usaha kecil pertemuan-1

advertisement
Toman Sony Tambunan, S.E, M.Si
NIP. 19811203 200604 1 004
(Aparatur Sipil Negara, Akademisi, Penulis, Praktisi)
Certified ’Auditor Ahli’ ; Certified ’Analis Kepegawaian Ahli’
Certified ’Keuangan Daerah’ ; Certified ’Pengadaan Barang Jasa Pemerintah’
MATERI :
1. Definisi dan Memahami tentang Pemimpin.
2. Memimpin Perubahan Strategis.
3. Memimpin Perubahan Fundamental.
4. Pendekatan Kepemimpinan Transformasi.
5. Memimpin Perubahan Besar.
6. Memimpin Berbasis Kultural.
7. Memimpin Berdasar Hubungan.
8. Gaya Kepemimpinan Perubahan.
9. Strategi Pemimpin Perubahan.
10. Peran Pemimpin Perubahan.
1. Definisi dan Memahami tentang Pemimpin
Pemimpin adalah agen perubahan, orang yang tindakannya mempengaruhi
orang lain lebih daripada tindakan orang lain mempengaruhi mereka.
Pemimpin adalah individu yang mampu mempengaruhi perilaku orang lain
tanpa harus mengandalkan kekerasan; pemimpin adalah individu yang
diterima oleh orang lain sebagai pemimpin.
Pemimpin adalah orang yang mampu mempengaruhi orang lain.
Kriteria Seorang Pemimpin, yaitu:
a). Memiliki Kekuasaan.
b). Memiliki Pengikut.
c). Memiliki Kemampuan
2. Memimpin Perubahan Strategis
Keberhasilan perubahan organisasi yang efektif adalah dengan
terlebih dahulu mengubah individual, kemudian perubahan
organisasi akan mengikut.
Perubahan individu dimulai dari adanya kesadaran bahwa pada
dasarnya setiap orang di dalam benaknya telah memiliki ”peta
mental”, tentang bagaimana mereka melihat organisasi dan
pekerjaan mereka.
Seorang pemimpin perubahan strategis harus mampu menjadi map
maker atau pembuat peta yang efektif untuk mengubah peta
perilaku dan mental individu secara khusus; serta mengubah
tujuan organisasi secara umum.
Memimpin perubahan strategis harus bersedia menghadapi
tantangan dan hambatan, serta mampu menerobos inovasi,
melakukan pertumbuhan dan memiliki taktik dalam menentukan
perubahan.
3. Memimpin Perubahan Fundamental
Perubahan fundamental merupakan perubahan mendasar, perubahan
yang menyangkut prinsip-prinsip sehingga akan mempunyai dampak
yang sangat besar dan luas terhadap organisasi.
Banyak pemmpin menaruh perhatian pada perubahan fundamental, di
antaranya ada pula yang menamakan sebagai transformasional, dan
ada pula yang menamakan sebagai pemimpin yang visioner.
Pendekatan langkah untuk memimpin perubahan secara efektif, yaitu:
a). Envisioning (memimpikan).
b). Activating (mengaktifkan).
c). Supporting (Mendukung).
d). Implementing (Melaksanakan).
e). Ensuring (Memastikan).
Sambungan….Pendekatan langkah untuk memimpin perubahan secara efektif:
a). Envisioning (memimpikan).
Visi merupakan impian seorang pemimpin yang dapat mencakup besaran dan
lingkup kegiatan, kekuatan ekonomi, hubungan dengan pelanggan dan
budaya internal organisasi.
Langkah pertama yang harus dilakukan seorang pemimpin perubahan adalah
merumuskan gambaran organisasi di masa depan yang ingin dicapai.
b). Activating (mengaktifkan).
Salah satu tugas setiap pemimpin adalah mengaktifkan ’pengikut’. Dalam
konteksi ini mengandung makna suatu tugas untuk memastikan bahwa orang
lain di dalam organisasi memahami, mendukung dan bahkan membagikan
visi. Komitmen terhadap visi merupakan prasyarat untuk keberhasilan,
terutama diantara orang yang memiliki peran kunci dalam membuat visi
menjadi kenyataan.
c). Supporting (Mendukung).
Kepemimpinan yang baik bukan sekadar memberitahu orang tentang apa
yang harus dilakukan. Akan tetapi, lebih pada memberikan inspirasi kepada
mereka untuk melakukan lebih baik daripada yang mungkin mereka capai,
dan memberikan dukungan moral yang memungkinkan hal tersebut terjadi.
Sambungan….Pendekatan langkah untuk memimpin perubahan secara efektif:
d). Implementing (Melaksanakan).
langkah implementasi adalah tentang rencana rinci dan jadwal yang
harus diselesaikan untuk mejadikan visi menjadi kenyataan.
e). Ensuring (Memastikan).
Ensuring bersifat memastikan bahwa implementasi telah dilakukan
sesuai dengan rencana, dan apabila terdapat perbedaan, apakah telah
dilakukan koreksi sebagaimana seharusnya. Ensuring
juga
memastikan apakah hasil yang diinginkan telah dapat dicapai.
f). Recognizing (Mengenal).
Arinya, memberika pengakuan kepada mereka yang terlibat dalam
proses perubahan. Pengakuan dapat bersifat positif atau negatif, dan
harus digunakan untuk memperkuat perubahan dan memastikan
bahwa hambatan terhadap kemajuan disingkirkan.
4. Pendekatan Kepemimpinan Transformasi
Pendekatan ini menunjukkan tingkat kepedulian yang dibawa pemimpin untuk
transformasi dan yang memengaruhi tindakan yang mereka lakukan.
Pendekatan yang dilakukan pemimpin berdampak pada setiap aspek
kapabilitas dan pengalaman kepemimpinan perubahan, termasuk
kemampuan pribadi untuk berubah, strategi perubahan yang dikembangkan,
gaya kepemimpinan dan pengambilan keputusan mereka, pola komunikasi,
hubungan dengan stakeholders, reaksi pribadi dan hasil akhir mereka. Akan
tetapi, kebanyakan pendekatan pemimpin mempertimbangkan apa yang
mereka pedulikan dan apa yang tidak mereka lihat.
Pendekatan Kepemimpinan Transformasi, yaitu:
a). Pendekatan Reaktif (the reactive approach).
b). The Conscious Approach.
Pendekatan Kepemimpinan Transformasi, yaitu:
a). Pendekatan Reaktif (the reactive approach).
Pemimpin reaktif memiliki tindakan yang:
-> Tidak melakukan dengan sengaja, tetapi lebih bersifat tanpa
mengetahuinya. Bahkan kenyataannya, mereka sama sekali tidak
memikirkannya.
-> Kejadian terjadi di luar kesadarannya dan mereka bereaksi dengan cara
seperti kebiasaan, secara otomatis, tanpa niat secara sadar.
-> Tidak membedakan tipe perubahan yang mereka hadapi sehingga tidak
memahami perubahan transformasional sebagai sesuatu yang berbeda.
-> Mereka bereaksi pada kebutuhan perubahan tanpa berpikir secara sadar,
sebab mereka tidak melihat orang yang semakin sulit dipisahkan dan proses
dinamika transformasi, mereka melewatkan strategi kepemimpinan
perubahan.
-> pemimpin reaktif terbatas pada pendekatan transformasi berdasar pada
kondisi mereka saat ini, keyakinan, gaya kepemimpinan, dan praktek
kepemimpinan yang terbukti kebenarannya, tanpa mengetahui bahwa
praktik tersebut tidak cukup untuk melaksanakan tugas.
Sambungan …. Pendekatan Kepemimpinan Transformasi:
b). The Conscious Approach.
Conscious Leader menunjukkan tindakan yang:
-> Lebih peduli terhadap seluk beluk dan keunikan dinamika transformasi,
termasuk manusia dan proses, serta mereka menggunakan kepedulian
mereka mengembangkan kompetensi maju dan menciptakan strategi
perubahan inovatif.
-> Mempunyai potensi mencocokkan langkahnya pada ucapannya, bahkan
ketika ucapannya memaksa mereka keluar dari zona kenyamanan mereka.
Mereka sadar atas kekuatan dan kelemahan mental model dan perilakunya.
-> Mempunyai hierarki lima tingkatan atau level yang memengaruhi
bagaimana orang mengorganisasi. Unit terkecil dalam organisasi adalah
’individual’. Individu bersama individu lainnya membentuk ’relationship’.
Apabila sekelompok kecil individu datang bersama, dibentuklah ’group atau
team’. Sekelumpulan tim secara bersama menciptakan ’organisasi’.
Berbagai organisasi membentuk ’industri atau pasar’.
5. Memimpin Perubahan Besar
Pemimpin melakukan berbagai perubahan dalam organisasi dengan tujuan
perubahan organisasi sebagai:
-> Akselarasi (accelerating);
-> Visi (visionary);
-> Kecerdasan organisasi (intelligence organization);
-> Inovasi (innovation);
-> Hidup (living);
-> Adaptif (adaptive);
-> Transformasi (transformational).
Oleh karena itu, pemimpin mencoba melakukan:
-. Total Quality.
-. Re-engineering business process (merekayasa ulang proses bisnis).
-. Strategic Alliances (strategi aliansi).
-. Scenario Planning (skenario perencanaan).
Sambungan … Memimpin Perubahan Besar
Pemimpin perubahan ingin merespons dengan cepat pada perubahan
eksternal dan berpikir lebih imanjinatif tentang masa depan.
Pemimpin perubahan menginginkan hubungan yang lebih baik, lebih
banyak kepercayaan dan keterbukaan.
Pemimpin perubahan mengharapkan lebih dekat dengan pelanggan.
Melalui semua ini, pemimpin perubahan bejerja keras untuk membentuk
tujuan mereka dan mencapai keberhasilan finansial jangka panjang.
Kita harus melihat kepemimpinan sebagai kapasitas komunitas manusia
untuk membentuk masa depan, dan secara spesifik melanjutkan proses
penting perubahan yang diperlukan untuk dilakukan.
6. Memimpin Berbasis Kultural (Cultural Leader)
Cultural Leader adalah orang, yang dengan memberi contoh,
menyeimbangkan nilai kemanusiaan (human value) dengan tugas
pekerjaan.
Leader ini dapat berada di setiap jenjang dalam organisasi, mungkin
menjadi direktur, manajer, supervisor atau bukan manajer.
Cultural Leader membuat jelas bagaimana masalah manusia dan masalah
operasional dapat disatukan.
Ketika atau kelompok mulai berbicara dari aspek operasional, Cultural
Leader, menambahkan segi kemanusiaan dengan baik.
Pada dasarnya, orang ingin menikmati harinya dengan baik, merasa
kompeten, menjadi produktif, menikmati pekerjaan, dan mempunyai
hubungan baik. Maka, cultural leader tinggal memberi kesempatan
dengan memberi contoh bagaimana pekerjaan sehari-hari dilakukan,
bagaimana memimpin, selebihnya mereka akan mengikuti pemimpin.
Lanjutan … Memimpin Berbasis Kultural (Cultural Leader)
Leader yang kuat mengembangkan budaya kerja yang mengikat dengan
melakukan DUA hal penting, yaitu:
a). Menciptakan Lingkungan yang Tepat (creating the right environtment).
Pemimpin menjadi model peran, mendorong dan menghargai mereka
yang menunjukkan perilaku kepemimpinan baru. Pemimpin melakukan
hal ini dengan menjadikan dirinya terbuka dan mau menerima pendapat
orang lain dalam diskusi, mendiskusikan nilai kemanusiaan dalam
percakapan dan pertemuan. Pemimpin merayakan dan menghargai orang
yang menunjukkan nilai budaya yang diinginkan, dan meninggalkan nilai
budaya lama tanpa ragu-ragu dan menuju pada perilaku yang tepat sesuai
dengan kondisi lingkungan yang dihadapi.
b). Menyusun Proses yang Tepat (installing the right processes).
Pemimpin mengusahakan proses yang formal dan memberi petunjuk
kepada bawahan untuk berpartisipaso dalam pengambilan keputusan
sehingga orang pada semua tingkatan dapat memberi kontribusi pada
keputusan yang memengaruhi mereka.
7. Memimpin Berdasar Hubungan (Connective Leader)
Memimpin berdasar hubungan dilakukan dengan mengintegrasikan semua
kemungkinan hubungan yang dapat dilakukan untuk mencapai hasil yang
diharapkan.
Pemimpin melakukan negoisasi, membujuk dan mengintegrasikan
Pemimpin membangun hubungan jaringan, koalisi, dan kolaborasi dengan
pesaing untuk menyelesaikan tujuan bersama.
Kepemimpinan berdasar hubungan merupakan salah satu model pemimpin
yang
harus
belajar
mengintegrasikan
saling
ketergantungan
(interdependence) dengan keberagaman (diversity).
Interdependence menyangkut kegiatan yang bersifat saling melengkapi antara
visi, masalah bersama, dan tujuan bersama.
Diversity mencerminkan karakter individu, kelompok dan organisasi yang
berbeda serta memajukan prioritas yang berbeda.
Prinsip-Prinsip Connective Leader
Dasar perilaku connective leader dapat dibagi dalam TIGA perangkat gaya
berprestasi (achieving styles), yaitu:
a). Gaya Kepemimpinan Langsung (direct style of leadership).
Strategi yang merupakan direct style adalah:
-> instrinsic: yang ditunjukkan oleh kepuasaan, bahkan kegembiraan, dari
menguasai tugas sendiri, diukur terhadap standar keunggulan internal.
-> competitive: yang dilakukan dengan mengalahkan orang lain, mengukur
penyelesaian seseorang terhadap standar kinerja eksternal.
-> power: mengambil tanggung jawab, mendelegasikan tugas, dan
mengoordinasi tindakan orang.
b). Gaya Kepemimpinan Relasional (relational style of leadership).
Gaya relasional sama dengan kekuatan sosial dari sifat saling ketergantungan
melalui TIGA strategi:
-> Bekerja sama dengan orang lain untuk berprestasi.
-> Membantu orang lain menyelesaikan tugasnya.
-> Mendapatkan kepuasan dengan memfasilitasi, coaching dan mengamati
prestasi orang lain.
Lanjutan ………
Dasar perilaku connective leader dapat dibagi dalam TIGA perangkat gaya
berprestasi (achieving styles), yaitu:
c). Gaya Kepemimpinan Instrumental (instrumental style of leadership).
Gaya kepemimpinan instrumental mempunyai karakteristik pengetahuan
politis.
Connective leader menggunakan instrumental untuk mengintegrasikan gaya
kepemimpinan berorientasi pada diri sendiri dengan orientasi pada kelompok.
Individu yang melihat dirinya dan orang lain sebagai instrumen untuk
mencapai tujuannya lebih suka daya ini dengan cara berikut:
-> Personal yaittu menggunakan semua aset pribadi, termasuk kecerdasan,
kebijakan, humor, ketertarikan fisik, latar belakang keluarga dan pendidikan
yang dapat dicapai untuk menarik pendukung.
-> Social yaitu menciptakan dan menggunakan jaringan sosial dan aliansi,
seperti menggunakan orang lain untuk menyelesaikan tujuan bersama.
-> Entrusting yaitu menyandarkan diri pada orang lain untuk meningkatkan
visi bersama tanpa supervisi, tetapi dengan jarapan kuat untuk sukses.
8. Gaya Kepemimpinan Perubahan
a). Controlling Change Leadership Style.
Gaya ini cenderung menggunakan perangkat manajemen proyek untuk
mendesain proses perubahan menurut metodologi yang berurutan, kemudian
melaksankan rencana dengan sedikit atau tanpa variasi. Proses fase desain
terutama ditentukan oleh metodologi, dimana proses fase fasilitasi merupakan
pelaksanaan yang kaku dari rencana seperti ditentukan dalam desain.
Gaya ini biasanya hanya memerhatikan realitas eksternal, mengabaikan
kekuatan orang dan budaya, serta kebutuhan.
b). Facilitating Change Leadership Style.
Gaya ini menggunakan model proses perubahan komprehensif dengan
mendesain proses perubahannya lebih dulu, kemudan selama proses fasilitasi,
mereka secara sadar mengubah implementasi dari desain apabila kebutuhan
dinamis timbul. Oleh karena itu, model proses perubahan mereka harus
mendukung desain yang jelas dan dilakukan jauh sebelumnya, demikian pula
implementasi yang fleksibel.
Pemimpin fasilitatif memerhatikan realitas internal dan eksternal, apabila
mereka mendesain dan memfasilitasi proses transformasi dan mau mengubah
rencana apabila diperlukan.
Lanjutan …. Gaya Kepemimpinan Perubahan
c). Self-Organizing Change Leadership Style.
Gaya ini menggunakan berbagai perangkat perubahan untuk
menciptakan kondisi yang kondusif dalam organisasi.
Pemimpin menciptakan visi bersama di seluruh organisasi.
Pemimpin membangun pemahaman bersama atas masalah
perubahan atau memperkuat pemahaman atas dinamika sistem
organisasi sekarang yang menyebabkan perilaku mereka sekarang.
Pemimpin menyingkirkan halangan pada generasi dan pertukaran
informasi sehingga seluruh organisasi peduli terhadap keadaan
sekarang, keadaan akan datang yang diinginkan dan apa yang
mendukung atau menghambat kemajuan. Pemimpin mengusahakan
sumber daya dan dukungan yang diperlukan, sedangkan selebihnya
diserahkan pada organisasi.
Gaya pemimpin ini adalah memelihara kondisi untuk transformasi
di dalam organisasi, tetapi memberikan kesempatan desain aktual
dan fasilitasi proses perubahan muncul dari organisasi.
9. Strategi Pemimpin Perubahan
a). Akselarasi Perubahan di Masa Depan.
Kekuatan terbesar yang terjadi pada setiap negara dan lingkungan bisnis
adalah:
-> Perubahan era informasi yaitu dengan berkembangnya e-commerce.
-> Perubahan pertumbuhan penduduk yang akan berpengaruh besar terhadap
permintaan barang dan jasa.
b). Pemimpin dalam Pusaran Perubahan.
Kita harus dapat menerima kenyataan bahwa organisasi harus berkaitan dengan
perubahan dan pemimpin harus menciptakan kesediaan untuk berubah. Jadi,
pemimpin perubahan harus mampu menciptakan sesuatu (creating), karena
dengan creating akan membawa sesuatu yang baru dalam realitas.
c). Langkah Memimpin Perubahan.
Pemimpin harus mampu memengaruhi seluruh pihak yang berkepentingan di
organisasi dengan pola pikir bahwa perubahan adalah peluang dan bukan
hambatan. Oleh karena itu, menjadi pemimpin perubahan harus siap
menghadapi terjadinya kejutan yang tidak diharapkan di lingkungan sekitar
kita (yang tidak bisa diprediksi), dan sebagai konsekuensinya perlu melakukan
perubahan. Kejutan tersebut dapat bersifat sebagai tantangan dan peluang.
Lanjutan …. Strategi Pemimpin Perubahan
d). Keseimbangan antara Perubahan dan Kontinuitas.
Pemimpin harus memandang bahwa perubahan yang harus dilakukan bagi
organisasi yang dipimpinnya merupakan suatu kontinuitas, maka tidak akan
menimbulkan stress. Perubahan merupakan suatu hal yang wajar terjadi dan
tidak perlu menjadi bingung atau takut karenanya.
Demi kelangsungan perubahan, maka di dalam organisasi diperlukan adanya
kepercayaan (trust), yaitu suatu komitmen untuk tetap sama-sama saling
memercayai.
e). Meningkatkan Kepuasaan Pekerja.
Apabila orang menyenangi pekerjaannya, mereka kan membuat inovasi, serta
berani mengambil resiko. Mereka saling percaya satu sama lain karena mereka
mempunyai komitmen pada apa yang mereka kerjakan.
Orang yang senang dengan pekerjaannya merupakan indikasi adanya kepuasan
kerja.
Maka, perusahaan dan pemimpinnya harus berupaya untuk memotivasi dan
mempertahankan pekerja yang memiliki kinerja baik, melalui bentuk
penghargaan seperti pemberian hadiah, bonus, promosi jabatan, dsb.
10. Peran Pemimpin Perubahan
Peran seorang pemimpin sangat luas dan berat. Pemimpin harus mencapai hasil
yang diharapkan organisasi, mengembangkan lingkungan yang dihadapi, dan
sekaligus lebih memerhatikan kepentingan orang lain.
Untuk itu, Pemimpin sebaiknya harus mampu melakukan hal-hal berikut:
1). Menciptakan Hubungan Kerja Efektif.
Hubungan kerja yang efektif akan membangkitkan iklim pemberdayaan.
Untuk itu, seorang pemimpin diharapkan dapat menunjukkan perilaku
terhadap bawahannya dengan cara berikut:
-. Menghargai setiap individu yang ada di dalam organisasi.
-. Menunjukkan Empati, yaitu membiarkan orang lain tahu bahwa kita dapat
melihat sesuatu dari sudut pandang mereka sehingga dapat memperoleh
gambaran yang lebih jelas atas masalah atas isu dari kerangka referensi
mereka sendiri.
-. Bersikap tulus, jujur atas perasaan dan pendapat, komunikasi yang baik
dengan orang lain, mau memotivasi orang lain, serta pemimpin terbuka
terhadap gagasan baru dan bersedia membantu.
2). Pergeseran Fungsi Manajer.
Dalam iklim pemberdayaan, seorang pemimpin tidak lagi berada diposisi
puncak untuk memberikan perintah dan semua tugas dilakukan seluruhnya
oleh pekerja. Teapi, pemimpin harus ikut bekerja dibawah untuk mendorong
dan memenuhi kepentingan anak buahnya.
3). Memimpin dengan Contoh
Artinya, pemimpin dapat menjadi model peran yang baik dan efektif bagi
orang yang harus diberdayakan.
4). Memengaruhi Orang lain.
Pemimpin perlu memahami kapan memengaruhi, siapa yang harus
dipengaruhi, pendekatan apa yang harus digunakan, serta keterampilan yang
diperlukan untuk menghadapi situasi semacam itu.
5). Mengembangkan Kerjasama Tim (team work).
Melalui komunikasi dan saling memberi informasi, akan tumbuh saling
kepercayaan sebagai dasar bagi berkembangnya team work di antara anggota
organisasi.
6). Melibatkan Bawahan dalam Pengambilan Keputusan.
Di dalam iklim pemberdayaan, pimpinan mendelegasikan kewenangan yang
dimiliki para bawahan. Pimpinan sebelum mengambil keputusan, terlebih
dulu mendengarkan pendapat orang lain yang akan terlibat dalam
pelaksanaan keputusan. Tumbuhnya perasaan dilibatkan dalam pengambilan
keputusan tersebut akan menumbuhkan rasa memiliki dan turut bertanggung
jawab atas keputusan yang dikeluarkan.
7). Menjadikan Pemberdayaan sebagai Way of Life.
Dengan menjadikan pemberdayaan berlangsung secara alamiah di dalam
organisasi, akan tercipta suatu keadaan dimana tim yang dibentuk menjadi
lebih bahagia dan termotivasi. Iklim kerja menjadi lebih terbukadan santai,
hambatan yang terjadi antara berbagai kelompok akan dapat dipecahkan
karena terjadi komunikasi internal yang lebih baik. Suasana kerja tersebut
akan memberikan dampak terhadap organisasi berupa perbaikan
produktivitas, meningkatnya efisiensi, semakin rendahnya keluhan
pelanggan, serta semakin kecilnya perpindahan dan kemangkiran karyawan.
8). Membangun Komitmen dari segenap stakeholder yang terlibat dalam proses
pemberdayaan dan perubahan. Tanpa komitmen, tidak mungkin dapat
mencapai hasil yang diharapkan.
Download