CORPUS ALIENUM

advertisement
31. BENDA ASING (CORPUS ALIENUM)
a. Pengertian
Adanya benda padat atau binatang yang kedalam telinga dan hidung
b. Tujuan
1. Agar luka tidak terjadi infeksi lanjut
2. Mengembalikan fungsi indera
c. Prosedur
Persiapan Alat
Steril
1. Bak instrumen
a. Spuit irigasi 50 cc
b. Pinset anatomis
c. Pinset chirrugis
d. Arteri klem
2. THT set
3. Kassa dan depres dalam tromol
4. Handschone / gloves steril
5. Neerbeken (bengkok)
6. Lampu kepala
7. Kom kecil/ sedang
8. Tetes telingga
9. Cairan pencuci luka dan disinfektan (Cairan NS)
Non Streril
1. Schort / gown
2. Perlak + alas perlak / underpad
3. Handschone / gloves bersih
4. Sketsel / tirai
5. Neerbeken / bengkok
d. Penatalaksanaan Corpus Alienum pada Telinga dan Hidung
1. Perawat memberikan penjelasan pada pasien dan keluarga/pasien menandatangani Informed
concern.
2. Perawat menyiapkan alat dan didekatkan pada pasien
3. Perawat memeriksa lokasi corpus alienum ditelingga baik dengan langsung atau memakai lampu
kepala
4. Perawat menetukan tindakan yang akan dilakukan berdasarkan letak dan jenis benda yang
masuk ke telingga / hidung antara lain :
a.
Benda Padat
Biji-bijian dan Benda kotak
- Perawat memakai alat sonde telingga / hidung (ukuran sonde sesuai dengan ukuran biji
didalam)
- Perawat memasukan sonde kedalam telinga / hidung dengan arah masuk melalui bagian luar
biji-bijian tersebut.
- Setelah sonde masuk kedalam telingga / hidung dan posisi sonde sudah lebih dalam dari pada
posisi biji-bijian, maka dilakukan pergerakan untuk mengeluarkan biji-bijian.
- Bila biji-bijian belum keluar dilakukan pengulangan mulai dari awal.
b. Binatang
Lintah
- Perawat memasukan sonde kedalam telinga / hidung dengan arah masuk melalui bagian luar
lintah tersebut.
- Setelah sonde masuk kedalam telingga / hidung dan posisi sonde sudah lebih dalam dari pada
posisi lintah, maka dilakukan pergerakan untuk mengeluarkan lintah
- Perawat memakai alat sonde telingga / hidung (ukuran sonde sesuai dangan ukuran lintah
didalam)
- Bila lintah belum keluar dilakukan pengulangan mulai awal
32. EPISTAKSIS
a. Pengertian
Pendarahan dari rongga hidung, sebagian besar akan berhenti secara spontan atau memerlukan
tindakan sederhana sepeti penekanan hidung. Meskipun demikian, pada beberapa kasus harus dilakukan
tindakan segera agar tidak berakibat fatal.
Menurut sumbernya, terdapat 2 macam epistaksis:
1. Epitaksis anterior
Berasal dari pleksus Kiesselbach atau arteri etmoidalis anterior. Terutama ditemui pada anak- anak ,
biasanya ringan dan mudah diatasi.
2. Epistaksis posterior
Berasal dari arteri sfenopalatina atau arteri etmoidalis posterior. Sering terdapat pada usia lanjut
akibat hipertensi atau arteriosklerosis. Biasanya pendarahan hebat dan jarang berhenti spontan.
b. Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan epistaksis, yaitu :
1. menghentikan pendarahan
2. mencegah komplikasi
3. mencegah berulang dengan mencari penyebab
- Tentukan asal pendarahan dengan memasang tampon yang dibasahi dengan adrenalin 1/1000
dan pantokain 2%, dibantu dengan alat penghisap. Sedapat mungkin penderita dalam posisi
duduk.
- Bila ternyata pendarahan dari anterior:
• Pasang kembali tampon yang dibasahi adrenalin 1/1000 dan pantokain 2% selama 5- 10
menit, dan ala nasi ditekan kea rah septum.
• Setelah tampon diangkat, asal pendarahan di kaustik dengan larutan AgNO3 10-30% atau
asam trikloroasetat 2- 6% atau dengan elektrokauter.
• Bila masih berdarah, pasang tampon anterior yang terdiri dari kapas atau kassa yang diberi
boorzalf atau bismuth iodine paraffin paste (BIPP). Tampon ini dipertahankan selama 1-2
hari (bila menggunakan boorzalf) atau 3- 4 hari (bila menggunakan BIPP).
- Bila ternyata pendarahan dari posterior:
• coba atasi dengan kaustik dan tampon anterior (lihat atas)
• bila gagal, pasang tampon posterior (Bellocg), caranya:
• tampon ini terdiri dari gulungan kassa yang mempunyai dua benang disatu ujung dan
satu benang di ujung lain.
• Masukkan kateter karet dari nares anterior ke dalam sampai tampak di orofaring dan
ditarik keluar melalui mulut.
• Pada ujung kateter diikatkan salah satu dari dua yang ada pada satu ujung dan kateter
ditarik kembali melalui hidung. Dengan cara yang sama benang yang lain dikeluarkan
melalui hidung yang lain.
• Kemudian kedua benang yang telah keluar melalui hidung itu ditarik, sedang telunjuk
tangan yang lain membantu mendorong tampon kearah nasofaring, sampai tempat
menutup koana.
• Lalu kedua benang itu diikat pada tampon lain yang terletak dekat sekat rongga hidung.
Benang dari ujung lain dikeluarkan melalui mulut dan diletakkan secara longgar di pipi,
benang ini berguna untuk menarik keluar tampon bila akan dilepas.
• Bila perlu dapat dipasang tampon anterior
• Penderita harus dirawat dan tampon diangkat setelah 1- 2 hari. Berikan antibiotic.
• Bila pendarahan menetap walaupun telah dilakukan tindakan di atas, pertimbangkan
operasi ligasi arteri.
- Untuk pendarahan anterior dilakukan ligasi arteri etmoidalis anterior dengan membuat
sayatan dari bagian medial alis mata ke bawah kantus internus, setelah jaringan dipisahkan
akan tampak arteri etmoidalis anterior.
- Untuk pendarahan posterior dilakukan ligasi arteri maksilaris interna dengan membuat
sayatan dilipatan gingivobukal seperti pada operasi Caldwell Luc, setelah memasuki sinus
diangkat sehingga tampak arteri maksilaris interna dan cabang- cabangnya di fosa
pterigomaksilaris.
c. Komplikasi
- Komplikasi pendarahan : anemia, syok
- Komplikasi pemasangan tampon
a.Sinusitis, otitis media, septikami
b.
Hemotimpanum
c.Laserasi palatum mole
33. INFLUENZA
Penyakit flu adalah salah satu penyakit pernafasan yang disebabkan oleh virus (virus influenza).
Penyebaran virus penyakit flu biasanya melalui udara, berbagai alat makan dan minum, atau kontak
langsung dengan penderita.Virus yang menempel di kulit dapat masuk ke dalam tubuh saat menyentuh
atau menggaruk hidung dan mulut dan penyebarannya begitu mudah.
a. Gejala
•
Demam dan perasaan dingin yang ekstrem (menggigil, gemetar)
•
Batuk
•
Hidung tersumbat
•
Nyeri tubuh, terutama sendi dan tenggorok
•
Kelelahan
•
Nyeri kepala
•
Iritasi mata, mata berair
•
Mata merah, kulit merah (terutama wajah), serta kemerahan pada mulut, tenggorok, dan hidung
•
Ruam petechiae
•
Pada anak, gejala gastrointestinal seperti diare dan nyeri abdomen, (dapat menjadi parah pada
anak dengan influenza B
b. Penatalaksanaan
1. Simptomatik (sesuai dengan gejala yang muncul, misal: parasetamol, ekspektoran, antihistamin,
dll), sebab antibiotik tidak efektif mengobati virus.
2. Bedrest
3. Peningkatan intake cairan jika tidak ada kontraindikasi
4. Vitamin C
5. Vaksinasi (untuk pencegahan)
c. Komplikasi
Untuk anak-anak dan orang dewasa, influenza adalah penyakit yang bisa sembuh sendiri dalam
satu minggu. Namun untuk orang yang tidak sehat atau daya tahannya menurun, influenza bisa berakibat
fatal.
Tanda-tanda yang disebutkan di atas bisa menjadi sangat parah, dan mungkin terjadi komplikasi
seperti pneumonia, sinusitis dan radang dalam telinga. Kebanyakan komplikasinya adalah infeksi kuman
karena daya tahan tubuh menjadi menurun untuk melawan kuman-kuman yang masuk.
34. PERTUSIS (BATUK REJAN/ WHOOPING COUGH)
a. Pengertian
Suatu penyakit pernapasan menular yang mengakibatkan batuk tak terkendali dan kesulitan
dalam bernafas. Penyakit ini biasanya diakibatkan oleh bacterium Bordetella namun tidak jarang
diakibatkan oleh Bardotella parapertussis.
b. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan atas anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan laboratorium.
•
Pada anamnesis penting ditanyakan adanya riwayat kontak dengan pasien pertusis, adakah serangan
khas yaitu paroksismal dan bunyi whoop yang jelas. Perlu pula ditanyakan mengenai riwayat
imunisasi.
•
Gejala klinis yang didapat pada pemeriksaan fisis tergantung dari stadium saat pasien diperiksa.
•
Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis 20.000-50.000/μL dengan limfosistosis
absolut khas pada akhir stadium kataral dan selama stadium paroksismal. Pada bayi jumlah
lekositosis tidak menolong untuk diagnosis, oleh karena respons limfositosis juga terjadi pada
infeksi lain.
•
Isolasi B. pertussis dari sekret nasofaring dipakai untuk membuat diagnosis pertusis pada media
khusus Bordet-gengou. Biakan positif pada stadium kataral 95-100%, stadium paroksismal 94%
pada minggu ke-3, dan menurun sampai 20% untuk waktu berikutnya.
•
Dengan metode PCR yang lebih sensitif dibanding pemeriksaan kultur untuk mendeteksi B.
pertussis, terutama setelah 3-4 minggu setelah batuk dan sudah diberikan pengobatan antibiotik.
PCR saat ini merupakan pilihan yang paling tepat karena nilai sensitivitas yang tinggi, namun belum
tersedia.
•
Tes serologi berguna pada stadium lanjut penyakit dan untuk menentukan adanya infeksi pada
individu dengan biakan. Cara ELISA dapat dipakai untuk menentukan IgM, IgG, dan IgA serum
terhadap FHA dan PT. Nilai IgM serum FHA dan PT menggambarkan respons imun primer baik
disebabkan oleh penyakit atau vaksinasi. IgG toksin pertusis merupakan tes yang paling sensitif dan
spesifik untuk mengetahui infeksi alami dan tidak tampak setelah imunisasi pertusis.
• Pemeriksaan lainnya yaitu foto toraks dapat memperlihatkan infiltrat perihiler, atelektasis, atau
empisema.
c.Komplikasi
Komplikasi Pertusis 1989 - 1991 (CDC), USA
Persentase Komplikasi
(tanpa penggolongan usia)
Pneumonia
12%
Kejang
2%
Ensefalopati
0,1%
Kematian
0,2%
Memerlukan rawat inap 41%
d. Pengelolaan
- Pemberian antibiotik tidak memperpendek stadium paroksismal.
- Pemberian eritomisin, klaritromisin, atau azitromisin telah menjadi pilihan pertama untuk
pengobatan dan profilaksis. Eritromisin (40-50 mg/kgbb/hari dibadi dalam 4 dosis peroral,
maksimum 2 gram per hari) dapat mengeleminasi organisme dari nasofaring dalam 3-4 hari.
Eritromisin dapat mengeleminasi pertusis bila diberikan pada pasien dalam stadium kataral
sehingga memperpendek periode penularan.
- Penelitian membuktikan bahwa golongan makrolid terbaru yaitu azitromisin (10-12 mg/kgbb/hari,
sekali sehari selama 5 hari, maksimal 500 mg/hari) atau klaritromisin (15-20 mg/kgbb/hari dibagi
dalam 2 dosis peroral, maksimum 1 gram perhari selama 7 hari) sama efektif dengan eritromisin,
namun memiliki efek samping lebih sedikit.
- Terapi suportif terutama untuk menghindari faktor yang menimbulkan serangan batuk, mengatur
hidrasi dan nutrisi.
- Oksigen hendaknya diberikan pada distres pernapasan yang akut dan kronik.
e. Pencegahan
Cara terbaik untuk mengontrol penyakit ini adalah dengan imunisasi.
Pencegahan penyebarluasan penyakit dilakukan dengan cara:
 Isolasi: mencegah kontak dengan individu yang terinfeksi, diutamakan bagi bayi dan anak usia
muda, sampai pasien setidaknya mendapatkan antibiotik sekurang-kurangnya 5 hari dari 14 hari
pemberian secara lengkap. Atau 3 minggu setelah batuk paroksismal reda bilamana pasien tidak
mendapatkan antibiotik.
 Karantina:
kasus kontak erat terhadap kasus yang berusia <7 tahun, tidak diimunisasi, atau
imunisasi tidak lengkap, tidak boleh berada di tempat publik selama 14 hari atau setidaknya
mendapat antibiotic selama 5 hari dari 14 hari pemberian secara lengkap.
 Disinfeksi: direkomendasikan untuk melakukan pada alat atau ruangan yang terkontaminasi sekret
pernapasan dari pasien pertusis
f. Prognosis
Prognosis tergantung usia, remaja memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan dengan bayi
yang memiliki risiko kematian (0,5-1%) akibat ensefalopati.
35. FARINGITIS (RADANG TENGGOROKAN)
Pengertian
Faringitis (pharyngitis) Akut, adalah suatu penyakit peradangan tenggorok (faring) yang sifatnya akut
(mendadak dan cepat memberat). Umum disebut radang tenggorok. Radang ini menyerang lapisan
mukosa (selaput lendir) dan submukosa faring.
Disebut faringitis kronis bila radangnya sudah berlangsung dalam waktu lama dan biasanya tidak
disertai gejala yang berat.
Penyebab
-
Radang ini bisa disebabkan oleh virus atau kuman.
-
Biasanya disebabkan oleh bakteri streptokokus grup A. Namun bakteri lain seperti N.
gonorrhoeae, C. diphtheria, H. influenza juga dapat menyebabkan faringitis.
-
Apabila disebabkan oleh infeksi virus biasanya oleh Rhinovirus, Adenovirus, Parainfluenza
virus danCoxsackie virus.
-
Faringitis juga bisa timbul akibat iritasi udara kering, merokok, alergi, trauma tenggorok (misalnya
akibat tindakan intubasi), penyakit refluks asam lambung, jamur, menelan racun, tumor.
Penularan
Penularan dapat terjadi melalui udara (air borne disease) maupun sentuhan.
Droplet masuk melalui saluran napas atau mulut kemudian masuk ke lapisan faring. Faring bereaksi
terhadap proses infeksi tersebut, terjadilah radang.
Gejala dan tanda
1.
Nyeri tenggorok dan nyeri menelan
2.
Tonsil (amandel) membesar
3.
Mukosa yang melapisi faring mengalami peradangan berat atau ringan dan tertutup oleh
selaput yang berwarna keputihan atau mengeluarkan pus (nanah).
4.
Demam, bisa mencapai 40ºC.
5.
Pembesaran kelenjar getah bening di leher.
Setelah bakteri atau virus mencapai sistemik maka gejala-gejala sistemik akan muncul,
1.
Lesu dan lemah, nyeri pada sendi-sendi otot, tidak nafsu makan dan nyeri pada telinga.
2.
Peningkatan jumlah sel darah putih.
Pemeriksaan fisik
1. Kemerahan dan peradangan dinding belakang mukosa mulut.
2. Pembengkakan mukosa
3. Adanya selaput, bintik-bintik, nanah pada mukosa
4. Dengan menggunakan penilaian tertentu atas gejala dan tanda, bisa diprediksi penyebab faringitis
apakah viral atau bakterial
Faringitis Virus
Biasanya tidak
Faringitis Bakteri
ditemukan
nanah
di
Sering ditemukan nanah di tenggorokan
tenggorokan
Demam, biasanya tinggi.
Demam.
Jumlah sel darah putih normal atau agak
Jumlah sel darah putih meningkat ringan sampai sedang
meningkat
Kelenjar getah bening normal atau sedikit Pembengkakan ringan sampai sedang pada kelenjar getah
membesar
bening
Tes apus tenggorokan memberikan hasil Tes apus
tenggorokan
memberikan
hasil
negative
untukstrep throat
Pada biakan di laboratorium tidak tumbuh
Bakteri tumbuh pada biakan di laboratorium
bakteri
Pemeriksaan penunjang
-
Pemeriksaan terhadap apus tenggorok.
positif
-
Skrining terhadap bakteri Streptokokus.
-
Darah rutin menunjukkan peningkatan jumlah lekosit.
-
Kultur dan uji resistensi bakteri bila diperlukan.
Penatalaksanaan
a. Untuk mengurangi nyeri tenggorok dapat diberikan obat antinyeri (analgetik) seperti
asetaminofen, obat hisap atau berkumur dengan larutan garam hangat.
b. Jika disebabkan virus maka pengobatan bersifat simtomatik (hanya mengobati gejala),
tidak diberikan antibiotika. Bisa dibantu dengan obat-obatan imunomodulator.
c. Jika diduga penyebabnya adalah bakteri, diberikan antibiotika. Penting bagi penderita
untuk meminum obat antibiotik sampai habis sesuai anjuran dokter, agar tidak terjadi
resistensi pada kuman penyebab faringitis
Antibiotik golongan penicilin atau sulfanomida
a.
Faringitis streptokokus paling baik diobati peroral dengan penisilin (125-250 mg penisilin V
tiga kali sehari selama 10 hari)
b.
Bila alergi penisilin dapat diberikan eritromisin (125 mg/6 jam untuk usia 0-2 tahun dan 250
mg/6 jam untuk usia 2-8 tahun) atau klindamisin.
Edukasi pasien
a. Instruksikan pasien menghindari kontak dengan orang lain sampai demam hilang. Hindari penggunaan
alkohol, asap rokok, tembakau dan polutan lain.
b.
Anjurkan pasien banyak minum. Berkumur dengan larutan normal salin dan pelega tenggorokan bila
perlu.
Prognosis
Umumnya baik, tingkat kesembuhan tinggi.
Komplikasi
-
Sumbatan jalan napas (pada peradangan yang berat)
-
Abses di tonsil atau dinding belakang mukosa faring.
-
Infeksi bakteri Streptococcus bisa berlanjut ke infeksi telinga, sinusitis, Demam rematik (Penyakit
katup jantung akibat infeksi), abses tonsil, peradangan ginjal, dll.
36. Tonsilitis
Pengertian
Tonsilitis adalah peradangan amandel sehingga amandel menjadi bengkak, merah, melunak dan
memiliki bintik-bintik putih di permukaannya. Pembengkakan ini disebabkan oleh infeksi baik virus
atau bakteri.
Gejala dan tanda
-
merah dan / atau bengkak amandel
putih atau kuning patch pada amandel
-
tender, kaku, dan / atau leher bengkak
-
sakit tenggorokan
-
sulit menelan makanan
-
batuk
-
sakit kepala
-
sakit mata
-
tubuh sakit
-
otalgia
-
demam
-
panas dingin
-
hidung mampet
-
tonsil tampak bengkak, merah, dengan dendrtitus berupa folikel atau membrane.
-
Penatalaksanaan
-
berikan terapi kausal antibiotic berupa
1. amoksisilin
•
anak: 40-50 mg/KgBB/hari, terbagi dalam 3 dosis
•
dewasa: 3x 500mg selama 5 hari
2. eritromisin (untuk pasien alergi penisilin)
-
•
anak: 40-50mg/KgBB/hari dalam dosis terbagi
•
dewasa: 2x 960mg
berikan terapi simptomatik (parasetamol, obat kumur/ disinfektan)
37. Laringitis
Pengertian
peradangan pada laring yang terjadi karena banyak sebab. Inflamasi laring sering terjadi sebagai akibat
terlalu banyak menggunakan suara, pemajanan terhadap debu, bahan kimiawi, asap, dan polutan
lainnya, atau sebagai bagian dari infeksi saluran nafas atas. Kemungkinan juga disebabkan oleh infeksi
yang terisolasi yang hanya mengenai pita suara.
Gejala
-
Laringitis akut ditandai Dengan suara serak atau tidak dapat mengeluarkan suara sama sekali
(afonia) dan batuk berat.
-
Laringitis kronis ditandai Dengan suara serak yang persisten. Laringitis kronis mungkin sebagai
komplikasi dari sinusitis kronis dan bronchitis kronis.
Penatalaksanaan
-
Terapi pada laringitis akut berupa mengistirahatkan pita suara, antibiotik, mnambah kelembaban,
dan menekan batuk. Obat-obatan dengan efek samping yang menyebabkan kekeringan harus
dihindari.
-
Terapi pada laringitis kronis terdiri dari menghilangkan penyebab, koreksi gangguan yang dapat
diatasi, dan latihan kembali kebiasaan menggunakan vocal dengan terapi bicara. Antibiotik dan
terapi singkat steroid dapat mengurangi proses radang untuk sementara waktu, namun tidak
bermanfaat untuk rehabilitasi jangka panjang. Eliminasi obat-obat dengan efek samping juga
dapat membantu.
-
Pada pasien dengan gastroenteriris refluks dapat diberikan reseptor H2 antagonis, pompa proton
inhibitor. Juga diberikan hidrasi, meningkatkan kelembaban, menghindari polutan.
-
Terapi pembedahan bila terdapat sekuester dan trakeostomi bila terjadi sumbatan laring.
-
Laringitis kronis yang berlangsung lebih dari beberapa minggu dan tidak berhubungan dengan
penyakit sistemik, sebagian besar berhubungan dengan pemajanan rekuren dari iritan. Asap
rokok merupakan iritan inhalasi yang paling sering memicu laringitis kronis tetapi laringitis juga
dapat terjadi akibat menghisap kanabis atau inhalasi asap lainnya. Pada kasus ini, pasien
sebaiknya dijauhkan dari faktor pemicunya seperti dengan menghentikan kebiasaan merokok.
38. Asma Bronkial
Kriteria Diagnosis:
1.Batuk, sesak napas berulang, riwayat atopi sendiri / keluarga
2.Napas berbunyi (mengi) berulang, retraksi, hipersonor
3.Ekspirasi memanjang / wheezing
4.PFR dan FEV menurun
Diagnosis Banding:
1.Bronkiolitis (pada anak berumur kurang dari 2 tahun)
2.Korpus alienum di saluran napas (pada anak kecil) atau kelenjar thymus yang menekan trakea
3.Penyakit Paru Kronik (Fibrosis kistik, bronkiektasi)
4.Laringotrakeobronkitis
5.Kompresi trakeobronkial
6.Asma Kardial
7.Kelainan trakea dan bronkus (Trakeobronkomalasi/stenosis bronkus)
Pemeriksaan Penunjang
1.Darah rutin/eosinofil total
2.Foto toraks
3.Uji Faal Paru
4.Mantoux Test
5.Uji Kulit Alergi dan Imunologi
6. AGD (bila perlu)
7. EKG
Perawatan : Rawat Inap pada kasus sedang dan berat
Terapi
1.Asma serangan ringan berikan salah satu obat :
a.Teofilin 3-4 mg/kgBB/kali oral, tiap 6-8 jam
b.Salbutamol 0,08-0,12 mg/kgBB/kali
c.Terbutalin 0,05-0,075 mg/kgBB/kali
d.Metaproterenol 0,3 mg/kgBB/kali
2. Asma serangan sedang – berat, inhalasi atau nebulizer golongan bronkodilator:
1)Untuk inhalasi : 1- 2 semprotan, tiap 4 – 6 jam
2)Untuk Nebulizer :
1) Salbutamol 0,5% : 0,01- 0,03 ml/kgBB (maksimum 1 ml)
2) Terbutalin 1% : 0,03% ml/kgBB (maksimum 1 ml)
3) Metoproterenol 5%: 0,005- 0,01 ml.kgBB (maksimum 0,9%)
4)Feneterol 0,1%: 5 tetes, bila 0,5% : 2 tetes
5)Dapat ditambahkan Bromhexin 1 ml dan NaCl 0,9% 1,5 ml.
6)Jika tidak ada nebulizer / tidak bisa inhalasi dapat diberikan adrenalin 1/1000 : 0,01ml/kgBB,
maksimum 0,35 ml SC, diberikan selang 20-30 menit, 2-3 kali
3.Status Asmatikus:
a.Inhalasi atau nebulizer bronkodilator
b.Oksigen 1-2 liter/menit (melalui nasoorofaring atau masker)
c.Infus ( untuk mengoreksi kekentalan cairan dan gangguan asam basa elektrolit)
d.Posisi setengah duduk
e.Kortikosteroid : Deksametason, inisial 0,3 mg/kgBB,IV dilanjutkan 0,3 mg/kgBB/haridibagi 3 dosis
F. Teofilin
1)Awal : Bila dalam 6-8 jam terakhir tidak mendapat teofilin, berikan 5-7 mg/kgBBdalam larutan
NaCl/Dektrose 10% 1:3 + KCl 5 mEq/500 ml dalam 15 – 20 menit.Bila telah mendapat teofilin dalam 6-8 jam
terakhir, periksa kadar teofilin dalamdarah (kadar terapeutik 10 – 20 mg/ml) atau diberikan dengan dosis
yangditurunkan menjadi 3-4 mg/kgBB.
2)Pemeliharaan: Teofilin per drip (3-4 mg/kgBB setiap 6-8 jam) pantau tandatandakeracunan teofilin
g.Postural drainage / chest clapping
h.Mukolitik (kalau perlu dapat diberikan)
i.Bila tidak dapat diatasi rawat ICU
Penatalaksanaan asma pada dewasa
Derajat Asma
Obat Pengontrol (harian)
Obat Pelega
Asma Intermiten
Asma Persisten Ringan
Asma Persisten Sedang
-
-
Bronkodilator
singkat, yaitu inhalasi
agonis beta2 bila perlu
-
Intensitas
pengobatan tergantung
beratnya serangan
-
Inhalasi agonis beta2
atau
Na-kromolin
dipakai
sebelum
aktivitas atau pajanan
allergen
-
Inhalasi
kortikosteroid
200500g/Na- kromolin/
nedrokromil
atau
teofilin lepas lambat
Inhalasi agonis beta2
aksi singkat bila perlu
dan tidak melebihi 3-4
kali sehari.
-
Dosis kortikosteroid
dapat
dinaikkan
menjadi 800 mg atau
ditambahkan
bronkodilator
kerja
panjang (oral atau
hirup)
-
Tidak perlu
Inhalasi
-
Inhalasi agonis beta2
kortikosteroid
2000 mcg
Asma Persisten Berat
800-
hirup aksi singkat bila
perlu dan tidak melebihi
3-4 kali sehari
-
Bronkodilator aksi
lama terutama untuk
untuk mengontrol asma
malam, berupa agonis
beta 2 aksi lama
inhalasi,
oral
atau
teofilin lepas lambat
-
Inhalasi
Agonis beta 2 hirup (kerja
kortikosteroid
800-pendek) bila ada gejala
2000 mcg atau lebih
-
Bronkodilator aksi
lama, berupa agonis
beta2 inhalasi atau
oralatau teofilinlepas
lambat
-
Kortikosteroid oral
jangka panjang
BERATNYA
SERANGAN
TERAPI
RINGAN
Terbaik:
-
Aktivitas
normal.
hampir -
-
Bicara
dalam
kalimat penuh.
LOKASI
-
Di rumah
-
Puskesmas
Agonis Beta2 isap
(MDI) 2 isap boleh
diulangi
1
jam
kemudiqan atau tiap 20
menit dalam 1jam
Alternatif:
-
Denyut
<100/menit
nadi
-
-
(APE>60%)
-
-
SEDANG
-
Agonis beta2 oral
dan atau 3x1/2 –1 tablet
(2mg) oral
Teofilin 75-150 mg
Lama terapi menurut
kebutuhan
Terbaik:
Hanya
mampu berjalan jarak dekat
Agonis
Beta-2 secara nebulisasi 2,5 –
5mg, dapat diulangi
Klinik rawat jalan
-
-
Bicara
kalimat
putus
sampai dengan 3 kali dalam 1jam pertama
dan dapat dilanjutkan
setiap
1-4
jam
kemudian
-
dalam
terputus-
Terbaik:
-
Sesak
istirahat
-
Bicara dalam katakata terputus
-
dokter
Dirawat RS bila
tidak respons dalam 2-4
jam
(APE 40-60%)
BERAT
-
Praktek
umum
Denyut nadi 100120/menit
-
-
Unit Gawat Darurat
pada -
Agonis beta-2 secara nebulisasi
dapat
diulangi s.d 3kalidalam
1jam
pertama
selanjutnya
dapat
diulangi setiap 1-4 jam
kemudian
-
Denyut nadi >120 L/menit
Teofilin iv dan infus
-
Steroid iv dapat
diulang/ 8-12jam
-
Agonis beta 2 sk/iv /
6jam
(APE < 40% atau
100L/menit)
-
Unit Gawat Darurat
Rawat bila tidak ada
responns dalam 2 jam
maksimal 3 jamm
Pertimbangkan rawat
ICU bila cenderung
memburuk Progresif
MENGANCAM JIWA
-
Oksigen
liter/menit
4
-
Pertimbangkan
nebulisasi
ipratropiumbromide 20
tetes
Terbaik:
-
-
Kesadaran
menurun
-
Lanjutkan
sebelumnya
-
Kelelahan
-
Pertimbangkan intubasi
dan ventilasi mekanik
-
Sianosis
-
Pertimbangkan anastesi
umum untuk terapi
pernapasan
intensif.
Bila perlu dilakukan
kurasan bronco alveolar
(BAL)
-
Henti napas
Terapi awal yaitu
terapi
ICU
1.
Oksigen 4-6 liter /menit
2.
Agonis Beta- 2 (salbutamol 5mg atau feneterol 2,5 mg atau terbutalin 10mg) inhalasi nebulasi dan
pemberiannya dapat diulang setiap 20 menit sampai 1 jam. Dapat diberikan secara subkutan atau iv
dengan dosis salbutamol 0,25 mg atau terbutalin 0,25 mg dalam larutan dextrose 5% dan diberikan
perlahan.
3.
Aminofilin bolus iv 5-6 mg/kg BB, jjikasudah menggunakan obat ini dalam 12jam sebelumnya
cukup diberikan setengah dossis
4.
Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg iv jika tidak ada respon segera atau pasien sedang
menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat.
Respon terhadap terapi awal baik, jika didapatkan keadaan berikut :
1.
Respon menetap selama 60 menit setelah pengobatan.
2.
Pemeriksaan fisik normal.
3.
Arus puncak ekspirasi (APE) >70%.
Jika respon tidak ada atau tidak baik terhadap terapi awal maka sebaiknya pasien dirawat di rumah
sakit.
39. Bronkitis Akut
Pengertian: proses radang akut yang pada umumnya disebabkan oleh virus. Akhir – akhir ini ternyata
banyak juga disebabkan oleh Mycoplasma dan Chlamydia.
A. Gejala Klinis
-
Batuk-batuk
biasanya dahak jernih
sakit tenggorok
nyeri dada
biasa disertai tanda bronkospasme.
Demam tidak terlalu tinggi.
B. Pemeriksaan Penunjang
- Foto rontgen toraks, untuk menyingkirkan kemungkinan pneumonia
tuberculosis. Pada bronchitis akut tidak terlihat kelainan di foto thorax
- Pemeriksaan serologi untuk melihat infeksi Mycoplasma atau Chlamydia
C. Diagnosis Banding: Pneumonia, Tuberkulosis.
D. Terapi
- Simtomatis bila disebabkan virus.
- Bila infeksi karena Mycoplasma atau Chlamydia dapat diberi :
 Tetrasiklin 4 x 500 mg atau
 Doksisiklin 2 x 100 mg atau
atau

Eritromisin 4 x 500 mg
40. Pneumonia, Bronkopneumonia
Pengertian:
peradangan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit). (Mycobacterium
tuberculosis tidak termasuk). Sedangkan peradangan paru yang disebabkan oleh nonmikroorganisme
(bahan kimia, aspirasi bahan toksik, obat-obatan dan lain-lain)disebut pneumonitis
Etiologi
di rumah sakit banyak disebabkan bakteri Gram negatif sedangkan pneumonia aspirasi banyak
disebabkan oleh bakteri anaerob
Klasifikasi
1. Berdasar klinis dan epidemiologis :
a. Pneumonia komuniti
b. Pneumonia nosokomial
c. Pneumonia aspirasi
d. Pneumonia pada penderita immunocompromised.
2. Berdasar bakteri penyebab
a. Pneumonia bakterial / tipikal.
b. Pneumonia atipikal, disebebkan Mycoplasma, Legionella dan Chlamydia.
c. Pneumonia virus
d. Pneumonia jamur. Pada penderita dengan daya tahan lemah (immunocompromised).
3. Berdasar predileksi infeksi
a. Pneumonia lobaris. Sering pada pneumonia bakterial, jarang pada bayi dan orang tua.
Pneumonia yang terjadi pada satu lobus atau segmen kemungkinan sekunder disebabkan oleh
obstruksi bronkus misal : Pada aspirasi benda asing, atau proses keganasan.
b. Bronkopneumonia. Ditandai dengan bercak-bercak infiltrat pada lapangan paru. Dapat
disebabkan oleh bakteria maupun virus. Sering pada bayi dan orang tua, Jarang dihubungkan
dengan obstruksi bronkus.
c. Pneumonia interstisial
Anamnesis
-
demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat melebihi 40 °C
batuk dengan dahak mukoid atau purulen kadang-kadang disertai darah
sesak napas
nyeri dada.
Pemeriksaan fisis
- tergantung dari luas lesi di paru.
- I : bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas,
- P : fremitus dapat mengeras
- P : redup
-
A : suara napas bronkovesikuler sampai bronkial yang mungkin disertai ronki basah kasar
pada stadium resolusi.
Pemeriksaan Penunjang
a. Radiologis
Foto toraks (PA / lateral ): infiltrat sampai konsolidasi dengan “ air bronchogram “, penyebaran
bronkogenik dan interstisial serta gambaran kaviti.
- Gambaran pneumonia lobaris  Sitreptococcus pneumonia
- infiltrat bilateral atau gambaran bronkopneumonia  Pseudomonas aeruginosa
- konsolidasi yang terjadi pada lobus atas kanan  Klebsiela pneumoniae
b. Laboratorium
- Leukositosis
- Shift to the left
- peningkatan LED
- diagnosis etiologi: pemeriksaan dahak, kultur darah dan serologi.
- Analisis gas darah  hipoksemia dan hipokarbia, pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis
respiratorik.
Perbedaan gambaran klinik pneumonia atipik dan tipik
Tanda dan gejala
•
•
•
•
•
Onset
Suhu
Batuk
Dahak
Gejala lain
•
•
•
•
•
Gejala diluar paru
Pewarnaan Gram
Radiologis
Laboratorium
Gangguan fungsi hati
P.atipik
P.tipik
gradual
kurang tinggi
non produktif
mukoid
nyeri kepala, mialgia
Sakit tenggorokan, suara parau,
Nyeri telinga.
sering
flora normal atau spesifik
“ patchy” atau normal
leukosit normal kadang rendah
sering
akut
tinggi, menggigil
produktif
purulen
Jarang
Pengobatan
a. Penderita rawat jalan
 Pengobatan suportif / simptomatik
lebih jarang
kokus Gram (+) atau (-)
konsolidasi lobar
lebih tinggi
jarang
- Istirahat di tempat tidur
- Minum secukupnya untuk mengatasi dehidrasi
- Bila panas tinggi perlu dikompres atau minum obat penurun panas
- Bila perlu dapat diberikan mukolitik dan ekspektoran
 Pengobatan antibiotik harus diberikan (sesuai bagan) kurang dari 8 jam.
b. Penderita rawat inap diruang rawat biasa
 Pengobatan suportif / simptomatik
- Pemberian terapi oksigen
- Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan elektrolit
- Pemberian obat simptomatik antara lain antipiretik, mukolitik
 Pengobatan antibiotik harus diberikan (sesuai bagan) kurang dari 8 jam
c. Penderita rawat inap di Ruang Rawat Intensif
 Pengobatan suportif / simptomatik
- Pemberian terapi oksigen
- Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan elektrolit
- Pemberian obat simptomatik antara lain antipiretik, mukolitik
 Pengobatan antibiotik (sesuai bagan) kurang dari 8 jam
 Bila ada indikasi penderita dipasang ventilator mekanik
Penderita pneumonia berat yang datang ke UGD diobservasi tingkat kegawatannya, bila dapat
distabilkan maka penderita dirawat inap ruang rawat biasa ; bila terjadi respiratory distress maka
penderita dirawat di Ruang Rawat Intensif.
Komplikasi
 Efusi pleura
 Empiema
 Abses paru
 Pneumotoraks
 Gagal napas
 Sepsis
Pneumonia Berat
Menurut ATS kriteria pneumonia berat bila dijumpai ‘ salah satu atau lebih’ kriteria di bawah ini.
- Kriteria minor :
• Frekuensi napas > 30/menit
• PaO2/FiO2 kurang dari 250 mmHg
• Foto toraks paru menunjukkan kelainan bilateral
• Foto toraks paru melibatkan > 2 lobus
• Tekanan sistolik < 90 mmHg
• Tekanan diastolik < 60 mmHg
- Kriteria mayor:
• Membutuhkan ventilasi mekanik
• Infiltrat bertambah > 50%
•
•
Membutuhkan vasopresor > 4 jam (septik syok)
Kreatinin serum ≥ 2 mg/dl atau peningkatan ≥ 2 mg/dl, pada penderita riwayat penyakit ginjal
atau gagal ginjal yang membutuhkan dialisis.
41. Tuberkulosis paru tanpa komplikasi
Patogenesis
1. Tuberkulosis Primer
Kuman TB  saluran napas  bersarang di jaringan paru  memebentuk sarang primer afek primer 
peradangan saluran getah bening menuju hilus (Iimfangitis lokal)  pembesaran kelenjer getah bening
di hilus (Iimfadenitis regional).
Afek primer + Iimfangitis regional dikenal sebagai kompleks primer.
Kompleks primer ini akan mengalami salah satu nasib sebagai berikut :
1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (sarang Ghon, garis fibrotik, sarang perkapuran di
hilus)
3. menyebar dengan cara :
a. Perkontinuitatum (menyebar ke sekitarnya)
b. Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke paru sebelahnya.
Tertelannya dahak bersama ludah. Penyebaran juga terjadi ke dalam usus.
c. Penyebaran secara hematogen dan Iimfogen. Sangat bersangkutan dengan daya tahan
tubuh, jumlah dan virulensi basil. Sarang yang ditimbulkan dapat sembuh spontan, akan
tetapi bila tidak terdapat imuniti yang adekuat, penyebaran ini akan menimbulkan keadan
cukup gawat seperti tuberkulosis milier, meningitis tuberkulosa. Penyebaran ini juga dapat
menimbulkan tuberkulosis pada alat tubuh lainnya, misalnya tulang, ginjal, anak ginjal,
genitalia dan sebagainya.
2. Tuberkulosis post-primer
Dari tuberkulosis primer akan muncul bertahun-tahun kemudian tuberkulosis post-primer.
Tuberkulosis post primer mempunyai macam-macam nama, tuberkulosis bentuk dewasa, localized
tuberculosis, tuberkulosis menahun, dan sebagainya. Bentuk tuberkulosis inilah yang terutama menjadi
problem kesehatan rakyat, karena dapat menulari sekitarnya.
Tuberkulosis post-primer dimulai dengan sarang dini, yang umunya terletak di segmen apikal
dari lobus superior maupun lobus inferior. Nasib sarang pneumonik ini akan mengikuti salah satu jalan:
1. Diresorpsi kembali, dan sembuh kembali dengan tidak meninggalkan cacat
2. Sarang tadi mula-mula meluas, tapi segera terjadi proses penyembuhan dengan penyebukan
jaringan fibrosis. Selanjutnya akan membungkus diri menjadi lebih keras, terjadi perkapuran,
dan akan sembuh dalam bentuk perkapuran. Sebaliknya dapat juga sarang tersebut menjadi aktif
kembali, membentuk jaringan keju dan menimbulkan kaviti, bila jaringan keju dibatukkan
keluar.
3. Sarang pneumonik meluas, membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa). Kaviti akan muncul
dengan dibatukkannya jaringan keju tadi keluar. Kaviti awalnya berdinding tipis, kemudian
dindingnya akan menjadi tebal (kaviti sklerotik). Nasib kaviti ini :
a. Mungkin meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonik baru. Sarang pneumonik
ini akan mengikuti pola perjalanan seperti yang sebutkan diatas.
b. Dapat pula memadat dan membungkus diri dan disebut tuberkuloma. Tuberkuloma dapat
mengapur dan menyembuh, tapi mungkin pula aktif kembali, mencair lagi dan menjadi
kaviti lagi.
c. Kaviti bisa pula menjadi bersih dan menyembuh yang disebut open healed cavity, atau
kaviti menyembuh dengan membungkus diri, akhirnya mengecil. Kemungkinan berakhir
sebagai kaviti yang terbungkus, dan menciut sehingga kelihatan sebagai bintang (stellate
shaped).
B. Klasifikasi
1. TB Paru
tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk pleura (selaput paru)
1. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA), TB paru dibagi dalam :
a. Tuberkulosis paru BTA (+)
• 2 dari 3 spesimen dahak positif
• Satu spesimen dahak positif + radiologi tuberkulosis aktif.
• Satu spesimen dahak positif + biakan positif
b. Tuberkulosis paru BTA (-)
• dahak 3 kali negative + gambaran klinik dan kelainan radiologik menunjukkan
tuberkulosis aktif + tidak respons antibiotik spektrum luas
• dahak negatif + biakan negatif + gambaran radiologik positif
2. Berdasarkan tipe penderita
a. Kasus baru
belum pernah mendapat OAT atau menelan OAT kurang dari satu bulan
b. Kasus kembuh ( relaps )
pernah mendapat OAT dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian
kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif.
c. Kasus pindahan (transfer)
sedang pengobatan di kabupaten lain pindah berobat ke kabupaten ini.
d. Kasus lalai berobat
paling kurang 1 bulan, dan berhenti 2 minggu atau lebih, kemudian datang kembali berobat.
e. Kasus gagal
• penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada satu
bulan sebelum akhir pengobatan atau lebih
• penderita BTA negatif gambaran radiologik positif menjadi BTA positif pada akhir bulan
ke-2 pengobatan dan atau gambaran radiologik ulang hasilnya perburukan.
f. Kasus kronik
Adalah penderita dengan hasil pemeriksaan dahak BTA masih positif setelah selesai
pengobatan ulang kategoti 2 dengan pengawasan yang baik.
g. Kasus bekas TB
• mikroskopik negatif
• Gejala klinik tidak ada
• Radiologik lesi TB inaktif
•
Riwayat pengobatan OAT yang adekuat
2. TB Ekstra Paru
a. TB ekstra paru ringan
Misalnya : TB kelenjer limfe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang
belakang), sendi dan kelenjer adrenal.
b. TB ekstra paru berat :
Misalnya : meningitis, millier, parikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, TB
tulang belakang, TB usus, TB saluran kencing dan alat kelamin.
C. Anamnesis
1. Gejala respiratorik
c. Batuk ≥ 3 minggu
d. Batuk darah
e. Sesak napas
f. Nyeri dada
(TB ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat, misalnya pada limfadentis tuberkulosis akan terjadi
pembesaran KGB yang lambat dan tidak nyeri)
2. Gejala sistemik
a. Demam
b. Gejala sistemik lain : malaise, keringat malam, anoreksia, berat badan menurun
D. Pemeriksaan Fisik
Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior terutama daerah apex dan segmen
posterior, serta daerah apex lobus inferior. 
- suara napas bronkial, amforik,
- suara napas melemah, ronki basah
- tanda-tanda penerikan paru, diafragma & mediastinum.
Pada pleuritis tuberkulosis, kelainan pemeriksaan fisik tergantung dari banyak cairan di rongga pleura.
- perkusi pekak
- suara napas yang melemah  tidak terdengar pada sisi yang terdapat cairan.
Pada Iimfadenitis tuberkulosis, terlihat pembesaran KGB tersering di daerah leher (pikirkan
kemungkinan metastasis tumor), kadang-kadang didaerah ketiak. Pemeriksaan kelenjer tersebut dapat
menjadi “ cold abscess”.
E. Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan spesimen
1. Bahan pemeriksaan: dahak, cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung,
kurasan bronkoalveolar (bronchoalveolar lavege/BaL), urin, faeces dan jaringan biopsi (termasuk
biopsi jarum halus/BJH)
2. Cara pengumpulan dan pengiriman bahan
Cara pengambilan dahak 3 kali, setiap pagi 3 hari berturut-turut atau dengan cara :
A. Sewaktu / spot (dahak sewaktu saat kunjungan)
B. Dahak pagi (keesokan harinya)
C. Sewaktu / spot ( pada saat mengantarkan dahak pagi )
Bahan pemeriksaan / spesimen yang berbentuk cairan dikumpulkan / ditampung dalam pot yang
bermulut lebar, berpenampung 6 cm atau lebih dengan tutup berulir, tidak mudah pecah dan tidak bocor.
- Pemeriksaan Radiologik
 foto toraks PA dengan atau tanpa foto lateral. (Pemeriksaan lain atas indikasi : foto toraks apikolordotik, ablik, CT-Scan)
1. TB aktif :
a) bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus atau dan segmen superior
lobus bawah paru
b) Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodular
c) Bayangan bercak milier
d) Efusi pleura unilateral
2. TB inaktif
a) Fibrotik, terutama pada segmen apikal dan atau posterior lobus atas dan segmen superior bawah
paru
b) Kalsifikasi
c) Penebalan pleura
Luas proses yang tampak pada foto toraks:
1. Lesi minimal, bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru dengan luas tidak lebih dari
volume paru yang terletak diatas chondrostemal junction dari iga kedua dan prosesus spinosus
dari vertebrata torakalis IV atau korpus vertebra torakalis V (sela iga 11) dan tidak dijumpai
kaviti
2. Lesi luas
Bila proses lebih luas dari lesi minimal
Pemeriksaan Darah
1. Laju endap darah (LED)
2. Pemeriksaan serologi:
a. Enzym linked immunosorbent assay ( ELISA)
b. Mycodot
c. Uji peroksidase anti peroksidase (PAP)
Pemeriksaan lain
a. analisis cairan pleura & uji Rivalta pada penderita efusi pleura  Rivalta positif dan kesan
cairan eksudat
b. Polymerase chain reastion (PCR)
Uji tuberkulin
F. Pengobatan Tuberkulosis
terbagi menjadi 2 fase:
-
fase intensif (2-3 bulan)
fase lanjutan 4 atau 7 bulan.
Obat Anti Tuberkulosis
1. Jenis obat utama yang digunakan adalah :
a. Rifampisin
b. INH
c. Pirazinamid
d. Streptomisin
e. Etambutol
2. Kombinasi dosis tetap ( Fixed dose combination )
Kombinasi dosis tetap ini terdiri dari 4 obat antituberkulosis, yaitu rifamsinin, INH, pirazinamid
dan etambutol dan 3 obat antituberkulosis, yaitu rifampisin, INH dan pirazinamid.
3. Jenis obat tambahan lainnya
a. Kanamisin
b. Kuinolon
c. Obat lain masih dalam penelitian : makrolid, amaksilin + asam klavulanat
d. Derivat rifampisin dan INH
Dosis OAT
1. Rifampisin 10 mg/kg BB, maksimal 600 mg 2-3 x / minggu atau
BB > 60 kg : 600 mg
BB 40-60 kg : 450 mg
BB < 40 kg : 300 mg
Dosis intermiten 600 mg/ kali
2. INH 5 mg/kg BB, maksimal 300 mg,
- 10 mg/kg BB 3 x seminggu,
- 15 mg/kg BB 2 x seminggu
- 300 mg/hari untuk dewasa.
- Intermiten : 600 mg / kali
3. Pirazinamid : fase intensif 25 mg/kg BB, 35 mg/kg BB 3 x seminggu, 50 mg/kg BB 2 x
seminggu atau :
BB > 60 Kg : 1500 mg
BB 40-60 kg : 1000 mg
BB < 40 kg : 750 mg
4. Etambutol : fase intensif 20 mg/kg BB, fase lanjutkan 15 mg/kg
BB, 30 mg/kg BB 3 x seminggu, 45 mg/kg BB 2 x seminggu atau:
BB > 60 kg : 1500 mg
BB 40-60 kg : 1000 mg
BB < 40 kg : 750 mg
Dosis intermiten 40 mg/kg BB /kali
5. Streptomisin : 15 mg/kg BB/kali
BB > 60 kg : 1000 mg
BB 40-60 kg : 750 mg
BB < 40 kg : sesuai BB
6. Kon\mbinasi dosis tetap
Efek samping OAT :
1. Isoniazid (INH)
- Efek samping ringan: tanda-tanda keracunan pada syarat tepi, kesemutan, rasa terbakar di kaki
dan nyeri otot. Efek ini dapat dikurangi dengan pemberian piridoksin dengan dosis 100 mg
perhari atau dengan vitamin B kompleks. Pada keadaan tersebut pengobatan dapat diteruskan.
Kelainan lain ialah menyerupai defisiensi piridoksin ( syndrom pellagra)
- Efek samping berat : hepatitis. Hentikan OAT dan pengobatan sesuai dengan pedoman TB pada
keadaan khusus.
2. Rifampisin
a. Efek samping ringan yang dapat terjadi dan hanya memerlukan pengobatan simtomatik
ialah :
• Sindrom flu berupa demam, menggigil dan nyeri tulang
• Sindrom perut
• Sindrom kulit seperti gatal-gatal kemerahan
b. Efek samping yang berat tapi jarang:
• Hepatitis
• Purpura, anemia hemolitik yang akut, syok dan gagal ginjal.
• Sindrom respirasi yang ditandai dengan sesak napas
Rifampisin dapat menyebabkan warna merah pada air seni, keringat. Air mata, air liur. karena
proses metabolisme obat
3. Pirazinamid
Efek samping utama: hepatitis, Nyeri sendi juga dapat terjadi (beri aspirin) dan kadang-kadang
dapat menyebabkan sarangan arthritis Gout, hal ini kemungkinan sisebabkan berkurangnya
ekskresi dan penimbuhan asam urat. Kadang-kadang terjadi reaksi demam, mual, kemerahan dan
reaksi kulit yang lain.
4. Etambutol
Gangguan penglihatan berupa berkurangnya ketajaman, buta warna untuk warna merah dan
hijau. Gangguan penglihatan akan kembali normal dalam beberapa minggu setelah obat
dihentikan. Sebaiknya etambutol tidak diberikan pada anak karena risiko kerusakan okuler sulit
untuk dideteksi.
5. Streptomisin
Efek samping utama: kerusakan syaraf kedelapan yang berkaitan dengan keseimbangan dan
pendengaran. Gejala efekya samping yang terlibat ialah telinga mendenging (tinitus), pusing dan
kehilangan keseimbangan.
Reaksi hipersensitiviti kadang terjadi berupa demam yang timbul tiba-tiba disertai sakit kepala,
muntah dan eritema pada kulit. Efek samping sementara dan ringan (jarang terjadi) seperti
kesemutan sekitar mulut dan telinga yang mendenging dapat terjadi segera setelah suntikan.
Streptomisin dapat menembus barrier plasenta sehingga tidak boleh diberikan pada wanita hamil
sebab dapat merusak syaraf pendengaran janin.
Panduan Obat Anti Tuberkulosis
- Kategori I ( 2 HRZE/4H3R3 atau 2 HRZE/4HR atau 2 HRZE/6HE )
~ Penderita baru TBC Paru BTA (+)
~ Penderita TBC Paru BTA (-) Rontgen (+) yang “sakit berat” dan
~ Penderita TBC Ekstra Paru berat
- Kategori II ( 2 HRZES/HRZE/5H3R3E3 atau 2 HRZES/HRZE/5HRE)
~ Penderita kambuh (relaps)
~ Penderita gagal ( failure )
~ Penderita dengan pengobatan setelah lalai (after default)
- Kategori III ( 2HRZ/4 H3R3 atau 2HRZ/4HR atau 2HRZ/6HE )
~ Penderita baru BTA (-) dan Rontgen (+) sakit ringan
~ Penderita Ekstra Paru ringan
- Kategori IV ( Sesuai Uji Resistensi atau INH seumur hidup )
~ Penderita TB Paru kasus kronik
KETERANGAN
● R = Rifampisin, Z = Pirazinamid, H = INH, E = Etambutol
S = Streptomisin.
● Pada kasus dengan resistensi kuman, pilihan obat ditentukan sesuai hasil
uji resistensi.
Dosis obat berdasarkan berat badan :
Jenis obat
BB < 30 kg
BB 30 – 50 kg
BB > 50 kg
R
H
Z
S
E
450 mg
300 mg
1000 mg
750 mg
750 mg
600 mg
400 mg
1500 mg
750 mg
1000 mg
300 mg
300 mg
750 mg
500 mg
500 mg
Pengobatan Suportif / Simtomatik
a. Makan-makanan yang bergizi, bila dianggap perlu dapat diberikan vitamin tambahan (tidak
ada larangan makanan untuk penderita tuberkulosis)
b. Bila demam  obat penurunan panas/demam
c. Bila perlu obat untuk mengatasi gejala batuk, sesak napas atau keluhan lain.
Indikasi rawat inap :
• Batuk darah (profus)
• Keadaan umum buruk
• Pneumotoraks
• Empiema
• Efusi pleura masif / bilateral
• Sesak napas berat (bukan karena efusi pleura)
•
•
TB ekstra paru yang mengancam jiwa :
TB paru milier
Meningitis TB
G. Evaluasi
Penderita TB yang telah dinyatakan sembuh tetap dievaluasi minimal 2 tahun setelah sembuh untuk
mengetahui terjadinya kekambuhan. Yang dievaluasi adalah mikroskopi BTA dahak dan foto toraks.
Mikroskopi BTA dahak 3,6,12 dan 24 bulan setelah dinyatakan sembuh. Evaluasi foto toraks 6,12,24
bulan setelah dinyatakan sembuh.
H. Pengobatan tuberkulosis pada keadaan khusus
TB milier
1. Rawat inap
2. Paduan obat : 2 RHZE / 4 RH
3. Pada keadaan khusus (sakit berat), tergantung keadaan klinik, radiologik dan evaluasi
pengobatan, maka pengobatan lanjutan dapat diperpanjang samapi dengan 7 bulan 2RHZE / 7
RH
4. Pemberian kortikosteroid tidak rutin, hanya diberikan pada keadaan
a. tanda / gejala meningitis
b. sesak napas
c. Tanda / gejala toksik
d. Demam tinggi
5. Kortikosteroid : prednison 30-40 mg/hari, dosis diturunkan 5-10 mg setiap 5-7, lama pemberian
4-6 minggu
Pleuritis Eksudativa Tb ( Efusi Pleura Tb )
Paduan obat : 2 RHZE / 4RH
Evakuasi cairan, dikeluarkan seoptimal mungkin, sesuai keadaan penderita. Ulangan evakuasi
cairan bila diperlukan dan berikan kortikosteroid.
TB Ekstra Paru
Paduan obat 2 RHZE / 10 RH
TB Paru + Diabetes Melitus
1. Paduan obat : 2 RHZ (E-S) / 4 RH dengan regulasi baik / gula darah terkontrol
2. Bila gula darah tidak terkontrol, fase lanjutan 7 bulan : 2 RHZ (E-S) / 7 RH
3. DM harus dikontrol
4. Hati-hati dengan penggunaan etambutol, karena efek samping etambutol ke mata : sedangkan
penderita DM sering mengalami komplikasi kelainan pada mata
5. Perlu diperlihatkan penggunaan rifampisin akan mengurangi efektiviti obat oral anti diabetes
(sulfonil urea), sehinggga dosisnya perlu ditingkatkan
6. Perlu kontrol / pengawasan sesudah pengobatan selesai, untuk mengontrol / mendeteksi dini bila
terjadi kekambuhan
TB paru dengan HIV / AIDS
1. Paduan obat yang diberikan berdasarkan rekomondasi ATS yaitu : 2 RHZE / RH diberikan
sampai 6-9 bulan setelah konversi dahak
2.
3.
4.
5.
Menurut WHO paduam obat dan lama pengobatan sama dengan TB paru tanpa HIV / AIDS
Jangan berikan Thiacetazon karena dapat menimbulkan toksik yang hebat pada kulit
Obat suntik kalau dapat dihindari kecuali jika sterilisasinya terjamin
Jangan lakukan desensitisasi OAT pada penderita HIV / AIDS (mis INH, rifampisin) karena
mengakibatkan toksik yang serius pada hati
6. INH diberikan terus menerus seumur hidup
7. Bila terjadi MDR, pengobatan sesuai uji resistensi
TB pada kehamilan dan menyusui
1. Tidak ada infeksi pengguguran pad penderita TB dengan kehamilan
2. OAT tetap dapat diberikan kecuali streptomisin karena efek samping streptomisin pada
gangguan pendengaran janin
3. Pada penderita TB dengan menyusui, OAT & ASI tetap dapat diberikan, walupun beberapa OAT
dapat masuk ke dalam ASI, akan tetapi konsentrasinys kecil dan tidak menyebabkan toksik pada
bayi
4. Wanita menyusui yang mendapat pengobatan OAT dan bayinya juga mendapat pengobatan OAT
dianjurkan tidak menyusui bayinya, agar bayi tidak mendapat dosis berlebihan
5. Pada wanita usia produktif yang mendapat pengobatan TB dengan rifampisin dianjurkan untuk
tidak menggunakan kontrasepsi hormonal, karena dapat terjadi interaksi obat yang menyebabkan
efektiviti obat kontrasepsi hormonal berkurang.
TB paru gagal ginjal
1. Jangan menggunakan OAT streptomisin, kanamisin dan capreomycin
2. Sebaiknya hindari penggunaan etambutol karena waktu paruhnya memanjang dan terjadi
akumulasi etambutol. Dalam keadaan sangat diperlukan, etambutol dapat diberikan dengan
pengawasan kreatinin
3. Sedapat mungkin dosis disesuikan dengan faal ginjal (CCT, Ureum, Kreum, Kreatnin)
4. Rujuk ke ahli Paru
TB paru dengan kelainan hati
1. Bila ada kecurigaan gangguan fungsi hati, dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan
2. Pada kelainan hati, pirazinamid tidak boleh digunakan
3. Paduan obat yang dianjurkan / rekomendasi WHO : 2 SHRE / 6 RH atau 2 SHE / 10 HE
4. pada penderita hepatitis akut dan atau klinik ikterik, sebaiknya OAT ditunda sampai hepatitis
akutnya mengalami penyembuhan. Pada keadaan sangat diperlukan dapat diberikan S dan E
maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan 6 RH
5. Sebaiknya rujuk ke ahli paru
Hepatitis Imbas Obat
1. Dikenal sebagai kelainan hati akibat penggunaan obat-obat hepatotoksik (drug induced hepatitis)
2. Penatalaksanaan
a. Bila klinik (+) (Ikterik [ +], gejala / mual, muntah [+]) → OAT Stop
b. Bila klinis (-), Laboratorium terdapat kelainan :
c. Bilirubin > 2 → OAT stop
SGOT, SGPT ≥ 5 X : OAT Stop
SGOT, SGPT ≥ 3 X, gejala (+) : OAT stop
SGOT, SGPT ≥ 3 X, gejala (-)→ teruskan pengobatan dengan pengawasan
 Paduan OAT yang dianjurkan :
1. Stop OAT yang bersifat hepatotoksik (RHZ)
2. Setelah itu, monitor klinik dan laboratorium. Bila klinik dan laboratorium normal kembali
(bilirubin, SGOT, SGPT), maka tambahkan H (INH) desensitisasi sampai dengan dosis penuh
(300 mg). sela ma itu perhatikan klinik dan periksa laboratorium normal tambahkan rifampisin,
desensitisasi samapi dengan dosis penuh (sesuai berat badan). Sehingga paduan obat menjadi
RHES
42. Hipertesi esensial
Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya didefinisikan sebagai hipertensi esensial. Beberapa penulis
lebih memilih istilah hipertensi primer, untuk membedakannya dengan hipertensi lain yang sekunder
karena sebab-sebab yang diketahui.
Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation,
and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi
menjadi kelompok normal, prahipertensi, Hipertensi derajat I dan derajat 2
Tabel Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC 7
Klasifikasi
TDS
TDD (mmHg)
Tekanan Darah
(mmHg)
Normal
<120
dan <80
Prahipertensi
120-139
atau 80-89
Hipertensi derajat 1 40-159
atau 90-99
Hipertensi derajat 2 ≥100
atau ≥100
TDS = Tekanan Darah Sistolik, TDD = Tekanan Darah Diastolik
Evaluasi pasien hipertensi adalah dengan melakukan anamnesis tentang keluhan pasien, riwayat
penyakit dahulu dan penyakit keluarga, pemeriksaan fisis serta pemeriksaan penunjang.
Anamnesis meliputi:
1. Lama menderita hipertensi dan derajat tekanan darah
2. Indikasi adanya hipertensi sekunder
a) Keluarga dengan riwayat penyakit ginjal (ginjal polikistik)
b) Adanya penyakit ginjal, infeksi saluran kemih, hematuri, pemakaian obat-obat analgesik dan
obat/bahan lain
c) Episoda berkeringat, sakit kepala, kecemasan, palpitasi (feokromositoma)
d) Episoda lemah otot dan ma ni (aldosteronisme)
3. Faktor-faktor risiko
a) Riwayat hipertensi atau kardiovaskular pada pasien atau keluarga pasien
b) Riwayat hiperlipidemia pada pasien atau keluarganya
c) Riwayat diabetes melitus pada pasien atau keluarganya
d) Kebiasaan merokok
e) Pola makan
f) Kegemukan, intensitas olah raga
g) Kepribadian
4. Gejala kerusakan organ
a) Otak dan mats: sakit kepala, vertigo, gangguan penglihatan, transient ischemic attacks, deficit
sensoris atau motoris
b) Jantung: palpitasi, nyeri dada, sesak, bengkak kaki
c) Ginjal: haws, poliuria, nokturia, hematuri
d) Arteri perifer: ekstremitas dingin, klaudikasio intenniten
5. Pengobatan antihipertensi sebelumnya
6. Faktor-faktor pribadi, keluarga dan lingkungan
Pemeriksaan fisis selain memeriksa tekanan darah, juga untuk evaluasi adanya penyakit penyerta,
kerusakan organ target serta kenningkinan adanya hipertensi sekunder.
Pengukuran tekanan darah:
1. Pengukuran rutin di kamar periksa
2. Pengukuran 24 jam (ainbulator.y blood pressure monitoring-abpm)
3. Pengukuran sendiri oleh pasien
Beberapa indikasi penggunaan ABPM antara lain:
1. Hipertensi yang borderline atau yang bersifat episodic
2. Hipertensi office atau white coat
3. Adanya disfungsi saraf otononi
4. Hipertensi sekunder
5. Sebagai pedoman dalam pemilihan jenis obat antihipertensi
6. Tekanan darah yang resisters terhadap pengobatan antihipertensi
7. Gejala hipolcnsi yang berhubungan dengan pengobatan antihipertensi
Pemeriksaan penunjang pasien hipertensi terdiri dari:
1. Test darah rutin
2. Glukosa darah (sebaiknya puasa)
3. Kolesterol total serum
4. Kolesterol ldl dan hdl serum
5. Trigliserida serum (puasa)
6. Asam urat serum
7. Kreatinin serum
8. Kalium serum
9. Hemoglobin dan hematokrit
10. Urinalisis (uji carik celup serta sedimen urin)
11. Elektrokardiogram
Beberapa pedoman penanganan hipertensi rnenganjurkan test lain seperti:
1. Ekokardiogram
2. USG karotis (dan femoral)
3. C-reactive protein
4. Mikroalbuminuria atau perbandingan albumin/kreatinin urin
5. Proteinuria kuantitatif (jika uji carik positif)
6. Funduskopi (pada hipertensi berat)
Evaluasi pasien hipertensi juga diperlukan untuk menentukan adanya penyakit penyerta sistemik, yaitu:
1. Aterosklerosis (melalui pemeriksaan profit lemak)
2. Diabetes (terutama pemeriksaan gula darah)
3. Fungsi ginjal (dengan pemeriksaan proteinuria, kreatinin serum, serta memperkirakan laju filtrasi
glomerulus)
Pada pasien hipertensi, beberapa pemcriksaan untuk menentukan adanya kerusakan organ target
dapat dilakukan secara rutin, sedang pemeriksaan lainnya hanya dilakukan bila ada kecurigaan yang
didukung oleh keluhan dan gejala pasien. Pemeriksaan untuk mengevaluasi adanya kerusakan organ
target meliputi:
1. Jantung
a. Pemeriksaan finis
b. Foto polos dada (untuk melihat pembesaran jantung, kondisi arteri intratoraks dan sirkulasi
pulmoner)
c. Elektrokardiografi (untuk deteksi iskernia, gangguan konduksi, aritinia, serta hipertrofi ventrikel
kiri)
d. Ekokardiografi
2. Pembuluh darah
a. Pemeriksaan finis termasuk perhitungan pulse pres-sure
b. Ultrasonograli (USG) karotis
c. Fungsi endotel (masih dalarn penelitian)
3. Otak
a. Pemeriksaan neurologic
b. Diagnosis strok ditegakkan dengan menggunakan cranial computed tomography (CT) scan atau
magnetic c resonance imaging maging (MRI) (untuk pasien dengan keluhan gangguan neural,
kehilangan mernori atau gangguan kognitit)
4. Mata
a. Funduskopi
5. Fungsi ginjal
a. Pemeriksaan fungsi ginjal dan penentuan adanya proteinuria/mikro makroalbuminuria serta rasio
albumin kreatinin urin
b. Perkiraan laju filtrasi glomerulus, yang untuk pasien dalarn kodisi stabil dapat diperkirakan
dengan menggunakan modifikasi rumus dari Cockroft-Gault sesuai dengan anjuran National
Kidney Foundation (NKF) yaitu:
JNC 7 menyatakan bahwa tes yang lebih mendalam untuk mencari penyebab hipertensi tidak
dianjurkan kecuali jika dengan terapi memadai tekanan darah tidak tercapai.
PENGOBATAN
Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah:
1. Target tekanan darah <140/90 mmhg, untuk individu berisiko tinggi (diabetes, gagal ginjal
proteinuria) <130/ 80 mmhg
2. Penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular
3. Menghambat laju penyakit ginjal proteinuria
Pengobatan hipertensi terdiri dari terapi nonfarmakologis dan farmakologis. Terapi nonfarmakologis
harus dilaksanakan oleh semua pasien hipertensi dengan tujuan menurunkan tekanan darah dan
mengendalikan faktor-faktor risiko serta penyakit penyerta lainnya.
Terapi nonfarmakologis terdiri dari:
1. Menghentikan incrokok
2. Menurunkan berat badan berlebih
3. Menurunkan konsumsi alkohol bcrlcbih
4. Latihan fisik
5. Menurunkan asupan garam
6. Meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta menurunkan asupan lemak
Jenis-jenis obat antihipertensi untukterapi farmakologis hipertensi yang dianjurkan oleh JNC 7:
1. Diuretika, terutama jenis Thiazide (Thiaz) atau Alelosterone Antagonist (Aldo Ant)
2. Beta Blocker (BB)
3. Calcium Channel Blocker atau Calciumln antagonist (CCB)
4. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI)
5. Angiotensin II Receptor Blocker atau AT, receptor antagonistIblocker (ARB)
Masing-masing obat antihipertensi memiliki efektivitas dan kearnanan dalam pengobatan hipertensi,
tetapi pemilihan obat antihipertensi juga dipengaruhi beberapa faktor, yaitu:
1. Faktor sosio ekonomi
2. Profit faktor risiko kardiovaskular
3. Ada tidaknya kerusakan organ target
4. Ada tidaknya penyakit penyerta
5. Variasi individu dari respon pasien terhadap obat antihipertensi
6. Kemungkinan adanya interaksi dengan obat yang gunakan pasien untuk penyakit lain
7. Bukti ilmiah kemampuan obat antihipertensi yang akin digunakan dalam menurunkan risiko
kardiovaskular
Kombinasi yang telah terbukti efektif dan dapat ditoleransi pasien adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Diuretika dan ACEI atau ARB
CCB dan BB
CCB dan ACEI atau ARB
CCB dan diuretika
AB dan BB
Kadang diperlukan tiga atau empat kombinasi obat
Kemungkinan kombinaasi obat antihipertensi
Tabel 2. Indikasi dan Kontraindikasi Kelas-kelas Utama Obat Antihipertensi Menurut
ESH
Kelas Obat
Indikasi
Kontraindikasi
Mutlak
Tidak Muthlak
Diuretika (Thiazied) Gagal jantung kongestif. Usia Gout
Kehamilan
lanjul.
Isolated
systolic
hypertension, ras afrika
Diuretika (Loop)
Insutisiensi ginjal,
jantung kongestif
gagal
Deuretika
(antialdosteron)
Gagal jantung kongestif, pasca Gagal
ginjal,
infark miokardium
hiperkalemia
Penyekat β
Angina pektoris, pasca infark Asam, penyakit
miokardium, gagal jantung paru
obstruktif
kongestif, kehamilan. Lakiaritmia
menahun,
A-V
block (derajat 2
atau 3)
Calcium Antagonist
Usia lanjut, isolated systolic
(dihydropiridine)
hypertension,
angina
pektoris, penyakit pembuluh
darah perifer, aterosklerosis
karotis,kehamilan
Calcium Antagonist
Angina
pektoris,
(verapamil,
A-V
block
aterosklerosis
karotis,
ditiazem)
(derajat 2 atau 3),
takikardia supraventrikuler
gagal
jantung
kongestif
Penghambat ACE
Gagal jantung kongestif,
Kehamilan,
disfungsi
ventrikel kiri, pasca infark hiperkalemia,
arteri
miokardium,
non-diabetik stenosis
renalis bilateral
nefropati, nefropati DM tipe
1. proteinuria
Antigotensin
II
receptor antagonist Nefropati DM
(AT1-blocker)
mikroalbuminuria
2, Kehamilan,
diabetik, hiperkalemia,
arteri
proteinuria, hiperfrofi ventrikel kiri, stenosis
tipe
Penyakit pembuluh
darah
perifer,
intoleransi glukosa,
atlit atau pasien
yang aktif secara
fisik
Takiaritmia, gagal
jantung kongestif
batuk karena ACEI
α - Blocker
Hiperplasia prostat
hiperlipidemia
renalis bilateral
(BPH), Hipotensi
ortostatis
Tabel 3. Tatalaksana Hipertensi Menurut JNC 7
Klasifikasi
TDS
TDD
Perbaikan
Tekanan
(mmHg) (mmHG) Pola
Darah
Hidup
Normal
<120
dan <80 dianjurkan
Prehipertensi 120-139 atau 80- ya
90
Hipertensi
derajat 1
140-159
Hipertensi
derajat 2
≥ 160
atau 90- ya
99
atau
100
≥ ya
Gagal
kongensif
jantung
Terapi Obat Awal
Tanpa
Indikasi Dengan Indikasi
yang Memaksa
yang Memaksa
Tidak indikasi obat
Diuretika
jenis
Thiazide
untuk
sebagian
besar
kasus,
dapat
dipertimbangka
n
ACEI, ARB, BB,
CCB atau kombinasi
Kombinasi 2 obat
untuk sebagian besar
kasus
umumnya
diuretika
jenis
Thiazide dan ACEI
atau ARB atau BB
atau CCB
Obat-obatan untuk
indikasi
yang
memaksa
Obat-obatan untuk
indikasi
yang
memaksa
obat
antihipertensi lain
(diuretika, ACEI,
ARB, BB, CCB)
sesuai kebutuhan
43. Kandidiasis mulut
Pengertian: Infeksi oportunistik pada area oral dan perioral yang biasanya disebabkan oleh pertumbuhan abnormal (
overgrowth) dari mikroorganisme (jamur) Candida endogen.
Etiologi
-
Candida Albicans (komensal, pada dasarnya tidak berbahaya, namun dapat menjadiinvasif dan bersifat patogen
ketika terjadi gangguan pada keseimbangan flora atau penurunan daya tahan tubuh penjamu (host)
Penyebab lain; C. Glabrata, C. Krusei, C. Tropicalis dan C. ParapsilasticFaktor PredisposisiLokal: higienitas oral
buruk, xerostomia, kerusakan mukosa, pemakaian gigi palsu, pemakaianmouthwash yang mengandung
antibiotic.
S istemik: pemakaian antibitik spectrum luas, steroid, obat-obatan yg dpt menekan systemimun, radiasi,
kemoterapi, neutropenia akibat keganasan hematology, anemia defisiensi besi, kurang gizi,
imunodefisiensi seluler, gangguan endokrin (DM), penyakit yg menekansitem imun
(infeksi HIV)
Klasifikasi dan Gambaran Klinis
Gambaran klinis kandidiasi oral tergantung pada keterlibatan lingkungan dan interaksi organisme
dengan jaringan pada host. Adapun kandidiasis oral dikelompokkan atas tiga, yaitu :
A. Akut, dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
1.
Kandidiasis Pseudomembranosus Akut
Kandidiasis pseudomembranosus akut yang disebut juga sebagai thrush, pertama sekali
dijelaskan kandidiasis ini tampak sebagai plak mukosa yang putih, difus, bergumpal atau seperti
beludru, terdiri dari sel epitel deskuamasi, fibrin, dan hifa jamur, dapat dihapus meninggalkan
permukaan merah dan kasar. Pada umumnya dijumpai pada mukosa pipi, lidah, dan palatum
lunak. Penderita kandidiasis ini dapat mengeluhkan rasa terbakar pada mulut. Kandidiasis seperti
ini sering diderita oleh pasien dengan system imun rendah, seperti HIV/AIDS, pada pasien yang
mengkonsumsi kortikosteroid, dan menerima kemoterapi. Diagnose dapat ditentukan dengan
pemeriksaan klinis, kultur jamur, atau pemeriksaan mikroskopis secara langsung dari kerokan
jaringan.
2. Kandidiasis Atropik Akut
Kandidiasis jenis ini membuat daerah permukaan mukosa oral mengelupas dan tampak sebagai
bercak-bercak merah difus yang rata. Imfeksi ini terjadi karena pemakaian antibiotic spectrum
luas, terutama Tetrasiklin, yang mana obat tersebut dapat mengganggu keseimbangan ekosistem
oral antara Lactobacillus Acidophilus dan Candida Albicans. Antibiotic yang dikonsumsi oleh
pasien mengurangi populasi Lactobacillus dan memungkinkan candida tumbuh subur. Pasien
yang menderita candidiasis ini akan mengeluhkan sakit seperti terbakar.
B. Kronik, dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
1.
Kandidiasis Atropik Kronik
Disebut juga “denture stomatitis” atau “alergi gigi tiruan”. Mukosa palatum maupun
mandibular yang tertutup basis gigi tiruan akan menjadi merah, kondisi ini dikategorikan sebagai
bentuk dari infeksi candida. Kandidiasis ini hampir 60 % diderita oleh pemakai gigi tiruan
terutama pada wanita tua yang sering memakai gigi tiruan selagi tidur.
2. Kandidiasis Hiperplastik Kronik
Infeksi jamur timbul pada mukosa bukal atau tepi lateral lidah berupa bintik-bintik putih yang
tepinya menimbul tegas dengan beberapa daerah merah. Kondisi ini dapat berkembang menjadi
dysplasia berat atau keganasan, dan kadang disebut sebagai candida leukoplakia. Bintik-bintik
putih tersebut tidak dapat dihapus, sehingga diagnose harus ditentukan dengan biopsy.
Kandidiasis ini paling sering diderita oleh perokok.
3. Median Rhomboid Glossitis
Median rhomboid glositis adalah daerah simetris kronis di anterior lidah ke papilla sirkumvalata,
tepatnya terletak pada duapertiga anterior dan sepertiga posterior lidah. Gejala penyakit ini
asimptomatis dengan daerah tidak berpapila.
C. Keilitis Angularis
Keilitis angularis merupakan infeksi candida albican pada sudut mulut, dapat bilateral maupun
unilateral. Sudut mulut yang terkena infeksi tampak merah dan pecah-pecah, dan terasa sakit
ketika membuka mulut. Keilitis angularis ini dapat terjadi pada penderita defisiensi vitamin B12
dan anemia defisiensi besi
4. Pengobatan
Kebersihan mulut dapat dijaga dengan menyikat gigi maupun menyikat daerah bukal dan lidah
dengan sikat lembut. Pada pasien yang memakai gigi tiruan, gigi tiruan harus direndam dalam
larutan pembersih seperti Klorheksidin, hal ini lebih efektif dibanding dengan hanya menyikat
gigi tiruan, karena permukaan gigi tiruan yang tidak rata dan porus menyebabkan candida mudah
melekat, dan jika hanya menyikat gigi tiruan tidak dapat menghilangkannya.
Beberapa golongan antijamur yang efektif untuk kasus-kasus pada rongga mulut, sering
digunakan antara lain :
1.
Amfotericine B, dihasilkan oleh Streptomyces nodusum, mekanisme kerja obat ini
yaitu dengan cara merusak membrane sel jamur. Efek samping terhadap ginjal
seringkali menimbulkan nefrositik. Sediaan berupa lozenges (10 ml) dapat digunakan
sebanyak 4x/hari.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Nystatin, dihasilkan oleh Streptomyces noursei, mekanisme kerja obat ini dengan
cara merusak membrane sel yaitu terjadi perubahan permeabilitas membrane sel.
Sediaan berupa suspense oral 100.000 U/5ml dan bentuk cream 100.000 U/g,
digunakan untuk kasus denture stomatitis.
Miconazole, Clotrimazole, mekanisme kerjanya dengan cara menghambat enzim
cytochrome P 450 sel jamur, lanosterol 14 demethylase sehingga terjadi kerusakan
sintesa ergosterol dan selanjutnya terjadi ketidaknormalan membrane sel. Sediaan
dalam bentuk gel oral (20 mg/ml), digunakan 4x/hari setengah sendok makan, ditaruh
diatas lidah kemudian dikumurkan dahulu sebelum ditelan.
Clotrimazole, mekanismenya kerja sama dengan miconazole, bentuk sediaannya
berupa troche 10mg, sehari 3-4x.
Ketokonazole (ktz) adalah antijamur broad spectrum. Mekanisme kerjanya dengan
cara menghambat cytochrome P450 sel jamur, sehingga terjadi perubahan permeabilits
membrane sel, obat ini dimetabolisme di hepar. Efek sampingnya berupa mual/
muntah, sakit kepala, parastesia dan rontok. Sediaan dalam bentuk tablet 200mg dosis
1x/hari dikonsumsi pada waktu makan.
Itrakonazole, efektif untuk pengobatan kandidiasis penderita immunocompromised.
Sediaan dalam bentuk tablet, dosis 200mg/hari selama 3 hari. Bentuk suspense (100200 mg) / hari, selama 2 minggu. Efek samping obat berupa gatal-gatal, pusing, sakit
kepala, sakit dibagian perut (abdomen), dan hypokalemi.
Flukonazole, dapat digunakan pada seluruh penderita kandidiasis termasuk pada
penderita immunosipresiv. Efek samping mual, sakit dibagian perut, sakit kepala,
eritme pada kulit. Mekanisme kerjanya dengan cara mempengaruhi cytochrome P450
sel jamur, sehingga terjadi perubahan membrane sel. Absorpsi tidak dipengaruhi oleh
makanan. Sediaan dalam bentuk capsul 50mg, 100mg, 150mg, dan 200mg single dose
dan intra vena. Kontra indikasi pada wanita hamil dan menyusui.
44. Ulkus Mulut (aptosa, herpes)
Pengertian
Ulkus oral juga disebut aphthous ulcer yang muncul sendiri atau dalam kelompok di dalam mulut
bibir atau pipi. Mereka bisa ditemukan di bawah atau di pinggir lidah. Ulkus oral cepat terbentuk
dan dapat sangat nyeri. Ulkus biasanya sembuh dengan sendirinya dalam waktu satu sampai dua
minggu, tetapi mungkin terulang beberapa kali dalam setahun. Meskipun nyeri, terutama ketika
makan atau berbicara, ulkus oral tidak menular. Namun, mereka mungkin merupakan gejala
gangguan yang mendasari seperti kanker mulut, kekurangan gizi, atau penyakit menular seksual.
Tipe Ulkus mulut
Dua tipe yang biasanya mengikuti gejala ulkus mulut yaitu aphthous ulcers (yang ditunjukkan
dengan munculnya suatu luka terbuka yang menyakitkan di dalam mulut atau tenggorokan
bagian atas) dan cold sores (selaput terlihat melepuh). Cold sores di bibir disebabkan oleh virus
herpes simpleks.
•
•
•
•
•
•
•
•
Penyebab
Cedera fisik, trauma ke mulut adalah penyebab umum ulkus mulut. Tepi gigi yang tajam,
menggigit secara tidak sengaja (hal ini sangat umum dengan gigi taring yang tajam), gigi yang
runcing, gigi yang kasar, atau makanan asin berlebihan, gigi palsu yang kurang pas bentuknya,
dan kawat gigi atau trauma dari sikat gigi yang dapat melukai lapisan mukosa dari mulut dan
mengakibatkan tukak lambung. Ulkus ini biasanya dapat disembuhkan dengan mudah jika
sumber cedera dihilangkan (misalnya: jika kurang pas, gigi palsu diperbaiki atau diganti). Hal
serupa juga dapat terjadi setelah perawatan gigi, bisa saja terjadi lecet secara tidak sengaja pada
jaringan lunak mulut. Seorang dokter gigi dapat menerapkan lapisan pelindung petroleum jelly
sebelum melakukan perawatan gigi untuk meminimalkan terjadinya cedera pada jaringan
mukosa yang lembut.
Cedera kimia, bahan kimia seperti aspirin atau alkohol yang kontak dengan mukosa
mulut dapat menyebabkan jaringan menjadi nekrotik (kematian prematur sel atau jaringan hidup)
dan menciptakan suatu permukaan yang luka. Sodium lauryl sulfat (SLS), salah satu bahan
utama di sebagian besar pasta gigi, kadang terlibat dalam peningkatan insiden ulkus mulut.
Penghentian merokok, biasanya, setelah satu minggu berhenti merokok, seseorang dapat
mengalami radang mulut. Durasinya bervariasi antar individu, dan dapat berkisar dari bulan ke
tahun. Ini hanya merupakan efek dari berhenti merokok, efek ini lama-kelamaan akan hilang
dengan sendirinya.
Infeksi, virus, jamur dan bakteri dapat menyebabkan proses luka mulut. Salah satu
kebiasaan yang bisa menimbulkan ulkus mulut adalah dengan menyentuh bibir pecah-pecah
tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Infeksi dapat terjadi karena bakteri dari tangan berpindah
ke luka terbuka yang disebabkan oleh bibir pecah-pecah tadi.
Virus, Herpes simplex virus (HSV) adalah umum menjadi penyebab berulangnya
herpetiform ulcerations (ulcer herpes). Biasanya ini menimbulkan rasa nyeri dan didahului
dengan pecahnya bisul yang ada pada mulut. Varicella Zoster (cacar air, herpes zoster), virus
Coxsackie dan subtype virus lainnya yang terkait adalah jenis-jenis virus yang dapat
menyebabkan ulserasi mulut. HIV menciptakan immunodeficiencies yang memungkinkan
infeksi oportunistik atau neoplasma untuk berkembang biak.
Bakteri, proses bakteri yang menyebabkan ulserasi oral (luka mulut) dapat disebabkan
oleh Mycobacterium tuberculosis (TBC) dan Treponema pallidum (sifilis). Kegiatan oportunistik
oleh kombinasi dari flora bakteri normal lain, seperti aerobik streptokokus, Neisseria,
Actinomyces, spirochetes, dan spesies Bacteroides dapat memperpanjang proses ulseratif.
Jamur,
Coccidioides
immitis
(demam
lembah), Cryptococcus
neoformans
(kriptokokosis), Blastomyces dermatitidis ( “Blastomycosis Amerika Utara”) adalah sebagian
dari proses jamur menyebabkan ulserasi oral.
Protozoa, Entamoeba histolytica, suatu parasit protozoa ini kadang-kadang diketahui
menyebabkan borok mulut melalui pembentukan kista.
•
•
•
•
•
•
Sistem kekebalan, banyak peneliti melihat penyebab borok aphthous sebagai produk
akhir yang umum dari berbagai proses penyakit, masing-masing diperantarai oleh sistem
kekebalan tubuh. Borok Aphthous diperkirakan terbentuk ketika tubuh berada dalam kondisi
waspada (sistem kekebalan mulai bekerja).
Immunodeficiency (kekurangan imun/kekebalan tubuh), Ulcer mulut berulang dapat
merupakan indikasi dari suatu immunodeficiency, menandakan rendahnya tingkat imunoglobulin
pada selaput lendir di dalam mulut. Kemoterapi, HIV, dan mononukleosis adalah penyebabpenyebab umum terjadinya immunodeficiency yang bisa menimbulkan ulcer mulut.
Autoimmunity, adalah kegagalan dari suatu organisme untuk mengenali bagian-bagian
penyusunnya sendiri sebagai diri sedniri, yang memungkinkan respon imun terhadap sel dan
jaringan sendiri. Ini juga merupakan penyebab ulserasi oral. Selaput lendir pemphigoid, reaksi
autoimmune membran basal epitel, dan menyebabkan desquamation / ulserasi mukosa oral.
Alergi, kontak dengan alergen seperti amalgam dapat menyebabkan ulcerations dari
mukosa.
Makanan, kekurangan vitamin C dapat mengakibatkan penyakit kudis yang mengganggu
penyembuhan luka, yang dapat berkontribusi pada pembentukan ulkus. Demikian juga
kekurangan vitamin B12 telah dikaitkan dengan ulserasi oral. Penyebab umum lainnya adalah
penyakit Coeliac (adalah gangguan autoimun usus kecil yang terjadi karena kecenderungan
genetik seseorang dari segala usia), dalam hal ini konsumsi gandum, rye, atau barley dapat
mengakibatkan borok kronis mulut. Jika sensitif terhadap gluten menjadi penyebabnya maka
pencegahan berarti mengikuti diet bebas gluten dengan menghindari roti, pasta, bir, dan lain
sebagainya. Dalam hal ini menggantinya dengan varietas bebas gluten jika tersedia. Gula buatan
(Aspartame / Nutrisweet / etc) seperti yang ditemukan dalam diet cola dan permen karet tanpa
gula, telah dilaporkan sebagai penyebab ulkus oral juga.
Kanker, kanker mulut dapat menyebabkan ulserasi karenapusat lesi kehilangan suplai
darah dan necroses (kematian sel atau jaringan hidup).
Pengobatan
- Tujuan dari pengobatan adalah menghilangkan gejala.Penyebabnya, jika diketahui, harus
diobati.Lembut, kebersihan mulut menyeluruh dapat meredakan beberapa gejala.
-
Topikal (dioleskan pada) antihistamin, antacids, kortikosteroid, atau preparat
menenangkan lain dapat direkomendasikan untuk menerapkan di atas bisul.Hindari
makanan panas atau pedas, yang sering meningkatkan rasa sakit bisul mulut.
-
Beberapa manfaat orang dari menggunakan Bonjela over-the-counter gel topikal
yang mengandung salisilat kolin - salisilat kolin adalah analgesik lokal yang
membantu untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan yang terkait dengan ulkus
oral.
-
Lozenge steroid juga dapat mengurangi rasa sakit, dan dapat membantu untuk
menyembuhkan borok lebih cepat.Dengan menggunakan lidah Anda Anda dapat
menyimpan permen dalam kontak dengan maag sampai permen larut.Sebuah
permen steroid bekerja terbaik cepat itu dimulai setelah maag meletus.Jika
digunakan awal, mungkin 'menggigit dalam kuncup', dan mencegah maag dari
sepenuhnya meletus.
-
Berkumur dengan obat kumur antiseptik atau air garam hangat dapat mengurangi
rasa sakit.Demikian pula, berhati-hati untuk tidak makan apa-apa dengan tepi tajam,
seperti keripik, karena dapat mengikis terhadap ulkus menyebabkan
ketidaknyamanan dan rasa sakit.
45. Parotitis
Pengertian Penyakit gondongan atau dalam istilah kedokteran dikenal dengan parotitis atau
mumps adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus (Paramyxovirus) dan
menyerang jaringan kelenjar dan saraf.
Penyakit ini sering menyerang anak-anak usia 5-10 tahun dengan gejala khas rasa nyeri dan
bengkak pada salah satu atau kedua kelenjar leher (parotis). Seorang anak akan mendapatkan
kekebalah tubuh terhadap virus Paramyxovirus dari ibunya sampai usia 12-15 bulan saja. Itupun
jika ibu pernah menderita gondongan atau mendapatkan imunisasi sebelumnya.
Penegakan diagnosis
-
Tidak semua orang yang terinfeksi mengalami keluhan. Sebanyak 30-40% penderita
tidak menunjukkan gejala sakit, tetapi tetap menjadi sumber penularan.
Gejala awal penyakit gondongan berupa demam, rasa lesu, nyeri otot terutama
daerah leher, nyeri kepala, nafsu makan menurun diikuti pembesaran cepat dari satu
atau dua kelenjar leher (parotis).
-
Gejala klasik yang muncul dalam 24 jam adalah anak akan mengeluh sakit telinga
dan diperberat jika mengunyah makanan terutama makanan asam. Demam akan
turun dalam 1-6 hari, dimana suhu tubuh akan kembali normal sebelum
pembengkakan kelenjar hilang. Pembengkakan kelenjar menghilang dalam 3-7 hari.
Pada anak laki-laki yang belum pubertas dapat juga muncul pembengkakan testis
pada minggu pertama atau kedua. Testis yang terserang terasa nyeri, bengkak dan
kulit sekitarnya berwarna merah. Jika menyerang indung telur pada wanita dapat
ditemukan keluhan nyeri perut bagian bawah.
-
Komplikasi dapat berupa infeksi otak (ensefalitis) dan ketulian namun jarang.
-
Diagnosis penyakit parotitis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan tidak
memerlukan pemeriksaan laboratorium, kecuali gejala klinis yang muncul tidak
klasik untuk parotitis.
Pengobatan
-
-
Parotitis merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri. Pengobatan
diberikan hanya untuk mengurangi gejalanya saja yaitu parasetamol
mengurangi rasa nyeri dan menurunkan demam.
Pengobatan dengan anti virus sampai saat ini masih belum terbukti
bermanfaat, begitu pula dengan obat imunomodulator yang bertujuan
meningkatkan daya tahan tubuh.
yang
untuk
dapat
untuk
-
Pemberian nutrisi dan cairan yang adekuat dapat membantu mempercepat
penyembuhan.
-
Penderita penyakit gondongan masih dapat menjadi sumber penularan sampai 10-14
hari setelah keluhan bengkak ditemukan. Sebaiknya selama periode tersebut,
penderita dianjurkan untuk tidak masuk sekolah atau melakukan aktifitas di
keramaian.
-
Untuk mencegah penularan gondongan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan,
mulai dari cuci tangan, mencuci bersih peralatan makan atau mainan atau benda lain
yang sering disentuh
Pencegahan
Cara pencegahan terbaik untuk parotitis adalah dengan imunisasi MMR (mumps, measles,
rubella). Vaksin ini merupakan kombinasi dengan vaksin measles (campak) dan rubella (campak
Jerman). Diberikan sebanyak 2 kali, yaitu pada usia 15 bulan dan kemudian usia 5-6 tahun.
46. Infeksi pada umbilikus
Infeksi Tali Pusat adalah infeksi pada tali pusat atau jaringan kulit di sekitar tali pusat ditandai
dengan tali pusat merah, bengkak dan mengeluarkan nanah atau berbau busuk
Infeksi tali pusat lokal atau terbatas
Bila tali pusat bengkak, mengeluarkan nanah atau berbau busuk tapi kemerahan dan bengkak
terbatas pada daerah kurang dari 1cm di sekitar pangkal tali pusat maka disebut sebagai infeksi
tali pusat lokal atau terbatas
Penatalaksanaan :
Bersihkan tali pusat dengan menggunakan larutan antiseptik (KLorheksidin atau iodium povidon
2,5%) dengan kain kasa yang bersih
Olesi tali pusat dan daerah sekitarnya dengan larutan antiseptik (gentian violet atau iodium
povidon 2,5%) delapan kali sehari sampai tidak ada nanah lagi pada tali pusat. Dapat dilakukan
ibu di rumah kapan saja bila memungkinkan
Infeksi tali pusat berat atau meluas
JIka kemerahan atau bengkak pada tali pusat meluas melebihi area 1 cm atau kulit di sekitar tali
pusat bayi mengeras dan memerah serta bayi mengalami pembengkakan perut, disebut sebagai
infeksi tali pusat berat atau meluas
Penatalaksanaan:
1. Bersihkan tali pusat dengan menggunakan larutan antiseptik (KLorheksidin atau iodium
povidon 2,5%) dengan kain kasa yang bersih , oles tali pusat dan daerah sekitar dengan larutan
antiseptik (gentian violet atau iodium povidon 2,5%)
2. pemeriksaan tanda tanda sepsis pada bayi dan pemeriksaan laboratorium darah serta kultur dan
sensitivitas
3. Dapat diberikan pemberian antibiotik sesuai indikasi seperti Kloksasilin oral selama lima hari
Perawatan umum tali pusat pada bayi baru lahir :
Jaga tali pusat selalu bersih, kering dan biarkan terbuka (jangan dibungkus)
Jangan diberi ramuan apapun. Jika kotor, bersihkan dengan kain bersih dan air matang
47. GASTRITIS
Gastritis
Definisi
Nyeri epigastrium yang hilang timbul / menetap dapat disertai dengan mual / muntah.
Peyebab
Penyebab utama gastritis adalah iritasi lambung misalnya oleh makanan yang merangsang asam
lambung, alkohol, obat atau stres. Pada keadaan ini terjadi gangguan keseimbangan antara
produksi asam lambung dan daya tahan mukosa. Penyakit sistemik, kebiasaan merokok, infeksi
kuman Helicobacter pilori juga berperan dalam penyakit ini.
Gambaran Klinis
- Penderita biasanya mengeluh perih atau tidak enak di ulu hati.
- Gastritis erosif akibat obat sering disertai pendarahan
- Nyeri epigastrium, perut kembung, mual, muntah tidak selalu ada.
Diagnosis
Nyeri ulu hati, mual / muntah, kembung dll.
Penatalaksanaan
-Penderita gastritis akut memerlukan tirah baring. Selanjutnya ia harus membiasakan diri makan
teratur dan menghindarkan makanan yang merangsang.
-Keluhan akan segera hilang dengan antasida (Al. Hidroksida, Mg Hidroksida) yang diberikan
menjelang tidur, pagi hari, dan diantara waktu makan.
-Bila muntah sampai mengganggu dapat diberikan tablet metoklopramid 10 mg, 1 jam sebelum
makan. -Bila nyeri hebat dapat dikombinasikan dengan simetidin 200 mg 2 x sehari atau
ranitidin 150 mg 2 x sehari -Penderita dengan tanda pendarahan seperti hematemesis atau melena
perlu segera dirujuk ke rumah sakit karena kemungkinan terjadi pendarahan pada tukak lambung
yang dapat menjadi perforasi
48. Gastroenteritis
Definisi
Gastroenteritis adalah kondisi medis yang ditandai dengan peradangan pada saluran pencernaan
yang melibatkan lambung dan usus kecil,sehingga mengakibatkan kombinasi diare, muntah, dan
sakit serta kejang perut.
Penyebab
Banyak virus-virus yang berbeda dapat menyebabkan gastroenteritis, termasuk rotaviruses,
noroviruses, adenoviruses, tipe 40 atau 41, sapoviruses, dan astroviruses. Viral gastroenteritis
tidak disebabkan oleh bakteri-bakteri (seperti Salmonella atau Escherichia coli) atau parasitparasit (seperti Giardia), atau oleh obat-obat atau kondisi-kondisi medis lain, meskipun gejalagejalanya mungkin serupa. Dokter anda dapat menentukan apakah diare disebabkan oleh virus
atau oleh sesuatu yang lain.
Gejala
o
o
Demam ringan
Mual, bisa disertai muntah
o
Diare ringan sampai sedang
o
Kram perut
o
Ada darah di muntahan atau di tinja
o
Muntah lebih dari 48 jam
o
Demam
o
Nyeri perut
o
Dehidrasi
Berdasarkan jenisnya diare dibedakan menjadi diare akut cair (acute watery diarrhea) atau diare
berlendir darah (dysenteriform diarrhea).
Berdasarkan perjalanannya, diare dibagi menjadi diare akut, kronis, dan persisten (tanpa infeksi)
Diare akut adalah diare yang gejalanya tiba-tiba dan berlangsung 14 hari. Diare dapat disebabkan
infeksi maupun non infeksi. Dari penyebab diare yang terbanyak adalah diare infeksi. Diare
infeksi dapat disebabkan virus, bakteri, dan parasit.
Diare akut merupakan masalah yang umum ditemukan diseluruh dunia. Beberapa rumah sakit di
Indonesia menunjukkan data bahwa diare akut karena infeksi menempati peringkat pertama
sampai dengan ke empat pasien dewasa yang datang berobat ke rumah sakit.
PENYEBAB DIARE dan GASTROENTERITIS
1.Infeksi berbagai macam bakteri yang disebabkan oleh kontaminasi makanan maupun air
minum;
2.Infeksi berbagai macam virus; Penyebab diare terbanyak pada balita adalah diare karena virus,
yaitu Rotavirus.
3.Alergi makanan, khususnya susu atau laktosa (makanan yang mengandung susu);
4.Parasit yang masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang kotor.
Penyebab utama disentri di Indonesia adalah Shigella, Salmonela, Campylobacter jejuni,
Escherichia coli, dan Entamoeba histolytica. Disentri berat umumnya disebabkan oleh Shigella
dysentery, kadang-kadang dapat juga disebabkan oleh Shigella flexneri, Salmonella dan
Enteroinvasive E.coli ( EIEC).
PROSES PENYAKIT DIARE DAN GASTROENTERITIS
Bakteri, virus, parasit masuk melalui saluran pencernaan. Setelah melalui barier asam lambung,
kuman yang lolos akan berkembang biak di lumen usus.Hal tersebut akan mengganggu kerja
usus: fungsi penyerapan usus akan terganggu, produksi cairan usus akan meningkat, dan gerakan
usus juga meningkat. Gangguan kerja usus ini yang akan menyebabkan diare. Sedangkan racun
yang dihasilkan oleh kuman, akan menimbulkan gejala demam, mual, dan muntah.
PENCEGAHAN DIARE DAN GASTROENTERITIS
Diare mudah dicegah antara lain dengan cara:
1.Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting: 1) sebelum makan, 2)
setelah BAB dan BAK, 3) sebelum memegang bayi, 4) setelah menceboki anak dan 5) sebelum
menyiapkan makanan;
2.Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara merebus,
pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi: dan selalu memasak makanan.
3.Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu,
lipas, dan lain-lain);
4.Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan jamban dengan
tangki septik.
PENYEMBUHAN DIARE dan GASTROENTERITIS
1.Minum dan makan secara normal untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang;pasien diare
tidak boleh dipuasakan, makanan diberikan sedikit-sedikit tetapi sering, prinsipnya: berikan
makanan yang mudah dicerna yang tidak membebani usus dan mengiritasi usus, seperti: rendah
serat, banyak kuah, hindari santan dan hindari bumbu-bumbu menyengat, berikan buah-buahan
terutama pisang dan apel, karena kedua buah tersebut mengandung kaolin, pektin, dan kalium
yang dapat mengurangi diare.
2.Untuk bayi dan balita, teruskan minum ASI (Air Susu Ibu);
3.Cairan Rumah Tangga (CRO) dan oralit. Oralit merupakan salah satu cairan pilihan untuk
mencegah dan mengatasi dehidrasi. Cairan yang biasa disebut sebagai cairan rumah tangga ini
harus segera diberikan pada saat mulai diare. Jika terjadi muntah, pemberian cairan dapat
dihentikan selama kurang lebih 10 menit, selanjutnya cairan diberikan perlahan-lahan (misalnya
1 sendok setiap 2-3 menit).Oralit sudah dilengkapi dengan elektrolit, sehingga dapat mengganti
elektrolit yang ikut hilang bersama cairan. Oralit dapat mengurangi BAB sebesar 20% dan
mengurangi muntah 30%, dan dapat mengurangi kebutuhan cairan infus sebesar 33%. Cairan
rumah tangga bisa meliputi air mineral, kuah sup, air teh encer, jus buah segar, sebaliknya,
larutan-larutan yang kandungan gulanya tinggi tidak boleh diberikan, contohnya adalah teh yang
sangat manis, soft drink dan minuman buah komersial yang manis.
4.Suplementasi seng (zinc), dapat mempercepat penyembuhan serta mengurangi angka
kekambuhan diare. Seng membantu pemulihan vili-vili usus yang rusak akibat diare.
5.Antimikroba yang sesuai dengan diagnosis diare. Diare karena infeksi virus, tidak rasional bila
diberikan antimikroba, cukup dengan pengobatan penunjang saja.
6.Bila diare sangat frekuen dapat diberikan obat-obat yang berfungsi untuk mengurangi
pergerakan usus, tetapi dengan pengawasan dokter.
7.Bisa diberikan juga obat-obat yang bersifat absorben, seperti arang aktif, dan kaolin pectin,
yang dijual bebas.
Yang penting diperhatikan pada diare dan gastroenteritis:
Ada/tidaknya tanda-tanda dehidrasi/ kekurangan cairan.
Mengetahui tanda-tanda dehidrasi adalah sangat penting karena kematian pasien diare adalah
karena dehidrasi.
Klasifikasi
Tanda dan Gejala
Tak ada dehidrasi Tak ada tanda dan gejala dehidrasi:
•
Keadaan umum baik, sadar
Tanda vital (tekanan darah, suhu,nadi,
pernapasan) dalam batas normal
Dehidrasi tak berat Dua atau lebih tanda-tanda berikut:
•
•
•
Gelisah/rewel
Mata cekung
•
Air mata kurang
•
Haus (minum banyak)
•
Mulut dan bibir sedikit kering
•
Cubitan kulit perut kembali lambat
Tangan dan kaki hangat
Dua atau lebih tanda-tanda berikut:
•
Dehidrasi berat
•
•
Kondisi umum lemas
Kesadaran menurun-tidak sadar
•
Mata cekung
•
Air mata tidak ada
•
Tidak mampu untuk minum/ minum lemah
•
Mulut dan bibir kering
•
Cubitan kulit perut kembali sangat lambat (≥
2 detik)
•
Tangan dan kaki dingin.
Sarankan kepada pasien/keluarga pasien kapan harus kembali berobat:
•
•
BAB menjadi lebih sering
Muntah berulang
•
Rasa haus meningkat
•
Tidak dapat makan serta minum seperti biasa.
49. Refluks esofagus
Definisi
kondisi dimana isi cairan dari lambung dimuntahkan/dialirkan kembali (refluxes) kedalam
esophagus
Penyebab
sfingter esofagus bagian bawah, hiatal hernias, kontraksi-kontraksi esofagus, dan pengosongan
dari lambung.
Gejala
1. Rasa nyeri atau panas didada (heartburn)
2. Mual muntah
Diagnosis
1. Gejala-Gejala Dan Respon Pada Perawatan (heartburn, mual muntah)
2. Endoskopi, biopsy dan xrays
Penatalaksanaan
1. Hindari makanan seperti , coklat, peppermint, alkohol, dan minuman-minuman yang berkafein.
Makanan-makanan berlemak (yang harus dikurangi) dan merokok (yang harus dihentikan)
juga mengurangi tekanan pada sfingter dan memajukan refluks.
2. Obat – obatan
a. Antacid-Antacid 3x1
b. Histamine antagonists (simetidin 2x1, ranitidine 2x1)
c. Penghambat-Penghambat Pompa Proton (Proton pump inhibitors) (omeprazole 1x1,
lansoprazole 1x1)
50. Demam Tifoid dan Demam Paratifoid
Definisi
Demam Tifoid adalah penyakit usus dengan gejala sistemik akibat infeksi bakteri Salmonella
typhi.Sedangkan Demam Paratifoid adalah penyakit usus dengan gejala sistemik akibat infeksi
Salmonella paratyphi A, B, C.
Masa inkubasi (masa dari masuknya bakteri ke dalam tubuh sampai menimbulkan gejala) demam
tifoid/paratifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara 3-60 hari) bergantung jumlah
dan tipe bakteri yang tertelan. Selama masa inkubasi penderita tetap dalam keadaan tidak
bergejala.
Penyebab
Penularan penyakit dapat melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food(makanan),
Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan melalui Feses(tinja).
5F
Food (makanan)
Fingers (jari tangan / kuku)
Fomitus / Vomitus (muntahan)
Fly (lalat)
Feses (tinja)
Bakteri masuk ke saluran cerna, sebagian akan musnah oleh asam lambung, dan sebagian akan
diserap di usus halus, masuk ke aliran darah dan menuju ke seluruh tubuh.
Bakteri tersebut akan menghasilkan endotoksin (racun) sehingga tubuh bereaksi demam.
Bakteri masuk organ hati dan limpa, menyebabkan pembengkakan. Pembengkakan ini
menimbulkan rasa tidak enak di perut (kembung, nyeri, mual, tidak nafsu makan). Selain itu
bakteri ini akan masuk jaringan getah bening usus halus, menimbulkan perlukaan, dan bila
infeksinya tidak ditanggulangi dapat menimbulkan komplikasi perdarahan dan perforasi
(kebocoran) usus halus.
Gejala klinis
pada anak umumnya lebih ringan dan lebih bervariasi dibandingkan dengan orang dewasa.
Walaupun gejala demam tifoid/paratifoid pada anak lebih bervariasi, tetapi secara garis besar
terdiri dari demam satu minggu/lebih, terdapat gangguan saluran pencernaan (mual,
muntah, nyeri perut, konstipasi atau diare) dan gangguan kesadaran (kesadaran berkabut,
mengigau). Sejalan dengan perkembangan penyakit, suhu tubuh meningkat dengan gambaran
‘anak tangga’.
Perforasi usus terjadi pada 0,5-3% dan perdarahan berat pada 1-10% penderita. Kebanyakan
komplikasi terjadi di minggu ketiga dan umumnya didahului oleh penurunan suhu tubuh dan
tekanan darah serta kenaikan denyut jantung. Pneumonia sering ditemukan, tetapi seringkali
sebagai akibat superinfeksi oleh organisme lain selain Salmonella.
Diagnosis
Demam Tifoid/Paratifoid?
•
•
Wawancara dokter-pasien: analisis gejala-gejala klinis.
Pemeriksaan fisik
•
Pemeriksaan penunjang:
o Pemeriksaan darah: tanda-tanda infeksi
o Pemeriksaan uji Widal: dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri
Salmonella typhi/paratyphi.
o Kultur darah
Penatalaksanaan
Trilogi penatalaksanaan Demam Tifoid/Paratifoid, yaitu:
1. Istirahat dan perawatan
Tirah baring
o Perawatan: kebersihan tempat tidur, pakaian, dan perlengkapan yang dipakai.
o
Bagi yang merawat: perlu diperhatikan bahwa penyakit ini menular sehingga perlu
memperhatikan pembuangan tinja dan urin pasien, serta harus menjaga kebersihan
pribadi.
2. Diet dan terapi penunjang
o Prinsipnya adalah memberikan makanan yang nyaman dan dapat memulihkan kesehatan
pasien secara optimal. Nyaman disini adalah nyaman bagi kondisi saluran cerna, yaitu
makanan yang mudah dicerna dan bergizi, serta tidak menimbulkan iritasi saluran cerna;
serta nyaman bagi mulut pasien.
3. Pemberian Antibiotika
o Kloramfenikol. Dosis yang diberikan adalah 4 x 500 mg perhari, dapat diberikan secara
oral atau intravena, sampai 7 hari bebas panas
o Tiamfenikol. Dosis yang diberikan 4 x 500 mg per hari.
o Kortimoksazol. Dosis 2 x 2 tablet (satu tablet mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80
mg trimetoprim)
o Ampisilin dan amoksilin. Dosis berkisar 50-150 mg/kg BB, selama 2 minggu
o Sefalosporin Generasi Ketiga. dosis 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc, diberikan selama ½
jam per-infus sekali sehari, selama 3-5 hari
o Golongan Fluorokuinolon
a.
b.
Norfloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 14 hari
Siprofloksasin : dosis 2 x 500 mg/hari selama 6 hari
c.
Ofloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 7 hari
d.
Pefloksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari
e.
Fleroksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari
Kombinasi obat antibiotik. Hanya diindikasikan pada keadaan tertentu seperti: Tifoid toksik,
peritonitis atau perforasi, syok septik, karena telah terbukti sering ditemukan dua macam
organisme dalam kultur darah selain kuman Salmonella typhi/paratyphi.
51. Intolerani Makanan
Definisi
Intoleransi makanan adalah respon negatif yang terjadi setiap kali makanan
dimakan,Intoleransi makanan seringkali merupakan reaksi yang tertunda, biasanya terjadi
beberapa jam atau bahkan berhari-hari setelah memakan makanan tertentu
Penyebab
Intoleransi laktosa adalah salah satu contoh, di mana tubuh kekurangan enzim yang dibutuhkan
untuk pencernaan laktosa
Gejala
1.gatal-gatal atau ruam,
2. diare
3. muntah
4. sakit kepala
5. perut kembung
Diagnosis
Intoleransi laktosa tidak akan muncul dalam tes alergi konvensional seperti tes dikulit atau tes
darah
Pengobatan
intoleransi makanan anda akan diberikan formula / makanan yang cocok untuk bayi anda untuk
memastikan kebutuhan nutrisinya terpenuhi dan pertumbuhan nya tetap sesuai
52. Alergi Makanan
Definisi
alergi merupakan reaksi berlebihan daritubuh dari benda asing di sekeliling atau di dalam tubuh
yang disebut alergen. Reaksi alergi terjadi ketika tubuh salah mengartikan zat yang masuk
sebagai zat yang berbahaya. Sejalan dengan definisi ini, alergi makanan merupakan reaksisistem
kekebalan
yang
terjadi
segera
setelah
mengonsumsi
makanan
tertentu.
Gejala
1. Kesemutan atau gatal di mulut
2. Gatal-gatal atau eksim
3. Pembengkakan di wajah, lidah, bibir, dan tenggorokan atau bagian lain daritubuh
4. Sesak atau kesulitan bernapas
5. Nyeri perut, diare, mual atau muntah
6.Sakit kepala atau pingsan
Pada beberapa orang, alergi makanan dapat memicu reaksi alergi parah yang disebut
anafilaksis. Hal ini dapat menyebabkan gejala yang mengancam jiwa,termasuk:
1. Penyempitan dan pengetatan saluran pernapasan Tenggorokan bengkak atau terasa ada
benjolan di tenggorokan yang menyebabkan kesulitan bernapas
2. Shok, dengan penurunan tekanan darah
3. Denyut nadi yang cepat
4. Sakit kepala atau kehilangan kesadaran
Diagnosis
1. Gejala di atas
2. skin prick test, yaitu mengoleskan sejumlah kecil alergen pada kulit, atau tes darah untuk
mendeteksi keberadaan antibodi yang terkait dengan reaksi alergi.
Penatalaksanaan
1.
hindari allergen
2.
pemberian kortikosteroid
3.
apabila terjadi syock anafilaksis lakukakn penanganan syock
.53. Keracunan makanan
Definisi
Keracunan makanan adalah istilah yang diberikan kepada infeksi dengan bakteri, parasit, virus,
atau racun dari kuman yang mempengaruhi manusia melalui terkontaminasi makanan atau air.
Etiologi
Kuman yang menyebabkan keracunan makanan mungkin termasuk Campylobacter enteritis,
kolera, E. coli enteritis, Staphylococcus aureus, Shigella, Listeria dll.
Organisme kausatif yang paling umum adalah Staphylococcus atau E. coli.
Makanan umum yang dapat membawa kuman termasuk manja daging atau unggas,
terkontaminasi air, makanan yang mengandung mayones, daging mentah atau matang, telur, ikan
dan kerang dan sebagainya
Gejala
Adanya tanda-tanda dehidrasi, seperti mulut kering, buang air kecil berkurang, pusing, atau
sunken eyes (ada lingkaran hitam di sekitar mata)
1. Ada diare pada bayi atau bayi yang baru lahir
2. Diare yang berlangsung lebih dari 2 hari (satu hari pada anak) atau parah
3.
Nyeri perut yang parah atau muntah
4.
Demam dengan suhu 38.8 ° C atau lebih tinggi (atau suhu rektal 38 ° C pada bayi
berusia kurang dari 3 bulan) Kotoran tinja yang berwarna hitam, seperti tar atau
berdarah5
5.
Anda mengenali gejala keracunan kimia atau toksin makanan, seperti muntah,
diare, berkeringat, pusing, sobekan di mata, air liur berlebihan, kebingungan
psikologis, dan nyeri perut, yang dimulai sekitar 30 menit setelah makan makanan
yang terkontaminasi
Perawatan makanan keracunan
Perawatan melibatkan menjaga pasien yang terhidrasi dengan banyak cairan dan air. Dalam
kebanyakan kasus, kondisi menyelesaikan dengan sendirinya.
Beberapa pasien namun mungkin perlu antibiotik untuk terapi.
Pencegahan keracunan makanan adalah kunci dan dapat dicapai dengan mempertahankan tangan
bersih, memasak permukaan, mencuci dan memasak makanan secara menyeluruh. Minum hanya
disaring air juga membantu
54. ANKILOSTOMIASIS (Infeksi Cacing Tambang)
Definisi
Infeksi cacing tambang adalah penyakit yang disebabkan cacing Ancylostoma duodenale dan /
atau Necator americanus. Cacing tambang mengisap darah sehingga menimbulkan keluhan yang
berhubungan dengan anemia, gangguan pertumbuhan terutama pada anak dan dapat
menyebabkan retardasi mental.
Penyebab
Ancylostoma duodenale dan/atau Necator americanus.
Gambaran klinis
-Masa inkubasi antara beberapa minggu sampai beberapa bulan tergantung dari beratnya infeksi
dan keadaan gizi penderita. -Pada saat larva menembus kulit, penderita dapat mengalami
dermatitis. Ketika larva lewat di paru dapat terjadi batuk-batuk -Akibat utama yang disebabkan
cacing ini ialah anemia yang kadang demikian berat sampai menyebabkan gagal jantung.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja segar atau biakan tinja dengan cara
Harada-Mori.
Penatalaksanaan
-Pirantel pamoat 10 mg/kg BB per hari selama 3 hari.
-Mebendazol 500 mg dosis tunggal (sekali saja) atau 100 mg 2 x sehari selama tiga hari
berturut-turut
-Albendazol 400 mg dosis tunggal (sekali saja), tetapi tidak boleh digunakan selama hamil.
-Sulfas ferosus 3 x 1 tablet untuk orang dewasa atau 10 mg/kg BB/kali (untuk anak) untuk
mengatasi anemia.
Pencegahan
Pencegahan penyakit ini meliputi sanitasi lingkungan dan perbaikan higiene perorangan terutama
penggunaan alas kaki.
55. Strongyloidiasis
Definisi
adalah penyakit parasit manusia yang disebabkan oleh nematoda ( cacing gelang ) Strongyloides.
Strongyloides infeksi harus ditangani bahkan tanpa adanya gejala sebagai sindrom hyperinfection
membawa tingkat kematian tinggi. strongyloidiasis yang menyebar memerlukan pengobatan
selama minimal 7 hari atau sampai parasit tidak bisa lagi diidentifikasi dalam spesimen klinis
etiologi
1. Strongyloides papillosus terdapat di seluruh dunia pada mukosa usus halus
domba, kambing, sapi, berbagai ruminansia lain, dan berbagai hewan lain. Cacing
ini lebih banyak terdapat pada hewan muda daripada dewasa
2. Strongyloides ransomi terdapat di seluruh dunia pada mukosa usus halus babi,
cacing betina partenogenetik parasitic
3. Strongyloides westeri terdapat di seluruh dunia pada mukosa usus halus kuda,
keledai, dan zebra.
4. Strongyloides stercoralis sangat umum terdapat di seluruh dunia pada mukosa
usus halus anjing ,kucing, manusia dan berbagai mamalia lain
5. Strongyloides avium terdapat di Amerika Utara dan india pada sekum dan usus
halus ayam atau burung lain. Cacing ini jarang terdapat di daerah dingin
Gejala
Gejala yang paling khas adalah sakit perut, umumnya sakit pada ulu hati seperti gejala ulcus
ventriculi, diare dan urticaria; kadang-kadang timbul nausea, berat badan turun, lemah dan
konstipasi. Timbulnya dermatitis yang sangat gatal karena gerakan larva menyebar dari arah
dubur; dapat juga timbul peninggian kulit yang stationer yang hilang dalam 1-2 hari atau ruam
yang menjalar dengan kecepatan beberapa sentimeter per jam pada tubuh. Walaupun jarang
terjadi, autoinfeksi dengan beban jumlah cacing yang meningkat terutama pada penderita dengan
sistem kekebalan tubuh yang rendah dapat menyebabkan terjadinya strongyloidiasis diseminata,
terjadi penurunan berat badan yang drastic, timbul kelainan pada paru-paru dan berakhir dengan
kematian. Pada keadaan seperti ini sering terjadi sepsis yang disebabkan oleh bakteri gram
negatif. Pada stadium kronis dan pada penderita infeksi berulang serta pada penderita infeksi
human T-cell lymphotrophic virus (HTLV-1) ditemukan eosinofilin ringan (10%-25%).
Eosinofilia ringan juga dijumpai pada penderita yang mendapatkan kemterapi kanker, sedangkan
pada strongyloidiasis disseminata jumlah sel eosinofil mungkin normal atau menurun.
Pengobatan
Setiap orang rentan terhadap penularan cacing ini. Imunitas setelah infeksi cacing tidak terbentuk
dalam tubuh manusia, imunitas hanya terbentuk pada percobaan laboratorium. Penderita AIDS
dan penderita tumor ganas atau mereka yang mendapatkan pengobatan yang menekan sistem
kekebalan tubuh dapat rentan terhadap infeksi cacing ini.
Cara-cara pemberantasa
Tindakan pencegahan
1.Buanglah tinja di jamban yang saniter.
2.Lakukan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat untuk benar-benar memperhatikan
kebersihan perorangan dan kebersihan lingkungan.
3.Gunakan alas kaki di daerah endemis.
4.Sebelum memberikan terapi imunosupresif kepada seseorang, Pastikan bahwa orang tersebut
tidak menderita strongyloidiasis
5.Periksa semua najing, kucing, kera yang kontak dekat dengan manusia, obati binatang yang
terinfeksi cacing ini.
. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar
1. Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi: Terhadap anggota keluarga penderita dan
penghuni asrama dimana ada penderita dilakukan pemeriksaan Kalau-kalau ada yang terinfeksi.
2. Pengobatan spesifik: Karena adanya potensi untuk autoinfeksi dan penularan kepada orang lain,
semua penderita tanpa melihat jumlah cacing yang dikandungnya harus dilakukan pengobatan
dengan ivermectin (Mectizan®), Thiabendazole (Mintezol®) atau albendazole (Zentel®). Perlu
diberikan pengobatan ulang.
56.ASKARIASIS (Infeksi Cacing Gelang)
Definisi
Askariasis atau infeksi cacing gelang adalah penyakit ik yang disebabkan oleh Ascaris
lumbricoides. Askariasis adalah penyakit kedua terbanyak yang disebabkan oleh parasit.
Penyebab Ascaris lumbricoides.
Gambaran klinis
-Infeksi cacing gelang di usus besar gejalanya tidak jelas. Pada infeksi masif dapat terjadi
gangguan saluran cerna yang serius antara lain obstruksi total saluran cerna. Cacing gelang dapat
bermigrasi ke organ tubuh lainnya misalnya saluran empedu dan menyumbat lumen sehingga
berakibat fatal.
-Telur cacing menetas di usus menjadi larva yang kemudian menembus dinding usus, masuk ke
aliran darah lalu ke paru dan menimbulkan gejala seperti batuk, bersin, demam, eosinofilia, dan
pneumonitis askaris. Larva menjadi cacing dewasa di usus dalam waktu 2 bulan.
-Cacing dewasa di usus akan menyebabkan gejala khas saluran cerna seperti tidak napsu makan,
mual, muntah, , dan . -Bila cacing masuk ke saluran maka dapat menyebabkan dan . Bila
menembus dapat menyebabkan . -Pada infeksi berat, terutama pada anak dapat terjadi
malabsorbsi sehingga memperberat keadaan malnutrisi. Sering kali infeksi ini baru diketahui
setelah cacing keluar spontan bersama tinja atau dimuntahkan. -Bila cacing dalam jumlah besar
menggumpal dalam usus dapat terjadi obstruksi usus (ileus), yang merupakan kedaruratan dan
penderita perlu dirujuk ke rumah sakit.
Diagnosis
Diagnosis askariasis ditegakkan dengan menemukan Ascaris dewasa atau telur Ascaris pada
pemeriksaan tinja.
Penatalaksanaan
-Pirantel pamoat 10 mg/kgBB dosis tunggal
-Mebendazol 500 mg dosis tunggal (sekali saja) atau 100 mg 2 x sehari selama tiga hari berturutturut
-Albendazol 400 mg dosis tunggal (sekali saja), tetapi tidak boleh digunakan selama hamil.
Pencegahan
1. Pengobatan masal 6 bulan sekali di daerah endemik atau di daerah yang rawan askariasis.
2. Penyuluhan kesehatan tentang sanitasi yang baik, hygiene keluarga dan hygiene pribadi
seperti: - Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman. - Sebelum melakukan persiapan
makanan dan hendak makan, tangan dicuci terlebih dahulu dengan menggunakan sabun. Sayuran segar (mentah) yang akan dimakan sebagai lalapan, harus dicuci bersih dan disiram
lagi dengan air hangat karena telur cacing Ascaris dapat hidup dalam tanah selama bertahuntahun. - Buang air besar di jamban, tidak di kali atau di kebun.
Bila pasien menderita beberapa spesies cacing, askariasis harus diterapi lebih dahulu dengan
pirantel pamoat.
57. SISTOSOMIASIS
Definisi
Sistomiasis merupakan penyakit parasit (cacing) menahun yang hidup di dalam pembuluh darah
vena, sistem peredaran darah hati, yaitu pada sistem vena porta, mesenterika superior. Dalam
siklus hidupnya cacing ini memerlukan hospes perantara sejenis keong Oncomelania hupensis
lindoensis yang bersifat amfibi.
Penyebab
Cacing trematoda. Penyakit ini ditularkan melalui bentuk infektif larvanya yang disebut sekaria
yang sewaktu-waktu keluar dari keong tersebut di atas. Larva ini akan masuk ke dalam tubuh
manusia melalui pori-pori kulit yang kontak dengan air yang mengandung sekaria. Penyakit ini
telah lama diketahui terdapat di Indonesia, pertama kali dilaporkan pada tahun 1937 oleh Brug
dan Tesch. Adapun cacing penyebabnya adalah Scistosoma japonicum. Daerah endemis
sistosomiasis di Indonesia sampai saat ini terbatas pada daerah Lindu, Napu, dan Besoa di
Propinsi Sulawesi Tengah.
Gambaran Klinis
Masa tunas 4 – 6 minggu.
-Penderita memperlihatkan gejala umum berupa demam, urtikaria, mual, muntah, dan sakit perut.
Kadang dijumpai sindrom disentri.
-Dermatitis sistosoma terjadi karena serkaria menembus ke dalam kulit. -Pada tingkat lanjut telur
yang terjebak dalam organ-organ menyebabkan mikroabses yang meninggalkan fibrosis dalam
penyembuhannya. Maka dapat terjadi sirosis hepatitis, hepatosplenomegali, dan hipertensi portal
yang dapat fatal.
Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan bila ditemukan telur dalam tinja, atau biopsi rektum atau hati. Uji
serologi memastikan diagnosis
Penatalaksanaan
Obat terpilih untuk sistosomiasis adalah prazikuantel, dosis tunggal.
58.TAENIASIS / SISTISERKOSIS
Definisi
Taeniasis ialah penyakit zoonosis parasitik yang disebabkan cacing dewasa Taenia (Taenia
saginata, Taenia solium dan Taenia asiatica). Infeksi larva T. solium disebut sistiserkosis dengan
gejala benjolan (nodul) di bawah kulit (subcutaneous cysticercosis). Bila infeksi larva Taenia
solium di susunan saraf pusat disebut neurosistiserkosis dengan gejala utama epilepsi.
Penyebab
Cacing dewasa Taenia (Taenia saginata, Taenia solium dan Taenia asiatica); larva T. Solium.
Penularan
Sumber penularan taeniasis adalah hewan terutama babi, sapi yang mengandung larva cacing pita
(cysticercus). Sumber penularan sistiserkosis adalah penderita taeniasis solium sendiri yang
tinjanya mengandung telur atau proglotid cacing pita dan mencemari lingkungan. Seseorang
dapat terinfeksi cacing pita (taeniasis) bila makan daging yang mengandung larva yang tidak
dimasak dengan sempurna, baik larva T.saginata yang terdapat pada daging sapi (cysticercus
bovis) maupun larva T.solium (cysticercus cellulose) yang terdapat pada daging babi atau larva
T.asiatica yang terdapat pada hati babi. Sistiserkosis terjadi apabila telur T.solium tertelan oleh
manusia. Telur T. saginata dan T.asiatica tidak menimbulkan sistiserkosis pada manusia.
Sistiserkosis merupakan penyakit yang berbahaya dan merupakan masalah kesehatan masyarakat
di daerah endemis. Hingga saat ini kasus taeniasis / sistiserkosis telah banyak dilaporkan dan
tersebar di beberapa propinsi di Indonesia, terutama di propinsi Papua, Bali dan Sumatera Utara.
Gambaran Klinis
-Masa inkubasi berkisar antara 8 – 14 minggu. -Sebagian kasus taeniasis tidak menunjukkan
gejala (asimtomatik).
-Gejala klinis dapat timbul sebagai akibat iritasi mukosa usus atau toksin yang dihasilkan cacing.
Gejala tersebut antara lain rasa tidak nyaman di lambung, mual, badan lemah, berat badan
menurun, napsu makan menurun, sakit kepala, konstipasi, pusing, diare dan pruritus ani. -Pada
sistiserkosis, biasanya larva cacing pita bersarang di jaringan otak sehingga dapat mengakibatkan
serangan epilepsi. Larva juga dapat bersarang di sub- kutan, mata, otot, jantung dan lain-lain.
Diagnosis
Diagnosis taeniasis dapat ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan tinja secara
mikroskopis.
1. Adanya riwayat mengeluarkan proglotid (segmen) cacing pita baik pada waktu buang air besar
maupun secara spontan.
2. Pada pemeriksaan tinja ditemukan telur cacing Taenia.
Penatalaksanaan
Pasien taeniasis diobati dengan prazikuantel dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB dosis tunggal. Cara
pemberian prazikuantel adalah sebagai berikut :
-Satu hari sebelum pemberian prazikuantel, penderita dianjurkan untuk makan makanan yang
lunak tanpa minyak dan serat.
- Malam harinya setelah makan malam penderita menjalani puasa
-Keesokan harinya dalam keadaan perut kosong penderita diberi prazikuantel.
-Dua sampai dua setengah jam kemudian diberikan garam Inggris (MgSO4), 30 gram untuk
dewasa dan 15 gram atau 7,5 gram untuk anak anak, sesuai dengan umur yang dilarutkan dalam
sirop (pemberian sekaligus).
-Penderita tidak boleh makan sampai buang air besar yang pertama. Setelah buang air besar
penderita diberi makan bubur.
-Sebagian kecil tinja dari buang air besar pertama dikumpulkan dalam botol yang berisi formalin
5 – 10% untuk pemeriksaan telur Taenia sp. Tinja dari buang air besar pertama dan berikutnya
selama 24 jam ditampung dalam baskom lalu disiram dengan air panas / mendidih, kemudian
diayak dan disaring untuk mendapatkan proglotid dan skoleks Taenia sp. Jika terdapat cacing
dewasa, cacing menjadi relaks dengan pemberian air panas. -Proglotid dan skoleks dikumpulkan
dan disimpan dalam botol yang berisi alkohol 70% untuk pemeriksaan morfologi yang sangat
penting dalam identifikasi spesies cacing pita tersebut. Pasien neurosistiserkosis sebaiknya
dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.
Pencegahan
-Menjaga kebersihan lingkungan dan pribadi.
-Mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar
-Tidak makan daging mentah atau setengah matang
-Buang air besar di jamban
-Memelihara ternak di kandang
59. Hepatitis A
Definisi
Hepatitis A adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebarkan oleh kotoran/tinja
penderita; biasanya melalui makanan (fecal - oral), bukan melalui aktivitas seksual atau melalui
darah. Hepatitis A paling ringan dibanding hepatitis jenis lain (B dan C). Sementara hepatitis B
dan C disebarkan melalui media darah
Penyebab
Penularan virus Hepatitis A atau Hepatitis Virus tipe A (HVA) melalui fecal oral, yaitu virus
ditemukan pada tinja. Virus ini juga mudah menular melalui makanan atau minuman yang sudah
terkontaminasi, Hepatitis A sangat terkait dengan pola hidup bersih
Gejala
Hepatitis A dapat dibagi menjadi 3 stadium:
1. Pendahuluan (prodromal) dengan gejala letih, lesu, demam, kehilangan selera makan dan
mual;
2. Stadium dengan gejala kuning (stadium ikterik); dan
3. Stadium kesembuhan (konvalesensi). Gejala kuning tidak selalu ditemukan. Untuk
memastikan diagnosis dilakukan pemeriksaan enzim hati, SGPT, SGOT. Karena pada
hepatitis A juga bisa terjadi radang saluran empedu, maka pemeriksaan gama-GT dan
alkali fosfatase dapat dilakukan di samping kadar bilirubin.
Tanda dan gejala Hepatitis A yaitu:
•
•
Kelelahan
Mual dan muntah
•
Nyeri perut atau rasa tidak nyaman, terutama di daerah hati (pada sisi kanan bawah tulang
rusuk)
•
Kehilangan nafsu makan
•
Demam
•
Urin berwarna gelap
•
Nyeri otot
•
Menguningnya kulit dan mata (jaundice).
Diagnosis
Kenaikan kadar SGOT,SGPT,Billirubin, pemeriksaan serologi akan terlihat gambaran positip dari
HBsag,IgM anti HAV, dan IgM anti HBV
Penatalaksanaan
1. Menjaga kebersihan
2. Memperbaiki sanitasi pembuangan tinja
3. Hepatitis A tidak ada pengobatan khusus kita bisa memberikan obat simptomatik pada
pasien seperti obat mual,demam dan vitamin
4. Vaksinisasi hepatitis A
60. Disentri amuba dan disentri basiler
DEFINISI
yaitu suatu penyakit peradangan usus yang di tandai dengan sakit perut dan buang air besar, tinja berlendir
bercampur darah.Buang air besar ini berulang-ulang yang menyebabkan penderita kehilangan banyak cairan dan
darah.Penyakit ini terbagi menjadi dua yaitu disentri Basiler dan disentri Amoeba.
Penyebab penyakit ini adalah infeksi parasit Entamoeba histolytica yang menyebabkan disentri amoeba dan infeksi
bakteri golongan Shigella, Escherichia coli, Salmonella yang menyebabkan disentri basiler.
Disentri basiler
•
Diare mendadak yang disertai darah dan lendir dalam tinja. Pada disentri shigellosis, pada permulaan sakit,
bisa terdapat diare encer tanpa darah dalam 6-24 jam pertama, dan setelah 12-72 jam sesudah permulaan
sakit, didapatkan darah dan lendir dalam tinja.
•
Panas tinggi (39,5 - 40,0 C), kelihatan toksik.
•
Muntah-muntah.
•
Anoreksia.
•
Sakit kram di perut dan sakit di anus saat BAB.
•
Kadang-kadang disertai dengan gejala menyerupai ensefalitis dan sepsis (kejang, sakit kepala, letargi, kaku
kuduk, halusinasi).
Disentri amoeba
•
Diare disertai darah dan lendir dalam tinja.
•
Frekuensi BAB umumnya lebih sedikit daripada disentri basiler (≤10x/hari)
•
Sakit perut hebat (kolik)
•
Gejala konstitusional biasanya tidak ada (panas hanya ditemukan pada 1/3 kasus)
Faktor-faktor penyebab penyakit diare:
1.
Tangan yang kotor
2.
Makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh virus dan bakteri
3.
.Di tularkan oleh binatang peliharaan
4.
Kontak langsung dengan feses atau material lain yang menyebabkan diare ( cara membersihkan diri yang
tidak benar saat keluar dari toilet )
•
Virus penyebab diare yaitu virus gastrointeritis atau yang di kenal dengan stomatch virus ( virus perut )
Diagnosis
Diagnosis penyakit disentri dapat di tegakkan dengan pemeriksaan penunjang:
1. Pemeriksaan tinja
Pemeriksaa inin merupakan pemeriksaan laboratorium yang sangat penting.Biasanya tinja berbau busuk,berlendir
dan bercampur darah. Pemeriksaan ini meliputi :
•
Makroskopis: Disentri amoeba dapat di tegakkan bila di temukan bentuk tropozoit dan kista dalam tinja
•
Benzidin test
•
Mikroskopis: Leukosit fecal (petanda adanya kolitis ),darah fecal
2.
Biakan
tinja:
Media
agar
macconkey,xylose-lysinedioxycholate
(XLD
),
agar
SS
3. Pemeriksaan darah rutin: Leukositosis(5000-15000 sel/mm3) kadang-kadang di temukan leukopenia
yang
disertai darah dalam tinja.
KOMPLIKASI
Komplikasi disentri amoeba ada 2 yaitu:
a. Komplikasi intestinal
1). Perdarahan usus
2). Perforasi usus
3). Ameboma
4). Penyempitan usus atau striktura
b. Komplikasi ekstra intestinal
1). Amebiasis hati
2). Amebiasis pleuro pulmonal
3). Abses otak dam limfa
4). Amebiasis kulit
Sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak, dapat terjadi berbagai macam
komplikasi seperti:
a.
Dehidrasi
b.
Renjatan hipovolemik
c. Hipokalemi (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada
elektrokardiogram).
d. Hipoglikemi
e. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili mukosa
usus halus.
f.
Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik.
g. Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan.
. PENATALAKSANAAN
Perhatikan keadaan umum anak, bila anak appear toxic, status gizi kurang, lakukan pemeriksaan
darah (bila memungkinkan disertai dengan biakan darah) untuk mendeteksi adanya bakteremia.
Bila dicurigai adanya sepsis, berikan terapi sesuai penatalaksanaan sepsis pada anak. Waspadai
adanya syok sepsis.
2. Komponen terapi disentri :
a. Koreksi dan maintenance cairan dan elektrolit.
Seperti pada kasus diare akut secara umum, hal pertama yang harus diperhatikan dalam
penatalaksanaan disentri setelah keadaan stabil adalah penilaian dan koreksi terhadap status
hidrasi dan keseimbangan elektrolit
b. Diet
Anak dengan disentri harus diteruskan pemberian makanannya. Berikan diet lunak tinggi kalori
dan protein untuk mencegah malnutrisi. Dosis tunggal tinggi vitamin A (200.000 IU) dapat
diberikan untuk menurunkan tingkat keparahan disentri, terutama pada anak yang diduga
mengalami defisiensi. Untuk mempersingkat perjalanan penyakit, dapat diberikan sinbiotik dan
preparat seng oral8,9. Dalam pemberian obat-obatan, harus diperhatikan bahwa obat-obat yang
memperlambat motilitas usus sebaiknya tidak diberikan karena adanya resiko untuk
memperpanjang masa sakit.
c. Antibiotika
Anak dengan disentri harus dicurigai menderita shigellosis dan mendapatkan terapi yang sesuai.
Pengobatan dengan antibiotika yang tepat akan mengurangi masa sakit dan menurunkan resiko
komplikasi dan kematian.
• Pilihan utama untuk Shigelosis (menurut anjuran WHO) :
Kotrimokasazol (trimetoprim 10mg/kbBB/hari dan sulfametoksazol 50mg/kgBB/hari) dibagi
dalam 2 dosis, selama 5 hari.
• Dari hasil penelitian, tidak didapatkan perbedaan manfaat pemberian kotrimoksazol
dibandingkan placebo10.
• Alternatif yang dapat diberikan :
o Ampisilin 100mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis o Cefixime 8mg/kgBB/hari dibagi dalam 2
dosis
o Ceftriaxone 50mg/kgBB/hari, dosis tunggal IV atau IM o Asam nalidiksat 55mg/kgBB/hari
dibagi dalam 4 dosis.
• Perbaikan seharusnya tampak dalam 2 hari, misalnya panas turun, sakit dan darah dalam tinja
berkurang, frekuensi BAB berkurang, dll. Bila dalam 2 hari tidak terjadi perbaikan, antibiotik
harus dihentikan dan diganti dengan alternatif lain.
• Terapi antiamubik diberikan dengan indikasi :
o Ditemukan trofozoit Entamoeba hystolistica dalam pemeriksaan mikroskopis tinja.
o Tinja berdarah menetap setelah terapi dengan 2 antibiotika berturut-turut (masing-masing
diberikan untuk 2 hari), yang biasanya efektif untuk disentri basiler.
• Terapi yang dipilih sebagai antiamubik intestinal pada anak adalah Metronidazol 3050mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 10 hari. Bila disentri memang disebabkan oleh E.
hystolistica, keadaan akan membaik dalam 2-3 hari terapi.
d. Antipiretik
Antipiretik berfungsi untuk menghambat produksi prostaglandin yang memacu peningkatan
suhu lewat hipotalamus sehingga dapat menurunkan demam
e. Sanitasi
Beritahukan kepada orang tua anak untuk selalu mencuci tangan dengan bersih sehabis
membersihkan tinja anak untuk mencegah autoinfeksi.
61.
HEMOROID
Hemoroid adalah pelebaran vena di dalam pleksus hemoroidalis yang tidak merupakan keadaan
patologik
Faktor predisposisi hemoroid, yaitu: herediter, anatomi, makanan, pekerjaan, psikis, dan sanisitas
Hemoroid diklasifikasikan menjadi dua tipe yaitu hemoroid interna dan hemoroid eksterna.
Hemoroid intern adalah pleksus vena hemoroidalis superior di atas garis mukokutan dan ditutupi
oleh mukosa. Sedangkan, Hemoroid ekstern yang merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus
hemoroid inferior terletak disebelah distal garis mukokutan di dalam jaringan di bawah epitel
anus.
Hemoroid interna dikelompokan dalam empat derajat yaitu :
Derajat I
: Hemoroid menyebabkan perdarahan merah segar tanpa nyeri pada waktu defekasi.
Derajat II : Menonjol melalui kanalis analis pada saat mengedam ringan tetapi dapat
masuk kembali secara spontan
Derajat III : Hemoroid menonjol saat mengedam dan harus didorong kembali sesudah defekasi
Derajat IV : Merupakan hemoroid yang menonjol keluar dan tidak dapat didorong masuk
kembali.
Hemoroid eksterna diklasifikasikan sebagai bentuk akut dan kronis :
Akut: Berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan merupakan suatu hematoma
walaupun disebut sebagai hemoroid thrombosis eksternal akut.
Kronis : Berupa satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dari jaringan ikat dan
sedikit pembuluh darah.
Gejala Klinis
Tanda utama biasanya adalah perdarahan. Darah yang keluar berwarna merah segar, tidak
bercampur dengan feses, dan jumlahnya bervariasi. Bila hemoroid bertambah besar maka dapat
terjadi prolaps. Pada awalnya biasanya dapat tereduksi spontan. Pada tahap lanjut, pasien harus
memasukkan sendiri setelah defekasi. Dan akhirnya sampai pada suatu keadaan dimana tidak
dapat dimasukkan. Kotoran di pakaian dalam menjadi tanda hemoroid yang mengalami prolaps
permanen. Kulit di daerah perinial akan mengalami iritasi. Nyeri akan terjadi bila timbul
trombosis luas dengan edema dan peradangan.
Terapi
Untuk hemoroid derajat I dan II dapat diobati dengan tindakan lokal dan anjuran diet.
Hilangkan faktor penyebab, misalnya obstipasi, dengan diet rendah sisa, banyak makan makanan
berserat dan mengurangi daging serta penderita dilarang makan makanan yang merangsang.
Bila ada infeksi berikan antibiotik peroral. Bila terdapat nyeri yang terus- menerus dapat
diberikan supositoria atau salep rektal untuk anestesi dan pelembab kulit. Untuk melancarkan
defekasi saja dapat diberikan cairan parafin atau larutan magnesium sulfat 10 %. Bila dengan
pengobatan tersebut tidak ada perbaikan, berikan terapi sklerosing dengan menyuntikan zat
sklerosing (sodium moruat 5% atau fenol).
Untuk hemoroid yang meradang akut, yang mengalami trombosis dan yang prolaps dapat
disuntik dengan campuran anastetik lokal danhialuronidase ( 10 ml bupivakain 0,25%( marcaine)
dengan epinefrin 1 :200.000 ditambah 150 unit hialuronidase).
Untuk hemoroid yang melebar atau menonjol, ligasi adalah terapi terbaik ( rubber band
ligation). Untuk hemoroid yang kronis tersedia berbagai pilihan, ternasuk injeksi dengan obat
sklerosa, ligase karet gelang, bedah krio, dilasi anal, sfinkterotomi internal lateral, koagulasi
inframerah, elektrokoagulasi bipolar, dan lemorodiktomi.
Tindakan bedah diperlukan bagi pasien dengan keluhan kronis dan hemoroid derajat tiga
atau empat. Prinsip utama hemoroidektomi adalah eksisi hanya pada jaringan yang menonjol dan
eksisi konservatif kulit serta anoderm normal.
62.
INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)
ISK adalah adanya bakteri pada urin yang disertai dengan gejala infeksi. Adapula yang
mendefinisikan ISK sebagai gejala infeksi yang disertai adanya mikroorganisme patogenik
(patogenik : yang menyebabkan penyakit) pada urine, uretra (uretra : saluran yang
menghubungkan kandung kemih dengan dunia luar), kandung kemih, atau ginjal.
Penyebab:
Escherichia coli adalah penyebab paling umum pada anak-anak, hingga 80%.
Staphylococcus saprophyticus
Proteus mirabilis. Selain menyebabkan infeksi, bakteri ini mengeluarkan zat yang dapat
memfasilitasi pembentukan batu di saluran kemih.
Mikroorganisme lain yang dapat menyebabkan ISK adalah beberapa bakteri yang umumnya
menginfeksi saluran cerna dan Candida albicans, jamur yang umumnya menginfeksi pasien
dengan kateter (kateter : semacam selang) pada saluran kemihnya, kekebalan tubuh yang rendah,
diabetes mellitus, atau pasien dalam terapi antibiotik.
Faktor risiko ISK seperti : kelainan fungsi atau kelainan anatomi saluran kemih, gangguan
pengosongan kandung kemih (incomplete bladder emptying), konstipasi, operasi saluran kemih,
kekebalan tubuh yang rendah.
Gejala Klinis
Gejala yang dapat timbul pada ISK pada anak sangat tidak spesifik, dan seperti telah
diungkapkan sebelumnya, banyak yang hanya disertai demam sebagai gejala. Dua kategori klinis
dari ISK adalah pyelonefritis akut atau ISK atas dan sistitis akut atau ISK bawah.
Tanda dan gejala ISK bagian atas adalah: demam, menggigil, nyeri panggul dan pinggang,
nyeri ketika berkemih, malaise, pusing, mual dan muntah. Sedangkan, tanda dan gejala ISK pada
bagian bawah adalah: nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih, spasme pada area
kandung kemih dan suprapubis, hematuria, nyeri punggung dapat terjadi, disuria, polakisuria,
kencing mengejan, tanpa demam.
Terapi
Tatalaksana umum atasi demam, muntah, dehidrasi dll dianjurkan minum banyak aIr putih dan
jangan membiasakan menahan kencing. Untuk mengatasi disuria dapat diberikan fenazopiridin
(pyridium) 7 – 10 mg/kgBB/hari. Factor predidposisi di cari dan dihilangkan. Tatalaksana khusus
ditujukan terhadap 3 hal yaitu pengobatan infeksi akut, pengobatan dan pencegahan infeksi
berulang, serta deteksi dan koreksi bedah terhadap kelainan anatomis saluran kemih. Penanganan
Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang ideal adalah agen antibakterial yang secara efektif
menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhaap flora fekal dan vagina.
Penggunaan
medikasi
yang
umum
mencakup:
sulfisoxazole
(gastrisin),
trimethoprim/sulfamethoxazole (TMP/SMZ, bactrim, septra), kadang ampicillin atau amoksisilin
digunakan, tetapi E. Coli telah resisten terhadap bakteri ini
63.
GONORE
Gonore adalah penyakit menular seksual ang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorhoeae yang
menginfeksi lapisan dalam saluran kandung kemih, leher rahim, rectum, tenggorokan, serta
bagian putih mata.
Faktor risiko Gonorrhea: memiliki banyak pasangan seks, melakukan hubungan seksual tanpa
kondom, ibu hamil yang menderita gonore
Gejala Klinis
Pada pria, akan keluar nanah dari dari saluran kencing dan rasanya sangat panas seperti
•
terbakar,
•
Pada wanita, infeksi dapat terjadi pada saluran kencing, vagina ataupun cervic.
•
Wanita juga bisa merasakan nyeri perut yang sangat hebat
•
Bertambahnya cairan yang keluar dari vagina
•
Ujung buah zakar berwarna merah dan membengkak
•
Merasakan sakit yang luar biasa saat buang air kecil
•
Air kencing berwarna kuning kehijauan
Terapi
Pengobatan gonore biasanya dengan suntikan tunggal seftriakson intramuskuler (melalui otot)
atau dengan pemberian antibiotik per-oral (melalui mulut) selama 1 minggu (biasanya diberikan
doksisiklin). Jika gonore telah menyebar melalui aliran darah, biasanya penderita dirawat di
rumah sakit dan mendapatkan antibiotik intravena (melalui pembuluh darah, infus).
64.
PIELONEFRITIS
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal, yang sifatnya akut
maupun kronis. Pielonefritis akut biasanya akan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu. Bila
pengobatan pada pielonefritis akut tidak sukses maka dapat menimbulkan gejala lanjut yang
disebut dengan pielonefritis kronis.
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal, tunulus, dan jaringan interstinal
dari salah satu atau kedua gunjal (Brunner & Suddarth, 2002: 1436).
Pielonefritis merupakan suatu infeksi dalam ginjal yang dapat timbul secara hematogen
atau retrograd aliran ureterik (J. C. E. Underwood, 2002: 668)
Pielonefritis ada 2, yaitu:
1. Pielonefritis Akuta
Dijumpai pada 2 % dari seluruh kehamilan dan nifas. Banyak di jumpai pada triwulan ke III.
3 % Wanita dengan urine steril dan 30% wanita dengan bakteri uria menimbulkan pielitis
dalam kehamilan
2. Pielonefritis Kronika
Penyakit ini biasanya menahun, mungkin sebelumnya telah menderita sistitis atau
pielonefritis akut
Penyebab
 Eschericia coli
 Stafilokokus aureus
 Basilus proteus dan Pseudomonas auroginosa
 Cara penjalaran bisa melalui:
- Dari kandung kemih naik ke atas (assenden)
- Pembuluh darah dan pembuluh limpa
Gejala Klinis
Demam tinggi, menggigil, sakit pinggang hebat, mual-muntah, nafsu makan kurang, dan anuria.
Terapi
1. Sebaiknya hati-hati pemakaian kateter biasa dan kateter menetap; kalau dapat dihindari
2. Kalau harus dipakai, berikan obat anti bacterial
3. Wanita harus istirahat berbaring miring ke sisi yang tidak sakit
4. Sebelum memberikan obat, lakukan uji kepekaan obat barulah di berikan obat anti bacterial
yang tepat, biasanya selama 10-12 hari
5. Awasi penderita untuk kemungkinan adanya residif
65.
FIMOSIS
Fimosis adalah suatu keadaan dimana prepusium penis yang tidak dapat diretraksi ke proximal
sampai ke korona glandis.
Penyebab
Kongenital (fimosis fisiologis). Fimosis kongenital (fimosis fisiologis) timbul sejak lahir
sebenarnya merupakan kondisi normal pada anak-anak, bahkan sampai masa remaja.
Fimosis didapat (fimosis patologik, fimosis yang sebenarnya, true phimosis) timbul kemudian
setelah. Hal ini berkaitan dengan kebersihan hygiene) alat kelamin yang buruk, peradangan
kronik glans penis dan kulit preputium (balanoposthitis kronik), atau penarikan berlebihan kulit
preputium (forceful retraction) pada timosis kongenital yang akan menyebabkan pembentukkan
jaringan ikat (fibrosis) dekat bagian kulit preputium yang membuka.
Gejala Klinis
prepusium tidak bisa ditarik ke belakang, ballooning, sakit saat berkemih, sulit kencing, pancaran
kencing sedikit
Terapi
- Tidak dianjurkan melakukan retraksi yang dipaksakan, karena dapat menimbulkan luka dan
terbentuk sikatriks pada ujung prepusium sehingga akan terbentuk fimosis sekunder.
- Fimosis disertai balanitis xerotica obliterans dapat diberikan salep dexamethasone 0,1% yang
dioleskan 3/4 kali, dan diharapkan setelah 6 minggu pemberian prepusium dapat diretraksi
spontan.
- Fimosis dengan keluhan miksi, menggelembungnya ujung prepusium pada saat miksi atau
infeksi postitis merupakan indikasi untuk dilakukan sirkumsisi, dimana pada fimosis disertai
balanitis/postitis harus diberikan antibiotika terlebih dahulu.
66.
PARAFIMOSIS
Parafimosis adalah prepusium penis yang diretraksi sampai disulkus koronarius tidak dapat
dikembalikan pada keadaan semula dan timbul jeratan pada penis dibelakang sulkus koronarius.
Penyebab
Menarik (retraksi) prepusium ke proksimal biasanya dilakukan pada saat bersenggama/
masturbasi atau sehabis pemasangan kateter.
Terapi
Prepusium diusahakan untuk dikembalikan secara manual dengan teknik memijat glans selama 35 menit diharapkan edema berkurang dan secara perlahan-lahan prepusium dikembalikan pada
tempatnya. Jika usaha ini tidak berhasil, dilakukan dorsum insisi pada jeratan sehingga prepusium
dapat dikembalikan pada tempatnya. Setelah edema dan proses inflamasi menghilang, pasien
dianjurkan untuk menjalani sirkumsisi. Walaupun demikian, setelah parafimosis diatasi secara
darurat, selanjutnya diperlukan tindakan sirkumsisi secara berencana oleh karena kondisi
parafimosis tersebut dapat berulang atau kambuh kembali.
67.
SINDROM DUH (DISCHARGE) GENITAL
Penyakit-penyakit yang termasuk sindrom duh tubuh vaginal: infeksi Chlamydia, vaginosis
bakterialis, kandidiasis vulvovaginalis, trikomoniasis, vaginitis aerob, vaginitis non-infeksi
Penyebab duh tubuh vagina abnormal: kandidiasis vulvovaginal (27% kasus), vaginosis
bakterialis (21% kasus), trikomoniasis (8% kasus), Chlamydia trachomatis (2% kasus), Neisseria
gonorrhea (1% kasus), penyebab non-infeksi(misalnya pemakaian tampon,kondom, kimia,
trauma fisik, jaringan granulasi, fistula, neoplasia; 34% kasus).
Faktor risiko Penyakit Menular Seksual (PMS): usia kurang dari 25 tahun, tidak menggunakan
kondom, berganti pasangan seksual dalam 3 bulan terakhir, sering berganti pasangan atau kontak
multiple, gejala positif pada pasangan, penyakit menular seksual sebelumnya, komplikasi
penyakit menular seksual, perilaku pasangan seksual yang berisiko.
Gejala klinis
Vaginosis bakterialis (duh tubuh vagina homogen, tipis, berwarna agak kelabu), infeksi
Chlamydia (duh tubuh endoserviks kuning dan kental, serviks mudah berdarah), kandidiasis
vulvovaginalis (rasa gatal/terbakar, duh tebal, tidak berbau, konsistensi seperti keju, eritema
vulva dan vagina), trikomoniasis (asimtomatik, duh tubuh vagina purulen dan berbau, lesi titiktitik pendarahan pada serviks), vaginitis aerob (duh tubuh vagina purulen), vaginitis non-infeksi
(duh tubuh vagina fisiologis)
Terapi
Kandidiasis vulvovaginalis dan vaginosis bakterialis: antijamur golongan azol (misalnya,
metronidazol)
68.
VAGINITIS DAN VULVITIS
Vaginitis adalah suatu peradangan pada lapisan vagina. Sedangkan, vulvitis adalah suatu
peradangan pada vulva (organ kelamin luar wanita)
Penyebab:
Infeksi: Bakteri (misalnya klamidia, gonokokus), jamur (misalnya kandida), protozoa (misalnya
Trichomonas vaginalis), virus (virus papiloma manusia dan virus )
Zat atau benda ang bersifat iritatif: spermisida, pelumas, kondom, diafragma, penutup serviks dan
spons, sabun cuci dan pelembut pakaian, deodorant, zat di dalam air mandi, pembilas vagina,
pakaian dalam yang terlalu ketat, tidak berpori-pori dan tidak menyerap keringat, tinja, tumor
atau jaringan abnormal lainnya, terapi penyinaran, obat-obatan, perubahan hormonal.
Beberapa gejala yang umum ditemui pada vulvovaginitis: adana iritasi dan rasa gatal pada daerah
genital, peradangan (iritasi, kemerahan, dan pembengkakan) pada labia dan daerah perineum,
keluarnya cairan dari vagina, ada bau busuk pada vagina, rasa tidak naman atau seperti terbakar
saat berkemih.
Pengobatan Umum Untuk Vaginitis & Vulvitis
Jenis Infeksi
Pengobatan
Jamur
Miconazole, clotrimazole, butoconazole atau terconazole (krim,
tablet vagina atau supositoria)
Fluconazole atau ketoconazole (tablet)
Bakteri
Biasanya metronidazole atau clindamycin (tablet vagina) atau
metronidazole (tablet).
Jika penyebabnya gonokokus biasanya diberikan suntikan
ceftriaxon & tablet doxicyclin
Klamidia
Doxicyclin atau azithromycin (tablet)
Trikomonas
Metronidazole (tablet)
Virus papiloma manusia Asam triklorasetat (dioleskan ke kutil), untuk infeksi ang berat
(kutil genitalis)
digunakan larutan nitrogen atau fluorouracil (dioleskan ke kutil)
Virus herpes
Acyclovir (tablet atau salep)
69.
VAGINOSIS BAKTERIAL
Vaginosis Bakterial – VB adalah penyakit pada vagina yang disebabkan oleh bakteri. Oleh CDCcentre of disease control tidak dimasukkan kedalam golongan IMS-Infeksi Menular Seksual. VB
disebabkan oleh gangguan kesimbangan flora bakteri vagina dan seringkali dikacaukan dengan
infeksi jamur (kandidiasis) atau infeksi trikomonas.
Penyebab
Mikroorganisme yang terkait dengan VB sangat beragam dan diantaranya adalahGardnerella
vaginalis, Mobiluncus, Bacteroides, danMycoplasma
Gejala Klinis
Gejala utama VB adalah keputihan homogen yang abnormal (terutama pasca sanggama) dengan
bau tidak sedap. Cairan keputihan berada di dinding vagina dan tidak disertai iritasi, nyeri atau
eritema.Tak seperti halnya dengan keputihan vagina normal, keputihan pada VB jumlahnya
bervariasi dan umumnya menghilang sekitar 2 minggu sebelum haid.
Diagnosis
Diagnosis VB atas dasar Kriteria Amsel: Cairan vagina berwarna putih kekuningan, encer dan
homogen, Clue cells pada pemeriksaan mikroskopik, pH vagina >4.5, Whiff Test positif (bau
amis timbul setelah pada cairan vagina diteteskan larutan KOH - potassium hydroxide.
Konfirmasi diagnosis ditegakkan bila ditemukan 3 dari 4 kriteria diatas
Terapi
Antibiotika Metronidazole atau clindamycin peroral atau lokal adalah trerapi yang efektif . Namun
angka kekambuhan juga cukup tinggi. Regimen medikamentosa umum adalah Metronidazol
2x500 mg (setiap 12 jam) selama 7 hari. Dosis tunggal tidak dianjurkan oleh efektivitasnya
rendah. Tidak diperlukan terapi pada pasangan seksual.
70.
SALPINGITIS
Salpingitis adalah infeksi dan peradangan di saluran tuba . Hal ini sering digunakan secara
sinonim dengan penyakit radang panggul (PID), meskipun PID tidak memiliki definisi yang
akurat dan dapat merujuk pada beberapa penyakit pada saluran kelamin bagian atas perempuan,
seperti endometritis,ooforitis, myometritis, parametritis dan infeksi pada panggul peritoneum.
Sebaliknya, salpingitis hanya merujuk infeksi dan peradangan di saluran tuba.
Infeksi ini jarang terjadi sebelum siklus menstruasi pertama, setelah menopause maupun selama
kehamilan. Penularan yang utama terjadi melalui hubungan seksual, tetapi bakteri juga bisa
masuk ke dalam tubuh setelah prosedur kebidanan/kandungan (misalnya pemasangan IUD,
persalinan, keguguran, aborsi dan biopsi endometrium).
Penyebab
Beberapa bakteri yang paling umum menyebabkan salpingitis meliputi: Klamidia, Gonococcus
(yang menyebabkan gonore), Mycoplasma, Staphylococcus, Streptococcus. Penyebab lainnya
yang lebih jarang terjadi adalah: Aktinomikosis (infeksi bakteri), Skistosomiasis (infeksi parasit),
Tuberkulosis.
Gejala Klinis
Gejala salpingitis dapat mencakup: Vagina abnormal (seperti warna atau bau yang tidak biasa),
Bercak antara periode, Dismenorea (menyakitkan periode), Sakit saat ovulasi, Tidak nyaman atau
sakit saat hubungan seksual, Demam, Sakit perut di kedua sisi, Nyeri punggung bawah, Sering
buang air kecil, Mual dan muntah, Gejalanya biasanya muncul setelah periode menstruasi.
Terapi
Wanita dengan PID atau salpingitis dapat berobat jalan maupun di rawat inap. Menurut Pelvic
Inflammatory Disease Evaluation and Clinical Health (PEACH) trial, 831 wanita dengan gejala
PID ringan biasanya menerima pasien rawat inap dengan pengobatan melalui intravena (IV) :
cefoxitin dan doxycycline, sedangkan untuk pesien rawat jalan diberi intramuskular (IM)
cefoxitin dan pemberian peroral untuk doxycycline. Jika tidak ada respon terhadap pemberian
antibiotik, mungkin perlu dilakukan pembedahan. Pasangan seksual penderita sebaiknya juga
menjalani pengobatan secara bersamaan dan selama menjalani pengobatan jika melakukan
hubungan seksual, pasangan penderita sebaiknya menggunakan kondom.
71.
ABORTUS SPONTAN KOMPLIT
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan
tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup diluar kandungan.
Abortus spontan Adalah terminasi kehamilan sebelum periode viabilitas janin atau sebelum
gestasi minggu ke 20 atau berat badan 500 gram. Abortus komplit adalah perdarahan pada
kehamilan muda dimana seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan dari kavum uteri.
Jenis Abortus:
1. Abortus spontan dibagi menjadi: abortus imminens, abortus insipiens, abortus inkomplit,
abortus komplit
2. Abortus Infeksiosa
3. Missed Abortion (Retensi Janin Mati)
4. Abortus Habitualis
Penyebab abortus, meliputi: kelainan hasil pertumbuhan konsepsi, kelainan pada plasenta,
penyakit ibu (seperti seperti pnemonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria ), kelainan traktus
genitalia.
Gejala Klinis
Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup dan uterus sudah
banyak mengecil. Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa dan dapat
dinyatakan bahwa semua sudah keluar dengan lengkap.
Terapi
1) Apabila kondisi pasien baik, cukup diberi tablet Ergometrin 3x1 tablet perhari untuk 3 hari.
2) Pasien mengalami anemia sedang, berikan tablet Sulfas Ferosus 600 mg per hari selama 2
minggu disertai dengan anjuran mengkonsumsi makanan bergizi (susu, sayuran segar, ikan,
daging, telur). Untuk anemia berat, berikan tranfusi darah.
3) Apabila tidak terdapat tanda-tanda infeksi tidak perlu diberi antibiotika, atau bila kawatir
akan infeksi dapat diberi antibiotika profilaksis
4) Anjurkan pasien diet tinggi protein, vitamin dan mineral.
72.
ANEMIA DEEFISIENSI BESI PADA KEHAMILAN
Anemia pada wanita hamil didefinisikan sebagai kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dl pada
trimester pertama dan ketiga, dan kurang dari 10,5 g/dl pada trimester kedua (Suheimi, 2007).
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh,
sehingga kebutuhan zat besi (Fe) untuk eritropoesis tidak cukup, yang ditandai dengan gambaran
sel darah merah hipokrom-mikrositer, kadar besi serum (Serum Iron = SI) dan jenuh transferin
menurun, kapasitas ikat besi total (Total Iron Binding Capacity/TIBC) meninggi dan cadangan
besi dalam sumsum tulang serta ditempat yang lain sangat kurang atau tidak ada sama sekali.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya anemia defisiensi besi, antara lain, kurangnya
asupan zat besi dan protein dari makanan, adanya gangguan absorbsi diusus, perdarahan akut
maupun kronis, dan meningkatnya kebutuhan zat besi seperti pada wanita hamil, masa
pertumbuhan, dan masa penyembuhan dari penyakit.
Penyebab anemia defisiensi besi pada kehamilan, yaitu :
1. Hipervolemia, menyebabkan terjadinya pengenceran darah
2. Pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma
3. Kurangnya zat besi dalam makanan
4. Kebutuhan zat besi meningkat
5. Gangguan pencernaan dan absorbsi
Pada ibu hamil, beberapa faktor risiko yang berperan dalam meningkatkan prevalensi anemia
defisiensi zat besi, antara lain: umur ibu < 20 tahun dan > 35 tahun, pendidikan rendah, pekerja
berat, konsumsi tablet tambah darah < 90 butir, makan < 3 kali dan kurang mengandung zat besi
Gejala Klinis
Gejala anemia pada kehamilan yaitu: ibu mengeluh cepat lelah, sering pusing, palpitasi, mata
berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang, nafas
pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda, perubahan
jaringan epitel kuku, gangguan sistem neurumuskular, disphagia dan pembesaran kelenjar limpa
Nilai ambang batas yang digunakan untuk menentukan status anemia ibu hamil, didasarkan pada
criteria WHO tahun 1972 yang ditetapkan dalam 3 kategori, yaitu normal (≥11 gr/dl), anemia
ringan (8-11 g/dl), dan anemia berat (kurang dari 8 g/dl). Dampak anemia pada kehamilan
bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan
abortus, partus imatur/prematur), gangguan proses persalinan (inertia, atonia, partus lama,
perdarahan atonis), gangguan pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infek¬si
dan stress kurang, produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas,
mikrosomi, BBLR, kematian perinatal, dan lain-lain)
Terapi
Pengobatan anemia biasanya dengan pemberian tambahan zat besi. Sebagian besar tablet zat besi
mengandung ferosulfat, besi glukonat atau suatu polisakarida. Dosis yang dianjurkan dalam satu
hari adalah dua tablet (satu tablet mengandung 60 mg Fe dan 200 mg asam folat) yang dimakan
selama paruh kedua kehamilan karena pada saat tersebut kebutuhan akan zat besi sangat tinggi
73.
INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) BAGIAN BAWAH
Sistitis adalah infeksi pada kandung kemih. Infeksi kandung kemih umumnya terjadi pada wanita,
terutama pada masa reproduktif. Beberapa wanita menderita infeksi kandung kemih secara
berulang.
Penyebab
E.coli (organisme paling sering, pada 80 – 90% kasus); Juga Klebsiella, Pseudomonas, grup B
Streptococcus dan Proteus mirabilis
Gejala Klinis
Infeksi kandung kemih biasanya menyebabkan desakan untuk buang air kecil dan rasa terbakar
atau nyeri selama buang air kecil, nyeri biasanya dirasakan di atas tulang kemaluan dan sering
juga dirasakan di punggung sebelah bawah. Gejala lainnya adalah nokturia (sering buang air kecil
di malam hari), urin tampak berawan dan mengandung darah. Kadang infeksi kandung kemih
tidak menimbulkan gejala dan diketahui pada saat pemeriksaan urin. Sistitis tanpa gejala terutama
sering terjadi pada usia lanjut, yang bisa menderita inkontinensia uri sebagai akibatnya.
Terapi
Pada usia lanjut, infeksi tanpa gejala biasanya tidak memerlukan pengobatan.Untuk sistitis r
ingan, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah minum banyak cairan. Pemberian antibiotik
peroral seperti kotrimoksazol atau siprofloksasin selama 5 hari biasanya efektif, selama belum
timbul komplikasi. Jika infeksinya kebal, biasanya antibiotik diberikan selama 7 – 10 hari.Untuk
meringankan kejang otot bisa diberikan atropin. Gejalanya seringkali bisa dikurangi dengan
membuat suasana urin menjadi basa, yaitu dengan meminum baking soda yang dilarutkan dalam
air. Pembedahan dilakukan untuk mengatasi penyumbatan pada aliran kemih (uropati obstruktif)
atau untuk memperbaiki kelainan struktur yang menyebabkan infeksi lebih mudah
terjadi.Biasanya sebelum pembedahan diberikan antibiotik untuk mengurangi resiko penyebaran
infeksi ke seluruh tubuh.
74.
URETRITIS
Uretritis adalah suatu inflamasi uretra atau suatu infeksi yang menyebar naik yang digolongkan
sebagai infeksi gonore dan nongonore.
Uretritis terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Uretritis akut, terjadi karena naiknya infeksi atau sebaliknya oleh karena prostat
mengalami infeksi
2. Uretritis kronis, infeksi ini disebabkan oleh pengobatan yang tidak sempurna pada masa
akut, prostatitis kronik, atau striktur uretra
Penyebab
Uretritis gonore disebabkan oleh Neisseria gonorrheae. Sedangkan, uretritis nongonore
disebabkan oleh Chlamydia trachomatis.
Gejala Klinis
Terdapat cairan eksudat yang purulen, mukosa merah dan edema, ada ulserasi pada uretra, rasa
gatal
Terapi
Antibiotik, antiinflamasi, kemoterapi
75.
KEHAMILAN NORMAL
Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterin mulai sejak konsepsi dan
berakhir sampai permulaan persalinan.
Kehamilan dimulai dari proses pembuahan (konsepsi) sampai sebelum janin lahir.
1. Pembagian Umur Kehamilan
Ditinjau dari tuanya kehamilan, kehamilan dibagi dalam 3 bagian, masing-masing:
•
Kehamilan triwulan pertama (antara 0 sampai 12 minggu)
•
Kehamilan triwulan kedua (antara 12 sampai 28 minggu)
•
Kehamilan triwulan terakhir (antara 28 sampai 40 minggu) (Hanifa W, 2005)
2. Gambaran Kehamilan Normal
Gambaran dari kategori diagnosis kehamilan normal adalah:
•
Ibu sehat
•
Tidak ada riwayat obstetri buruk
•
Ukuran uterus sama atau sesuai usia kehamilan
•
Pemeriksaan fisik dan laboratorium normal
Tanda Bahaya Kehamilan
Beberapa tanda bahaya dalam kehamilan yang perlu diwaspadai karena dapat membahayakan
saat hamil dan meningkatkan bahaya terhadap bayi, yaitu:
1. Terjadi perdarahan pervaginam.
Terjadi pengeluaran abnormal, yaitu darah pervaginam, cairan yang cukup banyak, dan darah
bercampur lendir. Perdarahan seperti haid atau lebih banyak lagi, ibu dan janin dalam bahaya
yang mungkin merenggut nyawa mereka.
Perdarahan setelah usia 20 minggu disebut juga hemoragia ante partum (HAP). Dapat disebabkan
oleh plasenta yang menutupi jalan lahir (placentae praevia), plasenta yang terlepas dari tempat
melekatnya pada dinding rongga rahim (solusio placentae), atau putusnya pembuluh darah pada
daerah selaput ketuban di sekitar mulut rahim (vasa praevia)).
2. Sakit kepala lebih dari biasa.
Sakit kepala di bagian frontalis yang lebih dari biasa merupakan tanda bahaya untuk eklampsia
yang membakat. Ibu mungkin akan mengalami kejang-kejang, janinnya mati, dan perdarahan
yang banyak setelah melahirkan.
3. Gangguan penglihatan.
Ibu merasakan perubahan penglihatan, pandangan menjadi kabur atau melihat bercak di depan
mata. Pada pre-eklampsia tampak edema pada retina, sehingga ditemukan gangguan penglihatan.
4. Pembengkakan pada wajah atau tangan.
Dengan gejala terjadi pembengkakan pada kelopak mata, muka, dan tangan/kaki atau
bertambahnya BB secara abnormal. Sedikit bengkak pada mata kaki dapat terjadi pada
kehamilan normal, namun bengkak pada tangan dan atau wajah merupakan tanda preeklampsi.
Jika ibu sulit melepaskan cincin atau gelang yang biasa dipakainya, serta mata kaki yang bengkak
dan menimbulkan cekungan yang tak cepat hilang bila ditekan, merupakan tanda bengkak yang
tidak normal.
Penimbunan cairan secara umum dan berlebihan dalam jaringan tubuh biasanya dapat diketahui
dari kenaikan berat badan serta pembengkakan pada wajah atau tangan. Hal ini perlu
menimbulkan kewaspadaan terhadap timbulnya pre-eklampsia).
5. Nyeri abdomen (epigastrik).
Nyeri perut pada kehamilan usia 22 minggu atau kurang mungkin gejala utama pada kehamilan
ektopik atau abortus. Jika ibu mengeluh nyeri abdomen pada kehamilan lebih dari 22 minggu
kemungkinan persalinan preterm, solusio plasenta, atau amnionitis. Nyeri perut bawah secara
terus-menerus, yang kadang-kadang menjalar ke samping atau ke punggung yang tidak berkurang
dengan istirahat, mungkin hal ini disebabkan oleh infeksi kandung kencing, yang dapat
menyebabkan persalinan sebelum waktunya.
6. Janin tidak bergerak sebanyak biasanya.
Jika ibu merasakan gerakan janin berkurang atau hilang sesudah kehamilan 22 minggu diagnosis
kemungkinannya adalah solusio plasenta dan gawat janin. Janin berkurang geraknya, janin
mungkin kekurangan oksigen atau makanan dari ibunya, sehingga menjadi lemah atau bahkan
tewas.
Bila ditemukan satu atau lebih tanda bahaya tersebut, jelaskan kepada ibu dan keluarganya bahwa
keadaan itu mudah menimbulkan kegawatdaruratan. Anjurkan agar ibu segera dibawa ke rumah
sakit atautempat-tempat pelayanan kesehatan lainnya, untuk mencegah kejadian yang tak
diinginkan.
76. RUPTUR PERINEUM TINGKAT 1/2
Ruptur adalah robekan atau koyaknya jaringan secara paksa. Perineum adalah bagian
yang terletak antara vulva dan anus panjangnya rata-rata 4 cm. Ruptur perineum adalah robekan
yang terjadi pada perineum sewaktu persalinan.
a. Etiologi
Robekan pada perineum umumnya terjadi pada persalinan. Penyebab ruptur perineum
dapat berasal dari faktor ibu, janin, persalinan pervaginam atau penolong persalinan. Perlukaan
jalan lahir paling sering disebabkan oleh hal berikut ini:
- persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya
- perineum kaku/banyak jaringan parut
- kepala janin terlalu cepat lahir
- persalinan distosia bahu
- partus pervaginam dengan tindakan (ekstraksi vakum, forceps, embriotomi)
b. Diagnosis
Tindakan colok dubur dan pemaparan yang baik sangat membantu untuk mendiagnosis
derajat robekan perineum yang terjadi. Derajat robekan perineum akut pasca persalinan dibagi
menjadi 4 derajat :
1. Tingkat I
: robekan hanya mengenai mukosa vagina dan kulit perineum
2. Tingkat II : robekan yang lebih dalam mencapai otot-otot perineum tetapi tidak melibatkan
otot-otot sfingter ani
3. Tingkat III : robekan sudah melibatkan otot sfingter ani
- IIIa : mengenai <50% ketebalan otot sfingter ani eksterna
- IIIb : mengenai >50% ketebalan otot sfingter ani eksterna
- IIIc : mengenai otot sfingter ani interna
4. Tingkat IV : robekan sampai ke mukosa anus
c. Penatalaksanaan
Penanganan ruptur perineum diantaranya dapat dilakukan dengan cara melakukan
penjahitan luka lapis demi lapis dan memperhatikan jangan sampai terjadi ruang kosong terbuka
ke arah vagiana. Prinsip penanganan/repair pada ruptur perineum :
- Ruptur perineum tingkat I tidak perlu dijahit jika tidak ada perdarahan dan aposisi luka baik
- Pada ruptur perineum tingkat II/III, jika sebelum penjahitan dijumpai pinggir yang tidak rata
atau bergerigi sebaiknya diratakan terlebih dahulu dengan gunting.
- Ruptur perineum tingkat IV dirujuk ke fasilitas dan tenaga yang memadai atau pada trauma
yang sulit yang membutuhkan operator yang lebih berpengalaman dalam anestesi umum
maupun regional di kamar operasi
- Tanyakan pada orang yang lebih berpengalaman bila ragu dalam menentukan struktur jaringan
yang terlibat
- Jahit secepat mungkin untuk mengurangi resiko perdarahan dan infeksi
- Lakukan penjahitan sesuai anatomi awal untuk mendapatkan hasil kosmetik yang baik
- Lakukan pemeriksaan rekctal touche setelah penjahitan
- Dapat diberikan analgetik, antibiotik
- Dapat juga diberikan laksatif atau pencahar untuk mencegah terjadinya konstipasi yang dapat
menyebabkan lepasnya jahitan
77. ABSES FOLIKEL RAMBUT ATAU KELENJAR SEBASEA
Abses adalah peradangan purulenta yang juga melebur ke dalam suatu rongga (rongga
abses) yang sebelumnya tidak ada, berbatas tegas. Abses pada folikel rambut disebut furunkel.
a. Etiologi
Furunkel paling sering disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococcus aureus. Akan
tetapi bisa juga disebabkan oleh bakteri lainnya atau jamur.
b. Diagnosis
Adapun gejala klinis dari furunkel, yaitu :
- muncul tonjolan nyeri, berbentuk halus, berbentuk kubah dan berwarna merah di sekitarnya
- ukuran tonjolan meningkat dalam beberapa hari dan dapat mencapai 3-10 cm atau bahkan
lebih
- demam dan malaise sering muncul dan pasien tampak sakit berat
- jika pecah spontan atau disengaja, akan mengering dan membentuk lubang yang kuning
keabuan pada bagian tengah dan sembuh perlahan dengan granulasi
- waktu penyembuhan kurang lebih 2 minggu
- paling sering ditemukan di daerah tengkuk, axial,paha dan bokong
- akan terasa sangat nyeri jika timbul di daerah sekitar hidung, telinga atau jari-jari tangan
c. Penatalaksanaan
1. Pengobatan topikal
- bila lesi masih basah/kotor dikompres dengan NaCL 0,9% atau Rivanol 0,1%
- bila lesi telah bersih, diberikan Neotricin oinment (Basitrasin dan Polimiksin B) atau
Framisitin Sulfat kasa steril
2. Pengobatan sistemik, yaitu dengan pemberian antibiotik selama 7-10 hari. Antibiotik yang
dapat digunakan adalah golongan Penisilin, Eritromisin atau Linkomisin.
78. MASTITIS
Mastitis adalah peradangan payudara, yang dapat disertai atau tidak disertai infeksi.
Penyakit ini biasanya menyertai laktasi. Mastitis infeksi dapat terjadi ketika bakteri memasuki
payudara sementara menyusui.
a. Etiologi
Berikut ini adalah penyebab utama terjadinya mastitis, yaitu stasis ASI dan infeksi.
1. Stasis ASI
Stasis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara. Hal ini dapat
terjadi bila payudara terbendung segera setelah melahirkan atau saat bayi tidak mengisap ASI,
yang dihasilkan oleh sebagian atau seluruh payudara. Penyebabnya termasuk pengisapan bayi
yang buruk pada payudara, pengisapan yang tidak efektif, pembatasan frekuensi atau durasi
menyusui dan sumbatan pada saluran ASI. Situasi lain yang menjadi predisposisi stasis ASI
adalah suplai ASI berlebihan, atau menyusui untuk kembar dua atau lebih.
2. Infeksi
Organisme yang paling sering ditemukan pada mastitis dan abses payudara adalah organisme
koagulase positif Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus, kadang-kadang ditemukan
Escherichia coli dan Streptococcus, dan organisme infeksi streptokokal neonatus ditemukan pada
sedikit kasus.Bagaimana bakteri penyebab infeksi memasuki payudara belum diketahui. Beberapa
jalur diduga, yaitu melalui duktus laktiferus ke dalam lobus, dengan penyebaran hematogen dan
melalui fisura puting susu ke dalam sistem limfatik periduktal.
b. Diagnosis
Diagnosis mastitis berdasarkan anamnesis mengenai gejala yang dialami, riwayat
sebelumnya dan pemeriksaan fisik. Tanda yang cukup jelas ditemukan adalah adanya bentuk
prisma segitiga tidak beraturan pada payudara dan sakit bila disentuh. Berikut ini gejala
terjadinya mastitis :
- bengkak, nyeri seluruh payudara atau nyeri lokal
- kemerahan pada seluruh payudara/hanya lokal
- payudara keras dan berbenjol-benjol
- permukaan kulit dari payudara yang terkena infeksi juga tampak seperti pecah-pecah
- badan demam seperti terserang flu
- mengigil (demam malaise)
- nyeri tekan pada payudara
- bila sudah masuk tahap abses, gejalanya:
• nyeri bertambah hebat
• kulit di atas abses mengkilap
• suhu tubuh meningkat
• bayi sendiri tidak mau minum pada payudara
Jika diagnosis sulit, belum pasti atau terjadi mastitis rekuren dapat dilakukan pemeriksaan
tambahan seperti kultur ASI, biopsi, ultrasound payudara dan mammogram atau x-ray.
c. Penatalaksanaan
1. Konseling suportif
Tujuannya adalah untuk memberikan dukungan emosional. Ibu harus diyakinkan kembali
tentang menyusui yang aman untuk diteruskan, bahwa ASI dari payudara yang terkena tidak akan
membahayakan bayinya dan bahwa payudaranya akan pulih baik bentuk maupun fungsinya.
2. Pengeluaran ASI dengan efektif
Hal ini merupakan bagian terapi terpenting. Hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
- bantu ibu memperbaiki pengisapan bayi pada payudara
- dorong untuk sering menyusui, sesering dan selama bayi menghendaki, tanpa pembatasan
- bila perlu peras ASI dengan tangan atau dengan pompa atau botol panas, sampai menyusui
dapat dimulai lagi
3. Terapi antibiotik
Terapi antibiotik diindikasikan pada:
- hasil hitung sel dan koloni bakteri dan biakan menunjukkan infeksi
- gejala berat sejak awal
- terlihat puting pecah-pecah
- gejala tidak membaik setelah 12-24 jam setelah pengeluaran ASI diperbaiki
Jika memungkinkan, ASI dari payudara yang sakit sebaiknya dikultur. Antibiotik yang dapat
digunakan adalah amoksisilin, eritromisin, sefaleksin. Antibiotik dianjurkan diberikan dalam
jangka panjang, yaitu 10-14 hari.
4. Terapi simtomatik
- Nyeri sebaiknya diterapi dengan analgetik. Ibuprofen dipertimbangkan sebagai obat yang
paling efektif untuk membantu mengurangi inflamasi dan nyeri. Paracetamol adalah
alternatif yang paling efektif.
- penggunaan kompres hangat pada payudara
79. CRACKED NIPPLE
Cracked nipple atau puting susu lecet dapat disebabkan trauma pada puting susu saat
menyusui, yang dapat terjadi pula retak dan pembentukan celah-celah. Retakan pada puting susu
bisa sembuh sendiri dalam waktu 48jam.
a. Penyebab
Penyebab terjadinya puting susu lecet adalah sebagai berikut :
- teknik menyusui yang kurang tepat
- pembengkakan payudara
- iritasi bahan kimia, misalnya sabun, krim, alkohol atau zat iritan lain saat ibu membersihkan
puting susu
- moniliasis (infeksi jamur) pada mulut bayi yang menular pada puting susu ibu
- cara menghentikan menyusui yang kurang tepat
b. Penatalaksanaan
Penanganan yang dapat dilakukan pada cracked nipple adalah sebagai berikut :
- cari penyebab puting susu lecet
- bayi disusukan lebih dulu pada puting susu yang normal atau yang lecetnya sedikit
- menyusui lebih sering (8-12 kali dalam 24 jam)
- posisi bayi sewaktu menyusu harus baik
- hindari pembengkakan payudara dengan lebih seringnya bayi disusui, atau mengeluarkan air
susu dengan urutan (massage)
- keluarkan sedikit ASI dan oleskan ke puting yang lecet dan biarkan kering
- payudara dianginkan di udara terbuka
- jika penyebabnya monilia, maka diberi pengobatan infeksi jamur, seperti nystatin
- untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan analgetik
80. INVERTED NIPPLE
Inverted nipple adalah suatu keadaan dimana puting susu yang tidak dapat menonjol dan
cenderung ke dalam, sehingga ASI tidak dapat keluar dengan lancar.
a. Etiologi
Inverted nipple dapat disebabkan oleh berbagai macam keadaan seperti di bawah ini.
1. Penyebab yang sering terjadi
- Faktor menyusui
 penyusuan yang tertunda
 perlekatan yang tidak baik
 penyusuan yang jarang atau dilakukan dalam waktu singkat
 tidak menyusui pada malam hari
 pemberian botol atau empeng
 pemberian minuman lain selain ASI
- Faktor psikologis ibu
 kurang percaya diri
 ibu khawatir/terlalu stres
 ibu terlalu lelah
 ibu tidak suka menyusui
 ibu mengalami baby blues
2. Penyebab yang jarang terjadi
- Kondisi fisik ibu
 penggunaan pil kontrasepsi, obat diuretik
 kehamilan berikutnya semasa menyusui
 kekurangan gizi yang cukup berat
 ibu mengkonsumsi alkohol, merokok
 tersisanya jaringan plasenta dalam rahim
 payudara yang kurang berkembang
- Kondisi bayi
 bayi sakit
 bayi memiliki kelainan, seperti bibir sumbing
b. Perawatan Inverted Nipple
Adapun hal-hal yang dapat dilakukan pada keadaan terjadinya inverted nipple yaitu :
1. Menggunakan alat suntik
Hal ini dilakukan dengan memotong bagian ujung alat suntik dengan pisau kemudian
masukkan alat penghisap dari ujung yang terpotong dan kemudian ibu menarik alat penghisap
secara perlahan.
2. Memerah ASI
- letakkan jari dan ibu jari di tiap sisi areola dan tekan ke dalam ke arah dinding dada
- tekan di belakang puting dan areola diantara ibu jari dan jari telunjuk
- tekan dari samping untuk mengosongkan semua bagian
3. Menggunakan pompa payudara
- pasang batang penghisap di dalam silinder bagian luar
- pastikan bahwa tutup karetnya dalamkondisi baik
- pasang corong pada puting
- pastikan seluruh keliling corong menyentuh kulit
- tarik silinder luar ke bawah, puting akan tersedot ke dalam corong
- kembalikan silinder luar ke posisi semula, dan kemudian tarik ke bawah lagi
c. Cara Menyusui dengan Inverted Nipple
1. bila hanya satu putingyang terkena, maka bayi pertama-tama disusukan pada puting yang
normal
2. kompres dingin pada puting susu yang datar/terbenam sebelum menyusui
3. jika dengan semua cara di atas tidak dapat dikoreksi, maka ASI dikeluarkan dengan tangan
atau pompa kemudian diberikan dengan sendok atau pipet
4. biarkan bayi menghisap dengan kuat pada posisi menyusui yang benar sehingga akan
memacu peregangan puting
81. DIABETES MELITUS TIPE 1
82. DIABETES MELITUS TIPE 2
Diabetes melitus adalah suatu penyakit gangguan metabolik menahun yang ditandai oleh
kadar gula darah yang melebihi nilai normal (hiperglikemia)karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin atau keduanya.
1. Diabetes Melitus tipe 1 adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh keniakan
kadar gula darah akibat destruksi (kerusakan) sel beta pankreas karena suatu sebab tertentu
yang menyebabkan produksi insulin tidak ada sama sekali sehingga pasien sangat memerlukan
tambahan insulin dariluar.
2. Diabetes Melitus tipe 2 adalah penyakit gangguanmetabolik yang ditandai oleh kenaikan kadar
gula darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan atau fungsi insulin
(resistensi insulin).
a. Penyebab
Kekurangan hormon insulin, yang berfungsi memanfaatkan glukosa sebagai sumber
energi dan mensintesa lemak. Insufisiensi fungsi insulin yang disebabkanoleh gangguan atau
defisiensi produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh
kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin.
b. Diagnosis
Diagnosis diabetes melitus dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis yaitu keluhan pasien
serta dipastikan dengan reduksi urin dan penentuan kadar gula darah.
1. Keluhan klasik, berupa sering kencing (poliuria), sering haus (polidipsia), cepat lapar
(polifagia) dan berat badan menurun cepat tanpa penyebab yang jelas.
2. Keluhan lainnya, berupa kesemutan, gatal di daerah alat kelamin, keputihan, infeksi sulit
sembuh, bisul yang hilang timbul,penglihatankabur, cepat lelah dan mudah mengantuk.
3. Bila kadar glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dL
4. glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dL
5. Pada Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) didapatkanhasil pemeriksaan kadar gula darah 2
jam ≥ 200 mg/dL sesudah pemberian glukosa 75 gr.
c. Penatalaksanaan
Pilar penatalaksanaan diabetes melitus adalah sebagai berikut
1. Edukasi
- pengertian diabetes melitus
- perencanaan makanan
- bentuk aktivitas fisik yang dianjurkan
- pemeliharaan kaki
- DM di bulan Ramadhan
- obat untuk mengendalikan kadar gula darah
- pemantauan gula darah
- komplikasi DM
2. Terapi gizi medis
Perencanaan makanan sebaiknya melakukan rujukan untuk mendapatkan perencanaan
makan yang sesuai dengan kebutuhan pasien.
- makanan dianjurkan seimbang dengan komposisi energi dari karbohidrat 45-65%, protein 1015% dan lemak 20-25%
- prinsip :
• anjuran makan seimbang seperti makan sehat pada umumnya
• tidak ada makanan yang dilarang, hanya dibatasi sesuai kebutuhan kalori (tidak berlebih)
• menu sama dengan menu keluarga
• teratur dalam jadwal, jumlah dan jenis makanan
3. Aktivitas fisik/latihan jasmani
Aktivitas fisik seperti berjalan kaki ke pasar, berkebun, menggunakan tangga dan lainlain. Latihan jasmani seperti bersepeda santai, berjalan kaki, jogging dan berenang, dilakukan 3-4
kali seminggu selama kurang lebih 30-60 menit.
4. Pengobatan
Apabila kadar gula darah belummencapai sasaran, diberikan obat hipoglikemik oral (OHO)
secara tunggal atau kombinasi. Pemberian OHO untuk pengobatan jangka pendek dan jangka
panjang dapat dilakukan di Puskesmas.
• Diabetes Melitus Tipe 2
- Lini 1: Biguanid yaitu metformin 500 mg tiap 8-24 jam bersama atau sesudah makan
- Lini 2: Sulfonilurea yaitu glibenklamid, dimulai dengan dosis 2,5 mg tiap 12-24 jam
sebelum makan,lalu dinaikkan secara bertahap maksimal 10 mg/hari
- Lini 3: kombinasi metformin dan glibenklamid, diberikan secara bertahap
- Lini 4: insulin
• Diabetes Melitus Tipe 1
Pada dugaan DM Tipe-1 pasien harus segera rawat inap. Selalu dengan insulin, tidak
dianjurkan diberikan OHO.
- insulin kerja cepat (rapid acting)
- insulin kerja pendek (short acting)
- insulin kerja menengah (intermediate)
- insulin kerja panjang (long acting)
83. HIPOGLIKEMIA RINGAN
Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah (glukosa) di bawah normal,
yaitu kadar glukosa darah < 60 mg/dl atau < 80mg/dl dengan gejala klinis. Dalam keadaan
normal, tubuh mempertahankan kadar gula darah antara 70-110 mg/dl. Hipoglikemia
diklasifikasikan ringan jika simtomatik, dapat diatasi sendiri, tidak ada gangguan aktivitas seharihari yang nyata.
a. Diagnosis
Secara umum, gejala dan tanda klinis hipoglikemia adalah sebagai berikut :
- lapar, gemetar
- keringat dingin, berdebar
- pusing, gelisah, dan akhirnya bisa koma
Diagnosis hipoglikemia dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
1. Anamnesis
- penggunaan preparat insulin atau obat hipoglikemik oral: dosis terakhir, waktu pemakaian
terakhir, perubahan dosis
- waktu makan terakhir, jumlah asupan gizi
- riwayat jenis pengobatan dan dosis sebelumnya
- jika ada DM: lama menderita DM, komplikasi DM
- penyakit penyerta : ginjal, hati dan lain-lain
- penggunaan obat sistemik lainnya : penghambat ß-adrenergik dan lain-lain
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik ditemukan pucat, diaphoresis, tekanan darah, frekuensi denyut jantung
meingkat, penurunan kesadaran
3. Pemeriksaan penunjang
Hal yang paling penting adalah pemeriksaan gula darah sewaktu
Trias Whipple untuk hipoglikemia secara umum :
1. gejala yang konsisten dengan hipoglikemia
2. kadar glukosa plasma yang rendah
3. redanya gejala hipoglikemia setelah kadar glukosa plasma meningkat
b. Penatalaksanaan
- berikan gula murni 30 gr (2 sendok makan) atau sirop/permen atau gula murni (bukan
pemanis pengganti gula atau gula diit/gula diabetes) dan makanan yang mengandung
karbohidrat
- hentikan obat hipoglikemik sementara
- pantau glukosa darah tiap 1-2 jam
- pertahankan glukosa darah sekitar 200 mg/dl (bila sebelumnya tidak sadar)
- cari penyebab
84. MALNUTRISI ENERGI-PROTEIN
Malnutrisi energi protein (MEP) adalah penyakit akibat kekurangan energi dan protein,
umumnya disertai defisiensi nutrien lain. MEP merupakan salah satu dari empat masalah gizi
utama diIndonesia. Berdasarkan lama dan beratnya kekurangan energi dan protein, MEP
diklasifikasikan menjadi derajat ringan-sedang (gizi kurang) dan MEP derajat berat (gizi buruk).
Pada gizi buruk didapatkan 3 bentuk klinis, yaitu kwashiorkor, marasmus dan marasmikkwashiorkor.
a. Penyebab
1. Pola makan, yaitu kurangnya asupan makanan dalam hal kualitas dan kuantitas serta adanya
kebutuhan atau keluaran energi yang berlebihan
2. Faktor ekonomi, yaitu kemiskinan keluarga/penghasilan yang rendah yang tidak dapat
memenuhi kebutuhan
3. Faktor infeksi dan penyakit lainnya, infeksi derajat apapun dapat memperburuk MEP dan
begitu juga sebaliknya, MEP dapat menurunkan imunitas tubuh terhadap infeksi.
b. Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
1. Anamnesis
- keluhan pertumbuhan yang kurang, anak kurus atau berat badannya kurang
- anak kurang/tidak mau makan
- sering menderita sakit yang berulang
- timbul bengkak pada kedua kaki, kadang sampai seluruh tubuh
2. Pemeriksaan Fisik
- MEP Ringan
• anak tampak kurus
• pertumbuhan linier berkurang atau terhenti
• berat badan tidak bertambah, adakalanya bahkan turun
• ukuran lingkar lengan atas lebih kecil dari normal
• maturasi tulang terhambat
• rasio berat badan terhadap tinggi badan normal/menurun
• tebal lipatan kulit normal atau berkurang
• anemia ringan
• aktivitas dan perhatian berkurang jika dibandingkan dengan anak sehat
- MEP Berat
•
Kwashiorkor
• perubahan mental sampai apatis
• anemia
• perubahan warna dan tekstur rambut, mudah dicabut/rontok
• gangguan sistem gastrointestinal
• hepatomegali
• perubahan kulit (dermatosis)
• atrofi otot
• edema simetris pada kedua punggung kaki dapat sampai seluruh tubuh
•
Marasmus
• penampilan wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus
• perubahan mental,cengeng
• kulit kering, dingin dan mengendor,keriput
• lemak subkutan menghilang
c. Penatalaksanaan
- Pada MEP ringan-sedang, pasien tidak perlu dirawat, hanya dilakukan identifikasi penyebab,
diberikan penyuluhan dan suplementasi
- Kriteria perawatan di RS
• MEP berat
• BB sangat rendah, yaitu BB/TB < 70%, BB/U <60%, atau BB/U >60% + edema
• edema
• dehidrasi berat, ditandai dengan lemas, apatis sampai tidaksadar, nadi cepat dan lemah,
tidak ada air mata, mata dan UUB cekung, mukosa mulutkering, kulit pucat, dingin, turgor
menurun serta diuresis berkurang atau tidak ada
• diare persisten dan/atau muntah
• sangat pucat,hipotermia, syok
• tanda infeksi sistemik.lokal
• anemia berat (Hb < 5 g/dl)
• ikterus
• tidak nafsu makan
• usia < 1 tahun
- 10 langkah utama penatalaksanaan MEP
• atasi/cegah hipoglikemia
• atasi/cegah hipotermia
• atasi/cegah dehidrasi
• perbaiki gangguan elektrolit
• obati infeksi
• perbaiki defisiensi nutrien mikro
• beri diet awal
• beri diet target kejar
• beri stimulasi
• siapkan tindak lanjut
85. DEFISIENSI VITAMIN
Vitamin adalah senyawaorganikyang diperlukan tubuh dalam jumlah sangat sedikit dan
harus disuplai dari makanan karena tubuh tidak dapat mensintesisnya. Vitamin dibagi menjadi
2 golongan, yaitu:
1. Vitamin larut air (grup vitamin B dan vitaminC)
2. Vitamin larut lemak (vitamin A,D,E,K)
Vitamin larut air
Jenis Vitamin
Vitamin B1
(Tiamin)
Gejala Defisiensi
Penatalaksanaan
Tiamin HCl (vit.B1)
Neuritis, insufisiensi
dosis 2-5 mg/hari
jantung,konstipasi dan nafsu
(pencegahan) dan 5-
makan berkurang
10 mg/hari 3x sehari
Sakit tenggorokan, radang di
Vitamin B2
sudut mulut (stomatitis
(Riboflavin)
angularis), keilosis, glositis, lidah
berwarna merah dan licin
(pengobatan)
- Riboflavin diberikan
bersama vitamin
lainnya
- dosis pengobatan 5-10
mg/hari
-Keadaan akut, tablet
niasin 50mg diberikan
Asam Nikotinat Pellagra, yaitu kelainan pada
sampai 10xsehari,
(Niasin)
atau
kulit, saluran cerna dan SSP
- Niasin IV 25 mg 2-3x
sehari
- Kelainan kulit, berupa
dermatitis seboroik dan
Vitamin B6
(Piridoksin)
peradangan pada selaput lendir,
mulut dan lidah
- kelainan SSP berupda
peradangan sampai kejang
- anemia hipokrom mikrositik
Pada manusia, tidak pernah
ditemukan adanya sindrom
defisiensi vitamin ini dan
Asam
diperkirakan karena hampir
pantotenat
dalam setiap jenis makanan
ditemukan ini dan karena jumlah
kecil mungkin dapat disintesis
Biotin
dalam tubuh
Dermatitis, sakit otot, rasa lemah,
- Untuk mencegah dan
mengobati defisiensi
diberikan bersama
vitamin B lainnya
anoreksia, anemia ringan
Kolin
Inositol
LD50 200-400 g
Gangguan pertumbuhan,
alopesia, gangguan laktasi
Malaise, mudah
Vitamin C
tersinggung,gangguan emosi,
pemberian sayuran atau
(Asam
artralgia,hiperkeratosis folikel
buah-buahan segar
askorbat)
rambut, perdarahan hidung,
(pencegahan)
petechiae
Vitamin Larut Lemak
Jenis Vitamin
Gejala Defisiensi
Penatalaksanaan
- pada anak diberikan
secara suntikan
100.000U untuk satu
kali pemberian dan
Gangguan pada mata berupa
dilanjutkan pemberian
xeroftalmia, timbulnya bercak
oral
Vitamin A
Bitot, keratomalasia dan
- dosis oral pada dewasa
(Retinol)
akhirnya kebutaan, rabun senja,
dan anak > 8 tahun
pertumbuhan terhambat, kulit
100.000 IU/hari selama
bersisik
3 hari diikuti 50.000
IU/hari selama 2
minggu dilanjutkan
dengan 10.000-20.000
Vitamin D
(Kalsiferol)
- pada bayi, anak dapat
IU/hari untuk 2 bulan
- Pada rakitis, dosis 1000
gangguan pertumbuhan
unit/hari 10 hari-3
(penyakit rakitis)
minggu
- deformitas tulang seperti
- hipoparatiroidisme
kifosis, skoliosis, tulang
50.000-250.000 U
tasbeh pada dada, kraniotabes
(dosis penunjang)
pada anak < 1 tahun, genu
- Tambahan vitamin D
varus atau genu valgus pada
anak yang sudah dapat
berjalan
pada ibu hamil dan
orang tua 400 IU/hari
Tablet/kapsul 30-1000IU
atau larutan suntikan 100
atau 200 IU/ml
diindikasikan pada
Vitamin E
(Tokoferol)
Kerusakan membran sel,
keadaan defisiensi yang
gangguan pertumbuhan,
dapat terlihat dari kadar
keguguran, gangguan absorpsi
serum yang rendah atau
misalnya steatore,obstruksi
pada byiprematur dengan
biliaris dan penyakit pankreas
berat badan rendah,
penderita sindrom
malabsorpsi dan steatore
dan penyakit dengan
gangguan absorpsi lemak
- pada bayi baru lahir
0,5-1 mg IM/IV segera
setelah bayi lahir
(pencegahan)
- bayi prematur atau bayi
Vitamin K
(Fitonadion)
Hipoprotrombinemia dan
menurunnya kadar beberapa
faktor pembekuan darah
aterm yang dilahirkan
dengan forceps atau
ekstraksi vakum 2,5
mg untuk 3 hari
berturut-turut
- pengobatan perdarahan
pada bayi 1 mg IM/IV
dan bilaperlu diulangi
setelah 8 jam
86. DEFISIENSI MINERAL
Mineral dibagi menjadi 2, yaitu sebagai berikut:
1. Makromineral, yaitu mineral yang diperlukan tubuh dalam jumlah > 100 mg/hari. Contoh:
Ca,P, Na, K, Cl, Mg
2. Mikromineral (unsur renik) mineral yang diperlukan tubuh dalam jumlah < 100 mg/hari.
Contoh: Cr, Co, Cu, I, Fe, Mn, Mo, Se, Si, Zn, F
Jenis Mineral
Calcium (Ca)
Defisiensi
Rakitis, osteomalacia,
osteoporosis, kelainan tulang
rusuk, nyeri otot tulang dan kram
Kramotot, sering merasa lelah,
Sumber
Susu,kacang-kacangan,
sayuran
kehilangan nafsu makan, daya
ingat menurun, bercak-bercak
Natrium (Na)
putih di kuku, gangguan
penglihatan, rambut tidak sehat
Garam dapur, daging,
mentega
dan terbelah ujungnya,gangguan
pada jantung dan ginjal
Pertumbuhan lambat, kaku sendi,
Kalium (K)
Chlorida (Cl)
Iodium (I)
Besi (Fe)
Zinc (Zn)
Phosphorus
Magnesium (Mg)
kelemahan otot, paralisis,
kekacauan mental
Nafsu makan berkurang, tampak
tidak sehat, pertumbuhan lambat
Kretinisme, goiter, hipotiroid,
Sayuran, buah, kacangkacangan
Garam meja, susu,telur
Garam berioudium, ikan
miksedemia
Anemia, edema, kulit keriput dan
laut
Daging, hati, telur,
lembek
Hipogonadisme, kegagalan
bayam, kangkung
pertumbuhan, kegagalan
Daging, kerang,kepiting,
penyembuhan luka, penurunan
lobster, kacang-kacangan,
kemampuan mengecap dan
biji-bijian
mencium
Kekakuan sendi, riketsia,
Susu, kacang-kacangan,
produksi susu sedikit,
Pengontrolan terhadap otot
daging, sayuran
Kacang-kacangan,
hilang, gangguan mental dan otot
sayuran hijau, makanan
hasil laut, sereal
Perdarahan berupa titik kecil di
Copper (Cu)
Seng (Zn)
Flourin (F)
kulit dan aneurisma arterial,
Padi-padian, polong-
anemia, leukopenia,
polongan, kerang, ginjal,
keterbelakangan mental, rambut
hati
kusut
Pertumbuhan terhambat,
Ikan laut, hati, daging,
penyembuhan luka terhambat
Kerusakan karang gigi (caries
dentis)
telur, susu
Kuning telur, susu, otak
87. DISLIPIDEMIA
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan atau
penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kadar
kolesteroltotal, LDL dan trigliserida serta penurunan kadar HDL.
a. Etilogi dan Faktor Resiko
Kadar lipoprotein, terutama LDL, meningkat sejalan dengan bertambahnya usi. Faktor
lain yang menyebabkan tingginya kadar lemak tertentu (VLDL dan LDL) adalah riwayat
keluarga dengan hiperlipidemia, obesitas, diet kaya lemak, kurang melakukan olahraga,
penyalahgunaan alkohol, merokok, diabetes yang tidak terkontrol dengan baik, hipertiroidisme
dan sirosis.
b. Diagnosis
- Kebanyakan pasien adalah asimptomatik selamabertahun-tahun sebelum penyakit jelas secara
klinis. Gejala-gejala yang bisa tampak diantaranya berkeringat, jantung berdebar, nafas pendek
dan cemas.
- Pada anamnesis biasanya didapatkan pasien dengan faktor resiko seperti kegemukan, riwayat
diabetes melitus, konsumsi tinggi lemak, merokok dan faktor resiko lainnya
- Pada pemeriksaan fisik sukar ditemukan kelainan yang spesifik kecuali jika didapatkan
riwayat penyakit yang menjadi faktor resiko dislipidemia dan bila sudah terjadi komplikasi
lebih lanjut seperti penyakit jantung koroner.
- Pemeriksaan laboratorium
Berikut ini kisaran kadar ideal lemak dalamdarah :
• Kolesterol total
: 120-200 mg/dl
• LDL
: 60-160 mg/dl
• HDL
: 35-65 mg/dl
• Perbandingan LDL/HDL : < 3.5 mg/dl
• Trigliserida
: < 200 mg/dl
c. Penatalaksanaan
Pilar utama pengelolaan dislipidemia adalah upaya non-famakologis yang meliputi
modifikasi diet,latihan jasmani serta pengelolaan berat badan.
1. Penatalaksanaan Non-farmakologi
• Terapi nutrisi medis
Terapi diet dimulai dengan menilai pola makan pasien, mengidentifikasi makanan yang
mengandung banyak lemak jenuh dan kolesterol. Selain itu tujuan diet adalah menurunkan
berat badan bila terjadi kegemukan.
• Aktivitas fisik
Setiap melakukan latihan jasmani perlu diikuti 3 tahap, yaitu:
- pemanasan dengan peregangan selama 5-10 menit
- aerobik sampai denyut jantung sasaran 70-85% dari denyut jantung maksimal selama 2030 menit
- pendinginan dengan menurunkan intensitas secara perlahan-lahan selama 5-10 menit
Aktivitas fisik dilakukan sesuai kondisi dan kemampuan pasien agar dapat berlangsung
terus-menerus
2. Penatalaksanaan Farmakologi
• Statin, memiliki efek yang baik terhadap profil lipid secara keseluruhan.
−
simvastatin 20-40 mg/hari atau
−
pravastatin 40 mg/hari
• Fibrat, digunakan terutama untuk menurunkan kadar trigliserida, juga untuk menangani
hiperlipidemia campuran, terutama jika kadar HDL rendah serta dapat ditambahkan pada
terapi statin jika target monoterapi tidak tercapai, dan sebagai alternatif jika pasien tidak
tahan terhadap statin.
• Ezetimib 10 mg/hari, jika dikombinasi dengan statin akan menurunkan kadar LDL serum
20% lagi dibanding dengan statin saja,penurunan kadar trigliserida dan peningkatan HDL.
Kombinasi statin dan ezetimib lebih tepat dibandingkan kombinasi statin dengan fibrat
karena kombinasi fibrat dan statin meningkatkan resiko miopati
88. HIPERURISEMIA
Hiperurisemia adalah konsentrasi monosodium urat dalam plasma yang melebihi batas
kelarutan yaitu lebih dari 7 mg/dl dan disebabkan karena peningkatan produksi atau penurunan
eksresi asam urat. Hiperurisemia berkaitan dengan resiko mengalami penyakit gout.
a. Etiologi
Keadaan patologis pada hiperurisemia terjadi karena adanya penimbunan kristal
mononatrium urat pada jaringan lunak dan persendian. Penimbunan ini terjadi akibat kadar asam
urat darah melewati batas kelarutannya. Berdasarkan penyebabnya hiperurisemia dibagi menjadi
2, yaitu sebagai berikut :
1. Hiperurisemia primer, yang penyebabnya belum diketahui
2. Hiperurisemia sekunder, yang diketahui penyebabnya seperti kelainan glikogen dan ginjal
Kadar asam urat yang tinggi tergantung beberapa faktor antara lain konsumsi makanan
yang tinggi purin, berat badan, jumlah alkohol yang diminum, obat diuretik atau analgetik, faal
ginjal dan volume urin per hari.
b. Diagnosis
Diagnosis hiperurisemia didapatkan dari adanya tanda-tanda hiperurisemia yaitu
terjadinya serangan mendadak pada sendi, terutama sendi ibu jari kaki. Serangan pertama sangat
sakit dan sering dimulai pada pertengahan malam. Sendi menjadi bengkak, panas dan kemerahan.
Meskipun serangan pertama terjadi pada ibu jarikaki, tetapi sendi-sendi yang lain seperti lutut,
tumit, pergelangan tangan dan kaki juga merasa sakit.
Selain dari keluhan di atas, diagnosis hiperurisemia ditunjang dengan pemeriksaan
laboratorium, pemeriksaan cairan sendi atau pemeriksaan radiologi.
c. Penatalaksanaan
1. Pencegahan
- hindari kegemukan
- kurangi asupan makanantinggi protein karena protein mengandung purin yang banyak
sehingga dapat menyebabkan kadar asam urat dalam darah meninggi
- banyak minum/tinggi cairan
- hindari latihan fisik berlebihan
- hindari berat badan kurang karena kurangnya kalori menyebabkan adanya keton bodies
yang menyebabkan meningkatnya asamurat darah dan mengurangi pengeluaran asamurat
dalam urin
- kurangi konsumsi makanan berlemak dan alkohol
2. Pengobatan
- Istirahat
- Olahraga teratur, seperti senam akan membantu mempertahankan kesehatan tulang rawan,
meningkatkan daya gerak sendi dan kekuatan otot di sekitarnya
- Obat anti inflamasi dan obat yang dapat menurunkan kadar asam urat dalam darah misalnya
allopurinol, yang bekerja menghambat pembentukan asamurat di dalam tubuh
- Berat badan ideal
- Diet rendah purin
Pengelompokkan bahan makanan berdasarkan kadar purin:
• kelompok I, yaitu kandungan purin tinggi dan sebaiknya dihindari, seperti otak, hati,
jantung, jeroan, kerang
• kelompok II, yaitu kadar purin sedang, dibatasi maksimal 50-75 gr (1-1,5 potong), seperti
daging, ikan, kacang kering dan hasil olahannya, melinjo, kangkung
• kelompok III, yaitu kadar purin rendah dan dapat dimakan setiap hari, seperti nasi, ubi,
singkong, susu,keju, telur, m
89. OBESITAS
Obesitas adalah penumpukan lemak yang berlebihan ataupun abnormal yang dapat
mengganggu kesehatan.
a. Etiologi
Banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang memiliki berat badanberlebih atau
obesitas, diantaranya dalah :
1. ketidakseimbangan antara asupan kalori dari makanan dengan penggunaan kalori sebagai
energi pada aktivitas fisik
2. lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja
3. faktor genetik
4. faktor lain seperti obat-obatan. Orang yang menggunakan steroid jangka panjang akan
mengalami penambahan berat badan.
b. Diagnosis
Hal yang pertama dilakukan adalah menentukan status gizi seseorang yaitu penentuan
IMT (Indeks Massa Tubuh). Berikut ini batas ambang IMT untuk orang dewasa:
- Kurus
: kekurangan berat badan tingkat berat = IMT < 17
: kekurangan berat badan tingkat ringan = IMT 17-18,4
- Normal : IMT 18,5-25
- Gemuk : kelebihan berat badan tingkat ringan = IMT 25,1-27
: kelebihan berat badan tingkat berat = IMT >27
Sedangkan pada anak-anak, nilai IMT dibandingkan dengan grafik IMT/U standard
WHO, dimana status gizi anak:
- Kurus
: < -2 SD
- Normal : -2 SD s/d 1 SD
- Gemuk : > 1 SD s/d 2 SD
- Obesitas : > 2 SD
c. Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan obesitas adalah mengurangi asupan energi serta meningkatkan
keluaran energi, dengan cara pengaturan diet dan peningkatan aktivitas fisik.
- Bila hasil assessment menunjukkan anak mengalami kegemukan dan obesitas dengan
komorbiditas (hipertensi, diabetes melitus,sleep apnea, dan lain-lain) maka dirujuk ke rumah
sakit
- Bila tanpa komorbiditas dapat dilakukan di puskesmas
- Konseling gizi kepadaanak dan keluarga untuk melaksanakan polahidupsehat selama 3 bulan
- Evaluasi 3 bulan pertama, jika BB turun atau tetap maka dianjurkan meneruskan pola hidup
sehat dan kembali evaluasi setiap 3 bulan. Bila BB naik maka dilakukan pengaturan BB
terstruktur berupa :
• menyusun menu diet, prinsipnya rendah energi dan protein sedang
• latihan fisik, untuk anak 6-12 tahun seperti bersepeda,berenang, menari dan senam, dapat
dilakukan 20-30 menit per hari
- Lakukan evaluasi setelah 3 bulan, jika BB turun atau tetap lanjutkan pengaturan BB terstruktur,
bila naik atau ditemukan komorbiditas, makaharus dirujuk ke rumah sakit
Pencegahan obesitas dapat dilakuan sejak bayi. Hal-hal dibawah ini yang perlu
diperhatikan:
- ASI ekslusif paling sedikit sampai 4-6 bulan
- penyuluhan tentang kebutuhan diet bayi, percepatan pertumbuhan bayi
- biasakan mengukur BB dan TB secara rutin sebulan sekali
- evaluasi kualitas pengasuhan anak, menganjurkan/membiarkan anak bergerak bebas
Pada orang dewasa penatalaksanaan obesitas tidak jauh berbeda dengan anak-anak yaitu
dengan program penurunan berat badan dengan diet gizi seimbang dengan modifikasi latihan dan
gaya hidup serta pencegahan dari penambahan berat badan melalui penyeimbangan energi.
Pemilihan strategi penanganan yang sesuai tergantung pada tujuan dan risiko kesehatan dari
pasien.
90. ANEMIA DEFISIENSI BESI
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya penyediaan besi
untuk eritropoesis karena cadangan besi kosong yang pada akhirnya mengakibatkan pembentukan
hemoglobin berkurang.
a. Etiologi
Defisiensi besi dapat disebabkan oleh rendahnya asupan besi, gangguan absorbsi serta
kehilangan besi akibat perdarahan menahun.
1. Kehilangan besi sebagai akibat perdarahan menahun dapat berasal dari:
- saluran cerna: akibat dari tukak peptik, pemakaian salisilat atau NSAID, kanker lambung,
divertikulosis, hemoroid dan infeksi cacing tambang
- saluran genitalia (perempuan): menorrhagia
- saluran kemih: hematuria
- saluran nafas: hemoptisis
2. Faktor nutrisi, yaitu akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan (asupan yang kurang)
atau kualitas besi (bioavailabilitas) besi yang rendah
3. Kebutuhan besi meningkat, seperti pada prematuritas, anak dalam masa pertumbuhan dan
kehamilan
4. Gangguan absorbsi besi, seperti pada gastrektomi dan kolitis kronik, atau dikonsumsi bersama
kandungan fosfat (sayuran), tanin (teh dan kopi), polyphenol (coklat, teh dan kopi) dan
kalsium (susu dan produk susu)
b. Diagnosis
1. Manifestasi klinis
Gejala umum anemia berupa badan lemah, lesu, cepat lelah, mata berkunang-kunang serta
telingan berdenging. Pada pemeriksaan fisik ditemukan:
- konjungtiva dan jaringan di bawah kuku pucat
- koilonychia, yaitu kuku sendok, kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertikal dan menjadi
cekung mirip sendok
- atropi papil lidah, yaitu permukaan lidah menjadilicin dan mengkilap karena papil lidah
menghilang
- stomatitis angularis (cheilosis), yaitu adanya peradangan pada sudut mulut sehingga tampak
sebagai bercak berwarna pucat keputihan
- disfagia, yaitu nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring
2. Pemeriksaan Penunjang
Sebagian besar puskesmas hanya memiliki alat untuk pemeriksaan hemoglobin
saja,sehingga untuk pemeriksaan penunjang lainnya harus ke pelayanan kesehatan dengan
fasilitas yang lebih lengkap, yaitu rumah sakit.
- Pemeriksaan Hemoglobin
Pada laki-laki < 13 g/dl, perempuan dan anak usia sekolah <12 g/dl, wanita hamil dan balita <
11 g/dl
- Penentuan Indeks Eritrosit
MCV (Mean Corpusculer Volume) biasanya rendah yaitu < 70 fl, MCH (Mean Corpuscle
Haemoglobin) < 27 pg dan MCHC (Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration) < 31%
merupakan pemeriksaan yang juga diperlukan untuk menunjang diagnosis anemia defisiensi
besi
- RDW (Red Distribution Wide) biasanya naik, yaitu > 15%
- Serum Feritin < 12 ug/l sangat spesifik untuk kekurangan zat besi. Tetapi rendahnya serum
feritin menunjukkan awal kekurangan zat besi, tidak menunjukkan beratnya kekurangan zat
besi
- Serum iron < 50 ug/l, bukan ukuran mutlak status besi yang spesifik, peka terhadap
kekurangan zat besi ringan dan menurun setelah cadangan besi habis sebelum tingkat
hemoglobin jatuh.
c. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan adalah menghilangkan gejala sesuai dengan penyebab anemia,
menaikkan kadar Hb.
- Pencegahan dengan diet makanan bergizi yang cukup mengandung besi, asam folat dan
vitamin B12 serta menjaga higienitas dan sanitasi. Contoh makanan yang mengandung zat besi
adalah bayam dan daging
- Pengobatan anemia defisiensi besi dapat diberikan sulfas ferosus 10 mg/kgBB 3x sehari
(ekivalen dengan besi elementer 1 mg/kgBB/hari) selama 6-8 minggu
- Pasien dirujuk jika selama 2 minggu tidak ada peningkatan Hb (diharapkan naik 2-4 g/dl
setelah pemberian suplemen besi)
Download