analisis pengaruh inflasi dan suku bunga bank

advertisement
ANALISIS PENGARUH INFLASI DAN SUKU BUNGA
BANK INDONESIA TERHADAP KINERJA
KEUANGAN BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA
(PERIODE 2012-2014)
SKRIPSI
Disusun Guna Memenuhi Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi Syariah (S.E.Sy.)
Disusun Oleh:
ARIFIN ACHMAD IRFAN
NIM. 21311012
PROGRAM STUDI S1 PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
2015
i
ii
iii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama
: Arifin Achmad Irfan
NIM
: 21311012
Jurusan
: S1 Perbankan Syariah
Fakultas
: Ekonomi dan Bisnis Islam
Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul ”Analisis Pengaruh Inflasi dan
Suku Bunga Bank Indonesia Terhadap Kinerja Keuangan Bank Umum
Syariah di Indonesia (Periode 2012-2014)” adalah benar-benar merupakan hasil
karya penulis sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Pendapat atau
temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan
kode etik ilmiah.
Demikian surat pernyataan ini saya buat agar dapat dimaklumi dan
digunakan sebagaimana perlunya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Salatiga, 2 November 2015
Yang menyatakan,
Arifin Achmad Irfan
iv
HALAMAN MOTTO
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah
selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang
lain, dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap
(Q.S Al-Insyirah: 6-8)
Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka
terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja.
Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi.
(Ernest Newman)
Stop dreaming and start doing,
Do the best and pray. God will take care of the rest.
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini kupersembahkan untuk:
Kedua orang tua dan keluarga tercinta
Para guru dan dosenku
Keluarga besarku
Sahabat-sahabatku
Almamater Institut Agama Islam Negeri Salatiga
vi
ABSTRAK
Arifin Achmad Irfan, 2015. Analisis Pengaruh Inflasi dan Suku Bunga BI
Terhadap Kinerja Keuangan Bank Umum Syariah di Indonesia (Studi
Kasus Pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode 2012-2014).
Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Program Studi S1
Perbankan Syariah. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing:
Fetria Eka Yudiana, M.Si.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variabel inflasi dan
suku bunga BI terhadap kinerja keuangan yang diproksi oleh Return On Asset
(ROA), dan Return On Equity (ROE). Pemilihan sampel menggunakan metode
purposive sampling. Metode purposive sampling merupakan metode pengambilan
sampel yang didasarkan pada kriteria tertentu. Sampel yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu empat bank umum syariah devisa periode 2012-2014. Data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan triwulanan bank.
Analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda menggunakan SPSS
21.0 dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Hasil uji t menunjukkan
bahwa variabel inflasi berpengaruh positif signifikan terhadap ROA dan ROE,
variabel suku bunga BI berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA dan ROE.
Dari hasil perhitungan statistic diketahui variabel suku bunga BI memberikan
pengaruh terbesar terhadap ROA dan ROE.
Kata Kunci: Inflasi, Suku Bunga BI, Kinerja Keuangan.
vii
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, puji syukur hanya bagi Allah SWT atas segala hidayah-Nya, sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Pengaruh Inflasi
dan Suku Bunga Bank Indonesia Terhadap Kinerja Keuangan Bank Umum
Syariah di Indonesia (Studi Kasus Pada Bank Umum Syariah di Indonesia
Periode 2012-2014)” ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga tetap
terlimpah keharibaan junjungan Nabi besar Muhammad SAW, keluarga, dan
sahabatnya.
Skripsi ini disusun guna memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana
Ekonomi Syariah (S.E.Sy.) pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.
Pada penyusunan skripsi ini tentulah tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak, baik dalam ide, kritik, saran maupun dalam bentuk lainnya.
Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih sebagai penghargaan
atau peran sertanya dalam penyusunan skripsi ini kepada:
1.
Bapak Dr. Rahmat Hariyadi M.Pd selaku Rektor Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Salatiga.
2.
Bapak Dr. Anton Bawono, M.Si. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga sekaligus
Pembimbing Akademik yang dengan bijaksana memberikan bimbingan,
arahan, motivasi, dan menularkan ilmunya kepada penulis.
viii
3.
Ibu Fetria Eka Yudiana, M.Si selaku Ketua Program Studi S1 Perbankan
Syariah yang bersedia membimbing dan memberi arahan kepada penulis.
4.
Ibu Fetria Eka Yudiana, M.Si. selaku pembimbing skripsi yang telah
membimbing penulis dan memberikan pengarahan sehingga skripsi ini
dapat terselesaikan.
5.
Segenap dosen dan civitas akademika Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga yang telah memberikan bekal
ilmu pengetahuan untuk penulis selama ini.
6.
Bapak Achmad Munawi dan Ibu Kustiyah tercinta, saudara tersayang serta
keluarga terdekat, atas doa yang senantiasa dipanjatkan dan dukungan baik
moriil
maupun materiil
kepada penulis
sehingga penulis
dapat
menyelesaikan skripsi ini tepat waktu.
7.
Precious One, Giyarti yang tiada hentinya memberikan dukungan,
bantuan, motivasi dan doa dari awal proses pengerjaan sampai
terselesaikannya skripsi ini.
8.
Rekan-rekan yang hebat, Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) Salatiga
yang selalu penulis sayangi. Terima kasih untuk ilmu berorganisasi yang
sangat berharga dan pengalaman yang tak akan terlupakan.
9.
Teman-teman seperjuangan di S1 Perbankan Syariah angkatan 2011 yang
tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu dan memberikan
motivasi dalam proses penyelesaian skripsi ini. Kebersamaan kita selama
ini akan menjadi kenangan yang indah.
ix
10.
Seluruh sahabat, teman, dan semua pihak yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu, yang telah memberikan dukungan, motivasi,
inspirasi dan membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini. Semoga
Allah SWT membalas segala kebaikan kalian. Amin.
Penulis menyadari banyak terdapat kekurangan dalam skripsi ini. Oleh
karena itu segala saran dan kritik membangun sangat diharapkan. Terima kasih.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Salatiga, 2 November 2015
Penulis
x
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................
i
HALAMAN PERSETUJUAN ....................................................................
ii
HALAMAN PENGESAHAN .....................................................................
iii
HALAMAN PERNYATAAN ....................................................................
iv
HALAMAN MOTTO .................................................................................
v
HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................
vi
ABSTRAK ..................................................................................................
vii
KATA PENGANTAR ................................................................................
viii
DAFTAR ISI ...............................................................................................
xi
DAFTAR TABEL .......................................................................................
xv
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................
xvi
DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................
xvii
BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................
1
A. Latar Belakang ...........................................................................
1
xi
B. Rumusan Masalah ......................................................................
9
C. Tujuan Penelitian ........................................................................
10
D. Manfaat Penelitian......................................................................
10
E. Sistematika Penulisan .................................................................
11
BAB II KAJIAN PUSTAKA ...............................................................................
13
A. Telaah Pustaka............................................................................
13
B. Telaah Teori................................................................................
17
1. Bank Syariah .........................................................................
17
2. Inflasi.....................................................................................
20
a. Jenis Inflasi Menurut Sebabnya ......................................
22
b. Efek Inflasi ......................................................................
23
c. Cara Mencegah Inflasi.....................................................
24
3. Suku Bunga BI ......................................................................
25
a. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Suku Bunga ...........
29
b. Komponen-Komponen Yang Menentukan Bunga ..........
31
c. Jenis-Jenis Pembebanan Suku Bunga .............................
33
d. Hubungan Suku Bunga BI, Profit Lost Sharing, dan
Margin Bank Syariah ......................................................
36
4. Kinerja Keuangan Bank Syariah ...........................................
35
5. Analisis Rasio Keuangan ......................................................
37
6. Analisis Kinerja Bank Syariah ..............................................
41
a. Return On Asset (ROA)...................................................
41
b. Return On Equity (ROE) .................................................
42
xii
7. Pengembangan Hipotesis ......................................................
43
8. Hipotesis................................................................................
44
a. Pengaruh Inflasi Terhadap Kinerja Keuangan ................
44
b. Pengaruh Suku Bunga BI Terhadap Kinerja Keuangan ..
45
c. Rumus Regresi ................................................................
46
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ..........................................................
47
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian.................................................
47
B. Teknik Pengumpulan Data .........................................................
47
1. Sumber dan Jenis Data .........................................................
47
2. Metode Pengumpulan Data ..................................................
48
C. Populasi dan Sampel ..................................................................
48
D. Definisi Operasional ...................................................................
49
1. Variabel Dependen ...............................................................
49
a. Return On Asset (ROA)...................................................
50
b. Return On Equity (ROE) .................................................
50
2. Variabel Indepeden ..............................................................
51
E. Teknik Analisis Data ..................................................................
52
1. Uji Asumsi Klasik ................................................................
52
a. Uji Multikolonieritas .......................................................
52
b. Uji Autokolerasi ..............................................................
53
c. Uji Heterokedastisitas ......................................................
54
d. Uji Normalitas .................................................................
55
e. Uji Linieritas ....................................................................
56
xiii
2. Analisis Regresi Linier Berganda ........................................
57
3. Koefisien Determinasi (R2) ..................................................
58
4. Pengujian Hipotesis ..............................................................
60
a. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F) ......................
60
b. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t) ....
61
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................
63
A. Deskripsi Objek Penelitian .........................................................
63
1. Bank Muamalat Indonesia ....................................................
63
2. Bank Syariah Mandiri ..........................................................
65
3. Bank Mega Syariah Indonesia..............................................
66
4.BNI Syariah ...........................................................................
66
B. Analisis Data ...............................................................................
67
1. Statistik Dekriptif Variabel ..................................................
67
2. Uji Asumsi Klasik ................................................................
69
a. Uji Multikolonieritas .......................................................
69
b. Uji Autokolerasi ..............................................................
71
c. Uji Heteroskedastisitas ....................................................
73
d. Uji Normalitas .................................................................
77
e. Uji Linieritas ....................................................................
81
3. Persamaan Regresi Linier Berganda ....................................
83
4. Koefisien Determinasi ..........................................................
85
5. Pengujian Hipotesis ..............................................................
87
a. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F) ......................
87
xiv
b. Uji Signifikansi Individual (Uji Statistik t) .....................
88
C. Pembahasan Hasil Pengujian Statistik ........................................
91
1. Pengaruh Variabel Inflasi Terhadap Kinerja Keuangan ......
91
2. Pengaruh Variabel Suku Bunga BI Terhadap Kinerja
Keuangan .............................................................................
92
BAB V PENUTUP .....................................................................................
95
A. Kesimpulan .................................................................................
95
B. Saran ...........................................................................................
96
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................
88
LAMPIRAN-LAMPIRAN
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Research Gap ..............................................................................
14
Tabel 2.2 Hipotesis Penelitian ....................................................................
48
Tabel 3.1 Dasar Pengambilan Keputusan Autokolerasi ..............................
57
Tabel 4.1 Analisis Statistik Deskriptif Masing-Masing Variabel ...............
70
Tabel 4.2 Hasil Uji Multikolonieritas Matriks Kolerasi .............................
72
Tabel 4.3 Hasil Uji Multikolonieritas Matriks Kolerasi .............................
73
Tabel 4.4 Hasil Uji Multikolonieritas Nilai Tolerance dan VIF ................
74
Tabel 4.5 Hasil Uji Autokolerasi ................................................................
75
Tabel 4.6 Hasil Uji Autokolerasi ................................................................
75
Tabel 4.7 Hasil Uji Park ..............................................................................
78
Tabel 4.8 Hasil Uji Park ..............................................................................
80
Tabel 4.9 Hasil Uji Linieritas ......................................................................
85
Tabel 4.10 Hasil Uji Linieritas ....................................................................
85
Tabel 4.11 Hasil Uji Regresi Linier Berganda ............................................
87
Tabel 4.12 Hasil Uji Regresi Linier Berganda ............................................
87
Tabel 4.13 Hasil Uji Koefisien Determinasi ...............................................
88
Tabel 4.14 Hasil Uji Koefisien Determinasi ...............................................
89
Tabel 4.15 Hasil Uji Statistik F ...................................................................
90
Tabel 4.16 Hasil Uji Statistik F ...................................................................
91
Tabel 4.17 Hasil Uji Statistik t ....................................................................
92
Tabel 4.18 Hasil Uji Statistik t ....................................................................
93
xvi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Penelitian ................................................................
45
Gambar 4.1 Diagram Heteroskedastisitas ...................................................
76
Gambar 4.2 Diagram Heteroskedastisitas ...................................................
79
Gambar 4.3 Histogram Uji Normalitas .......................................................
81
Gambar 4.4 Histogram Uji Normalitas .......................................................
82
Gambar 4.5 Uji Normalitas Dengan Normal P-P Plot ................................
83
Gambar 4.6 Uji Normalitas Dengan Normal P-P Plot ................................
84
xvii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada pertengahan tahun 1990 sistem keuangan Indonesia sangat
tergantung pada sektor perbankan. Penguasaan pangsa pasar berubah begitu
memasuki tahun 1998 menyusul dikeluarkannya kebijakan pemerintah yang
melikuidasi 16 bank swasta nasional pada bulan November 1997 akibat krisis
moneter. Namun pencabutan ijin usaha bank oleh pemerintah tidak sampai disitu
saja, pada bulan April 1998 pemerintah juga menghentikan operasi tujuh bank
lainnya yang kinerjanya dianggap buruk dan tujuh bank lainnya ditempatkan
dalam pengawasan BPPN.
Meski menghadapi krisis keuangan global yang dampaknya semakin lama
semakin meluas, kinerja perbankan sepanjang tahun 2008 relatif stabil.
Meningkatnya fungsi pengawasan dan adanya kerjasama dengan otoritas terkait
perbankan yang disertai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia
cukup efektif menjaga ketahanan perbankan dari dampak krisis global yang tejadi
pada saat itu. Perbankan berhasil meningkatkan fungsi intermediasinya dan
melaksanakan proses konsolidasi dengan baik yang berdampak pada hasil yang
positif.
Perbankan memiliki peranan yang sangat penting dalam menunjang
berjalannya roda perekonomian dan pembangunan mengingat sebagai lembaga
intermediasi, penyelenggara transaksi pembayaran, serta alat pengendalian
1
kebijakan moneter. Menurut Undang-Undang No.7 tahun 1992 tentang perbankan
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998 tentang
perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun
dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada
masyarakat dalam bentuk kredit dan bentuk-bentuk lainnya dalam rangka
meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak.
Pada era modern ini, perbankan syariah telah menjadi salah satu fenomena
yang global, termasuk Indonesia yang merupakan salah satu negara yang
masyarakatnya mayoritas beragama Islam. Pertumbuhan perbankan syariah di
Indonesia merupakan yang paling pesat baik dari pertambahan bank itu sendiri
maupun dari segi asetnya. Dalam beberapa tahun terakhir, perbankan syariah
mencapai pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu 35% per tahun. Hal ini terlihat
dari peningkatan aset perbankan syariah menjadi 2,1% dari keseluruhan aset
perbankan syariah senilai Rp 50 triliun. Kredit yang disalurkan mencapai Rp 38
triliun dengan kredit usaha mencapai Rp 326 miliar. Sedangkan pembiayaan dari
perbankan syariah naik dari Rp 5 triliun pada tahun 2003 menjadi Rp 27,94 triliun
pada tahun 2007, dan Rp 38,19 triliun pada tahun 2008 (Sartika, 2012: 18).
Inflasi menurut kamus adalah kemerosotan nilai mata uang (kertas)
karena terlalu banyak beredar dan menyebabkan melambungnya harga barangbarang. Inflasi banyak terjadi di negara berkembang, karena struktur ekonomi
negara berkembang masih rentan terhadap goncangan ekonomi yang bersumber
dari dalam negeri atau yang berkaitan dengan hubungan luar negeri, misalnya
memburuknya utang luar negeri, dan kurs valas, dapat menimbulkan fluktuasi
2
harga dipasar domestik. Inflasi adalah suatu keadaan di mana terjadi kenaikan
harga-harga secara tajam (absolute) yang berlangsung terus menerus dalam jangka
waktu yang cukup lama, seirama dengan kenaikan harga-harga tersebut, nilai uang
turun secara tajam pula sebanding dengan kenaikan harga-harga tersebut
(Khawalty, 2000: 6). Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi
rendahnya tingkat harga artinya tingkat harga yang dianggap tinggi belum
tentu menunjukkan inflasi. Inflasi dianggap terjadi jika proses kenaikan harga
berlangsung secara terus menerus dan saling mempengaruhi. Dari segi fiskal,
pemerintah menerapkan kenaikan prosentase pungutan pajak, mengadakan
pinjaman sukarela atau pinjaman paksa, memotong uang, membekukan sebagian
atau seluruhnya simpanan-simpanan (deposito) pihak-pihak swasta (bukan
milik pemerintah) yang ada dalam bank-bank, serta penurunan pengeluaran
pemerintah (Ridwan dan Barlian dalam Utomo, 2003: 6).
Sasaran menengah (sasaran jumlah uang beredar) tidak dapat dipengaruhi
secara langsung oleh kebijakan. Oleh karena itu, bank sentral dapat menggunakan
sasaran lainnya, yaitu sasaran operasional, dengan mengendalikan cadangan (uang
primer), atau suku bunga, yang lebih responsif terhadap kebijakan bank sentral,
dan memiliki dampak langsung terhadap tingkat penggunaan tenaga kerja dan
tingkat harga (inflasi), serta dampak terhadap tujuan kebijakan moneter lainnya.
Suku bunga fed-funds adalah suku bunga pinjaman antar bank dari dana
simpanan di bank sentral (Silvanita, 2009: 73). Kita perlu menganalisis pasar
cadangan
(reserves)
untuk
melihat
bagaimana
perubahan
cadangan
memepengaruhi suku bunga fed-funds. Suku bunga ini sangat penting dalam
3
menjalankan kebijakan moneter, karena bank sentral dapat mempengaruhi secara
langsung. Dengan demikian, tinggi rendahnya suku bunga fed-funds dapat
menjadi indikasi keberhasilan bank sentral dalam menjalankan kebijakan moneter.
Operasi pasar terbuka, bunga diskonto, dan cadangan minimum adalah instrumen
utama bank sentral dalam mempengaruhi suku bunga fed-funds.
Penawaran cadangan muncul karena ada bank yang kelebihan cadangan
minimum karena menurunnya aset mereka. Bank yang kelebihan cadangan di
bank sentral lebih suka meminjamkannya kepada bank yang kekurangan cadangan
karena bank sentral tidak memberikan pengembalian terhadap simpanan tersebut.
Semakin tinggi suku bunga fed-funds, pinjaman bank komersial ke bank sentral
meningkat sehingga meningkatkan penawaran cadangan. Oleh karena itu, kurva
penawaran cadangan memiliki kemiringan positif. Permintaan cadangan muncul
karena bank yang kekurangan cadangan lebih suka meminjam ke bank lain yang
kelebihan cadangan daripada meminjam kepada bank sentral. Hal ini dilakukan
bank untuk menjaga kredibilitas bank. Permintaan cadangan terdiri dari
permintaan terhadap cadangan minimum dan cadangan lebih. Ongkos memiliki
cadangan lebih adalah imbal balik yang hilang karena bank menyimpan uangnya
dalam brankas, yang besarnya ekuivalen dengan suku bunga fed-funds. Oleh
karena itu, makin rendah suku bunga fed-funds, makin rendah ongkos memiliki
reserves, sehingga meningkatkan demand reserves. Jadi kurva permintaan
cadangan memiliki kemiringan negatif (Silvanita, 2009: 74).
Penurunan kinerja bank dapat menurunkan pula kepercayaan masyarakat.
Pengertian bank dalam PSAK 31 salah satunya yaitu bank merupakan industri
4
yang dalam kegiatan usahanya mengandalkan kepercayaan masyarakat sehingga
tingkat kesehatan bank perlu dipelihara. Pemeliharaan kesehatan bank antara lain
dilakukan dengan tetap menjaga likuiditasnya sehingga bank dapat memenuhi
kewajiban kepada semua pihak yang menarik atau mencairkan simpanannya
sewaktu-waktu. Kesiapan memenuhi kewajiban setiap saat ini, menjadi semakin
penting artinya mengingat peranan bank sebagai lembaga yang berfungsi
memperlancar lalu lintas pembayaran. Di samping faktor likuiditas, keberhasilan
usaha bank juga ditentukan oleh kesanggupan para pengelola dalam menjaga
rahasia keuangan nasabah yang dipercayakan kepadanya serta keamanan atas
uang atau aset lainnya yang dititipkan pada bank.
Pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap bank karena
kegiatan utama bank adalah penghimpunan dana dari masyarakat kemudian
menyalurkannya dengan tujuan untuk memperoleh pendapatan. Oleh karenanya
Bank Indonesia menerapkan aturan tentang kesehatan bank. Kesehatan bank dapat
diartikan sebagai kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional
perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan
baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku.
Dengan adanya aturan tentang kesehatan bank ini, perbankan diharapkan selalu
dalam kondisi sehat sehingga tidak akan merugikan masyarakat yang
berhubungan dengan perbankan. Aturan tentang kesehatan bank yang diterapkan
oleh Indonesia mencakup berbagai aspek dalam kegiatan bank, mulai dari
penghimpunan dana sampai dengan penggunaan dan penyaluran dana
(Budisantoso dan Triandaru dalam Sumarti: 2006). Penilaian tingkat kesehatan
5
bank mencakup penilaian terhadap faktor-faktor permodalan, kualitas aset,
manajemen, rentabilitas, likuiditas, sensitivitas terhadap resiko pasar.
Kondisi kesehatan maupun kinerja bank dapat kita analisis melalui laporan
keuangan. Salah satu tujuan dari pelaporan keuangan adalah untuk memberikan
informasi bagi para pengguna laporan keuangan untuk pengambilan keputusan.
Berdasarkan
peraturan
Bank
Indonesia
Nomor:
3/22/PBI/2001
tentang
transparansi kondisi keuangan bank, bank wajib menyusun dan menyajikan
laporan keuangan dengan bentuk dan cakupan sebagaimana ditetapkan dalam
Peraturan Bank Indonesia ini, yang terdiri dari: (1) Laporan Tahunan; (2) Laporan
Keuangan Publikasi Triwulanan; (3) Laporan Keuangan Publikasi Bulanan; dan
(4) Laporan Keuangan Konsolidasi. Laporan keuangan yang diterbitkan
diharapkan mencerminkan kinerja bank tersebut yang sebenarnya. Dari informasi
yang bersifat fundamental tersebut dapat dilihat apakah bank tersebut telah
mencapai tingkat efisiensi yang baik, dalam arti telah memanfaatkan, mengelola
dan mencapai kinerja secara optimal dengan menggunakan sumber-sumber dana
yang ada. Bank yang memiliki tingkat kesehatan yang baik dapat dikatakan
memiliki kinerja yang baik pula. Dengan memiliki kinerja yang baik masyarakat
pemodal akan menanamkan dananya pada saham bank tersebut. Hal ini
menunjukkan adanya kepercayaan masyarakat bahwa bank tersebut dapat
memenuhi harapannya. Bank yang memperoleh dana dari masyarakat akan secara
sadar bahwa memiliki tanggung jawab untuk mengelola aktiva serta sumbersumber dana yang dimiliki secara profesional.
6
Kriteria penilaian kinerja perbankan yang digunakan dalam penelitian ini
berbeda dengan kriteria yang diterapkan oleh Bank Indonesia. Penilaian kesehatan
bank versi Bank Indonesia mengacu pada unsur-unsur Capital, Assets Quality,
Management, Earning, Liquidity dan Sensitivity. Sedangkan dalam penelitian ini
menerapkan rasio- rasio keuangan yang umum digunakan untuk mengukur kinerja
keuangan bank. Penelitian ini tidak mencantumkan unsur manajemen suatu bank
karena hal ini tidak bisa dilihat dari luar. Alasan dipilihnya Return On Assets
(ROA) dan Return On Equity (ROE) sebagai salah satu unsur di dalam variabel
dependen dengan alasan bahwa ROA dan ROE digunakan untuk mengukur
efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan
aktiva yang dimilikinya. ROA merupakan rasio antara laba sesudah pajak
terhadap total aset. Semakin besar ROA menunjukkan kinerja perusahaan semakin
baik, karena tingkat pengembalian (return) semakin besar. ROA juga merupakan
perkalian antara faktor net income margin dengan perputaran aktiva. Net Income
Margin menunjukkan kemampuan memperoleh laba dari setiap penjualan yang
diciptakan oleh perusahaan, sedangkan perputaran aktiva menunjukkan seberapa
jauh perusahaan mampu menciptakan penjualan dari aktiva yang dimilikinya.
Apabila salah satu dari faktor tersebut meningkat (atau keduanya), maka ROA
juga akan meningkat. Alasan dipilihnya industri perbankan karena kegiatan bank
sangat diperlukan bagi lancarnya kegiatan perekonomian di sektor riil. Sektor riil
tidak akan dapat berkinerja dengan baik apabila sektor moneter tidak bekerja
dengan baik.
7
Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari penelitian dapat
dikemukakan beberapa hal yaitu bahwa tidak ada kaitan langsung antara tingkat
perekonomian suatu negara dengan kinerja bank-bank pada negara tersebut,
kecuali menyangkut jumlah aset bank pada negara tersebut. Semakin tinggi
tingkat perekonomian suatu negara semakin tinggi jumlah rata-rata aset bank pada
negara tersebut dan sebaliknya. Bank-bank di Indonesia walaupun memiliki
kinerja operasional yang relatif lebih baik khususnya dari sisi Return On Asset
(ROA) dan Return On Equity (ROE) meskipun kualitas aset produktif tergolong
lebih rendah yang tercermin dari tingkat pencadangan piutang yang lebih tinggi
(Utomo, 2009: 2). Hal yang perlu diperhatikan oleh industri perbankan di
Indonesia, selain peningkatan efisiensi kegiatan operasional mengingat cost to
income ratio yang lebih tinggi juga perlu untuk mendorong pertumbuhan kredit ke
sektor riil.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Utomo (2009) menyebutkan
bahwa inflasi dan suku bunga BI memiliki pengaruh yang cukup signifikan
terhadap kinerja keuangan namun jika dilihat secara parsial, inflasi dan suku
bunga BI tersebut tidak secara signifikan mempengaruhi kinerja keuangan pada
PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk. Sedangkan penelitian yang dilakukan Sahara
(2013) menyatakan bahwa suku bunga BI berpengaruh negatif terhadap
profitabilitas, namun pada pengujian inflasi menunjukkan hasil bahwa terdapat
pengaruh positif terhadap profitabilitas, dan secara bersama-sama inflasi, suku
bunga BI berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas.
8
Menurut Dwijayanty (2009) inflasi mempunyai pengaruh yang negatif
terhadap profitabilitas, dan suku bunga BI berpengaruh negatif terhadap
profitabilitas pada bank syariah di Indonesia. Wibowo (2012) hasil penelitian
menunjukkan bahwa variabel inflasi berpengaruh negatif terhadap profitabilitas,
dan suku bunga BI berpengaruh negatif terhadap profitabilitas pada bank umum
syariah di Indonesia.
Oktavia (2009) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Suku BI dan
Inflasi Terhadap Kinerja Keuangan Bank Umum Syariah di Indonesia. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa secara parsial hanya variabel suku bunga BI yang
menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja keungan pada bank
umum syariah di Indonesia. Variabel inflasi tidak berpengaruh terhadap kinerja
keuangan pada bank umum syariah di Indonesia.
Berdasarkan penelitian terdahulu ditemukan perbedaan hasil penelitian
(research gap), mengenai dampak inflasi dan perubahan tingkat suku bunga
terhadap kinerja perbankan syariah. Sangat penting untuk mengklarifikasikan
hasil temuan di atas, dengan melakukan penelitian yang berjudul : “Analisis
Pengaruh Inflasi dan Suku Bunga Bank Indonesia Terhadap Kinerja
Keuangan Bank Umum Syariah di Indonesia (Periode 2012-2014) ”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti terdahulu dimana
hasil yang diperoleh tidak adanya kekonsistenan hubungan antara variabel suku
bunga, inflasi terhadap kesehatan dan kinerja perbankan syariah maka diperlukan
9
penelitian ulang guna menguji variabel-variabel tersebut untuk mendapatkan
konsistensi hasil.
Dari latar belakang di atas, maka pertanyaan penelitian yang dapat
diajukan adalah:
1. Bagaimana pengaruh inflasi terhadap kinerja keuangan bank syariah?
2. Bagaimana pengaruh suku bunga BI terhadap kinerja keuangan bank syariah?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah dan pertanyaan penelitian
diatas maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Menganalisis pengaruh inflasi terhadap kinerja keuangan bank syariah.
2. Menganalisis pengaruh suku bunga BI terhadap kinerja keuangan bank syariah.
D. Manfaat Penelitian
Kegunaan penelitian yang dilakukan berkaitan dengan tingkat kesehatan
dan kinerja bank syariah beserta variabel-variabel yang mempengaruhi adalah
sebagai berikut:
1. Bagi perbankan, penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam
pengambilan keputusan yang akan diambil terhadap faktor-faktor yang
mempengaruhi kesehatan dan kinerja perbankan syariah sehingga kegiatan
perbankan dapat berjalan dengan baik.
2. Bagi nasabah dan investor, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan
informasi ketika memilih produk bank syariah. Sehingga nasabah dan investor
mempunyai gambaran tentang bagaimana kondisi perbankan yang dapat
menguntungkan mereka.
10
3. Bagi pembaca akademisi, diharapkan dapat menambah wawasan di bidang
perbankan khususnya perbankan syariah dalam hal yang berkaitan dengan
kesehatan dan kinerja perbankan syariah.
4. Bagi penulis, diharapkan penelitian ini bermanfaat untuk memperluas
pengetahuan mengenai dunia perbankan syariah, dan menerapkan ilmu yang
didapat
saat
mengikuti
perkuliahan,
berpikir
kritis,
sistematis,
dan
mengaplikasikan teori.
E. Sistematika Penulisan
Untuk kejelasan dan ketepatan arah pembahassan dalam skripsi ini penulis
menyusun sistematika sebagai berikut :
BAB 1: PENDAHULUAN
Menyajikan pendahuluan dari seluruh penulisan yang berisi latar belakang
masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian serta sistematika
penulisan.
BAB II : KAJIAN PUSTAKA
Menguraikan tentang telaah pustaka yang berisi ringkasan penelitian
terdahulu, kerangka teori yang berkaitan dengan topik penelitian, kerangka
penelitian yang berisi telaah kritis untuk menghasilkan hipotesis dan model
penelitian yang akan diuji, serta hipotesis penelitian yang menjadi pedoman dalam
analisis data.
BAB III : METODE PENELITIAN
Bab Metode Penelitian berisi variabel penelitian yang digunakan,
penentuan populasi dan sampel, jenis dan sumber data, definisi operasional
11
variabel, metode pengumpulan data dan metode analisis yang digunakan dalam
penelitian.
BAB IV : ANALISIS PENELITIAN
Menguraikan tentang diskripsi objek penelitian, analisis data dan
interprestasi hasil pengolahan data.
BAB V : PENUTUP
Menguraikan tentang simpulan dari penelitian yang telah dilakukan,
keterbatasan penelitian serta saran-saran yang dapat diberikan kepada perusahaan
dan pihak-pihak lain yang membutuhkan.
12
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
Penelitian yang dilakukan Utomo (2009) menyebutkan bahwa inflasi dan
suku bunga BI memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kinerja
keuangan namun jika dilihat secara parsial, inflasi dan suku bunga BI tersebut
tidak secara signifikan mempengaruhi kinerja keuangan pada PT. Bank Muamalat
Indonesia, Tbk. Sedangkan penelitian yang dilakukan Sahara (2013) menyatakan
bahwa suku bunga BI berpengaruh negatif terhadap profitabilitas, namun pada
pengujian inflasi menunjukkan hasil bahwa terdapat pengaruh positif terhadap
profitabilitas, dan secara bersama-sama inflasi, suku bunga BI berpengaruh
signifikan terhadap profitabilitas.
Menurut Dwijayanty (2009) inflasi mempunyai pengaruh yang negatif
terhadap profitabilitas, dan suku bunga BI berpengaruh negatif terhadap
profitabilitas pada bank syariah di Indonesia. Wibowo (2012) hasil penelitian
menunjukkan bahwa variabel inflasi berpengaruh negatif terhadap profitabilitas,
dan suku bunga BI berpengaruh negatif terhadap profitabilitas pada bank umum
syariah di Indonesia.
Oktavia (2009) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Suku BI Dan
Inflasi Terhadap Kinerja Keuangan Pada PT. Bank Mandiri Syariah, Tbk. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa secara parsial hanya variabel suku bunga BI yang
menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja keungan pada PT. Bank
13
Mandiri Syariah, Tbk. Variabel Inflasi tidak berpengaruh terhadap kinerja
keuangan pada PT. Bank Mandiri Syariah, Tbk.
Tabel 2.1
Research Gap
Judul
Nama Peneliti
Hasil Penelitian
Analisis Pengaruh
Inflasi, Suku Bunga
BI, dan Produk
Domestik Bruto
Terhadap Return On
Asset (ROA) Bank
Syariah di Indonesia
Ayu Yanita Sahara
(2013)
Suku bunga BI berpengaruh
negatif terhadap ROA, inflasi
berpengaruh positif terhadap
ROA, produk domestik bruto
berpengaruh positif terhadap
ROA, dan secara bersamasama inflasi, suku bunga BI
dan produk domestik bruto
berpengaruh
positif
dan
signifikan terhadap ROA.
Pengaruh Inflasi dan
Tingkat Suku Bunga
terhadap Simpanan
Deposito Mudharabah
(Pada bank Umum
Syariah Periode 20092013)
Dini Kurniati (2013)
Inflasi berpengaruh secara
signifikan terhadap simpanan
deposito mudharabah, Suku
Bunga BI berpengaruh secara
signifikan terhadap simpanan
deposito mudharabah.
Analisis Pengaruh
Suku Bunga, Inflasi,
CAR, BOPO, NPF
Terhadap
Profitabilitas Bank
Syariah
Edhi Satriyo Wibowo
(2012)
Suku
bunga
berpengaruh
negatif terhadap ROA, inflasi
berpengaruh negatif terhadap
ROA,
CAR
berpengaruh
negatif terhadap ROA, BOPO
berpengaruh negatif terhadap
ROA,
NPF
berpengaruh
negatif terhadap ROA.
Pengaruh Inflasi dan
Erni Indah Sari (2013)
Tingkat Suku Bunga
Terhadap Return Bank
Umum Syariah di
Indonesia
14
Inflasi
tidak berpengaruh
signifikan terhadap return
Bank Umum Syariah, Suku
Bunga BI tidak berpengaruh
signifikan terhadap return
Bank Umum Syariah.
Pengaruh CAR, NPF,
FDR, BOPO, Suku
Bunga dan Inflasi
Terhadap
Profitabilitas Bank
Umum Syariah
Periode 2007-2011)
Erni Kurniasih (2012)
Suku Bunga BI berpengaruh
positif dan signifikan terhadap
tingkat profitabilitas (ROA),
Inflasi berpengaruh negatif dan
signifikan
terhadap
profitabilitas (ROA) Bank
Umum Syariah.
Analisis Pengaruh
CAR, NPL, BI Rate
dan Nilai Tukar
Rupiah Terhadap
ROA Bank Umum
Syariah Nasional
Fajar Ari Juniarti
(2013)
Suku Bunga BI berpengaruh
negatif dan signifikan terhadap
Return on Asset (ROA) Bank
Umum Syariah.
Analisis Pengaruh
Inflasi, BI Rate, dan
Nilai Tukar Mata
Uang Terhadap
Profitabilitas Bank
Syariah.
Pengaruh Inflasi, BI
Rate, CAR, NPF,
BOPO, Terhadap
Profitabilitas Bank
Umum Syariah
Periode 2008-2012)
Analisis Pengaruh
Inflasi, Nilai Tukar
dan BI Rate Terhadap
Tabungan
Mudharabah Pada
Perbankan Syariah.
Pengaruh Suku Bunga
SBI, Nilai Tukar
Rupiah, dan Inflasi
Terhadap Kinerja
Keuangan Perusahaan
Sebelum dan Sesudah
Privatisasi
Febriana Dwijayanty
(2009)
Inflasi berpengaruh negatif
terhadap profitabilitas, BI Rate
berpengaruh negatif terhadap
profitabilitas, nilai tukar mata
uang berpengaruh negatif
terhadap profitabilitas.
Suku Bunga BI berpengaruh
negatif terhadap ROA, Inflasi
tidak berpengaruh terhadap
ROA.
Fitri Zulifah (2013)
Friska Julianti (2013)
Linda Dwi Oktavia
(2009)
Pengaruh Tingkat
Muhammad Zuhdi
Inflasi, Suku Bunga
Amin (2012)
SBI, Nilai Kurs Dollar
(USD/IDR), dan
Indeks Dow Jones
15
Inflasi berpengaruh positif dan
signifikan terhadap tabungan
mudharabah, BI Rate
berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap tabungan
mudharabah.
Suku bunga SBI berpengaruh
positif terhadap kinerja
keuangan perusahaan, nilai
tukar rupiah berpengaruh
negatif terhadap kinerja
keuangan perusahaan, inflasi
berpengaruh negatif terhadap
kinerja keuangan perusahaan.
Inflasi tidak berpengaruh
secara parsial terhadap IHSG,
tingkat suku bunga SBI
berpengaruh positifi terhadap
IHSG
(DJIA) Terhadap
Pergerakan Indeks
Harga Saham
Gabungan di Bursa
Efek Indonesiai (BEI)
Analisis Pengaruh
Tingkat Inflasi dan
Suku Bunga BI
Terhadap Kinerja
keuangan Bank
Muamalat.
Analisis Pengaruh
Inflasi dan Suku
Bunga BI Terhadap
Kinerja Keuangan
bank Mandiri.
Pengaruh Return On
Asset (ROA), Debt to
Equity Ratio (DER),
Tingkat Suku Bunga
dan Tingkat Inflasi
Terhadap Return
Saham Sektor
Perbankan di Bursa
Efek Indonesia.
Analisis Pengaruh
Inflasi dan BI Rate
terhadap Return On
Asset (ROA) Bank
Syariah di Indonesia.
Novianto Satrio
Utomo (2009)
Inflasi berpengaruh negatif
tehadap kinerja keuangan
bank, suku bunga BI
berpengaruh negatif terhadap
kinerja keuangan bank.
Neni Supriyanti
(2012)
Inflasi berpengaruh negatif
terhadap kinerja keuangan
bank, suku bunga BI
berpengaruh negatif tehadap
kinerja keuangan bank.
Inflasi berpengaruh positif
terhadap return saham sektor
perbankan di BEI, suku bunga
BI berpengaruh positif
terhadap return saham sektor
perbankan di BEI.
Nini Safitri Aziz
(2012)
Syahirul Alim (2014)
Inflasi berpengaruh positif dan
tidak signifikan terhadap
Return on Asset, BI Rate
berpengaruh negatif dan tidak
signifikan terhadap Return on
Asset.
Hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian yang telah
dilakukan sebelumnya adalah Penulis mencoba meneliti bagaimana pengaruh
inflasi dan suku bunga BI terhadap kinerja keuangan dengan objek yang diteliti
dikhususkan kepada kinerja keuangan PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk, PT.
Bank Syariah Mandiri, Tbk, PT. Bank Mega Syariah Indonesia, Tbk, PT. Bank
Nasional Indonesia Syariah, Tbk pada periode 2012-2014.
16
B. Telaah Teori
1. Bank Syariah
Menurut Undang-Undang No.10 Tahun 1998 pengertian bank adalah
suatu badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat, dalam bentuk kredit dan
atau
bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat
banyak.
Menurut UU No.19 tahun 1998, tugas bank adalah membantu
pemerintah dalam hal mengatur, menjaga, dan memelihara stabilitas nilai
rupiah, mendorong kelancaran produksi dan pembangunan serta memperluas
kesempatan kerja guna peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Sedangkan
fungsi bank pada umumnya (Kasmir, 2013: 24).
a. Menyediakan mekanisme dan alat pembayaran yang lebih efisien dalam
kegiatan ekonomi.
b. Menghimpun dana dan menyalurkannya kepada masyarakat.
c. Menawarkan jasa-jasa keuangan lain.
Perkembangan
bank
syariah
di
berbagai
negara
Islam
lainnya
memberikan dampak pengaruh yang positif bagi perkembangan bank syariah di
Indonesia. Hal ini terbukti pada awal tahun 1980-an telah banyak diskusikan
mengenai keberadaan bank syariah sebagai alternatif perbankan yang berbasis
Islam dan sekaligus juga sebagai penopang
kekuatan
ekonomi
Islam
di
Indonesia. Perbentukan Bank Syariah ini diprakarsai oleh Majelis Ulama
Indonesia (MUI) dengan lokakaryanya tentang bunga Bank. Lokakarya tersebut
17
menghasilkan terbentuknya sebuah tim perbankan
yang bertugas untuk
melakukan pendekatan dan konsultasi manfaat Bank Syariah.
Perbankan syariah memiliki tujuan yang sama seperti perbankan
konvensional, yaitu agar lembaga perbankan dapat menghasilkan keuntungan
dengan cara meminjamkan modal, menyimpan dana, membiayai kegiatan
usaha, atau kegiatan lainnya yang sesuai. Akan tetapi perbedaanya terdapat
pada
prinsip pelaksanaanya yaitu berdasarkan
prinsip hukum Islam
yang
melarang unsur-unsur di bawah ini (Antonio, 2001: 1):
a. Perniagaan atas barang-barang haram
b. Bunga (riba)
c. Perjudian dan spekulasi yang disengaja (maysir)
d. Ketidakjelasan dan manipulatif (gharar).
Menurut (Antonio, 2001: 1) prinsip-prinsip bank syariah adalah sebagai
berikut:
a. Prinsip Titipan atau Simpanan (Al-Wadiah). Al-Wadiah dapat diartikan
sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik individu
maupun badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si
penitip menghendaki.
b. Prinsip Bagi Hasil. Sistem ini adalah suatu sistem yang meliputi tatacara
pembagian hasil usaha antara penyedia dana dengan pengelola dana.
c. Prinsip Jual Beli. Prinsip ini merupakan suatu sistem yang menerapkan
tata cara jual beli, dimana bank akan membeli terlebih dahulu barang
yang dibutuhkan atau mengangkat nasabah sebagai agen bank melakukan
18
pembelian barang atas nama bank, kemudian bank menjual barang
tersebut kepada nasabah dengan harga sejumlah harga beli ditambah
keuntungan.
d. Prinsip Sewa (Al-Ijarah). Al-ijarah adalah akad pemindahan hak guna
atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti
dengan pemindahan hak kepemilikan atas barang itu sendiri.
e. Prinsip Jasa (Fee-Based Service). Prinsip ini meliputi seluruh layanan non
pembiayaan yang diberikan bank.
Adanya krisis moneter yang berawal pada tahun 1997 membawa
dampak terhadap struktur perekonomian terutama struktur keuangan dan
perbankan. Sehingga puluhan bank konvensional banyak yang ditutup dan
dimerger, sementara bank syariah justru bertahan. Hal ini menimbulkan krisis
kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional. Pada awalnya hanya
terdapat 1 Bank Umum Syariah (BUS) dan 9 Bank Perkreditan Rakyat Syariah
(BPRS) dan perkembangannya di akhir tahun 2007 sudah menjadi 3 Bank
Umum Syariah (BUS), 26 Unit Usaha Syariah (UUS) dan 114 Bank
Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), serta terdapat 711 Kantor Bank Syariah
(Direktori Syariah Republika, 2008).
Mengingat semakin pesatnya pertumbuhan perbankan syariah di
Indonesia maka
perlu dibentuk sebuah peraturan yang mengatur sistem
perbankan syariah dan badan pengawas syariah agar prinsip syariah dijalankan
sebagaimana mestinya. Pada tahun 2008 ditetapkanlah UU no. 21 tahun 2008
yang mengatur tentang Perbankan Syariah. Selain itu juga dibentuk Dewan
19
Pengawas Syariah yang berperan sebagai badan independen yang mengawasi
jalannya Lembaga Keuangan Syariah sehari-hari agar selalu sesuai dengan
ketentuan-ketentuan syariah.
Mengingat pentingnya perkembangan perbankan syariah di Indonesia,
maka pihak bank syariah perlu meningkatkan kinerjanya agar tercipta
perbankan
dengan prinsip syariah yang sehat dan efisien. Profitabilitas
merupakan indikator yang paling tepat untuk mengukur kinerja suatu bank.
2. Inflasi
Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan
terus menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat
disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang
meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau
bahkan
spekulasi,
sampai
termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran
distribusi barang (Wibowo, 2012: 19). Dapat diartikan sebagai
proses
menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu
peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Inflasi adalah indikator
untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan
harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi
(Wibowo, 2012:19).
Istilah
inflasi juga
digunakan
untuk
mengartikan
peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab
meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua
yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator. Inflasi terbagi
menjadi 4 tingkatan, yaitu
20
a. Inflasi Ringan, apabila kenaikan harga berada di bawah 10% setahun.
b. Inflasi Sedang, apabila kenaikan harga berada di antara 10%-30% setahun.
c. Inflasi Berat, apabila kenaikan harga berada di antara30%-100% setahun.
d. Hiperinflasi, apabila kenaikan harga di atas 100% setahun.
Inflasi
diukur
dengan
menghitung
perubahan
tingkat
persentase
perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut di antaranya:
a. Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah indeks
yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh
konsumen.
b. Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI).
c. Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari
barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi.
IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena
perubahan
harga
bahan
baku
meningkatkan
biaya
produksi,
yang
kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi.
d. Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditaskomoditas tertentu.
e. Indeks harga barang-barang modal
Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua
barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa (www.bi.go.id)
a. Jenis Inflasi Menurut Sebabnya
Menurut (Nopirin, 2009: 28), jenis inflasi menurut sebabnya ada 2 macam
yaitu:
21
1) Demand Pull Inflation
Inflasi ini bermula dari adanya kenaikan permintaan total (agregate
demand), sedangkan produksi telah berada pada keadaan kesempatan kerja penuh
atau hampir mendekati kesempatan kerja penuh. Dalam keadaan kesempatan kerja
hampir penuh, kenaikan permintaan total disamping kenaikan harga dapat juga
menaikkan hasil produksi (output). Apabila kesempatan kerja penuh (full
employment) telah tercapai, penambahan permintaan selanjutnya hanyalah akan
menaikkan harga saja. Apabila kenaikan permintaan ini menyebabkan
keseimbangan GNP berada di atas atau melebihi GNP pada kesempatan kerja
penuh akan terdapat adanya inflationary gap yang kemudian akan menyebabkan
inflasi.
2) Cost Push Inflation
Cost push inflation biasanya ditandai dengan kenaikkan harga serta
turunnya produksi atau inflasi yang dibarengi dengan resesi. Keadaan ini timbul
biasanya dimulai dengan adanya penurunan dalam penawaran total (agregat
supply) sebagai akibat kenaikan biaya.
b. Efek Inflasi
Menurut (Nopirin, 2009: 32), efek inflasi ada 3 macam yaitu:
1) Efek Terhadap Pendapatan (Equity Effect)
Efek terhadap pendapatan yang sifatnya tidak merata, ada yang dirugikan
tetapi ada pula yang diuntungkan dengan adanya inflasi. Dengan demikian inflasi
dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam pola pembagian pendapatan dan
22
kekayaan masyarakat. Inflasi seolah-olah merupakan pajak bagi seseorang dan
merupakan subsidi bagi orang lain.
2) Efek Terhadap Efisiensi (Efficincy Effects)
Inflasi dapat pula mengubah pola alokasi faktor-faktor produksi. Perubahan
ini dapat terjadi melalui kenaikan permintan akan berbagai macam barang yang
kemudian dapat mendorong terjadinya perubahan dalam produksi beberapa
barang tertentu. Dengan adanya inflasi permintaan akan barang tertentu
mengalami kenaikan yang lebih besar dari barang lain, yang kemudian mendorong
kenaikan produksi barang tersebut. Kenaikan produksi barang ini pada gilirannya
akan merubah pola alokasi faktor produksi itu lebih efisien dalam keadaan tidak
ada inflasi. Namun, kebanyakan ahli ekonomi berpendapat bahwa inflasi dapat
mengakibatkan alokasi faktor produksi menjadi tidak efisien.
3) Efek Terhadap Output (Output Effects)
Inflasi mungkin dapat menyebabkan terjadinya kenaikan produksi.
Alasannya dalam keadaan inflasi biasanya kenaikkan harga barang mendahului
kenaikkan upah sehingga keuntungan pengusaha naik. Kenaikan keuntungan ini
akan mendorong kenaikan produksi. Namun apabila laju inflasi itu cukup tinggi
(hyper inflation) dapat mempunyai akibat sebaliknya, yakni penurunan output.
Dalam keadaan inflasi yang tinggi, nilai uang riil akan turun dengan drastis,
masyarakat cenderung tidak menyukai uang kas, transaksi mengarah ke barter,
yang biasanya diikuti dengan turunnya produksi barang. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa tidak ada hubungan langsung antara inflasi dengan output.
Inflasi bisa juga dibarengi dengan penurunan output.
23
c. Cara Mencegah Inflasi
Menurut (Nopirin, 2009: 34), cara mencegah inflasi ada 2 macam yaitu:
1) Kebijakan Moneter
Sasaran kebijakan moneter dicapai melalui pengaturan jumlah uang
beredar. Salah satu komponen jumlah uang adalah uang giral (demand deposit).
Uang giral dapat terjadi melalui dua cara; pertama, apabila seseorang
memasukkan uang kas ke dalam bank dalam bentuk giro. Kedua, apabila
seseorang memperoleh pinjaman dari bank tidak diterima kas tetapi dalam bentuk
giro. Deposito yang timbul dengan cara kedua sifatnya lebih inflatoir daripada
cara pertama. Sebab cara pertama hanyalah pengalihan bentuk saja dari uang kas
ke uang giral.
2) Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal menyangkut pengaturan tentang pengeluaran pemerintah
serta perpajakan yang secara langsung dapat mempengaruhi permintaan total dan
dengan demikian akan mempengaruhi harga. Inflasi dapat dicegah melalui
penurunan permintaan total. Kebijaksanaan fiskal yang berupa pengurangan
pengeluaran pemerintah serta kenaikan pajak akan dapat mengurangi permintaan
total, sehingga inflasi dapat ditekan.
3) Kebijakan yang Berkaitan Dengan Output
Kenaikan output dapat memperkecil laju inflasi. Kenaikan jumlah output
ini dapat dicapai misalnya dengan kebijakan penurunan bea masuk sehingga
impor barang cenderung meningkat. Bertambahnya jumlah barang di dalam negeri
cenderung menurunkan harga.
24
4) Kebijakan Penentuan Harga dan Indexing
Ini dilakukan dengan penentuan ceiling harga, serta mendasarkan pada
indeks harga tertentu untuk gaji ataupun upah (dengan demikian gaji secara riil
tetap). Kalau indeks harga naik, maka gaji juga dinaikkan.
3. Suku Bunga BI
BI rate menurut Bank Indonesia adalah suku bunga kebijakan yang
mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank
Indonesia dan diumumkan kepada publik (www.bi.go.id). BI rate diumumkan
oleh Dewan Gubernur Indonesia setiap Rapat Dewan Gubernur bulanan dan
diimplementasikan pada operasi moneter yang dilakukan Bank Indonesia melalui
pengelolaan likuiditas (liquidity management) di pasar uang untuk mencapai
sasaran operasional kebijakan moneter (www.bi.go.id). Sasaran operasional
kebijakan moneter dicerminkan pada perkembangan suku bunga Pasar Uang
Antar Bank Overnight (PUAB O/N). Pergerakan di suku bunga PUAB ini
diharapkan akan diikuti oleh perkembangan di suku bunga deposito, dan pada
gilirannya
suku
bunga
kredit
perbankan
(www.bi.go.id).
Dengan
mempertimbangkan pula faktor-faktor lain dalam perekonomian, Bank Indonesia
pada umumnya akan menaikkan BI rate apabila inflasi ke depan diperkirakan
melampaui sasaran yang telah ditetapkan, sebaliknya Bank Indonesia akan
menurunkan BI rate apabila inflasi ke depan diperkirakan berada di bawah
sasaran yang telah ditentukan (www.bi.go.id).
Menurut Laksmono (2001:104) dalam nilai suku bunga domestik di
Indonesia sangat terkait dengan suku bunga internasional. Hal ini disebabkan oleh
25
akses pasar keuangan domestik terhadap pasar keuangan internasional dan
kebijakan nilai tukar yang kurang fleksibel. Pengertian dasar dari teori tingkat
suku bunga yaitu harga dari penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu. Bunga
merupakan imbalan atas ketidaknyamanan karena melepas uang, dengan demikian
bunga adalah harga kredit. Tingkat suku bunga berkaitan dengan peranan waktu
didalam kegiatan-kegiatan ekonomi. Tingkat suku bunga muncul dari kegemaran
untuk mempunyai uang sekarang (Kurniawan, 2004: 143). Menurut Darmawi
(2006:181) tingkat bunga merupakan harga yang harus dibayar oleh peminjam
untuk memperoleh dana dari pemberi pinjaman untuk jangka waktu yang
disepakati. Dengan kata lain, tingkat bunga dalam hal ini merupakan harga dari
kredit. Namun harga itu tidak sama dengan harga barang di pasar komoditi karena
tingkat bunga sesungguhnya merupakan suatu angka perbandingan, yaitu jumlah
biaya pinjaman dibagi jumlah uang yang sesungguhnya dipinjam, biasanya
dinyatakan dalam persentase per tahun. Suku bunga terdiri dari suku bunga riil
dan suku bunga nominal. Mankiw (2013:89) menyatakan bahwa “the nominal
interest rate is sum of the real interest rate and the inflation rate”. Suku bunga
nominal adalah jumlah suku bunga riil ditambah laju inflasi, yang dapat
dirumuskan sebagai berikut:
R=i–π
Dimana :
r = suku bunga riil
i = suku bunga nominal
26
π = laju inflasi
Tingkat bunga nominal adalah tingkat bunga yang digunakan sebagai
ukuran untuk menentukan besarnya bunga yang harus dibayar oleh pihak
peminjam dana. Sedangkan tingkat bunga riil menunjukkan presentase dari nilai
riil modal ditambah bunganya dalam setahun, dinyatakan sebagai persentase dari
nilai riil modal sebelum dibungakan (Sukirno, 2000:386). Sedangkan Sjahrial
(2006:7) menyatakan bahwa tingkat bunga adalah kompensasi yang dibayarkan
oleh peminjam kepada yang memberikan pinjaman. Dari sudut peminjam
merupakan biaya dari dana yang mereka pinjam. Menurut Darmawi (2006:188)
tingkat suku bunga merupakan salah satu indikator moneter yang mempunyai
dampak dalam berbagai kegiatan perekonomian sebagai berikut:
a. Tingkat suku bunga akan mempengaruhi keputusan melakukan investasi yang
pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi.
b. Tingkat suku bunga juga akan mempengaruhi pengambilan keputusan pemilik
modal apakah ia akan berinvestasi pada real assets ataukah pada financial
assets.
c. Tingkat suku bunga akan mempengaruhi kelangsungan usaha pihak bank dan
lembaga keuangan lainnya.
d. Tingkat suku bunga dapat mempengaruhi volume uang beredar.
Bunga adalah imbal jasa atas pinjaman uang yang merupakan suatu
kompensasi kepada pemberi pinjaman atas manfaat kedepan dari uang
pinjaman tersebut apabila diinvestasikan. Jumlah pinjaman tersebut disebut
27
pokok utang (principal). Persentase dari pokok utang yang dibayarkan
sebagai imbal jasa (bunga) dalam suatu periode tertentu disebut suku bunga.
Secara
teoritis
terdapat
dua
jalur
utama
mekanisme
transmisi
kebijakan moneter, yaitu melalui jalur jumlah uang yang beredar dan jalur harga
melalui suku bunga. Jalur suku bunga ini merupakan channel yang penting
untuk perekonomian Indonesia. (Sarwono dan Warjiyo dalam Wibowo, 1998).
Pengujian empiris mengungkapkan bahwa pengaruh suku bunga terhadap
inflasi mempunyai hubungan yang lebih stabil dibandingkan dengan agregat
moneter. Upaya untuk menekan fluktuasi tingkat suku bunga tergantung pada
keberhasilan mengendalikan gejolak di pasar uang. Menurut (Kasmir, 2013: 115)
faktor-faktor yang mempengaruhi suku bunga adalah sebagai berikut:
a. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Suku Bunga
1) Kebutuhan Dana
Apabila bank kekurangan dana (simpanan sedikit), sementara permohonan
pinjaman meningkat, maka yang dilakukan oleh bank agar dana tersebut cepat
terpenuhi dengan meningkatkan suku bunga simpanan. Dengan meningkatnya
suku bunga simpanan akan menarik nasabah untuk menyimpan uang di bank.
Dengan demikian kebutuhan dana dapat dipenuhi. Sebaliknya, jika bank kelebihan
dana, dimana simpanan banyak akan tetapi permohonan kredit sedikit, maka bank
akan menurunkan bunga simpanan sehingga mengurangi minat nasabah untuk
menyimpan. Atau dengan cara menurunkan juga bunga kredit sehingga
permohonan kredit meningkat
.
28
2) Persaingan
Dalam memperebutkan dana simpanan, maka disamping faktor promosi,
yang paling utama pihak perbankan harus memperhatikan pesaing. Dalam arti jika
untuk bunga simpanan rata-rata 16% per tahun, maka jika hendak membutuhkan
dana cepat sebaiknya bunga simpanan kita naikkan di atas bunga pesaing
misalnya 17% per tahun. Namun sebaliknya untuk bunga pinjaman kita harus
berada di bawah bunga pesaing.
3) Kebijakan Pemerintah
Dalam kondisi tertentu pemerintah dapat menentukan batas maksimal atau
minimal suku bunga, baik bunga simpanan maupun bunga pinjaman. Dengan
ketentuan batas minimal atau maksimal bunga simpanan maupun bunga pinjaman
bank tidak boleh melebihi batas yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.
4) Target Laba yang Diinginkan
Target laba yang diinginkan, merupakan besarnya keuntungan yang
diinginkan oleh bank. Jika laba yang diinginkan besar, maka bunga pinjaman ikut
besar dan demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu pihak bank harus hati-hati
dalam menentukan persentase laba atau keuntungan yang diinginkan.
5) Jangka Waktu
Semakin panjang jangka waktu pinjaman, maka akan semakin tinggi
bunganya, hal ini disebabkan besarnya kemungkinan resiko di masa mendatang.
Demikian sebaliknya jika pinjaman berjangka pendek, maka bunganya relatif
lebih rendah.
29
6) Kualitas Jaminan
Semakin likuid jaminan yang diberikan, maka semakin rendah bunga
kredit yang dibebankan dan sebaliknya.
7) Reputasi Perusahaan
Bonafiditas suatu perusahaan yang akan memperoleh kredit juga sangat
menentukan tingkat suku bunga yang akan dibebankan nantinya, karena biasanya
perusahaan yang bonafid kemungkinan resiko kredit macet di masa mendatang
relatif kecil dan sebaliknya.
8) Produk yang Kompetitif
Maksudnya adalah produk yang dibiayai kredit tersebut laku dipasarkan.
Untuk produk yang kompetitif, produk kredit yang diberikan relatif rendah jika
dibandingkan dengan produk yang kurang kompetitif. Hal ini disebabkan tingkat
pengembalian kredit terjamin, karena produk yang dibiayai laku dipasaran.
9) Hubungan Baik
Biasanya pihak bank menggolongkan nasabahnya menjadi dua yaitu
nasabah utama (primer) dan nasabah biasa (sekunder). Penggolongan ini
didasarkan kepada keaktifan serta loyalitas nasabah yang bersangkutan terhadap
bank. Nasabah utama biasanya mempunyai hubungan yang baik dengan pihak
bank, sehingga dalam penentuan suku bunganyapun berbeda dengan nasabah
biasa.
10) Jaminan Pihak Ketiga
Dalam hal ini pihak yang memberikan jaminan kepada bank untuk
menanggung segala resiko yang dibebankan kepada penerima kredit. Biasanya
30
pihak yang memberikan jaminan bonafit baik dari segi kemampuan membayar,
nama baik maupun loyalitasnya terhadap bank, sehingga bunga yang
dibebankanpun juga berbeda. Demikian pula sebaliknya jika penjamin pihak
ketiga kurang bonafid atau tidak dapat dipercaya, maka mungkin tidak dapat
digunakan sebagai jaminan ketiga oleh pihak perbankan.
b. Komponen-Komponen Yang Menentukan Bunga
1) Total Biaya Dana (Cost of Fund)
Merupakan biaya untuk memperoleh simpanan setelah ditambah dengan
cadangan wajib (reserve requirement) yang ditetapkan pemerintah. Biaya dana
tergantung dari seberapa besar bunga yang ditentukan untuk memperoleh dana
melalui produk simpanan. Semakin besar atau mahal bunga yang dibebankan,
maka semakin tinggi pula biaya dananya.
2) Laba yang Diinginkan
Merupakan laba atau keuntungan yang ingin diperoleh bank dan biasanya
dalam persentase tertentu. Penentuan besarnya laba juga sangat mempengaruhi
besarnya bunga kredit. Dalam hal ini biasanya bank disamping melihat kondisi
pesaing juga melihat kondisi kondisi nasabah apakah nasabah utama atau bukan
dan juga melihat sektor-sektor yang dibiayai, misalnya jika proyek pemerintah
untuk pengusaha kecil, maka labanya berbeda dengan yang komersil.
3) Cadangan Resiko Kredit Macet
Merupakan cadangan terhadap macetnya kredit yang diberikan, karena
setiap kredit yang diberikan pasti mengandung suatu resiko tidak terbayar. Resiko
31
itu dapat timbul baik disengaja maupun tidak disengaja. Oleh karena itu pihak
bank perlu mencadangkannya sebagai sikap bersiaga menghadapinya.
4) Biaya Operasi
Biaya Operasi merupakan biaya yang dikeluarkan oleh bank dalam
melaksanakan kegiatan operasinya. Biaya ini terdiri dari biaya gaji, biaya
administrasi, biaya pemeliharaan dan biaya-biaya lainnya.
5) Pajak
Yaitu pajak yang dibebankan pemerintah kepada bank yang memberikan
fasilitas kredit kepada nasabahnya.
c. Jenis-Jenis Pembebanan Suku Bunga
1) Flat Rate
Pembebanan bunga setiap bulan tetap dari jumlah pinjamannya, demikian
pula pokok pinjaman setiap bulan juga dibayar sama, sehingga angsuran setiap
bulan juga sama sampai kredit tersebut lunas. Jenis flat rate ini diberikan kepada
kredit yang bersifat konsumtif seperti pembelian rumah tinggal, pembelian mobil
pribadi atau kredit konsumtif lainnya.
2) Sliding Rate
Pembebanan bunga setiap bulan dihitung dari sisa pinjamannya, sehingga
jumlah bunga yang dibayar setiap bulan menurun seiring dengan turunnya pokok
pinjaman. Akan tetapi pembayaran pokok pinjaman setiap bulan sama. Angsuran
nasabah (pokok pinjaman ditambah bunga) otomatis dari bulan ke bulan semakin
menurun. Jenis sliding rate ini biasanya diberikan kepada sektor produktif,
dengan maksud si nasabah merasa tidak terbebani oleh pinjamannya.
32
3) Floating Rate
Metode floating rate menetapkan besar kecilnya bunga kredit dikaitkan
dengan bunga yang berlaku di pasar uang, sehingga bunga yang dibayar setiap
bulan sangat tergantung dari bunga pasar uang pada bulan tersebut. Jumlah bunga
yang dibayarkan dapat lebih tinggi atau lebih rendah atau sama dari bulan yang
bersangkutan. Pada akhirnya hal ini juga berpengaruh terhadap angsuran setiap
bulan, yaitu bisa tetap, naik dan turun.
d. Hubungan Suku Bunga BI, Profit Lost Sharing, dan Margin Bank Syariah
Permintaan adalah keinginan yang disertai dengan kesediaan serta
kemampuan untuk membeli barang yang bersangkutan, sedangkan permintaan
akan suatu barang adalah jumlah barang yang bersangkutan yang pembeli
bersedia membelinya pada tingkat harga yang berlaku pada suatu pasar tertentu
dan dalam waktu tertentu. Pada penelitian ini barang diumpamakan adalah
deposito dan harga dari suatu pasar adalah bunga dan bagi hasil.
Permintaan pasar itu permintaan agregat untuk suatu komoditi yang
menunjukkan jumlah alternatif dari komoditi yang diminta per periode waktu
pada berbagai harga alternatif oleh semua individu di dalam pasar. Jadi,
permintaan pasar untuk suatu komoditi tergantung pada semua faktor yang
menentukan permintaan individu dan selanjutnya pada jumlah pembeli komoditi
tersebut di pasar. Secara geometris kurva permintaan pasar untuk suatu komoditi
diperoleh melalui penjumlahan horizontal dari semua kurva permintaan individu
untuk komoditi tersebut.
33
Hubungan permintaan menjelaskan jika harga naik maka jumlah output
yang diminta akan turun dan sebaliknya, jika harga turun maka output yang
diminta akan naik. Artinya, jika harga atau bunga bank umum mengalami
kenaikan maka permintaan akan deposito akanberkurang atau menurun dan
sebaliknya, jika bagi hasil besar dari bunga bank umum maka permintaan akan
deposito meningkat karena nasabah bersifat profit motif.
Jika dilihat dari sisi permintaan akan deposito maka hubungan antara
bunga dengan deposito adalah negatif. Fungsi permintaan adalah permintaan yang
dinyatakan
dalam
hubungan
matematis
dengan
faktor-faktor
yang
mempengaruhinya. Fungsi permintaan dapat ditulis sebagai berikut:
Qdx = f (Px,Py)
Keterangan :
Qdx : Deposito
Px
: Bunga
Py
: Bagi Hasil
Dari fungsi permintaan diatas dapat dilihat bahwa ada beberapa faktor
yang mempengaruhi deposito antara lain bunga dan bagi hasil. Hubungan antar
variabel dapat dijeleaskan sebagai berikut:
1) Bunga
Apabila bunga bank umum mengalami kenaikan maka permintatan akan
deposito akan mengalami penurunan sedangkan jika bunga itu menurun maka
permintaan akan deposito bertambah atau meningkat.
34
2) Bagi Hasil
Bagi hasil adalah diasumsikan sebagai substitusi atau pembanding suku
bunga pada bank umum dimana keinginan masyarakat dalam mendepositokan
dananya adalah bersifat profit motif yang mana ingin mendapatkan keuntungan
yang besar. Hubungan yang terjadi adalah apabila tingkat bunga bagi hasil yang
diberikan mengalami kenaikan maka volume deposito juga akan meningkat dan
sebaliknya jika bagi hasil yang diberikan menurun maka volume deposito
menurun.
4. Kinerja Keuangan Bank Syariah
Kinerja (performance) dalam kamus istilah akuntansi adalah kuantifikasi
dari keefektifan dalam pengoperasian bisnis selama periode tertentu. Kinerja bank
secara umum merupakan gambaran prestasi yang dicapai oleh bank dalam
operasionalnya. Kinerja keuangan bank merupakan gambaran kondisi keuangan
bank pada suatu periode tertentu baik mencakup aspek penghimpunan dana
maupun penyaluran dananya. Kinerja menunjukkan sesuatu yang berhubungan
dengan kekuatan serta kelemahan suatu perusahaan. Kekuatan tersebut dipahami
agar dapat dimanfaatkan dan kelemahan pun harus diketahui agar dapat dilakukan
langkah-langkah perbaikan.
Kinerja perusahaan dapat diukur dengan menganalisa dan mengevaluasi
laporan keuangan. Informasi posisi keuangan dan kinerja keuangan di masa
lalu seringkali digunakan sebagai dasar untuk memprediksi posisi keuangan dan
kinerja di masa depan dan hal-hal lain yang langsung menarik perhatian pemakai
seperti pembayaran dividen, upah, pergerakan harga sekuritas dan kemampuan
35
perusahaan untuk memenuhi komitmennya ketika jatuh tempo.
Kinerja merupakan hal penting yang harus dicapai oleh setiap perusahaan
di manapun, karena kinerja merupakan cerminan dari kemampuan perusahaan
dalam mengelola dan mengalokasikan sumber dayanya. Selain itu tujuan pokok
penilaian kinerja adalah untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran
organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan
sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang diharapkan (Sugiharto
dalam Kusumo, 2008: 111). Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen
atau rencana formal yang dituangkan
dalam anggaran.
Rasio
merupakan
alat
ukur
yang
digunakan
perusahaan
untuk
menganalisis laporan keuangan. Rasio menggambarkan suatu hubungan atau
pertimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain (Zulfadin
dalam Kusumo, 2008: 111). Dengan menggunakan alat analisa berupa rasio
keuangan dapat menjelaskan dan memberikan gambaran kepada penganalisa
tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan dari
suatu periode ke periode berikutnya.
5. Analisis Rasio Keuangan
Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari
satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang
relevan dan signifikan (berarti) (Harahap, 2013: 296). Misalnya antara utang dan
modal, antara kas dan total aset, antara harga pokok produksi dengan total
penjualan, dan sebagainya.
36
Rasio keuangan hanya menyederhanakan informasi yang menggambarkan
hubungan antara pos tertentu dengan pos lainya. Dengan penyederhanaan kita
dapat menilai secara cepat hubungan antara pos tadi dan dapat membandingkan
dengan rasio lain sehingga kita dapat memperoleh informasi dan memberikan
penilaian (Harahap, 2013: 297)
Analisis rasio merupakan salah satu alat analisis keuangan yang banyak
digunakan. Rasio merupakan alat untuk menyediakan pandangan terhadap kondisi
yang mendasari. Rasio merupakan salah satu titik awal, bukan titik akhir. Rasio
yang diinterprestasikan dengan tepat mengidentifikasi area yang memerlukan
investigasi lebih lanjut. Analisa rasio dapat mengungkapkan hubungan penting
dan menjadi dasar perbandingan dalam menemukan kondisi dan tren yang sulit
untuk dideteksi dengan mempelajari masing-masing komponen yang membentuk
rasio. Seperti alat analisis lainnya, rasio paling bermanfaat bila berorientasi ke
depan. Hal ini berarti kita sering menyesuaikan faktor-faktor yang mempengaruhi
rasio untuk kemungkinan tren dan ukurannya di masa depan. Kita juga harus
menilai faktor-faktor yang berpotensi mempengaruhi rasio di masa depan.
Karenanya,
kegunaan
rasio
tergantung
pada
keahlian
penerapan
dan
interprestasinya dan inilah bagian yang paling menantang dari analisis rasio
(Wild, Subramanyam, Halsey dalam Prasnanugraha, 2005: 15).
Menurut (Kasmir, 2012: 105) dalam praktiknya , analisis rasio keuangan
suatu perusahaan dapat digolongkan menjadi sebagai berikut:
a. Rasio neraca, yaitu membandingkan angka-angka yang hanya bersumber dari
neraca.
37
b. Rasio laporan laba rugi, yaitu membandingkan angka-angka yang hanya
bersumber dari laporan laba rugi.
c. Rasio antar laporan, yaitu membandingkan angka-angka dari dua sember (dana
campuran), baik yang ada di neraca maupun di laporan laba rugi.
a. Bentuk-Bentuk Rasio Keuangan
Untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan
rasio-rasio keuangan, dapat dilakukan dengan beberapa rasio keuangan. Setiap
rasio keuangan memiliki tujuan, kegunaan, dan arti tertentu. Kemudian, setiap
hasil dari rasio yang diukur diinterprestasikan sehingga menjadi berarti bagi
pengambil keputusan.
Menurut (J. Fred Weston dalam Kasmir, 2012: 106) bentuk-bentuk rasio
keuangan adalah sebagai berikut:
1) Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio)
Rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek (Fred Weston). Fungsi
lain rasio likuiditas adalah untuk menunjukkan atau mengukur kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo, baik kewajiban
kepada pihak luar perusahaan (likuiditas badan usaha) maupun di dalam
perusahaan (likuiditas perusahaan). Atau dengan kata lain, rasio likuiditas
merupakan yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar utangutang (kewajiban) jangka pendeknya yang jatuh tempo, atau rasio untuk
mengetahui kemampuan perusahaan dalam membiayai dan memenuhi kewajiban
(utang) pada saat ditegang (Kasmir, 2012:106). Rasio likuiditas atau sering
38
disebut rasio modal kerja merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur
seberapa likuidnya suatu perusahaan. Caranya adalah dengan membandingkan
seluruh komponen yang ada di aktiva lancar dengan komponen di passiva lancar
(utang jangka pendek).
2) Rasio Leverage (Leverage Ratio)
Keputusan untuk memilih menggunakan modal sendiri atau modal
pinjaman haruslah digunakan beberapa perhitungan yang matang. Dalam hal ini
leverage ratio (rasio solvabilitas) merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Artinya
besarnya jumlah utang yang digunakan perusahaan untuk membiayai kegiatan
usahanya jika dibandingkan dengan menggunakan modal sendiri. Agar
perbandingan penggunaan kedua rasio ini dapat terlihat jelas, kita dapat
menggunakan rasio leverage (Kasmir, 2012: 107).
3) Ratio Aktivitas (Activity Ratio)
Rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat
efisiensi pemanfaatan sumber daya perusahaan (penjualan, sediaan, penagihan
piutang, dan lainnya) atau rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam
melaksanakan aktvitas sehari-hari. Dari hasil pengukuran dengan rasio ini akan
terlihat apakah perusahaan lebih efisien atau sebaliknya dalam mengelola aset
yang dimilikinya.
4) Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)
Rasio
profitabilitas
merupakan
rasio
untuk
menilai
kemampuan
perusahaan dalam mencari keuntungan atau laba dalam suatu periode tertentu.
39
Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas menejemen suatu
perusahaan yang ditunjukkan dari laba yang dihasilkan dari penjualan atau dari
pendapatan investasi. Dikatakan perusahaan rentabilitasnya baik apabila mampu
memenuhi target laba yang telah ditetapkan dengan menggunakan aktiva atau
modal yang dimilikinya. Rasio profitabilitas atau rasio rentabilitas dibagi dua
yaitu sebagai berikut:
a. Rentabilitas ekonomi, yaitu dengan membandingkan laba usaha dengan seluruh
modal (modal sendiri dan asing).
b. Rentabilitas usaha (sendiri), yaitu dengan membandingkan laba yang
disediakan untuk pemilik dengan modal sendiri. Rentabilitas tinggi lebih
penting dari keuntungan yang besar.
5) Rasio Pertumbuhan
Rasio pertumbuhan (growth ratio) merupakan rasio yang menggambarkan
kemampuan perusahaan dalam mempertahankan posisi ekonominya di tengah
pertumbuhan perekonomian dan sektor usahanya. Dalam rasio pertumbuhan yang
dianalisis adalah pertumbuhan penjualan, laba bersih, pendapatan per saham dan
deviden per saham.
6) Rasio Penilaian
Rasio penilaian (valuation ratio), yaitu rasio yang memberikan ukuran
kemampuan manajemen menciptakan nilai pasar usahanya di atas biaya investasi.
40
6. Analisis Kinerja Bank Syariah
a. Return On Assets (ROA)
Menurut Lukman Dendawijaya (2009:118), rasio ini digunakan untuk
mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba)
secara keseluruhan. Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat
keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bnak tersebut
dari segi penggunaan aset. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
Laba Bersih x 100%
ROA =
x 100%
Total Aktiva
Dalam rangka mengukur tingkat kesehatan bank, terdapat perbedaan kecil
antara perhitungan ROA berdasarkan teoritis dan cara perhitungan berdasarkan
ketentuan Bank Indonesia. Secara teoritis, laba yang diperhitungkan adalah laba
setelah pajak, sedangkan dalam sistem CAMEL, laba yang diperuntungkan adalah
laba sebelum pajak.
b. Return On Equity (ROE)
Menurut Lukman Dendawijaya (2009:118), ROE adalah perbandingan
antara laba bersih bank dengan ROE modal sendiri. Rasio ini dapat dirumuskan
sebagai berikut:
Laba Bersih x 100%
ROE =
x 100%
Modal Sendiri
41
Rasio ini banyak diamati oleh para pemegang saham bank (baik pemegang
saham pendiri maupun pemegang saham baru) serta para investor di pasar modal
yang ingin membeli saham bank yang bersangkutan (jika bank tersebut telah (go
public).
Dalam praktiknya, para investor di pasar modal mempunyai beberapa
motif atau tujuan dalam membeli saham bank yang telah melakukan emisi
sahamnya. Motif-motif tersebut adalah sebagai berikut.
1. Memperoleh deviden berdasarkan keputusan RUPS.
2. Mengejar capital gain jika bermain di bursa efek.
3. Menguasai perusahaan melalui pencapaian mayoritas saham.
Dengan demikian, rasio ROE ini merupakan indikator yang amat penting
bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur kemampuan bank
dalam memperoleh laba bersih yang dikaitkan dengan pembayaran deviden.
Kenaikan dalam rasio ini berarti terjadi kenaikan laba bersih dari bank yang
bersangkutan. Selanjutnya, kenaikan tersebut akan menyebabkan kenaikan harga
saham bank.
Dalam penentuan tingkat kesehatan suatu bank, Bank Indonesia lebih
mementingkan penilaian besarnya return on asset (ROA) dan tidak memasukkan
unsur return on equity (ROE). Hal ini dikarenakan Bank Indonesia sebagai
Pembina dan pengawas perbankan lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu
bank yang diukur dengan aset yang dananya sebagian besar berasal dari dana
simpanan masyarakat.
42
7. Pengembangan Hipotesis
Dari hasil analisa penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti lain serta
penjabaran teori mengenai masing-masing variabel dan hubungannya, maka dapat
dirumuskan suatu kerangka penelitian sebagai berikut :
Gambar 2.1
Kerangka Penelitian
Inflasi
(X1)
H1
Kinerja Keuangan
Bank Syariah
H2
Suku Bunga BI
(X2)
8. Hipotesis
Sugino dalam Nurlaili (2013:20), menyatakan bahwa hipotesis adalah
jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, yang dibuat untuk
menjelaskan penelitian itu dan juga dapat menuntun atau mengarahkan penelitian
selanjutnya. Hipotesis merupakan pernyataan singkat berisi dugaan yang
disimpulkan sebagai jawaban sementara atau permasalahan yang akan diteliti.
Suatu hipotesis akan diterima sebagai sebuah keputusan apabila hasil
analisis data dapat membuktikan hipotesis tersebut benar. Sedangkan Hipotesis
menurut Arikunto dalam Arwani (2009: 220) adalah suatu jawaban yang bersifat
43
sementara terhadap masalah penelitian sampai terbukti melalui data yang
terkumpul.
a. Pengaruh Inflasi Terhadap Kinerja Keuangan
Penelitian yang dilakukan Kurniasih (2012) menyatakan bahwa variabel
inflasi berpengaruh positif dan signifikan, hasil penelitian pada bank syariah di
Indonesia,. Penelitian yang dilakukan Alim (2014) menyatakan bahwa inflasi
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan bank syariah di
Indonesia.
Berdasarkan penelitian di atas, maka penulis mengajukkan hipotesis
sebagai berikut:
H1 : Inflasi berpengaruh positif terhadap Return on Asset (ROA) bank umum
syariah di Indonesia.
H3 : Inflasi berpengaruh positif terhadap Return on Equity (ROE) bank umum
syariah di Indonesia.
b. Pengaruh Suku Bunga BI Terhadap Kinerja Keuangan
Penelitian yang dilakukan Dwijayanty (2009) menyatakan bahwa hasil
penelitian di bank umum syariah di Indonesia, variabel suku bunga BI
berpengaruh negatif dan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan bank
umum syariah di Indonesia. Penelitian yang dilakukan Supriyanti (2012)
menyatakan bahwa suku bunga BI berpengaruh negatif dan berpengaruh
signifikan terhadap kinerja keuangan bank umum syariah di Indonesia.
Berdasarkan penelitian di atas, maka penulis mengajukkan hipotesis
sebagai berikut:
44
H2 : Suku Bunga BI berpengaruh negatif terhadap Return on Asset (ROA) bank
umum syariah di Indonesia.
H4 :Suku Bunga BI berpengaruh negatif terhadap Return on Equity (ROE) bank
umum syariah di Indonesia.
Tabel 2.2
Hipotesis Penelitian
H1 Inflasi berpengaruh positif terhadap Return on Asset (ROA) bank umum
syariah di Indonesia.
H2 Suku Bunga BI berpengaruh negatif terhadap Return on Asset (ROA) bank
umum syariah di Indonesia.
H3 Inflasi berpengaruh positif terhadap Return on Equity (ROE) bank umum
syariah di Indonesia.
H4 Suku Bunga BI berpengaruh negatif terhadap Return on Equity (ROE)
bank umum syariah di Indonesia.
c. Rumus Regresi
Y1 = a + β1X1 + β2X2 + e
Y2 = a + β1X1 + B2X2 + e
Dimana :
Y1
= Return on Asset (ROA)
Y2
= Return on Equity (ROE)
a
= Konstanta Persamaan
β1 – β2 = Konstanta Variabel Independen
X1
= Inflasi
45
X2
= Suku Bunga BI
e
= Variabel pengganggu atau faktor-faktor di luar yang tidak dimasukkan
sebagai variabel model di atas (kesalahan residual).
46
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis dan pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah kuantitatif. Tujuannya untuk mengkonfirmasi data yang didapatkan
dilapangan dengan teori yang ada. (Suharyadi dalam Yupitri, 2012: 52)
menyatakan bahwa penelitian kuantitatif adalah desain penelitian yang diarahkan
untuk bisa memaparkan berbagai temuan dengan dukungan statistik penelitian
berdasarkan hasil laporan keuangan perusahaan.
B. Teknik Pengumpulan Data
1. Sumber dan Jenis Data
Penelitian ini menggunakan data kuantitatif berupa data sekunder yang
merupakan data yang diperoleh dalam bentuk sudah jadi berupa publikasi. Data
kuantitatif adalah data yang diukur dalam skala numerik (Kuncoro, 2001 dalam
Sartika, 2012: 64). Data kuantitatif yang diperoleh meliputi laporan keuangan
Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri, dan Bank Mega Syariah Indonesia dari
periode kuartal pertama tahun 2012 sampai dengan 2014.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Menurut
Bawono (2006: 30), data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak
langsung atau penelitian arsip yang memuat peristiwa masa lalu. Data sekunder
dapat diperoleh oleh peneliti dari jurnal, majalah, buku, maupun dari internet.
47
2. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode studi
pustaka dan metode dokumentasi. Metode studi pustaka dilakukan dengan
mengumpulkan data informasi dari artikel, jurnal, literature, dan hasil penelitian
terdahulu yang digunakan untuk mempelajari dan memahami literature yang
memuat pembahasan yang berkaitan dengan penelitian. Metode dokumentasi
adalah proses pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yang
diperoleh dari laporan keuangan bank yang menjadi sampel penelitian ini (Sartika,
2012: 65).
C. Populasi dan Sampel
Populasi adalah suatu kesatuan individu atau subyek pada suatu wilayah
dan waktu serta dengan kualitas tertentu yang akan diamati dan diteliti (Supardi,
2005:101). Hingga saat ini terdapat 11 Bank Umum Syariah yang beroperasi di
Indonesia yaitu PT. Bank Syariah Mandiri, PT. Bank Syariah Muamalat
Indonesia, PT. Bank Syariah BNI, PT. Bank Syariah BRI, PT. Bank Syariah
Mega Indonesia, PT. Bank Jabar dan Banten, PT. Bank Panin Syariah, PT. Bank
Syariah Bukopin, PT. Bank Victoria Syariah, PT. BCA Syariah, PT. Maybank
Indonesia Syariah.
Sampel didefinisikan sebagai bagian atau keseluruhan populasi dengan
metode tertentu sebagai bagian atau keseluruhan populasi dengan metode tertentu
sebagai bagian representatif dari populasi (Sartika, 2012: 62). Teknik
pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan tujuan
untuk mendapatkan sampel yang sesuai dengan tujuan penelitian. Metode
48
purposive sampling merupakan metode pengambilan sampel yang didasarkan
pada beberapa pertimbangan atau kriteria tertentu (Sartika, 2012: 63). Kriteria
bank yang akan menjadi sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan perbankan syariah yang tergolong dalam Bank Umum Syariah
Devisa.
2. Bank Umum Syariah yang memiliki kelengkapan data selama periode
pengamatan berdasarkan variabel yang diteliti.
Berdasarkan kriteria pemilihan sampel di atas, perusahaan-perusahaan
perbankan syariah yang memenuhi kriteria untuk menjadi sampel adalah empat
Bank Umum Syariah untuk periode 2012 sampai 2014 yaitu Bank Muamalat,
Bank Syariah Mandiri, Bank Syariah Mega Indonesia, dan Bank BNI Syariah.
D. Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan penjelasan tentang variabel yang akan
digunakan dalam penelitian ini. Terdapat tempat variabel yaitu variabel dependent
dan independent. Berikut penjelasan dari kedua variabel tersebut menurut
(Sarwono, 2006: 38-39).
1. Variabel Dependen
Menurut (Sarwono, 2006: 38) variabel dependen adalah variabel yang
memberikan reaksi/respon jika dihubungkan dengan variabel bebas. Dalam
penelitian ini variabel dependen yang digunakan adalah kinerja keuangan yang
menggunakan rasio keuangan rentabilitas sebagai variabel dependen. Kinerja
merupakan suatu proses untuk menyediakan informasi tentang sejauhmana suatu
kegiatan tertentu tercapai, bagaimana perbedaan pencapaian itu dengan suatu
49
standar tertentu untuk mengetahui apakah ada selisih diantara keduanya dan
bagaimana tidak lanjut atas perbedaan tersebut. Jadi, nampak jelas bahwa
melakukan evaluasi terhadap suatu entitas apapun dibutuhkan tolak ukur tertentu
sebagai acuan (Yahya, 2009 : 73).
Terkhusus untuk menilai kondisi keuangan dan prestasi perushaan, analisis
keuangan memerlukan beberapa tolak ukur. Tolak ukur yang sering dipakai
adalah analisis rasio keuangan. Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari
hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang
mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (Harahap dalam Andi, 2007:
44).
Analisis laporan keuangan merupakan bagian dari analisis bisnis. Analisis
bisnis merupakan analisis atas prospek dan resiko perusahaan untuk kepentingan
pengambilan keputusan bisnis. Analisis bisnis membantu pengambilan keputusan
dengan melakukan evaluasi atas lingkungan bisnis perusahaan, strateginya, serta
kinerja keuangan (Yahya, 2009: 74).
Analisis rasio rentabilitas bank adalah alat untuk menganalisis atau
mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapi oleh bank yang
bersangkutan. Rasio rentabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE). Return On Equity
digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh
keuntungan (laba) secara keseluruhan. Semakin besar ROA suatu bank, maka
semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin
50
baik pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula
posisi bank tersebut dari segi penggunaan aset (Siamat, 2005: 95).
Return On Equity (ROE), menurut Kasmir (2012: 204), adalah rasio untuk
mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Sedangkan menurut
Irham (2012: 98), ROE adalah rasio yang digunakan untuk mengkaji sejauh mana
suatu perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimiliki untuk mampu
memberikan laba atas ekuitas.
a. Return On Assets (ROA)
Menurut Lukman Dendawijaya (2009:118), rasio ini digunakan untuk
mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba)
secara keseluruhan. Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat
keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut
dari segi penggunaan aset. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
Laba Bersih x 100%
ROA =
x 100%
Total Aktiva
Dalam rangka mengukur tingkat kesehatan bank, terdapat perbedaan kecil
antara perhitungan ROA berdasarkan teoritis dan cara perhitungan berdasarkan
ketentuan Bank Indonesia. Secara teoritis, laba yang diperhitungkan adalah laba
setelah pajak, sedangkan dalam sistem CAMEL, laba yang diperuntungkan adalah
laba sebelum pajak.
51
b. Return On Equity (ROE)
Menurut Lukman Dendawijaya (2009:118), ROE adalah perbandingan
antara laba bersih bank dengan ROE modal sendiri. Rasio ini dapat dirumuskan
sebagai berikut:
Laba Bersih x 100%
ROE =
x 100%
Modal Sendiri
Rasio ini banyak diamati oleh para pemegang saham bank (baik pemegang
saham pendiri maupun pemegang saham baru) serta para investor di pasar modal
yang ingin membeli saham bank yang bersangkutan (jika bank tersebut telah (go
public).
Dalam praktiknya, para investor di pasar modal mempunyai beberapa
motif atau tujuan dalam membeli saham bank yang telah melakukan emisi
sahamnya. Motif-motif tersebut adalah sebagai berikut.
1. Memperoleh deviden berdasarkan keputusan RUPS.
2. Mengejar capital gain jika bermain di bursa efek.
3. Menguasai perusahaan melalui pencapaian mayoritas saham.
Dengan demikian, rasio ROE ini merupakan indikator yang amat penting
bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur kemampuan bank
dalam memperoleh laba bersih yang dikaitkan dengan pembayaran deviden.
Kenaikan dalam rasio ini berarti terjadi kenaikan laba bersih dari bank yang
bersangkutan. Selanjutnya, kenaikan tersebut akan menyebabkan kenaikan harga
saham bank.
52
Dalam penentuan tingkat kesehatan suatu bank, Bank Indonesia lebih
mementingkan penilaian besarnya return on asset (ROA) dan tidak memasukkan
unsur return on equity (ROE). Hal ini dikarenakan Bank Indonesia sebagai
Pembina dan pengawas perbankan lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu
bank yang diukur dengan aset yang dananya sebagian besar berasal dari dana
simpanan masyarakat.
2. Variabel Independen
Variabel indepeden adalah variabel yang mempengaruhi variabel
dependen. Variabel independent yang digunakan dalam penelitian ini adalah
tingkat inflasi dan suku bunga BI. Tingkat inflasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah tingkat inflasi di Indonesia yang diperoleh dari periode akhir
tahun. Sedangkan tingkat suku bunga BI yang digunakan dalam penelitian ini
adalah tingkat suku bunga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada periode
akhir tahun.
E. Teknik Analisis Data
Analisis data yang dilakukan adalah analisis data kuantitatif, dilakukan
dengan beberapa langkah antara lain:
1. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Multikolonieritas
Multikolonieritas
adalah situasi di mana terdapat kolerasi variabel-
variabel bebas di antara satu dengan lainnya. Dalam hal ini dapat disebut variabelvariabel ini tidak orthogonal. Variabel yang bersifat orthogonal adalah variabel
bebas yang nilai kolerasi antara sesamanya sama dengan nol. Masalah
53
multikolonieritas biasanya muncul pada data time series, yang apabila masalah
multikolonieritas ini serius dapat mengakibatkan berubahnya tanda dari parameter
estimasi (Bawono, 2006: 115). Jika variabel independent saling berkolerasi, maka
variabel-variabel ini tidak orthogonal. Variabel orthogonal adalah variabel
independen yang nilai kolerasi antar sesamam variabel independen sama dengan
nol. Multikolonieritas dideteksi dengan menggunakan nilai tolerance dan
variance inflasion factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel
independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Tolerance
mengukur variabelitas variabel independen yang terpilih, yang tidak dapat
dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Nilai tolerance yang rendah sama
dengan nilai VIF tinggi (karena VIF = 1/Tolerance). Nilai cut-off yang umum
dipakai untuk menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai Tolerance ≤
0,10 atau sama dengan VIF ≥ 10.
b. Uji Autokorelasi
Autokorelasi adalah korelasi (hubungan) yang terjadi antara anggotaanggota dari serangkaian pengamatan yang tersusun dalam rangkaian waktu (time
series). Autokorelasi ini menunjukkan hubungan antara nilai-nilai yang berurutan
dari variabel-variabel yang sama. Autokorelasi ini dapat terjadi apabila suatu
keadaan di mana variabel gangguan pada periode tertentu berkorelasi dengan
variabel pengganggu pada variabel lain. Jadi suatu penelitian memerlukan
dilakukannya pengujian autokorelasi, jika penelitiannya menggunakan data runtut
waktu (series time) (Bawono, 2006: 160). Durbin Watson test dilakukan dengan
membuat hipotesis:
54
H0: tidak ada autokorelasi (r = 0)
Ha: ada autokorelasi (r ≠ 0)
Dasar pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi adalah sebagai
berikut:
1. Bila nilai DW terletak diantara batas atas atau upper bound (du) dan (4-du)
maka koefisien autokorelasi = 0, berarti tidak ada autokorelasi.
2. Bila nilai DW lebih rendah daripada batas bawah atau lower bound (dl) maka
autokorelasi > 0, berarti ada autokorelasi positif.
3. Bila DW lebih besar dari (4-dl) maka koefisien autokorelasi < 0, berarti ada
autokorelasi negatif.
4. Bila DW terletak antara (du) dan (dl) atau DW terletak antara (4-du) dan (4-dl),
maka hasilnya tidak dapat disimpulkan.
Tabel 3.1
Dasar Pengambilan Keputusan Autokolerasi
Hipotesis Nol
Keputusan
Jika
Tidak ada autokorelasi
positif
Tolak
0 < d < dl
Tidak ada autokorelasi
positif
No decision
dl ≤ d ≤ du
Tidak ada korelasi negatif
Tolak
4 – dl < d < 4
Tidak ada korelasi negatif
No decision
4 - du ≤ d ≤ 4 – dl
Tidak ditolak
du < d < 4 – du
Tidak ada autokorelasi,
positif atau negatif
Sumber: Ghozali, 2013: 111
Keterangan d1 = batas bawah DW
55
du = batas atas DW
c. Uji Heterokedastisitas
Salah satu asumsi pokok dalam model regresi linier klasik adalah bahwa
varian setiap disturbance team yang dibatasi oleh nilai tertentu mengenai variabelvariabel bebas adalah berbentuk suatu nilai konstan yang sama dengan α2. Inilah
yang disebut asumsi homocedasticity atau varian yang sama. Kebanyakan data
cross-section mengandung situasi heteroscedasticity karena data ini menghimpun
data yang mewakili berbagai ukuran (kecil, sedang, dan besar). Dengan kata lain
Heteroskedastisitas terjadi apabila varian dari variabel penganggu tidak sama
untuk semua observasi, akibat yang timbul apabila terjadi heteroskendastisitas
adalah penaksir tidak bias tetapi tidak efisien lagi baik dalam sampel besar
maupun sampel kecil, serta uji t-test dan F-test akan menyebabkan kesimpulan
yang salah (Bawono, 2006: 133).
Salah satu cara untuk mendeteksi adanya
heteroskedastisitas adalah dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel
independen (ZPRED) dengan residualnya (SRESID). Deteksi ada tidaknya
heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu
pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y
yang telah diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Y prediksi – Y
sesungguhnya) yang telah di-studentized (Ghozali dalam Sartika, 2006: 126).
Dasar analisisnya adalah sebagai berikut:
1. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang
teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan
telah terjadi heteroskedasitas.
56
2. Jika tidak ada pola jelas, serta titik-titik menyebar di atas di bawah angka 0
pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
d. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi, variabel
pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Uji normalitas digunakan
untuk mengetahui suatu populasi suatu data dapat dilakukan dengan analisis
grafik. Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas residual adalah dengan
melihat grafik histogram dan normal probability plot yang membandingkan
distribusi kumulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dari
distribusi normal (Ghozali, 2013: 147). Jika distribusi data residual normal, maka
garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya.
Pada prisipnya normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik)
pada sumbu diagonal dari grafik atau dengan melihat histogram dari residualnya.
Dasar pengambilan keputusan:
ï‚· Jika data menyebar disekitar diagonal dan menikuti arah garis diagonal atau
grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi
memnuhi asumsi normalitas.
ï‚· Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan tidak mengikuti arah garis
diagonal atau grafik histogramnya tidak menunjukkan pola distribusi normal,
maka model regresi tidak memnuhi asumsi normalitas.
Selain itu, untuk menguji normalitas data dapat digunakan uji satistik
Kolmogorov Smirnov (K-S) yang dilakukan dengan membuat hipotesis nol (H0)
untuk data distribusi normal dan hipotesis alternative (Ha) untuk data berdistribusi
57
tidak normal. Dengan uji statistik yaitu dengan menggunakan uji statistik nonparametrik Kolmogrov-Smirnov.
Hipotesis yang dikemukakan:
H0 = data residual berdistribusi normal (Asymp. Sig > 0,05)
Ha = data residual tidak berdistribusi normal (Asymp. Sig , 0,05)
e. Uji Linieritas
Pengujian linieritas digunakan untuk menguji apakah spesifikasi model
yang kita gunakan sudah tepat atau lebih baik dalam spesifikasi model bentuk
lain. Spesifikasi model dapat berupa linier, kuadratik, atau kubik (Bawono, 20016:
179). Metode yang digunakan dalam uji ini adalah uji Durbin-Watson, seperti
namanya dalam uji autokorelasi, maka uji ini untuk melihat ada tidaknya
autokorelasi dalam model.
2. Analisis Regresi Linier Berganda
Regresi ini digunakan untuk menganalisa data yang bersifat multivariate.
Analisa ini digunakan untuk meramalkan nilai variabel dependen (Y) dengan
variabel independen yang lebih dari satu (minimal dua), sehingga analisis regresi
berganda sering disebut juga analisa multivariate, karena variabel yang
mempengaruhi naik turunnya variabel dependen (Y) lebih dari satu variabel
Independen (X). Kondisi variabel independen (X) dalam mempengaruhi variabel
dependen (Y) bervariasi bisa positif bisa juga negatif, atau beraneka ragam
kondisi yang mempengaruhi. Sehingga regresi berganda ini lebih real dengan
kenyataan di lapangan, bahwa sesuatu hal pasti dipengaruhi oleh banyak hal.
Sedangkan untuk membuktikan ada atau tidaknya hubungan kasual antara
58
beberapa variabel independen (X1, X2 …) mempengaruhi variabel dependen (Y)
dapat dilakukan dengan dengan diuji statistik. Persamaan regresi berganda dapat
berupa sebagai berikut:
Y1 = a + β1X1 + β2X2 + e
Y2 = a + β1X1 + β2X2 + e
Dimana :
Y1
= Return on Asset (ROA)
Y2
= Return on Equity (ROE)
a
= Konstanta Persamaan
β1 – β2 = Koefisien Variabel Independen
X1
= Inflasi
X2
= Suku Bunga BI
e
= Variabel pengganggu atau faktor-faktor di luar variabel yang tidak
dimasukkan sebagai variabel model di atas (kesalahan residual).
Besarnya konstanta dicerminkan oleh “a” dan besarnya koefisien regresi
dari masing- masing variabel independen ditunjukkan dengan β1, β2. Pada model
persamaan di atas, dapat diketahui tanda positif atau negatif dari masing-masing
variabel dependen. Nilai koefisien regresi dalam penelitian ini sangat menentukan
sebagai dasar analisis. Mengingat penelitian ini sangat menentukan sebagai dasar
analisis. Mengingat penelitian ini bersifat fundamental method. Hal ini berarti jika
koefisien β bernilai positif maka dapat dikatakan terjadi pengaruh searah antara
variabel bebas dengan variabel terikat (dependen), setiap kenaikan nilai variabel
bebas akan mengakibatkan kenaikan variabel terikat (dependen), demikian pula
59
sebaliknya, bila koefisen nilai β bernilai negative hal ini menunjukkan adanya
pengaruh negatif dimana kenaikan nilai variabel bebas akan mengakibatkan
penurunan nilai variabel terikat (dependen).
3. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisen determinasi (R2) menunjukkan sejauh mana tingkat hubungan
antara variabel dependen (Y) dengan variabel independen (X1,2,3…), atau sejauh
mana kontribusi variabel independen (X1,2,3…) mempengaruhi variabel dependen.
Analisis koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui seberapa besar
prosentase (%) pengaruh keseluruhan variabel independen yang digunakan
(X1,2,3…) terhadap variabel dependen (Y). Pengujian ini dilakukan dengan melihat
R2 pada hasil analisis persamaan regresi yang diperoleh. Apabila angka koefisien
determinasi (R2) semakin mendekati 1 berarti model regresi yang digunakan
sudah semakin tepat sebagai model penduga terhadap variabel dependen (Y)
(Bawono, 2006: 92)
Kelemahan mendasar penggunaan koefisen determinasi adalah bias
terhadap jumlah variabel dependnen yang dimasukkan dalam model. Setiap
penambahan satu variabel independen R2 pasti meningkat, tidak peduli apakah
variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen atau
tidak. Oleh karena itu banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai
adjusted R2 pada saat mengevaluasi model regresi terbaik. Tidak seperti R2, nilai
adjusted R2 dapat naik atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan
ke dalam model.
60
Dalam penelitian ini digunakan adjusted R2 karena nilai variabel bebas
yang diukur terdiri dari nilai rasio absolute dan nilai perbandingan. Kegunaan
Adjusted R2 adalah:
a. Sebagai ukuran ketetapan regresi yang ditetapkan suatu kelompok data hasil
survey. Semakin besar nilai Adjusted R2 makan akan semakin tepat suatu garis
regresi dan sebaliknya.
b. Untuk mengukur besarnya proporsi atau prosentase dari jumlah variasi dari
variabel dependen, atau untuk mengukur sumbangan dari variabel dependen
terhadap variabel independen.
4. Pengujian Hipotesis
Uji statistik di sini digunakan untuk melihat tingkat ketepatan atau
keakuratan dari suatu fungsi atau persamaan untuk menaksir dari data yang kita
analisa. Nilai ketepatan atau keaktualan ini dapat diukur goodness of fit nya. Uji
statistik ini dapat dilihat dari nilai t hitung, F hitung dan nilai koefisen
determinasinya. Berkaitan apakah uji statistik ini dikatakan lolos atau tidak,
tergantung dari tingkat signifikansi dari hasil perhitungannya, jika hasilnya berada
didaerah kritis atau yang menolak Ho maka dikatakan bahwa uji statistiknya lolos
dan layak untuk uji selanjutnya dan ini berlaku sebaliknya jika berada di daerah
yang menrima Ho.
a. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)
61
Uji statistic F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel
independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh
secara bersama-sama terhadap variabel dependen/terikat. Hipotesis nol (H0) yang
hendak diuji adalah apakah semua parameter dalam model dama dengan nol, atau:
H0 : b1 = b2 = ….. = bk = 0
Artinya apakah semua variabel independen bukan merupakan penjelas
yang signifikan terhadap variabel dependen. Hipotesis (Ha) tidak semua parameter
secara simultan sama dengan nol, atau:
Ha : b1 ≠ b2 ≠ ….. ≠ bk ≠ 0
Artinya semua variabel independen secara simultan merupakan penjelas
yang signifikan terhadap variabel dependen. Untuk menguji hipotesis ini
digunakan statistic F dengan criteria pengambilan keputusan sebagai berikut
(Ghozali, 2013: 88) :
1. Quict look: bila nilai F lebih besar daripada 4 maka H0 dapat ditolak pada
derajat kepercayaan 5%. Dengan kata lain, kita menerima hipotesis alternative
yang menyatakan bahwa semua variabel independen secara serentak dan
signifikan mempengaruhi variabel dependen.
2. Membandingkan nilai F hasil perhitungan dengan nilai F menurut table. Bila
nilai F hitung lebih besar daripada nilai F, maka H0 ditolak dan Ha diterima.
b. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)
Uji statisti t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu
variabel bebas secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen
dengan hipotesis sebagai berikut :
62
1. Hipotesis nol atau H0 : bi = 0 artinya variabel independen merupakan penjelas
yang signifikan terhadap variabel dependen.
2. Hipotesis alternatif atau Ha : bi ≠ 0 artinya variabel independen merupakan
penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen.
Untuk mengetahui kebenaran hipotesis deigunakan criteria bila t hitung > t
table maka menolak H0 dan menerima Ha (Sulaiman, 2004: 43 dalam Sartika
2012), artinya ada pengaruh antara variabel dependen terhadap variabel
independen dengan derajat keyakinan yang digunakan 5% dan sebaliknya jika t
hitung < t table berarti menerima H0 dan menolak Ha.
Dalam menerima atau menolak hipotesis yang diajukkan dengan melihat
hasil output SPSS, kita dapat hanya melihat nilai dari signifikan uji t masingmasing variabel. Jika nilai signifikan < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa
menolak H0 dan menerima Ha.
63
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Obyek Penelitian
Obyek dalam penelitian ini yaitu laporan keuangan bank umum syariah
yang tergolong Bank Devisa di Indonesia. Berdasarkan laporan keuangan yang
dipublikasikan oleh Bank Indonesia, dapat dihitung dan dianalisis kinerja
keuangan masing-masing bank umum syariah. Laporan keuangan yang digunakan
adalah laporan triwulanan mulai tahun 2011 sampai dengan tahun 2014. Berikut
adalah profil singkat bank yang dijadikan objek penelitian:
1. Bank Muamalat Indonesia
PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk. didirikan pada tanggal 1 November
1991 yang diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah
Indonesia. Pendirian Bank Muamalat Indonesia mendapat dukungan dari Ikatan
Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), pengusaha muslim serta dukungan
masyarakat Indonesia. Dukungan masyarakat terbukti berdasarkan pembelian
saham Perseroan senilai Rp 84 miliar pada saat penandatanganan akta pendirian
Perseroan. Pada tanggal 27 Oktober 1994, Bank Muamalat berhasil menyandang
predikat sebagai Bank Devisa, hal ini memperkokoh posisi Bank Muamalat
sebagai bank syariah pertama dengan beragam jasa maupun produk yang terus
dikembangkan (www.muamalatbank.com, diakses tanggal 15 Juni 2015).
64
Sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan sesuai dengan situasi dan
kondisi di Indonesia, maka Bank Muamalat mempunyai tujuan sebagai berikut
(Karnaen Perwaatmadja dan M. Syafi’i Antonio, 2001: 85).
a. Meningkatkan kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat Indonesia,
sehingga semakin berkurang kesenjangan sosial, ekonomi dan dengan
demikian akan melestarikan pembangunan nasional, antara lain melalui:
1) Meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan usaha
2) Meningkatkan kesempatan kerja
3) Meningkatkan penghasilan masyarakat banyak
b. Meningkatkan partisipasi masyarakat banyak dalam proses pembangunan
terutama dalam bidang ekonomi keuangan, yang selama ini diketahui masih
cukup banyak masyarakat yang enggan berhubungan dengan bank karena
masih menganggap bahwa bunga bank itu riba.
c. Mengembangkan lembaga bank dan sistem perbankan yang sehat berdasarkan
efisiensi dan keadilan, mampu meningkatkan partisipasi masyarakat banyak
sehingga menggalakkan usaha-usaha ekonomi rakyat dengan memperluas
jaringan lembaga perbankan ke daerah terpencil.
Krisis ekonomi 1998 memberi dampak terhadap kinerja keuangan Bank
Muamalat tercatat sebesar Rp 105 miliar. Sedangkan ekuitas mencapai titik
terendah yaitu Rp 39,3 miliar, kurang dari sepertiga modal setoran awal. Kondisi
ekuitas Bank Muamalat segera diperbaiki dengan penambahan modal yang berasal
dari Islamic Development Bank (IDB), sehingga kondisi kerugian yang semula
65
diderita dapat dipulihkan kembali (www.muamalatbank.com, diakses tanggal 15
Juni 2015).
2. Bank Syariah Mandiri
Terbentuknya Bank Syariah Mandiri melalui perjalanan yang panjang
bermula dari merger empat bank yaitu Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya,
Bank Exim, dan Bapindo. Merger tersebut membentuk bank baru yang bernama
PT. Bank Mandiri (Persero) pada tanggal 31 Juli 1999. Menindaklanjuti
keputusan merger, Bank Mandiri melakukan konsolidasi serta membentuk tim
pengembangan perbankan syariah yang bertujuan untuk mengembangkan layanan
perbankan syariah dikelompok perusahaan Bank Mandiri, atas respon UU No. 10
Tahun 1998, yang memberikan peluang bank umum untuk melayani transaksi
syariah (http://www.syariahmandiri.coi.id, diakses tanggal 15 Juni 2015).
Terbentuknya Bank Syariah Mandiri diprakarsai oleh tim pengembangan
perbankan syariah yang melakukan konversi PT. Bank Susila Bakti (BSB) dari
bank konvensional menjadi bank syariah yang bernama PT. Bank Syariah Mandiri
pada tanggal 8 September 1999. Perubahan kegiatan usaha BSB menjadi bank
umum syariah dilakukan oleh Gubernur Bank Indonesia melalui SK Gubernur BI
No. 1/24/KEP.BI/1999, 25 Oktober 1999, BI menyetujui perubahan nama menjadi
PT. Bank Syariah Mandiri dan secara resmi mulai beroperasi sejak Senin tanggal
25 Rajab 1420 H atau tanggal 1 November 1999 (Ibid).
Bank Syariah Mandiri memiliki modal dasar Rp 2.500.000.000.000 dan
modal disetor Rp 858.243.565.000. Jumlah jaringan ATM BSM yang terdiri atas
220 ATM Syariah Mandiri, ATM Mandiri 4.795, ATM Prima 14.403 unit.
66
Kepemilikan saham PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar 131.648.712 lembar
saham (99,999999%) dan PT Mandiri Sekuritas sebanyak 1 lembar saham
(0,000001%) (Ibid).
3. Bank Mega Syariah Indonesia
PT. Bank Mega Syariah bermula dari sebuah bank konvensional bernama
PT. Bank Umum Tugu. Pada tahun 2001 Para Grup mengakusisi PT. Bank Umum
Tugu yang resmi bernama PT. Bank Mega Syariah Indonesia pada tanggal 23
September 2010. Pada tanggal 16 Oktober 2008 Bank Mega Syariah menyandang
predikat sebagai Bank Devisa. Pengakuan tersebut semakin memperkokoh posisi
perseroan sebagai bank syariah yang dapat menjangkau bisnis yang lebih luas baik
domestik maupun internasional (www.bsmi.co.id, diakses tanggal 25 Juni 2015).
PT. Bank Mega Syariah hadir dengan visi menjadi “Bank Syariah
Kebanggaan Bangsa”. Sejalan dengan perkembangannya baik diluar dari produk
maupun fasilitas perbankan. Bank Mega Syariah memiliki 8 kantor cabang, 13
kantor cabang pembantu, 49 Gallery Mega Syariah, dan 234 kantor Mega Syariah
(M2S) yang tersebar di Jabotabek, Pulau Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan dan
Sulawesi (Ibid).
4. BNI Syariah
Berdasarkan
Keputusan
Gubernur
Bank
Indonesia
Nomor
12/41/KEP.GBI/2010 tanggal 21 Mei 2010 mengenai pemberian izin usaha
kepada PT. Bank BNI Syariah. Dan di dalam Corporate Plan UUS BNI tahun
2000 ditetapkan bahwa status UUS bersifat temporer dan akan dilakukan spin off
tahun 2009. Rencana tersebut terlaksana pada tanggal 19 Juni 2010 dengan
67
beroperasinya BNI Syariah sebagai Bank Umum Syariah (BUS). Realisasi waktu
spin off bulan Juni 2010 tidak terlepas dari faktor eksternal berupa aspek regulasi
yang kondusif yaitu dengan diterbitkannya UU No.19 tahun 2008 tentang Surat
Berharga Syariah Negara (SBSN) dan UU No.21 tahun 2008 tentang Perbankan
Syariah. Disamping itu, komitmen Pemerintah terhadap pengembangan perbankan
syariah semakin kuat dan kesadaran terhadap keunggulan produk perbankan
syariah juga semakin meningkat (www.bni.co.id, diakses tanggal 15 Juni 2015).
Juni 2014 jumlah cabang BNI Syariah mencapai 65 Kantor Cabang, 161
Kantor Cabang Pembantu, 17 Kantor Kas, 22 Mobil Layanan Gerak dan 20
Payment Point (www.bni.co.id, diakses tanggal 22 Juni 2015).
B. Analisis Data
1. Statistik Deskriptif Variabel
Statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan suatu data secara
statistik. Untuk menginterpretasikan hasil statistik deskriptif dari ROA,ROE,
inflasi, dan suku bunga BI. Dapat dilihat dari table 4.1 sebagai berikut :
Tabel 4.1
Analisis Statistik Deskriptif Masing-Masing Variabel
Inflasi
BI Rate
ROA
ROE
Valid N (listwise)
Descriptive Statistics
N
Minimum Maximum
Mean
Std. Deviation
Statistic
Statistic
Statistic
Statistic
48
.04
.09
.0589
.01660
48
.06
.08
.0658
.00838
48
.00
.04
.0163
.01005
48
.02
.70
.2903
.21649
48
Sumber : Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
68
Berdasarkan hasil perhitungan pada table 4.1 di atas dapat diketahui bahwa
n atau jumlah total pada variabel yaitu 48 buah yang berasal dari 4 sampel bank
umum syariah periode 2012 sampai 2014. Variabel inflasi mempunyai nilai
minimum 0,04 dan nilai maksimum 0,09. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa
nilai standar deviasi lebih kecil dari nilai mean nya menunjukkan rendahnya
variasi antara nilai maksimum dan minimum selama periode pengamatan, atau
dengan kata lain tidak ada kesenjangan yang cukup besar dari inflasi terendah dan
tertinggi.
Berdasarkan hasil perhitungan pada table 4.1 di atas variabel suku bunga
BI (BI rate) mempunyai nilai minimum 0,06 dan nilai maksimum 0,08. Dari tabel
4.1 dapat dilihat bahwa nilai standar deviasi lebih kecil dari nilai mean nya
menunjukkan rendahnya variasi antara nilai maksimum dan minimum selama
periode pengamatan, atau dengan kata lain tidak ada kesenjangan yang cukup
besar dari suku bunga BI (BI rate) terendah dan tertinggi.
Variabel Return On Asset (ROA) mempunyai nilai minimum 0,00 dan
nilai maksimum 0,04. Dari tabel 4.1 dapat dilihat bahwa nilai standar deviasi lebih
tinggi dari nilai mean nya menunjukkan tingginya variasi antara nilai maksimum
dan minimum selama periode pengamatan, atau dengan kata lain ada kesenjangan
yang cukup besar dari suku bunga Return On Asset (ROA) terendah dan tertinggi.
Variabel Return On Equity (ROE) mempunyai nilai minimum 0,02 dan
nilai maksimum 0,70. Dari tabel 4.1 dapat dilihat bahwa nilai standar deviasi lebih
kecil dari nilai mean nya menunjukkan rendahnya variasi antara nilai maksimum
dan minimum selama periode pengamatan, atau dengan kata lain tidak ada
69
kesenjangan yang cukup besar dari suku bunga Return On Equity (ROE) terendah
dan tertinggi.
2. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
terdapat korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak
terjadi korelasi di antara variabel bebas. Deteksi multikonieritas dapat dilakukan
dengan menganalisis matriks korelasi antar variabel independen dan dengan
melihat nilai tolerance dan lawannya VIF. Adapun hasil uji multikolonieritas
dengan menggunakan matriks korelasi sebagai berikut:
Tabel 4.2
Hasil Uji Multikolonieritas Dengan Matriks Korelasi
Coefficient Correlationsa
Model
BI Rate Inflasi
BI Rate
1.000
-.648
Correlations
Inflasi
-.648
1.000
1
BI Rate
.034
-.011
Covariances
Inflasi
-.011
.009
a. Dependent Variable: ROA
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
70
Tabel 4.3
Hasil Uji Multikolonieritas Dengan Matriks Korelasi
Coefficient Correlationsa
Model
BI Rate Inflasi
BI Rate
1.000
-.648
Correlations
Inflasi
-.648
1.000
1
BI Rate 17.738
-5.800
Covariances
Inflasi
-5.800
4.513
a. Dependent Variable: ROE
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Pada tabel Coefficient Correlations, kita bisa melihat matriks korelasi, dari
kedua variabel independen yang kita pakai, yaitu antara variabel inflasi dan BI
rate nilainya adalah sebesar -0,648 atau sebesar 6,48%. Tetapi karena korelasi
antara X1 dan X2 masih dibawah 95% maka bisa dikatakan, bahwa variabel
independen yang kita pakai tidak ada yang memiliki gejala multikolonieritas.
Selain menggunakan matriks korelasi, multikolonieritas juga dapat
dideteksi dengan melihat nilai tolerance dan lawannya VIF. Tolerance mengukur
variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen
lainnya. Nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi
(VIF=1/Tolerance) dan menunjukkan adanya kolonieritas yang tinggi. Nilai cutoff yang umum dipakai adalah nilai tolerance 0,10 atau sama dengan nilai VIF di
atas 10. Tingkat kolonieritas yang dapat ditolerir adalah nilai tolerance 0,10 sama
dengan tingkat multikolonieritas 0,95 (Ghozali, 2006:96). Berikut ini hasil uji
multikolonieritas dengan melihat nilai tolerance dan lawannya VIF :
71
Tabel 4.4
Hasil Uji Multikolonieritas Dengan Nilai Tolerance dan VIF
Coefficientsa
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
Model
(Constant)
1
Inflasi
.580
1.725
BI Rate
.580
1.725
a. Dependent Variable: ROA, ROE
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Hasil perhitungan nilai tolerance juga menunjukkan tidak ada variabel
independen yang memiliki tolerance kurang dari 0,10 yang berarti tidak ada
korelasi antar variabel independen yang nilainya lebih dari 95%. Hasil
perhitungan nilai Variance Inflation Factor (VIF) juga menunjukkan hal yang
sama tidak ada satu variabel independen yang memeiliki nilai VIF lebih dari 10.
Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolonieritas antar variabel
independen dalam regresi.
b. Uji Autokorelasi
Autokorelasi adalah hubungan yang terjadi antara anggota-anggota dari
serangkaian pengamatan yang tersususun dalam rangkaian waktu (time series).
Autokorelasi ini menunjukkan hubungan antara nilai-nilai yang berurutan dari
variabel-variabel yang sama. Autokorelasi ini dapat terjadi apabila suatu keadaan
di mana variabel gangguan pada periode tertentu berkorelasi dengan variabel
pengganggu pada periode lain (Bawono, 2006: 124). Untuk mendeteksi ada atau
tidaknya gejala autokorelasi dilakukan dengan membandingkan nilai statistik
72
hitunng Durbin-Watson (D-W) pada perhitungan regresi dengan data statistik
pada table Durbin-Watson.
Tabel 4.5
Hasil Uji Autokorelasi
Model Summaryb
Model R
R Square Adjusted R
Std. Error of the DurbinSquare
Estimate
Watson
a
1
.904
.817
.805
.00432
2.148
a. Predictors: (Constant), Inflasi, BI Rate
b. Dependent Variable: ROA
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Dengan nilai tabel pada tingkat signifikansi 5%, jumlah sampel 48 (n) dan
jumlah variabel independen 2 (k=2), maka di tabel Durbin-Watson didapatkan
nilai batas atas (du) 1,62 dan batas bawah (dl) 1,43. Karena nilai DW 2,148 lebih
besar dari batas atas (du) 1,62 dan kurang dari 4-1,62 (4-du) maka dapat
disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi pada model regresi ini.
Tabel 4.6
Hasil Uji Autokorelasi
Model Summaryb
Model R
R Square Adjusted R
Std. Error of the DurbinSquare
Estimate
Watson
a
1
.864
.747
.729
.11291
1.961
a. Predictors: (Constant), Inflasi, BI Rate
b. Dependent Variable: ROE
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Dengan nilai tabel pada tingkat signifikansi 5%, jumlah sampel 48 (n) dan
jumlah variabel independen 2 (k=2), maka di tabel Durbin-Watson didapatkan
nilai batas atas (du) 1,62 dan batas bawah (dl) 1,43. Karena nilai DW 1,961 lebih
73
besar dari batas atas (du) 1,62 dan kurang dari 4-1,62 (4-du) maka dapat
disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi pada model regresi ini.
c. Uji Heteroskedastisitas
Salah satu asumsi pokok dalam model regresi linier klasik adalah bahwa
varian setiap disturbance team yang dibatasi oleh nilai tertentu mengenai variabelvariabel bebas adalah berbentuk suatu nilai konstan yang sama dengan α2. Inilah
yang disebut asumsi homocedasticity atau varian yang sama. Kebanyakan data
cross-section mengandung situasi heteroscedasticity karena data ini menghimpun
data yang mewakili berbagai ukuran (kecil, sedang, dan besar). Dengan kata lain
Heteroskedastisitas terjadi apabila varian dari variabel penganggu tidak sama
untuk semua observasi, akibat yang timbul apabila terjadi heteroskendastisitas
adalah penaksir tidak bias tetapi tidak efisien lagi baik dalam sampel besar
maupun sampel kecil, serta uji t-test dan F-test akan menyebabkan kesimpulan
yang salah (Bawono, 2006: 133).
Untuk melihat ada tidaknya gejala penyakit heterokedastisitas dengan
grafik scatterplot antara ZPRED (nilai prediksi variabel dependen) dan SPESID
(residualnya). Untuk mendeteksi grafik scatterplot tersebut, yaitu dengan melihat
pola pergerakan grafik tersebut, kalau polanya beraturan (gelombangnya melebar
dan menyempit), hal ini cenderung ada gejala penyakit heterokedastisitas. Tetapi
jika polanya tidak beraturan, ini cenderung tidak ada gejala penyakit
heterokedastisitas.
74
Gambar 4.1
Diagram Heterokedastisitas
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Dari gambar 4.1 di atas terlihat titik-titik menyebar secara acak serta
tersebar baik di atass maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y, tidak ada pola
tertentu yang teratur. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi
heterokedastisitas pada model regresi ini.
75
Tabel 4.7
Hasil Uji Park
Coefficientsa
Model
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
Standardized t
Coefficients
Beta
(Constant)
-2.122
1.136
-1.867
1
Inflasi
-4.226
10.989
-.070
-.385
BI Rate
-37.100
21.785
-.311
-1.703
a. Dependent Variable: LnU2i
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Sig.
.068
.702
.095
Dari tabel 4.9 dapat diketahui persamaan regresi tersebut tidak signifikan
secara statistik ini ditunjukkan nilai t-test < dari t-tabel (1,3006), hal ini
menunjukkan bahwa dalam data model empiris yang diestimasi terdapat
homokedastisity, dan dengan kata lan model yang kita pakai tidak terdapat gejala
penyakit heterokedasticity.
76
Gambar 4.2
Diagram Heterokedastistas
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Dari gambar 4.2 di atas terlihat titik-titik menyebar secara acak serta
tersebar baik di atass maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y, tidak ada pola
tertentu yang teratur. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi
heterokedastisitas pada model regresi ini.
77
Tabel 4.8
Hasil Uji Park
Coefficientsa
Model
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
Standardized t
Coefficients
Beta
(Constant)
.153
1.225
.125
1
Inflasi
-7.207
11.843
-.113
-.609
BI Rate
-27.435
23.477
-.218
-1.169
a. Dependent Variable: LnU2i2
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Sig.
.901
.546
.249
Dari tabel 4.10 dapat diketahui persamaan regresi tersebut tidak signifikan
secara statistik ini ditunjukkan nilai t-test < dari t-tabel (1,3006), hal ini
menunjukkan bahwa dalam data model empiris yang diestimasi terdapat
homokedastisity, dan dengan kata lan model yang kita pakai tidak terdapat gejala
penyakit heterokedasticity.
d. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,
variabel terikat dan bebas keduanya memiliki distribusi normal atau tidak. Uji
normalitas digunakan untuk mengetahui suatu populasi suatu data dapat dilakukan
dengan analisis grafik. Salah satu cara termudah untuk melihat normlaitas residual
adalah dengan melihat grafik histogram dan normal probability plot yang
membandingkan distribusi kumulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi
kumulatif dari distribusi normal (Ghozali, 2006: 147). Jika distribusi data residual
normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti
garis diagonalnya. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi normal atau
78
mendekati normal (Ghozali, 2006: 147). Untuk menguji apakah distribusi data
normal atau tidak dapat dilakukan beberpa cara, yaitu:
1) Analisa Grafik
Gambar 4.3
Histogram Uji Normalitas
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
79
Gambar 4.4
Histogram Uji Normalitas
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Dengan melihat tampilan histogram uji normalitas di atas, dapat
disimpulkan bahwa histogram menunjukkan pola distribusi normal. Namum
demikian hanya dengan melihat histogram, hal ini dapat memberikan hasil yang
meragukan khususnya untuk jumlah sampel kecil. Metode yang lebih handal
adalah dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi
kumulatif dari distribusi normal (Ghozali, 2006: 147). Grafik normal probability
plot terlihat dalam gambar berikut:
80
Gambar 4.5
Uji Normalitas Dengan Normal P-P Plot
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Pada grafik normal probability plot di atas terlihat bahwa titik-titik
menyebar terhimpit di sekita diagonal, serta penyebarannya mengikuti arah garis
diagonal. Dari kedua grafik tersebut maka dapat dinyatakan bahwa model regresi
pada penelitian ini memnuhi asumsi normalitas.
81
Gambar 4.6
Uji Normalitas Dengan Normal P-P Plot
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Pada grafik normal probability plot di atas terlihat bahwa titik-titik
menyebar terhimpit di sekita diagonal, serta penyebarannya mengikuti arah garis
diagonal. Dari kedua grafik tersebut maka dapat dinyatakan bahwa model regresi
pada penelitian ini memnuhi asumsi normalitas.
e. Uji Linieritas
Pengujian linieritas digunakan untuk menguji apakah spesifikasi model
yang kita gunakan sudah tepat atau lebih baik dalam spesifikasi model bentuk
lain. Spesifikasi model dapat berupa linier, kuadratik, atau kubik (Bawono, 20016:
82
179). Pengujian ini dapat dilakuakan dengan pengujian autokorelasi sebagai
berikut:
Tabel 4.9
Hasil Uji Linieritas
Model Summaryb
Mode R
R Square Adjusted R
Std. Error of the Durbin-Watson
l
Square
Estimate
a
1
.904
.818
.805
.00431
2.126
a. Predictors: (Constant), Inflasi2, BIRate2
b. Dependent Variable: ROA
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Berdasarkan hasil di atas, maka dapat diketahui besarnya durbin-watson
keduanya yaitu untuk persamaan linier sebesar 2,148 sedangkan persamaan
kuadrat yaitu 2,126. Sedangkan nilai tabel dL = 1,43, nilai tabel dU = 1,62, nilai 4dU = 2,38, dikarenakan nilai DW test kedua persamaan tersebut diantara d U dan 4dU, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat kesalahan sepesifikasi model
atau keduanya layak dipakai. Dengan kata lain spesifikasi model linier layak
untuk digunakan untuk model linier untuk digunakan dalam model regresi.
Tabel 4.10
Hasil Uji Linieritas
Model Summaryb
Mode R
R Square Adjusted R
Std. Error of the Durbin-Watson
l
Square
Estimate
a
1
.864
.746
.729
.11308
1.937
a. Predictors: (Constant), Inflasi2, BIRate2
b. Dependent Variable: ROE
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
83
Berdasarkan hasil di atas, maka dapat diketahui besarnya durbin-watson
keduanya yaitu untuk persamaan linier sebesar 1,961 sedangkan persamaan
kuadrat yaitu 1,931. Sedangkan nilai tabel dL = 1,43, nilai tabel dU = 1,62, nilai 4dU = 2,38, dikarenakan nilai DW test kedua persamaan tersebut diantara d U dan 4dU, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat kesalahan sepesifikasi model
atau keduanya layak dipakai. Dengan kata lain spesifikasi model linier layak
untuk digunakan untuk model linier untuk digunakan dalam model regresi.
3. Persamaan Regresi Linier Berganda
Regresi ini digunakan untuk menganalaisa data yang bersifat multivariate.
Analisa ini digunakan untuk meramalkan nilai variabel dependen (Y), dengan
variabel independen yang lebih dari satu (minimal dua), sehingga analisa regresi
berganda sering disebut juga analisa multivariate, karena variabel yang
mempengaruhi naik turunnya variabel dependen (Y) lebih dari satu variabel
independen (X), kondisi variabel independen (X) dalam mempengaruhi variabel
dependen (Y) bervariasi bisa positif bisa juga negative, atau beraneka ragam
kondisi yang mempengaruhi. Sehingga regresi berganda ini lebih real dengan
kenyataan di lapangan, bahwa sesuatu hal pasti dipengaruhi oleh banyak hal.
Sedangkan untuk membuktikan ada atau tidaknya hubungan fungsional atau
hubungan kausal antara beberapa variabel independen (X1, X2,…) mempengaruhi
variabel dependen (Y) dapat dilakukan dengan diuji dengan uji statistik (Bawono,
2006: 84).
84
Tabel 4.11
Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Coefficientsa
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
Model
t
Std. Error Beta
(Constant)
.067
.010
6.927
1
Inflasi
.162
.093
.267
1.737
BI Rate
-.910
.185
-.758
-4.930
a. Dependent Variable: ROA
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Sig.
B
.000
.089
.000
Dengan hasil perhitungan regresi linier berganda pada tabel 4.12 di atas,
dapat diketahui hubungan antara variabel independnen dan variabel dependen
yang dapat dirumuskan dalam persamaan sebagai berikut:
ROA = 0,067 + 0,162 Inflasi – 0,910 BI Rate.
Tabel 4.12
Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Model
Coefficientsa
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
t
Std. Error Beta
(Constant)
1.264
.220
5.751
1
Inflasi
2.831
2.124
.217
1.333
BI Rate
-17.315
4.212
-.670
-4.111
a. Dependent Variable: ROE
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Sig.
B
85
.000
.189
.000
Dengan hasil perhitungan regresi linier berganda pada tabel 4.13 di atas,
dapat diketahui hubungan antara variabel independnen dan variabel dependen
yang dapat dirumuskan dalam persamaan sebagai berikut:
ROE = 1,624 + 2,831 Inflasi – 17,315 BI Rate.
4. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R2) mengukur seberapa jauh kemampuan model
dalam menerangkan variasi variabel kinerja keuangan (ROA, ROE). Nilai
koefisien determinasi antara 0 dan 1. Nilai R2 yang mendekati satu berarti variabel
independen penelitian memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan
untuk memprediksi variasi variabel kinerja keuangan (ROA, ROE). Hasil
koefisien determinasi dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 4.13
Hasil Koefisien Determinasi
Model Summaryb
Model R
R Square
Adjusted R
Std. Error of the DurbinSquare
Estimate
Watson
a
1
.904
.817
.805
.00432
2.148
a. Predictors: (Constant), Inflasi, BI Rate
b. Dependent Variable: ROA
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Kelemahan mendasar penggunanan koefisien determinasi adalah bias
terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Oleh
karena itu, dianjurkan untuk menggunakan Adjusted R2 pada saat mengevaluasi
model regresi terbaik (Ghozali, 2006: 87). Dari tabel koefisen determinasi di atas,
dapat dilihat bahwa angka koefisien korelasi (R2) sebesar 0,817. Hal ini berarti
hubungan antar variabel independen dengan variabel dependen sebesar 81,7%.
86
Dari angka tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa hubungan antara variabel
independen dengan variabel dependen cukup kuat.
Besarnya Adjusted Square (R2) adalah 0,817. Hasil perhitungan statistik
ini berarti bahwa kemampuan variabel independen dalam menerangkan variasi
perubahan variabel dependen sebesar 81,7%, sedangkan sisanya 18,3% (100%81,7%) diterangkan oleh faktor-faktor lain di luar model regresi yang dianalisis.
Tabel 4.14
Hasil Koefisien Determinasi
Model Summaryb
Model R
R Square
1
.864a
Adjusted R
Std. Error of the DurbinSquare
Estimate
Watson
.747
.729
.11291
1.961
a. Predictors: (Constant), Inflasi, BI Rate
b. Dependent Variable: ROE
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Dari tabel koefisen determinasi di atas, dapat dilihat bahwa angka
koefisien korelasi (R2) sebesar 0,747. Hal ini berarti hubungan antar variabel
independen dengan variabel dependen sebesar 74,7%. Dari angka tersebut dapat
diambil kesimpulan bahwa hubungan antara variabel independen dengan variabel
dependen cukup kuat.
Besarnya Adjusted Square (R2) adalah 0,747. Hasil perhitungan statistik
ini berarti bahwa kemampuan variabel independen dalam menerangkan variasi
perubahan variabel dependen sebesar 74,7%, sedangkan sisanya 25,3% (100%74,7%) diterangkan oleh faktor-faktor lain di luar model regresi yang dianalisis.
87
5. Pengujian Hipotesis
a. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)
Uji F menunjukkan semua variabel independen yang dimasukkan ke
dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel
dependen. Hasil perhitungan F adalah sebagai berikut:
Tabel 4.15
Hasil Uji Statistik F
ANOVAa
Model
1
Regression
Residual
Sum of
Squares
Df
Mean Square F
.002
.003
2
45
.001
.000
Sig.
13.988
.000b
Total
.005
47
a. Dependent Variable: ROA
b. Predictors: (Constant), BI Rate, Inflasi
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Dari perhitungan uji F dapat diketahui bahwa nilai F adalah 13,998 dimana
lebih besar dari 4 dengan nilai signifikan 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini
menunjukkan bahwa semua variabel independen yaitu inflasi dan BI Rate
berpengaruh signifikan secara simultan (bersama-sama) terhadap kinerja
keuangan bank umum syariah yang diproksikan dengan Return On Assets (ROA).
88
Tabel 4.16
Hasil Uji Statistik F
ANOVAa
Model
Sum of
Squares
Regression
Df
Mean Square F
.677
2
.338
Sig.
9.982
.000b
1
Residual
1.526
45
.034
Total
2.203
47
a. Dependent Variable: ROE
b. Predictors: (Constant), BI Rate, Inflasi
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
Dari perhitungan uji F dapat diketahui bahwa nilai F adalah 9,982 dimana
lebih besar dari 4 dengan nilai signifikan 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini
menunjukkan bahwa semua variabel independen yaitu inflasi dan BI Rate
berpengaruh signifikan secara simultan (bersama-sama) terhadap kinerja
keuangan bank umum syariah yang diproksikan dengan Return On Equity (ROE).
b. Uji Signifikansi Individual (Uji Statistik t)
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh
variabel independen secara individual dalam menjelaskan variasi variabel
dependen (Ghozali, 2013: 88).
89
Tabel 4.17
Hasil Uji Statistik t
Coefficientsa
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
B
Std. Error Beta
Model
T
Sig.
(Constant)
1.824
.301
6.066
Inflasi
.102
.029
.494
3.451
1
Suku Bunga
-.350
.057
-.873
-6.095
BI
a. Dependent Variable: ROA
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
.000
.001
.000
Berdasarkan hasil uji t di atas, terbukti bahwa variabel inflasi berpengaruh
positif dan signifikan terhadap Return On Assets (ROA). Sedangkan variabel suku
bunga BI berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Return On Assets (ROA).
Berikut ini dijelaskan hasil perhitungan uji t masing-masing variabel :
1. H1 : Inflasi berpengaruh positif terhadap Return On Assets (ROA) Bank
Syariah.
Hipotesis pertama mengenai variabel inflasi diketahui bahwa t
hitung adalah 3,451 (lebih besar dari t tabel sebesar 1,3006) hal ini berarti
nilai inflasi berpengaruh positif terhadap ROA. Nilai signifikansi inflasi
adalah 0,001 dimana nilai ini lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat
dikatakan bahwa variabel inflasi terbukti berpengaruh signifikan terhadap
ROA.
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh
positif dan signifikan terhadap ROA, sehingga dapat disimpulkan bahwa
Hipotesis Pertama (H1) diterima.
90
2. H2 : Suku Bunga BI berpengaruh negatif terhadap Return On Assets
(ROA) Bank Syariah.
Hipotesis kedua mengenai variabel inflasi diketahui bahwa t hitung
adalah -6,095 (lebih kecil dari t tabel sebesar 1,3006) hal ini berarti nilai
suku bunga BI berpengaruh negatif terhadap ROA. Nilai signifikansi suku
bunga BI adalah 0,000 dimana nilai ini lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat
dikatakan bahwa variabel suku bunga BI terbukti berpengaruh signifikan
terhadap ROA.
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa suku bunga BI
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA, sehingga dapat
disimpulkan bahwa Hipotesis Kedua (H2) diterima.
Tabel 4.18
Hasil Uji Statistik t
Model
(Constant)
Coefficientsa
Unstandardized
Standardized t
Coefficients
Coefficients
B
Std. Error Beta
3.328
.426
Sig.
7.821
.000
Inflasi
.131
.042
.478
3.135
Suku Bunga BI
-.427
.081
-.802
-5.260
a. Dependent Variable: ROE
Sumber: Output SPSS 21.0, data sekunder yang diolah, 2012-2014.
.003
.000
1
Berdasarkan hasil uji t di atas, terbukti bahwa variabel inflasi berpengaruh
positif dan signifikan terhadap Return On Equity (ROE). Sedangkan variabel suku
bunga BI berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Return On Equity (ROE).
91
1. H3 : Inflasi berpengaruh positif terhadap Return On Equity (ROE) Bank
Syariah.
Hipotesis pertama mengenai variabel inflasi diketahui bahwa t
hitung adalah 3,135 (lebih besar dari t tabel sebesar 1,3006) hal ini berarti
nilai inflasi berpengaruh positif terhadap ROE. Nilai signifikansi inflasi
adalah 0,003 dimana nilai ini lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat
dikatakan bahwa variabel inflasi terbukti berpengaruh secara signifikan
terhadap ROE.
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh
positif dan tidak signifikan terhadap ROE, sehingga dapat disimpulkan
bahwa Hipotesis Pertama (H3) diterima.
2. H4 : Suku Bunga BI berpengaruh negatif terhadap Return On Equity
(ROE) Bank Syariah.
Hipotesis kedua mengenai variabel suku bunga BI diketahui bahwa
t hitung adalah -5,260 (lebih kecil dari t tabel sebesar 1,3006) hal ini
berarti nilai suku bunga BI berpengaruh negatif terhadap ROE. Nilai
signifikansi suku bunga BI adalah 0,000 dimana nilai ini lebih kecil dari
0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa variabel inflasi terbukti berpengaruh
signifikan terhadap ROE.
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa suku bunga BI
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROE, sehingga dapat
disimpulkan bahwa Hipotesis Kedua (H4) diterima.
92
C. Pembahasan Hasil Pengujian Statistik
1. Pengaruh Variabel Inflasi Terhadap Kinerja Keuangan
Berdasarkan analisis data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan
dalam penelitian ini, dapat diketahui bahwa inflasi terbukti berpengaruh signifikan
terhadap ROA dan ROE. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang
dilakukan Sahara (2013), Syahirul (2013), dimana disebutkan inflasi berpengaruh
positif terhadap kinerja keuangan pada Bank Syariah di Indonesia. Hasil
pengujian ini menunjukkan bahwa semakin besar inflasi maka kinerja keuangan
bank syariah akan semakin besar.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh positif
terhadap kinerja keuangan. Jika inflasi meningkat, maka BI akan meningkatkan
suku bunganya dan kemudian bank syariah juga akan meningkatkan bagi hasil
deposito maupun dari pembiayaan yang akan menimbulkan ketertarikan dari pada
para nasabah yang akan berdampak pada peningkatan kinerja keuangan bank
syariah tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan hubungan yang positif, hal ini
terbukti dengan adanya kenaikan inflasi tertinggi yang terjadi pada triwulan III
pada tahun 2013 sebesar 8,6 diikuti dengan kenaikan rata-rata kinerja keuangan
bank syariah. Pada triwulan ke III tahun 2014 inflasi mengalami penurunan
sebesar 2,76 diikuti dengan penurunan kinerja keuangan. Hal ini menunjukkan
bahwa semakin besar inflasi maka semakin besar kinerja keuangan bank syariah
dan semakin kecil inflasi maka semakin kecil pula kinerja keuangan bank syariah.
Selama periode pengamatan, kenaikan inflasi diikuti dengan kenaikan asset dan
dana pihak ketiga selama krisis global berlangsung, maka akan diikuti dengan
93
kenaikan profitabilitas bank syariah, sehingga inflasi meningkat profitabilitas
bank syariah juga ikut meningkat.
2. Pengaruh Variabel Suku Bunga BI Terhadap Kinerja Keuangan
Berdasarkan analisis data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan
dalam penelitian ini, dapat diketahui bahwa suku bunga BI berpengaruh negatif
dan terbukti berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Hasil penelitian
ini mendukung penelitian yang dilakukan Wibowo (2012), Utomo (2009), dan
Supriyanti (2012), dimana disebutkan bahwa suku bunga BI berpengaruh secara
signifikan terhadap kinerja keuangan bank. Meningkatnya suku bunga BI akan
diikuti peningkatan suku bunga tabungan, sehingga akan mengakibatkan nasabah
memindahkan dananya ke bank konvensional, untuk memperoleh pengembalian
yang lebih tinggi. Naiknya suku bunga bank konvensional akan mempengaruhi
kegiatan operasional bank syariah yaitu dalam hal pembiayaan dan penyaluran
dana. Bila hal tersebut terjadi, maka pendapatan dan profit bank syariah akan
menurun (Karim, 2006).
Hasil dari pengujian ini sesuai dengan penelitian dari Suardani (2009)
yang menyatakan bahwa suku bunga SBI berpengaruh negatif terhadap
profitabilitas bank syariah. Hasil penelitaian ini juga didukung oleh Supriyanti
(2012) yang menyatakan bahwa suku bunga BI berpengaruh negatif terhadap
profitabilitas bank syariah.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada saat suku bunga BI
mengalami kenaikan tertinggi selama periode pengamatan yaitu pada triwulan III
tahun 2014 rata-rata kinerja keuangan perbankan syariah mengalami penurunan.
94
Hal ini ditunjukkan dengan data ROA dan ROE bank syariah, pada kuartal III
tahun 2014 kinerja keuangan mengalami penurunan yaitu pada titik terendah
sedangkan suku bunga BI nya tetap, Bank Mega Syariah sebesar 0,0024 dan
0,0221, Bank Muamalat sebesar 0,001 dan 0,0156, BNI Syariah sebesar 0,0111
dan 0,1312, Bank Syariah Mandiri sebesar 0,008 dan 0,2464. Selama periode
tahun 2012 suku bunga mengalami penurunan namun kinerja keuangan justru
mengalami peningkatan sampai tingkat tertinggi, Bank Mega Syariah sebesar
0,0411 dan 0,5876, Bank Muamalat sebesar 0,0162 dan 0,2857, BNI Syariah
sebesar 0,0131 dan 0,0862, Bank Syariah Mandiri sebesar 0,0222 dan 0,6843. Hal
ini menunjukkan bahwa semakin tinggi suku bunga BI, maka kinerja keuangan
bank syariah akan semakin kecil, begitu pula sebaliknya jika suku bunga BI
menurun maka kinerja keuangan bank syariah akan meningkat.
Penurunan BI rate yang berlangsung selama periode pengamatan hingga
mencapai tingkat terendah sebesar 5,75% menjadi berkah bagi perbankan syariah.
Sebab bank syariah menjadi lebih kompetitif dari sisi peningkatan nisbah bagi
hasil untuk nasabah besar atau korporasi, sehingga produk-produk perbankan
syariah baik dana maupun pembiayaan akan semakin kompetitif bersaing dengan
bank konvensional.
95
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan latar belakang, landasan teori, analisis data, dan hasil
pengujian yang dialkukan terhadap hipotesis, maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis (H1, H3) diketahui bahwa secara parsial,
variabel inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return On Asset
(ROA). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi inflasi maka akan
berdampak meningkatnya Return On Assets pada perbankan syariah. Variabel
inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return On Equit (ROE).
Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi inflasi maka akan berdampak
meningkatnya Return On Equity pada perbankan syariah.
2. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis (H2, H4) diketahui bahwa secara parsial,
variabel suku bunga BI berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Return On
Asset (ROA). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi suku bunga BI maka
akan berdampak menurunnya Return On Assets pada perbankan syariah.
Variabel suku bunga BI berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Return On
Equit (ROE). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi suku bunga BI maka
akan berdampak menurunnya Return On Equity pada perbankan syariah.
96
B. Saran
Saran yang bisa diberikan terkait penelitian ini antara lain:
1. Bagi manajemen
a. Perbankan harus dapat menjaga tingkat kesehatan bank, baik dari faktor
permodalan, kualitas aktiva produktif, manajemen, rentabilitas, likuiditas.
Jika kelima faktor tersebut terjaga dengan baik maka krisis perbankan tidak
akan terjadi dan kepercayaan nasabah tetap terjaga dengan baik sehingga
fungsi perbankan dapat berjalan dengan baik. Dengan demikian perbankan
membantu terciptanya perekonomian yang baik di suatu negara.
2. Bagi investor
a. Para
calon
nasabah
sebaiknya
memperhatikan
informasi-informasi
mengenai inflasi dan suku bunga BI yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia
karena dengan adanya informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk
memperediksi kinerja perbankan yang kemudian mengambil keputusan
yang tepat sehubungan dengan kebutuhan para nasabah.
b. Untuk menilai kinerja perbankan yang sehat hendaknya calon nasabah
selain melihat dari sisi pengaruh suku bunga dan inflasi hendaknya
memperhatikan faktor eksternal di luar pengaruh suku bunga dan inflasi,
seperti : unsurr informasi, issuer, atau news, kondisi persaingan, kebijakan
pemerintah dalam jangka pendek dan jangka panjang serta variabel lainnya
yang dapat memberikan dasar pertimbangan dalam penjelasan mengenai
kondisi kinerja keuangan perbankan.
97
3. Bagi penelitian selanjutnya
a. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan referensi bagi
peneliti selanjutnya di bidang yang sama yang akan datang untuk
dikembangkan dan diperbaiki, misalnya dengan memperpanjang periode
paradigm pengamatan sehingga dapat lebih mencerminkan hasil penelitian.
b. Memperluas jangkauan sampel perusahaan agar tidak hanya terbatas pada
satu perusahaan saja, tetapi juga mencakup perusahaan-perusahaan yang
lebih banyak lagi.
c. Penelitian selanjutnya dapat memperbanyak jumlah variabel
yang
dipergunakan, karena masih banyak variabel lain yang berpengaruh pada
kinerja keuangan perbankan syariah.
98
Daftar Pustaka
Alim, Syahirul. 2014. Analisis Pengaruh Inflasi dan BI Rate Terhadap Return On
Asset (ROA) Bank Syariah di Indonesia. Malang: Universitas Islam Negeri
Malang.
Antonio, M. Syafi’I. 2001. Bank Syari’ah Dari Teori Ke Praktek. Jakarta: Gema
Insani.
Dendawijaya, Lukman. 2005. Manajemen Perbankan. Edisi 2. Bogor: Ghalia
Indonesia.
Dendawijaya, Lukman. 2009. Manajemen Perbankan. Edisi 2. Bogor: Ghalia
Indonesia.
Dwijayanty, Febriana. 2009. Analisis Pengaruh Inflasi, BI Rate, dan Nilai Tukar
Mata Uang Terhadap Profitabilitas Bank Periode 2003-2007. Jakarta:
Universitas Paramadina.
Harahap, Sofyan Syafri. 2002. Teori Akuntansi Edisi Delapan. Jakarta: PT. Raja
Grasindo Persada.
Harahap, Sofyan Syafri. 2013. Analisis Kritis Atas Laporan Keuanga. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Hermawan, Asep. 2008. Penelitian Bisnis Paradigma Kuantitatif. Jakarta: PT
Grasindo.
Julianti, Friska. 2013. Analisis Pengaruh Inflasi, Nilai Tukar dan BI Rate
Terhadap Tabungan Mudharabah pada Perbankan Syariah. Jakarta:
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Kasmir. 2004. Dasar-Dasar Perbankan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Kasmir. 2013. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Kasmir. 2014. Analisa laporan Keuangan. Jakarta: Raja grafindo Persada.
Kurniasih, Erni. 2012. Pengaruh Capital Adequity Ratio (CAR) Non Performing
Financing (NPF) Financing to Deposit Ratio (FDR) Biaya Operasional
Pendapatan Operasional (BOPO) Suku Bunga dan Inflasi Terhadap
99
Profitabilitas (Perbandingan Bank Umum Syariah dan Bank Umum
Konvensional Periode 2007-2011). Yogyakarta: Universitas Islam Negeri
Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Kurniati, Dini. 2014. Pengaruh Inflasi dan Tingkat Suku Bunga Terhadap
Simpanan Deposito Mudharabah (Pada Beberapa Bank Umum Syariah
Periode 2009-2013). Bandung : Universitas Islam Bandung.
Kusumo, Yunanto Adi. 2008. Analisis Kinerja Keuangan Bank Syariah Mandiri
Periode 2002-2007. Jakarta: La Riba.
Nopirin. 2009. Ekonomi Moneter. Buku 2. Yogyakarta: BPFE.
Oktavia, Linda Dwi. 2009. Pengaruh Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah, dan
Inflasi Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sebelum dan Sesudah
Privatisasi. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Prasnanugraha, Pottie. 2007. Analisis Pengaruh Rasio-Rasio Keuangan Terhadap
Kinerja Bank Umum di Indonesia. Semarang. Universitas Diponegoro.
Rahardja, Prathama. 2004. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro Ekonomi dan Makro
Ekonomi. Jakarta: Universitas Indonesia.
Republika. 2008. Direktori Bank Syariah Republika. Jakarta: Republika.
Sahara, Ayu Yanita. 2010. Analisis Pengaruh Inflasi, Suku Bunga BI, dan Produk
Domestik Bruto Terhadap Return On Asset (ROA) Bank Syariah di
Indonesia. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Sari, Erni Indah. 2013. Pengaruh Inflasi dan Suku Bunga Terhadap Return Saham
PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Jakarta: STIE MDP.
Sartika, Dewi. 2012. Analisis pengaruh Ukuran perusahaan, Kecukupan Modal,
Kualitas Aktiva Produktif dan Likuiditas Terhadap Return On Asset (ROA).
Makasar: Universitas Hasannudin.
Silvanita, Ktut. 2009. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta: Erlangga.
Supriyanti, Neni. 2009. Analisis Pengaruh Inflasi dan Suku Bunga BI Terhadap
Kinerja Keuangan PT Bank Mandiri Berdasarkan Rasio Keuangan. Jakarta:
Universitas Gunadarma.
Utomo, Novianto Satrio. 2009. Analisis Pengaruh Tingkat Inflasi dan Suku Bunga
BI Terhadap Kinerja keuangan PT. bank Muamalat Berdasarkan Rasio
Keuangan. Jakarta: Universitas Gunadarma.
100
Wibowo, Edhi Satriyo. 2012. Analisis Pengaruh Suku Bunga, Inflasi, CAR,
BOPO, NPF Terhadap Profitabilitas Bank Syariah. Semarang. Universitas
Diponegoro.
Zulifah, Fitri. 2013. Pengaruh Inflasi, BI Rate Capital Adequancy Ratio (CAR)
Non Performing Finance (NPF) Biaya Operasional dan Pendapatan
Operasional (BOPO) Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Periode
2008-2012. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Laporan Perkembangan Perbankan Syariah 2005
Laporan Perkembangan Perbankan Syariah 2006
Statistik Perbankan Syariah 2014
www.muamalatbank.com diakses tanggal 15 Juni 2015
www.bsmi.co.id diakses tanggal 25 Juni 2015
www.syariahmandiri.co.id diakses tanggal 15 Juni 2015
www.bi.go.id diakses tanggal 05 Mei 2015
www.bni.go.id diakses tanggal 15 Juni 2015
101
LAMPIRAN
102
LAMPIRAN 1
TABEL INPUT DATA PENELITIAN
TAHUN
2012
2013
2014
2012
2013
2014
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
NAMA BANK
BANK
MUAMALAT
BANK
SYARIAH
MANDIRI
INFLASI
BI RATE
ROA
ROE
3,72%
4,49%
4,48%
4,41%
5,26%
5,64%
8,60%
8,35%
7,76%
7,11%
4,35%
6,47%
3,72%
4,49%
4,48%
4,41%
5,26%
5,64%
8,60%
8,35%
7,76%
7,11%
4,35%
6,47%
5,83%
5,75%
5,75%
5,75%
5,75%
5,83%
6,81%
7,41%
7,50%
7,50%
7,50%
7,62%
5,83%
5,75%
5,75%
5,75%
5,75%
5,83%
6,81%
7,41%
7,50%
7,50%
7,50%
7,62%
1,51%
1,61%
1,62%
1,65%
1,72%
1,66%
1,68%
0,50%
1,44%
1,03%
0,10%
0,17%
2,17%
2,25%
2,22%
2,25%
2,56%
1,79%
1,51%
1,53%
1,77%
0,66%
0,80%
0,17%
26,03%
27,72%
28,57%
29,16%
41,77%
41,80%
41,69%
11,41%
21,77%
15,96%
1,56%
2,13%
66,56%
68,52%
68,43%
68,09%
70,11%
50,30%
43,49%
44,58%
53,86%
20,17%
24,64%
4,82%
103
2012
2013
2014
2012
2013
2014
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
BANK MEGA
SYARIAH
BANK BNI
SYARIAH
3,72%
4,49%
4,48%
4,41%
5,26%
5,64%
8,60%
8,35%
7,76%
7,11%
4,35%
6,47%
3,72%
4,49%
4,48%
4,41%
5,26%
5,64%
8,60%
8,35%
7,76%
7,11%
4,35%
6,47%
5,83%
5,75%
5,75%
5,75%
5,75%
5,83%
6,81%
7,41%
7,50%
7,50%
7,50%
7,62%
5,83%
5,75%
5,75%
5,75%
5,75%
5,83%
6,81%
7,41%
7,50%
7,50%
7,50%
7,62%
104
3,52%
4,13%
4,11%
3,81%
3,57%
2,94%
2,57%
2,33%
1,18%
0,99%
0,24%
0,29%
0,63%
0,65%
1,31%
1,48%
1,62%
1,24%
1,22%
1,37%
1,22%
1,11%
1,11%
1,27%
47,56%
56,14%
58,76%
57,98%
52,06%
35,62%
29,47%
26,23%
11,99%
9,98%
2,21%
2,50%
4,23%
4,20%
8,64%
10,18%
13,98%
10,87%
11,54%
11,73%
13,79%
13,28%
13,12%
13,96%
LAMPIRAN 2
OUTPUT SPSS UJI ASUMSI KLASIK DAN
REGRESI LINEAR BERGANDA
Analisis Statistik Deskriptif Masing-Masing Variabel
Inflasi
BI Rate
ROA
ROE
Valid N (listwise)
Descriptive Statistics
N
Minimum Maximum
Mean
Std. Deviation
Statistic
Statistic
Statistic
Statistic
48
.04
.09
.0589
.01660
48
.06
.08
.0658
.00838
48
.00
.04
.0163
.01005
48
.02
.70
.2903
.21649
48
Hasil Uji Multikolonieritas Dengan Matriks Korelasi
Coefficient Correlationsa
Model
BI Rate
Inflasi
1
BI Rate
Covariances
Inflasi
a. Dependent Variable: ROA
Correlations
105
BI Rate
1.000
-.648
.034
-.011
Inflasi
-.648
1.000
-.011
.009
Hasil Uji Multikolonieritas Dengan Matriks Korelasi
Coefficient Correlationsa
Model
BI Rate Inflasi
BI Rate
1.000
-.648
Correlations
Inflasi
-.648
1.000
1
BI Rate 17.738
-5.800
Covariances
Inflasi
-5.800
4.513
a. Dependent Variable: ROE
Hasil Uji Multikolonieritas Dengan Nilai Tolerance dan VIF
Model
Coefficientsa
Collinearity Statistics
Tolerance
(Constant)
1
Inflasi
.580
BI Rate
.580
a. Dependent Variable: ROA, ROE
VIF
1.725
1.725
Hasil Uji Autokorelasi
Model Summaryb
Model R
R Square Adjusted R
Std. Error of the DurbinSquare
Estimate
Watson
a
1
.904
.817
.805
.00432
2.148
a. Predictors: (Constant), Inflasi, BI Rate
b. Dependent Variable: ROA
106
Hasil Uji Autokorelasi
Model Summaryb
Model R
R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate
1
.864a
.747
.729
a. Predictors: (Constant), Inflasi, BI Rate
b. Dependent Variable: ROE
Diagram Heterokedastisitas
107
.11291
DurbinWatson
1.961
Hasil Uji Park
Coefficientsa
Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized t
Coefficients
Std. Error
Beta
(Constant)
-2.122
1.136
1
Inflasi
-4.226
10.989
BI Rate
-37.100
21.785
a. Dependent Variable: LnU2i
Sig.
B
Diagram Heterokedastistas
108
-.070
-.311
-1.867
-.385
-1.703
.068
.702
.095
Hasil Uji Park
Coefficientsa
Model
Unstandardized
Standardized t
Sig.
Coefficients
Coefficients
B
Std. Error
Beta
(Constant)
.153
1.225
.125
.901
1
Inflasi
-7.207
11.843
-.113
-.609
.546
BI Rate
-27.435
23.477
-.218
-1.169
.249
a. Dependent Variable: LnU2i2
Histogram Uji Normalitas
109
Histogram Uji Normalitas
110
Uji Normalitas Dengan Normal P-P Plot
111
Uji Normalitas Dengan Normal P-P Plot
Hasil Uji Linieritas
Model Summaryb
Mode R
R Square Adjusted R
Std. Error of the Durbin-Watson
l
Square
Estimate
a
1
.904
.818
.805
.00431
2.126
a. Predictors: (Constant), Inflasi2, BIRate2
b. Dependent Variable: ROA
112
Hasil Uji Linieritas
Model Summaryb
Mode R
R Square Adjusted R
l
Square
1
.864a
.746
.729
a. Predictors: (Constant), Inflasi2, BIRate2
b. Dependent Variable: ROE
Std. Error of the Durbin-Watson
Estimate
.11308
1.937
Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Coefficientsa
Model
Unstandardized
Standardized t
Sig.
Coefficients
Coefficients
B
Std. Error Beta
(Constant)
.067
.010
6.927
.000
1
Inflasi
.162
.093
.267
1.737
.089
BI Rate
-.910
.185
-.758
-4.930
.000
a. Dependent Variable: ROA
Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Coefficientsa
Model
Unstandardized
Standardized t
Sig.
Coefficients
Coefficients
B
Std. Error Beta
(Constant)
1.264
.220
5.751
.000
1
Inflasi
2.831
2.124
.217
1.333
.189
BI Rate
-17.315
4.212
-.670
-4.111
.000
a. Dependent Variable: ROE
113
Hasil Koefisien Determinasi
Model Summaryb
Model R
R Square
Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate
1
.904a
.817
.805
a. Predictors: (Constant), Inflasi, BI Rate
b. Dependent Variable: ROA
DurbinWatson
.00432
2.148
Hasil Koefisien Determinasi
Model Summaryb
Model R
R Square
Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate
1
.864a
.747
.729
a. Predictors: (Constant), Inflasi, BI Rate
b. Dependent Variable: ROE
DurbinWatson
.11291
1.961
Hasil Uji Statistik F
ANOVAa
Model
Sum of
Squares
Df
Mean Square F
Regression
.002
2
1
Residual
.003
45
Total
.005
47
a. Dependent Variable: ROA
b. Predictors: (Constant), BI Rate, Inflasi
114
.001
.000
Sig.
13.988
.000b
Hasil Uji Statistik F
ANOVAa
Model
Sum of
Squares
Df
Mean Square F
Regression
.677
2
1
Residual
1.526
45
Total
2.203
47
a. Dependent Variable: ROE
b. Predictors: (Constant), BI Rate, Inflasi
.338
.034
Sig.
9.982
.000b
Hasil Uji Statistik t
Coefficientsa
Model
Unstandardized
Standardized T
Sig.
Coefficients
Coefficients
B
Std. Error Beta
1.824
.301
6.066
.000
.102
.029
.494
3.451
.001
-.350
.057
-.873
-6.095
.000
(Constant)
Inflasi
1
Suku Bunga
BI
a. Dependent Variable: ROA
Hasil Uji Statistik t
Coefficientsa
Model
Unstandardized
Standardized t
Sig.
Coefficients
Coefficients
B
Std. Error Beta
(Constant)
3.328
.426
7.821
.000
1
Inflasi
.131
.042
.478
3.135
.003
Suku Bunga BI
-.427
.081
-.802
-5.260
.000
a. Dependent Variable: ROE
115
Lampiran 4
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kota Salatiga pada tanggal 22 Februari 1992 dari
ayah yang bernama bpk. Achmad Munawi dan alm. ibu. Sri Sulistriyati. Penulis
merupakan anak kelima dari lima bersaudara. Penulis menempuh pendidikan
Sekolah Dasar di SD Negeri Sidorejo Lor 06 pada tahun 1998 dan lulus pada
tahun 2004. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 2 Salatiga
dan lulus pada tahun 2007. Penulis melanjutkan pendidikannya di Madrasah
Aliyah Negeri Salatiga dan lulus pada tahun 2010. Mulai tahun 2011, penulis
mengikuti perkuliahan di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga
pada Program Studi S1 Perbankan Syariah. Kini Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri (STAIN) Salatiga beralih status menjadi Institut Agama Islam Negeri
(IAIN) Salatiga. Hingga penulisan skripsi ini selesai, penulis masih terdaftar
sebagai mahasiswi Program Studi S1 Perbankan Syariah Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Salatiga.
116
Download