BAB XIV SUMBER-SUMBER PENAWARAN MODAL

advertisement
BAB XIV
SUMBER-SUMBER PENAWARAN MODAL
14.1 Sumber-sumber Penawaran Modal Menurut Asalnya
a. Sumber Intern (Internal Sources)
Sumber penawaran modal ditinjau dari “asalnya” pada dasarnya dapat
dibedakan dalam “sumber intern” (internal sources) dan “sumber extern” (external
sources). Modal yang berasal dari sumber intern adalah modal atau dana yang
dibentuk atau dihasilkan sendiri di dalam perusahaan. Metode pembelanjaan dengan
menggunakan dana atau modal yang dibentuk atau dihasilkan sendiri di dalam
perusahaan, yang berarti suatu pembelanjaan dengan “kekuatan sendiri” disebut
“pembelanjaan dan dalam perusahaan” atau “internal financing” dalam arti yang luas.
Sumber intern atau sumber dana yang dibentuk atau dihasilkan sendiri di dalam
perusahaan adalah “keuntungan yang ditahan” (retained net profit) dan akumulasi
penyusutan (accumulated depreciations). Sebenarnya ditinjau dari penggunaan atau
bekerjanya kedua dana trersebut di dalam perusahaan tidak ada bedanya, dan di
dalam hubungan ini Joel Dean dalam bukunya yang berjudul “Capital Budgeting”
menyatakan “No distiction berween these should be make in appointment of internal
investment “.
1. Laba ditahan
Besamya laba yang dimasukkan dalam cadangan atau ditahan, selain
tergantung pada besarnya laba yang diperoleh selama periode tertentu, juga
tergantung kepada “dividend politik” dan “plowing-back policy” yang dijalankan oleh
perusahaan yang bersangkutan meskipun laba yang diperoleh selama periode tertentu
besar, tetapi oleh karena perusahaan mengambil kebijakan bahwa sebagian besar dan
laba tersebut dibagikan, sebagai deviden, maka bagian laba yang dijadikan cadangan
adalah kecil jumlahnya. Pada umumnya pelaksanaan “plow-back policy” atau policy
penanaman kembali dalam perusahaan didasarkan pada pedoman-pedoman sebagai
berikut:
1. “Plow-back” hendaknya dijalankan selama dapat diinvestasikan dengan “rate of
return” yang lebih tinggi daripada “cost of capital-nya”
2. “Plow-back” hendaknya dapat menstabilisir dividen.
3. Plow-back” hendaknya merupakan persiapan untuk menghadapi keadaan
darurat atau untuk ekspansi.
Universitas Gadjah Mada
Blom mengemukakan 3 buah alasan utama untuk menahan laba, yaitu:
1. alasan untuk stabilisasi
2. alasan untuk investasi
3. alasan untuk memperbaiki struktur finansiil.
Berdasarkan itu maka perlulah diadakan:
1. cadangan untuk stabilisasi
2. cadangan untuk ekspansi
3. cadangan untuk perbaikan struktur finansiil.
Polak mengemukakan alasan untuk membuat cadangan sebagai berikut:
1. menjaga agar modal yang ditetapkan jangan “tersinggung”.
2. untuk melunasi utang.
3. untuk memenuhi kebutuhan modal badan usaha yang makin meningkat
karena hasrat perluasan. Makin besar cadangan yang disediakan berarti
makin besar sumber intern dan dana yang ada dalam perusahaan yang
bersangkutan.
Pemanfaatan laba yang ditahan untuk satu perusahaan berbeda dengan
lainnya berdasarkan alasan tersebut di atas. Sebagai contoh aplikasi dalam
perusahaan hutan misalnya:
a. Disebabkan oleh perusahaan mempunyai dana dan laba ditahan cukup banyak
sebagian dana dipakai untuk membeli mesin barn (traktor, logging truck dll) pada
posisi mengganti alat lama yang telah tua dan produktivitasnya rendah, sebagian
dana untuk rehabilitasi kantor/perumahan dalam base camp yang keadaannya
rusak karena mernang telah lama umur pakainya misalnya 15-20 tahun.
b. Untuk HTI yang pada mulanya persemaian dengan menggunakan manual, setelah
perusahaan melewati daur dan mendapatkan keuntungan dan hasil panenan,
sebagian dana laba ditahan dipakai untuk memperbaikilmerenovasi persemaian
dengan menambah peralatan mekanis misalnya untuk penyiramandengan
memakai sprinkle. Dengan adanya sprinkle ini diharapkan kualitas penyiraman
dapat lebih seragam sehingga kualitas bibit meningkat.
c. Apabila suatu perusahaan pada awalnya banyak hutan bank dengan angsuran dan
biaya bunga bank cukup tinggi maka laba ditahan dapat dipakai untuk melunasi
sebagian hutan atau seluruhnya. Dengan demikian maka biaya angsuran dan
bunga bank akan berkurang atau hapus sehingga biaya total menurun dan
keuntungan menjadi lebih besar. Sumber intern selain berasal dari laba/cadangan
juga berasal dari akumulasi depresiasi. Besarnya akumulasi depresiasi yang
Universitas Gadjah Mada
dibentuk dari depresiasi setiap tahunnya adalah tergantung kepada metode
depresiasi yang digunakan oleh perusahaan yang bersangkutan. Sementara
sebelum akumulasi depresiasi tersebut digunakan untuk mengganti aktiva tetap
yang akan diganti, dapat digunakan untuk membelanjai perusahaan meskipun
waktunya terbatas sampai saat penggantian tersebut. Selama waktu akumulasi
depresiasi merupakan sumber penawaran modal di dalam perusahaan itu sendiri.
Makin besar jumlah akumulasi depresiasi berarti makin besar “sumber intern” dan
dana
yang
dihasilkan
di
dalam
perusahaan
yang
bersangkutan.
Depresiasi/penghapusan suatu aktiva tetap misalnya diperhitungkan dalam biaya
tetap, akan tetapi pada kenyataannya biaya dalam arti riil/kas tidak dikeluarkan.
Oleh sebab itu depresiasi tersebut menjadi sumber internal dana perusahaan.
Sebaiknya dana tersebut tidak digunakan untuk kepentingan lain sehingga pada
saat perusahaan memerluakan dana investasi peralatan (penggantian) misalnya
setelah 5 tahun sesuai umur pakainya tidak mengalami kesulitan. Misalnya untuk
meningkatkan likwiditas perusahaan.
Untuk dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai depresiasi atau
penyusutan sebagai sumber dana, dapatlah diberikan contoh di bawah ini dengan
asumsi bahwa segala transaksi finansial didasarkan atas “cash basis”.
(a).
Dalam keadaan perusahaan tidak mendapatkan keuntungan
Universitas Gadjah Mada
Dari contoh (a) tersebut tampak bahwa perusahaan itu meskipun tidak
mendapatkan keuntungan, tetapi tetap mempunyai arus kas netto sebesar
Rp20.000,00 yang berasal dari depresiasi.
Bagaimana halnya kalau perusahaan mendapatkan keuntungan? Arus
kas neto-nya dapat dilihat dari contoh di bawah ini.
(b)
Dalam keadaan perusahaan mendapatkan keuntungan
Dari contoh (b) tersebut tampak bahwa meskipun perusahaan mendapatkan
keuntungan netto sebesar Rp. 21.000,00 namun arus kas netto yang tersedia di dalam
perusahaan sebesar Rp. 41.000,00. jumlah dana sebesar Rp. 41.000,00 itu berasal
dari keuntungan netto sebesar Rp. 21.000,00 dari berasal dari depresiasi sebesar Rp.
20.000,00. penambahan laba netto sebesar Rp. 21.000,00 menambah modal usaha
semula, sehingga laba di sini merupakan sumber dana baru (dengan asumsi tidak ada
yang dibayarkan sebagai cash diviend). Penambahan depresiasi sebesar Rp.
20.000,00 juga merupakan sumber dana, meskipun tambahan dana tersebut tidak
mengakibatkan bertambahnya aktiva total maupun bertambahnya modal.
Dalam hubungannya dengan masalah penyusutan depresiasi sebagai dana,
R.W Johnson menyatakan bahwa berbedanya jumlah depresiasi tidak mengakibatkan
tambahan jumlah dana yang dihasilkan dari operasi, sehingga dalam arti tersebut
depresiasi tidak dapat dikatakan sebagai sumber dana. Tetapi berbedanya jumlah
depresiasi memang mengakibatkan tambahan jumlah dana sesudah pembayaran
pajak, yang disebabkan karena adanya “tax-shield”. Makin besar jumlah penyusutan
akan memperkecil jumlah pajak penghasilan yang berarti memperkecil arus kas-keluar.
Apabila depresiasi dalam contoh (b) misalnya sebesar Rp. 25.000,00 yang
disebabkan karena penggunaan metode depresiasi yang berbeda, apakah makin
besamya depresiasi dari Rp. 20.000,00 menjadi Rp. 25.000,00 akan memperbesar
jumlah dana yang berasal dari operasi perusahaan? Jawabannya jelas “tidak”. Yang
menjadi lebih besar adalah jumlah dana sesudah pembayaran pajak atau “net cashinflow after tax”. Baik dengan depresiasi sebesar Rp. 20.000,00 ataupun Rp.
25.000,00, jumlah dana yang dihasilkan dari operasi perusahaan adalah tetap sama
yaitu sebesar Rp. 50.000,00 yang ini berasal dari penjualan sebesar Rp.150.000,00
dikurangi dengan biaya tunai sebesar Rp.100.000,00. tetapi jumlah dana yang tersedia
sesudah pajak akan berbeda antara kedua metode depresiasi tersebut, sehingga
tampak dan perhitungan di bawah ini.
Universitas Gadjah Mada
b. Sumber Extern (External Sources)
“Sumber extern” adalah sumber yang berasal dan luar perusahaan, dan
sebagaimana diuraikan di muka, bahwa metode pembelanjaan di mana usaha
pemenuhan kebutuhan modalnya diambilkan dan sumber-sumber modal yang berada
di luar perusahaan dinamakan “pembelanjaan dan luar perusahaan (external
financing)”.
Dana yang berasal dan sumber extern adalah dana yang berasal dan para
kreditur dan pemilik, peserta atau pengambil bagian didalam perusahaan. Modal yang
berasal daRI para kreditur adalah merupakan hutang bagi perusahaan yang
bersangkutan dan modal yang berasal dan para kreditur tersebut ialah apa yang
disebut “Modal Asing”. Metode pembelanjaan dengan menggunakan modal asing
disebut “pembelanjaan asing” atau “pembelanjaan dengan hutang” (Debt financing).
Dana yang berasal dari pemilik, peserta atau pengambil bagian di dalam perusahaan
adalah merupakan dana yang akan tetap ditanamkan dalam perusahaan yang
bersangkutan, dan dana ini dalam perusahaan tersebut akan menjadi “Modal Sendiri”.
Metode pembelanjaan dengan menggunakan dana yang berasal dan pemilik atau
calon pemilik disebut “pembelanjaan sendiri” (Equity financing).
Dengan demikian maka pada dasarnya dana yang berasal dan sumber extren
adalah terdiri dan “modal asing” dan “modal sendiri”. Dalam hubungannya dengan
modal asing dan modal sendiri Curt Sanding dalam bukunya yang berjudul :
Universitas Gadjah Mada
“Finanzierung mit Fremd.-kapital” mengemukakan perbedaan antara kedua bentuk
tersebut, antara lain sebagai berikut :
Modal Asing
Modal Sendiri
1. Modal yang terutama memperhatikan
1. Modal terutama dan berkepentingan
kepada kepentingannya sendiri, yaitu
terhadap kontinuitas kelancaran dan
kreditur
keselamatan perusahaan.
2. Modal yang tidak mempunyai
2. Modal yang dengan kekuasaannya
pengaruh terhadap penyelenggaraan
dapat mempengaruhi politik
perusahaan
perusahaan.
3. Modal dengan beban bunga yang
3. Modal yang mempunyai hak atas
tetap, tanpa memandang adanya
laba sesudah pembayaran bunga
keuntungan atau kerugian.
kepada modal asing
4. Modal yang hanya sementara turut
bekerjasama di dalam perusahaan
5. Modal yang dijamin modal yang
mempunyai hak didahulukan (hak
4. Modal yang digunakan di dalam
perusahaan untuk waktu yang tidak
terbatas atau tidak tertentu lamanya.
5. Modal yang menjadi jaminan dan
preferent) sebelum modal sendiri di
haknya adalah sesudah modal asing
dalam likuidasi.
di dalam likuidasi.
Pada umumnya modal asing dalam perusahaan yang terbesar adalah dan
hutan bank. Pihak bank meskipun memberikan pinjaman pada perusahaan tidak
mempunyai pengaruh/wewenang untuk campur tangan dalam perusahaan. Oleh sebab
itu pihak bank harus hati-hati dalam memberikan kredit/hutan, dengan cara meneliti
secara seksama kinerja perusahaan. Resiko dan bank adalah perusahaan tidak
mampu membayar angsuran dan bunga sesuai dengan kesepakatan/perjanjian yang
ada.
Dari pihak perusahaan hutang bank mempunyai akibat perusahaan harus
membayar angsuran pinjaman dari bunga secara tetap, tidak peduli laba-rugi. Oleh
sebab itu keputusan hutang kepada bank harus didasarkan perhitungan yang cermat
terhadap kemampuan perusahaan rnembayar dan biasanya dikaitkan dengan kinerja
produksi, pemasaran dll yang berpengaruh terhadap aspek financial. Modal asing
hanya sementara ikut bekerjasama dengan perusahaan dalam arti apabila perusahaan
diatas sudah membayar pinjaman dan bunganya secara lunas kepada bank dan
selanjutnya tidak perlu lagi pinjaman/hutang maka bank tidak ada lagi kerjasama/ikut
dalam perusahaan.
Universitas Gadjah Mada
Dalam keadaan perusahaan bangkrut dan akhirnya dilikuidasi, maka apabila
aktiva tetap yang ada dijual, maka pihak bank mempunyai hak didahulukan yaitu hasil
penjualan aktiva tersebut untuk niembayar hutang kepada bank yang belum dibayar
sebelumnya. Modal sendiri biasanya berasal dari pemilik perusahaan yang dalam
perusahaan bentuk PT (Perseroan Terbatas) adalah pemegang saham. Modal saham
yang ditanamkan oleh pemilik mempunyai harapan jangka panjang dan bahkan
perusahaan dapat berjalan lancar dan lestari.
Dalam perusahaan PT pemegang kekuasaan tertinggi adalah RUPS (Rapat
Umum
Pemegang
memperhentikan
Saham).
direksi
RUPS
perusahaan.
mempunyai
Apabila
wewenang
suatu
mengangkat
perusahaan
dan
direksinya
korupsilmenyeleweng dan kinerjanya kurang baik, dapat dialkukan RUPS dan
membuat keputusan memecat atau mengganti direksi. Disamping itu sesuai dengan
PT untuk mengawasi jalannya perusahaan para pemegang saham menduduki jabatan
komisaris perusahaan.
Dalam RUPS dapat dibuat keputusan financial misalnya menyangkut labah
ditahan dan pembagian dividend. Selain itu dalarn RUPS suara pemegang saham
ditentukan oleh prosentasi besarnya saham. Misalnya ada pemegang saham
mayoritas (>80%), maka pemegang saham ini mempunyai hak suara yang lebih dalam
hal membuat keputusan (voting). Dalam hal hak pemegang saham deviden,
perusahaan hanya wajib membayar/memberikan deviden apabila perusahaan
mendapatkan laba/keuntungan (berbeda dengan hutang bank). Selanjutnya apabila
karena sesuatu hal perusahaan bangkrut dan dilikwidasi, maka hak pemegang saham
merupakan kesempatan berikkutnya sesudah hak bank (modal asing) dalam hal
pembayaran kewajiban perusahaan.
c. Suplier, Bank dan Pasar Modal sebagai Sumber Ekstern Utama
1. Supplier
Pada dasarnya pihak-pihak pemberi dana atau modal yang utama dapat
digolongkan dalam 3 golongan yaitu: 1) Suplier, 2) Bank dan 3) Pasar Modal. Suplier
memberikan dana kepada suatu perusahaan di dalam bentuk penjualan barang secara
kredit baik untuk jangka pendek (kurang dan 1 tahun), maupun untuk jangka
menengah (lebih dan 1 tahun dan kurang dari 10 tahun).
Penjualan secara kredit atau barang dengan jangka waktu pembayaran kurang
dari satu tahun banyak terjadi pada penjualan barang dagangan dan bahan mentah
oleh suplier kepada langganan. Dalam hal demikian berarti bahwa langganan atau
Universitas Gadjah Mada
pembeli membiayai operasinya perusahaan (dalam hal ini pembelian barang dagangan
atau bahan mentah) dengan dana yang berasal dan suplier. Suplier atau Manufacturer
(pabrik) sering pula menjual mesin atau equipments lain hasil produksinya kepada
suatu perusahaan atau pabrik yang menggunakan mesin atau equipments tersebut
dengan jangka waktu pembayaran 5 sampai 10 tahun. Pembeli mesin atau equipment
harus melunasi harga mesin tersebut dalam jangka wa.ktu tertentu dengan cara
mengangsur setiap bulan, setiap kuartal atau setiap tahunnya menurut kontrak yang
dibuatnya. Dalam hal demikian berarti bahwa perusahaanlpabrik pembeli mesin itu
memhiayai pembelian mesin tersebut dengan dana yang berasal clan suplier untuk
jangka waktu tertentu.
Dana model supplier ini banyak terjadi dalam perusahaan hutan. Sebagai
contoh adalah supplier untuk keperluan bahan makanan di base camp, material untuk
survey lapangan dll. Perusahaan tidak perlu mengeluarkan uang kas sewaktu-waktu
sesuai dengan realisasi pengerahan bahan makanan dan material, akan tetapi
perusahaan hanya membayar sath kali dalam sebulan sesuai dengan tagihan secara
keseluruhan. Hal ini sangat penting karena dengan terbatasnya dana pada perusahaan
pemanfaatanlpenyediaan kas dapat lebih fleksibel sesuai dengan keperluan. Hal yang
lain misalnya perusahaan banyak melakukan perjalanan dengan pesawat, tagihan
pembayaran sesudah satu bulan.
2. Bank-bank
Bank adalah lembaga kredit yang mempunyai tugas utama memberikan kredit
di samping pemberian jasa-jasa lain di bidang keuangan. Oleh karena tugas utamanya
adalah memberikan kredit, maka bank telah menentukan kebijakan dan peraturanperaturan mengenai pemberian kredit, meskipun ada perbedaannya antara bank satu
dengan bank lainnya. Kredit yang diberikan oleh bank dalam diam bentuknya kredit
jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.
Syarat-syarat kredit jangka pendek pada umumnya lebih lunak dibandingkan
dengan kredit jangka panjang. Hal ini disebabkan karena kredit jangka panjang
biasanya meliputi jumlah dana yang besar, dan terikat untuk jangka waktu yang
panjang. Pada umumnya pemberian kredit oleh bank adalah berdasarkan penilaian
bank tersebut terhadap permohonan kredit mengenai berbagai aspek, yaitu antara lain
meliputi segi pribadi, keahlian dan kemampuan pimpinan perusahaan dalam mengelola
perusahaannya,
rencana
penggunaan
kredit
yang
diminta
beserta
rencana
pembayaran kembali kredit tersebut. Besamya jaminan yang dapat diberikan kepada
Universitas Gadjah Mada
Bank, posisi dan perkembangan finansiil dan perusahaan pemohon kredit diwaktuwaktu yang lalu, prospek darI perusahaan yang bersangkutan beserta prospek industri
dimana perusahaan tersebut tergolong di dalamnya diwaktu yang akan datang, baik
jangka pendek maupun jangka panjang.
Dalam dunia perbankan kita mengenal adanya pedoman “3 R” dan “5 C” dalam
pernberian kredit di samping syarat-syarat kredit yang biasa. misalnya segi juridisnya.
Adapun pedoman “3 R” dalam penilaian penggunaan kredit oleh Bank adalah:
1) Returns
Returns menunjukkan hasil yang diharapkan dapat diperoleh dari penggunaan
kredit tersebut. Dalam hubungan ini Bank harus menilai bagaimana kredit yang
diperoleh dari Bank tersebut akan digunakan. oleh perusahaan pemohon kredit.
Persoalannya di sini ialah apakah penggunaan kredit tersebut akan dapat
menghasilkan “returns” atau hasil pendapatan yang cukup untuk menutup biayanya
2) Repayment capacity
Bank harus menilai kemampuan perusahaan pemohon kredit untuk dapat
membayar kembali pinjamannya (repayment capacity) pada saat-saat di mana kredit
tersebut harus diangsur atau dilunasi.
3) Risk-bearing ability
Bank pun harus menilai apakah perusahaan pemohon kredit mempunyai
kemampuan cukup untuk menanggung risiko kegagalan atau ketidakpastian yang
bersangkutan dengan penggunaan kredit tersebut. Dalam hubungan ini Bank hams
mengetahui tentang jaminan apa yang dapat diberikan atas pinjaman tersebut oleh
perusahaan pemohon kredit.
Perusahaan
untuk
mendapatkan
kredit
kepada
bank
biasanya
hams
menyerahkan semacam proposal kelayakan kredit/permohonan. Pada proposal
tersebut tentunya berisi kelayakan finansial, pengamh pemberian kredit terhadap
pendapatan dan biaya perusahaan (arus kas masuk/kas keluar), pengaruh terhadap
produksi/pemasaran dll secara keselumhan berhubungan dengan kinerja dan secara
khusus masalah finansial perusahaan
Dalam perusahaan hutan tentunya kelayakan tersebut akan ke!ayan tersebut
akan berhubungan dengan aspek teknis kehutanan dan finansial. Misalnya proposal
kredit untuk pembeiian 2 unit traktor dan 2 unit logging tmck. Pada kasus ini harus
dilakukan analisis terhadap:
a. faktor biaya tambahan terhadap investasi di atas, angsuran, bunga, depresiasi
dll, tambahan biaya operasional dsb
Universitas Gadjah Mada
b. faktor pendapatan bempa tambahan hasil produksi dari 2 unit traktor dan 2 unit
logging truck
Analisis dilakukan terhadap kasus investasi alat berat di atas dan analisis
keseluruhan pengaruh investasi tersebut terhadap perusahaan secara keseluruhan.
Dalam hal ini sebenarnya diperlukan kejujuran dan keahlian dari kedua belah pihak
perusahaan dan bank. Untuk keperluan ini pada saat ini pihak bank rnenyediakan
tenaga ahli untuk analisis kredit pada tiap sektor/jenis kegiatan perusahaan.
Sedangkan pedoman “5 C” dalam penilaian penggunaan kredit telah diuraikan
sebelumnya, yaitu:
1. Character
Ini menyangkut segi pribadi, watak dan kejujuran dan pimpinan perusahaan dalam
pemenuhan kewajiban-kewajiban finansiilnya.
2. Capacity
Ini menyangkut kemampuan
pimpinan perusahaan
beserta
stafnya,
baik
kemampuan dalam manajemen maupun keahlian dalam bidang usahanya.
Kemampuan tersebut diukur dengan data-data finansiil di waktu-waktu yang lalu.
Berdasarkan kemampuannya dalam melaksanakan perusahaan di waktu-waktu
yang lalu, Bank akan dapat menilai kemampuannya untuk melaksanakan rencana
kerjanya di waktu yang akan datang dalam hubungannya dengan penggunaan
kredit tersebut.
3. Capital
Ini menunjukkan posisi finansiil perusahaan secara keseluruhan yang ditunjukkan
oleh ratio finansiilnya dan pene-kanan pada komposisi “tangible net worth “-nya.
Bank harus mengetahui bagaimana perimbangan antara jumlah utang dan jumlah
modal sendirinya.
4. Collateral
Ini menunjukkan besarnya aktiva yang akan diikatkan sebagai jaminan atas kredit
yang diberikan oleh Bank. Dalam hubungan ini Bank dapat minta agar aktiva yang
dijadikan jaminan itu diasuransikan. Pada prinsipnya jaminan tersebut dibedakan
antara “jaminan pokok” dan “jaminan tambahan”. Jaminan pokok adalah seluruh
barang-barang yang dibelanjai dengan kredit bank tersebut. Dengan kata lain
jaminan pokok adalah barang-barang yang menjadi obyek kredit. Adapun jaminan
tambahan adalah barang-barang yang dijadikan jaminan tetapi yang tidak
dibelanjai dengan kredit bank.
Universitas Gadjah Mada
Dengan demikian barang-barang tersebut bukan merupakan obyek
kredit. Jaminan tambahan dapat berupa tanah dan bangunan, inventaris
perusahaan, perhiasan (emas, intan, berlian) dan lain sebagainya. Besamya
nilai jaminan pokok dan jaminan tambahan yang harus diikat ditentukan oleh
Bank, misalnya minimal 25% di atas kredit maksimum yang diberikan.
Penetapan margin nilai jaminan 25% tersebut dimaksudkan untuk menjaga
keamanan kredit bank, apabila barang-barang tersebut terpaksa harus dijual
karena debitur tidak dapat melunasi utangnya. Di samping jaminan kredit, Bank
dapat menempatkan syarat-syarat tambahan untuk pengamanan kreditnya
(covenants), yaitu antara lain berupa:
a. asuransi dan milik-milik perusahaan/proyek;
b. pernyataan bahwa si peminjam tidãk akan menjaminkan barang-barang
lainnya untuk mendapatkan pinjaman lagi dari sumber lain;
c. pembatasan jumlah pinjaman dari sumber lain;
d. penetapan agar pemsahaan senantiasa memelihara “net working capital”
yang cukup;
e. persyaratan-persyaratan
dalam
penunjukkan
pimpinan
perusahaan,
penambahan barang modal dan pembagian keuntungan.
Adapun covenants tersebut hams merupakan persetujuan bersama
antara bank dan peminjam dan disamping itu secara flexibel harus dapat
ditinjau kembali apabila keadaan berubah.
5. Conditions
Bank harus menilai sampai berapa jauh pengaruh dan adanya suatu
kebijakan pemerintah di bidang ekonomi atau pengaruh dan trend ekonomi
terhadap prospek perusahaan pemohon kredit khususnya dan prospek industri
dimana perusahaan pemohon kredit termasuk di dalamnya pada umum-nya. Dalam
hubungannya dengan penilaian proyek kredit investasi (project appraisal) Bank
Indonesia telah memberikan pedoman-pedomannya.
Mengenai
jaminan
kredit
masing-masing
bank
dapat
menetapkan
ketentuannya sendiri-sendiri, kecuali untuk macam-macam kredit yang pengaturan
jaminannya telah diatur oleh Bank Indonesia, misalnya Kredit Investasi, Kredit
Investasi Kecil (KLK) dan Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP). Kalau diperlukan
Bank pemberi kredit dapat memperkuat pembayaran kembali kredit tersebut
dengan mengadakan perjanjian pertanggungan dengan suatu perusahaan
Universitas Gadjah Mada
asuransi, misalkan P.T. Askrindo atau dengan suatu Lembaga tertentu yang
ditunjuk untuk itu, misalnya Lembaga Jaminan Kredit Koperasi (LJKK).
Dalam perusahaan hutan terutama yang sekaligus mempunyai industri
pengolahan kayu dan keduannya berdasarkan prinsip kelestarian, pada umumnya
kondisi perusahaan secara finansial cukup baik. Apabila industri pengolahan kayu
tersebut penjualannya melalui ekspor maka tingkat keuntungan industri tersebut
pada umumnya cukup baik dan mempunyai likuiditas dana cukup karena pihak
importir
di
luar
negeri
harus
sudah menyediakan
dana
jaminan
untuk
mendatangkan barang tersebut. Semestinya perusahaan hutan di atas mempunyai
peluang untuk mengembangkan perusahaan dan sangat baik apabila dari laba
yang ditahan dan sumber dana lainnya dapat diinvestasikan dalam pembangunan
hutan tanaman.
Perusahaan hutan tanaman BUMN/BUMS, UPH (BUMN/BUMS) dan
industri pengolahan kayu pada saat ini keadaan/kinerjanya sangat bervariasi,
demikian pula halnya dengan kemampuan finansialnya. Sebagai contoh industri
pengolahan kayu yang tadinya orintasinya menggunakan kayu bulat hutan alam
tropika basah (dominasi jenis familia Dipterocarpaceae), dan mereka telah
mengantisipasi kekurangan bahan baku hutan alam dengan bahan baku hutan
tanaman yang diusahakan sendiri diperkirakan mereka masih akan hidup di masa
mendatang.
Dalam hal lain sebenarnya pembangunan HTllperusahaan HTI harus
mendapatkan
perhatian
khususnya
dalam
hal
investasi
selama
masa
pembangunan. Semestinya apabila HTI tersebut sudah panen maka beban
finansial secara bertahap akan berkurang. Mulai saat ini dan masa mendatang
disebabkan oleh persaingan keras dalam dunia perdagangan dan kondisi ekonomi
nasional, diperlukan suatu perusahaan hutan yang handal baik dan segi teknis
maupun finansial. Semua aspek dalam perusahaan baik teknis, ekonomi, sumber
daya manusia, pemasaran dll harus mendapat perhatian yang sama dan secara
bersama dan terpadu menjadi perusahaan yang lestari dan berbagai aspek. Salah
satu aspek yang berkaitan dengan masalah di Indonesia adalah lapangan
pekerjaan karena jumlah penduduk masih akan bertambah.
Salah sam aspek yang penting dalam kelayakan perusahaan hutan selama
ini yang menjadi ukuran adalah nilai ekonomis dan produksi kayu. Sedangkan nilai
lingkungan yang amat diperlukan oleh manusia misalnya tata air, mencegah
erosi/banjir dli belum mendapat perhatian semestinya.
Universitas Gadjah Mada
d. Pasar Modal
Sebagai sumber dana ekstern ketiga yang utama adalah pasar Modal.
Pasar
Modal
(capital
mempertemukan
dua
market)
adalah
suatu
pengertian
kelompok
yang
saling
berhadapan
abstrak
yang
tetapi
yang
kepentingannya saling mengisi, yaitu calon pemodal (investor) di satu pihak dan
emiten yang membutuhkan dana jangka menengah atau jangka panjang di lain
pihak, atau dengan kata lain adalah tempat (dalam artian abstrak) bertemunya
penawaran dan permintaan dana jangka menengah atau jangka panjang.
Dimaksudkan
dengan
pemodal
adalah
perorangan
atau
lembaga
yang
menanamkan dananya dalam efek, sedangkan emiten adalah perusahaan yang
menerbitkan efek untuk ditawarkan kepada masyarakat.
Fungsi dari pasar modal adalah mengalokasikan secara efisien arus dana
dan unit ekonomi yang mempunyai surplus tabungan (saving surplus unit) kepada
unit ekonomi yang mempunyai defisit tabungan (saving defisit unit).
Dalam pasar modal dibedakan antara pasar perdana dan pasar sekunder.
Dimaksudkan dengan pasar perdana adalah pasar bagi efek yang pertama kali
diterbitkan dan ditawarkan dalam pasar modal, sedangkan pasar sekunder adalah
pasar bagi efek yang sudah ada dan sudah diperdagangkan dalam bursa efek.
Definisi resmi menurut Keputusan Menteri Keuangan RI tentang Emisi Efek Melalui
Bursa menyatakan bahwa Pasar Perdana adalah penawaran efek Emitmen kepada
Pemodal selama masa tertentu sebelum efek tersebut dicatatkan di bursa,
sedangkan pasar sekunder adalah perdagangan saham setelah melewati masa
penawaran pada Pasar Perdana. Dengan demikian maka Pasar Modal dalam
bentuk kongkrit-nya ialah bursa efek (securities/stock exchange,).
Dalam Bursa efek, pemodal besar dan kecil, baik perorangan maupun
lembaga-lembaga
seperti
dana
Pensiun,
perusahaan
asuransi
ataupun
perusahaan-perusahaan lainnya dapat membeli dan menjual saham atau efekefek
lainnya. Harga dari saham dan efek-efek lain berubah-ubah sesuai dengan
perubahan keseimbangan antara penawaran dan permintaan terhadap efek yang
bersangkutan. Harga dari efek-efek sebenarnya juga merupakan barometer dan
pandangan mereka mengenai masa depan industri dan ekonomi pada umumnya.
Universitas Gadjah Mada
14.2. Jenis-jenis Modal
1. Hutang/Modal asing
“Modal asing” adalah modal yang berasal dari luar perusahaan yang
sifatnya sementara bekerja didalam perusahaan dan bagi perusahaan yang
bersangkutan modal tersebut merupakan “hutang”. yang pada saatnya harus
dibayar kembali mengenai penggolongan hutang, ada yang hanya membaginya
dalam 2 golongan yaitu hutang jangka pendek (yaitu kurang dari satu tahun) dan
hutang jangka panjang (lebih dari satu tahun). Tetapi banyak penulis dalam bidang
pembelanjaan yang membagi modal asing atau utang thiam 3 golongan, yaitu:
1. Modal Asing/hutang jangka pendek (Short-term debt), yaitu yang jangka
waktunya pendek yaitu kurang dari satu tahun.
2. Modal Asing/hutang jangka menengah (Intermediate-term Debt) yaitu yang
jangka waktunya antara 1 sampai 10 tahun.
3. Modal Asing/hutang jangka panjang (Long-term Debt), yaitu yang jangka
waktunva lebih dan 10 tahun.
1. Modal Asing/hutang Jangka Pendek (Short-Term Debt)
Sebagaimana diuraikan di atas bahwa modal asing (hutang atau kredit
jangka pendek adalah modal asing yang jangka waktunya paling lama satu tahun.
Sebagian besar hutang jangka pendek terdiri dari kredit perdagangan, yaitu kredit
yang diperlukan untuk dapat menyelengganakan usahanya. Adapun jenis-jenis
daripada modal asing (hutang atau Kredit) jangka pendek yang terutama adalah: 1)
Kredit Rekening Koran, 2) Kredit dari penjual (Leverancier crediet), 3) Kredit dari
pembeli (Afnemers crediet) 4) Kredit wesel.
1. Rekening Koran
Kredit rekening Koran adalah kredit yang diberikan oleh Bank kepada
perusahaan dengan batas plafond tertentu di mana perusahaan mengambilnya
tidak
sekaligus
melainkan
sebagian
demi
sebagian
sesuai
dengan
kebutuhannya, dan bunga yang dibayar hanya untuk jumlah yang telah diambil
saja, meskipun sebenarnya perusahaan meminjamnya lebih dari jumlah
tersebut. Perusahaan hanya akan mengambil kredit Rekening Koran dalam halhal yang perlu saja, misalnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan akan
modal perusahaan atau modal kerja pada top fluktuasi sebagai akibat dan
gelombang konjungtur atau musim. Apabila uang ini sudah tidak dibutuhkan
lagi, maka disetor kembali kepada Bank untuk kemudian diambil lagi kalau
Universitas Gadjah Mada
membutuhkan lagi dikemudian hari. Dengan demikian bentuk kredit ini adalah
elastis sekali, tetapi bunganya adalah relatif tinggi (kredit pendek tangan
kedua). Perusahaan menganggap kredit ini sebagai “kredit cadangan” (reserve
credit), karena kredit ini hanya mempunyai sifat melengkapi. Bank dalam
memberikan kredit Rekening Koran dapat mengilcat perusahaan yang
bersangkutan dengan berbagai syarat atau klausal (clausule) yaitu antara lain:
a. Klausul pembatalan
b. Klausul likuiditas darurat
c. Klausul pemeriksaan
d. Klausul penerimaan dan pembayaran melalui Bank
e. Klausul jaminan
2. Kredit dari Penjual
Kredit penjual merupakan kredit perniagaan (trade-credit) dan kredit ini
terjadi apabila penjualan produk dilakukan dengan kredit Apabila penjualan
dilakukan dengan kredit berarti bahwa penjual barn menerima pembayaran
harga dari barang yang dijuahinya beberapa waktu kemudian setelah barang
diserahkan Selama ini pembeli atau langganan dapat dikatakan menerima
“kredit penjual” dari penjual atau produsen. Selama waktu itupun berarti
penjual/produsen memberikan “kredit penjual” kepada pembeli atau langganan.
Pada umumnya perusahaan yang memberi kredit penjual adalah perusahaan
industri,
sedangkan
perusahaan
yang
menerima
adalah
perusahaan
perdagangan. Sering pula “Wholesaler” memberikan kredit penjual kepada
“Retailer”.
Perusahaan industri kebanyakan harus memberi kredit semacam ini,
karena dalam perniagaan hasil industri terdapat apa yang disebut “pers-proces”
(proses dorongan dan pendesakan). Dalam hal ini produsen hasil industri
mendesakkan hasilnya masuk di pasar. Sebagaimana diketahui masalah yang
terutama dihadapi oleh perusahaan industri adalah masalah mendapatkan
pasar yang seluas-luasnya bagi hasil produksinya. Hal ini disebabkan karena
jumlah hasil industri bersifat elastis, yang ini berarti bahwa setiap waktu dapat
diperluas. Dan perluasan produksi berarti penurunan biaya produksi per
unitnya, sehingga semakin banyak hasil produksi dapat dijual di pasar, berarti
makin besar keuntungannya salah satu bentuk dari kredit penjual ialah apa
yang disebut “biaya sewa”.
Universitas Gadjah Mada
3. Kredit dan Pembeli
Kredit pembeli adalah kredit yang diberikan oleh perusahaan sebagai
pembeli kepada pemasok (supplier) dari bahan mentah atau barang-barang
lainnya. Di sini pembeli membayar harga barang yang dibelinya lebih dahulu
dan setelah beberapa waktu barulah pembeli menerima barang yang dibelinya.
Selama waktu itu dapat dikatakan bahwa pembeli memberikan “kredit pembeli”
kepada penjual/pemasok bahan mentah antara lain barang dagangan.
Pada umumnya kredit pembeli ini diberikan kepada perusahan
perusahaan agraria yang menghasilkan bahan dasar, dan kredit diberikan oleh
perusahaan-perusahaan industri yang mengerjak hasil agraria tersebut sebagai
bahan
dasarnya.
Pemberian
kredit
pada
umumnya
didasarkan
atas
pertimbangan untuk mendapatkan kepastian untuk mendapatkan bahan
mentah atau bahan dasar pada waktu dibutuhkan untuk keperluan proses
produksi. Sebab di dalam pemiagaan hasil agraria terdapat gejala apa yang
disebut “zu proces” (proses menghisap). Hal ini disebabkan karena produksi ke
agraria adalah sangat terpengaruh oleh faktor-faktor iklim, musim dan lain
sebagainya, sehingga perluasan produksi tak dapat dijalankan setiap waktu,
sehingga produksinya bersifat “inelastis”. Sedangkan lain pihak produsen hasil
industri (sebagai pembeli hasil agar selalu berusaha untuk memperoleh hasil
agraria sebanyak yang dibutuhkannya.
Oleh karena jumlah keseluruhan hasil agraria adaIah terbatas maka
hasil agraria yang diperniagakan akan dihisap oleh produsen ke industri yang
mengerjakan hasil agraria dengan permintaannya yang melampaui penawaran
hasil agraria di pasaran.
4. Kredit Wesel
Kredit wesel ini terjadi apabila suatu perusahaan mengeluarkan “surat
pengakuan hutang yang berisikan kesanggupan untuk membayar sejumlah
uang tertentu kepada pihak tertentu dan pada saat tertentu (surat
Promes/Notes Payables), dan setelah ditanda-tangani surat tersebut dapat
dijual atau diuangkan pada Bank.
Daripadanya diperoleh uang sebesar apa yang tercantum dalam surat
hutang tersebut dikurangi dengan bunga sampai hari jatuhnya. Dengan
demikian maka ini berarti bahwa pihak yang mengeluarkan surat hutang
tersebut menerima kredit selama waktu mulai diuangkannya sampai saat
Universitas Gadjah Mada
dimana hutang tersebut harus dibayar. Bagi Bank atau pihak yang membeli
promes tersebut (pembeli kredit), surat hutang tersebut merupakan tagihan
atau Wesel tagih (Notes Receivables), dan bagi pihak yang mengeluarkan surat
hutang, surat tersebut merupakan hutang wesel (Notes Payables).
Hutang jangka pendek arahnya adalah untuk memenuhi keperluan
aktiva lancar: kas, persediaan dll untuk mencukupi operasional permasalahan
sehari-hari: upah pekerja, bahan metal/meterial dll. Hutang jangka pendek.
sesuai dengan waktunya, biasanya diperlukan untuk keperluaan mendesak
yang segera harus dipenuhi untuk operasi perusahaan. Hal ini dapat terjadi
misalnya suatu saat arus kas masuk (jendapatan) mengalami keterlambatan
sehingga terpaksa ada saldo kas minus yang harus ditutup.
Masalah pengelolaan kas/persediaan merupakan sesuatu yang sangat
dinamis dari waktu ke waktu, kadang kala waktu bulanan atau mingguan dapat
terjadi situasi yang kritis. Oleh sebab itu perusahaan perlu menjalin hubungan
dan kerjasama yang baik dengan pihak bank, supplier dll, apabila ada kasus
mendadak perlu ada segera keputusan hutangjangka pendek.
Dalam hal ini tak kalah pentingnya adalah nilai kejujuran, itikad baik dsb
dari pihak perusahaan sehingga dengan mudah mendapatkan pinjaman.
Biasanya
pihak
bank
mempunyai
penilaian
terhadap
masing-masing
perusahaan, perusahaan yang tidak jujur/tidak mau membayar hutang tepat
waktu dll tidak akan diberi kesempatan lagi untuk mendapatkan kredit
hutang/pinjaman.
2. Modal Asing/Hutang Jangka Menengah (Intermediate-Term Debt)
Modal asing atau hutang jangka menengah adalah hutang yang jangka
waktu atau umumnya adalah lebih dari satu tahun dan kurang dari 10 tahun.
Kebutuhan membelanjai usaha dengan jenis kredit ini dirasakan karena adanya
kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi dengan kredit jangka pendek di satu pihak
dan juga sukar untuk dipenuhi dengan kredit jangka panjang di lain pihak. Untuk
kebutuhan modal yang tidak begitu besar jumlahnya juga tidak ekonomis untuk
dipenuhi dengan dana yang berasal dari pasar modal. Lagi pula pengurusan
pembelanjaannya adalah lebth mudah dengan mengadakan kontak langsung
dengan pihak yang meminjam atau kreditur, dan cara ini adalah khas dari
pembelanjaan dengan “intermediate-term debt”.
Universitas Gadjah Mada
Bentuk-bentuk utama dan kredit jangka menengah adalah: 1) Term Loan.
dan 2) Lease financing.
1. “Term Loan”
“Term loan” adalah kredit usaha dengan umur lebih dan satu tahun dan
kurang dari 10 tahun. Pada umumnya term loan dibayar kembali dengan
angsuran tetap selama suatu periode tertentu (amortization payments)
misalkan pembayaran angsuran dilakukan setiap bulan, setiap icuartal atau
setiap tahun. Term loan ini biasanya diberikan oleh Bank dagang, Perusahaan
asuransi, suppliers atau “Manufactures”. Dari golongan yang terakhir ini sering
memberikan jenis kredit ini kepada “retailer”nya. Retailer dan bahan makanan
yang diawetkan membutuhkan alat pendingin untuk dapat menyimpan barang
dagangannya. Untuk keperluan itu supplier bahan makanan tersebut sering
membantu retailernya dengan menjual alat pendingin yang diperlukan itu
secara kredit kepada retailemya.
Retailer tersebut harus mengangsumya dalam jangka waktu tertentu
misalnya 5 sampai 10 tahun. Demikian pula pabrik suatu mesin sering menjual
mesin hasil produksinya kepada perusahaan atau pabrik yang membutuhkan
dengan cara “term loan” tersebut. Bagaimana cara menetapkan besamya
jumlah angsuran setiap tahunnya dapat diberikan contoh di bawah mi.
Contoh.
Suatu perusahaan akan membeli sebuah mesin dengan harga Rp.
1.000.000,00 dan suatu pabrik dengan syarat pembayaran dalam jangka waktu
10 tahun dengan bunga 5% per tahun dihitung dari si pinjaman, dan bahwa
angsuran pinjaman plus bunga dibayar dalam 10 kali pembayaran tahunan
yang sama besar jumlahnya. Besar jumlah angsuran pinjaman plus bunga
setiap tahunnya dan dihitung dengan menggunakan label P.V. dan suatu
annuity (Tab A2) dengan rumus:
R=
An
IF
di mana R adalah pembayaran tahunan. An adalah nilai sekarang dari
annuity, dan IF adalah Interest Factor yang bersangkutan yang terdapat dalam
tabel P.V. dari annuity. Dalam contoh di atas ialah 1.1 pada tabel tersebut atas
dasar tingkat bunga 5% untuk tahun ke 1 (angsuran ke 10) dan diketemukan
angka 7,722.
Universitas Gadjah Mada
Dengan demikian maka R dapat dihitung:
Rp =
Rp1.000.000,00
= Rp129.500,00
7,722
Untuk perusahaan hutan dengan sistem mekanis model “term loan“
dengan jangka waktu hutang 5-10 tahun, biasanya dipakai untuk kredit alat-alat
berat yang umur pakainya berkisar antara 5-10 tahun. Dalam kaitannya dengan
kelayakan teknis/produksi, tentunya harus dikaitkan dengan jaminan rencana
kerja jangka panjang. Untuk perusahaan yang lestari tentunya telah ada
Rencana Pengaturan Kelestarian Hutan, yang isinya mengatur rencana
kegiatan teknis kehutanan jangka panjang (misalnya 10 tahun) dan telah
diproyeksikan menurut waktu dan tempat.
2. Leasing
Bentuk lain dari “intermediate-term debt “ adalah “Leasing” Apabila kita
tidak ingin memiliki suatu aktiva. tetapi hanya menginginkan ‘srv” dan aktiva
tersebut. kita dapat memperoleh “hak penggunaan” atas suatu aktiva itu tanpa
disertai dengan hak milik, dengan cara mengadakan kontrak “leasing” untuk
aktiva tersebut.
Dengan
demikian leasing adalah suatu alat
atau cara untuk
mendapatkan “services” dari suatu aktiva tetap yang pada dasarnya adalah
sama seperti halnya kalau kita menjual obligasi untuk mendapatkan “services”
dan hak milik atas aktiva tersebut dan bedanya pada leasing tidak disertai
dengan hak milik. Lebih khususnya. “lease” adalah persetujuan atas dasar
kontrak di mana pemilik dan aktiva (lessor) menginginkan pihak lain (lessee)
untuk menggunakan jasa dan aktivitas tersebut selama suatu periode tertentu.
Hak milik atas akti’a tersebut tetap pada “lessor”. Kadang-kadang lessee juga
diberi kesempatan untuk membeli aktiva tersebut. Dengan demikian “leasing”
harus dianggap sama dengan “debt financing”. Kita mempunyai beban tetap
kepada kreditur (lessor), dan kita harus memenuhi kewajiban tersebut, sebab
kalau tidak, kita akan kehilangan “services” dari aktiva yang di”lease”kan itu
(leased assets). Kita meminjam beberapa aktiva dan bukan meminjam uang,
tetapi pada prinsipnya antara kedua itu adalah sama. Ada tiga bentuk utama
dari leasing, yaitu:
1) “Sale and Leaseback”,
2)
“Services Leases” atau “Operating leases” dan
Universitas Gadjah Mada
3)
“Financial Leases”.
1. Sale and Leaseback
Dalam bentuk “leasing” ini, pemilik aktiva menjual aktivanya kepada
leasing corporation atau Bank dan bersamaan dengan itu dibuat kontrak
“leasing” untuk menggunakan aktiva tersebut selama suatu periode tertentu
dengan syarat-syarat tertentu. Dalam hal ini pembeli aktiva akan menjadi
“lessor” dan penjual aktiva yang sekaligus masih menggunakan “service” dan
aktiva yang dijual tersebut atas dasar kontrak “leasing” itu akan menjadi
“lessee”. Misalkan suatu perusahaan dalam rangka ekspansi menjual. sebagian
dan aktiva tetapnya kepada Leasing Corporation seharga Rp. 10 juta, dan
bersamaan dengan itu dibuat kontrak “leasing” untuk tetap menggunakan aktiva
yang telah dijual itu untuk suatu periode tertentu, misalnya 60 bulan dengan
pembayaran sebesar Rp. 100.000,00 per bularinya. Dalam proses mi
perusahaan tersebut mengubah aktivanya dan bentuk aktiva tetap menjadi
bentuk kas yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan likuiditasnya. Jadi
disini perusahaan tersebut masih tetap dapat menggunakan aktiva itu tetapi
hak milik atas aktiva tersebut sudah tidak ada padanya.
2. Service Leases
“Service Leases” atau “Operating Leases” memberikan services baik
mengcnai
bidang
fmansiilnya
maupun
mengenai
pemeliharaannya
(maintanance). I.B.M. (International Business Machines) adalah salah satu
pioneer dan “service lease contract” tersebut. Computer, mobil dan truck adalah
bentuk-bentuk aktiva atau perlengkapan yang banyak di “lease”kan atas dasar
kontrak tersebut.
Dalam bentuk leasing ini sering terdapat klausul yang memberikan hak
kepada leasse untuk membatalkan “lease” itu dan mengembalikan peralatan itu
kepada lessor sebelum habis waktu berlakunya persetujuan dasar lease
tersebut. Ini merupakan syarat yang penting bagi lessee, karena ini berarti
bahwa
dia
dapat
mengembalikan
equziment
tersebut
apabila
ada
perkembangan teknologi barn yang menyebabkan equipment itu menjadi usang
(absolete).
Universitas Gadjah Mada
3. Financial Leases
Financial lease adalah bentuk leasing yang tidak memberikan
“maintenance services”, tidak dapat dibatalkan dan harus penuh diangsur. Ini
berarti bahwa lessor menerima pembayaran sewa dan lesse yang meliputi
harga penuh dan “leased equ4pment” tersebut plus bunga yang diinginkannya.
Lessor dalam hal ini biasanya adalah perusahaan-perusahaan Asuransi atau
Bank-bank Dagang. Apabila aktiva yang di-”lease”-kan itu real estate, yang
menjadi lessor biasanya perusahaanperusahaan asuransi. Kalau yang di”lease”-kan itu equipments, biasanya yang menjadi lessor adalah Bank-bank
Dagang. Seperti halnya dalam penentuan jumlah pembayaran tahunan dalam
term-loan, besarnya pembayaran sewa setiap tahunnya pun dapat ditentukan
dengan menggunakan label dan annuity dan label P.V.
Pada kasus perusabaan hutan model leasing dipakai pada keperluan
alat kerat dengan ftingsi tertentu dan tidak terus menerus diperlukan sebagai
contoh:
suatu
HPH/
HTI
akan
membangun/memperluas
base
camp,
memerlukan beberapa alat berat dan rencana pekerjaan akan selesai 2 tahun.
Untuk keperluan ini tidak perlu beli alat berat barn, cukup hanya memanfaatkan
atau leasing selama 2 tahun. Hal ini biasanya menguntungkan kedua belah
pihak.
3. Modal Asing/ hutang jangka panjang (Long-Term Debt)
Sebagaimana disebutkan dimuka, modal asing/hutang jangka panjang
adalah hutang yang jangka waktunya adalah panjang, umumnya lebih dari 10
tahun. Hutang jangka panjang ini pada umumnya digunakan untuk membelanjai
perluasan perusahaan (ekspansi) atau modemisasi dari perusahaan, karena
kebutuhan modal untuk keperluan tersebut meliputi jumlah yang besar. Adapun
jenis atau bentuk-bentuk utama dari Hutang jangka panjang antara lain:
1. Pinjaman Obiigasi (Boncis-payables)
2. Pinjaman Hipotik (mortgage).
1. Pinjaman Obligasi
Pinjaman Obligasi adalah pinjaman uang untuk jangka waktu yang paniang.
untuk mana si debitur mengeluarkan surat pengakuan utang yang mempunvai
nominal tertentu. Jangka waktu pinjaman obligasi hendaknya didasari kepada
pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
Universitas Gadjah Mada
1. Jangka waktu pinjaman kredit hendaknya disesuaikan dengan jangka waktu
penggunaannya di dalam perusahaan.
2. Jumlah angsuran harus disesuaikan dengan jumlah penyusutan dan aktiva
tetap yang akan dibelanjai dengan kredit obligasi tersebut.
Pembayaran kembali pinjaman obligasi dapat dijalankan secara sekaligus
pada hari jatuhnya atau secara berangsur setiap tahunnya. Apabila sistem
pelunasan sekaligus yang digunakan, maka sistem mi ialah apa yang disebut “Sing
Fzmds System” sedangkan kalau secara berangsur-angsur pembayarannva
kembali disebutlah “Amortization system “. Pelunasan atau pembayaran kembali
pinjaman Obligasi dapat diambil dan:
1. penyusutan aktiva tetap yang dibelanjai dengan pinjaman obligasi tersebut.
2. keuntungan.
Sering juga oleh para pemegang surat obligasi, supaya memperoleh
jaminan yang lebih besar, maka terhadap milik barang-barang tidak bergerak dan
pihak yang mengeluarkan surat obligasi tersebut dikenakan Hipotik, dan obligasi
semacam ini disebut “Obligasi hipothecair”.
Kita mengenal berbagai-bagai jenis Obligasi, antara lain ialah
a. Obligasi biasa (Bonds)
Obligasi biasa ialah Obligasi yang bunganya tetap dibayar oleh debitur dalam
waktu-waktu tertentu, dengan tidak memandang apakah debitur memperoleh
keuntungan atau tidak. Biasanya coupon (bunga obligasi) dibayar dua kali
setiap tahunnya.
b. Obligasi pendapatan (income Bonds)
Income Bonds adalah jenis obligasi di mana pembayaran bunga hanya
dilakukan pada waktu-waktu debitur atau perusahaan yang mengeluarkan surat
obligasi tersebut menda-patkan keuntungan. Tetapi disini kreditur mempunyai
“hak kumulatif’ artinya apabila path suatu tahun perusahaan menderita kerugian
sehingga tidak dibayarkan bunga, dan apabila di tahun kemudiannya
perusahaan mendapat keuntungan, maka kreditur tersebut berhak untuk
menuntut bunga dari tahun yang tidak dibayar itu.
c. Obligasi yang dapat ditukarkan (convertible-Bonds)
Convertible Bonds adalah obligasi yang memberikan kesempatan kepada
pemegang
surat
Obligasi
tersebut
untuk
pada
suatu
saat
tertentu
menukarkannya dengan saham dan perusahaan yang bersangkutan.
Universitas Gadjah Mada
Dengan demikian maka jenis Obligasi mi memungkinkan pemegangnya
untuk mengubah statusnya, yaitu dan kreditur menjadi pemilik.
2. Pinjaman Hipotik (Mortgage)
Pinjaman Hipotik adalah pinjaman jangka panjang dimana pemberi uang
(kreditur) diberi hak hipotik terhadap suatu barang tidak bergerak, agar supaya bila
pihak debitur tidak memenuhi kewajibannya, barang itu dapat dijual dan dari hasil
penjualan tersebut dapat digunakan untuk menutup tagihannya.
2. Modal Sendiri
“Modal Sendiri” pada dasarnya adalah modal yang berasal dari pemilik
perusahaan dan yang tertanam di dalam perusahaan untuk waktu yang tidak tertentu
lamanya. Oleh karena itu modal sendiri ditinjau dari sudut likuiditas merupakan “dana
jangka panjang yang tidak tertentu waktunya”. Modal sendiri selain berasal dari “luar”
perusahaan dapat juga berasal dari “dalam” perusahaan sendiri, yaitu modal yang
dihasilkan atau dibentuk sendiri di dalam perusahaan.
Modal sendiri yang berasal dari “sumber intern” ialah dalam bentuknya
“keuntungan yang dihasilkan perusahaan”. Adapun modal sendiri yang berasal dari
“Sumber ekstern” ialah modal yang berasal dari pemilik perusahaan. Modal yang
berasal dari pemilik perusahaan adalah berbagai macam bentuknya menurut bentuk
hukum dari masing-masing perusahaan yang bersangkutan. Dalam PT modal yang
berasal dari pemilik ialah modal saham; dalam Firma ialah modal dari anggota Firma;
dalam C.V. adalah modal yang berasal dari anggota bekerja dan anggota
diam/Komanditer; dan perusahaan perseorangan ialah modal yang berasal dari
pemiliknya dan pada Koperasi ialah simpanan-simpanan pokok dari wajib yang berasal
dari para anggotanya. Modal Sendiri di dalam suatu perusahaan yang berbentuk
Perseroan Terbatas (PT) terdiri dari:
1. Modal Saham.
2. Cadangan.
3. Keuntungan.
1. Modal Saham
Saham adalah tanda bukti pengambilan bagian atau peserta dalam suatu PT.
Bagi perusahaan yang bersangkutan, yang ditenima dari hasil penjualan sahamnya
“akan tetap tertanam” di dalam perusahaan tersebul selama hidupnya, meskipun bagi
Universitas Gadjah Mada
pemegang saham sendiri itu bukanlah merupakan penanaman yang permanen, karena
setiap waktu pemegang saham dapat menjual sahamnya. Adapun jenis-jenis dan
saham adalah sebagai benikut:
a. Saham biasa (Commond Stock)
b. Saham Preferen (Preferred Stock)
c. Saham kumulatifpreferen (cummulative PreferredStock)
a. Saham Biasa (Common Stock)
Pemegang saham bisa akan mendapat dividen pada akhir tahun
pembukuan, hanya kalau perusahaan tensebut mendapatkan keuntungan. Apabila
perusahaan tersebut tidak mendapatkan keuntungan kalau mendapat kerugian,
maka pemegang saham tidak akan mendapat dividen, dan mengenai ini ada
ketentuan hukumnya yaitu: bahwa suatu perusahaan yang menderita kerugian,
selama kerugian itu belum dapat ditutup, maka selama ini perusahaan tidak
diperbolehkan membayar dividen. Adapun fungsi dari saham biasa di dalam
perusahaan adalah:
1. Sebagai alat untuk mernbela.njai perusahaan dan terutama sebagai alat untuk
memenuhi kebutuhan akan modal permanenan
2. Sebagai-alat untuk menentukan pembagian laba.
3. Sebagai alat untuk mengadakan fusi atau penggabungan dan perusahaanperusahaan.
4. Sebagai alat menguasai perusahaan
Seperti diketahui bahwa suatu perusahaan dalam bentuk PT adalah para
pemegang saham. Masing-masing pemegang mempunyai hak kepemilikan
berdasarkan jumlah sahamnya yang biasanya dinyatakan dalam prosentase. Untuk
BUMN (Badan Usaha Milik Negara) sahamnya dimiliki oleh pemerintah dakan etapi
apabila sudah menadi PT tbk (terbuka) artinya go public maka saham yang ada
dapat diperjual belikan kepada masyarakat siapa saja. Laku dan tidaknya saham
tersebut tentunya berkaitan dengan kinerja perusahaan. Hal mi disebabkan para
pemegang saham mengharapkan mendapat pembagian deviden dan laba yang
diperoleh perusahaan. Sebagai contoh ada pemegang saham mempunyai 1 juta
lembar saham dan dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) diputuskan
pembagian deviden Rp. 200/lembar saham, maka pemegang saham tersebut
mendapat deviden keseluruhan sebanyak Rp. 200.000 (dua rams juta rupiah) dan
hasil perkalian 1 juta lembar saham kali Rp. 200/lembar.
Universitas Gadjah Mada
Fusi atau penggabungan perusahaaan dapat dilakukan dengan mengatur
besarnya saham masing-masing dalam prosentase. Apabila tidak diinginkan
adanya saham majoritas maka prosentase dapat. diambil hampir merata diantara
para pemegang saham, sedangkan sebagai alat menguasai perusahaan maka
dapat dilakukan dengan membelilmempunyai saham majoritas. Dalam RUPS maka
keputusan diambil dengan suara terbanyak (voting), hak suara didasarkan
banyak/sedikiinya kepemilikan saham dalam perusahaan tersebut.
Dalam perusahaan hutan apabila sudah go public sebenarnya perlu adanya
kehati-hatian yaitu jangan samapai hanya mengejar laba untuk deviden pemegang
saham, berakibat fatal dengan memungut hasil produksi over cutting sehingga
sumber daya menjadi rusak. Terlebih lagi perlu diingat bahwa fungsi hutan tidak
hanya komersial untuk produksi akan tetapi sebenamya lebth besar untuk
lingkungan hidup manusia (hidroorologis).
b. Saham Preferen (J’referred Stock)
Pemegang saham preferen mempunyai beberapa “preferansi” tertentu di
azs pemegang saham biasa, yaitu terutama dalam hal-hal :
1. pembagian dividen
Dividen dari saham preferen diambilkan lebth dahulu kemudian sisanya
barulah disediakan untuk saham biasa (Common-Stock). Dividen saham
preferen dinyatakan dalam persentase tertentu dan nilai nominalnya.
2. pembagian kekayaan
Apabila perusahaan dilikuidasi maka dalam pembagian kekayaan. saha
preferen didahulukan daripada saham biasa: Tetapi di lain pihak pemegaig
saham preferen juga ada kelemahannya dibandingkan dengan pemega saham
biasa, karena pemegang saham preferen tidak mempunvat hak sur dalarn rapat
umurn pemegang saham. Adapun persamaannya ialah bah pemegang saham
biasa maupun pemegang saham preferen hanva be:hak menerima dividen
apabila perusahaan mendapatkan keuntungan.
c. Saham Preferen Kumulatif (Cummulative Preferred-Stock)
Jenis saham ini pada dasamya adalah sama dengan saham preferen.
Perbedaannya hanya terletak pada adanya hak kumulatif pada saham preferen
kumulatif. Dengan demikian pemegang saham preferen kumulatif apabila tidak
menerima dividen selama beberapa waktu karena besamya laba tidak mengizinkan
Universitas Gadjah Mada
atau karena adanya kerugian, pemegang jenis saham ini dikemudian hari apabila
perusahaan mendapatkan keuntungan berhak untuk menuntut dividen-dividen
yang tidak dibayarkan di waktu-waktu yang lampau. Besarnya dividen dari saham
preferen kumulatifpun dinyatakan dalam persentasi tertentu dari nilai nominalnya.
Nilai saham di dalam Neraca selalu tercantum dalam nilai nominalnya
Apabila kurs pada waktu emisi di atas atau di bawah pari, maka selisihnya antara
harga nominal dengan harga kurs ditambahkan atau dikurangkan dari nilai nominal
tersebut. Apabila kurs di atas pan maka selisih di atas nominal tersebut
(agio saham, paid in surplus) ditambahkan, sehingga akan memperbesar nilai
saham, dan dengan sendirinya akan memperbesar modal sendiri. Demikian pula
sebaliknya apabila kursnya di bawah pan, maka selisih di bawah nilai nominal
tersebut (disagio, discount) dikurangkan dan nilai nominal sehingga hal mi akan
memperkecil modal sendiri.
2. Cadangan
Cadangan di sini dimaksudkan sebagai cadangan yang dibentuk dan
keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan selama beberapa waktu yang lampau
atau dan tahun yang berjalan (Reserve that are surplus). Tidak semua cadangan
termasuk dalam pengertian modal sendini. Cadangan yang termasuk dalam modal
sendini ialah antara lain:
a. Cadangan ekspansi.
b. Cadangan modal kerja.
c. Cadangan selisih kurs.
d. Cadangan untuk menampung hal-hal atau kejadian-kejadian yang tidak
diduga sebelumnya (cadangan umum).
Adapun cadangan yang tidak termasuk dalam modal sendiri antara lain
ialah cadangan depresiasi, cadangan piutang ragu-ragu, dan cadangan yang
bersifat hutang (cadangan untuk pensiun pegawai, cadangan untuk membayar
pajak). Untuk cadangan depresiasi, sekanang banyak digunakan istilah “akumulasi
depresiasi” ( accumulated depreciation)
Di dalam PT sering pula terdapat apa yang disebut “Cadangan Rahasia”
dan “Cadangan Diam”. Cadangan Rahasia adalah cadangan yang besar jumlahnya
tidak nampak dalam neraca dan besar jumlahnya tidak mudah diketahui.
Cadangan Diam pada prinsipnya tidak berbeda dengan cadangan Rahasia, yaitu
Universitas Gadjah Mada
yang besar jumlahnya tidak nampak atau tidak tercantum dalam Neraca, tetapi
dapat diduga adanya nilai cadangan di dalam perusahaan.
Cadangan Rahasia dan Diam pada prinsipnya dapat dibentuk dengan cara:
1. mengadakan penilaian yang lebih rendah pos-pos aktiva daripada nilai yang
sebenarnya.
2. mengadakan penilaian yang lebih tinggi pos-pos utang daripada nilai yang
sebenamya.
Adanya Cadangan Rahasia tersebut adalah terutama dalam hubungannya
dengan soal pembayaran dividen. Pemegang saham pada umunmya menghendaki
agar seluruh atau sebagian besar dari keuntungan yang diperoleh perusahaan
hendaknya dibagikan sebagai dividen. Tetapi di lain pihak pimpinan perusahaan
(direksi) menghendaki agar supaya perusahaan yang dipimpinnya dapat terus
berkembang. Untuk keperluan perkembangan atau perluasan perusahaan
diperlukan adanya cadangan, dan cadangan hanya dapat dibentuk dan laba yang
diperolehnya. Apabila semua keuntungan dibayarkan sebagai dividen maka
perusahaan tidak dapat membentuk cadangan. Oleh karena itu agar supaya
perusahaan dapat membentuk cadangan yang tidak diketahui oleh pemegang
saham atau pihak luar ialah dengan cara membentuk cadangan rahasia.
3. Laba Ditahan
Keuntungan yang diperoleh oleh suatu perusahaan dapat sebagian
dibayarkan sebagai dividen dan sebagian ditahan oleh perusahaan. Apabila
penahanan keuntungan tersebut sudah dengan tujuan tertentu, maka dibentuklah
cadangan sebagaimana diuraikan di atas. Apabila perusahaan belum mempunyai
tujuan tertentu mengenai penggunaan keuntungan tersebut, maka keuntungan
tersebut merupakan “keuntungan yang ditahan” (retained Earning).
Di dalam Neraca sering “cadangan” dan “laba ditahan” dijadikan sata dalam
pos “retained Earning” atau pos sisa-sisa laba, misalnya sisa-sisa laba tahun 1966,
1967, 1968. Adanya keuntungan akan memperbesar “Retained Earning” yang ini
berarti akan memperbesar modal sendiri.
Universitas Gadjah Mada
Download