sekilas cid

advertisement
Hasil kajian CID diharapkan dapat menjadi media pembelajaran
bersama untuk terus memperkuat upaya mengembangkan keberdayaan
masyarakat dan menjadikan ZISWAF menjadi alternatif yang cukup
menarik dalam menangani masalah-masalah sosial dan lingkungan yang
semakin berat dan kompleks.
VISI
Bertekad menjadi institusi kajian yang tangguh pada masalah ZISWAF
dan pemberdayaan masyarakat dalam arti luas, yang mendorong
terwujudnya masyarakat berdaya dengan bertumpu pada sumberdaya
lokal melalui sistem yang berkeadilan.
MISI
1. Melakukan kajian mengenai permasalahan sosial dan kemiskinan
guna mengembangkan model-model pemberdayaan yang
terencana, terukur, berefek luas dan jangka panjang, serta tepat
pada akar permasalahan.
2. Melakukan riset dan studi kebijakan pada permasalahan ZISWAF
untuk mengembangkan edukasi publik, penyempurnaan
kebijakan dan implementasinya.
3. Mengembangkan wacana-wacana baru dalam pengelolaan
ZISWAF, ikhtiar mencapai kemandirian masyarakat, serta
pemikiran alternatif untuk mewujudkan sistem yang berkeadilan.
FOKUS KAJIAN
Riset dan kajian CID terfokus pada tema-tema pemberdayaan
masyarakat dan pengentasan kemiskinan dalam arti luas, serta ZISWAF
dan keseluruhan aspek yang melingkupinya.
PROGRAM
Diskusi Strategis, Kajian kebijakan dan regulasi ZISWAF, Riset/
Penelitian, Seminar dan Workshop, Edukasi Publik dan Advokasi,
Penerbitan Jurnal, Pusat Informasi Zakat, dan Portal.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
1
isi.pmd
1
8/20/2008, 11:03 AM
SEKILAS CID
CID (Circle of Information and Development) adalah lembaga kajian
nirlaba yang didirikan oleh Dompet Dhuafa Republika pada tanggal 22
Oktober 2007. Pembentukannya dilatarbelakangi gagasan tentang
perlunya mengembangkan pemikiran mengenai potensi dan peran
ZISWAF (Zakat, Infak-Sedekah, Wakaf) di Indonesia dalam konteks yang
lebih luas, yaitu lebih berorientasi strategis dan pembangunan daripada
sekedar karitatif. Tujuannya adalah untuk mengembangkan pembelajaran
yang terus menerus mengenai keterkaitan antara ZISWAF dan persoalan
pembangunan berkelanjutan, serta keadilan sosial dan ekonomi.
SEKILAS CID
Jurnal Zakat & Empowering – diterbitkan oleh Circle of Information and Development
(CID), setahun dua kali. Merupakan wahana pemikiran dan gagasan tentang zakat,
pemberdayaan dan eliminasi kemiskinan terutama bagi praktisi dan pemikir zakat dan lembaga
kemanusiaan pada umumnya. Redaksi menerima gagasan dan kontribusi yang selaras dengan
kebutuhan/visi dan misi CID. Tulisan yang dimuat dalam jurnal ini sepenuhnya menjadi
tanggungjawab penulisnya.
:
Pemimpin Redaksi/
Penanggungjawab
Nana Mintarti
Dewan Redaksi
Ismail A. Said, Ahmad Juwaini, Yuli
Pujihardi, M. Arifin Purwakananta,
Rini Suprihartanti, Kusnandar
Tim Redaksi
Kuntarno Nur Aflah, Bot Pranadi
Dokumentasi
Djoko Sunggoro
Alamat Redaksi
Jl. Ir H Juanda No. 50 Komplek
Perkantoran Ciputat Indah Permai C
28-29 Ciputat Telp. 021-7416050
Faks. 021-7416070
Portal
www.cid.or.id
email
[email protected]
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
2
isi.pmd
2
8/20/2008, 11:03 AM
S
ejak berlakunya UU No.38
Tahun 1999 pengelolaan zakat
di Indonesia mengalami
perubahan yang cukup signifikan. Terutama
dalam hal mendorong lahirnya organisasi
pengelola zakat baru, baik swasta maupun
pemerintah. Forum Zakat (FOZ) mencatat
saat ini ada 421 organisasi pengelola zakat di
Indonesia. Jumlah itu terdiri, 1 BAZNAS
(Badan Amil Zakat Nasional), 18 Lembaga
Amil Zakat (LAZ) Nasional, 32 Badan Amil
Zakat (BAZ) Provinsi, lebih dari 300 BAZ
kabupaten / kota dan lebih dari 70 LAZ baik
tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten /
kota.
Tetapi sangat disayangkan, banyaknya
organisasi pengelola zakat ternyata belum
diantisipasi oleh Undang-Undang No.38
tahun 1999. Akibatnya, meskipun banyak
lembaga zakat namun penghimpunan dan
penyaluran zakat masih belum efektif. Begitu
juga dalam hal kordinasi dan pembagian tugas
serta fungsi, antara satu dengan lainnya tidak
ada garis koordinasi yang jelas. Antara
Pemerintah, Baznas, Laznas, Bazda, masingmasing berjalan sendiri-sendiri. Semua
lembaga zakat ingin menjadi pengelola,
sementara yang berperan sebagai pengawas
dan pembuat aturan kebijakan, tidak ada.
Pemerintah sendiri tidak mampu memerankan
dirinya sebagai pengawas dan pembuat
kebijakan.
Alasan inilah yang kemudian mendorong
pemerintah untuk memperbaiki undangundang ini dengan mengamandemen beberapa
pasal yang ada. Di dalam rancangan
amandemennya disebutkan bahwa
pemerintah akan mengelola zakat dengan
sistem sentralisasi melalui Badan Amil Zakat
yang dibentuk pemerintah di semua tingkatan
pemerintahan. Sementara Lembaga Amil
Zakat milik masyarakat yang telah ada
nantinya akan berfungsi sebagai unit
pengumpul zakat yang terintegrasi secara
institusional dengan Badan Amil Zakat milik
pemerintah.
Sebenarnya keinginan untuk mengelola
zakat secara sentralisasi oleh pemerintah sudah
sejak lama diusulkan. Bahkan keinginan itu
bukan hanya datang dari pemerintah namun
juga datang dari praktisi lembaga zakat (LAZ)
yang dikelola masyarakat.
Antara pemerintah dan swasta sama-sama
berpendapat bahwa dengan dikelola secara
sentral oleh negara maka pengelolaan zakat
di Indonesia bisa terpadu dan berjalan dengan
baik. Pemerintah akan dengan mudah
mengusulkan dan mengeluarkan kebijakan
yang pro perkembangan zakat. Baik dari segi
penghimpunan maupun segi penyalurannya.
Termasuk membuat kebijakan yang mengikat
bagi muzaki agar mengeluarkan zakatnya
secara teratur, penyediaan data
penghimpunan dan penyaluran secara
komprehenship serta penyediaan data
mustahik (warga tidak mampu) secara lengkap
dan akurat.
Seperti itulah konsep yang ideal,
sebagaimana yang dipraktekkan pada masa
Rasulullah. Akan tetapi kenyatannya sejak
dahulu di Indonesia organisasi pengelola zakat
yang dikelola pemerintah kurang dipercaya
masyarakat. Apalagi sejak reformasi bergulir,
kepercayaan terhadap pemerintah semakin
menurun. Oleh karenanya sentralisasi
pengelolaan zakat harus dilakukan secara
bertahap. Melalui proses persiapan yang
cukup matang. Bukan dilakukan dengan serta
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
3
isi.pmd
3
EDITORIAL
Perluas Partisipasi Publik
Dalam Pengelolaan Zakat
8/20/2008, 11:03 AM
merta pada saat ini. Sebab dikhawatirkan
kepercayaan publik terhadap lembaga zakat
nonpemerintah (yang dibentuk masyarakat
sipil) yang sudah berjalan cukup baik justru
akan menurun.
Bagi organisasi pengelola zakat, sebagai
institusi publik yang mengelola dana publik,
kepercayaan publik menjadi faktor yang sangat
penting bagi keberlangsungan lembaga. Badan
Amil Zakat (BAZ) sebagai institusi negara
maupun Lembaga Amil Zakat (LAZ) sebagai
organisasi masyarakat berlomba-lomba
merebut kepercayaan publik. Dalam konteks
tersebut eksistensi masing-masing ditentukan
oleh kenyataan hubungan antara negaramasyarakat. Saat birokrasi kuat, organisasi
pengelola zakat yang didirikan oleh pemerintah
cenderung menguat. Sebaliknya saat birokrasi
mengalami delegitimasi, ia pun melemah
karena lazimnya kepercayaan rakyat
terhadapnya juga menurun.
Sementara kenyataan saat ini, tren global
menempatkan masyarakat sipil sebagai sebuah
kekuatan yang cukup signifikan dalam
berbagai gerakan memerangi kemiskinan. Hal
ini terbukti semakin tingginya kepercayaan
donatur dan muzakki yang menitipkan
zakatnya kepada lembaga zakat milik swasta
dibandingkan kepada badan amil zakat milik
pemerintah. Penghimpunan dana-dana sosial
(zakat, infak, sedekah, wakaf, dan lain-lain)
oleh lembaga zakat milik swasta terbukti
jumlahnya lebih besar dibandingkan jumlah
yang dihimpun oleh lembaga zakat milik
pemerintah.
Nah, jika akhirnya zakat dikelola secara
sentral oleh badan amil zakat milik
pemerintah, tanpa persiapan yang matang,
apakah nantinya bisa menjamin para donatur
dan muzakki yang selama ini sudah
menitipkan dananya kepada lembaga
bentukan masyarakat sipil akan tetap mau
menitipkan zakatnya kepada badan amil zakat
? Tidak ada yang bisa menjamin bahwa hal itu
akan terjadi. Oleh karenanya yang paling tepat
dilakukan saat ini adalah membagi peran
antara pemerintah dan swasta dalam
pengelolaan zakat.
Pemerintah berperan membuat sistem
perundang-undangan zakat yang dapat
menjamin agar seluruh fungsi administratif
negara dapat meningkatkan kesejahteraan
umum maupun perseorangan melalui peran
zakat. Pemerintah juga harus berperan sebagai
pengawas bagi operasionalisasi lembaga amil
zakat. Kedua fungsi ini dapat diperankan oleh
sebuah lembaga independen semacam komisi
negara yang bertanggungjawab langsung
kepada presiden. Sementara lembaga
pengelola zakat yang sudah mendapat
kepercayaan publik diperkuat posisioningnya
dengan diberi ruang gerak lebih luas lagi bagi
kemajuan lembaganya. Semangat seperti inilah
yang cocok dengan tren global yang terjadi di
tengah melebarnya partisipasi publik saat ini.
Apalagi Indonesia sebagai negara yang
beragama dan melindungi warganya untuk
mengamalkan ajaran dan kewajiban
agamanya, tentu akan semakin mendorong
semangat civil society tumbuh dan kuat di
negara ini.
Dengan cara seperti ini maka zakat dapat
dijadikan sebagai salah satu sarana potensial
untuk membantu pemerintah dalam
mendistribusikan kekayaan dan pemerataan
pendapatan. Potensi zakat yang masih
‘tersembunyi’ di Indonesia akan dapat tergali
secara optimal. Dan pada akhirnya dapat
berimplikasi pada peningkatan taraf hidup
masyarakat miskin di Indonesia secara
menyeluruh. [z]
:
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
4
isi.pmd
4
8/20/2008, 11:03 AM
EDITORIAL
06
Zakat, Keadilan dan
Keseimbangan Sosial
Ahmad Erani Yustika dan Jati Andrianto
16
Zakat Antar Bangsa Muslim:
Menimbang Posisi Realistis Pemerintah
dan Organisasi Masyarakat Sipil
Asep Saefuddin Jahar
25
Peran Negara Dalam Pengelolaan
Zakat: Perspektif Negara
Kesejahteraan dan Praktek NegaraNegara Tetangga
Heru Susetyo
37
LINTAS ELEMEN
Mengapresiasi Bangkitnya Civil Society
Dalam Pengelolaan Zakat di Indonesia
42
Fenomena Unik Di Balik
Menjamurnya Lembaga Amil Zakat
(LAZ) Di Indonesia,
Adiwarman A. Karim dan
A. Azhar Syarief
50
Membangun Koherensi Antar
Sektor: Filantropi Islam, Agenda
Organisasi Sektor Ketiga dan
Masyarakat Sipil Di Indonesia
Hilman Latief
65
DOKUMEN
Ringkasan Naskah Akademik Revisi
UU Zakat
79
Pentingnya Penataan Kelembagaan
Zakat Demi Perbaikan di Masa
Mendatang
Sahri Muhammad
90
TENTANG PENULIS
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
5
isi.pmd
5
8/20/2008, 11:03 AM
DAFTAR ISI
03
Zakat, Keadilan dan
Keseimbangan Sosial
Ahmad Erani Yustika dan Jati Andrianto
Abstrak
Zakat pada era emasnya merupakan instrumen fiskal negara yang berfungsi bukan hanya
untuk mendistribusikan kesejahteraan umat secara lebih adil dan merata, tetapi juga
merupakan bagian integral akuntabilitas manusia kepada Allah SWT atas rezeki yang
telah diberikan-Nya. Namun, dalam era modern saat ini, yang dikarenakan sistem pajak
telah menjadi instrumen fiskal bagi suatu negara menyebabkan zakat hanya menjadi
representasi tanggung jawab umat manusia atas limpahan rezeki dari Allah SWT sekaligus
tidak jarang hanya menjadi ritual budaya periodik umat Islam. Risalah ini bertujuan
menganalisis secara mendalam bagaimana pemosisian yang tepat atas zakat dan pajak
dalam perekonomian Indonesia. Lebih spesifik, bagaimana posisinya dalam konsep
kebijakan fiskal di Indonesia, sehingga pada satu sisi nilai-nilai mulia dalam zakat dapat
diimplementasikan dan di sisi lain instrumen fiskal tetap dapat berjalan seperti biasanya.
Hasilnya, pajak dan zakat dapat diimplementasikan secara bersamaan tanpa harus ada
saling penegasian antara kedua instrumen tersebut.
Kata-kata kunci:
Zakat, ekonomi Islam, kesejahteraan, instrumen fiskal
S
Pendahuluan
eperti dipahami, kajian tentang
pembangunan (ekonomi) selama
ini didominasi oleh pandangan
yang sangat materialistik sehingga proses dan
tujuan pembangunan menjadi amat
reduksionis. Sejak usai Perang Dunia II,
pembangunan lebih banyak dilihat sebagai
masalah ekonomi, yakni persoalan
mengidentifikasi dan mengkuantifikasi
komposisi paket pertumbuhan ekonomi
(Goulet, 1997:1160). Implikasinya,
metodologi kajian pembangunan ekonomi
juga didominasi oleh aliran “ekonomi positif”
yang tidak saja bersifat normatif, tetapi juga
mengabaikan kompleksitas aspek etis yang
justru berperan penting dalam mempengaruhi
perilaku manusia. Hasilnya, persoalanpersoalan ekonomi yang hendak dipecahkan
lewat serangkaian program pembangunan
bukannya selesai, melainkan malah
menciptakan masalah baru yang tidak kalah
serius, seperti kemelaratan, ketimpangan,
pengangguran, kriminalitas, degradasi
lingkungan, dan masih banyak lainnya.
Secara lebih spesifik, dalam konteks
Indonesia, hal itu salah satunya disebabkan
oleh adanya ketidakseimbangan alokasi belanja
pembangunan, di mana selain sebagian besar
digunakan untuk biaya rutin, juga kurang
tepatnya alokasi pembiayaan yang pro-poor
growth. Pada aras yang berseberangan, hal itu
juga dikarenakan sistem pajak belum menjadi
instrumen yang efektif dalam memasok
pendapatan negara, sehingga pajak –walaupun
sudah menyumbangkan mayoritas dalam
struktur pendapatan negara– tetapi tetap saja
kurang maksimal dalam membiayai upaya
memastikan pencapaian kesejahteraan umat
manusia. Lebih lanjut, sistem pajak yang ada
saat ini juga turut mendonasikan ketimpangan
kesejahteraan. Logikanya, pada satu sisi yang
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
6
isi.pmd
6
8/20/2008, 11:03 AM
disebabkan struktur usaha besar di Indonesia
hanya dikuasai oleh segelintir pihak dan di sisi
lain kewajiban pajak yang harus dibayarkan
tidak mencapai lima puluh persen dari segala
pendapatan menyebabkan distribusi
pendapatan atas aktivitas ekonomi di
Indonesia mengalir –melalui instrumen
akuntansi– hanya kepada pihak tertentu
terbatas saja.
Di luar itu, sebenarnya juga terdapat
skema yang dulunya menjadi instrumen fiskal
yang begitu berperan dalam mendistribusikan
kesejahteraan umat Islam sekaligus sebagai
bentuk akuntabilitas seorang muslim kepada
Allah SW T atas limpahan rezeki-Nya.
Namun, disebabkan berbagai transfomasi
ekonomi-politik di berbagai belahan dunia
menyebabkan terjadinya pergeseran atas
konsep
zakat,
terutama
dalam
implementasinya. Bahkan dalam konteks
Indonesia kontemporer, zakat bagi sebagian
besar penduduk yang mayoritasnya umat
muslim hanya dimaknai sebagai zakat fitrah,
sehingga berbagai keriuhan pembayaran zakat
begitu kentara hanya menjelang Hari Raya Idul
Fitri. Pada titik inilah, zakat lebih nampak
sebagai ritual budaya periodik umat Islam dari
pada anjuran Tuhan dalam rangka
menyeimbangkan kesejahteraan umat
manusia.
Lebih dari itu, dalam perspektif eksekusi
zakat, nilai nomimal zakat fitrah yang ada saat
ini apabila dilihat secara parsial sangat rendah,
sehingga tidak memberikan kontribusi besar
dalam upaya membagi kesejahteraan, di mana
setiap penduduk miskin hanya mendapatkan
hak sebesar 2,5 kg makanan pokok (dalam
hal ini adalah beras). Tetapi, jika dilihat secara
keseluruhan, maka nilai agregat zakat fitrah
saja relatif besar. Sebagai gambaran,
diprognosiskan jumlah umat Islam di
Indonesia sebanyak 80% dari total penduduk.
Dengan perkiraan ini, umat muslim yang wajib
membayar zakat fitrah sekitar 170 juta
penduduk.1 Sementara itu, dengan harga beras
sebesar Rp 6 ribu/kg menyebabkan kewajiban
yang harus dibayarkan –bukan dalam bentuk
beras– sebesar Rp 15 ribu per-umat Islam
(setelah dikalikan dengan 2,5 kg). Dengan
demikian, secara keseluruhan zakat fitrah yang
seharusnya dapat diunduh sebesar Rp 2,55
triliun setiap tahunnya. Namun, disebabkan
pengelolaan yang tidak bagus menyebabkan
potensi zakat fitrah yang besar ini habis dalam
hitungan hari pada saat Hari Raya Idul Fitri.
Potensi ini belum digenapi dengan zakat
lainnya. Bila semuanya dihitung sekaligus umat
muslim yang mampu (secara ekonomi) sadar
akan keberadaan dirinya sebagai makhluk
Tuhan yang memiliki kewajiban kepada
sesama, maka terdapat sumber pembiayaan
yang besar di luar APBN (Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara) untuk
meningkatkan taraf hidup masyarakat kelas
ekonomi bawah. Berpijak pada latar belakang
di atas, di mana intinya pada satu sisi pajak
sebagai instrumen fiskal yang kurang
maksmimal dalam membiayai APBN dan di
sisi lain potensi besar zakat yang ada namun
belum dapat dimaksimalkan, maka risalah ini
mencoba memposisikan bagaimana dua
instrumen, terutama zakat, dalam memastikan
diperolehnya hak kebebasan dasar yang adil
dan sejahtera setiap umat manusia (termasuk
non muslim).
Teologi, Keadilan, dan Pasar
Setiap berbicara mengenai konsep
yang bersumber dari agama, apapun
agamanya, tidaklah mungkin lepas dari
keberadaan “teologi”. Konsep teologi sendiri
sangat abstrak sehingga definisi apapun yang
disodorkan dipastikan akan menuai
perdebatan. Namun, Milbank (Oslington,
2000:33) percaya bahwa teologi merupakan
1
Diasumsikan bahwa total penduduk Indonesia sebanyak 250
juta jiwa, sehingga kuantitas umat Islam sebanyak 200 juta
jiwa. Pada 2007 jumlah penduduk miskin di Indonesia
sebanyak 37,17 juta jiwa (BPS, 2008), sehingga yang wajib
membayar zakat fitrah hanya sekitar 170 juta jiwa (200 juta
jiwa dikurangi 0,8 x 37,17 juta jiwa).
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
7
isi.pmd
7
8/20/2008, 11:03 AM
pengetahuan sosial dan –bahkan– ratu dari
ilmu pengetahuan yang bisa mengelaborasi
pemahaman mengenai dirinya sendiri. Jika
makna itu direlasikan dengan ekonomi
(theological economics), maka tidak berarti
ekonomi harus diturunkan dari teologi,
melainkan ekonomi menjadi subyek dari kajian
teologi (artinya, bisa diposisikan, direlatifkan,
dan dikritisi oleh teologi). Salah satu perhatian
penting dari teologi adalah aspek keadilan.
Keadilan menempati pilar terdepan setiap kali
teologi berbicara mengenai setiap hal, termasuk
pembangunan. Oleh karena itu, keadilan
menjadi alas terpenting untuk menguji apakah
sebuah konsep pembangunan alternatif
memberikan jalan keluar atas aspek yang
ditinggalkan oleh konsep pembangunan yang
lama ini.
Sampai saat ini konsep keadilan yang
mapan dan sering dirujuk selalu mengacu
kepada teori keadilan John Rawls yang
bertolak dari dua prinsip: (i) setiap orang harus
mempunyai hak yang sama terhadap skema
kebebasan dasar yang sejajar (equal basic
liberties), yang sekaligus kompatibel dengan
skema kebebasan yang dimiliki oleh orang lain;
dan (ii) ketimpangan sosial dan ekonomi harus
ditangani sehingga keduanya: (a)
diekspektasikan secara logis (reasonably
expected) menguntungkan bagi setiap orang;
dan (b) diharapkan posisi dan jabatan yang
terbuka bagi seluruh pihak (Rawls, 1999:53).
Prinsip-prinsip inilah yang kemudian
membawa Rawls pada sikap untuk meyakini
bahwa sebetulnya keadilan (justice) itu tidak
lain sebagai kepatutan / kepantasan (fairness).
Pada titik ini, sebuah kebijakan yang
mengandaikan adanya relasi antara aktor dan
struktur dengan sendirinya akan
memunculkan ketidakadilan apabila isi dari
kebijakan tersebut mengandung unsur
ketidakpatutan (unfairness). Dalam konteks
kebijakan ekonomi, bisa saja secara rasional
kebijakan tersebut logis (khususnya jika dilihat
dari konfigurasi pemain dan struktur yang
memproduksinya), namun dari sisi keadilan
mengandung hal-hal yang tidak patut. Atas
nama nilai-nilai ini, yakni kepatutan, kebijakan
tersebut menurut Rawls dinyatakan cacat
karena bersifat tidak adil.
Berdasarkan pemikiran itulah, Rawls
(dalam Keraf 1996:263-264) percaya bahwa
pasar bebas menimbulkan ketidakadilan. Bagi
Rawls, ‘ketidakadilan paling jelas dari sistem
kebebasan kodrati adalah bahwa sistem ini
mengizinkan pembagian kekayaan dipengaruhi
secara tidak tepat oleh kondisi-kondisi (alamiah
dan sosial yang kebetulan) ini, yang dari sudut
pandang moral sedemikian sewenang-wenang.’
Menurut Rawls, karena setiap orang masuk
ke dalam pasar dengan bakat dan kemampuan
alamiah yang berlainan, peluang sama yang
diberikan pasar tidak akan menguntungkan
semua peserta. Bahkan, kalaupun kondisi
sosial yang kebetulan telah diperbaiki itu
mengandaikan kesempatan yang tidak
berbeda bagi semua orang, tidak lalu berarti
bahwa pasar bebas dengan sendirinya akan
mendistribusikan kekayaan ekonomi secara
sama. Sebaliknya, terlepas dari perbaikan
kondisi sosial yang ada, pasar bebas akan
melahirkan kepincangan karena perbedaan
bakat dan kemampuan alamiah antara satu
orang dengan yang lainnya. Oleh karena itu,
pasar justru merupakan pranata yang tidak
adil. Di luar itu, pasar bukan hanya
mengontrol, tapi juga dikontrol.
Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh
Mubyarto mengenai globalisasi (pasar bebas)
tersebut. Menurutnya, kita harus bersikap
‘antiglobalisasi’ karena dalam sifatnya yang
sekarang, yang serakah dan imperialistik,
globalisasi sangat merugikan perekonomian
negara-negara berkembang seperti Indonesia
(Mubyarto, 2005:26). Faktanya, bukti-bukti
di lapangan mendukung hal itu. Misalnya,
sebagian besar penduduk di Afrika masih
hidup terbelakang dan terjerat kemiskinan,
sehingga terpaut jauh jaraknya dalam hal
kesiapan negara itu untuk melakukan
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
8
isi.pmd
8
8/20/2008, 11:03 AM
persaingan ekonomi dengan negara-negara
maju lainnya. Data-data yang tersedia
menampilkan bahwa di wilayah sub sahara
Afrika hampir separuh penduduknya hidup
dengan pendapatan di bawah US$ 1 per hari,
tingkat buta huruf penduduk dewasa
mencapai 39%, angka usia hidup saat lahir
cuma 47 tahun, dan tingkat kematian bayi
mencapai 92 jiwa tiap 1000 kelahiran
(IMF,2001:11). Sebaliknya, negara-negara
maju terus mengakumulasi kekayaan dan
kesejahteraan ekonomi karena tingkat
kompetisi barang dan jasanya yang sangat
tinggi bila berhadapan dengan negara
berkembang.
Tentu saja bukan hanya soal ketidakadilan
dalam level internasional yang perlu dikritik
dengan keras, tetapi juga ketimpangan dalam
level domestik. Strategi pembangunan yang
hanya memihak sektor industri/jasa dan
pelaku ekonomi skala besar, misalnya,
merupakan realitas yang patut dijadikan
sasaran kritik. Salah satu publikasi yang ditulis
oleh Mubyarto (1995:122-123) dengan
lantang berbicara ...”Bangsa Indonesia yang
merdeka mewarisi kondisi ekonomi dualistik dan
kapitalistik. Di satu pihak perekonomian rakyat
lemah dan terbelakang, dan di pihak lain sektor
modern yang kuat didominasi oleh perusahaanperusahaan besar asing terutama perusahaanperusahaan milik Belanda”. Dengan kondisi itu,
tidak ada cara lain yang bisa dilakukan kecuali
memperkuat ekonomi rakyat. Menurutnya
(Mubyarto, 1997:3), yang dimaksud dengan
ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi
yang berbasis pada kekuatan rakyat; sedangkan
ekonomi rakyat adalah kegiatan ekonomi yang
dilakukan oleh rakyat yang dengan secara
swadaya mengelola sumber daya apa saja yang
dapat dikuasainya, dan ditujukan untuk
memenuhi kebutuhan dasar dan keluarganya.
ekonomi dan agama (religion) tidak mungkin
akan bertemu, karena di antara keduanya
terdapat dikotomi yang sangat tajam. Paling
tidak dikotomi itu dapat dijabarkan dalam
tiga pertentangan: antara fakta (facts) dan nilai
(values), antara publik (public) dan privat
(private), dan antara kepastian (certainty) dan
pengabaian (ignorance). Dalam setiap dikotomi
tersebut antara agama dan ekonomi terpisah.
Seperti dimaklumi, ekonomi bekerja
berdasarkan fakta-fakta, sedangkan agama
berjalan perdasarkan opini, keyakinan, atau
selera (taste). Ekonomi merupakan kajian yang
menghendaki perdebatan publik (public
debate), sementara agama adalah urusan
masing-masing individu. Demikian juga,
ekonomi berjalan berbasiskan pengetahuan
yang pasti, sebaliknya agama bergerak
berdasarkan epistomologi “keragu-raguan”
(Oslington, 1997:36). Dengan melihat
deskripsi tersebut, pertanyaan yang layak
diajukan: apakah mungkin antara ekonomi
dan agama dikawinkan? Lebih menukik lagi,
apakah mungkin mengkonseptualisasikan
ekonomi Islam di tengah eksistensi dikotomi
tersebut?
Di sini terdapat dua argumentasi untuk
meyakinkan bahwa antara agama dan
ekonomi dapat menyatu. Pertama, agamaagama yang ada (khususnya Islam) meyakini
bahwa dunia ini diciptakan oleh Tuhan.
Bukan itu saja, Tuhan juga merawat dan
menjaga kehidupan sehingga secara etis
otonomi individu (manusia) menjadi batal. Di
sini tidak dibenarkan pandangan yang
menyatakan bahwa setiap upaya dari manusia
merupakan satu-satunya penentu setiap hasil
yang diperoleh. Pandangan ini di samping
sangat ambisius, juga mengabaikan fakta
bahwa interaksi antar manusia sering kali tidak
dibangun berdasarkan kesengajaaan, tetapi
berlangsung secara spontan dan serba
kebetulan. Di sinilah peran sang “lain” itu
muncul. Kedua, tanpa disadari telah ada
struktur teologi (theological structure) dalam
Mempertemukan Ekonomi dan
Islam
Dari perspektif materialistik, antara
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
9
isi.pmd
9
8/20/2008, 11:03 AM
teori ekonomi. Pemikir-pemikir ekonomi
terdahulu, seperti Adam Smith, Robert
Malthus, Karl Marx, Alfred Marshal, Leon
Walras, dan lain-lain secara impisit telah
memasukkan aspek teologi dalam teori
ekonomi yang mereka kembangkan. Kedua
argumentasi inilah yang menyebabkan antara
agama dan ekonomi bisa dipertemukan,
sehingga di antara keduanya tidak lagi terdapat
hubungan yang dikotomis.
Dalam literatur ekonomi Islam jamak
ditemukan kajian yang membahas tentang
keunggulan-keunggulan ekonomi Islam
dibandingkan dengan ekonomi konvensional
(klasik/ neoklasik). Kebanyakan ilmuwan
ekonomi Islam selalu mengomparasikan
kebangkitan ilmu ekonomi Islam dengan ilmu
ekonomi konvesional yang terjadi di negaranegara maju. Padahal, seperti disadari
bersama, negara-negara yang mayoritas
penduduknya Islam menempati negara
berkembang, bahkan negara miskin. Oleh
karena itu, literatur-literatur yang disediakan
oleh ilmuwan ekonomi Islam kurang memotret
secara lebih jauh realitas sesungguhnya,
sekaligus belum memberikan pijakan yang
cukup memadai bagi implementasi ekonomi
Islam sendiri.2 Memang tidak dapat dipungkiri
bahwa hal tersebut bukan sesuatu yang kalis
dari perhatian ilmuwan ekonomi Islam, tetapi
lebih dikarenakan terdapatnya argumentasi
bahwa ekonomi Islam merupakan ilmu
ekonomi yang tidak dibatasi oleh ruang dan
waktu, sehingga tidak diperlukan spesialisasi
kajian untuk negara tertentu. Padahal banyak
hal yang berbeda antara negara maju dengan
negara berkembang (negara miskin).
Sungguh pun demikian, literatur-literatur
ekonomi Islam telah memberikan pijakan
untuk melakukan pembangunan teori
ekonomi Islam secara lebih jauh. Sebenarnya
secara definitif tidak ada perbedaan antara
ekonomi konvensional dengan ekonomi Islam
dilihat dari aspek alokasi dan distribusi sumber
daya. Dalam ranah ekonomi konvensional,
alokasi dan distribusi yang dilakukan ditujukan
untuk memenuhi kebutuhan yang tidak
terbatas dari sumber daya yang terbatas. Hal
ini juga sama untuk ekonomi Islam (Chapra,
2001:2). Namun, yang membedakan antara
ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional
adalah apabila ekonomi konvensional dalam
mengalokasikan dan mendistribusikan sumber
daya hanya diindikasikan dengan sesuatu yang
terlihat (baca: materi), namun dalam ekonomi
Islam bukan hanya terbatas pada satu
indikator tersebut, tetapi pada materi dan non
materi (spiritual). Selain itu, material dan
spiritual ini harus selalu berada pada posisi
yang seimbang, sehingga nantinya alokasi dan
distribusi sumber daya yang terbatas tersebut
bisa mewujudkan kesejahteraan bagi
masyarakat (Chapra, 2001:61). Pada titik
inilah, materi bertujuan mewujudkan
kesejahteraan di dunia, sedangkan spiritual
merupakan panduan untuk mewujudkan
kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Lebih
lanjut, keseimbangan antara material dan
spiritual inilah yang oleh ilmuwan ekonomi
Islam disebut sebagai prinsip ekonomi Islam
dan digunakan sebagai pijakan pembahasan
dari teori ekonomi Islam.
Di luar itu, patokan yang utama selain
keadilan, ekonomi Islam yang dikembangkan
haruslah memuat prinsip-prinsip moral,
kemaslahatan bersama, kepercayaan, tidak ada
eksploitasi, dan pemihakan yang lebih besar
bagi kaum yang tersisih (miskin). Poin-poin ini
sebetulnya bukan hal yang baru, karena
pemimpim semacam Mahatma Gandhi juga
memformulasikan konsep pembangunan
(ekonomi) yang sejenis. Gandhi, yang bukan
2
Sebagai contoh dari hal ini adalah praktek perbankan Islam
atau yang lebih jamak disebut sebagai perbankan syariah serta
wacana (dan sebagian praktek) akuntansi syariah. Untuk
perbankan syariah, yang saat ini bisa dikatakan sebuah hasil
nyata dari ekonomi Islam, dikarenakan tidak mendapatkan basis
teori yang kokoh mengakibatkan implementasi perbankan
syariah tidak sesuai dengan teori yang mendasarinya. Bahkan
realitas yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir
memperlihatkan kaburnya perbedaan mendasar antara
perbankan syariah dengan perbankan konvensional, yakni
dalam hal implementasi bagi hasil.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
10
isi.pmd
10
8/20/2008, 11:03 AM
seorang ahli ekonomi maupun ahli etika,
memformulasikan visi dan praktek
pembangunan yang berfokus kepada
kerjasama tanpa kekerasan antar masyarakat,
bertanggung jawab dalam kepemilikan dan
administrasi kesejahteraan, kegiatan produksi
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,
pembangunan perdesaan, dan penyediaan
kebutuhan dasar (bukan keinginan) [Goulet,
1997:1161-1162].
Oleh karena itu, secara moral tidak
dibenarkan kegiatan produksi dan konsumsi
yang sangat berlebihan (misalnya barangbarang mewah), sementara pada saat yang
bersamaan sebagian besar masyarakat masih
terbenam dalam kemiskinan. Demikian pula,
bila praktek perbankan Islam masih
menempatkan agunan sebagai pertimbangan
utama, maka secara prinsip hal itu belum
mengamalkan nilai-nilai Islam itu sendiri
(tetapi Islam juga menolak praktek belas
kasihan).
Peran Negara dalam Islam
Terdapat beberapa pendapat dari
ilmuwan ekonomi Islam mengenai peran yang
harus dimainkan oleh negara (Chapra,
2001:74-77). Sebagian mengatakan bahwa
negara harus memainkan peran yang
maksimal, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Pengertian ini bukan berarti segala
sesuatu yang menyangkut aktivitas ekonomi,
misalnya distribusi atas kebutuhan sekunder
dan tersier, harus dimainkan oleh negara.
Negara hanya berperan secara maksimal
atas aktivitas ekonomi yang menyangkut hajat
hidup orang banyak. Satu landasan yang harus
menyertai peran yang demikian ini adalah
prinsip keadilan, seperti telah dibahas pada
uraian sebelumnya. Dengan adanya prinsip
keadilan diharapkan perilaku-perilaku
menyimpang yang berujung pada inefisiensi
aktivitas ekonomi dapat diminimalisir, bahkan
dihilangkan. Lebih lanjut, sisi positif dari peran
negara yang demikian adalah distribusi
pendapatan atas aktivitas ekonomi bisa
diperoleh negara dan kemudian disalurkan
kembali kepada masyarakat dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan.
Pendapat berikutnya, seperti yang
diungkapkan oleh Ibnu Khaldun dan alDimasyqi, menyatakan negara tidak boleh
berperan secara langsung terhadap aktivitas
ekonomi. Argumentasi normatifnya, dalam
sejarah ekonomi Islam, negara (pemerintah)
tidak pernah melakukan aktivitas ekonomi
yang sangat jauh (Chapra, 2001:76).
Sedangkan argumentasi ilmiahnya, dalam
posisi yang seperti itu negara mempunyai peran
ganda, yakni sebagai regulator sekaligus
eksekutor. Kondisi semacam ini walaupun telah
dipandu oleh prinsip keadilan dan moral,
akan rawan terhadap kemungkinan terjadinya
konflik kepentingan yang berujung inefisiensi
dan inefektivitas aktivitas ekonomi. Akhirnya,
akan muncul pihak-pihak yang terlemparkan
kepentingannya akibat konflik kepentingan
tersebut. Hal ini jelas merupakan sumber
konflik yang lebih dalam, karena para
pecundang tersebut akan mencari cara agar
kepentingannya bisa terwujud. Dengan
pertimbangan tersebut, negara diharapkan
tidak ikut campur dalam kegiatan ekonomi
secara massif.
Oleh karena itu, peran yang dikehendaki
oleh negara sebatas sebagai regulator,
sedangkan aktivitas ekonomi secara
keseluruhan diserahkan ke pasar. Tentu saja,
aktivitas ekonomi tersebut dipandu oleh
regulasi yang diproduksi oleh negara
(pemerintah). Tetapi, anjuran ini masih
menyisakan satu soal, yakni masalah distribusi
kesejahteraan. Dengan menyerahkan ke
mekanisme pasar, negara tidak akan
memperoleh secara langsung distribusi
pendapatan atas aktivitas ekonomi, yang
selanjutnya hasil distribusi yang diperoleh
tersebut tidak dapat disalurkan kepada
masyarakat. Tapi, hal ini akan sirna tatkala
mekanisme pasar memberikan hasil maksimal
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
11
isi.pmd
11
8/20/2008, 11:03 AM
kepada masyarakat, sehingga distribusi
kesejahteraan dapat langsung terealisasi lewat
instrumen pasar tersebut. Skema distribusi
kesejahtaraan seperti ini dianggap lebih efektif
karena dengan kondisi birokrasi yang masih
jauh dari strandar menyebabkan porsi
distribusi kesejahteraan yang seharusnya
disalurkan secara sengaja diambil oleh
birokrasi sehingga tidak pernah sampai kepada
masyarakat.
Selain itu, masih terkait dengan peran
negara, ekonomi Islam menghendaki
penghilangan tanggung jawab pemerintah
untuk menyediakan jasa-jasa subsidi kepada
semua orang, baik itu kaya maupun miskin.
Namun, ekonomi Islam menghendaki
pemberian jasa-jasa subsidi kepada mereka
yang belum mampu membantu diri mereka
sendiri dengan batasan bahwa jasa-jasa subdisi
tersebut benar-benar yang dibutuhkan dan di
sisi lain jasa-jasa subsidi itu dalam kapasitas
yang bisa disediakan oleh negara (Chapra,
2001:77). Pengertian ini sekali lagi
memperkuat uraian yang telah dipaparkan
sebelumnya bahwa ekonomi Islam tidak
menghendaki belas kasihan secara berlebihan
dan terus-menerus kepada masyarakat miskin.
Pada sisi yang lain, masyarakat miskin juga
tidak diperbolehkan meminta bantuan secara
terus-menerus dengan berbagai dalih. Secara
teoritis, hal ini dikarenakan bantuan yang
terus-menerus, yang tidak disertai upaya
menaikkan tingkat kemandirian masyarakat
miskin dalam rangka memenuhi kebutuhan
sehari-hari, sama halnya membiarkan
masyarakat miskin terus berada dalam kondisi
ketidakberdayaannya. Sedangkan pengertian
yang kedua, ekonomi Islam menganggap peran
minimal yang harus dimainkan oleh negara
merupakan sebuah mekanisme yang meyakini
dampak tetesan ke bawah (trickle down effect).
Hal ini dikarenakan dengan peniadaan subsidi
kepada masyarakat maka mekanisme pasar
yang dikehendaki dalam ekonomi Islam
diyakini bisa memberikan nilai tambah secara
langsung kepada masyarakat, baik kaya dan
terutama miskin.
Secara sepintas peran negara yang
dikehendaki oleh ilmu ekonomi Islam tersebut
mirip dengan peran yang dikehendaki oleh
ilmu ekonomi konvensional (klasik dan
neoklasik), di mana negara hanya memiliki
peran minimal dalam menjalankan aktivitas
ekonomi. Selanjutnya, individu-individu
dalam asumsi ilmu ekonomi konvensional
tersebut diberikan kebebasan mutlak dalam
melakukan aktivitas ekonomi tanpa ada
sebuah batasan dan tanggung jawab yang
menyertainya. Pada titik inilah perbedaan
peran minimal negara yang dikehendaki oleh
ilmu ekonomi Islam dan ilmu ekonomi
konvensional mengemuka. Menurut Mehmet
(1997:1205) dalam ilmu ekonomi Islam
individu-individu diberikan kebebasan dalam
menjalankan aktivitas ekonomi, baik untuk
memenuhi kebutuhannya sendiri maupun
dalam rangka mengakumulasi kekayaannya.
Namun, akumulasi kekayaan ini bukan upaya
untuk melanggengkan kekayaan individu tetapi
lebih sebagai tanggung jawab sosial yang
melekat atas pendapatan (di atas rata-rata)
yang telah diperolehnya. Maksudnya, dengan
adanya akumulasi kekayaan tersebut akan
dapat digunakan sebagai instrumen untuk
menawarkan tenaga kerja. Dengan demikian,
terdapat relasi antara kebebasan individu
dengan tanggung jawab di masyarakat
(individual-in-community).
Zakat dan Kesejahteraan
Seperti telah disinggung dalam uraian di
depan bahwa zakat dan pajak merupakan dua
instrumen yang memiliki karakteristik yang bisa
digunakan untuk meningkatkan dan membagi
kesejahteraan umat manusia secara lebih
merata dan adil. Sungguh pun demikian,
dalam konteks saat ini (terutama di Indonesia)
kedua instrumen tersebut tidak dapat saling
menegasikan. Artinya, sistem pajak sebagai alat
fiskal negara tidak dapat digantikan secara
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
12
isi.pmd
12
8/20/2008, 11:03 AM
mutlak oleh zakat. Di sisi yang berseberangan,
zakat dengan nilai-nilai mulia agama tetapi
masih abstrak tidak dapat menggantikan sistem
pajak. Oleh karena itu, kedua instrumen ini
diposisikan secara legal dan legal terbatas.
Maksudnya, pajak tetap diposisikan seperti
saat ini, yakni secara legal yang harus dipenuhi
oleh warga negara yang menurut ketentuan
yang berlaku dan bagi wajib pajak yang lalai
atas kewajibannya dikenakan sanksi sesuai
aturan yang ada pula.
Sementara itu, dalam konteks zakat yang
intinya bertujuan supaya potensi maksimal
yang ada dapat digunakan secara
berkesinambungan
dalam
rangka
meningkatan kesejahteraan, maka negara wajib
masuk untuk meregulasi pengelolaan zakat.
Pada titik inilah terlihat bahwa kewajiban
untuk membayar zakat tetap menjadi tanggung
jawab pribadi umat Islam dan negara tidak
boleh memaksa umat muslim untuk
membayar zakat. Pasalnya, urusan membayar
zakat merupakan hubungan vertikal antara
umat manusia dengan Tuhannya, sehingga
negara tidak berhak turut memaksanya.
Sedangkan dalam konteks pengelolaan zakat
maksudnya adalah negara dengan peran
regulator yang dapat dimainkannya harus
membuat serangkaian aturan main supaya
terdapat otoritas legal yang berhak menarik
zakat, menyalurkan zakat, membuat skema
maksimalisasi pengunaan zakat, dan
pemantauan maksimalisasi dana hasil zakat.
Pengertian tersebut membawa kepada
pemahaman bahwa zakat (baik fitrah, mal,
maupun yang lainnya) tidak boleh disalurkan
secara langsung dalam bentuk uang tunai
ataupun barang kebutuhan pokok lainnya
(misalnya beras). Hal ini dikarenakan jika zakat
disalurkan dengan skema seperti itu, maka
zakat tak ubahnya hanya menjadi alat yang
terus menenggelamkan manusia dalam
kubangan kemiskinan. Dengan nilai nomimal
yang tidak tidak terlalu besar pasti
menyebabkan penggunaan atas zakat yang
diberikan kepada masyarakat miskin hanya
dapat digunakan dalam jangka waktu yang
pendek. Realitas ini pada akhirnya hanya
memastikan keamanan masyarakat miskin
hanya dalam hitungan hari (bahkan bisa
hanya sampai satu hari), sehingga pasca
penggunaan hasil zakat itu masyarakat miskin
tetap berada dalam keadaan subsisten. Kondisi
ini sebenarnya tidak dikehendaki oleh agama
(dalam hal ini adalah Islam), karena nilai-nilai
mulia agama pasti menghendaki
ketidaksejahteraan umat manusia (walaupun
masalah kaya dan miskin telah menjadi takdir
seseorang) dapat diminimalisir, sehingga
kebebasan kesejahteraan yang setara dapat
diakses sekaligus dinikmati oleh setiap manusia.
Oleh karena itu, pengkonkretan atas nilai-nilai
mulia agama yang abstrak mesti dilakukan oleh
negara.
Lebih lanjut, dengan masuknya negara
dalam pengelolaan zakat, terdapat empat
regulasi formal umum yang bisa diintrodusir
oleh negara. Regulasi tersebut lebih tepat
dalam bentuk Undang-Undang (UU), karena
selain lebih mengikat juga disebabkan sampai
saat ini tidak ada payung hukum yang
mengakomodasi pengeloaan zakat. Pertama,
pihak-pihak yang mengelola zakat. Tidak
jarang urusan pengelolaan zakat
memunculkan konflik horizontal sesama umat
Islam, karena wilayah penarikan zakat yang
selama ini menjadi domainnya diambil oleh
sesama pengelola zakat. Oleh karena itu,
diperlukan otoritas legal yang mengkoordinir
secara nasional pengelolaan zakat. Tentunya
akan lebih tepat jika otoritas legal tersebut
merupakan lembaga independen di luar
struktur pemerintah. Hal ini terkait dengan
profesionalisme pengeloaan zakat, karena jika
berada di dalam lingkaran struktur birokrasi
pemerintah pasti terkendala dengan berbagai
aturan yang sifatnya administratif, sehingga
esensi zakat mau tidak mau pasti lebih inferior
dari urusan administrasinya.
Pada aras ini pulalah nampak bahwa
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
13
isi.pmd
13
8/20/2008, 11:03 AM
pengelolaan zakat lebih fleksibel dari pada
penarikan sekaligus alokasi dari sistem pajak.
Sungguh pun demikian, pengelolaan zakat
tersebut harus mengakomodasi lembaga
pengelolaan zakat yang selama ini telah ada,
sehingga pengelolaan zakat secara nasional ini
lebih memastikan terpolanya koordinasi dan
justru tidak menimbulkan gesekan sosial. Selain
itu, bagi wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak
ada pengelolaan zakat sekarang harus dibikin
ada. Dengan demikian, maksimalisasi atas
penggunaan potensi besar zakat juga lebih besar
pula. Di luar itu, biaya yang dikeluarkan untuk
membayar amil juga harus ditentukan secara
jelas dan tegas, sehingga para amil (yang
akhirnya bisa pula menjadi profesi
independen) dalam menjalankan tugasnya
tidak hanya dipandu oleh pahala saja.
Kedua, tata niaga zakat. Regulasi ini
bertujuan untuk memastikan bahwa
mekanisme penarikan, distribusi, dan
penyampaian zakat dapat dilakukan tepat
sasaran. Ketiga, skema penggunaan. Regulasi
ini intinya mengatur bahwa zakat tidak boleh
disalurkan secara langsung kepada masyarakat
miskin. Oleh karena itu, zakat tersebut harus
dikekola secara efektif, sehingga bisa menjadi
modal kerja produktif yang dapat difungsikan
untuk menghasilkan pendapatan rutin
masyarakat miskin. Dengan demikian, regulasi
ini mencoba mengkonkretkan nilai-nilai mulia
agama yang bertujuan meningkatkan
kesejahteraan umat. Keempat, pendampingan.
Masyarakat miskin dengan karakteristik
keterampilan yang rendah dan tingkat
pengetahuan yang tidak tinggi pula
menyebabkan pengelolaan atas zakat yang
diberikan tersebut jelas tidak maksimal. Oleh
karena itu, menjadi aktifitas sia-sia ketika
seperangkat aturan main zakat yang telah
diformulasikan tetapi maksimalisasi atas
penggunaan zakat itu tidak ada. Dengan
adanya pendampingan ini diharapkan
masyarakat miskin yang sebelumnya
menganggur menjadi mendapatkan pekerjaan,
sehingga akhirnya punya penghasilan rutin
yang berguna untuk meninggalkan pola hidup
yang subsisten.
Catatan Penutup
Terlepas dari takdir yang telah digariskan
oleh Tuhan kepada umat manusia,
kesenjangan distribusi kesejahteraan
masyarakat (dalam tataran global, termasuk
di Indonesia) merupakan hasil dari sistem yang
dibangun oleh peradaban manusia. Oleh
karena itu, mau tidak mau peradaban yang
ada selama ini harus turut menanggung dosa
atas timbulnya ketidakseimbangan sosial
tersebut. Pada sisi yang lain, nilai-nilai mulia
agama dalam zakat, yang sejatinya memiliki
tujuan untuk meningkatkan martabat sosial
manusia, justru masih dianggap sebagai sesuatu
yang sangat suci sehingga dibiarkan begitu saja
tanpa ada tindak lanjut untuk memodifikasi
skema tersebut. Dengan kenyataan ini, zakat
tidak dapat difungsikan sebagai instrumen
agama dalam memeratakan ketimpangan
kesejahteraan, sedangkan di sisi lain tidak
jarang justru menenggelamkan masyarakat
dalam kubangan kemiskinan. Ini semua
menunjukkan bahwa zakat dan agama masih
dimaknai sebagai sesuatu yang terpisah dengan
dunia, sehingga ketika menjalankan kewajiban
zakat yang terpikir hanya urusan kehidupan
setelah ketiadaan (mati). Akhirnya, uraianuraian di atas yang mencoba memberikan
pijakan atas pemosisian zakat dan pajak
sebagai instrumen fiskal negara diharapkan
benar-benar memberikan kontribusi dalam
rangka meningkatkan derajat kesejahteraan
manusia. Dengan demikian, zakat bukan lagi
sekadar akuntabilitas manusia kepada Allah
SWT atas limpahan rezeki yang diterimanya,
tetapi juga sebagai instrumen keadilan yang
bisa mewujudkan keseimbangan sosial.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
14
isi.pmd
14
8/20/2008, 11:03 AM
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. 2008
Chapra, M. Umer. 2001. The Future of Economics: An
Islamics Perspevtive. Landscape Baru Perekonomoian
Masa Depan. Terjemahan. Shari’ah Economics and
Banking Institute. Jakarta
IMF. 2001. Finance and Development. June
Goulet, Denis. 1997. Development Ethics: A New
Discipline. International Journal of Social Economics.
Vol. 24, No. 11: 1160-1171
IMF. 2001. Finance and Development. Vol. 38, No. 4
Kerah, A. Sonny. 1996. Pasar Bebas, Keadilan, dan
Peran Pemerintah: Telaah Atas Etika Politik Ekonomi
Adam Smith. Penerbit Kanisius.Yogyakarta
Mehmet, Ozay. 1997. Al-Ghazali on Social Justice:
Guidelines for a New World Order From An Early
Medieval Scholar. International Journal of Social
Economics. Vol. 24. No. 11: 1203-1218
Mubyarto. 1995. Ekonomi dan Keadilan Sosial. Aditya
Media. Yogyakarta
—————— 1997. Ekonomi Rakyat, Program IDT, dan
Demokrasi Ekonomi Indonesia. Aditya Media.
Yogyakarta
——————. 2005. Ekonomi Terjajah. Pustep UGM.
Yogyakarta
Oslington, Paul. 2000. A Theological Economics.
International Journal of Social Economics. Vol. 27, No.
1: 32-44
Rawls, John. 1999. A Theory of Justice. Revised Edition.
The Belknap Press of Harvard University Press.
Cambridge – Massachusetts. USA
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
15
isi.pmd
15
8/20/2008, 11:03 AM
Zakat Antar Bangsa Muslim:
Menimbang Posisi Realistis Pemerintah dan
Organisasi Masyarakat Sipil
Asep Saefuddin Jahar
Abstrak
Peran masyarakat sipil dan pemerintah dalam pengelolaan zakat dapat dilakukan secara
aktif dan koordinatif. Peran pemerintah berada pada pemberi legitimasi politik dan penyedia
data dalam pengembangan zakat, sedang lembaga pengelola zakat masyarakat sipil
bertindak sebagai eksekutif dalam pengumpulan dan pengelolaan zakat. Hubungan
keduanya dilakukan secara sinergi dan memiliki akses langsung satu sama lain baik secara
koordinatif maupun kontrol. Pada tataran praksis pada lembaga masyarakat sipil dibentuk
koordinasi vertikal dan horizontal. Kordinasi vertikal dilakukan oleh lembaga holding
company dalam mengontrol penghimpunan dan penyaluran zakat di lembaga-lembaga
zakat, sedang koordinasi horizontal dimaksudkan untuk melakukan kerjasama antar lembagalembaga. Hubungan model ini mensintesakan keterlibatan negara dan masyarakat sipil
secara aktif. Model seperti ini dapat memperkuat fungsi organisasi masyarakat dan fungsi
pemerintah.
Kata kunci: Holding Company, vertical, horizontal, organisasi masyarakat sipil,
pemerintah, civil society
A
Pengantar
da dua model pengelolaan
zakat. Pertama, zakat dikelola
oleh negara dalam sebuah
departemen. Kedua, zakat dikelola lembaga
non-pemerintah (masyarakat sipil) atau semipemerintah dengan mengacu pada aturan yang
ditetapkan oleh negara.1 Model pertama,
pengumpulan dan pendistribusian zakat
ditetapkan oleh kebijakan pemerintah dengan
melihat pada kebutuhan masyarakat sehingga
zakat mirip seperti pajak yang dilakukan pada
negara-negara sekuler. Sistem pengelolaan
zakat seperti ini bersifat langsung, artinya warga
masyarakat muslim berkewajiban membayar
zakat dengan cara dipotong langsung dari
harta yang dimilikinya.
Sementara pada model kedua,
pengelolaan zakat dilakukan oleh masyarakat
sipil dengan cara suka rela sedang negara hanya
bersifat sebagai fasilitator atau regulator.
Kedua model ini memiliki keunggulan dan
kelemahan. Kelemahan model pertama,
negara sangat dominan sedang rakyat tidak
banyak dilibatkan. Sedang model kedua,
masyarakat sangat dominan dan
pengumpulan zakat pun bersifat suka rela
sehingga pendapatan zakat cenderung kecil.
Kedua model ini sebaiknya dipadukan untuk
dipakai di Indonesia dengan cara melibatkan
masyarakat sipil dan negara. Cara ini dipakai
karena ada anggapan bahwa negara Indonesia
bukanlah negara Islam sehingga negara tidak
boleh ikut campur jauh pada urusan ibadah
termasuk zakat, sedangkan negara cukup
sebagai fasilitator saja. Terlepas dari
perdebatan ideologis dan politis masalah zakat
dan negara, perlu dijelaskan di sini bagaimana
memerankan negara dan masyarakat sipil
dalam pengelolaan zakat.
1
Pengelolaan zakat seperti ini dilakukan di negara-negara Islam
seperti Saudi Arabia, Pakistan, Kuwait, Bahrain dsb. Lihat Sigrid
Faath (ed.), Islamische Stiftungen und Wohltaetige
Einrichtungen mit entwicklungspolitischen Zielsetzungen in
arabische Staaten (Hamburg: Deutches Orient-Institut, 2003).
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
16
isi.pmd
16
8/20/2008, 11:03 AM
Tulisan ini akan menguraikan bagaimana
pengelolaan zakat dilakukan dengan baik oleh
negara dan masyarakat sipil dalam konteks
Indonesia.
Masa Awal Islam
Agama dan negara dalam sejarah Islam
klasik menyatu dalam sistem negara, karena
nabi, imam atau khalifah adalah pimpinan
negara sekaligus urusan keagamaan.
Keterlibatan negara secara langsung pada
segala urusan juga dipengaruhi oleh populasi
masyarakat yang masih sedikit dan kohesi
masyarakat masih kuat dalam suku dan
agama. Dalam pengelolaan zakat, imam /
khalifah dapat mudah mengontrol langsung.2
Mekanisme ini telah berlangsung sejak zaman
Nabi Muhammad SAW, sahabat hingga
Dinasti Otsmani. Pada masa Rasulullah SAW,
Muadz bin Jabal misalnya, bertugas mengelola
zakat di daerah Yaman dan ia langsung
memungut zakat dari masyarakat muslim
secara langsung. 3 Peran Muadz sebagai
representasi negara memiliki otoritas
mengumpulkan zakat untuk didistribusikan
kepada kelompok miskin sebagai perwujudan
keadilan sosial. Kewenangan negara di sini
menjadi penentu keberlangsungan
pengelolaan zakat. Ada alasan teologis
mendasari model perintah langsung pada
masa itu : pertama, sebagai perintah agama
dan kedua sebagai distribusi harta untuk
keadilan. Ajaran zakat mempertegas adanya
kepentingan ekonomi, yaitu memberikan
manfaat bagi si miskin di samping sebagai
pelaksanaan ibadah. Peran strategis ini
mendorong negara untuk terlibat, karena
negara punya kewenangan untuk melindungi
rakyatnya
dari
monopoli
dan
bertanggungjawab mewujudkan hidup
sejahtera.
Fungsi kedua zakat adalah ibadah kepada
Allah dan perwujuan keadilan sosial dimaknai
sebagai ajaran ibadah yang memiliki dua
dimensi, yakni ibadah mahdhah dan ibadah
ghayr mahdhah. Ibadah mahdhah berarti zakat
memiliki sistem tertentu yang baku seperti
komoditas, waktu dan jumlah tertentu yang
harus dibayarkan. Karena itu, terutama bagi
kalangan literalis, aspek-aspek zakat lebih
dititikberatkan pada unsur-unsur ini. Sedang
ghayr mahdhah, zakat memiliki fungsi sosial,
yaitu perlindungan bagi fakir dan miskin.
Artinya zakat berperan sebagai devisa negara
yang dipungut dari para orang mampu
(muzakki) untuk kepentingan orang-orang
miskin. Di sinilah zakat akan bersinggungan
dengan aspek-aspek sosial, ekonomi dan
politik. Karena itu ruang-ruang ini akan
melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Bagaimana peran ini dilakukan di
masyarakat, ketika penyebaran Islam sudah
meliputi berbagai negara yang tidak
berdasarkan pada Islam. Pada contoh kasus
zaman Nabi Muhammad SAW atau sahabat,
pengelolaan zakat dilakukan oleh pemerintahpemerintah daerah. Hubungan pusat dan
daerah hanya bersifat koordinatif, terutama
dalam pengumpulan dan pendistribusian
zakat. Muadz bin Jabal, misalnya, bertindak
sebagai Gubernur Yaman, ia melakukan
pemungutan dan pendistribusian zakat di
daerahnya. Zakat saat itu berperan ganda,
sebagai dakwah dan kewajiban setiap muslim.
2
3
AlFitri, The Law of Zakat Management and NonGovernmental Zakat Collectors in Iindonesia, “ in The
International Journal of Not-for-Profit Law, Vol. 8. (January,
2006): 58.
M Shiddiq al-Jawi, Kejayaan Ekonomi pada Masa Khilafah
Islamiyah dalam www.khilafah1924.org. Dalam hadits
diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: “ Ketika Nabi
SAW hendak mengutus Muaz ke Yaman beliau bersabda, “
sesungguhnya engkau Muadz akan mengunjungi suatu kaum
dari Ahl al-Kitab di Yaman. Begitu kamu telah menjumpai
mereka, hendakhlah kamu seru mereka untuk bersyahadat
bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya
Muhammad adalah utusan Allah. Kemudian jika mereka
mentaati seruanmu itu, sampaikan kepada mereka bahwa
Allah mewajibkan kamu supaya melakukan shalat lima waktu
dalam sehari semalam, jika mereka mentaati seruanmu, maka
kabari mereka bahwa Allah SWT juga mewajibkan zakat
kepada mereka untuk kemudian diserahkan kepada fakir
miskin yang ada disekeliling mereka…” (HR. al-Bukhari,
Muslim dan Nasa’i). Kuntarno Noor Aflah dan Mohd Nasir
Tajang (Ed.), Zakat dan Peran Negara (Jakarta: Forum Zakat,
2006), hal. 6.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
17
isi.pmd
17
8/20/2008, 11:03 AM
Dalam hal dakwah, zakat memberikan
perlindungan kepada fakir miskin dari
monopoli harta oleh orang kaya. Karena itu
negara punya kepentingan untuk terlibat
langsung. Model pengelolaan zakat secara
langsung oleh negara seperti ini ideal, karena
sosok Nabi Muhammad SAW dan Muadz
memiliki komitmen kuat, sehingga
akuntabilitas dan proses pendistribusian akan
terkontrol. Pada sisi lain, populasi penduduk
masih memungkinkan peran langsung negara
dalam pengelolaan zakat. Namun ada
pelajaran penting di sini yaitu hubungan pusat
(Madinah) dan daerah (Yaman) berjalan
dengan baik, yaitu pemenuhan zakat bagi fakir
miskin dilakukan oleh daerah di mana zakat
terkumpul, sebelum disebarkan pada wilayah
lain dan pemerintah pusat tetap mengontrol
proses pengelolaannya.4
Di Indonesia peran tunggal pemerintah
dalam pengelolaan zakat akan berbeda dengan
kasus di atas, sebab sistem birokrasi dan good
governance masih lemah. Karena itu keterlibatan
masyarakat sangat dibutuhkan. Namun
melepaskan pengelolaan zakat pada organisasi
masyarakat sipil pun akan berdampak negatif,
karena setiap lembaga memiliki kecenderungan
ideologis, budaya dan kepentingan yang
beragam. Karena itu, peran pemerintah dan
masyarakat sipil dalam pengelolaan zakat
adalah dua sisi dari satu mata uang yang tidak
bisa dipisahkan. Negara memberikan legitimasi
politik dan penyedia sarana publik sedang
masyarakat sipil berperan sebagai pelaksana
dan kontrol terhadap pelaksanaan zakat di
masyarakat.
Namun pertanyaannya bagaimana peran
keduanya bisa bersinergi secara baik, terutama
dalam pengelolaan dan pendayagunaan zakat
sehingga mencapai tujuan zakat yaitu mencapai
masyarakat sejahtera? Pencarian peran
seimbang dalam pengelolaan zakat antara
pemerintah dan masyarakat sipil belum ada
tempat yang ideal. Dilihat dari perspektif
politik, pemerintah terbentuk karena
kekuatan politik yang terdiri dari berbagai
unsur kepentingan-kepentingan politik
kekuasaan sedang masyarakat sipil pada sisi
lain sangat heterogen dengan berbagai aliran
ideologi. Bila dalam masyarakat sipil ruang
publik menjadi faktor penting untuk
melibatkan individu-individu bersamaan
dengan hak-haknya, bisakah zakat
ditempatkan pada ruang yang bebas seperti
ini. Hal ini tentu menimbulkan sisi keunggulan
dan kelemahannya. Keunggulan dan
kelemahan itu akan dijelaskan dalam tulisan
ini.
Zakat dan Negara
Peran penting negara bagi sebagian para
ahli5 dihubungkan dengan perintah agama
seperti dijelaskan dalam Al Qur’an 9:103, di
mana Nabi Muhammad SAW berperan
penting dalam pengelolaan zakat karena
jabatannya sebagai pemimpin negara di
samping sebagai Rasul. Perintah ayat ini
menjelaskan peran aktif negara dalam zakat
seperti bunyi ayat : “ambillah sedekah dari
harta-harta mereka.” Di samping itu ayat lain
mengelaborasi kelompok masyarakat yang
berhak menerima zakat seperti dalam ayat 9:
60, yaitu pembagian zakat disalurkan pada
kelompok penerima tertentu yang mana
pelaksanaannya dilakukan oleh lembaga atau
institusi. Ayat ini memberikan pesan bahwa
pendistribusian zakat tidak bisa ditentukan
oleh asumsi individu atau kelompok tertentu
saja, tetapi memerlukan standar baku sesuai
dengan tingkat kehidupan masyarakat
setempat. Dan negara dalam konteks ini punya
otoritas dan sumber data yang penting, sebab
didukung oleh departemen-departemen.
Bahkan Kahf menyimpulkan bahwa ayat di
atas mengindikasikan negara perlu terlibat
langsung dalam pengelolaan zakat dengan
melibatkan masyarakat bukan dilaksanakan
4
5
Kuntarno Noor Aflah, Ibid. hal. 7
http://monzer.kahf. com/papers/English/zakah.pdf
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
18
isi.pmd
18
8/20/2008, 11:03 AM
secara individual. Melepaskan negara dari
pengelolaan zakat, menurut Kahf, akan
beresiko atas pentingnya zakat bagi masyarakat.
Dengan pengelolaan zakat oleh lembaga,
orang kaya tidak merasa zakat yang
dikeluarkannya sebagai kebaikan hati, tetapi
sebagai kewajiban dan fakir miskin tidak
merasa berhutang budi pada orang kaya
karena menerima pembagian zakat. Karena itu
zakat ditafsirkan juga sebagai distribusi
kekayaan di kalangan umat Islam untuk
mempersempit jurang pemisah antara orang
kaya dengan orang miskin dan menghindari
penumpukan kekayaan di kalangan orang
tertentu saja.6
Masalah yang muncul adalah bagaimana
jika sistem pemerintahan negara itu tidak
berasaskan Islam. Apakah negara perlu terlibat
dalam pengelolaan zakat? Jika tujuan zakat
adalah distribusi harta untuk keadilan di
kalangan dhu’afa yang ujungnya untuk
mengentaskan kemiskinan, maka lembaga
khusus adalah penting dalam pengelolaan
zakat. Apabila negara tidak mempunyai
lembaga pengumpulan zakat sendiri, badanbadan hukum swasta di bawah pengawasan
pemerintah dapat berperan sebagai pengelola
zakat.7
Hubungan antara lembaga zakat yang
dikelola sipil dan negara terletak pada peran
dan pelaksanaan kewajiban. Secara hukum,
zakat perlu dikelola oleh sebuah lembaga
sehingga pelaksanaan zakat dapat terlaksana
dengan baik. Jika negara tidak terlibat untuk
mengelola zakat, karena negara berdasar pada
sistem sekuler, maka lembaga volunteer atau
masyarakat sipil dapat melakukan perannya.8
Alasan ini disebabkan karena adanya
kewajiban pelaksanaan zakat, dan bisa
dilakukan oleh lembaga apa pun.
Pengelolaan zakat di Indonesia berkaitan
erat dengan peran masyarakat sipil dan negara
(pemerintah). Peran seperti ini dapat dilakukan
keduanya terkait dengan bagaimana kita
menempatkan masyarakat sipil dalam konteks
negara demokrasi. Bila masyarakat sipil atau
civil society dipersempit pada organisasi
pengelola zakat seperti LSM, ormas atau
lembaga zakat tertentu, maka lembaga ini
berperan dalam ruang publik di mana
berbagai anggota masyarakat terlibat. Sebab,
civil society itu sendiri mensintesakan
kepentingan individu dan negara dalam ruang
publik yang dapat menjadi terpeliharanya
kepentingan individu dan tertibnya kehidupan
umum. Jadi hubungan civil society dan negara
bukan dipersempit antara hubungan lembagalembaga tertentu berhadapan dengan negara.
Jean L Cohen dan Arato mengingatkan bahwa
civil society perlu dibedakan dengan
masyarakat politik dan masyarakat ekonomi.
Kedua kelompok ini menurutnya akan terlibat
langsung dengan penguasa, terutama dalam
kekuasaan dan produksi sumber-sumber
ekonomi.9
Jika organisasi masyarakat sipil dalam
pengeoloaan zakat ditempatkan dalam
konteks ini, berarti sinergi yang diperankan
adalah publik secara aktif. Artinya, asosiasi
atau organisasi itu muncul secara sukarela,
mandiri, rasional dan partisipatif baik di
dalam wacana maupun praksis mengenai
segala hal yang berkaitan dengan
kemasyarakatan. Jika itu bisa dikembangkan
maka organisasi masyarakat sipil akan
berperan sebagai kekuatan kritis reflektif
(reflective forces) di dalam masyarakat.10
Kembali pada tujuan zakat, yaitu
mengurangi penguasaan modal di kelompok
tertentu pengelolaan zakat dalam Islam sangat
6
7
8
9
10
Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan
Wakaf (Jakarta: UI Press, 1988), 52.
Ibid 54-55.
AlFitri, op cit. Hal 55-64. Juga lihat Mohammed Arif,
“Introduction” dalam Mohammed Ariff (Ed.) IsIam and
The Economic Development Development of Southeast
Asai: The Islamic Voluntary Sector in Southeast Asia
(Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 1991), 4.
Hendro Prasetyo dan Ali Munhanif, dkk, Islam dan Civil
Society (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), 6-7.
Lihat, Robert D. Putnam, Robert Leonardi, Raffaella Y
Nanetti, Making Demokrasi Work: Civic Traditions in
Modern Italy (Princeton: Princeton University Press, 1993).
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
19
isi.pmd
19
8/20/2008, 11:03 AM
beragam, mulai dari peran aktif Imam, negara,
tokoh atau lembaga tertentu hingga
pengelolaan secara sukarela dan musiman. Hal
ini menjadi potret buram tentang zakat.
Adakah contoh administrasi zakat yang
berperan seperti pajak yang memiliki kekuatan
untuk memaksa dan memberikan kontribusi
langsung pada masyarakat lemah dengan
dibarengi sistem good governance? Bila hal ini
dirunut, informasi yang penting adalah pada
masa Islam klasik, di mana negara dipimpin
langsung oleh imam atau khalifah. Jika itu
dijadikan contoh, bagaimana diterapkan di
suatu masyarakat yang plural?
Sejarah Zakat Indonesia
Pengelolaan zakat di Indonesia mengalami
beberapa fase sejalan dengan perkembangan
sosial politik negara. Pengalaman itu dialami
pada masa penjajahan, kemerdekaan dan
masa reformasi. Kecuali masa reformasi,
pengelolaan zakat pada masa penjajahan dan
kemerdekaan (orde baru dan orde lama)
memberikan gambaran buram fungsi zakat di
Indonesia. Antara komunitas muslim dengan
hasil zakat tidak memberikan gambaran
seimbang. Artinya, pembayaran zakat
mungkin masih bersifat individual sehingga
tidak ada data jumlah muzakki. Atau zakat
belum dibayarkan secara baik oleh umat
Islam. Dan jika pembayaran zakat pun
dilaksanakan, zakat hanya digunakan sebagai
karitas, berperan sebagai derma untuk
kepentingan sesaat. Dalam kasus ini, zakat
biasanya dibayar langsung pada orang tertentu
yang ia sukai atau atas seruan tokoh
masyarakat yang ada di wilayahnya. Tidak ada
data akurat berapa zakat dapat dikumpulkan,
karena zakat dianggap sebagai rutinitas dan
ubudiyah saja. Dari satu tempat ke tempat
lain, jumlah pengumpulan zakat sangat
beragam karena mengikuti kesadaran dan
keaktifan tokoh atau kyai.11 Pengumpulan
zakat digunakan untuk kepentingan konsumtif
atau bahkan disalurkan keluar dari ketentuan
zakat. Bahkan pada masa penjajahan zakat
diselewengkan oleh para penghulu.12
Pada masa penjajahan daerah Priangan
dikenal dengan pengelolaan zakatnya yang
cukup baik. Keberhasilan pengumpulan zakat
di daerah ini karena keterlibatan kyai atau
tokoh agama. Namun dalam prakteknya,
pengumpulan zakat yang dilakukan kyai hanya
sebagai representasi penghulu,13 sebab semua
hasil pengumpulan ini diserahkan pada
penghulu dan sering tidak disalurkan pada
masyarakat miskin.
Seperti yang dicatat oleh Snouck
Hurgronje, zakat didistribusikan kepada wong
putihan (di Jawa) atau santri, atau lebai yang
masuk kategori fakir dan miskin. Di sini tidak
ada penjelasan siapa yang menentukan miskin
atau standar kemiskininan sehingga ia atau
mereka mendapatkan hak dari pengumpulan
zakat. Dijelaskan bahwa pengulu, naib, petugas
masjid, guru agama, murid pesantren, penjaga
makam, fakir miskin dan para amil mendapat
bagian zakat. Negara pada masa itu
melepaskan diri dari pengelolaan zakat, karena
negara khawatir dituduh terlalu ikut campur
dalam urusan agama. Sebab itu
penyelewengan atau pelanggaran dalam zakat
diselesaikan secara konvensional atau adat,
tanpa melibatkan negara. Namun peran
penghulu masih dominan karena ia memiliki
kewenangan dalam pengumpulan zakat yang
lebih bersifat “memaksa”, tetapi bukan untuk
mustahik tetapi untuk gajinya.14
Pada masa Orde Baru, kekhawatiran
terhadap Islam ideologis memaksa pemerintah
untuk tidak terlibat dalam urusan zakat.
Bahkan secara struktural pun, pemerintah
tidak secara tegas memberikan dukungan legal
11
12
13
14
Kuntarno Noor Aflah, op cit., hal 22.
Muhamad Hisyam, Caught Between Three Fires: The Japanese
Pangulu Under the Dutch Colonial Administration 18821942 (Jakarta: INIS, 2001).
Kuntarno Noor Aflah, op cit hal 23.
Ibid, hal 25; juga lihat Karel Steenbrink, Beberapa Aspek
Tentang Islam Abad ke-19 (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang,
1984), 228.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
20
isi.pmd
20
8/20/2008, 11:03 AM
formal. Zakat sering dikumpulkan masih
dengan cara konvensional dan musiman.
Sehingga dana zakat tidak memberikan
dampak yang berarti. Di sinilah hubungan
zakat (agama) dan negara masih saling curiga.
Perlakuan pemerintah Orde Baru disebabkan
oleh tekanan psikologis politik yang kuat,
karena pengalaman politik persaingan antara
nasionalis, sekuler dan Islam.15 Dan sejak tahun
1968, Presiden Soeharto hanya memberikan
ruang pengelolaan zakat melalui Keputusan
Presiden No.7/PRIN/10/1968.16 Aturan ini
memberikan dorongan pada pemda-pemda
di daerah, seperti DKI Jakarta, Kalimantan
Timur, Sumatera Barat, Aceh, untuk
mendirikan lembaga zakat yang langsung
dikontrol oleh pemerintah daerah.
Dengan dimulainya sistem demokrasi,
tepatnya setelah turunnya Presiden Soeharto
pada tahun 1998, UU No.38 Tahun 1999
tentang Pengelolaan Zakat, adalah awal dari
terbukanya keterlibatan publik secara aktif.
Peran lembaga zakat, bersama dengan struktur
negara telah menfasilitasi pengaturan zakat
dengan lembaga-lembaga khusus yang
dilindungi oleh UU. Sejak saat itulah
pengelolaan zakat dapat dilakukan secara
masif dan terbuka baik oleh lembaga swasta
(masyarakat sipil) maupun oleh pemerintah.
Namun dengan berdirinya lembaga-lembaga
zakat, permasalahan kemudian ditemukan
dalam konteks sinergi dan mekansime kerja
sama baik antar lembaga swasta ataupun
pemerintah dan swasta.17 Lembaga zakat yang
dibentuk oleh organisasi masyarakat sipil
cenderung dominan dan independen.
Pengelolaan zakat seperti ini masih lemah.
Kelemahan itu ada pada sistem pengumpulan
zakat dan pendistribusiannya. Pengumpulan
zakat antar lembaga-lembaga zakat
menampilkan model persaingan, karena
pembayaran zakat bersifat suka rela. Setiap
lembaga zakat berlomba menarik muzakki.
Dalam pendistribusiannya, lembaga zakat
bersandar kepada program mandiri, dan
lemah dalam koordinasi dengan lembaga zakat
lain. Karena itu, peran negara dan masyarakat
sipil dalam pengelolaan zakat bisa dilakukan
secara bersama-sama tanpa mengabaikan
peran satu sama lain seperti telah dilakukan
oleh negara-negara yang telah lama mengelola
zakat secara masif.
Pengelolaan Zakat di Negara
Islam
Pengelolaan zakat di negara Islam atau
mayoritas penduduk muslim bisa dijadikan
gambaran bagaimana lembaga negara atau
masyarakat sipil bekerja, terutama berkaitan
dengan optimalisasi peran zakat dalam
peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di
Saudi Arabia, misalnya karena negara secara
tegas berdasar atas Islam pengelolaan zakat
sejak tahun 1951 diatur dengan UU. 18.
Walaupun demikian, peran individu masih
diberi peluang besar untuk menyalurkan
zakatnya sendiri secara langsung dengan batas
maksimal setengah dari total wajib zakat,
sedang separuhnya diserahkan ke Departemen
Keuangan. Namun, bagi perusahaan zakatnya
disetorkan ke Departemen Keuangan.19 Peran
Departemen Keuangan sebagai lembaga
negara, bekerja sama dengan Departemen
Sosial yang bertugas menyalurkan zakat
kepada mustahik bersinergi dengan baik.
Sistem zakat, bagi warga Saudi, adalah sama
seperti pajak, karena zakat adalah identik
dengan pajak. Sedang warga non-Saudi,
mereka terkena kewajiban pajak yang perlu
dibayarkan. Untuk penentuan mustahik,
negara memiliki standar baku yang dihasilkan
dari kajian mendalam oleh Departemen Sosial
dan tenaga kerja. Di sinilah peran negara
15
16
17
18
19
Bahtiar Effendy, Islam and The State in Indonesia (Singapore:
Institute of Southeast Asian Studies, 2003).
AlFitri, op cit., hal 61.
Kuntarno Noor Aflah, op cit., hal 64-65.
Royal Court No. 17/2/28/8634 tertanggal 29/6/1370H/
7/4/1951, berbunyi: “Zakat syar’i yang sesuai dengan
ketentuan syari’at Islamiyyah diwajibkan kepada individu dan
perusahaan yang memiliki kewarganegaraan Saudi.”
Kuntarno Noor Aflah, op cit., hal 33-34.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
21
isi.pmd
21
8/20/2008, 11:03 AM
menjadi penting, terutama dalam melihat
prioritas
kepentingan
muzakki. 20
Kelemahannya adalah peran negara terlalu
dominan sehingga keterlibatan masyaraka sipil
baik sebagai pengelola atau pengontrol
administrasi zakat sangat lemah.
Berbeda dengan Saudi Arabia, Sudan
memilik pengalaman menarik, yaitu zakat
dibayarkan secara sukarela sebelum
diundangkan pada tahun 1984. Kebutuhan
untuk membuat zakat ini ternyata tidak
semata-mata pada aspek perintah agama,
tetapi karena hasil perolehan zakat dari tahun
ke tahun tidak signifikan. Kewajiban zakat di
Sudan hanya bagi mereka yang muslim baik
yang berada di dalam maupun di luar negeri.
Yang menarik dari contoh Sudan,
penghimpunan zakat dilakukan satu atap
dengan penghimpun pajak. Pada saat
pendistribusian, Departemen Keuangan dan
perencanaan ekonomi nasional berperan
dalam pembagian zakat sesuai dengan fatwa
Majelis Fatwa Nasional. Di sini peran negara
cukup dominan dengan melibatkan
masyarakat dalam hal pengawasan. Sistem
pengelolaan zakat seperti ini nampaknya ideal
di mana terjadi sinergi antara masyarakat dan
negara. Dari sisi negara, ia memiliki prioritas
program yang harus diselesaikan terutama
dalam hal kepentingam fakir miskin
berdampingan dengan masyarakat sipil yang
berperan untuk mengontrol.
Di Pakistan, zakat dikelola secara
sentralistik yaitu oleh lembaga Central Zakat
Fund (CZF) dipimpin secara kolektif oleh enam
belas anggota, salah satunya adalah Hakim
Agung Pakistan. Namun unsur masyarakat
sipil terlibat yaitu kelompok ulama. Lembaga
zakat ini berperan penting dalam menentukan
kebijakan dan pengawasan tentang zakat.
Secara struktural hirarki pengolala zakat ini
tersebar ke negara-negara provinsi hingga
tingkat unit yang ada di daerah. Pemerintah
mempunyai wewenang untuk menentukan
pemotongan zakat bersamaan dengan
dimulainya awal Ramadhan. Pengumpulan
zakat yang dilakukan dengan debit langsung21
dilakukan oleh lembaga keuangan seperti bank
dan selajutnya disalurkan ke CZF. Dana zakat
yang terhimpun dipisahkan dari account
perbendaharaan
pemerintah
dan
pengelolaannya dikelola secara langsung oleh
CZF. Jika dilihat dari struktur dan sistem
pengelolaan zakat, peran negara, karena
Pakistan sebagai negara Islam, sangat dominan.
Beranjak dari peran penting keterlibatan
negara dalam pengelolaan zakat, hubungan
negara dan lembaga-lembaga non-pemerintah
sangat penting. Hubungan keduanya
didasarkan pada aturan legal formal dan
operasional dalam mewujudkan keadilan
sosial. Untuk mencapai tujuan zakat sebagai
keadilan sosial sistem hubungan negara dan
masyarakat sipil perlu diterapkan secara jelas
dalam kerangka good governance.
Masyarakat Sipil Versus Negara
Zakat dalam sistem ekonomi, negara
berperan sebagai distribusi kapital bagi
masyarakat, karena mekanisme dari zakat
mengandung aspek distribusi, alokasi dan
stabilisator perekonomian.22 Pendistribusian
zakat dari si muzakki ke mustahik, zakat
berperan sebagai alat distribusi untuk
meratakan pemilikan sumber daya ekonomi.
Dengan distribusi kapital kemampuan daya
beli masyarakat akan memperkuat pergerakan
produksi dan konsumsi. Fungsi alokatif,
sumber daya dari si kaya kepada si miskin
membantu kehidupan si miskin sehingga
mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan
cara ini pertumbuhan ekonomi melalui
pendapatan penduduk meningkat. Karena itu,
penghasilan zakat dalam sistem ekonomi
modern berperan bukan saja sebagai perintah
20
21
22
Ibid, hal 36.
Pemotongan langsung dari tabungan, deposito, sertifikat
deposito, sertifikat investasi, obligasi pemerintah, saham
perusahaan dan polis asuransi. Lihat ibid, hal 42-43.
Djarot Setiawan, Optimalisasi Lembaga Zakat, Titik Temu
Zakat dan Pajak (Jakarta: Peduli Umat, 2001), 96-99.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
22
isi.pmd
22
8/20/2008, 11:03 AM
agama, tetapi memiliki arti lebih luas yaitu
sebagai modal peningkatan pertumbuhan dan
laju penggerak pembangunan. Jika demikian,
maka zakat memerlukan sistem dan instrumen
yang dapat mengatur pengelolaanya. Karena
itu, peran negara dan masyarakat menjadi
bagian yang tidak bisa dipisahkan.
Dalam aspek mana keterlibatan
pemerintah dan seperti apa bisa diperankan
adalah sebuah mekanisme yang perlu
dirumuskan secara konstruktif. Seperti contoh
di atas, dua model sudah dipraktekkan.
Pertama, pengelolaan zakat dilakukan
langsung oleh negara dalam pengelolaannya
sedang masyarakat sipil kurang berperan aktif
dalam pengelolaan zakat. Model ini memiliki
keunggulan
dan
kelemahannya.
Keunggulannya, negara punya kekuatan
enforcement dan mengontrol pembayaran zakat
oleh masyarakat sehingga penghasilan zakat
bisa ditargetkan sesuai dengan working plan.
Dalam pembayaran atau distribusi zakat,
pemerintah bisa mengambil peran dalam
menentukan kriteria kemiskinan atau secara
geografis memiliki data komprehensif tentang
itu sesuai dengan standar kehidupan saat itu.
Karenanya, pembayaran yang diberikan
kepada para mustahik memenuhi standar
kebutuhan yang nyata. 23 Kelemahannya
adalah peran negara terlalu besar sehingga bisa
menimbulkan penyimpangan-penyimpangan
karena lemahnya kontrol dari masyarakat.
Kedua, pengelolaan zakat diperankan oleh
organisasi masyarakat sipil. Di sini lembaga
masyarakat memiliki otoritas mengumpulkan
zakat dari warga, mengelolanya sesuai dengan
program-program yang dirancang. Karena ciri
khas lembaga-lembaga masyarakat tumbuh
dari latar belakang budaya dan ideologi yang
beragam, program yang dirancang dalam
pengelolaan zaka akan mengikuti mekanisme
ini. Sebab itu, pengelolaan zakat oleh lembaga
non-pemerintah cenderung bersifat parsial dan
lokal, karena lembaga-lembaga itu berada di
daerah tertentu dan memiliki jaringan terbatas.
Pada saat yang sama, lembaga-lembaga
semacam ini mengelola zakat sesuai dengan
program lembaganya, sehingga program
antara satu lembaga dengan lembaga lainnya
sering terjadi pengulangan atau bahkan
benturan. Dalam pengumpulan dana zakat,
antar lembaga zakat cenderung lebih memakai
pola bersaing dari pada kerjasama, karena
setiap lembaga zakat punya target dan program
yang berbeda-beda. Di sinilah kelemahan
menonjol dari pengelolaan zakat dengan sistem
ini.
Dari perspektif ruang publik keterlibatan
masyarakat sipil (civil society) model ini memang
ideal, karena terjadi sintesa kebebasan antara
negara dan individu-individu. Namun
kebebasan untuk ruang publik tidak cukup
untuk menjawab sebuah tujuan pengelolaan
zakat, karena lembaga zakat bukan lembaga
sosial yang mengabdi pada kepentingan publik
dengan ideologi kebebasan absolut. Sebab
dalam pengelolaan zakat ada tujuan keadilan
sosial yang melayani publik, khususnya orangorang miskin. Akumulasi dana zakat dapat
membantu si miskin bila skala prioritas,
kerjasama dan data komprehensif dimiliki
untuk membuat program-program
pendayagunaan dana zakat. Salah satu model
sinergi antara lembaga zakat dan koordinasi
dengan pemerintah, lembaga zakat
memerlukan sebuah lembaga utama (semacam
holding company) yang bisa melakukan
koordinasi dengan cabang atau rantingnya.
Holding company dalam pengelolaan zakat
bukan berarti penyeragaman, tetapi untuk
menghilangkan persaingan dan memperkuat
pendayagunaan zakat secara prioritas dan
sinergi. Model ini bisa memberikan kepastian
penghasilan zakat bagi lembaga-lembaga
cabang, karena sistem pendapatan dan biaya
sosialisasi menjadi tanggungan lembaga23
F.R. Faridi, A Theory of Fiscal Policy in an Islamic State, in An
Anthology of Islamic Studies, vol. II (Montreal: McGill
Institute of Islamic Studies, 1996), 318.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
23
isi.pmd
23
8/20/2008, 11:03 AM
Kesimpulan
Pengelolaan zakat memerlukan dua sinergi
yang bersimbiosis baik antar lembaga zakat
masyarakat sipil maupun antara lembaga zakat
masyarakat sipil dan pemerintah. Model yang
pertama dapat dilakukan dengan memakai
model holding company atau lembaga
koordinator yang berwibawa dan punya
otoritas mengontrol pada lembaga-lembaga
zakat masyarakat sipil. Peran otoritas ini dapat
dilakukan dengan melibatkan pengelola zakat
masyarakat sipil dan pemerintah. Kerjasama
antara pemerintah dan organisasi masyarakat
sipil bisa digambarkan sebagai berikut:
1. Negara memberikan fasilitas legal
formal dan penyedia data tentang
kebutuhan dan potensi pengumpulan
zakat. Pada saat yang sama,
pemerintah juga memiliki kewenangan
untuk mengontrol pengelolaan zakat
yang dilakukan organisasi masyarakat
sipil.
2. Organisasi masyarakat sipil bekerja
sama dengan departemen-departemen
negara seperti departemen keuangan
(pajak), departemen koperasi dan
usaha kecil dan lain sebagainya dengan
memiliki legal formal yang diberikan
oleh negara.
3. Dibentuk holding company untuk
lembaga pengelola zakat masyarakat
sipil untuk mensinergikan proyeksi
dana zakat dan pendistribusiannya.
SUMBER RUJUKAN
lembaga zakat. Sistem ini juga akan mengurangi
ketimpangan pendapatan (aset) zakat antar
satu lembaga dengan lembaga lainnya.
Jika pengelolaan zakat dilakukan seperti
ini, maka negara berperan sebagai fasilitator
dan regulator yang aktif. Artinya, lembaga
zakat bisa bekerjasama dengan departemendepartemen untuk akses data muzakki dan
mustahik di daerah-daerah. Departemendepartemen yang bisa memfasilitasi
pengelolaan zakat adalah Departemen
Perdagangan, Departamen Keuangan,
Departemen Koperasi dan Usaha Kecil dan
Departemen Pengembangan Daerah
Tertinggal. Data-data dari departemen itu bisa
menjadi peta kebutuhan untuk distribusi zakat
dan potensi pendapatan zakat. Data muzakki
digunakan untuk mensosialisasikan program
lembaga zakat sehingga pengumpulan zakat
bisa dilakukan secara persuasif. Sedang data
mustahik berkaitan dengan kebutuhankebutuhan strategis para mustahik di daerahdaerah penting dikumpulkan sehingga
pendistribusian zakat dapat dilakukan dengan
skala prioritas baik dari sisi geografis dan waktu.
AlFitri, The Law of Zakat Management and NonGovernmental Zakat Collectors in Iindonesia, “ in The
International Journal of Not-for-Profit Law, Vol. 8. (January,
2006) : 58.
Bahtiar Effendy, Islam and The State in Indonesia
(Singapore: Institute of Southeast Asian Studies,
2003).
Djarot Setiawan, Optimalisasi Lembaga Zakat, TItik
Temu Zakat dan Pajak (Jakarta: Peduli Umat, 2001).
F.R. Faridi, A Theory of Fiscal Policy in an Islamic State,
in An Anthology of Islamic Studies, vol. II (Montreal:
McGill Institute of Islamic Studies, 1996).
Hendro Prasetyo dan Ali Munhanif, dkk, Islam dan
Civil Society (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002).
http://monzer.kahf. Com/papers/English/zakah.pdf
Karel Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam Abad
ke-19 (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1984).
Kuntarno Noor Aflah & Mohd Nasir Tajang ( Eds.),
Zakat dan Peran Negara (Jakarta: Forum Zakat, 2006).
M Shiddiq al-Jawi, Kejayaan Ekonomi pada Masa Khilafah
Islamiyah dalam www.khilafah1924.org.
Muhamad Hisyam, Caught Between Three Fires: The
Japanese Pangulu Under the Dutch Colonial Administration
1882-1942 (Jakarta: INIS, 2001).
Mohammed Ariff, “Introduction,” dalam
Mohammed Ariff (Ed.) IsIam and The Economic
Development Development of Southeast Asai: The Islamic
Voluntary Sector in Southeast Asia (Singapore:
Institute of Southeast Asian Studies, 1991).
Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat
dan Wakaf (Jakarta: UI Press, 1988).
Robert D. Putnam, Robert Leonardi, Raffaella Y
Nanetti, Making Demokrasi Work: Civic Traditions in
Modern Italy (Princeton: Princeton University Press,
1993).
Sigrid Faath (ed.), Islamische Stiftungen und Wohltaetige
Einrichtungen mit entwicklungspolitischen Zielsetzungen in
arabische Staaten (Hamburg: Deutches Orient-Institut,
2003).
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
24
isi.pmd
24
8/20/2008, 11:03 AM
Peran Negara Dalam
Pengelolaan Zakat:
Perspektif Negara Kesejahteraan dan Praktek
Negara-Negara Tetangga
Heru Susetyo
Abstract
The role of the state in managing zakat in Indonesia has always been questioned.
Judging from colonial centuries to date, there has been no apparent roles nor provisions
evidenced that state entitled to such primary and dominant roles in managing zakat of
its own people. The proposed amendment of Law No. 38 year 1999 on Zakat (alms)
which clearly surrender zakat management solely to state has raised public criticism
largely on which legal, philosophical, and sociological basis underlying such claims.
Therefore, this paper intends to scrutinize the role of the state in managing zakat
through islamic history and tradition, social welfare and welfare state, and neighboring
countries’ practices.
I
Key Words : peran negara, zakat, kesejahteraan
Pendahuluan
nstitusionalisasi zakat oleh Negara
Republik Indonesia antara lain
mengemuka dari pidato Presiden
Soeharto pada peringatan Isra’ Mi’raj 26
Oktober 1968. Pada kesempatan tersebut ia
mengemukakan bahwa dirinya sebagai warga
negara akan mengambil bagian dalam proses
nasional pengumpulan zakat dan
menyerahkan laporan tahunan terhadap
pengumpul dan pendistribusinya. Pasca
pidato, lalu Presiden menginstruksikan kepada
tiga pejabat tinggi negara untuk menyiapkan
langkah-langkah yang diperlukan untuk
pengumpulan zakat secara nasional. Arskal
Salim menyebutkan bahwa langkah tersebut
sebetulnya aneh karena sejatinya telah ada
Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 4 tahun
1968 tentang zakat. Sebelum lahirnya PMA
No. 4 tahun 1968 tentang zakat dan UU No.
38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat,
pada abad ke-19 di Banten zakat fitrah
sebagian besar dibayarkan masyarakat kepada
guru agama, atau pengajar Al Qur‘an di desa.
Di Jawa Timur, zakat maal dibayarkan dan
dikelola kyai dan ulama lainnya. Sementara
itu zakat fitrah dibayarkan kepada pejabat
urusan keagamaan di tingkat desa seperti
khatib dan petugas masjid lainnya.1
Pada tahun 1893 Pemerintah Hindia
Belanda (Nederland Indies) mengeluarkan
regulasi untuk menghindari penyalahgunaan
zakat dengan menunjuk petugas keagamaan
seperti naib dan penghulu sebagai pengelola
zakat. Lalu pada tahun 1905 pemerintah
tersebut mengeluarkan regulasi lain (Bijblaad
6200) yang secara khusus melarang petugas
pribumi (priyayi dan setingkatnya) untuk
mengintervensi pengelolaan zakat. Kebijakan
pemerintah Belanda itu adalah suatu upaya
untuk membuat perbedaan yang nyata antara
urusan negara dan urusan masyarakat muslim
dalam masalah keagamaan.2
1
2
Arskal Salim, Zakat Administration in Politics of Indonesian
New Order, dalam Arskal Salim and Azyumardi Azra, ed. Sharia
and Politics in Modern Indonesia (Singapore, ISEAS : 2003),
hal. 182.
Ibid., hal. 183.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
25
isi.pmd
25
8/20/2008, 11:03 AM
Pada masa pendudukan Jepang,
pemerintah penjajahan menghidupkan
kembali institusi Majelis Islam A‘la Indonesia
(MIAI), suatu federasi partai politik dan
organisasi massa Islam yang telah hidup
sebelum Perang Dunia II. Lembaga MIAI
kemudian mengambil inisiatif untuk
membangun baitul maal di Jawa pada tahun
1943. Namun upaya ini akhirnya gagal karena
MIAI dibubarkan pemerintah Jepang pada
akhir tahun 1943. Selanjutnya, pada masa
kemerdekaan dibentuklah Kementerian
Agama. Pada 8 Desember 1951, kementerian
ini mengeluarkan edaran bahwa kementerian
ini tidak berkehendak untuk mencampuri
urusan pengumpulan dan pendistribusian
zakatÿMisinya hanyalah mendorong orang
untuk membayar zakat dan mengawasi supaya
distribusi zakat terselenggara sebagaimana
mestinya.3
Sementara di Indonesia masalah
pengelolaan zakat sampai sekarang belum
tuntas. Padahal Indonesia telah memiliki UU
No. 38 tahun 1999 tentang Pengelolan Zakat.
Sebagian pihak menduga, justru UU inilah
yang menghambat perkembangan zakat. Alihalih terkoordinasi, setiap lembaga baik Badan
Amil Zakat Nasional (Baznas), Badan Amil
Zakat (Baz) provinsi, kabupaten dan kota serta
Lembaga Amil Zakat (LAZ), seluruhnya
memainkan peran dan fungsi serupa. Usulan
bertahun-tahun tentang pembagian peran
fungsi dan tugas tak tergubris sama sekali.4
Belum tuntas permasalahan yang
ditimbulkan oleh UU No. 38 tahun 1999,
kini telah lahir rancangan amandemen UU
No. 38 tahun 1999, di mana dalam draft
rancangan pemerintah disebutkan bahwa
pengelolaan zakat, infak dan sedekah
sepenuhnya dikelola oleh negara (sentralisasi)
melalui Badan Amil Zakat yang dibentuk
pemerintah di semua tingkatan pemerintahan.
Lembaga Amil Zakat milik masyarakat yang
telah ada nantinya akan berfungsi hanya
sebagai unit pengumpul zakat yang terintegrasi
secara institusional dengan Badan Amil Zakat
milik pemerintah.
Adanya rencana sentralisasi pengelolaan
zakat ini akhirnya memunculkan pertanyaan,
sejauh manakah Negara Indonesia berhak
melakukan intervensi dalam urusan
keagamaan masyarakat seperti zakat ini? Guna
menjawab pertanyaan ini akan ditelusuri jati
diri Negara Indonesia dalam perspektif negara
kesejahteraan dan perbandingan dengan
praktek-praktek pengelolaan zakat di negara
tetangga.
Pengelolaan Zakat Dalam Tradisi
Islam
Zakat adalah instrumen ilahiah yang
diwajibkan kepada kaum muslim. Allah SWT
berfirman dalam Surat At-taubah ayat 103
“Ambillah zakat dari harta mereka dengan guna
membersihkan dan mensucikan mereka, dan
berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’amu
itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi
mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.”
Berdasarkan surat At-Taubah ayat 60 ada
delapan golongan yang berhak menerima zakat
yaitu fakir, miskin, amil, mualaf, hamba
sahaya, orang yang berhutang, orang-orang
dalam perjalanan, dan para pejuang di jalan
Allah (Ibnu Sabil).
Para fuqaha berbeda pendapat dalam
pembagian zakat terhadap delapan golongan
tersebut. Imam Al-Syafi’i dan sahabatsahabatnya mengatakan bahwa jika yang
membagikan zakat itu kepala negara atau
wakilnya, gugurlah bagian amilin dan bagian
itu hendaklah diserahkan kepada tujuh
golongan lainnya jika mereka itu ada semua.
Jika golongan tersebut tidak lengkap, zakat
diberikan kepada golongan-golongan yang
ada saja. Tidak boleh meninggalkan salah satu
3
4
Ibid., hal. 184.
Erie Sudewo, Kebijakan Perzakatan : Kita dan Negeri Tetangga,
dalam Politik ZISWAF Kumpulan Esai (Jakarta, CID dan UI
Press : 2008), hal. 187.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
26
isi.pmd
26
8/20/2008, 11:03 AM
golongan yang ada. Jika ada golongan yang
tertinggal, bagiannya wajib diganti.5
Memang, apabila kepala pemerintahan
menghimpun semua zakat dari penduduk
suatu negeri dan golongan yang delapan
lengkap ada, setiap golongan berhak menuntut
hak masing-masing sebagaimana telah
ditetapkan Allah, tetapi tidaklah wajib bagi
kepala negara membagi sama rata di antara
mereka, sebagaimana tidak wajib zakat itu
sampai kepada mereka semua. Ia bahkan dapat
memberikan kepada sebagian golongan lebih
banyak dari yang lain. Boleh juga memberi
kepada yang satu, tetapi tidak kepada yang
lainnya jika menurut pertimbangannya hal itu
sesuai dengan kepentingan Islam dan kaum
muslimin.6
Siapa yang bertugas membagikan zakat?
Biasanya Rasulullah SAW mengirimkan
petugas-petugasnya untuk mengumpulkan
zakat dan membagi-bagikannya kepada para
mustahik. Khalifah Abu Bakar dan Umar ibn
Khattab juga melakukan hal yang sama, tidak
ada bedanya antara harta-harta yang jelas
maupun yang tersembunyi. Tatkala datang
masa pemerintahan Utsman ibn Affan,
awalnya ia masih menempuh cara tersebut.
Akan tetapi, waktu dilihatnya banyak harta
yang tersembunyi, sedangkan untuk
mengumpulkannya itu sulit dan untuk
menyelidikinya, menyusahkan pemilik-pemilik
harta, maka pembayaran zakat itu diserahkan
kepada para pemilik harta itu sendiri.7
Para fuqaha telah sepakat bahwa yang
bertindak membagikan zakat itu adalah
pemilik-pemilik itu sendiri, yakni jika zakat
adalah dari hasil harta yang tersembunyi.
Seandainya para pemilik sendiri yang
membagi-bagikan zakat itu (zakat harta mereka
yang tersembunyi) apakah itu lebih utama?
Ataukah lebih baik mereka serahkan kepada
kepala negara atau imam (petugas) yang akan
membagi-bagikannya? Menurut Imam AlSyafi’i, lebih baik diserahkan kepada imam jika
imam itu ternyata adil. Menurut Imam
Hanbali, lebih utama jika dibagi-bagikan
sendiri, tetapi jika diserahkan kepada negara,
tidak ada halangannya. Adapun mengenai
harta yang jelas, menurut Malik dan Imam
Hanafi, imam dari kaum muslimin dan para
pembesarlah (pemerintah) yang berhak
menagih dan memungut zakat. Pendapat
golongan Syafi’i serta pengikut-pengikut
Hanbali tentang harta-harta yang jelas ini sama
dengan pendapat mereka terhadap hartaharta yang tersembunyi.8
Maka, jelaslah bahwa zakat merupakan
salah satu kewajiban yang telah disepakati oleh
para ulama dan telah diketahui oleh semua
umat, sehingga ia termasuk salah satu hal yang
mendasar dalam agama, yang mana jika ada
salah seorang dari kaum muslimin yang
mengingkari kewajibannya, maka dia telah
keluar dari Islam dan dibunuh dalam keadaan
kafir, kecuali jika ia baru mengenal Islam,
maka dia dimaafkan disebabkan karena
kejahilannya akan hukum.9
Adapun
mereka
yang
tidak
mengeluarkannya dengan tetap meyakini akan
kewajibannya, maka dia berdosa karena
sikapnya tersebut, tetapi hal ini tidak
mengeluarkannya dari Islam dan seorang
hakim (penguasa) boleh mengambil zakat
tersebut dengan paksa beserta setengah
hartanya sebagai hukuman atas
perbuatannya. Jika suatu kaum menolak
untuk mengeluarkannya padahal mereka
tetap meyakini kewajibannya dan mereka
memiliki kekuatan untuk melarang orang
memungutnya dari mereka, maka mereka
harus diperangi hingga mereka
mengeluarkannya.10
Ismail Luthfi Japakiya menyebutkan
5
6
7
8
9
10
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah Jilid 1 (Jakarta, Pena Pundi Aksara
: 2007), hal. 575.
Ibid., hal. 577.
Ibid., hal. 582.
Ibid.
Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi. Panduan Fiqih Lengkap.
Jilid 2. (Bogor, Pustaka Ibnu Katsir : 2005), hal. 92.
Ibid., hal. 93.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
27
isi.pmd
27
8/20/2008, 11:03 AM
bahwa zakat adalah salah satu landasan utama
dalam terciptanya kedamaian dan keamanan,
utamanya keamanan dari kemiskinan dan
penyakit. Selanjutnya ia berpendapat bahwa
“..Islam considers the entire community responsible
for the food security of all its individuals…one of
the categories to whom the revenue of zakah has to
be distributed consists of the mu`allafah
qulubuhum who include non-Muslims 11
Pemikiran mutakhir terkait peran zakat
dalam negara modern dikemukakan oleh
Aidit Ghazali. Ia mengemukakan bahwa dalam
negara Islam modern ada empat sumber
pendapatan negara antara lain adalah : (1)
dana dari baitul maal; (2) pendapatan dari
sumber daya alam masyarakat; (3) pajak; dan
(4) pinjaman.12 Dana dari baitul maal berasal
dari sumber kekayaan khusus (special wealth)
yaitu zakat, dan sumber kekayaan umum yaitu
fa’i, ushr, pajak, ghanimah, dan lain-lain sumber
yang tidak dimiliki oleh individu dan diserahkan
kepada baitul maal.13
Peran Negara Dalam Perspektif
Negara Kesejahteraan
Negara kesejahteraan adalah suatu
masyarakat di mana pemerintahnya
bertanggungjawab menjamin bahwa setiap
warga negaranya menerima pendapatan
minimum dan mempunyai akses sebesar
mungkin yang ia mampu raih untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya pada bidang
perawatan kesehatan, perumahan,
pendidikan dan layanan sosial personal.14
Menurut Isbandi Rukminto Adi, ada tiga
kunci utama dalam memahami negara
kesejahteraan yaitu :15
1. Intervensi yang dilakukan oleh negara
(dalam hal ini pihak pemerintah) dalam
menjamin kesejahteraan warganya;
2. Kesejahteraan harus dikembangkan
berdasarkan kebutuhan dasar
masyarakat;
3. Kesejahteraan adalah hak dari setiap
warga negara.
Ada tiga paradigma kesejahteraan sosial,
antara lain : (1) paradigma residual; (2)
paradigma institusional; dan (3) paradigma
developmental. Paradigma residual adalah
pandangan tentang sistem kesejahteraan sosial
yang dikembangkan hanyalah sistem terakhir
(last resort) untuk membantu anggota
masyarakat. Ini adalah sistem kesejahteraan
sosial minimalis, di mana sistem ini baru
difungsikan ketika sistem pasar (market system)
ataupun sistem keluarga (family system) gagal
memenuhi kebutuhan individu. Aliran ini
sangat menekankan nilai-nilai individualisme
dan kemerdekaan individu, sehingga
kesenjangan yang terjadi di masyarakat lebih
dianggap sebagai konsekuensi logis dari adanya
kebebasan individu untuk mendapatkan hasil
yang terbaik dalam kehidupannya. Karena
bantuan baru diberikan bila sistem pasar dan
keluarga tidak bisa membantu anggota
masyarakat tersebut, maka dalam sistem
kesejahteraan sosial dengan paradigma residual
diberlakukan sistem seleksi (means test) untuk
menentukan apakah orang tersebut berhak
mendapatkan bantuan.16
Paradigma institusional atau model
kesejahteraan institusional dikembangkan
berdasarkan teori tentang masyarakat dan
negara yang didasarkan pada nilai-nilai
konsensus (consensual value), tetapi
konformitas dicapai melalui proses integrasi
sosial, bukan sekedar menonjolkan pada aspek
pilihan individual saja. Dalam kaitan dengan
peran negara dalam penyediaan layanan
kesejahteraan pada masyarakatnya,
Ismail Lutfi Japakiya, Islam the Religion of Peace (Malaysia,
Fajar Ulung : 2008), hal. 25.
12
Aidit Ghazali, Development An Islamic Pespective. (Kuala
Lumpur, Pelanduk Publications : 1990), hal. 95 – 96.
13
Ghazali, ibid., hal. 47 – 48.
14
Deacon (2002) sebagaimana dikutip oleh Isbandi Rukminto
Adi, Konsep dan Pokok Bahasan dalam Ilmu Kesejahteraan
Sosial (Jakarta, UI Press : 2005), hal. 102.
15
Isbandi Rukminto Adi, Konsep dan Pokok Bahasan dalam Ilmu
Kesejahteraan Sosial (Jakarta, UI Press : 2005), hal. 108.
16
Ibid.
11
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
28
isi.pmd
28
8/20/2008, 11:03 AM
paradigma ini melihat pemerintah harus
bekerjasama dengan pihak swasta dan
organisasi nirlaba dalam meningkatkan kualitas
layanan.17
Paradigma developmental, atau model
kesejahteraan developmental merupakan
konsepsi tentang sistem kesejahteraan sosial
yang mendasarkan pada nilai-nilai keadilan
sosial. Paradigma ini berdasarkan pada
perspektif sosial demokrat (democratic socialist
perspective). Disini peran pemerintah menjadi
lebih proaktif, dan merupakan antitesis dari
perspektif residual yang lebih bersifat reaktif.18
Pendapat lain dikemukakan oleh Marsland
yang mengusulkan agar membebaskan
kesejahteraan masyarakat dari negara dan
mempertimbangkan privatisasi di bidang
kesejahteraan secara lebih serius, seperti apa
yang dilakukan di bidang industri. Marsland
juga menentang pandangan bahwa negara
harus menyediakan layanan pada warganya
sejak mereka lahir hingga mereka meninggal dunia
(state provision of cradle to grave).19
Holil Sulaiman menyebutkan bahwa di
Amerika Serikat sejak tahun 1960-an sampai
sekarang ada dua pandangan kuat yang
bertentangan tentang kesejahteraan sosial,
yaitu : pertama yang memandang bahwa
kegiatan kesejahteraan sosial hanya disediakan
bila struktur sosial normal masyarakat tidak
berfungsi. Penyedia utama kesejahteraan sosial
adalah keluarga dan pasar ekonomi. Bila
kedua sumber tersebut tidak berfungsi baru
kesejahteraan sosial tampil. Faham ini disebut
faham kesejahteraan sosial residual. Kedua,
faham kesejahteraan institusional yang melihat
kesejahteraan sosial sebagai fungsi legal dan
yang diterima serta dibutuhkan oleh
masyarakat industri modern untuk melayani
individu dan kelompok untuk memperbaiki
dan meningkatkan taraf kehidupannya dan
taraf kesejahteraannya yang sebaik-baiknya.20
Negara kesejahteraan, pada dasarnya,
mengacu pada peran negara yang aktif dalam
mengelola dan mengorganisasi perekonomian
yang di dalamnya mencakup tanggung jawab
negara untuk menjamin ketersediaan
pelayanan kesejahteraan dasar dalam tingkat
tertentu bagi warganya. Secara umum, suatu
negara bisa digolongkan sebagai negara
kesejahteraan jika mempunyai empat pilar
utama, yaitu : (1) social citizenship; (2) full
democracy; (3) modern industrial relation system;
(4) rights to education and the expansion of modern
mass education systems.21
Negara kesejahteraan berusaha
membebaskan warganya dari ketergantungan
pada mekanisme pasar untuk mendapatkan
kesejahteraan (dekomodifikasi) dengan
menjadikannya sebagai hak setiap warga yang
dapat diperoleh melalui perangkat kebijakan
sosial yang disediakan oleh negara.22
Seperti yang awalnya diamati oleh Titmuss
(1958) dan kemudian diperkuat oleh EspingAndersen (1990), negara tidak selamanya
menjadi aktor utama dalam penyediaan
kesejahteraan.
Esping-Andersen
mentipologikan varian-varian rezim
kesejahteraan atas rezim kesejahteraan liberal,
sosial demokrat, dan konservatif. Terlihat
bahwa peran negara dalam negara
kesejahteraan paling kuat dijumpai pada rezim
kesejahteraan sosial demokrat yang memiliki
tingkat demodifikasi tinggi serta ikatan hak
sosial yang universal.23
Berdasarkan tipologi rezim kesejahteraan
tersebut, Esping-Andersen (1999) membagi
negara kesejahteraan ke dalam tiga bentuk
yaitu :24
„ Residual welfare state; yang meliputi
negara seperti Australia, Kanada,
Ibid.
Ibid.
Isbandi Rukminto Adi, ibid., hal. 122.
20
Holil Sulaiman, Dinamika dan Cita-Cita Kesejahteraan Sosial
di Negara Industri Maju (NIM), 1982, hal. 4.
21
Esping-Andersen (1990, 1999) sebagaimana dikutip oleh
Darmawan Triwibowo dan Sugeng Bahagijo, Mimpi Negara
Kesejahteraan (Jakarta, Perkumpulan Prakarsa : 2007), hal. 9.
22
Ibid.
23
Ibid., hal. 14.
24
Ibid., hal. 15.
17
18
19
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
29
isi.pmd
29
8/20/2008, 11:03 AM
Selandia Baru, dan Amerika Serikat,
dengan basis rezim kesejahteraan
liberal dan dicirikan dengan jaminan
sosial yang terbatas pada kelompok
target yang selektif serta dorongan yang
kuat bagi pasar untuk mengurus
pelayanan publik.
„ Universalist welfare state; yang meliputi
negara seperti Denmark, Finlandia,
Norwegia, Swedia, dan Belanda,
dengan basis rezim kesejahteraan sosial
demokrat dan dicirikan dengan
cakupan jaminan sosial yang universal
dan kelompok target yang luas serta
tingkat dekomodifikasi yang ekstensif.
„ Social insurance welfare state, yang
meliputi negara seperti Austria, Belgia,
Perancis, Jerman, Italia, dan Spanyol
dengan basis rezim kesejahteraan
konservatif dan dicirikan dengan
sistem jaminan sosial yang
tersegmentasi serta peran penting
keluarga sebagai penyedia pasok
kesejahteraan.
Ajaran-ajaran agama telah memberikan
basis etis yang kuat bagi perkembangan konsep
negara kesejahteraan. Esping-Andersen
menengarai kuatnya pengaruh doktrin sosial
Katolik dalam rezim kesejahteraan konservatif.
Pengaruh ini bisa dilacak dari teks-teks ajaran
sosial gereja yang dikeluarkan sejak abad
kesembilan belas. Rerum Novarum (Hal-hal
Baru) tentang Keadaan Kaum Buruh, yang
merupakan teks ensiklik Paus Leo XII pada
tahun 1891, merupakan teks yang dinilai
mempunyai pengaruh besar bagi
berkembangnya sistem jaminan sosial di Eropa
pada abad kedua puluh. Ia merupakan
respons gereja terhadap perkembangan sosial
terkini yang terjadi setelah revolusi industri di
Eropa, khususnya terhadap menguatnya
sosialisme dan kecenderungan pertentangan
antar kelas sosial. Teks tersebut secara eksplisit
juga menunjukkan bagaimana negara harus
berperan. Di antara butir-butir kebijakan
tersebut adalah :25
“...tugas utama para penguasa ialah
mengerahkan seluruh sistem perundangan dan
lembaga-lembaga untuk memberikan bantuan pada
umumnya maupun kepada golongan-golongan
khas. Termasuk kepemimpinan negara
mengusahakan agar struktur maupun fungsi
administratif negara meningkatkan kesejahteraan
umum maupun perseorangan...karena itu
pemerintah harus bercampur tangan bila
kepentingan umum atau kepentingan kelompok
khusus dirugikan atau terancam bahaya, asal
memang itulah satu-satunya jalan untuk mencegah
atau menyingkirkan kejahatan...”.
Dalam hubungannya dengan social security
zakat adalah bagian dari instrumen
keterjaminan sosial yang berasal dari institusi
agama. Keterjaminan sosial (social security)
adalah tindakan publik, termasuk yang
dilakukan oleh masyarakat, untuk melindungi
kaum miskin dan lemah dari perubahan yang
merugikan dalam standar hidup, sehingga
mereka memiliki standar hidup yang dapat
diterima (The World Bank Research Observer,
1991).26
Danny Pieters menyebutkan bahwa
keterjaminan sosial adalah : the compilation of
benefits in cash and in kind, including services,
granted to some persons. The arrangement as
granting protection against the insecurity resulting
from the risks related to the ascent of the industrial
society and its development or, in short, against
social risk.”27
Instrumen yang terkait dengan
keterjaminan sosial adalah jaminan pekerjaan
dan pendapatan, serta beberapa instrumen
kebijakan formal, seperti asistensi, asuransi
sosial dan tunjangan keluarga. Keterjaminan
sosial bukan untuk melindungi kaum kaya
tetapi untuk memberikan efek insentif. Dalam
studi ILO (International Labour
25
26
27
Ibid., hal. 16 – 17.
Tim CRESCENT, Menuju Masyarakat Mandiri, hal. 18.
Danny Pieters, Social Security : An Introduction to the Basic
Principles (Netherland, Kluwer Law International : 2006),
hal. 2.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
30
isi.pmd
30
8/20/2008, 11:03 AM
Organization) 1984, digambarkan ada tiga
tahap evolusi keterjaminan sosial, yaitu :28
1. Sumbangan/derma dari kaum kaya
yang disediakan untuk para fakir
miskin, tetapi kondisi dan stigma keras
yang ditetapkan sering tidak dapat
diterima.
2. Skema asuransi sosial dikembangkan
berdasarkan suatu kewajiban premi
yang diberikan pada peserta berupa
pensiun dan pembayaran masa sakit.
3. Konsep pencegahan dengan tujuan
untuk menjaga dan meningkatkan
kualitas hidup.
Pengelolaan Zakat Di NegaraNegara Tetangga
Pengelolaan zakat, infak, sedekah dan
wakaf di Singapura tak satupun dikelola
perorangan. Semua dikelola secara korporat.
Jumlah muslim di Singapura sekitar 500 ribu
jiwa, alias 15% dari total penduduk. Pembayar
zakat rutin berjumlah 170 ribu orang. Di luar
zakat, dihimpun juga sedekah untuk
pendidikan madrasah dan pembangunan
masjid. Di samping melalui rekening bank,
pembayaran dapat dilakukan di 28 masjid di
seluruh Singapura. Tahun 2003, total
penghimpunan zakat, infak dan sedekah (ZIS)
berjumlah S$ 13 juta. Dari jumlah tersebut
disalurkan untuk semua mustahik sekitar S$
12.3 juta. Tahun 2004 meningkat jadi S$ 14.5.
juta. Dari laporan Majelis Ugama Islam
Singapura (MUIS), hak amil tahun 2004
tercatat S$ 1.5. juta, alias Rp 8.9 miliar.
Dari awal hingga pengelolaan itu sukses,
pemerintah Singapura tak tergoda ikut
campur. Banyak pekerjaan yang harus
dikerjakan pemerintah daripada ikut-ikutan
mengurusi ZIS dan wakaf yang terbukti telah
mampu dikelola warganya. Dana ZIS
merupakan sumbangan warga muslim yang
langsung membantu menangani kemiskinan
dan kebodohan. Pemerintah Singapura pun
sadar bahwa sesuatu yang telah berjalan baik
tak perlu diutak atik. Jika memang
manfaatnya besar dan tidak mengganggu
stabilitas negara, mengapa harus diatur lagi
dengan peraturan dan undang-undang. Cara
pandang pemerintah seperti ini
memperlihatkan kualitasnya. Bahwa birokrasi
di Singapura berjalan profesional dilandasi
karakter entrepreneur yang kuat. Birokrasi
demikian tak gegabah menghakimi dan
menempatkan pihak yang berhasil mengelola
ZIS dan wakaf sebagai pesaing.29
Selain minimnya campur tangan negara,
komunitas muslim di Singapura telah
menjelmakan dirinya sebagai civil society yang
aktif. Ismail Ibrahim dan Elinah Abdullah
mengungkapkan sebagai berikut :30
The Malay / muslim community in
Singapore has kept faith with the Singapore
state, with its promise of good education, equal
opportunities based on merit and better living
conditions. Although faced with the prospect
of economic, political and social difficulties in
the early 1960s, Malay/ Muslims who were
generally located in the rural areas has
demonstrated high level of community
activism. This was evidenced by the
proliferation of mutual help organization in
the area of communal life, education, religious
learning, and social and welfare programmes.
These traditional organizations such as the
khairat or mutual-help organizations, and the
madrasah or religious schools were founded
on community ties and religious obligations
that mobilized especially the better educated
and more successful members of the
community to improve its general wellbeing…in the areas of social and welfare
Tim CRESCENT, Ibid., hal. 19.
Erie Sudewo, Kebijakan Perzakatan : Kita dan Negeri Tetangga,
dalam Politik ZISWAF Kumpulan Esai (Jakarta, CID dan UI
Press : 2008), hal. 169.
30
Ismail Ibrahim and Elinah Abdullah, The Singapore Malay/
Muslim Community : Civic Traditions in a Multiracial and
Multicultural Society in Gillian Koh and Ooi Giok Ling,
et.al.,State Society Relations in Singapore (Singapore, Oxford
University Press : 2000), hal. 54 – 55.
28
29
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
31
isi.pmd
31
8/20/2008, 11:03 AM
programmes, badan khairat were formed to
assist the poor, orphans and the disadvantaged.
Sementara itu di Malaysia, dalam hal
zakat, pemerintah Malaysia ternyata
mendukung penghimpunan zakat yang
dilakukan oleh murni swasta. Posisi
pemerintah sendiri hanya fasilitator dan
penanggung jawab. Menariknya lagi,
pemerintah (saat itu di bawah Perdana
Menteri Mahathir Mohammad) tak
menempatkan zakat sebagai komponen
penting dalam membasmi kemiskinan. Dalam
wilayah penyelenggaraan, pengelolaan zakat di
Malaysia ditempatkan dalam Majelis Agama
Islam (MAI). Koordinasi MAI ada dalam
kementerian non departemen. Peran dan
fungsi menteri non departemen membuat
lembaga strategis yang bertanggung jawab
langsung pada Perdana Menteri. Dari
kementerian MAI ini, lahir terobosan yang
amat inovatif yaitu Pusat Pungutan Zakat
(PPZ) dan Tabung Haji (TH). Karena hanya
ada di Malaysia, dua lembaga itu kini jadi
rujukan beberapa negara di luar Malaysia.31
Tabung Haji di Malaysia bahkan telah
menjadi bagian dari social security scheme di
negara tersebut “..in addition to the above
schemes, there is also a Pilgramage Fund (Tabung
Haji) which has been set up to enable
accummulation of savings to enable Muslim
Malaysians to go on Haj (pilgrimage), and a unit
trust (ASD) for the Bumiputera community, which
provides social security services for the members.”32
Pusat Pungutan Zakat (PPZ) resmi
beroperasi pada 1 Januari 1991 di Kuala
Lumpur. Namun ide dan gagasan PPZ telah
dimulai sejak Mei 1989. Gagasan tersebut lahir
dipantik oleh keresahan tak berkembangnya
pengelolaan zakat di Malaysia. Penghimpunan
zakat dan infak lemah. Sesuatu yang amat
lumrah akibat kurangnya pegawai, sistem yang
lemah dan kampanye sosialisasi zakat yang tak
pernah dilakukan. Dari sejumlah tujuan PPZ,
ada dua hal yang menarik. Pertama, model ini
menyenangkan pembayaran zakat. Kedua,
mengenalkan cara korporat dalam urusan
marketing dan teknologi berbasis komputer.
Ternyata kiat-kiat marketing dan posisi PPZ
yang murni swasta, merangsang negeri-negeri
bagian lain di Malaysia mencontohnya. Kini,
selain Wilayah Persekutuan di Kuala Lumpur,
PPZ yang independen berdiri sendiri juga
tumbuh di lima negeri yaitu Melaka, Pahang,
Selangor, Pulau Pinang, dan Negeri Sembilan.
Selebihnya, yakni delapan negeri yang lain,
masih menggabungkan fungsi penghimpunan
dalam tubuh Baitul Maal (BM). Di Malaysia
zakat tidak dikelola secara nasional (federal).
Ke empat belas negara bagian (state) di
Malaysia, masing-masing diberi hak mengelola
zakatnya.33
Dalam hal pengelolaan zakat ini, ada
empat kebijakan pemerintah Malaysia yang
dapat dicatat. Pertama, pemerintah merestui
status hukum dan posisi PPZ sebagai
perusahaan murni yang khusus menghimpun
dana zakat. Kedua, mengizinkan PPZ
mengambil 12.5% dari total kutipan zakat
setiap tahun, untuk membayar gaji pegawai
dan biaya operasional. Ketiga, pemerintah
menetapkan zakat menjadi pengurang pajak.
Dan
keempat,
pemerintahpun
menganggarkan dana guna membantu
kegiatan BM dalam membasmi kemiskinan.34
Peran Negara Dalam Pengelolaan
Zakat Di Indonesia
Bagaimana dengan Indonesia? Erie
Sudewo memandang bahwa masih ada
sebagian penduduk Indonesia yang tidak
meyakini zakat itu wajib. Bagi mereka zakat
harus didasarkan pada keikhlasan. Tidak
ikhlas, sia-sia ibadahnya. Inilah paradoksal di
Indonesia. Fakir miskinnya banyak. Sementara
sebagian muzakki tak yakin bahwa zakat itu
Ibid., hal. 171.
Mukul G. Asher, Social Security in Malaysia and Singapore,
Practices, Issues and Reform Directions (Kualalumpur, ISIS
Malaysia : 1994) hal. 12.
33
Erie Sudewo, op.cit,. hal. 172.
34
Ibid., hal. 178.
31
32
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
32
isi.pmd
32
8/20/2008, 11:03 AM
wajib. Padahal zakat bukan hanya wajib,
namun telah ditetapkan sebagai salah satu
rukun Islam. Zakat tak bisa dikembalikan
kepada pribadi masing-masing. Fikih zakat tak
boleh dibiarkan mengambang. Tak bisa zakat
tergantung pada kebaikan hati dan moral
muzakki. Sudah saatnya fiqih zakat, statusnya
dari fikih individu diangkat menjadi fikih
kemasyarakatan (ekonomi politik dan sosial).
Dengan fikih kemasyarakatan, dana zakat akan
terhimpun besar. Cara lain agar zakat
terhimpun besar adalah dengan menerapkan
zakat mengurangi pajak. Ini kebijakan yang
hanya negara yang dapat melakukan.
Sementara masyarakat melalui berbagai ormas
dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) hanya sekedar
mengadvokasi. Ada manfaat lain dengan
kebijakan zakat mengurangi pajak. Yakni status
fikih individu zakat, dengan segera terdongkrak
jadi fiqih kemasyarakatan.35
Dalam penghimpunan zakat, ada
perbedaan metode yang berkembang di
Indonesia dan Malaysia, Singapura, dan
Brunei Darussalam. Di negeri-negeri jiran ini,
penghimpunan cenderung terkoordinasi dan
terarah. Tampak sekali pertumbuhannya dari
masa ke masa. Singapura dan Brunei
Darussalam tampaknya punya model serupa,
sama-sama terkoordinasi di bawah majelis
agama Islam. Sedang Malaysia punya dua
corak berbeda. Ada yang menggunakan PPZ
khusus untuk menghimpun zakat saja dan ada
juga yang menggunakan BM (Baitul Maal)
guna
menghimpun
sekaligus
mendayagunakan.36
Sebaliknya, di Indonesia peran negara
dalam pengelolaan zakat cenderung bersifat
tarik ulur. Tidak hanya dalam pengelolaan
zakat. Kebijakan kesejahteraan sosial secara
umum juga bersifat demikian. Pada masa
pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid
(Gus Dur) tahun 1999 ia membubarkan dua
departemen yaitu Departemen Sosial (Depsos)
dan Departemen Penerangan (Deppen). Guru
Besar FISIP UI, Alwi Dahlan37, menyebutkan
bahwa untuk pertama kali sepanjang sejarah
Republik Indonesia, dua dari 12 departemen
yang sejak awal tercantum dalam Aturan
Tambahan Undang-Undang Dasar 1945,
tidak lagi terdapat dalam struktur
pemerintahan.
Pembubaran
departemen
itu
menimbulkan berbagai reaksi pro dan kontra.
Yang setuju menilai kedua lembaga itu sudah
tidak sesuai dengan semangat perkembangan
zaman, kurang bermanfaat, terlalu besar, tidak
efisien, dan hanya memperberat beban
anggaran negara. Pengendalian dan
pembinaan oleh Deppen (Departemen
Penerangan) seperti selama ini, misalnya,
bukan saja tidak lagi diperlukan, tetapi sudah
bertentangan dengan kemerdekaan pers.
Suatu masyarakat yang demokratis, seperti
terlihat di negara maju, tidak memerlukan
departemen semacam itu. Masyarakat harus
diberdayakan agar mampu mengembangkan
pendapat dan mencari informasinya sendiri,
tanpa propaganda pemerintah. (Dalam nada
yang sama Depsos dikatakan tidak efektif,
tidak mendidik masyarakat agar mandiri, dan
dianggap hanya membagi santunan atau
mengurus izin undian).38
Terkait dengan pembubaran Departemen
Sosial (Depsos), Holil Sulaiman berpendapat
bahwa masalah sosial tidak bisa diserahkan
begitu saja pada masyarakat. Harus ada
lembaga negara yang ikut menanganinya,
seperti yang diamanatkan pasal 34 UUD
1945.
Sementara
itu
Suminto
berpendapat pembubaran Depsos itu sama
saja dengan pelecehan profesi pekerja sosial.
Sudah selayaknya pemerintah memikirkan
suatu lembaga yang bersifat operasional untuk
menggantikan Depsos.39
Berdasarkan paradigma kesejahteraan
35
36
37
38
39
Ibid., hal. 185.
Ibid., hal. 187.
Alwi Dahlan, Implikasi Pembubaran Departemen
Penerangan, Senin, 1 November 1999.
Ibid.
"Gagal, Serah Terima Jabatan di Depsos”, artikel pada Harian
KOMPAS, 3 November 1999.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
33
isi.pmd
33
8/20/2008, 11:04 AM
sosial, langkah pembubaran Departemen
Sosial oleh pemerintahan Gus Dur
menyiratkan bahwa ia memilih paradigma
kesejahteraan sosial residual. Negara berperan
secara minimalis. Negara berperan dalam
kesejahteraan sosial masyarakat hanya ketika
institusi-institusi lain seperti keluarga dan pasar
(market system) mengalami kegagalan. Namun
apakah negara Indonesia memang pantas
menganut paradigma kesejahteraan sosial
residual ?
Sejatinya, sejak awal pendirian Negara RI,
tak jelas memilih pendekatan kesejahteraan
sosial yang mana. Maka, sulit juga untuk
menyebut Negara RI sebagai negara
kesejahteraan (welfare state).
Akan halnya pada Undang-Undang Dasar
1945 amandemen 4 menyebutkan bahwa :
Pasal 23
(A): Pajak dan pungutan lain yang
bersifat memaksa untuk keperluan
negara diatur dengan undangundang.
Pasal.34
(1)
Fakir miskin dan anak-anak
telantar dipelihara oleh negara.
(2)
Negara mengembangkan sistim
jaminan sosial bagi seluruh rakyat
dan memberdayakan masyarakat
yang lemah dan tidak mampu
sesuai
dengan
martabat
kemanusiaan.
(3)
Negara bertanggungjawab atas
penyediaan fasilitas pelayanan
kesehatan dan fasilitas pelayanan
umum yang layak.
(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai
pelaksanaan pasal ini diatur dalam
undang-undang.
Berdasarkan pasal 23 A amandemen 4
UUD 45, zakat dapat diatur dengan UndangUndang sejauh bersifat memaksa untuk
keperluan negara. Masalahnya adalah apakah
zakat termasuk kategori ‘pungutan lain yang
bersifat memaksa untuk keperluan negara?`,
hal ini tentu akan menimbulkan debat
berkepanjangan. Karena sesuai dengan surat
At-Taubah ayat 60, zakat dibagikan kepada
delapan golongan (asnaf). Apakah negara
termasuk delapan golongan, atau memiliki
peran sebagai amil yang berwenang
mengumpulkan dan membagikan zakat
kepada delapan golongan?
Kemudian, terkait dengan Pasal 34
amandemen 4 UUD 45 disebutkan pada ayat
(2) bahwa negara mengembangkan sistem
jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan
memberdayakan masyarakat yang lemah dan
tidak mampu sesuai dengan martabat
kemanusiaan. Pasalnya, terkait dengan zakat,
Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial
Nasional (SJSN) No. 40 tahun 2004 tak
menyebutkan zakat sebagai salah satu
komponen jaminan sosial. Undang-Undang
ini hanya mengatur seputar jaminan sosial
yang terkait dengan asuransi sosial seperti
jaminan kesehatan, jaminan terhadap
kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan
pensiun dan jaminan terhadap kematian.
Sebaliknya, apabila zakat dianggap sebagai
instrumen agama yang merupakan bagian dari
ibadah dari umat Islam, berlaku pasal-pasal
sebagai berikut :
Pasal 28 E (1) Setiap orang bebas memeluk
agama dan beribadat menurut agamanya,
memilih pendidikan dan pengajaran, memilih
pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih
tempat tinggal di wilayah negara, dan
meninggalkannya, serta berhak kembali.
Pasal.29
(1)
Negara berdasar atas Ketuhanan
Yang Maha Esa.
(2)
Negara menjamin kemerdekaan
tiap-tiap penduduk untuk
memeluk agamanya masing- masing
dan untuk beribadat menurut
agamanya dan kepercayaannya itu
Maka, berdasarkan kedua pasal tersebut,
pengumpulan dan penyaluran zakat harus
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
34
isi.pmd
34
8/20/2008, 11:04 AM
dikembalikan kepada setiap orang dan setiap
orang memiliki kebebasan untuk melakukan
pengumpulan dan penyaluran zakat atas dasar
keyakinan ibadahnya.
Hal ini yang antara lain mendasari UU
No. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat
di mana pemerintah mengelola zakat melalui
Badan Amil Zakat (Pasal 6), namun juga
membuka ruang bagi masyarakat untuk turut
mengelola zakat melalui Lembaga Amil Zakat
(pasal 7).
Francis Fukuyama (2005) dalam bukunya
State-Building : Governance and World Order in
the 21 st Century, menunjukkan bahwa
pengurangan peran negara dalam hal-hal yang
memang merupakan fungsinya hanya akan
menimbulkan problematika baru. Bukan
hanya memperparah kemiskinan dan
kesenjangan sosial, melainkan pula menyulut
konflik sosial dan perang sipil yang meminta
korban jutaan jiwa. Artinya Fukuyama
mengatakan bahwa negara harus diperkuat.
Kesejahteraan menurut Fukuyama tidak
mungkin tercapai tanpa hadirnya negara yang
kuat, yang mampu menjalankan perannya
secara efektif. Begitu pula sebaliknya, negara
yang kuat tidak akan bertahan lama jika tidak
mampu menciptakan kesejahteraan
warganya.40
Pentingnya penguatan negara ini terutama
sangat signifikan dalam konteks kebijakan
sosial. Negara adalah institusi yang paling
absah yang memiliki kewenangan menarik
pajak dari rakyat, dan karenanya paling
berkewajiban menyediakan pelayanan sosial
dasar bagi warganya. Benar negara bukanlah
satu-satunya
aktor
yang
dapat
menyelenggarakan pelayanan sosial.
Masyarakat, dunia usaha dan bahkan
lembaga-lembaga kemanusiaan internasional
memiliki peran penting dalam penyelenggaraan
pelayanan sosial. Namun, sebagai salah satu
bentuk kebijakan sosial dan public goods,
pelayanan sosial tidak dapat dan tidak boleh
diserahkan begitu saja kepada masyarakat dan
pihak swasta. Oleh karena itu, dalam konteks
kebijakan sosial yang berkeadilan, peran
negara dan masyarakat tidak dalam posisi yang
paradoksal melainkan dua posisi yang
bersinergi. Bahkan di Indonesia komitmen dan
peran negara dalam pelayanan sosial
seharusnya diperkuat dan bukannya
diperlemah seperti diusulkan kaum
neoliberalisme pemuja pasar bebas41.
Terkait dengan peran negara dalam
pengelolaan zakat, Muhammad Hashim
Kamali menyebutkan bahwa :42 Islam proposes
a welfare state as is evident from the overall
emphasis in the Qur‘an and Sunna on helping the
helpless, the needy and the poor. As a pilla or the
faith, zakat is prescribed in the Qur‘an with the
specific purposes of ensuring necessary social
assistance. Satisfaction of the basic requirements
of those who are in need. Muslims, or other, is one
of the main purposes for which state revenues,
whether from zakat or other taxes and charities,
are to be expanded. The Prophet himself as head
of state clearly indicated that the state is
committed to this purpose.
Pendapat
Francis
Fukuyuma
(sebagaimana dikutip oleh Edi Suharto) dan
juga Muhammad Hashim Kamali,
menyiratkan bahwa peran negara dalam
kesejahteraan sosial, termasuk dalam
pengelolaan zakat memang harus dominan.
Hal ini ditunjang pula oleh kenyataan sejarah
dari Sirah Nabawiyah dan kepemimpinan para
khalifah yang memang mengelola langsung
zakat dari masyarakat.
Permasalahan kemudian adalah,
Indonesia bukanlah negara Islam kendati
penduduknya mayoritas muslim yang bahkan
berjumlah terbesar di dunia. Dasar negara
40
41
42
Edi Suharto, Islam dan Negara Kesejahteraan, makalah
disampaikan pada pengkaderan Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah, Jakarta 18 Januari 2008.
Ibid.
Mohammad Hashim Kamali, The Islamic State and Its
Constitution in Sharia Law and the Modern Nation-State, a
book based on the papers and discussion at Sisters in Islam
First Symposium on the Modern Nation State and Islam,
1994.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
35
isi.pmd
35
8/20/2008, 11:04 AM
Indonesia juga bukanlah Islam kendati
pemerintahannya mayoritas dipimpin oleh
umat Islam. Dalam kondisi seperti ini apakah
hukumnya wajib menyerahkan pengelolaan
zakat sepenuhnya kepada penguasa / negara?
Muhammad Rasyid Ridha menafsirkan
bahwa ketika pemerintahannya adalah
pemerintahan Islam dan pemimpinpemimpinnya adalah pemimpin muslim yang
amanah maka pengelolaan zakat sepenuhnya
berada di tangan negara. Namun ketika
pemerintahannya bukan pemerintahan Islam
kendati pemimpin-pemimpinnya muslim maka
ketentuan tersebut tidak berlaku secara
otomatis.43
Penutup
Berdasarkan uraian di atas, secara legal
dan konstitusional negara Indonesia tidak
memiliki kewenangan secara mutlak untuk
mengelola zakat. Konstitusi UUD 1945 dan
berbagai macam perundang-undangan tidak
menyebutkan secara eksplisit bahwa negara
adalah satu-satunya penyelenggara zakat.
Secara praktek kesejahteraan sosial yang
dilakukan Negara RI selama ini, tidak juga
menunjukkan bahwa Negara RI adalah negara
kesejahteraan (welfare state) yang telah
melaksanakannya kewajibannya secara penuh
untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya
apakah dengan pendekatan institusional
ataupun developmental.
Yang terjadi selama ini adalah
ketidakjelasan dan tarik ulur kebijakan dan
implementasi kesejahteraan sosial. Maka,
ketika ada upaya amandemen UU No. 38
tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat yang
meletakkan negara sebagai satu-satunya
institusi yang berwenang mengelola zakat,
maka sungguh tidak jelas apa pijakan filosofis,
yuridis, maupun sosiologisnya.
Satu-satunya pijakan sentralisasi
pengelolaan zakat pada negara adalah praktek
yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para
khalifah yang mengumpulkan dan mengelola
zakat dalam kapasitas sebagai penguasa.
Namun hal inipun tak dapat dijadikan
pijakan utama, karena ada khalifah seperti
Utsman bin Affan yang mengelola zakat secara
partisipatif. Antara lain dengan memberikan
peluang pendistribusian zakat oleh para
muzakki langsung kepada para mustahik-nya.
Tambahan lagi, Indonesia bukanlah
negara Islam dan tidak berkonstitusi Islam
kendati pemimpinnya mayoritas Islam, maka
sentralisasi zakat oleh negara tidak otomatis
dapat dilakukan.
Jalan tengah yang baik, menurut penulis,
adalah seperti apa yang dikemukakan oleh Edi
Suharto, bahwa dalam konteks kebijakan
sosial yang berkeadilan, peran negara dan
masyarakat tidak dalam posisi yang paradoksal
melainkan dua posisi yang bersinergi. Benar,
bahwa peran negara dalam pelayanan sosial
seharusnya diperkuat dan bukannya
diperlemah seperti diusulkan kaum
neoliberalisme pemuja pasar bebas dan
bahwasanya negara adalah pengemban
kewajiban utama dalam pelayanan sosial,
namun rakyat juga harus diberi ruang untuk
turut berpartisipasi dalam pelayanan sosial,
apalagi ketika terbukti negara tak mampu
mengemban peran dan kewajiban tersebut.
Terkait dengan pengelolaan zakat, model
pelayanan zakat ala Singapura dan Malaysia
yang menyuguhkan kolaborasi yang cukup
baik antara negara dan masyarakat dapat
menjadi salah satu rujukan.
:
43
Sayyid Sabiq, op.cit.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
36
isi.pmd
36
8/20/2008, 11:04 AM
LINTAS ELEMEN
Mengapresiasi Bangkitnya
Civil Society
Dalam Pengelolaan Zakat di
Indonesia
Ketika partisipasi masyarakat mulai meningkat, maka peran negara dalam mengatur
kehidupan masyarakat harus dikurangi. Begitu juga dalam hal pengelolaan zakat. Pada
saat kepercayaan masyarakat sudah tumbuh dengan baik kepada Lembaga Amil Zakat
(LAZ), semestinya LAZ diberi ruang gerak yang lebih luas lagi. Jangan malah dibelenggu.
D
i era reformasi dan demokratisasi
seperti sekarang ini peran
masyarakat sipil (civil society) dalam
pembangunan nasional semakin terlihat. Hal
ini dibuktikan dengan semakin banyaknya
organisasi masyarakat sipil yang tumbuh, besar
dan mendapat kepercayaan dari masyarakat.
Seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),
termasuk di dalamnya Lembaga Amil Zakat
(LAZ).
Semangat mengumpulkan zakat, infak dan
sedekah masyarakat Indonesia bukan hanya
terlihat setelah terbitnya UU No.38 tahun
1999, namun jauh sebelum UU itu lahir sudah
ada beberapa lembaga zakat masyarakat yang
bergerak mengumpulkan zakat, seperti Baitul
Maal Ummat Islam (Bamuis) BNI (berdiri
tahun 1968), Yayasan Dana Sosial Al Falah
(YDSF) berdiri tahun 1987, Dompet Dhuafa
berdiri tahun 1993.
Menurut Ketua Umum Forum Zakat
(FOZ) Hamy Wahjunianto, sebagai organisasi
yang berbasis masyarakat, lembaga zakat
dengan kesadarannya sendiri telah
mengumpulkan zakat, infak dan sedekah dari
warga kemudian mengelolanya sesuai
program-program yang dirancang. “Bukankah
upaya yang dilakukan lembaga zakat ini
merupakan partisipasi positif yang perlu
didukung?,” tandas Hamy menanggapi
rencana pemerintah yang ingin
menggabungkan keberadaan lembaga zakat
swasta ke dalam lembaga zakat pemerintah.
“Mereka (Bamuis BNI, YDSF, DD red) sudah
lahir jauh sebelum UU PZ ini ada,” imbuh
mantan Direktur Utama YDSF itu.
Ia menambahkan kepercayaan publik
terhadap lembaga zakat yang dibentuk
masyarakat atau sering disebut Lembaga Amil
Zakat (LAZ) jauh lebih kuat dibandingkan
lembaga zakat yang dibentuk pemerintah atau
yang sering disebut Badan Amil Zakat (BAZ).
Hal tersebut dibuktikan dengan
penghimpunan zakat, infak dan sedekah oleh
LAZ jauh lebih besar dibanding
penghimpunan oleh BAZ. Jumlah donatur
dan muzakki di LAZ juga semakin juga
semakin banyak. “Nah, jika kemudian LAZ
digabung dengan BAZ, apakah bisa menjamin
para donatur dan muzakki yang selama ini
menyalurkan zakatnya ke LAZ tetap mau
menyalurkan zakatnya,” tandas Hamy.
Dalam sistem ekonomi Islam, Hamy
mengakui zakat dapat berperan sebagai
distribusi kapital bagi masyarakat. Dengan
pendistribusian zakat dari muzakki ke
mustahik, berarti terjadi proses distribusi
untuk pemerataan sumber daya ekonomi.
“Sumber daya dari muzaki kepada mustahik
akan membantu kehidupan si miskin sehingga
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
37
isi.pmd
37
8/20/2008, 11:04 AM
mendorong pertumbuhan ekonomi,”
tambahnya. Dengan demikian, zakat
memerlukan sistem dan instrumen yang dapat
mengatur pengelolaanya. Karena itu, Hamy
tidak menafikan peran negara dan masyarakat
dalam pengelolaan zakat, infak dan sedekah,
dimana keduanya menjadi bagian yang tidak
bisa dipisahkan.
“Agar fungsi tersebut dapat berjalan
dengan baik, caranya bukan lalu
menggabungkan LAZ kepada BAZ pada waktu
sekarang ini. Tapi memberi ruang gerak yang
leluasa kepada LAZ dulu. Sementara itu perlu
dibentuk satu badan lagi yang berfungsi sebagai
lembaga regulator zakat, sama seperti fungsi
BI (Bank Indonesia) dalam perbankan
nasional,” katanya sembari menambahkan
untuk penyatuan lembaga zakat memang
penting dilakukan, namun hal itu harus
melalui tahapan-tahapan terlebih dahulu dan
perlu menyiapkan infrastrukturnya. Setelah
tahapan dilalui, baru penyatuan lembaga
zakat itu dilakukan. “Dalam arsitektur zakat
Indonesia yang disusun FOZ, kira-kira tahun
2018 hal itu baru bisa diwujudkan,”
tambahnya.
Oleh karenanya, lanjut Hamy, ada hal yang
lebih mendasar bagi pengelolaan zakat ke
depan yang perlu disiapkan dibandingkan
terburu-buru menggabungkan LAZ kepada
BAZ. Pertama, mendorong terbentuknya
lembaga regulator dan pengawas, kedua,
pentingnya membuat standarisasi mutu
lembaga zakat. Ketiga, membuat standarisasi
keuangan zakat.
Senada dengan pendapat Hamy
disampaikan oleh tim penyusun RUU Zakat
Komisi VIII DPR RI, Rohani Budi Prihatin.
Budi menegaskan kondisi yang paling ideal bagi
pengelolaan zakat di masa yang akan datang
adalah mendorong pemerintah atau negara
menjadi regulator. “Peran regulator dan
pengawas tidak dimainkan oleh Depag, tapi
oleh Lembaga Pemerintah Non Departemen
(LPND). Dan pemerintah sendiri jangan
sampai menjadi operator,” tandasnya.
Sementara operator (penghimpun dan
pengelola zakat) dipegang oleh masyarakat
atau civil society. Dengan pengaturan seperti
ini berarti ada keleluasaan bagi lembaga zakat
yang dibentuk masyarakat sipil, tapi harus
diingat bahwa dia harus bertanggung jawab
dengan apa yang dia lakukan. “Lembaga zakat
diatur sedemikian rupa, diawasi seketat
mungkin, dihukum seberat mungkin jika salah
atau melanggar, bahkan harus dibubarkan jika
menyeleweng,” tegas Budi sembari
menyampaikan bahwa tim penyusun RUU
Zakat di Komisi VIII telah membuat beberapa
model simulasi. Tim menilai contoh simulai
yang paling ideal adalah seperti yang
disampaikan tadi.
Keberadaan lembaga zakat yang dibentuk
masyarakat sipil diakui Budi sudah ada
sebelum UU No.38/99 lahir. Oleh karenanya
tim menganggap tidak boleh meninggalkan
sejarah. “Kita tidak mungkin a historis,”
ujarnya. Tapi nyatanya keberadaan BAZ
(pemerintah) masih belum maksimal. Oleh
karenanya Budi menegaskan kebangkitan civil
society dalam pengelolaan zakat harus dihargai
setinggi-tingginya. “LAZ harus kita
pertimbangkan betul keberadaannya, karena
keberadaan LAZ merupakan kebangkitan civil
society di masyarakat kita,” imbuh Budi
mengingatkan bahwa sejak tahun 1980 mulai
muncul tren yang berkembang di masyarakat
kita bahwa peran negara harus dikurangi
seminimal mungkin bagi kehidupan
bermasyarakat, ketika masyarakat sudah bisa
mengatur dirinya sendiri. “Kalau masyarakat
sudah bisa mengatur dirinya sendiri kenapa
negara masih ikut campur tangan
mengaturnya,” tegas Budi
Hanya Menguatkan Keuangan
Negara
Ada kelemahan yang ditemukan tim
penyusun RUU Zakat Komisi VIII DPR RI
ketika LAZ dimerger ke BAZ. Salah satu
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
38
isi.pmd
38
8/20/2008, 11:04 AM
kelemahan yang paling mendasar adalah
masalah dana zakat, infak dan sedekah yang
dihimpun BAZ. “Jika zakat, infak dan sedekah
(ZIS) dikumpulkan di BAZ, maka dana
tersebut akan menjadi bagian daripada APBN,
berarti kita akan menguatkan keuangan
negara,” urainya. Sementara kita tidak dapat
menyalurkan dana zakat yang terkumpul itu
secara leluasa apabila BAZ itu menjadi bagian
dari pemerintah.
Hal ini sesuai isi UU No.17 tahun 2003
yang menyebutkan bahwa seluruh dana yang
terkait dengan penerimaan uang maka harus
masuk ke dalam APBN (Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara). Dengan
demikian apabila mengikuti pendapat ini
maka tidak bisa leluasa memanfaatkan dana
zakat untuk program-program yang dirancang
lembaga zakat. Karena tergantung pembagian
dari pusat.
Di samping itu, kata Budi, jika LAZ
dimerger ke BAZ (artinya BAZ adalah bagian
dari pemerintah) maka muncul kekhawatiran
di lingkungan komisi VIII sendiri. Pertama,
adanya kekhawatiran dari golongan nasionalis.
Masih ada beberapa fraksi yang khawatir
sekaligus menolak jika UU ini hanya
dikhususkan bagi umat Islam saja. Kedua,
adanya penolakan dari golongan yang phobia
terhadap masuknya institusi keagamaan ke
dalam sistem kenegaraan. Ketiga, penolakan
dari golongan yang mengatakan bahwa
institusi Islam tidak boleh masuk ke dalam
sistem kenegaraan.
Memperhatikan kekhawatiran itu, tim
mengambil jalan tengah yakni mendorong
optimalisasi fungsi Baznas (Badan Amil Zakat
Nasional) dan Bazda (Badan Amil Zakat
Daerah) menjadi pengawas dan regulator, atau
semacam BI (Bank Indonesia)-nya. “Tim
mengusulkan ada lembaga pemerintah non
departemen, namanya Badan Koordinasi
Pengelolaan Zakat (BKPZ),” kata Budi.
Sementara Depag adalah bagian dari BKPZ
itu.
Ke depan, ketika kelembagaan zakat sudah
mapan dan tertata dengan baik, Budi
mengakui penyatuan lembaga zakat adalah
yang paling ideal. “Karena seperti itulah tujuan
akhir kita bersama.” Namun ia mengingatkan
bahwa jika tujuan akhir itu mau dicapai
sekarang ini, maka keinginan itu terlalu dini.
“Sama seperti usia kehamilan yang belum
sampai sembilan bulan sudah disuruh
melahirkan. Jadi sebaiknya nanti sajalah kalau
sudah usianya mencapai sembilan bulan,” ujar
Budi.
Pendapat berbeda disampaikan oleh
Mukhtar Zarkasyi. Ketua tim amandemen
UUPZ yang dibentuk Departemen Agama ini
mengatakan sejak awal pengelolaan zakat di
Indonesia diarahkan hanya dikelola oleh
Badan Amil Zakat (BAZ / lembaga yang
dibentuk pemerintah). Karena hal itu sejalan
dengan perintah Allah di dalam Surat At
Taubah ayat 103. “Tujuan agar zakat dikelola
oleh negara adalah agar pengumpulan,
pendistribusian dan pendayagunaannya
dapat berjalan dengan efektif, efisien dan dapat
mewujudkan kesejahteraan sosail sebagaimana
amanat UUD 1945,” kata Mukhtar.
Jadi sebenarnya LAZ yang dikehendaki
oleh UU No.38 Tahun 1999 hanyalah LAZ
yang berasal dari ormas-ormasi Islam.
“Sebenarnya lahirnya LAZ yang begitu banyak
seperti sekarang ini tidak dikehendaki oleh
undang-undang. Kesalahan Menteri Agama
juga (waktu itu Said Agil Munawar, red) yang
malah mengukuhkan Laznas-Laznas,” imbuh
Mukhtar yang juga ketua tim penyusunan UU
No.38 tahun 1999.
Oleh karenanya sampai sekarang Mukhtar
tetap konsisten mempertahankan
pendapatnya bahwa lahirnya puluhan
lembaga amil zakat sebenarnya tidak sesuai
semangat awal disusunnya UU No.38 tahun
1999.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
39
isi.pmd
39
8/20/2008, 11:04 AM
Akomodir Unsur Masyarakat
Mukhtar juga membantah jika rencana
penyatuan LAZ ke dalam BAZ, sebagaimana
yang disebutkan di dalam rancangan
amandemen, berarti tidak mengakomodir
keterlibatan masyarakat. “Tidak benar itu
(tidak melibatkan unsur masyarakat, red).
Justru kita akan mengajak komponen
masyarakat masuk ke dalam struktur BAZ,”
bantah Mukhtar.
Apa yang diusulkan tim amandemen
menurut Mukhtar adalah sesuai dengan
perintah Allah agar mengangkat petugas zakat
di daerah-daerah yang dikuasainya.
Sebagaimana perintah yang diberikan kepada
Nabi. “Perintah Allah kepada Nabi bunyinya
seperti itu,” tandasnya. Kalau tidak ada
penguasa atau pemerintah yang mengurusi
kepentingan umat, lanjut Mukhtar, barulah
masyarakat Islam setempat yang mengurusi
kepentingan mereka sendiri dengan
mengangkat petugas zakat di antara mereka
sendiri.
Rancangan amandemen UUPZ yang
disusun Depag bertujuan untuk menata
pengelolaan zakat ke depan agar lebih baik
dibandingkan sekarang. Masih lemahnya
struktur keorganisasian akan dapat diatasi
dengan penyatuan LAZ ke dalam BAZ.
“Walaupun nantinya badan amil zakat
diangkat oleh pemerintah sesuai tingkatannya
akan tetapi dalam operasionalnya, semua
Badan Amil Zakat mempunyai hubungan
hirarki,” terang Mukhtar. Begitu juga dalam
hal menentukan komposisi pengurus BAZ.
Bahwa Badan Amil Zakat terdiri unsur
masyarakat dan pemerintah yang memenuhi
persyaratan tertentu.
Mukhtar mengajak umat Islam agar pasca
penolakan pembentukan Bazis Nasional oleh
Presiden Soeharto pada tahun 1992 dan
kuatnya paham sekuler pada saat itu menjadi
pelajaran penting bagi umat Islam Indonesia
saat ini. Oleh karenanya ia mohon keikhlasan
hati supaya bergabung bersama dalam wadah
tunggal pengelolaan zakat. “Saya mohon
keikhlasan umat Islam, mari bergabung dalam
wadah tunggal Badan Amil Zakat yang
dibentuk pemerintah, karena hal itulah yang
sesuai perintah Allah,” pinta Mukhtar.
Dilandasi Niat Baik
Apa yang dikatakan Mukhtar didukung
oleh Direktur Pengembangan Zakat Depag,
Nasrun Haroen. Ia berpendapat bahwa
pengelolaan zakat ke depan harus ditangani
oleh pemerintah. Banyaknya lembaga zakat
saat ini membuat pemerintah sulit untuk
melakukan pengawasan. Oleh karena itu harus
disatukan. Sebenarnya di dalam penyatuan
lembaga zakat itu tidak ada niat lain kecuali
niat baik melakukan penataan zakat secara
baik dan benar. “Ide ini (penyatuan, red)
bertujuan agar penghimpunan dan
pengelolaan zakat di Indonesia bisa berjalan
terpadu,” ujarnya sambil menyebutkan
pengelolaan zakat saat ini terpencar-pencar
akibatnya potensi zakat tidak kelihatan.
Lebih lanjut Nasrun menambahkan
praktek pengelolan zakat di negara yang
penduduknya mayoritas muslim zakatnya
dikelola negara. “Di negara-negara Islam dan
mayoritas muslim seperti negara di Timur
Tengah, semua dikelola oleh negara,” kata dia.
Sebab penanganan zakat oleh negara akan
dapat membantu masyarakat kurang mampu
secara lebih baik.
Apabila zakat dikelola secara baik dan
terpadu, maka pemerintah juga mudah
membuat kebijakan dan peraturan terkait
zakat yang bertujuan untuk pengembangan
zakat ke depan. Misalnya zakat pengurang
pajak.
Punya Kelemahan dan Kelebihan
Sementara Ketua Umum Baznas (Badan
Amil Zakat Nasional) Didin Hafidhuddin
mendukung penataan zakat ke depan seperti
yang disampaikan Nasrun. Bahwa apa yang
dilakukan pemerintah bertujuan baik. “Saya
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
40
isi.pmd
40
8/20/2008, 11:04 AM
yakin penyatuan itu tujuannya baik,” ujar
Didin. Namun idealnya ke depan pengelolaan
zakat di Indonesia tetap harus mengakomodir
keberadaan BAZ dan LAZ. Sebab keduanya
sama-sama mempunyai kelemahan dan
kelebihan.
“Dua-duanya mempunyai kelemahan dan
kelebihan. Keberadaan LAZ memunculkan
kesadaran masyarakat membayar zakat
semakin kuat. Sedangkan BAZ (pemerintah,
red) juga mempunyai kekuatan yang
mengikat,” terang Didin. Kalau seandainya
zakat hanya dikelola oleh negara maka juga
tidak baik karena masyarakat cenderung masa
bodoh.
Oleh karenanya Didin mengusulkan baik
LAZ maupun BAZ keduanya bisa dipadukan.
“Unsur negara penting, unsur masyarakat juga
penting,” tandasnya. Artinya di sini harus ada
pembagian peran antara pemerintah dan
masyarakat. Pemerintah bertindak sebagai
pengatur dan pengawas sekaligus juga memberi
izin atas terbentuknya LAZ. Unsur pemerintah
direpresentasikan oleh Baznas. “Baznas bisa
didorong memerankan peran seperti itu.
Sekaligus dibiayai oleh negara,” imbuh Didin.
Didin menyampaikan bahwa niat untuk
menyatukan lembaga zakat di Indonesia yang
digagas oleh tim amandemen tidak lain kecuali
agar pengelolaan zakat bisa berhasil lebih
transparan dan lebih memudahkan. Begitu
juga konsep yang diusulkan oleh masyarakat
atau oleh DPR juga sama-sama baik.
“Keduanya saya kira sama baiknya,”. Sebab
konsep seperti itu sama-sama ingin supaya
kepercayaan masyarakat terhadap lembaga
zakat agar semakin kuat.
Oleh karena itu menurut Didin perlu
ditarik benang hijau. “Bukan benang merah.
Artinya harus dua-duanya dapat berperan.
Keduanya harus saling memahami. Kalau
masing-masing berjalan sendiri-sendiri maka
tidak akan pernah ketemu,”. Dengan cara
seperti itu Didin yakin tidak ada masalah yang
mendasar lagi di kemudian hari.
Didin juga sepakat bahwa keberadaan LAZ
harus dibatasi. Jangan seperti sekarang ini. LAZ
banyak dan berjalan sendiri-sendiri.
“Semuanya berjalan sendiri-sendiri, makanya
harus disinergikan,” tegasnya. Wilayah garapan
LAZ juga harus ditentukan jangan sampai
rebutan. Keberadaan Bazda juga harus
disatukan ke dalam satu komando dan satu
hirarki. Bahkan akan lebih baik jika unsur
masyarakat juga dilibatkan di dalam
kepengurusan Bazda.
Dengan cara demikian maka pengelolaan
zakat ke depan akan lebih baik. Sehingga
potensi zakat yang besar akan tergali secara
optimal. Sementara akan semakin banyak
masyarakat miskin yang kesejahteraannya
semakin meningkat. [z]
:
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
41
isi.pmd
41
8/20/2008, 11:04 AM
Fenomena Unik Di Balik
Menjamurnya
Lembaga Amil Zakat (LAZ)
Di Indonesia
Adiwarman A. Karim dan A. Azhar Syarief
Abstrak
Tulisan ini merupakan bentuk apresiasi atas menjamurnya institusi zakat di tanah air.
Fenomena unik itu kami coba analisa melalui kajian dan analisis yang bersifat argumentatif
yang ditunjang dengan studi literatur yang bisa dipertanggungjawabkan. Tulisan ini diawali
dengan memberikan sedikit kilas balik sejarah amil zakat pada masa Rasulullah SAW
serta tradisi pengelolaan zakat yang dilakukan masyarakat Indonesia sejak zaman
kemerdekaan hingga Orde Baru. Inti dari tulisan ini adalah kajian mengenai fenomena
unik yang mengakibatkan menjamurnya Lembaga Amil Zakat (LAZ) di Indonesia dalam
beberapa kurun waktu terakhir ini. Fenomena itu dibagi menjadi dua faktor, yaitu faktor
pendorong (push-factor) dan faktor penarik (pull-factor).
“
1. Pendahuluan
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka,
dengan zakat itu kamu membersihkan (dari
kekikiran dan cinta berlebihan kepada harta)
dan menyucikan (menyuburkan sifat-sifat kebaikan
dalam hati) mereka dan berdoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi)
ketenteraman jiwa bagi mereka dan Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At
Taubah : 103)
Arti ayat di atas menjelaskan bahwa zakat
itu diambil (dijemput) dari orang-orang yang
berkewajiban untuk berzakat (muzakki) untuk
kemudian diberikan kepada mereka yang
berhak menerimanya (mustahik).
Dalam khazanah hukum Islam, yang
bertugas mengambil dan yang menjemput
zakat adalah para petugas zakat (amil).
Menurut Imam Qurthubi, amil adalah orangorang yang ditugaskan (diutus oleh imam /
pemerintah) untuk mengambil, menuliskan,
menghitung, dan mencatat atas harta zakat
yang diambil dari para muzakki untuk
kemudian diberikan kepada yang berhak
menerimanya.
Amil zakat adalah profesi yang mulia,
sebagaimana posisi nabi, ulama atau ulil amri
(pemerintah). Karena profesi mulianya itu,
Allah SWT mencantumkan namanya di
dalam Al Qur’an. Kemuliaan amil bukan
sekedar ia menjadi perpanjangan tangan dari
Allah SWT untuk mengelola amanah orang
beriman, namun amil juga menjadi media
tercapainya keharmonisan antara si kaya
(muzakki) dengan si miskin (mustahik) dengan
menjadi mediator bagi sirkulasi zakat dari
muzakki kepada mustahik.
Harta yang dimiliki, pada hakikatnya
adalah milik Allah SWT. Allah-lah yang
kemudian melimpahkan amanah kepada para
pemilik harta, agar dari harta itu dikeluarkan
zakatnya. Di sinilah sikap amanah dipupuk,
sebab seorang muslim dituntut
menyampaikan amanah kepada ahlinya. Sikap
amanah, tidak hanya tumbuh dalam diri
orang yang berzakat, tetapi juga pada para
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
42
isi.pmd
42
8/20/2008, 11:04 AM
petugas atau amil zakat. Yakni dalam membagi
dan menyalurkan seluruh harta zakat kepada
yang berhak. Dahulu, dalam hal operasional
zakat, Rasulullah SAW dan para sahabatnya
menerapkan seleksi ketat dalam memilih para
amil zakat. Kriteria sifat standar yang dipegang
Rasulullah SAW dan para sahabatnya,
pertama adalah orang yang benar-benar
memiliki sifat amanah, mengerti permasalahan
dan kehidupannya mencukupi. Rasulullah
SAW bahkan memberi motivasi kepada para
amil zakat dalam sabdanya, “Amil sedekah
(zakat) yang melakukan tugasnya dengan ikhlas
dan semata karena Allah, ia laksana orang yang
berperang di jalan Allah, sampai ia kembali
lagi ke rumahnya.” (HR. Ahmad).
Pada masa Rasulullah SAW yang diangkat
menjadi amil zakat adalah Baginda Umar bin
Khattab ra. Rasulullah SAW juga pernah
mempekerjakan seorang pemuda dari Suku
Asad, yang bernama Ibnu Lutaibah untuk
mengurus urusan zakat Bani Sulaim. Beliau
juga pernah mengutus Ali bin Abi Thalib ke
Yaman untuk menjadi amil zakat. Selain Ali
bin Abi Thalib, Rasulullah SAW juga pernah
mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, yang di
samping bertugas sebagai da’i (mendakwahkan
Islam secara umum), juga mempunyai tugas
khusus menjadi amil zakat.
Ketika Umar menjadi khalifah, beliau
mengangkat Ibnus Sa’dy Al-Maliki sebagai
pengumpul zakat. Hal ini diriwayatkan oleh
Busr bin Sa’ied dari Ibnus Sa’dy Al-Maliki,
yang berkata, ‘’Umar pernah mengangkat aku
untuk mengurus zakat (amil). Ketika usai
pekerjaanku dan aku laporkan kepadanya,
maka dia kemudian mengirimi aku upah. Maka
aku katakan, ‘Sungguh, aku melakukan tugas
ini karena Allah.’ Maka Umar berkata,
‘Ambillah apa yang telah diberikan kepadamu.
Aku dulu juga pernah menjadi amil Rasulullah
SAW, dan beliau memberi upah untuk tugas
itu. Ketika aku katakan kepada beliau seperti
yang kau katakan tadi, maka Rasulullah SAW
berkata, bila engkau diberi sesuatu yang tak
kau pinta, maka makanlah dan
sedekahkanlah.’” (HR Al-Bukhari dan
Muslim).
Sejarah perjalanan profesi amil zakat telah
ditorehkan berabad-abad silam. Dan telah
dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para
sahabatnya. Di Indonesia sejarah kelahiran
amil zakat telah digagas sejak 13 abad yang
silam. Saat Islam mulai masuk ke bumi
nusantara. Sejak itu cahaya Islam menerangi
tanah air yang membentang dari Aceh hingga
Papua. Setahap demi setahap masyarakat di
berbagai daerah mulai mengenal, memahami
dan akhirnya mempraktekkan Islam. Namun
dalam perjalanan yang telah melewati masa
berabad-abad tersebut, praktek pengelolaan
zakat masih dilakukan dengan sangat
sederhana dan alamiah. Setelah melewati fase
pengelolaan zakat secara individual, sebagai
kaum muslimin di Indonesia menyadari
perlunya peningkatan kualitas pengelolaan
zakat. Masyarakat mulai merasakan perlunya
lembaga pengelola zakat, infak dan sedekah.
Dorongan untuk melembagakan pengelolaan
zakat ini terus menguat. Keinginan yang kuat
ini mengkristal dengan disampaikannya saran
oleh sebelas ulama tingkat nasional kepada
Presiden Soeharto pada tanggal 24 September
1968.1
Pada saat itu, musyawarah sebelas ulama
nasional di antaranya Prof. Dr. Hamka dan
KH Moh. Syukri Ghazali, mengeluarkan
rekomendasi yang isinya antara lain ; perlunya
pengelola zakat dengan sistem administrasi dan
tata usaha yang baik, sehingga bisa
dipertanggungjawabkan pengumpulan dan
pendayagunaanya kepada masyarakat.
Awal tahun 1968, pada “Seminar Zakat”
yang diselenggarakan lembaga Research dan
Work Shop Fakultas Ekonomi Universitas
Muhammadiyah di Jakarta, untuk kali
pertama Presiden Soeharto mengimbau
masyarakat untuk melaksanakan zakat secara
konkret.
1
Sumber : www.dsniamanah.or.id
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
43
isi.pmd
43
8/20/2008, 11:04 AM
Dalam pidatonya Presiden Soeharto
berpesan, “Saya ingin memulai lagi bahwa
pengumpulan zakat secara besar-besaran yang
saya serukan itu, saya maksudkan sebagai
ajakan seorang muslim untuk mengamalkan
secara konkret ajaran-ajaran Islam bagi
kemajuan umat Islam khususnya dan
masyarakat Indonesia pada umumnya (Pemda
DKI, Pedoman 1992 :109).
Pada acara Isra’ Mi’raj di Istana Negara,
26 Oktober 1968, Presiden menegaskan
kesediaannya menjadi amil tingkat nasional.
Seruan tersebut disusul dengan
dikeluarkannya surat perintah Presiden No.
07/POIN/10/1968 tanggal 31 Oktober
1968. Isinya, mengamanatkan kepada Mayjen
Alamsyah Ratu Prawiranegara, Kol. Inf. Drs.
Azwar Hamid dan Kol. Inf. Ali Afandi untuk
membantu Presiden dalam proses administrasi
dan tata usaha penerimaan zakat secara
nasional. Seruan Presiden ini ditindaklanjuti
oleh Gubernur DKI Jakarta dengan
mendirikan Bazis DKI. Juga Bazis-Bazis daerah
oleh kepala daerah masing-masing.2
Selanjutnya, untuk lebih menguatkan dan
mengembangkan keberadaan lembaga
pengelola zakat, akhirnya dikeluarkan
Instruksi Menteri Agama Nomor 16 tahun
1989 tentang Pembinaan Zakat dan Infak/
Sedekah. Selanjutnya dikukuhkan dengan
Keputusan bersama Menteri Agama dan
Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun
1991. Dan saat ini, payung tertinggi tersebut
tercantum dalam UU No. 38/1999 tentang
Pengelolaan Zakat.
2. Fenomena Menjamurnya
LAZ Di Indonesia
Pengelolaan zakat di tanah air akhir-akhir
ini sebenarnya menyimpan benih penguatan
sistem sosial masyarakat menuju civil society.3
Ini diindikasikan dengan lahirnya Lembaga
Amil zakat (LAZ) dengan program-program
kemanusiaan. Mereka hadir bukan sekedar
trend ikut-ikutan atas sebuah euphoria,
namun ada cita-cita luhur atas fenomena itu.
Semangat untuk memberikan yang terbaik
bagi masyarakat melalui program usaha
produktif, yang terbukti mampu melapangkan
beban masyarakat akibat himpitan ekonomi.
Hal itu takkan mungkin terjadi tanpa adanya
kebaikan dan kesadaran hati para muzakki
yang ditopang oleh amil yang profesional,
amanah, dan akuntabel. Dalam pengelolaan
zakat modern, amil memiliki posisi yang sangat
penting dalam mengemas program-program
atau produk yang berdayaguna bagi mustahik.
2.1 Faktor Penarik (Pull Factor)
A. Semangat Menyadarkan Umat
(Spirit of Consciousness)
Salah satu keunikan LAZ di Indonesia saat
ini adalah para amil mau tidak mau harus
menjadi motor dalam penyadaran umat atas
penting dan perlunya berzakat. Hal ini tidaklah
berlebihan, karena sebenarnya idealnya
penyadaran umat ini menjadi tugas negara
melalui ketetapan hukum negara (jika sistem
pemerintahannya mengadopsi sistem
pemerintahan Islam yang mewajibkan bagi
masyarakatnya untuk berzakat), namun hal
itu tidak dilakukan di Indonesia karena
Indonesia bukanlah negara Islam yang bisa
memaksa bahkan memerangi bagi mereka yang
membangkang karena tidak mau membayar
zakat.
Oleh karena itu jika otoritas negara tidak
dalam posisi untuk melakukannya, maka para
amil dan da’i yang memahami pentingnya
berzakat bagi pemberdayaan umat, harus
menjadi motor penggerak dalam penyadaran
ini. Hal ini bisa kita lihat pada beberapa LAZ
yang ada di Indonesia dalam mempromosikan
zakat, infak dan sedekah. Dalam sosialisasinya,
para amil bukan sekedar mengingatkan akan
kewajiban berzakat sebagai suatu ketetapan
2
3
Aya Hasna, Tabloid Suara Islam, Edisi 08. sumber : www.suara
islam.com
Muchtar Sadili, Relevansi Zakat Terhadap Civil Society.
Sumber: www.republika.co.id
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
44
isi.pmd
44
8/20/2008, 11:04 AM
syariat yang harus dipatuhi, namun juga
banyak kebaikan–kebaikan bagi lain bagi
mereka yang mengeluarkan zakat, infak dan
sedekah dan orang yang menerimanya.
Berdasarkan survei PIRAC, bahwa tingkat
kesadaran muzakki di Indonesia masih
tergolong rendah, hanya 55%. Hal ini masih
sangat kecil karena kesadaran itu belum
termasuk kemauan muzakki untuk membayar
zakat. Dari 55% itu, yang mau membayar
zakat tidak sampai 100%, tapi hanya 95,5%.4
Fenomena ini memang perlu menjadi
catatan bagi para amil dan semua pihak yang
peduli akan zakat dalam menyadarkan
masyarakat. Umumnya di beberapa LAZ,
biaya promosi zakat, infak dan sedekah diambil
dari dana infak dan sedekah atau sponsor.
Kalaupun terpaksa harus mengambil porsi
dana zakat itupun tidak boleh melebihi 12,5%
dari total zakat yang diterima (karena biaya
promosi zakat dalam konteks ini masuk dalam
tanggung jawab amil).
Fenomena ‘unik’ inilah yang terjadi dalam
pengembangan zakat di negeri kita. Meskipun
pengembangannya terkadang harus bottom-up,
namun dengan keikhlasan dan semangat
menyadarkan umat, membuat LAZ seakan
pantang menyerah demi hadirnya civil society
di negeri ini.
B. Semangat Melayani Secara
Profesional (Spirit of Professional
Services)
Bayangkan bila seorang amil dapat bekerja
secara sangat profesional. Yang akan muncul
setelah itu adalah timbulnya kepercayaan
terhadap LAZ. Kepercayaan yang tinggi
terhadap lembaga yang dikelola secara
profesional pada gilirannya akan membuat
gairah tersendiri dalam menyalurkan zakat
bagi para muzakki. Efek jangka panjangnya
adalah kemampuan menghimpun potensi
zakat umat Islam yang luar biasa besar itu.
Selanjutnya, bila zakat berhasil dikumpulkan
dengan baik, dan berhasil dikelola dengan
penuh amanah, maka persoalan klasik umat
yang selama ini tak kunjung selesai, yakni
hubungan harmonis si kaya dan si miskin akan
dapat dijawab dengan baik.
Saat ini, bayangan itu semakin mendekati
kenyataan. Namun, sekali lagi, harapan luhur
itu tak akan terjadi bila amil tidak memiliki
profesionalisme. Ada beberapa persyaratan
LAZ dapat dikatakan profesional, yaitu : 5
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Memiliki kompetensi formal
Komitmen tinggi menekuni pekerjaan
Meningkatkan diri melalui asosiasi
Bersedia meningkatkan kompetensi
Patuh pada etika profesi
Memperoleh imbalan yang layak
Syarat profesionalisme di atas bukanlah
satu hal yang mutlak, namun itu bisa menjadi
parameter akan profesionalisme LAZ itu
sendiri. Forum Zakat (FOZ) sendiri dalam
keputusan Munas-nya telah membuat kode
etik profesi amil zakat. Hal ini tentunya
memperketat penyaringan bagi pelaku
pengelola zakat. Belum lagi sarana pelatihan
formal maupun non-formal yang menjamur
di beberapa daerah. Membuktikan bahwa
zakat merupakan potensi umat yang harus
digarap secara profesional.
Semangat melayani secara profesional ini
tergambar dari kepuasan muzakki atas
pelayanan yang diberikan beberapa amil zakat.
Dengan transparansi pelaporan dan
penyaluran yang tepat sasaran, serta programprogram unik dalam pemberdayaan
masyarakat membuat muzakki merasa puas
dan semakin gemar untuk berzakat. Meskipun
semangat profesionalisme crew zakat itu masih
didominasi oleh LAZ – LAZ besar, seperti
4
5
Survei “Potensi dan Perilaku Masyarakat dalam Berzakat”, akhir
2007. sumber : PIRAC, survei dilakukan melibatkan 2000
responden di 11 kota besar, diantaranya Medan, DKI Jakarta,
Bandung, Semarang, Pontianak, dan Makasar.
M. Akhyar Adnan, Menuju Amil Zakat Profesional. Sumber:
www.republika.co.id
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
45
isi.pmd
45
8/20/2008, 11:04 AM
Dompet Dhuafa, Rumah Zakat Indonesia,
DPU-DT, YDSF, Al Azhar, dan LAZ besar
lainnya.
Menjamurnya LAZ pada beberapa kurun
waktu terakhir ini, menunjukkan setiap pihak
ingin memberikan yang terbaik bagi
pengembangan masyarakat dengan cara
meningkatkan profesionalismenya dengan
berkaca pada LAZ – LAZ yang telah lebih dulu
sukses mengelola dana umat. Jika kinerja LAZ
- LAZ besar itu bisa dipertahankan dan
dikembangkan, serta LAZ – LAZ yang lain bisa
mengikuti tingkat profesionalisme mereka,
bukan tidak mungkin potensi zakat sebesar Rp
20 triliun bisa tergarap secara maksimal.
C. Semangat Berinovasi Membantu
Mustahik (Spirit of Inovation)
Kemajuan sebuah lembaga akan
bergantung pada inovasi. Ini juga berlaku pada
LAZ. Tanpa inovasi, lembaga ini hanya akan
berkutat pada pekerjaan yang sama dari waktu
ke waktu. Oleh karena itu, idealnya LAZ
memiliki orang-orang yang inovatif dalam
menemukan peluang sekecil apapun dalam
memberdayakan
masyarakat
yang
membutuhkan.
Setiap LAZ-LAZ besar, saat ini banyak
memiliki program-program unik dalam
memikat hati muzakki. Program unik inilah
yang membuat muzakki luluh hatinya
menyerahkan dananya kepada LAZ itu.
Ambillah contoh Dompet Dhuafa dengan
Warung Ukhuwah-nya, DPU-DT dengan
Misykat-nya, Rumah Zakat Indonesia dengan
SuperQurban-nya, dan program unik lain
dari LAZ-LAZ yang tidak kalah inovatifnya.
Hal itu semuanya berujung pada semangat
LAZ dalam memberdayakan umat.
Inovasi inilah yang perlu dicatat sebagai
keunikan tersendiri, karena tidak semua LAZ
di negara-negara lain bisa berkreasi sedemikian
rupa seperti halnya terjadi di Indonesia.
Mungkin seandainya pemerintah turut
campur tangan terhadap seluruh pengelolaan
zakat, infak dan sedekah (ZIS), mungkin
inovasi dan kreasi produk ZIS dari LAZ kita
tidak seinovatif dan sekreatif saat ini.
D. Semangat
Memberdayakan
Masyarakat (Spirit of Empowering)
Yang patut disyukuri oleh kita saat ini
adalah masih banyaknya orang-orang yang
peduli terhadap derita yang dialami oleh
lingkungan sekitar kita. Saking besarnya
kepedulian itu, maka munculnya LAZ di
beberapa daerah, di masjid-masjid, bahkan di
lembaga pemerintah / swasta bagaikan
cendawan yang tumbuh di musim hujan.
Di satu sisi, hal ini patut diapresiasi. Berarti
negeri ini telah membantah kalau nilai sosial
masyarakatnya telah luntur dan hilang
kepedulian. Namun di sisi lain, menjamurnya
LAZ bisa menimbulkan inefisiensi pengelolaan
dan penyaluran dana zakat, infak dan
sedekah. Oleh karena itu, pentingnya fungsi
koordinatif, konsultatif, dan informatif dalam
penghimpunan dan penyaluran dana harus
dilakukan oleh badan yang diakui oleh seluruh
LAZ dan otoritas negara. Alhamdulillah UU
No. 38/1999 tentang Pengelolaan Zakat
mengatur fungsi ini melalui BAZ (Badan Amil
zakat) yang ada di tiap-tiap tingkatan wilayah.
2.2. Faktor Pendorong (Push
Factor)
A. Potensi Penghimpunan Dana Zakat
Yang Besar (Huge Market Potential)
PIRAC (Public Interest Research and
Advocacy Center) dalam rilis hasil surveinya
mengatakan potensi dana zakat di Indonesia,
yang populasinya sekitar 87 persen muslim,
sangat besar hingga mencapai 9,09 triliun
rupiah pada 2007. Potensi ini meningkat 4,64
triliun dibanding tahun 2004 yang potensinya
hanya sebesar 4,45 triliun. Berbeda dengan
PIRAC, Alfath mengatakan bahwa potensi
zakat di Indonesia mencapai Rp 20 triliun per
tahun. Namun dari jumlah itu, yang tergali
baru Rp 500 miliar per tahun (berdasarkan
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
46
isi.pmd
46
8/20/2008, 11:04 AM
asumsi tahun 2006).
Berapapun nilainya, yang pasti itu
bukanlah angka yang kecil. Jika semua dana
itu bisa terkumpul dan dikelola oleh lembaga
yang profesional dalam skim penyaluran yang
produktif, maka bisa dibayangkan besarnya
manfaat yang diperoleh masyarakat kurang
mampu agar bisa bangkit dari
keterpurukannya. Yang mulanya sebagai
mustahik dalam beberapa tahun mungkin
sudah bisa menjadi muzakki.
Dibandingkan dengan negara lain,
Indonesia memiliki keunikan sebagai negara
dengan populasi muslim terbesar di dunia.
Keunikan lainnya, budaya Indonesia dikenal
sebagai budaya yang memiliki tenggang rasa,
berjiwa sosial tinggi, dan peduli terhadap
sesama.
B. Regulasi Yang Mulai Mendukung
(Friendly Regulation)
Ketika kran reformasi bergulir, regulasi
mengenai pengelolaan zakat menemukan
momentumnya. Jika sebelumnya ketentuan
tentang pengelolaan zakat hanya diatur dengan
keputusan dan instruksi menteri, akhirnya
berkat perjuangan para ulama dan praktisi
zakat, Indonesia memiliki payung hukum lebih
tinggi dalam pengelolaan zakat yaitu UU No.
38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat,
tepat pada tanggal 23 September 1999 di era
kepemimpinan Presiden B.J. Habibie.
Beberapa poin penting UU ini di
antaranya adalah terimplementasinya regulasi
zakat sebagai pengurang pajak, adanya
standarisasi profesi amil, serta kejelasan fungsi
koordinasi antar pengelola zakat. Dengan
adanya payung hukum ini, niscaya akan
menjadi angin segar dalam pengembangan
pengelolaan zakat ke depan.
C. Infrastruktur IT Yang Menunjang (IT
Infrastructure)
Dalam penjabaran Rencana Strategis
2005–2009, Direktorat Pemberdayaan Zakat
Departemen Agama telah berupaya
melakukan program-program yang bersifat
mendorong dan memfasilitasi pemberdayaan
zakat. Salah satunya adalah dengan
membangun sistem informasi zakat nasional
yang berbasis teknologi informasi sehingga
dapat diketahui data base mustahik dan
muzakki secara menyeluruh serta hasil
penghimpunan dan penyaluran zakat, infak
dan sedekah dapat dimonitor setiap saat.6
LAZ – LAZ besar di Indonesia saat ini
menjadi besar karena menggunakan
infrastruktur IT yang memadai. Semakin
canggih mereka menggunakan infrastruktur
teknologi informasi (IT), maka semakin efisien
LAZ mengumpulkan dana dari para muzakki
dan semakin mudah menyimpan data
penerima zakat, data wilayah penerima zakat,
data wilayah binaan lembaga zakat (kalau ada),
data lembaga yang mendapat dukungan dari
dana zakat, data wajib zakat, dan lain-lain.
Untuk funding zakat, saat ini beberapa LAZ
menerapkan IT dalam operasionalnya antara
lain muzakki dapat membayar zakat via SMS
(short message service) melalui registrasi,
muzakki bisa menghitung zakatnya via internet,
muzakki dapat memperoleh informasi
mengenai laporan penggunaan dana zakatnya
via internet, dan lain-lain. Semua mudah dan
dapat diakses dalam genggaman tangan dan
realtime-online.
Namun penerapan teknologi informasi
untuk zakat ini juga bukan tanpa kendala.
Kendala yang biasa dihadapi dalam penerapan
IT adalah pemborosan biaya dalam
membangunnya, sulitnya edukasi sumber daya
manusianya, dan pada saat implementasinya.
Ditambah lagi, belum semua instansi paham
akan IT apalagi sampai menerapkannya.
Untuk menghindari itu semua, maka perlu
disusun Rencana Strategis IT atau Sistem
Informasi untuk keseluruhan lembaga zakat.
6
Sumber : www.bimasislam.depag.go.id
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
47
isi.pmd
47
8/20/2008, 11:04 AM
Yang terpenting adalah LAZ bisa
bekerjasama dalam hal berbagi data (dalam
konteks penyaluran) dengan yang dimiliki oleh
LAZ–LAZ lain. Share data ini tujuannya
adalah agar “kerjasama zakat” dapat lebih
mudah memetakan bagaimana pola
penyebaran zakat yang adil untuk seluruh
wilayah Indonesia. Dengan “kerjasama” ini,
maka sudah saatnya LAZ bisa saling “virtually
integrated” dalam pemberdayaan zakat di era
teknologi informasi7.
D. Tingkat Kesadaran Masyarakat Yang
Makin Meningkat ( Awareness
Increasing)
Menarik jika kita melihat kesadaran
masyarakat yang semakin meningkat terhadap
pentingnya berzakat. Sur vei PIRAC
melaporkan tingkat kesadaran muzakki
meningkat dari 49,8% di tahun 2004 menjadi
55% di tahun 2007. Hal ini berarti dalam
kurun waktu 3 tahun terjadi peningkatan
sebesar 5,2% kesadaran berzakat dalam
masyarakat, jika 5,2% itu dikalikan dengan
populasi muzakki di Indonesia, maka terdapat
lebih dari 29 juta keluarga sejahtera yang akan
menjadi warga sadar zakat. Sedangkan saat
ini, diperkirakan hanya ada sekitar 12 – 13
juta muzakki yang membayar zakat via LAZ,
berarti masih ada lebih dari separuh potensi
zakat yang belum tergarap oleh LAZ.
Fenomena meningkatnya kesadaran
masyarakat ini idealnya bisa memacu semangat
para amil zakat untuk bisa melakukan
tindakan konkret yang bisa memaksimalkan
penerimaan dan pengelolaan zakat, tentunya
dengan melalui koordinasi Badan Amil Zakat
Nasional (Baznas) & Direktorat
Pemberdayaan Zakat DEPAG.
Baznas sendiri idealnya bisa merespon
langsung
potensi
ini
dengan
mengkoordinasikan dan memetakan potensi
muzakki yang tersebar di seluruh wilayah negeri
ini dengan berkoordinasi dengan pemerintah
daerah yang memiliki data base yang lebih valid
tentang keluarga-keluarga muslim yang layak
dalam kategori muzakki. Tentunya
pendekatan dakwah fardhiyah (personal) antara
petugas amil dengan muzakki harus lebih
digalakkan dalam mengajak calon muzakki
untuk sadar berzakat.
4. Kesimpulan
Indonesia adalah negeri yang unik.
Keunikan inilah yang harus disadari oleh
bangsa ini. Salah satu ‘keunikan’ itu adalah
populasi muslimnya terbesar di dunia, namun
sayangnya potensi zakat sebagai solusi bagi
pengentasan kemiskinan rakyat belum
terberdayakan. Keunikan itu bukan sekedar
keunikan yang bernada satire, tapi ini adalah
peluang besar yang harus dimanfaatkan
komponen bangsa ini terhadap sebuah sistem
yang digdaya secara konseptual.
Keberadaan LAZ yang pondasinya telah
dipikirkan oleh para ulama negarawan
terdahulu, merupakan mutiara yang perlu
diasah agar kembali menjadi cemerlang.
Kecemerlangan itu takkan pernah hadir jika
semua komponen bekerja setengah hati untuk
menjadikan LAZ sebagai motor penggerak
pengentasan kemiskinan yang saat ini
menjangkiti masyarakat kita.
Alhamdulillah, rasa syukur ini pantas
terucap bukan berarti kita sudah berada pada
puncak pengembangan zakat, namun patutlah
kita bersyukur karena dalam kurun waktu
beberapa terakhir ini LAZ telah menjadi
fenomena tersendiri terhadap kehidupan
masyarakat kita. Euphoria reformasi,
fenomena booming-nya industri keuangan
syariah, hingga terbitnya UU Pengelolaan
Zakat telah berhasil mendorong
pengembangan LAZ ke arah lebih profesional,
transparan, akuntabel, dan terkoordinasi.
Meskipun masih ada kekurangan di sana-sini
yang perlu dievaluasi lagi, tapi sejauh ini sudah
berjalan dengan lebih baik bila dibandingkan
7
Hendratno, Urgensi Renstra TI/SI untuk Jaringan Lembaga
Zakat. Sumber : www.hudzaifah.or.id
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
48
isi.pmd
48
8/20/2008, 11:04 AM
:
DAFTAR PUSTAKA
di era sebelum reformasi.
Tinggal bagaimana Baznas sebagai badan
tertinggi pengelolaan zakat tingkat nasional
mampu memaksimalkan perannya sebagai
bagian dari amanat UU untuk menjalankan
fungsi koordinatif, konsultatif, dan informatif
bagi stakeholders zakat tanah air.
Aya Hasna, Tabloid Suara Islam, Edisi 08.
Hendratno, Urgensi Renstra TI/SI untuk Jaringan
Lembaga Zakat
M. Akhyar Adnan, Menuju Amil Zakat Profesional.
Muchtar Sadili, Relevansi Zakat Terhadap Civil Society.
www.bimasislam.depag.go.id
www.dsniamanah.or.id
www.hudzaifah.or.id
www.suara-islam.com
www.republika.co.id
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
49
isi.pmd
49
8/20/2008, 11:04 AM
Membangun Koherensi
Antar Sektor :
Filantropi Islam, Agenda Organisasi Sektor Ketiga
dan Masyarakat Sipil Di Indonesia
Hilman Latief
Abstrak
Artikel ini mendiskusikan institusi filantropi Islam di Indonesia dalam perspektif organisasi
sektor ketiga serta isu-isu yang terkait dengan sektor tersebut. Di tengah tarik menarik
kewenangan antara negara dan organisasi masyarakat sipil dalam pengelolaan filantropi
Islam di Indonesia, artikel ini menyoroti pentingnya mempertahankan dan memelihara
modal sosial yang sudah dimiliki masyarakat sebagai fondasi penguatan koherensi
masyarakat sipil. Penulis menyimpulkan, otoritas negara dalam praktik filantropi Islam,
sebagaimana pengalaman beberapa negara lain, tidak selalu berbanding lurus dengan
keberhasilan negara tersebut dalam menyediakan sistem kesejahteraan sosial yang
memadai, apalagi bila potensi masyarakat sipil tercerabut dari akarnya. Di tengah
‘persaingan’ antara institusi filantropi pemerintah dan swasta yang tetap harus dibangun
secara sehat, artikel ini juga merekomendasikan perlunya model kerjasama dan disseminasi
program guna memperkuat kapasitas institusi filantropi di beberapa daerah lain di Indonesia.
Kata Kunci: Filantropi, Islam, Sektor Ketiga, Masyarakat Sipil, Indonesia.
C
Pendahuluan
ukup sering kita dihadapkan
pertanyaan lembaga manakah yang
paling otoritatif dan kredibel menjadi
penggerak filantropi Islam di Indonesia, dan
pada tingkatan manakah gerakan filantropi
ini dapat berperan lebih efektif, negara atau
masyarakat? Terhadap pertanyaan tersebut
penulis ingin mendiskusikan dua hal, yaitu:
otoritas dan kredibilitas. Konsep ‘otoritas’
banyak terkait dengan persoalan kebijakan,
legalitas dan rekognisi dari sebuah lembaga
formal seperti negara terhadap organisasiorganisasi filantropi yang ada di masyarakat.
Sementara konsep ‘kredibilitas’ mencakup
kapasitas organisasi, akuntabilitas, kompetensi
dan rekognisi dari stakeholders. Di Indonesia,
seperti juga di beberapa negara yang lain yang
berpenduduk mayoritas Muslim, konsep
otoritas dan kredibilitas dalam pengelolaan
filantropi berbasis agama adalah persoalan
yang paling sering muncul. Di Indonesia sendiri
yang penduduknya mayoritas muslim namun
secara konstitusi tidak mengadopsi Islam secara
eksklusif sebagai dasar negara, gerakan
filantropi juga tengah menjadi perhatian
banyak pihak, antara lain pemerintah dan
organisasi filantropi Islam –non pemerintah
maupun ‘quasi-pemerintah’– yang kini tengah
bergelut meredefinisi wewenang institusi
masing-masing.
Penulis akan menelaah masalah otoritas
dan kredibilitas dalam pengorganisasian
filantropi Islam di Indonesia dalam kerangka
‘isu-isu sektor ketiga’ yang di dalamnya
dielaborasi peran organisasi-organisasi
masyarakat sipil / OMS (Civil Society Resource
Organizations) dan negara. Ada tiga aspek yang
akan dibahas dalam tulisan ini, pertama
mendiskusikan karakter organisasi sektor
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
50
isi.pmd
50
8/20/2008, 11:04 AM
ketiga dalam kaitannya dengan sektor yang
lain; kedua penulis akan menarik ke dalam
diskusi tentang modal sosial dan potensi
masyarakat sipil dalam pengelolaan filantropi
Islam; dan pada bagian berikutnya penulis
ingin melihat kemungkinan relasi yang
dibangun antara institusi filantropi Islam non
pemerintah, ‘semi-pemerintah’ dan negara.
Nomenklatur organisasi umumnya dibagi
ke dalam tiga sektor berbeda namun saling
berkelindan. Sektor pertama diwakili organisasi
bernama negara atau pemerintah (state
agencies) yang bertanggung jawab untuk
memberikan perlindungan terhadap
masyarakat melalui berbagai perangkat hukum
dan kebijakan. Perangkat tersebut dibentuk
sebagai mekanisme untuk melindungi
masyarakat dari segala jenis kesulitan politik,
sosial maupun ekonomi. Adalah hak setiap
individu warga negara untuk mendapatkan
manfaat di wilayah publik (public sector), dan
adalah kewajiban sebuah negara untuk
menyediakan dan menyelenggarakan
perangkat tersebut. Sektor kedua adalah
institusi-institusi swasta yang tujuannya tidak
lain dari mengakumulasikan modal dan
melakukan pengembangan unit-unit yang
bersifat profit. Sesuai dengan wataknya,
organisasi di sektor ini beroperasi murni
mencari laba dan meningkatkan pendapatan
profit organisasi. Organisasi yang masuk dalam
kategori ini antara lain firma atau perusahaan
yang dikelola swasta baik dalam skala kecil,
menengah maupun besar. Sektor ini disebut
juga private atau corporate sector. Sektor ketiga
direpresentasikan oleh organisasi-organisasi
sosial atau organisasi non-profit. Organisasi
pada sektor ini bertujuan antara lain untuk
memberikan pelayanan (service) atas
kebutuhan dasar masyarakat dan
menyediakan model pendampingan (advocacy)
bagi masyarakat dengan didasarkan pada
sistem kemandirian (self-reliance). Organisasi
tipe ini juga berpartisipasi menyertai
masyarakat dalam menciptakan demokrasi
politik, sosial dan ekonomi, dan mendorong
sektor pertama –atau bekerjasama dengan
sektor kedua– untuk melahirkan kebijakan
yang pro rakyat. Basis sektor ini bersifat
kerelawanan atau semi-kerelawanan dan
dimotivasi oleh sebuah tata nilai tertentu
dalam masyarakat (value driven) karena itu
disebut juga ‘voluntary sector.’ Organisasi yang
masuk dalam kategori ini biasa disebut
organisasi sosial/masyarakat dan NonGovermental Organizations (NGOs).
Sejatinya, ketiga jenis organisasi tersebut
memiliki tugas, wewenang dan wilayah garap
yang berbeda. Namun faktanya, seiring dengan
kompleksitas kehidupan masyarakat, ketiganya
sering dikontestasikan dalam suatu arena di
mana mereka memiliki interest yang sama,
misalnya dalam program pemberdayaan
masyarakat, pengentasan kemiskinan, dan
pemberantasan kebodohan. Pemerintah,
swasta, maupun organisasi masyarakat
memiliki hak dan kewenangan untuk
berpartisipasi dalam memberikan solusi
terhadap problem tersebut dengan cara,
kewenangan, dan kapasitasnya masing-masing.
Setiap negara memiliki kebijakan yang berbeda
antara satu sama lain dalam memberikan
‘porsi’ kewenangan kepada masing-masing
sektor, bergantung kepada karakter ‘ideologi’
negara tersebut. Indonesia sendiri memiliki
karakter dan pengalaman sosial politik yang
berbeda dengan negara-negara lain.
Organisasi dan Agenda Sektor
Ketiga
Sektor ketiga atau voluntary sector
memiliki ciri dan peran yang bervariasi.
Beberapa cirinya antara lain: (i) umumnya
berawal dari inisiatif masyarakat baik berasal
dari tradisi lokal maupun inspirasi keagamaan;
(ii) memiliki tujuan untuk melakukan
peningkatan kesejahteraan masyarakat dan
berorientasi pada pengembangan program
pembangunan; (iii) mempunyai mekanisme
penggalangan dana sendiri, bukan sepenuhnya
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
51
isi.pmd
51
8/20/2008, 11:04 AM
berasal dari subsidi negara; (iv) dapat berbasis
kerelawanan atau semi kerelawanan.
Sementara itu, O’Regan, sebagaimana dikutip
Gemma Donnelly-Cox mendefinisikan peran
organisasi sektor ketiga sebagai berikut: (i)
memberikan pelayanan, yang acap dilakukan
melalui bentuk kerjasama dengan negara; (ii)
mengidentifikasi dan memformulasi
kebutuhan-kebutuhan baru di masyarakat;
(iii) memelihara dan mengubah sistem nilai
dalam masyarakat; (iv) memediasi antara
individu dan negara; (v) menyediakan ruang
dan forum bagi individu-individu untuk
membangun pranata sosial.1
Organisasi-organisasi yang memiliki
sebagian ciri dan peran di atas sering pula
disebut organisasi nirlaba. Beberapa istilah lain
yang sering digunakan dengan cukup baku di
beberapa negara adalah Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM/ LSPM) atau organisasi
sosial kemasyarakatan yang sering
disepadankan dengan Non-Governmental
Organizations (NGOs), Non Profit Organizations
(NPOs), People’s Organizations (POs), Private
Voluntary Organizations (PVOs), Civil Society
Resource Organizations (CSROs), Community
Development Associations (CDAs), CommunityBased Organizations (CBOs), Endowed Private
Foundations (EPFs), Religious Social Institutions
(RSIs), dan sebagainya. Nomenklatur tersebut
muncul karena adanya perbedaan penekanan
pada masing-masing bentuk program
organisasi, namun secara umum memiliki
tujuan yang sama.
Persoalan di atas begitu luas cakupannya,
sehingga tidak menutup adanya suatu
kerangka kerjasama antarsektor (cross-sector
programs) sebagai upaya untuk mengeliminasi
‘persaingan’ antarsektor. Organisasi sektor
ketiga juga memiliki peran perantara, yaitu
menjadi jembatan antar sektor dalam
merumuskan kepentingan bersama, serta
menjembatani kepentingan masyarakat umum
dengan organisasi-organisasi di tiga sektor
tersebut. Karena peran intermediary yang
dimilikinya,2 keberhasilan organisasi sektor
ketiga dalam menyelesaikan agenda-agenda
sosial di atas di antaranya ditentukan oleh
‘rekognisi sosial’ dan ‘legitimasi politik’ dari
atas dan bawah, pemerintah dan masyarakat.
Studi yang dilakukan Marilyn Taylor and
Diane tentang organisasi sektor ketiga di Inggris
setidaknya memperkuat asumsi tersebut, “the
third sector organizations carrying social missions
that somehow get revenues from the government,
charity-based financial source, and international
donor, need rampant political and social legitimacy
from government and society respectively.” 3
Pernyataan tersebut tidak berarti
mengeliminasi ‘independensi’ organisasiorganisasi masyarakat sipil. Sebaliknya, itu
menegaskan bahwa pemerintah / negara
adalah aktor pendukung dan partner gerakan
sosial yang dipelopori organisasi masyarakat
sipil (OMS). Di tingkat praktis, umpamanya,
kerjasama organisasi masyarakat sipil dengan
pemerintah dapat dilakukan melalui ‘the
principle of subsidiarity’,4 sementara kerjasama
dengan sektor swasta dapat dilakukan dengan
berpegang pada model ‘symbiosis mutualism’.5
Pertanyaan yang muncul di benak kita
adalah: Mengapa saat ini bermunculan
1
2
3
4
5
Gemma Donnelly-Cox, Freda Donoghue, and Treasa Hayes,
“Conceptualizing the Third Sector in Ireland, North and
South,”Voluntas: International Journal of Voluntary and
Nonprofit Organizations Vol. 12, No. 3, September 2001, hlm.
197.
Dalam perspektif NGOs di Indoensia, lihat umpamanya
Elisabeth E. Sheper, Preventing Deadly Conflict in Divided
Societies in Asia: The Role of NGOs (Ph.D. Dissertation, the
Netherlands: Amsterdam Univ., 2003), hlm. 79-80;
Muhammad AS Hikam, “Non-Governmental Organization
and the Empowerment of Civil Society,” in Richard W. Baker
et all (eds.), Indonesia: The Challenge of Change (Singapore:
ISEAS, 1999) hlm. 219-32.
Marilyn Taylor and Diane “Legitimacy and UK Third Sector
Organizations in the Policy Process,” Voluntas: International
Journal of Voluntary and Non-Profit Organizations, vol. 14,
no. 3 (September 2004), hlm. 321-38.
Gemma Donnelly-Cox, Freda Donoghue, and Treasa Hayes,
“Conceptualizing the Third Sector, hlm. 198.
Pengalaman institusi filantropi sebagai ‘perantara’ antara
perusahaan dan agenda sektor ketiga di Indonesia lihat, Hamid
Abidin (ed.), Sumbangan Sosial Perusahaan:Profil dan Pola
Distribusinya di Indonesia, Survey 226 Perusahaan di 10 Kota
(Jakarta: Piramedia, PIRAC & Ford Foundation, 2003).
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
52
isi.pmd
52
8/20/2008, 11:04 AM
beragam jenis organisasi masyarakat sipil?
Mengapa harus ada organisasi sektor ketiga?
Sudah dimafhumi, sebuah gerakan sosial lahir
tidak dari vacuum. Begitu pula dengan
organisasi-organisasi yang dikategorikan
voluntary sector baik dalam bentuk LSM
ataupun ormas. Beberapa studi tentang
gerakan sosial dan pembangunan (social
movement and development) menunjukkan
bahwa kemunculan OMS di antaranya
didorong oleh kondisi sosial, ekonomi dan
politik di mana negara / pemerintah tidak
mampu, kurang berhasrat, lalai, tidak serius
atau banyak keterbatasan dalam menyiapkan
dan menerapkan program-program
pembangunan. Kondisi semacam itu akhirnya
memicu tumbuhnya organisasi-organisasi
independen sebagai respons kolektif
masyarakat. Setidaknya terdapat tiga macam
bentuk organisasi-organisasi tersebut; (i) ia
dapat berorientasi pelayanan (service) dengan
menyediakan bantuan dan asistensi jangka
pendek. Contoh paling konkret dari ini adalah
kelompok-kelompok masyarakat yang
menyelenggarakan pelayanan masyarakat
(community service) seperti yang dikelola masjid,
gereja, dan organisasi masyarakat lainnya; (ii)
ia dapat berorientasi pembangunan
(‘development NGOs’) yang tidak langsung
bersentuhan dengan kebijakan pemerinta
namun berusaha menjalankan program
pengembangan masyarakat. Dalam organisasi
ini sustainabilitas program betul-betul
diperhatikan. Program-program organisasi
dirancang untuk memiliki dampak panjang.
Contoh organisasi semacam ini adalah LSMLSM yang menyediakan kredit mikro dan
pendampingan ekonomi, pendidikan atau
kesehatan. Lembaga filantropi Islam modern,
bisanya sudah memiliki ciri ini; (iii) dan yang
terakhir adalah organisasi yang berorientasi
gerakan (‘movement NGOs’) yang lebih bersifat
politis dan berusaha menggalang kesadaran
masyarakat untuk –misalnya– mendorong
terciptanya demokrasi ekonomi, sosial dan
politik. Mereka bukan sekedar ingin
memberikan ‘perangkat keras’ kepada
masyarakat bagaimana membangun hidup
lebih baik, tetapi juga ‘perangkat lunak’
bagaimana masyarakat bisa ‘memaksa’
penguasa untuk mengeluarkan kebijakan
populis. Ini misalnya dilakukan oleh lembagalembaga advokasi baik menyangkut
lingkungan, hak asasi manusia, atau
kemiskinan.6
Fenomena proliferasi organisasi seperti di
atas tidak hanya terjadi di Indonesia sebagai
negara ‘berkembang’ (‘developing countries’)
atau ‘agak maju’ (‘less developed country’) yang
kebetulan mayoritas penduduknya muslim,
tetapi juga di negara-negara yang lain, seperti
Malaysia, Filipina, Thailand, India, Sri Lanka
dan beberapa negara lain di Timur Tengah
(Libanon, Jordania, Iran Turki). Di Eropa
Barat dan Amerika Utara yang sering disebutsebut ‘negara maju’ (developed countries),
organisasi-organisasi sektor ketiga masih
memainkan peran cukup besar dalam
penguatan masyarakat meskipun dengan
kapasitas dan corak yang berbeda dengan yang
dialami di negara-negara berkembang. Di
Indonesia sendiri, inisiatif masyarakat untuk
melakukan pengorganisasian diri dalam
rangka mengembangkan dan memberdayakan
diri telah dilakukan melalui berbagai cara, di
antaranya dengan mendirikan institusiinstitusi sosial, baik yang bergerak di bidang
pendidikan, kesehatan dan pelayanan sosial.
Beberapa ormas keagamaan sejak awal abad
kedua puluh telah memulai rintisan itu. Di
kalangan masyarakat muslim, misalnya, telah
mulai muncul organisasi-organisasi keagamaan
yang menggarap sektor ketiga ini seperti
6
Untuk studi ini, lihat misalnya Bob Haniwinata, The Politics
of NGOs in Indonesia (London & New York: Rutledge Curzon,
2003), hlm. 102-4; juga Phillip J. Eldridge, Non-Government
Organizations and Democratic Participation in Indonesia
(Oxford: Oxford Univ. Press, 1995), hlm. 36-8; dan Kastorius
Sinaga, NGOs in Indonesia: A Study of the Role of Non
Governmental Organizations in the Development Process
(Verlag fur Entisklungspolitik: Saarbucken, 1995).
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
53
isi.pmd
53
8/20/2008, 11:04 AM
Muhammadiyah (1912), Al-Irsyad AlIslamiyyah (1914), Persatuan Islam (1923) dan
Nahdlatul Ulama (1926). Hal yang sama
terjadi di kalangan komunitas agama lainnya.
Organisasi sosial yang kini sering disebut-sebut
sebagai OMS tersebut, bukan saja memberi
nafas dan darah baru bagi masyarakat untuk
terlibat dalam pembangunan di luar struktur
pemerintahan, tetapi juga menjadi ‘alternatif’
ketika kebutuhan masyarakat lebih besar
daripada kapasitas yang dimiliki pemerintah.
Penulis melihat bahwa beberapa organisasi
sektor ketiga telah mengembangkan wilayah
garapnya menjadi lebih luas, meski belum
secara ‘utuh’ memasuki sektor kedua yang
lebih bersifat profit. Kini, melalui inisiatif
masyarakat, umpamanya, ribuan sekolah,
pesantren, klinik, rumah sakit, dan berbagai
sentra ekonomi lainnya telah dioperasikan
sebagai bentuk evolusi sektor ketiga. Sebagian
dari institusi itu ada yang masih menyajikan
‘pelayanan’ (cost-centered), sementara sebagian
lain mencoba mewujudkannya sebagai profitcentered di mana keuntungan atau laba yang
mereka peroleh diinvestasikan kembali untuk
tujuan sosial, kesenian, dan kebudayaan.
Secara umum, bisa kita lihat bahwa misi
pelayanan dan pendampingan masih menjadi
elan vital gerakan OMS. Memang, tidak sedikit
kritik yang dilontarkan para pengamat bahwa
institusi sosial dan unit profit dari OMS telah
menjadi media penguatan kelompok
masyarakat tertentu saja. Institusi-institusi
profit tersebut, dalam beberapa kasus,
menjadi ‘mainan’ dan perekat jaringan kelas
menengah semata di mana kelompok fakir dan
miskin yang menjadi segmen awal mereka,
hanya menjadi slogan.7 Namun yang juga
harus kita catat adalah bahwa dari kelompok
kelas menengah (khususnya kaum profesional
dan terdidik) ini pula, gagasan dan kreasi
program penguatan di sektor ketiga tetap bisa
lestari, salah satu contohnya adalah
penguatan institusi filantropi dan LSM.8
Modal Sosial dan Filantropi
Islam: Potensi Masyarakat Sipil
Di Indonesia, seperti juga di negara-negara
lain, agama menjadi modal sosial yang kuat
dalam masyarakat sipil. Ia menjadi perekat
individu-individu dalam sebuah tata nilai yang
diartikulasikan secara kolektif. Agama dalam
konteks sosial dan politik tertentu juga
memberikan kontribusi dalam pembentukan
modal sosial. Sebagaimana keberhasilan proses
penguatan masyarakat sipil yang dipengaruhi
oleh ‘sikap’ negara, modal sosial berbasis
agama pun cukup erat kaitannya dengan
negara. Dalam situasi politik tertentu, modal
sosial berbasis agama menjadi kuat, tetapi
situasi politik yang lain, ia bisa ‘melemah’. Hal
ini bisa dilihat dari hasil observasi Christopher
Candland di empat negara, yaitu Pakistan,
Thailand, Sri Lanka, dan Indonesia yang
memiliki konfigurasi keagamaan penduduk
‘serupa’, tetapi tidak sama dalam
memposisikan agama dan negara.9 Di Pakistan
dan Indonesia mayoritas penduduknya
Lihat misalnya kritik Janine A. Clark tehadap peran dominatif
kelas menengah dalam instiusi sosial keagamaan (Islam) dan
bagaimana sesungguhnya posisi masyarakat kecil (grassroots)
diperlakukan. Calrk berkesimpulan bahwa institusi sosial yang
ada lebih banyak berperan sebagai perekat jaringan kelas
menengah ketimbang memberikan pelayan untuk kaum miskin.
Islam, Charity, and Activism: Middle Class Network and Social
Welfare in Egypt, Jordan and Yemen (Bloomington &
Indianapolis: Indiana University Press, 2004), hlm. 1-33.
8
Peningkatan jumlah organisasi keagamaan dan LSM secara
dramatis mulai terlihat pada masa Orde Baru ketika
peningkatan ekonomi yang bermula pada awal tahun 1970an
mengalami stagnasi dan ketidakpastian pada tahun 1980an
seiring dengan tidak stabilnya harga minyak bumi.
Ketidaksatbilan ini juga, dalam konteks Indonesia, telah
memberi inspirasi bagi sebagian kelompok kelas menengah
untuk tampil ke panggung sosial dna politik,
mengkonsolidasikan potensi sosial dan politik mereka yang
ditandai dengan proliferasi organisasi sosial dan LSM. Lihat
misalnya Robert W. Hefner, “Markets and Justice for Muslims
Indonesians,” in Robert W. Hefner (ed.) Market Culture:
Society and Values in the New Asian Capitalism (Singapore:
ISEAS, 1998), hlm. 233; Mikaela Nyman, Democratizing
Indonesia: The Challenges of Civil Society in the Era of
Reformasi (Denmark: NIAS Press, 2006), hlm. 93-98.
9
Lebih jauh lihat Christopher Candland, “Faith as Social Capital:
Religion and Community Development in Southeast
Asia,”Policy Science 33 (2000), 356-8.
7
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
54
isi.pmd
54
8/20/2008, 11:04 AM
muslim, namun Islam menjadi ‘agama negara’
di Pakistan, tetapi di Indonesia tidak demikian.
Sementara itu, di Thailand dan Sri Lanka
mayoritas penduduknya menganut
buddhisme, tetapi buddhisme dijadikan ‘agama
negara’ di Thailand, dan tidak seperti itu di
Sri Lanka. Yang menarik dari analisis
Candland selanjutnya adalah bahwa adanya
‘civic religion’ dalam pengertian agama ‘formal
negara’,10 tidak selalu beiringan dengan
keberhasilan program pembangunan berbasis
agama (faith-based development) yang dipelopori
OMS. Dalam studi komparatifnya, ia
menyimpulkan bahwa di Thailand dan
Pakistan di mana kedua negara tersebut
menitikberatkan pada sebuah agama tertentu
(a civic religion), hanya sedikit saja para aktivis,
pimpinan LSM, atau kaum professional yang
meyakini bahwa organisasi keagamaan akan
secara potensial efektif dalam pengembangan
masyarakat dan perubahan sosial. Hal itu
disebabkan bahwa negara dipandang memiliki
justifikasi, otoritas dan legitimasi keagamaan
sendiri untuk mengurusi program-program
sosial mereka. Sementara di Indonesia dan Sri
Lanka, ketika suatu agama tidak menjadi
‘agama negara’, para aktivis dan penggerak
program pengembangan komunitas
melaporkan bahwa organisasi-organisasi
keagamaan cukup efektif dalam
pengembangan komunitas dan perubahan
sosial dan bahwa suatu keyakinan keagamaan
memberikan motivasi yang signifkan dalam
aktivitas masyarakat.11
Sekarang, mari kita lihat situasi tersebut
dalam konteks pengelolan filantropi berbasis
agama di Indonesia. Sejak masa Orde Baru
sampai pasca reformasi, umat Islam Indonesia
mengalami pasang surut dalam
mendefinisikan hubungan agama dan negara,
termasuk dalam wacana dan praktik filantropi
Islam. Sejak tahun 1970-an sampai
pertengahan 1990-an, pemerintah belum
menetapkan satu bentuk rekognisi
konstitusional yang jelas. Presiden Soeharto,
secara implisit menginginkan bahwa
pengelolaan filantropi Islam berada di tangan
masyarakat dan zakat tidak menjadi bagian
dari sistem kesejahteraan negara.12 Proses
‘negosiasi’ politik itu berujung pada sebuah
hasil. Di akhir rezim ini dan pada masa
pemerintahan Presiden B.J. Habibie, rekognisi
yang lebih jelas mulai nampak, yaitu dengan
munculnya Undang-Undang Nomor 38
Tahun 1999, yang di antaranya menetapkan
eksistensi Badan Amil Zakat (BAZ) yang ‘semi
pemerintah’. Meski demikian, sebagian besar
gerakan Islamic voluntary sector di Indonesia
masih berada di tangan masyarakat, dikelola
OMS, bukan oleh negara. Sampai batas ini,
negara mencoba memperluas perannya dari
lembaga yang membuat aturan regulasi zakat,
infak dan sedekah (ZIS) menjadi lembaga yang
—meskipun belum secara eksklusif— dapat
10
11
12
Istilah ‘civic religion’ yang digunakan Candland ini memiliki
makna lain dari istilah ‘civil religion’ yang digunakan Robert N.
Bellah. Yang pertama merujuk kepada agama tertentu yang
dijadikan sebagai agama resmi pemerintah, misalnya Islam di
Pakistan dan Malaysia atau Budha di Thailand; sementara yang
kedua merujuk kepada dasar-dasar ajaran agama yang diadopsi
oleh sebuah negara dan menjadi anutan bersama masyarakat
tanpa merujuk kepada agama tertentu. Di Indonesia,
umpamanya, ‘Pancasila’ dapat dikategorikan ‘civil religion’ dan
seluruh komunitas agama yang ada di negeri ini dapat merujuk
kepada Pancasila dalam menjalankan kehidupan sosial dan
politiknya.
Lebih jauh is menyimpulkan, “Evidence drawn from the case
studies of the religious associations in four countries, likewise,
suggest that relation between religion and the state have a
strong influence on the ability of faith-based NGOs to
generate social capital for community development. Seemingy,
states that institute a civic religion negatively influence the
degree to which faith-based NGOs development organization
and people with religious convictions are involved in social
change. Empat organisasi yang dijadikan studi oleh Candland
adalah 1) Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Para Ulama), sebuah
organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia yang juga
pernah menjadi partai politik; 2) Jammat-i-Islami yang
merupakan gerakan keagamaan dan politik Islam terbesar di
Pakistan, The Lanka Jathika Sarvodaya Shramadana Sangamaya
(gerakan masyarakat Sri Lanka untuk Kebangkitan Bersama
melalui Sumbangan Buruh) adalah salah satu organisasi
pengembangan komunitas terbesar di dunia; dan 4) The Santi
Asok (Damai tanpa Penderitaan) adalah gerakan komunitas
penganut Budha yang sedang berkembang di Thailand.
Christopher Candland, “Faith as Social Capital, hlm. 358.
Lihat detail studi Sirojudin Abbas, “The Stuggle for
Recognition: Embracing the Islamic Welfare Effort in the
Indonesian Welfare System,”Studia Islamika, Vol. 12, No. 1
(2005), hlm. 33- 72.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
55
isi.pmd
55
8/20/2008, 11:04 AM
memainkan peran praktis.13
Dari fenomena di atas, dapat kita
perbandingkan antara Indonesia dan Pakistan.
Di Pakistan, Islam adalah agama negara. Zakat
yang merupakan kewajiban keagamaan dan
bentuk solidaritas kaum muslim untuk kaum
dhu’afa, juga dikelola oleh negara. Peraturan
tentang zakat dan ushr (pajak penghasilan
penggarapan tanah) tahun 1980 telah
memberikan wewenang kepada aparat
pemerintah Pakistan untuk menarik uang
2.5% dari dari deposit bank dan hasil usaha
masyarakat. Di luar keberhasilannya
mendapatkan uang zakat umat dengan
mudah, fenomena lain justru menunjukkan
sebaliknya. Dengan masih adanya pola
distribusi zakat yang dianggap tidak tepat
sasaran, masyarakat juga menunjukkan
resistensinya terhadap peraturan negara
tersebut, lebih-lebih ketika dana umat itu
seringkali ‘dipolitisasi’ oleh komite lokal. Oleh
karena itu, adalah fenomena yang lumrah, bila
sesaat sebelum Ramadhan terjadi penarikan
tabungan secara besar-besaran oleh
masyarakat (mass wihdrawals from private saving
account) ketika deduksi zakat dilakukan
pemerintah.14 Sementara di Indonesia yang
juga mayoritas muslim, kewajiban zakat masih
dibayarkan dengan cara sukarela (voluntary)
baik melalui Institusi filantropi Islam non
pemerintah (seperti LAZ) maupun semipemerintah (seperti BAZ).
Resistensi serupa juga sempat terjadi di
Indonesia. Pada tahun 2005, terjadi
demonstrasi yang dilakukan sekitar 4000
orang guru dan dilanjutkan dengan aksi mogok
mengajar oleh sekitar 1000 orang di antara
mereka. Aksi tersebut merupakan satu bentuk
perlawanan terhadap kebijakan Bupati
Lombok Timur di Nusa Tenggara Barat yang
akan memotong 2,5 persen gaji para guru
sebagai zakat profesi. Beberapa media
melaporkan bahwa para guru tersebut
tidaklah menolak zakat, tetapi mereka tidak
bisa menerima mekanisme yang diterapkan
pemerintah dalam menarik zakat dan ragu
dengan kemampuan pengelolaannya (Tempo
Interaktif , 01 Desember 2005). Kebijakan
tersebut juga dianggap lemah karena tidak
mempertimbangkan secara lebih spesifik dan
jelas mengenai tingkatan, jabatan dan profesi
orang yang wajib bayar zakat profesi di luar
pajak.
Dalam konteks inilah kita bisa
mengungkap kembali apa yang sempat
disampaikan pada bagian awal artikel ini
tentang ‘otoritas’ dan ‘kredibilitas’. Negara di
satu sisi, seperti kasus Pakistan punya otoritas
atau wewenang konsitusional untuk mengelola
ZIS, mulai dari memungut sampai
meredistribusi ; tetapi di sisi yang lain,
beberapa kalangan masyarakat meragukan
kapasitas yang dimiliki pemerintah dalam
mengelola dana umat seiring dengan kondisi
sosial dan politik di sekitar mereka. Memang,
dalam diskursus keagamaan sering muncul
pula asumsi bahwa sebuah kewajiban
keagamaan tidak terkait dengan masalah
senang atau tidak senang. Tetapi juga kita musti
melihat bahwa kekuatan dari masyarakat sipil
justru terletak pada partisipasi mereka, yang
umumnya, bersifat kerelaan, bukan paksaan.
Dalam situasi politik yang memberikan peran
negara terlalu jauh dalam menyentuh
program-program di sektor ketiga, modal
sosial dalam masyarakat, termasuk faith-based
social capital sangat rentan tercerabut dari
akarnya dan dapat berakibat pada rentannya
kohesi sosial dalam masyarakat sipil.
Meskipun sebagian ulama berpendapat
bahwa di negara yang mayoritas muslim, peran
negara porsinya harus lebih besar dalam
pengelolaan filantropi Islam, namun pendapat
tersebut juga harus didasarkan pada argumen
Lihat lebih jauh tentang perubahan kebijakan pemerintah,
dalam hal ini Departemen Agama dalam pengelolaan Zakat
dalam Moch Nur Ichwan, Official Reform of Islam: State Islam
and the Ministry of Religious Affairs in Contemporary
Indonesia, 1966-2004 (Dissertation, Leiden University, 2005),
khususnya Bab 9 dan bab 12.
14
Christopher Candland, “Faith as Social Capital,” hlm. 359.
13
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
56
isi.pmd
56
8/20/2008, 11:04 AM
sejauh mana kemampuan negara itu
membangun sistem kesejahteraan sosial.
Secara alami, ketidakmampuan negara
menyediakan sistem keamanan sosial yang
memadai dapat menjadi alasan mengapa
muncul organisasi-organisasi bervisi
kesejahteraan dan filantropi, meskipun negara
tersebut adalah negara Islam. Keterlibatan
beberapa ordo sufisme di Sudan dalam
gerakan filantropi juga menarik untuk
dijadikan kasus. Peran sosial Sufi Tijaniyah
pimpinan Syekh Ibrahim Sidi yang
menyelenggarakan lembaga rehabilitasi sosial
untuk anak-anak jalanan di kota Darfur (yang
dilanda konflik saudara), dan peran Sufi
Qadiriyah pimpinan Syekh al-Haj Hamad
Muhammad al-Ja’ali yang menyediakan klinik
pengobatan alternatif berbasis Islam, semakin
menguat karena dimotivasi oleh aspirasi
keagamaan di satu sisi, dan disisi lain
merupakan buah dari kegagalan rezim Islam
yang berkuasa dalam merespons dilema sosial
di negeri tersebut. Penerapan Syariah Islam
(dalam konsitusi) di Sudan ternyata juga tidak
serta merta membawa pada keadilan sosial
yang merata.15 Studi yang lain tentang peran
sosial sufisme, menunjukkan bahwa ikatan
sosial dalam tradisi sufisme, juga menjadi
semacam modal sosial yang mendorong
komunitas itu untuk melakukan perubahan
sosial. Konsep ‘persaudaraan’ (brotherhood)
dalam tradisi Sufi Sanusiyah di Sahara,
misalnya, telah menjadi semacam ‘symbolic
capital’ yang itu kemudian diintegrasikan
dengan konsep kesalehan mereka di ranah
sosial melalui kegiatan berbasis
kesejahteraan.16
Meski demikian, mungkin masih timbul
juga pertanyaan lain, apakah masyarakat sipil
memiliki otoritas penuh untuk mengelola
organisasi filantropi berbasis agama? Seberapa
besarkah otoritas itu dan apa kapasitas yang
dimilikinya? Pengalaman negara-negara Islam
dari beberapa periode sejarah memang tidak
menunjukkan fakta yang monolitik. Adam
Sabra, dalam Poverty and Charity in Medieval
Islam menjelaskan telah terjadi pergeseran di
dunia Islam dalam memposisiskan institusi
filantropi Islam dan negara. Dari negara
kepada institusi sosial, terutama semakin
kentara pada periode Mamluk. 17 Zakat
menjadi bagian dari kehidupan individu
seseorang dan organisasi sosial terkait. Zakat
menjadi sistem kesejahteraan masyarakat di
luar negara. Saudi Arabia, Mesir, Jordan,
Sudan dan Pakistan adalah beberapa negara
yang memasukkan zakat dalam sistem
kesejahteraan sosial pemerintah. Malaysia
adalah negara yang memberikan porsi kepada
negara bagian untuk memobilisasi pelaksaan
zakat. Namun, lagi-lagi persoalannya sangat
kasuistik, ditentukan oleh kapasitas negara
dalam menyediakan program kesejahteraan.
Di Jordania yang mengadopsi sistem hukum
Islam dan Perancis dalam konstitusinya, ZIS
telah diletakkan sebagai bagian dari
kewenangan negara, namun kondisi sosial yang
ada juga memberikan ruang bagi organisasiorganisasi keagamaan berbasis filantropi
untuk tumbuh dan memberikan pelayan
kepada masyarakat dalam bidang pendidikan
dan kesehatan, seperti yang dipelopori oleh
kelompok Ikhwan al-Muslimin dan lain-lain.
Untuk negara-negara yang tidak
menjadikan Islam sebagai agama negara, seperti
Indonesia, persoalannya memang menjadi
tidak sederhana. Penulis ingin menekankan dua
hal saja tentang potensi masyarakat sipil di
Rudiger Seesman, “Sufi Leaders and Social Welfare: Two
Example from Contemporary Sudan,” dalam Holger
Weiss(ed), Social Welfare in Muslim Societies in Africa
(Stockholm: Nordiska African Institute, 2002), hlm. 98-103.
16
Knut S. Vikor, “Sufism and Social Welfare in the Sahara,”
dalam Holger Weiss, Social Welfare, hlm. 95-6.
17
Adam A. Sabra, Poverty and Charity in Medieval Islam: Mamluk
Egypt 1250-1517 (Cambridge: Cambridge, 2000), hlm. 40;
baca juga Murad Cizakca yang lebih banyak mengulas konsep
dan praktik wakaf dalam, A History of Philanthropic
Foundations: The Islamic World From the Seventh Century
to the Present (Istanbul: Bogazici University Press, 2000); juga
Richard Van Leeuwen, Waqf and Urban Structure: The Case
of Ottoman Damascus (Leiden: Brill, 1999); dan Yaacov Lev,
Charity, Endowments, and Charitable Institutions in Medieval
Islam (Gainesville: University of Florida Press, 2005).
15
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
57
isi.pmd
57
8/20/2008, 11:04 AM
Indonesia dalam konteks filantropi Islam,
yaitu pada aspek kreativitas penggalangan dana
sosial, dan aspek inovasi program
pelayanannya yang semua itu merupakan
artikulasi dari modal sosial yang telah dipupuk
dalam waktu yang tidak pendek. Mengenai hal
yang pertama, OMS lebih atraktif dalam
penggalangan dana umat, tidak hanya melalui
pola normatif dan konvensional. Bila kita
cermati dalam perspektif sektor ketiga,
tentunya program-program penggalangan
dana umat tidak semata-mata dilakukan dari
deduksi deposit seseorang, tetapi juga
memanfaatkan rasa solidaritas, kepeduliaan,
kebersamaan dan berbagai bentuk kohesi sosial
lainnya. Dalam buku Pola dan Strategi
Penggalangan Dana Sosial di Indonesia, tercermin
bahwa organisasi-organisasi sektor ketiga,
mulai dari yang berbentuk institusi filantropi
sampai LSM, memiliki aktivitas fundraising dan
program sosial yang bervariasi dan spesifik.
Dompet Dhu’afa Republika, Yayasan Dana
Sosial Al-Falah, Dompet Sosial Ummul Qura,
dan Yayasan Darut Tauhid adalah beberapa
lembaga filantropi Islam yang menggunakan
cara-cara yang lebih inovatif dalam melakukan
penggalangan dana sosial. Selain memiliki
strategi marketing yang memadai, kampanye
yang cukup masif, dan sosialisasi yang meluas,
OMS tersebut juga dapat menggunakan
jaringan sosial di kalangan profesional dengan
optimum. Sementara Yayasan Imdad
Mutadh’afin memanfaatkan aspek lain, yaitu
menjual barang-barang bekas untuk kegiatan
sosial, seperti juga yang dilakukan Salvation
Army di Amerika. Beberapa institusi lain
mencoba
memadukan
dunia
entrepreneurship dengan filantropi, misalnya
dalam lembaga filantropi berbasis Kristen
seperti YAKKUM dan Yayasan Bina
Swadaya.18 Variasi fundarising yang diinisiasi
OMS juga telah memberikan peluang lebih
besar dalam pemanfaatan potensi dana umat
untuk kepentingan sosial. Selain dapat
memobilisasi ZIS, organisasi masyarakat sipil
tersebut mampu menggandeng berbagai
perusahaan (sektor kedua) untuk terlibat
dalam meningkatkan potensi sektor ketiga.
‘Keunggulan’ OMS di atas tidak hanya terletak
pada kemampuan memobilisasi dana umat
secara mandiri dan berbasis kerelaan, tetapi
juga kemampuan mengartikulasikan dana
tersebut untuk program-program yang spesifik,
mulai yang bersifat ‘service’, seperti pelayan ad
hoc untuk membantu kaum miskin dan
terpinggirakan dan menyediakan pelayanan
kesehatan murah atau gratis, sampai yang
bersifat memberdayakan dan produktif —
stimulan usaha kecil, beasiswa, dan advokasi
lingkungan. Dari organisasi semacam ini pula
muncul institusi-institusi emergency relief seperti
PKPU atau Mer-C yang relatif punya karakter
tersendiri.
Gerakan filantropi yang berbasis
kerelawanan dan agama maupun non-agama
masih menjadi alternatif dalam proses
penguatan komunitas (mutual self-help).
Masyarakat tidak hanya bersandar pada
pundak negara, tetapi mencoba melakukan
mobilisasi sumberdaya dan potensi yang
mereka miliki untuk memperkuat ‘civic
tradition’ melalui organisasi formal dan
informal.19 Dalam buku yang berjudul The
Islamic Voluntary Sector in Southeast Asia yang
diedit oleh Mohamed Ariff, para penulis
memasukan organisasi dan aktivitas filantropi
Islam sebagai salah satu bentuk sektor ketiga.
Pelaksanaan zakat, infak, sedekah dan wakaf
adalah manifestasinya. Dana tersebut berasal
dari sumbangan wajib dan sukarela dengan
motif agama. Muhammad Nejatullah Siddiqi
dalam pengatar buku tersebut menegaskan
bahwa di beberapa negara Islam, dana umat
tersebut di kelola oleh negara, tetapi sebagian
Lebih jauh lihat Zaim Saidi, Hamid Abidin, Nurul Faizah (eds.),
Pola Penggalangan Dana Sosial di Indonesia: Pengalaman
Delapan Belas Lembaga Sosial (Jakarta: Piramedia, Pirac dan
Ford Foundation, 2003).
19
Nakamura Mitsuo, Sharon Sidique & Omar Farouk Najunid
(eds.), Islam and Civil Society in Southest Asia (Singapore:
ISEAS, 2001).
18
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
58
isi.pmd
58
8/20/2008, 11:04 AM
lain seperti Indonesia dikelola pada mulanya
oleh masyarakat dan institusi ‘semipemerintah’. Dalam kaitan ini, keterlibatan
negara terlalu jauh —dengan menepikan peran
voluntary organizations— tidak selalu
berdampak positif.20
Organisasi Filantropi Islam dan
Negara: Kompetisi atau
Kooperasi?
Studi tentang filantropi Islam di Indonesia
sudah banyak dilakukan kalangan akademisi,
pengamat, maupun para aktivis LSM.
Beberapa di antaranya memfokuskan pada
perilaku berderma masyarakat Indonesia yang
mencakup analisis tentang motif berderma,
cara atau mekanisme berderma, model
pengelolaan derma, dan profil institusi
pengelola derma berikut program-program
fundraising dan program distribusinya. Studistudi yang ada, misalnya yang dilakukan oleh
PIRAC dan CSRC Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah, setidaknya menyimpulkan
beberapa hal:
Pertama, institusi pengelola derma yang
dikelola oleh institusi non-pemerintah banyak
yang masih belum beranjak dari programprogram yang sifatnya ‘karitatif’ dan masih
terbelenggu oleh mekanisme dan paradigma
konvensional. Sebagian dari institusi yang ada
masih dianggap kurang lincah, jauh dari
progresif dan kurang memenuhi karakter
filantropi modern. Institusi ini biasanya
terdapat pada tingkatan grassroots yang belum
mendapat sentuhan filantropi modern. Ambil
contoh misalnya unit-unit pemungut zakat
‘resmi’ maupun ‘tidak resmi’ yang dikelola
masjid-masjid perkampungan. Kedua, institusi
filantropi non-pemerintah yang beruapa LAZ
(Lembaga Amil Zakat) sudah mulai
menanamkan tradisi baru, menerapkan
agenda dan program yang sudah mengadopsi
prinsip pembangunan berkelanjutan,
mengadopsi menajemen yang lebih terbuka
dan accountable, merumuskan pola distribusi
yang lebih tertata, serta telah membangun
sistem fundraising dan program pemberdayaan
yang lebih memikat, seperti halnya Dompet
Dhua’afa Republika, Rumah Zakat Indonesia,
PKPU, Yayasan Dana Sosial Al-Falah, dan
sebagainya. Ketiga, saat ini lembaga-lembaga
filantropi yang berbentuk ‘quasi-state’ sudah
dimanifestasikan dalam bentuk Badan Amil
Zakat (BAZ). Ia merupakan bentukan negara
dan posisinya “semi-independen” dari struktur
negara. Beberapa BAZ menunjukkan prestasi
penggalangan dana zakat yang luar bisa seperti
DKI Jakarta, tetapi di beberapa tempat lain
artikulasinya dianggap belum sebesar
potensinya. Keempat, gerakan filantropi di
atas ‘diikuti’ oleh berkembangnya tradisi baru
dalam OMS yang lebih ‘senior’ dari segi usia
(Ormas Islam), seperti berdirinya Lazis
Muhammadiyah, Lazis Nahdlatul Ulama,
Pusat Zakat Umat Persatuan Islam dan
sebagainya yang mengadopsi kebijakan dan
program institusi filantropi Islam modern
(seperti lembaga jenis kedua di atas). Meskipun
organisasi-organisasi tersebut merupakan ‘cikal
bakal’ organisasi masyarakat sipil modern di
Indonesia, ekspansi mereka untuk membangun
sistem filantropi yang lebih memadai, belum
lama dilakukan. Kelima, sektor swasta juga
menunjukkan geliat yang sama di mana mulai
banyak dibentuk institusi filantropi baik
sebagai bagian dari komitmen sosial
perusahaan untuk menyisihkan hasil
pendapatan kelembagaan mereka untuk
kegiatan sosial (Corporate Social Responsibility/
CSR), maupun inisiatif para pengelola unit
usaha mereka untuk memobilisasi gerakan
zakat, infak dan sedekah (ZIS) di lingkungan
20
Siddiqi ketika mendiskusikan redistributive and allocative role
dari organisasi di sektor ini menyatakan, the voluntary sector
can play a major redistributive role by effecting a transfer of
resource from the rich to the poor more efficiently than the
state, as the cost of the transfer may be less and the
identification
of
the
needy…maybe
more
accurate.“Muhammad Nejatullah Siddiqy, “The Role of the
Voluntary Sector in Islam: A Conceptual Framework,” dalam
Mohamd Ariff, The Islamic Voluntary Sector in Southeast
Asia (Singapore: ISEAS, 1991), hlm. 13.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
59
isi.pmd
59
8/20/2008, 11:04 AM
perusahaan.
Saat ini, masih cukup banyak jenis-jenis
institusi filantropi seperti di atas beroperasi di
masyarakat. Mereka mengundang umat untuk
‘menitipkan’ harta mereka guna
didistribusikan kepada yang dianggap berhak
sesuai dengan tuntunan agama dan kebutuhan
sosial. Fenomena tersebut tentunya
merupakan satu hal yang positif, meskipun di
sisi yang lain juga masih mengundang banyak
pertanyaan seperti yang dikemukakan pada
awal tulisan ini. Bila memang masyarakat
ternyata
sangat
antusias
untuk
menyumbangkan sebagian harta mereka
sebagaimana hasil survey terakhir dari PIRAC
(The Jakarta Post, 04/03/2008)21 lembaga
manakah yang paling punya daya tarik bagi
masyarakat untuk menitipkan sumbangan
mereka. Pertanyaan lainnya dapat kita tujukan
kepada organisasi filantropi ‘semi-pemerintah’,
seberapa efektif pula institusi tersebut dapat
mengelola program filantropi Islam di
Indonesia.
Pertanyaan yang terakhir ini penulis
sampaikan karena beberapa peristiwa yang
darinya kita dapat mengambil pelajaran
bahwa selain otoritas, kredibilitas juga menjadi
penting. Dulu kita mengenal apa yang disebut
Dana Abadi Umat (DAU), yang dikelola
langsung oleh —atau berada dalam birokrasi—
institusi pemerintah, yaitu Departemen Agama
(Depag). Visi yang dicanangkan untuk
mengelola dana umat tersebut cukup
meyakinkan, yaitu untuk meningkatkan
pendidikan umat dan dakwah Islam. Dalam
konteks ini negara nampaknya mencoba
mengelola harta umat non pajak, dari ‘sisasisa’ operasional ibadah haji. Posisi dana
tersebut setali tiga uang dengan dana ‘nonbudgeter’. Karena itu, sebagaimana dana ‘nonbudgeter’ dalam departemen pemerintahan
yang lain, DAU dan yang sejenisnya menjadi
rawan apabila dalam penggunaannya tidak
disertai dengan pengendalian dan pengawasan
yang ketat. DAU, memang bukan langsung
bentuk ‘dana filantropi’ yang bersumber dari
mekanisme fundraising, tetapi berasal dari ‘sisa
hasil usaha’ pengelolaan jamaah haji. Namun
demikian, ia tetap merupakan dana umat, dan
bukan dana negara yang bersumber dari pajak.
Baik karena adanya pelbagai kepentingan
politik, atau kesalahan prosedur yang
menyebabkan dana DAU disalurkan bukan
pada peruntukannya, sempat menjadi kasus
hukum di pengadilan. Kasus ini menjadi
pelajaran bagaimana dana umat ketika
berada di tangan negara. Dalam kasus yang
lain, barangkali menarik pula resistensi yang
ditujukan oleh masyarakat Lombok Timur
terhadap kebijakan pemerintah daerah dalam
peraturan tentang zakat.
Hemat penulis, seiring dengan gelombang
Otonomi Daerah (Otda) dan termasuk di
dalamnya Perda-Perda (Peraturan Daerah)
yang terkait dengan pelaksanaan keagamaan
Islam, maka dua kasus di atas, dalam konteks
filantropi Islam, patut menjadi pertimbangan.
Satu hal yang dapat kita lontarkan lagi adalah
apakah dalam penyelenggaraan filantropi
Islam di Indonesia wewenang negara berada
pada tingkatan kebijakan dan regulator saja,
ataukah berperan sebagai pelaksana praktis
di lapangan. Keputusan Menteri Agama
Rebublik Indonesia Nomor 373 Tahun 2003
tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor
38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat,
tiga jenis pengelola Zakat, yaitu Badan Amil
Zakat (BAZ) yang dibentuk pemerintah,
Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk
masyarakat, dan Unit Pengumpul Zakat (UPZ)
yang merupakan kepanjangan dari BAZ di
tingkatan pedesaan/kelurahan. Sementara
pada Bab IV Lingkup Kewenangan
Pengumpulan Zakat, pasal 25, tidak terlihat
pembedaan kewenangan antara BAZ dengan
LAZ. Pasal tersebut hanya menjelaskan
21
Lihat juga hasil survei PIRAC sebelumnya dalam Andy Agung
Prithatna dkk (ed.), Muslim Philanthropy: Potential and
Reality of Zakat in Indonesia (Jakarta: Piramedia, PIRAC and
Ford Foundation, 2005)
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
60
isi.pmd
60
8/20/2008, 11:04 AM
kewenangan BAZ dari segi lingkup yang bersifat
geografis di tingkatan masing-masing
(Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota, dan
Kecamatan). Sehingga, seolah-olah yang
membedakan antara BAZ dan LAZ hanyalah
‘siapa dibentuk oleh siapa’ tanpa penjelasan
kewenangan lebih jauh pada tingkat
operasional.
Mengenai dapat tidaknya BAZ yang
merupakan bentukan negara/ pemerintah
dikategorikan sebagai bagian dari OMS/
organisasi sektor ketiga dapat dilihat dari dua
sisi, struktural dan fungsional. Secara
struktural BAZ ‘ditarik’ ke dalam birokrasi.
Terbukti pengurus teras atau ketua-ketua BAZ
di berbagai tingkatan adalah aparat
pemerintah. Di tingkat provinsi dipimpin
gubernur, di tingkat daerah Tk. II oleh
walikota/bupati, dan seterusnya. Secara
fungsional, ia menjalankan administrasi
pengelolaan ZIS yang diperoleh dari
masyarakat melalui berbagai mekanisme
penggalangan. Dilihat dari perspektif ini, BAZ,
meskipun didirikan oleh negara, memang
boleh jadi termasuk dalam kategori OMS bila
memenuhi beberapa syarat. Untuk bisa
dikategorikan OMS, BAZ harus otonom dari
intervensi negara baik dari segi proses
pengambilan keputusan, proses rekruitmen
kepemimpinan, dan kemampuan mengontrol
sumberdaya manajemennya. Selain itu, BAZ
juga harus demokratis secara internal, tidak
menjadi alat kepentingan politik tertentu;
memiliki akuntabilitas, mekanisme dan
prosedur yang jelas bagi para anggota dalam
mengontrol segala jenis keputusan dan
tindakan, dan BAZ juga harus memenuhi
persyaratan lain, yaitu ‘open reqruitment’
sehingga lagi-lagi tidak menjadi bagian dari
kelompok tertentu. 22
Cukup realistiskah ‘kompetisi’ antara
pengelola zakat pemerintah dan OMS
sementara keduanya mewakili dua sektor
berbeda, yaitu sektor pertama dan sektor
ketiga? Dalam konteks ini, bukan lagi otoritas
yang bisa diperdebatkan, tetapi masalah
kapasitas organisasi. Barangkali dapat kita
cermati studi yang dilakukan CSRC-UIN
Syarif Hidayatullah, dalam Islam Philanthropy
& Social Development in Contemporary
Indonesia. Dari beberapa penelitian dalam
buku tersebut, penulis ingin menyimpulkan
dua hal: pertama, potensi yang dimiliki oleh
BAZ dan LAZ dalam melakukan penggalangan
dana memang sama-sama besar. Artinya,
masyarakat memiliki pilihan kemana
sumbangan mereka akan disalurkan. Hanya
saja, yang juga harus menjadi catatan kita
adalah bahwa BAZIS DKI Jakarta dan BAZIS
Jawa Barat, yang ditelaah dalam buku
tersebut, adalah dua institusi pengelola ZIS
semi-pemerintah yang relatif lebih baik
dibandingkan dengan ZIS di beberapa daerah
lain.23 Kita belum mengetahui betul, dan
penulis kira ini membutuhkan penelitian
lanjutan, seberapa efektif BAZ serupa di
provinsi lain dan apakah struktur BAZ di
daerah tingkat dua sampai PUZ di tingkat
kecamatan sudah cukup efektif untuk
melakukan program-programnya.
Hasil penelitian Amelia Fauzia & Karlina
H. barangkali dapat melengkapi proposisi di
atas, yaitu bahwa telah terjadi pergeseran
orientasi dalam masyarakat dalam
menyalurkan harta mereka. Bisa kita ambil
contoh dua institusi yang cukup mengedepan
dari masing-masing institusi, yaitu Bazis DKI
Jakarta (semi-pemerintah) dan Dompet
Dhua’fa Republika/DD (non-pemerintah).
Pada tahun 1997 sampai tahun 1999, Bazis
DKI Jakarta mengumpulkan dana lebih
banyak dari DD, tetapi pada tahun 2000, DD
Lihat Goran Hyden, “Civil Society, Social Capital, and
Development“, hlm. 16-17.
23
Mengenai BAZ Jawa Barat, lihat Ridwan al-Makassary, “BAZ
Jabar: Is Its Existence Under Threat?“, Islam Philanthropy &
Social Development in Contemporary Indonesia (Jakarta:
CRCS UIN yarif Hidayatullah dan Ford Foundation, 2006),
hlm. 61-81.
22
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
61
isi.pmd
61
8/20/2008, 11:04 AM
mampu menggalang dana jauh lebih banyak
dari Bazis DKI Jakarta. 24 Kedua, model
pengelolaan dana zakat antara kedua institusi
tersebut relatif berbeda, dan DD sebagai
LAZIS dipandang lebih inovatif dan populis
dalam program-programnya karena didukung
oleh kekuatan publikasi, sementara Bazis DKI,
dalam konteks ini, masih harus banyak
melakukan improvisasi, terutama dalam
berkomunikasi dengan publik maupun
sosialisasi
program-programnya.
Perbandingan serupa bisa juga dilakukan
antara Bazis Kotamadya Bandung dan
Yayasan Darut Tauhid.
Kompetisi sehat antara institusi tersebut,
dengan kapasitasnya masing-masing, menurut
pandangan penulis, bukanlah suatu soal yang
mendasar. Yang lebih penting adalah
bagaimana prestasi dari dua institusi semacam
itu mampu diadopsi oleh institusi lain yang
berada di daerah-daerah strategis yang lain,
sehingga kedua jenis institusi pengelola dana
umat tersebut dapat berperan lebih besar.
Menggalang dana umat sama beratnya dengan
menjajakan sebuah produk. Untuk
menjajakan produk yang baik, sebuah institusi
kadang harus berhadapan dengan
kompetitornya. Begitu pula dengan gerakan
filantropi Islam di Indonesia. Di tengah
‘persaingan’ ketat antara BAZ dan LAZ, dan
‘persaingan’ antara satu LAZ dengan LAZ
lainnya yang hingga kini masih berlangung,
maka perlu dipikirkan, bagaimanakah
membangun sinergi antara BAZ dan LAZ, dan
bagaimana pula membuat pola kerjasama
antar-LAZ dalam mengembangkan sistem
pengelolaan harta ZIS yang berorientasi
penguatan masyarakat sipil di Indonesia.
Karena itu, revitalisasi FOZ (Forum Zakat)
tidak bisa terabaikan lagi.25
Penutup
Penulis ingin menekankan beberapa hal
dari gambaran di atas: Pertama, tumbuhnya
organisasi sektor ketiga yang berorientasi pada
peningkatan taraf hidup masyarakat yang lebih
baik dapat dijadikan sebagai salah satu
indikator dari sebuah sistem sosial yang sehat.
Artinya, telah tumbuh kesadaran dalam
masayarakat untuk melakukan mobilisasi
potensi sosial, kultural, politik dan finansial
guna diinvestasikan dalam proses peningkatan
iklim sosial, ekonomi dan politik yang lebih di
lingkungan mereka. Problem-problem sosial
dan ekonomi di sebuah negara seperti
Indonesia relatif lebih berat, apalagi dengan
jumlah penduduk besar dan kondisi geografis
yang luas. Karena itu, peran organisasi sektor
ketiga menjadi salah satu pilar program
pembangunan selain yang dipelopori negara.
Konsekuensi dari itu adalah bahwa
pemerintah atau negara, sebagai pemegang
otoritas konstitusional dapat menjadi partner
organisasi sektor ketiga dengan menciptakan
iklim politik yang lebih kondusif, misalnya
dengan mengeluarkan regulasi yang
mendukung peningkatan kualitas organisasi
yang ada.
Kedua, keterlibatan kaum muslim dalam
gerakan filantropi di Indonesia lebih banyak
didasarkan pada kerelaan atau voluntary
dengan memanfaatkan modal sosial yang
tersedia. Kemunculan organisasi filantropi
sesungguhnya merupakan respons positif
masyarakat terhadap keterbatasan sistem
kesejahteraan sosial (social welfare security
system) yang dicanangkan pemerintah. Masalah
tingginya angka kemiskinan, belum
menurunnya jumlah pengangguran, maraknya
Untuk lebih detailnya lihat Amelia Fauziya, “BAZIS DKI Jakarta:
Opportunities and Challenges for the Religious Alms
Collection Agency in Local Government,” dan Karlina
Hermalita, “Managing Islamic Philanthropy with Modern
Management: The Experiences of Dompet Dhuafa“ dalam
Chaider S. Bamualim dkk, Islam Philanthropy & Social
Development in Contemporary Indonesia (Jakarta: CSRS UIN
Syarif Hidayatullah dan Ford Foundation, 2006), hlm. 37-8
dan 104; juga catatan beberapa penulis dalam Iqbal Setyarso
& Sunaryo Adhiatmoko, Pemberdayaan Tak Pernah Berhenti:
Catatan dan Refleksi Dompet Dhuafa (Jakarta: Khairul Bayan
Press, 2005), terutama bagian II dan III.
25
Lihat Hasil Musyawarah Kerja Nasional I Lembaga Pengelola
ZIS, Jakarta 07-90 Januari 1999.
24
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
62
isi.pmd
62
8/20/2008, 11:04 AM
siswa putus sekolah dan tidak stabilnya kondisi
sosial dan ekonomi di Indonesia adalah isuisu kongkret yang memperkuat kehadiran
organisasi-organisasi di sektor ketiga ini.
Memang tidak seluruh organisasi filantropi
Islam yang ada di Indonesia mampu
membangun jaringan yang baik atau
membuat sistem yang akuntabel, tetapi modal
sosial dan potensi mereka patut
dipertahankan, diperbaiki dan diperkuat oleh
negara.
Ketiga, dengan keterbatasan yang dimiliki
negara, maka sejatinya negara memerankan
fungsi regulator dan peran kontrol guna
mengefektifkan pola sektor ketiga, dan bukan
‘mengambilalih’ otoritas atau melemahkan
kapasitas OMS yang ada. Terlalu besar biaya
sosial yang harus dibayar oleh masyarakat
ketika peran filantrofis OMS diambil alih
negara, dan terlalu besar pula biaya
operasional untuk kerja distributif dan
alokatif yang dilakukan negara. Dalam konteks
kebijakan, dapat dilihat beberapa alternatif
dalam merumuskan peraturan perundangan
tentang zakat di masa yang akan datang. Selain
kebijakan tersebut harus tetap mendukung
eksistensi OMS yang ada, baik dalam bentuk
ormas, LSM, ataupun institusi khusus
filantropi, yang juga harus menjadi
pertimbangan adalah bagaimanakah rumusan
mekanisme kontrol terhadap institusi
filantropi tersebut, bagaimana membangun
sistem yang efektif dalam menggairahkan zakat
tanpa harus mencerabut konsep voluntary
dalam masyarakat, dan bagaimana pula
pemerintah dapat mendorong gerakan
filantropi dalam segmen masyarakat yang lebih
luas baik yang berbasis agama maupun nonagama. Sehingga, upaya membangun sistem
kesejahteraan sosial yang lebih memadai dapat
dipupuk dari atas (birokrasi) dan bawah
(masyarakat).
:
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
63
isi.pmd
63
8/20/2008, 11:04 AM
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, Sirojudin. “The Stuggle for Recognition: Embracing
the Islamic Welfare Effort in the Indonesian Welfare System,”
Studia Islamika, Vol. 12, No. 1 (2005)
Abidin, Hamid (ed.), Sumbangan Sosial Perusahaan:Profil dan
Pola Distribusinya di Indonesia, Survey 226 Perusahaan di 10 Kota.
Jakarta: Piramedia, PIRAC & Ford Foundation, 2003.
Candland, Christopher. “Faith as Social Capital: Religion
and Community Development in Southeast Asia,” Policy Science
33 (2000)
Cizakca, Murad. A History of Philanthropic Foundations: The
Islamic World From the Seventh Century to the Present. Istanbul:
Bogazici University Press, 2000.
Clark, Janine A. Islam, Charity, and Activism: Middle Class
Network and Social Welfare in Egypt, Jordan and Yemen. Bloomington
& Indianapolis: Indiana University Press, 2004.
Donnelly-Cox, Gemma et all, “Conceptualizing the Third
Sector in Ireland, North and South,” Voluntas: International Journal
of Voluntary and Nonprofit Organizations Vol. 12, No. 3, (September
2001)
Eldridge, Phillip J. Non-Government Organizations and
Democratic Participation in Indonesia. Oxford: Oxford Univ. Press,
1995.
Fauziya, Amelia. “BAZIS DKI Jakarta: Opportunities and
Challenges for the Religious Als Collection Agency in Local
Government,” dalam Chaider S. Bamualim dkk, Islam Philanthropy
& Social Development in Contemporary Indonesia. Jakarta: CRCS UIN
yarif Hidayatullah dan Ford Foundation, 2006.
Franklin, Jane. “Social Capital: Policy and Politics,” Social
Policy and Society 2: 4 (2003)
Haniwinata, Bob. The Politics of NGOs in Indonesia. London
& New York: Rutledge Curzon, 2003.
Hasil Musyawarah Kerja Nasional I Lembaga Pengelola
ZIS, Jakarta 07-90 Januari 1999
Hefner, Robert W. (ed.) Market Culture: Society and Values in
the New Asian Capitalism. Singapore: ISEAS, 1998.
Hikam, Muhammad AS. “Non-Governmental Organization
and the Empowerment of Civil Society,” dalam Richard W. Baker
et all (eds.), Indonesia: The Challenge of Change. Singapore: ISEAS,
1999.
Hyden, Goran. “Civil Society, Social Capital and
Development: Dissection of a Complex Discourse,” Studies in
Comparative International Development, Vol. 32. No. 1 (Spring
1997)
Ichwan, Moch Nur. Official Reform of Islam: State Islam and the
Ministry of Religious Affairs in Contemporary Indonesia, 1966-2004.
Dissertation, Leiden University, 2005.
Leeuwen, Richard Van. Waqf and Urban Structure: The Case of
Ottoman Damascus. Leiden: Brill, 1999.
Lev, Yaacov. Charity, Endowments, and Charitable Institutions
in Medieval Islam. Gainesville: University of Florida Press, 2005.
Makassary, Ridwan al-. “BAZ Jabar: Is Its Existence Under
Threat?”, Islam Philanthropy & Social Development in Contemporary
Indonesia. Jakarta: CRCS UIN yarif Hidayatullah dan Ford
Foundation, 2006.
Hermalita, Karlina. “Managing Islamic Philanthropy with
Modern Management: The Experiences of Dompet Dhuafa”
dalam Chaider S. Bamualim dkk, Islam Philanthropy & Social
Development in Contemporary Indonesia. Jakarta: CRCS UIN yarif
Hidayatullah dan Ford Foundation, 2006.
Malloch, Theodore Roosevelt. Social, Human and Spiritual
Capital in Economic Development, Templeten Foundation, Working
Group of the Spiritual Capital Project, Harvard Univesity,
October, 2003.
Nakamura Mitsuo dkk (eds), Islam and Civil Society in Southest
Asia. Singapore: ISEAS, 2001.
Nyman, Mikaela. Democratizing Indonesia: The Challenges of Civil
Society in the Era of Reformasi. Denmark: NIAS Press, 2006.
Prithatna, Andy Agung dkk (ed.), Muslim Philanthropy:
Potential and Reality of Zakat in Indonesia. Jakarta: Piramedia, PIRAC
and Ford Foundation, 2005.
Sabra, Adam A. Poverty and Charity in Medieval Islam: Mamluk
Egypt 1250-1517. Cambridge: Cambridge, 2000.
Saidi, Zaim dkk (eds.), Pola Penggalangan Dana Sosial di
Indonesia: Pengalaman Delapan Belas Lembaga Sosial. Jakarta:
Piramedia, Pirac dan Ford Foundation, 2003.
Sheper, Elisabeth E. Preventing Deadly Conflict in Divided
Societies in Asia: The Role of NGOs. Ph.D. Dissertation, the
Netherlands: Amsterdam University, 2003.
Seesman, Rudiger. “Sufi Leaders and Social Welfare: Two
Example from Contemporary Sudan,” dalam Holger Weiss(ed),
Social Welfare in Muslim Societies in Africa. Stockholm: Nordiska
African Institute, 2002.
Setyarso, Iqbal & Adhiatmoko, Sunaryo. Pemberdayaan Tak
Pernah Berhenti: Catatan dan Refleksi Dompet Dhuafa. Jakarta: Khairul
Bayan Press, 2005.
Siddiqy, Muhammad Nejatullah. “The Role of the
Voluntary Sector in Islam: A Conceptual Framework,” dalam
Mohamd Ariff, The Islamic Voluntary Sector in Southeast Asia.
Singapore: ISEAS, 1991.
Sinaga, Kastorius. NGOs in Indonesia: A Study of the Role of Non
Governmental Organizations in the Development Process. Verlag fur
Entisklungspolitik: Saarbucken, 1995.
Taylor, Marilyn and Diane “Legitimacy and UK Third Sector
Organizations in the Policy Process,” Voluntas: International Journal
of Voluntary and Non-Profit Organizations, vol. 14, no. 3 (September
2004)
Vikor, Knut S. “Sufism and Social Welfare in the Sahara,”
dalam Holger Weiss (ed), Social Welfare in Muslim Societies in Africa.
Stockholm: Nordiska African Institute, 2002.
:
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
64
isi.pmd
64
8/20/2008, 11:04 AM
Diusulkan oleh Circle of Information and Development (CID) Dompet Dhuafa
Bekerjasama dengan Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam – Fakultas Hukum
Universitas Indonesia
P
A. Pendahuluan
Latar Belakang
embukaan UUD 1945 alinea
keempat menyebutkan tujuan
berdirinya Negara Repubik
Indonesia, yaitu untuk “Memajukan
Kesejahteraan Umum”. Bunyi pembukaan ini
juga dikuatkan lagi oleh pasal 34 UUD 1945
yang isinya “Rakyat Miskin dan anak terlantar
dipelihara oleh negara”. Namun kenyataannya,
setelah 63 tahun Indonesia merdeka,
kesejahteraan rakyat Indonesia masih belum
optimal. Hal ini dapat dilihat dari hasil survey
statistik BPS (Badan Pusat Statistik) pada
Maret 2006 sebesar 39,30 juta jiwa atau sekitar
17, 75 % yang kemudian turun sebesar 2,13
juta jiwa pada Maret 2007 menjadi 37,17 juta
jiwa atau setara dengan 16,58 %. (BPS :
2007). Angka ini, menurut LIPI (Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia), diperkirakan
akan melonjak untuk tahun 2008 menjadi
41,7 juta jiwa atau sebesar 21,92 %. Hal ini
terjadi akibat kenaikan harga Bahan Bakar
Minyak (BBM) pada Juni 2008.
Sebetulnya pemerintah telah melakukan
langkah-langkah penting untuk menekan laju
kemiskinan. Beberapa program subsidi yang
disalurkan melalui Bantuan Operasional
Sekolah (BOS), Asuransi Kesehatan untuk
Rakyat Miskin (Askeskin), Jaring Pengaman
Sosial (JPS) merupakan beberapa contoh
usaha pemerintah mengurangi kemiskinan di
negara ini. Namun usaha-usaha tersebut
ternyata belum menunjukkan hasil yang
optimal.
Islam telah menyediakan solusi untuk
menghadapi masalah kemiskinan dan upaya
peningkatan kesejahteraan rakyat, yakni
melalui ibadah zakat. Zakat dapat berfungsi
sebagai sumber pendanaan alternatif dan
solusi utama bagi kemiskinan di Indonesia.
Dengan sifat wajibnya, ditambah jumlah
muzakki yang diperkirakan lebih dari 60 juta
jiwa, maka zakat merupakan potensi besar bagi
sumber pendanaan pengentasan kemiskinan
di negara ini. Menurut perkiraan, potensi zakat
sebagaimana hasil survey PBB UIN Jakarta,
sebesar 19.3 triliun pertahun.
Perhatian pemerintah terhadap
pengelolaan zakat sudah terlihat sejak era
Soeharto sampai kepemimpinan B.J. Habibie.
Bahkan di era B.J.Habibie, DPR melahirkan
UU No.38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan
Zakat. Diikuti dengan Keputusan Menteri
Agama RI No. 373 Tahun 2003 Tentang
Pelaksanaanya.
Namun keberadaan peraturan ini ternyata
belum mampu menjawab permasalahan zakat
secara menyeluruh. Terbukti masih terjadi
tumpang tindih pengelolaan di masing-masing
tingkatan, baik pusat, wilayah maupun
kabupaten. Begitu juga belum adanya
pemisahan antara fungsi operator, regulator
dan pengawas, sehingga antara potensi yang
besar dengan realisasi penghimpunan masih
jauh panggang dari api.
Dengan beberapa pertimbangan di atas,
maka perlu peraturan perundang-undang yang
lebih baik dan mampu menyentuh
permasalahan pengelolaan zakat yang
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
65
isi.pmd
65
8/20/2008, 11:04 AM
DOKUMEN
Ringkasan Naskah Akademik
Revisi UU Zakat
menyeluruh.
Dalam rangka itulah, Circle of
Information and Development (CID) Dompet
Dhuafa bekerjasama dengan Lembaga Kajian
Islam dan Hukum Islam Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, menyusun Naskah
Akademik (NA) Revisi UU Zakat sebagai
upaya melengkapi RUU Zakat yang saat ini
diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR).
Permasalahan
Di dalam tulisan ini akan diklasifikasi
permasalahan-permasalahan zakat yang perlu
diperbaiki dan perlu dimasukkan di dalam
RUU Zakat yang baru. Pertama, soal
kelembagaan. Saat ini belum ada kejelasan
fungsi siapa sebagai regulator, siapa sebagai
pengawas dan siapa sebagai operator.
Keberadan Baznas (Badan Amil Zakat
Nasional), Laznas (Lembaga Amil Zakat
Nasional), LAZ (Lembaga Amil Zakat) dan
Bazda (Badan Amil Zakat Daerah) semuanya
ingin mengelola zakat. Sementara siapa yang
berfungsi sebagai regulator dan pengawas
belum ada.
Kedua, belum adanya strategic planning
secara nasional, baik penghimpunan maupun
pendayagunaan. Akibatnya masih terjadi irisan
wilayah penghimpunan. Satu wilayah bisa
menjadi sasaran penghimpunan bagi beberapa
lembaga zakat. Hal ini juga menyebabkan
pendistribusian zakat tidak merata.
Ketiga, soal mekanisme pelaporan. Sampai
sekarang belum ada mekanisme pelaporan
yang jelas bagi lembaga/ badan amil zakat.
Keempat, soal hubungan zakat dengan pajak.
UU No.38 disebutkan zakat sebagai
Pengurang Penghasilan Kena Pajak (PPKP).
Namun dalam prakteknya belum berjalan
dengan baik. Padahal jika zakat dapat
dijadikan pengurang pajak, atau minimal
sebagai pengurang pajak penghasilan maka
akan dapat memberikan dampak yang sangat
baik dalam pemungutan zakat.
Kelima, mengenai sanksi. UU Pengelolaan
Zakat yang ada baru mengatur sanksi bagi
pengelola zakat. Padahal harusnya sanksi
diberikan juga kepada muzakki. Tujuannya
untuk mengingatkan terhadap kewajiban
muzakki yang tertunda.
Tujuan dan Kegunaan
Naskah Akademik disusun dalam rangka
memetakan konsep-konsep pemikiran
Undang-Undang Zakat ditinjau dari aspek
filosofis, sosiologis-politis, yuridis, dan
ekonomi. Isi pokoknya adalah gagasan-gagasan
konkrit dan aplikatif tentang ruang lingkup
dan materi muatan yang akan dituangkan di
dalam RUU Zakat. Naskah Akademik ini
diharapkan dapat digunakan sebagai:
1. Bahan dasar / acuan bagi penyusunan
RUU Zakat yang baru ;
2. Bahan pembahasan dalam forum
konsultasi pengharmonisasian,
pembulatan, dan pemantapan konsep
RUU Zakat yang baru ;
3. Bahan dasar keterangan dan
pembahasan Dewan Perwakilan
Rakyat mengenai RUU Zakat yang
baru .
Metode Pendekatan
Penyusunan Naskah Akademik RUU Zakat
ini menggunakan pendekatan yuridis normatif
yang bersifat kualitatif. Artinya, susunannya
mengacu kepada norma-norma hukum yang
terdapat dalam peraturan perundangundangan. Perumusan norma-norma hukum
yang digunakan sebagai acuan penyusunan
RUU Zakat berdasarkan pada konstatering
fakta-fakta filosofis, sosiologis, yuridis, dan
ekonomi yang erat kaitannya pengelolaan
zakat, serta menggunakan metode evaluasi
(Prasetya Irawan : 2007).
Penyusunan ini bersifat deskriptif yang
didukung dengan pengumpulan data melalui
wawancara mendalam dengan berbagai
informan dan penelusuran data sekunder.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
66
isi.pmd
66
8/20/2008, 11:04 AM
B. Landasan Pemikiran
Naskah Akademik ini disusun berdasarkan
beberapa landasan, yaitu landasan filosofis,
yuridis, sosiologis, ekonomi dan landasan
spiritual.
•
Landasan Filosofis
Wacana mengenai kesejahteraan adalah
bagian yang tidak terpisahkan dalam seluruh
fase kehidupan manusia. Bahkan soal
kesejahteraan juga telah digariskan di dalam
konstitusi setiap negara di dunia. Spicker
(1995:82), misalnya, menyatakan bahwa
negara kesejahteraan adalah “…stands for a
developed ideal in which welfare is provided
comprehensively by the state to the best possible
standards.” (Edi Suharto : 2006)
Pada awalnya, konsep negara
kesejahteraan merupakan strategi
pembangunan kesejahteraan sosial yang
memberi peran lebih besar kepada negara
dalam penyelenggaraan sistem jaminan sosial
(social security) secara terencana, melembaga
dan berkesinambungan. Namun pada
perkembangan berikutnya terjadi perpaduan
antara peran negara dan swasta (dunia usaha
dan LSM) baik dalam pembiayaan maupun
pelaksanaan bentuk jaminan sosial dan
pelayanan sosial.
Hingga saat ini, negara kesejahteraan
masih dianut oleh negara maju dan
berkembang. Dilihat dari besarnya anggaran
negara untuk jaminan sosial, seperti halnya
pendekatan pembangunan lainnya, sistem
negara kesejahteraan tidaklah homogen dan
statis. Ia beragam dan dinamis mengikuti
perkembangan dan tuntutan peradaban.
Di sisi lain, pembangunan ekonomi jelas
sangat mempengaruhi tingkat kemakmuran
suatu negara. Namun, pembangunan
ekonomi yang sepenuhnya diserahkan kepada
mekanisme pasar tidak akan secara otomatis
membawa kesejahteraan kepada seluruh
lapisan masyarakat. Pengalaman negara maju
dan berkembang membuktikan bahwa
meskipun mekanisme pasar mampu
menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan
kesempatan kerja yang optimal, ia selalu gagal
menciptakan pemerataan pendapatan dan
memberantas masalah sosial.
Orang miskin dan Penyandang Masalah
Kesejahteraan Sosial (PMKS) adalah
kelompok yang sering tidak tersentuh oleh
strategi pembangunan yang bertumpu pada
mekanisme pasar. Kelompok rentan ini,
karena hambatan fisiknya (orang cacat),
kulturalnya (suku terasing), maupun
strukturalnya (penganggur), tidak mampu
merespon secepat perubahan sosial di
sekitarnya sehingga terpelanting ke pinggir
dalam proses pembangunan yang tidak adil.
Padahal negara yang dikehendaki dalam
Pembukaan UUD 1945 adalah negara yang
melindungi segenap tumpah darah Indonesia.
Sementara pembukaan UUD 1945 juga
menyatakan bahwa salah satu tujuan negara
adalah memajukan kesejahteraan umum.
Dengan
demikian
pembangunan
kesejahteraan sosial di Indonesia sesungguhnya
mengacu pada konsep negara kesejahteraan.
Dasar negara Indonesia (sila kelima Pancasila)
pun menekankan prinsip keadilan sosial dan
secara eksplisit konstitusinya (Pasal 27 dan 34
UUD 1945) mengamanatkan tanggungjawab
pemerintah
dalam
pembangunan
kesejahteraan sosial. Namun demikian, amanat
konstitusi tersebut belum dipraktekan secara
konsekuen. Penanganan masalah sosial masih
belum menyentuh persoalan mendasar.
Program-program jaminan sosial masih
bersifat parsial dan karitatif serta belum
didukung oleh kebijakan sosial yang mengikat.
Dalam konteks Indonesia, kemiskinan
tidak dapat dihapuskan hanya dengan
perlindungan sosial melalui bagi-bagi uang
kepada masyarakat. Karenanya, perlindungan
sosial harus terintegrasi dengan strategi
penanggulangan kemiskinan lainnya.
Penerapan negara kesejahteraan juga tidak bisa
hanya dilakukan oleh satu departemen saja,
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
67
isi.pmd
67
8/20/2008, 11:04 AM
misalnya Departemen Sosial, melainkan harus
dilakukan secara sinergis sedikitnya oleh
Departemen Sosial, Departemen Pendidikan
Nasional, Departemen Kesehatan, termasuk
Kementerian Perumahan Rakyat, bahkan
termasuk juga Departemen Agama di mana
di dalamnya terdapat direktorat zakat.
Pengelolaan zakat secara komprehensif dan
well-managed merupakan solusi aternatif
sebagai sumber pendanaan program-program
kesejahteraan rakyat. Sebagaimana
disampaikan pada awal bagian ini, zakat
merupakan konsep filantropi wajib bagi umat
Islam. Peruntukannya pun dikhususkan pada
pendayagunaan masyarakat miskin dan
kelompok yang membutuhkan, dengan tujuan
akhir mengangkat derajat mereka dari
kemiskinan dan kesulitan ekonomi menuju
kemapanan hidup.
Di dalam konsep zakat, setiap muslim
dibebankan kewajiban agar menyisihkan
sebagian kecil hartanya untuk disalurkan
kepada orang lain yang membutuhkan. Negara
memegang amanah pengaturan dan
pelaksanaan penyaluran dana zakat tersebut.
Selain sebagai pemegang otoritas kekuasaan,
negara sejatinya memang memiliki kewajiban
untuk memenuhi kesejahteraan rakyatnya.
Namun, amanah negara sebagai pengatur dan
pelaksana penyaluran dana zakat tersebut
bukan hanya boleh dilakukan pada negara
Islam, namun juga bisa dilakukan oleh negara
dengan sistem hukum bukan Islam.
Pengaturan pengelolaan zakat yang
dilakukan oleh negara melalui regulasi dan
kebijakan yang ada tidaklah bertentangan
dengan Pancasila. Namun pengelolaan zakat
justru merupakan implementasi dari isi
Pancasila dan UUD 1945.
•
Landasan Yuridis
Indonesia adalah negara yang beragama.
Indonesia tidak pernah anti terhadap suatu
ajaran dan kewajiban yang harus dijalankan
oleh umat beragama selama agama tersebut
mendapat pengakuan dari negara.
Kedudukan agama, hukum dan negara ini
dapat kita temukan dengan jelas dalam
pembukaan UUD 1945 dan Pancasila. Dasar
inilah yang kemudian dipertegas dalam Pasal
29 ayat (1) UUD 1945. Menurut Profesor
Hazairin, kaidah fundamental dalam pasal 29
ayat (1) dapat ditafsirkan dengan tiga hal:
(Sulaikin : 2006)
1) Semua hukum yang berlaku di
Indonesia tidak boleh bertentangan
dengan kaidah-kaidah agama bagi
pemeluk agama di tanah air ini.
2) Negara wajib menjalankan syariat
semua agama yang berlaku di
Indonesia, jika untuk menjalankan
syariat itu memerlukan bantuan
kekuasaan negara.
3) Syariat atau kewajiban agama yang
tidak memerlukan peran serta negara
merupakan kewajiban individu,
misalnya puasa, shalat dan lain
sebagainya.
Penafsiran ini memberikan ruang kepada
seluruh pemeluk agama yang diakui di
Indonesia untuk dengan bebas melaksanakan
kewajiban sesuai dengan keyakinannya,
namun tetap diselaraskan dengan hukum
nasional. Artinya ketika kewajiban agama
tersebut memerlukan peran negara dalam
penyelenggaraannya, maka hal tersebut harus
diatur dalam suatu peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia. Hal
inilah yang terjadi pada pengelolaan zakat di
Indonesia. Zakat adalah kewajiban bagi umat
Islam yang telah memenuhi syarat sebagai
muzakki sebagai sarana distribusi harta kepada
orang lain. Dikarenakan dalam
pengelolaannya zakat melibatkan banyak
pihak, maka negara memiliki otoritas untuk
mengatur pengelolaan zakat.
Berpijak dari pemahaman ini maka sudah
selayaknya jika zakat diatur secara legal oleh
negara. Strategisnya peranan zakat,
menjadikan pengelolaan zakat di Indonesia
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
68
isi.pmd
68
8/20/2008, 11:04 AM
tidak hanya sekedar perlindungan bagi umat
Islam untuk menjalankan kewajiban
agamanya, namun zakat juga diberdayakan
sebagai salah satu instrumen negara dalam
menyejahterakan rakyatnya sesuai dengan
tujuan negara.
Bergulirnya era reformasi tahun 1998,
ternyata ikut memberi warna bagi
perkembangan pengelolaan zakat di Indonesia.
Di era kepemimpinan B.J.Habibie UndangUndang Pengelolaan Zakat No.38 Tahun
1999 disahkan. Isi UU ini jauh lebih baik
dibanding peraturan-peraturan yang ada
sebelumnya. Undang-undang ini mendorong
tumbuhnya lembaga zakat baru selain lembaga
zakat yang sudah ada di pemerintah (Badan
Amil Zakat / BAZ), baik di tingkat nasional
maupun di tingkat daerah.
Meskipun demikian, UU. No. 38
Tahun 1999 ini bukanlah tanpa kelemahan.
Ada begitu banyak catatan yang harus
diperbaiki untuk meningkatkan peran zakat.
Beberapa permasalahan yang terjadi saat ini
dinilai belum mampu dijawab oleh UU ini.
Seperti belum adanya pemisahan fungsi
operator, regulator dan pengawas. Begitu juga
belum adanya kejelasan hubungan antara
lembaga zakat satu dengan lembaga zakat
lainnya. Lembaga zakat yang ada saat ini
semuanya berjalan sendiri-sendiri. Akibatnya,
potensi zakat yang besar masih belum bisa
tergali secara optimal.
Kelemahan lainnya UU No. 38 Tahun
1999 ini juga tidak memiliki peraturan
pelaksana. Undang-undang ini hanya
memberikan wewenang atribusi kepada
Keputusan Menteri mengenai susunan
organisasi dan tata kerja Badan Amil Zakat.
Maka dikeluarkanlah Keputusan Menteri
Agama Nomor 581 Tahun 1999 Tentang
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 38
Tahun 1999 Tentang Pengelolaan zakat.
Kemudian aturan yang bersifat lebih teknis
dikeluarkan keputusan Direktur Jenderal
Bimbingan Masyarakat Islam Nomor : D/291
Tahun 2000 Tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Zakat. Peraturan ini lalu dicabut
dan diganti Kepmen Agama No. 373 Tahun
2003. Munculnya Kepmen ini pun ternyata
belum bisa menjadi solusi bagi pengelolaan
zakat.
Dari beberapa penjabaran di atas, maka
dapatlah ditarik kesimpulan bahwa secara
yuridis kita membutuhkan peraturan zakat
yang baru yang lebih relevan, aplikatif dan
menyeluruh serta dapat menjawab
permasalahan zakat yang terjadi di lapangan.
•
Landasan Sosiologis
Masyarakat Indonesia mengenal zakat sejak
Islam memasuki wilayah Indonesia. Sebelum
Indonesia dijajah oleh Belanda, terdapat
beberapa kesultanan yang mencapai kejayaan
berkat dukungan dana intern dari umat Islam.
Misalnya, Kesultanan di Aceh, Sumatra Barat,
Banten, Mataram, Demak, Gowa, dan
Ternate. Kesultanan-kesultanan tersebut telah
tercatat keberhasilannya mendayagunakan
potensi umat dengan memperbaiki kualitas
ekonomi rakyat, antara lain dengan mengatur
sumber-sumber keuangan Islam seperti
pendayagunaan zakat, pemeliharaan harta
wakaf, wasiat, infak, dan shadaqah. Kegiatan
pendidikan umat, gedung-gedung sekolah, serta
nafkah guru pada umumnya ditunjang dari
dana tersebut. Bahkan beberapa kesultanan
melakukan hubungan dengan luar negeri
dengan memanfaatkan dana tersebut. Jadi
dana yang bersumber dari umat cukup
memadai untuk membiayai kepentingan umat
Islam (Abudin Nata : 1999).
Bahkan pada saat pemerintahan kolonial
Belanda mulai datang dan mengadakan upayaupaya penguasaan, zakat terutama dijadikan
sebagai sumber dana perjuangan. Kemudian
pada saat Jepang berkuasa di Indonesia, pada
awalnya mereka juga tidak memperhatikan
sumber-sumber keuangan Islam, tapi pada saat
mereka menyadari betapa besar dana yang
dapat terkumpul melalui sumber-sumber
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
69
isi.pmd
69
8/20/2008, 11:04 AM
keuangan Islam, maka Opsir Kaigun
(pimpinan Angkatan Laut Jepang) mendekati
Islam dengan cara merangkul pada ulama serta
menjanjikan tiga program dalam bidang sosial
keagamaan, salah satunya menyadarkan
pengelolaan zakat pada negara ditingkatkan
melalui MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia).
Pada tahun 1943 MIAI tersebut membangun
kantor perbendaharaan Islam atau Baitul
Maal di beberapa kota Jawa sebagai lembaga
yang akan mengumpulkan semua sumbersumber keuangan Islam termasuk zakat, akan
tetapi pada saat dana telah terkumpul banyak
ternyata hasilnya tersebut sebagian digunakan
oleh tentara Dai Nippon. Kemudian pada
tahun 1943 MIAI dibubarkan (Herry J : 1980).
Setelah masa kemerdekaan, dengan
adanya Pasal 29 ayat (1) dan Pasal 34 UUD
1945, serta dihubungkan lebih lanjut dengan
potensi zakat yang sangat besar dalam
meningkatkan perekonomian, maka perlu
pengelolaan zakat ini diatur dalam suatu
peraturan perundang-undangan. Maka pada
tahun 1968 dikeluarkanlah Peraturan Menteri
Agama No.5 Tahun 1968 yang mengatur
mengenai pembentukan Badan Amil Zakat
dan pembentukan Baitul Maal pada tingkat
pusat, propinsi, dan kabupaten/kotamadya.
Kemudian pengelolaan zakat di Indonesia
mengalami perkembangan lebih lanjut dengan
dikeluarkannya Undang-Undang No.38
Tahun 1999 mengenai Pengelolaan Zakat
(UUPZ).
Pada tahun 1990-an, beberapa
perusahaan dan masyarakat membentuk
Baitul Maal atau lembaga zakat yang bertugas
mengelola dana ZIS (zakat, infaq dan sedekah)
dari karyawan perusahaan yang bersangkutan,
dari masyarakat seperti misalnya Dompet
Dhu’afa Republika (DDR). Pada tahun 1997,
DDR menggelar seminar zakat perusahaan di
Jakarta yang pesertanya lebih dari seratus
orang, dan 70 % mewakili Baitul Maal lembaga
zakat dari berbagai perusahaan. Setelah
berakhirnya seminar tersebut, atas keinginan
peserta, maka lahirlah suatu asosiasi yang
mewadahi dan menjadi pusat informasi dan
perkembangan zakat bernama Forum Zakat
(FOZ).
•
Landasan Ekonomi
Di Negara Republik Indonesia keadilan
sosial bagi warga negaranya merupakan sesuatu
yang dicita-citakan. Keadilan di Indonesia tidak
hanya menyangkut keadilan ekonomi,
melainkan keadilan dalam segala bidang seperti
keadilan hukum, politik dan sosial, karena
memang semuanya menyangkut kesejahteraan
sosial. Sebagai aspek yang mempengaruhi
kesejahteraan masyarakat, keadilan ekonomi
dan keadilan sosial keduanya erat berkaitan.
Ekonomi yang kuat akan menunjang
kesejahteraan sosial dan masyarakat juga akan
merasakan manfaat dari kekuatan ekonomi
itu secara merata. Namun, keadilan dalam
berbagai bidang masih jauh dari jangkauan,
apalagi keadilan ekonomi. Berbagai
ketimpangan telah terjadi di Indonesia
termasuk di bidang ekonomi.(Uswatun
Hasanah : 2000). Sekitar 80% penerimaan
negara dihimpun dari sektor pajak, dari
penerimaan negara keseluruhan dibagi dalam
belanja pemerintah pusat, belanja daerah,
keseimbangan primer, surplus/defisit anggaran,
pembiayaan dalam negeri dan pinjaman luar
negeri. Secara eksplisit anggaran untuk rakyat
miskin belum menjadi prioritas bagi
pemerintah. Walaupun Departemen Sosial
menyediakan anggaran tersendiri, penyerapan
anggaran tidak cukup menjangkau banyaknya
rakyat miskin yang ada.
Menyikapi permasalahan ini, zakat dapat
dijadikan salah satu sarana potensial untuk
membantu pemerintah dalam mendistribusikan
kekayaan dan memeratakan pendapatan, yang
dapat berimplikasi pada peningkatan taraf
hidup masyarakat. Setidaknya ada beberapa
potensi ekonomi dalam zakat yang dapat
dimanfaatkan dan dilaksanakan di Indonesia.
Potensi tersebut meliputi :
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
70
isi.pmd
70
8/20/2008, 11:04 AM
•
Potensi Material
Berdasarkan penelitian PIRAC (Public
Interest Research and Advocacy Center), potensi
zakat pada tahun 2007 meningkat dari potensi
zakat ada tahun 2004 yakni dari Rp. 4,45
triliun menjadi sebesar Rp. 9,09 triliun. Dalam
jumpa pers, Hamid Abidin, Koordinator
Program PIRAC, menjelaskan bahwa survei
yang dilakukan PIRAC mengungkapan jumlah
rata-rata zakat yang dibayarkan para muzakki
meningkat dari Rp. 416.000,- per orang per
tahun pada tahun 2004 menjadi Rp.
684.550,- per orang per tahun pada tahun
2007.
Hamid Abidin juga menyatakan bahwa
tingkat kesadaran muzakki terhadap kewajiban
membayar zakat pun meningkat, dari 49, 8
persen pada 2004 menjadi 55 persen pada
2007 dan sebesar 95, 5 persen muzakki yang
sadar akan kewajibannya terhadap zakat
mengaku menunaikan ibadahnya itu. Namun
dana zakat tersebut sebagian besar belum
terkordinir dengan baik, dan mayoritas
penyalurannya lewat masjid atau musholla
dengan cara-cara konvensional.
Pada tahun 2005 PBB UIN Jakarta juga
memperkirakan potensi zakat masyarakat
Indonesia sebesar 19.3 triliun. Bahkan Jamal
Doa pernah menghitung potensi zakat
masyarakat Indonesia mencapai 85 triliun.
•
Potensi Spiritual
Menurut Al Ghazali dan Al Syatibi tujuan
syari’at Islam adalah untuk meningkatkan
kesejahteraan seluruh umat manusia, yang
terletak pada perlindungan agama (din), jiwa
(nafs), akal (aqal), keturunan (nasab), dan
kekayaan (mal) (Al Ghazali : 1937). Begitu juga
M.Umer Chapra. Ia mengatakan keimanan
dan kekayaan keduanya penting bagi
kesejahteraan manusia, karena keimanan
membantu menimbulkan disiplin untuk
mencari dan membelanjakan harta, sehingga
dimungkinkan akan berfungsi lebih efektif dan
otomatis dalam melindungi kepentingan sosial
(Umer Chapra : 2004). Sebagai salah satu
instrumen dalam pranata Islam, potensi zakat
yang besar tidak semata-mata hanya lahir dari
besaran dana yang dibayarkan yang kemudian
disalurkan kepada kaum mustahik tapi juga
karena jenis-jenis harta yang dikenai zakat.
Yusuf Qardawi juga mengklasifikasikan
jenis-jenis kekayaan yang dapat dikenai
kewajiban zakat, meliputi binatang ternak,
emas dan perak, kekayaan dagang, hasil
pertanian, barang tambang dan hasil laut,
pencarian dan profesi, investasi pabrik,
gedung, saham dan obligasi serta atas harta
lainnya.
C. RUANG LINGKUP
Kelembagaan Zakat
Pada dasarnya tidak ada struktur
organisasi pengelolaan zakat yang baku di
dunia ini. Masing-masing negara yang memiliki
kelembagaan zakat memiliki model yang
berbeda-beda. Meskipun demikian, secara
umum pola pengelolaan itu bisa dikategorikan
ke dalam dua kelompok. Pertama adalah
kelompok negara-negara yang mengelola zakat
berdasarkan prinsip kesukarelaan, voluntary
basis. Negara-negara yang masuk dalam
kategori ini umumnya adalah, negara-negara
yang meski mayoritas penduduknya adalah
pemeluk agama Islam tetapi hukum Islam tidak
menjadi landasan dasar negara dan
pemerintahannya, seperti di Malaysia, Mesir.
Dan berdasarkan UU No. 38 Tahun 1999
tentang Pengelolaan Zakat, negara Indonesia
termasuk dalam gugus ini. Kedua, adalah
kelompok negara-negara yang mengelola zakat
berdasarkan prinsip kewajiban, compulsory
basis. (Abidin Salam : 1990).
Pada model ini, negara atau lembaga resmi
yang ditunjuk untuk mengelola zakat dapat
memaksakan pembayaran zakat kepada
muzakki berdasarkan ketentuan undangundang. Umumnya negara-negara yang
menerapkan sistem ini adalah negara yang
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
71
isi.pmd
71
8/20/2008, 11:04 AM
memang menjadikan syariah Islam sebagai
hukum dasar di negaranya seperti Saudi
Arabia dan Sudan. Dalam model yang kedua
ini, meski menerapkan sistem pembayaran
wajib, namun bukan berarti pembayaran
seluruh harta yang wajib dizakati berdasarkan
syariah harus dibayarkan kepada pemerintah
sebagaimana terjadi di masa kekhalifahan.
Sistem pembayaran wajib hanya berlaku pada
harta dzahir, sedangkan terhadap harta
bathiniyah masih dilakukan secara sukarela,
artinya para muzakki yang hendak
membayarkan zakat harta bathinnya boleh
memilih untuk membayarkan zakatnya kepada
lembaga pemerintah atau membayarkannya
secara langsung secara pribadi maupun melalui
lembaga-lembaga swasta.
Indonesia dengan Undang-Undang No.
38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat
menggunakan sistem sukarela. Model
kelembagaan yang dianut adalah multi
lembaga yang tidak memisahkan fungsi
pengumpulan dan pendistribusian. Terdapat
dua subyek pengelola zakat, yaitu pengelola
zakat formal (pemerintah) dan non-formal
(masyarakat). Lembaga formal pengelola zakat
adalah Badan Amil Zakat (BAZ) yang
dibentuk di tingkat nasional, provinsi,
kabupaten/kota, dan kecamatan. UU No 38
tahun 1999 juga memberikan kewenangan
kepada Lembaga Amil Zakat (LAZ) untuk
melakukan pengelolaan zakat.
Untuk mewujudkan Organisasi
Pengelolaan Zakat (OPZ) yang memenuhi
kriteria yang ideal kita dapat mengambil
presedennya dari badan yang disebut dengan
“KOMISI NEGARA”.
Keberadaan Komisi Negara
Sesuai dengan definisi komisi negara
independen di atas, saat ini di Indonesia telah
ada 13 komisi negara independen (independent
regulatory agencies) yang pembentukannya
didasarkan pada peraturan perundangundangan. Komisi negara tersebut terdiri atas:
Komisi Yudisial, Komisi Pemilihan Umum,
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Komisi
Nasional Anti Kekerasan Terhadap
Perempuan, Komisi Pengawas Persaingan
Usaha, Komisi Ombudsman Nasional, Komisi
Penyiaran Indonesia, Komisi Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi (KPK), Komisi
Perlindungan Anak, Komisi Kebenaran dan
Rekonsiliasi, Dewan Pers, Dewan Pendidikan,
Pusat Pelaporan & Analisis Transaksi
Keuangan.
Sebelumnya juga ada Komisi Pemeriksa
Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN).
Namun, setelah berdirinya KPK, keberadaan
KPKPN ini kemudian dihapuskan. Meski
keputusan untuk membubarkan KPKPN
tersebut cenderung kental dengan nuansa balas
dendam anggota DPR yang merasa terganggu
dengan ’galaknya’ kerja KPKPN; namun, harus
diakui, penyatuan KPKPN ke dalam KPK
adalah langkah efisiensi yang cukup tepat.
Selain komisi negara independen, ada
beberapa lembaga lain, namun bertanggung
jawab kepada presiden –atau merupakan
bagian dari eksekutif– sehingga merupakan
komisi negara eksekutif (executive branch
agencies). Komisi atau lembaga negara itu,
beserta dasar hukumnya, berada di bawah
atau bertanggung jawab kepada Presiden atau
menteri.
Lembaga ini meliputi; Komisi Hukum
Nasional Komisi Kepolisian, Komisi Kejaksaan,
Dewan Pembina Industri Strategis, Dewan
Riset Nasional, Dewan Buku Nasional, Dewan
Maritim Indonesia, Dewan Ekonomi
Nasional, Dewan Pengembangan Usaha
Nasional, Komite Nasional Keselamatan
Transportasi, Komite Antar Departemen
Bidang Kehutanan Komite Akreditasi
Nasional, Komite Penilaian Independen,
Komite Olahraga Nasional Indonesia, Komite
Kebijakan Sektor Keuangan, Komite Standar
Nasional untuk Satuan Ukuran, Komite Aksi
Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk
Pekerjaan Terburuk untuk Anak, Tim
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
72
isi.pmd
72
8/20/2008, 11:04 AM
Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan,
Dewan Gula Nasional, Dewan Ketahanan
Pangan, Dewan Pengembangan Kawasan
Timur Indonesia, Dewan Pertimbangan
Otonomi Daerah, Dewan Pertahanan
Nasional, Badan Narkotika Nasional,
Bakornas Penanggulangan Bencana &
Pengungsi, Badan Pengembangan Kapet,
Bakor Pengembangan TKI, Badan Pengelola
Gelora Bung Karno, Badan Pengelola Kawasan
Kemayoran, Badan Rehabilitasi dan
Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan
Masyarakat Propinsi NAD dan Kep. Nias
Sumatera Utara, Badan Nasional Sertifikasi
Profesi, Badan Pengatur Jalan Tol, Badan
Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan
Air Minum, Lembaga Koordinasi dan
Pengendalian Peningkatan Kesejahteraan Sosial
Penyandang Cacat, Lembaga Sensor Film,
Korsil Kedokteran Indonesia, Badan Pengelola
Puspiptek, Badan Pengembangan Kehidupan
Bernegara, Dewan Penerbangan dan
Antariksa Nasional
Untuk pengaturan zakat, kami
mengusulkan bentuk yang paling ideal saat ini
adalah Komisi Negara. Melalui UndangUndang Zakat yang baru nanti pembentukan
lembaga negara non departemen sangat
dibutuhkan. Bentuknya berupa Badan
Koordinasi Pengelolaan Zakat / BKPZ).
Badan Koordinasi Pengelolaan Zakat
Badan Koordinasi Pengelolaan Zakat
(BKPZ) ini nantinya berfungsi sebagai badan
yang melakukan pengaturan dan pengawasan
secara keseluruhan. Ia memiliki kewenangan
delegatif untuk mengeluarkan regulasi-regulasi
tentang zakat. Baik berkaitan dengan nisab
dan kadar zakat, penentuan kriteria mustahik,
pengaturan pendistribusian dan lain
sebagainya. Keberadaan BKPZ juga berperan
membuat pengaturan berkaitan dengan aspek
pengumpulan, pencatatan, pelaporan dan
pendayagunaan zakat.
Dengan demikian secara rutin BKPZ akan
dapat mengeluarkan peraturan-peraturan
baru yang mengikat terhadap operasionalisasi
lembaga pengelola zakat. Seperti halnya peran
Bank Indonesia (BI). Secara periodik Bank
Indonesia dapat mengeluarkan peraturan
baik berupa Surat Edaran (SE), Surat
Ketetapan (SK) dan bentuk peraturan lainnya.
Peraturan BI harus ditaati oleh bank, baik
swasta maupun bank pemerintah.
Salah satu contoh negara yang memiliki
pengaturan zakat tersendiri adalah Pakistan.
Melalui Ordonansi Zakat dan Ushr tahun
1980 Pakistan mendirikan lembaga Dewan
Sentral Zakat (Central Zakat Council/CZC)
dan lembaga Administrasi Sentral Zakat
(Central Zakat Administration). CZC
merupakan lembaga yang memiliki
kewenangan membentuk peraturan tertinggi
dan kebijakan tertinggi dalam hal zakat.
Sedangkan CZA memiliki kewenangan untuk
membuat peraturan pelaksanaan yang lebih
mendetail mengenai pelaksanaan,
pengumpulan, pendistribusian, pengelolaan
zakat termasuk aturan audit, keuangan dan
sistem operasi zakat. Nah, nantinya BKPZ
diharapkan memiliki kewenangan tersebut
ditambah kewenangan merumuskan kebijakan
tertinggi pengelolaan zakat.
Fungsi lainnya yang diharapkan ada pada
BKPZ adalah pengawasan. BKPZ memastikan
bahwa
peraturan-peraturan
yang
dikeluarkannya berjalan dengan baik. BKPZ
melakukan pengawasan atas pengelolaan zakat
apakah pengelolaan sesuai dengan syariah dan
peraturan, apakah ia berjalan sesuai prinsipprinsip keuangan, pencatatan, akuntabilitas,
dan apakah berjalan dan dikelola secara
ekonomis.
Dalam kaitannya dengan fungsi
pengaturan dan pengawasan, maka BKPZ-lah
yang memiliki kewenangan memberikan izin
atas Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang
menjalankan fungsi pengelolaan zakat. BKPZ
yang menentukan syarat-syarat pendirian LAZ,
standar operasional LAZ, sistem
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
73
isi.pmd
73
8/20/2008, 11:04 AM
pertanggungjawaban publik LAZ. BKPZ tidak
hanya menjadi regulator bagi operasi LAZ
tetapi juga pengawas LAZ. Dengan demikian
kepercayaan publik, akuntabilitas, integritas
dan profesionalitas pengelolaan zakat oleh
LAZ akan tetap terjaga.
Dengan demikian, di dalam paper ini kami
mengusulkan keberadaan operator
(penghimpun dan pengelola zakat) hanya
dilakukan oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ).
Sementara keberadaan Badan Amil Zakat
(BAZ) yang sekarang ada, akan didorong
sepenuhnya menjadi fungsi regulator dan
pengawas. Atau perwujudan dari BKPZ.
Nah, jika keberadaan BAZ, baik Baznas
maupun Bazda ingin tetap mengelola zakat,
maka mereka harus merubah lembaganya
menjadi LAZ.
Struktur BKPZ
Struktur BKPZ menyesuaikan diri dengan
pembagian wilayah berdasarkan prinsipprinsip
otonomi
daerah
untuk
mengoptimalisasikan peranannya, dengan
beberapa penyesuaian dilihat berdasarkan
prinsip administrasi zakat yang efisien, efektif
dan ekonomis. BKPZ terdiri dari BKPZ
Nasional , BKPZ Propinsi dan BKPZ
Kabupaten/Kota.
BKPZ Nasional merupakan Komisi Negara
yang pembentukannya berdasarkan UU.
Kemudian BKPZ Propinsi dibentuk oleh
BKPZ Nasional, di mana BKPZ Nasional juga
memiliki kewenangan untuk menentukan
wilayah operasional BKPZ Propinsi. Dengan
demikian sangat mungkin suatu BKPZ
Propinsi demi efisiensi sepanjang tugasnya
dapat dilaksanakan secara efektif dapat
mencakup lebih dari satu propinsi. Adapun
BKPZ Kabupaten/Kota didirikan oleh BKPZ
Propinsi dengan kewenangan menentukan
wilayah BKPZ Kabupaten/Kota.
BKPZ Nasional adalah lembaga satusatunya yang berwenang mengeluarkan
peraturan perundang-undangan di bawah
Undang-Undang yang mengatur mengenai
pengelolaan zakat. Adapun BKPZ Propinsi
dan BKPZ Kabupaten/Kota hanya memiliki
kewenangan pengaturan yang sifatnya
kebijakan dan berlaku hanya pada wilayah
kewenangannya
saja.
Pola
pertanggungjawaban pada komisi ini adalah
pola bertingkat. BKPZ Kabupaten/Kota
bertanggungjawab kepada BKPZ Propinsi.
BKPZ Propinsi bertanggungjawab kepada
BKPZ Nasional. BKPZ Nasional
bertanggungjawab kepada DPR RI.
BKPZ Kabupaten/Kota memiliki
kewenangan memberikan serta mencabut izin
operasional kepada BKPZ Kabupaten/Kota,
dan melakukan pengawasan terhadap
pengelolaan zakat. BKPZ Kabupaten/Kota
juga memiliki kewenangan mengkoordinasikan
LAZ-LAZ Kabupaten/Kota dalam
pengumpulan dan terutama pendistribusian
zakat. Selain itu BKPZ Kabupaten/Kota juga
memiliki tugas edukasi masyarakat dan
meningkatkan kesadaran masyarakat atas
kewajiban membayar zakat.
BKPZ Propinsi memiliki kewenangan
untuk memberikan serta mencabut izin
operasional kepada LAZ Propinsi, dan
melakukan pengawasan terhadap pengelolaan
zakat di tingkat propinsi. BKPZ Propinsi juga
memiliki kewenangan mengkoordinasikan
LAZ-LAZ Propinsi. Selain itu pembinaan
BKPZ Kabupaten/Kota dan edukasi
masyarakat juga menjadi tugas dari BKPZ
Propinsi.
BKPZ Nasional selain mempunyai
kewenangan membentuk peraturan
perundang-undangan juga memiliki
kewenangan menentukan kebijakan nasional
zakat, melakukan pengawasan kepada LAZLAZ Nasional, dan melakukan pembinaan
dan mengkoordinasikan BKPZ-BKPZ
Propinsi.
Untuk optimalisasi potensi zakat yang ada
di Indonesia perlu ekspansi wilayah potensi.
Salah satunya adalah pemberian insentif pajak
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
74
isi.pmd
74
8/20/2008, 11:04 AM
di mana zakat dapat mengurangi pajak
sebagaimana yang dilaksanakan di Malaysia.
Oleh karenya diperlukan koordinasi yang baik
antara Departemen Agama, Departemen
Sosial dan Departemen Keuangan. Upaya
koordinasi ini dapat diwujudkan dengan
mengisi komposisi SDM di BKPZ Nasional.
Di BKPZ, masing-masing mewakilkan satu
utusan departemen terkait sebagai anggota
dalam komisi negara tersebut. Di samping juga
tentunya ulama, cendikiawan, tokoh
masyarakat, praktisi keuangan, akademisi dan
komposisi lain yang bisa mendukung BKPZ.
Peran serta masyarakat terutama praktisi yang
berkecimpung di bidang perzakatan juga harus
diakomodir sebagai bentuk partisipasi
masyarakat dalam per wujudan good
governance. Dengan demikian BKPZ Nasional
terdiri dari unsur pemerintah, ulama, dan
masyarakat, dengan komposisi 3:6:4. BKPZ
Nasional dibantu oleh sekretariat jenderal
untuk urusan administrasi perkantorannya.
Sedangkan BKPZ Propinsi, unsur
pemerintah diwakili oleh Gubernur atau
utusan Pemerintah Propinsi. Unsur ulama dan
masyarakat dengan perbandingan 4:2.
Adapun BKPZ Kabupaten/Kota terdiri dari
Bupati/Walikota atau utusannya ditambah
2 wakil ulama dan 2 wakil masyarakat.
Keseluruhan tingkatan dibantu oleh
Sekretariat Jenderal masing-masing.
Hubungan Antara BKPZ dengan LAZ
Administrasi pengelolaan zakat yang baik
membutuhkan pembagian peran dan fungsi
pengelolaan, pengawasan, koordinasi, dan
pengaturan serta pola hubungan antar subyeksubyek pengelola. Inilah salah satu kelemahan
UU No. 38 tahun 1999. Termasuk juga tidak
adanya pengawasan yang ketat baik kepada
lembaga zakat pemerintah maupun swasta.
Keberadaan Badan Pengawas yang ada di BAZ
selama ini hanya bersifat internal saja. Ia hanya
melakukan pengawasan yang sifatnya prefentif.
Padahal pengelolaan zakat membutuhkan sifat
pengawasan yang tidak sekedar prefentif tetapi
juga korektif. Dengan tidak optimalnya fungsi
pengawas yang ada di dalam struktur BAZ,
maka keberadaan BKPZ sangat penting
dimunculkan.
Dengan struktur BKPZ dan LAZ maka
fungsi Pengaturan dan Pengawasan akan
dilakukan oleh BKPZ, sementara pengelola
zakat diperankan oleh LAZ sesuai dengan
aturan yang telah ditetapkan oleh BKPZ.
Hubungan antara keduanya dilakukan
berdasarkan wilayah kewenangannya. LAZLAZ Kabupaten/Kota diawasi dan
dikoordinasikan oleh BKPZ Kabupaten/Kota.
LAZ-LAZ Propinsi di bawah BKPZ Propinsi
dan LAZ-LAZ Nasional diawasi dan
dikoordinasikan oleh BKPZ Nasional.
Struktur pengelolaan zakat yang diusulkan
ini akan membentuk piramida organisasi
pengelola zakat. Struktur ini memungkinkan
tumbuhnya LAZ-LAZ di tingkat Kabupaten/
Kota. Kemudian LAZ-LAZ Propinsi dalam
proporsi yang lebih ramping, dan pada
puncaknya adalah LAZ-LAZ Nasional. Kunci
agar memastikan piramida ini dapat berjalan
maka perlu pengaturan persyaratan
pembentukan pada masing-masing tingkatan
oleh BKPZ Nasional. Salah satu tujaun dari
pengaturan semacam ini adalah untuk
memastikan transformasi perilaku masyarakat
yang masih menjalankan kewajiban zakatnya
secara tradisional dapat tetap berjalan dengan
baik.
Pengumpulan, Pendistribusian,
Pendayagunaan, dan Sanksi
•
Pengumpulan
Dalam pengumpulan zakat, peran LAZ
sangat penting. LAZ merupakan pelaksana
utama pengumpulan zakat di tingkat nasional,
provinsi, kabupaten/kota, bahkan luar negeri.
Selain itu, LAZ dimungkinkan membentuk
unit-unit pengumpul zakat sebagai unit
pembantu pelaksana pengumpulan zakat.
Dengan demikian, nantinya akan ada lebih
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
75
isi.pmd
75
8/20/2008, 11:04 AM
dari satu LAZ di Indonesia. Dengan demikian
muzakki memiliki keleluasaan dalam memilih
lembaga amil mana yang akan dipercaya untuk
mengumpulkan dan menyalurkan dana
zakatnya. Sementara LAZ akan terpacu dan
berlomba berinovasi untuk menggaet muzakki.
Dari sisi muzakki juga akan sangat
terbantu. Karena dengan banyaknya LAZ
akan memudahkan mereka menghitung harta
yang hendak dizakati. Muzakki juga akan
menerima bukti pembayaran zakat dengan
mudah. Seperti mereka membayar pajak.
Begitu selesai membayar pajak lalu mereka
menerima bukti pembayarannya. Bukti
pembayaran tersebut nantinya akan dipakai
sebagai bukti bahwa muzakki telah
melaksanakan kewajibannya melaksanakan
zakat sehingga zakat tersebut bisa menjadi
unsur pengurang pajak penghasilan.
•
Pendistribusian dan Pendayagunaan
Agar dana zakat yang disalurkan dapat
berdayaguna dan berhasil guna maka
pemanfaatannya harus selektif. Sedapat
mungkin digunakan untuk memenuhi
kebutuhan yang bersifat produktif tanpa
meninggalkan pemenuhan kebutuhan
konsumtif. Hal lain yang perlu diperhatikan
juga adalah kebutuhan mustahik. Di beberapa
ayat di Alquran disebutkan bahwa
pembayaran zakat di utamakan untuk
mustahik yang ada di lingkungan muzakki.
Namun, pemerataan kebutuhan mustahik
di seluruh pelosok juga perlu diperhatikan.
Untuk itu, pendistribusian dan
pendayagunaan zakat, termasuk harta selain
zakat, dilakukan oleh LAZ dengan
memperhatikan ; berdasarkan pada database
yang ada di BKPZ, berdasarkan skala prioritas
kebutuhan mustahik sesuai pedoman
pendistribusian dan pendayagunaan zakat
yang ditetapkan oleh BKPZ Nasional. Dalam
mengelola zakat, LAZ wajib mencatat data
pengumpulan, pendistribusian, dan
pendayagunaan zakat dan harta selain zakat.
•
Pengawasan
Dalam struktur kelembagaan pengelolaan
zakat, fungsi pengawasan lembaga mutlak
diperlukan. Hal ini dilakukan guna menjaga
kewenangan yang diberikan kepada lembaga
pengelola zakat agar tidak merugikan
kepentingan publik. Dengan adanya
pengawasan dan mekanisme kontrol yang jelas,
penyimpangan hukum dan penyalahgunaan
kewenangan dapat dicegah atau setidaknya
direduksi.
Ada tiga aspek yang terkait dengan
masalah pengawasan dan mekanisme kontrol
secara umum. Pertama adalah metode
pendekatan dalam pengawasan, kedua adalah
pelaksana pengawasan, dan ketiga, obyek yang
diawasi. Metode pendekatan dalam
pengawasan dapat dilakukan secara preventif,
detektif dan represif. Sementara pelaksanaan
pengawasan dapat dibuat mekanisme kontrol
yang proporsional dan obyektif, baik secara
internal lembaga maupun ekternal lembaga.
Sedangkan obyek yang diawasi meliputi aspek
syariah, aspek keuangan dan aspek ekonomi.
Di samping aspek-aspek di atas,
pengawasan juga penting dilakukan oleh
masyarakat secara umum. Sebab peran serta
masyarakat dalam praktik penyelenggaraan
pemerintahan demokrasi akan memperkuat
posisi tawar rakyat. Peran serta masyarakat
dalam
praktik
penyelenggaraan
pemerintahan, demokrasi juga menempatkan
pola hubungan yang bersifat permanen antara
pihak pemerintah yang mendapat mandat
rakyat untuk menjalankan pengelolaan
pemerintahan negara dan daerah dan rakyat
selaku pemilik kedaulatan sejati. Tuntutan
untuk mewujudkan good governance
merupakan keniscayaan seiring dengan
perkembangan demokrasi dan reformasi.
•
Sanksi
Dalam melaksanakan kewajiban, umat
Islam membutuhkan peran serta pemerintah.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
76
isi.pmd
76
8/20/2008, 11:04 AM
Zakat tidak akan pernah dapat terlaksana
dengan baik, kecuali dengan adanya dukungan
dan peran pemerintah. Jika zakat telah secara
legal diatur dalam peraturan perundangundangan yang berlaku, maka implikasinya
adalah adanya kewajiban seluruh warga negara
yang beragama Islam dan telah memenuhi
syarat sebagai muzakki untuk mengeluarkan
zakat. Dalam konteks ini, suatu hal yang
memaksa, apabila ditinggalkan akan
mendapatkan konsekuensi secara hukum. Hal
inilah yang sering kita sebut dengan sanksi.
Beberapa ahli hukum berpendapat bahwa
adanya sifat memaksa dalam hukum
menyebabkan sanksi menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dari penegakan hukum itu sendiri.
Sebenarnya sanksi bukanlah suatu keharusan,
itu sebabnya tidak seluruh peraturan
mencantumkan adanya sanksi. Namun pada
kenyataannya peraturan yang tidak memuat
sanksi amat mudah dilanggar dan justru
menjadi peraturan yang mandul.
Islam telah menggariskan konsepnya
sendiri. Islam memandang bahwa pemberian
sanksi merupakan bagian dari penegakan
syariah, terutama ibadah zakat. Rasulullah
SAW pernah memberikan pelajaran penting
mengenai sanksi bagi muzakki yang tidak
membayar zakat. Suatu hari ada orang Badui
yang datang menghadap Rasulullah SAW dan
menyampaikan perilaku petugas pemungut
zakat yang berlaku kasar. Namun Rasulullah
SAW justru meminta orang tersebut untuk
melayani petugas pemungut zakat tersebut
dengan baik. Sejak saat itu petugas pemungut
zakat yang ditugaskan selalu pulang dengan
mudah. Namun demikian tidak satu pun dari
mereka yang menarik denda dari para muzakki
yang lalai. Apabila muzakki tersebut ingkar
zakat mereka hanya akan memaksa muzakki
untuk mengeluarkan hartanya.
Ketentuan di atas menjadi landasan
berpikir kita dalam menentukan sanksi yang
tepat bagi muzakki yang tidak membayar zakat.
Dalam konsep hukum Islam, hukuman bagi
muzakki yang tidak membayar zakat memang
tidak ditentukan di dalam Al Qur’an dan
Hadis. Al Qur’an dan Hadis hanya
memerintahkan penguasa untuk mengambil
harta zakat, apabila muzakki tidak mau
diambil zakatnya, maka ia akan dihukum
langsung oleh azab Allah. Muzakki tidak diqisas melainkan hanya di-ta’zir. Hukuman
ta’zir diserahkan kewenangannya kepada
pemerintah untuk memutuskan bentuk dan
jenisnya.
Berdasarkan hal tersebut, maka sanksi yang
akan diberikan harus dibedakan antara sanksi
bagi muzakki maupun amil, bahkan sanksi bagi
mustahik. Sanksi bagi mustahik diberikan
apabila mustahik memberikan keterangan
palsu mengenai keadaan dirinya. Sedangkan
pelanggaran bagi muzakki ada beberapa
macam bentuknya, di antaranya, muzakki
memberikan keterangan yang salah kepada
petugas zakat, muzakki curang dalam
melakukan penghitungan zakat, muzakki lalai
dalam pembayaran zakat dan muzakki tidak
mau bayar zakat.
Sedangkan bagi Lembaga Amil Zakat, ada
beberapa pelanggaran yang mungkin terjadi.
Pelanggaran ini di antaranya: Lembaga Amil
Zakat melakukan kesalahan dalam
pencatatan, Lembaga Amil Zakat melanggar
prosedur atau peraturan perundangundangan yang berlaku, Lembaga Amil Zakat
melakukan penyelewengan dana zakat. Terkait
dengan hal ini maka sanksi yang diberikan
kepada Lembaga Amil Zakat yang mungkin
antara lain : Bagi Lembaga Amil Zakat yang
melanggar prosedur ; diberikan surat
peringatan, penurunan status LAZ,
pembekuan LAZ, pencabutan izin dan
pembubaran LAZ
Sementara bagi Lembaga Amil Zakat yang
lalai dalam pencatatan akan dikenakan denda,
bagi Lembaga Amil Zakat yang melakukan
penyelewengan dana zakat dikategorikan
sebagai penggelapan dan akan diancam
pidana berupa denda/kurungan penjara.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
77
isi.pmd
77
8/20/2008, 11:04 AM
Setelah membahas mengenai sanksi para
amil, muzakki dan mustahik, maka pertanyaan
yang harus dijawab selanjutnya adalah siapakah
yang berhak untuk memberikan sanksi.
Apabila pelanggaran yang dilakukan adalah
pelanggaran administratif dan sanksi yang
diberikan adalah sanksi administratif, maka
sanksi diberikan oleh BKPZ. Sedangkan untuk
sanksi pidana hanya dapat diberikan setelah
adanya proses di pengadilan.
Penutup
Memberi ruang gerak yang lebih luas bagi
partisipasi publik merupakan ciri negara yang
menjunjung tinggi civil society. Di dalam konsep
civil society terpancar semangat partisipatif dari
masyarakat. Sementara peran negara harus
dikurangi karena masyarakat telah mampu
mengatur dirinya sendiri. Melalui Naskah
Akademik (academic paper) yang kami usulkan
ini, kami ingin berpartisipasi dalam
penyusunan RUU Zakat yang baru. Maksud
dan tujuan kami tidak lain kecuali turut serta
berpartisipasi dalam penataan kelembagaan
zakat di tanah air ini. Karena kami yakin, ketika
kelembagaan zakat dapat tertata dengan baik
maka potensi zakat yang besar akan dapat
tergali secara optimal.
Naskah Akademik merupakan sesuatu
yang mutlak bagi penyusunan RUU
(Rancanangan Undang-Undang). Oleh
karenanya, dalam rangka mendukung
lahirnya UU Zakat yang isinya pro terhadap
aspirasi masyarakat, maka perlu kami dukung
dengan membuat Naskah Akademik ini.
Semoga bermanfaat.
:
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
78
isi.pmd
78
8/20/2008, 11:04 AM
Pentingnya Penataan
Kelembagaan Zakat
Demi Perbaikan di Masa
Mendatang
Sahri Muhammad
Abstrak
Ibadah zakat, infak, sedekah dan wakaf (ZISWAF) bukan hanya membawa pesan ritual
namun juga memiliki pesan sosial dan pesan bagi pembangunan ekonomi. Sementara
pembangunan ekonomi yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW adalah pembangunan
dengan sistem pemerataan. Sehingga hasilnya dapat dinikmati baik oleh golongan kaya
maupun masyarakat miskin. Pesan ini sama seperti pesan yang terkandung di dalam konsep
demokrasi. Di mana “menafkahkan sebagian harta” untuk menunjang pembangunan dapat
dilakukan oleh swasta maupun pemerintah. Kelembagaan dan tujuan pengelolaan ZISWAF
adalah untuk mengupayakan masyarakat miskin agar mencapai tingkat hadd al kifayah
secara berkelanjutan. Paradigma penyaluran zakat, infak dan sedekah (ZIS) yang dicontohkan
oleh Nabi Muhammad SAW dan Khalifah Umar ra adalah menggunakan paradigma “people
centered”, yaitu pengumpulan dilakukan secara nasional atau regional, namun penyaluran
dilaksanakan secara lokal.
Kata kunci : hadd al kifayah, sistemik, kelembagaan, paradigma dan “people centered”.
Z
Pendahuluan
akat, infak, sedekah dan wakaf
(ZISWAF) sebagai salah satu bentuk
peribadatan, memiliki pesan mulia
yakni mengedepankan nilai-nilai sosial dan
pembangunan ekonomi di samping pesanpesan ritual. Pembangunan ekonomi yang
dilakukan Nabi Muhammad SAW, tampak
jelas berorientasi kerakyatan dan
mengedepankan tindakan agar peredaran
harta dan kesejahteraan (hadd al kifayah) bisa
dinikmati oleh kaum aghniya (the have)
maupun kaum miskin.
“Apa saja harta rampasan (fa’i) yang diberikan
Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari
penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah,
Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orangorang miskin dan orang-orang yang dalam
perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar
di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka
terimalah itu. Dan apa yang dilarang bagimu
maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya.” (Al Hasyr : 7)
Ayat ini memiliki pesan yang sangat penting
terutama bagaimana harta benda yang dimiliki
seseorang dimanfaatkan dengan sebaikbaiknya. Pesan tersebut meliputi :
(1) Harta cenderung berputar di antara
orang kaya saja. Dalam ilmu ekonomi dikenal
adanya “arus lingkar (circulation flow)” harta
(Muhamad : 2006, hal. 89, Arsyad : 1999,
hal. 3) sebagai berikut :
(a) Gerak pertama merupakan gerak
lingkar harta dalam rumah tangga produsen
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
79
isi.pmd
79
8/20/2008, 11:04 AM
/ pengusaha sebagai penyedia pekerjaan.
Akumulasi keuntungan menjadikan “harta
berputar” di antara para pemilik modal.
(b) Gerak kedua merupakan gerak
lingkar harta dalam rumah tangga lembaga
keuangan / bank sebagai penyedia modal.
Akumulasi keuntungan dari bunga bank atau
keuntungan (bank syari’ah) menjadikan “harta
berputar” di antara pemilik modal bank.
(c) Gerak ketiga merupakan gerak
lingkar dalam rumah tangga negara sebagai
penyedia pelayanan publik. Akumulasi “kolam
pajak” menjadikan harta berputar di antara
“para elite politik dan birokrasi negara”.
(2) Supaya harta tidak hanya berputar
di antara orang kaya saja, maka menurut Al
Qur’an diperlukan langkah penerapan “fa’i”,
atau bentuk lain, yaitu :
(a) Menafkahkan sebagian harta
(perusahaan, bank dan negara) sebagai
tanggung jawab sosial dalam bentuk corporate
social responsibility (CSR) atau anggaran
(RAPBN/RAPBD) untuk menanggulangi
kemiskinan.
(b) Menunaikan zakat sebagai tanggung
jawab agama dan sosial-ekonomi untuk
menyelesaikan permasalahan delapan asnaf
(At Taubah : 60).
Dalam
hubungannya
dengan
pembangunan ekonomi ini Imam Al Layts ibn
Sa’ad (39 H – 175 H) berdarah Mesir alQibthi teman sejawat Imam Malik, tergolong
imam fikih yang kaya, yang memberikan makan
fakir miskin 300 orang perhari, memberikan
fatwa tentang pembangunan dan
kesejahteraan sebagai berikut :
Siapapun tidak berhak menimbun harta
kekayaan kecuali penghidupan masyarakat telah
mencapai hadd al kifayah (batas kecukupan).
Pertumbuhan ekonomi masyarakat perlu menjadi
perhatian utama dari para penguasa. Para
penguasa dan para pejabat pemerintah memikul
pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT atas
kewajiban mengupayakan terwujudnya
pertumbuhan ekonomi mencapai taraf
penghidupan masyarakat yang dapat mencapai
hadd al kifayah, yaitu terjaminnya beberapa
kebutuhan penting, seperti makanan, minuman,
tempat tinggal yang layak, sarana angkutan seperti
keledai, onta dan kuda (sekarang mobil),
pengetahuan yang menyelamatkan, kemampuan
membayar hutang dan semua sarana untuk
mewujudkan kehidupan yang tenang, tenteram
dan terhormat. (Syarqawi, 2000)
Mekanisme zakat merupakan salah satu
proses redistribusi untuk meraih tujuan hadd
al kifayah tersebut. Dalam surat At Taubah
(9) : 60, dan 103 memberikan petunjuk
tentang arah pengumpulan dan penyaluran
zakat, yaitu :
(1) Arah penyaluran zakat, At Taubah
60 :
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah
untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,
pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang
dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak,
orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan
orang-orang yang sedang bepergian, sebagai
sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah”.
(2) Arah pengumpulan zakat, At
Taubah 103 :
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka,
dengan zakat itu kamu mensucikan dan
menyuburkan mereka, dam mendoakan untuk
mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi)
ketenteraman jiwa bagi mereka”.
Surat At Taubah 103 menjelaskan bahwa
fungsi zakat yang utama adalah mensucikan
dan menyuburkan harta, yang mengandung
makna ibadah spiritual dan ibadah sosialekonomi (menyuburkan = pertumbuhan
ekonomi). Atas dasar prinsip tersebut, maka
Imam Ibn. Hazm, seorang imam fikih (384 H
– 456 H) dari Andalus (Eropa) memfatwakan
tentang penanggulangan kemiskinan dengan
pendapatnya :
Tak ada suatu apapun yang membuat seorang
muslim terpaksa dalam makan makanan yang
diharamkan Allah seperti bangkai, darah dan
daging babi. Seorang muslim tidak akan terpaksa
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
80
isi.pmd
80
8/20/2008, 11:04 AM
makan makanan seperti itu, kecuali dia telah
dicekik kelaparan. Jika ada seorang muslim dicekik
kelaparan di kampung halamannya sendiri, maka
penguasalah yang bertanggungjawab mengadakan
makanan baginya. Jika harta baitul maal tidak
cukup untuk memberikan makan orang-orang yang
kelaparan, maka penguasa harus mewajibkan harta
kaum kaya untuk mencukupi kebutuhan kaum yang
kelaparan. Apabila penguasa tidak mengambil
tindakan semacam itu, maka ia berdosa. (Syarkawi
: 2000).
Dengan demikian pengelolaan
ZISWAF menekankan dua hal, yaitu :
(1) Adanya lembaga zakat untuk
mengelola “redistribusi ekonomi”.
(2) Adanya paradigma pengelolaan
untuk meraih kesejahteraan hadd al kifayah.
Masalah kelembagaan amil di awal
pertumbuhan peradaban Islam pada zaman
Nabi Muhammad SAW dan khulafa’ al-
rasyidin, terutama zaman Abu Bakar alShidiq, dapat ditelusuri dari beberapa
keterangan hadits termasuk hadits yang isinya
memerintahkan Muadz ibn Jabal dan dialog
Muadz dengan Nabi :
Nabi: Mu’adz, apa tindakanmu jika
kepadamu diajukan sebuah kasus
(perkara)?
Mu’adz: Akan aku putuskan berdasarkan
Kitab Allah (Alqur’an)!
Nabi: Jika kamu tidak dapatkan dalam
Alqur’an?
Mu’adz: Akan aku putuskan menurut Sunnah
Rasulullah!
Nabi: Jika tidak ada (juga)?
Mu’adz: Aku akan berijtihad dengan
seksama!
Sejarah ijtihad sepanjang peradaban
Islam abad pertengahan dapat diperhatikan
pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1 Review landasan metode ijtihad sembilan imam fikih dalam penetapan hukum syariat (Syarkawi, 2000)
Landasan Berijtihad
Ilmu Pengetahuan
Nama
Umur (H)
Qiyas
Alqur’an Sunnah Ijma’
Akal
V
v
Istihsan, kemaslahatan
umat
v (ra’yi)
V
Istiqra’ dan
istinbath
—
Imam Zayd
ibn Z’abidin
80 H-122 H
V
v
—
Imam Ja’far
ash-Shadiq
180 H-148 H
v
v
—
Imam Abu
Hanifah Persia
80 H-150 H
v
Hadits
shahih
-
V
v (Imam ar-ra’y)
v
Imam Malik
Madinah
93 H-180 H
v
v
Utamanya ijma’
Madinah
V
v
—
Imam Al Layts
Mesir
39 H-175 H
v
v
Ijma’ dan ra’yi
V
ar ra’y
v
Imam M. Ash
Syafi’i
149 H-204 H
v
v
Jalan tengah Ijma’ V
dan ra’y
v
v
-1
Imam Ahmad
ibn Hambal
v
v
Jalan tengah
Ijma’; dan ra’y
V
v
v
Imam ibn Hazm 384 H-456 H
(Andalus, Eropa)
v
v
Ijma’ tidak mesti
Madinah
V
v
Akal untuk
memahami Alqur’an
dan Asunnah
v
-3
Imam Al ‘Izz
‘Izzudin
v
v
v
V
v
755 H-660 H
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
81
isi.pmd
Fakta
81
8/20/2008, 11:04 AM
-1
v
ekperimen
(2) (3)
Keterangan :
(1)Menurut Imam Ja’far Ash Shadiq dan Imam Syafi’i menjelaskan bahwa hakikat ilmu adalah bersumber dari Alqur’an, As
Sunnah dan ilmu Pengetahuan alam dan sosial termasuk aljabar, ilmu fisika, kedokteran dan ilmu pengetahuan lainnya,
termasuk ilmu ekonomi. Oleh karena itu untuk memperkuat kemampuan merumuskan fikihnya, maka kedua imam tersebut
belajar ilmu-ilmu umum.
(2)Menurut Imam Izzudin pada dasarnya perbedaan pendapat antara mazhab tidak ada, kecuali masalah furu’ (cabang) saja.
(3)Dari kesembilan imam fikih, Imam Hazm dan Imam Izzudin terlibat langsung pada kegiatan pemerintahan. Imam Izzudin
bahkan ikut mempengaruhi kebijakan pajak, agar “pajak untuk usaha kecil dihapus, dan pajak bagi orang kaya dinaikkan”
(hal. 694) (Syarkawi, 2000)
Khususnya di negara kita, kegiatan
mengelola zakat untuk menanggulangi
kemiskinan, harus kita perhatikan
kelembagaan lain dengan tugas, misi dan
tanggung jawab serupa, yaitu :
(1) Lembaga perusahaan dengan dana
transfer berupa CSR (corporate social
responsibility);
(2) Lembaga keuangan juga dengan dana
transfer berupa CSR.
(3) Lembaga negara dengan kebijakan
anggaran RAPBN/RAPBD.
Dengan demikian setiap kita
membicarakan “sistem pengelolaan
zakat”, maka kita akan dihadapkan
pada dua persoalan pokok, yaitu :
(1) Kelembagaan dan atau kolaborasi
antar kelembagaan dengan misi serupa;
(2) Paradigma pengelolaan sebagai cara
pandang dan prinsip kerja yang akan
mengarahkan lembaga amil zakat
untuk mencapai hadd al kifayah yang
telah digariskan dalam Sunnah Nabi
dan Alqur’an At Taubah : 60.
Pendekatan Sistem Dalam
Pengelolaan ZISWAF
Pengelolaan ZISWAF terkait dengan
kebijakan pemerintah berarti kegiatan
pengumpulan dan penyaluran untuk
mencapai tujuan sangat kompleks dan harus
didekati secara sistemik. Ada dua pendekatan
yang digunakan untuk mendefinisikan sistem,
yaitu :
(1) Pendekatan sistem yang menekankan
pada prosedur mendefinisikan sistem
adalah suatu jaringan kerja dan
prosedur yang saling berhubungan,
berkumpul bersama-sama untuk
melakukan kegiatan atau untuk
menyelesaikan suatu sasaran tertentu.
(2) Pendekatan sistem yang lebih
menekankan pada komponen
mendefinisikan sistem adalah
sekumpulan dari elemen yang
berinteraksi untuk mencapai tujuan
tertentu. Suatu sistem mempunyai
maksud tertentu yang sering disebut
dengan tujuan (goal) atau sasaran
(objective).
Gambar 1.1 adalah karakter atau sifatsifat tertentu yang dimiliki oleh sistem
pengelolaan ZISWAF.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
82
isi.pmd
82
8/20/2008, 11:04 AM
Gambar 1.1 Gambaran sistem pengelolaan ZISWAF dan lingkungannya
Keterangan :
(1) Batas sistem
(2) Lingkungan luar sistem yang
berpengaruh : sistem politik, APBN/APBD,
sistem upah, lembaga keuangan / bank,
sumberdaya alam dan pemilik modal (CSR)
Dari Gambar 1.1 dapat dijelaskan sistem
pengelolaan ZISWAF sebagai berikut :
(1) Komponen sistem ; Suatu sistem
memiliki sejumlah komponen yang saling
berinteraksi dan bekerja sama untuk
membentuk satu kesatuan. Setiap komponen
mempunyai sifat-sifat dari sistem untuk
menjalankan suatu fungsi tertentu dan
mempengaruhi suatu proses sistem secara
keseluruhan.
(2) Batas sistem ; Batas sistem
merupakan daerah yang membatasi antara
satu sistem dengan sistem lainnya. Batas sistem
ini memungkinkan bagi suatu sistem
dipandang sebagai satu kesatuan.
(3) Lingkungan luar sistem ; Lingkungan
luar sistem merupakan segala sesuatu di luar
batas suatu sistem (CSR dan kebijakan
pemerintah) yang mempengaruhi operasi lain.
Lingkungan luar sistem bisa bersifat
menguntungkan dan juga merugikan sistem itu
sendiri.
(4) Penghubung sistem ; Penghubung
sistem merupakan media penghubung antara
satu sub-sistem dengan sub-sistem lainnya.
Melalui penghubung ini memungkinkan
sumber-sumber daya mengalir dari satu sub
sistem mengalir ke sub sistem lainnya dan juga
sub sistem-sub sistem lainnya, dan juga sub
sistem-sub sistem tersebut dapat berintegrasi
membentuk satu kesatuan.
(5) Masukan (Input) sistem ; Masukan
sistem adalah energi yang diberikan pada
sistem. Masukan bisa berupa perawatan dan
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
83
isi.pmd
83
8/20/2008, 11:04 AM
masukan sinyal. Masukan perawatan adalah
energi yang dimasukkan supaya sistem tersebut
dapat beroperasi. Masukan sinyal adalah
energi yang diproses untuk mendapatkan
keluaran. Dalam sistem pengelolaan zakat
sebagai input adalah ZISWAF dari Muzakki
sesuai kondisi sumberdaya yang tersedia.
(6) Keluaran (Output) sistem ; Keluaran
merupakan hasil dari energi yang dioleh dan
diklasifikasikan menjadi keluaran yang
berguna. Keluaran dapat merupakan
masukan subsistem yang lain. Dalam sistem
pengelolaan ZISWAF sebagai keluaran adalah
hasil pemecahan permasalahan kesejahteraan
yang dihadapi delapan asnaf Mustahik.
(7) Pengelolaan sistem ; Suatu sistem
mempunyai suatu proses pengelolaan yang
akan mengubah masukan menjadi keluaran,
mencakup : sistem dan prosedur, program,
biaya dan penerimaan, juga termasuk
kebijakan pengelolaan untuk mencapai
keluaran yang paling optimum untuk
mencapai standar akreditasi.
(8) Sasaran sistem ; Setiap sistem punya
tujuan atau objektif masing-masing. Jika sistem
tidak punya sasaran, operasi pada sistem tidak
ada gunanya. Sasaran sistem sangat
menentukan masukan yang dibutuhkan sistem
dan keluaran yang dihasilkan sistem. Suatu
sistem dikatakan berhasil jika mencapai
sasaran atau tujuannya, yaitu memecahkan
permasalahan yang dapat meningkatkan
kesejahteraan mustahik.
Kelembagaan Pengelolaan
ZISWAF
Bahasan tentang sistem pengelolaan zakat
berkelanjutan, menggambarkan dua istilah
terkait satu sama lain, yaitu : (1) “Kelembagaan
pengelolaan zakat” dan (2) “Paradigma
pengelolaan berkelanjutan”. Untuk maksud
tersebut, berikut disajikan secara singkat
tentang variasi sistem dan kelembagaan
pengelolaan zakat dunia Islam saat ini.
(a) Pertama
Dalam upaya untuk memecahkan
permasalahan yang dihadapi mustahik,
khususnya sejak UU No. 38 Tahun 1999,
sampai saat ini masih ada permasalahan
mendasar berkenaan dengan kondisi dan
variasi kelembagaan pengelolaan ZISWAF di
dunia Islam, seperti yang dinyatakan oleh
Mufti dan Ridlo (2006) berkenaan dengan
bentuk pengelolaan zakat di negara-negara
Islam abad modern, keduanya ditunjukkan
pada Tabel 1.2 (Aflah dan Tajang 2006, hal.
54-55 dan 86-88).
(b) Kedua
Persoalan keberlanjutan kelembagaan
pengelolaan ZISWAF memerlukan perhatian
bukan hanya persoalan teknik pengumpulan
dan proses pengelolaan termasuk juga lima
dimensi keberlanjutan output kesejahteraan
mustahik, yaitu:
(1)
Keberlanjutan akidah (spiritual
sustainability).
(2)
Keberlanjutan pemanfaatan
sumberdaya lingkungan (ecology
sustainability).
(3)
Keberlanjutan sosial-ekonomi
(socioeconomic sustainability).
(4)
Keberlanjutan kemunitas/
masyarakat (community
sustainability).
(5)
Keberlanjutan kelembagaan
(institutional sustainability).
Pendekatan pengelolaan bersifat sistemik
memandang kerja pengelolaan lebih luas, yaitu
melihat : “(1) begitu banyak ragam pandangan
pengelolaan ZISWAF, (2) begitu banyak
pilihan sasaran mustahik yang diprioritaskan,
dan (3) begitu banyak kesamaan kepentingan
antar lembaga pengelolaan ZISWAF, APBN/
APBD, peran swasta dan harapan muzakki
secara individu”. Dengan memahami peran
lembaga terkait, maka langkah pemecahan
penanggulangan kemiskinan menjadi lebih
kompleks.
Atas dasar uraian begitu banyak ragam
pandangan pengelolaan zakat di dunia Islam
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
84
isi.pmd
84
8/20/2008, 11:04 AM
saat ini, maka kelembagaan pengelolaan
ZISWAF secara berkelanjutan ke depan
adalah dengan mensinergikan tiga
kemungkinan pengelola ZISWAF, yaitu :
(1) Sistem muzakki, di mana para
muzakki melakukan sendiri untuk
menyalurkan zakatnya kepada mustahik.
(2) Sistem pemerintah dengan
kewenangannya melakukan pengumpulan dan
penyaluran ZISWAF.
Tabel 1.2 Perkembangan pengelolaan zakat di dunia Islam (Aflah dan Tajang, 2006)
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
85
isi.pmd
85
8/20/2008, 11:04 AM
(3) Sistem Lembaga Amil Zakat (LAZ)
secara lokal melakukan pengumpulan dan
penyaluran zakat, infak, sedekah dan wakaf
untuk kemaslahatan masyakarat lokal.
Paradigma Pengelolaan ZISWAF
Ketika pengelolaan zakat telah
berkembang, bukan saja dilakukan oleh
pemerintah tapi juga oleh swasta, maka
pemahaman bersama tentang “paradigma
pengelolaan” menjadi sangat penting. Untuk
itu, mari kita perhatikan kisah yang
diceriterakan Abu Ubaid dalam sanadnya. Ia
berkata :
“Tatkala Umar tertidur siang hari di
bawah sebuah pohon, tiba-tiba seorang
perempuan kampung datang kepada Umar,
kebetulan orang-orang dapat melihatnya.
Perempuan itu berkata kepadanya : “Saya ini
seorang perempuan miskin dan anak saya
banyak. Saya dengar Amirul Mukminin
mengutus Muhammad bin Maslamah menjadi
pengumpul dan pembagi zakat (sedekah),
tetapi ia tidak memberi kepada kami. Saya
mohon kepada Tuan agar menolong kami.
Umar pun berteriak memanggil khadamnya,
Yarfa’ dan disuruhnya memanggil Muhammad
bin Maslamah. Berkata perempuan ini :
“Biarlah saya pergi kepadanya, karena saya
yang membutuhkannya”. Umar berkata :
“Insya Allah ia akan melaksanakannya”.
Kemudian Yarfa’ datang kepada Umar
l a l u berkata “Telah saya sampaikan
panggilanmu, kemudian Muhammad bin
Maslamah datang kepada Umar dan berkata
: “Assalamualaikum wahai Amirul Mukminin”.
Perempuan itu nampak kemalu-maluan.
Kemudian Umar berkata : “Demi Allah saya
tidak akan melalaikan orang-orang yang saya
pilih di antara kalian. Apa yang hendak
engkau katakan apabila Allah menanyakan
soal ini kepadamu”. Selanjutnya Umar berkata
: “Sesungguhnya Allah telah mengutus Nabi
SAW kepada kita. Lalu kita benarkan dan kita
ikuti. Nabi SAW telah melaksanakan segala
yang diperintahkan Allah. Ia telah memberikan
zakat kepada mereka yang berhak daripada
orang-orang miskin. Setelah beliau wafat, lalu
digantikan oleh Abu Bakar sebagai Khalifah.
Setelah itu Abu Bakar melakukan sunnah
Nabi SAW sampai dipanggil oleh Allah.
Kemudian Allah jadikan aku sebagai Khalifah.
Aku tidak akan membiarkan orang-orang
yang aku pilih berbuat sekehendaknya. Bila
aku utus engkau, berikanlah kepada
perempuan itu zakat untuk setahun dan untuk
tahun-tahun berikutnya jika aku mengutusmu.
Tapi saya tidak tahu apakah saya akan
mengutusmu lagi atau tidak”. Lalu beliau
memanggil perempuan itu dan memberinya
seekor unta berikut tepung dan minyak
kemudian berkata : “Ambillah ini semua
sampai engkau bertemu dengan kami di
Khaibar, tentu engkau dapat menemui kami
di sana, karena kami akan kesana”. Kemudian
perempuan itu menemui Umar di Khaibar
dan memberinya lagi dua ekor unta, lalu ia
berkata : “Ambillah ini sebagai bekalmu
sampai datang kepadamu Muhammad bin
Maslamah. Telah aku perintahkan kepadanya
agar ia memberikan atas hakmu untuk tahuntahun berikutnya”. (Qardawi, Hukum Zakat,
terjemahan, hal. 543, 1987)
Dari cerita diatas kita perhatikan prinsip
pengelolaan zakat sebagai berikut:
(1) Menggambarkan betapa seharusnya
perasaan dan tanggung jawab penguasa dan
pejabat negara terhadap warganya yang
miskin.
(2) Menggambarkan kesadaran warga
terhadap haknya untuk memperoleh
kehidupan yang layak (hadd al kifayah). Dalam
hal ini, mustahik proaktif dan partisipatif serta
memiliki hak menuntut pada pengelola zakat
yang harus dilindungi oleh pemerintah.
(3) Bagi pengelola zakat menyandang
“paradigma pengelolaan”, yaitu harus
bertindak seperti apa yang dipikirkan dan
dibutuhkan oleh mustahik. Inilah sebuah
paradigma “human / people centered”.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
86
isi.pmd
86
8/20/2008, 11:04 AM
(4) Bahwa pelayanan penyaluran zakat
harus teratur dan berkelanjutan (sustainable).
Paradigma “human centered” sangat
penting untuk kita perhatikan dengan cara
membandingkannya dengan paradigma lain,
yaitu : (1) paradigma pertumbuhan dan (2)
paradigma kesejahteraan. Sebagaimana
ditunjukkan pada Tabel 1.3.
miskin” sehingga terbangun sebuah bentuk
“ketergantungan” dengan birokrasi BAZ/
LAZ. Kelemahan paradigma kesejahteraan
adalah : (i) program kesejahteraan di desain,
dibiayai dan dikelola secara sentralistik, (ii)
mengandalkan pada organisasi BAZ/LAZ
yang tegar dan tidak lentur, canderung tidak
mempunyai kemampuan untuk memberikan
Tabel 1.3 Perbandingan karakteristik tiga paradigma pembangunan ekonomi
(Korten, 1984 dari Tjokrowinoto, 2002)
Mengingat pengelolaan zakat
merupakan bagian tak terpisahkan dari
pembangunan sosial-ekonomi, maka
paradigma pengelolaan zakat yang dapat
dipilih bisa berbentuk sebagai berikut :
(1) Paradigma Pertumbuhan
Paradigma pertumbuhan sering dipahami
sebagai production-oriented dengan karakteristik
: (i) berorientasi pada peningkatan taraf hidup
yang diukur dengan kenaikan nilai barang dan
jasa yang dihasilkan oleh masyarakat, (ii)
konsentrasi pada pemilikan modal, (iii)
dominasi pendekatan mekanisme pasar, (iv)
optimalisasi pemanfaatan modal, dan (v)
sistem perencaan dan operasional kegiatan
bersifat sentralistik, misalnya di BAZNAS atau
LAZ.
(2) Paradigma Kesejahteraan
Paradigma ini sering dikenal menggunakan
strategi karitas. Dalam hubungan ini lembaga
amil zakat menggunakan pendekatan
patronizing, orang tua asuh atau bahkan
berperan sebagai “pelindung masyarakat
pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan
masyarakat miskin.
(3) Paradigma “People Centered”
Paradigma ini memberikan peran
maksimal bagi individu masyarakat miskin.
Sumber kekuatan paradigma “people centered”
ini adalah daya kreatif masyarakat dan
aktualisasi yang optimal (Korten,
Tjokrowinoto, 2002). Paradigma ini memberi
tempat yang penting bagi prakarsa dan
keanekaragaman pemecahan masalah secara
lokal. Paradigma ini sesuai dengan Hadits Nabi
SAW ketika menugaskan Mu’adz ke Yaman,
dengan prinsip mengumpulkan zakat dari
muzakki, kemudian disalurkan untuk
mustahik yang ada di tengah-tengah mereka,
yaitu di lokasi pengumpulan.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
87
isi.pmd
87
8/20/2008, 11:04 AM
Tabel 1.4 Program pengelolaan ZISWAF yang memberdayakan dan menciptakan ketergantungan
(diadaptasi dari Tjokrowinoto, 2002, hal. 222)
Mengacu pada contoh yang dilakukan oleh
Khalifah Umar dan Hadits Nabi Muhammad
SAW ketika menugaskan Mu’adz ke Yaman,
maka paradigma pengelolaan zakat yang benar
adalah menggunakan paradigma pengelolaan
dengan pendekatan “human centered”. Salah
satu pendekatan “human centered” dalam
pemberdayaan masyarakat miskin yang kita
kenal saat ini adalah dengan pendekatan
“Sustainable Livelihood Approach (SLA)”.
Sesuai dengan prinsip Islam, SLA
perlu diadaptasikan dengan Rukun Islam
dengan menambah aset ke enam, sehingga
pentagon aset SLA secara Islami menjadi enam
aset/modal (hexagon aset), yaitu : (1) aset
spiritual dan taqwa. (2) aset sumberdaya alam.
(3) aset SDM. (4) aset finansial. (5) aset sosial
dan (6) aset infrastruktur. Adapun
karakteristik pengelolaan program ZISWAF
dengan paradigma “people/human centered”
ditunjukkan pada Tabel 1.4.
SLA yang telah diadaptasikan
dengan Rukun Islam tersebut menjadi hexagon
aset, merupakan salah satu pendekatan
pemberdayaan untuk perbaikan kesejahteraan
masyarakat miskin dengan paradigma “people
centered” dengan prinsip kerja sebagai berikut,
yaitu : (1) berpusat pada manusia; (2) fokus
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
88
isi.pmd
88
8/20/2008, 11:04 AM
pada kemiskinan; (3) partisipatif; (4) sistemik
dan menyeluruh; (5) sinergi dan kemitraan;
(6) berkelanjutan; (7) dinamis; (8) keadilan,
dan (9) berbasis HAM atas dasar takwa
kepada Allah SWT.
Kesimpulan Pengelolaan ZISWAF
Ke Depan
Berdasarkan uraian di atas, maka arah
penataan kelembagaan dan paradigma
pengelolaan zakat secara berkelanjutan dapat
disimpulkan sebagai berikut :
(1) Pengelolaan zakat meliputi kegiatan
pengumpulan, proses administrasi dan
penyaluran. Kegiatan ini merupakan salah
satu bentuk kewajiban agama yang
pelaksanaannya dikelola organisasi amil
yang profesional, yang berdosa jika
ditinggalkan. Gerak lembaga terkait
dengan gerak pembangunan ekonomi.
(2) Lembaga Amil Zakat (LAZ) dapat dikelola
oleh pemerintah maupun swasta. Dalam
keadaan tertentu, penyalurannya
dapat dilakukan oleh individu muzakki
secara langsung menyalurkannya untuk
Mustahik.
(3) Mengacu sunnah Nabi Muhammad
SAW dan ijma’ sahabat, organisasi
pengumpulan
dan
proses
pengadministrasiannya dapat dilakukan
secara nasional maupun regional, namun
penyalurannya harus dilaksanakan oleh
amil tingkat daerah/lokal/desa. Paradigma
pengelolaan, khususnya penyaluran zakat
dilaksanakan dengan pendekatan “people
centered” dan memperhatikan paradigma
pembangunan ekonomi, Mustahik
berpartisipasi aktif dan tidak menciptakan
bentuk “ketergantungan pada amil zakat”.
Untuk keberlanjutan pengelolaan maka
penguatan pemberdayaan mustahik
(“people centered”) perlu didukung dengan
penguatan LAZ/BAZ dan data base
muzakki-mustahik secara profesional, baik
tingkat nasional maupun desa/RT.
(4) Upaya penanggulangan kemiskinan oleh
LAZ/BAZ perlu dikelola secara sinergis
dan sistemik dengan memperhatikan dan
atau berkolaborasi dengan kelembagaan
lain dengan program serupa, seperti
adanya penerapan corporate social
responsibility (CSR) oleh swasta/LSM dan
kebijakan anggaran APBN/APBD
untuk program penanggulangan
kemiskinan oleh pemerintah.
:
DAFTAR PUSTAKA
1. Al-Qur’an.
2. Aflah, Kuntarno Noor dan M. Nasir Tajang (2006) : Zakat dan
Peran Negara. Penerbit FOZ, Jakarta.
3. Arsyad, Lincoln (1999) : Ekonomi Mikro. BPFE, Yogyakarta.
4. Charter, Denny dan Irma Astrisari (2003) : Desain dan Aplikasi
GIS PT Elex Media Komputindo, Jakarta.
5. Qardawi, M. Yusuf (1987) : Hukum Zakat, Litera Antar Nusa,
Jakarta (Terjemahan).
6. Muhammad, Sahri (2006) : Mekanisme Zakat dan Permodalan
Masyarakat Miskin. Bahtera Press, Malang.
7. Sudewo, Erie (2008) : Politik ZISWAF, Kumpulan Esei. Penerbit
CID, Dompet Dhuafa.
8. Syarqawi, Abdurrahman (1999) : Riwayat Sembilan Imam Fiqih.
Terjemahan oleh Al Hamid Al Husaini, Penerbit Pustaka
Hidayah, Bandung.
9. The Departement For International Development (DFID)
(2002) : Sustainable Livelihood Sustainable Development
Departement. FAO.
10.Tjokrowinoto, Moelyarto (2002) : Pembangunan, Dilema dan
Tantangan Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
11.Yayasan Penyelenggara Penterjemah AlQur’an (1993) : AlQur’an dan Terjemahnya. CV. Gema Risalah Press, Bandung.
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
89
isi.pmd
89
8/20/2008, 11:04 AM
TENTANG PENULIS
Adiwarman Azwar Karim, adalah
President Director Karim Business Consulting.
Ikon ilmu ekonomi dan keuangan Islam ini,
alumnus Institut Pertanian Bogor, Universitas
Indonesia, European University (Belgia) dan
Boston University (Amerika Serikat). Ia juga
Visiting Research Associate pada Oxford Center
for Islamic Studies di Inggris. Di sela
aktivitasnya dalam manajemen Bank
Muamalat Indonesia, ia menulis buku dan
karyanya masuk dalam Lima Buku Terlaris
dalam bidang perbankan Islam, Ekonomi
Islam dan Sejarah Ekonomi Islam. Telah
menulis lebih dari 50 artikel/makalah,
termasuk yang dipresentasikannya dalam
berbagai forum nasional dan internasional
antara lain International Conference on Islamic
Economics (ketiga, keempat dan kelima) yang
diselenggarakan IDB, The 76th Annual
Conference of the International Western Economics
Association. Saat ini ia salah seorang anggota
Dewan Syariah Nasional, Dewan Syariah
pada Bank Syariah Harta Insan Karimah,
Dewan Pengawas Syariah pada Great Eastern
Syariah Insurance, Prudential Life Assurance,
Bank Danamon Syariah, HSBC Syariah
(Indonesia), Fortis Investments dan
perusahaan multilevel marketing UFO.
Ahmad Azhar Syarief, Securities Analysis
pada Karim Business Consulting, alumnus
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).
Ahmad Erani Yustika, lahir di Ponorogo,
22 Maret 1973. Menyelesaikan gelar sarjana
dari Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi
Pembangunan (IESP) Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, 1996. Setelah lulus aktif
mempublikasikan tulisan diberbagai media
massa, jurnal ilmiah, dan buku. Pada 2001
menuntaskan studi post-graduate (MSc) dan
tahun 2005 menyelesaikan studi doktoral
(Ph.D), semuanya di University of Göttingen
(Georg-August-Universität Göttingen), Jerman,
dengan spesialisasi Ekonomi Kelembagaan.
Sejak 1997 bekerja sebagai dosen di Fakultas
Ekonomi - Universitas Brawijaya dan saat ini
menjabat sebagai Ketua Program Studi
Magister Ilmu Ekonomi, Pascasarjana Fakultas
Ekonomi – Universitas Brawijaya. Di luar itu,
mulai 2008 menjabat sebagai Direktur
Eksekutif INDEF (Institute for Development of
Economics and Finance), Jakarta. Pada 2006
terpilih sebagai Dosen Teladan I Universitas
Brawijaya dan 2007 terpilih sebagai penulis
buku paling produktif di Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya.
E-mail: [email protected]
Asep Saepudin Jahar, lahir di Pandeglang,
16 Desember 1969. Santri Pesantren Modern
Gontor (1985-1989) ini menyelesaikan
Bachelor of Art (BA) di IAIN Syarif
Hidayatullah (1994), dan Master of Art (MA)
dari McGill University, Montreal, Kanada
(1997-1999). Doktor Arabistik und
Orientalische Wissenschaft dari Universitas
Leipzig (2002-2005) ini, sejak 1996 adalah
pengajar di Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah (sejak 1996). Di kampus yang
sama, beberapa posisi pernah diembannya,
antara lain: Sekretaris Pusat Pengembangan
SDM (1999-2001), Asisten pada Secretary
for Local Project Implementing Unit (20002002) dan memimpin badan kerjasama dan
hubungan internasional pada Program
Pascasarjana (2006-2008) serta peneliti pada
CENSIS/Center for the Study of Islam and
Society (sejak 2006). Ia aktif menulis artikel
keislaman untuk berbagai forum maupun
jurnal ilmiah dalam dalan luar negeri, selain
melakukan berbagai riset yang diselenggarakan
perguruan tinggi (dalam dan luar negeri)
maupun pemerintah.
E-mail: [email protected].
Heru Susetyo, Staf Pengajar tetap bidang
studi Hukum Masyarakat dan Pembangunan
Fakultas Hukum Universitas Indonesia
Depok, Peneliti dan anggota Lembaga Kajian
Islam dan Hukum Islam FHUI, Pemimpin
Redaksi Jurnal Syariah FHUI. Mendapatkan
magister kesejahteraan sosial dari FISIP UI
(2003) dan Master of Law dari Northwestern
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
90
isi.pmd
90
8/20/2008, 11:04 AM
penerbitan buku tentang ekonomi politik
privatisasi sektor perbankan di Indonesia.
Kontak bisa dikirim via email ke:
[email protected]
Sahri Muhammad, lahir di Probolinggo,
Jawa Timur, 23 Oktober 1943. Sarjana Muda
dari Fakultas Kedokteran Hewan dan
Peternakan Jurusan Perikanan Laut Universitas
Brawijaya (1968), dan S1 Ilmu Perikanan di
Bogor (Afiliasi IPB Bogor, 1971), Magister
Ekonomi Pertanian - Universitas Gajah Mada
Yogyakarta (1987), serta Doktor bidang
Ekonomi Pertanian - Institut Pertanian Bogor
(2002). Pernah mendalami Ilmu Statistik
(Institut Pertanian Bogor, 1975-1976). Aktivis
Gerakan Koperasi sejak mahasiswa, dan
Gerakan KUD (sejak 1973) ini, pada 1974
secara otodidak menjadi pemerhati dan
penulis kajian “sistem zakat” dan karyanya
tersebar di berbagai media massa, selain aktif
dalam forum diskusi publik tentang
mekanisme zakat. Puluhan tulisannya tentang
sistem zakat, disajikan dengan pendekatan ilmu
pengetahuan. Salah seorang pendiri Lembaga
Zakat dan Infak (LAGZIS) Masjid Raden
Patah Universitas Brawijaya Malang (1998)
ini, mengembangkan LAGZIS sebagai dasar
pengembangan konsep pendekatan
manajemen Era Otonomi Daerah. Tahun
1995, bersama sejumlah rekannya membentuk
Indonesian Fisheries of Social-Economics
Research Network (IFSERN), memimpinnya
sampai 1999. Mantan Dekan Fakultas
Perikanan Universitas Brawijaya (1992-1998)
ini, pengajar dan memimpin Badan
Pertimbangan dan Pengembangan Penelitian Program Pascasarjana Universitas Brawijaya
(sejak 2004).
:
ZAKAT & EMPOWERING - Jurnal Pemikiran dan Gagasan, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2008
91
isi.pmd
91
8/20/2008, 11:04 AM
TENTANG PENULIS
Law School, Chicago (2003). Saat ini tengah
menuntaskan studi PhD di Mahidol University
Thailand dengan fokus penelitian pada
kebijakan kesejahteraan sosial di Indonesia,
Singapura, Malaysia, dan Thailand. E-mail:
[email protected]
Hilman Latief, Dosen di Jurusan
Muamalah-Ekonomi dan Perbankan Islam,
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ia
menyelesaikan pendidikan kesarjanaannya di
IAIN Sunan Kalijaga (1999), mendapat gelar
Magister Agama dari Universitas Gadjah
Mada (2002) dan Master of Arts dari Western
Michigan University (2005) melalui beasiswa
Fulbright. Saat ini penulis sedang mengikuti
program Doktoral di Universitas Leiden
melalui beasiswa program Training Indonesian
Young Leaders dari Kementerian Luar Negeri
Belanda, dan juga menjadi research fellow di
the International Institute for the Study of
Islam in the Modern World (ISIM, Leiden).
Beberapa tulisannya tentang filantropi antara
lain: Filantropi Islam dan Ideologi
Kesejahteran Muhammadiyah (Jakarta: PSAP,
2008); “Kemandirian, Solidaritas Sosial dan
Kerelawanan: Pemaknaan Filantropi dalam
Masyarakat Minoritas Muslim, Kasus Australia
dan Singapura” Al-Wasathiyyah, ICIP Volume
2 Number 9 (2007); “Kemiskinan dan
Kedermawanan: Memaknai Ideologi
Kesejahteraan”, Maarif, Vol. 2 No 1 (Januari
2007); (2006) ‘Poverty and Social
Responsibility: The Prospect and Limits of the
Muhammadiyah’s Charitable Institutions,’
dalam Muslim Countries and Development:
Achievement, Constraints and Alternative
Solution (Yogyakarta & KL: UMY and IIUM).
Jati Andrianto, lahir di Blitar, 5 September
1984. Menamatkan pendidikan sarjana pada
2008 di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi
- Universitas Brawijaya. Mulai tahun 2006 aktif
sebagai peneliti ekonomi di ECORIST (The
Economic Reform Institute). Selain itu juga aktif
mempublikasikan tulisan di media massa dan
jurnal ilmiah. Saat ini tengah menyiapkan
Download