i UJI EFEKTIVITAS DAN FOTOSTABILITAS KRIM

advertisement
UJI EFEKTIVITAS DAN FOTOSTABILITAS KRIM EKSTRAK
ETANOL 70 % TEH HITAM (Camellia sinensis L.) SEBAGAI TABIR
SURYA SECARA IN VITRO
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Farmasi (S.Far.)
Oleh :
Syifa Octa Maulidia
NIM : 106102003375
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H/2010 M
i
LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI
NAMA
: SYIFA OCTA MAULIDIA
NIM
: 106102003375
JUDUL
: UJI
EFEKTIVITAS
DAN
FOTOSTABILITAS
KRIM
EKSTRAK ETANOL 70 % TEH HITAM (Camellia sinensis
L.) SEBAGAI TABIR SURYA SECARA IN VITRO
Disetujui oleh:
Pembimbing
Pembimbing I
Pembimbing II
Farida Sulistiawati, M.Si., Apt
NIP: 150377443
Yuni Anggraeni S.Si., Apt
NIP: 198310282009012008
Mengetahui,
Ketua Program Studi Farmasi FKIK
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Drs, M. Yanis Musdja M.Sc., Apt
NIP: 1956010619851010001
ii
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
Skripsi dengan judul
PEMANFAATAN SELULOSA BAKTERI – PVA HASIL IRADIASI
(HIDROGEL) SEBAGAI MATRIKS TOPENG MASKER WAJAH
Telah disetujui, diperiksa dan dipertahankan dihadapan tim penguji oleh
Syifa Octa Maulidia
NIM: 106102003375
Menyetujui,
Pembimbing:
1. Pembimbing I
Farida Sulistiawati, M.Si., Apt
........................
2. Pembimbing II
Yuni Anggraeni S.Si., Apt.
........................
Penguji:
1. Ketua Penguji
Drs. M. Yanis Musdja, M.Sc., Apt. ........................
2. Anggota Penguji I
Eka Putri, M.Si, Apt.
........................
3. Anggota Penguji II
Ofa Suzanti betha, M.Si., Apt
........................
4. Anggota Penguji III
Drs. M. Yanis Musdja, M.Sc., Apt. ........................
Mengetahui,
Dekan Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Prof. DR. (hc). dr. M.K. Tadjudin, Sp. And
Tanggal lulus : 26 Agustus 2010
iii
LEMBAR PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENARBENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN
SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI
ATAU LEMBAGA MANAPUN.
Jakarta, Agustus 2010
Syifa Octa Maulidia
106102003375
iv
ABSTRAK
Judul
: Uji Efektifitas dan Fotostabilitas Krim Ekstrak Etanol 70 % Teh
Hitam (Camellia sinensis L.) Sebagai Tabir Surya Secara In Vitro
Sediaan tabir surya adalah sediaan kosmetika yang formulasinya
mengandung zat aktif yang dapat membaurkan, menyerap atau
memantulkan secara efektif cahaya matahari terutama daerah emisi
gelombang ultraviolet dan inframerah. Salah satu bahan alam yang
memiliki potensi sebagai tabir surya adalah teh hitam (Camellia
sinensis L.) dengan kandungan senyawa flavonoid yang diduga
mampu mengabsorbsi sinar UV. Pada penelitian ini, ekstrak etanol 70
% teh hitam (Camellia sinensis L.) diformulasikan dengan variasi
konsentrasi (1 %, 2 %, dan 3 %) kedalam sediaan topikal (krim).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat krim ekstrak etanol
70 % teh hitam (Camellia sinensis L.) yang baik dan stabil serta
menguji efektivitas dan fotostabilitas sediaan krim ekstrak etanol 70 %
teh hitam (Camellia sinensis L.) sebagai tabir surya. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia
sinensis L.) memiliki panjang gelombang 293,4 nm dan mempunyai
efektivitas sebagai tabir surya yang termasuk dalam kategori proteksi
ultra. Ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.) juga dapat
dibuat menjadi sediaan yang baik dan stabil. Dari ketiga variasi
konsentrasi ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.) yang
dibuat dalam sediaan krim memiliki efektivitas sebagai tabir surya
dengan menunjukkan kategori sebagai sunblock pada daerah eritema,
dengan nilai fotostabilitas formula uji (3 %) yang aktivitasnya hampir
sama dengan formula kontrol positif.
Kata kunci : Teh Hitam (Camellia sinensis L.), krim, efektivitas dan
fotostabilitas tabir surya.
v
ABSTRACT
Title
: Effectiveness and Photostability Cream 70 % Ethanol Extract of
Black Tea (Camellia sinensis L.) As Sunscreen In Vitro
Sunscreen formulation is the preparation of cosmetics that contain
active substances that can confound, effectively absorb or reflect
sunlight, especially the emission of ultraviolet and infrared waves. One
of the natural ingredients that have potential as a sunscreen is black tea
(Camellia sinensis L.) by flavonoid content that allegedly able to
absorb UV light. In this study, 70% ethanol extract of black tea
(Camellia sinensis L.) is formulated with various concentrations (1%,
2% and 3%) to a topical preparation (cream). The purpose of this
research is to make cream of 70% ethanol extract of black tea
(Camellia sinensis L.) is good and stable as well as test the
effectiveness and dosage photostability cream 70% ethanol extract of
black tea (Camellia sinensis L.) as a sunscreen. The results of this
study showed that 70% ethanol extract of black tea (Camellia sinensis
L.) has a wavelength of 293.4 nm and has effectiveness as a sunscreen
that includes in the category of ultra protection. 70% ethanol extract of
black tea (Camellia sinensis L.) can also be made into a good and
stable supply. Of the three variations of the concentration of 70%
ethanol extract of black tea (Camellia sinensis L.) are made in the
cream has effectiveness as a sunscreen by showing the category as a
sunblock on the area erythema, with a value photostability test formula
(3%) whose activity is similar to the formula positive control.
Keywords: Black Tea (Camellia sinensis L.), cream, sunscreen
effectiveness and photostability.
vi
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas segala
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan
skripsi dengan judul “Uji Efektivitas dan Fotostabilitas Krim Ekstrak Etanol 70 %
Teh Hitam Camellia sinensis L. sebagai Tabir Surya secara In Vitro”. Skripsi ini
disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program pendidikan
tingkat Strata 1 (S1) pada Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis menyadari, keberhasilan penulisan skripsi ini adalah karena
karunia Allah SWT dan dorongan serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena
itu pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. DR (hc). dr. M. K Tadjudin, Sp. And. Selaku dekan Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Drs. M Yanis Musdja, M.Sc, Apt. Selaku ketua Program Studi Jurusan
Farmasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Farida Sulistiawati, M.Si., Apt dan Ibu Yuni Anggraeni S.Si., Apt selaku
pembimbing
yang
telah
memberikan
ilmu
dan
pengetahuan
serta
membimbing penulis sampai terselesaikannya skripsi ini.
4. Ayahanda Zaenal Abidin dan Ibunda Ucih Hamidah, beserta keluarga terkasih
yang selalu dengan ikhlas dan setia memberikan semangat dan dukungan, baik
secara moril maupun materil dan juga untaian do’a yang selalu di panjatkan
dalam setiap langkah yang penulis lakukan.
vii
5. Bapak/Ibu Dosen dan Staff Akademika Program Studi Farmasi Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah
memberikan ilmu dan bantuannya kepada penulis.
6. Aji Muhammad Tsabbit Imani yang telah banyak membantu, memberikan
semangat serta menemani baik suka maupun duka selama penelitian.
7. Teman-teman Farmasi angkatan 2006 dan semua pihak yang tidak dapat
disebutkan satu persatu yang turut membantu penulis selama ini. Semoga
silaturahmi kita bisa tetap terjaga.
Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dan keterbatasan dalam penyusunan skripsi ini. Kritik dan saran yang
bersifat membangun dari pembaca sangat diharapkan guna kesempurnaan dalam
penulisan skripsi ini. Besar harapan semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk
pengembangan ilmu pengetahuan di masa sekarang dan yang akan datang.
Jakarta, Agustus 2010
Penulis
viii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .....................................................................................
LEMBAR PERSETUJUAN .........................................................................
LEMBAR PENGESAHAN ..........................................................................
LEMBAR PERNYATAAN ...........................................................................
ABSTRAK .....................................................................................................
ABSTRACK ..................................................................................................
KATAPENGANTAR ....................................................................................
DAFTAR ISI ..................................................................................................
DAFTAR TABEL .........................................................................................
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................
i
ii
iii
iv
v
vi
vii
ix
xi
xii
xiii
BAB I
PENDAHULUAN ........................................................................
1.1 Latar Belakang .........................................................................
1.2 Perumusan Masalah .................................................................
1.3 Hipotesis...................................................................................
1.4 Tujuan Penelitian .....................................................................
1.5 Manfaat Penelitian ...................................................................
1
1
3
3
4
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................
2.1 Teh Hitam (Camellia sinensis, L) ............................................
2.1.1 Klasifikasi .......................................................................
2.1.2 Nama Daerah ...................................................................
2.1.3 Deskripsi .........................................................................
2.1.4 Kandungan Kimia ...........................................................
2.1.5 Senyawa Flavonoid .........................................................
2.1.6 Khasiat............................................................................
2.2 Ekstraksi ...................................................................................
2.2.1 Proses Pembuatan Ekstrak ..............................................
2.2.2 Ekstraksi Dengan Menggunakan Pelarut ........................
2.3 Kulit.........................................................................................
2.3.1 Struktur Kulit ..................................................................
2.3.2 Fisiologi Kulit .................................................................
2.4 Sinar Matahari Dan Melanogenesis .........................................
2.5 Sediaan Krim Tabir surya ........................................................
2.5.1 Sediaan Tabir Surya ........................................................
2.5.2 Sediaan Krim ...................................................................
2.5.3 Penentuan Efektivitas Sediaan Tabir Surya............. .......
2.6 Spektrofotometri UV-Vis .........................................................
5
5
5
5
5
8
8
10
10
11
12
14
15
17
18
20
20
22
24
26
BAB III
KERANGKA KONSEP ..............................................................
28
ix
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN ................................................
4.1 Tempat Dan Waktu Penelitian ................................................
4.1.1 Tempat Penelitian ...........................................................
4.1.2 Waktu Penelitian ............................................................
4.2 Bahan Dan Alat ........................................................................
4.2.1 Bahan ..............................................................................
4.2.2 Alat .................................................................................
4.3 Prosedur Kerja ..........................................................................
4.3.1 Pengumpulan Bahan Dan Determinasi ...........................
4.3.2 Penapisan Fitokimia ........................................................
4.3.3 Pembuatan Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam
(Camellia sinensis L.) .....................................................
4.3.4 Pemeriksaan Karakteristik Ekstrak .................................
4.3.5 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum ...................
4.3.6 Formulasi Krim ...............................................................
4.3.7 Pembuatan Sediaan Krim Ekstrak Etanol 70 %
Teh Hitam (Camellia sinensis L.) ...................................
4.3.8 Evaluasi Sediaan Krim Tabir surya.................................
4.3.9 Uji Fotostabilitas Krim Tabir Surya ................................
4.3.10 Pengolahan Data ..........................................................
4.3.11 Uji Efektivitas Krim Tabir Surya ................................
29
29
29
29
29
29
30
30
30
30
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .........................
5.1 Hasil Penelitian .......................................................................
5.1.1 Pengumpulan Bahan Dan Determinasi ..........................
5.1.2 Penapisan Fitokimia .......................................................
5.1.3 Ekstraksi Serbuk Teh Hitam ..........................................
5.1.4 Karakterisasi Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam ..............
5.1.5 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum ..................
5.1.6 Evaluasi Krim .................................................................
5.1.7 Uji Fotostabilitas Krim ...................................................
5.1.8 Uji Efektivitas Krim .......................................................
5.2 Pembahasan .............................................................................
40
40
40
40
40
41
41
41
46
47
47
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................
6.1 Kesimpulan .............................................................................
6.2 Saran ........................................................................................
55
55
55
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
57
LAMPIRAN ..................... ..............................................................................
61
x
33
33
35
35
36
36
38
38
39
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.
Tabel 2.
Tabel 3.
Tabel 4.
Tabel 5.
Tabel 6.
Tabel 7.
Tabel 8.
Tabel 9.
Tabel 10.
Tabel 11.
Tabel 12.
Tabel 13.
Tabel 14.
Tabel 15.
Tabel 16.
Tabel 17.
Tabel 18.
Tabel 19.
Tabel 20.
Tabel 21.
Tabel 22.
Tabel 23.
Tabel 24.
Tabel 25.
Tabel 26.
Tabel 27.
Tabel 28.
Transmisi Eritema Dan Pigmentasi Sediaan Tabir Surya .............
Kategori Penilaian Tabir Surya ......................................................
Formula Krim Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam
(Camellia sinensis L.) ....................................................................
Hasil Penapisan Fitokimia .............................................................
Hasil Karakterisasi Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam
(Camellia sinensis L.) ....................................................................
Hasil Pemeriksaan Organoleptis ...................................................
Hasil Pemeriksaan Homogenitas ...................................................
Hasil Pemeriksaan Sentrifugasi .....................................................
Hasil Pemeriksaan pH ...................................................................
Hasil Pemeriksaan Viskositas (Cp) ...............................................
Hasil Pemeriksaan Organoleptis Cycling Test ...............................
Hasil Pemeriksaan Homogenitas Cycling Test ..............................
Hasil Pemeriksaan Sentrifugasi Cycling Test ................................
Hasil Pemeriksaan pH Cycling Test ..............................................
Hasil Pemeriksaan Viskositas (Cp) Cycling Test ..........................
Hasil Pengukuran Perubahan Serapan Krim Sebelum dan
Sesudah Beberapa Waktu Penyinaran dengan Sinar UV 366 nm ..
Uji Efektivitas Tabir Surya Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam ........
Uji Efektivitas Krim Tabir Surya ...................................................
Perhitungan Uji Efektivitas Ekstrak Etanol 70 %
Teh Hitam Konsentrasi 40 ppm .....................................................
Perhitungan Uji Efektivitas Ekstrak Etanol 70 %
Teh Hitam Konsentrasi 60 ppm .....................................................
Perhitungan Uji Efektivitas Ekstrak Etanol 70 %
Teh Hitam Konsentrasi 80 ppm ..................................................
Perhitungan Uji Efektivitas Ekstrak Etanol 70 %
Teh Hitam Konsentrasi 100 ppm ...................................................
Perhitungan Uji Efektivitas Ekstrak Etanol 70 %
Teh Hitam Konsentrasi 120 ppm ...................................................
Perhitungan Uji Efektivitas Krim Formula KN (kontrol negatif) ..
Perhitungan Uji Efektivitas Krim Formula KP benzofenon-3
(kontrol positif) ............................................................................
Perhitungan Uji Efektivitas Krim Tabir Surya Ekstrak
Etanol 70 % Teh Hitam Konsentrasi 1 % (KrT 1 %) .....................
Perhitungan Uji Efektivitas Krim Tabir Surya Ekstrak
Etanol 70 % Teh Hitam Konsentrasi 2 % (KrT2 %) ......................
Perhitungan Uji Efektivitas Krim Tabir Surya Ekstrak
Etanol 70 % Teh Hitam Konsentrasi 3 % (KrT 3 %) .....................
xi
25
26
35
40
41
42
42
42
43
43
44
44
44
45
45
46
47
47
77
79
80
81
82
83
84
85
86
87
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.
Gambar 2.
Gambar 3.
Gambar 4.
Gambar 5.
Gambar 6.
Gambar 7.
Gambar 8.
Gambar 9.
Gambar 10.
Gambar 11.
Gambar 12.
Gambar 13.
Gambar 14.
Gambar 15.
Gambar 16.
Gambar 17.
Gambar 18.
Gambar 19.
Gambar 20.
Gambar 21.
Gambar 22.
Gambar 23.
Gambar 24.
Gambar 25.
Gambar 26.
Gambar 27.
Gambar 28.
Gambar 29.
Gambar 30.
Gambar 31.
Gambar 32.
Struktur Kimia Flavonoid ..........................................................
Penampang Kulit.........................................................................
Kurva Hubungan Antara pH dengan Waktu Penyimpanan ........
Kurva Hubungan Antara Viskositas dengan Waktu
Penyimpanan ..............................................................................
Kurva Hubungan Antara pH dengan Satabilitas
Penyimpanan Cycling test ...........................................................
Kurva Hubungan Antara Viskositas dengan Stabilitas
Penyimpanan Cycling Test..........................................................
Kurva Hubungan antara Absorbansi dengan
Lamanya Waktu Paparan Sinar UV 366 nm ...............................
Tanaman Teh (Camellia sinensis L.).........................................
Serbuk Teh Hitam (Camellia sinensis L.) .................................
Maserasi Serbuk Teh Hitam (Camellia sinensis L.) ...................
Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam (Camellia sinensis L.) ............
Formula Krim Minggu ke- 0 .......................................................
Formula Krim minggu ke- 1 .......................................................
Formula Krim Minggu ke- 2 .......................................................
Formula Krim Minggu ke- 3 .......................................................
Formula Krim Minggu ke- 4…………………………………...
Sentrifugasi Minggu ke- 0 ..........................................................
Sentrifugasi Minggu ke-4 ...........................................................
Formula Krim Sebelum Cycling Test .........................................
Formula Krim Sesudah Cycling Test ........................................
Uji Homogenitas Sebelum Cycling Test ....................................
Uji Homogenitas Sesudah Cycling Test......................................
Uji Sentrifugasi Sebelum Cycling Test .......................................
Uji Sentrifugasi Sesudah Cycling Test........................................
Hasil Penapisan Fitokimia Simplisia .................................... ..
Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Teh Hitam...........................
Viskometer Brookfield ………………………………………...
pH Meter......................................................................................
Spektrofotometer UV-Vis ...........................................................
Oven ..... ....................................................................................
Alat Centrifuge.................................................................... 89
UV 366 nm ..................................................................................
xii
9
14
43
43
45
45
46
62
62
62
62
68
68
69
69
70
70
70
71
71
71
71
71
71
88
88
89
89
89
89
89
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1.
Lampiran 2.
Lampiran 3.
Lampiran 4.
Tanaman dan Serbuk Teh (Camellia sinensis L.) ..................
Hasil Determinasi Tanaman Teh (Camellia sinensis L.) .........
Alur Penelitian ........................................................................
Hasil Scanning Panjang Gelombang Maksimum Ekstrak
Etanol 70 % Teh Hitam (Camellia sinensis L.) .......................
Lampiran 5. Perhitungan Karakteristik Ekstrak ............................................
Lampiran 6. Gambar Formula Krim.............................................................
Lampiran 7. Hasil Statistik Aktivitas Krim Ekstrak Etanol 70 %
Teh Hitam sebagai Tabir Surya ................................................
Lampiran 8. Hasil Uji Efektifitas Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam
sebagai Tabir Surya…………………………………………...
Lampiran 9. Hasil Uji Efektifitas Krim Ekstrak Etanol 70 %
Teh Hitam sebagai Tabir Surya ................................................
Lampiran 10. Hasil Penapisan Fitokimia Serbuk Simplisia dan Ekstrak .......
Lampiran 11. Alat .........................................................................................
xiii
62
63
64
66
67
68
72
77
83
88
89
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai negara tropis, di mana pengaruh sinar
matahari sangat besar terhadap kehidupan makhluk hidup. Sinar matahari
memberikan efek yang menguntungkan yaitu dapat mencegah atau
mengobati gangguan pada tulang dengan cara mengaktifkan provitamin D3
(7-dehidrokolesterol) yang terdapat pada epidermis kulit menjadi vitamin
D3. Namun pemaparan sinar matahari yang berlebihan juga dapat
menimbulkan efek yang merugikan terutama terhadap kulit dikarenakan
sinar ultraviolet yang terkandung di dalamnya dapat menyebabkan eritema
dan pigmentasi kulit, percepatan penuaan kulit, bahkan dapat menimbulkan
kanker (Harry, 1975).
Besarnya radiasi yang mengenai kulit tergantung pada jarak antara
suatu tempat dengan garis khatulistiwa, kelembaban udara, musim,
ketinggian tempat dan jam waktu setempat. Semakin dekat jarak antara
suatu tempat dengan garis khatulistiwa, maka akan semakin besar radiasi
sinar ultraviolet yang mengenai kulit. Intensitas radiasi UV tertinggi adalah
pukul 10.00-16.00 waktu setempat, yaitu ketika orang sedang aktif di luar
rumah sehingga kulit perlu dilindungi dari bahaya sinar UV matahari
(Shaath. Nadim, 2005).
Salah satu upaya untuk menghindari kontak langsung dengan sinar
matahari yaitu dengan menggunakan pelindung berupa bahan tabir surya
yang diformulasikan dalam sediaan kosmetik baik yang berbentuk krim, gel,
1
2
maupun lotion. Sediaan tabir surya adalah sediaan kosmetik yang digunakan
pada permukaan kulit yang bekerja antara lain dengan menyerap,
menghamburkan, atau memantulkan sinar ultraviolet (Depkes RI, 1985 ).
Sebagian besar bahan-bahan untuk tabir surya merupakan bahan
sintetik misalnya PABA (Para Amino Benzoic Acid) yang sangat populer di
negara-negara barat karena efektif menyerap sinar UV-B dan cepat
mencokelatkan kulit. Tetapi untuk kulit Asia atau Indonesia, tabir surya
yang mengandung PABA tidak cocok dan tidak aman karena cepat
mencokelatkan kulit dan bersifat photosensitizer (Diana, 2006). Oleh karena
itu, penting dilakukan suatu penelitian untuk mencari senyawa aktif yang
berasal dari alam yang dapat berguna sebagai tabir surya, salah satunya yaitu
dengan memanfaatkan dan meneliti teh hitam sebagai tanaman perdu yang
diharapkan dapat berpotensi sebagai bahan kosmetik khususnya sebagai
bahan tabir surya.
Teh hitam (Camellia sinensis L.) merupakan salah satu perdu atau
pohon kecil yang berasal dari daratan Asia Tenggara namun sekarang telah
dibudidayakan di seluruh dunia, baik di daerah tropis maupun subtropis.
Tanaman ini biasanya dipangkas bila dibudidayakan untuk dipanen daunnya.
Di Indonesia sendiri teh hitam dimanfaatkan sebagai tanaman yang berguna
sebagai antidiare, namun belakangan ini teh hitam telah dimanfaatkan untuk
mengobati penyakit asma, penyakit jantung koroner, diabetes, dan
antioksidan. Diketahui juga bahwa pada penelitian sebelumnya ekstrak air
teh hitam yang dibuat sediaan gel dapat berpotensi sebagai tabir surya
(Turkoglu. Cigirgil, 2007).
3
Dalam penelitian ini, sediaan tabir surya dari teh hitam dibuat dalam
sediaan krim. Pemilihan krim sebagai bentuk sediaan tabir surya karena
krim merupakan sediaan yang memiliki keuntungan berupa nilai estetikanya
yang cukup tinggi dan tingkat kenyamanan dalam penggunaannya yang
cukup baik, disamping itu sediaan krim ini merupakan sediaan yang mudah
di cuci, bersifat tidak lengket, memberikan efek melembabkan pada kulit
serta memiliki kemampuan penyebaran yang baik. Karena dalam penelitian
ini sediaan tabir surya dibuat dalam bentuk sediaan krim yang menggunakan
air lebih sedikit maka ekstrak yang digunakan adalah ekstrak etanol 70 %
teh hitam. Oleh karena itu sediaan krim ektrak etanol 70 % teh hitam ini
perlu diteliti efektivitas, fotostabilitas, dan stabilitas fisiknya agar diperoleh
sediaan yang baik.
1.2
Perumusan Masalah
1. Apakah ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.) dapat
dibuat dalam sediaan krim yang baik dan stabil?
2. Bagaimana efektivitas dan fotostabilitas sediaan krim ekstrak etanol 70
% teh hitam sebagai sediaan tabir surya?
1.3
Hipotesis
Ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.) dapat dibuat
menjadi sediaan krim tabir surya yang baik dan stabil dengan efektivitas dan
fotostabilitas tabir surya yang belum diketahui.
4
1.4
Tujuan Penelitian
1. Menentukan efektivitas dan fotostabilitas tabir surya sediaan krim
ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.)
2. Membuat sediaan krim tabir surya ekstrak etanol 70 %
teh hitam
(Camellia sinensis L.) yang memiliki aktivitas sebagai tabir surya yang
memberikan penampilan sediaan yang baik dan stabil.
1.5
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah dapat memberikan informasi
tentang efektivitas dan fotostabilitas dari krim ekstrak etanol 70 % teh hitam
(Camellia sinensis L.) sebagai tabir surya dan formulasi krim dari ekstrak
etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.) dengan menggunakan variasi
konsentrasi ekstrak.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Teh Hitam (Camellia sinensis L.)
2.1.1
Klasifikasi (Sulistyowati, 2004)
Teh hitam (Camellia sinensis L.) diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisi
: Spermatophyta
Sub divisi
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledoneae
Sub Kelas
: Dialypetalae
Ordo (bangsa) : Guttiferales (Clusiales)
Familia (suku) : Camelliaceae (Theaceae)
Genus (marga) : Camellia
Spesies (jenis) : Camellia sinensis L.
Varietas
2.1.2
: Assamica
Nama daerah
Enteh (sunda)
2.1.3
Deskripsi
Camellia sinensis L. berasal dari daratan Asia Selatan dan
Tenggara, namun sekarang telah dibudidayakan di seluruh dunia, baik
daerah tropis maupun subtropis. Tumbuhan ini merupakan perdu atau
pohon kecil yang biasanya dipangkas bila dibudidayakan untuk dipanen
daunnya.
Camellia sinensis L. memiliki akar tunggang yang kuat. Bunganya
kuning-putih berdiameter 2,5–4 cm dengan 7 hingga 8 petal. Daunnya
6
memiliki panjang 4–15 cm dan lebar 2–5 cm. Daun-daun itu mempunyai
rambut-rambut pendek putih di bagian bawah daun. Daun muda memiliki
warna lebih terang, sedangkan daun tua berwarna lebih gelap. Daun
dengan umur yang berbeda menghasilkan kualitas teh yang berbeda-beda,
hal tersebut dikarenakan komposisi kimianya yang berbeda. Biasanya,
pucuk dan dua hingga tiga daun pertama dipanen untuk pemrosesan.
Biasanya pemetikan dengan tangan (manual) ini diulang setiap dua
minggu.
Berdasarkan penanganan pasca panen, teh dibagi menjadi 3 (tiga)
macam yaitu (Sulistyowati, 2004)
1) Teh Hijau
Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi. Daun teh
dilayukan dengan panas sehingga terjadi inaktivasi enzim. Pemanasan
ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan udara kering dan
pemanasan basah dengan uap panas (steam). Pada pemanasan kering
dilakukan pada suhu 100-200 °C sedangkan pemanasan basah dengan
menggunakan mesin (steamer) suhunya sekitar 220-300 °C. Proses
pemanasan udara kering pada daun teh akan memberikan aroma dan
rasa yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian uap panas
(steam). Namun keuntungan dengan cara pemberian uap panas adalah
warna teh dan seduhannya akan lebih hijau terang.
2) Teh hitam
Teh hitam diperoleh melalui proses fermentasi. Daun teh segar
dilayukan terlebih dahulu pada palung pelayu, kemudian digiling
7
sehingga sel-sel daun rusak. Selanjutnya dilakukan fermentasi pada
suhu sekitar 19-26 °C dengan kelembaban sekitar 90-98 %. Lamanya
fermentasi sangat menentukan kualitas hasil akhir, biasanya dilakukan
selama 60-100 menit. Apabila proses fermentasi telah selesai,
dilakukan pengeringan yang bertujuan untuk menghentikan proses
oksidasi enzimatis yang terjadi pada saat fermentasi serta membuat teh
tahan lama dalam penyimpanan. Pengeringan dilakukan selama 13-18
menit sampai kadar air teh kering mencapai 2,5-3,5 %.
3) Teh putih
Untuk membuat teh putih diperlukan daun teh yang paling
muda, yang masih dipenuhi bulu putih pendek atau bulu halus.
Pemasakannya mengalami 2 tahap, yaitu penguapan dan pengeringan
tidak ada proses pelayuan dan penggilingan. Daun teh yang telah
dibersihkan kemudian dipanaskan pada suhu 160-240 °C selama 3-7
menit untuk inaktivasi enzim, selanjutnya digulung dan dikeringkan.
Tampilan teh putih hampir tidak berubah, yaitu berwarna putih
keperakan. Ketika diseduh akan berwarna kuning pucat dengan aroma
lembut dan segar. Ada juga jenis teh yang disebut dengan Teh olong,
yaitu teh yang diproses hampir sama seperti teh putih yaitu melalui
proses semi fermentasi. Selain itu teh jenis ini juga dibuat dengan
bahan baku khusus, yaitu varietas tertentu yang memberikan aroma
khusus.
8
2.1.4
Kandungan kimia (Anonim, 2010)
Daun teh hitam (Camellia sinensis L.) mengandung senyawa
bioaktif polifenol yang terdiri dari senyawa flavonoid, tannin (3,57 %),
kafein (7,56 %), theobromin (0,69 %), theopilin (0,25 %), asam galat (1,15
%), asam klorogenat (0,21 %), gula (6,85 %), pektin (0,16 %),
polisakarida (4,17 %), asam oksalat (1,50 %), asam malonat (0,02 %),
asam suksinat (0,09 %), asam malat (0,31 %), asam sitrat (0,84 %), lipid
(4,79 %), peptida (5,99 %), asam fenalat dan asam amino (3,03 %). Juga
mengandung vitamin B1, B2, C, E, dan K. Serta kaya mineral kalium
(potassium) (4,83 %) dan mineral lain (4,70 %). Senyawa katekin yang
berada dalam senyawa flavonoid mengandung: epikatekin (EC) (1,21 %),
epikatekin galat (ECG) (3,86 %), epigalo katekin (EGC) (1,09 %), epigalo
katekin galat (EGCG) (4,63 %), theaflavin (2,62 %), thearubigin (35,90
%), dan quercetin.
2.1.5
Senyawa flavonoid
Flavonoid adalah senyawa yang terdiri dari C6-C3-C6 dan
umumnya terdapat pada tumbuhan sebagai glikosida. Bagi tumbuhan
flavonoid ini dapat berguna sebagai senyawa yang dapat menarik
serangga, yang membantu dalam proses penyerbukan dan dapat berguna
sebagai senyawa yang dapat menarik perhatian binatang untuk membantu
penyebaran biji (Harborne, 1987). Sedangkan untuk manusia dalam dosis
kecil flavonoid ini dapat bekerja sebagai stimulan pada jantung, kemudian
pada jenis flavon yang terhidroksilasi dapat bekerja sebagai diuretik dan
dapat bekerja sebagai antioksidan pada lemak (Sirait. Midian, 2007)
9
Gambar 1. Struktur Kimia Flavonoid
Dalam tumbuhan, aglikon flavonoid (yaitu flavonoid tanpa gula
terikat) terdapat dalam berbagai bentuk struktur. Semuanya mengandung
15 atom karbon dalam inti dasarnya, yang tersusun dalam konfigurasi
yaitu dua cincin aromatik yang dihubungkan oleh satuan tiga karbon yang
dapat atau tidak dapat membentuk cincin ketiga. Flavonoid merupakan
kandungan senyawa khas pada tumbuhan hijau dengan mengecualikan
alga. Flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan
termasuk daun, akar, kayu, kulit, bunga, dan biji (Markham, 1988).
Aglikon dari flavonoid adalah polifenol dan karena itu mempunyai
sifat kimia senyawa fenol, yaitu bersifat agak asam sehingga dapat larut
dalam basa dan ketika ditambahkan basa atau ammonia warnanya akan
berubah. Tetapi bila senyawa ini terlalu lama di dalam basa akan
menyebabkan banyak senyawa flavonoid yang terurai. Flavonoid
merupakan senyawa yang bersifat polar. Hal ini disebabkan karena adanya
gula yang terikat pada flavonoid yang cenderung menyebabkan flavonoid
mudah larut dalam air sehingga flavonoid ini dapat diekstraksi dengan
etanol 70 % dan tetap ada dalam lapisan air setelah ekstrak dikocok
dengan petroleum eter. Senyawa ini merupakan senyawa
yang
10
mengandung sistem aromatik yang terkonjugasi dan dapat menunjukan
pita spektrum kuat pada spektrum UV dan spektrum tampak (Harborne,
1987 dan Markham, 1988).
2.1.6 Khasiat
Daun teh hitam berkhasiat sebagai obat antara lain untuk
mengobati penyakit asma, angina pektoris, penyakit vaskuler perifer,
penyakit jantung koroner, diare, disentri, diabetes, antibakteri, antioksidan,
antikanker, dan antimutagenik. Selain itu, juga telah diketahui dapat
digunakan sebagai tabir surya (Cheryl, 2002).
2.2
Ekstraksi (Depkes RI, 2000)
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat
larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair.
Simplisia yang diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan
senyawa yang tidak dapat larut seperti serat, karbohidrat, protein, dan lainlain. Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat
digolongkan ke dalam golongan minyak atsiri, alakaloid, flavonoid, dan
lain-lain. Struktur kimia yang yang berbeda-beda akan mempengaruhi
kelarutan serta stabilitas senyawa-senyawa tersebut terhadap pemanasan,
udara, cahaya, logam berat, dan derajat keasaman. Dengan diketahuinya
senyawa aktif yang dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan
pelarut dan cara ekstraksi yang tepat.
Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi
senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan
pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan
11
dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga
memenuhi baku yang ditetapkan.
2.2.1
Proses pembuatan ekstrak (Depkes RI, 2000)
1) Pembuatan serbuk simplisia dan klasifikasinya
Proses awal pembuatan ekstrak adalah tahapan pembuatan serbuk
simplisia kering (penyerbukan). Dari simplisia dibuat serbuk simplisia
dengan peralatan tertentu sampai derajat kehalusan tertentu. Proses ini
dapat mempengaruhi mutu ekstrak. Makin halus serbuk simplisia,
proses ekstraksi makin efektif dan makin efisien, namun makin halus
serbuk, maka akan makin rumit secara teknologi peralatan untuk
tahapan filtrasi.
2) Cairan pelarut
Cairan pelarut dalam proses pembuatan ekstrak adalah pelarut yang
baik (optimal) untuk senyawa kandungan yang berkhasiat atau yang
aktif, dengan demikian senyawa tersebut dapat terpisahkan dari bahan
dan dari senyawa kandungan lainnya, serta ekstrak hanya mengandung
sebagian besar senyawa kandungan yang diinginkan. Dalam hal
ekstrak total, maka cairan pelarut dipilih yang melarutkan hampir
semua metabolit sekunder yang terkandung. Faktor utama untuk
pertimbangan pada pemilihan cairan penyari antara lain: selektivitas,
kemudahan bekerja dan proses dengan cairan tersebut, ekonomis,
ramah lingkungan, dan keamanan.
12
3) Separasi dan pemurnian
Tujuan dari tahapan ini adalah menghilangkan (memisahkan) senyawa
yang tidak dikehendaki semaksimal mungkin tanpa berpengaruh pada
senyawa kandungan yang dikehendaki, sehingga diperoleh ekstrak
yang lebih murni. Proses-proses pada tahapan ini adalah pengendapan,
pemisahan dua cairan tidak bercampur, sentrifugasi, dekantasi, filtrasi
serta proses adsorpsi dan penukar ion.
4) Pemekatan atau penguapan (vaporasi dan evaporasi)
Pemekatan berarti jumlah parsial senyawa terlarut (solute) secara
penguapan pelarut tidak sampai menjadi kering, melainkan ekstrak
hanya menjadi kental atau pekat.
5) Randemen
Randemen adalah perbandingan antara ekstrak yang diperoleh dengan
simplisia kering.
2.2.2 Ekstraksi dengan menggunakan pelarut (Depkes RI, 2000)
1) Cara dingin
1. Maserasi
Maserasi adalah
proses pengekstrakan simplisia dengan
menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau
pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Cara ini dapat
menarik zat-zat berkhasiat yang tahan pemanasan maupun yang
tidak tahan pemanasan.
13
2. Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru
sampai sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan
pada temperatur ruangan. Ekstraksi ini membutuhkan pelarut yang
lebih banyak.
2) Cara panas
1. Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur
titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas
yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Umumnya
dilakukan pengulangan proses pada residu pertama sampai 3-5 kali
sehingga dapat termasuk proses ekstraksi sempurna.
2. Soxhlet
Soxhlet adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu
baru yang umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi
ekstraksi kontinyu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan
adanya pendinginan balik.
3. Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan
kontinyu) pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur
ruangan (kamar), yaitu secara umum dilakukan pada temperatur
40-50 oC.
14
4. Infus
Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur
penangas air (bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih,
temperatur terukur 96-98 oC) selama waktu tertentu (15-20 menit).
5. Dekok
Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan
temperatur sampai titik didih air.
2.3. Kulit (Djuanda, 2007)
Gambar 2. Penampang Kulit (Graaff dkk, 2001).
Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya
dari lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa 1,5 m2 dengan
berat kira-kira 15 % dari berat badan. Kulit ini sangat kompleks, elastis dan
sensitif, bervariasi pada keadaan iklim, umur, seks, ras, dan juga bergantung
pada lokasi tubuh. Warna kulit berbeda-beda, dari kulit yang berwarna
15
terang (fair skin) pirang, dan hitam, warna merah muda pada telapak kaki
dan tangan bayi, serta warna hitam kecoklatan pada genitalia orang dewasa.
2.3.1
Struktur kulit (Iswari, 2007)
Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama yaitu:
1. Lapisan epidermis, lapisan ini terdiri atas stratum corneum, stratum
lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum, dan stratum basale.
a. Stratum corneum (lapisan tanduk) adalah lapisan kulit yang paling
luar dan terdiri atas beberapa lapisan sel-sel gepeng yang mati,
tidak berinti, dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin
(zat tanduk). Secara alami, sel-sel yang sudah mati di permukaan
kulit akan melepaskan diri untuk berdegenerasi. Permukaan
stratum corneum dilapisi oleh suatu lapisan pelindung lembab tipis
yang bersifat asam disebut Mantel Asam Kulit.
b. Stratum lusidum (daerah sawar/lapisan jernih) terdapat langsung di
bawah lapisan korneum, merupakan lapisan sel gepeng tanpa inti
dengan protoplasma yang berubah menjadi protein yang disebut
eleidin. Lapisan tersebut tampak jelas di telapak tangan dan kaki.
c. Stratum granulosum (lapisan keratohialin/lapisan seperti butir)
merupakan 2 atau 3 lapis sel gepeng dengan sitoplasma berbutir
kasar dan terdapat inti di antaranya. Butir-butir kasar ini terdiri atas
keratohialin.
d. Stratum spinosum (stratum malphigi/lapisan sel duri) atau disebut
pula prikle cell layer (lapisan akanta) terdiri atas beberapa lapis sel
yang berbentuk poligonal yang besarnya berbeda-beda karena
16
adanya proses mitosis. Di antara sel-sel spinosum terdapat pula sel
langerhans. Sel-sel stratum spinosum banyak mengandung
glikogen.
e. Stratum germinativum (lapisan sel basal) terdiri atas sel-sel
berbentuk kubus (kolumnar)
yang tersusun vertikal pada
perbatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar (palisade). Di
dalam stratum germinativum terdapat sel-sel melanosit, yaitu selsel yang tidak mengalami keratinisasi dan fungsinya hanya
membentuk pigmen melanin dan memberikannya kepada sel-sel
keratinosit melalui dendritnya.
2. Lapisan dermis adalah lapisan di bawah epidermis yang jauh lebih
tebal daripada epidermis. Lapisan ini terbentuk oleh lapisan elastis dan
fibrosa padat dengan elemen selular, kelenjar dan folikel rambut.
Secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yaitu:
a. Pars papilare, yaitu bagian yang menonjol ke epidermis, berisi
ujung serabut saraf dan pembuluh darah.
b. Pars retikulare, yaitu bagian bawah dermis yang berhubungan
dengan subkutis, bagian ini terdiri dari serabut-serabut penunjang
misalnya serabut kolagen, elastin, dan retikulin.
3. Lapisan subkutis (hypodermis) merupakan kelanjutan dermis, terdiri
atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Sel lemak
merupakan sel bulat, besar, dengan inti terdesak ke pinggir karena
sitoplasma lemak yang bertambah. Lapisan sel-sel lemak disebut
panikulus adipose yang berfungsi sebagai cadangan makanan. Di
17
dalam lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah, dan
getah bening.
2.3.2 Fisiologi kulit (Iswari, 2007)
Fungsi Kulit antara lain:
1. Proteksi, kulit ini akan menjaga bagian dalam tubuh terhadap
gangguan fisis atau mekanis. Serabut elastis yang terdapat pada dermis
serta jaringan lemak subkutan berfungsi mencegah trauma mekanik
langsung terhadap interior tubuh. Lapisan tanduk dan mantel lemak
kulit menjaga kadar air tubuh dengan cara mencegah keluarnya air dari
dalam tubuh dan mencegah penguapan air, dapat berfungsi sebagai
barier terhadap racun dari luar. Selain itu, mantel asam dapat berfungsi
untuk mencegah pertumbuhan bakteri di kulit.
2. Absorpsi, beberapa bahan dapat diabsorpsi kulit masuk ke dalam tubuh
melalui dua jalur yaitu melalui epidermis dan melalui kelenjar sebasea.
Permeabilitas kulit terhadap O2, CO2, dan uap air memungkinkan kulit
ikut mengambil bagian pada fungsi respirasi. Kemampuan absorpsi
kulit dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit, hidrasi kelembaban, dan
metabolisme.
3. Ekskresi, kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak
berguna lagi atau sisa metabolisme dalam tubuh berupa NaCl, urea,
asam urat, dan ammonia.
4. Persepsi sensoris, kulit bertanggung jawab sebagai indera terhadap
rangsangan dari luar berupa tekanan, raba, suhu, dan nyeri melalui
beberapa reseptor seperti benda meissner, diskus markell dan
18
korpuskulum golgi sebagai reseptor raba, korpuskulum pacini sebagai
reseptor tekanan, korpuskulum ruffini dan benda krauss sebagai
reseptor suhu dan nervus end plate sebagai reseptor nyeri. Rangsangan
dari luar diterima oleh reseptor-reseptor tersebut dan diteruskan ke
sistem saraf pusat dan selanjutnya diinterpretasi oleh korteks serebri.
5. Pengaturan suhu tubuh, kulit melakukan peranan ini dengan cara
mengeluarkan keringat dan mengerutkan (otot berkontraksi) pembuluh
darah kulit. Pada saat temperatur badan menurun terjadi vasokonstriksi
sedangkan pada saat temperatur badan meningkat terjadi vasodilatasi
untuk meningkatkan pembuangan panas.
6. Pembentukan pigmen, sel pembentuk pigmen (melanosit) terletak di
lapisan basal. Jumlah, tipe, ukuran, dan distribusi pigmen melanin
akan menentukan variasi warna kulit sesorang.
7. Keratinisasi, proses keratinisasi ini berlangsung secara normal kirakira selama 14-21 hari dan memberikan perlindungan kulit terhadap
infeksi secara mekanis fisiologik.
2.4
Sinar Matahari dan Melanogenesis
Penyinaran
matahari
mempunyai
dua
efek,
baik
yang
menguntungkan maupun yang merugikan. Sinar ultraviolet merupakan
bagian dari sinar matahari yang bertanggung jawab terhadap efek yang
merugikan tersebut. Kerusakan kulit akibat sinar ultraviolet antara lain
tergantung dari frekuensi dan lamanya sinar matahari mengenai kulit,
intensitas sinar matahari, serta sensitivitas seseorang. Efek nyata penyinaran
19
matahari, pertama-tama ialah kemerahan pada kulit (eritema) yang diikuti
oleh warna cokelat kemerahan. Pada dasarnya, timbul warna cokelat
kemerahan yang merupakan reaksi perlindungan terhadap kerusakan akibat
sinar ultraviolet (Balsam, 1972)
Kulit yang terpapar oleh sinar matahari selama 6-20 jam akan
menghasilkan eritema yang cepat atau lambat menimbulkan pencokelatan
kulit (tanning). Tanning cepat tampak jelas 1 jam setelah kulit terpapar
matahari dan kemudian akan hilang kembali dalam waktu 4 jam. Hal ini
mungkin disebabkan oleh reaksi oksidasi dari radikal bebas semiquinon
yang tidak stabil di dalam melanin. Di sini tidak tampak adanya
pembentukan melanosom baru. Tanning lambat terjadi 48-72 jam setelah
kulit terpapar sinar matahari dengan panjang gelombang 320-500 nm.
Reaksi serupa terjadi pada sunburn (290-320 nm). Hal ini disebabkan oleh
pembentukan melanosom-melanosom baru secara perlahan, dan baru terlihat
dalam waktu 72 jam.
Sinar ultraviolet gelombang agak panjang serta sinar yang dapat
dilihat, antara 320-700 nm, merupakan penyebab melanogenesis, tetapi
gelombang-gelombang lebih pendek (290-320 nm) masih merupakan
inisiator paling efektif untuk melanogenesis (Iswari, 2007).
Berdasarkan panjang gelombang dan efek fisiologisnya, sinar
ultraviolet dibedakan menjadi 3 bagian: (Depkes RI, 1985)
1. UV-A ialah sinar dengan panjang gelombang antara 400-315 nm dengan
efektivitas tertinggi pada 340 nm, dapat menyebabkan warna coklat pada
kulit tanpa menimbulkan kemerahan.
20
2. UV-B ialah sinar dengan panjang gelombang antara 315- 280 nm dengan
efektivitas tertinggi pada 297,6 nm, merupakan daerah eritemogenik
yang dapat menimbulkan sengatan surya sehingga terjadi reaksi
pembentukan melanin awal.
3. UV-C ialah sinar dengan panjang gelombang dibawah 280 nm, dapat
merusak jaringan kulit, tetapi sebagian besar telah tersaring oleh lapisan
ozon dalam atmosfer.
Secara alamiah kulit juga mempunyai mekanisme perlindungan
terhadap sengatan surya ialah dengan penebalan stratum korneum dan
pigmentasi kulit. Perlindungan terhadap sengatan surya ini disebabkan oleh
peningkatan jumlah melanin dalam epidermis. Butir melanin yang terbentuk
dalam sel basal kulit setelah penyinaran ultraviolet-B akan berpindah ke
stratum korneum di permukaan kulit, kemudian teroksidasi oleh sinar
ultraviolet-A. Jika kulit mengelupas, butir melanin akan lepas, sehingga
kulit kehilangan pelindung terhadap sinar matahari (Depkes RI, 1985).
2.5
2.5.1
Sediaan Krim Tabir Surya
Sediaan tabir surya
Sediaan tabir surya adalah suatu sediaan kosmetika yang
digunakan untuk membaurkan atau menyerap secara efektif cahaya
matahari, terutama daerah emisi gelombang ultraviolet dan inframerah,
sehingga dapat mencegah terjadinya gangguan kulit karena cahaya
matahari (Depkes RI, 1985). Berdasarkan pada mekanisme aksinya, tabir
surya dapat dibagi menjadi tabir surya kimiawi yang mampu mengubah
21
panjang gelombang berenergi tinggi menjadi energi yang rendah dan tabir
surya fisik yang disamping mampu mengabsorpsi sinar ultraviolet dapat
juga mampu memantulkan sinar ultraviolet (Depkes RI, 2000).
Penyinaran ultraviolet dengan panjang gelombang di atas 330 nm
dapat menyebabkan kulit menjadi kecoklatan. Eritema timbul bersamaan
dengan warna coklat. Pada panjang gelombang antara 334,2–366,3 nm
efektif dalam pembentukan warna coklat dengan sedikit eritema. Pada
penyinaran dengan panjang gelombang 250–270 nm, akan timbul eritema
yang ringan, yang menghilang dalam beberapa hari tanpa menimbulkan
warna kecoklatan. Penyinaran dengan panjang gelombang kurang dari 320
nm dapat menyebabkan eritema, sedangkan dengan panjang gelombang
antara 300–420 nm dapat menyebakan pembentukan pigmen (Depkes RI,
1985).
Syarat-syarat bagi preparat sediaan tabir surya (sunscreen) adalah
enak dan mudah dipakai, jumlah yang menempel mencukupi kebutuhan,
bahan aktif dan bahan dasar mudah tercampur, dan bahan dasar harus
dapat mempertahankan kelembutan dan kelembaban kulit (Iswari, 2007).
Syarat-syarat bagi bahan aktif untuk preparat tabir surya antara
lain: (Iswari, 2007)
1) Efektif menyerap radiasi UV-B tanpa perubahan kimiawi, karena jika
tidak demikian akan mengurangi efisiensi, bahkan menjadi toksik atau
menimbulkan iritasi
2) Meneruskan UV-A untuk mendapatkan tanning (untuk kulit orang
Eropa)
22
3) Stabil, yaitu tahan keringat dan tidak menguap
4) Mempunyai daya larut yang cukup untuk mempermudah formulasinya
5) Tidak berbau atau boleh berbau ringan
6) Tidak toksik, tidak mengiritasi dan tidak menyebabkan sensitisasi
Bentuk-bentuk preparat tabir surya (sunscreen) dapat berupa: (Iswari,
2007)
1. Preparat anhydrous (preparat yang berdasar minyak), keuntungan dari
preparat ini adalah daya tahanya terhadap air, sehingga tidak terganggu
oleh perspirasi dan air kolam renang atau laut.
2. Emulsi (non-minyak O/W, semi minyak dual emulsion, dan lemak
W/O). semi minyak dual emulsion dan lemak W/O digunakan sebagai
dasar preparat tabir surya. Yang kandungan lemaknya tinggi tampak
mirip minyak, sedangkan yang bukan minyak mirip preparat yang
berbahan
air.
penampakannya
Keuntungan
yang
dari
menarik,
preparat
serta
emulsi
ini
konsistensinya
adalah
yang
menyenangkan sehingga memudahkan untuk pemakaian.
3. Preparat tanpa lemak (greaseless preparation), keuntungan dari
preparat ini adalah tidak berlemak dan tidak lengket, sehingga lebih
menyenangkan untuk dipakai, akan tetapi kekurangannya adalah
mudah larut dalam air.
2.5.2
Sediaan krim
Krim
(cremores)
adalah
bentuk
sediaan
setengah
padat
mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam
bahan dasar yang sesuai. Istilah ini secara tradisional telah digunakan
23
untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair
diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air.
Sekarang ini batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri
dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak
atau alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan
lebih ditujukan untuk penggunaan kosmetika dan estetika (Depkes RI,
1995).
Krim merupakan salah satu bentuk emulsi semisolid yang
digunakan secara topikal. Emulsi adalah suatu sistem yang tidak stabil
terdiri dari dua fase tidak dapat bercampur satu dengan lainnya, yaitu fase
hidrofil dan lipofil (Ansel, 1989).
Berdasarkan tipe emulsinya, krim terbagi atas dua tipe yaitu
(Depkes RI, 1995)
1. Krim minyak-air (M/A)
Bila fase lipofil terdispersi dalam fase hidrofil maka sistem ini disebut
emulsi minyak dalam air. Krim M/A sering disebut sebagai “vanishing
krim” karena sifatnya yang bila di oleskan pada kulit dapat menghilang
dari permukaan dan akan memberikan efek pendinginan pada kulit, hal
ini terjadi karena air sebagai fasa kontinyu akan menguap dan akan
meningkatkan konsentrasi zat larut air pada lapisan yang melekat.
2. Tipe emulsi air-minyak (A/M)
Bila fase hidrofil terdispersi dalam fase lipofil maka sistem ini disebut
emulsi air dalam minyak. Konsistensi krim A/M dapat bervariasi dan
tergantung pada komposisi fase minyak, fase air dan campuran zat
24
pengemulsi yang dipakai. Perbandingan relatif kedua fase dan sifat
fase masing-masing zat menunjukkan pengaruh yang nyata.
Sediaan kosmetik yang stabil adalah suatu sediaan yang masih
berada dalam batas yang dapat diterima selama periode waktu
penyimpanan dan penggunaan, dimana sifat dan karakteristiknya sama
dengan yang dimilikinya pada saat dibuat.
Evaluasi stabilitas fisik krim antara lain:
1. Stabilitas penyimpanan pada suhu ruang (28±2 °C). Evaluasi ini
bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya ketidakstabilan dari
sediaan yang disimpan hanya pada satu tempat yaitu pada suhu ruang
(28±2 °C). Jika hasil menunjukan tidak ada tanda ketidakstabilan maka
dapat disimpulkan bahwa sediaan tersebut stabil pada suhu ruang.
2. Cycling test. Cycling test merupakan evaluasi dari efek pengaruh
penggunaan suhu yang bervariasi. Evaluasi ini juga merupakan
simulasi perjalanan suatu sediaan farmasi pada saat di distribusikan, di
mana sediaan akan berada pada suatu tempat yang berbeda, dan tempat
tersebut dapat memiliki kondisi/suhu yang berbeda. Evaluasi dilakukan
sebanyak 3 siklus, 1 siklus terdiri dari 2 hari pada suhu dingin (2-4 °C)
dan di ikuti 2 hari pada suhu panas (40 °C) (Sarfaraz, 2004).
2.5.3
Penentuan efektivitas sediaan tabir surya (Balsam, 1972)
Efektivitas dari sediaan tabir surya dapat ditentukan dengan metode
penentuan persen eritema dan persen pigmentasi. Ekstrak yang diperoleh
dan sediaan yang dibuat diukur absorbansinya pada panjang gelombang
292,5-372,5 nm. Dari nilai serapan yang diperoleh dihitung nilai serapan
25
dan nilai persen transmitannya dengan rumus A = - log T. Nilai transmisi
eritema dihitung dengan cara mengalikan nilai transmisi (T) dengan faktor
efektivitas eritema (Fe) pada panjang gelombang 292,5-372,5 nm. Nilai
transmisi pigmentasi dihitung dengan cara mengalikan nilai transmisi (T)
dengan faktor efektivitas pigmentasi (Fp) pada panjang gelombang 292,5372,5 nm. Selanjutnya nilai persen transmisi eritema dihitung dengan
rumus:
% Te
=
% Tp
=
Keterangan
∑
∑
∑
∑
:
% Te = Nilai persen transmisi eritema
% Tp = Nilai persen transmisi pigmentasi
Ee
=∑
Ep
=∑
Berikut ini merupakan nilai dari fluks eritema (Fe) dan fluks
pigmentasi (Fp) untuk sediaan tabir surya.
Tabel 1. Transmisi Eritema dan Pigmentasi Sediaan Tabir Surya
Rentang Panjang Gelombang (nm)
Fluks Eritema
290 – 295
295 – 300
300 – 305
305 – 310
310 – 315
315 – 320
Rentang total eritema, 290–320 nm
0,1105
0,6720
1,0000
0,2008
0,1364
0,1125
2,2322 (76,3 %)
26
Rentang Panjang Gelombang (nm)
Fluks Pigmentasi
320 – 325
325 – 330
330 – 335
335 – 340
340 – 345
345 – 350
350 – 355
355 – 360
360 – 365
365 – 370
370 – 375
Rentang total pigmentasi, 320–375 nm
0,1079
0,1020
0,0936
0,0798
0,0669
0,0570
0,0488
0,0456
0,0356
0,0310
0,0260
0,6942 (23,7 %)
Fluks Total Pigmentasi, 290–375 nm
2,9264 (100 %)
Suatu tabir surya mendapatkan kategori penilaian sebagai berikut:
Tabel 2. Kategori Penilaian Tabir Surya
2.6
% Te
% Tp
Kategori penilaian tabir surya
<1
1–6
6–12
10-18
3–40
42–86
45–86
45–86
Sunblock
Proteksi ultra
Suntan
Fast tanning
Spektrofotometer UV- Vis
Spektrofotometer UV-Vis adalah analisis spektroskopik yang
memakai sumber radiasi elektromagnetik ultra violet dekat (190-380 nm)
dan
sinar
tampak
(380-780
nm)
dengan
memakai
instrumen
spektrofotometer. Spektrofotometer UV-Vis melibatkan energi elektronik
yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometer
UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan
kualitatif (Silverstein, 1986).
27
Spektrofotometer UV-Vis yang merupakan korelasi absorban
(sebagai ordinat) dan panjang gelombang (sebagai absis) tidak merupakan
garis spektrum akan tetapi merupakan pita spektrum. Terbentuknya pita
spektrum UV-Vis tersebut disebabkan oleh transisi energi yang tidak
sejenis dan terjadinya eksitasi elektronik lebih dari satu macam pada gugus
molekul yang kompleks. Analisis dengan spektrofotometer UV-Vis selalu
melibatkan pembacaan absorbansi radiasi elektromagnetik oleh molekul
atau radiasi elektromagnetik yang diteruskan. Absorpsi direkam sebagai
absorbansi (Mulja dan Suharman, 1995).
Dalam analisis kuantitatif pada spektrofotometri UV-Vis ini
didasarkan pada hukum Lambert-Beer, yang menyatakan bahwa fraksi
penyerapan sinar tidak tergantung dari intensitas sumber cahaya dan
kemudian menyatakan bahwa penyerapan sebanding dengan jumlah
molekul yang diserap. Dari hukum Lambert-Beer dapat diketahui
hubungan antara transmitan, tebal cuplikan, dan konsentrasi.
T=
A = - Log T
A = Log
Keterangan :
T
= Transmitan
A = Absorbansi
I
= Intensitas radiasi yang diteruskan
Io = Intensitas radiasi yang dating
28
BAB III
KERANGKA KONSEP
Latar belakang teh hitam
Pengumpulan bahan dan
pembuatan simplisia
Penapisan fitokimia
Serbuk simplisia teh hitam
Pembuatan ekstrak etanol teh hitam
Hitam
Penapisan fitokimia
dan karakterisasi
ekstrak
Ektrak etanol 70 %
teh hitam
Penentuan panjang gelombang
maksimum ekstrak
Pembuatan krim ekstrak etanol 70 %
teh hitam (Camellia sinensis L.)
Evaluasi sediaan krim
ekstrak etanol 70 % teh
Uji fotostabilitas dan efektivitas tabir surya krim
ekstrak etanol 70 % teh hitam
hitam
Uji fotostabilitas krim
tabir surya
1. Stabilitas
penyimpanan suhu
ruang (28±2 °C)
2. Cycling test
Uji efektivitas krim tabir surya
Penentuan kategori
tabir surya
29
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Tempat dan Waktu Penelitian
4.1.1
Tempat penelitian
Laboratorium Teknologi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pusat Laboratorium
Terpadu (PLT) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4.1.2
Waktu penelitian
Penelitian ini berlangsung dalam waktu 3 bulan, terhitung dari
bulan Maret 2010 sampai dengan Juni 2010.
4.2. Bahan dan Alat
4.2.1 Bahan
Simplisia daun teh hitam (Camellia sinensis L.), air suling, etanol
70 % (Brataco), etanol 95 % (Brataco), asam stearat (Brataco), setil
alkohol (Brataco), vaselin album (Brataco), adeps lanae (Brataco), oleum
olivae
(Brataco),
dimetikon
(Brataco),
metil
paraben
(Brataco),
trietanolamin (TEA) (Brataco), propilenglikol (Brataco), benzofenon-3
(PT. Martina Berto), pereaksi dragendorf, pereaksi Mayer, amil alkohol,
serbuk Magnesium (Mg), asam klorida, besi (III) klorida, gelatin 1 %,
natrium
hidroksida,
isopropanol.
pereaksi
Lieberman-Buchard,
kloralhidrat,
30
4.2.2
Alat
Alat-alat yang digunakan antara lain: neraca analitik digital
(Wigger Hausser), hot plate, oven, tanur, lumpang, alu, rotavapor,
piknometer, spektrofotometer UV-Vis (Perkin Elmer), lampu UV (Camag
UV-Cabinet), viskometer Brookfield, kaca objek, pH meter (MettlerToledo), erlenmeyer, gelas ukur, pipet tetes, ependorf, batang pengaduk,
cawan penguap, cawan porselen, termometer, sentrifugator (Sorvall
Fresco).
4.3. Prosedur Kerja
4.3.1 Pengumpulan bahan dan determinasi
Bahan yang digunakan untuk penelitian adalah teh hitam (Camellia
sinensis L.) diperoleh dari Perkebunan Teh Gunung Mas Bogor (PT.
Perkebunan Nusantara VIII)
yang telah mengalami proses fermentasi
hingga menjadi teh hitam. Determinasi bahan dilakukan di Herbarium
Bogoriense, Pusat Penelitian Biologi, LIPI, Cibinong untuk memastikan
kebenaran simplisia.
4.3.2
Penapisan fitokimia (Farnswoth, 1969)
1) Identifikasi golongan alkaloid
Sebanyak 5 gram serbuk simplisia dilembabkan dengan 5 ml
ammoniak 25 % digerus dalam mortir, kemudian ditambahkan 20 ml
kloroform dan digerus kembali dengan kuat, campuran tersebut
disaring dengan kertas saring, filtrat berupa larutan organik diambil
(sebagai larutan A). Larutan A (10 ml) diekstraksi dengan 10 ml
31
larutan HCl 1:10 dengan pengocokan dalam tabung reaksi, diambil
larutan bagian atasnya (larutan B). Larutam A diteteskan beberapa
tetes pada kertas saring dan disemprot atau ditetesi dengan pereaksi
Dragendorff, terbentuk warna merah atau jingga pada kertas saring
menunjukkan adanya senyawa alkaloid. Larutan B dibagi dalam 2
tabung reaksi, ditambahkan masing-masing pereaksi Dragendorff dan
pereaksi Mayer, terbentuk endapan merah bata dengan pereaksi
Dragendorff atau endapan putih dengan pereaksi Mayer menunjukkan
adanya senyawa alkaloid.
2) Identifikasi golongan flavonoid
Sebanyak 10 gram serbuk simplisia ditambah 100 ml air panas,
dan didihkan selama 5 menit dan disaring. Diambil 5 ml filtratnya
(dalam tabung reaksi), ditambahkan serbuk Mg secukupnya dan 1 ml
asam klorida pekat dan 2 ml amil alkohol, kocok kuat, dan biarkan
memisah. Terbentuknya warna merah, kuning, atau jingga pada lapisan
amil alkohol menunjukkan adanya flavonoid.
3) Identikasi golongan saponin
Serbuk simplisia dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambah
10 ml air panas. Setelah dingin dikocok kuat secara vertikal selama 10
detik. Terbentuknya busa yang stabil, menunjukkan adanya saponin,
bila ditambahkan 1 tetes HCl 1 % busa tetap stabil.
4) Identifikasi golongan tanin
Sebanyak 10 gram serbuk simplisia ditambah 10 ml air,
dididihkan selama 15 menit, setelah dingin kemudian disaring dengan
kertas saring. Filtrat ditambah 1-2 tetes FeCl3 1 %. Terbentuknya
32
warna biru, hijau, atau hitam menunjukkan adanya senyawa golongan
tanin.
5) Identifikasi steroid/triterpenoid
Sebanyak 5 gram serbuk simplisia dimaserasi dalam 20 ml
eter selama 2 jam kemudian disaring. Diuapkan dalam cawan penguap
sampai kering. Ditambahkan 2 tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes
asam sulfat pekat ke dalam residu. Terbetuknya warna hijau atau
merah menunjukkan adanya steroid/triterpenoid.
6) Identifikasi golongan kuinon
Sebanyak
1 gram serbuk simplisia dipanaskan dalam air
selama 5 menit, disaring. Sebanyak 5 ml filtat ditambah beberapa tetes
larutan NaOH 1 N. Terbentuknya warna merah menunjukkan adanya
kuinon.
7) Identifikasi golongan minyak atsiri
Sebanyak 2 gram serbuk simplisia dimasukkan ke dalam tabung
reaksi (volume 20 ml), tambahkan 10 ml pelarut petroleum eter. Pada
mulut tabung dipasang corong yang diberi lapisan kapas yang telah
dibasahi dengan air, kemudian disaring dengan kertas saring. Filtrat
yang diperoleh diuapkan pada cawan penguap, selanjutnya residu
dilarutkan dengan pelarut etanol 95 % sebanyak 5 ml lalu disaring
dengan kertas saring. Filtratnya diuapkan dengan cawan penguap,
residu yang berbau aromatik menunjukkan adanya senyawa golongan
minyak atsiri.
33
4.3.3 Pembuatan ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.)
Pembuatan ekstrak dilakukan dengan cara maserasi. Serbuk
simplisia teh hitam (Camellia sinensis L.) ditimbang sebanyak 500 gram,
kemudian dimasukkan ke dalam erlemenyer, ditambahkan pelarut etanol
70 % sampai serbuk simplisia terendam. Pelarut dilebihkan setinggi
kurang lebih 2,5 cm di atas permukaan serbuk (Harbone, 1987). Proses
maserasi ini dilakukan selama 5x24 jam sambil diaduk. Lalu disaring
menggunakan kapas untuk menyaring ampas. Proses ini dilakukan
berulang-ulang
hingga tidak ada lagi senyawa yang terekstrak yang
ditandai dengan warna pelarut yang jernih atau hampir tidak berwarna.
Filtrat
yang
diperoleh
dikumpulkan,
kemudian
disaring
dengan
menggunakan kertas saring dan diuapkan pelarutnya dengan menggunakan
vakum rotavapor pada suhu 40-50 °C hingga diperoleh ekstrak kental
etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.)
4.3.4
Pemeriksaan karakterisasi ekstrak
A. Parameter spesifik ekstrak
1) Identitas
Pengujian ini dilakukan untuk mencari identitas yang
spesifik dari ekstrak yang diuji.
Pengujian ini meliputi dari
pendeskripsian dari nama ekstrak (nama latin tumbuhan, bagian
tumbuhan yang digunakan, nama Indonesia tumbuhan dan senyawa
identitas yang dapat dijadikan sebagai petunjuk dengan metode
tertentu).
34
2) Organoleptik
Pengujian ini dilakukan dengan meggunakan panca indera
untuk mendeskripsikan dari bentuk, warna, bau, dan rasa.
3) Pemeriksaan keasaman dan kebasaan/pH
Cara : pH ekstrak teh hitam diukur dengan pH meter yang telah
dikalibrasi dengan dapar standar pH 4 dan pH 7.
B. Parameter non spesifik ekstrak (Depkes RI, 2000)
1) Pemeriksaan susut pengeringan
Penetapan susut pengeringan dilakukan dengan metode
gravimetri. Krus tertutup bersih dan kering ditimbang sebagai berat
kosong (a), krus tersebut dimasukkan ekstrak dan ditimbang (b)
dan dipanaskan pada suhu 105 0C selama 30 menit dan ditimbang
(c). Pemanasan dilakukan sampai diperoleh bobot yang tetap.
% Kadar air :
2) Pemeriksaan kadar abu
Krus tertutup bersih dan kering ditimbang sebagai berat
kosong (a), sebanyak 2 gram ekstrak (b) dimasukan ke dalam krus
yang sudah ditara, kemudian dipijarkan di dalam tanur pada suhu
700 0C sampai menjadi abu, didinginkan dan ditimbang hingga
diperoleh bobot yang tetap atau stabil (c).
% Kadar abu =
35
3) Randemen Ekstrak
Randemen ekstrak etanol dihitung dengan membandingkan
berat awal simplisia dan berat akhir ekstrak yang dihasilkan.
% Randemen ekstrak :
4.3.5
Penentuan panjang gelombang maksimum
Panjang gelombang ditentukan pada konsentrasi 100 ppm ekstrak
etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.) yang di larutkan dalam etanol
95 %. Pengukuran dilakukan pada panjang gelombang UV yaitu 200–400
nm (Hasil absorbansi dapat dilihat pada lampiran 4).
4.3.6
Formulasi Krim
Tabel 3. Formula Krim Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam (Camellia
sinensis L.)
Formula (%)
Bahan
Ekstrak daun teh hitam
Asam stearat
Setil Alkohol
Vaselin album
Adeps lanae
Oleum olivae
Nipagin
Trietanolamin
Propilenglikol
Dimetikon
Benzofenon-3
Aquadest ad
KN
KP
KrT 1 %
15
1
4
0,5
4
0,1
1,2
7
1
100
15
1
4
0,5
4
0,1
1,2
7
1
3
100
1
15
1
4
0,5
4
0,1
1,2
7
1
100
KrT 2 % KrT 3 %
2
15
1
4
0,5
4
0,1
1,2
7
1
100
Keterangan: (KN) Kontrol negatif (krim tanpa ekstrak dan tanpa
benzofenon-3), (KP) Kontrol positif (krim mengandung
benzofenon-3), (KrT 1 %) Krim teh 1 %, (KrT 2 %) Krim
teh 2 %, (KrT 3 %) Krim teh 3 %.
3
15
1
4
0,5
4
0,1
1,2
7
1
100
36
4.3.7
Pembuatan sediaan krim ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia
sinensis L.)
a. Fase minyak (asam stearat, setil alkohol, vaselin album, oleum olivae,
benzofenon-3 dan adeps lanae) dipanaskan hingga temperatur 70 oC
(campuran pertama)
b. Fase air (trietanolamin, metil paraben, dimetikon dan propilenglikol)
masing-masing dilarutkan dalam air panas (campuran kedua).
c. Campuran kedua (fasa air) sedikit demi sedikit dimasukkan ke dalam
campuran pertama (fase minyak) pada suhu 70 oC sambil terus diaduk.
Setelah tercampur lalu digerus dalam lumpang yang telah dipanaskan
sampai terbentuk massa krim. Penggerusan dilakukan hingga mencapai
suhu kamar. Setelah dingin ekstrak etanol 70 % daun teh hitam
dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam basis sambil terus diaduk
hingga homogen.
4.3.8
Evaluasi sediaan krim tabir surya
1) Pengamatan organoleptis
pengamatan organoleptis dapat dinilai dari tekstur sediaan yang
stabil meliputi perubahan warna dan bau krim. Pengamatan dilakukan
terhadap krim yang baru dibuat dan yang telah disimpan.
2) Homogenitas
Pengujian homogenitas ini dilakukan dengan cara mengoleskan
krim yang telah dibuat pada kaca objek, kemudian dikatupkan dengan
kaca objek yang lainnya dan dilihat apakah basis tersebut homogen
dan apakah permukaannya halus merata. Pengukuran dilakukan pada
krim yang yang baru dibuat dan yang telah disimpan.
37
3) Pengukuran pH
Krim dimasukkan ke dalam wadah, lalu diukur pHnya dengan
pH meter yang sebelumnya telah dikalibrasi dengan dapar standar (pH
4 dan pH 7). Pengukuran dilakukan pada krim yang baru dibuat dan
krim telah disimpan.
4) Uji viskositas
Penentuan viskositas
menggunakan
alat
sediaan krim
viskometer
Brookfield
dilakukan dengan
digital
dengan
menggunakan spindel R6 dan dengan kecepatan putar sebesar 12
rpm. Penentuan viskositas ini bertujuan untuk mengetahui adanya
perubahan kekentalan pada tiap formula krim.
Pembacaan hasil
viskositas dalam Cp. Pengukuran dilakukan pada krim yang baru
dibuat dan krim yang telah disimpan.
5) Sentrifugasi.
Pengujian dilakukan dengan cara memasukan sediaan krim
kedalam tabung sentrifugasi, kemudian diputar pada 2.000-3.000
rpm selama 30 menit, kemudian diamati perubahan fisiknya apakah
terjadi pemisahan. Pengukuran dilakukan pada krim yang baru dibuat
dan yang telah disimpan.
6) Uji stabilitas penyimpanan
Krim disimpan selama 4 minggu pada temperatur ruang
(28±2 °C). Kemudian dievaluasi setiap minggunya meliputi
organoleptis, homogenitas, viskositas, dan pH.
38
7) Evaluasi Cycling test
Sediaan diletakkan pada suhu 2-4 °C selama 2 hari
dilanjutkan dengan meletakkan sediaan pada suhu 40 °C selama 2
hari (1 siklus) pemeriksaan dilakukan sebanyak 3 siklus dan diamati
terjadinya perubahan fisik dari sediaan krim pada sebelum cycling
test dan sesudah cycling test.
4.3.9 Uji fotostabilitas krim tabir surya (Nining, 2005)
1) Pengukuran serapan awal krim.
Setiap formula ditimbang sebanyak 0,3 gram kemudian
dilarutkan dalam 30 ml etanol 95 % dan diukur serapannya dengan
spektrofotometer UV pada panjang gelombang maksimum yang telah
diperoleh (293,4 nm)
2) Pengukuran perubahan serapan krim setelah beberapa waktu
penyinaran dengan sinar UV.
Setiap formula ditimbang 0,3 gram selanjutnya dioleskan
secara merata pada kaca objek dan disinari dengan UV pada panjang
gelombang 366 nm. Lama sinar bervariasi selama 30, 60, 90, dan 120
menit. Kemudian krim yang telah dipaparkan dilarutkan dalam 30 ml
etanol 95 % dan diukur serapannya dengan spektrofotometer pada
panjang gelombang yang telah diperoleh (293,4 nm).
4.3.10 Pengolahan data
Hasil percobaan dihitung dan diolah secara statistik. Data uji
fotostabilitas
krim dibuat antara absorbansi terhadap lamanya waktu
paparan sinar UV 366 nm (menit) dan dianalisis dengan metode Analisia
Varian satu arah (ANAVA).
39
4.3.11 Uji efektivitas krim kabir surya
1) Uji efektivitas tabir surya ekstrak etanol 70 % teh hitam
Dibuat larutan induk ekstrak etanol 70 % teh hitam dalam
etanol 95 % dengan konsentrasi 500 ppm. Dari larutan induk tersebut
dibuat seri larutan dengan konsentrasi 40, 60, 80, 100, dan 120 ppm
yang diukur serapannya setiap 5 nm pada rentang panjang gelombang
292,5-372,5 nm. Dan dihitung % Te dan % Tp.
2) Uji efektivitas krim tabir surya
Setiap formula ditimbang 1,25 gram dilarutkan dalam etanol 95
% sampai 25 mL. Kemudian diambil 5 mL larutan, diencerkan dengan
etanol 95 % hingga 25 mL. Masing-masing
larutan diamati
serapannya setiap 5 nm pada rentang panjang gelombang eritema dan
pigmentasi yaitu pada panjang gelombang 292,5-372,5 nm, kemudian
dihitung % Te dan % Tp, berdasarkan rumus:
% Te =
% Tp =
∑
∑
∑
∑
Keterangan:
% Te
= Nilai persen transmisi eritema
% Tp
= Nilai persen transmisi pigmentasi
Ee
=∑
Ep
=∑
Serta menentukan kategori tabir surya yang diperoleh dari nilai
% Te dan % Tp.
40
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1
Pengumpulan bahan dan determinasi
Bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah teh hitam yang
diperoleh dari Perkebunan Teh Gunung Mas Bogor (PT. Perkebunan
Nusantara VIII).
Determinasi tanaman dilakukan di Herbarium Bogoriense, Pusat
Penelitian Biologi LIPI Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Hasil determinasi
menunjukan bahwa tanaman ini adalah daun teh (Camellia sinensis L.)
suku Theaceae.
5.1.2
Penapisan fitokimia
Tabel 4. Hasil Penapisan Fitokimia
Golongan
Hasil penapisan
Hasil penapisan
simplisia
ekstrak
Alkaloid
+
+
Flavonoid
+
+
Tanin
+
+
Saponin
+
+
Steroid/Triterpenoid
Minyak Atsiri
Kuinon
+
+
Keterangan: (+) Menunjukan reaksi positif, (-) Menunjukan reaksi
negatif
5.1.3
Ekstraksi serbuk teh hitam
Hasil ekstraksi dari 500 gram serbuk simplisia kering teh hitam
(Camellia sinensis L.) diperoleh ekstrak kental berwarna hitam sebanyak
164 gram dengan rendemen ekstrak 32,8 %. Perhitungan randemen dapat
dilihat pada lampiran 5.
41
5.1.4
Karakterisasi ekstrak etenol 70 % teh hitam
Tabel 5. Hasil Karakterisasi Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam
Jenis Karakterisasi
Parameter Spesifik:
Identitas
Nama Identitas
Nama latin tumbuhan
Bagian tumbuhan yang digunakan
Nama Indonesia tumbuhan
Organoleptik
Bentuk
Warna
Bau
Rasa
pH
Bobot Jenis
Parameter Non Spesifik
Kadar Abu
Susut pengeringan
Rendemen
Hasil
Ekstrak kental etanol 70 % teh hitam
Camellia sinensis L.
Daun
Enteh / teh
Kental
Hitam
Khas (tajam)
Pahit
5,62
0,874 gram/ml
0,36 %
6,21 %
32,8 %
Hasil perhitungan karakterisasi ekstrak dapat dilihat pada lampiran 5.
5.1.5
Penentuan panjang gelombang maksimum
Panjang gelombang maksimum ekstrak etanol 70 % teh hitam
(Camellia sinensis L.) yaitu 293,4 nm. Hasil dapat dilihat pada lampiran 4.
5.1.6
Evaluasi krim
1) Uji stabilitas penyimpanan
Stabilitas krim disimpan pada suhu ruang (28±2 °C) selama 4
minggu. Kemudian dievaluasi setiap minggunya meliputi organoleptis,
homogenitas, viskositas, dan pH.
42
Tabel 6. Hasil Pemeriksaan Organoleptis
Minggu ke0
1
2
3
Warna putih;
Warna putih;
Warna putih;
Warna putih;
bau oleum
bau oleum
bau oleum
bau oleum
Rosae
rosae
rosae
rosae
KP
Warna putih;
Warna putih;
Warna putih;
Warna putih;
bau oleum
bau oleum
bau oleum
bau oleum
rosae
rosae
rosae
rosae
KrT
Warna cokelat Warna cokelat Warna cokelat Warna cokelat
1%
muda; bau
muda; bau
muda; bau
muda; bau
oleum rosae
oleum rosae
oleum rosae
oleum rosae
KrT
Warna cokelat Warna cokelat Warna cokelat Warna cokelat
2%
muda; bau
muda; bau
muda; bau
muda; bau
oleum rosae
oleum rosae
oleum rosae
oleum rosae
KrT
Warna
Warna
Warna
Warna
3%
cokelat; bau
cokelat; bau
cokelat; bau
cokelat; bau
oleum rosae
oleumrosae
oleum rosae
oleum rosae
Keterangan: (KN) Kontrol negatif, (KP) Kontrol positif, (KrT 1 %) Krim
%, (KrT 2 %) Krim teh 2 %, (KrT 3 %) Krim teh 3 %.
Formula
KN
4
Warna putih;
bau oleum
rosae
Warna putih;
bau oleum
rosae
Warna cokelat
muda; bau
oleum rosae
Warna cokelat
muda; bau
oleum rosae
Warna cokelat;
bau oleum
rosae
teh 1
Tabel 7. Hasil Pemeriksaan Homogenitas
Formula
KN
KP
KrT 1 %
KrT 2 %
KrT 3 %
0
homogen
homogen
homogen
homogen
homogen
1
homogen
homogen
homogen
homogen
homogen
Minggu ke2
homogen
homogen
homogen
homogen
homogen
3
homogen
homogen
homogen
homogen
homogen
Tabel 8. Hasil Pemeriksaan Sentrifugasi
Minggu keFormula
KN
KP
KrT 1 %
KrT 2 %
KrT 3 %
0
Tidak memisah
Tidak memisah
Tidak memisah
Tidak memisah
Tidak memisah
4
Tidak memisah
Tidak memisah
Tidak memisah
Tidak memisah
Tidak memisah
4
homogen
homogen
homogen
homogen
homogen
43
Tabel 9. Hasil Pemeriksaan pH
Formula
0
7,43
7,50
7,35
7,40
7,39
KN
KP
KrT 1 %
KrT 2 %
KrT 3 %
Minggu ke2
7,30
7,22
7,19
7,11
7,18
1
7,38
7,46
7,30
7,28
7,21
3
7,24
7,01
7,15
7,06
7,11
4
7,13
7,00
7,04
6,86
6,94
7,6
7,4
7,2
p
H
7
6,8
6,6
6,4
0
1
2
3
4
Minggu keKN
KP
KrT 1 %
KrT 2%
KrT 3 %
Gambar 3. Kurva Hubungan antara pH dengan Waktu Penyimpanan
Tabel 10. Hasil Pemeriksaan Viskositas (Cp)
Formula
0
34600
43800
42400
46200
40100
KN
KP
KrT 1 %
KrT 2 %
KrT 3%
Minggu ke2
41400
49300
48300
47800
49200
1
36100
47400
44800
46800
44100
3
47200
51200
50400
49800
52100
4
52200
51800
57200
53600
60700
viskositas (cp)
80000
60000
40000
20000
0
0
KN
1
KP
2
3
Minggu keKrT 1 %
KrT 2%
4
KT 3 %
Gambar 4. Kurva Hubungan antara Viskositas dengan Waktu
Penyimpanan
44
2) Evaluasi Cycling Test
Pemeriksaan dilakukan sebanyak 3 siklus dan diamati
terjadinya perubahan fisik dari sediaan krim pada sebelum cycling test
dan sesudah cycling test.
Tabel 11. Hasil Pemeriksaan Organoleptis
Formula
Organoleptis
Sebelum cycling test
Sesudah cycling test
KN
Warna putih;
Warna putih;
bau oleum rosae
bau oleum rosae
KP
Warna putih;
Warna putih;
bau oleum rosae
bau oleum rosae
KrT 1 %
Warna cokelat muda;
Warna cokelat muda;
bau oleum rosae
bau oleum rosae
KrT 2 %
Warna cokelat muda;
Warna cokelat muda;
bau oleum rosae
bau oleum rosae
KrT 3 %
Warna cokelat;
Warna cokelat;
bau oleum rosae
bau oleum rosae
Keterangan: (KN) Kontrol negatif, (KP) Kontrol positif, (KrT 1%) Krim
teh 1 %, (KrT 2 %) Krim teh 2 %, (KrT 3 %) Krim teh 3 %.
Tabel 12. Hasil Pemeriksaan Homogenitas
Formula
KN
KP
KrT 1 %
KrT 2 %
KrT 3 %
Homogenitas
Sebelum cycling test
Sesudah cycling test
homogen
homogen
homogen
homogen
homogen
homogen
homogen
homogen
homogen
homogen
Tabel 13. Hasil Pemeriksaan Sentrifugasi
Formula
KN
KP
KrT 1 %
KrT 2 %
KrT 3 %
Sentrifugasi
Sebelum cycling test
Sesudah cycling test
Tidak memisah
Tidak memisah
Tidak memisah
Tidak memisah
Tidak memisah
Tidak memisah
Tidak memisah
Tidak memisah
Tidak memisah
Tidak memisah
45
Tabel 14. Hasil Pemeriksaan pH
Formula
pH
Sebelum cycling test
7,30
7,52
7,28
7,33
7,41
KN
KP
KrT 1 %
KrT 2 %
KrT 3 %
Sesudah cycling test
7,24
7,47
7,16
7,21
7,23
7,6
pH
7,4
7,2
7
6,8
sebelum
sesudah
KN
KP
Siklus
KrT 1 %
KrT 2%
KrT 3 %
Gambar 5. Kurva Hubungan antara pH dengan Stabilitas
Penyimpanan Cycling Test.
Tabel 15. Hasil Pemeriksaan Viskositas
Formula
KN
KP
KT 1 %
KT 2 %
KT 3 %
Viskositas
Sebelum cycling test
Sesudah cycling test
36900
38100
44200
45400
36500
39200
32500
34500
33900
36600
Viskositas (cp)
50000
40000
30000
20000
10000
0
sebelum
FN
sesudah
FP
Siklus
KT 1 %
KT 2%
KT 3 %
Gambar 6. Kurva Hubungan antara Viskositas dengan Stabilitas
Penyimpanan pada Cycling Test
46
Uji fotostabilitas krim
Tabel 16. Hasil Pengukuran Perubahan Serapan Krim Sebelum dan
Sesudah Beberapa Waktu Penyinaran dengan Sinar UV
366 nm.
KN
Absorban ratarata sebelum
penyinaran *
(0 menit)
0,2522
30 menit
0,2203
60 menit
0,1937
90 menit
0,1372
120 menit
0,1267
KP 3 %
1,9222
1,8272
1,7526
1,6845
1,5949
KrT 1 %
0,7514
0,6685
0,6202
0,5771
0,5015
KrT 2 %
0,7844
0,7026
0,6601
0,6066
0,5544
KrT 3 %
0,8443
0,7591
0,7029
0,6408
0,5941
Formula
Absorban rata-rata setelah penyinaran*
* Pengukuran dilakukan dengan spektrofotometer
pada panjang
gelombang maksimum 293,4 nm dengan tiga kali pengukuran
Keterangan: (KN) Kontrol negatif (krim tanpa ekstrak dan tanpa
benzofenon-3), (KP) Kontrol positif (krim mengandung
benzofenon-3), (KrT 1 %) Krim teh 1 %, (KrT 2 %) Krim
teh 2 %, (KrT 3 %) Krim teh 3 %.
2,5
2
Absorbansi
5.1.7
1,5
1
0,5
0
0
30
60
90
120
Waktu (menit)
KN
KP
KrT 1 %
KrT 2 %
KrT 3 %
Gambar 7. Kurva Hubungan antara Absorbansi dengan Lamanya
Waktu Paparan Sinar UV 366 nm
47
5.1.8 Uji efektivitas krim
Tabel 17. Uji Efektivitas Tabir Surya Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam
(Data dapat dilihat pada lampiran 7)
Konsentrasi
(ppm)
40
60
80
100
120
Ee
Ep
% Te
% Tp
5,5424
4,2507
4,0064
3,7672
3,5195
2,6084
2,0116
1,6484
1,5653
1,5299
2,4829
1,9042
1,7948
1,6876
1,5766
3,7574
2,8977
2,3746
2,2548
2,2038
Kategori Penilaian
Aktivitas
Proteksi ultra
Proteksi ultra
Proteksi ultra
Proteksi ultra
Proteksi ultra
Tabel 18. Uji Efektivitas Krim Tabir Surya
Formula
Ee
Ep
% Te
% Tp
KP
KrT 1 %
KrT 2 %
KrT 3 %
0,0877
1,5510
0,9187
0,7161
0,0589
0,8536
0,5383
0,3143
0,0392
0,6948
0,4115
0,3208
0,0848
1,1229
0,7754
0,4527
Kategori Penilaian
Aktivitas
Sunblock eritema
Sunblock eritema
Sunblock eritema
Sunblock eritema
Keterangan:
% Te =
% Tp =
∑
∑
∑
∑
Ee = ∑
Ep = ∑
5.2
Pembahasan
Determinasi bahan dilakukan di Herbarium Pusat Penelitian Biologi
LIPI Cibinong-Bogor dan menunjukan bahwa tumbuhan yang digunakan
sebagai bahan baku adalah daun teh (Camellia sinensis L.) yang termasuk
dalam suku Camelliaceae (Theaceae) dengan marga Camellia.
48
Proses pembuatan ekstrak dilakukan dengan metode maserasi dengan
menggunakan etanol 70 % yang telah didestilasi sebelumnya. Penggunaan
metode
maserasi
merupakan
metode
yang
cukup
efektif
dalam
mengekstraksi suatu simplisia, keuntungan menggunakan metode ini adalah
dapat terhindar dari kerusakan senyawa aktif yang terkandung dalam suatu
simplisia yang mungkin diakibatkan oleh faktor suhu. Akan tetapi dalam
menggunakan metode ini ternyata masih banyak kekurangan di antaranya
yaitu membutuhkan waktu yang cukup lama dan membutuhkan pelarut yang
cukup banyak.
Proses maserasi dilakukan sebanyak 5x24 jam dengan sesekali
pengocokan dan penggunaan pelarut yang baru hingga tidak ada lagi
senyawa yang terekstrak yang ditandai dengan warna pelarut yang jernih
atau hampir tidak berwarna. Tujuan penggunaan pelarut etanol 70 % ini
adalah untuk menarik senyawa metabolit sekunder dalam simplisia. Ekstrak
cair yang telah diperoleh kemudian dipekatkan dengan menggunakan
penguap vakum putar (rotavapor) pada suhu 40-50 °C sampai diperoleh
ekstrak yang kental. Suhu 40-50 °C merupakan suhu optimum untuk bisa
menguapkan pelarut etanol, karena jika kurang dari suhu tersebut dapat
menjadikan proses evaporasi semakin lama, dan jika suhu yang digunakan
lebih dari suhu tersebut dikhawatirkan akan terjadi bumping sehingga proses
evaporasi tidak maksimal dan tidak efektif. Dari hasil proses ekstraksi yang
dilakukan diperoleh ekstrak kental etanol yang berwarna hitam sebesar 164
gram dengan randemen 32,8 % dari berat kering simplisia teh hitam
(Camellia sinensis L.)
49
Pada penelitian sebelumnya telah terbukti bahwa ekstrak air teh
hitam yang dibuat sediaan gel dapat berpotensi sebagai tabir surya
(Turkoglu. Cigirgil, 2007). Karena dalam penelitian ini sediaan tabir surya
dibuat dalam bentuk sediaan krim yang menggunakan air lebih sedikit maka
ekstrak yang digunakan adalah ekstrak etanol 70 % teh hitam. Krim
merupakan sediaan yang memiliki keuntungan berupa nilai estetikanya yang
cukup tinggi dan tingkat kenyamanan dalam penggunaannya yang cukup
baik. Di samping itu, sediaan krim ini merupakan sediaan yang mudah
dicuci, bersifat tidak lengket, memberikan efek melembabkan kulit, serta
memiliki kemampuan penyebaran yang baik (Ansel, 1989).
Formula krim yang dibuat dibedakan berdasarkan variasi konsentrasi
ekstrak yang digunakan yang terbagi dalam tiga konsentrasi yaitu 1 %, 2 %,
dan 3 %. Konsentrasi ekstrak yang digunakan ini diambil berdasarkan
konsentrasi
yang digunakan dalam penentuan panjang gelombang
maksimum ekstrak. Formula krim juga dibuat tanpa menggunakan ekstrak
sebagai kontrol negatif dan menggunakan benzofenon-3 3 % sebagai kontrol
positif. Pembuatan formula kontrol negatif untuk melihat perbedaan antara
formula krim yang menggunakan ekstrak dan tidak. Sedangkan pembuatan
formula kontrol positif untuk melihat perbedaan efektivitasnya sebagai tabir
surya yang dibandingkan dengan yang menggunakan ekstrak dalam formula
krim ini.
Evaluasi stabilitas fisik sediaan krim dalam penelitian ini dilakukan
dengan 2 metode uji. Pertama, menggunakan evaluasi krim berdasarkan uji
stabilitas penyimpanan pada
suhu ruang (28±2 °C) selama 4 minggu.
50
Kedua, evaluasi krim berdasarkan metode uji dipercepat (Cycling test).
Cycling test merupakan simulasi perjalanan suatu sediaan farmasi pada saat
di distribusikan, di mana sediaan akan berada pada suatu tempat yang
berbeda, dan tempat tersebut dapat memiliki kondisi/suhu yang berbeda
(Sarfaraz, 2004).
Dari hasil pemeriksaan organoleptis dan sentrifugasi baik pada uji
stabilitas penyimpanan suhu ruang (28±2 °C) maupun pada uji cycling test,
kelima formula (KN, KP, KT 1 %, KT 2 % dan KT 3 %) krim tidak
mengalami perubahan warna, bau, dan homogenitas. Hal tersebut
menunjukan bahwa kelima formula krim memiliki penampilan yang baik
dan memiliki kestabilan yang baik pula.
Uji derajat keasaman atau kebasaan (pH) merupakan parameter
fisikokimia yang harus dilakukan pada pengujian sediaan topikal (dermal),
karena pH sediaan dapat mempengaruhi efektivitas, stabilitas, dan
kenyamanan penggunaan sediaan pada kulit. Apabila sediaan bersifat basa
(tidak masuk dalam rentang pH kulit 4,5-6,5) akan mengakibatkan kulit
terasa licin, cepat kering, dan dikhawatirkan akan mempengaruhi elastisitas
kulit, namun apabila sediaan bersifat asam dengan rentang pH di bawah
rentang pH kulit akan mengakibatkan kulit mudah teriritasi (Iswari, 2007).
Dari hasil pengamatan pH baik pada uji stabilitas penyimpanan suhu ruang
maupun pada uji cycling test menunjukkan nilai pH yang tinggi. Hal ini
disebabkan oleh salah satu basis krim yang memiliki nilai pH lebih tinggi.
Salah satu basis krim tersebut adalah trietanolamin (TEA) yang memiliki
gugus amin yang bersifat basa, dan tidak dipengaruhi oleh ekstrak etanol
51
70% teh hitam. Perbedaan pH sediaan dapat mempengaruhi efektivitas, jika
pH basa menyebabkan pergeseran batokromik sedangkan jika pH asam
terjadi pergeseran hipsokromik (Nadim, 1990). Pergeseran panjang
gelombang maksimum menyebabkan perubahan kemampuan menyerap UV
sehingga mempengaruhi efektivitasnya. Dalam penelitian ini perbedaan pH
sediaan tidak menyebabkan perbedaan efektivitas tabir surya yang
bermakna. Hal ini disebabkan pada rentang pH tersebut belum terjadi
pergeseran panjang gelombang maksimum. Sebab pergeseran panjang
gelombang maksimum terjadi apabila pH sediaan di atas 9 atau di bawah 4
(Nadim, 1990). Hasil uji pH pada kedua evaluasi stabilitas fisik ini juga
mengalami penurunan. Hal ini belum diketahui penyebabnya, namun
mungkin hal tersebut disebabkan wadah yang tidak kedap udara sehingga
CO2 dapat masuk ke dalam wadah, dan gas CO2 bereaksi dengan air
sehingga menyebabkan turunnya nilai pH.
Pemeriksaan viskositas krim baik berdasarkan uji stabilitas
penyimpanan pada suhu ruang maupun uji cycling test dilakukan dengan
menggunakan viskometer Brookfield pada kecepatan 12 rpm, dengan
spindel no. 6. Kelima formula mengalami peningkatan nilai viskositas. Hal
ini disebabkan oleh berkurangnya kadar air pada sediaan. Viskositas sediaan
setengah padat juga bisa meningkat dengan meningkatnya umur sediaan
(Lachman, 1994).
Uji fotostabilitas sediaan tabir surya ini dilakukan dengan cara
mengukur serapan yang dimiliki kelima formula krim baik sebelum maupun
sesudah pemaparan dengan sinar UV. Hasil pengukuran tersebut
52
menunjukkan bahwa serapan sediaan mengalami penurunan yang dimulai
pada menit ke-30 sampai dengan menit ke-120 (dapat dilihat pada tabel 16).
Hal ini mungkin disebabkan oleh konsentrasi ekstrak etanol 70 % teh hitam
sebagai bahan pelindung dari sinar UV yang semakin kecil karena
mengalami kerusakan dengan adanya pengaruh penyinaran. Sesuai dengan
data uji fotostabilitas bahwa semakin lama waktu penyinaran, ekstrak etanol
70 % teh hitam yang rusak semakin meningkat sehingga tidak bisa lagi
secara optimal melindungi kulit (Iswari, 2007).
Data yang diperoleh dianalisa secara statistik dengan perangkat
lunak SPSS 17.0 menggunakan metode analisa varian satu arah (ANOVA)
(Lampiran 7). Metode ini digunakan untuk melihat adanya kesamaan atau
perbedaan rata-rata penurunan persentase aktivitas krim tabir surya pada
setiap formula. Untuk analisa data menggunakan metode ANOVA terlebih
dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas, hal ini bertujuan untuk
mengetahui homogenitas dan distribusi data yang normal atau tidak. Dari
hasil uji tersebut dapat dilihat bahwa data pada menit ke-0, 30, 60, 90, dan
120 terdistribusi normal dan data pada menit ke-0, 30, 60, 90, dan 120 menit
juga terlihat homogen karena tidak memiliki perbedaan yang bermakna (p ≥
0,05). Terhadap seluruh formula yang tidak memiliki perbedaan secara
bermakna dilanjutkan uji beda nyata terkecil (BNT) dengan metode LSD,
untuk menentukan formula mana yang memberikan nilai yang tidak berbeda
secara bermakna dengan formula lainnya. Dari data hasil uji BNT tersebut
diketahui bahwa pada menit ke-0, 30, 60, 90, dan 120 formula uji (1 % dan 2
%) dan kontrol negatif (KN) tidak mempunyai efek yang hampir sama
53
dengan kontrol positif (KP), hal ini dibuktikan dengan adanya perbedaan
yang bermakna dengan kontrol positif (p ≤ 0,05). Pada menit ke-0, 30, 60,
90, dan 120 formula uji (1 %, 2 %, dan 3 %) dan kontrol positif (KP) tidak
mempunyai efek yang hampir sama dengan kontrol negatif (KN), hal ini
dibuktikan dengan adanya perbedaan yang bermakna dengan kontrol negatif
(p ≤ 0,05). Sedangkan pada menit ke-0, 30, 60, 90, dan 120 formula uji (3
%) mempunyai efek yang hampir sama dengan kontrol positif (KP), hal ini
dibuktikan dengan tidak adanya perbedaan yang bermakna dengan kontrol
positif (p ≥ 0,05).
Efektivitas krim tabir surya dilihat berdasarkan nilai persen transmisi
eritema (% Te) dan persen transmisi pigmentasi (% Tp). Serapan dari
masing-masing formula diukur setiap 5 nm pada rentang panjang gelombang
292,5-372,5 nm, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui efektivitas
perlindungan yang diberikan dan untuk mengetahui kategori perlindungan
yang diberikan oleh sediaan tabir surya.
Berdasarkan hasil pengukuran absorbansi dan perhitungan, baik nilai
persen transmisi eritema maupun persen transmisi pigmentasi mengalami
perubahan. Semakin besarnya konsentrasi ekstrak etanol 70 % teh hitam
yang ditambahkan ke dalam sediaan maka % Te yang dihasilkan semakin
kecil. Hal ini disebabkan karena kemampuan untuk menyerap sinar UV yang
menjadi besar sehingga sinar UV yang dapat diteruskan ke permukaan kulit
semakin kecil.
Dari hasil perhitungan persen transmisi eritema dan persen transmisi
pigmentasi seluruh formula uji (KrT 1 %, KrT 2 %, dan KrT 3 %) berturut-
54
turut memiliki nilai % Te 0,6948; 0,4115; dan 0,3208, sedangkan % Tp
1,1229; 0,7754; dan 0,4527. Dari data nilai % Te dan % Tp tersebut, ketiga
formula krim termasuk tabir surya dengan kategori penilaian sebagai
sunblock (Balsam,1972). Karena syarat nilai persen transmisi eritama untuk
sunblock (% Te<1) dan persen transmisi pigmentasi (% Tp 3-40) sehingga
semua formula uji hanya memenuhi pada % Te saja (% Te < 1), artinya
sediaan krim yang mengandung ekstrak etanol 70 % teh hitam hanya mampu
menahan kulit agar tidak terjadi eritema/kemerahan bukan menahan
pigmentasi. Hal ini mungkin disebabkan karena pada formula krim yang
mengandung ekstrak etanol 70 % teh hitam memiliki daya serap pada UV B
Zheng, 2008 ) dan diketahui bahwa UV B menyebabkan efek eritema pada
kulit. Dengan adanya ekstrak etanol 70 % teh hitam tersebut maka sinar UV
B akan terserap sehingga efek eritemanya menurun.
55
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1
Kesimpulan
1. Ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.) dapat dibuat
menjadi sediaan krim yang baik dan stabil dengan menggunakan variasi
konsentrasi ekstrak (1 %, 2 %, dan 3 %).
2. Krim ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.) mempunyai
efektivitas sebagai tabir surya, dengan ditunjukkan pada panjang
gelombang ekstrak yang termasuk dalam daerah UV-B, yaitu 293,4 nm
yang dikategorikan sebagai sunblock pada daerah eritema. Sediaan ini
juga memiliki nilai fotostabilitas yang dapat dilihat dari hasil statistik,
dimana formula uji (3 %) memiliki aktivitas yang hampir sama dengan
formula kontrol positif.
6.2 Saran
Diperlukan penelitian lanjutan mengenai:
1. Uji fotostabilitas untuk pemaparan dengan sinar UV sebaiknya
menggunakan sinar UV utuh/ sinar UV yang sesuai dengan UV
sebenarnya agar hasil yang diperoleh lebih akurat.
2. Evaluasi stabilitas fisik nilai pH krim belum sesuai dengan pH kulit
maka perlu dilakukan pengurangan penggunaan basa (trietanolamin)
dalam formulasi krim untuk mendapatkan krim yang lebih baik.
3. Dilakukan uji efektivitas tabir surya pada konsentrasi ideal dengan
metode in vivo.
56
4. Ekstrak etanol 70 % teh hitam mempunyai serapan panjang gelombang
maksimum pada 293,4 nm yang merupakan daerah UV B, maka perlu
dilakukan kombinasi dengan bahan aktif yang mampu menyerap sinar
UV A untuk menghasilkan sediaan tabir surya yang efektif sebagai
pelindung yang baik terhadap UV A dan UV B.
57
58
59
60
DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh. 1993. Farmasetika. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.
Hal 49, 115, 118-120.
Anief, Moh. 1997. Formulasi Obat Topikal dengan Dasar Penyakit Kulit.
Gadjah Mada University Press : Yogyakarta. Hal 1-2, 7-8, 58.
Anonim. 2007. http://www.kalbe.co.id/?mn=news&tipe=articles. Diakses
tanggal 10 januari 2009 pukul 19.30.
Anonim. 2010. http://reshaardianto.ac.id/2010/02/04/kandungan-teh-hitam/.
Diakses tanggal 25 februari 2010 pukul 11.45
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Keempat.
Penerjemah Farida Ibrahim. UI Press : Jakarta. Hal 376, 380, 513.
Astuti, Fitria. 2005. Analisis Kimia Teh Hitam Berdasarkan standar Nasional
Indonesia 01-1902-1995. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam. Skripsi Universitas Indonesia, Depok
Balsam, MS. And Sagarin E. 1972. Cosmetic Science and Technology. 2nd ed.
John Willey and Sons Inc, New York. Hal. 197-291
Departemen Kesehatan RI. 1978. Farmakope Indonesia Edisi III. Direktorat
Jendral Pengawasan Obat dan Makanan : Jakarta. Hal 9
Departemen Kesehatan RI. 1985. Cara Pembuatan Simplisia. Direktorat
Jendral Pengawasan Obat dan Makanan : Jakarta. Hal 122-123.
Departemen Kesehatan RI. 1985. Formularium Kosmetika Indonesia.
Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan : Jakarta. Hal 22,
30, 32.
Departemen Kesehatan RI. 1993. Kodeks Kosmetika Indonesia. Direktorat
Jendral Pengawasan Obat dan Makanan : Jakarta. Hal 52, 246, 481483, 247, 406, 489.
Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Direktorat
Jendral Pengawasan Obat dan Makanan : Jakarta. Hal 6, 1030
Departemen Kesehatan RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak
Tumbuhan Obat. Direktorat Pengawasan Obat Tradisional : Jakarta.
Hal 1, 9-12.
57
58
Diana. Zoe Draelos, Thaman. Lauren. A, 2006. Cosmetic Formulation of skin
Care Product. Taylor and Francis Group. Hal. 3-8
Djuanda, adhi. Hamzah, mochtar. Dan Aisyah, siti, 2007. Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin. Edisi. V, FKUI, Jakatra. Hal. 3-8
Farnsworth, N.R. 1969. Biological and Phytochemical Screening of Plants.
journal pharmaceutical science. Hal 255 – 265
Graaff, Kent M Van De & R Ward Rhees. 2001. Scauhm’s Easy Outlines
Human Anatomy and Physiology. McGraw-Hill : New York. Hal 29.
G.M.,Rahma.
Tabir
Surya.
Diambil
dari
URL:
http://rgmaisyah.files.wordpress.com/2009/04/tabir-surya.pdf.
Diakses tanggal 6 Februari 2010, pukul 10.45 WIB
Gumilar, Laras. 2004. Skripsi : Penentuan Efektivitas Krim Ekstrak Etanol
Daun Singkong (Manihot utillisima Pohl) Secara In-Vitro Sebagai
Tabir Surya, Bandung.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis
Tumbuhan. Penerbit ITB : Bandung. Hal 6-7.
Harry, R.G. 1975. The Principles and Practice of Industrial Pharmacy, 2nd
ed. Leo and Febiger : Philadelphia. Hal 417, 427-428.
Indah Firdausi, Nur. 2009. Isolasi Senyawa Etil Para Metoksi Sinamat
(Epms) Dari Rimpang Kencur Sebagai Bahan Tabir Surya Pada
Industri Kosmetik. Karya Ilmiah, Jurusan Kimia, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri
Malang. Diambil dari URL: http://darsono-sigit.um.ac.idwpcontentuploads200911nur-indah-firdausi.pdf. Diakses tanggal 5
Februari 2010, pukul 14.22 WIB
Iswari Trangono. Retno, Latifah. Fatma, 2007. Buku Pegangan Ilmu
Pengetahuan Kosmetik. PT. Gramedia, Jakarta. Hal. 12, 26-30, 48,
81-86.
Lachman L, Lieberman HA, Kanig JL. 1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri II Edisi Ketiga. Alih bahasa Suyatmi S. UI Press : Jakarta.
Hal 1042, 1051, 1064, 1087.
Levin, Cheryl BA; Howard Maibach, MD. 2002. Explorationof“Alternative”
and “Natural” Drugs in Dermatology. University of California–San
Francisco Medical Center.
59
Markham, K.R,. 1988. Cara Mengidentifikasi Flavonoid, Terjemahan
Kosasih Padmawinata, Penerbit ITB Bandung, Bandung. Hal. 1-10,
15
Martin A, Swarbick J, Cammarat A. 1993. Farmasi Fisik Jilid II Edisi
Ketiga. Penerjemah Yoshita. UI Press : Jakarta. Hal 766, 827-843,
1023-1026, 1100-1101.
Mitsui, T.Phd. . 1997. New Cosmetics Science. Elseveir. Amsterdam. Hal.
341-351.
Mulja, M dan Suharman, 1995. Analisis Instrumental. Airlangga Univ Press.
Surabaya. Hal. 26-60
Niazi, Sarfaraz K. 2004. Pharmaceutical Manufacturing Formulations
Semisolid Products Volume 4. CRC Press. New York Washington,
D.C.
Oen, L.H, Dr, dkk. 1986. Dasar-Dasar Kosmetologi Kedokteran. Cermin
Dunia Kedokteran No 41. Penerbit : Pusat Penelitian dan
Pengembangan PT. Kalbe Farma.
Outeahealing. 2007. Kandungan Teh Hitam. (online)
http://outeahealing.wordpress.com/2007/11/17/kandungan-teh
hitam/, diakses tanggal 9 November 2009
Shaath, nadim. 2005. Sunscreen; Regulation and Commercial Development.
3rd ed. Taylor and Francis Group. New york.
Silverstein, Bassler and Morrill. 1986. Penyidikan Spektrometrik Senyawa
Organik, Edisi ke- 4. Erlangga. Jakarta. Hal. 305
Sirait. Midian, 2007. Penentun Fitokimia Dalam Farmasi, Penerbit ITB
Bandung. Hal. 129
Sugihartini. Nining, Marchaban, Prammono. Suwidjiyo, 2005. Jurnal;
Pengaruh penambahan fraksi etanol dari infusa daun (Plantago
Major L.) terhadap efektivitas oktil Metoksinamat sebagai bahan
aktiv tabir surya, Majalah Farmasi Indonesia. Hal 130-135.
XQ Zheng, J Jin. 2008. Effect ultraviolet B irradiation on accumulation of
catechins intes (Camellia sinensis (L) O. Kuntze). African Journal
Biotechnology, vol 7. China. Diakses tanggal 25 Juni 2010 pukul
14,15 wib
60
Tuminah, Sulistyowati. 2004. Teh [(Camellia sinensis ). K. var. Assamica
(Mast)] sebagai Salah Satu Sumber Antioksidan, Cermin Dunia
Kedokteran. Jakarta
Turkoglu, M. Cigirgil, N. 2007. Jurnal; Evaluation of black tea gel and its
protection potential against UV, International Journal of Cosmetic
Science, vol 29. Istanbul, Turkey. Hal 437-442. Diakses tanggal 15
Mei 2010 pukul 17,32 WIB
Underwood, JCE. 2004. General and Systematic Pathology Fourth Edition.
Churcill Livingstone. Hal 697.
Voigt, Rudolf. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Penerjemah
Dr.rer.nat. Soendani Noerono Soewandhi, Apt. Dan Dr. Mathilda B.
Widianto, Apt., Jurusan Farmasi FMIPA ITB, Penyunting Prof. Dr.
Moch. Samhoedi Reksohadiprodjo, Apt., Fakultas Farmasi UGM.
Gajah Mada University Press : Yogyakarta. Hal 434-436, 564.
Wade A, Waller PJ. 1994. Handbook of Pharmaceutical Excipients Second
Edition. The Pharmaceutical Press : London. Hal 262, 310, 337, 407,
411, 494, 538, 558.
61
UJI EFEKTIVITAS DAN FOTOSTABILITAS KRIM EKSTRAK ETANOL 70 %
TEH HITAM (Camellia sinensis L.) SEBAGAI TABIR SURYA SECARA IN VITRO
SYIFA OCTA MAULIDIA
NIM : 106102003375
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Latar Belakang
< 1% radiasi
sinar matahari ke
bumi adalah UV
B
Dampak negatif
Kemerahan, noda
hitam, penuaan dini,
kekeringan, keriput
dan sampai kanker
kulit
Intensitas cahaya
meningkat
Penting untuk
pembentukan
Vitamin D
Akibat Global warming
Penting adanya pelindung
(Tabir Surya)
Di lakukan
penelitian
Camellia
sinensis L.
Perumusan Masalah
1. Apakah ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.)
dapat dibuat dalam sediaan krim yang baik dan stabil?
2. Bagaimana efektivitas dan fotostabilitas sediaan krim ekstrak
etanol 70 % teh hitam sebagai sediaan tabir surya?
Hipotesis
Ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.)
dapat dibuat menjadi sediaan krim tabir surya yang baik
dan stabil dengan efektivitas dan fotostabilitas tabir surya
yang belum diketahui.
Tujuan
1. Menentukan efektivitas dan fotostabilitas tabir surya sediaan krim
ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.)
2. Membuat sediaan krim tabir surya ekstrak etanol 70 % teh hitam
(Camellia sinensis L.) yang memiliki aktivitas sebagai tabir
surya yang memberikan penampilan sediaan yang baik dan
stabil.
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah dapat memberikan
informasi tentang efektivitas dan fotostabilitas dari krim
ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.) sebagai
tabir surya dan formulasi krim dari ekstrak etanol 70 % teh
hitam (Camellia sinensis L.) dengan menggunakan variasi
konsentrasi ekstrak.
Tanaman
Teh hitam (Camellia sinensis L.)
Divisi
: Spermatophyta
Sub divisi
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledoneae
Sub Kelas
: Dialypetalae
Ordo (bangsa) : Guttiferales (Clusiales)
Familia (suku) : Camelliaceae (Theaceae)
Genus (marga) : Camellia
Spesies (jenis) : Camellia sinensis L.
Varietas
: Assamica
Nama daerah : Enteh (sunda)
Deskripsi
Camellia sinensis L. memiliki akar tunggang yang kuat.
Bunganya kuning-putih berdiameter 2,5–4 cm dengan 7
hingga 8 petal. Daunnya memiliki panjang 4–15 cm dan
lebar 2–5 cm. Daun-daun itu mempunyai rambut-rambut
pendek putih di bagian bawah daun. Daun muda memiliki
warna lebih terang, sedangkan daun tua berwarna lebih
gelap.
Khasiat
Daun teh hitam berkhasiat sebagai obat antara lain untuk
mengobati penyakit asma, angina pektoris, penyakit
vaskuler perifer, penyakit jantung koroner, diare, disentri,
diabetes, antibakteri, antioksidan, antikanker, dan
antimutagenik.
Kerangka Konsep
Latar belakang teh hitam
Serbuk simplisia teh hitam
Penapisan fitokimia
dan Karakterisasi
ekstrak
Penapisan
fitokimia
Pembuatan ekstrak
etanol teh hitam
Penentuan panjang gelombang maksimum ekstrak etanol 70 % teh hitam
Pembuatan
krim tabir surya
Evaluasi krim ekstrak etanol
70 % teh hitam
Stabilitas penyimpanan
pada suhu ruang (28±2
°C) dan cycling test
Uji
fotostabilitas
Uji efektivitas krim
tabir surya
Penentuan
kategori tabir
surya
Hasil Penelitian
Hasil penapisan fitokimia simplisia dan ekstrak
Golongan
Hasil penapisan
simplisia
Hasil penapisan
ekstrak
Alkaloid
+
+
Flavonoid
+
+
Tanin
+
+
Saponin
+
+
Steroid/Triterpenoid
-
-
Minyak Atsiri
-
-
Kuinon
+
+
Hasil karakterisasi ekstrak etenol 70 % teh hitam
Jenis Karakterisasi
Parameter Spesifik:
Identitas
Nama Identitas
Nama latin tumbuhan
Bagian tumbuhan yang digunakan
Nama Indonesia tumbuhan
Organoleptik
Bentuk
Warna
Bau
Rasa
pH
Bobot Jenis
Parameter Non Spesifik
Kadar Abu
Susut pengeringan
Rendemen
Hasil
Camellia sinensis
Camellia sinensis L.
Daun
Enteh / teh
Kental
Hitam
Khas (tajam)
Pahit
5,62
0,874 gram/ml
0,36 %
6,21 %
32,8 %
Hasil Scanning Panjang Gelombang Maksimum Ekstrak Etanol 70% Teh Hitam
(Camellia sinensis, L) Pada Konsentrasi 100 ppm
Evaluasi krim ekstrak etanol 70 % teh hitam sebagai tabir surya pada
suhu ruang (28±2 °C) selama 4 minggu
•
Organoleptis
Organoleptis minggu keFormula
0
1
2
3
4
KN
Warna putih; bau
oleum rosae
Warna putih; bau
oleum rosae
Warna putih; bau
oleum rosae
Warna putih; bau
oleum rosae
Warna putih; bau
oleum rosae
KP
Warna putih; bau
oleum rosae
Warna putih; bau
oleum rosae
Warna putih; bau
oleum rosae
Warna putih; bau
oleum rosae
Warna putih; bau
oleum rosae
KrT
1%
Warna cokelat
muda; bau oleum
rosae
Warna cokelat
muda; bau oleum
rosae
Warna cokelat
muda; bau oleum
rosae
Warna cokelat
muda; bau oleum
rosae
Warna cokelat
muda; bau oleum
rosae
KrT
2%
Warna cokelat
muda; bau oleum
rosae
Warna cokelat
muda; bau oleum
rosae
Warna cokelat
muda; bau oleum
rosae
Warna cokelat
muda; bau oleum
rosae
Warna cokelat
muda; bau oleum
rosae
KrT
3%
Warna cokelat;
bau oleum rosae
Warna cokelat;
bau oleumrosae
Warna cokelat;
bau oleum rosae
Warna cokelat;
bau oleum rosae
Warna cokelat;
bau oleum rosae
• Homogenitas
Formula
Homogenitas minggu ke0
1
2
3
4
KN
homogen
homogen
homogen
homogen
homogen
KP
homogen
homogen
homogen
homogen
homogen
KrT 1 %
homogen
homogen
homogen
homogen
homogen
KrT 2 %
homogen
homogen
homogen
homogen
homogen
KrT 3 %
homogen
homogen
homogen
homogen
homogen
• Sentrifugasi
Sentrifugasi minggu keFormula
0
4
KN
Tidak memisah
Tidak memisah
KP
Tidak memisah
Tidak memisah
KrT 1 %
Tidak memisah
Tidak memisah
KrT 2 %
Tidak memisah
Tidak memisah
KrT 3 %
Tidak memisah
Tidak memisah
• pH
Formula
pH minggu ke0
1
2
3
4
KN
7,43
7,38
7,30
7,24
7,13
KP
7,50
7,46
7,22
7,01
7,00
KrT 1 %
7,35
7,30
7,19
7,15
7,04
KrT 2 %
7,40
7,28
7,11
7,06
6,86
KrT 3 %
7,39
7,21
7,18
7,11
6,94
7,6
7,4
7,2
p
H
7
6,8
6,6
6,4
0
1
2
3
Minggu keKN
KP
KrT 1 %
KrT 2%
KrT 3 %
4
• Viskositas
Formula
Viskositas (cp )minggu ke0
1
2
3
4
KN
34600
36100
41400
47200
52200
KP
43800
47400
49300
51200
51800
KrT 1 %
42400
44800
48300
50400
57200
KrT 2 %
46200
46800
47800
49800
53600
KrT 3%
40100
44100
49200
52100
60700
70000
viskositas (cp)
60000
50000
40000
30000
20000
10000
0
0
1
2
3
Minggu keKN
KP
KrT 1 %
KrT 2%
KT 3 %
4
Evaluasi cycling test krim ekstrak etanol 70 % teh hitam
sebagai tabir surya
• Organoleptis
Formula
KN
KP
KrT 1 %
KrT 2 %
KrT 3 %
Organoleptis
Sebelum cycling test
Sesudah cycling test
Warna putih;
Warna putih;
bau oleum rosae
bau oleum rosae
Warna putih;
Warna putih;
bau oleum rosae
bau oleum rosae
Warna cokelat muda;
Warna cokelat muda;
bau oleum rosae
bau oleum rosae
Warna cokelat muda;
Warna cokelat muda;
bau oleum rosae
bau oleum rosae
Warna cokelat;
Warna cokelat;
bau oleum rosae
bau oleum rosae
• Homogenitas
Formula
Homogenitas
Sebelum cycling test
Sesudah cycling test
KN
homogen
homogen
KP
homogen
homogen
KrT 1 %
homogen
homogen
KrT 2 %
homogen
homogen
KrT 3 %
homogen
homogen
• Sentrifugasi
Formula
Sentrifugasi
Sebelum cycling test Sesudah cycling test
KN
Tidak memisah
Tidak memisah
KP
Tidak memisah
Tidak memisah
KrT 1 %
Tidak memisah
Tidak memisah
KrT 2 %
Tidak memisah
Tidak memisah
KrT 3 %
Tidak memisah
Tidak memisah
• pH
Formula
pH
Sebelum cycling test Sesudah cycling test
KN
7,30
7,24
KP
7,52
7,47
KrT 1 %
7,28
7,16
KrT 2 %
7,33
7,21
KrT 3 %
7,41
7,23
7,6
7,5
pH
7,4
7,3
7,2
7,1
7
6,9
sebelum
sesudah
Siklus
KN
KP
KrT 1 %
KrT 2%
KrT 3 %
• Viskositas
Formula
Viskositas
Sesudah cycling test
KN
36900
38100
KP
44200
45400
KT 1 %
36500
39200
KT 2 %
32500
34500
KT 3 %
33900
36600
Viskositas (cp)
Sebelum cycling test
50000
45000
40000
35000
30000
25000
20000
15000
10000
5000
0
sebelum
sesudah
Siklus
FN
FP
KT 1 %
KT 2%
KT 3 %
Hasil Pengukuran Perubahan Serapan Krim Sebelum dan
Sesudah Beberapa Waktu Penyinaran dengan Sinar UV 366 nm.
Formula
Absorban ratarata sebelum
penyinaran *
(0 menit)
Absorban rata-rata setelah penyinaran*
30 menit
60 menit
90 menit
120 menit
KN
0,2522
0,2203
0,1937
0,1372
0,1267
KP 3 %
1,9222
1,8272
1,7526
1,6845
1,5949
KrT 1 %
0,7514
0,6685
0,6202
0,5771
0,5015
KrT 2 %
0,7844
0,7026
0,6601
0,6066
0,5544
KrT 3 %
0,8443
0,7591
0,7029
0,6408
0,5941
Kurva Hubungan antara Absorbansi dengan
Lamanya Waktu Paparan Sinar UV 366 nm
2,5
Absorbansi
2
1,5
1
0,5
0
0
30
60
90
120
Waktu (menit)
KN
KP
KrT 1 %
KrT 2 %
KrT 3 %
Uji Efektivitas Tabir Surya Ekstrak Etanol 70 % Teh
Hitam
Konsent
rasi
(ppm)
Ee
Ep
% Te
% Tp
Kategori Penilaian
Aktivitas
40
60
80
100
120
5,5424
4,2507
4,0064
3,7672
3,5195
2,6084
2,0116
1,6484
1,5653
1,5299
2,4829
1,9042
1,7948
1,6876
1,5766
3,7574
2,8977
2,3746
2,2548
2,2038
Proteksi ultra
Proteksi ultra
Proteksi ultra
Proteksi ultra
Proteksi ultra
Uji Efektivitas Krim Tabir Surya
Formula
Ee
Ep
% Te
% Tp
Kategori Penilaian
Aktivitas
KP
KrT 1 %
KrT 2 %
KrT 3 %
0,0877
1,5510
0,9187
0,7161
0,0589
0,8536
0,5383
0,3143
0,0392
0,6948
0,4115
0,3208
0,0848
1,1229
0,7754
0,4527
Sunblock eritema
Sunblock eritema
Sunblock eritema
Sunblock eritema
TERIMAKASIH
Proses Pembuatan Teh Hitam
Daun teh segar
Dilayukan
Digiling
Fermentasi pada suhu
19-26 °C dengan
kelembaban sekitar 9098 % . Selama 60-100
menit
Dikeringkan selama
13-18 menit. Sampai
kadar air 2,5-3,5 %
Pembuatan ekstrak etanol 70 % teh hitam
500 gram Serbuk teh
hitam (Camellia
sinensis L.)
Penapisan
fitokimia serbuk
simpllisia
Diamaserasi dengan
7 L etanol 70 %
Di evaporasi dengan
vakum rotavapor
Maserat cair serbuk teh
hitam
Ekstrak etanol 70 %
teh hitam
Disaring dengan kapas dan
kertas saring
Penapisan fitokimia
dan karakterisasi
ekstrak
Penentuan panjang gelombang maksimum
Ekstrak etanol 70 % teh hitam
100 ppm dalam etanol 95 %
Di ukur pada panjang
gelombang 200-400 nm dengan
spektrofotometer
Diperoleh panjang
gelombang maksimum
ekstrak etanol 70 % teh
hitam
Pembuatan sediaan krim
Fase minyak (asam stearat, setil
alkohol, vaselin album, oleum olivae,
benzofenon-3 dan adeps lanae)
Fase air (trietanolamin, metil
paraben, dimetikon dan
propilenglikol)
Fase air di masukkan sedikit
demi sedikit ke dalam fase
minyak pada suhu 70 °C
Di gerus dalam lumpang yang
telah dipanaskan sampai
terbentuk masa krim
Di masukkan ekstrak etanol
70 % teh hitam, sambil
terus diaduk.
Uji fotostabilitas krim tabir surya
• Pengukuran serapan awal krim
Setaiap formula
ditimbang 0,3 gram
Dilarutkan dalam etanol 95 %
Diukur serapannya dengan
spektrofotometer UV-Vis pada panjang
gelombang 293,4 nm
•
Pengukuran serapan krim setelah beberapa
waktu penyinaran dengan sinar UV 366 nm
Setiap formula ditimbang
0,3 gram
Dioleskan secara merata
pada kaca objek
Disinari dengan lampu UV 366
nm
Perubahan serapan yang terjadi
setelah penyinaran diukur
dengan spektro UV-Vis pada
panjang gelombang 293,4
Lama penyinaran
bervariasi selama 30,
60, 90, dan 120 menit
Uji efektivitas ekstrak etanol 70 % teh hitam
Larutan induk ekstrak etanol 70 % teh
hitam dalam etanol 95 % degan
konsentrasi 500 ppm
Dibuat seri larutan dengan konsentrasi
40, 60, 80, 100, dan 120 ppm
Diukur serapannya setiap 5 nm pada
rentang panjang gelombang 292,5372,5 nm
Dihitung % Te dan % Tp
Uji efektivitas krim tabir surya
Setiap formula ditimbang 1,25 gram
Dilarutkan dalam etanol 95 % sampai 25 ml
Diambil 5 ml larutan, kemudian diencerkan dengan etanol 95 %
Diukur serapannya setiap 5 nm pada rentang panjang gelombang 292,5-372,5 nm
Dari nilai serapan yang diperoleh dihitung intensitas
transmitansinya (T) dengan rumus T= 10−𝐴
Nilai fluks eritema yang diteruskan oleh bahan tabir surya (Ee)
dihitung dengan cara mengalikan nilai transmisi (T) dengan
fluks eritema (Fe) pada panjang gelombang 292-317 nm
Nilai fluks pigmentasi (Ep) dihitung dengan cara mengalikan nilai transmisi
(T) dengan fluks pigmentasi (Fp) pada panjang gelombang 322-372 nm
Selanjutnya dihitung denga rumus:
% Te =
𝑬𝒆
𝑭𝒆
% Tp =
𝑬𝒑
𝑭𝒑
• Randemen ekstrak
Berat total ekstrak
: 164 gram
Berat simplisia kering : 500 g
% Randemen ekstrak
=
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑖𝑚𝑝𝑙𝑖𝑠𝑖𝑎 𝑎𝑤𝑎𝑙
= 164 x 100%
500
= 32,8%
× 100 %
• Bobot jenis ekstrak teh hitam
Berat piknometer kosong (w1) : 16,233 g
Berat piknometer + air (w2)
: 40,772 g
Berat piknometer + ekstrak (w3): 37,683 g
𝑤3−𝑤1
Bobot jenis =
𝑤2−𝑤1
× 1 𝑔𝑟/ml
= 37,683 – 16,233 × 1 𝑔𝑟/ml
40,772 – 16,233
= 0,874 gram/ml
• Susut pengeringan
Berat cawan (a)
Berat cawan + ekstrak awal (b)
Berat cawan + ekstrak akhir (c)
𝑏−𝑐
𝑏−𝑎
: 23,150 g
: 24,147 g
: 24,085g
% susut pengeringan :
× 100 %
: 24,147 – 24,085 x 100 %
24,147 – 23,150
: 6,21 %
• Kadar abu
Berat cawan (a) : 25,752 g
Berat ekstrak (b) : 3,009 g
Berat ekstrak akhir (c) : 25,763 g
𝑐−𝑎
𝑏
% Kadar Abu :
× 100%
: 25,763 – 25,752 x 100%
3,009
: 0.365 %
STUDY
Exploration of “Alternative” and “Natural”
Drugs in Dermatology
Cheryl Levin, BA; Howard Maibach, MD
Objective: To review some of the promising natural rem-
edies within dermatology to explore their potential clinical benefit in supplementing conventional drugs.
tant. Data were independently extracted by multiple observers.
Data Synthesis: Natural remedies seem promising in
Data Sources: MEDLINE searches from January 1966
through October 2000 and Science Citation Index searches
from January 1974 through October 2000 were conducted.
Study Selection: Primary importance was given to in
vivo and in vitro controlled studies, the results of which
encourage further exploration.
Data Extraction: The controls used, the statistical approach to analysis, and the validity of the experimental
method analyzed were considered particularly impor-
R
treating a wide variety of dermatologic disorders, including inflammation, phototoxicity, psoriasis, atopic dermatitis, alopecia areata, and poison oak.
Conclusions: The alternative medications presented seem
promising, although their true effects are unknown. Many
of the presented studies do not allow deduction of clinical effects. Further experimentation must be performed
to assess clinical benefit.
Arch Dermatol. 2002;138:207-211
ECENTLY, ALTERNATIVE rem-
edies have been investigated to supplement traditional drugs. We performed
a literature search to highlight recently reported medicaments. Emphasis was placed on studies that followed the evidence-based dermatology
guidelines.1,2
RESULTS
Alternative medications and their potential clinical uses from human studies and
animal and in vitro studies3-24 are summarized in the Table.
TEA EXTRACTS
From the University of
California–San Francisco
Medical Center.
Ultraviolet solar radiation may induce a variety of adverse effects in humans, including melanoma,25 photoaging of the skin,26,27
sunburn,28 and immunosuppression.29,30
Protection against UV-induced skin damage includes avoidance of sun exposure, application of sunscreens, low-fat diets,31,32
and pharmacologic intervention with retinoids.33 More recently, green tea extracts
have been reported to be beneficial in treating UV-induced photodamage.
In a study by Elmets et al,6 1% to 10%
green tea polyphenolic (GTP) fraction-
(REPRINTED) ARCH DERMATOL / VOL 138, FEB 2002
207
sin ethanol and water vehicle were
applied onto the backs of 6 volunteers.
Thirty minutes after GTP application,
patients were exposed to twice the minimal erythema dose of UV radiation from a
solar simulator. The minimal erythema dose
was determined for each patient by exposing skin to graded doses of UV radiation
from the solar simulator. Green tea extracts resulted in a dose-dependent reduction of UV-induced erythema as measured
by chromatometry and visual evaluation.
See also pages 232 and 251
The (-)-epigallocatechin-3-gallate and
(-)-epicatechin-3-gallate polphenolic
fractions were most effective, while
the (-)-epigallocatechin (EGC) and
(-)-epicatechin fractions had little effect.
Histologic examination showed a decrease in sunburn cells in GTP-treated
skin. Epidermal Langerhans cells, the antigen-presenting cells involved in the skin
immune response, were significantly protected against UV damage. Finally, GTP
fractions reduced UV-induced mutations
in DNA, as detected by means of a phosphorus 32 postlabeling technique. Spectrophotometric analysis indicated that GTP
fractions did not absorb UV-B light, implying a mechanism of action different
WWW.ARCHDERMATOL.COM
Downloaded from www.archdermatol.com on May 5, 2010
©2002 American Medical Association. All rights reserved.
METHODS
MEDLINE searches from January 1966 through October 2000 and Science Citation Index searches from
January 1974 through October 2000 were conducted. Boolean searches relating to skin, allopathic
remedies, herbal extracts, glycolic acid, and vitamins were conducted. Specific diseases and therapies were searched as title words or key words.
from that of sunscreens. This study demonstrates the potential benefit of GTP extracts in preventing UVinduced immunosuppression and erythema.
The use of GTP extracts was also found to be beneficial in treating UV-induced immunosuppression in mice.
The GTP extracts, fruits and vegetables, and quercetin and
chrysin significantly prevented the UV-induced suppression of contact hypersensitivity to picryl chloride when
compared with irradiated, untreated control (P⬍.05). Increased ear thickness measurements were used to evaluate the response. The GTP was administered in concentrations of 0.1% and 0.01%.17 Green tea extracts have been
beneficial in preventing early signs of photochemical damage to mouse and human skin treated with psoralen–
UV-A therapy. Psoralen–UV-A, a treatment for psoriasis,
increases the patient’s risk of developing melanoma and
squamous cell carcinoma. Pretreatment and posttreatment with the green tea extracts in mouse and human skin
significantly decreased markers of this photochemical
damage, namely hyperplasia and hyperkeratosis, c-fos and
p53, and erythema, (P⬍.05), when compared with vehicle controls (water given before and after treatment).34
The effects of green tea on skin are further discussed by
Katiyar et al.35
Oral and topical standardized black tea extracts also
decreased photochemical damage to the skin. In one study,
standardized black tea extracts significantly reduced erythema and skinfold thickness associated with UV-B–
induced carcinogenesis in cultured keratinocytes and
mouse and human skin (P⬍.05). In topically treated mice,
a 64% reduction in severity of erythema and a 50%
decrease in skinfold thickness were observed when
compared with vehicle control. A decrease in the expression of c-fos, c-jun, and p53 in mouse skin and keratinocytes pretreated with standardized black tea extracts was
also noted. This study indicates that when green tea is
oxidized to black tea, the extracts remain beneficial in
preventing the early signs of UV-B–induced phototoxic
effects, namely, sunburn and skin thickness.18
OTHER HERBS
Tea produced from the leaves of the Eucommia ulmoides
OLIVER tree (EUOL) is commonly consumed in China,
Korea, and Japan. Geniposidic acid, a main component
of EUOL, seems beneficial in improving some of the signs
of aging in model rats. Falsely aged model rats fed a diet
consisting of a 2.4% water-soluble methanol extract of
EUOL had a statistically significant increased stratum
(REPRINTED) ARCH DERMATOL / VOL 138, FEB 2002
208
corneum turnover rate compared with rats fed a comparable diet without the EUOL. In a similar experiment,
rats fed geniposidic acid also had improved stratum
corneum turnover. With aging, the stratum corneum turnover rate decreases, suggesting that EUOL and, specifically, geniposidic acid may alter the aging process.22
Benzoyl peroxide (BPO) is a free radical–generating
compound and strong oxidizer. It is commonly used as a
polymerization initiator,36 an additive in cosmetics,37 and
a bleaching agent for flour and cheese.38 Spearmint may abrogate the effects of BPO-induced tumor promotion.
In a recent study, pretreatment with spearmint
(Mentha spicata) induced a statistically significant decrease in the BPO oxidative damage, toxic effects, and cellular hyperproliferation in adult female albino mice when
compared with the BPO-treated control group. Topical
spearmint extracts salvaged the levels of antioxidant
enzymes glutathione peroxidase, glutathione reductase, glutathione S-transferase, and catalase that are reduced by BPO
treatment alone. The BPO-elevated microsomal lipid peroxidation and hydrogen peroxide generation were significantly reduced with spearmint pretreatment. Furthermore, spearmint significantly decreased markers for cellular
DNA synthesis, namely ornithine decarboxylase activity and
thymidine uptake, as compared with BPO treatment alone.
Analysis was performed on excised mouse skin.20
HYDROXYACIDS
Topical ␤-lipohydroxyacid (␤-LHA), a derivative of salicylic acid, improved some of the manifestations of aging in women by inducing a statistically significant epidermal thickening and dendrocytic hyperplasia. Both the
younger and elder populations exhibited improvement,
but the changes were more diverse in the older women.
When compared with placebo, 6% of the young and 16%
of the elderly population experienced increased filaggrin layer thickness. Further studies are needed to understand the mechanism of hydroxyacid action and,
thereby, their full effect on aging skin.7
ESSENTIAL FATTY ACIDS
Patients with atopic dermatitis (AD) are thought to have a
reduced rate of conversion from linoleic acid to ␥-linolenic acid (GLA), dihomo-␥-linolenic acid, or arachidonic
acid as compared with healthy subjects.39-42 Replacement
of GLA, in the form of primrose oil or borage oil, may therefore benefit in the treatment of these patients.
In fact, more than 20 randomized controlled studies
assessing the effects of GLA have been performed, with most
studies indicating an improved epidermal barrier on GLA
application.8,9,40,43-49 In one recent study, topical application of 20% evening primrose oil caused a statistically significant stabilizing effect on the epidermal barrier in patients with AD as evaluated by transepidermal water loss
and stratum corneum hydration. When compared with
placebo, the water-in-oil emulsion of primrose oil proved
effective, whereas the amphiphilic emulsion did not, emphasizing the importance of the vehicle.9 In addition, borage oil, which contains a large quantity of GLA, improved
pruritus, erythema, vesiculation, and oozing in atopic paWWW.ARCHDERMATOL.COM
Downloaded from www.archdermatol.com on May 5, 2010
©2002 American Medical Association. All rights reserved.
Alternative Medications and Their Potential Clinical Uses*
Therapy
Potential Benefit
Ascorbic acid
Prevent nitrate tolerance
Ascorbic acid and
vitamin E
Reduce sunburn reaction
Decrease UV-induced erythema
Green tea extract
Prevent UVII and erythema
␤-Lipohydroxyacid
Improve signs of aging
Borage oil (with GLA)
Treat AD
Primrose oil (with GLA)
Treat AD
Experimental Results
Source, y
Human Studies
Potentiated vasodilatory/conductivity responses
provoked by glycerol trinitrate
Increased median minimal erythema dose in
treated patients
Decreased dermal blood flow, chromatometry, and
visual grade
Reduced chromatometry, improved visually and
histologically
Induced epidermal thickening and dendrocytic
hyperplasia
Improved pruritus, erythema, vesiculation, and
oozing in patients with AD
Stabilized epidermal barrier—increased TEWL and
stratum corneum hydration in patients with AD
No significant effect on patients with AD
GLA
Treat AD
Meta-analysis—GLA significantly improved AD
Aromatherapy
Quaternium-18 bentonite
Treat alopecia areata
Prevent poison ivy or poison oak
Homeopathic gels
Reduce inflammation
Improved visual score of disease
Reduced or prevented reaction to urushiol as
evaluated visually
Decreased LDF (ie, decreased vasodilatory
response) after methyl nicotinate application
Flavonoids/green tea
extracts
Black tea extract
Animal and In Vitro Studies
Prevented UVII of contact hypersensitivity to picryl
chloride
Decrease early symptoms of
Decreased erythema, skinfold thickness, expression
UV-B−induced phototoxic effects
of c-jun, c-fos, and p53 in mice, human skin, and
keratinocytes
Decrease early symptoms of
Decreased UV-B−induced tumor formation, skin
UV-B−induced phototoxic effects
thickness, and ODC in mice
Prevent oxidative stress
Pretreatment decreased benzoyl peroxide oxidative
damage, toxic effects, and hyperproliferation in
adult female albino mice
Treat genital herpes simplex virus
Reduced lesion development, duration, and severity
in guinea pigs and mice
Improve signs of aging
Increased stratum corneum turnover rate in rats
fed GA
Anti-inflammatory agents
Inhibited the croton oil−induced edema in male
albino mice㛳
Inhibit immediate-type allergic
Inhibited mast cell degranulation in mice and rats;
reactions
prevented histamine and TNF-␣ release from
peritoneal mast cells
Counteract UVII
Ascorbic acid
Mentha spicata
(spearmint)
Vitamin E combination§
GA, Eucommia ulmoides
OLIVER tree
Capsular polysaccharides
of cyanobacteria
Lavender oil
Bassenge et al,3 1998†
Eberlein-Konig et al,4 1998‡
Dreher et al,5 1998‡
Elmets et al,6 2001‡
Avila-Camacho et al,7 1998‡
Adreassi et al,8 1997‡
Gehring et al,9 1999
Bamford et al,10 1985; Berth-Jones
and Graham-Brown,11 1993‡
Morse et al,12 1989; Stewart et al,13
1991
Hay et al,14 1998‡
Marks et al,15 1995†
Handschuh and Debray,16 1999‡
Steerenberg et al,17 1998†
Zhao et al,18 1999‡
Kobayashi et al,19 1998†
Saleem et al,20 2000†
Sheridan et al,21 1997†
Li et al,22 1999‡
Garbacki et al,23 2000†
Kim and Cho,24 1999‡
*UVII indicates UV-induced immunosuppression; GLA, ␥-linolenic acid; AD, atopic dermatitis; TEWL, transepidermal water loss; LDF, laser Doppler flowmetry; ODC,
ornithine decarboxylase; GA, geniposidic acid; and TNF-␣, tumor necrosis factor ␣.
†Compared with untreated control.
‡Compared with placebo.
§Vitamin E, sodium pyruvate, membrane-stabilizing fatty acid.
㛳At lease 1 strain of cyanobacteria had an opposite effect, increasing inflammation.
tients when compared with placebo-treated patients
(P⬍.05). Patients were given 40 drops of borage oil twice
daily for 12 weeks; dermatologists and patients visually
assessed the signs.8
In contrast, 2 important studies did not observe a
significant clinical effect of GLA on AD compared with
placebo. In studies by Bamford et al10 and Berth-Jones and
Graham-Brown,11 evening primrose oil capsules did not improve erythema, excoriation, and lichenification clinical
scores, as evaluated by dermatologists and patients.
Meta-analysis of all previous randomized placebocontrolled studies indicated a significant difference between treatment and placebo groups.12,13 Critics of the meta(REPRINTED) ARCH DERMATOL / VOL 138, FEB 2002
209
analysis claim that it included unpublished trials and
inadequate baseline data in terms of disease severity.11 Apparent differences in response between placebo and treatment groups may result from a greater severity at baseline in subjects receiving active treatment.11,50 Treatment
of AD with GLA remains controversial.
ESSENTIAL OILS
Other essential oils have been investigated in treating IgEmediated allergic reactions as well as alopecia areata. Mice
and rats pretreated with lavender oil inhibited mast cell
degranulation, indicating that the oil could inhibit imWWW.ARCHDERMATOL.COM
Downloaded from www.archdermatol.com on May 5, 2010
©2002 American Medical Association. All rights reserved.
mediate-type allergic reactions. Topical and intradermal lavender oil inhibited the ear swelling response in
mice and passive cutaneous anaphylaxis in rats when compared with isotonic sodium chloride solution control treatment (P⬍.05). Peritoneal mast cells were also inhibited
from releasing histamine or tumor necrosis factor ␣ in
vitro when lavender oil was applied.24
Alopecia areata was treated with 7 months of aromatherapy. A mixture of thyme, rosemary, lavender, and
cedarwood essential oils in jojoba and grape seed carrier oils massaged into patients’ scalps significantly improved the alopecia when compared with the carrier oils
alone. The efficacy of the treatment was evaluated at initial assessment and 3 and 7 months after treatment by
dermatologists’ visual scoring of photographs and a computerized analysis of traced areas of alopecia.14 This study
did not mention disease duration before aromatherapy
treatment. Half of patients with recent-onset alopecia areata have remission within 1 year, which could account
for the aromatherapy’s putatively beneficial results.51
scribes a developed tolerance to the vasodilatory effects of
nitrate, due to both neurohormonal counterregulation and
enhanced response to vasoconstrictor agonists.52 Oral administration of two 500-mg ascorbic acid capsules daily along
with glycerol trinitrate for 3 days prevented nitrate tolerance in healthy volunteers taking transdermal glycerol trinitrate. With those taking ascorbic acid, the vasodilatory
and conductivity responses evoked by glycerol trinitrate
were potentiated throughout the 3-day period (24.5% increase vs control), while in those taking glycerol trinitrate
alone, the responses slowly declined (8.2% increase vs
control).3 This observed effect was statistically significant.
A combination of vitamin E, sodium pyruvate, and
membrane-stabilizing fatty acids induced a statistically
significant decrease in the lesion development, duration, and severity of genital herpes simplex virus when
applied after infection to guinea pigs and mice. The combined treatment yielded a 36% decrease in lesion severity score in guinea pigs and a 33% decrease in lesion size
in hairless mice when compared with no treatment.21
ASCORBIC ACID AND VITAMIN E
MISCELLANEOUS
The hydrophobic ascorbic acid and lipophilic vitamin E
have found increasing use in dermatologic treatment. Several studies investigated the effects of both ascorbic acid
and vitamin E against oxidative stress. In mice, acute and
chronic UV-B–induced photodamage was significantly decreased with intraperitoneal postadministration of magnesium-L-ascorbyl phosphate (MAP), a precursor to ascorbic acid (P⬍.05). Compared with irradiated, untreated
mice, MAP-treated mice had a 60% decrease in UV-B–
induced tumor formation, a 50% decrease in skin thickness, and a 55% decrease in ornithine decarboxylase, a
marker for DNA synthesis. In addition, on acute exposure to UV-B irradiation, MAP prevented increases of lipid
peroxidation in skin and sialic acid in serum. The MAP
produced an immediate and transient increase in vitamin
C in the serum, skin, and liver, indicating its conversion
in those tissues.19 The effect of topical application of MAP
in reducing UV-B photodamage is unknown. The clinical
significance of this study remains uncertain.
Oral ingestion of ascorbic acid (2000 mg/d) and vitamin E (1000 IU/d) reduced the sunburn reaction in human subjects. The volunteers’ threshold dose for eliciting
sunburn and their cutaneous blood flow of skin irradiated
with incremental UV doses were determined before and after 8 days of treatment. A statistically significant difference was observed in the median minimal erythema dose
of ascorbic acid– and vitamin E–treated patients as compared with placebo-treated patients. The former minimal
erythema dose increased 17%; the latter declined 14%.4
Topical pretreatment in humans with a combination of ascorbic acid, vitamin E, and melatonin provided
a statistically significant enhanced photoprotection against
UV-induced erythema. Dermal blood flow, visual grade,
and chromatometry measures decreased with the combined treatment, as well as with each treatment alone, when
compared with placebo-treated skin. The effect of the combined treatment was more pronounced.5
Ascorbic acid and vitamin E have also proved beneficial in treating other conditions. Nitrate tolerance de-
Quaternium-18 bentonite, an organoclay used in cosmetics to thicken or stabilize the products, has been investigated for its ability to prevent poison ivy or poison oak
contact dermatitis reactions in humans. Pretreatment with
5% quaternium-18 bentonite lotion on the forearm of patients with allergic contact dermatitis to poison oak or poison ivy significantly reduced or prevented a severe reaction to urushiol, the allergenic resin of both plants. Trained
technicians blinded to the treated area visually evaluated
the reactions. Statistical significance was found when treated
test sites were compared with untreated controls.15
Pretreatment with diluted homeopathic gels effectively decreased the inflammation caused by methyl nicotinate in humans. The vasodilatory response to methyl
nicotinate was measured by laser Doppler velocimetry.
This measure was significantly reduced when the skin
was pretreated with Urtica urens, Apis mellifica, Belladonna, or Pulsatilla aqueous gels as compared with vehicle control.16 It is important to note that methyl nicotinate inflammation is primarily a pharmacologic effect
and has few immunologic implications, thereby minimizing the clinical significance of this study.
Capsular polysaccharides from various strains of cyanobacteria were found to have anti-inflammatory effects
on adult albino male mice. Six-hour application of hydrophilic extracts of capsular polysaccharides subsequent to
croton oil–induced dermatitis caused a statistically significant reduction in the mouse ear edema when compared with croton oil inflammation without treatment.
Some strains were not effective, and at least 1 other strain
of capsular polysaccharides significantly increased the
edema after croton oil application by about 29%. The most
effective inflammation-reducing strains decreased the
edema by as much as 56%, were dose-dependent, and were
composed primarily of neutral sugars, uronic acids, and
proteins. The inflammation-increasing extract contained
a monosaccharide composition (glucose and mannose)
similar to those of extracts that most significantly decreased dermatitis.23
(REPRINTED) ARCH DERMATOL / VOL 138, FEB 2002
210
WWW.ARCHDERMATOL.COM
Downloaded from www.archdermatol.com on May 5, 2010
©2002 American Medical Association. All rights reserved.
COMMENT
The sampling of investigative medications presented by
this review seems promising, although their true effects
are unknown. Caution must be used when animal studies are interpreted. In addition, experimental design, such
as sample size, drug concentration, method of exposure
to the medicine, and analytic techniques, may greatly influence a study’s outcome. Further exploration of these
medications under different experimental conditions would
better estimate their true clinical benefit. Certainly, the
lower cost, wide accessibility, and possible clinical improvement with many of these newer unconventional remedies has encouraged their continued research. It remains to be seen which, if any, provide a more advantageous
therapeutic ratio than standard agents. These observations presumably are valid, thoughtful, and correct; as in
the case of most pharmacologic arenas, the final arbiter is
the patient. Alas, these patient truths are unfortunately not
as hard a science as most physicians would like.
Accepted for publication July 31, 2001.
Corresponding author: Howard Maibach, MD,
Department of Dermatology, UCSF Medical Center, 90
Medical Center Way, Room 110, San Francisco, CA 94143
(e-mail: [email protected]).
REFERENCES
1. Bigby M. Evidence-based medicine in dermatology. Dermatol Clin. 2000;18:261-276.
2. Bashir S, Maibach H. Evidence Based Dermatology. Toronto, Ontario: BC Dekker. In press.
3. Bassenge E, Fink N, Skatchkov M, Fink B. Dietary supplement with vitamin C prevents nitrate tolerance. J Clin Invest. 1998;102:67-71.
4. Eberlein-Konig B, Placzek M, Przybilla B. Protective effect against sunburn of combined systemic ascorbic acid (vitamin C) and d-␣-tocopherol (vitamin E). J Am
Acad Dermatol. 1998;38:45-48.
5. Dreher F, Gabard B, Schwindt D, Maibach H. Topical melatonin in combination
with vitamins E and C protects skin from ultraviolet-induced erythema: a human
study in vivo. Br J Dermatol. 1998;139:332-339.
6. Elmets C, Singh D, Tubesing K, Matsui M, Katiyar S, Mukhtar H. Cutaneous photoprotection from ultraviolet injury by green tea polyphenols. J Am Acad Dermatol. 2001;44:425-432.
7. Avila-Camacho M, Montastier C, Perard GE. Histometric assessment of the agerelated skin response to 2-hydroxy-5-octanoyl benzoic acid. Skin Pharmacol Appl
Skin Physiol. 1998;11:52-56.
8. Andreassi M, Forleo P, Lorio AD, Masci S, Abate G, Amerio P. Efficacy of ␥-linolenic acid in the treatment of patients with atopic dermatitis. J Int Med Res. 1997;
25:266-274.
9. Gehring W, Bopp R, Rippke F, Gloor M. Effect of topically applied evening primrose oil on epidermal barrier function in atopic dermatitis as a function of vehicle. Drug Res. 1999;49:635-642.
10. Bamford J, Gibson R, Reiner C. Atopic eczema unresponsive to evening primrose oil (linoleic and ␥-linolenic acids). J Am Acad Dermatol. 1985;13:959-965.
11. Berth-Jones J, Graham-Brown R. Placebo-controlled trial of essential fatty acid
supplementation in atopic dermatitis. Lancet. 1993;341:1557-1560.
12. Morse PH, Horrobin DF, Manku MS, et al. Meta-analysis of placebo-controlled
studies of the efficacy of Epogam in the treatment of atopic eczema. Br J Dermatol. 1989;121:75-90.
13. Stewart J, Morse P, Moss M, et al. Treatment of severe and moderately severe
atopic dermatitis with evening primrose oil (Epogam). J Nutr Med. 1991;2:9-15.
14. Hay I, Jamieson M, Ormerod A. Randomized trial of aromatherapy: successful
treatment for alopecia areata. Arch Dermatol. 1998;134:1349-1352.
15. Marks J, Fowler J, Sherertz E, Rietschel R. Prevention of poison ivy and poison
oak allergic contact dermatitis by quaternium-18 bentonite. J Am Acad Dermatol. 1995;33:212-216.
16. Handschuh J, Debray M. Modification of cutaneous blood flow by skin application of homeopathic anti-inflammatory gels. STP Pharma Sci. 1999;9:219-222.
17. Steerenberg P, Garseen J, Dortant P, et al. Protection of UV-induced suppression of skin contact hypersensitivity. Photochem Photobiol. 1998;67:456-461.
18. Zhao J, Jin X, Yaping E, Zheng ZS, Zhang YJ, Athar M. Photoprotective effect of
black tea extracts against UVB-induced phototoxicity in skin. Photochem Photobiol. 1999;70:637-644.
(REPRINTED) ARCH DERMATOL / VOL 138, FEB 2002
211
19. Kobayashi S, Takehana M, Kanke M, Itoh S, Ogata E. Postadministration protective effect of magnesium-L-ascorbyl-phosphate on the development of UVBinduced cutaneous damage in mice. Photochem Photobiol. 1998;67:669-675.
20. Saleem M, Alam A, Sultana S. Attenuation of benzoyl peroxide–mediated cutaneous oxidative stress and hyperproliferative response by the prophylactic treatment of mice with spearmint (Mentha spicata). Food Chem Toxicol. 2000;38:
939-948.
21. Sheridan J, Kern E, Martin A, Booth A. Evaluation of antioxidant healing formulations in topical therapy of experimental cutaneous and genital herpes simplex
virus infections. Antiviral Res. 1997;36:157-166.
22. Li Y, Metori K, Koike K, Che Q-M, Takahashi S. Improvement in the turnover rate
of the stratum corneum in false aged model rats by the administration of geniposidic acid in Eucommia ulmoides OLIVER leaf. Biol Pharm Bull. 1999;22:582585.
23. Garbacki N, Gloaguen V, Damas J, Hoffmann L, Tits M, Angenot L. Inhibition of
croton-oil induced oedema in mice ear skin by capsular polysaccharides from
cyanobacteria. Arch Pharmacol. 2000;361:460-464.
24. Kim H-M, Cho S-H. Lavender oil inhibits immediate-type allergic reaction in mice
and rats. J Pharm Pharmacol. 1999;51:221-226.
25. Koh H, Kligler B, Lew P. Sunlight and cutaneous malignant melanoma: evidence
for and against causation. Photochem Photobiol. 1990;51:765-779.
26. Wenk J, Brenneisen P, Meewes C, et al. UV-induced oxidative stress and photoaging. Curr Probl Dermatol. 2001;29:83-94.
27. Krutmann J. Ultraviolet A radiation–induced biological effects in human skin.
J Dermatol Sci. 2000;23(suppl 1):S22-S26.
28. Biesalski H, Obermueller-Jevic U. UV light, beta-carotene and human skin—
beneficial and potentially harmful effects. Arch Biochem Biophys. 2001;389:
1-6.
29. Hart P, Grimbaldeston M, Finlay-Jones J. Sunlight, immunosuppression and skin
cancer: role of histamine and mast cells. Clin Exp Pharmacol Physiol. 2001;28:1-8.
30. Gil E, Kim T. UV-induced immune suppression and sunscreen. Photodermatol
Photoimmunol Photomed. 2000;16:101-110.
31. Hakim I, Harris R, Ritenbaugh C. Fat intake and risk of squamous cell carcinoma
of the skin. Nutr Cancer. 2000;36:155-162.
32. Black H. Influence of dietary factors on actinically-induced skin cancer. Mutat
Res. 1998;422:185-190.
33. DiGiovanna J. Retinoid chemoprevention in patients at high risk for skin cancer.
Med Pediatr Oncol. 2001;36:564-567.
34. Zhao JF, Zhang YJ, Jin XH, et al. Green tea protects against psoralen plus ultraviolet A–induced photochemical damage to skin. J Invest Dermatol. 1999;113:
1070-1075.
35. Katiyar S, Ahmad N, Muhktar H. Green tea and skin. Arch Dermatol. 2000;136:
989-994.
36. Kadoma Y, Fujisawa S. Kinetic evaluation of reactivity of bisphenol A derivatives
as radical scavengers for methacrylate polymerization. Biomaterials. 2000;21:
2125-2130.
37. Piérard G, Piérard-Franchimont C, Goffin V. Digital image analysis of microcomedones. Dermatology. 1995;190:99-103.
38. Karasz A, Decocco F, Maxstadt J. Gas chromatographic measurements of benzoyl
peroxide in (as benzoic acid) cheese. J Assoc Anal Chem. 1974;57:706-709.
39. Biagi P, Hrelia S, Celadon M, et al. Erythrocyte membrane fatty acid composition in children with atopic dermatitis compared to age-matched controls. Acta
Paediatr. 1993;82:789-790.
40. Schalin-Karrila M, Mattila L, Jansen C, Uotila P. Evening primrose oil in the treatment of atopic eczema: effect of clinical status, plasma phospholipid fatty acids
and circulating blood prostaglandins. Br J Dermatol. 1987;117:11-19.
41. Oliwiecki S, Burton J, Elles K, Horrobin D. Levels of essential and other fatty acids in plasma and red cell phospholipids from normal controls and patients with
atopic eczema. Acta Derm Venereol. 1991;71:224-228.
42. Wright S, Sanders T. Adipose tissue essential fatty acids in the plasma phospholipids of patients with atopic eczema. Br J Dermatol. 1991;110:643-648.
43. Lovell C, Burton J, Horrobin D. Treatment of atopic eczema with evening primrose oil [letter]. Lancet. 1981;1:278.
44. Wright S, Burton J. Oral evening-primrose-seed oil improves atopic eczema. Lancet. 1982;2:1120-1122.
45. Bordoni A, Biagi P, Masi M, et al. Evening primrose oil (Efamol) in the treatment
of children with atopic eczema. Drugs Exp Clin Res. 1988;14:291-297.
46. Biagi P, Bordoni A, Hrelia S, et al. The effect of ␥-linolenic acid on clinical status,
red cell fatty acid composition and membrane microviscosity in infants with atopic
dermatitis. Drugs Exp Clin Res. 1994;20:77-84.
47. Biagi PL, Bordoni A, Masi M, Ricci G, Fanelli C, Patrizi A, Ceccolini E. A longterm study on the use of evening primrose oil (Efamol) in atopic children. Drugs
Exp Clin Res. 1988;14:285-290.
48. Guenther L, Wexler D. Efamol in the treatment of atopic dermatitis [letter]. J Am
Acad Dematol. 1987;17:860.
49. Humphreys F, Symons H, Brown H, Duff G, Hunter J. The effects of ␥-linolenic
acid on adult atopic eczema and premenstrual exacerbation of eczema. Eur J Dermatol. 1994;4:598-603.
50. Horrobin D, Stewart C. Evening primrose oil and eczema. Lancet. 1990;335:864865.
51. Kalish R. Randomized trial of aromatherapy: successful treatment for alopecia
areata. Arch Dermatol. 1999;135:602-603.
52. Munzel T, Giaid A, Kurz S, Stewart D, Harrison D. Evidence for a role of endothelin 1 and protein kinase C in nitroglycerin tolerance. Proc Natl Acad Sci U S A.
1995;92:5244-5248.
WWW.ARCHDERMATOL.COM
Downloaded from www.archdermatol.com on May 5, 2010
©2002 American Medical Association. All rights reserved.
2004
http://www.kalbe.co.id/cdk
ISSN : 0125-913X
144. THT
2004
http. www.kalbe.co.id/cdk
International Standard Serial Number: 0125 – 913X
144. THT
Daftar isi :
2. Editorial
4. English Summary
Artikel
Keterangan Gambar Sampul :
Jaras sistim pendengaran manusia
sumber: http://ivertigo.net 13
5. Rinitis Atrofi – Rizalina Arwinati Asnir
8. Papiloma Laring pada Anak – Bambang Supriyatno, Lia Amalia
11. Kista Duktus Tiroglosus – Hafni
13. Rinoskleroma – Delfitri Munir, Rizalina A Asnir, Firmansyah
16. Kanker Nasofaring - Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir – R.
Susworo
20. Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita
Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam
di Puskesmas Jakarta Pusat – Retno Gitawati, Ani Isnawati
24. Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja – Novi
Arifiani
29. Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja – Ambar W.
Roestam
35. Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi – HR Krisnabudhi
41. Vertigo: Aspek Neurologi – Budi Riyanto Wreksoatmodjo
47. Terapi Akupunktur untuk Vertigo – Prasti Pirawati, L. Yvonne
Siboe
52. Teh [Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)] sebagai Salah
satu Sumber Antioksidan – Sulistyowati Tuminah
55. Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka
Demam Berdarah Dengue di Jakarta Tahun 2001 – Enny
Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Hutauruk
57. Produk Baru
58. Kapsul
59. Informatika Kedokteran
60. Kegiatan Ilmiah
62. Abstrak
64. RPPIK
EDITORIAL
Cermin Dunia Kedokteran kali ini terbit dengan topik bahasan
masalah telinga, hidung dan tenggorokan. Beberapa penyakit seperti
rinitis atrofi dan papiloma laring dapat anda jumpai; selain masalah
pengaruh lingkungan – dalam hal ini kebisingan terhadap fungsi
pendengaran khususnya.
Tidak ketinggalan pula artikel mengenai kanker nasofaring dan
perawatan trakeostomi – yang perlu diperhatikan, baik oleh tenaga medis
maupun keluarga pasien.
Artikel mengenai vertigo juga ikut melengkapi edisi ini
Selamat membaca, komentar dan kritik sejawat sekalian tetap kami
nantikan
Redaksi
2
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
2004
International Standard Serial Number: 0125 - 913X
REDAKSI KEHORMATAN
KETUA PENGARAH
Prof. Dr. Oen L.H. MSc
PEMIMPIN UMUM
Dr. Erik Tapan
KETUA PENYUNTING
- Prof. DR. Sumarmo Poorwo Soedarmo
Staf Ahli Menteri Kesehatan
Departemen Kesehatan RI
Jakarta
- Prof. Dr. R Budhi Darmojo
Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
Semarang
Dr. Budi Riyanto W.
- Prof. Drg. Siti Wuryan A Prayitno, SKM, - Prof. DR. Hendro Kusnoto, Drg, SpOrt.
Laboratorium Ortodonti
MScD, PhD.
PELAKSANA
Sriwidodo WS.
Bagian Periodontologi, Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Indonesia, Jakarta
TATA USAHA
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti
Jakarta
- Dodi Sumarna
- Djuni Pristiyanto
ALAMAT REDAKSI
- DR. Arini Setiawati
Majalah Cermin Dunia Kedokteran, Gedung Enseval
Jl. Letjen. Suprapto Kav. 4, Cempaka Putih, Jakarta
10510, P.O. Box 3117 JKT. Tlp. 021 - 4208171
E-mail : [email protected]
http: //www.kalbe.co.id/cdk
Bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jakarta
NOMOR IJIN
DEWAN REDAKSI
151/SK/DITJEN PPG/STT/1976
Tanggal 3 Juli 1976
PENERBIT
Grup PT. Kalbe Farma Tbk.
- Dr. Boenjamin Setiawan Ph.D
- Prof. Dr. Sjahbanar
Zahir MSc.
Soebianto
PENCETAK
PT. Temprint
http://www.kalbe.co.id/cdk
PETUNJUK UNTUK PENULIS
Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai
aspek kesehatan, kedokteran dan farmasi, juga hasil penelitian di bidangbidang tersebut.
Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk
diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran; bila pernah dibahas atau dibacakan
dalam suatu pertemuan ilmiah, hendaknya diberi keterangan mengenai nama,
tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut.
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris; bila menggunakan
bahasa Indonesia, hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang
berlaku. Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia
yang baku, atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Redaksi berhak
mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Setiap naskah harus disertai
dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. Untuk memudahkan para pembaca
yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak
dalam bahasa Inggris. Bila tidak ada, Redaksi berhak membuat sendiri abstrak
berbahasa Inggris untuk karangan tersebut.
Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/
folio, satu muka, dengan menyisakan cukup ruangan di kanan kirinya, lebih
disukai bila panjangnya kira-kira 6 - 10 halaman kuarto disertai/atau dalam
bentuk disket program MS Word. Nama (para) pengarang ditulis lengkap,
disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. Tabel/skema/
grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas-jelasnya dengan tinta
hitam agar dapat langsung direproduksi, diberi nomor sesuai dengan urutan
pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas. Bila terpisah
dalam lembar lain, hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam
naskah; disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/
atau Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals
(Ann Intern Med 1979; 90 : 95-9).
Contoh :
1. Basmajian JV, Kirby RL.Medical Rehabilitation. 1st ed. Baltimore, London:
William and Wilkins, 1984; Hal 174-9.
2. Weinstein L, Swartz MN. Pathogenetic properties of invading microorganisms. Dalam: Sodeman WA Jr. Sodeman WA, eds. Pathologic physiology: Mechanism of diseases. Philadelphia: WB Saunders, 1974;457-72.
3. Sri Oemijati. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Cermin
Dunia Kedokt. 1990; 64: 7-10.
Bila pengarang enam orang atau kurang, sebutkan semua; bila tujuh atau lebih,
sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk.
Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran, Gedung
Enseval, Jl. Letjen Suprapto Kav. 4, Cempaka Putih, Jakarta 10510 P.O.
Box 3117 JKT. Tlp. (021) 4208171. E-mail : [email protected]
Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan, akan diberitahu
secara tertulis.
Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai
dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup.
Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan
tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja
si penulis.
English Summary
RHINOSCLEROMA
ACUPUNCTURE FOR VERTIGO
Delfitri Munir, Rizalina A Asnir, Firmansyah
Prasti Pirawati, L. Yvonne Siboe
Bambang Supriyatno, Lia Amalia
Dept of Child Health, Faculty of
Medicine, University of Indonesia,
Jakarta, Indonesia
Dept. of ENT, Adam Malik General
Hospital, Medan, North Sumatra,
Indonesia
Laryngeal papilloma is a benign tumor frequently found in
children. It is caused by strains of
human papilloma virus (HPV)
family.
Practically all patients with
laryngeal papilloma present with
hoarseness or a weak voice;
chronic cough, paroxysms of
chocking; recurrent respiratory
infections also may occur. Partial
airway obstruction may manifest
as stridor or chest retractions.
Diagnosis can be confirmed using
a flexible fiberoptic laryngoscope
to visualize the larynx. Papillomata
have a characteristic wart-like
appearance, and tend to be
concentrated on the free margins
of true vocal folds, particularly at
the anterior commissure.
The mainstay of treatment is
surgical ablation. The role of
medications such as alphainterferon, acyclovir, ribavirin, and
retinoic acid are still debatable.
Rhinoscleroma is an endemic
disease; in Indonesia it is found in
North Sulawesi, North Sumatera
and Bali.
There is still no accurate and
successful management method
for this problem .
LARYNGEAL PAPILLOMA IN CHILDREN
Cermin Dunia Kedokt.2004; 144; 13-15
dmr,raa,fih
Dept. of Acupuncture Dr. Cipto
Mangunkusumo General Hospital,
Jakarta, Indonesia
Vertigo is a common complaint, referred to dizziness or a
sense of imbalance, can be due
to vestibular system disorder. The
symptoms may cause anxiety
and disturb the patient’s social
life.
Conventional treatment is still
not satisfactory.
This is a report of a 50 yearold female with vertigo, treated
with acupuncture and showed
good improvement.
Cermin Dunia Kedokt.2004: 144; 8-10
bso, laa
Fate is distinghished but an expensive tutor
(Goethe)
4
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
Cermin Dunia Kedokt.2004; 144; 47-51
ppi,lys
Artikel
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Rinitis Atrofi
Rizalina Arwinati Asnir
Bagian/SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara/
Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik, Medan
ABSTRAK
Rinitis atrofi sering ditemukan pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah,
lingkungan yang buruk dan di negara yang sedang berkembang. Etiologi dan
patogenesis rinitis atrofi sampai saat ini belum dapat diterangkan secara jelas, sehingga
pengobatannya belum ada yang baku.
Kata kunci : rinitis atrofi, sosial ekonomi rendah.
PENDAHULUAN
Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik, yang
ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka
dan pembentukan krusta.1-11 Secara klinis, mukosa hidung
menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering, sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk.1-9 Penyakit ini lebih
sering mengenai wanita,1-5,7,11-15 terutama pada usia pubertas.14,7,11,13
Sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial
ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk1-3,11-14 dan di
negara sedang berkembang.12,16
Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang
belum dapat diterangkan dengan memuaskan.1-5,7,9,10,14-16
Oleh karena etiologinya belum pasti, maka pengobatannya
belum ada yang baku. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala.1,2,4,11,17
Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika
tidak menolong, dilakukan operasi .1-5,11-15
SINONIM : Ozaena, rinitis fetida, rinitis krustosa.20
KEKERAPAN
Beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi
lebih sering mengenai wanita,1-5,7,11-15 terutama pada usia
pubertas.1-4,7,11,13 Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria,8
dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria.9 Samiadi
mendapatkan 4 penderita wanita dan 3 pria.20
Tetapi dari segi umur, beberapa penulis mendapatkan hasil
yang berbeda. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50
tahun,8 Jiang dkk berkisar 13-68 tahun9, Samiadi mendapatkan
umur antara 15-49 tahun.20
Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat
dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang
buruk1-3,11-14 dan di negara sedang berkembang.12,16 Di RS H
Adam Malik dari Januari 1999 sampai Desember 2000
ditemukan 6 penderita rinitis atrofi, 4 wanita dan 2 pria, umur
berkisar dari 10-37 tahun.
ETIOLOGI
Etiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.1-5,7,9,10,14-16 Beberapa teori yang
dikemukakan antara lain :
1) Infeksi kronik spesifik 1-4, 7,9,11,12,17
Terutama kuman Klebsiella ozaena. Kuman ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia.
Kuman lain adalah Stafilokokus, Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa, Kokobasilus, Bacillus mucosus, Diphteroid
bacilli, Cocobacillus foetidus ozaena
2) Defisiensi Fe1-4,7,12, vitamin A1,2,5,7,11
3) Sinusitis kronik1,2,5,12,16,18
5) Ketidakseimbangan hormon estrogen1-5,7,11
6) Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun1-4,7,5,7
7) Teori mekanik dari Zaufal4,5
8) Ketidakseimbangan otonom 4,7,12,17
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
5
9) Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome
(RSDS)4,5,17
10) Herediter5,7,17
11) Supurasi di hidung dan sinus paranasal5,16
12) Golongan darah.
Selain faktor-faktor di atas, rinitis atrofi juga bisa digolongkan atas : rinitis atrofi primer yang penyebabnya tidak
diketahui4,10 dan rinitis atrofi sekunder, akibat trauma hidung
(operasi besar pada hidung atau radioterapi) dan infeksi hidung
kronik yang disebabkan oleh sifilis, lepra, midline granuloma,
rinoskleroma dan tbc.
PATOLOGI DAN PATOGENESIS
Beberapa penulis menyatakan adanya metaplasi epitel
kolumnar bersilia menjadi epitel skuamous atau atrofik,3,4,5,9,11,12,15,16,19 dan fibrosis dari tunika propria.3,4,12, terdapat
pengurangan kelenjar alveolar baik dalam jumlah dan ukuran3,4,11 dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole
terminal.3,13 ;oleh karena itu secara patologi, rinitis atrofi bisa
dibagi menjadi dua:3,4,21
Tipe I : adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole
terminal akibat infeksi kronik; membaik dengan efek
vasodilator dari terapi estrogen.
Tipe II : terdapat vasodilatasi kapiler, yang bertambah jelek
dengan terapi estrogen.
Sebagian besar kasus merupakan tipe I. Endarteritis di arteriole
akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa. Juga
akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa.
Taylor dan Young mendapatkan sel endotel berreaksi
positif dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya
absorbsi tulang yang aktif.3,4
Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan krusta tebal yang melekat.10,11 Atrofi konka
menyebabkan saluran nafas jadi lapang.10,11
Ini juga dihubungkan dengan teori proses autoimun; Dobbie
mendeteksi adanya antibodi yang berlawanan dengan surfaktan
protein A. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama
menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi.
Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi mucus clearance dan mempunyai pengaruh kurang
baik terhadap frekuensi gerakan silia. Ini akan menyebabkan
bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya
mukosa hidung dan hilangnya silia. Mukus akan mengering
bersamaan dengan terkelupasnya sel epitel, membentuk krusta
yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan
kuman.7
GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN
Keluhan biasanya berupa : hidung tersumbat, gangguan
penciuman (anosmi), ingus kental berwarna hijau, adanya
krusta (kerak) berwarna hijau, sakit kepala, epistaksis dan
hidung terasa kering.1-5,10-12
Pada pemeriksaan ditemui : rongga hidung dipenuhi krusta
hijau, kadang-kadang kuning atau hitam; jika krusta diangkat,
terlihat rongga hidung sangat lapang, atrofi konka, sekret
purulen dan berwarna hijau, mukosa hidung tipis dan kering.
Bisa juga ditemui ulat/telur larva (karena bau busuk yang
6
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
timbul).
Sutomo dan Samsudin membagi ozaena secara klinik
dalam tiga tingkat21 :
a. Tingkat I : Atrofi mukosa hidung, mukosa tampak
kemerahan dan berlendir, krusta sedikit.
b. Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas, mukosa
makin kering, warna makin pudar, krusta banyak, keluhan
anosmia belum jelas.
c. Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga
konka tampak sebagai garis, rongga hidung tampak lebar sekali, dapat ditemukan krusta di nasofaring, terdapat anosmia
yang jelas.
DIAGNOSIS
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan : anamnesis,
pemeriksaan darah rutin, rontgen foto sinus paranasal, pemeriksaan Fe serum, Mantoux test, pemeriksaan histopatologi dan
test serologi (VDRL test dan Wasserman test) untuk menyingkirkan sifilis.1,2,9,11
Diagnosis Banding
Rinitis kronik tbc, rinitis kronik lepra, rinitis kronik sifilis
dan rinitis sika.21
KOMPLIKASI4,8,11
Dapat berupa: perforasi septum, faringitis, sinusitis, miasis
hidung, hidung pelana.
PENATALAKSANAAN
Tujuan pengobatan adalah: menghilangkan faktor etiologi
dan menghilangkan gejala. Pengobatan dapat diberikan secara
konservatif atau kalau tidak menolong dilakukan operasi.1,2
Konservatif
1) Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman,
dengan dosis adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang.1,2
Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12
minggu.3
2) Obat cuci hidung, untuk membersihkan rongga hidung
dari krusta dan sekret dan menghilangkan bau.
Antara lain :
a. Betadin solution dalam 100 ml air hangat atau
b. Campuran :
NaCl
NH4Cl
NaHCO3 aaa 9
Aqua ad 300 c
1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat
c. Larutan garam dapur
d. Campuran :
Na bikarbonat 28,4 g
Na diborat
28,4 g
NaCl
56,7 g dicampur 280 ml air hangat
Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi
dengan menghembuskan kuat-kuat, air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut, dilakukan dua kali sehari.
3) Obat tetes hidung , setelah krusta diangkat, diberi antara
lain : glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa,
oestradiol dalam minyak Arachis 10.000 U / ml, kemisetin anti
ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml. diberikan
tiga kali sehari masing-masing tiga tetes.
4) Vitamin A 3 x 10.000 U selama 2 minggu
5) Preparat Fe
6) Selain itu bila ada sinusitis, diobati sampai tuntas1-5,11-14
Sinha, Sardana dan Rjvanski melaporkan ekstrak plasenta
manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2
tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal
memberikan 93,3% perbaikan pada periode waktu yang sama.
Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar.3
Samiadi dalam laporannya memberikan : trisulfa 3 x 2
tablet sehari selama 2 minggu, natrium bikarbonat, cuci hidung
dengan Na Cl fisiologis 3 x sehari, kontrol darah dan urine
seminggu sekali untuk melihat efek samping obat, pembersihan
hidung di klinik tiap 2 minggu sekali, cuci hidung diteruskan
sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan pada 6 dari 7 penderita.21
OPERASI
Tujuan operasi antara lain untuk: menyempitkan rongga
hidung yang lapang, mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta dan mengistirahatkan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya regenerasi.
Beberapa teknik operasi yang dilakukan antara lain :
1) Young's operation
Penutupan total rongga hidung dengan flap. Sinha melaporkan hasil yang baik dengan penutupan lubang hidung
sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah satu hidung
bergantian masing-masing selama periode tiga tahun.
2) Modified Young's operation
Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm
yang terbuka.
3) Lautenschlager operation
Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian
dari etmoid, kemudian dipindahkan ke lubang hidung.
4) Implantasi submukosa dengan tulang rawan, tulang,
dermofit, bahan sintetis seperti Teflon, campuran Triosite dan
Fibrin Glue.
5) Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila
(Wittmack's operation) dengan tujuan membasahi mukosa
hidung.4,5,10-14,23
Mewengkang N melaporkan operasi penutupan koana
menggunakan flap faring pada penderita ozaena anak berhasil
dengan memuaskan.22
PROGNOSIS
Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan
penyakitnya.5
Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang
belum dapat diterangkan dengan memuaskan.
Oleh karena etiologinya belum pasti, maka pengobatannya
belum ada yang baku. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau operatif.
KEPUSTAKAAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
KESIMPULAN
Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik, yang
ditandai adanya atrofi progresif mukosa dan tulang konka
disertai pembentukan krusta.
22.
23.
Soetjipto D, Mangunkusumo E. Hidung . Dalam : Buku Ajar Ilmu
Penyakit Telinga Hidung Tenggorok . Edisi ke 3. Jakarta : FKUI, 1997;
91-3, 113-4.
Mangunkusumo E. Rinitis Atrofi. Dalam : Penatalaksanaan Penyakit dan
Kelainan Telinga Hidung Tenggorok. Jakarta : FKUI, 1992; 90-2.
Weir N, Wood DG. Infective Rhinitis and Sinusitis. Dalam : ScottBrown's Otolaryngology. 6th ed. Oxford : Butterworth - Heinemann,
1997; 4/8/26-7.
Ramalingam KK, Sreeramamoorthy B. A Short Practice of
Otolaryngology. Madras : All India Publisher, 1993; 202-5.
Kumar S. Fundamental of Ear,Nose & Throat Diseases and Head - Neck
Surgery. Calcutta : The New Book Stall, 1996; 218-21.
Lobo CJ, Hartley C, Farrington WT. Closure of the Nasal Vestibule in
Atrophic Rhinitis-A new non surgical technique. J Laryngol Otol 1998;
112 : 543-6.
Sayed RH, Elhamd KA, Kader MA. Study of Surfactant Level in Cases of
Primary Atrophic Rhinitis. J Laryngol Otol 2000; 114 : 254-9.
Baser B, Grewal DS, Hiranandani NL. Management of Saddle Nose
Deformity in Atrophic Rhinitis. J Laryngol Otol 1990 ; 104 : 404-7.
Jiang R,Hsu C,Chen C. Endoscopic Sinus Surgery and Postoperative
Intravenous Aminoglycoside in the Atrophic Rhinitis. Am J Rhinol 1998 ;
12 : 325-33.
Groves J,Gray RF.A Synopsis of Otolaryngology. 4th Bristol:Wright,
1985; 193-411.
Maqbool M. Textbook of Ear, Nose and Throat Diseases. 6th ed New
Delhi : Jaypee Brothers, 1993; 264-7.
Massegur H.Atrophic Rhinitis-Pathology, Etiology and Management.
Dalam : XVI Congress of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery.
Sydney, 1997; 1403-6.
Maran AGD. Disease of the Nose, Throat and Ear. Singapore : PG
Publishing, 1992; 40-1.
Colman BH. Disease of the Nose, Throat and Ear and Head and Neck.
14th ed Singapore : ELBS, 1987; 26-7.
Becker W, Naumann HH, Pfaltz CR. Ear, Nose and Throat Diseases. A
Pocket Reference. 2nd ed. New York : Georg Thieme Verlag, 1994; 218-9.
Hagrass, Gamea AM, Sherief SG.Radiological and Endoscopic Study of
the Sinus Maxilla in Primary Atrophic Rhinitis.J Laryngol Otol 1992
;106: 702-3.
Bertrand B, Doyen A, Elloy P. Triosite Implants and Fibrin Glue in the
Treatment of Atrophic Rhinitis:Technique and Results. Laryngoscope
1996; 106 : 652-7.
Ballenger JJ. Penyakit Telinga ,Hidung, Tenggorok , Kepala dan Leher.
Edisi 13. Jilid 1. Alih Bahasa : Staf Ahli Bag. THT FKUI. Jakarta : Bina
Rupa Aksara, 1994; 1-4, 10-5, 229.
Hilger PA. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. Dalam : Boies (ed),
Buku Ajar Penyakit THT.Edisi 6, Alih Bahasa : Wijaya, C. Jakarta: EGC,
1996; 173-82, 221-2.
Samiadi D. Laporan Penanggulangan Beberapa Kasus Rinitis Atrofi.
Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. Ujung Pandang,
1986; 549-55.
Mewengkang N, Samsudin, Sutomo. Penutupan Koana dengan Flap
Faring pada Penderita Ozaena Anak. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah
Konas VII Perhati. Ujung Pandang: 1986; 576-80.
Naumann HH. Head and Neck Surgery. Indication, Technique, Pitfalls.
Vol.1. New York : Georg Thieme Publishers, 1980; 349-51, 381-2.
Montgomery WW. Surgery of the Upper Respiratory System. 3rd
Baltimore : Williams & Wilkins, 1996; 492, 499.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
7
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Papiloma Laring pada Anak
Bambang Supriyatno, Lia Amalia
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
ABSTRAK
Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai di
saluran nafas anak; dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang dapat mengakibatkan kematian.
Etiologi pasti papiloma laring tidak diketahui; diduga berhubungan dengan infeksi
human papiloma virus (HPV) tipe 6 dan 11. Beberapa keadaan diduga berperan
sebagai faktor predisposisi seperti keadaan ekonomi rendah, higiene yang buruk,
infeksi saluran nafas kronik, kelainan imunologis, dan terdapatnya kondiloma akuminata pada ibu. Manifestasi klinis awal biasanya berupa suara serak sampai afonia serta
suara tangisan yang abnormal. Papiloma laring pada anak dapat menyebar ke trakea
dan bahkan sampai ke paru-paru. Diagnosis papiloma laring ditegakkan berdasarkan
anamnesis yang teliti, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan laringoskopi langsung. Pada
laringoskopi langsung dapat terlihat gambaran tumor menyerupai kembang kol, berwarna kemerahan, rapuh, mudah berdarah, dan pertumbuhannya eksofilik. Tatalaksananya berupa tindakan bedah dikombinasikan dengan fotodinamik; obat-obatan (medikamentosa) kurang berperan. Komplikasi yang mungkin timbul adalah sumbatan jalan
nafas serta penyebaran ke paru-paru. Prognosis kurang baik dalam hal rekurensi; pada
anak angka rekurensi (kekambuhan) masih cukup tinggi.
Kata kunci : papiloma laring, anak, rekurensi
PENDAHULUAN
Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang
sering dijumpai pada saluran napas anak. Papiloma laring
pertama kali dikenal sebagai kutil di tenggorok (warts in the
throat) oleh Donalus pada abad ke-17. Mc Kenzie memperkenalkan nama papiloma laring pada abad ke-19.1
Papiloma merupakan neoplasma laring jinak pada anak
tetapi dapat juga terjadi pada dewasa. Papiloma laring pada
anak dapat menjadi masalah jika menyumbat jalan napas.
Selain itu papiloma laring mempunyai kemampuan untuk
tumbuh kembali setelah pengangkatan dan meluas ke struktur
trakeobronkial.
8
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada saluran napas
merupakan penyebab potensial papiloma laring. Mc Kenzie
membedakan penyakit ini dari tumor lain secara klinis dan
menggunakan istilah “papiloma”.2,3
Papiloma merupakan jenis tumor yang berkembang dengan cepat, walaupun tidak ganas. Tumor ini dapat menyebar
ke rongga mulut, hidung, trakea dan paru, tetapi lokasi tersering adalah laring.4,5
Terdapat dua jenis papiloma laring; salah satu adalah papiloma laring juvenilis yang biasanya multipel dan cenderung
agresif. Yang lain adalah papiloma laring senilis yang soliter
dan kurang agresif tetapi dapat berkembang menjadi ganas.
INSIDENS
Papiloma laring lebih sering dijumpai pada anak, 80%
pada kelompok usia di bawah 7 tahun.6 Agung7 melaporkan 7
kasus antara 1970-1976, 6 di antaranya di bawah 12 tahun.
Sedangkan di Bagian THT RSCM ditemukan 14 kasus antara
1993-1997 dengan usia antara 2,5-18 tahun.
ETIOLOGI
Etiologi papiloma laring tidak diketahui dengan pasti.
Diduga Human Papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 berperan
terhadap terjadinya papiloma laring. Diduga ada hubungan antara infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring
pada anak.8,9 Hal ini terbukti dengan adanya HPV tipe 6 dan 11
pada kondiloma genital. Walaupun penemuan di atas menunjukkan peran infeksi virus pada papiloma laring, tetapi ada
faktor lain yang berperan., mengingat papiloma laring dapat
menghilang spontan saat pubertas.
Teori yang melibatkan faktor hormonal sebagai salah satu
penyebab pertama kali dikemukakan oleh Holinger.10
Terdapat beberapa faktor predisposisi papiloma laring
yaitu sosial ekonomi rendah dan higiene yang buruk, infeksi
saluran napas kronik, dan kelainan imunologis.3,11-13
HISTOPATOLOGI
Gambaran makroskopik papiloma laring berupa lesi eksofitik, seperti kembang kol, berwarna abu-abu atau kemerahan
dan mudah berdarah. Tipe lesi ini bersifat agresif dan mudah
kambuh, tetapi dapat hilang sama sekali secara spontan. 10
Gambaran mikroskopik menunjukkan kelompok stroma
jaringan ikat dan pembuluh darah seperti jari-jari yang dilapisi
lapisan sel epitel skuamosa dengan permukaan keratotik atau
parakeratotik. Kadang-kadang muncul gambaran sel yang bermitosis.10
MANIFESTASI KLINIS
Pada awalnya adalah gangguan fonasi berupa suara serak
sampai afonia dan suara tangisan abnormal pada anak. Bila
papiloma cukup besar dapat menyebabkan gangguan
pernapasan berupa batuk, sesak, dan stridor inspirasi.
Penyebaran ke trakea dan bronkus jarang ditemukan, tetapi
dapat terjadi pada pasien dengan riwayat ekstirpasi papiloma
atau riwayat trakeostomi sebelumnya, yang menimbulkan
sumbatan saluran napas atau penyakit parenkim paru. 14-16
Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4
derajat berdasarkan kriteria Jackson. Jackson I ditandai dengan
sesak, stridor inspirasi ringan, retraksi suprasternal, tanpa
sianosis. Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih
berat yaitu disertai retraksi supra dan infraklavikula, sianosis
ringan, dan pasien tampak mulai gelisah. Jackson III adalah
Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal,
epigastrium, dan sianosis lebih jelas, sedangkan Jackson IV
ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak
tegang, dan terkadang gagal napas.7,11
DIAGNOSIS
Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis yang teliti,
pemeriksaan fisis, dengan laringoskopi langsung atau tak langsung serta dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis.
Pada anamnesis jika terdapat suara serak dan suara
tangisan yang abnormal pada anak dengan atau tanpa riwayat
infeksi yang telah diobati tetapi tidak ada perubahan, maka
perlu dicurigai suatu papiloma laring. Biasanya terdapat stridor
inspirasi dan pada pemeriksaan laringoskopi langsung tampak
gambaran tumor yang menyerupai kembang kol, kemerahan,
rapuh, dan mudah berdarah, serta pertumbuhannya eksofilik.
Penyebaran ke trakea dan paru dapat diidentifikasi melalui
foto toraks dan CT Scan. Pada foto toraks dapat terlihat
gambaran kavitas.17
Diagnosis banding
Diagnosis sulit terutama pada fase awal. Sering disalah
diagnosis dengan laringo-trakeo-bronkitis, asma bronkial, laringomalasea, paralisis pita suara, nodul pita suara atau kista
laring kongenital. Diagnosis harus dikonfirmasi dengan laringoskopi langsung dan biopsi.15
PENATALAKSANAAN
Ada beberapa perangkat dalam tatalaksana papiloma
laring, semuanya mempunyai prinsip sama yaitu mengangkat
papiloma dan menghindari rekurensi.
Umumnya terapi dapat dikategorikan sebagai berikut :
a. Bedah
Terapi bedah harus berdasarkan prinsip pemeliharaan
jaringan normal untuk mencegah penyulit seperti stenosis
laring. Prosedur bedah ditujukan untuk menghilangkan papiloma dan/atau memperbaiki dan mempertahankan jalan napas.
Beberapa teknik yang digunakan antara lain: trakeostomi,
laringofissure, mikrolaringoskopi langsung, mikrolaringoskopi
dan ekstirpasi dengan forseps, mikrokauter, mikrolaringoskopi
dengan diatermi, mikrolaringoskopi dengan ultrasonografi,
kriosurgeri, carbondioxide laser surgery.17,18 Pada kasus papiloma laring yang berulang, terapi bedah pilihan adalah pengangkatan tumor dengan laser CO2.
b. Medikamentosa
Pemberian obat (medikamentosa) pernah dilaporkan baik
digunakan secara sendiri maupun bersama-sama dengan tindakan bedah. Obat yang digunakan antara lain antivirus, hormon (dietilstilbestrol), steroid, dan podofilin topikal. Terapi
medikamentosa ini tidak terlalu bermanfaat.18-20
c. Imunologis
Terapi imunologi untuk papiloma laring umumnya hanya
suportif menggunakan interferon.18
d. Terapi fotodinamik
Terapi ini merupakan satu dari perangkat terbaru dalam
tatalaksana papilomatosis laring rekuren.14 Terapi ini menggunakan dihematoporphyrin ether (DHE) yang tadinya dikembangkan untuk terapi kanker. Jika diaktivasi dengan cahaya
dengan panjang gelombang yang sesuai (630 nm), DHE menghasilkan agen sitotoksik yang secara selektif menghancurkan
sel-sel yang mengandung substansi tersebut. Basheda dkk.
melaporkan bahwa terapi fotodinamik efektif menghilangkan
lesi endobronkial, tetapi tidak untuk lesi parenkim.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
9
KOMPLIKASI
Pada umumnya papiloma laring pada anak dapat sembuh
spontan ketika pubertas; tetapi dapat meluas ke trakea, bronkus,
dan paru, diduga akibat tindakan trakeostomi, ekstirpasi yang
tidak sempurna.13 Meskipun jarang, radiasi diduga menjadi
faktor yang mengubah papiloma laring menjadi ganas.
7.
8.
9.
10.
PROGNOSIS
Prognosis papiloma laring umumnya baik. Angka rekurensi (berulang) dapat mencapai 40%. Sampai saat ini belum
diketahui secara pasti faktor-faktor yang mempengaruhi rekurensi pada papiloma.16 Diagnosis dini dan penanganan yang
tepat diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap
rekurensi. Penyebab kematian biasanya karena penyebaran ke
paru.
KEPUSTAKAAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
10
Harley C, Hamilton, Birzgalis AR. Recurrent respiratory papillomatosis.
The Manchester experience 1974-1992. Laryngol and Otol 1994;
108:226-9.
Kohlmoos HW. Papilloma of the larynx in children. Arch Otolaryngol
1995; 11:242-52.
Elo J, Hidvigi J, Bajtai A. Papova viruses and recurrent laryngeal
papillomata. Arch Otolaryngol 1995; 115:322-5.
Erisen L, Fagan JJ, Myers EN. Late recurrences of laryngeal papillomatosis. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1996; 122:942-4.
Kashima H, Mounts P, Leventhal B. Sites of predilection in recurrent
respiratory papillomatosis. Ann Otol Rhinol Laryngol 1993; 102:580-3.
Steinberg BM, Topp WC, Schneider PS, et al. Laryngeal papillomavirus
infection during clinical remission, N Engl J Med 1983; 308:1261-4.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
Agung IB, Losin. Pengelolaan papiloma laring di Bagian THT FK-UGM.
Laporan pendahuluan KONAS PERHATI V Semarang, 1977; .h.669-75.
Smith EM, Pignatari SSN, Gray SD. Human papillomavirus infection in
papillomas and nondisease respiratory sites of patients with recurrent
respiratory papillomatosis using the polymerase chain reaction. Arch
Otolaryngol Head Neck Surg 1993; 119:554-7.
Derkay CS. Task force on recurrent respiratory papillomas. A preliminary
study. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1995; 121:1386-91.
Abramson AL, Steinberg BM, Winkler B. Laryngeal papillomatosis:
clinical histopathologic and molecular studies. Laryngoscope 1987;
97:678-85.
Yasin AR. Penelitian pendahuluan pada papiloma laring. Skripsi. THT
FKUI, 1982.
Mulloly VM, Abramson AL, Steinberg BM. Clinical effect of alpha
interferon dose variation on laryngeal papillomas. Laryngoscope 1998;
98:1324-9.
Bashida SG, Mehta AC, de Boer G, Orlowski JP. Endobronchial and
parenchymal juvenile laryngotracheobronchial papillomatosis effect of
photodynamic therapy. Chest 1991; 100:1458-64.
Shikowitz MJ. Comparison of pulsed and continuous wave light in
photodynamic therapy of papillomas: An experimental study.
Laryngoscope 1992; 102:300-10.
Ossof RH, Werkheven JA, Dere H. Soft tissue complication of laser
surgery for reccurent papillomatosis. Laryngoscope 1991; 101:1162-6.
Rimell EM, Shoemaker DL, Pou AM. Pediatric respiratory
papillomatosis. Prognostic role of viral typing and cofactors. Laryngoscope 1997; 107:915-47.
White A, Haliwell M, Fairman DH. Ultrasonic treatment of laryngeal
papillomata. Bristol General Hospital. h.249-60.
Haglund S, Lundwuist P, Cantell K. Interferon therapy in juvenile
laryngeal papillomatosis. Arch Otolaryngol 1981; 107:327-32
Green GE, Bauman NM, Smith RJH. Pathogenesis and treatment of
juvenile onset recurrent respiratory papillomatosis. Otolaryngol Clin N
Am 2000; 33:187-207.
Derkay CS, Darrow DH. Recurrent respiratory papillomatosis of the
larynx. Current Diagnosis and Treatment. Otolaryngol Clin N Am 2000;
33:1-12.
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Kista Duktus Tiroglosus
Hafni
Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara /
Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik, Medan
ABSTRAK
Kista duktus tiroglosus merupakan 70 % dari kasus kista yang ada di leher. Kista
ini lebih sering terjadi pada anak. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bertujuan
untuk memperkecil angka kekambuhan yaitu dengan mengangkat kista beserta
duktusnya.
Kata kunci : Kista duktus tiroglosus, kekambuhan
PENDAHULUAN
Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk
dari duktus tiroglosus yang menetap sepanjang alur penurunan
kelenjar tiroid, yaitu dari foramen sekum sampai kelenjar tiroid
bagian superior di depan trakea.1-11 Kista ini merupakan 70%
dari kasus kista yang ada di leher.4,5
Kista ini biasanya terletak di garis median leher, dapat
ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas
kelenjar tiroid.4-10,12
Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus yang banyak
dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka
kekambuhan, yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya, bagian tengah korpus hiod, traktus yang menghubungkan
kista dengan foramen saekum serta mengangkat otot lidah di
sekitarnya, seperti yang dilakukan Sistrunk pada tahun
1920.1,3,4,5,9,10,13
KEKERAPAN
Beberapa penulis menyatakan bahwa kasus ini merupakan
kasus terbanyak dari massa non neoplastik di leher, merupakan
40% dari tumor primer di leher.1,13,14 Ada penulis yang
menyatakan hampir 70% dari seluruh kista di leher adalah kista
duktus tiroglosus.5,6
Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak,10,14 walaupun dapat ditemukan di semua usia.4,9,10,12 Predileksi umur
terbanyak antara umur 0 – 20 tahun yaitu 52%, umur sampai 5
tahun terdapat 38%.4,11 Sistrunk (1920) melaporkan 31 kasus
dari + 86.000 pasien anak.3 Tidak terdapat perbedaan risiko
terjadinya kista berdasarkan jenis kelamin dan umur yang bisa
didapat dari lahir sampai 70 tahun, rata-rata pada usia 5,5
tahun.3,5
Penulis lain mengatakan predileksi usia kurang dari 10
tahun sebesar 31,5%, pada dekade ke dua 20,4%, dekade ke
tiga 13,5% dan usia lebih dari 30 tahun sebesar 34,6%.1,5
Waddell mendapatkan 28 kasus kista duktus tiroglosus secara
histologik dari 61 pasien yang diduga menderita kista
tersebut.12 Tri D dkk melaporkan 8 kasus kista duktus
tiroglosus dari 1983-1985 di RS Kariadi Semarang.11
PATOGENESIS
Terdapat dua teori yang dapat menyebabkan terjadinya
kista duktus tiroglosus :
1) infeksi tenggorok berulang akan merangsang sisa epitel
traktus, sehingga mengalami degenerasi kistik.
2) sumbatan duktus tiroglosus akan mengakibatkan terjadinya
penumpukan sekret sehingga membentuk kista.
Teori lain mengatakan mengingat duktus tiroglosus
terletak di antara beberapa kelenjar limfe di leher, jika sering
terjadi peradangan, maka epitel duktus juga ikut meradang,
sehingga terbentuklah kista.1
LOKASI
Kista duktus tiroglosus dapat tumbuh di mana saja di garis
tengah leher, sepanjang jalur bebas duktus tiroglosus mulai dari
dasar lidah sampai ismus tiroid.11
Lokasi yang sering adalah1,5 :
- intra lingual : 2,1%
- suprahioid
: 24,1%
- tirohioid
: 60,9%
- suprasternal : 12,9%
Sedangkan Ward4 mendapatkan dari 72 pasien dengan kista
duktus tiroglosus, lokasinya terdapat di:
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
11
- submental
: 2
- suprahioid
: 18
- transhioid
: 2
- infrahioid
: 43
- suprasternal : 3
Hanlon mendapatkan 1 kasus kista duktus tiroglosus yang
lokasinya jauh ke lateral.8
4) Kista dipisahkan dari jaringan sekitarnya, sampai tulang
hioid. Korpus hioid dipotong satu sentimeter.
5) Pemisahan diteruskan mengikuti jalannya duktus ke
foramen sekum. Duktus beserta otot berpenampang setengah
sentimeter diangkat. Foramen sekum dijahit, otot lidah yang
longgar dijahit, dipasang drain dan irisan kulit ditutup
kembali.5,11
GEJALA KLINIK
Keluhan yang sering terjadi adalah adanya benjolan di
garis tengah leher, dapat di atas atau di bawah tulang hioid.
Benjolan membesar dan tidak menimbulkan rasa tertekan di
tempat timbulnya kista.
Konsistensi massa teraba kistik, berbatas tegas, bulat,
mudah digerakkan, tidak nyeri, warna sama dengan kulit
sekitarnya dan bergerak saat menelan atau menjulurkan
lidah.1,6,7,10 Diameter kista berkisar antara 2-4 cm, kadangkadang lebih besar.9
Bila terinfeksi, benjolan akan terasa nyeri. Pasien mengeluh nyeri saat menelan dan kulit di atasnya berwarna merah.
KOMPLIKASI
Fistel duktus tiroglosus dapat timbul spontan atau sekunder
akibat trauma, infeksi atau operasi yang tidak adekuat. Kejadian fistel ini antara 15-34%.5
DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik; yang
harus dipikirkan pada setiap benjolan di garis tengah leher.
Untuk fistula, diagnosis dapat ditegakkan menggunakan
suntikan cairan radioopak ke dalam saluran yang dicurigai dan
dilakukan foto Rontgen.2,6,11
Diagnosis Banding
1. Lingual tiroid
2. Kista dermoid
KESIMPULAN
Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk
dari duktus tiroglosus yang tetap ada sepanjang alur penurunan
kelenjar tiroid. Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang
ada di leher. Biasanya terletak di garis median leher yang dapat
ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas
kelenjar tiroid.
Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak, walaupun
dapat ditemukan pada semua usia. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus dengan cara Sistrunk yang sudah banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan.
KEPUSTAKAAN
1.
3.
4.
Kista brankial
Lipoma1,11
2.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bervariasi dan
banyak macamnya, antara lain insisi dan drainase, aspirasi
perkutan, eksisi sederhana, reseksi dan injeksi dengan bahan
sklerotik. Dengan cara-cara tersebut angka kekambuhan
dilaporkan antara 60-100%. Schlange (1893) melakukan eksisi
dengan mengambil korpus hioid dan kista beserta duktusduktusnya;dengan cara ini angka kekambuhan menjadi 20%.11
Sistrunk (1920) memperkenalkan teknik baru berdasarkan
embriologi, yaitu kista beserta duktusnya, korpus hioid, traktus
yang menghubungkan kista dengan foramen sekum serta otot
lidah sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat. Cara ini dapat
menurunkan angka kekambuhan menjadi 2-4 %.5,11
3.
Cara Sistrunk :
1) Penderita dengan anestesi umum dengan tube endotrakea
terpasang, posisi terlentang, kepala dan leher hiperekstensi.
2) Dibuat irisan melintang antara tulang hioid dan kartilago
tiroid sepanjang empat sentimeter. Bila ada fistula, irisan berbentuk elips megelilingi lubang fistula.
3) Irisan diperdalam melewati jaringan lemak dan fasia; fasia
yang lebih dalam digenggam dengan klem, dibuat irisan memanjang di garis media. Otot sternohioid ditarik ke lateral
untuk melihat kista di bawahnya.
10.
12
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
4.
5.
6.
7.
8.
9.
11.
12.
13.
14.
Maran AGD. Benign diseases of the neck. Dalam : Scott-Brown’s
Otolaryngology. 6th ed. Oxford : Butterworth - Heinemann, 1997; 5/16/14.
Ballenger JJ. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher.
Edisi 13. Jilid 1. Alih Bahasa : Staf Pengajar Bag. THT FKUI. Jakarta :
Bina Rupa Aksara, 1994; 295-6, 381-2.
Cohen JI. Massa Jinak Leher. Dalam Boies. Buku Ajar Penyakit THT.
Edisi 6, Alih Bahasa : Wijaya C. Jakarta : EGC, 1996; 415-21.
Karmody CS. Developmental Anomalies of the Neck. Dalam: Pediatric
Otolaryngology. 2nd ed. Bluestone CD, Stool SE, Scheetz MD (eds.).
Philadelphia : WB Saunders Co, 1990; 1313-14.
Sobol M. Benign Tumors. Dalam : Comprehensive Management of Head
and Neck Tumors. Vol. 2. Thawley S, Panje WR (eds.). Philadelphia :
WB Saunders Co, 1987; 1362-69.
Montgomery WW. Surgery of the Upper Respiratory System. 2nd ed. Vol.
II. Philadelphia : Lea & Febiger, 1989; 88.
Colman BH. Disease of Nose, Throat and Ear and Head and Neck, A
Handbook for Students and Practitioners. 14th ed. Singapore : ELBS,
1987; 183.
O’Hanlon DM, Walsh N, Corry J et al. Aberrant thyroglossal cyst. J.
Laryngol. Otol. 1994; 108 : 1105-7.
Pincu RL. Congenital Neck Masses and Cysts. Dalam : Head and Neck
Surgery - Otolaryngology. Vol. 1. Bailey JB, Johnson JT, Kohut RI et al.
Philadelphia : JB Lippincott Co, 19; 755.
Ellis PDM. Branchial cleft anomalies, thyroglossal cysts and fistulae.
Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. 6th ed. Oxford: Butterworth –
Heinemann, 1997; 6/30/8-12.
Damijanti T, Suparjadi S, Samsudin. Tata Laksana Kiste Duktus
Tiroglosus di UPF THT RSDK Semarang Th. 1983 - 1985. Dalam :
Kumpulan Naskah Konas VI Perhati. Ujung Pandang. 1986; 760-7.
Waddell A, Saleh H, Robertson N et al. Thyroglossal duct remnants. J.
Laryngol. Otol. 2000; 114: 128-9.
Urben SL, Ransom ER. Fusion of the thyroid interval in a patient with a
thyroglossal duct cyst. Otolaryngol. Head and Neck Surg. 120 (5): 757-9.
Greinwald JH, Leichtman LG, Simko MEJ. Hereditary Thyroglossal Duct
Cyst. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 1996; 122: 1094-6.
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Rinoskleroma
Delfitri Munir, Rizalina A Asnir, Firmansyah
Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara /
Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik, Medan
ABSTRAK
Rinoskleroma merupakan penyakit endemik, di Indonesia terutama di Sulawesi
Utara, Sumatera Utara dan Bali.
Belum ada cara penanggulangan yang tepat dan memuaskan untuk penyakit ini
sampai sekarang.
PENDAHULUAN
Rinoskleroma adalah penyakit yang jarang di Amerika
Serikat dan Inggris, tapi endemik di beberapa negara di Asia,
Amerika, Eropa dan Afrika.1-7
Di Indonesia, rinoskleroma telah dilaporkan sejak sebelum
perang dunia ke dua. Kasus pertama ditemukan oleh Snigders
dan Stoll (1918) di Sumatera Utara.2 Dilaporkan banyak
terdapat di Sulawesi Utara, Sumatera Utara dan Bali.1,8
Pengobatan meliputi medikamentosa, radiasi dan pembedahan, namun sampai sekarang belum ada cara tepat yang
memberikan hasil memuaskan.6,8
Rinoskleroma adalah penyakit menahun granulomatosa
yang bersifat progresif, mengenai traktus respiratorius bagian
atas terutama hidung. Penyakit ini ditandai dengan penyempitan rongga hidung sampai penyumbatan oleh suatu jaringan
granulomatosa yang keras serta dapat meluas ke nasofaring,
orofaring, subglotis, trakea dan bronkus.
Rinoskleroma disebabkan oleh bacilus gram negatif
(Klebsiella rhinoscleromatis).1,8-10
Penyakit ini pertama kali digambarkan oleh Von Hebra
(1870). Mikulitz menemukan sel-sel yang dianggap khas untuk
penyakit ini dan Von Frisch menemukan basil jenis Klebsiella
yang dianggap sebagai penyebab penyakit ini.2,8,9
Infeksi biasanya dimulai dari bagian anterior hidung sebagai plak submukosa yang lembut, meluas secara bertahap
menjadi nodul padat yang tidak sensitif, dan dalam beberapa
tahun akan mengisi dan menyumbat hidung. Bila tidak diterapi
akan meluas ke bibir atas dan hidung bawah sehingga me-
nimbulkan deformitas yang luas.8,10
Diagnosis berdasarkan perjalanan klinis dan pemeriksaan
patologi spesimen yang memperlihatkan sel-sel Mikulicz yang
khas dan bakteri berbentuk batang dalam sitoplasma.5,7
INSIDEN
Rinoskleroma dapat mengenai semua usia, tetapi sering
pada dewasa muda.1,2,9 Kebanyakan penderita ditemukan pada
dekade dua dan tiga. Penyakit ini sering dijumpai pada sosial
ekonomi yang rendah, lingkungan hidup yang tidak sehat dan
gizi yang jelek.1,2 Belinoff melaporkan 94,5 % terdapat pada
golongan pekerja kasar seperti petani.8 Fisher menyatakan tidak
ada perbedaan yang nyata antara laki-laki dan perempuan.8,9,11
Penyakit ini merupakan penyakit endemik di Polandia,
Cekoslovakia, Rumania, Rusia, Ukraina, Guatemala, Salvador,
Kolumbia, Mesir, Uganda, Nigeria, India, Philipina dan
Indonesia.2-4,7,9,11,13-16
Di Indonesia banyak terdapat di Sulawesi Utara, Sumatera
Utara dan Bali.1,8
ETIOLOGI
Rinoskleroma disebabkan oleh Klebsiela rhinoskleromatis
yang merupakan basil Gram negatif.1-16 Penyakit ini juga dihubungkan dengan AIDS dan defisiensi sel T.2,7
HISTOPATOLOGI
Penyakit rinoskleroma adalah penyakit radang menahun
granulomatosa dari submukosa dengan gambaran histo-
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
13
patologis yang khas, berupa hiperplasi dan hipertrofi epitel
permukaan, jaringan ikat di bawah epitel berbentuk trabekula
dan di infiltrasi oleh sel-sel besar dengan vakuola pada
sitoplasma. Sel-sel ini mempunyai inti di tepi dan di dalam
vakuola terdapat banyak basil berbentuk batang yang kemudian
dikenal sebagai basil dari Von Frisch. Di samping itu terdapat
pula sebukan sel-sel plasma, limfosit dan histiosit.
Sel-sel besar dengan vakuola dan basil-basil tersebut
kemudian dikenal dengan sel-sel dari Mikulicz. Sel-sel ini
menurut Fischer dan Hoffman penting dalam menegakkan
diagnosis penyakit rinoskleroma. Toppozada mengemukakan
bahwa sel ini berasal dari sel-sel plasma yang banyak terdapat
pada penyakit ini.9
Secara histopatologis penyakit ini terdiri dari tiga stadia;
yang menunjukkan gambaran khas adalah stadium granulomatosa2,9,12
1. Stadium kataral/ atropik
Metaplasi skuamosa dan infiltrasi subepitel nonspesifik
dari sel PMN dengan jaringan granulasi.
2. Stadium granulomatosa
Gambaran diagnostik ditemukan pada stadium ini berupa
sel radang kronik, Russel body, hiperplasi pseudo epiteliomatosa, histiosit besar bervakuola yang mengandung Klebsiella
rhinoskleromatis (Mikulicz sel).
3. Stadium sklerotik
Fibrosis yang luas, yang menyebabkan stenosis dan kelainan bentuk.
GEJALA KLINIS
Gejala tergantung pada area, perluasan dan lamanya
penyakit.1
Di hidung dapat dibedakan menjadi tiga stadium 1,2,8-11,14:
- Stadium I (Kataralis, Atrofi, Eksudasi)
Ditemukan pada usia sekolah. Gambaran penyakit pada
stadium ini tidak khas, sering seperti rinitis biasa.
Dimulai dengan cairan hidung encer, sakit kepala,
sumbatan hidung yang berkepanjangan, kemudian diikuti
cairan mukopurulen berbau busuk; dapat terjadi gangguan
penciuman.
- Stadium II (Granulomatous, Infiltratif, Noduler)
Ditandai dengan hilangnya gejala rinitis. Terjadi pertumbuhan yang disebut nodular submucous infiltration di mukosa
hidung yang tampak sebagai tuberkel di permukaan hidung.
Lama-lama tuberkel ini bergabung menjadi satu massa noduler
yang sangat besar, mudah berdarah, kemerahan, tertutup
mukosa dengan konsistensi padat seperti tulang rawan.
Kemudian terjadi invasi, dapat ke arah posterior (nasofaring)
maupun ke depan (nares anterior).
- Stadium III (Skleromatous, Stenosis, Sikatrik)
Massa secara perlahan-lahan menjadi avaskuler dan terjadi
fibronisasi yang diikuti oleh adhesi struktur jaringan lunak,
kontraksi jaringan yang akhirnya membentuk jaringan parut
dan penyempitan jalan nafas.
Pada stadium ini sel-sel Mikulicz sulit ditemukan.
Proses yang sama dapat terjadi pada mulut, faring, laring,
trakea dan bronkus.
14
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
Keluhan penderita sesuai dengan stadiumnya.
Pada stadium I, hanya pilek yang tidak mau sembuh
dengan pengobatan biasa. Lebih lanjut rongga hidung mulai
dipenuhi krusta yang menyebabkan hidung tersumbat dan
berbau busuk serta mukosa hidung menjadi kemerahan.
Pada stadium II, di samping keluhan hidung tersumbat
juga sering terjadi perdarahan dari hidung. Pada stadium ini
biasanya penyakit mudah dikenali. Dari pemeriksaan, kavum
nasi dipenuhi oleh jaringan yang mudah berdarah, kemerahan,
konsistensi padat, permukaan licin tanpa ulkus. Pada stadium
ini penyakit mudah meluas sampai ke traktus respiratorius
bagian bawah.
Stadium III adalah stadium yang sudah tenang dengan
keluhan dan gejala dari sisa kelainan yang menetap akibat
proses sikatrisasi dan kontraksi konsentrik jaringan granulomatosa yang mengeras.1,6,8,11
DIAGNOSIS
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik yang meliputi : rinoskopi anterior/posterior,
laringoskopi indirek/direk dan bronkoskopi, ditambah dengan
pemeriksaan penunjang seperti radiologi, bakteriologi,
histopatologi, serologi (test komplemen fiksasi, test aglutinasi)
dan imunokimia.1,2,7,810,14,15
Diagnosis Banding2,7,13,15
1. Proses infeksi granulomatosa
a. Bakteri : Tuberkulosis, Sifilis, Lepra
b. Jamur : Histoplasmosis, Blastomikosis, Sporotrikosis,
Koksidioidomikosis
c. Parasit : Leismaniasis mukokutaneus
2. Sarkoidosis
3. Wegener granulomatosis
PENATALAKSANAAN
Meliputi : medikamentosa, radiasi dan tindakan bedah;
namun sampai sekarang belum ada cara yang tepat dan
memuaskan.6,8
1. Medikamentosa
Antibiotik sangat berguna jika hasil kultur positif, tetapi
kurang berharga pada stadium sklerotik.
Antibiotik yang dapat digunakan antara lain:
- Streptomisin : 0,5-1 g/ hari
- Tetrasiklin : 1-2 g/ hari
- Rifampisin 450 mg/ hari
- Khloramphenikol, Siprofloksasin, Klofazimin1,2,710,11,13-15
Terapi antibiotik diberikan selama 4-6 minggu dan dilanjutkan
sampai dua kali hasil pemeriksaan kultur negatif.8
Rolland menggunakan kombinasi Streptomisin dan Tetrasiklin dengan hasil yang memuaskan.9
Steroid dapat diberikan untuk mencegah sikatrik pada
stadium granulomatosa.3,10
2. Radiasi
Terapi radiasi pernah diberikan oleh Massod, tetapi hasilnya
belum memuaskan.8,11
3.
Dilatasi
Cara dilatasi dapat dicoba untuk melebarkan kavum nasi
dan nasofaring terutama bila belum terjadi sumbatan total.1,9
4. Pembedahan
Tindakan ini dilakukan pada jaringan skleroma yang terbatas di dalam rongga hidung, sehingga pengangkatan dapat
dikerjakan dengan mudah secara intranasal. Jika terjadi
sumbatan jalan nafas (seperti pada skleroma laring) harus
dilakukan trakeostomi.1,4,7,9,10,13,14,16
KOMPLIKASI
Komplikasi dapat timbul akibat perluasan penyakit ke :
1. Organ sekitar hidung :
- Sinus paranasal
- Saluran lakrimal (dakrioskleroma)
- Orbita : proptosis, kebutaan
- Telinga bagian tengah (otoskleroma)
- Palatum mole, uvula, orofaring
2. Laring, sering timbul di daerah subglotik yang mengakibatkan kesukaran bernafas, asfiksia dan kematian.
3. Saluran nafas bawah: sumbatan trakeobronkial, atelektasis
paru.
4. Intrakranial
Di samping akibat perluasan penyakit, komplikasi dapat
juga timbul berupa perdarahan (pada stadium granulomatosa)
dan berdegenerasi maligna.1
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
KEPUSTAKAAN
1.
Pranowo S, Ahmad M, Wiratno dkk. Rinoskleroma di RS. Dr. Kariadi
Semarang. Dalam Kumpulan naskah lengkap ilmiah KONAS VII
PERHATI. Surabaya, Agustus. 1983; h 457-66.
15.
16.
http//www.atlases.muni.ce/atl-en/sect-sect-58/html.
Hilger PA. Penyakit hidung. Dalam Boies (ed). Buku Ajar penyakit THT.
Ed VI. EGC. Jakarta, 1997. h 210.
Yigla M, Ben-izhak O, Oren I et al. Laryngotracheobronchial
involvement in a patient with nonendemic rhinoscleroma. Chest. June
2000. http//www.afip.org/departements/endocrine/case/dec00/december2
htm.
Wilson WR, Montgomery WW. Infectious disease of the paranasal
sinuses. In: Otolaringology. Vol III. Ed III. USA: WB Saunders Co.
1991; p. 1851-52.
Balenger JJ. Granuloma kronis pada muka, hidung, faring dan telinga.
Dalam: Penyakit telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher. Jilid I. ed
13. Binarupa Aksara. Jakarta, 1994; h 368-70.
Groves C. Department of pathology. Vol 17. No 4. January. 1998.
http//www.162.129.103.32/micro/v17n04.htm.
Suardana W, Masna PW, Tjekeg M dkk. Beberapa aspek penyakit
rinoskleroma di bagian THT FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar.
Dalam : Kumpulan Naskah KONAS VI PERHATI. Medan, Juli. 1980; h
128-34.
Desasouza S, Chitale A. Scleroma. In XVI World Congress of
Otorhinolaringology head and neck surgery. Vol 1. Monduzzi. Sydney:
March. 1997; p. 603-7.
Ramalingam KK, Sreemamoorthy B. Infections of the nose. In A Short
Practice of Otolaryngology. ed I India: All India Publishers. 1993; p. 2089.
Wein N. Infective rhinitis and sinusitis. In Scott-Brown’s Otolaryngology. Vol IV. Ed VI. Butterworth-Heinemann. Great Britain: 1997; h
4/8/34-35
Rhinoscleroma http//www.thedoctorsdoctor.com/diseases/rhinoscleroma.
htm
Colman BH. Diseases of the nasal cavity. In: Diseases of the nose, throat
and ear and head and neck. ed IV. Longman Singapore Publ. 1990; p. 40.
Fried MP, Shapiro J. Acute and chronic laryngeal infections. In
Otolaryngology. Vol III. Ed III. USA: WB Saunders Co. 1991; h 224556.
Becker W, Nauman HH, Pfaltz CR. Ear, nose and throat diseases. Ed II.
New York: Thieme medical publishers inc. 1993; p. 206-7.
Maran AGD. Benign Tumours and Granulomas in Nose, Throat and Ear.
Ed X. PG Publishing. 1990; p. 61.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
15
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Kanker Nasofaring
Epidemiologi dan
Pengobatan Mutakhir
R. Susworo
Guru Besar dan Spesialis Radiologi (Konsultan) Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Telah diketahui sejauh ini bahwa proses terjadinya
penyakit kanker berlangsung dalam tahapan tahapan yang
disebut sebagai mekanisme karsinogenesis. Bermula dari
terjadinya defek atau kesalahan letak susunan DNA dalam sel
manusia yang mengakibatkan tidak terkontrolnya mekanisme
pertumbuhan sel. Sel akan tumbuh tidak normal dan
berlebihan. Berbagai faktor telah diketahui atau dicurigai
sebagai penyebab terjadinya kekacauan struktur ini. Antara lain
disebutkan faktor makanan, seperti konsumsi lemak yang
terlalu tinggi, pola hidup, seperti perokok berat, faktor
eksternal seperti sinar ultraviolet dan sinar radioaktif, pajanan
pada bahan kimia atau oleh virus. Berbagai kekacauan struktur
ini telah dapat diidentifikasi oleh para pakar, misalnya kelainan
pada struktur gen BRCA1 dan BRCA2 selalu diasosiasikan
dengan kanker payudara atau indung telur (ovarium), atau gen
HLA A2B46 pada pasien kanker nasofaring. Perubahan genetik
ini mengakibatkan proliferasi sel sel kanker secara tidak
terkontrol. Beberapa perubahan genetik ini sebagian besar
akibat mutasi, putusnya kromosom (chromosome breaks) dan
delesi pada sel sel somatik. Sebagian lagi bersifat diturunkan
Adakalanya manifestasi kanker ini memerlukan pula pemicu,
terutama pada kelainan struktur gen yang diturunkan.
KANKER NASOFARING (KNF)
Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang
terletak posterior dari kavum nasi dan di atas bagian bebas dari
langit langit lunak. Yang disebut KNF adalah kanker yang
terjadi di selaput lendir daerah ini, tepatnya pada cekungan
Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang
menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring.
Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi, yakni 4,7
kasus baru per tahun per 100.000 penduduk1. Catatan dari
berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa KNF menduduki
urutan ke empat setelah kanker leher rahim, kanker payudara
dan kanker kulit. Tetapi seluruh bagian THT (telinga hidung
dan tenggorokan) di Indonesia sepakat mendudukan KNF pada
peringkat pertama penyakit kanker pada daerah ini. Dijumpai
16
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
lebih banyak pada pria daripada wanita dengan perbandingan
2-3 orang pria dibandingkan 1 wanita.
Apabila kita melihat distribusi penyakit ini di seluruh
dunia, maka KNF paling banyak dijumpai pada ras Mongol, di
samping Mediteranian, dan beberapa ras di Afrika bagian utara.
Di Hongkong tercatat sebanyak 24 pasien KNF per tahun per
100.000 penduduk, sedangkan angka rata rata di Cina bagian
selatan berkisar antara 20 per 100.000.2 Bandingkan dengan
negara Eropa atau Amerika Utara yang mempunyai angka
kejadian 1 per 100.000 penduduk per tahun.3
Sekalipun termasuk ras Mongoloid, bangsa Korea, Jepang
dan Tiongkok sebelah utara tidak banyak yang dijumpai
mengidap penyakit ini. Berbagai studi epidemilogik mengenai
angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal.
Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka
kejadian KNF pada para migran dari daratan Tiongkok yang
telah bermukim secara turun temurun di China town (pecinan)
di San Fransisco Amerika Serikat. Terdapat perbedaan yang
bermakna dalam terjadinya KNF antara para migran dari
daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang
terdiri atas orang kulit putih (Caucasians), kulit hitam dan
Hispanics, dimana kelompok Tionghoa menunjukkan angka
kejadian yang lebih tinggi. Sebaliknya, apabila orang Tionghoa
migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih
tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang
bermakna dalam hal terjadinya KNF pada kelompok migran
tersebut. Jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah, bahwa
kelompok migran masih mengandung gen yang ‘memudahkan’
untuk terjadinya KNF, tetapi karena pola makan dan pola hidup
selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini
dianggap sebagai pemicu tidak ada lagi maka kanker ini pun
tidak tumbuh. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi
Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang
diawetkan (diasap, diasin), bahkan konon kabarnya seorang
bayi yang baru selesai disapih, sebagai makanan pengganti
susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini. Di dalam ikan
yang diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine
yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan.
Dijumpai pula kenaikan angka kejadian ini pada
komunitas orang perahu (boat people) yang menggunakan kayu
sebagai bahan bakar untuk memasak. Hal ini tampak mencolok
pada saat terjadi pelarian besar besaran orang Vietnam dari
negaranya.
Bukti epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini
di Singapura. Persentase terbesar yang dikenai adalah masyarakat keturunan Tionghoa (18,5 per 100.000 penduduk), disusul
oleh keturunan Melayu (6,5 per 100.000) dan terakhir adalah
keturunan Hindustan (0,5 per 100.000). 4
Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV), (yang dinamai
sesuai dengan penemunya, Epstein dan Barr pada limfoma
Burkitt pada 1960), pada hampir semua kasus KNF telah
mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus
tersebut. Pada 1966, seorang peneliti menjumpai peningkatan
titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta titer antibodi IgG
terhadap EBV, capsid antigen dan early antigen. Kenaikan titer
ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. Namun
virus ini juga acapkali dijumpai pada beberapa penyakit
keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi
orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit. Jadi
adanya virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk
menimbulkan proses keganasan.
Berbeda halnya dengan jenis kanker kepala dan leher lain,
KNF tidak pernah dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan
minum alkohol tetapi lebih dikaitkan dengan virus Epstein
Barr, predisposisi genetik dan pola makan tertentu. Adanya
hubungan antara faktor kebiasaan makan dengan terjadinya
KNF dipelajari oleh Ho dkk. Ditemukan kasus KNF dalam
jumlah yang tinggi pada mereka yang gemar mengkonsumsi
ikan asin yang dimasak dengan gaya Kanton (Cantonese-style
salted fish). Risiko terjadinya KNF sangat berkaitan dengan
lamanya mereka mengkonsumsi makanan ini. Di beberapa
bagian negeri Cina makanan ini mulai digunakan sebagai
pengganti air susu ibu pada saat menyapih.5
Peneliti lainnya mencoba menghubungkannya dengan
makanan yang diawetkan menggunakan garam lainnya seperti
udang asin, telur asin. Penyebab lain yang dicurigai adalah
pajanan di tempat kerja seperti formaldehid, debu kayu serta
asap kayu bakar.
Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan
alami (Chinese herbal medicine= CHB). Hildesheim dkk
memperoleh hubungan yang erat antara terjadinya KNF, infeksi
EBV dan penggunaan CHB6.
GEJALA KLINIS KNF
Karena tidak ada gejala spesifik yang dijumpai pada
penderita KNF, terlebih pada stadium dini, banyak kasus yang
terlambat didiagnosis. Berbeda halnya dengan kanker leher
rahim dan kanker payudara yang masing-masing dapat
terdeteksi dengan metode pemeriksaan sitopatologik
Papanicolaou dan mamografi; sampai saat ini belum ada
metode penyaring yang paling efektif untuk deteksi dini KNF.
Pemeriksaan titer antibodi IgA terhadap antigen yang
diproduksi oleh virus Epstein Barr ternyata hanya bernilai
untuk mengevaluasi respons dan kemungkinan terjadinya
kekambuhan.
Pada awalnya pasien mengeluh pilek pilek biasa, kadang
kadang disertai dengan rasa tidak nyaman di telinga,
pendengaran sedikit menurun serta mendesing. Lendir dari
hidung dapat disertai dengan perdarahan yang berulang. Pada
keadaan lanjut hidung akan menjadi mampet sebelah atau
keduanya. Penjalaran tumor ke selaput lendir hidung dapat
mencederai dinding pembuluh darah daerah ini dan tentunya
akan terjadi perdarahan dari hidung (mimisan). Keluhan telinga
dapat diterangkan sebagai akibat penyumbatan muara saluran
Eustachii yang berfungsi menyeimbangkan tekanan dalam
ruang telinga tengah dan udara luar. Pembesaran kelenjar leher
merupakan pertanda penyebaran KNF ke daerah ini yang tidak
jarang didiagnosis sebagai tuberkulosis kelenjar. Pemberian
pengobatan terhadap pembesaran kelenjar yang dianggap tbc
tanpa pemeriksaan yang benar tentunya akan sangat merugikan
penderita secara moril maupun materiil mengingat pengobatan
tbc memerlukan waktu yang lama. Manakala pasien merasa
bahwa kelenjar leher menjadi makin besar, maka dapat
dipastikan bahwa penyakitnya telah menjadi kian lanjut.
Keterlambatan diagnosis lain yang pernah terjadi adalah karena
kegagalan mencari penyebab keluhan sakit kepala yang terus
menerus. Kegagalan tersebut terjadi antara lain karena
pemeriksaan CT scan / MRI dilakukan hanya pada jaringan
otak saja, padahal nyeri kepala yang timbul dapat merupakan
akibat desakan tulang dasar tengkorak oleh tumor. Yang
selanjutnya terjadi biasanya pasien ini akan memperoleh
pengobatan nyeri kepala dalam jangka panjang dan
pemeriksaan berulang ulang terhadap otaknya sampai akhirnya
muncul salah satu gejala akibat KNF.
Selain mendesak dasar tengkorak KNF juga seringkali
menyerang saraf pusat yang keluar dari otak. Saraf yang paling
sering dikenai adalah saraf penggerak bola mata, akibatnya
terjadi kelumpuhan bola mata yang mengakibatkan pasien
mengeluh penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan
tampak bola mata yang juling. Selain gangguan motorik,
keluhan sensorik yang sering timbul adalah rasa baal di wajah.
Untuk menegakkan diagnosis, selain gambaran keluhan
dan gejala seperti yang diuraikan di atas juga diperlukan
pemeriksaan klinis dengan melihat secara langsung dinding
nasofaring dengan alat endoskopi, CT scan atau MRI
nasofaring dan sekitarnya serta pemeriksaan laboratorium.
Diagnosis pasti adalah pemeriksaan histopatologik jaringan
nasofaring. Sedangkan pemeriksaan lain, seperti foto paru,
USG hati, pemindaian tulang dengan radioisotop (bone
scanning) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya
metastasis di organ-organ tersebut. Adanya metastasis dimanapun akan mengubah stadium penyakit dan mempunyai
konskuensi terhadap tujuan pengobatan.
PENGOBATAN
Sampai dengan saat ini dasar pengobatan KNF yang
masih terbatas pada daerah kepala dan leher adalah terapi
radiasi. Kombinasi pengobatan dengan khemoterapi diperlukan
apabila kanker sudah tumbuh sedemikian besarnya sehingga
menyulitkan tindakan radioterapi. Di samping itu pemberian
khemoterapi diharapkan dapat meningkatkan kepekaan
jaringan tumor terhadap radiasi serta membunuh sel sel kanker
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
17
yang sudah berada di luar jangkauan radioterapi.
Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna, dapat
menggunakan pesawat kobalt (Co60) atau dengan akselerator
linier (Linear Accelerator atau Linac). Radiasi ini ditujukan
pada kanker primer di daerah nasofaring dan ruang
parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas,
bawah serta klavikula. Radiasi daerah getah bening ini tetap
dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai
pembesaran kelenjar.
Metode brakhiterapi, yakni dengan memasukkan sumber
radiasi ke dalam rongga nasofaring saat ini banyak digunakan
guna memberikan dosis maksimal pada tumor primer tetapi
tidak menimbulkan cedera yang serius pada jaringan sehat di
sekitarnya. Kombinasi ini diberikan pada kasus kasus yang
telah memperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi
masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh
lokal.
Perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah
memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada
daerah nasofaring dengan menimbulkan efek samping sesedikit
mungkin. Metode yang disebut sebagai IMRT (Intensified
Modulated Radiation Therapy) telah digunakan di beberapa
negara maju. Bahkan saat ini Malaysia dan Filipina telah
memilikinya.
Penatalaksanaan pembedahan tidak mempunyai peranan
pada KNF mengingat lokasi tumor yang melekat erat pada
mukosa dasar tengkorak.
dengan kekeringan pada mukosa mulut (xerostomia). Bila
saliva yang mempunyai fungsi antara lain mempertahankan pH
mulut di angka netral dan ikut serta dalam membersihkan sisa
sisa makanan ini berkurang, karies gigi akan lebih mudah
terjadi.
Untuk menghindari efek samping semaksimal mungkin
maka sebelum dan selama pengobatan, bahkan setelah selesai
terapi, pasien akan selalu diawasi oleh dokter. Perawatan
sebelum radiasi adalah dengan membenahi gigi geligi,
memberikan informasi kepada pasien mengenai metode
pembersihan ruang mulut dan gigi secara benar.
PENUTUP
Sekalipun KNF tidak selalu memberikan gejala yang
spesifik, dianjurkan untuk tidak meremehkan gejala gejala
seperti yang diutarakan di atas. Berkonsultasi ke dokter
keluarga atau langsung ke dokter spesialis THT merupakan
tindakan yang tepat.
Pengobatan radiasi, terutama pada kasus dini, pada
umumnya akan memberikan hasil pengobatan yang
memuaskan. Namun radiasi pada kasus lanjutpun dapat
memberikan hasil pengobatan paliatif yang cukup baik
sehingga diperoleh kualitas hidup pasien yang baik pula.
(Lihat lampiran/ halaman 19).
KEPUSTAKAAN
1.
EFEK SAMPING PENGOBATAN
Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya
nasofaring mau tidak mau akan mengikutsertakan sebagian
besar mukosa mulut dan kelenjar parotis. Akibatnya dalam
keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut
berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri telan, mulut
kering dan hilangnya cita rasa (taste). Keadaan ini seringkali
diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah
serta palatum. Setelah radiasi selesai maka efek samping akut
di atas akan menghilang dengan pengobatan simptomatik.
Akibat kelenjar parotis terkena radiasi dosis tinggi terjadilah
disfungsi berupa menurunnya alir saliva yang akan diikuti
2.
3.
4.
5.
6.
Soetjipto D, Fachrudin D, Syafril A. Nasopharyngeal carcinoma in Dr.
Cipto Mangunkusumo General Hospital. In : Tjokronagoro A, Himawan
S, Yusuf A, Azis MF, Susworo, Djakaria M. (Eds). Cancer in Asia and
Pacfic. YKI. Jakarta Indonesia 1988; p. 471–86.
Yu MC, Henderson BE. Nasopharyngeal cancer. In: Schottenfeld D and
Fraumeni JF (eds). Cancer epidemiology and prevention. 2nd. ed. N.
York: Oxford University Press, 1996; p. 603 –18.
Parkin DM, Pisani P, Ferlay J. Estimates of the world-wide incidence of
25 major cancers in 1990. Int J Cancer; 1990; 80: 827–41.
Parkin DM, Whelan SL, Ferlay J, Raymond L, Young J. Cancer
Incidence in Five Continents. Vol. 7, Lyon, France : IARC Scient. Publ.
No. 143. IARC Press, 1997.
Yu MC, Ho JHC, Ross RK, Henderson BE. NPC in Chinese – Salted fish
or inhaled smoke? Prev Med. 1981; 10: 15-24.
Hildesheim A et al. Herbal medicine use, Epstein Barr virus, and risk of
nasopharyngeal carcinoma. Cancer Res. 1992; 52: 3048 –51.
The flame of glory is the torch of the mind
18
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
LAMPIRAN :
Gambar 1. Pasien dengan pembesaran kelenjar getah bening leher yang
ternyata merupakan metastasis dari KNF
Gambar 2. Alat Radiasi Eksterna (Linear Accelerator)
Gambar 3. Masker yang digunakan oleh setiap pasien kanker kepala-leher yang sedang memperoleh radiasi.
Alat bantu ini berguna untuk fiksasi kepala.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
19
HASIL PENELITIAN
Pola Sensitivitas Kuman
dari Isolat Hasil Usap Tenggorok
Penderita Tonsilofaringitis Akut
terhadap Beberapa Antimikroba
Betalaktam di Puskesmas
Jakarta Pusat
Retno Gitawati, Ani Isnawati
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di Indonesia, terutama infeksi
saluran pernafasan akut (ISPA) baik infeksi saluran pernafasan atas maupun infeksi
saluran pernafasan bawah. Terapi antimikroba digunakan bila infeksi disebabkan oleh
bakteri (kuman); salah satu mikroba terpilih adalah antimikroba golongan betalaktam.
Untuk mengetahui sensitivitas kuman isolat usap tenggorok terhadap antimikroba
betalaktam, dilakukan penelitian “Pola sensitivitas kuman hasil usap tenggorok
penderita tonsilo-faringitis akut terhadap Antimikroba Betalaktam di Puskesmas
Jakarta Pusat”.
Metoda penelitian cross-sectional, dilakukan terhadap 83 pasien tonsilo-faringitis
akut pengunjung dua puskesmas di Jakarta Pusat pada bulan September 1999 sampai
bulan Nopember 1999. Pemeriksaan isolat dan sensitivitas kuman terhadap antimikroba dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI.
Ditemukan 132 kuman yang terdiri dari 12 spesies. Lima spesies terbanyak adalah:
Streptococcus viridans 54,2%, Branhamella catarrhalis 22,9 %, Streptococcus βhemolyticus 6,11%, Streptococcus pneumoniae 3,82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3,82%. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus viridans,
Branhamella catarrhalis, Streptococcus β-hemolyticus, Streptococcus pneumoniae dan
Streptococcus nonhemolyticus terutama terhadap antimikroba Cephradin berturut–turut
adalah 73,3 %; 53,52%; 87,5%; 40% dan 80%. Penurunan sensitivitas kuman
Branhamella catarrhalis terhadap Antimikroba Penisilin G adalah 30%, sedangkan
kuman Streptococcus pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae terhadap antimikroba
Ceftriaxone 20%.
Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap
Cephradin, yakni sebesar 68.04%.
Kata kunci : Tonsilo-faringitis, Betalaktam, Streptococcus sp, B.catarrhalis
PENDAHULUAN
Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di
banyak negara berkembang, termasuk Indonesia; terutama
infeksi pernapasan akut (ISPA), baik infeksi saluran per20
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
napasan atas maupun bagian bawah. Hasil Survei Kesehatan
Rumah Tangga (SKRT) tahun 1997 menunjukkan bahwa
prevalensi ISPA untuk usia 0-4 tahun 47,1 %, usia 5-15 tahun
29,5 % dan dewasa 23,8 %. serta lebih dari 50% penyebabnya
adalah virus(1). Infeksi sekunder bakterial pada ISPA dapat
terjadi akibat komplikasi terutama pada anak dan usia lanjut,
dan memerlukan terapi antimikroba. Beberapa kuman penyebab komplikasi infeksi ISPA yang pernah diisolasi dari
usap tenggorok antara lain Streptococcus, Staphylococcus,
Klebsiella, Branhamella, Pseudomonas, Escherichia, Proteus,
dan Haemophillus(2), dan untuk mengatasinya seringkali digunakan antimikroba golongan betalaktam, makrolida, dan
kotrimoksazol(4).
Antimikroba golongan betalaktam, yakni golongan
penisilin dan sefalosporin, termasuk jenis antimikroba yang
diduga paling banyak diberikan untuk infeksi saluran napas,
dan sejauh ini belum banyak diketahui status sensitivitasnya,
khususnya terhadap kuman penyebab ISPA.
Untuk maksud tersebut telah dilakukan uji sensitivitas
kuman yang diisolasi dari usap tenggorok penderita ISPA,
terhadap antimikroba golongan betalaktam.
BAHAN DAN CARA
Desain uji adalah studi kasus cross sectional, dengan
sampel usap tenggorok penderita infeksi tonsilofaringitis yang
berobat di dua puskesmas di wilayah Jakarta Pusat, yang
memiliki angka kesakitan ISPA tertinggi di wilayah tersebut
pada triwulan pertama tahun 1999. Jumlah subyek sebanyak 83
penderita, dengan rentang usia antara 5 – 65 tahun, dan
memenuhi kriteria inklusi sebagai penderita tonsilofaringitis
akut dengan gejala klinik: demam tinggi sampai 400C, sakit
menelan, tonsil membesar dan merah dengan tanda-tanda
detritus, batuk, hiperemis, kadang-kadang disertai folikel
bereksudat. Semua subyek telah menyatakan kesediaannya
mengikuti penelitian ini dengan menandatangani informed
consent, dan belum pernah mendapatkan antibiotika selama
sakit.
Spesimen usap tenggorok dikumpulkan dalam media
transport dan dilakukan uji sensitivitas di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. Kultur dan isolasi kuman dilakukan dengan
menggunakan media perbenihan agar darah dan agar coklat
pada suhu 370C selama 24 jam. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi koloni, sifat hemolisis agar darah, fermentasi
karbohidrat, dan uji-uji khusus lainnya. Kuman hasil isolasi
diuji sensitivitasnya dengan metoda cakram Kirby-Bauer pada
media Mueller-Hinton, terhadap beberapa antimikroba golongan betalaktam, yakni dengan mengukur zona hambatan.
HASIL
Sejumlah 132 kuman yang terdiri atas 12 spesies Gram
positif dan Gram negatif berhasil diisolasi dan diidentifikasi
dari 83 sampel usap tenggorok penderita tonsilofaringistis,
(Tabel 1).
Enam jenis kuman terbanyak yang berhasil diisolasi dari
spesimen usap tenggorok berturut-turut adalah: Streptococcus
viridans (54.2%), Branhamella catarrhalis (22.9%),
Streptococcus
β-haemolyticus
(6.11%),
Streptococcus
pneumoniae (3.82%), Streptococcus non-haemolyticus
(3.82%) dan Klebsiella pneumoniae (3.05%). Isolat-isolat
kuman yang didapat tersebut kemudian diuji sensitivitasnya
terhadap antimikroba betalaktam, dan hasilnya menunjukkan
profil resistensi (Tabel 2).
Tabel 1. Frekuensi distribusi jenis kuman dari 83 spesimen
tenggorok
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
Jenis (spesies) kuman
Streptococcus viridans
Branhamella catarrhalis
Streptococcus β-haemolyticus
Streptococcus pneumoniae
Streptococcus non-haemolyticus
Klebsiella pneumoniae
Acinobacter spp.
Yeast (ragi)
Staphylococcus aureus
Alkaligenes dispar
Pseudomonas aeruginosa
Staphylococcus epidermidis
Jumlah
usap
Jumlah (%)
71 (54.2)
30 (22.9)
8 (6.11)
5 (3.82)
5 (3.82)
4 (3.05)
2 (1.53)
2 (1.53)
2 (1.53)
1 (0.76)
1 (0.76)
1 (0.76)
132 (100)
Terhadap hasil uji sensitivitas berbagai spesies kuman terhadap antimikroba betalaktam di atas dapat dilakukan penghitungan total resistensi antimikroba (Soebandrio 2000),
dengan cara atau rumus sebagai berikut:
% R total antimikroba “A” = (% kuman “X” x % R
antimikroba “A” terhadap kuman “X”)/100 + (% kuman
“Y” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Y”)/100 +
(% kuman “Z” x % R antimikroba “A” terhadap kuman
“Z”)/100.
(R = resistensi)
Hasil penghitungan total resistensi berbagai kuman
tersebut di atas terhadap antimikroba betalaktam (Tabel 3).
Tabel 3 menunjukkan total resistensi tertinggi kumankuman usap tenggorok adalah terhadap antimikroba Cefradin,
yakni sebesar 68.04%, sedangkan terhadap Penisilin-G dan
amoksisilin total resistensi kuman relatif rendah, berturut-turut
9.93% dan 5.35%.
Sebagian besar kuman Gram positif dan negatif dari isolat
usap tenggorok tersebut masih cukup sensitif terhadap
antimikroba betalaktam, kecuali terhadap Cefradin.
DISKUSI
Hasil usap tenggorok mendapatkan 12 jenis kuman yang
mencakup kuman gram negatif dan kuman gram positif.
Kuman yang terbanyak ditemukan adalah S. viridans sebanyak
54.2 %; berbeda dengan yang dilaporkan Sugito(8) yaitu
sebanyak 25 % dan Hartono(9) mendapatkan kuman tersebut
31,43 % pada penderita infeksi saluran pernafasan atas. Untuk
kuman S. B hemolyticus diperoleh 6,4 % , hampir sama dengan
yang ditemukan Suprihati dkk(6) sebanyak 4,46 %, tetapi
berbeda dengan yang ditemukan oleh Sugito(8) sebanyak 25 %
dan mirip dengan yang ditemukan Hartono(9) 25,71 %. Kuman
ini merupakan kuman yang dicurigai sebagai penyebab
endokarditis.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 21
Tabel 2. Profil resistensi isolat kuman usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam
Isolat kuman
S. viridans
B. catarrhalis
S. β-haemolyticus
S. pneumoniae
S. non-haemolyticus
K. pneumoniae
Acinobacter spp.
Yeast (ragi)
S. aureus
Alkaligenes spp.
P. aeruginosa
S. epidermidis
%
Isolat kuman
54.2
22.9
6.11
3.82
3.82
3.05
1.53
1.53
1.53
0.76
0.76
0.76
PeG
2.82
30.0
0
0
0
0
0
100
0
0
0
0
Amx
2.82
0
0
0
0
0
0
100
50
100
100
0
Sulb
0
0
0
0
0
0
0
100
0
100
0
0
% resistensi antimikroba
Cefoti
Ceftri
Cefota
1.41
4.23
4.23
0
3.33
3.33
0
0
0
0
20.0
20.0
0
0
0
0
20
0
0
50
0
100
100
100
0
0
0
0
0
0
100
0
0
0
0
0
Cefpi
0
3.33
0
0
0
0
0
100
0
0
0
0
Cefep
0
0
0
0
0
0
0
100
0
0
0
0
Cefrad
73.33
53.52
87.5
40.0
80.0
100
0
100
0
100
100
0
Keterangan:
PeG= Penisilin-G; Amx = Amoksisilin; ; Sulb = Sulbenislin; Cefoti = Cefotiam; Ceftri = Ceftriakson; Cefota = Cefotaksim; Cefpi = Cefpirome; Cefep =
Cefepime; Cefrad = Cefradin.
Tabel 3. Total resistensi isolat
antimikroba betalaktam
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Antimikroba
Cefradin
Penisilin-G
Ceftriakson
Cefotaksim
Amoksisilin
Cefotiam
Cefpirome
Sulbenisilin
Cefepime
kuman
usap
tenggorok
terhadap
% total resistensi
68.04
9.93
6.87
5.57
5.35
3.05
2.52
2.29
1.53
Total resistensi tertinggi kuman isolat tenggorok adalah
terhadap Cefradin sebesar 68,04 %, diikuti oleh Penicillin G
dan Ceftriakson. Antimikroba Cefradin merupakan antimikroba
golongan sefalosporin generasi I dan banyak digunakan secara
oral untuk penderita infeksi saluran pernafasan sehingga
mungkin sudah banyak terjadi resistensi. Penulisan resep oleh
dokter umum di United Kingdom (UK) tahun 1998(10) untuk
infeksi saluran pernafasan adalah antimikroba penisilin
spektrum luas sebanyak 53,2 %, makrolid 15 %, penisilin
spektrum sedang dan sempit 13,0 %, sefalosporin 7,7 %.
Tahun 1997 pasar dunia antibiotik mencapai US $ 12
miliar dengan jumlah peresepan 818 juta untuk infeksi saluran
pernafasan akut dan sebagian besar antibiotik yang digunakan
di rumah sakit berturut - turut adalah Golongan B Laktam,
Makrolid dan Fluorokuinolon. Di Indonesia untuk infeksi
pernafasan akut (tonsilitis dan faringitis) sebagai standar
pengobatan di puskesmas penisilin G masih merupakan pilihan
ke empat setelah eritromisin, amoksisilin dan ampisilin(2).
Resistensi kuman S.viridans dan S. aureus terhadap Penisilin G
dari hasil penelitian Josodiwondo (1996) sebesar 3,7 % dan
96,8 % sedangkan dari penelitian Trihendrokesowo dkk (1986)
sebesar 3,2 % dan 66,7 %; tidak jauh berbeda dengan resistensi
kuman S.viridans yang diperoleh penelitian ini yaitu 2,82 %,
namun berbeda dengan hasil resistensi kuman S. aureus 0 %.
Golongan penisilin masih cukup ampuh untuk mengatasi
bakteri gram positif, tetapi akhir-akhir ini banyak dilaporkan
bakteri yang resisten terhadap antimikroba golongan penisilin
bahkan juga terhadap golongan sefalosporin, karena mampu
22 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
menghasilkan enzim betalaktamase. Untuk mengatasi bakteri
gram negatif tampaknya penisilin, bahkan sefalosporin sudah
berkurang kemampuannya, kecuali sefalosporin generasi ke
tiga (11,12). .Penggunaan yang tidak rasional misalnya pemakaian
berlebihan akan mempercepat resistensi, selain itu dapat terjadi
resistensi silang antar golongan maupun dalam satu golongan.
Test kepekaan tidak selalu akurat untuk memprediksi kesembuhan; sering tidak ada korelasi antara konsentrasi ham-bat
minimum (MIC) kuman dan kesembuhan. Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa 81 % penderita sembuh jika terinfeksi
bakteri yang sensitif, akan tetapi 9 % penderita meninggal
dunia; sedangkan bila terinfeksi bakteri yang resisten dapat
menaikkan rata-rata kematian sebesar 17 % (p< 0,05 )(10).
KESIMPULAN
Ditemukan 132 kuman terdiri dari 12 spesies, lima kuman
terbanyak adalah : Streptococcus viridans 54,2%, Branhamella
catarrhalis 22,9 %, Streptococcus β-hemolyticus 6,11%,
Streptococcus pneumoniae 3,82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3,82%. Penurunan sensitivitas kuman-kuman
Streptococcus terjadi terhadap antimikroba Cephradin berturut–
turut adalah 46,48%; 26,67%; 12,5%; 60% dan 20%. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap
Penisilin G adalah 70%, sedangkan kuman Streptococcus
pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 80%.
Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok
adalah terhadap Cephradin, yakni sebesar 68.04%.
KEPUSTAKAAN
1.
2.
3.
4.
5.
Abdoerachman H, Fachrudin D., Infeksi Campuran Aerob dan Anaerob
di Bidang THT. MKI 4 (2/3): 56-60.
Dirjen Binkesmas. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Berdasarkan Gejala, Departemen Kesehatan R I. 1996.
Josodiwondo S. Perkembangan Kepekaan Kuman terhadap Antimikroba
Saat Ini. MKI 1996; 46(9): 467-76.
Dwiprahasta I. Inappropriate use of antibiotics in treatment of acute
respiratory infections for the under five children among general
practitioners. Berkala Ilmu Kedokteran 1997 .
Trihendrokesowo dkk. Macam Kuman (dari pelbagai bahan pemeriksaan
di Yogyakarta) dan Pola Kepekaannya terhadap Beberapa Antibiotik.
MKI 1987; 2 (1): 6-12.
6.
7.
8.
9.
Suprihati. Faktor Resiko Streptococcus hemolitikus Beta Grup A pada
Penderita Saluran Nafas Atas di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Bag
Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran UNDIP. Laporan penelitian
1998.
Herman MJ. Antibiotik Beta Laktam. Jakarta, Yayasan Penerbit Ikatan
Dokter Indonesia, 1994.
Sugito, Tarigan HMM, Nukman R. Epidemiologi dan Etiologi Infeksi
Saluran Pernafasan Akut. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan
Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI, Surakarta,1988.
Hartono TE, Wibisono MY, Rai IB, Idajadi A. Pola bakteriologi Infeksi
Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Orang Dewasa. Dalam Buku
Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V
IDPI , Surakarta , 1988.
10. Jones A. Antimicrobial Pharmacodynamics in Respiratory Tract
Infection: New Approach in Determining Patient Response to Antibiotic
Therapy, Med Progr January 2003,
11. Sirot S, Sirot J, Saulnier P. Resistance to Betalactams in Enterobacteriaceae, distribution of phenotypes related to beta lactamase
production. J Internat Med Res 1986; 14:193-9.
12. Slombe B. Beta Lactamase, Occurrence and Classsification. In : Rolinson
GN, Watson A, (eds). Augmentin Clavulanate Pontetiated Amoxycillin.
Amsterdam : Excerpta Medica 1980; 6-17.
KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE JULI-SEPTEMBER 2004
Bulan
Tanggal
10
Kegiatan
Telemedicine Network in Indonesia, How is the
Benefit for Family Doctors
10-11
The First Indonesian Symposium on Interventional
Pediatric Cardiology
12-14
Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kedokteran Anak
IDAI
Juli
13-15
16
16-18
PIT XIV POGI : " Meningkatkan Profesionalisme
Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat
Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar
Bebas "
Mekanisme Molekuler Patogenesis Virus RNA dan
Perannya Dalam Perkembangan Bioteknologi
Simposium Pendekatan Holistik Penyakit
Kardiovaskular III & KARIMUN III
Konker PGI-PEGI-PPHI
31-1/8
PIT IX Ilmu Penyakit Dalam
6-8
11-13
Agustus
13-15
28
17-18
25-26
September
Pelatihan Asuhan Nutrisi pada Diabetes
11th International Symposium on Shock and Critical
Care : New Insight in Diagnosis, Management and
Therapy in Critical Care Medicine
Seminar Sehari Kedokteran Kesehatan Kerja: Peran K3
dalam Meningkatkan Perlindungan Pekerja dan
Produktivitas Kerja
The 6th Int. Meeting on Respiratory Care Ind. (Respina
V)
5 Tahun Pertemuan Ilmiah Berkala Ilmu Penyakit
Dalam (PIB V IPD) FK Unand
Recent Advances and Challenges in Endoscopic
Surgery in Asia Pacific
26-29
30-3/10
2nd Indonesia - International Symposium on Infection
Control
Tempat dan Sekretariat
Lt. 5, Gedung AR Fachruddin, Kampus Terpadu
Universitas Muhammadiyah, Ringroad Selatan
Yogyakarta Telp. : 0274-37430, Faks. : 0274-37430
Website: http://telmed.fkumy.net
Hotel Planet Holiday, Batam
Telp. : 0778-7024522, Fax : 0778-421352
E-mail : [email protected]
Hotel Planet Holiday, Batam
Telp. : (021)-3148610, Fax : (021)-3913982
Website : www.idai.or.id
Hotel Horison, Bandung
Telp. : 022-2039086 / 2035042, Fax : 022-2035042
E-mail : [email protected]
website : www.obgyn-bandung.org
KPP Bioteknologi ITB, Bandung
Telp. : 022-2534115, Fax : 022-2511612
E-mail : [email protected], [email protected]
Hotel Sahid Jaya, Jakarta
Telp. : 021-31934636, Fax : 021-3161467
Hotel Sheraton Mustika, Yogyakarta
Telp. : 0274-587555, Fax : 0274-565639
E-mail: [email protected]
Hotel Sahid Jaya, Jakarta
Telp. : 021-330956, Fax : 021-3914830
Website : www.interna.or.id
Jakarta, Telp. : 021-3928658,3907703, Fax : 021-3928659
E-mail : [email protected]
Bali International Convention Center
Telp. : 021-5684085 ext. 1242, Fax : 021-56961530
E-mail: [email protected]
Karawaci, Tangerang
Telp.: 021-79184052
Website: http://www.idki.or.id
Jakarta Convention Centre
Telp. : 021-4786 4646, Fax : 021-4786 6543
Email : [email protected]
Web-site : www.respina.com/index.php
Hotel Bumi Minang, Padang
Telp. : 0751-37771, Fax : 0751-37771
Email: [email protected]
Website : www.internafkunand.or.id
Hotel Grand Hyatt, Bali
Telp. : 021-4532202, 6685070, 6685006
Fax : 021-4535833, 6684878
Email : [email protected],
[email protected]
Website : www.pluit-hospital.co.id
Bali, Telp. : 021-3919653, Fax : 021-3919653
Email: [email protected]
Informasi terkini, detail dan lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www.kalbe.co.id/calendar>>Complete
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 23
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Pengaruh Kebisingan
terhadap Kesehatan Tenaga Kerja
Novi Arifiani
Subdepartemen Kedokteran Okupasi, Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Suara yang dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi
seseorang atau sebagian orang merupakan suara yang
disenangi, namun bagi beberapa orang lainnya justru dianggap
sangat mengganggu. Secara definisi, suara yang tidak
dikehendaki itu dapat dikatakan sebagai bising.Bising yang di
dengar sehari-hari berasal dari banyak sumber baik dekat
maupun jauh.
Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan
industri ke arah penggunaan mesin-mesin, alat-alat transportasi
berat, dan lain sebagainya. Akibatnya kebisingan makin
dirasakan mengganggu dan dapat memberikan dampak pada
kesehatan.
Biaya yang harus ditanggung akibat kebisingan ini sangat
besar. Misalnya, bila terjadi di tempat-tempat bisnis dan
pendidikan, maka bising dapat mengganggu komunikasi yang
berakibat menurunnya kualitas bisnis dan pendidikan. Trauma
akustik ataupun gangguan pendengaran lain yang timbul akibat
bising di tempat kerja, gangguan sistemik yang timbul akibat
kebisingan, penurunan kemampuan kerja, bila dihitung
kerugiannya secara nominal dapat mencapai milyaran rupiah.
Untuk itu, tenaga kesehatan perlu mengenali pengaruh bising
terhadap kesehatan tenaga kerja, melakukan deteksi dini dan
pengendalian bising di tempat kerja. Pembahasan pada tulisan
ini hanya akan dibatasi pada efek kebisingan terhadap
kesehatan terutama kemampuan pendengaran, cara mendeteksi
gangguan pendengaran akibat kebisingan, serta tatalaksana
gangguan pendengaran akibat kebisingan.
ANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN
Sebelumnya akan dibahas secara singkat anatomi dan
fisiologi pendengaran.
Anatomi Telinga
Secara anatomi, telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu
telinga luar, tengah, dan dalam. Telinga luar berfungsi
24
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran
sampai ke gendang telinga. Telinga tengah menghubungkan
gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi
cairan. Di telinga tengah ini, gelombang getaran yang
dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran
sampai ke cairan di kanalis semisirkularis; adanya ligamen
antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari
gendang telinga.
Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf
pendengaran yang akan menghantarkan rangsangan suara
tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia.
Konduksi Tulang
Konduksi tulang adalah konduksi energi akustik oleh
tulang-tulang tengkorak ke dalam telinga tengah, sehingga
getaran yang terjadi di tulang tengkorak dapat dikenali oleh
telinga manusia sebagai suatu gelombang suara. Jadi segala
sesuatu yang menggetarkan tubuh dan tulang-tulang tengkorak
dapat menimbulkan konduksi tulang ini. Secara umum tekanan
suara di udara harus mencapai lebih dari 60 dB untuk
menimbulkan efek konduksi tulang ini. Hal ini perlu diketahui,
karena pemakaian sumbat telinga tidak menghilangkan sumber
suara yang berasal dari jalur ini.
Respon auditorik
Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat
diterima oleh telinga manusia sebagai suatu informasi yang
berguna, sangat luas. Suara yang nyaman diterima oleh telinga
kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang
digunakan, namun suara yang tidak menyenangkan atau yang
bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan tekanan
tinggi, biasanya di atas 120 dB.
Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah tekanan
suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi
auditorik. Nilai ambang tersebut tergantung pada karakteristik
suara (dalam hal ini frekuensi), cara yang digunakan untuk
mendengar suara tersebut ( melalui earphone, pengeras suara,
dsb), dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke
liang telinga, di udara terbuka, dsb).
Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai
ambang tekanan suara yang masih dapat didengar oleh seorang
yang masih muda dan memiliki pendengaran normal, diukur di
udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya
pendengar. Nilai ini penting dalam pengukuran di lapangan,
karena bising akan mempengaruhi banyak orang dengan
banyak variasi. Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah
2 sampai 3 dB.
Jika seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis
tertentu kemudian dipindahkan dari sumber suara tersebut,
maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan
meningkat; dengan kata lain, pendengaran orang tersebut
berkurang. Jika pendengaran kembali normal dalam waktu
singkat, maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara.
Fenomena ini dinamakan kelelahan auditorik.
Kekuatan suara
Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang
dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau
lemahnya suara yang didengar. Kekuatan suara sangat
dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari
stimulus suara, dan juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi dan
bentuk gelombang suara.
Pengukuran kekuatan suara secara umum dapat dilakukan
dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan
suara yang didengar oleh sekelompok orang yang memiliki
pendengaran normal dan yang dijadikan patokan adalah suara
dengan frekuensi murni 1000 Hz, 2). Dengan menghitung
menggunakan pita suara 2 atau 3 band, 3). Mengukur dengan
alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap suara
yang didengar.
Masking
Karakteristik lain yang cukup penting dalam menilai
intensitas suara adalah masking. Masking adalah suatu proses
di mana ambang pendengaran seseorang meningkat dengan
adanya suara lain. Suatu suara masking dapat didengar bila
nilai ambang suara utama melampaui juga nilai ambang untuk
suara masking tersebut.
Sensitivitas Pendengaran
Kemampuan telinga untuk mengolah informasi akustik
sangat tergantung pada kemampuan untuk mengenali
perbedaan yang terjadi pada stimulus akustik. Pemahaman
percakapan dan identifikasi suara-suara tertentu, atau suatu
alunan musik tertentu merupakan suatu proses harmonis di
dalam otak manusia yang mengolah informasi auditorik
berdasarkan frekuensi, amplitudo, dan waktu yang didengar
untuk masing-masing rangsangan auditorik tersebut.
Pebedaan kecil tekanan suara akan didengar oleh telinga
sebagai kuat atau lemahnya suara. Makin tinggi tekanan udara,
makin kecil perbedaan yang dapat dideteksi oleh telinga
manusia. Perbedaan minimum yang dapat dibedakan pada
frekuensi suara yang sama tergantung pada frekuensi suara
tersebut, nilai ambang di atasnya, dan durasi.
Lokalisasi Sumber Bunyi
Telinga mampu melokalisasi sumber suara/bunyi.
Kemampuan ini merupakan kerja sama kedua telinga karena
didasarkan atas perbedaan tekanan suara yang diterima oleh
masing-masing telinga, serta perbedaan saat diterimanya
gelombang suara di kedua telinga. Kemampuan telinga untuk
membedakan sumber suara yang berjalan horizontal lebih baik
daripada kemampuannya untuk membedakan sumber suara
yang vertikal. Kemampuan ini penting untuk memilih suara
yang ingin didengarkan dengan mengacuhkan suara yang tidak
ingin didengarkan.
GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING
Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat
kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran,
yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran
sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya
pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB)).
Pegeseran ambang pendengaran ini dapat berlangsung
sementara namun dapat juga menetap.
Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi
tiga kelompok, yaitu trauma akustik, perubahan ambang
pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara (noiseinduced temporary threshold shift) dan perubahan ambang
pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen (noiseinduced permanent threshold shift).
Pajanan bising intensitas tinggi secara berulang dapat
menimbulkan kerusakan sel-sel rambut organ Corti di telinga
dalam. Kerusakan dapat terlokalisasi di beberapa tempat di
cochlea atau di seluruh sel rambut di cochlea.
Pada trauma akustik, cedera cochlea terjadi akibat
rangsangan fisik berlebihan berupa getaran yang sangat besar
sehingga merusak sel-sel rambut. Namun pada pajanan
berulang kerusakan bukan hanya semata-mata akibat proses
fisika semata, namun juga proses kimiawi berupa rangsang
metabolik yang secara berlebihan merangsang sel-sel tersebut.
Akibat rangsangan ini dapat terjadi disfungsi sel-sel rambut
yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran sementara
atau justru kerusakan sel-sel rambut yang mengakibatkan
gangguan ambang pendengaran yang permanen.
Trauma Akustik
Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga
akibat adanya energi suara yang sangat besar. Efek ini terjadi
akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam
sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke
organ Corti. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang
telinga, kerusakan tulang-tulang pendengaran, atau kerusakan
langsung organ Corti. Penderita biasanya tidak sulit untuk
menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan
kehilangan pendengaran.
Noise-Induced Temporary Threshold Shift
Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang
pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap
suara dan bersifat reversibel. Untuk menghindari kelelahan
auditorik, maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
25
setelah pajanan suara. Faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah
level suara, durasi pajanan, frekuensi yang diuji, spektrum
suara, dan pola pajanan temporal, serta faktor-faktor lain
seperti usia, jenis kelamin, status kesehatan, obat-obatan
(beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan
kerusakan permanen), dan keadaan pendengaran sebelum
pajanan.
Noise-Induced Permanent Threshold Shift
Data yang mendukung adanya pergeseran nilai ambang
pendengaran permanen didapatkan dari laporan-laporan dari
pekerja di industri karena tidak mungkin melakukan
eksperimen pada manusia. Dari data observasi di lingkungan
industri, faktor-faktor yang mempengaruhi respon pendengaran
terhadap bising di lingkungan kerja adalah tekanan suara di
udara, durasi total pajanan, spektrum bising, alat transmisi ke
telinga, serta kerentanan individu terhadap kehilangan
pendengaran akibat bising.
Memeriksa pendengaran
Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini
berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga.
Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami
kesulitan berbicara di lingkungan yang bising, jika berbicara
biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara,
berbicara dengan suara menggumam, biasanya marah atau
merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas, dan sering
timbul tinitus. Biasanya pada proses yang berlangsung
perlahan-lahan ini, kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh
pekerja bersangkutan; untuk itu informasi mengenai kendala
komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada
pihak keluarga.
Pada pemeriksaan fisik, tidak tampak kelainan anatomis
telinga luar sampai gendang telinga. Pemeriksaan telinga,
hidung, dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan
seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang
menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga,
trauma telinga karena agen fisik lainnya, gangguan telinga
karena agen toksik dan alergi. Selain itu pemeriksaan saraf
pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di
susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran.
Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne, Weber, dan
Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf: Tes
Rinne menunjukkan hasil positif, pemeriksaan Weber
menunjukkan adanya lateralisasi ke arah telinga dengan
pendengaran yang lebih baik, sedangkan pemeriksaan
Schwabach memendek.
Untuk menilai ambang pendengaran, dilakukan
pemeriksaan audiometri. Pemeriksaan ini terdiri atas 2 grafik
yaitu frekuensi (pada axis horizontal) dan intensitas (pada axis
vertikal). Pada skala frekuensi, untuk program pemeliharaan
pendengaran (hearing conservation program) pada umumnya
diwajibkan memeriksa nilai ambang pendengaran untuk
frekuensi 500, 1000, 2000, 3000, 4000, dan 6000 Hz. Bila
sudah terjadi kerusakan, untuk masalah kompensasi maka
dilakukan pengukuran pada frekuensi 8000 Hz karena ini
26
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
merupakan frekuensi kritis yang menunjukkan adanya
kemungkinan hubungan gangguan pendengaran dengan
pekerjaan; tanpa memeriksa frekuensi 8000 Hz ini, sulit sekali
membedakan apakah gangguan pendengaran yang terjadi
akibat kebisingan atau karena sebab yang lain.
Pemeriksaan audiometri ini tidak secara akurat
menentukan derajat sebenarnya dari gangguan pendengaran
yang terjadi. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti
lingkungan tempat dilakukannya pemeriksaan, tingkat
pergeseran ambang pendengaran sementara setelah pajanan
terhadap bising di luar pekerjaan, serta dapat pula
permasalahan kompensasi membuat pekerja seolah-olah
menderita gangguan pendengaran permanen.
Prosedur pemeriksaan lain untuk menilai gangguan
pendengaran adalah speech audiometry, pengukuran
impedance, tes rekruitmen, bahkan perlu juga dilakukan
pemeriksaan gangguan pendengaran fungsional bila dicurigai
adanya faktor psikogenik.
Untuk itu pemeriksaan gangguan pendengaran pada
pekerja perlu dilakukan dengan cara seksama dan hati-hati
untuk menghindari kesalahan dalam memberikan kompoensasi.
EFEK FISIOLOGIS KEBISINGAN
Efek fisiologis kebisingan terhadap kesehatan manusia
dapat dibedakan dalam efek jangka pendek dan efek jangka
panjang. Namun perlu diingat, bahwa keadaan bising di
lingkungan seringkali disertai dengan faktor lainnya, seperti
faktor fisika lain berupa panas, getaran, dan sebagainya; tidak
jarang disertai juga dengan adanya faktor kimia dan biologis;
mustahil untuk mengisolasi kebisingan sebagai satu-satunya
faktor risiko.
Efek jangka pendek berlangsung sampai beberapa menit
setelah pajanan terjadi, sedangkan efek jangka panjang terjadi
sampai beberapa jam, hari ataupun lebih lama. Efek jangka
panjang dapat terjadi akibat efek kumulatif dari stimulus yang
berulang.
Efek jangka pendek
Efek jangka pendek yang terjadi dapat berupa refleks otototot berupa kontraksi otot-otot, refleks pernapasan berupa
takipneu, dan respon sistim kardiovaskuler berupa takikardia,
meningkatnya tekanan darah, dan sebagainya. Namun dapat
pula terjadi respon pupil mata berupa miosis, respon
gastrointestinal yang dapat berupa gangguan dismotilitas
sampai timbulnya keluhan dispepsia, serta dapat terjadi
pecahnya organ-organ tubuh selain gendang telinga (yang
paling rentan adalah paru-paru).
Efek jangka panjang
Efek jangka panjang terjadi akibat adanya pengaruh
hormonal. Efek ini dapat berupa gangguan homeostasis tubuh
karena hilangnya keseimbangan simpatis dan parasimpatis
yang secara klinis dapat berupa keluhan psikosomatik akibat
gangguan saraf otonom, serta aktivasi hormon kelenjar adrenal
seperti hipertensi, disritmia jantung, dan sebagainya. Secara
sederhana, berikut ini respon tubuh terhadap adanya kebisingan
(Gambar 1).
Bising
Reaksi Stres Umum
akibat Kenaikan
Adrenalin dan
Noradrenalin
Kenaikan
Tekanan Darah
Respon
Vegetatif
Peningkatan
Kebutuhan Oksigen
Peningkatan
Agregasi
Trombosit
Kerusakan
Dinding Arteri
Trombosis
Arteriosklerotik
Oklusi A.
Koroner
Oklusi Arteri
Lainnya
Iskemaia
Jantung
Infark
Miokard
Stroke
Gambar 1. Ikhtisar Reaksi Tubuh terhadap Bising
KEBISINGAN DAN KEMAMPUAN KERJA
Gangguan terhadap kemampuan kerja pada umumnya
terjadi karena meningkatnya kewaspadaan umum akibat
rangsangan terus menerus pada susunan saraf pusat. Pada
awalnya sulit dibedakan dengan gangguan emosional yang
timbul akibat bising; namun pada pemeriksaan efisiensi kerja
terlihat pengaruh yang cukup bermakna. Namun tetap perlu
hati-hati untuk melakukan interpretasi penelitian tentang
kemampuan atau performa kerja.
Suara yang asing, interupsi suara berulang, suara di atas
95 dB adalah beberapa keadaan kebisingan yang dapat
mempengaruhi kemampuan bekerja. Namun penelitian efek
kebisingan terhadap kemampuan kerja masih perlu dilakukan
dengan seksama, terutama pada lingkungan industri.
PENATALAKSANAAN TULI AKIBAT BISING
Pencegahan merupakan penatalaksanaan pertama dan
utama pada kebisingan di lingkungan pekerja. Pelaksanaan
program pemeliharaan pendengaran (hearing program
conservation) merupakan upaya pencegahan primer yang dapat
dilakukan di tempat kerja. Survei kebisingan di tempat kerja
harus memperhatikan teknik sampling agar pemeriksaan
tingkat kebisingan dapat memberikan gambaran keadaan yang
terjadi; pemeriksaan audiometri berkala juga merupakan upaya
deteksi dini pula. Penggunaan alat pelindung telinga, pengawasan dan pengendalian administrasi merupakan upaya
penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan oleh dokter dan
tenaga kesehatan di lingkungan kerja. Hearing conservation
program tidak akan dibicarakan secara mendalam pada tulisan
ini.
Bila sudah terjadi gangguan pendengaran yang mengakibatkan gangguan komunikasi maka dapat dipikirkan penggunaan alat bentu dengar. Jika pendengaran sudah sedemikian
buruknya sehingga komunikasi sangat sulit maka perlu
dilakukan psikoterapi lebih intensif agar pekerja dapat
menerima keadaannya. Jika dipergunakan alat bantu dengar,
perlu dilakukan latihan pendengaran agar pekerja dapat
menggunakan sisa pendengaran dengan alat bantu dengar
secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir, mimik
dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat
berkomunikasi. Selain itu, penderita tuli akibat bising ini juga
sulit mendengar suaranya sendiri sehingga diperlukan rehabilitasi suara agar dapat mengendalikan volume, tinggi rendah dan
irama percakapan.
Pada penderita yang mengalami tuli total bilateral dapat
dipertimbangkan pemasangan implan koklea.
KOMPENSASI TERHADAP KETULIAN PEKERJA
AKIBAT BISING
Faktor akustik, kondisi medis, dan permasalahan hukum
harus diperhatikan dalam menetapkan hubungan kausal antara
pajanan bising dan terjadinya gangguan pendengaran. Perlu
ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pemeriksaan
ganggguan pendengaran pada pekerja untuk menghindari
permasalahan kompensasi yang timbul di kemudian hari.
Hal yang perlu diingat dalam menentukan kemungkinan
adanya hubungan kausatif antara gangguan pendengaran dan
bising di tempat kerja adalah 1). Benar telah terjadi kehilangan
atau gangguan pendengaran dan 2). Dan gangguan
pendengaran tersebut memang berasal dari pajanan bising di
tempat kerja yang berlebihan.
Tanda-tanda gangguan pendengaran harus dikenali secara
dini. Pemeriksaan audiometri dilakukan untuk menilai derajat
dan tipe gangguan pendengaran yang terjadi. Pemeriksaan ini
bersifat subyektif, untuk itu perlu dilakukan oleh teknisi yang
terlatih dan dokter harus melakukan supervisi terhadap
pemeriksaan tersebut. Pemeriksaan audiometri pra kerja
merupakan suatu keharusan untuk mendapatkan data awal
kondisi pendengaran tenaga kerja.
Diagnosis banding lainnya disingkirkan dengan melakukan pemeriksaan fisik yang seksama. Dalam laporan pemeriksaan fisik harus tercantum identitas yang jelas (termasuk
saat pemeriksaan dan dokter yang melakukan pemeriksaan),
keluhan utama, gangguan pendengaran yang saat ini terjadi,
riwayat pekerjaan, riwayat pelatihan militer, riwayat penyakit
dahulu, riwayat keluarga. Riwayat pekerjaan dilakukan dengan
menanyakan nama pekerjaan, jenis pekerjaan yang dilakukan
(beserta tanggal atau waktu bekerja), durasi masing-masing
pekerjaan, tanggal bekerja dan umur saat itu, kondisi geografis
dan lokasi fisik pekerjaan, barang atau jasa yang dihasilkan,
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
27
penggunaan alat pelindung diri, sumber suara atau kebisingan
yang ada di pekerjaan (baik yang dahulu maupun saat ini).
Pemeriksaan fisik mendalam yang harus dilakukan
adalah:
1. Pemeriksaan luar terhadap tanda-tanda jejas atau jaringan
sikatrik yang menggambarkan adanya malfungsi.
2. Pemeriksaan otoskop untuk menilai gendang telinga,
adakah tanda-tanda abnormalitas
3. Pemeriksaan refleks kedua mata
4. Menilai ada atau tidaknya nistagmus
5. Pemeriksaan dengan garpu tala
6. Pemeriksaan audiometri nada murni untuk memeriksa
hantaran udara dan hantaran tulang
7. Uji kemampuan menangkap pembicaraan dan diskriminasi
suara
8. Tes rekrutmen
Sesudah dilakukan pemeriksaan terhadap pekerja dan
lingkungan kerja maka dapat ditentukan apakah gangguan
pendengaran akibat pekerjaan ataukah sebab yang lain. Bila
terjadi akibat pajanan bising berlebihan di tempat kerja, harus
dilakukan perhitungan formulasi gangguan pendengaran untuk
memberikan kompensasi yang sesuai dengan kondisi pekerja
tersebut. Setiap pekerja harus dievaluasi secara individual.
Kompensasi diberikan sesuai dengan ketentuan hukum yang
berbeda di masing-masing negara. Pada tulisan ini tidak akan
dibahas mengenai perhitungan kompensasi.
28
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
KESIMPULAN
Kebisingan di tempat kerja dapat menimbulkan gangguan
pendengaran dan gangguan sistemik yang dalam jangka waktu
panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan
penurunan produktivitas tenaga kerja. Oleh karena itu perlu
dilakukan pemantauan dan deteksi dini untuk pencegahan
karena kerugian yang harus dibayarkan akibat kebisingan ini
cukup besar.
Pemeriksaan gangguan pendengaran harus dilakukan
secara teliti, cermat, dan hati-hati untuk menghindari kesalahan
prosedur dalam memberikan kompensasi kepada tenaga kerja.
KEPUSTAKAAN
1.
2.
3.
4.
Harris CM (ed). Handbook of Noise Control. 2nd ed. McGraw-Hill Book
Comp. New York : 1979.
Nilland J. Zenz C. Occupational Hearing Loss, Noise, dan Hearing
Conservation. In : Zenz C. (chief ed). Dickerson OB. Horvarth EP.
Occupational Medicine. 3rd ed. Mosby. St. Louis : 1994
Soepardi ES. Iskandar N. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher. Edisi 5. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta : 2001
Department for Environment, Food and Rural Affair. Noise and Nuisance
Policy : Health Effect Based Noise Assasment Methods : A review and
Feasibility Study September 1998. In ; http://www.defra.gov.uk/
environment/noise/health/page05.htm. February 6th, 2004.
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Program Konservasi Pendengaran
di Tempat Kerja
Ambar W. Roestam
Subbagian Kedokteran Kerja, Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Di negara-negara industri, bising merupakan masalah
utama kesehatan kerja. Menurut WHO (1995), diperkirakan
hampir 14% dari total tenaga kerja negara industri terpapar
bising melebihi 90dB di tempat kerjanya. Diperkirakan lebih
dari 20 juta orang di Amerika terpapar bising 85 dB atau lebih.
Waugh dan Forcier mendapat data bahwa perusahaan kecil
sekitar Sydney mempunyai tingkat kebisingan 87 dB. Di
Quebec-Canada, Frechet mendapatkan data bahwa 55% daerah
industri mempunyai tingkat kebisingan di atas 85 dB dan
menurut survei prevalensi NIHL (Noise Induced Hearing Loss)
atau TAB (Tuli Akibat Bising) bervariasi antara 40 – 50%.
Di Indonesia, di pabrik peleburan besi baja prevalensi
NIHL 31,55% pada tingkat paparan kebisingan 85 - 105 dB
(Sundari,1997). Di perusahaan plywood di Tangerang,
prevalensi NIHL 31,81% dengan paparan kebisingan 86.1 –
108.2 dB (Lusianawaty). Penelitian Zuldidzaan (1995) pada
awak pesawat helikopter TNI AU dan AD mendapatkan
paparan bising antara 86 – 117 dB dengan prevalensi NIHL
27,16 %.
Penelitian pada pengemudi bajaj (Kertadikara, 1997)
mendapatkan bahwa mereka terpapar bising antara 97 – 101 dB
dengan 50% NIHL. Ini diperkuat dengan penelitian Yenni
Basiruddin yang mendapatkan tingkat kebisingan dan getar
pada pengemudi bajaj melebihi nilai ambang batas. Pada
pengukuran bising didapatkan rerata intensitas bising bajaj 91
dB (64 dB - 96 dB), rerata akselerasi getar 4.2m/dt2. Pada
kelompok ini pengemudi yang mengalami gangguan keseimbangan dan pendengaran sebesar 27,43%, gangguan pendengaran saja 17,14% dan gangguan keseimbangan saja
27,71%; jumlah seluruh gangguan mencapai 72,28% dari 350
pengemudi bajaj yang diperiksa.
Gambaran di atas memperlihatkan bahwa paparan di atas
85 dB dapat menimbulkan NIHL atau ketulian. Selain itu
kebisingan juga dapat menimbulkan keluhan non-pendengaran
seperti susah tidur, mudah emosi, dan gangguan konsentrasi
yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja.
Pencegahan dampak buruk kebisingan memerlukan perhatian dan dukungan semua jajaran di tempat kerja, dari jajaran
tertinggi sampai tenaga kerja pelaksana. Penerapan program
konservasi pendengaran di tempat kerja bermanfaat untuk
mencegah gangguan pendengaran akibat paparan bising.
Apa yang disebut kebisingan
Frekuensi suara bising biasanya terdiri dari campuran
sejumlah gelombang suara dengan berbagai frekuensi atau
disebut juga spektrum frekuensi suara. Nada kebisingan dengan
demikian sangat ditentukan oleh jenis-jenis frekuensi yang ada.
Berdasarkan sifatnya bising dapat dibedakan menjadi :
1.
Bising kontinu dengan spektrum frekuensi luas
Bising jenis ini merupakan bising yang relatif tetap dalam
batas amplitudo kurang lebih 5dB untuk periode 0.5 detik
berturut-turut. Contoh: dalam kokpit pesawat helikopter, gergaji sirkuler, suara katup mesin gas, kipas angin, suara dapur
pijar, dsb.
2.
Bising kontinu dengan spektrum frekuensi sempit
Bising ini relatif tetap dan hanya pada frekuensi tertentu
saja (misal 5000, 1000 atau 4000 Hz), misalnya suara gergaji
sirkuler, suara katup gas.
3.
Bising terputus-putus
Bising jenis ini sering disebut juga intermittent noise, yaitu
kebisingan tidak berlangsung terus menerus, melainkan ada
periode relatif tenang. Contoh kebisingan ini adalah suara lalu
lintas, kebisingan di lapangan terbang dll
4.
Bising impulsif
Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara
melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya. Contoh bising impulsif misalnya
suara ledakan mercon, tembakan, meriam dll.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
29
5.
Bising impulsif berulang-ulang
Sama seperti bising impulsif, tetapi terjadi berulang-ulang
misalnya pada mesin tempa.
Bising yang dianggap lebih sering merusak pendengaran
adalah bising yang bersifat kontinu, terutama yang memilikis
pektrum frekuensi lebar dan intensitas yang tinggi.
Untuk melindungi pendengaran manusia (pekerja) dari
pengaruh buruk kebisingan, Organisasi Pekerja Internasional
/ILO (International Labour Organization) telah mengeluarkan
ketentuan jam kerja yang diperkenankan, yang dikaitkan
dengan tingkat intensitas kebisingan lingkungan kerja sebagai
berikut (Tabel 1).
Tabel 1. Batasan waktu dan Pajanan kebisingan
Intensitas suara (dB)
OSHA
Indonesia
90
85
92
95
88
100
91
105
94
110
97
115
100
Jam kerja terpapar
8
6
4
2
1
0.5
0.25 atau kurang
Di Indonesia, intensitas bising di tempat kerja yang
diperkenankan adalah 85 dB untuk waktu kerja 8 jam perhari,
seperti yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja
no SE.01/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk
kebisingan di tempat kerja.
PENGARUH BISING TERHADAP KESEHATAN
TENAGA KERJA
Bising menyebabkan berbagai gangguan pada tenaga kerja,
seperti gangguan fisiologis, gangguan psikologis, gangguan
komunikasi dan ketulian.
1.
Gangguan fisiologis
Pada umumnya, bising bernada tinggi sangat mengganggu,
apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya tiba-tiba.
Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10
mmHg), peningkatan nadi, konstriksi pembuluh darah perifer
terutama pada tangan dan kaki, serta dapat menyebabkan pucat
dan gangguan sensoris.
2.
Gangguan psikologis
Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman,
kurang konsentrasi, susah tidur, cepat marah. Bila kebisingan
diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit
psikosomatik berupa gastritis, stres, kelelahan, dan lain-lain.
3.
Gangguan komunikasi
Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect
(bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas) atau gangguan
kejelasan suara. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan
dengan cara berteriak. Gangguan ini bisa menyebabkan terganggunya pekerjaan, sampai pada kemungkinan terjadinya
kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya;
gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan
30 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
keselamatan tenaga kerja.
4.
Gangguan keseimbangan
Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan
berjalan di ruang angkasa atau melayang, yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo)
atau mual-mual.
5.
Efek pada pendengaran
Efek pada pendengaran adalah gangguan paling serius
karena dapat menyebabkan ketulian. Ketulian bersifat
progresif. Pada awalnya bersifat sementara dan akan segera
pulih kembali bila menghindar dari sumber bising; namun bila
terus menerus bekerja di tempat bising, daya dengar akan
hilang secara menetap dan tidak akan pulih kembali.
Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb:
• Temporary Threshold Shift = Noise-induced Temporary
Threshold Shift = auditory fatigue = TTS
- non-patologis
- bersifat sementara
- waktu pemulihan bervariasi
- reversible/bisa kembali normal
Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat, daya
dengarnya akan pulih sempurna. Untuk suara yang lebih besar
dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas paparan atau istirahat 3-7
hari.
Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja kembali
terpapar bising semula, dan keadaan ini berlangsung terus
menerus maka ketulian sementara akan bertambah setiap harikemudian menjadi ketulian menetap.
Untuk mendiagnosis TTS perlu dilakukan dua kali
audiometri yaitu sebelum dan sesudah tenaga kerja terpapar
bising. Sebelumnya tenaga kerja dijauhkan dari tempat bising
sekurangnya 14 jam.
• Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap
- patologis
- menetap
PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus.
Ketulian ini disebut tuli perseptif atau tuli sensorineural.
Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan bertahap sebagai
berikut :
a. Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising, tenaga
kerja mengeluh telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu
kerja.
b. Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten,
sedangkan keluhan subjektif lainnya menghilang. Tahap ini
berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.
c. Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadi
gangguan pendengaran seperti tidak mendengar detak jam,
tidak mendengar percakapan terutama bila ada suara lain.
d. Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan
mulai sulit berkomunikasi. Pada tahap ini nilai ambang
pendengaran menurun dan tidak akan kembali ke nilai ambang
semula meskipun diberi istirahat yang cukup.
• Tuli karena Trauma akustik
Perubahan pendengaran terjadi secara tiba-tiba, karena suara
impulsif dengan intensitas tinggi, seperti letusan, ledakan dan
lainnya. Diagnosis mudah dibuat karena penderita dapat
mengatakan dengan tepat terjadinya ketulian. Tuli ini biasanya
bersifat akut, tinitus, cepat sembuh secara parsial atau komplit.
AKIBAT KETULIAN TERHADAP AKTIVITAS
SEBAGAI TENAGA KERJA
Akibat ketulian terhadap aktivitas sebagai tenaga kerja
dibedakan atas :
1. Hearing Impairment
Didefinisikan sebagai kerusakan fisik telinga baik yang
irreversible (NIHL/PTS) maupun yang reversible (TTS)
2. Hearing Disability
Didefinisikan sebagai kesulitan mendengarkan akibat
hearing impairment, misalnya :
a. Problem komunikasi di tempat kerja
b. Problem dalam mendengarkan musik
c. Problem mencari arah/asal suara
d. Problem membedakan suara
Secara ringkas dapat dikatakan efek hearing impairment
terhadap disability berbeda pada setiap individu, tergantung
fungsi psikologis dan aktivitas sosial yang bersangkutan.
3. Handicap
Ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang untuk
melakukan suatu tugas yang normal dan berguna baginya.
Menurut WHO diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Orientation handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam
mengikuti pembicaraan)
b. Physical independence handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan untuk mandiri)
c. Occupational
handicap (ketidakmampuan/keterbatasan
dalam bekerja dan memilih karir)
d. Economic self-sufficiency handicap
e. Social integration handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan
dalam melakukan aktivitas normal harian, seperti respons
terhadap alarm atau pesan lisan
f. Inability to cope with occupational requirement (ketidakmampuan/keterbatasan yang mengakibatkan berkurangnya
penghasilan)
Kebisingan sangat merugikan tenaga kerja, terutama bila
sampai NIHL dan juga merugikan perusahaan karena performance tenaga kerja yang menurun, biaya kesehatan yang
membengkak serta kompensasi bila NIHL karena pekerjaan;
oleh karena itu pencegahan terhadap gangguan pendengaran ini
perlu diprioritaskan. Program pencegahan ini dikenal dengan
istilah Program Konservasi Pendengaran.
PROGRAM PENCEGAHAN/ PROGRAM KONSERVASI
PENDENGARAN
Program pencegahan yang dapat dilakukan meliputi halhal berikut (NIOSH, 1996):
1. Monitoring paparan bising
2. Kontrol engineering dan administrasi
3. Evaluasi audiometer
4.
5.
6.
7.
Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE)
Pendidikan dan Motivasi
Evaluasi Program
Audit Program
Manfaat utama program ini adalah mencegah kehilangan
pendengaran akibat kerja; kehilangan pendengaran akan mengurangi kualitas hidup seseorang dalam pekerjaannya.
Hubungan antara tenaga kerja dengan pengusaha akan lebih
baik, angka turn-over karena lingkungan kerja akan rendah.
1. Bagi pengusaha
Taat hukum, hubungan baik dengan karyawan, menunjukkan itikad baik, meningkatkan produktivitas, mengurangi angka
kecelakaan, mengurangi angka kesakitan, mengurangi lost day
dan menaikkan kepuasan karyawan.
2. Bagi karyawan
Mencegah ketulian; ketulian akibat bising tidak terasa
(tanpa sakit), bersifat menetap (irreversible). Serta bisa
mengurangi stres.
Untuk melaksanakan program ini diperlukan hal-hal
sebagai berikut :
1. Dukungan manajemen
2. Berupa policy statement
3. Integrated dengan program K3
4. Ada penanggung jawab program yang ditunjuk resmi
Penanggung jawab bekerja sama dengan manajemen dan
karyawan membuat Hearing Lost Prevention Plan and Policy.
Manajemen dan karyawan konsisten melaksanakan program.
5. SOP dari setiap langkah dalam plan & policy harus jelas
6. Kontraktor dan vendor harus taat pada plan & policy
tersebut.
Dalam menyusun program konservasi pendengaran ini
perlu diperhatikan beberapa hal, antara lain:
1. Berpedoman bahwa pekerja tetap sehat dalam lingkungan
bising.
2. Dilaksanakan oleh semua jajaran, dari pimpinan tertinggi
sampai pekerja pelaksana. Komitmen pimpinan dan pekerja
sangat penting.
3. Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan memperhatikan tiga unsur :
a.
Sumber: mengurangi intensitas kebisingan (disain akustik,
menggunakan mesin/alat yang kurang bising dan mengubah
metode proses).
b.
Media: mengurangi transmisi kebisingan (menjauhkan
sumber bising dari pekerja, mengaborsi dan me-ngurangi
pantulan kebisingan secara akustik pada dinding, langit-langit
dan lantai, menutup sumber kebisingan dengan barrier.
c.
Tenaga kerja: mengurangi penerimaan bising (penggunaan alat pelindung diri, ruang isolasi. rotasi kerja, jadwal
kerja , dan lain-lain).
4. Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis.
5. Utamakan pencegahan bukan pengobatan, proaktif bukan
reaktif, kesejahteraan bukan santunan.
6. NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dan sehat,
namun merupakan pedoman. Penilaian dilakukan dengan
memantau kebisingan lingkungan dan kesehatan pendengaran
tenaga kerja (IDKI, 1994).
Program selengkapnya adalah sebagai berikut :
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
31
I. MONITORING PAPARAN BISING
Tujuan monitoring paparan bising, yang sering juga
disebut survei bising, bertujuan untuk :
1. Memperoleh informasi spesifik tentang tingkat kebisingan
yang ada pada setiap tempat kerja.
2. Menetapkan tempat-tempat yang akan diharuskan menggunakan APD.
3. Menetapkan pekerja yang harus (compulsory) menjalani
pemeriksaan audiometri secara periodik.
4. Menetapkan kontrol bising (baik administratif maupun
teknis).
5. Menilai apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan
UU yang berlaku.
Prinsip monitoring paparan bising :
Pengukuran dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kualifikasi sebagai berikut :
1. SOP pengukuran harus ada dan jelas.
2. Hasil dikomunikasikan pada manajemen dan pegawai,
- paling lama dalam waktu 2 minggu
- untuk Jamsostek di Indonesia : 2 x 24 jam
Ada 2 macam monitoring paparan bising :
1. Monitoring pendahuluan
Pengukuran bising pendahuluan untuk menentukan masalah yang potensial berbahaya untuk pendengaran, berdasarkan
lokasi tempat kerja. Survei ini dilaksanakan jika terdapat
kesulitan dalam berkomunikasi, adanya keluhan pekerja bahwa
telinga berdengung setelah bekerja.
2. Monitoring bising terperinci
Dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising pendahuluan, dengan menetapkan lokasi khusus yang memerlukan
penelitian lebih lanjut. Pemeriksaan dilakukan secara terperinci
di setiap lokasi. Monitoring bising terperinci dilakukan dalam
tiga tahap :
a. Pengukuran lingkungan kerja Æ slow response dengan
skala A (dB).
Buat gambar peta bising (luas < = 93 meter). Bila hasil
lebih dari 80 dB maka lingkungan tersebut cukup aman untuk
bekerja, sedangkan bila antara 80 – 92 dB perlu pengukuran
dan tindakan lebih lanjut (skala b).
b. Pengukuran di tempat kerja (<85 dB)
Dilakukan dengan skala B (intensitas bunyi) , pengukuran
dengan peta, ukur tempat dan ruang kerja, ukur maximun dan
minimumnya., bila lebih dari 85 dB, lakukan tahap selanjutnya
c. Lamanya paparan (jumlah jam terpapar)
Buat logbook untuk setiap orang berdasarkan job
classification, catat lamanya terpapar (sekarang digunakan
audiometer).
II. KONTROL - engineering dan administratif
Kontrol engineering ditujukan pada sumber bising dan
sebaran bising; contohnya :
1. Pemeliharaan mesin (maintenance) yaitu mengganti,
mengencangkan bagian mesin yang longgar, memberi pelumas
secara teratur, dan lain-lain.
2. Mengganti mesin bising tinggi ke yang bisingnya kurang.
3. Mengurangi vibrasi atau getaran dengan cara mengurangi
32 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
tenaga mesin, kecepatan putaran atau isolasi.
4. Mengubah proses kerja misal kompresi diganti dengan
pukulan.
5. Mengurangi transmisi bising yang dihasilkan benda padat
dengan menggunakan lantai berpegas, menyerap suara pada
dinding dan langit-langit kerja.
6. Mengurangi turbulensi udara dan mengurangi tekanan
udara.
7. Melakukan isolasi operator dalam ruang yang relatif kedap
suara.
Pengendalian administratif dilakukan dengan cara :
1. Mengatur jadual produksi
2. Rotasi tenaga kerja
3. Penjadualan pengoperasian mesin
4. Transfer pekerja dengan keluhan pendengaran
5. Mengikuti peraturan
III. EVALUASI AUDIOMETRI
Pengukuran audiometrik sebaiknya dilakukan pada :
1. Pre-employment
2. Penempatan ke tempat bising
3. Setiap tahun, bila bising > 85 dB
4. Saat pindah tugas keluar dari tempat bising
5. Saat pensiun/purna tugas
Tipe audiogram :
1. Pre-employment/preplacement/Baseline
2. Annual monitoring
3. Exit
Policy mengenai audiogram :
1. Base line atau data dasar :
- dalam 6 bulan mulai bekerja di tempat bising (85 dβA)
- untuk baseline 14 jam bebas bising, atau menggunakan
APD
2. Annual audiogram
Bagi yang TWA > 85 dBA
3. Evaluasi :
- setiap tahun dibandingkan dengan base-line
- bila STS (Significant Threshold Shift) > 10 dB (rata-rata
pada 2000-3000-4000 Hz), maka disebut + (positif)
Bila STS (+) maka yang dilakukan adalah :
- periksa dokter
- periksa tempat kerja
- periksa data kalibrasi alat
- komunikasikan dengan karyawan tersebut
- jika karena penyakit, konsulkan ke dokter THT
- periksa ulang dalam waktu 1 (satu) tahun
Bila STS (+) karena pekerjaannya :
- Bila belum menggunakan APD, diharuskan memakai
- Bila sudah memakai, beri petunjuk ulang
- Komunikasikan dengan pegawai dan atasan secara tertulis
- Bila perlu, konsul THT
Lakukan revisi baseline, bila STS persisten atau membaik
IV. PENGGUNAAN APD
Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan alat
pelindung telinga :
1. Kecocokan; alat pelindung telinga tidak akan memberikan
perlindungan bila tidak dapat menutupi liang telinga rapatrapat.
2. Nyaman dipakai; tenaga kerja tidak akan menggunakan
APD ini bila tidak nyaman dipakai.
3. Penyuluhan khusus, terutama tentang cara memakai dan
merawat APD tersebut.
Jenis-jenis alat pelindung telinga :
1. Sumbat telinga (earplugs/insert device/aural insert
protector)
Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat
sehingga suara tidak mencapai membran timpani.
Beberapa tipe sumbat telinga :
a. formable type
b. custom-molded type
c. premolded type
Sumbat telinga bisa mengurangi bising s/d 30 dB lebih.
2. Tutup telinga (earmuff/protective caps/circumaural
protectors)
Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan
untuk mengurangi bising s/d 40- 50 dB frekuensi 100 – 8000
Hz.
3. Helmet/ enclosure
Menutupi seluruh kepala dan digunakan untuk mengurangi
maksimum 35 dBA pada 250 Hz sampai 50 dβ pada frekuensi
tinggi
Pemilihan alat pelindung telinga :
1. Earplug bila bising antara 85 – 200 dBA
2. Earmuff bila di atas 100 dBA
3. Kemudahan pemakaian, biaya, kemudahan membersihkan
dan kenyamanan
Pedoman yang sering digunakan adalah sebagai berikut :
TWA/dBA
< 85
85 – 89
90 – 94
95 – 99
> 100
Pemakaian APD
Tidak wajib/perlu
Optional
Wajib
Wajib
Wajib
Pemilihan APD
Bebas memilih
Bebas memilih
Bebas memilih
Pilihan terbatas
Pilihan sangat terbatas
APD ini harus tersedia di tempat kerja tanpa harus
membebani pekerja dari segi biaya, perusahaan harus menyediakan APD ini. Cara terbaik sebenarnya bukan penggunaan APD tetapi pengendalian secara teknis pada sumber
suara.
V. PENDIDIKAN DAN MOTIVASI
Program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa
program konservasi pendengaran sangat bermanfaat untuk
melindungi pendengaran tenaga kerja, dan mendeteksi perubahan ambang pendengaran akibat paparan bising. Tujuan
pendidikan adalah untuk menekankan keuntungan tenaga kerja
jika mereka memelihara pendengaran dan kualitas hidupnya.
Lebih lanjut penyuluhan tentang hasil audiogram mereka,
sehingga tenaga kerja termotivasi untuk berpartisipasi melindungi pendengarannya sendiri. Juga melalui penyuluhan
diharapkan tenaga kerja mengetahui alasan melindungi telinga
serta cara penggunaan alat pelindung telinga.
VI. EVALUASI PROGRAM
Evaluasi program ditujukan untuk mengevaluasi hasil
program-program konservasi, dengan sasaran :
1. Review program dari sisi pelaksanaan serta kualitasnya,
misalnya pelatihan dan penyuluhan, kesertaan supervisor dalam
program, pemeriksaan masing-masing area untuk meyakinkan
apakah semua komponen program telah dilaksanakan.
2. Hasil pengukuran kebisingan, identifikasikan apakah ada
daerah lain yang perlu dikontrol lebih lanjut.
3. Kontrol engineering dan administratif.
4. Hasil pemantauan audiometrik dan pencatatannya; bandingkan data audiogram dengan baseline untuk mengukur
keberhasilan pelaksanaan program.
5. APD yang digunakan.
VII. PROGRAM AUDIT
1. Audit Eksternal, dapat dilakukan program audit oleh pihak
luar untuk mengetahui cost-effectiveness dan cost-benefit dari
program konservasi pendengaran.
2. QQ program (Quality Qontrol Program) dilakukan secara
internal, terus menerus untuk menilai efektivitas program
konservasi pendengaran.
PENUTUP
Mengingat kebisingan dan tuli akibat bising bisa dicegah
dengan program konservasi pendengaran, perusahaan sangat
dianjurkan untuk menerapkan program konservasi. Tidak saja
untuk melindungi pekerja, keuntungan utama perusahaan
adalah mendapatkan karyawan yang produktif dan sehat.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
33
Redaksi Mengucapkan Selamat
atas diselenggarakannya :
Telemedicine Network in Indonesia
di Yogyakarta, 10 Juli 2004
Website : http://telmed.fkumy.net
Redaksi CDK
34 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
PRAKTIS
Perawatan Mandiri
Pasca Trakeostomi
HR Krisnabudhi
]
Rumah Sakit Bina Husada Cibinong, Bogor, Jawa Barat
PENDAHULUAN
Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui
leher langsung ke trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada
gangguan lalulintas udara pernapasan. Trakeostomi
diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian
atas, melindungi trakea serta cabang-cabangnya terhadap
aspirasi dan tertimbunnya discharge bronkus, serta pengobatan
terhadap penyakit (keadaan) yang mengakibatkan insufisiensi
respirasi.
Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap
kesuksesan tindakan dan tujuan akhir trakeostomi. Perawatan
pasca trakeostomi yang baik meliputi pengisapan discharge,
pemeriksaan periodik kanul dalam, humidifikasi buatan,
perawatan luka operasi di stoma, pencegahan infeksi sekunder
dan jika memakai kanul dengan balon (cuff) yang high volumelow pressure cuff.
Perawatan kanul trakea di rumah sakit dilakukan oleh
paramedis yang terlatih dan mengetahui komplikasi
trakeostomi(1), yang dapat disebabkan oleh alatnya sendiri maupun
akibat perubahan anatomis dan fisiologis jalan napas pasca
trakeostomi.
Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang
dengan kanul trakea masih terpasang. Selama di rumah
penderita harus dapat memeliharanya agar jalan napas tetap
lancar dan tidak terjadi komplikasi akibat kanul trakea.
Untuk itu penderita harus mengetahui cara mengganti dan
membersihkan kanul trakea serta tersedianya alat-alat yang
diperlukan(2).
Berdasarkan permasalahan tersebut, akan diuraikan
cara perawatan mandiri pasca trakeostomi oleh penderita(3),
petunjuk dokter atau paramedis yang perlu diberikan kepada
penderita, cara membersihkan kanul dalam, mengganti kanul
trakeostomi dan membersihkan discharge yang terjadi. Mudahmudahan informasi yang didapat dari kepustakaan ini berguna
untuk mengelola pasien pasca trakeostomi di rumah.
TRAKEOSTOMI
Istilah trakeotomi dan trakeostomi dengan maksud
membuat hubungan antara leher bagian anterior dengan lumen
trakea, sering saling tertukar. Definisi yang tepat untuk
trakeotomi ialah membuat insisi pada trakea, sedang
trakeostomi ialah membuat stoma pada trakea.
PERUBAHAN-PERUBAHAN FISIOLOGIS AKIBAT
TRAKEOSTOMI
Di samping efek pada laring yang menyebabkan penderita
tidak dapat berbicara, trakeostomi juga meniadakan proses
pemanasan dan pelembaban udara inspirasi. Perubahan ini
menyebabkan gagalnya silia mukosa bronkus mengeluarkan
partikel-partikel tertentu dari paru. Discharge trakea berkurang
dan menjadi kental, akhirnya terjadi metaplasia skuamosa pada
epitel trakea.
Trakeostomi memintas laring dan saluran napas bagian
atas, karena itu mengurangi tahanan terhadap aliran udara,
terutama bila telah terjadi proses patologik yang menyebabkan
penyempitan di daerah glotis. Trakeostomi mengurangi ruang
mati (dead space) anatomik sampai 100 ml. Hal ini sangat
penting bagi penderita dengan tidal volume yang sangat
terbatas.
Trakeostomi dapat mengganggu gerakan pengangkatan
laring pada waktu menelan. Keadaan ini menyebabkan
penderita enggan menelan dan sering tersedak karena aspirasi
ludah ke dalam laring dan trakea. Trakeostomi meniadakan
mekanisme filtrasi saluran napas bagian superior, mengurangi
efektifitas refleks batuk, dan mengganggu gerakan penutupan
glotis hingga sering terjadi aspirasi ludah.
Bila digunakan kanul trakea yang memakai balon, tekanan
balon pada dinding lateral trakea dapat menyebabkan hipoksi
epitel mukosa trakea. Epitel ini mudah terinfeksi hingga terjadi
erosi mukosa trakea.
Bartlett dkk menyatakan dari hasil penyelidikannya bahwa
pada trakea yang normal tidak terdapat bakteri. Pada discharge
trakea penderita dengan trakeostomi sering ditemukan berbagai
koloni bakteri, yang sering ialah Pseudomonas aeruginosa
dan kokus gram positif(4). Selanjutnya dikatakan, tidak ada
korelasi antara bakteri dan flora saluran napas bagian atas
dengan bakteri dan flora trakea penderita; bakteri dan flora di
dalam trakea penderita berasal dari sumber-sumber lain, bukan
dari saluran napas bagian atas.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
35
PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI
Adanya kanul di dalam trakea yang merupakan benda
asing akan merangsang pengeluaran discharge. Discharge ini
akan keluar bila penderita batuk, pada saat dilakukan
pengisapan atau pada saat penggantian kanul.
Pengeluaran discharge dengan jalan membatukkan pada
penderita dengan trakeostomi tidak seefektif pada orang
normal, karena penderita tidak dapat menutup glotis untuk
menghimpun tekanan yang tinggi(5), sehingga perlu dilakukan
pengisapan. Beberapa jam pertama pasca bedah, dilakukan
pengisapan discharge tiap 15 menit, selanjutnya tergantung
pada banyaknya discharge dan keadaan penderita. Pengisapan
discharge dilakukan dengan kateter pengisap yang steril dan
disposable. Pada saat pengisap dimasukkan ke dalam trakea,
jangan diberi tekanan negatif, begitu pula antara
pengisapan harus diberi periode istirahat agar udara paru tidak
terlalu banyak terisap, dengan demikian residual volume tidak
banyak berkurang. Setelah ujung pengisap sampai di bronkus,
dilakukan pengisapan perlahan-lahan sambil memutar kanul
pengisap. Jika kanul trakea mempunyai kanul dalam, kanul
dalamnya dikeluarkan terlebih dahulu. Kanul dalam ini harus
sering diangkat dan dibersihkan.
Lore (1973) menganjurkan memakai pengisap terkecil yang
dapat melakukan pengisapan dengan adekuat, sedang
Feldman dan Crawley (1971) memakai kateter pengisap steril
dan non traumatik yang penampangnya kurang dari separuh
penampang trakea.
Sebelum melakukan pengisapan, sebaiknya penderita
diberi oksigen selama 2-3 menit. Bila didapatkan sekret yang
kental, teteskan larutan garam fisiologis terlebih dahulu.
Dengan adanya trakeostomi, fungsi humidifikasi yang
sebelumnya dilakukan oleh saluran napas bagian atas
menghilang. Untuk itu menggantikannya perlu dilakukan
humidifikasi buatan.
Cara-cara untuk humidifikasi udara inspirasi di antaranya
ialah:
a). Condensor humidifier. Alat ini dipasang pada kanul
trakea. Pada waktu ekspirasi, uap air mengembun pada
lempeng-lempeng metal dari kondensor. Kekurangan alat ini
ialah jika terjadi penimbunan discharge pada alat tersebut
fungsinya akan berkurang. Alat ini harus diganti setiap 3 jam.
b). Dengan melewatkan udara inspirasi melalui reservoir
berisi air yang secara teratur dipanaskan dengan termostat. Alat
ini relatif lebih efisien. Bila penderita bernafas spontan,
campuran gas ditiupkan melalui suatu T-piece atau melalui
kotak plastik yang dilubangi.
c). Dengan menambahkan tetesan-tetesan air yang halus pada udara
inspirasi. Efektifitas tetesan ini tergantung pada jumlah tetesan dan
kelembaban relatif udara inspirasi.
d). Secara sederhana humidifikasi dapat dikerjakan dengan
menaruh lembaran kasa yang telah dibasahi di depan mulut
kanul. Kasa tersebut diikatkan pada leher dan harus diganti
sesering mungkin.
Bila kanul terbuat dari polivinil klorida atau dari silikon,
kanul ini diganti setiap 7 hari atau lebih cepat, karena lumennya
akan mengecil oleh timbunan krusta dan discharge.
Sebelum mengangkat kanul, trakea dan daerah faring
36 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
diisap terlebih dahulu, setelah itu balon dikempiskan kemudian
kanul diangkat dan stoma dibersihkan dengan cepat. Kanul
baru dipasang dengan mengarahkan ujungnya ke arah posterior
lebih dahulu kemudian ke arah kaudal. Kesalahan memasang
kanul dapat berakibat kanul terletak di dalam mediastinum.
Bila diduga akan terjadi kesulitan pada pemasangan kanul
kembali, siapkan alat-alat untuk resusitasi, laringoskop dan
PET (pipa endo trakeal). Setelah penggantian kanul dilakukan
auskultasi paru untuk menyakini bahwa kedua paru sama
mengembang.
Bila digunakan kanul memakai balon (cuff), sebaiknya
dipilih balon yang bervolume besar dan bertekanan rendah.
Balon diisi dengan udara secukupnya agar menempel rapat
pada dinding trakea, dan jumlah udara yang dimasukkan
dicatat.
Jika balon terlalu banyak diisi udara akan terjadi hal-hal
sebagai berikut: a). Iskemia dan nekrosis mukosa trakea. b).
Nekrosis cincin-cincin tulang rawan trakea. c). Herniasi balon
pada ujung kanul akan menyumbat jalan napas. d). Akan timbul
gangguan saat menelan.
Luka operasi pada stoma bila bersih cukup ditutup dengan
kasa steril, tetapi luka terinfeksi perlu dikultur dan uji kepekaan
dan diberikan antibiotika yang sesuai.
Akhirnya penderita diajari untuk merawat diri sendiri.
PERAWATAN MANDIRI PASCA TRAKEOSTOMI
Pasca trakeostomi penderita akan diberi petunjuk oleh
dokter atau paramedis perihal perawatan kanul trakeostomi.
Petunjuk untuk penderita ini tergantung pada keadaan
penderita saat dari rumah sakit.
Petunjuk umum
Belajarlah merawat sendiri kanul trakeostomi atas
tanggung jawab sendiri. Jika tergantung pada seseorang saat
melakukan hal itu, mungkin akan bermasalah. Peralatan
hendaknya tersedia setiap saat melakukan perawatan kanul;
lakukan setiap hari seperti menyikat gigi atau menyisir rambut.
Kulit sekitar kanul dipelihara kebersihannya dengan air
sabun, menggunakan lap atau kasa perban. Krusta diangkat
dengan kapas aplikator yang dimasukkan ke dalam perhidrol.
Pastikan tidak ada air memasuki stoma, dan hati-hati
membersihkan kulit di sekitar kanul.
Jika mengalami kesulitan bernapas atau pernapasan
menjadi berbunyi, mungkin telah terdapat krusta atau mukus di
dalam kanul. Angkatlah kanul dalam dan bersihkan.
Jika ditemukan krusta dari mukus tebal yang sering
terbentuk di dalam kanul, paling baik membersihkannya
dengan memakai kasa basah di atas kanul. Jika udara rumah
kering, mungkin diperlukan pelembab (bukan vaporizer).
Membersihkan kanul dalam
Alat yang perlu disediakan ialah botol kecil, kasa perban,
penjepit, panci bergagang, saringan, dan cairan penggosok
perak.
Cara membersihkan kanul dalam, sebagai berikut: 1).
Buatlah larutan sabun di dalam botol. 2). Angkat kanul dalam
dengan cara pertama-tama putar kait kecil pengunci kanul
dalam dan kemudian tarik kanul dalam ke luar. 3). Cuci kanul
dalam dengan air dingin dan kemudian rendam untuk beberapa
menit di dalam cairan sabun. 4). Bersihkan bagian dalam kanul
dalam dengan kasa yang salah satu ujungnya diikatkan pada
suatu tempat (Gb. 1). Gunakan penjepit untuk membantu
menarik kasa melalui kanul. Tarik kanul dalam ke belakang, ke
depan dan seterusnya sekeliling kasa yang diikatkan sampai
bagian dalam kanul dalam bersih. 5). Setelah kanul dalam
bersih, cuci dengan baik memakai air dingin yang mengalir. 6).
Jika kanul dari perak telah memudar, rendam di dalam cairan
pembersih perak untuk beberapa menit, kemudian
bersihkan dan cuci. 7). Goyangkan kanul dalam untuk
mengangkat tetesan air. Masukkan kanul dalam ke tempatnya
dan putar kait kecil pengunci untuk mengunci pada tempatnya.
8). Minimal sekali sehari didihkan kanul dalam setelah
dibersihkan.
Gambar 2. Cara sterilisasi kanul dalam
Logam bahan pada kanul perak sangat lunak, oleh karena
itu dapat tergores atau bengkok dengan mudah, oleh karena itu
tidak boleh dicoba untuk digores; krusta dapat diangkat dengan
merendamnya. Tidak boleh digunakan penggosok kasar untuk
membersihkan kanul dalam. Biasanya, kanul dalam dan luar
dibuat secara spesifik agar cocok satu dengan yang lain, bahkan
kanul dalam tidak akan saling tertukar dengan yang lain. Kanul
plastik dapat dibersihkan dan dididihkan dengan cara yang
sama seperti halnya kanul perak.
Gambar 1. Pembersihan kanul dalam
Merebus kanul dalam
Tahapan untuk merebus kanul dalam ialah : 1). Tempatkan
kanul dalam bersih pada saringan dan tempatkan saringan pada
panci bergagang (Gb.2a). 2). Isi panci dengan air
secukupnya untuk merendam kanul dalam (Gb. 2b). 3). Setelah
air mendidih, didihkan kanul dalam selama 5 menit. 4). Angkat
saringan dari panci bergagang, tuangkan air dari panci, dan
tempatkan kembali saringan dalam panci. 5). Biarkan kanul
dalam dingin untuk beberapa menit sebelum dimasukkan ke
dalam kanul luar (Gb. 2).
Cara mengganti kanul trakeostomi
Petunjuk khusus dari dokter dan perawat diperlukan
sebelum penderita mengganti kanul trakeostominya. Adanya
lubang pada anterior leher yang secara langsung berhubungan
dengan trakea, menyebabkan kanul trakeostomi dapat
dimasukkan dengan mudah.
Untuk mengangkat kanul trakeostomi, pita trakeostomi
dibuka lebih dahulu, pelindung atau permukaan lempeng kanul
trakeostomi dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk,
kemudian ditarik ke arah anterior dan posterior. Kanul harus
bersih dengan pita trakeostomi telah terpasang, dan siap untuk
dimasukkan sebelum pengangkatan kanul trakeostomi. Salep
dioleskan sangat tipis pada permukaan luar kanul trakeostomi
untuk mempermudah memasukkannya. Pita trakeostomi yang
digunakan pada kanul dapat satu atau dua untai (Gb. 3).
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
37
Cara melakukan : 1). Siapkan alat-alat. 2). Pegang kateter
dengan salah satu tangan dan balon karet pada semprit dengan
tangan yang lain. 3). Tekan balon karet sebelum kateter
dimasukkan ke dalam kanul trakeostomi, untuk mengeluarkan
udara di dalamnya. 4). Lepaskan balon karet, mukus akan
terhisap ke dalam kateter dan semprit. 5). Bersihkan alat-alat
dengan air sabun. Peralatan tersebut sering dididihkan untuk
memelihara kebersihannya (Gb.4).
4” X 4 “
gauze pad
Gambar 3. Cara penggantian kanul trakeostomi
Pada saat memasukkan kanul trakeostomi, penderita
melihatnya melalui cermin dan pegang tiap sisi lempeng
permukaan kanul dengan ibu jari dan jari telunjuk. Kanul
trakeostomi akan meluncur ke dalam dengan tekanan ke arah
dalam secara halus. Di samping itu, hal yang penting ialah
bahwa kanul dimasukkan segera setelah kotoran yang melekat
pada kanul dibersihkan.
Setelah kanul trakeostomi terpasang di tempatnya dan pita
trakeostomi diikat, tempatkan kasa di atas kanul.
Gambar 4. Cara penghisapan discharge
Cara menghisap
Banyaknya discharge mukus bervariasi. Mukus ini
akan meningkat jumlahnya jika penderita dingin, jika udara
dalam rumah kering, atau jika kanul teriritasi. Penghisapan
mungkin diperlukan untuk mengontrol mukus.
Mesin penghisap yang mudah dibawa dapat dipinjam dari
rumah sakit dengan petunjuk penggunaannya. Kateter karet
tidak boleh dimasukkan sampai melewati ujung dalam kanul
trakeostomi, kecuali jika ada instruksi khusus untuk
melakukannya dari dokter. Jika mesin penghisap tidak didapat,
semprit steril atau kateter yang dapat dibeli di toko obat atau
apotik bisa digunakan sebagai penghisap.
Cara membuat kain alas di dada
Penderita mungkin perlu memakai kain kasa alas di dada di
bawah kanul trakeostomi, khususnya bila terdapat drainase
sekitar kanul. Gb. 5 dan 6 menunjukkan cara membuat dan
menggunakan alas di dada. Alas dada dari kasa trakeostomi
steril mungkin tersedia dari pusat sterilisasi rumah sakit.
Cara membuat alas dada untuk dipakai di bawah kanul
trakeostomi ialah sebagai berikut : 1). Potong satu lembar kasa
membentuk segi empat dengan ukuran 16 x 17 inci. 2). Lipat 1
inci pada tepi atas dan bawah. 3). Lipat 4 inci kasa pada tiap
sisi. 4). Lipat 2 kali untuk mengurangi lebar menjadi 4 inci.
Tempatkan 2 buah pita yang panjangnya 5 inci atau kasa yang
38 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
dipotong tepi lipatan pada bagian tepi atas separuh lipatan
kasa dan setik silang bagian atas untuk mengkokohkan pita
pada tempatnya. 5). Pakaikan kasa trakeostomi alas dada,
masukkan pita atau tali pengikat pada tepi bagian atas dari
bawah pita trakeostomi alas dada tiap sisi kanul trakeostomi. 6).
Lipat tali pengikat atau pita dari alas dada di atas pita
trakeostomi dan lipat kasa ke atas. Pastikan tali pengikat pada
permukaan depan alas dada dengan peniti kecil yang aman
(Gb.5).
Gambar 6. Cara lain membuat alas dada dipakai di bawah kanul
trakeostomi
Gambar 5. Cara membuat alas trakeostomi
Cara lain untuk membuat alas dada trakeostomi lebih
mudah tetapi sedikit lebih mahal.
Sebuah kasa 4 x 4 atau dua buah kasa 2 x 2 diperlukan
untuk tiap alas dada. 1). kasa 4 x 4 inci. 2). kasa 4 x 4 inci
yang tidak terlipat. 3). kasa 2 x 2 inci telah dibuat dengan
melipat kasa dua kali. Jika kasa tidak terlipat, panjangnya 6 inci.
Dua kasa tidak terlipat 2 x 2 inci dipakaikan. Satu tiap tepi dari
kasa terbuka 4x 4 inci. 4). Kasa 2x2 inci telah disetik pada
tempat dan dimasukkan di bawah pita trakeostomi pada tiap sisi
kanul trakeostomi. Kasa 2 x 2 inci kemudian dilipat ke bawah di
atas pita trakeostomi. 5). Kasa 4 x 4 inci telah dilipat ke atas. Kasa
2 x 2 inci dapat dipeniti di bagian dalam (Gb. 6).
RINGKASAN
Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui
leher langsung ke trakea untuk mengatasi afiksi jika ada gangguan
lalulintas udara pernafasan. Perawatan pasca trakeostomi besar
pengaruhnya terhadap keberhasilan tujuan akhir trakeostomi.
Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dari
rumah sakit dengan kanul trakea masih terpasang. Selama di
rumah penderita harus dapat memelihara kanul trakea. Dokter atau
paramedis perawatan harus memberikan petunjuk perihal
perawatan kanul trakea. Petunjuk ini tergantung pada keadaan
penderita saat pulang dari rumah sakit. Perawatan trakeostomi
mandiri meliputi petunjuk umum, cara membersihkan kanul
trakea, merebus kanul dalam, mengganti kanul, menghisap
discharge, dan cara membuat kain alas dada untuk trakeostomi.
KEPUSTAKAAN
1.
2.
Adams GL, Boies LR, Paparella MM. Tracheostomy. In :Boies's
Fundamentals of Otolaryngology. A Textbook of ear, nose and throat
diseases, 5th ed. Tokyo : Igaku Shoin Ltd., 1978 ; 705-17.
Bireell JF, Me Dowall GD, Me Klay K, Me Kailum JR, Maran AGD.
Tracheostomy. In : Logan Turner's Diseases of the nose, throat and ear.
5th ed. Bristol : John Wright and Sons Ltd, 1977 ; 1567-73.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
39
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Conway WA, Victor LD, Magilligon DJ, Fujita S, Zorick FJ, Roth T.
Adverse effects of tracheostomy for sleep apnea. JAMA 1981; 246 : 34750.
Davies J. Embriology and anatomy of the larynx, respiratory apparatus,
diaphragma and esophagus. In: Paparella, Shumrick (eds). Otolaryngology. Vol. 1. Basic sciences and related disciplines. Philadelphia : WB
Saunders Co, 1973.
Evans JNG, Tood GB. Laryngo-tracheoplasty. J Laryngol Otol 1974 ; 88 :
589-97.
Feldman SA, Crawley BE. Tracheostomy and artificial ventilation in the
treatment of respiratory failure, 2nd ed. London : Edward Arnold Ltd,
1971 : 31-61.
Galood HD, Toledo PS. Comparison of five type of tracheostomy tubes in
the intubated trachea. Ann Otol 1978 ; 87 : 99-108.
Lee KJ. The Otolaryngology board. A preparation guide. New York :
Medical Examination Publ. Co. Inc, 1973 : 170-96.
Lore JM. An atlas of head and neck surgery. Vol II, 2nd ed. Philadelphia :
WB Saunders Co. 1973 ; 688-708.
Lulenski GC. Long term tracheal dimensions after flap tracheostomy.
Arch Otolaryng 1981 ; 107 : 114-6.
Lulenski GC, Batsakis JC. Tracheal incision as a contributing factor to
tracheal stenosis. An experimental study, Ann Otol 1975 ; 84 : 781-6.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
Montgomery WW. Silicone tracheal canula. Ann Otol 1980; 89 : 521-8.
Montgomery WW. Manual for care of Montgomery silicone tracheal Ttube. Ann Otol 1980; 89 (suppl 73): 1-7.
Natvig K, Olving JH. Tracheal changes in relation to different
tracheostomy technique (An experimental study on rabbits). J Laryngol
Otol 1981; 95: 61-8.
Paparella MM, Shumrick DA, (eds). Otolaryngology, vol I. Basic sciences and related
disciplines. Philadelphia: WB Saunders, 1973.
Putney FJ. Complications and postoperative care after tracheostomy. Arch
Otolaryngol. 1955; 62 : 272-6.
Shapiro RS, Martin WM. Long custom made plastic tracheostomy tube in
severe tracheomalacia. Laryngoscope 1981; 91: 355-61.
Steel PM, Evans CC. Physiology of the larynx and tracheobronchial tree.
In : Ballantyne, Grooves, (eds). Scott-Brown's diseases of the ear, nose
and throat.. 4th ed. Vol I. Basic sciences. London : Butterworths, 1979 ;
433-75.
Wright D. Tracheostomy and laryngotomy. In: Ballantyne J, (ed).
Operative Surgery. Fundamental international techniques. Nose and
throat. 3rd ed. London : Butterworths, 1976 ; 242-8.
Siregar Z. Krikotirotomi. Skripsi di Bagian THT/RSCM. 19 September
1981.
Redaksi Mengucapkan Selamat
atas diselenggarakannya :
PIT XIV POGI
“Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui
Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi
dalam Era Pasar Bebas”,
Bandung, 13 – 15 Juli 2004
Website : http://www.obgyn-bandung.org
Redaksi CDK
40 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Vertigo: Aspek Neurologi
Budi Riyanto Wreksoatmodjo
Rumah Sakit Marzuki Mahdi, Bogor, Indonesia
PENDAHULUAN
Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam
praktek; yang sering digambarkan sebagai rasa berputar, rasa
oleng, tak stabil (giddiness, unsteadiness) atau rasa pusing
(dizziness); deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar
tidak dikacaukan dengan nyeri kepala atau sefalgi, terutama
karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan
nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian.
Vertigo – berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya
memutar – merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang, umumnya disebabkan
oleh gangguan pada sistim keseimbangan.
kurang stabil dibandingkan dengan makhluk lain yang berjalan
dengan empat kaki, sehingga lebih memerlukan informasi
posisi tubuh relatif terhadap lingkungan, selain itu diperlukan juga informasi gerakan agar dapat terus beradaptasi
dengan perubahan sekelilingnya.
Informasi tersebut diperoleh dari sistim keseimbangan
tubuh yang melibatkan kanalis semisirkularis sebagai reseptor,
serta sistim vestibuler dan serebelum sebagai pengolah informasinya; selain itu fungsi penglihatan dan proprioseptif juga
berperan dalam memberikan informasi rasa sikap dan gerak
anggota tubuh.
Sistim tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi
untuk selanjutnya diolah di susunan saraf pusat (Gb.1) .
SISTIM KESEIMBANGAN
Manusia, karena berjalan dengan kedua tungkainya, relatif
Gambar 1. Bagan Sistim Keseimbangan Manusia
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
41
PATOFISIOLOGI
Rasa pusing atau vertigo disebabkan oleh gangguan alat
keseimbangan tubuh yang mengakibatkan ketidakcocokan
antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa yang
dipersepsi oleh susunan saraf pusat.
Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian
tersebut :
1. Teori rangsang berlebihan (overstimulation)
Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang
berlebihan menyebabkan hiperemi kanalis semisirkularis
sehingga fungsinya terganggu; akibatnya akan timbul vertigo,
nistagmus, mual dan muntah.
2. Teori konflik sensorik
Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik
yang berasal dari berbagai reseptor sensorik perifer yaitu antara
mata/visus, vestibulum dan proprioseptik, atau ketidakseimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan kanan.
Ketidakcocokan tersebut menimbulkan kebingungan
sensorik di sentral sehingga timbul respons yang dapat berupa
nistagmus (usaha koreksi bola mata), ataksia atau sulit berjalan
(gangguan vestibuler, serebelum) atau rasa melayang, berputar
(yang berasal dari sensasi kortikal).
Berbeda dengan teori rangsang berlebihan, teori ini lebih
menekankan gangguan proses pengolahan sentral sebagai
penyebab.
3. Teori neural mismatch
Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik;
menurut teori ini otak mempunyai memori/ingatan tentang pola
gerakan tertentu; sehingga jika pada suatu saat dirasakan
gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah
tersimpan, timbul reaksi dari susunan saraf otonom.(Gb.2)
Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan berulangulang akan terjadi mekanisme adaptasi sehingga berangsurangsur tidak lagi timbul gejala.
Neural
Store
Sensory input (Rangsangan gerakan)
Comparator
Unit
pengaruhi sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya
gejala vertigo.
Normal
Motion Sickness
PAR
PAR
SYM
SYM
SYM
PAR
Gambar 3. Keseimbangan Sistim Simpatis dan Parasimpatis
Keterangan :
SYM : Sympathic Nervous System, PAR : Parasympathic Nervous System
6.
Teori sinap
Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang
meninjau peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan
biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi, belajar dan
daya ingat.
Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu
sekresi CRF (corticotropin releasing factor); peningkatan
kadar CRF selanjutnya akan mengaktifkan susunan saraf
simpatik yang selanjutnya mencetuskan mekanisme adaptasi
berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik.
Teori ini dapat menerangkan gejala penyerta yang sering
timbul berupa pucat, berkeringat di awal serangan vertigo
akibat aktivitas simpatis, yang berkembang menjadi gejala
mual, muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat
dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis.
TATALAKSANA PENDERITA VERTIGO
Seperti diuraikan di atas vertigo bukan suatu penyakit
tersendiri, melainkan gejala dari penyakit yang letak lesi dan
penyebabnya berbeda-beda. (Skema) Oleh karena itu, pada
setiap penderita vertigo harus dilakukan anamnesis dan
pemeriksaan yang cermat dan terarah untuk menentukan
bentuk vertigo, letak lesi dan penyebabnya.
Skema Klasifikasi Vertigo
Psikogenik
Mismatch
Adapted
Sindrom Fobia
Signal
Gambar 2. Skema teori Neural Mismatch
4.
Teori otonomik
Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf
otonom sebaga usaha adaptasi gerakan/perubahan posisi; gejala
klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan, sebaliknya
hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan (Gb. 3).
5. Teori neurohumoral
Di antaranya teori histamin (Takeda), teori dopamin
(Kohl) dan terori serotonin (Lucat) yang masing-masing
menekankan peranan neurotransmiter tertentu dalam mem42 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
Sentral
Vertigo
Patologik
BPPH
Perifer
Meniere
Infeksi Trauma
Iskemi
Fisiologik
Ketinggian,
Mabuk Udara
ANAMNESIS
Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya: melayang,
goyang, berputar, tujuh keliling, rasa naik perahu dan
sebagainya.
Perlu diketahui juga keadaan yang memprovokasi
timbulnya vertigo: perubahan posisi kepala dan tubuh,
keletihan, ketegangan.
Profil waktu: apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan,
hilang timbul, paroksimal, kronik, progresif atau membaik.
Beberapa penyakit tertentu mempunyai profil waktu yang
karakteristik (Gambar 4)(6, 7).
Apakah juga ada gangguan pendengaran yang biasanya
menyertai/ditemukan pada lesi alat vestibuler atau n.
vestibularis.
Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin, kanamisin,
salisilat, antimalaria dan lain-lain yang diketahui
ototoksik/vestibulotoksik dan adanya penyakit sistemik seperti
anemi, penyakit jantung, hipertensi, hipotensi, penyakit paru
juga perlu ditanyakan. Juga kemungkinan trauma akustik.
kongestif, anemi, hipoglikemi.
Dalam menghadapi kasus vertigo, pertama-tama harus
ditentukan bentuk vertigonya, lalu letak lesi dan kemudian
penyebabnya, agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan
terapi simtomatik yang sesuai.
Pemeriksaan Fisik Umum
Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab
sistemik; tekanan darah diukur dalam posisi berbaring,duduk
dan berdiri; bising karotis, irama (denyut jantung) dan pulsasi
nadi perifer juga perlu diperiksa.
Pemeriksaan Neurologis
Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian
khusus pada:
1. Fungsi vestibuler/serebeler
a. Uji Romberg (Gb. 5) : penderita berdiri dengan kedua
kaki dirapatkan, mula-mula dengan kedua mata terbuka
kemudian tertutup. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30
detik. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat
menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya
atau suara tertentu). Pada kelainan vestibuler hanya pada mata
tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah
kemudian kembali lagi, pada mata terbuka badan penderita
tetap tegak. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita
akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata
tertutup.
Gambar 4. Profil waktu serangan Vertigo pada beberapa penyakit
Gambar 5. Uji Romberg
PEMERIKSAAN FISIK
Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab, baik
kelainan sistemik, otologik atau neurologik – vestibuler atau
serebeler; dapat berupa pemeriksaan fungsi pendengaran dan
keseimbangan, gerak bola mata/nistagmus dan fungsi
serebelum.
Pendekatan klinis terhadap keluhan vertigo adalah untuk
menentukan penyebab; apakah akibat kelainan sentral – yang
berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat – korteks
serebri, serebelum,batang otak, atau berkaitan dengan sistim
vestibuler/otologik; selain itu harus dipertimbangkan pula
faktor psikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan
vertigo tersebut.
Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara
lain aritmi jantung, hipertensi, hipotensi, gagal jantung
b. Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki
kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti
berganti.
Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang, dan
pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh.
c. Uji Unterberger.
Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan
jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin
selama satu menit. Pada kelainan vestibuler posisi penderita
akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti
orang melempar cakram; kepala dan badan berputar ke arah
lesi, kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi
lesi turun dan yang lainnya naik. Keadaan ini disertai
nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
43
1.
a.
Fungsi Vestibuler
Uji Dix Hallpike (Gb. 9)
Perhatikan adanya nistagmus; lakukan uji ini ke kanan dan kiri
Gambar 6. Uji Unterberger
Kepala putar ke samping
d.
Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)(Gb. 7)
Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan,
penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas, kemudian
diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Hal
ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup.
Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan
lengan penderita ke arah lesi.
Secara cepat gerakkan pasien ke belakang (dari posisi duduk ke
posisi terlentang)
Gambar 7. Uji Tunjuk Barany
e. Uji Babinsky-Weil (Gb. 8)
Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima
langkah ke depan dan lima langkah ke belakang seama
setengah menit; jika ada gangguan vestibuler unilateral, pasien
akan berjalan dengan arah berbentuk bintang.
Kepala harus menggantung ke bawah dari meja periksa
Gambar 8. Uji Babinsky Weil
Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis(8,9)
Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak
lesinya di sentral atau perifer.
44 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
Gambar 9. Uji Dix-Hallpike
Dari posisi duduk di atas tempat tidur, penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat, sehingga kepalanya menggantung 45º di bawah garis horisontal, kemudian kepalanya
dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri. Perhatikan saat timbul
dan hilangnya vertigo dan nistagmus, dengan uji ini dapat
dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral.
Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus
timbul setelah periode laten 2-10 detik, hilang dalam waktu
kurang dari 1 menit, akan berkurang atau menghilang bila tes
diulang-ulang beberapa kali (fatigue).
Sentral: tidak ada periode laten, nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit, bila diulang-ulang reaksi tetap
seperti semula (non-fatigue).
b. Tes Kalori
Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º, sehingga
kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. Kedua
telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air
hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap
irigasi 5 menit. Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak
permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal
90-150 detik).
Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis
atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan.Canal
paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga, baik
setelah rangsang air hangat maupun air dingin, sedangkan
directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan
pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga.
Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n.
VIII, sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi
sentral.
c. Elektronistagmogram
Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit, dengan
tujuan untuk merekam gerakan mata pada nistagmus, dengan
demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif.
Fungsi Pendengaran
Tes garpu tala
Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan
tuli perseptif, dengan tes-tes Rinne, Weber dan Schwabach.
Pada tuli konduktif tes Rinne negatif, Weber lateralisasi
ke sisi yang tuli, dan Schwabach memendek.
b. Audiometri
Ada beberapa macam pemeriksaan audiometri seperti
Loudness Balance Test, SISI, Bekesy Audiometry, Tone Decay.
Pemeriksaan saraf-saraf otak lain meliputi: acies visus,
kampus visus, okulomotor, sensorik wajah, otot wajah,
pendengaran, dan fungsi menelan. Juga fungsi motorik
(kelumpuhan ekstremitas),fungsi sensorik (hipestesi, parestesi)
dan serebeler (tremor, gangguan cara berjalan).
4. Pencitraan: CT Scan, Arteriografi, Magnetic Resonance
Imaging (MRI).
TERAPI
Tujuan pengobatan vertigo, selain kausal (jika ditemukan
penyebabnya), ialah untuk memperbaiki ketidak seimbangan
vestibuler melalui modulasi transmisi saraf; umumnya
digunakan obat yang bersifat antikolinergik. (Tabel 3).
Tabel 3.
Obat-obatan yang digunakan pada terapi simptomatik vertigo
(sedatif vestibuler)
Nama Generik
Nama
Dagang
Cyclizine
Dimenhydrinate
Diphenhydramine
Meclizine
Marezine
Dramamine
Benadryl
Promethazine
Scopolamine
Hydroxyzine
Ephedrine
Cinnarizine
Flunarizine
Hyoscine
Betahistin
Bonine,
Antivert
Phenergan,
Avopreg
Transderm
Scop
Holopon
Iterax,
Bestalin
Stugeron
Sibelium
Buscopan
Hyscopan
Merislon
6 mg
Betaserc
8 mg
Dosisi Dewasa
Tingkat
Sedasi
Rute
Lain
50 mg 4 dd
25-50 mg 4 dd
25-50 mg 4 dd
+
++
++
im
im,iv,rec
+
im, iv
4-6
12,5-25 mg
2-3 dd
25 mg 4 dd
++
-
72
0,5 mg 1 dd
+
im,iv,rec
4-6
0,5 mg 3 dd
25-100 mg 3 dd
+
++
sc, iv
4–6
25 mg 4 dd
25-50 mg 3 dd
5 mg 2 dd
10-20 mg 3-4 dd
6-12 mg 3 dd
8-16 mg 3 dd
0
+
+
0
0
0
im
im
-
Lama
Kerja
(jam)
4-6
4-6
4-6
12-24
-
Selain itu dapat dicoba metode Brandt-Daroff sebagai upaya
desensitisasi reseptor semisirkularis (Gambar 9).
2.
a.
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin, dan
pemeriksaan lain sesuai indikasi.
2. Foto Rontgen tengkorak, leher, Stenvers (pada neurinoma
akustik).
3. Neurofisiologi:Elektroensefalografi(EEG),Elektromiografi
(EMG), Brainstem Auditory Evoked Pontential (BAEP).
Gambar 9.
Pasien duduk tegak di tepi tempat tidur dengan tungkai
tergantung; lalu tutup kedua mata dan berbaring dengan cepat
ke salah satu sisi tubuh, tahan selama 30 detik, kemudian
duduk tegak kembali. Setelah 30 detik baringkan tubuh dengan
cara yang sama ke sisi lain, tahan selama 30 detik, kemudian
duduk tegak kembali.
Latihan ini dilakukan berulang (lima kali berturut-turut)
pada pagi dan petang hari sampai tidak timbul vertigo lagi.
Latihan lain yang dapat dicoba ialah latihan visual-vestibular;
berupa gerakan mata melirik ke atas, bawah, kiri dan kanan me
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
45
ngikuti gerak obyek yang makin lama makin cepat; kemudian
diikuti dengan gerakan fleksi–ekstensi kepala berulang dengan
mata tertutup, yang makin lama makin cepat.
Terapi kausal tergantung pada penyebab yang (mungkin)
ditemukan.
Beberapa penyebab vertigo yang sering ditemukan antara
lain:
Benign paroxysmal positional vertigo
Dianggap merupakan penyebab tersering vertigo;
umumnya hilang sendiri (self limiting) dalam 4 sampai 6
minggu.
Saat ini dikaitkan dengan kondisi otoconia (butir kalsium
di dalam kanalis semisirkularis) yang tidak stabil.
Terapi fisik dan manuver Brandt-Daroff dianggap lebih
efektif daripada medikamentosa.
Penyakit Meniere
Dianggap disebabkan oleh pelebaran dan ruptur periodik
kompartemen endolimfatik di telinga dalam; selain vertigo,
biasanya disertai juga dengan tinitus dan gangguan pendengaran.
Belum ada pengobatan yang terbukti efektif; terapi
profilaktik juga belum memuaskan; tetapi 60-80 % akan remisi
spontan.
Dapat dicoba pengggunaan vasodilator, diuretik ringan
bersama diet rendah garam; kadang-kadang dilakukan tindakan
operatif berupa dekompresi ruangan endolimfatik dan pemotongan n.vestibularis.
Pada kasus berat atau jika sudah tuli berat, dapat dilakukan
labirintektomi atau merusak saraf dengan instilasi
aminoglikosid ke telinga dalam (ototoksik lokal).
Pencegahan antara lain dapat dicoba dengan menghindari
kafein, berhenti merokok, membatasi asupan garam.
Obat diuretik ringan atau antagonis kalsium dapat
meringankan gejala.
Simtomatik dapat diberi obat supresan vestibluer.
Vertigo akibat obat
Beberapa obat ototoksik dapat menyebabkan vertigo yang
disertai tinitus dan hilangnya pendengaran.Obat-obat itu antara
lain aminoglikosid, diuretik loop, antiinflamasi nonsteroid,
derivat kina atau antineoplasitik yang mengandung platina..
Streptomisin lebih bersifat vestibulotoksik, demikian juga
gentamisin; sedangkan kanamisin, amikasin dan netilmisin
lebih bersifat ototoksik.
Antimikroba lain yang dikaitkan dengan gejala vestibuler
antara lain sulfonamid, asam nalidiksat, metronidaziol dan
minosiklin.
Terapi berupa penghentian obat bersangkutan dan terapi
fisik; penggunaan obat supresan vestibuler tidak dianjurkan
karena jusrtru menghambat pemulihan fungsi vestibluer.
Obat penyekat alfa adrenergik, vasodilator dan
antiparkinson dapat menimbulkan keluhan rasa melayang yang
dapat dikacaukan dengan vertigo.
RINGKASAN
Vertigo merupakan keluhan yang dapat dijumpai dalam
praktek, umumnya disebabkan oleh kelainan /gangguan fungsi
alat-alat keseimbangan, bisa alat dan saraf vestibuler, koordinasi gerak bola mata (di batang otak) atau serebeler.
Penatalaksanaan berupa anamnesis yang teliti untuk
mengungkapkan jenis vertigo dan kemungkinan penyebabnya;
terapi dapat menggunakan obat dan/atau manuver-manuver
tertentu untuk melatih alat vestibuler dan/atau menyingkirkan
otoconia ke tempat yang stabil; selain pengobatan kausal jika
penyebabnya dapat ditemukan dan diobati.
KEPUSTAKAAN
1.
2.
3.
Neuritis vestibularis
Merupakan penyakit yang self limiting, diduga disebabkan
oleh infeksi virus; jika disertai gangguan pendengaran disebut
labirintitis.
Sekitar 50% pasien akan sembuh dalam dua bulan.
Di awal sakit, pasien dianjurkan istirahat di tempat tidur,
diberi obat supresan vestibuler dan anti emetik. Mobilisasi dini
dianjurkan untuk merangsang mekanisme kompensasi sentral.
4.
5.
6.
7.
Andradi S. Aspek Neurologi dari Vertigo. Monograf. tanpa tahun,
Harahap TP, Syeban ZS. Vertigo ditinjau dari segi neurologik.
Monograf, tanpa tahun.
Joesoef AA. Tinjauan umum mengenai vertigo. Dalam: Joesoef AA,
Kusumastuti K.(eds.). Neurootologi klinis:Vertigo. Kelompok Studi
Vertigo Perdossi, 2002. hal.xiii-xxviii.
Makalah lengkap Simposium dan Pelatihan Neurotologi. 24 Juli 2001
Mengenal Pusing dalam Praktek Umum. Seri edukasi, Duphar, tanpa
tahun.
Sedjawidada R. Patofisiologi Tinitus dan Vertigo. Dalam: Simposium
Tinitus dan Vertigo. Perhimpunan Ahli Telinga Hidung dan Tenggorok
Indonesia cabang DKI Jakarta, 14 Desember 1991.
Vertigo. Patofisiologi, Diagnosis dan Terapi. Kelompok Studi Vertigo,
Perdossi,1999.
Every true genius must be natural or it is none
(Schiller)
46 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
PRESENTASI KASUS
Terapi Akupunktur
untuk Vertigo
Prasti Pirawati, L. Yvonne Siboe
Departemen Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo,
Jakarta
ABSTRAK
Vertigo merupakan kasus yang sering terjadi, tergolong sebagai salah satu bentuk
gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi ruangan. Gejalanya menyebabkan
pasien takut dan cemas, dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Pengobatan
vertigo secara konvensional dengan obat-obatan kadang-kadang kurang berhasil.
Berikut dilaporkan kasus vertigo pada seorang wanita 50 tahun, diterapi dengan
akupunktur dan menunjukkan hasil memuaskan.
PENDAHULUAN
Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk
gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan (1)
Istilah yang sering digunakan oleh awam adalah: puyeng,
sempoyongan, mumet, pusing, pening, tujuh keliling, rasa
mengambang, kepala terasa enteng, rasa melayang (1).
Vertigo perlu dipahami karena merupakan keluhan nomer
tiga paling sering dikemukakan oleh penderita yang datang ke
praktek umum, bahkan orang tua usia sekitar 75 tahun, 50 %
datang ke dokter dengan keluhan vertigo(2) .
DEFINISI
Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang
artinya memutar (2).
Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak
dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala
lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat
keseimbangan tubuh (2).
Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing
saja, melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari
gejala somatik (nistagmus, unstable), otonomik (pucat, peluh
dingin, mual, muntah) dan pusing (2).
KLASIFIKASI
Berdasarkan gejala klinisnya, vertigo dapat dibagi atas
beberapa kelompok (2):
1. Vertigo paroksismal
2.
3.
Vertigo kronis
Vertigo yang serangannya mendadak/akut, kemudian
berangsur-angsur mengurang.
Vertigo paroksismal
Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak, berlangsung beberapa menit atau hari, kemudian menghilang
sempurna; tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul
lagi. Di antara serangan, penderita sama sekali bebas keluhan.
Vertigo jenis ini dibedakan menjadi :
1. Yang disertai keluhan telinga :
Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere,
Arakhnoiditis pontoserebelaris, Sindrom Lermoyes,
Sindrom Cogan, tumor fossa cranii posterior, kelainan
gigi/ odontogen.
2. Yang tanpa disertai keluhan telinga; termasuk di sini
adalah :
Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris, Epilepsi,
Migren ekuivalen, Vertigo pada anak (Vertigo de
L’enfance), Labirin picu (trigger labyrinth).
3. Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi, termasuk di sini adalah :
- Vertigo posisional paroksismal laten,
- Vertigo posisional paroksismal benigna.
Vertigo kronis
Yaitu vertigo yang menetap, keluhannya konstan tanpa
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 47
serangan akut, dibedakan menjadi:
1. Yang disertai keluhan telinga :
Otitis media kronika, meningitis Tb, labirintitis kronis, Lues
serebri, lesi labirin akibat bahan ototoksik, tumor
serebelopontin.
2. Tanpa keluhan telinga :
Kontusio serebri, ensefalitis pontis, sindrom pasca komosio,
pelagra, siringobulbi, hipoglikemi, sklerosis multipel,
kelainan okuler, intoksikasi obat, kelainan psikis, kelainan
kardiovaskuler, kelainan endokrin.
3. Vertigo yang dipengaruhi posisi :
- Hipotensi ortostatik
- Vertigo servikalis.
Vertigo yang serangannya mendadak/akut, berangsurangsur mereda, dibedakan menjadi :
1. Disertai keluhan telinga :
Trauma labirin, herpes zoster otikus, labirintitis akuta,
perdarahan labirin, neuritis n.VIII, cedera pada auditiva
interna/arteria vestibulokoklearis.
2. Tanpa keluhan telinga :
Neuronitis vestibularis, sindrom arteria vestibularis anterior,
ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika, sklerosis multipleks, hematobulbi, sumbatan arteria serebeli inferior
posterior.
Ada pula yang membagi vertigo menjadi(3) :
1. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler.
2. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual.
ETIOLOGI
1. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer :
a. Telinga bagian luar : serumen, benda asing.
b. Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani,
otitis media purulenta akuta, otitis media dengan efusi,
labirintitis, kolesteatoma, rudapaksa dengan perdarahan.
c. Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika,
trauma, serangan vaskular, alergi, hidrops labirin
(morbus Meniere ), mabuk gerakan, vertigo postural.
d. Nervus VIII. : infeksi, trauma, tumor.
e. Inti Vestibularis: infeksi, trauma, perdarahan, trombosis arteria serebeli posterior inferior, tumor, sklerosis
multipleks.
2. Penyakit SSP :
a. Hipoksia – Iskemia otak. : Hipertensi kronis, arteriosklerosis, anemia, hipertensi kardiovaskular, fibrilasi
atrium paroksismal, stenosis dan insufisiensi aorta,
sindrom sinus karotis, sinkop, hipotensi ortostatik,
blok jantung.
b. Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses, lues.
c. Trauma kepala/ labirin.
d. Tumor.
e. Migren.
f. Epilepsi.
3. Kelainan endokrin: hipotiroid, hipoglikemi, hipoparatiroid, tumor medula adrenal, keadaan menstruasi-hamilmenopause.
48 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
4.
5.
6.
Kelainan psikiatrik: depresi, neurosa cemas, sindrom
hiperventilasi, fobia.
Kelainan mata: kelainan proprioseptik.
Intoksikasi.
PATOFISIOLOGI
Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi
aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. Susunan aferen
yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau
keseimbangan, yang secara terus menerus menyampaikan
impulsnya ke pusat keseimbangan.
Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan proprioseptik, jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis
dengan nuklei N. III, IV dan VI, susunan vestibuloretikularis,
dan vestibulospinalis.
Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan
ditangkap oleh reseptor vestibuler, visual, dan proprioseptik;
reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar, yaitu
lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang
paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik.(2).
Dalam kondisi fisiologis/normal, informasi yang tiba di
pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor
vestibuler, visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan
diperbandingkan, jika semuanya dalam keadaan sinkron dan
wajar, akan diproses lebih lanjut. Respons yang muncul berupa
penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam
keadaan bergerak. Di samping itu orang menyadari posisi
kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar.
Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral
dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis, atau ada rangsang
gerakan yang aneh atau berlebihan, maka proses pengolahan
informasi akan terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan
gejala otonom; di samping itu, respons penyesuaian otot
menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang
dapat berupa nistagmus, unsteadiness, ataksia saat berdiri/
berjalan dan gejala lainnya.
DIAGNOSIS
1. Anamnesis.
2. Pemeriksaan fisik :
- Pemeriksaan mata
- Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh
- Pemeriksaan neurologik
- Pemeriksaan otologik
- Pemeriksaan fisik umum.
3. Pemeriksaan khusus :
- ENG
- Audiometri dan BAEP
- Psikiatrik
4. Pemeriksaan tambahan :
- Laboratorium
- Radiologik dan Imaging
- EEG, EMG, dan EKG.
TERAPI
Terdiri dari :
1. Terapi kausal
2.
3.
Terapi simtomatik
Terapi rehabilitatif
TINJAUAN MENURUT ILMU AKUPUNKTUR
Menurut Ilmu Akupunktur, vertigo termasuk golongan
Xuan Yun (pusing = dizziness), disebabkan oleh hiperaktivitas
Yang Hati, sehingga mengganggu telinga; atau karena
akumulasi reak di Jiao–tengah sehingga menyumbat naiknya
Qi ke telinga (4).
Gejala Klinis(4,5 )
Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala
sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa
kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan
selaput putih lengket, nadi lembut atau seperti senar dan halus.
Jika disebabkan oleh naiknya Yang Hati dan berkurangnya Yin Ginjal timbul gejala-gejala: puyeng (dizziness), nyeri
kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah,
mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis,
nadi senar dan seperti benang.
Etiologi & Patofisiologi ( 6 , 7 , 8 )
1. Hiperaktifitas Yang Hati
Disebabkan oleh stagnasi Qi Hati, sehingga menimbulkan
api Hati dan angin Hati berlebihan yang naik mengganggu Qi
di dalam kepala, sehingga timbul puyeng (pusing). Hiperaktifitas Yang Hati lama-kelamaan bisa mengakibatkan
defisiensi Yin Hati..
2. Defisiensi Qi dan darah
Disebabkan oleh perdarahan kronis atau gangguan pencernaan sehingga Limpa dan Lambung lemah menyebabkan
pembentukan Qi dan darah kurang, kulit pucat, pusing dan
penglihatan kabur.
3. Defisiensi Cing Ginjal.
Akan mengakibatkan gangguan telinga, otak, dan organorgan lain, terutama Hati, Limpa-Lambung, dan Jantung,
sehingga timbul gejala vertigo.
4. Stagnasi lembab di Jiao-tengah.
Lemahnya Limpa dan Lambung menyebabkan terbentuknya reak dan lembab yang menyumbat di Jiao tengah sehingga
Qi terhambat untuk naik/turun, mengakibatkan vertigo.
Terapi (4,5,6 )
1. Jika akibat Hiperaktifitas Yang Hati, prinsip terapinya :
Menenangkan Yang Hati, menguatkan Yin Hati,
menghilangkan angin dalam, mengurangi kelebihan api Hati,
melancarkan Qi Hati.
Titik-titiknya : Baihui (GV 20) atau Fengchi (GB 20),
Xingjian (LR 2), Qiuxu (GB 40), Taichong (LR 3).
2. Jika karena Defisiensi Qi dan darah, prinsip terapinya :
Memelihara Qi dan darah dengan menguatkan Limpa, jika
Qi dan darah tidak bisa naik ke kepala, maka Jantung dan
Limpa dikuatkan.
Titik-titiknya : Hegu (LI 4), Sanyinjiao (SP 6), Shenmen
(HT 7).
3. Jika akibat defisiensi Cing Ginjal, prinsip terapinya :
Menguatkan Ginjal
Titik-titiknya : Guanyuan ( CV 4 ), Taixi ( KI 3 ), Shenshu
( UB 23 ), Fuliu ( KI 7 ).
4. Jika akibat stagnasi lembab di Jiao-tengah, prinsipnya :
Menguatkan Limpa, menyeimbangkan Lambung, menghilangkan lembab dan menghilangkan reak, sehingga melancarkan Qi dalam Limpa-Lambung.
Titik-titiknya : Pishu ( UB 20 ), Yinlingquan ( SP 9 ),
Fenglong ( ST 40 ).
KASUS
I. Identitas penderita
Nama
Umur
Jenis kelamin
Agama
Status perkawinan
Pekerjaan
Berobat tanggal
:
:
:
:
:
:
:
Ny. YR
50 th
perempuan
Islam
menikah
PNS (Fisioterapis)
4 September 2003
II. Anamnesis
Keluhan utama
: kepala terasa muter sejak 1 bulan
Keluhan tambahan : mual .
Perjalanan penyakit :
- Kira-kira 1 bulan yang lalu pasien merasa leher sebelah
kanan sakit; lama-kelamaan menjalar ke lengan kanan.
Setelah berobat ke fisioterapi, membaik.
- Dua minggu kemudian, pasien tiba-tiba merasa seperti "ada
sesuatu" yang naik; kemudian merasa seperti mabuk dan
mual. Muntah tidak ada.
- Paisen berobat ke IRM; pada Rö tulang leher, ada
penyempitan di C 4-5.
- Diberi obat antalgin dan obat untuk vertigo; karena tidak
ada perubahan, dirujuk ke bagian Saraf, diberi: Ibuprofen,
Betaserc®, Clobazam, Neurodex®.
- Seminggu kemudian kambuh lebih parah; pasien merasa
ada "sesuatu" yang naik sampai ke leher, kepala terasa
berat, dan berputar; disertai mual dan muntah. Pasien minta
dirujuk ke bagian Akupunktur.
- Tiga bulan sebelumnya pasien beberapa kali mengalami
gejala-gejala awal serupa (ada "sesuatu" yang naik) tapi
hanya sebentar dan tidak sampai berputar.
- Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetapi tetap sadar,
tidak disertai pusing atau gejala lain.
- Riwayat penyakit serupa dalam keluarga (-).
- Riwayat infeksi telinga (-).
III. Status Presens
Keadaan Umum: compos mentis, tekanan darah 110/70
mmHg, nadi: 72 X/menit, pernafasan 20 X/menit, afebris.
Pemeriksaan fisik dan neurologik dalam batas normal.
IV. Pemeriksaan penunjang
Ro Cervical (25/8/03): Spondyloarthrosis C 4-5 kanan dan
kiri, Intervertebra C 6-7 kanan.
Laboratorium (5/9/03): Hb: 12, Leukosit : 5200, diff: -/4//6/28/2, trombosit: 255.000, LED: 20, gula darah N / 2 jam
PP: 92 / 103; Kholesterol Total, HDL / LDL: 284 / 49 / 200
mg/dl, Trigliserid: 174 mg/dl, As. Urat: 3 mg/dl
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 49
V. Pemeriksaan Akupunktur
1. Pengamatan ( Wang ) :
a. Sen : semangat : baik; ekspresi umum : baik; sinar
mata: bersinar; kesadaran : baik.
b. Se : warna kulit: tak tampak kelainan; ekspresi wajah
: bersinar segar.
c. Sing Tay : bentuk tubuh: sedang; jika berjalan pelanpelan, seperti robot karena takut menoleh; posisi tubuh
: t.a.k.; kulit tubuh: normal; keringat biasa; mata,
telinga, hidung : t.a.k.
d. Pemeriksaan Lidah :
- otot lidah : merah muda, kebasahan sedang,
pergerakan normal.
- selaput lidah : putih, tipis, bersih.
2. Pendengaran dan Penciuman (Wen) :
a. Pendengaran : suara bicara : biasa, suara nafas:
normal; suara batuk, cekutan, bertahak: tak terdengar.
b. Penciuman : hawa mulut: tak tercium, bau keringat:
tak tercium; bau reak, air seni, tinja: tak diperiksa
3. Anamnesis (Wun) :
Keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit sama
seperti di atas.
Pertanyaan khusus :
a. Suka panas / dingin : lebih suka dingin
b. Keadaan berkeringat : normal
c. Rasa kepala : berputar; tubuh , anggota gerak : tak ada
keluhan
d. Buang Air Besar: sekali sehari, konsistensi baik
Buang Air Kecil : frekuensi 7-10 kali, banyak, jernih
e. Kebiasaan makan, minum: nafsu makan baik,
kesukaan akan rasa: tak spesifik
f. Dada : tak ada keluhan; perut : kadang-kadang mual,
perih terutama kalau terlambat makan
g. Pendengaran: tak ada keluhan
h. Rasa haus: tak ada .
i. Penyakit yang pernah diderita: trauma kepala tetapi
tetap sadar, Ro kepala t.a.k.
j. Keadaan haid : 4 bulan ini mulai tak teratur, lama haid
1 minggu, jumlah darah lebih sedikit dari sebelumnya,
dismenorrhea (-), leukorrhea (-).
4. Perabaan (Cie) :
a. Perabaan lokal: tidak ada nyeri tekan atau ketegangan
otot.
b. Suhu tubuh: normal
c. Pemeriksaan nadi :
kiri
kanan
dangkal
dalam
dangkal
dalam
cun 5
5
5
5
kuan 5
4
5
5
ce
5
5
5
5
5. Pemeriksaan khusus terhadap organ Cang Fu :
a. Lambung
: jika perut kosong perih, mual.
b. Limpa
: nafsu makan menurun, perut kembung,
bertahak
c. Hati
: kepala muter, gangguan haid.
d. Organ Cang Fu lain : tak ada kelainan.
50 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
VI. Resume
Seorang perempuan umur 50 tahun datang dengan keluhan
utama kepala terasa berputar disertai mual.. Satu bulan
sebelumnya merasa leher sisi kanan sakit, menjalar ke lengan
kanan. Setelah fisioterapi, membaik. Dua minggu kemudian
pasien merasa seperti mabuk, mual, tidak muntah, didahului
oleh rasa seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas. Pasien
berobat ke IRM, diberi antalgin dan obat vertigo; pada Rö
tulang leher ternyata ada penyempitan di C 4-5. Karena tak ada
perubahan, pasien dirujuk ke bagian Saraf, diberi Ibuprofen,
Betaserc®, Clobazam, Neurodex®, tetapi tetap belum ada
perbaikan. Satu minggu kemudian kambuh lebih parah, dan
pasien minta dirujuk ke bag. Akupunktur.
Tiga bulan sebelumnya beberapa kali mengalami gejalagejala seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas, tapi hanya
sebentar dan tidak sampai berputar.
Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetap sadar, Ro
kepala t.a.k.
Pada pemeriksaan akupunktur didapatkan :
1. Wang :
- Sen : baik
- Se : normal, bersinar
- Sing Tay : kalau berjalan pelan-pelan, seperti robot,
takut menengok.
- Lidah : normal.
2. Wen : tak ada kelainan
3. Wun : lebih suka dingin, rasa kepala berputar, perut kalau
terlambat makan sering mual, perih. Haid selama 4 bulan
ini mulai tak teratur, darah haid lebih sedikit.
4. Cie: kuan kiri dalam
Pada pemeriksaan organ Cang Fu ada kelainan pada organ
Lambung, Limpa, Hati.
VII. Diagnosis Kerja
Kedokteran Umum : Vertigo
Akupunktur : Kepala terasa berputar karena Yang se hati palsu
akibat Si Hati.
VIII. Pengobatan
1. Alat : jarum
2. Titik yang dipakai dan alasan pemakaiannya :
a. Fengchi ( GB 20) : untuk mengusir angin
b. Hegu ( LI 4 ): membuang angin, penenang
c. Taichong ( LR 3 ): menormalkan Hati, penenang.
d. Zhongwan ( CV 12 ) : menguatkan lambung, melancarkan Qi lambung
e. Fenglong ( ST 40 ): menghilangkan lembab
f. Sanyinjiao ( SP 6 ): menguatkan Limpa
g. Neiguan (PC 6): mengatasi mual
3. Frekwensi : dua kali seminggu, 1 seri 12 kali.
4. Manipulasi: penguatan, selama 15 menit.
IX. Prognosis
Dubia ad bonam
XI. Anjuran
1. Berobat akupunktur rutin
2. Pemeriksaan : CT, MRI
3. Konsul THT, Mata.
XII. Follow up
Tanggal 8/9/03 : Muter (+/-), mual (+/-),pasien masih minum
obat dari bag. Saraf
Tanggal 11/9/03 : Muter (-), mual (+/-), nyeri kepala sebelah
kanan (berdenyut ). pasien sudah tidak minum obat-obatan.
Ditambah akupunktur titik Zulinqi ( GB 41 ) kanan.
Tanggal 15/9/03 : Muter (-), nyeri kepala (-), obat (-).
Tanggal 18/9/03 : Tak ada keluhan, pasien merasa sembuh.
DISKUSI
Pada pasien ini , gejala-gejala vertigo disebabkan karena
defisiensi Yin Hati. Hal ini dapat dilihat dari gejala-gejala
berupa haid tak teratur dalam 4 bulan ini, darah haid lebih
sedikit, nadi Hati lemah. Defisiensi Yin Hati ini mengakibatkan
muncul gejala-gejala Yang Se Hati palsu yaitu kepala berputar
(akibat angin Hati). Hal ini kemudian mengakibatkan gangguan
pada Limpa dan Lambung dan terbentuknya lembab/reak
sehingga menimbulkan gejala-gejala mual, lambung perih dan
perut kembung, sering bertahak.
Yin Si Hati ini mungkin disebabkan karena Ginjal yang mulai
melemah, mengingat pasien sudah berumur 50 tahun, dan haid
tak teratur mungkin merupakan gejala pra-menopause.
Setelah diterapi dua kali dengan prinsip terapi menghilangkan angin, menenangkan pasien, menguatkan Yin Hati,
menghilangkan lembab, memperbaiki Limpa dan menyeimbangkan Lambung, serta simtomatis mengurangi mual,
pasien merasa ada perbaikan dan pemakaian obat dihentikan.
Sampai terapi ke lima pasien sudah merasa sembuh, tak ada
keluhan. Karena takut ditusuk dan tak tahan sakit, pasien tidak
melanjutkan pengobatan akupunkturnya. Sampai saat laporan
dibuat tidak ada keluhan dan tetap melakukan aktivitas seperti
biasa.
KEPUSTAKAAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Lumbantobing S M. Vertigo Tujuh Keliling. Balai Penerbit FKUI.
Jakarta; 1996.
Nurimaba N, Joesoef A A, Andradi S. Vertigo, Patofisiologi, Diagnosis
dan Terapi. Cetakan pertama. Kelompok Studi Vertigo, PERDOSSI.
Jakarta; 1999.
Andradi S. Diagnosa Klinis & Terapi Vertigo. Bagian Neurologi
FKUI/RSCM. Jakarta.
Yin G, Liu Z . Advance Modern Chinese Acupuncture Therapy. First ed.
Beijing: New World Press. 2000.
O’Connor J, Bensky D. Acupuncture A Comprehensive Text. Chicago:
Eastland Press. 1981.
Huaitang S. Acupuncture and Moxibustion Treatment of Vertigo ( 2 ).
Internat. J. Clin. Acupunc. 1993 : 4 ( 4 ) : 391 –5.
Kiswojo, Kusuma A. Teori dan Praktek Ilmu Akupunktur. Jakarta: PT
Gramedia., 1978.
Kang L S,. Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 51
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Teh
[Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)]
sebagai Salah Satu Sumber
Antioksidan
Sulistyowati Tuminah
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departeman Kesahatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Teh adalah salah satu bahan minuman alami yang sangat populer di masyarakat.
Kandungan flavonoid dalam teh merupakan antioksidan yang bersifat antikarsinogenik,
kariostatik serta hipokolesterolemik. Beberapa peneliti lain juga menyebutkan bahwa
teh dapat bekerja sebagai hipoglikemik dan menghambat aterosklerosis.
PENDAHULUAN
Transisi nutrisi yang terjadi saat ini, dari makanan yang
banyak mengandung serat ke makanan yang banyak
mengandung lemak menyebabkan transisi epidemiologi, dari
penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi penyakit degeneratif
seperti penyakit jantung, kanker. Transisi nutrisi juga
dihubungkan dengan prevalensi obesitas, terutama obesitas
kanak-kanak serta non-insulin dependent diabetes mellitus.1
Obesitas juga berkaitan dengan angka kematian yang tinggi
akibat penyakit jantung koroner dan stroke.2
Di masa sekarang, dengan harga obat-obatan yang mahal,
anjuran Departemen Kesehatan untuk back to nature (kembali
ke obat tradisional) adalah tepat. Juga karena bahannya mudah
didapat, murah (terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat)
dan dapat dibuat oleh semua orang.
Teh merupakan bahan minuman yang secara universal
dikonsumsi di banyak negara serta di berbagai lapisan
masyarakat. Teh hitam diproduksi oleh lebih dari 75% negara
di dunia, sedangkan teh hijau di produksi kurang lebih di 22%
negara di dunia.3 Selain itu di negara-negara Barat, lebih dari
setengah asupan flavonoid berasal dari teh hitam.4
KLASIFIKASI
Di zaman dahulu, genus Camellia dibedakan menjadi
beberapa spesies teh yaitu sinensis, assamica, irrawadiensis.
Sejak tahun 1958 semua teh dikenal sebagai suatu spesies
tunggal Camellia sinensis dengan beberapa varietas khusus,
yaitu sinensis, assamica dan irrawadiensis.3
Menurut Graham HN (1984); Van Steenis CGGJ (1987)
dan Tjitrosoepomo G (1989), tanaman teh Camellia sinensis
O.K.Var.assamica (Mast) diklasifikasikan sebagai berikut(3,5,6):
52 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
Divisi
Sub divisi
Kelas
Sub Kelas
Ordo (bangsa)
Familia (suku)
Genus (marga)
Spesies (jenis)
Varietas
:
:
:
:
:
:
:
:
:
Spermatophyta (tumbuhan biji)
Angiospermae (tumbuhan biji terbuka)
Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah)
Dialypetalae
Guttiferales (Clusiales)
Camelliaceae (Theaceae)
Camellia
Camellia sinensis
Assamica3,5,6
MACAM-MACAM TEH
Berdasarkan penanganan pasca panen, teh dibagi menjadi
3 (tiga) macam(3), yaitu :
1.
Teh Hijau
Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi; daun teh
diperlakukan dengan panas sehingga terjadi inaktivasi enzim.
Pemanasan ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan udara
kering dan pemanasan basah dengan uap panas (steam). Pada
pemanasan dengan suhu 85°C selama 3 menit, aktivitas enzim
polifenol oksidase tinggal 5,49%. Pemanggangan (pan firing)
secara tradisional dilakukan pada suhu 100-200 °C sedangkan
pemanggangan dengan mesin suhunya sekitar 220-300°C.
Pemanggangan daun teh akan memberikan aroma dan flavor
yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian uap panas.
Keuntungan dengan cara pemberian uap panas, adalah warna
teh dan seduhannya akan lebih hijau terang.7
2.
Teh hitam
Teh hitam diperoleh melalui proses fermentasi. Dalam hal
ini fermentasi tidak menggunakan mikrobia sebagai sumber
enzim, melainkan dilakukan oleh enzim polifenol oksidase
yang terdapat di dalam daun teh itu sendiri. Pada proses ini,
katekin (flavanol) mengalami oksidasi dan akan menghasilkan
thearubigin. Caranya adalah sebagai berikut : daun teh segar
dilayukan terlebih dahulu pada palung pelayu, kemudian
digiling sehingga sel-sel daun rusak. Selanjutnya dilakukan
fermentasi pada suhu sekitar 22-28°C dengan kelembaban
sekitar 90%. Lamanya fermentasi sangat menentukan kualitas
hasil akhir; biasanya dilakukan selama 2-4 jam. Apabila proses
fermentasi telah selesai, dilakukan pengeringan sampai kadar
air teh kering mencapai 4-6%.7
3.
Teh oolong
Teh oolong diproses secara semi fermentasi dan dibuat
dengan bahan baku khusus, yaitu varietas tertentu yang
memberikan aroma khusus. Daun teh dilayukan lebih dahulu,
kemudian dipanaskan pada suhu 160-240°C selama 3-7 menit
untuk inaktivasi enzim, selanjutnya digulung dan dikeringkan.7
KOMPONEN THE (3)
Komponen dari dua macam teh yang paling banyak
digunakan (teh hijau dan teh hitam) adalah sebagai berikut
(tabel 1 dan 2) :
Tabel 1. Komposisi teh hijau(3)
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
Komponen
Kafein
(−) Epicatechin
(−) Epicatechin gallat
(−) Epigallocatechin
(−) Epigallocatechin gallat
Flavonol
Theanin
Asam glutamat
Asam aspartat
Arginin
Asam amino lain
Gula
Bhn yg dpt mengendapkan alkohol
Kalium (potassium)
% Berat kering
7,43
1,98
5,20
8,42
20,29
2,23
4,70
0,50
0.50
0,74
0,74
6,68
12,13
3,96
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN
Penelitian di Barat dilakukan untuk mengetahui aktivitas
antioksidan dari 8 macam produk teh hitam yang populer
secara komersial dengan memasukkan 0,5 g daun teh ke dalam
25 ml air mendidih, kemudian diaduk selama 3 menit. Rata-rata
aktivitas antioksidan larutan yang dihasilkan adalah 8.477
µmol/l (kisaran 4.275-12.110 µmol/l); dibandingkan dengan
aktivitas antioksidan serum yang berkisar antara 350-550
µmol/l, berarti konsentrasi teh yang umum dikonsumsi
mempunyai sifat antioksidan yang kuat secara in vitro4.
Selanjutnya diteliti pengaruh infus 500 ml teh yang biasa
digunakan untuk makan pagi di Inggris (1 g/100 ml) terhadap
status antioksidan serum pada 10 sukarelawan yang sehat (5
laki-laki, 5 wanita; usia rata-rata 21,1 tahun; indeks massa
tubuh: 24,0). Setelah 4 jam berpuasa, sebuah kanula intravena
dipasang pada masing-masing sukarelawan/wati, kemudian
diinfuskan teh tanpa susu selama lebih dari 20 menit pada saat
makan siang. Aktivitas antioksidan serum rata-rata pada awal
percobaan 430 µmol/l; setelah 60; 120; 180 menit pemberian
teh adalah rata-rata 434; 447 dan 439 µmol/l (tidak ada
perubahan yang berarti/signifikan). Hasil tersebut menunjukkan
bahwa pemberian teh dengan jumlah besar dalam waktu
singkat mempunyai sedikit pengaruh jangka pendek terhadap
aktivitas antioksidan serum, berbeda dengan hasil penelitian
mengenai pengaruh flavonoid anggur merah. Penelitian ini
tidak meneliti kemungkinan pengaruh minum teh kumulatif
jangka panjang terhadap status antioksidan.4
Daya antioksidan komponen katekin berbeda-beda.
Epikatekin galat mempunyai daya antioksidan sebesar 4,93;
epigalo katekin galat sebesar 4,75; epigalo katekin 3,82;
epikatekin daya antioksidannya sebesar 2,50 dan untuk katekin
daya antioksidannya sebesar 2,40. Daya antioksidan komponen
katekin tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan vitamin
C ataupun β-karoten.7
Tabel 2. Komposisi teh hitam(3)
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
Komponen
Kafein
Theobromin
Theofilin
(−) Epicatechin
(−) Epicatechin gallat
(−) Epigallocatechin
(−) Epigallocatechin gallat
Glikosida flavonol
Bisflavanol
Asam Theaflavat
Theaflavin
Thearubigen
Asam gallat
Asam klorogenat
Gula
Pektin
Polisakarida
Asam oksalat
Asam malonat
Asam suksinat
Asam malat
Asam akonitat
Asam sitrat
Lipid
Kalium (potassium)
Mineral lain
Peptida
Theanin
Asam amino lain
Aroma
% Berat kering
7,56
0,69
0,25
1,21
3,86
1,09
4,63
Trace
Trace
Trace
2,62
35,90
1,15
0,21
6,85
0,16
4,17
1,50
0,02
0,09
0,31
0,01
0,84
4,79
4,83
4.70
5.99
3,57
3,03
0,01
KHASIAT TEH
Salah satu zat antioksidan non nutrien yang terkandung
dalam teh, yaitu catechin (katekin) dapat menyimpan atau
meningkatkan asam askorbat pada beberapa proses metabolisme.3,8 Studi epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi
teh hijau berbanding terbalik dengan kadar serum kolesterol
total (TC) dan low density lipoprotein (LDL-C), tetapi tidak
terhadap trigliserida (TG) dan high density lipoprotein (HDLC).9,10
Teh efektif mencegah virus influensa A dan B selama
masa kontak yang pendek.11 Selain itu diet fluorin yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 53
terkandung dalam daun teh (Camellia sinensis) dapat berfungsi
kariostatik pada tikus Wistar.12
Penelitian menggunakan mencit dengan ekstrak teh hijau
ternyata tidak hanya menurunkan jumlah tumor kulit, tetapi
juga secara substansial memperkecil ukuran tumor.13
Beberapa penelitian lain menggunakan teh menunjukkan
bahwa senyawa polifenol antioksidan (seperti katekin dan
flavonol) yang terkandung dalam teh mempunyai sifat
antikarsinogenik pada hewan dan manusia, termasuk pada
wanita post menopause.14-18 Diperkirakan, flavonoid sebagai
antioksidan berperan dalam mengurangi OH•, O2•− , dan radikal
peroksil.19 Selain itu pada wanita post menopause, flavonoid
dapat bersifat estrogenik yang menghambat oksidasi LDL,
melindungi endotel dari berbagai luka yang disebabkan oleh
radikal bebas serta mencegah aterosklerosis yang dapat
menyumbat lumen arteri.20,21
Dirghantara (1994) melakukan penelitian mengenai efek
sari seduhan teh hijau terhadap kadar kolesterol dan trigliserida
tikus putih yang diberi diet kuning telur serta sukrosa. Ternyata
sari seduhan teh hijau 10x dosis manusia (0,54 g /200
g.bb/hari) menghasilkan efek penurunan kadar kolesterol total,
kolesterol LDL, trigliserida dan berat badan yang bermakna
dengan kontrol perlakuan (P < 0,05).22 Sutarmaji (1994)
meneliti pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar
glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa. Hasilnya
diketahui bahwa sari seduhan teh hijau 25x dosis manusia (1,35
g/200 g BB/hari) menunjukkan efek hipoglikemik pada tikus
30 dan 60 menit setelah perlakuan.23Teh juga mencegah luka
skorbut dan mengurangi plak aterosklerosis pada hewan yang
diberi diet aterogenik. 3
Selain itu sifat menguntungkan dari teh adalah
kemampuannya menghambat perkembangan leukemia setelah
terpapar radiasi; menghambat mutagen yang disebabkan oleh
pembentukan nitrosamin dari metilurea. Teh juga telah diuji
teratogenik, hasilnya tidak ditemukan baik teratogen maupun
embriotoksik. Pada keadaan yang tidak normal seperti pasien
talasemia, teh juga digunakan untuk mengurangi penyerapan
besi non-heme dan menghambat hemokromatosis.3
Mengenai kemungkinan hambatan penyerapan besi oleh
teh, hal ini dapat dijelaskan, bahwa besi yang diabsorbsi
manusia terdiri dari dua jenis, yaitu besi heme (yang terikat
pada molekul hemoglobin) dan besi non-heme (yang tidak
terikat pada molekul hemoglobin). Tumbuh-tumbuhan
diketahui sebagai sumber besi yang baik, tetapi berjenis
nonheme yang penyerapannya oleh manusia sangat sedikit,
sebaliknya besi heme dari daging merah sangat banyak tersedia
dan lebih mudah diserap. Substansi seperti tanin (dari teh),
makanan berserat dan mengandung fitat menghambat
penyerapan besi non-heme, tetapi manusia masih bisa
mendapatkan besi heme dari daging merah. Selain itu,
konsumsi vitamin C juga dapat meningkatkan penyerapan besi
non-heme.24
PENUTUP
Dari uraian di atas tampak banyak sekali khasiat teh, baik
teh hitam maupun teh hijau. Yang perlu dilakukan selanjutnya
adalah mengembangkan penelitian-penelitian lebih jauh
54 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
mengenai manfaat minuman teh bagi kesehatan, terutama yang
berkaitan untuk penyakit degeneratif selain kanker.
KEPUSTAKAAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
Drewnowski A, Popkin BM. The Nutrition Transition : New Trends in
the Global Diet. Nutr Rev. 1997; 55(2) : 31-43.
Weststrate JA, Van Het Hof KH, Van den Berg H, et al. A comparison of
effect of free access to reduce fat products or their full fat equivalents on
food intake, body weight, blood lipids and fat-soluble antioxidant levels
and haemostasis variables. Eur J Clin Nutr. 1998; 52 : 389-95.
Graham HN. Tea : The Plant and Its Manufacture : Chemistry and
Consumption of the Beverage. In Liss AR. The Methylxanthine
Beverages and Foods : Chemistry, Consumption, and Health Effects.
Prog Clin Biol Rev. 1984 : 29-74.
Maxwell S, Thorpe G. Tea flavonoids have little short term impact on
serum antioxidant activity. BMJ (27 July) [Medline] 1996; 313 : 229.
Van Steenis CGGJ. Flora untuk Sekolah di Indonesia (terjemahan) PT.
Pradnya Paramita. Jakarta. cet ke-4. 1987 ; 1-495.
Tjitrosoepomo G. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). UGM Press.
Yogyakarta. cet ke-2. 1989 ; 1-477.
Astuti M. Potensi Antioksidan pada Teh. Kumpulan makalah : Radikal
Bebas dan Antioksidan dalam Kesehatan : Dasar, Aplikasi dan
Pemanfaatan Bahan Alam. Bag. Biokimia FKUI. Jakarta. 2001 : 1-15.
Langseth L. Oxidants, Antioxidants, and Disease Prevention. ILSI
European Monograph Series. Brussel: 1995 ; 1-24.
Kono S, Shinchi K, Ikeda N, Yanai F, Imanishi K. Green Tea
Consumption and Serum Lipid Profiles : A Cross Sectional Study in
Northern Kyushu, Japan. Preventive Medicine 1992; 21 : 526-31.
Kono S, Shinchi K, Wakabayashi K, et al. Relation of Green Tea
Consumption to Serum Lipids and Lipoprotein in Japanesse Men. J
Epidemiol. 1996; 6 (3) : 128-33.
Nakayama M, Toda M, Okubo S, Shimamura T. Inhibition of Influenza
Virus Infection by Tea. Letters in Applied Microbiology. 1990; 11 : 3840.
Gershon-Cohen J, McClendon JF. Fluorine in Tea and Caries in Rats.
Nature 1954; 173 : 304-312.
Zhi YW, Mou TH, Ferraro T, et al. Inhibitory Effect of Green Tea in the
Drinking Water on Tumorigenesis by Ultraviolet Light ang 12-OTetradecanoylphorbol-13-Acetate in the Skin os SKH-1 Mice. Cancer
Research 1992; 52 : 1162-70.
Imai K, Suga K, Nakachi K. Cancer Prevention Effects of Drinking
Green Tea among a Japanesse Population. Preventive Medicine. 1997; 26
(6) : 769-75.
Goldbohm RA, Hertog MG, Brants HA, Van-Popel-G, Van-den Brandt –
PA. Consumption of Black Tea and Cancer Risk : A Prospective Cohort
Study. J Nat’l Cancer Inst. 1996; 88 (2) : 93-100.
Zheng W, Doyle TJ, Kushi LH, Sellers TA, Hong CP, Folsom AR. Tea
Consumption and Cancer Incidence in a Prospective Cohort Study of
Postmenopausal Women. Am J Epidemiol. 1996; 144 (2) : 175-82.
Blot WJ, McLaughin JK, Chow WH. Cancer Rates among Drinkers of
Black Tea. Crit Rev Food Sci Nutr. 1997; 37 (8) : 739-60.
Yang CS, Lee MJ, Chen L, Yang GY. Polyphenols as Inhibitors of
Carcinogenesis. Environ Health Perspect. 1997 : 105 suppl 4 : 971-76.
Tuminah S. Radikal Bebas dan Antioksidan – Kaitannya dengan Nutrisi
dan Penyakit Kronis. Cermin Dunia Kedokt. 2000; 128: 49-51.
Baraas F, Jufri M. Antologi Rehal Kolesterol dan Aterosklerosis. Prima
Kardia Pers. Jakarta. cet ke-1. 1997 : 82-3.
Baraas F, Jufri M. Antioksidan dan Penyakit Jantung. Prima Kardia Pers.
Jakarta. cet ke-1. 1999 : 11-2.
Dirghantara E. Efek sari seduhan daun teh hijau (Camellia sinensis (L)
O. Kuntze) terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang
diberi diet kuning telur dan sukrosa [abstrak]. FMIPA UI. Jakarta. 1994.
Sutarmaji A. Pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa
darah tikus normal yang diberi diet glukosa [abstrak]. FMIPA UI. Jakarta.
1994.
Nair MK. Iron absorption and its implications in the control of iron
deficiency anemia. Nutrition News. National Institute of Nutrition.
Hyderabad. 1999; 20 (2) : 1-6.
HASIL PENELITIAN
Hasil Pemeriksaan
Uji Hemaglutinasi pada Penderita
Tersangka Demam Berdarah Dengue
di Jakarta tahun 2001
Enny Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Hutauruk
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai
berjangkit di Indonesia sejak tahun 1968 dimulai dari Jakarta
dan Surabaya, sejak itu penyakit DBD merupakan masalah
kesehatan di Indonesia dengan jumlah kasus dan jumlah
kematian yang terus meningkat serta wilayah penyebarannya
yang makin meluas. Tahun 1968 hanya 2 Daerah Tingkat (Dati)
Il yang terkena dengan 58 kasus dan 24 kematian tetapi pada
tahun 1999 Dati II yang terkena sebanyak 203 dengan 9.871
kasus dan 1.414 kematian(1).
Faktor- faktor yang diduga dapat mempengaruhi
peningkatan kasus DBD di Indonesia ialah(2):
(a) Pertumbuhan penduduk yang tinggi
(b) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali
(c) Tidak adanya kontrol vektor yang efektif di daerah
endemis
(d) Meningkatnya arus dan sarana transportasi.
Daerah Khusus lbukota (DKI) Jakarta merupakan salah satu
daerah endemis DBD di Indonesia dengan jumlah kasus pada
tahun 1997 sebanyak 5190 dengan 49kematian, tahun 1998
15422 kasus dengan 133 kematian, dan tahun 1999 3751 kasus
dengan 42 kematian(3).
Uji Hemaglutinasi Inhibisi (uji HI) merupakan Gold
Standard untuk pemeriksaan serologi pada penderita tersangka
DBD (Tatalaksana DBD di Indonesia, 2001) ;pada penelitian
ini semua serum responden diperiksa dengan menggunakan uji
HI.
Tujuan penelitian ini secara umum ialah untuk memberi
gambaran penyakit DBD di Jakarta tahun 2000 dari penderita
yang dirawat di rumah sakit dan sampel darahnya diperiksa di
laboratorium Pusat Pemberantasan Penyakit Balitbangkes.
Tujuan khususnya ialah:
(a) Mengetahui distribusi penderita tersangka DBD
berdasarkan umur dan jenis kelamin
(b) Mengetahui hasil uji HI pada penderita tersebut
(c) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif
hasil uji HI
(d) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif
hasiI uji HI berdasarkan golongan usia
(e) Mencari hubungan antara derajat penyakit DBD dengan
hasil uji HI positif
METODOLOGI
Disain penelitian: potong lintang (cross sectional) dengan
sampel : penderita tersangka DBD yang dirawat di rumah sakit
selama periode Januari - April 2001. Kriteria inklusi : penderita
berumur minimal 15 tahun, demam akut 2-7 hari, dirawat di
rumah sakit, dan mengisi informed consent.
Penderita
diambil
darahnya
untuk
pemeriksaan
laboratorium di rumah sakit maupun untuk pemeriksaan uji HI.
Uji HI dikerjakan menggunakan metode Clarke & Cassals
dengan modifikasi mikrotiter(4) dengan menggunakan antigen
Dengue-2. Sebelum uji HI sampel terlebih dahulu mendapat
Kaolin treatment untuk menghilangkan non specific inhibitor.
Konfirmasi hasil uji HI sesuai dengan kriteria WHO.
HASIL DAN DISKUSI
Responden yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 369
orang tetapi yang dapat diolah datanya hanya 187 orang
(50,68%) karena Uji HI memerlukan sampel darah akut (A) dan
konvalesen (K) sedangkan 182 orang (49,32%) lainnya tidak
dapat diambil sampel darah konvalesennya karena :
(a) Penderita tidak mau diambil darahnya lagi dengan alasan
sudah banyak diambil darahnya
(b) Penderita tidak sempat diambil darahnya oleh petugas
karena sudah terlanjur pulang.
Responden berumur antara 15 tahun sampai 65 tahun
terbanyak di bawah 30 tahun (82,89%) dengan rata-rata umur
penderita 25 tahun, (Tabel 1).
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 55
Tabel 1. Distribusi Penderita tersangka DBD menurut Golongan Umur
dan Jenis Kelamin
Umur
(tahun)
1520253035404550556065Jumlah
Laki-laki
(N)
25
30
18
11
6
4
2
0
0
1
1
98
Perempuan
(N)
25
29
9
8
6
3
4
1
1
1
2
89
Total
%
50
59
27
19
12
7
6
1
1
2
3
187
26,74
31,55
1,44
10,16
6,42
3,74
3,21
0,53
0,53
1,07
1,61
100,00
Pada penelitian ini perbandingan penderita laki-laki dan
perempuan hampir sama yaitu 98 : 89 (1,1:1); karena jumlah
responden laki-laki lebih banyak kelihatannya jumlah penderita
laki-laki lebih besar.
Tabel 2. Distribusi Hasil Uji HI pada Penderita Tersangka DBD
Hasil Uji HI
Positif
Negatif
Total
Jumlah (N)
96
91
187
%
51,3
48,7
100,0
Tabel 2 memperlihatkan penderita dan hasil uji HI nya
yaitu 51,3% positif dan 48,7% negatif. Hasil ini tidak jauh
berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berkisar antara
30% - 50%, yaitu: tahun 1994: 34,5% ; tahun 1995: 50,19%;
tahun 1996: 32,82%; tahun 1997: 34,21%; tahun 1998:
36,24%(5).
Keadaan tersebut mungkin disebabkan:
(a) Kurang cermat mendiagnosis penyakit DBD
(b) Tidak mau ambil risiko penderita DBD terlewatkan tanpa
pengobatan yang dianjurkan
(c) Pengambilan sampel yang kurang tepat baik cara, waktu
maupun penyimpanannya
(d) Cara pengerjaan uji yang kurang memperhatikan
prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.
Tabel 3. Distribusi Penderita Tersangka DBD dengan Kriteria Uji HI
positif
Kriteria Uji HI Positif
Positif primer
Positif sekunder
Presumtif positif
Total
Jumlah (N)
21
64
11
96
%
21,9
66,7
11,4
100,0
Penderita terutama dengan infeksi sekunder (tabel 3) ; ini
mendukung hipotesis infeksi sekunder pada patogenesis DBD
yang banyak dianut, tetapi adanya penderita dengan infeksi
primer dan presumtif juga membenarkan hipotesis virulensi
virus.
56 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
Pada tabet 4 terlihat penderita infeksi primer dapat
ditemukan pada usia lanjut (golongan umur 65 tahun) meskipun
pada usia yang lebih muda lebih banyak terjadi; infeksi
sekunder terjadi pada golongan umur paling tua 45 tahun, dan
untuk presumtif ditemukan paling tua pada golongan umur 55
tahun, ini menunjukkan bahwa penderita DBD memang sudah
bergeser ke umur yang lebih tua.
Tabel 4. Distribusi Hasil Uji HI Positif pada Penderita Tersangka DBD
berdasarkan Umur.
Golongan
umur (th)
1520253035404550556065Total
Kriteria hasil uji HI positif
Positif primer Positif sekunder Presumtif positif
8
18
2
4
17
5
5
12
2
1
8
1
0
3
0
1
2
0
0
4
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
2
0
0
21
64
11
Total
28
26
19
10
3
3
4
0
1
0
2
96
Pada penelitian ini penderita DBD derajat (grade) I
sebanyak 55,7% dan derajat II sebanyak 44,3%; tidak
didapatkan adanya hubungan linier antara derajat penyakit
DBD dengan hasil uji HI positif (p = 0,6849).
KESIMPULAN
Ternyata tidak semua penderita tersangka DBD dapat
diperiksa uji HI karena berbagai kendala.
Jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebanding; hasil
uji HI positif sebesar 51,3% dengan kriteria positif sekunder
yang terbanyak meskipun ditemukan infeksi primer pada
penderita lanjut usia; penderita berada pada derajat I dan II, dan
tidak ada hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan
hasil uji I-II yang positif.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ditujukan kepada Kapuslitbang Pemberantasan Penyakit Badan
Litbangkes, Pimpinan dan Staf RS Persahabatan, Pimpinan dan Staf RS Pasar
Rebo, dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini.
KEPUSTAKAAN
l.
2.
3.
4.
5.
Profil Kesehatan Indonesia 1999. Departernen Kesehatan RI 2000.
Jakarta.
Tatalaksana Demam Berdarah Dengue. Direktorat Jenderal PPM&PLP
Departemen Kesehatan RI. 2001.
Data Kasus DBD 1999. Sub.Dit. Surveilans Dit.Jen. PPM&PLP
Departemen Kesehatan RI. 2000.
Clarke DH, Cassals J. Techniques for Haemagglutinatuon and
Haemagglutination Inhibition with Arthropod-borne Viruses. Am. J. Trop.
Med. Hyg. 1958; 7: 561.
Muchlastriningsih E et al. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Penderita
Tersangka DBD di Jakarta tahun 1998. Berita Epidemiologi, Desember
1999.
Produk Baru
Hemapo®
Erythropoietin Syringe 2000 IU, 3000 IU, 10.000 IU in 1 mL
KOMPOSISI
Setiap mL larutan berisi:
Epoetin alfa (recombinant human erythropoietin) 2000 IU,
3000 IU dan 10.000 IU.
INDIKASI
Pengobatan anemia yang disebabkan gagal ginjal kronik
(renal anemia) pada pasien dengan dialisis dan non dialisis.
KONTRA INDIKASI
• Hipertensi berat yang tidak terkontrol.
• Hipersensitif terhadap produk yang berasal dari sel
mamalia.
• Hipersensitif terhadap human albumin.
INTERAKSI
Tidak diketahui adanya interaksi klinis yang signifikan,
tetapi efek erythropoietin dapat dipotensiasi oleh agen
hematinik, seperti: FeSO4.
EFEK SAMPING
•
Hipertensi
• Peningkatan jumlah platelet
• Lain-lain yang jarang terjadi yaitu rash, pruritus dan
urtikaria; sakit kepala, artralgia, mual, edema, fatigue, diare,
muntah ataupun reaksi di tempat injeksi.
DOSIS dan CARA PEMBERIAN
Pengobatan anemia pada pasien Gagal Ginjal Kronik:
Larutan dapat diberikan secara IV atau SC.
Fase Koreksi:
Dosis awal untuk pasien hemodialisis adalah 100-150
IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian. Jika
peningkatan hematokrit tidak sesuai dengan yang diharapkan
(<0.5%/minggu), dapat dilakukan penyesuaian dosis setelah 4
minggu pengobatan dengan meningkatkan dosis 15-30 IU/
kg/minggu, tetapi tidak lebih dari 30 IU/kg/minggu. Dosis
untuk pasien non dialisis: 100 IU/kg/minggu yang terbagi
dalam 3 kali pemberian.
Fase Pemberian:
Untuk mempertahankan kadar hematokrit 30%-35%,
sebaiknya diberikan dosis 50-150 IU/kg/minggu yang terbagi
dalam 2-3 kali pemberian (dosis dikurangi menjadi 2/3 dosis
semula). Sebaiknya kadar hematokrit dipantau setiap 2-4
minggu sehingga penyesuaian dosis dapat dilakukan secara
berkala untuk mempertahankan kadar Hematokrit yang optimum dan mencegah erithropoiesis yang terlalu cepat.
Pada umumnya terapi Erythropoietin adalah terapi jangka
panjang, meskipun dapat dihentikan setiap saat.
Dosis untuk pasien gagal ginjal kronis non dialisis
sebaiknya dipertimbangkan secara individual.
PENYIMPANAN
Simpan dalam lemari es, suhu 2-8°C. terlindung dari
cahaya. Jangan dibekukan dan dikocok.
KEMASAN
Box isi pre-filled syringe 2000 IU/mL, 3000 IU/mL dan
1000 IU/mL.
Reference:
Bei Jing XieHe Hospital, 1998, Clinical Trial III Report of rhEPOInjection
Marketing Office
PT. KALBE FARMA Tbk.
Gedung Enseval, Jl. Letjend. Suprapto, Jakarta 10510
PO Box 3105 JAK, Jakarta – Indonesia
Tlp.: (021) 428 73888-89, Fax. : (021) 428 73680
Website : http://www.kalbe.co.id
Hotline service (bebas pulsa): 0-800-123-0-123, Senin – Jumat (07.00-15.30)
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
57
apsul
Klasifikasi derajat gangguan pendengaran (ASHA, 1990).
Brainstem auditory evoked potential (BAEP) pada dewasa normal.
Elektrode diletakkan di vertex dan mastoid ipsilateral.
Sumber: http://ivertigo.net./hearing/hrexam.html
58
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
INFORMATIKA KEDOKTERAN
PENGANTAR
Medical informatics is located at the intersection of
information technology and the different disciplines of
medicine and healthcare.
Medical Informatics atau Informatika Kedokteran adalah
ilmu yang mempelajari suatu bidang yang terbentuk pada
perpotongan ilmu kedokteran/kesehatan dan Teknologi
Informatik (Information Technology). Dalam perbincangan
penulis dengan pakar Informatika Kedokteran dari Malaysia, dr
HM Goh, disebutkan bahwa istilah-istilah seperti ’Informatika
Kedokteran’ ’Informatika Kesehatan’ maupun ’e-health’
sebenarnya mempunyai arti yang kurang lebih sama. Secara
rinci perkembangan nama / ilmu tersebut bisa dibaca pada
ulasan di bawah ini:
Berawal pada tahun 1970-an
Istilah medical informatics diketahui berasal dari istilah
bahasa Perancis informatique médicale. Sebelum tahun 1970an istilah yang dipergunakan bermacam-macam seperti:
medical computer science, medical information science,
computer in medicine, health informatics, dan beberapa istilah
yang spesifik seperti nursing informatics, dental informatics,
dll.
Pengistilahan ini sama dengan pemberian istilah di bidangbidang lain di luar kesehatan, seperti: computer science,
information processing, dan informatics, dan beberapa area
yang lebih spesifik, contohnya: computational physics,
computational linguistics, atau artificial intelligence.
Jika mengikuti perkembangan bidang informatika, maka
secara terperinci masih bisa dibagi lagi atas: ilmu komputer
yang fundamental, informatika yang berorientasi pada aplikasi,
dan informatika terapan. Demikian pula jika kita ingin
membagi bidang-bidang dalam informatika kedokteran.
Dua definisi
Dari pelbagai penjelasan mengenai Informatika
Kedokteran, penulis melihat ada pendapat dua pakar
informatika kedokteran yang cukup diakui banyak orang,
yakni: Shortlife EH dan Van Bemmel JH. Mereka mendefinisikan sebagai berikut:
(1) Ilmu Informatika Kedokteran adalah ilmu yang
menggunakan alat-alat sistem analitik untuk membangun
prosedur-prosedur (algoritma-algoritma) demi kepentingan
management, proses kontrol, pengambilan keputusan dan
analisis keilmuan dari Ilmu Kedokteran.
(2) Informatika Kedokteran terdiri dari aspek-aspek teori dan
praktis dari proses informasi dan komunikasi, berlandaskan pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan
pada proses-proses yang terjadi pada pelayanan kedokteran
dan kesehatan.
Dalam praktek sehari-hari
Dalam kehidupan sehari-hari penerapan Informatika
Kedokteran bisa dilihat seperti:
1.
Proses pengolahan data
Data adalah tulang punggung proses informatika
selanjutnya. Dalam bidang ini dipelajari bagaimana
memperoleh dan mengeluarkan data, merawat data, dll.
Kesemuanya dibutuhkan agar pengambilan keputusan
manusia bisa dipercepat.
2.
Telekomunikasi
Masuk dalam bidang ini adalah teleconsultation,
teleradiologi, telekardiologi, dan tele-tele yang lain
3.
Medical Imaging
Yang masuk dalam area ini seperti: ultrasound, radiologi,
kedokteran nuklir, dll
4.
Sistem Informasi
Terdapat dua pembagian besar sistem informasi yaitu (1)
yang berfokus pada pasien dan (2) yang berfokus pada
keperawatan
5.
Web dan internet
Perkembangan dunia telekomunikasi begitu cepat. Saat ini
aplikasi yang berbasis web sudah mulai digemari karena
lebih mudah digunakan dari manapun dan kapan saja.
Sebaliknya, sifat website pun sudah mulai berubah. Jika
dahulu hanya bersifat satu arah (broadcast), misalnya
menginformasikan jam praktek dokter, artikel kesehatan,
dll. kemudian berkembang menjadi bersifat interaktif (dua
arah), seperti: tanya jawab, dll. Akhir-akhir ini, aktivitas di
website bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk proses
bisnis, seperti: proses pendaftaran pasien, melihat rekam
medik dll.
Aspek-aspek lain yang berperan
Aspek-aspek lain yang tidak bisa dianggap enteng adalah:
Interaksi manusia dan komputer, Biaya dan keuntungan sistem
informasi, aspek keamanan dan legalitas, dll.
(Dr. Erik Tapan MHA)
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
59
Kegiatan Ilmiah
Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah", Hotel
Acasia, 18 April 2004
Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal
ginjal adalah pola hidup modern, seperti maraknya mengkonsumsi
alkohol, menghisap rokok, dan sebagainya. Di samping itu hal-hal lain
yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya
penyakit immunologi, batu ginjal, dan infeksi. Demikian dikatakan dr.
J.Pudji Rahardjo, Sp.PD-KGH, dari Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. (tampak dalam foto dr.
Pudji Rahardjo, SpPD-KGH, narasumber simposium berkenan
menyumbangkan suara emasnya)
Laporan lengkap dari simposium, bisa diakses di
http://www.kalbe.co.id/seminar. Pada topik yang diberi tanda
Breaking News, berarti peserta simposium bisa memperoleh
berita dalam bentuk cetak (print) bersamaan dengan acara di
Stand Kalbe Farma, dan bisa langsung diakses pada homepage
Kalbe Farma
Seminar Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah, RSIA
HERMINA Daan Mogot - Jakarta, 20 Maret 2004
Sampai dengan tanggal 15 Maret 2004, di DKI terdapat penderita
DBD yang masih dirawat di RS sejumlah 2.043 orang. Untuk itu kita
jangan sampai lengah. Demikian terungkap dalam Seminar Awam
"Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah Dengue, Sabtu 20 Maret
2004 di RSIA Hermina Daan Mogot Jakarta. Acara tersebut
menampilkan pembicara tunggal Sri Kusumo Amdani, dokter spesialis
anak yang berpraktek di rumah sakit ibu dan anak tersebut.
Siang Klinik : Demensia dan Penatalaksanaannya, RS Mitra
International, 25 Maret 2004
Demensia atau yang orang awam sering sebut 'pikun' ternyata
bukan hanya merupakan masalah yang sederhana, hal ini jelas terlihat
dalam kehidupan sehari-hari bahwa penderita demensia, ternyata
bukan hanya mengalami penurunan fungsi kognitif saja, melainkan
60 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
juga mempunyai hambatan dalam membina hubungannya dengan
lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain penyakit ini tidak hanya
merugikan diri penderita sendiri tetapi juga orang lain yang berada di
sekelilingnya, sehingga dapat dirasakan bahwa hal ini akan menjadi
suatu problem yang sangat kompleks di masa yang akan datang.
eHealth Asia 2004, Kuala Lumpur, 6 - 8 April 2004
Bertempat di Grand Plaza Park Royal Kuala Lumpur, hari ini
Dato' Dr Abdul Gani Che Din, mewakili Mentri Kesehatan Malaysia
Tan Sri Datu Dr.Hj. Mohammad Taha bin Arif, membuka acara eHealth Asia 2004. Dalam sambutan tertulisnya, mentri menyatakan
bahwa untuk mencapai tujuan kesehatan bersama hendaknya dipandu
oleh prinsip sistem kesehatan yang mantap di masa depan, di samping
hasil dari sistem kesehatan yang juga harus terfokus.
APAMI Board Meeting, Kuala Lumpur, 6 April 2004
Pada malam hari, 6 April 2004, setelah menyelesaikan acara
ilmiah, diadakan APAMI Board Meeting atau acara organisasi dari
Asia Pasific Association of Medical Informatics. Wakil dari Indonesia,
Erik Tapan, mempresentasikan perkembangan bidang tersebut di
Indonesia. Presentasi dimulai dari Medical Record Elektronik RS
Pertamina Jaya Jakarta, Tele-education kesehatan via satellite, Studio
mini Jakarta Eye Center, Tele-radiologi Pantai Indah Kapuk, dan
Portal Kedokteran www.kalbe.co.id, yang di klik rata-rata 2.000 kali
per hari.
Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah", Hotel
Acasia, 18 April 2004
Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal
ginjal adalah pola hidup modern, seperti maraknya mengkonsumsi
alkohol, menghisap rokok, dan sebagainya. Di samping itu hal-hal lain
yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya
penyakit immunologi, batu ginjal, dan infeksi. Demikian dikatakan dr.
J.Pudji Rahardjo, Sp.PD-KGH, dari Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu.
5th Jakarta Antimicrobial Update 2004, Hotel Borobudur
Jakarta, 8-9 Mei 2004
Nutrisi enteral atau peroral sangat penting untuk saluran cerna,
karena dapat mencegah atrofi villi usus, tetap menjaga kelangsungan
fungsi usus, enterosit dan kolonosit. Nutrisi enteral lebih unggul
dibandingkan
parenteral
dalam
mempertahankan
fungsi
gastrointestinal, dan berperan sebagai nutrisi pokok atau suplemen
dalam memperbaiki status nutrisi pasien yang dirawat di bidang ilmu
penyakit dalam atau perawatan intensif
Simposium Neurologi Untuk Masyarakat Umum, Balai
Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar, 18 Januari 2004
Pada tanggal 18 Januari 2004, Bagian/UP Neurologi FK
UNHAS/RS Dr. Wahidin Sudirohusodo bekerjasama dengan
Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) cabang
Makassar telah menyelenggarakan simpoisum neurologi untuk
masyarakat umum dengan topik ”Pengenalan dini gejala/gangguan
saraf”. Tujuan dilaksanakannya simposium ini adalah untuk
mencegah/menurunkan kecacatan dan kematina akibat penyakit saraf.
Acara yang dilaksanakan di Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat
Makassar dimulai pukul 09.00 WITA diikuti oleh sekitar 1100 orang
peserta. Asal peserta sangat beragam dari masyarakat umum sampai
masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan, mahasiswa baik
kedokteran maupun keperawatan.(foto diambil saat Session Mari
Tanya Ahli, dari kiri ke kanan: dr. K. Ed. Sie, SpS(K), Prof. dr. Danial
Abadi, SPS(K), dr. Amiruddin Aliah, SpS(K), MM dan Prof. dr. Arifin
Limoa, SpS(K)).
Seminar IT PERMAPKIN, Jakarta, 27 - 28 April 2004
Komputerisasi dalam "bisnis" layanan kesehatan, seharusnya
sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan "proses
bisnis"nya. Demikian dikatakan dr. Prabowo Soemarto dalam Seminar
IT dari PB PERMAPKIN (Perhimpunan Manager Pelayanan
Kesehatan) yang berlangsung selama dua hari di Jakarta. Sebabnya,
lanjut Konsultan Management dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma
Dompet Dhuafa Republika tersebut, karena proses bisnis layananan
kesehatan termasuk hal yang kompleks, mengingat sangat beragamnya
latar belakang profesi yang menjalankannya.
4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and
Vascular Disease (APSAVD) 2004, Bali International Convention
Center, 6-9 Mei 2004
Dalam waktu 10 tahun ke depan seorang penderita kencing manis
atau diabetes mellitus diperkirakan akan menderita penyakit jantung
koroner (CHD/Coronary Heart Disease). Oleh karena itu penyakit DM
saat ini telah dimasukan sebagai penyakit kardiovaskular berdasarkan
guideline terbaru DM. Demikian salah satu yang ditekankan Prof. Dr.
H. Slamet Suyono, SpPD, KE dari Pusat Diabetes dan Lipid FKUI
Jakarta pada acara 4th Congress of Asian Pasific Society of
Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) di Bali International
Convention Center beberapa waktu lalu.
National Obesity Symposium III, Hotel Shangri La Jakarta, 15-16
Mei 2004
Hasil riset terbaru dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia
(HISOBI) yang melibatkan lebih dari enam ribu orang, membuktikan
bahwa prevalensi obesitas semakin meningkat. Dibandingkan dengan
data WKNPG tahun 1998, angka kejadian penyakit ini pada pria
melonjak hingga mencapai 9,16 % (WKNPG : 2,5 %) dan wanita
11,02 % (WKNPG : 5,9 %). Oleh karena itu obesitas menjadi masalah
epidemik yang global, tak hanya di Indonesia saja namun di seluruh
dunia.
ASEAN Pharmaceutical Industry Congress, Jakarta, 23 - 25 Mei
2004
Bertempat di Hotel Gran Melia Jakarta, Minggu 23 Mei 2004
diadakan acara pembukaan eksebisi dari ASEAN Pharmaceutical
Industry Congres I. Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 400 peserta
dari ASEAN ini berlangsung selama 3 hari dan diikuti oleh kurang
lebih 40 industri farmasi dari dalam dan luar negeri, termasuk dari
Kalbe Group.
Seminar Ilmiah Kongres ARSSI I, Jakarta, 24 Mei 2004
Tuntutan terhadap dokter / rumah sakit bukan hal yang luar biasa
lagi saat ini. Menurut Budi Sampurna, dokter forensik dari Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, kasus tuntutan di rumah sakit
umumnya diartikan sebagai tuntutan hukum yang diakibatkan oleh
ketidakpuasan pasien. Hal tersebut dipaparkan dokter ahli hukum
tersebut sewaktu menjadi pembicara di sesi ilmiah dalam rangka
Kongres Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSSI) yang pertama di
Jakarta, 24 Mei 2004.
Seminar Integrated Hospital Marketing, Jakarta, 25 - 26 Mei 2004
Sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum mempergunakan
Riset Marketing dalam menjalankan usahanya. Demikian dijelaskan
Handi Irawan, dalam acara seminar Vi tahun 2004 dengan judul
"Integrated Hospital Marketing" yang diselenggarakan Perhimpunan
Manager Pelayanan Kesehatan Indonesia (PERMAPKIN), di Jakarta
selama 2 hari, 25 - 26 Mei 2004.
Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI,
Hotel Mandarin Oriental - Jakarta, 29 Mei 2004
Terapi biologi sebagai bagian dari kemoterapi telah berkembang
pesat dari terapi konvensional yang sebelumnya berbasis kemoterapi,
radiasi dan operasi, menjadi terapi yang bersifat spesifik. Spesifik
yang dimaksud adalah dengan mencegah pertumbuhan dan
perkembangan khusus sel kanker, sehingga diharapkan terapi akan
lebih tepat sasaran dengan efek samping lebih ringan serta kualitas
hidup pasien yang meningkat.
Demikian dikatakan Prof. Dr. Zubairi Djorban, Sp.PD, KHOM dalam
sambutannya pada acara Simposium Hematologi-Onkologi Medik
Berkesinambungan XI beberapa waktu lalu di Jakarta.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
61
ABSTRAK
KELAINAN KORTEKS PADA
ADHD
Penelitian menggunakan MRI dan
teknik komputasi terhadap korteks
serebri 27 anak dan remaja penderita
ADHD dibandingkan dengan 46
kontrol, menunjukkan bahwa morfologi
abnormal ditemukan di korteks frontal,
selain itu didapatkan ukuran yang lebih
kecil di daerah inferior dan korteks
prefrontal dorsal bilateral; juga di
korteks temporal anterior bilateral.
Peningkatan nyata substansia grisea
sebaliknya didapatkan di sebagian
besar korteks temporal superior dan
parietal inferior bilateral.
Daerah frontal, temporal dan
parietal merupakan korteks asosiasi
heteromodal yang berkaitan dengan
fungsi perhatian (attention) dan inhibisi
tingkah laku (behavioral inhibition).
Lancet 2003; 362: 1699-707
brw
SICK BUILDING SYNDROME
Sick building syndrome (sindrom
gedung sakit) merupakan masalah yang
belum sepenuhnya dipahami.
Sekelompok peneliti di Montreal,
Kanada mencoba menyelidikinya pada
771 pekerja kantor; sistem ventilasi
ruang kerja mereka disinari dengan
UVGI
(ultraviolet
germicidal
irradiation) selama 4 minggu, kemudian dimatikan selama 12 minggu;
siklus ini dilakukan sebanyak 3 kali,
selama 48 minggu. Pengoperasian
UVGI menurunkan konsentrasi mikroba dan endotoksin di permukaan sistim
ventilasi sampai 99% (95%CI 67 –
100).
Ternyata
penggunaan
UVGI
dikaitkan dengan penurunan gejala
berkait dengan pekerjaan secara umum
(OD 0.8; 95%CI 0.7 – 0.99) juga terhadap keluhan respirasi (0.6; 0.4-0.9) dan
keluhan mukosal (0.7; 0.5 – 0.8).
Penurunan keluhan mukosal terutama
di kalangan pekerja atopik (0.6; 0.5 –
0.8) dan bukan perokok (0.7; 0.5 – 0.9).
Penggunaan UVGI juga menurunkan
keluhan respirasi (0.4; 0.2 – 0.9) dan
keluhan muskuloskeletal (0.5; 0.3 –
0.9) di kalangan bukan perokok.
Lancet 2003; 362: 1785-91
brw
ALAS TIDUR KERAS UNTUK
NYERI PINGGANG BAWAH
Kebanyakan dokter menganjurkan
tidur di alas yang keras untuk mengatasi keluhan nyeri pinggang bawah.
Para peneliti di Spanyol menilai
313 dewasa dengan nyeri pinggang
bawah kronis nonspesifik; 158 diminta
tidur di alas dengan derajat kekerasan
5.6, sedangkan 155 lainnya tidur di alas
dengan derajat kekerasan 2.3; skala
kekerasan kasur berkisar dari 1.0
(paling keras) sampai 10.0 (paling
empuk). Setelah 90 hari mereka
dievaluasi; ternyata mereka yang tidur
di alas medium (5.6) lebih banyak yang
berkurang rasa nyerinya, baik di tempat
tidur (odds ratio 2.36; 95%CI: 1.13 –
4.93) maupun saat bangkit (1.93; 0.97
– 3.86) dan lebih rendah disabilitasnya
(2.10; 1.24 – 3.56) dibandingkan dengan yang tidur di alas keras. Selama
periode studi, mereka yang tidur di alas
medium juga lebih sedikit merasa nyeri
di siang hari (p=0.059), nyeri saat berbaring (p=0.064) dan nyeri saat bangkit
dari tempat tidur (p=0.008) dibandingkan dengan mereka yang tidur di
alas keras.
Sayangnya dalam studi ini posisi
tidur tidak ikut diperhitungkan, karena
ternyata mereka yang tidur di alas
medium lebih banyak yang mengambil
posisi fetal (56% di awal percobaan,
65% di akhir percobaan) dibandingkan
dengan mereka yang tidur di alas keras
(54% dan 59%).
62 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
Lancet 2003; 362: 1599-604
brw
PENGUKURAN
ULTRASONOGRAFI UNTUK MENILAI RISIKO
FRAKTUR
Risiko fraktur dicoba dinilai
melalui pemeriksaan ultrasonografi
terhadap tulang kalkaneus; penelitian
ini dilakukan atas 14 824 pria dan
wanita 42-82 tahun di Norfolk,
sepanjang tahun 1997-2000; mereka di
amati selama rata-rata 1.9 ± 0.7 tahun.
Selama masa itu terjadi 121 fraktur, 31
di antaranya fraktur femur.
Ternyata populasi yang mempunyai distribusi BUA (broadband
ultrasound attenuation) kalkaneus di
kisaran 10% terendah, risiko frakturnya
4.44 kali (95%CI: 2.24 – 8.89;
p<0.0001)
dibandingkan
dengan
populasi yang di kisaran 30% tertinggi.
Pengurangan 1 SD dari BUA (20
db/MHz) dihubungkan dengan risiko
fraktur relatif 1.95 (95%CI: 1.50 –
2.52, p<0.0001) tidak tergantung usia,
sex, tinggi badan, berat badan,
kebiasaan merokok ataupun riwayat
fraktur sebelumnya.
Pemeriksaan kuantitatif ultrasonografi terhadap kalkaneus agaknya dapat
meramalkan risiko fraktur baik di
kalangan pria maupun wanita.
Lancet 2004;363:197-202
brw
METILPRDENISOLON
UNTUK
SINDROM GUILLAIN BARRE
Dutch
GBS
study
group
mengadakan penelitian acak butaganda dengan kontrol plasebo untuk
menilai manfaat penambahan metilprednisolon
terhadap
pengobatan
imunoglobulin pada sindrom GuillainBarre.
Sejumlah 233 pasien mendapat
0.4 g IVIg/kg.bb/hari selama 5 hari;
116 di antaranya juga diberi 500 mg.
metilprednisolon/hari iv dalam 48 jam
setelah pemberian IVIg pertama, 117
ABSTRAK
sisanya mendapat plasebo.
Analisis atas data dari 225 pasien
menunjukkan bahwa skor disabilitas
membaik satu tingkat atau lebih pada
68% (76 dari 112) pasien kelompok
metilprednisolon dan pada 56% (63
dari 113) pasien kontrol. (OR 1.68;
95%CI: 0.97-2.88; p=0.06). Setelah
penyesuaian data terhadap usia dan
tingkat penyakit saat masuk, OR=1.89
(95%CI: 1.07-3.35; p=0.003).
Efek samping tidak berbeda
bermakna di antara dua kelompok
tersebut.
Ternyata penambahan metilprednisolon tidak memperbaiki hasil
pengobatan sindrom Guiilain/Barre.
Lancet 2004;363:192-6
brw
EFEK SAMPING TRIMETOPRIMKOTRIMOKSAZOL
Telah dilaporkan satu kasus
wanita 63 tahun yang mendapat 20
mg/kg.bb trimetoprim, 100 mg/kg.bb
sulfametoksazol iv dan 2 g. seftriakson
iv dua kali sehari untuk infeksi
Nocardia; setelah 4 hari pengobatan
pasien tersebut mengalami gerakan
involunter di kepala dan keempat
ekstremitasnya, berupa mioklonus
multifokal dan asterixis bilateral.
Pemeriksaan MRI hasilnya tidak
spesifik, dan pasien menolak punksi
lumbal.
Terapi trimetoprim-sulfametoksazol dihentikan, keesokan harinya
gerakan involunter berkurang dan
hilang sama sekali setelah 4 hari,
Kejadian ini sebelumnya pernah
dilaporkan pada 1 kasus anak.
N Engl J Med 2004;350:88-9
brw
ASPIRIN UNTUK POLISITEMIA
VERA
Aspirin ternyata juga bermanafat
untuk mencegah komplikasi trombosis
di kalangan pasien polisitemia vera.
Para peneliti di Italia memberikan 100
mg aspirin/hari pada 253 pasien
polisitemia vera, dibandingkan dengan
265 pasien yang diberi plasebo.
Pemantauan dilakukan setelah 12, 24,
36, 48 dan 60 bulan kemudian.
Di akhir percobaan, risiko infark
miokard non fatal, stroke non fatal atau
kematian akibat kardiovaskuler lebih
rendah di kelompok aspirin (RR 0.41;
95%CI 0.15 – 1.15; p=0.09); demikian
juga risiko infark miokard non fatal,
stroke non fatal, emboli paru,
trombosis vena atau kematian akibat
kardiovaskuler (RR 0.40; 95%CI 0.18
– 0.91; p=0.03). Kematian, baik
keseluruhan ataupun oleh sebab kardiovaskular lain tidak berbeda bermakna.
Efek samping perdarahan tidak berbeda
bermakna (RR 1.62; 95%CI 0.27-9.71).
N Engl J Med 2004;350:114-24
brw
EFEK LATIHAN TERHDAP KETAHANAN JANTUNG
Kelompok peneliti di Inggris melakukan metaanalisis atas 9 percobaan
yang seluruhnya melibatkan 801 pasien
– 395 menjalani latihan, 406 sebagai
kontrol.
Ternyata selama periode followup rata-rata selama 705 ± 729 hari
tercatat 88 (22%) kematian di
kelompok latihan dan 105 (16%) di
kelompok kontrol.
Latihan secara bermakna menurunkan mortalitas (hazard ratio 0.65;
95%CI 0.46 – 0.92; logrank x2 5.9;
p=0.015)
Kematian dan perawatan rumahsakit juga lebih sedikit di kalangan
latihan (0.72; 0.56-0.93; 6.4; p=0.011).
Program latihan yang dijalani
berupa bersepeda, jalan kaki, aerobik
dan kalistenik yang bervariasi di antara
percobaan-percobaan tersebut.
BMJ 2004;328:189-92
brw
MENCEGAH
EKSASERBASI
ASMA
Suatu studi dilakukan untuk
menilai manfaat penggandaan dosis
inhalasi kortikosteroid dalam upaya
mencegah peningkatan dosis prednisolon oral.
Sejumlah 390 penderita asma
pengguna kortikosteroid inhalasi yang
berisiko eksaserbasi dipantau gejala
asma dan morning peak flownya
selama sampai 12 bulan. Saat gejalanya
mulai memburuk, 192 menggandakan
dosisnya, sedangkan 198 lainnya tidak
(kedua
kelompok
menggunakan
inhaler yang serupa)
Setelah 12 bulan, data diolah dari
207 (53%) peserta; 110 di kelompok
studi dan 97 di kelompok plasebo;
ternyata 46 menggunakan prednisolon
tambahan - 22 (11%) dari kelompok
studi dan 24 (12%) dari kelompok
plasebo membutuhkan prednisolon
tambahan untuk mengatasi gejala
asmanya.
Risk ratio penggunaan prednisolon 0.95 (95%CI 0.55-1.64, p=0.8)
Para
peneliti
berkesimpulan
bahwa menggandakan dosis inhalasi
tidak mencegah perburukan gajala
asma (yang diukur dari kebutuhan
prednisolon oral)
Lancet 2004;363:271-5
brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
63
Ruang
Penyegar dan Penambah
Ilmu Kedokteran
Dapatkah saudara menjawab
pertanyaan-pertanyaan di bawah ini?
1.
2.
3.
4.
Kuman yang dikaitkan dengan rinitis atrofi:
a) Streptococcus pneumoniae
b) Pneumococcus
c) Klebsiella pneumoniae
d) Klebsiella ozeanae
e) Klebsiella rhinoscleromatis
Defisiensi yang dikaitkan dengan rinitis atrofi :
a) Defisiensi vitamin B
b) Defisiensi vitamin C
c) Defisiensi vitamin D
d) Defisiensi Zn
e) Defisiensi Fe
Kista duktus tiroglosus paling sering ditemukan di
a) Submental
b) Intralingual
c) Suprahioid
d) Transhioid
e) Infrahioid
Yang tidak benar mengenai papiloma laring;
a) Tumor jinak
b) Tidak pernah mematikan
c) Berhubungan dengan HIV
d) Gejalanya awalnya sesak
e) Sering rekuren
5.
Rinoskleroma dikaitkan dengan :
a) Streptococcus pneumoniae
b) Pneumococcus
c) Klebsiella pneumoniae
d) Klebsiella ozeanae
e) Klebsiella rhinoscleromatis
6.
Bakteri yang paling sering menginfeksi trakeostomi:
a) Streptococcus pneumoniae
b) Pneumococcus
64 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
c)
d)
e)
Klebsiella
Pseudomonas
Staphylococcus
7.
Kanker nasofaring terutama didapatkan di kalangan:
a) Mongoloid
b) Kaukasian
c) Negroid
d) Hispanik
e) India
8.
Pemakaian sumbat telinga tidak berguna jika intensitas
suara di atas:
a) 20 dB
b) 40 dB
c) 60 dB
d) 80 dB
e) 100 dB
9.
Nyeri timbul jika intensitas suara melebihi ;
a) 100 dB
b) 120 dB
c) 140 dB
d) 160 dB
e) 180 dB
10. Yang termasuk penyebab sentral pada vertigo ;
a) Gangguan peredaran darah otak
b) Trauma vestibuler
c) Penyakit Meniere
d) Vertigo posisional benigna
e) Neuronitis vestibularis
JAWABAN RPPIK :
1.
6.
D
D
2.
7.
E
A
3.
8.
E
C
4.
9.
B
B
5.
10.
E
A
62
Lampiran 1. Tanaman dan Serbuk Teh Hitam (Camellia sinensis L.)
Gambar 8. Tanaman Teh (Camellia
sinensis L.)
Gambar 10.Maserasi Serbuk Teh Hitam
(Camellia sinensis L.)
Gambar
9.
Serbuk Teh Hitam
(Camellia sinensis L.)
Gambar 11. Ekstrak Etanol 70 %
Teh Hitam (Camellia
sinensis L.)
63
Lampiran 2. Hasil Determinasi Tanaman Teh (Camellia sinensis L.)
64
Lampiran 3. Alur Penelitian
Latar belakang teh hitam
Teh hitam di duga
memiliki senyawa
bioaktif yang dapat
dimanfaatkan
sebagai bahan tabir
surya.
Pengumpulan bahan dan
pembuatan simplisia
Penapisan Fitokimia
Serbuk simplisia teh hitam
Maserasi dengan etanol 70 %
Evaporasi
Eksrtak Etanol teh hitam
Standarisasi Ekstrak
1.
2.
3.
4.
5.
Parameter Spesifik
Parameter Non Spesifik
Identitas Ekstrak
Organoleptis Ekstrak
pH
bobot jenis
Penapisan Fitokimia
ekstrak
1. Kadar Abu
2. Randemen
3. Susut pengeringan
65
Penentuan panjang gelombang
maksimum ekstrak
Pembuatan Krim Ekstrak Etanol 70%
Teh Hitam (Camellia sinensi L.)
Uji fotostabilitas dan efektivitas Krim
tabir surya
Evaluasi Sediaan Krim
Ekstrak Etanol 70 % Teh
Hitam
1. Uji stabilitas
penyimpanan pada
suhu ruang (28±2°C)
2. Cycling test
Uji fotostabilitas krim tabir surya
Pengukuran
serapan awal krim
(tanpa mengandung
ekstrak) secara
Spektrofotometer
UV-Vis pada
panjang gelombang
yang telah di
peroleh
Pengukuran
perubahan serapan
krim setelah
beberapa waktu
penyinaran
(mengandung
ekstrak) secara
Spektrofotometer
UV-Vis pada
panjang gelombang
yang telah di
peroleh
Uji efektivitas krim tabir surya
Penentuan
efektifitas tabir
surya ekstrak
etanol teh hitam
(Camellia sinensis
L.) secara
spektrofotometer
UV-Vis
Penentuan
efektifitas krim
tabir surya teh
hitam (Camellia
sinensis L.)
secara
spektrofotometer
UV-Vis
Diperoleh nilai
%Te & %Tp
Diperoleh nilai
%Te & %Tp
Penentuan kategori
tabir surya
66
Lampiran 4. Hasil Scanning Panjang Gelombang Maksimum Ekstrak
Etanol 70 % Teh Hitam (Camellia sinensis L.) Pada
Konsentrasi 100 ppm
Date: 12/4/2010
Time: 2:21:50 AM
2.5
2.3
2.1
1.9
1.7
238.24
1.5
1.3
A
1.1
229.33
293.46
0.9
0.7
0.5
260.47
0.3
0.1
0.00
200
220
240
260
280
300
320
340
nm
Description: Lamda maks ekstrak etanol teh hitam 100 ppm
Spectrum Name: C:\UVWINLAB\DATA\TEH.SP
Date Created: Mon Apr 14:04:45 2010
Instrument Model: Lambda 25
Abscissa
Ordinate
Type
293,46
0,825
Peak
238,24
0,490
Base
360
380
400.0
67
Lampiran 5. Perhitungan Karakteristik Ekstrak
1. Randemen ekstrak
Berat total ekstrak
: 164 gram
Berat simplisia kering : 500 g
% Randemen ekstrak =
= 164 x 100%
500
= 32,8%
2. Bobot jenis ekstrak teh hitam
Berat piknometer kosong (w1) : 16,233 g
Berat piknometer + air (w2)
: 40,772 g
Berat piknometer + ekstrak (w3) : 37,683 g
ml
Bobot jenis =
= 37,683 – 16,233
40,772 – 16,233
= 0,874 gram/ml
3. Kadar abu
Berat cawan (a)
Berat ekstrak (b)
Berat ekstrak akhir (c)
ml
: 25,752 g
: 3,009 g
: 25,763 g
% Kadar Abu =
= 25,763 – 25,752 x 100%
3,009
= 0.365 %
4. Susut pengeringan
Berat cawan (a)
: 23,150 g
Berat cawan + ekstrak awal (b) : 24,147 g
Berat cawan + ekstrak akhir (c) : 24,085g
% Kadar air =
= 24,147 – 24,085 x 100 %
24,147 – 23,150
= 6,21 %
68
Lampiran 6. Gambar Formula Krim
1. Uji Stabilitas Penyimpanan Suhu Ruang (28±2 °C)
KN
KrT 1 %
KP
KrT 2 %
KrT 3 %
Gambar 12. Formula Krim Minggu ke- 0
KN
KrT 1 %
KP
KrT 2 %
Gambar 13. Formula Krim minggu ke- 1
KrT 3 %
69
KN
KrT 1 %
KP
KrT 2 %
KrT 3 %
Gambar 14. Formula Krim Minggu ke- 2
KN
KrT 1 %
KP
KrT 2 %
Gambar 15. Formula Krim Minggu ke- 3
KrT 3 %
70
KN
KrT 1 %
KP
KrT 2 %
KrT 3 %
Gambar 16. Formula Krim Minggu ke- 4
Gambar 17. Sentrifugasi Minggu ke- 0
Gambar 18. Sentrifugasi Minggu ke-4
71
2.
Uji Sebelum dan Sesudah Cycling Test.
Gambar 19. Formula Krim Sebelum
Cycling Test
Gambar 20. Formula Krim Sesudah
Cycling Test
Gambar 21. Uji Homogenitas Sebelum
Cycling Test
Gambar 22. Uji Homogenitas Sesudah
Cycling Test
Gambar 23. Uji Sentrifugasi Sebelum
Cycling Test
Gambar 24. Uji Sentrifugasi Sesudah
Cycling Test
72
Lampiran 7. Hasil Statistik Aktivitas Krim Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam
sebagai Tabir Surya
1. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Tujuan
: Untuk melihat aktivitas krim tabir surya terdistribusi normal atau
tidak
Hipotesis
:
Ho
: Data aktivitas krim tabir surya terdistribusi normal
Ha
: Data aktivitas krim tabir surya tidak terdistribusi normal
Pengambilan keputusan
:
Jika nilai signifikan ≥ 0,05, maka Ho diterima
Jika nilai signifikan ≤ 0,05, maka Ho ditolak
NPar Tests
Descriptive Statistics
N
absorbansi0
absorbansi30
absorbansi60
absorbansi90
absorbansi120
Mean
15
15
15
15
15
Std. Deviation
.730920
.642480
.538560
.548573
.436333
.2108132
.1421973
.1678628
.1896068
.1400081
Minimum
.3125
.3721
.2292
.1462
.1150
Maximum
.9616
.8620
.8829
.8226
.6260
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
absorbansi0
N
Normal Mean
Param Std. Deviation
a,,b
eters
Most
Absolute
Extrem Positive
e
Differe Negative
nces
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
absorbansi30
absorbansi60
absorbansi90
absorbansi120
15
15
15
15
15
.730920
.642480
.538560
.548573
.436333
.2108132
.1421973
.1678628
.1896068
.1400081
.265
.241
.156
.249
.162
.152
-.265
.132
-.241
.143
-.156
.169
-.249
.088
-.162
1.028
.933
.605
.966
.628
.241
.348
.857
.308
.825
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Keputusan
: Data aktivitas seluruh krim tabir surya terdistribusi secara normal.
73
2. Uji Homogenitas Levene
Tujuan : Untuk melihat aktivitas uji krim tabir surya homogen atau tidak
Hipotesis
:
Ho
: Aktivitas krim tabir surya bervariasi homogen
Ha
: Aktivitas krim tabir surya tidak bervariasi homogen
Pengambilan keputusan
:
Jika nilai signifikan ≥ 0,05, maka Ho diterima
Jika nilai signifikan ≤ 0,05, maka Ho ditolak
Test of Homogeneity of Variances
Levene
Statistic
absorbansi0
absorbansi30
absorbansi60
absorbansi90
absorbansi120
2.989
2.557
3.128
4.090
.976
df1
df2
4
4
4
4
4
Sig.
10
10
10
10
10
.073
.104
.065
.052
.463
Keputusan: Uji homogenitas aktivitas krim tabir surya bervariasi homogen
ANOVA
Sum of
Squares
absorbansi0
absorbansi30
absorbansi60
absorbansi90
absorbansi120
df
Mean Square
Between Groups
.589
4
.147
Within Groups
.034
10
.003
Total
.622
14
Between Groups
.235
4
.059
Within Groups
.048
10
.005
Total
.283
14
Between Groups
.321
4
.080
Within Groups
.074
10
.007
Total
.394
14
Between Groups
.411
4
.103
Within Groups
.093
10
.009
Total
.503
14
Between Groups
.219
4
.055
Within Groups
.055
10
.006
Total
.274
14
F
Sig.
43.696
.000
12.183
.001
10.854
.001
11.079
.001
9.881
.002
74
4. Uji Beda Nyata Terkecil (BNT)
Tujuan : Untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan aktivitas krim tabir
surya secara bermakna pada setiap formula
Hipotesis
:
Ho
: Aktivitas krim tabir surya tidak berbeda secara bermakna
Ha
: Aktivitas krim tabir surya berbeda secara bermakna
Pengambilan keputusan
:
Jika nilai signifikan ≥ 0,05, maka Ho diterima
Jika nilai signifikan ≤ 0,05, maka Ho ditolak
Multiple Comparisons
LSD
95% Confidence
Interval
Dependent
Variable
(I) konsentrasi
(J) konsentrasi
absorbansi0
kontrol negatif
kontrol positif
.0473790
.000
-.675600
-.464466
-.3992333
.0473790
.005
-.504800
-.293666
-.4322000
*
.0473790
.016
-.537767
-.326633
-.4921333
*
.0473790
.131
-.597700
-.386566
.5700333
*
.0473790
.000
.464466
.675600
formula 1%
.1708000
*
.0473790
.000
.065233
.276367
formula 2%
.1378333
*
.0473790
.000
.032266
.243400
formula 3%
.0779000
.0473790
.020
-.027667
.183467
kontrol negatif
.3992333
*
.0473790
.000
.293666
.504800
kontrol positif
-.1708000
*
.0473790
.005
-.276367
-.065233
formula 2%
-.0329667
.0473790
.502
-.138534
.072600
formula 3%
-.0929000
.0473790
.078
-.198467
.012667
.4322000
*
.0473790
.000
.326633
.537767
-.1378333
*
.0473790
.016
-.243400
-.032266
formula 1%
.0329667
.0473790
.502
-.072600
.138534
formula 3%
-.0599333
.0473790
.235
-.165500
.045634
kontrol negatif
.4921333
*
.0473790
.000
.386566
.597700
kontrol positif
-.0779000
.0473790
.131
-.183467
.027667
formula 1%
.0929000
.0473790
.078
-.012667
.198467
formula 2%
.0599333
.0473790
.235
-.045634
.165500
kontrol negatif
kontrol negatif
kontrol positif
formula 3%
absorbansi30
kontrol negatif
Upper
Bound
*
formula 3%
formula 2%
Lower
Bound
*
formula 2%
formula 1%
Sig.
-.5700333
formula 1%
kontrol positif
Mean Difference
(I-J)
Std. Error
kontrol positif
-.3516000
*
.0566864
.000
-.477905
-.225295
formula 1%
-.2581000
*
.0566864
.001
-.384405
-.131795
formula 2%
-.1822667
*
.0566864
.009
-.308572
-.055962
formula 3%
-.3186000
*
.0566864
.000
-.444905
-.192295
75
kontrol positif
formula 1%
formula 2%
formula 3%
absorbansi60
kontrol negatif
kontrol negatif
.3516000
*
.0566864
.000
.225295
.477905
formula 1%
.0935000*
.0566864
.000
-.032805
.219805
formula 2%
.1693333
*
.0566864
.000
.043028
.295638
formula 3%
.0330000
.0566864
.013
-.093305
.159305
kontrol negatif
.2581000
*
.0566864
.001
.131795
.384405
kontrol positif
-.0935000
.0566864
.130
-.219805
.032805
formula 2%
.0758333
.0566864
.211
-.050472
.202138
formula 3%
-.0605000
.0566864
.311
-.186805
.065805
kontrol negatif
.1822667
*
.0566864
.009
.055962
.308572
kontrol positif
-.1693333
*
.0566864
.014
-.295638
-.043028
formula 1%
-.0758333
.0566864
.211
-.202138
.050472
formula 3%
-.1363333
*
.0566864
.037
-.262638
-.010028
kontrol negatif
.3186000
*
.0566864
.000
.192295
.444905
kontrol positif
-.0330000
.0566864
.573
-.159305
.093305
formula 1%
.0605000
.0566864
.311
-.065805
.186805
formula 2%
.1363333
*
.0566864
.037
.010028
.262638
kontrol positif
-.4489667
*
.0701685
.000
-.605312
-.292622
formula 1%
-.2065333
*
.0701685
.015
-.362878
-.050188
-.2664000
*
.0701685
.004
-.422745
-.110055
-.3025667
*
.0701685
.002
-.458912
-.146222
.4489667
*
.0701685
.000
.292622
.605312
formula 1%
.2424333
*
.0701685
.000
.086088
.398778
formula 2%
.1825667
*
.0701685
.000
.026222
.338912
formula 3%
.0664000
.0701685
.044
-.009945
.302745
formula 2%
formula 3%
kontrol positif
formula 1%
formula 2%
kontrol negatif
kontrol negatif
.2065333
*
.0701685
.015
.050188
.362878
kontrol positif
-.2424333
*
.0701685
.006
-.398778
-.086088
formula 2%
-.0598667
.0701685
.414
-.216212
.096478
formula 3%
-.0960333
.0701685
.201
-.252378
.060312
.2664000
*
.0701685
.004
.110055
.422745
-.1825667
*
.0701685
.026
-.338912
-.026222
formula 1%
.0598667
.0701685
.414
-.096478
.216212
formula 3%
-.0361667
.0701685
.617
-.192512
.120178
kontrol negatif
.3025667
*
.0701685
.002
.146222
.458912
kontrol positif
kontrol negatif
kontrol positif
formula 3%
absorbansi90
kontrol negatif
kontrol positif
formula 1%
-.1464000
.0701685
.064
-.302745
.009945
formula 1%
.0960333
.0701685
.201
-.060312
.252378
formula 2%
.0361667
.0701685
.617
-.120178
.192512
kontrol positif
-.4672667
*
.0785970
.000
-.642392
-.292142
formula 1%
-.3499000
*
.0785970
.001
-.525025
-.174775
formula 2%
-.3760667
*
.0785970
.001
-.551192
-.200942
formula 3%
-.4136333
*
.0785970
.000
-.588758
-.238508
kontrol negatif
.4672667
*
.0785970
.000
.292142
.642392
formula 1%
.1173667*
.0785970
.000
-.057758
.292492
formula 2%
.0912000*
.0785970
.000
-.083925
.266325
formula 3%
.0536333
.0785970
.010
-.121492
.228758
kontrol negatif
.3499000
*
.0785970
.001
.174775
.525025
kontrol positif
-.1173667
.0785970
.166
-.292492
.057758
76
formula 2%
formula 3%
formula 2%
-.0261667
.0785970
.746
-.201292
.148958
formula 3%
-.0637333
.0785970
.436
-.238858
.111392
kontrol negatif
.3760667
*
.0785970
.001
.200942
.551192
kontrol positif
-.0912000
.0785970
.273
-.266325
.083925
formula 1%
.0261667
.0785970
.746
-.148958
.201292
formula 3%
-.0375667
.0785970
.643
-.212692
.137558
kontrol negatif
.4136333
*
.0785970
.000
.238508
.588758
kontrol positif
-.0536333
.0785970
.510
-.228758
.121492
.0637333
.0785970
.436
-.111392
.238858
formula 1%
formula 2%
absorbansi120
kontrol negatif
kontrol positif
formula 1%
formula 2%
formula 3%
.0375667
.0785970
.643
-.137558
.212692
kontrol positif
-.2681333
*
.0607810
.000
-.403562
-.132705
formula 1%
-.2547333
*
.0607810
.002
-.390162
-.119305
formula 2%
-.1677000
*
.0607810
.020
-.303129
-.032271
formula 3%
-.3574333
*
.0607810
.000
-.492862
-.222005
kontrol negatif
.2681333
*
.0607810
.001
.132705
.403562
formula 1%
.0134000*
.0607810
.000
-.122029
.148829
formula 2%
.1004333*
.0607810
.000
-.034995
.235862
formula 3%
-.0893000
.0607810
.033
-.224729
.046129
kontrol negatif
.2547333
*
.0607810
.002
.119305
.390162
kontrol positif
-.0134000
.0607810
.830
-.148829
.122029
formula 2%
.0870333
.0607810
.183
-.048395
.222462
formula 3%
-.1027000
.0607810
.122
-.238129
.032729
kontrol negatif
.1677000
*
.0607810
.020
.032271
.303129
kontrol positif
-.1004333
.0607810
.129
-.235862
.034995
formula 1%
-.0870333
.0607810
.183
-.222462
.048395
formula 3%
-.1897333
*
.0607810
.011
-.325162
-.054305
kontrol negatif
.3574333
*
.0607810
.000
.222005
.492862
kontrol positif
.0893000
.0607810
.173
-.046129
.224729
formula 1%
.1027000
.0607810
.122
-.032729
.238129
formula 2%
*
.0607810
.011
.054305
.325162
.1897333
*. The mean difference is significant at the 0.05 level.
Keputusan : Aktivitas krim tabir surya seluruh formula uji berbeda secara
bermakna dengan kontrol negatif dan kontrol positif (P < 0,05).
Kesimpulan uji statistik
:
1. Formula uji (1 % dan 2 %) dan kontrol negatif memiliki perbedaan secara
bermakna dengan kontrol positif, artinya aktivitas dari formula uji (1 dan 2
%) tidak sebanding atau berbeda dengan kontrol positif.
2. Formula uji (1 %, 2 %, dan 3 %) dan kontrol positif memiliki perbedaan
secara bermakna dengan kontrol negatif, artinya aktivitas dari formula uji
(1 %, 2 %, dan 3 %) dan kontrol positif berbeda dengan kontrol negatif.
3. Formula uji (3 %) tidak memiliki perbedaan secara bermakna dengan
control positif, artinya kontrol positif memiliki aktivitas yang hampir sama
dengan formula uji 3 %.
77
Lampiran 8. Hasil Uji Efektifitas Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam sebagai
Tabir Surya
Tabel 19. Perhitungan Uji Efektivitas Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam Konsentrasi
40 ppm
λ (nm)
A
%T
Fe
Ee (% T x Fe)
Ep (% T x Fp)
292,5
1,6212
2,3922
0,1105
0,2643
-
297,5
1,6128
2,4389
0,6720
1,6389
-
302,5
1,5873
2,5864
1,0000
2,5864
-
307,5
1,5736
2,6693
0,2008
0,5359
-
312,5
1,5661
2,7158
0,1364
0,3704
-
3,17,5
1,5372
2,9026
0,1125
0,3265
-
Fp
322,5
1,5018
3,1492
0,1079
-
0,3398
327,5
1,4822
3,2946
0,1020
-
0,3360
332,5
1,4630
3,4435
0,0936
-
0,3223
337,5
1,4521
3,5310
0,0798
-
0,2818
342,5
1,4227
3,7783
0,0669
-
0,2527
347,5
1,4198
3,8036
0,0570
-
0,2168
352,5
1,3821
4,1486
0,0488
-
0,2024
357,5
1,3316
4,6601
0,0456
-
0,2125
362,5
1,3211
4,7742
0,0356
-
0,1699
367,5
1,3201
4,7852
0,0310
-
0,1483
372,5
1,3147
4,8451
0,0260
-
0,1259
∑ = 5,5424
∑ = 2,6084
% Te =
∑
∑
% Tp =
∑
∑
=
=
= 2,4829 %
= 3,7574 %
78
LANJUTAN
Contoh perhitungan persen transmisi dan eritema:
 Nilai transmisi eritema: A = -log T
%T =
x 100 %
= 2,3922
Dimana: A = nilai serapan pada panjang gelombang 292,5 nm
 Nilai fluks eritema: Ee = % T x Fe
Ee = 2,3922 x 0,1105
= 0,2643
Dimana Fe = nilai fluks eritema pada panjang gelombang 290-295 nm
(dilihat pada tabel 1)
 % transmisi eritema (% Te) = ∑ Ee / ∑ Fe
= 5,5424 / 2,2322
= 2,4829 %
Keterangan:
∑ Ee
: Jumlah nilai fluks eritema yang diteruskan oleh tabir surya
∑ Fe
: Fluks eritema pada rentang total eritema 290-320 nm (dilihat
pada tabel 1)
Selanjutnya untuk perhitungan persen transmisi pigmentasi dihitung
dengan cara yang sama.
79
Tabel 20. Perhitungan Uji Efektivitas Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam Konsentrasi
60 ppm
λ (nm)
A
%T
Fe
Ee (% T x Fe)
Ep (% T x Fp)
292,5
1,7311
1,8574
0,1105
0,2052
-
297,5
1,7302
1,8612
0,6720
1,2507
-
302,5
1,7289
1,8668
1,0000
1,8668
-
307,5
1,7066
1,9652
0,2008
0,3946
-
312,5
1,6821
2,0792
0,1364
0,2836
-
317,5
1,6534
2,2212
0,1125
0,2498
-
Fp
322,5
2,3834
0,0454
0,1079
-
0,2571
327,5
2,4311
0,0488
0,1020
-
0,2479
332,5
2,6779
0,0510
0,0936
-
0,2506
337,5
2,9053
0,0511
0,0798
-
0,2318
342,5
2,9861
0,0546
0,0669
-
0,1998
347,5
3,0782
0,1271
0,0570
-
0,1754
352,5
3,0896
0,1371
0,0488
-
0,1507
357,5
3,3729
0,1503
0,0456
-
0,1538
362,5
3,4914
0,1544
0,0356
-
0,1243
367,5
3,7792
0,1598
0,0310
-
0,1171
372,5
3,9646
0,2167
0,0260
-
0,1031
∑ = 4,2507
∑ = 2,0116
% Te =
∑
∑
% Tp =
∑
∑
=
=
= 1,9042 %
= 2,8977 %
80
Tabel 21. Perhitungan Uji Efektivitas Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam Konsentrasi
80 ppm
λ (nm)
A
%T
Fe
292,5
1,7642
1,7211
0,1105
0,1902
-
297,5
1,7616
1,7314
0,6720
1,1635
-
302,5
1,7439
1,8034
1,0000
1,8034
-
307,5
1,7394
1,8222
0,2008
0,3659
-
312,5
1,7144
1,9302
0,1364
0,2633
-
317,5
1,7085
1,9566
0,1125
0,2201
-
Ee (% T x Fe)
Ep (% T x Fp)
Fp
322,5
1,6885
2,0488
0,1079
-
0,2210
327,5
1,6720
2,1281
0,1020
-
0,2170
332,5
1,6662
2,1567
0,0936
-
0,2018
337,5
1,6538
2,2192
0,0798
-
0,1771
342,5
1,6340
2,3227
0,0669
-
0,1554
347,5
1,6026
2,4969
0,0570
-
0,1423
352,5
1,5844
2,6037
0,0488
-
0,1271
357,5
1,5677
2,7058
0,0456
-
0,1234
362,5
1,5423
2,8688
0,0356
-
0,1021
367,5
1,5019
3,1485
0,0310
-
0,0976
372,5
1,4922
3,2196
0,0260
-
0,0837
∑ = 4,0064
∑ = 1,6485
% Te =
∑
∑
=
= 1,7948 %
% Tp =
∑
∑
=
= 2,3746 %
81
Tabel 22. Perhitungan Uji Efektivitas Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam Konsentrasi
100 ppm
λ (nm)
A
%T
Fe
Ee (% T x Fe)
Ep (% T x Fp)
292,5
1,7976
1,5937
0,1105
0,1761
-
297,5
1,7941
1,6066
0,6720
1,0796
-
302,5
1,7758
1,6757
1,0000
1,6757
-
307,5
1,7534
1,7644
0,2008
0,3543
-
312,5
1,7227
1,8936
0,1364
0,2583
-
317,5
1,7024
1,9842
0,1125
0,2232
-
Fp
322,5
1,6821
2,0792
0,1079
-
0,2243
327,5
1,6693
2,1414
0,1020
-
0,2184
332,5
1,6477
2,2506
0,0936
-
0,0234
337,5
1,6128
2,4389
0,0798
-
0,1946
342,5
1,6094
2,4581
0,0669
-
0,1644
347,5
1,5838
2,6073
0,0570
-
0,1486
352,5
1,5421
2,8701
0,0488
-
0,1400
357,5
1,5223
3,0040
0,0456
-
0,1369
362,5
1,4813
3,3014
0,0356
-
0,1175
367,5
1,4772
3,3327
0,0310
-
0,1033
372,5
1,4421
3,6132
0,0260
-
0,0939
∑ = 3,7672
∑ = 1,6484
% Te =
∑
∑
% Tp =
∑
∑
=
=
= 1,6876 %
= 2,2548 %
82
Tabel 23. Perhitungan Uji Efektivitas Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam Konsentrasi
120 ppm
λ (nm)
A
%T
Fe
Ee (% T x Fe)
Ep (% T x Fp)
292,5
1,8173
1,5230
0,1105
0,1683
-
297,5
1,8124
1,5403
0,6720
1,0351
-
302,5
1,8096
1,5502
1,0000
1,5502
-
307,5
1,7878
1,6300
0,2008
0,3273
-
312,5
1,7632
1,7250
0,1364
0,2353
-
317,5
1,7429
1,8076
0,1125
0,2033
-
Fp
322,5
1,6885
2,0488
0,1079
-
0,2210
327,5
1,6832
2,0739
0,1020
-
0,2115
332,5
1,6821
2,0792
0,0936
-
0,1941
337,5
1,6709
2,1335
0,0798
-
0,1702
342,5
1,6722
2,1271
0,0669
-
0,1423
347,5
1,6547
2,2146
0,0570
-
0,1262
352,5
1,6330
2,3281
0,0488
-
0,1136
357,5
1,6228
2,3834
0,0456
-
0,1087
362,5
1,6113
2,4474
0,0356
-
0,0871
367,5
1,5821
2,6176
0,0310
-
0,0811
372,5
1,5447
2,8529
0,0260
-
0,0741
∑ = 3,5195
∑ = 1,5299
% Te =
∑
∑
% Tp =
∑
∑
=
=
= 1,5766 %
= 2,2038 %
83
Lampiran 9. Hasil Uji Efektifitas Krim Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam
sebagai Tabir Surya
Tabel 24. Perhitungan Efektivitas Krim Formula KN (kontrol negatif)
λ (nm)
A
%T
Fe
Ee (% T x Fe)
292,5
0,3670
42,9536
0,1105
4,7464
-
297,5
0,3614
43,5111
0,6720
29,2395
-
302,5
0,3278
47,0110
1,0000
47,0110
-
307,5
0,2994
50,1880
0,2008
10,0777
-
312,5
0,2762
52,9419
0,1364
7,2213
-
3,17,5
0,2422
57,2532
0,1125
6,4409
-
Ep (% T x Fp)
Fp
322,5
0,2116
61,4327
0,1079
-
6,6286
327,5
0,1907
64,4614
0,1020
-
6,5751
332,5
0,1777
66,4202
0,0936
-
6,2169
337,5
0,1629
68,7726
0,0798
-
5,4840
342,5
0,1448
71,6473
0,0669
-
4,7932
347,5
0,1421
72,0941
0,0570
-
4,1093
352,5
0,1139
76,9307
0,0488
-
3,7542
357,5
0,1114
77,3749
0,0456
-
3,5283
362,5
0,1102
77,5889
0,0356
-
2,7621
367,5
0,1094
77,7320
0,0310
-
2,4097
372,5
0,1065
78,2528
0,0260
-
2,0346
∑ = 104,7368
∑ = 48,2960
% Te =
∑
∑
% Tp =
∑
∑
=
=
= 46,9208 %
= 69,5707 %
84
Tabel 25. Perhitungan Uji Efektivitas Krim Formula KP benzofenon-3 (kontrol
positif)
λ (nm)
A
%T
Fe
Ee (% T x Fe)
Ep (% T x Fp)
292,5
3,4280
0,0373
0,1105
0,0041
-
297,5
3,4246
0,0376
0,6720
0,0253
-
302,5
3,4019
0,0396
1,0000
0,0396
-
307,5
3,3927
0,0405
0,2008
0,0081
-
312,5
3,3721
0,0424
0,1364
0,0058
-
317,5
3,3717
0,0425
0,1125
0,0048
-
Fp
322,5
3,3425
0,0454
0,1079
-
0,0049
327,5
3,3110
0,0488
0,1020
-
0,0049
332,5
3,2925
0,0510
0,0936
-
0,0047
337,5
3,2911
0,0511
0,0798
-
0,0041
342,5
3,2626
0,0546
0,0669
-
0,0036
347,5
2,8958
0,1271
0,0570
-
0,0072
352,5
2,8774
0,1371
0,0488
-
0,0067
357,5
2,8231
0,1503
0,0456
-
0,0068
362,5
2,8114
0,1544
0,0356
-
0,0055
367,5
2,7963
0,1598
0,0310
-
0,0049
372,5
2,6642
0,2167
0,0260
-
0,0056
∑ = 0,08877
∑ = 0,0589
% Te =
∑
∑
% Tp =
∑
∑
=
=
= 0,0392 %
= 0,0848 %
85
Tabel 26. Perhitungan Uji Efektivitas Krim Tabir Surya Ekstrak Etanol 70 % Teh
Hitam Konsentrasi 1 % (KrT 1 %)
λ (nm)
A
%T
Fe
Ee (% T x Fe)
Ep (% T x Fp)
292,5
2,2240
0,5970
0,1105
0,6759
-
297,5
2,1774
0,6646
0,6720
0,4466
-
302,5
2,1535
0,7022
1,0000
0,7022
-
307,5
2,1362
0,7308
0,2008
0,1467
-
312,5
2,1226
0,7540
0,1364
0,1028
-
317,5
2,1124
0,7719
0,1125
0,0868
-
Fp
322,5
1,9992
0,9775
0,1079
-
0,1081
327,5
1,9954
0,8035
0,1020
-
0,1031
332,5
1,9721
0,1262
0,0936
-
0,0998
337,5
1,9562
0,8255
0,0798
-
0,0883
342,5
1,9060
0,8381
0,0669
-
0,0830
347,5
1,8719
0,8521
0,0570
-
0,0765
352,5
1,8640
0,8654
0,0488
-
0,0667
357,5
1,8401
0,8768
0,0456
-
0,0659
362,5
1,8269
0,8867
0,0356
-
0,0530
367,5
1,7313
0,8949
0,0310
-
0,0575
372,5
1,7011
0,9038
0,0260
-
0,0517
∑ = 1,5510
∑ = 0,8536
% Te =
∑
∑
% Tp =
∑
∑
=
=
= 0,6948 %
= 1,1229 %
86
Tabel 27. Perhitungan Uji Efektivitas Krim Tabir Surya Ekstrak Etanol 70 % Teh
Hitam Konsentrasi 2 % (KrT2 %)
λ (nm)
A
%T
Fe
Ee (% T x Fe)
Ep (% T x Fp)
292,5
2,4318
0,3699
0,1105
0,0408
-
297,5
2,4157
0,3824
0,6720
0,2569
-
302,5
2,3824
0,4146
1,0000
0,4146
-
307,5
2,3612
0,4353
0,2008
0,0874
-
312,5
2,3384
0,4587
0,1364
0,0626
-
317,5
2,2997
0,5015
0,1125
0,0564
-
Fp
322,5
2,2661
0,5419
0,1079
-
0,0585
327,5
2,2536
0,5577
0,1020
-
0,0568
332,5
2,2181
0,6052
0,0936
-
0,0566
337,5
2,1719
0,6731
0,0798
-
0,0537
342,5
2,1482
0,7109
0,0669
-
0,0475
347,5
2,0938
0,8057
0,0570
-
0,0459
352,5
2,0722
0,8468
0,0488
-
0,0413
357,5
2,0614
0,8682
0,0456
-
0,0396
362,5
1,9828
1,0404
0,0356
-
0,0370
367,5
1,7746
1,6803
0,0310
-
0,0521
372,5
1,7218
1,8976
0,0260
-
0,0493
∑ = 0,9187
∑ = 0,5383
% Te =
∑
∑
% Tp =
∑
∑
=
=
= 0,4115 %
= 0,7754 %
87
Tabel 28. Perhitungan Uji Efektivitas Krim Tabir Surya Ekstrak Etanol 70 % Teh
Hitam Konsentrasi 3 % (KrT 3 %)
λ (nm)
A
%T
Fe
Ee (% T x Fe)
Ep (% T x Fp)
292,5
2,5317
0,2939
0,1105
0,0325
-
297,5
2,5094
0,3094
0,6720
0,2079
-
302,5
2,4928
0,3215
1,0000
0,3215
-
307,5
2,4816
0,3299
0,2008
0,0662
-
312,5
2,4611
0,3458
0,1364
0,0471
-
317,5
2,4394
0,3636
0,1125
0,0409
-
Fp
322,5
2,4261
0,3749
0,1079
-
0,0404
327,5
2,4019
0,3963
0,1020
-
0,0404
332,5
2,3996
0,3985
0,0936
-
0,0373
337,5
2,3727
0,4239
0,0798
-
0,0338
342,5
2,3564
0,4401
0,0669
-
0,0294
347,5
2,3019
0,4989
0,0570
-
0,0284
352,5
2,3001
0,5010
0,0488
-
0,0244
357,5
2,2846
0,5193
0,0456
-
0,0237
362,5
2,2442
0,5699
0,0356
-
0,0203
367,5
2,2006
0,6301
0,0310
-
0,0195
372,5
2,1911
0,6440
0,0260
-
0,0167
∑ = 0,7161
∑ = 0,3143
% Te =
∑
∑
% Tp =
∑
∑
=
=
= 0,3208 %
= 0,4527 %
88
Lampiran 10. Hasil Penapisan Fitokimia Serbuk Simplisia dan Ekstrak
Alkaloid
Tanin
Flavonoid
Minyak atsiri
Kuinon
Saponin
Steroid/Triterpenoid
Gambar 25. Hasil Penapisan Fitokimia Simplisia
Alkaloid
Tanin
Flavonoid
Minyak atsiri
Kuinon
Saponin
Steroid/Triterpenoid
Gambar 26. Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak
89
Lampiran 11. Alat
Gambar 27. Viskometer Brookfield
Gambar 29. Spektrofotometer UV-Vis
Gambar 31. Alat Centrifuge
Gambar 28. pH Meter
Gambar 30. Oven
Gambar 32. UV 366 nm
90
Nining Sugihartini
Majalah
Farmasi Indonesia, 16 (3), 130 – 135, 2005
Pengaruh penambahan fraksi etanol dari
infusa daun Plantago major L. terhadap
efektivitas oktil metoksisinamat sebagai bahan
aktif tabir surya
The influence of ethanol fractions of infusa of Plantago major
L. leaves in effectivity of octyl methoxycinnamate as active
ingredient of sunscreen
Nining Sugihartini 1), Marchaban 2) dan Suwidjiyo Pramono 2)
1)
2)
Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan,
Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada
Abstrak
Oktil metoksisinamat merupakan bahan aktif tabir surya yang setelah
mendapat paparan cahaya matahari mengalami degradasi sehingga
penggunaannya sebagai tabir surya menjadi kurang efektif. Antioksidan
memiliki potensi sebagai fotoprotektor. Flavonoid yang terkandung dalam
fraksi etanol daun Plantago major L. memiliki potensi sebagai antioksidan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan fraksi etanol
daun Plantago major L. terhadap efektivitas oktil metoksisinamat sebagai
bahan aktif sediaan tabir surya.
Pada penelitian ini digunakan dua formula. Formula I mengandung oktil
metoksisinamat dan formula II mengandung campuran oktil metoksisinamat
dengan fraksi etanol daun Plantago major L. (1:1). Kedua formula dipaparkan
cahaya matahari selama 5 jam (pukul 09.00-14.00 WIB). Penentuan efektivitas
oktil metoksisinamat sebagai tabir surya ditentukan berdasarkan persen
transmisi eritema dan persen transmisi pigmentasi pada masing-masing
formula sebelum dan sesudah pemaparan dengan cahaya matahari selama 5
jam. Analisis data secara statistik dilakukan dengan Student t test pada taraf
kepercayaan 95%.
Penambahan fraksi etanol daun Plantago major, L. menurunkan nilai
persen transmisi eritema setelah perlakuan pemaparan dengan cahaya
matahari selama 5 jam (p<0,05). Fraksi etanol tersebut juga menurunkan
secara bermakna persen transmisi pigmentasi baik sebelum atau sesudah
pemaparan dengan cahaya matahari (p<0,05). Lebih jauh, karena fraksi
etanol daun Plantago major, L. mempunyai serapan maksimum pada 331.8
yang merupakan daerah UVA, kombinasinya dengan oktil metoksisinamat
menghasilkan sediaan tabir surya yang efektif sebagai pelindung baik
terhadap UVA maupun UVB.
Kata kunci : oktil metoksisinamat, fraksi etanol daun Plantago major L., tabir surya.
Abstract
Octyl methoxycinnamate is an active ingredient of that is degraded by
solar irradiation resulting it usage as sunscreen becomes less effective. An
antioxidant has capability as a photo-protector. Flavonoid in the ethanolic
fraction of Plantago major, L. leaves is reported to have an antioxidant. This
research was aimed to examine the influence of the addition of the ethanolic
fraction of Plantago major, L. leaves to the effectiveness of octyl
methoxycinnamate as a sunscreen.
Majalah Farmasi Indonesia, 16 (3), 2005
130
Pengaruh penambahan fraksi etanol..........
In this research, two formulas were prepared. Formula I contained
octyl methoxycinnamate per se and formula II contained a mixture (1:1) of
octyl methoxycinnamate and ethanolic fraction of Plantago major, L. leaves.
Both formulas were exposed to the sun light for 5 hours (09.00-14.00 WIB)
in which samples were taken every hour. The effectiveness of octyl
methoxycinnamate was calculated based on the percentage of erythema
transmission and the percentage of pigmentation transmission, prior and
after the irradiation by the sun light for 5 hours. The statistical data analysis
was performed based on the Student t test with a confidence level of 95%.
The addition of the ethanol fraction of Plantago major, L. leaves
significantly reduced the percentage of the erythema transmission after solar
irradiation (p<0.05).The ethanol fraction also significantly reduced the
percentage of pigmentation transmission prior and after solar irradiation
(p<0.05). Furthermore, as the ethanol fraction had the maximum absorption
at 331.8 nm, that is in the UVA spectrum, its combination with octyl
methoxycinnamate resulted in a sun screen formulation that protect from
UVA as well as UVB
Key words:
octyl methoxycinnamate, ethanol fraction of Plantago major, L. leaves,
sunscreen.
Pendahuluan
Tabir surya digunakan untuk melindungi
kulit dari paparan cahaya matahari langsung.
Berdasarkan penelitian Diffey (2001), 90%
pengguna tabir surya bertujuan untuk menurunkan resiko terjadinya kanker kulit. Hasil penelitian Green dkk. (1999) menyatakan bahwa
penggunaan tabir surya setiap hari tenyata dapat
menurunkan probabilitas terjadinya kanker
kulit.
Banyak bahan yang dapat dipergunakan
sebagai tabir surya, salah satu diantaranya
adalah oktil metoksisinamat. Mekanisme kerja
bahan ini secara kimiawi adalah dengan
mengabsorbsi sinar ultra violet (UV) sehingga
menghambat penetrasi sinar UV ke dalam
lapisan epidermis kulit.
Penelitian Astuti (1997) menunjukkan
bahwa paparan cahaya matahari ternyata dapat
menurunkan kadar oktil metoksisinamat dalam
sediaan. Hal ini disebabkan karena oktil
metoksisinamat mengalami reduksi oleh cahaya
matahari. Hasil degradasi tersebut ternyata tidak
lagi bersifat sebagai tabir surya.
Black (1990) menyatakan bahwa antioksidan memiliki potensi sebagai fotoprotektor.
Cahaya UV dapat memacu pembentukan
sejumlah senyawa reaktif atau radikal bebas
pada kulit. Senyawa dengan kemampuan
antioksidan atau penangkap radikal bebas dapat
berkompetisi dengan molekul target dan
mengurangi atau mengacaukan efek yang
merugikan.
Majalah Farmasi Indonesia, 16 (3), 2005
Antioksidan alami banyak terkandung
dalam tumbuhan misalnya vitamin E, vitamin
C, beta karoten dan flavonoid. Oleh karena itu,
tumbuhan dapat dipergunakan sebagai sumber
antioksidan (Kikuzaki dan Nakatani, 1993; Al
Saikhan dkk., 1995). Hertiani (2000) melaporkan bahwa flavonoid daun Plantago major, L
ternyata aktif sebagai antioksidan dan memiliki
potensi lebih besar dari kuersetin yaitu sebesar
41,08 ± 4,96%.
Penelitian ini mengkaji penggunaan
fraksi etanol infusa daun Plantago major, L
(untuk selanjutnya disebut fraksi etanol)
terhadap efektivitas oktil metoksisinamat. Hasil
penelitian ini diharapkan akan sangat bermanfaat dalam memformulasi sediaan tabir surya
menggunakan bahan aktif oktil metoksisinamat
dengan memanfaatkan bahan antioksidan alami
dari daun Plantago major, L sehingga dapat
meningkatkan efektivitas oktil metoksisinamat.
Metodologi
Bahan
Oktil metoksisinamat (PT. Vitapharm,
Surabaya), silika gel G, aquades dan aquabides
(kualitas farmasi). Metanol dan etanol (p.a E.Merck),
kertas saring Whatman 40. Daun Plantago major L.
(dari Tawangmangu) yang dipanen pada bulan April
2003.
Alat
Spektrofotometer uv-1601PC (Shimadzu,
Japan), neraca analitik AR2140 Ohaus (New York),
penyaring Whatman 0,45 µm nylon, ultrasonic LC
304 (Jerman), alat pembuat lapis tipis.
131
Nining Sugihartini
Jalannya Penelitian
Pembuatan fraksi etanol
major L.
daun
Plantago
Serbuk daun Plantago major L. kering
diinfundasi selama 15 menit pada suhu 900 C
kemudian diserkai panas. Filtrat diuapkan di atas
penangas air sampai kental kemudian ditambahkan
etanol berkali-kali sehingga larutan etanol terakhir
tidak berwarna lagi kemudian disentrifugasi dengan
kecepatan 2500 rpm. Filtrat dievaporasi sampai
hampir kering (selanjutnya disebut fraksi etanol).
Pembuatan formula sediaan.
Formula I, oktil metoksisinamat ditimbang
sebanyak satu g, dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
bertutup yang sudah ditara, kemudian 15 g silika gel
G dimasukkan, dan ditambahkan air suling 30 ml
kemudian ditimbang. Lapisan lempeng kaca ukuran
5 x 20 cm yang diketahui beratnya disiapkan
sebanyak 10 lempeng, dan diletakkan di atas
pembuat lapis tipis. Formula segera dikocok kuat
dan cepat kemudian diratakan di atas lempeng kaca
dengan ketebalan 0,25 mm. Dalam keadaan basah
masing-masing lempeng ditimbang dan disimpan
ditempat yang terlindung dari cahaya.
Formula II, oktil metoksisinamat dan fraksi
etanol daun Plantago major L. ditimbang masingmasing sebanyak satu g lalu dimasukkan ke dalam
Erlenmeyer bertutup yang sudah ditara, kemudian
15 g silika gel G dimasukkan dan ditambah air suling
30 ml kemudian ditimbang. Lapisan lempeng kaca
ukuran 5 x 20 cm yang diketahui beratnya disiapkan
sebanyak 10 lempeng dan diletakkan di atas
pembuat lapis tipis. Formula segera dikocok kuat
dan cepat kemudian diratakan di atas lempeng kaca
dengan ketebalan 0,25 mm. Dalam keadaan basah
masing-masing lempeng ditimbang dan disimpan
ditempat yang terlindung dari cahaya.
Penyinaran sampel
Masing-masing formula (18 sampel) diletakkan pada rak atau tempat yang sesuai, diberi
perlakuan dengan disinari langsung di tempat
terbuka pada sinar matahari, dengan interval waktu
satu jam, dimulai dari pukul 09.00-14.00 WIB. Untuk
pembanding masing-masing formula (6 lempeng)
diperlakukan tanpa penyinaran (0 jam). Setiap
interval waktu masing-masing formula diambil
dan disimpan ditempat terlindung dari cahaya
matahari.
Penentuan efektivitas oktil metoksisinamat
Sampel yang sudah mengalami penyinaran (5
jam) dan tanpa penyinaran ( 0 jam ) belum diukur
serapannya dengan spektrofotometer pada panjang
gelombang 292,5 – 372,5 nm. Dari nilai serapan
yang diperoleh dihitung nilai serapan untuk 1 g/l
Majalah Farmasi Indonesia, 16 (3), 2005
dan T (%) 1 g/l dengan rumus A= - log T. Nilai
transmisi eritema dihitung dengan cara mengalikan
nilai transmisi (T) dengan faktor efektivitas eritema
(Fe) pada panjang gelombang 292,5-372,5 nm. Nilai
transmisi pigmentasi dihitung dengan cara
mengalikan nilai transmisi (T) dengan faktor
efektivitas pigmentasi (Fp) pada panjang gelombang
292,5-372,5 nm. Selanjutnya nilai persen transmisi
eritema dihitung dengan rumus=ΣTxFe/ ΣFe dan
nilai persen transmisi pigmentasi dihitung dengan
rumus=ΣTxFe/ ΣFe (Cumpelik, 1972).
Hasil Dan Pembahasan
Efektivitas oktil metoksisinamat dilihat
berdasarkan nilai persen transmisi eritema dan
persen transmisi pigmentasi yang ada. Pengaruh
penambahan fraksi etanol terhadap efektivitas
oktil metoksisinamat dilihat berdasarkan perubahan nilai persen transmisi eritema dan
pigmentasi antara formula I dan II baik yang
belum mengalami perlakuan penyinaran ataupun yang sudah mengalami perlakuan penyinaran yang dalam hal ini dipakai penyinaran selama
5 jam.
Nilai persen transmisi eritema dan
persen transmisi pigmentasi pada formula I dan
II baik yang belum mengalami penyinaran (0)
maupun yang sudah (5) disajikan pada Tabel I.
Berdasarkan hasil perhitungan terlihat
bahwa baik nilai persen transmisi eritema maupun persen transmsisi pigmentasi mengalami
perubahan setelah penambahan fraksi etanol
maupun dengan perlakuan penyinaran. Untuk
melihat ada tidaknya perbedaan yang signifikan
maka dilakukan uji-t dengan taraf kepercayaan
95%. Hasil perhitungan uji-t (Tabel II).
Pada nilai persen transmisi eritema
terlihat bahwa dengan perlakuan penyinaran
ternyata memberikan nilai yang berbeda secara
bermakna (p < 0,05) baik pada formula I
dan II. Pada formula I sebelum penyinaran nilai
transmisi eritema sebesar 3,84 x 10-9 (4,10x10-9)
dan setelah mendapatkan penyinaran 5 jam
menjadi 4,13 x 10-5 (1,16x10-5), sedangkan pada
formula II sebelum penyinaran nilai transmisi
eritema sebesar 2,71x10-13 (3,82x10-13) dan
setelah mendapatkan penyinaran selama 5 jam
menjadi 4,79x10-7 (7,36x10-8). Berdasarkan data
tersebut terlihat bahwa setelah perlakuan
penyinaran selama 5 jam nilai persen transmisi
eritema meningkat secara bermakna (p < 0,05).
Hal ini kemungkinan disebabkan kadar oktil
132
Pengaruh penambahan fraksi etanol..........
Tabel I. Nilai persen transmisi eritema dan persen transmisi pigmentasi pada Formula I dan II baik yang
belum mengalami penyinaran (0) maupun yang sudah (5)
Formula
% Transmisi eritema
% Transmisi pigmentasi
I.0
3,84 x 10-9 (4,10x10-9)
I.5
4,13 x 10-5 (1,16x10-5)
II.0
2,71 x 10-13 (3,82x10-13)
II.5
4,79 x 10-7 (7,36x10-8)
Keterangan :
I.0 = Formula I tanpa perlakuan penyinaran
I.5 = Formula I dengan penyinaran 5 jam
II.0 = Formula II tanpa perlakuan penyinaran
II.5 = Formula II dengan penyinaran 5
Angka dalam kurung menunjukkan standar deviasi
12,08 (1,66)
7,32 (0,81)
5,18 (1,14)
2,9 (0,06)
Tabel II. Hasil uji-t antar formula dan perlakuan penyinaran
Formula
Perbedaan % Transmisi eritema
I.0 dengan I.5
Berbeda bermakna
II.0 dengan II.5
Berbeda bermakna
I.0 dengan II.0
Tidak berbeda bermakna
I.5 dengan II.5
Berbeda bermakna
Keterangan :
I.0 = Formula I tanpa perlakuan penyinaran
I.5 = Formula I dengan penyinaran 5 jam
II.0 = Formula II tanpa perlakuan penyinaran
II.5 = Formula II dengan penyinaran 5 jam
metoksisinamat sebagai bahan pelindung dari
matahari semakin kecil karena mengalami
degradasi. Hal ini sesuai dengan data pada
analisis fotostabilitas dengan adanya pengaruh
penyinaran. Semakin lama waktu penyinaran,
oktil metoksisinamat yang terdegradasi semakin
meningkat sehingga tidak bisa lagi secara
optimal melindungi kulit. Semakin kecilnya
kadar oktil metoksisinamat maka kemampuan
untuk menyerap cahaya matahari menjadi
menurun dan semakin besar energi matahari
yang dapat diteruskan ke permukaan kulit.
Akibatnya kulit menjadi lebih mudah mengalami eritema karena sengatan cahaya matahari.
Pengaruh penambahan fraksi etanol pada
nilai persen transmisi eritema dapat dilihat pada
perbandingan persen transmisi eritema antara
formula I.0 dengan II.0 dan juga antara I.5
dengan II.5. Pada perbandingan formula I.0
dengan II.0 ternyata tidak berbeda secara bermakna (p > 0,05) antara sebelum penambahan
dan sesudah penambahan fraksi etanol. Hal ini
kemungkinan disebabkan karena keduanya
belum mengalami perlakuan penyinaran
Majalah Farmasi Indonesia, 16 (3), 2005
Perbedaan % Transmisi
pigmentasi
Berbeda bermakna
Tidak berbeda bermakna
Berbeda bermakna
Berbeda bermakna
sehingga pengaruh adanya penambahan fraksi
etanol belum terlihat, sedangkan pada perbandingan formula I.5 dan II.5 yang sudah
mengalami perlakuan penyinaran selama 5 jam
ternyata menunjukkan adanya perbedaan yang
bermakna (p < 0,05). Nilai % transmisi eritema
pada formula I.5 sebesar 4,13x10-5 (1,16x10-5),
sedangkan pada formula II.5 (ada penambahan
fraksi etanol) ternyata memberikan nilai yang
lebih kecil yaitu sebesar 4,79x10-7 (7,36x10-8).
Ini berarti dengan penambahan fraksi etanol
dapat menurunkan terjadinya eritema. Meskipun pada analisis kuantitatif peningkatan kadar
oktil metoksisinamat setelah penambahan fraksi
etanol tidak memberikan peningkatan yang
bermakna namun kemungkinan peningkatan
kadar tersebut dapat membantu menurunkan
terjadinya eritema. Kemungkinan lainnya adalah
flavonoid dalam fraksi etanol yang telah
terbukti mempunyai aktivitas sebagai antioksidan dapat bersaing dengan senyawa yang
dirusak oleh cahaya matahari. Hal ini
berdasarkan pada pernyataan Black (1990)
bahwa cahaya matahari dapat menyebabkan
133
Nining Sugihartini
terbentuknya senyawa reaktif atau radikal bebas
dan antioksidan dapat bersaing dengan molekul
target sehingga kerusakan yang terjadi dapat
dikurangi.
Lebih jauh diketahui bahwa fraksi etanol
yang
mengandung flavonoid memberikan
serapan pada panjang gelombang 331,8 nm
yang merupakan daerah spektra UV A sehingga
penambahan fraksi etanol diduga mempunyai
efek protektan terhadap UV A. Dewasa ini
disadari bahwa perlindungan terhadap UV A
sangat penting terutama terkait dengan
kemungkinan terjadinya neoplasia, penuaan
kulit dan perubahan imunologi pada kulit.
Diketahui bahwa untuk memberikan efek yang
sama dengan UV B dibutuhkan 1000 kali lebih
banyak foton UV A namun UV A lebih mudah
menembus atmosfer, sekitar 10-100 kali lebih
banyak UV A diterima bumi dibandingkan UV
B. Hal ini menyebabkan pengaruh UV A
menjadi faktor yang sangat penting terhadap
eritema dan kerusakan kulit karena cahaya
matahari (Harber dkk., 1990).
Pengaruh penambahan fraksi etanol terhadap nilai persen transmisi pigmentasi dapat
dilihat pada perbandingan formula I.0 dengan
II.0 dan formula I.5 dengan II.5. Nilai persen
transmisi pigmentasi formula I.0 sebesar 12,08
(1,66) sedangkan pada formula II.0 sebesar 5,18
(1,14). Pada formula II.0 nilai persen transmisi
pigmentasi menurun (p < 0,05). Hal ini
kemungkinan disebabkan karena pada formula
II.0 terdapat fraksi etanol yang memiliki daya
serap pada daerah UV A. Diketahui bahwa
cahaya UV A menyebabkan efek pigmentasi
pada kulit. Dengan adanya fraksi etanol
tersebut maka cahaya UV A akan terserap
sehingga efek pigmentasinya menurun. Demikian juga setelah kedua formula mengalami
penyinaran dengan cahaya matahari selama 5
jam. Nilai persen transmisi pigmentasi pada
formula I.5 sebesar 7,32 (0,81) sedangkan pada
formula II.5 sebesar 2,9 (0,06). Nilai persen
transmisi pigmentasi menurun pada formula
II.5 (p < 0,05). Hal ini kemungkinan juga
disebabkan karena keberadaan fraksi etanol
yang mampu menyerap pada daerah cahaya UV
A sehingga nilai persen transmisi pigmentasinya
menurun.
Pengaruh penyinaran selama 5 jam
terhadap nilai persen transmisi pigmentasi pada
formula I dan II ternyata menyebabkan penurunan secara bermakna pada formula I (p < 0,05)
dan tidak bermakna pada formula II (p > 0,05).
Hal ini merupakan hal yang menguntungkan
karena kulit menjadi tidak cepat berwarna
setelah terkena paparan cahaya matahari. Pada
formula II terdapat fraksi etanol daun Plantago
major L. Berdasarkan data tersebut makin
memperkuat dugaan bahwa fraksi etanol daun
Plantago major L. memang memiliki potensi
sebagai fotoprotektor terhadap UV A.
Kesimpulan
Penambahan fraksi etanol daun Plantago
major, L. menurunkan nilai persen transmisi
eritema khususnya setelah perlakuan pemaparan dengan cahaya matahari selama 5 jam
(p<0,05). Fraksi etanol tersebut juga menurunkan secara bermakna persen transmisi
pigmentasi baik sebelum atau sesudah pemaparan dengan cahaya matahari (p<0,05). Lebih
jauh, karena fraksi etanol daun Plantago major, L.
mempunyai serapan maksimum pada 331.8
yang merupakan daerah UVA, kombinasinya
dengan oktil metoksisinamat menghasilkan
sediaan tabir surya yang efektif sebagai
pelindung baik terhadap UVA maupun UVB.
Daftar Pustaka
Al-Saikhan, M.S., Howard, L.R., and Miller Jr., J.C., 1995, Antioxidant Activity and Total Phenolics
in Different Genotypes of Potato (Solanum tuberosum L.), J. Food Sci., 60(2), 341-342.
Astuti, R., 1997, Fotostabilitas Oktilmetoksisinamat dan Pengaruhnya terhadap Fotostabilitas
Triptofan, Tesis, Program Pascasarajana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Black, H.S., 1990, Antioxidant and Carotenoids as Potential Photoprotectants dalam Nicholas, J.L
dan Nadim, A S. (Eds.,) Sunscreens Development, Evaluation and Regulatory Aspects, 267273, Vol. 10, Marcel Dekker Inc., New York.
Diffey, B., 2001, Sunscreen isn’t Enough, J. Photochem. Photobiol., 64, 105-108.
Majalah Farmasi Indonesia, 16 (3), 2005
134
Pengaruh penambahan fraksi etanol..........
Green, A., Williams, G., and Neale, R., 1999, Does Daily Use of Sunscreen or β-carotene
Supplements Prevent Skin Cancer in Healthy Adults?, Lancet, 354, 723-729.
Harber, L.C., DeLeo, V.A., and Prystowsky, J.H., 1990, Intrinsic and Extrinsic Photoprotection
Against UVB and UVA Radiation dalam Lowe, N.J and Shaath, N.A. (Eds.),
Sunscreens Development, Evaluation and Regulatory Aspects, 367, Marcel Dekker, Inc., New
York.
Hertiani, T., 2000, Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid Antioksidan dari Daun Plantago major
L, Thesis, Program Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Kikuzaki, H. and Nakatani, N., 1993, Antioxidant Effect of Some Ginger Constituent, J. Food Sci.,
58(6) 1407-1408.
Majalah Farmasi Indonesia, 16 (3), 2005
135
Fitokimia herba konyal
Di Indonesia jenis-jenis Passiflora yang ada lebih dikenal dengan buahnya yang bisa dimakan
dan memiliki rasa dan aroma yang lezat ( Passiflora edulis Sims, Passiflora foelidal, Passiflora
laurifolia L dan lain-lain). Pemakaian dalam pengobatan hanya sebagai eksfektoran (buah
Passiflora foetida L), antelmintik (daun Passiflora lautiflora L) dan obat raja singa serta kencing
nanah (daun Passiflora quadrangularis L) (1).
Passiflora yang dikenal dengan sebutan "Passion Flower" atau "Mararuja" mempunyai sejarah
yang panjang dan beraneka ragam sebagai sedatif alami. Ibu-ibu di Brasilia memanfaatkan
keefektifannya yang menenangkan anak-anak hiperaktif dan mempunyai kemampuan membantu
mengatasi kekejangan dengan secangkir teh mararuja atau dua gelas jusnya. Mararuja
menimbulkan rasa kantuk yang alami "natural sleepiness", tanpa menyebabkan depresi sistem
saraf dan karena itu digunakan untuk semua jenis insomnia. Penderita di bawah pengaruhnya
akan terpelihara ketenangan dan kemampuan berfikir, berbicara, bergerak, sehingga akhirnya
tertidur. Pada penggunaan berlanjut, tidak ada kontraindikasi karena toksik dan adiktif (2).
Di Jerman telah dibuat obat atau ekstrak herba Passiflora incarnata L. sebagai sedatif dan
perbaikan kardiotonik seperti Plantival, sanadarmin, sedinfant, krauter-dragees dan lain-lain (5)
Marga Passiflora yang berkerabat dengan Caricaceae, suku pepaya diketahui mengandung
alkaloid, fenol, tanin dan senyawa sianogenik, flavonoid glikosida telah ditemukan pada
beberapa jenis Passiflora ini, beberapa diantaranya diidentifikasi sebagai flavonoid dengan ikatan
C-glikosida (2, 3, 4).
Telaah fitokimia ini dilakukan untuk meneliti kandungan kimia herba Passiflora edulis Sims,
yang satu marga dengan Passiflora incarneta L. dan banyak ditemukan di Jawa Barat sehingga
hasilnya bisa dikembangkan lebih lanjut.
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Botani
Tinjauan botani meliputi aspek klasifikasi tumbuhan, nama daerah, ekologi dan penyebaran,
morfologi tumbuhan, serta khasiat dan kegunaannya.
Klasifikasi Tumbuhan
Klasifikasi tumbuhan Passiflora edulis Sims, adalah:
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Anak kelas : Dilleniidae
Bangsa : Violales
Suku : Passifloraceae
Marga : Passiflora
Jenis : Passiflora edulis Sims (6)
Nama Daerah
Nama daerah Passiflora edulis Sims adalah : buah negeri (Jawa), paksi (Sunda), konyal, areuy
pasi, buah monyet (1, 7, 8).
Jenis Passiflora lain
Jenis Passiflora lain yang dikenal di Indonesia antara lain adalah Passiflora foelida L. dengan
nama daerah gegombo (Aceh), lemanas (Palembang), remugak (Lampung), kaceprek, pacean,
permot, rajutan (Sunda), ceplukan blungsun (Jawa). Passiflora laurifolia L. dengan nama daerah
buah susu, markisa leutik (Sunda); Passiflora mixtra L.F. dengan nama daerah tidak diketahui;
Passiflora nilida H.B.le. yang tidak memiliki nama daerah, dan Passiflora guandrangularis L.
dengan nama daerah markisa (Indonesia), prubis (Palembang), erbis, markusa (Sunda), belewa
(Sumatra timur) (1,7).
Jenis lain yang ada di dunia adalah Passiflora alata, Passiflora coccinea, Passiflora incarnata,
Passiflora ligularis, Passiflora maliformis, Passiflora mollissima dan lain-lain.
Morfologi Tumbuhan
Passiflora edulis Sims merupakan terna merambat sedikit berkayu kuat tapi berumur pendek (5-7
tahun), dengan panjang lebih dari 15 m. Tangkainya gundul, berakar dan berwarna hijau.
Memiliki sulur aksilar, berpilin, bergulung lebih panjang dari daunnya.
Daun mempunyai Stipula dan petiolus: stipula lanseolatus, panjang 1 cm, petiolus dengan
panjang 2-5 cm, bagian atas beralur, memiliki dua kelenjar bundar pada puncaknya. Daun muda
tidak berlobus, selanjutnya jadi bentuk palmatus dengan tiga lobus, dasar daun kordalus: lobus
ovalus oblong, 10-15 cm x 12-25 cm, akuminatus, tepinya bergerigi dengan ujung berkelenjar.
Bunga tunggal, aksilar, berbau harum, indah, dengan diameter 7,5-10 cm, pedunkulus
triangularis, panjang 2-5 cm, dekat apeks, berdaun tiga, braktea ovalus-oblong menjalar, bagian
bawah kuning kehijauan, bagian atas putih bagian tepi dengan lebih dari empat kelenjar, apeks
dengan bagian seperti dua, lima petal, bebas, putih dan tipis, berselang-seling dengan lobus
kaliks. Korong terdiri dari dua barisan terluar berombak, benang tersebar, panjang 2-3 cm
berwarna putih dengan dasar ungu, dan tiga barisan lebih dalam berupa papilla pendek berujung
ungu. Stamen berjumlah lima, filamen bersatu dalam pipa melingkar ginotor kira-kira 1 cm dan
kemudian terbagi dengan luas 1 cm. Antena besar, ovarium ginofor, ovoid, satu lokular dengan
tiga plasenta palietal. Stilus berjumlah tiga, horizontal, klavatus, dengan alur longitudinal,
panjang 1 cm stigma reniform atau condiform dengan diameter 0,5 cm.
Buah bulat atau ovoid, 4-12 cm x 4-7 cm, ungu tua atau kuning jernih eksokarp keras dan tipis,
mesokarp kehijauan, endokarp putih. Berbiji banyak berikat pada dinding ovarium, dilengkapi
oleh aroma daging buah yang kekuningan atau yang banyak mengandung air yang dapat
dimakan; rasanya kuat, biji hitam dan bergigi tiga pada dasarnya (8).
Ekologi dan Penyebaran
Terna merambat ini berasal dari selatan dan tumbuh di tepi hutan hujan dan di Asia Tenggara
tumbuh di daerah dengan curah hujan tahunan 2000-3000 mm. Di Indonesia Passiflora edulis
Sims ini tidak banyak dibudidayakan, tetapi banyak ditemukan di Jawa Barat pada ketinggian
antara 1300-1700 m diatas permukaan laut di banyak tempat dan tumbuh liar dalam jumlah
besar.
Di dalam jurang-jurang gunung Cikuray, Papandayan, dan Malabar permukaan tanah yang luas
telah dirimbuni dengan batang-batangnya yang tumbuh saling merapat. Penduduk
menganggapnya sebagai tumbuhan hutan dan berpuas hati dengan buah yang didapat mereka
kumpulkan di hutan itu. Passiflora ini tumbuh paling baik di Jawa Barat pada 400 kali dan lebih.
Perkembangbiakan dengan biji atau stek dan tumbuh cepat. Tumbuhan ini berbunga beberapa
kali dalam setahun dan selalu berbuah, yang terbanyak pada bulan Desember, Januari dan Juni
(7).
Khasiat dan Penggunaan
Sampai saat ini yang biasa dimanfaatkan dari Passiflora edulis ini adalah buahnya yang bisa
dimakan dalam keadaan segar atau diambil daging buahnya yang bisa dimakan dalam keadaan
segar atau diambil daging buahnya dan diawetkan dengan pemanasan atau pendinginan. Jus buah
ini memiliki rasa yang unik, kuat dan asam. Jenis produk yang bisa diperoleh antara lain es krim,
serat, nektar, jus, konsentrat, perasan, selai dan jelly (8).
Di Indonesia Passiflora edulis Sims hanya dimanfaatkan buahnya. Di Brazil selain sebagai
makanan juga dimanfaatkan sebagai sedatif. Sedangkan di Peru digunakan sebagai makanan dan
untuk infeksi saluran kencing (2).
Kandungan Kimia
Passaiflora edulis Sims, mengandung flavonoid, alkaloid, niacin, riboflavin, tiamin, asam
askorbat, ? - karoten, asam sitrat, asam malat, etil butilat, etil kaproat, n-heksil butirat, n-heksil
haproat, kalsium, besi, fosfor, kalium, natrium, pekilin-metil estrase fenolase (2).
Tinjauan Kimia
Flavonoid
Flavonoid merupakan salah satu golongan fenol alam terbesar yang terdapat dalam semua
tumbuhan berpembuluh. Semua flavonoid, menurut strukturnya merupakan turunan senyawa
induk flavon yang mempunyai sejumlah sifat yang sama. Dalam tumbuhan, aglikon flavonoid
terdapat dalam berbagai bentuk struktur. Semuanya mengandung atom karbon dalam inti
dasarnya yang tersusun dalam konfigurasi C6-C3-C6, yaitu dua cincin aromatik yang
dihubungkan oleh satuan tiga karbon yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin ketiga.
Semua varian flavonoid saling berkaitan karena alur biosintesis yang sama, yang memasukkan
pra zat dari alur sikimat dan alur asetat-malonat. Flavonoid dalam tumbuhan umumnya terikat
sebagai glikosida, baik O-glikosida maupun C-glikosida (9, 10).
Flavonoid yang dilaporkan terdapat pada Passifora edulis Sims, adalah 6-C-C6-deo lingkik
spiranosil J-3, 4, 5, 7-tetra hidroksiflavon atau disebut juga 6-c-husnovosiluteolin dengan
struktur sebagai berikut:
gbr1 Gambar 1.1. Struktur kuinovosilukolin (2)
Steroid dan Triterpenoid
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprena dan
secara biosintesis dirumuskan dari hidrokarbon C30 asiklin, yaitu skualena. Senyawa ini
berstruktur siklin dan nisbi rumit, kebanyakan berupa alcohol, aldehida atau asam karbohidrat.
Senyawa ini tidak berwarna, berbentuk kristal, sering bertitik leleh tinggi dan aktif optik pada
umumnya sukar dicirikan karena tak ada kereaktifan kimianya. Uji yang banyak digunakan
adalah reaksi Lieberman-Burchard yang dengan kebanyakan triterpena dan sterol memberikan
warna hijau-biru. Triterpena dapat dipilih menjadi sekurang-kurangnya empat golongan
senyawa: triterpena sebenarnya, steroid, saiconon dan glikosida jantung. Kedua golongan
terakhir sebenarnya triterpena atau seteroid yang terdapat sebagai glikosida (10).
Passiflora edulis Sims dilaporkan mengandung triterpenoid yang disebut passiflorin atau asam
passiflorat dengan struktur sebagai berikut:
Gambar 1.2: Struktur asam passiflorat (2)
Alkaloid
Tidak ada istilah alkaloid yang memuaskan, tetapi umumnya alkaloid ini mencakup senyawa
bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan sebagai
bagian dari sistem siklik. Alkaloid sering kali beracun bagi manusia dengan bahaya yang
mempunyai aktivitas fisiologi yang menonjol sehingga digunakan secara luas dalam pengobatan.
Alkaloid biasanya tak berwarna, seringkali bersifat aktif optik kebanyakan berbentuk kristal pada
suhu kamar. Prazat alkaloid yang paling umum adalah asam amino, meskipun sebenarnya
biosintesis kebanyakan asam amino lebih rumit. Secara kimia alkaloid merupakan suatu
golongan heterogen. Banyak alkaloid bersifat terpenoid dan beberapa diantaranya dari segi
biosintesis merupakan terpenoid termodifikasi alkaloid lain terutama berupa senyawa atomatik
dengan gugus basa sebagai rantai samping (10).
Passiflora edulis Sims dilaporkan ini dengan alkaloid hormon yang memiliki struktur sebagai
berikut:
Gambar 13: Struktur harmin (11)
Metode Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses penarikan komponen/zat aktif suatu simplisia dengan menggunakan
pelarut tertentu. Pemikiran metode ekstraksi senyawa bukan atom dipergunakan oleh beberapa
faktor, yaitu sifat jaringan tanaman, sifat kandungan zat aktif serta kelarutan dalam pelarut yang
digunakan. Prinsip ekstraksi adalah melarutkan senyawa polar dalam pelarut polar dan senyawa
non polar dalam senyawa non polar. Secara umum ekstraksi dilakukan secara berturut-turut
mulai dengan pelarut non polar (n-heksan) lalu pelarut yang kepolarannya menengah (diklor
metan atau etilasetat) kemudian pelarut yang bersifat polar (metanol atau etanol) (10).
Ekstraksi digolongkan ke dalam dua bagian besar berdasarkan bentuk fase yang diekstraksi yaitu
ekstraksi cair-cair dan ekstraksi cair padat, ekstraksi cair padat terdiri dari beberapa cara yaitu
maserasi, perkolasi dan ekstraksi sinambung.
Ekstraksi Sinambung
Ekstrasksi sinambung dilakukan dengan menggunakan alat Soxhlet. Pelarut penyair yang
ditempatkan di dalam labu akan menguap ketika dipanaskan, melewati pipa samping alat Soxhlet
dan mengalami pendinginan saat melewati kondensor. Pelarut yang telah berkondensasi tersebut
akan jatuh pada bagian dalam alat Soxhlet yang bersimplisia dibungkus kertas saring dan
menyisiknya hingga mencapai bagian atas tabung sifon. Seharusnya seluruh bagian linarut
tersebut akan tertarik dan ditampung pada labu tempat pelarut awal. Proses ini berlangsung terus
menerus sampai diperloleh hasil ekstraksi yang dikehendaki.
Keuntungan ekstraksi sinambung adalah pelarut yang digunakan lebih sedikit dan pelarut murni
sehingga dapat menyaring senyawa dalam simplisia lebih banyak dalam waktu lebih singkat
dibandingkan dengan maserasi atau perkolasi. Kerugian cara ini adalah tidak dapat digunakan
untuk senyawa-senyawa termolabil (10).
Ekstraksi Cair-cair
Ekstraksi cair-cair juga diperlukan untuk mengekstraksi senyawa glikosida untuk umumnya
polar (aglikon yang berikatan dengan gula monosakarida dan disakarida). Ekstraksi cair-cair
untuk glikosida biasanya dilakukan terhadap ekstrak etanol atau metanol awal. Ekstrak awal ini
dilarutkan dalam air kemudian diekstraksi dengan etilasetat dan n-butanol. Glikosida terdapat
dalam fase etilasetat atau n-butanol.
Selain itu ekstraksi cair-cair dilakukan terhadap reaksi awal untuk menghilangkan lemak dan
ekstrak tersebut jika bagian tumbuhan yang diekstraksi belum dihilangkan lemaknya pada
ekstrak awal.
Metode Pemisahan
Prinsip dari pemisahan adalah adanya perbedaan sifat fisik dan kimia dari senyawa yaitu
kecendrungan dari molekul untuk melarut dalam cairan (kelarutan), kecenderungan molekul
untuk menguap (keatsirian), kecenderungan molekul untuk melekat pada permukaan serbuk
labus (adsorpsi, penserapan).
Salah satu cara pemisahan adalah kromatografi cair vakum, kromatografi cair vakum adalah
kromatografi kolom yang dipercepat dan bekerja pada kondisi vakum. Alat yang digunakan
terdiri dari corong G-3, sumbat karet, pengisap yang dihubungkan dengan pompa vakum serta
wadah penampung fraksi. Corong G-3 diisi adsorben sampai setinggi 2,5 cm, kemudian diketukketuk dengan batang pengaduk bersalut dilarutkan dalam pelarut organik yang cocok, kemudian
ke dalam larutan ekstrak tersebut ditambahkan adsorben dengan bobot sama dengan bobot
ekstrak. Campuran ini digenis sampai homogen, dikeringkan dan dimasukkan ke dalam corong
G-3 kemudian diratakan. Permukaan lapisan adsorben ditutup dengan kertas saring. Elusi diawali
dengan pelarut non polar dilarutkan dengan kombinasi pelarut dengan polaritas meningkat.
Jumlah pelarut yang digunakan setiap kali elusi adalah sebagai berikut: untuk bobot ekstrak
sampai lima gram diperlukan 25 ml pelarut, untuk 10-30 g ekstrak diperlukan 50 ml pelarut.
Dalam hal ini diameter corong dipilih sedemikian rupa sehingga lapisan ekstrak dipermukaan
kolom setipis mungkin dan rata. Masing-masing pelarut dituangkan ke permukaan kolom
kemudian dihisapkan pompa vakum. Masing-masing ekstrak ditampung dalam wadah terpisah
sehingga menghasilkan sejumlah fraksi (13).
Cara lain yang dapat dipakai untuk pemisahan adalah ekstraksi cair-cair, kromatografi kolom,
kromatografi lapis tipis dan kromatografi kertas.
Metode Isolasi dan Pemurnian
Isolasi dan pemurnian dapat dilakukan dengan kromatografi lapis tipis atau kromatografi kertas
preparatif dengan pengembangan yang dapat memisahkan komponen paling baik.
Kromatografi Lapis Tipis Preparatif
Kromatografi lapis tipis adalah metode pemisahan fitokimia. Lapisan yang memisahkan terdiri
atas bahan berbutir-butir (fase diam), ditempatkan pada penyangga berupa pelat gelas, logam,
atau lapisan yang cocok. Campuran yang akan dipisah, berupa larutan, ditotolkan berupa bercak
atau pita (awal), kemudian pelat dimasukkan di dalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan
pengembang yang cocok (fase gerak). Pemisahan terjadi selama perambatan kapiler
(pengembangan) dan selanjutnya senyawa yang tidak berwarna harus ditampakkan (14).
Keuntungan kromatografi lapis tipis adalah dapat memisahkan senyawa yang sangat berbeda
seperti senyawa organik alam dan senyawa organik sintesis, kompleks organik dan anorganik
serta ion anorganik dalam waktu singkat menggunakan alat yang tidak terlalu mahal. Metode ini
kepekaannya cukup tinggi dengan jumlah cuplikan beberapa mikrogram. Kelebihan metode ini
jika dibandingkan dengan kromatografi kertas adalah dapat digunakan pereaksi asam sulfat pekat
yang bersifat korosif, kelemahannya adalah harga Rf yang tidak tetap (10, 15).
Kromatografi Kertas Preparatif
Kromatografi kertas dapat digunakan terutama untuk kandungan tumbuhan yang mudah larut
dalam air, satu keuntungan utama kromatografi kertas ialah kemudahan dan kesederhanaannya
pada pelaksanaan pemisahan, yaitu hanya pada lembaran kertas saring yang berlaku sebagai
medium pemisahan dan penyangga. Untuk kromatografi kertas preparatif diperlukan kertas yang
lebih besar dari pada untuk analisis. Keuntungan yaitu beban langan bilangan Rf yang besar
sehingga pengukuran Rf merupakan parameter yang berharga dalam memaparkan senyawa
tumbuhan baru, kromatografi kertas biasanya melibatkan kromatografi pembagian asam
penyerapan (10).
Metode Karakterisasi Isolat
Isolat murni yang diperoleh ditentukan dahulu golongannya dengan cara kromatografi lapis tipis
atau kromatografi kertas dan kemudian diklasifikasi menggunakan pereaksi penampak bercak
yang sesuai. Selanjutnya isolat dikarakterisasi secara spektrofotometri ulatraviolet dan
spektofotometri infa merah untuk flavonoid dipakai pereaksi geser.
Spektrofotometri Ultraviolet
Spektrofotometri ultraviolet adalah pengukuran absorpsi radiasi elektromagnetik suatu senyawa
di daerah ultraviolet (200-350 nm). Gugusan atom mengabsorpsi sinar ultraviolet adalah gugus
kromofor yang mempunyai ikatan kovalen tak jenuh. Absorpsi radiasi dipengaruhi oleh organ
gugus fungsi lain dalam molekul gugus tersebut adalah gugus auksokrom. Bila gugus auksokrom
diikat oleh gugus kromofor maka intensitas absorpsi radiasi akan meningkat.
Alat spektrofotometri ultraviolet terdiri atas sumber radiasi, monokromotor, wadah sampel,
detektor dan rekorder. Sumber radiasi untuk pengukuran di daerah ultraviolet adalah lampu
deuterium. Monokromotor berpungsi untuk memperoleh radiasi monokromatis dari sumber
radiasi polikromatis. Sampel yang akan dianalisis ditempatkan dalam suatu selatan kuvet
berbentuk kotak persegi panjang atau silinder kemudian kuvet ini ditempatkan dalam wadah
sampel yang terdapat pada alat spektrofotometer. Detektor berfungsi sebagai petunjuk adanya
radiasi yang ditransmisikan oleh sampel dan mengukur intensitas radiasi tersebut. Rekorder
dapat menggambarkan secara otomatis kurva serapan pada kertas rekorder.
Pelarut yang biasa digunakan dalam spektrofotometer ultraviolet adalah etanol 95% karena
kebanyakan senyawa larut dalam pelarut ini. Pelarut lain yang dapat dipakai adalah air, metanol,
n-heksan, eter minyak bumi dan eter (10).
Spektroskopi serapan ultraviolet dan serapan tampak merupakan cara yang paling berguna untuk
menganalisis flavonoid. Cara ini digunakan untuk membantu mengidentifikasi jenis flavonoid
dan memecahkan pola oksigenasi. Disamping itu, kedudukan gugus hidroksil fenol bebas pada
inti flavonoid dapat ditentukan dengan menambahkan pereaksi geser ke dalam larutan cuplikan
dan diamati pergeseran puncak serapan yang terjadi sehingga secara tidak langsung cara ini
berguna untuk memecahkan kedudukan gula atau metil yang berikat pada salah satu gugus
hidroksi fenol. Spektrum flavonoid biasanya ditentukan dalam pelarut metanol atau etanol,
meskipun perlu diingat bahwa spektrum yang dihasilkan dalam etanol kurang memuaskan (9).
Spektrofotometri Infra merah
Rahasia alam banyak mengandung molekul organik yang menunjukkan absorpsi infra merah.
Spektrofotometri infra merah sangat sesuai untuk identifikasi gugus fungsi dalam molekul.
Dalam hal pengkonformasian struktur suatu zat, spektrum infra merah sering digunakan yaitu
dengan membersihkan spektrum zat yang dianalisis dengan spektrum zat pembanding.
Spektrum infra merah senyawa tumbuhan dapat diukur dengan spektrofotometer infra merah
yang terekam secara otomatis dalam bentuk larutan, bentuk gerusan dalam minyak nujol atau
dalam bentuk padatan dicampur dengan kalium bromida.
Banyak gugus fungsi dapat diidentifikasikan dengan menggunakan frekuensi getaran yang
terlihat mengakibatkan spektrofotometri infra merah merupakan cara paling sederhana dan
diandalkan untuk menentukan golongan senyawa (10).
Pemeriksaan Mikroskopik
Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap serbuk kering dan sayatan melintang herba seger
dengan menggunakan mikroskop. Pelarut yang digunakan adalah air dan kloralhidrat.
Penetapan Kadar Abu Total
Dua sampai tiga gram serbuk yang telah digerus ditimbang dan dimasukkan ke dalam krus
platina atau silikat yang telah dipijar dan ditata, kemudian diratakan. Harus dipisahkan perlahanlahan sampai orang habis, pemisahan dilakuan pada suhu 450o C kemudian didinginkan dan
ditimbang. Kadar abu dihitung terhadap simplisia yang telah dikeringkan di udara.
Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam
Abu yang diperoleh dari penetapan kadar abu total dididihkan dalam 25 mL air selama lima
menit, bagian yang tidak larut asam disaring dengan penyaring kaca masir atau kertas saring
bebas abu lalu dicuci dengan air panas dan dipijar hingga bobot tetap dalam arus yang telah
dipijar dan ditata. Kadar abu tidak larut asam dihitung dalam b/b persen terhadap bahan yang
telah dikeringkan.
Penetapan Kadar Abu Larut Air
Abu yang diperoleh dari penetapan kadar abu total dididihkan dalam 25 mL air selama lima
menit. Bagian yang tidak larut disaring melalui kertas saring bebas abu, dicuci dengan air panas.
Residu dan kertas saring bebas abu dipijarkan sampai bobot tetap. Kadar sesuai dengan jumlah
abu yang larut dalam air dihitung dalam persen b/b terhadap bahan kering.
Penetapan Kadar Sari Larut Air
Serbuk dikeringkan di udara kemudian dimaserasi selama 24 jam dengan 100 mL air kloroform
menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama enam jam pertama kemudian
dibiarkan selama 18 jam. Kemudian saring, filtrat sejumlah 20 ml diuapkan sampai kering dalam
cawan dangkal berdasar rata yang telah ditata, residu dipanaskan pada suhu 105oC sampai bobot
tetap. Kadar sari larut air dihitung dalam persen sari yang larut dalam air terhadap bahan yang
telah dikeringkan di udara.
Penetapan Kadar Sari Larut Etanol
Cara sama dengan penetapan kadar air larut air tetapi digunakan pelarut etanol 95%.
Penetapan Kadar Air
Penetapan kadar air dilakukan dengan cara penyulingan menurut prosedur yang
direkomendasikan oleh "World Health Organization" (WHO), ke dalam labu yang tidak dicuci
dengan air dan telah dikeringkan, tuangkan 200 mL toluen dan dua ml air. Kemudian disuling
selama dua jam, setelah itu dibiarkan dingin selama 30 menit dan volume air dibaca dengan
ketatapan 0,05 mL. Sejumlah 25 gram serbuk dimasukkan ke dalam labu lalu dipanaskan secara
perlahan-lahan selama 15 menit. Setelah toluen mulai mendidih, kecepatan penyulingan mulai
diatur lebih kurang dua tetes tiap detik, sehingga sebagian besar air tersuling.
Kemudian kecepatan penyulingan dinaikkan hingga empat tetes tiap detik. Setelah semua air
tersuling, bagian dalam pendingin dicuci dengan toluen penyulingan dilarutkan selama lima
menit. Tabung penerima dibiarkan mendingin sampai suhu kamar dan diusahakan tidak ada air
yang melekat pada tabung penerima. Setelah air dan toluen memisah sempurna, volume air
dibaca kadar air dihitung dalam persen (%).n1 = volume air hasil penyulingan pertama (mL); n =
volume air hasil penyulingan kedua (mL) (17).
Penetapan Susut Pengeringan
Susut pengeringan adalah kadar bagian suatu zat yang menguap. Penetapannya adalah sebagai
berikut: sebanyak satu sampai dua gram bahan ditimbang dalam krus porselen bertutup yang
sebelumnya telah dipanaskan pada suhu 105oC selama 30 menit dan tidak ditata. Bahan dalam
harus diratakan hingga merupakan bagian setebal 5-10 mm, kemudian dimasukkan ke dalam
lemari pengering, tutup dibuka, dikeringkan berserta tutup harus pada suhu 105oC hingga bobot
tetap. Krus harus segera ditutup jika lemari pengering dibuka, krus dimasukan ke dalam
eksikator dan dibiarkan menjadi dingin sama dengan temperatur kamar.
Pemeriksaan Kualitatif Beberapa Unsur Anorganik
Pemeriksaan ini dilakukan terhadap ekstrak serbuk simplisia dalam air babas mineral dengan
spektrometer serapan atom. Unsur-unsur kimia yang ditentukan adalah kinin, natrium, kalsium,
magnesium, besi, tembaga dan seng.
Penapisan Fitokimia
Penapisan fitokimia meliputi pemeriksaan terhadap adanya alkaloid, flavonoid, saponin, tanin,
kuinon, steroid dan triterpenoid.
Alkaloid
Sebanyak dua gram serbuk bahan dilembabkan dalam amnonia 25%, lalu digerus dalam mortir.
Kemudian ditambah 20 mL kloroform dan digerus kuat-kuat. Campuran disaring dan difiltrat
digunakan untuk percobaan (larutan A). Larutan A diteteskan pada kertas saring dan kemudian
diberi pereaksi drageadorff. Warna jingga yang timbul pada kertas saring menunjukkan alkaloid
positif.
Larutan A diekstraksi dua kali dengan asam klorida 10% untuk larutan (larutan B). Masingmasing 5 mL larutan B dalam tabung reaksi diuji dengan pereaksi Mayer positif bila endapan
putih yang terbentuk bertahan selama 15 menit. Dan positif pada uji dengan pereaksi dragendorff
bila terbentuk endapan merah bata yang bertahan selama 15 menit.
Flavonoid
Sebanyak satu gram bahan ditambah 100 mL air panas, didihkan selama 15 menit, kemudian
disaring. Filtrat (larutan C) juga digunakan untuk percobaan saponin, tanin dan kuinon. Larutan
C sebanyak lima ml ditambah serbuk magnesium, dua ml alkohol, asam klorida (1:1) dan amil
alkohol, dikocok kuat-kuat dan kemudian dibiarkan memisah.
Saponin
Sebanyak 10 mL larutan C dalam tabung reaksi dikocok vertikal selama 10 detik, kemudian
didihkan selama 10 menit.
Tanin
Sebanyak masing-masing lima ml larutan C dimasukkan ke dalam dua tabung reaksi. Tabung
pertama ditambah dengan larutan besi (14) klorida 1% akan menunjukkan warna hijau violet bila
bahan mengandung tanin. Tabung kedua ditambah dengan larutan glatin akan menunjukkan
warna hijau violet bila bahan mengandung tanin. Untuk membedakan tanin kahekat dan tanin
galat, larutan C ditambah dengan pereaksi Steasny L formaldehid 3%-asam klorida (2:1) dan
dipanaskan dalam panas air 90oC. Terbentuknya filtrat dipisahkan dan dijenuhkan dengan
natrium asetat. Pada penambahan larutan besi (III) klorida 1% akan terbentuk warna biru tinta
atau hitam menunjukkan adanya tanin galat.
Kuinon
Ke dalam lima ml larutan C ditambahkan beberapa bekas larutan natrium hidroksida IN.
Sterol/Terpenoid
Sebanyak satu gram serbuk bahan dimaserasi dengan 20 ml eter selama dua jam kemudian
disaring. Filtrat sebanyak lima ml diuapkan dalam cawan penguap. Ke dalam residu ditambahkan
dua tetes asam asetat anhidrat, kemudian ditambahkan satu tetes asam sulfat pekat.
Ekstraksi dan Pemeriksaan Ekstrak
Ekstraksi dilakukan untuk menarik komponen kimia dalam simplisia. Metode ekstraksi yang
digunakan adalah ekstraksi sinambung dengan alat soxhlet berturut-turut menggunakan pelarut
n-heksan, etil asetat dan etanol.
Ekstrak n-heksan selanjutnya diperiksa dengan kromatografi lapis tipis dengan pengembang nheksan; etil asetat (8:2) dan penampak bercak asam sulfat 10% dalam metanol.
Ekstrak n-heksan, etil asetat dan etanol juga diperiksa kandungan flavonoidnya dengan
kromatografi kertas dua dimensi, dengan pengembang pertama t-butanol; asam asetat; air (3:1:1)
dan pengembang kedua asam asetat 15% dengan penampak bercah uap amonia dan alumunium
(III) klorida 5% dalam etanol UV366. Ekstrak n-heksan menunjukkan hasil negatif, sedangkan
ekstrak etil asetat memberikan enam bercak dengan fluonensi biru muda, kuning terang, hijau
muda dan kuning kehijauan. Ekstrak etanol memberikan dua becak berfluoresensi biru dan
kuning kehijauan.
Fraksinasi dan Pemeriksaan Fraksi
Ekstrak n-heksan
Fraksinasi ekstrak n-heksan dilakukan dengan kromatografi cair vakum dengan pelarut berturutturut dari non polar sampai polar yang diperoleh dari campuran n-heksan - etol asetat dalam
berbagai perbandingan. Hasil dipantau dengan kromatografi lapis tipis silika gel GF254.
Pengembang n-heksan, etil asetat (8:2) dan diamati di bawah sinar ultraviolet. Kemudian
penampak bercak asam sulfat 10% dalam metanol dan digosongkan. Pola kromatografi yang
diperoleh menunjukkan adanya bercak kuning yang terpisah cukup baik dari fraksi n-heksan; etil
asetat (9:1) (8:2) dan (7:3) yang berwarna biru ungu setelah disemprot.
Ekstrak Etil Asetat
Ekstrak etil asetat difraksinasi dengan metode Charanx-Paris sehingga diperoleh fraksi eter (F1),
fraksi etil asetat (F2), fraksin-butanol (F3) dan fraksi air (F4). Tiap-tiap fraksi diperiksa dengan
kromatografi kertas, pengembang n-butanol: asam asetat: air (4:1:5) dan asam asetat 5% dengan
penampak bercak uap amoniak dan alumunium (III) klorida 5% dalam etanol dibawah UV366.
Isolasi, Pemurnian dan Karakterisasi Isolat
Senyawa dari Ekstrak n-heksan
Fraksi n-heksan: etil asetat (9:1) memberikan jumlah bercak sedikit sehingga dipilih untuk
dipisahkan lebih lanjut. Pemisahan dilakukan dengan kromatografi lapis tipis preparatif,
pengembang n-heksan: etil asetat (19:1) dan diperoleh enam pita. Dari keenam pita ini, ternyata
pita berwarna kuning yang memberikan warna biru ungu dengan asam sulfat 10% yang
diharapkan telah murni harus dipreparatif lagi karena pada saat diperiksa dengan UV254 terlihat
pemadaman diatas dan dibawah pita tersebut. Pita kuning ini kemudian dipreparatif lagi dengan
pengembang n-heksan: etil asetat (7:3) hasilnya dikromatografi lapis tipis dua dimensi dengan
pengembang pertama n-heksan: etil asetat (7:3) dan pengembang kedua n-heksan dihasilkan satu
becak berwarna kuning yang menjadi biru ungu dengan asam sulfat 10%.
Ko-kromatografi dengan pembanding ?-karoten memberikan Rf yang hampir sama. Isolat A ini
kemudian diukur dengan spektrofotometer ultraviolet dan diperoleh data dengan dua puncak
pada 448 dan 472 nm dalam pelarut n-heksan. Spektrum infra merah isolat ini menunjukkan
kemiripan dengan ?-karoten pustaka (19).
Senyawa dari Ekstrak Etilasetat
Fraksi F2 yang memunculkan frekuensi paling kuat dipreparatif dengan kertas whatman 3 dan
pengembang asam asetat 15%. Kelima isolat hasil preparatif kemudian diperiksa dengan
kromatografi kertas dua dimensi dengan pengembang pertama n-butanol: asam asetat: air (4:1:5),
pengembang kedua asam asetat 15%. Isolat B, B2 dan B4, menunjukkan bercak tunggal,
sedangkan isolat B3 dan B5, menunjukkan dua bercak isolat B2 yang berfrekuensi kuning terang
dan isolat B4 yang berfrekuensi kuning muda dipilih untuk dikarakterisasi lebih lanjut dengan
spektrofotometri ultraviolet.
Hasil spektrofotometri ultraviolet isolat B2 dalam metanol memberikan dua puncak utama pada
panjang gelombang 269 dan sekitar 320-340 nm. Penambahan natrium hidroksida 2 M
memberikan pergeseran pita sekitar 53-73 nm dan pembentukan pita pada panjang gelombang
328 nm, dan tidak ada perubahan setelah lima menit. Penambahan alumunium (III) klorida dan
asam klorida hanya menurunkan intensitas, sedangkan penambahan natrium asetat dan asam
borat hanya sedikit menaikkan intensitas.
Isolat B4 dengan spektrofotometer ultraviolet menghasilkan dua puncak utama pada 267 dan 340
nm. Penambahan natrium hidroksida 2 M menunjukkan pergeseran 6 nm pada pita n dan 55 nm
pada pita 1. Sedangkan penambahan alumunium (III) klorida dan asam klorida serta natrium
asetat dan asam borat tidak memungkinkan pergeseran berarti.
Analisis glikosida terhadap isolat B2 dan B4 dilakukan dengan cara hidrolisis asam, yaitu dengan
melarutkan isolat dalam 5 ml asam klorida 2 N: metanol (1:1) dan dipanaskan pada pemanas air
selama 60 menit kemudian diuapkan sampai kering. Sisa dilarutkan sempurna dalam sesedikit
mungkin pelarut metanol : air (1:1) dan dikromatografi dan kertas whatman 1.
Pengembang asetat 15%, penampak bercak alumunium (III) klorida disamping bahan awal untuk
mencegah terjadinya hidrolisis (9) diperoleh data bahwa isolat B2 mengalami hidrolisis
dilanjutkan dengan Rf yang lebih kecil daripada sebelum hidrolisis. Bercak yang berfluoresensi
kuning terang sebelum hidrolisis menjadi samar setelah hidrolisis. Sedangkan isolat B4 tidak
mengalami perubahan. Isi hidrolisis kedua isolat kemudian dikromatografi dengan pengembang
Isolat B2M menghasilkan becak kuning redup dan isolat B4 hanya bercak coklat redup.
Untuk analisis lebih hemat, gula dan aglikan dipisahkan dengan cara menguapkan larutan etanol:
air sampai volumenya tinggal sedikit dan dilakukan ekstraksi beberapa kali dengan etil asetat
(dengan cara mengocok kuat-kuat dalam tabung reaksi) aglikon berada dalam fraksi etil asetat
dan gula dalam fraksi air. Gula dalam fraksi air ini ditentukan jenisnya dengan kromatografi
kertas dengan pengembang n-butanol: asam asetat: air (4:1:5) dan penampak bercak ? naftol,
gula pembanding glukosa, galaktosa, ramnosa, xilosa dan arabinosa (9). Diperoleh data bahwa
jenis gula pada isolat B2 adalah ramnosa dengan gula isolat B4 tidak dapat dipecahkan. Masingmasing isolat juga diperiksa dengan pereaksi Molisch, isolat B2 dan B4 memberikan cincin
merahnya pada perbatasan air dan asam sulfat tetapi pada violet B4 agak tipis.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kasahara, S. and S. Hemmi, "Medicinal Herb Index in Indonesia", PT. Eisai Indonesia,
Jakarta, 1995, 48.
2. Lutomshi, J., et al, "Pharmacochemical Investigation on Raw Materials of Passiflora Edulis
Forma Flavicarpa" , Planta Med., 27 (3), 1975,222,-225.
3. Bruneton, J., "Pharmacognosy Phtochemistry Medical Plants" , Technique & Documentation-
Lavoister.
4. Duke, J.A., "Handbook of Medicinal Herb" , CRC Press Inc., Boca Raton, 1985, 347, 362.
5. Wichtl, M., "Herbal Drugs and Phytopharmaceutical" , Medpharm Sientific Publ., Stuttgart,
1994, 363-365.
6. Basuki, U.A., "Sistemik Tumbuhan Tinggi", Pusat Antar Universitas, Bidang Ilmu Hayati,
ITB, Bandung, 1991, 89 dan 266-268.
7. Heyne, K., "Tumbuhan Berguna Indonesia" , Jil. II, terjemahan Badan Litbang Kehutanan
Jakarta, Yayasan Santana Warna Jaya, Jakarta, 1987, 1456-1459.
8. Verheij, E.W.M and R.E. Coronel (Eds.), "Plant Resources of South East Asia, Edible Fruits
and Nuts" , Prosea Foundation, Bogor, 1991/1992, 244-248.
9. Markham. K.R., "Cara Mengindentifikasi Flavonoid" , terjemahan K. Radmawinata,
Penerbit ITB, Bandung, 1988, 1-117.
10. Harborne. I.B., "Metode Fitokimia" , terjemahan K. Radmawinata dan I. Soediso, penerbit
ITB, Bandung, 1987, 69-94, 142-158, 234-238. 11. Buckingham. J., et al (eds), "Dictionary of
Natural Product", Chapman and Hall, London, 1994, 1352, 3863, 4453.
12. Bombardelli. E., et al., "Passiflorine a new Glycoside from Passiflora Edulis" ,
Phytochemistry 14, 1975, 2661-2665.
13. Soediro. I., dkk., "Kromatograf i Cepat Sebagai Cara Fraksinasi Ekstrak Tanaman", Acta
Pharmaceutica Indonesia, XI (1), 1986, 28-30.
14. Stahl, E., "Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopik", terjemahan K.
Radmawinata dan I. Soediso, penerbit ITB, Bandung, 1985, 3-18.
15. Gritten, R.J., J.M. Bobbit, and A.E. Schwarling, "Pengantar Kromatografi" , terjemahan
K. Radmawinata dan I. Soediso, penerbit ITB, Bandung, 1991, 5-9.
16. Ditjen POM, Depkes RI, "Cara Pembuatan Simplisia" , Depkes RI, Jakarta, 1985, 26.
17. Ditjen POM Depkes RI, "Materia Medica Indonesia", Jil.V, Depkes RI, Jakarta, 1989, 51541.
18. Farnsworth. N.R., "Biological and Phytochemical Screaning of Plants" , J. Pharm, SCI., 55
(3), 1996, 243-65.
19. Pouchert, C.J., "The Aldrich Library of Infrated Spectra" , 2nd ed., Aldrich Chemical co.
Inc., Milwaukee, 1978, 37.
20. Fleming, I. and H.D. William, "Spectoscope Methods in Organic Chemistry" , Mc Graw Hill
Book, London, 1989, 29-36.
21. Mabry, T.J., K.R. Marhham and M.B. Thomas, "The Systematic Identification of Flavonoid"
, Springer-Verlog Inc., New York, 1970, 43-45, 55, 71, 98, 99.
22. Depkes RI, "Farmakope Indonesia" , ed 3, Depkes RI, Jakarta, 1976, 807, 817, 840.
KARYA ILMIAH
ISOLASI SENYAWA ETIL PARA METOKSI SINAMAT (EPMS) DARI RIMPANG
KENCUR SEBAGAI BAHAN TABIR SURYA PADA INDUSTRI KOSMETIK
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Praktikum Kimia Fisika
yang dibina oleh Bapak Darsono Sigit
Oleh:
Nur Indah Firdausi
Off A / 107331407298
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
November 2009
I. Judul: Isolasi Senyawa Etil Para Metoksi Sinamat (EPMS) dari Rimpang Kencur sebagai
Bahan Tabir Surya pada Industri Kosmetik
II. Data/Fakta
Fakta yang ada berkaitan dengan senyawa etil para metoksi sinamat dalam rimpang
kencur antara lain:
1. Kandungan senyawa kimia dari rimpang kencur (menurut J.J. Afriastini, 1990) antara lain
minyak atsiri berupa sineol sebanyak 0.02%, asam metil kanil, pentadekana, ester etil
sinamat, asam sinamat, borneol, kamfena, paraeumarina, asam anisat, alkaloid, gom
mineral sebanyak 13.7% dan pati 4.14%. Kandungan minyak atsiri dalam rimpang kencur
yaitu 2-4% yang terdiri dari etil sinamat, etil p-metoksisinamat, p-metoksi stirena, npentadekana, borneol, kamfen, 3,7,7-trimetil bisiklo [4,1,0] hept-3-ena
2. Isolasi Etil p-metoksisinamat (EPMS) dapat dilakukan dengan berbagai pelarut karena
struktur senyawa EPMS terdiri dari gugus polar dan nonpolar sehingga agar lebih efektif
maka perlu dilakukan pemilihan pelarut untuk mengekstraknya. Pelarut yang digunakan
dalam karya ilmiah ini adalah heksana, etil asetat, alkohol dan aquades. Selain faktor
pelarut, suhu juga berpengaruh terhadap proses pelarutan karenanya dilakukan pula
optimasi suhu pada proses isolasi dengan pelarut yang telah terpilih.
III.
Masalah / Kesenjangan
1. Pelarut apa yang sesuai untuk proses ekstraksi dalam isolasi EPMS dari rimpang kencur
agar menghasilkan persen isolat tertinggi?
2. Pada suhu berapa proses isolasi EPMS dengan pelarut terpilih yang menghasilkan persen
isolat tertinggi?
IV. Solusi
A. Dasar Teori
Kencur (Kaempferia galanga) termasuk suku tumbuhan Zingiberaceae dan digolongkan
sebagai tanaman jenis empon-empon yang mempunyai daging buah paling lunak dan tidak
berserat. Kencur merupakan tanaman kecil yang tumbuh subur di daerah dataran rendah atau
pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Daging buah kencur berwarna
putih dan kulit luarnya berwarna coklat. Jumlah daun kencur tidak lebih dari 2-3 lembar dengan
susunan berhadapan. Tanaman ini banyak digunakan sebagai bahan baku obat tradisional (jamu),
fitofarmaka, industri kosmetika, penyedap makanan dan minuman, rempah, serta bahan
campuran saus rokok pada industri rokok kretek.
Rimpang kencur mempunyai aroma yang spesifik. Di dalam rimpang kencur terdapat
banyak zat yang dapat dimanfaatkan, salah satunya adalah kandungan minyak atsiri sebesar 24% yang terdiri dari etil sinamat, etil p-metoksisinamat, p-metoksi stirena, n-pentadekana,
borneol, kamfen, 3,7,7-trimetil bisiklo [4,1,0] hept-3-ena.
Etil p-metoksisinamat (EPMS) adalah salah satu senyawa hasil isolasi rimpang kencur
(Kaempferia Galanga) yang merupakan bahan dasar senyawa tabir surya yaitu pelindung kulit
dari sengatan sinar matahari. EPMS mengandung senyawa aktif yang ditambahkan pada lotion
kulit ataupun pada bedak setelah mengalami sedikit modifikasi yaitu perpanjangan rantai dimana
etil dari ester ini digantikan oleh oktil, etil heksil, atau heptil melalui transesterifikasi maupun
esterifikasi bertahap. Modifikasi yang dilakukan diharapkan mengurangi kepolaran EPMS
sehingga kelarutannya dalam air berkurang dan hal itu merupakan salah satu syarat senyawa
sebagai tabir surya. Selain untuk mengurangi tingkat bahaya terhadap kulit, EPMS (bila
terhidrolisa) akan melepaskan etanol yang bersifat karsinogenik terhadap kulit sedangkan hasil
modifikasinya akan melepaskan alkohol dengan rantai lebih panjang yang tidak berbahaya.
EPMS termasuk dalam golongan senyawa ester yang mengandung cincin benzena dan
gugus metoksi yang bersifat nonpolar dan juga gugus karbonil yang mengikat etil yang bersifat
sedikit polar sehingga dalam ekstraksinya dapat menggunakan pelarut-pelarut yang mempunyai
variasi kepolaran yaitu etanol, etil asetat, metanol, air, dan heksana.
Kelarutan suatu zat padat dan zat cair pada suatu pelarut akan meningkat seiring dengan
kenaikan suhu bila proses pelarutannya adalah endoterm, sedangkan untuk proses pelarutan yang
bersifat eksoterm pemanasan justru menurunkan harga kelarutan zat. Fenomena yang kedua ini
jarang dijumpai di alam yang umum adalah proses pelarutan yang bersifat endoterm yaitu
memerlukan kalor. Beberapa zat dalam larutan akan rusak atau terurai dam menguap dengan
pemanasan sehingga suhu ekstraksi harus diperhatikan agar senyawa yang diharapkan tidak
rusak.
Dalam ekstraksi suatu senyawa yang harus diperhatikan adalah kepolaran antara pelarut
dengan senyawa yang diekstrak, keduanya harus memiliki kepolaran yang sama atau mendekati
sama. EPMS adalah suatu ester yang mengandung cincin benzena dan gugus metoksi yang
bersifat non polar dan mengandung gugus karbonil yang mengikat etil yang bersifat agak polar
menyebabkan senyawa ini mampu larut dalam beberapa pelarut dengan kepolaran bervariasi,
dimana dalam eksperimen ini dicoba heksana, etil asetat, alkohol dan air dalam pencarian pelarut
yang tepat.
Selain pelarut, suhu juga ikut berpengaruh terhadap proses ekstraksi suatu bahan, dimana
hampir semua zat padat dan zat cair kelarutannya dalam pelarut akan meningkat dengan
kenaikan suhu. Beberapa senyawa akan rusak atau terurai dengan kenaikan suhu sehingga tidak
mungkin suhu dinaikkan terus selama proses ekstraksi karena itu perlu diketahui suhu optimum
untuk proses ekstraksi EPMS ini dengan pelarut yang sesuai yaitu pelarut yang diperoleh dari
optimasi pelarut sebelumnya.
Tabir surya adalah suatu senyawa yang digunakan untuk menyerap secara efektif sinar
matahari terutama daerah emisi gelombang UV sehingga dapat mencegah gangguan pada kulit
akibat pancaran secara langsung sinar UV tersebut (Kreps,1972). Secara alamiah kulit manusia
telah mempunyai sistem perlindungan terhadap sinar UV yaitu penebalan stratum corneum,
pembentukan melanin, dan juga pengeluaran keringat. Namun pada penyinaran yang berlebihan
sistem pertahanan alamiah ini tidak mencukupi lagi sehingga menyebabkan beberapa gangguan
pada kulit, karena itu diperlukanlah senyawa tabir surya untuk melindungi kulit dari radiasi UV
secara langsung.
Sinar matahari yang membahayakan kulit adalah radiasi ultraviolet dimana sinar ini
dibedakan menjadi tiga, yaitu sinar ultraviolet A (UV-A), UV-B dan UV-C yang ketiganya
mempunyai panjang gelombang dan efek radiasi yang berbeda. Sinar UV-A dengan panjang
gelombang 320-400 nm mempunyai efek penyinaran, dimana timbul pigmentasi yang
menyebabkan kulit berwarna coklat kemerahan. Sinar UV-B dengan panjang gelombang 290320nm memiliki efek penyinaran, dimana dapat mengakibatkan kanker kulit bila terlalu lama
terkena radiasi. Sedangkan Sinar UV-C dengan panjang gelombang 200-290nm yang tertahan
pada lapisan atmosfer paling atas dari bumi dan tidak sempat masuk ke bumi karena adanya
lapisan ozon, efek penyinarannya paling kuat karena energi radiasinya paling tinggi diantara
ketiganya yaitu dapat menyebabkan kanker kulit dengan penyinaran yang tidak lama (Hery,
1982).
Senyawa tabir surya ada dua macam yaitu senyawa yang melindungi secara fisik dan
senyawa yang menyerap secara kimia. Adapun senyawa yang melindungi secara fisik contohnya
adalah senyawa titanium oksida, petroleum merah, dan seng oksida, sedangkan senyawa yang
menyerap secara kimia contohnya adalah turunan asam p-aminobenzoat, turunan ester pmetoksisinamat, dan oksibenzena.
Ciri senyawa tabir surya yang menyerap secara kimia adalah mempunyai inti benzena
yang tersubstitusi pada posisi orto maupun para yang terkonjugasi dengan gugus karbonil.
Senyawa-senyawa demikian diantaranya adalah turunan asam para amino benzoat (PABA),
turunan salisilat, turunan antranilat, turunan benzofenon, turunan kamfer dan senyawa-senyawa
turunan sinamat. Senyawa turunan sinamat yang telah digunakan sebagai tabir surya antara lain
adalah oktil sinamat, etil4-isopropil sinamat, dietanolamin p-metoksisinamat, dan isoamil pmetoksisinamat. Selain itu sebagai senyawa tabir surya juga masih harus memenuhi persyaratan
yaitu senyawa tersebut tidak atau sukar larut dalam air. Beberapa turunan sinamat yang
memenuhi persyaratan ini diantaranya oktil p-metoksisinamat, isoamil p-metoksisinamat,
sikloheksil p-metoksisinamat, 2-etoksi etil p-metoksisinamat, dietanolamin p-metoksisinamat
dan turunan-turunan lain dari sinamat yang mempunyai rantai panjang dan sistem ikatan rangkap
terkonjugasi yang akan mengalami resonansi selama terkena pancaran sinar UV.
B. Prosedur
Cara yang digunakan untuk menentukan suhu yang dapat menghasilkan isolasi senyawa
etil p-metoksi sinamat ( EPMS ) yang optimal dari rimpang kencur antara lain maeserasi yang
diikuti dengan perkolasi. Setelah didapatkan perkolat selanjutnya dipekatkan dengan rotary
vacuum evaporator, selanjutnya dikristalkan dan direkristalisasi. Untuk lebih memperjelas
prosedur yang digunakan, cara di atas kami uraikan sebagai berikut.
Rimpang kencur dicuci dengan air hingga bersih, ditiriskan lalu diiris-iris tipis agar
mudah kering. Selanjutnya dikeringkan dengan sinar matahari tidak langsung, setelah kering
dihaluskan menjadi serbuk dan direndam dalam perkolator dengan pelarut selama 24 jam. Cairan
perkolat ditampung dalam erlenmeyer dan residu direndam lagi sampai beberapa kali hingga
diperoleh perkolat yang warnanya kuning pucat dengan total perkolat 5 liter tiap kg serbuk.
Perkolat selanjutnya dipekatkan dengan rotary vacuum evaporator hingga diperoleh larutan
pekat yang selanjutnya didinginkan dalam penangas es hingga terbentuk kristal. Kristal yang
didapat masih kotor dan dicuci dengan pelarut sedikit saja lalu direkristalisasi dengan metanol
hingga didapat kristal jarum yang tidak berwarna. Isolasi dengan proses ekstraksi di atas
dilakukan menggunakan beberapa pelarut yaitu etanol, etil asetat, air dan hexana untuk
mendapatkan pelarut paling sesuai yaitu pelarut yang mampu mengekstrak EPMS terbanyak
dalam berat bahan yang sama dan volume pelarut sama. Setelah diperoleh pelarut yang sesuai
selanjutnya dilakukan isolasi dengan ekstraksi menggunakan pelarut tersebut pada berbagai suhu
yaitu suhu kamar (30 oC), 50 oC, 70 oC, dan 90 oC. Untuk mempertahankan suhu digunakan
waterbath dan agar rendaman tidak kehilangan pelarut maka diusahakan tutup yang
memungkinkan pelarut yang menguap akan masuk dalam rendaman kembali.
Instrumen penelitian melipuli peralatan isolasi yaitu seperangkat alat perkolasi berupa
peralatan gelas, alat pemekat berupa Rotary Vacum Evaporator, peralatan gelas untuk kristalisasi
dan rekristalisasi, instrumen pengukur Titik leleh dan dilanjutkan dengan instrumen analisis yaitu
UV-Vis, GC-MS, IR dan NMR.
Data Instrumen senyawa hasil isolasi dibuat tabel dan dibandingkan dengan data
instrumen senyawa EPMS murni sebagai pembanding. Data pada optimasi jenis pelarut berupa
massa hasil isolasi yang diperoleh untuk tiap jenis pelarut dihitung persentasenya dengan rumus.
Hasil persentase tertinggi menunjukkan proses ekstraksi untuk senyawa EPMS paling sesuai
artinya pelarut tersebut mengekstrak EPMS paling sempurna karena mempunyai kepolaran yang
paling mendekati kepolaran EPMS itu sendiri. Hasil dari optimasi ini didapatkan pelarut
optimum dan selanjutnya digunakan untuk optimasi suhu.
Data pada optimasi suhu dengan menggunakan pelarut terpilih berupa massa hasil isolasi
juga dihitung persentasenya dengan rumus. Hasil persentase tertinggi menunjukkan bahwa pada
suhu tersebut senyawa EPMS terekstrak dengan sempurna, senyawa tidak terurai dan tidak rusak
pada suhu tersebut. Hasil dari optimasi ini diperoleh suhu optimum proses ekstraksi EPMS
dengan pelarut terpilih.
Untuk menafsirkan data instrumen EPMS senyawa hasil isolasi dibandingkan dengan
senyawa EPMS murni. Data titik leleh senyawa dikatakan identik bila range titik leleh keduanya
sama atau berbeda 0,5-1 oC. Data IR senyawa dikatakan identik bila serapan-serapan pada
wilayah panjang gelombang yang sama terhadap sinar infra merah. Data NMR suatu senyawa
dikatakan identik bila menghasilkan spektogram yang sama. Data MS suatu senyawa dikatakan
identik bila pola fragmentasi keduanya sama. Data UV-Vis senyawa dikatakan identik bila
keduanya mempunyai serapan pada wilayah panjang gelombang yang sama.
V. Daftar Pustaka
AfriastinI, JJ. 1990. Bertanam Kencur. Jakarta: PT. Penebar Swadaya.
Ahira, Anne. _____. Manfaat Kencur untuk Obat, (Online), (http:/www.AsianBrain.com,
diakses 7 November 2009).
Maghfiroh, Yuliatul. 2009. Kencur Kaya Manfaat, (Online), (http://www.google.com,
diakses 7 November 2009).
Rostiana, dkk. 2005. Budidaya Tanaman Kencur, (Online), (http://www.balittro.go.id,
diakses 7 November 2009).
Sumari. 2003. Petunjuk Praktikum Kimia Fisika. Malang: FMIPA Universitas Negeri
Malang.
Taufikurohmah, Titik. 2008. Pemilihan Pelarut dan Optimasi Suhu pada Isolasi Senyawa
Etil Para Metoksi Sinamat (EPMS) dari Rimpang Kencur sebagai Bahan Tabir
Surya pada Industri Kosmetik, (Online), (http://www.google.com, diakses 7
November 2009).
TEKNOLOGI KOSMETIK
PHARMDR. JOSHITA.D, MS, PHD
DRA JUHEINI, MSi
I. PENDAHULUAN
•
•
•
•
•
•
Pengertian dan Tujuan
Anatomi dan fungsi Kulit, Rambut, Kuku
Klasifikasi Umum
Karakteristik dan jaminan mutu
Proses pengembangan
Latar belakang sains, teknologi dan masa
depan kosmetika
PENGERTIAN KOSMETIKA
• PENGERTIAN : Sediaan/paduan bahan yang
siap digunakan pada bagian luar badan
(epidermis, rambut, kuku, bibir &organ kelamin
luar), gigi dan rongga mulut untuk :
membersihkan, menambah daya tarik,
mengubah penampilan, melindungi supaya
dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan
tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau
menyembuhkan penyakit (SK MENKES no
140/1991)
TUJUAN KOSMETIKA
• DAHULU : 1.Melindungi tubuh dari alam (panas
– sinar matahari – terbakar, dingin – kekeringan,
iritasi – gigitan nyamuk).
2. Tujuan Religius : Bau dari kayu tertentu –
cendana – mengusir mahluk halus
• SEKARANG : Personal hygiene, meningkatkan
daya tarik-make up, meningkatkan kepercayaan
diri&ketenangan,melindungi kulit-rambut- dari uv
yg merusak, polutan dan faktor lingkungan lain,
menghindari penuaan
• Secara umum : membantu manusia untuk
menikmati hidup yang lebih bermanfaat
ANATOMI DAN FUNGSI KULIT,
RAMBUT, KUKU
• Anatomi kulit
• Keratinisasi
• Sel sebaceous, sebum, keringat,
penguapan
• Fungsi kulit,warna,kelainan kulit
• Acne, aging, proses pigmentasi
KLASIFIKASI KOSMETIK: KULIT
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
SKIN CARE COSMETICS
Kosmetik pembersih: krim dan busa pembersih muka
Kosmetika konditioner : lotion, krim masage
Kosmetika pelindung: krim dan lotion pelembab
MAKE UP COSMETICS
Kosmetika dasar: foundation, bedak
Make up : lipstik, blusher, eyeshadow, eyeliner
Perawatan kuku : cat kuku, pembersih cat kuku
BODY COSMETICS
Sabun mandi padat-cair, perlengkapan mandi
Suncares dan suntan:krim sunscreen, sun oil
Antiperspirant & deodoran:deodorant spray-stick-roll on
Bleaching,Depilatory
Insect repellent
KOSMETIKA PERAWATAN
RAMBUT, KULIT KEPALA,
MULUT, FRAGRANS
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Pembersih rambut
Perawatan rambut
Hair styling
Pengeriting rambut
Pewarna rambut
Penumbuh rambut, Tonik
Perawatan kulit kepala
Pasta gigi, mouth wash
Perfume, eau de cologne
KARAKTERISTIK MUTU KOSMETIK:mencapai
kepuasan konsumen yang terdiri dari design,
manufaktur,sales. Persyaratan kualitas dasar
meliputi safety,stability,efficacy,usability
• Safety:tdk ada iritasi kulit,sensitivitas
kulit,toksisitas oral,bercampur dgn bahan
lain,tidak berbahaya
• Stability:stabil thd perubahan
mutu,warna,bau,kontaminasi bakteri
• Efficacy:efek melembabkan,melindungi thd
uv,membersihkan,mewarnai
• Usability:feeling (sensibility,moisturizing,
smoothness), kemudahan menggunakan
(bentuk,ukuran,bobot,komposisi, penampilan,
portability), preference(bau,warna,design)
Jaminan mutu kosmetika: jaminan mutu produk
untuk mencapai kepercayaan dan kepuasan
konsumen (mutu mencapai longterm usage):
jaminan safety,stability, efficacy, usability
• Safety:uji keamanan,patch test,uji racun logam
berat
• Stability:uji kestabilan warna, fotoresisten,
bau,uji thd panas dan lembab, pengawetan,
kestabilan zat aktif,kestabilan fisiko-kimia
• Usability:Uji kebergunaan (Sensory test),
pengukuran fisikokimia(reologi)
• Efficacy:uji efikasi untuk setiap produk
JAMINAN MUTU KEMASAN KOSMETIKA
• Jaminan perlindungan isi (uji perlindungan thd
cahaya, permeabilitas, perlindungan bau)
• Jaminan kecocokan bahan (uji ketahanan kimia,
thd matahari, uji anti korosi)
• Jaminan keamanan bahan (bahan yang
memerlukan perhatian:formalin,standar
keamanan:Depkes,uji konfirmasi keamana
• Jaminan fungsi(thd manusia,fungsi fisik)
• Keamanan penggunaan (lingkungan,metode)
• Jaminan Disposability (mudah dibuang,aman
dimusnahkan)
BAHAN PEMBANTU DAN
PENGEMAS DALAM KOSMETIK
• Bahan Minyak/lemak
• Surfaktan : emulgator, suspending agent,
stabilizer
• Humektan
• Polimer
• UV absorben
• Antioksidan
• Sequestering agent dll
• Bahan pewarna
• Pengemas primer dan sekunder
BAHAN MINYAK/LEMAK
•
•
•
•
•
•
•
•
Komponen utama : Trigliserida asam lemak dan gliserin
Minyak dan lemak:olive,camellia,macademia,castor oils
Wax ester: carnauba,candelilla,jojoba,bees,lanolin
Hidrokarbon:paraf.liq,paraf.solid,petrolatum,ceresin,mikr
okristalin wax,squalane
Asam lemak tinggi : asam laurat, miristat, palmitat,
stearat,isostearat
Alkohol bermatabat tinggi:cetyl,stearyl,isostearyl,octyl
Ester:isopropilmiristat,2-octyldodecylmiristat,cetyl2etilheksanoat,diisostearilmaleat
Silikon:dimetilpolisiloksan,metilfenilpolisiloksan,
SURFACE ACTIVE AGENT
• Anionik:sabun,alkilsulfat,polioksietilenalkile
tersulfat,acyl-N-metiltaurat, alkileterfosfat,
garam asam N-acylamino
• Kationik:alkiltrimetilamoniumklorid,dialkilm
etilamoniumklorid,benzalkoniumklorid
• Amfoterik
• Nonionik
HUMEKTAN
•
•
•
•
•
•
•
•
Gliserin
Propilenglikol
Butilenglikol
Polietilenglikol
Sorbitol
Sodium laktat
Sodiumpirolidonkarboksilat
Sodium hialuronat
POLIMER – bahan yang dapat meningkatkan
viskositas fase air – thickening agent, film
former, resinous powder
• Penstabil emulsi o/w– meningkatkan
viskosita fase luar – membentuk suspensi
koloidal dalam air – membentuk koloid
pelindung di sekitar globul – meningkatkan
kestabilan
• Self emulsifiers : metilselulosa, sodium
alginate, gum arab
• Stokes : v = 2gr2(ρ-ρo) / 9η
Kelompoknya
• Vegetable mucins : gum tragakan, gum karaya, gum
arab (akasia), quince mucilago, marsh mallow, Xanthan
gum
• Alginate :sodium alginate – less sticky dp tragakan dan
gum.Ditambah garam Ca pd pH 4-5 lebih
mengentalkan.Carrageenan dan agar2 masuk kelompok
ini, agar2 hampir tidak digunakan di kosmetik tetapi di
industri makanan
• Turunan selulose dan senyawa sejenis : metil selulose,
CMC, Na CMC.Sifat fisik dan kimianya tetap, dapat
dibuat dalam air dingin, tdk menjadi terfermentasi, dan
hanya sedikit mmenjadi media pertumbuhan bakteri dan
jamur. Reaksinya netral. Berbagai grade ≈ BM≈viskosita
lanjutan
• Protein dan produk degradasi :
gelatin.Viskositas bergantung pada suhu dan pH
• Gel anorganik:koloidal alumunium silikat,
bentonit, veegum ≈ struktur kristal
• Film Formers. Bahan polimer sintetik : PVA,
PVP, poliakrilat,reaksi netral, tidak mengiritasi
kulit.Etilen oksid BM tinggi:Polyox resin 1%.
Carbopol 934 1%/polikarboksimetilen
viskositasnya = 4% gum tragakan = 2,5% CMC
high grade
• Water soluble film former : polietilenglikol BM
tinggi,dapat digunakan juga dalam emulsi o/w,
ttp lebih banyak digunakan dalam sediaan non
lemak
UV ABSORBENT
•
•
•
•
•
Turunan Benzophenon
Turunan P-aminobenzoate
Turunan Methoxycinnamat
Turunan Asam Salisilat
Lain-lain
ANTIOXIDANT
• Terutama untuk mencegah ketengikan –
ada 2 tipe tengik : oksidatif dan keton
• Keton : terjadi pd asam lemak dgn C , 14,
hasil kerja molds aspergilum dan
penisilium dgn adanya lembab dan bahan
nitrogen membentuk keton, baunya khas
dan mudah dideteksi secara kimia.Dpt
dicegah dengan pengawet
lanjutan
• Ketengikan oksidatif : asam lemak tdk
jenuh menyebabkan molekul asam lemak
splitting pada titik double linkage.Hasilnya
aldehid yang baunya tidak enak dan iritasi
pada kulit krn lemak tengik. Proses
oksidatif disebabkan oksigen atmosfer –
kontak lemak dengan udara
Faktor yang mempercepat
terjadinya ketengikan
• adanya logam berat spt Fe, Cu, Co, Mn,
Sn, Ni – semua yang dapat mengkatalis
oksidasi
• Pengaruh cahaya
• Adanya sejumlah kecil lemak tengik
• Adanya asam lemak bebas
• Adanya air dan enzim tertentu yang
menghidrolisis gliserida
• Disimpan di tempat panas
Menghindarkan
• Cegah faktor tsb di atas
• Gunakan antioksidan :NDGA, etilgalat,
BHA,BHT,dihidroquercetin, diisoeugenol,
amina2, tokoferol, dihidrochroman
SEQUESTERING AGENTS
•
•
•
•
•
•
•
•
Sodium edetat (EDTA)
Phosphoric acid
Citric acid
Ascorbic acid
Succinic acid
Gluconic acid
Sodium polyphosphate
Sodium metaphosphate
BAHAN LAIN
• Bahan Pewarna
• Bahan Pengemas: primer, sekunder
KERUSAKAN DAN STABILITAS
PRODUK
• Jenis kerusakan sediaan kosmetika
• Uji stabilita
KOSMETIKA MEDIK DAN BAHAN
AKTIF KOSMETIKA
•
•
•
•
•
•
•
•
Vitamin
Hormon
Zat pemutih
Tabir matahari
Anti ageing
Antioksidan
Radical scavenger
Serum protein:protein, pepton, peptide, asam
amino
• Bahan-bahan lain:deodorant, antiperspirant,
antiinflamasi, astringens, refrigeran, antihistamin
Vitamin
• Lihat OHP
HORMON
• Folicle Hormone (Estrogen) dalam dosis
tinggi sebagai anti jerawat : Estradiol dan
esternya spt estron, etinil estradiol
• Adreno Cortical Hormone (ACH)
memperbaiki kulit usia >40 thn berfungsi
sebagai antiinflamasi, pemutih kulit :
Cortisone, hidrokortison, dan esternya spt
prednison, prednisolon
TABIR MATAHARI-UV
ABSORBENT
• Sinar UV 290-400 nm
• Digunakan untuk mengabsorb sinar UV pd
panjang gelombang 290-400 nm untuk
menghindari kerusakan kulit termasuk erythema,
sunburn,suntan,premature aging juga kerusakan
preparat kosmetika itu sendiri dan wadah
• Non toksik, mengabsorbsi UV dalam range
luas,tidak rusak krn UV dan panas, bercampur
dengan bahan lain
• Lihat tabel
Zat Pemutih
• Lihat OHP
PROSES MANUFAKTUR DAN
PENGEMBANGAN INDUSTRI
KOSMETIKA
• Formulasi : konsep, kajian pustaka dan
input market, trial laboratorium
• Uji stabilita awal dan uji aplikasi
• Identifikasi peralatan yang diperlukan
• Scale up
• Riset pengembangan produk
RISET PENGEMBANGAN
PRODUK
• Pengembangan formula
• Pengembangan bahan aktif baru, bahan
pembantu baru
• Pengembangan bentuk sediaan baru
• Pengembangan proses manufaktur
FORMULASI
• Mengingat bahan-bahan baku dan
peralatan yang ada, serta keterbatasan
waktu, sedangkan suatu produksi
kosmetika harus segera diproduksi untuk
mengejar musim, tren, fesyen dan lainlain, maka kita harus pandai memilih
formulasi agar kosmetika itu dapat segera
diproduksi dan dapat memenuhi maksudmaksud tertentu.
TAHAPAN FORMULASI
• Input konsep,kajian pustaka,permintaan
pasar,percobaan di lab
• Uji klinis sederhana/uji aplikasi
• Uji keamanan formula dan bahan baku
(iritasi formula/bahan baku)
• Uji stabilita skala lab
UJI STABILITA AWAL, UJI
APLIKASI, UJI EFIKASI
• Uji stabilita awal dari formula yang dibuat (skala
lab)
• Uji aplikasi (uji klinik sederhana):
perabaan/feeling (sensibility, moisturizing,
smoothness), kemudahan digunakan (bentuk,
ukuran, bobot, komposisi, penampilan),
preferensi (bau, warna, design)
• Uji efikasi: efek melembabkan, efek melindungi
terhadap sinar uv, efek membersihkan, efek
pewarnaan
IDENTIFIKASI PERALATAN YANG
DIPERLUKAN
•
•
•
•
Mixing / Emulsification Tanks.
Dispersing / Grinding Mills.
Homogenizers.
Filling Equipment.
SCALE UP
• Pembesaran produksi dari laboratory size
batches ( ±5 kg) atau clinical batches (sampai
25 kg), ke pilot plant batches (25-200 kg)
umumnya disebut sebagai scale-up formulasi
atau produksi.
• Untuk produksi kosmetika yang masih baru,
scale-up dapat dirampungkan dalam dua fase :
• Pembuatan Clinical Batches
• Pembuatan Pilot Plant Batches
CLINICAL BATCH: 25 KG
• Pengalaman pertama dengan batches ukuran agak
besar umumnya ditemui disini. Maka disarankan agar
formulator dari produk itu hadir menyaksikan pembuatan
clinical batch tersebut untuk menghindari terjadinya
sesuatu problema yang mungkin timbul akibat tidak
tersedianya metoda pembuatan yang kurang terinci.
• Setelah beberapa clinical batches berhasil dengan
sukses dibuat, maka suatu metoda pembuatan
umumnya sudah bisa dituliskan di dalam suatu format
tertulis yang dapat dengan mudah dilanjutkan ke
produksi Pilot Plant Batches.
PILOT PLANT BATCH:25-200 KG
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Umumnya disarankan unutk melanjutkan pembuatan batches ke dalam fase
pilot plant batches sebelum mulai dilakukannya test keamanan
klinis fase III untuk menjamin agar test klinis iu dijalankan dengan produk hasil
metode pembuatan pilihan terakhir/NDA. Kebutuhan produksi untuk tes klinis
fase III demikian umumnya membutuhkan batches ukuran agak besar (200 kg).
Penelitian terhadap produksi Pilot Plant juga disebut sebagai penelitian
perkembangan proses (process development) yang diadakan untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan pokok berikut dan untuk mengidentifikasi langkahlangkah inti dalam proses pembuatan yang perlu disahkan atau sebaliknya
ditolak :
Sudah dapatkah formulasi itu direproduksi membesar (scale-up)?
Apakah metoda produksi itu sesuai untuk kemampuan produksi yang
diharapkan dan dengan peralatan yang ada?
Apakah diperlukan peralatan baru atau pabrik pembuat yang ketiga?
Apakah langkah-langkah pokok proses pembuatan telah teridentifikasi?
Apakah studi untuk validasi telah didesain dengan baik?
Penelitian terhadap produksi pilot plant perlu diarahkan untuk dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut secara memuaskan. Jika timbul pertanyaan, ya
atau tidak produk itu fleksibel untuk diproduksi, maka sebaiknya diproduksi
saja dengan menggunakan perlatan dan ukuran batch yang akan dipakai secara
rutin jika produk itu nantinya dipasarkan.
Kulminasi dari kegiatan scale-up biasanya berupa produksi yang memuaskan
dari formulasi dimaksud dalam bentuk suatu “Production Demonstration
Batch” yang kemudian digunakan untuk mengisi kebutuhan suatu “Packaging
Demontration Run”, yang berakhir pada produk akhir beserta pengemasannya.
Studi validasi biasanya dijalankan selama pembuatan “Production
Demonstratioin Batch” dan “Packaging Demonstration Run”.
PRODUCTION BATCH: 500-5000 KG
Alat2 yang digunakan
Mixing/Emulsification Tanks.
• Tangki-tangki pencampur atau
pengemulsi ini berkisar dari tangki-tangki
simple open jacketed dengan
kemampuan mencampur sampai ke
tangki-tangki yang lebih rumit yang dapat
menyediakan kemampuan hight speed
and sweep paddle, counter moving
paddles, homogenizing heads,
kemampuan penghampaan, dan jika
perlu, tutup rapat buat memberi tempat
kepada gas murni.
lanjutan
Dispersing/Grinding Mills.
•
Alat-alat pendispersi atau penggiling ini
berkisar mulai dari colloid mills dan blender
type homogenizer yang sederhana untuk
membentuk lapisan tipis bahan-bahan baku
tertentu sampai ke alat hight suction/shear
equipment yang digunakan untuk
mendispersikan gums dan gelling agent
lainnya ke dalam suatu batch. Peralatanperalatan ini menjamin terbentuknya lapisan
bahan baku yang seragam, sehingga dapat
dihasilkan produk yang homogen, bebas dari
gumpalan-gumpalan.
lanjutan
Homogenizer.
•
•
•
Umumnya diperlukan jika pembentukan suatu emulsi
memerlukan alat pengaduk mekanis berkecepatan
tinggi untuk memperoleh pengurangan ukuran
gelembung-gelembung udara yang memadai dengan
hasil akhir berupa perbaikan profil dalam estetika
produk atau stabilitas produk.
Homogenizers hanya memiliki satu emulsifying head
atau dilengkapi dengan two-stage emulsification head,
head yang pertama menghasilkan emulsi yang kasar,
sedangkan head yang kedua diperlukan untuk
menghasilkan emulsi yang halus.
Homogenizers dapat juga digunakan untuk formulasiformulasi nonemulsi.
lanjutan
Filling Equipment.
•
Setelah diproduksi, maka produk harus bisa
dipompa dari kawasan produksi ke kawasan
pengisian, jika perlu. Peralatan pengisian
dapat berkisar mulai dari mesin-mesin yang
sederhana dan dijalankan dengan tangan,
yang hanya bisa mengisi suatu jumlah yang
diinginkan, sampai ke mesin-mesin otomatis
berkecepatan tinggi yang dapat mengisi,
melipat dan menjepit tutup serta menerakkan
cap yang diperlukan
PROSES DAN TUJUANNYA
1. Pencampuran (Mixing)
•
Walaupun pencampuran dua bahan sepintas lalu
nampak sebagai hal sederhana saja, tetapi tidak
demikian dalam kenyataannya, yang sering sangat
kompleks atau rumit.
•
Menurut Lin (1964), mencampur bahan-bahan di
dalam satu batch sesungguhnya untuk mencapai
banyak tujuan, misalnya untuk suatu emulsi, tujuantujuan dari pencampuran itu antara lain :
•
1. Mencampur cairan-cairan yang sulit tercampur.
•
Mempercepat pemanasan bahan-bahan di dalam
ketel.
•
Pelarutan lemak-lemak dan bahan-bahan lainnya.
•
Emulsifikasi atau dispersi.
•
Pendahuluan pendinginan.
lanjutan
2. Pemompaan (Pumping)
Ada dua jenis pompa yang digunakan di dalam produksi
kometika, yaitu :
•
Positive displacement pump.
•
Centrifugal pumps.
•
Positive displacement pump bekerja dengan menarik cairan
ke dalam suatu rongga, kemudian mendesaknya keluar pada
sisi yang lain. Contoh yang paling umum adalah diaphragma
pumps, gear pumps dan mono pumps.
•
Pompa sentrifugal (centrifugal pumps) berbeda dari tipe
positive displacement pumps ialah bahwa pompa sentrifugal
bersandar pada konversi suatu kekuatan sentrifugal dan
bukannya pada kekuatan linear, menjadi suatu tekanan. Pada
pompa sentrifugal, cairan dimasukkan di titik pusat dari
suatu propeler yang berputar cepat.
•
Dalam memompa cairan kosmetika, perlu diketahui sifat-sifat
cairan tersebut, sebab pompa yang terlalu sempit atau terlalu
cepat dapat merubah emulsi, memperangkap udara, dll.
Kecepatan jangan sampai melewati titik perubahan dari arus
laminar menjadi arus turbulensi.
lanjutan
3. Pemindahan Panas (Heat Transfer)
•
Dalam banyak proses pembuatan kosmetika, bahan
baku sering harus dipanaskan sampai ke suhu 7080oC, dicampur, dan kemudian didinginkan sampai
sekitar 30-40oC sebelum produk akhir dapat dipompa
dan disimpan. Karenanya, di dalam pabrik kosmetika,
efisiensi pemindahan panas merupakan suatu faktor
yang sangat penting yang harus diperhitungkan dalam
design.
•
Walaupun kebanyakan produk dipanaskan dan
didinginkan di dalam tanki besar (vat) dengan diberi
uap panas atau jacket air panas disekelilingnya, di
mana efisiensi sangat tergantung pada pencampuran
bahan, namun ada sejumlah pemisah khusus yang
bisa digunakan di dalam proses pembuatan kosmetika,
misalnya yang paling umum yang dinamakan sebagai
Votator
lanjutan
4. Filtrasi
•
Umumnya, filtrasi di dalam produksi kosmetika hanya
diperlukan dalam memurnikan air leiding dan untuk
penjernihan lotion seperti lotion untuk cukur, hair tonic,
dll. Di mana bahan-bahan baku untuk produkproduk ini sering berisikan sejumlah kecil kontaminan
yang akan mengganggu penampilan produk akhir jika
tidak dihilangkan.
•
Alat filter yang paling sering digunakan adalah filter
press yang didesain khusus untuk memfiltrasi cairan
yang mengandung sedikit bahan-bahan padat yang
perlu dipisahkan. Betapapun untuk proses
penjernihan, yaitu jika kandungan bahan kontaminan
yang harus dihilangkan sedikit sekali, digunakan
sejenis “candle filter” setelah penambahan sejumlah
kecil filter acid.
lanjutan
5. Pengisian (Filling).
•
Cairan. Kosmetika dalam bentuk cairan dapat diisikan
ke kemasan dengan cara sederhana menggunakan
daya tarik bumi (gravitasi). Cara ini sederhana dan
sering dianjurkan, terutama untuk shampo dan
deterjen yang akan berbusa jika dengan
tekanan.Tetapi cara pengisian yang lebih cepat dan
lebih rapi ialah dengan menggunakan sistem vakum
pada botol-botol yang berderet-deret.
•
Creams. Pengisian dalam keadaan dingin ialah
memakai “filteram type”, di mana cream dimasukkan
ke dalam tube silindris dengan bantuan suatu
“plunger”. Bentuk harus bulat agar tidak ada udara
terjebak. Pengisian dalam keadaan dingin adalah
murah dan bersih. Pengisian dalam keadaan panas
lebih rumit, tetapi pada esensianya mirip pengisian
dengan cairan, baik yang sistem gravitasi atau sistem
vakum.
Pembuatan Produk-Produk Khusus
1. Cairan
•
•
•
•
•
•
Pembuatan produk kosmetika cair mencakup pelarutan atau
dispersi yang baik, serta penjernihan. Lotion dalam alkohol-air
dapat dibuat dengan dua cara, yaitu :
Dengan mengaduk bahan-bahan di dalam campuran air dan alkohol
dengan konsentrasi yang sama seperi dimaksudkan dalam produk
akhir sampai larutan dimaksud terbentuk.
Dengan melarutkan bahan-bahan di dalam alkohol konsentrasi
tinggi, kemudian larutan ini diencerkan dengan air sambil diaduk
sampai konsentrasi yang dimaksud.
Cara yang manapun yang digunakan, pengadukan dapat dijalankan
entah dengan memakai propeller yang digerakkan listrik yang dapat
ditempelkan di sisi tanki, atau memakai pengaduk permanen jika
produksi itu besar-besaran. Agar pencampuran maksimal
efisiensinya, tanki sebaiknya bundar dan terbuat dari nikel murni,
aluminium, Monel atau stainless steel.
Untuk sejumlah produk kosmetika cair, pelarutan terlebih dulu
parfum atau bahan yang berminyak di dalam pelarut yang cocok,
mungkin diperlukan. Ini umumnya terjadi dalam pembuatan
shampoo.
Karena kejernihan suatu lotion sangat, maka penting bahwa
kemasannya juga harus jernih. Untuk itu perlu pencucian dengan
udara bertekanan atau dengan air panas yang diikuti dengan
pembilasan dan pengeringan
lanjutan
2. Gel
•
Produk kosmetika dalam bentuk gel dapat berkisar
mulai dari lotion yang kental seperti misalnya roll-ball
antiperspirant sampai ke gel thixotropik yang sangat
kental dan tidak bisa mengalir, yang dapat digunakan
sebagai kosmetika hairdressing dan hair setting.
•
Lotion kental lebih mudah dibuatnya, yaitu dengan
menambahkan sedikit demi sedikit gellant padat ke
dalam fase cair yang diaduk terus menerus dengan
cepat memakai propeller yang digerakkan turbin.
•
Gel kental yang tidak bisa mengalir cara
pembuatannya lebih sulit, karena pada produk
akhirnya udara tidak bisa melarikan diri dari dalamnya
seperti pada lotion kental. Gel kental harus dibuat
dalam ruang tanpa udara atau perlu diadakan proses
pembuangan udara yang rumit. Pemakaian carboxyvinyl polymers (misalnya karbopol) mempermudah
pengeluaran udara dari dalam gel.
lanjutan
3. Micro-emulsi.
•
Karena mikroemulsi terbentuk melalui sistem yang
spontan, pembuatannya cukup dengan alat pencampur
yang sederhana, tidak memerlukan alat pencampur rumit
yang berkecepatan tinggi.
•
Merupakan praktek umum dalam pembuatan mikroemulsi
untuk menambahkan sedikit demi sedikit fase minyak
dengan suhu sekitar 80OC ke dalam fase air dalam suhu
serupa, di bawah pengadukan yang pelan. Untuk
sementara produk dipertahankan pada suhu di atas
“setting point” nya agar udara naik dan keluar. Ini berarti
bahwa pipa-pipa dan alat pengisi perlu dipanaskan dengan
air panas atau uap bercampur air.
•
Hendaknya hati-hati dalam memilih peralatan untuk
membuat mikroemulsi, karena kotoran halus, seperti
misalnya ion-ion logam, dapat mengeruhkan penampilan
produk.
lanjutan
4. Emulsi.
•
Karena begitu banyak jenis produk emulsi di pasaran,
baik dalam kosmetika maupun tolietries, maka tidak
mungkin akan merinci pembuatannya masing-masing.
Tetapi mengingat perlunya menentukan sifat-sifat
produk akhir dari emulsi, maka perlu dibicarakan
faktor-faktornya yang terpenting. Biasanya selalu
tercakup tiga proses dalam pembuatannya yaitu :
•
Emulsifikasi awal.
•
Pendinginan.
•
Homogenisasi.
Lanjutan Emulsi
a. Emulsifikasi awal.
•
Ada sejumlah faktor penting di dalam emulsifikasi awal, yaitu
temperatur, intensitas dan lama pencampuran, serta keteraturan
dan kecepatan penambahan fase-fase.
•
Emulsifikasi awal biasanya dijalankan pada suhu yang lebih tinggi
untuk menjamin bahwa kedua fase serta hasil emulsi cukup mobil
geraknya sewaktu diaduk. Intensitas dan lama pengadukan
tergantung pada efisiensi dispersi dari emulsifator.
•
Secara umum, ada dua cara penambahan bahan-bahan. Yang
pertama, penambahan fase-fase yang dalam bentuk dispersi ke
dalam fase yang dalam bentuk homogen. Yang kedua adalah
kebalikannya. Yang pertama nampak lebih alamiah, tetapi yang
kedua, dimana ada infersi fase, memberikan keuntungan yang lebih
besar jika tidak tersedia alat pengaduk yang memadai.
•
Untuk emulsi O/W yang lebih kental, seperti misalnya vanishing
cream, sebaiknya jangka waktu pengadukan dengan kecepatan
tinggi singkat saja untuk mencegah masuknya udara. Setelah
emulsi awal terbentuk, kecepatan pengadukan diturunkan, dan
suhu diturunkan sampai sekitar 50OC dan waktu itu parfum
ditambahkan. Emulsi W/O dikerjakan dengan cara yang sama,
hanya larutan dalam air dimasukkan ke dalam fase lemak sedikit
demi sedikit.
•
Mungkin cara pembuatan emulsi terbaik ialah dengan menuangkan
serentak proporsi yang sama kedua fase pada setiap waktu ke
dalam mixer yang berputar terus, sehingga terus menerus terbentuk
Lanjutan Emulsi
b. Pendinginan
•
Mendinginkan emulsi merupakan suatu proses yang sangat
penting, terutama dalam produk yang berisikan bahan-bahan
mirip lillin (“wax-like”) yang berharga. Selama pendinginan
biasanya emulsi diaduk terus untuk mengurangi lamanya
proses serta untuk menghasilkan produk yang homogen.
c. Homogenisasi.
•
Pada suhu yang tinggi kebanyakan emulsi tidak stabil dan
selama pendinginan dalam batch terbentuk butiran-butiran
emulsi. Atau pada produk yang memiliki fase minyak dengan
titik leleh tinggi, pada pendinginan terjadi pengerasan
produk. Karenanya diperlukan pencampuran (mixing)
tambahan untuk memperoleh produk seperti yang
diinginkan.
•
Pencampuran tambahan ini dapat bervariasi mulai dari
pelewatan produk melalui pompa bergir berputar dengan
tekanan rendah dari belakang, misalnya 50 psig, atau
penghancuran agregat-agregat kristal lilin, atau pelewatan
katub homogenizer dengan tekanan tinggi 5000 psig. Proses
ini diberi nama homogenisasi
lanjutan
5. Pasta.
•
•
•
Pasta, terutama pasta gigi, umumnya dapat dibuat dengan
menambahkan komponen-komponen padat yang mungkin
sudah dicampur sebelumnya, ke dalam komponenkomponen cair, di mana mungkin termasuk bahan-bahan
yang larut dalam air. Pencampuran dapat di dalam mixer
terbuka atau mixer vakum. Mixing dalam keadaan panas,
diikuti dengan pendinginan memakai alat Votator atau
metoda serupa lainnya juga dapat dilakukan.
Suatu metoda alternatif penyiapan pasta yang terbuat dari
powder padat di dalam suatu cairan ialah melalui
pencampuran awal yang kasar dan melewatkan campuran ini
melalui suatu “triple roller mill”, kemudian di dalam mixer
seperti itu mengalami berbagai penekanan dan pemutaran
sampai terbentuk pasta yang diinginkan.
Triple roller mill sering digunakan di dalam pembuatan
preparat make-up dimana pigmen warna perlu didispersikan
di dalam campuran wax atau minyak.
lanjutan
6. Stik
•
•
•
•
•
•
Lipstik. Pada umumnya pembuatan lipstik meliputi 3 tahap :
Penyiapan campuran komponen, yaitu campuran minyakminyak, campuran zat-zat warna dan campuran wax.
Pencampuran semua itu untuk membentuk massa lipstik.
Pencetakan massa lipstik menjadi batangan-batangan lipstik.
Itulah dasar dari pembuatan lipstik, yang rinciannya akan
terlalu berkepanjangan untuk diuraikan di sini.
Deodorant stik. Agak berbeda cara pembuatannya daripada
lipstik karena merupakan gel sabun dan pembuatannya mirip
dengan pembuatan emulsi, suatu fase minyak (fatty acid)
diadukkan ke dalam suatu fase larutan dalam air pada suhu
sekitar 70OC. Gel panas yang terbentuk diisikan ke dalam
cetakan pada suhu sekitar 60-65OC dan dibiarkan memadat.
lanjutan
7. Powder
•
Pencampuran powder biasanya dijalankan di dalam
suatu wadah semi bundar yang dilengkapi dengan
suatu pengaduk spiral yang padanya dua pita
menyebabkan campuran itu bergerak dalam dua rah
yang berbeda sehingga terjadi tubrukan-tubrukan.
•
Mixer tipe ini sangat baik untuk garam mandi dan
bahan-bahan kristal lainnya dan sangat luas
digunakan untuk pembuatan face powder.
•
Betapapun, pengalaman menunjukan bahwa dispersi
yang lebih baik dengan resiko pelukaan kulit yang
lebih kecil akibat kasarnya butiran-butiran dapat
dicapai jika campuran bubuk itu akhirnya dipulverisasi
dan digiling di dalam suatu ball mill atau diperbaiki
dengan cara lainnya.
lanjutan
8. Pomade dan Brilliantin Padat.
•
Produk dari tipe ini mudah dibuat hanya dengan
mencampur bahan-bahan di dalam suatu wadah
pelebur di suhu tertentu, bahan-bahan yang titik
lelehnya tinggi, seperti lilin mungkin memerlukan
pelelehan pendahuluan pada suhu yang lebih tinggi di
dalam pot elektris.
•
Proses pengisian malah lebih rumit karena mula-mula
perlu didinginkan sebelum penutupan permukaan
pomade dengan plastik penutup (lidding) dan
perhatian yang hati-hati diperlukan baik terhadap suhu
ketika pengisian, maupun kecepatan pendinginan jika
ingin dihindari terjadinya rongga-rongga berisi udara.
KONTROL KUALITAS (QUALITY CONTROL)
Fungsi utama dari kontrol kualitas (Quality Control atau Quality
Assurance) adalah menjamin agar perusahaan memenuhi standar
tertinggi dalam setiap fase dari produksinya. Faktor-faktor yang
tercakup dalam kontrol kualitas adalah :
• Personalia.
• Fasilitas.
• Spesifikasi Produk.
Fungsi kontrol kualitas, antara lain :
• Kontrol di dalam prosesing (In Process Control).
• Testing spesifikasi bahan baku (Raw Material Specification Testing).
• Testing spesifikasi produk (Product Specification Testing).
• Pengawasan Fasilitas Penyimpanan dan Distribusi (Storage and
Distribution Facilities Control)
• Pengawasan tempat yang mungkin sebagai produsen pihak ketiga
yang potensial (Site Inspection of Potential Third Party Manufacture).
• Pengawasan terhadap kontaminasi mikrobiologis (Microbiological
Surveillance).
• Kemungkinan memperpanjang tanggal kadaluwarsa produk (Product
Expiration Dating Extension).
Tentang quality control ini lebih spesifik dibicarakan dalam Cara
Pembuatan Kosmetika Yang Baik (CPKB).
Teh Hitam dan Antioksidan
Dadan ROHDIANA
Peneliti Muda di Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung
Mobile: +628170232473 E-mail:[email protected]
Satu dari sekian banyak hasil riset kesehatan yang paling menarik
sekarang ini adalah bidang nutrien antioksidan. Meski antioksidan merupakan
topik yang sedang hangat dibicarakan, pemahaman akan apa sesungguhnya
antioksidan itu dinilai masih sangat rendah. Berdasarkan survey yang dilakukan
melalui telepon, lebih dari setengah orang Amerika pernah mendengar istilah
antioksidan. Akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak paham benar mengenai
berbagai zat gizi yang termasuk antioksidan.
Radikal Bebas Sebagai Sumber Masalah
Berbagai perbincangan mengenai antioksidan mau tidak mau harus
menyertakan penjelasan mengenai oksidan termasuk didalamnya adalah radikal
bebas.
Radikal bebas acapkali dijumpai dalam bentuk oksigen yang reaktif.
Molekul yang sangat reaktif ini, jika tidak kendalikan dapat merusak tubuh dan
berperan terhadap timbulnya berbagai penyakit. Radikal bebas akan mengambil
elektron dari molekul lain. Hal ini dapat menyebabkan pembentukan radikal
bebas yang baru yang akan mencuri elektron dari molekul lainnya. Akibatnya,
reaksi berantai ini akan terus berlanjut layaknya bola salju yang terus bergulir.
Beberapa radikal bebas dapat bereaksi dengan struktur sel. Bila reaksi ini terus
berlanjut berpotensi mengakibatkan kerusakan langsung atau kerusakan jangka
panjang.
Berdasarkan sumbernya, radikal bebas dapat berasal dari tubuh,
lingkungan, dan radikal bebas lainnya. Sejatinya, tubuh menghasilkan radikal
bebas sebagai hasil proses metabolisme. Olah raga, penyakit, dan pengobatan
tertentu
berpeluang
meningkatkan
jumlah
radikal
bebas
dalam
tubuh.
Adakalanya tubuh dengan sengaja menghasilkan radikal bebas sebagai akibat
dari respon sistem kekebalan tubuh. Serbuan bakteri dan mikroorganisme
infeksius lainnya akan dihambat oleh sel darah putih khusus menggunakan
radikal bebas yang berasal dari oksigen untuk membunuh senyawa potensial
penyebab infeksi. Pada kasus isolasi ini tubuh harus berterimakasih pada si
”musuh”, radikal bebas yang telah berjasa melindungi tubuh dari musuh yang
lain. Akan tetapi, jika radikal bebasnya terlalu berlebihan dan tidak sesuai
dengan sistem keseimbangan dalam tubuh, maka radikal bebas akan berubah
menjadi
sosok
yang
menakutkan.
Radikal
bebas
ini
akan
mendorong
menurunnya akreditas kesehatan tubuh.
Lingkungan merupakan salah satu sumber radikal bebas. Racun yang
berasal dari lingkungan, baik itu alami maupun buatan, kerapkali berpeluang
menjadi radikal bebas atau cikal bakal lahirnya radikal bebas. Polusi udara,
sampah beracun, dan pestisida berperan menghantarkan radikal bebas seperti
nitrogen dioksida ke dalam tubuh. Tidak sedikit orang memasukan radikal bebas
ke dalam tubuh melalui kebiasaannya. Setiap isapan rokok dan tegukan alkohol
mengandung jutaan bahkan mungkin milyaran radikal bebas.
Diluar tubuh dan lingkungannya, radikal bebas dapat dibentuk dari radikal
bebas lainnya sebagai akibat reaksi berantai yang tidak terkendali. Untuk kembali
menstabilkan elektronnya, radikal bebas bereaksi dengan molekul yang terdekat
dengannya di dalam tubuh. Setelah reaksi ini, kedua molekul diatas menjadi
tidak seimbang. Karena salah satu elektronnya telah diambil, maka terbentuklah
radikal bebas yang baru, dan akan berinteraksi dengan molekul lainnya agar
muatannya stabil, begitu seterusnya. Reaksi berantai radikal bebas ini
berlangsung demikian cepat dalam hitungan detik. Bila hal ini terus berlanjut
tanpa ada upaya untuk mengendalikannya, maka kerusakan molekul sel tubuh
menjadi demikian sulit terhindarkan. Berikutnya, radikal bebas akan merusak
tubuh yang mengarah kepada lusinan penyakit dan proses penuaan dini. Kasus
yang umum terjadi, radikal bebas akan membentuk LDL kolesterol sebagai
tahapan awal pada penyakit jantung. Perusakan DNA yang disebabkan oleh
radikal bebas dapat mendorong terjadinya kanker. Protein pada kulit yang rusak
oleh radikal bebas akan terlihat berkerut atau keriput. Diantara sekian banyak,
radikal bebas yang paling berbahaya adalah ion superoksida, yang terbentuk dari
oksigen, dan radikal ion hidroksil, yang terbentuk dari hidrogen peroksida.
Disamping superoksida dan hidroksil, oksigen tunggal atau atom oksigen yang
tidak berikatan dengan molekul oksigen diatomik merupakan radikal bebas
perusak yang tidak boleh dipandang lemah.
Teh Hitam dan Antioksidan
Secara sederhana antioksidan dinyatakan sebagai senyawa yang mampu
menghambat
atau
mencegah
terjadinya
oksidasi.
Antioksidan
memiliki
kemampuan dalam memberikan elektron, mengikat dan mengakhiri reaksi
berantai radikal bebas yang mematikan. Antioksidan yang dipakai kemudian
didaur ulang oleh antioksidan lain untuk mencegahnya menjadi radikal bebas
(bagi dirinya sendiri) atau tetap dalam bentuk tersebut tetapi dengan struktur
yang tidak dapat merusak molekul lainnya. Salah satu antioksidan yang kini
tengah mendapat perhatian yang sangat luas dalam berbagai penelitian adalah
theaflavin teh hitam.
Meski tidak sepopuler nenek moyangnya (katekin), theaflavin yang
terdapat dalam teh hitam sudah banyak dipelajari oleh sejumlah peneliti.
Beberapa hasil riset menyatakan bahwa aktivitas antioksidan theaflavin setara
bahkan tidak sedikit yang menyatakan bahwa theaflavin lebih potensial daripada
katekin. Hasil-hasil penelitan tersebut tidaklah mengerankan mengingat secara
struktur theaflavin lebih menjanjikan dari pada katekin. Hal ini bisa dilihat dari
seberapa banyak gugus hidroksi (OH) yang dimilikinya. Gugus hidroksi ini dapat
berfungsi sebagai antiradikal bebas atau antioksidan. Semakin banyak gugus
hidroksi suatu senyawa, maka kemampuannya sebagai senyawa antioksidan
semakin baik.
Theaflavin
merupakan
antioksidan
alami
yang
sangat
potensial.
Kemampuannya sebagai penangkap radikal bebas sudah tidak dapat dipungkiri
lagi kesahihannya. Efektivitas theaflavin meningkat melalui proses esterifikasi
dengan gallate dan ester digallate.
Theaflavin mempunyai tetapan laju penangkapan radikal superoksida
lebih tinggi dibandingkan dengan dengan EGCG (Epigallo catechin gallate) yang
selama ini seakan dianggap sebagai rajanya polifenol teh.
Tetapan laju
theaflavin adalah 1 x 107/MS sedangkan tetapan laju EGCG adalah 1 x 105/MS.
Theaflavin juga mampu mencegah terjadinya oksidasi lipid atau memotong
reaksi berantai oksidasi lipid lebih efektif dari pada EGCG. Disamping itu,
theaflavin dapat meningkatkan antioksidan alami yang terdapat dalam tubuh
seperti
glutathione-S-transferase
(GST),
glutanthione
peroksidase
(GPX),
dismutase superoksida (SOD) dan catalase (CAT) yang yang disertai dengan
menurunnya tingkat oksidasi lipid.
Publikasi lain menytakan bahwa aktivitas antioksidan theaflavin adalah
lebih kuat daripada N-tocopherol (vitamin E) dan propil galat (PG) di dalam
sistim eritrosit kelinci. Lebih lanjut publikasi tersebut menerangkan bahwa
aktivitas theaflavins lebih efektif dibanding glutation (GSH), L(+)-ascorbic Acid
(AsA), dl-N-tocopherol, butyl hidroksitoluena (BHT), dan butyl hydroxyanisole
(BHA) pada percobaan peroksidasi hati tikus yang diinduksi oleh tert-butyl
hidroperoksida (BHP).
Kemampuan theaflavin sebagai antioksidan ternyata tidak cukup sampai
disitu. Aktivitasnya sebagai antioksidan dalam menghambat oksidasi LDL (Low
Density Lipoprotein)pun ternyata menunjukkan hal yang menakjubkan. Wang
and Li dalam reviewnya yang berjudul Research progress on property and
application of theaflavin yang dimuat dalam African Journal of Biotech tahun
2006 menyatakan bahwa kemampuan penghambatan oksidasi LDL dari TF3>
EGCG > EGC > Asam Galik. Hasil penelitian ini senada dengan penelitian yang
dikemukakan oleh Sun dkk dalam sebuah makalah berjudul Green tea, black tea
and colorectal cancer risk: a meta analysis of epidemiologic studies yang
diterbitkan oleh salah satu jurnal papan atas dunia, Carcinogenesis pada tahun
2006 lalu. Dalam penelitian tersebut dikemukakan bahwa TF3 > ECG > EGCG >
TF2B > TF2A > TF1 EC > EGC dalam menghambat terjadinya okidasi LDL pada
manusia.
Mengingat theaflavin merupakan senyawa kimia yang sangat potensial,
sejumlah perusahaan teh dunia telah mulai menjadikan theaflavin sebagai salah
satu produk andalannya serta telah mempatenkannya. Salah satu paten terkini
yang berisi proses pembuatan theaflavin adalah Paten US No 7,157,493 B2 yang
diterbitkan oleh USPTO pada tanggal 2 Januari 2007.
Tulisan ini tentunya tidak mungkin cukup untuk mengisert semua
kehebatan theaflavin. Setidaknya data-data hasil penelitian yang tertera diatas
dipandang cukup untuk menambah keyakinan kita akan manfaat yang
diterbitkan oleh theaflavin dan teh hitam. Pandangan masyarakat yang menilai
theaflavin dan teh hitam sebagai minuman inferior harus mulai diluruskan.
Kenyataan yang menerangkan bahwa theaflavin merupakan polifenol teh hitam
yang patut diunggulkan bukan sekedar isapan jempol belaka.
ilmu kedokteran adalah sumber inspirasi | Kandungan Teh Hitam
Copyright Resha Ardianto [email protected]
http://reshaardianto.student.umm.ac.id/2010/02/04/kandungan-teh-hitam/
Kandungan Teh Hitam
Daun teh hitam unggulan mengandung senyawa bioaktif polyfenol yang mengandung senyawa
flavonoid, tannin, kafein dan asam fenalat. Teh hitam juga mengandung vitamin B1, B2, C, E dan
K serta kaya mineral fluor, mangan, kalsium, potassium dan kalium. Senyawa katekin yang berada
dalam senyawa flavonoid mengandung : Epikatekin (EC), Epikatekin Galat (ECG), Epigalo Katekin
(EGC), Epigalo Katekin Galat (EGCG) dan Quercetin (Soraya, Noni.2007).
Secara spesifik komposisi teh hitam sebagai berikut :
No
1
Komposisi
% Berat Kering
Kafein
7,56
2
Theobromin
0,69
3
Theofilin
0,25
4
(-)
Epicatechin
1,21
5
(-)
Epicatechin gallat
3,86
6
(-)
Epigallocatechin
1,09
7
(-)
Epigallocatechin
gallat
4,63
8
Glikosida
Flavonol
Masih
Diteliti
9
Bisflavonol
Masih
Diteliti
10
Asam
Theaflavat
11
Theaflavin
Masih
Diteliti
page 1 / 13
ilmu kedokteran adalah sumber inspirasi | Kandungan Teh Hitam
Copyright Resha Ardianto [email protected]
http://reshaardianto.student.umm.ac.id/2010/02/04/kandungan-teh-hitam/
12
Thearubigen
2,62
13
Asam
35,90
Gallat
(Soraya, Noni.2007).
14
Asam
Klorogenat
1,15
15
Gula
0,21
16
Pektin
6,85
17
Polisakarida
0,16
18
Asam
Oksalat
4,17
19
Asam
Malonat
1,50
20
Asam
Suksinat
0,02
21
Asam
Malat
0,09
22
Asam
Akonitat
0,31
23
Asam
Sitrat
0,01
24
Lipid
25
Kalium
26
Mineral Lain
4,83
27
Peptida
4,70
0,84
(Potassium)
4,79
page 2 / 13
ilmu kedokteran adalah sumber inspirasi | Kandungan Teh Hitam
Copyright Resha Ardianto [email protected]
http://reshaardianto.student.umm.ac.id/2010/02/04/kandungan-teh-hitam/
28
Theanin
5,99
29
Asam
3,57
Amino Lain
Fungsi dari komposisi teh hitam diatas :
30
Aroma
3,03
0,01
- Katekin (polifenol)
page 3 / 13
ilmu kedokteran adalah sumber inspirasi | Kandungan Teh Hitam
Copyright Resha Ardianto [email protected]
http://reshaardianto.student.umm.ac.id/2010/02/04/kandungan-teh-hitam/
Teh sebagian besar mengandung ikatan biokimia yang disebut polifenol, termasuk di dalamnya
adalah flavonoid. Flavonoid merupakan suatu kelompok antioksidan yang secara alamiah terdapat
pada sayur-sayuran, buah-buahan, dan minuman, seperti teh dan anggur. Pada tanaman, flavonoid
memberikan perlindungan terhadap adanya stress lingkungan, sinar ultra violet, serangga,
page 4 / 13
ilmu kedokteran adalah sumber inspirasi | Kandungan Teh Hitam
Copyright Resha Ardianto [email protected]
http://reshaardianto.student.umm.ac.id/2010/02/04/kandungan-teh-hitam/
jamur, virus, dan bakteri, disamping sebagai pengendali hormon dan enzim inhibitor
(penghambat) (Soraya, Noni.2007).
page 5 / 13
ilmu kedokteran adalah sumber inspirasi | Kandungan Teh Hitam
Copyright Resha Ardianto [email protected]
http://reshaardianto.student.umm.ac.id/2010/02/04/kandungan-teh-hitam/
Epigalokatekin galat dan kuersetin merupakan antioksidan kuat dengan kekuatan 100 kali dan 25
kali lebih tinggi daripada vitamin C dan vitamin E. Polifenol bermanfaat untuk mencegah
radikal bebas yang dapat merusak DNA dan menghentikan perkembangbiakan sel-sel liar (kanker).
Pada teh hitam dan teh oolong, katekin diubah menjadi theaflavin dan thearubigins (Soraya,
page 6 / 13
ilmu kedokteran adalah sumber inspirasi | Kandungan Teh Hitam
Copyright Resha Ardianto [email protected]
http://reshaardianto.student.umm.ac.id/2010/02/04/kandungan-teh-hitam/
Noni.2007).
page 7 / 13
ilmu kedokteran adalah sumber inspirasi | Kandungan Teh Hitam
Copyright Resha Ardianto [email protected]
http://reshaardianto.student.umm.ac.id/2010/02/04/kandungan-teh-hitam/
Selain itu katekin memiliki fungsi untuk menghambat aktivitas lipolisis dari lipase gastrik
dan lipase pankreas sehingga pencernaan lemak dihambat, dan tidak dapat diserap oleh usus
halus, sehingga zat tersebut dikeluarkan bersama feses (Anonim, 2009).
page 8 / 13
ilmu kedokteran adalah sumber inspirasi | Kandungan Teh Hitam
Copyright Resha Ardianto [email protected]
http://reshaardianto.student.umm.ac.id/2010/02/04/kandungan-teh-hitam/
- Flavonol
page 9 / 13
ilmu kedokteran adalah sumber inspirasi | Kandungan Teh Hitam
Copyright Resha Ardianto [email protected]
http://reshaardianto.student.umm.ac.id/2010/02/04/kandungan-teh-hitam/
Flavonol pada teh meliputi mono, di, dan triglokosid yang terdiri dari glikon, kaemferol,
kuersetin, dan mirisertin (Soraya, Noni.2007). Flavonoid mempunyai sifat sebagai antioksidan
sehingga dapat melindungi kerusakan sel-sel pankreas dari radikal bebas (Agrawal).
page 10 / 13
ilmu kedokteran adalah sumber inspirasi | Kandungan Teh Hitam
Copyright Resha Ardianto [email protected]
http://reshaardianto.student.umm.ac.id/2010/02/04/kandungan-teh-hitam/
- · Theaflavin
page 11 / 13
ilmu kedokteran adalah sumber inspirasi | Kandungan Teh Hitam
Copyright Resha Ardianto [email protected]
http://reshaardianto.student.umm.ac.id/2010/02/04/kandungan-teh-hitam/
Theaflavin adalah senyawa yang mampu melawan penyakit degeneratif. Theaflavin berfungsi
sebagai antioksidan, antikanker, antimutagenik, antidiabetes, dan anti penyakit lainya
(Soraya, Noni.2007). Theaflavin merupakan antioksidan alami yang sangat potensial. Selain itu,
jumlah senyawa theaflavin dalam teh hitam cukup berarti (Soraya, Noni.2007). Theaflavin
page 12 / 13
ilmu kedokteran adalah sumber inspirasi | Kandungan Teh Hitam
Copyright Resha Ardianto [email protected]
http://reshaardianto.student.umm.ac.id/2010/02/04/kandungan-teh-hitam/
merupakan hasil oksidasi katekin akibat proses oksimatis pada pengolahan teh hitam. Dengan
kata lain, theaflavin hanya terdapat dalam teh hitam atau teh yang telah mengalami oksimatis.
Kekuatan theaflavin setara dengan katekin, bahkan beberapa publikasi terkini menyatakan bahwa
theaflavin lebih potensial dari katekin (Soraya, Noni.2007).
page 13 / 13
Download