1 INTERSEKSI POLITIK DAN EKONOMI Bisnis Dan Politik

advertisement
1
INTERSEKSI POLITIK DAN EKONOMI
Bisnis Dan Politik-Power Over Resources Approach
DR. EDIARNO
Direktur Lembaga Ekonomi Bagi Hasil
http://www.ekonomi-bagi-hasil.com
Jakarta, 11 September 2015
A. Pendahuluan
Pendekatan ekonomi politik sesungguhnya masih belum
menemukan bentuknya yang final. Hal itu tergambar dari kesimpulan
survei literatur tentang pendekatan ekonomi politik yang dilakukan oleh
Caporaso and Levine. Menurut keduanya, ekonomi dan politik
memiliki perbedaan-perbedaan kategoris, yang harus dipertimbangkan
didalam usaha membangun pendekatan ekonomi politik. Perbedaan
tersebut memiliki landasan dan implikasi-implikasi yang normatif.
Kategori perbedaan tersebut meliputi aspek-aspek, institusi, metode,
objek, orientasi dan proses yang dimiliki keduanya.1 Perbedaan
normatif antar keduanya ternyata cukup banyak. Perbedaan itu berakar
pada sejarah kelahiran ekonomi klasik, yang awalnya memang
dirancang untuk memisahkan ekonomi dari absolutisme politik, sesuai
semboyannya; Laissez Faire.2
Perbedaan kategoris antara keduanya dapat dijelaskan secara
ringkas berikut ini. Institusi ekonomi adalah pasar sedangkan institusi
politik adalah negara. Ekonomi menjadikan mekanisme pasar,
pertukaran bebas, sebagai metode alokasi sumber daya. Metode alokasi
politik adalah berdasar otoritas . Tujuan alokasi ekonomi adalah untuk
efisiensi, sedangkan tujuan utama alokasi oleh sistem politik tidak
semata efisiensi, tapi bisa aspek lainnya seperti ketertiban atau keadilan
sosial. Bagi ekonomi pasar adalah institusi untuk efisiensi, politik tidak
menjadikan negara sebagai institusi untuk efisiensi. Ekonomi
mengelola barang pribadi (private goods) sebagai objeknya, sedangkan
sistem politik mengelola barang publik (public goods). Penyediaan
barang didalam ekonomi didasarkan kepada keinginan bebas individu
1
James A Caporaso, David P. Levine, Theories of Political Economy, (New
York; Cambridge University Press, 1996), p. 225
2
Roger A. Arnold, Macroeconomics, (Mason, OH: Thomson Higher Education,
2008), p.189
2
(free will) dan efisiensi. Metode pertukaran didalam ekonomi adalah
sukarela dan bebas. Sedangkan, penyediaan barang didalam politik,
didasarkan kepada kebutuhan dan ada tidaknya hak (entitlement) yang
dimiliki seorang warga, terlepas apakah itu efisien atau tidak. Ekonomi
menggunakan ‘keinginan bebas’ individu sebagai dasar kepatuhan
orang kepada norma pasar. Politik menggunakan ‘paksaan’ untuk
menciptakan kepatuhan (compliance) orang kepada norma-norma
negara. Pertukaran ekonomi dinilai berdasarkan kriteria utilitas barang,
ukuran yang relatif jelas, sedangkan politik menggunakan kriteria yang
lebih luas, rumit, dan kurang jelas ukurannya.3 Dengan demikian
banyaknya perbedaan kategori normatif diatas membuat usaha unifikasi
ekonomi dan politik menjadi sulit.
Caporaso and Levine melakukan survei dengan kerangka
berfikir bahwa perbedaan pengertian-pengertian yang dikandung
ekonomi dan politik tetap dihormati dan keduanya tidak perlu saling
direduksi satu sama lainnya.4 Dengan sikap tersebut, kesimpulan
keduanya adalah bahwa ekonomi dan politik memiliki banyak
persinggungan, istilah keduanya ‘broad point of contacts’, namun
keduanya tetap tidak dapat direduksi, dan tidak mudah untuk
melakukan asimilasi keduanya didalam usaha untuk menghasilkan
sebuah pendekatan ekonomi politik yang umum.5 Dengan kata lain,
adanya ‘broad point of contacts’ antara ekonomi dan politik tidak
sampai membuat Caporaso and Levine optimis terhadap usaha
penyatuannya, bahkan cenderung memilih sikap yang tetap
memperlakukan keduanya, ekonomi dan politik, sebagai entitas
terpisah. Survey tersebut dimaksudkan oleh keduanya sebagai langkah
awal untuk melihat kemungkinan menulis sebuah buku teks ilmu
ekonomi politik.6 Namun, kesimpulan survey ‘yang pesimis’ tersebut
tampak tidak mendukung maksud keduanya untuk menulis buku teks
tersebut. Didalam surveynya, Caporaso and Levine menggugurkan
potensi dua pendekatan yang awalnya dianggap menjanjikan yaitu,
3
James A Caporaso, David P. Levine, Theories
York; Cambridge University Press, 1996), p. 222-223
4
James A Caporaso, David P. Levine, Theories
York; Cambridge University Press, 1996), p. 225
5
James A Caporaso, David P. Levine, Theories
York; Cambridge University Press, 1996), p. 225
6
James A Caporaso, David P. Levine, Theories
York; Cambridge University Press, 1996), p. vii
of Political Economy, (New
of Political Economy, (New
of Political Economy, (New
of Political Economy, (New
3
power approach dan economic approach.7 Adanya kesimpulan pesimis
Caporaso and Levine tersebut kurang menggembirakan, karena
mengandung ancaman terhadap relevansi profesi ekonomi politik.
Namun, kesimpulan yang diambil oleh Caporaso and Levine
tersebut sesungguhnya merupakan implikasi dari sifat penelitian
mereka, yaitu deskriptif atau ekplorasi.8 Caporaso and Levine memang
menyatakan bahwa beban penelitiannya adalah hanya untuk
mengidentifikasi dan mengembangkan perbedaan yang terdapat
didalam pendekatan ekonomi politik yang sudah ada; elaboration of
approaches.9 Kesimpulan pesimis itu juga hasil dari kerangka berfikir
penelitiannya yaitu, bahwa ekonomi dan politik tidak dapat saling
direduksi satu sama lainnya, dimana perbedaan pengertian-pengertian
yang dikandung keduanya, ekonomi dan politik, tetap dihormati.10
Dengan kerangka berfikir tersebut maka usaha unifikasi cenderung
sulit. Disatu sisi, kerangka berfikir ini mencerminkan sikap critical
survey, namun kerangka berfikir itu mengarahkan perhatian yang jauh
lebih besar kepada aspek-aspek pemisahan daripada kepada aspekaspek pengabungan keduanya.
Penelitian Caporaso and Levine juga melakukan pembatasan
pendekatan yang boleh masuk kedalam ruang penelitian mereka,
melalui dua jenis pembatasan (two cuts). Pertama, tidak memasukkan
pendekatan ekonomi politik yang dianggap keduanya tidak memiliki
landasan teoritis yang substantif. Kedua, membuang pendekatanpendekatan yang dianggap keduanya tidak memiliki pengaruh yang
luas.11 Kita tidak tahu, apa saja pendekatan ekonomi politik yang telah
dibuang oleh keduanya berdasarkan penilaian subjektif mereka. Dalam
usaha integrasi ekonomi politik, Caporaso and Livine juga membatasi
pengertian ekonomi hanya sebatas produksi dan pertukaran saja.
Padahal menurut buku teks ekonomi sudah umum dikenal definisi
ekonomi yang mencakup kegiatan produksi, pertukaran dan distribusi
hasil ekonomi. Masalah distribusi sebagai bagian yang penting dari
7
James A Caporaso, David P. Levine, Theories of Political Economy, (New
York; Cambridge University Press, 1996), p.221-222
8
Sanafiah Faisal, Format-Format Penelitian Sosial,(Jakarta; PT RajaGrafindo
Persada, 2005), hal 18
9
James A Caporaso, David P. Levine, Theories of Political Economy, (New
York; Cambridge University Press, 1996), p. vii
10
James A Caporaso, David P. Levine, Theories of Political Economy, (New
York; Cambridge University Press, 1996), p. 225
11
James A Caporaso, David P. Levine, Theories of Political Economy, (New
York; Cambridge University Press, 1996), p. vii
4
ekonomi sudah dinyatakan oleh buku teks ekonomi sejak abad 19.12
Buku-buku teks ekonomi abad 21 juga menyatakan tiga fungsi
mekanisme pasar, yaitu;13 (1).Menentukan apa yang diproduksi (what),
(2). Bagaimana memproduksinya (how) dan (3). Kepada siapa hasilnya
dibagi (for whom) . Fungsi ketiga mekanisme pasar tersebut merupakan
masalah distribusi. Aspek distribusi tidak mendapat perhatian didalam
pengertian ekonomi yang disebutkan oleh Caporaso and Levine.
Namun, dibalik pesimisme yang ditebar oleh kesimpulan
Caporaso and Levine tersebut, sesungguhnya terdapat aspek optimisme,
yang kontradiktif dengan kesimpulan pesimis mereka yaitu; adanya
‘broad points of contact’ antara ekonomi dan politik, yang dikandung
oleh pendekatan ekonomi politik yang termasuk didalam
penelitiannya.14 Jika titik-titik persinggungan itu banyak, maka wilayah
interseksi antara ekonomi dan politik itu cukup luas, dimana bangunan
pendekatan ekonomi politik bisa didirikan. Cara yang produktif untuk
integrasi ekonomi dan politik bukanlah melihat apa yang ada didalam
masing-masing disiplin ilmu, lalu menerapkannya kedalam wilayah
disiplin lainnya. Penggunaan pendekatan ekonomi neoklasik total
kedalam politik jelas akan sulit karena doktrin ekonomi neoklasik
memang dibangun diatas dasar keinginan untuk memisahkan ekonomi
dari politik. Langkah yang kontruktif didalam membangun pendekatan
ekonomi politik adalah bertolak dari wilayah interseksi politik dan
ekonomi, yang jelas memang ada.
Interseksi yang kuat antara ekonomi dan politik ditunjukan oleh
berbagai pernyataan dan penelitian ahli kedua displin tersebut. Dalam
kaitannya dengan distribusi kekayaan, kelompok ekonom, misalnya
Thomas Piketty (2014) menyebutkan, sejarah dari distribusi kekayaan
yang pincang, berakar dalam sebab-sebabnya pada mekanisme politik,
dan tidak dapat direduksi semata sebagai akibat mekanisme ekonomi.15
Ahli politik, Huntington, menyebutkan bahwa, apa yang berpengaruh
12
Henry Fawcet, Manual of Political Economy, (London: Macmillan and Co,
1883), p.4
Henry Fawcett (1883) menyebutkan didalam bukunya, “political economy is
concerned with those principles which regulated the production, the distribution, and
the exchange of wealth”. Jadi didalamnya termasuk kajian tentang prinsip-prinsip
didalam distribusi kekayaan.
13
Bradley R. Schiller, The Economy Today, (Boston: McGraw-Hill, 2006), p.12
14
James A Caporaso, David P. Levine, Theories of Political Economy, (New
York; Cambridge University Press, 1996), p. 225
15
Thomas Piketty, Capital, (Massachusetts; Harvard University Press, 2014), p.
20
5
terhadap pertumbuhan ekonomi adalah stabilitas politik, tidak
tergantung kepada jenis sistem politiknya. Sistem politik apapun akan
mendorong pertumbuhan ekonomi sepanjang sistem itu mampu
menciptakan tertib politik (political order).16Ada juga pendapat dari
pendukung teori modernisasi, misalnya Karl Deutsch, Daniel Lerner
dan Cyril Black, menyebutkan bahwa modernisasi merupakan sebuah
proses yang sistematis , dimana tujuan-tujuannya seperti pembangunan
politik demokrasi, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan
(equity) bukan hanya kompatibel satu sama lainnya tapi saling
memperkuat (mutually reinforcing).17 Lenski (1966) menyebutkan,
dengan adanya struktur politik yang egaliter, maka masuk akal untuk
berharap, akan lebih banyak anggota masyarakat yang kurang mampu
dapat mengorganisir dirinya melalui serikat, kelompok kepentingan dan
partai politik, yang akan memperkuat basis politik mereka,
mendapatkan kursi di parlemen, sehingga dapat ikut berpartisipasi dan
mengendalikan keputusan-keputusan yang dihasilkan oleh mesin
pemerintahan. Dengan demikian, demokrasi dapat memfasilitasi bagi
pengurangan kesenjangan pendapatan.18
Berdasarkan berbagai argumentasi tersebut diatas dan adanya
‘broad point of contacts’ antara ekonomi dan politik yang disebutkan
oleh Caporaso and Levine, kajian ini akan membangun pendekatan
ekonomi politik yang disebut dengan power over resources approach
(POR Approach). Pendekatan tersebut kemudian akan didemonstraikan
penggunaannya untuk membahas dua masalah terkait yaitu, (1)
partisipasi politik warga yang relevan dalam konteks sistem politik
demokrasi partisipatif dan (2) relasi bisnis dengan politik.
B. Ekonomi Politik-Power Over Resources Approach
Power menunjukkan kemampuan seseorang untuk mencapai
tujuan. Untuk mencapai tujuan, kita harus melakukan sesuatu untuk
mempengaruhi dan merubah dunia. Kita harus melakukan aksi didalam
dan atas dunia. Max Weber mendefinisikan power sebagai “
16
Adam Przaworski, Michael A Alvarez, Jose Antonio Cheibub, Fernando
Limongi, Democracy and Development, Political Institutions and Well-Being in the
World, 1950-1990, (New York; Cambridge University Press, 2000), p.187
17
Alex Inkeles (editor), On Measuring Democracy, Its Consequences and
Concomitants, (New Jersey; Transaction Publishers, 1993), p.127
18
Alex Inkeles (editor), On Measuring Democracy, Its Consequences and
Concomitants, (New Jersey; Transaction Publishers, 1993), p.134
6
kemungkinan bahwa seorang aktor didalam hubungan sosialnya
memiliki posisi untuk mewujudkan keinginannya walaupun terdapat
penghambat, terlepas dari dasar yang digunakan untuk menghitung
kemungkinan tersebut.19 Power Over merupakan salah satu dari tiga
jenis tafsiran tentang power. Ketiga tafsiran power tersebut adalah
power over nature to secure ends, power over others, dan power with
others.20 Ketiga tafsiran power tersebut dapat direduksi menjadi dua
saja, power over dan power with, karena dua tafsiran power over adalah
sama, dan tidak perlu dibedakan karena hanya objeknya yang berbeda.
Power Over Resources yang dipergunakan disini adalah power dalam
makna power over, penggunaan kekuasaan yang timbul akibat
penguasaan atas sumber daya, penguasaan sumber daya sebagai
penentu kemampuan seseorang untuk mempengaruhi hubungan
sosialnya, untuk mempengaruhi, mengubah keputusan sistem politik
agar sesuai dengan tujuannya. Sumber daya yang dimaksud adalah
sumber daya yang memiliki nilai, sehingga karena nilainya,
diperebutkan oleh semua orang, sehingga membuatnya bersifat langka.
Kelangkaan inilah yang menjadi faktor penghambat untuk memilikinya
dan membuat penguasaannya mendatangkan potensi kekuasaan, yang
bisa dipergunakan untuk mempengaruhi dan merubah hubungan sosial
seseorang dan merubah dunia.
Pendekatan Power Over Resource (POR) ini dibangun dengan
didasarkan kepada adanya eksistensi empat interseksi antara ekonomi
dan politik berikut ini.
1. Adanya interseksi wilayah politik dan ekonomi.
2. Adanya interseksi metode alokasi didalam ekonomi dan politik
3. Adanya interseksi sumber daya ekonomi dan politik
4. Adanya interseksi resiko politik terhadap ekonomi
Eksistensi interseksi wilayah ekonomi dan politik sudah dijelaskan
diatas, yang disimpulkan oleh Caporaso and Levine dengan istilah,
broad point of contacts. Interseksi metode alokasi terjadi karena
ekonomi dan politik sama-sama merupakan metode alokasi. Ekonomi
merupakan metode alokasi sumber daya secara sukarela, untuk
19
James A Caporaso, David P. Levine, Theories of Political Economy, (New
York; Cambridge University Press, 1996), p.161
20
James A Caporaso, David P. Levine, Theories of Political Economy, (New
York; Cambridge University Press, 1996), p.162
7
mencapai kondisi ekonomi dengan allocative efficiency.21 Politik juga
merupakan metode alokasi nilai, sumber daya yang bernilai, kepada
masyarakat secara otoritatif, sesuai dengan definisi sistem politik
menurut Easton.22 Menurut Easton, semua masyarakat menghadapi
masalah kelangkaan sumber daya, yang dapat mengarah kepada
perselisihan mengenai alokasinya. Masyarakat dapat menyelesaikan
konflik alokasi menurut interaksi otonom antar manusia. Alokasi yang
bersifat politik dilakukan menurut otoritas, berdasarkan kewenangan.
Alokasi berdasar otoritas, politik, bukan hanya terjadi pada
sistem politik atau negara saja, tapi juga terjadi disemua tingkatan subsistem sosial seperti, keluarga, perusahaan (business firms), serikat
dagang, parpol atau gereja. Didalam perusahaan, pimpinan perusahaan
menetapkan anggaran unit-unit bisnis dibawahnya berdasarkan otoritas.
Kepala keluarga mengalokasikan uang jajan kepada anak-anaknya
berdasarkan otoritas. Adanya alokasi berdasarkan otoritas pada setiap
sub-sistem sosial tersebut menunjukkan bahwa sub-sistem sosial
tersebut memiliki seperangkat kegiatan yang sifatnya seperti elemen
sebuah sistem politik.23 Namun, alokasi melalui sistem politik, negara,
berbeda dengan sub-sistem sosial tersebut dalam hal bahwa otoritas
dari sistem politik untuk mengalokasi sumber daya dilakukan atas nama
seluruh masyarakat dan dengan kewenangan yang diperolehnya dari
pengakuan masyarakat atas posisi dan kewenangan yang mereka
miliki.24 Kewenangan melakukan alokasi sumber daya secara otoritatif
yang dimiliki negara atau sistem politik meliputi wilayah nasional,
diatas semua sub-sistem sosial yang ada didalam sebuah negara.
Caporaso and Levine mempertentangkan cara alokasi ekonomi
yang sukarela dengan alokasi politik yang bersifat otoritatif, paksaan
oleh yang berwenang. Mereka menyebutkan, pasar yang bebas
menghilangkan alokasi berdasarkan otoritas…Pasar dirancang untuk
kebebasan inisiatif individu dan kebebasan ‘self-interest’ individu, dan
memastikan bahwa pilihan (choice) menggantikan paksaan (coercion).
21
Richard G.Lipsey, Christoper T.S.Ragan and Paul A.Storer, Economics,
(Boston: Pearson Addison Wesley, 2008), p. 280
James A Caporaso, David P. Levine, Theories of Political Economy, (New York;
Cambridge University Press, 1996), p.16
22
David Easton, A Framework for Political Analysis, (New Jersey; Prentice
Hall, 1965), p. 50, 56, 57
23
David Easton, A Framework for Political Analysis, (New Jersey; Prentice
Hall, 1965), p. 56
24
David Easton, A Framework for Political Analysis, (New Jersey; Prentice
Hall, 1965), p. 54
8
Implikasinya, maka ‘ekonomi’ dan ‘power’ (otoritas) tampak saling
bertolakbelakang. 25 Pendapat Caporaso and Levine ini bisa dibatalkan
dengan alasan, bahwa pasar sesungguhnya tidak bebas dari paksaan
karena pasar bekerja berdasarkan kontrak bisnis. Jika diperhatikan lebih
teliti, sifat sukarela dari ekonomi hanya terjadi sebelum kontrak dibuat.
Ketika kontrak telah dibuat, maka aspek sukarela menjadi hilang,
digantikan oleh paksaan, yang diperintahkan oleh pasal-pasal yang
terdapat didalam kontrak. Sifat memaksa dari instrumen kontrak itu
sama otoritatifnya dengan undang-undang positip. Pandangan bahwa
kontrak bersifat memaksa sebagai undang-undang tersebut universal,
yang disebutkan oleh doktrin Pacta Sund Servanda.26 Tanpa doktrin
hukum ini, maka kontrak akan runtuh, dan pertukaran ekonomi tidak
terjamin, manusia akan kembali kepada kekacauan state of nature
Hobbes; dalam kondisi state of war. 27 Ketika kontrak telah dibuat,
alokasi sumber daya ekonomi dijalankan menurut kewenangan yang
dikatakan oleh kontrak. Kontrak itu memiliki coercive power didalam
alokasi sumber daya ekonomi.
Sistem politik, negara, adalah juga produk kontrak, namun
kesepakatan dengan lingkup publik yang disebut dengan teori John
Locke, teori ‘Social Compact’ atau ‘Social Contract’ 28 Ditinjau dari
kontrak sosial, sebelum terjadinya kontrak sosial, negara belum ada dan
pihak-pihak yang membuat kontrak yaitu anggota masyarakat masih
bebas. Anggota masyarakat lalu sepakat membuat kontrak sosial antar
25
James A Caporaso, David P. Levine, Theories of Political Economy, (New
York; Cambridge University Press, 1996), p. 160
26
Munir Fuady, Teori-Teori Besar Dalam Hukum, (Jakarta; Kencana Prenada
Media Group, 2013), hal. 209
Pacta Sunt Servanda, berarti “ kontrak itu mengikat’ secara hukum. Bagi pihak-pihak
yang membuat kontrak, maka kontrak itu mengikat mereka seperti mengikatnya
sebuah undang-undang. Tujuan dari penerapan Pacta Sunt Servanda adalah untuk
mendapatkan ketertiban hukum, menjamin ketertiban sosial, ketertiban ekonomi dan
perdagangan. (hal 218)
Pacta Sunt Servanda diakui sebagai salah satu prinsip hukum umum yang diakui oleh
bangsa-bangsa beradab, menjadi salah satu sumber hukum internasional; sumber
hukum ketiga dalam Statuta Mahkamah Internasional. Lihat, Sefriani, Hukum
Internasional, (Jakarta; Rajawali Pers,2011), hal, 26, 49
27
Terence Ball, Richard Dagger, Political Ideologies and the democratic
Ideal, (New York; Harper Collins Publisher, 1991), p. 61
28
Frederick Copleston SJ, Locke (4), in A History of Philosophy, Volume V,
(New York: Bantam Doubleday Dell Publishing Group, 1985), p.128
Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, (Jakarta: Rajawali
Pers, 2012), hal. 346
9
mereka secara sukarela. Paska kontrak sosial, anggota masyarakat
menjadi tidak sebebas sebelumnya, meraka tunduk kepada kekuatan
memaksa yang dimiliki negara. Kekuasaan ‘memaksa’ yang dimiliki
otoritas politik atau negara tersebut didapatnya paska terjadinya kontrak
sosial tersebut. Dengan demikian, sebelum kontrak para pihak didalam
politik juga bebas dan kontrak sosial dibuat secara sukarela. Sifat
kontrak politik menurut perspektif kontrak sosial sama dengan kontrak
ekonomi, yaitu sama-sama sukarela. Tidak tepat, jika dikatakan bahwa
alokasi politik bersifat memaksa, sedangkan alokasi ekonomi bersifat
sukarela.
Perbedaan sifat kontrak politik yang memaksa dan kontrak
ekonomi yang sukarela, terjadi karena perbedaan tingkat analisis.
Ekonomi dinilai saat sebelum kontrak, politik dinilai setelah kontrak.
Jika tingkat analisisnya sama, yaitu sama-sama sebelum kontrak atau
sama-sama setelah kontrak, maka sifat proses alokasi menurut ekonomi
dan politik sama saja. Sebelum kontrak, ekonomi dan politik bersifat
sukarela karena semua pihak dapat memilih sesuai pilihan mereka.
Setelah kontrak, alokasi menurut ekonomi dan politik menjadi samasama bersifat otoritatif, memaksa. Paska kontrak dibuat, alokasi
didalam ekonomi juga bersifat memaksa, yaitu dipaksakan oleh pasalpasal yang ada didalam kontrak. Kontrak mendapatkan kekuatan
memaksanya dari negara melalui lembaga peradilan yang menjadi
bagian sistem politik. Negara atau sistem politik memberi jaminan
‘eksistensi dan eksekusi’ atas semua ayat-ayat perjanjian yang dibuat
didalam wilayah yurisdiksinya. Jika ada pihak yang melanggar kontrak,
negara dapat memaksakan isi kontrak. Walaupun seandainya negara
tidak memberikan jaminan, kontrak ekonomi masih memiliki kekuatan
memaksanya, berdasarkan rasionalitas manusia, melalui doktrin hukum
universal; Pacta Sun Servanda. Semua perjanjian didasarkan kepada
asas pacta sunt servanda atau asas kekuatan mengikat kontrak. Di
Indonesia, asas tersebut terdapat didalam pasal 1338 ayat (1) KUH
Perdata.29 Dengan demikian, saat paska kontrak dibuat, alokasi
ekonomi akhirnya menjadi bersifat memaksa seperti alokasi sistem
politik.
Demikian pula alokasi otoritatif oleh negara selalu mengandung
aspek sukarela dan aspek pertimbangan efisiensi. Dimensi sukarela
muncul sepanjang proses perdebatan atau musyawarah sebelum
29
Muhammad Syaifuddin, Hukum Kontrak, (Bandung; Penerbit Mandar Maju,
2012) hal. 91
10
keputusan atau kebijakan dibuat. Adanya perdebatan dan musyawarah
itu sendiri sebenarnya implisit bahwa pembuatan keputusan
mengandung unsur sukarela. Musyawaran, perdebatan atau voting
merupakan akomodasi terhadap sikap sukarela para pihak. Putusan
otoritatif yang dibuat oleh sistem politik didasarkan kepada input
berupa, tuntutan(demand) dan dukungan (support).30 Putusan otoritatif
bidang politik dibuat untuk dapat memelihara tingkat dukungan yang
besar terhadap sistem politik, sehingga sistem politik dapat beroperasi
normal. Dua variabel esensil didalam setiap sistem politik yang harus
dapat berjalan normal adalah, (1) pembuatan dan pelaksanaan
keputusan untuk masyarakat dan (2) penerimaan oleh masyarakat atas
keputusan sistem politik tersebut sebagai mengikat.31 Efektifitas dua
variabel esensil sistem politik tersebut sangat dipengaruhi oleh
dukungan masyarakat terhadap sistem politik. Kebutuhan terhadap
tingkat dukungan yang cukup, atau dukungan minimal, tersebut
mengakibatkan putusan otoritatif sulit untuk bisa dibuat semena-mena
hanya berdasar preferensi satu orang saja. Putusan otoritatif lebih
merupakan hasil proses tawar menawar, negosiasi, konsensus, dimana
unsur sukarela terlibat. Dengan perspektif teori kontrak sosial, bahkan
didalam pemerintahan otoriter sekalipun, selalu ada ruang negosiasi.
Dengan demikian, proses pembuatan putusan otoritatif politik
mengandung dimensi persamaan kualitas dengan proses pembuatan
kontrak bisnis didalam ekonomi. Oleh karena itu, secara metode,
keduanya memiliki kesamaan sehingga wilayah interseksi metode
terdapat diantara keduanya.
Disamping alasan diatas, interseksi alokasi antara ekonomi dan
politik terjadi karena sebab-sebab kelangkaan dan kesamaan sumber
daya. Putusan ekonomi dan putusan politik pasti melibatkan alokasi
sumber daya yang terdapat di masyarakat. Didalam alokasi tersebut,
baik ekonomi maupun politik sama-sama menghadapi kelangkaan
sumber daya. Selain itu banyak sumber daya keduanya adalah sama,
misalnya uang. Menurut Dahl, sumber daya politik (political resources)
adalah apapun yang bisa digunakan untuk mempengaruhi keputusan
pemerintah, khususnya pemerintah pada tingkat pusat. Semua yang
dianggap memiliki nilai oleh masyarakat dapat digunakan sebagai
sumber daya politik, untuk mencapai tujuan politik, seperti; uang,
30
David Easton, A Framework for Political Analysis, (New Jersey; Prentice
Hall, 1965), p. 112
31
David Easton, A Framework for Political Analysis, (New Jersey; Prentice
Hall, 1965), p. 92,96-97
11
kekayaan (wealth), kedudukan sosial (social standing), kehormatan
(honor), reputasi, status hukum, ilmu pengetahuan, kemampuan
kognitif, informasi, kapasitas melakukan pemaksaan, organisasi,
perangkat komunikasi, koneksi (seperti “Guanxi’ di China).32 Dubrow
menambahkan, pengalaman didalam urusan politik sebagai sumber
daya politik.33
Menurut ekonom, sumber daya ekonomi masyarakat adalah
faktor-faktor produksi yang dimiliki masyarakat, yang terdiri dari tiga
kategori; land, labor and capital, yang dipergunakan sebagai input
untuk menghasilkan dan mendistribusikan barang dan jasa.34 Kapital
adalah dana yang disisihkan dari komsumsi, yang ditujukan untuk
mempertahankan produksi sekarang dan dimasa yang akan datang.
Kapital merupakan penyisihan hasil produksi masa lalu, untuk
membantu produksi sekarang dan masa akan datang.35 Ekonomi Politik
menyebutkan faktor-faktor produksi tersebut untuk menghasilkan
kekayaan (wealth).36 Barang dan jasa yang dihasilkan oleh ekonomi
tersebut merupakan kekayaan sebuah masyarakat atau bangsa.Namun
tidak semua barang dan jasa termasuk wealth. Hanya barang dan jasa
yang memiliki nilai tukar yang termasuk komponen wealth.37
Jika sumber daya politik dan sumber daya ekonomi
dibandingkan maka, kategori yang termasuk sumber daya politik
tampak lebih luas daripada kategori sumber daya ekonomi. Sumber
daya ekonomi, kapital, uang, wealth, adalah kategori-kategori yang
merupakan bagian dari sumber daya politik. Walaupun jenis sumber
daya politik itu lebis luas, namun banyak jenis sumber daya politik
yang sulit diukur, seperti reputasi, kedudukan sosial, kualitas jaringan
sosial. Sementara itu sumber daya ekonomi pada umumnya sensibel,
32
Robert A. Dahl, Equality versus Inequality, (American Political Science
Asscociation; Political Science and Politics, Vol.29, No.4, Dec 1996), p.639
http://www.jstor.org/journals/apsa.html.
33
Joshua Kjerulf Dubrow, On The Realtionship between Political Inequality and
Economic Inequality: A Cross-National Study, Paper, (Polish Academy of Science,
Poland), p.8
34
Richard G.Lipsey, Christoper T.S.Ragan and Paul A.Storer, Economics,
(Boston: Pearson Addison Wesley, 2008), p. 6
35
Henry Fawcet, Manual of Political Economy, (London: Macmillan and Co,
1883), p.11
36
Henry Fawcet, Manual of Political Economy, (London: Macmillan and Co,
1883), p. 4
37
Henry Fawcet, Manual of Political Economy, (London: Macmillan and Co,
1883), p. 6
12
material dan sudah bisa diukur. Oleh karena itu, sumber daya ekonomi
bisa mewakili, merefleksikan sumber daya politik. Pandangan ini sesuai
dengan studi ahli politik tentang ketidaksamaan politik (political
inequality), yang menggunakan ukuran-ukuran sumber daya ekonomi
untuk mengukur sumber daya politik. Jeffrey Winter menyebutkan lima
jenis sumber daya kekuasaan (power resources) yaitu; Hak politik
formal, Kekuasaan Jabatan resmi dalam komponen utama struktur
sistem politik, Kekuasaan Mobilisasi massa, Kekuasaan Pemaksaan,
Kekuasaan Material. Konsentrasi penguasaan atas empat jenis sumber
kekuasaan yang pertama pada individu akan menjadikannya elite
politik. Sedangkan konsentrasi penguasaan jenis kelima, kekuasaan
material, pada individu akan menghasilkan oligarki.38 Dari kelima jenis
sumber daya kekuasaan tersebut, Winters menyebutkan kekuasaan
material sebagai sumber daya yang paling menonjol.39 Lenski (1966),
menyebutkan, kekuatan politik merupakan fungsi dari kekayaan
(wealth). Pernyataan Lenski tersebut diperkuat oleh kajian tentang
partisipasi politik; bahwa semakin unggul seseorang secara ekonomi
maka semakin terhormat dan semakin istimewa anggota masyarakat
tersebut, dan semakin tinggi kecendrungan partisipasi politiknya.40
Dengan demikian, interseksi sumberdaya politik dengan sumber daya
ekonomi adalah sumber daya ekonomi itu sendiri.
C. Kekuatan Partisipasi Politik; Power Over Resource Approach
Partisipasi politik adalah kegiatan atau aksi nyata, bukan hanya
pikiran, sikap atau kecendrungan, yang dilakukan oleh anggota
masyarakat, secara sukarela, baik melalui metode konvensional atau
sesuai prosedur maupun melalui metode yang tidak konvensional
seperti mogok, boikot dan revolusi dengan tujuan untuk mempengaruhi
hasil keputusan politik.41 Beberapa kegiatan yang termasuk didalam
partisipasi politik tersebut adalah kegiatan untuk memberikan suara
38
Jeffrey A. Winters, Zia Anshor (alih bahasa), Oligarki, (Jakarta; PT Gramedia
Pustaka Utama, 2011), hal.17-30
39
Jeffrey Winters, Oligarki dan Demokrasi di Indonesia, (Jakarta; LP3ES,
Majalah Prisma, Volume 33, 2014), hal. 11
40
Joshua Kjerulf Dubrow, Cross-National Measures of Political Inequality of
Voice, ASK Research & Method, Vol. 19 (1,2010), p. 98 http://www.ifispan.waw.pl
41
Syaiful Mujani, Muslim Demokrat, Islam, Budaya Demokrasi dan Partisipasi
Politik di Indonesia Pasca Orde Baru, (Jakarta; Gramedia Pustaka Utama, 2007), hal.
38-39
13
(voting), menentukan kandidat pejabat dan untuk mencalonkan diri
untuk menduduki jabatan pemerintahan.42 Partisipasi politik adalah
sarana untuk mempengaruhi agar keputusan-keputusan sistem politik
sesuai dengan keinginan atau tujuan partisipan. Partisipasi politik
merupakan sebuah power karena partisipasi tersebut digunakan untuk
mempengaruhi atau merubah keputusan politik agar sesuai dengan
keinginan partisipan.
Partisipasi politik pasti membutuhkan pengorbanan sumber
daya atau biaya, karena partisipasi tersebut merupakan ‘kegiatan’ atau
aksi yang memiliki tujuan. Dalam kaitannya dengan sumber daya
tersebut, aksi partisipasi politik merentang dari kegiatan yang biayanya
rendah, seperti pergi ke TPS untuk memberikan suara, sampai aksi
revolusi yang membutuhkan biaya yang sangat besar. Keterlibatan
unsur biaya menunjukkan bahwa partisipasi politik membutuhkan
dukungan sumber daya material yang memiliki nilai. Penguasaan
sumber daya yang bernilai tersebut berhadapan dengan hambatan
berupa kelangkaan sumber daya yang bernilai tersebut. Mengingat
partisipasi memiliki tujuan yaitu, mempengaruhi keputusan politik agar
sesuai dengan kepentingan pelaku, maka masalah efektifitas menjadi
penting. Aspek efektifitas partisipasi politik tersebut memerlukan
komitmen dan kesediaan pengorbanan sumber daya. Argumentasiargumentasi yang diuraikan diatas menegaskan bahwa, partisipasi
politik bukan sekedar soal kesadaran berpolitik saja tapi menyangkut
kemampuan untuk mengorbankan sumber daya material yang bernilai.
Partisipasi bukan sekedar keinginan, tapi telah memenuhi kriteria untuk
disebut sebuah power, yang digunakan untuk mempengaruhi atau
merubah putusan sistem politik.
Mengingat sumber daya politik dapat diwakilkan oleh sumber
daya ekonomi, maka partisipasi politik adalah fungsi dari penguasaan
sumber daya ekonomi. Istilah sumber daya ekonomi sudah
menunjukkan bahwa sumber daya itu bernilai, kompetitif dan langka
(scarce).43 Semakin besar penguasaan seseorang atas sumber daya
ekonomi maka semakin besar potensi kekuatan politiknya dan semakin
besar potensi kekuatan partisipasi politiknya (potential political
participation power). Disini disebut potensi kekuatan partisipasi
politik, karena bisa saja kekuatan politik itu tidak dipergunakanya,
Mohtar Mas’oed, Colin MacAndrews (Editor), Perbandingan Sistem Politik,
(Yogyakarta; Gajah Mada University Press, 2000), hal. 45
43
Roger A Arnold, Macroeconomics, (Mason, OH: Thomson Higher Education,
2008), p.4
42
14
tidak aktual, masih tetap dalam bentuk potensi saja. Potensi itu menjadi
kekuatan politik aktual ketika dipergunakan dalam partisipasi politik.
Potensi kekuatan politik seorang guru besar ilmu politik, yang memiliki
jaringan politik luas dan reputasi yang tinggi, akan tetap sebagai
potensi jika tidak digunakan dengan aksi nyatanya didalam partisipasi
politik. Dengan menggunakan pendekatan power over resources dapat
disimpulkan bahwa kekuatan partisipasi politik seseorang, sekelompok
anggota masyarakat, tergantung kepada luasnya penguasaan sumber
daya ekonomi.
D. Relasi Bisnis-Politik; Power Over Resource Approach
Diatas telah disimpulkan bahwa seseorang dengan penguasaan
sumber ekonomi yang besar memiliki potensi kekuatan partisipasi
politik yang besar. Dalam konteks sistem ekonomi pasar, kapitalisme,
orang dengan penguasaan sumber daya ekonomi yang besar tersebut
adalah mereka yang termasuk golongan kelas pemilik modal, yang
secara tradisi disebut kaum borjuis.44 Inti dari kaum borjuis adalah
pengusaha, perusahaan45, industriawan, pedagang, yang didukung
lapisan berikutnya yaitu para profesional perkotaan, bankir, manajer,
lawyer. Pada awal kelahirannya abad 17, mereka adalah pendukung
utama liberalisme, sebagai kelompok menengah baru, rising class of
merchants, pendukung John Locke saat pecahnya perseteruan raja
dengan parlemen yang dikuasai partai Locke, Liberal Whig party.46
Pada masa kini, semua anggota kelompok itu biasa dikenal dengan
istilah kelompok bisnis. Jika pada zaman feodalisme, penguasa sumber
daya ekonomi adalah kelompok bangsawan-Aristokrat, pada era
kapitalisme penguasa sumber daya ekonomi adalah kelompok bisnis.
Pada kelahiran kapitalisme, salah satu tema utama perjuangan kaum
borjuis adalah meminggirkan negara dari ekonomi, membuat ekonomi
bebas dari pengaruh negara, melalui semboyan kaum kapitalis; Laisse
Faire (biarkan kami bebas).47 Tapi mengapa, ketika kapitalisme telah
44
Terence Ball, Richard Dagger, Political Ideologies and the democratic Ideal,
(New York; Harper Collins Publisher, 1991), p. 103
45
Orang (natuurlijk persoon) dan Perusahaan (rechtspersoon) menurut ilmu
hukum adalah sama-sama subjek hukum.. Subjek hukum adalah segala sesuatu yang
dapat menjadi pendukung hak dan kewajiban.Lihat, Achamd Ali, Menguak Tabir
Hukum, (Jakarta; Ghalia Indonesia, 2008), hal.175
46
Terence Ball, Richard Dagger, Political Ideologies and the democratic Ideal,
(New York; Harper Collins Publisher, 1991), p. 57, 103
47
Roger A. Arnold, Macroeconomics, (Mason, OH: Thomson Higher Education,
2008), 189
15
menjadi sistem ekonomi yang mendunia, kelompok bisnis malah masuk
atau mendekati sistem politik, membaurkan ekonomi dengan politik?
Bagaimana menjelaskan fenomena yang kontradiktif ini?
Apa tujuan dari kelompok bisnis menggunakan potensi
kekuatan partisipasi politik mereka untuk memasuki lingkaran sistem
politik? Sistem politik yang dimaksud disini adalah sistem politik
menurut pendekatan struktural fungsional Almond48, yang mengisi
Black Box sistem politik David Easton49 dengan struktur, fungsi dan
proses politik. Menurut Almond, semua sistem politik memiliki struktur
dan fungsi yang universal. Struktur politik dan fungsi politik tersebut
berlaku dimana saja, termasuk di Indonesia. Almond (1974)
menunjukkan enam lembaga politik yang mengisi struktur politik.
Enam lembaga politik tersebut adalah; Kelompok kepentingan, Partai
politik, Badan legislatif, Badan Eksekutif, Birokrasi dan Badan
Peradilan. Struktur politik tersebut menjalankan delapan fungsi politik,
yaitu: Sosialisasi politik, Rekrutmen politik, Komunikasi Politik,
Artikulasi kepentingan, Agregasi kepentingan, Pembuatan Kebijakan,
Penerapan Kebijakan, Ajudikasi Kebijakan.50 Kelompok bisnis
menggunakan potensi kekuatan partisipasi politik mereka untuk
mempengaruhi hasil-hasil dari proses berfungsinya lembaga-lembaga
yang ada didalam struktur politik. Kelompok bisnis mempengaruhi
hasil putusan lembaga-lembaga politik baik secara tidak langsung
maupun langsung.
E. Motif Relasi Bisnis-Politik: Security
Ketika kelompok bisnis menggunakan potensi kekuatan
partisipasi politiknya kedalam sistem politik, maka sesuai dengan
definisi partisipasi politik, tujuannya adalah untuk mempengaruhi
keputusan politik agar memihak kepentingannya. Sebelum pembahasan
48
Gabriel A. Almond, A Functional Approach to Comparative Politics, in
Gabriel A. Almond, James S. Coleman (editors), The Politics of The Developing
Areas, (New Jersey; Princeton University Press, 1971), p.3-64
49
Stephen L. Wasby, Political Science The Discipline And Its Dimensions, (New
York; Charles Scribner’s Sons, 1970), p. 110
David Easton, A Framework for Political Analysis, (New Jersey; Prentice-Hall,
Inc, 1965), p.112
50
Mohtar Mas’oed, Colin MacAndrews (Editor), Perbandingan Sistem Politik,
(Yogyakarta; Gajah Mada University Press, 2000), hal. 27-31
Gabriel A. Almond, A Functional Approach to Comparative Politics, in Gabriel
A. Almond, James S. Coleman (editors), The Politics of The Developing Areas, (New
Jersey; Princeton University Press, 1971), p.17
16
aspek kepentingannya, perlu diketahui lebih dahulu motif kaum bisnis
melakukan aksi partisipasi politik. Motif kaum bisnis adalah keamanan
(security motive) dalam arti luas. Motif keamanan itu luas muncul
meliputi semua tingkatan kebutuhan yang disebutkan oleh
Maslow(1943). Maslow menyebutkan enam tingkatan kebutuhan yang
memotivasi tindakan manusia yaitu; Physiological Needs, Safety Need,
Social Need, Esteem Needs, Self Actualization Need.51
Orang
memerlukan keamanan (security) dimanapun dia berada dalam struktur
tingkat kebutuhan yang telah bisa dicapainya dan menjadi pola
hidupnya. Seseorang yang telah mampu memenuhi kebutuhan pada
tingkat esteem needs seperti, status sosial yang tinggi, prestise,
kehormatan, dan telah terbiasa hidup dengan limpahan esteem needs,
akan terpenjara dengan kebiasaan tersebut dan berusaha untuk
mengamankan kebiasaan tersebut, dan berusaha keras agar tidak jatuh.
Hal yang sama juga terjadi pada orang yang baru mampu memenuhi
kebutuhan makan dan pakaian saja. Dia memerlukan keamanan
kebutuhan makan dan pakaiannya untuk tetap terpenuhi. Sesuai dengan
motif tersebut, kaum bisnis menggunakan kekuatan potensi partisipasi
politik untuk tujuan yang sesuai dengan motif security tersebut.
Motif security yang melandasi kepentingan kaum bisnis
terhadap negara sudah muncul sejak 200 tahun yang lalu. Motif itu
sudah tercermin dengan jelas didalam gagasan filosofis politik yang
berkembang menjelang kelahiran ekonomi klasik pada abad 17 di
Inggris. Gagasan pemisahan ekonomi dari negara sudah terlihat pada
masa Thomas Hobbes(1588-1679), didalam bukunya Leviathan yang
terbit tahun 1651,52 pada saat mana pemikiran tentang perlindungan hak
pribadi yang tidak terbatas pada kaum aristokrat menjadi kian penting.
Hobbes hidup pada masa perang sipil. Suasananya begitu kacau
sehingga Hobbes menyatakan kondisi alamiah relasi antar manusia
(state of nature) adalah saling bermusuhan satu sama lainnya, atau
dalam state of war 53. Manusia berada dalam situasi kehidupan yang
‘solitary, poor, nasty, brutish and short.54 State of nature yang chaotic
51
Michael R. Salomon, Consumer Behavior, (New Jersey; Pearson Education,
Inc, 2007), p.126-127
52
Terence Ball, Richard Dagger, Political Ideologies and the democratic Ideal,
(New York; Harper Collins Publisher, 1991), p. 57, 61
53
Terence Ball, Richard Dagger, Political Ideologies and the democratic Ideal,
(New York; Harper Collins Publisher, 1991), p. 61
54
Terence Ball, Richard Dagger, Political Ideologies and the democratic Ideal,
(New York; Harper Collins Publisher, 1991), p. 58
17
tersebut, tidak bertentangan dengan pengakuan bahwa manusia
memiliki hak-hak alamiah yaitu bebas (free) dan setara (equal).
Manusia menjadi buas seperti binatang, adu kekuatan, siapa kuat dia
yang menang, saling rampas, saling bunuh antar sesamanya adalah
justru karena kebebasan tiap orang untuk memperjuangkan kepentingan
pribadinya, yaitu mempertahankan hidup (preserving of life). Formula
Hobbes untuk keluar dari siatuasi chaotic tersebut adalah perlunya
kehadiran penguasa yang kuat dan absolut. Kebutuhan terhadap
kekuasaan (power) menjadi landasan legitimasi bagi kehadiran
negara.55
Dalam kaitannya dengan hak (ius), Hobbes menyebutkan, hak
adalah kebebasan untuk berbuat atau untuk menahan diri, hukum (law,
lex) menetapkan dan mengikat”. Keduanya dua sisi dari mata uang
yang sama. Hukum alam (law of nature) dan hukum sipil adalah sama.
Hanya negara sebagai sumber dari hukum sipil.56 Implikasi pandangan
Hobbes ini adalah, dalam hal hak milik pribadi, maka negara menjadi
penjaminnya. Hak milik pribadi yang alamiah (ius) dijamin oleh negara
dengan hukum (lex). Kekuasaan negara itu harus absolut, karena state
of nature antar manusia yang buas sehingga walaupun secara alamiah
hak milik pribadi sudah ada (ius naturale) namun hak-hak itu tidak
terjamin. Ian Saphiro menyebutkan, kewenangan mutlak yang
diberikan oleh Hobbes kepada negara itu sesungguhnya kewenangan
yang menurut kriteria liberal memang tidak bisa ditawar, yaitu adanya
jaminan hak milik pribadi dan kedaulatan hukum, keutuhan wilayah
dan sistem moneter yang efektif, tegaknya kesepakatan dan pemberian
sanksi pada kejahatan serta pemungutan pajak bagi tujuan-tujuan
terbatas. Maksud Hobbes, tanpa adanya kekuasaan yang tegas dan
otoritatif serta dapat menegakkan aturan dan norma yang diperlukan
bagi interaksi sosial, maka masyarakat akan kacau. Hobbes
menyatakan, “singkirkan hukum sipil, dan tidak seorangpun tahu mana
milik dia, dan mana milik orang lain”. 57
Lee Cameron McDonald, Western Political Theory, Part 2, (New York; Harcourt
Brace Jovanovich, Inc, 1962), p. 308
55
Lee Cameron McDonald, Western Political Theory, Part 2, (New York;
Harcourt Brace Jovanovich, Inc, 1962), p. 329
56
Lee Cameron McDonald, Western Political Theory, Part 2, (New York;
Harcourt Brace Jovanovich, Inc, 1962), p. 311
57
Ian Saphiro, The Evolution of Rights in Liberal Theory (1996), Terjemahan
oleh Masri Maris, Evolusi Hak Dalam Teori Liberal, (Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia, 2006), hal. 69
18
Locke menolak gagasan Hobbes tentang state of nature yang
kacau dan perlunya pemerintah yang absolut. Menurut Locke, state of
nature tidak kacau sehingga tidak memerlukan pemerintah yang absolut
untuk membuatnya tertib. State of nature Locke yang tidak kacau,
walau tetap ada ketidaknyamanan, membuat kebutuhan terhadap
pemerintah hanya untuk mengatasi ketidaknyamanan saja. Tingkat
kebutuhannya terhadap kehadiran penguasa tidak setinggi seperti
Hobbes. Konsepsi Locke menunjukkan bahwa tanpa ada pemerintah,
manusia sudah bisa mengatur dirinya sendiri dan melakukan kerjasama.
Pada state of nature, dengan rasionya, manusia dapat mengetahui
bahwa sejak lahir manusia telah memiliki hak-hak alamiah yang terdiri
dari life,liberty and estate yang kesemuanya dapat disebut property.58
Hak dasar manusia tersebut bersifat pra-negara, yang telah dimiliki
manusia sebelum negara ada. Hak-hak alamiah tersebut ada karena
hukum alam dan bukan merupakan lisensi dari siapapun. Karena dalam
state of nature semua manusia memiliki hak yang sama terhadap
kebebasan, maka kekuasaan yang diletakkan diatas seseorang harus
dengan persetujuannya. Hak kebebasan yang sama bermakna bahwa
tidak ada hak seseorang untuk menguasai orang lain, kecuali orang
yang dikuasai itu setuju. Kekuasaan yang dipaksakan atas seseorang
tanpa persetujuannya adalah tidak syah. Oleh karena itu kekuasaan
negara hanya syah jika terdapat persetujuan para subjeknya, rakyatnya.
Jika Hobbes membenarkan penguasa politik karena kebutuhan, Teori
persetujuan Locke memberi landasan legitimasi kekuasaan politik
berdasarkan persetujuan orang yang dikuasainya.59
Locke kemudian mengemukakan pandangannya tentang negara
dengan theory social compact atau social contract. Menurut teori ini,
terdapat dua tahap perjanjian di dalam proses pembentukan kekuasaan
politik (negara). Pada tahap pertama yang disebut Pactum Unionis,
manusia yang bebas, setara dan independen membentuk masyarakat
politik (negara) melalui kesepakatan individu. Pada tahap kedua, yang
disebut pactum Subjectionis, setiap persetujuan bersama antar individu
terbentuk atas dasar mayoritas. Kesepakatan tersebut tidak berarti
penyerahan semua hak individu kepada negara. Hak-hak alamiah
manusia, life, liberty, property, atau semuanya disebut property, tetap
58
Frederick Copleston SJ, The Utilitarian Movement, in A History of Philosophy,
Volume VIII, (New York: Bantam Doubleday Dell Publishing Group, 1985), 11
59
Lee Cameron McDonald, Western Political Theory, Part 2, (New York;
Harcourt Brace Jovanovich, Inc, 1962), p. 329
19
tinggal pada individu dan harus dilindungi oleh negara.60 Kepentingan
sosial tidak dapat dijadikan alasan untuk mengganggu kepentingan
ketiga hak-hak dasar individu tersebut.
Jika dibandingkan dengan Hobbes, maka Locke merubah
natural law Hobbes menjadi natural rights.61 Namun natural right
belum merupakan hak milik karena hanya hak milik yang memiliki
pelindung kekuatan yang bisa dipaksakan. Natural rights belum
memiliki kekuatan yang memaksa. Dalam status natural rights, akan
selalu ada orang yang masih mau mengambilnya. Disamping itu
menurut Locke, besarnya natural rights hanya sebatas yang diperlukan
untuk kebutuhan biologis diri dan keluarga saja. Harta yang dimiliki
diluar kebutuhan biologis tidak bisa menjadi hak milik atas dasar
natural right. Harta itu menjadi hak milik atas dasar persetujuan sosial
atau social rights.62 Konsepsi Locke tentang social rights sebagai dasar
property rights membutuhkan lembaga untuk menegakkan dan
melindunginya. Lembaga itu adalah negara karena negara bisa
memberikan keabsyahan hak milik. Negara memiliki wewenang
membuat hukum dan menggunakan kekuatan memaksa untuk
menegakkannya, melindungi hak milik yang syah menurut hukum dan
membatalkan hak milik yang illegal. Hal ini menunjukkan bahwa
liberalisme Locke melihat natural rights merupakan produk alam, atau
dari Tuhan, sedangkan hak milik (property rights) merupakan produk
sosial.
Adam Smith Adam Smith (1723-1790) melalui bukunya
Inquiry into the Nature and Causes of Wealth of Nations (1776), yang
dikenal sebagai pendiri aliran ekonomi klasik, bapak ilmu ekonomi.63
mendorong kelas menengah kota, kaum borjuis; pedagang, profesional,
menentang monopoli negara atas kegiatan ekonomi. Inti dari
pandangan ekonomi klasik adalah ekonomi ‘laissez faire’; biarkan kami
bebas, yang menunjukkan bahwa kemakmuran akan lebih baik jika
kegiatan ekonomi dibebaskan dari negara. Ekonomi lebih baik
60
Satya Ariananto, Hak Asasi Manusia Dalam Transisi Politik di Indonesia,
(Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara, Universitas Indonesia, 2011), 75 Lihat
juga; Frederick Copleston SJ, Locke (4), in A History of Philosophy, Volume V, (New
York: Bantam Doubleday Dell Publishing Group, 1985), 128
61
Lee Cameron McDonald, Western Political Theory, Part 2, (New York;
Harcourt Brace Jovanovich, Inc, 1962), p. 338
62
Lee Cameron McDonald, Western Political Theory, Part 2, (New York;
Harcourt Brace Jovanovich, Inc, 1962), p. 330
63
Paul A. Samuelson , William D. Nordhaus, Economics, (New York: McGrawHill, 2010), p. 30
20
diserahkan kepada individu-individu, yang diberikan kebebasan
berkompetisi melalui mekanisme pasar mengejar self interest mereka.
Tangan tak terlihat (invisible hands) akan mengorganisir semua self
interest individu tersebut kepada kemakmuran seluruh masyarakat yang
lebih baik.64 Menurut Smith, negara harus terlibat seminimal mungkin
didalam pertukaran ekonomi. Fungsi negara menurut Smith dibatasi
hanya ada tiga yaitu; (1) mempertahankan negara dari invasi musuh, (2)
mempromosikan keadilan, terutama melindungi hak milik pribadi
(protecting property rights) dan memelihara ketertiban, serta (3)
menyediakan barang-barang publik yang tidak disediakan oleh swasta,
seperti jembatan, jalan, pelabuhan.65
Dari pandangan Hobbes, Locke dan Smith diatas dapat ditarik
dua kesimpulan. Pertama, walaupun mereka menginginkan pemisahan
ekonomi dari negara, tidak berarti bahwa ekonomi tidak membutuhkan
negara. Ekonomi membutuhkan negara, karena tanpa negara ekonomi
akan kacau, kembali kepada kondisi state of nature, yang kacau
menurut Hobbes atau tidak menyenangkan menurut Locke. Kedua,
mereka menggantungkan harapan mereka kepada negara untuk
keamanan operasi pasar ekonomi dan keamanan hasil-hasil kekayaan
yang diproduksinya. Hal itu diungkapkan dengan bahasa preserving of
life, penjamin hak milik pribadi (protecting property), penjamin
ketertiban dan penjaga dari invasi musuh. Walaupun kedudukan power
negara mengalami degradasi dari penguasa absolut (Hobbes), tunduk
kepada kesepakatan warga, kontrak sosial (Locke) dan penjaga
ketertiban, nachtwachterstaat, night-watchman state (Adam Smith),
namun tetap memelihara adanya fungsi untuk menjaga hak hidup
(preserving of life), menjamin hak milik pribadi (protecting property)
atau menjaga keamanan kekayaan (protecting wealth), yang semuanya
termasuk kategori security; of right, of property, of wealth. Sejak
kelahiran kapitalisme, motif security tersebut muncul secara konsisten
dalam konteks relasi masyarakat-negara, khususnya relasi masyarakat
ekonomi-negara atau bisnis-politik.
F. Tujuan Relasi Bisnis-Politik
Dalam perjalanannya, gagasan kapitalisme yang menetapkan
fungsi negara untuk protecting private wealth mengalami gangguan64
Terence Ball, Richard Dagger, Political Ideologies and the democratic Ideal,
(New York; Harper Collins Publisher, 1991), p. 68
65
Terence Ball, Richard Dagger, Political Ideologies and the democratic Ideal,
(New York; Harper Collins Publisher, 1991), p. 70
21
gangguan. Gangguan utama datang dari konsep ekonomi sosialisme
Uni Sovyet, yang menjadikan negara sebagai pusat perencana alokasi
sumber daya sehingga membuat teori kontrak sosial politik, konsep
kontrak sukarela ekonomi antar anggota masyarakat kehilangan
landasan. Sosialisme membuat negara dengan wewenang alokasi
otoritatif menjadi dominan, kebebasan anggota masyarakat didalam
proses alokasi sumber daya secara sukarela menjadi hilang dan gagasan
protecting private wealth menjadi tidak relevan. Model sosialisme
mengingatkan model alokasi otoritatif oleh negara seperti pada masa
feodalisme, merkantilisme, pra-kapitalisme, yang ditentang oleh
kapitalisme. Paska perang dunia kedua, negara-negara bangsa (nation
states) baru yang lahir mendapatkan kemerdekaannya melalui proses
‘self determination’ dengan perang melawan kolonialisme, rasa
nasionalisme itu sangat kuat. Gagasan membatasi peran negara seperti
liberalisme dan kapitalisme sangat sulit untuk bisa diterima para
pemimpinnya. Sosialisme dirasakan dapat memenuhi dahaga idealisme,
gagasan negara untuk kepentingan kemakmuran bersama lebih mudah
diterima, kolektivisme lebih cocok dihati daripada individualisme.
Fenomena diatas disebutkan oleh Huntington, yang
menyebutkan bahwa pokok fikiran warga Amerika ketika membahas
pembentukan pemerintahan terutama akan tertuju kepada upaya untuk
membatasi dan mengendalikan kekuasaan pemerintah tersebut. Rakyat
negara berkembang tidak memaknai kekuasaan pemerintah dengan
basis kesadaran seperti itu.66 Kepentingan nasionalisme yang kuat
disertai dengan metode alokasi yang benar-benat otoritif tanpa ruang
sukarela tersebut cocok dengan ciri-ciri ekonomi sosialisme. Negara
tidak dimaknai sebagai institusi artifisial seperti anggapan teori kontrak
sosial, tapi, negara adalah eksisten yang substantif. Implikasi
selanjutnya, karena negara subtantif maka alokasi otoritatif negara tidak
dianggap relatif tapi mutlak. Ketika akhirnya kapitalisme kemudian
masuk kedalam negara berkembang karena kebutuhan modal, terjadi
percampuran antara sosialisme dan kapitalisme tersebut. Percampuran
itu membuat fungsi negara dalam hubungannya dengan pasar berubah
dari protecting rights kapitalisme menjadi preserving rights.
Pengertian protecting dan preserving tersebut berbeda.
Protecting, keeping something from being harmed, being lost,67
66
Samuel P. Huntington, Sahat Simamora dan Suryatim (penterjemah),
Tertib Politik, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003,) hal. 9
67
http://www.meriam-webster.com
22
melindungi sesuatu yang sudah ada dari faktor luar yang merusak,
sedangkan Preserving; keeping something from harm or loss;
68
memelihara atau melindungi sesuatu dalam kondisi yang seharusnya
dari kerusakan akibat faktor penyebab internal atau eksternal. Didalam
protecting, orientasinya ke pihak luar, yang menggangu atau merusak,
seperti protecting country. Implisit didalamnya, pihak internal tidak
merupakan faktor penyebab kerusakan, tidak melakukan perusakan.
Apa yang dilindungi negara sudah terbentuk. Didalam protecting,
negara hanya aktif jika sistem menghadapi gangguan atau ancaman.
Kalau tidak ada gangguan terhadap sistem, maka negara diam saja.
Didalam preserving, orientasinya kepada faktor penyebab internal dan
eksternal. Penyebab kerusakan bisa dari internal dan eksternal. Didalam
preserving, negara aktif melindungi, memelihara dan membina
dimensi-dimensi normatif yang harus dilindunginya itu. Preserving
lebih aktif daripada protecting. Contohnya, negara aktif terlibat didalam
didalam melindungi nyawa atau kehidupan warga, sehingga Hobbes
menulis istilah preserving of life.
Fungsi negara didalam preserving right menunjukkan adanya
peran aktif negara didalam merumuskan dan menegakkan ‘rights’ yang
menurut negara perlu dilindungi.Pandangan ini lebih dirasa pas dengan
cita rasa nasionalisme daripada protecting rights, dimana definisi
‘rights’ atau ‘wealth’ sudah ditentukan, oleh kaum borjuis, dan negara
hanya tinggal menjaganya saja. Adanya keterlibatan aktif negara
didalam perumusan ‘rights’ membuat negara terlibat didalam alokasi
pasar, dengan metode alokasi otoritatif yang ditafsirkan secara mutlak.
Alokasi otoritatif oleh negara ikut membentuk struktur kepemilikan dan
kekayaan di masyarakat. Situasi ini tidak kondusif bagi investasi asing
karena tak ada jaminan hak milik yang final, dan resiko nasionalisasi
menjadi material jika fenomena itu diikuti oleh nasionalisme yang
kuat. Hal yang sama dirasakan oleh kelompok bisnis nasional, namun
mereka lebih paham dan lebih baik didalam menyikapinya. Konteks
preserving wealth itu bisa menjadi expanding wealth karena metode
alokasi negara membuka peluang tersebut. Bagi kelompok bisnis,
keterlibatan negara didalam penciptaan struktur kekayaan masyarakat
mengandung peluang untuk memperluas kekayaan, bukan hanya
sekedar memelihara kekayaan yang sudah ada saja.
Ketika kelompok bisnis memasuki politik, motif awal ‘security’
tersebut kemudian diterjemahkan menjadi tiga tujuan yaitu, (1)
68
http://www.meriam-webster.com
23
preserving wealth, (2) expanding wealth dan (3) risks protection.
Jeffrey Winter, penulis teori Oligarki, menyatakan bahwa tujuan
oligarki adalah untuk wealth defence.69 Warga biasa ingin jika hartanya
mendapatkan perlindungan dari pencurian. Oligark ingin lebih dari
sekedar perlindungan harta miliknya dari pencurian, prioritas mereka
adalah mendapatkan peluang untuk meningkatkan kekayaannya.
Mereka juga menfungsikan kekayaannya sebagai benteng pertahanan
atas kekayaannya.70 Tujuan Oligark yang disebutkan oleh Winters
adalah kombinasi pertahanan kekayaan dan memperluas kekayaan,
yang bisa dikategorikan sebagai kombinasi wealth preserving dan
wealth expanding. Tujuan, expanding wealth adalah variasi lain yang
dikembangkan dari preserving wealth. Preserving dalam konteks
mempertahankan dan membina kekayaan, sedangkan expanding lebih
eksplisit untuk mengembangkan kekayaan. Tujuan risk protection
dikemukakan disini karena politik menimbulkan resiko bagi sistem
ekonomi. Bagi dunia usaha dan bagi aktor-aktor bisnis, resiko itu
merupakan bagian dari resiko politik. Dalam kajian ini, resiko yang
relevan muncul akibat perbedaan metode alokasi ekonomi dan metode
alokasi sistem politik. Metode alokasi sistem politik, atau negara, yang
didasarkan kepada otoritas merupakan resiko bagi sistem ekonomi.
Resiko itu terletak kepada kemungkinan intervensi alokasi otoritatif
sistem politik kedalam sistem ekonomi, dan menimpa industri atau
bisnis tertentu. Resiko itu cukup signifikan karena sumber daya
ekonomi tertentu bisa berubah alokasinya hanya melalui secarik kertas
keputusan pemerintah. Keputusan memasukkan industri tertentu
kedalam daftar negative list, keputusan menaikkan UMR , mencabut
subsidi BBM, moratorium izin penangkapan ikan atau menasionalisasi
perusahaan asing akan dapat merusak kekayaan aktor bisnis tertentu.
Keputusan-keputusan itu semua bersifat otoritatif, tidak melalui
mekanisme pasar, tapi dengan akibat-akibat yang substantif terhadap
mereka yang berada dipasar.
Mengingat adanya persepsi perbedaan alokasi antara ekonomi
dan politik, maka kelompok bisnis yang menggunakan kekuatan
pastisipasi politiknya juga memiliki dua preferensi. Pertama, kelompok
69
Jeffrey Winters, Oligarki dan Demokrasi di Indonesia, (Jakarta; LP3ES,
Majalah Prisma, Volume 33, 2014), hal. 17
70
Jeffrey A. Winters, Wealth Defense and the Limits of Liberal Democracy,
for Annual Conference of the American Society of Political and Legal Philosophy on
the topic of ‘Wealth’ Washington DC August 28-31, 2014, Revised version 25 April
2015, http://www.ssrn.com/abstact=2452419
24
bisnis yang memiliki komitmen kepada alokasi melalui mekanisme
pasar atau by choice, dan kedua, mereka yang tidak memiliki komitmen
kepada mekanisme pasar, dan lebih menyukai metode alokasi otoritatif.
Perbedaan preferensi kedua kelompok bisnis tersebut timbul akibat
pemaknaan yang berbeda tentang metode alokasi otoritatif. Kelompok
pertama melihat metode alokasi otoritatif sistem politik sebagai
ancaman bagi operasi mekanisme pasar. Kelompok pertama ini
berkepentingan menjaga operasi pasar agar tetap konsisten berdasarkan
mekanisme pasar, karena mekanisme pasar itu yang telah memberi
mereka kekayaan. Kelompok bisnis yang kedua tidak melihat metode
alokasi otoritatif sebagai ancaman tapi justru sebagai peluang.
Kelompok kedua lebih menyukai alokasi otoritatif karena model
alokasi itu yang telah memberinya atau dianggapnya mudah
memberinya kekayaan.
Matrik Relasi Bisnis-Politik Berdasarkan
Komitmen Terhadap Ekonomi Mekanisme pasar
Kelompok Bisnis
Komitmen
Sistem
Politik
(Negara)
Komitmen
(Imparsial)
Tidak
komitmen
(1) Ideal
(2) Birokrat Rente
Tidak komitmen
(3) Pengusaha Rente
(4) Predator
Dari segi sistem politik, maka sikap sistem politik terhadap
mekanisme pasar juga ada dua jenis yaitu, pertama, sistem politik yang
memiliki komitmen terhadap mekanisme pasar, dan kedua, sistem
politik yang tidak memiliki komitmen terhadap mekanisme pasar.
Sistem politik yang ambivalen termasuk didalam kelompok sistem
politik yang tidak memiliki komitmen terhadap mekanisme pasar. Jika
kelompok bisnis dan kelompok sistem politik tersebut disatukan dalam
sebuah matrik, maka terdapat empat kwadran alternatif kombinasi
relasi bisnis dan politik.
Pertama, kwadran (1) menggambarkan situasi ideal, didalam
situasi ini kelompok bisnis yang memiliki komitmen untuk menjalan
usaha ekonomi berdasarkan prinsip mekanisme pasar, berhadapan
25
dengan sistem politik atau negara yang juga memiliki komitmen untuk
memelihara ekonomi mekanisme pasar. Pada situasi ini sebenarnya
tidak terdapat dorongan bagi kelompok bisnis untuk menggunakan
potensi kekuatan partisipasi politiknya, karena sistem politik sendiri
menjaga agar sistem ekonomi berjalan sesuai mekanisme pasar. Sistem
politik akan menjaga sehingga metode alokasi otoritatif yang
dimilikinya tidak sampai mengganggu atau mengintervensi alokasi
sumber daya melalui mekanisme pasar, by choice, didalam sistem
ekonomi. Situasi ini merupakan situasi yang sehat dan mampu
membuat perekonomi memiliki fundamental yang kuat, dengan asumsi
bahwa mekanisme pasar berjalan sempurna. Dengan catatan, disini
tidak diperhitungkan tentang adanya masalah kepincangan pendapatan
yang sebetulnya konsisten dihasilkan oleh sistem ekonomi kapitalis.71
Sejak merdeka, Indonesia belum pernah memiliki situasi dimana
kelompok bisnis dan sistem politik sama-sama memiliki komitmen
terhadap ekonomi berbasis mekanisme pasar. Revolusi industri tahun
1750, dan komitmen terhadap gagasan mekanisme pasar Adam Smith
tahun 1776, anti merkantilisme, berhasil membuat Inggris menjadi
imperium dan negara industri paling maju pada abad 19.
Kedua, merupakan situasi dimana sistem politik tidak memiliki
komitmen terhadap mekanisme pasar, sementara kelompok bisnis
memiliki komitmen untuk menjalankan usaha dengan mekanisme
pasar, maka sistem politik dipandang oleh kelompok bisnis sebagai
sumber resiko. Resiko itu adalah kemungkinan bahwa metode alokasi
otoritatif digunakan oleh sistem politik didalam sistem ekonomi.
Kelompok bisnis akan terdorong untuk menggunakan potensi kekuatan
partisipasi politiknya didalam sistem politik. Tujuannya adalah untuk
membentengi sistem ekonomi umumnya, khususnya industri kelompok
bisnisnya, agar terhindar dari alokasi otoritatif oleh sistem politik,
seperti keputusan monopoli impor, monopoli distribusi atau keputusan
nasionalisasi perusahaan asing. Birokrat menyukai situasi ini karena
memberi mereka peluang mendapatkan kekayaan secara mudah. Jika
situasi birokrat rente ini persisten maka lama-lama kelompok bisnis
71
Penulis menganjurkan Ekonomi Bagi Hasil untuk; (1) mengatasi
kesenjangan pendapatan yang persisten dihasilkan kapitalisme, (2) untuk
meningkatkan kemampuan entreprenurship masyarakat, memperluas sumber aktoraktor entrepreneurship dan, (3) untuk menghindarkan masyarakat, negara dari
ketergantungan terhadap sumber entrepreneur dari kelompok pengusaha-kaum
pemilik modal yang eksklusif. Lihat : Ediarno, Teori Ekonomi Bagi Hasil, (Serang:
Penerbit A-Empat, 2014)
26
akan terpengaruh mengikuti pola alokasi otoritatif, yang membuat
pergeseran situasi kepada kwadran (4); predator.
Ketiga, pada situasi ini sistem politik memiliki komitmen
terhadap ekonomi berbasis mekanisme pasar, namun kelompok
bisnisnya jenis mereka yang tidak memiliki komitmen terhadap
mekanisme pasar. Situasi bisa berkembang menjadi dua alterlatif. Jika
sistem politik konsisten dengan mekanisme pasar, maka kelompok
bisnis akan terpaksa mengikuti sehingga kelompok bisnis tersebut
menjadi kelompok yang memiliki komitmen terhadap mekanisme
pasar. Atau, kelompok bisnis yang tidak pro-mekanisme pasar hilang
digantikan oleh mereka yang memiliki komitmen terhadap mekanisme
pasar. Situasi itu menghasilkan pergeseran dari kwdaran (3) kepada
kwadran (1); kondisi ideal. Namun, jika akhirnya sistem politik tidak
konsisten dengan komitmennya terhadap mekanisme pasar, akibat
kuatnya pengaruh kelompok bisnis yang anti mekanisme pasar, maka
akan terjadi pergeseran dari kwadran (3) ke kwadran (4); kondisi
terburuk.
Ke-empat, adalah situasi terburuk dimana sistem politik dan
kelompok bisnis sama-sama tidak memiliki komitmen terhadap
mekanisme pasar. Ini adalah gabungan situasi dimana birokrat dan
kelompok bisnis sama-sama pencari rente ekonomi. Dalam situasi
seperti ini tidak mungkin terbentuk fondasi ekonomi yang kuat, karena
tidak ada yang berfikir tentang efisiensi, padahal alokasi yang efisiensi
menjadi faktor kunci pertumbuhan usaha dan pertumbuhan ekonomi.
Hanya dengan mengetahui efisiensi, inovasi menjadi terfikirkan dan
memicu lahirnya tehnologi baru, produk baru, tehnik produksi baru dan
cara-cara pemasaran baru. Hanya inovasi yang akan mampu
memberikan pertumbuhan ekonomi tinggi karena inovasi mampu
memberikan keuntungan usaha yang besar. Inovasi yang marak akan
membuat ekonomi dipenuhi produk-produk yang berada pada tahap
pertumbuhan (growth) dalam product life cycle, dengan margin yang
tebal, highest profits, recession resistant.72 Situasi ‘inovasi yang marak’
ini tidak terdapat pada kwadaran (4), karena kegiatan ekonomi yang
dijalankan cenderung yang bersifat rente. Situasi pada kwadran (4)
rentan terhadap krisis ekonomi dan kerusuhan sosial. Penyebabnya
adalah dua, pertama ekonomi tidak memiliki fundamental yang kuat.
Kedua, kesenjangan yang besar dan cemburu sosial akibat terbentuknya
72
Michael E. Porter, Competitive Strategy, Techniques For Analyzing
Industries and Competition, (New York, The Free Press, 1980), p. 157-161
27
kelompok elite politik dan elite ekonomi yang eksklusif. Walaupun
kapitalisme menciptakan kesenjangan, namun dia masih punya cara
yang jelas untuk mendistribusi pendapatan yaitu mekanisme pasar, dan
yang agak ilusif adalah mekanisme trickle down effect. Didalam situasi
kwadran (4), tidak ada mekanisme distribusi pendapatan kebawah yang
jelas dan sistematis, kecuali kedermawanan individu (benevolence).
G. Aplikasi Dan Penilaian
Empat situasi teoritis yang digambarkan masing-masing
kwadran diatas bisa hadir secara nyata dalam bentuk kombinasi.
Namun kita tetap bisa menggunakannya dengan menggunakan rule of
thumb, yaitu; “Jika sistem politik memiliki komitmen terhadap
mekanisme pasar, maka tidak ada insentif bagi kelompok bisnis untuk
mendekati atau memasuki sistem politik, karena tidak ada manfaatnya
bagi kelompok bisnis tersebut”. Jika fenomena yang aktual terjadi
ternyata banyak kelompok bisnis yang mendekati atau memasuki
sistem politik, maka hal itu merupakan indikator bahwa sistem politik
tidak atau kurang memiliki komitmen terhadap mekanisme pasar.
Metode alokasi otoritatif masih banyak dipergunakan didalam ekonomi.
Sistem politik masih melakukan intervensi kedalam ekonomi dengan
metode alokasi otoritatifnya, melalui secarik kertas keputusan. Situasi
ini diketahui kelompok bisnis, yang melihatnya sebagai peluang untuk
preserving wealth dan expanding wealth. Artinya, perekonomian tidak
efisien, tidak kuat fundamentalnya karena ekonomi dan politik berada
didalam kwadran (4), yang persentase kekentalannya ditunjukkan oleh
banyaknya kelompok bisnis yang berada di arena sistem politik.
Semakin banyak kelompok bisnis yang berada di sistem politik, maka
semakin kental predatorisme.
Dengan menggunakan perspektif diatas, maka model Predatory
73
state dan teori oligarki yang disebutkan oleh Jeffrey Winter 74akan
muncul didalam situasi kwadran (4). Para individu pemimpin kelompok
bisnis memasuki dan mempengaruhi sistem politik, bertahan lama
didalamnya dan menjadikan sistem politik sebagai sarana preserving
wealth dan expanding wealth. Tujuan itu hanya mungkin tercapai jika
sistem politik, dijaga agar, tidak memiliki komitmen penuh terhadap
berjalannya alokasi mekanisme pasar didalam ekonomi. Metode alokasi
73
Ahmad Erani Yustika, Ekonomi Politik, Kajian Teoritis dan Analisis
Empiris (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 55
74
Jeffrey A. Winters, Zia Anshor (alih bahasa), Oligarki, (Jakarta; PT
Gramedia Pustaka Utama, 2011), hal.8
28
yang dominan digunakan didalam sistem ekonomi adalah alokasi
otoritatif. Fenomena kwadran (3) ditunjukkan oleh teori Rent-seeking
Bureaucrats model Predatory state.75 dimana birokrat menggunakan
rasionalitas ekonomi, yaitu keuntungan pribadi atau kelompok, sebagai
dasar didalam membuat kebijakan. Birokrat memproduksi kebijakan,
peraturan yang tujuannya bukan untuk meningkatkan nilai tambah
produk, tapi untuk motif mencari untung (rent seeking). Putusannya
bahkan mendistorsi pasar. Rent seeking, sebenarnya bisa dilakukan
siapa saja, bukan hanya birokrat. Pengertiannya dalam ekonomi politik
dikonotasikan sebagai tindakan negatif.76 Rent seeking diartikan
sebagai tindakan mencari untung tanpa usaha nyata meningkatkan nilai
tambah produk bahkan usahanya menghambat terbentuknya pasar yang
efisien. Pelaku Rent seeking baik birokrat maupun kelompok bisnis
mencari kekayaan dari memanfaatkan kekuasaan otoritatif pemerintah.
Disamping Winter, terdapat tiga peneliti asing yang pernah
melakukan penelitian ekonomi dan politik Orde Baru di Indonesia.
Mereka adalah William D Lidle (1996)77, Richard Robinson(1986)78
dan Andrew Macintyre (1991)79. Kesimpulan dari tiga peneliti tersebut
dapat dilihat dengan menggunakan perspektif empat kwadran pada
75
Deliarnov, Ekonomi Politik,( Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), hal.66-70
Ahmad Erani Yustika, Ekonomi Politik, Kajian Teoritis dan Analisis
Empiris (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 57
77
R William Liddle, Leadership and Culture in Indonesian Politics,
(Sydney; Allen & Unwin, 1996)
Pendekatan yang digunakan Liddle adalah political leadership dan political culture
yang khusus. Political Culture umumnya melihat hubungan langsung antara budaya
politik dengan perilaku politik masyarakat. Political Culture yang khusus adalah;
melihat hubungan budaya politik dengan perilaku politik tidak berhubungan secara
langsung, tapi dimediasi, dipengaruhi oleh proses akumulasi, mobilisasi dan
penempatan sumber daya ekonomi dan politik oleh aktor-aktor sosial dan aktor-aktor
politik didalam masyarakat. Budaya politik itu sendiri bukan hanya dibentuk oleh
struktur sosial saja tapi dibentuk oleh aksi-aksi individu yang melakukan akumulasi
sumber daya dan menggunakannnya untuk merubah substansi budaya politik
masyarakat. Dengan demikian budaya politik adalah sebuah proses sejarah, yang terus
berubah, tergantung kepada, dibentuk oleh aksi-aksi perubahan yang dilakukan oleh
individu, tokoh pada konteks struktur sosial yang ada pada zamannya. ( p. 11).
Pandangan Liddle berbeda dengan Marx yang melihat budaya politik sebagai produk
langsung dari struktur kelas sosial. Liddle menempatkan peran aktor dan sumber daya
yang diakumulasi oleh aktor tersebut diantara struktur sosial dan budaya politik.
78
Richard Robinson, Indonesia: The Rise of Capital, (Sydney; Allen &
Unwin, 1987)
79
Andrew Macintyre, Business and Politics in Indonesia, (Sydney; Allen &
Unwin, 1992)
76
29
matrik pendekatan Power Over Resources. Dalam kajian ini akan
dibahas hasil penelitian William D Liddle dengan perspektif Empat
Kwadran Power over Resource approach.
Dalam rangka menjawab Huntington tentang pentingnya
pelembagaan politik untuk tertib politik (political order)80 dan
pemerintahan yang kuat81 dan civic polity82, Liddle menunjukkan buktibukti institusionalisasi politik yang telah dilakukan rezim otoriter Orde
Baru yang memerintah sejak tahun 196683. Presiden Suharto adalah
tokoh kunci didalam pelembagaan politik Orde Baru. Pelembagaan itu
dilakukan dengan membangun; struktur politik orde baru dalam bentuk
sebuah piramid yang curam, didominasi oleh puncaknya yaitu lembaga
kepresidenan, dengan Presiden Suharto sebagai pusatnya, didukung
oleh militer yang aktif didalam politik, birokrasi yang tersentralisasi,
pola hubungan negara-masyarakat dibawah koptasi dan represi negara,
dan kebijakan represif yang meniadakan organisasi oposisi.84 Didalam
struktur juga termasuk, lembaga-lembaga yang memonitor hubungan
negara-masyarakat dalam konteks kebijakan kooptasi dan represif
seperti Kopkamtib, lembaga korporatisme negara yang dibentuk oleh
pemerintah melalui departemen terkait, seperti Kadin.85
Kelompok Militer merupakan konstituen politik Suharto yang
utama. Birokrasi merupakan konstituen politik Suharto yang kedua.86
Tentang partai politik, Liddle menunjukkan bahwa pendapat
80
Samuel P Huntington, Political order in changing society, penerjemah
Sahat Simamora dan Suryatim, (Jakarta; PT RajaGrafindo Persada, 2003), hal. 11
81
Samuel P Huntington, Political order in changing society, penerjemah
Sahat Simamora dan Suryatim, (Jakarta; PT RajaGrafindo Persada, 2003), hal.35
82
R William Liddle, Leadership and Culture in Indonesian Politics,
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 34,
Civic Polity, suatu sistem politik yang memiliki tingkat rasio pelembagaan politik
terhadap tingkat partisipasi politik yang tinggi. Lawannya adalah sistem politik
praetorian dimana rasionya rendah, pelembagaan politiknya tidak dapat menampung
tingkat partisipasi politik masyarakat. Lihat: Samuel P Huntington, Political order in
changing society, penerjemah Sahat Simamora dan Suryatim, (Jakarta; PT
RajaGrafindo Persada, 2003), hal. 92-93
83
R William Liddle, Leadership and Culture in Indonesian Politics,
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 3
84
R William Liddle, Leadership and Culture in Indonesian Politics,
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 17, 18, 20, 21
85
R William Liddle, Leadership and Culture in Indonesian Politics,
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 17-20
86
R William Liddle, Leadership and Culture in Indonesian Politics,
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 125
30
Huntington tidak tepat karena walaupun pelembagaan politik terjadi,
dengan adanya partai politik, PDI, PPP, Golkar, namun tidak terbentuk
‘value’87, sehingga walaupun Golkar merupakan partai yang besar,
namun Golkar bukan institusi yang sentral didalam sistem politik Orde
Baru.88 Huntington juga kurang tepat ketika mengkaitkan pelembagaan
politik yang lemah dengan pemerintahan dan legitimasi yang lemah.89
Walaupun pelembagaan politik rendah, namun Orde Baru merupakan
pemerintahan yang kuat dan terbukti bertahan selama 32 tahun. Hal itu
menunjukkan legitimasi pemerintahan Orde Baru yang tinggi.
Liddle menyebutkan legitimasi Orde Baru berasal dari aspek
performance90. Prestasi ekonomi, yang didasarkan kepada kebijakan
ekonomi yang konsisten dijalankan selama satu setengah dekade sejak
tahun 1966 dan pendapatan minyak yang konsisten menyumbang lebih
dari setengah APBN.91 Suharto merubah sumber kekayaan tersebut
menjadi dukungan politik dengan mendistribusikan kekayaan tersebut,
melalui atau kepada, mereka yang berada didalam struktur piramid
Orde Baru, sampai ke desa-desa. Distribusi dilakukan dalam bentuk
anggaran untuk kenaikan gaji PNS, meningkatkan standard hidup PNS
yang belum pernah terjadi sebelumnya, pembangunan infrastruktur,
subsidi alat pertanian, irigasi, pupuk untuk produksi beras sehingga
menyenangkan pemilik lahan. Distribusi juga dilakukan dengan
program INPRES yang menjangkau pedesaan, dengan pembangunan
jalan, rumah sakit, sekolah dan pasar pedesaan. Dengan lanskap politik
tanpa oposisi politik melalui kebijakan represif menciptakan stabilitas
politik, dukungan kekayaan dari sumber daya minyak yang sangat
besar, pendistribusiannya melalui piramid telah menunjang struktur
piramid yang solid dan membuat pembangunan ekonomi dapat berjalan
87
Definisi Huntington tentang pelembagaan (institutionalization); the
process by which organizations and procedures acquire value and stability’ Lihat:
R William Liddle, Leadership and Culture in Indonesian Politics, (Sydney; Allen &
Unwin, 1996), p. 20
Samuel P Huntington, Political order in changing society, penerjemah Sahat
Simamora dan Suryatim, (Jakarta; PT RajaGrafindo Persada, 2003), hal.16
88
R William Liddle, Leadership and Culture in Indonesian Politics,
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 11
89
Samuel P Huntington, Political order in changing society, penerjemah
Sahat Simamora dan Suryatim, (Jakarta; PT RajaGrafindo Persada, 2003), hal. 35
90
R William Liddle, Leadership and Culture in Indonesian Politics,
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 25
91
R William Liddle, Leadership and Culture in Indonesian Politics,
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 24
31
sampai ke desa-desa, yang pada akhirnya melahirkan dukungan politik
yang kuat dan konsisten kepada pemerintahan orde baru.Huntington
menyebutkan, sistem politik apapun akan mendorong pertumbuhan
ekonomi sepanjang sistem itu mampu menciptakan tertib politik
(political order).92 Pendapat Huntington tersebut tampaknya benar
bahwa, apa yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi adalah
stabilitas politik, tidak tergantung kepada jenis sistem politiknya
Sikap Presiden Suharto terhadap kapitalisme, adalah sama
seperti sikap para pemimpin nasionalis pada zamannya, yaitu anti
kapitalisme. Kapitalisme dianggap identik dengan kolonialisme.
Mereka menolak kaum kapitalis diberi peran penting didalam
pembangunan ekonomi. Gagasan pembangunan ekonomi yang diterima
adalah peran negara yang kuat didalam ekonomi (statisme), dimana
negara membuat rencana ekonomi, mengatur dan kadang-kadang
memiliki dan menjalankan usaha bisnis. Gagasan pembangunan
statisme tersebut cocok dengan pemerintahan yang birokratis dan
patrimonialis, yang bersumber dari budaya politik pra-kolonial Jawa,
monarki absolut.93
Namun sikap pro-state, antiforeign
dan
anticapitalist, ternyata bertolakbelakang dengan kebijakan ekonomi
yang dipilih Presiden Suharto, yang memilih pandangan ekonom
profesional lulusan Berkeley, kebijakan ekonomi yang pro-investasi
asing dan pro-pasar.94
Kelompok ekonom profesional tersebut merupakan salah satu
dari tiga segitiga pembentuk kebijakan ekonomi yang berada didalam
piramid Orde Baru yaitu, Ekonom Profesional, Ekonom Nasionalis dan
Patrimonialis.95 Ekonom nasionalis adalah sekelompok pejabat tinggi
negara, yang lebih menyukai kebijakan pertumbuhan ekonomi cepat
yang dipimpin negara, proyek-proyek dengan investasi kapital sangat
besar, tanpa prospek manfaat yang jelas dalam jangka pendek dan
menengah. Mereka umumnya, seperti Ibnu Sutowo dan Habibie,
memiliki pendidikan terbatas dalam bidang ekonomi. Berbeda dengan
92
Adam Przaworski, Michael A Alvarez, Jose Antonio Cheibub, Fernando
Limongi, Democracy and Development, Political Institutions and Well-Being in the
World, 1950-1990, (New York; Cambridge University Press, 2000), p.187
93
R William Liddle, Leadership and Culture in Indonesian Politics,
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 115
94
R William Liddle, Leadership and Culture in Indonesian Politics,
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 110, 123
95
R William Liddle, Leadership and Culture in Indonesian Politics,
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 110, 124
32
kelompok ekonom profesional yang memang memiliki latar pendidikan
ekonomi barat. Patrimonialis adalah pendukung utama politik Suharto,
terutama kelompok militer, yang tidak banyak terlibat didalam
pembentukan kebijakan ekonomi.
Sepanjang orde baru, Suharto lebih banyak mengandalkan
ekonom profesional didalam kebijakan ekonomi. Liddle mematahkan
beberapa pandangan peneliti barat lainnya, seperti Harold Crough yang
membandingkan pemerintahan orde baru dengan pola patrimonial
Weber, dimana pemerintah lebih mementingkan elit daripada
rakyatnya.96 Harold Crough menyatakan patriomonalisme tidak
kompatibel dengan rasionalitas ekonomi liberal. Patrimonial lebih
mementingkan favoritisme dan kesewenangan daripada sistem
administrasi berdasarkan birokrasi yang rasional. 97 Pada faktanya,
Orde Baru menunjukkan bahwa patrimonialisme ternyata dapat
berjalan dan tidak menjadi faktor penghambat yang penting bagi
berjalannya ekonomi berorientasi pasar.98 Dengan latar budaya politik
patrimonial, doktrin ekonomi resmi yang dipilih orde baru adalah
pembangunan ekonomi yang seyogyanya melibatkan tiga institusi yang
harmonis, prinsip harmonis layaknya sebuah keluarga, yaitu; negara,
koperasi dan sektor swasta.99 Prinsip kekeluargaan tersebut sesuai
dengan pola patron-klien atau patrimonialisme yang mencerminkan
pola hubungan kepatuhan bapak-anak.
Patrimonialisme tidak menjadi faktor penghambat operasi
kapitalis karena kesadaran Suharto yang membutuhkan mesin pencipta
kekayaan untuk mendukung patrimonialisme atau patron-klien tersebut.
Suharto menjadikan patrimonialisme sebagai alat untuk membangun
dukungan politik. Patron-klien sebagai instrumen untuk membangun
dukungan politik personal dilaksanakan dengan menjadikan patronklien sebagai dasar untuk menetapkan reward-punisment.100 Suharto
sadar bahwa reward yang efektif kepada pendukung politik perlu
berbentuk material, yang membutuhkan biaya yang besar. Kesadaran
96
R William Liddle, Leadership
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 38
97
R William Liddle, Leadership
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 110, 117
98
R William Liddle, Leadership
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 110, 123
99
R William Liddle, Leadership
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 116
100
R William Liddle, Leadership
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 118
and Culture in Indonesian Politics,
and Culture in Indonesian Politics,
and Culture in Indonesian Politics,
and Culture in Indonesian Politics,
and Culture in Indonesian Politics,
33
ini sudah lama dimiliki Suharto. Ketika Suharto membangun dasardasar dukungan politik yang kuat pada awal Orde Baru, langkahlangkahnya meliputi pemberian tambahan gaji, pendapatan kepada
pejabat-pejabat tertentu,
baik dari kalangan militer, sipil dan
organisasi-organisasi tertentu, yang kesemuanya membutuhkan sumber
dana besar. Peran ekonom profesional itu penting bagi Suharto karena
memberinya sumber dana untuk membiayai politik patron-kliennya.
Kredibiltas kebijakan para ekonom profesional itu tinggi karena
memang terbukti ketika kebijakan mereka mampu mendatangkan
bantuan investasi asing yang besar, mengatasi krisis Pertamina tahun
1975 dan perbaikan saat menurunnya pendapatan minyak sejak
tahun1983.
Disamping itu, ekonomi pro-pasar sesungguhnya juga
mendukung politik patron-klien Suharto. Hal itu memungkinkan karena
pihak swasta yang mendapat peluang dan manfaat ekonomi akibat
kebijakan pro-pasar juga dijadikan sebagai kelompok sumber dana
untuk membiayai relasi patron-klien piramid orde baru. Suharto sadar
bahwa dari tiga institusi pertumbuhan ekonomi; negara-koperasiswasta, maka swasta akan menjadi pihak yang paling kuat.101 Koperasi
akhirnya melemah. Itu terbukti dari ungkapan seorang Dirjen Koperasi
Orde Baru periode 1966-1978, “ Saingan dan ancaman dari usaha nonkoperasi merupakan iklim lain yang sangat berat bagi koperasi dan
seringkali memberikan pukulan yang mematikan. Koperasi dilahirkan
dalam kondisi yang tidak menguntungkan, karena……dilahirkan dalam
lingkungan yang serba miskin. Kalau koperasi berhasil melaksanakan
usahanya dalam bidang tertentu, hal itu dilakukan dengan mengambil
atau merebutnya dari yang sudah ada di tangan orang lain, mendesak
orang lain atau ‘diambil dengan paksa’ melalui kebijaksanaan
pemerintah.102 Suharto memiliki kesadaran bahwa personal political
power di Indonesia memerlukan sumber pembiayaan yang informal.103
Sumber pembiayaan untuk politik patron-kliennya diluar sumber101
R William Liddle, Leadership and Culture in Indonesian Politics,
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 123
102
Ibnoe Soedjono, Kebijaksanaan Koperasi: Beberapa Masalah dan
Prospeknya, di dalam“Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam
Setengah Abad Terakhir, buku 3 1966-1982”, Ed., Hadi Susastro, Aida Budiman,
Ninasapti Triaswati, Armida Alisjahbana dan Sri Adiningsih, (Yogyakarta: Kanisius,
2005), hal. 88-89
103
R William Liddle, Leadership and Culture in Indonesian Politics,
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 119-120
34
sumber pendapatan negara, pendapatan minyak, tersebut adalah swasta
yang disebut dengan sistem Cukong. Sistem cukong adalah sumber
dana yang berasal dari cukong, umumnya adalah etnis China yang
menjadi pemimpin kelompok bisnis, yang memberikan sumbangan
dana atas imbalan perlindungan dan kontrak-kontrak negara yang
diberikan pejabat. Cukongisme sudah menjadi tradisi didalam
kehidupan politik Indonesia, bahkan sejak kolonialisme. Sejak tahun
1940-an, para komandan militer regional, karena kurangnya dana
pemerintah pusat, lalu membina hubungan dengan cukong untuk
mendapatkan sumber dana. Liem Sioe Liong, pengusaha kecil yang
kemudian menjadi konglomerat terkaya Indonesia, memulai hubungan
dekatnya dengan Kolonel Suharto di Semarang pada tahun 1950-an saat
Suharto menjabat kepala divisi.104 Sistem cukong tidak berada resmi
didalam piramid orde baru, namun cukong adalah sumber dana penting
yang dipergunakan Suharto untuk memelihara patron-klien piramid
orde baru. Peranan sumber dana cukong dari kegiatan bisnis membesar
pada saat awal orde baru, 1966-1969, dan sejak 1983, ketika
pendapatan minyak menurun.105
H. Kesimpulan
Dari segi pendekatan ekonomi politik, dapat disimpulkan bahwa
ilmu ekonomi politik akhirnya adalah ilmu tentang interaksi timbal
balik antara ekonomi dan politik. Kedua bidang ilmu tersebut tidak
dapat direduksi satu sama lainnya karena tidak semua kegiatan
ekonomi bernilai politik dan tidak semua kegiatan politik memiliki nilai
ekonomi atau menimbulkan efek ekonomi. Tapi keduanya memang
berinteraksi kuat melalui banyak variabel. Mencari dan menemukan
variabel-variabel yang relevan itulah yang penting untuk membangun
pendekatan atau metode analisis ekonomi politik. Seandainya tidak ada
negara, maka analisis ekonomi politik tidak diperlukan karena tidak
bermanfaat. Analisis ekonomi politik menjadi sangat penting karena
hanya analisis tersebut yang mampu memberi kesadaran baru tentang
akibat-akibat kegiatan ekonomi terhadap struktur kehidupan bernegara
dan akibat-akibat putusan politik terhadap distribusi kekayaan antar
warga. Pada tataran praktek, kegiatan ekonomi dan politik tidak
imparsial, tapi bias kepentingan aktor atau kelompoknya. Faktor inilah
104
R William Liddle, Leadership and Culture in Indonesian Politics,
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 112
105
R William Liddle, Leadership and Culture in Indonesian Politics,
(Sydney; Allen & Unwin, 1996), p.121-122, 126
35
yang harus diketahui untuk mencegah agar kepentingan aktor tidak
menimbulkan dampak negatif yang ditanggung oleh seluruh warga
negara, baik dampak politis maupun dampak ekonomi. Untuk itu,
kajian ini mengajukan sebuah pendekatan ekonomi politik; Power Over
Resources (POR). Dengan pertimbangan bahwa ekonomi dan politik
berinteraksi, maka sifat interaktif ekonomi politik tersebut
membutuhkan pendekatan yang dapat menggabungkan prinsip-prinsip
ekonomi dan politik yang relevan dengan wilayah interaksinya.
Pendekatan Power Over Resources (POR) yang dikembangkan disini
dibangun dengan pertimbangan tersebut. Ujicoba penggunaan
pendekatan POR dilakukan dalam kajian ini dengan menggunakan hasil
penelitian William D Liddle tentang politik Orde baru yang
menggunakan pendekatan political leadership dan political culture.
Hasil penggunaan pendekatan POR tersebut menunjukkan bahwa POR
dapat menunjukkan benar merah relasi bisnis-politik pada masa Orde
Baru. POR juga dapat memberi jawaban besar atas penyebab krisis
ekonomi 1998, yaitu ; struktur ekonomi riel yang lemah akibat
dominannya peran alokasi otoritatif sepanjang orde baru.
Dalam konteks relasi bisnis-politik, berdasarkan penelitian
Liddle, maka pola hubungan bisnis-politik sepanjang pemerintahan
orde baru menurut pendekatan Power Over Resources menggambarkan
situasi pada kwadran (4). Walaupun pada tingkat makro ekonomi
terlihat pilihan kebijakannya bersifat pro-pasar, namun hasil-hasilnya
pada tingkat mikro ekonomi dialokasikan secara otoritatif kepada
kelompok bisnis etnis China. Alokasi otoritatif itu merupakan bagian
dari tradisi sistem cukong. Sistem cukung adalah bentuk relasi bisnispolitik pada masa orde baru. Sistem cukong yang dimaksud adalah
penggunaan sumber dana dari kelompok bisnis cukong yang berasal
dari etnis China untuk membiayai dukungan politik patron-klien aktor
politik. Dalam tradisi ini, sumber dana cukong tersebut disebarkan atau
didistribusikan lagi kepada para pendukung piramid orde baru. Mereka
yang berada didalam piramid struktur orde baru, adalah personil
militer, birokrasi atau PNS, sehingga terbentuk piramid patron-klien
dengan basis benevolence-obedience.106 Distribusi itu juga terjadi
106
Istilah benevolence-obedience, merupakan aspek budaya politik yang
melihat pola hubungan pemerintah dan rakyat sebagai benevolent ruler-obedient
populace atau seperti hubungan Bapak-Anak, Bapak memberikan hadiah kepada
anak, Anak mematuhi bapak. Lihat, R William Liddle, Leadership and Culture in
Indonesian Politics, (Sydney; Allen & Unwin, 1996), p. 80-81
36
sampai menjangkau tingkat pembangunan di desa, dan pernah berhasil
meraih prestasi swasembada beras tahun 1984, yang diakui PBB.
Pada kelompok bisnis yang termasuk kedalam sistem cukong
orde baru, mereka mendapat manfaat ekonomi yang besar. Liem Sioe
Liong, pengusaha kecil di Semarang kemudian menjadi konglomerat
terkaya Indonesia. Disamping itu masih terdapat banyak konglomerat
etnis China yang berhasil dikembangkan orde baru. Richard Robinson
(1987: p.271-320) menyebut relasi bisnis-politik orde baru tersebut
dengan istilah; politico-bureaucrat-cukong. Relasi inilah yang
membuat orde baru berhasil melahirkan kelas pemilik modal baru
Indonesia, atau kelas borjuis, yang berasal dari etnis China. Kelompok
bisnis etnis China mengusai modal sebesar minimal 70%-75% dari
seluruh modal domestik. Terbentuknya kelas borjuis Indonesia dari
etnis China memiliki dampak politik yang kurang kondusif bagi
pemerintahan sipil yang demokratis. Seandainya kelas pemilik modal,
kelas borjuis, yang berhasil dibangun orde baru adalah pribumi, maka
kehidupan pemerintahan sipil, demokrasi, akan jauh lebih baik.
Ujian terhadap ketahanan dan peran kelas pemilik modal etnis
China binaan orde baru tersebut datang pada tahun 1998. Krisis
ekonomi tahun 1998 menunjukkan bahwa kelas pemilik modal etnis
China tersebut tidak mampu berperan banyak. Indonesia menjadi
negara, dan rakyatnya, yang paling menderita dan paling lama terjebak
didalam krisis ekonomi 1998. Konsentrasi kekayaan yang diberikan
oleh orde baru melalui sistem cukong bahkan tidak mampu mencegah
keruntuhan piramid pemerintahan orde baru, patronnya selama 30
tahun lebih. Posisi pada kwadran (4) memang tak memungkinkan untuk
bisa membangun struktur ekonomi riel Indonesia yang secara
fundamental kuat. Struktur ekonomi riel lemah akibat dominannya
peran alokasi otoritatif sepanjang orde baru. Dari perspektif prinsip
fundamental ekonomi, kelompok bisnis swasta binaan orde baru
tersebut tidak kuat karena tidak lahir dari alokasi pasar yang kompetitif,
tapi dari belas kasih alokasi otoritatif oleh sistem politik orde baru.
.
Download