simulasi kekuatan daya hantar listrik larutan

advertisement
Jurnal Manajemen Informatika dan Teknik Komputer
Volume 1, Nomor 1, April 2015
SIMULASI KEKUATAN DAYA HANTAR LISTRIK LARUTAN
ELEKTROLIT
William Ramdhan *1, Riki Andri Yusda 2
1,2
Program Studi Teknik Komputer AMIK Royal Kisaran
e-mail: *[email protected]
Abstrak
Pada bidang pendidikan sering sekali mengalami keterbatasan media pembelajaran khususnya penggunaan
laboratorium di sekolah sehingga hal yang seharusnya dilakukan secara praktikal hanya dijelaskan secara teori
sehingga proses pembelajaran tidak berjalan optimal. Selain itu ada pengunaan media pembelajaran bisa
berdampak negatif jika tidak dilakukan dengan benar. Kedua permasalahan tersebut sering sekali terjadi pada
studi mata pelajaran kimia. Pada bidang studi kima terdapat sub bab pelajaran elektrolisis, di mana di dalam
pelajaran tersebut menjelaskan kekuatan daya hantar larutan. Hal ini tidak begitu jelas dipaparkan nilai dari daya
hantar larutan elektrolisis tersebut baik itu didalam kelas maupun didalam laboratorium. Untuk mengatasi hal
tersebut kita bisa melakukan secara komputerisasi dengan cara melakukan simulasi.
Simulasi adalah suatu teknik dalam pembuatan suatu model dari system nyata sehingga prilaku system
tersebut pada kondisi tertentu dapat dipelajari. Selain itu simulasi dapat dikatakan suatu metoda dalam
mempelajari atau memprediksi sesuatau yang belum terjadi dengan cara meniru atau membuat model system yang
dipelajari dan selanjutnya mengadakan eksperimen secara numeric dengan menggunakan komputer. Sehingga hasil
yang didapat dari simulasi dapat digunakan sebagai penunjang dalam pengambilan keputusan.
Hasil penelitian ini dibuatlah perangkat lunak dengan menggunakan Microsoft Visual Basic 6.0 sebuah
Simulasi dengan menggunkan metoda Monte Carlo ( Bilangan random ). Dimana Setiap larutan kimia yang
digunakan mempunyai hubungan antara kepekatan larutan dengan daya yang dihasilkan.
Kata kunci—Simulasi, Monte Carlo, Molarotas, Daya Hantar Listrik
1. PENDAHULUAN
Pada bidang pendidikan sering sekali mengalami
keterbatasan
media
pembelajaran
khususnya
penggunaan laboratorium di sekolah sehingga hal
yang seharusnya dilakukan secara praktikal hanya
dijelaskan secara teori yang dikarenakan biaya
pengadaan media pembelajaran dilabotarorium,
sehingga proses pembelajaran tidak berjalan optimal.
Selain itu ada pengunaan media pembelajaran bisa
berdampak negatif jika tidak dilakukan dengan benar.
Kedua permasalahan tersebut sering sekali terjadi
pada studi mata pelajaran kimia. Pada bidang studi
kima terdapat sub bab pelajaran elektrolisis, di mana
di dalam pelajaran tersebut menjelaskan kekuatan
daya hantar larutan. Hal ini tidak begitu jelas
dipaparkan nilai dari daya hantar larutan elektrolisis
tersebut baik itu didalam kelas maupun didalam
laboratorium. Untuk mengatasi hal tersebut kita bisa
melakukan secara komputerisasi dengan cara
melakukan simulasi.
Simulasi adalah suatu teknik dalam pembuatan
suatu model dari system nyata sehingga prilaku
system tersebut pada kondisi tertentu dapat dipelajari.
Selain itu simulasi dapat dikatakan suatu metoda
dalam mempelajari atau memprediksi sesuatau yang
belum terjadi dengan cara meniru atau membuat
model system yang dipelajari dan selanjutnya
mengadakan eksperimen secara numerik dengan
menggunakan komputer. Sehingga hasil yang didapat
dari simulasi dapat digunakan sebagai penunjang
dalam pengambilan keputusan. Simulasi dengan
metoda Monte Carlo yang digunakan untuk
melakukan simulasi pada larutan elaktrolit dengan
cara mencari sampling acak pada setiap larutan baik
larutan yang bersifat asam,basa maupun garam.
2. METODE PENELITIAN
2.1 Simulasi
Simulasi
merupakan
suatu
cara
menduplikasikan atau menggambarkan ciri, tampilan
dan karakteristik dari sistem nyata. Ide awal dalam
menggunakan simulasi adalah untuk meniru situasi
dunia nyata secara sistematis, kemudian mempelajari
sifat dan karakter operasionalnya dan akhirnya
membuat kesimpulan dan membuat keputusan
berdasarkan hasil simulasi. Dengan cara ini, sistem di
dunia nyata tidak tersentuh atau dirubah sampai
keuntungan atau kerugian yang akan menjadi
kebijakan yang diambil dari uji coba yang dilakukan.
Posisi simulasi dalam studi suatu sistem dapat
dilihat pada gambar berikut:
2.2 Langkah-langkah Sistematis Simulasi
9
William Ramdhan, dkk., Simulasi Kekuatan Daya Hantar Listrik Larutan Elektrolit
Simulasi komputer bukanlah hal yang sudah
baru karena simuasi sudah untuk cukup dikenal
dibergai dunia, terutama digunakan untuk
memecahkan
masalah
yang
kompleks/rumit.
Sehingga di dalam pembuatan simulasi mempunyai
tahapan-tahapan secara sistematis sehingga pesoalan
yang kompleks tersebut dapat dipecahkan. Tahapantahapannya sebagai berikut:
2.2.1 Menggunakan atau tidak menggunakan
simulasi
Didalam
menentukan
untuk
mempergunakan atau tidak mempergunakan
simulasi, maka harus suda ditantuka jawabannya.
Karena apabila tidak menggunakan simulasi maka
kita tidak perlu lagi menentukan cara, metode
ataupun metode yang akan digunakan untuk
memecahkan maslah tersebut. Namun jika kita
menggunakan simulasi sebagai pemecahan masalah
maka kita harus melanjutkan ketahapan berikutnya.
2.2.2 Pemodelan Formulasi
Pada tahap ini yang dilakaukan adalah
menentukan formulasi yang digunakan. Untuk
menentukan formulasi tersebut yaitu dengan
menggunakan:
a. Fungsi matematis, didalam menyususn model
harus diperhatikan.
b. Variabel yang menentukan fungsi tersebut.
c. Ada atau tidaknya konstanta yang digunakan.
2.2.3 Persiapan Pengambilan Data
Dalam yahap ini yang harus diperhatikan
adalah
a. pengumpulan data kita harus memeperhatikan
ketentuan atau aturan yang berlaku atau yang
diwajibkan.
b. Menguraikan data yang sudah dikumpulkan
dalam bentuk statistik untuk membuat
program simulasi
c. Menggunakan
teori
analisis
untuk
menguraikan data yang telah dikumpulkan
d. Meninjau apakah mempergunakan analisis
regresi atau analisis lainnya.
e. Meninjau computer time untuk simulasi ini
sehingga dapat membuat rencana dengan
alokasi waktu yang tepat.
2.2.4 Penulisan Program
Pada tahap ini kita harus meninjau dan
memperhatikan bahasa pemograman yang
dipergunakan dalam simulasi. Biasanya bahasa
pemograman yang digunakan adalah FortranIV,
SimScript-II, Basic.
2.2.5 Verifikasi
Pada tahap ini meliputi:
a. Langkah verivikasi ini merupakan langkah
untuk mengetahui apakah program ini benar
dan sesuai dengan simulasi yang dikehendaki.
b. Melakukan debugging terhadap program yang
dimasukkan ke dalam komputer
c. Melaksanakan perbaikan pada program
simulasi yang sudah dimasukkan ke dalam
komputer
2.2.6 Validasi
a. Langkah validasi merupakan langkah untuk
mengawasi atau mengecek apakah model
yang sudah diprogramkan itu asli, sudah
sesuai dan benar.
b. Mengecek model yang sudah diprogramkan
apakah dapat berjalan dengan baik.
c. Apakah belum memenuhi kebutuhan yang
sebenarnya, maka dilakukan peninjauan
kembali pada formulasi model (Modelling
Formulation) untuk diubah dan diperbaiki.
d. Jika telah sesuai maka akan masuk ketahap
berikutnya.
2.2.7 Desain Eksperimen
a. Langkah eksperimen ini dilakukan untuk
menguji desain dengan menggunakan teori
ekspeimental desaign.
b. Bagaimana mendapatkan data input untuk
dapat melaksanakan percobaan dengan baik
c. Perlu juga untuk mencari nilai efektif dari
percobaan tersebut, yang dikenal sebagai
MOE
d. Bila diperlukan, langkah ini merupakna
langkah tambahan untuk melakukan
percobaan guna mendapatkan ketepatan
simulasi
2.2.8 Perencanaan yang Taktis
a. Langkah ini merupak bentuk studi kelayakan
dari tahap desain eksperimen, yakni untuk
melihat bagaimana percobaan dapat dikerjakan
memalui perencanaan terarah
b. Perencanaan dilakukan untuk menetukan berapa
lama percobaan dapat dilakukan sehingga kita
dapat menegtahui dengan tepat kapan kita akan
memulai dan mengakhiri program.
2.2.9 Percobaan Dilaksanakan
a. Langkah ini merupakan pelaksanaan dari
percobaan yang sudah didesain
b. Percobaan juga dapat dilakukan dengan
menggunakan teknik penelitian kimia dan
fisika dengan teori yang sudah diketahui dan
dikuasai.
c. Melakukan interpretasi terhadap hasil
percobaan
tersebut
dengan
tetap
memungkinkan untuk dikoreksi kembali.
d. Membuat laporan yang terperinci mengenai
percobaan yang dilaksanakan
2.2.10 Model Terpakai
Langkah ini merupakan langkah untuk
menjawab pertanyaan apakah model yang sudah
di desain itu dapat memberikan hasil yang banar
dan memadai sesuai yang diharapkan.
2.2.11 Dokumentasi
Langkah terakhir ini merupakan langkah yang
menyatakan model simulasi telah dapat diterima
dan sesuai dengan yang diharapkan.
10
William Ramdhan, dkk., Simulasi Kekuatan Daya Hantar Listrik Larutan Elektrolit
2.3 Monte Carlo
Simulasi Monte Carlo adalah metoda
pengambilan sampel pada mesin atau komputer
dengan menggunakan bilangan-biangan acak
(random number). Prinsip kerja dari Simulasi Monte
Carlo adalah membangkitkan bilangan-bilangan acak
atau sampel dari suatu variabel acak yang telah
diketahui distribusinya. Oleh karena itu, dengan
simulasi Monte Carlo seolah-olah dapat diperoleh
data dari lapangan. Simulasi Monte Carlo merupakan
alat rekayasa untuk menyelesaikan berbagai
persoalan yang rumit ddalam bidang probabilitas dan
statistika. Pada hakekatnya simulasi monte carlo
merupakan suatu metode numeric sehingga
membutuhkan banyak sekali iterasi dan pehitungan.
Ada tiga batasan dasar yang harus diperhatikan
pada simulasi Monte Carlo yaitu
a. Apabila suatu persoalan sudah dapat
diselesaikan atau dihitung jawabanya secara
sistematis dengan tuntas maka hendaknya
jangan menggunakan simulasi ini. Itu berarti
apabila persoalan dapat diselesaikan dengan pro
gram ataupun teori dalam operation research
(quening theory, integer programming dan lainlain)simulasi ini tidak perlu digunakan lagi,
kecuali perancangan-perancangan memerlukan
perkiraaan.
b. Apabila sebagian persoalan tersebut dapat
diuraikan secara analitis dengan baik, maka
penyelasiannya lebih baik dilakukan secara
terpisah. Yaitu sebagian dengan cara analitis
dan sebagianya dengan simulasi Monte Carlo
untuk
kemudian
disusun
kembali
keseluruhannya sebagai penyelesaian akhir. Ini
berarti tenik sampling dari simulasi Monte
Carlo ini hanya digunakan apabila betul-betul
dibutuhkan.
c. Apabila mungkin maka dapat digunakan
simulasian perbandingan. Kadangkala simulasi
ini dibutuhkan apabila dua system dengan
perbedaan-perbedaan parameter, distribusi,
cara-cara pelaksanaannya.
3.2 Data Flow Diagram
Sistem yang akan dirancang menggunakan
software Microsoft visual basic 6.0. Di dalam sistem
tersebut daya hantar listrik yang disimulasikan
berdasarkan nilai variabel volume dan massa. Maka
output dari sistem tersebut adalah besaran daya yang
dihantarkan oleh larutan kimia tersebut.
Untuk memulai sistem simulasi tersebut, user
diharuskan untuk memilih jenis atau sifat dari larutan
tersebut. Setelah menentukan sifat larutan yang akan
disimulasikan, maka kita akan mendapatkan beberapa
jenis larutan yang memiliki sifat yang sama. Maka
hal yang akan dilakukan, kita menetukan nilai input
larutan tersebut yaitu nilai volume dan nilai berat
(massa) larutan sehingga kita mendapatkan nilai
output. Nilai volume dan berat yang berfungsi
sebagai penentu nilai molaritas. Karena dari input
tersebut akan menghasilkan nilai daya hantar arus
listrik yang berbeda-beda.
3.3 Interface Simulasi Larutan Elektrolit
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Conteks Diagram
Untuk memperjelas bentuk rancangan sistem dan
mempermudah menganalisa sistem yang dirancang,
harus ada gambaran lebih detail tentang elemanelaman dan hubungannya serta pembahasan disetiap
ruang lingkup sistem. Salah satu media yang dapat
digunakan untuk memperjelas hal tersebut adalah
conteks diagram yang dapat dilihat pada gambar 4.1
Pada Gambar diatas merupakan interface
simulasi, di mana dalam memulai simulasi kita
diharuskan untuk memilih sifat/jenis larutan terlebih
dahulu. Jika kita memilih salah satunya misalkan
jenis larutan asam. Maka akan terbentuk frame baru
yang berisikan larutan yang bersifat larutan. Setelah
memilih salah satu larutan yang bersifat asam, Maka
kita diharuskan mengisi nilai volume dan berat massa
larutan tersebut dengan tujuan hasil dari volume dan
berat massa larutan akan menentukan nilai molaritas
larutan. Sehingga perubahan dari molaritas tersebut
akan berpengaruh terhadap nilai daya hantar arus
listrik. Pada saat user atau siswa menginputkan nilai
volume maka secara otomatis animasi simulasi
larutan kimia terjadi
11
William Ramdhan, dkk., Simulasi Kekuatan Daya Hantar Listrik Larutan Elektrolit
3.4 Analisa Data
Sistem yang dirancang akan digunakan untuk
menentukan kekuatan daya hantar arus listrik dari
larutan elektrolit. Dalam melakukan perancangan
sistem tersebut, harus ditentukan terlebih dahulu data
yang akan digunakan. Data yang akan digunakan
didapat dari hasil percobaan yang dilakukan di dalam
laboratorium kimia dan mengambil beberapa sampel
dari larutan kimia tersebut.
Di mana larutan elektrolit dikategorikan menjadi
3 golongan yaitu larutan yang bersifat asam, basa dan
garam. Larutan asam yang disimulasikan terdiri atas
H2SO4, C3COOH, HCl, H2C2O4.2H2O, sedangkan
larutan basa yang akan disimulasikan terdiri dari
NH3, NaOH, KOH, Ca(OH)2. Untuk larutan yang
bersifat garam yang akan disimulasikan terdiri dari
NaCl, MgSO4.2H2O, KCl, dan K2SO4.
Dari data-data sampel yang telah diambil, akan
digunakan untuk membuat bilangan random sehingga
simulasi monte carlo/simulasi sampling dapat
dilakukan. Variabel yang digunakan adalah kuat arus,
volt dari larutan yang diuji kekuatan daya hantar
listriknya, daya hantar larutan elektrolit dan molaritas
larutan.
Analisa
Data
dan
Hasil
Pengukuran
Laboratorium
Larutan yang dipakai pada kondisi awal/
dijadikan sample memilki volume 4ml dengan
konsentrasi 2 Molar (M). Hal ini berlaku untuk
semua jenis larutan yang akan disimulasikan.
Kegiatan yang dilakukan adalah melakukan
pengujian terhadap 40 ml larutan dengan mengukur
tegangan dan kuat arus yang dihasilkan oleh larutan
sebagai larutan elektrolit. Maka larutan akan
ditambah dengan aquades (air) menjadi 50 ml, 80 ml
dan 100 ml.
Di mana kegiatan yang dilakukan sama dengan
kegiatan pada volume 40 ml dengan perlakuan yang
sama. Sehingga dapat dikatakan titik sampel yang
diambil untuk simulasi adalah pada 40 ml, 50 ml, 80
ml dan 100 ml.
3.4.1 HCl ( Asam Klorida )
Tabel 4.1 Hasil Pengujian Laboratorium
Volume
(ml)
Tegangan
(V)
Arus (A)
Daya
(Watt)
40 ml
50 ml
80 ml
100 ml
2.8
2.6
2.2
2.1
0.1725
0.1650
0.1600
0.1500
0.483
0.429
0.352
0.315
Data sampel yang diambil sebanyak 40 ml
larutan HCl dengan konsentrasi molaritas 2 Molar.
Sehingga kita dapat memisahkan tabel diatas menjadi
3 tabel untuk mendapatkan bilangan random dari
larutan HCl. Karena kita akan membuktikan
hubungan molaritas dengan daya yang dihantarkan
oleh larutan.
1. Tabel molaritas
Untuk mendapatkan nilai molaritas pada setiap
volume sampel maka dilakukanlah perhitungan
dengan menggunakan rumus pengenceran.
M1 x V1 = M2 x V2 ------------------------ ( II )
Tabel molaritas mempunyai peranan penting untuk
menciptakan/mensimulasikan daya hantar larutan
elektrolisis. Pada tabel 4.2 menjelaskan hubungan
volume dengan molaritas.
Tabel 4.2 Hubungan Volume dengan Molaritas
Volume (ml)
40
50
80
100
Molaritas (M)
2.0
1.6
1.0
0.8
Pengujian sampel bertujuan untuk mengetahui
nilai molaritas pada volume 40 ml yaitu 2M. Maka
untuk mendapatkan nilai molaritas untuk setiap
sampel. Maka dilakukan perhitungan dengan metoda
pengenceran.
Sehingga untuk mendapatkan nilai molaritas dari
50 ml adalah :
M1 x V1 = M2 x V2
40 x 2 = M2 x 50
M2 = 1.6
Begitu juga halnya untuk mendapatkan nilai
molaritas pada volume 80 ml dan 100 ml. Maka hal
yang dilakukan selanjutnya menentukan nilai range
molaritas. Untuk hal itu diambil sampel pada volume
40 ml dan 50 ml. Untuk mendapatkan range
molaritas dari 40 sampai dengan 50 ml dilakukan
perhitungan sebagai berikut :
(Molaritas1- Molaritas 2)/jarak volume2- volume 1,
sehingga kita dapat memasukkan nilainya menjadi :
(2 – 1.6) / 10 sehingga kita mendapatkan nilai range
molaritas 0,04
2. Tabel tegangan
Di mana sebagai tolak ukurnya adalah nilai
molaritas yang telah kita dapat pada tabel pertama.
Untuk membuat tabel tegangan kita harus
menghubungkan nilai molaritas dengan nilai
tegangan yang telah kita dapatkan pada percobaan
laboratorium seperti tabel dibawah ini.
Tabel 4.3 Tabel Hubungan Molaritas dengan
Tegangan
Molaritas (M)
2.0
1.6
1.0
0.8
Tegangan (V)
2.8
2.6
2.3
2.2
Dan kita juga menentukan nilai range pada
tegangan dengan menggunakan perhitungan(Nilai
tegangan 1- Nilai tegangan 2) / molaritas 1- molaritas
12
William Ramdhan, dkk., Simulasi Kekuatan Daya Hantar Listrik Larutan Elektrolit
2. Maka tabel nya adalah sebagi berikut Untuk
mendapatkan range tersebut kita juga mengambil
sampel nilai molaritas dari valume 40 dan 50. Maka
range yang didapat adalah 0,02
3. Tabel Kuat Arus
Tabel selanjutnya yang digunakan adalah tabel
kuat arus. Hal yang dilakukan sama dengan tabeltabel sebelumnya di mana kita menentukan range
kuat arus, di mana kita masih menggunakan nilai
molaritas volume 40 dan volume 50 sebagai sampel
untuk menentukan range kuat arus. Maka tabel kuat
arus adalah
Tabel 4.4 Tabel Hubungan Molaritas dengan
Kuat arus
Molaritas (M)
2.0
1.6
1.0
0.8
Kuat Arus (A)
0.1725
0.1650
0.1600
0.1500
Sehingga didapakan range kuat arus dengan
melakukan perhitungan (Nilai kuat arus 1- Nilai kuat
arus 2) / molaritas 1 – molaritas 2. Maka didapatkan
range kuat arus = 0,00075
Dari
ketiga
tabel
tersebut
kita
bisa
mensimulasikan hubungan molaritas terhadap
kekuatan daya hantar larutan elektrolit di mana
seperti tabel berikut
Untuk mendapatkan nilai tegangan, kuat arus dan
bilangan random daya elektrolisis seperti tabel 4.5
maka dilakukan sebagai berikut:
Pada molaritas , kita telah memiliki range yang telah
kita dapatkan pada tabel molaritas. Maka untuk
menghasilkan nilai molaritas diatas dapat dilakukan
sebagai berikut:
a. Molaritas awal adalah 2 M, sehingga 2 M
merupakan titik awal kita dalam membentuk
nilai molaritas yang lainnya. Maka jika kita
merujuk pada tabel percobaan laboratorium
dan tabel molaritas, di mana setiap
menambahkan nilai volume larutan maka nilai
moaritasnya berkurang.
b. Pada kolom tegangan kita mendapatkan nilainilai seperti tabel diatas. Kita masih
berpatokan pada molaritas 2 M yang
merupakan nilai awal waktu melakukan
percobaan. Maka kita akan mendapatkan nilai
tegangan pada setiap molaritas seperti pada
tabel
tegangan,
sehingga
kita
akan
mendapatkan nilai tegangan awal yang
mewakili 2M. untuk mendapatkan nilai
tegangan lainnya.
c. arus hal yang dilakukan masih sama dengan
tahap-tahap sebelumnya. Di mana kiat
berpatokan pada tabel kuat arus yang
menentukan nilai awal kuat arus larutan.
13
William Ramdhan, dkk., Simulasi Kekuatan Daya Hantar Listrik Larutan Elektrolit
d. Pada kolom daya merupakan bilangan random
yang didapat dari nilai tegangan dikalika
dengan nilai kuat arus. Nilai daya inilah
merupakan nilai tegangan yang akan
disimulasikan oleh sistem.
Hal yang sama dilakukan terhadap larutan H2SO4,
C3COOH, H2C2O4.2H2O, NH3 NaOH, KOH,
Ca(OH)2, NaCl, Na2SO4, MgSO4.2H2O, dan KCl.
4. KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisa sistem simulasi kekuatan
daya hantar listrik larutan elektrolit, maka dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Dengan menggunakan simulasi dapat dilihat
dengan jelas kekuatan daya hantar listrik. Di
mana dengan konsebtrasi larutan yang berbeda
maka menghasilkan daya hantar listrik larutan
yang berbeda pula.
2. Pada jenis larutan yang berbeda dengan
memiliki konsentrasi yang sama menghasilkan
kekuatan daya hantar listrik yang berbeda.
3. Penggunaan metoda Monte Carlo pada
penelitian laboratorium sangat tepat digunakan
karena di dalam metoda Monte Carlo
menggunakan sistem sampel untuk menentukan
pola yang akan disimulasikan dan hal ini juga
diterapkan di dalam laboratorium pada
penggunaan larutan kimia. Selain itu hasil
simulasi dapat digunakan lagi dengan
menggunakan metode Monte Carlo untuk
mendapatkan
pola
yang
baru
dalam
penyempurnaan hasil simulasi.
4. Bahasa pemograman Microsoft Visual basic 6.0
dapat digunakan sebagai media perancangan
adan pengontrol simulasi.
5. Simulasi merupakan media alternatif bagi
sekolah dalam pembelajaran dan lebih
khususnya media yang sangat cocok bagi
sekolah yang mengalami kekurangan fasilitas
laboratorium.
3. Untuk
bahan-bahan
berbahaya
dan
membutuhkan biaya yang sangat besar dapat
disimulasikan agar lebih efektif.
4. Volume larutan yang akan disimulasikan
sebaiknya
lebih
rinci
sehingga
akan
menghasilkan simulasi yang sempurna dan
memiliki data yang lebih akurat.
5. Pada animasi kekuatan daya hantar listik
sebaiknya diberikan nilai agar lembih mudah
dalam pembacaan kekuatan daya hantar larutan
yang disimulasikan.
6. Diharapkan dalam pengembangan selanjutnya,
simulasi tersebut bisa membandingkan 2 larutan
secara bersamaan. Sehingga tampak dengan
jelas larutan yang baik menghantarkan arus
listrik.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin MIftahol ( 2009 ).”Simulasi Sistem Industri”
Graha Ilmu
Kakiay.Thomas J ( 2004 ) .” Sistem Simulasi” Andi
Oktafri ( 2001 ).”Aplikasi Metode Simulasi Monte
Carlo Untuk Menduga Debit Aliran Sungai”
Vol 15 No 2 Agustus
Sridadi
H
Bambang,M.Sc,
”Perkembangan
Teknologi Informasi Komputer”
Saifudin
Toha,S.si.,M.Si.”
Beberapa
Penerapan Simulasi Monte Carlo
Contoh
Tirta I Made,M.Sc,Ph.D ( 2003 ).”Pengantar Metode
Statistika Dengan Aplikasi R Dan S+
Unisi-Ilyas,”Simulasi Dan Pemodelan”
Cahyo Winda Nur ( 2008 ).”Pendekatan Simulasi
Monte Carlo Untuk Pemilihan Alternatif
Dengan Decision Tree Pada Nilai Outcome
Yang Probabilistik”, Vol 13 No 2 Desember
5. SARAN
Berdasarkan dalam pembuatan sistem, ada
beberapa kendala yang dihadapi dan disini akan
disampaikan beberapa saran yang bermanfaat untuk
mengembangkan dan menyempurnakan hasil karya
berikutnya :
1. Data yang akan disimulasikan sebaiknya
ditambah karena masih banyak larutan kimia
yang belum disimulasikan.
2. Untuk kedepannya simulasi lebih baik
menggunakan software macromedia flash
sehingga memberikan daya tarik tersendiri
dalam bidang pembelajaran.
14
Download