plagiat merupakan tindakan tidak terpuji plagiat

advertisement
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PROGRAM KONSELING PASTORAL DI RUMAH SAKIT
(Studi Evaluasi Program Konseling Pastoral Di RSK Budi Rahayu
Blitar- Jawa Timur, Tahun 2015)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Bimbingan Dan Konseling
Disusun Oleh:
Rukini
NIM: 111114053
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2016
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PROGRAM KONSELING PASTORAL DI RUMAH SAKIT
(Studi Evaluasi Program Konseling Pastoral Di RSK Budi Rahayu
Blitar-Jawa Timur, Tahun 2015)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Bimbingan Dan Konseling
Disusun Oleh:
Rukini
NIM: 111114053
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2016
i
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
HALAMAN MOTTO
Janganlah takut, sebab AKU menyertai engkau. Janganlah bimbang,
sebab AKU ini Allahmu; AKU akan meneguhkan, bahkan akan
menolong engkau
(Yesaya 41: 10).
 Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah dari pada-KU, sebab
AKU ini lemah lembut dan rendah hati (Matius 11: 29).
 Jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-KU bagimu,
sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-KU menjadi sempurna”.
Jika aku lemah, maka aku kuat (2 Korintus 12:9-10).
Waktu yang ditentukan Tuhan adalah tepat dan baik adanya.
Berharap dengan usaha yang sabar dan berdoa, maka aku mampu
untuk bersukacita dan bersyukur (Sr. V. Rukini, SSpS).
iv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
HALAMAN PERSEMBAHAN
1. Allah Tritunggal Mahakudus yang setia membimbing
dan menyertai saya.
2. Kongregasi Misi Abdi Roh Kudus (SSpS) dan
Provinsi SSpS “Maria Bunda Allah”-Jawa.
3. Para suster SSpS yang selalu mendukung dan
mendoakan selama perjalanan hidup dan study saya.
4. Bapak, Ibu, dan saudara, sahabat, serta teman-teman
yang mendukung studi dan terselesainya skripsi ini.
5. Program studi bimbingan dan konseling, Bapak/Ibu
dosen, dan teman-teman angkatan 2011, serta semua
yang turut mendukung studi saya.
6. Para suster, para Dokter, para perawat, staf PC, dan
karyawan di RSK Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur.
v
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PERNYATAAN HASIL KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini, tidak
memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam
kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 12 Januari 2016
Penulis
Rukini
vi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN
PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:
Nama : Rukini
NIM
: 111114053
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan
Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:
PROGRAM KONSELING PASTORAL DI RUMAH SAKIT
(Studi Evaluasi Program Konseling Pastoral Di RSK Budi Rahayu BlitarJawa Timur, Tahun 2015)
beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada
Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam
bentuk media lain, mengolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan
secara terbatas, dan mempublikasikan di Internet atau media lain untuk kepentingan
akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalty kepada
saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal: 12 Januari 2016
Yang menyatakan
Rukini
vii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
ABSTRAK
PROGRAM KONSELING PASTORAL DI RUMAH SAKIT
(Studi Evaluasi Program Konseling Pastoral Di RSK
Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur, Tahun 2015)
Rukini
Universitas Sanata Dharma
2016
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui perencanaan pelayanan
Konseling Pastoral di Rumah Sakit Katolik/RSK Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur;
2) Mengetahui proses pelayanan Konseling Pastoral di RSK Budi Rahayu BlitarJawa Timur; 3) Mengetahui hasil pelayanan Konseling Pastoral di RSK Budi Rahayu
Blitar-Jawa Timur?
Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Subyek penelitian adalah
RSK Budi Rahayu Blitar, dengan responden penelitian adalah Suster pemilik RSK
Budi Rahayu, Romo paroki, dokter, staff Pastoral Care (PC), perawat dan majelis.
Sumber data dalam penelitian ini adalah para responden yang terlibat dalam layanan
Konseling Pastoral, dokumen, seorang ibu dan seorang bapak pasien rawat inap RSK
Budi Rahayu Blitar, dan suami pasien rawat inap di RSK Budi Rahayu Blitar.
Metode pengumpulan data adalah wawancara, observasi, dan studi dokumen.
Instrumen penelitian adalah pedoman wawancara dan observasi. Analisis data
dilakukan melalui analisis trianggulasi sumber dan trianggulasi teknik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan Konseling Pastoral di RSK
Budi Rahayu berjalan sesuai dengan program PC. Perencanaan program ditetapkan
setiap tiga tahun sekali, melalui prosedur tetap pelayanan hidup rohani bagi pasien.
Perencanaan yang dilakukan sesuai dengan Pesan KWI (Konferensi Wali Gereja
Indonesia) kepada Karya-Karya Kesehatan Katolik 1978, butir: 52, yaitu memberi
perhatian dan pendampingan kepada pribadi pasien secara utuh agar mereka yang
sakit dapat merasakan adanya dukungan, perhatian, dan pada akhirnya dapat
menemukan makna dalam hidupnya, serta dapat berelasi dengan baik terhadap sang
Pencipta. Pelaksanaan layanan konseling di RSK Budi Rahayu, sudah berjalan sesui
prosedur yang ditetapkan yaitu kunjungan pasien setiap hari dan penerimaan
sakramen bagi pasien rawat inap yang beragama katolik. Hal yang kurang yaitu
tenaga konseling pastoral (PC) di RSK Budi Rahayu memiliki latar belakang
pendidikan di luar ilmu psikologi maupun teologi, dan tidak tersedia ruang konseling.
Hasil dari layanan konseling pastoral adalah pasien dan keluarga pasien merasakan
perhatian, dukungan dan penghargaan dari pihak rumah sakit, sehingga memunculkan
harapan untuk sembuh. Dampak positipnya adalah meningkatnya kepercayaan
masyarakat terhadap pelayanan RSK Budi Rahayu Blitar.
Kata kunci: Konseling Pastoral, Pasien Rawat Inap, Pastoral Care, dan Rumah sakit.
viii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Abstract
THE PROGRAM OF THE PASTORAL COUNSELING AT THE HOSPITAL
(Study on Evaluation on Pastoral Counseling Ministry
at the Catholic Hospital “Budi Rahayu” Blitar-East Java, Year 2015)
Rukini
University of Sanata Dharma
2015
The puspose of this research is to: 1) determine the planning of the pastoral
counseling ministry at the Catholic Hospital “Budi Rahayu” Blitar, East Java; 2)
know the process of the pastoral counseling ministry at the Catholic Hospital “Budi
Rahayu” Blitar, East Java; 3) apprehend the result of the pastoral counseling ministry
at the Catholic Hospital “Budi Rahayu” Blitar, East Java.
This type of research was qualitative. The subject was the Catholic Hospital
“Budi Rahayu” Blitar, with respondents comprising of SSpS Sister as the owner of
the hospital, parish priest, physician, staff of Pastoral Care, nurses and assemblies.
The source of data was gathered from the respondents, two patients (a man and a
woman), a husband of patient's family, and documents. The Methods for collecting
data was through interview, observation, and study document. Meanwhile, the
instrument was the guidance interview and observation. The data analysis was
performed through the analysis of the source triangulation and the triangulation
technique.
The result of the research shows that the pastoral counseling ministry at the
Catholic Hospital “Budi Rahayu” Blitar East Java is performed in accordance with
the pastoral care program. The program is planned in every three year stressing the
needs for spiritual life of patients. Furthermore, the planning is done in line with the
message of the Mawi/KWI on the Catholic Health Works 1978, article 52, which
gives attention and assistance to patients as a whole in such a way that the sick can
feel the support, attention, and eventually be able to find meaning of life and relate
himself/herself well to the Creator. The implementation of the pastoral counseling
ministry at the Catholic Hospital Budi Rahayu Blitar, East Java has been running
within their established procedure that visit patients every day and perform the
sacramental service for inpatients who are Catholics. The concern for improvement is
that the hospital should have more pastoral counselors from different educational
background, not only from psychology and theology. The other issue is that the need
for the availability of a comfortable counseling room at the hospital. Meanwhile, the
result of the pastoral counseling ministry is that the patients and their families feel the
attention, support and recognition of the hospital that raises their hope for a cure. The
positive impact is increasing public confidence of the city of Blitar and surrounding
ix
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
areas to the health care and services at the Catholic Hospital “Budi Rahayu” Blitar,
East Java.
Keywords: Pastoral Counseling, Patients, Pastoral Care, Hospital
x
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis persembahkan kepada Allah Tritunggal Maha Kudus
atas kasih, bimbingan, penyertaan, dan rahmatNya dalam seluruh proses penulisan
skripsi ini dari awal perencanaan, selama proses penulisan hingga terselesainya
skripsi ini.
Skripsi ini ditulis dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh
gelar sarjana pendidikan dari Program Studi Bimbingan dan Konseling, Jurusan Ilmu
Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.
Penulis menyadari bahwa terselesainya penulisan skripsi ini tidak lepas dari
bimbingan dan dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima
kasih yang tulus kepada:
1. Bapak Rohandi, Ph.D, selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
2. Bapak Dr. Gendon Barus, M.Si., sebagai Ketua Program Studi Bimbingan dan
Konseling Universitas Sanata Dharma.
3. Bapak Juster Donal Sinaga, M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi
Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma, sekaligus dosen
pembimbing skripsi. Terima kasih untuk kesabaran, bimbingan, motivasi, ide
dan pencerahannya selama proses penulisan skripsi hingga terselesainya
skripsi ini.
4. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas
Sanata Dharma atas bimbingan dan pendampingan selama penulis menempuh
studi.
5.
Tim Pimpinan Kongregasi SSpS dan Tim Pimpinan Provinsi Jawa, atas
kepercayaan, kesempatan, dan dukungan yang diberikan, sehingga penulis
dapat menyelesaikan studi di perguruan tinggi Universitas Sanata Dharma
Program Studi Bimbingan dan Konseling.
xi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
6. Mas Moko sebagai petugas sekretariat yang selalu membantu selama penulis
menempuh pendidikan.
7. Sr. Rosa Indrawikan, SSpS dan para Suster komunitas Roh Suci, serta para
suster SSpS Provinsi Jawa yang senantiasa mendukung dan mendoakan
penulis hingga terselesainya skripsi.
8. Bapak dan Ibu Thomas Soepomo selaku orang tua penulis, serta semua
saudara yang selalu mendukung dengan doa.
9. Para suster, dokter, para perawat, dan semua pihak RSK Budi Rahayu Blitar
yang membantu selama penelitian hingga terjadinya skripsi ini.
10. Sr. Redemta, SSpS, Pak Edi, dan staff Pastoral Care RSK St. Vincentius
A Paulo Surabaya yang turut membantu peneliti dalam meminjamkan
beberapa referensi buku tentang Konseling Pastoral bagi peneliti.
11. Sahabat-sahabat dan teman-teman angkatan 2011 atas motivasi yang
diberikan kepada penulis dalam proses penulisan skripsi.
12. Semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam proses
penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari adanya keterbatasan dalam penulisan skripsi ini, untuk itu
penting adanya masukan, saran, dan kritik terhadap karya ini. Akhirnya, penulis
berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Yogyakarta, 12 Januari 2016
Rukini
xii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..................................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................................... iii
HALAMAN MOTTO ................................................................................................. iv
HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................................. v
PERNYATAAN HASIL KARYA .............................................................................. vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA UNTUK
KEPENTINGAN AKADEMIS ................................................................................. vii
ABSTRAK ................................................................................................................ viii
ABSTRACT ................................................................................................................ ix
KATA PENGANTAR ................................................................................................ xi
DAFTAR ISI ............................................................................................................. xiii
DAFTAR TABEL ..................................................................................................... xvi
DAFTAR BAGAN .................................................................................................. xvii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... xviii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah ................................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ...................................................................................... 10
C. Pembatasan Masalah ..................................................................................... 11
D. Pertanyaan Penelitian .................................................................................... 11
E. Tujuan Penelitian .......................................................................................... 12
F. Manfaat Penelitian ......................................................................................... 12
BAB II KAJIAN PUSTAKA ..................................................................................... 14
A. Hakikat Konseling Pastoral ............................................................................ 14
1. Sejarah Konseling Pastoral ...................................................................... 14
2. Definisi Konseling Pastoral...................................................................... 16
xiii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
3. Ciri Khas Konseling Pastoral ................................................................... 17
4. Tujuan Layanan Konseling Pastoral ........................................................ 18
5. Ciri-ciri Konselor Efektif ......................................................................... 19
6. Hal yang Merugikan dan perlu dihindari dalam Konseling Pastoral ....... 27
7. Ketepatan Waktu Pelayanan Konseling Pastoral ..................................... 29
8. Aspek-aspek Konseling Pastoral .............................................................. 30
9. Teknik-teknik Konseling.......................................................................... 45
10. Tahap-tahap Layanan Konseling Pastoral ................................................ 51
11. Fungsi Konseling Pastoral........................................................................ 54
12. Etika Pastoral dengan Kode Etiknya. ....................................................... 56
B. Hakikat Pasien/orang-orang Sakit .................................................................. 67
1. Definisi Pasien ......................................................................................... 67
2. Peranan Perawat dalam Perawatan Spiritual Pasien ................................ 72
3. Model Kesehatan Spiritual ...................................................................... 73
C. Hakikat Evaluasi Program ............................................................................. 76
1. Definisi Evaluasi Program ....................................................................... 76
2. Ciri-ciri dan Persyaratan Evaluasi Program ............................................. 76
3. Tujuan Evaluasi Program ......................................................................... 77
4. Manfaat Evaluasi Program ....................................................................... 78
5. Langkah-langkah Evaluasi Program ........................................................ 78
D. Kajian Penelitian yang Relevan ..................................................................... 79
E. Profil Rumah Sakit ........................................................................................ 81
F. Kerangka Pikir ............................................................................................... 83
BAB III METODE PENELITIAN............................................................................. 84
A. Jenis Penelitian ............................................................................................... 84
B. Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................................ 92
1. Tempat Penelitian..................................................................................... 92
2. Waktu Penelitian ...................................................................................... 92
xiv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
C. Responden Penelitian ..................................................................................... 82
D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ..................................................... 93
E. Keabsahan Data ............................................................................................ 101
F. Teknik Analisis Data .................................................................................... 102
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ......................................... 104
A. Hasil Penelitian ............................................................................................ 104
B. Pembahasan .................................................................................................. 131
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN................................................................... 137
A. Kesimpulan .................................................................................................. 137
B. Saran ............................................................................................................. 140
C. Keterbatasan Penelitian ................................................................................ 142
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 143
LAMPIRAN ............................................................................................................. 145
xv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Kriteria Evaluasi Konseling Pastoral ........................................................... 80
Tabel 2. Perencanaan Evaluasi ................................................................................... 90
Tabel 3. Daftar Jumlah Responden ............................................................................ 92
Tabel 4. Pedoman Wawancara Responden ................................................................ 97
Tabel 5. Pedoman Wawancara kepada Pasien ........................................................... 99
Tabel 6. Pedoman Observasi .................................................................................... 100
Tabel 7. Hasil Evaluasi Konteks .............................................................................. 105
Tabel 8. Hasil Evaluasi Inputs ................................................................................. 106
Tabel 9. Hasil Evaluasi Proses ................................................................................. 108
Tabel 10. Hasil Evaluasi Hasil ................................................................................ 121
xvi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR BAGAN
Bagan 1. Model konseptual kesehatan spiritual saat sakit ......................................... 75
Bagan 2. Kerangka Pikir ............................................................................................ 83
xvii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR LAMPIRAN
Lembar Permohonan Ijin Penelitian......................................................................... 145
Lembar Telah Melakukan Penelitian ....................................................................... 146
Rekapitulasi Hasil Wawancara Responden .............................................................. 147
Hasil Wawancara Dengan Pasien............................................................................. 185
Hasil Wawancara Dengan Suami Pasien
Hasil Observasi
Program Tetap Konseling Pastoral RSK Budi Rahayu
xviii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB I
PENDAHULUAN
Bab ini memaparkan latar belakang masalah, identifikasi masalah,
pembatasan masalah/fokus penelitian, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Rumah sakit pada dewasa ini mengalami perkembangan yang sangat pesat,
hal itu nampak dari semakin menjamurnya rumah sakit di Indonesia pada dewasa
ini. Hal itu tentu menjadi tantangan bagi setiap rumah sakit dalam usaha untuk
meningkatkan profesionalisme. Profesionalisme tidak hanya dalam bidang medis,
tetapi juga sarana-sarana dan media yang mendukung demi pelayanan yang
memuaskan bagi pasien yang dilayani. Misalnya: laboratorium, ruang operasi,
farmasi, bangsal, ruang rekam medis, administrasi keuangan, dan juga sarana
spiritual yang disediakan melalui layanan konseling melalui unit pastoral care.
Rumah Sakit Katolik Budi Rahayu merupakan rumah sakit katolik satusatunya yang ada di Blitar-Jawa Timur. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit
swasta tipe C, dengan status penuh tingkat lengkap ini berusaha untuk
memberikan pelayanan kesehatan secara holistik. Yaitu sebuah pelayanan yang
menyeluruh dan mendalam, baik dalam pendampingan profesional maupun dalam
pendampingan manusiawi. Tantangan dan perkembangan jaman yang begitu pesat
dewasa ini, mengakibatkan semakin kaburnya nilai-nilai luhur pelayanan.
Pendampingan sangat dibutuhkan di rumah sakit ini karena semakin kompleksnya
masalah yang dihadapi oleh pasien maupun karyawan.
1
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
2
Menanggapi kebutuhan tersebut, maka rumah sakit ini mendirikan sebuah
unit pelayanan pastoral atau biasa disebut unit Pastoral Care (PC). Unit PC
didirikan pada tahun 1994, landasan diadakan pelayanan pastoral di RSK Budi
Rahayu adalah untuk melaksanakan tugas sebagai sakramen keselamatan,
meneruskan misi Yesus berdasarkan Visi dan Misi Kongregasi Misi Abdi Roh
Kudus, serta penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila.
Kegiatan pastoral berawal dari sebuah kunjungan kepada pasien yang
dilakukan oleh para Suster SSpS (kebangsaan Eropa). Kunjungan dan sapaan
tersebut diberikan kepada seluruh pasien rawat inap dan keluarganya, tanpa
membedakan agama, suku, maupun latar belakangnya. Kepedulian yang tinggi
kepada pasien dan anggota keluarganya diberikan setiap hari di sela-sela
kekosongan waktu mereka. Kehadiran yang dilandasi nilai kasih Kristus, dengan
menyapa semua pasien dan keluarganya membuat pasien dan keluarganya merasa
gembira dan dikuatkan. Kunjungan yang kadang hanya menyapa dan memberi
senyum tersebut, ternyata menjadi kenangan tersendiri bagi para pasien dimasa
itu. Kegiatan tersebut selalu dirindukan pasien dan keluarganya pada zaman ini.
Dari hasil wawancara dan observasi kepada para pasien, menunjukkan
bahwa pasien sangat gembira menerima kunjungan dari petugas PC maupun
pihak-pihak yang terlibat dalam layanan pastoral (Romo, Suster SSpS, dan
Majelis). Para pasien dan keluarganya mengungkapkan bahwa pelayanan di RSK
Budi Rahayu sangat memuaskan, penuh perhatian, dan mengorangkan orang lain.
RSK Budi Rahayu Blitar merupakan rumah sakit katolik, mayoritas pasiennya
adalah muslim. Namun mereka senang memilih rumah sakit ini karena cepat
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
3
ditangani, bahkan ketika ternyata pembayarannya kurang mereka boleh pulang
dengan syarat meninggalkan KTP tanpa jaminan apapun. Demikian dalam
pelayanan doa yang diberikan oleh Romo umat yang beragama lain juga minta
didoakan.
Dalam kunjungan dan observasi dapat dilihat bahwa kegiatan konseling
pastoral di RSK Budi Rahayu sangat dibutuhkan. Hal itu nampak ketika pasien
mendapat kunjungan dari unit PC maupun Suster SSpS dengan sendirinya mereka
menceritakan perasaan dan pergulatan, baik dengan anak, menantu, dan dengan
orang
lainnya.
Mereka
membutuhkan
kehadiran
seseorang
yang
bisa
mendengarkannya. Ada seorang pasien muslim (32/L) yang dua kali dalam
hitungan bulan menjalani rawat inap di RSK Budi Rahayu karena psikosomatis
dengan sakit magnya, bahkan ketika sudah diijinkan untuk pulang dia masih takut
karena takut kambuh penyakitnya. Setelah memperoleh pendampingan ia menjadi
lebih siap dan mampu berpikir positip terhadap sakitnya, serta ada harapan bahwa
bisa sembuh dengan niat pola hidup yang sehat. Pasien ini menyatakan bahwa
sebelumnya tidak pernah mendapatkan kunjungan dari PC dan baru tahu bahwa
ada layanan semacam ini.
Kenyataan menunjukkan bahwa hampir semua pasien mengharapkan
kunjungan dan perhatian. Meskipun kadang pasien ingin bercerita sedang
keluarga berusaha menutupinya, misalnya: kasus minum racun. Petugas pastoral
hanya bisa menemani dan menguatkan pasien dan keluarganya. Kegiatan
kunjungan terhadap pasien dan keluarga pasien bisa dilaksanakan setiap hari.
Kendalanya adalah keterbatasan tenaga, sehingga membuat pelayanan ini kurang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
4
mampu menjangkau seluruh pasien dan keluarganya.
Pasien yang mayoritas
muslim banyak yang belum mengerti tentang unit PC fungsi dan manfaatnya bagi
mereka.
Semakin kompleknya masalah dan kebutuhan pasien, membuat pasien dan
keluarganya terutama yang beragama katolik merindukan adanya kehadiran Romo
atau suster di RSK Budi Rahayu Blitar. Hal itu terjadi karena jumlah suster
biarawati yang berkarya di tempat ini berkurang, dan semakin banyaknya tuntutan
tugas yang diembannya terkait peraturan-peraturan pemerintah saat ini.
Pada awal berdirinya unit ini ada suster dan tim yang khusus dibidang ini,
tetapi karena suster tersebut harus pergi misi ke luar negeri, maka tugas tersebut
digantikan oleh awam. Kenyataan bahwa jumlah tenaga yang bergerak dalam
bidang pelayanan ini kurang, maka tim medis (dokter dan perawat) juga terlibat
melakukan layanan ini. Hal itu dilakukan sebagai bagian yang terintegrasi antara
layanan medis dan spiritual, demi kesembuhan pasien secara utuh (holistik).
Meski demikian pelayanan tersebut belum dirasakan oleh semua pasien dan
anggota keluarganya.
Pengadaan layanan ini juga sebagai bentuk jawaban atas seruan MAWI
(Majelis Agung Wali Gereja Indonesia), bahwa karya rumah sakit katolik
merupakan sarana untuk mewartakan kehadiran kerajaan Allah bagi mereka yang
menderita sakit. Maka untuk itu perlu adanya tenaga yang mampu mendampingi
pasien secara profesional, yaitu sebuah perhatian dan pendampingan kepada
pribadi pasien secara utuh agar mereka yang sakit dapat merasakan adanya
dukungan, perhatian, dan pada akhirnya dapat menemukan makna dalam
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
5
hidupnya, serta dapat berelasi dengan baik terhadap sang Pencipta (Pedoman Etis
dan Pastoral Rumah Sakit Katolik 1987 dan Pesan-Pesan MAWI Kepada KaryaKarya Kesehatan Katolik 1978, butir: 52 ).
Pada fajar abad baru, spiritualitas diliput secara luas oleh media dan
didiskusikan oleh banyak kalangan, baik pekerja, politisi, dan pendidik
(Messikomer De Craemer, 2002). Spiritualitas juga menarik perhatian para
professional penyelenggara perawatan kesehatan, karena terbukti bahwa faktor
spiritual merupakan unsur penting dari kesehatan dan kesejahteraan (Dossey,
2001). Para penyelenggara kesehatan semakin sadar untuk memusatkan perhatian
pada hubungan spiritualitas dan kesehatan. Zaman informasi juga mengakui
zaman intuisi, para profesional perawatan kesehatan harus lebih memusatkan
perhatian pada pola pikir kreatif, lateral, dan emosional daripada pola pikir logis,
linier, dan mekanistik (Reynolds, 2001). Pergeseran pusat perhatian menuntut
tersedianya perawatan yang meliputi perspektif yang mencakup seluruh aspek
jiwa, tubuh, dan spirit. Burkhardt dan Nagai-Jacobson (Spirituality: Living Our
Contentedness 2002:1), mengungkapkan bahwa spiritualitas merupakan pusat
perawatan seluruh pribadi manusia.
Pastoral care adalah sebuah kegiatan pendampingan dan bimbingan
manusiawi khususnya kepada sesama yang menderita kearah hubungan yang lebih
baik, akrab dan percaya kepada Tuhan, diri sendiri, sesama, keluarga, dan
lingkungan sekitarnya (Tim Pastoral Care RS X, 2011:8). Pastoral care memiliki
peran dalam pelayanan di rumah sakit khususnya memberi siraman rohani,
mendampingi dan membimbing pasien juga keluarganya
yang membutuhkan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
6
informasi, sebuah kehadiran dan motivasi, bagi yang mengalami masalah ataupun
tekanan batin.
Menurut Willis (2014:3), pasien adalah manusia dengan segenap aspeknya
(fisik, psikis, sosial, dan sebagainya). Dia mempunyai kebutuhan yang amat
mendalam yakni ingin sembuh dengan biaya terjangkau. Pelayanan yang baik
terhadap kesehatannya menjadi kebutuhan kejiwaan yang mendalam. Yang
dibutuhkan mereka bukan semata-mata kebutuhan fisik saja, lebih dari itu
keramahan dan kesabaran para dokter dan perawat juga turut membantu
kesembuhan pasien, serta sebaliknya.
Relasi dokter dan pasien merupakan hubungan yang membantu (helping
relationship). Artinya sebagai tenaga profesional dibidang kesehatan, dokter
membantu pasien dengan hati nurani yang ikhlas dan rela demi ibadah kepada
Tuhan melalui hubungan yang baik dengan sesama manusia. Dokter adalah
profesional yang ahli dalam penyembuhan. Dokter yang menghargai, ramah,
penuh perhatian dan memotivasi pasien supaya cepat sembuh, maka pasien dapat
segera sembuh sebab kejiwaannya menjadi senang, tenang, dan punya harapan
yang tinggi untuk hidup (Willis. 2014:3).
Pasien adalah orang yang sakit. Sakit yang dimaksudkan tidak hanya
secara fisik tetapi secara psikologis dan mentalnya juga mengalami kemunduran.
Biasanya orang sakit sering tidak stabil secara psikologis, dia akan mudah marah
dan sensitif terhadap sikap/perilaku dan tutur kata orang di sekitarnya, serta
membutuhkan perhatian dan dukungan di luar kebiasaan orang sehat. Secara fisik
melalui perawatan dokter dan perawat dengan obat yang diberikan mungkin bisa
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
7
mengurangi ataupun mengatasi rasa sakitnya, namun hal itu juga masih membuat
seorang pasien belum mengalami sebuah kesembuhan karena masih ada hal-hal
lain di luar sakit fisiknya. Model keperawatan terbaru mengakui peran penting
suatu pendekatan holistik pada perawatan pasien. Pandangan spiritual tentang
hidup, termasuk cinta, kegembiraan, kelemahlembutan, kebaikan hati, kesetiaan,
ugahari, harapan, kelembutan, dan kesabaran, tak pernah pudar hanya karena
seorang menjadi pasien. Seperti diungkapkan Kleindienst (Young dan Koopsen.
2007: 45), bahwa pasien yang tidak berpengharapan biasanya lebih membutuhkan
pendampingan untuk menemukan makna hidup daripada pengobatan.
Sapaan dokter dan para perawat mungkin bisa memberi motivasi bagi
pasien, namun hal itu kurang didapatkan mengingat kesibukan para dokter dan
perawat, terkait administrasi yang harus diselesaikan dan karena banyaknya
pasien. Selain itu Willis (2014:3) mengatakan bahwa, masalah yang dihadapi oleh
dokter dan perawat bukan soal profesinya, melainkan cara (teknik) komunikasi
yang mempercepat kesembuhan dan perkembangan pasien. Yaitu komunikasi dua
arah (dialog) yang membuat pasien menyatakan semua keinginan, keluhan,
kecemasan, dan sebagainya. Bila hal itu ditanggapi secara positip maka terjadilah
konseling. Hal itu menjadi masalah karena mereka kurang waktu untuk
melakukan pelayanan itu.
Di samping itu penyelenggaraan perawatan spiritual bisa mengalami
hambatan yang disebabkan oleh pasien. Seperti diungkapkan oleh McShherry dan
Cash (Young dan Koopsen. 2007:45), pasien juga menjadi sumber hambatan
perawatan spiritual. Hambatan tersebut antara lain: ketakutan mereka akan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
8
disalahpahami, kekurangpahaman akan spiritual dan akibatnya bagi kesehatannya,
ketidakmampuan mereka untuk berkomunikasi karena penyakit atau mati rasa,
atau prasangka buruk mereka pada penyelenggara perawatan.
Adanya situasi seperti itu sangatlah penting bagi sebuah rumah sakit
memiliki sebuah unit yang secara khusus memberi pelayanan pendampingan bagi
para pasien. Sebuah unit yang menyediakan tenaga konseling, yang mampu hadir,
mendengarkan setiap keluhan dan kebutuhan pasien dan keluarganya, serta
mampu memberi dukungan dan perhatian. Sebuah integrasi antara obat yang
diberikan dan pendampingan secara rohani/spiritual akan turut menyembuhkan
secara utuh. Ini yang menjadi harapan dibeberapa rumah sakit yaitu mencapai
rumah sakit yang sehat secara holistik. Pelayanan rohani melalui unit pastoral
care diharapkan memberi kesembuhan bagi pasien secara holistik, demikian juga
memberi dukungan bagi keluarganya.
Menurut Wiryasaputra (2006), pendampingan pastoral care memberi
dampak positif bagi yang didampingi (pasien dan keluarga). Pendampingan
Pastoral Care membantu orang yang didampingi mampu menggunakan sumber
daya yang dimilikinya untuk berubah, dengan bantuan pendampingan orang bisa
mampu memobilisasi seluruh kekuatannya untuk berubah mencapai pertumbuhan
secara penuh dan utuh, sehingga orang yang didampingi benar-benar mewujudkan
dirinya yang sejati, berani, dan bersedia merubah diri untuk bertumbuh. Baik
bertumbuh secara fungsional, dinamis, penuh, maupun utuh. Dampak tersebut
tampak dari beberapa hal sebagai berikut: berubah menuju pertumbuhan, dapat
mencapai pemahaman diri secara utuh, dapat berkomunikasi secara sehat, dapat
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
9
melatih diri untuk bertingkah laku yang lebih positip, dapat mengungkapkan diri
secara utuh dan penuh, dapat bertahan dengan keadaannya, dapat menghilangkan
gejala disfungsional, dan mengalami pertumbuhan iman.
Berdasarkan pengamatan peneliti, belum banyak rumah sakit yang
menyediakan layanan konseling ataupun Pastoral Care bagi para pasiennya, maka
peneliti tertarik untuk meneliti aktivitas layanan konseling yang terjadi di rumah
sakit. Hal itu untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan dan manfaat layanan
konseling bagi pasien, rumah sakit, ataupun keluarga pasien.
Pada zaman ini sering didengungkan tentang kesembuhan secara holistik,
yaitu sebuah kesembuhan secara menyeluruh dari aspek fisik, mental, maupun
spiritual. Aspek spiritual menjadi fondasi utama dalam kesehatan setiap pribadi.
Maka peran seorang pastor/rohaniwan/hamba Tuhan yang mampu memberi
pelayanan ini sangat dibutuhkan. Kenyataan mengungkapkan bahwa tim medis
(dokter dan para perawat) juga turut berperan aktif dalam proses kesembuhan
secara menyeluruh.
Bagi rumah sakit yang besar dengan pasien yang sangat banyak, mungkin
tim medis tidak bisa secara penuh memberi pelayanan bimbingan dan konseling
bagi pasien yang membutuhkan. Kondisi demikian membuat rumah sakit
mendirikan sebuah unit yang bisa memberi pelayanan secara kontinyu, yaitu unit
pastoral care yang menjadi kekhasan rumah sakit katolik/Kristen. Kesembuhan
secara holistik dapat tercapai apabila ada kerjasama yang baik antara tim medis
dengan pelayan pastoral care maupun pihak-pihak lain yang mendukung
kesembuhan pasien secara menyeluruh.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
10
Setelah melihat semua hal di atas, maka peneliti tertarik untuk mengangkat
judul “Program Konseling Pastoral di Rumah Sakit (Studi Evaluasi Program
Konseling Pastoral Di RSK Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur, Tahun 2015)”.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berangkat dari latar belakang masalah di atas, terkait keterlaksaaan dan
hambatan layanan konseling pastoral bagi pasien di Rumah Sakit Katolik Budi
Rahayu Blitar-Jawa Timur, maka dapat diidentifikasikan berbagai masalah
sebagai berikut:
1.
Ada indikasi bahwa layanan konseling pastoral melalui unit pastoral care
di Rumah Sakit Katolik Budi Rahayu Blitar, belum dirasakan secara
menyeluruh manfaatnya oleh para pasien ataupun anggota keluarganya.
2.
Pasien belum mengetahui adanya layanan konseling pastoral di Rumah
Sakit Katolik Budi Rahayu Blitar dan kurang memahami fungsi layanan
tersebut.
3.
Kurangnya tenaga/konselor di unit pastoral care Rumah Sakit Katolik Budi
Rahayu Blitar, sehingga pelayanannya kurang optimal.
4.
Adanya indikasi bahwa perencanaan, proses maupun hasil layanan
konseling pastoral di Rumah Sakit Katolik Budi Rahayu Blitar-Jawa
Timur, belum pernah dievaluasi sebelumnya.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
11
C. PEMBATASAN MASALAH
Dalam penelitian ini, fokus kajian diarahkan pada evaluasi pelaksanaan
pelayanan konseling pastoral di Rumah Sakit Katolik Budi Rahayu Blitar-Jawa
Timur, yang meliputi perencanaan, proses dan hasil.
D. PERTANYAAN PENELITIAN
Rumusan masalah dalam penelitian ini disajikan melalui pertanyaan
penelitian sebagai berikut:
1.
Bagaimana perencanaan pelayanan konseling pastoral di Rumah Sakit
Katolik Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur?
a. Apa saja program pelayanan konseling pastoral yang direncanakan?
b. Siapa saja yang menjadi sasaran utama pelayanan konseling pastoral?
c. Siapa saja yang memberi dan terlibat dalam pelayanan konseling
pastoral?
2. Bagaimana proses pelayanan konseling pastoral di Rumah Sakit Katolik
Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur?
a. Sejauh mana program pelayanan konseling pastoral yang direncanakan
terlaksana?
b. Sudahkah sasaran utama pelayanan konseling pastoral tercapai?
c. Bagaimanakah cara konselor ataupun pihak yang terlibat dalam
konseling pastoral melakukan pelayanan pastoral?
3. Bagaimana hasil pelayanan konseling pastoral di Rumah Sakit Katolik
Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur?
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
12
a. Apa sajakah manfaat dari perencanaan program pelayanan konseling
pastoral?
b. Manfaat apa sajakah yang diperoleh oleh sasaran pelayanan konseling
pastoral (pasien, keluarga pasien, dokter dan tim medis, dan
sebagainya)
E. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan, proses dan hasil
dari pelayanan konseling pastoral di Rumah Sakit Katolik Budi Rahayu BlitarJawa Timur. Adapun tujuannya adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui perencanaan pelayanan konseling pastoral di Rumah Sakit
Katolik Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur.
2.
Mengetahui proses pelayanan konseling pastoral di Rumah Sakit Katolik
Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur.
3.
Mengetahui hasil pelayanan konseling pastoral di Rumah Sakit Katolik
Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur.
F. MANFAAT PENELITIAN
Dengan adanya penelitian ini, peneliti berharap bahwa penelitian ini
memberi beberapa manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan terhadap
pengembangan pengetahuan mengenai pelayanan konseling pastoral bagi
pasien di rumah sakit dan sebagai wacana untuk membuat program
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
13
mengenai cara, teknik konseling yang dapat digunakan oleh Program
Studi Bimbingan dan Konseling dalam meningkatkan peran dan manfaat
konseling bagi pasien di rumah sakit.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi para pasien agar mereka merasa ditemani dalam masa sakit karena
memperoleh bimbingan dan konseling, sehingga memunculkan harapan
berkat dukungan pada akhirnya mereka mengalami kesembuhan secara
holistik yaitu sembuh secara fisik, psikologis, dan juga batin.
b. Bagi anggota keluarganya, mereka mendapatkan dukungan dan juga
informasi-informasi
kebingungannya
dari
yang
dibutuhkan,
segala
aspek
mampu
keluar
dari
(ekonomi,
social,
adat-
istiadat/budaya), sehingga dalam mendampingi pasien juga tetap sehat
dan mampu melayani dengan penuh kasih dan pengharapan.
c. Manfaat pelayanan konseling bagi rumah sakit, membantu tim medis
bila ada pasien yang menurun perkembangan kesehatannya karena
mengalami kemunduran kesehatan mental maupun spiritualnya dan
membantu proses sembuhnya pasien karena adanya dukungan secara
spiritual, sehingga para pasien dapat mengalami kesembuhan secara
holistik.
d. Manfaat penelitian ini bagi peneliti, adalah menambah wawasan si
peneliti agar peneliti semakin memahami proses layanan konseling
pastoral di rumah sakit dan pada akhirnya mampu mengaplikasikan
dalam realitas kehidupan zaman ini.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Bab ini merupakan bab kajian teori. Dalam bab ini dijelaskan sejarah
konseling pastoral, hakikat konseling pastoral, pasien, kajian penelitian yang
relevan, profil Rumah Sakit, dan kerangka pikir.
A. Hakikat Konseling Pastoral
1. Sejarah Konseling Pastoral
Konseling pastoral merupakan gagasan yang relatif baru.
Konseling pastoral sebagai sub-disiplin ilmu dan praktek pelayanan klinis
mula-mula dikembangkan di Amerika Serikat pada awal abad ke 20.
Dalam waktu bersamaan di Inggris juga dikembangkan hal yang sama,
tetapi di Inggris konseling pastoral lebih dikenal sebagai “teologi klinis”
(clinicsl theology).
Pada saat itu juga, khususnya di Amerika dikembangkan pula subdisiplin ilmu dan praktek pelayanan baru seperti, pekerjaan sosial,
bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling) khususnya dalam
seting pendidikan, psikologi klinis, dan konseling klinis. Nampak jelas
bahwa konseling pastoral dikembangkan menjadi sub-disiplin ilmu dan
pelayanan sendiri sejajar dengan sub-disiplin dan pelayanan klinis yang
lain. Maka tidak jarang terjadi, di rumah sakit modern, konseling pastoral
dianggap
sebagai unit pelayanan fungsional sejajar dengan pelayanan
fungsional lainnya, missal klinik konsultasi psikologi.
14
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
15
Perintis gerakan konseling pastoral antara lain: Anton Th. Boisen,
pada tahun 1920-an. Beliau mendapat inspirasi untuk mengembangkan
konseling pastoral pada waktu ia dirawat disebuah rumah sakit jiwa,
karena sedang mengalami “psychotic break”. Pada masa sekarang Boisen
sering dianggap sebagai “Grand Father” gerakan konseling pastoral.
Tokoh yang lain adalah Russel L. Dicks, dia tertarik untuk
mengembangkan konseling pastoral pada waktu ia mengalami operasi
besar di sebuah rumah sakit. Dia diperhitungkan pada angkatan pertama
yang mengembangkan sejenis konseling yang menunjang pada tugas para
psikiater dan direktur rumah sakit jiwa (Wiryasaputra, 1999:8).
Sejak
perkembangannya
yang
pertama,
konseling
pastoral
mempunyai kontribusi yang penting dalam bidang pendidikan klinis (atau
profesional) konseling pada umumnya. Sebab, sistem pendidikan
professional konseling pastoral adalah sangat ekstensif dan intensif. Di
Amerika Serikat membuktikan bahwa pendidikan professional atau klinis
konseling pastoral adalah lebih luas dan mendalam dibanding dengan
pekerjaan social, konseling klinis, psikologi klinis dalam jenjang
pendidikan yang sama. Seorang konselor pastoral biasanya memiliki gelar
Bachelor of Art (B.A.), kemudian dia harus mengikuti pendidikan teologi,
biasa di sebut Master of Divinity (M.D) atau Master of Art (M.A) di
bidang religious. Setelah itu mereka juga harus memperoleh gelar lain,
misalnya Theological Master atau Doctor of Ministry di bidang konseling
pastoral.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
16
Pada tahap awal perkembangan, konseling pastoral disebut juga
sebagai “psikoterapi pastoral”, karena tokoh-tokoh pertama seperti :
Anton Th. Boisen dan Russell L. Dick
mengembangkan model
pendidikan klinisnya mengacu pada apa yang dikembangkan oleh
psikoterapi khususnya model psikoanalisis. Konseling pastoral disebut
juga “psikologi pastoral” atau “teologi terapan”. Jadi konseling pastoral
dalam sejarahnya bertumbuh dari suatu integrasi antara ilmu teologi dan
ilmu psikologi-psikoterapi (Wiryasaputra. 1999:8-10).
2. Definisi Konseling Pastoral.
Menurut Susabda (Tu‟u, 2007: 24), Konseling Pastoral adalah
hubungan timbal-balik antara hamba Tuhan sebagai konselor dengan
konselinya. Konselor membimbing konseli dalam satu suasana percakapan
konseling yang ideal, yang memungkinkan konseli betul-betul mengerti
apa yang sedang terjadi pada dirinya sehingga ia mampu melihat tujuan
hidupnya dan mampu mencapai tujuan itu dengan kekuatan dan
kemampuan Tuhan.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa, Konseling Pastoral adalah
pelayanan yang dilakukan oleh gereja dengan melawat dan mencari satu
per satu jemaat yang sedang bergumul dalam hidupnya. Pencarian dan
pelawatan itu dilakukan untuk menolong mereka melalui komunikasi
interaktif, timbal-balik, dan mendalam. Melalui percakapan itu konselor
mendampingi, membimbing, dan mengarahkan konseli untuk menemukan
solusi (Tu‟u, 2007:25)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
17
Widjojo dkk (2005:1) menyatakan bahwa, Konseling Pastoral
adalah usaha pelayanan/bimbingan yang dilakukan oleh seorang konselor
kepada konseli agar memahami persoalan yang dihadapinya, sehingga
dapat melihat tujuan hidupnya dalam relasi dan tanggung jawab kepada
Tuhan sesuai dengan kemampuan yang Tuhan berikan.
Menurut Wijayatsih (2011: 5) , konseling pastoral adalah sebuah
layanan percakapan terarah menolong orang yang tengah dalam krisis agar
mampu melihat dengan krisis yang dihadapinya. Dan diharapkan pada
akhirnya orang tersebut mampu menemukan kemungkinan solusi atas
krisis yang dihadapinya.
Jadi konseling pastoral adalah proses pemberian bantuan seorang
konselor (Pastor/pendeta/suster/pelayan pastoral) kepada konseli (orang
sakit), yang didasari oleh hubungan timbal-balik/dialog dalam suasana
komunikasi yang ideal atau nyaman dan aman, sehingga konseli merasa
diterima dan mau terbuka. Dengan layanan ini, mereka juga terbantu untuk
memahami dan menerima situasi dirinya, serta dapat menemukan tujuan
hidupnya dengan tetap mengandalkan Tuhan sebagai penolongnya yang
sejati.
3. Ciri Khas Konseling Pastoral
Menurut Widjojo dkk (2005:3), Konseling Pastoral memiliki
keunikan tersendiri dibandingkan dengan konseling pada umumnya.
Keunikannya tidak hanya terletak pada proses konselingnya, tetapi juga
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
18
pada konselor yang melayaninya. Adapun keunikan proses konseling
pastoral meliputi:
a. Merupakan pelayanan yang Tuhan percayakan
b. Bersandar pada kebenaran Alkitab dan ajaran gereja
c. Bergantung pada kuasa Roh Kudus
d. Mempunyai tujuan untuk mengenalkan Yesus sebagai Juru Selamat
Pribadi dan penebus dosa
e. Pelayanan yang mendasarkan pada ilmu Teologi dengan integrasi ilmu
psikologi
f. Membantu menolong pertumbuhan rohani konselinya
4. Tujuan Layanan Konseling Pastoral
Menurut Tu‟u (2007:29-40), banyak hal yang dapat dicapai jika
konseling pastoral diprogram secara baik dan terencana, terlebih jika
melibatkan jemaat yang memang potensial. Berikut ini adalah beberapa
tujuan kegiatan konseling pastoral:
a. Mencari jemaat yang bergumul, gereja wajib mengunjunginya.
b. Menolong yang membutuhkan uluran tangan.
c. Mendampingi dan membimbing
d. Berusaha menemukan solusi
e. Memulihkan kondisi yang rapuh
f. Perubahan sikap dan perilaku
g. Menyelesaikan dosa melalui Kristus
h. Pertumbuhan iman
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
19
i. Terlibat persekutuan jemaat
j. Mampu menghadapi persoalan selanjutnya
Penulis yang lain mengatakan bahwa, tujuan pelayanan konseling pastoral
adalah memberikan bimbingan agar konseli mampu menemukan persoalan
yang sesungguhnya yang menjadi akar untuk penyebab hambatan yang
selama ini terjadi (Widjojo dkk, 2005:6).
Jadi tujuan layanan konseling pastoral adalah membantu konseli
untuk menemukan akar permasalahannya, sehingga mereka dapat
memperoleh pemecahan masalah/solusi terhadap apa yang menjadi
pergumulannya.
Pada
akhirnya
mereka
mengalami
kesembuhan,
perubahan sikap dan perilaku, pertumbuhan iman dan kedewasaan pribadi,
sehingga siap terhadap persoalan-persoalan yang terjadi dalam kehidupan
selanjutnya.
5. Ciri-Ciri Konselor yang Efektif
Garry R. Collins (Tu‟u, 2007:41) mengatakan bahwa, konselor
yang efektif harus mampu mengasihi Tuhan dan sesama. Kalau ada kasih
yang sungguh pada Tuhan, pasti akan terjadi konseling yang efektif.
Adapun ciri-ciri konselor efektif sebagai berikut:
a. Ciri-ciri konselor secara umum meliputi:
1) Memiliki pengetahuan konseling
Konselor dalam pelayanan perlu memiliki pengetahuan tentang
konseling ataupun pernah mendapat pelatihan tentang konseling,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
20
serta mau belajar secara mandiri dari berbagai sumber, agar dapat
memberi pelayanan yang sebenarnya.
2) Pengetahuannya aplikatif
Konselor mampu menerapkan ilmu pengetahuannya dalam praktik
pelayanan sehari-hari.
3) Memiliki kepekaan
Konselor mampu menangkap pesan konseli baik secara verbal
maupun nonverbal, mampu merasakan apa yang dialami oleh
konseli. Sehingga ia mampu memberi respon secara tepat kepada
kebutuhan konseli.
4) Memiliki keyakinan
Konselor memiliki kepercayaan/iman bahwa Tuhan berkuasa untuk
membantu menyelesaikan masalah konseli, meskipun berat ia tidak
putus asa.
5) Memiliki kematangan
Konselor sudah mencapai taraf perkembangan yang terbaik. Ia
memiliki kemampuan
berpikir, kestabilan emosi, jiwa dan
kepribadian yang matang. Sehingga ia tetap tabah bila menghadapi
masalah yang rumit, tetap kokoh dan tidak mudah terpengaruh
dalam pelayanannya.
6) Menghargai konseli sebagai makluk unik
Konselor menerima setiap pribadi sebagai ciptaan Tuhan yang unik
dan berbeda, serta tidak bisa disamaratakan.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
21
7) Memiliki rasa tanggung jawab menolong
Konselor tanggap terhadap kebutuhan konseli, sehingga bila
melihat atapun mendengar bahwa konseli butuh pertolongan, maka
ia tanggap dan melakukan langkah-langkah tertentu untuk
menolong klien.
8) Tidak mengambil alih masalah konseli
Konselor membimbing konseli untuk berpikir dan menemukan
jalan pemecahan masalahnya secara pribadi.
b. Ciri-ciri konselor Kristen antara lain:
1) Percaya pada Kristus, sang Konselor Agung
2) Menerima Kristus secara pribadi.
3) Kristus berkuasa dalam hidupnya
4) Menerima autoritas Alkitab sebagai pedoman hidup
5) Melibatkan karya Roh Kudus
6) Menghayati tugas sebagai panggilan
Sedangkan Widjojo dkk (2005:30) menyatakan bahwa, dasar
keutamaan konselor pastoral adalah hubungan mereka dengan Allah
Tritunggal, yaitu relasi yang ditandai dengan kasih (Yoh. 13:34-35).
Lebih lanjut mengungkapkan beberapa ciri yang perlu dimiliki oleh
seorang konselor pastoral, antara lain: 1) mempunyai kerohanian yang
baik (Gal. 5:22-26), 2) lemah lembut (Gal. 6:1), 3) bersedia saling
menolong meringankan beban (Gal. 6:2; Yoh. 13:35), 4) rendah hati
(Gal. 6:6), 5) sabar (Gal.6:7-8), dan 6) rajin berbuat baik (Gal. 6:10).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
22
c. Sikap Konselor Pastoral
Selain memiliki ciri-ciri yang disebutkan di atas, seorang
konselor pastoral juga sangat penting mengembangkan sikap-sikap
yang menjadikanya sebagai konselor yang efektif. Sikap-sikap itu
antara lain:
1) Kasih dan Penghargaan
Seorang konselor diharapkan memiliki sikap mengasihi yang sejati
sebagaimana ia juga telah mengalami bahwa Yesus lebih dahulu
mengasihinya (1 Yoh. 4:19), maka ia juga diundang untuk
membagikan kasih itu. Hal itu terwujud dalam sikap mengasihi dan
menghargai, serta melayani konseli secara baik.
2) Bersikap lemah lembut
Seorang
konselor
perlu
menciptakan
suasana
yang
nyaman,bersahabat, hangat, dan terbuka. Kelemah lembutan sangat
penting agar konseli merasa diterima dan dihargai, sehingga
membuatnya berani untuk terbuka (Gal. 6:1).
3) Bersikap rendah hati
Mampu menghargai pemikiran dan pendapat konseli, dan
mensyukuri setiap kurnia yang dimilikinya sebagai anugerah
Tuhan. Konselor bersedia mendengarkan keluhan dengan memberi
perhatian yang lebih disaat konseling berlangsung.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
23
4) Bersikap sabar dan tabah
Bersikap sabar dan tabah dalam membimbing klien, memampukan
konselor untuk tetap bertahan dalam kesulitan. Konselor perlu
menyadari bahwa ia tidak mampu mengandalkan dirinya, maka
penting baginya datang kepada Sang Konselor Sejati yaitu Yesus
Kristus. “kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah,
bukan dari diri kami” (2 Kor. 4:7)
5) Bersahabat dan hangat
Konselor perlu menciptakan suasana penuh persahabatan dan
kehangatan,agar konseli tidak merasa asing dan pada akhirnya
mampu terbuka karena ia merasa nyaman dan aman.
6) Suka menolong
Sikap peka dan tanggap terhadap keadaan konseli. Hatinya tergerak
untuk berbuat sesuatu. Hal itu juga disadarinya bahwa ia terlebih
dahulu menerima pertolongan secara cuma-cuma dari Yesus
(Mat.10:8)
7) Bersikap rela dan tulus
Konselor dengan sukacita dan tanpa terpaksa membimbing mereka
yang membutuhkan.
8) Bersikap terbuka
Konselor
memberi
kesempatan
terhadap
konseli
untuk
mengungkapkan pikiran dan perasaannya, konselor terbuka untuk
menerima kelamahan dan kekuatan yang dimilikinya, dan konselor
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
24
terbuka dalam mengikuti perkembangan dan kemajuan ilmu
pengetahuan.
9) Pengorbanan
Terinspirasi dari semangat pengorbanan Sang Konselor Sejati,
maka seorang konselor pastoral harus berani meluangkan
waktu,tenaga, perasaan dan pikirannya. Hal itu terkait konseli yang
sulit.
10) Perhatian
Konselor perlu peka terhadap kebutuhan klien, sebuah perhatian
(sapaan, senyum, dukungan) tentunya akan memberikan perubahan
ke arah positip bagi mereka yang membutuhkan bimbingan.
d. Kualitas Pribadi Konselor
Konselor efektif adalah konselor yang bekerja dalam pelayanan
konseling pastoral yang dapat mencapai dan memberi hasil yang baik.
Selain memiliki ciri-ciri dan
sikap-sikap yang disebutkan di atas,
maka konselor juga sangat penting memiliki kualitas pribadi dan
keterampilan tertentu, antara lain :
1) Memandang manusia sebagai makluk unik
Konselor mampu memandang perbedaan masing-masing konseli
(pikiran, perasaan, sikap), sehingga meskipun
masalah konseli
sama cara ataupun pendekatan yang diberikan berbeda.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
25
2) Memandang manusia sebagai pribadi yang dapat bermitra
Konselor
Konselor memiliki iman dan percaya bahwa konseli mampu untuk
berubah. Konselor sadar bahwa konseli
mampu bermitra
dengannya. Sikap optimis yang dimiliki inilah yang mendorongnya
untuk mencari jalan agar konseli mampu berjumpa dengan Kristus.
3) Memandang manusia sebagai pribadi yang dapat berubah
Konselor efektif adalah konselor yang mampu memandang bahwa
konseli adalah pribadi yang dapat bermitra dengannya untuk
mencapai pembaharuan diri. Konselor tetap melibatkan karya
Tuhan, Sang Konselor Agung.
4) Kristus ada dalam hidupnya
Konselor yang efektif adalah ia yang mampu terbuka hati dan sadar
bahwa bukan lagi dirinya yang hidup, melainkan Kristus yang
hidup dalam dirinya. Hidupnya bukan lagi atas keinginan diri
semata, melainkan hidupnya dikendalikan oleh Kristus.
5) Terampil menerapkan ilmu konseling
Konselor efektif senantiasa belajar secara terus-menerus, selalu
menambah
wawasan,
mencari
jalan
untuk
memperbaiki
kekurangan dan kelemahan, dan terbuka untuk bertanya pada yang
lebih berpengalaman.
6) Terampil dalam memberi respons
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
26
Konselor efektif adalah pribadi yang mampu mengarahkan,
membimbing, menuntun, dan membawa arah percakapan dalam
konseling. Konselor efektif sangat penting menguasai keterampilan
memberi respons.
7) Terampil mengembangkan relasi antar pribadi
Konselor efektif adalah pribadi yang memiliki kecerdasan relasi
antar pribadi, ia terampil dalam mengelola hubungan. Yaitu
hubungan yang hangat, bersahabat, dipercaya, terbuka, dan penuh
perhatian terhadap konseli.
8) Pribadi berkualitas
Konselor yang memiliki kepribadian berkualitas adalah mereka
yang memiliki kesadaran akan diri dan nilai-nilai, percaya/optimis,
bersikap hangat dan penuh perhatian, memiliki sikap menerima,
empati, memiliki pengetahuan, sabar, tekun, gembira, serta mampu
berjejaring pada yang lebih ahli.
9) Menghindari hal-hal yang dapat membawa kerugian
Konselor efektif selalu waspada dan berhati-hati.
10) Mengembangkan sikap positif.
Konselor efektif senantiasa bersikap positip, ia senantiasa
mengembangkan sikap dan pemikiran yang positip. Antara lain:
kasih, penghargaan, lemah-lembut, rendah hati, tabah, hangat, suka
menolong, rela berkorban, dan setia memberikan perhatian.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
27
6. Hal yang Merugikan dan Perlu Dihindari dalam Konseling Pastoral
Menurut Tu‟u (2007:58-63), ada beberapa hal yang perlu dihindari
oleh seorang konselor dalam proses hubungan/proses konseling antara
lain:
a. Menerima info sepihak
Dalam hal ini konselor tidak boleh hanya menerima informasi sepihak
ataupun memihak salah satu. Konselor perlu mengadakan percakapan
yang adil, supaya dia mampu membantu menyelesaikan masalah
konseli secara tuntas. Hal itu bisa dilakukan dengan cara menjumpai
konseli yang pertama, selanjutnya konseli yang kedua. Hal itu menjadi
lebih baik, jika konselor mampu mempertemukan keduanya agar
masalahnya selesai dengan tuntas.
b. Kesimpulan tergesa-gesa
Kesimpulan sementara yang dilakukan oleh konselor sangatlah baik,
tetapi kesimpulan yang tergesa-gesa menghasilkan solusi yang semu.
Maka mendengarkan secara cermat dan teliti sangatlah penting.
Konselor perlu menggali permasalahan, sehingga dapat menemukan
masalah secara jelas. Setelah masalahnya jelas barulah percakapan
diarahkan untuk mencari solusi.
c. Terburu-buru
Konselor perlu menyediakan waktu yang cukup bagi konselinya. Hal
yang perlu dihindari adalah melihat secara terus menerus arloji,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
28
sehingga membuat konseli gelisah. Konselor perlu mengatur waktu
sedemikian agar proses konseling berjalan efektif.
d. Campur tangan terlalu jauh
Konselor perlu menghindari sikap keterlibatan dalam banyak hal. Yang
dibutuhkan adalah mampu memperhatikan hal yang menjadi inti
persoalan konseli, sehingga ia tidak akan kehilangan objektifitas
dirinya.
e. Tidak dapat menyimpan rahasia
Konselor harus mampu menyimpan rahasia konselinya. Karena sekali
konselor tidak dapat dipercaya, maka kredibitasnya akan merosot
dengan sendirinya.
f. Layanan tidak seimbang
Konselor yang perhatiannya hanya berfokus pada konselinya akan
mengganggu keseimbangan hidupnya, baik keluarga maupun hidup
rohaninya. Maka sangat penting bagi konselor untuk menjaga
keseimbangan antara hidup rohani/spiritual dan keluarganya.
g. Mudah menghakimi
Konselor perlu menghindari penilaian negatif terhadap konselinya,
misalnya: memandang konseli sebagai orang jahat, buruk, rendah,
bersalah, dan sebagainya. Sebaliknya konselor perlu terbuka dan
menerima konseli apa adanya. Apabila ada yang salah pada konselinya
dapat membicarakannya secara baik.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
29
h. Memaksa konseli
Konselor tidak berhak memaksakan keinginannya pada konseli.
Konselor berkewajiban membimbing konseli agar ia semakin mampu
melihat masalahnya dengan jernih, dan pada akhirnya mampu
menemukan solusi yang terbaik.
i. Meminta konseli melakukan banyak hal
Konselor perlu memahami bahwa tidak mungkin konseli secara
langsung dapat melakukan banyak hal setelah memperoleh bimbingan,
maka beberapa hal sebagai aksi sudah cukup.
j. Menangani seluruh masalah klien
Konselor perlu sadar akan kemampuan dan keterbatasan dirinya,
menjadi keliru apabila ia menanggani semua masalah konselinya.
Maka ia perlu bekerja sama dengan pihak lain, misalnya: psikolog,
psikiater (dokter jiwa), dokter, ahli hukum, dan lain-lain.
7. Ketepatan Waktu Pelayanan Konseling Pastoral
Ketepatan waktu pelayanan secara konsep merupakan konsistensi
waktu pelaksanaan konseling pastoral dengan schedule/jadwal yang telah
ditetapkan sebelumnya atau dalam periode waktu tertentu. Hal ini
didukung dengan tersedianya prosedur tetap/SOP pelayanan konseling
pastoral dan dukungan sistem administrasi yang baik agar dapat efektif
dan efisien.
Ketepatan waktu konseling dengan konsistensi yang tinggi akan
dapat membangun rapport yang baik dengan klien. Rapport digunakan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
30
untuk menumbuhkan kepercayaan klien sehingga klien akan dapat
bercertia dengan leluasa tentang keadaan yang dialaminya tanpa
ditutuptutupi. Jika rapport dapat terbangun dengan baik maka klien akan
menghiraukan mekanisme pertahanan dirinya sehingga tidak ada lagi rasa
malu atau ragu-ragu untuk mentrasfer segala keluhan kepada terapis.
Proses konseling umumnya bertahap atau di bagi dalam beberapa
fase proses. Untuk satu proses konseling secara keseluruhan bisa
diselesaikan dalam 2 sampai 5 kali pertemuan. Untuk itu penjadwalan
konseling sangat diperlukan sehingga kedua belah pihak baik konselor
atau klien sama-sama mengetahui. Jika terjadi miskomunikasi umumnya
akan rentan menimbulkan kekecewaan terlebih di sisi klien yang dalam
keadaan neorosis atau psikosis dan ini akan menghambat keefektifan
proses konseling terapeutik.
8. Aspek-aspek Konseling Pastoral
Menurut Susabda (1983:4-38), setiap konselor dalam memberi
layanan konseling pastoral hendaknya mengenal empat aspek penting di
bawah ini:
a. Hubungan timbal-balik (interpersonal relation-ship) antara konselor
dengan konselinya.
Konseling Pastoral adalah suatu interpersonal relation-ship, suatu
dialog dan bukan monolog yang terjadi antara konselor dan konselinya,
yang bisa melibatkan seluruh aspek kehidupan mereka masing-masing.
Konselor tidak hadir sebagai pengkotbah di atas mimbar yang memberikan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
31
firman Tuhan, nasihat, teguran, dan ajaran pada konselenya; karena
sekarang ia berhadapan muka dengan konselinya sebagai dua pribadi yang
utuh,
yang
masing-masing
punya
hak
dan
kebebasan
untuk
mengekspresikan dirinya.
Mengapa hubungan timbal balik ini harus merupakan suatu dialog?
Karena konselor dalam hal ini Pastor/pendeta, role/perannya tidak lagi
sebagai pengkotbah yang secara praktis memediator umatnya. Maka
sangatlah penting bagi seorang konselor untuk: 1) belajar dari Yesus yaitu
terpanggil untuk mengorbankan dan merendahkan dirinya sendiri menjadi
sama (equal) dengan konselinya (Filipi 2:5-8) konselor harus membawa
suasana percakapan yang ideal (conducive atmosphere), yaitu jika konsele
betul-betul merasa diperlakukan sebagai satu subyek, pribadi yang utuh
persoalannya, perasaannya, cara berpikirnya, bahkan segala sesuatu yang
ada padanya mempunyai nilai untuk dihargai.
Jadi dalam hubungan timbal balik antara konselor dan konseli
dibutuhkan suasana yang dialogis. Keterampilan komunikasi interpersonal
dan rasa empati, serta kerendahan hati seorang pelayan pastoral sangatlah
penting agar konseli (pasien) merasa diterima dan dihargai sebagai
pribadi/subyek yang memiliki hak dan kebebasan, serta kemampuan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan konselor dalam hubungan timbal-balik:
1) Sikap merugikan dari pihak konseli.
Yaitu dalam hubungannya dengan konseli, seorang konselor mesti
menyadari adanya berbagai kemungkinan yang merugikan yang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
32
ditimbulkan oleh konselinya. Hal itu meliputi dua hal, yaitu: a) dalam
hubungan dengan “simbol Allah” (symbol of God) yang melekat pada
hamba Tuhan, adalah adanya sikap konseli yang menganggap hamba
Tuhan sebagai symbol Tuhan dan kecenderungan mereka untuk
menghidupkan sikap penyerahan diri secara total (total depenency)
pada konselornya (hamba Tuhan). Akibat dari kurang dapatnya mereka
dalam mengembangkan konsepsi tentang Allah yang abstrak. Jika
konseli selalu melihat bahwa konselor sebagai pembawa symbol
Tuhan, maka proses konseling menuju kearah yang tidak sehat. b)
adanya
gejala
“transference”
pemindahan
perasaan,
adalah
pemindahan perasaan perasaan dari yang seharusnya ditujukan kepada
objek lain pada masa lampau kepada objek yang baru pada masa kini.
Hal ini bisa terjadi karena adanya banyak kebutuhan yang tidak
terpenuhi
dan
harus
ditekan
untuk
dilupakan.
Dari
gejala
ketidaksadaran (unconsciousness), mereka akan selalu mencari
kesempatan untuk dipenuhi. Hal itu pasti bisa terjadi dan konselor
perlu untuk selalu menyadarinya, agar proses konseling dapat berjalan
dengan baik.
2) Dorongan yang merugikan dari dalam konselor.
Dalam interpersonal relationship, konselor mesti waspada dan
menyadari dorongan dan rangsangan yang timbul dari dalam dirinya
sendiri, yang bisa menimbulkan kegagalan dalam proses konseling.
Pertama
yaitu
adanya
kebutuhan
untuk
melakukan
counter-
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
33
transference. Counter-transference adalah sikap menyambut dan
menanggapi gejala transference dari konseli yang ditujukan padanya.
Pattison (Susabda, 1983:8) mengatakan:
“counter transference distortions occur when a pastor attempts to
solve his own problems through the prolems of the parishioner, or
vicariously enjoys behavior in his perishioners which he feels he
must deny in himself”.
Kegagalan proses konseling dialami oleh banyak hamba Tuhan
oleh karena ia tidak menyadari akan gejala counter-transference dari
dirinya sendiri. Sebagai konselor seharusnya hamba Tuhan bersikap
betul-betul netral, mampu mengontrol emosinya dan tidak membiarkan
sikapnya dipengaruhi oleh sikap dari konselinya. Konselor hendaknya
selalu waspada terhadap kebutuhannya sendiri untuk melakukan
counter-transference. Akibatnya bisa menimbulkan sikap tidak sehat
seperti dibawah ini:
(a) Carelessness in appointment schedules (tidak menepati janji dan
semaunya sendiri dalam memakai waktu yang tersedia).
(b) Repeated erotic or hostile feelings (munculnya perasaan berahi
atau sebaliknya, yaitu benci kepada konselinya).
(c) Boredom or inattention during counseling (munculnya perasaan
bosan selama proses konseling).
(d) Permitting or encouraging misbehavior (membiarkan sikap dan
tingkah laku yang tidak seharusnya terjadi).
(e) Trying to impress the parishioner (selalu ada keinginan untuk
menyenangkan konseli).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
34
(f) Arguing (berdebat).
(g) Taking sides in a personal conflict (memihak dalam konflik yang
dihadapi konseli).
(h) Premature reassurance to lessen anxiety (memberikan janji-janji
dan jaminan-jaminan pada konseli yang terlalu dini untuk
mensukseskan kelanjutan pembimbingan).
(i) Dreaming about parishioner (terbayang-bayang wajah konseli).
(j) Feeling that the parishioner’s welfare or solution to a problem lies
solely with you (merasa bahwa hidup dan penyelesaian persoalan
seluruhnya tergantung pada kita).
(k) Behavior to ward one parishioner in a group differently from other
group members (sikap membedakan dari anggota yang satu dengan
yang lain dalam gereja yang kita gembalakan).
(l) Making unusual appointments or behaving in a manner ususual for
you (membuat janji-janji pertemuan yang tidak biasa dengan
konseli dan bersikap tidak wajar).
Kebutuhan untuk melakukan counter-transference adalah
kebutuhan yang sangat berbahaya, karena akan mengagalkan
pelayanan konselingnya.
b. Hamba Tuhan sebagai Konselor.
Wayne Oates (Susabda, 1983:11) mengatakan bahwa:
“The pastor, regardless of his training, does not enjoy the privilege of
ecleting whether or not he will counsel his people ….His choice is not
between counseling or not counseling, but between counseling in a
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
35
disciplined and skilled way and counseling in an undisciplined and
unskilled way”.
Pelayanan konseling adalah bagian integral dari pelayanan hamba
Tuhan. Tugas pelayanan ini menjadi identitas seorang hamba Tuhan,
sehingga ketika ia menolak tugas pelayanan ini ia telah kehilangan
identitasnya. Hal itu bukan berarti bahwa dalam pelayanannya secara
otomatis
dilakukan
berdasarkan
bakat-bakat
alaminya
ataupun
pendidikannya dibidang teologi.
Sebagaimana diungkapkan Oates di atas bahwa banyak hamba
Tuhan yang melaksanakan tugasnya asal saja dan dengan cara
undisciplined dan unskilled, tetapi sebagai tanggung jawab kepada Tuhan
yang telah memanggil dalam pelayanan ini, seorang konselor pastoral
seharusnya mengembangkan disciplin dan skill. Selain itu mereka perlu
waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan yang merugikan dalam
tugas pelayanannya.
Kemungkinan-kemungkinan tersebut, antara lain:
1) Kecenderungan ke arah profesionalisme.
Yaitu kecenderungan konselor (hamba Tuhan) yang lebih
menfokuskan diri pada peran profesinya berdasar pendidikannya
(spesialisasi dalam konseling), ia telah kehilangan identitasnya sebagai
hamba Tuhan. Hal itu terjadi bila dalam pelayanan dilakukan hanya
atas dan untuk mendapatkan nama sebagai konselor profesional.
Seorang konselor pastoral, sebagai orang terpanggil memiliki peran
membimbing. Demikian dalam relasinya dengan konselinya (umat
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
36
Allah) lebih pada hubungan fungsional, bukan hubungan profesional.
Alasan utama seorang hamba Tuhan perlu mengembangkan skill
dan disiplin dalam konseling bukanlah untuk menjadikan dia
professional counselor, tetapi professional pastor yang terampil dalam
pelayanan konselingnya. Hal itu ditandai dengan beberapa hal sebagai
berikut (Susabda, 1983:12): (1) adanya pengetahuan yang cukup
tentang teori-teori personality dan psikologi pada umumnya;
(2) adanya kemampuan untuk menghubungkan teori dan praktik,
khususnya teori-teori tentang metode-metode observasi dan diagnosa;
(3) adanya training yang cukup di bawah bimbingan dan supervisi
seorang profesional; (4) adanya kemampuan untuk memelihara
identitasnya sebagai hamba Tuhan dalam peranannya sebagai konselor
dalam interpersonal relationship-nya dengan konseli; (5) adanya
kemampuan untuk mengolah dan memakai sumber-sumber yang
tersedia untuk mensukseskan pelayanan konselingnya; (6) adanya
pengertian yang benar tentang skop pertanggungjawabannya sebagai
konselor;
(7) adanya disiplin dalam menggunakan perlengkapan-
perlengkapan konseling dalam batasan profesinya sebagai hamba
Tuhan, yang meliputi: penyusunan dan penyimpanan data dalam
sistem file yang rapi dan aman, sistem kerja yang jelas (short-term dan
long-term konseling, konseling formal maupun informal), tersedia
ruang konseling/kantor, tersedianya referals yang dapat dihubungi,
tidak melakukan diagnosa medis, psicho-test, eksperimen-eksperimen,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
37
pemberian resep obat-obatan dan hal-hal yang menjadi wewenang
profesional- profesional lain.
Seorang hamba Tuhan meskipun bukan konselor profesional,
sangat penting mengembangkan kemampuannya secara terus menerus
demi pelayanan yang bertanggung jawab. Ia harus menguasai teori
kepribadian dan psikologi pada umumnya, disiplin, memiliki relasi
yang luas terkait adanya referal, serta tahu batasan-batasan dalam
melakukan pendapingan maupun konseling.
2) Kecenderungan untuk melakukan pelayanan konseling tanpa tanggung
jawab
Adanya kemungkinan seorang konselor bersikap munafik (tidak
jujur terhadap dirinya) dan ketidak sediaannya memikul tanggung
jawab. Keputusan untuk menjadi hamba Tuhan adalah keputusan
untuk mengikuti teladan hamba Tuhan yang agung, yaitu Yesus
Kristus. Dia disebut hamba Tuhan bukan saja karena kotbahnya saja,
tetapi lebih karena penyerahan diri dalam kepatuhan yang total pada
Allah
BapaNya
dalam
pelayananNya.
Yaitu
kerelaan
untuk
mengorbankan diri demi keselamatan manusia (Rm. 5:7-8).
Sebagai konselor pastoral sekaligus hamba, ia juga dituntut untuk
bertanggung jawab atas pelayanan ini. Tanggung jawab tidak hanya
mengajar (kebenaran firman), lebih dari itu ia juga dituntut untuk
mampu mendemonstrasikan imannya, pengetahuanya, kematangan
pribadinya, keterampilannya, kesabarannya, dan sebagainya.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
38
Adanya tuntutan yang sedemikian, sehingga membuat banyak
hamba Tuhan berusaha menghindar dari tanggung jawab ini. Yaitu
adanya sikap tidak jujur terhadap diri sendiri. Alasan yang membuat
mereka berbuat demikian adalah:
(1) Adanya ketidaksediaan hamba Tuhan untuk memikul beban
pelayanan yang melebihi dari apa yang ia sukai. Banyaknya role/peran
yang dijalaninya membuat seorang hamba memiliki sikap-sikap:
menikmati rutinitas, merasa sudah berfungsi, dan menikmati
ketergantungan.
(2) Adanya ketakutan pada keakraban. Sebagai hamba Tuhan/gembala,
ia perlu mengenal dan dikenal oleh domba-dombanya. Dalam relasi
dengan umat/konseli, ia juga menjadi model dan contoh yang nyata
bagaimana menjadi seorang yang percaya, bergumul dan mengalami
jalan keluar dalam persoalan-persoalan hidupnya. Pengalaman iman
secara pribadi merupakan unsur terpenting dalam keberhasilan
konseling pastoral. Untuk itu keakraban dalam relasi antara konselor
dan konseli tidak boleh diabaikan.
Kebutuhan untuk membina keakraban (will to relate) adalah
kebutuhan yang sangat fundamental dari setiap orang. Seperti
diungkapkan oleh Karl Meninger (Susabda, 1983:16):
“The establishment or re-establishment of relationship with follow
human beings is the basic architecture of normal life….to live, we
say is to love and vice versa”.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
39
Bahkan C. Wyne seorang psychoanalyst (Susabda, 1983:16), juga
menekankan bahwa:
“movement into relationship with other human beings is a
fundamental principle or „need‟ of human existence…..man is
inherently object-related”.
Kebutuhan untuk membina keakraban dengan sesama merupakan
hukum dan perintah utama dari Tuhan sendiri (Mat.22:39). Hal itu
merupakan ciri utama yang menandai suatu kehidupan sebagai seorang
yang sudah diselamatkan. Tetapi sangat disayangkan bahwa ada
banyak orang kristen bahkan hamba Tuhan yang mencoba menghindar
dari interpersonal relationship demi terjadinya keakraban diantara
sesama. Gejala tersebut biasanya muncul akibat dari kegagalan
perkembangan diri dimasa lampaunya, mereka tidak menemukan
identitas pribadi dirinya. Tidak terpenuhinya kebutuhan dimasa
remajanya mengakibatkan kurang berani menghadapi keakraban
karena mereka belum mengenal dirinya sendiri. Ketakutan keakraban
juga mengakibatkan perasaan keterasingan.
Gejala-gejala dari ketakutan keakraban dan keterasingan antara
lain: ketidakmatangan emosi, miskin dalam kasih, takut dirugikan atau
dikecewakan, perasaan rendah diri, perasaan bersalah yang berlebihlebihan (guilt feeling), keramah tamahan dan basa basi, dan ringan
tangan ringan kaki.
Selain bersikap tidak jujur terhadap diri sendiri, sikap negatif lain
sebagai bentuk ekspresi pelayanan tanpa bertanggung jawab adalah
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
40
sikap menolak tanggung jawab. Hamba Tuhan biasanya menyadari
bahwa konseling adalah pelayanan yang harus dilakukan. Sehingga
mereka yang tidak mau melakukan tugas ini biasanya memberi alasanalasan sebagai berikut ”saya tidak suka psikologi”, “konseling tidak
perlu dipelajari, pokoknya kan bisa kotbah, pelayanan lain tidak baik
juga tidak apa-apa”.
Jika mereka terpaksa melakukan pelayanan konseling, maka yang
terjadi adalah mereka melakukannya secara informality (informalitas).
Yaitu model pelayanan yang tanpa rencana, tanpa jam kantor, tanpa
formalitas, dan tanpa prosedur organisasi. Hal itu sebagai bentuk sikap
penyamaran akan hidup santai dan semaunya sendiri dalam pelayanan.
Gejala yang nampak dari pelayanan ini adalah mau cepat selesai,
diagnosa dan analisa yang berdasarkan intuisi semata-mata, menjadi
ilah/simbol Allah bagi konselinya.
Availability (membuat dirinya selalu mau dipakai). Sikap ini
sebenarnya positip dan menunjukkan sikap yang penuh tanggung
jawab seorang hamba Tuhan. Namun yang terjadi justru ada unsurunsur kepentingan untuk pemenuhan kebutuhan diri pribadi, yaitu
sebenarnya mau menolak tanggung jawab, kunjungan dan percakapan
yang tidak bermakna (mencari simpati, teman ngobrol, dan untuk
mendapatkan
feeling
of
importance),
serta
ada
kesengajaan
menciptakan suasana mutual manipulation (saling memanipulasi)
dalam hubungan dengan konselinya.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
41
c. Suasana percakapan konseling yang ideal (conducive atmosphere).
Suasana percakapan yang ideal yang dimaksudkan bukanlah
sekedar suasana yang menimbulkan perasaan senang, nyaman, dan
enak, tetapi lebih dari itu. Karena suasana yang demikian memang
yang seharusnya diciptakan oleh seorang konselor dalam pelayanan
konselingnya. Unsur-unsur penting yang membantu terciptanya
suasana percakapan konseling yang ideal mencakup dua hal yaitu:
sikap penuh pengertian (understanding) dan memberi tanggapan yang
membangun (responding).
Sikap penuh pengertian (understanding) adalah sikap positip dan
terencana dari konselor yang diekspresikan melalui pemberian
kesempatan
yang
seluas-luasnya
kepada
konseli
untuk
mengekspresikan dirinya secara tepat. Dalam proses understanding,
seorang konselor/hamba Tuhan harus “empties himself”, yaitu sebuah
sikap menahan diri, mengontrol diri, mengosongkan diri, dan
menunggu saat yang tepat untuk mengekspresikan kebenarankebenaran yang harus diketahui oleh konselinya. Sikap positip yang
terencana akan memberikan kesan yang positip dalam diri konseli.
Suasana yang menyenangkan, rasa bebas dari ketakutan (ketakutan
untuk dipersalahkan) dan rasa diterima sebagai satu individu yang
berharga, akan mendorong konseli untuk mengekspresikan dirinya
“internal frame of reference” (konsep-konsep pemikiran dan dunianya
yang selama ini tersembunyi).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
42
Understanding yang sejati terjadi jika konselor memiliki sikap
positip yang mencakup antara lain: empathy (empatic understanding),
acceptance, dan listening (effective listening). Empathy (empatic
understanding) adalah sikap positip konselor terhadap konseli, yang
diekspresikan melalui kesediaannya untuk menempatkan diri pada
tempat konseli, merasakan apa yang dirasakan konseli, dan mengerti
dengan pengertian konseli. Hal ini tidak secara otomatis dimiliki oleh
konselor sekalipun ia pernah mendapat pelatihan, maka unsur yang
utama yang harus dimilikinya adalah kasih agape, yaitu sikap hati
compassion (yang penuh belas kasihan) yang diekspresikan dalam
kerinduan untuk betul-betul mau menyelami dan mengerti konselinya.
Acceptance adalah kesediaan konselor untuk menerima keberadaan
konseli sebagaimana adanya.Yaitu sikap tanpa mengadili, tidak
melihat konseli berdasarkan pada kesalahan-kesalahan, kelemahan,
dan kegagalan, melainkan mampu memandang kehidupan konseli
secara utuh sebagai pribadi yang unik, yang persoalannya pantas
digumuli, dan kata-katanya pantas dipertimbangkan.
Acceptance dikembangkan oleh konselor karena ia sadar bahwa
dengan cara ini diharapkan menemukan inti persoalan yang sebenarnya
dan pada akhirnya memperoleh jalan untuk memecahkan persoalan
yang mengganggu hidupnya. Maka ia sadar bahwa konseli adalah
pribadi yang benar-benar terganggu dan mengalami persoalan; ada
pengalaman-pengalaman yang tidak disadari dan muncul defense
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
43
mechanism repression; memiliki subjektivitas; butuh orang yang
mengerti dan bisa dipercaya. Acceptance yang sejati akan memberi
peluang bagi konseli untuk melakukan tindakan dan langkah-langkah
konkrit tanpa menunggu sampai inti persoalannya ditemukan.
Listening (effective listening) adalah unsur yang utama dari
understanding.
Yaitu
kesediaan
untuk
mendengarkan
secara
professional. Eugene Kennedy (Susabda, 1983:30), mengatakan bahwa
the best rapport (hubungan baik yang diharapkan muncul melalui
acceptance).
“….arises, not out of some direct effort to get along well with the
client but out or a simple and sincere effort to listen and hear
accurately what he or she has to say. Rapport automatically exist
when we are concerned enough about others not to worry about
whether they like us or not….”.
Konselor perlu memiliki sensivitas yang tinggi secara disiplin, agar
ia mampu menangkap apa yang dikatakan oleh konseli maupun
perasaan dibalik kata-kata, ekspresi wajah, dan tingkah lakunya.
Responding (Effective Responding)/memberi tanggapan secara
efektif adalah sikap yang sangat penting dari konselor yang
seharusnya tidak merusak bahkan ikut menciptakan suasana
percakapan yang condusive. Di dalamnya mengandung kehangatan,
dukungan, kemurnian sikap konselor, dan mampu memberi stimulus
dengan ide-idenya agar konseli mampu berpartisipasi secara aktif
dalam pelayanan konseling.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
44
d. Melihat tujuan hidupnya dalam relasi dan tanggung jawabnya pada
Tuhan dan mencapai tujuan itu dengan takaran, kekuatan dan
kemampuan seperti yang sudah diberikan Tuhan padanya.
Pelayanan konseling hamba Tuhan tidak berhenti pada pemecahan
masalah konseli, tetapi lebih dari itu seorang konselor perlu membantu
konseli untuk mengalami kepenuhan dalam hidupnya ”wholeness”
sebagai citra Allah.
Pelayan pastoral mengajak konseli melihat lebih dalam lagi tujuan
hidupnya dalam relasi dan tanggung jawabnya kepada Tuhan. Hal itu
meliputi: melihat tujuan hidupnya secara Kristen yaitu bahwa
kebahagiaan tidak hanya untuk diri sendiri, ia diajak untuk melihat
tujuan yang lebih mulia yaitu memperkenankan hati Tuhan (Gal. 1:10);
melihat alkitab sebagai standart kebenaran yang mutlak untuk menilai
tingkah laku dan kebutuhannya; memakai sarana dan jalan yang sesuai
dengan iman Kristen dalam mencapai tujuan yang benar itu, melihat
tujuan hidupnya secara realistis, dan mencapai tujuan hidup yang
dicita-citakan dengan takaran dan kekuatannya sendiri. Jadi konseli
diajak untuk semakin memiliki arah dalam hidupnya, bertanggung
jawab dan mampu mengembangkan dirinya sesuai potensi yang
dimilikinya.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
45
9. Teknik-teknik Konseling
Ada berbagai ragam teknik pendampingan/konseling, menurut Wilis
(2014:160-174) disebutkan sebagai berikut:
a. Perilaku attending
Perilaku attending disebut sebagai perilaku memperhatikan seorang
konselor kepada konseli. Perilaku ini mencakup: kontak mata, bahasa
badan, dan bahasa lisan. Komponen ini penting agar klien mampu
terbuka dan mudah berbicara dengan konselor. Attending yang baik
berdampak: meningkatkan harga diri klien, menciptakan suasana
yang aman, dan mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas.
b. Empati
Empati adalah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang
dirasakan oleh klien, merasa, dan berpikir bersama klien, bukan
untuk atau tentang klien. Empati dilakukan bersamaan dengan
Attending. Empati ada dua macam: a) empati primer (premary
emphaty), yaitu bentuk empati yang hanya memahami perasaan,
pikiran, keinginan, dan pengalaman klien. Tujuannya agar klien
terlibat dan terbuka dalam pembicaraan; b) empati tingkat tinggi
(advanced accurate emphaty) yaitu pemahaman konselor terhadap
perasaan, pikiran, keinginan, dan pengalaman klien secara mendalam
dan menyentuh klien, sehingga membuatnya tersentuh dan terbuka
untuk mengemukakan isi hatinya yang terdalam, baik perasaan,
pikiran, pengalaman, termasuk juga penderitaannya. Dalam teknik
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
46
ini, konselor harus mampu: mengosongkan perasaan dan pikiran
egoistik, memasuki dunia dalam klien, melakukan empati primer
dengan mengatakan “saya dapat merasakan perasaan anda”, dan
melakukan empati tinggi dengan mengatakan “saya merasakan apa
yang saudara rasakan”, dan saya ikut terluka dengan pengalaman
anda itu”.
c. Refleksi
Refleksi adalah keterampilan konselor untuk memantulkan kembali
kepada klien tentang perasaan, pikiran, dan pengalaman klien sebagai
hasil pengamatan terhadap perilaku verbal maupun nonverbal.
Refleksi mencakup refleksi perasaan, refleksi pegalaman, dan refleksi
pikiran.
d. Eksplorasi
Eksplorasi adalah keterampilan konselor untuk menggali perasaan,
pengalaman, dan pikiran klien. Teknik ini memungkinkan klien yang
bersikap tertutup menjadi bebas berbicara tanpa rasa takut, tertekan,
dan terancam. Sebagaimana refleksi mencakup tiga hal,dalam
eksplorasi juga yaitu: eksplorasi perasaan, eksplorasi pegalaman, dan
eksplorasi pikiran.
e. Menangkap pesan utama (paraphrasing)
Seorang konselor perlu menangkap pesan utama yang disampaikan
oleh klien mengenai ide, perasaan, dan pengalamannya. Kemudian
konselor menyampaikan kembali kepada konseli secara sederhana
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
agar
konseli
mampu
memahaminya.
Karena
sering
47
klien
menyampaikan ide, perasaan, dan pikirannya dengan cara berputarputar dan panjang, serta berbelit-belit. Tujuan paraphrasing adalah a)
meyakinkan
konseli
bahwa
konselor
ada
dan
memahami
perkataannya; b) mengendapkan dalam ringkasan; c) mengarahkan;
d) pengecekan kembali persepsi konselor tentang yang dikatakan oleh
konseli.
f. Bertanya untuk membuka percakapan (open question)
Kebanyakan calon konselor mengalami kesulitan dalam membuka
percakapan dengan klien. Untuk itu perlu dilatih keterampilan
bertanya dalam bentuk terbuka (open-ended) yang memungkinkan
munculnya pernyataan-pernyataan baru dari klien. Pertanyaan
terbuka yang baik dimulai dengan: apakah, bagaimana, adakah,
bolehkah, dapatkan. Sebaiknya dihindari menggunakan kata:
mengapa, apa sebabnya? Kata itu menyulitkan klien membuka
wawasannya.
g. Bertanya tertutup (closed questions)
Tujuan keterampilan bertanya tertutup adalah untuk mengumpulkan
informasi, untuk menjernihkan atau memperjelas sesuatu, dan
menghentikan
omongan
klien
yang
sudah
menyimpang
jauh/melantur. Contoh pertanyaan tersebut misalnya: apakah, adakah,
dan harus dijawab dengan ya atau tidak.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
48
h. Dorongan minimal (minimal encouragement)
Upaya utama konselor agar konseli selalu terlibat dalam pembicaraan
dan dirinya terbuka (self-disclosing). Dorongan minimal adalah
dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang dikatakan klien.
Contohnya: oh…., ya…., terus…., lalu…, dorongan ini tepat
digunakan
bila
klien
sudah
kelihatan
mengurangi
ataupun
menghentikan pembicaraannya, kurang memusatkan pikiran dalam
pembicaraan, dan konselor ragu terhadap pembicaraan klien. Hal ini
dapat meningkatkan eksplorasi diri.
i. Interpretasi
Upaya
konselor
untuk
mengulas
pemikiran,
perasaan,
dan
perilaku/pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. Tujuan
teknik ini adalah memberikan rujukan, pandangan atau perilaku klien,
agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari
hasilrujukan tersebut.
j. Mengarahkan (directing)
Keterampilan konselor untuk mengajak dan mengarahkan klien
berpartisipasi secara penuh dalam proses konseling. Misalnya:
menyuruh klien bermain peran dengan konselor, atau mengkhayalkan
sesuatu.
k. Menyimpulkan sementara (summarizing)
Saat periode waktu tertentu konselor bersama klien menyimpulkan
pembicaraan. Tujuan teknik ini adalah: a) memberi kesempatan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
49
kepada klien untuk mengambil kilas balik (feedback) dari hal-hal
yang
dibicarakan;
b)
untuk
menyimpulkan
kemajuan
hasil
pembicaraan secara bertahap; c) untuk meningkatkan kualitas diskusi;
d) mempertajam atau memperjelas fokus pada wawancara konseling.
l. Memimpin (leading)
Agar pembicaraan dalam wawancara konseling tidak melantur atau
menyimpang, maka konselor harus mampu memimpin arah
pembicaraan demi tercapainya tujuan. Sehingga klien mampu untuk
terfokus, dan arah pembicaraan fokus pada tujuan.
m. Fokus
Konselor yang efektif harus mampu membuat fokus melalui
perhatiannya yang terseleksi terhadap pembicaraan klien. Fokus
membantu klien terpusat pada pokok pembicaraannya. Ada beberapa
fokus yang dapat dilakukan konselor: a) fokus pada diri klien; b)
fokus pada orang lain; c) fokus pada topik; d) fokus mengenai
budaya.
n. Konfrontasi
Konfrontasi adalah teknik konseling yang menantang klien untuk
melihat adanya diskrepansi atau inskonsistensi antara perkataan dan
bahasa badan (perbuatan), ide awal dengan ide berikutnya, senyum
dengan kepedihan, dan sebagainya.
Tujuannya adalah agar klien mengadakan penelitian diri secara jujur,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
50
untuk meningkatkan potensi klien, untuk membawa kesadaran klien
adanya diskrepansi, konflik, atau kontradiksi dalam dirinya.
o. Menjernihkan (clarifying)
Menjernihkan adalah keterampilan untuk menjernihkan ucapanucapan klien yang samar-samar, kurang jelas, dan agak meragukan.
Tujuannya agar: pasien menyampaikan pesannya secara jelas dengan
ungkapan kata-kata yang tegas, dan alasan-alasan yang logis; agar
klien menjelaskan,megulang, dan mengilustrasikan perasaannya.
p. Memudahkan (facilitating)
Memudahkan adalah keterampilan membuka komunikasi agar klien
dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan,
pikiran, dan pengalamannya secara bebas, sehingga komunikasi dan
partisipasi dalam proses konseling berjalan efektif.
q. Diam
Diam amat penting dengan cara attending. Diam yang ideal
dilakukan antara 5-10 detik dan selebihnya bisa diganti dengan
dorongan minimal. Tujuan teknik ini adalah: menanti klien sedang
berpikir; sebagai protes bila klien ngomong berbelit-belit; menunjang
perilaku attending dan empati sehingga klien bebas berbicara.
r. Mengambil inisiatif
Konselor mengambil inisiatif bila klien kurang bersemangat untuk
berbicara, sering diam, dan kurang partisipatif. Tujuan teknik ini
adalah: mengambil inisiatif bila klien kurang bersemangat; jika klien
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
51
lambat berpikir untuk mengambil keputusan; dan jika klien
kehilangan arah pembicaraan.
s. Memberi nasihat
Pemberian nasihat dilakukan bila klien memintanya, meskipun
demikian seorang konselor perlu mempertimbangkan apakah perlu
atau tidak. Hal ini bertujuan agar tujuan konseling yakni
memandirikan klien tetap tercapai.
t. Pemberian informasi
u. Merencanakan
Menjelang akhir konseling, seorang konselor harus dapat membantu
klien untuk dapat membuat rencana berupa suatu program untuk
action, perbuatan nyata yang produktif bagi kemajuan dirinya.
v. Menyimpulkan
Pada akhir konseling konselor membantu klien untuk menyimpilkan
hasil pembicaraan yang menyangkut: perasaannya saat ini terutama
mengenai kecemasan; memantapkan rencana klien; pokok-pokok
yang akan dibicarakan selanjutnya.
10. Tahap- Tahap Layanan Konseling Pastoral
Untuk dapat memberikan layanan Konseling Pastoral, maka
konselor harus mengetahui tahap-tahap dan kekhasan dalam setiap tahap
tersebut.
Menurut Tu‟u (2007:72-81) ada beberapa tahap untuk dapat memberikan
layanan Konseling Pastoral yakni:
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
52
a. Tahap Awal
Pada tahap ini konselor mendengarkan pergumulan pikiran atau
perasaan konseli (yang mengalami sakit). Apabila relasi konselor cukup
baik dengan konseli, pendampingan dapat diawali dengan berdoa
memohon rahmat/berkat Tuhan agar proses Konseling Pastoral yang
akan dilangsungkan (kemungkinan bisa terjadi dalam beberapa
pertemuan) dapat berlangsung dengan baik.
b. Tahap Inti
Pada tahap ini konselor berupaya menggali, mencari, menemukan
pokok-pokok akar masalah (dari pikiran/perasaan konseli) serta akibatakibat yang dihadapi konseli. Dalam tahap ini konselor perlu
mengembangkan percakapan dengan menggunakan model-model:
Respons Understanding (U), Respons Suportif (S), Respon Interpretatif
(I) dan Respon Evaluatif (E), dengan penjelasan sebagai berikut:
a) Respons Understanding (U), berisi pemahaman dan pengertian,
maksudnya konselor mengungkapkan dengan kalimatnya sendiri
tentang pikiran/perasaan konseli. Respons Understanding ini sering
ada dimana-mana dalam konseling, sehingga dapat dikombinasi
dengan Rerspons SIE (Suportif, Interpretatif, Evaluatif).
b) Respons Suportif (S) isinya refleksi teologis, untuk mendukung,
menentramkan, meneguhkan, menghibur konseli. Respons ini sangat
berguna
untuk
merespons
konseli
yang
mengungkapkan
kebimbangan, keragu-raguan, ketakutan, kekhawatiran, gelisah,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
53
resah, sedih, duka, putus asa, “merasa kecil”/”minder”, dan tidak
berdaya, bingung, kecewa, benci, dendam. Dalam percakapan pada
tahap ini perasaan konseli perlu ditanggapi konselor dengan
memberikan inspirasi teologis. Oleh karena itu konselor perlu
memiliki pemahaman yang berkaitan dengan ayat-ayat Kitab Suci
tertentu supaya dapat mendorong konseli keluar/membebaskan diri
dari rasa itu.
c) Respons Interpretatif (I), isinya refleksi psikologis bertujuan untuk
menafsir, menuntun, membimbing dan menerangkan. Intinya
mengajak konseli merenungkan pikiran/perasaan yang menjadi
problemnya dalam konteks pemikiran psikolog tertentu. Respons
Interpretatif (I) ini akan mengarah ke Respons Evaluatif (E) dan
Respons action (A).
d) Respons Evaluatif (E) isinya unsur psikologis dan teologis. Respons
ini berusaha mengevaluasi, menanggapi hal-hal yang baik dari
konseli, memberikan ide-ide, alternative-alternatif jalan keluar, atau
solusi.
c. Tahap Penutup
Pada tahap ini konselor berusaha untuk mengakhiri proses
Konseling Pastoral dengan Respons Action (A). Maksudnya, konselor
membantu konseli untuk membuat tindakan konret. Supaya proses ini
dapat berjalan baik, pentingnya memiliki kebiasaan berdoa perlu digaris
bawahi.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
54
11. Fungsi Konseling Pastoral
Pada umumnya para ahli setuju dengan Clebsch dan Jaekle
(Wiryasaputra:1999) menjelaskan bahwa, konseling pastoral mempunyai
empat fungsi yaitu:
a. Menyembuhkan (healing)
Seseorang yang sakit pasti ingin sembuh dan berpikir tentang obat
kimia yang bisa menyembuhkannya. Berapapun harganya mereka akan
berusaha asalkan ia bisa keluar dari rasa sakit yang menimpanya.
Dalam hal pendampingan pastoral, fungsi penyembuhan ini sangat
penting. Pemberian pelayanan konseling secara intensif, yang dipenuhi
dengan kasih sayang, empati, mendengarkan dengan sepenuh hati,
kepedulian,
membuat
seorang
yang sakit
mengalami
sebuah
penerimaan dan rasa dipahami. Fungsi ini sangat penting untuk
menolong orang yang terluka akibat trauma ataupun mengalami luka
batin, dan juga rasa bersalah yang berakibat sakit pada psikis konseli.
Konselor membantu konseli agar mau terbuka dan membantu dia, agar
dia dapat kembali berfungsi seperti sedia kala. Jika memungkinkan doa
sesudah proses konseling juga turut membantu proses kesembuhannya.
b. Menopang (sustaining)
Konselor dihadapkan pada klien yang tiba-tiba mengalami krisis
yang mendalam, misalnya mereka yang mengalami kehilangan,
kemtian orang-orang yang dikasihinya, dan dukacita. Dalam situasi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
55
seperti itu konselor dimungkinkan untuk mendampinginya. Kehadiran
konselor akan menolong seseorang agar dapat bertahan pada
kondisinya itu apabila tidak mungkin dikembalikan kepada keadaan
semula. Dukungan berupa kehadiran dan sapaan yang meneguhkan,
serta sikap yang terbuka akan mengurangi penderitaan konseli.
c. Membimbing (guiding)
Fungsi membimbing ini muncul dalam usaha menolong konseli
untuk mengambil keputusan-keputusan mengenai hidupnya sendiri.
Konselor menolong orang agar orang dapat mengambil keputusan
yang realistik dan terbaik bagi masa depannya sendiri. Konselor
memberikan alternatif
yang bertanggung jawab dengan egala
risikonya, sambil mengarahkan pada pilihan yang berguna baginya.
d. Memperbaiki hubungan (reconciling)
Setiap orang pasti merindukan adanya suasana yang aman, damai,
dan rukun diantara sesamanya, baik kelurga inti maupun saudara serta
orang-orang yang mereka kenal. Manusia adalah makhluk sosial,
apabila hubunganya dengan pribadi yang lain
retak/mengalami
permasalahan, maka akan mempengaruhi situasi batin mereka. Hal itu
bisa mengakibatkan luka ataupun rasa bersalah dalam dirinya.
Konselor membantu klien menganalisa mana yang mengancam
hubungan dan membantu mencari alternatif untuk memperbaiki
hubungan tersebut. Maka fungsi ini sangat penting agar dapat
menolong klien untuk memulihkan hubungan yang retak/putus/rusak
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
56
terhadap orang disekitarnya.
Oleh Wiryasaputra (1999) ditambahkan satu fungsi lagi yaitu
mendidik/membina.
e. Mendidik/membina (educating/forming)
Dalam
hal
ini
konselor
menolong
orang
agar
dapat
mengembangkan diri sedemikian rupa sehingga dia dapat menolong
dirinya sendiri dan bahkan jika perlu menolong orang lain di masa
datang.
12. Etika Pastoral dengan Kode Etiknya
Pembebasan dan penyembuhan menjadi tanda kedatangan kerajaan
Allah
di dunia yang menghadirkan keselamatan (Mat.11:4-5).
Pembebasan dan penyembuhan sedemikian tak terbatas pada segi
kejasmanian, melainkan menyangkut manusia seutuhnya. Karya rumah
sakit katolik, yang merupakan salah satu ungkapan dan sarana gereja bagi
sesama yang menderita, memberikan kesaksian bagi penyembuhan dan
pembebasan.
Pada tahun 1978, MAWI telah menyampaikan dokumen “pesan
MAWI kepada karya kesehatan katolik”. Dengan pedoman ini gereja ingin
menyatakan bahwa pelayanan rumah sakit tetap dihargai dan didukung
serta diperlukan bagi rujukan pelayanan kesehatan primer. Pedoman ini
diharapkan menjadi landasan yang bermanfaat dalam upaya menciptakan
suasana yang mendukung dalam dimensi religious dan tanggung jawab
etis,
membentuk
hati
nurani,
menghormati
martabat
manusia,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
57
mengembangkan solidaritas bagi yang menderita, dan menjalankan proses
pengambilan keputusan yang mengindahkan segi-segi etis dan pastoral.
Pedoman Etis dan Pastoral Rumah Sakit 1987 pada butir terhadap
pendampingan pasien dalam pelayanan pastoral itu antara lain:
1. Kemajuan manajemen, ilmu dan teknologi kedokteran, betapapun
manfaatnya
dapat
disertai
kekaburan
nilai-nilai
manusiawi.
Pendampingan pasien sebagai bagian pelayanan pastoral,merupakan
bagian hakiki Rumah Sakit Katolik berdasarkan ciri khas dan inspirasi
kristiani yang menjiwainya.
Meskipun tidak dengan sendirinya membawa kesembuhan, sentuhan
manusiawi dapat membuka jalan bagi hidup yang lebih berarti.
Perhatian
pada
pribadi
pasien
secara
utuh,
kehadiran
dan
pendampingan yang memberikan dukungan, besar artinya dalam
membantu penyembuhan.
Pendampingan secara profesional dan manusiawi, membantu pasien
untuk
menggali
dan
menemukan
makna
dalam
hidupnya,
memunculkan harapan dan mengutuhkan kembali relasinya dengan
sang pencipta (butir 52).
2. Pendampingan pasien diarahkan agar penderita secara aktif
dapat
mengembangkan sikap yang tepat terhadap diri dan penderitaannya.
Kunjungan pribadi, kesempatan berkomunikasi dan berdialog,
konsultasi dengan tenaga ahli, dan berbagai perhatian akan mengurangi
penderitaan pasien dan keluarganya. Perlakuan terhadap pasien sebagai
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
subjek,
dengan
keterbatasannya
memungkinkan
mereka
58
lebih
menyadari makna hidupnya (butir 53).
3. Pendampingan terhadap orang yang akan meninggal dunia berarti
bantuan bagi seseorang menuju peralihan hidup di dunia kepada hidup
kekal. Hendaknya diusahakan agar menjelang kematian, penderita
tidak ditinggal sendirian. Diusahakan agar penderita didampingi oleh
keluarga, dokter, perawat, serta petugas agama yang dikehendaki
pasien. Penataan ruang jenasah seyogyanya mencerminkan harapan
kristiani dan suasana yang khidmad (butir 54).
4. Karena pendampingan pasien merupakan bagian yang hakiki dan
menjadi tanggung jawab bersama, maka siapa saja yang berhubungan
dengan pasien diharapkan mampu mengembangkan kerjasama sesuai
dengan perannya masing-masing. Pengamalan cinta kasih hendaknya
menjiwai masing-masing profesi dalam karya rumah sakit katolik.
Pembinaan sikap manusiawi dan kristiani dalam bentuk sikap
menghargai, peka dan tanggap terhadap situasi pasien menjadi
program penting (butir 55).
5. Agar tanggung jawab bisa terlaksana dengan baik oleh semua pihak,
maka perlu dibentuk tim pastoral yang bertugas (butir 56):
a. Membangkitkan dan memantapkan kesadaran, motivasi dan
tanggung jawab semua pihak untuk melaksanakan peran masingmasing dalam pelayanan pendampingan.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
59
b. Mengorganisasikan usaha pelayanan, agar terarah, terpadu,
bermutu, dan merata.
c. Mengembangkan lebih lanjut bentuk dan metoda pelayanan.
d. Menyelenggarakan kaderisasi dan penyegaran personil, agar lebih
mampu dan sanggup melaksanakan pelayanan pastoral.
e. Menyelenggarakan evaluasi tentang kegiatan pelayanan yang
dijalankan.
Sedangkan menurut Young dan Koopsen (2009: 47-48),
prinsip etis utama dalam perawatan spiritual bidang kesehatan
adalah:
1. Berbudi pekerti, yaitu kewajiban untuk melakukan apa yang benar.
Penggelola perawatan kesehatan diwajibkan untuk bertindak
dengan cara positip agar bermanfaat bagi pasien. Cara bertindak
yang positip akan menimbulkan kepercayaan yang tinggi antara
penyelenggara kesehatan dengan pasien, sehingga pasien merasa
terbantu dan tidak dirugikan (Mueller, dkk. 2001).
2. Tidak berperilaku buruk, yaitu perilaku yang tidak menimbulkan
keburukan pasien. Artinya bahwa para profesional perawatan
kesehatan harus menyelenggarakan perawatan spiritual sebagai
bagian dari seluruh perawatan, karena pengabaian perawatan
spiritual berdampak negatif pada pasien,dan pasien berpandangan
bahwa kesehatan spiritual dan fisik sama-sama penting (Mueller, at
al.2001)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
60
3. Otonomi, berarti membantu pasien sesuai dengan kebutuhan
spiritual mereka tanpa mempengaruhi apa yang diyakini oleh
pasien. Dalam arti lain bahwa tiap orang memiliki kemerdekaan
untuk
menentukan
Nathanael.1998,
hidup
Purtillo.
mereka
1999).
sendiri
Lebih
(Burkhardt
lanjut
Lo
dan
(2000),
mengungkapkan bahwa orang mengharapkan mereka memiliki
kemampuan untuk menentukan pilihan hidup berpengaruh besar
dalam perawatan kesehatan. Otonomi berkaitan erat dengan konsep
tentang hati nurani yang dipenuhi informasi yang baik.
4. Kerahasiaan, merupakan prinsip etis yang menuntut seseorang
yang kepadanya dipercayakan informasi pribadi dan rahasia.
Kerahasiaan disebut dalam janji Nightingale untuk kelulusan
perawat: “dengan sekuat tenaga saya akan meningkatkan standart
profesi saya dan memegang teguh seluruh perkara pribadi yang
dipercayakan pada saya dan seluruh urusan keluarga yang saya
ketahui dalam praktik profesi saya (Thomas, 1997:1301)”. Lebih
lanjut Thomas (Young dan Koopsen. 2009:48), menyebutkan
bahwa kerahasiaan disebut juga dalam supah Hipokrates untuk
para dokter: “Apapun juga yang terkait dengan praktik profesional
saya, atau tidak dalam kaitan dengan ini, saya ketahui dan dengar,
dalam hidup manusia, yang harus tidak diketahui umum, saya tidak
akan mengatakan apapun, karena memandang semua itu harus
disimpan sebagai rahasia”.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
61
5. Dukungan, meliputi pemberian bantuan pada pasien untuk
melaksanakan
otonomi.
Dorongan
menuntut
peran
serta
profesional perawatan kesehatan untuk menghormati martabat dan
kemerdekaan
pasien
dalam
hubungan
perjanjian
seperti
dicontohkan oleh hubungan antara Tuhan dengan kaum beriman
(Salladay
dan
McDonnell.
1989:543).
Lebih
lanjut
ia
mengungkapkan bahwa, penyelenggara perawatan spiritual yang
merupakan pendukung pasien harus mampu mengesampingkan
agenda pribadinya dan membantu pasien mencari makna hidup
selama masa penderitaan, frustasi, dan lemah.
Para pelayan pastoral dalam gereja katolik Roma tidak mempunyai
kode etik yang resmi. Kode etik tanggung jawab pelayanan profesional ini
sebagai usaha percobaan dan terbatas. Kode etik ini tidak hanya mencakup
kotbah, latihan-latihan konseling, pengaturan keuangan, penggajian dan
pemberhentian pegawai-pegawai, tugas-tugas administratif, dan wilayahwilayah lain yang mungkin dikenal para pelayan pastoral.
Gula (2009:229-244), mendasarkan kode etik ini pada kerangka
kerja teologis-etis dan dikembangkan dari posisi moral. Kode etik
pelayanan profesional antara lain:
1. Pembukaan
Gereja adalah komunitas kaum beriman yang dipersatukan bersama
oleh iman, harapan, dan kasih. Sebagai orang beriman yang telah
menerima sakramen baptis, semua mengambil tanggung jawab
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
62
meneruskan perintah Yesus di dunia ini yaitu mencintai Tuhan dan
sesama seperti dirinya sendiri. Kode etik ini hanya sebuah tawaran,
tidak ada paksaan ataupun sanksi bagi yang tidak melaksanakannya.
2. Kerangka teologis
Pelayanan pastoral adalah suatu panggilan dan suatu profesi.
Panggilan merupakan suatu tanggapan bebas terhadap penggilan
Tuhan di dalam dan melalui komunitas untuk mengabdikan diri dalam
kasih pelayanan terhadap sesama. Keyakinan bahwa manusia
diciptakan menurut citra Allah membangun keluhuran pribadi dan
kodrat sosial, sehingga menerima sesama bukan berdasarkan nilai
fungsional untuk kepentingan pribadi, lebih dari pada itu bahwa
menyalurkan anugerah-anugerah yang dimilikinya kepada sesamanya
adalah sebagai keharusan.
Yesus sebagai model pelayanan ini, sebagai murid yang dewasa
seorang pelayan pastoral hendaknya menghayati semangat gurunya
yaitu melaksanakan pelayanan pastoral secara inklusif dan menghayati
pelayanan ini sebagai sarana untuk pembebasan manusia demi
kepenuhan hidup semua orang karena mengalami anugerah ilahi.
3. Kekhasan ideal para pelayan pastoral
Watak dan keutamaan menunjukkan identitas setiap pribadi dalam
pelyanannya. Watak adalah himpunan tujuan, perilaku, dan alasan
yang memberikan arah bagi hidup kita. Sedangkan keutamaankeutamaan
adalah
keterampilan-keterampilan
praktis
yang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
mengkaitkan
kenyataan-kenyataan
dan
aspirasi-aspirasi
63
dengan
tindakan-tindakan.
Keutamaan- keutamaan yang seharusnya dimiliki oleh seorang
pelayan pastoral adalah sebagai berikut:
a. Kesucian
Seorang pelayan pastoral sebagai pribadi yang menjembatani
kehadiran yang ilahi, maka hendaklah mengembangkan relasi yang
teguh dengan Allah Tritunggal. Dengan ciri sebagai berikut: hidup
terarah kepada Allah, rajin berdoa, dan memiliki kedisiplinan
rohani, terbuka pada Roh kudus.
Selain itu juga dinyatakan dalam pribadi yang asli, tidak defensif,
tidak memihak, luwes, menerima pengalaman-pengalaman dan
orang-orang
yang
berbeda,
kesadaran
diri
yang
kritis,
mengusahakan keseimbangan dalam hidupnya, dan keadilan dalam
hidup orang lain.
b. Cinta kasih
Cinta kasih sebagai bela rasa terhadap orang lain, harus dimulai
dengan self-care yang sesuai dengan diri sendiri,agar dapat
melayani secara bebas. Hal itu mencakup kesabaran dalam hidup
dengan orang lain dan mengusahakan kebaikan orang lain.
c. Kelayakan untuk di percayai
Keutamaan ini mencakup ungkapan: kesetiaan, kejujuran, keadilan,
kebenaran, kemurahan hati, dan kerendahan hati. Sebagai orang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
64
yang dipercayai hendaknya seorang pelayan pastoral dapat menjadi
tempat yang aman dan dapat memegang rahasia dalam komunikasi.
Ia juga mampu memperhatikan konseli, mampu menghargainya
dan tahu batas-batas fisik maupun emosional, menyampaikan hal
yang penting, mampu memenuhi komitmen-komitmennya, dan
terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya agar
semakin kompeten dan dipercaya.
d. Altruisme
Altruisme adalah sebuah pelayanan yang ditandai dengan
kemurahan hati. Pelayan yang murah hati mampu mengutamakan
kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri, bisa
didekati, menawarkan pelayanan secara inklusif, mampu berbagi
waktu dan bakat dengan orang lain, dan berusaha melindungi
keluhuran dan hak dasar setiap pribadi.
e. Kebijaksanaan
Kebijaksanaan adalah hati yang mampu untuk memilah dengan
tajam. Ia juga memiliki ketelitian dalam melihat apa yang sedang
terjadi, mampu membedakan secara rinci,terbuka untuk belajar,
menanyakan pengertian dan bias dalam diri sendiri, mengambil
hasil yang mungkin, mengambil waktu untuk mendengarkan dan
hening dalam doa, memutuskan dan melaksanakan.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
65
4. Kewajiban profesional
Seorang pelayan pastoral memiliki kewajiban profesional meliputi:
a. Kompetensi teologis
Seorang
pelayan
mengembangkan
pastoral
pengetahuan
memberikan
teologis
dan
waktu
untuk
keterampilan
pastoralnya, baik studi secara pribadi maupun ambil pogram
profesional. Selain itu juga mengembangkan diri dengan
mengadakan refleksi teologis untuk memediasi makna sumbersumber kristiani.
b. Pelayanan kebutuhan umat untuk keselamatan
Pelayanan yang dilaksanakan dengan jalan memelihara kasih, yaitu
dengan mencintai Allah dan sesama sepereti diri sendiri.
c. Komitmen untuk kepentingan terbaik bagi sesama
Pelayan diharapkan menjadi pribadi yang mudah dihubungi dan
siap menolong; mampu menghargai keluhuran setiap pribadi tanpa
membeda-bedakan; memiliki kualitas pelayanan yang luwes,
fleksibel dan mampu melampaui batas.
d. Pemeliharaan diri
Pelayan berusaha memelihara hidup sehat baik secara fisik,
emosional, sosial, spiritual, maupun berusaha hidup sehat secara
moral dengan terlibat dalam kegiatan yang bersifat konfidensial,
supportif untuk mendapat nasihat dan dukungan untuk visi dan
nilai hidupnya.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
66
e. Penggunaan kuasa
Pelayan
pastoral
hendaknya
berusaha
menggunakan
kekuasaannya untuk menghargai keluhuran pribadi-pribadi yang
dilayaninya dan memberdayakan mereka; memiliki kediplinan diri
yang jelas dan tahu batas-batas dalam relasi dengan pribadi yan
dilayani.
f. Tanggung jawab
Pelayan pastoral berusaha untuk membatinkan dan melaksanakan,
serta bertanggung jawab terhadap kode etik yang menjadi standart
tugas pelayanannya.
5. Perilaku seksual
Pelayan pastoral hendaknya memberi kesaksian tentang kemurnian
baik sebagai kaum selibat, berkeluarga, maupun yang masih singgle
dalam semua jenis hubungan; ia juga harus menghindari perilakuperilaku menyimpang; bisa menjadi tempat yang aman untuk mereka
yang terluka, bertanggung jawab dan tahu batas-batas seksual dalam
relasi pastoral, berani menolak, bijaksana dan mampu mengendalikan
dalam memberikan sentuhan; peka terhadap dinamika diri maupun
yang dilayani; memiliki kesadaran akan dinamika seksual dalam relasi
pastoral yang sedang terjadi; berani terbuka untuk mencari dan
bertanya kepada yang lebih profesional mengenai batas-batas dan
tanggung jawab dalam pelayanan pastoral; berani melaporkan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
67
pelanggaran-pelanggaran tentang perilaku seksual dan adil terhadap
korban.
6. Konfidensialitas
Pelayan pastoral hendaknya menjaga semua informasi konfidensial
yang disampaikan kepadanya; mampu menahan diri terhadap gosip
yang salah, merendahkan martabat, mencemarkan nama baik,
melanggar dan berbahaya untuk nama orang lain.
B. Hakikat Pasien/orang-orang sakit
1. Definisi Pasien
Kamus Bahasa Indonesia edisi keempat tahun 2008, menyebutkan
bahwa pasien berarti orang sakit (yang dirawat dokter); penderita (sakit).
Jadi pasien berarti orang sakit/penderita yang dirawat oleh dokter. Ada tiga
macam pasien, yaitu: pasien dalam, pasien luar, dan
pasien opname.
Pasien dalam adalah pasien yang memperoleh pelayanan tinggal atau
dirawat pada suatu unit pelayanan kesehatan tertentu/pasien yang dirawat
di rumah sakit. Pasien luar adalah pasien yang memperoleh layanan
kesehatan tertentu, tidak menginap di unit pelayanan kesehatan. Pasien
opname adalah pasien yang memperoleh pelayanan kesehatan menginap
dan dirawat di rumah sakit. Jadi pasien adalah orang yang mengalami
keadaan diri (fisik) yang tidak nyaman. Keadaan tidak nyaman atau sakit
yang membuatnya tidak mampu atau terganggu dalam melakukan
aktifitasnya.
Abineno (1994:1-5), menyatakan bahwa seorang pelayan konseling
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
68
pastoral harus mengetahui situasi si pasien, yaitu situasi lahiriah dan
situasi batiniah. Situasi lahiriah adalah situasi tempat dan lingkungan
dimana orang sakit berada, hal ini sangat mempengaruhi perasaan pasien.
Apabila seseorang dirawat di rumah sakit, maka akan timbul perasaan
renggang dan rasa kesepian terutama bila mereka jarang dikunjungi.
Dalam situasi demikian mereka sangat berharap dikunjungi oleh
pastor/pendeta. Situasi rumah sakit tempat dan waktu yang diberikan
kadang mempersulit seorang pastor dalam mengadakan percakapan
pastoral. Hal itu terkait adanya kebutuhan pasien yang berbeda-beda.
Ada bermacam-macam kebutuhan pasien yaitu: ada yang
membutuhkan percakapan karena ia sedang mengalami kesepian dan
kebimbangan, membutuhkan bimbingan karena ia mengalami krisispercaya, ada yang membutuhkan penghiburan karena ia susah dan tidak
melihat jalan keluar, dan lain-lain. Adanya kebutuhan pasien yang
berbeda-beda, sehingga layanan pastoral juga harus diberikan secara
pribadi sebagaimana yang diharapkan oleh pastor.
Situasi batiniah adalah situasi orang sakit itu sendiri, terlepas dari
situasi yang di luar dirinya. Orang sakit adalah orang yang banyak atau
sedikit merasa bahwa ia dibuat menjadi pasif atau barang kali lebih baik;
dibuat menjadi non aktif terutama kalau dirawat di rumah sakit. Ia merasa
bahwa ia dengan rupa-rupa cara, misalnya diikat untuk waktu tertentu akan
menimbulkan banyak-sedikit harapan untuk sembuh, banyak-sedikit
kesulitan fisik, atau ketidak stabilan psikis. Maka sangat penting bagi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
69
seorang pelayan pastoral mempunyai pengetahuan tentang realitas yang
objektif dari si pasien (Abineno, 2014: 4).
Seorang pastor/pelayan pastoral perlu memiliki pengetahuan
tentang psikologi orang sakit, agar dapat menunaikan tugasnya dengan
baik. Pendekatan psikologis diterapkan sebagai persiapan untuk pelayanan
pastoral, pendekatan ini sebagai alat bantu agar mengerti dengan lebih baik
situasi pasien yang dilayaninya. Tidak semua pasien memerlukan
pendekatan psikologis, khususnya bagi pasien yang mendekati ajal. Dalam
situasi seperti ini biasanya seorang pelayan pastoral hanya berdoa dan
berharap pada Allah agar berkenan memberikan kata-kata yang tepat
padanya. Tugas hakiki seorang pelayan pastoral adalah melaksanakan
tugas yang dipercayakan Kristus kepadanya yaitu menjadi gembala yang
baik.
Tugas hakiki sebagai gembala yang baik adalah melakukan
kunjungan kepada orang sakit dan mengadakan percakapan dengan orang
sakit. Kunjungan kepada orang sakit merupakan pola pelayanan pastoral
yang benar. Lebih lanjut pelayanan ini bukan didasarkan atas kebaikan
ataupun keselamatan manusia, tetapi atas kehendak Allah. Maka dalam
memulai pelayanannya seorang pastor/pelayan pastoral harus terlebih
dahulu mendengarkan, baru sesudah itu berkata-kata dan berbuat. Dalam
mendengarkan orang sakit pelayan pastoral juga hendaknya lebih
mendengarkan Allah. Allah yang awalnya pribadi ketiga dan kemudian
menjadi yang pribadi pertama yang memimpin pelayanan pastoral.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
70
Mengapa demikian? Karena maksud terpenting dari pelayanan pastoral
terhadap orang sakit adalah hubungannya dengan Allah.
Lebih lanjut Abineno (2014:9), mengungkapkan bahwa yang
paling penting dalam pelayanan pastoral ialah pembebasan orang sakit.
Yang dimaksud
dengan pembebasan
disini
bukan pertama-tama
pembebasan dalam arti psiko-somatis, meskipun itu juga
yang
dimaksudkan. Tetapi lebih dari itu, justru ditengah-tengah penderitaan
berat yang si sakit tanggung dengan segala keterikatan daripadanya, si
sakit menunjukkan sikap percayanya pada Yesus Kristus, Tuhan dan Sang
Juruselamatnya, meskipun masih ada penderitaan psikosomatisnya yang
masih berlangsung.
Penyakit yang diderita oleh seseorang sangat mempengaruhi situasi
manusia, baik fisik maupun psikologis/kepribadiannya. Ada beberapa sifat
yang pada umumnya dialami oleh orang yang sakit, antara lain:
a. Orang sakit tergantung pada orang lain, ia tidak lagi berdiri sendiri
Orang yang sakit pada umumnya mempunyai kebutuhan untuk
diperhatikan lebih dari pada orang yang sehat. Mereka sangat
tergantung pada perawatan keluarga maupun perawat. Jika ia
membutuhkan sesuatu ia selalu meminta tolong pada orang yang ada
disekitarnya, ia menjadi seperti seorang anak kecil yang sangat
tergantung pada bantuan orang di sekitarnya.
Hal itu biasanya dialami oleh orang yang sakit berat dan dalam
waktu yang lama. Mereka akan mudah marah, bersungut-sungut, dan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
71
meminta perhatian yang lebih. Hal itu timbul karena mereka sudah
tidak berdaya dan merasa kesepian. Konselor harus mampu memahami
situasi yang demikian, dalam menangapi situasi yang demikian
diharapkan ia memiliki kemampuan interpersonal. Maka kehadirannya
mampu membuat klien tetap merasa diterima meskipun sikapnya tidak
terlalu menyenangkan.
b. Seorang sakit merasa ketakutan, yang pada hakikatnya adalah
ketakutan akan kematian.
Tiap-tiap penyakit mengandung unsur kematian. Seseorang yang
mengalami sakit baik secara sadar maupun tidak, ia mulai teringat akan
kematian. Seandainya tidak, ia akan berpikir “apakah saya akan tetap
kuat seperti sebelumnya?” Konselor sangat berperan dalam situasi
demikian, bukan pada pemberian nasihat tetapi lebih pada empati dan
mengarahkan pada pemikiran yang realistis.
c. Orang sakit mempunyai banyak waktu lowong, sehingga ia berpikirpikir dan bergumul.
Orang sehat biasanya sibuk dalam tugas-tugasnya, dalam
berorganisasi dan juga kegiatan-kegiatan lain yang mejadi hobbynya.
Namun saat sakit ia tidak lagi memiliki kemampuan yang demikian, ia
harus istirahat dan bahkan mendapat perawatan yang intensif.
Dalam keadaan yang demikian, orang yang sakit memiliki banyak
waktu luang. Situasi yang demikian, membuat orang yang sakit lebih
banyak berpikir tentang hidupnya, relasinya, dan mungkin cara
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
72
kerjanya selama ini. Hal ini bisa menjadi kesempatan yang berharga
apabila orang yang sakit mampu untuk memaknainya. Mereka akan
merasa bersyukur bahwa bisa mengalami istirahat dan lebih
menghargai kesehatan, serta memunculkan kesadaran baru untuk
sesuatu yang lebih baik dimasa yang akan datang. Sebaliknya ada
pasien yang tidak sampai pada tahap pemaknaan, sehingga situasi sakit
membuatnya berpikir yang negatif atau malah menyalahkan diri. Maka
konselor dapat mendampingi mereka yang mengalami kemunduran,
agar mereka mampu memaknai pengalaman sakit secara positip.
2. Peranan Perawat dalam Perawatan Spiritual Pasien
Perawat merupakan orang pertama yang dekat dengan pasien. Hal
yang perlu dilakukan oleh perawat adalah membuat perencanaan. Langkah
pertama dalam perencanaan perawatan spiritual terhadap pasien adalah
melakukan asesmen kebutuhan. Hal itu bisa dilakukan secara formal
maupun non formal. Secara informal dapat dilakukan melalui interaksi
dengan pasien dan keluarganya.
Situs web JCHAO (Joint Commission
for Acreditation of
Healthcare Organization), (O‟Brien. 2009:20), mengungkapkan bahwa
asesmen kebutuhan spiritual pasien dilakukan tidak hanya untuk
menentukan aliran maupun kelompok keagamaan, melainkan juga untuk
mengidentifikasi keyakinan dan praktik keagamaan maupun spiritual
pasien, terutama terkait dengan bagaimana praktik keyakinan iman itu
membantu pasien menghadapi penyakit atas tubuhnya.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
73
Sejumlah pertanyaan yang dapat diajukan: “siapa atau apa saja
yang menjadi daya dukung dan pengharapan pasien?”; “dukungan
spiritual/keagamaan macam apakah yang diinginkan pasien?”; “adakah
peran jemaat dalam kehidupan pasien?”; “bagaimana iman membantu
pasien menghadapi kondisi sakitnya?”.
Tanpa mengurangi peran penting pendamping rohani rumah sakit,
perawat harus menjadi orang pertama yang mengetahui praktik-praktik
dan kebutuhan spiritual pasien agar dapat menyelenggarakan suatu reksa
keperawatan holistik. Komunikasi yang baik antara perawat dan
pendamping rohani sangatlah penting, inilah gambaran ideal yang musti
terjadi. Maka sangatlah penting bagi pendamping rohani rumah sakit untuk
mengikuti pertemuan-pertemuan para perawat dan turut terlibat dalam
perencanaan perawatan kesehatan pasien yang holistik.
Perawat mestinya dapat menjembatani komunikasi antara pasien
dengan
keluarganya
maupun
kelompok
keagamaannya
dengan
merekomendasikan suatu konseling dengan pelayan pastoral resmi jika hal
itu memberikan harapan yang menjanjikan.
3. Model Kesehatan Spiritual saat Sakit.
Menurut Travelbee (O‟Brien, 2009:49), titik pusat perhatian akan
masalah kesehatan adalah konsep tentang menemukan pemaknaan atas
pengalaman seseorang dalam menderita suatu penyakit. Lebih lanjut ia
mengungkapkan bahwa komponen inti dalam keperawatan tentang
kesehatan spiritual pada saat sakit adalah konsep menemukan makna
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
74
spiritual dalam pengalaman sakit. Dalam model konseptual, setiap orang
memiliki kemampuan menemukan makna spiritual dalam pengalamannya
bersama penyakit, yang dapat menuntunnya pada kondisi dimana pasien
justru secara spiritual dinyatakan sehat. Hal itu dipengaruhi oleh banyak
faktor, antara lain:
a. Persepsi seseorang tentang makna spiritual dalam pengalaman sakitnya
dipengaruhi sikap dan kebiasaan spiritual dan religius pribadi. Ini
terkait dengan iman personal, keyakinan akan Tuhan, kedamaian
dalam keyakinan spiritual religius, percaya akan kekuatan Tuhan,
kekuatan yang diperoleh dari iman pribadi, dan kepercayaan akan
penyelenggaraan Tuhan.
b. Kepuasan batin, hal ini meliputi: kepuasan dalam iman, rasa dekat
dengan Tuhan, berkurangnya rasa takut, rekonsiliasi, aman dalam cinta
Allah, dan keyakinan.
c. Kegiatan religius, hal ini meliputi: dukungan dari komunitas iman,
penguatan dalam iman, penguatan dalam ibadat, ajakan persekutuan
spiritual, konsolasi dari doa, dan komunikasi dengan Tuhan lewat
kegiatan religius.
Akibat dari sikap dan kebiasaan orang yang menemukan makna
spiritual dari penyakitnya, bisa mempengaruhi tingkat penyakitnya
yaitu tingkat kualitas fungsionalnya; dan dukungan sosial, seperti
dukungan keluarga, teman, para perawat/pemberi layanan; serta
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
75
peristiwa hidup yang membuat tertekan, seperti emosi, sosial budaya,
dan finansial.
Bagan 1. Model konseptual kesehatan spiritual saat sakit
Iman Pribadi
Kondisi Buruk
Kejadian
Hidup
Karena Penyakit
YangMenekan
Keyakinan Akan Keberadaan Allah
Kedamaian dalam Keyakinan Spiritual
Percaya pada Kekuatan Tuhan
Kekuatan dari Iman Pribadi
Kepercayaan pada Penyelenggaraan Allah
Tingkat
Kelemahan
Fungsional
Emosional
Sosiocultural
Finansial
Kepuasan Batin
Spiritual
Kepuasan akan Iman
Perasaan Dekat dengan
Tuhan,
Berkurangnya Rasa Takut
Rekonsiliasi,
Aman dalam Cinta Allah
Kesetiaan/Iman
Menemukan
Makna
Spiritual dalam
Pengalaman
Sakit
Kegiatan Religius
Dukungan Dari Komunitas
Beriman Penguatan Saat Ibadah
Ajakan Persekutuan Spiritual
Konsolasi Dari Doa
Komunikasi dengan Allah Lewat Kegiatan Religius
C. Kajian Penelitian yang Relevan
Kesehatan
Spiritual
Saat Sakit
Dukungan Sosial
Keluarga
Teman
Pemberi Layanan
Perawatan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
76
C. Hakikat Evaluasi Program
1. Definisi Evaluasi Program
Stufflebeam (Arikunto dan Jabar, 2008:2), mengatakan bahwa
evaluasi merupakan proses penggambaran, pencarian, dan pemberian
informasi yang sangat bermanfaat bagi pengambil keputusan dalam
menentukan alternatif keputusan. Lebih lanjut Cronbach dan Stufflebeam
(Arikunto dan Jabar, 2008:5), mengemukakan bahwa evaluasi program
adalah upaya menyediakan informasi untuk disampaikan kepada
pengambil keputusan.
2. Ciri-ciri dan Persyaratan Evaluasi Program
Menurut Arikunto dan Jabar, 2008:8-9), evaluasi evaluatif memiliki ciriciri dan persyaratan sebagai berikut:
a. Proses kegiatan tidak menyimpang dari kaidah-kaidah yang berlaku
bagi penelitian pada umumnya.
b. Dalam melaksanakan evaluasi, peneliti harus berpikir secara
sistematis, yaitu memandang program yang diteliti sebagai sebuah
kesatuan yang terdiri dari beberapa komponen atau unsur yang saling
berkaitan satu sama lain dalam menunjang keberhasilan kinerja dari
objek yang dievaluasi.
c. Agar dapat mengetahui secara rinci kondisi dari objek yang
dievaluasi,perlu adanya identifikasi komponen yang berkedudukan
sebagai faktor penentu bagi keberhasilan program.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
77
d. Menggunakan standar, kriteria, atau tolok ukur sebagai perbandingan
dalam menentukan kondisi nyata dari data yang diperoleh dan untuk
mengambil kesimpulan.
e. Kesimpulan atau hasil penelitian digunakan sebagai masukan atau
rekomendasi bagi sebuah kebijakan atau rencana program yang telah
ditentukan. Dengan kata lain, dalam melakukan kegiatan evaluasi
program, peneliti harus berkiblat pada tujuan program kegiatan sebagai
standar, kriteria, atau tolok ukur.
f. Agar informasi yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi nyata
secara rinci untuk mengetahui bagian mana dari program yang belum
terlaksana, maka perlu ada identifikasi komponen yang dilanjutkan
dengan identifikasi subkomponen, sampai pada indikator dari program
yang dievaluasi.
g. Standar, kriteria, atau tolok ukur diterapkan pada indikator, yaitu
bagian yang paling kecil dari program agar dapat dengan cermat
diketahui letak kelemahan dari proses kegiatan.
h. Dari hasil penelitian harus dapat disusun sebuah rekomendasi secara
rinci dan akurat, sehingga dapat ditentukan tindak lanjut secara tepat.
3. Tujuan Evaluasi Program
Menurut Arikunto dan Jabar ( 2008:2), tujuan dari evaluasi program
adalah untuk mengetahui pencapaian tujuan program dengan langkah
mengetahui keterlaksanaan kegiatan program, karena evaluator program
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
78
ingin mengetahui bagian mana dari komponen dan subkomponen program
yang belum terlaksana dan apa sebabnya.
4. Manfaat Evaluasi Program
Adanya informasi yang diperoleh dari kegiatan evaluasi sangat
berguna bagi pengambilan keputusan dan kebijakan lanjutan dari program
yang sedang atau telah dilaksanakan. Wujud dari hasil evaluasi adalah
sebuah rekomendasi dari evaluator untuk pengambil keputusan (decision
maker).
Ada empat kemungkinan kebijakan yang dapat dilakukan
berdasarkan hasil dalam pelaksanaan sebuah program keputusan, yaitu:
a. Menghentikan program, karena dipandang bahwa program tersebut
tidak ada manfaatnya, tidak dapat terlaksana sebagaimana diharapkan.
b. Merevisi program, karena ada bagian-bagian yang kurang sesuai
dengan harapan (terdapat kesalahan tetapi hanya sedikit).
c. Melanjutkan program, karena pelaksanaan program menunjukkan
bahwa segala sesuatu sudah berjalan sesuai dengan harapan dan
memberikan hasil yang bermanfaat.
d. Menyebarkanluaskan program (melaksanakan program di tempattempat lain atau mengulangi lagi program di lain waktu), karena
program tersebut berhasil dengan baik maka sangat baik jika
dilaksanakan lagi di tempat dan waktu yang lain.
5. Langkah-langkah Evaluasi Program
Menurut
Arikunto
dan
Jabar
(2008:108-126),
evaluasi
program
dilaksanakan melalui beberapa tahapan. Tahapan tersebut meliputi:
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
79
a. Tahap persiapan evaluasi program
Sebelum evaluasi program dilaksanakan seorang evaluator harus
melakukan persiapan secara cermat. Persiapan tersebut meliputi:
penyusunan
evaluasi
penyusunan
instrumen
(terkait
model
evaluasi,
yang
validasi
akan
diterapkan),
instrumen
evaluasi,
menentukan jumlah sampel yang diperlukan dalam kegiatan evaluasi,
dan penyamaan persepsi antar evaluator sebelum pengambilan data.
b. Tahap pelaksanaan evaluasi program
Evaluasi program dapat dikategorikan menjadi empat jenis, yaitu
evalusi reflektif, evalusi rencana, evalusi proses, dan evalusi hasil.
c. Tahap monitoring (pemantauan) evaluasi program
Tahap ini berfungsi untuk mengetahui kesesuaian antara pelaksanaan
program dengan rencana program, dan untuk mengetahui perubahan
positip sesuai yang diharapkan.
D. Kajian Penelitian yang Relevan
1. Penelitian tentang pendampingan pastoral care yang dilakukan oleh Ema
Hidayanti, Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang tahun
2012.
Dengan judul penelitian “Pengaruh Pendampingan Pastoral Care
Terhadap Pelayanan Bimbingan Konseling Religius Bagi Pasien Rawat
Inap Rumah Sakit St. Elisabeth Semarang”. Desain penelitian yang
digunakan adalah potret dengan mengeksplorasi
pelaksanaan pastoral
care Rumah Sakit St. Elisabeth Semarang. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling pastoral bagi pasien
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
80
rawat inap di RS St. Elisabeth dilatar belakangi oleh semangat misionaris
katolik dan penerapan kesehatan holistik. Dalam pelaksanaan didukung
oleh SDM (sarjana Teologi/2 orang dan pastor) dan sarana prasarana yang
mendukung, serta ada evaluasi baik internal maupun eksternal.
2. Penelitian tentang pendampingan Pelayanan Rohani yang dilakukan oleh
Oo Suprana, Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas
Diponegoro Semarang, tahun 2009. Dengan judul penelitian “Analisis
Pengaruh Pelayanan Rohani Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap
Rumah Sakit Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang, tahun 2009”. Jenis
penelitian yang digunakan adalah observasional, jenis analisis deskriptif
dengan pendekatan cross sectional.
Hasil
analisis
deskriptif
menunjukkan
bahwa
kemampuan
interpersonal pastoral baik (50,7 %) dan teknik konseling pastoral baik
(50,7 %), dan ketepatan waktu pelayanan pastoral baik (67,8 %). Hasil
analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara
kemampuan interpersonal dan teknik konseling terhadap kepuasan
pelayanan rohani pasien Rawat Inap Rumah Sakit Panti Wilasa Dr. Cipto
Semarang (RSPWDC). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa
adanya pengaruh bersama-sama antara kemampuan interpersonal pastoral
dan teknik konseling pastoral terhadap kepuasan pelayanan rohani pasien
rawat inap RSPWDC Semarang.
Dari kajian teori di atas membuat peneliti tertarik untuk mengetahui
program layanan konseling pastoral di Rumah Sakit Katolik Budi Rahayu
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
81
Blitar. Hal itu berfokus pada perencanaan, pelaksanaan, dan hasilnya.
Penelitian dilakukan dengan desain studi evaluasi terhadap program konseling
pastoral di Rumah Sakit Katolik Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur.
E. Profil Rumah Sakit
Rumah Sakit Katolik Budi Rahayu Blitar, beralamat di Jl. A. Yani No. 18
Blitar-Jawa Timur. RSK Budi Rahayu Blitar memiliki luas tanah: 17.142 m2
dan luas bangunan: 9.232,80 m2. Oleh Kementerian Kesehatan RI, RSK Budi
Rahayu merupakan Rumah Sakit tipe C terakreditasi A, dengan status penuh
tingkat lengkap , dan tahapan 16 pelayanan. Jumlah tempat tidur 125 tempat
tidur, dan ada penambahan satu bangunan lagi untuk paviliun lima yang
sementara ini masih proses penyelesaian. Hal itu untuk menanggapi kebutuhan
masyarakat saat ini,yaitu untuk pelayanan tunjangan BPJS.
RSK Budi Rahayu memiliki Visi: Terwujudnya kasih Allah yang
menyelamatkan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna. Misi rumah
sakit: (1) Memberikan pelayanan kesehatan secara professional, utuh dan
bermutu dengan hati tulus dan penuh kasih; (2) Meningkatkan kualitas hidup
dan profesionalisme sumber
daya manusia. Sedangkan Motonya adalah
”Committed to Life” (Berkomitmen pada kehidupan). Tujuan pelayanan di
RSK Budi Rahayu adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang
optimal. Nilai-nilai dasar yang dihidupi RSK Budi Rahayu, meliputi: (1) Love
(Cinta Kasih) yaitu mencintai Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan
segenap akal budi (vertical), dan mencintai sesama manusia seperti mencintai
diri sendiri (horizontal); (2) Integrity (integritas), yaitu konsisten antara apa
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
82
yang dikatakan/ dijanjikan dengan apa yang dibuat (terkandung nilai kejujuran
dan bisa dipercaya); (3) Friendship (persahabatan) yaitu selalu bekerjasama
dan saling mendukung satu dengan yang lain (terkandung nilai kesetiaan,
altruisme, menginginkan apa yang terbaik satu dengan yang lain, simpati dan
solider, kejujuran dan saling pengertian); (4) Empathy (empati) yaitu sikap
menempatkan diri (mengalami/menjadi seperti) seperti yang lain merasakan
keadaan emosional orang lain, mengambil perspektif orang lain dan mencoba
menyelesaikan masalah.
Filosofi RSK Budi Rahayu yaitu dengan dilandasi secara mutlak oleh
semangat kristiani, karya pelayanan kesehatan RSK
Budi Rahayu
memandang, menerima, dan berusaha melayani penderita dan keluarga
sebagai manusia seutuhnya, baik jasmani dan rohani, individual dan sosial.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
F. Kerangka Pikir
Konseling Pastoral di RSK
Budi Rahayu Blitar
Studi Evaluasi
(Model CIPP)
Evaluasi
Konteks
Perencanaan
1. Perencanaan
program
2. Tujuan
3. Sasaran
4. SDM
5. Sarana dan
prasarana
6. Dana
7. Metode KP
Evaluasi
Input
Evaluasi
Proses
Evaluasi
Hasil
Pelaksanaan
PROSES
1. Jadwal pelaksanaan
KP
2. Sasaran
3. Jumlah pertemuan
4. Tahap-tahap KP
5. Teknik konseling
6. Kerjasama
7. hambatan
HASIL
1. Dampak bagi pasien
2. Manfaatnya:
a. Bagi pasien
b. Bagi keluarga
pasien
c. Bagi RSK Budi
Rahayu Blitar
d. Bagi pelayan
pastoral
83
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB III
METODE PENELITIAN
Bab ini memaparkan mengenai jenis penelitian, subjek penelitian, metode
pengumpulan data, dan teknik analisis data yang digunakan oleh peneliti.
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain studi
evaluasi. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang berorientasi pada
fenomena atau gejala yang bersifat alami. Studi evaluasi adalah penelitian
yang bertujuan untuk menilai suatu organisasi/lembaga atau penyelenggaraan
konseling.
Menurut Moleong (2007), penelitian kualitatif memiliki beberapa
karakteristik, antara lain: 1) Latar alamiah, 2) Manusia sebagai alat
(instrumen), 3) Analisis data secara induktif, 4) Teori dari dasar (grounded
theory), 5) Deskriptif , 6) Lebih mementingkan proses daripada hasil, 7)
Desain yang bersifat sementara, 8) Hasil penelitian dirundingkan dan
disepakati bersama.
Menurut
Arikunto
(2008:2),
evaluasi
adalah
kegiatan
untuk
mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya
informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam
mengambil sebuah keputusan.
Model evaluasi program yang diterapkan dalam penelitian ini adalah
model CIPP (conteks, input, process, and product). Model evaluasi CIPP
84
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
biasanya diterapkan dalam evaluasi program pembelajaran
85
di dunia
pendidikan. Evaluasi model CIPP yaitu sebuah pendekatan yang berorientasi
pada pengambilan keputusan (a decision oriented evaluation approach
structured).
Dalam penelitian ini, peneliti mencoba menerapkan model CIPP untuk
penelitian di bidang kesehatan. Hal itu dilakukan dengan cara memodifikasi
model CIPP di dunia pendidikan ke dunia kesehatan yaitu program konseling
pastoral di RSK Budi Rahayu Blitar. Model CIPP yang biasanya diterapkan
pada evaluasi program pendidikan, tetapi juga bisa diterapkan dalam dunia
kesehatan/konseling Pastoral.
CIPP Stufflebeam (Badrujaman, 2011: 53), mendefinisikan bahwa
evaluasi sebagai “the process of delineating, obtaining, dan providing useful
information for judging decision alternative”. Ada tiga hal yang ditekankan
dari definisi ini, yaitu: 1) evaluasi merupakan proses sistematis yang terus
menerus; 2) proses ini terdiri atas tiga langkah, yaitu: a) menyatakan
pertanyaan yang menuntut jawaban dan informasi yang spesifik untuk digali,
b) membangun data yang relevan, dan 3) menyediakan informasi akhir
(kesimpulan) yang menjadi bahan pertimbangan mengambil keputusan; 3)
evaluasi memberikan dukungan pada proses mengambil keputusan dengan
memilih salah satu alternatif pilihan dan melakukan tindak lanjut atas
keputusan tersebut.
Lebih lanjut Stufflebeam (Badrujaman, 2011: 54), berpendapat bahwa
evaluasi seharusnya memiliki tujuan untuk memperbaiki (to improve) bukan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
86
untuk membuktikan (to prove). Dengan demikian evaluasi seharusnya dapat
membuat suatu perbaikan, meningkatkan akuntabilitas, serta pemahaman yang
lebih mendalam mengenai fenomena.
Stufflebeam (Badrujaman, 2011: 54), menyatakan bahwa evaluasi dibagi
menjadi empat tahapan, yaitu:
1. Evaluasi konteks (context evaluation)
Evaluasi konteks adalah upaya untuk mengidentifikasi kekuatan dan
kelemahan suatu objek, seperti institusi, program, populasi target, atau
orang, dan juga untuk menyediakan arahan untuk perbaikan. Selain itu
evaluasi ini juga bertujuan untuk melihat apakah tujuan yang lama dan
prioritas terhadapnya telah sesuai dengan kebutuhan yang seharusnya
dilayani.
Pertanyaan yang dapat diajukan sehubungan dengan evaluasi konteks,
yaitu (Arikunto, 2008: 46):
a. Kebutuhan apa saja yang belum terpenuhi oleh program?
b. Tujuan pengembangan apakah yang belum dapat tercapai oleh
program?
c. Tujuan pengembangan apakah yang dapat membantu mengembangkan
masyarakat?
d. Tujuan-tujuan mana sajakah yang paling mudah dicapai?
2. Evaluasi input (input evaluation)
Orientasi utama dari evaluasi input adalah untuk membantu
menentukan program yang membawa pada perubahan yang dibutuhkan.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
87
Yang menjadi fokus masalah dalam evaluasi ini adalah apakah strategi
yang dipilih untuk mencapai tujuan program sudah tepat. Tujuan evaluasi
ini adalah untuk mengidentifikasi dan menelaah kapabilitas sistem,
alternatif strategi program, desain prosedur dimana strategi akan
diimplementasikan. Input dalam bimbingan dan konseling dapat berupa
sumber daya manusia dan sarana yang mendukung (keuangan, ruangan,
peralatan/komputer, sofware, serta media bimbingan).
Menurut Stufflebeam (Arikunto, 2008: 47), pertanyaan yang
berkenaan dengan masukan mengarah pada pemecahan masalah yang
mendorong
diselenggarakan
program
yang
bersangkutan.
Contoh
pertanyaan:
a. Apakah layanan pastoral konseling yang diberikan berdampak jelas
bagi pasien?
b. Berapa orang yang suka/senang terhadap layanan ini?
c. Bagaimana reaksi pasien terhadap sakit dan kehidupannya setelah
menerima layanan konseling pastoral?
3. Evaluasi proses (process evaluation)
Evaluasi proses merupakan evaluasi yang dilakukan untuk melihat
apakah pelaksanaan program sesuai dengan strategi yang telah
direncanakan.
Lebih
lanjut
Stufflebeam
(Badrujaman,
2011:56),
mengatakan bahwa evaluasi proses merupakan pengecekan yang
berkelanjutan atas implementasi perencanaan.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
88
Evaluasi proses bertujuan untuk mengindentifikasikan dan
memprediksi dalam proses pelaksanaan, seperti cacat dalam desain
prosedur dan implementasinya. Selain itu juga untuk menyediakan
informasi sebagai dasar memperbaiki program, serta untuk mencatat, dan
menilai prosedur kegiatan dan peristiwa.
Pertanyaan yang diusulkan oleh Stufflebeam (Arikunto, 2008:47),
meliputi:
a. Apakah pelaksanaan program sesuai dengan jadwal?
b. Apakah staff
yang terlibat di dalam pelaksanaan program akan
sanggup menanggani kegiatan selama program berlangsung dan
kemungkinan jika dilanjutkan?
c. Apakah sarana dan prasarana yang disediakan dimanfaatkan secara
maksimal?
d. Hambatan-hambatan apa saja yang dijumpai selama pelaksanaan
program dan kemungkinan jika program dilanjutkan?
4. Evaluasi produk (product evaluation)
Evaluasi produk adalah evaluasi yang bertujuan untuk mengukur,
menginterpretasikan, dan menilai pencapaian program. Selain itu untuk
mengumpulkan deskripsi dan penilaian terhadap luaran (outcome) dan
menghubungkan itu semua dengan objektif, konteks,input, dan informasi
proses, serta untuk menginterpretasikan kelayakan dan keberhargaan
program.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
89
Pertanyaan-pertanyaannya meliputi:
a. Apakah tujuan-tujuan yang ditetapkan sudah tercapai?
b. Pernyataan-pernyataan apakah yang mungkin dirumuskan berkaitan
antara rincian proses dengan pencapaian tujuan?
c. Dalam hal-hal apakah berbagai kebutuhan klien sudah dapat dipenuhi
selama proses pemberian layanan konseling pastoral?
d. Apakah dampak yang diperoleh klien dalam waktu yang relatif lama
dengan adanya program layanan konseling pastoral?
Sebuah program akan dikatakan berhasil dan sukses apabila memenuhi
kriteria keberhasilan yang ditetapkan. Mutrofin dan Hadi (Badrujaman, 2011: 64),
menjelaskan bahwa kriteria merupakan karakteristik program yang dianggap basis
penting untuk melakukan riset evaluasi pada program tersebut. Lebih lanjut ia
menegaskan bahwa hal itu senada dengan apa yang disampaikan oleh Winkel dan
Hastuti, bahwa kriteria adalah patokan dalam evaluasi program. Berikut tabel
kriteria evaluasi program dari keempat aspek desain evaluasi model CIPP:
Tabel 1. Kriteria Evaluasi Konseling Pastoral
Aspek
Indikator
Perencanaan program
Kriteria
Program memenuhi kebutuhan rohani
pasien: kegiatan mausiawi; konseling/
pendampingan;
siaran
radio;
perpustakaan; pelayanan
doa dan
sakramen-sakramen; dan pelayanan
kerohanian melalui radio/audio.
Konselor/petugas
pastoral
Jam kerja
Dukungan keuangan
Ruangan
Sarana dan prasarana
Terdapat Pastor, suster, tenaga pastoral
Konteks
07.00-14.30
Terdapat rencana anggaran
Terdapat ruang konseling yang nyaman
Tersedia sarana yang mendukung
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Inputs
90
pelayanan rohani (konseling pastoral)
Media yang menarik dan menginspirasi
pelayanan Kunjungan setiap hari kepada semua
pasien tanpa memandang suku, agama,
ras dan layanan konseling bagi pasien
yang membutuhkan.
Keterlaksanaan
Program terlaksana
program
Waktu pelaksanaan
Sesuai rencana
Pemberian layanan Pasien merasa puas atas layanan rohani
pastoral
yang disediakan rumah sakit
(pendampingan dan
konseling )
Penggunaan
media Pasien dan keluarga merasa terhibur,
layanan rohani
serta memperoleh peneguhan.
Penggunaan metode Pasien terlibat dan
mau terbuka
pelayanan pastoral
terhadap layanan konseling pastoral
Ketercapaian layanan Pasien merasakan dampak positif dari
konseling pastoral
layanan yang diperolehnya
(kesembuhan, peneguhan, motivasi,
makna hidup)
Tujuan
layanan Pasien mengalami perubahan (dari
tercapai
situasi bergumul menuju penemuan
makna dalam hidupnya)
Membangkitkan potensi pasien agar
mampu mengambil keputusan.
Media
Metode
pastoral
Proses
Hasil/
produck
Setelah membuat kriteria evaluasi, maka langkah berikutnya adalah
menyusun tabel perencanaan evaluasi. Adapun tabelnya sebagai berikut:
Tabel 2. Tabel Perencanaan Evaluasi
Aspek
Indikator
Konteks
Perencanaan program
Konselor/petugas
pastoral
Jam kerja
Sumber Data
Teknik
Pengumpulan
Data
Dokumen Program Studi dokumen
Pastoral Care (PC)
Petugas PC,
Wawancara
Suster SSpS
Dokumen Program Wawancara dan
PC
studi dokumen
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Inputs
Dukungan keuangan
Ruangan
Sarana dan prasarana
Petugas PC
Ruangan PC
Petugas PC
Media
Majalah dinding
Metode
pastoral
Proses
Hasil/
produck
pelayanan Program Konseling
Pastoral RSK Budi
Rahayu
Keterlaksanaan
Kepala unit PC,
program
Suster SSpS, dokter,
staff
PC,
dan
perawat
Waktu pelaksanaan
Staff PC, dokter,
perawat dan Suster
Pemberian layanan Staff PC, dokter,
pastoral
perawat dan Suster,
(pendampingan dan serta pasien dan
konseling )
keluarganya
Penggunaan
media Staff PC, perawat,
layanan rohani
dan pasien
Penggunaan metode Staff PC, perawat,
pelayanan pastoral
dan pasien
Ketercapaian layanan Staff PC, Suster,
konseling pastoral
Perawat, dokter, dan
pasien
Tujuan
layanan Staff PC, Suster,
tercapai
Perawat,
dokter,
pasien
dan
keluarganya
91
Wa wancara
Observasi
Wawancara dan
observasi
Wawancara dan
observasi
Studi dokumen,
Wawancara dan
Observasi
Wawancara dan
observasi
Wawancara
observasi
Wawancara
observasi
dan
Wawancara
observasi
Wawancara
observasi
Wawancara
dan
dan
dan
wawancara
Penelitian kualitatif dengan desain evaluasi dimaksudkan untuk menilai
keterlaksanaan layanan konseling pastoral di rumah sakit Budi Rahayu Blitar. Hal
ini berfokus pada perencanaan, proses pelaksanaan, dan hasil layanan konseling
pastoral bagi pasien, keluarga pasien, dan bagi pihak rumah sakit. Analisis
kualitatif dalam penelitian ini digunakan untuk memperkaya informasi mengenai
aspek produk.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
92
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di RSK Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur. RSK
Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur merupakan rumah sakit katolik satu-satunya
yang berada di kota itu. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit tipe C, yang
terakreditasi A tingkat lengkap.
2. Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap, tahap pertama dilaksanakan
pada tanggal 28 Mei-23 Juni 2015 dan tahap kedua dilaksanakan pada tanggal
28 Juli-04 Agustus 2015.
C. Responden Penelitian
Responden penelitian terhadap pelaksanaan pelayanan konseling pastoral
di rumah sakit, dengan sumber data: pasien, perawat, dokter, Romo, majelis
dan konselor Rumah Sakit Katolik Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur. Berikut
adalah daftar jumlah responden penelitian yang manjadi sumber data.
Tabel 3. Daftar Jumlah Responden Penelitian.
No.
1.
Responden
Suster Biarawati
Agama (L/P)
Katolik/P
Jml
1
2.
Dokter
2 Katolik/L
1 Kristen/L
3
3.
Romo Paroki
Katolik
1
Keterangan
Sebagai ketua PKRS dan
SPI RSK Budi Rahayu
Satu
sebagai
Wakil
direktur RSK Budi Rahayu
Blitar, dua sebagai dokter
umum.
Romo Paroki St. Yusuf
Blitar
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
93
4.
Perawat
3 Katolik/P
2 Islam/P
1 Kristen/P
6
5.
Petugas PC
Katolik/P
1
Kepala
Ruangan/KR
masing-masing
pavilion
(5), dan 1 wakil KR
pavilion.
Staff PC
6.
Majelis
Kristen/L
1
Tenaga Sukarela
7.
Pasien
Katolik/L& P
2
Pasien rawat inap
8.
Keluarga pasien
Katolik
1
Suami pasien rawat inap
D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama
dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan
data. Adapun teknik yang dipakai dalam pengumpulan data oleh peneliti
meliputi: wawancara mendalam, studi dokumentasi, observasi partisipatif,
dan gabungan ketiganya atau trianggulasi.
a. Wawancara
Wawancara
adalah
percakapan
antara
pewawancara
yang
mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberi jawaban atas
pertanyaan itu. Maksud mengadakan wawancara, seperti ditegaskan
oleh
Lincoln
dan
Guba
(Moleong,
2012:186),
antara
lain:
mengkontruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan,
motivasi,
tuntutan,
kepedulian,
dan
lain-lain
kebulatan;
mengkonstruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai yang dialami
masa lalu; memproyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai yang
diharapkan untuk dialami pada masa yang akan datang; memverifikasi,
mengubah, dan memperluas informasi yang diperoleh dari orang lain,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
94
baik manusia maupun bukan manusia (triangulasi); dan memverifikasi,
mengubah dan memperluas konstruksi yang dikembangkan oleh
peneliti sebagai pengecekan anggota.
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila
peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan
permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin
mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan juga
respondennya sedikit/kecil. Wawancara dapat dilakukan secara
terstruktur maupun tidak terstuktur (Sugiyono, 2013:194-197)
Sutrisno Hadi (Sugiyono, 2013:194) menggemukakan bahwa
anggapan yang perlu dipegang oleh peneliti dalam menggunakan
metode wawancara (interview) adalah sebagai berikut:
a. Bahwa subyek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya
sendiri.
b. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah
benar dan dapat dipercaya.
c. Bahwa interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang
dimaksudkan oleh peneliti.
Peneliti melakukan wawancara kepada responden secara
terstuktur, sekaligus tidak terstukur. Wawancara ini diikuti dengan
pertanyaan tambahan untuk menggali lebih dalam jawaban
responden.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
95
b. Observasi partisipatif.
Observasi partisipatif adalah peneliti melakukan pengamatan, ikut
terlibat melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut
merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipatif ini maka data
yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada
tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak.
Observasi partisipatif dapat digolongkan menjadi empat golongan,
yaitu partisipasi pasif, partisipasi moderat, observasi yang terus terang
dan tersamar, dan observasi yang lengkap. Manfaat observasi menurut
Patton dalam Nasution (Sugiyono, 2013:313), adalah sebagai berikut:
1) Dengan observasi di lapangan peneliti akan lebih mampu
memahami konteks data dalam keseluruhan situasi social, jadi akan
dapat diperoleh pandangan yang holistic atau menyeluruh.
2) Dengan observasi maka akan diperoleh pengalaman langsung,
sehingga
memungkinkan
peneliti
menggunakan
pendekatan
induktif,jadi tidak dipengaruhi oleh konsep atau pandangan
sebelumnya.
Pendekatan
induktif
membuka
kemungkinan
melakukan penemuan atau discovery.
3) Dengan observasi, peneliti dapat melihat hal-hal yang kurang atau
tidak diamati orang lain, khususnya orang yang berada dalam
lingkungan itu, karena telah dianggap “biasa” dan karena itu tidak
akan terungkap dalam wawancara.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
4) Melalui
pengamatan
di
lapangan,
peneliti
tidak
96
hanya
mengumpulkan daya yang kaya, tetapi juga memperoleh kesankesan pribadi, dan merasakan suasana situasi social yang diteliti.
Adapun tahapan observasi menurut Spradley (Sugiyono, 2013:315),
meliputi tiga tahapan yaitu 1) observasi deskriptif, 2) observasi terfokus,
3) observasi terseleksi. Tahap observasi deskriptif adalah tahap dimana
seorang peneliti melakukan penjelajahan secara umum, menyeluruh, dan
melakukan dekripsi terhadap semua yang dilihat, didengar, dan dirasakan.
Observasi ini disebut juga sebagai grand tour observation, dan peneliti
menghasilkan kesimpulan pertama; setelah melakukan grand tour
observation, maka peneliti menfokuskan pada aspek tertentu dari apa yang
dideskripsikan; kemudian menguraikan fokus yang ditemukan, sehingga
datanya lebih rinci.
2. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrument atau alat
penelitian adalah peneliti itu sendiri. Hal-hal penting yang seharusya
dimiliki oleh peneliti adalah: validasi pemahaman metode penelitian
kualitatif, penguasaan wawasan terhadap bidang yang diteliti, dan
kesiapan peneliti untuk memasuki objek penelitian, baik secara akademik
maupun logistiknya.
Nasution (Sugiyono, 2013:306), menyatakan bahwa dalam
penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia
sebagai instrumen penelitian utama. Alasannya ialah bahwa, segala
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
97
sesuatu belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, focus penelitian,
prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang
diharapkan, itu semuanya tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas
sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu dikembangkan sepanjang
penelitian itu. Dalam keadaan yang serba tidak pasti dan tidak jelas itu,
tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satusatunya yang dapat mencapainya.
Peneliti sebagai instrumen utama memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
sebagai alat peka dan dapat bereaksi terhadap stimulus dari lingkungan;
sebagai alat yang dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan
dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus; tiap situasi
merupakan keseluruhan; melibatkan interaksi manusia; sebagai instrument
dapat segera menganalisis data yang diperoleh; dapat mengambil
kesimpulan; respon yang aneh, menyimpang justru diberi perhatian.
Tabel 4. Pedoman wawancara responden
No
1.
Aspek
Perencanaan
(Kepala
bagian PC)
2.
Pelaksanaan
Responden
Pertanyaan
1. Kepala
1. Adakah program perencanaan
Bagian Unit
layanan Konseling Pastoral (KP)
Pastoral
di RSK Budi Rahayu Blitar?
Care (PC)
2. Jika ada program perencanaan,
2. Staff PC
apa saja kegiatannya?
3. Siapa sasarannya?
4. Siapa saja yang terlibat dalam
layanan KP?
5. Adakah sarana dan prasarana
yang mendukung?
6. Metode pelayanannya seperti
apa?
1. Staff PC (1) 1. Apakah program layanan KP di
2. Dokter (1)
rumah sakit katolik Budi Rahayu
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
7.
Hasil
3. Suster SSpS
Blitar-Jawa Timur berjalan sesuai
(2)
rencana?
4. Perawat (5) 2. Adakah jam khusus pemberian
5. Romo
layanan pastoral care? Dapatkah
Paroki (1)
dijelaskan alasannya mengapa
6. Majelis (1)
memilih jam tersebut?
3. Sudahkah
sasaran
utama
pelayanan konseling pastoral
tercapai?
4. Berapa banyak sesi konseling
pastoral
dianggap
selesai?
Adakah patokan suatu sesi
konseling dianggap selesai?
5. Dapatkah diceritakan bagaimana
proses/langkah-langkah
pemberian layanan KP di RSK
Budi Rahayu Blitar?
6. Dapat diceritakan teknik-teknik
komunikasi yang digunakan
untuk mengungkap masalah,
menganalisis, dan membantu
menyelesaikana masalah?
7. Adakah kerjasama antara petugas
KP dengan tim medis?
8. Hambatan-hambatan apa yang
ditemukan dalam melaksanakan
pastoral care?
9. Adakah hal-hal yang mendukung
pelaksanaan konseling pastoral?
1. Romo
Bagaimana hasil pelayanan KP di
2. Dokter
RSK Budi Rahayu?
3. Staff PC
a. Apa
saja
dampak/pengaruh
4. Suster SSpS
layanan konseling pastoral bagi
5. Perawat
pasien?
6. Majelis
b. Apakah
layanan
KP
ini
7. Pasien
bermanfaat bagi pasien?
8. Suami
c. Selain bagi pasien, apakah
pasien
layanan ini juga bermanfaat bagi
keluarga pasien, dokter dan tim
medis, dan pelayan pastoral, serta
RSK Budi Rahayu Blitar?
d. Setelah
merasakan
manfaat
layanan KP, adakah usul dan
harapan yang disampaikan?
98
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
99
Dalam penelitian ini, peneliti juga melakukan wawancara secara
mendalam kepada pasien untuk mendapatkan data yang mendalam pula.
Wawancara berfokus pada fungsi layanan konseling pastoral bagi orang
sakit yang mencakup lima aspek, yaitu:
Tabel 5. Pedoman Wawancara kepada Pasien
No.
Aspek
1.
Menyembuhkan
(healing)
1.
2.
3.
4.
5.
2.
Menopang
(sustaining)
1.
2.
3.
Membimbing
1.
(guiding),
menolong
orang
agar orang dapat
mengambil
2.
keputusan
yang
realistik dan terbaik 3.
bagi masa depannya sendiri.
4.
5.
Pertanyaan
Bagaimana perasaan anda hari ini, apakah
lebih baik dari hari kemarin?
Sudah berapa lama menginap di rumah
sakit ini?
Apakah sudah ada petugas pastoral care
yang pernah datang sebelumnya? Jika
sudah, bagaimana perasaan anda terhadap
layanan tersebut?
Bagaimana menurut anda, apakah layanan
tersebut bermanfaat untuk anda dan
keluarga
anda?
Bersediakah
anda
menceritakannya?
Apakah layanan tersebut membantu proses
penyembuhan anda? Bagaimana ceritanya?
Apakah kehadiran petugas PC mengganggu
atau bermanfaat bagi anda?
Apakah anda merasa terdukung dengan
kehadiran mereka?
Informasi-informasi yang diberikan kepada
anda apakah dapat membantu anda untuk
semakin memahami diri anda? Bagaimana
apakah anda merasa lebih baik saat ini?
Kira-kira informasi apa yang anda
butuhkan saat ini?
Apakah dengan informasi yang kami
berikan, keterbukaan anda dan dialog yang
kita lakukan membuat anda berani
mengambil keputusan yang tepat bagi masa
depan anda?
Sepulang dari rumah sakit, apa rencana
anda selanjutnya?
Apakah keluarga anda juga merasakan
perubahan yang terjadi pada anda?
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
4.
5.
100
6. Apakah anda merasakan pencerahan dari
dialog kita bersama? (pertanyaan untuk
keluarga pasien)
Memperbaiki
1. Baiklah kita melihat kembali, bagaimana
hubungan
relasi anda dengan keluarga selama sakit
(reconciling):
ini. Mengingat perhatian, ketulusan, dan
menolong
untuk
kebaikan
orang-orang
disekitarnya.
memulihkan
Bagaimana perasaan anda saat ini?
hubungan
yang 2. Apakah anda merasa bahwa hubungan anda
retak/putus/rusak
dengan keluarga dan para sahabat lebih
baik sekarang ini?
3. Apa rencana anda selanjutnya setelah
sembuh dan kembali ke rumah?
Mendidik/membina 1. Bagaimana sudah siap untuk pulang?
(educating/forming)
Bagaimana perasaan anda saat ini?
2. Apa yang hendak anda lakukan ketika sehat
nanti (untuk diri anda, keluarga, ataupun
orang disekitar anda)?
3. Apakah dari pertemuan PC yang beberapa
kali ini membuat anda semakin mengenal
kemampuan/kehebatan diri anda?
4. Bagaimana pandangan anda mengenai
layanan
ini,
apakah
membantu
perkembangan diri anda?
Tabel 6. Pedoman Observasi
Hari/Tgl
Pukul
Aspek
1. Perencanaan KP
a. Sasaran
b. Petugas
c. Ruangan
d. Sarana-prasarana
e. Media
f. Metode program KP
2. Pelaksanaan KP
a. Jadwal
pelaksanaan
KP
b. Penggunaan metode
KP
3. Hasil KP
a. Dampak/perubahan
yang dialami pasien
Hasil pengamatan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
101
E. Keabsahan Data (trustworthiness)
Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah criteria tertentu.
Ada empat kriteria yang digunakan yaitu derajat kepercayaan (credibility),
keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian
(confirmability) (Moleong, 2012:324).
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kriteria kepastian. Kriteria
kepastian
berasal
dari
konsep
objektivitas
menurut
nonkualitatif.
Nonkualitatif menetapkan objektifitas dari segi kesepakatan antarsubjek. Jadi
penemuan dikatakan objektif atau tidak, bergantung pada persetujuan
beberapa orang terhadap pandangan, pendapat, dan penemuan seseorang.
Dikatakan objektif , apabila penelitian tersebut disepakati oleh beberapa atau
banyak orang.
Menurut Scriven (Moleong, 2012:326), unsur kualitas pada konsep
objektivitas mengandung pengertian bahwa hasil temuan objektif bila dapat
dipercaya, faktual, dan dapat dipastikan. Hal ini lebih menekankan pada hasil
data, bukan pada orangnya. Penelitian ini diakui keabsahannya bila penemuan
peneliti sesuai apa yang yang terjadi di lapangan dan sesuai data yang ada.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan trianggulasi data. Menurut
Sugiyono (2013:330), trianggulasi data adalah teknik pengumpulan data yang
bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber
data yang telah ada. Tujuan dari trianggulasi bukan semata-mata untuk
mencari kebenaran, tetapi lebih pada pemahaman subyek terhadap dunia
sekitarnya.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
102
Trianggulasi data yang digunakan dalam penelitian ini adalah trianggulasi
teknik dan trianggulasi data. Trianggulasi teknik adalah peneliti menggunakan
teknik penggumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari
sumber yang sama. Hal itu melalui wawancara mendalam, observasi
partisipatif, dan dokumentasi; trianggulasi sumber adalah penggumpulan data
dengan menggunakan teknik yang sama dari sumber yang berbeda-beda.
F. Teknik Analisis Data
Menurut Bogdan (Sugiyono, 2013:334), analisis data adalah proses
mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil
wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah
difahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain; menurut
Susan Stainback (Sugiyono, 2013:336), analisis data merupakan hal yang
kritis dalam proses penelitian kualitatif. Analisis digunakan untuk memahami
hubungan dan konsep dalam data sehingga hipotesis dapat dikembangkan dan
dievaluasi. Analisis dalam penelitian jenis apapun, adalah merupakan cara
berpikir. Analisis adalah untuk mencari pola.
Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa, analisis data
adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh
dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara
mengorganisasikan data ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke
dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan
membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun
orang lain.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
103
Analisis data dalam penelitian kualitatif menurut Miles dan Huberman
(Sugiyono, 2013:337-345) meliputi:
1. Data reduction (Reduksi data)
Mereduksi data adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok,
menfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya, serta
membuang yang tidak perlu.
2. Data Display (penyajian data)
Penyajian data dilakukan untuk memudahkan dalam memahami apa yang
terjadi dan menyusun pola sebuah penelitian. Hal itu bisa berupa uraian
singkat, bagan, dan hubungan antar kategori.
3. Verification (penarikan kesimpulan)
Penarikan kesimpulan adalah langkah ketiga dalam analisis data penelitian
kualitatif. Kesimpulan diawal
yang dikemukakan masih
bersifat
sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat
yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila
kesimpulan diawal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten
saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan
yang dikemukan merupakan kesimpulan yang kredibel.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini memaparkan tentang hasil penelitian dan pembahasannya. Hal ini
mengacu pada rumusan yang dibuat oleh peneliti.
A. Hasil Penelitian
Ada pun penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perencanaan, proses
pelaksanaan dan hasil layanan konseling pastoral di rumah sakit katolik Budi
Rahayu Blitar.
1. Perencanaan Layanan Konseling Pastoral RSK Budi Rahayu Blitar
Perencanaan layanan konseling pastoral RSK Budi Rahayu Blitar
dilaksanakan berdasarkan visi dan misi rumah sakit. Selain itu, perencanaan
layanan konseling pastoral sejalan dengan KWI tahun 1987 yaitu memberi
perhatian kepada pasien sebagai pribadi yang luhur dan bermartabat.
Perhatian yang diberikan kepada pasien sebagai pribadi yang luhur dan
bermartabat, dapat diwujudkan melalui sentuhan manusiawi dan juga secara
rohani. Dengan sentuhan yang diberikan oleh pelayan pastoral, diharapkan
setiap pribadi (pasien) dapat mengalami kembali kasih Allah Sang pencipta
dan penyelamatnya.
Dari dokumen hasil evaluasi tim Pastoral Care tahun 2004, diketahui
bahwa perencanaan layanan konseling pastoral dilaksanakan melalui program
rohani pastoral. Dalam perencanaan konsep pastoral care didasarkan pada
kebutuhan pelayanan. Hal itu meliputi bidang: pendampingan orang sakit,
konseling karyawan, buku bacaan keliling, pewartaan dan penyiaran melalui
104
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
105
audio-visual. Lebih lanjut perencanaan tersebut tercantum dalam sebuah
prosedur tetap Pastoral Care pada tahun 2012. Hal itu mencakup: kegiatan
mausiawi; konseling/pendampingan ; siaran radio; perpustakaan; pelayanan
doa dan sakramen-sakramen; dan pelayanan kerohanian melalui radio/audio.
Berdasarkan hal di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sudah ada
perencanaan program konseling pastoral di RSK Budi Rahayu Blitar.
Perencanaan berlandaskan visi dan misi Rumah Sakit, serta program secara
umum pastoral care.
Berdasarkan evaluasi yang dilakukan melalui studi dokumentasi,
observasi, dan wawancara, maka ditemukan data sebagai berikut:
Tabel 7. Hasil Evaluasi Konteks
Aspek
Konteks
Indikator
Perencanaan
program
Kriteria
Program memenuhi
kebutuhan rohani
pasien: kegiatan
mausiawi; konseling/
pendampingan ;
siaran radio;
perpustakaan;
pelayanan doa dan
sakramen-sakramen;
dan pelayanan
kerohanian melalui
radio/audio.
Data
Tersedia kegiatan
manusiawi (sapaan,
kunjungan), kegiatan
pendampingan/konseling
berjalan, ada siaran radio
mulai pukul 05.30-06.15,
dilanjutkan 07.00-15.00.
penerimaan sakramen
bagi pasien yang
membutuhkan.
Data di atas menunjukkan bahwa program perencanaan sudah sesuai
dengan kebutuhan pasien, yaitu mendampingi pasien dan memberikan
sakramen-sakramen bagi pasien yang membutuhkan.
Lebih lanjut untuk melihat apakah program yang direncanakan dapat
membawa perubahan maka perlu adanya evaluasi input. Yaitu sebuah
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
evaluasi yang bertujuan untuk
106
mengindentifikasi dan menelaah sumber-
sumber yang digunakan dan dipilih dalam pelayanan. Dari studi dokumentasi,
wawancara, dan observasi dihasilkan data sebagai berikut:
Tabel 8. Hasil Evaluasi Inputs
Aspek
Indikator
Konselor/
petugas
pastoral
Kriteria
Terdapat tenaga
pastoral yang
mencukupi
(Pastor,suster, petugas
PC)
Jam kerja
07.00-14.30
Dukungan
keuangan
Terdapat rencana
anggaran
Ruangan
Terdapat ruang
konseling yang
nyaman
Sarana dan
prasarana
Tersedia sarana yang
mendukung pelayanan
rohani (konseling
pastoral)
Media
Media yang menarik
dan menginspirasi
Inputs
Data
Terdapat petugas PC,
pastor, suster, pendeta,
perawat dan dokter yang
terlibat dalam layanan
ini. Kompetensi yang
dimiliki lebih pada
adanya hati untuk
melayani, tingkat
pendidikan perawat
adalah D3 keperawatan,
dokter yang berperan
dokter umum, serta
suster yang terlibat S2
keperawatan (MN).
Sesuai dan bila ada yang
urgen bisa diluar jam
tersebut.
Tidak ada anggaran
khusus, namun bila
petugas PC mengajukan
anggaran akan
dipertimbangkan oleh
pihak rumah sakit.
Terdapat satu ruang PC
tidak kedap suara,
berdekatan dengan ruang
operasi, dan ruang
lainnya. Situasi kurang
tenang.
Tersedia telepon
penghubung antar unit
rumah sakit, 1 unit
komputer, tape dan
perlengkapan
audio/radio, lemari buku.
Poster dan mading
disesuaikan dengan dunia
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Metode
pelayanan
pastoral
Kunjungan setiap hari
kepada semua pasien
tanpa memandang
suku, agama, ras dan
layanan konseling
bagi pasien yang
membutuhkan.
107
kesehatan dan hari-hari
penting RSK Budi
Rahayu maupun gereja.
Petugas mengunjungi
pasien setiap hari dengan
menyapa, mendengarkan,
dan memberi solusi serta
dukungan.
Dari hasil evaluasi konteks dan input dapat ditarik kesimpulan bahwa
program perencanaan sudah sesuai dengan indikator dan kriteria yang ada.
Baik dalam hal perencanaan program maupun sumber-sumber yang
mendukung terlaksananya suatu program yang direncanakan yaitu layanan
konseling pastoral bagi pasien di RSK Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur.
2. Pelaksanaan Layanan Konseling Pastoral RSK Budi Rahayu Blitar
Layanan konseling pastoral di RSK Budi Rahayu sudah diprogramkan
sejak tahun 2004. Hal itu terungkap dari dokumen hasil evaluasi tim pastoral
care, yang menyebutkan bahwa salah satu program layanan hidup rohani
adalah layanan konseling untuk pasien dan karyawan RSK Budi Rahayu.
Layanan ini berjalan sedemikian tanpa adanya sebuah perencanaan yang
tertulis. Program rutin yang dilaksanakan mengacu pada program pastoral care
secara umum, salah satunya adalah kunjungan rutin kepada para pasien dan
keluarganya.
Namun karena keterbatasan tenaga, maka yang mendapat layanan ini lebih
terfokus pada pasien dan keluarganya. Dari hasil penelitian dapat ditemukan
beberapa aspek yang terlaksana dari layanan konseling di RSK Budi Rahayu.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
108
Peneliti lebih lanjut mendapatkan data dari dokumen prosedur tetap layanan
pendampingan/konseling pastoral, prosedur ini dibuat pada tahun 2012.
Berdasarkan kriteria evaluasi didapatkan hasil penelitian sebagai berikut:
Tabel 9. Hasil Evaluasi Proses
Aspek
Proses
Indikator
Keterlaksana
an program
Waktu
pelaksanaan
Kriteria
Program terlaksana
sesuai rencana
Sesuai rencana
Pemberian
layanan
pastoral
(pendamping
an dan
konseling )
Penggunaan
media
layanan
rohani
Pasien merasa puas
atas layanan rohani
yang disediakan
rumah sakit
Penggunaan
metode
pelayanan
pastoral
Pasien terlibat dan
mau terbuka terhadap
layanan konseling
pastoral
Pasien dan keluarga
merasa terhibur, serta
memperoleh
peneguhan.
Data
Terlaksana.
Sesuai rencana dan siap
sedia bila dibutuhkan
diluar jadwal yang ada.
Pasien merasa gembira,
puas, bangga melalui
pelayanan ini.
Media audio/radio
(musik instrument, lagu
rohani maupun lagu
profan, doa, pembacaan
kitab suci dan renungan,
cerita inspiratif) ada
setiap hari mulai pukul
07.00-15.00, dan pukul
05.30-06.00 bisa ada
misa. Kadang-kadang
suara tidak terdengar dan
juga kadang terlalu keras.
Catatan: karena pasien
mayoritas muslim,
mereka lebih suka
menonton televisi dari
pada mendengarkan
siaran radio rumah sakit.
Petugas mencari data
pasien terlebih
dahulu,kemudian
mengunjungi dengan
beberapa tahap dan
pasien dengan sendirinya
cerita tentang kehidupan
dan relasinya dengan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Ketercapaian
layanan
konseling
pastoral
Pasien merasakan
dampak positip dari
layanan yang
diperolehnya
(kesembuhan,
peneguhan, motivasi,
makna hidup)
109
orang-orang terdekatnya.
Pasien yang awalnya
cemas, gelisah dan tidak
merespon menjadi lebih
tenang dan mau terbuka
terhadap petugas dan tim
medis.
Dari data kriteria dalam kolom di atas dapat dideskripsikan sebagai berikut:
a. Jadwal pelaksanaan layanan konseling pastoral
Ketepatan
waktu
para
pelayan
konseling
pastoral
sangat
mempengaruhi kesiapan para pasien dan keluarganya dalam menerima
layanan ini. Apabila layanan ini diberikan pada saat yang tepat, maka
pasien dan keluarga tentunya merasa senang dan terdukung, serta mereka
tidak merasa terganggu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan layanan konseling
pastoral/pelayanan pastoral RSK Budi Rahayu berjalan sesuai dengan
jadwal
yang
direncanakan.
Pelaksanaan
pelayanan
konseling
pastoral/pastoral care dilaksanakan setiap hari, mulai pukul 08.30-10.00
WIB dilanjutkan pukul 11.00-12.30 WIB, seperti yang diungkapkan salah
seorang petugas:
”…pendampingan dilakukan setiap hari, mulai pukul 08.30-10.00
dilanjutkan pukul 10.30-12.15 WIB. Karena jam itu pasien sudah
selesai mendapat perawatan dan jam 09.30/10.00 kembali ke PC
karena saat jam itu banyak pengunjung yang datang menjengguk
pasien. Biasanya tidak bisa ditargetkan, tergantung situasi pasiennya.
Biasanya per paviliun bergantian setiap hari. Jika perlu biasanya
setelah jam kunjung, saya lanjutkan ”(PW.PC)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
110
Dari pernyataan tersebut tampak bahwa waktu pelaksanaan layanan
konseling pastoral diatur sedemikian rupa setelah pasien mendapatkan
perawatan medis. Dari situasi tersebut diharapkan, bahwa para pasien dan
keluarganya sudah siap menerima kehadiran pelayan pastoral care tanpa
ada rasa terganggu. Sedangkan dokter waktunya meyesuaikan dengan
jadwal kunjung pasien (visitebed) dan perawat menyesuaikan kondisi
pasiennya. Pelayanan konseling pastoral dilakukan setiap hari, waktunya
tidak tentu. Hal itu bergantung pada konselornya (dokter perawat, pendeta,
romo). Pelayan pastoral/unit PC secara pasti melaksanakan layanan ini
setiap hari. Waktu pelaksanaannya dari pukul 08.30-09.30 WIB, kemudian
dilanjutkan pukul 10.30-12.15 WIB. Responden lain yang secara rutin
kunjung pasien setiap hari adalah seorang suster pemilik rumah sakit,
beliau sebagai ketua PKRS sekaligus sebagai SPI (Sistem Pengawas
Internal) rumah sakit. Responden melaksanakan layanan konseling
pastoral dari pukul 10.00-12.15/12.30 WIB.
Durasi waktu konseling pastoral tidak sepanjang konseling yang
diberikan kepada orang sehat. Orang sakit tentu tidak sekuat orang sehat.
Lama waktu konseling pastoral berkisar 15-30 menit, seperti yang
dijelaskan seorang perawat:
“…tidak pasti, tergantung kasusnya. Seandainya ringan biasanya
15 menit, tapi kalau situasi kritis memang butuh waktu panjang .
Selama ini waktunya tidak tentu, tergantung situasi dan kondisi
pasien. Tetapi setiap hari sering terjadi konseling” (PW.IC).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
111
b. Sasaran
Penentuan sasaran pelayanan konseling di RSK Budi Rahayu
sangatlah penting. Hal ini akan membantu para pelayan konseling pastoral
dalam melaksanakan tugasnya secara tepat sasaran. Dari hasil penelitian
ini, secara umum responden menyatakan bahwa sasaran pelaksanaan
layanan konseling pastoral adalah semua pasien rawat inap dan
keluarganya tanpa memandang agama, seperti yang diungkapkan dokter
dan perawat:
“Menurut saya seluruh pasien rawat inap di rumah sakit ini
mendapat layanan konseling pastoral, tanpa memandang agama”
(PSs.D3; PSs.D2, PSs.D1, PSs.P1, PSs.P3).
Dari pernyataan di atas jelas bahwa pelayanan ini ditujukan untuk
semua pasien khususnya pasien rawat inap. Kenyataan bahwa tenaga yang
memberi pelayanan tersebut terbatas, maka pelayanan lebih difokuskan
pada pasien-pasien istimewa/khusus dengan kasus penyakit berat dan yang
lebih membutuhkan layanan konseling. Seperti yang diungkapkan
beberapa perawat:
“selama ini pasien yang membutuhkan pendampingan khusus,
pasien yang mengalami kecemasan yang tinggi akan penyakit yang
dideritanya yang akan menghambat aktifitasnya. Misalnya: pasien
penderita kanker dan stroke (PSs.IC; PSs.P2;PSs.P4).
“.....,biasanya yang dikunjungi adalah pasien-pasien dengan
kondisi penyakit yang berat seperti Stroke (CVA), Hipertensi”
(PSs.P3)
c. Jumlah Perjumpaan
Layanan konseling yang efektif terjadi bila seorang konselor
mampu menyadarkan konseli akan dirinya dan ada perubahan sikap, cara
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
112
berpikir, serta ada rencana jangka pendek yang akan dibuatnya. Kehadiran
konselor juga mampu memandirikan konseli, agar tidak tergantung pada
konselor. Maka untuk itu konselor perlu peka akan kebutuhan konseli dan
berani untuk tegas bila muncul ketergantungan pada diri konseli.
Penentuan jumlah pertemuan konseling sangat penting dalam layanan
konseling pastoral.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pelayan/yang
terlibat
dalam
layanan
konseling
pastoral
memberikan
layanan
pendampingan kepada pasien hanya satu kali. Seperti diungkapkan
perawat dan petugas pastoral:
”…., biasanya sekali. Biasanya saya menawarkan apakah saya
perlu datang atau tidak? Jika ya, maka saya akan hadir
lagi”(PJP.PC; PJP.IC; PJP.Rm; PJP.SS )
Pertemuan terjadi hanya satu kali, karena pelayan pastoral merasa
bahwa konseli (pasien/keluarganya) sudah mampu untuk berpikir dan
mengambil keputusan secara tepat. Petugas yang terlibat dalam pemberian
konseling menemukan bahwa kasus konseli tidak terlalu serius.
Pernyataan tersebut bukanlah sebuah ketentuan yang baku, perawat
ataupun petugas yang terlibat dalam pemberian layanan konseling pastoral
akan terbuka melayani bila diminta dan akan menindaklanjuti layanan
tersebut bila dirasa perlu untuk dilakukannya, seperti diungkapkan pelayan
pastoral:
“Biasanya ketika mereka sudah mencari alternatif-alternatif dan
sudah cocok dengan dirinya. Saya rasa mereka sudah bisa
mandiri, saya menghindari adanya ketergantungan, menghibur-
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
113
hibur, memang arahnya tidak kesana, dan saya rasa ia sudah
bisa. Mungkin sekali dilihat, ternyata dia sudah merasa senang,
mau apa sudah direncanakan, biasanya ya sudah jalan sendiri”
(PJP.SS).
”Itu juga tergantung kasusnya. Biasanya pasien dan keluarganya
kalau sudah tenang ya sudah cukup, dan bila mereka konsultasi
lagi ya kita layani” (PJP.IC)
Dari pernyataan di atas, semakin jelas bahwa jumlah pertemuan
layanan konseling pastoral di RSK Budi Rahayu tergantung kasus dan
tingkat kebutuhan pasien maupun keluarga pasien. Hal itu bertujuan agar
konseli (pasien dan keluarganya) mampu untuk mandiri.
d. Tahap-tahap Layanan Konseling Pastoral
Pengetahuan dan pemahaman terhadap tahap-tahap layanan
konseling pastoral membantu pelayan konseling pastoral RSK Budi
Rahayu melaksanakan layanan ini secara terarah. Hal itu tentu membuat
proses layanan konseling berjalan secara efektif. Proses ini bukan sekedar
kunjungan orang sakit. Pelayan konseling pastoral berhadapan dengan
mereka yang sakit. Mayoritas pasien yang dilayani kelompok ekonomi
menengah ke bawah, maka sangat penting bagi pelayan konseling pastoral
mengenal
pasien
yang
hendak
dikunjunginya.
Jika
pelaksana
berjalan/melangkah sesuai prosedur/tahap-tahap yang ada, tentunya akan
sangat membantu mereka ketika berhadapan dengan pasien.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa, mereka yang terlibat
dalam layanan konseling pastoral sudah mengetahui penyakit, asal pasien,
bahkan masalah-masalah yang mungkin ditangkap oleh perawat yang
merawatnya. Pelayan pastoral sebelum datang ke pasien sudah melakukan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
114
identifikasi kebutuhan dan masalah pasien, sehingga ketika datang ke
pasien ia sudah memiliki gambaran tentang pasien yang dikunjunginya.
Seperti diungkapkan seorang suster:
”saya mencari datanya dulu, kondisi bagaimana, hasil
pemeriksaan lab bagaimana, mencari informasi ke perawat kirakira pasien butuh bantuan apa?, jadi saya datang tidak kosongkosong. Saya datang ke pasien sudah tahu dan punya gambaran,
kira-kira saya bisa memberi apa pada mereka. Awalnya saya memperkenalkan diri, kemudian tanya gejala yang dirasakan, dan
memang segala penyakit itu memiliki gejala yang berbeda karena
secara ilmu saya tahu dan mengingat itu. Kemudian baru secara
ekonomi, saya jelaskan untuk pengobatan selanjutnya, biaya dan
kondisinya bagaimana, pasti secara kejiwaan, mereka ada rasa
sedih, cemas, maka saat itu saya mengajak mereka utk berpikir,
juga memberi alternatif-alternatif, disamping itu juga tak terlepas
dari campur tangan Tuhan, sambil mengajak mereka untuk tetap
berdoa. Jika mungkin saya ajak berdoa, menganjurkan doa
Rosario jika mungkin bagi keluarga yang menjaganya. Saya
sampai follow up untuk hari selanjutnya mereka biasanya lebih
baik” (PLL.SS).
Dari pernyataan di atas tampak bahwa petugas layanan konseling
pastoral menerapkan langkah-langkah yang tersusun rapi dari awal
konseling sampai akhir atau penutup. Hal itu juga didasari oleh
pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman dalam bidang ini yang
memadahi, sehingga mampu berjalan secara terstruktur.
Hal itu berbeda dengan petugas yang memiliki latar belakang
pendidikan di luar bidang ini. Petugas melaksanakannya sejauh yang ia
tahu dan apa adanya, meskipun demikian bila dilihat lebih dalam, mereka
juga melaksanakan sesuai prosedur. Hal itu meliputi: meminta ijin kepala
ruangan, mencari informasi/data pasien, melakukan pendekatan terhadap
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
115
pasien dan keluarganya, menggali masalah, dan pemberian saran. Seperti
diungkapkan petugas pastoral yang terlibat dalam layanan ini:
”biasanya saya kunjungan pasien dan keluarga pasien, untuk
langkah-langkahnya itu biasanya seperti ini: saya datang langsung
ke ruangan, setelah itu melihat status pasien (agamanya apa,
sakitnya, dokter, asalnya); (pertama melakukan pendekatan
dengan berkunjung, menyapa, dan menemani; 2) memberikan
pendampingan untuk menggali sejauh mana apa yang dialami
pasien pada saat itu; 3) menanggapi ungkapan pasien;
4) memberikan saran), setelah selesai kunjungan biasanya
keruangan lagi untuk melakukan pencatatan ”.(PLL.Pc)
Demikian perawat dan dokter yang terdorong untuk memberikan layanan
konseling pastoral, juga secara otomatis menerapkan langkah-langkah dalam
pelayanan ini. Pelayanan ini mereka sadari sebagai bagian dari pelayanan
mereka, yang mana mereka juga diundang untuk memberi perawatan secara
holistik. Seperti diungkapkan seorang dokter yang terlibat dalam pelaksanaan
layanan konseling pastoral:
”Proses konseling dilakukan sambil dokter melakukan visite (bedvisite counseling).”….Awalnya kita perlu mengenal latar
belakang pasien, pekerjaannya, “pak, bu…nopo sing dirasake?”,
kebiasaannya, karena kadang penyakitnya ada kaitannya dengan
pekerjaannya. Tetapi untuk kasus-kasus penyakit yang tidak bisa
sembuh. Prosesnya: keluarga dipanggil ke ruang perawat untuk
mendapat penjelasan detail, sedangkan untuk pasiennya sendiri
diupayakan agar mendapatkan informasi-informasi yang tidak
menambah stress pada yang bersangkutan” (PLL.D1).
Ungkapan pelayan pastoral konseling yang lain:
”Kami menyapa pasien dan keluarganya sambil memberikan
sentuhan (jabat tangan sambil mengenalkan diri); Menanyakan
bagaimana yang dirasakan pada saat ini; Melakukan pendekatan
agar pasien merasa nyaman dengan bahasa yang halus,bukan
mendikte tetapi memberi dukungan; Dengan demikian biasanya
pasien/keluarga
akan
lebih
terbuka
dan
kemudian
bercerita/menyampaikan beberapa hal; Bila sudah terkaji
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
116
kemudian kita memberikan arahan, support ke pasien/keluarga
dan bila perlu kami menanyakan ke pasien/keluarga apakah perlu
mendatangkan
pendeta/pak
kyai/romo
untuk
doa
bersama/sakramen; Bila memang memerlukan kami kemudian
menghubungi petugas PC dan kami menyiapkan segala
keperluannya”. (PLL.IC; PLL.Rm, PLL.PC1; PLL.P2)
Dari beberapa pernyataan responden menunjukkan bahwa tahaptahap layanan konseling pastoral di RSK Budi Rahayu tidak ada patokan
yang baku, hal itu tergantung pada setiap pelayan pastoral yang terlibat
dan situasi pasien yang dilayaninya.
e. Teknik Komunikasi
Penguasaan teknik komunikasi yang tepat akan membantu
berjalannya proses pelayanan konseling pastoral. Komunikasi secara tepat
akan membantu pasien berani terbuka dan merasa nyaman dengan pelayan
pastoral yang mengunjunginya. Pasien dan keluarga pasien juga akan
merasa dihargai sebagai pribadi, dan kehadiran pelayan konseling pastoral
dirasakan memberi dukungan, serta mampu mendengarkan sehingga
mereka merasa lega setelah mengungkapkan masalahnya.
Dari hasil penelitian tampak bahwa setiap pribadi yang terlibat
dalam layanan konseling bagi pasien dan keluarga pasien di RSK Budi
Rahayu, sudah menggunakan teknik komunikasi yang menunjukkan
penerimaan, empati, dan lain-lain. Seperti diungkapkan seorang dokter:
”biasanya dengan pelan-pelan dan sabar kita memberi tahu,
pak…bu…kita lihat dulu hasil lab, nah untuk itu harus periksa
darah. Belum tentu penyakitnya seperti apa yang bapak, ibu
takutkan. Kalaupun benar supaya cepat memperoleh penanganan,
secepatnya dan jika sembuh, maka bapak, ibu akan hidup seperti
orang normal”. (PTK.D1)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
117
Ungkapan perawat lainnya:
“Dalam komunikasi dengan pasien maupun keluarga pasien
biasanya, saya melakukan pendekatan secara halus dan tidak
mendikte. Maksudnya,….mendengarkan mereka sampai selesai,
walaupun ada kalanya cara pikir mereka yang tidak sesuai.
Setelah itu baru saya mengarahkan dan memberi penjelasan,
dengan menghindari kata “harus”, tetapi lebih menggunakan kata
“sebaiknya”. Sehingga mereka tidak merasa digurui, juga kita
tidak memaksakan untuk ikut kita kok. ….Dalam mendengarkan
juga perlu kontak mata, tapi kontak mata yang menunjukkan
pandangan yang bersahabat, teduh, sehingga orang merasa
diterima dan dihargai. Saya juga sering memberikan sentuhan
sebagai bentuk dukungan yaitu berjabat tangan dan memegang
tangan pasien terutama yang kondisinya kritis (PTK.IC).
Ungkapan perawat yang lain:
”….biasanya saya menggunakan komunikasi teraupetik.
Komunikasi teraupetik yang sering saya lakukan itu bahwa ada
empatinya yaitu kita ikut merasakan apa yang dirasakan oleh
pasien, sehingga permasalahan yang ada bisa dikomunikasikan,
mencari solusi, sehingga sangat penting memahami apa yang
dirasakan, dialami pasien jadi lebih keempati ya.Tidak ada
paksaan, memahami, ada kontrak waktu, boleh mengungkapkan,
menjaga kerahasiaan, kalau ada tekanan-tekanan kita mungkin
bisa membantu mungkin privasinya yang harus dijaga karena
kerahasiaan perlu dijaga, kalau ujung-ujungnya keluarga”.
(PTK.P2).
Dari hasil penelitian terungkap bahwa perawat/kepala ruangan
yang dipercaya untuk memberi pendampingan bila pasien mengalami
masalah, ada usaha dan inisiatif untuk belajar, serta bertanya pada yang
lebih ahli termasuk dalam hal konseling dan teknik komunikasi yang tepat
bagi pasien. Seperti yang diungkapkan perawat sebagai berikut:
“…..seandainya tidak bisa, biasanya saya tanya yang lebih
menguasai teori “suster S…”. hal itu sangat membantu karena
beliau mempunyai teori dan biasanya kita bisa lihat panduannya
via online. Bila tidak bisa saya minta bantu beliau, karena ada
trik-triknya” (PTK.P2).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
118
f. Kerja Sama
Kerja sama adalah hal penting untuk dilakukan dalam bidang
apapun, hal itu sebagai bentuk kesadaran manusia bahwa mereka makhluk
sosial yang saling membutuhkan antara pribadi satu dengan yang lainnya.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa, antara petugas konseling
pastoral dengan para perawat, serta dokter ada relasi dan kerja sama yang
baik. Seperti diungkapkan seorang perawat:
“sejauh yang saya tahu ada kerjasama dan relasi yang baik antara
petugas PC dengan para perawat , karena memang ada
kesinambungan yang tidak bisa terpisah-pisah (PKs.S, PKs.P1
PKs.P2, PKs.P3, PKs.IC, PKs.S).
Dari pernyataan tersebut nampak adanya kesadaran dari petugas
pastoral dan para perawat, bahwa layanan konseling pastoral merupakan
sebuah layanan yang saling terintegrasi antara petugas pastoral dengan tim
medis di RSK Budi Rahayu Blitar. Adanya integrasi dan kerjasama akan
membantu proses pelaksanaan konseling pastoral bisa berjalan dengan
baik.
Hal ini berbeda yang diungkapkan oleh seorang dokter yang
merasa selama ini tidak melibatkan petugas pastoral untuk layanan ini, hal
ini terjadi karena dokter tersebut lebih memilih untuk melaksanakan
sendiri saat visitebed. Seperti diungkapkan dokter sebagai berikut:
“saya merasa sebagai dokter, belum menjalin kerjasama dengan
unit PC, dalam penanganan pasien-pasien di ruang rawat inap”.
(PKs.D1)”
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
119
Meskipun demikian dokter tersebut merasa bersyukur bahwa setiap
beliau melakukan visite ke pasien melihat petugas pastoral mengunjungi
pasien-pasien, sehingga pasien merasa bahagia. Seperti yang diungkapkan
dokter tersebut:
“masih lumayan, ada mbak …yang bisa menyapa pasien setiap
hari, sehingga mereka merasa didukung dan ditemani”
//spontan//D1
g. Hambatan-Hambatan dalam Pelaksanaan Layanan Konseling Pastoral
Hambatan adalah hal yang tidak dapat dihindarkan dalam setiap
pelaksanaan program. Sebagus apapun program yang direncanakan dalam
perjalanan proses pelaksanaan tentu ada hambatan-hambatan yang dialami.
Demikian yang dialami oleh pelayan pastoral konseling di RSK Budi
Rahayu Blitar.
Dari hasil penelitian terungkap bahwa hambatan yang dialami
terkait ketenagaan. Selain tenaga yang terbatas, juga petugas yang
memang fokus di unit pelayanan tersebut menyadari bahwa pengetahuan
dan pemahaman dibidang layanan konseling pastoral masih kurang. Hal
ini terkait latar belakang pendidikan yang di luar bidang tersebut. Seperti
diungkapkan petugas:
”saya menyadari bahwa saya kurang pandai dan memiliki
keterbatasan pengetahuan, ada rasa kurang percaya diri latar
belakang pendidikan, pengalaman kurang. Tapi disisi lain ada
yang memberi support. Ada yang menerima; ada rasa canggung
saat ke pasien, kadang ada pasien yang menolak, keterbatasan
tenaga“ (PHbt.PC).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
120
Untuk meningkatkan profesionalisme pelayanan medis, dokter
dengan sendirinya tergerak untuk memberikan pelayanan ini. Hal senada
juga dilakukan seorang suster yang tergerak bahwa layanan tersebut dinilai
penting karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tugas yang
diembannya. Hal itu kurang optimal dan menyeluruh karena ada pekerjaan
pokok yang harus menjadi yang utama. Karena tenaga mereka yang
terbatas, sehingga mereka mengalami hambatan dalam memberikan
layanan ini, yaitu tidak bisa secara menyeluruh dan mendalam. Seperti
diungkapkan oleh dokter dan perawat demikian:
”…., pertama tidak adanya tenaga konseling ditempat ini.
Sebenarnya saya tergerak dan bisa sedikit-sedikit memberikan,
tetapi karena keterbatasan waktu dan tenaga sehingga tidak bisa
mendalam; karena tenaga dokter umum terbatas sehingga harus
dobel-dobel pekerjaan. Sepertinya bisa berjalan baik, tapi
beberapa hal tidak bisa terselesaikan terutama yang terkait
dengan pendokumentasian/administrasi”(P.Hbt.D1; D2; P.Hbt.IC)
Dari pernyataan di atas nampak bahwa pelayanan konseling
pastoral memang ada kendala terkait ketenagaan, namun tim medis
(dokter, perawat, dan suster) berusaha membuka hati terhadap kebutuhan
tersebut. Sehingga meskipun harus membagi waktu sedemikian, mereka
tidak memisahkan adanya pendekatan secara spiritual terhadap pasien
yang dilayani. Mereka sadar bahwa kesembuhan bukan hanya secara fisik,
namun secara mental dan batin juga butuh untuk disembuhkan. Karena ada
kasus bahwa pasien sakit karena sebenarnya ada latar belakang masalah
pribadi dengan keluarga/anggota keluarganya yang terdekat.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
121
Selain itu, tidak semua perawat memiliki passion dalam bidang itu.
Jadi meskipun mereka sebenarnya dibekali sejak menempuh pendidikan
dan dipanggil untuk itu (merawat secara holistik). Mereka kurang antusias
untuk melakukannya meskipun ada waktu. Seperti diungkapkan seorang
perawat:
”waktu ke pasien banyak sebetulnya bisa, tapi ada beberapa tipe
dari kami yang cuek dan hanya berfokus pada perawatan medis
saja, untuk saya banyak waktu (Hbt.P2)”
Dari pernyataan di atas nampak bahwa, layanan ini membutuhkan
sebuah kerelaan dan keterbukaan hati. Meskipun punya bekal dan ada
waktu, tetapi jika tidak ada minat juga tidak akan terjadi sebuah layanan
konseling pastoral.
3. Evaluasi Hasil Layanan Konseling Pastoral RSK Budi Rahayu Blitar
Data kriteria hasil evaluasi dari aspek hasil/produk sebagai berikut:
Tabel 10. Hasil Evaluasi Hasil
Aspek
Hasil/
produck
Indikator
Tujuan layanan
tercapai
Kriteria
Pasien mengalami
perubahan (dari situasi
bergumul menuju
penemuan makna dalam
hidupnya)
Membangkitkan potensi
pasien agar mampu
mengambil keputusan.
Data
Pasien & keluarga
merasakan
perhatian,
didengarkan, dan
mendapat
dukungan dari
rumah sakit. Pasien
menjadi
termotivasi dan
dapat menemukan
makna dari
pengalaman sakit.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
122
a. Dampak Layanan Konseling Pastoral
Layanan konseling pastoral di RSK Budi Rahayu yang selama ini
berjalan sedemikian rupa, dengan tenaga yang terbatas dan daya upaya
yang ada pada akhirnya membuahkan hasil. Yaitu sebuah dampak positip
dan manfaat yang dirasakan oleh pasien dan anggota keluarganya, tim
medis, serta
pihak rumah sakit. Pasien semakin pasrah/percaya
sepenuhnya bahwa Tuhan adalah Sang Maha pengasih dan penyayang,
yang dapat membangkitkan semangat pasien untuk sembuh. Seperti
diungkapkan seorang dokter:
“dapat mengarahkan pasien untuk pasrah kepada Sang Pencipta,
percaya sepenuhnya bahwa Tuhan adalah sang Maha pengasih
dan penyayang, akan dapat membangkitkan semangat untuk
sembuh. Tidak hanya sembuh dari penyakit fisiknya saat ini, tapi
juga kesadaran bahwa kesembuhan tersebut juga datangnya dari
Tuhan (secara spiritual ada rasa ketergantungan kepada Tuhan)”
(Dp.D1)
Selain itu, pasien juga merasa lebih tenang dan lebih kooperatif
terhadap para perawat dan tim medis lainnya. Mereka juga memiliki
semangat hidup, dan memiliki harapan. Seperti diungkapkan dokter, para
perawat, dan pelayan konseling pastoral lainnya:
“ya, dengan adanya PC akan berdampak pada kejiwaan pasien,
pasien lebih bisa menerima keadaan yang dialaminya sehingga
dokter dapat melakukan pengobatan dengan baik” (HDp.D3;
HDp.Pc)
Jika dilihat lebih dalam pelayanan ini juga membawa dampak bagi
konselor sendiri yaitu mendatangkan pengalaman iman dan semakin
menyadarkan dia, bahwa apa yang dilakukan bukan sekedar tugas pelayan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
123
lebih dari itu adalah sebuah panggilan. Seperti diungkapkan oleh seorang
pelayan pastoral:
“Hal itu menjadi pengalaman iman bagi pasien dan keluarganya,
juga untuk saya. Bagi saya pendampingan pastoral adalah
panggilan Tuhan, bukan sekedar tugas. Saya yakini bahwa dari
pelayanan ini, Tuhan mau memanggil dan membentuk saya. Hal
itu juga karena saya pernah sakit berat beberapa bulan. Tuhan
sungguh mengasihi saya”. (MDp.Rm)
Dari pernyataan di atas nampak jelas bahwa pelaksanaan layanan
konseling pastoral memiliki dampak yang besar bagi pasien dan keluarga
pasien, serta bagi rumah sakit (RSK Budi Rahayu, tim medis dan pelayan
pastoral). Keterbukaan pasien dan keluarganya sangat membantu
kelancaran proses pengobatan. Maka sangat penting
adanya
saling
percaya dan kerjasama, jika sepihak saja yang bersedia tentu akan
menghambat proses pengobatan.
b. Manfaat layanan konseling pastoral di RSK Budi Rahayu
Pengalaman langsung berada di rumah sakit membuka mata
peneliti bahwa layanan ini sangat dibutuhkan dan bermanfaat bagi banyak
pihak. Antara lain untuk pasien dan keluarganya, bagi tim medis di rumah
sakit, serta bagi rumah sakit itu sendiri.
Pihak-pihak yang memperoleh manfaat dari layanan konseling
pastoral. Yaitu:
1) Bagi pasien
Pasien merupakan sasaran utama yang memperoleh layanan ini.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan ini bermanfaat bagi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
124
kesembuhan pasien. Pendampingan dan konseling yang diberikan
memberikan dukungan bagi pasien. Mereka mereka lega dan plong,
karena mereka sungguh didengarkan dan diterima tanpa diadili.
Mereka menjadi lebih terbuka terhadap keadaan diri mereka, sehingga
memudahkan tim medis dalam memberikan perawatan. Pasien yang
memperoleh layanan ini juga merasakan diperhatikan, hal itu semakin
memberi semangat bagi si sakit untuk cepat sembuh. Seperti
diungkapkan seorang suster:
”bagi pasien dan keluarga: pasti mereka merasa lega dan plong
ya.., karena mereka merasa didengarkan, karena selama ini tidak
ada yang mendngarkan atau didengarkan tapi sudah ada
pikirannya sendiri jadi langsung menvonis, mengadili, sehingga
ketika sudah mendengarkan mereka puas karena didengarkan ;
memuji Tuhan” (HMf.SS)
Hal itu senada yang diungkapkan oleh seorang pasien rawat inap.
Dari hasil penelitian, tampak bahwa layanan konseling pastoral sungguh
dirasakan manfaatnya oleh pasien rawat inap yang memperoleh layanan
ini. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa, pasien sangat berterima kasih
atas layanan ini. Dia juga merasa didengarkan dan bisa leluasa
menceritakan apa yang dialaminya, serta menyampaikan harapan
kesembuhannya kepada petugas pastoral. Sebuah dorongan dan motivasi
yang diberikan oleh petugas pastoral, juga memotivasi pasien ini. Seperti
diungkapkan seorang pasien rawat inap (VIP):
”iya, saya sungguh berterima kasih untuk layanan ini, saya juga
menjadi lega. Gimana ya orang sakit itu butuh untuk didengarkan,
ingin menyampaikan harapannya untuk sembuh. Kalau
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
125
dokter…”paling ya tunggu…”. Tidak mungkin mendengarkan”.
(S3.8)
””ya itu tadi, pasien dapat menyampaikan harapannya,
termotivasi, dan juga memperoleh dorongan atau semangat. Selain
itu pasien dapat menceritakan apa yang dialaminya, karena kalau
mengeluh pada dokter paling ya di jawab “tunggu ya lihat dulu”
(S3.11)
Selain itu pelayanan konseling pastoral juga bermanfaat agar
pasien dapat percaya sepenuhnya pada penyelenggaraan Allah. Seperti
diungkapkan seorang dokter:
”Saya rasa pendampingan secara spiritual yang dapat
mengarahkan pasien untuk pasrah kepada Sang Pencipta, percaya
sepenuhnya bahwa Tuhan adalah sang Maha pengasih dan
penyayang, akan dapat membangkitkan semangat untuk sembuh.
Tidak hanya sembuh dari penyakit fisiknya saat ini, tapi juga
kesadaran bahwa kesembuhan tersebut juga datangnya dari Tuhan
pengasih dan penyayang, akan dapat membangkitkan semangat
untuk sembuh. ……” (HMf.D1)
Seorang dokter, perawat, dan pelayan pastoral yang memahami
tujuan dari layanan pastoral akan mendapatkan manfaat, bahwa layanan
yang mereka berikan pada hakikatnya adalah untuk memberikan kesadaran
bahwa kesembuhan tidak hanya dari obat ataupun hasil perawatan mereka
semata. Justru pasien diajak untuk menyadari bahwa kesembuhan
datangnya Tuhan Yang Maha pengasih dan penyayang, mereka hanya
menjadi alatNYA.
2) Bagi Keluarga
Manfaat layanan konseling pastoral tidak hanya dirasakan oleh
pasien, keluarga pasienpun turut merasakan manfaat layanan ini. Keluarga
pasien yang memperoleh layanan ini merasa mendapat perhatian dan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
126
respeck dari pelayanan rumah sakit. Mereka juga menjadi lebih tenang dan
percaya pada tim medis yang merawat pasien. Keluarga merasa bangga
karena keluarganya yang sakit diperhatikan dan didoakan. Seperti
diungkapkan seorang keluarga pasien:
”Perasaan saya menjadi senang atas kunjungan petugas RSK
Budi Rahayu, bila dibandingkan dengan di RS Negeri.
Perawatnya bersahabat ada nilai(+)nya dalam pelayanan
rohani, saya bangga dengan pelayanan RS”
Selain perasaan bangga, keluarga pasien juga merasakan bahwa
layanan ini sangat bermanfaat bagi mereka. Dari hasil penelitian
mengungkapkan bahwa manfaat yang dialami oleh keluarga pasien dari
pelayanan pastoral rumah sakit adalah keluarga mengalami pertumbuhan
iman, merasakan bersatu kembali dengan Tuhan setelah beberapa tahun
meninggalkan gereja karena salah satu anggota keluarganya sakit. Seperti
diungkapkan oleh keluarga pasien:
”…sangat bermanfaat. Manfaatnya yang saya alami saat menjaga
istri saya adalah bahwa kami mengalami pertumbuhan iman,
merasa terhubung kembali dengan Tuhan saat bertemu dengan
utusan Tuhan : Suster, Romo dan ASIM karena memang sudah
lama kami tidak ke Gereja, istri saya sakit, membuat keluarga
merasa jauh dari Tuhan(istri dan anak)”
Selain itu anggota keluarga pasien juga merasa lebih tenang,
merasa diperhatikan, dan juga merasa senang. Seperti diungkapkan
perawat dan pelayan pastoral:
”pasien dan keluarga menjadi lebih tenang dan lebih bisa
menerima(PDp.IC)”
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
127
3) Bagi Rumah Sakit
Layanan konseling pastoral juga mendatangkan manfaat bagi
rumah sakit khususnya RSK Budi Rahayu. Dari hasil penelitian
mengungkapkan
kualitas/mutu
bahwa,
layanan
ini
mampu
meningkatkan
pelayanan RSK Budi Rahayu. Seperti diungkapkan
perawat:
“bagi RS manfaatnya yaitu meningkatkan mutu pelayanan
terutama di bidang pelayanan RS” (HMf.P2.1//9, HMf.S//11).
Selain itu juga meningkatkan kepuasan pasien, karena ada
pelayanan rohani yang mampu dirasakan oleh semua pasien. Sehingga
pengalaman itu akhirnya mampu diceritakan kepada masyarakat yang
lain dan pada akhirnya meningkatkan jumlah kunjungan pasien ke
rumah sakit ini. Seperti diungkapkan dokter dan perawat:
“bagi RS juga bermanfaat karena pasien akan menceritakan
pengalaman-pengalamannya selama dirawat di RS kepada temanteman/sanak keluarganya (tentang hal-hal yang positip, termasuk
layanan PC), sehingga akan terbangun penilaian masyarakat,
bahwa pelayanan di RS adalah baik/menyeluruh. Dengan demikian
dapat meningkatkan jumlah kunjungan pasien/masyarakat ke RS
ini” (HMf.D1//1; HMf.D3//3).
c. Hal yang Mendukung
Pelaksanaan layanan konseling pastoral di RSK Budi Rahayu bisa
berjalan sedemikian, meskipun tidak ada program yang secara detail yang
tertulis. Hal-hal mendukung yang ditemukan adalah adanya pribadipribadi yang tergerak untuk melakukan layanan tersebut, karena mereka
berusaha mewujudkan apa yang sudah dipelajarinya. Selain itu juga
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
128
sebagai bentuk dukungan dan harapan untuk memanusiakan sesamanya.
Seperti diungkapkan seorang perawat:
”Bagi saya, pasien adalah keluarga saya, bagaimana saya
memanusiakan mereka yang merupakan keluarga kita. Kita
sebagai perawat, sebenarnya diajarkan untuk dapat memberi
perawatan secara menyeluruh. Secara keilmuan kita sebenarnya
sudah dibekali” (HDk.IC).
Pernyataan
perawat/petugas
pastoral
mengungkapkan bahwa mereka berusaha untuk
yang
lain
juga
mencari tahu dengan
membaca maupun bertanya. Ada usaha diantara mereka untuk bisa
memberikan layanan ini, demi kesembuhan menyeluruh. Seperti
diungkapkan perawat:
”untuk mengatasi saya tidak putus asa, berusaha, saya harus tahu
kenapa menolak. Mungkin karena malam tidak bisa istirahat, maka
ia butuh untuk tidur, walau ada tantangan penolakan saya tidak
nglokro/putus asa, saya mencari tahu kenapa, dan tetap semangat.
Dari semangat itu membuat kita mencari tahu, mencari solusi
”mungkin waktunya yang tidak pas”. Lebih banyak membaca,
misal: novel tentang guru dengan murid, saya mengibaratkan saya
dengan pasien, saya menyerasikan dan mempraktikkan apa yang
saya baca dari lapangan” (HDk.Pc).
”seandainya bila tidak bisa, biasanya saya tanya yang lebih
menguasai teori “suster S…”. hal itu sangat membantu karena
beliau mempunyai teori dan biasanya kita bisa lihat panduannya
via online. Bila tidak bisa saya minta bantu beliau, karena ada
trik-triknya” (HDK.P2).
Selain hal-hal mendukung yang di atas, terungkap juga bahwa adanya
kerjasama dan komunikasi antara para perawat dengan petugas pastoral
care juga turut mendukung kelancaran pelaksanaan layanan konseling
pastoral di rumah sakit ini. Seperti diungkapkan petugas pastoral:
”Tersedianya sarana telephon untuk mempermudah menghubungi
antara unit PC dan unit-unit yang lainnya; Jaraknya dekat dan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
129
mudah dijangkau; Ada keterbukaan komunikasi yang baik dengan
petugas PC dan perawat di ruangan (PC) seandainya bila tidak
bisa biasanya saya” (HDk.Pc)
d. Harapan dan Usulan
Kesadaran
akan
pentingnya
perawatan
secara
menyeluruh,
memunculkan harapan yang mendalam bagi para dokter dan perawat akan
pentingnya keberadaan psikolog ataupun konselor yang secara kontinu
memberikan pelayanan di RSK Budi Rahayu. Seperti diungkapkan
seorang dokter:
”pada masa mendatang perlu adanya tenaga psikolog, ataupun
kalau tidak ada paling nggak orang yang mendapat pelatihan
konseling, syukur jika ada suster yang memiliki basic konseling.
Saat ini untung terbantu adanya suster …, tapi harapannya bahwa
ada satu yang fokus dibidang ini. Karena pasien lebih memilih
suster daripada awam. Aura suster beda dengan awam”
(H.Usl.D1)
Pernyataan tersebut senada dengan apa yang diungkapkan oleh pasien
VIP:
“sangat penting, karena pada posisi sulit “saat orang mengalami
sakit”, ia butuh teman, empati, dan dorongan. Terlebih dirumah
sakit katolik Budi Rahayu ini, karena RS ini menjadi pusat pilihan
rakyat Blitar. Dengan layanan ini orang sakit bisa menyampaikan
harapannya (rindu untuk sembuh), mendapat motivasi, dan
dukungan. Lebih baik lagi jika ada Romo, suster biarawati, karena
ada sugesti yang berbeda” (S3.9)
Pernyataan perawat yang lain:
“Masukannnya ada tenaga konseling, memang saat ini ada
Sr…yang terlibat, namun bila belliau pergi. Tidak ada
pendelegasian, maka KR (Kepala Ruangan) yang bertanggungjawab atas pasien di ruangan itu. Kalau KR sibuk, siapa?”
(H.US.P2)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
130
Pernyataan di atas mengungkapkan bahwa tenaga psikolog/
konselor sangat dibutuhkan di RSK Budi Rahayu Blitar. Karena pasien
datang ke rumah sakit tidak hanya sakit secara fisik saja, hal itu terungkap
ketika menceritakan secara pribadi bahwa ada latar belakang masalah
dalam hubungannya dengan keluarga (suami, istri, menantu, dsb). Seperti
diungkapkan seorang dokter:
“Pendekatan kita teorinya memang harus holistik, mungkin sama
dengan di BK. Kalau yang psikosomatis ini psikisnya tidak ada
intervensi, penyakitnya tidak akan sembuh. Kadang suami istri
bertengkar, kalau yang pribadi malah kadang kita tidak bisa apaapa” (PTK.D1)
Sakit yang dialami oleh pasien akibat masalah yang dihadapi
membutuhkan pendampingan dan konseling yang mendalam. Hal itu
membutuhkan waktu yang panjang, maka sangat penting adanya seorang
petugas konseling yang intensif dibidang pelayanan ini. Meskipun tidak
ada masalah berat ada kalanya pasien membutuhkan seseorang yang bisa
mendengarkannya dengan hati dan memiliki keterampilan komunikasi
yang efektif, dalam menanggapi ungkapan hati si sakit. Seperti
diungkapkan seorang pasien rawat inap (VIP):
“supaya layanan konseling ditetapkan dan ada tenaga khusus,
sehingga secara periodik bisa mendampingi pasien yang
membutuhkan. Selain itu juga penting bagi konselor yang ramah,
bisa mencairkan suasana, sehingga kedatangannya tidak terlalu
kaku. Sesungguhnya saat sakit, pasien butuh seseorang yang bisa
mendengarkan untuk menyampaikan ungkapan hatinya” (S3.13)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
131
B. Pembahasan
1. Perencanaan Layanan Konseling Pastoral RSK Budi Rahayu Blitar
Purwanto
(2014:106),
mengungkapkan
bahwa
perencanaan
merupakan salah satu syarat mutlak bagi setiap organisasi atau lembaga
dan bagi setiap kegiatan, baik perorangan maupun kelompok. Lebih lanjut
ia mengungkapkan bahwa tanpa perencanaan atau planning, pelaksanaan
suatu kegiatan akan mengalami kesulitan dan mungkin kegagalan. Maka
sangat penting membuat perencanaan setiap tahunnya. Selain itu ada
pepatah kuno mengatakan tentang dokumentasi: jika tidak direncanakan,
pasti tidak dilaksanakan (Young & Koopsen, 2007:158).
Sesuai ruang lingkup rumah sakit, maka rencana konseling pastoral
mencakup: program (konseling pastoral), sasaran, SDM (tenaga konseling
pastoral), keuangan, dan perlengkapan (Purwanto:107). Hal itu perlu
melibatkan banyak pihak, selain koordinator pastoral care, tenaga
konseling pastoral, juga perawat dan dokter yang terlibat dalam layanan
konseling pastoral ataupun pastoral care. Lebih lanjut Willis (2014: 230),
mengungkapkan bahwa rencana konseling harus mencakup tentang teknikteknik
konseling,
tujuan,
langkah-langkah,
dan
kemungkinan-
kemungkinan adanya hal-hal yang tidak dapat dipecahkan.
Berdasarkan data yang ditemukan peneliti, bahwa di RSK Budi
Rahayu sudah memiliki sebuah perencanaan dalam layanan konseling
pastoral. Hal itu bertujuan agar mampu memberikan sentuhan secara
manusiawi terhadap pasien dan pada akhirnya diarahkan juga untuk
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
132
mengalami kasih Allah Sang Penciptanya.
Perencanaan mengacu pada program tahunan pastoral care secara
umum dan tetap setiap tahunnya. Sehingga ketika ditanya tentang program
dan perencanaan konseling pastoral, responden yang terlibat dalam
layanan konseling pastoral tidak tahu dan mengatakan tidak ada. Hal ini
berdasarkan pernyataan responden yang mengatakan sebagai berikut:
“selama ini tidak ada program suster, tidak ada sosialisasi”.
Dari hasil di atas maka sangat penting bagi RSK Budi Rahayu
Blitar (unit pastoral care/konseling pastoral) membuat program setiap
tahunnya dan mensosialisasikan pada pihak-pihak yang terlibat dalam
layanan ini serta kepada pasien dan keluarganya.
Perencanaan perawatan spiritual yang efektif harus didasarkan
pada penilaian yang telah dilaksanakan. Jadi perencanaan harus
mencerminkan kebutuhan yang dikenali selama fase penilaian, penilaian
harus diverifikasi dengan pasien dan realistik. Sasaran harus disepakati
oleh kedua belah pihak (Koopsen dan Young, 2007: 155). Dari pernyataan
tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam perencanaan program konseling
pastoral perlu adanya penilaian atau analisis kebutuhan terlebih dahulu.
Taylor (Koopsen dan Young, 2007: 155), mengungkapkan bahwa
kesehatan spiritual mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologis, maka ia
harus menjadi prioritas utama saat perencanaan perawatan, khususnya bagi
pasien yang didiagnosis menderita distres spiritual.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
133
Jadi perencanaan layanan konseling pastoral mencakup, antara
lain: analisis kebutuhan klien (pasien), teknik konseling, tujuan, langkahlangkahnya dan kemungkinan-kemungkinan adanya hal-hal yang tidak
dapat dipecahkan.
2. Pelaksanaan Konseling Pastoral RSK Budi Rahayu Blitar
Dari hasil penelitian, pelaksanaan Konseling Pastoral RSK Budi
Rahayu Blitar sudah terlaksana dengan baik. Hal itu sesuai dengan
program yang direncanakan. Meskipun tidak sempurna, namun nampak
adanya usaha bagi setiap pihak yang terlibat dalam melaksanakan layanan
tersebut.
Keterbatasan tenaga ternyata tidak menghalangi terjadinya layanan
konseling pastoral di RSK Budi Rahayu Blitar. Dengan bekal yang ada
yaitu pelatihan pendampingan kepada orang sakit dan bekal pendidikan
keperawatan, tim medis dan tenaga pastoral care berusaha untuk
memberikan layanan spiritual (konseling pastoral) bagi pasien dan
keluarganya. Hal itu terwujud dalam pelaksanaan kunjungan dan
pendampingan pasien sesuai jadwal yang ada; adanya kerjasama antara tim
medis (dokter, perawat) dan pelayan pastoral (Romo, suster, pendeta, dan
ulama); adanya prosedur atau langkah-langkah dan teknik-teknik yang
diterapkan saat melakukan pendampingan pasien; serta etika yang mereka
pegang dalam pemberian layanan ini.
Pelaksanaan konseling pastoral menurut Tulus Tu’u (2007:86-93)
mencakup tiga tahap yaitu: 1) tahap awal ; 2) tahap inti; 3) tahap penutup.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
134
Lebih lanjut Willis (2014: 50-54), mengungkapkan bahwa proses
konseling terlaksana karena hubungan konseling berjalan dengan baik.
Menurut Willis (2014: 50), proses konseling dibagi menjadi tiga tahapan
yaitu: 1) tahap awal konseling, hal ini mencakup: membangun hubungan;
memperjelas
dan
mendefinisikan
masalah;membuat
penaksiran;
menegosiasikan kontrak, 2) tahap pertengahan (tahap kerja), mencakup:
menjelajahi dan mengekplorasi masalah; menjaga hubungan konseling
agar terpelihara; proses konseling berjalan sesuai dengan kontrak, 3) tahap
akhir (tahap tindakan).
Pelayan pastoral sudah melaksanakan proses layanan konseling
pastoral sesuai dengan tahap-tahapnya. Yaitu diawali dengan melihat data
pasien dan mencari informasi kepada tim medis yang bertugas, setelah itu
melakukan kunjungan. Diawal proses pendampingan selalu diawali
dengan membangun hubungan dengan pasien, setelah merasa nyaman
maka dengan sendirinya pasien menceritakan pergulatan maupun masalahmasalah yang dihadapinya, setelah tergali petugas memberikan informasi
dan solusi juga pilihan-pilihan yang membebaskan, memberi dukungan
dan menutup konseling serta membuat kontrak bila dibutuhkan lagi.
Dalam pelaksanaan program tentunya tidak berjalan sempurna,
keterbatasan dan kekurangan baik sumber daya manusia, keuangan,
sarana dan prasarana tentunya turut menentukan kelancaran pelaksanaan
konseling di RSK Budi Rahayu Blitar.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
135
Dari hasil penelitian ditemukan adanya hambatan-hambatan dalam
pelaksanaan layanan konseling pastoral di RSK Budi Rahayu Blitar,
hambatan yang ada meliputi: keterbatasan tenaga yaitu tidak adanya
tenaga khusus (konselor) rumah sakit, pelayan pastoral masih kurang
dalam
pengetahuan dan pengalaman tentang konseling, tidak adanya
ruang konseling, tidak semua perawat tertarik dalam layanan ini,
pengetahuan dan pemahaman pasien/klien yang kurang sehingga
membutuhkan waktu yang lama.
3. Hasil Pelaksanaan Konseling Pastoral RSK Budi Rahayu Blitar
Konseling pastoral yang dilaksanakan dan diberikan kepada pasien
dan keluarga memberi dampak positip dan manfaat bagi para pasien dan
keluarganya, rumah sakit, maupun pihak konselor yang melaksanakannya.
Dari hasil penelitian ditemukan banyak manfaat dari layanan
konseling pastoral bagi pasien dan keluarganya, antara lain: pasien
mengalami penghiburan, perhatian, dukungan/motivasi, didengarkan,
diterima dengan empati. Dari pengalaman-pengalaman positip tersebut
sehingga memberikan pengharapan bagi pasien untuk sembuh dan dapat
menerima situasi sakitnya dengan terbuka, selain itu keluarganya juga
merasakan penghargaan dari pihak rumah sakit.
Pengalaman positip yang dialami oleh pasien dan keluarganya juga
memberikan manfaat bagi RSK Budi Rahayu Blitar yaitu meningkatkan
rasa kepercayaan dan kualitas, serta jumlah pengunjung di RSK Budi
Rahayu Blitar. Demikian bagi seorang konselor pastoral juga merasakan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
136
bahwa pelayanan pastoral yang dijalankan sebagai suatu anugerah dan
panggilan. Pengalaman dalam mendampingi pasien semakin menyadarkan
bahwa mereka hanya sebagai perpanjangan tangan Tuhan, membuat
mereka diperkaya dalam iman, dan membuatnya semakin rendah hati
bahwa karya Roh Kuduslah yang memampukan mereka.
Hal di atas sesuai dengan fungsi-fungsi layanan konseling pastoral
yang diungkapkan Clebsch dan Jaekle (Wiryasaputra:1999), bahwa
konseling
pastoral
menyembuhkan
mempunyai
(healing);
beberapa
menopang
fungsi,
(sustaining);
antara
lain:
membimbing
(guiding); memperbaiki hubungan (reconciling); mendidik/membina
(educating/forming).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini memaparkan kesimpulan dan saran. Kesimpulan berisi tentang
kesimpulan dari penelitian. Hal ini mencakup garis besar hasil yang didapatkan
oleh peneliti. Bagian saran memuat saran, saran ditujukan untuk pihak rumah
sakit (RSK Budi Rahayu, koordinator Pastoral Care/PC, petugas layanan PC
ataupun pihak yang terlibat dalam pelayanan konseling pastoral), dan bagi
Program Pendidikan Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma.
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pelaksanaan layanan Konseling
Pastoral di RSK Budi Rahayu Blitar, maka dapat diperoleh beberapa
kesimpulan:
1. Perencanaan layanan Konseling Pastoral di RSK Budi Rahayu Blitar-Jawa
Timur.
a. Perencanaan layanan Konseling Pastoral di RSK Budi Rahayu Blitar
sudah terlaksana. Perencanaan mengacu pada program pastoral care
secara umum. Hal itu meliputi: kegiatan manusiawi (kunjungan dan
sapaan), pendampingan/konseling, siaran radio, penerimaan sakramen
bagi yang membutuhkan.
b. Perencanaan sesuai tujuan yaitu untuk mendampingi pasien dalam
mengumuli pengalaman hidupnya, sehingga pasien menemukan makna
137
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
138
dalam hidupnya dan semakin mampu mengembangkan potensi yang
ada dalam dirinya.
c. Layanan ini sudah tepat sasaran yaitu bagi semua pasien tanpa
memandang suku dan agama.
d. Selain petugas PC (pastoral care) yang terlibat dalam layanan ini, juga
ada dokter, para perawat, dan suster pemilik rumah sakit yang tergerak
untuk terlibat dalam pelayanan ini.
e. Tersedia sarana dan prasarana, serta media yang bisa menginspirasi
pasien maupun anggota keluarganya.
2. Pelaksanaan Layanan Konseling Pastoral di RSK Budi Rahayu Blitar-Jawa
Timur.
a. Pelaksanaan layanan konseling Pastoral berjalan dengan baik, hal itu
karena sudah direncanakan dan dijadwalkan. Sudah tepat sasaran yaitu
para pasien yang membutuhkan pendampingan/konseling tanpa
membedakan agama.
b. Ada kerjasama dan keterlibatan dari banyak pihak, yaitu: dokter, para
perawat, suster pemilik rumah sakit, dan majelis.
c. Teknik konseling yang diterapkan lebih pada penerimaan, yaitu dalam
bentuk komunikasi teraupetik. Maksudnya adalah komunikasi yang
ditandai adanya rasa empati, menghargai, mendengarkan dengan penuh
perhatian, memberikan dukungan (senyuman, sentuhan, pandangan
yang bersahabat).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
139
d. Pelaksanaan sesuai langkah-langkah konseling, meskipun tidak ada
dalam perencanaan. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai
berikut: 1) tahap awal, yaitu mencari data pasien. Hal itu dilakukan
agar mengetahui penyakit dan kebutuhan pasien. Setelah itu
melakukan kunjungan dan membangun relasi yang baik dengan pasien;
2) tahap kerja, meliputi: mendengarkan apa yang menjadi pergumulan
pasien, mengeksplorasi; 3) tahap akhir/penutup: memberi informasi,
saran dan alternatif-alternatif, serta dukungan, dan kontrak waktu bila
dibutuhkan.
e. Dalam proses pelaksanaan juga mengalami hambatan antara lain:
1) Keterbatasan tenaga
2) Pemahaman dan pengetahuan pasien yang minim, sehingga
membutuhkan waktu karena harus menjelaskan secara detail dan
ulang-ulang.
3) Petugas inti yang melakukan pendampingan memiliki latar
belakang diluar bidang psikologi dan konseling, sehingga ada
kalanya
mengalami
kesulitan
dan
rasa
canggung
dalam
memberikan layanan ini.
4) Jam kunjung keluarga pasien tidak dibatasi, sehingga konseling
terhenti bila ada keluarga yang kunjung.
5) Tidak ada ruang konseling.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
140
3. Hasil Layanan Konseling Pastoral di RSK Budi Rahayu Blitar-Jawa
Timur.
Manfaat layanan konseling pastoral adalah membantu para pasien
mengalami penghiburan, perhatian, dan kasih Allah yang hadir dalam
setiap
pribadi
yang
menyapa,
mendampingi
dan
menghiburnya.
Pendampingan, sentuhan manusiawi dan rohani, menyadarkan pasien
bahwa kesembuhan tidak hanya dari obat. Melainkan kehadiran, dukungan
dan penghiburan serta doa dari sesama juga turut menyembuhkannya.
Selain pasien, keluarga juga merasakan manfaat dari layanan ini yaitu
merasakan adanya penghargaan dan perhatian dari pihak rumah sakit.
Dampak positip juga dialami oleh pihak konselor, yaitu mereka
semakin menyadari bahwa keterlibatannya merupakan anugerah dan
panggilan Tuhan. Selain itu mereka juga mengalami sukacita dan
kesembuhan. Kemudian bagi RSK Budi Rahayu Blitar, juga mendapatkan
kepercayaan, sehingga dari rasa kepercayaan masyarakat mampu
meningkatkan kualitas dan kunjungan pasien di rumah sakit ini.
B. Saran
Demi optimalnya pelaksanaan layanan Konseling Pastoral di RSK Budi
Rahayu Blitar-Jawa Timur, maka peneliti menyarankan beberapa hal sebagai
berikut:
1. Bagi RSK Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur.
Rumah sakit perlu merencanakan penambahan ruangan unit pastoral care
untuk ruang konseling yang aman dan nyaman bagi klien. Selain itu
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
141
konselor rumah sakit sangat dibutuhkan pada masa sekarang terkait kasuskasus yang dialami pasien tidak hanya secara fisik melainkan mental dan
spiritual.
2. Bagi Koordinator Pastoral Care dan Staff
Koordinator PC dan staff perlu menetapkan jadwal evaluasi program PC,
khususnya dalam bidang pelayanan rohani (konseling pastoral) bagi pasien
maupun keluarganya. Jika memungkinkan dalam evaluasi melibatkan
semua yang terlibat dalam pemberian layanan Konseling Pastoral.
3. Petugas Layanan PC ataupun pihak yang terlibat dalam pelayanan
konseling pastoral.
Para pelayan pastoral, sebaiknya memiliki latar belakang pendidikan di
bidang Psikologi ataupun mereka yang memiliki pengetahuan dan
mendapat pelatihan dalam bidang konseling pastoral.
4. Bagi Program Pendidikan Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata
Dharma.
Layanan konseling pastoral di rumah sakit sangat penting dan dibutuhkan,
demi pemahaman mahasiswa dalam bidang ini sebaiknya Program
Pendidikan Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma
menambahkan jam ataupun materi-materi yang terkait dengan bidang
tersebut.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
142
C. Keterbatasan Penelitian
Peneliti menyadari bahwa hasil karya ilmiah ini masih banyak
keterbatasan. Keterbatasan itu disadari oleh peneliti bahwa diawal penelitian
penulis kurang mempersiapkan diri. Ada beberapa hal yang belum secara
penuh dikuasai oleh peneliti. Bagi peneliti, konseling pastoral adalah sesuatu
yang masih baru, terlebih di bidang kesehatan khususnya di rumah sakit.
Konsep tentang konseling di bidang pendidikan masih terlalu kuat terbawa
oleh peneliti, sehingga sempat menimbulkan keraguan. Peneliti larut dalam
layanan konseling pastoral, sehingga hasil wawancara diawal penelitian
menjadi bias. Akibatnya peneliti harus menambah waktu penelitian untuk
menghasilkan data yang akurat.
Ada beberapa hal yang kurang bisa tergali datanya, karena waktu
penelitian yang terbatas. Selain itu juga ada beberapa responden/pasien yang
kurang
terbuka.
Peneliti
masih
perlu
meningkatkan
wawasan
dan
pemahamannya di bidang konseling pastoral di rumah sakit, psikologi orang
sakit dan pendekatan konseling yang tepat bagi pasien, serta evaluasi program
konseling pastoral.
Adanya keterbatasan-keterbatasan itu menyadarkan peneliti bahwa dalam
penelitian kualitatif perlu persiapan yang matang dan penguasaan tentang apa
yang akan diteliti, serta siap terhadap adanya perubahan-perubahan yang
terjadi. Atas keterbatasan-keterbatasan tersebut peneliti mohon maaf.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR PUSTAKA
Abineno J.L.CH, 1994. Pelayanan Pastoral Kepada Orang-Orang Sakit.
Jakarta:BPK
Gunung Mulia.
_____________, 2006. Pedoman
Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Praktis
untuk
Pelayanan
Pastoral.
_____________, 2014. Pelayanan Pastoral Kepada Orang Sakit. Jakarta: BPK
Gunung Mulia.
Arikunto Suharsimi, 2015. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi
Aksara.
Arikunto Suharsimi & Abdul Jabar CS, 2008. Evaluasi Program Pendidikan.
Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Badrujaman Aip, 2011. Teori dan Aplikasi Evaluasi Program Bimbingan
Konseling. Jakarta: PT Indeks.
Beek Aart Van, 1987. Konseling Pastoral Sebuah Buku Pegangan Bagi Para
Penolong Di Indonesia. Semarang: Satya Wacana.
Collins Garry R, 1989. Konseling Kristen yang Efektif. Malang: Seminari Alkitab
Asia Tenggara.
Departemen Pendidikan Nasional, 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat
Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Gula Richard M, 2009. Etika Pastoral. Yogyakarta: Kanisius.
Hidayanti Ema, (Januari-Juni 2012). Pelayanan Bimbingan Konseling Bagi
Pasien Rawat Inap. Diambil pada tanggal 18 November 2014, dari
http://journal.walisongo.ac.id/index.php/dakwah/article/view/126/125.
Haarsma F, 1991. Pastorat Dalam Dunia. Yogyakarta: Puspas.
Moleong L.J, 2007. Dasar Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Puspas.
__________, 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
O’Brien Mary Elizabeth, 2009. Pedoman Perawat untuk Pelayanan Spiritual:
Berdiri di Atas Tanah yang Kudus. Medan: Bina Media Perintis.
Suprana Oo, (2009). Analisis pengaruh pelayanan rohani terhadap kepuasan
pasien rawat inap di rumah sakit panti wilasa “dr. cipto”, semarang tahun
2009 (tesis magister, universitas diponegoro semarang 2009). Diambil pada
tanggal 24 September 2014,
dari
http://core.ac.uk/download/files/379/11718245.pdf.
143
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
144
Purwanto M. Ngalim, 2014. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya Offset.
Sugiyono, 2013.Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Suhardi Alfons S, 1987. Pedoman Etis Dan Pastoral Rumah Sakit Katolik.
Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.
Susabda Yakub B, 1983. Pastoral Konseling Buku Pegangan untuk Pemimpin
Gereja dan Konselor Kristen.Pendekatan Konseling di Dasarkan pada
Integrasi antara Psikologi dan Teologi. Malang: Gandum Mas.
Tulus Tu,u. 2007. Dasar-dasar Konseling Pastoral: Panduan bagi Pelayanan
Konseling Gereja, Yogyakarta: ANDI Offset.
Widjojo Subroto dkk, 2005. Konseling Pastoral Katolik. Pusat Pelayanan
Konseling dan Konsultasi Psikologi “SHEKINAH”.
Wijayatsih Hendri, (April/Oktober 2011). Pendampingan dan Konseling Pastoral.
Gema Teologi, 35, 0853-4500.
Wilis Sofyan S, 2014. Konseling Individual, Teori dan Praktek. Bandung:
Alfabeta.
Wiryasaputra Totok S, 1999. Konseling Pastoral Sarana pelayanan Karya
Kesehatan. Yogyakarta: Puspas.
Young Caroline & Koopsen Cyndie, 2007. Spiritual, Kesehatan, dan
Penyembuhan. Medan: Bina Media Perintis.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
L
A
M
P
I
R
A
N
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DATA HASIL WAWANCARA RESPONDEN (Suster, Pastor, Dokter, Perawat, Petugas PC, Majelis)
ASPEK
Sasaran
(PSs)
KODING
REDUKSI
PC 1. Ya semua pasien (px) dan keluarganya suster, tapi 1. Semua pasien (px) dan
biasanya saya berani sedikit-sedikit yang katolik (PSs.D1)
2. Menurut saya yang menjadi sasaran utama ya semua
penderita suster, tanpa memandang agama (PSs.D2)
PELAKSANAAN
(PSs.D3)
4. umat kristiani pada umumnya dan beberapa umat lain yang
1. Semua pasien (px) /
keluarganya, khususnya yang
penderita dan
beragama katolik (PSs.D1;
keluarganya (PSs. D1,
Rm; PSs.PC)
Pc, D2, P1, Rm).
3. Menurut saya ya seluruh pasien rawat inap di rumah sakit 2. Semua penderita, tanpa
ini sus, tanpa memandang agama
HASIL/KESIMPULAN
memandang agama (PSs.D2).
3. Seluruh pasien rawat inap di
2. Tanpa memandang
agama (PSs.D2).
3. Seluruh pasien rawat
rumah sakit, tanpa
inap (PSs.D3)
minta untuk didoakan dan memiliki dasar iman yang sama/
memandang agama
4. Pasien-pasien yang
orang lain yang sudah terbiasa dengan iman katolik
( PSs.P1; PSs.D3, IC)
(PSs.Rm)
5. Selama ini yang saya lihat itu, semua pasien terutama ini
4. Pasien dengan kasus/penyakit
yang istimewa, komplikasi;
dalam proses persalinan
atau setelah operasi
5. pasien dengan
ter, pasien-pasien yang dalam proses persalinan atau
yang mengalami
kasus/penyakit yang
setelah operasi. Misalnya pasien yang post SC hari I,
psikosomatis; Stroke (CVA),
istimewa, Stroke (CVA),
operasi Caesar.biasanya kadang kan merasa cemas, itu
Hipertensi pasien post
Hipertensi komplikasi;
biasanya (PSs.P1)
operasi; dan pasien yang
yang mengalami psiko-
tidak dijaga keluarganya
somatis (kecemasan
(PSs.P1; PSs.P2; P2.1; P3;
tinggi); dan juga pasien
6. Yaitu ter, biasanya pasien dengan kasus/penyakit yang
istimewa; dengan sakit yang sudah komplikasi; yang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
mengalami psikosomatis; pasien post operasi; dan juga
pasien yang tidak dijaga keluarganya (PSs.P2)
7. Biasanya ini ter, pasien dengan kasus istimewa, pasien
kritis dan pasien yang mengalami gangguan mental
(psikosa) (PSs.P2.1).
8. Suster setahu saya, biasanya yang dikunjungi adalah
P4, IC)
5. pasien-pasien dengan kondisi
penyakit yang berat seperti
yang tidak dijaga
keluarganya (PSs.P2),
(2.1), (PSs.P4).
(PSs.P3)
6. pasien yang membutuhkan
pendampingan khusus(IC)
6. pasien yang
pasien-pasien dengan kondisi penyakit yang berat seperti
membutuhkan
Stroke (CVA), Hipertensi, tapi juga ke pasien-pasien yang
pendampingan khusus.
dengan kondisi yang mulai membaik, menurut saya semua
Jadi sasaran layanan
ter dikunjungi walau hanya disapa (PSs.P3)
konseling
9. Biasanya pasien dengan kasus atau penyakit yang
pastoral
adalah: semua pasien
istimewa, misalnya: penyakit-penyakit yang komplikasi,
rawat inap
penyakit dengan kasus operasi/kasus bedah, pasien yang
luarganya
tanpa
me-
mengalami masalah psikologis (PSs.P4).
mandang agama.
Ter-
10. rata-rata hampir semua kasus di ICU ter, dan bila kondisi
dan ke-
utama untuk pasien yang
pasien tidak sadar, biasanya didoakan saja. Contoh kasus
mem-butuhkan
px yang dikunjungi adalah: pasien-pasien di ICU dengan
pendampingan
kasus jantung, px anak-anak yang rata-rata dengan kasus
dan
(PSs.IC)
istimewa (sakit berat).
11. ya selama ini ya pasien yang membutuhkan pendampingan
khusus, pasien yang mengalami kecemasan yang tinggi
pasien
khusus
yang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
akan penyakit yang dideritanya yang akan menghambat
aktifitasnya. Misalnya: pasien penderita kanker dan stroke
(PSs.IC).
12. biasanya pasien yang khusus sus, misalnya: Kanker,
Hipertensi, Ibu melahirkan ( setelah lahir bayi meninggal
dunia ), bunuh diri; selain itu juga keluarga pasien, nah..
Apabila pasien tidak bisa diajak komunikasi, maka kita
menemui keluarganya karena keluarga kan lebih dekat
dengan pasien ter (PSs.PC)
Jadwal
1. wahhh…tidak
pasti
sih
ter,
tergantung
kasusnya.
1. Tidak
pasti,
tergantung 1. setiap
hari
(PW.IC,
Waktu/ lama
Seandainya ringan biasanya 15 menit, tapi kalau situasi
kasusnya, ringan biasanya 15
(PW)
kritis memang butuh waktu panjang . Selama ini waktunya
menit, tapi kalau situasi kritis 2. jamnya tidak pasti
tidak tentu suster, tergantung situasi dan kondisi pasien.
memang
Tetapi setiap hari sering terjadi konseling (PW.IC)
panjang, dilakukan setiap hari
2. baru awal kita temukan diagnose penyakitnya butuh waktu
butuh
PW.D1, PW.SS, PW.PC)
waktu 3. saat visitebed sekitar 15-
(PW.IC)
20 menit
5. 10.00-12.15 (PW.SS)
lama sekitar 15-20 menit, karena masih menerangkan 2. saat visitebed sekitar 15-20 4. setiap hari mulai pukul
penyakitnya,
bagaimana
pengobatannya,
tapi
hari
berikutnya cukup lima menit kalau tidak ada pertanyaan,
menit, hari berikutnya cukup
08.30-09.30 dilanjutkan
lima menit (PW.D1)
pukul 10.30-12.15 WIB
kita hanya menerangkan hasil dan perkembangannya, 3. Jam
karena di Indonesia ya..memang sakgitu (PW.D1)
kunjung
(PW.SS)
10.00-12.15
(PW.PC)
Pelayanan konseling pas-
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
3. Jam kunjung 10.00-12.15, ya..karena diruangan ketika 4. setiap hari mulai
pukul
toral
dilakukan
setiap
pagi masih sibuk dengan keperawatan, obat, rawat luka,
08.30-09.30 dilanjutkan pukul
hari,
waktunya
tidak
dll. Karena memang disini jam besuk 24 jam, makanya kita
10.30-12.15 WIB (PW.PC)
tentu.
Hal
itu
men-
harus mengusahakan sendiri, kalau banyak tamu ya
yesuaikan
ditinggal dulu (PW.SS)
(dokter,
perawat,
pendeta,
romo). Tetapi
4. utk pendampingan dilakukan setiap hari ter, mulai pukul
konselornya
08.30-09.30 dilanjutkan pukul 10.30-12.15 WIB. Karena
untuk unit PC melakukan
jam itu pasien sudah selesai mendapat perawatan dan jam
setiap
09.30 kembali kePC karena saat jam itu banyak
09.30/10.00
pengunjung yang datang menjengguk pasien biasanya
dilanjutkan pukul 10.30-
tidak bisa ditargetkan sus, tergantung situasi pasiennya.
12.15
Biasanya per paviliun bergantian setiap hari. Jika perlu
sedangkan suster 10.00-
biasanya setelah jam kunjung, saya lanjutkan (PW.PC)
12.15
(PW.SS).
Ada
tindak
lanjut
bila
hari
WIB
08.30WIB
(PW.PC),
dibutuhkan.
AUDIO
Audio diaktifkan dari jam 07.00-13.00 suster, jam13.00 Audio diaktifkan dari jam 07.00- Ada renungan pagi, doa, dan
berhenti, karena jam istirahat selain itu jam13.00 saya
bertugas di perpustakaan rumah sakit dan bila saya ada di
PC karena tidak ada komputer diruangan itu sehingga
untuk pencatatan saya kerjakan di PC. Hal itu juga
13.00 suster
instrument mulai pukul
07.00-13.00
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
memudahkan jika ada yang membutuhkan layanan PC
(PC)
Jumlah
1. Itu juga tergantung kasusnya ter, biasanya pasien dan
1. tergantung kasusnya (PJP Jumlah pertemuan
pertemuan
keluarganya kalau sudah tenang ya sudah cukup, dan bila
(PJP) dan
mereka konsultasi lagi ya kita layani. Tapi biasanya cuma
2. sekali (PJP. IC, SS, Rm)
dinyata
sekali (IC)
3. mereka
kan Selesai
(PS)
2. biasanya terjadi hanya satu kali, tidak pernah ada kasus
yang terlalu serius (PJP.Rm)
.IC, PC )
sudah
alternative,
mereka
3. Biasanya ketika mereka sudah mencari alternative-
pendampingan/konseling
hanya satu kali (PJP. IC, SS,
mencari Rm), ada tindak lanjut bila
saya
sudah
rasa ada kasus tertentu/pasien
bisa membutuhkan kehadiran
mandiri; sudah merasa konselor lagi.
alternatif dan sudah cocok dengan dirinya. Saya rasa
senang, mau apa sudah Dinyatakan cukup dan
mereka sudah bisa mandiri, saya
direncanakan (PS.PC)
menghindari adanya
ketergantungan, menghibur-hibur, memang aranya tidak
kesana, dan saya rasa ia sudah bisa (SS).
selesai bila:
1. tidak ada kasus yang
terlalu serius
4. Mungkin sekali dilihat, ternyata dia sudah merasa senang,
2. pasien sudah mengalami
mau apa sudah direncanakan, biasanya ya sudah jalan
perubahan dan mencari
sendiri. (SS)
alternatif-alternatif yang
5. tergantung
sus,
biasanya
sekali.
Biasanya
saya
menawarkan apakah saya perlu datang atau tidak? Jika ya
saya akan hadir lagi. (PC)
cocok dengannya.
3. pasien dipercaya bahwa
bisa mandiri.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Kerja
(PKs)
sama 1. Suster, saya merasa sebagai dokter, belum menjalin 1. belum menjalin kerjasama
Ada kerjasama dan relasi
kerjasama dengan unit PC, dalam penanganan pasien- 2. bekerja sama dengan baik yang baik antara tenaga PC
pasien di ruang rawat inap (PKs.D1)
(PKs.P1,
2. Ya, selama ini kami bekerja sama dengan baik sus
(PKs.P1)
PKs.P2,
PKs.P4, PKs.S)
PKs.IC, dengan tim medis (dokter
dan perawat), karena
3. kerjasama selama ini sebatas layanan ini diterima sebagai
3. Ya suster selama ini ada kerjasama sus (PKs.P2)
pemberitahuan,
kerjasama selama ini sebatas pemberitahuan, pemberian
pemberian
layanan sakramental (2.1).
sakramental (Rm).
4. Ya ter relasinya cukup baik, petugas PC sering
dan bagian yang saling
layanan berkesinambungan dan
tidak bisa terpisah-pisah (Pks
P1, P2, P3, P4, IC, S). hal
menanyakan tentang jumlah pasien dan agamanya,dan
yang berbeda diungkapkan
perawat sering menghubungi petugas PC saat ada
seorang responden yang
permintaan sakramen perminyakan dari keluarga pasien
menyatakan belum menjalin
(PKs.P3)
kerjasama. (PKs.D1).
5. ada ter (PKs.P4)
6. Iya ter, terjalin kerjasama yang baik antara para perawat
dan petugas PC oleh karena kesinambungan yang tidak
bisa terpisah-pisah. Misalnya: dari unit perawatan memberi
motivasi dan tawaran untuk perminyakan pada pasien,
kemudian perawat menyampaikan kepada petugas PC dan
petugas
PC
menghubungi
romo
dan
melakukan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
pendampingan pada saat perminyakan; bila ada px yang
membutuhkan
konseling,
dari
perawatan
juga
menghubungi ke PC dan selalu direspon dengan baik
(PKs.IC).
7. sejauh yang saya tahu ada kerjasama dan relasi yang baik
antara petugas PC dengan para perawat (PKs.S).
Langkahlangkah
(PLL)
1. Proses konseling selama ini banyak dilakukan sambil 1. keluarga dipanggil ke ruang Fase/tahap proses konseling:
PC
dokter melakukan visite (bedsite counseling). Tetapi untuk
perawat;
kasus-kasus penyakit yang tidak bisa sembuh. Prosesnya:
diupayakan agar mendapatkan
hubungan pribadi dengan
keluarga dipanggil ke ruang perawat untuk mendapat
informasi-informasi
konseli (berkunjung,
penjelasan detail, sedangkan untuk pasiennya sendiri
tidak menambah stress
diupayakan agar mendapatkan informasi-informasi yang 2. Saya
tidak menambah stress pada yang bersangkutan (PLL.D1)
2. Biasanya mbak Ac…melihat status untuk mengetahui
pasiennya
berusaha
sendiri 1. Pembukaan: membangun
yang
menyapa, perkenalan,
mengenal
dan pertanyaan basa-
mereka, Awalnya kita perlu
basi, serta menemani)
mengenal
“Saya berusaha
latar
belakang
identitas dan kasus pasien-pasien yang akan dikunjungi,
pasien, pekerjaannya, “pak,
mengenal mereka,
setelah itu baru berkunjung (PLL.P1)
bu…nopo
dirasake?”,
Awalnya kita perlu
bagaimana?
mengenal latar belakang
3. Sebelum kunjungan biasanya meminta ijin kepada kepala
ruangan atau penanggung jawab saat itu suster; kemudian
sing
kebiasaannya
(PLL.D1)
menanyakan pada petugas tentang pasien dan keluarga.
3. meminta ijin kepada kepala
Kira-kira pasien mana saja yang perlu dilakukan
ruangan (PPL.P2, PPL.P2.1,
pasien, pekerjaannya,
“pak, bu…nopo sing
dirasake?”, kebiasaannya
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
kunjungan PC atau ada kasus istimewa (PPL.P2)
bagaimana?” (PLL.D1)
PLL.P4)
4. Minta ijin petugas yang bertugas waktu itu (KP);
4. menanyakan
pada
petugas 2. Penjelasan: menerima
Menanyakan kepada petugas, px mana saja yang perlu
tentang keadaan pasien dan
ungkapan konseli apa
dikunjungi; Langsung mengadakan konseling; Melakukan
keluarga, mana saja yang
adanya, serta
pendokumentasian data pasien yang dikunjungi; Petugas
perlu dilakukan kunjungan PC
mendengarkan
yang bertugas saat itu menandatangani buku kegiatan PC
atau
dengan penuh perhatian.
(PPL.P2.1)
(PLL.P2, PLL.P2.1, PPL.S)
ada
kasus
5. sebelum ke pasien biasanya petugas PC melihat status 5. melihat
pasien,
melihat
tentang
catatan
keadaan
pasien
kasus
tentang keadaan pasien (PPL.P3)
akan
6. petugas PC meminta ijin dulu ke penanggungjawab
ruangan untuk melakukan kunjungan pasien (PPL.P4)
7. petugas PC menanyakan identitas px termasuk agamanya
dan kondisinya secara garis besar; (PPL.IC)
8. sejauh saya tahu “ya”, karena sebelum pelayanan pastoral
status
mengetahui
sebelumnya, dan kadang menanyakan ke petugas ruangan
pasien-pasien
dikunjungi
dan
dan pendekatan
yang
konseling yang
sebaiknya diambil. Ini
melihat
tentang
belum terlalu Nampak,
keadaan
pasien
sebelumnya (PPL.P3).
6. berkunjung,
langsung
ke
saran.
“memahami situasi
ruangan (PPL.P1)
konseling
(PPL.P2.1)
pendokumentasian
biasanya langsung
pemberian informasi dan
orang sakit, biasanya
dengan me-nyapa,
kantor perawatan unit tersebut bertanya kepada perawat 8. Melakukan
ruangan mengenai pasien yang dirawat saat itu, penyakit
jenis masalah masalah
(PLL.p2,
PLL.IC),
catatan
Berusaha menentukan
untuk
identitas
care melakukan kunjungan terlebih dahulu datang dan 7. mengadakan
bertanya tentang pasien-pasien yang dirawat di RS di
istimewa
memberi peluang kepada
data
pasien untuk
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
yang diderita pasien (PPL.S)
9. biasanya saya kunjungan pasien dan keluarga pasien sus,
pasien yang dikunjungi; PC
menceritakan
(PPL.P2.1)
permasalah-annya;
nah untuk langkah-langkahnya itu biasanya seperti ini sus, 9. melihat
status
pasien
setelah itu kita
saya datang langsung ke ruangan, setelah itu melihat status
(agamanya, sakitnya, dokter,
mendengarkannya
pasien (agamanya apa?, sakitnya, dokter, asalnya), ya
asalnya)
dengan penuh kesabaran
sudah kalau selesai kunjungan biasanya keruangan lagi 10. melakukan pendekatan 1)
dan kesempatan yang
untuk
menyapa,& menemani;2)
lebih bertemu dengan
pendekatan dengan berkunjung, menyapa, dan menemani;
memberikan pendampingan
pasien” (S).
2) memberikan pendampingan untuk menggali sejauh
untuk menggali sejauh mana
3. Penggalian latar
mana apa yang dialami pasien pada saat itu; 3) menanggapi
apa yang dialami pasien pada
belakang masalah:
ungkapan pasien; 4) memberikan saran) (PLL.Pc)
saat itu; 3) menanggapi
mengadakan analisis
ungkapan pasien; 4) mem-
kasus, sesuai dengan
berikan saran (PLL.Pc)
pendekatan konseling
melakukan
pencatatan;
(pertama
melakukan
10. memahami situasi orang sakit, setelah itu; Memancing
dengan
pertanyaan-pertanyaan
yang
sederhana
(bagaimana...., lalu....oya...). Pasti suster sudah mengerti 11. memahami situasi orang sakit
yang dipilih.
itu (sambil tertawa), peneliti iya Romo tetapi teori dengan 12. Memancing
“Menanyakan: sakit yang
dengan
per-
praktek kan kadang berbeda; menguatkan mereka, orang
tanyaan-pertanyaan
yang
dirasakan,cari tahu apa
sakit tidak bisa disamakan dengan orang pada umumnya
sederhana (bagaimana..,lalu....
yang menjadi ganjalan
(PLL.Rm)
o..ya...)
(masalah) yang dialami.
11. Saya mencari data pasien: phisik, agama,
data dari 13. Menguatkan mereka
perawat. Dengan gambaran yang didapat, kemudian 14. mencari
data
Dari situ saya bisa
pasien;
menangkap dimana ada
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
mengunjungi pasien dan keluarga bila ada yang jaga;
mengunjungi
Menanyakan: sakit yang dirasakan,cari tahu apa yang
keluarga;
menjadi ganjalan (masalah) yang dialami.
Menangkap
12. Menangkap: dimana masalah yang didengar dan klarifikasi
dengan pasien dan keluarga.
dan
bertanya;
(mendengarkan
dan klarifikasi); pemberian
saran
13. Menyarankan beberapa alternatif yang sesuai dengan
pasien
dan
alternatif
sesuai; kontrak waktu; pamit
15. saya mencari datanya dulu,
kondisi bagaimana, hasil
pemeriksaan lab bagaimana, mencari informasi ke perawat
kira-kira pasien butuh bantuan apa?, jadi saya datang tidak
kosong-kosong. Saya datang kepx sudah tahu dan punya
gambaran, kira-kira saya bisa memberi apa pada mereka.
Awalnya saya memperkenalkan diri, kemudian tanya
gejala yang dirasakan, dan memang segala penyakit itu
memiliki gejala yang berbeda karena secara ilmu saya tahu
dan mengingat itu. Kemudian baru secara ekonomi, saya
jelaskan
untuk
pengobatan
selanjutnya,
biaya
dan
dari
kasus
atau
diagnose & masalah-masalah
yang
lagi (PLL.SS).
pasien dan keluarga”
(SS)
menyalurkan arus
pemikiran konseli.
15. dilihat
14. Selesai dan pamit. Bila perlu kontrak waktu untuk ketemu
dan klarifikasi dengan
yang 4. Penyelesaian masalah:
kondisi pasien dan pasien membuat pilihan untuk
dijalankan.
masalah yang didengar
sedang
dipikirkan;
konseling;, 1) kita memberi
gambaran
kepada
secara
pasien,
memberi
psikis
medis
2)
dukungan
(senyum,
kita
secara
sapaan,
pujian/komunikasi
teraupetik),
motivasi
supaya
mau
pasien
makan,
saran
berdoa,
mengajak mereka utk
berpikir, juga memberi
alternative-alternatif,
disamping itu juga tak
terlepas dari campur
tangan Tuhan, sambil
mengajak mereka untuk
tetap berdoa. Jika
memberi
kepada
memberikan
banyak
3)
“maka saat itu saya
4)
supaya
membaca
mungkin saya ajak
berdoa, menganjurkan
doa Rosario jika
mungkin bagi keluarga
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
kondisinya bagaimana, pasti secara kejiwaan, mereka ada
kitab suci, dan novena bagi
rasa sedih, cemas, maka saat itu saya mengajak mereka
umat katolik (P1).
yang menjaganya.” (SS)
5. Penutup : mengakhiri
utk berpikir, juga memberi alternative-alternatif, disamping 16. 1) meminta ijin pada pasien
hubungan pribadi dengan
itu juga tak terlepas dari campur tangan Tuhan, sambil
atau keluarga, menjelaskan
konseli “memberi
mengajak mereka untuk tetap berdoa. Jika mungkin saya
maksud dan tujuan yang akan
motivasi kepada pasien
ajak berdoa, menganjurkan doa Rosario jika mungkin bagi
dilakukan; 2) setuju dilakukan
supaya mau makan
keluarga yang menjaganya. Saya sampai follow up untuk
pendampingan & bimbingan;
Selesai dan pamit.
hari selanjutnya mereka biasanya lebih baik (PLL.SS)
3) bila tidak setuju kita
Mengajak berdoa jika
menerima
lapang
mungkin. Bila perlu
mengecek latar belakang dari data yang saya pelajari
dada; 4) saat akan melakukan
kontrak waktu untuk
sebelumnya,
kegiatan pendampingan dan
ketemu lagi (PLL.SS)”;
perawatan dan arahnya kemana, sehingga mereka semakin
bimbingan,
melihat
menguatkan mereka,
paham dan senang. Dan itu memang yang diharapkan oleh
medical
dan
orang sakit tidak bisa
mereka, karena kadang mereka kosong dan tidak mengerti
menanyakan agama apa yang
disamakan dengan orang
apa-apa, kalau dari penjelasan, saya menanyakan gejala-
dianut pasien (agar sesuai)
pada umumnya”
gejalanya,
(P2).
(PLL.Rm)
16. ya hari pertama nampak kecemasan….kemudian baru
mengiyakan,
saya
maka
menyapaikan
mereka
mereka
kelengkapan
lansung
senang
menerima
dan
data,
dan
dengan
PC
raport
memperoleh 17. melakukan
pendekatan
pemahaman, supaya nanti ditolong diberi obat, sehhg
emosional, jika pasien kritis
paham dan mengerti. Mereka justru mengharapkan
melihat
penjelasan-penjelasan seperti itu. (PTK.SS)/LL
Memberikan
situasi
pasien;
pengertian
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
17. dilihat dari kasus atau diagnose yang sedang dihadapi
kepada
keluarga
tentang
pasien terlebih dahulu, kemudian masalah-masalah yang
kondisi pasien; Menganjurkan
sedang dipikirkan lalu konseling; ada suster, begini
pasien agar berdoa sesuai
biasanya yang saya lakukan, 1) kita memberi gambaran
agama
secara medis kepada pasien, 2) kita memberi dukungan
pasien;
secara
keluarga bahwa dokter dan
psikis
(senyum,
sapaan,
pujian/komunikasi
dan
kepercayaan
Menenangkan
teraupetik), 3) memberi motivasi kepada pasien supaya
petugas
mau makan, 4) memberikan saran supaya banyak berdoa,
berusaha sekuat tenaga.
membaca kitab suci, dan novena bagi umat katolik (P1).
18. langkah-langkahnya: 1) meminta ijin pada pasien atau
mendekati
untuk
dilakukan;
tentang
bila
setuju
langsung
dilakukan
sudah
18. komunikasi dengan pasien;
keluarga, menjelaskan maksud dan tujuan yang akan
2)
kesehatan
keluarga
menggali
pasien
informasi
keadaan
pasien
pendampingan & bimbingan; 3) bila tidak setuju kita
sehari-hari;
menerima dengan lapang dada; 4) saat akan melakukan
menanyakan ke pasien-pasien
kegiatan pendampingan dan bimbingan, PC melihat
juga
medical raport dan menanyakan agama apa yang dianut
yang
pasien (agar sesuai) (P2).
pasien
19. P2.1:
kritis melihat situasi pasien.
dan
kebiasaan–kebiasaan
menyenangkan
19. menyapa
 melakukan pendekatan emosional, jika pasien
mengulas
px/keluarga
bagi
px
sambil memberikan sentuhan;
Melakukan pendekatan agar
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
 Memberikan pengertian kepada keluarga tentang
kondisi pasien.
px merasa nyaman dengan
bahasa
 Menganjurkan pasien agar berdoa sesuai agama
dan kepercayaan pasien.
yang
mendikte
halus,bukan
tetapi
memberi
dukungan.
 Menenangkan keluarga bahwa dokter dan petugas 20. sudah terkaji kemudian kita
kesehatan sudah berusaha sekuat tenaga.
memberikan arahan, support
20. Biasanya kami melakukan komunikasi dengan pasien. Dari
ke pasien (px)/keluarga dan
jawaban dan respon pasien kami bisa menangkap masalah
bila perlu kami menanyakan
pasien, bila tidak ada respon yang baik dari pasien saya
ke px/keluarga apakah perlu
mendekati keluarga pasien untuk menggali informasi
mendatangkan
tentang keadaan pasien sehari-hari. Dari situ saya bisa
kyai/romo
mendekati
bersama/sakramen (PLL.IC).
pasien
dengan
sedikit
mengulas
dan
pendeta/pak
untuk
menanyakan ke pasien-pasien juga kebiasaan–kebiasaan 21. memberi
peluang
doa
kepada
yang menyenangkan bagi pasien, sehingga pasien bisa
pasien untuk menceritakan
merespon, dan mungkin sedikit lebih terbuka denga
permasalahnnya;
masalahnya dan mau berceritera pada saya (P3).
mendengarkannya
21. ICU: langkah-langkahnya: (teknik komunikasi)
 Kami menyapa px/keluarga px sambil memberikan
penuh
kesabaran
kesempatan
sentuhan (jabat tangan sambil mengenalkan diri).
bertemu
 Menanyakan bagaimana yang dirasakan pada saat ini.
(PLL.S)
yang
dengan
dengan
dan
lebih
pasien
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
 Melakukan pendekatan agar px merasa nyaman dengna
bahasa yang halus,bukan mendikte tetapi memberi
dukungan.
 Dengan demikian biasanya px/keluarga akan lebih
terbuka
dan
kemudian
bercerita/menyampaikan
beberapa hal.
 Bila sudah terkaji kemudian kita memberikan arahan,
support
ke
px/keluarga
menanyakan
ke
dan
px/keluarga
bila
perlu
apakah
kami
perlu
mendatangkan pendeta/pak kyai/romo untuk doa
bersama/sakramen.
 Bila
memang
memerlukan
kami
kemudian
menghubungi petugas PC dan kami menyiapkan segala
keperluannya.
22. Biasanya dengan menyapa, memberi peluang kepada
pasien
untuk
mendengarkannya
menceritakan
dengan
penuh
permasalahnnya;
kesabaran
dan
kesempatan yang lebih bertemu dengan pasien (S).
23. Tahap; perkenalan, kemudian menayakan keadaannya (apa
yg dikeluhkan, menopo pak,bu ingkang diraosaken)-
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
kemudian setelah mereka cerita (karena biasanya mereka
langsung bercerita sus), setelah itu biasanya saya
mengajaknya untuk mempercayai Tuhan bahwa tidak ada
yang mustahil. Bila mereka mengalami kepahitan terhadap
saudaranya, biasanya saya beri ayat KS Yes 59: 1-2,
terhadap oranglain 1YOh 1:9; dan saya mengajak mereka
untuk
terbuka
terhadap
kesalahan-kesalahannya.
Mendengarkan berdoa, memberikan peneguhan bahwa
Tuhan mengasihi, asal kita percaya Tuhan tidak pernah
membuang kita.
Tehnik
1. khususnya yang katolik ya, jadi memang baik sakit ringan,
1. Pertama pasrah, saya sering 1
Penerimaan (kita sabar
Komunikasi
berat, sedang penting untuk membangkitkan mentalnya.
minta doa “pak, bu bantu doa
menunggu, tidak
PC (PTK)
Pertama pasrah, saya sering minta doa “pak, bu bantu doa
ya”,
memaksa, pelan-pelan
ya”, saya hanya sebagai perantara saja, yang membantu
perantara
tetap yang di atas. Itu suster yang secara umum yang bisa
membantu tetap yang di atas
saya
hanya
sebagai
saja,
yang
(2x) menyadarkan px
untuk terbuka (D1); kita
saya berikan. Bahwa proses pengobatan tidak hanya proses 2. bu, pak…nggih bantu doa ya
tidak bisa memaksa, lho
medis, karena Gusi Allah juga turut bekerja. Karena ada
kok ceritanya kesana
biar cepat sembuh
pengalaman suster, ketika saya jadi dokter muda, ketika 3. Ketika kita ragu-ragu
kemari, kita berusaha
pasien kita sembuh saya merasa wah hebat. Hal itu
biasanya kita Tanya kepada
megikuti alurnya.
berbalik, suatu ketika saya mempunyai pasien yang rawat
keluarga yang menjaga
(PTK.SS)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
jalan, hari-hari waktu ringan datang pada saya, suatu ketika 4. kita sabar menunggu, tidak
2
Klarifikasi pikiran
dia datang dalam keadaan yang berat (jantung), pikiran
memaksa, pelan-pelan (2x)
“Tanya ada rencana apa?
saya bahwa orang ini tidak ada harapan mungkin tinggal
menyadarkan px untuk
Kenapa demikian?” (SS)
menunggu beberapa hari saja, eh..ternyata sembuh dan
terbuka
pulang dalam keadaan sehat, satu bulan kemudian dia 5.
menjelaskan (PTK.D1)
3
Pemberian saran
(PTK.IC; D1)
datang kondisi lebih baik dari kondisi awal dia datang, 6. kita menganjurkan untuk ikut
4
Ajakan melanjutkan
mungkin sudah rasa tidak enak ternyata dia meninggal di
BPJS. Kita memberi solusi
rumah sakit. Yang datang dalam kondisi ga sehat ternyata
dengan menjelaskan cara-
pulang dalam keadaan sehat, eh ternyata sebaliknya. Orang
caranya dan bagaimana
(cara dan bagaimana
yang saya pikir “sehat”, ternyata meninggal. sejak saat itu
prosedurnya (PTK.D1)
prosedurnya misalnya
saya sadar bahwa dokter itu ga ada apa-apanya.; secara 18. tergantung
(bagaimana...., lalu.......)
5
masing-masing
Pemberian informasi
tentang BPJS?)
umum ya…itu tadi, bu, pak…nggih bantu doa ya biar cepat
pribadi,
sembuh ; Ada suster yang kadang kita tidak bisa terang-
dijadikan pedoman. Karena 6
tergantung masing-
terangan menyampaikan penyakitnya misalnya kanker,
tipe-tipe tiap pasien berbeda
masing pribadi. Karena
karena kalau terang-terangan pasien down tidak mau
(PTK.SS)
tipe-tipe tiap pasien
makan dan minum, maka kita menjelaskan bahwa di rumah
19. awalnya
itu
tidak
saya
bisa
Tanya
(PTK.D1)
berbeda (PTK.SS)
sakit ini kurang lengkap fasilitasnya maka kita rujuk ke
rumahnya dimana? Dengan 7
Pertanyaan hal tertentu
rumah sakit yang lebih lengkap dan akan mendapat
siapa?. Akhirnya
(rumahnya dimana?
penanganan yang lebih baik. Tapi ada pasien yang lebih
mengalir, dan kita perlu sabar
dengan siapa?)
kuat dan ingin tahu, gak apa-apa dok saya sudah siap kok!
menunggu, kita tidak bisa 8
Refleksi perasaan
ceritanya
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
(PTK.D1)
memaksa, lho kok ceritanya 9
Mengarahkan dan
2. jadi memang kedekatan dokter khusus dan semuanya, saya
kesana kemari, kita berusaha
memberi penjelasan,
yakin mempercepat proses pengobatan apalagi kalau px
megikuti alurnya. Tanya ada
dengan menghindari kata
yakin dan percaya pada kita. Karena kalau ga yakin apapun
rencana
“harus”, tetapi lebih
obat yang yang diberikan tidak ada efeknya. Saya berusaha
demikian? → ada Empati
menggunakan kata
mengenal mereka, Awalnya kita perlu mengenal latar
(PTK.SS)
“sebaiknya”
belakang
px,
pekerjaannya,
“pak,
bu…nopo
apa?
Kenapa
sing 20. memperkenalkan
diri, 10 memberi peneguhan saat
dirasake?”, kebiasaannya, karena kadang penyakitnya ada
kemudian
kaitannya dengan pekerjaannya. Misalnya px mengeluh
menanyakan bagaimana hari
bertemu kita
boyokya sakit, ternyata hariannya sering angkat-angkat
ini?, apa yang dirasakan?
menyediakan waktu
berat. Kesehariannya pekerjaannnya bagaimana, berarti
pendekatan secara halus dan
(PTK.PC)
pelan-pelan kita harus modifikasi. Kemudian kalau
tidak
memang dikedokteran, medis, memang penanganan selain
Mengarahkan,
dengan obat-obatan atau tindakan seringkali memang
penjelasan, menghindari kata
(kontak mata, pandangan
secara psikis penting juga khususnya ini suster px
“harus”, tetapi menggunakan
yang bersahabat, teduh,
psikosomatis. Bahwa awal-awalnya badannya sehat, tetapi
kata “sebaiknya”.
sehingga orang merasa
saya
juga
mengakhiri, jika perlu
mendikte.
memberi 11 Komunikasi non-verbal
karena ada masalah dia tidak mau makan, tidak bisa tidur, 21. memberikan sentuhan sebagai
diterima dan dihargai
juga yang perokok tidak makan hanya merokok saja
bentuk
senyum, sentuhan/jabat
akhirnya terkena mag. Pendekatan kita teorinya memang
harus holistic, mungkin sama dengan di BK. Kalau yang
dukungan
yaitu
berjabat
tangan
dan
memegang
tangan
pasien,
tangan,memegang
pundak, fokus
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
psikosomatis
ini
psikisnya
tidak
ada
intervensi,
salam sambil tersenyum focus
mendengarkan,
penyakitnya tidak akan sembuh. Kadang suami istri
mendengarkan,
mengangguk, )
bertengkar, kalau yang pribadi malah kadang kita tidak
manatap/kontak mata yang
ASPEK LAIN:
bisa apa-apa (PTK.D1)
menunjukkan
1. Pendekatan secara
pandangan
3. pada kenyataannya ga semua px jujur, mungkin ada dokter
yang bersahabat, teduh, saya
halus dan tidak
yang lansung marah bila px terlambat untuk datang
berusaha menghargai, jangan
mendikte
berobat, walau penyakit fisik mereka tidak selalu jujur
sampai pandangan ketempat
2. Mendengarkan
(PTK.D1).
lain (mengangguk, tersenyum,
mereka sampai
ya
selesai , walaupun
4. Ketika kita ragu-ragu biasanya kita Tanya kepada keluarga
yang
menjaga,
ternyata
sudah
satu
bulan
kadang-kadang)
(PTK
NVb)
ada kalanya cara
(PTK.D1).misalnya px, dengan kasus HIV, AIDS, 22. memberi pengarahan dan juga
pikir mereka yang
seringkali mereka malu, ia tahu penyakitnya dianggap
ditawarkan
untuk
tidak sesuai/Empati
tabu, px 1-2 hari belum mau terbuka, kita sabar menunggu,
dipanggilkan
paroki
(ciri konselor efektif)
tidak memaksa, pelan-pelan menyadarkan px untuk
atau boleh mencari romo
terbuka.
sendiri,
demikian
yang
beragama
lain bila
butuh
Karena
ada
ketakutan
selanjutnya. Biasanya saya
untuk
pengobatam
bilang “pak,bu, untuk
romo
3. ada rasa percaya,
mereka sampai
terbuka, mau
penyakitnya jika ditangani dengan baik, maka hasilnya
didoakan oleh pemuka agama,
bercerita dan pasien
juga lebih baik. Nah untuk itu kita juga perlu tahu
diperbolehkan. hanya saran,
meminta hanya
bagaimana gejala dan juga sebabnya, tapi kalau tidak mau
keputusan tetap pada mereka
untuk pribadi
terus terang, kita tidak tahu penyebabnya , kita nanganinya
kita tidak bisa memaksakan
4. Komunikasi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
juga susah ”.
kalau bapak, ibu mau jujur maka akan
mempermudah dalam penangannya. Kalau tidak cepat
saran
kita.
(PTK.IC)
(PTK.Vb)
teraupetik/ada
empatinya yaitu kita
memperoleh pengobatan yang tepat, akan dapat berakibat
ikut merasakan apa
pada orang-orang yang anda sayangi (istri,anak). Untuk itu 23. ada rasa percaya, mereka
yang dirasakan oleh
perlu pelan-pelan, sabar, dan pengertian. Maka suster saya
sampai terbuka, mau bercerita
px, sehingga
berharap ada pendampingan secara psikis diluar medis,
dan pasien meminta hanya
permasalahan yang
Karena mereka meskipun 90% kita curigai HIVpun tidak
untuk pribadi (rahasia)
ada bisa
mau diperiksa, kita tidak bisa memaksa karena ada
24. Untuk mengakhiri biasanya
peraturan pemerintah bahwa pemeriksaan darah harus atas
saya mengatakan ”memang
mencari solusi,
persetujuan pasien. Maka untuk mendorong agar px mau,
orang hidup tidak terlepas
sehingga sangat
itu harusnya ada konseling, dokterpun ada pelatihan untuk
dari kesulitan dan masalah”,
penting memahami
itu. (PTK.D1).
tetapi bagaimanapun kita bisa
apa yang dirasakan,
mengolah
dialami px jadi lebih
5. biasanya dengan pelan-pelan dan sabar kita memberi tahu
dalam
hidup
dikomunikasikan,
suster, pak…bu…kita lihat dulu hasil lab, nah untuk itu
mengarahkan ke kepercayaan
keempati ya.
harus periksa darah. Belum tentu penyakitnya seperti apa
dan
(PTK.P2)
yang bapak, ibu takutkan. Kalaupun benar supaya cepat
membawa
dalam
doa.
memperoleh penanganan, secepatnya dan jika sembuh,
Mengajak
pasien
untuk
maka bapak, ibu akan hidup seperti orang normal. Selalu
menerima
yang
terjadi
saya bilang suster, termasuk mereka yang harus cuci darah,
sebagai
rencana
Tuhan,
biasanya mereka kalau sudah rasa enak tidak mau cuci
kemudian jika perlu bertemu
menyarankan
untuk
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
darah, kadang mereka punya uang tetap tidak mau cuci
kita
darah. Saya bilang “pak,bu mumpung penyakitnya masih
(PTK.PC)
ringan bila teratur cuci darah dan minum obat, maka
apabila
teratur dilakukan bapak,ibu,
akan sehat lagi”,
bapak, ibu bisa bekerja dan mencari uang, tapi kalau sudah
berat… ada uang tapi kita tidak bisa buat apa-apa. Atau
yang harusnya minum obat teratur, berhenti karena sudah
merasa enak. Dokter dituntut untuk punya ilmu yang
lengkap, selain medis juga komunikasi, mungkin seperti
BK, konseling “ya..holistik” (PTK.D1) biasanya saya
menjelaskan dan ada yang tetap tidak mau ya akhirnya
meninggal. Untuk yang tidak mampu biasanya dan masih
bisa biasanya intensitasnya tidak sebanyak yang kaya. Juga
kita menganjurkan untuk ikut BPJS. Kita memberi solusi
dengan
menjelaskan
cara-caranya
dan
bagaimana
prosedurnya (PTK.D1).
6. memahami situasi orang sakit, setelah itu; Memancing
dengan
pertanyaan-pertanyaan
yang
sederhana
(bagaimana...., lalu.......). Pasti suster sudah mengerti itu
(sambil tertawa), peneliti iya Romo tetapi teori dengan
menyediakan
waktu
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
praktek kan kadang berbeda; menguatkan mereka, orang
sakit tidak bisa disamakan dengan orang pada umumnya
(PLL.Rm)
7. pernah ada ya itu, px yang minum obat 20 biji, awalnya
dia cuek, main hp, asik sms, namun lama-lama dia bisa
terbuka, saya lama duduk menunggu, Ooo….itu tergantung
masing-masing pribadi, itu tidak bisa dijadikan pedoman.
Karena tipe-tipe tiap pasien berbeda (PTK.SS)
8. awalnya saya Tanya rumahnya dimana? Dengan siapa?
Ternyata sendirian, ada orang tuanya tapi tidak mau ikut.
Akhirnya ceritanya mengalir, dan kita perlu sabar
menunggu, kita tidak bisa memaksa, lho kok ceritanya
kesana kemari, kita berusaha megikuti alurnya. Tanya ada
rencana apa? Kenapa demikian? (PTK.SS)
9. biasanya saya memberi salam terlebih dahulu (sugeng
enjing, dll), karena disini di daerah suster…., jadi sebagian
besar menggunakan bahasa jawa, sambil berjabat tangan.
Saya juga memperkenalkan diri, kemudian saya juga
menanyakan bagaimana hari ini?, apa yang dirasakan?,
biasanya sambil memegang tangan. Mereka biasanya
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
merespon suster, kemudian secara otomatis mereka
langsung cerita. Dalam komunikasi dengan pasien maupun
keluarga pasien biasanya, saya melakukan pendekatan
secara halus dan tidak mendikte suster. Maksudnya begini
ter, biasanya saya mendengarkan mereka sampai selesai
suster, walaupun ada kalanya cara pikir mereka yang tidak
sesuai. Setelah itu baru saya mengarahkan dan memberi
penjelasan, dengan menghindari kata “harus”, tetapi lebih
menggunakan kata “sebaiknya”. Sehingga mereka tidak
merasa digurui, juga kita tidak memaksakan untuk ikut kita
kok. He..he…iya tho? Oya..Dalam mendengarkan juga
perlu kontak mata suster, tapi kontak mata yang
menunjukkan pandangan yang bersahabat, teduh, sehingga
orang merasa diterima dan dihargai. Oya saya juga sering
memberikan sentuhan sebagai bentuk dukungan yaitu
berjabat tangan dan memegang tangan pasien terutama
yang kondisinya kritis. Biasanya kita temani sampai tenang
suster…;
biasanya
saya
menjelaskan
suster
untuk
perawatan di ICU dengan segala alat dan obatnya, hal itu
memang mahal. Biasanya saya menyarankan untuk
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
mengurus BPJS, kemudian juga bisa menitipkan uang yang
ada di bagian administrasi, demi kebaikan pasien. biasanya
pasien di ICU sering mengalami kecemasan suster, mereka
melihat segala peralatan medis yang macam-macam
merasa cemas dan takut. Tetapi setelah dijelaskan mereka
menjadi lebih tenang dan pasrah. Juga untuk mereka yang
mengungkapkan keinginannya untuk dibabtis biasanya kita
memberi
pengarahan
dan
juga
ditawarkan
untuk
dipanggilkan romo paroki atau boleh mencari romo
sendiri, demikian yang beragama lain bila butuh didoakan
oleh pemuka agama, diperbolehkan. Tetapi biasanya itu
hanya saran suster, keputusan tetap pada mereka kita tidak
bisa memaksakan saran kita. (PTK.IC)
10. Kalau saya untuk memancing saya tidak lihai/tidak pintar,
saya lebih focus mendengarkan, memegang, manatap saya
berusaha menghargai, jangan sampai pandangan ketempat
lain. apakah mereka yg lbh aktif? Ya sus, saya kok rasanya
gimana tidak enak ya. Biasanya lebih dulu mendengarkan
(mengangguk):
bisanya
selingan
sus
(mengangguk,
tersenyum, ya kadang2) ya tidak terlalu banyak, tidak
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
secara langsung mengungkapkan? Bagaimana pak bisa
tidur? Bisa istirahat? Karena jam kunjung tidak terbatas,
banyak nyamuk. Ketika dapat pelatihan memang tidak
boleh banyak bertanya, justru lebih memancing, biasanya
saya memberi salam sambil tersenyum, mereka respon,
tapi memang jika pas sedang kondisi pasien kurang bagus
(misalnya: semalam tidak bisa tidur, sehingga ia butuh
tidur saat itu) maka pasien kurang merespon kita, atau
karena penyakitnya maka pasien kurang merespon, tapi
keluarganya biasanya yang merespon. Tetapi yang sering
terjadi kita tersenyum saja mereka sudah merespon kita
kok. Intinya mereka menerima kita. (PTK.PC)
11. Setelah itu saya menanyakan kondisi (bagaimaana
istirahatnya, pekembanganya, menuya bagaimana, dll?
Mungkin ada yang merasa tidak sesuai dengan kebiasaan
mereka, sehingga terkejut (PTK.PC). kalau yang seperti
disampaikan suster ke pasien, saya tidak sampai sus.
Biasanya saya dengan senyum, sentuhan, saya kadang
tidak bercerita banyak, biasanya mereka langsung cerita.
Menurut pengalaman pribadi adalah ada rasa percaya,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
mereka sampai terbuka, mau bercerita dan pasien meminta
hanya untuk pribadi. Untuk mengakhiri biasanya saya
mengatakan ”memang orang hidup tidak terlepas dari
kesulitan dan masalah”, tetapi bagaimanapun kita bisa
mengolah dalam hidup mengarahkan ke kepercayaan dan
menyarankan untuk membawa dalam doa. Mengajak
pasien untuk menerima yang terjadi sebagai rencana
Tuhan, kemudian jika perlu bertemu kita menyediakan
waktu. Setelah selesai, bila jk ada waktu saya akan datang
lg (PTK.PC)
12. Saya tidak menguasai teori, tapi saya pernah mendapat
waktu kuliah. Yaitu melalui komunikasi verbal dan non
verbalnya. Berdasarkan pengalaman sejak menjadi imam.
13. Komunikasi teraupetik, contoh kongkritnya: menggunakan
bahasa yang halus, dan juga tegas bila keluarga maupun
pasien tidak mengerti-mengerti . misalnya: ada ibu bersalin
yang tetap minta supaya lahir normal, padahal dokter
menyarankan
supaya
operasi. Maka
perawat
perlu
memberi penjelasan demi mementingkan keselamatan ibu
dan anak. (P1)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
14. untuk masalah konseling jujur saya tidak menguasai suster.
Tetapi biasanya saya menggunakan komunikasi teraupetik.
Komunikasi teraupetik yang sering saya lakukan itu bahwa
ada empatinya yaitu kita ikut merasakan apa yang
dirasakan oleh px, sehingga permasalahan yang ada bisa
dikomunikasikan, mencari solusi, sehingga sangat penting
memahami apa yang dirasakan, dialami px jadi lebih
keempati ya. Secara toritis saya tidak bisa sus (PTK.P2)
15. yang jelas tidak boleh ada paksaan, untuk komunikasi
awal-awal ya..perkenalan, keluhannya apa, kemudian
orang yang mengalami psikosomatis sama dengan yang
tidak
psikosomatis
pendekatannya
berbeda,mungkin
hampir sama. Tapi mungkin lebih sulit (PTK.P2)
16. Tidak ada paksaan, memahami, ada kontrak waktu, boleh
mengungkapkan, menjaga kerahasiaan, kalau ada tekanantekanan kita mungkin bisa membantu mungkin privasinya
privasinya yang harus dijaga karena kerahasiaan perlu
dijaga, kalau ujung-ujungnya keluarga kan bisa tho sus?
Biasanya untuk yang penyakit biasanya terbuka, sehingga
kalau makin terbuka dokter akan mudah untuk melakukan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
pemeriksaan dan diagnose. Untuk yang psikosomatis
memang agak sulit, perlu membongkar dan membuat
mereka percaya
17. caranya memancing?! Bagaimana ya sus? Emm…mengalir
apa adanya, biasanya dari hati ke hati (PTK.P2)
Dampak PC
HASIL
(H.Dp.)
1. ”….., pendampingan
yang dapat mengarahkan pasien 1. dapat
membangkitkan Dampak dari layanan
untuk pasrah kepada Sang Pencipta, percaya sepenuhnya
semangat
bahwa Tuhan adalah sang Maha pengasih dan penyayang,
sembuh/harapan
akan dapat membangkitkan semangat untuk sembuh. Tidak
kesadaran bahwa kesembuhan a. dapat membangkitkan
hanya sembuh dari penyakit fisiknya saat ini, tapi juga
tersebut juga datangnya dari
semangat pasien untuk
kesadaran bahwa kesembuhan tersebut juga datangnya dari
Tuhan, sikap pasrah (secara
sembuh/memunculkan
Tuhan (secara spiritual ada rasa ketergantungan kepada
spiritual
harapannya untuk
Tuhan) (H.Dp.D1).
ketergantungan
2. kebutuhan manusia khususnya pasien rawat inap bukan
hanya kesehatan fisik,tapi juga mental spiritual yang
semuanya saling mempengaruhi (H.Dp.D2)
3. ya, dengan adanya PC akan berdampak pada kejiwaan
untuk konseling pastoral,yaitu:
(PDp.D1); 1. Bagi pasien :
ada
rasa
kepada
Tuhan) (PDp.D1, S; SS).
2. pasien lebih bisa menerima
keadaan
sehingga
yang
dialaminya
dokter
dapat
kesadaran bahwa
kesembuhan tersebut
juga datangnya dari
Tuhan (secara spiritual
pasien, pasien lebih bisa menerima keadaan yang
melakukan
dialaminya sehingga dokter dapat melakukan pengobatan
dengan baik (Dp.D3, PC, P3,
kepada Tuhan) (PDp.D1,
dengan baik (H.Dp.D3).
S); keluarga bisa menerima
S; SS).
4. biasanya itu nampak dalam ekspresi wajahnya suster,
pengobatan
sembuh. Menumbuhkan
keadaan pasien (P2, PC, P2.1)
ada rasa ketergantungan
b. Pasien dan keluarganya
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
mereka yang awalnya serem, tidak mau melihat berubah 3. mereka yang awalnya serem,
mampu untuk terbuka
mau tersenyum (H.Dp.IC)//adanya perubahan sikap
tidak mau melihat berubah
dan menerima keadaan
mau tersenyum (HDp.IC)
diri sakit, sehingga
5. Biasanya sudah menyadari sus, ia mulai tahu apa yg boleh
dan tidak boleh, itu kan secara fisik sus, kmudian dari 4. awalnya
gelisah
menjadi
merasa
pribadinya biasanya mereka sudah mulai menerima
tenang/lerem,
keadaannya (H.DP.PC)
penghiburan dan mendapat
dan tim medis yang
6. maaf suster untuk itu saya tidak bisa memberi jawaban,
perhatian sehingga pasien dan
merawatnya. Hal ini
apakah mereka sungguh-sungguh sembuh atau tidak, saya
keluarganya merasa senang
sangat membantu
tidak tahu pasti, karena kenyataannya:
dan
kelancaran proses

Ada yang awalnya sakit menjadi sembuh
(HDp.Rm, SS).

Ada yang sakit dan terus sakit, kemudian

Ada yang sakit kemudian meninggal.
berterima
ada
pasien lebih kooperatif
kasih
terhadap para perawat
pengobatan
5. menjadi lebih terbuka dan c. Membawa perubahan
pasrah/percaya kepada yang
(kooperatif)”
Hal itu adalah misteri dan hanya Tuhan yang punya
merawat
kuasa.Ketiga hal di atas juga berdasarkan pengalaman saya
(HDp.P1; P2; P2.1; P3)
perasaan dan sikap yaitu
yang awalnya gelisah
menjadi tenang, yang
pribadi ketika saya sakit maupun ketika mendampingi
awalnya serem (marah,
orang sakit. Pernah
murung) berubah mau
ada pasien yang terkena serangan
mendadak, memperoleh perawatan dan kemudian dokter
menyatakan bahwa angkat tangan, saat itu hanya diminta
tersenyum.
d. Pasien dan keluarga
untuk berdoa dan memberi sakramen perminyakan.
merasakan penghiburan,
E..ternyata justru terjadi mujijat orang tersebut sembuh
karena memperoleh
sampai sekarang. Hal itu menjadi pengalaman iman bagi
perhatian dari layanan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
pasien dan keluarganya, juga untuk saya ter. Bagi saya
konseling pastoral.
pendampingan pastoral adalah panggilan Tuhan, bukan
2. Bagi konselor, semakin
sekedar tugas. Saya yakini bahwa dari pelayanan ini,
memperkuat pengalaman
Tuhan mau memanggil dan membentuk saya. Hal itu juga
imannya “Tuhan
karena saya pernah sakit berat beberapa bulan, suster tahu
mengasihi saya”
tho? Tuhan mengasihi saya.
Dampaknya, iya itu tadi awalnya gelisah menjadi
tenang/lerem, merasa ada penghiburan dan mendapat
perhatian sehingga pasien dan keluarganya merasa senang
dan berterima kasih (H.Dp.Rm)//perubahan perasaan
1. menjadi
lebih
terbuka
dan
percaya
kepada
yang
merawat.P1
2.
pasien lebih tenang dan kooperatif; keluarga mau
menerima keadaan pasien apa adanya (H.Dp.P2).
3. pasien dan keluarga lebih tenang dan menerima keadaan
pasien (pasien kritis) dengan lebih tenang dan pasrah
dengan tenaga kesehatan (H.Dp.P2.1).
4. Selama ini pasien bisa lebih menerima dengan keadaannya
walaupun belum sepenuhnya dan berusaha untuk lebih
sabar, dibuktikan pasien sudah mau/ kooperatif dalam
segala tindakan yang perawat berikan (H.Dp.P3).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
5. pasien dan keluarga menjadi lebih tenang dan lebih bisa
menerima (H.Dp.IC).
6. pasien menerima keadaan diri, mempunyai semangat hidup
dan harapan yang lebih dan pasrah kepada Tuhan
(H.Dp.S).
7.
Awalnya mereka gelisah kemudian pelan-pelan menjadi
tenang & merespon kita . Ada juga yang awalnya putus asa
kemudian setelah dikunjungi merasakan adanya harapan
(H.Dp.SS)//perubahan perasaan dan sikap
Manfaat
(H.Mf)
1. Saya rasa pendampingan secara spiritual yang dapat 1. Bagi Pasien
1. Bagi Pasien:
mengarahkan pasien untuk pasrah kepada Sang Pencipta,
a. dapat memuji Tuhan/SS
Pasien yang memperoleh
percaya sepenuhnya bahwa Tuhan adalah sang Maha
b. pasien
layanan
menjadi
lebih
menjadi
pengasih dan penyayang, akan dapat membangkitkan
tenang,
semangat untuk sembuh. Tidak hanya sembuh dari
penyemangat,
penyakit fisiknya saat ini, tapi juga kesadaran bahwa
lebih
kesembuhan tersebut juga datangnya dari Tuhan (secara
membantu mempercepat
bersikap
kooperatif
spiritual ada rasa ketergantungan kepada Tuhan), Karena
proses
terhadap
perawatan
ada pengalaman suster ketika saya jadi dokter muda, ketika
(D1//1, P2//8)
pasien kita sembuh saya merasa wah hebat. Hal itu
berbalik,…… sejak saat itu saya sadar bahwa dokter itu ga
c. bisa
masalah
sebagai
ini
sehingga
kooperatif
dan
penyembuhan
termotivasi,
mental
mereka juga dikuatkan,
lebih
tenang,
dan
medis. Mereka mampu
mengungkapkan
tentang
menerima
keadaan
dirinya dan pasrah, serta
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
ada apa-apanya (H.Mf.D1); memang sangat bermanfaat ya
pelayanan yang diterima
suster, karena dengan mengetahui penyakitnya dan
atau masalah pribadi yang
kemungkinan-kemungkinan
bagaimana
mungkin
penyakitnya,
juga
pasien
dan
perjalanan
keluarganya
bisa
bekerjasama dengan baik dengan dokter dan pihak RS
berharap kepada Tuhan
ingin
diungkapkan (Hmf.P1)
d. pasien
lebih
mampu
2. Pasien & Keluarganya
Mereka
menjadi lebih
untuk proses penanganan penyakitnya.; kemudian mental
menerima keadaan dan
tenang/lerem,
pasien
pasrah
dikuatkan,
juga
dikuatkan,
sehingga
keinginan
untuk
baik/sembuh selalu ada. Semangat yang kuat untuk
sembuh dapat mempercepat proses penyembuhan; Untuk
kepada
Tuhan
(D1//1;S//11)
memperoleh
penghiburan, dukungan,,
e. mereka
merasakan
dan harapan, meskipun
kasus-kasus penyakit yang tidak bisa sembuh tujuan
penghiburan, ketenangan,
penyakitnya
konseling
dan harapan.
mereka
agar
pasien
dan
keluarga
siap
menghadapinya/pasrah kepada Tuhan.; kemudian bagi RS
juga bermanfaat karena
f.
mental
merasa
pasien
juga
siap
hadapinya
meng-
dan
pasrah
pasien akan menceritakan
dikuatkan,
pengalaman-pengalamannya selama dirawat di RS kepada
keinginan
untuk
baik/
teman-teman/sanak keluarganya (tentang hal-hal yang
sembuh
selalu
ada
positip, termasuk layanan PC), sehingga akan terbangun
Semangat
penilaian masyarakat, bahwa pelayanan di RS adalah
untuk
baik/menyeluruh. Dengan demikian dapat meningkatkan
mempercepat
jumlah kunjungan pasien/masyarakat ke RS (Mf.D1)
penyembuhan
perhatikan, keluarga
(HMf.D1//1)
lebih
2. bagi pasien dan keluarga: pasti mereka merasa lega dan
sehingga
berat
yang
sembuh
kepada Tuhan. Mereka
bisa bekerjasama dengan
tim medis.
kuat 3. Bagi keluarga pasien:
dapat
proses
a. keluarga
pasien
merasa
selalu
tenang
di-
dan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
plong ya.., karena mereka merasa
didengarkan, karena 2. Pasien dan Keluarganya:
sabar
menghadapi
selama ini tidak ada yang mendngarkan atau didengarkan
a. bisa bekerjasama dengan
tapi sudah ada pikirannya sendiri jadi langsung menvonis,
baik dengan dokter dan
mengadili, sehingga ketika sudah mendengarkan mereka
pihak RS untuk proses
puas karena didengarkan ; memuji Tuhan, melihat
penanganan penyakitnya
merasa
kehadiranku sbg kehadiran Tuhan yang menunjukkkan
(D1/1; P2//8)
pelayanan
kebaikan, macem-macemlah; oya,,biasanya perawat minta
b. Untuk
kasus
yang
masalah yang terjadi
(IC/10;P2/8 P2.1/9);
b. keluarga pasien akan
puas,
kerohanian
bisa
oleh
sendiri dan mneyampaikan bahwa px tidak mau omong,
berat/tidak bisa sembuh :
dirasakan
tidak
pasien dan keluarga siap
pemeluk agama lain
menjelaskan akibatnya dan juga risiskonya bila hal itu
menghadapinya
(P2)//8
diterus-teruskan, maka setelah itu dia mau walau awalnya
kepada Tuhan (D1//1)
sedikit, perawat akan menyampaikan perkembangan px
c. pasti mereka merasa lega
dan memberikan feedback, malah kadang minta bantuan,
dan plong ya.., karena
penghargaan/respect
kita memang saling kerjasama; untuk saya ini sebagai
mereka
dari RS
pelayanan misi. Jadi bukan untuk saya, tapi ini adalah
didengarkan (SS//2)
mau
makan.
Maka
saya
mengunjungi
dan
komitmen tugas misi (Mf.SS)
3. Saya pikir ya sangat bermanfat ya sus, karena dengan
memperoleh pelayanan ini kan pasien menjadi lebih
/pasrah
c. keluarga merasakan
merasa
Jadi dari layanan KP ini
d. senang dikunjungi merasa
diperhatikan (Mf.PC)
e. biasanya
tenang, tentu keluarga pasien juga merasakan adanya
keluarganya
penghargaan/respect dari rumah sakit pada pasien; nah…
lebih
pasien
dukungan
keluarga
pasien
merasakan bahwa pasien
dan
menjadi
tenang/lerem,
mendapat
perhatian,
sehingga mereka merasa
adanya
penghargaan/
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
dari pengalaman itu maka juga ada manfaatnya bagi
mereka
merasa
respect dari pihak RS.
Rumah Sakit bila pasien pulang dengan rasa puas yang
dikuatkan dan merasakan
Keluarga pasien merasa
tinggi maka diharapkan akan menceritakan pengalaman
kegembiraan,
puas
saat sakit dan saat dirawat kepada orang lain. Ya istilahnya
pasien
maupun
rohani, dukungan yang
mempromosikannya (Mf.D3)
keluarganya menjadi siap
yang diberikan membuat
akan keadaan yang akan
keluarga menjadi lebih
bisa tersenyum saya kan juga dapat sus? Apakah maksud
terjadi
tenang dan sabar dalam
mbak, mbak juga mengalami sukacita? Ya sus,,,saya
Selain itu juga Pasien dan
menghadapi
mendapat energy positip dari mereka, sehingga saya juga
keluarganya
yang terjadi.
menjadi semangat ter (Mf.IC).
ditemani,
diperhatikan, 4. Bagi Rumah Sakit
dan
memperoleh
4. Apa ya sus?saya merasa bersyukur, kalau mereka sudah
5. Pasien
dan
keluarga
senang
dikunjungi
merasa
diperhatikan (HMf.PC//5)
juga
kemudian
di
kemudian.
merasa
dukungan (Rm//6)
a. keluarga
a. Pasien
pelayanan
masalah
mengalami
kepuasan
6. Apa ya…? Ya itu, biasanya pasien dan keluarganya 3. Keluarga pasien:
menjadi lebih tenang/lerem, mereka juga merasa dikuatkan
atas
dari
layanan ini, sehingga
merasakan
penghargaan/
akan
dan merasakan kegembiraan, kemuadian pasien maupun
adanya
meceritakan/mempro
keluarganya menjadi siap akan keadaan yang akan terjadi
respect dari rumah sakit
mosikan
di kemudian. Selain itu juga Pasien dan keluarganya
pada pasien (D3//3);
lain
b. keluarga dapat memberi
jumlah
Sekali lagi suster, soal sembuh itu bukan saya. Hal itu saya
dukungan kepada pasien
pasien)
percayai sebagai karya Roh kudus; Secara pribadi
untuk
putus
orang
(meningkatkan
merasa ditemani, diperhatikan, dan memperoleh dukungan;
tidak
ke
kunjungan
b. Meningkatkan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
sebenarnya pengalaman iman saya juga dikembangkan,
asa/berpengharapan tinggi
kualitas/mutu
selain mereka yang saya dampingi. Menumbuhkan iman
(HMf.S//11)
pelayanan RSK Budi
bagi
pelayan
pastoral,
pasien
dan
keluarganya.(HMf.Rm//6)
c. keluarga merasa pasien
selalu
7. bagi pasien dan keluarga: bisa mengungkapkan masalah
Rahayu.
diperhatikan, 5. Bagi Pelayan Pastoral:
keluarga lebih tenang dan
membuahkan
tentang pelayanan yang diterima atau masalah pribadi yang
sabar
pengalaman iman dan
mungkin ingin diungkapkan, manfaat yang diperoleh oleh
masalah
pasien yaitu adanya perubahan, yaitu dari keadaan pasien
(IC/10;P2/8 P2.1/9);
dan keluarga yang gelisah saat menunggu kelahiran
menjadi tenang (H.Mf.P1)
8. bagi
pasien:
kooperatif
sebagai
dan
penyemangat,
membantu
sehingga
mempercepat
d. keluarga
menghadapi
yang
terjadi
pasien
akan
juga
kesembuhan.
Semakin
membuat
konselor
meyakini
merasa puas, pelayanan
apapun
buah
yang
lebih
kerohanian bisa dirasakan
dirasakan
oleh
pasien
proses
oleh pemeluk agama lain
dan keluarganya adalah
(P2)//8
buah dari Roh Kudus.
penyembuhan; bagi keluarga: keluarga merasa pasien
selalu diperhatikan, keluarga lebih tenang dan sabar
4. Bagi RS:
menghadapi masalah yang terjadi; bagi rumah sakit:
a. dapat
Semakin
meningkatkan
rendah
membuatnya
hati
bahwa
keluarga pasien akan merasa puas, pelayanan kerohanian
jumlah kunjungan pasien
kesembuhan
adalah
bisa dirasakan oleh pemeluk agama lain (H.Mf.P2)
/masyara-kat
misteri
Tuhan.
Hanya
Tuhan
yang
9. bagi pasien, yaitu pasien akan lebih tenang; bagi keluarga,
ke
RS
(Mf.D1)=D3//3
yaitu keluarga lebih tenang dan menerima keadaan pasien;
b. bagi rumah sakit yaitu
bagi RS,yaitu meningkatkan mutu pelayanan terutama di
meningkatkan mutu demi
kuasa,
memiliki
memunculkan
kesadaran bahwa dirinya
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
bidang pelayanan RS
(H.Mf.P2.1).
kualitas
10. manfaat konseling bagi pasien: px menjadi lebih tenang
pelayanan
RS
(S)//11; P2.1//10
lebih
tenang
dan
senang
karena
merasa
diperhatikan ( H.Mf.IC).
a. saya
mendapat
energy
dari
mereka,
positip
sehingga
11. bagi pasien lebih mampu menerima keadaan dan pasrah
kepada Tuhan; bagi keluarga dapat memberi dukungan
kepada pasien untuk tidak putus asa/berpengharapan
tinggi; bagi rumah sakit yaitu meningkatkan mutu demi
kualitas pelayanan RS(H.Mf.S)
12. manfaatnya bagi px: mereka merasakan
ketenangan, dan harapan.( H.Mf.Pc.1)
saya
(Mf.IC).
percayai
sebagai
karya Roh kudus; Secara
pribadi
penghiburan,
juga
menjadi semangat suster
b. saya
sebenarnya
pengalaman iman
juga
saya
dikembangkan,
selain mereka yang saya
dampingi. Menumbuhkan
iman
pastoral,
bagi
ada
(Rm//, D1//1)
dan merasa diperhatikan; bagi keluarga pasien: keluarga px 5. bagi Konselor:
menjadi
tidak
pelayan
pasien
dan
keluarganya. (Rm)
c. saya sadar bahwa dokter
itu ga ada apa-apanya
apa-apanya
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
(D1)/1
Usulan
& 1. Maka suster saya berharap ada pendampingan secara psikis 1. ada
pendampingan
secara Jadi yang menjadi harapan
Harapan
diluar medis, Karena mereka meskipun 90% kita curigai
psikis diluar medis
/U&H
HIVpun tidak mau periksa darah, kita tidak bisa memaksa
2. Psikolog
harusnya
sudah terkait
karena ada peraturan pemerintah bahwa pemeriksaan darah
menjadi
kebutuhan
rumah pastoral
harus atas persetujuan pasien. Maka untuk mendorong agar
sakit, masa mendatang perlu Rahayu:
px mau, itu harusnya ada konseling, dokterpun ada
adanya
pelatihan untuk itu; Psikolog harusnya sudah menjadi
suster yang memiliki basic
pendampingan
kebutuhan rumah sakit, karena saya rasa pasien lebih puas
konseling
psikis di luar medis.
jika fisiknya sehat dan masalah lain juga bisa dibantu
bidang ini (H.Us.D1, P2)
tenaga
yang
oleh
beberapa
responden
layanan
konseling
di
RSK
psikolog/ 1. perlu
focus
di
Budi
adanya
secara
2. perlu adanya psikolog/
untuk diselesaikan gitu. Pengobatan yang fisikpun butuh 3. pelayanan pastoral di rumah
konselor di RSK, yang
didampingi juga secara psikis juga (Hrp.D1); pada masa
sakit perlu ditingkatkan lagi,
focus di bidang ini.
mendatang perlu adanya tenaga psikolog, ataupun kalau
yang merupakan ciri khas RS 3. Pelayanannya
tidak ada paling nggak orang yang mendapat pelatihan
katolik dan mungkin bisa
konseling, syukur jika ada suster yang memiliki basic
menjadi pelayanan unggulan
ditingkatkan lagi.
perlu
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
konseling. Saat ini untung terbantu adanya suster …, tapi
di RS katolik (Usl.D2)
harapannya bahwa ada satu yang focus dibidang ini.
Karena px lebih memilih suster daripada awam. Aura
suster beda dengan awam (Usl.D1)
2. perlu lebih ditingkatkan pelayanan pastoral di rumah sakit,
yang merupakan ciri khas RS katolik dan mungkin bisa
menjadi pelayanan unggulan di RS katolik (Usl.D2)
3. Masukannnya ada tenaga konseling ter, memang saat ini
ada Sr…yang terlibat, namun bila belliau pergi. Tidak ada
pendelegasian, maka KR yang bertanggungjawab atas px
diruangan itu. Kalau KR sibuk, siapa?
Hal
yang 1. Bagi saya suster pasien adalah keluarga saya, bagaimana
mendukung
saya memanusiakan mereka yang merupakan keluarga kita.
1. pasien adalah keluarga saya, 1. Adanya kerjasama dan
memanusiakan mereka,
Kita sebagai perawat suster sebenarnya diajarkan untuk 2. Secara
keilmuan
sudah
rasa memiliki para tim
kita
dapat memberi perawatan secara menyeluruh. Secara
sebenarnya
keilmuan kita sebenarnya sudah dibekali, namun untuk
untuk
memberi
kesembuhan menyeluruh
bisa memberikan secara mendalam waktu kita tidak cukup.
perawatan secara menyeluruh
para px, sehingga ada
Selain merawat, sekarang tuntutan administrasi juga
(IC)
usaha untuk melakukan
dapat
dibekali
medis (dokter, perawat,
suster),
terhadap
banyak yaitu pencatatan-pencatatan apalagi sekarang ini 3. mencari tahu dan banyak
konseling
mendekati akreditasi (Dk.IC)
tidak secara mendalam.
membaca.
meskipun
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
2. Usaha-usaha untuk mengatasinya: untuk mengatasi saya 4. Tersedianya sarana telephon
tidak putus asa, berusaha, saya harus tahu kenapa menolak.
Mungkin karrna malam tidak bisa istirahat, maka ia butuh
untuk tidur, walau ada tantangan penolakan saya tidak
nglokro, saya mencari tahu kenapa, dan tetap semangat
sus.... Dari semangat itu membuat kita mencari tahu,
mencari solusi ”mungkin waktunya yang tidak pas”. Lebih
banyak membaca, ada tentang novel guru dengan murid,
saya
mengibaratkan
saya
dengan
pasien,
saya
menyerasikan dan mempraktikkan apa yang saya baca dari
lapangan. (HDk.Pc)
3. Tersedianya
sarana
telephon
untuk
mempermudah
menghubungi antara unit PC dan unit-unit yang lainnya;
Jaraknya dekat dan mudah dijangkau; Ada keterbukaan
komunikasi yang baik dengan petugas PC dan perawat di
ruangan (PC) seandainya bila tidak bisa biasanya saya
4. Tanya yang lebih menguasai teori “suster S…”. hal itu
sangat membantu karena beliau mempunyai teori dan
biasanya kita bisa lihat panduannya via online. Bila tidak
bisa saya minta bantu beliau, karena ada trik-triknya
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
(HDk.P2)
Hambatan
1. Hambatannya ter? Yaitu pertama tidak adanya tenaga 1. tidak adanya tenaga konseling
Hambatan
yang
dialami
konseling ditempat ini suster, sebenarnya saya tergerak dan 2. terbatasnya tenaga (Hbt.D1, terkait pelayanan konseling
bisa sedikit-sedikit memberikan tetapi karena keterbatasan
Hbt.IC, PC)
pastoral dirumah sakit ini
waktu dan tenaga sehingga tidak bisa mendalam; karena 3. pemahaman px dan keluarga adalah
terbatasnya
tenaga
tenaga dokter umum terbatas sehingga harus dobel-dobel
yang kurang, serta pendidikan konseling, selain itu yang
pekerjaan. Sepertinya bisa berjalan baik, tapi beberapa hal
yang rendah (SS)
bertugas
tidak bisa terselesaikan terutama yang terkait dengan 4. jadwal jam kunjung tidak dibidang
pendokumentasian/administrasi (Hbt.D1)
2. Gimana ya ter,disini itu kendalanya karena terbatasnya
ada/24jam (SS)
5. pengetahuan
tenaga, sehingga pelayanan konselingnya kurang optimal
konseling
(Hbt.D2)
kurang percaya diri (PC)
itu
kurang
belakang
pendidikan
kurang, yang tidak sesuai. Sedangkan
ada dokter ataupun suster,
3. emm….apa ya ter? Ini biasanya KP sudah berjalan, tetapi 6. cuek dan hanya berfokus pada perawat
ternyata ada yang kritis sehingga proses tersebut terhenti
khusus
memahami perannya. Terkait
tentang latar
yang
secara
perawatan medis saja (P2)
yang
dapat
melakukan konseling, namun
karena kita lebih mengutamakan yang kritis. Kita memang
kurang
optimal
memberi tahu, bisa dilanjutkan sesudah menangani pasien
menyeluruh
tersebut . “apakah karena keterbatasan tenaga?” iya suster,
pekerjaan pokok yang harus
bisa dikatakan demikian (Hbt.IC); Secara keilmuan kita
menjadi utama. Mereka tidak
sebenarnya sudah dibekali, namun untuk bisa memberikan
memiliki waktu yang cukup
secara mendalam waktu kita tidak cukup. Selain merawat,
(Hbt.IC).Tidak
karena
dan
ada
semua
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
sekarang
tuntutan
administrasi
juga
banyak
yaitu
perawat
memiliki
passion
pencatatan-pencatatan apalagi sekarang ini mendekati
dalam bidang itu, walaupun
akreditasi (Dk.IC)
mereka sebenarnya dibekali
4. hambatannya ya itu…pemahaman px dan keluarga,
memang disini mayoritas kel menengah kebawah jadi
tingkat pemahaman mereka rendah, bila mereka tidak
paham maka saya mngunakan bahasa yang dapat
dimengerti oleh mereka (Hbt.SS)
5. Pendidikan juga, kadang mereka sulit memahami, alur
berpikirnya dan wawasannya sedikit, sehingga saya harus
mengulang-ulang.
6. iya, pernah ketika konseling baru dimulai dan pasien
sudah mulai terbuka, konseling terhenti karena banyak
tamu yang kunjung, maka saya hentikan dan saya
mempersilakan mereka untuk menemui tamunya dan
membuat janji lagi “mbak, pak, karena banyak tamu, temui
mereka dulu nanti kita janjian lagi untuk bertemu”
(Hbt.SS).
7. saya menyadari saya kurang pandai sus, ha..ha...ya ini
CPUnya, keterbatasan pengetahuan, ada rasa kurang
dan
dipanggil
untuk
(merawat secara holistik).
itu
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
percaya diri latar belakang pendidikan, pengalaman
kurang. Karena ada pengalaman disisi lain ada yang
memberi support. Bapaknya menerima; Masuk ke pasien
ada rasa canggung, kadang ada pasien yang menolak,
Keterbatasan tenaga (Hbt.PC).
8. waktu ke px banyak sebetulnya bisa, tapi ada beberapa tipe
dari kami yang cuek dan hanya berfokus pada perawatan
medis saja.untuk saya banyak waktu (Hbt.P2)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Hasil Wawancara Terhadap Pasien
Nama/Usia
: Tn. L/44 tahun
Agama
: katolik
1. Bagaimana perasaan anda ketika mendapat kunjungan dari petugas pastoral?
“ pertama saya merasa terkejut, saya binggung “ada apa?” (S3.1).
“ Iya, saya kaget dan binggung, kok tiba-tiba ada orang asing “kok boleh
masuk ICU”. Padahal keluarga sendiri dibatasi, saya pikir saudara istri
saya yang tidak saya kenal. Saya tidak tahu kalau ada layanan doa dari
rumah sakit” (S3.1).
2.
Apakah saat awal mengunjungi tidak langsung menjelaskan, sehingga
membuat anda kaget?
“iya, kemudian beberapa saat baru memperkenalkan? setelah bapak …
menjelaskan kedatangannya untuk memberikan dorongan, motivasi dan
mengajak berdoa, saya sungguh berterimakasih” (S3.2).
3. Saat didoakan saya melihat bapak sungguh-sungguh menghayatinya, benarkah
demikian?
“ memang benar, dalam suasana panik dan khawatir saya berdoa sendiri,
saya terus berdoa Bapa Kami dan Salam Maria, tapi saya merasa sendiri
karena tidak ada interaksi, interaksinya terbatas. Kemudian ada pak I…
dan tim datang berdoa, sehingga apa yang menjadi doa dan harapan saya
tersalurkan (disatukan). Karena di ICU tidak ada interaksi, terpisah dengan
keluarga, sehingga doa sendiri merasa tidak terhubung” (S3.3).
4. Setelah didoakan, saya melihat bapak sangat semangat dan antusias untuk
bercerita “respirator anda lepas dan anda mensharingkan pengalaman anda
sebelum sakit”, nampak ada sukacita, benarkah demikian?
“iya sus, gimana ya ada kehadiran yang empati, komunikasi dua arah
sehingga membuat saya terbuka untuk cerita. Ada ungkapan kemudian ada
respon, juga ada kerinduan untuk menyampaikan apa yang saya alami
(cerita kembali tentang peristiwa yang dialaminya)” (S3.4).
185
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
5. Pak awalnya anda tidak terlalu antusias untuk berbicara, tetapi kemudian
semangat untuk bercerita. Faktor apakah yang mendorong anda untuk
terbuka?
“ ya..itu suster karena ada empati, maka menumbuhkan pada seseorang
untuk percaya dan terbuka” (S3.5).
6. Anda tadi sudah mengungkapkan kehadiran yang empati, menurut anda
apakah mereka (pak I…, mbak A…) sudah menunjukkan keramahan, empati,
mampu mendengarkan dalam berkomunikasi dengan anda?
“ iya, tapi supaya tidak terlalu kaku. Karena kemarin itu suasananya kaku”
(S3.6).
7. Apakah yang anda maksudkan komunikasi yang lebih hidup?
“ iya..karena awalnya saya memang merasa binggung, dan suasananya
kaku” (S3.7).
8. Pak, apakah kunjungan dari PC membuat suasana batin anda berubah?
Mungkin yang awalnya panic menjadi tenang, atau pengalaman lainnya?
“ iya saya sungguh berterima kasih untuk layanan ini, saya juga menjadi
lega. Gimana ya orang sakit itu butuh untuk didengarkan, ingin
menyampaikan harapannya untuk sembuh. Kalau dokter…”paling ya
tunggu…”. Tidak mungkin bisa mendengarkan keluhan kita” (S3.8).
9. Menurut anda apakah layanan semacam ini penting diadakan bagi pasien?
“ sangat penting, karena pada posisi sulit “saat orang mengalami sakit”, ia
butuh teman, empati, dan dorongan. Terlebih dirumah sakit katolik Budi
Rahayu ini suster, karena RS ini menjadi pusat pilihan rakyat Blitar.
Dengan layanan ini orang sakit bisa menyampaikan harapannya (rindu
untuk sembuh), mendapat motivasi, dan dukungan. Lebih baik lagi jika
ada Romo, suster biarawati, karena berbeda sus. Ada sugesti yang
berbeda” (S3.9).
10. Menurut anda, apakah layanan konseling pastoral sangat penting bagi pasien?
“ iya sangat penting, dengan persaudaraan dan keakraban. Hal itu sangat
penting suster, karena pasien dapat menyampaikan harapannya (minta doa,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
didengarkan) untuk sembuh. Itu bisa mengobati pasien, tidak hanya medis.
Tetapi batin pasien juga lega” (S3.10).
11. Pak, setelah anda mengalami secara langsung layanan PC, dapatkah anda
mensharingkan manfaat apa yang anda dapatkan dari layanan ini?
“ ya itu tadi, pasien dapat menyampaikan harapannya, termotivasi, dan
juga memperoleh dorongan atau semangat. Selain itu pasien dapat
menceritakan apa yang dialaminya, karena kalau mengeluh pada dokter
paling ya di jawab “tunggu ya lihat dulu” (S3.11).
12. Pak Paul tadi sudah bercerita banyak bahwa selama ini tidak pernah sakit
sekalipun, meskipun pekerjaan dan aktifitas padat. Nah dari pengalaman sakit
dan harus istirahat total makna apa yang anda dapatkan dari pengalaman ini?
“ ya suster…, saya menyadari bahwa manusia ada batasnya. Sekuatkuatnya manusia, ada yang lebih kuat yaitu DIA, Tuhan. (Kemudian
bercerita tentang aktivitasnya). Saya sudah merasa sakit, tapi saya
mengatakan pada diri saya bahwa saya masih sanggup untuk melanjutkan
perjalanan, justru saat “saya merasa kuat” ternyata ya itulah titik puncak
bahwa ternyata saya jatuh. Tuhan menyadarkan saya “bahwa saya tetap
manusia terbatas”. Sekarang saya harus berhati-hati” (S3.12).
13. Adakah masukan untuk layanan di sini terkait pelayanan konseling pastoral?
“ supaya layanan konseling ditetapkan suster, ada tenaga khusus sehingga
secara periodik bisa mendampingi pasien yang membutuhkan. Selain itu
juga penting bagi konselor yang ramah, bisa mencairkan suasana, sehingga
kedatangannya tidak terlalu kaku. Sesungguhnya saat sakit, pasien butuh
seseorang yang bisa mendengarkan untuk menyampaikan ungkapan
hatinya” (S3.13). “Terima kasih banyak. Saya masih mohon doanya untuk
kesembuhan saya” (S3.14).
Hasil Wawancara Terhadap Keluarga Pasien
Nama
: Tn. A//suami pasien
Usia
: 55 th
Agama
: katolik
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
1.
Terkait pelayanan di rumah sakit ini, setelah bapak mengalami secara
langsung dalam mendampingi ibu yang sedang sakit. Bagaimana kesan bapak
terhadap rumah sakit ini?
“ pelayanannya sangat memuaskan, suster perawat selalu memberi jawab
bila pasien ataupun keluarga butuh informasi. Istri saya juga merasa lebih
baik karena mendapat perhatian dari perawat, suster dan juga paroki serta
perhatian dari lainya, sehingga istri saya merasa senang dan badanya lebih
enak” (KP1.1).
2. Bagaimana pak perasaan bapak setelah mengalami kunjungan(PC) dan juga
terima komuni dari RS?
“ Perasaan saya menjadi senang sus atas kunjungan, bila dibandingkan
dengan di RS Negeri. Perawatnya bersahabat ada nilai(+)nya dalam
pelayanan rohani bangga dengan pelayanan rumah sakit ini. Istri saya
sering cerita, kalau ada yang kunjung dari petugas Rumah sakit.ia merasa
senang, karena diperhatikan dan didoakan” (KP1.2).
3. Apakah yang dimaksudkan bapak adalah mbak A.. dan pak I..?
“ mungkin itu suster, saya lupa” (KP1.3).
4. Bapak setelah mengalami langsung kunjungan apakah anda merasakan bahwa
ini bermanfaat bagi pasien? Jika bermanfaat dapatkah anda menceritakannya
terutama bagi ibu?
“wahh…sangat bermanfaat? Manfaat yang saya alami saat menjaga istri
saya adalah:
a.
Bahwa kami mengalami pertumbuhan iman, merasa terhubung
kembali dengan Tuhan saat bertemu dengan utusan Tuhan : Suster,
Romo dan ASIM karena memang sudah lama kami tidak ke Gereja,
istri saya sakit, membuat keluarga merasa jauh dari Tuhan(istri dan
anak),
b. Menguatkan iman lebih dari itu membuat kami dekat dengan Tuhan
bisa menjalin relasi semakin mendalam kemudian layanan ini
membuat keluarga menjadi dekat karena mengalami pelayanan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
pastoral yang sifatnya cinta kasih kepada sesama yang sifatnya begitu
besar.
c. Mendukung penyembuhan sepenuhnya bagi pasien” (KP1.4).
5. Menurut bapak apakah layanan pastoral ini bermanfaat bagi pasien?
“sangat bermanfaat” (KP1.5).
6. Bisakah bapak menyebutkan, apa saja manfaatnya? Tolong sebutkan!
“berdasarkan pengalaman lansung selama menjaga istri saya, saya dapat
menarik kesimpulan bahwa layanan rohani memiliki manfaat sebagai
berikut:
a. Pasien merasa lebih bahagia setelah mendapat kunjungan dan doa,
pasien menceritakan kepada keluarga setelah mendapat kunjungan itu.
b. Pasien dan keluarga percaya bahwa kesembuhan diperoleh melalui
obat juga melalui pelayanan rohani yang diberikan di Rumah Sakit ini”
(KP1.6).
7. Dari kesadaran yang anda temukan, rencana apakah yang selanjutnya akan
anda lakukan?
“Rencana jangka pendek: akan pergi kegereja lagi” (KP1.7).
8. Menurut anda apakah layanan konseling pastoral penting?
“Sangat penting pelayanan konseling bagi umat Katolik/Kristen demi
kesembuhan sepenuhnya (secara menyeluruh)” (KP1.8).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Hasil wawancara dengan pasien (S1).
Nama
: Ny. Tk // pasien
Usia
: 47 th
Agama
: katolik
1. Ibu bagaimana perasaannya setelah mendapat kunjungan dari PC?
“Sangat senang ketika dikunjungi dan terhibur” (S1.1).
2. Bisakah ibu menceritakan manfaat yang diperoleh dari kunjungan PC:

Kehadiran Suster dan tim yang menghibur, menyembuhkan, mendapat
berkat dari Tuhan atas doa-doa Tim layanan rohani semakin membuat
saya mengalami kesembuhan.

Ada harapan untuk bisa sembuh, terdukung.

Rasa damai, kehadiran yang mendukung merasa didekatkan kepada
Tuhan,

Akan selalu ke gereja bersama keluarga bila sudah sembuh (S1.2).
3. Masukan :

Penting adanya suster (S1.3).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
HASIL OBSERVASI
Hari/Tgl
Senin-Sabtu.
03-23 Juni,
28 Juli- 04
Agustus
2015.
Pukul
Aspek
07.15- 1. Perencanaan
14.30 a. Sasaran
b. Petugas
c. Ruangan
d. Saranaprasarana
e. Media
f. Metode
program KP
a.
b.
c.
d.
e.
f.
03-23 Juni,
28 Juli- 04
Agustus 2015
Hasil pengamatan
Dari awal penelitian hingga akhir, peneliti
terlibat setiap hari. Dari hasil pengamatan
terlihat bahwa setiap hari yang mendapat
layanan konseling pastoral adalah semua
pasien rawat inap.
Ada Suster SSpS dan petugas pastoral
care (PC) yang setiap hari mengadakan
kunjungan ke ruang-ruang paviliun.
Terdapat satu ruang PC.
Di ruang PC terdapat satu unit (komputer,
tape, microfon, lemari buku, telephon
penghubung antar unit RSK Budi
Rahayu), dua pasang meja dan arsip-arsip
PC.
Media yang ada Salib, Rosario, kitab suci,
buku lagu baik puji syukur maupun
madah bakti, CD/DVD lagu rohani atau
profan.
Metode pelayanan konseling pastoral,
kunjungan setiap hari untuk semua pasien.
08.3010.00
WIB,
10.3012.30
WIB.
2. Pelaksanaan
a. Konseling pastoral dilaksanakan setiap
KP
hari, mulai pukul 08.30-10.00, 10.30a. Jadwal
12.15. Bila pasien masih membutuhkan
pelaksana
dilanjutkan setelah makan siang pada
an KP
pukul 13.30-14.30. Bagi umat katolik
b. Pengguna
yang sudah di Baptis setiap hari Senin,
an metode
13.30 Rabu, Jumat, dapat mengikuti misa
KP
14.30
melalui siaran radio RSK Budi Rahayu
WIB
mulai pukul 05.30-06.10 WIB dan
menerima komuni dari Romo yang
mempersembahkan misa pada hari itu.
Pada hari Minggu pasien menerima
komuni dari asisten imam atau suster
SSpS pada pukul 08.45WIB.
b. Pelayan pastoral melakukan kunjungan
setiap hari, dengan menyapa, tersenyum,
190
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
mendengarkan, memberikan dukungan
dengan sentuhan, dan memberikan
alternatif-alternatif, serta saran-saran
sesuai kebutuhan pasien ataupun keluarga
pasien.
3/06/15
4/06/15
8/06/15
6/06/15
9/06/15
11/6/ 15
13/6/15
20/6/15
3. Hasil KP
a. Seorang ibu pasien rawat inap pasca
Dampak/
operasi/muslin merasa terharu dan senang
perubahan yang
karena dikunjungi. Pasien merasa
dialami pasien
terdukung karena memperoleh perhatian,
dia awalnya merasa sendirian di ICU.
b. Pasien/muslim merasa gembira setelah
memperoleh inspirasi dari suster SSpS.
Dia yang awalnya mengalami ketakutan
akan sakitnya, menjadi siap dan mampu
berpikir positip, serta ada harapan untuk
kesembuhannya.
c. Pasien menjadi lega dan terdukung, serta
gembira.
d. keluarga pasien gembira dan ulang-ulang
minta doa untuk kesembuhan anaknya.
Awalnya pasien (anak) tidak mau melihat,
asik dengan tabletnya. Petugas PC
menyapa, menggoda, diakhir mau sedikit
melihat, dan hari-hari berikutnya menjadi
lebih gembira dan mau merespon.
e. Pasien dan Keluarga pasien merasakan
menjadi lebih tenang.
f. Pasien yang awalnya tidur terus, pada
akhirnya mau terbuka, senang atas
kehadiran petugas pastoral. Ia menjadi
lebih semangat dan berani mengambil
keputusan untuk proses pengobatan
selanjutnya.
g. Pasien dan suaminya terbuka bahwa
selama ini tidak pernah ke gereja. Ada
sebuah kerinduan dan harapan untuk
kembali berdoa bersama.
h. Pasien yang mengalami kegelisahan
menjadi tenang saat di doakan petugas
PC. Keluarga yang menjaga terlihat lebih
tenang tenang, saat memperoleh dukungan
dari petugas PC yaitu sentuhan dipundak.
191
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
1. Jenis Pelayanan Pastoral Care RSK Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur
Karya pelayanan Pastoral Care bagi para pasien yang dirawat di Rumah Sakit
Budi Rahayu ini dikemas dalam beberapa jenis yakni:
a.
Pendampingan Pastoral antara lain:
•
Pendampingan pasien
•
Pendampingan keluarga
b.
Pewartaan antara lain:
•
Siaran Radio / Audio Pastoral
•
Siaran Misa Kudus dari kapel RSK
•
Poster dinding
c.
Perpustakaan antara lain:
•
Adminstrasi perpustakaan
•
Penempatan buku pada rak sesuai dengan klasifikasinya.
•
Penambahan koleksi buku dan majalah
d.
Liturgi, doa dan sakramen antara lain:
•
Misa Hari Orang Sakit Se- Dunia
•
Misa Pasien setiap hari kamis
•
Pelayanan Sakramen Perminyaan dan Babtis dan Tobat.
•
Pelayanan doa.
2. PENDAMPINGAN PASTORAL ( KONSELING PASTORAL )
RSK Budi Rahayu Blitar-Jawa Timur
a. Pengertian
Pendampingan/konseling Pastoral adalah Proses memberikan pertolongan
Psikologis, spiritual yang terbatas kepada pasien yang sedang mengalami
persoalan dan membutuhkan bantuan.
b. Tujuan
1) Mendampingi pasien dalam menggumuli pengalaman hidupnya, sehingga
pasien mampu menemukan makna hidupnya yang lebih dalam.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
2) Membangkitkan potensi yang ada pada diri pasien agar mampu mengambil
keputusan untuk menghadapi persoalan hidupnya.
c. Kebijakan
1) Pendampingan pasien terbuka untuk semua pasien yang dirawat di RSK.
Budi Rahayu tanpa memandang suku, agama dan ras.
2) Pendampingan pasien dilakukan du ruang rawat inap pasien dan bila
memungkinkan pasien dapat datang di Kantor Pastoral Care.
3) Pasien dapat memilih sendiri pendamping dari petugas Pastoral Care yang
dipandang cocok untuk konsultasi.
d. Prosedur
1) Pendampingan oleh petugas pastoral care dilakukan pada jam kerja pukul
07.00–14.30 WIB. Hari minggu dan hari libur nasional petugas pastoral
care libur.
2) Pasien yang memerlukan pendampingan datang ke kantor pastoral care
atau memanggil melalui keluarga atau perawat di masing-masing pavilion.
3) Petugas pastoral care mengadakan kunjungan ke ruang rawat inap pasien.
4) Bila satu sessi konsultasi belum tuntas dapat dilaksanakan berkelanjutan.
Download