BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Gangguan pertukaran

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Gangguan pertukaran gas adalah kelebihan atau deficit pada oksigenasi
dan atau eliminasi karbondioksida pada membrane alveolar kapiler
(Heardman,2012).
Gangguan
pertukaran
gas
adalah
kelebihan
atau
kekurangan oksigen dan pembuangan karbondioksida pada membrane
alveolus kapiler (Rosernberg,2010). Gangguan pertukaran gas adalah
kelebihan atau kekurangan oksigenasi atau eliminasi karbondioksida
dimembran kepiler alveolar (Wilkinson, 2012).
TBC atau Tuberculosis merupakan penyakit menular yang disebabkan
oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. (Sentot, 2009).
Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit infeksi disebabkan oleh
mycrobacterium tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi (Mansjoer,
1999).
Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan
oleh Mycobacterium tuberculosis. (Price, 2006).
Tuberculosis
(TB)
adalah
penyakit
infeksius,
yang
terutama
menyerang parenkim paru. (Smeltzer, Suzanne. C. 2002).
6
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
Kesimpulan : Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi pernafasan
menular yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis yang
menyerang organ paru yang timbul dengan gejala yang bervariasi. (Mansjoer,
1999).
B. Anatomi dan Fisiologi
ANATOMI
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
Menurut Pearce, 2006 organ-organ pernafasan terdiri dari :
ORGAN-ORGAN PERNAFASAN ATAS
Hidung
Hidung merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai 2 (dua)
lubang (kavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Didalamnya
terdapat bulu berguna untuk menyaring udara, debu dan kotoran-kotoran yang
masuk ke dalam lubang hidung.
Faring
Faring merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan
jalan makanan. Terdapat di bawah dasar tengkorak, belakang rongga hidung
dan mulut sebelah dean ruas lubang leher
Laring
Laring merupakan saluran udara yang bertindak sebagai pembentukan
suara terletak didepan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan
masuk ke dalam trakea dibawahnya. Pangkal tenggorokan itu dapat ditutup
oleh sebuah empang tenggorok yang disebut epiglotis, terdiri dari tulangtulang rawan, berfungsi pada waktu kita menelan makanan menutupi laring.
ORGAN PERNAFASAN BAWAH
Trakhea
Trakhea merupakan lanjutan dari laring dibentuk oleh 16 s/d 20 cincin
terdiri dari tulang-tulang rawan. Trakhea atau batang tenggorok kira-kira
sembilan sentimeter panjangnya. Trakhea berjalan dari larinx sampai kira-kira
ketinggian vertebra torakalis kelima dan ditempat ini bercabang menjadi dua
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
bronkhus (bronkhi). Trakhea tersusun atas enam belas sampai dua puluh
lingkaran tak lengkap berupa cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh
jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran di sebelah belakang trakhea,
selain itu juga memuat beberapa jaringan otot. Trakhea dilapisi oleh selaput
lendir yang terdiri atas epitelium bersilia dan sel cangkir. Jurusan silia ini
bergerak ialah ke atas ke arah larinx, maka dengan gerakan ini debu dan butirbutir halus lainnya yang turut masuk bersama dengan pernapasan, dapat
dikeluarkan. Tulang rawan yang gunanya mempertahankan agar trakhea tetap
terbuka, di sebelah belakang tidak tersambung, yaitu ditempat trakhea
menempel pada esofagus, yang memisahkannya dari tulang belakang.
Bronkus
Bronkus merupakan lanjutan dari trakhea ada 2 buah yang terdapat
pada ketinggian vertebrata torakalis ke IV dan V. Mempunyai struktur serupa
dengan trakhea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus-bronkus itu
berjalan kebawah dan samping kearah tempuk paru-paru. Bronkus kanan lebih
pendek dan lebih besar dari pada bronkus kiri, terdiri dari 6 – 8 cincin,
mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang
kanan, terdiri dari 9 – 12 cincin mempunyai 2 cabang.
Paru-paru
Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri
dari gelembung-gelembung (gelembung hawa = alveoli). Gelembunggelembung alveoli ini terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Jika dibentangkan
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
luas permukaannya kurang lebih 90 m2 pada lapisan inilah terjadi pertukaran
udara, O 2 masuk ke dalam darah dan CO 2 dikeluarkan dari darah.
Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700.000.000 buah (paruparu kiri dan kanan).
Paru-paru terbagi menjadi 2 lobus yaitu :
a. Paru-paru kanan, terdiri dari 3 lobus (belah paru), Lobus Pulmo dekstra
superior, Lobus media, dan Lobus dekstra superior. Tiap lobus tersusun
oleh lobulus. Paru-paru kiri mempunyai 10 segmen yaitu : 5 (lima) buah
segmen pada lobus superior, dan 5 (lima) buah segmen pada lobus
inferior.
b. Paru-paru kiri, terdiri dari : Pulmo sinester lobus superior dan lobus
inferior. Tiap-tiap lobus terdiri dari belahan-belahan yang lebih kecil
bernama segment. Paru-paru kanan mempunyai 10 segment, yaitu 5 (lima)
buah segmen pada lobus superior; 2 (dua) buah segmen pada lobus
medialis dan 3 (tiga) buah segmen pada lobus inferior. Tiap-tiap segment
ini masih terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang bernama lobulus.
Diantara lobulus satu dengan yang lainnya dibatasi oleh jaringan ikat yang
berisi pembuluh-pembuluh darah getah bening dan saraf-saraf, dalam tiaptiap lobulus terdapat sebuah bronkiolus.
Di dalam lobulus, bronkiolus ini bercabang-cabang banyak sekali, cabangcabang ini disebut duktus elveolus. Tiap-tiap alveolus berakhir pada
alveolus yang diameternya antara 0,2 – 0,2 mm.
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
C. Klasifikasi TB Paru
Klasifikasi tuberculosis menurut Price & Wilson (2006) sebagai
berikut :
Kelas O
: Tidak ada jangkitan tuberculosis, tidak terinfeksi (tidak ada
riwayat terpapar, reaksi terhadap tes kulit tuberculin tidak
bermakna).
Kelas 1
: Terpapar tuberculosis, tidak ada bukti infeksi (riwayat
pemaparan, reaksi tuberculin tidak bermakna).
Kelas 2
: Ada infeksi tuberculosis tidak timbul penyakit (reaksi tes
kulit tubercilin bermakna, pemeriksaan tes tuberculin
negative, tidak ada bukti klinik maupun radiografik).
Kelas 3
: Terinfeksi
tuberculosis
dan
saat
ini
sedang
sakit
(Mycobacterium tuberculosis ada dalam biakan selain itu
reaksi tes kulit tuberculin bermakna dan bukti radiografik
tentang adanya penyakit).
Kelas 4
: Tuberkulosis saat ini tidak sedang menderita penyakit (ada
riwayat mendapatkan pengobatan pencegahan tuberculosis
atau adanya temuan radiografik yang stabil pada orang yang
reaksi tes kulit tuberculinnya bermakna, pemeriksaan
bakteriologis, bila dilakukan negatif. Tidak ada bukti klinik
dan radiografik tentang adanya penyakit pada saat ini).
Kelas 5
: Orang dicurigai mendapatkan tuberkulosis (diagnosa tunda).
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
Menurut (Mansjoer, 1999), Klasifikasi diagnostik TB adalah :
1. TB paru
a. BTA mikroskopis langsung (+) atau biakan (+), kelainan foto toraks
menyokong TB, dan gejala klinis sesuai TB.
b. BTA mikroskopis langsung atau biakan (-), tetapi kelainan rontgen dan
klinis sesuai TB dan memberikan perbaikan pada pengobatan awal anti
TB (initial therapy). Pasien golongan ini memerlukan pengobatan yang
adekuat
2. TB paru tersangka
Diagnosis pada tahap ini bersifat sementara sampai hasil pemeriksaan
BTA didapat (paling lambat 3 bulan). Pasien dengan BTA mikroskopis
langsung (-) atau belum ada hasil pemeriksaan atau pemeriksaan belum
lengkap, tetapi kelainan rontgen dan klinis sesuai TB paru. Pengobatan
dengan anti TB sudah dapat dimulai
3. Bekas TB (tidak sakit)
Ada riwayat TB pasien di masa lalu dengan atau tanpa pengobatan atau
gambaran rontgen normal atau abnormal tetapi stabil pada foto serial dan
sputum BTA (-). Kelompok ini tidak perlu diobati.
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
D. Etiologi
Etiologi Tuberculosis menurut (Naga S, 2013 ) antara lain :
a. Faktor Sosial Ekonomi
Faktor sosial ekonomi disini sangat erat kaitannya dengan kondisi rumah,
kepadatan hunian, lingkungan perumahan serta lingkungan dan sanitasi
tempat bekerja yang buruk. Semua faktor tersebut dapat memudahkan
penularan TBC. Pendapatan keluarga juga sangat erat dengan penularan
TBC, karena pendapatan yang kecil membuat ornag tidak dapat hidup
layak, yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.
b. Status Gizi
Kekurangan kalori, protein, vitamin, zat besi, dan lain-lain (malnutrisi),
akan mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang sehingga rentan terhadap
berbagai penyakit, termasuk tuberculosis paru. Keadaan ini merupakan
faktor penting yang berpengaruh dinegara miskin, baik pada orang dewasa
maupun anak-anak.
b. Umur
Penyakit tuberculosis paru paling sering ditemukan pada usia muda atau
usia produktif, yaitu 15 – 50 tahun. Dewasa ini, dengan terjadinya transisi
demografi, menyebabkan usia harapan hidup lansia menjadi lebih tinggi.
Pada usia lanjut, lebih dari 55 tahun sistem imunologis seseorang
menurun, sehingga sangat rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk
penyakit TB Paru.
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
c. Jenis kelamin
Perempuan lebih rentan terhadap kematian akibat serangan tuberculosis
paru dibandingkan akibat proses kehamilan dan persalinan. Pada laki-laki,
penyakit ini lebih tinggi, karena rokok dan minuman alkohol dapat
menurunkan sistem pertahanan tubuh. Sehingga wajar jika perokok dan
peminum beralkohol sering disebut agen dari penyakit tuberculosis paru.
E. Patofisiologi
Individu rentan yang menghirup bakteri tuberkulosis dan menjadi
terinfeksi. Bakteri dipindahkan melalui jalan napas ke alveoli, tempat dimana
mereka terkumpul dan mulai untuk memperbanyak diri. Bakteri juga
dipindahkan melalui sistem limfe dan aliran darah ke bagian tubuh lainnya
(ginjal, tulang, korteks serebri) dan area paru-paru lainnya (lobus atas).
Sistem imun tubuh berespons dengan melakukan reaksi inflamasi.
Fagosit (neutrofil dan makrofag) menelan banyak bakteri; limfosit spesifiktuberkulosis melisis (menghancurkan) bakteri dan jaringan normal. Reaksi
jaringan ini mengakibatkan penumpukan eksudat dalam alveoli, menyebabkan
bronkopneumonia. Infeksi awal biasanya terjadi 2 sampai 10 minggu setelah
pemajanan.
Massa jaringan baru, yang disebut granulomas, yang merupakan
gumpalan basil yang masih hidup dan yang sudah mati, dikelilingi oleh
makrofag yang membentuk dinding protektif. Granolumas diubah menjadi
massa jaringan fibrosa. Bagian sentral dari massa fibrosa ini disebut tuberkel
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
Ghon. Bahan (bakteri dan makrofag) menjadi nekrotik, membentuk massa
seperti keju. Massa ini dapat mengalami klasifikasi, membentuk akar
kolagenosa. Bakteri menjadi dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif.
Setelah pemajanan dan infeksi awal, individu dapat mengalami
penyakit aktif karena gangguan atau respons yang inadekuat dari respons
sistem imun. Penyakit aktif dapat juga terjadi dengan infeksi ulang dan
aktivasi bakteri dorman. Dalam kasus ini, tuberkel Ghon memecah,
melepaskan bahan seperti keju ke dalam bronki. Bakteri kemudian menjadi
tersebar di udara, mengakibatkan penyebaran penyakit lebih jauh. Tuberkel
yang memecah menyembuh, membentuk jaringan parut. Paru yang terinfeksi
menjadi lebih membengkak, mengakibatkan terjadinya bronkopneumonia
lebih lanjut, pembentukan tuberkel dan selanjutnya.
Kecuali proses tersebut dapat dihentikan, penyebarannya dengan
lambat mengarah ke bawah ke hilum paru paru dan kemudian meluas ke lobus
yang berdekatan. Proses mungkin berkepanjangan dan ditandai oleh remisi
lama ketika penyakit dihentikan, hanya supaya diikuti dengan periode
aktivitas yang diperbaharui. Hanya sekitar 10% individu yang awalnya
terinfeksi mengalami penyakit aktif. (Smeltzer, Suzanne. C. 2002).
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
F. Manifestasi Klinis
Tuberkulosis
paru
termasuk
insidius.
Sebagian
besar
pasien
menunjukkan demam tingkat rendah, keletihan, anoreksia, penurunan berat
badan, berkeringat malam, nyeri dada, dan batuk menetap. Batuk pada
awalnya
mungkin
nonproduktif,
tetapi
dapat
berkembang
ke
arah
pembentukan sputum mukopurulen dengan hemoptisis.
Tuberkulosis dapat mempunyai manifestasi atipikal pada lansia, seperti
perilaku tidak biasa dan perubahan status mental, demam, anoreksia, dan
penurunan berat badan. Basil TB dapat bertahan lebih dari 50 tahun dalam
keadaan dorman. (Smeltzer, Suzanne. C. 2002).
Gejala umum (sistemik) yang dijumpai pada semua kasus TBC adalah
batuk berdahak terus menerus selama lebih dari tiga minggu dan terkadang
disertai dengan darah. Gejala umum yang juga sering ditemui adalah :
-
Demam yang tidak terlalu tinggi dalam waktu lama. Serangan demam
biasanya terjadi pada malam hari dan disertai keringat dingin.
-
Penurunan nafsu makan yang akan diikuti dengan penurunan berat badan.
-
Rasa kurang enak badan (malaise)
-
Sesak nafas dan dada terasa nyeri.
Gejala khusus yang ditimbulkan oleh bakteti Mycobacterium
tuberculosis sangat tergantung pada jenis organ tubuh yang diserang.
Peradangan pada kelenjar getah bening mengakibatkan bronkus tersumbat,
sehingga menimbulkan sesak nafas, mengi dan nafas melemah. Munculnya
cairan pada pleura (selaput pembungkus paru-paru) akan menimbulkan
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
keluhan sakit dada. Apabila infeksi terjadi pada tulang, bisa menimbulkan
nanah pada kulit di atas tulang. Sementara itu, jika infeksi terjadi pada selaput
pembungkus otak (terutama pada anak-anak) dapat memicu terjadinya
meningitis, yaitu peradangan selaput otak. Akibatnya, akan muncul gejala
berupa demam tinggi, kejang-kejang, dan penurunan kesadaran. Sentot (2009).
G. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Mansjoer (1999) pemeriksaan penunjang untuk TB paru
sebagai berikut :
1. Anamnesia dan pemeriksaan fisik
2. Pemeriksaan laboratorium
-
Darah rutin
-
Sputum (BTA)
-
Feses/urine
3. Pemeriksaan radiologi
-
Photo thorak
4. Tes PAP
Merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat histrogen
imunoperoksidase staining untuk menentukan adanya IGB spesifik
terhadap basil TB.
5. Tes mantoux / tuberkulin
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
6. Teknik polymerase chain reaction
Deteksi DNA, kuman secara spesifik melalui emplifikasi dalam berbagai
tahap sehingga dapat mendeteksi meskipun hanya ada 1 mikroorganisme
dalam spesimen juga dapat mendeteksi adanya resistensi.
7. Becton diskinson diagnostik instrmen sistem (BACTEC)
Deteksi growth indek berdasarkan CO 2 yang dihasilkan dari metabolisme
asam lemak oleh mikrobcterium tuberculosis.
8. Enzyme linked immunosorgent assay
Deteksi respon humoral, berupa proses antigen-antibodi yang terjadi.
Pelaksanaannya rumit dan antibodi dapat menetap dalam waktu lama
sehingga menimbulkan masalah.
9. Mycodot
Deteksi antibodi memakai antigen lipoarabino mannam yang direkatkan
pada suatu alat berbentuk seperti sisir plastik, kemudian dicekupkan dalam
serum pasien. Bila terdapat antibodi spesifik dalam jumlah memadai maka
warna sisir akan berubah.
H. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan medis
Menurut Mansjoer (1999), penatalaksanaan medis TB paru sebagai
berikut:
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
a.
Obat Anti TB (OAT)
OAT harus diberikan dalam kombinasi sedikitnya dua obat yang
bersifat bakteri dengan atau tanpa obat ketiga.
Tujuan pemberian OAT, antara lain :
1) Membuat konversi sputum BTA positif menjadi negatif secepat
mungkin melalui kegiatan bakterisid
2) Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan
dengan kegiatan sterilisasi
3) Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan
daya tubuh imunologis
Pengobatan TB dilakukan melalui 2 fase yaitu :
1) Fase awal intensif, dengan kegiatan bakterisid untuk memusnahkan
populasi kuman yang membelah dengan cepat.
2) Fase lanjutan, mulai kegiatan sterilisasi kuman pada pengobatan
jangka pendek atau kegiatan bakteriosratik pada pengobatan
konvensional.
OAT yang biasa digunakan antara lain Isonizid (INH),
Rimfapisin (R), Pirazinamid (Z) dan Strepromisin (S) yang bersifat
bakterisid dan Etambutol (E) yang bersifat bakteriostatik.
Tabel 2.1 Panduan OAT pada TB Paru (WHO, 1993, dalam
Mansjoer 1999)
Panduan
Klasifikasi & Tipe
OAT
Penderita
Kategori 1
Fase Awal
Fase Lanjutan
BTA (+) baru
2HRZS(E)
4RH
Sakit berat : BTA (-)
2RHZ(E)
4R3H3
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
luar paru
Kategori 2
Kategori 3
Pengobatan ulang :
Kambuh BTA (+)
2RHZES/1RHZE
5RHE
Gagal
2RHZES/1RHZE
5R3H3E3
TB Paru BTA (-)
2RHZ
4RH
TB luar paru
2RHZ/2R3H3Z3
4R3H3
Keterangan : 2 HRZ : tiap hari selama 2 bulan
4 RH : tiap hari selama 4 bulan
4H3R3 : 3 kali seminggu selama 4 bulan
Tabel 2.2 Dosis obat antituberkulosis
Obat
Isoniazid
Rifampisin
Pirazinamid
Etambutol*
DOSIS
Setiap hari
Dua kali/minggu
Tiga kali/minggu
5 mg/kg
15 mg/kg
15 mg/kg
Maks. 300 mg
Maks. 900 mg
Maks. 900 mg
10 mg/kg
10 mg/kg
10 mg/kg
Maks. 600 mg
Maks. 600 mg
Maks. 600 mg
15-30 mg/kg
50-70 mg/kg
50-70 mg/kg
Maks. 2 g
Maks. 4 g
Maks. 4 g
15-30 mg/kg
50 mg/kg
25-30 mg/kg
15 mg/kg
25-30 mg/kg
25-30 mg/kg
Maks. 1 g
Maks. 1,5 g
Maks. 1 g
Maks. 2,5 g
Sreptomisin
b. Pembedahan pada TB Paru
Peranan pembedahan dengan adanya OAT yang paten telah berkurang.
Indikasi pembedahan dibedakan menjadi indikasi mutlak dan indikasi
relatif.
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
1. Indikasi mutlak pembedahan adalah :
a) Semua pasien yang telah mendapat OAT adekuat tetapi sputum
tetap positif.
b) Pasien batuk darah masif tidak dapat diatasi dengan cara
konservatif
c) Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak
dapat diatasi secara konservatif.
2. Infikasi relatif pembedahan adalah :
a) Pasien dengan sputum negatif dan batuk-batuk darah berulang
b) Kerusakan satu paru atau lobus dengan keluhan
c) Sisa kavitas yang menetap
Tabel 2.3 Daftar Obat Antituberkulosis
Nama Obat
1. Isoniazid
Efek Samping
a. Neuritis perifer
Tanda-tanda : kejang, pada pasien dengan kecenderungan
untuk kejang; neuritis dan atrofi optik, kejang-kejang otot,
sempoyongan, ataksia, kesemutan, stupor, ensefalopati toksik
dan kematian. Untuk pencegahan
b. Ikterus
Harus dimonitor fungsi hati (antara lain transaminase) minimal
1x/bulan, terutama bila terdapat tanda-tanda hepatitis :
anoreksia, malaise, lelah, nausea dan ikterus
c. Hipersensitivitas
termasuk :
- demam, erupsi kulit, hepatitis
- trombositopenia, agranulositosis, eosinofilia dan anemia
- gejala-gejala artritis pada beberapa sendi
d. Lain-lain : mulut kering, nyeri epigastrik, methemoglobinemia,
tinitus, retensio urin.
2. Rifampisin
a. Ikterus
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
masalah yang paling menonjol dan dapat menyebabkan
kematian. Hepatitis jarang terjadi pada pasien dengan fungsi
hati normal, tetapi penyakit-penyakit hati kronik, alkoholisme
dan usia lanjut dapat menaikkan insidensnya.
b. Flu-like Syndrome
Tanda-tanda : demam, menggigil, artralgia, pada beberapa
kasus dapat terjadi eosinofilia, nefritis interstitsial, nekrosis
tubular akut, trombositopenia, anemia hemolitik dan syok.
c. Sindrom Redman
Disebabkan dosis yang berlebihan. Terdapat kerusakan hati
yang berat, warna merah terang (seperti udang yang direbus)
pada urin, air mata, ludah, dan kulit
d. Lain-lain : nyeri epigastrik, reaksi hipersensitivitas, supresi imunitas
3. Etambutol
a. Neuritis optik
merupakan efek samping terpenting dari etambutol. Penurunan
ketajaman penglihatan dan buta warna merah/hijau. Pada dosis
lazim (15 mg/kg BB/hari) dapat terjadi :
- penurunan ketajaman penglihatan 0,8%
- rash 0,5%
- demam (drug fever) 0,3%
b. Gout (pirai)
Asam urat dalam darah meningkat pada 50% pasien, disebabkan
penurunan ekskresi asam urat di ginjal. Terjadi 24 jam sampai 90 hari
dari mulainya terapi. Diperberat oleh INH dan B6
c. Lain-lain : gatal, nyeri sendi, nyeri epigastrik, nyeri perut, malaise,
sakit kepala, sempoyongan, linglung, bingung, halusinasi
4. Pirazinamid
a. Gangguan hati
Efek samping tersering dan serius. Dosis 40-50 mg/kg BB/hari
menyebabkan gangguan faal hati pada 15% pasien dan ikterus pada 23%. Dapat menyebabkan kematian karena nekrosis hati
b. Gout (pirai)
hiperurisemia terjadi karena menurunnya ekskresi asam urat
c. Lain-lain : artralgia, anoreksia, mual-muntah, disuria, malaise,
demam
4.
Steptomisin
a. Reaksi terpenting disebabkan oleh hipersensitifitas
b. mempengaruhi saraf otak kedelapan, dapat menimbulkan gangguan
vaskuler, seperti sempoyongan, vertigo dan tuli.
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
c. dapat menurunkan fungsi ginjal :
catatan : bila pasien mengeluh baal di muka terutama sekitar mulut
segera setelah pengobatan, tapi bukan tanda toksisitas obat dan bukan
indikasi penghentian pengobatan. Namun bila gejala menetap, dosis
Streptomisin harus diturunkan menjadi 0,5 gram/hari.
5.
Aminogli-kosida
lain
a. Amikasin
Toksisitas terhadap pendengaran dan fungsi ginjal. Hanya
digunakan bila kuman penyebab resisten terhadap streptomisin dan
kanamisin.
b. Kanamisin
Efek toksik umum ditemukan pada pasien yang mendapat 1
gram/hari. Efek toksik cukup berat berupa paralisis neuromuskular,
depresi napas, agranulositosis, tulis, anafilaksis dan nefrotoksisitas
c. Kapreomisin
Tinitus, ketulian, proteinemia, silinduria dan retensi nitrogen. Dapat
terjado
leukositosis,
leukopenia,
urtikaria
dan
reaksi
kulit
makulopapular dan demam obat. Obat ini dapat menyebabkan nyeri
di tempat suntikan
6.
Golongan
Tionamid
a. Tersering adalah gangguan saluran cerna : anoreksia, mual, muntah,
dan diare
b. Gangguan fungsi hati yang reversibel bila obat dihentikan
7.
Fluorokuinolon
3. Fluorokuin olon
a. Tersering adalah gangguan saluran cerna, sakit kepala dan pusing
b. Gangguan SSP berat : halusinasi, delirium, dan kejang
c. Artralgia dan pembengkakan sendi (KI : anak, dewasa muda dan
wanita hamil)
d. Menghambat metabolisme teofilin
8. Sikloserin
Gangguan SSP : kantuk, sakit kepala, tremor, disatria, vertigo, bingung,
gelisah, iritabilitas, psikosis dengan kecenderungan bunuh diri,
gangguan penglihatan
5. Asam Paraamino Salisilat (PAS)
a. Efek samping yang sangat mengganggu terutama terhadap saluran
cerna
b. Hipotiroidisme, hipokalemia, kelainan kulit, dan gangguan fungsi
hati
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
Menurut Mansjoer(1999), Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) :
Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) adalah nama untuk suatu
stratregi yang dilaksanakan di pelayanan kesehatan dasar di dunia untuk
mendeteksi dan menyembuhkan pasien TB. Strategi ini terdiri dari 5
komponen, yaitu :
1. Dukungan politik para pemimpin wilayah di setiap jenjang sehingga
program ini menjjadi salah satu prioritas dan pendanaan pun akan tersedia.
2. Mikroskop sebagai komponen utama untuk mendiagnosa TB melalui
pemeriksaan sputum langsung pasien tersangka dengan penemuan secara
pasif.
3. Pengawas Minum Obat (PMO) yaitu orang yang dikenal dan dipercaya
baik oleh pasien maupun petugas kesehatan yang akan ikut mengawasi
pasien minum seluruh obatnya sehingga dapat dipastikan bahwa pasien
betul minum obatnya dan diharapkan sembuh pada akhir masa
pengobatannya.
4. Pencatatan dan pelaporan dengan baik dan benar sebagai bagian dari
system surveilans penyakit ini sehingga pemantauan pasien dapat berjalan.
5. Paduan obat anti TB jangka pende yang benar, termasuk dosis dan jangka
waktu yang tepat, sangat penting untuk keberhasilan pengobatan.
Termasuk terjaminnya kelangsungan persediaan paduan obat ini. Paduan
yang berlaku di Indonesia sesuai dengan anjuran WHO.
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
Patways dan Diagnosa Keperawatan
Perokok Pasif
Tidak
diimunisasif
Kurang gizi
Daya tahan tubuh
lemah
Lingkungan
kotor
Terrular dari droplet/percikan
batuk/pasien penderita TB Paru
Bakteri M. Tuberculosis
masuk dalam saluran pernafasan
melalui udara
Tidak di hancurkan
Dihancurkan oleh
Pertahanan tubuh (antibody)
Berkembang biak di dalam paru
TB tidak terjadi
TBC
TBC Primer
TBC Post Primer
Terjadi peradangan
Penyebaran ke pleura
& bronkus
Produksi mukus / secret
meningkat
Pleuritis & Bronkitis
Nekrosis jaringan
Paru
Nyeri dada
Pengapuran jaringan
Penumpukan sekret
MK : gangguan pertukaran gas
MK : bersihan jalan
Nafas tidak afektif
Mual, muntah, anoreksia
Intake berkurang
MK : nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
(Sumber : Mansjoer. 2000,Smeltzer 2002,Wilkinson,2012)
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
I. Fokus Intervensi
Menurut Wilkinson(2012) diagnosa keperawatan yang
muncul
sebagai berikut :
a. Besihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan
secret/mukos, secret kental, upaya batuk buruk.
Tujuan dan KH (NOC) : Respiratory status: Airway potency
-
Menunjukkan nafas yang paten
-
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak
ada sianosis
-
Pasien tampak rileks, tidak terjadi penumpukan secret
Intervensi (NIC) : Airway manajemen
-
Kaji fungsi pernafasan : bunyi nafas, kecepatan, irama, frekuensi
-
Auskultasi bunyi nafas sebelum dan sesudah batuk
-
Berikan pasien posisi semi flower
-
Berikan terapi O 2 sesuai kebutuhan
-
Berikan bronkodilator bila perlu
-
Ajarkan batuk efektif dan latihan nafas dalam
-
Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml
-
Anjurkan tidak mengkonsumsi makanan yang berlemak
-
Kolaborasi dengan medis untuk pemberian obat-obatan
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan
paru, nekrosis jaringan paru, secret yang kental.
Tujuan dan KH (NOC) : Respiratory status: gas exchange
-
Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang
adekuat
-
Memelihara kebersihan paru dan bebas dari tanda-tanda distress
pernafasan
-
Oksigen jaringan adekuat dengan ditandai karilari revil < 3 detik
Intervensi (NIC) : Airway management
-
Kaji dispneu, takipneu, bunyi pernafasan abnormal, peningkatan upaya
respirasi dan kelemahan
-
Evaluasi perubahan tingkat kesadaran. Catat tanda-tanda sianosis,
perubahan warna kulit, membran mukosa dan warna kuku
-
Anjurkan untuk bedrest, batasi dan bantu aktifitas sesuai kemampuan
-
Berikan O 2 sesuai indikasi
c. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan adanya produksi
sputum, mual, muntah,m anokresia, intake nutrisi berkurang
Tujuan dan KH (NOC): Nutritional status : food and fluit intake
-
Kebutuhan nutrisi terpenuhi
-
BB ideal sesuai tinggi badan
-
tidak ada tanda-tanda mal nutrisi
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
Intervensi (NIC) : Nutritional management
-
Kaji adanya alergi makanan
-
Anjurkan untuk tidak makan makanan yang merangsang mual,muntah
-
Monitor intake dan output secara periodik
-
Anjurkan untuk makan sedikit tapi sering
-
Anjurkan untuk makan selagi hangat
-
Kolaborasi ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan
d. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis
Tujuan dan KH (NOC) : Pain control
-
Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan skala nyeri
-
Mampu mengontrol nyeri
-
Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
Intervensi (NIC) : Pain management
-
Kaji nyeri secara komprehensif meliputi : PQRST
-
Observasi reaksi non verbal terhadap ketidaknyamanan
-
Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman
nyeri pasien
-
Ajarkan teknik relakasasi kepada pasien
-
Anjurkan teknik relaksasi kepada pasien
-
Anjurkan pasien istirahat
-
Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi analgesik
Asuhan Keperawatan Pada..., NURSITI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2013
Download