pengaruh pengungkapan lingkungan terhadap

advertisement
PENGARUH PENGUNGKAPAN LINGKUNGAN
TERHADAP KINERJA KEUANGAN DAN
KINERJA SAHAM
(Studi pada Sektor Perusahaan Pengusahaan Hutan dan Pertambangan
Umum)
Oleh:
Rizky Putri Utami
NIM: 104082002739
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SYARIF
HIDAYATULLAH
JAKARTA
1429 H/2008 M
PENGARUH PENGUNGKAPAN LINGKUNGAN TERHADAP KINERJA
KEUANGAN DAN KINERJA SAHAM
(Studi Pada Perusahaan Pengusahaan Hutan dan Pertambangan Umum)
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial
Untuk Memenuhi Syarat-syarat untuk Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
Rizky Putri Utami
NIM :104082002739
Di Bawah Bimbingan
Pembimbing I
Dr. Wiwik Utami, SE., Ak., M.Si.
Pembimbing II
Amilin, SE., Ak., M.Si.
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1429 H/2008 M
i
Hari ini Jumat Tanggal 28 Bulan Nopember Tahun Dua Ribu Delapan telah
dilakukan Ujian Komprehensif atas nama Rizky Putri Utami NIM: 104082002739
dengan judul Skripsi “PENGARUH PENGUNGKAPAN LINGKUNGAN
TERHADAP KINERJA KEUANGAN DAN KINERJA SAHAM (Studi Pada
Perusahaan Pengusahaan Hutan dan Pertambangan Umum).” Memperhatikan
penampilan mahasiswa tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah
dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 28 Nopember 2008
Tim Penguji Ujian Komprehensif
Afif Sulfa, SE., Ak., MSi.
Ketua
Hepi Prayudiawan, SE., Ak., MM
Sekretaris
Abbas Ghozali, Ph. D.
Penguji Ahli
ii
Hari ini Selasa Tanggal Tiga Puluh Bulan Desember Tahun Dua Ribu Delapan
telah dilakukan Ujian Skripsi atas nama Rizky Putri Utami NIM: 104082002739
dengan judul Skripsi “PENGARUH PENGUNGKAPAN LINGKUNGAN
TERHADAP KINERJA KEUANGAN DAN KINERJA SAHAM”. (Studi
Pada Sektor Perusahaan Pengusahaan Hutan dan Pertambangan Umum).
Memperhatikan penampilan mahasiswa tersebut selama ujian berlangsung, maka
skripsi ini sudah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Ekonomi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 30 Desember 2008
Tim Penguji Ujian Skripsi
Pembimbing I
Pembimbing II
Dr., Wiwik Utami, SE., Ak., MSi.
Amilin, SE., Ak., M.Si.
Penguji Ahli
Yessi Fitri, SE., Ak., M.Si.
iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Data Diri Pribadi
Nama Lengkap
Jenis Kelamin
Tempat Tanggal Lahir
Kewarganegaraan
Agama
Alamat
Telepon/Handphone
Email
:
:
:
:
:
:
Rizky Putri Utami
Wanita
Jakarta, 11 Januari 1987
Indonesia
Islam
Jl. Manyar Dalam Blok RS V
Bintaro, Tangerang
15412
: (021) 737 – 2090 / 0856 – 9197 – 37881
: [email protected]
Pendidikan Formal
•
•
•
•
MI Darunnajah, Ulujami
SLTPN 161, Tanah Kusir
SMAN 29, Jakarta
UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
[1992-1998]
[1998-2001]
[2001-2004]
[2004-2008]
Latar Belakang Keluarga
Ayah
Tempat & Tgl. Lahir
: Abdul Azis
: Jakarta 25 April 1961
Ibu
Tempat & Tgl. Lahir
: Wuning Astuti
: Jakarta, 28 Nopember 1966
Anak Ke dari
: 1 dari 3 bersaudara
iv
PENGARUH PENGUNGKAPAN LINGKUNGAN TERHADAP KINERJA
KEUANGAN DAN KINERJA SAHAM
(Studi Pada Perusahaan Pengusahaan Hutan dan Pertambangan Umum)
By:
Rizky Putri Utami
Abstract
The primary objective of this research is to understand and to analyzing the
effect of the environmental disclosure with financial performance and stock
performance. The sample of this research is utilize at Wood industry and Mining
Company in the context of Indonesia Stock Exchange.
Based on the theoretical model that is proposed in this research, the
statistical techniques used in this study is simple linier regression analysis. These
statistical techniques is used test the hypothesis. The sample of this research
consist of 9 companies – 5 wood companies and 4 mining companies the context
of Indonesia Stock Exchange is selected purposively.
The analysis used software Statistical Package for The Social Science (SPSS)
versi 12.0. The test conducted on hypothesis had shown that significant of
environmental disclosure with financial performance and also stock performance.
Keywords: environmental disclosure, financial performance, return on asset,
and return of stock investment.
v
PENGARUH PENGUNGKAPAN LINGKUNGAN TERHADAP KINERJA
KEUANGAN DAN KINERJA SAHAM
(Studi Pada Perusahaan Pengusahaan Hutan dan Pertambangan Umum)
Oleh:
Rizky Putri Utami
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa
pengaruh pengungkapan lingkungan terhadap kinerja keuangan dan kinerja
saham. Sampel perusahaan pada penelitian ini adalah perusahaan pengusahaan
hutan dan pertambangan umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Berdasarkan model teoritis yang diajukan dalam penelitian ini teknik statistik
yang digunakan adalah dengan regresi linear sederhana untuk menguji hipotesis.
Sampel diambil secara purposive sebanyak 9 sampel perusahaan – 5 perusahaan
pengusahaan hutan dan 4 perusahaan pertambangan umum yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia.
Analisis menggunakan Statistical Package for The Social Science (SPSS)
versi 12.0. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan antara pengungkapan lingkungan terhadap kinerja keuangan dan juga
kinerja saham.
Kata kunci: pengungkapan lingkungan, kinerja keuangan, return on asset, dan
return saham.
vi
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puja, puji serta syukur penulis panjatkan atas segala kehadirat Illahi Robbi
Allah SWT yang telah mencurahkan segala nikmat yang tiada hentinya sehingga
skripsi ini dapat selesai tepat pada waktunya. Salawat serta salam tak lupa penulis
panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita ke zaman
peradaban.
Skripsi ini berjudul “Pengaruh Pengungkapan Lingkungan Terhadap Kinerja
Keuangan dan Kinerja Saham”. Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk
mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi (SE) di Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Selama penyusunan skripsi ini, telah banyak sekali pihak yang telah
membantu baik moril maupun materil sehingga penyusunan skripsi ini akhirnya
bisa selesai. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan
terima kasih kepada:
1.
Kedua orang tua tercinta atas segala doa, nasihat, motivasi, dan bantuan baik
moril maupun materiil serta kepada kedua saudaraku untuk dukungan dan
motivasinya.
2.
Bapak Drs. Muhammad Faisal Badroen, MBA. selaku Dekan Fakultas
Ekonomi dan Ilmu Sosial.
3.
Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS. selaku Pudek Bidang Akademik.
4.
Ibu Dr. Wiwik Utami, SE., Ak., M.Si selaku pembimbing I, terima kasih
atas ilmu nasihat, dan bimbingannya selama ini.
5.
Bapak Amilin, SE., Ak., M.Si. selaku pembimbing II dan Sekretaris Jurusan
Akuntansi, terima kasih atas ilmu, nasihat, dan bimbingannya selama ini.
6.
Ibu Dr. Zurinal Z. selaku Pudek Bidang Administrasi Umum.
7.
Bapak Drs. Suhenda Wiranata, ME. selaku Pudek Bidang Kemahasiswaan.
8.
Bapak Drs. Abdul Hamid Cebba, Ak., MBA. selaku Ketua Jurusan
Akuntansi.
9.
Segenap jajaran akademik FEIS dan staf pengajar.
vii
10.
Teman-teman angkatan 2004, serta semua sahabat-sahabatku yang telah
memberikan bantuan dan semangat. Untuk semua orang yang telah
membantuku, tapi tidak tersebut namanya, terima kasih.
Akhirnya semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan
pembaca pada umumnya serta bagi perkembangan ilmu pengetahuan di masa
yang akan datang.
Hormat saya,
Penulis
viii
DAFTAR ISI
Halaman
Lembar Pengesahan Skripsi............................................................................ i
Lembar Pengesahan Ujian Komprehensif ...................................................... ii
Lembar Pengesahan Ujian Skripsi.................................................................. iii
Daftar Riwayat Hidup ..................................................................................... iv
Abstract ............................................................................................................. v
Abstrak............................................................................................................. vi
Kata Pengantar ................................................................................................ vii
Daftar Isi .......................................................................................................... ix
Daftar Tabel ..................................................................................................... xii
Daftar Gambar ................................................................................................xiii
Daftar Lampiran..............................................................................................xiv
BAB. I. PENDAHULUAN ............................................................................ 1
A. Latar Belakang Penelitian ........................................................ 1
B. Perumusan Masalah.................................................................. 14
C. Tujuan Penelitian...................................................................... 14
D. Manfaat Penelitian ................................................................... 14
BAB. II. TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................16
A. Kerangka Teoritis .....................................................................16
1. Hubungan Perusahaan dengan Lingkungan ............................16
2. Konsep Akuntansi Lingkungan ..............................................20
ix
3. Pengungkapan Lingkungan ....................................................24
4. Kinerja Keuangan ..................................................................33
5. Kinerja Saham .......................................................................36
6. Hubungan Pengungkapan Lingkungan
dengan
Kinerja
Keuangan..............................................................................38
7. Hubungan Pengungkapan Lingkungan
dengan
Kinerja
Saham ...................................................................................39
B. Kerangka Penelitian.................................................................. 40
C. Hipotesis .................................................................................... 40
BAB. III. METODOLOGI PENELITIAN...................................................... 42
A. Ruang Lingkup Penelitian ........................................................ 42
B. Metode Penentuan Sampel........................................................ 42
C. Metode Pengumpulan Data ...................................................... 43
D. Metode Analisis Data ................................................................ 43
1. Uji Asumsi Klasik .................................................................. 44
a. Uji Multikolinearitas .......................................................... 44
b. Uji Heterokedastisitas ........................................................ 45
c. Uji Autokorelasi................................................................. 45
d. Uji Normalitas ................................................................... 45
2. Uji Hipotesis........................................................................... 46
a. Uji Koefisien Determinasi ................................................. 46
b. Regresi Linear Sederhana..................................................47
c. Uji Statistik t ..................................................................... 48
x
E. Operasional Variabel Penelitian...............................................48
1. Kinerja Keuangan...................................................................49
2. Kinerja Saham........................................................................50
3. Pengungkapan Lingkungan.....................................................51
BAB. IV. PENEMUAN DAN PEMBAHASAN ..............................................52
A. Gambaran Umum Objek Penelitian.........................................52
B. Hasil Uji Asumsi Klasik ............................................................65
1. Uji multikolinearitas ...............................................................59
2. Uji heteroskedastisitas ............................................................60
3. Uji autokorelasi ......................................................................61
4. Uji normalitas .........................................................................63
C. Hasil Uji Hipotesis.....................................................................64
1. Uji Koefisien Determinasi ......................................................64
2. Uji Statistik t ..........................................................................67
BAB. V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI ................................................. 73
A. Kesimpulan................................................................................ 73
B. Implikasi .................................................................................... 74
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 75
LAMPIRAN .....................................................................................................79
xi
DAFTAR TABEL
Nomor
Keterangan
Halaman
1.1. Perbedaan Penelitian Sekarang dengan Penelitian Sebelumnya ............... 13
4.1. Daftar Perusahaan Sampel...................................................................... 54
4.2. Proporsi Pengungkapan Lingkungan Pengusahaan Hutan ....................... 55
4.3. Proporsi Pengungkapan Lingkungan Pertambangan Umum .................... 55
4.4. ROA Perusahaan Pengusahaan Hutan..................................................... 56
4.5. ROA Perusahaan Pertambangan Umum.................................................. 57
4.6. Return Saham Perusahaan Pengusahaan Hutan ....................................... 58
4.7. Return Saham Perusahaan Pertambangan Umum.................................... 58
4.8. Uji Multikolinearitas Hipotesis Pertama ................................................. 59
4.9. Uji Multikolinearitas Hipotesis Kedua .................................................... 59
4.10. Uji Autokorelasi Hipotesis Pertama ....................................................... 62
4.11. Uji Autokorelasi Hipotesis Kedua .......................................................... 62
4.12. Uji Koefisien Determinasi Hipotesis Pertama ......................................... 65
4.13. Uji Koefisien Determinasi Hipotesis Kedua............................................ 66
4.14. Uji t Hipotesis Pertama........................................................................... 67
4.15. Uji t Hipotesis Kedua ............................................................................. 69
xii
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Keterangan
Halaman
2.1. Kerangka Pemikiran ............................................................................... 40
4.1. Uji Heteroskedastisitas Hipotesis Pertama .............................................. 60
4.2. Uji Heteroskedastisitas Hipotesis Kedua................................................. 61
4.3. Uji Normalitas Hipotesis Pertama........................................................... 63
4.4. Uji Normalitas Hipotesis Kedua ............................................................. 64
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Keterangan
Halaman
1.
Rekapitulasi Data ...................................................................................a
2.
Daftar Perusahaan Sampel......................................................................d
3.
Hasil Uji Asumsi Klasik Hipotesis Pertama............................................e
4.
Hasil Uji Asumsi Klasik Hipotesis Kedua ..............................................n
5.
Hasil Uji Hipotesis Pertama....................................................................w
6.
Hasil Uji Hipotesis Kedua ......................................................................x
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Ketika perusahaan beroperasi, maka proses bisnis yang dilakukan oleh
perusahaan tersebut berpotensi untuk menimbulkan dampak terhadap
lingkungan, baik dampak positif maupun dampak negatif. Pada prinsipnya
dampak yang timbul dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu dampak
bio-fisika-kimia dan dampak sosial. Contoh dari dampak bio-fisika-kimia
misalnya pencemaran air, pencemaran udara, kerusakan keanekaragaman
hayati, atau pengurangan cadangan air tanah (Anonim, 2008). Semua jenis
dampak yang ditimbulkan perusahaan akan memberikan risiko yang
mempengaruhi bisnis yang dijalankan oleh aktivitas perusahaan. Misalnya
pencemaran air yang ditimbulkan oleh aktivitas perusahaan akan memberikan
risiko pertanggungjawaban dalam bentuk tuntutan pidana dan perdata.
Perusahaan dalam menetapkan dan menjalankan strategi bisnisnya harus
memperhatikan dampaknya terhadap kondisi sosial dan lingkungan serta
berupaya agar dampak yang ditimbulkannya adalah positif.
Tujuan
kegiatan
bisnis
secara
umum
yaitu
keuntungan,
keberlangsungan, pertumbuhan, dan tanggung jawab sosial perusahaan. Tiga
dari tujuan diperjuangkan perusahaan agar tercapai karena perusahaan harus
mempertanggungjawabkan aktivitas operasinya secara “konvensional” kepada
pemegang saham. Tanggung jawab sosial dituntut karena akibat yang
1
ditimbulkan operasi perusahaan bukan hanya ditanggung pemegang saham
namun juga stakeholders, seperti pemerintah masyarakat, pelanggan dan
lingkungan (Harsono, 2000:1).
Perusahaan didirikan dengan tujuan menghasilkan laba maksimal bagi
para pemilik perusahaan. Cost-benefit suatu aktivitas operasi perusahaan
menjadi pertimbangan utama dalam usahan memaksimalkan laba. Atas dasar
alasan ini pula kemudian terjadi pengabaian prinsip-prinsip dari maksimalisasi
laba itu sendiri, diantaranya pengabaian aspek-aspek hubungan kemanusiaan
dengan tenaga kerja, lingkungan alam, dan masyarakat sekitar, sedangkan
aspek-aspek tersebut sangat berpengaruh terhadap kondisi going cocern
perusahaan secara langsung atau tidak langsung. Dengan kata lain jika terjadi
hal-hal yang mengancam kontinuitas perusahaan, maka jalan keluarnya
mengandung cost yang relatif lebih tinggi (Ja’far dan Amalia, 2006:2).
Implikasi dari pelanggaran
prinsip-prinsip
maksimalisasi
laba
diantaranya adalah terbengkalainya pengelolaan (manajemen) lingkungan
serta rendahnya minat perusahaan terhadap konservasi lingkungan, seperti
masalah pencemaran lingkungan yang terjadi di Indonesia dan negara-negara
lain. Masalah ini tidak akan terjadi jika manajer perusahaan memegang
komitmen pada pemenuhan tanggung jawab sosial terhadap kebersihan
lingkungan (Ja’far dan Amalia, 2006:3).
Permasalahan lingkungan di Indonesia merupakan faktor penting yang
harus segera dipikirkan mengingat akibat dampak buruk pengelolaan
lingkungan dan rendahnya perhatian terhadap lingkungan dari aktivitas
2
industri yang terjadi dewasa ini. Gejala ini dapat dilihat dari berbagai bencana
yang terjadi akhir-akhir ini, seperti banjir banding di Jawa Tengah dan Jawa
Timur, tanah longsor di Desa Sijeruk dan daerah lain di Jawa dan Sumatera,
serta kebakaran hutan di beberapa hutan lindung Kalimantan. Bahkan
munculnya banjir Lumpur bercampur gas sulfur di daerah Sidoarjo Jawa
Timur.
Kasus yang terakhir berkembang adalah banjir lumpur Lapindo.
Setidaknya terdapat tiga aspek yang menyebabkan terjadinya semburan limpur
panas tersebut (Wibisono, 2008). Pertama, adalah aspek teknis. Ada pendapat
yang menyatakan bahwa pemicu semburan lumpur adalah gempa Yogya yang
mengakibatkan kerusakan sedimen. Selain itu ada pendapat lain yang
menyatakan semburan gas Lapindo disebabkan pecahnya formasi sumur
pengeboran. Jika hal tersebut benar maka telah terjadi kesalahan teknis dalam
pengeboran yang berarti pula telah terjadi kesalahan pada prosedur
operasional standar.
Kedua, aspek ekonomis. Lapindo diduga “sengaja menghemat” biaya
operasional dengan tidak memasang selubung bor. Penggunaan selubung bor
ini sesuai dengan standar operasional pengeboran minyak dan gas. Jika dilihat
dari perspektif ekonomi, keputusan pemasangan selubung bor berdampak
pada besarnya biaya yang dikeluarkan Lapindo.
Ketiga, aspek politis. Sebagai legalitas usaha (eksplorasi atau
eksploitasi),
Lapindo
telah
mengantongi
izin
usaha
kontrak
bagi
hasil/production sharing contract (PSC) dari pemerintah sebagai otoritas
3
penguasa kedaulatan atas sumber daya alam. Poin inilah yang paling penting
dalam kasus lumpur panas ini. Pemerintah Indonesia telah lama menganut
sistem ekonomi nonliberal dalam berbagai kebijakannya. Alhasil, seluruh
potensi tambang migas dan SDA “dijual” kepada swasta/individu (corporate
based). Orientasi profit yang menjadi paradigma korporasi menjadikan
manajemen korporasi buta akan hal-hal lain yang menyangkut kelestarian
lingkungan, peningkatan taraf hidup rakyat, bahkan hingga bencana
ekosistem.
Hutomo (1996) dalam Harsono (2000:6) mencatat tiga permasalahan
lingkungan yang berkaitan dengan aktivitas bisnis. Pertama, permasalahan
lingkungan hidup, terutama di kota-kota besar, telah dianggap berada pada
tingkat yang membahayakan. Masyarakat sudah kesulitan memperoleh air
bersih dan menghirup udara segar. Penurunan kualitas atau kerusakan alam ini
lebih banyak disebabkan oleh dampak negatif aktivitas industri. Kedua, dalam
perdagangan bebas, produk disyaratkan harus bersahabat dengan lingkungan,
memaksa perusahaan harus meyusun strategi bisnis yang menyeluruh. Aspek
lingkungan tidak boleh dipandang sebagai “program sambilan” bila
perusahaan ingin mempertahankan hidupnya. Ketiga, lemahnya ilmu
pengetahuan dan teknologi serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat telah
menumbuhkan kesadaran akan lingkungan yang bersih dan sehat. Di samping
itu, tekanan politis terhadap perusahaan makin kuat akibat pemerintah
mengadopsi kebijakan pembangunan yang berkelanjutan.
4
Harahap
(1993)
dalam
Almilia
dan
Wijayanto
(2007:2)
mengemukakan besarnya dampak negatif yang ditimbulkan perusahaan
terhadap lingkungannya membuat masyarakat menginginkan agar dampak
negatif tersebut dikontrol sehingga social cost yang ditimbulkannya tidak
semakin besar. Dari sini berkembanglah ilmu akuntansu yang selama ini
dikenal hanya memberikan informasi tentang kegiatan perusahaan dengan
pihak ketiga, dengan adanya tuntutan ini maka akuntansi bukan hanya
merangkum informasi tentang hubungan perusahaan dengan pihak ketiga,
tetapi juga dengan lingkungannya.
Harahap (1993) dalam Almilia dan Wijayanto (2007:2) menjelaskan
bahwa hubungan perusahaan dengan lingkungannya bersifat non-reciprocal,
artinya transaksi itu tidak menimbulkan prestasi timbal balik dari pihak yang
berhubungan. Ilmu akuntansi yang mencatat, mengukur, melaporkan dampak
luar tersebut disebut Socio Economic Accounting (SEA), Environmental
Accounting, atau Social Responsibility Accounting.
Djogo (2006) dalam Almilia dan Wijayanto (2007:2) menyatakan
konsep akuntansi lingkungan sebenarnya sudah mulai berkembang sejak tahun
1970-an di Eropa. Konsep ini muncul akibat tekanan lembaga-lembaga bukan
pemerintah dan meningkatnya kesadaran lingkungan di kalangan masyarakat
yang mendesak agar perusahaan-perusahaan menerapkan pengelolaan
lingkungan bukan hanya kegiatan industri demi bisnis saja.
Mulyono (2002:1) mengungkapkan ketika masalah lingkungan
menjadi fokus utama dalam agenda politik dalam tahun 1980-an, keprihatinan
5
berkembang dari skala nasional menjadi skala internasional. Sebagai contoh
isu-isu yang menyeruak antara lain hujan asam, menipisnya lapisan ozon, serta
meningkatnya suhu bumi yang sekarang ini biasa disebut dengan global
warming.
Sejak pertengahan 1970-an, banyak perusahaan industri dan jasa besar
dunia yang mulai berjuang dengan konsep pelaporan keuangan berkaitan
dengan lingkungan. Perusahaan tersebut mulai menerapkan akuntansi
lingkungan. Beberapa perusahaan berusaha untuk peduli terhadap laporan
keuangan berkaitan dengan biaya lingkungan yang bertujuan meningkatkan
efisiensi pengelolaan lingkungan dengan melakukan penilaian kegiatan
lingkungan dari sudut pandang biaya (environmental cost) dan manfaat atau
efek (economic benefit). Sementara itu, beberapa lainnya bersikap pasif
bahkan cenderung untuk menghindari biaya lingkungan tersebut. Akuntansi
lingkungan diterapkan oleh berbagai perusahaan untuk menghasilkan
penilaian kuantitatif tentang biaya dan manfaat atau efek perlindungan
lingkungan (environmental protection) (Gunawan, 2004:41).
Kita telah memasuki dekade abad 20 dengan kesadaran yang
mendalam bahwa nasib negara semakin ditentukan oleh kekuatan persaingan
global. Keputusa-keputusan operasi, investasi, dan pendanaan pembiayaan
diwarnai oleh implikasi internasional. Sejalan dengan ini, laporan keuangan
menjadi hal penting untuk memberikan gambaran mengenai keadaan suatu
perusahaan berupa aktiva, hutang, dan modal, serta laporan laba rugi selama
suatu periode tertentu. Agar hal tersebut dapat dicapai diperlukan suatu
6
pengungkapan (disclosure) yang jelas mengenai data akuntansi dan informasi
lain yang relevan (Ikhsan, 2008:131).
Standar akuntansi keuangan di Indonesia belum mewajibkan
perusahaan untuk mengungkapkan informasi sosial terutama informasi
mengenai tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan, akibatnya yang
terjadi dalam praktik perusahaan akan mempertimbangkan biaya dan manfaat
yang akan diperoleh ketika mereka memutuskan untuk mengungkapkan
informasi sosial. Bila manfaat yang diperoleh dengan pengungkapan informasi
tersebut
lebih
besar
dibandingkan
biaya
yang
dikeluarkan
untuk
mengungkapkannya, maka perusahaan akan dengan sukarela mengungkapkan
informasi tersebut (Anggraini, 2006:3).
Pengungkapan akuntansi lingkungan (Environmental Accounting
Disclosure) di negara-negara berkembang termasuk Indonesia memang masih
sangat kurang. Banyak penelitian di area Social Accounting Disclosure
umumnya dan Environmental Accounting Disclosure pada khususnya
memperlihatkan bahwa pihak perusahaan melaporkan kinerja lingkungan yang
masih sangat terbatas. Kondisi ini disebabkan antara lain karena lemahnya
sanksi hukum yang berlaku (Lindrianasari, 2007:159). Mobus (2005) dalam
Lindrianasari (2007:159) menemukan bahwa terdapat hubungan yang negatif
antara sanksi hukum pengungkapan lingkungan yang wajib dengan
penyimpangan aturan yang dilakukan oleh perusahaan. Artinya semakin keras
sanksi hukum akan semakin mengurangi penyimpangan aturan yang telah
ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya pihak regulator
7
memiliki
kekuatan
untuk
menekan
pihak
perusahaan
dalam
meminimalisasikan dampak kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh
kegiatan usaha mereka.
Beberapa jenis perusahaan pada saat ini sudah mulai menyadari akan
pentingnya masalah lingkungan. Mereka berusaha untuk mencapai dan
menunjukkan kinerja lingkungan yang baik dengan mengendalikan dampak
dari kegiatan produk atau
jasanya pada lingkungan
yaitu dengan
memperhitungkan kebijakan dan tujuan lingkungannya. Organisasi tersebut
melakukan hal ini karena semakin tingginya perhatian masyrakat pada hal-hal
yang berkaitan dengan lingkungan termasuk pembangunan berkelanjutan
(Aris, 2002:2).
Gray (1993) dalam Lindrianasari (2007:160) mengemukakan sebagian
besar pengungkapan informasi sosial di laporan keuangan tehunan memuat
informasi mengenai tenaga kerja, lingkungan, dan masyarakat. Pengungkapan
lingkungan merupakan bagian dari pengungkapan laporan keuangan. Lebih
lanjut diutarakan bahwa informasi lingkungan merupakan salah satu bagian
penting dari suatu laporan keuangan perusahaan.
Dunlap dan Scare (1991) dalam Lindrianasari (2007:160) menyatakan
bahwa dari hasil polling, publik memandang kegiatan bisnis dan perusahaan
sebagai kontibutor terbesar terhadap permasalahan lingkungan yang terjadi
saat ini. Selanjutnya, publik juga ingin tahu sebesar apa kegiatan perusahaan
yang berdampak terhadap lingkungan. Untuk itu perusahaan dituntut untuk
menyediakan informasi mengenai kinerja kepada publik. Beberapa bentuk
8
media dapat digunakan oleh perusahaan untuk menyampaikan laporan
lingkungan, seperti laporan tahunan, laporan lingkungan tersendiri (stand
alone environmental reports), dan website.
Laporan keuangan adalah suatu sumber potensial yang lazim
digunakan oleh para investor sebagai dasar pengambilan keputusan
penanaman modal. Adanya informasi yang dipublikasikan akan merubah
keyakinan para investor. Laporan keuangan dikatakan mempunyai kandungan
informasi apabila dengan dipublikasikannya
laporan keuangan akan
menyebabkan para investor bereaksi untuk melakukan penjualan atau
pembelian saham. Selanjutnya reaksi tersebut akan tercermin dalam
perubahan return saham disekitar tanggal publikasi laporan keuangan.
Salah satu fungsi pasar modal adalah sebagai sarana untuk
memobilisasi dana yang bersumber dari masyarakat ke berbagai sektor yang
melaksanakan investasi. Syarat utama yang diinginkan oleh para investor
untuk bersedia menyalurkan dananya melalui pasar modal adalah perasaan
aman akan investasi dan tingkat return yang akan diperoleh dari investasi
tersebut. Perasaan aman ini diperoleh karena para investor memperoleh
informasi yang jelas, wajar, dan tepat waktu sebagai dasar dalam pengambilan
keputusan investasinya (Daniati dan Suhairi, 2006:1).
Pengungkapan kinerja lingkungan, sosial, dan ekonomi di dalam
laporan tahunan atau laporan terpisah adalah untuk mencerminkan tingkat
akuntanbilitas, responsibilitas, dan transparansi korporat kepada investor dan
stakeholders lainnya. Pelaporan tersebut bertujuan untuk menjalin hubungan
9
komunikasi yang baik dan efektif antara perusahaan dengan publik dan
stakeholders lainnya tentang bagaimana perusahaan telah mengintegrasikan
corporate social responsibility (CSR) –lingkungan dan sosial- dalam setiap
aspek kegiatan operasinya (Darwin, 2008).
Pfleiger,
et.
al.
(2005) dalam
Ja’far
dan Amalia
(2006:3)
mengemukakan bahwa usaha-usaha pelestarian lingkungan oleh perusahaan
akan mendatangkan sejumlah keuntungan, diantaranya adalah ketertarikan
pemegang saham dan stakeholders terhadap keuntungan perusahaan akibat
pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab di masyarakat. Hasil lain
mengindikasikan bahwa pengelolaan lingkungan yang baik dapat menghindari
klaim masyarakat dan pemerintah serta meningkatkan kualitas produk yang
pada akhirnya akan dapat meningkatkan keuntungan ekonomi. Lebih lanjut
Ferreira (2004) dalam Ja’far dan Amalia (2006:3) menyatakan bahwa
perusahaan sebagai bagian dari tatanan sosial maka seharusnya perusahaan
melaporkan pengelolaan lingkungannya dalam annual report. Hal ini terkait
dengan tiga aspek persoalan kepentingan: keberlajutan aspek ekonomi,
lingkungan, dan kinerja sosial.
Di Indonesia sendiri, kewajiban pelaporan dampak lingkungan yang
ditetapkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup RI hanyalah merupakan
pengungkapan yang bersifat nonpublik (khusus terhadap institusi pemerintah
terkait). Usaha dari pihak regulasi untuk melestarikan dan mengembangkan
kemampuan lingkungan hidup yang serasi, selaras, dan seimbang telah
dilakukan dengan menetapkan UU RI Nomor 23 Tahun 1997 tentang
10
pengelolaan lingkungan hidup. Aturan pelaksanaan lebih lanjut telah
dinyatakan dengan diterbitkannya PP Nomor 18 Tahun1999 (Suratno,
Darsono, dan Mutmainah, 2006:2). Selain itu dalam UU Nomor 40 Tahun
2007 tentang perseroan terbatas juga mewajibkan perseroan yang bidang
usahanya di bidang terkait dengan sumber daya alam untuk melaksanakan dan
mengungkapkan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Penelitian yang dilakukan oleh Teoh dan Thong (1984) dalam meutya
(2008) mengungkapkan bahwa perusahaan yang terdaftar di pasar saham akan
mengungkapkan lebih banyak pengungkapan sosial dan lingkungan daripada
yang tidak terdaftar. Ini merupakan indicator bahwa perusahaan-perusahaan
sadar bahwa apa yang dilakukannya terkait dengan pengungkapan sosiallingkungan akan membawa pengaruh yang signifikan atas keberlangsungan
hidup perusahaan tersebut.
Clarkson dan Richardson (2004) dalam Utami (2007) meneliti tentang
penilaian pasar atas environmental capital expenditure pada perusahaan
kertas. Hasil dari penelitian tersebut adalah environmental capital expenditure
berdampak signifikan terhadap harga saham pada perusahaan yang memiliki
tingkat polusi rendah tetapi tidak pada perusahaan dengan tingkat polusi
kategori tinggi.
Penelitian sebelumnya Suratno, Darsono, dan Mutmainah (2006)
meneliti tentang pengaruh kinerja lingkungan terhadap pengungkapan
lingkungan
menggunakan
dan
kinerja
skoring
ekonomi.
hasil
Pengukuran
PROPER.
kinerja
lingkungan
Pengungkapan
lingkungan
11
menggunakan
skoring pengungkapan
(jika
melakukan
pengungkapan
lingkungan diberi skor satu, tidak mengungkapkan skor nol). Kinerja ekonomi
menggunakan return tahunan industri bersangkutan. Hasil dari penelitian
tersebut adalah terdapat pengaruh signifikan antara kinerja lingkungan dengan
pengungkapan lingkungan dan kinerja ekonomi.
Almilia dan Wijayanto (2007) meneliti tentang pengaruh kinerja
lingkungan dan pengungkapan lingkungan terhadap kinerja ekonomi. Kinerja
lingkungan diproksi berdasarkan PROPER, sedangkan pengungkapan
lingkungan dihitung menggunakan proporsi pengungkapan lingkungan yang
diwajibkan dengan yang dilaporkan. Kinerja ekonomi diukur dengan return
tahunan industri perusahaan sampel penelitian. Hasil dari penelitian tersebut
adalah tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kinerja lingkungan
dengan kinerja ekonomi. Sedangkan, pengungkapan lingkungan berpengaruh
secara signifikan terhadap kinerja ekonomi.
Pada penelitian Sarumpaet (2005) meneliti tentang hubungan kinerja
lingkungan dengan kinerja keuangan. Kinerja lingkungan diukur berdasarkan
keikutsertaan perusahaan sampel dsalam PROPER dan ISO 14001 dan kinerja
keuangan diukur dengan menggunakan return on asset. Hasil dari penelitian
tersebut adalah tidak ada hubungan yang signifikan antara kinerja lingkungan
dengan kinerja keuangan.
12
Adapun perbedaan penelitian kali ini dengan penelitian sebelumnya
dapat ditunjukkan dalam tabel 1.1 berikut:
Tabel 1.1
Perbedaan Penelitian Sekarang dengan Penelitian Sebelumnya
Penelitian
Penelitian
Penelitian
Keterangan Penelitian
Sarumpaet
Suratno,
Almilia dan
Sekarang
Darsono, dan
Wijayanto
Mutmainah
Perusahaan Perusahaan
Perusahaan
Perusahaan
yang
manufaktur
pemegang
pengusahaan
mengikuti
yang mengikuti HPH/HPHTI
hutan dan
Subjek
PROPER.
dan
pertambangan
Penelitian PROPER
dan terdaftar
pertambangan umum.
ISO 14001.
Variabel
Variabel
Variabel
Variabel
independen:
independen:
independen: independen:
kinerja
pengungkapan
kinerja
kinerja
lingkungan,
lingkungan.
lingkungan. lingkungan,
pengungkapan Variabel
Variabel
pengungkapan
Variabel
lingkungan.
dependen:
lingkungan.
Penelitian dependen:
Variabel
kinerja
kinerja
Variabel
dependen:
keuangan,
keuangan.
dependen:
kinerja saham
kinerja ekonomi kinerja
ekonomi
Waktu
2005
2006
2007
2008
Penelitian
Kinerja
Kinerja
Kinerja
Pengungkapan
lingkungan: lingkungan:
lingkungan:
lingkungan:
PROPER
PROPER
PROPER
proporsi
pengungkapan
Kinerja
Pengungkapan
Pengungkapan yang dilakukan
keuangan:
lingkungan:
lingkungan:
dengan yang
ROA
skoring
proporsi
diwajibkan
pengungkapan PSAK
Instrumen
Kinerja
yang
Penelitian
ekonomi:
dilakukan
Kinerja
(P1-P0)+div – Me dengan yang
keuangan: ROA
P0
diwajibkan
Kinerja saham:
Kinerja
return saham
ekonomi:
(P1-P0)+div–Me
P0
Sumber: Data Diolah
13
B. Perumusan Masalah
Masalah yang diteliti dalam penelitian kali ini dapat dirumuskan
sebagai berikut:
1. Apakah pengungkapan lingkungan perusahaan berpengaruh terhadap
kinerja keuangan perusahaan?
2. Apakah pengungkapan lingkungan perusahaan berpengaruh terhadap
kinerja saham perusahaan?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah, tujuan penelitian yang ingin dicapai
dalam penelitian ini adalah memperoleh bukti empiris tentang:
1. Pengaruh pengungkapan lingkungan perusahaan berpengaruh terhadap
kinerja keuangan perusahaan.
2. Pengaruh pengungkapan lingkungan perusahaan berpengaruh terhadap
kinerja saham perusahaan.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi semua pihak,
diantaranya:
1. Perusahaan
Memberikan kontribusi mengenai pentingnya masalah lingkungan agar
terciptanya kinerja lingkungan yang baik serta secara sadar untuk
mengungkapkan masalah lingkungan di laporan tahunannya.
14
2. Investor
Memberikan kontribusi mengenai pentingnya masalah lingkungan sebagai
salah satu pertimbangan dalam menginvestasikan modal dalam sebuah
perusahaan.
3. Penelitian Selanjutnya
Memberikan kontribusi pada pengembangan teori terutama yang berkaitan
dengan akuntansi lingkungan.
15
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teoritis
1. Hubungan Perusahaan dengan Lingkungan
Stoner et. al. (1995) dalam Harsono (2000:8) menunjukkan paling
tidak ada dua model kepedulian perusahaan terhadap lingkungan. Pertama,
adalah model biaya dan manfaat (cost and benefit model), yaitu
pendekatan tradisional pada pemikiran mengenai penyelesaian lingkungan
yang mengatakan bahwa peraturan lingkungan yang diusulkan harus
diimplementasikan bila manfaat potensial lebih besar dari biaya potensial.
Stoner mengkritisi bahwa kelemahan model ini adalah tidak semua
manfaat dan biaya dapat diperhitungkan dengan mudah.
Kedua, disebabkan adanya kelemahan model biaya dan manfaat
serta memperhitungkan fakta bahwa banyak biaya lingkungan dan
manfaatnya dirasakan dalam jangka panjang, kemudian berkembang
model pendekatan baru yang disebut pengembangan berkelanjutan
(sustainable development). Pendekatan ini menyatakan bahwa organisasi
harus terlibat dalam aktivitas yang dapat berkelanjutan dalam jangka
waktu yang panjang atau secara otomatis dapat memperbarui diri sendiri.
Konsep ini telah lama menjadi sumber pemikiran dalam mendorong
pengembangan ekonomi dalam melestarikan lingkungan.
16
Schmidheny (1994) dalam Harsono (2000:9) menyatakan bahwa
sustainable development tidak hanya pendekatan ekonomi dengan
lingkungan, namun juga sifat pengembangan ekonomi itu sendiri.
Perubahan tersebut antara lain:
a. Perubahan dari pertumbuhan menuju pengembangan
b. Perubahan menuju lebih efisiensi dalam penggunaan SDA
c. Perubahan menuju kesempatan ekonomi
d. Perubahan menuju ekonomi konservasi dengan memasukkan faktor
lingkungan ke dalam praktik bisnis
e. Perubahan menuju perekonomian yang mempromosikan investasi
jangka panjang daripada maksimalisasi keuntungan jangka pendek
f. Perubahan menuju suatu budaya saving daripada mengembangkan
budaya konsumsi dengan segera.
Pengembangan berkelanjutan adalah bahwa pembangunan perlu
memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa harus mengurangi
kemungkinan generasi masa akan datang dalam memenuhi kebutuhannya.
Pembangunan berkelanjutan perlu diterapkan karena kegiatan ekonomi
saat ini kemungkinan besar mengurangi pemenuhan kebutuhan di masa
datang dengan merusak ekosistem global.
Harahap (2005) dalam Khoirunnisa (2006) mengemukakan ada
paradigma yang mengubah kecenderungan aktivitas perusahaan menuju
pencarian laba berwawasan lingkungan. Paradigma tersebut antara lain
kecenderungan terhadap kesejahteraan sosial, kecenderungan terhadap
17
kesadaran lingkungan, perspektif ekosistem, dan ekonomisasi versus
sosialisasi.
Salah satu paradigma tersebut adalah kecenderungan terhadap
kesadaran lingkungan. Dalam literatur paradigma ini dikenal dengan the
human exceptionalism paradigm menuju the new environmental
paradigm. Paradigma yang pertama menganggap bahwa manusia adalah
makhluk unik yang memiliki kebudayaan sendiri yang tidak dapat dibatasi
oleh kepentingan makhluk lain. Sebaliknya, paradigma yang kedua
menganggap bahwa manusia adalah makhluk di antara bermacam-macam
makhluk yang mendiami bumi yang saling mempunyai keterkaitan dan
sebab akibat, serta dibatasi oleh sifat keterbatasan dunia itu sendiri, baik
sosial, ekonomi, atau politik. Sehingga perhatian terhadap lingkungan
akan semakin besar.
Paradigma yang lain adalah perspektif ekosistem. Orientasi yang
terlalu diarahkan kepada pembangunan ekonomi, efisiensi, profit
maximization menimbulkan krisis ekosistem. Gejala ini menaruh perhatian
para ahli sehingga mencul kelompok-kelompok yang menamakan diinya
penyelamat lingkungan. Salah satu kelompok tingkat dunia yang menaruh
perhatian kepada ekosistem ini adalah Club or Rome yang terkenal dengan
pendapatnya limit to growth. Beberapa sarannya yang paling penting
adalah stabilitas antara kelahiran dan kematian, stabilitas investasi dengan
penyusutan barang modal, pengurangan konsumsi sumber-sumber alam,
pengutamaan
pendidikan,
dan penurunan polusi industri.
Tanpa
18
pembatasan terhadap tingkah laku manusia, tampaknya yang timbul hanya
kehancuran dan kekacauan.
Harsono (2000:12) mengemukakan bahwa peran pemerintah dalam
membuat peraturan mengenai pengelolaan lingkungan sangat dibutuhkan.
Tujuan dari adanya peraturan pemerintah dalam pengelolaan lingkungan
adalah sebagai berikut:
a. Peraturan memberi sinyal kepada perusahaan tentang kemungkinan
inefisiensi sumber daya dan potensi peningkatan teknologi
b. Peraturan mengurangi ketidakpastian investasi pada pengelolaan
lingkungan
c. Peraturan dipusatkan pada pencarian informasi mengenai pencapaian
manfaat utama dengan peningkatan kesadaran perusahaan
d. Peraturan menciptakan tekanan yang memotivasi, inovasi, dan
dinamika
e. Peraturan menjadi pedoman agar selama masa transisi menuju solusi
berdasarkan inovasi
f. Tidak ada perusahaan yang menarik keuntungan dengan menolak
investasi terhadap lingkungan.
Di Indonesia, telah ada suatu kerangka kerja untuk konservasi
lingkungan. Peraturan tentang Manajemen Lingkungan tahun 1982, yang
kemudian direvisi tahun 1997, telah menyediakan suatu legalitas untuk
mengawasi dan memaksa dipatuhinya regulasi yang dikeluarkan
pemerintah tersebut. Sejak tahun 1986 pihak pemerintah melalui
19
BAPEDAL telah melakukan analisis mengenai dampak lingkungan
(AMDAL).
Nota kesepahaman antara Kementrian Lingkungan Hidup dengan
BI telah ditandatangani tahun 2005 tentang penetapan peringkat kualitas
aktiva bagi bank umum. Aspek lingkungan menjadi salah satu variabel
penentu dalam pemberian kredit dan kinerja lingkungan yang dikeluarkan
oleh KLH melalui PROPER adalah tolak ukur mereka. PROPER
menggunakan standar pengukur kualitas limbah perusahaan. Selanjutnya
setiap perusahaan yang ingin mendapatkan kredit perbankan, harus
memperlihatkan kepedulian perusahaan terhadap pengelolaan lingkungan.
Nota kesepahaman ini adalah harapan baru bagi pencerahan kondisi
lingkungan hidup di Indonesia (Lindrianasari, 2007:161).
2. Konsep Akuntansi Lingkungan
Akuntansi lingkungan adalah suatu istilah yang berupaya untuk
menspesifikasikan pembiayaan yang dilakukan perusahaan dan pemerintah
dalam melakukan konservasi lingkungan ke dalam pos “lingkungan” di
dalam praktik bisnis perusahaan dan pemerintah. Dari kegiatan konservasi
lingkungan
ini
pada
akhirnya
akan
muncul
biaya
lingkungan
(environmental cost) yang harus ditanggung perusahaan. Akuntansi
lingkungan juga dapat dianalogikan sebagai suatu kerangka kerja
pengukuran kuantitatif terhadap kegiatan konservasi lingkungan yang
dilakukan perusahaan (Lindrianasari, 2007:162).
20
Ikhsan (2008:14) mendefinisikan akuntansi lingkungan sebagai
pencegahan, pengurangan, dan atau penghindaran dampak terhadap
lingkungan. Badan Perlindungan Lingkungan AS dalam Ikhsan (2008:15)
mendefinisikan akuntansi lingkungan adalah:
“Suatu fungsi penting tentang akuntansi lingkungan adalah untuk
menggambarkan biaya-biaya lingkungan supaya diperhatikan oleh para
stakeholders
perusahaan
yang
mampu
mendorong
dalam
pengindentifikasian cara-cara mengurangi atau mennghindari biaya-biaya
ketika pada waktu yang bersamaan sedang memperbaiki kualitas
lingkungan”.
Menurut Lindrianasari (2007:162) aktivitas yang dapat dilakukan
sehubungan dengan konservasi lingkungan adalah sebagai berikut:
-
Konservasi terhadap kondisi yang berpengaruh terhadap kesehatan
makhluk hidup dan lingkungan hidup yang berasal dari polusi udara,
polusi air, pencemaran tanah, kebisingan, getaran, bau busuk, dan lain
sebagainya.
-
Konservasi terhadap kondisi yang berpengaruh secara menyeluruh
seperti pemanasan global, penipisan lapisan ozon, serta pencemaran air
laut.
-
Konservasi terhadap sumber daya. Konservasi ini dapat dilakukan
dengan cara mengurangi penggunaan bahan kimia yang dapat
mencemari lingkungan, mengendalikan sampah dari kegiatan produksi
perusahaan, penggunaan material dari hasil daur ulang, dan lain
sebagainya.
Konsep akuntansi lingkungan sebenarnya sudah mulai berkembang
sejak tahun 1970-an di Eropa. Hal ini disebabkan tekanan lembaga21
lembaga bukan pemerintah dan meningkatnya kesadaran lingkungan di
kalangan masyarakat
yang mendesak agar perusahaan-perusahaan
menerapkan pengelolaan lingkungan bukan hanya luas kegiatan industri
demi bisnis saja (Djogo, 2006 dalam Almilia dan Wijayanto, 2007).
Menurut Cahyono (2002) dalam Fadilah (2003), istilah akuntansi
lingkungan sebenarnya sama artinya dengan akuntansi sosial ekonomi
(socio economic accounting) atau akuntansi pertanggungjawaban sosial.
Fenomena ini mengukur seberapa jauh perusahaan memberikan dampak
yang merugikan dan menguntungkan masyarakat. Tren ini menunjukkan
bahwa konsep kapitalis dalam memahami fungsi bisnis harus diubah.
Perusahaan tidak bisa lagi seenaknya untuk mengolah sumber daya tanpa
memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat. Dengan
kata lain perusahaan tidak hanya mengambil keuntungan dari alam tanpa
peduli dampak yang ditimbulkan dari kerusakan alam tersebut.
Lebih lanjut disebutkan bahwa akuntansi lingkungan memiliki
tujuan untuk mengukur biaya (cost) dan manfaat (benefit) sosial sebagai
akibat dari kegiatan perusahaan. Biaya dan manfaat tersebut tidak selalu
dapat diukur nilainya dan dinyatakan dalam struktur keuangan (nominal)
sehingga berpengaruh terhadap bentuk dan cara pelaporan akuntansi.
Fadilah (2003:56) mengemukakan akuntansi lingkungan sangat
dipengaruhi oleh aspek lingkungan meliputi bidang sosial, politik, budaya,
perdagangan dan ekonomi, serta hukum dan hubungan internasional. Isuisu lingkungan juga mempengaruhi posisi dan keadaan keuangan jangka
22
panjang perusahaan. Isu lingkungan mempengaruhi semua bidang
akuntansi yaitu akuntansi keuangan, akuntansi manajemen, pemeriksaan
akuntansi, sistem informasi akuntansi, akuntansi perpajakan, dan bidang
akuntansi lainnya.
Fadilah (2003:57) mengemukakan pada pertengahan tahun 1990-an
ketika istilah environmental accounting belum banyak dikenal hanya
beberapa perusahaan saja yang menerapkannya mula-mula dengan
mengungkapkan
masalah
lingkungan.
Hal
ini
berkaitan
dengan
keterbukaan perusahaan untuk mengungkapkan informasi lingkungan
sebagai dampak dari aktivitas industri atau bisnis mereka.
Sejalan
dengan
meningkatnya
kesadaran
masyarakat
dan
perusahaan atas pentingnya pelaksanaan tanggung jawab sosial, maka
kebutuhan akan standar pelaporan yang digunakan sebagai acuan dalam
membuat laporan juga meningkat. Selama dasawarsa terakhir telah
bermunculan sejumlah standar pelaporan dan pengungkapan sosial.
Namun hingga kina belum ada kesepakatan standar mana yang dapat
diberlakukan secara global. Beberapa standar yang telah dikembangkan
tersebut antara lain The United Nations Global Compact, Social
Accountability 8000, dan The Global Reporting Initiative (GRI) (Utama,
2008:18).
Scott (2003) dalam Utami (2007) menjelaskan teori akuntansi
dengan
pendekatan
konsep
decision
usefulness
dan
economic
consequences. Konsep decision usefulness, penanganan aspek lingkungan
23
dan tanggung jawab perusahaan dalam konteks akuntansi lingkungan
terkait dengan kepentingan pengambilan keputusan yang rasional dari
investor dan kreditur. Kepentingan para investor yang harus diusahakan
oleh manajemen adalah kepentingan maksimalisasi kemakmuran yang
tercermin dalam nilai perusahaan atau harga saham. Oleh karena itu
memasukkan informasi hasil audit lingkungan dan pengungkapan
tanggung jawab sosial perusahaan dalam laporan tahunan dinilai penting
bagi investor dan kreditur.
3. Pengungkapan Lingkungan
Pengungkapan oleh perusahaan publik, pada dasarnya terdiri dari
pengungkapan wajib dan pengungkapan sukarela. Pengungkapan wajib
adalah pengungkapan informasi yang diatur oleh badan pembuat standar
dan
regulator
lainnya,
aturan
ini
berupa
persyaratan
minimal
pengungkapan yang harus dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan publik.
Sedangkan pengungkapan sukarela adalah pengungkapan diluar yang
diwajibkan, merupakan
pilihan bebas manajemen perusahaan publik
untuk memberikan informasi akuntansi dan informasi lainnya yang
dipandang relevan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh para
pemakai.
Tujuan dari pengungkapan akuntansi lingkungan berkaitan dengan
kegiatan-kegiatan konservasi lingkungan oleh perusahaan maupun
organisasi lainnya yaitu mencakup kepentingan organisasi publik dan
perusahaan-perusahaan publik yang bersifat lokal. Pengungkapan ini
24
penting terutama bagi para stakeholders untuk dipahami, dievaluasi, dan
dianalisis sehingga dapat memberi dukungan bagi usaha mereka (Ikhsan,
2008:6).
Menurut Gray et. al. (1995) dalam Meutya (2008) pengungkapan
tanggung
jawab
sosial
dan
lingkungan
perusahaan
bertujuan
memperlihatkan kepada masyarakat aktivitas yang dilakukan oleh
perusahaan berserta pengaruh yang ditimbulkan kepada masyarakat.
Pengaruh di sini antara lain adalah seberapa jauh lingkungan, pegawai
konsumen, masyarakat lokal, dan yang lainnya dipengaruhi oleh kegiatan
dan operasi bisnis perusahaan.
Choi (1999) dalam Meutya (2008) mengatakan bahwa tidak ada
suatu teori yang spesifik yang dapat digunakan untuk menjelasan praktik
tanggung jawab sosial dan lingkungan yang dilakukan perusahaan. Teori
legitimasi, teori stakeholders, teori akutansi ekonomi politik, dan teori
agensi telah digunakan dalam banyak studi tersebut. Setiap teori bersandar
pada argumen teori yang berbeda yang akan mengimplikasikan beragam
motivasi perusahaan untuk melakukan pengungkapan informasi.
Salah satu motivasi manajer untuk melakukan pengungkapan
sosial-lingkungan adalah untuk mendapatkan legitimasi dari masyarakat
khususnya atas kelangsungan organisasi. Pandangan ini dicakup dalam
teori legitimasi.
Teori legitimasi mengatakan bahwa organisasi secara terus
menerus mencoba untuk meyakinkan bahwa mereka melakukan kegiatan
25
sesuai dengan batasan dan norma-norma masyarakat di mana mereka
berada. Pengungkapan sosial-lingkungan perusahaan adalah implementasi
dari strategi legitimasi yang harus melibatkan komunikasi dari organisasi.
Oleh karena itu, pengungkapan informasi perusahaan dapat dipandang
sebagai suatu strategi yang dapat digunakan oleh organisasi untuk
mempertahankan legitimasinya (Meutya, 2008).
Menurut Friedman (1962) dalam Meutya (2008) satu-satunya
alasan atas keberadaan perusahaan adalah untuk memberikan keuntungan
bagi para pemilik. Dengan melakukan pengungkapan sosial-lingkungan,
perusahaan berusaha memenuhi harapan para stakeholders sebagai upaya
untuk mendapatkan legitimasi.
Standar pengungkapan lingkungan yang diakui dan diterapkan
secara luas akan memampukan perusahaan untuk mendefinisikan
tanggung
jawab
mereka
sekaligus
memampukan
mereka
untuk
menyampaikan laporan yang bermanfaat yang dibutuhkan, di lain pihak
juga membantu manajemen perusahaan mempertimbangkan masalah
lingkungan dalam operasi mereka. Beberapa kriteria berdasarkan laporan
juga memampukan manajemen perusahaan untuk membandingkan usahausaha mereka dalam menghadapi masalah lingkungan dengan usaha-usaha
yang dilakukan oleh pesaing mereka (Gunawan, 2003:45).
Perusahaan berkewajiban menyampaikan informasi pengelolaan
lingkungan yang dilakukannya, sesuai dengan UU No. 23 Tahun 1997
tentang pengelolaan lingkungan hidup dalam pasal 6 ayat 2: “Setiap orang
26
yang melakukan usaha dan atau kegiatan berkewajiban memberikan
informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan
hidup”.
Sejalan
dengan
perkembangan
dampak
yang
ditimbulkan
perusahaan terhadap lingkungan baik itu dampak positif maupun negatif,
telah dikeluarkan undang-undang No. 40 tahun 2007 sebagai pengganti
UU No. 1 tahun 1995 tentang perseroan terbatas. UU tersebut dalam pasal
74 ayat 1 mewajibkan perseroan yang bidang usahanya di bidang atau
terkait dengan bidang sumber daya alam untuk melaksanakan tanggung
jawab sosial dan lingkungan. UU tersebut juga mewajibkan semua
perseroan untuk melaporkan pelaksanaan tanggung jawab tersebut di
laporan tahunan.
Dari sisi manajemen, luasnya disclosure kewajiban lingkungan
berhubungan dengan empat faktor, yaitu (1) peraturan, termasuk tindakan
pelaksanaan, (2) peradilan dan negoisasi, (3) implikasi pasar modal, dan
(4) pengaruh peraturan yang lain. Seiring dengan semakin banyaknya
peraturan-peraturan dan pemaksaan hukum, jumlah disclosure
isu
lingkungan semakin meningkat, tetapi karena pedomannya belum jelas
dan kepada siapa disclosure tersebut ditujukan, maka disclosure isu
lingkungan masih sangat variatif. Untuk itu perlu pedoman yang jelas
siapa pengguna isu lingkungan yang sebenarnya (Subroto, 2008).
27
Saat ini, sebagian perusahaan di Indonesia telah melaporkan
kegiatan tanggung jawab sosial dan lingkungannya di laporan tahunan.
Namun, apa yang dilaporkan dan diungkapkan sangat beragam sehingga
menyulitkan pembaca laporan tahunan untuk melakukan evaluasi. Selain
itu informasi yang diungkapkan biasanya hanya merupakan informasi
positif bagi perusahaan sehingga meninggalkan kesan bahwa laporan
tersebut hanyalah sebagai alat komunikasi (public relation) bukan sebagai
bentuk akuntabilitas perusahaan kepada publik.
Berdasarkan isu yang berkembang berkaitan dengan lingkungan,
banyak pihak menyarankan agar perlunya suatu standar yang mengatur
masalah pengungkapan lingkungan. Dengan demikian diharapkan
perusahaan harus menyampaikan informasi yang lebih akurat mengenai
kinerja lingkungan mereka. Di Indonesia, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)
telah menyusun suatu standar pengungkapan akuntansi lingkungan dalam
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 32 dan 33. kedua
PSAK
ini mengatur
tentang
kewajiban perusahaan
dari sektor
pertambangan umum dan pemilik Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk
melaporkan
item-item
lingkungan
dalam
laporan
keuangan
(Lindrianasari,2007:161).
Menurut Meutya (2008) ada beberapa teori yang dapat menjadi
dasar dalam hal pengungkapan aspek sosial perusahaan untuk menjelaskan
mengapa perusahaan memilih untuk menyediakan informasi mengenai
strategi perusahaan mereka dan kegiatan sosial serta lingkungan, yaitu:
28
a. Stakeholder Theory
Teori stakeholder menjelaskan pengungkapan sosial perusahaan
sebagai cara untuk berkomunikasi dengan stakeholder. Teori ini
mengasumsikan bahwa eksistensi perusahaan ditentukan oleh para
stakeholder. Individu, organisasi, dan lingkungan merupakan satu
sistem yang saling berhubungan dan tidak terpisahkan. Masing-masing
merupakan bagian dari yang lain dan terganggunya keberadaan satu
bagian maka akan mempengaruhi keberadaan yang lain. Salah satu
bentuk komunikasi yang dilakukan oleh perusahaan adalah dalam
bentuk pengungkapan aspek sosial perusahaan dengan memberikan
laporan yang relevan dan reliable.
b. Legitimacy Theory
Salah satu motivasi manajer untuk melakukan pengungkapan sosiallingkungan adalah untuk mendapatkan legitimasi dari masyarakat
khususnya atas kelangsungan perusahaan. Suatu entitas dipengaruhi
dan sebaliknya mempengaruhi komunitas di mana entitas tersebut
melakukan
kegiatannya.
Perusahaan
beroperasi
dalam
sebuah
lingkungan sosial melalui kontrak sosial di mana terdapat kesepakatan
untuk memberikan berbagai tindakan sosial yang sesuai agar dapat
melakukan tujuan0tujuannya. Setiap aktivitas yang dilakukan dan
diungkapkan perusahaan akan mempengaruhi kepercayaan terhadap
perusahaan tersebut.
29
Teori legitimasi mengatakan bahwa perusahaan secara terus menerus
mencoba untuk meyakinkan bahwa mereka melakukan kegiatan sesuai
dengan batasan dan norma di mana mereka berada. Legitimasi dapat
dianggap sebagai menyamakan persepsi bahwa tindakan yang
dilakukan oleh entitas adalah merupakan tindakan yang diinginkan,
pantas ataupun sesuai dengan sistem norma.
c. Political Economy Theory
Teori ini lebih menekankan bahwa pengungkapan sosial-lingkungan
akan dilakukan oleh perusahaan sebagai bentuk reaksi terhadap
munculnya berbagai tekanan dari pihak eksternal agar eksistensi dan
aktivitasnya diakui oleh masyarakat.
d. Contingency Theory
Pengungkapan aspek sosial-lingkungan perusahaan dapat berbedabeda karena elemen dan variabel yang mempengaruhinya. Efektivitas
perusahaan sebagai sebuah sistem dalam memenuhi permintaan dari
lingkungannya amat tergantung pada elemen-elemen berbagai macam
subsistem membagi elemen yang dapat mempengaruhi perusahaan
tersebut ke dalam empat macam variabel, yaitu sosial, lingkungan,
karakteristik perusahaan, dan karakteristik pengguna informasi
perusahaan.
e. Accountability Model
Perusahaan tersebut memiliki banyak tanggung jawab yang setiap
tanggung jawab tersebut berasal dari pemegang saham termasuk hak
30
untuk mendapatkan informasi dari perusahaan mengenai akuntabilitas
sesuai harapan pemegang saham.
Menurut
Gunawan
(2003:46)
ada
beberapa
faktor
yang
menekankan perusahaan untuk membuat laporan berkaitan dengan
lingkungan, faktor-faktor tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Faktor Sosial
Perusahaan ada karena diakui keberadaannya oleh masyarakat.
Pengakuan itu bisa berupa kepercayaan masyarakat untuk membeli
produk perusahaan atau untuk menanamkan modal dalam operasi
perusahaan. Kesemuanya itu tidak dapat diperoleh secara gratis dari
masyarakat. Sebagai imbalannya, perusahaan memiliki tanggung
jawab untuk melaporkan apa saja yang telah diperbuatnya atas
kepercayaan tersebut. Masyarakat mengharapkan sesuatu yang lebih
dari perusahaan. Memang tidak ada kesepakatan mengenai apa yang
dituntut masyarakat secara tepat, namun tuntutan tersebut makin hari
makin meningkat. Walaupun perusahaan bukan satu-satunya penyebab
utama pencemaran lingkungan tersebut. Ada harga yang harus dibayar
oleh perusahaan berkaitan dengan lingkungan.
b. Peraturan Pemerintah
Kontrak perusahaan dengan negara. Peraturan pemerintah, entah
proses legalisasinya melalui parlemen atau dalam bentuk peraturan
yang ditetapkan pemerintah, merupakan satu hal yang sifatnya
memaksa. Oleh karena itu, perusahaan mau tidak mau harus
31
mengikutinya. Salah satu
kemungkinan
yang dilakukan oleh
pemerintah jika perusahaan tidak melaporkan tanggung jawab
lingkungannya adalah meningkatkan pembatasan-pembatasan melalui
hukum yang ditetapkan oleh pemerintah.
c. Tekanan dari Interest Group
Ada banyak organisasi yang dipakai untuk menekan perusahaan
membuat laporan lingkungan. Sebagian besar tekanan dari interest
group dilakukan melalui badan yang mengelola pasar modal. Di pasar
modal-lah, perusahaan-perusahaan melakukan go public, sehingga
pembuatan dan verifikasi disclosure dirasakan sangat penting.
Perusahaan dapat meningkatkan performance melalui disclosure yang
telah diverifikasi oleh pihak ketiga. Badan yang mengelola pasar
modal di Indonesia adalah Bapepam. Bapepam membuat tekanan
kepada perusahaan untuk membuat laporan lingkungan.
d. Faktor yang Terkait dengan Hirarki Kebutuhan Maslow
Faktor yang terkait dengan hirarki kebutuhan Maslow, bahwa
kebutuhan merupakan fungsi dari pencapaian tingkat ekonomi. Hal ini
disebabkan organisasi menyerupai individu dalam hal perkembangan
dan pertumbuhan. Ketika kebutuhan mendasar telah terpenuhi,
individu atau organisasi akan mencoba memenuhi kebutuhan sosial
dan pengakuan diri yang lebih tinggi.
32
e. Kesadaran Perusahaan
Para manajer merasa bahwa tanggung jawab terhadap lingkungan akan
meringankan kepentingan mereka sendiri. Mereka beranggapan bahwa
memperhatikan
lingkungan
berarti
memperhatikan
kepentingan
masyarakat. Hal ini akan memberikan iklim usaha yang lebih kuat dan
lebih menghasilkan laba. Berdasarkan perspektif ekonomi-politik
perusahaan akan bersikap proaktif untuk merumuskan pandangannya
mengenai konstituen sosial dan politiknya. Dengan demikian
perusahaan mengharapkan akan memperoleh image positif dari
masyarakat.
Gunawan (2003:41) berpendapat bahwa dengan melakukan
pengungkapan
lingkungan,
perusahaan
akan
memperoleh
banyak
keuntungan. Perusahaan memenuhi kebutuhan sosial dan pengakuan diri
yang lebih tinggi, dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus
meningkatkan image perusahaan di mata masyarakat yang akan membeli
produk perusahaan atau menanamkan modal dalam operasi perusahaan.
Perusahaan juga dapat menghindari pinalti atau hukuman dari pemerintah
dengan membuat laporan lingkungan tersebut.
4. Kinerja Keuangan
Pengertian kinerja menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam
Sucipto (2008:1) adalah merupakan kata benda yang artinya: sesuatu yang
dicapai, prestasi yang diperlihatkan, atau kemampuan kerja. Sedangkan
penilaian kinerja menurut Mulyadi dalam Sucipto (2008:2) adalah
33
penentuan secara periodik efektivitas operasional suatu organisasi, bagian
organisasi, dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar, dan kriteria
yang ditetapkan sebelumnya. Organisasi pada dasarnya dijalankan oleh
manusia sehingga penilaian kinerja sesungguhnya merupakan penilaian
atas prilaku manusia dalam melaksanakan peran yang mereka mainkan
dalam organisasi.
Pengertian kinerja keuangan menurut Sucipto (2008:2) adalah
penentuan ukuran-ukuran tertentu yang dapat mengukur keberhasilan
suatu perusahaan dalam menghasilkan laba. Pengukuran kinerja keuangan
perlu
dikaitkan
antara
pertanggungjawaban.
Dalam
organisasi
melihat
perusahaan
organisasi
dengan
pusat
perusahaan dapat
diketahui besarnya tanggung jawab manajer yang diwujudkan dalam
bentuk prestasi kerja keuangan. Namun demikian mengatur besarnya
tanggung jawab sekaligus mengukur prestasi keuangan tidaklah mudah
sebab ada yang dapat diukur dengan mudah dan ada pula yang sukar untuk
diukur.
Kinerja keuangan perusahaan adalah sesuatu yang sulit diukur
secara eksak dan lebih menyerupai suatu seni karena di dalamnya
terkandung aspek subjektif dan objektif dari si penilai. Terlepas dari hal
tersebut, terdapat beberapa cara yang harus ditempuh agar analisis kinerja
keuangan yang dilakukan dapat menjadi suatu tolak ukur yang dapat
diandalkan dan dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan strategik
(Amir, 2002:12).
34
Rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan
mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada
seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang,
dan sebagainya. Rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan
menghasilkan laba disebut juga operating ratio (Harahap, 2007:304).
Menurut Amir (2002:31) rasio profitabilitas adalah ukuran untuk
mengetahui seberapa jauh efektivitas manajemen dalam mengelola
perusahaan.
Menurut Astuti (2002:19) profitabilitas adalah kemampuan suatu
perusahaan untuk menghasilkan laba. Satu-satunya ukuran profitabilitas
yang paling penting adalah laba bersih. Para investor dan kreditor sangat
berkepentingan
dalam
mengevaluasi
kemampuan
perusahaan
menghasilkan laba saat ini maupun mendatang.
Para peneliti sepakat bahwa pengukuran kinerja perusahaan tidak
cukup hanya menggunakan satu ukuran tunggal karena tidak dapat
menggambarkan
tingkat
pencapaian
prestasi
perusahaan
yang
sesungguhnya. Dari banyak penelitian tentang kinerja organisasional
biasanya diukur dengan penilaian responden dan pangsa pasar, self
assessment relative terhadap pesaing, return on assets (ROA) (Astuti,
2002:20).
Menurut Astuti (2002:21) kinerja keuangan menggunakan ukuran
perseptual, biasanya dilakukan dengan cara CEO diminta menilai
perusahaannya sendiri dibandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis
35
dalam industri. Variabel yang biasa digunakan antara lain: market share,
sales growth, net profit margin, dan return on asset.
Return on asset (ROA) menggambarkan perputaran aktiva diukur
dari volume penjualan. Semakin besar rasio ini semakin baik. Hal ini
berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar dan meraih laba (Harahap,
2007:305).
Menurut Astuti (2002:22) ROA adalah hasil pengembalian total
aktiva atau total investasi. ROA menunjukkan kinerja manajemen dalam
menggunakan aktiva perusahaan untuk menghasilkan laba. Perusahaan
mengharapkan adanya hasil pengembalian yang sebanding dengan dana
yang digunakan.
5. Kinerja Saham
Menurut Buku Panduan Investasi di Pasar Modal Indonesia (2003),
saham adalah sertifikat yang menunjukkan bukti kepemilikan suatu
perusahaan, dan pemegang saham memiliki hak atas klaim atas
penghasilan dan aktivitas perusahaan. Harga sebuah saham sangat
dipengaruhi oleh hukum permintaan dan penawaran. Harga sebuah saham
akan cenderung naik bila suatu saham mengalami kelebihan permintaan
dan cenderung turun jika terjadi kelebihan penawaran.
Pasar modal dikatakan efisien bila perubahan harga saham tidak
dapat diprediksi atau random. Dengan kata lain, harga saham mengikuti
model random walk. Harga saham yang bergerak secara random tersebut
merupakan konsekuensi dari reaksi para investor yang rasional yang saling
36
berkompetensi untuk mendapatkan informasi yang baru sebelum investor
lain menemukan informasi tersebut untuk pengambilan keputusan
membeli atau menjual saham di pasar modal. Jika harga saham ditentukan
secara rasional maka hnaya informasi yang baru saja yang menyebabkan
harga saham berubah. Informasi lama telah terefleksikan pada harga
saham sehingga dengan mengasumsikan constant equilibrium expected
return sepanjang waktu, bila harga saham di masa datang dapat diprediksi
dengan informasi terdahulu, maka dapat dikatakan bahwa pasar modal
tersebut tidak efisien (Lestari, 2005:1).
Perusahaan go public dengan kinerja yang baik akan meningkatkan
nilai perusahaan yang tercermin pada harga sahamnya. Harapan investor
selain memperoleh dividen adalah kenaikkan harga saham. Kenaikkan
harga saham akan mendatangkan keuntungan bagi investor dari capital
gain. Kinerja saham yang baik adalah jika kenaikkan harga sahamnya di
atas atau paling tidak sama dengan tingkat kenaikkan indeks pasarnya.
Dalam jangka panjang emiten yang dapat menunjukkan kinerja yang lebih
efisien akan mendapatkan tanggapan positif dari investor (Suharli,
2005:3).
Menurut Jogiyanto (2003) dalam Suharli (2005:101) return adalah
tingkat pengembalian hasil yang diperoleh investor dari sejumlah dana
yang diinvestasikan pada suatu periode tertentu dinyatakan dalam
persentase. Return tersebut dapat berupa capital gain ataupun dividen
untuk investasi pada saham. Return saham dibedakan menjadi dua, yaitu:
37
return realisasi dan return ekspektasi. Return suatu saham adalah hasil
yang diperoleh dari investasi dengan cara menghitung selisih harga saham
periode berjalan dengan periode sebelumnya dengan mengabaikan
dividen. Besarnya return suatu saham akan positif bila harga jual dari
saham yang dimiliki lebih dari harga belinya.
Return saham memungkinkan investor untuk membandingkan
keuntungan actual ataupun keuntungan yang diharapkan yang disediakan
oleh berbagai investasi pada tingkat pengembalian yang diinginkan. Di sisi
lain return saham juga memiliki peran yang amat signifikan dalam
menentukan nilai dari suatu investasi (Daniati dan Husairi, 2006:2).
6. Hubungan Pengungkapan Lingkungan dengan Kinerja Keuangan
Adam dan Zutshi (2004) dalam Utama (2008) berpendapat manfaat
bagi perusahaan untuk melaksanakan dan melaporkan kegiatan tanggung
jawab sosial dan lingkungan antara lain rekrutmen dan retensi karyawan
yang lebih baik, pengambilan keputusan internal yang lebih baik dan
penghematan biaya, reputasi dan hubungan dengan stakeholders yang
lebih baik, dan imbal hasil keuangan yang lebih tinggi.
Friedman dan Jaggi (1982) dalam Lindrianasari (2007) menguji
hubungan antara pengungkapan lingkungan dengan enam rasio akuntansi
untuk mengukur kinerja ekonomi. Hasilnya tidak ada hubungan yang
signifikan antara pengungkapan lingkungan dengan kinerja ekonomi.
Richardason et. al. (2001) dalam Lindrianasari (2007) melakukan
observasi terhadap pengungkapan sosial perusahaan dengan fokus
38
pengungkapan lingkungan. Richardason melaporkan bahwa terdapat
hubungan yang positif signifikan terhadap tingkat pengungkapan
lingkungan dengan cost of capital. Lebih lanjut diutarakan bahwa
perusahaan akan melakukan pengungkapan lingkungan yang lebih baik
pada saat profitabilitas perusahaan semakin baik.
7. Hubungan Pengungkapan Lingkungan dengan Kinerja Saham
Clarkson dan Richardason (2004) dalam Utami (2007) meneliti
tentang penilaian pasar atas environmental capital expenditure pada
perusahaan kertas. Hasil dari penelitian tersebut adalah environmental
capital expenditure berdampak signifikan terhadap harga saham pada
perusahaan dengan tingkat polusi kategori tinggi. Dijelaskan bahwa
investor
menggunakan
informasi
lingkungan
untuk
mengestimasi
kemungkinan adanya tuntutan kewajiban di masa yang akan datang
sebagai akibat polusi. Pada perusahaan dengan tingkat polusi yang tinggi
ditaksir besarnya hutang atas dampak lingkungan (kontijensi) mencapai
rata-rata 16,6% dari kapitalisasi pasar.
Suratno, Darsono, dan Mutmainah (2006) meneliti tentang
pengaruh kinerja lingkungan terhadap pengungkapan lingkungan dan
kinerja ekonomi. Hasil dari penelitian tersebut adalah kinerja lingkungan
berpengaruh secara positif signifikan terhadap pengungkapan lingkungan
dan kinerja ekonomi. Kinerja ekonomi ditandai dengan return tahunan
industri yang bersangkutan.
39
B. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran merupakan bagian dari tinjauan pustaka yang
berisikan rangkuman atas dasar-dasar teori yang dijadikan landasan dalam
penelitian kali ini. Kerangka pemikiran ini dapat dituangkan dalam sebuah
model penelitian sebagai berikut:
Gambar 2.1
Model Hubungan Pengungkapan Lingkungan terhadap Kinerja Keuangan
dan Kinerja Saham
Variabel Independen
Variabel Dependen
Pengungkapan
Lingkungan
Kinerja Keuangan
Pengungkapan
Lingkungan
Kinerja Saham
C. Hipotesis
Berdasarkan kerangka teori dan kerangka pemikiran yang telah
diuraikan sebelumnya, maka hipotesis di bawah ini pada dasarnya merupakan
jawaban sementara
terhadap
suatu
masalah
yang
harus dibuktikan
kebenarannya. Adapun hipotesis yang dirumuskan dalam penulisan skripsi ini
adalah:
40
Ha1 : Pengungkapan lingkungan perusahaan berpengaruh secara signifikan
terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Ha2 : Pengungkapan lingkungan perusahaan berpengaruh secara signifikan
terhadap kinerja saham perusahaan.
41
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
Berdasarkan uraian masalah yang telah dikemukakan sebelumnya,
maka penelitian ini merupakan penelitian kausal komparatif, yaitu penelitian
dengan karakteristik masalah berupa hubungan sebab akibat antara dua
variabel atau lebih (Indriantoro dan Supomo, 2002:27). Data yang digunakan
dalam penelitian ini diperoleh dari Pusat Referensi Pasar Modal, Gedung
Bursa Efek Indonesia (BEI) menara 2, lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman kav.
52-53, Jakarta, 12190 . Penelitian ini bertujuan menganalisa pengaruh antara
pengungkapan lingkungan dengan kinerja keuangan dan pengungkapan
lingkungan dengan kinerja saham.
B. Metode Penentuan Sampel
Penelitian mengambil sampel perusahaan go public yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan secara purposif
(purposive sampling) yaitu dalam perolehan informasi menggunakan
pertimbangan tertentu (Indriantoro dan Supomo, 2002:131). Sampel penelitian
adalah perusahaan pertambangan umum dan perusahaan pengusahaan hutan
yang dinilai sebagai perusahaan berisiko lingkungan yang tinggi karena proses
produksinya yang memanfaatkan secara langsung sumber daya alam.
42
Karakteristik yang disyaratkan dalam pengambilan sampel adalah
sebagai berikut:
1. Perusahaan sampel adalah perusahaan yang bergerak di bidang
pertambangan umum go public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan
menerbitkan laporan keuangan (annual report) pada tahun 2004-2007.
2. Perusahaan sampel adalah perusahaan yang bergerak di bidang
pengusahaan hutan go public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan
menerbitkan laporan keuangan (annual report) pada tahun 2004-2007.
C. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dipakai adalah penelitian kepustakaan.
Penelitian kepustakaan ini dilakukan dengan mencari dan mengumpulkan
berbagai literatur seperti laporan keuangan, buku, artikel, jurnal, skripsi, data
dari internet, dan peraturan perundang-undangan yang relevan dengan
masalah penelitian.
Data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan ini dinamakan data
sekunder (secondary data), yaitu data perusahaan pertambangan umum dan
pengusahaan hutan go public pada tahun 2004, 2005, 2006, dan 2007. Data
tersebut diperoleh dari Jakarta Stock Exchange (JSX).
D. Metode Analisis Data
Data yang diperoleh akan diolah dengan menggunakan bantuan
program SPSS versi 12.0 untuk mendapatkan hasil akurat sedangkan teknik
43
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis
regresi linear sederhana. Model analisis ini dipilih karena penelitian dirancang
untuk meneliti pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Bentuk
pengujian yang dipakai adalah sebagai berikut:
1. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model
regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara
variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka
variabel-variabel ini tidak orthogonal. Variabel ortogonal adalah
variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel
independen sama dengan nol (Ghozali, 2001:91).
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi
diantara variabel bebasnya. Model regresi bebas dari problem
multikolinearitas adalah mempunyai nilai VIF tidak lebih dari 10 dan
nilai Tolerance tidak kurang dari 0,1 (Nugroho, 2006:58). Tolerance
mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak
dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Nilai cut off yang umum
dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai
tolerance > 0,10 atau sama dengan tingkat nilai VIF >10.
44
b. Uji Heterokedastisitas
Uji ini dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah model
regresi terjadi ketidaksaman varians residual dari satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Jika varians residual dari satu pengamatan ke
pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokedastisitas. Jika
varians berbeda disebut heterokedastisitas, di mana model regresi yang
baik adalah tidak terjadi heterokedastisitas. Pedoman suatu model
regresi bebas dari heteroskedastisitas adalah tidak ada pola yang jelas
serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y
(Santoso, 2004:208).
c.
Uji Autokorelasi
Pengujian ini bertujuan menguji apakah dalam sebuah model
regresi terdapat korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t
dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi
autokorelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model
regresi yang baik adalah yang bebas dari masalah autokorelasi. Bila
hasil uji DW di bawah -2 berarti terjadi autokorelasi positif, hasil DW
yang menunjukkan nilai berkisar -2 sampai 2 maka tidak terjadi
autokorelasi dan jika hasil DW bernilai di atas +2 maka terjadi
autokorelasi negatif (Santoso, 2004:219).
d. Uji Normalitas
Uji normalitas ini digunakan untuk menguji apakah dalam
sebuah model regresi, variabel dependen dan variabel independen
45
mempunyai distribusi data normal atau tidak. Model regresi yang baik
adalah distribusi data normal atau mendekati normal jika data
menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal
(Santoso, 2004:212).
Menurut Ghozali (2001) ada dua cara untuk mendeteksi apakah
residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik
dan uji statistic. Dalam penelitian ini menggunakan analisis grafik,
yaitu salah satu cara termudah untuk melihat normalitas residual
adalah dengan melihat grafik histogram yang membandingkan antara
data observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal.
Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal. Jika
distribusi data residual normal, maka garis yang menggambarkan data
sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya.
2. Uji Hipotesis
a. Uji Koefisien Determinasi
Uji koefisien determinasi pada intinya mengukur seberapa jauh
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen.
Nilai R² yang mendekati 1 berarti variabel-variabel independen
memberikan hamper semua informasi yang dibutuhkan untuk
memprediksikan variabel dependen (Ghazali, 2001:83). Uji koefisien
determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar variabel
independen (ED) mempengaruhi variabel dependen (FP dan RS) atau
46
seberapa besar kontribusi variabel independen terhadap variabel
dependen.
b. Regresi Linear Sederhana
Analisis regresi linear sederhana untuk mengetahui ada atau
tidaknya pengaruh antara variabel bebas (X) dengan variabel terikat
(Y). Analisis regresi linear untuk hipotesis pertama disimpulkan
dengan persamaan matematik sebagai berikut:
Y1 = α + βX1 + e
Di mana:
Y1 = Kinerja Keuangan (variabel terikat)
α = Konstatnta atau nilai variabel terikat (Y) jika besar perubahan
nilai variabel (X) sama dengan 0
β
= Koefisien regresi atau nilai sensitivitas variabel terikat (Y1)
terhadap besar perubahan variabel bebas (X1) di mana jika nilai
β positif maka akan terjadi kenaikan, sedangkan jika nilai β
negatif maka terjadi penurunan
X1 = Pengungkapan Lingkungan (variabel bebas)
e
= error
Analisis regresi linear untuk hipotesis kedua disimpulkan
dengan persamaan matematik sebagai berikut:
Y2 = a + bX1 + e
47
Di mana:
Y2 = Kinerja Saham (variabel terikat)
a
= Konstatnta atau nilai variabel terikat (Y) jika besar perubahan
nilai variabel (X) sama dengan 0
b
= Koefisien regresi atau nilai sensitivitas variabel terikat (Y1)
terhadap besar perubahan variabel bebas (X1) di mana jika nilai
β positif maka akan terjadi kenaikan, sedangkan jika nilai β
negatif maka terjadi penurunan
X1 = Pengungkapan Lingkungan (variabel bebas)
e
= error
c. Uji t Test
Uji t atau test of significance digunakan untuk mengetahui apakah
pengaruh
variabel independent
berpengaruh terhadap
variabel
dependen bersifat menentukan (significant) atau tidak. Kriteria
signifikan berdasarkan nilai signifikansi < 0,05 maka variabel
independen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel
dependen. Sebaliknya, jika nilai signifikansinya > 0,05 maka variabel
independen tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
variabel dependen (Santoso, 2000:168).
E. Operasional Variabel Penelitian
Pada bagian ini akan diuraikan mengenai definisi dari masing-masing
variabel yang digunakan berikut operasional dan cara pengukurannya.
48
Penjelasan dari masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian ini
antara lain:
1. Kinerja Keuangan
Variabel dependen atau disebut juga variabel yang diduga sebagai
akibat (presumed effect variable) adalah tipe variabel yang dijelaskan atau
dipengaruhi oleh variabel independen (Indriantoro dan Supomo, 2002:63).
Variabel dependen pertama yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kinerja keuangan.
Pengertian kinerja keuangan menurut Sucipto (2008: 2) adalah
penentuan ukuran-ukuran tertentu yang dapat mengukur keberhasilan
suatu perusahaan dalam menghasilkan laba. Kinerja keuangan dalam
penelitian ini diukur dengan menggunakan ROA (return on asset).
ROA (return on asset) adalah hasil pengembalian total aktiva atau
total
investasi.
ROA
menunjukkan
kinerja
manajemen
dalam
menggunakan aktiva perusahaan untuk menghasilkan laba. Semakin besar
rasio ini semakin baik. Hal ini berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat
berputar dan meraih laba (Astuti, 2002:22).
Dalam penelitian ini kinerja keuangan diberi simbol FP.
Perhitungan kinerja keuangan menggunakan rumus ROA yaitu:
Rumus :
Laba Bersih
FP =
Total Aktiva
49
2. Kinerja Saham
Variabel dependen yang kedua yang digunakan dalam penelitian
ini adalah kinerja saham. Kinerja saham yang baik adalah jika kenaikkan
harga sahamnya di atas atau paling tidak sama dengan tingkat kenaikkan
indeks pasarnya. Dalam jangka panjang emiten yang dapat menunjukkan
kinerja yang lebih efidien akan mendapatkan tanggapan positif dari
investor (Suharli, 2005:3).
Kinerja saham diproksi menggunakan return saham. Menurut
Jogiyanto (2003) dalam Suharli (2005:101) return adalah tingkat
pengembalian hasil yang diperoleh investor dari sejumlah dana yang
diinvestasikan pada suatu periode tertentu dinyatakan dalam persentase.
Return tersebut dapat berupa capital gain ataupun dividen untuk investasi
pada saham. Return saham dibedakan menjadi dua, yaitu: return realisasi
dan return ekspektasi. Return suatu saham adalah hasil yang diperoleh dari
investasi dengan cara menghitung selisih harga saham periode berjalan
dengan periode sebelumnya dengan mengabaikan dividen, maka dapat
ditulis ke dalam rumus, yaitu:
Rumus:
Pit - Pi(t-1)
Rit =
Pi(t-1)
Dimana:
Rit
= Return saham i waktu ke- t
Pit
= Harga saham i waktu ke- t
Pi(t-1) = Harga saham i waktu ke- (t-1)
50
3. Pengungkapan Lingkungan
Variabel independen atau variabel yang diduga sebagai sebab
(presumed caused variable) adalah tipe variabel yang menjelaskan atau
mempengaruhi variabel yang lain (Indriantoro dan Supomo, 2002:63).
Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pengungkapan lingkungan.
Pengungkapan lingkungan adalah pengungkapan informasi yang
berkaitan dengan lingkungan di dalam laporan tahunan perusahaan
(Suratno, Darsono, dan Mutmainah, 2006). Terdapat sepuluh item
pengungkapan lingkungan yang wajib diungkapkan dalam Catatan atas
Laporan Keuangan perusahaan pengusahaan hutan serta sembilan item
untuk perusahaan industri pertambangan umum. Terdapat ketidaksamaan
jumlah item yang wajib diungkapkan dalam Catatan atas Laporan
Keuangan
antara
pertambangan
perusahaan
umum,
sehingga
pengusahaan
pengungkapan
hutan
dan
industri
lingkungan diukur
berdasarkan proporsi pengungkapan yang dilakukan dengan yang
diwajibkan PSAK (Spica dan Wijayanto, 2007:11).
Jumlah yang dilaporkan pada tahun ke-n
Rumus:
x 100%
Jumlah yang wajib dilaporkan
51
BAB IV
PENEMUAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
Perusahaan pengusahaan hutan dibedakan atas pemegang HPH (hak
pengusahaan hutan) dan pemegang HPHTI (hak pengusahaan hutan tanaman
industri). Ruang lingkup kegiatan perusahaan pengusahaan hutan adalah
dalam bidang industri pengolahan kayu, pengambangan atau eksploiyasi hutan
dan tanaman industri, usaha penebangan dan pengangkutan kayu, serta
perdagangan impor atau ekspor.
Perusahaan pengusahaan hutan memiliki hak dan kewajiban untuk
melaksanakan kegiatan pengusahaan seperti penanaman, pemeliharaan,
pemungutan, pengolahan, dan pemasaran. Cirri khusus dari usaha di bidang
pengusahaan hutan antara lain berupa siklus produksi yang panjang serta
keragaman sisitem simikultur yang digunakan.
Proses produksi hasil hutan untuk mendapatkan kayu bulat
memerlukan waktu yang panjang. Dimulai dari penanaman, pemeliharaan, dan
pemungutan bergantung dari riap (growth) tegakan hutan yang akan
ditentukan oleh rotasi atau daur tanaman. Untuk hutan alam dengan simikultur
Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) diperlukan rotasi tebang 35 tahun.
Sedangkan untuk hutan tanaman, daur ditetapkan sesuai dengan kelas
perusahaan atau jenis tanaman yang diusahakan untuk fast growing species,
daur ekonomis paling cepat delapan tahun.
52
Keberhasilan pembangunan kehutanan diharapkan tidak hanya diukur
dari aspek ekonomi semata, namun juga dari aspek-aspek sosial dan\ ekologi.
Dari segi ekonomi memberikan sumbangan bagi pertumbuhan perekonomian
dan pengembangan wilayah. Dari segi sosial harus mampu menciptakan
lapangan pekerjaan, pemerataan dan kesejahteraan sosial masyarakat.
Sedangkan dari segi ekologi dituntut untuk mampu menciptakan lingkungan
yang mendukung kehidupan dan menjamin kelestarian hutan.
Industri pertambangan umum terdapat empat kegiatan usaha pokok,
meliputi:
eksplorasi,
pengembangan
dan
konstruksi,
produksi,
dan
pengolahan. Karakteristik industri pertambangan umum berbeda dengan
industri lainnya. Perbedaan tersebut antara lain: eksplorasi bahan galian
tambang umum merupakan kegiatan yang mempunyai ketidakpastian yang
tinggi, bahan galian bersifat deplesi dan tidak dapat diperbaharui serta
diperlukan biaya investasi yang relatif sangat besar, kegiatan operasinya di
daerah terpencil dan menimbulkan kerusakan serta pencemaran lingkungan
hidup. Sebagai akibat dari sifat dan karakteristik industri pertambangan
umum, maka terdapat beberapa perlauan akuntansi khusus untuk industri
tersebut terutama perlakuan akuntansi biaya eksplorasi, pengembangan dan
konstruksi, produksi, dan pengelolaan lingkungan hidup.
Berikut adalah daftar nama perusahaan pengusahaan hutan dan
pertambangan umum yang dijadikan sampel pada penelitian ini:
53
Tabel 4.1
Daftar Nama Perusahaan Sampel
Kelompok Perusahaan
Pengusahaan Hutan
(Wood Industries)
Pertambangan Umum
(Mining)
Nama Perusahaan
Kode
PT. Barito Pacific Timber, Tbk
BRPT
PT. Daya Sakti Unggul
DSUC
Corporation, Tbk
PT. Sumalindo Lestari Jaya, Tbk
SULI
PT. Surya Dumai Industri, Tbk
SUDI
PT. Tirta Mahakan Plywood, Tbk
TIRT
PT. Aneka Tambang, Tbk
ANTM
PT. International Nickel, Tbk
INCO
PT. Tambang Batu Bara Bukit
PTBA
Asam (Persero), Tbk
PT. Timah
Total Perusahaan yang
Dijadikan Sampel
TINS
9 Perusahaan
Sumber: Data diolah
Pengungkapan lingkungan untuk perusahaan pengusahaan hutan diatur
dalam PSAK No. 32 tentang Akuntansi Kehutanan. Sedangkan untuk
perusahaan pertambangan umum diatur dalam PSAK No. 33 tentang
Akuntansi Pertambangan Umum. Instrumen penilaian diukur melalui proporsi
antara jumlah yang diungkapkan dengan jumlah yang diwajibkan. Untuk
perusahaan pengusahaan hutan PSAK mewajibkan 10 item tentang
pengungkapan lingkungan. Sedangkan perusahaan pertambangan umum
diwajibkan 9 item untuk mengungkapkan aktivitas operasinya dalam
pengelolaan lingkungan hidup. Berikut adalah proporsi pengungkapan
lingkungan perusahaan pengusahaan hutan dan pertambangan umum:
54
Tabel 4.2
Proporsi Pengungkapan Lingkungan Perusahaan Pengusahaan Hutan
Jumlah
Jumlah Dilaporkan
Proporsi Pengungkapan
Kode
Diwajib
Perusahaan
2004 2005 2006 2007 2004 2005 2006 2007
kan
BRPT
10
8
8
9
10
80%
80%
90%
100%
DSUC
10
9
6
7
5
90%
60%
70%
50%
SULI
10
10
9
9
9
100%
90%
90%
90%
SUDI
10
7
4
3
3
70%
40%
30%
30%
TIRT
10
1
1
1
1
10%
10%
10%
10%
Sumber: Data Diolah
Dari tabel 4.2 di atas menjelaskan bahwa dalam industri pengusahaan
hutan masih ada perusahaan yang belum mematuhi aturan dalam PSAK
tentang pengungkapan lingkungan. PT Tirta Mahakam Plywood, Tbk hanya
mengungkapkan satu item dari sepuluh item yang diwajibkan PSAK. Itupun
hanya kegiatan pengusahaan hutan yang dilakukan. Selain itu, dalam PSAK
No. 32 yang akan diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan belum
terperinci secara detail apa saja yang harus diungkapkan berhubungan dengan
kegiatan pengelolaan lingkungan.
Tabel 4.3
Proporsi Pengungkapan Lingkungan Perusahaan Pertambangan Umum
Jumlah Dilaporkan
Proporsi Pengungkapan
Kode
Jumlah
Perusa
Diwajib
haan
kan
2004 2005
2006 2007
2004
2005
2006
2007
ANTM
9
8
6
5
6
88,89%
66,67%
55,56%
66,67%
INCO
9
5
8
9
9
55,56%
88,89%
100%
100%
PTBA
9
5
7
6
7
55,56%
77,78%
66,67%
77,78%
TINS
9
7
7
7
7
77,78%
77,78%
77,78%
77,78%
Sumber: Data Diolah
55
Dari tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa pengungkapan lingkungan
dari perusahaan pertambangan umum sangat baik. Hal ini disebabkan dalam
PSAK No. 33 telah dicantumkan secara khusus mengenai pengelolaan
lingkungan hidup dan apa saja yang harus diungkapkan dalam catatan atas
laporan keuangan. Hal ini merupakan slah satu kegiatan yang termasuk dalam
operasi perusahaan.
Kinerja keuangan perusahaan diukur dengan menggunakan ROA
(Return on Asset). ROA adalah rasio yang digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan secara keseluruhan dalam menghasilkan keuntungan
dengan jumlah aktiva yang tersedia dalam perusahaan. ROA dihitung dengan
cara membagi laba (rugi) bersih perusahaan dengan total aktiva perusahaan.
Berikut adalah ROA dari perusahaan sampel penelitian:
Kode
Tabel 4.4
ROA Perusahaan Pengusahaan Hutan
ROA
Perusahaan
2004
2005
2006
2007
BRPT
(4,62%)
30%
0,04%
0,03%
DSUC
(1,43%)
(1,28%)
(7,47%)
(22,86%)
SULI
14,04%
0,57%
(3,49%)
1,46%
SUDI
20,94%
(8,3%)
(20,36%)
(10,4%)
TIRT
1,24%
1,12%
0,02%
0,001%
Sumber: Data Diolah
Dari tabel 4.4 di atas menunjukkan kinerka keuangan perusahaan
pengusahaan hutan. Ada beberapa perusahaan mengalami ROA yang negatif.
Hal ini disebabkan perusahaan mengalami kerugian dari pos luar biasa karena
terjadinya kebakaran hutan.
56
Kode
Tabel 4.5
ROA Perusahaan Pengusahaan Hutan
ROA
Perusahaan
2004
2005
2006
2007
ANTM
13,36%
13,15%
21,30%
42,63%
INCO
3,45%
16,37%
24,18%
62,16%
PTBA
17,6%
16,45%
15,63%
19,35%
TINS
7,36%
3,91%
6,01%
35,46%
Sumber: Data Diolah
Tabel 4.5 merupakan ROA perusahaan pertambangan umum. Tabel
4.5 di atas memperlihatkan ROA yang diperoleh PT Timah, Tbk meningkat
jauh untuk tahun 2006-2007. hal ini disebabkan kenaikan laba bersih yang
diterima perusahaan. Penjualan PT Timah meningkat kurang lebih 100%.
Penjualan kepada pelanggan secara individu pun nilainya melebihi 10% dari
penjualan konsolidasian.
Kinerja saham perusahaan diukur dengan menggunakan Return
Saham. Retrun Saham adalah tingkat pengembalian hasil yang diperoleh
investor dari sejumlah dana yang diinvestasikan pada suatu periode tertentu.
Return saham dihitung dengan cara menghitung selisih harga saham periode
berjalan dengan periode sebelumnya dibagi dengan harga saham periode
sebelumnya. Harga saham yang digunakan adalah harga saham setelah
penutupan. Berikut adalah return saham dari perusahaan sampel penelitian:
57
Tabel 4.6
Return Saham Perusahaan Pengusahaan Hutan
Kode
ROA
Perusahaan
2004
2005
2006
2007
BRPT
2,7037
0,2727
0,3898
2,5483
DSUC
7,5714
(0,4848)
0,1764
(0,0313)
SULI
4,1818
0,8795
2
0,0360
SUDI
(0,0649)
(0,04)
0
0
TIRT
0,1
(0,4594)
(0,28)
(0,06)
Sumber: Data Diolah
Dari tabel 4.6 di atas dapat dilihat return saham dari PT. Surya Dumai
Industri Tbk negatif pada tahun 2004 dan 2005, serta pada dua tahun
berikutnya tidak ada tingkat pengembalian. Hal ini dapat disebabkan salah
satunya adalah sepinya penawaran dan permintaan terhadap saham SUDI itu
sendiri.
Tabel 4.7
Return Saham Perusahaan Pengusahaan Hutan
ROA
Kode
2005
2006
Perusahaan
2004
2007
ANTM
0,1538
1,5144
2,2916
(0,5586)
INCO
(0,6608)
0,4721
3,1807
(0,7538)
PTBA
0,6
0,3487
0,9061
2,1888
TINS
(0,2735)
(0,0241)
5,3032
4,12
Sumber: Data Diolah
Dari data di atas Return Saham perusahaan pertambangan umum
mengalami fluktuasi yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan investasi
dalam bidang pertambangan mempunyai risiko yang cukup tinggi.
58
B. Uji Asumsi Klasik
1. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan mendeteksi ada tidaknya hubungan
antara beberapa variabel independen atau semua variabel independen
dalam model regresi. Tabel 4.8 berikut ini merupakan hasil uji
multikolinearitas hipotesis pertama, pengaruh pengungkapan lingkungan
terhadap kinerja keuangan:
Tabel 4.8
Hasil Uji Multikolinearitas
Pengungkapan Lingkungan
Variabel
Tolerance
VIF
Pengungkapan Lingkungan
1.000
1,000
Sumber: Data diolah, SPSS
Tabel 4.9 di bawah ini merupakan hasil uji multikolinearitas
hipotesis kedua. Pengaruh pengungkapan lingkungan terhadap kinerja
saham perusahaan:
Tabel 4.9
Hasil Uji Multikolinearitas
Pengungkapan Lingkungan
Variabel
Tolerance
VIF
Pengungkapan Lingkungan
1.000
1,000
Sumber: Data diolah, SPSS
Berdasarkan tabel 4.8 dan 4.9 di atas, hasil uji dapat dilihat melalui
nilai tolerance kurang dari 10% atau > 0,1 yang berarti tidak ada korelasi
antar variabel independen. Hasil perhitungan Variance Inflation Factor
(VIF), variabel independen memiliki VIF tidak lebih dari 10. Dapat
59
disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas variabel independent dalam
model regresi.
2. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas untuk menguji apakah ada kesamaan atau
ketidaksamaan varians dari model regresi dari satu pengamatan ke
pengamatan lain. Suatu model regresi bebas dari heteroskedastisitas adalah
tidak ada pola yang jelas serta titik menyebar di atas dan di bawah angka
nol pada sumbu Y.
Gambar 4.1 merupakan hasil uji heteroskedastisitas anatara
variabel pengungkapan lingkungan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Dengan melihat tampilan grafik scatterplots terlihat titik-titik menyebar
secara acak tidak membentuk pola dan tersebar baik di atas maupun di
bawah angka nol pada sumbu Y. hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi
heteroskedastisitas.
Gambar 4.1
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Scatterplot
Dependent Variable: FP
Regression Studentized Residual
3
2
1
0
-1
-2
-2
-1
0
1
Regression Standardized Predicted Value
60
Gambar 4.2 berikuta merupakan hasil uji heteroskedastisitas antara
variabel pengungkapan lingkungan terhadap kinerja saham perusahaan.
Dengan melihat tampilan grafik scatterplots terlihat titik-titik menyebar
secara acak tidak membentuk pola dan tersebar baik di atas maupun di
bawah angka nol pada sumbu Y. hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi
heteroskedastisitas.
Gambar 4.2
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Scatterplot
Dependent Variable: RS
Regression Studentized Residual
4
3
2
1
0
-1
-2
-2
-1
0
1
Regression Standardized Predicted Value
Sumber: Data diolah, SPSS
3. Uji Autokorelasi
Pengujian ini bertujuan menguji apakah dalam sebuah model
regresi terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t
dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi autokorelasi
maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model regresi yang baik
adalah bebas dari masalah autokorelasi.
61
Pengujian autokorelasi hipotesis pertama ditunjukkan pada tabel
4.10 di bawah ini:
Tabel 4.10
Hasil Uji Autokorelasi Pengungkapan Lingkungan terhadap Kinerja
Keuangan
Model Summaryb
Model
1
R
.356a
Adjusted
R Square
.101
R Square
.127
Std. Error of
the Estimate
.2149485
DurbinWatson
.971
a. Predictors: (Constant), ED
b. Dependent Variable: FP
Sumber: Data diolah, SPSS
Hasil uji autokorelasi hipotesis kedua dapat dilihat dalam tabel
4.11 di bawah ini:
Tabel 4.11
Hasil Uji Autokorelasi Pengungkapan Lingkungan terhadap Kinerja
Saham
Model Summaryb
Model
1
R
.416a
R Square
.173
Adjusted
R Square
.149
Std. Error of
the Estimate
1.7367000
DurbinWatson
1.927
a. Predictors: (Constant), ED
b. Dependent Variable: RS
Sumber: Data diolah, SPSS
Berdasarkan hasil output SPSS, diketahui bahwa nilai DurbinWatson (Dw) untuk pengujian model hipotesis pertama sebesar 0,971 dan
pengujian model hipotesis kedua sebesar 1,962. Nilai Dw ini berada di
antara -2 dan 2 (-2 < Dw < 2). Hal ini menandakan bahwa dalam model ini
tidak terjadi autokorelasi.
62
4. Uji Normalitas
Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan normal probability
plot. Pedoman suatu model dikatakan terdistribusi normal jika nilai-nilai
sebaran terletak disekitar garis lurus diagonal. Gambar 4.3 akan
menunjukkan hasil uji normalitas pengungkapan lingkungan terhadap
kinerja keuangan, sedangkan pada Gambar 4.4 akan menunjukkan hasil uji
pengungkapan lingkungan terhadap kinerja saham pada gambar 4.3 dan
4.4 berikut ini dapat dikatakan sebaran data terdistribusi normal karena
berada sepanjang garis diagonal yang merupakan syarat normalitas.
Gambar 4.3
Hasil Uji Normalitas
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Dependent Variable: FP
1.0
Expected Cum Prob
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0
0.0
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
Observed Cum Prob
Sumber: Data diolah, SPSS
Dari gambar 4.3 di atas terlihat titik-titik menyebar disekitar garis
diagonal serta penyebarannya mengikuti arah garis diagonal. Grafik ini
63
menunjukkan bahwa model regresi layak dipakai karena memenuhi asumsi
normalitas.
Gambar 4.4 menunjukkan hasil uji normalitas untuk hipotesis
kedua. Dari gambar tersebut terlihat juga titik-titik menyebar di sekitar
garis diagonal serta penyebarannya mengikuti arah garis diagonal. Grafik
ini menunjukkan bahwa model regresi layak dipakai karena memenuhi
asumsi normalitas.
Gambar 4.4
Hasil Uji Normalitas
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Dependent Variable: RS
1.0
Expected Cum Prob
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0
0.0
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
Observed Cum Prob
Sumber: Data diolah, SPSS
C. Uji Hipotesis
1. Uji Koefisien Determinasi (R²)
Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa
jauh kemampuan variabel independen dapat menjelaskan variabel
64
dependen. Nilai R² yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel
independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas.
Hasil uji koefisien determinasi untuk pengujian pengaruh pengungkapan
lingkungan terhadap kinerja keuangan dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut
ini:
Tabel 4.12
Hasil Uji Koefisien Determinasi (R²)
Hipotesis Pertama
Model Summary
Model
1
R
.356a
R Square
.127
b
Adjusted
R Square
.101
Std. Error of
the Estimate
.2149485
a. Predictors: (Constant), ED
b. Dependent Variable: FP
Sumber: Data diolah, SPSS
Tabel 4.12 menunjukkan bahwa nilai R square yang dihasilkan
oleh variabel independen hanya sebesar 0,127 yang artinya 12,7% variabel
dependen kinerja keuangan dapat dijelaskan oleh variabel independen
pengungkapan lingkungan. Sisanya sebesar 87,3% dijelaskan oleh variabel
lain yang tidak termasuk dalam analisis regresi ini seperti peran sumber
daya manusia, good corporate governance (transparansi laporan
keuangan), dan lain sebagainya.
Menurut Akmal (2006:18) peran sumber daya manusia adalah
bagaimana lebih memahami nilai tambah organisasi dan menolong
manajer lini mencapai harapan yang jelas. Sumber daya manusia
merupakan suatu keunggulan strategik untuk mengelola sebuah organisasi
modern. Jika peran sumber daya manusia tersebut terangkai dan
65
terkoordinasi sebagai satu kesatuan maka perusahaan akan memiliki
tingkat produktivitas dan profitabilitas, serta pertumbuhan yang tinggi.
Konsep good corporate governance menyatakan bahwa untuk
dapat menghasilkan kinerja perusahaan yang baik dalam pengelolaan
perusahaan harus menerapkan pilar-pilar good corporate governance yang
salah satu pilarnya adalah transaparansi. Transparansi dalam konteks ini
adalah
pengungkapan
laporan
pengungkapan laporan keuangan
keuangan.
Dengan
melakukan
perusahaan
menginginkan
pasar
memiliki penilaian positif terhadap kondisi perusahaan, baik dari aspek
keuangan, manajemen, maupun hukum (Ujiyhanto dan Pramuka, 2007:5).
Pada tabel 4.13 berikut dapat dilihat hasil uji koefisien determinasi
variabel penngungkapan lingkungan terhadap kinerja saham. Untuk
pengujian seberapa jauh pengaruh pengungkapan lingkungan terhadap
kinerja saham dapat dilihat pada tabel 4.13.
Tabel 4.13
Hasil Uji Koefisien Determinasi (R²)
Hipotesis Kedua
Model Summary
Model
1
R
.416a
R Square
.173
b
Adjusted
R Square
.149
Std. Error of
the Estimate
1.7367000
a. Predictors: (Constant), ED
b. Dependent Variable: RS
Sumber: Data diolah, SPSS
Tabel 4.13 di atas menjelaskan bahwa pengaruh pengungkapan
lingkungan terhadap kinerja saham sebesar 0,713 atau 17,3%. Hal ini
menjelaskan bahwa 17,3% variabel dependen kinerja saham dapat
66
dijelaskan oleh variabel independen pengungkapan lingkungan, sedangkan
sisanya sebesar 82,7% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk
dalam analisis regresi ini seperti rasio hutang dan tingkat risiko.
Risiko merupakan ketidaktentuan atas investasi yang akan
diperoleh terhadap imbal hasil yang diharapkan. Semakin tinggi risiko
suatu aset maka semakin tinggi pula return dari aset tersebut, demikian
pula sebaliknya (Suharli, 2005:101).
2. Uji t Test
Uji t atau test of significant digunakan untuk mengetahui apakah
pengaruh variabel independen berpengaruh secara parsial terhadap
variabel dependen bersifat menentukan (significant) atau tidak. Kriteria
sigifikan berdasarkan nilai signifikansi < 0,05 maka variabel independen
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen dan
sebaliknya, jika nilai signifikansi > 0,05, maka variabel independen tidak
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen
(Santoso, 2000:168). Hasil uji statistik t hipotesis pertama dapat dilihat
pada tabel 4.14 berikut ini:
Tabel 4.14
Hasil Uji Statistik t
Hipotesis Pertama
Coefficientsa
Model
1
(Constant)
ED
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
-.064
.096
.295
.133
Standardized
Coefficients
Beta
.356
t
-.666
2.225
Sig.
.510
.033
a. Dependent Variable: FP
Sumber: Data diolah, SPSS
67
Berdasarkan
hasil
uji
t
menunjukkan
bahwa
variabel
pengungkapan lingkungan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,033. Nilai
ini lebih kecil dari 0,05 (0,033 < 0,05), sehingga hal ini menjelaskan
bahwa pengungkapan lingkungan memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap kinerja keuangan. Dengan demikian hipotesis alternatif
pengungkapan lingkungan berpengaruh terhadap kinerja keuangan
diterima. Hal ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan
oleh Richardson et. al (2001) dalam Lindrianasari (2007). Richardson et.
al. (2001) menjelaskan bahwa terdapat hubungan positif signifikan
terhadap tingkat pengungkapan lingkungan dengan kinerja keuangan.
Tabel 4.14 di atas dapat disimpulkan dalam persamaan regresi dari
penelitian ini, yaitu:
FP = -0,64 + 0,295 ED + e
Dari persamaan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
konstatnta dari persamaan regresi tersebut adalah -0,64. Hal ini
menjelaskan jika perusahaan tidak melakukan pengungkapan lingkungan,
maka kinerja keuangan perusahaan tersebut adalah -0,64. Koefisien regresi
sebesar 0,295 menjelaskan bahwa setiap ada tambahan pengungkapan
lingkungan sebesar 1% maka akan meningkatkan kinerja keuangan sebesar
0,295%, dan sebaliknya. Nilai koefisien regresi yang positif menunjukkan
arah hubungan yang searah. Jika variabel independen mengalami kenaikan
maka variabel dependen akan mengalami kenaikan pula.
68
Hasil penelitian ini mendukung teori yang menjelaskan bahwa
dengan
melakukan
pengungkapan
lingkungan
perusahaan
akan
memperoleh banyak keuntungan. Perusahaan memenuhi kebutuhan sosial
dan pengakuan diri yang lebih tinggi, dapat menghindari pinalti atau
hukuman dari pemerintah, dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat,
sekaligus meningkatkan image perusahaan di mata masyarakat dan
konsumen yang akan membeli produk perusahaan atau menanamkan
modal dalam operasi perusahaan yang nantinya akan meningkatkan
profitabilitas yang tercermin dalam kinerja keuangan perusahaan.
Hasil penelitian ini mendukung teori legitimasi. Menurut teori
legitimasi, tujuan perusahaan mengungkapkan informasi lingkungan
adalah mendapatkan legitimasi dari masyarakat yang nantinya akan
mengamankan perusahaan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini akan
menaikkan reputasi perusahaan yang nantinya akan berpengaruh pada nilai
perusahaan. Selain itu, perusahaan besar akan mengungkapkan lebih
banyak informasi sosial-lingkungan karena mereka sadar bahwa tindakan
mereka dimonitor oleh pihak ketiga dan karenanya perusahaan perlu
legitimasi atas perilakunya.
Uji t untuk hipotesis kedua digunakan untuk mengetahui apakah
pengaruh variabel pengungkapan lingkungan berpengaruh secara parsial
terhadap variabel kinerja saham bersifat menentukan (significant) atau
tidak. Hasil uji statistik t hipotesis kedua dapat dilihat pada tabel 4.15
berikut ini:
69
Tabel 4.15
Hasil Uji Statistik t
Hipotesis Kedua
Coefficientsa
Model
1
(Constant)
ED
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
-.854
.775
2.864
1.073
Standardized
Coefficients
Beta
.416
t
-1.102
2.669
Sig.
.278
.012
bahwa
variabel
a. Dependent Variable: RS
Sumber: Data diolah, SPSS
Berdasarkan
hasil
uji
t
menunjukkan
pengungkapan lingkungan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,012. Nilai
ini lebih kecil dari 0,05 (0,012 < 0,05). Hal ini menjelaskan bahwa
pengungkapan lingkungan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
kinerja saham. Dengan demikian hipotesis alternatif kedua pengungkapan
lingkungan berpengaruh terhadap kinerja keuangan diterima. Hal ini
konsisten dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Clarkson dan
Richardson (2004) dalam Utami (2007) yang meneliti tentang penilaian
pasar atas environmental capital expenditure pada perusahaan kertas.
Hasil penelitian tersebut adalah environmental capital expenditure
berdampak signifikan terhadap harga saham pada perusahaan yang
memiliki tingkat polusi rendah tetapi tidak pada perusahaan dengan
tingkat polusi kategori tinggi.
Dijelaskan bahwa investor menggunakan informasi lingkungan
untuk mengestimasi kemungkinan adanya tuntutan kewajiban di masa
yang akan datang sebagai akibat polusi. Pada perusahaan dengan tingkat
70
polusi yang tinggi ditaksir besarnya hutang atas dampak lingkungan
(kontijensi) mencapai rata-rata 16,6% dari kapitalisasi pasar.
Tabel 4.15 di atas dapat disimpulkan menjadi persamaan regresi
dari penelitian ini, yaitu:
RS = -0,855 + 2,864 ED + e
Persamaan regresi di atas dapat menjelaskan bahwa konstanta dari
penelitian hipotesis kedua adalah sebesar -0,855. Angka ini menjelaskan
bahwa jika perusahaan tidak melakukan pengungkapan lingkungan maka
kinerja saham perusahaan tersebut yang diproksi dengan return saham
sebesar -0,855. Koefisien regresi sebesar 2,864 menjelaskan bahwa jika
perusahaan melakukan tambahan pengungkapan lingkungan sebesar 1%
maka akan meningkatkan kinerja saham sebesar 2,864% dan sebaliknya.
Koefisien regresi bernilai positif mengindikasikan bahwa arah hubungan
searah antara variabel independen dengan variabel dependen. Jika varibael
independen mengalami kenaikan maka variabel dependennya akan
mengalami kenaikan juga.
Hasil
penelitian
mengungkapkan
ini
kegiatan
mendukung
yang
teori
berhubungan
alasan
perusahaan
dengan
lingkungan,
diantaranya yaitu teori legitimasi dan teori stakeholders. Tujuan dari
pengungkapan
lingkungan
adalah
memperlihatkan
kepada
para
stakeholders aktivitas yang berhubungan dengan lingkungan yang
dilakukan oleh perusahaan dan pengaruhnya terhadap lingkungan dan
masyarakat. Tidak bisa diungkiri bahwa tujuan akhir dari pengungkapan
71
lingkungan
ini
adalah
maksimalisasi
keuntungan
yang
nantinya
berdampak pada kesejahteraan pemilik.
Dengan melakukan pengungkapan lingkungan investor dapat
mengetahui informasi-informasi mengenai dampak dan kewajiban
lingkungan perusahaan yang nantinya berdampak pada pengambilan
keputusan untuk menginvestasikan modalnya di perusahaan tersebut atau
tidak. Jika semakin banyak perusahaan mengungkapkan informasi
lingkungan maka semakin banyak pula informasi yang diserap investor
untuk
mengkalkulasi risiko
permintaan terhadap
saham
dalam
menanamkan
suatu
perusahaan
modalnya.
naik
maka
Jika
akan
meningkatkan pula harga saham perusahaan tersebut yang nantinya akan
meningkatkan return saham perusahaan tersebut.
72
BAB V
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
A. Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh variael independen yakni
pengungkapan lingkungan terhadap kinerja keuangan perusahaan dan kinerja
saham perusahaan. Sampel penelitian ini adalah perusahaan pengusahaan
hutan dan pertambangan umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia serta
mengeluarkan laporan keuangan tahun 2004, 2005, 2006, dan 2007.
Perusahaan sampel terdiri dari lima perusahaan pengusahaan hutan dan empat
perusahaan pertambangan umum. Pengujian ini menggunakan analisis regresi
linear sederhana (simple linier regression).
Dari hasil pengujian dan analisis terhadap data, diperoleh hasil, yaitu:
1. Hipotesis pertama menguji pengaruh pengungkapan lingkungan terhadap
kinerja keuangan perusahaan. Dari hasil uji t diketahui bahwa variabel
pengungkapan lingkungan berpengaruh terhadap kinerja keuangan.
2. Hipotesis kedua menguji pengaruh pengungkapan lingkungan terhadap
kinerja saham perusahaan. Dari hasil uji t diketahui bahwa variabel
pengungkapan
lingkungan
berpengaruh
terhadap
kinerja
saham
perusahaan.
73
B. Implikasi
Hasil dari penelitian ini, kinerja keuangan 12,7% mampu dijelaskan
oleh pengungkapan lingkungan. Hal ini berarti bahwa dengan melakukan
pengungkapan lingkungan perusahaan melakukan prinsip transparansi yang
dapat meningkatkan reputasi dan nilai perusahaan yang berdampak pada
kepercayaan dari konsumen dan masyarakat untuk menggunakan produk
perusahaan tersebut yang nantinya akan meningkatkan penjualan perusahaan
dan berimbas pada laba yang diperoleh perusahaan. Dari laba perusahaan
inilah mencerminkan kinerja keuangan suatu perusahaan.
Selain itu dengan melakukan pengungkapan lingkungan berarti
perusahaan mempertahankan legitimasinya dalam masyarakat. Legitimasi
yang dipertahankan dalam masyarakat tersebut akan menaikkan reputasi
perusahaan itu sendiri.
Kinerja saham dalam penelitian ini 17,3% mampu dijelaskan oleh
pengungkapan lingkungan. Hal ini berarti dengan mengungkapkan informasi
lingkungan perusahaan dapat menarik investor. Hal ini disebabkan alasan
untuk
berinvestasi
adalah
terdapatnya
risiko.
Dengan
perusahaan
mengungkapkan informasi lingkungan, investor akan mengetahui kewajiban
perusahaan tersebut terhadap pengelolaan lingkungannya serta untuk
menghindari klaim di masa akan datang yang berhubungan dengan
pencemaran lingkungan hidup yang dapat mempengaruhi dividen. Selain itu,
hasil penelitian ini sesuai dengan teori stakeholders.
74
DAFTAR PUSTAKA
Akmal. “Pengaruh Peran Manajemen Sumber Daya Manusia terhadap Kinerja
Perusahaan: Persepsikan Manajer Menengah BUMN”, Usahawan No. 07,
Juli 2006.
Almilia, Luciana S dan Wijianto, Dwi. “Pengaruh Environmental Performance
dan Environmental Disclosure terhadap Economic Performance”, Paper
Accounting Conference Universitas Indonesia tanggal 7-9 Nopember
2007.
Amir. “Analisis Kinerja Keuangan pada Perusahaan Penerbit Pers”, Tesis
Universitas Negeri Makasar, Makasar, 2002.
Anggraini, Retno. “Pengungkapan Informasi Sosial dan Faktor-faktor yang
Mempengaruhinya dalam Laporan Tahunan”, Paper Simposium Nasional
Akuntansi IX, Padang, Tanggal 23-26 Agustus 2006.
Anonim. “Mengenal ISO 14001 Sistem Manajemen Lingkungan”, artikel diakses
pada bulan Agustus 2008, dari http://www.benefita.com/view.php?item=1
artikel&id=4
Aris, Rustiawan. “Evaluasi Perkembangan Penerapan Sistem Manajemen
Lingkungan ISO 14001 studi pada Tiga Industri”, Tesis Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta, 2002.
Astute, Sih Darmi. “Pengujian Empiris atas Hubungan Lingkungan Strategi
Kompetitif, Strategi Manufaktur, dan Kinerja Bisnis”, Tesis Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta, 2002.
Daniati, Ninna dan Suhairi, “Pengaruh Kandungan Informasi Komponen Laporan
Arus Kas, Laba Kotor, dan Size Perusahaan terhadap Expected Return
Saham”, Paper Simposium Nasional Akuntansi IX, Padang, Tanggal 23-26
Agustus 2006.
75
Darwin, Ali. “Pengantar Ketua IAI Kompartemen Akuntan Manajemen:
Mengenal ISRA”, artikel diakses pada bulan Agustus 2008 dari
http://www.sepconference.com/isra_remark.html.
Fadilah, Sri. “Keterkaitan Akuntansi dengan Sistem Manajemen Lingkungan”,
Jurnal Kajian Akuntansi Vol 1 No. 1, Maret 2003.
Ghazali, Imam.” Analisis Multivariate dengan Program SPSS”, Edisi tiga,
Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, 2001.
Gunawan, Inge. “Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial: Kebutuhan akan
Standar Laporan Keuangan dan Jasa Jaminan Lingkungan”, Jurnal STIE
YKPN, Yogyakarta, 2004.
Harahap, Sofyan S. “Analisis Laporan Keuangan”, Edisi kedua, Grafindo,
Jakarta, 2007.
Harsono, Mugi. “Pengaruh Pendekatan Manajemen Lingkungan Natural
terhadap Kinerja Perusahaan Manufaktur”, Tesis Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta, 2000.
IAI. “Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan”, Salemba Empat, Jkarta, 2007.
Ikhsan, Arfan. “Akuntansi Lingkungan dan Pengungkapannya”, Edisi pertama,
Graha Ilmu, Jakarta, 2008.
Indriantoro, Nur dan Supomo, Bambang. “Metodologi Penelitian Bisnis”, Edisi
pertama, BPFE, Yogyakarta, 2002.
Ja’far, Muhammad dan Amalia, Dista. “Pengaruh Dorongan Manajemen
Lingkungan Proaktif dan Kinerja lingkungan terhadap Public
Environmental Reporting”, Paper Simposium Nasional Akuntansi IX,
Padang, Tanggal 23-26 Agustus 2006.
Khoirunnisa. “Analisis Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Tingkat
Pengungkapan Sosial”, Skripsi Universitas Islam Negeri, Jakarta, 2006.
76
Lestari, Murti. “Pengaruh Variabel Makro terhadap return Saham di Bursa Efek
Jakarta: Pendekatan Beberapa Model”, Simposium Nasional Akuntansi
VIII, Solo, Tanggal 15-16 September 2005.
Lindrianasari. “Hubungan antara Kinerja Lingkungan dan Kualitas
Pengungkapan Lingkungan dengan Kinerja EkonomiPerusahaan di
Indonesia”, Jurnal JAAI Vol 11 No. 2, Desember 2007.
Meutya. “Menyibak Kepentingan Dibalik Pengungkapan Tanggung Jawab
Sosial”, Artikel diakses pada 18 Nopember 2008, dari
http://mymeutya.blogspot.com/2008/03/html
Mulyono, Agus. “Kajian Manajemen Lingkungan pada Perusahaan
Pertambangan dalam Upaya Mempertahankan Daya Dukung
Lingkungan”, Tesis Universitas Indonesia, Depok, 2002.
Santoso, Singgih. “Latihan SPSS: Statistik Parametrik”, Penerbit PT. Elex Media
Komputindo, Jakarta, 2000.
Suratno. I.B, Darsono,Mutmainah S. “Pengaruh Environmental Performance
terhadap Environmental Disclosure dan Economic Performance”, Paper
Simposium Nasional Akuntansi IX, Padang. Tanggal 23-26 Agustus 2006.
Sarumpaet, Susi. “The Relationship between Environmental Performance of
Indonesian Companies”, Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol 7 No. 2,
Universitas Kristen Petra, Nopember 2005.
Subroto, Bambang. “Pengungkapan Pelaporan Keuangan: Sarana Menuju
Keterbukaan Perusahaan Publik”, Pidato pengukuhan di Fakultas
Ekonomi Brawijaya, diakses pada 18 Nopember 2008, dari
http://www.brawijaya.ac.id/id/8_directory/staf.php?detail=130686132
Sucipto. “Penilaian Kinerja Keuangan”, Jurnal Universitas Sumatera Utara,
diakses pada 18 Nopember 2008, dari http://digilib.usu.ac.id/download/fe/
akuntansi-sucipto.pdf
77
Sugiarto, Yudi. “Model Peringkat Kinerja Rumah Sakit dalam Pengendalian
Pencemaran Lingkungan”, Tesis Universitas Indonesia, Depok, 2000.
Suharli, Michell. “Studi Empiris terhadap Dua Faktor yang Mempengaruhi
Return Saham pada Industri Food & Beverages di Bursa Efek Jakarta”,
Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol 7 No. 2 Univ. Kristen Petra, Jakarta,
Nopember 2005.
Utama, Sidharta. “Evaluasi Infrastruktur Pendukung Pelaporan Tanggung Jawab
Sosial dan Lingkungan di Indonesia”, Pidato di Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, diakses pada 18 Nopember 2008, dari
http://www.csrindonesia.com/dataarticlesother/20071121152745-a.pdf
Utami, Wiwik. “Kajian Empiris Hubungan Kinerja Lingkungan, Kinerja
Keuangan, dan Kinerja Pasar: Model Persamaan Simultan”, Paper
Accounting Conference Universitas Indonesia tanggal 7-9 Nopember
2007.
UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
Wibisono, Yusuf. “Tragedi Lumpur Lapindo (Akar Masalah dan Solusinya)”,
artikel diakses pada 6 Desember 2008, dari http://agorsiloku.wordpress.
com/2006/10/11/tragedi-lumpur-lapindo/
78
Download