II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Senam Senam adalah bentuk latihan

advertisement
II. TINJAUAN PUSTAKA.
A. Senam
Senam adalah bentuk latihan fisik yang disusun secara sistematis dengan
melibatkan gerakan-gerakan yang terpilih dan terencana untuk mencapai
tujuan tertentu.Dalam Muhajir (2006: 88)
Olahraga senam mempunyai sistematika tersendiri, serta mempunyai tujuan
yang hendak dicapai seperti daya tahan, kekuatan, kelentukan, koordinasi,
atau bisa juga diperluas untuk meraih prestasi, membentuk tubuh yang ideal,
dan memelihara kesehatan.
Senam adalah aktivitas fisik yang dilakukan baik sebagai cabang olahraga
tersendiri maupun sebagai latihan untuk cabang olahraga lainnya. Berlainan
dengan cabang olahraga lain umumnya yang mengukur hasil aktivitasnya
pada obyek tertentu, senam mengacu pada bentuk gerak yang dikerjakan
dengan kombinasi terpadu dan menjelma dari setiap bagian anggota tubuh
dari komponen-komponen kemampuan motorik seperti : kekuatan, kecepatan,
keseimbangan, kelentukan, agilitas dan ketepatan. Dengan koordinasi yang
sesuai dan tata urutan gerak yang selaras akan terbentuk rangkaian gerak
artistik yang menarik.
minim atau telanjang. Orang Yunani kuno melakukan latihan senam di
ruangan
ialah untuk mendapatkan kekuatan dan keindahan jasmani. Cara
melakukannya sambil berpakaian minim atau telanjang. Maksudnya mungkin
agar dapat leluasa bergerak. Namun yang melakukan senam ini hanya kaum
pria.
Senam di negeri kita sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda. Waktu
pemakaian kata olahraga sebagai pengganti kata sport.
Olahraga senam sendiri ada bermacam-macam, seperti : senam si buyung,
senam sekolah, senam alat, senam tera, senam irama, senam jantung sehat,
senam aerobik, senam kesegaran jasmani, senam artistik dan lain-lain.
Disamping itu, ada juga bentuk senam lain yang sering terdengar dalam
konteks pertandingan, seperti senam prestasi, senam artistik, dan senam
akrobatik. Menurut FIG (Federation Internatioanale de Gymnastiqua) senam
dapat dikelompokkan menjadi: (1) senam artistik (artistic gymnastics), (2)
senam ritmik (sportive rhythmic gymnastics), dan (3) senam umum (general
gymnastics).
B. Senam Lantai
Senam lantai pada umumnya disebut floor exercise, tetapi ada juga yang
menamakan tumbling. Senam lantai merupakan salah satu bagian dari senam
artistik. Dikatakan senam lantai karena seluruh keterampilan gerakan
dilakukan pada lantai yang beralas matras tanpa melibatkan alat lainnya.
Menurut Muhajir ( 2006 : 69 ), Senam lantai adalah salah satu cabang
olahraga yang mengandalkan aktivitas seluruh anggota badan, baik untuk
olahraga senam sendiri maupun untuk cabang olahraga lain. Senam lantai
mengacu pada gerak yang dikerjakan dengan kombinasi dari kemampuan
komponen motorik/gerak seperti kekuatan, kecepatan, keseimbangan,
kelentukan, kelincahan, dan ketepatan.
Unsur-unsur gerakan senam lantai terdiri dari mengguling, melompat,
meloncat, berputar di udara,menumpu dengan tangan atau kaki untuk
memperthankan sikap seimbang atau pada saatmeloncaat kedepan atau ke
belakang. Bentuk latihannya merupakan gerakan dasar dari senam perkakas
(alat). Pada dasarnya, bentuk-bentuk katihan bagi putra dan putri adalah
sama, hanya unuk putri banyak unsur gerak balet. Jenis senam juga di sebut
latihan bebas karena pada waktu melakukan gerakan pesenam tidak
mempergunakan suatu peralatan khusus.
C. Kayang
Kayang adalah salah satu teknik dasar dalam senam yang harus dipelajari
dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani di SD. Menurut Roji (2006:119)
bertumpu pada kedua kaki dan tangan sedangkan lutut dan sikutnya dalam
posisi lurus. Saat kayang posisi tubuh bertumpu dengan empat titik dalam
keadaan terbalik dengan meregang dan mengangkat perut dan panggul.
Latihan/ gerakan kayang dapat melatih kelenturan otot perut, pinggang dan
punggung. Kayang ialah suatu bentuk sikap badan terlentang yanng
membusur, bertupu pada kedua kaki dan kedua tangan siku-siku dan lutut
lurus. Agar gerakan kayang dapat dengan mudah dilakukan, maka perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Memiliki kekuatan otot perut, punggung dan paha.
2. Memiliki kelentukan persendian bahu, ruas-ruas tulang belakang, dan
persendian panggul.
3. Memiliki kekuatan lengan dan bahu untuk menopang.
Gambar 1. Gerakan Kayang.
Cara melakukan gerakan kayang sebagai berikut :
a) Sikap permulaan berdiri, kedua tangan menumpu pada pinggul.
b) Kedua kaki ditekuk, siku tangan ditekuk, kepala di lipat ke belakang.
c) Kedua tangan diputar ke belakang sampai menyentuh matras sebagai
tumpuan.
d) Posisi badan melengkung bagai busur.
e) Setelah menahan beberapa saat, bangun kembali pada sikap berdiri.
Adapun kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan saat melakukan gerakan
kayang yaitu :
a) Jarak kedua tangan dan kaki terlalu jauh.
b) Siku-siku bengkok disebabkan kekakuan persendian siku dan bahu.
c) Badan kurang melengkung (membusur), disebabkan kurang
lemas/lentuknya bagian punggung dan kekakuan pada otot perut.
d) Sikap kepala yang terlalu menengadah.
e) Kurang keseimbangan.
Dengan demikian seorang siswa dapat melakukan gerakan kayang dengan
sempurna jika terdapat aspek kondisi fisik yang mendukung dan menghindari
kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan saat kayang.
D. Modifikasi Alat Bantu Pembelajaran
Hasil belajar yang dicapai oleh siswa tidak terlepas dari peranan guru dalam
memilih dan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan
karakteristik materi dan siswa. Menurut Soekamto dan Winataputra (1996:
101) model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan
prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk
mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para
perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan
melaksanakan aktivitas pembelajaran. Dengan demikian model pembelajaran
memiliki makna yang lebih luas dari strategi, metode atau prosedur.
Alat bantu mengajar atau media pendidikan ini digunakan dengan maksud
mempermudah siswa belajar dan untuk meningkatkan atau mempertinggi
mutu proses kegiatan belajar-mengajar dengan memprhatikan perbedaanperbedaan pada diri siswa.(Subagio, 2004:87)
Dalam proses belajar mengajar sarana dan alat bantu mengajar merupakan
komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan komponen-komponen lain,
misalnya : tujuan, materi, metode, dan sebagainya. Setelah tujuan dirumuskan
secar khusus, materi ditetapkan, dan metode dipilih, maka agar proses belajar
mengajar dapat efektif dan efisien, perlu didukung dengan alat bantu
mengajar yang memadai. Jadi tujuan guru menggunakan alat-alat bantu dalam
proses belajar mengajar tidak lain agar prestasi murid dapat ditingkatkan dan
dilakukan untuk memperbaiki praktek pendidikan dengan sungguhsungguh.(Subagio, 2004-83)
Adapun pengertian alat bantu mengajar menurut Subagio (2004 : 83), adalah
alat-alat yang digunakan oleh guru sebagai sarana untuk membantu
pelaksanaan kegiatan mengajar. Pada pola pembelajaran tradisional,
pengajar/guru memegang kendali sepenuhnya dalam menetapkan isi dan
metode belajar mengajar. Pengajar/guru mempunyai kedudukkan sebagai
satu-satunya sumber belajar dalam sistem pembelajaran.
Menurut Azhar Arsyad (2005: 7) media pendidikan memiliki pengertian alat
bantu pada proses belajar baik di dalam maupun di luar kelas. Tetapi ada
sedikit perbedaan penggunaan istilah media dan alat bantu. Media adalah alat
yang digunakan pendidik dalam menyampaikan pendidikan, dan alat bantu
(peraga) digunakan untuk membantu proses pembelajaran agar bahan
pelajaran yang disampaikan oleh guru lebih konkret/jelas karena ada model
atau replika yang dapat diamati siswa sehingga mudah diterima atau dipahami
peserta didik. Dalam proses belajar mengajar alat peraga dipergunakan
dengan tujuan membantu guru agar proses belajar siswa lebih berhasil dalam
proses pembelajaran dan efektif serta efesien.
Menurut Amir Hamzah (1988: 110) penekanan alat bantu belajar terdapat
pada visual dan audio. Alat bantu visual terdiri dari alat peraga dua dimensi
hanya menggunakan dua ukuran panjang dan lebar (seperti: gambar, bagan,
dan grafik) sedangkan alat peraga tiga dimensi menggunakan tiga ukuran
yaitu panjang, lebar, dan tinggi (seperti: benda asli, model, alat tiruan
sederhana, dan barang contoh).
Alat bantu pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa
(box, kotak yang terbuat dari kardus dan menggunakan tali). Guna
meningkatkan keterampilan gerak dasar kayang secara efektif dan efisien
dalam proses pembelajaran berlangsung. Sehingga tujuan yang ingin dicapai
dapat berjalan secara berkesinambungan terus menerus. Berikut adalah
gambar modifikasi alat pembelajaran yang digunakan oleh peneliti, yaitu :
Gambar 2. Proses pembelajaran dengan bantuan teman
Gambar 3. Modifikasi alat pembelajaran menggunakan box
Gambar 4. Modifikasi alat pembelajaran menggunakan tali karet
E. Teori Belajar Gerak / Motorik
Menurut Lutan (1988), belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang
relatif permanen pada diri seseorang yang diperoleh melalui pengalaman dan
latihan dan dapat diamati melalui penampilannya. Perubahan tingkah laku
sebagai hasil belajar memiliki pengertian yang luas, bisa berupa keterampilan
fisik, verbal, intelektual, maupun sikap.
Belajar gerak secara khusus dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan
atau modifikasi tingkah laku individu akibat dari latihan dan kondisi
lingkungan (Drowatzky, 1981). Lebih lanjut Schmidt (1988), menyatakan
bahwa belajar gerak mempunyai beberapa ciri, yaitu :
a) merupakan rangkaian proses, b) menghasilkan kemampuan untuk
merespon, c) tidak dapat diamati secara langsung, bersifat relatif
permanen, d) sebagai hasil latihan, e) bisa menimbulkan efek negatif.
Dalam Lutan (1988:104), dijelaskan bahwa untuk mempelajari gerak maka,
perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a) Kesiapan belajar. Bahwa pembelajaran harus mempertimbangkan
hukum kesiapan. Anak yang lebih siap akan lebih unggul dalam
menerima pembelajaran.
b) Kesempatan belajar. Pemberian kesempatan yang cukup banyak bagi
anak sejak usia dini untuk bergerak atau melakukan aktivitas jasmani
dalam mengeksporasi lingkungannya sangat penting. Bukan saja untuk
perkembangan yang normal kelak setelah dewasa, tapi juga untuk
perkembangan mental yang sehat. Jadi penting bagi orangtua atau guru
untuk memberikan kesempatan anak belajar melalui gerak.
c) Kesempatan latihan. Anak harus diberi waktu untuk latihan sebanyak
yang diperlukan untuk menguasai. Semakin banyak kesempatan
berlatih, semakin banyak pengalaman gerak yang anak lakukan dan
dapatkan. Meskipun demikian, kualitas latihan jauh lebih penting
ketimbang kuantitasnya.
d) Model yang baik. Dalam mempelajari motorik, meniru suatu model
memainkan peran yang penting, maka untuk mempelajari suatu dengan
baik, anak harus dapat mencontoh yang baik. Model yang ada harus
merupakan replika dari gerakan-gerakan yang dilakukan dalam
olahraga tersebut.
e) Bimbingan. Untuk dapat meniru suatu model dengan betul, anak
membutuhkan bimbingan. Bimbingan juga membantu anak
membetulkan sesuatu kesalahan sebelum kesalahan tersebut terlanjur
dipelajari dengan baik sehingga sulit dibetulkan kembali. Bimbingan
dalam hal ini merupakan feed back.
f) Motivasi. Besar kecilnya semangat usaha seseorang tergantung pada
besar kecilnya motivasi yang dimilikinya.
Menurut Lutan (1988) belajar motorik dapat menghasilkan perubahan yang
relatif permanen, yaitu perubahan yang dapat bertahan dalam jangka waktu
yang relatif lama. Dalam menyempurnakan suatu keterampilan motorik dapat
berlangsung dalam tiga tahapan yaitu terdiri dari :
a) Tahap Kognitif
Merupakan tahap awal dalam belajar motorik, dalam tahap ini seseorang
harus memahami mengenai hakikat kegiatan yang dilakukan dan juga
harus memperoleh gambaran yang jelas baik secara verbal maupun visual
mengenai tugas gerakan atau model teknik yang akan dipelajari agar
dapat membuat rencana pelaksanaan yang tepat.
b) Tahap Fiksasi
Pada tahap ini pengembangan keterampilan dilakukan melalui adanya
praktek secara teratur agar perubahan prilaku gerak menjadi permanen.
Selama latihan harus adanya semangat dan umpan balik untuk
mengetahui apa yang dilakukan itu benar atau salah. Pola gerakan sudah
sampai pada taraf merangkaikan urutan-urutan gerakan yang didapatkan
secara keseluruhan dan harus dilakukan secara berulang-ulang sehingga
penguasaan terhadap gerakan semakin meningkat.
c) Tahap Otomatis
Setelah melakukan latihan gerakan dalam jangka waktu yang relatif
lama, maka akan memasuki tahap otomatis. Secara fisiologi hal ini dapat
diartikan bahwa pada diri seseorang tersebut telah terjadi kondisi reflek
bersyarat, yaitu terjadinya pengerahan tenaga mendekati pola gerak
reflek yang sangat efisien dan hanya akan melibatkan unsur motor unit
yang benar-benar diperlukan untuk gerakan yang diinginkan. Pada tahap
ini kontrol terhadap penampilan gerakan semakin tepat dan konsisten.
F. Kerangka Pemikiran
Kemampuan bergerak secara efesien adalah dasar awal yang perlu diperlukan
untuk penampilan yang terampil. Kekuatan otot lengan adalah kekuatan yang
menghasilkan gerakan dan suatu kekuatan/daya seperti kekuatan otot untuk
menarik dan mendorong. Sedangkan fleksibilitas adalah kemampuan untuk
melakukan gerakan dalam ruang gerak sendi. Luas tidaknya ruang gerak
sendi seseorang mempengaruhi efisiensi geraknya.
Pada gerak dasar kayang, perut dan panggul diangkat ke atas, di mana rentang
gerakan (kelentukan) sendi bahu meluas semaksimal mungkin agar kedua
tangan dapat diputar ke belakang sampai menyentuh matras sebagai tumpuan.
Selain itu daya memanjang terjadi pada jaringan ikat otot-otot paha
(hamstring) , otot dada (pektoralis) dan otot perut, sedangkan otot punggung
(vertebra) memendek. Lapisan-lapisan jaringan ikat membentuk kesatuan
susunan otot rangka yang berfungsi sebagai penghubung antar serabut otot
dan tulang. Pada kedua ujung otot, lapisan jaringan ikut menyatu dengan
daging yang langsung terikat pasa tulang. Jaringan ikat memberikan
kelenturan pada otot, yakni sifat fisik yang menentukan daya rentang otot.
Dan karena otot rangka seringkali melewati persendian, komponen otot
elastis menjadi faktor yang membatasi kelenturan sendi, yang pada gilirannya
menjadi faktor penentu penampilan aktivitas olahraga.
Dalam melakukan keterampilan gerak dasar kayang dibutuhkan kekuatan otot
lengan dan fleksibilitas punggung. Kekuatan otot lengan dibutuhkan untuk
menahan badan agar mendapat posisi kayang yang ideal. Sedangkan
kelentukan optimal dibutuhkan pada kayang agar perut, pinggang dan
punggung dapat bergerak dengan efisien dan memudahkan melakukan
lentingan saat akan melentingkan badan kebelakang. Dengan perpaduan
kekuatan otot lengan dan fleksibilitas dapat dipastikan akan keberhasilan
melakukan kayang.
Selain itu penggunaan media pembelajaran berupa alat bantu memungkinkan
proses pembelajaran lebih interaktif karena adanya interaksi langsung antara
siswa dengan lingkungan. Tanpa media guru akan cenderung berbicara satu
arah, namun dengan media guru dapat mengatur kelas sehingga siswa ikut
pula menjadi aktif.
Dengan menggunakan media, waktu lebih efisien. Seringkali seorang guru
terpaksa menghabiskan waktu yang cukup panjang untuk menjelaskan suatu
konsep atau teori baru karena tidak menggunakan media, misalnya
menerangkan teknik tangan renang gaya bebas pasti memerlukan banyak
waktu jika guru hanya menggunakan metode ceramah tanpa alat bantu lain.
Pada hal jika memanfaatkan media dengan baik, waktu yang dihabiskan pasti
tidak sebanyak itu. Keingintahuan dapat bangkit melalui media. Untuk
menghidupkan suasana kelas, media merangsang siswa bereaksi terhadap
penjelasan guru, membuat siswa ikut tertawa atau ikut sedih. Media
memungkinkan siswa menyentuh objek kajian pelajaran, membantu siswa
mengkongkritkan sesuatu yang abstrak dan membantu guru menghindarkan
suasana monoton.
G. Hipotesis
Hipotesis adalah alat yang sangat besar kegunaannya dalam penyelidikan
ilmiah karena dapat menjadi penuntun kearah proses penelitian untuk
menjelaskan permasalahan yang harus dicari pemecahannya. Dalam
penelitian ini hipotesis yang diajukan adalah :
sar kayang dilakukan dengan
menggunakan alat bantu pembelajaran berupa menggunakan bantuan teman
dengan berpasangan, kardus dan tali karet, maka hasil pembelajaran dapat
Download