BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Landasan Teori
2.1.1
Pengertian Investasi
Investasi juga diartikan sebagai suatu pengeluaran sejumlah dana dari
investor atau pengusaha guna membiayai kegiatan produksi untuk mendapatkan profit
di masa yang akan datang. Investasi tercipta dari pendapatan yang di tabung atau dari
penanaman modal baik secara langsung maupun tidak langsung oleh berbagai pihak
dengan tujuan memperbesar output dan meningkatkan pendapatan di kemudian hari.
Investasi mengacu pada pengeluaran untuk perluasan usaha dan peralatan baru, dan
hal itu menyebabkan persediaan modal bertambah (Mankiw, 2007:186).
Dalam perhitungan pendapatan nasional, investasi meliputi hal-hal:’’ Seluruh
nilai pembelian pengusaha atas barang-barang modal dan pembelanjaan untuk
mendirikan industri-industri, pengeluaran masyarakat untuk mendirikan rumah-rumah
dan tempat tinggal, pertambahan dalam nilai stok barang-barang berupa bahan
mentah, barang yang belum selesai di proses dan barang jadi”. (Sukirno,1994).
Investasi dapat dilakukan oleh Pemerintah maupun rumah tangga dan
perusahaan/swasta.Investasi yang dilakukan pemerintah baik pemerintah pusat dan
daerah yang bertujuan untuk penyediaan sarana barang-barang publik. Barang-barang
publik ini dibiayai oleh Pemerintah karena sangat besarnya biaya yang harus dikeluarkan
untuk pengadaannya dan karena itulah rumah tangga maupun swasta tidak akan mampu
membiayainya. Investasi perusahaan adalah investasi yang dilakukan oleh pengusaha
yang bertujuan mencari keuntungan sebanyak mungkin. Pihak swasta pada umumnya
tidak akan mau berinvestasi pada pengadaan barang publik karena biayanya yang sangat
besar, dan waktu pengembaliannya yang lama jadi tidak menguntungkan mereka secara
langsung.
Menurut konsep ekonomi mikro penambahan asset perusahaan untuk
meningkatkan skala operasi diartikan sebagai investasi. Asset yang dimaksud
mencakup asset seperti bangunan, mesin, peralatan dan sejenisnya dan asset lancar
seperti uang dan asset lain yang dapat segera diuangkan. Sedangkan dalam konsep
ekonomi makro, investasi dapat diartikan sebagai penambahan fisik atas barangbarang modal tetap dan perubahan stok (sesuai perhitungan Produk Domestik Bruto
(PDB)/ PDRB.
Proses investasi meliputi pemahaman dasar-dasar keputusan investasi dan
bagaimana mengorganisir aktivitas-aktivitas dalam proses keputusan investasi. Untuk
memahami proses investasi, seorang investor terlebih dahulu harus mengetahui
beberapa konsep dasar investasi yang akan menjadi dasar pijakan dalam setiap tahap
pembuatan keputusan investasi yang akan dibuat.
Adapun beberapa alasan orang untuk melakukan investasi,antara lain adalah:
•
Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa datang.
Seseorang yang bijaksana akan berpikir bagaimana meningkatkan taraf
hidupnya dari waktu ke waktu atau setidaknya berusaha bagaimana
mempertahankan tingkat pendapatanya yang ada sekarang agar tidak berkurang
di masa yang akan datang.
•
Mengurangi tekanan inflasi.
Dengan melakukan investasi dalam pemilikan perusahaan atau obyek
lain,seseorang dapat menghindarkan diri dari risiko penurunan nilai kekayaan
atau hak miliknya akibat adanya pengaruh inflasi.
•
Dorongan untuk menghemat pajak
Beberapa Negara di dunia banyak melakukan kebijakan yang bersifat
mendorong pertumbuhan investasi di masyarakat melalui pemberian fasilitas
perpajakan kepada masyarakat yang melakukan investasi pada bidang-bidang
usaha tertentu.
2.1.2
Teori Pembagunan dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Pembangunanekonomidaerah pada umumnya didefinisikan sebagai suatu
prosesyang menyebabkan pendapatan per kapita penduduk suatu daerah meningkat
dalam jangka panjang (Arsyad, 1992). MenurutBlakely (1989), pembangunan
ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan seluruh
komponen masyarakat mengelola berbagai sumber daya yang ada dan membentuk
suatu pola kemitraan untukmenciptakan suatu lapangan pekerjaan baru dan
merangsang pertumbuhan ekonomi dalam wilayah tersebut. Pembangunan ekonomi
daerah adalah suatu proses yang mencakup pembentukan institusi-institusi baru,
pembangunan industri-industrialternatif, perbaikan kapasitas kerja yang ada untuk
menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar baru, ahli
ilmupengetahuan
dan
pengembangan
perusahaan-perusahaan
baru.
Dimana,
kesemuanya ini mempunyai tujuan utama yaitu untuk meningkatkan jumlah dan jenis
peluang kerja untuk masyarakat daerah (Arsyad, 1999).
Ada dua kondisi yang mempengaruhi proses perencanaan pembangunan
daerah yaitu tekanan yang berasal dari lingkungan dalam negeri maupun luarnegeri
yang mempengaruhi kebutuhan daerah dalam prosespembangunan perekonomiannya,
Kenyataannya bahwa perekonomian daerah dalam suatu negara dipengaruhi oleh
setiap sektor secara berbeda-beda (Kuncoro, 2004).
Menurut teori ekonomi Neo Klasik, ada dua konsep pokok dalam
pembangunan ekonomi daerah yaitu keseimbangan (equilibrium) dan mobilitas faktor
produksi daerah. Artinya, sistem perekonomian akan mencapai keseimbangan
alamiahnya jika modal bias mengalir tanpa retriksi (pembatasan). Oleh karena itu,
modal akan mengalir dari daerah yang memiliki upah tinggi menuju daerah yang
memiliki upah rendah.
Pembangunan daerah merupakan pembangunan yang segala sesuatunya
dipersiapkan dan dilaksanakan oleh daerah, mulai dari perencanaan, pembiayaan,
pelaksanaan sampai dengan pertanggungjawabannya.Dalam kaitan ini daerah
memiliki hak otonom.Sedangkan pembangunan wilayah merupakan kegiatan
pembangunan
yang
perencanaan,
pembiayaan,
dan
pertanggungjawabannya
dilakukan oleh pusat, sedangkan pelaksanaannya bisa melibatkan daerah dimana
tempat kegiatan tersebut berlangsung (Munir, 2002).
Pada dasarnya pembangunan daerah dilakukan dengan usaha-usaha sendiri
dan bantuan teknis serta bantuan lain-lain dari pemerintah.Dalam arti ekonomi
pembangunan daerah adalah memajukan produksi pertanian dan usaha-usaha
pertanian serta industri dan lain-lain yang sesuai dengan daerah tersebut dan berarti
pula merupakan sumber penghasilan dan lapangan kerja bagi penduduk.
Adam Smith membagi tahapan pertumbuhan ekonomi menjadi lima tahap
yang berurutan yang dimulai dari masa berburu, masa berternak, masa bercocok
tanam, masa perdagangan, dan tahap masa industri. Menurut teori ini masyarakat
akan bergerak dari masyarakat tradisional kemasyarakat modern yang kapitalis.
Dalam prosesnya, pertumbuhan ekonomi akan semakin terpacu dengan adanya sistem
pembagian kerja antar pelaku ekonomi. Adam Smith memandang pekerja sebagai
salah satu input bagi proses produksi, pembagian tenaga kerja merupakan titik sentral
pembahasan dalam teori ini, dalam upaya peningkatan produktifitas kerja.
Dalam pembangunan ekonomi modal memegang peranan penting. Menurut
teori ini, akumulasi modal akan menentukan cepat atau lambatnya pertumbuhan
ekonomi yang terjadi pada suatu negara. Proses pertumbuhan akan terjadi secara
simultan dan memiliki hubungan keterkaitan satu sama lainnya. Timbulnya
peningkatan kinerja pada suatu sektor akan meningkatkan daya tarik bagi pemupukan
modal, mendorong kemajuan teknologi, meningkatkan spesialisasi dan memperluas
pasar.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembangunan ekonomi daerah tidak
terlepas dari pertumbuhan ekonomi.Suatu masyarakat dinilai berhasil melaksanakan
pembangunan bila pertumbuhan ekonomi masyarakat tersebut cukup tinggi.
2.1.3
Pendapatan Regional
Informasi
hasil
pembangunan
ekonomi
yang
telah
dicapai
dapat
dimanfaatkansebagai bahan perencanaan maupun evaluasi pembangunan.Untuk dapat
mengukurseberapa jauh keberhasilan pembangunan, khususnya di bidang ekonomi
salah satualat yang dapat dipakai sebagai indikator pertumbuhan ekonomi di suatu
wilayahadalah melalui penyajian angka-angka pendapatan regional.Pendapatan
regional didefinisikan sebagai nilai produksi barang-barang danjasa-jasa yang
diciptakan dalam suatu perekonomian di dalam suatu wilayah selamasatu tahun
(Sukirno, 1985:17).Sedangkan menurut Tarigan (2007:13), pendapatanregional
adalah
tingkat
pendapatan
masyarakat
pada
suatu
wilayah
analisis.
Tingkatpendapatan regional dapat diukur dari total pendapatan wilayah ataupun
pendapatan rata-rata masyarakat pada wilayah tersebut.
Beberapa istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan pendapatan
regional, diantaranya adalah:
1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
PDRB adalah jumlah nilai tambah bruto (gross value added) yang timbul dari
seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu
Pengertian nilai tambah bruto adalah nilai produksi (output) dikurangi dengan biaya
antara (intermediate cost). Komponen-komponen nilai tambah bruto mencakup
komponen-komponen faktor pendapatan (upah dan gaji, bunga, sewa tanah dan
keuntungan), penyusutan dan pajak tidak langsung netto. Jadi dengan menghitung
nilai tambah bruto dari dari masing-masing sektor dan kemudian menjumlahkannya
akan menghasilkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Sektor-sektor
perekonomian berdasarkan lapangan usaha yang tercakup dalam PDRB, yaitu:
a. Pertanian.
b. Pertambangan dan Penggalian.
c. Industri Pengolahan.
d. Listrik, Gas dan Air Bersih.
e. Bangunan/Konstruksi.
f. Perdagangan, Hotel dan Restoran.
g. Pengangkutan dan Komunikasi.
h. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan.
i. Jasa- Jasa
Aggregat PDRB
Secara teoritis agregat PDRB dibedakan menjadi :
a. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku yaitujumlah nilai produksi, nilai pendapatan atau
pengeluaran
yangdinilai
sesuai
dengan
harga
yang
berlaku
pada
tahun
yangbersangkutan
b. PDRB Atas Dasar Harga Konstan yaitu jumlah nilai produksi atau pendapatan
atau pengeluaran yangdinilai berdasarkan tahun dasar.
2.
Produk Domestik Regional Netto (PDRN) atas Dasar Harga Pasar.
PDRN dapat diperoleh dengan cara mengurangi PDRB dengan penyusutan.
Penyusutan yang dimaksud di sini adalah nilai susut (aus) atau pengurangan nilai
barang-barang modal (mesin-mesin, peralatan, kendaraan dan lain-lainnya) karena
barang modal tersebut dipakai dalam proses produksi. Jika nilai susut barang-barang
modal dari seluruh sektor ekonomi dijumlahkan, hasilnya merupakan penyusutan
keseluruhan.
3.
Produk Domestik Regional Netto (PDRN) atas Dasar Biaya Faktor.
Jika pajak tidak langsung netto dikeluarkan dari PDRN atas Dasar Harga
Pasar, maka didapatkan Produk Regional Netto atas Dasar Biaya Faktor Produksi.
Pajak tidak langsung meliputi pajak penjualan, bea ekspor, bea cukai, dan pajak lain
lain, kecuali pajak pendapatan dan pajak perseroan.
2.1.4
Teori Basis Ekonomi
Teori basis ekspor murni dikembangkan pertama kali oleh Tiebout.Teori ini
membagi kegiatan produksi/jenis pekerjaan yang terdapat di dalam satu wilayah atas
sektor basis dan sektor non basis.Kegiatan basis adalah kegiatan yang bersifat
exogenous artinya tidak terikat pada kondisi internal perekonomian wilayah dan
sekaligus berfungsi mendorong tumbuhnya jenis pekerjaan lainnya.Sedangkan
kegiatan non basis adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah
itu sendiri.Oleh karena itu, pertumbuhannya tergantung kepada kondisi umum
perekonomian wilayah tersebut.Artinya, sektor ini bersifat endogenous (tidak bebas
tumbuh).Pertumbuhannya tergantung kepada kondisi perekonomian wilayah secara
keseluruhan (Tarigan, 2007).
Teori basis ekonomi ini menyatakan bahwa faktor penentu pertumbuhan
ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan permintaan barang dan
jasa dari luar daerah. Pertumbuhan industri-industri yang menggunakan sumber daya
lokal, termasuk tenaga kerja dan bahan baku untuk ekspor, akan menghasilkan
kekayaan daerah dan penciptaan lapangan kerja (Lincolin, 1999).
Studi basis ekonomi regional umumnya berupaya untuk mengenali aktivitasaktivitas ekspor wilayah, sebagai bahan dalam meramalkan pertumbuhan ekonomi
pada aktivitas–aktivitas itu dan mengevaluasi dampak dari kenaikan dari aktivitas
ekspor atas aktivitas-aktivitas ekonomi lainnya.Basis ekonomi dari sebuah komunitas
terdiri atas aktivitas-aktivitas produksi yang mampu menciptakan pendapatan dan
kesempata kerja lebih besar pada masyarakat sehingga menjadi tumpuan dalam
perekonomian di wilayah tersebut.
Semua kegiatan lain yang tidak termasuk kegiatan basis maka akan masuk
kedalam sektor jasa (service) atau pelayanan, tetapi untuk tidak menciptakan
pengertian yang keliru tentang arti service disebut saja sektor non basis. Sektor non
basis (economic non-base) adalah sektor ekonomi untuk memenuhi kebutuhan
konsumsi-konsumsi lokal.Dengan demikian, sektor ini sangat terikat dengan kondisi
ekonomi setempat dan tidak bisa berkembang melebihi pertumbuhan ekonomi
wilayah. Atas dasar definisi diatas, satu-satunya sektor yang bisa meningkatkan
kegiatan perekonomian wilayah,bahkan dapat melebihi pertumbuhan alamiah dari
ekonominya adalah sektor basis, karena dari sektor basis inilah yang akan
menggerakkan pertumbuhan ekonomi diwilayah tersebut.
Dalam teori basis ekonomi ini, lebih memusatkan pada kegiatan-kegiatan
basis atau ekspor, tetapi tidak melihat pentingnya impor. Suatu peningkatan dalam
kesempatan kerja dan pendapatan basis mungkin hanya mempunyai suatu efek
pengganda yang sangat terbatas terhadap kegiatan bukan basis jika sebagian besar
dari pendapatan ekstra mengalir keluar wilyah dalam bentuk pengeluaran untuk
impor. Yang sangat penting dalam hal ini, bahwa suatu perekonomian dapat
bertambah tidak hanya dengan peningkatan ekspor dari industri basis tetapi juga
dengan mengganti barang-barang impor dari industri basis dengan barang-barang
hasil produksi wilayah yang bersangkutan.
2.1.5
Metode Tipologi Klassen
Tipologi Klassen pada dasarnya digunakan untuk mengetahui gambaran
tentang pola dan struktur pertumbuhan sektoral daerah. Menurut Tipologi Klassen,
masing-masing sektor ekonomi di daerah dapat diklasifikasikan sebagai sektor yang
prima, berkembang, potensial dan terbelakang. . (Tri Widodo, 2006; 120)
Analisis ini mendasarkan pengelompokan suatu sektor dengan melihat
pertumbuhan dan kontribusi sektor tertentu terhadap total PDRB suatu daerah.
Dengan menggunakan analisis tipologi klassen, suatu sektor dapat dikelompokan ke
dalam empat kategori, yaitu: (1) sektor prima, (2) sektor potensial, (3) sektor
berkembang, dan (4) sektor terbelakang. (Tri Widodo, 2006; 120)
2.1.6
ICOR
ICOR (Incremental Capital Output Ratio) adalah ukuran yang menyatakan
besarnya tambahan modal yang diperlukan untuk meningkatkan satu unit
pengeluaran.ICOR juga merupakan rasio antara penambahan modal dengan
penambahan pengeluaran.Rasio ini menunjukan efisensi penggunaan modal yang
ditambahkan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu Negara.Untuk dapat menghitung
berapa investasi yang harus dikeluarkan agar dicapai penambahan GDP tertentu,
maka penambahan modal dinyatakan sebagai investasi dan penambahan pengeluaran
dinyatakan sebagai penambahan GDP.
Pengkajian menegenai ICOR menjadi sangat menarik karena ICOR dapat
merefleksikan besarnya produktifitas kapital yang pada akhirnya menyangkut
besarnya pertumbuhan ekonomi yang bias dicapai.Secara teoritis hubungan ICOR
dengan pertumbuhan ekonomi dikembangkan pertama kali oleh R.F.Harrod dan
Evsey Domar (1939-1947).Namun karena kedua teori tersebut banyak kesamaanya,
maka kemudian kedua teori tersebut lebih dikenal sebagai teori Harrod Domar. Pada
Rasio Modal-Output yaitu :
(i). Rasio Modal-Output atau Capital Output Ratio (COR) atau yang sering disebut
Average Capital Output Ratio (ACOR), yaitu perbandingan antara kapital yang
digunakan dengan output yang dihasilkan pada suatu periode tertentu. COR atau
ACOR ini bersifat statis karena hanya menunjukkan besaran yang menggambarkan
perbandingan modal dan output.
(ii). Ratio Modal - Output Marginal atau Icremental Capital Output Ratio (ICOR)
yaitu suatu besaran yang menunjukkan besarnya tambahan capital (investasi) baru
yang dibutuhkan untuk menaikan/menambah satu unit output baik secara fisik
maupun secara nilai (uang). Konsep ICOR ini lebih bersifat dinamis karena
menunjukkan perubahan kenaikan/penambahan output sebagai akibat langsung dari
penambahan capital.
Sebenarnya ICOR dapat dibagi ke dalam Net ICOR (ICOR bersih) dan
Adjusted ICOR (ICOR yang disesuaikan).Net ICOR mengiterprestasikan ICOR yang
telah bersih dari perubahan-perubahan yang telah terjadi pada faktor-faktor lain
seperti tambahan tenaga kerja, kemampuan teknologi dan lain sebagainya.Konsep ini
mempertimbangkan ICOR dengan suatu asumsi cateris paribus yaitu bahwa pasokan
faktor-faktor lain dianggap tetap. Sedangkan Adjusted ICOR mengasumsika bahwa
investasi diikuti oleh perubahan-perubahan dalam faktor-faktor lain.
Menurut Lincoln Arsyad (1999), faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya
nilai ICOR adalah apabila :
1. Ketersediaan sumberdaya alam terbatas dan pertumbuhan penduduk rendah.
2. Inovasi hitech dan sifat teknologi padat modal.
3. Laju investasi tinggi dan komposisi investasi terbesar berupa proyek barang publik.
4. Tingkat efisiensi faktor produksi modal rendah.
5. Kualitas ketrampilan manajerial dan organisasional rendah.
6. Tingginya suku bunga
2.2 Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan judul penelitian dapat
dilihat melalui Tabel 2.1 berikut:
No
1
2
Nama, Tahun,
Judul
Analisis ICOR
(Incremental
Capital Output
Ratio) Kota
Semarang 2010
Table 2.1
Penelitian Terdahulu
Metode
Variabel
Analisis
PDRB, investasi Menggunakan
(PMTB)
analisis ICOR
Hasil
ICOR pada tahun 2009
Kota Semarang sebesar
6,95
artinya
untuk
meningkatkan satu unit
output
dibutuhkan
investasi sebesar 6,95 unit.
Nilai ini menunjukkan
kondisi
perekonomian
yang relative menjanjikan,
khususnya bagi iklim
investasi
di
Kota
Semarang
ST.Nadira 2012 PDRB
Analisis Shift 1. Terjadi perubahan
Analisis
Kabupaten
Share,Analisis
struktur ekonomi di
Ekonomi dan
Mamuju dan
Location
Kabuapetn Mamuju
Sektor
PropinsiSulawesi Quotient (LQ)
dari sektor primer ke
Unggulan
Barat tahun
sektor sekunder.
Kabupaten
2004-2009
2. Bahwa sektor basis di
Mamuju
menurut
Kabupaten Mamuju
Propinsi
lapangan usaha
yaitu sektor pertanian,
Sulawesi Barat atas dasar harga
sektor pertambangan,
Periode 2004konstan tahun
sektor bangunan,
2009
2000.
sektor perdagangan,
hotel dan restoran,
sektor keuangan dan
persewaan dan sektor
jasa-jasa.
3. Komoditi-komoditi
pertanian yang
merupakan sektor basis
dan dapat diunggulkan
untuk dikembangkan
pada perekonomian
Kabupaten Mamuju
dapat dijumpai pada
komoditi bahan
tanaman pangan yaitu
padi, jagung, kacang
tanah, dan kacang
kedelai
3
Margareta
Hutasoit
2009
Analisis
Efisiensi
Investasi di
Propinsi
Sulawesi
Selatan
Nilai PDRB
Sulawesi Selatan
periode tahun
2000-2009,
Pendapatan Per
kapita
Analisis
Efisiensi
Investasi
dengan
menggunakan
ICOR,
Analisis
Kebijakan
Pendukung
Masuknya
Investasi
dengan
menggunakan
Content
Analysis
1. Investasi yang masuk
ke Provinsi Sulawesi
Selatan dari periode
2000-2009 tergolong
efisien.
2. kebijakan yang
ditempuh dalam
menarik investor
adalah dengan
mempermudah
pengurusan izin usaha,
membangunan sarana
dan prasarana
pendukung dan
penciptaan iklim usaha
yang kondusif, seperti
mempermudah izin
usaha dengan
memberikan informasi
yang transparan
2.3
Kerangka Konseptual
Seperti telah dijelaskan dalam teori-teori diatas, bahwa sektor unggulan
sangatlah berperan penting dalam meningkatkan perekonomian suatu wilayah.
Untuk menentukan sektor unggulan suatu wilayah dapat dianalisis dari sektorsektor perekonomian yang dibagi ke dalam Sembilan sektor, yaitu:
Sektor Ekonomi
1. Pertanian
2. Pertambangan dan
Penggalian
3. Industry pengolahan
4. Listrik, Gas, dan Air
minum
5. Bangunan dan
Konstruksi
6. Perdagangan, Hotel, dan
Restoran
7. Pengangkutan dan
Komunikasi
8. Keuangan, Asuransi,
Persewaan, dan Jasa
Perusahaan
9. Jasa-Jasa
SEKTOR UNGGULAN
Gambar 2.1
Sektor Ekonomi
Investasi memegang peranan penting dalam mendorong perekonomian suatu
wilayah. Suatu daerah yang mempunyai potensi wilayah yang baik dan mempunyai
daya tarik akan mengundang para investor untuk mau menanamkankan modal nya
pada daerah tersebut, dengan demikian akan tercipta suatu iklim investasi yang
kondusif bagi daerah tersebut. Sektor unggulan dan komoditi unggulan adalah salah
satu daya tarik bagi kaum investor untuk berinvestasi pada daerah tersebut.Sektor
unggulan dan komuditi unggulan dapat menggunakan analisis LQ dan Shift
Share.Setelah sektor unggulan dan komuditi unggulan yang dimiliki suatu daerah
sudah ditentukan barulah kemudian dapat diidentifikasi potensi dan peluang investasi
untuk daerah tersebut.
Sektor Unggulan
1.
2.
3.
4.
Primer
Berkembang
Potensial
terbelakang
INVESTASI
Gambar 2.2
Hubungan Investasi dan Sektor Unggulan
Investasi dalam suatu daerah sangatlah berpengaruh dan memiliki peran
penting dalam pertumbuhan ekonomi daerah tersebut. Iklim investasi yang baik atau
kondusif akan mempengaruhi pada tingkat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.
Untuk itu suatu daerah perlu meningkatkan daya tarik daerah tersebut agar iklim
investasi pada dapat tetap kondusif dan meningkat. Dengan demikian pertumbuhan
ekonomi akan tetap terjaga dan meningkat. Bukan hanya dalam kurun waktu tertentu
saja tetapi juga perlu dipertahankan dan meningkatkan nilai investasi yang diperlukan
pada masa-masa yang akan datang agar pertumbuhan ekonomi dapat terus meningkat.
2014
INVESTASI
2015
Pertumbuhan
2016
Ekonomi
Gambar 2.3
Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Dengan demikian terdapat sebuah garis yang berhubungan anatar sektor
unggulan suatu daerah, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Proses itu dapat
digambarkan dalam kerangka konseptual pada gambar 2.4
SEKTOR
INVESTASI
PERTUMBUHAN
EKONOMI
UNGGULAN
Gambar 2.4
Kerangka Konseptual
Download