LOGIKA BAHASA DAN KETERAMPILAN MENULIS**

advertisement
LOGIKA BAHASA DAN KETERAMPILAN MENULIS**
Oleh Dali S. Naga
Dari tahun ke tahun, bulan Oktober telah kita jadikan bulan bahasa.
Dan pada setiap bulan bahasa, kita mengadakan temu bicara untuk
membahas segala sesuatu tentang bahasa Indonesia. Semua usaha ini
bertujuan agar penggunaan bahasa Indonesia kita makin lama makin
bertambah baik. Dan bersamaan dengan penggunaan bahasa yang makin
bertambah baik, bahasa Indonesia juga makin bertambah mantap, tidak saja
di kota melainkan juga di seluruh negeri.
Usaha ini telah membuahkan hasil. Hasil itu dapat kita nilai melalui
perbandingan. Kalau kita membandingkan bahasa Indonesia yang kita
gunakan sekarang ini dengan bahasa Indonesia yang kita gunakan lima
puluh tahun lalu pada kurun waktu tahun 1950-an, maka perbedaannya
tampak nyata. Tidak saja perbendaharaan kata yang kita gunakan sekarang
makin kaya, melainkan ketaatasasannya juga makin mantap. Dahulu kita
belum memiliki bahasa baku dan tata bahasa baku, tetapi kini kita sudah
mempunyainya.
Sekalipun demikian, kita masih juga belum merasa puas. Kita masih
mendambakan bahasa Indonesia yang lebih baik dan lebih kaya. Kita
mendambakan bahasa Indonesia yang makin meluas pemakaiannya sehingga
bersamaan dengan bahasa Melayu† atau bahasa Malaysia, bahasa Indonesia
dapat menjadi bahasa regional di Asia Tenggara. Dan mungkin saja pada
suatu saat kelak, ketiga bahasa ini menyatu kembali untuk menjadi bahasa
Melayu Raya yang kita gunakan bersama di wilayah ini.
Pada tahun 2002 ini, sekali lagi kita menyelenggarakan bulan bahasa.
Dan sekali lagi Universitas Negeri Jakarta mengadakan temu bicara tentang
bahasa Indonesia. Kali ini saya diminta untuk membawakan suatu topik
yang cukup sulit yakni logika bahasa dan keterampilan menulis. Rupanya
panitia bulan bahasa menyadari bahwa keterampilan menulis di dalam
bahasa Indonesia tidak terlepas dari logika bahasa. Masalahnya sekarang
adalah apa yang harus saya sajikan di dalam makalah ini?
*
†
Disampaikan pada seminar bulan bahasa di Universitas Negeri Jakarta, pada tanggal 28 Oktober 2002.
Menurut Andrew Dalby di dalam bukunya Dictionary of Languages, diduga kata Melayu berarti gunung.
Agaknya jalan terbaik bagi saya adalah membuka pustaka. Ternyata
bahan pustaka tentang logika di dalam bahasa menunjukkan arah ke seorang
ahli filsafat yang bernama Ludwig Josef Johann Wittgenstein (1889-1951).
Pada tahun 1921, Wittgenstein menerbitkan suatu buku tipis (75 halaman)
yang berjudul Logisch-philosophische Abhandlung yang kemudian pada
tahun 1922 diterbitkan kembali dengan judul Tractatus LogicoPhilosophicus. Buku ini berbicara tentang logika bahasa atau, secara lebih
luas lagi, filsafat bahasa. Segera pula buku ini menarik perhatian Kelompok
Wina yang sedang menggarap aliran filsafat yang dikenal sebagai Logical
Positivism. Konon kabarnya, karya ini kemudian mengembangkan filsafat
bahasa yang dikenal sebagai filsafat analitik. Ditambah dengan renovasi
radikal pada linguistik yang dilakukan oleh Noam Chomsky, maka
pemikiran para pakar tentang pengetahuan bahasa mengalami perubahan
yang besar sekali, setidak-tidaknya, dari segi logika bahasa.
Para ahli filsafat dari Kelompok Wina menggabungkan positivisme
(empirisisme) tradisional dari August Comte, David Hume, John Stuart Mill
dengan logika dari Betrand Russel, G.E. Moore, dan Alfred North
Whitehead sehingga Kelompok Wina dikenal sebagai penganut aliran
filsafat logical positivism.. Selanjutnya, adopsi bahasa melalui Tractatus
karya Wittgenstein oleh para ahli filsafat logical positivism menyebabkan
analisis linguistik menjadi topik filsafat utama di abad ke-20. Tidak heran,
kalau para ahli filsafat menamakan abad ke-20 sebagai abad analisis (the age
of analysis) karena analisis bahasa telah menjadi isu utama pada filsafat di
dalam abad ke-20.
Setelah membaca Tractatus, Kelompok Wina yang berpaham logical
positivism, menyadari bahwa bahasa sangat berperanan di dalam filsafat.
Selain manusia berbeda dengan makhluk lain karena memiliki kemampuan
berbahasa, masalah tradisional di dalam filsafat pada dasarnya adalah
masalah analisis bahasa. Masalah filsafat terdiri atas modus material sebagai
masalah dunia yang perlu diverifikasi serta modus formal logika sebagai
masalah bahasa yang perlu dianalisis. Dengan demikian, terdapat dua
macam bahasa yakni bahasa empiris untuk modus material dan bahasa
logika dan matematika murni untuk modus formal.
Sayang, saya tidak memiliki buku Tractatus sehingga saya hanya
dapat mengutipnya dari karya orang lain. Demikianlah uraian berikut ini
berasal dari beberapa sumber, terutama dari The New Encyclopedia
Britannica dan Encyclopedia Americana. Menurut bacaan itu, pertanyaan
sentral dari Tractatus adalah: Bagaimana bisa ada bahasa? Bagaimana
seseorang, melalui ucapan sederetan kata, berkata sesuatu? Dan bagaimana
orang lain bisa memahaminya? Adalah sesuatu yang luar biasa bahwa
seseorang bisa memahami kalimat yang belum pernah dialaminya
sebelumnya.
Wittgenstein menemukan solusinya pada pemikiran tentang kalimat
dan realitas. Kalimat yang berkata sesuatu (proposisi) seharusnya adalah
kalimat yang menunjukkan "potret realitas" atau "potret logika." Di dalam
potret realitas ini, kata adalah subsitusi dari obyek sederhana. Dan
selannjutnya, cara kata bergabung di dalam kalimat harus mencerminkan
cara benda bertautan di dalam realitas. Menurut pemikiran ini, semua
kalimat yang memiliki arti seharusnya dapat dianalisis ke dalam kalimat
dasar sederhana yang "memotret" fakta sederhana di dunia. Dan format
logika dari kalimat sederhana di dalam bahasa akan identik dengan format
logika dari kalimat sederhana di dalam logika Russel. Dan kombinasi
kalimat sederhana ke dalam kalimat kompleks dapat dilakukan melalui asas
kombinatorial dari logika.
Dengan demikian, kalimat itu menunjukkan suatu situasi di dunia.
Bahasa yang lengkap akan cukup untuk mengekspresikan setiap kebenaran
yang mungkin tentang dunia. Adalah tugas para ilmuwan untuk memastikan
mana dari kemungkinan benar itu adalah sungguh-sungguh benar. Karena
itu, pemikiran Wittgenstein ini menjelaskan "hubungan di antara tanda di
kertas [bahasa] dengan keadaan luar di dunia [potret realitas]." Karena itu,
semua potret proposisi atau bahasa harus mengandung unsur yang sama
banyak dengan unsur yang diwakilinya di dunia. Semua potret proposisi atau
bahasa dan semua situasi yang mungkin di dunia harus memiliki bersama
(share) format logika yang sama. Format logika ini adalah sekaligus sebagai
"format representasi" dan "format realitas."
Pikiran ini mempunyai dampak di dalam bahasa. Kalau ada bahasa
yang tidak merupakan potret dari realitas di dunia, maka bahasa itu tidak
seharusnya diucapkan. Dalam hal ini, Tractatus itu mengakui bahwa ada
saja sesuatu yang memang tidak dapat dikatakan dan mereka juga tidak
dapat dipikirkan. Pada akhir buku itu, Wittgenstein mengungkapkan bahwa
"apabila seseorang tidak dapat berkata maka seseorang harus berdiam."
Kalau berkata pun tidak dapat dilakukan, maka hal itu juga tidak dapat
ditulis. Dengan kata lain, bahasa memiliki keterbatasan sehingga
Wittgenstein beranggapan bahwa batas bahasanya adalah batas pikirannya.
Tidak heran kalau ada orang yang mengaitkan anggapan ini dengan ucapan
Protagoras dari Abdera, seorang ahli filsafat Yunani Kuno, yang menyatakan
bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu. Dan dengan demikian diri
manusia sendiri dan bahasanya adalah batas dari pemikiran manusia.
Dari pemikiran ini tampak bahwa kalimat bahasa dapat dipahami oleh
orang lain apabila kalimat itu merupakan potret realitas di dunia yang
disampaikan dalam format logika. Makin jelas potret itu bagi pendengar atau
pembacanya maka makin paham pula mereka akan kalimat yang diucapkan
oleh pembicara atau yang ditulis oleh penulis. Cukup masuk akal untuk
dikatakan kalau situasi dunia tempat potret realitas itu diungkapkan memang
dimiliki bersama oleh pembicara atau penulis dengan pendengar atau
pembaca maka makin sedikit kata yang diperlukan untuk pembicaraan atau
tulisan itu. Namun, faktor waktu juga akan berpengaruh kepada pemahaman
itu. Dalam hal tulisan, jangankan pembaca, setelah lewat dua bulan,
misalnya, ada kemungkinan penulisnya sendiri pun tidak lagi dapat
memahami tulisannya sendiri. Karena itu, untuk kurun waktu yang cukup
lama, penulis perlu memberikan potret realitas yang cukup lengkap di dalam
tulisannya.
Ada contoh yang baik tentang ketidaksamaan situasi dunia di antara
penulis dan pembaca yang sengaja diungkapkan oleh penulisnya. Contoh
yang sangat bagus terdapat pada karya Lewis Carroll yang berjudul Alice in
Wonderland serta Through the Looking Glass. Cukup banyak keanehan di
dalam sejumlah percakapan Alice, misalnya, di antara Alice dan Cat serta di
antara Alice dan Hatter. Tampak di situ bagaimana Alice tidak memahami
perkataan Cat dan Hatter serta mereka tidak dapat memahami perkataan
Alice.
Pada masa lalu tulisan hanya ditujukan kepada manusia yang dapat
membacanya. Bahkan pada masa sekarang, banyak surat perintah ditujukan
kepada manusia untuk dilaksanakan. Tetapi kini, kemajuan teknologi telah
menghasilkan suatu perubahan yang besar di dalam komunikasi bahasa.
Selain memerintah manusia lain melalui kata, manusia juga telah
memerintah komputer melalui kata. Ini berarti bahwa di samping bahasa
yang dipahami manusia, kita memerlukan bahasa yang juga dapat dipahami
oleh komputer yakni oleh alat atau mesin. Pada saat sekarang ini, kita
menggunakan bahasa formal untuk memerintah komputer. Namun pada saat
mendatang, manusia sedang berusaha membuat komputer yang mampu
memahami bahasa natural. Dengan demikian, bahasa memiliki jangkauan
yang lebih luas lagi, tidak hanya di kalangan manusia melainkan sampai ke
kalangan mesin dan alat.
Di dalam bahasa formal, kita tidak lagi berbicara tentang
strukturalisme bahasa dari Ferdinand de Saussurre yang membedakan
struktur satu bahasa dari struktur bahasa lain. Sebagai penggantinya, kita
berbicara tentang tata bahasa atau bahasa transformasional atau generatif
dari Noam Chomsky. Bahasa apa pun dapat dipakai untuk bahasa komputer
asalkan bahasa itu memenuhi persyaratan bahasa formal yang diperlukan
oleh komputer. Bahasa formal demikian dikenal sebagai bahasa komputer.
Di dalam bahasa komputer, tata bahasa dikaitkan dengan otomata pada
mesin Turing sehingga perintah di dalam bahasa dapat dikerjakan di
komputer melalui otomata. Dalam hal ini, kita menemukan padanan di
antara bahasa dan otomata. Regular language berpadanan dengan finite
automata, context free language berpadanan dengan pushdown automata,
context sensitive language berpadanan dengan linear bounded automata,
serta phrase-structure language berpadanan dengan Turing machine. Pada
saat ini, bahasa formal di komputer masih didominasi oleh context free
language dengan pushkown automata yang bersifat deterministik. Namun
pada saat belakang ini, bahasa komputer mulai merambah ke fuzzy logic
yang tidak terlalu deterministik lagi. Dasar dari bahasa untuk mesin atau
komputer adalah format logika yang ada di dalam kalimat bahasa itu.
Tampak di sini bahwa bahasa tidak saja diperlukan oleh manusia
untuk berkomunikasi dengan manusia lain, melainkan bahasa diperlukan
juga oleh manusia untuk berkomunikasi dengan mesin. Bahkan lebih dari
itu. Di dalam banyak hal, kita mulai menemukan mesin yang berkomunikasi
dengan mesin lain melalui bahasa. Kita juga mulai menemukan mesin yang
berkomunikasi dengan manusia melalui bahasa. Dengan demikian, bahasa
juga diperlukan oleh mesin untuk berkomunikasi dengan mesin lain dan
dengan manusia. Di dalam semua bahasa ini, menurut pemikian
Wittgenstein, potret realitas dan logika berperanan di dalam komunikasi itu.
Keterampilan menulis memerlukan latihan yang cukup banyak serta
perhatian yang cukup besar terhadap logika yang dianut bersama di antara
penulis dan pembaca. Kalau kita menerima teori heliosentrik dari
Kopernikus bahwa bumi yang mengelilingi matahari, maka seharusnya kita
tidak menerima kata matahari terbit karena kata matahari terbit tidak sesuai
dengan logika teori heliosentrik dari Kopernikus. Tetapi kalau penulis dan
pembaca menganut logika yang sama tentang matahari terbit, maka kata
matahari terbit adalah sah saja. Demikian pula dengan sederetan idiom dan
pepatah yang telah dikenal di antara penulis dan pembaca bahasa Indonesia.
Mereka tetap dipahami oleh penulis dan pembaca selama penggunaannya
dilakukan secara tepat dan menurut kebiasaan yang berlaku.
Logika di dalam menulis berkenaan dengan logika sintaksis dan
logika semantik. Namun kedua logika ini tidak terpisah sama sekali.
Ketimpangan pada logika sintaksis dapat saja melahirkan ketimpangan pada
logika semantik dan sebaliknya. Bahasa Indonesia yang tidak mengenal
ubahan bentuk kata ketika berfungsi sebagai nomina atau sebagai adjektiva
sangat peka terhadap ketimpangan. Tanpa kehati-hatian, kita dapat saja
menulis kalimat yang memiliki interpretasi ganda dan hal ini
membingungkan pembaca (menteri negara peranan wanita berunding dengan
menteri negara lainnya; ulang tahun SMU Negeri ke-7). Karena itu,
keterampilan menulis mencakup juga kepekaan penulis terhadap
ketimpangan seperti ini. Diperlukan penyuntingan berulang-ulang dan, kalau
mungkin, melalui tenggang waktu, untuk menghasilkan tulisan yang baik
dan benar. Dan dalam hal ini, munculnya pengolah kata pada komputer
dengan kemudahan penyuntingan merupakan anugerah yang luar biasa besar
bagi keterampilan menulis.
Tampaknya tidak ada jalan pintas bagi keterampilan menulis.
Keterampilan menulis dirintis melalui dua cara yang umum. Cara pertama
adalah banyaknya latihan atau praktek menulis. Cara kedua adalah perhatian
yang serius yang ditujukan kepada logika kalimat di dalam tulisan. Di dalam
penyuntingan, kalimat dapat saja diubah atau diperbaiki. Termasuk di dalam
perbaikan itu adalah juga pemindahan letak kata di dalam kalimat sehingga
tidak timbul interpretasi ganda. Kedua cara ini perlu kita perhatikan dan,
kalau masih ada semangat, di sini dapat kita tambahkan lagi cara ketiga.
Cara ketiga adalah perhatian penulis kepada keindahan kalimat yang ditulisi
dan disuntingnya.
Setelah bulan bahasa tahun 2002 ini, mudah-mudahan, penggunaan
bahasa Indonesia kita selangkah lebih baik lagi. Penggunaan bahasa terus
kita perbaiki sampai kita menjumpai bulan bahasa pada tahun 2003 nanti.
Dan pada saat itu nanti, kita akan menyelenggarakan lagi temu bicara
tentang bahasa Indonesia.
Download