penggunaan tumbuhan sebagai bioindikator dalam

advertisement
Studi Pemanfaatan Limbah Cair Tahu Untuk
Pupuk Cair Tanaman (Studi Kasus Pabrik
Tahu Kenjeran)
Nama Mahasiswa
NRP
Jurusan
Dosen Pembimbing
: Nur Rahmah F.
: 3307 100 074
: Teknik Lingkungan
:
Dr.
Ir.
Nieke
Karnaningroem
Abstrak
Limbah tahu sangat merugikan
lingkungan. Bahkan tingkat BOD dan COD
limbah tahu melebihi standar kualitas. Padahal,
limbah tahu mempunyai potensi ekonomi sebagai
pupuk. Hal ini disebabkan limbah tahu masih
mengandung unsur-unsur penting bagi tanaman
seperti N, P dan K.
Metode yang digunakan untuk penelitian
ini adalah untuk menguji tingkat N, P, K dan pH
limbah tahu. Limbah itu sendiri sangat asam dan
kurang optimal untuk pertumbuhan tanaman.
Oleh karena itu, peneliti meningkatkan pH
menjadi 6. Peningkatan pH dilakukan dengan
menambahkan
NaOH.
Lalu
divariasikan
konsentrasinya. Selanjutnya, data dianalisis
dengan grafik kurva tinggi batang dan jumlah
daun dibandingkan grafik hari pada setiap
konsentrasi dengan metode statistik.
Dengan penyiraman dua kali ,
pertumbuhan terbaik Kangkung adalah pada
konsentrasi 100%. Sedang pada Melon disiram
dengan konsentrasi 50% sebanyak tiga kali.
Khusus untuk Cabai, tanaman ini mengalami
kematian ketika pemberian limbah untuk kedua
kalinya. Sebenarnya Cabai yang disiram limbah
tahu konsentrasi 50% menunjukkan pertumbuhan
terbaik. Namun pada pemberian limbah kedua,
Cabai ini mengalami kematian dan roboh. Karena
itulah Cabai dapat tumbuh optimal pada
konsentrasi 50% namun dengan penyiraman
hanay sekali.
Kata Kunci : Limbah Tahu, Pupuk Cair,
Kangkung, Melon, Cabai
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Tahu merupakan makanan yang telah lama
dikenal masyarakat Indonesia dan merupakan
sumber protein yang relatif murah serta proses
pembuatannya mudah. Pada dasarnya tahu adalah
endapan protein dari sari kedelai panas yang
menggunakan bahan penggumpal (Hermana,
1985). Pada waktu pengendapan tidak semua
mengendap, dengan demikian sisa protein yang
tidak tergumpal dan zat-zat lain yang larut dalam
air akan terdapat dalam limbah cair tahu yang
dihasilkan.
Air limbah tahu sendiri didefinisikan
sebagai air sisa penggumpalan tahu yang
dihasilkan selama proses pembuatan tahu
(Lestari, 1994). Pabrik tahu di Indonesia
mengalami kesulitan dalam mengelola limbahnya.
Bahkan, tak jarang pengusaha industri tersebut
membuang limbah cair mereka tanpa adanya
pengolahan terlebih dahulu. Hal ini tentu saja
merugikan lingkungan. Berdasarkan penelitianpenelitian
terdahulu,
limbah
cair
tahu
mengandung unsur-unsur yang dibutuhkan
tanaman. Menurut Handajani (2005) limbah cair
tahu tersebut dapat dijadikan alternatif baru yang
digunakan sebagai pupuk sebab di dalam limbah
cair tahu tersebut memiliki ketersediaan nutrisi
yang dibutuhkan oleh tanaman
Dalam penelitian terdahulu, Triawati (2010)
memanfaatkan limbah cair tahu menjadi pupuk
cair organik dengan menambahkan EM4. Data
dari penelitian tersebut adalah total kandungan
nitrogen dalam pupuk cair organik dengan
berbagai konsenterasi EM4 dan tanpa pemberian
EM4 sangat tinggi jika dibandingkan dengan
Permetan No 28/Permetan/OT.140/2/2009 tentang
Standar Mutu Pupuk Organik. Sumbernya berasal
setelah proses pengendapan dengan cuka.
Penelitian
lainnya,
Nurlila
(2009),
menyatakan bahwa kombinasi limbah cair tahu
dan limbah cair sagu pada media tanam tanah
memberikan pengaruh yang signifikan dalam
meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman
sawi meliputi lebar helai daun, panjang helai daun
dan jumlah helai daun dibandingkan kontrol.
Menurut Handajani (2005) hasil penelitian
menunjukkan bahwa pemberian limbah cair tahu
dengan dosis yang berbeda memberikan pengaruh
berbeda sangat nyata terhadap laju pertumbuhan
relatif populasi Spirullina. Perlakuan terbaik
adalah pemberian limbah cair tahu dosis 31 mg/l
dimana kandungan N dan P pada media kultur
sebesar 21,04 ppm dan 2,098 ppm. Menurut
Mackentum (1969) berdasarkan uji pendahuluan
pada limbah cair tahu mengandung Nitrat sebesar
14,628 ppm dan kandungan Orthophosfat sebesar
13,5 ppm
Berdasarakan penelitian Triawati (2010)
terhadap tiga sampel limbah tahu pabrik Kedung
Tarukan mengandung Nitrogen berturut-turut
16,59%, 16,74%, dan 17,04%. Menurut
Suriadikata dkk, 2006, syarat komposisi N dan P
yang diperlukan untuk pupuk cair yakni sebesar
kurang dari 5%. Komposisi limbah tahu dapat
memenuhi persyaratan pupuk cair tersebut.
Dalam penelitiannya, kandungan pencemar
limbah tahu PT Tirta Buana mengandung K
sebesar 616 mg/l, N-Total sebesar 69,28 mg/l dan
P-Total sebesar 39,83 mg/l. Berdasarkan uraian di
atas, penulis berinisiatif melakukan penelitian
mengenai pemanfaatan limbah cair tahu untuk
pupuk cair tanaman dengan menggunakan
tanaman uji yaitu Kangkung, Melon dan Cabai
rawit.
Pabrik tahu yang dijadikan objek penelitian
dalam Tugas akhir ini adalah pabrik tahu Jalan
Kenjeran,
Kecamatan
Tambaksari,
Kota
Surabaya. Pabrik tersebut belum pernah dijadikan
objek penelitian tentang pupuk tanaman. Sedang
tanaman-tanaman yang diujikan dalam penelitian
ini yakni Kangkung, Melon dan Cabai rawit
belum pernah digunakan sebagai tanaman uji coba
pupuk cair organik dari limbah tahu. Ketiga
tanaman tersebut cocok dijadikan tanaman uji
karena beberapa faktor diantaranya adalah
kandungan N, P, K yang tinggi dalam limbah tahu
berguna untuk pertumbuhan tanaman. Limbah
tahu yang bersifat asam membuat penulis
menjadikan limbah tersebut ber-pH 6. Hal ini
sesuai dengan pH optimal Kangkung, Melon dan
Cabai rawit
1.2
1.3
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, peneliti
membuat rumusan sebagai berikut:
1. Berapa besar besar kandungan unsur hara
N, P, K dan pH yang terdapat dalam
limbah cair tahu?
2. Bagaimana pengaruh variasi konsentrasi
limbah tahu terhadap pertumbuhan
tanaman kangkung, melon dan cabai?
Tujuan
Tujuan dari tugas akhir ini adalah:
1. Untuk mengidentifikasi besar kandungan
unsur hara N, P, K dan pH yang terdapat
dalam limbah cair tahu.
2. Untuk menganalisis pengaruh variasi
konsentrasi limbah tahu
terhadap
pertumbuhan tanaman kangkung, melon
dan cabai.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Limbah Cair Tahu
Sarwono dkk (2004) menyatakan sifat
limbah cair dari pengolahan tahu antara lain
sebagai berikut:
1. Limbah cair mengandung zat-zat organik
terlarut yang cenderung membusuk jika
dibiarkan tergenang sampai beberapa hari di
tempat terbuka.
2. Suhu air tahu rata-rata berkisar antara 40-600
C, suhu ini lebih tinggi dibandingkan suhu
rata-rata air lingkungan. Pembuangan secara
langusng tanpa proses, dapat membahayakan
kelestarian lingkungan hidup.
3. Air limbah tahu bersifat asam karena proses
penggumpalan sari kedelai membutuhkan
bahan penolong yang bersifat asam. Keasaman
limbah dapat membunuh mikroba.
Menurut penelitian Setyowati (2001) limbah
tahu selain mengandung N dalam bentuk
anorganik juga mengandung N dalam bentuk
organik. N organik tidak dapat dimanfaatkan
secara langsung oleh tumbuhan, sehingga
memerlukan waktu lama untuk dimanfaatkan. Hal
ini disebabkan harus mengalami proses
demineralisasi. Selain itu, jumlah unsur hara yang
diberikan wajib sedikit lebih tinggi atau lebih
banyak dari yang dibutuhkan.
N (Nitrogenium) berperan dalam merangsang
pembentukan anakan. Penyerapan tanaman
terhadap limbah lebih cepat jika dibandingkan
dengan penyerapan tanah terhadap pupuk. Karena
limbah cair dalam bentuk larutan lebih cepat
diserap oleh tanaman. Dalam limbah tahu terdapat
senyawa N dalam bentuk N-organik, N-nitrit (
NO 2 - ), N-nitrat ( NO 3 - ), N-ammonium ( NH 4 + ).
Senyawa nitrat ( NO 3 -) inilah yang dapat diserap
langsung oleh tanaman untuk memenuhi
kebutuhan
nutrisinya.
Kemudian
untuk
ammonium (NH 4 + ) dan ( NO 2 - ) oleh bakteri
melalui proses nitrifikasi akan diubah menjadi
bentuk senyawa nitrat ( NO 3 -) yang akhirnya
dapat diserap oleh tanaman pula.
Berdasarakan penelitian Triawati (2010)
terhadap tiga sampel limbah tahu pabrik Kedung
Tarukan mengandung Nitrogen berturut-turut
16,59%, 16,74%, dan 17,04%. BOD dan COD
pun tergolong melebihi baku mutu. Tercatat BOD
limbah tahu pabrik Kedung Tarukan sebesar 860
mg/l dan COD sebesar 3.412,36 mg/l. Hal ini
melebihi baku mutu menurut SK Gubernur Jatim
414/1987 untuk air golongan IV yaitu untuk BOD
sebesar 300 mg/l dan COD sebesar 600 mg/l.
Dalam penelitian terdahulu, Triawati (2010)
memanfaatkan limbah cair tahu menjadi pupuk
cair organik dengan menambahkan EM4. Data
dari penelitian tersebut adalah total kandungan
nitrogen dalam pupuk cair organik dengan
berbagai konsenterasi EM4 dan tanpa pemberian
EM4 sangat tinggi jika dibandingkan dengan
Permetan No 28/Permetan/OT.140/2/2009 tentang
Standar Mutu Pupuk Organik.
Penelitian lainnya, Nurlila (2009), menyatakan
bahwa kombinasi limbah cair tahu dan limbah cair
sagu pada media tanam tanah memberikan
pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan
pertumbuhan vegetatif tanaman sawi (lebar helai
daun, panjang helai daun dan jumlah helai daun)
dibandingkan kontrol.
Menurut Handajani (2010) hasil penelitian
menunjukkan bahwa pemberian limbah cair tahu
dengan dosis yang berbeda memberikan pengaruh
berbeda sangat nyata terhadap laju pertumbuhan
relatif populasi Spirullina. Perlakuan terbaik
adalah pemberian limbah cair tahu dosis 31 mg/l
dimana kandungan N dan P pada media kultur
sebesar 21,04 ppm dan 2,098 ppm. Menurut
Mackentum (1969), berdasarkan uji pendahuluan
pada limbah cair tahu mengandung Nitrat sebesar
14,628 ppm dan kandungan Orthophosfat sebesar
13,5 ppm
Berdasarkan penelitian Damayanti, A.,
Hermana, J., dan Masduqi, A.. (2004) sumber
limbah cair pabrik tahu berasal dari proses
merendam kedelai serta proses akhir pemisahan
jonjot-jonjot tahu. Pada Tabel 2.1 hingga Tabel
2.4 dapat dilihat bagaimana karakteristik
pencemar yang berasal dari limbah pabrik tahu.
Berikut merupakan kandungan pencemar limbah
tahu:
Tabel 2.1 Kandungan Pencemar Limbah
Tahu Pabrik Tahu Kalidami
Nomor
COD
(mg/l)
BOD
(mg/l)
NTotal
(mg/l)
PTotal
(mg/l)
1
7250
5643
169,5
3,94
3,94
2
6870
5395
153,4
4,28
4,28
Rataata
7050
5389,5
161,5
81,6
4,11
pH
Sumber: Jurnal Purifikasi, Vol.5, No.4, Oktober
2004: 151-156
2.2 Konsep Kesuburan Tanah
Pupuk Cair Organik kaya akan kandungan
nutrien bagi tanaman. Pupuk cair organik
mengandung senyawa, N, P, K, Mg, S, Ca dan
lain-lain.
1. Mengandung giberlin
-. Merangsang pertumbuhan tunas baru
-. Merangsang pertumbuhan sel-sel baru pada
tumbuhan
-. Memperbaiki klorofil pada daun
-. Merangsang pertumbuhan kuncup bunga
-. Memperkuat tangkai serbuk sari pada bunga
2. Mengandung alkohol,Gas Metan, H2S
-. Sterilisasi pada tumbuhan (mengurangi dan
menghentikan pertumbuhan mikroba pengganggu
pada tumbuhan terutama pada daun dan batang,
seperti, bercak daun (penyakit blas)
-. Disi fungsi Gas Metan Dan H2S adalah
untuk membakar jasad renik atau mikrobiologi
penggangu yang menempel pada tanaman dengan
bereaksi bersama sinar ultraviolet.(Anonim, 2009)
Untuk memudahkan unsur hara dapat diserap
tanah dan tanaman bahan organik dapat dibuat
menjadi pupuk cair terlebih dahulu. Pupuk cair
menyediakan nitrogen dan unsur mineral lainnya
yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman,
seperti halnya pupuk nitrogen kimia. Kehidupan
binatang di dalam tanah juga terpacu dengan
penggunaan pupuk cair. Pupuk cair tersebut dapat
dibuat dari kotoran hewan yang masih baru.
Kotoran hewan yang dapat digunakan misalnya
kotoran kambing, domba, kelinci atau
Larutan tersebut merupakan pupuk cair yang
bagus untuk memupuk pertumbuhan tanaman.
Pupuk ini dapat digunakan untuk berbagai macam
tanaman. Larutan tersebut digunakan untuk
menyiram tanaman, di sekeliling tanaman.
Penggunaan pupuk cair lebih memudahkan
pekerjaan, dan penggunaan pupuk cair berarti kita
melakukan tiga macam proses dalam sekali
pekerjaan, yaitu :
- Memupuk tanaman
- Menyiram tanaman
- Mengobati tanaman
Untuk menghindari supaya daun tanaman
tidak terbakar encerkan pupuk cair. Mulailah
dengan campuran yang paling encer terlebih
dahulu.(Anonim, 2011)
Sebagai penunjang tegaknya tanaman, tanah
harus kuat hingga dapat berdiri kokoh. Dengan
demikian, diharapkan tanaman mengalami
pertumbuhan dan tak mudah roboh. Disamping
itu, tanah harus cukup lunak hingga akar tanaman
dapat berkembang dan menjalankan fungsinya
tanpa hambatan yang berarti. Tanah juga harus
mempunyai kedalaman efektif yang cukup hingga
akar tanaman tak hanya terpusat di lapisan atas.
Hal ini disebabkan jika keadaan tersebut terjadi
maka tanaman akan peka terhadap kondisi
kekurangan air dan unsur hara, serta mudah
tumbang akibat terpaan angin.(Anonim, 2010)
Tanaman yang dapat tumbuh dengan baik
memerlukan air yang cukup dan seimbang. Unsur
hara yang berlebihan sangat merugikan. Tak
hanya mubasir, tetapi juga dapat menghambat
pertumbuhan tanaman akibat terhambatnya
ketersediaan unsur hara lain atau terjadinya
keracunan tanaman.
Untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik,
tanaman memerlukan kondisi lingkungan yang
cocok. Kondisi tersebut meliputi suhu, oksigen,
dan tanah terbebas dari faktor penghambat yang
lainnya seperti keasaman tanah yang ekstrim,
kadar garam yang tinggi, serta adanya unsur-unsur
yang bersifat toksik terhadap tanaman.
Oksigen yang masuk ke dalam akar tanaman
melalui sel lenti dengan proses pertukaran gas
digunakan tanaman untuk respirasi. Hal ini akan
menghasilkan energi yang berguna bagi sintesis
dan translokasi senyawa organik. Ketersediaan
oksigen pada umumnya berhubungan erat dengan
sifat tanah yakni struktur dan porositas tanah serta
kondisi air tanah.
Pada intinya, jika tanah mempunyai kondisi
tersebut diatas, maka disebut tanah subur. Dengan
demikian maka kesuburan tanah dapat dibatasi
sebagai kualitas tanah dalam hal kemampuannya
untuk menyediakan unsur hara yang cocok, dalam
jumlah yang cukup serta dalam keseimbangan
yang tepat dan lingkungan yang sesuai untuk
pertumbuhan spesies tanaman. Jadi, kesuburan
tanah secara murni merupakan manifestasi sifat
dan kemampuan tanah.(Islami, 1995)
Tanah pada masa kini didefinisikan sebagai
lapisan permukaan bumi secara fisik berfungsi
sebagai tempat bertumbuh kembangnya tanaman
dan penyuplai kebutuhan air serta udara, secara
kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai
hara/nutrisi (senyawa organik dan anorganik
sederhana dan unsur-unsur esensial seperti
N,P,K,Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl, dan lainlain) dan secara biologi berfungsi sebagai habitat
biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam
penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif
(pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang
ketiganya secara integral mampu menunjang
produktifitas tanah untuk menghasilkan biomass
dan produksi baik tanaman pangan, obat-obatan,
industri perkebunan, maupun kehutanan. (Ali,
2005)
Kesuburan tanah pertanian dapat diukur
berdasarkan hasil tanaman (berat kering ton.ha -1)
dan kualitas berupa kandungan gula, pati, protein
dan vitamin yang variasinya direkam dari tahun
ke tahun. Tanah yang subur adalah tanah yang
sevara konnsisten memberikan hasil yang baik
tanpa penambahan pupuk. Jika diperukan
penambahan pupuk maka terjadi tanggapan
tanaman dalam bentuk peningkatan hasil yang
cukup tinggi terhadap pemupukan kimia maupun
organik serta pemberian air irigasi. Tanah
mempunyai kesuburan asli yang tinggi, tetapi bisa
mempunyai hasil produksi yang rendah karena
faktor produksi lainnya menghambat pertumbuhan
tanaman.
1. Kesuburan tanah potensial, yaitu maksimum
hasil
yang
diperoleh
dengan
cara
mengoptimalisasi semua faktor produksi.
2. Kesuburan tanah aktual, yaitu status kesuburan
asli tanah tanpa dilakukan usaha perbaikan
atau peningkatan kesuburannya.
Jenis tanah tertentu mempunyai potensi
kesuburan tanah yang tinggi, namun karena tidak
dilakukan perbaikan tingkat kesuburannya maka
hanya diperoleh hasil dengan arus sedang.
Hasilnya dapat ditingkatkan dengan perbaikan
irigasi apabila kondisi iklim terlalu kering,
pemupukan, perbaikan varietas yang tinggi,
perbaikan system pertanaman, dan perlindungan
tanaman. (Sutanto, 2005)
A. Komposisi tanah
Menurut (Ali, 2005) tanah terdiri dari :
1. 50 % padatan yaitu 45% bahan mineral dan 5%
bahan organik
2. 50% ruang pori yaitu 25% air dan 25% udara
Proporsi komponen-komponen tanah tergantung:
1. Ukuran partikel penyusun tanah
2. Sumber bahan organik tanah
3. Iklim. Pada waktu hujan dan penguapan
rendah, proporsi air meningkat serta proporsi
udara menurun. Hal ini berlaku sebaliknya.
4. Sumber air
2.2.1 Produktivitas Tanah
Tanah berstruktur liat atau gumpal
mempunyai tngkat kesuburan yang rendah.
Pasalnya partikel-pertikel tanah liat tersusun
sangat rapat dan padat, bahkan saling melekat erat
satu sama lain. Dengan merapatnya partikelpartikel tanah tersebut maka hampir tak ada lagi
celah atau rongga yang tersisa untuk sirkulasi air
dan udara di dalamnya. Akibatnya, udara, air dan
unsur hara, yang terlarut di dalamnya sulit diserap
akar tanaman karena terjerap partikel tanah.
Kondisi tersebut juga dapat membuat tanah
menjadi sangat lembab. Bahkan, jika terjadi
penyiraman berlebihan nisa menyebabkan tanah
menjadi becek. Pada kondisi tersebut tidak
menutup kemungkinan jika perakaran tanaman
akan rusak dan membusuk. Namun sebaliknya,
pada saat kondisi kering tanah liat akan
menggumpaldan sifatnya pun makinkedap
terhadap udara. Akibatnya tanaman akan mati
karena perakarannya tidak mampu menembus
struktur tanah tersebut.(Agromedia, 2007)
Tidak semua tanaman yang tumbuh pada
tanah yang subur mempunyai pertumbuhan yang
baik dan memberi hasil tinggi. Untuk
mendapatkan hasil tinggi diperlukan masukan dan
pengelolaan yang tepat, sehingga dikenal istilah
produktivitas tanah.
Secara umum, produktivitas tanah adalah
kemampuan tanah memproduksi suatu spesies
tanaman atau suatu system pertanaman pada suatu
system pengelolaan tertentu. Pengelolaannya
sendiri meliputi pengaturan jarak tanam,
pemupukan, pengairan, pemberantasana hama,
dan lain-lain. (Islami, 1995)
Kajian mengenai produktivitas pertanian dari
segi teknik meliputi system tanah-iklimpertanaman. Seringkali ditemukan bahwa hasil
panen berkaitan dengan beberapa sifat tanah,
yakni tekstur, pH, warna, sifat hidromorfik, dan
kadar bahan organik. (Natohadiprawiro, 1983)
Pertumbuhan tanah ditentukan oleh keadaan
fisika, kimia, dan biologi tanah.
1. Keadaan fisika tanah meliputi: suhu
tanah,kelengasan
tanah,
struktur
tanah,
pelimpasan dan pengikisan. (Sanchez, 1993)
2. Keadaan kimia tanah meliputi: pertukaran ion,
reaksi tanah (pH tanah), sifat redoks tanah
(Sutanto, 2005)
3. Keadaan organik tanah meliputi: pembentukan
humus (Foth, 1994)
2.2.2 Unsur Hara Tanaman
Dalam tanah, terdapat unsur hara atau
kemungkinan dapat ditambahkan pupuk kandang
atau pupuk mineral seperti NH 4 , NO 3 , MgSO 4 ,
dan KCl. Tanaman mampu menyerap unsur-unsur
tersebut dalam bentuk ion.
1. Hara mineral
Diketahui ada 92 unsur dalam tanah. Tanaman
mengandung 40-50 unsur, namun selain C, O, dan
H hanya 15 unsur yang diketahui sebagai unsur
esensial untuk pertumbuhan tanaman. Unsur hara
mineral di dalam tanah berasal dari pelapukan
mineral dan mineralisasi bahan organik (N, P, S).
Pada tanah pertanian, unsur hara dapat
ditambahkan sebagai pupuk organik, pupuk
kimia/mineral, dan pengapuran.
Unsur hara mineral dapat dibedakan menjadi
unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg, S) dan unsur
hara mikro (Fe, Mn, Al, Cu, Zn, Mo, B, Cl).
Kelompok-kelompok tersebut esensial terhadap
pertumbuhan tanaman. Perbedaan terletak pada
kandungan dalam jaringan tanaman.
2. Bentuk keberadaan unsur hara
Unsur hara dalam tanah ada dalam bentuk
senyawa mineral, senyawa organik, unsur yang
terjerap, dan unsur dalam larutan tanah. Senyawa
mineral terdapat dalam struktur kristal mineral
atau dalam bentuk amorf. Kekuatan ikatan
tergantung pada struktur mineral dan mobilisasi
unsur tersebut tergantung pada stabilitas mineral
terhadap pelapukan.
Senyawa organik misalnya N dan S ada dalam
protein, N dan P dalam asam nukleat, N dan Mg
dalam klorofil, dan Fe dalam enzim. Kekuatan
ikatan tergantung pada struktur senyawa tersebut
(missal N dalam senyawa nukleat lebih kuat
terikat daripada N dalam asam amino; P dalam
nukleotida lebih kuat daripada P dalam fitin).
Mobilisasi unsur sendiri tergantung pada stabilitas
mineral terhadap pelapukan.
Unsur hara terjerap dalam bentuk ion
tertukarkan dalam kompleks pertukaran mineral
dan organik. Pertukaran ion tergantung pada
karakteristik ion dan kompleks pertukaran. Unsur
hara dalam larutan tanah yakni ion bebas dalam
larutan tanah.
Porsi terbesar total hara tanah adalah mineral
dan senyawa organik dan hanya 2% dalam bentuk
dipertukarkan dan juga larutan. Tanah yang tidak
mengandung CaCO 3 , tetapi mempunyai kapasitas
pertukaran tinggi dan OH tinggi maka 40% Ca
kemungkinan besar dalam bentuk teradsorbsi.
Pada tanah salin dalam keadaan lembab lebih
banyak SO 4 dan Cl dalam entuk larutan. Semua
unsur hara dalam bentuk mineral, kecuali >98%
N, sebanyak 60%-95% S dan 25%-60% P dalam
bentuk senyawa organik.
3. Ketersediaan hara
Mobilisasi unsur hara berasal dari hasil
pelapukan batuan (semua unsur kecuali N).
mineralisasi adalah hasil alihrupa bahan organik
menjadi unsur-unsur yang tersedia bagi tanaman
terutama unsur N, P, S tetapi juga unsur hara
lainnnya dan melalui proses pertukaran ion yang
terjerap.
Hara dalam tanah dapat berasal dari empat
macam sumber dengan urut-urutan menurun
ketersediaannya sebagai berikut:
a. Larut air: Dalam bentuk ion, segera tersedia.
b. Bentuk tertukarkan: Unsur hara yang terjerap
dalam kompleks pertukaran akan menjadi
tersedia melalui pertukaran ion dengan larutan
tanah atau secara langsung dengan H+, OH-,
dan HCO3- yang kesemuanya dihasilkan oleh
perakaran. Misal Ca2+, NH4+ ,H2PO4c. Tersedia cepat: Mudah dan dalam periode
yang pendek
d. Tersedia lambat: Merupakan kombinasi
dengan mineral atau senyawa organik yang
lemah atau dijerap oleh permukaan mineral
lempung dan tidak mudh lepas; ketersediaan
sedang. Mobilisasi pada satu atau dua musim
pertanaman terjadi melalui pelapukan dan
mineralisasi atau melalui agen aktif perakaran
tanaman.
4. Mengukur ketersediaan hara
a. Kuantitas:Jumlah hara yang dikandung
larutan tanah dalam mintakat perakaran,
terutama dalam bentuk yang dapat
dipertukarkan dan tersedia lambat.
b. Intensitas: Konsentrasi dalam larutan tanah.
Hubungan Q/I juga member informasi yang
berguna.
c. Mobilitas: Besarnya perpindahan hara ke
permukaan perakaran melalui aliran massa
menanggapi penyerapan air dan difusi dari
larutan tanah. (Foth, 1994)
Berikut merupakan fungsi unsur hara:
I.
Nitrogen
N 2 dapat digunakan oleh tanaman-tanaman
tinggi. Proses konversi N 2 menjadi bentuk-bentuk
yang dapat digunakan tanpa berpembuluh yaitu
fiksasi nitrogen. Fiksasi nitrogen disebabkan oleh
mikroorganisme dan peristiwa atmosfir tertentu,
termasuk kilat. Bakteri denitrifikasi dalam tanah
mengubah nitrogen tanah yang tersedia kembali
menjadi N 2 dalam proses yang disebut
denitrifikasi. Mineralisasi nitrogen organik
berakibat pada ketersediaan oksigen seperti
ammonium
(NH4+).
Sedang
nitrifikasi
menghasilkan nitrogen tersedia seperti nitrat
(NO3-)
Nitrogen
yang
berlimpah
menaikkan
pertumbuhan dengan cepat dengan perkembangan
yang lebih besar pada batang dan daun-daun
berwarna hijau gelap. Penyediaan nitrogen
tersedia yang cukup selama awal kehidupan
tanaman dapat memacu pertumbuhan dan
berakibat dalam kemasakan yang terlalu dini.
Gejala kekurangan nitrogen ditandai oleh
adanya warna hijau terang sampai kuning pada
daun. Pada pohon buah-buahan, rontoknya daun
yang terlalu awal, kematian tunas-tunas lateral,
rangkaian buah yang kurang baik, perkembangan
warna buah yang tidak biasa merupakan tandatanda kekurangan nitrogen. (Foth, 1994)
Menurut Anonim (2009) akibat lain dari
kebanyakan air yang mengandung banyak unsur N
bagi tanaman sayuran adalah munculnya gejala
layu karena tanaman keracunan N. Prosesnya
dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada waktu air
memenuhi seluruh rongga udara di dalam tanah
maka kebutuhan oksigen akar tidak terpenuhi.
Pada kondisi cukup oksigen N tersedia bagi
tanaman dalam bentuk NH4+ atau NO3- sedangkan
pada kondisi anaerob atau tergenang air yang
mengandung ion – ion N tersebut tereduksi
menjadi NO 2 yang sangat beracun bagi tanaman.
Sebagian besar tanaman sayuran sangat peka
terhadap kebanyakan air.
Menurut Anonim (2010), kebanyakan air
yang mengandung N dalam tanah juga
menyebabkan rendahnya daya dukung tanah
terhadap tetap tegaknya tanaman menjadi rendah.
Hal yang sering terjadi adalah robohnya tanaman
akibat hujan angin meskipun tanaman sudah
ditopang dengan lanjaran.Gangguan lain adalah
keseimbangan nutrisi dalam tanah.
Menurut Siswoyo (2000), N dalam tanah
adalah unsur utama dalam pertumbuhan tanaman.
Bentuknya adalah sebagai berikut:
- Sebagai gas, 80% udara tanah adalah N
sebagai gas, yang tidak dapat dihisap
langsung oleh tanaman. Hanya dengan
tanaman polong-polongan dapat mengikat
lewat bintil-bintil akar.
- Sebagai N organik yang merupakan bentuk
cadangan N di dalam tanah. Humus
mengandung 5% N dalam bentuk N organik.
N organik tidak dapat dimanfaatkan langsung
oleh tanaman yang hanya menghisap N dalam
bentuk mineral.
- Bentuk amoniak (NH3+) yang terikat
kompleks absorsi, tetapi kurang stabil karena
bakteri-bakteri tanah mengubah bentuk
amoniak menjadi bentuk Nitrit. Tanaman
sukar menghisap N sebagai Amoniak.
- Sebagai asam sendawa (NO3-) yang tak terikat
tanah, melainkan langsung dapat dihisap
tanaman.
- Tanaman menghisap unsur N dalam bentuk
Amonium (NH4) dan dalam bentuk Nitrat
(NO3-)
II. Fosfor
Menurut Foth (1994), pupuk fosfor terutama
adalah kalsium dan ammonium fosfat terlarut.
Mereka terurai ke dalam larutan tanah dan
merupakan subyek untuk fiksasi untuk alasan ini,
fosfor dari pupuk dapat bergerak beberapa
centimeter dari tempat peletakannya. Defisiensi
fosfor dicirikan dengan tanaman yang tidak
tumbuh dengan sepertinya yang berakibat yang
hampir sama baik pada pertumbuhan akar maupun
pada bagian atas tanaman.Menurut Sutedjo
(2008), penurunan / kehilangan P tersebut dapat
disebabkan karena pencucian / leaching saat
penyiraman dan penyerapan oleh tanaman.
Kehilangan P dapat juga terjadi karena adanya
eksudasi asam organik oleh akar tanaman, dimana
cekaman lingkungan di daerah perakaran
(misalnya kekeringan) menyebabkan akar
mengeksudasi beberapa macam asam organik
seperti asam malat, asetat, laktat, suksinat yang
dapat mengikat Al, Fe, Mn dan Ca sehingga P
lepas ke dalam larutan tanah. (Handayanto dan
Hairiah, 2009)
Selain itu, pertumbuhan juga menjadi kerdil.
Menurut Siswoyo (2000), bentuk unsur P
dalam tanah adalah:
- P dalam larutan tanah dimana jumlahnya 0,20,5 mg/l, yang berarti kurang dari 1 kg P/Ha
di dalam tanah pada daerah perakaran. Akar
menggunakan larutan tanah untuk menghisap
P tersebut.
- P yang terikat dalam kompleks liat humus,
dengan perantaraan Ca atau hydroxide Fe dan
Al yang dalam tanah masam terikat sebagai
koloid elektro positif dan yang mengikat
anion-anion P.
- P organis yang merupakan bentuk cadangan
yang dapat dihisap oleh tanaman setelah
menjadi mineral.
III. Kalium
Menurut Foth (1994), tanah-tanah organik
terkenal mengalami defisiensi kalium, sebab berisi
sedikit mineral yang mengandung kalium. Kalium
menambah sintesa dan translokasi karbohidrat,
karena itu memprecepat ketebalan dinding sel dan
kekuatan tangkai. Tanaman berumbi seperti
kentang membutuhkan K yang tinggi. Menurut
Siswoyo (2000), bentuk Kalium dalam tanah:
- K di dalam larutan tanah, yang hanya
berjumlah sedikit sekitar 10 mgr per liter
larutan.
- K di dalam liat humus. Tanaman menghisap
K dari larutan tanah, maka sebagai kation K+
terikat harus melewati larutan tanah ini.
Nantinya, merekalah yang menjadi bahan
makanan tanaman.
A. Mekanisme Penyerapan Hara
Pertumbuhan suatu tanaman akan dipengaruhi
oleh beberapa faktor yakni faktor dari dalam dan
dari luar. Faktor dari dalam yaitu tanaman itu
sendiri, seperti kondisi anatomi dan fisiologi
tanaman. Sedangkan faktor luar yaitu faktor
lingkungan seperti tanah, temperatur, kelembaban,
penetrasi sinar matahari dan sebagainya. Tanah
yang banyak mengandung unsur hara akan
memberikan efek berbeda dengan tanah yang
kurang subur. Suhu juga turut memberikan
pengaruh pada tanaman. Tumbuhan hijau
memerlukan sinaar matahari yang cukup untuk
keperluan fotosintesis. Proses fotosintesis yang
terjadi di daun merupakan proses pembentukan
makanan oleh tumbuhan (Siswoyo, 2000).
Menurut (Madjid, 2007) unsur hara dapat
tersedia disekitar akar melalui 3 mekanisme
penyediaan unsur hara, yaitu: (1) aliran massa, (2)
difusi, dan (3) intersepsi akar. Hara yang telah
berada disekitar permukaan akar tersebut dapat
diserap tanaman melalui dua proses, yaitu:
(1) Proses Aktif, yaitu: proses penyerapan
unsur hara dengan energi aktif atau proses
penyerapan hara yang memerlukan adanya energi
metabolik, dan
(2) Proses Selektif, yaitu: proses penyerapan
unsur hara yang terjadi secara selektif.
Proses Aktif:
Proses penyerapan unsur hara dengan energi
aktif dapat berlangsung apabila tersedia energi
metabolik. Energi metabolik tersebut dihasilkan
dari proses pernapasan akar tanaman. Selama
proses pernapasan akar tanaman berlangsung akan
dihasilkan energi metabolik dan energi ini
mendorong berlangsungnya penyerapan unsur
hara secara proses aktif. Apabila proses
pernapasan akar tanaman berkurang akan
menurunkan pula proses penyerapan unsur hara
melalui proses aktif. Bagian akar tanaman yang
paling aktif adalah bagian dekat ujung akar yang
baru terbentuk dan rambut-rambut akar. Bagian
akar ini merupakan bagian yang melakukan
kegiatan respirasi (pernapasan) terbesar.
Proses Selektif:
Bagian terluar dari sel akar tanaman terdiri
dari: (1) dinding sel, (2) membran sel, (3)
protoplasma. Dinding sel merupakan bagian sel
yang tidak aktif. Bagian ini bersinggungan
langsung dengan tanah. Sedangkan bagian dalam
terdiri dari protoplasma yang bersifat aktif.
Bagian ini dikelilingi oleh membran. Membran ini
berkemampuan untuk melakukan seleksi unsur
hara yang akan melaluinya. Proses penyerapan
unsur hara yang melalui mekanisme seleksi yang
terjadi pada membran disebut sebagai proses
selektif.
Proses selektif terhadap penyerapan unsur
hara yang terjadi pada membran diperkirakan
berlangsung melalui suatu carrier (pembawa).
Carrier (pembawa) ini bersenyawa dengan ion
(unsur) terpilih. Selanjutnya, ion (unsur) terpilih
tersebut dibawa masuk ke dalam protoplasma
dengan menembus membran sel.
Mekanisme penyerapan ini berlangsung
sebagai berikut:
(1) Saat akar tanaman menyerap unsur hara
dalam bentuk kation (K+, Ca2+, Mg2+, dan NH 4 +)
maka dari akar akan dikeluarkan kation H+ dalam
jumlah yang setara, serta
(2) Saat akar tanaman menyerap unsur hara
dalam bentuk anion (NO 3 -, H 2 PO 4 -, SO 4 -) maka
dari akar akan dikeluarkan HCO 3 - dengan jumlah
yang setara.
2.3 Pupuk dan Pemupukan
Pupuk merupakan kunci dari kesuburan tanah
karena berisi satu atau lebih unsur untuk
menggantikan unsur yang habis terisap tanaman.
Jadi, memupuk berarti menambah unsur hara ke
dalam tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk
daun) (Lingga, 2002).
Dalam arti luas, pupuk adalah suatu bahan
yang digunakan untuk mengubah sifat fisik,
kimis, atau biologi tanah sehingga menjadi lebih
baik bagi pertumbuhan tanaman. Termasuk
pemberian bahan kapur dengan maksud untuk
meningkatkan pH tanah yang masam, pemberian
legin bersama benih bersama benih tanaman
kacang- kacangan dan pemberian pembenah tanah
untuk memperbaiki sifat fisik tanah (Rosmarkan,
2002).
Tanaman memerlukan sejumlah unsur hara
dalam takaran cukup, seimbang dan sinambung
untuk
terus
tumbuh
dan
berkembang,
menyelesaikan daur hidupnya. Anasir hara
tanaman ini diambil dari atmosfir dan system
tanah. Paling sedikit ada 16 macam unsur hara
yang diperlukan secara teratur untuk pertumbuhan
vascular tanaman (Poerwowidodo, 1992).
Pupuk tidak berisi unsur-unsur hara tanaman
dalam bentuk unsur seperti nitrogen, fosfor atau
kalium, tetapi unsur-unsur tersebut berada dalam
bentuk campuran yang memberikan bentu-bentuk
ion dari unsur hara yang dapat diabsorbsi
tanaman.
Keberhasilan pupuk nyata berhubungan
dengan tipe pemakaian maupun penempatan
diatas atau di dalam tanah pada waktu pemakaian.
Faktor utama yang mempengaruhi keputusan
pengelolaan
mengenai
penggunaan
dan
pemakaian pupuk adalah:
1. Fiksasi fosfor (dan memperkecil jumlah
kalium)
2. Kehilangan nitrat karena pencucian..
3. Denitrifikasi dan kehilangan Nitrogen
sebaagai N 2
4. Kehilangan ammonia karena penguapan
(volatilisasi).
5. Lokasi perakaran tanaman
6. Pengaruh garam pada perkecambahan biji.
7. Kandungan
kelembaban
tanah
dan
ketersediaannya untuk tanaman.
8. Saat kebutuhan maksimum unsur hara
tanaman.
9. Pertimbangan
pengelolaan,
termasuk
ketersediaan tenaga kerja, keadaan tanah dan
lain-lainnya.
A..Interaksi Unsur-unsur Hara Pupuk
Tanggapan tanaman terhadap unsur hara
pupuk dipengaruhi baik oleh penggunaan
beberapa unsur hara pupuk lainnya atau tingkat
bebrapa unsur hara tanah lainnya. Jika pupuk
nitrogen diberikan dan pertumbuhan tanaman
dirangsang meningkatkan permintaan semua
unsur hara tanaman lainnya. (Foth, 1994)
B. Kebutuhan Pupuk Untuk Tanaman
Untuk mengetahui peranan pupuk yang
beraneka ragam bagi kehidupan tanaman
digunakan berbagau macam unsur dengan jumlah
yang berbeda-beda menurut kebutuhan tanaman.
Sebaliknya kebutuhan tanaman akan makanan
dalam sepanjang hidupnya perlu diperhatikan halhal berikut:
1. Kebutuhan rata-rata : biasanya dinyarakan
dengan
angka-angka,
mengenai
kebutuhan pupuk berdasarkan apa yang
dihisap oleh tanaman dari tanah. Sedang
pemakaian jumlah pupuk yang konkret
masih tergantung dari berbagai macam
faktor yang lain, seperti :
a. Pada tanaman tertentu padi
disebut High N Responsive atau
membutuhkan banyak N, berbeda
dengan jenis tanaman yang
penghisapan N-nya cukup sediki
saja.
b. Kesuburan tanah : pada tanah
yang subur, persediaan unsur di
dalam
tanah
akan
lebih
mencukupi, walaupun tingkat
kekayaannya tidak sama, dan ada
kemungkinan ada salah satu unsur
yang diberi lebih banyak dan
sebaliknya.
c. Keadaan cuaca : dalam hal ini
harus diperhatikan situasi. Untuk
berbagai jenis tanaman ada yang
disebut dominan, ialah unsur-unsr
yang paling dibutuhkan oleh
tanaman tertentu, seperti padipadian penghisap N dan P,
tanaman umbi-umbian yang lebih
banyak N dan K, sedang sayursayuran
lebih
banyak
membutuhkan P dan K.
2. Lingkaran penghisap unsur
Tanaman harus mampu menghisap zat
makanan yang pada waktu itu sangat
dibutuhkan. Pada masa pertumbuhan
vegetatif tanaman sangat membutuhkan
N, sedang P sangat dibutuhkan pada
pembungaan dan pada masa pembuahan,
dan lain sebagainya.
3. Pemupukan jangan overdosis
Pemupukan yang terlalu banyak atau
berlebihan tidak akan menguntungkan.
Menurut Setyowati (2000), pemberian
konsentrasi yang lebih besar akan melebihi
kebutuhan akan unsur N. Unsur N dalam jumlah
berlebihan tidak akan lagi merangsang tanaman
memberikan
hasil
yang
lebih
tinggi,
kenyataannnya adalah sebaliknya.
2.4 Tanaman Uji
2.4.1 Melon
Klasifikasi melon adalah sebagai berkut:
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Subdivisi
: Magnoliopsida
Ordo
: Cucurbitales
Famili
: Cucurbitaceae
Genus
: Cucumis
Species
: Cucumis Melo
Melon (Cucumis melo L.) merupakan nama
buah sekaligus tanaman yang menghasilkannya,
yang termasuk dalam suku labu-labuan atau
Cucurbitaceae. Bagian yang dimakan adalah
daging buah (mesokarp). Teksturnya lunak,
berwarna putih sampai merah, tergantung
kultivarnya. Tumbuhan semusim, merambat tetapi
menjalar, tidak memanjat. Daun berbentuk
menjari dengan lekuk moderat sehingga seperti
lingkaran bersudut. Batangnya biasanya tidak
berkayu. Tumbuhan ini berumah satu dengan
bunga dua tipe: bunga jantan dan hermafrodit.
Bunga jantan muncul biasanya pada saat tanaman
masih muda atau bila tumbuhnya kurang baik.
Buah bertipe pepo. Bagian mesokarp menebal
menjadi daging buah yang berair. pemuliaan
diarahkan pada daging buah yang tebal, manis,
serta jika mungkin, harum. Melon amat beragam,
terutama dilihat dari bentuk buahnya. Terdapat
dua subspesies dan sepuluh kelompok kultivar
('cultivar group') dalam spesies ini. (Anonim,
2009)
Pemupukan diberikan sebanyak 3 kali, yaitu
20 hari setelah ditanam, tanaman berusia 40 hari
(ketika akan melakukan penjarangan buah) dan
pada saat tanaman berusia 60 hari (saat menginjak
proses pematangan). Caranya sebarkan secara
merata di atas tanah bedengan pada pinggiran kiri
dan kanannya (10–15 cm). Kemudian tanah
dibalik dengan hati-hati supaya tidak merusak
perakaran tanaman, dan agar pupuk tersebut bisa
aman terpendam dalam tanah. (Anonim,2011)
Menurut kebutuhan N, P, dan K untuk
Melon sebesar N 78,75 kg/ha, P sebesar 90 kg/ha,
dan K sebesar 225 kg/ha .
2.4.2 Cabai
Cabai Rawit (Capsicum frutescens)
Menurut Rahman (2010), klasifikasi tanaman
cabai adalah sebagai berikut:
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Spermatophyta
Subdivisi
: Angiospermae
Ordo
: Subiflorae
Famili
: Solanaceae
Genus
: Capsicum
Species
: Capsicum frutescens
Kebutuhan N, P dan K untuk tanaman Cabai
adalah 60.3 kg N/ha, 69 kg P 2 O 5 /ha, 100 kg
K 2 O/ha (Kusandriani, 1996).
A. Fisiologi
Sistem perakrannya agak menyebar, diawali
dengan akar tunggang yang sangat kuat, kemudian
cabang-cabang akar, dan secara terus menerus
tumbuh akar-akar rambut. Akar-akar baru akan
terus dibentuk dari akar utama pada stadium
tanaman muda sampai dewasa. Kedua arah
pertumbuhan akar tersebut dinamai “diarchos root
system” artinya dua arah sistem perakaran yang
berlawanan.
Batang
Batang tumbu tegak dan berkayu pada
pangkalnya. Batang ini berfungsi sebagai tempat
keluarnya cabang, tunas, daun, bunga, dan buah,
kulit batangnya tipis sampai agak tebal.
Tanaman Cabai merupakan tanaman setahun
atau beberapa tahun, batangnya berbentuk perdu
dan berasal dari Amerika Selatan. Daunnya
berbentuk oval atau eleptis, helai daunnya
sederhana serta utuh, bunganya putih, kehijauan,
atau violet, tumbuh sendiri-sendiri atau dompolan
2-3 buah, tumbuh tegak atau menggantung. Buah
Cabai seperti polong, berbiji banyak, rongga buah
luas berisi biji. Tanaman ini biasa ditanam di
sawah, tegalan, dan pekarangan.
Cabai memiliki penyesuaian yang luas
terhadap lingkungan tumbuh. Selain itu, Cabai
mudah dibudidayakan di dalam pot dan wadah
lainnya dengan volume yang terbatas. Cabai dapat
tumbuh di segala macam tipe tanah dan
ketinggian tempat. Tapi Cabai tidak tahan
terhadap hujan, terutama pada fase pembungaan
karena mudah gugur. Suhu udara yang tinggi
menyebabkan produksi buah Cabai menurun.
Tanah yang cocok adalah tanah berpasir atau
berdebu yang gembur dan cukup bahan organik.
pH tanah optimum 5-6. Pengaturan pada masa
tanam sangat penting sehingga musim berbunga
dan musim berbuah jatuh pada musim kering.
Tanaman
ini
diperbanyak
dengan
menyemaikan biji di persemaian, dalam waktu 4-7
hari biji akan bercambah dan bibit muda
dipelihara di persemaian hingga tingginya 15-16
cm, yaitu umur 1-1,5 bulan. Persemaian dapat
juga dibuat di bedengan di lapangan atau
menggunakan polibag hitam ukuran kecil. Pada
tiap kantong ditanami 2-3 benih.
2.4.3 Kangkung (Ipomoea aquatica Forsk.)
Klasifikasi Kangkung adalah sebagai berikut:
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Subdivisi
: Magnoliopsida
Ordo
: Solanales
Famili
: Convolvulaceae
Genus
: Ipomoea reptans Poir
Dikenal juga sebagai Ipomoea reptans Poir.
Merupakan sejenis tumbuhan yang termasuk jenis
sayur-sayuran dan di tanam sebagai makanan.
Kangkung kebanyakan terdapat di kawasan Asia
dan merupakan tumbuhan yang dapat dijumpai
hampir di mana-mana terutama di kawasan berair.
Persyaratan pH tanaman Kangkung sebesar 5,5-6
Terdapat dua bentuk Kangkung. Kangkung
sendiri mempunyai daun yang licin dan berbentuk
mata panah, sepanjang 5-6 inci. Tumbuhan ini
memiliki batang yang menjalar dengan daun
berselang dan batang yang menegak di pangkal
daun. Kangkung bewarna hijau pucat dan
menghasilkan bunga bewarna putih, yang
menghasilkan kantung yang mengandung empat
biji benih. Selain itu, terdapat juga jenis daun
lebar dan daun tirus.
Dua jenis penanaman yang diusahakan: kering
dan basah.
Sejumlah besar bahan organik
(kompos) dan air diperlukan agar tanaman ini
dapat tumbuh dengan subur. Pada sistem
penanaman kering, Kangkung ditanam pada jarak
5 inci pada batas dan ditunjang dengan kayu
sangga. Kangkung dapat ditanam dari biji benih
maupun keratin akar. Kangkung juga sering
ditanam pada semaian sebelum dipindahkan di
kebun. Daun dipanen setelah 6 minggu ia
ditanam. Semasa berbunga, pucuk Kangkung
tumbuh dengan lambat, tetapi pembajakan tanah
dan panen cenderung menggalakkan lebih banyak
daun yang dihasilkan. Kebutuhan N, P dan K
untuk tanaman Kangkung adalah N sebesar 2 x
10-3 gr/cm2, P sebesar 18 x 10-4 gr/cm2 dan K
sebesar 1,2 x 10-3 gr/cm2.(Haryoto, 2009)
2.5 Analisa Statistik
Hipotesis dapat diartikan sebagai dugaan
mengenai suatu hal atau merupakan jawaban
sementara terhadap suatu masalah. Hipotesis
dinyatakan
dalam
pernyataan
yang
menghubungkan secara eksplisit satu variable
dengan variable lainnya. Hipotesis yang baik
selalu menunjukkan hubungan dua variable atau
lebih. Dalam analisa statistik dikenal H 1
(hipotesis kerja) serta diperlukan H 0 sebagai
pembanding dan sering disebut hipotesis statistik.
Penerimaan suatu hipotesis (H 0 ) karena tidak
cukup bukti untuk menolaknya, sehingga
berimplikasi hipotesis tersebut benar. Penarikan
kesimpulan yang benar adalah jika terima H 0 jika
memang H 0 benar dan tolak H 0 jika H 0 memang
salah.
Nilai disebut nilai kesalahan. Nilai
yang digunakan adalah 0,1 dan akan
mempengaruhi hasil kesimpulan yang akan
diambil. Diantara metoda untuk uji hipotesis
adalah uji analisis ragam atau Analysis of
Variance (ANOVA).
Analisis ragam atau analysis of Variance
(ANOVA) adalah suatu
metode untuk
menguraikan keragaman total data menjadi
komponen-komponen yang mengukur berbagai
sumber keragaman. Secara aplikatif, ANOVA
digunakan untuk menguji
rata-rata lebih dari dua sampel berbeda secara
signifikan atau tidak.
Analisa T-Test. tersebut digunakan untuk
melihat perbedaan pengaruh pemberian limbah
tiap dua konsentrasi pada satu tanaman. Jadi,
peneliti membandingkan pengaruh pemberian
limbah tahu terhadap jumlah daun tanaman
Kangkung tiap dua konsentrasi. Hal ini
disebabkan dengan membandingkan tiap dua
konsentrasi, maka akan terlihat mana yang lebih
optimal
pertumbuhannya
jika
pemberian
dilakukan
diantara
kedua
konsentrasi
tersebut.(Kartika, 2010)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Umum
Metodologi penelitian merupakan beberapa
tahapan yang akan dilakukan selama penelitian.
Bab ini juga akan mengulas peralatan yang
dipakai, bahan, metode, serta prakiraan waktu
penelitian. Tahapan penelitian ini meliputi latar
belakang, studi literatur, persiapan penelitian,
analisa dan pembahasan, hingga kesimpulan dapat
dilihat pada Gambar 3.1.
3.2 Kerangka penelitian
Literatur-literatur yang dipakai dalam Tugas
Akhir ini merupakan literatur-literatur yang
bersifat sekunder atau text book. Diantaranya
adalah limbah cair tahu, konsep kesuburan tanah,
pupuk dan pemupukan, dan deskripsi tanaman uji.
Prosesnya adalah mempelajari text book,
kemudian menilai dan mengaplikasikannya ke
dalam Tugas Akhir ini.
3.3 Penjelasan Kerangka Penelitian
3.3.1 Latar Belakang
Pemanfaatan limbah sudah seharusnya
digalakkan. Demikian halnya air buangan sisa
pengolahan tahu yang hingga kini merupakan
limbah industri pencemar lingkungan, ternyata
bisa dibuat menjadi pupuk cair. Hal ini
berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu yang
mengindikasikan bahwa limbah tahu mengandung
unsur N, P, dan K. Dalam penelitian ini, limbah
tahu diujicobakan pada tanaman Kangkung,
Melon dan Cabai.
3.3.2 Perumusan Masalah
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk
menganalisa limbah cair tahu objek studi dan
pengolahannya hingga dapat dimanfaatkan
sebagai pupuk cair. Parameter yang diteliti
dibatasi N, P, K, dan pH. Perumusan masalah
juga ditujukan untuk menganalisis pengaruh
variasi konsentrasi limbah tahu terhadap
pertumbuhan tanaman kangkung dan melon dan
Cabai rawit. Berdasarkan hasil pengamatan dan
pengujian dari segi teknis diharapkan memberikan
kontribusi ilmiah bagi masyarakat tentang
pemanfaatan limbah cair tahu sebagai pupuk cair.
3.3.3 Studi Literatur
Studi literatur berupa pengumpulan bahanbahan penelitian dari sumber-sumber yang ada.
Berikut merupakan bahan yang dipakai yakni
tentang limbah cair tahu, konsep kesuburan tanah,
pupuk dan pemupukan, serta deskripsi tanaman
uji.
3.3.4 Persiapan Penelitian
Tanaman uji yang digunakan adalah Kangkung,
Melon dan Cabai. Berdasarkan literatur bab
Tinjauan Pustaka, hal ini disebabkan:
1. Limbah cair tahu mengandung N- total yang
tinggi, jadi cocok untuk pertumbuhan daun
pada tanaman Kangkung, Melon dan Cabai.
Selain itu, limbah tahu juga mengandung K
yang baik untuk pertumbuhan batang tanaman
dan orthophosphate yang baik untuk
pertumbuhan bunga.
2. Punya masa panen yang singkat yaitu 1-2
bulan
3. Dapat ditanam di berbagai lahan
4. Dapat tumbuh sepanjang tahun, tidak
tergantung musim dan relatif tahan di segala
cuaca.
5. Baik di dataran rendah maupun dataran tinggi
6. Merupakan tanaman pangan dan obat yang
berguna bagi masyarakat
A. Persiapan Alat
Berupa gayung dan jirigen untuk mengambil
sampel.
Polybag yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu polybag dengan diameter 8x10 cm untuk
kangkung, 15x20 cm untuk cabai, 25x40 cm
untuk melon. Alasan penggunaan polybag ini
karena mudah didapat dan harganya relatif
terjangkau. Untuk pembibitan, polibag yang
digunakan adalah polybag ukuran 8x10 cm untuk
masing-masing tanaman uji.
B. Persiapan Bahan
- Tanah taman di Teknik Lingkungan sebagai
media tanam
- Limbah cair pabrik tahu Kenjeran
- Tanaman uji : Kangkung, Melon dan Cabai
- Media tanam
Pada penelitian ini akan digunakan tanah
ITS sebagai media tanam tanaman uji.
Tanah taman ini diambil di belakang UPT
Fasor ITS.
C.
Pembenihan
Cara penanaman benih kangkung dalam tanah
sedalam ± 1 cm. Penanaman ini dilakukan di
taman Teknik Lingkungan ITS.
Khusus Cabai, penanamannya sebagai berikut:
• Sebelum disemai bibit direndam dalam air
• Benih disebar rata pada polybag. .
• Bibit siap ditanam setelah berumur 3-4
minggu dalam bumbungan.
D. Penyiraman
Untuk Kangkung, Cabai dan Melon pada waktu
pembibitan disiram setiap hari dengan air PDAM.
Mulai dari kecambah belum muncul sampai bibit
muncul kepermukaan tanah. Begitu pula ketika
pembibitan usai, ketiga tanaman tersebut disiram
setiap hari dengan air PDAM. Sedang
penyiramana limbah tahu
Untuk penyiraman limbah tahu, disesuaikan
dengan masa hidup tiap tanaman uji. Berikut
merupakan kali penyiramannya:
Tabel 3.1 Penyiraman Limbah Tahu
Tanaman
Kangkung
Cabai
Melon
Penyiraman Limbah Tahu
2 kali (Hari ke-1 dan hari ke14)
2 kali (Hari ke-1 dan hari ke14)
3 kali (Hari ke-1, hari ke-14
dan hari ke-30)
E. Pengujian Komposisi Limbah Cair Tahu
Sasaran pengujian ini adalah
1. Untuk menganalisa komposisi limbah cair
tahu.
Cara menguji adalah sebagai berikut:
1. Untuk menguji limbah cair tahu di pabrik tahu
dengan cara sebagai berikut:
a. Limbah cair diambil dari proses terakhir
dengan menggunakan gayung dan disimpan
dalam jerigen. Dalam hal ini, ketika tahu
diambil sebagai produk jadi, cairan endapan
yang tersisa merupakan limbah cair yang dapat
diambil.
b. Buat analisa limbah cair tahu tentang N, P, K
dan pH sesuai metoda standar.
3.3.5 Pengamatan
A. Lokasi
Lokasi penelitian ini dibagi menjadi 2 yaitu
1. Pabrik Tahu Kenjeran yang bertujuan untuk:
- Mengambil sampel limbah pabrik tahu.
2. Kampus dan Laboratorium Teknik Lingkungan
ITS Surabaya yang bertujuan untuk:
- Melakukan penelitian percobaan dari sampel
yang telah diperoleh dari pabrik tahu
- Membuat laporan.
Untuk
mengamati
adanya
potensi
pemanfaatan limbah cair tahu sebagai pupuk cair
yaitu dengan cara sebagai berikut:
6. Hal ini sesuai dengan syarat pupuk organik cair
yang mempunyai pH antara 4-8. Limbah tahu
sendiri mempunyai pH 3-4. Jadi limbah tahu
tersebut harus ditambah basa agar pH-nya menjadi
6. Penyiraman limbah pada tanaman Kangkung
dan Cabai sebanyak 2 kali, sedang pada tanaman
Melon 3 kali. Tiap penyiraman mempunyai selisih
waktu 2 minggu.
B.
Persiapan Media
Media
tanam
dalam
penelitian
ini
menggunakan tanah taman Teknik Lingkungan.
Ketiga tanaman uji diperkirakan tumbuh optimal
pada pH 6. Sedang berdasarkan tinjauan pustaka
pH limbah tahu. Jadi diperlukan penaikan pH
hingga menjadi 6.
Tanaman uji nantinya akan diberi limbah tahu
sebesar 0%, 25%, 50%, 75% dan 100%. Hal ini
dilakukan karena pada penelitian terdahulu,
limbah cair tahu dengan konsentrasi antara 25% –
100% memberikan pengaruh yang baik bagi
tanaman uji.
A. Penyiraman Limbah Sebagai Pupuk Cair
Berdasarkan hasil studi literatur, limbah tahu
bersifat asam, sedang baku mutu pH pupuk cair
organik adalah 4-8. Jadi dilakukan penambahan
pH
Lim
bah
Variasi Limbah Cair Tahu
Tanaman
Cair (Dalam 500 ml Air)
Tah
u
Kangkun
25
50
75
100
g, Melon 6
0%
%
%
%
%
dan Cabai
basa yang dalam hal ini adalah NaOH hingga pHnya bervariasi. Hal ini mengacu pada standar pH
untuk pupuk cair.
Basa yang dipakai adalah serbuk NaOH
hingga limbah cair tahu mencapai variasi pH
yakni 5 dan 6. Pemilihan variasi pH ini
berdasarkan studi literatur yakni mengenai
persyaratan pH tanaman kangkung sebesar 5,5-6,
melon sebesar 5,8-7,2, dan Cabai rawit sebesar 5-
Tabel 3.2 Variasi Limbah Cair Tahu Pada
Tanaman Uji
Cara menaikkan pH adalah dengan penambahan
NaOH. Jumlah kebutuhan NaOH disajikan
sebagai berikut:
Tabel 3.3 Penambahan NaOH 0,1 N Tiap
Konsentrasi
Kandungan Limbah Tahu
25%
50%
75%
100%
NaOH
0,1 N
(ml/1 l
limbah)
35
100
145
210
pH
6
6
6
6
Harga NaOH adalah sebesar Rp 1000/gram.
Untuk membuat NaOH 0,1 N sebanyak 1 liter
dibutuhkan kristal NaOH sebesar 0,4 gr. Jadi
untuk membuat larutan NaOH 0,1 N seperti tabel
diatas membutuhkan biaya Rp 400.
C. Analisis Parameter Uji
Analisis ini digunakan karena keterbatasan
waktu, tenaga, paralatan dan biaya yang tersedia,
sehingga parameter yang dipilih benar-benar
terkait langsung dengan pemanfaatan limbah cair
tahu sebagai pupuk tanaman.
Parameternya meliputi:
1. Nitrogen (N)
Analisis Nitrogen dilakukan untuk banyak
tidaknya unsur N yang berguna bagi pertumbuhan
daun tanaman.
2. Fosfat (P)
Analisis fosfat dilakukan untuk mengetahui
kualitas produk akhir pada salah satu bentuk
anorganiknya, yaitu PO 4 - yang mudah diserap
oleh akar tanaman.
3. Kalium (K)
Analisis Kalium dilakukan untuk banyak tidaknya
unsur K yang berguna bagi pertumbuhan tinggi
batang tanaman.
Berdasakan Setyowati (2001), rumus yang
dipakai untuk menghitung unsur N, P, K yang
selama ini diberikan pada tanaman uji adalah :
((unsur N pada limbah tahu x volume limbah
yang disiramkan) x frekuensi penyiraman
Selanjutnya rumus diatas dibagi dengan luas
polybag masing-masing tanaman uji.
3.3.6 Analisa Data dan Pembahasan
Ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik
untuk lebih menjelaskan. Penelitian ini juga
menggunakan analisis varian untuk mengetahui
variable yang memberikan pengaruh signifikan
pada tanaman uji. Langkah-langkahnya:
1. Membuat penentuan hipotesis nol (H0) dengan
hipotesis tandingan (H1)
2. Membuat daftar data sampel
3. Membuat penentuan batas toleransi dalam
menolak H0 (α)
4. Membandingkan F value dengan α
5. Jika n ilai F value ku ran g dari (<) α maka H0
ditolak
6. Konsentrasi limbah tahu yang diberikan pada
tanaman uji yang memberikan pengaruh
terbaik tehadap tanaman uji juga diteliti.
Data dianalisa dengan kurva:
1. Grafik tinggi batang versus hari
2. Grafik jumlah daun versus hari pada masingmasing konsentrasi
Selain itu, dilakukan jugaAnalisis statistik
Independent Sample t (T-Test) untuk menentukan
jenis penyubur yang terbaik diaantara 5 jenis
konsentrasi limbah cair. Perhitungan dengan
menggunakan program SPSS msoftwarenpackage
version 11.5
3.3.3 Kesimpulan dan Saran
Pada tahap ini akan ditarik suatu kesimpulan
yang didapat dari hasil analisa percobaan. Hal ini
sesuai dengan tujuan penelitian. Saran juga
dilampirkan
agar
membantu
penelitian
selanjutnya.
Bab 4
ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisa Awal
Penelitian untuk mengetahui kandungan unsur
hara seperti tampak pada Tabel 4.1:
Agar tanaman dapat tumbuh dengan baik,
maka nilai pH limbah tahu yang semula
mempunyai pH 3,9 dinaikkan menjadi 6. Hal ini
disesuaikan dengan pertumbuhan optimal bagi
ketiga tanaman. Untuk diketahui sebelumnya, pH
optimum untuk Cabai Rawit adalah 5-6, pH untuk
pertumbuhan tanaman Kangkung sebesar 5,5-6,
dan pH untuk tanaman Melon yaitu 5,8-7,2.
Karena itu, dalam penelitian ini limbah tahu
ditambah basa agar pH-nya menjadi 6. Basa yang
dipakai dalam penelitian ini adalah NaOH 0,1 N.
Tabel 4.1 Hasil Analisa Awal Limbah Tahu
Kandungan
N
P
K
Limbah
Tahu
ppm
%
ppm
%
ppm %
25%
37.64
0.3764 3.62 0.036 175 1.75
50%
81.78
0.8178 7.29 0.073 325 3.25 4.2 Pengaruh Limbah Pabrik Tahu Pada
75%
117.86
1.1786 11.12 0.111 475 4.75 Tanaman
100%
164.9
1.649 15.66 0.157 625 6.25
Pengamatan yang dilakukan dalam tugas akhir
Sumber: Analisa Laboratorium
ini meliputi jumlah daun dan tinggi batang.
Pembahasan ini akan mengulas per variabel
Data tersebut di atas merupakan hasil analisa
pengamatan. Sehingga nantinya dapat diamati
pabrik tahu Kenjeran yang digunakan dalam
pengaruh konsentrasi terhadap setiap variabel
penelitian ini. Berdasarkan komposisi tipikal
pengamatan.
limbah cair domestik (Metcalf & Eddy, 1991)
Seperti yang telah disebutkan di Bab Tinjauan
nilai kandungan limbah tahu murni yakni
Pustaka, beberapa penelitian Triawati (2010),
konsentrasi 100% yang terkandung dalam limbah
Handajani (2010), Nurlila (2009), Setyowati
tahu masuk dalam kategori tinggi.
(2001), Mackentum (1969), Damayanti, A.,
Pada penelitian ini memanfaatkan kandungan
Hermana, J., dan Masduqi, A.. (2004)
N, P dan K yang tinggi pada limbah cair tahu
menyebutkan limbah tahu mempunyai kandungan
sebagai pupuk tanaman Kangkung, Cabai dan
unsur hara yang tinggi. Kandungan tersebut
Melon. Unsur hara yang terdapat pada limbah
merupakan unsur hara yang dapat dimanfaatkan
tersebut dibutuhkan oleh tanaman.
untuk pertumbuhan tanaman.
Menurut Siswoyo (2000), berbagai macam
Penelitian pemanfaatan limbah cair tahu ini
jasad hidup di dalam tanah dapat berkembang
menggunakan konsentrasi limbah cair sebesar 0%,
pada tanah yang mempunyai pH netral sampai
25%, 50%, 75% dan 100%. Kelima konsentrasi
agak alkalis. Jika keadaaan tanah cukup masam,
tersebut disiramkan ke tanaman sebanyak dua kali
maka cendawanlah yang akan berfungsi mengolah
untuk Kangkung dan Cabai, serta tiga kali untuk
bahan organik. Namun, cendawan tersebut jauh
Melon. Awalnya, pembibitan dilakukan selama 30
kurang efektif bila dibandingkan dengan jasad
hari. Setelah pembibitan selesai, limbah tahu
hidup tanah yang lain, misalnya bakteri. Dengan
disiramkan pada Kangkung dan Cabai pada hari
demikian pengolahan bahan organik memakan
ke-1 dan hari ke-14. Sedang Melon mengalami
waktu lebih lama. Selain itu, pH tidak hanya
penyiraman limbah tahu sebanyak tiga kali yakni
mempengaruhi jasad hidup yang membantu
pada hari ke-1, hari ke-14 dan hari ke-30.
namun juga yang merugikan seperti parasit.
Sementara itu, penggunaan konsentrasi sebesar
Parasit sangat mengganggu di tanah masam,
0% berfungsi sebagai blanko untuk mengetahui
namun tidak dapat hidup di tanah basa. Tiap
pengaruh pertumbuhan tanaman antara kondisi
tanaman mempunyai pH pertumbuhan optimal
tanaman yang disiram limbah tahu dan yang tidak
yang berbeda-beda. Maka dari itu, tanah dan
disiram limbah tahu.
tanaman uji harus dikondisikan agar hidup di pH
Menurut Siswoyo (2000), pertumbuhan suatu
yang optimal.
tanaman akan dipengaruhi oleh beberapa faktor
yakni faktor dari dalam dan dari luar. Faktor dari
dalam yaitu tanaman itu sendiri, seperti kondisi
anatomi dan fisiologi tanaman. Sedangkan faktor
luar yaitu faktor lingkungan seperti tanah,
temperatur, kelembaban, penetrasi sinar matahari
dan sebagainya. Tanah yang banyak mengandung
unsur hara akan memberikan efek berbeda dengan
tanah yang kurang subur. Suhu juga turut
memberikan pengaruh pada tanaman. Tumbuhan
hijau memerlukan sinar matahari yang cukup
untuk keperluan fotosintesis. Proses fotosintesis
yang terjadi di daun merupakan proses
pembentukan makanan oleh tumbuhan. Karena
itulah, dalam penelitian ini diupayakan agar
tumbuhan mendapat kondisi lingkungan yang
optimal dalam pertumbuhannya yakni di rumah
kaca.Kondisi di rumah kaca dirasakan sebagai
tempat yang sesuai dengan kondisi yang
diperlukan tumbuhan seperti suhu, terpaan angin
dan perlindungan dari hujan.
Dalam pertumbuhan dan perkembangannya
tanaman membutuhkan berbagai macam unsur.
Tiap unsur memiliki peranan masing-masing.
Tanaman menghisap makanan dengan perantaraan
air. Tanaman sendiri terdiri dari air dan bahan
kering yang terdiri dari bahan organik dan bahan
anorganik. Berikut merupakan unsur yang
dibutuhkan tanaman:
a. Nitrogen (N)
N dalam tanah adalah unsur utama dalam
pertumbuhan tanaman. Bentuknya adalah
sebagai berikut:
- Sebagai gas, 80% udara tanah adalah
N sebagai gas, yang tidak dapat
dihisap langsung oleh tanaman.
Hanya dengan tanaman polongpolongan dapat mengikat lewat bintilbintil akar.
- Sebagai N organik yang merupakan
bentuk cadangan N di dalam tanah.
Humus mengandung 5% N dalam
bentuk N organik. N organik tidak
dapat dimanfaatkan langsung oleh
tanaman yang hanya menghisap N
dalam bentuk mineral.
- Bentuk amoniak (NH3+) yang terikat
kompleks absorsi, tetapi kurang stabil
karena
bakteri-bakteri
tanah
mengubah bentuk amoniak menjadi
bentuk Nitrit. Tanaman sukar
menghisap N sebagai Amoniak.
- Sebagai asam sendawa (NO3-) yang
tak terikat tanah, melainkan langsung
dapat dihisap tanaman.
- Tanaman menghisap unsur N dalam
bentuk Amonium (NH4) dan dalam
bentuk Nitrat (NO3-)
b. Fosfor (P)
Bentuk unsur P dalam tanah adalah:
- P dalam larutan tanah dimana
jumlahnya 0,2-0,5 mg/l, yang berarti
kurang dari 1 kg P/Ha di dalam tanah
pada
daerah
perakaran.
Akar
menggunakan larutan tanah untuk
menghisap P tersebut.
- P yang terikat dalam kompleks liat
humus, dengan perantaraan Ca atau
hydroxide Fe dan Al yang dalam
tanah masam terikat sebagai koloid
elektro positif dan yang mengikat
anion-anion P.
- P organis yang merupakan bentuk
cadangan yang dapat dihisap oleh
tanaman setelah menjadi mineral.
c. Kalium (K)
Bentuk Kalium dalam tanah:
- K di dalam larutan tanah, yang hanya
berjumlah sedikit sekitar 10 mgr per
liter larutan.
- K di dalam liat humus. Tanaman
menghisap K dari larutan tanah, maka
sebagai kation K+ terikat harus
melewati larutan tanah ini. Nantinya,
merekalah yang menjadi bahan
makanan tanaman.
4.2.1 Pengaruh Konsentrasi Limbah
Terhadap Jumlah Daun
A. Kangkung
Berikut merupakan hasil pengamatan terhadap
jumlah daun tanaman Kangkung terhitung sejak
pembenihan selesai:
Tabel 4.3 Tabel Pertambahan Jumlah
Daun Kangkung
Hari
Hari 1
Hari 3
Hari 5
Hari 7
K 0%
9
10
11
13
Jumlah Daun (Helai)
K 25%
K 50%
K 75%
6
13
7
8
15
8
10
16
9
10
17
10
K 100%
14
16
19
20
Hari 9
Hari 11
Hari 13
Hari 15
Hari 17
13
14
15
16
17
11
12
13
14
17
18
19
22
24
25
10
11
12
13
13
22Konsentrasi
22
Limbah Yang
25
Disiram Pada
28Kangkung
33 25%
50%
75%
100%
Lanjutan Tabel 4.3 Tabel Pertambahan Jumlah
Daun Kangkung
Hari 19
28
24
26
Hari 21
Hari 23
29
30
25
26
28
30
Hari 25
31
26
32
Sumber: Hasil Pengamatan
N dalam
limbah tahu
(mg/L)
N (gr/cm2)
37.64
0,599 x 10-3
81.78
1,302 x 10-3
117.86
1,877 x 10-3
164.9
2,626 x 10-3
Sumber: Hasil Perhitungan
Kebutuhan
N Kangkung
(gr/cm2)
2 x 10-3
Tabel 4.6 Jumlah Unsur P Yang Diberikan
Selama Penelitian Pada Kangkung
16
39
17 Konsentrasi
39 Limbah
Yang
Disiram
Pada
17
39
Kangkung
18
39
Hasil penelitian uji pengaruh konsentrasi air
limbah pabrik tahu terhadap laju pertumbuhan
daun Kangkung di atas, tampak bahwa Kangkung
dengan pemberian konsentrasi limbah sebesar
100% adalah yang paling pesat pertumbuhan
daunnya. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi
limbah 100% memberikan pengaruh positif
terhadap pertumbuhan jumlah daun.
Sedang konsentrasi yang pertumbuhannya
paling minimal adalah konsentrasi 75 %.
Konsentrasi lainnya
menunjukkan bahwa
pertumbuhan jumlah daunnya meningkat seiring
dengan pertambahan waktu. Namun, semua
tanaman yang diberi air limbah dengan berbagai
konsentrasi ternyata menghasilkan jumlah daun
yang hampir sama.
grafik ANOVA (lihat lampiran D)
menunjukkan bahwa konsentrasi yang
memberikan pengaruh jumlah daun terbanyak
adalah 100% dan yang terkecil 75%. Konsentrasi
100% memberikan pengaruh pertambahan daun
optimal karena mampu menyuplai kebutuhan N,
P, dan K tanaman Kangkung. Berikut merupakan
jumlah unsur N, P dan K yang dberikan selama
penelitian dibandingkan dengan kebutuhannya:
Tabel 4.5 Jumlah Unsur N Yang Diberikan
Selama Penelitian Pada Kangkung
P dalam
limbah
tahu
(mg/L)
P (gr/cm2)
3.62
0,58 x 10-4
7.29
1,16 x 10-4
11.12
1,77 x 10-4
15.66
2,49 x 10-4
Sumber: Hasil perhitungan
25%
50%
75%
100%
Kebutuhan P
Kangkung
(gr/cm2)
18 x 10-4
Tabel 4.7 Jumlah Unsur K Yang Diberikan
Selama Penelitian Pada Kangkung
Konsentrasi
Limbah Yang
Disiram Pada
Kangkung
25%
50%
75%
100%
K dalam
limbah tahu
(mg/L)
K (gr/cm2)
175
2,787 x 10-3
325
5,175 x 10-3
475
7,564 x 10-3
625
9,952 x 10-3
Sumber: Hasil perhitungan
Kebutuhan K
Kangkung
(gr/cm2)
1,2 x 10-3
Contoh perhitungan dapat dilihat di Lampiran E.
Berdasarkan data tersebut diatas dapat
disimpulkan bahwa kebutuhan N Kangkung
terpenuhi pada pemberian limbah dengan
konsentrasi 100%. Hal ini merupakan penjelasan
dari pertumbuhan jumlah daun Kangkung yang
optimal di konsentrasi 100%. N yang mencukupi
pada limbah tahu konsentrasi 100% menyebabkan
pertumbuhan optimal. Menurut Foth (1994), N
yang berlimpah menaikkan pertumbuhan dengan
cepat dengan perkembangan yang lebih besar
pada batang dan daun-daun berwarna hijau gelap.
Penyediaan nitrogen tersedia yang cukup selama
awal kehdupan tanaman dapat memacu
pertumbuhan.
Sedang untuk kebutuhan P, dari kelima
konsentrasi limbah yang diberikan pada
Kangkung, tidak ada yang memenuhi kebutuhan P
Kangkung yakni sebanyak 18 x 10-4 gr/cm2.
Namun, menurut Setyowati (2001), tanaman akan
menyerap unsur P dari tanah.
Selain itu, kekurangan unsur P dapat tertutupi
dengan N yang mencukupi dan berlimpahnya K.
Menurut Haryoto (2009), P membantu
pembentukan bunga dan buah, mendorong
pertumbuhan akar muda. Unsur N memacu
pertumbuhan daun dan batang, membantu
pembentukan akar,
serta
K
membantu
pembentukan bunga dan buah, menguatkan
tanaman. Karena itu, pada penelitian ini fungsi P
dalam pembentukan bunga dapat digantikan oleh
K yang berlimpah. Fungsi P dalam hal mendorong
pertumbuhan akar muda telah digantikan oleh
unsur N yang berkecukupan.
Untuk kebutuhan K tanaman Kangkung yakni
sebesar 1,2 x 10-3 gr/cm2 dapat dipenuhi oleh
limbah tahu konsentrasi 25% hingga konsentrasi
100%. Jadi, pada penelitian ini pemberian limbah
tahu dengan konsentrasi 25% saja sebenarnya
telah dapat memenuhi kebutuhan K tanaman
Kangkung.
Karena itulah tanaman Kangkung yang
disiram limbah tahu batangnya cenderung lebih
tegak. Hal ini sesuai dengan referensi dari Foth
(1994) yang menyatakan bahwa unsur K
menambah sintesa dan translokasi karbohidrat,
karena itu mempercepat ketebalan dinding sel dan
kekuatan tangkai.
Selain
menggunakan
ANOVA,
pada
penelitian ini juga menggunakan analisa T-Test.
Analisa tersebut digunakan untuk melihat
perbedaan pengaruh pemberian limbah tiap dua
konsentrasi pada satu tanaman. Jadi, peneliti
membandingkan pengaruh pemberian limbah tahu
terhadap jumlah daun tanaman Kangkung tiap dua
konsentrasi. Hal ini disebabkan dengan
membandingkan tiap dua konsentrasi, maka akan
terlihat mana yang lebih optimal pertumbuhannya
jika pemberian dilakukan diantara kedua
konsentrasi tersebut.
Hasil T-Test diatas (dapat juga dilihat
Lampiran D) menunjukkan bahwa rata-rata
pengaruh limbah cair tahu terhadap daun untuk
konsentrasi 0% (K 0%) dan konsentrasi 25%
(K25%) sama. Tanda positif pada mean difference
menunjukkan bahwa Kangkung yang disiram
limbah dengan konsentrasi 0% (K 0%)
mempunyai jumlah daun yang lebih banyak
daripada Kangkung dengan konsentrasi limbah
25% (K 25%). Hal yang sama juga terjadi pada
jumlah daun K 0% dibandingkan dengan
Kangkung yang disiram limbah konsentrasi 50%
(K 50%), dan Kangkung yang disiram limbah
konsentrasi 75% atau K 75% (lihat Lampiran D).
Sedang jika dibandingkan dengan Kangkung yang
disiram limbah konsentrasi 100% (K 100%), nilai
mean difference menunjukkan tanda negatif yang
berarti K 0% lebih kecil daripada K 100%.
Data analisis juga menunjukkan bahwa K
25% lebih banyak jumlah daunnya daripada K
50%. Hal yang sama juga terjadi pada K 25%
dibandingkan dengan K 75%. Namun tidak
demikian yang terjadi ketika K 25% dibandingkan
dengan K 100%. Ketika dibandingkan dengan K
100%, nilai mean difference menunjukkan tanda
negatif yang berarti jumlah daun K 25% lebih
kecil daripada K 100%.
Sedang untuk K 50% jika dibandingkan K
75% menunjukkan bahwa K 50% lebih banyak
jumlah daun dari K 75%. Namun ketika
dibandingkan dengan K 100%, nilai mean
difference menunjukkan tanda negatif yang berarti
K 50% jumlah daunnya lebih kecil daripada K
100%. Pada perbandingan antara K 75% dengan
K 100% yang berarti K 75% jumlah daunnya
lebih kecil dari K 100%.
B. Cabai
Berbeda dengan Kangkung, konsentrasi yang
mempengaruhi Cabai dengan pertumbuhan paling
minimal adalah konsentrasi 25% (C 25%). Sedang
yang paling optimal adalah 50% (C 50%).
Namun, hal ini bukan menjadi dasar bahwa
pemberian limbah terbaik adalah pada konsentrasi
50%. Hal ini disebabkan pada hari ke-20, tanaman
dengan C 50% dan Cabai dengan konsentrasi
100% (C100%) daunnya mulai berguguran dan
akhirnya mengalami kematian pada hari ke-25.
Pada Cabai konsentrasi 75% (C 75%) tetap
tumbuh namun rebah hingga pertumbuhannya
merunduk. Tanaman Cabai pada konsentrasi ini
tetap mengalami pertumbuhan pada batang namun
daunnya juga mulai berguguran, tapi tidak
sebanyak C 50% dan C 100%. Sedang,
konsentrasi 25% mulai berguguran daunnya di
hari ke-40.Pertumbuhan tanaman C 0% tetap
kontinyu walaupun dengan pertambahan sedikit
tiap harinya. Karena C 50% dan C 100 %
kondisinya mati, maka penelitian dihentikan pada
waktu terjadinya kematian, yakni pada hari ke-25.
Peneliti mengidentifikasi penyebab kematian
Cabai karena asupan N yang berlebihan.
Asupan N yang terlalu banyak disebabkan
pada limbah tahu terkandung N sebanyak 164,9
ppm. Menurut Kusandriani (1996), N yang
dibutuhkan oleh Cabai hanya sebesar 60.3 kg
N/ha atau setara dengan 0,6 x 10-3 gr/cm2.
Kebutuhan P sebesar 69 kg P 2 O 5 /ha atau setara
dengan P sebesar 2,48 x 10-4 gr/cm2 . Untuk K
yang diperlukan Cabai adalah 100 kg K 2 O/ha atau
setara dengan K sebesar 0,72 x 10-3 gr/cm2.
Sedang N, P dan K yang ada diberikan lewat
penyiraman limbah tahu selama ini adalah sebagai
berikut:
15.66
3,55 x 10-4
Sumber: Hasil Perhitungan
Tabel 4.12 Jumlah Unsur K Yang Diberikan
Selama Penelitian Pada Cabai
Konsentrasi
K dalam
Limbah Yang
Kebutuha
limbah tahu
K (gr/cm2)
Disiram Pada
Cabai
(mg/L)
Cabai
(gr/cm2)
25%
175
3,963 x 10-3
50%
325
7,36 x 10-3
0,72 x 1
75%
475
10,756 x 10-3
100%
625
14,153 x 10-3
Sumber: Hasil Perhitungan
100%
Berdasarkan tabel tersebut diatas dapat dilihat
bahwa pada C 25%, N yang berada pada limbah
tahu tergolong lebih karena yang dibutuhkan
hanya 0,6 x 10-3 gr/cm2 sedang limbah tahu yang
diberikan mengandung 0,852 x 10-3 gr/cm2. N
yang diberikan pada C 25% kelebihan sekitar 0,25
gr/cm2. attau kelebihan 25% dari yang dibutuhkan.
kelebihan N
Menurut (Muslim, 2010),
menyebabkan pada Cabai beberapa hari setelah
pemupukan, daun tua menguning dan mulai
berguguran. Tanaman mengalami kematian pucuk
pada beberapa ujung tanaman.
Tercatat, Cabai pada penelitian ini mulai
Tabel 4.10 Jumlah Unsur N Yang Diberikan
menunjukkan
tanda mengalami kematian pada
Selama Penelitian Pada Cabai
hari ke-25, yakni setelah pemberian limbah kedua.
Konsentrasi
Untuk diketahui, pemberian limbah kedua adalah
N dalam
Limbah Yang
Kebutuhan
N ke-14. Berdasarkan literatur, Anonim
2
pada hari
limbah tahu
N (gr/cm )
Disiram Pada
Cabai
(2009), akibat lain dari kebanyakan air yang
(mg/L)
2
mengandung
banyak unsur N bagi tanaman
Cabai
(gr/cm
)
-3
sayuran
adalah
munculnya gejala layu karena
25%
37.64
0,852 x 10
tanaman keracunan N. Prosesnya dapat dijelaskan
-3
50%
81.78
1,852 x 10
0,6sebagai
x 10-3 berikut. Pada waktu air memenuhi seluruh
75%
117.86
2,669 x 10-3
rongga udara di dalam tanah maka kebutuhan
100%
164.9
3,734 x 10-3
oksigen akar tidak terpenuhi. Pada kondisi cukup
oksigen N tersedia bagi tanaman dalam bentuk
Sumber: Hasil Perhitungan
NH4+ atau NO3- sedangkan pada kondisi anaerob
atau tergenang air yang mengandung ion – ion N
Tabel 4.11 Jumlah Unsur P Yang Diberikan
tersebut tereduksi menjadi NO 2 yang sangat
Selama Penelitian Pada Cabai
beracun bagi tanaman. Sebagian besar tanaman
Konsentrasi
P dalam
sayuran sangat peka terhadap kebanyakan air.
Limbah Yang
limbah
Kebutuhan P
2
Menurut Anonim (2010), kebanyakan air
P (gr/cm )
Disiram Pada
tahu
Cabai
dalam tanah juga menyebabkan rendahnya daya
dukung tanah terhadap tetap tegaknya tanaman
Cabai
(mg/L)
(gr/cm2)
-4
menjadi rendah. Hal yang sering terjadi adalah
25%
3.62
0,82x10
robohnya tanaman akibat hujan angin meskipun
50%
7.29
2,48 x 10-4
1,65 x 10-4
tanaman
sudah
ditopang
dengan
75%
11.12
2,52 x 10-4
lanjaran.Gangguan lain adalah keseimbangan
nutrisi dalam tanah. Hal ini merupakan penjelasan
dari robohnya kondisi konsentrasi 75% (C 75%).
Pemberian konsentrasi yang lebih besar akan
melebihi kebutuhan akan unsur N. Unsur N dalam
jumlah berlebihan tidak akan lagi merangsang
tanaman memberikan hasil yang lebih tinggi,
kenyataannnya
adalah
sebaliknya.
(Setyowati,2001).
Selain itu, tanah yang dipakai dalam
penelitian ini yaitu tanah yang diambil di ITS
adalah tanah yang agak liat. Menurut Agromedia
(2007), tanah berstruktur liat atau gumpal
mempunyai tngkat kesuburan yang rendah.
Pasalnya partikel-pertikel tanah liat tersusun
sangat rapat dan padat, bahkan saling melekat erat
satu sama lain. Dengan merapatnya partikelpartikel tanah tersebut maka hampir tak ada lagi
celah atau rongga yang tersisa untuk sirkulasi air
dan udara di dalamnya. Akibatnya, udara, air dan
unsur hara, yang terlarut di dalamnya sulit diserap
akar tanaman karena terjerap partikel tanah.
Kondisi tersebut juga dapat membuat tanah
menjadi sangat lembab. Bahkan, jika terjadi
penyiraman berlebihan nisa menyebabkan tanah
menjadi becek. Pada kondisi tersebut tidak
menutup kemungkinan jika perakaran tanaman
akan rusak dan membusuk. Namun sebaliknya,
pada saat kondisi kering tanah liat akan
menggumpaldan sifatnya pun makinkedap
terhadap udara. Akibatnya tanaman akan mati
karena perakarannya tidak mampu menembus
struktur tanah tersebut.
Untuk P, tanaman Cabai mengalami
kekurangan P karena pada C 25% hanya terdapat
0,82 x 10-4 gr/cm2 . Begitu pula untuk C 50 %
yang mengandung 1,65 x 10-4 gr/cm2 belum
memenuhi akan kebutuhan P Cabai. Namun,
perkembangan tanaman Cabai tidak mengalami
ciri-ciri defisiensi P. Pada hari ke-1 hingga hari
ke-19 C 25% dan C 50% menunjukkan
pertumbuhan yang normal. Menurut Haryoto
(2009), P membantu pembentukan bunga dan
buah, mendorong pertumbuhan akar muda. Unsur
N memacu pertumbuhan daun dan batang,
membantu pembentukan akar, serta K membantu
pembentukan bunga dan buah, menguatkan
tanaman. Karena itu, pada penelitian ini fungsi P
dalam pembentukan bunga dapat digantikan oleh
K yang berlimpah.
Fungsi P dalam hal mendorong pertumbuhan
akar muda telah digantikan oleh unsur N yang
berkecukupan. Untuk diketahui, unsur P yang
terkandung dalam C 25% adalah 0,82 x 10-4
gr/cm2 dan pada C 50% adalah 1,65 x 10-4 gr/cm2.
Kandungan P dalam kedua konsentrasi tersebut
tidak cukup mengingat kebutuhan P tanaman
Cabai sebesar 2,48 x 10-4 gr/cm2. Kekurangan
tersebut ditutupi oleh kandungan N pada C 25%
sebesar 0,852 x 10-3 gr/cm2 dan C 50% sebesar
1,852 x 10-3 gr/cm2. Hal ini terlihat dari kondisi C
25% dan C50 % yang tidak menunjukkan tandatanda defisiensi P.
Kebutuhan P tanaman Cabai baru terpenuhi
seutuhnya pada C 75% dan C 100%. Dalam C
75% terdapat P sebesar 2,52 x 10-4 gr/cm2 dan
pada C 100% terkandung P sebesar 3,55 x 10-4
gr/cm2.
Sedang untuk kebutuhan K Cabai sebesar
0,72 x 10-3 terpenuhi pada C 25% hingga C 100%.
Hal ini merupakan penjelasan tegaknya tanaman
sebelum pemberian limbah yang kedua (hari ke14). Menurut Haryoto (2009), K digunakan
tanaman untuk membantu pembentukan bunga
dan buah, serta menguatkan tanaman.
Berdasarkan tabel ANOVA diatas terlihat
bahwa nilai signficance untuk uji F adalah 0,059.
Rentang kepercayaan yang dipakai adalah 90%
atau 0,1. Karena lebih kecil dari taraf signficance
0,1, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan ratarata jumlah daun untuk kelima konsentrasi.
Berdasarkan grafik (Lampiran D), dapat
diketahui bahwa konsentrasi yang memberikan
pengaruh jumlah daun terbanyak adalah pada
Cabai yang disiram konsentrasi 50% (C 50%) dan
yang terkecil adalah Cabai yang disiram
konsentrasi 25% (C 25%). C 50% memberikan
pengaruh pertambahan daun optimal karena pada
konsentrasi tersebut, kebutuhan N dan K tanaman
Cabai dapat terpenuhi. Kebutuhan N, P dan K
untuk tanaman Cabai adalah 60.3 kg N/ha, 69 kg
P 2 O 5 /ha, 100 kg K 2 O/ha (Kusandriani, 1996).
Namun, karena semua konsentrasi yang diberikan
pada Cabai mengalami kematian (kecuali
konsentrasi 0%) setelah pemberian limbah kedua,
maka dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan
Cabai dapat optimal yakni C 50% pada pemberian
limbah pertama. Apabila ditambahkan limbah
untuk kedua kalinya, maka dapat menyebabkan
kematian karena N yang berlebih.
Kebetuhun N terpenuhi pada C 25%,
kebutuhan P tidak ada yang terpenuhi dan
kebutuhan K terpenuhi pada C 25%. Pertumbuhan
optimal jumlah daun sebelum penambahan limbah
yang kedua terjadi pada C 50%. Hal ini
disebabkan pada konsentrasi 50%, kebutuhan N
dan K telah terpenuhi walaupun berlebih dari
yang dibutuhkan. Menurut Setyowati (2001),
jumlah unsur hara yang diberikan wajb sedkit
lebih tinggi daripada jumlah yang dibutuhkan.
Pertumbuhan optimal C 50% karena terpenuhinya
kebutuhan N dan K sedikit lebih tinggi dari
kebutuhan N dan K tanaman Cabai. Sedang
kekurangan unsur P dapat tertutupi dengan N
yang mencukupi dan berlimpahnya K. Pada C
75% dan C 100% menunjukkan pertumbuhan
yang stagnan akibat N yang terlalu berlebihan.
Menurut Setyowati (2001),pemberian konsentrasi
yang terlalu besar melebihi kebutuhan akan unsur
N. Pemberian jumlah N yang berlebihan akan
merusak keseimbangan antar zat hara dan
menyebabkan hasil pertanaman menjadi turun.
C. Melon
Pertumbuhan optimal tanaman Melon adalah
pada Melon dengan penyiraman konsentrasi 50%
(M 50%) dan Melon yang disiram limbah 100%
(M 100%). Sedang konsentrasi dengan
pertambahan daun paling kecil adalah Melon yang
disiram limbah dengan konsentrasi 75% (M 75%).
Namun perbedaan pertambahan antara Melon
konsentrasi tertentu dan lainnya tidak terlalu
mencolok. Jadi, rata-rata pertambahan tinggi
tanaman Melon sama di tiap konsentrasi. M 50%
dan M 100% mampu memberikan pertumbuhan
terbaik karena pada kedua konsentrasi tersebut,
kebutuhan N, P, dan untuk pertambahan daun
terpenuhi. Untuk diketahui, menurut Sobir (2010)
kebutuhan N, P, dan K untuk Melon sebesar N
78,75 kg/ha, P sebesar 90 kg/ha, dan K sebesar
225 kg/ha.
Dari tabel ANOVA terlihat bahwa nilai sig
untuk uji F adalah 0.145. Karena lebih besar dari
taraf siginificance 0.05, dapat disimpulkan bahwa
tidak ada perbedaan rata-rata jumlah daun untuk
kelima konsentrasi.
Sedang dalam grafik (Lampiran D), dapat
diketahui bahwa konsentrasi yang memberikan
pengaruh jumlah daun terbanyak adalah Melon
dengan penyiraman konsentrasi 50% (M 50%)
dan Melon dengan penyiraman konsentrasi 100%
(M 100%). Konsentrasi tersebut memberikan
pengaruh pertambahan daun optimal karena pada
konsentrasi tersebut, kebutuhan N,P, dan K
tanaman Melon dapat terpenuhi. Menurut Sobir
(2010) kebutuhan N, P, dan K untuk Melon
sebesar N 78,75 kg/ha, P sebesar 90 kg/ha, dan K
sebesar 225 kg/ha. Jika dikonversikan dalam
gr/cm2 kebutuhan N, P, dan K untuk tanaman
Melon adalah N sebesar 0,7875 x 103 gr/cm2, P
sebesar 9 x 10-4 gr/cm2, dan K sebesar 2,25 x 10-3
gr/cm2.
Tabel 4.17 Jumlah Unsur N Yang Diberikan
Selama Penelitian Pada Melon
Konsentrasi
Limbah Yang
Disiram Pada
Melon
25%
50%
75%
100%
N dalam
limbah tahu
(mg/L)
N (gr/cm2)
37.64
0,46 x 10-3
81.78
1 x 10-3
117.86
1,441 x 10-3
164.9
2,017 x 10-3
Sumber: Hasil Perhitungan
Kebutu
Melon
(gr/cm
0,7875
Tabel 4.18 Jumlah Unsur P Yang Diberikan
Selama Penelitian Pada Melon
Konsentrasi
P dalam
Limbah Yang
limbah
Kebutuha
P (gr/cm2)
Disiram Pada
tahu
Melon
Melon
(mg/L)
(gr/cm2)
25%
3.62
0,44 x 10-4
50%
7.29
0,89 x 10-4
9 x 10
-4
75%
11.12
1,36 x 10
100%
15.66
1,92x 10-4
Sumber: Hasil Perhitungan
walaupun sebagai anion tetapi dengan perantara
Ca dapat terikat oleh kompleks liat tanah yang
bertindak sebagai elektro negatif. Untuk
diketahui, dalam penelitian ini tanah yang dipakai
Tabel 4.19 Jumlah Unsur K Yang Diberikan
mengandung unsur P sebesar 0,11%.
Selama Penelitian Pada Melon
4.2.2 Pengaruh Konsentrasi Limbah Terhadap
Konsentrasi
Tinggi Tanaman
K dalam
Limbah Yang
Kebutuhan K A. Kangkung
2
limbah tahu
K (gr/cm )
Disiram Pada
Pertumbuhan optimal tinggi tanaman Kangkung
Melon
(mg/L)
2
Melon
adalah pada Kangkung yang disiram limbah
(gr/cm )
-3
konsentrasi 100% (K 100%). Sedang konsentrasi
25%
175
2,140 x 10
-3
dengan pertambahan tinggi paling kecil adalah
50%
325
3,975 x 10
-3
2,25
x
10
Kangkung yang disiram limbah konsentrasi 0%
75%
475
5,809x 10-3
-3
(K 0%). Namun pertambahan tinggi antara
100%
625
7,643 x 10
Kangkung di semua konsentrasi hampir sama.
Sumber: Hasil Perhitungan
Dari tabel tersebut di atas, dapat diketahui
-3
pertumbuhan tinggi tanaman mulai stagnan pada
Kebutuhan N Melon sebesar 0,7875 x 10
2
hari ke-25. Hal ini berkaitan dengan masa panen.
gr/cm terpenuhi pada Melon yang disiram limbah
Untuk diketahui, masa panen Kangkung adalah 2
konsentrasi 50% (M 50%) yang mengandung N 1
-3
2
bulan. Pembibitan yang dilakukan pada penelitian
x 10 gr/cm . Sedang kebutuhan P Melon sebesar
ini berjalan hingga satu bulan. Setelah
9 x 10-4 gr/cm2 tidak terpenuhi pada ketiga
pembenihan selesai, dilakukan pemberian limbah
konsentrasi. Untuk kebutuhan K yakni sebesar
-3
2
hingga hari ke-25. Kangkung mengalami dua kali
2,25 x 10 gr/cm baru terpenuhi pada M 50%.
penyiraman limbah, yakni pada waktu pembibitan
Hal ini sesuai dengan grafik dan hasil tes
selesai dan pada hari ke-14.
ANOVA yang menunjukkan bahwa pertumbuhan
Dari tabel ANOVA terlihat bahwa nilai sig
optimal pada M 50%.
untuk uji F adalah 0.720, karena lebih besar dari
Menurut Setyowati (2001), jumlah unsur hara
taraf sig 0,1, dapat disimpulkan bahwa tidak ada
yang diberikan wajb sedkit lebih tinggi daripada
perbedaan rata-rata jumlah daun untuk kelima
jumlah yang dibutuhkan. Karena itulah,
konsentrasi.
pertumbahan jumlah daun terbaik ada pada M
Namun, grafik ANOVA menunjukkan bahwa
50% karena terpenuhinya kebutuhan N dan K
konsentrasi yang memberikan pengaruh jumlah
sedikit lebih tinggi dari kebutuhan N dan K
daun terbanyak adalah konsentrasi 100% (K
tanaman Melon. Jika dibandingkan, unsur N yang
100%) dan yang terkecil adalah pemberian limbah
disediakan oleh M 50% adalah 1 x 10-3 gr/cm2
konsentrasi 0% (K 0%). K 100% memberikan
atau 27% lebih banyak dari kebutuhan N Melon.
pengaruh pertambahan daun optimal karena
mampu menyuplai kebutuhan N, P, dan K
Sedang kekurangan unsur P dapat tertutupi
tanaman Kangkung. Seperti yang tertulis pada bab
dengan N yang mencukupi dan berlimpahnya K.
Tinjauan Pustaka, N yang berlimpah menaikkan
Pada M 75% dan M 100% menunjukkan
pertumbuhan dengan cepat. Sedang defisiensi P
pertumbuhan yang tidak seoptimal M 50% akibat
dicirikan dengan tanaman yang tidak tumbuh
N yang terlalu berlebihan. Menurut Setyowati
dengan sepertinya yang berakibat yang hampir
(2001), pemberian konsentrasi yang terlalu besar
sama baik pada pertumbuhan akar maupun pada
bagian atas tanaman. Defisiensi K ditunjukkan
mulai memberikan efek negatif.
lewat daun yang hangus pada sebagian tanaman.
Tanaman Melon tetap bisa tumbuh walaupun
Pada Kangkung, tidak terjadi tanda-tanda
P yang terkandung dalam limbah tahu tidak
defisiensi K dan P. Hal ini menunjukkan
memenuhi. Menurut Setyowati (2001), hal ini
pertumbuhan K 100% mengalami pertumbuhan
disebabkan tanaman tersebut mengambil unsur P
terbaik dibanding lainnya.
yang masih terdapat di dalam tanah. Unsur P
-3
B. Cabai
dapat tersimpan lama dalam tanah karena (PO 4 )
Pertumbuhan optimal tanaman Cabai adalah pada
4.3 Mass Balance
Cabai dengan pemberian limbah konsentrasi 75%
Mass Balance dilakukan untuk mengetahui
(C 75%). Sedang yang paling kecil adalah pada
seberapa besar penyarapan unsur hara pada ketiga
Cabai dengan pemberian limbah konsentrasi 50%
tanaman uji. Berikut merupakan kandungan awal
(C 50%). Namun pada hari ke-25 tanaman 75%
unsur hara tanah yang dipakai untuk penelitian
menunjukkan tanda-tanda rebah. Sedang
ini:
konsentrasi 50% dan 100% mulai menunjukkan
tanda mengalami kematian pada hari ke-20 dan
Tabel 4.30 Kandungan Unsur Hara Tanah Awal
benar-benar mati pada hari ke-25. Sedang
konsentrasi 25% mulai meranggas pada hari keN (%)
P (%)
K (%)
25. Tanaman yang bertahan adalah konsentrasi
Tanah
1.6
0.11
0.29
0%. Tanda-tanda kematian tanaman adalah setelah
Sumber: Analisa Laboratorium
pemberian limbah kedua, jadi kelebihan N karena
penambahan limbah kedua. N yang berlebihan
Penelitian berlanjut dengan menganalisa
menyebabkan sifat toksik pada tanaman.
kandungan N, P, dan K yang terkandung dalam
Dari tabel ANOVA terlihat bahwa nilai
tanah dan juga tanaman Kangkung, Melon, dan
significance untuk uji F adalah 0.307, karena lebih
Cabai. Penelitian ini dibatasi pada tanaman yang
besar dari taraf significance 0,1, dapat
mempunyai perlakuan terbaik dan terendah, baik
disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata
dari segi jumlah daun maupun tinggi tanaman.
jumlah daun untuk kelima konsentrasi.
Pengecualian dilakukan pada konsentrasi Cabai
C. Melon
yang terendah (mati) yakni 100%, karena terlalu
Hasil T-Test untuk tanaman Melon (lebih
kecil, baik daun maupun batangnya, maka tidak
lengkapnya di Lampiran D) antara M 0% dengan
memungkinkan untuk dilakukan analisa N, P, dan
M 25% menunjukkan bahwa M 25% mempunyai
K. Berikut merupakan hasilnya:
rata-rata tinggi lebih besar daripada M 0%. Hal
yang sama juga terjadi pada M 0% dengan Melon
dengan konsentrasi limbah 75% (M 75%) dan
Melon dengan konsentrasi limbah 100% (M
100%).
Tabel 4.31 Tabel Kandungan Unsur Hara Pada
Sedang hasil pengujian dengan T Test antara M
Tanaman Uji
25% dengan Melon dengan konsentrasi limbah
50% (M 50%) adalah M 50% mempunyai rataTanaman
N (%)
P (%)
K (%)
rata tinggi lebih besar daripada M 25%. Hal yang
Kangkung25%
1.57
0.43
0.41
sama berlaku ketika M 25% dibandingkan dengan
Kangkung100%
1.96
0.4
0.72
M100%. Namun, ketika pengujian T-Test M 25%
Cabai0%
0.63
0.7
0.2
dengan M75% menunjukkan bahwa M 25%
mempunyai rata-rata tinggi lebih besar daripada
Melon0%
1.46
0.52
0.2
M 75%.
Melon50%
3.08
0.47
8.64
Pada hasil pengujian dengan T -Test antara M
Sumber: Hasil Perhitungan
50% dengan M 75% adalah M 50% mempunyai
rata-rata tinggi lebih besar daripada M 75%.
Sedang untuk tanah, kandungan unsur haranya
Begitu juga hasil T Test M 50% dengan M 100%
adalah sebagai berikut:
adalah M 50% mempunyai rata-rata tinggi lebih
besar daripada M 100%. Sedang hasil T Test yaitu
Tabel 4.32 Tabel Kandungan Unsur Hara Pada
perbandingan M 75% dengan Melon 100% adalah
Tanah Akhir
M 100% mempunyai rata-rata tinggi lebih besar
Tanah
N (%)
P (%)
K (%)
daripada M 75%.
Kangkung25%
0.68
0.13
Kangkung100%
0.88
0.13
Cabai0%
0.54
0.34
Melon0%
0.12
0.11
Melon50%
0.67
0.06
Sumber: Hasil Perhitungan
Selanjutnya hasil tersebut diatas dibandingkan
dalam mass balance berdasarkan hukum
kesetimbangan massa:
Massa masuk = Massa keluar
Kandungan unsur hara tanah awal + (Kandungan
unsur hara limbah x lama penyiraman) =
Kandungan unsur hara tanah (akhir) + Kandungan
unsur hara dalam tanaman uji (akhir).
Berikut merupakan hasil mass balance tiap
tanaman:
Tabel 4.33 Tabel Mass Balance Kangkung
N (%)
P (%)
K (%)
Minimum
(K25%)
2.35
0.18
4
2.25
0.56
0.65
N (%)
P (%)
K (%)
Optimum
(K100%)
4.90
0.42
12.79
2.84
0.53
0.94
Sumber: Hasil Perhitungan
Berdasarkan tabel mass balance Kangkung
diatas terlihat bahwa kebutuhan N di awal
menjadi turun ketika di akhir. Menurut Setyowati
(2001), penurunan tersebut disebabkan oleh
penyerapan N oleh tanaman Kangkung, namun
juga pencucian akibat penyiraman (tercucui ke
lapisan terbawah) dan adanya aktifitas nitrifikasi
oleh bakteri. Berkurangnya N menurut Sutedjo
(2008) disebabkan volatilisasi karena banyaknya
amonium.
Menurut Setyowati (2001), N berperan dalam
merangsang pembentukan anakan sehingga dapat
disimpulkan bahwa penyerapan tanaman terhadap
limbah lebih cepat jika dibandngkan dengan
penyerapan tanaman terhadap pupuk. Karena
limbah bersifat cair atau dalam bentuk larutan
sehingga mudah diserap oleh tanaman. Dalam
0.24 limbah tahu terdapat senyawa N dalam bentuk N0.22 organik , N-Nitrit (NO 2 ), N-Nitrat (NO 3 ), N+
Amonium (NH 4 ). Senyawa Nitrat (NO 3 ) inilah
0.08
yang dapat diserap langsung oleh tanaman untuk
0.05
memenuhi kebutuhan nutrisinya. Kemudian untuk
0.28 Amonium (NH 4 +) dan Nitrit (NO 2 -) oleh bakteri
melalui proses nitrifikasi akan diubah menjadi
senyawa Nitrat (NO 3 -) yang akhirnya dapat
diserap tanaman pula.
Adapun proses nitrifikasi secara biologis di
dalam tanah menghasilkan Nitrat yang berasal
daria Amoniak dan organik dalam kondisi
aerobik. Di bawah kondisi aerobik tersebut,
senyawa Nitrat tersebut kemudian direduksi
menjadi gas N 2 (sebagai hasil dari proses
denitrifikasi) dan laju penggunaan N ditentukan
dari kesetimbangan N dalam sistem itu sendiri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
denitrifikasi dalam tanah adalah konsentrasi zat
organik, tekstur tanah, kelembaban dan tingginya
lapisan air tanah, pH, dari kondisi netral hingga
alkali, lapisan vegetasi dan temperatur.
Pada tabel mass balance, P dari keadaan awal
menjadi
Awal bertambah pada keadaan akhir. Limbah
tahuAkhir
yang mengandung Phosphat (PO 4 3-) jika
disiramkan ke tanah, tentunya akan menambah
jumlah
Awalunsur P dalam tanah. Karena pada
sebelumnya
Akhir tanah telah mengandung unsur P
yakni 8,758 x 10-4 gr/cm2 (lihat Lampiran E).
Berbeda dengan N yang tidak dapat disimpan
dalam tanah dalam bentuk mineral, tetapi P
tersimpan lama dalam tanah karena daya absorpsi
tanah menahan anion HPO 4 -. Sehingga jika
dilakukan pemberian unsur P ke dalam tanah
maka tanaman akan mengambil sesuai
kebutuhannya (penyiraman limbah tahu ke tanah,
maka PO 4 -3 yang larut ini akan dilhisap oleh
tanaman), selebihnya unsur P akan tersimpan
dalam tanah. Sehingga jika dilakukan pemberian
unsur P ke dalam tanah terus menerus, maka
jumlah unsur P akan terakumulasi dalam tanah.
Hal inilah penyebab P yang bertambah pada mass
balance Kangkung di akhir penelitian. Unsur K
yang menurun di kondisi akhir adalah akibat dari
penyerapan unsur K oleh Kangkung dan tercuci
ke lapisan terbawah.
Adapun mass balance dari tanaman Cabai
adalah sebagai berikut:
Tabel 4.34 Tabel Mass Balance Cabai
N (%)
P (%)
K (%)
C0%
1.60
0.11
0.29
1.17
0.9
0.28
Sumber: Hasil Perhitungan
Sama seperti penjelasan mass balance
tanaman Kangkung, berdasarkan tabel mass
balance Cabai diatas terlihat bahwa kebutuhan N
di awal menjadi turun ketika di akhir. Menurut
Setyowati (2001), penurunan tersebut disebabkan
oleh penyerapan N oleh tanaman Kangkung,
namun juga pencucian akibat penyiraman (tercuci
ke lapisan terbawah) dan adanya aktifitas
nitrifikasi oleh bakteri.
Pada tabel mass balance, P dari keadaan awal
menjadi berkurang pada keadaan akhir. Unsur P
tersebut dihisap oleh Cabai dan sebagian
mengalami pencucian hingga menjadi berkurang
di akhir penelitian. Menurut Sutedjo (2008),
penurunan / kehilangan P tersebut dapat
disebabkan karena pencucian / leaching saat
penyiraman dan penyerapan oleh tanaman.
Hilangnya terjadi karena adanya eksudasi asam
organik oleh akar tanaman, dimana cekaman
lingkungan di daerah perakaran (misalnya
kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi
beberapa macam asam organik seperti asam
malat, asetat, laktat, suksinat yang dapat mengikat
Al, Fe, Mn dan Ca sehingga P lepas ke dalam
larutan tanah. (Handayanto dan Hairiah, 2009)
Menurut Foth (1994) fosfor dari pupuk dapat
bergerak beberapa centimeter dari tempat
peletakannya.
Tabel 4.35 Tabel Mass Balance Melon
N (%)
P (%)
K (%)
Minimum
(M0%)
1.60
0.11
0.29
1.58
0.8
0.25
N (%)
P (%)
K (%)
Optimal
(M50%)
4.05
2.56
10.04
3.75
0.53
8.92
Sumber: Hasil Perhitungan
Berdasarkan tabel mass balance Melon diatas
terlihat bahwa kebutuhan N di awal menjadi turun
ketika di akhir. Menurut Setyowati (2001),
penurunan tersebut disebabkan oleh penyerapan N
oleh tanaman Kangkung, namun juga pencucian
Awal
akibat penyiraman (tercuci ke lapisan terbawah)
Akhir
dan adanya aktifitas nitrifikasi oleh bakteri.
Pada tabel mass balance minimum (M 0%), P
dari keadaan awal menjadi berkurang pada
keadaan akhir. Kehilangan P akibat adanya
penyerapan oleh tanaman Melon. Hal inilah
penyebab P yang berkurang pada mass balance
minimum di akhir penelitian. Unsur P tersebut
dihisap oleh Melon dan sebagian mengalami
pencucian hingga menjadi berkurang di akhir
penelitian. Menurut Foth (1994) fosfor dari pupuk
dapat bergerak beberapa centimeter dari tempat
peletakannya. Menurut Sutedjo (2008), penurunan
/ kehilangan P tersebut dapat disebabkan karena
pencucian / leaching saat penyiraman dan
penyerapan oleh tanaman. Kehilangan P dapat
juga terjadi karena adanya eksudasi asam organik
oleh akar tanaman. (Handayanto dan Hairiah,
2009)
Sedang ada mass balance optimum P di akhir
penelitian mengalami penurunan dibandingkan
kondisi awal. Hal ini disebabkan kebutuhan
Melon akan P yakni sebesar 9 x 10-4 gr/cm2
(Sobir, 2010). M 50% adalah yang optimum
karena tenyata P yang ada tersedia dapat diserap
secara optimal oleh tanaman. Karena itulah
sisanya tidak terlalu banyak seperti P pada M 0%.
Kondisi ini berbeda dengan tanaman Kangkung
dan Cabai, karena kebutuhan P Melon sangat
banyak sehingga Melon optimal dalam menyerap
P baik dari limbah maupun dari tanah. Hal ini
merupakan penjelasan pertumbuhan M 50%
sebagai pertumbuhan terbaik untuk tanaman
Melon. Unsur K yang menurun di kondisi akhir
adalah akibat dari penyerapan unsur K oleh Melon
Awal
dan tercuci ke lapisan terbawah.
Akhir
4.4 Bahasan Mengenai Studi Pemanfaatan
Awal Cair Tahu Untuk Pupuk Cair
Limbah
Akhir
Tanaman
(Studi Kasus Pabrik Tahu Kenjeran)
Limbah cair tahu pada dasarnya tidak
dimanfaatkan oleh pelaku usaha industri. Karena
itu, pemanfaatan limbah tahu sebagai pupuk cair
untuk tanaman dirasa sangat membantu industri
yang merakyat tersebut.
A. Pengisapan Unsur Hara oleh Tanaman
Menurut (Madjid, 2007), berikut
merupakan proses penyerapan unsur hara N, P, K
pada tanaman Kangkung, Cabai, dan Melon.
Unsur hara di dalam tanah berbentuk kation atau
anion seperti NH 4 +, HPO 4 2-, K+, Mg2+, SO 4 2-, dan
sebagainya. Kation atau anion ini berada dalam
larutan tanah atau diadsorpsi oleh kompleks
adsorpsi, yaitu fraksi liat dan humus yang
berdimensi koloid yang biasa disebut kompleks
liat humus.
Antara kation yang berada dalam tanah
dan kompleks adsorpsi terjadi proses pertukaran
kation. Kation-kation yang dapat bertukar
umumnya adalah logam-logam basa, sehingga,
disebut basa-basa dapat tukar. Basa-basa dapat
tukar yang diadsorpsi oleh kompleks koloid tanah
dapat tersedia bagi tanaman. Banyaknya kation
yang tersedia bagi tanaman tergantung pada
kapasitas adsorpsi kation dari kompleks koloid
tanah. Kapasitas adsorpsi adalah kemampuan
tanah untuk mengadsorpsi kation-kation dapat
tukar (exchangeable cations). Besar kapasitas
adsorpsi tergantung pada jenis koloid tanah.
Kation yang diadsorpsi oleh kompleks
koloid tanah merupakan unsur-unsur hara tersedia
bagi tanaman. Adsorpsi oleh kompleks koloid
tanah merupakan unsur-unsur hara tersedia bagi
tanaman. Adsorpsi (penyerapan) hara tamanan uji
berlangsung sebagai berikut :
Kation-kation hasil pertukaran antara
kompleks koloid dan larutan tanah. Kation-kation
berikut ini kemudian bergerak mencapai
permukaan adsorpsi akar tanaman.
Pergerakan unsur hara (kation) ke
permukaan akar terjadi melalui 3 cara, yaitu :
intersepsi (penyergapan) oleh akar, aliran massa
(mass flow), dan difusi.
Intersepsi oleh akar terjadi pada waktu
akar tumbuh. Akar ini memasuki ruangan-ruangan
yang sebelumnya ditempati oleh unsur-unsur hara
yang dapat diadsorpsi oleh tanaman. Oleh karena
itu, antara akar dan unsur hara harus terjadi
kontak sangat dekat sehingga ion-ion yang
terdapat dipermukaan akar bertukar dengan ionion pada permukaan kompleks adsorpsi. Pada cara
intersepsi, pertukaran terjadi tanpa melalui
larutan, jadi langsung dari fase padat.
Pada cara aliran massa, air mengalir ke
akar atau melalui akar. Air yang mengalir ini
mengandung ion-ion unsur hara. Jumlah dari
suatu unsur hara tertentu yang terbawa ke
permukaan akar melalui proses ini disebut
terbawa oleh aliran massa. Selanjutan unsur-unsur
hara tersebut diadsorpsi oleh akar tanaman.
Pada cara difusi, unsur hara masuk ke
dalam akar dengan proses difusi. Unsur-unsur
hara yang disediakan dengan cara intersepsi dan
aliran massa umumnya adakah Ca, Mg, Zn, Cu, B,
Fe, dan juga N. Sedangkan P dan K diambil
tanaman dengan cara difusi.
N diserap oleh tanaman uji dengan cara
intersepsi. Unsur N tersebut berasal dari limbah
tahu dan tanah yang menjadi media tanam.
Selanjutnya, N tersebut digunakan tanaman untuk
memacu pertumbuhan daun dan batang, serta
membantu pembentukan akar. Pemakaian N oleh
tanama terlihat dari mass balance antara asupan N
yang diberikan dengan N yang terkandung dalam
tanaman pada masa akhir penelitian berbeda.
Demikian juga yang terjadi pada mass balance P
dan K.
B. Perhitungan Pemanfaatan Limbah Tahu Skala
Pabrik
Misal pabrik tahu menghasilkan limbah cair 1 m3,
maka:
1 m3 = 1.000.000 ml.
Satu tanaman melon yang optimal (M 50%) dalam
satu polybag memerlukan penyiraman sebanyak 3
kali, tiap kali penyiraman memerlukan limbah
tahu 250 ml, maka: 250 ml x 3 kali = 750 ml.
Jadi satu pabrik tahu dapat memanfaatkan:
1.000.000 ml : 750ml = 1333 polybag melon.
Sedang untuk cabai perhitungannya adalah:
Satu tanaman cabai yang optimal (C 50%) dalam
satu polybag memerlukan penyiraman sebanyak 1
kali, tiap kali penyiraman memerlukan limbah
tahu 250 ml, maka: 250 ml x 1 kali = 250 ml.
Jadi satu pabrik tahu dapat memanfaatkan:
1.000.000 ml : 250ml = 4000 polybag cabai.
Pada kangkung perhitungannya adalah:
Satu tanaman kangkung yang optimal (K 100%)
dalam satu polybag memerlukan penyiraman
sebanyak 1 kali, tiap kali penyiraman memerlukan
limbah tahu 100 ml, maka: 100 ml x 2 kali = 200
ml.
Jadi satu pabrik tahu dapat memanfaatkan:
1.000.000 ml : 200 ml = 5000 polybag kangkung.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berikut merupakan kesimpulan dari
perencanaan ini adalah sebagai berikut:
Besar kandungan unsur hara N, P, K dan pH yang
terdapat dalam limbah cair tahu adalah N
sebesar 164,9 ppm, P sebesar 15,66 ppm, K
sebesar 625 ppm dan pH sebesar 3,9.
Kandungan tersebut dapat dimanfaatkan secara
optimal oleh Kangkung pada konsentrasi 100%
(penyiraman 2 kali), Melon pada konsentrasi
50%(penyiraman 3 kali) dan cabai pada
konsentrasi 50% (penyiraman 1 kali).
Berdasarkan T-Test yang membandingkan tiap
dua tanaman dengan konsentrasi berbeda serta
uji ANOVA, variasi konsentrasi limbah tahu
mempengaruhi pertumbuhan tanaman uji.
Konsentrasi terbaik untuk Kangkung adalah
konsentrasi 100% dan Melon 50% dengan satu
kali penyiraman limbah. Khusus untuk
tanaman Cabai, konsentrasi terbaik yaitu
konsentrasi 50% dan penyiraman limbah
sebanyak hanya satu kali.
Saran
Adapun saran dari perencanaan ini adalah
sebagai berikut:
1. Penelitian selanjutnya agar melakukan
penelitian penerapan pada lahan dengan
memperhatikan jarak tanam.
2. Penyiraman limbah tahu untuk tanaman
Kangkung sebaiknya
dua kali dengan
konsentrasi limbah sebesar 100% dan
ditambahkan pupuk P sebesar 15,51 x 10-4
gr/cm2
sedang untuk tanaman Melon
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
sebaiknya tiga kali dengan konsentrasi limbah
sebesar 50% dan ditambahkan pupuk P
sebesar 7,08 x 10-4 gr/cm2. Pada tanaman
Cabai sebaiknya mendapat penyiraman
limbah tahu sebanyak satu kali dengan
konsentrasi 50% sesuai dan ditambahkan
pupuk P sebesar 1,65 x 10-4 gr/cm2 . Hal ini
sesuai dengan kebutuhan N, P dan K masingmasing tanaman.
Penambahan pH hingga menjadi 6 pada
limbah tahu sebaiknya menggunakan kapur.
Penelitian selanjutnya agar melakukan
penelitian agar memberikan pupuk P sebagai
tambahan nutrisi P agar mendapatkan
pertumbuhan yang lebih optimal.
Penelitian
selanjutnya
dapat
mengujicobakan limbah cair tahu pada
tanaman potensial ekonomis lainnya atau
tanaman jenis lain.
Penelitian selanjutnya agar mencoba
pemanfaatan limbah cair tahu untuk keperluan
yang lain misalnya dicampur dengan limbah
organik lain untuk memberikan pengaruh
kesuburan lebih optimal.
Penelitian selanjutnya agar mengurangi
frekuensi penyiraman limbah khusus untuk
tanaman Cabai.
Pelaku industri dan masyarakat agar
memanfaatkan limbah tahu yang sebagai
limbah cair untuk tanaman.
Pemerintah agar menyosialisasikan
potensi limbah tahu untuk pupuk cair
tanaman.
5.2
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Kemas. 2005. Dasar - Dasar Ilmu Tanah.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Agromedia, Redaksi. 2007. Petunjuk
Pemupukan. Jakarta: Agromedia
Pustaka.
Anonim. 2009. Pupuk Cair Organik.
www.scribd.com/doc/43991654/PUPUKCAIR-ORGANIK. Diakses tanggal 3
Mei 2011 pukul 15.00 WIB.
Anonim. 2010. Budidaya Hortikultura di
Musim Hujan Kendala dan Kiat
Mengatasinya. Budidaya.blogspot.com.
Diakses tanggal 3 Mei 2011 pukul 17.00
WIB.
Anonim. 2011. Pupuk Cair.
images.redhr.multiply.multiplycontent.co
m. Diakses tanggal 3 Mei 2011 pukul
18.00 WIB.
Anonim. 2007. Kandungan Limbah Tahu.
http://digilib.unimus.ac.id/files. Diakses
tanggal 14 Mei 2011 pukul 17.00 WIB.
Anonim. 2006. Pupuk Bokashi.
http://www.ecotani.com/2011/04/liquidbokashi-ecotani-elements.html
Damayanti, A., Hermana, J., dan Masduqi, A.
Oktober. 2004. Analisis Resiko
Lingkungan Dari Pengolahan Limbah
Pabrik Tahu Dengan Kayu Apu (Pistia
Stratiotes L.). Jurnal Purifikasi, Vol.5,
No.4,: 151-156.
Foth, Henry. 1994. Dasar – Dasar Ilmu Tanah,
Edisi Keenam. Diterjemahkan oleh
Soenartono Adisoemarto. Jakarta:
Penerbit Erlangga, PT. Gelora Aksara
Pratama
Handajani, Hany. 2006. Pemanfaatan Limbah
Cair Tahu Sebagai Pupuk Alternatif
Pada Kultur Mikroalga Spirullina sp.
Jurnal Protein Vol.13, No.2,: 188-193.
Handayanto dan Hairiah. 2009. Biologi Tanah
Landasan Pengelolaan Tanah Sehat
Cetakan ke 2. Yogyakarta: Pustaka
Adipura
Haryoto. 2009. Bertanam Kangkung
Raksasa di Pekarangan. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius
Hermana. 1985. Pengolahan Kedelai
Menjadi Berbagai Bahan Makanan.
Pusat Penelitian dan Pengembangan
Tanaman Pangan. Bogor.
Islami, T., dan Utomo, W.H. 1995. Hubungan
Tanah, Air dan Tanaman. Semarang:
IKIP Press.
Kartika. 2010. Manual Pengolahan Data
Statistik Menggunakan SPSS.
Surabaya
Kusandriani, Y. 1996. Pengaruh naungan
kasa terhadap hasil beberapa
kultivar cabai.
Lestari. 1994. Pembuatan Nata De Coco Dari
Air Kelapa.
http://lestarimandiri.org/id/homeindustri/86-home-industri/172pembuatan-nata-de-coco-dari-airkelapa.html
Lingga, P. 1995. Petunjuk Penggunaan
Pupuk. Cetakan ke-10. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Mackentum, KM, 1969. The Practice of
Water Pollution Biology. United
State Departemen of The Interior.
Federal Water Pollution Controll
Administration. Devision of The
Technikal Support.
Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.
Bahan Ajar Online Fakultas
Pertanian Universitas Sriwijaya.
http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/.
Nilakandi, Putri. 2005. Studi Pemanfaatan
Lumpur dari Sludge Drying Bed
IPAL PT. BTDC Untuk Pupuk
Tanaman. Surabaya: Tugas Akhir,
Teknik Lingkungan, FTSP, ITS
Notohadiprawiro, Tejoyuwono. 1998. Tanah
dan Lingkungan. Jakarta: Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi Departemen
Pendidikan Dan Kebudayaan
Nurlila, Ratna Umi. 2010. Pertumbuhan
vegetatif, kandungan N-total dan Bkaroten tanaman sawi (Brassica juncea
L.) hasil pelakuan kompos dan
kombinsi limbah cair tahun dan limbah
cair sagu sebagai pupuk organik.
Poerwowidodo. 1992. Metode Selidik Tanah.
Surabaya: Usaha Nasional
Philip, Anthony. 2001. Tugas Akhir
Pertumbuhan Bed Lumpur Kaitannya
Dengan Produksi Biogas Pada
pengolahan Limbah Pabrik Tahu
Dengan Reaktor Anaerobik Aliran
Horisontal. Surabaya: Tugas Akhir,
Teknik Lingkungan, FTSP, ITS
Rahman, Syaiful. 2010. Meraup Untung
Bertanam Cabai Rawit Dengan
Polybag. Yogyakarta: Lily Publiser
Rosmarkan, A dan N. W. Yuwono. 2002. Ilmu
Kesuburan Tanah. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius
Sarwono dkk. 2004. Membuat Aneka Tahu.
Jakarta: Penebar Swadaya.
Sutanto, Rachman. 2005. Dasar - Dasar Ilmu
Tanah, Konsep dan Kenyataan.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Sanchez, Pedro A. 1993. Sifat dan Pengelolaan
Tanah Tropika. Bandung: Penerbit ITB.
Setyowati, Eka. 2001. Tugas Akhir Uji
Pemanfaatan Unsur N dan P dalam
Limbah Tahu Sebagai Pupuk Pada
Tanaman Padi. Surabaya: Tugas Akhir,
Teknik Lingkungan, FTSP, ITS
Siswoyo, Eko. 2000. Tugas Akhir Pengaruh
Konsentrasi Air Limbah Pabrik Tahu
Tergadap Laju Pertumbuhan Relatif
Daun Tanaman Bayam Cabut.
Surabaya: Tugas Akhir, Teknik
Lingkungan, FTSP, ITS
Suryaningtyas, S. 2004. Studi Pemanfaatan
Lumpur Organik dari Unit
Sedimentasi Pertama Pengolahan Air
Buangan PT. Widatra Bhakti Pandaan
untuk Pupuk Tanaman. Surabaya.
Tugas Akhir, Teknik Lingkungan, FTSP,
ITS
Sutedjo, M.M. 2008. Pupuk dan Cara
Pemupukan. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Triawati, A. 2010. Kualitas Ligkungan Sekitar
Pabrik Tahu dan Pemanfaatan Limbah
Tahu Sebagai Pupuk Cair Organik
dengan Penambahan EM4 (Effective
Microoganism). Surabaya. Tugas Akhir,
Fakultas Kesehatan Masyarakat, UNAIR
Download