BAB II LANDASAN TEORI

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Proyek
Proyek adalah setiap usaha yang direncanakan sebelumnya yang
memerlukan sejumlah pembiayaan serta penggunaan masukan lain yang ditujukan
untuk mencapai tujuan tertentu dan dilaksanakan dalam waktu tertentu
(Prawirohardjono, 1985).
Pendapat lain menyebutkan bahwa, kegiatan proyek dapat diartikan
sebagai suatu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas,
dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk melaksanakan tugas
yang sasarannya telah digariskan dengan jelas (Soeharto, 1999). Sehingga dapat
disimpulkan proyek merupakan serangkaian kegiatan terdiri dari sejumlah
aktivitas untuk menghasilkan tujuan tertentu dengan waktu yang telah ditetapkan.
Proyek dapat didefinisikan sebagai sederetan tugas yang diarahkan kepada
suatu hasil utama. Setiap pekerjaan yang memiliki kegiatan awal dan memiliki
kegiatan akhir, dengan kata lain setiap pekerjaan yang dimulai pada waktu
tertentu dan direncanakan selesai atau berakhir pada waktu yang telah ditetapkan
disebut proyek.
8
9
Proyek merupakan bagian dari program kerja suatu organisasi yang
sifatnya temporer untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi, dengan
memanfaatkan sumber daya manusia maupun non sumber daya manusia.
2.2
Manajemen Proyek
Manajemen proyek adalah merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan
mengendalikan sumber daya perusahaan untuk mencapai sasaran jangka pendek
yang telah ditentukan.
Manajemen proyek adalah ilmu yang berkaitan dengan memimpin dan
mengkoordini rsumber daya yang terdiri dari manusia dan material dengan
menggunakan tehnik pengelolaan modern untuk mencapai sasaran yang telah
ditentukan, yaitu lingkup, mutu, jadwal, danbiaya, serta memenuhi keinginan para
stake holder.
Manajemen proyek kini merupakan sebuah manajemen yang dibutuhkan
secara khusus. Perkembangan jaman membuat suatu peningkatan peran
manajemen proyek dalam mendukung organisasi kepada arah strategis. Ada
beberapa alasan yang menguatkan pentingnya manajemen proyek yakni:
1. Kompresi Daur Hidup Produk
Manajemen berguna untuk meningkatkan organisasi pekerjaan, guna
menghadapi perkembangan yang sangat pesat pada masa sekarang ini,
dengan mengandalkan fungsi manajeman proyek untuk mendapatkan
produk dan jasa baru dengan cepat.
10
2. Kompetisi Global
Meningkatnya tekanan untuk menguragi biaya-biaya akan menyebabkan
operasi pabrik dinegara maju akan berpindah ke Negara berkembang.
Proyek-proyek ini sagat penting, akan tetapi perpindahan ini akan
mengakibatkan ketatnya penjadwalan dan anggaran dana agar lebih tepat
waktu, efisien dan mudah dalam penyelesaian.
3. Perkembangan pengetahuan yang pesat
Perkembangan
kompleksitas
bepengarauh
terhadap
spesifikasi,
penggunaan bahan, peraturan, nilai estetika, peralatan, dan lain
sebagainya, yang akhirnya semakin kompleks juga. Kompleksitas produk
ini telah meningkatkan kebutuhan terhadap integritas teknologi, sehingga
kebutuhan manajemen proyek meningkat dan menjadi sangat penting.
4. Perampingan bidang usaha
Perampingan berasis kompetensi-kompetensi inti menjadi penting untuk
berlangsungnya suatu badan usaha. Peramipngan badan ysaha juga
berpegaruh pada cara organisasi dalam menangani proyek-proyek.
Perusahaan outsource merupakan bagian penting dari pelaksanaan proyek,
sehingga menajemen proyek tidak hanya menangani personil, namun
mampu mensinergikan pihak lain.
5. Fokus Pada Pelanggan
Peningkatan kompetensi harus difokuskan pada kepuasan pelanggan.
Pelanggan tiddak lagi menginginkan produk dan jasa yang umum. Namun
menginginkan produk dan jasa yang lebih memenuhi kebutuhan.
11
2.3
Ciri – ciri Proyek
Berdasarkan pengertian proyek di atas, ciri-ciri proyek antara lain :
a. Memiliki tujuan tertentu berupa hasil kerja akhir.
b. Sifatnya sementara karena siklus proyek relatif pendek.
c. Dalam proses pelaksanaannya, proyek dibatasi oleh jadwal, anggaran
biaya, dan mutu hasil akhir.
d. Merupakan kegiatan nonrutin, tidak berulang-ulang.
e. Keperluan sumber daya berubah, baik macam maupun volumenya.
Sedangkan jenis jenis proyek dapat di kategorikan berdasarkan aktivitas
yang paling dominan seperti :
1. Proyek Engineering-konstruksi
Adalah aktivitas utama jenis proyek ini terdiri dari pengkajian kelayakan,
design enginnering, pengadaan dan kostruksi. Ontoh : pembangunan
Tower, Jalan laying, bangunan pabrik dan lain-lain.
2. Proyek Engineering Manufaktur
Aktivitas proyek ini adalah untuk menghasilkan produk baru. Jadi proyek
manufaktur merupakan proses untuk menghasilkan produk baru. Sebagai
contoh: pembuatan boiler, kendaraan, computer dan lain-lain.
3. Proyek Pelayanan Manajemen
Aktivitas utamanya antara lain adalah merancang system informasi
manajeman, merancang program efisiensi dan penghematan, diverifikasi,
memberikan bantuan emergency untuk daerah yang terkena musibah,
mengurangi kriminalitas, memberantas obat-obatan terlarang.
12
4. Proyek Penelitian dan Pengembangan
Aktivitas utamanya adalah melakukan penelitian dan pengembangan
suatu produk tertentu.
5. Proyek Kapital
Biasanya digunakan oleh sebuah badan usaha atau pemerintah. Proyek
capital umunya meliputi: pembebasan tanah, penyimpanan lahan,
pembelian
material
dan
peralatan
manufaktur
dan
konstruksi
pembangunan fasilitas prosuksi.
6. Proyek Radio-Telekomunikasi
Bertujuan untuk membangun jaringan telekomunikasi yang dapat
menjangkau area yang luas dengan biaya minimal.
7. Proyek Konservasi Bio-Diversity
Proyek konservasi bio-diversity merupakan proyek yang berkaitan
dengan usaha pelestarian lingkungan.
2.4
Penjadwalan Proyek
Rangkaian kegiatan proyek terdiri atas tahap studi kelayakan, tahap
perencanaan dan perancangan, tahap pelelangan/tender, dan tahap pelaksanaan
konstruksi. Dari hal ini dapat kita lihat bahwa perencanaan adalah salah satu
bagian yang penting dalam proyek konstruksi.
Dalam perencanaan proyek seorang pengambil keputusan dihadapkan pada
pilihan dalam menetapkan sumber daya yang tepat. Salah satu bagian perencanaan
adalah penjadwalan (scheduling), di mana penjadwalan ini merupakan gambaran
13
dari suatu proses penyelesaian dan pengendalian proyek. Dalam penjadwalan ini
akan tampak uraian pekerjaan, durasi atau waktu penyelesaian setiap pekerjaan,
waktu mulai dan akhir setiap pekerjaan dan hubungan ketergantungan antara
masing-masing kegiatan.
Pada umumnya penjadwalan proyek dikerjakan oleh konsultan perencana
dan kemudian dikoordinasikan dengan kontraktor dan pemilik (owner) dengan
ketentuan yang telah disepakati dalam kontrak. Dengan demikian, maka
penjadwalan waktu setiap kegiatan proyek perlu diatur secara efisien dan
seoptimal mungkin sehingga tidak akan terjadi keterlambatan penjadwalan waktu,
maka kontraktor membuat pengelolaan penjadwalan proyek sesuai dengan
karakteristik proyek konstruksi yang direncanakan dan kondisi di lapangan pada
waktu pelaksanaan, serta mudah untuk dimonitoring pada setiap waktu. Untuk
penjadwalan waktu, yang akan dibahas pada penelitian ini adalah perbandingan
antara Metode Bar Chart, Metode Analisis Jaringan Kerja (Network Diagram).
2.5
Bar Chart
Bar Chart (bagan balok) diperkenalkan pertama kali oleh Henry L. Gantt
pada tahun 1917 semasa Perang Dunia I. Oleh karena itu, Bar Chart sering
disebut juga dengan nama Gantt Chart sesuai dengan nama penemunya. Sebelum
ditemukannya metode ini, belum ada prosedur yang sistematis dan analitis dalam
aspek perencanaan dan pengendalian proyek (Soeharto, 1999). Gantt menciptakan
teknik ini untuk memeriksa perkiraan durasi tugas versus durasi aktual. Sehingga
dengan melihat sekilas, pemimpin proyek dapat melihat kemajuan pelaksanaan
proyek.
14
Sekarang ini, metode bagan balok masih digunakan secara luas dan
merupakan metode yang umum digunakan sebagian besar penjadwalan dan
pengendalian di industri konstruksi, terutama untuk menyusun jadwal induk suatu
proyek, baik dari mulai kontraktor kecil sampai dengan kontraktor besar, dari
sektor swasta sampai dengan BUMN.
2.5.1
Format Bar Chart
Dalam Bar Chart (Bagan Balok), kegiatan digambarkan dengan balok
horizontal seperti yang ditunjukan pada gambar 2.2. Panjang balok menyatakan
lama kegiatan dalam skala waktu yang dipilih. Bagan balok terdiri atas sumbu y
yang menyatakan kegiatan atau paket kerja dari lingkup proyek dan digambarkan
sebagai balok, sedangkan sumbu x menyatakan satuan waktu dalam hari, minggu,
atau bulan sebagai durasinya (Husen, 2009). Di sini, waktu mulai dan waktu akhir
masing-masing pekerjaan adalah ujung kiri dan kanan dari balok-balok yang
bersangkutan (Soeharto, 1999).
Format bagan balok ini sangat informatif, mudah dibaca dan efektif untuk
komunikasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam proyek konstruksi, serta
dapat dibuat dengan mudah dan sederhana baik dengan manual maupun dengan
menggunakan komputer.
2.6
Penyusunan Jaringa Kerja
Jaringan kerja adalah suatu alat yang digunakan untuk merencanakan,
menjadwalkan,
dan
mengawasi
kemajuan
dari
suatu
proyek.
Jaringan
15
dikembangakan dari informasi yang diperoleh dari gambar diagram alir rencana
kerja proyek.
Jaringan menggambarkan beberapa hal sebagai berikut:
- Kegiatan-kegiatan proyek yang harus dilaksanakan
- Urutan kegiatan yang logis
- Ketergantungan antar kegiatan
- Waktu kegiatan melalui lintasan kritis
Jaringan adalah kerangka dari system informasi proyek yang akan
digunakan oleh manajer proyek dalam pengambilan keputusan dengan
memperhatikan waktu, biaya, dan performansi.
2.7
Metode Analisis Jaringan Kerja (Network Diagram)
Metode Network Diagram atau metode jaringan kerja diperkenalkan pada
tahun 50-an oleh tim perusahaan DuPont dan Rand Corporation untuk
mengembangkan sistem kontrol manajemen. Metode ini dimaksudkan untuk
merencanakan dan mengendalikan sejumlah besar kegiatan yang memiliki
hubungan ketergantungan yang kompleks dalam masalah desain-engineering,
konstruksi, dan pemeliharaan. Metode ini relatif lebih sulit, hubungan antar
kegiatan jelas, dan dapat memperlihatkan kegiatan kritis (Husen, 2009).
Ada beberapa macam metode analisis jaringan kerja yang dapat digunakan
dalam penjadwalan waktu proyek, antara lain (Soeharto, 1999) :
a)
Critical Path Method (CPM)
b)
Project Evaluation and Review Technique (PERT)
c)
Precedence Diagramming Method (PDM)
16
Kegiatan anak panah, atau activity on node (AON). disini kegiatan
digambarkan sebagai anak panah yang menghubungkan dua lingkaran yang
mewakili dua peristiwa, ekor anak panah merupakan awal kegiatan dan ujungnya
akhir kegiatan, nama dan kurun waktu kegiatan berturut-turut ditulis di atas dan di
bawah anak panah. Kegiatan ditulis di dalam kotak atau lingkaran, yang disebut
AON, anak panah hanya menjelaskan hubungan ketergantungan di antara
kegiatan-kegiatan
Tanda/symbol dalam pembuatan jaringan kerja pada gambar 2.1.
Gambar 2.1 Tanda/Simbol Dalam Membuat Jaringan Kerja
(Sumber : Suharto, 1999)
2.7.1
CPM (Critical Path Method)
CPM adalah suatu metode perencanaan penjadwalan proyek konstruksi yang
dapat
menunjukkan
aktivitas-aktivitas
kritis.
Aktivitas-aktivitas
kritis
sangat
mempengaruhi waktu penyelesaian dari suatu proyek, karena jika penyelesaian pekerjaan
dari salah satu aktivitas kritis terlambat maka proyek akan mengalami keterlambatan
17
dalam pelaksanaannya, sehingga menyebabkan keterlambatan penyelesaian proyek secara
keseluruhan (O’Brien, 1984).
Menggunakan CPM, pendekatan yang dilakukan secara deterministik hanya
menggunakan satu jenis durasi pada kegiatannya. Adapun istilah-istilah yang digunakan
dalam metode CPM adalah sebagai berikut:
a) Earliest Start Time (ES) adalah waktu paling awal suatu kegiatan dapat dimulai,
dengan memperhitungkan waktu kegiatan yang diharapkan dan persyaratan
urutan kegiatan.
b) Latest Start Time (LS) adalah waktu paling lambat untuk dapat memulai suatu
kegiatan tanpa penundaan keseluruhan proyek.
c) Earliest Finish Time (EF) adalah waktu paling awal suatu kegiatan dapat
diselesaikan.
d) Latest Finish Time (LF) adalah waktu paling lambat untuk dapat menyelesaikan
suatu kegiatan tanpa penundaan penyelesaian proyek secara keseluruhan.
e) Duration (D) adalah kurun waktu kegiatan.
Lingkaran kejadian dalam penentuan waktu menggunakan CPM dilihat
pada gambar 2.2:
i
ES
j
D
LS
EF
Gambar 2.2 Lingkaran Kejadian CPM
(Sumber : Dimyati, Dimyati, 2010)
LF
18
2.7.2 Teknik Perhitungan CPM
Adapun perhitungan yang harus dilakukan terdiri atas dua cara, yaitu cara
perhitungan maju (forward computation) dan perhitungan mundur (backward
computation). Pada perhitungan maju, perhitungan bergerak mulai dari initial
event menuju terminal event maksudnya ialah menghitung saat yang paling
tercepat terjadinya events dan saat paling cepat dimulainya serta diselesaikannya
aktivitas-aktivitas (ES dan EF).
Adapun perhitungannya adalah : EF = ES + D
Dimana:
EF = waktu selesai paling awal (Earliest Finish)
ES = waktu mulai paling awal (Earliest Start)
D = kurun waktu kegiatan yang bersangkutan (Duration)
Ada tiga langkah yang harus dilakukan pada perhitungan maju, yaitu
sebagai berikut :
a. Saat tercepat terjadinya initial event ditentukan pada hari ke nol sehingga
untuk initial event berlaku ES=0
b. Sebuah
event
hanya
dapat
terjadi
jika
aktivitas-aktivitas
yang
mendahuluinya telah diselesaikan. Maka saat paling cepat terjadinya
sebuah
event
sama
dengan
nilai
terbesar
dari
saat
tercepat
untukmenyelesaikan aktivitas-aktivitas yang berakhir pada event tersebut.
c. Diantara dua peristiwa tidak boleh ada 2 kegiatan, sehingga untuk
menghindarinya digunakan kegiatan semu atau dummy yang tidak
mempunyai durasi.
Pada perhitungan mundur, perhitungan bergerak dari terminal event
menuju ke initial event. Tujuannya ialah untuk menghitung saat paling lambat
19
terjadinya events dan saat paling lambat dimulainya dan diselesaikannya aktivitasaktivitas (LS, dan LF).
Adapun perhitungannya adalah LS = LF – D
Dimana:
LS = waktu mulai paling akhir (Latest Start)
LF = waktu selesai paling akhir (Latest Finish)
D = kurun waktu kegiatan yang bersangkutan (Duration)
Seperti halnya pada perhitungan maju, pada perhitungan mundur ini pun
terdapat dua langkah, yaitu sebagai berikut:
a. Pada terminal event berlaku LF=LS.
b. Setiap aktivitas hanya dapat dimulai apabila event yang mendahuluinya telah
terjadi. Oleh karena itu, saat paling lambat terjadinya sebuah event sama
dengan nilai terkecil dari saat-saat paling lambat untuk memulai aktivitasaktivitas yang berpangkal pada event tersebut.
2.7.3
PERT (Program Evaluation and Review Technique)
PERT merupakan suatu metode analisis yang digunakan untuk menjadwal
penyelesaian pekerjaan dan menganggarkan sumber-sumber daya untuk
menyelesaikan pekerjaan pada jadwal tertentu (Purnomo, 2004). PERT
mempunyai banyak kesamaan dengan CPM, bila CPM memperkirakan waktu
komponen kegiatan proyek dengan pendekatan deterministik satu angka yang
mencerminkan adanya kepastian, maka PERT direkayasa untuk menghadapi
situasi dengan kadar ketidakpastian. (Soeharto, 1999)
Penggunaan metode PERT dengan CPM sangatlah berbeda dimana CPM
menggunakan perkiraan waktu komponen kegiatan proyek dengan pendekatan
20
deterministik (satu angka yang mencerminkan adanya kepastian), PERT
menggunakan pendekatan probabilistik yang dirancang untuk menghadapi situasi
dengan kadar ketidakpastian (uncertainly) yang tinggi pada aspek kurun waktu
kegiatan (Soeharto, 1999).
Adapun istilah yang digunakan dalam metode PERT adalah sebagai
berikut:
a) Earliest Time of Occurance (TE) adalah saat tercepat terjadinya kegiatan
b) Latest Time of Occurance (TL) adalah saat paling lambat terjadinya kegiatan
c) Expected Duration (Te) adalah durasi kegiatan yang diharapkan yang terdiri
dari tiga angka estimasi, untuk mendapatkan nilai mean durasi:
Te = (To+4Tm+Tp)/6.
Tiga angka estimasi PERT yaitu:
1. To = kurun waktu optimistik (optimistic duration time), yaitu durasi
tercepat yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu kegiatan bila segala
sesuatunya berjalan dengan baik.
2. Tm = kurun waktu yang paling mungkin (most likely time), yaitu durasi
yang paling sering terjadi bila suatu kegiatan dilakukan berulang-ulang
dengan kondisi yang hampir sama.
3. Tp = kurun waktu pesimistik (pessimistic duration time), yaitu durasi yang
paling lama dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu kegiatan bila segala
sesuatunya berjalan dalam kondisi buruk.
Lingkaran kejadian penentuan waktu menggunakan PERT dilihat pada
gambar 2.3
21
i
TEi
j
Te
TLi
TEj
TLj
Gambar 2.3 Lingkaran Kejadian PERT
(Sumber : Dimyati, Dimyati, 2010)
2.7.4 Teknik Perhitungan PERT
Perhitungan dengan metode PERT sama seperti CPM yaitu dengan cara
perhitungan maju (forward computation) dan perhitungan mundur (backward
computation). Pada perhitungan maju, perhitungan bergerak mulai dari initial
event menuju terminal event maksudnya ialah menghitung saat yang paling
tercepat terjadinya events dan saat paling cepat dimulainya serta diselesaikannya
aktivitas-aktivitas (TEi dan TEj). Pada initial event berlaku TE=0.
Adapun perhitungannya adalah : TEj = TEi + Te(i,j).
Dimana:
TEj = waktu mulai kegiatan j
TEi = waktu mulai kegiatan i
Te(i,j) = kurun waktu kegiatan i ke j
Pada perhitungan mundur, perhitungan bergerak dari terminal event
menuju ke initial event. Tujuannya ialah untuk menghitung saat paling lambat
terjadinya events dan saat paling lambat dimulainya dan diselesaikannya aktivitasaktivitas (TLi, dan TLj). Pada terminal event berlaku TL=TE.
Adapun perhitungannya adalah TLi = TLj - Te(i,j).
22
Dimana:
TLi = waktu selesai kegiatan i
TLj = waktu selesai kegiatan j
Te(i,j) = kurun waktu kegiatan i ke j
Menurut Suharto (1999) estimasi kurun waktu kegiatan metode PERT
memakai rentang waktu dan bukan kurun waktu yang relatif mudah dibayangkan.
Rentang waktu ini menjadi derajat ketidakpastian yang berkaitan dengan proses
estimasi kurun waktu kegiatan. Berapa besarnya ketidakpastian ini tergantung
pada perkiraan untuk To dan Tp. Parameter yang menjelaskan masalah ini dikenal
sebagai Deviasi Standar (S) dan Varians (V), dengan rumus sebagai berikut:
S = √V
V = ((Tp-To)/6)2
Dalam PERT terdapat analisis untuk mengetahui kemungkinan kepastian
mencapai target jadwal penyelesaian (TD), sehingga dapat diketahui probabilitas
penyelesaian proyek yang dinyatakan dengan Z yang dirumus sebagai berikut:
2.7.5
Jalur Kritis CPM dan PERT
Jalur kritis adalah jalur dalam jaringan kerja yang memiliki rangkaian
komponen-komponen kegiatan, dengan total waktu terlama dan menunjukkan
kurun waktu penyelesaian proyek yang tercepat. Jalur kritis mempunyai arti
penting dalam penyelesaian suatu proyek, karena kegiatan-kegiatan dalam jalur
kritis diusahakan tidak mengalami keterlambatan penyelesaian (Purnomo, 2004).
23
Identifikasi aktivitas kritis dalam CPM ditandai dengan nilai free float dan
total float sama dengan nol (FF dan TF = 0). Identifikasi aktivitas kritis dalam
PERT ditandai dengan nilai free slack dan total slack sama dengan nol (FS dan TS
= 0). Aktivitas kritis tersebut nantinya membentuk suatu jalur yaitu jalur kritis
yang pengerjaannya tidak boleh mengalami penundaan agar tidak terjadi
keterlambatan proyek secara keseluruhan meskipun kegiatan lain tidak mengalami
keterlambatan.
Menurut Badri (1997), manfaat yang didapat jika mengetahui jalur kritis
adalah sebagai berikut :
a. Penundaan pekerjaan pada jalur kritis menyebabkan seluruh pekerjaan proyek
tertunda penyelesaiannya.
b. Proyek dapat dipercepat penyelesaiannya, bila pekerjaan-pekerjaan yang ada
pada jalur kritis dapat dipercepat.
c. Pengawasan atau kontrol dapat dikontrol melalui penyelesaian jalur kritis yang
tepat dalam penyelesaiannya dan kemungkinan di trade off (pertukaran waktu
dengan biaya yang efisien) dan crash program (diselesaikan dengan waktu
yang optimum dipercepat dengan biaya yang bertambah pula) atau
dipersingkat waktunya dengan tambahan biaya lembur.
d. Time slack atau kelonggaran waktu terdapat pada pekerjaan yang tidak melalui
jalur kritis. Ini memungkinkan bagi manajer/pimpro untuk memindahkan
tenaga kerja, alat, dan biaya ke pekerjaan-pekerjaan di lintasan kritis agar
efektif dan efisien.
24
2.7.6 Perbedaan CPM dan PERT
Pada prinsipnya yang menyangkut perbedaan PERT dan CPM adalah
sebagai berikut :
1) PERT digunakan pada perencanaan dan pengendalian proyek yang
belum pernah dikerjakan, sedangkan CPM digunakan untuk
menjadwalkan dan mengendalikan aktivitas yang sudah pernah
dikerjakan sehingga data, waktu dan biaya setiap unsur kegiatan telah
diketahui oleh evaluator.
2) Pada PERT digunakan tiga jenis waktu pengerjaan yaitu yang tercepat
(a), waktu terlama (b) serta terlayak (m), sedangkan pada CPM hanya
memiliki satu jenis informasi waktu pengerjaan yaitu waktu yang
paling tepat dan layak untuk menyelesaikan suatu proyek.
3) Pada PERT yang ditekankan tepat waktu, sebab dengan penyingkatan
waktu maka biaya proyek turut mengecil, sedangkan pada CPM
menekankan tepat biaya.
4) Dalam PERT anak panah menunjukkan tata urutan (hubungan
presidentil), sedangkan pada CPM tanda panah adalah kegiatan.
2.7.7
Penjadwalan dan Sumber Daya
Pelaksanaan proyek yang dibahas saat ini mengasumsikan bahwa sumber
daya yang dibutuhkan selalu tersedia. Beikut ini jenis-jenis sumber daya:
1. Manusia
Sumber daya manusia (SDM) biasanya diklasifikasikan berdasarkan
keahlian terkait proyek. Contohnya enginner, pengawas, pekerja dll.
25
2. Material
Material mencakup bahan-bahan untuk melaksanakan suatu proyek, baik
itu dalam konstruksi maupun jasa.
3. Peralatan
Peralatan
perupakan
komponen
yang
sangat
mendukung
untuk
pelaksanaan suatu proyek, dalam hal ini peralatan sangat berperan aktif
untuk nenunjang berlangsungnya suatu proyek.
4. Modal Kerja
Modal kerja diperlukan sebagai sumber daya karena jumlah nya yang
terbatas. Dalam hal in modal kerja sangat penting, karena jika tidak
memiliki modal kerja, maka suatu proyek akan berhenti. Pentingnya
modal kerja, mengingatkan kita untuk selalu menekan cost atau biaya guna
berkelanjutan nya suatu pekerjaan proyek.
2.8
Analisis Waktu Kelonggaran (Float/Slack)
Dalam mengestimasi dan menganalisis waktu ini, akan kita dapatkan satu
atau beberapa lintasan tertentu dari kegiatan-kegiatan pada network tersebut yang
menentukan jangka waktu penyelesaian seluruh proyek. Lintasan ini disebut
lintasan kritis. Di samping lintasan kritis ini terdapat lintasan-lintasan lain yang
mempunyai jangka waktu yang lebih pendek daripada lintasan kritis. Dengan
demikian, maka lintasan yang tidak kritis ini mempunyai waktu untuk bisa
terlambat yang dinamakan float/slack.
26
Float/slack memberikan sejumlah kelonggaran waktu dan elastisitas pada
sebuah network dan ini dipakai pada waktu penggunaan network dalam praktek
atau digunakan pada waktu mengerjakan penentuan jumlah material, peralatan,
dan tenaga kerja. Float ini terbagi atas dua jenis, yaitu total float dan free float
dalam CPM atau total slack dan free slack dalam PERT (Dimyati dan Dimyati,
2010).
Total Float/Total Slack adalah jumlah waktu di mana waktu penyelesaian
suatu aktivitas dapat diundur tanpa mempengaruhi saat paling cepat dari
penyelesaian proyek secara keseluruhan. Free Float/Fee Slack adalah jumlah
waktu di mana penyelesaian suatu aktivitas dapat diukur tanpa mempengaruhi saat
paling cepat dimulainya aktivitas lain pada network (Dimyati dan Dimyati, 2010).
Dengan selesainya perhitungan maju dan perhitungan mundur pada
network, barulah float/slack dapat dihitung. Float dalam CPM dapat dicari dengan
perhitungan: FF=EF–ES-D dan TF=LF-ES-D. Slack dalam PERT dicari dengan
perhitungan: SF(i,j)=TEj-TEi-Te(i,j) dan ST(i,j) = TLj-TEi-Te(i,j).
2.9
Analisis Percepatan (Crashing Program)
Proses mempercepat kurun waktu suatu proyek disebut cashing program.
Dalam menganalisis proses tersebut digunakan asumsi sebagai berikut (Soeharto,
1999):
1. Jumlah sumber daya yang tersedia tidak merupakan kendala. Ini berarti
dalam menganalisis program mempersingkat waktu, akternatif yang akan
dipilih tidak dibatasi oleh ketersediaan sumber daya.
27
2. Bila diinginkan waktu penyelesaian kegiatan lebih cepat dengan lingkup
yang sama, maka keperluan sumber daya akan bertambah. Sumber daya
ini dapat berupa tenaga kerja, material, peralatan atau bentuk lain yang
dapat dinyatakan dalam sejumlah dana.
Jadi,
tujuan
utama
dari
program
mempersingkat
waktu
adalah
memperpendek jadwal penyelesaian kegiatan atau proyek dengan kenaikan biaya
minimal. Proses memperpendek waktu kegiatan dalam jaringan kerja untuk
mengurangi waktu pada jalur kritis, sehingga waktu penyelesaian total dapat
dikurangi disebut sebagai crashing proyek (Heizer dan Render, 2009).
Untuk menganalisis lebih lanjut hubungan antara waktu dan biaya suatu
kegiatan didefinisikan sebagai berikut (Soeharto, 1999):
1. Kurun waktu normal (Normal Duration - Dn), adalah kurun waktu yang
diperlukan untuk melakukan kegiatan sampai selesai, dengan cara yang efisien
tetapi di luar pertimbangan adanya kerja lembur, dan usaha-usaha khusus
lainnya seperti menyewa peralatan yang lebih canggih.
2. Biaya normal (Normal Cost – Cn), adalah biaya langsung yang diperlukan
untuk menyelesaikan kegiatan dengan kurun waktu normal.
3. Kurun waktu dipersingkat (Crash Duration - Dc), adalah waktu tersingkat
untuk menyelesaikan suatu kegiatan yang secara teknis masih mungkin. Disini
dianggap sumber daya bukan merupakan hambatan.
4. Biaya untuk waktu dipersingkat (Crash Cost - Cc), adalah jumlah biaya
langsung untuk menyelesaikan pekerjaan dengan kurun waktu tersingkat.
28
Gambar 2.4 Hubungan Waktu-Biaya untuk Suatu Kegiatan
(Sumber : Soeharto, 1999)
Hubungan antara waktu dan biaya digambarkan seperti grafik Gambar 2.6.
Titik A menunjukkan titik normal, sedangkan B adalah titik dipersingkat. Garis
yang menghubungkan kedua titik (A dan B) disebut kurva waktu-biaya. Menurut
Soeharto (1999), jika diketahui bentuk kurva waktu-biaya suatu kegiatan, artinya
dengan mengetahui berapa slope atau sudut kemiringanya, maka bisa dihitung
berapa besar biaya untuk mempersingkat waktu satu hari dengan rumus :
Slope Biaya =
Download