ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG - e

advertisement
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STATUS
KEMISKINAN RUMAHTANGGA DI KOTA PARIAMAN
Oleh : Haris Mendra, Syamsul Amar
ABSTRAK
The purpose of this research are to analysis the influence of education of
household head, working status of household head, and family size in Pariaman city.
This analysis use Logistic Regression Model to show the probabilities of poverty with
Wald Test analysis to know influence of independent variabel partially effect on
dependent variabel, Chi-Square analysis to know the influence of independent variabel
simultaneously effect on dependent variabel. Then use Odd Ratio analysis to know the
probabilities of poverty.
The result of this study found that the influence of education of household head
to poverty is negative and significant, this mean is the more higher of education of
household head will effect the more lower of poverty. The influence of working status of
household head to poverty is negative and significant too, this mean is more formal the
working status of household head will effect more lower of poverty. Then, the influence
of family size to poverty is negative and significant too, the meaning is more small of the
number of the family will effect more lower of poverty.
Cause of education of household head, working status of household head and
fa,ily size effecly more andt significant to poverty in Pariaman city, so that the
Government should more priority the policies that can increase the capabilities of the
peoples in the city to the three variabel, example with give more practice to increase the
capability, education to setting the maternity and many more.
Keywords : Poverty, education of household head, working status of household
Head, and family size.
menimbulkan dampak negatif yang dapat
1. PENDAHULUAN
Salah satu sasaran pembangunan
nasional
adalah
menurunkan
berpengaruh
terhadap
pembangunan
jumlah
ekonomi. Kemiskinan juga merupakan
penduduk miskin, karena kemiskinan
salah satu indikator sosial yang paling
1
penting dalam pembangunan ekonomi
banyak aspek. Dilihat dari kebijakan
(Todaro, 2000).
umum, maka kemiskinan meliputi aspek
Badan
Pusat
mendefinisikan
kondisi
Statistik
miskin
kehidupan
primer yang berupa miskin akan aset,
(2005)
adalah
suatu
yang
serba
organisasi sosial politik dan pengetahuan
serta keterampilan; dan aspek sekunder
berupa dimensi kemiskinan yang saling
kekurangan yang dialami oleh seseorang
berkaitan secara langsung maupun tidak
atau rumah tangga sehingga tidak mampu
langsung.
memenuhi kebutuhan minimal atau layak
kekurangan
menentukan siapa saja yang tergolong
huruf,
atau
yang kondisinya kurang sehat, penyakit
teorema tertentu untuk membuat satu
dan perawatan kesehatan yang kurang
garis kemiskinan. Mereka yang berada di
baik, tingginya tingkat kematian bayi dan
atas garis kemiskinan tidak digolongkan
rendahnya tingkat harapan hidup (World
miskin, sebaliknya mereka yang berada
Bank, 1990 : 3).
garis kemiskinan tergolong
miskin. Garis kemiskinan tersebut dapat
Dalam
realitanya
penanggulangan
bentuk,
kemiskinan yang selama ini dilakukan
seperti jumlah pendapatan dalam unit
oleh pemerintah ternyata belum dapat
uang, ataupun konsumsi kalori per hari.
mencapai hasil yang optimal. Jumlah
Bentuk kemiskinan yang sering terjadi
penduduk miskin memang telah dapat
adalah
yaitu
dikurangi secara berarti akan tetapi dari
kemiskinan yang timbul bukan karena
jumlahnya masih cukup besar. Secara
sifatnya individual tetapi kemiskinan
kualitas, kehidupan rumah tangga miskin
yang dialami sekelompok masyarakat
nyaris tidak mengalami perubahan karena
dan bukan pula karena satu sebab, tetapi
masih
karena berbagai sebab, hal inilah yang
inevolutif. Hal ini disebabkan oleh
menyebabkan kemiskinan itu bersifat
penyeragaman
multidimensional,
memecahkan permasalahan kemiskinan
kemiskinan
berbagai
buta
hidup yang serba kotor atau perumahan
diperlukan adanya suatu batasan dan
dalam
gizi,
pendidikan yang rendah, lingkungan
miskin dalam suatu perekonomian, sebab
dinyatakan
kemiskinan
dengan mudah dapat diketahui seperti
bagi kehidupannya. Tidaklah mudah
dibawah
Gejala-gejala
struktural
artinya,
karena
saja
kebutuhan manusia yang bermacam-
yang
macam maka kemiskinanpun mempunyai
Padahal
2
bersifat
dihadapi
setiap
subsisten
kebijakan
pada
dalam
setiap
daerah
dan
daerah.
mempunyai
karakteristik yang berbeda, baik sumber
Baratmemiliki 4 kecamatan yang terdiri
daya alam, sumber daya manusia maupun
atas 71 kelurahan/desa dengan jumlah
budaya.
upaya
penduduk sebesar 81.806 jiwa, menurut
penanggulangan kemiskinan pada setiap
data BPS Kota Pariaman berdasarkan
daerah tentu membutuhkan pendekatan
hasil
yang berbeda pula.
Penduduk
Dengan
demikian
pendataan
untuk
Sosial
Ekonomi
Bantuan
Langsung
Tunai (BLT) pada tahun 2012 terdapat
Kota Pariaman sebagai salah satu
sebanyak 3.314 rumah tangga miskin
bagian di wilayah propinsi Sumatera
dengan rincian :
Tabel. 1
Rumah Tangga Miskin dan Rumah Tangga Tidak Miskin
Kota Pariaman Tahun 2012
No
Kecamatan
Rumahtangga
Rumahtangga tidak
miskin
miskin
Jumlah
Rumahtangga
Jumlah
%
Jumlah
%
1
Pariaman Utara
4.152
1.054
25,39
3.098
74,61
2
Pariaman Tengah
6.469
747
11,55
5.722
88,45
3
Pariaman Selatan
4.101
731
17,82
3.370
82,18
4
Pariaman Timur
3.787
782
20,65
3.005
79,35
18.509
3.314
17,90
Jumlah
Sumber : BPS Kota Pariaman
15.195
82,10
2012. Banyaknya rumahtangga miskin di
Kota Pariaman tahun 2012 yaitu sebesar
Dari tabel 1.1 dapat digambarkan
17,90 % atau sebanyak 3.314 rumah
tingginya tingkat perbandingan antara
tangga dari 18.509 rumah tangga yang
rumahtangga miskin dan rumahtangga
ada di kota Pariaman. Rumah tangga
tidak miskin Kota Pariaman pada tahun
3
miskin di Kota Pariaman tersebar di
10.000,- / kg, jadi batas garis
empat kecamatan.
kemiskinan adalah
Rp.
4.800.000,-.
Banyaknya rumah tangga miskin
di Kota Pariaman (17,90%) diduga
b. Tingkat
Pendidikan
kepala
dipengaruhi oleh berbagai faktor antara
keluarga
lain tingkat penguasaan teknologi, luas
Kepala Rumahtangga dengan
lahan yang dimilki, tingkat pendidikan,
tingkat pendidikan SLTP ke
tingkat
bawah digolongkan pendidi-kan
kesehatan,
ukuran
keluarga,
pekerjaan kepala keluarga dan efektivitas
rendah
kebijakan
oleh
tangga
pemerintah. Hal ini ditandai dengan
SLTA
kehidupan
pendidikan tinggi.
yang
dilaksanakan
masyarakat
yang
masih
bersifat tradisional dan minimnya akses
masyarakat
terhadap
segala
kepala
dengan
ke
atas
Rumah-
pendidikan
digolongkan
c. Status Pekerjaan
macam
Status pekerjaan dibedakan atas
fasilitas umum.
dua, yakni formal dan informal.
Status
tetap
formal dan status pekerjaan
yang digunakan adalah data primer
lainnya dikategorikan sebagai
dengan menyebar kuesioner dan juga
pekerja informal.
data sekunder dengan cara mengumpulkan data dari berbagai sumber seperti
d. Ukuran Keluarga
BPS dan institusi lainnya.
Ukuran keluarga dikelompokkan
menjadi dua, keluarga dengan
1. Definisi Operasional Variabel
jumlah anggota rumahtangga 1-
a. Status Kemiskinan
4 orang dikategorikan keluarga
Suatu rumahtangga dinyatakan
kecil,
pendapatan
Harga
dan
keluarga
dengan
jumlah anggota keluarga ≥ 5
masyarakat kurang dari 480
kg/kapita/tahun.
karyawan
dikategorikan sebagai pekerja
Penelitian ini bersifat kualitatif, data
apabila
pekerjaan
pemerintah/swasta/buruh
2. METODE PENELITIAN
miskin
dan
orang dikategorikan
beras
besar.
rata-rata di daerah penelitian Rp.
4
keluarga
penelitian
2. Kerangka Berfikir
ini
faktor
penyebab
Kemiskinan rumahtangga disebab-
tersebut dibatasi hanya pada tiga
kan oleh banyak faktor dan masing-
variabel, yakni variabel pendidikan
masing saling terkait. Pendekatan
kepala keluarga, variabel status
yang digunakan untuk mengetahui
pekerjaan
dan
faktor
keluarga.
Kerangka
yang
mempengaruhi
variabel
ukuran
pemikiran
kemiskinan rumah tangga memang
teoritis dalam penelitian ini dapat
cukup
digambarkan sebagai berikut :
banyak,
tetapi
dalam
PENDIDIKAN KEPALA
KELUARGA
STATUS
KEMISKINAN
RUMAH
STATUS PEKERJAAN
TANGGA
UKURAN KELUARGA
Gambar. 1
Kerangka Penelitian
Kerangka penelitian ini meng-gambarkan
menunjukkan
hubungan antara tingkat pendidikan,
rumahtangga miskin. Probabilitas ini
status pekerjaan dan ukuran keluarga
didasarkan pada asumsi mengenai
terhadap kemiskinan rumah-tangga.
variabel
random
berbentuk
3. Model Analisis
probabilitas
logistic
yang
suatu
diteliti
distribution
function model dengan persamaan
Teknik Analisis
sebagai berikut :
Analisis ini menggunakan analisis
Pi
Logistic Regression Model untuk
5
Li = Ln
-------
= ß0 + ß1X1
b. Uji Chi Square
Uji χ2 (chi square test) digunakan untuk
+ ß2X2 + ß3X3 + ε
mengetahui pengaruh variabel bebas
1 – Pi
secara bersama-sama (simultan) terhadap
Uji Odd Ratio
variabel terikat.
Uji Odd Ratio digunakan untuk
Uji x2 dilakukan dengan membandingkan
mengetahui
χ2-hitung dengan χ2-tabel.
sebuah
rumahtanggamiskin
atau
miskin
menggunakan
dengan
tidak
Dengan
derajat
kebebasan
sebanyak
variabel bebas dan tingkat kepercayaan
persamaan :
(α) 0,05. Jika nilai χ2-hitung lebih besar
OR = ebi
dari nilai χ2-tabel maka secara bersamasama
variabel
bebas
mempunyai
pengaruh signifikan terhadap variabel
Uji Hipotesis
terikat. Adapun untuk mendapatkan nilai
χ2-hitung
a. Uji Wald Test
Digunakan
pengaruh
untuk
variabel
rumus
sebagai
berikut :
mengetahui
bebas
digunakan
secara
individu (parsial) terhadap variabel
terikat. Wald Test ini dilakukan
dengan membandingkan nilai Wald
χ2 =
Test dengan nilai t tabel. Nilai t tabel
didapat dengan cara N – df dengan
G
(Pi – Pn)2
Σ
Ni------------t=1
tingkat kepercayaan (α) 0,05 dan
untuk menghitung t-test diperoleh
dengan rumus :
ßi
Wald Test = ------Seßi
6
Pn (1 – Pn)
Variabel
Pendidikan
(X1)*
Status
Pekerjaan
(X2)*
Ukuran
Keluarga (X3)*
Konstanta
Koefe
sien
(B)
Standar
d
Error
Wald-test
Signifika
nsi
Odds
Ratio
2,918
-1,868
-1,745
4,438
0,633
0,282
0,286
0,644
21,238
44,004
37,181
47,456
0,000
0,000
0,000
0,000
0,054
0,154
0,175
χ2 dengan df = 3 sebesar 189,622
3. HASIL DAN PEMBAHASANHASIL
Tabel 2
Hasil Penghitungan Regresi Logistik
7
χ2-tabel dengan df = 3 dan nilai α = 5 persen sebesar 7,815
Catatan : *) Signifikansi pada tingkat kesalahan (α) sebesar 0,05
a. Uji Wald Test
terhadap
rumahtangga di Kota Pariaman.
Tingkat Pendidikan
Dari hasil regresi didapat
nilai
koefesien
variabel
pendidikan sebesar
-2,918
dan
standar
error
Status Pekerjaan
Dari hasil regresi terlihat
bahwa koefesien regresi variabel
koefesien
status pekerjaan tercatat sebesar -
sebesar 0,633. Ini berarti bentuk
pengaruh
variabel
1,868
tingkat
kedua
negatif.
dengan
tingkat
pendidikan
0,282.
Ini
terhadap
kemiskinan
adalah
negatif.
Berdasarkan
kedua
parameter tersebut diperoleh nilai
signifikansi 0,000. Ini berarti
tingkat
sebesar
error
status pekerjaan kepala keluarga
tersebut
diperoleh nilai Wald Test sebesar
21,238
standar
berarti bentuk pengaruh variabel
Berdasarkan
parameter
dengan
koefesien
pendidikan terhadap kemiskinan
adalah
kemiskinan
Wald Test sebesar 44,044 dengan
kepala
tingkat signifikansi 0,000. Ini
keluarga berpengaruh signifikan
8
berarti status pekerjaan kepala
dan
keluarga berpengaruh signifikan
bersama-sama
terhadap
signifikan terhadap rumahtangga
kemiskinan
rumah-
tangga di Kota Pariaman.
ukuran
keluarga
secara
berpengaruh
miskin di Kota Pariaman.
c. Uji Odd Ratio
Ukuran Keluarga
Tingkat Pendidikan
Dari hasil regresi terlihat
bahwa koefesien regresi variabel
Nilai Odd-Ratio (OR) dari
ukuran keluarga tercatat sebesar -
variabel
1,745
error
keluarga adalah sebesar 0,054.
Ini
Artinya, kepala keluarga yang
berarti bentuk pengaruh variabel
berpendidikan SLTA ke atas
ukuran
terhadap
yang berpeluang untuk berada
negatif.
dalam status kemiskinan adalah
parameter
sebesar 0,054 kali dibandingkan
tersebut diperoleh nilai Wald
dengan kepala keluarga yang
Test
berpendidikan SLTP ke bawah.
dengan
koefesien
standar
sebesar
0,286.
keluarga
kemiskinan
adalah
Berdasarkan
kedua
sebesar
tingkat
37,181
signifikansi
dengan
sebesar
pendidikan
kepala
Status Pekerjaan
0,000. Ini berarti ukuran keluarga
berpengaruh signifikan terhadap
Nilai Odd-Ratio (OR) dari
kemiskinan rumahtangga di Kota
variabel status pekerjaan kepala
Pariaman.
keluarga adalah sebesar 0,154.
Artinya, kepala keluarga yang
b. Uji Chi Square
berstatus
Dari hasil regresi diperoleh nilai
χ2–hitung
sebesar
Sedangkan nilai χ2
pekerja
189,622
–tabel
formal
tangganya
dengan
sebagai
yang
rumah-
berpeluang
untuk
berada dalam status kemiskinan
df=3 dan nilai α = 5 persen
adalah
sebesar 7,815 sehingga nilai χ2hitung>
pekerjaan
sebesar
dibandingkan
χ2–tabel. Dengan demikian
0,154
dengan
kali
kepala
keluarga yang status pekerjaan-
seluruh variabel yakni pendidikan
nya sebagai pekerja informal.
kepala keluarga, status pekerjaan
9
Sejalan dengan pendapat
Ukuran Keluarga
yang dikemukakan Comb dan
Nilai Odd-Ratio (OR) dari
Ahmed (1985) yang menge-
variabel ukuran keluarga adalah
sebesar
0,175.
rumahtangga
keluarganya
yang
1-4
berada
Pendidikan
berpeluang
dibandingkan
rumahtangga
belajar seumur hidup bagi setiap
orang
ukuran
dan
pengetahuan,
sikap
dan
pengertian yang diperoleh dari
pengalaman
a. Pengaruh Tingkat Pendidikan
Kepala
Keluarga
terhadap
Status
Kemiskinan
Rumah-
semakin
selalu harus diartikan sebagai
pendidikan formal dalam rangka
meningkatkan wawasan masya-
besar
rakat,
peluangnya untuk mendapatkan
yang
lebih
melalui
baik
pilan
mendapatkan
juga
dilakukan
pendidikan
guna
produktifitas
pendapatan yang lebih besar, jika
informal
meningkatkan
dalam
meningkatkan
pendapatannya lebih besar berarti
rangka
pendapatan
masyarakat.
semakin besar kemampuannya
memenuhi
dapat
seperti meningkatkan keteram-
sehingga semakin besar peluanguntuk
ling-
kerabat. Jadi, pendidikan tidak
Semakin tinggi pendidikan
seseorang
sehari-hari,
kungan, teladan dan perilaku
tangga di Kota Pariaman
untuk
mencari
keterampilan,
Pembahasan
nya
dalam
menghimpun
keluarganya 5 orang ke atas.
pekerjaan
atas
yang merupakan suatu proses
dengan
dengan
terdiri
pendidikan formal dan informal
status
kemiskinan adalah sebesar 0,175
kali
pendidikan
dimana, kapan dan siapa saja.
yang
dalam
bahwa
adalah sama dengan belajar,
ukuran
orang
rumahtangganya
untuk
mukakan
Artinya,
kebutuhan
Hasil temuan menunjukkan
hidup rumahtangganya, sehingga
bahwa
menyebabkan
mempengaruhi
keluarganya
menjadi tidak miskin.
tingkat
pendidikan
kemiskinan
rumahtangga di Kota Pariaman
10
secara signifikan dan negatif,
dari kepala rumahtangga sebagai
artinya semakin tinggi tingkat
penentu
pendidikan kepala rumahtangga
yang diterima oleh rumahtangga.
suatu keluarga semakin kecil
Semakin
peluang rumahtangga tersebut
kepala
untuk berada pada kemiskinan.
besar pula kemampuan rumah-
Dengan adanya temuan ini maka
tangga untuk memenuhi kebutu-
dapat dikatakan bahwa faktor
han
pendidikan
keluarga
rumahtangga yang bekerja pada
yang
sector formal biasanya mem-
yang
peroleh pendapatan yang lebih
cukup berarti dalam pemben-
besar dan tetap dibanding kepala
tukan rumahtangga miskin di
rumahtangga yang bekerja pada
Kota Pariaman. Untuk itu, dalam
sector informal sehingga bisa
rangka meningkatkan wawasan
dikategorikan
dan
kepala
merupakan
faktor
memberikan sumbangan
besarnya
pendapatan
besar
pendapatan
rumahtangga
semakin
rumahtangganya.
Kepala
bahwa
rumah-
pengetahuan
masyarakat
tangga yang kepala rumahtang-
dilakukan
sosialisasi
ganya bekerja pada sector formal
tentang berbagai keterampilan
termasuk kepada rumahtangga
praktis yang dapat menunjang
yang tidak miskin.
perlu
kegiatan usaha yang dilakukan
Sejalan dengan penelitian
masyarakat.
ini
yang
menyatakan
bahwa
Pekerjaan
status pekerjaan kepala rumah-
Rumahtangga
tangga berpengaruh signifikan
terhadap Status
Kemiskinan
terhadap rumahtangga miskin di
Rumahtangga
di
Kota Pariaman, dengan status
b. Pengaruh
Status
Kepala
Kota
pekerjaan
Pariaman
Status Pekerjaan kepala
akan
informalcenderung
berpengaruh
terhadap
rumahtangga berpengaruh ter-
jumlah pendapatan rumahtangga
hadap kemiskinan rumahtangga,
yang
karena
berdampak
sumber
penghasilan
utama suatu rumahtangga adalah
11
pada
akhirnya
pada
akan
kurang/tidak
mampunya rumahtangga untuk
tetap.
membiayai kebutuhan hidupnya.
pekerja yang termasuk ke dalam
sektor
Dengan kepala keluarga
pendapatan yang tetap. Bahkan
dan pendapatan yang diperoleh
untuk
juga tidak menentu. Hal ini
karyawan
pemenuhan kebutuhan rumah-
c. Pengaruh
teratur.
Ukuran
Rumahtangga
menyebabkan tidak teraturnya
Pariaman
juga pengeluaran atau konsumsi
ini
Keluarga
terhadap Status Kemiskinan
Pendapatan yang tidak teratur
hal
pemerintah
mendapatkan pensiunan.
tentunya akan berakibat pada
rumahtangga,
umumnya
produksi barang dan jasa dengan
memiliki pekerjaan yang tetap
tidak
formal
pekerjaan yang mengandalkan
informal cenderung dia tidak
yang
dengan
pekerjaan yang dilakukan adalah
yang memiliki status pekerjaan
tangga
Dibandingkan
di
Kota
Jumlah anggota rumah-
akan
tangga juga menentukan miskin
menyebabkan tidak teraturnya
atau tidaknya suatu rumahtangga,
juga
kebutuhan
semakin besar jumlah anggota
rumahtangga, ini dapat menye-
rumahtangga semakin besar pula
babkan
biaya yang diperlukan untuk
pemenuhan
keluarga
cenderung
menjadi rumahtangga miskin.
memenuhi
pendapat
(2001;67)
yang
rumahtangga
Barthos
menentu
melakukan
pada
kegiatan
umumnya
dengan
jumlah
anggota rumahtangga yang lebih
menyatakan
dari 5 orang hanya sanggup
bahwa pada dasarnya semakin
tidak
rumah-
tangganya, sehingga seringkali
Hasil temuan ini sejalan
dengan
kebutuhan
untuk
seseorang
makanan
bekerja,
memenuhi
saja,
kebutuhan
tidak
mampu
untuk memenuhi kebutuhan non
mereka
makanan. Rumahtangga miskin
merupakan bagian masyarakat
menanggung beban yang lebih
yang tidak beruntung, karena
besar
tidak memiliki pendapatan yang
untuk
memenuhi
kebutuhan hidupnya dibanding
12
rumahtangga yang tidak miskin
rumahtangga, semakin banyak
karena
biaya
jumlah
yang
maka
banyaknya
pengeluaran
konsumsi
harus ditanggung nya.
pendapatan
dengan
anggota
rumah
banyaknya
tangga
rumahtangga,
dalam
suatu
maka
akan
semakin
yang
meningkat,
maka tidak jarang rumahtangga
berpengaruh signifikan terhadap
Artinya,
akan
harus
tersebut tidak diiringi dengan
keluarga)
rumahtangga miskin.
juga
yang
meningkat. Apalagi rumahtangga
jukkan bahwa jumlah anggota
(ukuran
rumahtangga
kebutuhan
dipenuhi
Penelitian ini juga menun-
keluarga
anggota
yang seperti ini masuk dalam
kategori miskin atau berada di
bawah garis kemiskinan
4.
PENUTUP
berpengaruh signifikan terhadap
Kemiskinan
di
Kota
peningkatan pengeluaran yang
Pariaman dipengaruhi oleh tingkat
harus dipenuhi oleh rumahtangga
pendidikan, status pekerjaan dan
Demikian
juga
sebaliknya,
ukuran keluarga suatu rumahtangga.
semakin
sedikit
anggota
Semakin tinggi tingkat pendidikan
rumahtangga dalam suatu rumah
kepala keluarga suatu rumahtangga
tangga/keluarga
maka
akan
semakin
berdampak
pada
beban
pengeluaran
pula
rumahtangga
kemungkikan
rumahtangga tersebut untuk berada
itu
pada status miskin, karena emakin
sendiri.
tinggi pendidikan seseorang semakin
Hasil
temuan
besar
dari
dikemukakan
Mubyarto
baik
oleh
(2003)
mempunyai
hubungan
untuk
semakin
untuk
besar
mendapatkan
pendapatan yang lebih besar, jika
menyatakan bahwa pemenuhan
suatu
sehingga
peluangnya
yang
kebutuhan
peluangnya
mendapatkan pekerjaan yang lebih
penelitian ini sejalan dengan teori
yang
kecil
pendapatannya lebih besar berarti
keluarga
semakin besar kemampuannya untuk
yang
memenuhi kebutuhan hidup rumah-
berarti dengan jumlah anggota
13
tangganya, sehingga menyebabkan
dilakukan
keluarganya menjadi tidak miskin.
berbagai keterampilan praktis yang
yang dilakukan masyarakat. Selain
pekerjaan kepala keluarga, semakin
status
pekerjaan
itu
kepala
status
pekerjaan
lainnya
memiliki
informal
pendapatan yang diperoleh juga tidak
jika tidak diiringi dengan tambahan
kebutuhan
lainnya
rumahtangga,
bisa
dari
anggota
dengan
tidak
pengetahuan
Desa
untuk
mengedukasi
BPS Kota Pariaman, 2013. Pariaman
Dalam Angka, 2013. Badan
Pusat
Statistik
Kota
Pariaman.
miskin.
meningkatkan
penyuluhan-penyuluhan
BPS, 2005. Pedoman Survey Sosial
Ekonomi Nasional Tahun
2005, Penerbit, BPS Jakarta,
Indonesia.
menyebabkan rumahtangga menjadi
itu
dilakukan
terpenuhi
terpenuhinya kebutuhan lainnya ini
Untuk
juga
Amar, Syamsul. 2000, ”Analisis
Ekonomi
Tentang
Kemiskinan dan Implikasi
Kebijakan Pengentasannya di
Pedesaan Propinsi Sumatera
Barat.
besar juga konsumsi rumahtangga,
tidak
perlu
Daftar Pustaka
yang besar menyebabkan semakin
menyebabkan
kemudian
masyarakat.
Jumlah anggota rumahtangga
akan
dengan
Pariaman,
Bidan
teratur.
maka
berkaitan
penyuluh-penyuluh KB dan Bidan-
pemenuhan
kebutuhan rumahtangga yang tidak
penghasilan
yang
tentang pengaturan kelahiran melalui
menentu. Hal ini tentunya akan
pada
prasarana
peningkatan pendidikan di Kota
tidak
memiliki pekerjaan yang tetap dan
berakibat
sarana
harus
fasilitas, gedung, guru dan hal-hal
untuk berada pada status miskin.
yang
juga
pendidikan formal, baik dari segi
kecil peluang rumahtangga tersebut
keluarga
Pemerintah
memperhatikan
keluarga suatu rumahtangga semakin
Kepala
tentang
dapat menunjang kegiatan usaha
Begitu juga dengan status
formal
sosialisasi
dalam
rangka
wawasan
dan
masyarakat
perlu
Mubyarto, 2003. Penanggulangan
Kemiskinan di Indonesia.
14
Jurnal Ekonomi Rakyat Th. II
No. 2, April 2003. Access via
internet
:
http
:
//www.ekonomirakyat.org/ed
isi 14/artikel 4.htm.
Sofyardi. 2007.Analisa Regresi
Logistik
Dalam
Ilmu
Ekonomi. Makalah Pada
Pelatihan Teknik Pengajaran
Statistik Multivariat untuk
Staf Pengajar di Lingkungan
Fakultas Universitas Andalas
Padang
(03 Januari
2007).
Todaro,
Michael
P.
2000.Pembangunan Ekonomi
di Dunia Ketiga. Edisi
Ketujuh Jilid I. Jakarta :
Erlangga.
15
Download