teknik persuasi, ditujukan untuk merekayasa opini publik sehingga
menguntungkan melalui PR transfer Process.
Menurut Scott M Cutlip dan Allen Center, opini publik mengikuti empat
pola atau tahapan, yaitu mengangkat kepermukaan isu melalui agenda setting
bekerjasama dengan pihak pers, public relations bertindak sebagai power
maker atau news maker dan bertindak sebagai sumber berita, melemparkan isu
atau topik, untuk kemudian diperdebatkan dan dicarikan jalan keluar
pemecahannya dan mengarahkan/menggiring isu tersebut ke arah pemecahan
yang dapat diterima umum/publik.38
Opini publik menurut H. Frazier Moore, adalah paduan opini yang berasal
dari interaksi opini-opini individu anggota sebuah kelompok. Transformasi
dari opini individu ini ke dalam opini publik dengan rangsangan kelompok,
merupakan suatu karakteristik yang berbeda dari proses opini publik itu
sendiri. Metamorfosa ini kadangkala disebut group mind (pikiran kelompok),
38
Rosady Ruslan, Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations, Rajagrafindo Persada, 2008, hal 51
33
dimana opini-opini individu terpadukan dalam kelompok menjadi satu
sehingga menjadi opini publik. Opini publik telah didefinisikan sebagai
ungkapan dari semua anggota kelompok yang tengah memberikan perhatian
terhadap suatu hal tertentu. Opini orang-orang dalam sebuah kelompok
dipengaruhi oleh apapun yang mereka dengar dari para pemuka pendapat,
para anggota kelompok lainnya, dari apa yang mereka baca baik dalam surat
kabar, majalah atau buku, ataupun dari yang mereka lihat pada layar televisi.39
Faktor lain yang mendukung terbentuknya citra perusahaan menurut M.
Linggar Anggoro antara lain adalah sejarah atau riwayat hidup perusahaan
yang gemilang, keberhasilan-keberhasilan di bidang keuangan yang pernah
diraihnya, sukses ekspor, hubungan industri yang baik, reputasi sebagai
pencipta lapangan kerja dalam jumlah yang besar, kesediaan turut memikul
tanggung jawab sosial, komitmen mengadakan riset, dsb. Selain itu, untuk
membentuk citra perusahaan dapat dilakukan dengan membuat iklan korporat
(Institusional Advertising) atau iklan citra (image advertising) yakni iklan
yang tidak menawarkan produk tetapi berisi himbauan atau sikap peduli
perusahaan terhadap suatu problema yang sedang dihadapi oleh masyarakat.
Tujuan dari iklan korporat ini untuk memantapkan citra perusahaan, menjadi
landasan yang kokoh untuk memperkuat iklan-iklan produk yang ditawarkan
perusahaan dan membentuk opini pada kalangan tertentu. Citra tidak dapat
39
H. Frazier Moore, HUMAS membangun Citra dengan Komunikasi, Remaja Rosdakarya Bandung,
2005, hal 63-64
34
dibeli tetapi didapat. Perusahaan/organisasi tidak tumbuh dengan sendirinya,
dibutuhkan dukungan masyarakat. Organisasi/perusahaan yang memiliki citra
yang bagus akan menikmati enam hal yakni hubungan yang baik dengan para
pemuka masyarakat, hubungan positif dengan pemerintah setempat, resiko
krisis yang lebih kecil, rasa kebanggaan dalam organisasi dan di antara
khalayak sasaran, saling pengertian antara khalayak sasaran, baik internal
maupun eksternal dan meningkatkan kesetiaan para staf perusahaan.
Menurut Yusuf Wibisono, salah satu upaya untuk meningkatkan citra
perusahaan/organisasi adalah dengan melakukan kegiatan Corporate Social
Responsibility (CSR) sebagai bagian dari kegiatan Public Relations. Semua
kontribusi perusahaan/organisasi pada kegiatan ini disampaikan melalui
berbagai media massa sehingga opini publik dapat terbentuk. Perusahaan
memberikan citra sebagai korporasi yang tanggap terhadap kepentingan
sosial. Perusahaan/organisasi meyakini bahwa program CSR merupakan
investasi demi pertumbuhan dan keberlanjutan (Sustainability) usaha di masa
mendatang.40
2.7.
Identitas Perusahaan (Corporate Identity)
Identitas sebuah perusahaan adalah manifestasi aktual dari realita
perusahaan seperti yang disampaikan melalui nama perusahaan, logo, moto,
produk, layanan, bangunan, alat-alat tulis, seragam dan barang-barang bukti
40
Yusuf Wibisono, Membedah konsep & Aplikasi CSR, Fascho Publishing, 2007, hal. 79-81
35
nyata yang diciptakan oleh organisasi tersebut dan dikomunikasikan kepada
beragam konstituen. Konstituen kemudian membentuk persepsi berdasarkan
pesan-pesan yang perusahaan tersebut kirimkan dalam bentuk nyata.Jika citracitra ini dengan akurat mencerminkan realitas perusahaan, program identitas
tersebut berhasil.41
Identitas perusahaan (identity corporate) menurut Frank Jefkins adalah
semua representasi atau perwujudan media visual dan fisik yang menampilkan
suatu jatidiri organisasi sehingga dapat membedakan dengan perusahaan
lainnya.42
Menurut Muchtar A.F., identitas perusahaan dituangkan dalam logo
perusahaan, sebagai pembeda dengan kompetitor dan organisasi lain. Identitas
perusahaan haruslah kuat, sehigga dapat menunjukkan identifikasi karakter
atau personalitas organisasi yang strategis, memiliki Brand Values, falsafah,
spirit, budaya, komitmen, dapat memanfaatkan peluang dan mampu
menghadapi berbagai tantangan dan ancaman, baik di masa sekarang maupun
di masa yang akan datang.43
Identitas perusahaan selain nama dan logo, adalah moto perusahaan yaitu
tujuan, visi dan misi perusahaan. Logo perusahaan atau identitas produk
dengan tampilan yang menarik akan membentuk pengakuan nama dan merek
41
Paul A. Argenti, Komunikasi Korporat, Salemba Humanika, Edisi Kelima, 2010, hal . 78 - 79
Rosady Ruslan, Manajemen Public Relations & Media Komunikasi, PT Rajagrafindo Persada,
Cetakan Kesepuluh, 2010, hal. 325
43
Muchtar A.F, Panduan Praktis Strategi Memenangkan Persaingan Usaha dengan Menyusun Bisnis
Plan, Elex Media Computindo, 2010, hal. 43
42
36
dari produk yang dipasarkan dan akan meningkatkan citra yang ingin kita
ciptakan.44
Tujuan perusahaan menumbuhkan semangat dan etos kerja yang tinggi.
Tujuan perusahaan yang telah dirumuskan terkadang mengalami perubahan
seiring dengan berjalannya waktu termasuk identitas korporat. Perubahan ini
dimaksudkan agar tujuan perusahaan menjadi lebih sesuai dengan tuntutan
kebutuhan masyarakat yang semakin dinamis dan lebih menantang.
Visi perusahaan merupakan ungkapan bersama dengan seluruh orangorang yang terlibat dalam usaha, akan dibawa kemana dan akan menjadi
seperti apa perusahaan yang dikelolanya di masa mendatang.
Misi perusahaan dibentuk untuk memudahkan pencapaian tujuan. Misi
disebut sebagai filosofi perusahaan yang mencakup
penerapan teknik
strategis dan penggunaan perencanaan operational dan komunikasi internal.
Untuk mencapai visinya setiap perusahaan memerlukan misi dengan
landasan keyakinan dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi.45
Citra Perusahaan (Corporate Image)
2.8.
Citra adalah sebuah cerminan dari identitas sebuah perusahaan/organisasi.
Dengan kata lain, citra adalah organisasi sebagaimana terlihat dari sudut
44
Muchtar A.F, Panduan Praktis Strategi Memenangkan Persaingan Usaha dengan Menyusun Bisnis
Plan, Elex Media Computindo, 2010, hal 48-49
45
ibid, hal. 50-53
37
pandang konstituennya. Sebuah organisasi dapat memiliki banyak citra yang
berbeda tergantung pada konstituen mana yang terlibat.46
Menurut Frank Jefkins, citra perusahaan merupakan kesan atau impresi
psikologis dan gambaran dari berbagai kegiatan suatu perusahaan di mata
khalayak publiknya yang berdasarkan pengetahuan, tanggapan serta
pengalaman-pengalaman yang telah diterimanya dengan penilaian tertentu
terhadap citra perusahaan, yaitu bisa berbentuk citra baik, sedang dan bahkan
buruk.47
Citra adalah kesan yang diperoleh seseorang berdasarkan pengetahuan dan
pengertiannya tentang fakta-fakta atau kenyataan. Untuk mengetahui citra
seseorang terhadap suatu obyek dapat diketahui dari sikapnya terhadap obyek
tersebut.Citra terbentuk berdasarkan pengetahuan dan informasi-informasi
yang diterima seseorang. Komunikasi tidak secara langsung menimbulkan
perilaku
tertentu,
tetapi
cenderung
mempengaruhi
cara
kita
mengorganisasikan citra kita tentang lingkungan48
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satu pengertian citra adalah
gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan,
organisasi atau produk. Sementara itu menurut Frank Jefkins dalam bukunya
yang berjudul Public Relations Technique,
secara umum citra diartikan
46
Paul A. Argenti, Komunikasi Korporat, Salemba Humanika, Edisi Kelima, 2010, hal. 78
Rosady Ruslan, Manajemen Public Relations & Media Komunikasi , 2010, hal. 325
48
Soleh Soemirat dan Elvinaro Ardianto, Dasar-dasar Public Relations, Remaja Rosda Karya, 2008,
hal. 114
47
38
sebagai kesan seseorang atau individu tentang sesuatu yang muncul sebagai
hasil dari pengetahuan dan pengalamannya. Dalam bukunya yang lain, Jefkins
menyebutkan citra adalah kesan yang diperoleh berdasarkan pengetahuan dan
pengertian seseorang tentang fakta-fakta atau kenyataan. Lain halnya dengan
Jalaluddin Rakhmat, dalam bukunya Psikologi Komunikasi menyebutkan
bahwa citra adalah penggambaran tentang realitas dan tidak harus sesuai
dengan realitas, citra adalah dunia menurut persepsi.49
Menurut Collins English Dictionary definisi citra adalah suatu gambaran
tentang mental, ide yang dihasilkan oleh imajinasi atau kepribadian yang
ditunjukkan kepada publik oleh seseorang, organisasi, dsb.50
Menurut Frank Jefkins, terdapat beberapa jenis citra/image yakni citra
bayangan (mirror image), citra yang berlaku (current image), citra yang
diharapkan (wish image), citra perusahaan (corporate image) dan citra
majemuk (multiple image). Citra bayangan (mirror image) adalah citra yang
melekat kepada orang atau anggota-anggota dalam organisasi, misalnya citra
terhadap pemimpinnya mengenai anggapan pihak luar terhadap organisasinya.
Citra bayangan adalah citra yang dianut oleh orang dalam mengenai
pandangan luar terhadap organisasinya. Citra ini sering kali tidak tepat, hanya
sekedar ilusi. Citra yang berlaku (current image) adalah kebalikan dari citra
bayangan. Karena citra ini adalah pandangan yang dianut dari pihak luar
49
Soleh Soemirat dan Elvinaro Ardianto, Dasar-dasar Public Relations, Remaja Rosda Karya, 2008,
hal. 114
50
Sandra Oliver, Strategi Public Relations, Glora Aksara Pratama, 2007, hal. 50
39
mengenai suatu organisasi. Citra ini juga jarang sesuai dengan kenyataan
karena sering kali terbentuk hanya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan
orang luar yang sangat terbatas. Biasanya citra ini cenderung negatif. Citra
yang diharapkan (wish image)
adalah citra yang diinginkan oleh pihak
manajemen. Citra ini juga tidak sama dengan citra yang sebenarnya karena
biasanya citra ini lebih baik atau lebih menyenangkan dari citra yang
sebenarnya. Citra yang diharapkan biasanya dirumuskan untuk sesuatu yang
relatif baru, ketika khalayak belum memiliki informasi yang memadai
mengenainya. Citra Perusahaan (Corporate image) adalah citra dari organisasi
secara keseluruhan, jadi bukan sekedar citra atas produk dan pelayanannya
saja. Citra ini terbentuk dari banyak hal, antara lain, sejarah atau riwayat
hidup perusahaan yang gemilang, keberhasilan dan stabilitas di bidang
keuangan, kualitas produk, keberhasilan ekspor, hubungan industri yang baik,
reputasi sebagai pencipta lapangan kerja, kesediaan memikul tanggung jawab
sosial dan komitmen mengadakan riset. Citra majemuk adalah citra yang
dimiliki oleh suatu perusahaan sebanyak jumlah pegawai yang dimilikinya.
Sehingga citra ini tidak sama dengan citra perusahaan.51
Menurut Bill Canton dalam Sukatendel (1990) mengatakan “the image is
the impression, the feeling, the conception which the public has of a company;
a concioussly created impression of an object, person or organization” (citra
adalah kesan, perasaan, gambaran diri publik terhadap perusahaan, kesan yang
51
Frank Jefkins, Public Relations, Airlangga, Edisi Kelima, 2004, hal. 20-22
40
dengan sengaja diciptakan dari suatu obyek, orang atau organisasi). Sehingga
citra itu dengan sengaja perlu diciptakan agar bernilai positif. Citra merupakan
salah satu asset penting dari suatu perusahaan atau organisasi52
Citra adalah cara bagaimana pihak lain memandang sebuah perusahaan,
seseorang, suatu komite, atau suatu aktivitas. Setiap perusahaan mempunyai
citra sebanyak jumlah orang yang memandangnya. Berbagai citra perusahaan
datang dari pelanggan perusahaan, pelanggan potensial, bankir, staf
perusahaan, pesaing distributor, pemasok, asosiasi dagang, dan gerakan
pelanggan di sector perdagangan yang
mempunyai pandangan terhadap
perusahaan (Katz, 1994:67-68). Menurut Katz, ada banyak citra perusahaan
antara lain siap membantu, inovatif, sangat memperhatikan karyawannya,
bervariasi dalam produk, dan tepat dalam pengiriman. Untuk itu tugas
perusahaan dalam membentuk citranya adalah dengan mengidentifikasi citra
seperti apa yang ingin dibentuk di mata masyarakat.53
Citra Perusahaan atau Citra Lembaga menurut M. Linggar Anggoro adalah
citra dari suatu organisasi secara keseluruhan, jadi bukan citra atas produk dan
pelayanan saja. Citra Perusahaan ini terbentuk oleh banyak hal.54
52
Soleh Soemirat dan Elvinaro Ardianto, Dasar-dasar Public Relations, Remaja Rosda Karya, 2008,
hal. 112
53
Ibid. hal. 112-113
54
M. Linggar Anggoro, Teori & Profesi Kehumasan, Bumi Aksara, 2008, hal. 62-67
41
Sedangkan
menurut
Mackiewicz,
definisi
citra
perusahaan/
organisasi/korporasi adalah suatu pandangan utuh terhadap keseluruhan
organisasi, rencana dan tujuannya.55
Citra dari sebuah perusahaan adalah fungsi dari bagaimana konstituen
melihat organisasi tersebut berdasarkan atas semua pesan yang organisasi itu
sampaikan melalui nama dan logo melalui presetasi diri termasuk ekspresiekspresi dari visi korporatnya.56
Definisi ini dapat disimpulkan oleh Penulis bahwa Citra Perusahaan
(Corporate image) adalah cara pandang suatu organisasi secara keseluruhan,
bukan hanya atas produk dan pelayanannya saja dan citra ini terbentuk dari
sejarah atau riwayat hidup perusahaan yang gemilang, keberhasilan dan
stabilitas di bidang keuangan, kualitas produk, keberhasilan ekspor, hubungan
industri yang baik, reputasi sebagai pencipta lapangan kerja, kesediaan
memikul tanggung jawab sosial citra perusahaan atau citra organisasi adalah
suatu pandangan yang utuh terhadap suatu organisasi secara keseluruhan.
Keberhasilan perusahaan menciptakan citranya tergantung dari beberapa
faktor (Sutojo 2004:39) yaitu citra perusahaan yang diciptakan berdasarkan
orientasi terhadap manfaat yang telah diberikan atau diterima, dan
sebagaimana diinginkan oleh kelompok khalayak sasarannya, manfaat yang
ditampilkan melalui kualitas atau kuantitas pelayanan cukup realistis dan
55
56
Sandra Oliver, Strategi Public Relations, Glora Aksara Pratama, 2007, hal. 50
Paul A. Argenti, Komunikasi korporat, Salemba Humanika, Edisi Kelima, 2010, hal. 93
42
mengesankan bagi khalayaknya, citra yang baik tersebut telah dipresentasikan
berdasarkan kemampuan perusahaan, kebanggaan, nilai-nilai kepercayaan,
kejujuran dan mudah dimengerti oleh publik sebagai khalayak sasaran, citra
yang baik muncul dari akibat penilaian atau tanggapan publik terhadap
berbagai aktivitas, empati, prestasi dan reputasi perusahaan selama melakukan
berbagai kegiatannya, citra baik perusahaan lainnya yang dapat timbul dari
aspek yang menampilkan keseriusannya dalam tanggung jawab sosial
perusahaan
yang
lebih
peduli
pada
kelestarian
lingkungan
hidup,
menggunakan teknologi ramah lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat sekitarnya.57
Menurut Silih Agung Wasesa, terdapat enam sudut dimensi untuk melihat
seberapa
jauh
upaya
Public
Relations
dalam
membentuk
citra
perusahaan/organisasi yaitu pertama dimensi organisasi, seberapa jauh
organisasi memiliki kesiapan pencitraan, bagaimana Public Relations
dibangun. Pada sudut ini dibahas mengenai fungsi organisasi, kedudukan
Public Relations yang jelas dalam organisasi termasuk posisinya apakah
sebagai Corporate Public Relations atau Marketing Public Relations dan
Department non Public Relations maksudnya menjadikan setiap orang dalam
organisasi sebagai Public Relations, kedua adalah dimensi budaya. Dimensi
budaya dalam Public Relations memegang peranan strategis dalam sukses
57
Rosady Ruslan, Manajemen Public Relations & Media Komunikasi, PT Rajagrafindo Persada, 2010,
hal. 325-326
43
atau tidaknya pencitraan organsasi karena dari dimensi inilah akan terlihat
bagaimana keluwesan Public Relations sebuah organisasi dalam mengelola
informasi untuk pencitraan, ketiga adalah citra perseorangan, citra ini
sebagai salah satu sumber kekuatan Public Relations dalam mendukung atau
membentuk citra sebuah organisasi, ke empat adalah dimensi fisik. Semakin
dekat persentuhan antara audiensi target dengan organisasi, maka akan
semakin kuat kepercayaan pada organisasi/perusahaan yang disentuh.
Dimensi ini akan membantu Public Relations untuk melihat seberapa sering
terjadi persentuhan audience dengan perusahaan ataupun organisasi terjadi.
Persentuhan langsung publik dengan sarana fisik organisasi merupakan salah
satu bentuk pengalaman (experiential models) yang tertancap kuat di dalam
benak. Pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan akan
tersimpan di benak publik. Diharapkan Public Relations dapat membuat
persentuhan yang positif, kelima adalah dimensi relationship dengan media
massa, keenam adalah dimensi refleksi. Maksudnya seberapa sering pihak
ketiga merefleksikan keberadaan organisasi kita adalah kenyataan yang harus
diterima sekalipun tidak jarang berkebalikan dengan kenyataan. Persepsi
memang sering berbeda dari realitas. Tetapi karena persepsi adalah realitas itu
sendiri maka kita harus berpatokan pada persepsi yang muncul dalam benak
masyarakat 58
58
Silih Agung Wasesa, Strategi Public Relations, Gramedia Pustaka Utama, 2010, hal 27-54
44
2.9.
Pentingnya citra (image) bagi Perusahaan
Citra suatu perusahaan/organisasi adalah sangat penting, di era teknologi
telah membuat orang sadar akan peran pemerintah serta bisnis raksasa dalam
masyarakat. Organisasi telah menjadi sensitif terhadap fakta bahwa citra
korporasi berjalan dalam dimensi yang berbeda bagi audiens yang juga
berbeda. Mackiewicz (1993) percaya bahwa citra korporasi yang kuat adalah
asset yang penting dalam era kompetisi tanpa batas. Sifat dari citra korporasi
itu sendiri, tetap merupakan sebuah bidang pertumbuhan dari produktivitas
Public
Relations
yang
dikombinasikan
dengan
perkembangan
ilmu
pengetahuan mengenai harapan stake holder, tetap merupakan fokus perhatian
yang popular. Bahkan perusahaan-perusahaan yang lebih suka bersikap low
profile juga menilai citra korporasi mereka dan arti pentingnya ketika
mempelajari persepsi stakeholder terhadap kebijakan, prosedur, dan perilaku
perusahaan mereka. Citra tidak hanya terdiri dari realitas tunggal yang
dipegang oleh individu, tetapi juga mereka yang memegang serangkaian
gambaran yang saling terhubung yang terdiri dari banyak unsur atau obyek
yang menyatu dan yang akan diinterpretasikan melalui bahasa.59
Sekumpulan citra yang kuat memiliki implikasi strategis bagi suatu
perusahaan. Perusahaan yang memiliki citra-citra yang kuat dan positif dapat
menarik dan mempertahankan bakat-bakat terbaik, konsumen dan mitra bisnis
yang loyal, yang semuanya memberikan kontribusi positif terhadap
59
Sandra Oliver, Strategi Public Relations, Glora aksara pratama, 2007, hal 50-52
45
pertumbuhan dan kesuksesan komersial. Citra-citra ini juga dapat membantu
perusahaan mengatasi krisis dengan lebih efektif. Perubahan lingkungan
bisnis, perkembangbiakan media dan informasi, permintaan transparansi yang
bertambah dan perhatian yang meningkatkan tanggung jawab sosial menjadi
alasan suatu organisasi/perusahaan untuk membangun dan mempertahankan
citra-citra yang kuat.60
Apabila
kepercayaan
publik
terhadap suatu
bisnis
dalam
suatu
organisasi/perusahaan rendah dan sebaliknya pengawasan publik terhadap
suatu bisnis dalam organisasi/perusahaan tinggi, jika tanpa diimbangi dengan
citra-citra yang positif, dapat dipastikan organisasi atau perusahaan tersebut
akan mengalami kehancuran. Dengan latar belakang inilah, organisasi
semakin menghargai pentingnya membangun dan mempertahankan citra-citra
yang kuat. Karena citra-citra ini dibentuk oleh persepsi-persepsi konstituen,
organisasi harus dapat mengkaji apakah citra ini telah sesuai dengan identitas
dan nilai-nilai perusahaan. Jika telah selaras, maka citra-citra yang kuat akan
muncul.
60
Paul A. Argenti, Komunikasi Korporat, Salemba Humanika, Edisi Kelima, 2010, hal 97
Download