gambaran lama hari rawat dalam terjadinya

advertisement
16
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
1. Luka Dekubitus
1.1. Pengertian Luka Dekubitus
Dekubitus berasal dari bahasa latin decumbree yang berarti merebahkan
diri yang didefinisikan sebagai suatu luka akibat posisi penderita yang tidak
berubah dalam jangka waktu lebih dari 6 jam (Sabandar, 2008). NPUAP (1989)
mengatakan dekubitus merupakan nekrosis jaringan lokal yang cenderung terjadi
ketika jaringan lunak tertekan di antara tonjolan tulang dengan permukaan
eksternal dalam jangka waktu lama. Terjadi gangguan mikrosirkulasi jaringan
lokal dan mengakibatkan hipoksia jaringan. Jaringan memperoleh oksigen dan
nutrisi serta membuang sisa metabolisme melalui darah. Beberapa faktor yang
menggangu proses ini akan mempengaruhi metabolisme sel dan fungsinya serta
kehidupan dari sel. Tekanan mempengaruhi metabolisme sel dengan cara
mengurangi atau menghilangkan sirkulasi jaringan yang menyebabkan iskemi
jaringan.
Iskemia jaringan adalah tidak adanya darah secara lokal atau penurunan
aliran darah akibat obstruksi mekanika (Pires & Muller, 1991). Penurunan aliran
darah menyebabkan daerah tubuh menjadi pucat. Pucat terlihat ketika adanya
warna kemerahan pada pasien berkulit terang. Pucat tidak terjadi pada pasien
berkulit pigmennya gelap (Potter & Perry, 2005).
Kerusakan jaringan terjadi ketika tekanan mengenai kapiler yang cukup
besar dan menutup kapiler tersebut. Tekanan pada kapiler merupakan tekanan
6
16
Universitas Sumatera Utara
17
yang dibutuhkan untuk menutup kapiler misalnya jika tekanan melebihi tekanan
kapiler normal yang berada pada rentang 16 sampai 32 mmHg (Maklebust, 1987).
Setelah periode iskemi, kulit yang terang mengalami satu atau dua
perubahan hiperemi. Hiperemia reaktif normal (kemerahan) merupakan efek
vasodilatasi lokal yang terlihat, respons tubuh normal terhadap kekurangan aliran
darah pada jaringan dibawahnya, area pucat setelah dilakukan tekanan dengan
ujung jari dan hiperemia reaktif akan menghilang dalam waktu kurang dari satu
jam. Kelainan hyperemia reaktif adalah vasodilatasi dan indurasi yang berlebihan
sebagai respons dari tekanan. Kulit terlihat berwarna merah muda terang hingga
merah. Indurasi adalah area edema lokal dibawah kulit. Kelainan hiperemia
reaktif dapat hilang dalam waktu antara lebih dari satu jam hingga dua minggu
setelah tekanan dihilangkan (Pires & Muller, 1991).
Ketika pasien berbaring atau duduk maka berat badan berpindah pada
penonjolan tulang. Semakin lama tekanan diberikan, semakin besar resiko
kerusakan kulit (Potter & Perry, 2005). Tekanan menyebabkan penurunan suplai
darah pada jaringan sehingga terjadi iskemi. Apabila tekanan dilepaskan akan
terdapat hiperemia reaktif, atau peningkatan aliran darah yang tiba-tiba ke daerah
tersebut. Hyperemia reaktif merupakan suatu respons konpensasi dan hanya
efektif jika tekanan di kulit dihilangkan sebelum terjadi nekrosis atau kerusakan.
1.2. Faktor Resiko Luka Dekubitus
Menurut Potter & Perry (2005), ada berbagai faktor yang menjadi
predisposisi terjadi luka dekubitus pada pasien yaitu :
a. Gangguan Input Sensorik
17
Universitas Sumatera Utara
18
Pasien yang mengalami perubahan persepsi sensorik terhadap nyeri dan
tekanan berisiko tinggi mengalami gangguan integritas kulit daripada pasien yang
sensansinya normal. Pasien yang mempunyai persepsi sensorik yang utuh
terhadap nyeri dan tekanan dapat mengetahui jika salah satu bagian tubuhnya
merasakan tekanan atau nyeri yang terlalu besar. Sehingga ketika pasien sadar dan
berorientasi, mereka dapat mengubah posisi atau meminta bantuan untuk
mengubah posisi.
b. Gangguan Fungsi Motorik
Pasien yang tidak mampu mengubah posisi secara mandiri berisiko
tinggi terjadi dekubitus. Pasien tersebut dapat merasakan tekanan tetapi, tidak
mampu mengubah posisi secara mandiri untuk menghilangkan tekanan tersebut.
Hal ini meningkatkan peluang terjadi dekubitus. Pada pasien yang mengalami
cedera medulla spinalis terdapat gangguan motorik dan sensorik. Angka kejadian
dekubitus pada pasien yang mengalami cedera medula spinalis diperkirakan
sebesar 85%, dan komplikasi luka ataupun berkaitan dengan luka merupakan
penyebab kematian pada 8% populasi ini (Reuler & Cooney, 1981).
c. Perubahan Tingkat Kesadaran
Pasien bingung, disorientasi, atau mengalami perubahan tingkat
kesadaran tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari luka dekubitus. Pasien
bingung atau disorientasi mungkin dapat merasakan tekanan, tetapi tidak mampu
memahami bagaimana menghilangkan tekanan itu. Pasien koma tidak dapat
merasakan tekanan dan tidak mampu mengubah ke posisi yang lebih baik. Selain
itu pada pasien yang mengalami perubahan tingkat kesadaran lebih mudah
18
Universitas Sumatera Utara
19
menjadi bingung. Beberapa contoh adalah pada pasien yang berada di ruang
operasi dan untuk perawatan intensif dengan pemberian sedasi.
d. Gips, Traksi, Alat Ortotik, dan Peralatan Lain
Gips dan traksi mengurangi mobilisasi pasien dan ekstremitasnya. Pasien
yang menggunakan gips beresiko tinggi terjadi dekubitus karena adanya gaya
friksi eksternal mekanik dari permukaan gips yang bergesek pada kulit. Gaya
mekanik kedua adalah tekanan yang dikeluarkan gips pada kulit jika gips terlalu
ketat dikeringkan atau jika ekstremitasnya bengkak.
Peralatan ortotik seperti penyangga leher digunakan pada pengobatan
pasien yang mengalami fraktur spinal servikal bagian atas. Luka dekubitus
merupakan potensi komplikasi dari alat penyangga leher ini. Sebuah studi yang
dilakukan Plaiser et. al (1994) mengukur jumlah tekanan pada tulang tengkorak
dan wajah yang diberikan oleh empat jenis penyangga leher yang beda dengan
subjek berada posisi telentang dan upright (bagian atas lebih tinggi). Hasilnya
menunjukkan bahwa pada beberapa penyangga leher, terdapat tekanan yang
menutup kapiler. Perawat perlu waspada terhadap resiko kerusakan kulit pada
klien yang menggunakan penyangga leher ini. Perawat harus mengkaji kulit yang
berada di bawah penyangga leher, alat penopang (braces), atau alat ortotik lain
untuk mengobservasi tanda-tanda kerusakan kulit.
1.3. Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Luka Dekubitus
Gangguan intregitas kulit yang terjadi pada dekubitus merupakan akibat
tekanan. Tetapi, ada faktor-faktor tambahan yang dapat meningkatkan resiko
terjadi luka dekubitus yang lebih lanjut pada pasien. Menurut Potter & Perry
(2005) ada 10 faktor yang mempengaruhi pembentukan luka dekubitus di
19
Universitas Sumatera Utara
20
antaranya gaya gesek, friksi, kelembaban, nutrisi buruk, anemia, infeksi, demam,
gangguan sirkulasi perifer, obsitas, kekeksia, dan usia.
a. Gaya Gesek
Gaya gesek merupakan tekanan yang diberikan pada kulit dengan arah
pararel terhadap permukaan tubuh (AHCPR, 1994). Gaya ini terjadi saat pasien
bergerak atau memperbaiki posisi tubuhnya di atas saat tempat tidur dengan cara
didorong atau digeser ke bawah saat berada pada posisi fowler yang tinggi. Jika
terdapat gaya gesek maka kulit dan lapisan subkutan menempel pada permukaan
tempat tidur, dan lapisan otot serta tulang bergeser sesuai dengan arah gerakan
tubuh. Tulang pasien bergeser ke arah kulit dan memberi gaya pada kulit
(Maklebust & sieggren, 1991). Kapiler jaringan yang berada di bawahnya tertekan
dan terbeban oleh tekanan tersebut. Akibatnya, tak lama setelah itu akan terjadi
gangguan mikrosirkulasi lokal kemudian menyebabkan hipoksi, perdarahan dan
nekrosis pada lapisan jaringan. Selain itu, terdapat penurunan aliran darah kapiler
akibat tekanan eksternal pada kulit. Lemak subkutan lebih rentan terhadap efek
gesek dan hasil tekanan dari struktur tulang yang berada di bawahnya. Akhirnya
pada kulit akan terbuka sebuah saluran sebagai ruang drainase dari area nekrotik.
Perlu diingat bahwa cedera ini melibatkan lapisan jaringan bagian dalam dan
paling sering dimulai dari rangka tulang yang berada di bawah jaringan rusak.
Dengan mempertahankan tinggi bagian kepala tempat tidur dibawah 30 derajat
dapat menghindarkan cedera yang diakibatkan gaya gesek (AHCPR, 1994).
Bryant et al (1992) mengatakan juga bahwa gaya gesek tidak mungkin tanpa
disertai friksi.
20
Universitas Sumatera Utara
21
b. Friksi
Friksi merupakan gaya mekanika yang diberikan saat kulit digeser pada
permukaan kasar seperti alat tenun tempat tidur (AHCPR, 1994). Tidak seperti
cedera akibat gaya gesek, cedera akibat friksi mempengaruhi epidermis atau
lapisan kulit bagian atas, yang terkelupas ketika pasien mengubah posisinya.
Seringkali terlihat cedera abrasi pada siku atau tumit (Wysocki & Bryant, 1992).
Karena cara terjadi luka seperti ini, maka perawat sering menyebut luka bakar
seprei “sheet burns” (Bryant et al, 1992). Cedera ini dapat terjadi pada pasien
gelisah, pasien yang gerakannya tidak terkontrol, seperti kondis kejang, dan
pasien yang kulitnya diseret daripada diangkat dari permukaan tempat tidur
selama perubahan posisi (Maklebust & Sieggreen, 1991). Tindakan keperawatan
bertujuan mencegah cedera friksi antara lain sebagai berikut: memindahkan klien
secara tepat dengan menggunakan teknik mengangkat yang benar, meletakkan
benda-benda di bawah siku dan tumit seperti pelindung dari kulit domba, penutup
kulit, dan membran transparan atau balutan hidrokoloid untuk melindungi kulit,
dan mengunakan pelembab untuk mempertahankan hidrasi epidermis.
c. Kelembaban
Adanya kelembaban pada kulit dan durasinya meningkatkan terjadinya
kerusakan integritas kulit. Akibat kelembaban terjadi peningkatkan resiko
pembentukan dekubitus sebanyak lima kali lipat (Reuler & Cooney, 1981).
Kelembaban menurunkan resistensi kulit terhadap faktor fisik lain seperti tekanan
atau gaya gesek.
Pasien
immobilisasi
yang
tidak
mampu
memenuhi
kebutuhan
higienisnya sendiri, tergantung perawatan untuk menjaga kulit pasien tetap kering
21
Universitas Sumatera Utara
22
dan utuh. Untuk itu perawat harus memasukkan higienis dalam rencana
perawatan. Kelembaban kulit dapat berasal dari drainase luka, keringat,
kondensasi dari sistem yang mengalirkan oksigen yang dilembabkan, muntah, dan
inkontinensia. Beberapa cairan tubuh seperti urine, feses, dan drainase luka
menyebabkan erosi kulit dan meningkatkan resiko terjadi luka akibat tekanan
pada pasien.
d. Nutrisi Buruk
Pasien kurang nutrisi sering mengalami atrofi otot dan penurunan
jaringan subkutan yang serius. Akibat perubahan ini maka jaringan yang berfungsi
sebagai bantalan diantara kulit dan tulang menjadi semakin sedikit. Oleh karena
itu efek tekanan meningkat pada jaringan tersebut. Malnutrisi merupakan
penyebab kedua hanya pada tekanan yang berlebihan dalam etiologi, patogenesis,
dekubitus yang tidak sembuh (Hanan & Escheele, 1991). Pasien yang mengalami
malnutrisi mengalami defisiensi protein dan keseimbangan nitrogen negatif dan
tidak adekuat asupan vitamin C (Shekleton & Litwack, 1991). Status nutrisi buruk
dapat diabaikan jika pasien mempunyai berat badan sama dengan atau lebih dari
berat badan ideal. Pasien dengan status nutrisi buruk biasa mengalami
hipoalbuminenia (level albumin serum dibawah 3 g/100 ml) dan anemia (Natlo,
1983; Steinberg 1990).
Albumin adalah ukuran variabel yang biasa digunakan untuk
mengevaluasi status protein pasien. Pasien yang level albumin serumnya dibawah
3 g/100 ml lebih berisiko tinggi. Selain itu, level albumin rendah dihubungkan
dengan lambatnya penyembuhan luka (Kaminski et al, 1989; Hanan & Scheele,
1991). Walapun kadar albumin serum kurang tepat memperlihatkan perubahan
22
Universitas Sumatera Utara
23
protein visceral, tapi albumin merupakan prediktor malnutrisi yang terbaik untuk
semua kelompok manusia (Hanan & Scheele, 1991).
Level total protein juga mempunyai korelasi dengan luka dekubitus.
Level total protein dibawah 5,4 g/100 ml menurunkan tekanan osmotik koloid,
yang akan menyebabkan edema interstisial dan penurunan oksigen ke jaringan
(Hanan & Scheele, 1991). Edema akan menurunkan toleransi kulit dan jaringan
yang berada dibawahnya terhadap tekanan, friksi dan gaya gesek. Selain itu,
penurunan level oksigen meningkatkan kecepatan iskemi yang menyebabkan
cedera jaringan.
Nutrisi buruk juga mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit.
Pada pasien yang mengalami kehilangan protein berat, hipoalbuminemia
menyebabkan perpindahan volume cairan ekstra sel kedalam jaringan sehingga
terjadi edema. Edema dapat meningkatkan risiko terjadi dekubitus di jaringan.
Suplai darah pada suplai jaringan edema menurun dan produk sisa tetap tinggal
karena terdapatnya perubahan tekanan pada sirkulasi dan dasar kapiler (Shkleton
& Litwalk,1991).
e. Anemia
Pasien anemia berisiko terjadi dekubitus. Penurunan level hemoglobin
mengurangi kapasitas darah membawa nutrisi dan oksigen serta mengurangi
jumlah oksigen yang tersedia untuk jaringan. Anemia juga mengganggu
metabolisme sel dan menggangu penyembuhan luka.
f. Kakesia
Kakesia merupakan penyakit kesehatan dan malnutrisi umum, ditandai
kelemahan dan kurus. Kakeksia biasa berhubungan dengan penyakit berat seperti
23
Universitas Sumatera Utara
24
kanker dan penyakit kardiopulmonal tahap akhir. Kondisi ini meningkatkan resiko
luka dekubitus pada pasien. Pada dasarnya pasien kakeksia mengalami kehilangan
jaringan adipose yang berguna untuk melindungi tonjolan tulang dari tekanan.
g. Obesitas
Obesitas dapat mengurangi dekubitus. Jaringan adipose pada jumlah
kecil berguna sebagai bantalan tonjolan tulang sehingga melindungi kulit dari
tekanan. Pada obesitas sedang ke berat, jaringan adipose memperoleh
vaskularisasi yang buruk, sehingga jaringan adipose dan jaringan lain yang berada
dibawahnya semakin rentan mengalami kerusakan akibat iskemi.
h. Demam
Infeksi disebabkan adanya patogen didalam tubuh. Pasien infeksi biasa
mengalami demam. Infeksi dan demam meningkatkan kebutuhan metabolik
tubuh, membuat jaringan yang telah hipoksia (penurunan oksigen) semakin rentan
mengalami cedera akibat iskemi (Skheleton & Litwack,1991). Selain itu demam
menyebabkan diaporesis (keringatan) dan meningkatkan kelembaban kulit, yang
selanjutnya yang menjadi predisposisi kerusakan kulit pasien.
i. Gangguan Sirkulasi Perifer
Penurunan sirkulasi menyebabkan jaringan hipoksia dan lebih rentan
mengalami kerusakan iskemia. Ganguan sirkulasi pada pasien yang menderita
penyakit vaskuler faskuler, pasien syok, atau yang mendapatkan pengobatan
sejenis vasopresor.
j. Usia
Studi yang dilakukan oleh Kane et al (1989) mencatat adanya luka
dekubitus yang terbesar pada penduduk berusia lebih dari 75 tahun. Lansia
24
Universitas Sumatera Utara
25
mempunyai potensi besar untuk mengalami dekubitus Karena barkaitan dengan
perubahan kulit akibat bertambahnya usia, kecedrungan lansia yang lebih sering
berbaring pada satu posisi oleh karena itu immobilisasi akan memperbesar resiko
terjadinya luka dekubitus pada lansia. Immobilisasi berlangsung lama hampir
pasti dapat menyebabkan dekubitus (Roah, 2000). Menurut Pranaka (1999), ada
tiga faktor penyebab dekubitus pada lansia yaitu:
1. Faktor kondisi fisik lansia itu sendiri (perubahan kulit, status gizi, penyakitpenyakit neurologik, pembuluh darah dan keadaan hidrasi atau cairan tubuh).
2. Faktor perawatan yang diberikan oleh petugas kesehatan.
3. Faktor kebersihan tempat tidur, alat tenun yang kusut dan kotor atau peralatan
medik yang menyebabkan lansia terfiksasi pada suatu sikap tertentu.
↓ Mobilitas
↓ Aktivitas
Tekanan
↓ Persepsi sensori
Faktor ekstrinsik:
↑ Kelembapan
↑ Gesekan
↑ Tenaga yang merobek
Faktor intrinsik:
↑ Nutrisi
↑ Umur
↑ Tekanan arteriolar
Perkembangan
luka dekubitus
Toleransi jaringan
Faktor hipotesis yang lain:
Stres emosional
Merokok
Temperatur kulit
Skema 1. Etiologi Luka Dekubitus
25
Universitas Sumatera Utara
26
1.4. Patogenesis Luka Dekubitus
Tiga elemen yang menjadi dasar terjadi dekubitus yaitu:
1. Intensitas tekanan dan tekanan yang menutup kapiler (Landis, 1930)
2. Durasi dan besarnya tekanan (Koziak, 1959)
3. Toleransi jaringan (Husain, 1953)
Dekubitus terjadi sebagai hasil hubungan antara waktu dengan tekanan
(Stortts, 1988). Semakin besar tekanan dan durasinya, maka semakin besar pula
insiden terbentuknya luka.
Kulit dan jaringan subkutan dapat mentoleransi beberapa tekanan. Tapi,
pada tekanan eksternal terbesar daripada tekanan dasar kapiler akan menurunkan
atau menghilangkan aliran darah ke dalam jaringan sekitarnya. Jaringan ini
menjadi hipoksia sehingga terjadi cedera iskemi. Jika tekanan ini lebih besar dari
32 mmHg dan tidak dihilangkan dari tempat yang mengalami hipoksia, maka
pembuluh darah kolaps dan trombosis (maklebust, 1987). Jika tekanan
dihilangkan sebelum titik kritis maka sirkulasi pada jaringan tersebut akan pulih
kembali melalui mekanisme fisiologis hiperemia reaktif, karena kulit mempunyai
kemampuan yang lebih besar untuk mentoleransi iskemi dari otot, maka dekubitus
dimulai di tulang dengan iskemi otot yang berhubungan dengan tekanan yang
akhirnya melebar ke epidermis (maklebust, 1995).
Pembentukan luka dekubitus juga berhubungan dengan adanya gaya
gesek yang terjadi saat menaikkan posisi klien di atas tempat tidur. Area sakral
dan tumit merupakan area yang paling rentan (Maklebust, 1987). Efek tekanan
juga dapat ditingkatkan oleh distribusi berat badan yang tidak merata. Seseorang
mendapatkan tekanan konstan pada tubuh dari permukaan tempatnya berada
26
Universitas Sumatera Utara
27
karena adanya gravitasi (Berecek, 1975). Jika tekanan tidak terdistribusi secara
merata pada tubuh maka gradien tekanan jaringan yang mendapatkan tekanan
akan meningkat dan metabolisme sel kulit di titik tekanan mengalami gangguan.
1.5. Klasifikasi Luka Dekubitus
Salah satu cara yang paling dini untuk mengklasifikasikan dekubitus
adalah dengan menggunakan sistem nilai atau tahapan. Sistem ini pertama kali
dikemukakan oleh Shea (1975) sebagai suatu cara untuk memperoleh metode jelas
dan konsisten untuk menggambarkan dan mengklasifikasikan luka dekubitus.
Sistem tahapan luka dekubitus berdasarkan gambaran kedalaman jaringan yang
rusak (Maklebust, 1995). Luka yang tertutup dengan jaringan neukrotik seperti
eschar tidak dapat dimasukkan dalam tahapan hingga jaringan tersebut dibuang
dan kedalaman luka dekubitus dapat di observasi. Peralatan ortopedi dan braces
dapat mempersulit pengkajian dilakukan (AHCPR, 1994).
Ada beberapa sistem tahapan yang berbeda digunakan klinik (AHCPR,
1992). Penting dicatat bahwa untuk setiap sistem tahapan ini menggunakan
defenisi yang berbeda. Oleh karena itu luka dekubitus yang sama dapat
mempunyai nomor tahapan yang berbeda, tergantung sistem tahapan yang
digunakan.
Tahapan dibawah ini berasal dari NPUAP (1992), dan tahapan ini juga
digunakan dalam Pedoman Pengobatan AHCPR (1994). Pada konferensi konsesus
NPUAP (1995) mengubah defenisi untuk tahap I yang memperlihatkan
karasteristik pengkajian pasien berulit gelap. Berbagai indikator selain warna
kulit, seperti suhu, adanya pori-pori “kulit jeruk”, kekakuan atau ketegangan,
kekerasan, dan data laboratorium, dapat membantu mengkaji pasien berkulit gelap
27
Universitas Sumatera Utara
28
(Maklebust & Seggreen, 1991). Bennett (1995) menyatakan saat mengkaji pasien
berkulit gelap, memerlukan pencahayaan yang sesuai untuk mengkaji kulit secara
akurat. Dianjurkan berupa cahaya alam atau halogen. Hal ini mencegah muncul
warna biru yang dihasilkan dari sumber lampu pijar pada kulit berpigmen gelap,
yang dapat mengganggu pengkajian yang akurat. Menurut NPUAP (1995) ada
perbandingan luka dekubitus derajat I sampai derajat IV yaitu :
I. Eritema tidak pucat pada kulit utuh, lesi luka kulit yang diperbesar. Kulit tidak
berwarna, hangat, atau keras juga dapat menjadi indikator.
II. Hilangnya sebagian ketebalan kulit meliputi epidermis dan atau dermis. Luka
superficial dan secara klinis terlihat seperti abrasi, lecet, atau lubang yang
dangkal.
III. Hilangnya seluruh ketebalan kulit meliputi jaringan subkutan atau nekrotik
yang mungkin akan melebar ke bawah tapi tidak melampaui fascia yang
berada di bawahnya. Luka secara klinis terlihat seperti lubang yang dalam
dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.
IV. Hilangnya seluruh ketebalan kulit disertai destruksi ekstensif; nekrosis
jaringan; atau kerusakan otot, tulang, atau struktur penyangga misalnya
kerusakan jaringan epidermis, dermis, subkutaneus, otot, tulang dan kapsul
sendi.
28
Universitas Sumatera Utara
29
Gambar 1. Derajat Luka Dekubitus menurut NPUAP (1995)
Derajat I
Derajat II
Derajat III
Derajat IV
Dekubitus tidak berkembang dari derajat I sampai ke derajat IV
(NPUAP, 1995). Maklebust (1995) peringatan klinik untuk di ingat walaupun
sistem tahapan menggunakan urutan nomor untuk menggambarkan dekubitus,
tetapi tidak berarti ada perkembangan tingkat keperahan luka dekubitus.
Luka nekrotik diklasifikasikan dengan luka hitam, luka disertai eksudat
dan debris berserat kuning diklasifikasikan dengan luka kuning, dan luka pada
fase penyembuhan aktif dan bersih disertai dengan granulasi berwarna merah
muda hingga merah dan jaringan epitel diklasfikasikan dengan luka merah. Luka
dapat memiliki warna yang bercampur contohnya 25% kuning dan 75% merah
(Krasner, 1995).
1.6. Komplikasi Luka Dekubitus
Komplikasi sering terjadi pada luka dekubitus derajat III dan IV,
walaupun dapat juga terjadi pada luka yang superfisial. Menurut Sabandar (2008)
komplikasi yang dapat terjadi antara lain:
29
Universitas Sumatera Utara
30
a. Infeksi, umumnya bersifat multibakterial baik yang aerobik maupun
anaerobik.
b. Keterlibatan jaringan tulang dan sendi seperti periostitis, osteitis,
osteomielitis dan arthritis septik.
c. Septikemia.
d. Anemia.
e. Hipoalbuminemia.
f. Kematian.
1.7. Tempat Terjadinya Luka Dekubitus
Beberapa tempat yang paling sering terjadi dekubitus adalah sakrum,
tumit, siku, maleolus lateral, trokanter besar, dan tuberostis iskial (Meehan, 1994).
Menurut Bouwhuizen (1986) menyebutkan daerah tubuh yang sering terkena luka
dekubitus adalah :
a. Pada penderita pada posisi terlentang: pada daerah belakang kepala,
daerah tulang belikat, daerah bokong dan tumit.
b. Pada penderita dengan posisi miring: daerah pinggir kepala (terutama daun
telinga), bahu, siku, daerah pangkal paha, kulit pergelangan kaki dan
bagian atas jari-jari kaki.
c. Pada penderita dengan posisi tengkurap: dahi, lengan atas, tulang iga, dan
lutut.
1.8. Pengkajian Luka Dekubitus
Data dasar pengkajian yang terus-menerus memberi informasi penting
integritas kulit pasien dan peningkatan risiko terjadi dekubitus. Pengkajian
dekubitus tidak terlepas pada kulit karena dekubitus mempunyai banyak faktor
30
Universitas Sumatera Utara
31
etiologi. Oleh karena itu, pengkajian awal pasien luka dekubitus memiliki
beberapa dimensi.
a. Ukuran Perkiraan
Pada saat seseorang masuk ke rumah sakit perawatan akut dan
rehabilitasi, rumah perawatan, program perawatan rumah, fasilitas perawatan lain
maka pasien harus dikaji risiko terjadi luka dekubitus (AHCPR, 1992). Pengkajian
resiko luka dekubitus harus dilakukan secara sistematis (NPUAP, 1989) seperti
Tabel 1. Pengkajian Resiko Luka Dekubitus
No
1.
Langkah Pengkajian
Keterangan
Identifikasi risiko terjadi pada pasien:
a. Paralisis atau immobilisasi yang disebabkan oleh alat-alat
yang membatasi gerakan pasien
b. Kehilangan sensorik
c. Gangguan sirkulasi
d. Penurunan tingkat kesadaran, sedasi, atau anastesi
e. Gaya gesek, friksi
f. Kelembaban: inkontinensia, keringat, drainase luka dan
muntah.
g. Malnutrisi
h. Anemia
i. Infeksi
j. Obesitas
k. Kakeksia
l. Hidrasi: edema atau dehidrasi
31
Universitas Sumatera Utara
32
m. Lanjut usia
n. Adanya dekubitus
2.
Kaji kondisi kulit di sekitar daerah yang mengalami
penekanan pada area sebagai berikut:
a. Hiperemia reaktif normal
b. Warna pucat
c. Indurasi
d. Pucat dan belang-belang
e. Hilangnya lapisan kulit permukaan
f. Borok, lecet, atau bintil-bintik
3.
Kaji daerah tubuh pasien yang berpotensi mengalami
tekanan:
a. Lubang hidung
b. Lidah, bibir
c. Tempat pemasangan intervena
d. Selang drainase
e. Kateter foley
4.
Observasi posisi yang lebih disukai pasien saat berada di atas
tempat tidur atau kursi.
5.
Observasi
mobilisasi
dan
kemampuan
pasien
untuk
melakukan dan membantu dalam mengubah posisi.
6.
Tentukan nilai resiko:
a. Skala Norton
b. Skala Gosnell
32
Universitas Sumatera Utara
33
c. Skala Barden
7.
Pantau lamanya waktu daerah kemerahan
8.
Dapatkan data pengkajian nutrisi yang meliputi jumlah
serum albumin, jumlah protein total, jumlah hemoglobin,
dan persentasi berat badan ideal.
9.
Kaji pemahaman pasien dan keluarga tentang resiko
dekubitus.
Keuntungan dari instrumen perkiraan adalah meningkatkan deteksi dini
perawat pada pasien berisiko maka intervensi yang tepat diberikan untuk
mempertahankan intergritas kulit. Pengkajian ulang untuk resiko luka dekubitus
harus dilakukan secara teratur (AHCPR, 1992). Sangat dianjurkan menggunakan
alat pengkajian yang tervalidasi untuk jenis populasi pasien tertentu.
b. Kulit
Perawat harus mengkaji kulit terus-menerus dari tanda-tanda munculnya
luka pada kulit klien. Klien gangguan neurology, berpenyakit kronik dalam waktu
lama, penurunan status mental, dan dirawat di ruang ICU, berpenyakit enkologi,
terminal, dan orthopedi berpotensi tinggi terjadi luka dekubitus.
Pengkajian untuk indikator tekanan jaringan meliputi inspeksi visual dan
taktil pada kulit (Pires & Muller, 1991). Pengkajian dasar dilakukan untuk
menentukan karasterstik kulit normal klien dan setiap area yang potensial atau
aktual mengalami kerusakan. Perawat memberi perhatian khusus pada daerah
dibawah gips, traksi, balutan, tongkat penopang, penyangga leher, atau peralatan
33
Universitas Sumatera Utara
34
orthopedi lain. Jumlah pemerikasaan tekanan tergantung jadwal pemakaian alat
respons kulit terhadap tekanan eksternal.
Ketika hiperemia ada maka perawat harus mencatat lokasi, ukuran, dan
warna lalu mengkaji ulang area tersebut setelah satu jam. Apabila terlihat kelainan
hiperemia reaktif maka perawat dapat menandai area tersebut agar pengkajian
ulang menjadi lebih mudah. Tanda peringatan dini lain yang menunjukkan
kerusakan jaringan akibat tekanan adalah lecet atau bintil-bintil pada area yang
menanggung beban berat tubuh dan mungkin disertai hiperemia. Pires & Muller
(1991) melaporkan bahwa tanda dini akibat tekanan yang sering diabaikan pada
klien yang tidak mengalami trauma adalah borok di area yang menanggung beban
berat badan. Semua tanda-tanda ini merupakan indikator dini gangguan integritas
kulit, tapi kerusakan kulit yang berada di bawahnya mungkin menjadi lebih
progesif. Pengkajian taktil memungkin perawat menggunakan teknik palpasi
untuk memperoleh data lebih lanjut mengenai indurasi dan kerusakan kulit
maupun jaringan yang di bawahnya.
Perawat
melakukan
palpasi
pada
jaringan
disekitarnya
untuk
mengobservasi area hiperemi, mengkaji adanya pucat dan kembali ke warna kulit
normal pada klien berkulit terang. Selain itu, perawat mempalpasi indurasi,
mencatat
indurasi di sekitar area yang cedera dalam ukuran millimeter atau
sentimeter. Perawat juga mencatat perubahan suhu di sekitar kulit dan jaringan
(Pires & Muller, 1991).
Perawat sering menginspeksi secara visual dan taktil pada area tubuh
yang paling sering berisiko luka dekubitus. Jika pasien berbaring di tempat tidur
atau duduk di atas kursi maka berat badan terletak pada tonjolan tulang tertentu.
34
Universitas Sumatera Utara
35
Permukaan tubuh yang paling terbebani berat badan ataupun tekanan merupakan
area berisiko tinggi terjadi dekubitus (Helt, 1991).
c. Mobilisasi
Pengkajian meliputi pendokumentasikan tingkat mobilisasi pada
integritas kulit. Pengkajian mobilisasi juga harus memperoleh data tentang
kualitas tonus dan kekuatan otot. Klien yang mempunyai rentang gerak yang
adekuat untuk bergerak secara mandiri ke bentuk posisi yang lebih terlindungi.
Mobilisasi harus dikaji sebagai bagian dari data dasar. Jika pasien
memiliki tingkat kemandirian mobilisasi maka perawat harus mendorong pasien
agar sering mengubah posisinya dan melakukan tindakan untuk menghilangkan
tekanan yang dialaminya. Frekuensi perubahan posisi berdasarkan pengkajian
kulit yang terus menerus dan dianggap sebagai perubahan data.
d. Status Nutrisi
Pengkajian nutrisi klien harus menjadi bagian intregral dalam pengkajian
data awal pada pasien berisiko gangguan integritas kulit (Breslow & Bergstrom,
1994; Water et al, 1994; Finucance, 1995;). Pasien malnutrisi atau kakeksia dan
berat badan kurang dari 90% berat badan ideal atau pasien yang berat badan lebih
dari 110% berat badan ideal lebih berisiko terjadi luka dekubitus (Hanan &
Scheele, 1991). Walapun persentase berat badan bukan indikator yang baik, tapi
jika ukuran ini digunakan bersama-sama dengan jumlah serum albumin atau
protein total yang rendah, maka persentase berat badan ideal pasien dapat
mempengaruhi timbulnya luka dekubitus.
35
Universitas Sumatera Utara
36
e. Nyeri
Sampai saat ini, hanya sedikit tulisan atau penelitian yang dilakukan
tentang nyeri dan luka dekubitus. AHCPR (1994) telah merekomendasi
pengkajian dan manajemen nyeri termasuk dalam perawatan pasien luka
dekubitus. Selain itu AHCPR (1994) menegaskan perlunya penelitian tentang
nyeri pada pasien luka dekubitus. Salah satu studi yang pertama kali menghitung
pengalaman nyeri pasien yang dirawat di rumah sakit karena luka dekubitus telah
dilakukan oleh Dallam et al (1995). Pada studi ini 59,1% pasien melaporkan
adanya nyeri dengan menggunakan skala analog visual, 68,2% melaporkan
adanya nyeri akibat luka dekubitus dengan menggunakan skala urutan nyeri faces.
Berlawanan dengan banyaknya nyeri yang dilaporkan, obat-obatan nyeri yang
telah digunakan klien sebesar 2,3%. Beberapa implikasi praktik yang disarankan
para peneneliti (Dallam et al, 1995) adalah menambah evaluasi tingkat nyeri
pasien ke dalam pengkajian dekubitus, yaitu pengontrolan nyeri memerlukan
pengkajian ulang yang teratur untuk mengevaluasi efektifitas, dan bahwa program
pendidikan diperlukan untuk meningkatkan sensitifitas pemberi pelayanan
kesehatan terhadap nyeri akibat luka dekubitus.
2. Immobilisasi
2.1. Pengertian Immobilisasi
Konsep immobilisasi merupakan hal relatif dalam arti tidak saja
kehilangan pergerakan total tetapi juga terjadi penurunan aktivitas dari normalnya.
Pada keadaan immobilisasi, pasien tidak dapat menghindari pembatasan gerakan
pada setiap aspek kehidupan. Jadi, immobilisasi adalah ketidakmampuan untuk
36
Universitas Sumatera Utara
37
bergerak bebas yang disebabkan oleh kondisi dimana gerakan terganggu atau
dibatasi secara terapeutik (Potter & Perry, 2006). Menurut Garrison (2004)
keadaan immobilisasi adalah suatu pembatasan gerak atau keterbatasan fisik dari
anggota badan dan tubuh itu sendiri dalam berputar, duduk dan berjalan, hal ini
salah satunya disebabkan oleh berada pada posisi tetap dengan gravitasi berkurang
seperti saat duduk atau berbaring.
Dalam hubunganya dengan perawatan pasien, maka immobilisasi adalah
keadaan dimana pasien berbaring lama di tempat tidur, tidak dapat bergerak
secara
bebas karena kondisi
yang
mengganggu
pergerakan (aktifitas).
Immobilisasi pada pasien tersebut dapat disebabkan oleh penyakit yang
dideritanya misalnya terjadi trauma fraktur pada ekstermitas atau menderita
kecacatan (Asmadi, 2008).
Immobilisasi merupakan salah satu faktor dalam perkembangan luka
dekubitus, yang diakibatkan oleh paralisis, anestesia, nyeri, maupun melalui
sedasi (Morison, 2003). Faktor eksaserbasi lainnya termasuk inkontinensia,
malnutrisi, dan hilangnya fungsi sensoris akibat paraplegia atau hemiparesis.
Terdapat hubungan yang kuat anatara inkontinesia dan luka dekubitus (Exton &
Smith, 1987). Urine dapat menyebabkan maserasi dan ekskoriasi kulit, serta abrasi
superfisial akibat gesekan menjadi jauh lebih mudah terjadi. Malnutrisi tidak
secara langsung menyebabkan luka dekubitus, tetapi malnutrisi merupakan faktor
eksaserbasi yang sangat penting di dalam perkembangan dekubitus (Agarwal et al,
1985).
Menurut Aziz (2006), secara umum kondisi yang di hadapi pasien, ada
beberapa macam keadaan immobilitas, antara lain :
37
Universitas Sumatera Utara
38
1. Immobilitas fisik, merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan
tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan, seperti pada
pasien dengan hemiplegia yang tidak mampu mempertahankan tekanan di
daerah paralysis sehingga tidak dapat mengubah posisi tubuhnya untuk
mengurangi tekanan.
2. Immobilisasi intelektual, merupakan keadaan ketika seseorang mengalami
keterbatasan daya pikir, seperti pada pasien yang mengalami kerusakan otak
akibat suatu penyakit.
3. Immobilisasi emosional, keadan ketika seseorang mengalami pembatasan
secara emosional karena adanya perubahan
secara tiba-tiba dalam
menyesuaikan diri. Sebagai contoh, keadan stress berat dapat disebabkan
karena bedah amputasi ketika seseorang mengalami sebagian anggota
tubuhnya, atau kehilangan sesuatu yang paling dicintai.
4. Immobilisasi sosial, keadaan individu yang mengalami hambatan dalam
melakukan interaksi sosial karena keadaan penyakitnya sehingga dapat
mempengaruhi perannya dalam kehidupan sosial.
2.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Immobilisasi
Menurut Tarwoto & Wartonah (2004), faktor-faktor yang mempengaruhi
kurangnya pergerakan atau immobilisasi adalah sebagai berikut :
a. Gangguan Muskuloskletal
Gangguan
pada muskuloskletal biasanya dipengaruhi oleh beberapa
keadaan tentu yang mengganggu pergerakan tubuh seseorang, misalnya
osteoporosis, atropi, kontraktur, kekakuan sendi dan sakit sendi.
38
Universitas Sumatera Utara
39
b. Gangguan Kardiovaskuler
Beberapa kasus kardiovaskuler yang dapat berpengaruh terhadap
mobilitas fisik seseorang antara lain: postural hipotensi, vasodilatasi, dan
peningkatan valsalva maneuver.
c. Gangguan Sistem Pernafasan
Beberapa keadaan gangguan respirasi yang dapat berpengaruh terhadap
mobilitas seseorang antara lain penurunan gerak pernafasan, bertambahnya sekresi
paru, atelektasis, dan hipostatis pneumonia.
Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi menurut Kozier (1995), antara lain:
a. Gaya Hidup
Gaya hidup seseorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya.
Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan diikuti oleh perilaku yang dapat
meningkatkan kesehatannya. Demikian halnya dengan pengetahuan kesehatan
tentang mobilitas seseorang akan senantiasa melakukan mobilisasi dengan cara
yang sehat.
b. Proses Penyakit dan Injury
Adanya penyakit tertentu yang diderita seseorang akan mempengaruhi
mobilitasnya, misalnya seorang yang patah tulang akan kesulitan untuk mobilisasi
secara bebas. Demikian pula orang yang baru menjalani operasi, karena adanya
rasa sakit yang menjadi alasan mereka cenderung untuk bergerak lebih lambat.
Ada kalanya pasien harus istirahat di tempat tidur karena menderita penyakit
tertentu.
39
Universitas Sumatera Utara
40
c. Kebudayaan
Kebudayaan dapat mempengaruhi pola dan sikap dalam melakukan
aktifitas, misalnya pasien setelah operasi dilarang bergerak karena kepercayaan
kalau banyak bergerak nanti luka atau jahitan tidak jadi.
d. Tingkat Energi
Seseorang melakukan mobilisasi jelas membutuhkan energi atau tenaga.
Orang yang sedang sakit akan berbeda mobilitasnya dibandingkan dengan orang
dalam keadaan sehat.
e. Usia dan Status Perkembangan
Seorang
anak
akan
berbeda
tingkat
kemampuan
mobilitasnya
dibandingkan dengan seorang remaja dan juga pada lansia.
2.3. Tingkat Immobilisasi
Menurut Braden & Bergstrom (1989), dalam skala Braden tingkat
mobilisasi terbagi atas empat tingkatan yaitu:
1. Tidak terbatas: Melakukan perubahan posisi yang bermakna dan sering tanpa
bantuan.
2.
Agak terbatas: Sering melakukan perubahan kecil pada posisi tubuh dan
ekstremitas secara mandiri tetapi memiliki derajat keterbatasan.
3. Sangat terbatas: kadang-kadang melakukan perubahan kecil pada posisi tubuh
dan ekstremitas tapi tidak mampu melakukan perubahan yang sering.
4.
Immobilisasi total: Tidak dapat melakukan perubahan posisi tubuh atau
ekstremitas tanpa bantuan.
40
Universitas Sumatera Utara
41
2.4. Efek Samping Immobilisasi
Potter & Perry (2005), menyatakan ada pengaruh fisiologis yang
ditimbulkan oleh keadaan immobilisasi yaitu apabila ada perubahan immobilisasi
maka setiap sistem tubuh akan beresiko terjadi gangguan. Tingkat keparahan dari
gangguan tersebut tergantung pada umur pasien, dan kondisi kesehatan secara
keseluruhan, serta tingkat immobilisasi yang dialami. Ada tujuh perubahan yang
terjadi yaitu: perubahan metabolik, perubahan sistem respiratori, perubahan sistem
kardiovaskuler, perubahan sistem muskuloskletal, perubahan sistem integumen,
perubahan eliminasi urine, dan perubahan psikososial.
Menurut Asmadi (2008), ada beberapa masalah yang dapat ditimbulkan
akibat immobiliosasi fisik ini antara lain:
a. Sistem Integumen
Immobilisasi yang lama dapat menyebabkan kerusakan integritas kulit,
seperti abrasi dan luka dekubitus. Hal tersebut disebabkan oleh karena pada
immobilisasi terjadi gesekan, tekanan, jaringan bergeser satu dengan yang lain,
dan penurunan sirkulasi darah pada area yang tertekan, sehingga terjadi iskemia
pada jaringan yang tertekan. Kondisi yang ada dapat diperburuk lagi dengan
adanya infeksi, trauma, kegemukan, berkeringat, dan nutrisi yang buruk.
b. Sistem Kardivaskuler
Sistem kardiovaskuler juga dipengaruhi oleh immobilisasi. Ada tiga
perubahan utama yaitu hipotensi, ortostatik, peningkatan beban kerja jantung, dan
pembentukan thrombus.
41
Universitas Sumatera Utara
42
c. Sistem Respirasi
Immobilisasi menyebabkan terjadinya perubahan sistem pernafasan.
Akibat immmobilitas, kadar hemoglobin menurun, ekspansi paru menurun, dan
terjadinya lemah otot yang dapat menyebabkan proses metabolisme terganggu.
Terjadinya penurunan kadar hemoglobin dapat menyebabkan penurunan aliran
oksigen dari alveoli ke jaringan, sehingga mengakibatkan anemia. Penurunan
ekspansi paru dapat terjadi karena tekanan yang meningkat oleh permukaan paru.
Pasien immobilisasi beresiko tinggi mengalami kompikasi paru-paru. Komplikasi
paru-paru yang paling umum adalah etelektasis dan pneumonia hipostatik.
d. Sistem Perkemihan
Immobilisasi menyebabkan perubahan pada eliminasi urine. Dalam
kondisi normal urine mengalir dari pelvis renal masuk ke ureter lalu ke bladder
yang disebabkan adanya gaya gravitasi. Namun pada posisi terlentang, ginjal dan
ureter berada pada posisi yang sama sehingga urine tidak dapat melewati ureter
dengan baik (urine menjadi statis). Akibatnya urine banyak tersimpan dalam
pelvis renal. Kondisi ini resiko tinggi terjadinya infeksi saluran kemih dan batu
ginjal.
e. Sistem Muskuloskletal
Immobilisasi menyebabkan penurunan massa otot (atropi otot) sebagai
akibat dari kecepatan metabolisme yang turun dan kurangnya aktifitas sehingga
mengakibatkan berkurangnya kekuatan otot sampai akhirnya memburuknya
koordinasi pergerakan. Immobilisasi juga dapat menyebabkan perubahan jaringan
pada sistem muskuloskletal sehingga terjadi hiperkalsemia dan hiperkalsiuria
42
Universitas Sumatera Utara
43
yang kemudian menyebabkan osteoporosis. Selain terjadi atropi otot, immobilisasi
juga dapat menyebabkan pemendekan serat otot dan gangguan mobilisasi sendi.
f. Sistem Neurosensoris
Dampak terhadap sistem neurosensoris tampak nyata pada pasien
immobilisasi yang dipasang gips akibat fraktur. Pemasangan gips pada
ekstremitas dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan menimbulkan gangguan
saraf pada bagian distal dari gips. Hal tersebut dapat menyebabkan pasien tidak
dapat menggerakkan bagian anggota tubuh yang distal dari gips, mengeluh terjadi
sensasi yang berlebihan atau berkurang dan timbul rasa nyeri yang hebat.
g. Perubahan Perilaku
Perubahan perilaku akibat immobilitas, antara lain timbulnya rasa
bermusuhan, bingung, cemas, emosional tinggi, depresi, perubahan siklus tidur,
menurunnya koping mekanisme dan menurunya perhatian serta kemampuan
terhadap pemeliharaan kebersihan diri serta perubahan status emosional biasa
terjadi bertahap.
3. Lama Hari Rawat
3.1. Pengertian Lama Hari Rawat
Lama hari rawat merupakan salah satu unsur atau aspek asuhan dan
pelayanan di rumah sakit yang dapat dinilai atau diukur. Bila seseorang dirawat di
rumah sakit, maka yang diharapkan tentunya ada perubahan akan derajat
kesehatannya. Bila yang diharapkan baik oleh tenaga medis maupun oleh
penderita itu sudah tercapai maka tentunya tidak ada seorang pun yang ingin
berlama-lama di rumah sakit (Heryati, 1993) .
43
Universitas Sumatera Utara
44
Lama hari rawat secara signifikan berkurang sejak adanya pengetahuan
tentang hal-hal yang berkaitan dengan diagnosa yang tepat (Edward, 1992). Untuk
menentukan apakah penurunan lama hari rawat itu meningkatkan efisiensi atau
perawatan yang tidak tepat, dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut berhubungan
dengan keparahan atas penyakit dan hasil dari perawatan.
Menurut Edward (1992), Peratuaran untuk menghitung hari pasien,
kontrak pulang dan (normal) hari keluar dan menentukan lama rawat. Ada dua
metode logis untuk menghitung lama hari rawat :
1. Retrospektif : Tanggal keluaran dikurang tanggal masuk dikurang total
(normal) hari keluar.
2. Progessif : Jumlah hari pasien (termasuk kontrak hari keluar) dijumlahkan ke
tanggal.
Dalam penghitungan statistik pelayanan rawat inap di rumah sakit
dikenal istilah yang lama dirawat (LD) yang memiliki karakteristik cara
pencatatan, penghitungan, dan penggunaan yang berbeda (Indradi, 2007). LD
menunjukkan berapa hari lamanya seorang pasien dirawat inap pada satu episode
perawatan. Satuan untuk LD adalah hari. Cara menghitung LD yaitu dengan
menghitung selisih antara tanggal pulang (keluar dari rumah sakit, hidup maupun
mati) dengan tanggal masuk rumah sakit. Dalam hal ini, untuk pasien yang masuk
dan keluar pada hari yang sama – lama dirawatnya dihitung sebagai 1 hari dan
Pasien yang belum pulang atau keluar belum bisa dihitung lama dirawatnya
(Indradi, 2007).
44
Universitas Sumatera Utara
45
3.2. Waktu Terjadinya Luka Dekubitus
Menurut suatu penelitian di Amerika ada sekitar 70% pasien yang
mengalami luka dekubitus di rumah sakit terjadi pada minggu pertama sampai
minggu ke dua salama di rawat (Cooney & Reuler, 1991). Menurut Kadir (2007)
luka dekubitus terjadi dalam dua minggu pertama dalam perawatan. Sabandar
(2008) mengatakan tanda-tanda luka dekubitus terjadi akibat posisi pasien yang
tidak berubah (immobilisasi) dalam jangka waktu lebih dari 6 jam.
Menurut Yuniarti (2007), jika aliran darah, nutrisi dan oksigenasi
terhambat lebih dari 2 – 3 jam, maka kulit akan mati yang dimulai pada lapisan
kulit paling atas (epidermis). Daniel et al (1981) menyatakan bahwa iskmia primer
terjadi pada otot dan kerusakan jaringan kulit terjadi sesuai dengan kenaikan besar
dan lamanya tekanan.
Menurut Kadir (2007), tekanan daerah pada kapiler berkisar antara 16
mmHg – 33 mmHg. Kulit akan tetap utuh karena sirkulasi darah terjaga, bila
tekanan padanya masih berkisar pada batas-batas tersebut. Tetapi sebagai contoh
bila pasien immobilisasi pada tempat tidurnya secara pasif dan berbaring diatas
kasur busa maka tekanan daerah sakrum akan mencapai 60–70 mmHg dan di
daerah tumit mencapai 30–45 mmHg. Keadaan ini dapat menimbulkan perubahan
degeneratif secara mikroskopik pada semua lapisan jaringan mulai dari kulit
sampai tulang. Tekanan akan menimbulkan daerah iskemik dan bila berlanjut
terjadi nokrosis jaringan kulit.
Menurut Wim de Jong (2004), mula-mula kulit tampak kemerahan yang
tidak hilang setelah tekanan dihilangkan. Pada tahap dini ini, tidak terlihat
nekrosis karena permukaan kulit masih utuh. Iskemia dan nekrosis sudah terjadi
45
Universitas Sumatera Utara
46
pada lapisan subkutis, tetapi baru terlihat setelah beberapa hari berupa kulit yang
kemerahan dan mengelupas sedikit, kemudian terlihat suatu defek kulit. Terjadi
gangguan mikrosirkulasi jaringan lokal dan mengakibatkan hipoksia. Setelah satu
minggu atau 10 hari, luas nekrosisi ini mencapai tulang atau fasia di dasarnya.
Nekrosis sudah terjadi pada hari pertama, hanya batas kulit pada waktu itu belum
jelas, umumnya luas nekrosis di lapisan subkutis lebih luas daripada permukaan
kulit.
46
Universitas Sumatera Utara
Download