BIOREMEDIASI IN-SITU LAHAN TERCEMAR PESTISIDA OLEH

advertisement
BIOREMEDIASI IN-SITU LAHAN TERCEMAR PESTISIDA OLEH MIKROBA
YANG ADA PADA KOMPOS
Yohanes Setiyo1, Ida Bagus Wayan Gunam2, Ida Bagus Putu Gunadnya1, I Wayan Tika1
1
Jurusan Teknik Pertanian, 2Jurusan Teknologi Industri Pertanian,
Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana
ABSTRACT
PENDAHULUAN
Bioremediation process at field or ex-situ with organic
fertilizer such as compost was very efficient, because
micro-organism that naturally present in compost
could degrade amount of pesticide residue in the soil.
Compost as an organic fertilizer could improve the
physical, chemical, and biological characteristics of the
soil in a certain way so that soil mineral was available for
plant. The special aim of this research was to optimize
the bioremediation process for degradation of pesticide
residues at Bedugul Agro-tourism Area so that organic
farming system will be sustain. Compost-fertilized
demonstration-plot was cultivated with horticultural
plants, such as strawberry, carrot, lettuce; etc was very
efficient in decomposing Dithane-45 pesticide residue.
Twelve tons of compost for one hectare of cultivated
land could change the soil porosity and its value became
to 25%.
Bedugul adalah salah satu kawasan wisata andalan
di pulau Bali dan sebagai penghasil sayuran maupun
buah-buahan yang dikonsumsi oleh wisatawan serta
masyarakat Bali pada umumnya. Pencemaran lahan
pertanian di Bedugul sebagai akibat penggunaan
insektisida secara tidak langsung memberikan dampak
bagi kesehatan wisatawan dan masyarakat Bali, sebab
saat ini belum dikembangkan sistim penjaminan mutu
produk hortikultura.
Based on C/N, and pH, it could be concluded that
better solution for bioremediation of pesticide residue
problem was by giving mixed-compost in horticulture
cultivation. Deviation of pH in bioremediation process
was 0.22, and pH in-situ bioremediation process was
between 6.9 and 7.12 or neutral pH, in this condition
micro-organism would be effective in degrading
pesticide residue. Bioremediation process on pesticide
residue of Dithane M-45 at horticulture cultivation
demplot with 3.6 g/l/20 m2 spraying dosages took
place perfectly, which was showed by parameters on
development of micro-organism population and the
amount of pesticide residues. Pesticide residue of each
spraying dosages was 0.25-1.7% at 35 days or this values
were under 0.003 ppm.
The amount of microbial at the beginning of
bioremediation, nutrient availability in the compost,
compost porosity, soil relative humidity, and soil pH and
temperature supported the optimum bioremediation
process. Coarse micro-organism identification
indicated that actinomycetes group dominated the
bioremediation process when soil relative humidity was
low, under 30%. But, when soil relative humidity was
above 30% then group of bacteria replaced activities of
actinomycetes.
Keyword : pestiside
bioremediation process
108
residue,
mixed
The Excellence Research UNIVERSITAS UDAYANA 2011
compost,
Penggunaan pestisida dalam produksi hortikultura
di kawasan wisata Bedugul tidak dapat dihindarkan.
Hal ini dilakukan agar gagal panen dapat direduksi
sehingga petani tetap meraih keuntungan maksimal.
Dampak negatip dari aktivitas penggunaan pestisida
adalah (1) hortikultura hasil panenan masih
mengandung pestisida, (2) ekosistem lahan pertanian
tercemar, (3) dan ekosistem perairan danau Buyan
tercemar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman
populasi mikroorganisme tanah pada lahan pertanaman
kubis ditentukan oleh intensitas penggunaan pestisida.
Semakin intensif aplikasi pestisida pada suatu lahan
berpengaruh nyata terhadap kandungan C-organik dan
N-total tanah. Menurut Tengkano, 1992, tanah dengan
aplikasi tiga jenis pestisida mempunyai kandungan
C-organik 2,81% dan N-total 0,19%.
Bioremidiasi in situ menggunakan pupuk organik
kompos sangat efektif, karena mikroorganisme dalam
pada kompos akan mampu mendegradasi residu
pestisida dalam tanah (Indrayani, 2006). Selain itu
kompos mampu memperbaiki sifat fisik tanah (Setiyo
et al., 2009), sifat biologis dan sifat kimia tanah untuk
peningkatan kesuburan tanah (Pare et al., 1999; Kondo
dan Yasuda, 2003).
Pertanian organik penting dikembangkan agar
pertiwi atau tanah Bali terhindar dari kerusakan akibat
penggunaan zat-zat kimia. Alam Bali relatif kecil, apa
pun aktivitas yang dilakukan mesti mampu menekan
kerusakan lingkungan. Agar alam tidak tercemar zatzat kimia, sudah saatnya masyarakat mengembangkan
pertanian organik, (Suprapta, 2007).
Tujuan penelitian adalah mengoptimalkan proses
bioremidiasi dengan metode pemupukan menggunakan
kompos di kawasan agrowisata Bedugul, sebagai
upaya mempertahankan sistim pertanian organik
berkelanjutan (sustainable organic farming system) yang
mampu meningkatkan kualitas dan daya saing produk
hortikultura.
METODE PENELITIAN
Bahan Penelitian
Bahan untuk penelitian di demplot lahan milik
UD Sila Artha adalah : benih tanaman (wortel,
sawi, strowberi, dan tomat), kompos kotoran sapi
terfermentasi, kompos bokasi, kompos sampah organik
perkotaan, kompos campuran dan pestisida Dithane
M-45. Bahan untuk uji perkembangbiakan bakteri dan
kapang pada proses pengomposan adalah nutrient agar
(NA), potato dextrose agar (PDA) dan aquades.
Prosedur Penelitian
Penelitian meliputi kajian terhadap dinamika
populasi mikroba jenis kapang dan bakteri di lahan
yang dibudidayakan Sawi, Strowberi, Selada, Tomat
dan Wortel dan disemprot pestisida jenis dithane
M-45. Dosis penyemprotan pestisida adalah 3.6 g/l/20
m2 (dosis tinggi). Sampel tanah untuk pengamatan
populasi mikroba diambil pada lima titik untuk masingmasing demplot pada ke dalaman 0-5 cm dan 5 – 10 cm
dari permukaan tanah. Untuk pengamatan konsentrasi
pestisida yang dapat didegradasi, pengambilan sampel
tanah pada 0, 2, 4, 7, 15, 30, 45, dan 60 hari dari waktu
penyemprotan pestisida.
Analisis populasi bakteri dilakukan dengan metode
TPC pada media PCA. Pembuatan PCA dengan
melarutkan 15 g agar, 1 g dextrosa, 5 tripton, 1.5 g
yeast ke dalam 1000 ml aquadest. Larutan tersebut
dipanaskan sambil diaduk dengan magnetic stirer
sampai mendidih dan homogen. Selanjutnya larutan
disterilisasi dalam autoclave pada suhu 121oC selama 15
menit. Setelah agak dingin dituangkan ke dalam cawan
petri steril ± 15 – 20 ml dan didinginkan. Setelah padat
cawan petri ditutup dalam posisi terbalik.
Metode TPC dilakukan dengan melarutkan 1
g sampel dengan 9 ml NaCL faali (0.9%) ke dalam
tabung reaksi. Larutan ini
pengencerannya 10-1
dan pengenceran dilakukan sampai 10-6. Setiap kali
melakuan pengenceran larutan diaduk menggunakan
vortek. Selanjutnya 0.1 ml larutan untuk pengenceran
10-4 sampai 10-6 dituang ke media PCA menggunakan
ependorf dari stip steril. Selanjutnya larutan disebar
dengan sprider yang telah dicelupkan pad alkhohol
dan dipanaskan. Kemudian diinkubasi pada suhu
ruang selama 48 jam. Koloni yang diitung hanya yang
berjumlah 30 – 300 koloni.
Kadar residu di lahan, digunakan Gas Kromatografi
dengan standart Mancozeb murni yang diperoleh dari
PT. Tanindo Subur Prima. Ekstraksi sampel dilakukan
secara langsung. Pengujian dengan Gas Kromatografi,
diawali dengan penyaringan, pemurnian dan injeksi
ke dalam kolom. Pada Proses penyaringan, sampel
tanah ditimbang sebanyak 250 gram dan ditambahkan
Acetonitril serta 5 gram Na2SO4 anhidrat granuler,
kemudian diblender dan disaring. Proses selanjutnya
adalah memasukkan sebanyak 93 ml filtrat dalam
corong pisah yang berisi 100 ml petroleum eter,
dikocok selama 5 menit, dan membuang lapisan air
yang terpisah pada bagian bawah. Pada sisa larutan
ditambahkan 200 ml Na2SO4 2%, dikocok selama 2
menit, dan membuang lagi sisa air yang terpisah. Pada
corong biasa diberi glass wall dan Na2SO4 anhidrat
granuler pada lapisan atas, dilewatkan pada corong
untuk disaring. Proses selanjutnya adalah pemurnian.
Pada proses pemurnian glass wall ditempatkan pada
bagian bawah kolom kromatografi dan ditambahkan 1.6
gram fluoricyl serta 1.6 gram Na2SO4 anhidrat Granuler,
kolom dicuci dengan 50 ml heksan, kemudian dengan
50 ml metanol, dan membuang cairan pencuci. Elusi
dengan 11 ml heksan, ditampung masing-masing dalam
labu erlemeyer dan diuapkan sampai 0.5 ml diatas water
bath. Sampel yang telah diuapkan diatas water bath
diambil sebanyak 10 mikroliter dengan menggunakan
syringe, kemudian di injeksikan ke dalam kolom melalui
septum secara bersamaan dengan menekan tombol
start. Dilayar monitor diagram kromatogram yang
terbentuk dapat dimati. Perhitungan nilai kuantitatif
residu yang terdapat pada sample menggunakan rumus
:
ug/L (ppm) =
AxBxCxD
ExFxG
Dimana : A : Konsentrasi larutan standart pestisida (µg/
µl), B : Tinggi puncak hasil pemurnian (mm), C : Volume
akhir hasil ekstraksi ( µl), D : Faktor Pengenceran, E :
Tinggi puncak larutan standart (mm), F : Volume hasil
pemurnian yang disuntikkan ( µl), dan G : Volume atau
berat dari contoh atau spesimen yang di ekstrak (ml
atau gram).
Pengukuran kandungan C-oraganik dengan metoda
AOAC 1995, dan pengukuran N-organik dengan metoda
CHONS Analyser 1998. Sedangkan pH tanah diukur
dengan pengambilan sampel tanah di kedalaman 0-5
cm dan 5 – 10 cm bersamaan dengan pengukuran
C-organik, N-organik dan populasi mikroba.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Lahan pertanian di kawasan wisata Bedugul
bercirikan : memiliki kemiringan lereng tergolong
curam yang berkisar antara 15 – 40%, jenis tanah adalah
andosol dan regosol yang sangat peka teradap erosi,
curah hujan cukup tinggi antara 2500 – 3000 mm/tahun,
dan konservasi tanah kurang memadai. Tingkat erosi di
lahan pertanian ini tergolong berat yang berkisar antara
The Excellence Research UNIVERSITAS UDAYANA 2011
109
Penggunaan teknologi fertigasi terbatas pada
budidaya hortikultura di green house, sedangkan
penggunaan pupuk kandang oleh petani masih sangat
terbatas jumlahnya. Hasil pengamatan sifat kimia, sifat
fisik dan sifat biologis terhadap sampel tanah dari lahan
pertanian selepas dibudidayakan hortikultura adalah :
N-organik 0,42%; C-organik 2,9%; P2O5 7,26 ppm; K2O
0, 48 me/100 g; Mg 1,03 me/1009Mg; Na 0,42 me/100
g; KTK 35,8 me/100g; C/N 10,6; pH tanah 6,3; populasi
mikroba 10 4,04 cfu.
Dari data sifat kimia, dan sifat biologis lahan
pertanian di Bedugul tergolong miskin bahan organik.
Hal ini disebabkan perilaku petani selalu mengandalkan
pupuk kimia, pengembalian bahan organik dari sisa
tanaman jarang dilakukan. Mikroorganisme dalam
tanah yang sebagian besar merupakan kelompok
bakteri dan kapang, mikrorganisme ini berkembang di
zone perakaran tanaman dan mengurai perakaran yang
tersisa setelah panen.
Pemberian kompos sebagai pupuk organik ke lahan
pertanian dengan dosis 12 ton/ha pada lapisan olah atau
kedalaman sampai 10 – 15 cm berpengaruh terhadap
sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologis tanah. Kompos
yang diberikan adalah dari kotoran sapi dan kotoran
ayam menyebabkan perubahan kandungan N-organik
1,38%; C-organik 21%; P2O5 649 ppm; K2O 3, 43 me/100
g; Mg 1,13 me/1009; Mg; Na 0,62 me/100 g; KTK 65,8
me/100g; C/N 16,6; pH tanah 6,8; populasi mikroba 10 5,14
cfu. Mineral-mineral dan bahan organik dalam kompos
akan memperkaya jumlah unsur hara yang tersedia di
zone perakaran. Ketersediaan unsur hara tercermin
pada naiknya nilai kapasitas tukar kation (KTK) tanah,
nilai KTK tanah yang tidak diberi kompos adalah 35
dan nilai KTK tanah yang diberi kompos 65,8. Bahan
organik pada kompos yang memiliki C/N masih tinggi
oleh mikroba kelompok kapang dan bakteri akan diurai
menjadi mineral-mineral seperti Mg2+, K+, Ca2+, serta
bahan organik yang lebih stabil, aktivitas penguraian
baan organik ini mengakibatkan nilai KTK dari tanah
naik.
Partikel-partikel kompos dengan ukuran mendekati
diameter fraksi pasir pada tanah menyebabkan
terbentuknya rongga atau pori-pori makro pada tanah,
sedangkan partikel kompos dengan ukuran mendekati
110
The Excellence Research UNIVERSITAS UDAYANA 2011
Tanah pertanian untuk budidaya hortikultura
memerlukan porositas yang ideal. Dengan porositas
sekitar 25% menyebabkan aerasi dalam tanah
berlangsung secara sempurna, drainase di lahan
berlangsung secara baik terutama saat curah hujan
tinggi, potensi tanah menahan lengas tanah meningkat.
Daya serap air dari hasil penelitian dari beberapa
perlakuan pemberian kompos naik 2.5 – 4.5%, besar
kenaikan daya serap air identik dengan hasil penelitian
Setiyo et al., 2007 dan Setiyo et al., 2009. Kemampuan
menyediakan air atau lengas tanah bervariasi dari
25.8 – 27.9% volume. Menurut Setiyo et al., 2009
berdasarkan kadar air kapasitas lapang, kadar air
titik layu permanen dan lengas tersedia bagi tanaman
pemupukan dengan beberapa jenis kompos pada lahan
pertanian di Kawasan Wisata Bedugul menghasilkan
tanah geluhan.
0.5
0.8
Akumulasi residu pestisida
terremediasi, ppm
Kawasan
lahan
pertanian
berteras-sering
dibudidayakan tanaman hortikultura secara terus
menerus. Tanaman hortikultura yang dibudidayakan
adalah sawi, kubis, slada, sledri, wortel, cabai paprika,
lotus, kacang panjang, terong, strabery, tomat. Petani
selama ini mengandalkan pupuk kimia sumber N, P, K
yang dijual di pasaran dan mengandalkan air irigasi dari
curah hujan dan kelembaban udara.
ukuran partikel debu akan cenderung menyebabkan
terbentuknya pori-pori mikro. Pori-pori makro terisi
oleh udara, sedangkan pori-pori mikro akan terisi air.
Residu pestisida yang
terremidiasi, ppm
181,3 – 461,5 ton/ha/th.
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0
10
20
30
40
50
Waktu pengamatan, hari
Lahan tidak dipupuk kompos
Lahan dipupuk kompos kotoran sapi
a. Dosis tinggi
60
70
0.45
0.4
0.35
0.3
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0
0
20
40
60
Waktu pengamatan, hari
80
Lahan dipupuk kompos kotoran sapi
Lahan tidak dipupuk kompos
a. Dosis sedang
Gambar 1. Akumulasi residu pestisida di Kawasan Wisata
Bedugul yang teremediasi
Residu pestisida di lahan yang dibudidayakan
hortikultura yang tidak dipupuk kompos lebih
lambat teremediasi dibandingkan dengan lahan yang
dipupuk dengan kompos. Hal ini menyebabkan
peluang residu pestisida terbawa surface run off terutama
di musim penghujan untuk lahan pertanian yang
tidak dipupuk kompos adalah hampir 45 hari dari
waktu penyemprotan, sedangkan jika lahan dipupuk
dengan kompos peluangnya hanya 7 hari. Selain itu
residu pestisida yang tidak terurai oleh mikroba juga
berpotensi untuk diserap oleh perakaran tanaman
dalam hitungan waktu yang sama dengan potensi
terbawa surface run off.
Kompos dari kotoran sapi dan kotoran ayam yang
diberikan pada lahan yang dibudidayakan hortikultura
mengandung mikroorganisme aktif antara 106 - 107 cfu
sedangkan lahan pertanian yang tidak dipupuk kompos
hanya memiliki populasi mikroba aktif 103 – 104 cfu, selain
itu nutrien yang ada pada kompos memperkaya jumlah
nutrien yang ada pada lahan pertanian hortikultura.
Kedua kondisi ini menjadi penyebab mikroorganisme
di lahan aktif mengurai residu pestisida jenis dithane
M-45, namun karena populasi dan kandungan nutrien
dilahan yang dipupuk kompos kondisinya lebih baik
maka kecepatan penguraian residupestisida juga lebih
cepat. Hasil penelitian ini memiliki kecenderungan
1.5
4
1
2
0.5
0
0
1
2
3
4
5
6
7
8
Waktu bioremediasi, minggu
Populasi mikroba
Residu pestisida
a. Lahan tanpa dipupuk kompos
kotoran sapi dan disemprot
pestisida dosis tinggi
12
10
8
6
4
2
0
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
1
2
3
4
5
6
7
Residu pestisida,
ppm
2
6
Populasi mikroba,
cfu
8
Residu pestisida,
ppm
Populasi mikroba, log
cfu
Nutrien pada proses bioremediasi kompos tersedia
dalam bentuk bahan organik dari kompos, residu
tanaman dan residu pestisida. Dinamika populasi
mikroba berubungan erat dengan perubahan C/N
bahan organik. Kenaikan populasi mikroba di awal
proses bioremediasi residu pestisida diikuti dengan
penurunan C/N tanah, hal ini disebabkan nutrien
C, H, O, N yang ada pada residu pestisida dan tanah
diurai oleh mikroba untuk dimanfaatkan sebagai
bahan penyusun selnya. Sedangkan, puncak populasi
mikroba terjadi bersamaan dengan titik minimum C/N
tanah. Pada proses selanjutnya sebagian mikroba mati
terurai menjadi unsur hara, unsur hara C dan N organik
sebagian menaikan C/N dan sebagian lagi diserap
perakaran tanaman.
8
Waktu biremediasi, minggu
Populasi mikroba
Residu pestisida
b.Lahan dipupuk kompos
kotoran sapi dan disemprot
pestisida dosis tinggi
Gambar 2. Populasi mikroba dan residu pestisida lahan pada
waktu bioremediasi yang berbeda
Phase menurunnya populasi mikroba dan
menurunnya C/N secara bersamaan disebabkan oleh
suplai unsur hara untuk tanaman hortikultura dari
mikroba yang mati belum cukup, sehingga tanaman
mengambil unsur hara dari tanah. Hal inilah yang
menyebabkan C/N tanah mengalami penurunan.
Dinamika populasi mikroba dan C/N pada proses
bioremidiasi in-situ di Bedugul identik dengan
penelitian Indrayani (2006) di Ciawi, Bogor.
9
8
7.1
7
6
7.05
pH
Dinamika proses bioremidiasi residu pestisida
setelah penyemprotan dicerminkan oleh dinamika
populasi mikroba dan dinamika konsentrasi
residu pestisida di zone perakaran. Pada perlakuan
penyemprotan pestisida dengan dosis rendah dan dosis
tinggi di lahan yang dipupuk kompos dan di lahan yang
tidak dipupuk kompos, populasi mikroba tertinggi
dicapai di minggu ke 3, namun populasi mikroba di
lahan yang dipupuk kompos mencapai 108.
7.2
7.15
5
7
4
6.95
3
6.9
2
6.85
1
Populasi mikroba, log cfu
yang sama dengan hasil penelitian Indrayani (2006)
pada proses bioiremediasi lahan tercemar profenofos
secara ex-situ dengan cara pengomposan.
0
6.8
1
2
3
4
5
6
7
8
Waktu bioremediasi, minggu
pH
Populasi mikroba
Gambar 3. Hubungan Waktu Bioremediasi, pH dan populasi
mikroba pada proses bioremediasi in-situ
Kenaikan pH di minggu pertama sampai minggu ke
tiga, karena ada demineralisasi bahan organik terutama
unsur mikro Mg2+, K+, Ca2+ dari kompos dan residu
pestisida. Kation-kation ini akan berikatan dengan
asam-asam yang terbentuk selama proses dekomposisi
menyebabkan pH naik. Pada pH di atas 7 sifat massa yang
didekomposisi cenderung basa, sehingga kelebihan ion
OH- akan mengakibatkan kehilang ammonium dalam
bentuk NH3- dan hidrosilasi beberapa unsur biologis
seperti Cu dan Mn membentuk campuran karbonat
yang sulit terurai (Ton, 1991). Pada pH di bawah 7, sifat
massa yang didekomposisi cenderung asam, sehingga
kelebihan ion H+ dapat menyebabkan penguraian dan
pelepasan ion Ca2+ dan Mg2+ dari mikroorganisme, ionion metal dari mineral dan bahan organik (Sudyastuti,
2007) .
Proses bioremediasi in-situ lahan tercemar pestisida
Dithane M-45 yang disemprot dengan dosis rendah,
menunjukan bahwa reaksi bioremediasi berlangsung
pada pH mendekati netral. Dari identifikasi di
lapangan memang tidak ada bau terdeteksi dari indera
penciuman, sehingga pelepasan gas NH3 penyebab
bau tidak terjadi, hal ini sesuai dengan hasil penelitian
Indrayani (2006) untuk proses bioremidiasi ex-situ.
Reaksi bioremediasi yang berlangsung pada pH sedikit
asam adalah perlakuan kontrol, disebabkan karena
pelepasan unsur-unsur seperti Mg2+, K+, Ca2+ dari
kompos tidak ada.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan dinamika pH, populasi mikroba
dan C/N tanah proses bioremediasi residu pestisida
secara in-situ pada lahan budidaya hortikultura di
The Excellence Research UNIVERSITAS UDAYANA 2011
111
Kawasan Wisata Bedugul berlangsung secara optimal.
Perlakuan pemupukan dengan kompos campuran
memberikan reaksi bioremidiasi dengan perubahan
pH hanya 0.22 dan reaksi pada kondisi pH netral,
sehingga mikroba akan lebih efektif meremidiasi residu
pestisida. Residu pestisida dari masing-masing dosis
penyemprotan pada hari ke 35 tersisa 0.25% - 1.7% atau
dibawah 0.003 ppm. Dari identifikasi awal kelompok
aktinomisetes mendominasi proses bioremediasi pada
saat kelengasan tanah di bawah 30 %, dan kelompok
bakteri mendominasi proses pada kelengasan tanah di
atas 30%.
Setiyo, Y. 2009. Aplikasi Kompos Dari Sampah Kota
Sebagai Pupuk Organik Untuk Meningkatkan
Produktivitas Tanaman Jahe Merah. Disajikan
di Seminar Nasional Basic Science VI Tanggal 21
Februari 2009 di Universitas Barawijaya, Malang.
Setiyo, Y., Suparta U., Tika W., dan Gunadya, I.
B. P. 2009. Pengembangan Model Bioremidiasi
Menggunakan Kompos
Pada Lahan Tercemar
Untuk Meningkatkan Kualitas Produk Hortikultura
(Studi Kasus : Kawasan Agrowisata BedugulBali). Laporan Penelitian Hibah Kompetitif Sesuai
Strategis Nasional, 2009.
Saran
Model bioremediasi sangat diperlukan petani,
Sudyastuti, T dan Setyawan, N. 2007. Sifat thermal
karena kualitas hortikultura pada lahan yang tanpa
tanah pasiran pantai dengan pemberian bahan
dipupuk kompos berpotensi mengandung pestisida,
pengkondisi tanah dan biomikro pada budidaya
selain itu cemaran di lahan pertanian sudah sangat
tanaman cabai (capsicum annuum). Prosiding seminar
mencemari
nasional teknik pertanian – yogyakarta 2007
perairan
Danau
Buyan.
Penggunaan
kompos dari kotoran ternak yang dicampur dengan
residu tanaman hortikultura sangat dianjurkan untuk
dikembangkan di kelompok tani, selain mengurangi
ketergantungan pada pupuk kimia juga mengatasi
masalah pencemaran lahan.
Suwanto, A. 1994. Mikroorganisme Untuk Biokontrol
: Strategi Penelitian dan Penerapannya Dalam
Bioteknologi Pertanian. Agrotek, Vol. 2(1). IPB,
Bogor, hal 40-46.
Suprapta. 2007. Bali agar Dikembangkan Pertanian
DAFTAR PUSTAKA
Organik. Bali Post Selasa, 25/09/07
Indrayani, N. 2006. Bioiremediasi lahan tercemar
profenofos secara ex-situ dengan cara pengomposan.
[Thesis}. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana, Institut
Pertanian Bogor
water regime, light, and soil properties on N2
fixation associated with decomposition of organic
mater in paddy soils. JARQ 37(2): 113 – 119.
Pare T, Dinel H, and Schnitzer M. 1999. Extractability
of trace metals during co-composting of biosolids
and municipical solid wastes. J. Biol. Fertil. Soils 29:31
– 37.
Subroto, M.A, dan Yuwono,
A.S. 2007. Pengembangan Model Simulasi Proses
Pengomposan Sampah Organik Perkotaan. Journal
Forum Pascasarjana Vol 30 (1) Januari 2007. Bogor.
112
1992. Dampak negatif insektisida terhadap musuh
alami pengisap polong. Seminar Hasil Penelitian
Pendukung Pengendalian Hama Terpadu. Kerjasama
Kondo M and Yasuda M. 2003. Effects of temperature,
Setiyo, Y., Hadi K.P,
Tengkano, W., Harnoto, M. Taufik, dan M. Iman.
The Excellence Research UNIVERSITAS UDAYANA 2011
Program
Nasional
PHT,
BAPPENAS
dengan
Faperta-IPB. 29 p.
Ton, S. W. 1991. Environmental Considerations With
Use of Pesticides in Agriculture. Paper pada Lustrum
Regulations. University of Minnesota.
Download