Tantangan Penanganan Multi Drug Resistant Tuberculosis dengan

advertisement
Ben Ben Irwandi: Tantangan Penanganan Multi Drug Resistant Tuberculosis dengan Komplikasi Multiple Giant Bullae dan Empyema
Necessitans pada Wanita Usia 38 Tahun
Tantangan Penanganan Multi Drug Resistant Tuberculosis dengan
Komplikasi Multiple Giant Bullae dan Empyema Necessitans pada
Wanita Usia 38 Tahun
Ben Ben Irwandi, Parluhutan Siagian
Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, RSUP H. Adam Malik, Medan
Abstrak
Resistensi terhadap obat tuberkulosis (TB) merupakan hambatan dalam penanganan TB yang efektif dan pencegahan global. Penanganan
multi drug resistant (MDR) TB yang diperberat multiple giant bullae dan empyema necessitans akan menambah rumit penanganan yang
mempengaruhi kegagalan dan putus berobat yang tinggi serta kualitas hidup rendah. Wanita 38 tahun mengeluhkan sesak napas ± 6
bulan lalu, status gizi buruk (IMT: 15,96), riwayat merokok (IB: 384, sedang), riwayat pengobatan antituberkulosis kategori I, tetapi kambuh
kembali dan diagnosis TB MDR dengan Gene-Xpert MTB Positif Rifampicine Resistant. Pemeriksaan fisik ditemukan empyema necessitans
dada kiri. Rongent dada tampak hiperlusen avaskular (giant bullae) dilobus atas kedua paru dan air fluid level dilobus atas paru kiri. CTscan thoraks dan mediastinum dengan injeksi kontras tampak proses spesifik lama aktif, pneumotoraks lokal, bronkiektasis, dan pleuritis
bilateral. Pasien mendapatkan regimen TB MDR, tetapi sikloserin digantikan PAS. Penanganan TB MDR dalam ISTC edisi ketiga dan
PMDT dengan evaluasi dan kegagalan pengobatan perlu perubahan dalam strategi penatalaksanaan. Pasien mendapatkan regimen TB
MDR secara adekuat dan evaluasi ketat terhadap efek samping. Respon pengobatan terhadap klinis dan pemeriksaan penunjang dengan
perbaikkan yang signifikan dan kualitas hidup lebih baik. Diharapkan setelah konversi sputum, pasien direncanakan konsul ke departemen
bedah toraks dan kardiovaskular. (J Respir Indo. 2017; 37: 69-74)
Kata kunci: Multiple giant bullae, empyema necessitans, PMDT, ISTC edisi ketiga.
The Challenge Of Multi Drug Resistant Tuberculosis Treatment With
Complications Of Multiple Giant Bullae and Empyema Necessitans
On 38 Years Old Female
Abstract
Resistance to tuberculosis (TB) drugs is a formidable obstacle to effective TB care and prevention globally. Multi-drug resistant tuberculosis
treatment which is exacerbated by multiple giant bullae dan empyema necessitans would add to the complexity of handling and affect the
likelihood of failure or dropping out of high treatment and a lower quality of life. A 38 years old female with chief complain of shortness of
breath since ± 6 months ago, history of smoking was found (IB:384, moderate), poor nutrition status (BMI: 15,96), history of antituberculosis
treatment (ATT) was found categoric I in last year and others wise recovered, but she recurred and TB MDR diagnosed with Gene Xpert
finding MTB Positive Rifampicine Resistant. Physical examination was found empyema necessitans in hemithorax sinistra. Chest x-ray
showed hyperlucency avascular (giant bullae) in the uppers lobe of both lungs and air fluid level in the upper lobe of the left lung. Thoracic
CT scan and mediastinal CT scan with contast injection showed specific processes long been active with localized pneumothorax,
bronchiectasis, and bilateral pleuritis. She has received TB MDR treatment regimen, but cycloserine is replaced by PAS. Treatment of TB
MDR in the third edition of the ISTC and PMDT with evaluation and treatment failure need a change in treatment strategy. The patients get
adequately regimen TB MDR and rigorous evaluation of the side effects. The clinical response to the treatment and investigation with a
significant improvement and a better quality of life. Expected after sputum conversion, planned patient consul to the Department of thoracic
and Cardiovascular Surgery. (J Respir Indo. 2017; 37: 69-74)
Keywords: Multiple giant bullae, empyema necessitans, PMDT, ISTC third edition.
Korespondensi: Ben Ben Irwandi
Email: [email protected]; Hp: 085214177946
J Respir Indo Vol. 37 No. 1 Januari 2017
69
Ben Ben Irwandi: Tantangan Penanganan Multi Drug Resistant Tuberculosis dengan Komplikasi Multiple Giant Bullae dan Empyema
Necessitans pada Wanita Usia 38 Tahun
PENDAHULUAN
Pada programmatic management drug-resistant
tuberculosis (PMDT) penanganan TB resisten obat
antituberkulosis lebih rumit dan memerlukan perhatian
lebih daripada penanganan TB yang tidak resisten.
Penanganan kasus TB MDR dengan regimen standar
TB MDR yang diperberat dengan komplikasi multiple
giant bullae (MGB) dan empyema necessitans
(EN) akan menambah rumitnya penanganan yang
merupakan tantangan yang sulit dan evaluasi yang
ketat dari kasus TB MDR tanpa komplikasi yang akan
mempengaruhi kemungkinan kegagalan atau putus
berobat tinggi serta memberikan kualitas hidup yang
rendah.1
World Health Organizations (WHO) pada tahun
2011 menggunakan angka 2% untuk kasus baru dan
12% untuk kasus pengobatan ulang yang memperkirakan
jumlah kasus TB MDR di Indonesia. TB MDR itu
sendiri merupakan resistan terhadap isoniazid dan
rifampisin dengan atau tanpa OAT lini pertama yang lain,
misalnya resistan HR, HRE, HRES.2 Komplikasi utama
MGB adalah akumulasi cairan didalam bulla (infeksi),
pneumotoraks spontan, kanker bronkogenik, nyeri dada,
dan hemoptisis. Multiple giant bulla dapat berkembang
menjadi pneumotoraks spontan dan infeksi bulla yang
dapat diidentifikasi adanya air fluid level.3
Empyema necessitans (EN) merupakan kompli­­­
kasi yang jarang dari infeksi rongga pleura dan ter­jadi
ketika cairan yang terinfeksi masuk secara spontan ke
dalam dinding dada dari rongga pleura. Proses ini mungkin
akibat dari peroses perpanjangan bronkopleural dari
infeksi paru-paru di perifer. Mycobacterium tuberculosis
dianggap penyebab paling umum dan mungkin terjadi
70% dari kasus. Penanga­nan EN yaitu drainase tertutup
atau terbuka pada ruang pleura untuk mencegah fibrosis
dan untuk memfasilitasi perluasan paru-paru. Terapi anti­
biotik yang tepat juga menjadi andalan pengobatan EN.4
LAPORAN KASUS
Seorang wanita berusia 38 tahun datang ke
instalasi gawat darurat dengan keluhan utama sesak
napas sejak ± 6 bulan yang lalu dan memberat dalam
dirasakan dalam 3 bulan yang lalu dan memberat
dalam 1 bulan ini dengan ditemukan dahak dan
riwayat batuk darah. Nyeri dada dirasakan pada
dada kiri dan kanan seperti tertekan. Riwayat
obat antituberkulosis kategori I berdasarkan klinis,
radiologis dan BTA dahak 2 tahun lalu dan dinyatakan
sembuh, tetapi kambuh kembali pada tahun yang
sama dan diberikan obat antituberkulosis kategori I
kembali. Riwayat merokok (IB; 384, sedang). Riwayat
dirawat oleh karena sesak napas dan didiagnosis
dengan TB MDR sejak 1 tahun yang lalu dari dahak
dengan hasil pemeriksaan BTA 3+ dan pemeriksaan
Gene Xpert MTB Positive Rifampisin Resistant dan
menunggu hasil drug suspectibility test (DST).
Pemeriksaan fisik kesadaran compos mentis
dengan tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 104 kali/
menit, respirasi 30 kali/menit, temperatur 38oC dan
saturasi oksigen 98% dengan status gizi buruk (BMI:
15,96). Pada pemeriksaan dada secara inspeksi
didapatkan empyema necessitans pada dada kiri,
pergerakan simetris dada kiri sama dengan dada
kanan. Palpasi dada terdapat penurunan fremitus
taktil pada lobus atas paru kanan dan kiri. Perkusi
dada didapatkan hipersonor di lobus atas paru kiri
dan kanan. Auskultasi dada pada suara pernapasan
bronkial di lobus bawah paru kanan dan kiri dengan
suara tambahan ronkhi kasar dan low pitch pada
inspirasi lambat di kedua paru.
Pemeriksaan laboratorium: Hb 12,30 g/
dL, leukosit 16,34x103 /mm3, eritrosit 4,79x106 /
mm3, hematokrit 40,00%, trombosit 408.000 /mm3.
Elektrolit didapatkan : natrium 136 mEq/L, kalium
4,10 mEq/L, dan klorida 105 mEq/L. Analisis gas
darah didapatkan : pH 7,410, PCO2 35,0 mmHg,
PO2 194,0 mmHg, HCO3 22,2 mmol/L, total CO2 23,3
mmol/L, BE -2,0 mmol/L, SaO2 100,0%. Glukosa
darah 83 mg/dL. Faal ginjal didapatkan BUN 21 mg/
dl, ureum 45 mg/dl dan kreatinin 0,52 mg/dl. Faal hati
didapatkan total bilirubin 0,10 mg/dl, bilirubin direct
0,10 mg/dl, 57 U/L, alkali fosfatase 57 U/L, SGOT
14 U/L, dan SGPT 11 U/L. Prokalsitonin didapatkan
0,05 ng/ml dan anti HIV non reaktif.
2 bulan ini bila batuk kuat dan beraktivitas. Batuk
70
J Respir Indo Vol. 37 No. 1 Januari 2017
2
C 2 35,0 mm
CO
mHg, PO2 1994,0 mmHg,, HCO3 22,22 mmol/L, tootal CO2 23,3
3 mmol/L, BE
B
m 455 mg/dl dan
n kreatinin 0,52
0
mg/dl. Faal hati didapatkan
d
tootal bilirubinn 0,10 mg/ddl,
o
ol/L,
SaO2 100,0%. Gluk
kosa darah 883 mg/dL. Faal
F ginjal diidapatkan BU
UN 21 mg/ddl,
G
Gambar.
3. Fotoo rongent thoraaks PA.
Ben Ben
Tantangan
Drug Resistant
Tuberculosis
dengan
Komplikasi
Multiple
dan Empyema
ubin
direct
mIrwandi:
mg/dl,
U//L,Penanganan
alkali
fosMulti
sfatase
57 U/
/L,
SGOT
14
U/L,
dan
S i Giant
11Bullae
U/L
L.
Pada
27
febru
ari 2016
akmg/d
hiperlusensi
avaskular
(gia
ant bullae) padda lobus ata
5 mg/dl
dan
n0,10
kreatinin
0 57mg/dl.
0,52
Faal hati
d tannggal
didapatkan
to
otal
bilirubin
n4tampa
0,10
dl,SGPT
Necessitans pada Wanita Usia 38 Tahun
fibroinffiltrat di lobus tengah kedua paru.
p
Trakea seedikit tertarik ke
k hemithorakss kanan. D
kalsito
tkan
0,05
ngg/ml
dan anti
HIV
non reeaktif.
directonin
0,10didapat
m
mg/dl,
57 U//L,
alkali
fossfatase
57i U/
/L, SGOT
144 U/L, dan SGPT
S
11 U/L
L. tertarrik ke atas.
o
onin
didapattkan 0,05 ngg/ml dan antii HIV non reeaktif.
Gambar. 1. Empyema necessitan.
Gambar. 1. Em
mpyema necesssitan.
Gambar. 1. Em
mpyema necesssitan.
Pada tangggal 27
Gambar. 3. Foto rongent thoraks lateral.
Gaambar.
4. Foto
r
rongent
thorakks lateral.
Pada tanggal
27 februari
2016 tampak
fibroinfiltrat
di lobus
februarritengah
2016 sampai
tampak
kbawah
fibroinfiltrat
ddi Terdapat
lobus tengah
h retrosternal
sampai bawahh
kedua paru.
ruang
dan retrokardial.
retrosternal
l dan retrokardiial.
kedua pa
G
Gambar.
2. Fotoo rongent thoraaks PA.
G
Gambar.
2. Foto
o rongent
thora
aks
PA. atas keedua paru dan
aanggal 20 januaari 2016 tampaak hiperlusensi
avaskular
(gia
ant bullae)
pada
a lobus
ada
ta
anggal
20
janua
ari
2016
tampa
ak
hiperlusensi
avaskular
(gia
ant
bullae)
pada
lobus
edua paru dan
r di lobus tenngah kedua Gambar.
rat
parru. Trakea
sedik
kit tertarik
h
kaanan. Gambara
ana air
fluidatas
leveelke
2. Foto
rongent
thorakske
PA.hemithoraks
oinfiltrrat di lobus
ngahatakedua
ru.Dia
Trakea
sedik
kitantertarik
ke at
htas.
hemithoraks
kaanan. Gambaraan air fluid leveel
diten
lobus
as januari
paru par
kiri.
afraghma
kana
tertarik
Pada
tanggal
20
2016
tampak
hiperlusensi
avaskular
dipada
lobus
ataas
paru
kiri.
afraghma
ke 4.attas.
(giant bullae)
lobus
atas
kedua
paruDia
dan
fibroinfiltratkana
di an tertarik
Gambar
CT scan
mediastinum
injeksi
kontras.
G thoraks danFoto
Gambar.5.
rongentdengan
thoraaks
PA.
mbar.7.
CT sca
an
thoraks
dann omediastinum
dengan
injeksii kontras.
lobus tengah kedua paru. Trakea sedikit tertarik ke hemithoraks Gam
Pada
tanggal
04kmaret
2016 tampak
aktif,
Pada taanggal 24 mareet
2016
tampak
hiperlusensi
a proses spesifik
avaskular
(gian
nt lama
bullae)
padaa lobus atas
kanan. Gambaran air fluid level di lobus
atastang
paru
kiri. 04 maret 2016 tampak proses
lama
aktif,
pn
Pada
ggal
p
spesifik
eumothoraks
teerlokalisir
pneumothoraks
terlokalisir,
bronkiektasis,dan
pleuritis
bilateral.
fibroinf
filtrat
di
lobus
tengah
kedua
p
paru.
Trakea
se
edikit
tertarik
k
ke
hemithoraks
s kanan. D
Diafraghma kanan tertarik ke atas.
pleurittis bilateral.
tertarrik ke atas.
Terapi yang diberikan oksigen 2-4 L/menit
Oleh sebab itu, salah satu regimen TB MDR yaitu
nasal kanul, IVFD NaCl 0,9% 20 gtt/menit, injeksi
cycloserine digantikan dengan para-aminosalicylic
ranitidin 50 mg/12jam iv, injeksi kanamycin 750 mg/
acid (PAS) 4 gram 1x2 sac po setiap hari. Pasien
hari im 5 hari perminggu, pyrazinamide 500 mg 1x3
diharapkan setelah konversi sputum direncanakan
tablet po setiap hari, levofloxacin 250 mg 1x3 tablet
akan dikonsulkan ke Departemen Bedah Toraks dan
po setiap hari, cycloserine 250 mg 1x2 tablet po setiap
Kardiovaskuler untuk penanganan dan progresivitas
hari, ethionamide 250 mg 1x2 tablet po setiap hari, dan
dari penyakit MGB.
vitamin B6 50 mg 1x2 tablet po setiap hari. Selama
PEMBAHASAN
Gambar.8.. Ekokardiograafi
Tanggal
l
24
maret
201
6
dengan
hasil
l
sinus
takikard
di, QRS
107 kaali/menit,
norm
moaxis RAD
perawatan dan mencuci secara steril pada luka
PadaGa
standard
dalam
dards
ambar. 6.12Foto
r International
rongent
thorakks Stan­
lateral.
interv
val 0,12”, duraasi QRS 0,04”, perubahan ST
T-T (-). LVH (-), VES (-)
sampai
bawahh kedua par
Pada tannggal
t 2016
tampak fibroinfiltrat
dedisi
lobus
tengah
empyema necessitans dengan menggunakan
larutan24 maretfor
Tuberculosis
Care (ISTC)di
ketiga
pasien
dengan
retrosternal
l
dan
retrokardi
ial.
NaCl 0,9% dan larutan betadin 2 kali sehari, serta
pemberian regimen TB MDR, pasien dilakukan
atau sangat mungkin untuk memiliki tuberkulosis yang
erapi yang diberikan
oksigen
4 L/menit
nasal
n / XDR)
kanull, IVFD
menutup luka yang kuat dengan kain kasaTsteril.
disebabkan oleh
resistan2-4
obat
(terutama MDR
Selama perawatan, observasi,
dan , evaluasi
gtt/menit
injeksi
diruangan rawat inap pasien diberikan obat regimen
seharusnya
dengan iv,
paduan
obat khusus
yang 750 mg
50 diobati
mg/12jam
injeksi
kanamycin
raanitidin
mengandung lini kedua obat antituberkulosis dengan
permingggu , pyrazinaamide
500 mg
m 1x3 tableet po setiap hari, levoflooxacin 2
TB MDR standar yang memberikan perbaikan yang
kualitas terjamin. Dosis obat antituberkulosis harus
signifikan terhadap kenaikkan po
berat
badan,
klinis
sesuai250
dengan
Regimen
yang
dipilih mide
setiap
hari,
cyclosserine
m rekomendasi
mg
1x2 tablettWHO.
po setiap
haari,
ethionam
dengan keluhan respirasi seperti sesak napas
dapat dibakukan atau berdasarkan pola kerentanan
yang berkurang, dan perbaikkan luka EN. Tetapi
obat yang diduga atau yang telah terkonfirmasi.
250
min B6 50 mg
m 1x2 tablett po setiap hari. Selama
pemberi
setiap harri, dan vitam
5
pasien mengeluhkan efek
TB, pasie
dilakukann perawatan
n dan
mencuuciterjadi
secara
stteril
pada luuka empy
samping
obatendengan
Empyema
necessitans
karena
komplikasi
keluhan nyeri kepala berat, nyeridengan
badan dan
sangat
jarang
terjadidan
dari
infeksi rongga
pleura
m depresi.
menggunakan
n yang
larutan
NaaCl
0,9%
n larutan
bettadin
2 dan
kali
yang kuaat dengan kaiin kasa sterill.
J Respir Indo Vol. 37 No. 1 Januari 2017
71
s
sehari,
se
Seelama peraw
watan, observ
vasi, dan evaaluasi diruan
ngan rawat inap pasi
Ben Ben Irwandi: Tantangan Penanganan Multi Drug Resistant Tuberculosis dengan Komplikasi Multiple Giant Bullae dan Empyema
Necessitans pada Wanita Usia 38 Tahun
terjadi ketika cairan yang terinfeksi membedah secara
dilakukan oleh WHO Guidelines for the programmatic
spontan ke dalam dinding dada dari rongga pleura.
management of drug-resistant tuberculosis menunjukkan
Proses tersebut mungkin diakibatkan dari bronkopleura
angka keberhasilan total durasi pengobatan regimen TB
fistel dari infeksi paru perifer. Organisme penyebab
MDR lebih dari 24 bulan walaupun jumlah yang diamati
terbanyak sekitar 70% EN adalah Mycobacterium
relatif kecil. Oleh karena itu, pasien yang sebelumnya
tuberculosis, Actinomyces spp yang dianggap penye­
dirawat karena TB MDR (dan sering dengan pasien XDR
bab terbanyak kedua (infeksi actinomycosis dada),
TB) umumnya menerima pengobatan setidaknya 24
Blastomycosis spp, Aspergillus spp, Mycomycosis
bulan dari sebagian besar program.1
4
spp, dan Fusobacterium spp. Gambaran radiologis
Efek samping mayor terhadap pengobatan
Empyema necessitans adanya gambaran radiologis
TB MDR mudah untuk dikenali dan pasien pada
dada yang tidak spesifik dan kadang-kadang bahkan
umumnya mengemukakan keluhan efek samping
bisa normal atau menunjukkan kepadatan jaringan
yang dialaminya. Oleh karena itu, anamnesis yang
lunak pada dinding dada. Gambaran CT-scan berguna
sistematis terhadap efek samping pengobatan
dalam menilai sejauh mana infeksi rongga dada dengan
TB MDR merupakan metode yang penting bagi
menunjukkan empyema (penggumpalan rela­tif) dengan
pasien yang diam tentang pelaporan efek samping
perluasan melalui dinding dada ke dalam kompartemen
bahkan efek samping yang parah atau mungkin
ekstratoraks dan kerusakan tulang iga.
pasien tertentu terganggu oleh suatu efek samping
6, 7, 8
Bullae adalah suatu ruang udara dalam parenkim
dan lupa untuk memberitahukan efek samping
paru yang timbul dari suatu proses destruksi, dilatasi,
yang dialaminya kepada tenaga ahli kesehatan
dan pertemuan rongga udara di distal bronkiolus
(TAK). Semua penyedia DOTS termasuk rumah
terminalis dengan diameter lebih besar dari 1 cm dan
sakit, klinik, atau pekerja kesehatan masyarakat
lapisan dinding bullae dibentuk oleh parenkim yang tipis
harus dilatih untuk mengenali efek samping yang
dan terkompresi. Superinfeksi yang disertai dengan
terjadi, sehingga penyedia DOTS tersebut dapat
bullae memiliki manifestasi klinis seperti demam, batuk,
melakukan manajemen penanganan efek samping
produksi sputum yang purulen, sesak napas, dan nyeri
dan atau merujuk kepada tenaga ahli kesehatan.
pleuritik pada dada. Pada pemeriksaan laboratorium dapat
Pemeriksaan skrining laboratorium sangat berguna
ditemukan leukositosis dan kultur sputum yang positif. Jenis
untuk mendeteksi efek samping yang terjadi
bakteri yang telah teridentifikasi dari bullae yang terinfeksi
terutama pada pasien dengan resiko yang tinggi.1
merupakan bakteri methicillin-resistant staphylococcus
aureus (MRSA), Bacteriodes, Pseudomonas aeruginosa,
dan Mycobaterium. Pengobatan biasanya membutuhkan
waktu yang lama dan diberikan secara parenteral atau
intrabula, karena proses drainage dari bullae yang buruk
akan memperlambat proses resolusi dari penyakit.3
Metode utama untuk mengevaluasi respon peng­
obatan TB MDR adalah melalui konversi dari apusan
pada pemeriksaan BTA dan kultur dahak. Gejala
klinis dan pemeriksaan radiologis dapat juga menjadi
pertimbangan ketika ingin menentukkan pengobatan
lebih dari 20 bulan. Beberapa klinisi dan pemegang
program dapat memberikan pengobatan TB MDR
setidaknya 12 bulan terjadi konversi sputum (tetapi tidak
lebih dari 20 bulan). Penelitian secara meta analisis yang
72
Tabel 1. Pemeriksaan fungsi paru.3
Pemeriksaan
Penyakit
bullae
TLC, L
RV, L
FRC, L
FRC,a L
RV/TLC %
FEV1, L
FVC, L
FEV1/FVC %
MVV, L/min
DLCO/VA, (mL/min/mmHg)/L
Raw, cm H2O/L/s
Cst, exp, L/cm H2O
Pst, TLC, cm H2O
Notes: N = Normal, ↑ =
meningkat, ↓ = menurun.
FRC diukur dengan
plethismografi .
N
N
N
↑
N
N↓
N↓
N
N
N
N↑
N↑
N↓
Penyakit obstruksi
saluran napas dan
bullae
N↑
↑
↑
↑
↑
↓
↓
↓
↓
↓
↑
↑
↓
J Respir Indo Vol. 37 No. 1 Januari 2017
Ben Ben Irwandi: Tantangan Penanganan Multi Drug Resistant Tuberculosis dengan Komplikasi Multiple Giant Bullae dan Empyema
Necessitans pada Wanita Usia 38 Tahun
Tabel. 2. Indikasi dan kontraindikasi pada bulektomi.3
Indikasi
Kontraindikasi
Klinis
Parameter
Usia muda (< 50 tahun).
Sesak napas yang progresif meskipun dengan pengobatan
maksimum.
Bekas perokok.
Usia tua (> 50 tahun).
Komorbid.
Penyakit jantung.
Hipertensi pulmonaris.
Penurunan berat badan > 10%.
Infeksi bronkhitis kronis berulang.
Perokok aktif.
Pemeriksaan
fungsi paru
FVC normal atau rendah.
FEV1 > 40% dari prediksi.
Bronkhorevesibility sedikit berubah.
Volume paru yang terperangkap tinggi.
DLCO normal atau mendekati normal.
PaO2 dan PaCO2 normal.
FEV1 < 35% dari prediksi.
Volume paru yang terperangkap rendah.
DLCO menurun.
Pemeriksaan
radiologis
Rongent dada bullae > 1/3 hemithoraks.
CT scan ukuran besar dan terlokalisir dengan banyak pembuluh
darah dan normal, parenkim paru terkompresi mengelilingi bullae.
Pemeriksaan angiografi dengan pembuluh darah yang
mengumpul dengan cabang distal yang menetap.
Scan isotop menunjukkan defek lokal dengan pengambilan dan
pengeluaran dari paru.
Rongent dada “Vanishing lung syndrome”.
Bullae yang tidak dapat didefinisikan.
CT-scan bullae yang multiple.
Angiografi bullae menunjukkan pembuluhan
yang rusak dimana-mana.
Scan isotop menunjukkan zona target yang
menghilang, pengeluaran paru rusak.
Pengobatan dan prognosis EN yang dipilih
adalah drainase tertutup atau terbuka dari rongga
pleura untuk mencegah fibrosis pada paru. Antibiotik
yang tepat dan sesuai dengan penyakit yang mendasari
seperti pengobatan TB MDR merupakan suatu
tanda yang menunjukkan angka keberhasilan dalam
pengobatan EN meskipun sebagian besar pasien TB
kronis akan tetap rentan terhadap pengobatan standar
atau mungkin pengobatan TB MDR yang harus
dievaluasi. Jika pengobatan medis tidak berhasil,
pem­
bedahan merupakan dianggap sebagai proses
pengambilan jaringan nekrotik paru, empyema, dan
pengelolaan bronkhopleural fistel. Empyema yang
terjadi dapat didefiniskan pada gambaran radiologis
oleh karena obstruksi bronkus dengan adanya abses
yang lebih besar disertai jaringan yang nekrotik yang
terjadi secara kronis dari tuberkulosis yang muncul
secara progresif dengan gambaran bronkiektasis dan
berbagai tingkat obstruksi vaskular yang berkorelasi
dengan resiko kegagalan terapi.6, 7,8 , 9, 10
Secara umum setiap kasus giant bullae peng­
obatannya dengan pembedahan secara bulektomi.
Pasien dengan giant bullae dibagi menjadi beberapa
grup, yaitu:11
Grup I
: Single giant bullae dengan paru-paru
yang normal.
Grup II : Multiple giant bullae dengan paru-paru
yang normal.
J Respir Indo Vol. 37 No. 1 Januari 2017
Grup III : Multiple bullae dengan empisema yang
luas pada paru-paru.
Grup IV : Multiple bullae dengan penyakit paru
yang mendasari.
Pada pasien ini termasuk MGB grup IV dengan
penyakit yang mendasari TB MDR yang memiliki angka
keberhasilan yang rendah untuk dilakukan bulektomi,
tetapi disarankan untuk dilakukan transplantasi paru.11
KESIMPULAN
Pada laporan kasus ini pasien telah didiagnosis
multi drug resistant tuberculosis dengan komplikasi
multiple giant bullae dan empyema necessitans
serta telah menerima pengobatan regimen TB MDR
dengan adekuat dan evaluasi yang ketat terhadap
efek samping. Pemantauan respon pengobatan dila­
kukan terhadap peme­
riksaan klinis dan pemeriksaan
penunjang sehingga didapatkan peningkatan per­
baik­
kan yang signifikan serta didapatkan kualitas hidup
yang lebih baik. Diharapkan setelah konversi sputum,
pasien direncanakan dikonsulkan ke Departemen Bedah
Thoraks dan Kardiovaskular.
DAFTRA PUSTAKA
1. World Health Organization. Companion Hand­
book to The WHO Guidlines for The Program­
matic Management of Drug-resistant Tuberculosis.
Geneva: WHO Press; 2014.p.1-443.
73
Ben Ben Irwandi: Tantangan Penanganan Multi Drug Resistant Tuberculosis dengan Komplikasi Multiple Giant Bullae dan Empyema
Necessitans pada Wanita Usia 38 Tahun
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesi Direk­­
torat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penye­
[cited 2016 April 01]; available from: radiopaedia.
org/articles/empyema-necessitans.
hatan Lingkungan. Petunjuk Teknis Manajemen
7. Ahmed SI, Gripaldo RE, Alao OA. Empyema
Ter­­padu Pengendalian Tuberkulosis Resistan Obat.
necessitans in the setting of pneumonia and para­
Jakarta: Kemen­
terian Kesehatan Republik Indo­
pneumonic effusion. Am J Med. 2007;333:106-8.
nesia; 2014.p.1-107.
3. Martinez FJ. Bullous Disease of the Lung. In:
Grippi, MA. Elias, JA. Fishman, JA. Kotloff,
8. Choi JA, et al. CT Manifestation of Late Sequelae
in Patient with Tuberculous Pleuritis. Am Ron J.
2001;176:441-50.
RM. Pack, AL. Senior, RM, editors. Fishmna’s
9. Tam JKC and Lim KS. Massive Pulmonary Tuber­
Pulmonay Diseases and Disorders. 5 th edition.
culosis Cavity Misdiagnosed as Pneu­
mo­
thoraks.
Philadelphia: Mc Graw Hill; 2015.p.787-97.
Respirology Case Report. 2013;1:23-5.
4. Gomes MM, et al. Empyema necessitans: very
10.Reimel BA, Krishnadasen B, Cuschieri J, Klein
late complication of pulmonary tuberculosis.
MB, Gross J, Jones RK. Surgical Management
BMJ Case Rep. 2013;10:2013-202072.
of Acute Necrotizing Lung
5. TB CARE I. International Standards for Tuber­culosis
Infections. Can
Respir J. 2006;13:369-73.
Care, Edition 3. TB CARE I: The Hugae; 2014.p.1-57.
11.Health Encyclopedia. Giant Bullae. [online].
6. Tatco, V. Weerakkody, Y, et al. Empyema
2016. [cited 2016 April 01]. Available from: www.
necessitans. Radiopaedia [online]. 2016 April 01
74
urmc.rochester.edu. Health Encyclopedia.
J Respir Indo Vol. 37 No. 1 Januari 2017
Download