makalah madzahib

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar bealakang
Al-Qur’an merupakan kitab yang menjadi petinjuk bagi ummat Islam, namun teks AlQur’an sendiri masih bersifat global. Globalnya teks Al-Qur’an tersebut sehingga
membutuhkan penafsiran / penakwilan dalam memahami kandungan makna yang dikandung
dalam Al-Qur’an yangmasih bersifat global tersebut. Kegiatan menafsirkan ayat Al-Qur’an
sendiri telah dimulai dari zaman Nabi SAW di mana masih merupakan masa transisi turunnya
kitab yang Agung ini ke dunia.
Namun belakangan ini kegiatan manfsirkan ayat Al-Qur’an terus berkembang seiring
berkembangnya zaman. Metode, corak, dan pendekatan dalam menafsirkan Al-Qur’an pun
mulai bermunculan sesuai dengan madzhab-madzhab yang dianut oleh para mufassir itu
sendiri. Metode dan pendekatan yang digunakan dalam menafsirkan, itu jelas mempengaruhi
hasil penafsiran.
Hingga saat ini ada beberapa corak dan madzhab tafsir yang berkembang antara lain;
tafsir fiqih, tafsir sufi, tafsir falsafi, tafsir adaby ijtima’i, tafsir ilmi dll. Dalam makalah kali
ini kami mencoba menjabarkan tentang salah satu madzhab tafsir yang berkembang dalam
zaman sekarang ini, yakni tafsir ilmi. Mulai dari penegertian, asal dan perkembangan tafsir
ilmi, pro-kontra seputar tafsir ilmi, serta contoh-contoh penafsirannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian tafsir ilmi?
2. Bagaimana asal mula munculnya dan sejarah perekmbangan tafsir ilmi?
3. Bagaimana pandangan para ulama terhadap tafsir ilmi?
4. Siapa saja tokoh-tokoh tafsir ilmi?
5. Bagaimana contoh-contoh ayat yang ditafsirkan secara ilmi?
Tafsir Ilmi
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian tafsir ilmi
Kata Tafsir adalah bentuk kata benda dari Fassara-Yufassiru-Tafsir.secara bahasa
berasal dari suku kata Fa-sa-ra maknanya adalah: Penjelasan, keterangan(al-bayan)1. Adapun
dikalangan mufassir, kata tafsir merupakan istilah yang khas ia memiliki pengertian tersendiri
yang sedikit berbeda dengan arti bahasa.ada banyak pengertian tafsir yang dikemukakan oleh
ulama, misalnya menurut Abu Hayan sebagai berikut2:
‫علم يبحث عن كيفية النطق بالفاظ القرأن و مد لوالتها واحكامهااالفرادية واالتركبيية ومعانيهاالتي يحمل عليها حا لة‬
‫التركيب‬
“Ilmu yang membahas mengenai tata cara lafadz-lafadz al-qur’an,dalil-dalil,aturan-aturan
ditinjau dari kata(mufradat),susunan kalimat,serta penjelasan makna yang terkandung dalam
susunan kalimat”.
Sedangkan kata Ilmu secara bahasa diartikan pengetahuan3‫المعرفة‬
M Husain Az-Zahabi mendefenisikan Tafsir Ilmi sebagai berikut:
Tafsir Ilmi adalah tafsir yang mengangkat terminologi ilmiah di dalam statemenstatemen al-qur’an dan penulisnya berusaha menggali berbagi disiplin keilmuan dan
pandangan-pandangan filsafat4.
Tafsir 'ilmy sebagai penafsiran ayat-ayat kawniyyah yang terdapat di dalam alQur’an dengan mengaitkannya dengan ilmu pengetahuan modern yang timbul saat
sekarang.5 Dan ada juga sebagian ulama mengartikan Tafsir ilmy’ sebagai sebuah penafsiran
terhadap ayat-ayat kawniyyah yang sesuai dengan tuntutan dasar-dasar bahasa, ilmu
pengetahuan dan hasil-hasil penelitian alam.
1
.Achmad Warson,Kamus,hal 1055
. Muhammad Hussein Adz-Dzahabi, Al-Tafsir Wa Al-Mufassiruun, (Kairo: Maktabah Wahbah, 2003)
vol. II hlm 14
3
.Achmad Warson,Kamus,hal 966
4
. Muhammad Hussein Adz-Dzahabi, Al-Tafsir Wa Al-Mufassiruun, vol. II hlm 474
5
Sayyid Agil Husin al-Munawwar. Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki (Jakarta: Ciputat
Press, 2002) hlm.72
2
Tafsir Ilmi
2
Tafsir ‘ilmi ialah penafsiran al-Qur’an dalam hubungannya dengan ilmu
pengetahuan. Perintah untuk menggali pengetahuan berkenaan dengan tanda-tanda Allah
pada alam semesta memang banyak dijumpai di dalam al-Qur’an. Inilah alasan yang
mendorong para mufasir corak ini untuk menulis tafsirnya.6
B. Latar belakang tafsir ilmi
Perkembangan sebuah model penafsiran al-Qu’an pada dasarnya juga dipengaruhi
oleh perkembangan ilmu pengetahuan, ini terbukti dengan hadirnya model tafsir ilmi. Model
tafsir ini berangkat dari sebuah asumsi bahwa al-qur’an merupakan kitab suci yang
didalamnya mengandung berbagai informasi ilmu, baik yang terkait dengan persoalan agama
maupun isyarat-isyrat ilmu pengetahuan. Al-qur’an merupakan kitab yang tidak saja untuk
manusia abad ke 7 M,tetapi juga untuk manusia di era Modren-Kontemporer yang
meniscayakan adanya perkembangan dunia ilmu pengetahuan.
Tafsir ilmi sebenanya sudah muncul sejak abad keempat Hijriyah, tepatnya pada masa
Daulah Bani Abbas, ketika umat Islam berada pada keemasan, ketika umat islam memimpin
peradaban dunia. Kecenderungan tafsir ilmi saat itu terjadi karena akibat efek dari
tranformasi ilmu pengetahuan dan keinginan para ulama untuk melakukan kompromi antara
ajaran Islam (al-qur’an) dengan perkembangan peradaban dunia luar, sebagai akibat dan
gerakan penerjemahan buku-buku asing kedalam dunia islam dan perkembangan yang terjadi
didunia islam itu sendiri7. Namun,tafsir model ini semakin surut dan lenyap pada abad
setelahnya,bisa jadi karena saat itu larangannya lebih dominan daripada pembolehannya.
Hingga pada akhirnya pada abad 19 Eropa mulai menduduki negara-negara islam,
ilmu-ilmu sains tentang alam pun sedikit demi sedikit diperkenalkan. Dari situ umat islam
milai menyadari akan pentingnya adanya tafsir ilmi karena banyak kesesuain antara nash alqur’an dengan hasil-hasil penelitian ilmu pengetahuan8.
Dari penjelasan diatas,terlihat bahwa latar belakang munculnya model tafsir ilmi
dapat dipetakan dalam dua faktor yaitu:
6
Quraisy Shihab, dkk. Sejarah dan Ulum Al-Qur’an.(Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999) hlm. 183
.Abd al-Majid Abd al-Salam al-Muhtasib, Ittijahat al-Tafsir al-Asr al-Hadist (Beirut: Dar al-Fikr, 1987) hal
7
245.
8
.Abdul Mustaqim, Kontroversi tentang corak Tfasir Ilmi, Jurnal Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an dan Hadist,
VII, Oktober 2006,hal 26-27.
Tafsir Ilmi
3
Yang Pertama, Faktor internal yang terdapat dalam teks al-qur’an sendiri, dimana
sebagian ayat-ayatnya sangat menganjurkan manusia untuk selalu melakukan penelitian dan
pengamatan terhadap ayat-ayat kauniyah atau ayat-ayat kosmologi, bahkan adapula ayat alqur’an yang disinyalir memberikan isyarat untuk membangun teori-teori ilmiah dan sains
modren,karena seperti dikatakan Muhammad Syahrur,wahyu al-Qur’an tidak mungkin
bertentangan dengan akal dan realitas9.
Kedua, faktor eksternal, yakni adanya perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan
sains modren, dengan ditemukannya teori-teori ilmu pengetahuan, para ilmuwan muslim
(pendukung tafsir ilmi) berusaha untuk melakukan kompromi antara al-Qur’an dan sains serta
mencari justifikasi teologis terhadap sebuah teori ilmiah. Mereka juga membuktikan
kebenaran al-qur’an secara ilmiah-empiris,tidak hanya secara teologis-normatif.
C. Sejarah perkembangan tafsir ilmi dan tokoh-tokohnya
Secara historis, kecenderungan penafsiran al-Qur’an secara ilmiah sudah muncul
semenjak masa perkembangan ilmu pengetahuan di era dinasti Abbasiyah, khususnya pada
masa pemerintahan Harun ar-Rasyid (169-194 H/ 785-809 M) dan al-Makmun (198H/813
M). Munculnya kecenderungan ini sebagai akibat pada penerjemahan kitab-kitab ilmiah yang
pada mulanya dimaksudkan untuk mencoba mencari hubungan dan kecocokan antara
pernyataan yang diungkapkan di dalam al-Qur’an dengan hasil penemuan ilmiah (sains).
Gagasan ini selanjutnya ditekuni oleh imam al-Ghazali dan ulama-ulama lain yang
sependapat dengan dia. Rekaman akan fenomena ini antara lain dituangkan oleh Fahruddin
al-Razi dalam kitabnya Mafatih al-Ghaib.10
Bisa dikatakan, Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) patut untuk dikedepankan ketika
membahas munculnya penafsiran secara ilmiah. Hal ini diakui oleh seluruh penulis
Ahlusunnah dan riset lapangan juga membuktikan hal itu.11 Sebelum Fakhruddin, al-Ghazali
(505 H) dalam bukunya, Jawahir al-Qur’an juga telah menyebutkan penafsiran beberapa ayat
al-Qur’an yang dipahami dengan menggunakan beberapa disiplin ilmu, seperti: astronomi,
perbintangan, kedokteran, dan lain sebagainya. Jika upaya al-Ghazali ini kita anggap sebagai
9
.Muhammad Syahrur, Al-Kitab Wa Al-Qur’an Qira’ah Mu’assirah (Damaskus:Ahali li al-Nasyr wa alTawzi,1992).hal 194,dikutip Abdul Mustaqim, ’’Kontroversi tentang corak Tafsir Ilmi’’ ,Jurnal Studi ilmu-ilmu
al-Qur’an dan Hadist, VII, Oktober 2006, hal 29.
10
Sayid Musa Husaini, Metode Penafsiran Saintis di Dalam Buku-buku Tafsir Modern,
(online)(http://quran.al-shia.com/id/metode/01.htm. di akses: 11 Nov 2013)
11
Ibid.
Tafsir Ilmi
4
langkah pertama bagi kemunculan penafsiran ilmiah, tidak diragukan lagi bahwa al-Ghazali
sendiri belum berhasil merealisasikan metode tersebut. Setelah satu abad berlalu, barulah arRazi di dalam Mafatih al-Ghaib-nya berhasil merealisasikan metode penafsiran yang pernah
menjadi percikan pemikiran al-Ghazali itu.12
Pasca masa ar-Razi, tendensi penafsiran ilmiah ini diteruskan dan menghasilkan
buku-buku tafsir yang sedikit banyak terpengaruh oleh teori penafsiran Fahruddin ar-Razi
dalam ruang lingkup yang agak terbatas. Diantara karya itu adalah: Ghara’ib Al-Qur’an wa
Ragha’ib al-Furqan, karya An-Nasyaburi (w. 728 H), Anwar at-Tanzil wa Asrar atTa’wil, karya Al-Baidhawi (w. 791 H), dan Ruh al-Ma’ani fa Tafsir al-Qur’an al-Adzim wa
Sab’al-Matsani, karya Al-Alusi (w. 1217 H).
Melalui buku-buku tafsir itu, para pengarangnya telah melakukan penafsiran saintis
atas ayat-ayat al-Qur’an. Selain mereka, terdapat beberapa mufassir lain, seperti Ibn Abul
Fadhl al-Marasi (w. 655 H), Badruddin az-Zarkasyi (w. 794 H), dan Jalaluddin as-Suyuthi
(w. 911 H) yang termasuk dalam golongan para mufassir yang memiliki tendensi penafsiran
saintis. Meskipun demikian, sebenarnya para mufassir ini tidak dapat dimasukkan mutlak
dalam kategori mufassirin yang memiliki aliran saintis dalam menafsirkan al-Qur’an, karena
mereka hanya mengklaim bahwa al-Qur’an memuat semua jenis dan disiplin ilmu
pengetahuan. Sebelum mereka pun, sebagian sahabat telah memiliki klaim yang serupa dan
hingga kini tak seorang pun yang berani memasukkan sahabat tersebut ke dalam kategori
mufassirin yang memiliki tendensi penafsiran saintis.
Pasca periode tafsir Ruh al-Ma’ani, pada permualaan abad ke-4 Hijriyah, metode
penafsiran saintis mengalami kemajuan yang pesat. Tercatat, para mufassir seperti:
Muhammad bin Ahmad al-Iskandarani (w. 1306 H), dalam Kasyf al-Asrar an-Nuraniyah alQur’aniyah-nya, Al-Kawakibi (w. 1320 H), dalam Thaba’i al-Istibdad wa Mashari alIsti’bad-nya, Muhammad Abduh (w.1325 H) dalam Tafsir Juz’Amma-nya, dan AthThanthawi (w.1358 H) dalam Jawahir al-Qur’an-nya, masing-masing menafsirkan ayat-ayat
al-Qur’an secara saintis. Contoh penafsiran saintis al-Qur’an yang paling gamblang adalah
buku tafsir al-Iskandarani dan ath-Thanthawi di mana dengan sedikit perbedaan, mereka telah
berusaha untuk memahami ayat-ayat al-Qur’an melalui ilmu pengetahuan empiris (tajribi)
dan penemuan-penemuan manusia.
12
Rohimin, Metodologi Ilmu Tafsir dan Aplikasi Model Penafsiran, ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar,
2007), hlm. 94.
Tafsir Ilmi
5
Pemikiran penafsiran secara ilmiah mengalami perkembangan yang lebih pesat
sampai sekarang ini, sehingga memberi dorongan yang cukup besar bagi para ilmuan untuk
menulis buku tafsir yang didasarkan atas pemikirin ilmiah secara tematik (al-maudhu’i).13
Pada masa sekarang inipun juga bermunculan berbagai kitab penafsiran ilmiah yang
bersifat maudhu’iy seperti Afzalurrahman dengan Qur’anic Sciences-nya dimana menurutnya
“al-Qur’an dan ilmu pengetahuan itu sama-sama mengandung kebenaran dan tidak ada
pertentangan diantara keduanya”.14 Ada juga Maurice Bucaille dengan The Bible, The
Qur’an and Science-nya, Abbas Mahmud al-‘Aqqad dengan Tafsir al-Falsafah alQur’aniyah-nya dan masih banyak lagi tafsir-tafsir lainnya.
Meluasnya corak penafsiran ilmiah ini menurut Quraish Shihab setidaknya
dipengaruhi oleh dua faktor, pertama adalah merupakan reaksi terhadap ketertinggalan umat
Islam dalam bidang kemajuan ilmu pengetahuan dan teklnologi dari dunia barat. Karena
ketertingggalan ini mereka berusaha mencari kompensasi sebagai sebuah shock therapy atau
sebagai salah satu upaya untuk menutupi rasa rendah diri yang berlebihan (inferiority
complex) yang melanda mereka. Salah satunya dengan mengingat kejayaan-kejayaan yang
pernah diraih umat Islam pada masa lalu yang baik secara langsung maupun tidak langsung
berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat Islam dalam menafsirkan al-Qur'an. Maka
tidaklah mengherankan ketika ada penemuan baru, para cendekiawan muslim sepertinya
berlomba-lomba untuk mencari ayat-ayat al-Qur'an yang berkesesuaian dengan penemuan
tersebut dan serta merta mengatakan bahwa apa yang ditemukan sebenarnya sudah tercantum
dalam al-Qur'an. Faktor kedua yang menjadikan cendekiawan muslim melakukan hal ini
sebagai reaksi atas resistansi yang besar dari gereja terhadap ilmu pengetahuan yang
disebabkan adanya pertentangan penemuan ilmiah dengan kepercayaan atau teori-teori
tertentu yang diyakini kebenarannya dan kesuciannya oleh gereja. Pertentangan ini
mengakibatkan terjadinya kekejaman dan penindasan terhadap ilmuwan yang dianggap kafir
dan berhak mendapat kutukan.
Hal ini menimbulkan keyakinan di kalangan umum bahwa ilmu pengetahuan
bertentangan dengan agama. Pertentangan antara agama dengan ilmu pengetahuan ini
memberikan pengaruh terhadap cendekiawan muslim. Mereka khawatir kalau-kalau penyakit
pertentangan ini timbul pula dalam dunia Islam sehingga mereka senantiasa berusaha
13
14
Ibid, hlm 95-96
Afzalur Rahman, Qur’anic Sciences, (London : The Muslim Schools Trust, 1981) , hal 1.
Tafsir Ilmi
6
membuktikan hubungan yang sangat erat antara ilmu pengetahuan dengan agama terutama alQur'an, walaupun terkadang langkah mereka terlampau jauh dalam membuktikan hal itu.15
Adapun tokoh-tokoh penafsir ilmi kontempoter selain yang di sebut di atas menurut
Ali Hasan Al-‘Aridl adalah:16
1. Dr. al-Kauniyah Ahmad Al-Ghamrawi dalam kitabnya Sunanullah al-Kauniyah
dan al-Islam fi ‘Ashr al-‘ilmi.
2. Dr. Abdul Aziz dalam al-Islam wa al-Thib al-Hadist.
3. Al-Syekh Thanthawi Jauhari
4. Ahmad Mukhtar al-Ghozali dalam Riyadh al-Mukhtar.
5. Al-Ustadz Hanafi Ahmad dalam al-Tafsir al-‘ilmi Li al-Ayat al-Kauniyah fi alQur’an al-Karim.
6. Al-Alamah Wahid al-Din Khan dalam al-Islam Yatahadda.
Sedangkan menurut Abdul Majid Abdussalam al-Muntasib, tokoh-tokoh penafsir ilmi
kontemporer lainnya yaitu:17
1. As-Syekh Muhammad Abduh.
2. Muhammad Jamaluddin al-Qasimi dalam Mahaasinu at-Ta’wil
3. Mahmud Syukri al-Aluusi (w. 1992 M) dalam buku Maa Dalli ‘Alaihi al-Qur’anu
Mimmaa ya’dhidu al-Hai’ata al-Jadiidata al-Qawiimatu al-Burhan (Dalil-dalil alQur’an yang meneguhkan ilmu astronomi modern, dengan argumentasi kuat).
4. Abdul Hamid bin Badis dalam Tafsiru Ibni Badis fii Majaalisi at-Tadzkiiri min
Kalaami al-Hakimi al-Khabiir (Tafsir Ibnu Badis mengenai Firman Dzat Yang
Maha Bijak dan Maha Tahu dalam forum-forum kajian).
5. Musthafa Shadiq ar-Rafi’i dalam bukunya I’jaazu al-Qur’ani wa Balaghtu anNabawiyah (Mukjizat al-Qur’an dan Balaghah Kenabian).
D. Pro-kontra pandangan ulama tentang tafsir ilmi
15
M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an : Fungsi dan Peran Wahyu dalam kehidupan
masyarakat, Cet XIX (Bandung : Mizan, 1999), hlm. 102.
16
Ali Hasan Al-‘Aridl. Sejarah dan Metodologi Tafsir, Terj. Ahmad Akram, cet. II (Jakarta : Raja
Grafindo Persada, 1994), hlm. 62-63.
17
Abdul Majid Abdussalam al-Muntasib, Visi dan Paradigma Tafsir Al-Qur’an Kontemporer, terj.
Mohammad Maghfur Wachid. Judul asli Ittijaahat at-Tafsiir fi al-Ashri ar-Rahin, (Bangil: Al-Izzah, 1997) hlm.
279.
Tafsir Ilmi
7
Tafsir ilmi berusaha menafsirkan ayat Al-Qur'an berusaha mengukuhkan berbagai
istilah ilmu pengetahuan dan berusaha melahirkan berbagai ilmu baru dalam Al-Qur'an.18
Dalam tafsir ini umumnya membahas tentang alam dan kejadian-kejadiannya (kauniyah) dan
berusaha untuk membuktikan bahwa di dalam Al-Qur'an terdapat semua ilmu atau
pengetahuan yang ada di dunia ini, baik yang telah lewat maupun yang akan datang. Bahkan
menurut mereka (yang menggandrungi tafsir ilmi ini) masih banyak ilmu yang belum tergali
dalam Al-Qur'an. Kelahiran corak penfasiran ini bersamaan dengan kemajuan pesat
kebudayaan Islam. Tuntutuan perkembangan ilmu juga mendorong penafsiran secara ilmiah.
Dari ulama klasik, yang mendukung penafsiran semacam ini di antaranya adalah Imam AlGhazali dan Al-Suyuthi. Mereka mendukung penfasiran ini berargumen:
1. Allah SWT memberikan peluang luas untuk melakukan istidlal (penarikan
kesimpulan dan pelajaran) dari hal-hal yang Allah SWT tampilkan dalam Al-Qur'an,
seperti keadaan bumi dan langit, pergantian siang dan malam, tingkah pola
pergerakan dan keadaan benda-benda angkasa dan keadaan alam lainnya. Apabila
mengkaji hal-hal seperti itu tidak diperkenankan, maka tentunya hal-hal tersebut
tidak ditampilkan dalam Al-Qur'an.
2. Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an yang berbunyi:
‫اها َوَزيَّنَّا َها َوَما ََلَا ِم ْن فُ ُروج‬
َّ ‫أَفَ لَ ْم يَ ْنظُُروا إِ ََل‬
َ ‫الس َم ِاء فَ ْوقَ ُه ْم َك ْي‬
َ َ‫ف بَنَ ْي ن‬
Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana
kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak
sedikitpun ? (Q.S Qaaf : 6)
Dalam ayat tersebut Allah SWT mendorong untuk melakukan perenungan dan
pemikiran tentang bagaimana kejadian tersebut.
3. Dengan menggunakan pendekatan tafsie ilmi, penemuan-penemuan baru bisa
digunakan sebagai penegasan terhadap kemukjizatan yang terdapat dalam Al-Qur'an.
4. Allah SWT akan mengisi jiwa seseorang dengan keimanan terhadap keagungan-Nya
ketika ia menafsiri Al-Qur'an dengan ayat-ayat tertentu dan makhluk-makhluk yang
sangat renik dengan menggambarkannya melalui ilmu pengetahuan yang ada.19
18
Muhammad Hussein Adz-Dzahabi, Al-Tafsir Wa Al-Mufassiruun, (Kairo: Maktabah Wahbah, 2003)
vol. II hlm 349
19
Fahd ibn Abdurrahman Al-Rumi, buhuts fi ushul al-tafsir wa minhajuhu, (t.tp: Maktabah al-Taubah,
t.th) hlm 97
Tafsir Ilmi
8
Sedangkan orang-orang yang menolak adanya penfasiran macam ini terhadap AlQur'an berargumen:
1. Kemukjizatan Al-Qur'an ialah sudah menjadi suatu yang pasti dan tidak butuh halhal lain untuk menjelaskannya seperti penfasiaran macam ini terkadang bisa
mengaburka kemukjizatan Al-Qur'an.
2. Dorongan Al-Qur'an untuk melakukan penalaran dan perenungan pada peristiwa dan
ilmu-ilmu merupakan suatu ajakan yang menyeluruh dan bersifat pengambilan
pelajaran (i’tibar), bukan untuk menjelaskannya secara mendalam dan menggali
ilmu-ilmunya.
3. Penafsiran dengan corak ini memaksa penafsir untuk melakukan “lompatan yang
jauh” dalam memaknai dan manfasirkan ayat Al-Qur'an dari makna luar (zhahir)
ayat tersebut.
4. Tafsir ilmi menjerumuskan orang yang mendalaminya pada kesalahan dalam
mengkompromikan dua istilah dari dua kutub yang berbeda (Al-Qur'an dan ilmun
pengetahuan sains)
5. Ilmu-ilmu yang tergali dalam penafsiran ini hanya bersifat sementara dan akan
berubah ketika ada penemuan-penemuan baru yang lebih besar. Hal ini membuat AlQur'an tidak bisa untuk menemukan pijakan sebagai sumber dari segala ilmu, karena
terus berubah penafsirannya.20
Di antara yang menolak adanya penafsiran seperti ini adalah Abu Ishaq Al-Syatibi (w.
790 H) yang disampaikannya dalam kitab al-muwafaqat.
E. Contoh-contoh penafsiran dengan tafsir ilmi
Contoh Q.S al-Baqarah [02]: 61 yang bercerita tentang kaum Nabi Musa yang tidak puas
dengan makan satu jenis makanan di pegunungan
ِ ‫وإِ ْذ قُلْتم ي موسى لَن نَصِب علَى طَعام و‬
‫ض ِم ْن بَ ْقلِ َها‬
َ َّ‫احد فَا ْدعُ لَنَا َرب‬
ُ ِ‫ك ُيْ ِر ْج لَنَا ِِمَّا تُ ْنب‬
ُ ‫ت ْاْل َْر‬
َ َ َ َ ْ ْ َ ُ َ ُْ َ
ِ
ِ
ِ ِ
‫ال أَتَ ْستَ ْب ِدلُو َن الَّ ِذي ُه َو أَ ْد َن ِِبلَّ ِذي ُه َو َخ ْي ر‬
َ َ‫صلِ َها ق‬
َ َ‫َوقثَّائ َها َوفُوم َها َو َع َدس َها َوب‬
20
Tim Forum Karya Ilmiah RADEN (refleksi anak muda pesantren), Al-Qur'an Kita Studi Ilmu, Sejarah
Dan Tafsir Kalamullah, (Kediri: Lirboyo Press, 2011) hlm 248-249
Tafsir Ilmi
9
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu
macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia
mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya,
ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata:
“Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?
Thantowi Jauhari (w. 1940 M) mengomentari ayat ini dengan mengambil teori ilmiah Eropa,
yakni bahwa model kehidupan Baduwi di pedesaan atau pegunungan, yang biasanya orang
mengkonsumsi makanan manna wa salwa (jenis makanan yang tanpa efek samping) dengan
kondisi udara yang bersih, jauh lebih baik daripada model kehidupan di perkotaan yang
biasanya orang suka mengkonsumsi makanan siap saji, daging-daging, dan berbagai ragam
makanan lainnya, ditambah lagi polusi udara yang sangat membahayakan kesehatan.21
Contoh lain dapat ditemukan dalam penafsiran M. Abduh terhadap surat al-Fil [105]: 3-4
yang menafsirkan kata thayran ababil (burung Ababil) dengan mikroba dan kata al-hijarah
(batu) dengan kuman penyakit.22 Atau, penafsiran Abdul al-Razq Nawfal pada Q.S. al-A’raf
[07]: 189
ِ ‫هو الَّ ِذي َخلَ َق ُكم ِمن نَ ْفس و‬
‫اح َدة َو َج َع َل ِم ْن َها َزْو َج َها لِيَ ْس ُك َن إِلَْي َها‬
ْ ْ
َ
َُ
hua alldzi khalaqakum min al-nafsi al-wahidah waja’ala minha zawjaha, ia menafsirkan
kata nafsu al-wahidah (diri yang satu) dengan proton dan zawjaha dengan pasangannya
elektron, dan masing-masing keduanya membentuk unsur atom.23
bisa dilihat juga dalam penafsiran ayat dalam surah Yasiin ayat 38:
َّ ‫َو‬
‫ك تَ ْق ِد ُير ال َْع ِزي ِز ال َْعلِ ِيم‬
َ ِ‫س ََتْ ِري لِ ُم ْستَ َقر ََلَا َذل‬
ُ ‫الش ْم‬
Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa
lagi Maha mengetahui. (QS. Yaasin: 38)
21
: Tantawi Jauwhari, Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim al-Mushtamil ‘ala ‘Ajaib Badai’ alMukawwanat wa Gharib al-Ayat al-Bahirat al-Musama Tafsir Tantawi Jawhari, Juz 1 (Beirut: Dar al-Kutub al‘Ilmiyyah, 2004), hlm. 66-67 sebagaimana dikutub dalam Supiana dan M. Karman.Ulumul Qur’an.
(Bandung:Pustaka Islamika, 2002) hlm 316
22
M. Abduh, Tafsir Juz ‘Amma (Mesir: Al-Jam’iyyah al-Khairiyyah, 1341 H), h. 5-6.
23
M. Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, (Mesir: Dar al-Manar, 1954), h. 208-212.
Tafsir Ilmi
10
Pada masa-masa sebelumnya, para mufassir menafsirkan ayat ini dengan gerakan
lahiriah matahari yang berjalan sehari-hari atau per musim. Akan tetapi, pada masa
kini, berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah dan sains baru, para ahli tafsir
menafsirkan ayat tersebut dengan gerakan matahari menuju suatu titik tertentu yang di
situ terdapat planet Vega. Semua penafsiran itu masih disertai dengan kehati-hatian
dan bersifat moderatif. Akan tetapi, di beberapa kalangan mufassirin kita melihat
keteledoran dan keberlebihan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan rangka
mendukung metode penafsiran ilmiah.24
24
Rohimin. Metodologi Ilmu Tafsir dan Aplikasi Model Penafsiran. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007)
hlm 97
Tafsir Ilmi
11
BAB III
KESIMPULAN
Dari berbagai macam faktor tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa ada banyak
tujuan dan motif tertentu dari kemunculan tafsir ilmi ditunjukkan oleh para ulama. Adapun
semuanya itu dapat disimpulkan sebagai berikut
1. Untuk memahami al-Qur’an secara lebih mendalam, khususnya yang berkaitan
dengan ayat-ayat kauniah atau ayat-ayat tentang alam semesta.
2. Untuk menggali teori-teori sains baru di dalam al-Qur’an.
3. Untuk menegaskan sikap Islam terhadap ilmu pengetahuan, bahwa tidak ada
pertentangan antara kitab suci al-Qur’an dengan sains, bahwa Islam adalah agama
yang sejalan dengan akal manusia dan kemajuan.
4. Untuk membuktikan kemukjizatan al-Qur’an dari sisi keilmiahannya.
5. Untuk menarik perhatian non-muslim untuk mempelajari lebih jauh tentang Islam
bahwa agama Islam sangat apresiatif terhadap ilmu pengetahuan dan kemajuan.
Untuk memperkenalkan penemuan-penemuan baru sains kepada umat Islam,
mendorong mereka agar mau tertarik belajar ilmu pengetahuan umum dan
mengembangkannya.
Tafsir Ilmi
12
Download