plagiat merupakan tindakan tidak terpuji plagiat

advertisement
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Peranan Mgr. Albertus Soegijapranata Dalam Diplomasi
Kemerdekaan Republik Indonesia
(1946-1949)
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Mencapai Syarat Kelulusan
Pada Program Studi Sejarah
Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Disusun oleh :
Magdalena Dian Pratiwi
NIM :104314009
PROGRAM STUDI SEJARAH
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
2015
i
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PERNYATAAN KEASLIAN
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini
tidak memuat karya atau bagian orang lain kecuali yang telah disebutkan dalam
kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta 9 Maret 2015
Penyusun
(Magdalena Dian Pratiwi)
iv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lembar Pernyataan Persetujuan
Publikasi Karya Ilmiah Untuk Kepentingan Akademis
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :
Nama
: Magdalena Dian Pratiwi
Nomor Mahasiswa
: 104314009
Demi pengembangan ilmu pengetahuan memberikan kepada Perpustakaan
Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul “Peranan Mgr. Albertus
Soegijapranata, SJ Dalam Diplomasi Kemerdekaan Republik Indonesia (19461949)”. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata
Dharma hak untuk menyimpan, dan mengalihkan dalam bentuk media lain untuk
kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan
royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal, 9 Maret 2015
Yang menyatakan
Magdalena Dian Pratiwi
v
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
MOTO
“Orang yang dalam mewartakan Kitab Suci tidak tahu bagaimana secara bijak
membahas masalah –masalah kemasyarakatan berarti tidak tahu bagaimana
mewartakan Kitab Suci” (Henry Ward bacher)
“Apa artinya terlahir sebagai bangsa yang merdeka jika gagal untuk mendidik diri
sendiri?" (Soegija)
“Learning without thinking is useless, but thinking without learning is very
dangerous!” (Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi)
vi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan untuk :
Tuhan Yesus yang selalu memberikan kemampuan untuk saya terutama dalam
menyelesaikan studi di bangku kuliah selama 5 tahun ini.
Kedua orangtua saya, Soetjipta, BA dan Hanna Wasinah, yang selama ini telah
berjuang dan memberikan semua yang terbaik untuk saya
Kakak saya, Nusantara Nugraha Putra
Adik-adik saya, Patristika Megatiara, Elisabeth Anggun Kurnia dan Ekin
Njotoatmodjo yang selalu menemani saya dengan canda tawa mereka.
Serta untuk sahabat-sahabat saya Lidwina Fitriana Setyaningsih, Epifani Wahyaning
Pudyastuti dan Petrus Kingkin Prahara, yang selalu menjadi sahabat terbaik saya
dalam suka dan duka.
Almamaterku Universitas Sanata Dharma yang Tercinta
vii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
ABSTRAK
Penulisan skrispi yang berjudul : “Peranan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ
Dalam Diplomasi Kemerdekaan Republik Indonesia (1946-1949)”. Penulisan ini
berusaha mengkaji dan menganalisis akan peranan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ
atau lebih dikenal dengan nama Soegija, dalam usaha diplomasi kemerdekaan
Indonesia antara tahun 1946-1949. Indonesia pasca memproklamirkan
kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, tidak langsung mendapatkan kemerdekaan
yang utuh (de facto dan de jure). Hal tersebut dikarenakan pihak Belanda yang
pernah menjajah Indonesia selama berpuluh-puluh tahun, belum mau mengakui
kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. Selain itu Belanda juga ingin menguasai
kembali Indonesia. Oleh karena itu para pemimpin bangsa berusaha dengan keras
mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan berbagai cara. Para pemimpin
Indonesia juga mengadakn perundingan-perundingan dengan Belanda, maupun
negara-negara lain untuk mendapatkan pengakuan dan dukungan atas kemerdekaan
Indonesia. Bukan hanya delegasi pemerintah yang melakukan diplomasi. Ada
beberapa tokoh agama yang juga ikut serta dalam melakukan perundingan untuk
mendapatkan pengakuan dan dukungan atas kemerdekaan Indonesia, salah satunya
adalah Soegija. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang
mendorong Soegija melakukan diplomasi, usaha apa saja yang dilakukan Soegija
dalam diplomasi, serta akibat apa saja yang didapat dari keterlibatan Soegija dalam
diplomasi kemerdekaan.
Penelitian ini merupakan penelitian historis, yang menggunakan metode
sejarah untuk menelaah kembali peristiwa yang terjadi pada masa lampau, dengan
menggunakan data yang berupa fakta historis. Dengan cara pengumpulan data,
seleksi data, analisis data, dan penulisan data (historiografi).
Hasil penelitian yang diperoleh adalah adanya faktor dalam dan faktor luar
yang mendorong Soegija dalam melakukan usaha diplomasi untuk membantu
pemerintah Indonesia mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Soegija mencoba
menyampaikan kepada masyarakat internasional akan penderitaan rakyat Indonesia
akibat dari aksi-aksi militer yang dilakukan oleh Belanda. Usaha Soegija dalam
berdiplomasi berdampak terhadap gelombang dukungan dari masyarakat
internasional akan kemerdekaan Indonesia semakin meningkat. Sehingga terlihat jelas
peranan Soegija membantu pemerintah Indonesia dalam berdiplomasi.
Kata Kunci : Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, Diplomasi, Kemerdekaan
viii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
ABSTRACT
Skripsi entitled: "The Role of Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ In Diplomacy
Independence of Republic Indonesia (1946-1949) ". Writing is trying to assess and
analyze the role of Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ or better known as Soegija, the
diplomatic efforts of Indonesian independence between the years 1946-1949.
Indonesian post-proclaimed its independence on August 17, 1945, Indonesia was not
immediately get complete independence (de facto and de jure). That is because the
Dutch were never colonized Indonesia for decades, have not been willing to
recognize the sovereignty and independence of Indonesia. Besides the Netherlands
also wanted to regain control of Indonesia. Therefore, the nation's leaders tried hard
to maintain the independence of Indonesia in various ways. Indonesian leaders also
try to have a negotiations with the Netherlands, and other countries to gain
recognition and support for the independence of Indonesia. Not only the government
delegation diplomacy. There are some religious leaders who also participated in the
negotiations to gain recognition and support for the independence of Indonesia, one
of them is Soegija. Soegija a Catholic leaders in Indonesia. This study aims to
determine what factors are pushing Soegija diplomacy, whatever efforts are made
Soegija in diplomacy, as well as any result obtained from Soegija involvement in
diplomacy independence.
This study is a historical research, which uses historical method to review the
events that happened in the past, using the data in the form of historical facts. By way
of data collection, data selection, data analysis, and writing of data (historiography).
The results obtained are the factors and external factors that encourage
Soegija in conducting diplomatic efforts to help the Indonesian government to
maintain the independence of Indonesia. Soegija tried to convey to the international
community of the plight of the people of Indonesia as a result of military actions
undertaken by the Dutch. Soegija in diplomacy efforts have an impact on the wave of
support from the international community will further increase the independence of
Indonesia. So obvious role Soegija assist the Indonesian government in diplomacy.
Keywords: Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, Diplomacy, Independence.
ix
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
KATA PENGANTAR
Pertama-tama saya ingin mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha
Esa atas segala kasih dan karunia Nya yang telah diberikan kepada saya, sepanjang
hidup saya.Berkat kasihnya pula maka saya dapat menyelesaikan skripsi ini.Tidak
ada sebuah karya yang lahir dengan sendirinya, tentu ada orang-orang yang berjasa
dibalik setiap karya, demikian dalam penulisan skripsi ini yang lahir karena dukungan
dari banyak pihak. Oleh karena itu dengan ketulusan saya ingin mengucapkan
terimakasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada :
•
Bapak Dr. F. X. Siswadi, M. A. selaku Dekan Fakultas Sastra, Universitas
Sanata Dharma, beserta para staf yang telah memberikan kesempatan serta ijin
untuk menyelesaikan skripsi ini.
•
Dosen pembimbing saya, Rm. Gregorius, Budi Subanar, SJ., yang senantiasa
meluangkan waktu untuk memberikan kritik dan sarannya guna kelancaran
penulisan skripsi ini. Serta memberikan saya data-data primer yang sangat
berguna untuk penelitian ini.
•
Dosen-dosen di jurusan Ilmu Sejarah Universitas Sanata Dharma : Bapak Drs.
Silverio R. L. Aji Sampurno, M. Hum. selaku dosen pendamping akademik,
Bapak Hb. Hery Santosa, M. Hum selaku Wakil Kepala Prodi Ilmu Sejarah,
Bapak Drs. Ign. Sandiwan Suharso., Bapak Dr. H. Purwanta, M. A., Bapak
Dr. Anton Haryono, M. Hum., Rm. F. X. Baskara T. Wardaya, SJ., Rm. Budi
x
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Susanto, SJ., serta Ibu Dr. Lucia Juningsih selaku Ketua Program Studi
Sejarah..
•
Pak F. Tri Haryadi yang selalu membantu dalam mengurus masalah
administrasi para mahasiswa Ilmu Sejarah.
•
Seluruh staf Wakil Rektor 3, Rm. Kuntoro Adi, SJ., Rm. Mutiara Andalas,
SJ., Pak Tri dan Ibu Nova, terimakasih telah memberikan kepercayaan kepada
saya sebagai penerima beasiswa penuh 4 tahun.
•
Seluruh guru di SMA DOMINIKUS, Wonosari beserta staff administrasi
•
Teman-teman Prodi
Sejarah angkatan 2010, Yohanes Rangga Ferry
Setiawan, Hernowo Adi Saputra,
Gerfasius Tasen, Dyah Indrawati, V.
Stephanie Woro Nariswari, Adelfina Mariana Lotu dan Daniela Hyasinta
Rika, terimakasih telah menjadi sahabat, saudara dan motivator untuk saya
selama 4 tahun ini, dan semoga persahabatan serta persaudaraan kita tidak
berakhir setelah 4 tahun ini.
•
Seluruh kakak tingkat / alumnus Ilmu Sejarah, Mas Kresna Duta, Mas Agus
Budi Purwanta, Mas Bondan Pamungkas, Mbak Ismiati, Mbak Silvia Ajeng
Dewanti, Mbak Ifa, Mbak Tatik, Mbak Dyah Palupi, Mas Deaz, Mas Aryo,
Mas Audy, Mbak Wahyu, Mbak Krisna, Kak Gia, Kak Tian, Bene, Mas
Irawan, Didin, Belo, Adul, Mbak Ayunda, Mbak Silvi, Mbak Yuli serta Sr.
Mena Ximenes
xi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
•
Teman-teman angkatan 2011 hingga 2013 Ilmu Sejarah, Bitto, Yasmine,
Fauzan, Rico, Desline, Juan, Mas Adit, Garit, Ndoi, Ryan, Pilus, Novi, Elsa,
Lisa, Ayu, Didi, Kevin, Tony, Luis dan teman-teman yang belum saya
sebutkan.
•
Teman-teman KKN REGULER XLVI, Samuel, Vira, Disti, Bono, Inggrid,
Jeje, Reza dan Reri
•
Ibu Tari dan Mas Eren yang telah menjadi bagian dari keluarga saya
•
Teman-teman kerja di Sekretariat PKKN : Vivien, Mas Wahyu, Mbak Anggi,
Anes, Bogi, Kak Five, Anna, Steve, Asti, Tyas, Andre, Hani, Wulan, Nia,
Widia, Andrew, Dimas, Antok, Mayang, Milia, Qori dan Rocky, terimakasih
sudah menjadi bagian dalam hidup saya.
•
Rekan-rekan kerja saya di SMP GLORIA 2, Surabaya. Terimakasih atas
segala doa, dukungan dan pengertiannya dalam proses pengerjaan skripsi ini.
Sehingga pada akhirnya skripsi ini dapat selesai dengan baik.
•
Murid-murid saya di SMP GLORIA 2, Surabaya. Terimakasih untuk doa dan
dukungannya selama ini.
•
Para pengurus KKN di PKKN USD Bapak Punto, Bapak Chosa, Bapak
Stevan, Ibu Santi dan Ibu Wiwid.
xii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
•
Teman-teman penerima Beasiswa Penuh Dirjen Dikti angkatan 2010 dan
2011, Meika, Joko, Dovi, Rakeh, Astri, Evi, Ratri, Sri, Miko, Tutik dan
lainnya.
•
Kepada seluruh keluarga besar dari kedua orangtua saya, baik yang berada di
Surabaya, Semarang, Solo, Wonosari dan Jakarta.
•
Teman-teman yang ada di Surabaya, Mila, Ika, Hastono, Tuwek, Aldo,
Rangga, Anita, Rien, Mas Johan, Alvonsa Melisa, Sinta, Aurelia, Imanuel,
Stevy Nanlohy, Nora Nababan, Stephanus, eric Carlos, Maya, Agnes dan
Alm. Chepy, terimakasih tetap menajadi sahabat bagi saya.
•
Teman-teman alumnus SMA DOMINIKUS, Wonosari, Sita, Titis, VIka,
Nining, Evi, April, Advend, Argo, Igna, Dwi, Anung, Dody (Ucok), Wahyu,
Dezvi, Rima, Eka, Panji, Alm. Kodrat, Ndaru, Norma, Farida, Novi, Siwir,
Pandu, Bayu, Timor, Anto, Koko serta teman-teman lainnya yang belum
disebutkan
•
Keluarga besar REMASA GMS Surabaya, Melisa, Ce Ezra, Ko Jefry, Ko
Luis, Ko Lukas, Pdm. Philip Mantofa, Bre., Ce Lydia, Ce Chrisrin, Ko Redo
dan semua keluarga besar GMS Surabaya.
•
Keluarga Besar GBI Wonosari, Bapak Pdt. Suryadi beserta keluarga dan
teman-teman YOUTH GBI Wonosari, terimakasih karena telah mendukung
saya dan keluarga selama ini.
xiii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
•
Segenap staff kerja Perpustakaaan Universitas Sanara Dharma, Yogyakarta.
•
Serta para pihak yang belum saya sebutkan satu persatu, yang telah berjasa
dalam kehidupan saya selama ini.
Karya ini belum sempurna dan masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu saya
menerima kritik dan saran agar membuat karya penulisan berikutnya menjadi jauh
lebih baik.Akhir kata dengan segala kerendahan hati saya persembahkan skripsi
ini.Semoga hasil penelitian ini berguna bagi para pembaca sekalian.
xiv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. ii
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. iii
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN ........................................................ iv
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI....................................................... v
MOTO .............................................................................................................. vi
PERSEMBAHAN ............................................................................................ vii
ABSTRAK ....................................................................................................... viii
KATA PENGANTAR ..................................................................................... xii
DAFTAR ISI .................................................................................................... xv
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ............................................................................. 8
C. Pembatasan Masalah ............................................................................ 10
D. Rumusan Masalah ................................................................................ 10
E. Tujuan Penelitian ................................................................................. 11
F. Manfaat Peneltian................................................................................. 12
G. Kerangka Teori..................................................................................... 12
H. Tinjauan Pustaka .................................................................................. 15
I. Metode Penelitian................................................................................. 18
J. Sistematika Penulisan .......................................................................... 20
BAB II. ALASAN MGR. ALBERTUS SOEGIJAPRANATA, SJ MELAKUKAN
USAHA DIPLOMASI PASCA KEMERDEKAAN RI
A.
B.
C.
D.
Sejarah Singkat Kehidupan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ ............ 24
Situasi Indonesia Pada Masa Penjajahan Jepang ................................. 33
Situasi Indonesia Pasca Proklamasi Kemerdekaan .............................. 36
Orang-orang Yang Mempengaruhi Pemikiran Mgr. Albertus
Soegijapranata ...................................................................................... 40
E. Pandangan Kebangsaan Mgr. Albertus Soegijapranata ....................... 43
BAB III. USAHA-USAHA MGR. ALBERTUS SOEGIJAPRANATA, SJ
DALAM MELAKUKAN DIPLOMASI (1946=1949)
A. Keterlibatan dan Usaha-usaha Diplomasi Soegija Dalam PeristiwaPeristiwa di Indonesia Pasca Proklamasi Kemerdekaan(1946-1947) .. .50
B. Keterlibatan dan Usaha-usaha Diplomasi Soegija Dalam PeristiwaPeristiwa di Indonesia Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ..... 55
xv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB IV. DAMPAK-DAMPAK YANG DITIMBULKAN DARI KETERLIBATAN
MGR. ALBERTUS SOEGIJAPRANATA, SJ DALAM USAHA
DIPLOMASI
A. Dampak Bagi Gereja dan Umat Katolik di Indonesia .......................... 64
B. Dampak Bagi Bangsa Indonesia .......................................................... 70
C. Tanggapan Berbagai Pihak Terhadap Keterlibatan Mgr. Albertus
Soegijapranata dalam Diplomasi Kemerdekaan Indonesia .................. 73
BAB V. KESIMPULAN .................................................................................. 77
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 87
LAMPIRAN ..................................................................................................... 90
xvi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ atau lebih sering dipanggil Soegija 1,
merupakan putera pribumi Indonesia pertama yang diangkat menjadi vikaris apostolik
dengan gelar uskup danaba2, oleh pimpinan tertinggi umat katolik sedunia yaitu Paus
Pius XI. Pengangkatan Soegija sebagai Vikaris apostolik terjadi pada tahun 1940.
Soegija diangkat sebagai vikaris apostolik di Vikariat Apostolik Semarang. Vikariat
Apostolik kemudian pada tahun 1960-1961 berubah menjadi Keuskupan Agung
Semarang. Vikariat Apostolik Semarang merupakan pecahan dari Vikariat Apostolik
Batavia3.
Selain dikenal sebagai seorang pemuka agama Katolik, Soegija juga dikenal
sebagai seseorang yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi terhadap bangsa dan
1
Pada penulisan selanjutnya akan menggunakan kata Soegija.
2
Uskup adalah pimpinan Gereja setempat yang bernama Keuskupan dan
merupakan bagian dari hirerarki Gereja Katolik Roma setelah Sri Paus (Uskup
AgungRoma) dan Kardinal. Dalam kedudukannya ini, Uskup sering disebut sebagai
pengganti dari para rasul Kristus. Setiap Uskup, dengan sendirinya menjadi bagian
dari jajaran para Uskup sedunia (Collegium Episcopale) di bawah pimpinan Sri Paus
dan bertanggungjawab atas seluruh Gereja Katolik (Paroki-paroki) yang berada di
dalam wilayah Keuskupannya.
3
Budi Subanar. SJ, Kilasan Kisah Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, (2012)
hlm iii
1
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
negaranya. Hal tersebut dapat dilihat dari semboyan Soegija yang berbunyi “100 %
Katolik, 100 % Indonesia” yang sangat terkenal terutama di kalangan umat katolik di
2
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
2
Indonesia. Semboyan tersebut merupakan cerminan diri dari seorang Soegija. Saat
menjadi uskup Soegija mengajak umat Katolik Indonesia untuk mengintegrasikan
sekaligus antara kekatolikan dan nasionalisme1.
Rasa nasionalisme yang dimiliki oleh Soegija tidak muncul begitu saja.
Soegija merupakan salah satu lulusan dari Kolose Xaverius, yang didirikan oleh
Franz van Lith, SJ di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Soegija muda juga dididik
secara langsung oleh Franz van Lith, SJ atau yang lebih akrab dipanggil sebagai Van
Lith. Hal tersebut membuat pemikiran Soegija banyak diinspirasi oleh Van Lith.
Salah satunya adalah rasa nasionalisme yang tinggi kepada bangsa dan negara.
Walaupun bukan orang asli pribumi, namun Van Lith memiliki rasa kepedulian yang
tinggi terhadap nasib bangsa Indonesia. Rasa kepedulian itu tumbuh akibat dari reaksi
atas perlakuan pemerintah kolonial Belanda yang menjadikan masyarakat pribumi
sebagai kelas bawah. Dari sanalah muncul rasa pembelaan terhadap nasib masyarakat
pribumi dalam diri Van Lith.
Dalam pembelaan terhadap masyarakat pribumi yang tertindas Van Lith tidak
hanya berteori belaka ataupun hanya sebatas omong kosong. Van Lith menunjukkan
tindakan nyata dalam membela masyarakat pribumi yang tertindas, selain itu juga
memberikan bantuan yang dapat meningkatkan derajad masyarakat pribumi sebagai
seorang manusia.Misalnya, Van Lith mencarikan pekerjaan untuk murid-muridnya
yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, Van Lith
1
hal 17
Budi Subanar. SJ, Kilasan Kisah Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, (2012),
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
3
juga membela secara langsung orang-orang pribumi yang sedang berperkara dengan
pihak pemerintah, serta memberikan pengertian mengenai hak-hak yang dimiliki oleh
masyarakat pribumi2.
Salah satu contoh pembelaan yang dilakukan oleh Van Lith adalah secara
langsung menemui pegawai pemerintah yang berhubungan dengan orang yang
dibelanya. Selain itu Van Lith juga memberikan pengertian mengenai hak-hak kaum
pribumi ketika mengadakan kunjungan ke wilayah-wilayah pedesaan. Pembelaan
yang dilakukan oleh Van Lith terhadap kaum pribumi yang lemah tidak hanya
dilakukan dengan memberi nasehat dan pertimbangan, atau dengan bantuan karitatif
saja, tetapi pembelaan yang ia lakukan adalah menyadarkan kaum pribumi akan hakhak mereka serta pembelaan nyata dengan berani berhadapan dengan Instansi yang
berwenang.
Contoh
lainnya
adalah
saat
Van
Lith
menjadi
anggota
Heerzeningcommitte3. Van Lith pernah menuliskan peringatan kepada golongan
Kristen Belanda dengan mengungkapkan kekecewaannya terhadap perilaku orang
Belada yang sering mengintimidasi orang-orang pribumi. Van Lith menyerukan agar
orang-orang golongan Kristen Belanda menghargai hak-hak orang Pribumi seperti
mereka menghargai hak-hak orang Belanda dan Indo Eropa. Van Lith juga meminta,
2
3
Ibid., hal.13
Komite yang dibentuk untuk memberikan bahan-bahan konsultasi dalam
rangka persiapan pembentukan sistem pemerintahan baru di wilayah koloni dalam
menghadapi kecenderungan dari pihak-pihak wakil orang-orang Belanda yang tidak
menguntungkan kepada kaum pribumi, Van Lith secara keras menentang sistem
perwakilan yang tidak menguntungkan kaum pribumi tersebut.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
4
agar orang Belanda, orang-orang Indo Eropa, dan orang-orang Jawa hidup sebagai
saudara.
Rasa nasionalisme dan contoh-contoh konkrit dalam membela masyarakat
yang tertindas itulah yang diharapkan oleh Van Lith dapat ditularkan kepada muridmuridnya. Rasa nasionalisme dan rasa solidaritas terhadap kaum tertindas yang
dimiliki oleh Van Lith, yang dikemudian hari menjadi inspirasi bagi Soegija untuk
melanjutkan semangat nasionalisme sang guru, yaitu dengan memilih jalan hidupnya
sebagai seorang imam. Dengan menjadi seorang imam Soegija berharap bisa
mengabdi sepenuhnya bagi bangsa dan negara. Soegija mengatakan pilihan untuk
menjadi imam bukan hanya dilatarbelakangi oleh faktor relijius semata, namun
karena adanya dorongan dari rasa nasionalisme. Oleh karena itu Soegija pun ingin
mengabdikan hidupnya bukan hanya kepada Gereja namun juga kepada bangsa dan
negaranya.
Rasa nasionalisme inilah yang pada akhirnya membuat Soegija ikut terjun
dalam memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia pada masa pergerakan
nasional. Bahkan hingga pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia Soegija berperan
dalam menggalang dukungan dan pengakuan dunia internasional atas kemerdekaan
dan kedaulatan Indonesia sebagai bangsa dan negara. Dengan cara diplomasi serta
kedudukannya sebagai seorang uskup, Soegija berusaha mendapatkan dukungan dan
pengakuan kemerdekaan Indonesia dari negara-negara lain.
Peranan Mgr. Albertus Soegijapranata.SJ Dalam Usaha Diplomasi Indonesia
pada masa Kemerdekaan Republik Indonesia (1946-1949) inilah yang menjadi topik
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
5
dari penelitian ini. Fokus penelitian ini adalah mengenai perjuangan Soegija yang
notabene merupakan seorang pemimpin agama Katolik yang terjun dalam kancah
diplomasi yang dilakukan pemerintah RI masa itu untuk mendapatkan dukungan dan
pengakuan dari bangsa–bangsa lain terhadap kemerdekaan Indonesia. Alasan
terjunnya Soegija dalam perjuangan diplomasi Indonesia, karena pasca Indonesia
memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Belanda masih belum
merelakan negara jajahannya yang memiliki kekayaan alam yang melimpah tersebut
untuk merdeka.
Hal itulah yang pada akhirnya membuat Belanda melakukan penyerangan
terhadap Indonesia khususnya di daerah Jawa dan Sumatera (Agresi Militer Belanda
I, 15 Juli 1947), dan dilanjutkan kembali dengan menyerang Yogyakarta, pada Juli
1947 dan Desember 1949 merupakan ibu kota Indonesia (Agresi Belanda II, 19
Desember 1948)4.
Salah satu bentuk konkrit semangat pengabdian kepada bangsa dan negara
yang dimiliki oleh Soegija, terlihat ketika Soegija memindahkan pusat pemerintahan
keuskupannya dari Semarang ke Bintaran, Yogyakarta. Karena pada saat itu ibu kota
RI berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta, yang disebabkan oleh serangan pasukan
Belanda ke Indonesia khususnya Jakarta yang merupakan ibukota dan pusat
pemerintahan RI. Situasi Jakarta yang tidak aman tersebut yang kemudian membuat
4
Departemen Pendidikan dan kebudayaan Indonesia, 30 Tahun Indonesia
Merdeka, hlm 144, 191
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
6
pemerintah Indonesia memutuskan untuk memindahkan ibu kota Indonesia ke
Yogyakarta pada tanggal 6 Januari 1946.
Dalam menghadapi serangan Belanda ke Indonesia, pemerintah RI melakukan
usaha diplomasi untuk mengusir kekuatan pasukan Belanda dari Indonesia. Baik
dengan cara perang seperti yang dilakukan Jenderal Soedirman, maupun dengan cara
berdiplomasi dengan negara-negara internasional seperti yang dilakukan oleh
pemerintah. Usaha diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia tersebut
bertujuan untuk mendapatkan dukungan dari negara-negara lain untuk mengusir
kekuatan tentara Belanda dari Indonesia, serta agar Indonesia mendapatkan
pengakuan kedaulatan sebagai bangsa dan negara yang merdeka.
Peranan Soegija dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia juga mendapatkan
pengakuan dari pemerintah Indonesia saat itu. Soegija memiliki hubungan yang baik
dengan para pemimpin bangsa ini, misalkan saja dengan Presiden pertama RI, Ir.
Soekarno atau juga dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Salah satu contoh
kedekatan Soegija dengan pemerintah Indonesia adalah saat menemani Presiden
Soekarno untuk bertemu dengan Nuntius5 Vatikan untuk Indonesia yang bernama de
Jounge d’ardoya, yang pada saat itu melakukan tugas untuk mengakui kemerdekaan
RI. Adapun yang melatarbelakangi penelitian mengenai Perananan Mgr. Albertus
Soegijapranata, SJ
Dalam Diplomasi Kemerdekaan RI
(1946-1949) ialah
dimaksudkan untuk mengungkapkan sisi lain dari Soegija, yang tidak hanya berperan
5
Sebutan untuk Duta Besar Vatikan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
7
sebagai seorang pemuka agama Katolik, tetapi juga berperan penting terhadap
diplomasi kemerdekaan Indonesia. Selain itu penelitian ini juga bermaksud
menunjukkan kekhususan Soegija dalam berdiplomasi, dengan melihat usaha
diplomasi yang dilakukan oleh Soegija dalam membantu pemerintah Indonesia
mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sehingga pada nantinya penelitian ini
diharapkan dapat menambah penulisan mengenai sejarah nasional Indonesia,
terutama sejarah kemerdekaan Indonesia.
Penulisan ini juga ingin meninjau lebih dalam peranan dari Soegija dalam
perjuangan kemerdekaan Indonesia, terutama peranan Soegija dalam berdiplomasi
dengan berbagai pihak guna menggalang dukungan bagi kemerdekaan Indonesia.
Penelitian ini bukan hanya sekedar menarasikan ataupun memaparkan data-data yang
ada mengenai ketelibatan Soegija dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia
khususnya dalam bidang diplomasi. Penelitian ini juga ingin memberikan pandangan
lain mengenai sosok dari Soegija dan bagaimana usaha Soegija dalam melakukan
diplomasi.
A. Identifikasi Masalah
Dalam konteks permasalahan sebuah penelitian, terlebih dahulu yang harus
dilakukan sebelum memulai penelitian adalah menentukan tema besar yang akan
difokuskan dalam penelitian. Baru setelah menentukan tema besar dari penelitian
langkah yang harus dilakukan berikutnya adalah mengkerucutkan tema atau memilih
tema kecil. Hal tersebut bertujuan untuk
mempermudah mengidentifikasi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
8
permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian, sehingga mempermudah untuk
mencari sumber atau data yang sesuai dengan tema penelitian. Semuanya itu
bertujuan untuk memfokuskan penelitian tersebut, agar pembahasan dalam sebuah
penelitian tidak melenceng dari permasalahan-permasalahan yang telah ditentukan di
awal.
Berpegang dari paparan di atas, penelitian kali ini mengangkat mengenai Mgr.
Albertus Soegijapranata, SJ (Soegija) sebagai subjek penelitian. Dengan spesifikasi
topik mengenai “Peranan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ Dalam Diplomasi
Kemerdekaan RI (1946-1949)”.
Sebagai seorang uskup, Soegija tidak hanya berperan dalam memimpin
umatnya untuk menjadi seorang Katolik sejati, namun Soegija juga merupakan sosok
agamawan sekaligus negarawan. Karena sebagai seorang tokoh agama, Soegija juga
berperan dalam proses kemerdekaan Indonesia, terutama seusai Indonesia
memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Dari paparan di atas, permasalahan yang akan difokuskan dalam penelitian ini
adalah
1. Mengenai latar belakang Mgr. Albertus Soegijapranata. SJ dalam melakukan
diplomasi dengan dunia Internasional. Bagian ini akan Menjelaskan mengenai
situasi Indonesia setelah memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Kemudian akan diperkuat dengan pandangan kebangsaan menurut Soegija. Serta
pemikiran-pemikiran dari beberapa tokoh yang mempengaruhi pemikiran
Soegija. Ini merupakan konteks khusus: bersifat personal dan nasional.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
9
2. Usaha-usaha, serta proses yang dilakukan oleh Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ
dalam melakukan diplomasi dengan dunia Internasional, guna meminta
dukungan dari negara-negara internasional, seperti Vatikan dan pihak-pihak
lainnya. Bukan hanya melalui diplomasi secara resmi, seperti melalui surat-surat
kepada para pemimpin negara seperti yang dilakukan kepada Paus di Vatikan,
namun juga melalui tulisan-tulisan dari Soegija yang dimuat di beberapa koran
maupun majalah nasional dan internasional. Serta ditambahkan beberapa tokoh
yang ikut berperan dalam diplomasi kemerdekaan Indonesia sebagai bahan
pembanding dengan usaha diplomasi yang dilakukan oleh Soegija. Ini
merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan Soegija dalam melakukan
diplomasi kemerdekaan RI.
3. Dampak-dampak dari keterlibatan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ dalam
diplomasinya dengan dunia internasional, baik dampak bagi bangsa Indonesia,
dampak bagi umat Katolik Indonesia. Ditambahkan juga bagaimanakah
tanggapan pihak-pihak yang terkait dengan keikutsertaan Soegija dalam usaha
perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ini untuk melihat tanggapan pihak lain atas
usaha diplomasi yang dilakukan Soegija.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
10
B. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini periodisasi yang akan dipilih adalah dari tahun 19461949. Periodisasi tersebut ditujukan agar pembahasan mengenai peristiwa yang
berhubungan dengan Soegija sebelum dan sesudah periode tersebut tidak masuk
kedalam fokus dari penelitian ini. Tahun 1946 dipilih sebagai saat di mana Ibukota RI
berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta, tepatnya sejak 4 Januari 1946. Tahun 1949
dipilih sebagai masa setelah ditanda tanganinya Perjanjian dari Konferensi Meja
Bundar (KMB) di Jakarta dan di Den Haag, 27 Desember 1949. Sedangkan topik
yang dipilih adalah peranan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ dalam usaha diplomasi
kemerdekaan RI bertujuan untuk memfokuskan penelitian ini hanya kepada peranan
Soegija dalam bidang diplomasi saja.
C. Rumusan Masalah
Bedasarkan identifikasi masalah yang telah dipaparkan dalam latar belakang
penelitian ini, serta pembatasan permasalahan dalam penelitian kali ini, maka
memunculkan tiga pertanyaan dalam permasalahan yang berkaitan dengan topik
penelitian yang mengangkat mengenai “Peranan Mgr. Albertus Soegijapranata Dalam
Usaha Diplomasi Kemerdekaan RI (1946-1949)”, Adapun rumusan masalah tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Mengapa Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ melakukan diplomasi dengan dunia
internasional pasca kemerdekaan RI ?
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
11
2. Bagaimana usaha yang dilakukan oleh Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ dalam
usaha diplomasi dengan dunia internasional pasca kemerdekaan RI ?
3. Dampak-dampak apa sajakah yang ditimbulkan dari keterlibatan Mgr. Albertus
Soegijapranata, SJ dalam usaha diplomasi dengan dunia internasional pasca
kemerdekaan RI ?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas, tujuan yang ingin
dicapai dalam penelitian mengenai Peranan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ dalam
usaha diplomasi kemerdekaan RI (1946-1949) adalah pertama, bertujuan untuk
mengetahui hal-hal yang melatarbelakangi Soegija dalam melakukan usaha diplomasi
kemerdekaan Indonesia. Kedua, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tindakamtindakan atau usaha Soegija dalam berdiplomasi, serta kekhasan Soegija dalam
berdiplomasi. Ketiga, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak-dampak apa
sajakah yang ditimbulkan atas keterlibatan Soegija dalam diplomasi kemerdekaan
Indonesia. Baik dampak bagi umat Katolik di Indonesia maupun bagi bangsa
Indonesia secara umum.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
12
E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian mengenai Peranan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ
dalam usaha diplomasi kemerdekaan RI (1946-1949) ialah :
Dapat memberikan wacana baru terhadap peranan Soegija di dalam mempertahankan
kemerdekaan Indonesia terutama dalam hal diplomasi pada periode tersebut.
Pertama, memahami latar belakang Soegija dalam melakukan usaha
diplomasi, kedua mengetahui bahwa tindakan diplomasi tidak hanya dapat dilakukan
dengan jalur resmi (melalui pemerintah), tetapi juga dapat dilakukan dengan cara lain
seperti yang dilakukan oleh Soegija, dan yang ketiga adalah mengetahui dampak
apakah yang dihasilkan dari usaha diplomasi yang dilakukan oleh Soegija.
F. Kerangka Teori
Sebuah penulisan sejarah bukan hanya menarasikan sebuah peristiwa yang telah
terjadi pada masa lalu tetapi penulisan sejarah juga wajib menerangkan peristiwa
sejarah tersebut secara lebih mendalam dan terperinci. Hal ini dapat dilakukan setelah
menganalisis peristiwa tersebut. Sebelum melanjutkan penulisan ini, \perlu diketahui
apakah yang dimaksud dengan “Diplomasi”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
dikatakan bahwa kata diplomasi memiliki tiga makna. Pertama diplomasi dapat
diartikan sebagai “urusan atau penyelenggaraan perhubungan resmi antara negara
dengan negara”. Kedua diplomasi juga bisa berarti “pengetahuan dan kecakapan
menggunakan perkataan-perkataan antara negara dengan negara”. Yang ketiga adalah
“kecakapan menggunakan perkataan-perkataan yang samar-samar atau sangat
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
13
berhati-hati dalam berunding, menghadapi orang lain dsb6”. Dari makna kata
diplomasi tersebut, dalam penelitian ini maka makna yang sesuai untuk “diplomasi”
dalam permasalahan dari penulisan ini adalah makna yang ketiga yaitu “kecakapan
menggunakan perkataan-perkataan yang samar-samar atau sangat berhati-hati dalam
berunding, menghadapi orang lain dsb”. Jadi, pengertian yang terkait pada pokok
yang ketiga.
Langkah yang sangat penting dalam menganalisis sebuah peristiwa sejarah ialah
dengan menyediakan suatu kerangka pemikiran atau kerangka referensi yang
mencakup pelbagai konsep dan teori yang akan dipakai dalam membuat analisis
tersebut7. Berkaitan dengan hal tersebut, untuk memperjelas arah dan batasan
pembahasan mengenai peranan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ dalam usaha
diplomasi kemerdekaan RI, diperlukan sebuah teori yang cocok untuk menganalisi
topik dari penelitian ini. Adapun teori yang dianggap cocok dengan topik penelitian
ini ialah teori peran. Alasan mengapa teori tersebut yang dianggap cocok untuk topik
penelitian ini, karena penelitian ini memfokuskan kepada peran dari Mgr. Albertus
Soegijapranata, SJ dalam usaha diplomasi pasca kemerdekaan RI.
Kata peran berarti sesuatu yang menjadi bagian atau memegang pimpinan yang
terutama. Peranan menurut Levinson sebagaimana dikutip oleh Soejono Soekanto,
sebagai berikut: peranan adalah sesuatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan
6
. Ibid., hal 253
7
Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah,
(1992). Hlm 2
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
14
individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat. Ttitik Peranan meliputi normanorma yang dikembangkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat.,
Ttitik Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang
membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan8. Peran dalam konotasi
ilmu sosial berarti menunjuk suatu fungsi yang dibawakan seseorang ketika
menduduki suatu karakterisasi (posisi) dalam struktur sosial9
Dalam melaksanakan peranannya dalam masyarakat seseorang yang berada dalam
kelas tertentu akan menunjukkan perilaku yang berbeda dengan masyarakat pada
umumnya dan memiliki dampak besar bagi kehidupan masyarakat umum, terutama
dalam tahap aksi. Aksi merupakan suatu perilaku yang dibedakan atas sesuatu hal
yang berkaitan apakah hal tersebut pernah dipelajari atau belum, keterarahan pada
tujuan dan juga penampakan dari suatu hal yang dikehendaki. Seseorang yang
memiliki peran dalam masyarakat memiliki kewajiban untuk menjadi contoh
(patokan) bagi masyarakat dalam menjalankan norma-nomrma yang hidup dalam
masyarakat.
Menurut Biddle dan Thomas peran adalah rangkaian rumusan yang membatasi
perilaku-perilaku yang diharapkan dari pemegang kedudukan tertentu. Misalnya
dalam
sebuah
8
9
3
negara,
seorang
pemimipin
diharapkan
dapat
memberikan
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (1982), Hlm. 238
Edy Suhardono, Teori Peran, Konsep, Derivasi dan Implikasinya (1994), Hlm
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
15
kesejahteraan bagi rakyatnya, dapat menjadi panutan rakyatnya serta menjadi
pelindung untuk rakyatnya10.
Setelah memaparkan apakah itu peran dan bagaimana teori peran bekerja dalam
membantu memahami bagaimana seorang individu dapat memberikan dampak bagi
orang lain. Diharapkan teori tersebut juga dapat membantu penulisan ini untuk
menelisik lebih dalam bagaimana sosok Soegija menjalankan peranannya sebagi
seorang tokoh agama yang ikut terjun dalam kancah diplomasi kemerdekaan RI.
G. Tinjauan Pustaka
Dalam melakukan penelitian yang mengangkat topik mengenai Peranan Mgr.
Albertus Soegijapranata, SJ dalam usaha diplomasi kemerdekaan RI (1946-1949)
dilakukan terlebih dahulu sebuah riset kepustakaan yang berkaitan dengan Mgr.
Albertus Soegijapranata.Hasil dari riset tersebut didapatkan bahwa cukup banyak
penulisan-penulisan yang mengangkat kisah dari Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ
sebagai objek penelitian.
Adapun penulisan-penulisan mengenai Soegija yang telah ada adalah “Mgr.
Albertus Soegijapranata, S. J Antara Gereja dan Negara” karya Anhar Gongong.
Secara keseluruhan buku ini menuliskan bahwa Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ
bukan hanya merupakan seorang pemimpin agama, namun Mgr. Albertus
Soegijapranata, SJ juga merupakan seorang nasionalis sejati.
10
Soegija mengabdi
. W. J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (1985), Hal. 735
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
16
kepada bangsa dan negaranya tanpa memandang status sosial, budaya maupun
agama.Dalam buku ini juga dibahas mengenai peranan Soegija pada masa penjajahan
Belanda, Jepang hingga pada masa kemerdekaan RI.
Buku karya Ayu Utami yang menjadikan Soegija sebagai objek penulisannya.
Buku karya Ayu Utami ini berjudul “Soegija 100 % Indonesia”.Dalam buku Soegija
100 % Indonesia, Ayu Utami menuliskan mengenai perjalanan hidup dari Soegija
dari masa remaja hingga akhir hayat Soegija. Dalam buku ini juga dituliskan
mengenai peranan-peranan Soegija dalam Gereja Katolik di Indonesia, serta peranan
dalam kemerdekaan Indonesia.Buku ini sedikit membahas mengenai peranan Soegija
dalam bidang diplomasi nasional maupun internasional, tetapi pembahasan tersebut
tidaklah mendalam.
Ada juga beberapa penulisan karya Rm. Budi Subanar, S.J yang merupakan
salah satu pengajar di Pasca Sarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata
Dharma, Yogyakarta, seperti Biografi Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ yang
berjudul Soegija si Anak Bethlehem van Java, yang diterbitkan pada tahun 2003.
Buku Soegija si Anak Bethlehem van Java lebih kepada biografi dari Mgr. Albertus
Soegijapranata, SJ, namun periode yang dibahas hanya dari masa penjajahan Belanda
hingga masa penjajahan Jepang. Periode pada masa pasca kemerdekaan tidak dibahas
dalam buku ini.
Ada juga buku yang berjudul “Kilasan Kisah Soegijapranta”, buku buah
karya dari Budi Subanar ini terdiri dari banyak topik yang membahas mengenai
kehidupan, peranan dan pemikiran dari Soegija. Buku tersebut terdiri dari beberapa
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
17
sub bab yang membahas kehidupan Soegija dan pemikiran kebangsaan Soegija. Salah
satu topik yang ada dalam buku tersebut ialah mengenai peran Soegija dalam
menyuarakan keperihatian Indonesia di Dunia Internasional.Namun, porsi dari
pembahasan topik tersebut hanya terdiri dari 15 halaman. Di dalam buku ini penulis
menuliskan beberapa usaha diplomasi yang dilakukan Soegija dengan dunia
Internasional, namun penulis tidak menambahkan dampak konkrit dari keikutsertaan
Soegija dalam usahanya berdiplomasi. Oleh karena itu penelitian ini selain
menuliskan mengenai usaha-usaha diplomasi dari Soegija, juga akan mencantumkan
dampak-dampak yang dihasilkan oleh usaha diplomasi Soegija bagi kemerdekaan
Indonesia, bangsa Indonesia, serta bagi kehidupan umat Katolik di Indonesia.
Buku lain yang dijadikan sebagai tinjauan pustaka dalam penelitian ini adalah
buku dari Budi Subanar, berjudul “Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup di Masa
Perang, Catatan Harian Mgr A. Soegijapranata, SJ (13 Februari 1947 - 17 Agustus
1949)”. Buku ini berisikan terjemahan catatan-catatan harian dari Soegija yang
aslinya menggunakan Bahasa Jawa dengan sedikit campuran Bahasa Belanda dan
istilah bahasa Latin, ke Bahasa Indonesia.
Selain karya penulisan, terdapat pula film yang mengangkat kisah kehidupan
Mgr. Albertus Soegijapranata, S.J yang disutradarai oleh Garin Nugroho. Film
tersebut diadopsi dari buku karya Budi Subanar yang berjudul, “Kesaksian
Revolusioner Seorang Uskup Di Masa Perang, Catatan Harian Mgr. Albertus
Soegijapranata, SJ”. Dalam film itu diceritakan berbagai kejadian yang dialami
langsung oleh Soegija dari masa penjajahan Belanda.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
18
Walau banyak karya penulisan yang membahas mengenai sosok Soegija yang
merupakan uskup pribumi pertama, serta perjalanan hidup Soegija tetapi belum ada
karya penulisan yang secara khusus dan spesifik membahas mengenai peranan
Soegija dalam usaha diplomasi kemerdekaan Indonesia.
H. Metode Penelitian
Metode penelitian sejarah lazim juga disebut sebagai metode sejarah. Metode
berarti cara, jalan atau petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis. Metode di sini
dapat dibedakan dari metodologi, sebab metodologi adalah “science of methods”,
yakni ilmu yang membicarakan jalan. Sementara yang dimaksud dengan penelitian,
menurut Soerjono Soekanto adalah kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisis
dan konstruksi yang dilakukan secara metodologis, sistematis, dan konsisten. Banyak
definisi tentang penelitian tergantung dari mana sudut pandang yang dipilih oleh
setiap masing-masing orang. Penelitian dapat didefinisikan sebagai upaya mencari
jawaban yang benar atas suatu masalah berdasarkan logika dan didukung oleh fakta
empirik. Dapat pula dikatakan bahwa penelitian adalah kegiatan yang dilakukan
secara sistematis melalui proses pengumpulan data, pengolahan data, serta menarik
kesimpulan berdasarkan data menggunakan metode dan teknik tertentu11.
Dari penjelasan diatas maka penelitian ini menggunakan sebuah metode
penelitian
11
untuk
menjawab
permasalahan-permasalahan
dalam
topik
Dudung Abdurahman, Metodologi Penelitian Sejarah, (2007), Hal. 53.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
19
penelitian.Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dan termasuk kategori
studi kepustakaan. Dalam pelaksanaan penelitian sumber-sumber yang digunakan
adalah sumber literature, baik berupa buku-buku, catatan, maupun laporan hasil
penelitian yang sudah ada lebih dahulu. Adapun metode penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah
1. Pengumpulan Data dan Seleksi Data
Ada macam-macam cara yang dapat dilakukan dalam pengumpulan data,
tetapi penulis hanya menggunakan satu teknik saja dalam pengumpulan data dalam
penelitian ini.
Teknik pengumpulan data merupakan langkah awal dalam penelitian, karena
tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik
pengumpulan data, peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data
yang ditetapkan.
Dalam menjawab berbagai masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini,
metode pertama yang dilakukan adalah pengumpulan data (sumber).
Sumber yang
dikumpulkan dalam penelitian terdiri dari dua bagian yakni sumber primer dan
sumber sekunder. Sumber primer yang berupa tulisan hasil karya Soegijo atau pun
naskah sejaman dengan soegija, naskah yang dipergunakan dalam penulisan ini
adalah Surat-surat Gembala yang ditulis oleh Soegija yang juga dapat digunakan
sebagai sumber teks, serta catatan-catatan harian dari Soegija yang telah
diterjemahkan dengan menggunakan Bahasa Indonesia dengan ejaan yang
disemprnakan . Sumber sekunder yang dipergunakan pada penelitian ini adalah buku-
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
20
buku yang membahas mengenai kehidupan Soegija, buku-buku yang membahas
peristiwa ataupun situasi Indonesia, khususnya Yogyakarta pada periode 1946-1949
dan buku-buku lain yang dapat membantu dalam penelitian ini. Teknik yang
digunakan dalam penelitian ini adalah studi teks yang juga didukung dengan studi
pustaka. Sehingga data-data yang dipergunakan untuk penelitian mengenai Peranan
Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ dalam usaha diplomasi kemerdekaan Indonesia
dalam periode 1946-1949 adalah berupa sumber tertulis.
Sumber-sumber tertulis yang dipergunakan ialah tulisan-tulisan dari para
peneliti lain yang juga pernah meneliti mengenai kehidupan Soegija. Selain untuk
sebagai sumber penulisan, teks-teks tersebut juga digunakan untuk membandingkan
penelitian-penelitian mengenai Soegija yang telah ada sebelumnya, dengan penelitian
yang akan dilakukan ini.
Selain menggunakan sumber-sumber penulisan dari para peneliti lain,
penelitian ini juga menggunakan koran-koran dan majalah-majalah yang pernah
memuat tulisan mengenai Soegija, maupun koran-koran ataupun majalah-majalah
lama yang pernah memuat tulisan buah karya Soegija sendiri.
Dalam melakukan proses pengumpulan data tersebut, diperlukan pencarian
sumber-sumber tertulis yang sesuai dengan topik penelitian ini. Pencarian sumber
tersebut dalam penelitian ini akan dilakukan di Perpustakaan Universitas Sanata
Dharma, dan dari pihak terkait yang memiliki sumber arsip dari Soegija dalam hal ini
adalah dari Romo Budi Subanar, SJ selaku dosen pembimbing dalam penulisan
skripsi ini, yang juga merupakan salah satu dosen di Pasca Sarjana Ilmu Religi dan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
21
Budaya, Universitas Sanata Dharma. Sumber-sumber yang dipakai dalam penelitian
ini hanyalah sumber-sumber tertulis yang memuat kehidupan mengenai Soegija,
terutama yang berhubungan mengenai peranan Soegija pada masa perjuangan
kemerdekaan Indonesia. Setelah melakukan proses pengumpulan data, dilanjutkan
dengan seleksi data. Seleksi data dilakukan untuk mempermudah penelitian dalam
mencari data-data yang sesuai dengan topik penelitian, agar data-data yang tidak
sesuai dengan topik penelitian dapat dikesampingkan.
Analisis Data
Data-data yang telah berhasil diperoleh kemudian akan dibandingkan sesuai
dengan konteks zaman di masa itu. Data-data tersebut akan ditelaah dan bandingkan
dengan data-data lainnya yang berkaitan dengan topik dan tema dalam penelitian ini.
Hal ini dilakukan agar menemukan gambaran yang sesuai dalam melihat peranan
Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ dalam usaha diplomasi kemerdekaan RI, khususnya
dalam periode tahun 1946 hingga 1949. Periode tersebut dipilih karena pada tahun
1946 merupakan awal bagi Soegija ikut dalam melakukan usaha diplomasi
kemerdekaan. Karena pada tahun tersebut pusat Keuskupan Semarang dipindahkan
dari Semarang ke Yogyakarta, dengan tujuan agar Soegija dapat lebih dekat dan bisa
secara langsung berkomunikasi dengan para pemimpin negara. Karena pada tahun
1946 tersebut, pusat pemerintahan Indonesia juga dipindahkan dari Jakarta ke
Yogyakarta akibat dari kedatangan Belanda yang membonceng tentara NICA.
Sedangkan tahun 1949 dipilih, karena pada tahun tersebut tepatnya pada 19
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
22
Desember 1949, Belanda resmi mengakui kedaulatan Indonesia dalam perjanjian
KMB. Yang berarti mengakhiri segala upaya dari seluruh pihak yang berjuang dalam
mempertahankan kemerdekaan Indonesia, baik perjuangan fisik maupun perjuangan
diplomasi.
Analisa yang digunakan dalam penelitian ini didasari oleh teori-teori yang
dipinjam dari ilmu-ilmu bantu dalam penyusunan karya sejarah ini. Adapun seperti
yang disebutkan dalam kerangka teori, teori yang dipergunakan dalam penelitian ini
diambil dari salah satu teori dalam ilmu sosiologi, yaitu teori peran.
I. Sistematika Penulisan
Guna mempermudah pemahaman mengenai hasil dari penelitian ini, dalam
menjelaskan permasalahan-permasalahan yang telah dibuat akan dipaparkan dalam
beberapa bagian (bab) yang pembagian isinya :
Bab I berisikan penjelasan tentang latar belakang dari penelitian ini, identifikasi
masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, manfaat penelitian, kajian pustaka,
landasan teori, metode penelitian dan terakhir adalah sistematika penulisan.
Bab II berisi latar belakang mengapa Soegija melakukan diplomasi dengan dunia
internasional. Dengan membahas pandangan kebangsaan Soegija, siapa sajakah tokoh
yang memiliki pengaruh terhadap pemikiran dari Soegija. Serta situasi Indonesia pada
tahun 1946 hingga 1949.
Bab III, merupakan bagian penjelasan mengenai keterlibatan dan usaha Soegija
dalam berdiplomasi dengan pihak-pihak terkait guna mendapatkan dukungan dan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
23
pengakuan atas kemerdekaan Indonesia, sehingga Indonesia dapat mempertahankan
kemerdekaan. Artinya menempatkan usaha
Soegija di dalam konteks diplomasi
Indonesia.
Bab IV menjelaskan dampak-dampak yang muncul dari keterlibatan Soegija atas
usahanya
berdiplomasi
dengan
pihak-pihak
terkait
guna
mempertahankan
kemerdekaan Indonesia. Baik dampak bagi bangsa Indonesia saat itu secara umum
dan umat Katolik Indonesia, beserta tanggapan dari pihak-pihak yang terkait atas
keikutsertaan Soegija dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Bab V merupakan bagian penutup, berisi kesimpulan-kesimpulan yang ditarik
dari paparan penjelasan atas permasalahan-permasalahan yang ada dalam penelitian
ini dengan menggunakan teori yang telah dipilih.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB II
Alasan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ Melakukan Usaha
Diplomasi Pasca Kemerdekaan RI
A.
Sejarah Singkat Kehidupan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ
Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ terlahir dengan nama Soegija. Soegija.lahir
di Surakarta, 25 November 1986. Soegija merupakan anak kelima dari sembilan
bersaudara dari keluarga Karijosoedarmo yang merupakan salah satu abdi dalem
Kraton Surakarta.Ayah Soegija merupakan orang Yogyakarta, sedangkan ibunya asli
dari Surakarta. Soegija terlahir dalam keluarga muslim, kakeknya merupakan seorang
kyai yang cukup terkenal di Yogyakarta, yang bernama Kyai Soepo.
Soegija kemudian pindah dari Surakarta ke Yogyakarta, di Yogyakarta
Soegija dan keluarganya tinggal di Kampung Ngabean. Kampung Ngabean
merupakan sebuah kampung yang letaknya berada di sebelah barat Kraton
Yogyakarta.Soegija kecil menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (SR)1. Awalnya
Soegija bersekolah di Sekolah Rakyat Ngabean yang terletak tidak jauh dari
1
Sekolah Rakyat merupakan Sekolah Pendidikan Dasar pada masa HindiaBelanda. Saat inidisebut sebagai Sekolah Dasar (SD)
24
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
kediaman orangtuanya, namun sekolah tersebut baru dimulai pada siang hari. Saat
dibuka SR baru di daerah Wirogunan yang jam belajarnya dimulai pada pagi hari,
25
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
25
Soegija pun pindah ke sekolah tersebut. Pendidikan di SR diselesaikan Soegija hanya
sampai kelas tiga saja.
Soegija kembali melanjutkan pendidikannya di Hollandsch Indlandsche
School (HIS) di daerah Lempuyangan yang terletak di sebelah utara daerah
Wirogunan. Hollandsch Indlandsche School merupakan sekolah tingkat pendidikan
dasar yang memperkenalkan bahasa Belanda. Setelah menyelesaikan pendidikan
dasarnya di HIS, Soegija melanjutkan pendidikannya di Kolose Xaverius, Muntilan.
Masuknya Soegija kecil di sekolah yang dipimpin langsung oleh Van Lith, tidak lain
dan tidak bukan merupakan jasa dari Van Lith sendiri. Van Lith sering melakukan
kunjungan ke sekolah-sekolah rakyat di daerah Yogyakarta. Van Lith juga sering
melakukan kunjungan ke rumah-rumah keluarga petani di sekitar Muntilan, hal
tersebut dilakukan Van Lith untuk berbincang kepada para petaniakan pentingnya
pendidikan bagi anak-anak mereka. Van Lith bertemu dengan Soegija kecil saat
melakukan kunjungan di SR Wirogunan.
Pada tahun 1910, Soegija mulai mengenyam pendidikan di Kolose Xaverius.
Muntilan di bawah pengajaran Van Lith sendiri. Saat masuk ke Kolose Xaverius,
Muntilan, Soegija mengatakan bahwa dirinya tidak tertarik untuk menjadi seorang
Katolik.Hal tersebut dikatakannya langsung kepada ayahnya dan Martens, yang
merupakan seorang imam yang menjadi salah satu pamongnya di Muntilan. Bahkan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
26
Soegija mengejek para imam Belanda datang ke Jawa hanya untuk mengeruk
kekayaan, setelah itu akan pulang ke negeri Belanda1.
Namun rupanya Soegija tidak dapat memegang perkataannya untuk tidak
menjadi seorang Katolik. Di asrama Soegija sering berdiskusi dengan beberapa imam
yang juga merupakan guru di Kolose Xaverius, Muntilan. Hasil diskusi tersebu yang
membuat Soegija merenung saat mengetahui para imam tersebut cukup senang
mendapat kesempatan mengabdikan diri bagi sesama dengan mengajar dan
mempersiapkan tunas-tunas masa depan walaupun tidak digaji. Hal tersebut
merupakan tugas mulia sekaligus cerminan pengabdian kepada Tuhan. Mengetahui
kenyataan tersebutSoegija menjadi berpikir bahwa sangatlah mulia tujuan dari para
imam tersebut. Dari situ sempat terbersit di benak Soegija untuk menjadi seorang
imam. Menurut Soegija bila menjadi seorang imam, Soegija dapat mengabi kepada
bangsanya, membantu bangsanya yang selama ini jiwanya terluka akibat penjajahan
dan bagi Soegija menjadi iman dapat mencurahkan seluruh perhatiannya kepada
permasalahan kemanusiaan sekaligus mengabdi kepada Tuhan.
Kekeluargaan dan keakraban yang terjalin antara guru dan murid serta
pelatihan siswa menjadi manusia yang bertanggung jawab dalam kehidupan di
asrama pun ikut mempengaruhi dalam pembentukan karakter dan cara pandang
Soegija. Lambat laun Soegija mulai merasakan adanya perubahan dalam dirinya
terutama cara hidup dan doanya. Perubahan yang semakin membuat Soegija merasa
1
G. Budi Subanar, SJ, Soegija, Catatan Harian Seorang Pejuang
Kemanusiaan, Yogyakarta : Galang Press, 2012
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
27
menjadi manusia yang lebih baik itu membuat Soegija pada akhirnya memberanikan
diri untuk meminta ijin kepada pengajarnya yang merupakan seorang imam untuk
mengikuti pelajaran Katolik di sekolah.Pada awalnya permintaan Soegija tidak
diijinkan oleh romo.Setelah setahun tinggal di Muntilan, Soegija kemudian mengikuti
pelajaran magang agama Katolik, mulanya lebih didorong oleh keingintahuannya.
Namun kemudian ia minta untuk dibaptis2. Tepatnya Pada 24 Desember 1910,
Soegija memantapkan hati mendapat sakramen baptisan dengan memilih nama baptis
Albertus. Soegija sangat bersyukur karena kedua orangtuanya bisa menerima
pilihannya untuk berpindah keyakinan, asalkan dia bisa hidup selaras dengan
keyakinan baru yang dipilihnya walaupun hal tersebut bertentangan dengan keinginan
kedua orangtuanya.
Soegija berhasil menyelesaikan studinya di Kolose Xaverius, Muntilan pada
tahun 1915. Setelah lulus Soegija menjalani praktik selama satu tahun sebagai guru di
almamaternya. Seusai menjalani praktik sebagai guru, Soegija menyatakan niatnya
untuk menjadi seorang imam. Setelah menyatakan ingin menjadi seorang imam, pada
tahun 1916 Soegija memulai pendidikannya di Seminari Menengah di Kolose
Xaverius Muntilan.Oleh sebab itu selama tiga tahun lamanya Soegija mendalami
pelajaran bahasa Yunani, Latin, dan Perancis. Selain itu Soegija juga harus
mendalami hal-hal yang berhubungan dengan kesusastraan dan filsafat untuk
mempersiapkan diri memasuki jenjang pendidikan selanjutnya untuk menjadi seorang
2
G. Budi Subanar, SJ, Kilasan Kisah Soegijapranata,2012. Hlm
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
28
imam. Hasil belajar Soegija tersebut pada nantinya membuat Soegija memiliki
keahlian dalam bidang menulis, salah satunya adalah ketika Soegija menjadi redaktur
di Majalah Swaratama.
Setelah menempuh pendidikan di Seminari Menengah Kolose Xaverius,
Muntilan selama tiga tahun, pada tahun 1919 bertepatan dengan berakhirnya Perang
Dunia I, Soegija berangkat ke Negeri Belanda untuk mempersiapkan dirinya sebagai
imam. Untuk persiapan ke arah itu Soegija harus menjalani sejumlah tahapan
pembinaan rohani dan pendidikan formal3. Adapun hal-hal yang harus dijalani oleh
Soegija sesaat setiba di Belanda adalah menambah pengetahuan dan penguasaan
terhadap bahasa-bahasa asing, terutama bahasa Yunani dan bahasa Latin. Di Belanda
Soegija belajar di sebuah asrama milik Ordo Salib Suci di Kota Uden, yang terletak
di Belanda bagian Utara.
Setelah satu tahun menjalani persiapan di Belanda untuk menjadi seorang
imam maka pada tanggal 27 September 1920, Soegija menjalani masa novisiat
selama dua tahun di Novisiat Serikat Yesus, Mariendaal, Grave, yang letaknya tidak
jauh dari Kota Uden.Pada masa novisiat selama dua tahun Soegija dibekali dengan
pengenalan terhadap semangat-semangat (visi-misi) dari Serikat Yesus. Selain itu
selama masa novisiat, Soegija juga digembleng kerohaniannya dengan mengolah
pengalaman untuk merasakan bagaimana mengandalkan kasih Tuhan dan merespon
kasih tersebut dengan penuh kesungguhan, penyerahan diri dan kerendahan hati.
3
G. Budi Subanar, op. cit.,Hlm. 12.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
29
Seusai menjalani masa novisiat selama dua tahun, Soegija mengucapkan kaul
prasetyanya di dalam Serikat Yesus untuk hidup miskin murni dan taat sesuai dengan
nasihat injil. Sesudah itu Soegija menjalani masa yang disebut masa yuniorat untuk
kembali menekuni dan mengembangkan wawasan humaniora sebelum kemudian
memasuki jenjang studi formal di bidang filsafat4. Soegija belajar dan mendalami
filsafat terlebih dahulu di Mariendaal, Belanda.
Tahun 1923-1926 Soegija melanjutkan studi filsafatnya di Kolose Berchman,
di Kota Oudenbosch, Belanda.Kolose Berchman merupakan salah satu kolose milik
Serikat Yesus. Di sana Soegija belajar filsafat dengan mendalami kerangkan
pemikiran dari St. Thomas Aquinas, sesuai dengan titah dari Paus Leo IXII. Dalam
suratnya Aeterni Patris ditulis pada bulan Agustus 1879, Paus Leo IXII
menganjurkan pengajaran filsafat di Seminari perlu kembali mempelajari filsafat
thomistik5.
Setelah selesai menjalani masa pendidikannya di Negeri Belanda, maka pada
bulan September 1926 Soegija kembali ke Yogyakarta dan menjadi guru di tempat
dirinya dulu menimba ilmu yaitu di Kolose Xaverius, Muntilan, selama dua tahun.
Sayangnya, beberapa bulan sebelum kepulangan Soegija ke Yogyakarta, sang guru
yaitu Frans Van Lith, SJ meninggal dunia. Oleh karena itu Soegija beserta beberapa
4
5
Ibid., hlm,.13.
Thomistik meliputi teologi (bukti keberadaan Tuhan dan Sifat-Nya),
metafisika, teori kejahatan, hukum (keabadian, akhirat, alam, dan manusia), teori
pengetahuan, etika, psikologi dan politik
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
30
murid yang dahulu berada di bawah pengajaran Van Lith menulis sebuah obitari guna
mengenang jasa-jasa Van Lith. Hal tersebut dilakukan Soegija beserta kawankawannya untuk tetap bisa meneruskan kembali semangar dari ajaran Van Lith.
Pelajaran dan praktik hidup dari Van Lith yang berusaha diteruskan oleh Soegija
adalah menanamkan kekristenan, patriotisme dan nasionalisme dalam diri orangorang muda Jawa yang dilayaninya. Selain menjadi guru di alamamaternya, Soegija
juga menjadi editor di majalah Swaratama, yang merupakan majalah menggunakan
bahasa Jawa.Majalah ini merupakan majalah yang dikelola oleh para alumni Kolose
Xaverius, yang di dalamnya tertulis berbagai macam artikel dengan berbagai tema
seperti permasalahan sosial, budaya dan agama.Soegija pernah menulis kursus
singkat marxisme dalam bahasa Jawa6.
Baru dua tahun kembali ke almamaternya, pada tahun 1928 Soegija harus
kembali ke Negeri Belanda untuk menjalani tugas studi teologi. Soegija harus
menjalani studi teologi selama empat tahun lamanya. Satu tahun sebelum studi
teologinya selesai, tepatnya pada 15 Agustus 1931 Soegija ditahbiskan sebagai imam.
Semenjak menerima tahbisan, Soegija menambahkan sebuah kata yang lain sehingga
namanya menjadi Albertus. Soegijapranata atau biasa disebut A, Soegijapranata. Hal
tersebut dapat dilacak melalui tulisan-tulisannya di majalah St. Claverbond, Berichten
uit Java. Sebelum ditahbiskan imam, karangan-karangan Rm. Soegija ditandai
dengan nama A. Soegija, SJ, atau dengan inisial AS, setelah menjadi imam,
6
Ibid., hlm14.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
31
karangan-karangannya di majalah St. Claverbond ditandai dengan nama A.
Soegijapranata, SJ7.
Perubahan nama dari Soegija menjadi Albertus. Soegijapranata, tidak
dilakukan Soegija tanpa alasan. Nama Pranata ditambahkan Soegija di belakang
namanya memiliki makna yang dipercayai oleh Soegija sendiri. Pranata dalam bahasa
Jawa sendiri mengandung arti menyembah, mengabdi, tatanan atau aturan.
Sedangkan nama Soegija yang diberikan oleh orangtuanya bermakna orang yang
kaya, dengan pendidikan bahasa, sopan santun dan budi pekerti. Sementara inisial A,
yang ditambahkan di depan namanya merupakan inisial nama yang diambil dari
Santo Albertus Magnus yang dipilih Soegija sebagai Santo pelindungnya. Santo
Albertus Magnus merupakan tokoh pemikir abad IXI. Selain dipilih sebagai
pelindungnya, Soegija memilih Santo Albertus karena Soegija ingin menjadikan
teladan hidup Santo Albertus sebagai teladan hidupnya. Yang mana Santo Albertus
merupakan sosok yang gemar menimba ilmu. Seperti kebanyakan orang Jawa pada
umumnya yang percaya akan doa di balik setiap nama yang disandang seseorang,
demikian pula Soegija. Perubahan namanya dijadikan acuan bagi dirinya untuk
membantu mengarahkan hidupnya di masa-masa yang akan datang.
Setelah ditahbiskan sebagai seorang imam, baru pada akhir tahun 1933
Soegija kembali ke Indonesia. Sekembalinya di Indonesia, Soegija ditugaskan untuk
menjadi imam di Gereja Katolik Kidul Loji, Yogyakarta bersama Van Driesche.
7
Ibid., hlm 15
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
32
Setahun melayani di Gereja Kidul Loji, Soegija dipindahtugaskan ke Gereja Bintaran,
Yogyakarta yang merupakan Gereja khusus bagi kaum pribumi. Baru pada tahun
1940 Soegija diangkat menjadi Vikaris Apostolik Semarang atau setara
kedudukannya dengan uskup. Penunjukkan Soegija sebagai seorang uskup tak pelak
atas permintaan dari Williens yang merupakan Vikaris Apostolik Batavia yang
mengirimkan sebuah telegram kepada Paus Pius IXII yang meminta agar dibentuk
sebuah Vikaris Apostolik Semarang dengan pemimpin yang terpisah dengan Vikaris
Apostolik di Batavia karena melihat kondisi dunia yang tengah menghadapi Perang
Dunia II (PD II). Pertimbangannya adalah bahwa perlu adanya seorang uskup
pribumi untuk memimpin para umat. Selain itu Williens juga meminta agar Vikaris
Apostolik Semarang dipilih dari Serikat Yesus karena wilayah tersebut adalah
wilayah karya misi dari Serikat Yesus. Telegram dari Williens disambut positif oleh
pihak Vatikan dengan dikirimkannya telegram balasan yang mempersilahkan
Williens untuk mengangkat Vikaris Apostolik yang baru tanpa menunggu surat
perintah dari Vatikan. Tepatnya pada 1 Agustus 1940, Mgr. Albertus Soegijapranata,
SJ diangkat untuk menjadi Vikaris Apostolik Semarang. Yang secara resmi menjadi
pemimpin Gereja Katolik yang meliputi Karesidenan di Jawa Tengah, seperti
Semarang, Jepara dan Rembang, serta Karesidenan Kedu (Magelang dan
Temanggung), dan juga seluruh wilayah Surakarta dan Yogyakarta.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
33
A. Situasi Indonesia Pada Masa Penjajahan Jepang
Baru satu tahun Soegija menjabat uskup, angkatan udara Jepang menyerang
pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawai, 8 Desember 1941.
Akibatnya, berkobar Perang Pasifik yang meluas hingga ke wilayah Hindia Belanda.
Jepang berhasil masuk ke Indonesia pada 1942 dan menyudahi penjajahan Belanda
yang kurang lebih berlangsung tiga abad lamanya. Saat Jepang mulai masuk ke
Indonesia, mereka menyita semua hal yang berbau Belanda. Para imam, suster dan
pekerja di kalangan gereja pun tak luput ditangkap, dijadikan sandera bahkan
dibunuh. Apapun yang mereka lakukan dianggap bentuk tindakan mendukung
Belanda. Sekolah yang dikelola para imam dan suster pun dirampas, tak terkecuali
seminari menengah. Untuk mengelabui pasukan Jepang, Soegija meminta orangorang mengisi ruangan-ruangan kosong agar terkesan ada penghuninya. Dengan cara
itu, Soegija berhasil menyelamatkan bangunan gereja dari rampasan pasukan Jepang.
Dalam ketenangannya, Soegija mencoba memahami perasaan rakyat pada
masa itu. Dalam hatinya, Soegija paham bahwa rakyat pasti mengalami ketakutan
setelah diserbu oleh pasukan Jepang. Situasi Indoneisa pada saat itu semakin rumit,
hal tersebut disebabkan saat itu para gerilyawan Indonesia tidak lagi hanya melawan
Belanda, tapi juga Jepang. Sementara Jepang mulai melakukan perampasan terhadap
semua hal yang berbau Belanda, ternyata Belanda melanggar kesepakatan gencatan
senjata dengan Jepang. Rakyat Indonesiapun menjadi tumbal dari serdadu Belanda
dan Jepang sekaligus. Banyak toko dijarah, kaum buruh harus bekerja ekstra keras
dan banyak orang akhirnya memilih mengungsi.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
34
Melihat kondisi tersebut, Soegija berpikir bahwa kondisi tersebut tidak bisa
dibiarkan terus menerus berlangsung. Saat memimpin sebuah misa Soegija berkata
kepasa umatnya, “Secepatnya.Ini saatnya kita terpanggil mempertahankan hak
agama dan hak bangsa kita”. Salah satu tindakan nyata Soegija untuk
mempertahankan hak agama dan bangsanya terlihat saat Gereja Randusari hendak
disita oleh Jepang untuk dijadikan markas, Soegija dengan tegas menolak, kepada
tentara Jepang, Soegija mengatakan ”ini adalah tempat yang suci. Saya tidak akan
memberi ijin. Penggal dulu kepala saya maka tuan baru boleh memakainya” kepada
tentara Jepang.
Saat meletus Perang Lima Hari melawan Jepang untuk mempertahankan
kemerdekaan di Semarang pada 15-20 Oktober 1945, Soegija bertahan untuk tidak
meninggalkan kota. Orang-orang yang saat itu tidak mau mengungsi, termasuk
Soegija, dianggap sebagai penghianat. Selain menunjukkan pengabdiannya kepada
agama dan bangsanya dengan menolak tegas kemauan para tentara Jepang yang ingin
mengambil alih bangunan Gereja, pada masa penjajahan Jepang Soegija juga pernah
menjadi salah satu mediator pada pertemuan antara pemuda pejuang Indonesia
dengan tentara Sekutu dan Jepang di serambi pastoran Gedangan. Soegija mendesak
dilakukannya
gencatan
senjata
antara
pihak-pihak
yang
saat
itu
sedang
berperang.Seraya menengahi konflik segitiga antara pasukan gerilyawan IndonesiaJepang dan sekutu, Soegija ikut menata pemerintahan dan memperbaiki kondisi
masyarakat Semarang. Proses keterlibatan Soegija menjadi mediator berawal saat
pertempuran lima hari pecah di Semarang, yang menandai kedatangan tentara sekutu.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
35
Saat itu, Semarang diblokade Jepang menyusul serangan yang dilancarkan para
pemuda Indonesia.
Dengan mendesak pihak sekutu untuk berunding dengan pihak Jepang,
Soegija memanfaatkan tentara sekutu untuk meredam kekuatan pasukan Jepang.
Akhirnya kedua pihak bertemu di Pastoran Gedangan. Peristiwa ini sekaligus
menunjukkan keberhasilan dan keunggulan Soegija dalam berdiplomasi. Setelah
melakukan perundingan dengan pihak Sekutu.T idak lama setelah dilakukannya
perundingan tersebut, Jepang mengakhiri blokadenya di Semarang.
Perang Lima Hari yang berlangsung di Semarang membuat rakyat Indonesia
semakin menderita. Kelaparan terjadi di mana-mana, saluran air dan listrik macet.
Harga beras dan bahan makanan melambung jauh dari jangkauan rakyat kecil.
Kondisi itu menyulut kerusuhan besar di Semarang. Perampokan dan penjarahan
terjadi di berbagai daerah di Semarang, yang mengakibatkan diberlakukannya jam
malam. Didorong keprihatinan akan penderitaan para rakyat, para tokoh agama di
Semarang pada 20 November 1945, termasuk Soegija, membentuk sebuah komite
yang ditujukan untuk meringankan penderitaan masyarakat kecil. Komite tersebut
diberi nama Komite Penolong Rakyat (KPR), yang diketuai oleh Dwijosewoyo yang
merupakan wakil dari golongan Katolik, dan Sadat Kadarisman perwakilan dari
golongan Islam. Atas nama KPR, Soegija mengirim utusan ke Jakarta untuk bertemu
Perdana Menteri Sjahrir. Pemerintah pusat meresponnya dengan mengutus Mr.
Wongsonegoro ke Semarang selain itu Pemerintah Pusat juga mengirimkan bantuan
berupa beras dan bahan makanan untuk rakyat.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
36
B. Situasi Indonesia Pasca Proklamasi Kemerdekaan
Setelah Jepang menyerah kepada sekutu pada tahun 1945, Bangsa Indonesia
tidak
maumenyianyiakan
kesempatan
tersebut
untuk
memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia. Dengan desakan para pemuda Indonesia, akhirnya Ir.
Seokarno beserta kawan-kawan segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia
pada 17 Agustus 1945. Desakan para pemuda kepada Ir. Soekarno dan Moh.Hatta
bukannya tanpa alasan. Para pemuda ingin menunjukkan kepada dunia bahwa
kemerdekaan bangsa Indonesia bukanlah pemberian dari negara lain, melainkan buah
dari perjuangan rakyat Indonesia dalam melepaskan diri dari penjajahan asing.
Kemerdekaan Indonesia disambut dengan suka cita oleh seluruh rakyat Indonesia,
termasuk oleh Belanda.
Namun berbeda dengan rakyat Indonesia, bila rakyat Indonesia bahagia
menyambut kemerdekaan tersebut yang menandai lepasnya mereka dari segala
bentuk penjajahan negara asing, maka Belanda merasa bahagia karena Belanda
memiliki keinginan untuk kembali menguasai Indonesia dengan seluruh kekayaan
alam Indonesia. Tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, pasukan
Belanda dengan “membonceng” NICA8 berhasil kembali masuk ke Indonesia.
8
Netherlands-Indies Civil Administration (Pemerintahan Sipil Hindia
Belanda) adalah tentara sekutu yang bertugas mengontrol daerah Hindia Belanda
setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada Perang Dunia II pada
pertengahan 14 Agustus1945. NICA menumpang sekutu sewaktu datang ke Indonesia
setelah berakhirnya Perang Dunia II.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
37
Sebenarnya NICA bukan merupakan organisasi bentukan pemerintah Belanda
melainkan bentukan sekutu Amerika, namun banyak orang-orang Belanda yang
direkrut untuk menjadi anggota NICA.Situasi tersebut dimanfaatkan oleh Belanda
untuk menguasai Indonesia, sehingga terjadi kembali pertempuran antara pasukan
Belanda dengan rakyat Indonesia di beberapa daerah di Indonesia.Karena kalah
dalam hal persenjataan dan pasukan militer, maka beberapa daerah seperti Sulawesi
dan Kalimantan berhasil direbut oleh Belanda.
Jakarta sebagai ibukota Indonesia juga tidak luput dari serangan pasukan
Belanda. Oleh karena itu para pemimpin negara memutuskan untuk memindahkan
pusat pemerintahan ke daerah lain yang jauh lebih aman. Hingga pada akhirnya
pemerintah Indonesia memutuskan untuk memindahkan ibukota ke Yogyakarta.Maka
pada tanggal 4 Januari1946, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh.Hatta
dengan menggunakan kereta api, pindah ke Yogyakarta sekaligus untuk
memindahkan pusat pemerintahan. Walau meninggalkan Jakarta, Presiden Soekarno
mengutus Sutan Syahrir dan kelompok yang pro-negosiasi dengan Belanda untuk
tetap di Jakarta agar dapat melakukan perundingan dengan pihak Belanda.
Hasil dari negoisasi antara Belanda dan Indonesia adalah ditandatanganinya
Perjanjian Linggarjati pada 15 November 1946. Isi dari perjanjian tersebut antara
lain:
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
38
Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah
kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa dan Madura. Belanda harus
meninggalkan wilayah de facto paling lambat 1 Januari1949.
Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk
Negara Indonesia Serikat, dengan nama Republik Indonesia Serikat, yang
salah satu bagiannya adalah Republik Indonesia
Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya9.
Namun rupanya Belanda berusaha mengingkari perjanjian tersebut.Terbukti
pihak Belanda berusaha mendirikan Negara Indonesia Timur pada tahun 1946 dan
Negara Pasundan pada 4 Mei 1947.Selain itu Belanda juga melakukan aksi
polisionilnya yang pertama atau biasa dikenal dengan sebutan Agresi Militer Belanda
I. Serangan di beberapa daerah, seperti di Jawa Timur, Agresi Militer Belanda
tersebut telah dilancarkan tentara Belanda sejak tanggal 20 Juli 1947.Fokus serangan
tentara Belanda di tiga tempat, yaitu Sumatera Timur, Jawa Tengah dan Jawa
Timur.Di Sumatera Timur, sasaran mereka adalah daerah perkebunan tembakau,
sedangkan di Jawa Tengah mereka menguasai seluruh Pantai Utara, dan di Jawa
Timur, sasaran utamanya adalah wilayah – wilayah yang terdapat perkebunan tebu
dan pabrik-pabrik gula. Aksi militer Belanda tersebut berhasil merebut daerah-daerah
9
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, 30 Tahun Indonesia
Merdeka, 1945-1940
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
39
di wilayah Republik Indonesia yang sangat penting dan kaya akan pelabuhan,
perkebunan dan pertambangan. Selain itu pada 29 Juli 1947, pesawat Dakota
Republik dengan simbol Palang Merah di badan pesawat yang membawa obat-obatan
dari Singapura dan sumbangan dari Palang Merah Malaya ditembak jatuh oleh
Belanda yang mengakibatkan tewasnya Abdulrahman Saleh dan Adi Soetjipto
Serangan militer Belanda tidak berhenti sampai di Agresi Militer Belanda I
saja, pada tahun 1948 pasukan Belanda kembali melakukan penyerangan terhadap
pemerintah RI. Kali ini sasarannya adalah Yogyakarta yang merupakan pusat
pemerintahan Indonesia masa itu. Agresi Militer Belanda II atau biasa juga disebut
dengan Operasi Gagak, terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan
terhadap Yogyakarta, serta penangkapan Presiden Soekarno, Mohammad Hatta,
Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya.
Jatuhnya ibukota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat
Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara.
Pada hari pertama Agresi Militer Belanda II, pasukan udara Belanda melakukan
pengeboman terhadap Pangkalan Udara Indonesia yang terletak di Maguwo,
Yogyakarta. Menghadapi serangan Belanda yang kedua tersebut para pemimpin
militer Indonesia tidak tinggal diam. Jenderal Soedirman selaku pimpinan militer
Indonesia saat itu segera mengumumkan pertempuran terhadap pasukan Belanda.
Dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, para pemimpin republik ini banyak
melakukan perundingan-perundingan (diplomasi) baik dengan pihak Belanda maupun
dengan negara-negara lain seperti Amerika, Inggris bahkan dengan PBB. Adapun
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
40
beberapa perundingan yang pernah dilakukan oleh Indonesia pada masa Perang
Revolusi antara lain adalah Perjanjian Linggarjati yang disepakati antara Belanda dan
Indonesia, namun pada akhirnya dicurangi oleh pihak Belanda, Perundingan Renville,
Perundingan Kaliurang, Perundingan Roem-Royen dan yang terakhir adalah
Konferensi Meja Bundar yang diadakan di Belanda. Dalam Konferensi Meja Bundar
yang diadakan pada 23 Agustus 1949 yang inti dari hasil konfrensi tersebut adalah
Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.
C. Orang-orang
yang
Mempengaruhi
Pemikiran
Mgr.
Albertus
Soegijapranata,SJ.
Soegija pernah mengenyam pendidikan di sekolah yang didirikan oleh Franz
Van Lith, SJ atau yang lebih akrab dipanggil Van Lith di Muntilan, Magelang. Dalam
menjalani pendidikannya di sekolah tersebut Soegija didampingi oleh guru
pendamping yaitu Van Drieesche. Kedua tokoh tersebut sangat mempengaruhi
pemikiran Soegija muda di masa yang akan datang, saat Soegija menjadi seorang
uskup dan negarawan.
Van Lith, merupakan salah satu pastor dari Sarikat Yesuit yang berasal dari
Belanda, oleh Sarikat Yesuit Belanda Van Lith ditunjuk sebagai misionaris di
Indonesia. Setelah berada di Indonesia, Van Lith mulai belajar dan menyelam dalam
kehidupan rakyat pribumi sehingga tidak ada benteng pemisah antara Van Lith,
dengan masyarakat pribumi.Dalam misinya Van Lith, mendirikan sekolah sederhana
bagi anak-anak, sekolah tersebut semakin hari kian berkembang. Dalam mendidik
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
41
anak-anak didiknya, termasuk Soegija muda, Van Lith, menciptakan keakraban yang
sehat diantara murid-muridnya. Van Lith, tidak hanya mengajarkan kepada anak-anak
didiknya mengenai hal-hal yang berbau liturgi atau teologis saja, namun juga
menanamkkan rasa nasionalisme sebagai sebuah bangsa.
Van Lith, sering memancing murid-muridnya dengan cerita-cerita lucu yang
mengundang tawa. Atau melontarkan ejekan yang mengundang protes dan
pertentangan. Anak-anak pun akan membalasnya. Van Lith, menciptakan suasana
agar anak berusaha untuk saling membela diri. Dengan demikian sekaligus juga untuk
membangun kesadaran sebagai suatu bangsayang mempunyai harga diri10.
Walaupun seorang Belanda, namun Van Lith, memiliki rasa empati terhadap
penindasan yang dialami oleh masyarakat pribumi akibat dari penjajahan orang-orang
sebangsanya. Dalam sebuah tulisannya, Van Lith, menuliskan
“Keinginan untuk mendominasi setiap orang Jawa, hanya karena dia seorang
Jawa, sama halnya dengan bermain api. Hargailah hak-hak pribumi, kalau kamu
juga menginginkan hak-hakmu diakui.Lepaskanlah dengan sukarela hak-hakmu
yang semu, dan tanggalkanlah juga privilegi-privelegi yang kalin peroleh.Ingatlah
bahwa di dalam Gereja Kristus tidak ada lagi pembedaan apakah dia orang Jahudi,
orang Romawi atau orang Yunani, juga tidak ada pembedaan apakah dia orang
Belanda atau orang Jawa. Dan kiranya apa yang sejak awal telah menjadi norma di
dalam gereja sekarang hendaknya menjadi norma juga di luar gereja. Orang
Belanda, orang-orang Indo-Eropa dan orang-orang Jawa mulai sekarang dan
seterusnya akan hidup sebagai saudara. Jika tidak maka dalam waktu dekat pasti
akan terjadi perpecahan11”
10
11
op cit., Hlm 11
Ibid., hlm12
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
42
Sedangkan Van Drieensche mengajarkan kepada murid-muridnya termasuk
Soegija mengenai Sepuluh Perintah Allah, yang mana Van Drieensche menekankan
perintah keempat dari Sepuluh Perintah Allah yang berbunyi “Hormatilah Ayah dan
ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu”.
Dalam pengajaran kepada murid-muridnya Van Drieensche mengartikan kata
“ayah-ibu” tidak hanya dalam makna sempit yang memiliki makna sebagai orangtua
yang melahirkan, menghidupi dan memberikan pendidikan, serta memenuhi segala
kebutuhan hidup anak-anaknya. Oleh Van Drieesche makna kata “ayah-ibu” juga
diartikan sebagai tanah air yang memberi kehidupan. Dengan interpretasi tersebut
sekaligus menanamkan cinta tanah air12. Ajaran-ajaran dari kedua tokoh tersebut yang
pada perjalanan hidup Soegija dijadikan sebagai pedoman dalam penggembalaannya
sebagai imam dalam Gereja Katolik maupun sebagai seorang negarawan.
Selain belajar banyak hal mengenai cinta kasih dan pengabdian kepada
sesama terutama rakyat kecil yang tertindas, Soegija juga belajar mengenai rasa
toleransi, yang mau menerima perbedaan pendapat, perbedaan pola pikir dan
perbedaan keyakinan dari kedua orangtuanya. Di saat Soegija memutuskan untuk
dibaptis kedua orangtua Soegija beserta kakak dan adik Soegija menerima
perpindahan iman Soegija. Pada saat Soegija memberitau kedua orangtuanya bahwa
dirinya telah dibaptis, ayah dan ibu Soegika mengatakan bahwa bagi orang jawa
semua agama itu baik apabila dijalankan dengan benar dan membuat manusia
12
Ibid., hlm. 11.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
43
berubah menjadi lebih baik. Selain itu pada saat Soegija mengambil keputusan untuk
menjadi seorang imam, ibu Soegija menerimanya dengan ikhlas dan memberikan
restunya kepada Soegija. Sikap keluarga tersebut yang membuat Soegija pada
nantinya menjunjung tinggi rasa toleransi antar umat beragama dan mau menerima
perbedaan di dalam lingkungannya. Oleh sebab itu Soegija bisa diterima oleh hampir
seluruh rakyat Indonesia, bahkan Soegija juga menjalin hubungan yang akrab dengan
para petinggi Negara Indonesia saat itu, misalkan seperti dengan Presiden Soekarno,
Sri Sultan Hamengkubowono IX dan I.J Kasimo
D. Pandangan Kebangsaan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ
Soegija bukan hanya seorang tokoh agama, namun juga dikenal sebagai
seorang yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya.
Soegija terkenal dengan semboyan 100 % Katolik, 100% Indonesia. Semboyan
Soegija tersebut merupakan ungkapan yang menunjukkaan bahwa Soegija tidak
hanya ingin menjadi seorang Katolik sejati yang taat dalam melakukan ritual dan
ajaran agamanya saja. Namun juga ingin menunjukkan bahwa dirinya ingin menjadi
seorang Indonesia sejati. Semboyan tersebut bukan hanya ditujukan kepada dirinya
saja, namun Soegija juga menyerukan semboyan 100% Katolik, 100% Indonesia,
kepada seluruh umat Katolik Indonesia. Soegija ingin mengajak umat Katolik
Indonesia untuk mengintegrasikan sekaligus antara kekatolikan dan nasionalisme. Hal
tersebut dilakukan dengan cara mengajarkan tentang pengertian Gereja dan peran
negara dalam hubungan timbal balik. Soegija menegaskan :
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
44
“Negara tugasnya memelihara, menyatukan, mengatur serta mengurus
kehidupan rakyat dengan bertindak yang terarah pada kesejahteraan, ketentraman,
kepentingan umum yang bersifat sementara, bersifat lahiriah dan duniawi.Sedang
Gereja Katolik bertugas memelihara, membimbing dan mengembangkan
kehidupan rohani manusia dengan mengurus segala hal yang ada hubungannya
dengan agama, peribadatan, kesusilaan, kerohanian yang sifatnya tetap, kekal,
surgawi dan mengatasi kodrat.
…Dengan menjamin ketentraman, norma-norma, kesejahteraan, budaya, dan
hak-hak asasi, negara mempersiapkan suatu iklim yang perlu bagi perkembangan
keagamaan dan moralitas, Gereja Katolik dengan menjaga hidup keagamaan,
moralitas, kejujuran, kesetiaan terhadap janji, keadilan, cinta kepada sesama,
dedikasi terhadap pekerjaan dan lembaga; dengan cara mendidik untuk menaruh
hormat kepada pemimpin, dan mengarahkan untuk bertindak seturut hukum,
berarti Gereja membangun suatu dasar yang kokoh bagi masyarakat dan
pemerintah”13.
Dari kata-kata tersebut, Soegija ingin menunjukkan bahwa sejatinya, Gereja
Katolik dan Negara memiliki peranan penting dalam kehidupan umat manusia guna
mencapai kepada kehidupan yang diimpikan setiap orang. Oleh karena itu haruslah
umat Katolik memiliki kesadaran untuk mengabdi tidak hanya kepada Gereja Katolik
saja atau Negara saja, namun mengabdi kepada Gereja Katolik dan Negara secara
seimbang.
Soegija memberikan landasan moral sosial dan landasan teologis bagi
pengintegrasian kekatolikan dan nasionalisme. Soegija memberikan contoh dari
perintah ke empat dari sepuluh Perintah Allah. Soegija pernah mengatakan,
“Sebagaimana dalam Katekismus-kita wajib mencintai Gereja Kudus, dan kita juga
wajib mencintai negara, dengan seluruh hati kita. Selain itu beliau juga mengingatkan
13
Anhar Gonggong. Mgr. Albertus Soegijapranata SJ: Antara Gereja dan
Negara, 2011. Hlm 45
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
45
akan ajaran Yesus, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menajadi hak kaisar, dan
berikanlah kepada Allah apa yang menjadi hak Allah”14.
Semangat nasionalisme yang dimiliki Soegija dapat diketahui dari motivasi
ketika Soegija memutuskan untuk menjadi seorang imam. Sebelum kepindahannya ke
Semarang tahun 1947 sebagai uskup, Soegija menungkapkan motivasinya untuk
menjadi imam.
“Keputusanku untuk menjadi imam itu karena didorong untuk mengabdi
bangsa.Saya telah mencari beberapa kemungkinan profesi, tetapi tidak ada yang lebih
memungkinkan untuk memuliakan Tuhan dan sekaligus mengabdi bangsa selain
menjadi imam”15.
Sikap patriotisme dalam membela bangsa dan negara, rasa kemanusiaan yang
besar dan berani membela kaum yang tertindas, yang ada dalam diri Soegija tidak
muncul begitu saja. Semua itu tumbuh akibat dari perjalanan hidup yang dialami
Soegija sewaktu masih kanak-kanak hingga ketika Soegija menjadi seorang calon
imam. Dalam kehidupannya Soegija menyaksikan langsung bagaimana bangsanya
berada di bawah kekuasaan asing yang merendahkan harkat dan martabat bangsanya,
Soegija juga melihat langsung bagaimana peperangan menghancurkan masa depan
orang banyak dan menimbulkan kerugian yang besar. Pengalaman tersebut yang
14
Budi Subanar, G, Kilasan Kisah Soegijapranata, Yogyakarta : Sanata
Dharma, 2012. Hlm 21
15
Ibid, Hlm 15
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
46
kemudian membangun karakter Soegija sebagai pembela kemanusiaan dan ikut
berjuang demi mewujudkan kemerdekaan bangsanya.
Pada saat masih duduk di HIS Soegija dan kawan-kawannya yang merupakan
kaum pribumi pernah berkelahi dengan anak-anak Belanda atau anak-anak Indo yang
sering mengejek dan menganggap remeh anal-anak pribumi. Bukan hanya berkelahi
secara fisik ataupun berdebat, tak jarang Soegija dan kawan-kawannya menantang
anak-anak Belanda dan anak-anak Indo untuk bertanding sepak bola, guna
menunjukkan siapa yang lebih hebat diantara mereka. Hal-hal tersebut merupakan
cara Soegija dan anak-anak pribumi pada umumnya untuk membela diri mereka.
Karena pada masa itu bila terjadi perkelahian antara anak-anak pribumi dengan anakanak Belanda ataupun Indo, pihak anak-anak pribumilah yang akan dipersalahkan.
Tidak ada yang memihak anak-anak pribumi walaupun mereka benar sekalipun. Dari
pengalaman itulah Soegija belajar untuk terus membela harkat dan martabat kaum
pribumi hingga dirinya menjadi seorang imam.
Seperti yang dikemukakan di atas bahwa sejak kecil Soegija sudah melihat
penderitaan bangsanya yang dijajah dan menerima perlakuan diskriminatif dari
kalangan orang-orang non pribumi. Dalam hidupnya Soegija tidak hanya melihat
langsung penderitaan yang dialami bangsanya, namun Soegija juga melihat langsung
penderitaan masyarakat dunia terutama Eropa yang diakibatkan oleh Perang Dunia I
yang berakhir pada tahun 1919. Bertepatan saat Soegija harus pergi ke Belanda untuk
menyelesaikan studi filsafatnya. Di sepanjang perjalanan hingga sampai ke negeri
Belanda, Soegija melihat dampak buruk yang ditimbulkan karena adanya peperangan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
47
di Eropa. Di mana banyak bangunan-bangunan yang hancur, perekonomian yang
hancur dan bagaimana susahnya masyarakat Eropa berusaha bangkit dari
keterpurukannya pasca Perang Dunia I. Tak hanya itu Soegija juga melihat orangorang yang harus menderita secara fisik maupun mental, setelah mengalami langsung
peperangan yang telah menelan banyak korban jiwa.
Dari pengalaman tersebut pula batin Soegija semakin terusik, Soegija kembali
memikirkan nasib bangsanya yang sudah dijajah terlalu lama. Dari sana Soegija mula
berfikir mengenai kemerdekaan, bagaiman harusnya sebuah bangsa dan negara itu
harus merdeka agar hidup dengan tenang dan sejahtera. Setelah menyelesaikan studi
filsafatnya, Soegija semakin giat menyuarakan impiannya akan sebuah negara yang
merdeka, yang diperintah sendiri oleh kaum pribumi. Secara khusus Soegija
menginginkan kemerdekaan untuk bangsanya, yang merupakan negeri yang terdiri
dari beragam suku. Soegija menginginkan orang dari bangsanya sendirilah yang akan
memimpin Indonesia demi terwujudnya kesejahteraan yang merata.
Semangat mengabdi untuk Gereja, negara dan bangsa ditunjukkan sepanjang
hidup Soegija. Salah satu contohnya adalah saat Pemerintah Republik Indonesia
mendapatkan ancaman dari Belanda yang kembali dengan mengatasnamakan NICA,
yang kemudian membuat para pemimpin negeri ini memutuskan untuk memindah
pusat pemerintahan ke Yogyakarta. Mengetahui hal tersebut Soegija berniat
memindahkan pusat pemerintahan keuskupannya dari Semarang ke Daerah Bintaran,
Yogyakarta. Selain itu dalam kesehariannya, Soegija tidak hanya bergaul dengan
orang-orang Katolik. Perhatian dan aktivitasnya tidak hanya bersinggungan dengan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
48
hal-hal liturgi dan rohani saja. Berbagai aktivitas sosial juga dilakukan oleh Seogija,
misalkan seperti memberi perhatian dalam bidang pendidikan, perhatian pada mereka
yang memikul tanggung jawab, atau mereka yang bermasalah, dan juga perhatian
pada mereka yang menjadi pengungsi pada masa pemerintahan Jepang ataupun juga
pada masa perang kemerdekaan. Di samping itu, Soegija juga sering mengadakan
pertemuan dan pembicaraan (berdiskusi) dengan pihak-pihak non-Katolik.
Bagi Soegija, Indonesia bukan hanya terdiri dari orang Jawa, Sumatera, Nusa
Tenggara, Kalimanatan atau yang lainnya. Indonesia merupakan satu kesatuan ras,
etnis, budaya dan bahasa, sehingga dalam kehidupannya Soegija juga menyetarakan
kedudukan semua orang yang ia jumpai. Seperti gurunya Van Lith, Soegija juga
memfokuskan dirinya untuk membela kaum tertindas, membela hak manusia yang
dilanggar. Misalkan seperti yang dilakukan oleh Soegija saat membela Indonesia
ketika menghadapi serangan militer Belanda I dan II pada tahun 1947 dan 1948. Pada
masa perang pasca kemerdekaan RI Soegija tidak menggunakan senjata dalam
menghadapi Belanda, namun menggunakan kuasanya sebagai seorang uskup dengan
cara berdiplomasi untuk meminta militer Belanda menghentikan penyerangan
terhadap Indonesia.
Mgr. Albertus Soegijapranata merupakan pahlawan tanpa senjata. Karena
bagaimanapun juga Soegija memiliki peran dalam perjuangan kemerdekaan
Indonesia, terutama pada masa perang revolusi (pasca proklamasi kemerdekaan).
Namun bedanya perjuangan Soegija dengan tentara Indonesia masa itu adalah cara
untuk berjuang. Perjuangan Soegija dilakukan dengan cara diplomasi non resmi.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
49
Dengan kekuatan pena dan tulisan-tulisan Soegija, serta kemampuan Soegija dalam
menjalin relasi dengan banyak pihak. Tak heran oleh Presiden Soekarno, Soegija
diangkat menjadi salah satu penasehat Presiden pada tahun 1949. Bahkan peranan
Soegija cukup kuat ketika mempengaruhi dunia internasional, ketika Soegija
mengatakan bahwa Indonesia sudah siap merdeka dan penjajahan itu tidak bisa
diterima16.
Dari paparan panjang di atas dapat diketahui bahwa alasan Soegija melakukan
usaha diplomasi untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dikarenakan bela
rasa yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya, serta pengabdiannya sebagai imam
kepada Tuhan karena salah satu tugas dari gereja adalah membela kaum yang
tertindas. Tumbuhnya bela rasa dalam diri Soegija tidak luput dari pengaruh para
pengajar Soegija di Kolose Xaverius, Muntilan dan kedua orangtuanya, serta
pengalaman Soegija yang melihat langsung bagaimana kehancuran akibat dari sebuah
penjajahandan peperangan pada saat dirinya remaja, bahkan ketika Soegija telah
menjadi seorang imam.
16
http://www.dnaberita.com/berita-68582-relevansi-visi-soegijapranatadalam-pluralisme.html
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB III
Usaha-usaha Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ Dalam Melakukan
Diplomasi (1946 -1949)
A. Keterlibatan dan Usaha-usaha Diplomasi Soegija Dalam PeristiwaPeristiwa di Indonesia Pasca Proklamasi Kemerdekaan Tahun 1946-1947
Belanda kembali ke Indonesia bersama dengan NICA pada 16 September
1945, kurang dari satu bulan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia. NICA yang diketuai oleh Jenderal van Mook, pada awalnya bertugas
untuk menjaga kestabilitasan di Indonesia dan memastikan pemerintah dan pasukan
Jepang benar-benar pergi dari Indonesia. Namun, rupanya van Mook memiliki niat
lain yaitu ingin merebut Indonesia kembali untuk dijadikan salah satu wilayah
pemerintah Belanda. Secara tegas van Mook menyatakan bahwa Negara Republik
Indonesia tidak pernah ada. Van Mook menyatakan bahwa Negara Republik
Indonesia merupakan negara boneka bentukan Jepang. Demikian pula dengan
pemimpin-pemimpin Negara Indonesia.
Tak perlu waktu lama bagi Belanda dan NICA untuk kembali menyerang Indonesia.
Dibantu oleh bekas pasukan KNIL yang pernah ditawan pada masa
50
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
51
pemerintahan Jepang, Belanda melakukan aksi terornya diberbagai wilayah
Indonesia seperti di Surabaya, Bandung, Ambarawa, Semarang dan Medan. Bahkan
Jakarta yang merupakan ibukota Negara Indonesia tak luput dari aksi teror pasukan
Belanda (KNIL dan NICA). Karena situasi ibukota negara yang semakin tidak
kondusif, serta mengancam keselamatan para pemimpin negara, maka diputuskan
pada 4 Januari 1946 ibukota Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta secara diam-diam.
Kepindahan tersebut juga ditujukan sebagai strategi untuk mempertahankan
kemerdekaan dan melindungi pemerintahan Indonesia.
Berkaitan dengan pemindahan pusat pemerintahan ke Yogyakarta, maka
Soegija yang pada saat itu telah menjadi seorang uskup memiliki niatan untuk ikut
memindahkan Kantor Pusat Vikariat Apostolik Semarang ke Yogyakarta.
Pemindahan tersebut bukan tanpa alasan dilakukan oleh Soegija. Keputusan Soegija
untuk pindah didasari agar Soegija bisa memantau secara langsung situasi dan
kondisi pemerintah Indonesia, serta dapat secara langsung berkomunikasi dengan
para pemimpin negara. Namun keinginan Soegija tersebut baru dapat direalisasikan
pada 13 Februari 1947. Pemilihan tanggal tersebut bukan tanpa alasan, sehari
sebelumnya atau 12 Februari 1947, Presiden Soekarno menyerukan gencatan senjata
antara Indonesia dengan Belanda. Sehingga ketika situasi aman tersebut, Soegija
segera bergegas untuk berangkat ke Yogyakarta.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
52
Namun sebulan sebelum pindah ke Yogyakarta, atau tepatnya pada 18 Januari
1947 Soegija melakukan usaha diplomasinya dengan mengirimkan surat kepada
Ketua Kongregasi Propaganda Fide yang berada di Vatikan. Dalam surat tersebut ada
tiga pokok masalah yang dituliskan oleh Soegija, pertama adalah pengalaman sikap
militer Jepang terhadap karya misi di Indonesia. Kedua, situasi aktual yang berkaitan
dengan usaha diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk
menghadapi pemerintah Belanda. Dan yang ketiga berkaitan dengan rencana
penunjukkan nuntius untuk Indonesia1. Berkaitan dengan poin yang ketiga, Soegija
memberikan masukan kepada pihak Vatikan agar nuntius yang akan ditunjuk bukan
merupakan kebangsaan Amerika atau Belanda. Mengingat nuntius adalah wakil Paus,
sehingga diharapkan nuntius yang ditunjuk tidak terlibat dalam kancah politik.
Seperti mempertimbangkan masukan dari Soegija, maka pada akhirnya pihak Vatikan
menunjuk Mgr. George de Jonge d’ Ardoya asal Finlandia menjadi nuntius untuk
Indonesia.
Dari hal tersebut dapat terlihat bagaimana usaha Soegija meyakinkan pihak
Vatikan atas penunjukkan nuntius untuk Indonesia. Usul Soegija agar Vatikan tidak
memilih duta yang berkebangsaan Amerika dan Belanda, dimaksudkan Soegija agar
kehadiran nuntius tersebut tidak menciptakan polemik baru dalam diri rakyat
Indonesia, yang ditakutkan akan berujung pada penolakan dari rakyat apabila nuntius
1
G. Budi Subanar, SJ, Kilasan Kisah Soegijapranata, Yogyakarta : Penerbit USD,
2012, Hlm 42-43
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
53
yang ditunjuk adalah orang Belanda atau Amerika. Karena bagaimanapun juga pada
saat itu masyarakat Indonesia sangat antipati terhadap orang Katolik terutama yang
berkebangsaan Belanda.
Ditahun yang sama, tepatnya pada bulan Juli 1947, Belanda melakukan
serangan ke Yogyakarta atau lebih sering dikenal dengan istilah Agresi Militer
Belanda I. Serangan Belanda tersebut membuat situasi Yogyakarta yang semula
kondusif menjadi mencekam, jam malampun diberlakukan. Tak hanya itu banyak
orang yang pergi meinggalkan kota untuk mengungsi. Baku tembak antara pasukan
Belanda yang berusaha menduduki kota, dengan pasukan Indonesia yang terus
berusaha mempertahankan ibukota terus terjadi. Bahkan pada 30 Juli 1947 pasukan
Belanda tidak segan-segan menembak jatuh Pesawat Dakota yang berisikan bantuan
obat-obatan dari India. Akibat penembakan tersebut pilot Pesawat Dakota yaitu Adi
Soetjipto pun tewas.
Saat menerima kabar tewasnya Adi Soetjipto, Soegija sedang berada di Solo
untuk menghadiri Misa peringatan hari Santo Ignatius. Dua hari setelah peristiwa
tertembaknya Pesawat Dakota tersebut Soegija pada pukul 20.00 WIB berpidato di
Studio Poerwosari2 (RRI Solo). Dalam pidato tersebut Soegija menghimbau agar baik
pihak Belanda dan Indonesia mengupayakan adanya sebuah perundingan gencatan
2
G. Budi Subanar, SJ., Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup Di Masa Perang,
Catatan Harian Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, 13 Februari 1947-17 Agustus
1949, Yogyakarta : Galang Press, 2003, Hlm 48
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
54
senjata. Menurut Soegija, gencatan senjata amatlah penting untuk menjaga
kehormatan kedua negara tersebut di mata dunia.
Baru pada tanggal 4 Agustus 1947, Belanda dan Indonesia mengadakan
gencatan senjata. Walau demikian pihak Belanda tetap terus melakukan penyerangan
dan berusaha memperluas wilayah kekuasaannya di Indonesia. Menanggapi hal
tersebut maka PBB segera bertindak dengan membentuk sebuah komisi jasa baik
yang disebut dengan KTN (Komisi Tiga Negara). KTN bertugas untuk
mempertemukan kedua belah pihak yang bertikai dalam sebuah perundingan. Baru
pada 8 Desember 1947, kedua belah pihak menyetujui adanya penghentian tembak
menembak. Di mana persetujuan tersebut merupakan salah satu hasil dari
perundingan Renville. Hasil dari perundingan tersebut baru resmi ditandatangani
pada 17 Januari 1948.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
55
A. Keterlibatan dan Usaha-usaha Diplomasi Soegija Dalam PeristiwaPeristiwa di Indonesia Pasca Proklamasi Kemerdekaan Tahun 1948-1949
Perundingan Renville yang digagas oleh KTN bentukan PBB, ternyata tidak
memiliki kekuatan besar untuk mengurungkan niat Belanda untuk tidak kembali
menyerang Indonesia. Terbukti pada Desember 1948, pihak Belanda secara sepihak
mengingkari isi Perundingan Renville. Belanda kembali berusaha menyerang dan
menduduki Yogyakarta yang merupakan ibukota dan pusat pemerintahan Indonesia.
Pada 19 Desember 1948, sebelum pasukan Belanda kembali menyerang, para
pasukan Indonesia dan laskar-laskar yang terdiri dari rakyat Indonesia mengadakan
latihan rutin. Latihan tersebut diadakan dengan tujuan mengasah kemampuan
bertempur para pasukan tersebut. Bahkan orang-orang yang merupakan bagian dapur
umum dan PMI (Palang Merah Indonesia) ikut berpartisipasi dalam laitihan tersebut.
Sejak pagi hari semua orang yang terlibat dalam latihan tersebut berkumpul di
Lapangan Maguwo (Sekarang Bandara Adi Soetjipto). Lapangan Udara Maguwo,
pada saat itu merupakan pusat militer Indonesia.
Namun diluar dugaan banyak pihak, pada hari itu pula Pasukan Belanda
kembali melakukan serangan di Lapangan Udara Maguwo. Peristiwa tersebut dikenal
sebagai Agresi Militer Belanda II. Serangan tersebut dipimpin oleh Jenderal Spoor.
Lapangan Udara Maguwo dipilih menjadi sasaran utama penyerangan Belanda, selain
karena merupakan pusat militer Indonesia, Lapangan Udara Maguwo juga sering
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
56
digunakan oleh pemerintah Indonesia untuk menembus blokade Belanda dan juga
mendatangkan bantuan obat-obatan dari luar negeri bagi pasukan dan rakyat
Indonesia. Tak hanya itu, Lapangan Udara Maguwo juga digunakan sebagai lalu
lintas masuknya para diplomat asing untuk bertemu dengan para pemimpin negara 3.
Sehingga tak heran Jenderal Spoor menjadikan Lapangan Udara Maguwo sebagai
pijakan bagi pasukan Belanda untuk mendobrak pertahanan Indonesia saat itu.
Tidak siap menghadapi serangan asli dari Belanda dan kekuatan persenjataan
yang tidak seimbang, maka dengan mudah pasukan Belanda untuk menguasai
Lapangan Udara Maguwo. Setelah berhasil menguasai Lapangan Udara Maguwo,
pasukan Belanda merangsek masuk ke arah pusat kota dan mengepung hampir
seluruh wilayah Yogyakarta. Tentara Indonesia yang kalah jumlah, tidak dapat
berbuat banyak selain menghambat pasukan Belanda agar tidak sampai ke pusat
pemerintahan4. Situasi Yogyakarta kembali mencekam, pemerintah langsung
mengadakan rapat untuk membahas langkah apa yang akan diambil untuk mengatasi
situasi tersebut di Istana Negara (Sekarang Gedung Agung) yang berhadapan dengan
Benteng Vredesburg.
3
Julius Pour, Doorstoor Naar Djokdja, Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer, Jakarta :
Kompas, 2009, Hlm. 1-2
4
Atmakusumah, Takhta Untuk Rakyat, Celah-celah Kehidupan Sultan
Hamengkubuwana IX, Jakarta : Gramedia, 1982, Hlm 69
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
57
Pada saat rapat sedang berlangsung terdengar bunyi ledakan dari luar, ternyata
pasukan Belanda menjatuhkan bom di sekitar tempar tersebut. Pada Agresi Militer
Belanda II ini pula, pihak Belanda berhasil menangkap beberapa pemimpin negara
diantaranya Presiden Soekarno, Sutan Sjahrir dan Haji Agus Salim. Mereka bertiga
ditangkap dan kemudian diasingkan ke Brastagi. Sementara Moh. Hatta, Moh. Roem
dan Mr Ali Sastroamidjojo ditangkap dan diasingkan ke Bangka. Sementara para
pemimpin negara yang tidak tertangkap melarikan diri ke luar kota, dan sebagian
bersembunyi di kota dan menjadi “manusia siluman” yang aktif pada gerakan bawah
tanah. Sedangkan beberapa ikut dalam serangan gerilya yang dipimpin oleh Jenderal
Soedirman.
Dalam peristiwa sekitar Agresi Militer Belanda II, Soegija juga menuliskan
peristiwa tersebut dalam catatah hariannya. Pada catatan Soegija yang bertanggal 19
Desember 1948 tertulis :
“R.K menerimakan sakramen tobat, menerimakan komuni dan
Misa biasa jam 8. Jam 6 mulai gemuruh suara kapal terbang. Koster
menghadap R.K. di tempat menerimakan sakramaen tobat, bertanya
Misa meriah atau Misa biasa. R. K. memerintahkan Misa meriah
seperti biasa, karena hanya mengira latihan biasa. Sesudah jam 9
mendengar bahwa Belanda mulai mendatangkan : Pesawat pemburu,
pesawat pembom. Jam 10 pesawat pergi, tapi tidak lama datang 3
pesawat pembom. Sesudah berputar-putar jam 11 mulai mengebom
kota bagian tengah. Bom-boman terus tidak ada redanya. Di manamana sudah terdengar suara pesawat, senapan, senapan mesin dan
meriam. Sejumlah pengungsi minta tempat di pasturan Bintaran.
Upacara gereja dibatalkan. Pastor v. Thiel dan Kunkels pergi ke
Bintaran karena terjadi bom-boman di Beteng. Sesudah makan R.P. v.
Thiel disarankan untuk terus tinggal di Bintaran, R. D . Kunkels
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
58
pulang ke Setjadiningratan. Bom-boman berlangsung seharian suntuk,
jam 12 mulai tembak-menembak, jam 2 ada berita Jogja dididuki
tentara K.N.I.L. Sejumlah orang mengungsi di Pasturan Bintaran.
Malam harinya bergiliran jaga. Sumitra datang minta instruksi5”
Tak hanya itu catatan harian Soegija setelah tanggal 19 Desemeber 1948 juga
banyak menuliskan peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah Agresi Militer Belanda II
hari pertama selesai. Bahkan pada catatan harian Soegija tertanggal 21 Desember
1948, Soegija menulis jika mendapatkan kabar bahwa beberapa pemimpin negara
berhasil ditangkap dan diasingkan oleh Belanda. Secara khusus keterlibatan Soegija
dalam diplomasi berkaitan dengan peristiwa Agresi Militer Belanda II tersebut adalah
ketika tulisan Soegija dimuat pada surat kabar The Commonweal terbitan Amerika.
Dalam tulisan tersebut Soegija menuliskan berbagai serangan yang dilakukan oleh
pasukan Belanda dan dampak dari serangan tersebut bagi kehidupan rakyat Indonesia
terutama bagi anak-anak, seperti kemiskinan dan pembodohan. Tulisan Soegija pada
surat kabar tersebut mendapatkan reaksi positif dari masyarakat internasional.
Terbukti Soegija mendapatkan kiriman bantuan berupa buku-buku dan majalah dari
berbagai pihak yang ditujukan kepada anak-anak Indonesia6.
5
6
Op cit, Hlm 150-151
G. Budi Subanar, SJ, Kilasan Kisah Soegijapranata, Yogyakarta : Penerbit USD,
2012, Hlm 47
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
59
Tulisan Soegija dalam harian The Commonweal, tidak luput dari peran
seorang peneliti Amerika yang bernama G. Mc. T. Kahin yang pada saat itu sedang
berada di Yogyakarta untuk melakukan penelitian tentang Indonesia. Dalam
kunjungannya tersebut, G. Mc. T. Kahin menyempatkan diri untuk menemui Soegija
dan berbincang langsung dengan Soegija mengenai situasi Indonesia saat itu.
Pertemuan Soegija dengan G. Mc. T. Kahin dituliskan Soegija pada catatan harian
yang bertanggal 19 November 1948.
Tak hanya menuliskan keperihatinan atas aksi militer Belanda di Indonesia
dalam surat kabar, Soegija juga menuliskan keperihatinannya dalam surat gembala
yang ditulisnya langsung, yang pada saat misa akan dibacakan. Pada Surat Gembala
yang tertanggal 2 Februari 1949, Soegija menuliskan keperihatinannya atas
penjajahan yang masih terjadi, baik di Indonesia maupun di negara lain. Seogija
menyatakan bahwa penjajahan merupakan salah satu bentuk pelanggaran terhadap
hak asasi manusia untuk merdeka. Dalam surat gembala tersebut Soegija menuliskan
demikian :
“Sungguhlah barang siapa kasih akan sesama manusia, sekurangkurangnya haruslah mengakui dan menghormati hak-haknya.Adapun
tujuh hukum yang terakhir dari hukum-hukum sepuluh perintah Tuhan,
itulah bermaksud untuk memperlindungkan hak-hak manusia yang
terpenting.Hukum yang kelima menghormati dasar hak-hak manusia,
ialah hak atas hidup.Hukum yang keempat, keenam dan kesembilan
untuk memeliharakan hidup rumah tangga dan keluarga, yang
merupakan sumber hidup bangsa dan mewujudkan tempat latihan buat
anak cucu dan orang tuanya sendiri.Hukum yang ketujuh itulah untuk
mempertahankan hak-hak tiap manusia tentang miliknya dan tentang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
60
buah pekerjaannya.Hukum yang kedelapan membela hak tentang
kebenaran dan tentang saling percaya, yang sangat dihajatkan buat
pergaulan hidup manusia yang teratur.
Hak-hak tersebut memang merupakan dasar-dasar hidup manusia
dan masyarakat.Asalnya tiada dari Negara, tetapi dari Tuhan, chalak
bangsa manusia, dari pada itu dipeliharakan dan diawasi oleh Tuhan
sendiri.Tiada terdapatlah suatu Negara yang mengaruniakan itu”kepada
manusia, atau yang dapat merampasnya.Tak adalah undang-undang
manusia yang dapat membinasakannya.Hak-hak itu tidak tak boleh
diasingkan.Hak-hak tersebut niscaya menuntut keselamatan manusia7.”
Selain itu kaitan Soegija dengan peristiwa sekitar Agresi Militer Belanda II
adalah ketika Soegia mengirimkan surat kepada Sultan Hamengkubuwana IX yang
menghimbau kepada Sultan Hamengkubuwana IX agar tidak meninggalkan istana.
Hal tersebut dituliskan Soegija dalam catatan harian Soegija yang tertanggal 5 Januari
1949. Surat tersebut dikirimkan Soegija kepada Sultan Hamengkubawana IX karena
Soegija mendapatkan kabar akan niat Sultan Hamengkubuwana IX yang ingin ikut
dalam perang gerilya pimpinan Jenderal Soedirman. Dalam surat tersebut, dalam
surat
tersebut
Soegija
menuliskan
pemikirannya,
jika
sampai
Sultan
Hamengkubuwana IX meninggalkan istana dan diketahui oleh pihak Belanda, maka
kemungkinan besar pasukan Belanda akan melakukan tindakan keras terhadap rakyat,
7
Surat Gembala 2 Februari 1949, (Kutipan sudah disesuaikan dengan ejaan
yang disempurnakan)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
61
dan juga bisa menciptakan perpecah dalam tubuh Kraton Yogyakarta seperti yang
sudah pernah Belanda lakukan di masa lalu8.
Mempertimbangkan saran dari Soegija, maka Sultan Hamengkubuwana IX
mengurungkan niatnya untuk ikut dalam perang gerilya. Sultan Hamengkubuwana IX
memilih untuk memantau situasi Yogyakarta dari dalam istana. Tak hanya berhenti di
situ peranan Soegija dalam diplomasi juga dilakukan Soegija dengan tulisan dan hasil
wawancara Soegija dengan berbagai wartawan dari dalam dan luar negeri. Hal
tersebut dapat diketahui dari catatan harian Soegija yang tertanggal 14 Februari 1949.
Dalam catatan harian Soegija menuliskan bahwa Soegija didatangi oleh wartwawan
Seito Sapad Mazin, Koresponden Antara dan Sin Po9. Sedangkan untuk tulisan
Soegija dimuat dalam Koran ANP terbitan Amsterdam yang tertanggal 16 Mei 1949,
yang kemudian dikutip kembali oleh harian Merdeka pada terbitan 17 Mei 1949.
Dalam tulisan tersebut, Soegija mengkritik keras terhadap aksi-aksi militer yang
dilakukan oleh Belanda. Adapun kutipan tulisan Soegija pada harian Merdeka
berbunyi
“…. menyatakan kesan-kesan saya sendiri tentang cara dilakukannya aksi
militer itu. sebab disitu terlah terjadi perbuatan-perbuatan yang menurut pendapat
38.G. Budi Subanar, SJ, Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup Di Masa Perang,
Catatan Harian Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, 13 Februari 1947-17 Agustus
1949, Yogyakarta : Galang Press, 2003, Hlm 157
9
Ibid, Hlm 166
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
62
saya dapat disangsikan, apakah dibolehkan. Apabila saya merenungkan sekali lagi
semua perslah dan palporan tentang kejadian-kejadian sebagai akibat atau berhubung
dengan aksi militer itu yang saya terima baik dari orang-orang agama atau orangorang biasa ….”10.
Dari
tulisan
Soegija
tersebut
dapat
diketahui
bagaimana
Soegija
mempertanyakan bagaimana tanggungjawab pemerintah Belanda atas aksi-aski
militer yang dilakukan di Indonesia, yang mengakibat penderitaan dan tewasnya
rakyat Indonesia. Tulisan-tulisan Soegija maupun hasil wawancara Soegija yang
dimuat dalam berbagai media masa baik luar maupun dalam negeri banyak dibaca
oleh masyarakat dunia dan berhasil merebut empati dari masyarakat dunia. Salah satu
buktinya adalah ketika Soegija mendapatkan surat dari seseorang yang menyatakan
walaupun bukan seorang Kristen, pengirim surat tersebut mengatakan sangat
menghargai usaha Soegija dalam perjuangan Indonesia dan mendukung Indonesia
merdeka11.
Dari beberapa usaha yang dilakukan Soegija dalam memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia, dapat disimpulkan bahwa walaupun Soegija tidak masuk
dalam barisan pemerintahan seperti Mohammad Roem, Moh Hatta ataupun para
10
Merdeka, 17 Mei 1949 (Kutipan sudah disesuaikan dengan ejaan yang
disempurnakan)
11
G. Budi Subanar, SJ. Kilasan Kisah Soegijapranata, Yogyakarta : Penerbit USD,
2012, Hlm 45
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
63
diplomat resmi lainnya, Soegija tidak memiliki batasan dalam berjuang. Soegija
melakukan diplomasi dengan caranya sendiri yaitu melalui tulisan dan wawancara
dengan berbagai media untuk menghimpun dukungan dunia demi terwujudnya
kemerdekaan Indonesia yang utuh. Dan walaupun Soegija bukanlah seorang
wartawan ataupun seorang jurnalis, Soegija tetap mampu menyampaikan pemikiranpemikirannya mengenai penjajahan dan mimpi untuk merdeka, serta himbauan
kepada umat Katolik untuk ikut andil dalam usaha kemerdekaan Indonesia melalui
surat-surat Gembala yang ditulis oleh Soegija sendiri. Tulisan-tulisan Soegija banyak
berisi mengenai keperihatinan Soegija akan kondisi rakyat Indonesia yang dirampas
haknya sebagai manusia yang merdeka oleh Belanda. Yang kemudian tulisan tersebut
mendapatkan respon positif dari berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negeri.
Selain itu dari paparan panjang di atas, dapat dilihat bagaimana Soegija dapat
menjalin relasi yang baik dari berbagai pihak mulai dari Vatikan, pemerintah
Indonesia, peneliti, hingga wartawan asing. Relasi Soegija dengan berbagai pihak
tersebut tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu kekuatan Soegija dalam melakukan
diplomasi untuk menggalang dukungan demi membantu pemerintah Indonesia
mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB IV
Dampak-dampak yang Ditimbulkan Dari Keterlibatan Mgr.
Albertus Soegijapranata, SJ Dalam Usaha Diplommasi
A. Dampak Bagi Gereja dan Umat Katolik di Indonesia
Setelah melalui perjalanan panjang untuk mempertahankan kemerdekaan
Indonesia, akhirnya pada 27 Desember 1949, Belanda mau mengakui kedaulatan
Indonesia. Perjuangan fisik dan diplomasi yang dilakukan oleh berbagai pihak
terbayar sudah dengan pengakuan Belanda tersebut. Baik kalangan dari pemerintah
maupun warga sipil rela mengorbankan tenaga, pikiran bahkan nyawa mereka untuk
mewujudkan mimpi rakyat Indonesia untuk merdeka. Salah satu orang yang berjasa
dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah Mgr. Albertus Soegijapranta, SJ
atau lebih akrab disapa Soegija. Walaupun bukan dari kalangan pemerintah namun
Soegija memiliki inisiatif sendiri untuk ikut berjuang, dalam hal ini Soegija memilih
jalur diplomasi.
Tidak dapat dipungkiri keterlibatan Soegija dalam melakukan diplomasi guna
memepertahankan kemerdekaan Indonesia juga memiliki peranan yang sangat
penting dalam sejarah Indonesia.Walaupun bukan seorang diplomat resmi
pemerintah, namun sosok Soegija memiliki jasa dalam menghimpun dukungan dari
berbagai pihak yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Usaha – usaha Soegija
dalam berdiplomasi terbukti berhasil. Peran Soegija yang berhasil melakukan
diplomasi tersebut bukan hanya berdampak semakin banyaknya pihak yang
64
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
mendukung
kemerdekaan
Indonesia,
namun
keikutsertaan
Soegija
65
dalam
berdiplomasi juga berdampak bagi kehidupan Gereja dan umat Katolik di Tanah Air.
Hal tersebut berkaitan erat dengan jabatan uskup yang diemban Soegija pada masa
itu.
Sebagai seorang pemimpin agama Katolik, Soegija sering menghimbau umatnya
baik umat yang merupakan orang pribumi ataupun orang – orang non pribumi (Eropa
termasuk orang Belanda dan juga Tionghoa) untuk bersama – sama ikut dalam
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah satu contohnya adalah tulisan
Soegija di Majalah Swaratama yang berbunyi :
“Memang, tidak sedikit jumlahnya orang yang kemudian luntur, menjadi
sama seperti kanan-kirinya, hilang kekhasannya sebagai Katolik. Sebagian
malah menjadi enggan kalau ketahuan bahwa dirinya Katolik; bangga bahwa
dapat menyatu dengan menyamar, berkulit bunglon.Betapa kasihan.
… Swara-Tama tidak bermaksud membujuk orang berkalung
Rosario,menjajar medali-medali, dan mendaras doa sepanjang jalan. Yang
dituju (oleh Swara-Tama) adalah agar dapat member tuntunan dan melatih
cara hidup Katolik lahir-batin, tidak memandang tempat, derajat kedudukan
maupun asal-usul. Segala pengalaman hidup akan dibeber dan dibahas dalam
kacamata Katolik, agar para pembaca senantiasa memegang tekad serta
keyakinannya baik di gereja, di jalan, di tempat perjamuan, pekerjaan dan
tempat hiburan, atau dimana pun tanpa peduli kanan-kirinya, agar jelas
memperlihatkan bahwa kehidupannya telah dilandasi keyakinan akan
kehidupan yang luhur”1
Dalam tuilisannya tersebut, Soegija meminta seluruh umat Katolik di Inonesia
tidak memandang warna kulit maupun status sosial antara satu dengan yang lain.
1
. Swaratama XXI, 7 Mei 1941 (Tulisan sudah disesuaikan dengan ejaan yang
disempurnakan)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
66
Soegija menghimbau agar seluruh umat Katolik di Indonesia untuk memberikan yang
terbaik yang mereka miliki untuk bangsa dan negara. Dengan cara itulah maka
mereka bisa menjadi seorang Katolik yang sesungguhnya.
Selain itu di masa penjajahan Belanda hingga masa revolusi kemerdekaan,
banyak masyarakat pribumi non Katolik yang menganggap orang – orang Katolik
merupakan kaki tangan pemerintah Belanda. Hal tersebut dapat diketahui dari
pidato Soegija yang tertulis demikian :
“Bergabung dalam pergerakan nasional dengan menggunakan suatu asas
Katolik akan menarik simpati orang lain pada iman kita… Terlebih
usaha tersebut merupakan jawaban yan paling baik untuk menangkal
tuduhan para musuh yang setiap kali mengatakan bahwa orang Katolik
pribumi adalah kaki tangan dari penguasa colonial, dan murid-murid
dari kaum imprealis dan kolonialis”2.
Oleh sebab itu Soegija berusaha untuk merubah pandangan masyarakat non
Katolik tersebut dan ingin menyatukan umat Katolik dengan masyarakat non Katolik.
Pada masa revolusi kemerdekaan banyak pula umat katolik yang ikut berjuang
mempertahankan kemerdekaan Indonesia terutama para pemuda Katolik.Secara
khusus Soegija mengatakan bahwa para pemuda Katolik merupakan kusuma bangsa
dan harapan Gereja.Keikutsertaan umat katolik dan Soegija dalam berjuang
mempertahankan
kemerdekaan
Indonesia
itu
membuat
Presiden
Soekarno
mengapresiasi dan mengakui eksistensi para umat Katolik dalam memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia.
2
G. Budi Subanar, SJ, Kilasan Kisah Mgr.A. Soegijapranata, SJ (2012), Hlm 76
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
67
Salah satu bentuk apresiasi Presiden Soekarno terhadap umat Katolik di Indonesia
adalah dengan menghadiahkan sebuah lukisan Bunda Maria yang dibelinya dari
seorang pelukis berkebangsaan Italia yang diserahkan oleh kurir kepada Soegija pada
10 Agustus 1948. Selain itu, bersamaan dengan lukisan Bunda Maria tersebut,
Presiden Soekarno juga menuliskan sepucuk surat yang ditujukan kepada Soegija.
Dalam penutup surat tersebut Presiden menyampaikan harapannya kepada umat
Katolik di Indonesia tetap sejahtera dalam Republik.
Tak hanya mendapatkan pengakuan dari pemerintanh Indonesia, Soegija juga
mampu mengubah pandangan umat pribumi non Katolik yang pada awalnya
menganggap umat Katolik sebagai kaki tangan pemerintah Belanda. Dari usaha
Soegija dan umat Katolik Indonesia, Soegija pernah mendapatkan surat yang berisi
penghormatan kepada Soegija atas usahanya dalam ikut mempertahankan
kemerdekaan Indonesia. Surat tersebut berasal dari seseorang yang beragama lain.
Bahkan setelah masa revolusi kemerdekaan, Soegija masih gencar mengajak umat
Katolik Indonesia untuk bersama mengisi kemerdekaan dengan hal – hal yang
berguna, serta menjaga hubungan baik dengan umat beragama lain. Seperti yang
dikemukakan Soegija dalam Surat Gembala yang bertanggal 12 Februari 1952, yang
berisi :
“Sebagai golongan yang kecil kita hidup di antara berjuta – juta penduduk
yang berbedaan perkara agama dan keyakinan.Kesejahteraan tanah dan
keselamatan umum, pun pula kepentingan kita sendiri, meminta supaya kita
hidup bersatu dan berdamai, tambahan pula kerja bersama – sama dengan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
68
segala warga negara dan golongan, yang sungguh memperhatikan kepentingan
nusa dan bangsa”3.
Soegija pun tanpa lelah mengingatkan kepada umat Katolik di Indonesia akan
tanggungjawab mereka sebagai bangsa Indonesia. Mereka memiliki kewajiban untuk
mencurahkan tenaga dan pikirannya demi bangsa dan negara. Salah satu surat yang
disampaikannya untuk umat Katolik di seluruh Indonesia pada tahun 1957.
“Berkenaan dengan seribu satu kesulitan dan kesukaran, yang dihadapi oleh
Negara kita yang masih muda, dengan rendah dan gerak hati kami
memperingatakan kepada segenap umat Katolik di Seluruh Indonesia akan
kewajibannya kepada Nusa dan Bangsa, justru pada dewasa ini, seperti apa
yang tercantum dalam hokum perintah Tuhan yang keempat. Dalam segala
ihwal dan untung malang hendaknya umat Katolik selalu hormat lahir batin
kepada Pemerintah yang sah dan taat kepada undang – undang peraturannya,
yang berdasarkan hukum alam. Sebagai keturunan bangsa Indonesia dan
warga negara Republik Indonesia kita diwajibkan menaruh cinta kasih yang
sejati terhadap tanah air dan bangsa kita dan patuh kepada pemerintah kita”4.
Selain itu pada saat menjadi anggota konsili Vatikan pada tahun 1962, Soegija
mengutarakan tentang situasi Gereja di Indonesia dan menjelaskan bahwa Pancasila
menjadi dasar negara Republik Indonesia dan ideologi bangsa Indonesia kepada
seluruh uskup dari berbagai negara yang datang pada pertemuan tersebut. Soegija
menjelaskan bahwa Pancasila merupakan cerminan atas keinginan bangsa Indonesia
untuk menjalankan agama dan keyakinannya dengan penuh kedamaian dan hidup
3
Anhar Gonggon, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ Antara Gereja dan
Negara, Hal 25
4
Ibid., Hal 36
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
69
dalam toleransi antar umat beragama.Serta saling menghormat, menghargai dan
saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat.Soegija yakin bahwa dengan
menerapkan
Pancasila
sebagai
dasar
negara,
bangsa
Indonesia
mampu
menanggulangi gejala desintegrasi bangsa.Oleh karena itu peran Soegija dalam
diplomasi kemerdekaan Indonesia memiliki dampak postif bagi perkembangan dan
eksistensi Gereja dan umat Katolik di Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Selain hal itu pasca Indonesia berhasil membuat Belanda mengakui kemerdekaan
Indonesia, peran Soegija dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak berhenti
begitu saja. Usai masa-masa sulit tersebut Soegija kembali ke Semarang, walau
demikian
Soegija
tetap
mencurahkan
perhatiannya
kepada
permasalahan-
permasalahan baru Indonesia pada masa kemerdekaan.Salah satu yang menjadi fokus
Soegija adalah dalam hal ekonomi dan pendidikan.Salah satu contohnya adalah
Soegija sering memberikan pedoman-pedoman kehidupan dan memperhatikan
pendidikan anak-anak Katholik, serta sosial ekonomi mereka. Dalam bidang
ekonomi, pada tahun 19 Juni 1954 Soegija membentuk sebuah organisasi buruh yang
bernama Organisasi Buruh Pancasila. Sejak saat itu mulai berkembanglah organisasiorganisasi sosial yang di bentuk oleh warga Katholik di seluruh Vikariat Semarang.
Dalam pembentukan organisasi tersebut Soegija ingin umat Katolik di Indonesia ikut
membantu dan mengisi kemerdekaan dengan peduli terhadap permasalahanpermasalahan sosial di sekitar mereka dengan tidak membawa nama agama,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
70
melainkan karena umat Katolik Indonesia merupakan bagian dalam diri Bangsa
Indonesia.
Kehadiran Soegija dalam dunia politik di Indonesia juga memberikan dampak
positif bagi umat Katolik Indonesia, hal tersebut dikarenakan Soegija juga berjuang
demi umat Katolik Indonesia, agar umat Katolik Indonesia dapat ikut serta
membangun bangsa dan negara Indonesia yang baru saja merdeka.
A. Dampak Bagi Bangsa Indonesia
Dalam melakukan usaha diplomasi untuk menggalang dukungan demi
mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Soegija berhasil meyakinkan berbagai
pihak untuk mendukung kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia sebagai sebuah
bangsa dan negara.Salah satunya adalah usaha yang dilakukan Soegija dalam
meyakinkan pihak Vatikan untuk mengakui kemerdekaan RI. Seperti yang
disinggung dalam bab sebelumnya, Soegija mengirimkan surat kepada Vatikan pada
18 Januari 1947, Soegija menceritakan mengenai situasi dan kondisi Indonesia serta
masyarakat Indonesia pada masa penjajahan Jepang dan pada saat Belanda masuk
kembali ke Indonesia di bawah bendera NICA. Dengan tutur kata yang penuh
kewibawaan Soegija meminta agar Vatikan mau mendukung Indonesia. Surat
tersebut merupakan surat balasan dari Soegija terhadap surat yang dikirimkan oleh
Kardinal Fumasoni Biondi yang dikirim pada 20 Desember 1946. Dalam balasan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
71
surat tersebut Soegija juga memberikan beberapa masukan kepada Vatikan guna
penunjukkan nuntius Vatikan di Indonesia. Soegija menyampaikan agar nuntius yang
ditunjuk merupakan sosok yang dapat diterima oleh semua pihak, baik pihak
penguasa sipil maupun pemerintah Indonesia, dam karena nuntius merupakan wakil
dari Paus, hendaknya nuntius tersebut nerupakan sosok yang dapat bekerjasama
dengan para uskup dan tidak terlibat dalam politik. Hal tersebut disampaikan Soegija
agar pada nantinya kehadiran nuntius tersebut tidak menimbulkan perdebatan,
sehingga perlu dipertimbangkan pula kewarganegaraan dari nuntius tersebut. Soegija
menyampaikan pula ada baiknya jika nuntius berasal dari Italia atau Finlandia, bukan
orang Amerika ataupun Belanda. Masukkan tersebut bertujuan agar asal-usul
kebaangsaan nuntius tidak dipermasalahkan dikemudian hari.
Berselang dua bulan setelah dikirimnya surat balasan dari Soegija kepada pihak
Vatikan, maka pada 16 Maret 1947 Vatikan menjadi mengakui kemerdekaan dan
kedaulatan baik secara de facto maupun de jure Indonesia sebagai bangsa dan negara.
Selain itu Vatikan juga ikut menghimbau kepada pemerintah Belanda untuk
menghentikan aksi polisinilnya di Indonesia. Vatikan merupakan negara yang cukup
berpengaruh terhadap politik dunia, terutana Amerika dan Inggris. Hal itu
dikarenakan dalam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) nuntius Vatikan merupakan
ketua yang membawahi seluruh duta besar negara-negara Barat. Oleh karena itu
dengan Vatikan mendukung kemerdekaan Indonesia, dianggap dapat mempengaruhi
suara dari negara-negara Eropa lainnya agar kemudian ikut mendukung kemerdekaan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
72
Indonesia. Tentunya hal tersebut menjadi penyemangat bagi pemerintah maupun
rakyat Indonesia untuk terus berjuang demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia,
karena semakin banyak pihak di luar sana yang memberikan dukungannya bagi
terwujudnya kemerdekaan Indonesia yang utuh.
Tak berhenti dengan melakukan diplomasi dengan Vatikan, keahlian Soegija
dalam bertutur kata baik lisan maupun tertulis digunakan Soegija sebagai alat untuk
menyerukan keperihatinannya terhadap pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) yang
dilakukan oleh pasukan Belanda terhadap masyarakat Indonesia. Pergaulan Soegija
yang luas dengan berbagai pihak memudahkannya untuk mencari jalan guna
mendapatkan dukungan bagi kemerdekaan Indonesia.
Oleh karena itu dengan Vatikan mengakui Indonesia sebagai negara yang
merdeka dan berdaulat merupakan suatu hal yang berarti bagi pemerintah Indonesia
dan rakyat Indonesia sendiri. Maka tak heran bila Presiden Soekarno sangat
berterimaksih kepada Soegija dan memberikan apresiasi atas usaha Soegija tersebut.
Terbukti pada tahun 1957, Presiden Soekarno pernah menawari Soegija untuk ikut
menjadi bagian dalam Dewan Nasional untuk menjadi wakil dari suara Partai Katolik
Indonesia (Dewan Nasional merupakan sebuah lembaga yang didirikan pada masa
pemerintahan Presiden Soekarno di tahun 1957. Dewan Nasional dibentuk dari
adanya hasil Konsepsi Presiden yang diserukan oleh Presiden Soekarno pada 21
Februari 1957. Konsepsi tersebut diputuskan oleh Presiden Soekarno sebagai langkah
atas timbulnya konflik internal dalam badan pemerintahan dan partai-partai politik di
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
73
Indonesia yang mempertanyakan apakah Pancasila akan tetap dipertahankan atau
diganti dengan ajaran agama Islam sebagai dasar negara. Konsepsi tersebut
memutuskan untuk menghapus sistem parlementer yang dianggap oleh Presiden
Soekarno tidak mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi
pemerintah dan bangsa Indonesia masa itu), namun tawaran untuk duduk dalam
Dewan Nasional ditolak Soegija. Soegija justru memberikan kesempatan orang
kepercayaannya untuk mewakili suara Parta Katolik Indonesia dalam Dewan
Nasional.
B. Tanggapan Berbagai Pihak Terhadap Keterlibatan Mgr. Albertus
Soegijapranata dalam Diplomasi Kemerdekaan Indonesia.
Kedudukan Soegija sebagai seorang pemimpin agama Katolik tidak menghalangi
Soegija untuk ikut terjun dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.Keterlibatan
Soegija dalam ikut berjuang pada masa perjungan kemerdekaan Indonesia hingga
pasca kemerdekaan Indonesia mendapatkan berbagai tanggapan dari berbagai pihak,
baik dari kalangan dalam Gereja Katolik dan para pemimpin bangsa pada masa itu.
Dari kalangan Gereja Katolik Indonesia sendiri mendukung dan memberikan
apresiasi kepada Soegija atas usahanya dalam ikut memperjuangkan kemerdekaan
Indonesia dan ikut serta dalam memikirkan permasalahan bangsa pasca merdeka.
Bahkan rekan sekolah Soegija pada saat di Muntilan, I.J Kasimo mendukung
keterlibatan Soegija dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Walaupun saat
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
74
Presiden Soekarno memutuskan untuk memasukan PKI (Partai Komunis Indonesia)
sebagai salah satu bagian dalam Republik Indonesia, Soegija dan I. J Kasimo
memiliki pandangan lain. Soegija mendukung keputusan Presiden Soekarno yang
memasukan PKI dalam bagian RI, sedangkan I. J Kasimo beserta beberapa anggota
Partai Katolik menentang keputusan Presiden itu5. Selain disambut baik oleh
kalangan Katolik Indonesia, eksistensi Soegija tersebut juga mendapatkan respon
positif dari nuntius Vatikan untuk Indonesia, Mgr. George de Jonge d’ Ardoya dan
pihak Vatikan, hingga pihak Vatikan mengangkat Soegija sebagai anggota Konsili
Vatikan. Pengangkatan Soegija sebagai anggota Konsili Vatikan bukan diputuskan
berdasarkan karena Soegija adalah uskup, namun juga berdasarkan atas tindakantindakan berani Soegija dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang dinilai
sebagai tindakan yang mencerminkan seorang Katolik sejati.
Bagai dua sisi mata uang keterlibatan Soegija dalam perjuangan sebelum
maupun sesudah kemerdekaan Indonesia, juga tidak luput dari kritikan dari kalangan
Gereja Katolik, terutama dari Kalangan Gereja Katolik Belanda. Terutama ketika
hubungan antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda kembali
memanas ketika memeperebutkan Irian barat (sekarang Irian Jaya), Baik dari pihak
Belanda maupun Indonesia bersikeras untuk memasukan Irian Barat sebagai daerah
teoterial masing-masing. Kaitan permasalahan tersebut dengan posisi Soegija adalah
karena sebagai seorang uskup dalam Vikariat Semarang, Soegija memiliki hubungan
5
Anhar Gonggon, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ Antara Gereja dan
Negara, Jakarta : Grasindo, 1993, Hlm.91
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
75
yang luas dengan orang-orang berbangsa Belanda terutama kaum Katolik Belanda
baik yang berada di Indonesia maupun di Belanda sendiri. Di sisi lain Soegija
merupakan warga negara Indonesia yang memiliki kewajiban untuk terus membela
tanah airnya. Posisi Soegija makin sulit terutama ketika Partai Katolik Belanda
menjadi salah satu partai yang mendukung Politik Kolonialisme di Hindia-Belanda6.
Akhirnya karena rasa cinta terhadap bangsa dan negaranya, Soegija lebih memilih
untuk membela Indonesia.Sikap Soegija tersebut mendapatkan kritikan dari Prof.
Romme yang merupakan seorang tokoh Partai Katolik Belanda dan beberapa anggota
Partai Katolik Belanda yang mengatakan tidak seharusnya Soegija terlalu ikut campur
dalam masalah politik praktis.
Sedangkan dari pihak pemerintah Indonesia sendiri, keikutsertaan Soegija dalam
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia disambut hangat oleh beberapa pemimpin
negara saat itu seperti Presiden Soekarno, Sri Sultan Hamengkubowono IX dan
beberapa petinggi militer Indonesia. Tak jarang para pemimpin negara meminta
masukan-masukan dari Soegija terhadap situasi negara pada saat itu. Tak jarang para
pemimpin negara tersebut berkirim surat dengan Soegija untuk membahas situasi
negara. Bahkan Soegija juga sering diundang dalam acara yang diadakan oleh
pemerintah Indonesia yang pada saat itu masih terpusat di Yogyakarta.
Seperti yang dikemukakan sebelumya. Soegija juga pernah mendapatkan
tawaran dari Presiden Soekarno untuk mewakili golongan Katolik Indonesia dalam
6
Ibid, Hlm. 89-90.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
76
Dewan Nasional, akan tetapi Soegija menolak tawaran Presiden Soekarno tersebut7.
Walau demikian Soegija tetap menjadi penasehat diluar pemerintahan dan masih suka
membahas permasalahan negara dengan para pemimpin negeri. Kemampuan Soegija
dalam berdiplomasi tidak diragukan lagi oleh para pemimpin negara, bahkan para
pemimpin negara bukan hanya menghormati Soegija sebagai pemuka agama namun
juga dihormati sebagai seorang negarawan. Rasa hormat kepada Soegija ditunjukkan
oleh Presiden Soekarno ketika mendengar kabar meninggalnya Soegija di neegri
Belanda pada 22 Juli 1963.Saat itu ada wacana untuk menyemayamkan jasad Soegija
di Belanda, namun Presiden Soekarno tidak menghendaki hal tersebut. Presiden
Soekarno segera memerintahkan anak buahnya untuk membawa pulang jenasah
Soegija ke tanah air untuk dimakamkan di Taman Pahlawan Semarang.
Layaknya pemakaman seorang anggota militer atau seorang negarawan,
pemakaman Soegija diiringi pula dengan upacara kebesaran militer. Hal tersebut
dilakukan pemerintah Indonesia untuk menghargai dan menghormati seluruh
tindakan Soegija demi membela tanah air. Untuk menghormati jasa dari Soegija
dalam proses perjuangan Indonesia demi mengukuhkan kemerdekaanya maka
Presiden Soekarno menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada Soegija pada 26
Juli 1963, tepat empat hari setelah Soegija wafat.
7
Ibid, Hlm 91
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB V
KESIMPULAN
Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ atau yang lebih akrab dengan sapaan
Soegija merupakan seorang pemuka agama yang sangat peduli terhadap nasib bangsa
dan negaranya. Oleh karena itu walaupun Soegija adalah seorang imam, tidak ada
batasan bagi Soegija untuk ikut membantu langsung dalam perjuangan kemerdekaan
Indonesia. Kebanyakan rakyat Indonesia memilih untuk ikut ambil bagian dalam
perang militer maupun perang grilya melawan penjajah, Soegija memilih jalan
diplomasi untuk memperjuangkan nasib kemerdekaan Indonesia yang diusik oleh
Belanda.
Dari hasil penelitian mengenai Soegija dalam perjuangan diplomasi kemerdekaan
Indonesia 1946-1950, dapat diketahui faktor-faktor yang mendorong Soegija dalam
melakukan diplomasi. Secara khusus faktor-faktor yang mempengaruhi Soegija
dalam melakukan diplomasi demi membantu pemerintah Indonesia mempertahankan
kemerdekaan Indonesia dapat dibagi menjadi dua faktor, yaitu fakor dalam dan faktor
luar. Faktor dari dalam yang mendukung atau mendorong Soegija dalam melakukan
diplomasi kemerdekaan adalah orang-orang terdekat Soegija yaitu keluarga dan para
pendidiknya di Kolose Xaverius, Muntilan seperti Van Lith. Keluarga Soegija
memberikan pelajaran kepada Soegija untuk
77
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
78
selalu berbuat baik, menjadi orang yang peduli terhadap sesama, dan mengajarkan
Soegija bagaimana menghargai dan menerima perbedaan. Ajaran dari keluarga
tersebut membuat Soegija pada akhirnya memiliki bela rasa yang tinggi terhadap
orang lain, dan menghargai perbedaan. Hal tersebut pula yang kemudian diajarkan
oleh Soegija sebagai seorang imam kepada umat Katolik di Indonesia. Di mana
Soegija selalu mengajak para umat Katolik di Indonesia dari berbagai golongan untuk
ikut membantu dan mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia, bergabung
dengan rakyat untuk berjuang.
Sedangkan para pendidik Soegija seperti Van Lith dengan ajaran-ajaran yang
diberikan semasa Soegija bersekolah di Kolose Xaverius, Muntilan, selalu mengajari
para murid untuk membela diri dari segala bentuk ketidakadilan. Van Lith juga
berjasa untuk menumbuhkan bela rasa terhadap kaum tertindas dalam diri para murid
di Kolose Xaverius termasuk dalam diri Soegija. Oleh karena itu saat menjadi
seorang imam hal tersebut tetap dipegang teguh oleh Soegija, sehingga Soegija tak
enggan untuk ikut terjun langsung dalam membela bangsa dan rakyat Indonesia.
Sedangkan faktor luar yang mempengaruhi atau mendorong Soegija dalam
melakukan diplomasi kemerdekaan ialah pengalaman hidup Soegija semasa kecil
hingga Soegija menjadi seorang imam, dan juga pendidikan Soegija semasa
menjalani masa studi untuk menjadi seorang imam. Dari sejak Soegija kecil hingga
menjadi seorang imam, Soegija selalu melihat dan mengalami secara langsung
bagaimana penderitaan rakyat Indonesia yang selalu dijajah oleh bangsa asing, dan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
79
mengalami banyak ketidakadilan dalam kehidupan rakyat Indonesia. Bahkan Soegija
juga pernah mengalami sendiri semasa Soegija masih kanak-kanak. Soegija dan
kawan-kawan yang merupakan orang pribumi selalu diolok oleh anak-anak orang
Eropa. Bahkan ketika terjadi pertengkaran antara anak-anak golongan pribumi
dengan anak-anak golongan Eropa baik guru maupun pihak berwajib akan lebih
membela anak-anak golongan Eropa. Selain itu semasa Soegija menempuh
pendidikan sebagai seorang imam di Belanda pada tahun 1919, Soegija melihat
langsung bagaimana Eropa hancur akibat dari Perang Dunia I. Soegija melihat
banyak orang yang menderita baik fisik maupun psikis akibat perang tersebut.
Pengalaman-pengalaman tersebutlah yang membuat Soegija akhirnya memikirkan
mengenai nasib bangsa Indonesia yang telah lama dijajah. Soegija mulai memikirkan
makna merdeka dan pentingnya kemerdekaan bagi sebuah bangsa maupun individu.
Ditambah lagi pada saat perang kemerdekaan banyak rakyat Indonesia yang
menganggap bahwa orang-orang Katolik dan para imam adalah kaki tangan Belanda,
Soegija juga berusaha untuk merubah pandangan rakyat Indonesia terhadap orangorang Katolik di Indonesia. Maka dari sanalah muncul dorongan dalam diri Soegija
untuk ikut berjuang membela bangsa dan negara.
Selain itu pendidikan yang ditempuh Soegija saat akan menjadi imam, juga
banyak mempengaruhi pola pikir dan sikap Soegija, serta mengembangkan
kemampuan Soegija dalam menulis. Karena untuk menjadi seorang imam, Soegija
diharuskan untuk belajar filsafat dan berbagai bahasa asing seperti Yunani, Latin dan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
80
Belanda. Selain itu untuk menjadi seorang imam, Soegija juga perlu mendalami Kitab
Suci dan ajaran Kristus yang selalu didasari akan kasih. Maka dari itu sebagai
seorang individu, Soegija selalu berusaha mewujudkan cinta kasih terhadap sesama
terutama kaum tertindas. Dan pendidikan tersebut yang membuat Soegija memiliki
keahlian dalam menulis, yang mana kemampuan menulis tersebut menjadi salah satu
cara bagi Soegija dalam melakukan diplomasi.
Dalam melakukan usaha-usaha diplomasi, Soegija melakukan berbagai cara
guna mendapat dukungan dunia internasional untuk mendukung kemerdekaan
Indonesia. Salah satunya adalah melakukan diplomasi dengan pemerintah (negara),
Soegija mencoba melakukan diplomasi secara tidak langsung dengan Vatikan. Cara
yang dilakukan Soegija adalah mengirimkan sebuah surat pada 18 Januari 1947,
dalam surat tersebut Soegija menuliskan aksi-aksi militer yang dilakukan oleh
Belanda. Selain itu Soegija juga memberikan masukan untuk penunjukkan nuntius
yang akan mewakili Paus di Vatikan. Dalam kaitan dengan penunjukkan nuntius,
Soegija memberi saran agar nuntius yang ditunjuk berasal dari negara yang tidak
akan menimbulkan pertentangan pada diri rakyat Indonesia. Dari hal tersebut dapat
dilihat, bagaimana Soegija berusaha mengambil simpati dari Vatikan untuk mau
membela dan mendukung Indonesia, dengan menceritakan berbagai aksi militer
Belanda yang membuat penderitaan bagi rakyat Indonesia. Serta usul atas
penunjukkan nuntius juga dilakukan Soegija agar tidak terjadi permasalahan di
Indonesia yang dapat mengakibatkan bertambahnya penderitaan rakyat. Sedangkan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
81
dengan pihak-pihak lain Soegija melakukan usaha diplomasi melalui wawancara
dengan berbagai media, dalam setiap wawancara Soegija tidak lupa untuk selalu
mempertanyakan tanggungjawab Belanda terhadap penderitaan rakyat Indonesia
akibat aksi militer Belanda. Selain itu Soegija juga banyak menuliskan mengenai
kekejaman pasukan Belanda dan penderitaan rakyat Indonesia. Yang mana banyak
tulisan-tulisan Soegija mendapat dukungan dari banyak pihak. Dalam kaitannya
dengan status Soegija sebagai seorang imam, Soegija juga sering melakukan
diplomasi secara tidak langsung dengan para umat Katolik di Indonesia dengan cara
mengajak umat Katolik di Indonesia untuk berjuang bersama mempertahankan
kemerdekaan, seperti yang dilakukan Soegija dalam surat-surat gembala yang
ditulisnya sendiri. Soegija juga pernah berusaha untuk menyerukan agar Belanda dan
Indonesia untuk melakukan gencatan senjata dan mengadakan perundingan, saat
Belanda melakukan Agresi Militer I pada Juli 1947. Dari hal-hal tersebut dapat dilihat
kekhasan Soegija dalam melakukan diplomasi.
1.
Kekhasan sebagai pemimpin agama yang terlibat dalam diplomasi :
Sebagai seorang uskup (imam) tentunya pergaulan Soegija sangatlah luas
tidak hanya bergaul dengan kalangan pribumi, pergaulan Soegija juga mencakup
umat Katolik non pribumi termasuk orang-orang Belanda. Pada saat pengangkatan
Soegija sebagai uskup, selain beberapa pemimpin Indonesia yang hadir ada beberapa
perwakilan dari pemerintah Hindia-Belanda yang
juga menghadiri upacara
pengangkatan Soegija tersebut. Sebagai ucapan terimakasih Soegija atas dukungan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
82
pihak-pihak tersebut, Soegija pun berusaha menjalin komunikasi dan hubungan baik
dengan pihak-pihak tersebut termasuk dengan para pemimpin Hindia-Belanda.
Sehingga tidak heran apabila banyak kalangan termasuk para pemimpin HindiaBelanda yang segan dengan Soegija. Inilah kekhasan bidang pergaulan, atau relasi
berdasar kedudukannya sebagai pemimpin agama.
Keuntungan yang dimiliki oleh Soegija sebagai seorang imam adalah
memiliki kemampuan untuk mempengaruhi umat Katolik Indonesia, baik dari kaum
pribumi maupun umat Katolik non-Pribumi. Hal tersebut disadari betul oleh Soegija
sehingga pengaruh dan kedudukannya sebagi seorang uskup dimanfaatkan untuk
mengajak umat Katolik di Indonesia ikut berjuang dalam memperjuangkan dan
mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Soegija tidak ingin umat Katolik Indonesia
hanya berdiam diri melihat kemerdekaan bangsanya dipermainkan dan direbut oleh
bangsa lain. Soegija mengingatkan bahwa umat Katolik yang berada di Indonesia
merupakan bagian dari bangsa dan negara Indonesia, oleh karena itu umat Katolik di
Indonesia memiliki kewajiban untuk memperjuangkan nasib bangsa dan Indonesia
untuk menjadi jauh lebih baik. Di samping itu setiap Soegija memimpin misa, Soegija
selalu menekankan akan pentingnya menjunjung tinggi kesatuan sebagai umat
manusia, tanpa memandang agama, ras dan etnis. Terlihat jelas bahwa Soegija
merupakan sosok yang menghargai perbedaan.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
83
2. Sebagai imam dan uskup mendapat pendidikan khusus: bidang iman dan
moral
Sebagai seorang imam, Soegija mendapatkan berbagai macam pengetahuan
pada masa studinya.Untuk menjadi seorang imam pada masa itu, Soegija harus
menempuh pendidikan teologi terlebih dahulu di Negeri Belanda. Selama masa studi
tersebut Soegija banyak belajar mengenai filsafat, bahasa latin dan tentu bahasa
Belanda. Sebelum ditahbiskan sebagai imam, Soegija juga pernah mengajar sebagai
guru aljabar, agama dan bahasa jawa di almamaternya yaitu di Kolose Xaverius,
Muntilan. Pengalaman mengajar dan ilmu yang didapatkan Soegija saat belajar di
negeri Belanda membuat Soegija memiliki kemampuan lebih dalam bidang menulis,
selain itu jabatannya sebagai seorang imam membuat Soegija fasih dalam berbicara di
depan khalayak ramai. Ini kekhasan Soegija dalam bidang pengetahuan.
Sebagai seorang imam dan uskup yang mendalami teologi pastinya Soegija
belajar banyak mengenai ajaran cinta kasih yang diajarkan oleh Kristus. Hal tersebut
pulalah yang berusaha diwujudkan Soegija dalam karya misinya. Bahkan rasa cinta
kasih Soegija ditunjukkan ketika Soegija menyerukan keperihatinannya terhadap
nasib rakyat Indonesia pada masa penjajahan maupun pasca kemerdekaan Indonesia.
3. Berdiplomasi Melalui Tulisan
Tidak hanya melakukan komunikasi dengan pihak Belanda seperti yang
dilakukan Soegija pada saat meminta pihak Belanda untuk menghentikan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
84
serangannya pada Agresi Militer Belanda I, namun Soegija juga melakukakan
diplomasi lewat tulisan-tulisan yang sering dimuat dalam media cetak baik media
cetak dalam negeri dan luar negeri. Tulisan-tulisan Soegija pada masa itu didominasi
mengenai keperhatinan Soegija terhadap situasi bangsa Indonesia masa itu , yang
mana haknya sebagai bangsa dan manusia yang merdeka direbut karena penjajahan
Belanda. Dengan menuliskan hal tersebut Soegija berharap bahwa masyarakat dunia
terutama umat Katolik di seluruh dunia membaca tulisan tersebut dan bersimpati
terhadap nasib rakyat Indonesia, serta berharap bahwa masyarakat dunia akan
mendukung kemerdekaan Indonesia.
Kemampuan Soegija dalam menulis itulah yang menjadikan nilai lebih dari
perjuangan Soegija dalam berdiplomasi demi mempertahankan kemerdekaan
Indonesia. Dengan tulisan yang ditulis Soegija masyarakat dunia yang semula tidak
tahu akan situasi sebenarnya Indonesia pada saat itu menjadi terbuka matanya. Selain
itu tulisan Soegija juga mengugah banyak pihak untuk mendukung kemerdekaan
Indonesia, seperti yang telah dituliskan sebelumnya. Kekhasan tulisan dari Soegija
adalah dalam hal isi. Tulisan yang dihasilkan Soegija berfokus dalam bidang
kemanusiaan. Dalam tulisannya Soegija selalu menyatakan keperihatinannya akan
nasib rakyat Indonesia, atau manusia di belahan bumi apapun yang sedang
mengalami penjajahan. Karena bagi Soegija penjajahan merupakan hal yang
merenggut kebebasan hak asasi seseorang atau sebuah negara untuk merdeka. Hal
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
85
tersebut dapat terlihat dari kutipan Surat Gembala yang ditulis Soegija pada tahun
1949.
Pemikiran-pemikiran kritis Soegija dalam melihat situasi bangsa Indonesia
saat itu dan usaha-usaha Soegija dalam berdiplomasi mendapatkan tanggapan postif
oleh para pemimpin negara. Karena mudah bergaul maka Soegija memiliki hubungan
yang dekat dengan Presiden Soekarno, Sri Sultan Hamenkubowono IX dan beberapa
pemimpin negara lainnya. Bahkan Soegija sering membahasi mengenai persoalan
negeri bersama para pemimpin negara, selain itu para pemimpin negara juga tak
jarang meminta masukan-masukan dari Soegija. Namun tanggapan negatif pun juga
diterima Soegija dari Partai Katolik Belanda. Tetapi bagaimanapun juga usaha
Soegija dalam berdiplomasi memberikan akibat positif bagi bangsa Indonesia dan
umat Katolik di Indonesia.
Untuk bangsa Indonesia, usaha Soegija tersebut membuat masyarakat dunia
mengetahui situasi di Indonesia dan banyak dukungan yang didapat untuk Indonesia.
Salah satunya adalah Vatikan ikut membantu Indonesia untuk menyerukan
penghentian aksi militer Belanda di Indonesia. Sedangkan untuk umat Katolik di
Indonesia, usaha Soegija tersebut mengakibatkan eksistensi umat Katolik di
Indonesia diakui oleh Presiden Soekarno, dan perlahan golongan non Katolik
merubah pandangannya terhadap umat Katolik Indonesia..
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
86
Dari semua paparan yang telah dijelaskan mengenai sosok Soegija dan
usahanya dalam berdiplomasi, dapat diketahui nilai lebih apa sajakah yang dimiliki
oleh Soegija dalam melakukan usaha diplomasinya, baik dilihat dari dalam pribadi
Soegija maupun langkah-langkah yang dilakukan Soegija dalam melakukan
diplomasinya hingga mencapai keberhasilan dalam menggalang dukungan dari
berbagai pihak demi kemerdekaan Indonesia.
Oleh karena itu maka peranan Soegija dalam kemerdekaan Indonesia tidak
dapat begitu saja dilupakan. Sama dengan para pejuang kemerdekaan yang
menggunakan jalan berperang maupun para diplomat resmi pemerintahan, Soegija
pun memiliki peranan besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Soegija bukan
hanya merupakan seorang uskup pribumi pertama, namun Soegija juga pantas disebut
sebagai negarawan. Untuk menghargai jasa-jasa Soegija, maka Presiden Soekarno
menobatkan Soegija sebagai Pahlawan Nasional pada 26 Juli atau 4 hari setelah
Soegija wafat. Jika pemerintah ataupun bangsa Indonesia tidak mengakui peranan
Soegija dalam perjuangan kemerdekaan, tentu Presiden Soekarno tidak akan
memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Soegija. Sehingga dari gelar yang
diberikan oleh pemerintah tersebut dapat dibuktikan bahwa Soegija memiliki peranan
penting dalam proses panjang kemerdekaan Indonesia.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
87
DAFTAR PUSTAKA
SUMBER PRIMER :
Surat Gembala, tertanggal 11 Februari 1941
Swaratama XXI, 7 Mei 1941
Surat Gembala, tertanggal 1 Februari 1942
Surat Gembala, dalam rangka hari peringatan Santa Maria kelihatan di Lourdes.
Tertanggal 11 Februari 1943
Surat Gembala, dalam rangka hari peringatan Santa Maria kelihatan di Lourdes,
tertanggal 11 Februari 1944
Surat Gembala, tertanggal 22 Januari 1948
Swaratama XXI, 7 Mei 1941
The Commonweal, 31 Desember 1948
Surat Gembala, tertanggal 2 Februari 1949
Merdeka, KL & KNIL berlainan dasar tudjuan dengan TNI, Pendapat Mgr.
Sugiopranoto tentang aksi militer II, 17 Mei 1949
Surat Gembala, tertanggal 3 Februari 1950
Teks Kata Sambutan dalam rangka peringatan kemerdekaan Indonesia, tertanggal 17
Agustus 1952
Budi
Subanar. G,
Kesaksian Revolusioner
Perang,Yogyakarta : Galang Press, 2003
Seorang
Uskup
Di
Masa
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
88
SUMBER SEKUNDER :
Anhar Gonggong. Mgr. Albertus Soegijapranata SJ: Antara Gereja dan Negara,
Jakarta :Gramedia Pustaka Utama, 2012.
Atmakusumah, Takhta Untuk Rakyat, Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku
Buwono IX, Jakarta : Kompas Gramedia, 2011.
Ayu Utami, Soegija 100 % Indonesia, Jakarta :Gramedia Pustaka Utama, 2012.
Budi Subanar, G,Si Anak Betlehem Van Java, Biografi Mgr. Albertus Soegijapranata,
SJ, Yogyakarta :Kanisius, 2003.
_________________,Kilasan Kisah Soegijapranata, Jakarta : Kepustakaan Populer
Gramedia, 2012.
_________________,Kesaksian Revolusioner
Perang,Yogyakarta : Galang Press, 2003.
Seorang
_________________,Soegija,
Catatan
Harian
Kemanusiaan,Yogyakarta :Galang Press, 2012.
Uskup
Seorang
Di
Masa
Pejuang
_________________, Menuju Gereja Mandiri: Sejarah Keuskupan Agung Semarang
di Bawah Dua Uskup (1940–1981), Yogyakarta: Sanata Dharma, 2005.
Dudung Abdurahman, Metodologi Penelitian Sejarah, Yogyakarta : Ar-Ruzz Media,
2007.
Edy Suhardono, Teori Peran, Konsep, Derivasi dan Implikasinya, Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama, 1994.
Iin Nur Insaniwati, Moh. Roem, Karier Politik dan Perjuangannya (1924-1968),
Magelang : Yayasan IndonesiaTera, 2002
Julius Pour, Doorstoot Naar Djokja, Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer,Jakarta :
Kompas, 2009.
Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah, Jakarta
:Gramedia Pustaka Utama, 1995
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta : Rajawali Press, 1982.
Theo Sudimin, MS, dkk, Semangat dan Perjuangan Mgr. Albertus Soegijapranata,
Semarang : Universitas Katholik Indonesia, 2002
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
89
Tim Wartawan Kompas dan Redaksi Penerbit Gramedia, I. J Kasimo, Hidup dan
Perjuangannya, Jakarta : PT Gramedia, 1980.
Tribuana Said, H. Rosihan Anwar, Wartawan Dengan Aneka Citra, Jakarta :
KOMPAS, 1992
W. J. Poerwadinata ,Kamus Basar Bahasa Indonesia, Jakarta : PN Balai Pustaka.
1985
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, 30 Tahun Indonesia Merdeka,
1945-1949
Sumber Internet
http://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/05/21/pengumpulan-data-dan-instrumenpenelitian/ (Diunduh pada Selasa, 11 Februari 2014).
Download