penggunaan strategi pembelajaran inkuiri pada materi kelarutan

advertisement
PENGGUNAAN STRATEGI PEMBELAJARAN
INKUIRI PADA MATERI KELARUTAN DAN HASIL
KALI KELARUTAN UNTUK MENINGKATKAN
METAKOGNISI SISWA SMA
skripsi
disajikan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Kimia
oleh
Maulida Fitriana
4301410065
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
ii
iii
iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
Kegagalan biasanya merupakan langkah awal menuju sukses, tapi sukses
itu sendiri sesungguhnya baru merupakan jalan tak berketentuan menuju
puncak sukses. (Lambert Jeffries)
PERSEMBAHAN
1. Untuk orang tuaku.
2. Untuk kakakku.
3. Untuk sahabatku.
4. Untuk teman-teman seperjuangan RotiPia (Rombel Tiga Pendidikan
Kimia 2010).
5. Untuk teman-teman Kos Purnama Indah.
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, hidayah, dan petunjukNya yang senantiasa tercurah sehingga tersusunlah skripsi yang berjudul
“Penggunaan Strategi Pembelajaran Inkuiri pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali
Kelarutan untuk Meningkatkan Metakognisi Siswa SMA”.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini selesai atas bantuan,
petunjuk, saran, dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan
ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Rektor Universitas Negeri Semarang.
2. Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang.
3. Ketua Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang.
4. Dr. Sri Haryani, M.Si, dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan,
arahan, dan motivasi dalam penyusunan skripsi ini.
5. Dr. Sri Susilogati Sumarti, M.Si dan Prof. Dr. Supartono, MS, dosen penguji
yang telah memberikan masukan dan saran yang membangun guna perbaikan
skripsi ini.
6. Kepala SMA Negeri 1 Donorojo yang telah memberikan izin penelitian.
7. Guru Kimia kelas XI SMA Negeri 1 Donorojo yang telah membantu dalam
pelaksanaan penelitian.
8. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Akhirnya penulis berharap, semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi
mahasiswa khususnya dan bagi semua pihak pada umumnya.
Semarang, Agustus 2014
Penulis
vi
ABSTRAK
Fitriana, Maulida. 2014. Penggunaan Strategi Pembelajaran Inkuiri pada Materi
Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan untuk Meningkatkan Metakognisi siswa SMA.
Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Universitas Negeri Semarang. Pembimbing Dr. Sri Haryani, M.Si.
Kata Kunci: Metakognisi, Strategi Pembelajaran Inkuiri
Pola pembelajaran yang diterapkan selama ini masih didominasi paradigma
teaching (teacher-centered) dan non-kontruktivistik bukan paradigma learning
(students-centered). Guru lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran sebagai
pemberi pengetahuan bagi siswa. Akibatnya siswa memiliki banyak pengetahuan
tetapi tidak dilatih untuk menemukan pengetahuan dan konsep yang dimiliki.
Permasalahan tersebut dapat menghambat pengembangan keterampilan berpikir
untuk mengkontruksikan pengetahuannya. Pembelajaran yang berorientasi pada
pengembangan keterampilan berpikir dapat menjadi alternatif untuk perbaikan
kemampuan berpikir siswa dalam memahami konsep kimia. Salah satu upaya
untuk membangun kemampuan berpikir siswa dapat dilakukan dengan
pengembangan aspek metakognisinya. Metakognisi mempunyai peran penting
dalam mengatur dan mengontrol proses-proses kognitif seseorang dalam belajar
dan berpikir, sehingga belajar dan berpikir yang dilakukan oleh seseorang menjadi
lebih efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan metakognisi
siswa melalui strategi pembelajaran inkuiri materi kelarutan dan hasil kali
kelarutan di SMAN 1 Donorojo. Metode eksperimen dengan desain pretestposttest group design digunakan dalam penelitian ini. Objek penelitian ini adalah
siswa kelas XI IPA. Teknik pengambilan sampel adalah cluster random sampling
karena populasi berdistribusi normal dan homogen. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa rata-rata nilai postes kelas eksperimen 75,15 dan kelas kontrol 72,42.
Berdasarkan hasil analisis N-gain pada kelas eksperimen menunjukkan
peningkatan metakognisi sebesar 0,68 antara sebelum dan sesudah penggunaan
strategi pembelajaran inkuiri. Sedangkan hasil analisis N-gain pada kelas kontrol
menunjukkan peningkatan metakognisi sebesar 0,62 antara sebelum dan sesudah
penggunaan strategi pembelajaran langsung. Pada uji hipotesis diperoleh thitung
sebesar 1,65 kurang dari tkritis 1,66 yang berarti rata-rata hasil belajar kognitif kelas
eksperimen tidak berbeda dari kelas kontrol. Kesimpulan dari penelitian ini adalah
strategi pembelajaran inkuiri dan strategi pembelajaran langsung dapat
meningkatkan metakognisi siswa.
vii
ABSTRACT
Fitriana, Maulida. 2014. The Use of Inquiry Learning Method at solution and
solubility product to improve the students’ metakognition in senior high school.
Thesis, Chemistry Departement, Facilty of Mathematics and Natural Sciences,
Semarang Sate University. Supervisor: Dr. Sri Haryani, M.Si.
Keywords: Metacognition, The Inquiry Learning Method
Learning patterns that are applied during this time still dominated teaching
paradigm (teacher-centered) is not a paradigm of learning (students-centered).
Teachers are more active in learning activities as the giver of knowledge for
students. As a result students have much knowledge but are not trained to find
knowledge and concepts that are owned. These problems could hinder the
development of thinking skills to construct knowledge. Learning oriented on the
development of thinking skills can be an alternative for repair thinking ability of
students in understanding the concept of chemistry. One of the efforts to build the
students' thinking ability may be made with the development of metacognition.
Metacognition has an important role in regulating and controlling one's cognitive
processes in learning and thinking, so that learning and thinking is done by
someone to be more effective and efficient. The objective of this study is to find
out the improvement of the students’ metacognition by using the inquiry learning
method on the water-soluble substance and the result of its product in SMAN 1
Donorojo. This study is an experimental research and the design was pretestposttest group design. Object of this study is eleventh grade students of science
program. The selection of the sample was by using cluster random sampling
because the populations of this study were normal and homogenous. The result of
this study showed that the mean score of post-test in the experiment group (75.15)
was higher than that of the control group (72.42). The results of the analysis of Ngain in experiment group showed an increase of students’ metacognition 0.68
between before and after the use of inquiry learning method. While the results of
the analysis of N-gain in the control group shows an improvement of students’
metacognition 0.62 between before and after the use of conventional method. In
the hypothesis result, tarithmetic (1.65) was lower than that of the tcritic (1.66). The
result indicated that the mean score of cognitive aspect of the experiment group
was the same as the control one. Based on the result of this study, it can be
concluded that basically, both the inquiry learning method and the conventional
method can improve the students’ metacognition.
viii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .................................................................................... i
PERNYATAAN ........................................................................................... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................. iii
HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................. v
KATA PENGANTAR .................................................................................. vi
ABSTRAK ................................................................................................... vii
ABSTRACT ................................................................................................. viii
DAFTAR ISI ................................................................................................ ix
DAFTAR TABEL ........................................................................................ xi
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xiii
BAB
1. PENDAHULUAN ................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... 6
1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................... 6
1.4 Manfaat penelitian ....................................................................... 6
1.5 Penegasan Istilah ......................................................................... 7
2. KAJIAN PUSTAKA ............................................................................ 10
2.1 Pengertian Strategi Pembelajaran ................................................. 10
2.2 Strategi Pembelajaran Inkuiri ....................................................... 11
2.3 Metakognisi ................................................................................. 16
2.4 Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan .................................. 22
2.5 Kerangka Berpikir ....................................................................... 27
2.6 Hipotesis...................................................................................... 28
2.7 Indikator Keberhasilan Penelitian ................................................ 28
3. METODE PENELITIAN ..................................................................... 29
3.1 Jenis Penelitian ............................................................................. 29
ix
3.2 Lokasi, Waktu, dan Objek Penelitian ............................................ 29
3.3 Desain Penelitian .......................................................................... 30
3.4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ..................................... 30
4. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................. 47
4.1 Hasil Penelitian ............................................................................. 47
4.2 Pembahasan .................................................................................. 58
5. PENUTUP............................................................................................ 73
5.1 Simpulan ..................................................................................... 73
5.2 Saran ........................................................................................... 73
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 74
LAMPIRAN ................................................................................................. 77
x
DAFTAR TABEL
Tabel
Halaman
1.1 Operasi-operasi Kunci dalam Metakognisi ............................................. 8
2.1 Kemampuan yang Dikembangkan dalam Proses Inkuiri ......................... 13
2.2 Indikator Metakognisi ............................................................................ 19
3.1 Rancangan Penelitian ............................................................................. 30
3.2 Interpretasi Kriteria Validitas Instrumen................................................. 33
3.3 Hasil Analisis Validitas Soal Uji Coba ................................................... 33
3.4 Interpretasi Kriteria Reliabilitas Instrumen ............................................. 34
3.5 Kriteria Indeks Kesukaran ...................................................................... 35
3.6 Hasil Analisis Tingkat Kesukaran Soal Uji Coba .................................... 35
3.7 Kriteria Daya Pembeda Instrumen .......................................................... 36
3.8 Klasifikasi Reliabilitas Lembar Observasi Psikomotorik ........................ 37
3.9 Klasifikasi Reliabilitas Lembar Observasi Afektif .................................. 39
3.10 Interpretasi Kriteria Reliabilitas Angket ................................................ 40
3.11 Kriteria Hasil Belajar Afektif ................................................................ 45
3.12 Kriteria Hasil Belajar Afektif Tiap Aspek.............................................. 45
3.13 Kriteria Hasil Belajar Psikomotorik ....................................................... 46
3.14 Kriteria Hasil Belajar Psikomotorik Tiap Aspek .................................... 46
3.15 Kriteria Skor Kuesioner Siswa .............................................................. 46
4.1 Hasil Uji Normalitas Data Populasi ........................................................ 47
4.2 Hasil Uji Homogenitas Populasi ............................................................. 48
4.3 Hasil Uji Normalitas Data Pretes ............................................................ 49
4.4 Hasil Uji Normalitas Data Postes ........................................................... 49
4.5 Hasil Analisis Normalized-gain .............................................................. 49
4.6 Hasil Analisis Peningkatan Metakognisi Siswa Kelas Eksperimen ......... 50
4.7 Hasil Analisis Peningkatan Metakognisi Siswa Kelas Kontrol ................ 50
4.8 Hasil Analisis Kesamaan Dua Varian ..................................................... 51
4.9 Hasil Uji Peningkatan Hasil Belajar ....................................................... 52
4.10 Pencapaian Indikator Metakognisi ......................................................... 53
4.11 Hasil Analisis Pencapaian Indikator Metakognisi .................................. 53
xi
4.12 Hasil Analisis Aspek Afektif ................................................................. 54
4.13 Hasil Analisis Hasil Belajar Afektif Tiap Aspek .................................... 55
4.14 Hasil Analisis Aspek Psikomotorik ....................................................... 55
4.15 Hasil Analisis Hasil Belajar Psikomotorik Tiap Aspek .......................... 56
4.16 Hasil Analisis Kuesioner Siswa ............................................................. 57
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman
2.1 Model Keterampilan Berpikir Metakognisi.............................................. 21
2.2 Kerangka Berpikir ................................................................................... 27
4.1 Persentase Aspek Afektif ........................................................................ 55
4.2 Persentase Aspek Psikomotorik ............................................................... 56
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Halaman
1. Kisi-kisi Soal Uji Coba ............................................................................ 77
2. Soal Uji Coba........................................................................................... 78
3. Hasil Analisis Soal Uji Coba .................................................................... 98
4. Perhitungan Validitas Butir Soal .............................................................. 100
5. Perhitungan Reliabilitas dan Tingkat Kesukaran Soal ............................... 102
6. Perhitungan Daya Beda Soal .................................................................... 103
7. Kisi-kisi Instrumen Penelitian .................................................................. 104
8. Soal Pretes ............................................................................................... 105
9. Soal postes ............................................................................................... 120
10. Pedoman Penskoran Criterion-Referenced Test dan Pencapaian Indikator
Metakognisi .................................................................................................. 136
11. Silabus .................................................................................................... 138
12. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen ........................... 140
13. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Kontrol.................................. 171
14. Lembar Kerja Siswa ................................................................................ 199
15. Daftar Nilai Semester Ganjil Kelas XI IPA ............................................. 217
16. Uji Normalitas Kelas XI IPA1 ................................................................. 218
17. Uji Normalitas Kelas XI IPA2 ................................................................. 219
18. Uji Homogenitas Populasi ....................................................................... 220
19. Daftar Nama Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ....................... 221
20. Daftar Nilai Pretes-Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ............. 222
21. Uji Normalitas Data Pretes Kelas Eksperimen ......................................... 223
22. Uji Normalitas Data Postes Kelas Eksperimen ........................................ 224
23. Uji Kesamaan Dua Varian Pretes-Postes Kelas Eksperimen .................... 225
24. Uji Peningkatan Hasil Belajar Kelas Eksperimen .................................... 226
25. Uji Normalitas Data Pretes Kelas Kontrol ............................................... 227
26. Uji Normalitas Data Postes Kelas Kontrol ............................................... 228
27. Uji Kesamaan Dua Varian Pretes-Postes Kelas Kontrol........................... 229
xiv
28. Uji Peningkatan Hasil Belajar Kelas Eksperimen .................................... 230
29. Uji Kesamaan Dua Varian Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol............. 231
30. Uji Kesamaan Dua Rata-rata Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ......... 232
31. Analisis Kemampuan Metakognisi Siswa Kelas Eksperimen ................... 233
32. Analisis Kemampuan Metakognisi Siswa Kelas Kontrol ......................... 235
33. Uji N-Gain Kemampuan Metakognisi Siswa ........................................... 237
34. Kriteria Penilaian Aspek Afektif ............................................................. 238
35. Analisis Aspek Afektif ............................................................................ 240
36. Rubrik Penilaian Aspek Psikomotorik ..................................................... 242
37. Analisis Aspek Psikomotorik .................................................................. 247
38. Lembar Penilaian Diri Kuesioner Siswa .................................................. 251
39. Analisis Kuesioner Siswa ........................................................................ 252
xv
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan yang berlangsung di dalam lembaga pendidikan formal adalah
pendidikan yang terarah pada tujuan tertentu. Untuk mencapai tujuan tersebut
maka disusun kurikulum sebagai alat yang membawa segala kegiatan
kependidikan kepada tujuan yang dikehendaki (Gulo, 2008:28). Pendidikan
masa kini mencoba membantu siswa belajar untuk mengorganisasi dan
mengkonstruksi pendapat, merumuskan masalah, menyusun hipotesis, dan
mencari pembuktian sendiri (Saptorini, 2010). Ini artinya siswa menjadi pusat
pembelajaran (student centered). Pola pembelajaran yang diterapkan selama ini
masih
didominasi
paradigma
teaching
(teacher-centered)
dan
non-
kontruktivistik bukan paradigma learning (students-centered), sehingga
pembelajaran menjadi kurang efektif dan tidak terkontruksi dengan baik
(Danial, 2010).
Paradigma teaching membuat siswa lebih cenderung pasif di kelas dalam
menerima pelajaran, lebih banyak diam, mendengar, mencatat, menghafal,
bahkan siswa dapat merasa bosan dan akhirnya tidak bersungguh-sungguh
mengikuti proses pembelajaran. Pembelajaran tersebut menyebabkan siswa
dalam mengikuti pelajaran bukan karena berminat, tetapi karena terpaksa.
Kondisi seperti ini akan berdampak pada kemandirian siswa dalam belajar
kurang terlatih dan tidak berkembang. Proses pembelajaran berlangsung secara
kaku sehingga kurang mendukung pengembangan pengetahuan dan penguasaan
konsep, sikap, moral, dan pemberdayaan berpikir. Siswa kurang terlatih untuk
1
2
mengembangkan keterampilan berfikirnya. Dampak pola pembelajaran seperti
ini akan tampak setelah siswa mengikuti tes yang memperoleh nilai rendah
(Danial, 2010).
Kimia merupakan mata pelajaran yang erat kaitannya dengan kehidupan
sehari-hari. Bagi sebagian besar siswa masih menganggap kimia merupakan
mata pelajaran yang membosankan dan sulit untuk dipahami, sehingga
membuat siswa enggan untuk mempelajarinya (Asmara, 2013). Materi
kelarutan dan hasil kali kelarutan membutuhkan penguasaan dan pemahaman
konsep yang tinggi, serta kepiawaian dalam mengerjakan soal. Berdasarkan
hasil observasi dan wawancara kepada guru Kimia di SMA N 1 Donorojo
ternyata hasil belajar kimia siswa kelas XI IPA untuk materi kelarutan dan hasil
kali kelarutan masih rendah. Hal ini dilihat dari hasil ulangan harian materi
kelarutan dan hasil kali kelarutan. Kelas XI IPA 1, dari 39 siswa hanya ada 4
siswa yang nilainya memenuhi KKM, sedangkan untuk kelas X1 IPA 2, dari 39
siswa hanya ada 7 siswa yang nilainya memenuhi KKM. Rendahnya hasil
belajar kimia di kelas XI IPA tersebut menunjukkan rendahnya pemahaman
siswa terhadap konsep kimia. Siswa masih kesulitan dalam mengidentifikasi
informasi untuk memilih dan mengurutkan operasi yang dipakai dalam
menyelesaikan soal. Hal ini diduga karena siswa kurang termotivasi untuk
belajar dan sebagian besar pembelajaran berpusat pada guru. Guru lebih aktif
dalam kegiatan pembelajaran sebagai pemberi pengetahuan bagi siswa.
Akibatnya siswa memiliki banyak pengetahuan tetapi tidak dilatih untuk
menemukan pengetahuan dan konsep yang dimiliki. Permasalahan tersebut
3
dapat
menghambat
pengembangan
keterampilan
berpikir
untuk
mengkontruksikan pengetahuannya.
Pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan keterampilan berpikir
dapat menjadi alternatif untuk perbaikan kemampuan berpikir siswa dalam
memahami konsep kimia. Salah satu upaya untuk membangun kemampuan
berpikir siswa dapat dilakukan dengan pengembangan aspek metakognisinya.
Kemampuan metakognisi mempunyai indikator yang mencerminkan tingkat
ketercapaiannya yaitu ketika siswa mampu berpikir dengan mengoptimalkan
kemampuan berpikir yang dimiliki, mengidentifikasi strategi belajar yang baik,
dan secara sadar mengarahkan strategi belajarnya (Kadir: 2009).
Proses metakognisi adalah suatu aktivitas mental dalam struktur kognitif
yang dilakukan secara sadar oleh seseorang untuk mengatur, mengontrol, dan
memeriksa proses berpikirnya (Haryani, 2012:47). Menurut Romli (2010),
metakognisi mempunyai peran penting dalam mengatur dan mengontrol prosesproses kognitif seseorang dalam belajar dan berpikir, sehingga belajar dan
berpikir yang dilakukan oleh seseorang menjadi lebih efektif dan efisien. Oleh
karena itu dengan mengembangkan kesadaran metakognisinya, siswa terlatih
untuk selalu merancang strategi terbaik dalam memilih, mengingat, mengenali
kembali, `mengorganisasi informasi yang dihadapi, dan menyelesaikan
masalah.
Facione et al dalam Haryani (2012:48) menyatakan bahwa pengembangan
metakognisi ditujukan agar peserta didik dapat menjadi pemikir-pemikir kritis
yang selalu perpikir dalam menerapkan suatu motivasi internal. Sementara itu
menurut Livingston (Haryani, 2012:48) metakognisi memiliki peran penting
4
dalam keberhasilan belajar, oleh karena itu penting mempelajari aktivitas dan
pengembangannya
untuk
menentukan
bagaimana
siswa
dapat
diajar
menerapkan sumber-sumber pengetahuan mereka dengan lebih baik melalui
kontrol metakognitifnya. Metakognisi merupakan proses membangkitkan minat
sebab kita menggunakan proses kognitif untuk merenungkan proses kognitif
kita. Metakognisi sangat penting kerena pengetahuan tentang proses kognitif
dapat menuntun kita dalam menyusun dan memilih strategi untuk memperbaiki
kinerja kognitif. Meningkatnya kemampuan metakognisi dapat meningkatkan
pemahaman konsep siswa (Kadir, 2009).
Berdasarkan
karakteristik
pembelajaran
berbasis
pengembangan
kemampuan metakognisi tersebut, pembentukan kemampuan metakognisi
merupakan hal penting untuk mendukung optimalisasi proses belajar kimia.
Dengan demikian hasil belajar kognitif dapat tercapai optimal. Pengembangan
kemampuan metakognisi dan hasil belajar kognitif dalam pembelajaran kimia
memerlukan strategi yang tepat. Salah satu strategi yang dapat meningkatkan
kemampuan metakognisi sekaligus hasil belajar kognitif adalah strategi
pembelajaran inkuiri.
Penelitian yang dilakukan oleh Aprilia dan Sugiarto (2013) menunjukkan
bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada materi hidrolisis
garam dapat meningkatakan metakognisi siswa. Selain itu penelitian yang
dilakukan oleh Anggraeni et al (2013) menunjukkan bahwa strategi
pembelajaran inkuiri mampu memberikan kesempatan bagi siswa untuk
menemukan sendiri pengetahuannya serta berperan aktif dalam pembelajaran
sehingga mampu memahami konsep dengan baik dan mengembangkan
5
kemampuan berpikir kritis. Strategi pembelajaran inkuiri adalah suatu
rangkaian kegiatan yang melibatkan kegiatan belajar secara maksimal seluruh
kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis,
logis, dan analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya
dengan penuh percaya diri (Gulo, 2008:84-85).
Strategi pembelajaran inkuiri memiliki keunggulan dibandingkan dengan
strategi pembelajaran langsung. Menurut Kunandar sebagaimana dikutip oleh
Anggraeni et al (2013), keunggulan penggunaan strategi pembelajaran inkuiri
adalah memacu keinginan siswa untuk mengetahui, memotivasi mereka untuk
melanjutkan pekerjaan sehingga mereka menemukan jawaban dan siswa belajar
menemukan masalah secara mandiri dengan memiliki keterampilan berpikir
kritis. Manfaat yang diperoleh bagi siswa dalam pembelajaran inkuiri adalah
siswa akan memahami konsep-konsep dasar dan ide-ide lebih baik, membantu
dalam menggunakan daya ingat dan transfer pada situasi-situasi proses belajar
yang baru dan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Musthofa dalam Nurmaliah (2009) menyatakan, keterampilan berpikir
terutama berpikir kritis dapat membantu seseorang dalam mengambil keputusan
dan menyelesaikan masalah. Pengambilan keputusan merupakan salah satu
kemampuan metakognisi dan sangat penting untuk dilatihkan kepada siswa di
sekolah. Selain itu Eggen & Kauchak dalam Nurmaliah (2009) menyatakan,
salah satu jenis kemampuan berpikir kritis dan berpikir tingkat tinggi adalah
kemampuan metakognisi. Bransford et al dalam Santoso (2007) menjelaskan
langkah-langkah penting dalam proses pembelajaran sains di sekolah adalah
metakognisi. Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk
6
mengadakan penelitian dengan judul “Penggunaan Strategi Pembelajaran
Inkuiri pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Untuk Meningkatkan
Metakognisi Siswa SMA”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah yang didapat adalah
1.
Apakah penggunaan strategi pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan
metakognisi siswa?
2.
Apakah penggunaan strategi pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan
hasil belajar siswa?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah untuk
1.
Meningkatkan metakognisi siswa kelas XI IPA melalui penggunaan
Strategi Pembelajaran Inkuiri.
2.
Meningkatkan
hasil
belajar
siswa
melalui
peneggunaan
Strategi
Pembelajaran Inkuiri.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah metakognisi siswa dalam mata pelajaran
Kimia meningkat dan pemahaman siswa terhadap konsep kimia meningkat.
Selain itu sebagai salah satu alternatif strategi pembelajaran yang dapat
digunakan guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
7
1.5 Penegasan Istilah
Penegasan Istilah dalam konteks ini dimaksudkan untuk mencari kesamaan
visi dan persepsi serta untuk menghindari distorsi pemahaman. Oleh sebab itu
diperlukan beberapa penjelasan tentang istilah dan pembatasan-pembatasan
penting yang ada dalam skripsi yang berjudul “Penggunaan Strategi
Pembelajaran Inkuiri pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan untuk
Meningkatkan Metakognisi Siswa SMA”
1.
Metakognisi
Metakognisi merupakan aspek pengetahuan yang paling tinggi
tingkatannya dalam revisi taksonomi Bloom setelah faktual, konseptual,
dan prosedural. Menurut Slavin, sebagaimana dikutip oleh Danial (2010)
mengatakan bahwa metakognisi adalah pengetahuan tentang pembelajaran
diri sendiri atau pengetahuan cara belajar. Selain itu, menurut Flavell,
sebagaimana dikutip oleh Haryani (2012:45), menyatakan bahwa
metakognisi didefinisikan sebagai pengetahuan dan kognisi tentang objekobjek kognitif, yaitu tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan
kognitif. Metakognisi diukur dengan tes penguasaan konsep dengan soal
essay mengunakan indikator sesuai operasi kunci dalam metakognisi yang
disajikan dalam Tabel 1.1.
8
Tabel 1.1. Operasi-Operasi Kunci dalam Metakognisi (Beyer dalam
Anderson, 2001:79)
Perencanaan
Pemantauan
Penilaian
(planning)
(monitoring)
(assessing)
Menyatakan tujuan
Menjaga tujuan yang
telah ditetapkan
Menilai pencapaian
tujuan
Memilih operasi yang
dipakai
Menjaga urutan
operasi agar sesuai
dengan masalah yang
dihadapi
Menimbang
keakuratan dan
ketepatan hasilhasil
Mengurutkan operasioperasi
Mengetahui bahwa
tujuan telah tercapai
Mengevaluasi
kesesuaian prosedur
yang digunakan
Mengidentifikasi
kesalahan dan
hambatan
Memutuskan kapan
menggunakan operasi
yang berikutnya yang
lain
Menilai penanganan
kesulitan dan
hambatan
Mengidentifikasi caracara untuk mengatasi
kesalahan dan
hambatan
Memilih operasi yang
paling sesuai
Menimbang
efisiensi rencana
dan pelaksanaan
Memprediksi hasil
yang diinginkan
Mengatasi kesalahan
dan hambatan
Mengetahui kapan
kesulitan dan
hambatan itu teratasi
2.
Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan
Kelarutan dan hasil kali kelarutan yang dimaksud di sini adalah materi
yang akan diberikan kepada siswa selama penelitian berlangsung. Materi
yang akan diberikan disesuaikan dengan kompetensi dasar dan indikator
yang sudah ditentukan dalam silabus.
3.
Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi pembelajran inkuri adalah strategi yang digunakan untuk
meningkatkan keterampilan metakognisi siswa. Menurut Gulo (2008:84-85)
9
strategi pembelajaran inkuiri
adalah
suatu
rangkaian
kegiatan yang
melibatkan kegiatan belajar secara maksimal seluruh kemampuan siswa
untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, dan analitis,
sehingga mereka dapat merumuskan sendiri
penemuannya
dengan penuh
percaya diri. Salah satu kegiatan yang dilakukan siswa yang berkaitan dengan
strategi ini adalah siswa mencari dan mengumpulkan data, merumuskan
masalah, serta menganalisis untuk menentukan kesimpulan.
BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Strategi Pembelajaran
Dalam dunia pendidikan strategi diartikan sebagai a plan, method, or
series of activities designed to achieves a particular education goal (Sanjaya,
2006:126). Menurut Hamruni (2011:3) strategi pembelajaran merupakan
rencana tindakan (rangkain kegiatan) termasuk penggunaan metode dan
pemanfaatan sebagai sumber daya dalam pembelajaran. Strategi disusun
untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua keputusan
penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Dengan demikian, penyusunan
langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber
belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan.
Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai rencana dan cara-cara
membawakan pengajaran agar segala prinsip dasar dapat terlaksana dan
segala
tujuan
pengajaran
dapat
tercapai
secara
efektif.
Cara-cara
membawakan pengajaran itu merupakan pola dan urutan umum perbuatan
guru-murid dalam perwujudan kegiatan pembelajaran. Pola dan urutan umum
guru-murid itu merupakan suatu kerangka umum kegiatan pembelajaran yang
tersusun dalam suatu rangkaian bertahap menuju tujuan yang telah ditetapkan
(Gulo, 2008:3). Sedangkan menurut Sanjaya (2011:126) strategi pembelajaran
merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan
metode dan pemanfaatan bagi sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran
yang disusun untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu
10
menurut
11
Suprihatiningrum (2013:153) strategi pembelajaran adalah rancangan
prosedural yang memuat tindakan yang harus dilakukan guru dalam proses
pembelajaran untuk mencapai sebuah tujuan. Dari beberapa pengertian di atas
dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan serangkaian cara
yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan adalah hal
penting dalam implementasi suatu strategi. Oleh karena itu, sebelum
menentukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur
keberhasilannya.
2.2 Strategi Pembembelajaran Inkuiri
2.2.1 Pengertian Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan bentuk dari pembelajaran yang
berorientasi kepada siswa. Gulo (2008:84-85) menyatakan bahwa strategi
pembelajaran inkuiri adalah suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan
secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki
secara sistematis, kritis, logis, dan analitis, sehingga mereka dapat
merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Sasaran utama
kegiatan pembelajaran pada strategi ini adalah keterlibatan siswa secara
maksimal dalam proses belajar mengajar; keterarahan kegiatan secara logis
dan sistematis; mengembangkan sikap percaya diri sendiri (self believe) pada
diri siswa tentang apa yang ditemuakan dalam proses inkuiri. Menurut
Hamruni (2011:88) strategi pembelajaran inkuiri merupakan rangkaian
kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis
dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu
masalah.
12
Berdasarkan beberapa pengertian mengenai strategi pembelajaran inkuiri
di atas dapat disimpulkan bahwa dengan strategi pembelajaran inkuiri siswa
diharapkan dapat belajar secara mandiri dan mengembangkan kreativitasnya
untuk
memecahkan
masalah.
Inkuiri
tidak
hanya
mengembangkan
keterampilan intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk
pengembangan emosional. Keterampilan inkuiri merupakan suatu proses yang
bermula dari merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan
data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan (Gulo, 2008:93).
Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajarn inkuiri.
Pertama, strategi inkuiri menekankan kepada aktifitas siswa secara maksimal
untuk mencari dan menemukan. Artinya strategi inkuiri menempatkan siswa
sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya
berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal,
tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran.
Kedua, seluruh aktifitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan
menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga
diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self believe). Strategi
pembelajaran inkuiri ini menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar,
tetapi fasilitator dan motivator belajar siswa. Aktivitas pembelajaran biasanya
dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa. Kemampuan
guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam
melakukan inkuiri. Ketiga, tujuan penggunaan srategi pembelajaran inkuiri
adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan
kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari
13
proses mental. Dalam strategi pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut
agar menguasai pelajaran, tetapi dapat menggunakan potensi yang dimilikinya
(Hamruni, 2011:89). Kemampuan yang dikembangkan dalam proses inkuiri
disajikan dalam Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Kemampuan yang Dikembangkan dalam Proses Inkuiri
(Gulo, 2008:95).
No
Tahap Inkuiri
1.
Merumuskan Masalah
2.
Merumuskan Jawaban
Sementara (Hipotesis)
Kemampuan yang Dituntut
a.
b.
c.
a.
b.
3.
Menguji Jawaban
Tentatif
c.
a.
b.
c.
4.
5.
Menarik Kesimpulan
a.
b.
Kesadaran terhadap masalah
Melihat pentingnya masalah
Merumuskan masalah
Menguji dan menggolongkan jenis data
yang dapat diperoleh
Melihat dan merumuskan hubungan
yang ada secara logis
Merumuskan hipotesis
Merakit peristiwa
- Mengidentifikasikan peristiwa yang
dibutuhkan
- Mengumpulkan data
- Mengevaluasi data
Menyusun data
- Mentranslasikan data
- Menginterprestasikan data
- Mengklasifikasikan data
Analisis data
- Melihat hubungan
- Mencatat persamaan dan perbedaan
- Mengidentifikasikan tren, sekuensi
dan keteraturan
Mencari pola dan makna hubungan
Merumuskan kesimpulan
Menerapkan
Kesimpulan dan
Generalisasi
Pada penelitian ini, digunakan pendekatan inkuiri terbimbing (Guided
Inquiry Approach)dimana pendekatan inkuiri saat guru membimbing siswa
melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan
kepada suatu diskusi. Pendekatan inkuiri terbimbing digunakan bagi siswa
14
yang kurang berpengalaman belajar. Siswa belajar lebih kepada bimbingan
dan petunjuk guru sehingga mampu memahami konsep – konsep pelajaran.
Siswa dihadapkan pada tugas – tugas yang relevan untuk diselesaikan, baik
melalui kelompok maupun individual, agar bisa menyelesaikan masalah dan
menarik suatu kesimpulan secara mandiri.
2.2.2 Langkah-Langkah Strategi Pembelajaran Inkuiri
Secara umum proses pembelajaran dengan strategi pembelajaran inkuiri
dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Orientasi
Orientasi dilakukan untuk membina suasana pembelajaran yang
responsive. Pada langkah ini guru mengkondisikan siswa agar siap
melaksanakan proses pembelajaran. Beberapa hal yang dapat dilakukan
dalam tahapan orientasi ini adalah:
a. Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat
dicapai oleh siswa.
b. Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa
untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah
inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan
masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.
c. Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan
dalam rangka memotivasi belajar siswa.
2. Merumuskan Masalah
15
Merumuskan maslah merupakan langkah membawa siswa pada suatu
persoalan yang mengandung teka-teki, artinya siswa didorong untuk
mencari jawaban yang tepat atas permasalahan yang ada.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan masalah, yaitu:
a. Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa.
b. Masalah yang dikaji mengandung teka-teki yang jawabannya pasti.
c. Monsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah
diketahui terlebih dahulu oleh siswa.
3. Mengajukan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban semantara dari suatu permasalahan yang
sedang dikaji. Jawaban sementara ini perlu dikaji kebenarannya. Perkiraan
sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan tapi harus memiliki landasan
berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan bersifat
rasional dan logis.
4. Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang
dibutuhkan untuk menguji hipotesis. Dalam strategi pembelajarn inkuiri,
mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam
pengembangan intelektual. Tugas dan peran guru dalam tahap ini adalah
mengajukan pertanyaan pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk
berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.
5. Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang diterima
sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan
16
pengumpulan data. Menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan
siswa atas jawaban yang diberikan.
6. Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang
diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.
(Hamruni, 2011:95-99)
Selain itu menurut Gulo (2008:98) kegiatan belajar mengajar pada strategi
pembelajaran inkuiri dapat dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu:
a. Menghadapi stimulus (terencana atau tidak terencana),
b. Menjajaki reaksi terhadap situasi yang merangsang,
c. Merumuskan tugas yang dipelajari dan mengorganisasikan kelas
(merumuskan masalah, tugas kelas, peranan, dan sebagainya),
d. Belajar menyelasaikan masalah secara independen atau kelompok,
e. Benganalisis proses dan kemajuan kegiatan belajar,
f. Evaluasi dan tindak lanjut.
2.3 Metakognisi
2.3.1 Pengertian Metakognisi
Metakognisi merupakan aspek pengetahuan
yang paling tinggi
tingkatannya dalam revisi taksonomi Bloom setelah faktual, konseptual, dan
prosedural. Menurut Slavin, sebagaimana dikutip oleh Danial (2010)
mengatakan bahwa metakognisi adalah pengetahuan tentang pembelajaran
diri sendiri atau pengetahuan cara belajar. Selain itu, menurut Flavell,
sebagaimana dikutip oleh Haryani (2012:45), menyatakan bahwa metakognisi
didefinisikan sebagai pengetahuan dan kognisi tentang objek-objek kognitif,
17
yaitu tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kognitif. Meskipun
demikian, menurutnya konsep metakognisi dapat diperluas mencakup sesuatu
yang psikologis, seperti jika seseorang memiliki pengetahuan atau kognisi
tentang emosi, motif diri sendiri, atau orang lain. Metakognisi dapat dikatakan
sebagai kemampuan berpikir tentang berpikir. Kenyataannya gambaran
tersebut tidak sesederhana itu, karena terdapat beberapa perbedaan istilah atau
konsep metakognisi. Metakognisi terdiri dari dua proses dasar yang
berlangsung scara stimulan yakni memonitor kemajuan ketika belajar dan
membuat perubahan serta mengadaptasi strategi-strategi jika memiliki
persepsi tidak melakukan sesuatu yang baik.
Flavell menyatakan bahwa metakognisi peserta didik bahkan orang pada
umumnya perlu dikembangkan dengan alasan sebagai berikut: (1) peserta
didik harus memiliki kecenderungan untuk banyak berpikir, dalam arti
semakin banyak metakognsi membutuhkan semakin banyak kognisi, (2)
pemikiran peserta didik dapat berbuat salah serta cenderung keliru, dan dalam
keadaan ini membutuhkan peonitoran dan pengaturan yang baik, (3) peserta
didik harus mau berkomunikasi, menjelaskan, dan memberikan alasan yang
jelas untuk pemikirannya kepada peserta didik lain dan juga pada dirinya
sendiri; aktifitas ini tentu saja membutuhkan metakognisi (4) untuk bertahan
dan berhasil dengan baik, peserta didik perlu merencanakan masa depan dan
secara kritis mengevaluasi rencana-rencana yang lain, (5) jika peserta didik
harus membuat keputusan yang berat, maka akan membutuhkan keterampilan
metakognitif, dan (6) peserta didik harus mempunyai kebutuhan untuk
18
menyimpulkan dan menjelaskan kejadian-kejadian psikologi pada dirinya dan
ogang lain.
Dari
paparan
tersebut,
Haryani
mengemukakan
bahwa
proses
metakognisi adalah suatu aktivitas mental dalam struktur kognitif yang
dilakukan secara sadar oleh seseorang untuk mengatur, mengontrol, dan
memeriksa proses berpikirnya sendiri (Haryani, 2012:47). Sedangkan menurut
Romli (2010), metakognisi adalah pengetahuan seseorang tentang proses
berpikirnya sendiri, atau pengetahuan seseorang tentang kognisinya serta
kemampuan dalam mengatur dan mengontrol aktivitas kognisinya dalam
belajar dan berpikir. Jadi dapat disimpulkan bahwa metakognisi merupakan
keterampilan berfikir yang dimiliki seseorang untuk mengkoordinasikan
pengetahuan yang dimiliki mulai dari merencanakan sampai mengevaluasi
proses kognitifnya.
Instrument untuk mengukur metakognisi yang selama ini banyak
dikembangkan adalah melalui observasi, kuesioner, dan wawancara.
Pengukuran metakognisi pada umumnya mengacu pada Flavell dan Schraw.
Pengetahuan metakognisi yang diadaptasi dari Flavell dan Schraw diukur
melalui kuesioner, sedangkan pengalaman metakognitif diungkap melalui
wawancara dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan
seltelah presentasi visual hasil penyelesaian masalah. Sementara itu Anderson
& Krathwohl menyatakan bahwa metakognisi dapat diukur melalui tes
sebagaimana penguasaan konsep dengan indikator metakognisi (Haryani,
2012:56-57)
19
2.3.2 Indikator Metakognisi
Metakognisi terdiri dari 2 komponen utama, yaitu pengetahuan
metakognisi dan regulasi metakognisi. Pengetahuan metakognisi mengacu
pada pengetahuan tentang kognisi seperti pengetahuan tentang keterampilan
(skill) dan strategi kerja yang baik untuk pebelajar dan bagaimana serta kapan
menggunakan keterampilan dan strategi tersebut. Selanjutnya regulasi
metakognisi mengacu pada kegiatan-kegiatan yang mengontrol pemikiran dan
belajar seseorang seperti merencanakan, memonitor pemahaman, dan
evaluasi. Danial (2010).
Menurut Romli (2010), komponen atau indikator metakognisi terdiri dari
tiga elemen, yaitu (1) menyusun strategi atau rencana tindakan, (2) memonitor
tidakan, dan (3) mengevaluasi tindakan. Ketiga komponen tersebut secara
rinci dapat dijabarkan dalam Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Indikator Metakognisi (diadaptasi dari Mc Gregor, Scraw, dan
Anderson & Krathwol) dalam Haryani (2011:58)
No.
1.
Level Metakognisi
Menyadari proses
berpikir dan mampu
menggambarkannya
Sub Level Metakognisi
-
2.
Mengembangkan
pengenalan strategi
berpikir
-
Menyatakan tujuan
Mengetahui tentang apa dan bagaimana
Menyadari bahwa tugas yang diberikan
membutuhkan banyak referensi
Menyadari kemampuan sendiri dalam
mengerjakan tugas
Mengidentifikasi informasi
Memilih opersi/prosedur yang dipakai
Mengurutkan operasi yang digunakan
Merancang apa yang akan dipelajari
Memikirkan tujuan yang telah ditetapkan
Mengelaborasi informasi dari berbagai
sumber
Memutuskan operasi yang paling sesuai
Menjelaskan urutan operasi lebih spesifik
Mengetahui bahwa strategi elaborasi
20
No.
Level Metakognisi
Sub Level Metakognisi
-
3.
Merefleksi prosedur
secara evaluative
-
4.
Mentransfer
pengalaman
pengetahuan dan
prosedural pada
konteks lain
-
5.
Menghubungkan
pemahaman
konseptual dengan
pengalaman
-
meningkatkan pemahaman
Memikirkan bagaimana orang lain
memikirkan tugas
Menilai pencapaian tujuan
Menyusun dan menginterpretasi data
Mengevaluasi prosedur yang digunakan
Mengatasi kesalahan/hambatan dalam
pemecahan masalah
Mengidentifikasi sumber-sumber
kesalahan dari percobaan
Menggunakan operasi yang berbeda
untuk penyelesaian masalah yang sama
Menggunakan operasi/prosedur yang
sama untuk masalah lain
Mengembangkan prosedur untuk masalah
yang sama
Mengaplikasikan pemahamannya pada
situasi baru
Mengaitkan data pengamatan dengan
pembahasan
Menganalisis efisiensi an efektifitas
prosedur
2.3.3 Metakognisi dan Berpikir
Metakognisi merujuk pada perintah berpikir yang lebih tinggi, meliputi
kontrol aktif melalui proses kognitif yang diusahakan dalam pembelajaran.
Berpikir pada umumnya dianggap suatu proses kognitif, suatu aksi mental
yang dengan proses dan tindakan itu pengetahuan diperoleh. Proses berpikir
berhubungan dengan bentuk-bentuk tingkah laku yang lain dan memerlukan
keterlibatan aktif pada bagian-bagian tertentu dari si pemikir. Dengan
demikian, seorang pembelajar harus secara aktif memonitor penggunaan
proses berpikir mereka dan mengaturnya sesuai tujuan kognitif mereka
(Haryani, 2012:54). Berpikir metakognisi memiliki dua dimensi utama yaitu,
berorientasi pada tugas dan terkait dengan monitoring kinerja actual dari suatu
21
keterampilan. Menurut Presseisen keterkaitan antara kedua dimensi tersebut
dibuat dalam bentuk bagan yang disajikan dalam Gambar 2.1.
Metakognisi
Monitoring kinerja tugas:



Menjaga tugas, sekuen
Mendeteksi dan mengoreksi
kesalahan
Alokasi waktu kerja
Pemilihan dan pemahaman
strategi yang tepat:





Memfokuskan perhatian pada
apa yang dibutuhkan
Mengkaitkan apa yang
diketahui pada materi yang
dipelajari
Menguji ketepatan suatu
strategi
Akurasi kinerja lebih besar
Kemampuan melakukan proses
berpikir lebih berdaya guna
Gambar 2.1. Model keterampilan berpikir metakognitif (Presseisen dalam
Costa) dalam Haryani (2012:55)
Pemantauan kinerja tugas memerlukan keterlibatan peserta didik untuk
mengawasi aktivitasnya sendiri, dan menjaga sekuen yakni membedakan
subtujuan dari suatu tugas dan menghubungkannya dengan tujuan yang
sesungguhnya. Dimensi kedua yaitu dalam memilih strategi yang sesuai untuk
bekerja, teori metakognitif menyarankan bahwa urutan belajar yang pertama
adalah mengenali masalah sehingga dapat memfokuskan perhatian terhadap
apa yang diperlukan dan menentukan perhatian terhadap apa yang diperlukan
untuk menyelesaikan masalah. Dalam perspektif metakognitif, pemikir
menjadi lebih memiliki kemampuan melakuka proses berpikir yang lebih
22
berdaya guna dan lebih mandiri karena keterampilan ini berkenbang dan terus
berulang (Haryani, 2012:55-56)
2.4 Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan
2.4.1 Kelarutan
Kelarutan (solubility) suatu zat dalam suatu pelarut menyatakan jumlah
maksimum suatu zat yang dapat larut dalam suatu pelarut. Satuan kelarutan
umumnya dinyatakan dalam gram L-1 atau mol L-1. Besarnya kelarutan suatu
zat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain sebagai berikut.
1. Jenis pelarut
Senyawa polar (mempunyai kutub muatan) akan mudah larut dalam
senyawa polar. Misalnya alkohol dan semua senyawa asam adalah
senyawa polar, sehingga mudah larut dalam air yang juga senyawa polar.
Selain senyawa polar, senyawa ion juga mudah larut dalam air dan terurai
menjadi ion-ion.
Senyawa nonpolar akan mudah larut dalam senyawa nonpolar,
misalnya lemak mudah larut dalam minyak. Senyawa polar umumnya
tidak larut dalam senyawa nonpolar, misalnya alkohol tidak larut dalam
minyak tanah.
2. Suhu
Kelarutan zat padat dalam air semakin tinggi bila suhunya dinaikkan.
Adanya panas (kalor) mengakibatkan semakin renggangnya jarak antar
molekul zat padat tersebut. Merenggangnya jarak antar molekul zat padat
menjadikan kekuatan gaya antar molekul tersebut menjadi lemah sehingga
mudah terlepas oleh gaya tarik molekul-molekul air.
23
2.4.2 Hasil Kali Kelarutan (Ksp)
Senyawa-senyawa ion yang terlarut di dalam air akan terurai menjadi
partikel dasar pembentuknya yang berupa ion positif dan ion negatif. Bila
kedalam larutan jenuh suatu senyawa ion ditambahkan kristal senyawa ion
maka kristal tersebut tidak melarut dan akan mengendap. Kristal yang tidak
larut ini tidak mengalami ionisasi. Bila ke dalam system tersebut ditambahkan
air maka endapan kristal tersebut akan segera terionisasi, dan sebaliknya bila
air dalam larutan tersebut diuapkan maka ion-ion akan segera mengkristal.
Dalam peristiwa tersebut terjadi system kesetimbangan antara zat padat
dengan ion-ionnya didalam larutan.
Pada larutan jenuh senyawa ion AmBn di dalam air akan menghasilkan reaksi
kesetimbangan,
AmBn(s)
mAn+(aq) + nBm-(aq)
Harga hasil kali kelarutannya dinyatakan dengan rumus,
Ksp AmBn = [An+]m [Bm-]n
2.4.3 Hubungan kelarutan dan Ksp
Pada larutan jenuh senyawa ion AmBn konsentrasi zat di dalam larutan
sama dengan harga kelarutanny dalam satuan mol L-1. Senyawa AmBn yang
terlarut akan mengalami ionisasi dalam system kesetimbangan,
AmBn(s)
mAn+(aq) + nBm-(aq)
Jika harga kelarutan dari senyawa AmBn sebesar s mol L-1, maka di dalam
reaksi kesetimbangan tersebut konsentrasi ion-ion An+ dan ion Bm- sebagai
berikut
24
AmBn(s)
s mol L-1
mAn+(aq) + nBm-(aq)
m s mol L-1
n s mol L-1
sehingga harga hasil kali kelarutannya adalah,
Ksp AmBn
= [An+]m [Bm-]n
= (m s)m (n s)n
= mm x nn x (s)(m+n)
Jadi untuk reaksi kesetimbangan:
AmBn(s)
mAn+(aq) + nBm-(aq)
Ksp AmBn = mm x nn x (s)(m+n)
Dengan s =kelarutan AmBn dalam satuan mol L-1
Dari rumus tersebut dapat ditentukan harga kelarutan sebagai berikut:
Besarnya Ksp suatu zat bersifat tetap pada suhu tetap. Bila terjadi perubahan
suhu maka harga Ksp zat tersebut akan mengalami perubahan.
2.4.4 Pengaruh ion senama terhadap kelarutan
Jika ke dalam larutan jenuh AgCl ditambahkan beberapa tetes larutan
NaCl maka akan segera terjadi pengendapan AgCl, demikian pula bila ke
dalam lautan AgCl tersebut ditambahkan beberapa tetes larutan AgNO3.
AgCl(s)
Ag+(aq) + Cl-(aq)
Bila ke dalam sistem kesetimbangan tersebut ditambahkan ion Cl- maka
kesetimbangan akan bergeser ke kiri, sehingga mengakibatkan jumlah AgCl
25
yang mengendap bertambah. Demikian pula bila dalam system kesetimbangan
tersebut ditambah ion Ag+, maka sistem kesetmbangan akan bergeser ke kiri
dan berakibat bertambahnya jumlah AgCl yang mengendap. Kesimpulannya
bila ke dalam sistem kesetimbangan kelarutan ditambahkan ion yang senama
akan mengakibatkan kelarutan senyawa tersebut berkurang.
2.4.5 Fungsi dan Manfaat Hasil Kali Kelarutan
Harga hasil kali kelarutan (Ksp) suatu senyawa ionik yang sukar larut
dapat memberikan informasi tentang kelarutan senyawa tersebut dalam air.
Semakin besar harga Ksp suatu zat, semakin mudah larut senyawa tersebut.
Harga Ksp suatu zat dapat digunakan untuk meramalkan terjasi tidaknya
endapan suatu zat jika dua larutan yang mengandung ion-ion dari senyawa
sukar larut dicampurkan. Untuk meramalkan terjadi tidaknya endapan AmBn
jika larutan yang mengandung ion An+ dan Bm- dicampurkan digunakan
konsep hasil kali ion (Qsp) berikut ini.
Qsp AmBn = [An+]m [Bm-]n

Jika Qsp > Ksp maka akan terjadi endapan AmBn

Jika Qsp = Ksp maka akan terjadi larutan jenuh AmBn

Jika Qsp < Ksp maka belum terjadi larutan jenuh maupun endapan
AmBn.
Selain
memberi
informasi tentang
kelarutan,
harga
Ksp
dapat
dimanfaatkan sebagai salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam
pemisahan zat dalam campuran dengan cara pengendapan selektif. Contoh :
Untuk memisah ion Zn2+ dan ion Cd2+ yang terdapat secara bersama-sama
26
dalam suatu larutan dapat dilakukan dengan mengalirkan gas H2S ke dalam
larutan tersebut sehingga terjadi reaksi:
Zn2+(aq) + S2-(aq)
ZnS(s)
Zn2+(aq) + S2-(aq)
ZnS(s)
Diketahui harga Ksp ZnS= 1,6x10-22 dan Ksp CdS= 8x10-27, dengan mengatur
harga pH maka konsentrasi ion sulfida dalam larutan dapat diatur sedemikian
sehingga Qsp ZnS< Ksp ZnS sehingga ZnS belum mengendap dan Qsp CdS >
Ksp CdS sehingga CdS mengendap. Dengan demikian kedua ion tersebut
dapat dipisahkan dari larutan. (Sudarmo, 2006:208-216)
27
2.5 Kerangka Berpikir
Pembelajaran berpusat pada guru
dan siswa kurang terlibat dalam
pembelajaran
Pengembangan keterampilan
berpikir untuk mengkontruksi
pengetahuan terhambat
Nilai belum mencapai
KKM
Pembelajaran yang dapat
mengembangkan keterampilan berpikir
Mengembangkan aspek
metakognisi
Strategi Pembelajaran Inkuiri
Melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa
Gambar 2.2. Kerangka Berpikir
untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis,
logis, dan analitis, siswa memahami konsep-konsep dasar
dan mampu mengembangkan kemampuan berpikir
Metakognisi meningkat dan Nilai
mencapai KKM
28
2.6 Hipotesis
Menurut Sugiyono (2009:96), hipotesis adalah suatu jawaban yang
bersifat sementara terhadap rumusan masalah penelitian, belum didasarkan
pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.
Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka maka dapat diambil
hipotesis:
Ha
: strategi pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan metakognisi siswa
Ho
: strategi pembelajaran inkuiri tidak dapat meningkatkan metakognisi
siswa
2.7 Indikator Keberhasilan Penelitian
Indikator keberhasilan penelitian ini untuk metakognisi siswa secara
klasikal adalah 27 dari 38 siswa, sedangkan untuk kemampuan kognitif siswa
secara klasikal 27 dari 38 siswa mencapai nilai lebih dari atau samadengan 73.
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Eksperimen adalah suatu
penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel
lain dalam kondisi yang terkontrol. Dalam penelitian eksperimen, para peneliti
melakukan tiga persyaratan yaitu kegiatan mengontrol, memanipulasi, dan
observasi. Selain itu peneliti juga membagi objek menjadi dua kelompok yaitu
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Darmadi, 2013:40)
3.2 Lokasi, Waktu, dan Objek Penelitian
Penelitian dilakukan dan dilaksanakan di SMA N 1 Donorojo Jepara, Jawa
Tengah. Objek dari penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA semester genap
yang terdiri dari dua kelas IPA. Pemilihan sampel dalam penelitian ini diambil
dengan teknik Cluster Random Sampling. Penelitian dilakukan pada tahun ajaran
2013/2014 selama bulan April 2014. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah
strategi pembelajaran inkuiri dan strategi pembelajaran langsung, sedangkan
variabel terikatnya adalah kemampuan metakognisi yang dilih i hasil belajar
berupa tes penguasaan konsep dan kuesioner.
29
30
3.3 Desain penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian eksperimen at dar
ini adalah Pretest-Postest Group Design. Dalam rancangan ini dilibatkan
hasil belajar dari dua kelompok yang dibandingkan, yaitu kelompok eksperimen
dan kelompok kotrol berdasarkan perbedaan antara pengukuran awal dan
pengukuran akhir dari kedua kelompok. Rancangan penelitian ini tampak pada
Tabel 3.1 berikut:
Tabel 3.1. Rancangan Penelitian
Kelompok
Pretest
Treatment
Posttest
Eksperimen
P1
X
P2
Kontrol
P1
Y
P2
Keterangan
P1
: Tes awal (pretest) yang diberikan sebelum proses belajar mengajar
dimulai, diberikan kepada kedua kelompok (eksperimen dan kontrol)
X
: perlakuan yang diberikan kepada kelompok eksperimen yaitu dengan
menggunakan strategi pembelajaran inkuiri
Y
: perlakuan yang diberikan kepada kelompok kontrol yaitu dengan
menggunakan strategi pembelajaran langsung.
P2
: Tes akhir (posttest) yang diberikan setelah proses pembelajaran
3.4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
3.4.1
Teknik Pengumpulan Data
3.4.1.1 Tes
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan tes adalah tes untuk
mengukur kemampuan metakognisi yaitu tes dengan indikator metakognisi yang
bermuatan konsep. Tes yang diberikan terdiri dari pretest dan posttest.
Pretest adalah tes yang dirancang untuk mengukur kemampuan awal
mengenai penguasaan konsep terhadap materi sebelum program pembelajaran
dilakukan. Posttest adalah tes yang dimaksudkan untuk mengetahui seberapa
jauh kompetensi dasar atau indikator yang disampaikan dalam program
pembelajaran telah dikuasai oleh siswa. Posttest juga dapat dimaksudkan untuk
31
mengetahui perbedaan yang terjadi antara tes yang dilakukan setelah suatu
program pembelajaran dilakukan.
3.4.1.2 Observasi
Observasi dilakukan sebelum dan selama penelitian. Observasi sebelum
penelitian dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai pembelajaran yang
selama ini dilakukan di sekolah. Observasi selama penelitian dilakukan untuk
memperoleh data mengenai aspek afektif dan psikomotorik. Aspek afektif
diamati selama proses pembelajaran dan aspek psikomotorik dilakukan saat
praktikum.
3.4.1.3 Angket (kuesioner)
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan angket bertujuan untuk
memperoleh data mengenai kemampuan metakognisi siswa. Hasil angket
dianalisis secara deskriptif dengan membuat tabel frekuensi jawaban siswa
kemudian dianalisis dan disimpulkan.
3.4.2
Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena
alam maupun sosial yang diamati. Instrumen yang digunakan dalam penelitian
ini adalah tes hasil belajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.
Tes merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab, harus ditanggapi,
atau tugas yang harus dilaksanakan oleh orang yang dites. Tes digunakan untuk
mengukur sejauh mana seorang siswa telah menguasai pelajaran yang
disampaikan terutama meliputi aspek pengetahuan dan keterampilan (Jihad &
Haris, 2013:67). Tes yang diberikan pada penelitian ini merupakan tes tertulis
berbentuk uraian pada pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kelarutan, yang
didasarkan pada indikator metakognisi (Haryani, 2012:57). Sebelum tes ini
32
diberikan kepada siswa kelas XI IPA, tes ini terlebih dahulu diuji cobakan untuk
diketahui validitas dan reliabilitasnya. Sedangkan penilaian kemampuan
metakognisi dilakukan dengan menggunakan rubrik yang divalidasi oleh ahli.
3.4.2.1 Analilis Instrumen Tes
Sebelum instrumen digunakan, instrumen terlebih dahulu diujicobakan
kepada siswa kelas XII. Data hasil uji coba yang dianalisis yaitu validitas butir
soal, realibilitas instrumen, tingkat kesukaran butir soal, dan daya pembeda butir
soal.
3.4.2.1.1 Validitas Instrumen
Validitas merupakan ukuran yang menunjukkan kesahihan atau ketepatan
suatu instrumen. Instrumen dikatakan valid jika dapat mengukur apa yang
hendak diukur dan mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat.
Dalam penentuan tingkat validitas butir soal digunakan korelasi product moment
pearson dengan mengkorelasikan antara skor yang diperoleh siswa pada suatu
butir soal dengan skor total yang didapat. Rumus yang digunakan:
(Ruseffendi dalam Jihad dan Haris, 2012:179-180)
Keterangan:
rxy
: koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y
N
: banyaknya peserta tes
X
: skor total butir soal
Y
: skor total yang diperoleh siswa
Tabel 3.2. Interpretasi Kriteria Validitas Instrumen
Interval koefisien
Kriteria
0.80< rxy ≤1.00
Sangat tinggi
0.60< rxy ≤0.80
Tinggi
0.40< rxy ≤0.60
Sedang
0.20< rxy ≤0.40
Rendah
rxy ≤0.20
Sangat rendah
33
Hasil analisis soal berdasarkan rumus rxy, diperoleh harga koefisien korelasi
yang diinterpretasikan dengan kriteria validitas instrumen pada Tabel 3.2. Hasil
tersebut disajikan dalam Tabel 3.3.
Tabel 3.3. Hasil Analisis Validitas Soal Uji Coba
Nomor butir
soal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Validitas
Keterangan
0.51
0.47
0.77
-0.45
0.74
0.80
0.74
0.73
0.56
0.22
0.67
0.23
0.27
-0.08
Sedang
Sedang
Tinggi
Sangat Rendah
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Sedang
Rendah
Tinggi
Rendah
Rendah
Sangat Rendah
Berdasarkan harga validitas, soal yang dipakai adalah soal dengan kategori
sedang dan tinggi. Tetapi soal-soal tersebut harus memenuhi kriteria reliabilitas,
daya pembeda dan tingkat kesukaran.
3.4.2.1.2 Reliabilitas
Perhitungan reliabilitas ini dilakukan untuk menunjukkan apakah instrumen
tes yang diujikan reliabel atau tidak, suatu tes dapat dikatakan reliabel jika tes
tersebut menunjukkan hasil yang mantab. Suatu instrument tes dikatakan mantab
apabila instrument tes tersebut digunakan berulangkali. Dengan syarat saat
pengukuran tidak berubah, instrument tes tersebut memberikan hasil yang sama.
34
Reliabilitas instrument tes pada penelitian ini menggunakan rumus Alpha karena
tes yang digunakan pada penelitian ini adalah tes tertulis berbentuk uraian.
Kriteria reliabilitas instrumen ditentukan sesuai Tabel 3.4. Adapun rumus untuk
mencari reliabilitas instrumen tes adalah
(Suharsimi, 2012:122)
Keterangan
rii
k
= reliabilitas tes secara keseluruhan
= banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
= jumlah varians butir
= varians total
Tabel 3.4. Interpretasi Kriteria Reliabilitas Instrumen
Interval koefisien
Kriteria
0.81-1.00
Sangat tinggi
0.61-0.80
Tinggi
0.41-0.60
Sedang
0.21-0.40
Rendah
<0.20
Sangat rendah
Berdasarkn hasil analisis butir soal diperoleh hasil rii sebesar 0,663. Hal ini
menunjukkan bahwa soal mempunyai kriteria reliabilitas tinggi. Harga rii
tersebut kemudian dikonsultasikan dengan harga r pada tabel r product moment
dengan taraf signifikansi 5% dan n = 10 yaitu 0,632. Kriteria soal reliabel bila
harga r11 lebih besar dari r tabel. Jadi dapat disimpulkan bahwa soal reliabel
yang ditunjukkan dengan nilai r11 lebih besar dari harga r product moment.
3.4.2.1.3 Tingkat kesukaran tes
Tes yang baik adalah tes yang mempunyai taraf kesukaran tertentu, sesuai
dengan karakteristik peserta tes. Taraf kerusakan suatu tes dapat dicari dengan
menggunakan rumus dan diinterpretasikan sesuai kriteria pada Tabel 3.5.
dengan
35
Keterangan
IK
: indeks kesukaran
Tabel 3.5. Kriteria Indeks Kesukaran
Interval koefisien
Kriteria
0,00 ≤ P < 0,30
Soal sukar
0,30 ≤ P < 0,70
Soal sedang
0,70 ≤ P ≤ 1,00
Soal mudah
(Rudyatmi & Rusilowati, 2012: 95)
Hasil analisis tingkat kesukaran soal disajikan dalam Tabel 3.6.
Tabel 3.6. Hasil analisis tingkat kesukaran soal uji coba
Nomor butir soal Tingkat Kesukaran
Keterangan
1
0.343
Sedang
2
0.412
Sedang
3
0.592
Sedang
4
0.175
Sukar
5
0.210
Sukar
6
0.418
Sedang
7
0.218
Sukar
8
0.218
Sukar
9
0.175
Sukar
10
0.056
Sukar
11
0.052
Sukar
12
0
13
0.212
Sukar
14
0.046
Sukar
15
0.094
Sukar
3.4.2.1.4 Daya pembeda soal
Tes yang baik adalah tes yang bisa memisahkan dua kelompok peserta tes
atau siswa. Kedua kelompok itu adalah siswa yang betul-betul mempelajari
materi pelajaran dan siswa yang tidak mempelajari materi pelajaran. Kriteria
daya pembeda disajikan dalam Tabel 3.7 dan untuk menentukan daya beda
ditentukan rumus:
36
Keterangan
DB
Mean kel. Atas
Mean kel. Bawah
: daya beda
: rata-rata nilai kelompok atas
: rata-rata nilai kelompok bawah
Tabel 3.7. Kriteria Daya Pembeda Instrumen
Interval koefisien
Kriteria
D: 0,00-0,20
Jelek
D: 0,21-0,40
cukup
D: 0,41-0,70
Baik
D: 0,71-1,00
Baik sekali
(Rudyatmi & Rusilowati, 2012:95)
Berdasarkan kriteria daya pembeda instrumen pada Tabel 3.7 hasil analisis daya
pembeda soal menunjukkan ada 3 soal yang memenuhi kategori baik yaitu soal
nomor 6, 7, dan 8; 3 soal yang memenuhi kategori cukup yaitu soal nomor 3, 5,
dan 11; 8 soal memenuhi kategori jelek yaitu soal nomor 1, 2, 4, 9, 10, 13, 14,
dan 15; serta ada satu soal yang tidak memenuhi kriteria jelek, cukup, baik,
maupun baik sekali yaitu soal nomor 12.
Berdasarkan keempat analisis soal uji coba peneliti memilih 10 soal yang
sesuai dengan indikator kompetensi dan indikator metakognisi untuk digunakan
sebagai instrumen penelitian yaitu soal nomor 1, 3, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, dan 13
dengan perbaikan kalimat dalam soal maupun kunci jawaban.
3.4.2.2 Instrumen Penilaian Non Tes
Instrumen penilaian non tes meliputi aspek psikomotorik dan afektif.
Peningkatan keterampilan pada kedua aspek ini diukur dengan menggunakan
lembar observasi.
3.4.2.2.1 Lembar Observasi Psikomotorik
1.
Validitas Lembar Observasi Aspek Psikomotorik
Instrumen penilaian lembar observasi psikomotorik menggunakan validitas
isi, dimana instrumen memiliki kesesuaian isi dalam mengukur indikator yang
37
diamati. Penentuan validasi non tes ditentukan oleh pakar ahli. Berdasarkan
analisis validasi lembar observasi psikomotorik memenuhi kriteria sangat baik
dan layak digunakan.
2.
Reliabilitas Lembar Observasi Aspek Psikomotorik
Perhitungan reliabilitas lembar observasi psikomotorik menggunakan rumus
Spearman :
(Suharsimi, 2002:278)
Keterangan:
r11
= reliabilitas instrumen
n
= jumlah objek yang diamati
= jumlah varians beda butir
Tabel 3.8. Klasifikasi Reliabilitas Lembar Observasi
Interval
0,80 < r11≤ 1,0
0,60 < r11≤ 0,80
0,40 < r11≤ 0,60
0,20 < r11≤ 0,40
r11≤ 0,20
Kriteria
Sangat tinggi
Tinggi
Cukup
Rendah
Sangat rendah
Berdasarkn hasil analisis lembar observasi psikomotorik diperoleh hasil r11
sebesar 0,79. Klasifikasi reliabilitas lembar observasi pada Tabel 3.8
menunjukkan
kriteria
reliabilitas
tinggi.
Harga
rii
tersebut
kemudian
dikonsultasikan dengan harga r pada tabel r product moment dengan taraf
signifikansi 5% dan n = 10 yaitu 0,632. Kriteria lembar observasi reliabel bila
harga r11 lebih besar dari r tabel. Jadi dapat disimpulkan bahwa soal reliabel
yang ditunjukkan dengan nilai r11 lebih besar dari harga r product moment
38
3.4.2.2.2 Lembar Observasi Afektif
1.
Validitas Lembar Observasi Aspek Afektif
Instrumen penilaian lembar observasi afektif menggunakan validitas isi,
dimana instrumen memiliki kesesuaian isi dalam mengukur indikator yang
diamati. Penentuan validasi non tes ditentukan oleh pakar ahli. Berdasarkan
analisis validasi lembar observasi psikomotorik memenuhi kriteria sangat baik
dan layak digunakan.
2.
Reliabilitas Lembar Observasi Aspek Afektif
Perhitungan reliabilitas lembar observasi afektif menggunakan rumus
Spearman yaitu:
(Suharsimi, 2002:278)
Keterangan:
r11
= reliabilitas instrumen
n
= jumlah objek yang diamati
= jumlah varians beda butir
Tabel 3.9. Klasifikasi Reliabilitas Lembar Observasi
Interval
0,80 < r11≤ 1,0
0,60 < r11≤ 0,80
0,40 < r11≤ 0,60
0,20 < r11≤ 0,40
r11≤ 0,20
Kriteria
Sangat tinggi
Tinggi
Cukup
Rendah
Sangat rendah
Berdasarkan hasil analisis lembar observasi afektif diperoleh hasil r11 sebesar
0,94. Klasifikasi reliabilitas lembar observasi pada Tabel 3.9 menunjukkan
kriteria reliabilitas tinggi. Harga r11 tersebut kemudian dikonsultasikan dengan
harga r pada tabel r product moment dengan taraf signifikansi 5% dan n = 7 yaitu
0,754. Kriteria lembar observasi reliabel bila harga r11 lebih besar dari r tabel.
Jadi dapat disimpulkan bahwa soal reliabel.
39
3.4.2.2.3 Lembar Angket Respon Siswa
Analisis tahap awal dari angket respon siswa adalah dengan menggunakan
validasi isi, dimana instrumen memiliki kesesuaian isi dengan indikator–
indikator yang diamati. Validasi ini dilakukan oleh validator (pakar ahli).
Berdasarkan analisis validasi lembar observasi psikomotorik memenuhi kriteria
sangat baik dan layak digunakan. Sedangkan untuk reliabilitasnya dihitung
menggunakan rumus Alpha (Suharsimi, 2009:122). Kriteria reliabilitas lembar
observasi disajikan dalam Tabel 3.10.
α=
k  S2 j 
1  2 
k  1 
S x 
Keterangan:
α = koefisien reliabilitas alpha
k = jumlah item
Sj = varians responden untuk item I
Sx = jumlah varians skor total
Tabel 3.10. Interpretasi Kriteria Reliabilitas Angket
Interval koefisien
Kriteria
0.81-1.00
Sangat tinggi
0.61-0.80
Tinggi
0.41-0.60
Sedang
0.21-0.40
Rendah
<0.20
Sangat rendah
Berdasarkn hasil analisis lembar Angket diperoleh hasil
sebesar 0,58. Hal ini
menunjukkan bahwa lembar Angket mempunyai kriteria reliabilitas sedang.
3.4.3
Teknik Analisis Data
Setelah melakukan uji coba instrumen, selanjutnya dilakukan penelitian.
Data yang diperoleh melalui instrumen penelitian selanjutnya diolah dan
dianalisis dengan maksud agar hasilnya dapat menjawab pertanyaan penelitian
dan menguji hipotesis. Dalam pengelolaan dan penganalisisan data tersebut
40
digunakan statistik. Langkah- langkah yang ditempuh dalam penggunaan
statistik untuk pengolahan data tersebut adalah:
3.4.3.1 Analisis Tahap awal
Analisis tahap awal meliputi uji normalitas dan uji homogenitas. Hal ini
bertujuan untuk mengetahui bahwa populasi berawal dari kondisi yang sama
sehingga teknik pengambilan sampel dapat dilakukan sengan teknik Cluster
Random Sampling.
3.4.3.1.1 Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui kenormalan data yang akan
dianalisis. Data yang digunakan untuk analisis tahap awal ini adalah nilai ujian
akhir semester gasal kelas XI IPA. Uji statistik yang digunakan adalah uji chikuadrat dengan rumus:
(Sudjana, 1996:273)
Keterangan :
χ2
= chi kuadrat
Oi
Ei
= frekuensi yang diharapkan k
i
= 1,2,3,...,k
Kriteria pengujian adalah jika χ2
distribusi
data
tidak
distribusi
data
hitung<
berbeda
berdistribusi normal. Jika χ2
berbeda
= frekuensi pengamatan
= banyaknya kelas interval
χ2(1-α)(k-3) (taraf signifikan 5%) maka
dengan
hitung
dengan
distribusi
normal
atau
data
> χ2(1-α)(k-3) (taraf signifikan 5%) maka
distribusi
normal
atau
data
tidak
berdistribusi normal.
3.4.3.1.2 Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui bahwa populasi benar-benar
homogen. Uji ini menggunakan Uji Bartlett dengan rumus:
(Sudjana, 1996:263)
41
Keterangan:
2
= berasnya homogenitas
B
= koefisien Bartlett
Si2
= varian masing-masing kelas
S2
= varian gabungan
ni
= jumlah siswa dalam kelas
3.4.3.2 Uji Tahap Akhir
3.4.3.2.1 Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui kenormalan data yang akan
dianalisis. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi-kuadrat dengan rumus:
(Sudjana, 1996:273)
Keterangan :
χ2
= chi kuadrat
Oi
Ei
= frekuensi yang diharapkan k
i
= 1,2,3,...,k
Kriteria pengujian adalah jika χ2
distribusi
data
tidak
berbeda
berdistribusi normal. Jika χ2
distribusi
data
hitung<
berbeda
χ2(1-α)(k-3) (taraf signifikan 5%) maka
dengan
hitung
= frekuensi pengamatan
= banyaknya kelas interval
distribusi
normal
atau
data
> χ2(1-α)(k-3) (taraf signifikan 5%) maka
dengan
distribusi
normal
atau
data
tidak
berdistribusi normal. Jika data tidak berdistribusi normal analisis data
menggunakan statistik nonparametrik.
3.4.3.2.2 Peningkatan Hasil Belajar Kognitif dan Metakognisi
Uji peningkatan hasil belajar kognitif dan metakognisi digunakan untuk
mengetahui ada atau tidak peningkatan yang signifikan setelah proses
42
pembelajaran. Uji peningkatan ini dianalisis dengan uji normalized gain untuk
mengetahui besar peningkatan nilai pretest dan posttest. Rumus untuk
menghitung N-gain rata-rata yaitu:
N-gain =
(Wiyanto dalam Suyanto, 2012:17)
Kriteria tingkat pencapaian n-gain: 0,00-0,29 kategori rendah; 0,30-0,69
kategori sedang; 0,70-1,00 kategori tinggi.
Uji Selanjutnya dilakukan dengan menggunakan uji-t. Untuk menentukan rumus
uji-t terlebih dahulu dilakukan uji kesamaan dua varian.
Jika dua kelas mempunyai varians tidak berbeda (s12 = s22) digunakan
1)
rumus t
thitung =
2
2
dengan s = n1  1s1  n 2  1s 2
X1  X 2
n1  n 2  2
1
1 
s   
 n1 n 2 
Keterangan :
X 1 = Rata-rata nilai Postes
X 2 = Rata-rata nilai Pretes
n1 = Jumlah siswa
n2 = Jumlah siswa
s12 = Varians nilai Postes
s12 = Varians niali Pretes
s = Simpangan baku gabungan
2)
Jikadua kelas mempunyai varians yang berbeda (s12 s22) digunakan
rumus t’
t’hitung =
X1  X 2
s
2
1
 
/ n1  s 22 / n 2
Keterangan:
X 1 = Rata-rata nilai Postes
X 2 = Rata-rata nilai Pretes

43
n1 = Jumlah siswa
n2 = Jumlah siswa
s12 = Varians nilai Postes
s12 = Varians niali Pretes
3.4.3.2.3 Uji Kesamaan Dua Varian
Uji kesamaan dua varian bertujuan untuk menentukan rumus t-tes yang
digunakan dalam uji hipotesis akhir (Sudjana, 1996:250). Uji kesamaan dua
varian dapat dihitung dengan rumus menggunakan rumus:
(1) Jika harga Fhitung < Fα(nb-1)(nk-1) dengan (σ12 = σ22) berarti kedua kelas
mempunyai varians sama sehingga diuji dengan rumus t.
(2) Jika harga Fhitung < Fα(nb-1)(nk-1) dengan (σ12 ≠ σ22) berarti kedua kelas
mempunyai varians berbeda sehingga diuji dengan rumus t’.
Peluang yang digunakan adalah ½ α (α = 5 %), dk untuk pembilang= n1–1 dan
dk untuk penyebut = n2–1.
3.4.3.2.4 Uji Kesamaan Dua Rata-rata Satu Pihak Kanan
Uji hipotesis dilakukan dengan statistik satu pihak, yaitu pihak
kanan dengan rumus uji t. Sudjana (1996:243) menyatakan uji ini bertujuan
untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan rata-rata antara kelas eksperimen dan
kelas kontrol.
Berdasarkan uji kesamaan dua varians:
Jika dua kelas mempunyai varians tidak berbeda (s12 = s22) digunakan
1)
rumus t
thitung =
X1  X 2
1
1 
s   
 n1 n 2 
2
2
dengan s = n1  1s1  n 2  1s 2
n1  n 2  2
44
Keterangan :
X = Rata-rata nilai kelas Eksperimen
1
X 2 = Rata-rata nilai kelas kontrol
n1 = Jumlah siswa
n2 = Jumlah siswa
s12 = Varians nilai kelas eksperimen
s12 = Varians niali kelas kontrol
s = Simpangan baku gabungan
2)
Jika dua kelas mempunyai varians yang berbeda (s12 s22) digunakan
rumus t’
t’hitung =
X1  X 2
s
2
1
 
/ n1  s 22 / n 2

Keterangan:
X 1 = Rata-rata nilai kelas Eksperimen
X 2 = Rata-rata nilai kelas kontrol
n1 = Jumlah siswa
n2 = Jumlah siswa
s12 = Varians nilai kelas eksperimen
s12 = Varians niali kelas kontrol
3.4.3.2.5 Analisis Hasil Belajar Afektif
Analisis data hasil belajar afektif menggunakan analisis deskriptif yang
bertujuan untuk mengetahui nilai afektif baik kelompok eksperimen maupun
kelompok kontrol. Setelah skor dijumlahkan kemudian diinterpretasikan dengan
kriteria pada Tabel 3.11 dan Tabel 3.12.
Tabel 3.11. Kriteria Hasil Belajar Afektif
Rata- rata skor
Kriteria
Skor akhir
responden
24 – 28
Sangat Baik/Sangat layak
A
19 – 23
Baik/Layak
B
14 – 18
Cukup
C
7 – 13
Kurang
D
45
Tabel 3.12. Kriteria Hasil Belajar Afektif Tiap Aspek
Eksperimen
Kontrol
Jumlah skor tiap
Kriteria
Jumlah Sakor
Kriteria
aspek
tiap Aspek
124 – 152
Sangat Baik
131-160
Sangat Baik
95 – 123
Baik
101-130
Baik
66 – 94
Cukup
71-100
Cukup
38 – 65
Kurang
40-70
Kurang
3.4.3.2.6 Analisis Hasil Belajar Psikomotorik
Analisis data hasil belajar psikomotorik menggunakan analisis deskriptif
yang bertujuan untuk mengetahui nilai psikomotorik baik kelompok eksperimen
maupun
kelompok
kontrol.
Setelah
skor
dijumlahkan
kemudian
diinterpestasikana dengan kriteria pada Tabel 3.13 dan Tabel 3.14.
Tabel 3.13. Kriteria Hasil Belajar Psikomotorik
Rata- rata skor
Kriteria
Skor akhir
responden
81 – 100
Sangat Baik
A
62 – 80
Baik
B
43 – 61
Cukup
C
25 – 42
Kurang
D
Tabel. 3.14 Kriteria Hasil Belajar Psikomotorik tiap aspek
Eksperimen
Jumlah skor tiap
aspek
124 – 152
95 – 123
66 – 94
38 – 65
Kriteria
Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Kontrol
Jumlah Sakor
tiap Aspek
131-160
101-130
71-100
40-70
Kriteria
Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
3.4.3.2.7 Analisis Kuesioner Siswa
Analisis keefektifan kuesioner siswa dilakukan secara deskriptif melalui
lembar angket yang sudah disediakan, menggunakan skala penilaian dari 1
hingga 4. Hasil analisis skor yang didapat kemudian disesuaikan dengan kriteria
pada Tabel 3.15.
46
Tabel 3.15. Kriteria Skor Kuesioner Siswa
Rata- rata skor
Kriteria
Skor akhir
responden
23 – 28
Sangat Baik/Sangat layak
A
18 – 22
Baik/Layak
B
13 – 17
Cukup
C
7 – 12
Kurang
D
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di kelas XI IPA SMA N 1
Donorojo diperoleh data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berupa
nilai ujian akhir semester gasal dan tes hasil belajar kognitif sedangkan data
kualitatif berupa data hasil observasi aspek afektif dan psikomotorik serta
kuesioner siswa.
4.1.1
Hasil Analisis Tahap Awal
Analisis tahap awal dilakukan untuk menentukan sampel kelas kontrol
dan kelas eksperimen. Analisis ini terdiri dari uji normalitas dan uji
homogenitas. Data yang digunakan untuk analisis tahap awal adalah data nilai
ujian akhir semester gasal Kelas XI IPA.
4.1.1.1 Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal
atau tidak. Hasil uji normalitas data populasi disajikan pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Hasil Uji Normalitas Data Populasi
Kelas
XI IPA 1
XI IPA 2
2
hitung
5,96
2,27
2
tabel
5,99
7,81
Keterangan
Berdistribusi Normal
Berdistribusi Normal
Berdasarkan tabel hasil uji normalitas menunjukkan bahwa
ini menunjukkan bahwa kedua kelas berdistribusi normal.
47
2
hitung
<
2
tabel.
Hal
48
4.1.1.2 Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah kedua kelas berawal dari
kemampuan yang sama. Hasil analisis uji homogenitas populasi disajikan pada
Tabel 4.2.
Tabel 4.2. Hasil Uji Homogenitas Data Populasi
Data
Nilai ujian akhir
semester gasal
2
hitung
1,939
2
tabel
3,84
Keterangan
Homogen
Berdasarkan hasil analisis uji homogenitas menunjukkan bahwa
2
hitung
<
2
tabel .
Hal ini berarti kedua kelas homogen atau mempunyai kondisi awal yang sama,
dengan demikian teknik pengambilan sampel dapat dilakukan dengan teknik
Cluster Random Sampling.
4.1.2
Hasil Analisis Tahap Akhir
Data yang digunakan untuk analisis tahap akhir adalah nilai pretes-postes
kemampuan metakognisi yang meliputi uji normalitas, uji Normalized gain, uji
Kesamaan dua varian, dan uji perbedaan dua rata-rata. Sedangkan hasil
observasi aspek afektif dan psikomotorik serta kuesioner siswa dianalisis secara
deskriptif.
4.1.2.1 Uji Normalitas
Uji normalitas pada tahap akhir ini digunakan untuk mengetahui analisis yang
akan digunakan selanjutnya apakah menggunakan analisis parametrik atau
analisis non parametrik. Hasil uji normalitas data pretes disajikan pada Tabel 4.3
dan postes disajikan pada Tabel 4.4.
49
Tabel 4.3. Hasil uji normalitas data pretes
2
Kelas
hitung
Eksperimen 4,62
Kontrol
3,34
2
tabel
9,49
9,49
Keterangan
Distribusi Normal
Distribusi Normal
Tabel 4.4. Hasil uji normalitas data postes
2
Kelas
hitung
Eksperimen 10,18
Kontrol
7,175
2
tabel
12,99
7,81
Keterangan
Distribusi Normal
Distribusi Normal
Berdasarkan tabel hasil uji normalitas pretes dan postes, maka data berdistribusi
normal sehingga analisis selanjutnya menggunakan analisis parametrik.
4.1.2.2 Uji Normalized Gain
Uji normalized gain digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar
kognitif dan metakognisi yaitu dengan melihat nilai pretes dan postes. Hasil
analisis peningkatan hasil belajar kognitif disajikan dalam Tabel 4.5.
Tabel 4.5. Hasil Analisis Normalized-gain
Eksperimen Kontrol
Pretest
35.68
36.15
posttest
75.15
72.425
N-gain
0.61
0.56
Hasil analisis normalized gain pada Tabel 4.5, menunjukan bahwa kelas
eksperimen mempunyai peningkatan hasil belajar kognitif yang lebih tinggi jika
dibandingkan dengan kelas kontrol. Tapi berdasarkan kriteria pencapaikan ngain kedua kelas mempunyai kategori sedang. Hasil analisis peningkatan
metakognisi kelas eksperimen disajikan pada Tabel 4.6 dan kelas kontrol
disajikan pada Tabel 4.7.
50
Tabel 4.6 Hasil analisis peningkatan metakognisi kelas eksperimen
Indikator metakognisi Skor pretes Skor postes
N-gain
Tingkat
pencapaian
Menyatakan tujuan
79
158
0,71
Tinggi
Mengetahui tentang
301
380
1
Tinggi
apa dan bagaimana
Mengidentifikasi
534
1041
0,83
Tinggi
informasi
Memilih
74
271
0,64
Sedang
operasi/prosedur yang
dipakai
Mengurutkan operasi
410
735
0,60
Sedang
yang digunakan
Merancang apa yang
56
160
0,32
Sedang
akan dipelajari
Tabel 4.7 Hasil analisis peningkatan metakognisi kelas kontrol
Indikator metakognisi Skor pretes Skor postes
N-gain
Tingkat
pencapaian
Menyatakan tujuan
85
154
0,6
Sedang
Mengetahui tentang
317
400
1
Tinggi
apa dan bagaimana
Mengidentifikasi
574
1062
0,78
Tinggi
informasi
Memilih
79
269
0,59
Sedang
operasi/prosedur yang
dipakai
Mengurutkan operasi
379
775
0,63
Sedang
yang digunakan
Merancang apa yang
84
136
0,16
Rendah
akan dipelajari
Analisis peningkatan metakognisi siswa pada Tabel 4.6 dan 4.7
menunjukkan bahwa kelas eksperimen mempunyai peningkatan metakognisi
yang lebih tinggi. Indikator yang paling terlihat adalah pada indikator
menyatakan tujuan dan indikator merancang apa yang akan dipelajari.
4.1.2.3 Uji Kesamaan Dua Varian
Uji kesamaan dua varian digunakan untuk mengetahui apakah kedua
kelas memiliki varian yang sama atau tidak, dengan demikian dapat menentukan
rumus yang digunakan untuk uji-t. Berdasarkan nilai pretes-poetes ada tiga kali
51
uji kesamaan dua varian yaitu uji kesamaan dua varian antara nilai pretes-postes
kelas kontrol, uji kesamaan dua varian antara nilai pretes-postes kelas
eksperimen, dan uji kesamaan dua varian antara kelas kontrol dan kelas
eksperimen.
Uji kesamaan dua varian antara nilai pretes-postes kelas kontrol dan uji
kesamaan dua varian antara nilai pretes-postes kelas eksperimen digunakan
untuk menentukan rumus uji-t sebelum menguji hipotesis peningkatan hasil
belajar, sedangkan uji kesamaan dua varian antara kelas kontrol dan kelas
eksperimen digunakan untuk mengetahui rumus uji-t sebelum menguji hipotesis
perbedaan peningkatan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Tabel 4.8 Hasil analisis uji kesamaan dua varian
Kelas
Eksperimen
Kontrol
Fhitung
1,78
1,58
Ftabel
1,71
1,69
Keterangan
Varian berbeda
Varian tidak berbeda
Tabel 4.8 menunjukkan bahwa pada kelas eksperimen Fhitung > Ftabel hal ini
berarti antara nilai pretes-postes mempunyai varian berbeda, sehingga rumus
yang digunakan untuk menguji hipotesis peningkatan hasil belajar menggunakan
rumus t’. Sedangkan pada kelas kontrol menunjukkan bahwa Fhitung < Ftabel hal
ini berarti antara nilai pretes-postes mempunyai varian tidak berbeda (sama),
sehingga rumus yang digunakan untuk menguji hipotesis peningkatan hasil
belajar menggunakan rumus t.
4.1.2.4 Uji Peningkatan Hasil Belajar
Uji peningkatan hasil belajar menggunakan uji hipotesis satu pihak
kanan. Uji ini bertujuan untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar
kognitif antara nilai pretes dan postes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
52
Tabel 4.9 Uji peningkatan hasil belajar
Kelas
Eksperimen
Kontrol
t’hitung
65,80
21,12
t’tabel
2,02
2,00
Keterangan
Meningkat signifikan
Meningkat signifikan
Berdasarkan Tabel 4.9 uji peningkatan hasil belajar kognitif, pada kelas
eksperimen diperoleh t’ hitung > t’tabel sehingga hipotesis nol ditolak, artinya pada
kelas eksperimen mempunyai peningkatan hasil belajar yang signifikan. Begitu
juga dengan kelas kontrol, berdasarkan tabel peningkatan hasil belajar kognitif
diperoleh t’hitung > t’tabel sehingga hipotesis nol ditolak, artinya pada kelas kontrol
mempunyai peningkatan hasil belajar yang signifikan.
4.1.2.5 Uji Kesamaan Dua Rata-rata
Uji kesamaan dua rata-rata digunakan untuk mengetahui ada tidaknya
perbedaan rata-rata antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berdasarkan hasil
analisis data diperoleh nilai thitung 1,65 < ttabel 1,66. Hal ini menunjukkan bahwa
antara kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak mempunyai perbedaan rata-rata
yang signifikan.
4.1.2.6 Hasil Analisis Pencapaian Indikator Metakognisi
Kemampuan metakognisi siswa selain dianalisis menggunakan N-gain juga
dianalisis pencapaian indikator metakognisinya berdasarkan kriteria pencapaian
indikator pada Tabel 4.10. Hasil analisis pencapaian indikator metakognisi
disajikan dalam Tabel 4.11
53
Tabel 4.10 Pencapaian Indikator Metakognisi
Skor
5
4
3
2
1
0
Pencapaian Indikator Metakognisi
Indikator Tercapai
Sebagian Besar Indikator Tercapai
Sebagian Kecil Indikator Tercapai
Tidak Mencapai Indikator Metakognisi
Tidak Ada Respon
Tabel 4.11 Hasil Analisis Pencapaian indikator metakognisi
Indikator
Eksperimen
Kontrol
Rata-rata
Keterangan
Rata-rata
Keterangan
Menyatakan
4,15
Indikator
3,85
Sebagian besar
tujuan
tercapai
indikator tercapai
Mengetahui
5
Indikator
5
Indikator tercapai
tentang apa dan
tercapai
bagaimana
Mengidentifikasi
4,56
Indikator
4,42
Indikator tercapai
informasi
tercapai
Memilih
3,56
Sebagian besar
3,36
Sebagian besar
operasi/prosedur
indikator tercapai
indikator tercapai
yang dipakai
Mengurutkan
3,86
Sebagian besar
3,87
Sebagian besar
operasi
yang
indikator tercapai
indikator tercapai
digunakan
Merancang apa
2,10
Sebagian kecil
1,7
Tidak mencapai
yang
akan
indikator tercapai
indikator
dipelajari
metakognisi
4.1.3
Hasil Analisis Aspek Afektif
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran
diperoleh data pada Tabel 4.12.
Tabel 4.12 Hasil analisis aspek afektif
Kelas
Sangat Baik
Eksperimen
7
Kontrol
6
Kategori
Baik
Cukup
26
5
26
8
Kurang
0
0
Jumlah
Siswa
38
40
Tabel 4.12 menunjukkan bahwa hasil belajar afektif dari kelas
eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol. Pada kelas eksperimen ada 7 dari
54
38 siswa yang memenuhi kriteria sangat baik, 26 siswa memenuhi kriteria baik
dan 5 siswa memenuhi kriteria cukup. Sedangkan pada kelas kontrol ada 6 dari
40 siswa yang memenuhi kriteria sangat baik, 26 siswa memenuhi kriteria baik,
dan 8 siswa memenuhi kriteria kurang. Persentase aspek afektif kelas
eksperimen dan kelas kontrol disajikan pada Gambar 4.1 dan hasil analisis hasil
belajar afektif tiap aspek disajikan pada Tabel 4.13.
Gambar 4.1 Gambar Persentase Aspek Afektif
Tabel 4.13 Hasil Analisis hasil belajar afektif tiap aspek
Aspek Afektif
Rasa ingin tahu
Bekerjasama
Tanggungjawab
Kreatif
Memperhatikan
penjelasan orang lain
Mengemukakan
pendapat
Bertanya
Eksperimen
105
126
135
95
137
Keterangan
Baik
Sangat baik
Sangat baik
Baik
Sangat baik
Kontrol
122
129
132
81
134
Keterangan
Baik
Baik
Baik
Cukup
Sangat baik
114
Baik
128
Baik
100
Baik
94
Cukup
55
4.1.4
Hasil Analisis Aspek Psikomotorik
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran
diperoleh data sebagai berikut.
Tabel 4.14 Hasil analisis aspek psikomotorik
Kelas
Sangat Baik
Eksperimen
18
Kontrol
18
Kategori
Baik
Cukup
20
0
22
0
Kurang
0
0
Jumlah
Siswa
38
40
Tabel analisis aspek psikomotorik dari kelas eksperimen dan kelas
kontrol pada Tabel 4.14 menunjukkan bahwa hasil belajar psikomotorik kelas
eksperimen lebih baik dari kelas kontrol. Pada kelas eksperimen ada 18 dari 38
siswa yang memenuhi kriteria sangat baik, dan 20 siswa memenuhi kriteria baik.
Sedangkan pada kelas kontrol ada 18 dari 40 siswa yang memenuhi kriteria
sangat baik, 22 siswa memenuhi kriteria baik. Persentase aspek psikomotorik
kelas eksperimen dan kelas kontrol disajikan pada Gambar 4.2 dan hasil analisis
hasil belajar psikomotorik tiap aspek disajikan pada Tabel 4.15.
Gambar 4.2 Persentase Aspek Psikomotorik
Tabel 4.15 Hasil Analisis hasil belajar Psikomotorik tiap aspek
56
Aspek psikomotorik
Menyiapkan alat yang
digunakan
Menyiapkan larutan
kerja
Keterampilan
merangkai alat
praktikum
Keterampilan menuang
larutan ke dalam buret
Keterampilan
menggunakan alat
untuk mengidentifikasi
kesadahan air
Keterampilan
melakukan pengamatan
Membuat laporan
sementara hasil
praktikum
Menuang sisa larutan
kerja ke dalam
tempatnya
Membersihkan alat
Mengembalikan alat
ketempat semula
4.1.5
Eksperimen
143
Keterangan Kontrol
Sangat Baik 155
Keterangan
Sangat Baik
144
Sangat baik
152
Sangat Baik
113
Baik
121
Baik
141
Sangat Baik
132
Sangat Baik
110
Baik
121
Baik
114
Baik
100
Cukup
109
Baik
100
Cukup
113
Baik
120
Baik
126
139
Sangat Baik
Sangat Baik
153
152
Sangat Baik
Sangat Baik
Hasil Analisis Kuesioner Siswa
Kuesioner siswa pada penelitian ini adalah untuk mengukur kemampuan
metakognisis siswa menggunakan pernyataan Sangat Setuju, Setuju, Tidak
Setuju, dan Sangat Tidak Setuju.
57
Tabel 4.16 Hasil Analisis Kuesioner Siswa
Pernyataan
Kelas Eksperimen
SS
S
TS STS
Saya dapat mengikuti 2
36
0
0
pelajaran dengan
baik
Saya dapat
1
36
0
1
memahami tujuan
pembelajaran yang
selama ini saya ikuti
Saya dapat
3
31
2
1
menjelaskan konsepkonsep kimia yang
selama ini saya
pelajari
Saya menyadari
16
22
0
0
bahwa saya harus
banyak membaca
Saya menyadari
6
32
0
0
sejauh mana saya
bisa megerjakan
tugas
Saya dapat memilih
5
32
1
0
langkah-langkah
yang dipakai untuk
memecahkan soal
Saya mencari
7
30
1
0
informasi dari
berbagai sumber
untuk memecahkan
masalah dan soalsoal kimia yang ada
di LKS
Kelas Kontrol
SS
S
TS STS
12
25
3
0
4
28
7
1
3
26
18
3
32
7
1
0
12
25
3
0
2
25
12
1
8
21
10
1
Berdasarkan tabel 4.16 hasil menujukkan bahwa kelas eksperimen mempunyai
kemampuan metakognisi lebih baik dari pada kelas kontrol.
58
4.2 Pembahasan
Penelitian dilakukan di SMA N 1 Donorojo selama bulan April 2014.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan metakognisi siswa kelas
XI IPA mengunakan Strategi pembelajaran inkuiri materi kelarutan dan hasil
kali kelarutan yang dianalisis menggunakan data hasil tes dan kuesioner siswa
serta hasil observasi aspek afektif dan psikomotorik.
4.2.1
Kondisi Awal Sampel Penelitian
Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik cluster
random sampling yang terlebih dahulu diuji normalitas dan homogenitas
populasinya. Berdasarkan perhitungan uji homogenitas, diperoleh harga
1,939 dan
2
tabel
= 3,84. Harga
2
hitung <
2
tabel
2
hitung =
sehingga dapat disimpulkan bahwa
masing-masing kelas memiliki homogenitas yang sama. Berdasarkan teknik
cluster random sampling terpilih kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan
kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol.
4.2.2
Proses Pembelajaran
4.2.2.1 Kelas Eksperimen
Selama proses pembelajaran kelas eksperimen menggunakan strstegi
pembelajaran
inkuiri.
Gulo
(2008:84-85)
menyatakan
bahwa
strategi
pembelajaran inkuiri adalah suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan
secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki
secara sistematis, kritis, logis, dan analitis, sehingga mereka dapat merumuskan
sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Selain itu menurut Hamruni
(2011:88)
strategi
pembelajran
inkuiri
merupakan
rangkaian
kegiatan
pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis
59
untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah. Jadi selama
proses pembelajaran siswa terlibat aktif dimana siswa dihadapkan dengan sebuah
masalah kemudian dituntut untuk menyelesaikan masalah tersebut melalui
diskusi kelompok.
Masalah yang dihadapkan kepada siswa disajikan dalam LKS beserta
langkah-langkah penyelesaiannya sesuai dengan langkah-langkah strategi
pembelajaran inkuiri yang meliputi (1) merumuskan masalah; (2) merumuskan
hipotesisi; (3) mengunpulakan data dan menguji hipotesis; (4) menarik
kesimpulan. Selama proses pembelajaran siswa mendapat bimbingan dari guru
untuk
menyelesaikan
masalah
berdasarkan
langkah-langkah
setrategi
pembelajaran inkuiri baik merumuskan masalah, merumuskan hipotesis,
mengumpulkan data, menguji hipotesis, maupun menarik kesimpulan. Hal ini
dilakukan karena siswa masih terbiasa belajar dengan menerima materi dari guru
sehingga siswa harus dibimbing untuk mengolah kemampuan berpikirnya.
4.2.2.2 Kelas Kontrol
Selama proses pembelajaran kelas kontrol menggunakan strategi
pembelajaran langsung. Strategi pembelajaran langsung merupakan strategi
dimana guru menyajikan pelajaran secara lisan tentang fakta-fakta, konsep atau
prinsip. Biasanya guru memberikan perintah, menjelaskan hal-hal tertentu,
mengetengahkan pengalaman, dan dengan keahliannya dibantu bahan-bahan/
buku yang tersedia meningkatkan pengetahuan para siswa (Saptorini, 2011:11).
Selama kegiatan pembelajaran guru memulai dengan menjelaskan
konsep-konsep materi yang harus dikuasai oleh siswa kemudian memberikan
contoh soal. Siswa diberi latihan soal sederhana dan mengerjakan melalui
60
diskusi dalam kelompok. Setelah selesai mengerjakan beberapa siswa maju ke
depan kelas untuk memaparkan jawaban hasil diskusi. Jika masih ada materi
yang belum dipahami, siswa dapat secara langsung menyampaikan kepada guru
dan guru dapat melihat sejauh mana siswa memahami materi. Pembelajaran
dilanjutkan dengan membahas soal yang mempunyai tingkat kesulitan lebih
tinggi dibandingkan latihan soal sebelumnya. Jika ada yang belum dipahami
siswa, guru menjelaskan kembali bagian yang belum dipahami.
4.2.3
Peningkatan Hasil Belajar dan Metakognisi
Peningkatan hasil belajar kognitif dan metakognisi siswa dilihat dari
peningkatan nilai pretes-postes. Berdasarkan hasil analisis data pretes dan postes
kelas eksperimen diperoleh nilai t = 65,8 dengan taraf signifikansi 0,05
menunjukkan bahwa ada peningkatan yang signifikan antara nilai pretes dan
nilai postes. Hasil analisis data pretes dan postes kelas kontrol diperoleh nilai t =
21,12 dengan taraf signifikansi 0,05 menunjukkan bahwa ada peningkatan yang
signifikan antara nilai pretes dan nilai postes. Dari uji peningkatan kedua kelas
menunjukkan bahwa antara kelas eksperimen yang menggunakan strategi
pembelajaran inkuiri dan kelas kontrol yang menggunakan strategi pembelajaran
langsung sama-sama mempunyai peningkatan signifikan.
Berdasarkan analisis hasil belajar kognitif menggunakan uji normalizedgain diperoleh nilai N-gain kelas eksperimen sebesar 0,61 yang termasuk dalam
kategori sedang dan nilai N-gain kelas kontrol sebesar 0,56 yang termasuk dalam
kategori sedang. Jika dibandingkan dengan kelas kontrol maka kelas eksperimen
mempunyai nilai N-gain yang lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa
61
peningkatan hasil belajar kognitif kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas
kontrol.
Peningkatan kemampuan metakognisi selain dilihat dari peningkatan skor
pretes-postes juga dilihat dari ketercapaian indikator metakognisi pada setiap
soal tes penguasaan konsep yang terintegrasi dengan indikator metakognisi.
Indikator metakognisi yang digunakan dalam penelitian ini adalah level 1
metakognisi yaitu menyadari proses berpikir dan mampu menggambarkannya
yang terbagi menjadi indikator sebagai berikut:
1) Menyatakan tujuan
Menurut Flavell sebagaimana dikutip oleh Haryani (2012:46) menyatakan
bahwa metakognisi mengacu pada aktifitas memonitor, meregulasi serta
menyususn proses-proses dalam hubungan dengan objek kognitif atau data
yang mereka hadapi. Dengan demikian menyatakan tujuan merupakan
langkah awal yang harus dilakukan sebelum meregulasi dan menyususn
proses-proses dalam hubungan dengan objek kognitif. Pada penelitian ini
indikator menyatakan tujuan dituangkan dalam soal nomor 1.
Berdasarkan hasil analisis pencapaian indikator menunjukkan bahwa kelas
eksperimen mencapai N-gain 0,71 dalam kategori tinggi sedangkan pada
kelas kontrol mencapi N-gain 0,60 dalam kategori sedang. Hal ini
menunjukkan bahwa kelas eksperimen dengan menggunakan strategi
pembelajarn inkuiri mempunyai peningkatan metakognisi yang lebih tinggi
jika dibandingkan dengan kelas kontrol dengan menggunakan strategi
pembelajaran langsung. Berdasarkan analisis pencapaian indikator, kelas
eksperimen memperoleh skor 4,15 dalam kategori indikator tercapai dan
62
kelas kontrol memperoleh skor 3,85 dalam kategori sebagian indikator
tercapai. Hal ini menunjukkan siswa kelas eksperimen lebih dapat
menyatakan tujuan karena dalam proses pembelajran inkuiri siswa
dirangsang dan diajak untuk berpikir memecahkan masalah dan mencari
jawaban yang tepat, dengan demikian siswa terbiasa untuk memahami tujuan
pembelajaran sebelum meregulasi dan menyusun proses kognitifnya.
2) Mengetahui Tentang Apa dan Bagaimana
Metakognisi mengacu pada pengetahuan tentang kognisi (Robert dan
Erdos dalam Haryani, 2012:45). Mengetahui tentang apa dan bagaimana
merupakan bentuk dari pengetahuan tentang kognisi. Indikator Mengetahui
Tentang Apa dan Bagaimana pada penelitian ini terintegrasi dalam soal
nomor 2. Berdasarkan hasil analisis pencapaian indikator menunjukkan
bahwa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol mempunyai harga N-gain 1
dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kelas eksperimen dan
kelas kontrol mempunyai peningkatan metakognisi yang sama. Hasil analisis
pencapaian indikator menunjukkan bahwa kedua kelas dapat mencapai
indikator mengetahui tentang apa dan bagaimana.
Pengunaan strategi pembelajaran inkuiri dan strategi pembelajaran
langsung keduanya menekankan pada penguasaan konsep. Penerapan
Strategi pembelajaran inkuiri membantu siswa untuk mengkonstruksi
pengetahuan yang dimiliki sehingga siswa mampu memahami konsep
dengan baik. Penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni et al menunjukkan
bahwa strategi pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan kemampuan
berpikir kritis dan pemahaman konsep siswa. Strategi pembeljaran langsung
63
pada kelas kontrol berlangsung teacher centered, artinya dalam proses
pembelajaran guru sangat dominan. Dalam penerapannya guru menyajikan
informasi tahap demi tahap dan memberitahu siswa tentang apa yang harus
mereka pelajari atau baca. Strategi pembelajaran langsung menekankan
informasi konsep dan prinsip yang bertujuan untuk pengusaan pengetahuan
yang distrukturisasi dengan baik dan pengetahuan keterampilan (Anggraeni
et al, 2013). Dengan demikian siswa mempunyai penguasaan pengetahuan
yang cukup untuk mengetahui tentang apa dan bagaimana suatu konsep.
Penelitian yang dilakukan oleh Setiawan et al (2010) menunjukkan bahwa
penerapan model pembelajaran langsung efektif terhadap peningkatan
pemahaman belajar siswa dalam pembelajaran RPL.
3) Mengidentifikasi Informasi
Metakognisi menuntun proses berpikir secara sadar untuk mengontrol,
membuat hubungan logis antara apa yang diketahui dan informasi yang baru
diterima (Bayer dalam Haryani, 2012:45). Untuk dapat membuat hubungan
yang logis antara pengetahuan yang telah dimiliki dengan informasi yang
baru diterima diperlukan kemampuan untuk mengidentifikasi informasi
dengan baik. Pada penelitian ini indikator mengidentifikasi informasi
terintegrasi pada soal nomor 3 dan 4. Berdasarkan hasil analisis metakognisi
siswa menunjukkan bahwa pada kelas eksperimen mempunyai harga N-gain
0,83 lebih dari kelas kontrol 0,78. Hal ini menunjukkan bahwa kelas
eksperimen mempunyai peningkatan yang lebih tinggi daripada kelas
kontrol.
64
Penggunaan strategi pembelajaran inkuiri pada kelas ekperimen menekankan
pada aktifitas siswa untuk mencari dan menemukan pengetahuannya. Salah
satu langakah dalam proses inkuiri adalah mengumpulkan data. Pada tahap
mengumpulkan data siswa mencari informasi sebanyak-banyaknya dan
mengidentifikasi informasi yang diperlukan dalam pengujian hipotesis. Jadi
siswa pada kelas eksperimen sudah terbiasa untuk mengidentifikasi
informasi jika dibandingkan dengan siswa pada kelas kontrol. Siswa pada
kelas kontrol dengan strategi pembelajaran langsung lebih cenderung
menerima informasi daripada mengolah informasi karena dalam pembelajarn
ini siswa hanya menerima apa yang disampaikan guru.
4) Memilih Operasi/ Prosedur yang dipakai
Metakognisi merupakan suatu proses yang tidak lepas dari kegiatan
merencanakan, memonitor, dan mengevaluasi suatu proses. Memilih operasi/
prosedur yang dipakai merupakan salah satu bentuk dari perencanaa suatu
proses. Pada penelitian ini indikator memilih operasi/ prosedur yang dipakai
terintegrasi dengan soal nomor 5 dan 6.
Berdasarkan hasil analisis metakognisi siswa menunjukkan bahwa pada kelas
eksperimen mempunyai N-gain 0,64 lebih dari N-gain kelas kontrol 0,59.
Siswa pada kelas eksperimen mempunyai banyak kesempatan untuk mencari
informasi dan memilih informasi yang dibutuhkan. Mengidentifikasi
informasi merupakan proses yang harus dilakukan siswa agar dapat memilih
prosedur yang digunakan untuk menyelesaikan masalah.
65
5) Mengurutkan operasi yang digunakan
Mengurutkan operasi yang digunakan merupakan salah satu langkah yang
digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah. Dalam metakognisi
mengurutkan operasi termasuk dalam proses pemonitoran. Sebagaimana
dijelaskan oleh Flavell dalam Kadir (2009), menyatakan bahwa metakognisi
merujuk pada dua hal yaitu (1) pengetahuan atau kesadaran seseorang
menyangkut proses kognitifnya, (2) pemonitoran aktif dan pengendalian
yang konsekuen terhadap proses yang berkaitan dengan objek-objek kognitif
atau data dalam proses penyelesaian suatu soal.
Indikator metakognisi “Mengurutkan operasi yang digunakan” pada
penelitian ini terintegrasi pada soal nomor 7, 8, dan 9. Berdasarkan hasil
analisis metakognisi siswa menunjukkan bahwa pada kelas eksperimen
mempunyai harga N-gain sebesar 0,60 dan kelas kontrol mempunyai harga
N-gain sebesar 0,63. Hal ini menunjukkan bahwa kelas kontrol dengan
strategi pembejaran langsung mempunyai peningkatan yang lebih tinggi.
Proses latihan terstruktur dan latihan terbimbing yang dilakukan guru selama
pembelajaran membantu siswa memahami langkah-langkah dan urutan
operasi yang digunakan dalam menyelesaikan soal. Ikayanti dan Sugiarto
(2012) menyatakan bahwa penggunaan model pembelajaran langsung (direct
instruction) dalam penerapan strategi metakognisi menunjukkan bahwa
pengetahuan metakognisi sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
66
6) Merancang apa yang akan dipelajari
Indikator metakognisi “Merancang apa yang akan dipelajari” pada penelitian
ini terintegrasi pada soal nomor 10. Berdasarkan hasil analisis N-gain, kelas
eksperimen mempunyai harga N-gain 0,32 dan kelas kontrol mempunyai
harga N-gain 0,16. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan strategi
pembelajaran inkuiri mempunyai peningkatan yang lebih tinggi, karena
dalam pembelajaran inkuiri siswa terbiasa lebih aktif untuk mencari
informasi yang dibutuhkan, terbiasa untuk merancang prosedur untuk
menyelesaikan suatu masalah.
Peningkatan metakognisi dari keenam indikator terjadi pada kedua kelas
baik eksperimen maupun kontrol. Jadi strategi pembelajaran inkuiri maupun
strategi pembelajarn langsung keduanya dapat meningkatkan kemampuan
metakognisi siswa. Tetapi secara garis besar strategi pembelajarn inkuiri
mempunyai pengaruh yang lebih positif terhadap kemampuan metakognisi
siswa. Hal ini disebabkan karena penggunaan strategi pembelajaran inkuri dapat
membantu siswa untuk melatih kemampuan berpikirnya. Strategi pembelajaran
inkuiri memberikan banyak kesempatan kepada siswa untuk memcari informasi
dengan melakukan observasi dan atau eksperiemen untuk mencari jawaban atau
memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah. Selain itu
dalam strategi pembelajaran inkuiri pemberian masalah nyata atau teoritis untuk
diinvestigasi. Kegiatan ini membuat siswa lebih aktif mencari solusi
permasalahan sehingga siswa menjadi paham terhadap apa yang mereka
kerjakan.
67
Pada pembelajaran langsung lebih cenderung teacher centered, artinya
dalam proses pembelajaran guru yang berperan paling dominan. Dalam
penerapan pembelajaran langsung guru menyampaikan informasi dan siswa
hanya memperhatikan dan menerima apa yang disampaikan guru. Akibatnya
siswa hanya mengingat konsep-konsep materi yang disampaikan guru tetapi
siswa tidak memahami untuk apa konsep tersebut dipelajari. Hal ini berdampak
pada kemampuan metakognisi siswa yang tidak berkembang secara maksimal.
Berdasarkan analisis kuesioner siswa menunjukkan bahwa siswa pada
kelas eksperimen lebih memahami tujuan pembelajaran, memahami konsepkonsep yang dipelajari serta dapat memilih langkah-langkah yang digunakan
untuk menyelesaikan soal. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan metakognisi
kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol.
Hasil analisis kesamaan dua rata-rata nilai postes antara kelas eksperimen
dan kelas kontrol diperoleh nilai thitung = 1,65 dan ttabel = 1,66, hal ini
menunjukkan bahwa kedua kelas tidak mempunyai perbedaan rata-rata yang
signifikan, artinya perlakuan strategi pembelajarn inkuiri dan strategi
pembelajarn langsung tidak jauh berbeda. Tidak adanya perbedaan antara
perlakuan strategi pembelajarn inkuiri dan strategi pembelajarn langsung
disebabkan karena keduanya menekankan pada penguasaan konsep siswa
terhadap materi (hasil belajar kognitif). Peningkatan hasil belajar kognitif
seseorang dapat berjalan beringingan dengan peningkatan kemampuan
metakognisi. Menurut Iin dan Sugiarto (2012) menyatakan bahwa terdapat
keterkaitan yang erat antara hasil belajar dengan keterampilan metakognisi, dan
keduanya merupakan satu rangkaian yang tidak terpisahkan. Pada penerapannya
68
dalam kegiatan belajar atau pemecahan masalah, proses kognitif dan
metakognitif dapat berlangsung secara bersama atau beriringan, yang saling
menunjang satu sama lain. Selain itu Danial (2010) menyatakan bahwa jika
keterampilan metakognisi meningkat, maka penguasaan konsep juga cenderung
meningkat. Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Nuryana dan Sugiarto
(2012) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara
keterampilan metakognisi siswa dengan hasil belajar siswa.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif aspek afektif, pada kelas eksperimen
18,42% siswa mempunyai skor dalam kriteria sangat baik, 68,42% siswa
memenuhi kriteria baik, dan 13,16% siswa memenuhi kriteria cukup. Pada kelas
kontrol 15% siswa memenuhi kriteria sangat baik, 65% siswa memenuhi kriteria
baik, dan 20% siswa memenuhi kriteria cukup. Hal ini menunjukkan bahwa
kemampuan aspek afektif kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol. Aspek
yang paling terlihat perbedaannya adalah pada kemampuan bekerjasama,
bertanggungjawab, kreatif, dan bertanya. Pada kelas eksperimen siswa lebih
terlihat mampu mengorganisasi, membagi tugas, dan membantu teman satu
kelompok jika mengalami kesulitan, selain itu siswa dapat menyelesaikan tugas
dengan lengkap dan dapat menemukan penyelesaian permasalahan melalui
indentifikasi
masalah,
menentukan
hipotesis,
mengumpulkan
dan
mengidentifikasi data yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Helena (2012)
menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan inkuiri berbasis PBI dapat
meningkatkan aktivitas siswa.
69
Berdasarkan hasil analisis deskriptif aspek psikomotorik, pada kelas
eksperimen 47,37% siswa mempunyai skor dalam kriteria sangat baik dan 52%
siswa memenuhi kriteria baik. Pada kelas kontrol 45% siswa memenuhi kriteria
sangat baik dan 55% siswa memenuhi kriteria baik. Hal ini menunjukkan bahwa
penguasaan prosedur praktikum kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol.
Siswa pada kelas eksperimen lebih terbiasa membuktikan kasus yang diberikan
guru memalui demonstrasi atau pengamatan sederhana. Dalam melakukan
pengamatan dan membuat laporan semenatara hasil praktikum siswa kelas
eksperimen lebih terampil dan dapat mengkomunikasikan hasil percobaan
dengan pengetahuan yang dimiliki, hal ini terlihat ketika siswa mampu
membahas pertanyaan dengan jelas dan tepat. Hasil penelitian yang sama juga
dilakukan
oleh
Praptiwi dkk
(2012)
menunjukkan bahwa
penerapan
pembelajaran eksperimen inkuiri terbimbing berbantuan My Own Dictionary
dapat lebih meningkatkan unjuk kerja siswa. Penelitian yang dilakukan oleh
Siska dkk (2013) menunjukkan bahwa pembelajaran praktikum berbasis inkuiri
terbimbing pada meteri laju reaksi telah memberikan kesempatan kepada siswa
untuk berpartisispasi secara aktif meningkatkan minat dan motivasi belajar, serta
membantu siswa menemukan konsep berdasarkan eksperimen sehingga materi
pembelajaran lebih mudah dipahami.
4.2.4
Metakognisi dan Strategi Pembelajaran Inkuiri
Kemampuan metakognisi siswa dalam proses pembelajaran merupakan
kemampuan metakognisi yang berkaitan dengan keterampilan dan kemampuan
bertindak siswa selama proses pembelajaran. Pada penelitian ini metakognisi
adalah hal penting yang harus ditingkatkan karena metakognisi memiliki peran
70
penting dalam mengatur dan mengontrol proses-proses kognitif seseorang dalam
belajar dan berpikir, sehingga belajar dan berpikir yang dilakukan menjadi lebih
efektif dan efisien (Romli, 2010). Facione et al dalam Haryani (2012:48)
menyatakan bahwa pengembangan metakognisi bertujuan agar peserta didik
dapat menjadi pemikir-pemikir kritis yang selalu berpikir dalam menerapkan
suatu motivasi internal untuk menjadi sadar, ingin tahu, teratur, penuh analisis,
percaya diri, toleransi, dan bertanggungjawab ketika menyampaikan alternatif,
jujur secara intelektual ketika memulai apakah penerima ide-ide orang lain
sebagai kebenaran maupun ketika bertentangan oleh keadaan. Metakognisi
merujuk pada perintah berpikir yang lebih tinggi, meliputi kontrol aktif melalui
proses kognitif yang diusahakan dalam pembelajaran (Haryani, 2012:53).
Dengan demikian meningkatkan metakognisi
sangatlah
penting
untuk
optimalisasi proses belajar.
Penggunaan strategi pembelajaran inkuiri bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan metakognisi siswa. Karena dengan strategi pembelajaran inkuiri
dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis. Salah satu kemampuan berpikir
kritis dan kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah metakognisi (Eggen &
Kauchak dalam Nurmaliah, 2009). Menurut penelitian yang dilakukan oleh
Anggraeni et al (2013), menunjukkan bahwa dengan strategi pembelajaran
inkuiri dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Strategi
pembelajaran inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang dasar filosofinya
kontruktivisme, karena melalui strategi ini siswa membangun sendiri
pengetahuannya. Dalam pembelajaran inkuiri siswa terlibat secara mental dan
fisik untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh guru. Inkuiri memberikan
71
siswa pengalaman-pengalaman belajar yang nyata dan aktif. Siswa dilatih
bagaimana memecahkan masalah, membuat keputusan, dan memperoleh
keterampilan. Hasil penelitian yang sama dilakukan oleh Rahma (2012),
menunjukkan bahwa model inkuiri berpendekatan SETS dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kritis siswa. Model ini menekankan pada aktifitas siswa
dalam proses belajar dengan mengoptimalkan keterlibatan siswa.
Penelitian yang dilakukan oleh Danial (2010) menunjukkan bahwa
keterampilan metakognisi dapat ditingkatkan dengan pembelajaran yang berbasis
konstruktivistik yang mana pelajar aktif mencari informasi dan membangun
pengetahuan mereka. Hal ini sesusai dengan strategi pembelajaran inkuiri yang
berbasis konstruktivistik (Hamruni, 2012:88). Strategi pembelajaran inkuiri
merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa
(Hamruni, 2012:90). Kegiatan pembelajaran inkuiri melibatkan secara maksimal
seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis,
kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya
dengan penuh percaya diri (Gulo, 2008:84-85). Hal ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Aprilia dan Sugiarto (2013) yang menunjukkan bahwa
penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada materi hidrolisis garam
dapat meningkatakan metakognisi siswa.
Pada penerapannya di sekolah strategi pembelajaran inkuiri terdapat
beberapa kelemahan yaitu (1) siswa terbiasa dengan strategi pembelajaran
langsung sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran, (2) implementasinya
memerlukan waktu yang panjang sehingga guru sulit menyesuaikan dengan
waktu yang ditentukan, (3) Guru harus memiliki keterampilan untuk membuat
72
kasus yang tidak mudah menimbulkan multi tafsir di kalangan siswa, (4)
Guru harus dapat melakukan pengelolaan kelas dengan baik, terutama saat
diskusi guru harus berupaya agar terjadi diskusi yang aktif, (5) Guru harus
cermat dan teliti pada saat mengkoreksi jawaban siswa karena jawaban yang
diberikan siswa bervariasi.
BAB 5
PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan:
(1) Penggunaan strategi pembelajarn inkuiri dan strategi pembelajaran langsung
pada meteri kelarutan dan hasil kali kelarutan dapat meningkatkan
metakognisi siswa SMA.
(2) Penggunaan strategi pembelajarn inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar
siswa.
5.2 Saran
(1) Guru
hendaknya
menerapkan
strategi
pembelajaran
inkuiri
untuk
meningkatkan keterampilan berpikir siswa terutama kemampuan metakognisi.
(2) Guru hendaknya memanfaatkan berbagai metode pembelajaran dalam
pelaksanaan pembelajaran sehingga siswa tidak cepat bosan dan jenuh.
(3) Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai strategi pembelajaran inkuiri
untuk memperoleh hasil penelitian yang lebih baik lagi.
73
74
DAFTAR PUSTAKA
Anderson,L.W & Krathwohl,D.R. 2001. A Taxonomy for Learning Teaching and
Assessing. A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives.
New York: Longman
Anggraeni, N.W, Ristiati, N. P, & Widiyanti, N. L. P. M. 2013. Implementasi
strategi pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis dan
pemahaman konsep IPA siswa SMP. E-Journal Program Pasca Sarjana
Universitas Pendidikan Ganesa, 3(1): 1-11.
Aprilia, F & Sugiarto, B. 2012. Keterampilan metakognitif siswa melalui
penerapan model pembeljaran inkuiri terbimbing pada materi hidrolisis
garam. Unesa Journal of Chemical Education, 2(3): 36-41.
Asmara, S.D. 2013. Pengaruh Metode Konsep Bertingkat Berbantuan Question
Box Terhadap Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada
Materi Kelarutan Dan Hasil Kali Kelarutan. Skripsi. Semarang: FMIPA
Universitas Negeri Semarang.
Danial, M. 2010. Pengaruh Strategi PBL Terhadap Keterampilan Metakognisi dan
Respon Mahasiswa. Journal Chemica, 11(2):1-10.
Darmadi, H. 2013. Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial. Bandung: Alfabeta
Gulo, W. 2008. Strategi Belajar-Mengajar. Jakarta: Gramedia Sidiasarana
Indonesia
Hamruni. 2011. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta: Insan Madani
Haryani, S. 2012. Membangun Metakognisi dan Karakter Calon Guru Melalui
Pembelajaran Praktikum Kimia Analitik Berbasis Masalah. Semarang:
UNNES Press.
Helena. 2012. Meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas XI IPA SMA Katolik
Rajawali Makassar melalui pendekatan inkuiri berbasis PBI pada materi
pokok larutan penyangga. Jurnal Chemica, 13(1): 14-22.
Iin, Y. N. I. S & Sugiarto, B. 2012. Korelasi Antara Keterampilan Metakognitif
dengan Hasil Belajar Siswa di SMAN 1 Dawarblandong, Mojokerto. 1 (2):
78-83
75
Ikayanti, S & Sugiarto, B. 2012. The influence of metacognitive knowledge to
student learning outcomes on salt hydrolysis matter in XI Science 4 RSBI
SMAN Mojoagung Jombang. Unesa Journal of Chemical Education, 1(1):
78-83
Jihad, A & Haris, A. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.
Kadir. 2009. Meningkatkan metakognisi siswa dalam pembelajaran matematika
melalui asesmen kinerja berbasis masalah dan model pembelajaran. Jurnal
Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan, 7(3):88-108.
Nurmaliah, C. 2009.Analisis keterampilan metakognisi siswa SMP Negeri di Kota
Malang berdasarkan kemampuan awal, tingkat kelas, dan jenis kelamin.
Diunduh di www.jurnal.unsyiah.ac.id/JBE/article/download/410/580
tanggal 15 Desember 2013
Nuryana, E & Sugiarto, B. 2012. Hubungan keterampilan metakognisi dengan
hasil belajar siswa pada materi reaksi reduksi oksidasi (redoks) kelas X-1
SMA Negeri 3 Sidoarjo. Unesa Journal of Chemical Education, 1(1): 7883
Praptiwi, L, Sarwi, & Handayani, L. 2012. Efektivitas model pembelajaran
eksperimen inkuiri terbimbing berbantuan my own dictionary untuk
meningkatkan penguasaan konsep dan unjuk kerja siswa SMP RSBI.
Unnes Science Education Journal, 1(2): 86-95.
Rahma, A. N. 2012. Pengembangan perangkat pembelajaran model inkuiri
berpendekatan sets materi kelarutan dan hasil kali kelarutan untuk
menumbuhkan keterampilan berpikir kritis dan empati siswa terhadap
lingkungan. Journal of Education Research and Evaluation, 1(2): 133-138
Romli, M. 2010. Strategi membangun metakognisi siswa SMA dalam pemecahan
masalah matematika. Electronic journal, 1(2). Tersedia di http://ejurnal.ikippgrismg.ac.id/index.php/aksioma/article/view/56 [diakses 1012-2013]
Rudyatmi, E & Rusilowati, A. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Universitas Negeri
Semarang: Fakultas MIPA
Sanjaya, W. 2011. Strategi Pembelajaran Berorientasi Strandar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Santoso, S. 2007. Pengajaran Sains. On line. Tersedia di
http://www.cbe.indoneia.org/id/index.php [diakses 20-01-2013]
76
Saptorini. 2010. Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Inkuiri Sebagai
Upaya Peningkatan Kemampuan Inkuiri Guru Kimia Di Kabupaten
Demak. Jurnal penerapan teknologi dan pembelajaran. 8(2): 1-6.
Saptorini. 2011. Bahan Ajar Strategi Pembelajaran Kimia. Universitas Negeri
Semarang.
Setiawan, W., Fitrajaya, E., & Mardiyanti, T. 2010. Penerapan model pengajaran
langsung (direct instruction) untuk meningkatkan pemahaman belajar
siswa dalam pembelajaran rekayasa perangkat lunak (RPL). Jurnal
Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi. 3(1): 7-10.
Siska, M, Kurnia, & Sunarya, Y. 2013. Peningkatan keterampilan proses sains
siswa SMA melalui pembelajaran praktikum berbasis inkuiri pada meteri
laju reaksi. Jurnal Riset dan Praktik Pendidikan Kimia, 1(1): 69-75.
Sudarmo, U. 2006. Kimia untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Phibeta
Sudjana. 1996. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.
Sugiyono.2009.Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV ALFABETA.
Suharsimi, A. 2002. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Suprihatiningrum, J. 2013. Strategi Pembelajaran Teori dan Aplikasi. Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media
Suyanto, Y. P., H. Susanto, & S. Linuwih. 2012. Keefektifan Penggunaan Strategi
Predict, Observe and Explain Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir
Kritis dan Kreatif Siswa. Unnes Physics Educational journal. 1 (1): 15-25.
77
Lampiran 1
Materi
Kelarutan
KISI-KISI SOAL UJI COBA
Indikator pencapaian
Indikator
Nomor Soal
Metakognisi
 Menjelaskan
Menyadari
proses
kesetimbangan
dalam berpikir dan mampu
larutan jenuh atau larutan menggambarkannya:
garam yang sukar larut
a. Menyatakan
1
tujuan
b. Mengetahui
2
tentang apa dan
Hasil kali kelarutan  Menuliskan
ungkapan
bagaimana
3
berbagai Ksp elektrolit
yang sukar larut dalam air
 Menghubungkan tetapan c. Mengidentifikasi 4, 5
hasilkali kelarutan dengan
informasi
tingkat kelarutan atau
pengendapannya
 menghitung
kelarutan
6
suatu elektrolit yang sukar
larut berdasarkan data
harga Ksp atau sebaliknya
Pengaruh
ion  Menjelaskan
pengaruh d. Memilih
7
senama
terhadap
penambahan ion senama
operasi/prosedur
kelarutan
dalam larutan
yang dipakai
Pengaruh
pH  Menentukan pH larutan
8
terhadap kelarutan
dari harga Ksp-nya
Proses
pengendapan
 Memperkirakan
terbentuknya
endapan
berdasarkan harga Ksp
e. Mengurutkan
9,10,11,12
operasi
yang
digunakan
f. Merancang apa 13,14,15
yang
akan
dipelajari
78
Lampiran 2
SOAL UJI COBA
Mata Pelajaran : Kimia
Pokok Bahasan : Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan
Waktu
: 90 menit
1. Mengapa jika kita melarutkan gula dengan jumlah banyak ke dalam air, maka ada
sebagian gula yang tidak dapat larut?
2. Jelaskan bagaimana pengaruh suhu terhadap kelarutan suatu zat?
3. Persamaan tetapan hasil kali kelarutan merupakan tetapan yang diturunkan dari
reaksi kesetimbangan kelarutan.
a. Tulislah reaksi kesetimbangan untuk garam-garam berikut Fe(OH)3, Bi2S3, dan
Ag2CrO4.
b. Bagaimana rumusan tetapan hasil kali kelarutan untuk garam-garam berikut:
Fe(OH)3, Bi2S3, Ag2 CrO4. Jika garam-garam tersebut mempunyai kelarutan
sebesar s, terntukan harga Ksp masing-masing garam.
4. Salah satu aplikasi dari konsep kelarutan adalah adanya penambahan
senyawa fluorida ke dalam pasta gigi yang bertujuan untuk mencegah
kerusakan email pada gigi.
a. Jelaskan bagaimana prinsip kerja dari penambahan senyawa fluoride
tersebut.
b. Tulislah reaksi senyawa Fluorida dengan senyawa hidroksiapatit yang ada
pada email gigi.
5. Stalaktit dan Stalakmit terbentuk pada saat air merembes dari atas bukit gua melalui
rongga-rongga dan melarutkan kapur sedikit demi sedikit. Di dalam gua ini kapur
ada yang jatuh dan menempel di atap gua sehingga dalam waktu ribuan tahun
terbentuk stalaktit dan stalakmit.
a. Senyawa apa yang membentuk stalaktit dan stalakmit tersebut?
b. Jika senyawa tersebut memiliki tetapan hasil kali kelarutan sebesar 2.8 x 10-9,
tentukan kelarutan senyawa tersebut.
6. Di laboratorium terdapat banyak sekali garam, diantaranya:
Al(OH)3
1,3 x 10-33
BaCO3
5,1 x 10-9
Mg(OH)2
1,8 x 10-11
PbI2
7,1 x 10-9
CaSO4
9,1 x 10-6
a. Urutkan kelarutan garam-garam di atas dari yang terkecil!
b. Garam manakah yang paling sukar larut?
c. Jelaskan mengapa garam tersebut paling sukar larut?
d. Apa kesimpulan yang bisa Anda ambil dari kasus diatas mengenai hubungan
kelarutan dengan tingkat kesukaran larut dalam air?
7. Bila ke dalam sistem kesetimbangan kelarutan ditambahkan ion yang sejenis maka
akan mengakibatkan kelarutan senyawa tersebut berkurang. Jika diketahui kelarutan
Ag2CrO4 dalam air murni adalah 8,43 x 10-5 mol/L pada suhu 25°C. Tetukanlah
kelarutan Ag2CrO4 (Ksp Ag2CrO4 = 2,4 x 10-12) itu dalam AgNO3 0,1 N
79
8. Di laboratorium terdapat 500 mL larutan Mg(OH)2 yang mengandung ion Mg2+
sebanyak 10-6 mol. Jika ke dalam larutan tersebut di celupkan pH meter, berapakah
pH larutan tersebut jika Ksp Mg(OH)2 = 1 x 10-11?
9. Diketahui:
Ksp PbS = 8 x 10-28
Ksp CdS = 8 x 10-27
Ksp CuS = 6,3 x 10-36
Ksp FeS = 6,3 x 10-19
Bila ke dalam 1 liter larutan yang mengandung ion Pb2+, Fe2+, Cu2+, dan Cd2+
dengan konsentrasi masing-masing 10-4 M dicampur dengan 1 liter larutan Na2S 10-4
M. dengan menggunakan perhitungan, ion manakah yang mengendap?
10. Batu ginjal dalam tubuh akan terbentuk bila terjadi pengendapan garam kalsium
fosfat atau kalsium oksalat secara perlahan-lahan. Pengendapan akan terjadi dalam
proses pencernaan bila konsentrasi ion oksalatnya berlebihan dan menimbulkan
terbentuknya kalsium oksalat.
a. Tulislah reaksi terbentuknya garam kalsium oksalat.
b. Jika konsentrasi ion Ca2+ dalam darah sebesar 10-4M, berapakah konsentrasi
maksimun ion C2O42- yang dibutuhkan agar tidak terbentuk batu ginjal? Ksp
CaC2O4 = 4 x 10-9
11. Air sadah merupakan air yang mengandung ion Mg2+ dan Ca2+ yang cukup tinggi.
Kesadahan air dapat diatasi dengan penambahan natrium karbonat.
a. Tulislah reaksi pengendapan ion Mg2+ dan Ca2+ dengan penambahan natrium
karbonat.
b. Berapa gram Na2CO3 yang diperlukan untuk mengendapkan ion Mg2+ dan Ca2+
dalam 100 L air sadah?
Ksp MgCO3= 3,5x10-8 dan Ksp CaCO3=2.8x10-9. Mr Na2CO3 = 106.
12. Untuk mengendapkan ion Ag+ dalam 100mL larutan AgNO3 0,01 M ditambahkan
larutan NaOH 0,001M. berapakah volume NaOH yang diperlukan agar dapat
mengendapkan ion Ag+? Ksp AgOH = 2 x 10 -8
13. Terdapat dua garam yang sukar larut, yaitu kalsium karbonat dan kalsium
sulfat.
a. Manakah yang kelarutannya dipengaruhi oleh penambahan asam kuat?
b. Bagaimana kelarutan garamnya jika ditambah HCl, meningkat atau
menurun? Jelaskan!
14. Suatu larutan mengandung ion Mg2+ dan Mn2+ dengan konsentrasi masingmasing 0,1 M.kedua ion tersebut akan dipisahkan dengan menambah larutan
NaOH.
a. Tulislah reaksi ion Mg2+ dan Mn2+ dengan penambahan basa.
b. Berapa pH larutan supaya Mn2+ mengendap sebagai Mn(OH)2, sedangkan
Mg2+ tetap di dalam larutan?
Ksp Mn(OH)2 = 1.9 x 10-13
Ksp Mg(OH)2 = 1.8 x 10-11.
15. Batu karang merupakan habitat dari sebagian besar penghuni laut,
diantaranya ikan-ikan kecil, tumbuhan laut dan sebagainya.
a. Berasal dari senyawa apakah batu karang itu ?
b. Jelaskan proses terbentuknya batu karang !
80
c. Tuliskan reaksi yang terjadi !
d. Permasalahan tersebut apabila dikaitkan dengan materi kelarutan dan hasil
kali kelarutan termasuk bagian kelarutan, pengaruh ion senama, pH
atau reaksi pengendapan ? Mengapa?
Kunci Jawaban
1. Karena semakin banyak gula yang dilarutkan, akan semakin mudah menjadi
larutan jenuh sehingga gula tidak dapat larut. (Skor : 5)
Karena gula sudah melewati titik jenuh larutan sehingga tidak dapat larut.
(Skor : 4)
Karena gula sudah melewati titik jenuh larutan. (Skor: 3)
Karena konsentrasi gula lebih besar dari konsentrasi pelarut. (Skor: 2)
Karena gula dan air sudah setimbang sehingga gula tidak dapat larut. (Skor:
1)
2. Kelarutan zat padat dalam air semakin tinggi bila suhunya dinaikkan. Adanya
panas (kalor) mengakibatkan semakin renggangnya jarak antarmolekul zat
padat tersebut sehingga kekuatan gaya antarmolekul menjadi lemah. (Skor:
5)
Adanya suhu dapat memperbesar kelarutan suatu zat. Adanya panas
menyebabkan renggangnya jarak antar molekul. (Skor:4)
Adanya suhu dapat memperbesar kelarutan suatu zat, karena suhu dapat
mempercepat laju reaksi. (Skor:3)
Suhu dapat memperbesar kelarutan. (Skor:2)
Suhu tidak mempengaruhi kelarutan suatu zat. (Skor:1)
3.
a. Fe(OH)3(s)
Bi2S3(s)
Ag2CrO4(s)
Fe(OH)3
Bi2S3
Ag2CrO4
Fe3+(aq) + 3OH-(aq)
2Bi3+(aq) + 3S2-(aq)
2Ag+(aq) + CrO42-(aq) (Skor: 5)
Fe3+ + 3OH2Bi3+ + 3S22Ag+ + CrO42- (Skor: 4)
Fe(OH)3(s)  Fe3+(aq) + 3OH-(aq)
Bi2S3(s)  2Bi3+(aq) + 3S2-(aq)
Ag2CrO4(s)  2Ag+(aq) + CrO42-(aq) (Skor: 3)
Fe(OH)3 
Fe3+ + OHBi2S3  Bi3+ + S2Ag2CrO4  Ag+ + CrO42- (Skor: 2)
81
Fe(OH)3  Fe+ + OH3Bi2S3  Bi2+ + S3Ag2CrO4  Ag2+ + CrO4- (Skor: 1)
b. Ksp
= [ Fe3+] [OH-]3
= s (3s)3
= 27s4
= [ Bi3+]2 [S2-]3
= (2s)2 (3s)3
= 108s5
Ksp = [ Ag+]2 [CrO42-]
= (2s)2 s
= 4s3
(Skor: 15)
Ksp
Ksp
= [ Fe3+] [3OH-]3
= s (3s)3
= 27s4
= [ 2Bi3+]2 [3S2-]3
= (2s)2 (3s)3
= 108s5
Ksp = [ 2Ag+]2 [CrO42-]
= (2s)2 s
= 4s3
(Skor: 12)
Ksp
Ksp
= s (3s)3
= 27s4
= (2s)2 (3s)3
= 108s5
Ksp = (2s)2 s
= 4s3
(Skor: 9)
Ksp
Ksp FeOH3 = 27s4
Ksp Be2S3 = 108s5
Ksp Ag2CrO4 = 4s3
(Skor: 6)
Ksp
= [ Fe3+] [OH-]
82
= s (3s)
= 3s2
= [ Bi3+] [S2-]
= (2s) (3s)
= 5s2
Ksp = [ Ag+] [CrO42-]
= (2s) s
= 2s2
(Skor: 3)
Ksp
4.
a. Email terdiri dari senyawa hidroksiapatit, senyawa ini sedikit larut dalam
suasana asam. Suasana asam dapat terjadi karena pengaruh bakteri dalam
mulut ketika menguraikan sisa-sisa makanan yang terselip di gigi. Hal ini
akan menyebabkan terjadi demineralisasi email, dan email akan rusak.
(skor: 2) Menyikat gigi dengan pasta gigi yang mengandung fluorida (F-)
dapat mengubah senyawa hidroksiapatit menjadi fluoroapatit. (skor: 4)
Senyawa fluoroapatit lebih sukar larut dalam suasana asam, jadi dapat
mempertahankan email pada gigi. (skor: 4)
b. Ca5(PO4)3OH(s) + F- (aq)  Ca5(PO4)3F(s) + OH- (aq) Skor: 5
5.
a. CaCO3 (Skor: 5)
b. CaCO3(s)
Ca2+(aq) + CO32-(aq)
s
s
s
Ksp CaCO3(s)
= [Ca2+] [CO32-]
2.8 x 10-9
= sxs
-9
2.8 x 10
= s2
s
=
= 5,29 x 10-5 (Skor: 10)
Ksp CaCO3(s)
2.8 x 10-9
2.8 x 10-9
s
= [Ca2+] [CO32-]
= sxs
= s2
=
= 5,29 x 10-5 (Skor: 8)
CaCO3(s)
Ca2+(aq) + CO32-(aq)
s
s
s
Ksp CaCO3(s)
= [Ca2+] [CO32-]
2.8 x 10-9
= sxs
-9
2.8 x 10
= s2
s
=
83
= 1,32 x 10-4,5 (Skor: 6)
s
=
=
= 5,29 x 10-5 (Skor: 4)
CaCO3(s)
Ca2+(aq) + CO32-(aq)
s
s
s
Ksp CaCO3(s)
= [Ca2+] [CO32-] (Skor: 2)
6.
a.
Al(OH)3(s)
Al3+(aq) + 3OH-(aq)
s
s
3s
Ksp Al(OH)3(s)
= [Al3+][OH- ]3
1,3 x 10-33
= s x (3s)3
1,3 x 10-33
= 27s4
s
Ba2+(aq)
BaCO3(s)
s
s
Ksp BaCO3(s)
5,1 x 10-9
5,1 x 10-9
s
=
= 2,63 x 10-9
+ CO32-(aq)
s
= [Ba2+] [CO32-]
= sxs
= s2
=
= 7,14 x 10-5
Mg(OH)2(s)
Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
s
s
2s
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg2+][2OH-]2
1,8 x 10-11 = s x (2s)2
1,8 x 10-11 = 4s3
s =
= 1,65 x 10-4
PbI2(s)
Pb2+(aq) + 2I-(aq)
s
s
2s
2+
Ksp PbI2(s)
= [Pb ][2I-]2
-9
7,1 x 10
= s x (2s)2
7,1 x 10-9 = 4s3
84
s =
= 1,21 x 10-3
CaSO4(s)
Ca2+(aq) + SO42-(aq)
s
s
s
Ksp CaSO4(s) = [Ca2+] [SO42-]
9,1 x 10-6 = s x s
9,1 x 10-6 = s2
s
=
= 3,01 x 10-3
Kelarutan garam dari yang terkecil adalah Al(OH)3, BaCO3, Mg(OH)2,
PbI2, dan CaSO4. (Skor: 15)
= s x (3s)3
= 27s4
Ksp Al(OH)3(s)
1,3 x 10-33
s
=
= 2,63 x 10-9
=sxs
= s2
Ksp BaCO3(s)
5,1 x 10-9
s
=
= 7,14 x 10-5
Ksp Mg(OH)2(s)= s x (2s)2
1,8 x 10-11 = 4s3
s =
= 1,65 x 10-4
= s x (2s)2
= 4s3
Ksp PbI2(s)
7,1 x 10-9
s =
= 1,21 x 10-3
Ksp CaSO4(s) = s x s
9,1 x 10-6 = s2
s
=
= 3,01 x 10-3
Kelarutan garam dari yang terkecil adalah Al(OH)3, BaCO3, Mg(OH)2,
PbI2, dan CaSO4. (Skor: 12)
Ksp Al(OH)3(s)
1,3 x 10-33
= s x (3s)3
= 27s4
85
s
=
= 2,63 x 10-9
=sxs
= s2
Ksp BaCO3(s)
5,1 x 10-9
s
=
= 7,14 x 10-5
Ksp Mg(OH)2(s)= s x (2s)2
1,8 x 10-11 = 4s3
s =
= 1,65 x 10-4
= s x (2s)2
= 4s3
Ksp PbI2(s)
7,1 x 10-9
s =
= 1,21 x 10-3
Ksp CaSO4(s) = s x s
9,1 x 10-6 = s2
s
=
= 3,01 x 10-3
Kelarutan garam dari yang terkecil adalah dan CaSO4, PbI2, Mg(OH)2,
BaCO3 dan Al(OH)3. (Skor: 9)
Ksp Al(OH)3(s)
= 1,3 x 10-33
Ksp BaCO3(s)
= 5,1 x 10-9
Ksp Mg(OH)2(s)
= 1,8 x 10-11
Ksp PbI2(s)
= 7,1 x 10-9
Ksp CaSO4(s)
= 9,1 x 10-6
Kelarutan garam dari yang terkecil adalah Al(OH)3, BaCO3, Mg(OH)2,
PbI2, dan CaSO4. (Skor: 6)
Kelarutan garam dari yang terkecil adalah BaCO3, PbI2, Al(OH)3,
Mg(OH)2dan CaSO4. (Skor: 3)
b. Garam yang paling sukar larut adalah Al(OH)3. Skor: 5
c. Karena Al(OH)3 mempunyai kelarutan yang kecil. Skor: 5
d. Garam yang mempunyai kelarutan kecil adalah garam yang sukar larut.
Skor: 5
7. Kelarutan Ag2CrO4 dalam air murni = 8,43x10-5mol/L
Ag2CrO4 (s) ⇄ 2Ag+ (aq) + CrO42-(aq)
s
2s
s
86
= [Ag+]2[ CrO42-]
= (2s)2 s
= 4s3
= 4 (8,43.10-5)3
= 2,4 x 10-12
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
AgNO3(aq)  Ag+(aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
2,4 x 10-12 = (0,1)2 (s)
2,4 x 10-12 = 10-2 s
s
= 2,4 x 10-10
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L.
(Skor: 15)
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
= (2s)2 s
= 4s3
= 4 (8,43.10-5)3
= 2,4 x 10-12
+
AgNO3(aq)  Ag (aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
2,4 x 10-12 = (0,1)2 (s)
2,4 x 10-12 = 10-2 s
s
= 2,4 x 10-10
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L.
(Skor: 12)
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
= (2s)2 s
= 4s3
= 4 (8,43.10-5)3
= 2,4 x 10-12
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
AgNO3(aq)  Ag+(aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
2,4 x 10-12 = (2x0,1)2 (s)
2,4 x 10-12 = 4x10-2 s
s
= 6 x 10-9
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 6 x 10 -9 mol/L. (Skor:
9)
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
-12
2,4 x 10
= (0,1)2 (s)
-12
2,4 x 10
= 10-2 s
s
= 2,4 x 10-10
Ksp Ag2CrO4
87
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L.
(Skor: 6)
Kelarutan Ag2CrO4 dalam air murni = 8,43x10-5mol/L
Ag2CrO4 (s) ⇄ 2Ag+ (aq) + CrO42-(aq)
s
2s
s
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
AgNO3(aq)  Ag+(aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
(Skor: 3)
Cara lain:
Kelarutan Ag2CrO4 dalam air murni = 8,43x10-5mol/L
Ag2CrO4 (s) ⇄ 2Ag+ (aq) +
CrO42-(aq)
-5
-4
8,43 x 10
1,686 x 10
8,43x10-5
= [Ag+]2[ CrO42-]
= [1,686x10-4]2 [8,43x10-5]
= 2,4 x 10-12
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
AgNO3(aq)  Ag+(aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
2,4 x 10-12 = (0,1)2 (s)
2,4 x 10-12 = 10-2 s
s
= 2,4 x 10-10
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L.
(Skor: 15)
Ag2CrO4 (s) ⇄ 2Ag+ (aq) +
CrO42-(aq)
8,43 x 10-5
1,686 x 10-4
8,43x10-5
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
= [1,686x10-4]2 [8,43x10-5]
= 2,4 x 10-12
+
AgNO3(aq)  Ag (aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
2,4 x 10-12 = (0,1)2 (s)
2,4 x 10-12 = 10-2 s
s
= 2,4 x 10-10
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L.
(Skor: 12)
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
= [1,686x10-4]2 [8,43x10-5]
= 2,4 x 10-12
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
-12
2,4 x 10
= (2x0,1)2 (s)
-12
2,4 x 10
= 4x10-2 s
s
= 6 x 10-9
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 6 x 10 -9 mol/L. (Skor:
9)
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
Ksp Ag2CrO4
88
AgNO3(aq)  Ag+(aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
Kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L. (Skor:
6)
Kelarutan Ag2CrO4 dalam air murni = 8,43x10-5mol/L, kelarutan Ag2CrO4
dalam larutan AgNO3 0,1 M = 6 x 10-9 mol/L. (Skor: 3)
8. [Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
Mg(OH)2(s) ⇄ Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg2+][OH-]2
1 x 10-11
= 2x10-6 x [OH-]2
[OH-]
=
= 2,23 x 10-3
pOH = -log 2,23x10-3
= 3-log2,23
pH = 14-(3-log2,23)
= 11+log 2,23. (Skor: 20)
[Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg2+][OH-]2
1 x 10-11
= 2x10-6 x [OH-]2
[OH-]
=
= 2,23 x 10-3
pOH = -log 2,23x10-3
= 3-log2,23
pH = 14-(3-log2,23)
= 11+log 2,23. (Skor: 16)
[Mg2+] = 10-6mol
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg2+][OH-]2
1 x 10-11
= 10-6 x [OH-]2
[OH-]
=
= 3,16 x 10-3
pOH = -log 3,16x10-3
= 3-log 3,16
pH = 14-(3-log 3,16)
= 11+log 3,16. (Skor: 12)
[Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
89
[OH-]
= 2 x 2.10 -6
= 4 x 10-6
pOH = -log 4x10 -6
= 6-log 4
pH = 14-(6-log 4)
= 8+log 4. (Skor: 8)
[Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
Mg(OH)2(s) ⇄ Mg2+(aq) + 2OH-(aq) (Skor: 4)
Cara lain:
[Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
Mg(OH)2(s) ⇄ Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
s
s
2s
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg2+][OH-]2
1 x 10-11
= 2x10 -6 x [2s]2
-6
5 x 10
= 4s2
s
=
= 1,118 x 10-3
[OH- ]
= b x Mb
= 2 x 1,118.10-3
= 2,23 x 10-3
pOH = -log 2,23x10-3
= 3-log2,23
pH = 14-(3-log2,23)
= 11+log 2,23. (Skor: 20)
[Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg2+][OH-]2
1 x 10-11
= 2x10 -6 x [2s]2
5 x 10-6
= 4s2
s
=
= 1,118 x 10-3
[OH ]
= 2 x 1,118.10-3
= 2,23 x 10-3
pOH = -log 2,23x10-3
= 3-log2,23
pH = 14-(3-log2,23)
= 11+log 2,23. (Skor: 16)
-
90
[Mg2+] = 10-6mol
Mg(OH)2(s) ⇄ Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
s
s
2s
2+
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg ][OH-]2
1 x 10-11
= 10-6 x [2s]2
10 -5
= 4s2
s
=
= 1,58 x 10-3
[OH- ]
= 2 x 1,58.10-3
= 3,16 x 10-3
pOH = -log 3,16x10-3
= 3-log 3,16
pH = 14-(3-log3,16)
= 11+log 3,16. (Skor: 12)
[Mg2+] = 10-6
[OH- ]
= 2 x10 -6
pOH = -log 2x10 -6
= 6-log2
pH = 14-(6-log2)
= 8+log 2. (Skor: 8)
Mg(OH)2(s) ⇄ Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
s
s
2s
2+
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg ][OH-]2 (Skor: 4)
9. Konsentrasi masing-masing ion setelah dicampur dengan Na2S
[ion] = 10-4/2 = 5x10-5M
[S2-] = 10-4/2 = 5x10 -5M
Untuk menngetahui ion-ion tersebut mengendap atau tidak, kita harus
menghitung Qsp dari masing-masing ion
- Qsp PbS = [Pb2+][S2-]
= [5x10-5] [5x10 -5]
= 2,5x10-9
Qsp PbS> Ksp PbS  mengendap
- Qsp CdS = [Cd 2+][S2-]
= [5x10-5] [5x10 -5]
= 2,5x10-9
Qsp CdS> Ksp CdS  mengendap
- Qsp CuS = [Cu 2+][S2-]
= [5x10-5] [5x10 -5]
= 2,5x10-9
Qsp CuS> Ksp CuS  mengendap
- Qsp FeS = [Fe2+][S2-]
= [5x10-5] [5x10 -5]
91
= 2,5x10-9
Qsp FeS> Ksp FeS  mengendap
Jadi ion-ion yang mengendap adalah Pb2+, Cd 2+, Cu 2+, dan Fe2+. (Skor:
15)
Konsentrasi masing-masing ion setelah dicampur dengan Na2S
[ion] = 10-4/2 = 5x10-5M
[S2-] = 10-4/2 = 5x10 -5M
Untuk menngetahui ion-ion tersebut mengendap atau tidak, kita harus
menghitung Qsp dari masing-masing ion
Qsp PbS = [Pb 2+][S2-]
= [5x10 -5] [5x10-5]
= 2,5x10-9
Qsp PbS> Ksp PbS  mengendap
Qsp CdS> Ksp CdS  mengendap
Qsp CuS> Ksp CuS  mengendap
Qsp FeS> Ksp FeS  mengendap
Jadi ion-ion yang mengendap adalah Pb2+, Cd2+, Cu2+, dan Fe2+. (Skor: 12)
Konsentrasi masing-masing ion setelah dicampur dengan Na2S
[ion] = 10-4/2 = 5x10-5M
[S2-] = 10-4/2 = 5x10 -5M
ion-ion yang mengendap adalah Pb2+, Cd2+, Cu 2+, dan Fe2+. (Skor: 6)
Ksp PbS = 8x10 -28
Ksp CdS = 8x10 -27
Ksp CuS = 6,3x10-36
Ksp FeS = 6,3x10-19 (Skor: 3)
10.
a. Ca2+(aq) + C2O42-(aq) ⇄ CaC2O4(s)
Skor: 5
b. Agar tidak terjadi pengendapan maka QspCaC2O4=KspCaC2O4
[Ca2+][C2O42-] = KspCaC2O4
10-4 [C2O42-] = 4 x 10-9
[C2O42-] = 4 x 10-5
Jadi konsentrasi maksimum ion oksalat yang dibutuhkan agar tidak
terbentuk batu ginjal adalah 4x10 -5M. (Skor: 10)
[Ca2+][C2O42-] = KspCaC2O4
10-4 [C2O42-] = 4 x 10-9
[C2O42-] = 4 x 10-5 (Skor: 8)
Agar tidak terjadi pengendapan maka QspCaC2O4=KspCaC2O4
[Ca2+][C2O42-] = KspCaC2O4
10-4 [C2O42-] = 4 x 10-9
[C2O42-] = 10-5
Jadi konsentrasi maksimum ion oksalat yang dibutuhkan agar tidak
terbentuk batu ginjal adalah 10 -5M. (Skor: 6)
Konsentrasi maksimum ion oksalat yang dibutuhkan agar tidak terbentuk
batu ginjal adalah 4x10 -5M. (Skor: 4)
92
CaC2O4(s) ⇄ Ca2+(aq) + C2O42-(aq) (Skor: 2)
11.
a. Ca2+(aq) + Na2CO3(aq) ⇄ CaCO3(s) + 2Na+ (aq)
Mg2+(aq) + Na2CO3(aq) ⇄ MgCO3(s)+ 2Na+ (aq)
Skor: 5
b. Karena harga Ksp MgCO3 lebih besar dari CaCO3, maka apabila MgCO3
mengendap CaCO3 juga akan mengendap. Jadi untuk menentukan
banyaknya Na2CO3 yang diperlukan untuk mengendapkan ion Mg2+ dan
Ca2+ kita cukup menghitung banyaknya Na2CO3 yang diperlukan untuk
mengendapkan ion Mg2+.
Ksp MgCO3 = [Mg2+][CO32-]
3,5x10 -8 = s2
s = 1,87x10 -4
kelarutan CO32- = 1,87x10-4M, jadi [Na2CO3] yang diperlukan lebih dari
1,87x10-4 M.
karena V= 100L, maka banyaknya
= 1,87x10 -4M x 100L
= 1,87x10 -2 mol.
m Na2CO3 = n x Mr
= 1,87x10 -2 mol x 106 gr/mol
= 1,98 gram.
Jadi banyaknya Na2CO3 yang diperlukan untuk nengendapkan ion Mg2+
dan Ca2+ adalah 1,98 gram. Skor: 20
Na2CO3
Ksp MgCO3 = [Mg2+][CO32-]
3,5x10 -8 = s2
s = 1,87x10 -4
= 1,87x10 -4M x 100L
= 1,87x10 -2 mol.
m Na2CO3 = n x Mr
= 1,87x10 -2 mol x 106 gr/mol
= 1,98 gram.
Jadi banyaknya Na2CO3 yang diperlukan untuk nengendapkan ion Mg2+
dan Ca2+ adalah 1,98 gram. (Skor: 16)
Na2CO3
Ksp MgCO3 = [Mg2+][CO32-]
3,5x10 -8 = s2
s = 1,87x10 -4
Ksp CaCO3 = [Ca2+] [CO32-]
2,8x10-9
s
[CO32-]
= s2
= 5,29 x 10-5
= 1,87x10 -4 + 5,29x10-5
93
= 2,39 x 10-4
Na2CO3
m Na2CO3
= 2,39 x 10-4M x 100L
= 2,39 x 10-2 mol.
= n x Mr
= 2,39 x 10-2mol x 106 gr/mol
= 2,53 gram. (Skor: 12)
Banyaknya Na2CO3 yang diperlukan untuk nengendapkan ion Mg2+ dan
Ca2+ adalah 1,98 gram (Skor: 8)
Ksp MgCO3 = [Mg2+][CO32-]
Ksp CaCO3 = [Ca2+] [CO32-] (Skor: 4)
12. Agar tepat terbentuk endapan AgOH,
Qc AgOH
= Ksp AgOH
+
[Ag ] [OH ] = Ksp AgOH
= Ksp AgOH
= 2 x 10-8
= 2 x 10-8
10-3 x
= 2 x 10-8 ( 104 + 200x + x2 )
= 2.10-4 + 4.10-6x + 2.10 -8 x2
105 x
= 2.104 + 4.102x + 2x2
2
2x – 99600x + 20000
=0
2
X – 49800x + 10000
=0
X1,2
=
=
= 0,20 mL
Jadi volume NaOH yang diperlukan untuk mengendapkan ion Ag+ harus
lebih dari 0,2 mL (skor:10)
Qc AgOH
= Ksp AgOH
[Ag+] [OH-] = Ksp AgOH
= Ksp AgOH
= 2 x 10-8
= 2 x 10-8
10-3 x
= 2 x 10-8 ( 104 + 200x + x2 )
= 2.10-4 + 4.10-6x + 2.10 -8 x2
105 x
= 2.104 + 4.102x + 2x2
2x2 – 99600x + 20000
=0
94
X2 – 49800x + 10000
X1,2
=
=0
=
(skor:8)
Agar tepat terbentuk endapan AgOH,
Qc AgOH
= Ksp AgOH
+
[Ag ] [OH ] = Ksp AgOH
= Ksp AgOH
= 2 x 10-8
= 2 x 10-8
10-3 x
= 2 x 10-8 ( 104 + 200x + x2 )
= 2.10-4 + 4.10-6x + 2.10 -8 x2
5
10 x
= 2.104 + 4.102x + 2x2
2x2 – 99600x + 20000
=0
2
X – 49800x + 10000
=0
(skor:6)
Agar tepat terbentuk endapan AgOH,
Qc AgOH
= Ksp AgOH
[Ag+] [OH-] = Ksp AgOH
= Ksp AgOH
= 2 x 10-8
Qc AgOH
= Ksp AgOH
[Ag+] [OH-] = Ksp AgOH (Skor:2)
13.
a. Kelarutan yang dipengaruhi oleh penambahan asam adalah CaCO3.
Skor: 5
b. Kelarutan garamnya meningkat sehingga CaCO3 akan larut.
Misalnya dengan penambahan HCl
Ion Ca2+ dari CaCO3 akan berkumpul dengan ion Cl- dari HCl, tetapi
tidak dapat membentuk CaCl2 karena CaCl2 merupakan elektrolit kuat
sehingga dalam larutan terurai menjadi ion-ionnya.Tetapi ion H+ dari HCl
akan bertemu dengan ion CO32- membentuk H2CO3 dan terurai menjadi
CO2 dan H2O. Karena CO32- berikatan dengan H+ maka dapat
mempengaruhi kesetimbangan CaCO3. Berkurangnya CO32- akan
menggeser kesetimbangan ke arah hasil reaksi (Ca2+ dan CO32-). Jadi
kelarutan CaCO3 meningkat. (skor: 10)
Penambahan HCl akan mengikat ion CO32- menjadi H2CO3 dan terurai
membentuk CO2 dan H2O, sehingga konsentrasi ion CO32- berkurang, hal
ini mengakibatkan kesetimbangan bergeser ke kanan yang menyebabkan
CaCO3 larut. (Skor:8)
95
Penambahan HCl akan mengikat ion CO32-, sehingga konsentrasi ion
CO32- berkurang, hal ini mengakibatkan kesetimbangan bergeser ke
kanan yang menyebabkan CaCO3 larut. (Skor:6)
Penambahan HCl dapat mempengaruhi kelarutan CaCO3. (Skor:4)
Penambahan HCl tidak dapat mempengaruhi kelarutan CaCO3. (Skor:2)
14.
a. Mg2+(aq) + 2OH-(aq)  Mg(OH)2(s)
Mn2+(aq) + 2OH-(aq)  Mn(OH)2(s)
Skor: 5
b. Jika diperhatikan dari harga Ksp-nya, maka Mn(OH)2 lebih mudah
mengendap daripada Mg(OH)2, sehingga dapat dicari [OH-] larutan jenuh
Mg(OH)2.
Larutan jenuh Mg(OH)2 terjadi bila
[Mg2+][OH- ]2 = Ksp Mg(OH)2
0,1
[OH-]2 = 1,8x10-11
[OH-]2 = 1,8x10-10
[OH-] =
= 1,34x10 -5
pOH = -log 1,34x10 -5
= 4,87
pH = 9,13
Pada pH = 9,13 larutan Mg2+ belum mengendap sebagai Mg(OH)2 sebab
pada pH tersebut QspMg(OH)2=Ksp Mg(OH)2 dan baru terbentuk larutan
jenuh Mg(OH)2.
Untuk itu kita selidiki Qsp Mn(OH)2 pada pH 9,13
[Mn2+] = 0,1 M
Pada pH 9,13 [OH-] = 1,34 x 10 -5M
Qsp Mn(OH)2 = [Mn2+][OH-]2
= (0,1) (1,34 x 10 -5)2
= 1,8 x 10 -11
Ksp Mn(OH)2 = 1,9 x 10-13
Qsp Mn(OH)2 > Ksp Mn(OH)2 artinya Mn(OH)2 sudah mengendap.
Jadi, pada pH = 9,13 ion Mn2+ sudah mengendap sebagai Mn(OH)2,
sedangkan ion Mg2+ tetap sebagai larutan. Dengan demikian kedua ion
dapat dipisahkan dengan dilakukan penyaringan. (skor: 20)
[Mg2+][OH-]2 = Ksp Mg(OH)2
0,1
[OH-]2 = 1,8x10-11
[OH-]2 = 1,8x10-10
[OH-] =
= 1,34x10 -5
pOH = -log 1,34x10 -5
= 4,87
96
pH = 9,13
Jadi, ion Mn2+ dan ion Mg2+ tetap sebagai larutan dapat dipisahkan
dengan pH = 9,13. (skor: 16)
[Mg2+][OH- ]2 = Ksp Mg(OH)2
0,1
[OH-]2 = 1,8x10-11
[OH-]2 = 1,8x10-10
[OH-] =
= 1,34x10 -5
pOH = -log 1,34x10 -5
= 5,87
pH = 8,13
Jadi, ion Mn2+ dan ion Mg2+ tetap sebagai larutan dapat dipisahkan
dengan pH = 8,13. (skor: 12)
Ion Mn2+ dan ion Mg2+ dapat dipisahkan dengan pH 9,13. (Skor:8)
[Mg2+][OH- ]2 = Ksp Mg(OH)2 (Skor:4)
15.
a. Batu karang berasal dari senyawa CaCO3. (Skor: 5)
b. Pembentukan CaCO3 berawal dari karbondioksida yang berada di
atmosfer bereaksi dengan air laut membentuk asam karbonat. Ketika
asam karbonat yang terbentuk larut dalam air larut, maka asam
karbonat terurai menjadi ion. Ion bikarbonat bereaksi dengan ion Ca2+
dalam air laut, membentuk CaCO3 yang merupakan batu karang. (Skor:
10)
Pembentukan CaCO3 berawal dari asam karbonat yang larut dalam air
laut, maka asam karbonat terurai menjadi ion. Ion bikarbonat bereaksi
dengan ion Ca2+ dalam air laut, membentuk CaCO3 yang merupakan batu
karang. (Skor: 8)
Ion bikarbonat bereaksi dengan ion Ca2+ dalam air laut, membentuk
CaCO3 yang merupakan batu karang. (Skor: 6)
Pembentukan CaCO3 berasal dari reaksi antara ion Ca2+ dan CO32- (Skor:
4)
Batu karang terbentuk dari ion-ion yang mengendap. (Skor: 2)
c. CO2 (g) + H2O(l)  H2CO3 (aq) Ketika asam karbonat yang terbentuk
larut dalam air larut, maka asam karbonat terurai menjadi ion.
H2CO3 (aq)  H+ (aq)+ HCO3- (aq)
HCO3- (aq)  H+ (aq) + CO32- (aq)
Ion bikarbonat bereaksi dengan ion Ca2+ dalam air laut, membentuk
CaCO3 yang merupakan batu karang. Ca2+(aq)+ 2 HCO3-(aq)  CaCO3 (s) +
CO2 (g) + H2O(l)
(Skor: 10)
CO2 (g) + H2O(l)  H2CO3 (aq)
97
H2CO3 (aq)  H+ (aq)+ HCO3- (aq)  H+ (aq) + CO32- (aq)
Ca2+(aq)+ 2 HCO3-(aq)  CaCO3 (s) + CO2 (g) + H2O(l)
(Skor: 8)
Ca2+(aq)+ 2 HCO3-(aq)  CaCO3 (s) + CO2 (g) + H2O(l)
(Skor:6)
Ca2+(aq)+ CO32-(aq)  CaCO3 (s)
(Skor:4)
CaCO3
(Skor:2)
d. Apabila dikaitkan dengan materi kelarutan dan hasil kali kelarutan
termasuk bagian reaksi pengendapan. Karena batu karang terbentuk dari
reaksi pengendapan ion bikarbonat yang bereaksi dengan ion Ca2+ dalam
air laut. Skor: 5
98
Lampiran 3
Hasil Analisis Soal Uji Coba
No
20
1
9
14
32
7
11
22
21
24
13
27
6
10
4
5
15
12
30
3
16
29
23
2
8
17
31
28
26
19
25
18
NAMA
UC 20
UC 1
UC 9
UC 14
UC 32
UC 7
UC 11
UC 22
UC 21
UC 24
UC 13
UC 27
UC 6
UC 10
UC 4
UC 5
UC 15
UC 12
UC 30
UC 3
UC 16
UC 29
UC 23
UC 2
UC 8
UC 17
UC 31
UC 28
UC 26
UC 19
UC 25
UC 18
Jumlah
Validitas
2
r
Kriteria
1
2
1
5
5
3
2
1
2
2
1
2
2
1
0
2
2
1
3
2
1
2
3
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
55
133
3461
0.37
Rendah
2
5
2
5
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
0
2
2
2
2
2
3
2
3
3
1
1
1
1
2
2
2
2
2
66
166
3954
0.28
Rendah
3
20
20
18
20
18
16
18
11
11
20
11
14
14
20
11
11
17
14
9
20
6
4
4
11
11
4
4
5
4
5
4
4
379
5631
24500
0.63
Tinggi
4
2
3
0
0
0
0
0
2
0
0
0
4
0
0
0
0
3
2
0
0
10
9
9
4
4
4
4
0
8
8
4
4
84
532
3216
-0.53
Sangat
Rendah
5
15
11
5
15
11
5
0
5
5
0
5
1
0
0
0
0
3
3
0
0
1
1
1
1
1
5
5
0
0
0
1
1
101
893
8274
0.62
Tinggi
6
30
25
30
18
25
18
6
25
20
3
22
25
24
0
20
20
12
14
14
6
6
0
0
0
0
0
0
11
6
6
10
6
402
8190
28736
0.71
Tinggi
7
15
15
15
0
0
6
6
9
9
0
9
0
0
0
9
9
0
3
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Nomor Butir Soal
8
12
12
12
8
12
4
12
4
8
8
4
8
0
8
8
8
0
0
8
4
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
105
1161
9036
0.66
Tinggi
140
1296
10580
0.56
Sedang
Y
9
15
0
15
15
3
0
3
0
0
12
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
3
3
3
3
3
3
0
3
0
0
0
84
900
6861
0.41
Sedang
10
0
5
0
0
0
0
15
0
0
0
0
3
0
0
0
0
3
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
11
9
5
9
0
5
0
0
0
0
5
0
0
0
9
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
12
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
13
5
5
0
7
5
3
5
5
5
5
5
0
0
5
0
0
5
3
0
0
7
5
1
5
5
5
5
3
0
1
1
1
14
0
9
0
0
0
5
0
0
0
5
0
0
5
13
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
15
0
6
0
5
0
8
0
0
0
0
0
0
11
0
0
0
6
6
7
5
5
7
10
3
3
3
3
3
0
0
0
0
27
269
1991
0.00
Sangat
Rendah
42
318
4011
0.34
0
0
0
-0.34
Sangat
Rendah
102
504
5965
-0.13
Sangat
Rendah
37
325
2721
0.00
Sangat
Rendah
91
611
4636
-0.29
Sangat
Rendah
Rendah
y^2
130
119
114
94
84
69
68
65
62
61
60
59
57
55
52
52
52
50
43
39
39
35
32
29
29
26
26
25
24
23
23
19
16900
14161
12996
8836
7056
4761
4624
4225
3844
3721
3600
3481
3249
3025
2704
2704
2704
2500
1849
1521
1521
1225
1024
841
841
676
676
625
576
529
529
361
1751
117885
99
Daya Beda
IK
Reliabilitas
(
2
/N
2
(
/N
Si
R 11
Kriteria
94.53
136.13
4488.7
220.50
318.78
5050.1
344.53
612.50
220.50
22.78
55.13
0.00
325.13
42.78
258.78
38.47
1.20
0.66
tinggi
1.72
0.34
Sedang
29.88
0.93
1142.2
35.69
311.50
9.73
574.22
17.94
3139.8
98.12
816.47
25.51
683.50
21.36
679.50
21.23
246.22
7.69
262.88
8.21
0.00
0.00
178.88
5.59
282.22
8.82
352.22
11.01
2.06
0.41
Sedang
11.84
2.37
Mudah
2.63
0.53
Sedang
3.16
0.63
Sedang
12.56
2.51
Mudah
3.28
0.66
Sedang
4.38
0.88
Mudah
2.63
0.53
Sedang
0.84
0.17
Sukar
1.31
0.26
Sukar
0.00
0.00
Sukar
3.19
0.64
Sedang
1.16
0.23
Sukar
2.84
0.57
Sedang
2.06
1.38
0.69
5
0.14
Jelek
Dipakai
2.19
1.94
0.25
5
0.05
Jelek
Dibuang
15.8
7.88
7.94
20
0.4
Cukup
Dipakai
0.69
4.56
-3.9
10
-0.4
Jelek
Dibuang
4.88
1.44
3.44
15
0.23
Cukup
Dipakai
19.4
5.69
13.8
30
0.46
Baik
Dipakai
6.38
0.19
6.19
15
0.41
Baik
Dipakai
8
0.75
7.25
12
0.6
Baik
Dipakai
3.94
1.31
2.63
15
0.18
Jelek
Dipakai
1.44
0.25
1.19
15
0.08
Jelek
Dipakai
2.63
0
2.63
9
0.29
Cukup
Dipakai
0
0
0
0
3.44
2.94
0.5
7
0.07
Jelek
Dipakai
2.31
0
2.31
13
0.18
Jelek
Dibuang
1.88
3.81
-1.9
11
-0.2
Jelek
Dibuang
2
IK
Kriteria
Skor maks
DB
Kriteria
####
Dibuang
100
Lampiran 4
Perhitungan Validitas Butir Soal
Rumus
Keterangan:
rxy
: koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y
N
: banyaknya peserta tes
X
: skor total butir soal
Y
: skor total yang diperoleh siswa
Kriteria
Bila rhitung dari rumus diatas lebih besar dari rtabel maka butir tersebut valid.
Perhitungan
Berikut ini contoh perhitungan pada butir soal no.1, selanjutnya untuk butir soal yang lain
dihitung dengan cara yang sama, dan diperoleh seperti pada tabel analisa butir soal.
101
Kode
UC 1
UC 2
UC 3
UC 4
UC 5
UC 6
UC 7
UC 8
UC 9
UC 10
UC 11
UC 12
UC 13
UC 14
UC 15
UC 16
UC 17
UC 18
UC 19
UC 20
UC 21
UC 22
UC 23
UC 24
UC 25
UC 26
UC 27
UC 28
UC 29
UC 30
UC 31
UC 32
Jumlah
X
Y
XY
1
119
119
1
29
29
1
39
39
2
52
104
2
52
104
1
57
57
2
69
138
1
29
29
5
114
570
0
55
0
1
68
68
3
50
150
2
60
120
5
94
470
1
52
52
2
39
78
1
26
26
1
19
19
1
23
23
2
130
260
2
62
124
2
65
130
1
32
32
1
61
61
1
23
23
1
24
24
2
59
118
1
25
25
3
35
105
2
43
86
1
26
26
3
84
252
55 1715 3461
X^2
Y^2
1 14161
1
841
1
1521
4
2704
4
2704
1
3249
4
4761
1
841
25 12996
0
3025
1
4624
9
2500
4
3600
25
8836
1
2704
4
1521
1
676
1
361
1
529
4 16900
4
3844
4
4225
1
1024
1
3721
1
529
1
576
4
3481
1
625
9
1225
4
1849
1
676
9
7056
133 117885
102
Berdasarkan tabel tersebut diperoleh:
= 55
= 1715
= 3461
= 133
= 117885
= 3025
= 2941225
=
=
Pada
= 0.513
=5% dengan N=32 diperoleh rtabel = 0,349. Karena rhitung>rtabel maka soal no.1 valid.
103
Lampiran 5
Perhitungan Reliabilitas Instrumen
Keterangan
rii
k
= reliabilitas tes secara keseluruhan
= banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
= jumlah varians butir
= varians total
Interpretasi Kriteria Reliabilitas Instrumen
Interval koefisien
Kriteria
0.81-1.00
Sangat tinggi
0.61-0.80
Tinggi
0.41-0.60
Sedang
0.21-0.40
Rendah
<0.20
Sangat rendah
Perhitungan
Berdasrakan tabel pada uji coba soal diperoleh:
k
= 15
= 273.06
= 811.62
= 0,66
Nilai koefisien korelasi tersebut pada interval 0,61-0,80 dalam kategori tinggi.
Perhitungan Tingkat Kesukaran Tes
Kriteria Indeks Kesukaran
Interval koefisien
Kriteria
0,00 ≤ P < 0,30
Soal sukar
0,30 ≤ P < 0,70
Soal sedang
0,70 ≤ P ≤ 1,00
Soal mudah
Butir soal no.1 diperoleh:
Mean : 1.72
Skor maksimum : 5
= 0,34
Berdasarkan kriteria indeks kesukaran terletak pada interval 0,30-0,70 dalam kategori sedang.
104
Lampiran 6
Perhitungan Daya Beda
Kelompok Atas
Kelompok bawah
No
Kode
Skor
No
Kode
Skor
1
UC 20
2
1
UC 15
1
2
UC 1
1
2
UC 12
3
3
UC 9
5
3
UC 30
2
4
UC 14
5
4
UC 3
1
5
UC 32
3
5
UC 16
2
6
UC 7
2
6
UC 29
3
7
UC 11
1
7
UC 23
1
8
UC 22
2
8
UC 2
1
9
UC 21
2
9
UC 8
1
10
UC 24
1
10
UC 17
1
11
UC 13
2
11
UC 31
1
12
UC 27
2
12
UC 28
1
13
UC 6
1
13
UC 26
1
14
UC 10
0
14
UC 19
1
15
UC 4
2
15
UC 25
1
16
UC 5
2
16
UC 18
1
Rata-rata
2,06
Rata-rata
1,38
Kriteria Daya Beda
Interval koefisien
Kriteria
D: 0,00-0,20
Jelek
D: 0,21-0,40
cukup
D: 0,41-0,70
Baik
D: 0,71-1,00
Baik sekali
=
= 0,14
Berdasarkan kriteria daya pembeda soal no.1 terletak pada interval 0,00-0,20 dalam kategori
jelek.
105
Lampiran 7
Materi
Kelarutan
KISI-KISI INSTRUMEN
Indikator pencapaian
Indikator
Nomor Soal
Metakognisi
 Menjelaskan
Menyadari
proses
kesetimbangan
dalam berpikir dan mampu
larutan jenuh atau larutan menggambarkannya:
garam yang sukar larut
a. Menyatakan
1
tujuan
 Menuliskan
ungkapan b. Mengetahui
berbagai Ksp elektrolit
tentang apa dan
yang sukar larut dalam air
bagaimana
 Menghubungkan tetapan c. Mengidentifikasi
hasilkali kelarutan dengan
informasi
tingkat kelarutan atau
pengendapannya
 menghitung
kelarutan
suatu elektrolit yang sukar
larut berdasarkan data
harga Ksp atau sebaliknya
Pengaruh
ion  Menjelaskan
pengaruh d. Memilih
senama
terhadap
penambahan ion senama
operasi/prosedur
kelarutan
dalam larutan
yang dipakai
Pengaruh
pH  Menentukan pH larutan
terhadap kelarutan
dari harga Ksp-nya
Hasil kali kelarutan
Proses
pengendapan
 Memperkirakan
terbentuknya
endapan
berdasarkan harga Ksp
2
3
4
5
6
e. Mengurutkan
7,8,9
operasi
yang
digunakan
f. Merancang apa 10
yang
akan
dipelajari
106
Lampiran 8
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Soal Pretes
Mata Pelajaran : Kimia
Pokok Bahasan : Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan
Waktu
: 90 menit
Mengapa jika kita melarutkan gula dengan jumlah banyak ke dalam air, maka ada sebagian gula
yang tidak dapat larut?
Persamaan tetapan hasil kali kelarutan merupakan tetapan yang diturunkan dari reaksi
kesetimbangan kelarutan.
a. Tulislah reaksi kesetimbangan untuk garam-garam berikut Fe(OH)3, Bi2S3, dan Ag2CrO4.
b. Bagaimana rumusan tetapan hasil kali kelarutan untuk garam-garam berikut: Fe(OH)3, Bi2S3,
Ag2CrO4. Jika garam-garam tersebut mempunyai kelarutan sebesar s, terntukan harga Ksp
masing-masing garam.
Stalaktit dan Stalakmit terbentuk pada saat air merembes dari atas bukit gua melalui ronggarongga dan melarutkan kapur sedikit demi sedikit. Di dalam gua ini kapur ada yang jatuh dan
menempel di atap gua sehingga dalam waktu ribuan tahun terbentuk stalaktit dan stalakmit.
a. Senyawa apa yang membentuk stalaktit dan stalakmit tersebut?
b. Jika senyawa tersebut memiliki tetapan hasil kali kelarutan sebesar 2.8 x 10-9, tentukan
kelarutan senyawa tersebut.
Di laboratorium terdapat banyak sekali garam, diantaranya:
Al(OH)3
1,3 x 10-33
BaCO3
5,1 x 10-9
Mg(OH)2
1,8 x 10-11
PbI2
7,1 x 10-9
CaSO4
9,1 x 10-6
a. Urutkan kelarutan garam-garam di atas dari yang terkecil!
b. Garam manakah yang paling sukar larut?
c. Jelaskan mengapa garam tersebut paling sukar larut?
d. Apa kesimpulan yang bisa Anda ambil dari kasus diatas mengenai hubungan kelarutan
dengan tingkat kesukaran larut dalam air?
Bila ke dalam sistem kesetimbangan kelarutan ditambahkan ion yang sejenis maka akan
mengakibatkan kelarutan senyawa tersebut berkurang. Jika diketahui kelarutan Ag2 CrO4 dalam
air murni adalah 8,43 x 10-5 mol/L pada suhu 25°C. Tetukanlah kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3
0,1 N?
Di laboratorium terdapat 500 mL larutan Mg(OH)2 yang mengandung ion Mg2+ sebanyak 10-6
mol. Jika ke dalam larutan tersebut di celupkan pH meter, berapakah pH larutan tersebut jika
Ksp Mg(OH)2 = 1 x 10-11?
Diketahui:
Ksp PbS = 8 x 10-28
Ksp CdS = 8 x 10-27
Ksp CuS = 6,3 x 10-36
Ksp FeS = 6,3 x 10-19
Bila ke dalam 1 liter larutan yang mengandung ion Pb2+, Fe2+, Cu2+, dan Cd2+ dengan konsentrasi
masing-masing 10-4 M dicampur dengan 1 liter larutan Na2S 10-4 M. dengan menggunakan
perhitungan, ion manakah yang mengendap?
107
8. Batu ginjal dalam tubuh akan terbentuk bila terjadi pengendapan garam kalsium fosfat atau
kalsium oksalat secara perlahan-lahan. Pengendapan akan terjadi dalam proses pencernaan bila
konsentrasi ion oksalatnya berlebihan dan menimbulkan terbentuknya kalsium oksalat.
a. Tulislah reaksi terbentuknya garam kalsium oksalat.
b. Jika konsentrasi ion Ca2+ dalam darah sebesar 10-4M, berapakah konsentrasi maksimun ion
C2O42- yang dibutuhkan agar tidak terbentuk batu ginjal? Ksp CaC2O4 = 4 x 10-9
9. Air sadah merupakan air yang mengandung ion Mg2+ dan Ca2+ yang cukup tinggi. Kesadahan air
dapat diatasi dengan penambahan natrium karbonat.
a. Tulislah reaksi pengendapan ion Mg2+ dan Ca2+ dengan penambahan natrium karbonat.
b. Berapa gram Na2CO3 yang diperlukan untuk mengendapkan ion Mg2+ dan Ca2+ dalam 100 L
air sadah?
Ksp MgCO3= 3,5x10-8 dan Ksp CaCO3=2.8x10-9. Mr Na2CO3 = 106.
10. Bagaimana pengaruh penambahan larutan HCl pekat terhadap kelarutan:
a. BaSO4 ?
b. BaCO3?
Kunci Jawaban
1. Karena semakin banyak gula yang dilarutkan, akan semakin mudah menjadi larutan
jenuh sehingga gula tidak dapat larut. (Skor : 5)
Karena gula sudah melewati titik jenuh larutan sehingga tidak dapat larut. (Skor : 4)
Karena gula sudah melewati titik jenuh larutan. (Skor: 3)
Karena konsentrasi gula lebih besar dari konsentrasi pelarut. (Skor: 2)
Karena gula dan air sudah setimbang sehingga gula tidak dapat larut. (Skor: 1)
2.
a. Fe(OH)3(s)
Bi2S3(s)
Ag2CrO4(s)
Fe(OH)3
Bi2S3
Ag2CrO4
Fe3+(aq) + 3OH-(aq)
2Bi3+(aq) + 3S2-(aq)
2Ag+(aq) + CrO42-(aq) (Skor: 5)
Fe3+ + 3OH2Bi3+ + 3S22Ag+ + CrO42- (Skor: 4)
Fe(OH)3(s)  Fe3+(aq) + 3OH-(aq)
Bi2S3(s)  2Bi3+(aq) + 3S2-(aq)
Ag2CrO4(s)  2Ag+(aq) + CrO42-(aq) (Skor: 3)
Fe(OH)3 
Fe3+ + OHBi2S3  Bi3+ + S2Ag2CrO4  Ag+ + CrO42- (Skor: 2)
Fe(OH)3  Fe+ + OH3Bi2S3  Bi2+ + S3Ag2CrO4  Ag2+ + CrO4- (Skor: 1)
b. Ksp
= [ Fe3+] [OH-]3
108
= s (3s)3
= 27s4
= [ Bi3+]2 [S2-]3
= (2s)2 (3s)3
= 108s5
Ksp = [ Ag+]2 [CrO42-]
= (2s)2 s
= 4s3
(Skor: 15)
Ksp
Ksp
= [ Fe3+] [3OH-]3
= s (3s)3
= 27s4
= [ 2Bi3+]2 [3S2-]3
= (2s)2 (3s)3
= 108s5
Ksp = [ 2Ag+]2 [CrO42-]
= (2s)2 s
= 4s3
(Skor: 12)
Ksp
Ksp
= s (3s)3
= 27s4
= (2s)2 (3s)3
= 108s5
Ksp = (2s)2 s
= 4s3
(Skor: 9)
Ksp
Ksp FeOH3 = 27s4
Ksp Be2S3 = 108s5
Ksp Ag2CrO4 = 4s3
(Skor: 6)
Ksp
= [ Fe3+] [OH-]
= s (3s)
= 3s2
Ksp
= [ Bi3+] [S2-]
= (2s) (3s)
= 5s2
= [ Ag+] [CrO42-]
Ksp
109
= (2s) s
= 2s2
(Skor: 3)
3.
a. CaCO3 (Skor: 5)
b. CaCO3(s)
Ca2+(aq) + CO32-(aq)
s
s
s
Ksp CaCO3(s)
= [Ca2+] [CO32-]
2.8 x 10-9
= sxs
-9
2.8 x 10
= s2
s
=
= 5,29 x 10-5 (Skor: 10)
Ksp CaCO3(s)
2.8 x 10-9
2.8 x 10-9
s
= [Ca2+] [CO32-]
= sxs
= s2
=
= 5,29 x 10-5 (Skor: 8)
CaCO3(s)
Ca2+(aq) + CO32-(aq)
s
s
s
Ksp CaCO3(s)
= [Ca2+] [CO32-]
2.8 x 10-9
= sxs
-9
2.8 x 10
= s2
s
=
= 1,32 x 10-4,5 (Skor: 6)
s
=
=
= 5,29 x 10-5 (Skor: 4)
CaCO3(s)
Ca2+(aq) + CO32-(aq)
s
s
s
Ksp CaCO3(s)
= [Ca2+] [CO32-] (Skor: 2)
4.
a.
Al(OH)3(s)
Al3+(aq) + 3OH-(aq)
s
s
3s
3+
Ksp Al(OH)3(s)
= [Al ][OH-]3
1,3 x 10-33
= s x (3s)3
110
1,3 x 10-33
s
= 27s4
=
= 2,63 x 10-9
BaCO3(s)
Ba2+(aq) + CO32-(aq)
s
s
s
Ksp BaCO3(s)
= [Ba2+] [CO32-]
5,1 x 10-9
= sxs
-9
5,1 x 10
= s2
s
=
= 7,14 x 10-5
Mg(OH)2(s)
Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
s
s
2s
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg2+][2OH- ]2
1,8 x 10-11 = s x (2s)2
1,8 x 10-11 = 4s3
s =
= 1,65 x 10-4
PbI2(s)
Pb2+(aq) + 2I-(aq)
s
s
2s
2+
Ksp PbI2(s)
= [Pb ][2I-]2
7,1 x 10-9 = s x (2s)2
7,1 x 10-9 = 4s3
s =
= 1,21 x 10-3
CaSO4(s)
Ca2+(aq) + SO42-(aq)
s
s
s
Ksp CaSO4(s) = [Ca2+] [SO42-]
9,1 x 10-6 = s x s
9,1 x 10-6 = s2
s
=
= 3,01 x 10-3
Kelarutan garam dari yang terkecil adalah Al(OH)3, BaCO3, Mg(OH)2, PbI2, dan
CaSO4. (Skor: 15)
Ksp Al(OH)3(s)
1,3 x 10-33
s
= s x (3s)3
= 27s4
=
111
= 2,63 x 10-9
= sxs
= s2
Ksp BaCO3(s)
5,1 x 10-9
s
=
= 7,14 x 10-5
Ksp Mg(OH)2(s)= s x (2s)2
1,8 x 10-11 = 4s3
s =
= 1,65 x 10-4
= s x (2s)2
= 4s3
Ksp PbI2(s)
7,1 x 10-9
s =
= 1,21 x 10-3
Ksp CaSO4(s) = s x s
9,1 x 10-6 = s2
s
=
= 3,01 x 10-3
Kelarutan garam dari yang terkecil adalah Al(OH)3, BaCO3, Mg(OH)2, PbI2, dan
CaSO4. (Skor: 12)
= s x (3s)3
= 27s4
Ksp Al(OH)3(s)
1,3 x 10-33
s
=
= 2,63 x 10-9
= sxs
= s2
Ksp BaCO3(s)
5,1 x 10-9
s
=
= 7,14 x 10-5
Ksp Mg(OH)2(s)= s x (2s)2
1,8 x 10-11 = 4s3
s =
Ksp PbI2(s)
7,1 x 10-9
= 1,65 x 10-4
= s x (2s)2
= 4s3
s =
112
= 1,21 x 10-3
Ksp CaSO4(s) = s x s
9,1 x 10-6 = s2
s
=
= 3,01 x 10-3
Kelarutan garam dari yang terkecil adalah dan CaSO4, PbI2, Mg(OH)2, BaCO3 dan
Al(OH)3. (Skor: 9)
Ksp Al(OH)3(s)
= 1,3 x 10 -33
Ksp BaCO3(s)
= 5,1 x 10 -9
Ksp Mg(OH)2(s)
= 1,8 x 10 -11
Ksp PbI2(s)
= 7,1 x 10 -9
Ksp CaSO4(s)
= 9,1 x 10 -6
Kelarutan garam dari yang terkecil adalah Al(OH)3, BaCO3, Mg(OH)2, PbI2, dan
CaSO4. (Skor: 6)
Kelarutan garam dari yang terkecil adalah BaCO3, PbI2, Al(OH)3, Mg(OH)2dan
CaSO4. (Skor: 3)
b. Garam yang paling sukar larut adalah Al(OH)3. Skor: 5
c. Karena Al(OH)3 mempunyai kelarutan yang kecil. Skor: 5
d. Garam yang mempunyai kelarutan kecil adalah garam yang sukar larut. Skor: 5
5. Kelarutan Ag2CrO4 dalam air murni = 8,43x10-5mol/L
Ag2CrO4 (s) ⇄ 2Ag+ (aq) + CrO42-(aq)
s
2s
s
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
= (2s)2 s
= 4s3
= 4 (8,43.10-5)3
= 2,4 x 10 -12
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
AgNO3(aq)  Ag+(aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
2,4 x 10-12 = (0,1)2 (s)
2,4 x 10-12 = 10 -2 s
s
= 2,4 x 10 -10
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L. (Skor: 15)
= [Ag+]2[ CrO42-]
= (2s)2 s
= 4s3
= 4 (8,43.10-5)3
= 2,4 x 10 -12
AgNO3(aq)  Ag+(aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
Ksp Ag2CrO4
113
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
-12
2,4 x 10
= (0,1)2 (s)
-12
2,4 x 10
= 10 -2 s
s
= 2,4 x 10 -10
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L. (Skor: 12)
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
= (2s)2 s
= 4s3
= 4 (8,43.10-5)3
= 2,4 x 10 -12
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
AgNO3(aq)  Ag+(aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
2,4 x 10-12 = (2x0,1)2 (s)
2,4 x 10-12 = 4x10 -2 s
s
= 6 x 10-9
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 6 x 10-9 mol/L. (Skor: 9)
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
-12
2,4 x 10
= (0,1)2 (s)
-12
2,4 x 10
= 10 -2 s
s
= 2,4 x 10 -10
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L. (Skor: 6)
Kelarutan Ag2CrO4 dalam air murni = 8,43x10-5mol/L
Ag2CrO4 (s) ⇄ 2Ag+ (aq) + CrO42-(aq)
s
2s
s
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
AgNO3(aq)  Ag+(aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
(Skor: 3)
Cara lain:
Kelarutan Ag2CrO4 dalam air murni = 8,43x10-5mol/L
Ag2CrO4 (s) ⇄ 2Ag+ (aq) +
CrO42-(aq)
-5
-4
8,43 x 10
1,686 x 10
8,43x10-5
= [Ag+]2[ CrO42-]
= [1,686x10-4]2 [8,43x10-5]
= 2,4 x 10 -12
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
AgNO3(aq)  Ag+(aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
2,4 x 10-12 = (0,1)2 (s)
2,4 x 10-12 = 10 -2 s
s
= 2,4 x 10 -10
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L. (Skor: 15)
Ag2CrO4 (s) ⇄ 2Ag+ (aq) +
CrO42-(aq)
-5
-4
8,43 x 10
1,686 x 10
8,43x10-5
Ksp Ag2CrO4
114
= [Ag+]2[ CrO42-]
= [1,686x10-4]2 [8,43x10-5]
= 2,4 x 10 -12
AgNO3(aq)  Ag+(aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
2,4 x 10-12 = (0,1)2 (s)
2,4 x 10-12 = 10 -2 s
s
= 2,4 x 10 -10
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L. (Skor: 12)
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
= [1,686x10-4]2 [8,43x10-5]
= 2,4 x 10 -12
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
-12
2,4 x 10
= (2x0,1)2 (s)
2,4 x 10-12 = 4x10 -2 s
s
= 6 x 10-9
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 6 x 10-9 mol/L. (Skor: 9)
Ksp Ag2CrO4
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
AgNO3(aq)  Ag+(aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
Kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L. (Skor: 6)
Kelarutan Ag2CrO4 dalam air murni = 8,43x10-5mol/L, kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan
AgNO3 0,1 M = 6 x 10 -9 mol/L. (Skor: 3)
6. [Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
Mg(OH)2(s) ⇄ Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg2+][OH-]2
1 x 10-11
= 2x10-6 x [OH-]2
[OH- ]
=
= 2,23 x 10-3
pOH = -log 2,23x10-3
= 3-log2,23
pH = 14-(3-log2,23)
= 11+log 2,23. (Skor: 20)
[Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg2+][OH-]2
1 x 10-11
= 2x10-6 x [OH-]2
[OH- ]
=
= 2,23 x 10-3
pOH = -log 2,23x10-3
115
= 3-log2,23
pH = 14-(3-log2,23)
= 11+log 2,23. (Skor: 16)
[Mg2+] = 10-6mol
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg2+][OH-]2
1 x 10-11
= 10-6 x [OH-]2
[OH- ]
=
= 3,16 x 10-3
pOH = -log 3,16x10-3
= 3-log 3,16
pH = 14-(3-log 3,16)
= 11+log 3,16. (Skor: 12)
[Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
[OH-]
= 2 x 2.10 -6
= 4 x 10-6
pOH = -log 4x10-6
= 6-log 4
pH = 14-(6-log 4)
= 8+log 4. (Skor: 8)
[Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
Mg(OH)2(s) ⇄ Mg2+(aq) + 2OH-(aq) (Skor: 4)
Cara lain:
[Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
Mg(OH)2(s) ⇄ Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
s
s
2s
2+
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg ][OH-]2
1 x 10-11
= 2x10 -6 x [2s]2
5 x 10-6
= 4s2
s
=
= 1,118 x 10 -3
[OH ]
= b x Mb
= 2 x 1,118.10 -3
= 2,23 x 10-3
pOH = -log 2,23x10-3
= 3-log2,23
pH = 14-(3-log2,23)
= 11+log 2,23. (Skor: 20)
-
116
[Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg2+][OH-]2
1 x 10-11
= 2x10 -6 x [2s]2
5 x 10-6
= 4s2
s
=
= 1,118 x 10 -3
[OH ]
= 2 x 1,118.10 -3
= 2,23 x 10-3
pOH = -log 2,23x10-3
= 3-log2,23
pH = 14-(3-log2,23)
= 11+log 2,23. (Skor: 16)
-
[Mg2+] = 10-6mol
Mg(OH)2(s) ⇄ Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
s
s
2s
2+
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg ][OH-]2
1 x 10-11
= 10 -6 x [2s]2
10 -5
= 4s2
s
=
= 1,58 x 10-3
[OH-]
= 2 x 1,58.10-3
= 3,16 x 10-3
pOH = -log 3,16x10-3
= 3-log 3,16
pH = 14-(3-log3,16)
= 11+log 3,16. (Skor: 12)
[Mg2+] = 10-6
[OH-]
= 2 x10-6
pOH = -log 2x10-6
= 6-log2
pH = 14-(6-log2)
= 8+log 2. (Skor: 8)
Mg(OH)2(s) ⇄ Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
s
s
2s
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg2+][OH-]2 (Skor: 4)
7. Konsentrasi masing-masing ion setelah dicampur dengan Na2S
117
[ion] = 10-4/2 = 5x10-5M
[S2-] = 10-4/2 = 5x10 -5M
Untuk menngetahui ion-ion tersebut mengendap atau tidak, kita harus menghitung Qsp
dari masing-masing ion
- Qsp PbS = [Pb2+][S2-]
= [5x10-5] [5x10 -5]
= 2,5x10 -9
Qsp PbS> Ksp PbS  mengendap
- Qsp CdS = [Cd 2+][S2-]
= [5x10-5] [5x10 -5]
= 2,5x10 -9
Qsp CdS> Ksp CdS  mengendap
- Qsp CuS = [Cu 2+][S2-]
= [5x10-5] [5x10 -5]
= 2,5x10 -9
Qsp CuS> Ksp CuS  mengendap
- Qsp FeS = [Fe2+][S2-]
= [5x10-5] [5x10 -5]
= 2,5x10 -9
Qsp FeS> Ksp FeS  mengendap
Jadi ion-ion yang mengendap adalah Pb2+, Cd 2+, Cu 2+, dan Fe2+. (Skor: 15)
Konsentrasi masing-masing ion setelah dicampur dengan Na2S
[ion] = 10-4/2 = 5x10-5M
[S2-] = 10-4/2 = 5x10 -5M
Untuk menngetahui ion-ion tersebut mengendap atau tidak, kita harus menghitung Qsp
dari masing-masing ion
Qsp PbS = [Pb2+][S2-]
= [5x10 -5] [5x10-5]
= 2,5x10-9
Qsp PbS> Ksp PbS  mengendap
Qsp CdS> Ksp CdS  mengendap
Qsp CuS> Ksp CuS  mengendap
Qsp FeS> Ksp FeS  mengendap
Jadi ion-ion yang mengendap adalah Pb2+, Cd2+, Cu2+, dan Fe2+. (Skor: 12)
Konsentrasi masing-masing ion setelah dicampur dengan Na2S
[ion] = 10-4/2 = 5x10-5M
[S2-] = 10-4/2 = 5x10 -5M
ion-ion yang mengendap adalah Pb2+, Cd 2+, Cu 2+, dan Fe2+. (Skor: 6)
Ksp PbS = 8x10 -28
Ksp CdS = 8x10 -27
Ksp CuS = 6,3x10-36
Ksp FeS = 6,3x10-19 (Skor: 3)
8.
a. Ca2+(aq) + C2O42-(aq) ⇄ CaC2O4(s)
Skor: 5
b. Agar tidak terjadi pengendapan maka QspCaC2O4=KspCaC2O4
[Ca2+][C2O42-] = KspCaC2O4
118
10-4 [C2O42-] = 4 x 10-9
[C2O42-] = 4 x 10-5
Jadi konsentrasi maksimum ion oksalat yang dibutuhkan agar tidak terbentuk batu
ginjal adalah 4x10 -5M. (Skor: 10)
[Ca2+][C2O42-] = KspCaC2O4
10-4 [C2O42-] = 4 x 10-9
[C2O42-] = 4 x 10-5 (Skor: 8)
Agar tidak terjadi pengendapan maka QspCaC2O4=KspCaC2O4
[Ca2+][C2O42-] = KspCaC2O4
10-4 [C2O42-] = 4 x 10-9
[C2O42-] = 10-5
Jadi konsentrasi maksimum ion oksalat yang dibutuhkan agar tidak terbentuk batu
ginjal adalah 10-5M. (Skor: 6)
Konsentrasi maksimum ion oksalat yang dibutuhkan agar tidak terbentuk batu ginjal
adalah 4x10-5M. (Skor: 4)
CaC2O4(s) ⇄ Ca2+(aq) + C2O42-(aq) (Skor: 2)
9.
a. Ca2+(aq) + Na2CO3(aq) ⇄ CaCO3(s) + 2Na+ (aq)
Mg2+(aq) + Na2CO3(aq) ⇄ MgCO3(s)+ 2Na+ (aq)
Skor: 5
b. Karena harga Ksp MgCO3 lebih besar dari CaCO3, maka apabila MgCO3 mengendap
CaCO3 juga akan mengendap. Jadi untuk menentukan banyaknya Na2CO3 yang
diperlukan untuk mengendapkan ion Mg2+ dan Ca2+ kita cukup menghitung
banyaknya Na2CO3 yang diperlukan untuk mengendapkan ion Mg2+.
Ksp MgCO3 = [Mg2+][CO32-]
3,5x10 -8 = s2
s = 1,87x10-4
kelarutan CO32- = 1,87x10-4M, jadi [Na2CO3] yang diperlukan lebih dari 1,87x10 -4
M.
karena V= 100L, maka banyaknya
= 1,87x10 -4M x 100L
= 1,87x10 -2 mol.
m Na2CO3 = n x Mr
= 1,87x10 -2 mol x 106 gr/mol
= 1,98 gram.
Jadi banyaknya Na2CO3 yang diperlukan untuk nengendapkan ion Mg2+ dan Ca2+
adalah 1,98 gram. Skor: 20
Na2CO3
Ksp MgCO3 = [Mg2+][CO32-]
3,5x10 -8 = s2
s = 1,87x10-4
Na2CO3
= 1,87x10 -4M x 100L
= 1,87x10 -2 mol.
119
m Na2CO3
= n x Mr
= 1,87x10 -2 mol x 106 gr/mol
= 1,98 gram.
Jadi banyaknya Na2CO3 yang diperlukan untuk nengendapkan ion Mg2+ dan Ca2+
adalah 1,98 gram. (Skor: 16)
Ksp MgCO3 = [Mg2+][CO32-]
3,5x10 -8 = s2
s = 1,87x10-4
Ksp CaCO3 = [Ca2+] [CO32-]
2,8x10 -9
s
[CO32-]
= s2
= 5,29 x 10-5
= 1,87x10 -4 + 5,29x10-5
= 2,39 x 10-4
Na2CO3
m Na2CO3
= 2,39 x 10-4M x 100L
= 2,39 x 10-2 mol.
= n x Mr
= 2,39 x 10-2mol x 106 gr/mol
= 2,53 gram. (Skor: 12)
Banyaknya Na2CO3 yang diperlukan untuk nengendapkan ion Mg2+ dan Ca2+ adalah
1,98 gram (Skor: 8)
Ksp MgCO3 = [Mg2+][CO32-]
Ksp CaCO3 = [Ca2+] [CO32-] (Skor: 4)
10.
a. BaSO4(s) ⇄ Ba2+(aq) + SO42-(aq)
HCl(aq)  H+(aq) + Cl-(aq)
Ion Ba2+ dari BaSO4 akan berkumpul dengan ion Cl- dari HCl, tetapi tidak dapat
membentuk BaCl2 karena BaCl2 merupakan elektrolit kuat sehingga dalam larutan
terurai menjadi ion-ionnya. Begitu pula yang terjadi pada ion H+ dan ion SO42- akan
tetap dalam bentuk ion karena asam kuat. Jadi penambahan HCl tidak mempengaruhi
kelarutan BaSO4. (Skor: 5)
Penambahan HCl tidak dapat mengikat Ba2+ dan SO42- sehingga dalam larutan tetap
sebagai ion-ionnya, jadi tidak mempengaruhi kelarutan BaSO4. (Skor: 4)
Penambahan HCl tidak mempengaruhi kelarutan BaSO4 karena tidak mempengaruhi
pergeseran kesetimbangan dan dalam larutannya tetap sebagai ion-ionnya. (Skor: 3)
Penambahan HCl tidak mempengaruhi kelarutan BaSO4. (Skor:2)
BaSO4(s) ⇄ Ba2+(aq) + SO42-(aq)
HCl(aq)  H+(aq) + Cl-(aq) (Skor:1)
b. BaCO3(s) ⇄ Ba2+(aq) + CO32-(aq)
HCl(aq)  H+(aq) + Cl-(aq)
120
Ion Ba2+ dari BaCO3 akan berkumpul dengan ion Cl- dari HCl, tetapi tidak dapat
membentuk BaCl2 karena BaCl2 merupakan elektrolit kuat sehingga dalam larutan
terurai menjadi ion-ionnya.Tetapi ion H+ dari HCl akan bertemu dengan ion CO32membentuk H2CO3 dan terurai menjadi CO2 dan H2O. Karena CO32- berikatan
dengan H+ maka dapat mempengaruhi kesetimbangan BaCO3. Berkurangnya CO32akan menggeser kesetimbangan ke arah hasil reaksi (Ba2+ dan CO32-). Jadi kelarutan
BaCO3 meningkat. (Skor: 5)
Penambahan HCl akan mengikat ion CO32- menjadi H2CO3 dan terurai membentuk
CO2 dan H2O, sehingga konsentrasi ion CO32- berkurang, hal ini mengakibatkan
kesetimbangan bergeser ke kanan yang menyebabkan BaCO3 larut. (Skor:4)
Penambahan HCl akan mengikat ion CO32-, sehingga konsentrasi ion CO32berkurang, hal ini mengakibatkan kesetimbangan bergeser ke kanan yang
menyebabkan BaCO3 larut. (Skor:3)
Penambahan HCl dapat mempengaruhi kelarutan BaCO3. (Skor:2)
121
Lampiran 9
Soal Postes
Mata Pelajaran : Kimia
Pokok Bahasan : Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan
Waktu
: 90 menit
1. Mengapa jika kita melarutkan garam dapur dengan jumlah banyak ke dalam air, maka ada
sebagian garam yang tidak dapat larut?
2. Persamaan tetapan hasil kali kelarutan merupakan tetapan yang diturunkan dari reaksi
kesetimbangan kelarutan.
a. Tulislah reaksi kesetimbangan untuk garam-garam berikut Fe(OH)3, Ca3(PO4 )2, dan Ag2CrO4.
b. Bagaimana rumusan tetapan hasil kali kelarutan untuk garam-garam berikut: Fe(OH)3,
Ca3(PO4)2, Ag2CrO4. Jika garam-garam tersebut mempunyai kelarutan sebesar s, terntukan
harga Ksp masing-masing garam.
3. Stalaktit dan Stalakmit terbentuk pada saat air merembes dari atas bukit gua melalui ronggarongga dan melarutkan kapur sedikit demi sedikit. Di dalam gua ini kapur ada yang jatuh dan
menempel di atap gua sehingga dalam waktu ribuan tahun terbentuk stalaktit dan stalakmit.
a. Senyawa apa yang membentuk stalaktit dan stalakmit tersebut?
b. Jika senyawa tersebut memiliki tetapan hasil kali kelarutan sebesar 2.8 x 10-9, tentukan
kelarutan senyawa tersebut.
4. Di laboratorium terdapat banyak sekali garam, diantaranya:
Cd(OH)2
5,5 x 10-6
Ag2S
6,3 x 10-55
Mg(OH)2
1,8 x 10-11
PbI2
7,1 x 10-9
BaF2
1,0 x 10-6
a. Urutkan kelarutan garam-garam di atas dari yang terkecil!
b. Garam manakah yang paling sukar larut?
c. Jelaskan mengapa garam tersebut paling sukar larut?
d. Apa kesimpulan yang bisa Anda ambil dari kasus diatas mengenai hubungan kelarutan
dengan tingkat kesukaran larut dalam air?
5. Bila ke dalam sistem kesetimbangan kelarutan ditambahkan ion yang sejenis maka akan
mengakibatkan kelarutan senyawa tersebut berkurang. Jika diketahui kelarutan Ag2 CrO4 dalam
air murni adalah 8,43 x 10-5 mol/L pada suhu 25°C. Tetukanlah kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3
0,1 N?
6. Di laboratorium terdapat 500 mL larutan Mg(OH)2 yang mengandung ion Mg2+ sebanyak 10-6
mol. Jika ke dalam larutan tersebut di celupkan pH meter, berapakah pH larutan tersebut jika
Ksp Mg(OH)2 = 1 x 10-11?
7. Diketahui:
Ksp PbS = 8 x 10-28
Ksp CdS = 8 x 10-27
Ksp CuS = 6,3 x 10-36
Ksp FeS = 6,3 x 10-19
Bila ke dalam 1 liter larutan yang mengandung ion Pb2+, Fe2+, Cu2+, dan Cd2+ dengan konsentrasi
masing-masing 10-4 M dicampur dengan 1 liter larutan Na2S 10-4 M. dengan menggunakan
perhitungan, ion manakah yang mengendap?
122
8. Batu ginjal dalam tubuh akan terbentuk bila terjadi pengendapan garam kalsium fosfat atau
kalsium oksalat secara perlahan-lahan. Pengendapan akan terjadi dalam proses pencernaan bila
konsentrasi ion oksalatnya berlebihan dan menimbulkan terbentuknya kalsium oksalat.
a. Tulislah reaksi terbentuknya garam kalsium oksalat.
b. Jika konsentrasi ion Ca2+ dalam darah sebesar 10-4M, berapakah konsentrasi maksimun ion
C2O42- yang dibutuhkan agar tidak terbentuk batu ginjal? Ksp CaC2O4 = 4 x 10-9
9. Air sadah merupakan air yang mengandung ion Mg2+ dan Ca2+ yang cukup tinggi. Kesadahan air
dapat diatasi dengan penambahan natrium karbonat.
a. Tulislah reaksi pengendapan ion Mg2+ dan Ca2+ dengan penambahan natrium karbonat.
b. Berapa gram Na2CO3 yang diperlukan untuk mengendapkan ion Mg2+ dan Ca2+ dalam 100 L
air sadah?
Ksp MgCO3= 3,5x10-8 dan Ksp CaCO3=2.8x10-9. Mr Na2CO3 = 106.
10. Bagaimana pengaruh penambahan larutan HCl pekat terhadap kelarutan:
a. BaSO4 ?
b. BaCO3?
Kunci Jawaban
1. Karena semakin banyak garam yang dilarutkan, akan semakin mudah menjadi larutan
jenuh sehingga garam tidak dapat larut. (Skor : 5)
Karena garam sudah melewati titik jenuh larutan sehingga tidak dapat larut. (Skor : 4)
Karena garam sudah melewati titik jenuh larutan. (Skor: 3)
Karena konsentrasi garam lebih besar dari konsentrasi pelarut. (Skor: 2)
Karena garam dan air sudah setimbang sehingga garam tidak dapat larut. (Skor: 1)
2.
a. Fe(OH)3(s)
Ca3(PO4)2(s)
Ag2CrO4(s)
Fe(OH)3
Ca3(PO4)2
Ag2CrO4
Fe3+(aq) + 3OH-(aq)
3Ca2+(aq) + 2PO43-(aq)
2Ag+(aq) + CrO42-(aq) (Skor: 5)
Fe3+ + 3OH3Ca2+ + 2PO432Ag+ + CrO42- (Skor: 4)
Fe(OH)3(s)  Fe3+(aq) + 3OH-(aq)
Ca3(PO4)2(s)  Ca2+(aq) + PO43-(aq)
Ag2CrO4(s)  2Ag+(aq) + CrO42-(aq) (Skor: 3)
Fe(OH)3 
Fe3+ + OHCa3(PO4)2  Ca2+ + PO43Ag2CrO4  Ag+ + CrO42- (Skor: 2)
Fe(OH)3  Fe+ + OH3Ca3(PO4)2  Ca3+ + PO4Ag2CrO4  Ag2+ + CrO4- (Skor: 1)
123
b. Ksp
= [ Fe3+] [OH-]3
= s (3s)3
= 27s4
= [ Ca2+]3 [PO43-]2
= (3s)3 (2s)2
= 108s5
Ksp = [ Ag+]2 [CrO42-]
= (2s)2 s
= 4s3
(Skor: 15)
Ksp
Ksp
= [ Fe3+] [3OH-]3
= s (3s)3
= 27s4
= [ 3Ca2+]3 [2PO43-]2
= (3s)3 (2s)2
= 108s5
Ksp = [ 2Ag+]2 [CrO42-]
= (2s)2 s
= 4s3
(Skor: 12)
Ksp
Ksp
= s (3s)3
= 27s4
= (3s)3(2s)2
= 108s5
Ksp = (2s)2 s
= 4s3
(Skor: 9)
Ksp
Ksp FeOH3 = 27s4
Ksp Ca3(PO4)2 = 108s5
Ksp Ag2CrO4 = 4s3
(Skor: 6)
Ksp
= [ Fe3+] [OH-]
= s (3s)
= 3s2
Ksp
= [ Ca2+] [PO42-]
= (2s) (3s)
= 5s2
124
= [ Ag+] [CrO42-]
= (2s) s
= 2s2
(Skor: 3)
Ksp
3.
a. CaCO3
Skor: 5
b. CaCO3(s)
Ca2+(aq) + CO32-(aq)
s
s
s
Ksp CaCO3(s)
= [Ca2+] [CO32-]
2.8 x 10-9
= sxs
-9
2.8 x 10
= s2
s
=
= 5,29 x 10-5 (Skor: 10)
Ksp CaCO3(s)
2.8 x 10-9
2.8 x 10-9
s
= [Ca2+] [CO32-]
= sxs
= s2
=
= 5,29 x 10-5 (Skor: 8)
CaCO3(s)
Ca2+(aq) + CO32-(aq)
s
s
s
Ksp CaCO3(s)
= [Ca2+] [CO32-]
2.8 x 10-9
= sxs
-9
2.8 x 10
= s2
s
=
= 1,32 x 10-4,5 (Skor: 6)
s
=
=
= 5,29 x 10-5 (Skor: 4)
CaCO3(s)
Ca2+(aq) + CO32-(aq)
s
s
s
Ksp CaCO3(s)
= [Ca2+] [CO32-] (Skor: 2)
4.
a.
Cd(OH)2(s)
Cd2+(aq) + 2OH-(aq)
s
s
2s
2+
Ksp Cd(OH)2(s)
= [Cd ][2OH-]2
5,5 x 10-6
= s x (2s)2
125
5,5 x 10-6
= 4s3
s
=
= 1,11 x 10-2
2Ag+(aq) + S2-(aq)
Ag2S(s)
s
s
2s
Ksp Ag2S(s)
= [2Ag+]2 [S2-]
6,3 x 10-55
= (2s)2 x s
-55
6,3 x 10
= 4s3
s
=
= 5,4 x 10 -19
Mg(OH)2(s)
Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
s
s
2s
Ksp Mg(OH)2(s)
= [Mg2+][2OH-]2
1,8 x 10-11
= s x (2s)2
1,8 x 10-11
= 4s3
s
=
= 1,65 x 10-4
PbI2(s)
+ 2I-(aq)
s
s
2s
2+
Ksp PbI2(s) = [Pb ][2I-]2
7,1 x 10-9 = s x (2s)2
7,1 x 10-9 = 4s3
Pb2+(aq)
s
=
= 1,21 x 10-3
BaF2(s)
Ba2+(aq) + 2F-(aq)
s
s
2s
Ksp BaF2(s)
= [Ba2+][2F-]2
1,0 x 10-6 = s x (2s)2
1,0 x 10-6 = 4s3
s
=
= 6,29 x 10-3
Kelarutan garam dari yang terkecil adalah Ag2S, Mg(OH)2, PbI2, BaF2, dan Cd(OH)2.
(Skor: 15)
Ksp Cd(OH)2(s)
= s x (2s)2
126
5,5 x 10-6
= 4s3
s
=
= 1,11 x 10-2
= (2s)2 x s
= 4s3
Ksp Ag2S(s)
6,3 x 10-55
s
=
= 5,4 x 10 -19
= s x (2s)2
= 4s3
Ksp Mg(OH)2(s)
1,8 x 10-11
s
=
= 1,65 x 10-4
Ksp PbI2(s) = s x (2s)2
7,1 x 10-9 = 4s3
s
=
= 1,21 x 10-3
Ksp BaF2(s)
= s x (2s)2
1,0 x 10-6 = 4s3
s
=
= 6,29 x 10-3
Kelarutan garam dari yang terkecil adalah Ag2S, Mg(OH)2, PbI2, BaF2, dan Cd(OH)2.
(Skor: 12)
Ksp Cd(OH)2(s)
5,5 x 10-6
s
Ksp Ag2S(s)
6,3 x 10-55
s
= s x (2s)2
= 4s3
=
= 1,11 x 10-2
= (2s)2 x s
= 4s3
=
= 5,4 x 10 -19
127
= s x (2s)2
= 4s3
Ksp Mg(OH)2(s)
1,8 x 10-11
s
=
= 1,65 x 10-4
Ksp PbI2(s) = s x (2s)2
7,1 x 10-9 = 4s3
s
=
= 1,21 x 10-3
Ksp BaF2(s)
= s x (2s)2
1,0 x 10-6 = 4s3
s
=
= 6,29 x 10-3
Kelarutan garam dari yang terkecil adalah Cd(OH)2, BaF2, PbI2, Mg(OH)2, dan Ag2S
(Skor: 9)
Ksp Cd(OH)2(s)
= 5,5 x 10 -6
Ksp Ag2S(s)
= 6,3 x 10 -55
Ksp Mg(OH)2(s)
= 1,8 x 10 -11
Ksp PbI2(s)
= 7,1 x 10 -9
Ksp BaF2(s)
= 1,0 x 10 -6
Kelarutan garam dari yang terkecil adalah Ag2S, Mg(OH)2, PbI2, BaF2, dan Cd(OH)2.
(Skor: 6)
Kelarutan garam dari yang terkecil adalah Cd(OH)2, BaF2, PbI2, Mg(OH)2, dan Ag2S
(Skor: 3)
b. Garam yang paling sukar larut adalah Ag2S. Skor: 5
c. Karena Ag2S mempunyai kelarutan yang kecil. Skor: 5
d. Garam yang mempunyai kelarutan kecil adalah garam yang sukar larut. Skor: 5
5. Kelarutan Ag2CrO4 dalam air murni = 8,43x10-5mol/L
Ag2CrO4 (s) ⇄ 2Ag+ (aq) + CrO42-(aq)
s
2s
s
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
= (2s)2 s
= 4s3
= 4 (8,43.10-5)3
= 2,4 x 10 -12
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
AgNO3(aq)  Ag+(aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
2,4 x 10-12 = (0,1)2 (s)
128
2,4 x 10-12 = 10 -2 s
s
= 2,4 x 10 -10
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L. (Skor: 15)
= [Ag+]2[ CrO42-]
= (2s)2 s
= 4s3
= 4 (8,43.10-5)3
= 2,4 x 10 -12
+
AgNO3(aq)  Ag (aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
+ 2
Ksp Ag2CrO4
= [Ag ] [ CrO42-]
-12
2,4 x 10
= (0,1)2 (s)
-12
2,4 x 10
= 10 -2 s
s
= 2,4 x 10 -10
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L. (Skor: 12)
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
= (2s)2 s
= 4s3
= 4 (8,43.10-5)3
= 2,4 x 10 -12
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
AgNO3(aq)  Ag+(aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
2,4 x 10-12 = (2x0,1)2 (s)
2,4 x 10-12 = 4x10 -2 s
s
= 6 x 10-9
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 6 x 10-9 mol/L. (Skor: 9)
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
-12
2,4 x 10
= (0,1)2 (s)
2,4 x 10-12 = 10 -2 s
s
= 2,4 x 10 -10
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L. (Skor: 6)
Kelarutan Ag2CrO4 dalam air murni = 8,43x10-5mol/L
Ag2CrO4 (s) ⇄ 2Ag+ (aq) + CrO42-(aq)
s
2s
s
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
AgNO3(aq)  Ag+(aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
(Skor: 3)
Cara lain:
Kelarutan Ag2CrO4 dalam air murni = 8,43x10-5mol/L
Ag2CrO4 (s) ⇄ 2Ag+ (aq) +
CrO42-(aq)
-5
-4
8,43 x 10
1,686 x 10
8,43x10-5
Ksp Ag2CrO4
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
= [1,686x10-4]2 [8,43x10-5]
= 2,4 x 10 -12
129
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
AgNO3(aq)  Ag+(aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
+ 2
Ksp Ag2CrO4
= [Ag ] [ CrO42-]
-12
2,4 x 10
= (0,1)2 (s)
-12
2,4 x 10
= 10 -2 s
s
= 2,4 x 10 -10
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L. (Skor: 15)
Ag2CrO4 (s) ⇄ 2Ag+ (aq) +
CrO42-(aq)
-5
-4
8,43 x 10
1,686 x 10
8,43x10-5
= [Ag+]2[ CrO42-]
= [1,686x10-4]2 [8,43x10-5]
= 2,4 x 10 -12
+
AgNO3(aq)  Ag (aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
2,4 x 10-12 = (0,1)2 (s)
2,4 x 10-12 = 10 -2 s
s
= 2,4 x 10 -10
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L. (Skor: 12)
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
= [1,686x10-4]2 [8,43x10-5]
= 2,4 x 10 -12
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
-12
2,4 x 10
= (2x0,1)2 (s)
-12
2,4 x 10
= 4x10 -2 s
s
= 6 x 10-9
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 6 x 10-9 mol/L. (Skor: 9)
Kelarutan Ag2CrO4 dalam AgNO3 0,1 M
AgNO3(aq)  Ag+(aq) + NO3-(aq)
0,1
0,1
0,1
Kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L. (Skor: 6)
Kelarutan Ag2CrO4 dalam air murni = 8,43x10-5mol/L, kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan
AgNO3 0,1 M = 6 x 10 -9 mol/L. (Skor: 3)
Ksp Ag2CrO4
6. [Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
Mg(OH)2(s) ⇄ Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg2+][OH-]2
1 x 10-11
= 2x10-6 x [OH-]2
[OH- ]
=
= 2,23 x 10-3
pOH = -log 2,23x10-3
= 3-log2,23
pH = 14-(3-log2,23)
= 11+log 2,23. (Skor: 20)
130
[Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg2+][OH-]2
1 x 10-11
= 2x10-6 x [OH-]2
[OH- ]
=
= 2,23 x 10-3
pOH = -log 2,23x10-3
= 3-log2,23
pH = 14-(3-log2,23)
= 11+log 2,23. (Skor: 16)
[Mg2+] = 10-6mol
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg2+][OH-]2
1 x 10-11
= 10-6 x [OH-]2
[OH- ]
=
= 3,16 x 10-3
pOH = -log 3,16x10-3
= 3-log 3,16
pH = 14-(3-log 3,16)
= 11+log 3,16. (Skor: 12)
[Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
[OH-]
= 2 x 2.10 -6
= 4 x 10-6
pOH = -log 4x10-6
= 6-log 4
pH = 14-(6-log 4)
= 8+log 4. (Skor: 8)
[Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
Mg(OH)2(s) ⇄ Mg2+(aq) + 2OH-(aq) (Skor: 4)
Cara lain:
[Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
Mg(OH)2(s) ⇄ Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
s
s
2s
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg2+][OH-]2
1 x 10-11
= 2x10 -6 x [2s]2
5 x 10-6
= 4s2
s
=
131
= 1,118 x 10 -3
[OH-]
= b x Mb
= 2 x 1,118.10 -3
= 2,23 x 10-3
pOH = -log 2,23x10-3
= 3-log2,23
pH = 14-(3-log2,23)
= 11+log 2,23. (Skor: 20)
[Mg2+] = 10-6mol/0,5 L = 2x10-6 M
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg2+][OH-]2
1 x 10-11
= 2x10 -6 x [2s]2
5 x 10-6
= 4s2
s
=
= 1,118 x 10 -3
[OH ]
= 2 x 1,118.10 -3
= 2,23 x 10-3
pOH = -log 2,23x10-3
= 3-log2,23
pH = 14-(3-log2,23)
= 11+log 2,23. (Skor: 16)
-
[Mg2+] = 10-6mol
Mg(OH)2(s) ⇄ Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
s
s
2s
2+
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg ][OH-]2
1 x 10-11
= 10 -6 x [2s]2
10 -5
= 4s2
s
=
= 1,58 x 10-3
[OH-]
= 2 x 1,58.10-3
= 3,16 x 10-3
pOH = -log 3,16x10-3
= 3-log 3,16
pH = 14-(3-log3,16)
= 11+log 3,16. (Skor: 12)
[Mg2+] = 10-6
[OH-]
= 2 x10-6
pOH = -log 2x10-6
= 6-log2
132
pH = 14-(6-log2)
= 8+log 2. (Skor: 8)
Mg(OH)2(s) ⇄ Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
s
s
2s
2+
Ksp Mg(OH)2(s) = [Mg ][OH-]2 (Skor: 4)
7. Konsentrasi masing-masing ion setelah dicampur dengan Na2S
[ion] = 10-4/2 = 5x10-5M
[S2-] = 10-4/2 = 5x10 -5M
Untuk menngetahui ion-ion tersebut mengendap atau tidak, kita harus menghitung Qsp
dari masing-masing ion
- Qsp PbS = [Pb2+][S2-]
= [5x10-5] [5x10 -5]
= 2,5x10 -9
Qsp PbS> Ksp PbS  mengendap
- Qsp CdS = [Cd 2+][S2-]
= [5x10-5] [5x10 -5]
= 2,5x10 -9
Qsp CdS> Ksp CdS  mengendap
- Qsp CuS = [Cu 2+][S2-]
= [5x10-5] [5x10 -5]
= 2,5x10 -9
Qsp CuS> Ksp CuS  mengendap
- Qsp FeS = [Fe2+][S2-]
= [5x10-5] [5x10 -5]
= 2,5x10 -9
Qsp FeS> Ksp FeS  mengendap
Jadi ion-ion yang mengendap adalah Pb2+, Cd 2+, Cu 2+, dan Fe2+. (Skor: 15)
Konsentrasi masing-masing ion setelah dicampur dengan Na2S
[ion] = 10-4/2 = 5x10-5M
[S2-] = 10-4/2 = 5x10 -5M
Untuk menngetahui ion-ion tersebut mengendap atau tidak, kita harus menghitung Qsp
dari masing-masing ion
Qsp PbS = [Pb2+][S2-]
= [5x10 -5] [5x10-5]
= 2,5x10-9
Qsp PbS> Ksp PbS  mengendap
Qsp CdS> Ksp CdS  mengendap
Qsp CuS> Ksp CuS  mengendap
Qsp FeS> Ksp FeS  mengendap
Jadi ion-ion yang mengendap adalah Pb2+, Cd2+, Cu2+, dan Fe2+. (Skor: 12)
Konsentrasi masing-masing ion setelah dicampur dengan Na2S
[ion] = 10-4/2 = 5x10-5M
[S2-] = 10-4/2 = 5x10 -5M
ion-ion yang mengendap adalah Pb2+, Cd 2+, Cu 2+, dan Fe2+. (Skor: 6)
Ksp PbS = 8x10 -28
133
Ksp CdS = 8x10 -27
Ksp CuS = 6,3x10-36
Ksp FeS = 6,3x10-19 (Skor: 3)
8.
a. Ca2+(aq) + C2O42-(aq) ⇄ CaC2O4(s)
Skor: 5
b. Agar tidak terjadi pengendapan maka QspCaC2O4=KspCaC2O4
[Ca2+][C2O42-] = KspCaC2O4
10-4 [C2O42-] = 4 x 10-9
[C2O42-] = 4 x 10-5
Jadi konsentrasi maksimum ion oksalat yang dibutuhkan agar tidak terbentuk batu
ginjal adalah 4x10 -5M. (Skor: 10)
[Ca2+][C2O42-] = KspCaC2O4
10-4 [C2O42-] = 4 x 10-9
[C2O42-] = 4 x 10-5 (Skor: 8)
Agar tidak terjadi pengendapan maka QspCaC2O4=KspCaC2O4
[Ca2+][C2O42-] = KspCaC2O4
10-4 [C2O42-] = 4 x 10-9
[C2O42-] = 10-5
Jadi konsentrasi maksimum ion oksalat yang dibutuhkan agar tidak terbentuk batu
ginjal adalah 10-5M. (Skor: 6)
Konsentrasi maksimum ion oksalat yang dibutuhkan agar tidak terbentuk batu ginjal
adalah 4x10-5M. (Skor: 4)
CaC2O4(s) ⇄ Ca2+(aq) + C2O42-(aq) (Skor: 2)
9.
a. Ca2+(aq) + Na2CO3(aq) ⇄ CaCO3(s) + 2Na+ (aq)
Mg2+(aq) + Na2CO3(aq) ⇄ MgCO3(s)+ 2Na+ (aq)
Skor: 5
b. Karena harga Ksp MgCO3 lebih besar dari CaCO3, maka apabila MgCO3 mengendap
CaCO3 juga akan mengendap. Jadi untuk menentukan banyaknya Na2CO3 yang
diperlukan untuk mengendapkan ion Mg2+ dan Ca2+ kita cukup menghitung
banyaknya Na2CO3 yang diperlukan untuk mengendapkan ion Mg2+.
Ksp MgCO3 = [Mg2+][CO32-]
3,5x10 -8 = s2
s = 1,87x10-4
kelarutan CO32- = 1,87x10-4M, jadi [Na2CO3] yang diperlukan lebih dari 1,87x10 -4
M.
karena V= 100L, maka banyaknya
Na2CO3
m Na2CO3
= 1,87x10 -4M x 100L
= 1,87x10 -2 mol.
= n x Mr
= 1,87x10 -2 mol x 106 gr/mol
= 1,98 gram.
134
Jadi banyaknya Na2CO3 yang diperlukan untuk nengendapkan ion Mg2+ dan Ca2+
adalah 1,98 gram. Skor: 20
Ksp MgCO3 = [Mg2+][CO32-]
3,5x10 -8 = s2
s = 1,87x10-4
= 1,87x10 -4M x 100L
= 1,87x10 -2 mol.
m Na2CO3 = n x Mr
= 1,87x10 -2 mol x 106 gr/mol
= 1,98 gram.
Jadi banyaknya Na2CO3 yang diperlukan untuk nengendapkan ion Mg2+ dan Ca2+
adalah 1,98 gram. (Skor: 16)
Na2CO3
Ksp MgCO3 = [Mg2+][CO32-]
3,5x10 -8 = s2
s = 1,87x10-4
Ksp CaCO3 = [Ca2+] [CO32-]
2,8x10 -9
s
[CO32-]
= s2
= 5,29 x 10-5
= 1,87x10 -4 + 5,29x10-5
= 2,39 x 10-4
Na2CO3
m Na2CO3
= 2,39 x 10-4M x 100L
= 2,39 x 10-2 mol.
= n x Mr
= 2,39 x 10-2mol x 106 gr/mol
= 2,53 gram. (Skor: 12)
Banyaknya Na2CO3 yang diperlukan untuk nengendapkan ion Mg2+ dan Ca2+ adalah
1,98 gram (Skor: 8)
Ksp MgCO3 = [Mg2+][CO32-]
Ksp CaCO3 = [Ca2+] [CO32-] (Skor: 4)
10.
a. BaSO4(s) ⇄ Ba2+(aq) + SO42-(aq)
HCl(aq)  H+(aq) + Cl-(aq)
Ion Ba2+ dari BaSO4 akan berkumpul dengan ion Cl- dari HCl, tetapi tidak dapat
membentuk BaCl2 karena BaCl2 merupakan elektrolit kuat sehingga dalam larutan
terurai menjadi ion-ionnya. Begitu pula yang terjadi pada ion H+ dan ion SO42- akan
tetap dalam bentuk ion karena asam kuat. Jadi penambahan HCl tidak mempengaruhi
kelarutan BaSO4. (Skor: 5)
135
Penambahan HCl tidak dapat mengikat Ba2+ dan SO42- sehingga dalam larutan tetap
sebagai ion-ionnya, jadi tidak mempengaruhi kelarutan BaSO4. (Skor: 4)
Penambahan HCl tidak mempengaruhi kelarutan BaSO4 karena tidak mempengaruhi
pergeseran kesetimbangan dan dalam larutannya tetap sebagai ion-ionnya. (Skor: 3)
Penambahan HCl tidak mempengaruhi kelarutan BaSO4. (Skor:2)
BaSO4(s) ⇄ Ba2+(aq) + SO42-(aq)
HCl(aq)  H+(aq) + Cl-(aq) (Skor:1)
b. BaCO3(s) ⇄ Ba2+(aq) + CO32-(aq)
HCl(aq)  H+(aq) + Cl-(aq)
Ion Ba2+ dari BaCO3 akan berkumpul dengan ion Cl- dari HCl, tetapi tidak dapat
membentuk BaCl2 karena BaCl2 merupakan elektrolit kuat sehingga dalam larutan
terurai menjadi ion-ionnya.Tetapi ion H+ dari HCl akan bertemu dengan ion CO32membentuk H2CO3 dan terurai menjadi CO2 dan H2O. Karena CO32- berikatan
dengan H+ maka dapat mempengaruhi kesetimbangan BaCO3. Berkurangnya CO32akan menggeser kesetimbangan ke arah hasil reaksi (Ba2+ dan CO32-). Jadi kelarutan
BaCO3 meningkat. (Skor: 5)
Penambahan HCl akan mengikat ion CO32- menjadi H2CO3 dan terurai membentuk
CO2 dan H2O, sehingga konsentrasi ion CO32- berkurang, hal ini mengakibatkan
kesetimbangan bergeser ke kanan yang menyebabkan BaCO3 larut. (Skor:4)
Penambahan HCl akan mengikat ion CO32-, sehingga konsentrasi ion CO32berkurang, hal ini mengakibatkan kesetimbangan bergeser ke kanan yang
menyebabkan BaCO3 larut. (Skor:3)
Penambahan HCl dapat mempengaruhi kelarutan BaCO3. (Skor:2)
Penambahan HCl tidak dapat mempengaruhi kelarutan BaCO3. (Skor:1)
136
Lampiran 10
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Pedoman penskoran Criterion-Referenced Test dan Pencapaian Indikator Metakognisi
Kriteria
Derajat pemahaman
Pencapaian indikator
metakognisi
Jawaban benar menunnjukkan materi dipahami dengan semua
Memahami materi
Indikator tercapai
penjelasan benar
Jawaban benar dan menunjukkan hanya sebagian materi
Memahami sebagian
dikuasai
a. Jawaban benar dan menunjukkan ada materi yang dikuasai
Memahami sebagian materi
Sebagian besar
tetapi ada pertanyaan dalam jawaban yang kurang tepat
dengan adanya ketidaktelitian
indikator tercapai
b. Sebagian besar penjelasan benar dan materi dikuasai tetapi
jawaban salah karena ada pertanyaan dalam jawaban yang
menunjukkan ketidaktelitian
a. Jawaban benar dengan penjelasan kurang logis
Memahami sebagian tapi kurang Sebagian kecil
logis
indikator tercapai
b. Ada sebagian materi yang dikuasai dan jawaban salah
karena ada bagian yang kurang logis
c. Jawaban salah tetapi ada pernyataan yang menunjukkan
kebenaran materi
d. Jawaban salah akibat adanya kesalahan dalam
mengidentifikasi data yang diperlukan
a. Jawaban benar tapi kurang lengkap
Memahami sebagian tapi tidak
bisa member penjelasan
b. Jawaban benar tanpa penjelasan yang jelas
a. Jawaban salah dengan penjelasan salah
b. Jawaban salah dengan penjelasan tidak berhubungan dengan
materi sama sekali
c. Mengulang pernyataan atau pertanyaan dengan sedikit
penjelasan dan kata-katanya sendiri
d. Jawaban tidak berhubungan dengan pertanyaan atau
Tidak memahami
Tidak mencapai
indikator metakognisi
Skor
5
4
3
3
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
137
jawaban tidak tepat
7.
a. Menuliskan kembali pertanyaan
Tidak ada respon
0
b. Tidak ada jawaban/kosong
0
c. Menjawab “saya tidak tahu” dsb
0
138
Lampiran 11
SILABUS
Nama Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Standar Kompetensi
Alokasi Waktu
Kompetensi dasar
: SMA N 1 Donorojo
: KIMIA
: XI/2
: Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran, dan terapannya.
: 12 jam (pretes-postes)
Indikator
Materi
Pembelajaran
Memprediksi
 Menjelaskan kesetimbangan dalam  Kelarutan
terbentuknya
larutan jenuh atau larutan garam
dan Hasil
endapan dari
yang sukar larut dengan santun dan Kali
suatu reaksi
Kelarutan
percaya diri
berdasarkan
 Menghubungkan tetapan hasilkali
prinsip kelarutan kelarutan dengan tingkat kelarutan
dan hasil kali
atau pengendapannya dengan rasa
kelarutan.
ingin tahu dan bertanggungjawab
 Menuliskan ungkapan berbagai
Ksp elektrolit yang sukar larut
dalam air dengan teliti dan kreatif
 Memilih operasi yang paling sesuai
untuk menghitung kelarutan suatu
elektrolit yang sukar larut
berdasarkan data harga Ksp atau
sebaliknya dengan teliti dan
bertanggungjawab
Kegiatan Pembelajaran
Penilaian
 Melalui diskusi kelas
 Jenis tagihan
menjelaskan
Tugas individu
kesetimbangan dalam
Tugas
larutan jenuh atau larutan kelompok
garam yang sukar larut,
Ulangan
menghubungkan tetapan  Bentuk
hasil kali kelarutan
instrumen
dengan tingkat kelarutan
Performans
atau pengendapannya,
(kinerja dan
serta menuliskan
sikap), laporan
ungkapan berbagai Ksp
tertulis, Tes
elektrolit yang sukar larut tertulis
dalam air dengan rasa
ingin tahu, kreatif dan
bertanggungjawab
 Melalui diskusi kelas
menghitung kelarutan
suatu elektrolit yang sukar
larut, menjelaskan
pengaruh penambahan ion
senama dalam larutan,
Alokasi
Waktu
8 jam
Sumber/
bahan/
alat
 Sumber
Buku
kimia
 Bahan
Lembar
kerja,
Bahan/al
at untuk
praktek
139
Kompetensi dasar
Indikator
 Menjelaskan pengaruh
penambahan ion senama dalam
larutan dengan kreatif dan percaya
diri
 Memilih operasi yang dipakai
untuk menentukan pH larutan dari
harga Ksp-nya dengan teliti dan
bertanggungjawab
 Memperkirakan terbentuknya
endapan berdasarkan harga Ksp
dengan kreatif dan percaya diri
Materi
Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
menentukan harga pH
larutan dari harga Ksp-nya
dengan teliti, kreatif,
percaya diri dan
bertanggungjawab
 Merancang dan
melakukan percobaan
dengan rasa ingin tahu,
kreatif, dan jujur untuk
menentukan kelarutan
garam dan
membandingkannya
dengan hasil kali
kelarutan dengan penuh
percaya diri
 Menyimpulkan kelarutan
suatu garam dengan
santun dan percaya diri
Penilaian
Alokasi
Waktu
Sumber/
bahan/
alat
140
Lampiran 12
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
EKSPERIMEN 1
Sekolah
: SMA N 1 Donorojo
Mata Pelajaran
: Kimia
Kelas/Semester
: XI/2
Pertemuan ke:1
Waktu
: 2x45 menit
A. Standar Kompetensi
4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran dan terapannya
B. Kompetensi Dasar
4.6 Memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutan
dan hasil kali kelarutan.
C. Indikator
1. Kognitif
Produk:
a. Menjelaskan kesetimbangan dalam larutan jenuh atau larutan garam yang sukar
larut dengan santun dan percaya diri
b. Menghubungkan tetapan hasilkali kelarutan dengan tingkat kelarutan atau
pengendapanya dengan rasa ingin tahu dan bertanggungjawab
c. Menuliskan ungkapan berbagai Ksp elektrolit yang sukar larut dalam air dengan
teliti dan kreatif
d. Memilih operasi yang paling sesuai untuk menghitung kelarutan suatu elektrolit
yang sukar larut berdasarkan data harga Ksp atau sebaliknya dengan teliti dan
bertanggungjawab
Proses:
Siswa dihadapkan dengan masalah pada LKS mengenai kelarutan garam yang mudah
larut dan sukar larut dalam air. Memecahkan masalah melalui diskusi kelompok
dengan langkah: merumuskan masalah, menyusun hipotesis, mengumpulkan data dan
menguji hipotesis serta merumuskan kesimpulan.
2. Afektif
Karakter
: Santun, Rasa ingin tahu, bertanggungjawab, dan teliti
Keterampilan sosial
a. Menyumbangkan ide atau pendapat
b. Bisa berkomunikasi dengan baik
D. Tujuan Pembelajaran
1. Kognitif
Produk:
a. Siswa dapat menjelaskan kesetimbangan dalam larutan jenuh atau larutan garam
yang sukar larut dengan santun dan percaya diri
b. Siswa dapat menghubungkan tetapan hasilkali kelarutan dengan tingkat kelarutan
atau pengendapanya dengan rasa ingin tahu dan bertanggungjawab
c. Siswa dapat menuliskan ungkapan berbagai Ksp elektrolit yang sukar larut dalam
air dengan teliti dan kreatif
d. Siswa dapat memilih operasi yang paling sesuai untuk menghitung kelarutan suatu
elektrolit yang sukar larut berdasarkan data harga Ksp atau sebaliknya dengan
teliti dan bertanggungjawab
141
Proses:
Siswa dihadapkan dengan masalah pada LKS mengenai kelarutan garam yang mudah
larut dan sukar larut dalam air. Siswa dapat memecahkan masalah melalui diskusi
kelompok dengan langkah: merumuskan masalah, menyusun hipotesis,
mengumpulkan data dan menguji hipotesis serta merumuskan kesimpulan.
2. Afektif
Karakter
: selama proses pembelajaran siswa dapat menunjukkan karakter
santun, rasa ingin tahu, bertanggungjawab, dan teliti
Keterampilan sosial
a. Siswa dapat menymbangkan ide atau pendapat
b. Siswa bisa berkomunikasi
E. Materi Pembelajaran
a. Kelarutan
Kelarutan (solubility) suatu zat dalam suatu pelarut menyatakan jumlah maksimum
suatu zat yang dapat larut dalam suatu pelarut. Satuan kelarutan umumnya dinyatakan
dalam gram L-1 atau mol L-1. Besarnya kelarutan suatu zat dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain sebagai berikut.
1) Jenis pelarut
Senyawa polar (mempunyai kutub muatan) akan mudah larut dalam senyawa polar.
Misalnya alkohol dan semua senyawa asam adalah senyawa polar, sehingga mudah larut
dalam air yang juga senyawa polar. Selain senyawa polar, senyawa ion juga mudah larut
dalam air dan terurai menjadi ion-ion.
Senyawa nonpolar akan mudah larut dalam senyawa nonpolar, misalnya lemak mudah
larut dalam minyak. Senyawa polar umumnya tidak larut dalam senyawa nonpolar,
misalnya alkohol tidak larut dalam minyak tanah.
2) Suhu
Kelarutan zat padat dalam air semakin tinggi bila suhunya dinaikkan. Adanya panas
(kalor) mengakibatkan semakin renggangnya jarak antar molekul zat padat tersebut.
Merenggangnya jarak antar molekul zat padat menjadikan kekuatan gaya antar molekul
tersebut menjadi lemah sehingga mudah terlepas oleh gaya tarik molekul-molekul air.
b. Hasil Kali Kelarutan (Ksp)
Senyawa-senyawa ion yang terlarut di dalam air akan terurai menjadi partikel dasar
pembentuknya yang berupa ion positif dan ion negatif. Bila kedalam larutan jenuh suatu
senyawa ion ditambahkan kristal senyawa ion maka kristal tersebut tidak melarut dan
akan mengendap. Kristal yang tidak larut ini tidak mengalami ionisasi. Bila ke dalam
sistem tersebut ditambahkan air maka endapan kristal tersebut akan segera terionisasi, dan
sebaliknya bila air dalam larutan tersebut diuapkan maka ion-ion akan segera mengkristal.
Dalam peristiwa tersebut terjadi sistem kesetimbangan antara zat padat dengan ion-ionnya
didalam larutan.
Pada larutan jenuh senyawa ion AmBn di dalam air akan menghasilkan reaksi
kesetimbangan,
AmBn(s)
mAn+(aq) + nBm-(aq)
Harga hasil kali kelarutannya dinyatakan dengan rumus,
Ksp AmBn = [An+]m [Bm-]n
142
Sebagai contoh, pasangan garam perak klorida yang dapat larut menghasikan
kesetimbangan berikut jika dimasukkan dalam air:
AgCl(s)
Ag+(aq) + Cl-(aq)
Harga hasil kali kelarutannya adalah
Ksp AgCl = [Ag+][Cl-]
c. Hubungan kelarutan dan Ksp
Pada larutan jenuh senyawa ion AmBn konsentrasi zat di dalam larutan sama dengan
harga kelarutanny dalam satuan mol L-1. Senyawa AmBn yang terlarut akan mengalami
ionisasi dalam system kesetimbangan,
AmBn(s)
mAn+(aq) + nBm-(aq)
Jika harga kelarutan dari senyawa AmBn sebesar s mol L-1, maka di dalam reaksi
kesetimbangan tersebut konsentrasi ion-ion An+ dan ion Bm- sebagai berikut
AmBn(s)
mAn+(aq)
+ nBm-(aq)
s mol L-1
m s mol L-1 n s mol L-1
sehingga harga hasil kali kelarutannya adalah,
Ksp AmBn
= [An+]m [Bm- ]n
= (m s)m (n s)n
= mm x nn x (s)(m+n)
Jadi untuk reaksi kesetimbangan:
AmBn(s)
mAn+(aq) + nBm-(aq)
Ksp AmBn = mm x nn x (s)(m+n)
Dengan s =kelarutan AmBn dalam satuan mol L-1
Dari rumus tersebut dapat ditentukan harga kelarutan sebagai berikut:
Besarnya Ksp suatu zat bersifat tetap pada suhu tetap. Bila terjadi perubahan suhu maka
harga Ksp zat tersebut akan mengalami perubahan.
F. Model, Metode, dan Media Pembelajaran
Pendekatan
: student centered
Strategi
: inkuiri
Metode
: diskusi kelompok, ceramah, tanya jawab, penugasan
G. Kegiatan Pembelajaran
FASE

Pembukaan


Orientasi

KEGIATAN PENDAHULUAN
Guru membuka kegiatan pembelajaran dengan
pemberian
motivasi
secara
kreatif
dan
mengondisikan kelas sampai tenang agar siswa siap
menerima pelajaran
Guru memeriksa kehadiran siswa
Guru menginformasikan tujuan, metode, dan
penilaian yang digunakan selama pembelajaran
melalui ceramah dengan santun
Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara
santun untuk menyelidiki pengetahuan awal siswa
WAKTU
3 menit
4 menit
143
tentang molaritas dan kesetimbangan larutan.
 Guru menumbuhkan rasa ingin tahu siswa dengan
mengajukan pertanyaan mengenai kelarutan dan
hasil kali kelarutan.
- Mengapa kapur sukar larut dalam air?
Bagaimana hubungan kasus tersebut terhadap
kelarutan dan hasil kali kelarutan?
KEGIATAN INTI
 Siswa diberi tugas mengerjakan LKS secara
kelompok
Merumuskan
 Siswa dengan bimbingan guru merumuskan masalah 8 menit
masalah
mengenai kasus Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan
yang ada di LKS.
Siswa bekerjasama dan tanggungjawab membuat
hipotesis atau menarik kesmpulan sementara dari
Menentukan
7 menit
masalah yang ditemukan mengenai Kelarutan dan Hasil
hipotesis
Kali Kelarutan
Eksplolasi
 Siswa dengan rasa ingin tahu mencari informasi
untuk menguji hipotesis mengenai Kelarutan dan
Hasil Kali Kelarutan, serta hubungan antara
Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan.

Siswa dengan penuh rasa ingin tahu
Mengumpulkan
mengumpulkan data atau informasi berkaitan 20 menit
data
dengan percobaan yang akan dilakukan mengenai
kelarutan gula dalam air.
 Siswa bekerjasama mengumpulkan data mengenai
Hasil Kali Kelarutan, dan hubungan Kelarutan dan
Hasil Kali Kelarutan dengan menjawab pertanyaan
yang ada di LKS.
Elaborasi
 Siswa secara bekerjasama membuktikan hipotesis
dengan melakukan percobaan melarutkan gula ke
dalam air dan menjawab pertanyaan mengenai
kelarutan.
Menguji

Siswa dengan penuh rasa ingin tahu 25 menit
hipotesis
menyelesaikan pertanyaan yang ada di LKS
mengenai kelarutan dan hasil kali kelarutan, serta
hubungan antara kelarutan dan hasil kali kelarutan
berdasarkan informasi dan data yang telah
dikumpulkan.
144

Penarikan
Kesimpulan
Siswa secara kerjasama membuat simpulan dari
hasil percobaan dan hasil diskusi yang telah
dilakukan sesuai dengan arahan dari guru
 Siswa dengan santun dan percaya diri
menyampaikan hasil diskusi kelompoknya dalam
kegiatan presentasi hasil diskusi
Konfirmasi
 Guru
memberikan
catatan-catatan
penting
mengenai materi yang harus dikuasai siswa
 Siswa dengan rasa ingin tahu diajak
membicarakan hal yang belum dipahami dari hasil
diskusi kelas.
KEGIATAN PENUTUP
 Siswa
dengan bimbingan
guru
membuat
kesimpulan dari materi yang telah dibahas
 Guru
menumbuhkan rasa ingin tahu siswa
agar gemar membaca tentang pengaruh ion sejenis
terhadap kelarutan dan hasil kali kelarutan
 Siswa diberi tugas untuk melihat fenomena dalam
kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi
pengaruh ion sejenis terhadap kelarutan untuk
pertemuan berikutnya.
20 menit
5 menit
H. Sumber Pelajaran
Bahan ajar : buku kimia
I. Penilaian
Kognitif : tugas individu
Psikomotor: Afektif
: lembar observasi
Semarang, Februari 2014
Guru Praktikan
Maulida Fitriana
NIM.4301410065
145
SOAL LATIHAN
1. Obat maag atau yang dikenal sebagai antasida umumnya merupakan senyawa yang
bersifat basa, sehingga dapat menetralkan kelebihan asam yang terdapat di dalam cairan
lambung. Umumnya obat antasida yang banyak dipilih adalah jenis yang sukar larut,
sehingga reaksinya lambat dan dapat bertahan lama, misalnya aluminium hidroksida dan
magnesium hidroksida. Jika magnesium hidroksida mempunyai Ksp sebesar 1,8x10 -11,
berapa kelarutan magnesium hidroksida dalam usus?
2. Kelarutan PbSO4 dalam air pada suhu tertentu adalah 1,4×10−4 mol/L. Tentukan massa
PbSO4 yang dapat larut dalam 500 mL air, nyatakan jawaban dalam satuan milligram
(mg).
(Ar Pb = 206; S = 32; O = 16)
3. Tuliskan persamaan tetapan hasil kali kelarutan untuk garam berikut:
a. AgCl
b. Ag2CO3
c. Ba3(PO4)2
4. Sebanyak 0,7 gram BaF2 (Mr = 175) melarut dalam air murni membentuk 2 L larutan
jenuh. tentukan Ksp dari BaF2.
5. Hasil kali kelarutan Ca(OH)2 dalam air adalah 4 × 10 −6. Tentukan kelarutan Ca(OH)2.
6. Dalam 100 cm3 air dapat larut 1,16 mg Mg(OH)2 (Mr = 58). Tentukan harga Ksp dari
Mg(OH)2
7. Harga hasil kali kelarutan (Ksp) Ag2SO4 = 3,2 x 10−5, hitunglah kelarutannya dalam 1
liter air!
KUNCI JAWABAN
1. Mg(OH)2(s)
s
Ksp Mg(OH)2
1,8x10-11
s
Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
s
2s
2
= s (2s)
= 4s3
=
= 1,65x10 -4
2. S = 1,4×10−4 mol/L
V = 0,5 L
S = n/v, jadi n= s x V
Sehingga jumlah mol PbSO4
n = sxV
= 1,4×10−4 mol/L x 0,5 L
= 0,7 × 10−4 mol
dan massanya adalah
m = n x Mr
= 0,7.10-4 x 302 = 211,4 x 10-4 gram = 21,14 mg
3.
a. AgCl(s)
Ag+(aq) + Cl-(aq)
Ksp = [ Ag+] [Cl-]
b. Ag2CO3(s)
2Ag+(aq) + CO32-+(aq)
+ 2+
Ksp = [Ag ] [CO32-]
146
c. Ba3(PO4)2(s)
3Ba2+(aq) + 2PO43-(aq)
2+ 3
Ksp = [Ba ] [PO43-]2
4. Jumlah mol dari BaF2 adalah:
n = 0,7 / 175 = 4 × 10−3 mol
Kelarutannya adalah
S = 4 × 10 −3 mol / 2 L = 2 × 10−3 mol/L
Ba2+
2 × 10 −3
BaF2
2 × 10 −3
+
2F−
4 × 10−3
Ksp BaF2 = [Ba2+][F−]2
Ksp BaF2 = (2 × 10−3)(4 × 10−3)2 = 3,2 × 10−8
5. Ca(OH)2 (aq)
Ca2+(aq) + 2OH-(aq)
Ksp Ca(OH)2
= [Ca2+] [2OH-]2
-6
4 x 10
= (s) (2s)2
-6
4 x 10
= 4s3
3
s
= 10 -6
s
= 10 -2 mol/L
6. V = 100 cm3 = 0,1 L
massa = 1,16 mg = 1,16 × 10−3 gram
Mr = 58
Ksp = ....
mol Mg(OH)2 = gram / Mr
mol Mg(OH)2 = 1,16 × 10−3 / 58 = 0,02 × 10 −3 mol
s = mol / liter
s = 0,02 × 10−3 / 0,1 = 0,2 × 10−3 mol/L
Mg(OH)2
s
s
Mg2+ + 2OH−
2s
Ksp = (s)(2s)2 = 4s3
Ksp = 4(0,2 × 10−3)3 = 3,2 × 10 −11
7. Volume V = 1 liter
Ksp Ag2SO4 = 3,2 x 10−5
s =.....
Ag2SO4
2Ag+ + SO4 2−
s
2s
s
Ksp Ag2SO4 = [Ag+]2[SO4 2−]
Ksp Ag2SO4 = (2s)2(s)
3,2 x 10−5 = 4s3
s3 = 0,8 x 10−5
s3 = 8 x 10−6
s = 2 x 10−2 mol/L
147
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
EKSPERIMEN 2
Sekolah
: SMA N 1 Donorojo
Mata Pelajaran
: Kimia
Kelas/Semester
: XI/2
Pertemuan ke:2
Waktu
: 2x45 menit
A. Standar Kompetensi
4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran dan terapannya
B. Kompetensi Dasar
4.6 Memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutan
dan hasil kali kelarutan.
C. Indikator
1. Kognitif
Produk:
Menjelaskan pengaruh penambahan ion senama dalam larutan dengan kreatif dan
percaya diri
Proses:
Siswa dihadapkan dengan masalah pada LKS mengenai pengaruh ion sejenis terhadap
kelarutan. Memecahkan masalah melalui diskusi kelompok dengan langkah:
merumuskan masalah, menyusun hipotesis, mengumpulkan data dan menguji
hipotesis serta merumuskan kesimpulan.
2. Afektif
Karakter
: bertanggungjawab, dan teliti
Keterampilan sosial
a. Menyumbangkan ide atau pendapat
b. Bisa berkomunikasi dengan baik
D. Tujuan Pembelajaran
1. Kognitif
Produk:
Siswa dapat menjelaskan pengaruh penambahan ion senama dalam larutan dengan
kreatif dan percaya diri
Proses:
Siswa dihadapkan dengan masalah pada LKS mengenai pengaruh ion sejenis terhadap
kelarutan. Siswa dapat memecahkan masalah melalui diskusi kelompok dengan
langkah: merumuskan masalah, menyusun hipotesis, mengumpulkan data dan
menguji hipotesis serta merumuskan kesimpulan.
2. Afektif
Karakter
: selama proses pembelajaran siswa menunjukkan karakter santu, rasa
ingin tahu, bertanggungjawab, dan teliti
Keterampilan sosial
a. Siswa dapat menymbangkan ide atau pendapat
b. Siswa bisa berkomunikasi
148
E. Materi Pembelajaran
Pengaruh ion senama terhadap kelarutan
Jika ke dalam larutan jenuh AgCl ditambahkan beberapa tetes larutan NaCl maka
akan segera terjadi pengendapan AgCl, demikian pula bila ke dalam lautan AgCl tersebut
ditambahkan beberapa tetes larutan AgNO3.
AgCl(s)
Ag+(aq) + Cl-(aq)
Bila ke dalam sistem kesetimbangan tersebut ditambahkan ion Cl- maka
kesetimbangan bergeser ke kiri, sehingga mengakibatkan jumlah AgCl yang mengendap
bertambah. Demikian pula bila dalam system kesetimbangan tersebut ditambah ion Ag+,
maka sistem kesetimbangan bergeser ke kiri dan berakibat bertambahnya jumlah AgCl
yang mengendap. Kesimpulannya bila ke dalam sistem kesetimbangan kelarutan
ditambahkan ion yang senama mengakibatkan kelarutan senyawa tersebut berkurang.
F. Model, Metode, dan Media Pembelajaran
Pendekatan
: student centered
Strategi
: inkuiri
Metode
: ceramah, tanya jawab, penugasan
G. Kegiatan Pembelajaran
FASE
KEGIATAN PENDAHULUAN

Pembukaan



Orientasi
Guru membuka kegiatan pembelajaran dengan
pemberian
motivasi
secara
kreatif
dan
mengondisikan kelas sampai tenang agar siswa siap
menerima pelajaran
Guru memeriksa kehadiran siswa
Guru menginformasikan tujuan, metode, dan
penilaian yang digunakan selama pembelajaran
melalui ceramah dengan santun
Guru mengajukan pertanyaan secara santun untuk
menyelidiki pengetahuan awal siswa tentang
kesetimbangan larutan, kelarutan dan hasil kali
kelarutan serta mengenai fenomena yang telah
dilihat oleh siswa mengenai pengaruh ion senama
terhadap kelarutan.
WAKTU
3 menit
4 menit
149
KEGIATAN INTI
Eksplorasi
 Guru mengajukan pertanyaan berkaitan dengan
pengaruh ion senama terhadap kelarutan.
Mengapa ion senama/sejenis dapat mempengruhi
kelarutan?
8 menit
Merumuskan

Siswa
diberi
tugas
mengerjakan
LKS
secara
masalah
kelompok
 Siswa secara bekerjasama membuat rumusan
masalah berdasarkan masalah yang mereka temukan
mengenai pengaruh ion sejenis terhasap kelarutan
suatu zat.
Siswa bekerjasama dan tanggungjawab membuat
hipotesis atau menarik kesimpulan sementara
Menentukan
7 menit
hipotesis
berdasarkan rumusan masalah mengenai pengaruh ion
sejenis terhadap kelarutan.
 Siswa dengan penuh rasa ingin tahu
mengumpulkan data atau informasi mengenai
Mengumpulkan
pengaruh ion sejenis terhadap kelarutan.
20 menit
data
 Siswa secara bersama dan bertanggungjawab
menjawab pertanyaan yang ada di LKS mengenai
pengaruh ion sejenis terhadap kelarutan.
Elaborasi
Siswa dengan percaya diri dan bertanggungjawab
membuktikan hipotesis dengan menyesaikan soal
Menguji
25 menit
perhitungan yang ada di LKS melalui data-data atau
hipotesis
informasi yang dikumpulkan secara bersama dalam
diskusi.
 Siswa secara kerjasama membuat simpulan dari
hasil diskusi yang telah dilakukan sesuai dengan
arahan dari guru
 Siswa dengan santun dan percaya diri
menyampaikan hasil diskusi kelompoknya dalam
Penarikan
kegiatan presentasi hasil diskusi
20 menit
Kesimpulan
Konfirmasi
 Guru
memberikan
catatan-catatan
penting
mengenai materi yang harus dikuasai siswa
 Siswa dengan rasa ingin tahu diajak
membicarakan hal yang belum dipahami dari hasil
diskusi kelas.
KEGIATAN PENUTUP
 Siswa
dengan bimbingan
guru
membuat
kesimpulan dari materi yang telah dibahas
 Guru
menumbuhkan rasa ingin tahu siswa 5 menit
agar gemar membaca tentang pengaruh pH terhadap
kelarutan dan melihat kejadian dalam kehidupan
150
sehari-hari mengenai materi.
H. Sumber Pelajaran
Bahan ajar : buku kimia
I. Penilaian
Kognitif : tugas individu
Psikomotor: Afektif
: lembar observasi
Semarang, Februari 2014
Guru Praktikan
Maulida Fitriana
NIM.4301410065
151
SOAL LATIHAN
−12
1. Diketahui Ksp Ag2CrO4 = 4 x 10 . Tentukan kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan 0,01 M
K2CrO4!
2. Tentukan kelarutan Mg(OH)2 dalam NaOH 0,1 M! Ksp Mg(OH)2 = 1,8×10 −11 mol3 L−3
3. Jika diketahui kelarutan Ag2CrO4 dalam air murni adalah 8,43 x 10 -5mol/L pada suhu
25C. Tetukanlah kelarutan Ag2CrO4 (Ksp Ag2CrO4 = 2,4 x 10-12) itu dalam AgNO3 0,1 N
KUNCI JAWABAN
1. Larutan 0,01 M K2CrO4 mengandung:
ion K+ sebanyak 0,02 M
ion CrO42− sebanyak 0,01 M
Ag2CrO4 terurai menjadi:
Ag2CrO4(s)
2Ag+(aq) + CrO42−(aq)
s
2s
s
+
2Ksp Ag2CrO4
= [Ag ] [CrO4 ]
= (2s)2 [CrO42-]  ion CrO42- dari K2CrO4, sebanyak 0,01M, jadi
Ksp Ag2CrO4
= (2s)2 (0,01)
-12
4 x 10
= 4s2 (0,01)
s
=
= 10 -5 mol/L
2. NaOH dengan molaritas ion-ionnya:
NaOH(aq)  Na+(aq) + OH-(aq)
0,1 M
0,1 M
0,1 M
Mg(OH)2 dengan ion-ion dan kelarutannya:
Mg(OH)2(s)
Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
s
s
2s
Ksp Mg(OH)2
= s (2s)2
1,8x10-11
= s (0,1)2
s
=
= 1,8x10-9 mol/L
3. Kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 N
Larutan AgNO3 0,1 mengandung 0,1 M ion Ag+ dan 0,1 M ion NO3AgNO3 (aq)
Ag+ (aq) +
NO3- (aq)
0,1 M
0,1 M
0,1 M
Jika ke dalam larutan ditambahkan Ag2CrO4 padat, maka kristal itu akan larut hingga
larutan jenuh. Misalkan kelarutan Ag2CrO4 = s mol/L maka konsenterasi ion CrO42- yang
dihasilkan = s mol/L dan ion Ag+ = 2s mol/L
Ag2CrO4 (s)
2Ag+ (aq) + CrO42-(aq)
s
2s
s
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
2,4 x 10-12
= (0,1)2 (s)
2,4 x 10-12
= 10 -2 s
s
= 2,4 x 10 -10
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L.
152
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
EKSPERIMEN 3
Sekolah
: SMA N 1 Donorojo
Mata Pelajaran
: Kimia
Kelas/Semester
: XI/2
Pertemuan ke:3
Waktu
: 2x45 menit
A. Standar Kompetensi
4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran dan terapannya
B. Kompetensi Dasar
4.6 Memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutan
dan hasil kali kelarutan.
C. Indikator
1. Kognitif
Produk:
Memilih operasi yang dipakai untuk menentukan pH larutan dari harga Ksp-nya
dengan teliti dan bertanggungjawab
Proses:
Siswa dihadapkan dengan masalah pada LKS mengenai pengaruh pH terhadap
kelarutan suatu zat. Memecahkan masalah melalui diskusi kelompok dengan langkah:
merumuskan masalah, menyusun hipotesis, mengumpulkan data dan menguji
hipotesis serta merumuskan kesimpulan.
2. Afektif
Karakter
: bertanggungjawab, dan teliti
Keterampilan sosial
a. Menyumbangkan ide atau pendapat
b. Bisa berkomunikasi dengan baik
D. Tujuan Pembelajaran
1. Kognitif
Produk:
Siswa dapat memilih operasi yang dipakai untuk menentukan pH larutan dari harga
Ksp-nya dengan teliti dan bertanggungjawab
Proses:
Siswa dihadapkan dengan masalah pada LKS mengenai pengaruh pH terhadap
kelarutan suatu zat. Siswa dapat memecahkan masalah melalui diskusi kelompok
dengan langkah: merumuskan masalah, menyusun hipotesis, mengumpulkan data dan
menguji hipotesis serta merumuskan kesimpulan.
2. Afektif
Karakter
: selama proses pembelajaran siswa menunjukkan karakter
bertanggungjawab, dan teliti
Keterampilan sosial
a. Siswa dapat menyumbangkan ide atau pendapat
b. Siswa bisa berkomunikasi
E. Materi Pembelajaran
Pengaruh pH dan Kelarutan
153
Beberapa zat padat hanya sedikit larut dalam air tetapi sangat larut dalam larutan asam.
Sebagai contoh, bijih tembaga dan nikel sulfida dapat larut dengan asam kuat, suatu fakta
yang amat membantu dalam pemisahan dan pengambilan logam berharga ini dari bentuk
unsurnya. Pengaruh pH terhadap kelarutan ditunjukkan secara dramatis pada kerusakan
bangunan dan monumen oleh pengendapan asam. Ada sebagian senyawa ionik dengan
kelarutan rendah mempunyai daya larut yang bergantung pada pH larutan. pH
mempengaruhi daya larut ion hidroksida dan garam yang mengandung anion basa lemah.
Tetapi tidak semua garam yang sukar larut dapat larut dalam asam, contohnya BaSO4,
kelarutan BaSO4 tidak dipengeruhi oleh penambahan asam. Untuk memahaminya, simak
contoh berikut :
- Kalsium karbonat (CaCO3)
Dalam larutan jenuh CaCO3 terdapat kesetimbangan sebagai berikut:
CaCO3 (s)
Ca2+ (aq) + CO32- (aq)
Dengan penambahan HCl mengakibatkan ion Ca2+ dari CaCO3 akan berkumpul
dengan ion Cl- dari HCl, tetapi tidak dapat membentuk CaCl2 karena CaCl2
merupakan elektrolit kuat sehingga dalam larutan terurai menjadi ion-ionnya.
Tetapi ion H+ dari HCl akan bertemu dengan ion CO32- membentuk H2CO3 dan
terurai menjadi CO2 dan H2O. Karena CO32- berikatan dengan H+ maka dapat
mempengaruhi kesetimbangan CaCO3. Berkurangnya CO32- akan menggeser
kesetimbangan ke arah hasil reaksi (Ca2+ dan Cl-). Jadi kelarutan CaCO3 meningkat.
- Barium sulfat (BaSO4)
Dalam larutan jenuh BaSO4 terdapat kesetimbangan sebagai berikut:
BaSO4(s)
Ba2+(aq) + SO42-(aq)
Dengan penambahan HCl mengakibatkan ion Ba2+ dari BaSO4 akan berkumpul
dengan ion Cl- dari HCl, tetapi tidak dapat membentuk BaCl2 karena BaCl2
merupakan elektrolit kuat sehingga dalam larutan terurai menjadi ion-ionnya.
Begitu pula yang terjadi pada ion H+ dan ion SO42- akan tetap dalam bentuk ion
karena asam kuat. Jadi penambahan HCl tidak mempengaruhi kelarutan BaSO4.
- Kelarutan Hidroksida
Salah satu pengaruh pH terhadap kelarutan juga terjadi pada logam hidroksida.
Konsentrasi ion OH- muncul secara eksplisit dalam rumus hasil kali kelarutan
senyawa tersebut. Sebagai contoh garam Zn(OH)2, akan mengalami reaksi
kesetimbangan sebagai berikut:
Zn(OH)2(s)
Zn2+(aq) + 2OH-(aq)
Jika larutan dibuat lebih asam, konsentrasi ion hidroksida berkurang, yang
menyebabkan kenaikan konsentrasi ion Zn2+. Jadi seng hidroksida lebih larut dalam
larutan asam daripada dalam air murni.
F. Model, Metode, dan Media Pembelajaran
Pendekatan
: student centered
Strategi
: inkuiri
Metode
: ceramah, tanya jawab, penugasan
G. Kegiatan Pembelajaran
154
FASE
KEGIATAN PENDAHULUAN

WAKTU
Guru membuka kegiatan pembelajaran dengan
pemberian
motivasi
secara
kreatif
dan 3 menit
Pembukaan
mengondisikan kelas sampai tenang agar siswa siap
menerima pelajaran
 Guru memeriksa kehadiran siswa
 Guru menginformasikan tujuan, metode, dan
penilaian yang digunakan selama pembelajaran
melalui ceramah dengan santun
 Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara
Orientasi
santun untuk menyelidiki pengetahuan awal siswa 4 menit
tentang kesetimbangan larutan, kelarutan dan hasil
kali kelarutan serta mengenai kejadian dalam
kehidupan siswa yang berkaitan dengan pengaruh
pH terhadap kelarutan.
KEGIATAN INTI
Eksplorasi
 Guru mengajukan pertanyaan berkaitan dengan
pengaruh pH terhadap kelarutan.
Merumuskan
Mengapa pH dapat mempengruhi kelarutan?
8 menit
masalah
 Siswa diberi tugas LKS secara kelompok
 Siswa secara bekerjasama membuat rumusan
masalah berdasarkan masalah yang mereka temukan
mengenai pengaruh pH terhasap kelarutan suatu zat.
Siswa bekerjasama dan tanggungjawab membuat
hipotesis atau menarik kesimpulan sementara
Menentukan
berdasarkan rumusan masalah mengenai pengaruh pH 7 menit
hipotesis
terhadap kelarutan dan cara menentukan pH larutan
berdasarkan harga Ksp-nya
Siswa dengan penuh rasa ingin tahu mengumpulkan
Mengumpulkan data atau informasi untuk menguji hipotesis mengenai
20 menit
pengaruh pH terhadap kelarutan dan cara menentukan
data
pH larutan berdasarkan harga Ksp-nya.
Elaborasi
Siswa dengan percaya diri dan bertanggungjawab
membuktikan hipotesis dengan menjawab pertanyaan
Menguji
25 menit
mengenai pengaruh pH terhadap kelarutan melalui datahipotesis
data atau informasi yang dikumpulkan secara bersama
dalam diskusi.
155

Penarikan
Kesimpulan
Siswa secara kerjasama membuat simpulan dari
hasil diskusi yang telah dilakukan sesuai dengan
arahan dari guru
 Siswa dengan santun dan percaya diri
menyampaikan hasil diskusi kelompoknya dalam
kegiatan presentasi hasil diskusi
Konfirmasi
 Guru
memberikan
catatan-catatan
penting
mengenai materi yang harus dikuasai siswa
 Siswa dengan rasa ingin tahu diajak
membicarakan hal yang belum dipahami dari hasil
diskusi kelas.
KEGIATAN PENUTUP
 Siswa
dengan bimbingan
guru
membuat
kesimpulan dari materi yang telah dibahas
 Guru
menumbuhkan rasa ingin tahu siswa
agar gemar membaca tentang proses pengendapan
dan mencari kejadian dalam kehidupan sehari-hari
yang berkaitan dengan proses pengendapan.
 Siswa diberi tugas untuk membuat rancangan
percobaan untuk mengidentifikasi kesadahan air
berdasarkan proses pengendapan.
20 menit
5 menit
H. Sumber Pelajaran
Bahan ajar : buku kimia
I. Penilaian
Kognitif : tugas individu
Psikomotor: Afektif
: lembar observasi
Semarang, Februari 2014
Guru Praktikan
Maulida Fitriana
NIM.4301410065
156
SOAL LATIHAN
1. Larutan jenuh X(OH)2 memiliki pOH = 5. Tentukan hasil kali kelarutan (Ksp) dari
X(OH)2 tersebut!
2. Larutan jenuh senyawa hidroksida dari suatu basa L(OH)2 dilarutkan dalam 1 liter air.
Diketahui Ksp L(OH)2 = 4×10−12, tentukan pH akhir dari pelarutan L(OH)2 tersebut!
3. Diketahui tetapan hasilkali kelarutan Mg(OH)2 = 2 x 10-12. Tentuknlah kelarutan
Mg(OH)2 dalam :
a. Aquades (air murni)
b. Larutan dengan pH = 12
KUNCI JAWABAN
1. pOH = 5 artinya konsentrasi OH− nya diketahui sebesar 10 −5 M.
Dari
X(OH)2
X2+ + 2OH−
−
−5
[OH ] = 10 M
[X2+] = 1/2 x 10−5 M = 5 x 10−6 M
Ksp = [X2+] [OH−]2
Ksp = [5 x 10−6] [10−5]2 = 5 x 10−16
2. L(OH)2
s
Ksp
L2+ + 2OHs
2s
= [L2+] [OH-]2
= s . (2s)2 = 4s3
s
=
=
= 10-4
[OH- ]
pOH
pH
=2xs
= 2x10 -4
= - log 2.10-4
= 4-log2
= 14-(4-log2)
= 10+log2
3. Kelarutan Mg(OH)2
a. Dalam Aquades (air murni)
Mg(OH)2 akan larut hingga terjadi larutan jenuh [Mg2+][OH-]2 = Ksp Mg(OH)2
Misalkan kelarutan Mg(OH)2 = s mol/L
Mg(OH)2(s) ⇄ Mg2+ (aq) + 2OH- (aq)
s
s
2s
[Mg2+][OH-]2
= Ksp Mg(OH)2
(s)
(2s)2 = 2 x 10-12
3
4s = 2 x 10-12
s = 7,94 x 10-5 mol/L
Jadi kelarutan Mg(OH)2 dalam air sebesar 7,94 x 10-5 mol/L
157
b. Dalam Larutan dengan pH = 12
pH = 12,
pOH
= 14-pH
= 14 -12
=2
[OH- ] = 1 x 10-2 mol/L
Mg(OH)2 akan larut hinggga terjadi larutan jenuh, misalkan kelarutan Mg(OH)2 = x
mol/L
Mg(OH)2(s) ⇄
Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
x
x
2x
Konsenterasi ion OH – dalam larutan 1 x 10-2 mol / L + 2x . subtitusi data ini kedalam
persamaan tetapan kesetibangan Mg(OH)2 menghasilkan persamaan sebagai berikut :
[Mg2+] [OH-]2
= Ksp Mg(OH)2
(x)
(2x)2
= 2 x 10-12
-2
2
(x) (10 + 2x ) = 2 x 10-12
Oleh karena dapat diduga bahwa x <<>-2 , maka 1 x 10-2 + 2x ≈ 1 x 10-2 maka
persamaan diatas dapat ditulis sebagai berikut :
(x) (2 x 10-2)2
= 2 x 10-12
x
= 2 x 10-8
Jadi kelarutan Mg(OH)2 dalam larutan dengan pH = 12 adalah 2 x 10-8 mol / L.
Kelarutan ini kira-kira 4000 kali lebih kecil daripada kelarutan Mg(OH)2 dalam aquades
158
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
EKSPERIMEN 4
Sekolah
: SMA N 1 Donorojo
Mata Pelajaran
: Kimia
Kelas/Semester
: XI/2
Pertemuan ke:4
Waktu
: 2x45 menit
A. Standar Kompetensi
4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran dan terapannya
B. Kompetensi Dasar
4.6 Memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutan
dan hasil kali kelarutan.
C. Indikator
1. Kognitif
Produk:
Memperkirakan terbentuknya endapan berdasarkan harga Ksp dengan kreatif dan
percaya diri
Proses:
Melakukan percobaan dengan kerja sama dan bertanggungjawab untuk
mengidentifikasi kesadahan air berdasarkan proses pengendapan.
2. Afektif
Karakter
: teliti, kreatif, percaya diri, kerja sama, dan bertanggungjawab
Keterampilan sosial
a. Menyumbangkan ide atau pendapat
b. Bisa berkomunikasi dengan baik
3. Psikomotorik
a. Menggunakan alat dengan benar dan teliti.
b. Melakukan percobaan dengan teliti sesuai prosedur percobaan
c. Melakukan pembersihan alat dengan baik
d. Membuat laporan sementara dengan tepat secara bekerjasama.
D. Tujuan Pembelajaran
1. Kognitif
Produk:
Siswa dapat memperkirakan terbentuknya endapan berdasarkan harga Ksp dengan
kreatif dan percaya diri
Proses:
Siswa dapat melakukan percobaan dengan kerja sama dan bertanggungjawab untuk
mengidentifikasi kesadahan air berdasarkan proses pengendapan.
2. Afektif
Karakter
: selama proses pembelajaran siswa menunjukkan karakter teliti,
kreatif, percaya diri, kerja sama, dan bertanggungjawab.
Keterampilan sosial
a. Siswa dapat menyumbangkan ide atau pendapat
159
b. Siswa bisa berkomunikasi
3. Psikomotorik
a. Siswa dapat menggunakan alat dengan benar dan teliti.
b. Siswa dapat melakukan percobaan dengan teliti sesuai prosedur percobaan
c. Siswa dapat melakukan pembersihan alat dengan baik
d. Siswa dapat membuat laporan sementara dengan tepat secara bekerjasama.
E. Materi Pembelajaran
Harga hasil kali kelarutan (Ksp) suatu senyawa ionik yang sukar larut dapat
memberikan informasi tentang kelarutan senyawa tersebut dalam air. Semakin besar
harga Ksp suatu zat, semakin mudah larut senyawa tersebut.
Harga Ksp suatu zat dapat digunakan untuk meramalkan terjasi tidaknya endapan
suatu zat jika dua larutan yang mengandung ion-ion dari senyawa sukar larut
dicampurkan. Untuk meramalkan terjadi tidaknya endapan AmBn jika larutan yang
mengandung ion An+ dan Bm- dicampurkan digunakan konsep hasil kali ion (Qsp) berikut
ini.
Qsp AmBn = [An+]m [Bm-]n
 Jika Qsp > Ksp maka akan terjadi endapan AmBn
 Jika Qsp = Ksp maka akan terjadi larutan jenuh AmBn
 Jika Qsp < Ksp maka belum terjadi larutan jenuh maupun endapan AmBn.
Selain memberi informasi tentang kelarutan, harga Ksp dapat dimanfaatkan sebagai
salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemisahan zat dalam campuran
dengan cara pengendapan. Contoh : Untuk memisah ion Zn2+ dan ion Cd2+ yang terdapat
secara bersama-sama dalam suatu larutan dapat dilakukan dengan mengalirkan gas H2S
ke dalam larutan tersebut sehingga terjadi reaksi:
Zn2+(aq) + S2-(aq)
ZnS(s)
2+
2Zn (aq) + S (aq)
ZnS(s)
Diketahui harga Ksp ZnS= 1,6x10-22 dan Ksp CdS= 8x10 -27, dengan mengatur harga pH
maka konsentrasi ion sulfida dalam larutan dapat diatur sedemikian sehingga Qsp ZnS<
Ksp ZnS sehingga ZnS belum mengendap dan Qsp CdS > Ksp CdS sehingga CdS
mengendap. Dengan demikian kedua ion tersebut dapat dipisahkan dari larutan.
F. Model, Metode, dan Media Pembelajaran
Pendekatan
: teacher centered
Strategi
: konvensional
Metode
: kerja kelompok, eksperimen, penugasan
Media
: Alat dan bahan praktikum, Papan tulis, boardmarker, dan penghapus
G. Kegiatan Pembelajaran
FASE
KEGIATAN PENDAHULUAN

Pembukaan


Guru membuka kegiatan pembelajaran dengan
memberikan motivasi secara kreatif dan
mengondisikan siswa untuk duduk sesuai
kelompoknya masing-masing
Guru memeriksa kehadiran siswa
Siswa dengan rasa ingin tahu di ajak
membicarakan mengenai prosedur percobaan yang
WAKTU
3 menit
160
telah ditugaskan kepada siswa pada pertemuan
sebelumnya.
 Guru menginformasikan tujuan, metode, dan
penilaian yang digunakan selama praktikum melalui
ceramah dengan santun
Orientasi
4 menit
 Guru memberikan pengarahan tentang tata tertib
melakukan percobaan agar efektif, efisien dan
memenuhi kriteria keselamatan kerja.
KEGIATAN INTI
Eksplorasi
 Guru mengajukan pertanyaan yang menjadi pokok
permasalahan yang harus di uji saat melakukan
percobaan.
Merumuskan
3 menit
- Bagaiman cara mengidentifikasi kesadahan air?
masalah
 Siswa diberi tugas untuk mengerjakan LKS.
 Siswa secara kerjasama dan tanggungjawab
merumuskan masalah mengenai kasus yang ada di
LKS.
Siswa
bekerjasama dan tanggungjawab membuat
Menentukan
5 menit
hipotesis dari masalah yang telah dirumuskan
hipotesis
 Siswa secara bekerjasama dan bertanggungjawab
Mengumpulkan
mengumpulkan data mengenai hal yang akan 10 menit
data
dilakukan untuk menguji hipotesis melalui
percobaan mengidentifikasi kesadahan air.
Elaborasi
 Siswa secara kerjasama dan bertanggungjawab
melakukan percobaan sesuai dengan prosedur kerja
tang telah disusun untuk mengidentifikasi
kesadahan air.
 Siswa dengan arahan guru mengumpulkan data
Menguji
percobaan dengan teliti.
40 menit
hipotesis
 Siswa secara kerjasama membuat analisis data
percobaan dan menjawab pertanyaan yang ada di
LKS mengenai proses pengendapan dalam
mengidentifikasi kesadahan air melalui diskusi
kelompok.
 Siswa menyajikan hasil diskusi dalam laporan
sementara.
161

Penarikan
Kesimpulan
Siswa bekerjasama membuat simpulan dari hasil
percobaan yang telah dilakukan sesuai dengan
arahan dari guru
 Siswa dengan santun dan percaya diri
menyampaikan hasil diskusi kelompoknya dalam
kegiatan presentasi hasil diskusi
25 menit
Konfirmasi
 Guru
memberikan
catatan-catatan
penting
mengenai kesimpulan yang telah dirumuskan siswa
 Siswa dengan rasa ingin tahu diajak
membicarakan hal yang belum dipahami dari hasil
percobaan.
KEGIATAN PENUTUP
 Siswa
dengan bimbingan
guru
membuat
kesimpulan
 Siswa diberi tugas untuk membuat laporan hasil 5 menit
percobaan dan dikumpulkan minggu depan.
H. Sumber Pelajaran
Bahan ajar : buku kimia, LKS
I. Penilaian
Kognitif : laporan sementara (kelompok) dan laporan praktikum (individu)
Psikomotor: lembar Observasi
Afektif
: lembar observasi
Semarang, Februari 2014
Guru Praktikan
Maulida Fitriana
NIM.4301410065
162
KESADAHAN AIR
I.
Tujuan
Mengidentifikasi kesadahan air.
II. Alat dan Bahan
Alat
Bahan
a. Tabung reaksi
e. Air sumur
b. Gelas ukur
f. Air suling
c. Erlenmeyer
g. Larutan Na2CO3
d. Buret
h. Air sabun
i. Air sadah
III. Langkah kerja
Berdasarkan alat dan bahan yang sudah di sediakan, rancanglah sebuah percobaan
untuk mengidentifikasi kesadahan air.
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
163
IV. Hasil Pengamatan
Sampel air
Sampel air
dipanaskan
Sampel air + lar
Na 2CO3
Banyaknya air sabun
yang diperlukan
Banyaknya air sabun
yang diperlukan
Banyaknya air sabun
yang diperlukan
V. Permasalahan
1) Dari ketiga sampel air, manakah yang memerlukan air sabun paling banyak untuk
membentuk busa? Jelaskan mengapa demikian!
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
2) Tuliskan reaksi yang terjadi pada masing-masing sampel air!
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
3) Jika ke dalam air sadah yang mengandung ion Mg2+ dan Ca2+ ditambahkan larutan
natrium karbonat 10 -2M, hitunglah kelarutan ion Mg2+ dan Ca2+ jika diketahui Ksp
MgCO3= 3,5x10 -8 dan Ksp CaCO3=2,8x10-9.
164
MgCO3(s)
Ksp MgCO3
[……..]
Ksp CaCO3
[……..]
……. + ………
= [……..][…….]
= ………………
=……………….
= [……..][…….]
= ………………
=……………….
Jadi kelarutan ion Mg2+ dan Ca2+ adalah………….mol/L dan…………….mol/L
4) Apabila ion Mg2+ dan Ca2+ yang ada dalam 100mL air sadah mempunyai kadar
sebesar 10 -2M diendapkan dengan menambahkan 100mL NaCO3 10-2M, hitunglah
harga hasil kali ion-ion masing-masing garam yang terbentuk!
Dalam campuran terdapat :
[Mg2+] =…………………………………………………………………………………
=…………………………………………………………………………………
2[CO3 ]=…………………………………………………………………………………
=…………………………………………………………………………………
Qsp MgCO3 = [……..][…….]
=…………………………………………………………………………
=…………………………………………………………………………
Bagaimana harga hasil kali ion-ion jika dibandingkan dengan harga Ksp? Apakah ada
hubungan antara perbandingan tersebut dengan terbentuknya endapan? Ksp MgCO3=
3,5x10 -8 dan Ksp CaCO3=2,8x10-9.
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
VI. Kesimpulan
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
165
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
EKSPERIMEN 5
Sekolah
: SMA N 1 Donorojo
Mata Pelajaran
: Kimia
Kelas/Semester
: XI/2
Pertemuan ke:5
Waktu
: 2x45 menit
A. Standar Kompetensi
4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran dan terapannya
B. Kompetensi Dasar
4.6 Memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutan
dan hasil kali kelarutan.
C. Indikator
1. Kognitif
Produk:
Memperkirakan terbentuknya endapan berdasarkan harga Ksp dengan kreatif dan
percaya diri
Proses:
Siswa dihadapkan dengan masalah pada LKS yang berhubungan dengan proses
pengendapan. Memecahkan masalah melalui diskusi kelompok dengan langkah:
merumuskan masalah, menyusun hipotesis, mengumpulkan data dan menguji
hipotesis serta merumuskan kesimpulan.
2. Afektif
Karakter
: teliti, kreatif, percaya diri, kerja sama, dan bertanggungjawab
Keterampilan sosial
a. Menyumbangkan ide atau pendapat
b. Bisa berkomunikasi dengan baik
D. Tujuan Pembelajaran
1. Kognitif
Produk:
Siswa dapat memperkirakan terbentuknya endapan berdasarkan harga Ksp dengan
kreatif dan percaya diri
Proses:
Siswa dihadapkan dengan masalah pada LKS yang berhubungan dengan proses
pengendapan. Siswa dapat memecahkan masalah melalui diskusi kelompok dengan
langkah: merumuskan masalah, menyusun hipotesis, mengumpulkan data dan
menguji hipotesis serta merumuskan kesimpulan.
2. Afektif
Karakter
: selama proses pembelajaran siswa menunjukkan karakter teliti,
kreatif, percaya diri, kerja sama, dan bertanggungjawab.
Keterampilan social
a. Siswa dapat menyumbangkan ide atau pendapat
b. Siswa bisa berkomunikasi
166
E. Materi Pembelajaran
Harga hasil kali kelarutan (Ksp) suatu senyawa ionik yang sukar larut dapat
memberikan informasi tentang kelarutan senyawa tersebut dalam air. Semakin besar
harga Ksp suatu zat, semakin mudah larut senyawa tersebut.
Harga Ksp suatu zat dapat digunakan untuk meramalkan terjasi tidaknya endapan
suatu zat jika dua larutan yang mengandung ion-ion dari senyawa sukar larut
dicampurkan. Untuk meramalkan terjadi tidaknya endapan AmBn jika larutan yang
mengandung ion An+ dan Bm- dicampurkan digunakan konsep hasil kali ion (Qsp) berikut
ini.
Qsp AmBn = [An+]m [Bm-]n
 Jika Qsp > Ksp maka akan terjadi endapan AmBn
 Jika Qsp = Ksp maka akan terjadi larutan jenuh AmBn
 Jika Qsp < Ksp maka belum terjadi larutan jenuh maupun endapan AmBn.
Selain memberi informasi tentang kelarutan, harga Ksp dapat dimanfaatkan sebagai
salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemisahan zat dalam campuran
dengan cara pengendapan. Contoh : Untuk memisah ion Zn2+ dan ion Cd2+ yang terdapat
secara bersama-sama dalam suatu larutan dapat dilakukan dengan mengalirkan gas H2S
ke dalam larutan tersebut sehingga terjadi reaksi:
Zn2+(aq) + S2-(aq)
ZnS(s)
2+
2Zn (aq) + S (aq)
ZnS(s)
Diketahui harga Ksp ZnS= 1,6x10-22 dan Ksp CdS= 8x10 -27, dengan mengatur harga pH
maka konsentrasi ion sulfida dalam larutan dapat diatur sedemikian sehingga Qsp ZnS<
Ksp ZnS sehingga ZnS belum mengendap dan Qsp CdS > Ksp CdS sehingga CdS
mengendap. Dengan demikian kedua ion tersebut dapat dipisahkan dari larutan.
F. Model, Metode, dan Media Pembelajaran
Pendekatan
: teacher centered
Strategi
: konvensional
Metode
: kerja kelompok, eksperimen, penugasan
Media
: Alat dan bahan praktikum, Papan tulis, boardmarker, dan penghapus
G. Kegiatan Pembelajaran
FASE
KEGIATAN PENDAHULUAN

Pembukaan


Orientasi

Guru membuka kegiatan pembelajaran dengan
memberikan motivasi secara kreatif dan
mengondisikan kelas sampai tenang agar siswa siap
menerime pelajaran
Guru memeriksa kehadiran siswa
Guru menginformasikan tujuan, metode, dan
penilaian yang digunakan selama praktikum melalui
ceramah dengan santun
Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara
santun untuk menyelidiki pengetahuan awal siswa
mengenai kelarutan dan hasil kali kelarutan
KEGIATAN INTI
WAKTU
3 menit
4 menit
167
Eksplorasi
 Guru mengajukan pertanyaan berkaitan dengan
proses pengendapan.
Merumuskan
- Bagaimana pengendapan bisa terjadi?
3 menit
masalah
 Siswa diberi tugas untuk mengerjakan LKS.
 Siswa secara kerjasama dan tanggungjawab
merumuskan masalah mengenai kasus yang ada di
LKS.
Siswa bekerjasama dan tanggungjawab membuat
Menentukan
5 menit
hipotesis dari masalah yang telah dirumuskan
hipotesis
Mengumpulkan  Siswa dengan penuh rasa ingin tahu
mengumpulkan data atau informasi untuk menguji 15 menit
data
hipotesis mengenai proses pengendapan.
Elaborasi
Siswa dengan percaya diri dan bertanggungjawab
Menguji
membuktikan hipotesis dengan menjawab pertanyaan
35 menit
mengenai proses pengendapan melalui data-data atau
hipotesis
informasi yang dikumpulkan secara bersama dalam
diskusi.
 Siswa secara kerjasama membuat simpulan dari
hasil diskusi yang telah dilakukan sesuai dengan
arahan dari guru
 Siswa dengan santun dan percaya diri
menyampaikan hasil diskusi kelompoknya dalam
kegiatan presentasi hasil diskusi
Penarikan
Konfirmasi
25 menit
Kesimpulan
 Guru
memberikan
catatan-catatan
penting
mengenai materi yang harus dikuasai siswa
 Siswa dengan rasa ingin tahu diajak
membicarakan hal yang belum dipahami dari hasil
diskusi kelas.


KEGIATAN PENUTUP
Siswa
dengan bimbingan
guru
membuat
kesimpulan dari materi yang telah dibahas
5 menit
Guru mengingatkan siswa agar tetap belajar
mengenai materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.
168
H. Sumber Pelajaran
Bahan ajar : buku kimia, LKS
I. Penilaian
Kognitif
: laporan sementara (kelompok) dan laporan praktikum (individu)
Psikomotor: lembar Observasi
Afektif
: lembar observasi
Semarang, Februari 2014
Guru Praktikan
Maulida Fitriana
NIM.4301410065
169
SOAL LATIHAN
1. Apakah penambahan 100 mL larutan Na2CO3 0,001 M ke dalam 100 mL
larutan AgNO3 0,001 M menyebabkan terjadinya endapan? (Ksp Ag2CO3 = 6,3 . 10–12).
2. Diketahui Ksp Ag2CrO4 = 2.4 x 10-12. Jika 25 mL larutan AgNO3 10-3 M dicampur
dengan 75 mL larutan Na2CrO410 -3M, apakah terjadi endapan?
3. Dapatkah campuran 100 mL 0.001M ZnCl2 dan 100 mL 0.0001M MgCl2 dipisahkan
dengan menggunakan
a. 100 mL 0.001M NaOH
b. 100 mL 0.001M Ba(OH)2
c. 100 mL 0.001M NH4OH (Kb NH4OH : 1,8x10 -5)
KUNCI JAWABAN
1. AgNO3
= 0,001 M x 100 mL = 0,1 mmol
Ag+
= 0,1 mmol
Na2CO3 = 0,001 M x 100 mL = 0,1 mmol
CO32–
= 0,1 mmol
Volume campuran 200 mL, sehingga:
[Ag+]
= (0,1/200) mol . L–1 = 5.10–4 M
[CO32–] = (0,1/200) mol . L–1 = 5.10–4 M
[Ag+]2 [CO32–] = (5.10–4)2 (5.10–4) = 1,25 . 10–5 M
Karena [Ag+]2 [CO3–2] > Ksp atau 1,25 . 10–5 > 6,3.10–12, maka terbentuk endapan PbI2.
2.
[AgNO3][Ag+] = (25 mL x 10-3 }: 100 mL= 2.5x 10-4 M
[N2CrO4] = (75 mL x 10-3M) : 100 mL = 7.5x 10 -4 M
Qc Ag2CrO4 = [Ag+]2 [CrO42-] = (2.5x 10-4)2 (7.5x 10-4) = 46.8 x 10-12
Jadi Qc Ag2CrO4 > Ksp Ag2CrO4, sehingga terjadi endapan Ag2CrO4
3. Campuran 100 mL 0.001M ZnCl2 dan 100 mL 0.0001M MgCl2
a. 100 mL 0.001M NaOH
Ksp Zn(OH)2 = 1,2.10-17
Q Zn(OH)2 = [Zn2+] [OH-]
=
= 3.70 x 10-11
Q > Ksp  mengendap
Ksp Mg(OH)2 = 1,8.10-11
Q Mg(OH)2 = [Mg2+] [OH- ]
=
= 3.70 x 10-12
Q < Ksp  tidak mengendap
b. 100 mL 0.001M Ba(OH)2
170
Ksp Zn(OH)2 = 1,2.10-17
Q Zn(OH)2 = [Zn2+] [OH-]2
=
= 1.48 x 10-10
Q > Ksp  mengendap
Ksp Mg(OH)2 = 1,8.10-11
Q Mg(OH)2 = [Mg2+] [OH- ]2
=
= 1.48 x 10-11
Q < Ksp  tidak mengendap
c. 100 mL 0.001M NH4OH
Kb NH4OH = 1.8 x 10 -5
M OH=
=
= 1.34 x 10-4
Ksp Zn(OH)2 = 1,2.10-17
Q Zn(OH)2 = [Zn2+] [OH-]
=
= 6.65 x 10-13
Q > Ksp  mengendap
Ksp Mg(OH)2 = 1,8.10-11
Q Mg(OH)2 = [Mg2+] [OH- ]
=
= 6.65 x 10-12
Q < Ksp  tidak mengendap
Jadi ion Zn2+ dan Mg2+ dapat dipisahkan menggunakan 100mL larutan NaOH
0,001M, larutan Ba(OH)2 0,001M, larutan NH4OH 0,001M
171
Lampiran 13
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Kontrol 1
Sekolah
: SMA N 1 Donorojo
Mata Pelajaran
: Kimia
Kelas/Semester
: XI/2
Pertemuan ke:1
Waktu
: 2x45 menit
A. Standar Kompetensi
4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran dan terapannya
B. Kompetensi Dasar
4.6 Memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutan
dan hasil kali kelarutan.
C. Indikator
1. Kognitif
Produk:
a. Menjelaskan kesetimbangan dalam larutan jenuh atau larutan garam yang sukar
larut dengan santun dan percaya diri
b. Menghubungkan tetapan hasilkali kelarutan dengan tingkat kelarutan atau
pengendapanya dengan rasa ingin tahu dan bertanggungjawab
c. Menuliskan ungkapan berbagai Ksp elektrolit yang sukar larut dalam air dengan
teliti dan kreatif
d. Memilih operasi yang paling sesuai untuk menghitung kelarutan suatu elektrolit
yang sukar larut berdasarkan data harga Ksp atau sebaliknya dengan teliti dan
bertanggungjawab
Proses:
a. Mengolah informasi dari penjelasan yang diberikan guru tentang definisi
kelarutan dan hasil kali kelarutan.
b. Menganalisis berbagai senyawa untuk menentukan rumus Ksp.
c. Mengidentifikasi informasi untuk menentukan operasi yang peling sesuai untuk
menghitung kelarutan suatu elektrolit yang sukar larut berdasarkan data harga Ksp
atau sebaliknya.
2. Afektif
Karakter
: Santun, Rasa ingin tahu, bertanggungjawab, dan teliti
Keterampilan sosial
a. Menyumbangkan ide atau pendapat
b. Bisa berkomunikasi dengan baik
D. Tujuan Pembelajaran
1. Kognitif
Produk:
a. Siswa dapat menjelaskan kesetimbangan dalam larutan jenuh atau larutan garam
yang sukar larut dengan santun dan percaya diri
b. Siswa dapat menghubungkan tetapan hasilkali kelarutan dengan tingkat kelarutan
atau pengendapanya dengan rasa ingin tahu dan bertanggungjawab
c. Siswa dapat menuliskan ungkapan berbagai Ksp elektrolit yang sukar larut dalam
air dengan teliti dan kreatif
172
d. Siswa dapat memilih operasi yang paling sesuai untuk menghitung kelarutan suatu
elektrolit yang sukar larut berdasarkan data harga Ksp atau sebaliknya dengan
teliti dan bertanggungjawab
Proses:
a. Siswa dapat mengolah informasi dari penjelasan yang diberikan guru tentang
definisi kelarutan dan hasil kali kelarutan.
b. Siswa dapat menganalisis berbagai senyawa untuk menentukan rumus Ksp.
c. Siswa dapat mengidentifikasi informasi untuk menentukan operasi yang peling
sesuai untuk menghitung kelarutan suatu elektrolit yang sukar larut berdasarkan
data harga Ksp atau sebaliknya.
2. Afektif
Karakter
: selama proses pembelajaran siswa dapat menunjukkan karakter
santun, rasa ingin tahu, bertanggungjawab, dan teliti
Keterampilan sosial
a. Siswa dapat menymbangkan ide atau pendapat
b. Siswa bisa berkomunikasi
E. Materi Pembelajaran
a. Kelarutan
Kelarutan (solubility) suatu zat dalam suatu pelarut menyatakan jumlah maksimum
suatu zat yang dapat larut dalam suatu pelarut. Satuan kelarutan umumnya dinyatakan
dalam gram L-1 atau mol L-1. Besarnya kelarutan suatu zat dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain sebagai berikut.
1) Jenis pelarut
Senyawa polar (mempunyai kutub muatan) akan mudah larut dalam senyawa polar.
Misalnya alkohol dan semua senyawa asam adalah senyawa polar, sehingga mudah larut
dalam air yang juga senyawa polar. Selain senyawa polar, senyawa ion juga mudah larut
dalam air dan terurai menjadi ion-ion.
Senyawa nonpolar akan mudah larut dalam senyawa nonpolar, misalnya lemak mudah
larut dalam minyak. Senyawa polar umumnya tidak larut dalam senyawa nonpolar,
misalnya alkohol tidak larut dalam minyak tanah.
2) Suhu
Kelarutan zat padat dalam air semakin tinggi bila suhunya dinaikkan. Adanya panas
(kalor) mengakibatkan semakin renggangnya jarak antar molekul zat padat tersebut.
Merenggangnya jarak antar molekul zat padat menjadikan kekuatan gaya antar molekul
tersebut menjadi lemah sehingga mudah terlepas oleh gaya tarik molekul-molekul air.
b. Hasil Kali Kelarutan (Ksp)
Senyawa-senyawa ion yang terlarut di dalam air akan terurai menjadi partikel dasar
pembentuknya yang berupa ion positif dan ion negatif. Bila kedalam larutan jenuh suatu
senyawa ion ditambahkan kristal senyawa ion maka kristal tersebut tidak melarut dan
akan mengendap. Kristal yang tidak larut ini tidak mengalami ionisasi. Bila ke dalam
sistem tersebut ditambahkan air maka endapan kristal tersebut akan segera terionisasi, dan
sebaliknya bila air dalam larutan tersebut diuapkan maka ion-ion akan segera mengkristal.
Dalam peristiwa tersebut terjadi sistem kesetimbangan antara zat padat dengan ion-ionnya
didalam larutan.
173
Pada larutan jenuh senyawa ion AmBn di dalam air akan menghasilkan reaksi
kesetimbangan,
AmBn(s)
mAn+(aq) + nBm-(aq)
Harga hasil kali kelarutannya dinyatakan dengan rumus,
Ksp AmBn = [An+]m [Bm-]n
Sebagai contoh, pasangan garam perak klorida yang dapat larut menghasikan
kesetimbangan berikut jika dimasukkan dalam air:
AgCl(s)
Ag+(aq) + Cl-(aq)
Harga hasil kali kelarutannya adalah
Ksp AgCl = [Ag+][Cl-]
c. Hubungan kelarutan dan Ksp
Pada larutan jenuh senyawa ion AmBn konsentrasi zat di dalam larutan sama dengan
harga kelarutanny dalam satuan mol L-1. Senyawa AmBn yang terlarut akan mengalami
ionisasi dalam system kesetimbangan,
AmBn(s)
mAn+(aq) + nBm-(aq)
Jika harga kelarutan dari senyawa AmBn sebesar s mol L-1, maka di dalam reaksi
kesetimbangan tersebut konsentrasi ion-ion An+ dan ion Bm- sebagai berikut
AmBn(s)
mAn+(aq)
+ nBm-(aq)
-1
-1
s mol L
m s mol L
n s mol L-1
sehingga harga hasil kali kelarutannya adalah,
Ksp AmBn
= [An+]m [Bm- ]n
= (m s)m (n s)n
= mm x nn x (s)(m+n)
Jadi untuk reaksi kesetimbangan:
AmBn(s)
mAn+(aq) + nBm-(aq)
m
Ksp AmBn = m x nn x (s)(m+n)
Dengan s =kelarutan AmBn dalam satuan mol L-1
Dari rumus tersebut dapat ditentukan harga kelarutan sebagai berikut:
Besarnya Ksp suatu zat bersifat tetap pada suhu tetap. Bila terjadi perubahan suhu maka
harga Ksp zat tersebut akan mengalami perubahan.
F. Model, Metode, dan Media Pembelajaran
Pendekatan
: student centered
Strategi
: langsung
Metode
: diskusi kelompok, ceramah, tanya jawab, penugasan
174
G. Kegiatan Pembelajaran
FASE

Persiapan



KEGIATAN PENDAHULUAN
Guru membuka kegiatan pembelajaran dengan
pemberian motivasi secara kreatif dan mengondisikan
kelas sampai tenang agar siswa siap menerima pelajaran
Guru memeriksa kehadiran siswa
Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara santun
untuk menyelidiki pengetahuan awal siswa tentang
molaritas, beberapa garam, dan kesetimbangan larutan.
Guru menginformasikan tujuan, metode, dan penilaian
yang digunakan selama pembelajaran melalui ceramah
dengan santun.
WAKTU
10 menit
KEGIATAN INTI
Eksplorasi
 Guru menjelaskan materi kelarutan, hasil kali kelarutan 20 menit
dan hubungan kelarutan dan Ksp
 Guru memberi salah satu rumus senyawa suatu garam
dan meminta siswa untuk menuliskan reaksi
kesetimbangannya, menentukan kelarutan suatu garam,
Pelatihan
dan menyatakan rumus Ksp dalam kelarutan (s)
30menit
terbimbing Elaborasi
 Siswa dengan teliti menyelesaikan soal latihan
mengenai kelarutan, hasil kali kelarutan, dan hubungan
kelarutan dengan Ksp yang diberikan guru
 Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya mengenai
hal yang belum dipahami dengan percaya diri
Mengecek
Konfirmasi
pemahaman
 Guru memberikan penguatan tentang kelarutan dan 15 menit
dan
hasil kali kelarutan secara bertanggungjawab.
memberikan
 Guru
secara kreatif memberikan
catatan-catatan
umpan balik
penting mengenai materi pokok yang harus dikuasai
siswa
Latihan
 Guru memberikan tugas rumah mengenai materi
10 menit
kelarutan dan hasil kali kelarutan
mandiri
KEGIATAN PENUTUP
 Guru membimbing siswa secara mandiri untuk
membuat rangkuman dari materi yang telah dibahas
 Guru
menumbuhkan rasa
ingin
tahu siswa
agar gemar membaca tentang pengaruh ion sejenis
terhadap kelarutan dan hasil kali kelarutan serta cara
menentukan pH larutan berdasarkan harga Ksp-nya
untuk pertemuan berikutnya.
Penyampaia
n materi
175
H. Sumber Pelajaran
Bahan ajar : buku kimia
I. Penilaian
Kognitif
: tugas individu
Psikomotor: Afektif
: lembar observasi
Semarang, Februari 2014
Guru Praktikan
Maulida Fitriana
NIM.4301410065
176
SOAL LATIHAN
1. Obat maag atau yang dikenal sebagai antasida umumnya merupakan senyawa yang
bersifat basa, sehingga dapat menetralkan kelebihan asam yang terdapat di dalam cairan
lambung. Umumnya obat antasida yang banyak dipilih adalah jenis yang sukar larut,
sehingga reaksinya lambat dan dapat bertahan lama, misalnya aluminium hidroksida dan
magnesium hidroksida. Jika magnesium hidroksida mempunyai Ksp sebesar 1,8x10 -11,
berapa kelarutan magnesium hidroksida dalam usus?
2. Kelarutan PbSO4 dalam air pada suhu tertentu adalah 1,4×10−4 mol/L. Tentukan massa
PbSO4 yang dapat larut dalam 500 mL air, nyatakan jawaban dalam satuan milligram
(mg).
(Ar Pb = 206; S = 32; O = 16)
3. Tuliskan persamaan tetapan hasil kali kelarutan untuk garam berikut:
a. AgCl
b. Ag2CO3
c. Ba3(PO4)2
4. Sebanyak 0,7 gram BaF2 (Mr = 175) melarut dalam air murni membentuk 2 L larutan
jenuh. tentukan Ksp dari BaF2.
5. Hasil kali kelarutan Ca(OH)2 dalam air adalah 4 × 10 −6. Tentukan kelarutan Ca(OH)2.
6. Dalam 100 cm3 air dapat larut 1,16 mg Mg(OH)2 (Mr = 58). Tentukan harga Ksp dari
Mg(OH)2
7. Harga hasil kali kelarutan (Ksp) Ag2SO4 = 3,2 x 10−5, hitunglah kelarutannya dalam 1
liter air!
KUNCI JAWABAN
1. Mg(OH)2(s)
s
Ksp Mg(OH)2
1,8x10-11
s
Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
s
2s
= s (2s)2
= 4s3
=
= 1,65x10 -4
2. S = 1,4×10 mol/L
V = 0,5 L
S = n/v, jadi n= s x V
Sehingga jumlah mol PbSO4
n = sxV
= 1,4×10−4 mol/L x 0,5 L
= 0,7 × 10−4 mol
dan massanya adalah
m = n x Mr
= 0,7.10-4 x 302 = 211,4 x 10-4 gram = 21,14 mg
3.
a. AgCl(s)
Ag+(aq) + Cl-(aq)
Ksp = [ Ag+] [Cl-]
b. Ag2CO3(s)
2Ag+(aq) + CO32-+(aq)
Ksp = [Ag+]2+[CO32-]
−4
177
c. Ba3(PO4)2(s)
3Ba2+(aq) + 2PO43-(aq)
2+ 3
3- 2
Ksp = [Ba ] [PO4 ]
4. Jumlah mol dari BaF2 adalah:
n = 0,7 / 175 = 4 × 10−3 mol
Kelarutannya adalah
S = 4 × 10 −3 mol / 2 L = 2 × 10−3 mol/L
BaF2
2 × 10 −3
Ba2+
2 × 10 −3
+
2F−
4 × 10−3
Ksp BaF2 = [Ba2+][F−]2
Ksp BaF2 = (2 × 10−3)(4 × 10−3)2 = 3,2 × 10−8
5. Ca(OH)2 (aq)
Ca2+(aq) + 2OH-(aq)
Ksp Ca(OH)2
= [Ca2+] [2OH-]2
-6
4 x 10
= (s) (2s)2
-6
4 x 10
= 4s3
3
s
= 10 -6
s
= 10 -2 mol/L
6. V = 100 cm3 = 0,1 L
massa = 1,16 mg = 1,16 × 10−3 gram
Mr = 58
Ksp = ....
mol Mg(OH)2 = gram / Mr
mol Mg(OH)2 = 1,16 × 10−3 / 58 = 0,02 × 10 −3 mol
s = mol / liter
s = 0,02 × 10−3 / 0,1 = 0,2 × 10−3 mol/L
Mg(OH)2
s
Mg2+ + 2OH−
s
2s
Ksp = (s)(2s)2 = 4s3
Ksp = 4(0,2 × 10−3)3 = 3,2 × 10 −11
7. Volume V = 1 liter
Ksp Ag2SO4 = 3,2 x 10−5
s =.....
Ag2SO4(s)
2Ag+(aq) + SO4 2−(aq)
s
2s
s
Ksp Ag2SO4 = [Ag+]2[SO4 2−]
Ksp Ag2SO4 = (2s)2(s)
3,2 x 10−5 = 4s3
s3 = 0,8 x 10−5
s3 = 8 x 10−6
s = 2 x 10−2 mol/L
178
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Kontrol 2
Sekolah
: SMA N 1 Donorojo
Mata Pelajaran
: Kimia
Kelas/Semester
: XI/2
Pertemuan ke:2
Waktu
: 2x45 menit
A. Standar Kompetensi
4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran dan terapannya
B. Kompetensi Dasar
4.6 Memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutan
dan hasil kali kelarutan.
C. Indikator
1. Kognitif
Produk:
Menjelaskan pengaruh penambahan ion senama dalam larutan dengan kreatif dan
percaya diri
Proses:
Mengidentifikasi informasi dari penjelasan yang diberikan guru mengenai pengaruh
penambahan ion senama terhadap kelarutan.
2. Afektif
Karakter
: bertanggungjawab, dan teliti
Keterampilan sosial
c. Menyumbangkan ide atau pendapat
d. Bisa berkomunikasi dengan baik
D. Tujuan Pembelajaran
1. Kognitif
Produk:
Siswa dapat menjelaskan pengaruh penambahan ion senama dalam larutan dengan
kreatif dan percaya diri
Proses:
Siswa dapat mengidentifikasi informasi dari penjelasan yang diberikan guru mengenai
pengaruh penambahan ion senama terhadap kelarutan.
2. Afektif
Karakter
: selama proses pembelajaran siswa menunjukkan karakter santun, rasa
ingin tahu, bertanggungjawab, dan teliti
Keterampilan sosial
a. Siswa dapat menymbangkan ide atau pendapat
b. Siswa bisa berkomunikasi
E. Materi Pembelajaran
Pengaruh ion senama terhadap kelarutan
Jika ke dalam larutan jenuh AgCl ditambahkan beberapa tetes larutan NaCl maka
akan segera terjadi pengendapan AgCl, demikian pula bila ke dalam lautan AgCl tersebut
ditambahkan beberapa tetes larutan AgNO3.
179
AgCl(s)
Ag+(aq) + Cl-(aq)
Bila ke dalam sistem kesetimbangan tersebut ditambahkan ion Cl- maka
kesetimbangan bergeser ke kiri, sehingga mengakibatkan jumlah AgCl yang mengendap
bertambah. Demikian pula bila dalam system kesetimbangan tersebut ditambah ion Ag+,
maka sistem kesetimbangan bergeser ke kiri dan berakibat bertambahnya jumlah AgCl
yang mengendap. Kesimpulannya bila ke dalam sistem kesetimbangan kelarutan
ditambahkan ion yang senama mengakibatkan kelarutan senyawa tersebut berkurang.
F. Model, Metode, dan Media Pembelajaran
Pendekatan
: student centered
Strategi
: langsung
Metode
: ceramah, tanya jawab, penugasan
G. Kegiatan Pembelajaran
FASE
KEGIATAN PENDAHULUAN



Fase
persiapan

Guru membuka kegiatan pembelajaran dengan
pemberian motivasi secara kreatif dan mengondisikan
kelas sampai tenang agar siswa siap menerima pelajaran
Guru memeriksa kehadiran siswa
Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara santun
untuk menyelidiki pengetahuan awal siswa tentang
kesetimbangan larutan, kelarutan dan hasil kali
kelarutan dan membahas pekerjaan rumah yang telah
diberikan pada pertemuan sebelumnya
Guru menginformasikan tujuan, metode, dan penilaian
yang digunakan selama pembelajaran melalui ceramah
dengan santun
WAKTU
20 menit
KEGIATAN INTI
Fase
penyampaia
n materi
Eksplorasi
Guru menjelaskan materi megenai pengaruh ion senama 20 menit
dalam larutan

Fase
pelatihan
terbimbing
Guru memberikan contoh soal mengenai perhitungan
pengaruh ion senama terhadap kelarutan dan meminta
siswa menyelasaikan soal secara berpasangan dengan
teman sebangkunya
Elaborasi
 Siswa dengan teliti dan bekerja sama menyelesaikan
soal latihan mengenai kelarutan dan Ksp serta pengeruh
ion senama terhadap kelarutan yang diberikan guru
25 menit
180

Fase
mengecek
pemahaman
dan
memberikan
umpan balik
Fase latihan
mandiri
Siswa dengan santun menyampaikan jawabannya di
depan kelas.
 Siswa dengan rasa ingin tahu melakukan Tanya jawab
dan menanggapi jawaban dari siswa lain.
Konfirmasi
 Guru memberikan penguatan tentang kelarutan dan
hasil kali kelarutan, pengaruh ion senama terhadap
kelarutan secara bertanggungjawab.
 Guru
secara kreatif memberikan
catatan-catatan
penting mengenai materi pokok yang harus dikuasai
siswa
Guru membarikan tugas rumah mengenai pengaruh ion
sejenis terhadap kelarutan
KEGIATAN PENUTUP
 Guru membimbing siswa secara mandiri untuk
membuat rangkuman dari materi yang telah dibahas
 Guru
menumbuhkan rasa
ingin
tahu siswa
agar gemar membaca tentang pengaruh pH terhadap
kelarutan
15 menit
5 menit
5 menit
H. Sumber Pelajaran
Bahan ajar : buku kimia
I. Penilaian
Kognitif : tugas individu
Psikomotor: Afektif
: lembar observasi
Semarang, Februari 2014
Guru Praktikan
Maulida Fitriana
NIM.4301410065
181
SOAL LATIHAN
−12
1. Diketahui Ksp Ag2CrO4 = 4 x 10 . Tentukan kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan 0,01 M
K2CrO4!
2. Tentukan kelarutan Mg(OH)2 dalam NaOH 0,1 M! Ksp Mg(OH)2 = 1,8×10 −11 mol3 L−3
3. Jika diketahui kelarutan Ag2CrO4 dalam air murni adalah 8,43 x 10 -5mol/L pada suhu
25C. Tetukanlah kelarutan Ag2CrO4 (Ksp Ag2CrO4 = 2,4 x 10-12) itu dalam AgNO3 0,1 N
KUNCI JAWABAN
1. Larutan 0,01 M K2CrO4 mengandung:
ion K+ sebanyak 0,02 M
ion CrO42− sebanyak 0,01 M
Ag2CrO4 terurai menjadi:
Ag2CrO4(s)
2Ag+(aq) + CrO42−(aq)
s
2s
s
+
2Ksp Ag2CrO4
= [Ag ] [CrO4 ]
= (2s)2 [CrO42-]  ion CrO42- dari K2CrO4, sebanyak 0,01M, jadi
Ksp Ag2CrO4
= (2s)2 (0,01)
-12
4 x 10
= 4s2 (0,01)
s
=
= 10 -5 mol/L
2. NaOH dengan molaritas ion-ionnya:
NaOH(aq)  Na+(aq) + OH-(aq)
0,1 M
0,1 M
0,1 M
Mg(OH)2 dengan ion-ion dan kelarutannya:
Mg(OH)2(s)
Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
s
s
2s
Ksp Mg(OH)2
= s (2s)2
1,8x10-11
= s (0,1)2
s
=
= 1,8x10-9 mol/L
3. Kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 N
Larutan AgNO3 0,1 mengandung 0,1 M ion Ag+ dan 0,1 M ion NO3AgNO3 (aq)
Ag+ (aq) +
NO3- (aq)
0,1 M
0,1 M
0,1 M
Jika ke dalam larutan ditambahkan Ag2CrO4 padat, maka kristal itu akan larut hingga
larutan jenuh. Misalkan kelarutan Ag2CrO4 = s mol/L maka konsenterasi ion CrO42- yang
dihasilkan = s mol/L dan ion Ag+ = 2s mol/L
Ag2CrO4 (s)
2Ag+ (aq) + CrO42-(aq)
s
2s
s
Ksp Ag2CrO4
= [Ag+]2[ CrO42-]
2,4 x 10-12
= (0,1)2 (s)
2,4 x 10-12
= 10 -2 s
s
= 2,4 x 10 -10
Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L.
182
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Kontrol 3
Sekolah
: SMA N 1 Donorojo
Mata Pelajaran
: Kimia
Kelas/Semester
: XI/2
Pertemuan ke:3
Waktu
: 2x45 menit
A. Standar Kompetensi
4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran dan terapannya
B. Kompetensi Dasar
4.6 Memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutan
dan hasil kali kelarutan.
C. Indikator
1. Kognitif
Produk:
Memilih operasi yang dipakai untuk menentukan pH larutan dari harga Ksp-nya
dengan teliti dan bertanggungjawab
Proses:
Mengolah informasi dari penjelasan guru mengenai pengaruh pH terhadap kelarutan.
2. Afektif
Karakter
: bertanggungjawab, dan teliti
Keterampilan sosial
a. Menyumbangkan ide atau pendapat
b. Bisa berkomunikasi dengan baik
D. Tujuan Pembelajaran
1. Kognitif
Produk:
Siswa dapat memilih operasi yang dipakai untuk menentukan pH larutan dari harga
Ksp-nya dengan teliti dan bertanggungjawab
Proses:
Siswa dapat mengolah informasi dari penjelasan guru mengenai pengaruh pH
terhadap kelarutan.
2. Afektif
Karakter
: selama proses pembelajaran siswa menunjukkan karakter
bertanggungjawab, dan teliti
Keterampilan sosial
a. Siswa dapat menyumbangkan ide atau pendapat
b. Siswa bisa berkomunikasi
E. Materi Pembelajaran
Pengaruh pH dan Kelarutan
Beberapa zat padat hanya sedikit larut dalam air tetapi sangat larut dalam larutan asam.
Sebagai contoh, bijih tembaga dan nikel sulfida dapat larut dengan asam kuat, suatu fakta
yang amat membantu dalam pemisahan dan pengambilan logam berharga ini dari bentuk
unsurnya. Pengaruh pH terhadap kelarutan ditunjukkan secara dramatis pada kerusakan
183
bangunan dan monumen oleh pengendapan asam. Ada sebagian senyawa ionik dengan
kelarutan rendah mempunyai daya larut yang bergantung pada pH larutan. pH
mempengaruhi daya larut ion hidroksida dan garam yang mengandung anion basa lemah.
Tetapi tidak semua garam yang sukar larut dapat larut dalam asam, contohnya BaSO4,
kelarutan BaSO4 tidak dipengeruhi oleh penambahan asam. Untuk memahaminya, simak
contoh berikut :
- Kalsium karbonat (CaCO3)
Dalam larutan jenuh CaCO3 terdapat kesetimbangan sebagai berikut:
CaCO3 (s)
Ca2+ (aq) + CO32- (aq)
Dengan penambahan HCl mengakibatkan ion Ca2+ dari CaCO3 akan berkumpul
dengan ion Cl- dari HCl, tetapi tidak dapat membentuk CaCl2 karena CaCl2
merupakan elektrolit kuat sehingga dalam larutan terurai menjadi ion-ionnya.
Tetapi ion H+ dari HCl akan bertemu dengan ion CO32- membentuk H2CO3 dan
terurai menjadi CO2 dan H2O. Karena CO32- berikatan dengan H+ maka dapat
mempengaruhi kesetimbangan CaCO3. Berkurangnya CO32- akan menggeser
kesetimbangan ke arah hasil reaksi (Ca2+ dan Cl-). Jadi kelarutan CaCO3 meningkat.
- Barium sulfat (BaSO4)
Dalam larutan jenuh BaSO4 terdapat kesetimbangan sebagai berikut:
BaSO4(s)
Ba2+(aq) + SO42-(aq)
Dengan penambahan HCl mengakibatkan ion Ba2+ dari BaSO4 akan berkumpul
dengan ion Cl- dari HCl, tetapi tidak dapat membentuk BaCl2 karena BaCl2
merupakan elektrolit kuat sehingga dalam larutan terurai menjadi ion-ionnya.
Begitu pula yang terjadi pada ion H+ dan ion SO42- akan tetap dalam bentuk ion
karena asam kuat. Jadi penambahan HCl tidak mempengaruhi kelarutan BaSO4.
- Kelarutan Hidroksida
Salah satu pengaruh pH terhadap kelarutan juga terjadi pada logam hidroksida.
Konsentrasi ion OH- muncul secara eksplisit dalam rumus hasil kali kelarutan
senyawa tersebut. Sebagai contoh garam Zn(OH)2, akan mengalami reaksi
kesetimbangan sebagai berikut:
Zn(OH)2(s)
Zn2+(aq) + 2OH-(aq)
Jika larutan dibuat lebih asam, konsentrasi ion hidroksida berkurang, yang
menyebabkan kenaikan konsentrasi ion Zn2+. Jadi seng hidroksida lebih larut dalam
larutan asam daripada dalam air murni.
F. Model, Metode, dan Media Pembelajaran
Pendekatan
: student centered
Strategi
: langsung
Metode
: ceramah, tanya jawab, penugasan
G. Kegiatan Pembelajaran
FASE
Persiapan
KEGIATAN PENDAHULUAN

WAKTU
Guru membuka kegiatan pembelajaran dengan 20 menit
pemberian motivasi secara kreatif dan mengondisikan
184
kelas sampai tenang agar siswa siap menerima pelajaran
 Guru memeriksa kehadiran siswa
 Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara santun
untuk menyelidiki pengetahuan awal siswa tentang
reaksi kesetimbangn larutan, kelarutan dan hasil kali
kelarutan dan membahas pekerjaan rumah yang telah
diberikan pada pertemuan sebelumnya
 Guru menginformasikan tujuan, metode, dan penilaian
yang digunakan selama pembelajaran melalui ceramah
dengan santun
KEGIATAN INTI
Eksplorasi
 Guru memberikan beberapa contoh soal mengenai cara
menghitung kelarutan suatu elektrolit yang sukar larut
berdasarkan data harga Ksp atau sebaliknya serta
mengingatkan kembali pengenai cara menghitung pH
larutan
Penyampaia  Guru menjelaskan megenai pengaruh pH terhadap
30 menit
n materi
kelarutan dan cara menentukan pH larutan berdasarkan
harga Ksp-nya
Elaborasi
 Guru memberikan contoh soal mengenai perhitungan pH
larutan berdasarkan harga Ksp serta meminta siswa
menyelasaikan soal secara berpasangan dengan teman
sebangkunya
 Siswa dengan santun menyampaikan jawabannya di
depan kelas.

Siswa dengan rasa ingin tahu melakukan Tanya jawab
Mengecek
dan menanggapi jawaban dari siswa lain.
pemahaman
Konfirmasi
dan
15 menit
 Guru memberikan penguatan tentang kelarutan dan hasil
memberikan
kali kelarutan, dan penentuan pH larutan berdasarkan
umpan balik
harga Ksp-nya secara bertanggungjawab.
 Guru secara kreatif memberikan catatan-catatan penting
mengenai materi pokok yang harus dikuasai siswa
Guru memberikan kuis mengenai pengaruh ion sejenis
Latihan
20 menit
terhadap kelarutan
mandiri
185


KEGIATAN PENUTUP
Guru
membimbing
siswa
secara mandiri untuk
membuat rangkuman dari materi yang telah dibahas
Guru
menumbuhkan rasa
ingin
tahu siswa
agar gemar membaca tentang proses pengendapan
5 menit
H. Sumber Pelajaran
Bahan ajar : buku kimia
I. Penilaian
Kognitif : tugas individu
Psikomotor: Afektif
: lembar observasi
Semarang, Februari 2014
Guru Praktikan
Maulida Fitriana
NIM.4301410065
186
SOAL LATIHAN
1. Larutan jenuh X(OH)2 memiliki pOH = 5. Tentukan hasil kali kelarutan (Ksp) dari
X(OH)2 tersebut!
2. Larutan jenuh senyawa hidroksida dari suatu basa L(OH)2 dilarutkan dalam 1 liter air.
Diketahui Ksp L(OH)2 = 4×10−12, tentukan pH akhir dari pelarutan L(OH)2 tersebut!
3. Diketahui tetapan hasilkali kelarutan Mg(OH)2 = 2 x 10-12. Tentuknlah kelarutan
Mg(OH)2 dalam :
a. Aquades (air murni)
b. Larutan dengan pH = 12
KUNCI JAWABAN
1. pOH = 5 artinya konsentrasi OH− nya diketahui sebesar 10 −5 M.
Dari
X(OH)2(s)
X2+(aq) + 2OH−(aq)
−
−5
[OH ] = 10 M
[X2+] = 1/2 x 10−5 M = 5 x 10−6 M
Ksp = [X2+] [OH−]2
Ksp = [5 x 10−6] [10−5]2 = 5 x 10−16
2. L(OH)2
s
Ksp
L2+ + 2OHs
2s
= [L2+] [OH-]2
= s . (2s)2 = 4s3
s
=
=
= 10-4
[OH- ]
pOH
pH
=2xs
= 2x10 -4
= - log 2.10-4
= 4-log2
= 14-(4-log2)
= 10+log2
3. Kelarutan Mg(OH)2
a. Dalam Aquades (air murni)
Mg(OH)2 akan larut hingga terjadi larutan jenuh [Mg2+][OH-]2 = Ksp Mg(OH)2
Misalkan kelarutan Mg(OH)2 = s mol/L
Mg(OH)2(s) ⇄ Mg2+ (aq) + 2OH- (aq)
s
s
2s
2
[Mg2+][OH-]
= Ksp Mg(OH)2
(s)
(2s)2 = 2 x 10-12
4s3 = 2 x 10-12
187
s = 7,94 x 10-5 mol/L
Jadi kelarutan Mg(OH)2 dalam air sebesar 7,94 x 10-5 mol/L
b. Dalam Larutan dengan pH = 12
pH = 12,
pOH
= 14-pH
= 14 -12
=2
[OH ] = 1 x 10-2 mol/L
Mg(OH)2 akan larut hinggga terjadi larutan jenuh, misalkan kelarutan Mg(OH)2 = x
mol/L
Mg(OH)2(s) ⇄
Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
x
x
2x
Konsenterasi ion OH – dalam larutan 1 x 10-2 mol / L + 2x . subtitusi data ini kedalam
persamaan tetapan kesetibangan Mg(OH)2 menghasilkan persamaan sebagai berikut :
[Mg2+] [OH-]2
= Ksp Mg(OH)2
2
(x)
(2x)
= 2 x 10-12
-2
2
(x) (10 + 2x ) = 2 x 10-12
Oleh karena dapat diduga bahwa x <<>-2 , maka 1 x 10-2 + 2x ≈ 1 x 10-2 maka
persamaan diatas dapat ditulis sebagai berikut :
(x) (2 x 10-2)2
= 2 x 10-12
x
= 2 x 10-8
Jadi kelarutan Mg(OH)2 dalam larutan dengan pH = 12 adalah 2 x 10-8 mol / L.
Kelarutan ini kira-kira 4000 kali lebih kecil daripada kelarutan Mg(OH)2 dalam aquades
188
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Kontrol 4
Sekolah
: SMA N 1 Donorojo
Mata Pelajaran
: Kimia
Kelas/Semester
: XI/2
Pertemuan ke:4
Waktu
: 2x45 menit
A. Standar Kompetensi
4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran dan terapannya
B. Kompetensi Dasar
4.6 Memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutan
dan hasil kali kelarutan.
C. Indikator
1. Kognitif
Produk:
Memperkirakan terbentuknya endapan berdasarkan harga Ksp dengan kreatif dan
percaya diri
Proses:
Mengidentifikasi informasi dari penjelasan yang diberikan guru mengenai proses
pengendapan.
2. Afektif
Karakter
: teliti, kreatif, percaya diri, kerja sama, dan bertanggungjawab
Keterampilan sosial
a. Menyumbangkan ide atau pendapat
b. Bisa berkomunikasi dengan baik
D. Tujuan Pembelajaran
1. Kognitif
Produk:
Siswa dapat memperkirakan terbentuknya endapan berdasarkan harga Ksp dengan
kreatif dan percaya diri
Proses:
Siswa dapat mengidentifikasi informasi dari penjelasan yang diberikan guru mengenai
proses pengendapan.
2. Afektif
Karakter
: selama proses pembelajaran siswa menunjukkan karakter teliti,
kreatif, percaya diri, kerja sama, dan bertanggungjawab.
Keterampilan sosial
a. Siswa dapat menyumbangkan ide atau pendapat
b. Siswa bisa berkomunikasi
E. Materi Pembelajaran
Harga hasil kali kelarutan (Ksp) suatu senyawa ionik yang sukar larut dapat
memberikan informasi tentang kelarutan senyawa tersebut dalam air. Semakin besar
harga Ksp suatu zat, semakin mudah larut senyawa tersebut.
189
Harga Ksp suatu zat dapat digunakan untuk meramalkan terjasi tidaknya endapan
suatu zat jika dua larutan yang mengandung ion-ion dari senyawa sukar larut
dicampurkan. Untuk meramalkan terjadi tidaknya endapan AmBn jika larutan yang
mengandung ion An+ dan Bm- dicampurkan digunakan konsep hasil kali ion (Qsp) berikut
ini.
Qsp AmBn = [An+]m [Bm-]n
 Jika Qsp > Ksp maka akan terjadi endapan AmBn
 Jika Qsp = Ksp maka akan terjadi larutan jenuh AmBn
 Jika Qsp < Ksp maka belum terjadi larutan jenuh maupun endapan AmBn.
Selain memberi informasi tentang kelarutan, harga Ksp dapat dimanfaatkan sebagai
salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemisahan zat dalam campuran
dengan cara pengendapan. Contoh : Untuk memisah ion Zn2+ dan ion Cd2+ yang terdapat
secara bersama-sama dalam suatu larutan dapat dilakukan dengan mengalirkan gas H2S
ke dalam larutan tersebut sehingga terjadi reaksi:
Zn2+(aq) + S2-(aq)
ZnS(s)
2+
2Zn (aq) + S (aq)
ZnS(s)
Diketahui harga Ksp ZnS= 1,6x10-22 dan Ksp CdS= 8x10 -27, dengan mengatur harga pH
maka konsentrasi ion sulfida dalam larutan dapat diatur sedemikian sehingga Qsp ZnS<
Ksp ZnS sehingga ZnS belum mengendap dan Qsp CdS > Ksp CdS sehingga CdS
mengendap. Dengan demikian kedua ion tersebut dapat dipisahkan dari larutan.
E. Model, Metode, dan Media Pembelajaran
Pendekatan
: teacher centered
Strategi
: langsung
Metode
: diskusi, tanya jawab, penugasan
Media
: Papan tulis, boardmarker, dan penghapus
F. Kegiatan Pembelajaran
FASE
KEGIATAN PENDAHULUAN

Persiapan
Penyampaia
n materi
WAKTU
Guru membuka kegiatan pembelajaran dengan
pemberian motivasi secara kreatif dan mengondisikan
kelas sampai tenang agar siswa siap menerima pelajaran 10 menit
 Guru memeriksa kehadiran siswa
 Guru menginformasikan tujuan, metode, dan penilaian
yang digunakan selama pembelajaran melalui ceramah
dengan santun
KEGIATAN INTI
Eksplorasi
 Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara santun
untuk menyelidiki pengetahuan awal siswa tentang
reaksi kesetimbangn larutan, kelarutan dan hasil kali
kelarutan dan membahas pekerjaan rumah yang telah 40 menit
diberikan pada pertemuan sebelumnya
 Guru menjelaskan megenai proses pengendapan
Elaborasi
 Guru memberikan contoh soal mengenai proses
190
pengendapan serta meminta siswa menyelasaikan soal
secara berpasangan dengan teman sebangkunya

Siswa dengan santun menyampaikan jawabannya di
depan kelas.
Mengecek  Siswa dengan rasa ingin tahu melakukan Tanya jawab
pemahaman
dan menanggapi jawaban dari siswa lain.
dan
15 menit
Konfirmasi
memberikan
penguatan
tentang
proses
memberikan  Guru
pengendapan
secara
bertanggungjawab.
umpan balik
 Guru secara kreatif memberikan catatan-catatan penting
mengenai materi pokok yang harus dikuasai siswa
Guru memberikan kuis mengenai proses pengendapan
Latihan
20 menit
mandiri
KEGIATAN PENUTUP


Guru
membimbing
siswa
secara mandiri untuk
membuat rangkuman dari materi yang telah dibahas
Guru membagikan LKS dan menumbuhkan rasa ingin 5 menit
tahu siswa agar membaca dan memahami prosedur
paktikum mengenai kesadahan air
G. Sumber Pelajaran
Bahan ajar : buku kimia, LKS
H. Penilaian
Kognitif : laporan sementara (kelompok) dan laporan praktikum (individu)
Psikomotor: lembar Observasi
Afektif
: lembar observasi
Semarang, Februari 2014
Guru Praktikan
Maulida Fitriana
NIM.4301410065
191
SOAL LATIHAN
1. Apakah penambahan 100 mL larutan Na2CO3 0,001 M ke dalam 100 mL
larutan AgNO3 0,001 M menyebabkan terjadinya endapan? (Ksp Ag2CO3 = 6,3 . 10–12).
2. Diketahui Ksp Ag2CrO4 = 2.4 x 10-12. Jika 25 mL larutan AgNO3 10-3 M dicampur
dengan 75 mL larutan Na2CrO410 -3M, apakah terjadi endapan?
3. Dapatkah campuran 100 mL 0.001M ZnCl2 dan 100 mL 0.0001M MgCl2 dipisahkan
dengan menggunakan
a. 100 mL 0.001M NaOH
b. 100 mL 0.001M Ba(OH)2
c. 100 mL 0.001M NH4OH (Kb NH4OH : 1,8x10 -5)
KUNCI JAWABAN
1. AgNO3
= 0,001 M x 100 mL = 0,1 mmol
Ag+
= 0,1 mmol
Na2CO3 = 0,001 M x 100 mL = 0,1 mmol
CO32–
= 0,1 mmol
Volume campuran 200 mL, sehingga:
[Ag+]
= (0,1/200) mol . L–1 = 5.10–4 M
[CO32–] = (0,1/200) mol . L–1 = 5.10–4 M
[Ag+]2 [CO32–] = (5.10–4)2 (5.10–4) = 1,25 . 10–5 M
Karena [Ag+]2 [CO3–2] > Ksp atau 1,25 . 10–5 > 6,3.10–12, maka terbentuk endapan PbI2.
2. [AgNO3][Ag+] = (25 mL x 10-3 }: 100 mL= 2.5x 10-4 M
[N2CrO4] = (75 mL x 10-3M) : 100 mL = 7.5x 10 -4 M
Qc Ag2CrO4 = [Ag+]2 [CrO42-] = (2.5x 10-4)2 (7.5x 10-4) = 46.8 x 10-12
Jadi Qc Ag2CrO4 > Ksp Ag2CrO4, sehingga terjadi endapan Ag2CrO4
3. Campuran 100 mL 0.001M ZnCl2 dan 100 mL 0.0001M MgCl2
a. 100 mL 0.001M NaOH
Ksp Zn(OH)2 = 1,2.10-17
Q Zn(OH)2 = [Zn2+] [OH-]
=
= 3.70 x 10-11
Q > Ksp  mengendap
Ksp Mg(OH)2 = 1,8.10-11
Q Mg(OH)2 = [Mg2+] [OH- ]
=
= 3.70 x 10-12
Q < Ksp  tidak mengendap
b. 100 mL 0.001M Ba(OH)2
Ksp Zn(OH)2 = 1,2.10-17
Q Zn(OH)2 = [Zn2+] [OH-]2
192
=
= 1.48 x 10-10
Q > Ksp  mengendap
Ksp Mg(OH)2 = 1,8.10-11
Q Mg(OH)2 = [Mg2+] [OH- ]2
=
= 1.48 x 10-11
Q < Ksp  tidak mengendap
c. 100 mL 0.001M NH4OH
Kb NH4OH = 1.8 x 10 -5
M OH=
=
= 1.34 x 10-4
Ksp Zn(OH)2 = 1,2.10-17
Q Zn(OH)2 = [Zn2+] [OH-]
=
= 6.65 x 10-13
Q > Ksp  mengendap
Ksp Mg(OH)2 = 1,8.10-11
Q Mg(OH)2 = [Mg2+] [OH- ]
=
= 6.65 x 10-12
Q < Ksp  tidak mengendap
Jadi ion Zn2+ dan Mg2+ dapat dipisahkan menggunakan 100mL larutan NaOH
0,001M, larutan Ba(OH)2 0,001M, larutan NH4OH 0,001M
193
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Kontrol 5
Sekolah
: SMA N 1 Donorojo
Mata Pelajaran
: Kimia
Kelas/Semester
: XI/2
Pertemuan ke:5
Waktu
: 2x45 menit
A. Standar Kompetensi
4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran dan terapannya
B. Kompetensi Dasar
4.6 Memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutan
dan hasil kali kelarutan.
C. Indikator
1. Kognitif
Produk:
Memperkirakan terbentuknya endapan berdasarkan harga Ksp dengan kreatif dan
percaya diri
Proses:
Melakukan percobaan dengan kerja sama dan bertanggungjawab untuk
mengidentifikasi kesadahan air berdasarkan proses pengendapan.
2. Afektif
Karakter
: teliti, kreatif, percaya diri, kerja sama, dan bertanggungjawab
Keterampilan sosial
a. Menyumbangkan ide atau pendapat
b. Bisa berkomunikasi dengan baik
3. Psikomotorik
a. Menggunakan alat dengan benar dan teliti.
b. Melakukan percobaan dengan teliti sesuai prosedur percobaan
c. Melakukan pembersihan alat dengan baik
d. Membuat laporan sementara dengan tepat secara bekerjasama.
D. Tujuan Pembelajaran
1. Kognitif
Produk:
Siswa dapat memperkirakan terbentuknya endapan berdasarkan harga Ksp dengan
kreatif dan percaya diri
Proses:
Siswa dapat melakukan percobaan dengan kerja sama dan bertanggungjawab untuk
mengidentifikasi kesadahan air berdasarkan proses pengendapan.
2. Afektif
Karakter
: selama proses pembelajaran siswa menunjukkan karakter teliti,
kreatif, percaya diri, kerja sama, dan bertanggungjawab.
Keterampilan social
a. Siswa dapat menyumbangkan ide atau pendapat
b. Siswa bisa berkomunikasi
3. Psikomotorik
194
a.
b.
c.
d.
Siswa dapat menggunakan alat dengan benar dan teliti.
Siswa dapat melakukan percobaan dengan teliti sesuai prosedur percobaan
Siswa dapat melakukan pembersihan alat dengan baik
Siswa dapat membuat laporan sementara dengan tepat secara bekerjasama.
E. Materi Pembelajaran
Harga hasil kali kelarutan (Ksp) suatu senyawa ionik yang sukar larut dapat
memberikan informasi tentang kelarutan senyawa tersebut dalam air. Semakin besar
harga Ksp suatu zat, semakin mudah larut senyawa tersebut.
Harga Ksp suatu zat dapat digunakan untuk meramalkan terjasi tidaknya endapan
suatu zat jika dua larutan yang mengandung ion-ion dari senyawa sukar larut
dicampurkan. Untuk meramalkan terjadi tidaknya endapan AmBn jika larutan yang
mengandung ion An+ dan Bm- dicampurkan digunakan konsep hasil kali ion (Qsp) berikut
ini.
Qsp AmBn = [An+]m [Bm-]n
 Jika Qsp > Ksp maka akan terjadi endapan AmBn
 Jika Qsp = Ksp maka akan terjadi larutan jenuh AmBn
 Jika Qsp < Ksp maka belum terjadi larutan jenuh maupun endapan AmBn.
Selain memberi informasi tentang kelarutan, harga Ksp dapat dimanfaatkan sebagai
salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemisahan zat dalam campuran
dengan cara pengendapan. Contoh : Untuk memisah ion Zn2+ dan ion Cd2+ yang terdapat
secara bersama-sama dalam suatu larutan dapat dilakukan dengan mengalirkan gas H2S
ke dalam larutan tersebut sehingga terjadi reaksi:
Zn2+(aq) + S2-(aq)
ZnS(s)
Zn2+(aq) + S2-(aq)
ZnS(s)
Diketahui harga Ksp ZnS= 1,6x10-22 dan Ksp CdS= 8x10 -27, dengan mengatur harga pH
maka konsentrasi ion sulfida dalam larutan dapat diatur sedemikian sehingga Qsp ZnS<
Ksp ZnS sehingga ZnS belum mengendap dan Qsp CdS > Ksp CdS sehingga CdS
mengendap. Dengan demikian kedua ion tersebut dapat dipisahkan dari larutan.
F. Model, Metode, dan Media Pembelajaran
Pendekatan
: teacher centered
Strategi
: konvensional
Metode
: kerja kelompok, eksperimen, penugasan
Media
: Alat dan bahan praktikum, Papan tulis, boardmarker, dan penghapus
195
G. Kegiatan Pembelajaran
FASE
KEGIATAN PENDAHULUAN



Persiapan


Guru membuka kegiatan pembelajaran dengan
pemberian motivasi secara kreatif dan mengondisikan
kelas sampai tenang agar siswa siap menerima pelajaran
Guru memeriksa kehadiran siswa
Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara santun
untuk menyelidiki pengetahuan awal siswa tentang
proses pengendapan.
Guru menginformasikan tujuan, metode, dan penilaian
yang digunakan selama percobaan
Guru meminta siswa untuk berkelompok menurut
kelompoknya masing-masing.
WAKTU
10 menit
KEGIATAN INTI
 Guru memberikan pengarahan tentang tata tertib
melakukan percobaan agar efektif, efisien dan memenuhi
criteria keselamatan kerja. Guru mendistribusikan LKS
untuk setiap kelompok
Penyampaia Eksplorasi
10 menit
n materi
 Siswa dengan percaya diri dan bertanggungjawab
memperhatikan materi dan memahami konsep-konsep
yang ada.
 Guru mendemonstrasikan cara kerja mengidentifikasi
kesadahan air.
Elaborasi
 Siswa secara kerjasama dan bertanggungjawab dengan
bimbingan guru melakukan percobaan mengidentifikasi
zat yang sukar larut dalam air dan pengaruh ion sejenis
terhadap Larutan serta kemungkinan pembentukan
Pelatihan
endapan sesuai LKS yang telah didistribusikan.
50 menit
terbimbing
 Siswa dengan arahan guru mengumpulkan data
percobaan Guru memberi kesempatan kepada siswa
untuk berpikir, menganalisis hasil percobaan
 Siswa secara berkerjasama menyajikan hasil percobaan
dalam penulisan laporan sementara secara kelompok
sesuai dengan bimbingan dari guru
 Siswa secara teliti dan kerjasama menganalisis data
hasil percobaan
 Siswa secara bersama membuat kesimpulan dari hasil
Latihan
percobaan yang telah dilakukan sesuai dengan arahan
20 menit
dari guru
mandiri
 Siswa secara bersama dengan santun mempresentasikan
hasil percobaannya dalam diskusi kelas
196
Konfirmasi
Mengecek  Guru memberi acuan agar siswa melakukan pengecekan
hasil percobaan
pemahaman

Guru mengevaluasi penarikan kesimpulan yang
dan
dilakukan oleh siswa
memberikan
 Siswa dengan rasa ingin tahu diajak tanya jawab
umpan balik
tentang hal yang belum jelas dari hasil percobaan yang
telah dilakukan
KEGIATAN PENUTUP
 Guru
membimbing
siswa
secara mandiri untuk
membuat rangkuman hasil percobaan
 Guru memotivasi siswa untuk tetap belajar.
7 menit
3 menit
H. Sumber Pelajaran
Bahan ajar : buku kimia, LKS
I. Penilaian
Kognitif : laporan sementara (kelompok) dan laporan praktikum (individu)
Psikomotor: lembar Observasi
Afektif
: lembar observasi
Semarang, Februari 2014
Guru Praktikan
Maulida Fitriana
NIM.4301410065
197
KESADAHAN AIR
I.
II.
III.
Tujuan
Mengidentifikasi kesadahan air.
Alat dan Bahan
Alat
Bahan
a. Gelas Kimia
a. Air Sumur
b. Gelas ukur
b. Air Suling
c. Erlenmeyer
c. Air Sadah
d. Buret
d. Air Laut
e. Corong
e. Larutan Na2CO3
f. Statif
f. Air Sabun
g. Pipet tetes
Langkah kerja
1. Susunlah alat seperti pada gambar!
2. Isilah buret dengan air sabun sampai skala nol!
3. Ambillah 10 mL air suling dalam erlenmeyer.
4. Teteskan air sabun dalam buret pada air suling sampai terbentuk busa. Catat
jumlah tetesan air sabun!
5. Ambillah 10 mL air suling dalam erlenmeyer kemudian didihkan lalu tetesi
dengan air sabun sampai terbentuk busa, catat jumlah tetesan!
6. Ambillah 10 mL air suling dalam erlenmeyer tambahkan 2 mL larutan Na2CO3
kemudian tetesi dengan air sabun dan catat jumlah tetesannya!
7. Ulangi langkah 3 sampai 6 dengan mengganti air suling dengan sampel air
sumur, air laut dan air sadah!
198
IV.
V.
Hasil Pengamatan
Sampel air
Banyaknya air sabun
yang diperlukan
Sampel air
dipanaskan
Banyaknya air sabun
yang diperlukan
Sampel air + lar
Na 2CO3
Banyaknya air sabun
yang diperlukan
Permasalahan
1. Dari ketiga sampel air, manakah yang memerlukan air sabun paling banyak untuk
membentuk busa? Jelaskan mengapa demikian!
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
2. Tuliskan reaksi yang terjadi pada masing-masing sampel air!
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
199
VI.
Kesimpulan
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
200
LEMBAR KERJA SISWA
Penyusun
UNTUK KELAS XI
Maulida Fitriana
IPA
Pembimbing
Dr. Sri Haryani, M.Si
Nama
:
Kelas
:
No.Abs
:
Sekolah
:
201
LEMBAR KERJA SISWA
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
sehingga Lembar Kerja Siswa ini dapat terselesaikan dengan baik.
LKS ini dibuat berdasarkan silabus kurikulum tingkat satuan
pendidikan. LKS ini memuat beberapa masalah yang harus
diselesaikan oleh siswa melalui langkah-langkah yaitu merumuskan
masalah, menyusun hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis
dan membuat kesimpulan. Melalui langkah-langkah penyelesaian
masalah tersebut diharapkan dapat membantu siswa dalam
menemukan konsep-konsep baru terutama mengenai materi Kelarutan
dan Hasil Kali Kelarutan.
Terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu terselesainya
LKS ini terutama Dosen Pembimbing, Dr. Sri Haryani,M.Si yang
telah membimbing hingga LKS ini dapat terselesaikan dengan baik.
Semarang, Februari 2014
Penulis
202
KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN
Standar Kompetensi: Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode
pengukuran, dan terapannya.
Kompetensi Dasar : Memprediksi terbentuknya endapan dari suatu
reaksi berdasarkan prinsip kelarutan dan hasil kali kelarutan.
Indikator pencapaian:
Tujuan Pembelajaran:
a. Menjelaskan
kesetimbangan
a. Melalui diskusi kelas siswa
dalam larutan jenuh atau larutan
dapat
menjelaskan
garam yang sukar larut
kesetimbangan dalam larutan
b. Menghubungkan
tetapan
jenuh atau larutan garam yang
hasilkali
kelarutan
dengan
sukar larut,
tingkat
kelarutan
atau
b. Melalui diskusi kelas siswa
pengendapannya
dapat menghubungkan tetapan
c. Menuliskan ungkapan berbagai
hasil kali kelarutan dengan
Ksp elektrolit yang sukar larut
tingkat
kelarutan
atau
dalam air
pengendapannya.
d. Memilih operasi yang paling
c. Melalui diskusi kelas siswa
sesuai
untuk
menghitung
dapat
menuliskan
ungkapan
kelarutan suatu elektrolit yang
berbagai Ksp elektrolit yang
sukar larut berdasarkan data
sukar larut dalam air
harga Ksp atau sebaliknya
d. Melalui diskusi kelas siswa
e. Menjelaskan
pengaruh
dapat memilih operasi yang
penambahan ion senama dalam
paling sesuai untuk menghitung
larutan
kelarutan suatu elektrolit yang
f. Memilih operasi yang dipakai
sukar larut.
untuk menentukan pH larutan
e. Melalui diakusi kelas, siswa
dari harga Ksp-nya
dapatmenjelaskan
pengaruh
g. Memperkirakan
terbentuknya
penambahan ion senama dalam
endapan berdasarkan harga Ksp
larutan.
f. Melalui diskusi kelas siswa
dapat memilih operasi yang
dipakai untuk menentukan harga
pH larutan dari harga Ksp-nya
g. Siswa dapat merancang dan
melakukan percobaan untuk
mengidentifikasi kesadahan air.
h. Siswa dapat menyimpulkan cara
mengidentifikasi kesadahan air
melalui proses pengendapan.
203
Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan
KEGIATAN 1
Berhadapan dengan masalah
Zafran melakukan sebuah eksperimen dengan menambahkan garam dapur ke
dalam setengah gelas air. Pertama zafran menambahkan garam sebanyak satu
sendok makan ke dalam satu gelas air, garamnya larut semua. Kemudian zafran
menambahkan sebanyak satu sendok lagi, garamnya juga larut semua, begitu
seterusnya sampai dengan penambahan satu sendok garam yang kelima ternyata
ada garam yang tidak larut dalam air. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
A. Merumuskan Masalah
Berdasarkan masalah yang kalian temukan, tuliskan rumusan masalahnya.
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………....
B. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah yang kamu temukan, buatlah hipotesis yang sesuai untuk
rumusan masalah tersebut.
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
C. Mengumpulkan Data dan Menguji Hipotesis
Untuk menguji hipotesis terlebih dahulu kita harus melakukan kegiatan berikut ini!
1. Apa yang akan terjadi jika kita mencampurkan
No
Pelarut
Gula Pasir
1 sendok
1
Air
2
Air panas
2 sendok
3 sendok
4 sendok
2. Apakah penambahan gula pasir pada air dingin dan air panas menunjukkan hasil yang
sama?
3. Manakah gula pasir yang lebih mudah larut? Dalam air dingin atau air panas?
Mengapa demikian?
D. Kesimpulan
Kesimpulan apa yang dapat kalian ambil dari kegiatan ini?
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
204
KEGIATAN 2.
Berhadapan dengan Masalah
Pada kegiatan 1, Zafran melarutkan zat yang tergolong mudah larut
dalam air. Sekarang ia mencoba untuk melarutkan salah satu garam
elektrolit, yaitu kalsium karbonat. Sebanyak 1 gram kalsium karbonat
dilarutkan ke dalam 100mL air. Kemudian diaduk selama beberapa
menit, ternyata garam yang larut hanya sedikit. Kemudia dengan cara
yang sama ia melarutkan garam perak klorida ke dalam 100mL air,
A. Merumuskan
masalah
ternyata perak
klorida yang larut lebih sedikit lagi. Bagaimana hal ini
Berdasarkan masalah yang kalian temukan, tentukan rumusan masalahnya.
bisa terjadi? Padahal kalsium karbonat dan perak klorida merupakan
………………………………………………………………………………………………
garam elektrolit seperti halnya garam dapur. Mengapa garam kalsium
………………………………………………………………………………………………
karbonat dan perak klorida sukar larut dalam air?
………………………………………………………………………………………………
B. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah yang telah kalian temukan, buatlah hipotesis yang sesuai.
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
C. Mengumpulkan Data dan Menguji Hipotesis
untuk memecahkan masalah yang kalian temukan, kalian harus menjawab pertanyaan
berikut ini.
1. Pada bab sebelumnya kita telah mengenal yang namanya asam basa. Ada asam dan
basa kuat serta ada asam dan basa lemah.
Air mempunyai tetapan ionisasi air yaitu Kw
Asam lemah mempunyai tetapan ionisasi asam yaitu Ka
Basa lemah mempunyai tetapan ionisasi basa yaitu ….
Garam-garam yang sukar larut mempunyai tetapan hasil kali kelarutan yaitu….
2. Bagaimana reaksi ionisasi garam kalsium karbonat dan perak klorida?
CaCO3(s)
……. + ……
…………
…….. + ……
Dari reaksi ionisasi garam kalsium karbonat dan perak klorida, buatlah rumusan
tetapan kesetimbangan dan tetapan hasil kali kelarutan untuk garam kalsium karbonat
dan perak klorida.
KCaCO3 =……………………………………………………………………………….
Ksp
=……………………………………………………………………………….
KAgCl =………………………………………………………………………………..
205
Ksp
=………………………………………………………………………………..
3. Apa yang dimaksud dengan hasil kali kelarutan?
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
4. Pada kegiatan 1 kita telah mengenal yang namanya kelarutan. Nah bagaimana
hubungan antara kelarutan dan hasil kali kelarutan? Tuliskan dalam bentuk
persamaan!
a. Jika garam kalsium karbonat dan perak klorida mempunyai kelarutan sebesar s
mol/L. Tentukan tetapan hasil kali kelarutannya.
Ksp CaCO3 = [……] [……]
=……..
Ksp AgCl =……..
=……..
Dari persamaan tersebut kita bisa menentukan kelarutan suatu zat dari harga Kspnya.
Jika Ksp CaCO3 = ……., maka
s CaCO3 =…….
Jika Ksp AgCl
= ……., maka
s AgCl
=…….
b. Jika garam perak kromat dan kalsium phospat mempunyai kelarutan sebesar
1x10-4 mol/L berapakah harga Ksp-nya?
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
c. Jika garam Ag2C2O4 dan Al(OH)3 masing-masing mempunyai harga Ksp sebesar
1,1x10-12 dan 1,3x10-33 , berapakah kelarutan masing-masing garam tersebut?
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
D. Kesimpulan
Kesimpulan apa yang dapat kalian ambil dari masalah yang kalian temukan?
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
206
207
Sebelumnya kalian sudah tahu apa itu kelarutan, Ksp, dan hubungan antara
kelarutan dan Ksp, untuk lebih memahami materi silahkan kerjakan soal-soal
berikut.
1. Obat maag atau yang dikenal sebagai antasida umumnya merupakan
senyawa yang bersifat basa, sehingga dapat menetralkan kelebihan asam
yang terdapat di dalam cairan lambung. Umumnya obat antasida yang
banyak dipilih adalah jenis yang sukar larut, sehingga reaksinya lambat dan
dapat bertahan lama, misalnya aluminium hidroksida dan magnesium
hidroksida. Jika magnesium hidroksida mempunyai Ksp sebesar 1,8x10 -11,
berapa kelarutan magnesium hidroksida dalam usus?
2. Kelarutan PbSO4 dalam air pada suhu tertentu adalah 1,4×10−4 mol/L.
Tentukan massa PbSO4 yang dapat larut dalam 500 mL air, nyatakan
jawaban dalam satuan milligram (mg).
(Ar Pb = 206; S = 32; O = 16)
3. Tuliskan persamaan tetapan hasil kali kelarutan untuk garam berikut:
a. AgCl
b. Ag2CO3
c. Ba3(PO4)2
4. Sebanyak 0,7 gram BaF2 (Mr = 175) melarut dalam air murni membentuk
2 L larutan jenuh. tentukan Ksp dari BaF2.
5. Hasil kali kelarutan Ca(OH)2 dalam air adalah 4 × 10−6. Tentukan
kelarutan Ca(OH)2.
6. Dalam 100 cm3 air dapat larut 1,16 mg Mg(OH)2 (Mr = 58). Tentukan
harga Ksp dari Mg(OH)2
7. Harga hasil kali kelarutan (Ksp) Ag2SO4 = 3,2 x 10−5, maka kelarutannya
dalam 1 liter air adalah...
208
Pengaruh Ion Senama Terhadap Kelarutan
Berhadapan Dengan Masalah
Baim sedang melakukan ekperimen, dia mempunyai 3 buah tabung reaksi yang
masing-masing diisi dengan 5 mL larutan AgNO3 0,1M kemudian ke dalam
masing-masing tabung ditambahkan 5 mL larutan NaCl 0,1M. Selang waktu satu
menit ternyata dalam ketiga tabung membentuk endapan putih. Kemudian ke
dalam tabung pertama ditambahkan 5 mL air, ke dalam tabung ke dua
ditambahkan 5 mL larutan NaCl 0,1M dan ke dalam tabung ke tiga ditambahkan
5 mL larutan AgNO3 0,1M. Setelah diamati ternyata pada tabung pertama ada
sebagian endapan yang larut, tetapi pada tabung ke dua dan ke tiga endapan yang
terbentuk bertambah. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Faktor apa yang
mempengaruhi terbentuknya endapan yang semakin banyak?
A. Merumuskan Masalah
Berdasarkan masalah yang kalian temukan, tuliskan rumusan masalahnya!
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
B. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah yang kamu temukan, buatlah hipotesis yang sesuai untuk
rumusan masalah tersebut!
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
C. Mengumpulkan Data dan Menguji Hipotesis
untuk memecahkan masalah tersebut, terlebih dahulu kalian jawab pertanyaan di bawah
ini!
1. Tulislah reaksi kesetimbangan yang terjadi pada masing-masing tabung!
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
2. Bagaimana pergeseran reaksi kesetimbangan yang terjadi pada masing-masing tabung
setelah penambahan air, NaCl, dan AgNO3?
a. AgCl(s)
….. + ……
Dengan penambahan air maka reaksi bergeser ke……….
Karena………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………….......
209
b. AgCl(s)
….. + ……
NaCl(aq)  ….. + ……
Dengan penambahan NaCl maka reaksi bergeser ke……….
Karena………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………….......
c. AgCl(s)
….. + ……
AgNO3(aq)  ….. + ……
Dengan penambahan AgNO3 maka reaksi bergeser ke……….
Karena………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………….......
3. Bagaimana kelarutan AgCl pada masing-masing tabung setelah ditambah dengan air,
NaCl, dan AgNO3?
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
Mari kita selidiki menggunakan perhitungan.
Jika pada suhu 25°C garam AgCl mempunyai harga Ksp sebesar 2,0x10-10, tentukan
a. Berapa kelarutan AgCl dalam air pada suhu tersebut?
b. Berapa kelarutan AgCl di dalam larutan NaCl 0,1M?
c. Berapa kelarutan AgCl di dalam larutan AgNO3 0,1 M?
Jawab:
a. Misal kelarutan AgCl dalam air s mol/L
AgCl(s)
….. + …..
s mol/L ….. …..
Ksp AgCl =
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
s = …………mol/L
b. Dari jawaban a, diketahui kelarutan AgCl dalam air sebesar…….
Misal kelarutan AgCl dalam larutan NaCl 0,1 M = n mol/L
AgCl(s)
…… + ……
n mol/L
…... …...
NaCl(aq)  ….. + ……
0,1 mol/L …... ……
Di dalam system terdapat:
[Ag+]
= …… mol/L
[Cl-]
= …… mol/L
Ksp AgCl =
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
n = ……….. mol/L
210
Jadi kelarutan AgCl dalam air lebih…………daripada kelarutan AgCl dalam
NaCl.
c. Dari jawaban a, diketahui kelarutan AgCl dalam air sebesar…….
Misal kelarutan AgCl dalam larutan AgNO3 0,1 M = n mol/L
AgCl(s)
…… + ……
n mol/L
…... …...
AgNO3(aq)  ….. + ……
0,1 mol/L
...... ……
Di dalam system terdapat:
[Ag+]
= …… mol/L
[Cl-]
= …… mol/L
Ksp AgCl =
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
n = ……….. mol/L
Jadi kelarutan AgCl dalam air lebih…………daripada kelarutan AgCl dalam
AgNO3.
D. Kesimpulan
Kesimpulan apa yang dapat kalian ambil dari masalah tersebut?
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
Latihan soal!
1. Diketahui Ksp Ag2CrO4 = 4 x 10−12. Tentukan kelarutan
Ag2CrO4 dalam larutan 0,01 M K2CrO4!
2. Tentukan kelarutan Mg(OH)2 dalam NaOH 0,1 M! Ksp Mg(OH)2 =
1,8×10 −11 mol3 L−3
3. Jika diketahui kelarutan Ag2CrO4 dalam air murni adalah 8,43 x 105
mol/L pada suhu 25C. Tetukanlah kelarutan Ag2CrO4 (Ksp Ag2CrO4 =
2,4 x 10-12) itu dalam AgNO3 0,1 N
211
Pengaruh pH Terhadap Kelarutan
Berhadapan Dengan Masalah
Fani mempunyai dua tabung reaksi yang masing-masing berisi endapan dari garam
kalsium karbonat. Ke dalam tabung yang pertama ditambahkan air, sedangkan pada
tabung ke dua ditambahkan larutan asam klorida. Kemudian ia mengaduk larutan
yang berada di kedua tabung kurang lebih selama satu menit. Setelah diamati
ternyata endapan yang ada di tabung pertama hampir tidak berkurang, sedangkan
pada tabung yang ke dua endapan larut. Fani kemudian melakukan hal yang sama
dengan mengganti garam kalsium karbonat dengan garam barium sulfat. Hasil
pengamatan menunjukkan bahwa garam barium sulfat tidak larut dalam asam
klorida. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Kenapa larutan asam klorida dapat
melarutkan garam kalsium karbonat tetapi tidak dapat melarutkan garam barium
sulfat?
A. Merumuskan Masalah
Berdasarkan masalah yang kalian temukan, tentukan rumusan masalahnya!
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
B. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah yang kamu temukan, buatlah hipotesis tyang sesuai untuk
rumusan masalah tersebut!
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
C. Mengumpulkan Data dan Menguji Hipotesis
Untuk menyelesaikan masalah yang kamu temukan, terlebih dahulu kalian harus
menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.
1. Tulislah reaksi yang terjadi pada kedua tabung reaksi, setelah diatmbah air dan asam
klorida?
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
212
2. Bagaiman pergeseran reaksi kesetimbangan pada masing-masing tabung setelah
ditambah air dan asam klorida?
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
3. Bagaiman kelarutan kalsium karbonat dan barium sulfat pada masing-masing tabung
setelah ditambah air dan asam klorida?
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
4. Bagaiman pengaruh pH terhadap kelarutan garam kalsium karbonat?
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
D. Kesimpulan
Kesimpulan apa yang dapat kalian ambil dari masalah tersebut?
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
Mari kita selesaikan
soal berikut 
1. Larutan jenuh X(OH)2 memiliki pOH = 5. Tentukan hasil
kali kelarutan (Ksp) dari X(OH)2 tersebut!
2. Larutan jenuh senyawa hidroksida dari suatu basa L(OH)2
dilarutkan dalam 1 liter air. Diketahui Ksp L(OH)2 =
4×10−12, tentukan pH akhir dari pelarutan L(OH)2 tersebut!
3. Diketahui tetapan hasilkali kelarutan Mg(OH)2 = 2 x 10 -12.
Tentukanlah kelarutan Mg(OH)2 dalam :
a. Aquadest (air murni)
b. Larutan dengan pH = 12
213
Proses Pengendapan
Berhadapan dengan Masalah
Dita sedang mencuci pakaian dan membutuhkan banyak sabun karena air yang ia
gunakan membuat sabun sedikit berbusa. Dita bertanya-tanya, kenapa air tersebut
membuat sabun sedikit berbusa? Kemudian ia mencari informasi mengenai hal
tersebut. Setelah mendapatkan informasi ternyata air yang ia gunakan untuk
mencuci adalah air sadah. Air sadah adalah air yang mengandung mineral dengan
kadar yang tinggi, umumnya mineral tersebut adalah ion kalsium dan magnesium.
Untuk mengatasi kesadahan tersebut Dita harus menambahkan garam natrium
karbonat yang dapat mengendapkan ion kalsium dan magnesium. Kenapa ion
kalsium dan magnesium dapat diendapkan dengan natrium karbonat?
A. Merumuskan Masalah
Berdasarkan masalah yang kalian temukan, tentukan rumusan masalahnya!
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………....
B. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah yang kalian buat, tulislah hipotesis yang sesuai.
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
C. Mengumpulkan Data dan Menguji Hipotesis
Untuk menyelesaikan masalah yang kalian temukan, terlebih dahulu kalian harus
melakukan kegiatan berikut ini.
Rancanglah sebuah percobaan untuk mengidentifikasi kesadahan air dari alat dan bahan
yang telah disediakan.
214
Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan
KESADAHAN AIR
I. Tujuan
Mengidentifikasi kesadahan air.
II. Alat dan Bahan
Alat
Bahan
a.
b.
c.
d.
Tabung reaksi
Gelas ukur
Erlenmeyer
Buret
a.
b.
c.
d.
e.
Air sumur
Air suling
Larutan Na2CO3
Air sabun
Air sadah
III. Langkah kerja
Berdasarkan alat dan bahan yang sudah di sediakan, rancanglah sebuah percobaan
untuk mengamati kemungkinan terbentukan endapan pada proses menghilangkan
kesadahan air.
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
IV. Hasil Pengamatan
215
Sampel air
Banyaknya air sabun
yang diperlukan
Sampel air
dipanaskan
Banyaknya air sabun
yang diperlukan
Sampel air + lar
Na2CO3
Banyaknya air sabun
yang diperlukan
V. Permasalahan
1) Dari ketiga sampel air, manakah yang memerlukan air sabun paling banyak untuk
membentuk busa? Jelaskan mengapa demikian!
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
2) Tuliskan reaksi yang terjadi pada masing-masing sampel air!
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
3) Jika ke dalam air sadah yang mengandung ion Mg2+ dan Ca2+ ditambahkan larutan
natrium karbonat 10 -2M, hitunglah kelarutan ion Mg2+ dan Ca2+ jika diketahui Ksp
MgCO3= 3,5x10 -8 dan Ksp CaCO3=2,8x10-9.
MgCO3(s)
……. + ………
Ksp MgCO3 = [……..][…….]
216
[……..]
Ksp CaCO3
[……..]
= ………………
=……………….
= [……..][…….]
= ………………
=……………….
Jadi kelarutan ion Mg2+ dan Ca2+ adalah………….mol/L dan…………….mol/L
4) Apabila ion Mg2+ dan Ca2+ yang ada dalam 100mL air sadah mempunyai kadar
sebesar 10 -2M diendapkan dengan menambahkan 100mL NaCO3 10-2M, hitunglah
harga hasil kali ion-ion masing-masing garam yang terbentuk!
Dalam campuran terdapat :
[Mg2+] =…………………………………………………………………………………
=…………………………………………………………………………………
2[CO3 ]=…………………………………………………………………………………
=…………………………………………………………………………………
Qsp MgCO3 = [……..][…….]
=…………………………………………………………………………
=…………………………………………………………………………
Bagaimana harga hasil kali ion-ion jika dibandingkan dengan harga Ksp? Apakah ada
hubungan antara perbandingan tersebut dengan terbentuknya endapan? Ksp MgCO3=
3,5x10 -8 dan Ksp CaCO3=2,8x10-9.
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
VI. Kesimpulan
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
D. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah kalian lakukan tulislah kesimpulan dari penyelesaian
masalah yang kalian temukan.
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………....
217
Lembar Diskusi Siswa
Batu Ginjal
Penyakit batu ginjal merupakan salah satu penyakit paling sering
ditemui dan dialami oleh banyak masyarakat Indonesia yang
umumnya dialami oleh pria. Pada umumnya penyakit batu ginjal
disebabkan oleh rutinitas pekerjaan yang membuat pola makan
menjadi tidak teratur, kurangnya konsumsi air putih, banyak
mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung bahan
kimia, bahan pengawet dan lingkungan suhu udara disekitar
tempat tinggal dan tempat bekerja yang tidak mendukung
aktivitas sehari-hari. Batu ginjal dalam tubuh terbentuk apabila
terjadi pengendapan garam kalsium misal kalsium oksalat, kalsium sulfat, dan kalsium
karbonat secara perlahan-lahan. Di dalam tubuh manusia sudah terdapat ion kalsium. Jika
konsentrasi ion oksalat di dalam pencernaan berlebih, dapat menimbulkan kalsium oksalat.
Oksalat penyeban batu ginjal banyak terdapat pada buah nanas dan jeroan hewan. Sedangkan
ion sulfat berasal dari obat-obatan yang mengandung sulfa. Kalsium penyebab batu ginjal
juga dapat berasal dari makanan yang terlalu tinggi mengandung kalsium dan air minum
jenuh mineral kalsium atau sering disebut air sadah. Ion kalsium dalam air sadah harus
dihilangkan agar tidak membentuk endapan di dalam ginjal sehingga tersedianya air bersih
bebas ion kalsium. Untuk menghilangkan batu yang terdapat diginjal, perlu dilakukan
pembedahan. Masyarakat harus lebih hati-hati atau cermat dalam memilih makanan dan harus
menjaga kesehatan. (http://batuginjal.net/)
Seorang pasien di dalam ginjalnya terdapat ion Ca2+ dengan konsentrasi sebesar 2 x
10-4 M dan ion C2O42- dengan konsentrasi 2 x 10 -4 M.
a. Selidikilah apakah pasien tersebut menderita batu ginjal? Ksp CaC2O4 = 4x10-9
b. Bagaimana cara mencegah terjadinya pengendapan kalsium oksalat agar tidak
terjadi batu ginjal?
c. Makanan apa yang tidak boleh dikonsumsi penderita batu ginjal?
Latihan soal!
1. Apakah penambahan 100 mL larutan Na2CO3 0,001 M ke dalam 100 mL
larutan AgNO3 0,001 M menyebabkan terjadinya endapan? (Ksp Ag2CO3 = 6,3 . 10–12).
2. Diketahui Ksp Ag2CrO4 = 2.4 x 10 -12. Jika 25 mL larutan AgNO3 10-3 M dicampur
dengan 75 mL larutan Na2CrO410 -3M, apakah terjadi endapan?
3. Dapatkah campuran 100 mL 0.001M ZnCl2 dan 100 mL 0.0001M MgCl2 dipisahkan
dengan menggunakan: (Ksp Zn(OH)2 = 1,2.10 -17, Ksp Mg(OH)2 = 1,8.10-11)
a. 100 mL 0.001M NaOH
b. 100 mL 0.001M Ba(OH)2
c. 100 mL 0.001M NH4OH
218
Lampiran 15
Daftar Nilai Semester Ganjil Kelas XI IPA
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
Kelas IPA 1
75
78
74
73
73
76
75
75
71
75
74
78
72
75
73
77
74
77
71
83
73
73
81
73
72
80
72
72
73
73
77
77
84
72
73
78
76
74
Kelas IPA 2
80
67
72
73
80
68
78
81
72
75
76
77
72
73
74
72
72
80
72
73
84
73
73
76
80
72
78
72
80
72
72
78
79
84
75
73
74
77
77
73
Jumlah
2852
3009
75.05263
75.225
9.943101
15.66603
Si2
dk
dk x Si2
log Si2
dk x log
Si
Si2
Jumlah
37
39
76
367.8947
610.9752
978.87
0.997522
1.194959
36.90831
46.6034
3.153268
3.958034
83.5117
219
Lampiran 16
UJI NORMALITAS KELAS XI IPA 1
1. Hipotesis :
Ho : Data populasi berdistribusi normal
Ha : Data populasi tidak berdistribusi normal
2. Taraf Signifikasi
α =5% = 0,05
3. Uji Statistik
Rumus yang digunakan:
4. Perhitungan
Dari data diperoleh:
Kelas
BB/BA
zi
Luas
69.5
-1.7609
0.4608
72.5
-0.8094
0.291
70-72
73-75
75.5
0.14209
78.5
1.09356
0.361
81.5
2.04504
0.4793
79-81
82-84
2.99651
Ei
Oi
(OiEi)^2/Ei
0.1698
6.4524
7
0.04647
0.3467
13.1746
18
1.76738
0.3053
11.6014
9
0.58332
0.1183
4.4954
2
1.3852
0.0193
0.7334
2
2.18745
0.0557
76-78
84.5
Luas
antar
batas
0.4986
5.96981
5. Daerah Kritik
| 2|
2
hit >
2
tab|
Pada α=5% diperoleh
2
(0.05)(2)=
5.99
6. Keputusan
Ho diterima karena berada pada daerah penerimaan
7. Kesimpulan
Data berdistribusi normal
2
hitung <
2
tabel ,
220
Lampiran 17
UJI NORMALITAS KELAS XI IPA 2
1. Hipotesis :
Ho : Data populasi berdistribusi normal
Ha : Data populasi tidak berdistribusi normal
2. Taraf Signifikasi
α =5% = 0,05
3. Uji Statistik
Rumus yang digunakan:
4. Perhitungan
Dari data diperoleh:
Kelas
BB/BA
zi
Luas
66.5
-2.2033
0.4861
69.5
-1.4457
0.4251
67-69
70-72
72.5
-0.6881
75.5
0.06944
0.0279
78.5
0.82702
0.2939
76-78
79-81
1.5846
2.34217
Oi
(OiEi)^2/Ei
0.061
2.44
2
0.07934
0.1734
6.936
10
1.35353
0.2796
11.184
11
0.00303
0.266
10.64
8
0.65504
0.149
5.96
7
0.18148
0.0472
1.888
2
0.00664
0.4429
82-84
84.5
Ei
0.2517
73-75
81.5
Luas
antar
batas
0.4901
2.27906
5. Daerah Kritik
| 2|
2
hit >
2
tab|
Pada α=5% diperoleh
2
(0.05)(3)=
7.81
6. Keputusan
Ho diterima karena berada pada daerah penerimaan
7. Kesimpulan
Data berdistribusi normal
2
hitung <
2
tabel ,
221
Lampiran 18
UJI HOMOGENITAS POPULASI
1. Hipotesis :
Ho : σ1=σ2
Ha : σ1 ≠σ2
2. Taraf Signifikasi
α =5% = 0,05
3. Uji Statistik
Rumus yang digunakan:
4. Perhitungan
Dari data diperoleh:
Kel
N
dk(n-1)
Si2
dk x Si2
log Si2
1
38
37
9.943
367.894
0.997
dk x log
Si2
36.908
2
40
39
15.66
610.975
1.195
46.603
76
978.87
83.511
5. Daerah Kritik
| 2|
2
hit >
2
tab|
Pada α=5% diperoleh
2
(0.05)(1)=
3.84
6. Keputusan
Ho diterima karena berada pada daerah penerimaan
7. Kesimpulan
Data kedua kelas homogen
2
hitung <
2
tabel ,
222
Lampiran 19
DAFTAR NAMA SISWA KELAS XI IPA
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
XI A1
Ana Faris Setyaningsih
Ana Nur Faizza Ni'mah
Ananda Eko Saputro
Aniq Shofial Huda
Antonius Jatmiko
Arden Andrean Syah
Arif Wicaksono
Beni Ernando
Chrisara Okta Ingkaristi
Dini Erida Oktafia Putri
Dino Surya Senjaya
Dwi Kartini
Dwi Martalena
Eva Indriyani
Eva Zahrotin
Fendi Bagus Priyadana
Fifi Sintiya Sari
Fitri Noor Janah
Hanny Agnes Maria
Izza Maulida Ni'mah
Levi Febri Ervita Sari
Luisiana Nosa Yuda
Luki Nofianto
Margareta Susi Susanti
Muhammad Bakhrul U
Nadya Rismawati
Nova Alqomariyah
Novi Siti Sholekhah
Novia Anjarsari
Nur Fina Mawadah
Nur Muhammad Bagus F
Ovia Fitriana
RR Dyah Ayu Rina Sadewi
Riany Presetyowati S
Sisilia Tia Fransiska W
Tari Mega Astuti
Umi Nor Kholifah
Wahyu Setyopambudi
Kode
E1
E2
E3
E4
E5
E6
E7
E8
E9
E 10
E 11
E 12
E 13
E 14
E 15
E 16
E 17
E 18
E 19
E 20
E 21
E 22
E 23
E 24
E 25
E 26
E 27
E 28
E 29
E 30
E 31
E 32
E 33
E 34
E 35
E 36
E 37
E 38
XI A2
Abil Finda Farrukhi
Ana Sinta Prasetyo
Anduah Ari Arundati
Ani Prawita
Aulia Febri Gunawati
Ayu Windi Wijayanti
Devita Ariyani
Dika Hariyanti
Dwi Ariska Widiyanti
Faricha Ulfa
Farida Rahmawati
Fery Riyanto
Himmatul Ulya
Ida Rinawati
Leni Widiastuti
Luluk Hermawan
Lutvi Arviyanti
Mada Rizka Romadlona
Marisa Ardiyanti
Maryani
Maulida Rahmawati
Muhammad Riza S
Nira Dwi Agustin Raharjo
Norma Dewi Maisyaroh
Nunung Rahmawati
Nurvita Fauziyah
Pawuri Locananta
Putri Destiani Pertiwi
Putri Invia Septiana
Rahmat Jalaluddin
Rahmat Puspita
Ria Fitriyani
Septian Bayu Pradana
Sri Hayati
Sulistya Rahmawanto
Syafa'attul Lailia
Wimantara
Wiwin Kurniawan Y I
Yuseva Resmawanti
Ziana Olga N
Kode
K1
K2
K3
K4
K5
K6
K7
K8
K9
K 10
K 11
K 12
K 13
K 14
K 15
K 16
K 17
K 18
K 19
K 20
K 21
K 22
K 23
K 24
K 25
K 26
K 27
K 28
K 29
K 30
K 31
K 32
K 33
K 34
K 35
K 36
K 37
K 38
K 39
K 40
223
Lampiran 20
Daftar nilai pretes-postes kelas eksperimen dan kelas kontrol
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
Kode
E - 01
E - 02
E - 03
E - 04
E - 05
E - 06
E - 07
E - 08
E - 09
E - 10
E - 11
E - 12
E - 13
E - 14
E - 15
E - 16
E - 17
E - 18
E - 19
E - 20
E - 21
E - 22
E - 23
E - 24
E - 25
E - 26
E - 27
E - 28
E - 29
E - 30
E - 31
E - 32
E - 33
E - 34
E - 35
E - 36
E - 37
E - 38
0.61
Pretest
46
39
41
29
49
39
28
39
40
25
39
26
31
41
46
44
32
31
21
23
37
52
39
31
31
29
38
27
38
43
55
54
38
41
34
22
29
31
34
34
36.15
Posttest
81
75
76
80
76
75
68
72
75
68
70
75
65
80
72
69
74
78
61
78
76
61
69
68
56
78
72
57
65
81
79
68
72
84
65
78
72
76
70
82
72.425
g
0.65
0.59
0.59
0.72
0.53
0.59
0.56
0.54
0.58
0.57
0.51
0.66
0.49
0.66
0.48
0.45
0.62
0.68
0.51
0.71
0.62
0.19
0.49
0.54
0.36
0.69
0.55
0.41
0.44
0.67
0.53
0.30
0.55
0.73
0.47
0.72
0.61
0.65
0.55
0.73
0.56
59.60
0.0091
70.68
44.59
0.01
7.72
0.095
8.41
6.68
0.12
Pretest
34
41
35
41
39
21
28
34
32
42
37
29
38
35
38
30
26
41
41
35
35
46
38
38
36
39
35
34
29
36
37
35
54
38
37
28
35
29
Postest
83
84
62
79
80
51
56
76
81
82
77
70
74
81
83
79
70
78
79
78
73
76
74
79
79
77
75
78
82
74
69
73
87
72
79
66
81
59
g
0.74
0.73
0.42
0.64
0.67
0.38
0.39
0.64
0.72
0.69
0.63
0.58
0.58
0.71
0.73
0.70
0.59
0.63
0.64
0.66
0.58
0.56
0.58
0.66
0.67
0.62
0.62
0.67
0.75
0.59
0.51
0.58
0.72
0.55
0.67
0.53
0.71
0.42
35.68
75.15
varian
33.37
Sb
5.77
Ket
Tinggi
Tinggi
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Tinggi
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Tinggi
Tinggi
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Tinggi
Sedang
Sedang
Sedang
Tinggi
Sedang
Sedang
Sedang
Tinggi
Sedang
Nama
K - 01
K - 02
K - 03
K - 04
K - 05
K - 06
K - 07
K - 08
K - 09
K - 10
K - 11
K - 12
K - 13
K - 14
K - 15
K - 16
K - 17
K - 18
K - 19
K - 20
K - 21
K - 22
K - 23
K - 24
K - 25
K - 26
K - 27
K - 28
K - 29
K - 30
K - 31
K - 32
K - 33
K - 34
K - 35
K - 36
K - 37
K - 38
K - 39
K - 40
Ket
Sedang
Sedang
Sedang
Tinggi
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Tinggi
Sedang
Rendah
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Tinggi
Sedang
Tinggi
Sedang
Sedang
Sedang
Tinggi
224
Lampiran 21
UJI NORMALITAS DATA PRETES KELAS EKSPERIMEN
1. Hipotesis :
Ho : Data populasi berdistribusi normal
Ha : Data populasi tidak berdistribusi normal
2. Taraf Signifikasi
α =5% = 0,05
3. Uji Statistik
Rumus yang digunakan:
4. Perhitungan
Dari data diperoleh:
Kelas
BB/BA
zi
Luas
20.5
-2.5949
0.4952
21-25
25.5
-1.7402
-0.8855
-0.0308
0.82393
1.67863
0.0361
1.3718
1
0.10077
0.1485
5.643
7
0.32632
0.2986
11.3468
11
0.0106
0.3059
11.6242
12
0.01215
0.1586
6.0268
5
0.17494
0.0418
1.5884
1
0.21796
0.0047
0.1786
1
3.7777
0.2939
41-45
45.5
(Oi-Ei)^2/Ei
0.012
36-40
40.5
Oi
0.3106
31-35
35.5
Ei
0.4591
26-30
30.5
Luas
antar
batas
0.4525
46-50
50.5
2.53333
0.4943
55.5
3.38803
0.499
51-55
4.62045
5. Daerah Kritik
| 2|
2
hit >
2
tab|
Pada α=5% diperoleh
2
(0.05)(4)=
9.49
6. Keputusan
Ho diterima karena berada pada daerah penerimaan
7. Kesimpulan
Data berdistribusi normal
2
hitung <
2
tabel ,
225
Lampiran 22
UJI NORMALITAS DATA POSTES KELAS EKSPERIMEN
1. Hipotesis :
Ho : data populasi berdistribusi normal
Ha : data populasi tidak berdistribusi normal
2. Taraf Signifikasi
α =5% = 0,05
3. Uji Statistik
Rumus yang digunakan:
4. Perhitungan
Dari data diperoleh:
Kelas
BB/BA
zi
Luas
50.5
-3.1515
0.499
55.5
-2.5125
0.494
60.5
-1.8734
0.4693
65.5
-1.2344
0.3907
70.5
-0.5953
0.2224
75.5
0.04372
0.016
51-55
56-60
61-65
66-70
71-75
76-80
80.5
0.68277
0.2517
85.5
1.32182
0.4066
90.5
1.96086
0.475
81-85
86-90
Luas
antar
batas
Ei
Oi
(Oi-Ei)^2/Ei
0.005
0.19
1
3.45316
0.0247
0.9386
2
1.20027
0.0786
2.9868
1
1.32161
0.1683
6.3954
4
0.8972
0.2384
9.0592
7
0.46807
0.2357
8.9566
14
2.8399
0.1549
5.8862
8
0.75909
0.0684
2.5992
1
0.98393
10.1802
5. Daerah Kritik
| 2|
2
hit >
2
tab|
Pada α=5% diperoleh
2
(0.05)(5)=
12.99
6. Keputusan
Ho diterima karena berada pada daerah penerimaan
7. Kesimpulan
Data berdistribusi normal
2
hitung <
2
tabel ,
226
Lampiran 23
UJI KESAMAAN DUA VARIAN PRETES DAN POSTES KELAS EKSPERIMEN
1. Hipotesis :
Ho : σ1 = σ2
Ha : σ1 ≠ σ2
2. Taraf Signifikasi
α =5% = 0,05
3. Uji Statistik
Rumus yang digunakan:
4. Perhitungan
Dari data diperoleh:
Sumber variasi
Jumlah
N
Pretes
1356
38
35.68
Postes
2856
38
75.15
Varians (s2)
Standart Deviasi (s)
34.27
5.85
61.21
7.82
5. Daerah Kritik
Fhitung < Fα(nb-1)(nk-1)
Pada α=5% diperoleh F(0.05)(37)(37) = 1.71
6. Keputusan
Ho ditolak karena berada pada daerah penolakan F hitung > F tabel ,
7. Kesimpulan
Sampel mempunyai variansi yang berbeda
227
Lampiran 24
UJI PENINGKATAN HASIL BELAJAR KELAS EKSPERIMEN
1. Hipotesis :
Ho : tidak ada peningkatan hasil belajar yang signifikan
2. Taraf Signifikasi
α =5% = 0,05
3. Uji Statistik
Rumus yang digunakan:
t’hitung =
X1  X 2
s
2
1
 
/ n1  s 22 / n 2

4. Perhitungan
Dari data diperoleh:
Sumber variasi
Jumlah
N
Pretes
1356
38
35.68
Postes
2856
38
75.15
Varians (s2)
Standart Deviasi (s)
34.27
5.85
61.21
7.82
5. Daerah Kritik
- ttabel < thitung < ttabel
Pada α=5% dengan dk = 38 + 38 – 2 = 74 diperoleh t(0.975)(74) = 2.02
Daerah penolakan Ho
Daerah penolakan Ho
Daerah penerimaan Ho
-2.02
2.02
6. Keputusan
Ho ditolak karena berada pada daerah penolakan t hitung > t tabel ,
7. Kesimpulan
Ada peningkatan hasil belajar yang signifikan
228
Lampiran 25
UJI NORMALITAS DATA PRETES KELAS KONTROL
1. Hipotesis :
Ho : data populasi berdistribusi normal
Ha : Data populasi tidak berdistribusi normal
2. Taraf Signifikasi
α =5% = 0,05
3. Uji Statistik
Rumus yang digunakan:
4. Perhitungan
Dari data diperoleh:
Kelas
BB/BA
zi
Luas
20.5
-1.8243
0.4656
21-25
25.5
-1.2368
0.3907
30.5
-0.6492
0.2422
26-30
31-35
35.5
-0.0617
0.52585
1.1134
Oi
(Oi-Ei)^2/Ei
0.0749
2.996
4
0.33645
0.1485
5.94
6
0.00061
0.2661
10.644
9
0.25392
0.2224
8.896
10
0.13701
0.168
6.72
5
0.44024
0.0889
3.556
3
0.08693
0.0333
1.332
3
2.08876
0.1985
41-45
45.5
Ei
0.0239
36-40
40.5
Luas
antar
batas
0.3665
46-50
50.5
1.70094
0.4554
55.5
2.28848
0.4887
51-55
3.34392
5. Daerah Kritik
| 2|
2
hit >
2
tab|
Pada α=5% diperoleh
2
(0.05)(4)=
9.49
6. Keputusan
Ho diterima karena berada pada daerah penerimaan
7. Kesimpulan
2
hitung <
2
tabel ,
229
Data berdistribusi normal
Lampiran 26
UJI NORMALITAS DATA POSTES KELAS KONTROL
1. Hipotesis :
Ho : data populasi berdistribusi normal
Ha : Data populasi tidak berdistribusi normal
2. Taraf Signifikasi
α =5% = 0,05
3. Uji Statistik
Rumus yang digunakan:
4. Perhitungan
Dari data diperoleh:
Kelas
BB/BA
zi
Luas
55.5
-2.5037
0.4938
56-60
60.5
-1.7641
0.4608
65.5
-1.0244
0.3461
61-65
66-70
70.5
-0.2848
0.45488
1.19453
1.93417
(OiEi)^2/Ei
0.033
1.32
2
0.3503
0.1147
4.588
5
0.037
0.4564
18.256
8
5.7617
0.2839
11.356
10
0.16192
0.2094
8.376
11
0.82204
0.0902
3.608
4
0.04259
0.383
81-85
85.5
Oi
0.1736
76-80
80.5
Ei
0.1103
71-75
75.5
Luas
antar
batas
0.4732
7.17554
5. Daerah Kritik
| 2|
2
hit >
2
tab|
Pada α=5% diperoleh
2
(0.05)(3)=
7.81
6. Keputusan
Ho diterima karena berada pada daerah penerimaan
7. Kesimpulan
2
hitung <
2
tabel ,
230
Data berdistribusi normal
Lampiran 27
UJI KESAMAAN DUA VARIAN PRETES DAN POSTES KELAS KONTROL
1. Hipotesis :
Ho : σ1 = σ2
Ha : σ1 ≠ σ2
2. Taraf Signifikasi
α =5% = 0,05
3. Uji Statistik
Rumus yang digunakan:
4. Perhitungan
Dari data diperoleh:
Sumber variasi
Jumlah
N
Pretes
1446
40
36.15
Postes
2897
40
72.425
Varians (s2)
Standart Deviasi (s)
72.49
8.51
45.73
6.76
5. Daerah Kritik
Fhitung < Fα(nb-1)(nk-1)
Pada α=5% diperoleh F(0.05)(39)(39) = 1.69
6. Keputusan
Ho diterima karena berada pada daerah penerimaan F hitung < F tabel ,
7. Kesimpulan
Sampel mempunyai variansi yang tidak berbeda (sama)
231
Lampiran 28
UJI PENINGKATAN HASIL BELAJAR KELAS KONTROL
1. Hipotesis :
Ho : tidak ada peningkatan hasil belajar yang signifikan
2. Taraf Signifikasi
α =5% = 0,05
3. Uji Statistik
Rumus yang digunakan:
thitung =
X1  X 2
1
1 

s  
n
n
2 
 1
2
2
dengan s = n1  1s1  n 2  1s 2
n1  n 2  2
4. Perhitungan
Dari data diperoleh:
Sumber variasi
Jumlah
N
Pretes
1446
40
36.15
Postes
2897
40
72.425
Varians (s2)
Standart Deviasi (s)
72.49
8.51
45.73
6.76
5. Daerah Kritik
- ttabel < thitung < ttabel
Pada α=5% dengan dk = 40 + 40 – 2 = 78 diperoleh t(0.975)(78) = 2.00
Daerah penolakan Ho
Daerah penolakan Ho
Daerah penerimaan Ho
-2.0
2.0
6. Keputusan
Ho ditolak karena berada pada daerah penolakan t hitung > t tabel ,
7. Kesimpulan
Ada peningkatan hasil belajar yang signifikan
232
Lampiran 29
UJI KESAMAAN DUA VARIAN KELAS KONTROL DAN KELAS EKSPERIMEN
1. Hipotesis :
Ho : σ1 = σ2
Ha : σ1 ≠ σ2
2. Taraf Signifikasi
α =5% = 0,05
3. Uji Statistik
Rumus yang digunakan:
4. Perhitungan
Dari data diperoleh:
Sumber variasi
Jumlah
N
Kelas Kontrol
2897
40
72.425
Kelas Eksperimen
2856
38
75.15
Varians (s2)
Standart Deviasi (s)
45.73
6.76
61.21
7.82
5. Daerah Kritik
Fhitung < Fα(nb-1)(nk-1)
Pada α=5% diperoleh F(0.05)(37)(39) = 1.69
6. Keputusan
Ho diterima karena berada pada daerah penerimaan F hitung < F tabel ,
7. Kesimpulan
Sampel mempunyai variansi yang tidak berbeda (sama)
233
Lampiran 30
UJI RATA-RATA DUA KELAS
1. Hipotesis :
Ho : μ1 = μ2
Ha : μ1 > μ2
2. Taraf Signifikasi
α =5% = 0,05
3. Uji Statistik
Rumus yang digunakan:
thitung =
X1  X 2
1
1 

s  
 n1 n 2 
2
2
dengan s = n1  1s1  n 2  1s 2
n1  n 2  2
4. Perhitungan
Dari data diperoleh:
Sumber variasi
Jumlah
N
Kelas Kontrol
2897
40
72.425
Kelas Eksperimen
2856
38
75.15
Varians (s2)
Standart Deviasi (s)
45.73
6.76
61.21
7.82
5. Daerah Kritik
- ttabel < thitung < ttabel
Pada α=5% dengan dk = 38 + 40 – 2 = 76 diperoleh t(0.95)(68) = 1,66
Daerah penolakan Ho
Daerah penolakan Ho
Daerah penerimaan Ho
1,66
1,66
6. Keputusan
Ho diterima karena berada pada daerah penerimaan t hitung < t tabel ,
thitung < t(0.975)(68) ; -1,66 < thitung < 1,66
7. Kesimpulan
Tidak ada perbedaan rata-rata yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol
234
Lampiran 31
Analisis Kemampuan Metakognisi Siswa Kelas Eksperimen
Kode
1
E - 01
E - 02
E - 03
E - 04
E - 05
E - 06
E - 07
E - 08
E - 09
E - 10
E - 11
E - 12
E - 13
E - 14
E - 15
E - 16
E - 17
E - 18
E - 19
E - 20
E - 21
E - 22
E - 23
E - 24
E - 25
E - 26
E - 27
E - 28
E - 29
E - 30
E - 31
E - 32
E - 33
E - 34
E - 35
E - 36
E - 37
E - 38
2
1
2
1
1
1
1
2
2
1
1
1
1
1
3
1
1
3
5
3
2
1
2
5
3
5
3
1
1
5
1
1
5
2
1
3
2
2
Jumlah
Indikator
Skor
79
1
79
b
5
5
3
3
3
1
2
3
1
4
1
3
2
5
3
3
5
5
5
3
5
5
3
1
3
2
4
3
2
5
1
1
5
5
4
2
4
2
a
1
5
5
5
5
5
1
5
5
5
5
5
5
1
1
5
1
5
5
5
5
5
1
1
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
1
5
1
b
1
4
1
4
2
4
4
1
5
5
5
1
4
4
4
3
4
3
4
1
4
4
4
4
1
1
5
1
1
5
5
4
5
5
3
1
3
0
Data Pretes Kelas Ekserimen
Nomor Butir Soal
4
5
a
b
c
d
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
2
1
1
1
1
2
5
1
1
1
2
5
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
2
1
1
1
1
2
1
1
0
1
1
5
1
1
1
2
1
1
1
1
2
5
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
5
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
0
2
1
1
1
1
2
5
1
0
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
5
5
5
2
1
5
5
1
1
1
5
5
1
1
2
1
1
0
1
3
5
5
1
1
2
1
1
1
1
1
5
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
0
2
5
5
1
1
1
5
5
1
1
2
5
5
1
2
1
1
1
1
0
2
1
1
1
1
2
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
5
1
1
1
122
154
120
59
2
A
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
3
5
5
5
4
5
5
5
5
5
5
4
5
5
5
4
5
5
5
5
1
5
5
4
5
4
5
179
2
301
3
3
534
98
66
37
36
4
74
6
7
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1
0
38
31
8
9
a
1
5
5
5
5
0
0
5
5
5
5
1
5
1
5
5
5
5
5
5
1
5
2
5
5
5
1
5
1
1
5
5
5
5
5
5
5
5
b
5
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
5
1
0
0
1
0
0
2
0
0
2
1
2
4
0
1
1
1
1
1
4
5
1
0
0
1
149
49
5
410
10
a
5
5
5
5
5
0
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
0
5
5
5
5
5
5
5
5
0
0
5
5
0
5
5
5
0
5
1
5
5
b
0
1
1
1
1
0
1
1
0
1
1
0
1
1
1
1
0
1
0
1
0
1
1
1
1
0
1
1
0
0
0
1
1
0
1
1
0
1
a
0
0
1
1
2
0
0
0
0
1
2
0
0
1
2
1
1
1
0
1
0
1
1
1
1
0
1
0
2
2
0
1
0
1
0
1
1
1
156
25
28
b
0
0
1
1
2
0
0
0
0
1
2
0
0
1
2
1
1
1
0
1
0
1
1
1
1
0
1
0
2
2
0
1
0
1
0
1
1
1
28
6
56
235
Kode
1
E - 01
E - 02
E - 03
E - 04
E - 05
E - 06
E - 07
E - 08
E - 09
E - 10
E - 11
E - 12
E - 13
E - 14
E - 15
E - 16
E - 17
E - 18
E - 19
E - 20
E - 21
E - 22
E - 23
E - 24
E - 25
E - 26
E - 27
E - 28
E - 29
E - 30
E - 31
E - 32
E - 33
E - 34
E - 35
E - 36
E - 37
E - 38
5
5
5
5
5
1
1
2
5
5
2
5
5
5
5
4
1
5
5
5
5
5
2
5
5
5
3
5
5
5
2
5
5
2
5
3
5
5
Jumlah
Indikator
Skor
158
1
158
2
A
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
190
2
380
3
b
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
a
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
b
5
5
5
5
4
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
190
190
189
Data Postes Kelas Eksperimen
Nomor Butir Soal
4
5
a
b
c
d
5
5
5
0
5
5
5
5
5
5
5
5
5
1
5
5
5
5
0
5
5
5
5
5
5
2
5
5
0
1
2
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
1
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
1
5
5
5
5
0
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
2
5
5
5
5
5
5
5
0
5
1
5
5
0
5
2
5
5
5
5
2
5
5
5
5
2
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
2
5
5
5
5
2
5
5
1
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
0
5
5
5
5
1
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
1
5
5
5
5
5
5
1
1
5
5
5
5
5
5
2
5
5
5
1
155
3
1041
190
186
131
182
4
271
6
7
8
2
4
1
2
1
1
1
2
2
5
2
1
3
2
4
2
2
1
1
4
2
4
4
4
1
5
2
2
3
2
2
2
2
1
5
3
1
1
5
5
1
5
5
1
1
5
5
5
5
2
1
5
2
5
5
5
5
5
5
5
2
1
5
5
5
5
4
5
4
1
5
5
1
5
4
0
a
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
89
145
190
9
10
b
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
0
4
4
a
5
5
0
5
5
5
1
5
5
5
5
5
5
5
5
5
0
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
1
5
5
b
4
1
0
2
1
1
0
1
1
0
1
1
1
1
1
2
0
2
4
2
0
1
1
2
0
0
1
1
0
0
0
2
5
0
2
1
2
1
a
1
1
1
2
5
0
0
0
5
0
1
0
5
5
5
0
0
5
0
5
5
1
5
1
5
0
5
0
5
1
0
0
0
1
5
0
5
5
b
1
1
1
2
5
0
0
0
5
0
1
0
0
5
5
0
0
5
0
5
0
1
5
1
5
0
5
0
5
1
0
0
0
1
5
0
5
5
183
5
735
172
45
85
6
160
75
236
Lampiran 32
Analisis Kemampuan Metakognisi Siswa Kelas Kontrol
Data Pretes Kelas Kontrol
Nomor butir soal
Kode
1
K1
K2
K3
K4
K5
K6
K7
K8
K9
K 10
K 11
K 12
K 13
K 14
K 15
K 16
K 17
K 18
K 19
K 20
K 21
K 22
K 23
K 24
K 25
K 26
K 27
K 28
K 29
K 30
K 31
K 32
K 33
K 34
K 35
K 36
K 37
K 38
K 39
K 40
5
2
2
1
1
1
1
5
2
1
5
2
5
2
3
1
1
2
0
3
1
1
2
5
3
3
3
3
1
5
1
1
1
2
1
1
1
2
2
1
Jumlah
Indikator
Skor
85
1
85
2
A
5
5
5
2
5
5
4
5
5
2
5
3
4
5
5
4
5
4
4
2
5
5
4
5
2
2
4
2
5
5
5
5
5
5
4
2
4
5
4
5
3
b
5
5
5
2
5
5
3
5
5
2
5
3
2
5
3
3
5
3
2
2
5
5
3
1
3
2
4
2
5
5
5
5
5
5
4
2
4
2
3
5
167
2
217
150
4
a
5
5
5
5
5
5
1
5
5
1
5
1
5
5
1
5
1
1
5
5
5
5
1
1
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
1
5
1
5
1
b
5
4
4
0
2
4
4
5
5
0
5
1
0
4
4
3
4
3
0
1
4
4
4
0
1
1
5
1
4
5
5
4
4
5
3
1
3
0
0
3
a
1
2
2
2
2
1
1
2
2
1
2
2
1
2
1
1
1
2
2
1
2
1
1
1
2
1
2
1
2
1
2
2
2
1
2
2
2
1
2
1
b
1
1
1
1
5
1
5
1
1
5
1
5
1
1
5
5
1
1
5
1
1
5
5
5
1
1
1
1
1
1
5
5
1
1
1
1
1
5
5
1
156
115
62
3
574
96
5
c
1
1
1
1
5
1
5
1
1
1
1
1
1
1
5
5
1
1
0
1
1
5
5
1
1
1
1
1
1
1
5
5
1
1
1
1
1
1
1
1
71
d
1
1
1
1
5
1
5
1
1
1
1
1
1
1
5
5
1
1
0
1
1
5
5
1
0
1
1
1
1
1
5
5
1
1
1
1
1
1
5
1
74
6
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
0
2
2
1
0
1
1
1
1
1
1
38
4
79
7
8
2
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
0
0
1
1
1
1
1
1
0
0
0
1
0
1
1
1
1
1
1
a
1
1
5
5
5
0
1
2
5
1
1
1
5
1
5
5
5
1
0
0
1
5
2
5
5
5
1
5
1
5
5
5
0
5
1
0
1
5
1
1
41
29
109
9
10
b
5
1
5
1
5
0
3
0
0
1
0
1
5
1
5
5
5
0
0
0
0
5
2
1
1
1
0
1
1
5
5
5
0
5
0
0
0
1
0
0
a
5
1
5
1
5
0
5
5
5
1
5
1
0
5
5
5
1
5
0
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
0
5
5
5
1
5
1
0
5
1
5
b
0
1
0
1
1
0
1
0
0
1
0
0
0
1
1
1
0
1
0
0
0
1
1
1
0
1
1
0
0
0
1
1
1
0
1
1
0
1
1
1
a
1
2
1
2
1
0
0
0
1
2
1
0
1
2
2
2
1
1
0
0
2
1
1
1
1
0
1
0
2
2
1
1
1
1
0
1
1
1
2
2
76
5
379
143
22
42
b
1
2
1
2
1
0
0
0
1
2
1
0
1
2
2
2
1
1
0
0
2
1
1
1
1
0
1
0
2
2
1
1
1
1
0
1
1
1
2
2
42
6
84
237
Data Postes Kelas Kontrol
Nomor Butir Soal
Kode
1
K1
K2
K3
K4
K5
K6
K7
K8
K9
K 10
K 11
K 12
K 13
K 14
K 15
K 16
K 17
K 18
K 19
K 20
K 21
K 22
K 23
K 24
K 25
K 26
K 27
K 28
K 29
K 30
K 31
K 32
K 33
K 34
K 35
K 36
K 37
K 38
K 39
K 40
5
5
5
2
5
5
1
5
5
2
5
3
5
5
1
5
2
5
5
3
5
5
2
5
5
5
1
5
1
5
2
5
2
5
1
5
5
5
1
5
Jumlah
Rata-rata
Indikator
Skor
154
3.85
1
154
2
3
A
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
b
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
200
5
200
5
2
400
4
a
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
b
5
5
5
10
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
4
5
5
0
5
5
0
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
a
5
3
5
2
5
5
2
2
5
1
5
5
5
3
5
5
5
1
5
5
3
2
5
1
2
5
4
2
2
5
5
5
5
3
2
5
3
5
2
5
b
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
200
5
194
4.85
150
3.75
3
1062
200
5
5
6
c
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
1
5
5
1
5
5
5
5
5
5
5
1
5
5
5
5
d
1
1
1
1
5
1
5
1
1
5
1
1
1
5
5
5
1
5
0
5
1
5
5
5
1
5
5
0
5
5
5
1
5
5
5
1
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
2
5
5
5
5
5
5
5
2
5
5
5
5
5
5
5
2
2
2
5
5
5
5
5
5
5
2
1
4
4
1
2
1
1
2
1
2
2
1
2
2
1
2
4
1
3
5
2
2
1
2
1
1
2
2
5
4
1
2
2
2
2
1
1
2
5
188
4.7
130
3.25
185
4.62
84
2.1
4
269
7
8
9
10
5
5
1
3
5
4
5
4
1
5
2
5
1
3
5
1
5
3
0
1
3
0
1
4
0
3
5
0
2
5
5
5
2
5
2
3
5
5
5
1
a
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
0
5
5
1
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
b
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
a
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
b
1
1
0
4
0
1
1
1
4
1
1
1
0
4
1
1
1
1
0
1
1
0
1
1
4
1
1
4
1
0
1
1
4
4
1
4
1
1
1
2
a
5
5
5
0
5
1
0
5
0
1
0
1
1
2
2
1
0
5
0
5
1
1
5
1
0
5
1
0
0
0
5
0
0
2
0
1
0
1
0
1
b
5
5
5
0
5
1
0
5
0
1
0
1
1
2
2
1
0
5
0
5
1
1
5
1
0
5
1
0
0
0
5
0
0
2
0
1
0
1
0
1
125
3.12
191
4.77
200
5
5
775
200
5
59
1.47
68
1.7
68
1.7
6
136
238
Lampiran 33
Indikator
metakognisi
Menyatakan
tujuan
Mengetahui
tentang apa
dan
bagaimana
Mengidentifi
kasi
informasi
Memilih
operasi/prose
dur yang
dipakai
Mengurutkan
operasi yang
digunakan
Merancang
apa yang
akan
dipelajari
Uji N-gain kemampuan metakognisi siswa
Skor pretes Skor postes
N-gain
Tingkat
Eksperimen pencapaian
E
K
E
K
79
85
158
154
0,71
Tinggi
N-gain
Kontrol
0,6
Tingkat
pencapaian
Sedang
301
317
380
400
1
Tinggi
1
Tinggi
534
574
1041
1062
0,83
Tinggi
0,78
Tinggi
74
79
271
269
0,64
Sedang
0,59
Sedang
410
379
735
775
0,60
Sedang
0,63
Sedang
56
84
160
136
0,32
Sedang
0,16
Rendah
Indikator
Eksperimen
Rata-rata
Keterangan
Menyatakan
4,15
Indikator
tujuan
tercapai
Mengetahui
5
Indikator
tentang apa dan
tercapai
bagaimana
Mengidentifikas
4,56
Indikator
i informasi
tercapai
Memilih
3,56
Sebagian besar
operasi/prosedur
indikator
yang dipakai
tercapai
Mengurutkan
3,86
Sebagian besar
operasi
yang
indikator
digunakan
tercapai
Merancang apa
2,10
Sebagian kecil
yang
akan
indikator
dipelajari
tercapai
Rata-rata
3,85
5
Kontrol
Keterangan
Sebagian besar
indikator tercapai
Indikator tercapai
4,42
Indikator tercapai
3,36
Sebagian besar
indikator tercapai
3,87
Sebagian besar
indikator tercapai
1,7
Tidak mencapai
indikator
metakognisi
239
Lampiran 34
No
A
B
C
D
Karakter
KRITERIA PENILLAIAN ASPEK AFEKTIF
Rubrik Pengamatan Karakter
Deskripsi
Indikator yang mungkin muncul
Rasa ingin tahu
Bekerjasama
Tanggung jawab
Kreatif
Sikap dan tindakan yang
selalu berupaya untuk
mengetahui lebih
mendalam dan meluas
dari sesuatu yang
dipelajari, dilihat, dan
didengar.
Sikap dan perilaku
menunjukkan
kemampuan berinteraksi
dalam kelompok
Membaca sumber dari buku teks
Sikap dan perilaku
seseorang dalam
melaksanakan tugas dan
kewajibannya terhadap
diri sendiri, masyarakat,
lingkungan (alam, social
dan budaya), Negara dan
Tuhan YME
Berpikir dan melakukan
sesuatu untuk
menghasilkan cara atau
hasil baru dari sesuatu
yang telah dimiliki.
Dapat dipercaya dalam mengerjakan
tugas baik kelompok maupun mandiri
Membaca sumber diluar buku teks
tentang materi yang tekait dengan
pelajaran
Bertanya kepada teman
Membantu teman satu kelompok
Membagi tugas dalam kelompok
Mengorganisir kelompoknya
Dapat menyelesaikan tugas dengan
lengkap
Dapat menyelesaikan tugas tepat
waktu
Menemukan cara sendiri dalam
memecahkan sebuah perrmasalahan /
soal.
Menciptakan permainan sederhana
yang berkaitan dengan materi
pelajaran.
Menciptakan situasi belajar yang bisa
menumbuhkan daya pikir dan
bertindak kreatif.
Pedoman penskoran
4
: jika semua indikator muncul
3
: jika dua indikator muncul
2
: jika satu indikator muncul
1
: jika tidak ada indikator yang muncul
No
Karakter
Rubrik Pengamatan Keterampilan Sosial
Indikator yang mungkin muncul
Gradasi tingkat
ketercapaiaan
240
E
F
G
Memperhatikan
Mendengarkan teman yang sedang 4 = apabila semua
penjelasan
orang menyampaikan hasil
indikator muncul
lain
Mendengarkan teman yang sedang 3 = apabila 3
indikator muncul
mengajukan pertanyaan
2 = apabila 2
Mendengarkan jawaban teman
indikator muncul
Mendengarkan pendapat pro maupun 1 = apabila 1
kontra
indikator muncul
Mengemukakan
Berpendapat dengan mengacungkan 4 = apabila semua
pendapat
jari
indikator muncul
Mengemukakan
pendapat
setelah 3 = apabila 3
indikator muncul
dipersilahkan
Pendapat disampaikan dengan runtut 2 = apabila 2
indikator muncul
dan jelas
Pendapat logis dan sesuai dengan topic 1 = apabila 1
indikator muncul
bahasan yang dibahas
Bertanya
Bertanya dengan mengacungkan jari
4 = apabila semua
indikator muncul
Memulai
pertanyaan
setelah
3 = apabila 3
dipersilahkan
indikator muncul
Pertanyaan disampaikan dengan runtut 2 = apabila 2
dan jelas
indikator muncul
Pertanyaan logis sesuai dengan topik 1 = apabila 1
bahasan yang dibahas
indikator muncul
Kriteria Hasil Belajar Afektif
Rata- rata skor
Kriteria
responden
24 – 28
Sangat Baik/Sangat layak
19 – 23
Baik/Layak
14 – 18
Cukup
7 – 13
Kurang
Kriteria Hasil Belajar Afektif Tiap Aspek
Eksperimen
Kontrol
Jumlah skor tiap
Kriteria
Jumlah
aspek
Sakor tiap
Aspek
124 – 152
Sangat Baik
131-160
95 – 123
Baik
101-130
66 – 94
Cukup
71-100
38 – 65
Kurang
40-70
Skor akhir
A
B
C
D
Kriteria
Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
241
Lampiran 35
ANALISIS ASPEK AFEKTIF
ANALISIS ASPEK AFEKTIF KELAS EKSPERIMEN
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
Kode
Karakter
Keterampilan Sosial
E1
E2
E3
E4
E5
E6
E7
E8
E9
E 10
E 11
E 12
E 13
E 14
E 15
E 16
E 17
E 18
E 19
E 20
E 21
E 22
E 23
E 24
E 25
E 26
E 27
E 28
E 29
E 30
E 31
E 32
E 33
E 34
E 35
E 36
E 37
E 38
Jumlah
A
4
4
2
2
3
2
1
1
3
4
2
3
3
4
3
3
3
2
4
3
3
3
3
2
2
3
3
3
4
3
1
2
4
3
3
2
3
2
105
B
3
4
3
4
4
2
3
3
4
4
3
3
3
4
3
3
3
3
4
2
4
3
3
3
3
4
3
4
3
3
4
3
4
3
4
3
3
4
126
C
4
3
4
4
4
3
3
3
3
4
3
4
4
3
3
4
3
3
4
4
4
4
3
4
4
3
4
3
4
3
3
4
4
4
3
3
4
4
135
D
4
2
1
3
3
2
3
2
4
3
3
1
2
3
1
2
2
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
2
2
2
2
2
3
3
2
3
2
2
95
E
4
4
3
3
4
4
3
3
3
4
3
4
4
4
3
4
4
4
4
4
3
4
3
3
3
4
4
3
4
3
3
4
4
4
4
4
3
4
137
F
3
3
3
2
3
3
3
3
2
4
2
3
3
4
3
3
2
3
4
2
4
3
2
3
2
3
3
4
3
3
3
3
4
3
3
3
3
4
114
G
4
3
2
3
4
0
2
3
3
2
3
4
3
0
3
0
3
2
3
4
2
3
3
2
3
3
4
3
4
3
2
4
4
0
3
2
4
0
100
keterangan
Baik
Sangat
baik
Sangat
baik
Baik
Sangat
baik
Baik
Baik
Jumlah
26
23
18
21
25
16
18
18
22
25
19
22
22
22
19
19
20
20
26
21
23
23
20
20
20
23
24
22
24
20
18
22
27
20
22
20
22
20
Keterangan
Sangat Baik
Baik
cukup
Baik
Sangat Baik
cukup
cukup
cukup
Baik
Sangat Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Sangat Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Sangat Baik
Baik
Sangat Baik
Baik
cukup
Baik
Sangat Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
242
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
Kode
K1
K2
K3
K4
K5
K6
K7
K8
K9
K 10
K 11
K 12
K 13
K 14
K 15
K 16
K 17
K 18
K 19
K 20
K 21
K 22
K 23
K 24
K 25
K 26
K 27
K 28
K 29
K 30
K 31
K 32
K 33
K 34
K 35
K 36
K 37
K 38
K 39
K 40
Jumlah
keterangan
A
4
3
3
2
4
3
3
3
2
3
3
3
2
4
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
4
3
3
4
4
3
3
4
2
3
2
2
3
4
122
Baik
ANALISIS ASPEK AFEKTIF KELAS KONTROL
Karakter
Keterampilan sosial
B
C
D
E
F
G
4
4
3
4
3
4
3
3
2
3
3
3
3
3
1
3
3
3
3
3
2
4
3
3
4
4
3
4
4
3
2
3
2
3
2
1
3
3
1
3
3
3
3
4
1
3
3
2
3
3
2
4
3
1
3
4
1
3
3
1
4
3
2
3
4
3
3
3
2
4
3
3
3
3
2
4
3
3
3
4
2
4
3
2
4
3
2
3
4
1
3
3
2
2
3
2
2
3
2
3
2
3
4
3
2
3
4
2
3
3
3
3
3
1
4
3
2
4
3
3
4
4
2
4
3
2
4
3
2
4
3
3
3
4
2
3
3
1
3
3
3
3
4
1
3
4
2
4
3
1
3
3
2
3
4
1
2
3
3
2
2
2
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
4
3
4
4
3
4
4
2
4
4
3
3
3
1
3
3
3
4
3
2
3
4
3
4
4
3
4
4
4
3
3
1
2
3
2
3
3
2
3
4
3
3
3
1
4
3
1
2
4
1
4
2
2
3
3
2
3
3
3
4
3
3
4
4
3
129
132
81
134
128
94
Baik Baik Cukup Sangat Baik Cukup
Baik
Jumlah
26
20
19
20
26
16
19
19
18
18
22
21
20
22
20
17
18
21
19
22
22
22
19
20
21
19
18
20
21
26
25
19
22
27
16
21
17
17
20
25
Keterangan
Sangat Baik
Baik
Baik
Baik
Sangat Baik
Cukup
Baik
Baik
Cukup
Cukup
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Cukup
Cukup
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Cukup
Baik
Baik
Sangat Baik
Sangat Baik
Baik
Baik
Sangat Baik
Cukup
Baik
Cukup
Cukup
Baik
Sangat Baik
243
Lampiran 36
RUBRIK PENILAIAN ASPEK PSIKOMOTORIK
No
I
II
Dimensi Kerja Yang
Dinilai
Ketercapaian Kinerja Paling Tinggi
Skor
Menyiapkan Praktikum
1. Menyiapkan alat yang Menyiapkan alat yang lengkap terdiri atas Diamati kelengkapan dan ketepatan alat yang
akan digunakan
gelas ukur, erlenmeyer, tabung reaksi, dan digunakan.
buret
Tingkat ketercapaian :
4 : lengkap dan tepat.
3 : kurang satu alat, dan tepat.
2 : lengkap, tidak tepat.
1 : tidak lengkap dan tidaktepat
2. Menyiapkan zat yang Menyiapkan
larutan
kerja
yang Diamati kelengkapan zat yang akan digunakan.
akan digunakan.
lengkap:terdiri atas: air sadah, air sumur, air Tingkat ketercapaian :
suling, air sabun, dan larutan Na2CO3 0,1 M 4 : lengkap.
3 : kurang satu larutan
2 : kurang dua larutan
1 : kurang lebih dari 2 larutan.
Keterampilan Proses
1. Keterampilan
Merangkai alat dengan baik, posisi buret Diamati teknik dan cara merangkai alat untuk titrasi,
merangkai alat
tegak lurus, posisi erlenmeyer di bawah pastikan posisi buret lurus, tidak bocor.
praktikum
buret, dengan senter mata buret. Tangan kiri Tingkat ketercapaian:
mengendalikan pengunci buret, tangan 4 : teknik dan cara benar, posisi buret sempurna.
kanan
mnggoyangkan
erlenmeyer, 3 : teknik dan cara benar, posisi buret tak sempurna.
penambahan volume titran tetes-tetes. Lihat 2 : teknik benar, caranya salah, posisi buret tak
Gambar!
sempurna.
1 : bila teknik dan cara
salah.
244
2. Keterampilan menuang Menuang larutan baku ke dalam buret
larutan ke dalam buret
dengan menggunakan corong, larutan baku
dipindahkan dari gelas ukur 100 ml ke dalam
buret sampai tanda batas. Lihat Gambar di
bawah ini
Diamati teknik dan cara menuang larutan baku ke
dalam buret, volume tepat pada tanda batas.
Tingkat ketercapaian :
4: Teknik dan cara benar, volume tepat,
3 : teknik dan cara benar,volume kurang tepat.
2 : teknik benar, cara salah, volume kurang tepat.
1 : teknik,cara salah.
2. Keterampil
Diamati urutan langkah kerja, teknik dan cara titrasi
Menggunakan alat dengan benar, tangan kiri
245
menggunakan alat untuk mengendalikan kunci buret untuk mengatur
mengidentifikasi
volume air sabun secara tetes-tetes, tangan
kesadahan air
kanan memegang leher erlenmeyer yang
berisi sampel air dan menggoyangnya
supaya larutan bercampur merata. Titrasi
diakhiri setelah bentuk busa.
3. Keterampilan
melakukan pengamatan
Mengamati volume air sabun yang sudah
digunakan dalam buret, posisi mata sejajar
dengan permukaan larutan minuskus bawah,
mengamati terbentuknya busa.
Tingkat ketercapaian :
4 : langkah kerja urut, teknik benar, cara benar.
3 : langkah kerja urut, teknik benar, cara salah.
2 : langkah kerja urut, teknik salah, cara salah.
1 : langkah kerja tidak urut, teknik salah, cara salah.
Diamati perubahan warna indikator, dan cara
pengatannya.
Tingkat ketercapaian :
4 : pengamatan teliti, caranya benar, hasil pengamatan
tepat.
3 : pengamatan teliti, caranya benar, hasil
pengamatannya tidak tepat
2 : pengamatan teliti, caranya salah.
1 : pengamatan dan carany
salah.
246
III
IV
Membuat
Laporan
Sementara
1.
Membuat
laporan Membuat laporan
sementara.
lengkap dan jelas.
Aktifitas
Selesai
Praktikum
1. Menuang sisa larutan di
tempatnya.
sementara
dengan Diamati kelengakapan dan kejelasan laporan
Tingkat ketercapaian :
4 : membuat laporan dengan lengkap dan jelas.
3 : membuat laporan dengan lengkap tetapi kurang
jelas
2 : laporan kurang lengkap dan jelas
1 : laporan kurang lengkap dan kurang jelas.
Menuang sisa larutan kerja ditempat yang
sudah disediakan, dengan cara hati-hati
jangan sampai tumpah di sekitar tempat
yang disediakan.
Diamati dimana praktikan membuang sisa larutan
kerja.
Tingkat ketercapaian :
4 : Menuang ditempatnya.
3 : sebagian dibuang ditempat pencucian.
2 : semua dibuang.
1 : larutan baku dikembalikan ketempat semula.
2. Membersihkan alat-alat. Membersihkan
alat-alat
yang
telah Diamati semua alat yang telah digunakan, pastikan
digunakan dengan baik dan benar. semuanya bersih, dan tanpa cacat.
Membersihkan tabung reaksi menggunakan Tingkat ketercapaian :
sabun cair dan sikat panjang.
4 : semua alat utuh dan bersih.
247
3. Mengembalikan alat
ketempatnya.
3 : alat tidak utuh bersih.
2 : alat ada yang pecah,bersih.
1 : alat tidak utuh kurangbersih
Mengembalikan semua alat dan menyusun Diamati jumlah alat yang diambil untuk praktikum,
alat yang telah dibersihkan, ke tempat jumlahnya harus sama dengan yang dikembalikan,
semula.
pastikan semua alat-alat yang telah digunakan dalam
keadaan bersih dan utuh.
Tingkat ketercapaian :
4 : jika jumlah alat komplit, bersih, disusun seperti
semula.
3 : jumlah alat komplit, kurang bersih, disusun seperti
semula.
2 : alat tidak utuh bersih, disusun seperti semula.
1 : alat tidak utuh, kurang bersih, tidak disusun seperti
semula.
248
Lampiran 37
ANALISIS ASPEK PSIKOMOTORIK
Analisis Aspek Psikomotorik (kelas Eksperimen)
Kode
E1
E2
E3
E4
E5
E6
E7
E8
E9
E 10
E 11
E 12
E 13
E 14
E 15
E 16
E 17
E 18
E 19
E 20
E 21
E 22
E 23
E 24
E 25
E 26
E 27
E 28
E 29
E 30
E 31
E 32
E 33
E 34
E 35
E 36
E 37
E 38
A
B
5
5
5
3.75
5
5
3.75
5
3.75
3.75
5
5
3.75
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
3.75
5
3.75
5
5
5
5
3.75
5
5
3.75
5
5
5
5
5
5
3.75
5
3.75
3.75
5
5
3.75
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
3.75
5
3.75
5
5
5
5
3.75
5
5
3.75
C
D
15
10
15
15
10
10
20
15
15
20
15
10
20
20
10
10
20
15
15
20
10
10
10
20
10
15
15
20
10
20
15
15
15
10
20
20
10
20
E
20
20
20
15
20
20
20
20
20
15
20
20
20
15
20
20
15
15
20
15
20
20
20
15
20
15
15
20
20
20
15
20
20
20
20
15
20
20
15
15
20
20
20
15
10
15
15
15
15
15
15
10
15
15
10
15
15
10
15
15
15
10
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
10
15
10
F
G
H
I
J
Jumlah Kriteria
7.5
10 1.5 2.5
3
84.5 Sangat Baik
10
10 1.5
5
3
84.5 Sangat Baik
7.5 7.5 1.5 3.75
3
88.25 Sangat Baik
10 7.5
1 2.5 2.25
82 Sangat Baik
7.5
5 1.5
5
3
82 Sangat Baik
7.5
5 1.5
5
3
77 Baik
10
10
1 3.75 1.5
83.75 Sangat Baik
7.5
10 1.5 2.5
3
84.5 Sangat Baik
10 7.5 1.5 3.75
3
83.25 Sangat Baik
7.5 7.5
2
5
3
82.5 Sangat Baik
7.5
10 1.5 2.5
3
84.5 Sangat Baik
7.5
5 1.5
5
3
77 Baik
7.5 7.5
1 3.75 1.5
83.75 Sangat Baik
7.5 7.5 1.5 3.75
3
78.25 Baik
5
5
2
5
3
75 Baik
7.5
5 1.5
5
3
77 Baik
7.5 7.5 1.5 3.75
3
78.25 Baik
7.5 7.5 1.5 3.75
3
78.25 Baik
7.5 7.5 1.5 3.75
3
83.25 Sangat Baik
7.5 7.5 1.5
5
3
79.5 Baik
7.5
5 1.5
5
3
77 Baik
5
5
2
5
3
75 Baik
7.5
5 1.5
5
3
77 Baik
7.5 7.5 1.5
5
3
79.5 Baik
5
5
2
5
3
75 Baik
7.5 7.5 1.5 3.75
3
78.25 Baik
7.5 7.5 1.5 3.75
3
78.25 Baik
7.5 7.5
1 3.75 1.5
83.75 Sangat Baik
5
5
2
5
3
75 Baik
7.5 7.5
1 3.75 1.5
83.75 Sangat Baik
7.5 7.5 1.5 3.75
3
78.25 Baik
7.5
10 1.5 2.5
3
84.5 Sangat Baik
7.5 7.5 1.5 3.75
3
83.25 Sangat Baik
7.5
5 1.5
5
3
77 Baik
7.5 7.5
1 3.75 1.5
83.75 Sangat Baik
7.5 7.5 1.5
5
3
79.5 Baik
5
5
2
5
3
75 Baik
10
10
1 3.75 1.5
83.75 Sangat Baik
249
Analisis Psikomotorik Tiap Aspek (Kelas Eksperimen)
No Kode
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
E
1
1
4
4
3
4
3
3
4
3
2
4
E
2
2
4
4
2
4
3
4
4
3
4
4
E3
3
4
4
3
4
4
3
3
3
3
4
E
4
4
3
4
3
3
4
4
3
2
2
3
E5
5
4
4
2
4
4
3
2
3
4
4
E6
6
4
4
2
4
3
3
2
3
4
4
E
7
7
3
3
4
4
2
4
4
2
3
2
E8
8
4
4
3
4
3
3
4
3
2
4
E9
9
3
3
3
4
3
4
3
3
3
4
E
10
10
3
3
4
3
3
3
3
4
4
4
E 11
11
4
4
3
4
3
3
4
3
2
4
E
12
12
4
4
2
4
3
3
2
3
4
4
E
13
13
3
3
4
4
3
3
3
2
3
2
E 14
14
4
4
4
3
2
3
3
3
3
4
E
15
15
4
4
2
4
3
2
2
4
4
4
E
16
16
4
4
2
4
3
3
2
3
4
4
E 17
17
4
4
4
3
2
3
3
3
3
4
E
18
18
4
4
3
3
3
3
3
3
3
4
E
19
19
4
4
3
4
3
3
3
3
3
4
E 20
20
4
4
4
3
2
3
3
3
4
4
E
21
21
4
4
2
4
3
3
2
3
4
4
E 22
22
4
4
2
4
3
2
2
4
4
4
E 23
23
4
4
2
4
3
3
2
3
4
4
E
24
24
4
4
4
3
2
3
3
3
4
4
E 25
25
4
4
2
4
3
2
2
4
4
4
E
26
26
4
4
3
3
3
3
3
3
3
4
E
27
27
4
4
3
3
3
3
3
3
3
4
E 28
28
3
3
4
4
3
3
3
2
3
2
E
29
29
4
4
2
4
3
2
2
4
4
4
E
30
30
3
3
4
4
3
3
3
2
3
2
E 31
31
4
4
3
3
3
3
3
3
3
4
E
32
32
4
4
3
4
3
3
4
3
2
4
E 33
33
4
4
3
4
3
3
3
3
3
4
E 34
34
4
4
2
4
3
3
2
3
4
4
E
35
35
3
3
4
4
3
3
3
2
3
2
E 36
36
4
4
4
3
2
3
3
3
4
4
E 37
37
4
4
2
4
3
2
2
4
4
4
E
38
38
3
3
4
4
2
4
4
2
3
2
Jumlah
143 144 113 141 110 114 109 113 126 139
Keterangan SB SB B
SB B
B
B
B
SB SB
250
Analisis Aspek Psikomotorik (kelas Kontrol)
Kode
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
Jumlah
Kriteria
K1
5
5
20
15
15
5
7.5
2
5
3
82.5
K2
5
5
15
20
10
5
7.5
2
3.75
3
76.25
Baik
K3
5
5
15
15
15
5
5
1.5
3.75
3
73.25
Baik
K4
5
5
15
15
10
7.5
7.5
1.5
5
3
74.5
Baik
K5
5
5
15
20
20
5
7.5
1.5
5
3
87
K6
5
5
10
20
20
7.5
5
1
5
2.25
80.75
Baik
K7
5
5
10
20
20
7.5
5
1.5
5
2.25
81.25
Sangat Baik
K8
5
5
20
15
15
5
7.5
1.5
5
3
82
Sangat Baik
K9
5
5
15
15
20
5
7.5
1.5
5
3
82
Sangat Baik
K 10
5
5
15
20
15
5
5
2
5
3
80
Baik
K 11
5
5
10
20
15
7.5
5
1
5
2.25
75.75
Baik
K 12
5
5
15
20
15
5
5
1.5
5
3
79.5
Baik
K 13
5
5
15
15
10
7.5
7.5
1.5
5
3
74.5
Baik
K 14
5
5
15
15
20
7.5
7.5
1.5
2.5
3
82
Sangat Baik
K 15
5
5
20
20
15
5
5
1.5
2.5
3
82
Sangat Baik
K 16
5
5
15
20
15
5
2.5
1.5
5
3
77
Baik
K 17
5
5
15
15
20
5
5
1.5
5
3
79.5
Baik
K 18
3.75
5
15
20
15
5
7.5
1.5
5
3
80.75
Baik
K 19
5
5
15
15
15
5
5
1.5
3.75
3
73.25
Baik
K 20
3.75
3.75
15
15
20
7.5
7.5
2
5
2.25
81.75
Sangat Baik
K 21
5
5
20
15
10
7.5
7.5
1.5
5
3
79.5
K 22
3.75
3.75
15
20
20
5
5
1.5
5
3
82
K 23
5
3.75
15
15
15
5
5
1.5
5
3
73.25
K 24
5
5
15
15
15
10
7.5
1.5
5
3
82
Sangat Baik
K 25
5
5
15
15
20
7.5
5
1.5
5
3
82
Sangat Baik
K 26
5
5
15
15
20
7.5
7.5
1.5
5
2.25
83.75
Sangat Baik
K 27
5
3.75
10
20
15
5
7.5
1.5
5
3
75.75
Baik
K 28
3.75
5
15
15
15
7.5
5
1.5
5
3
75.75
Baik
K 29
5
3.75
10
20
15
7.5
5
1.5
5
3
75.75
Baik
K 30
5
5
20
15
20
7.5
5
1
5
2.25
85.75
Sangat Baik
K 31
3.75
3.75
15
15
20
7.5
7.5
2
5
3
82.5
Sangat Baik
K 32
5
5
10
15
15
10
7.5
1.5
5
3
77
K 33
5
5
20
20
15
5
5
1.5
5
2.25
83.75
Sangat Baik
K 34
3.75
3.75
20
15
20
7.5
5
2
5
3
85
Sangat Baik
K 35
5
5
10
15
20
2.5
7.5
1.5
5
3
74.5
Baik
K 36
5
5
20
10
15
5
5
1.5
5
3
74.5
Baik
K 37
5
5
15
15
20
5
5
1.5
5
2.25
78.75
Baik
K 38
5
3.75
15
15
15
5
7.5
1.5
5
3
75.75
Baik
K 39
5
5
20
10
20
5
7.5
1
5
3
81.5
Sangat Baik
K 40
3.75
3.75
20
15
15
7.5
7.5
1.5
5
3
82
Sangat Baik
Sangat Baik
Sangat Baik
Baik
Sangat Baik
Baik
Baik
251
Analisis Psikomotorik Tiap Aspek (kelas Kontrol)
No
Kode
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
1
K1
4
4
4
3
3
2
3
4
4
4
2
K2
4
4
3
4
2
2
3
4
3
4
3
K3
4
4
3
3
3
2
2
3
3
4
4
K4
4
4
3
3
2
3
3
3
4
4
5
K5
4
4
3
4
4
2
3
3
4
4
6
K6
4
4
2
4
3
3
2
2
4
3
7
K7
4
4
2
4
3
3
2
3
4
3
8
K8
4
4
4
3
3
2
3
3
4
4
9
K9
4
4
3
3
4
2
3
3
4
4
10
K 10
4
4
3
4
3
2
2
4
4
4
11
K 11
4
4
2
4
3
3
2
2
4
3
12
K 12
4
4
3
4
3
2
2
3
4
4
13
K 13
4
4
3
3
2
3
3
3
4
4
14
K 14
4
4
3
3
4
2
3
3
2
4
15
K 15
4
4
4
4
3
2
2
3
3
4
16
K 16
4
4
3
4
3
1
2
3
4
4
17
K 17
4
4
3
3
3
3
2
3
4
4
18
K 18
3
4
3
4
3
2
3
3
4
4
19
K 19
4
4
3
3
3
2
2
3
3
4
20
K 20
3
3
3
3
4
3
3
4
4
3
21
K 21
4
4
4
3
2
3
3
3
4
4
22
K 22
3
3
3
4
4
2
2
3
4
4
23
K 23
4
3
3
3
3
3
2
3
4
4
24
K 24
4
4
3
3
3
4
3
3
4
4
25
K 25
4
4
3
3
4
3
2
3
4
4
26
K 26
4
4
3
3
4
3
3
3
4
3
27
K 27
4
3
2
4
3
2
3
3
4
4
28
K 28
3
4
3
3
3
3
2
3
4
4
29
K 29
4
3
2
4
3
3
2
3
4
4
30
K 30
4
4
4
3
4
3
2
2
4
3
31
K 31
3
3
3
3
4
3
3
4
4
4
32
K 32
4
4
2
3
3
4
3
3
4
4
33
K 33
4
4
4
4
3
2
2
3
4
3
34
K 34
3
3
4
3
4
3
2
4
4
4
35
K 35
4
4
2
3
4
1
3
3
4
4
36
K 36
4
4
4
2
3
2
2
3
4
4
37
K 37
4
4
3
3
4
2
2
3
4
3
38
K 38
4
3
3
3
3
3
3
3
4
4
39
K 39
4
4
4
2
3
2
3
2
4
4
40
K 40
Jumlah
Keterangan
3
3
4
3
3
3
3
3
4
4
153
151
123
132
128
100
100
122
154
152
SB
SB
B
SB
B
C
C
B
SB
SB
252
Lampiran 38
LEMBAR PENILAIAN DIRI KUESIONER SISWA
Kuesioner penilaian diri ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang proses kognitif
siswa. Pengisian kuesioner berdasarkan petunjuk sebagai berikut:
1. Setiap pernyataan tersedia empat pilihan (SS = sangat setuju, S = setuju, TS = tidak
setuju, STS = sangat tidak setuju). Berilah tanda “v” pada salah satu pilihan yang
tersedia!
2. Jawablah langsung ditulis pada lembar ini.
3. Tuliskan identitas anda.
Nama
No. absen
Kelas
No
:
:
:
Pernyataan
SS
1
2
3
4
5
6
7
Saya dapat mengikuti pelajaran
dengan baik
Saya dapat memahami tujuan
pembelajaran yang selama ini saya
ikuti
Saya dapat menjelaskan konsepkonsep kimia yang selama ini saya
pelajari
Saya menyadari bahwa saya harus
banyak membaca
Saya menyadari sejauh mana saya
bisa megerjakan tugas
Saya dapat memilih langkahlangkah yang dipakai untuk
memecahkan soal
Saya mencari informasi dari
berbagai sumber untuk
memecahkan masalah dan soal-soal
kimia yang ada di LKS
Respon
S
TS
STS
253
Lampiran 39
ANALISIS KUESIONER SISWA
Analisis Kuesioner Siswa Kelas Eksperimen
Kode
A
B
C
D
E
G
3
3
3
3
3
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
1
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
1
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
3
3
3
4
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
2
3
2
3
3
3
4
3
4
3
4
3
3
3
3
3
4
4
4
3
4
4
4
3
3
4
3
4
3
4
4
4
3
3
3
4
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
3
3
3
3
4
4
3
4
3
4
3
3
3
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
2
4
3
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
4
4
3
3
3
3
3
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
4
3
3
3
4
3
3
3
3
3
3
2
3
3
JUMLAH
21
21
21
22
23
18
24
23
21
22
21
21
21
23
23
23
21
23
23
24
21
21
26
21
25
21
22
22
23
21
21
21
23
22
21
19
21
20
varian
0.049
0.130
0.236
0.243
0.132
0.146
0.185
2.29
Jumlah varian
1.126
reliabilitas
0.610
E1
E2
E3
E4
E5
E6
E7
E8
E9
E 10
E 11
E 12
E 13
E 14
E 15
E 16
E 17
E 18
E 19
E 20
E 21
E 22
E 23
E 24
E 25
E 26
E 27
E 28
E 29
E 30
E 31
E 32
E 33
E 34
E 35
E 36
E 37
E 38
F
254
Analisis Kuesioner Siswa Kelas Kontrol
Kode
K1
K2
K3
K4
K5
K6
K7
K8
K9
K 10
K 11
K 12
K 13
K 14
K 15
K 16
K 17
K 18
K 19
K 20
K 21
K 22
K 23
K 24
K 25
K 26
K 27
K 28
K 29
K 30
K 31
K 32
K 33
K 34
K 35
K 36
K 37
K 38
K 39
K 40
varian
Jumlah varian
reliabilitas
1
4
2
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
2
4
3
4
3
4
4
3
3
4
4
3
4
4
3
4
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
2
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
2
1
3
4
4
3
3
3
3
3
4
3
3
3
3
4
3
3
3
3
2
3
2
3
2
3
3
2
2
2
3
3
2
2
2
2
2
2
2
4
2
1
3
3
3
3
3
3
2
2
3
3
3
2
2
4
3
4
2
3
1
2
1
2
3
3
4
4
4
4
3
4
3
4
3
4
4
3
3
4
4
4
4
2
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
4
4
4
4
4
4
4
3
4
4
2
4
2
3
4
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
4
4
3
3
3
3
3
3
3
4
3
4
4
3
3
3
3
3
4
3
2
4
3
3
2
3
3
2
3
2
3
3
2
3
3
2
3
2
1
3
3
4
2
3
3
3
2
3
2
2
3
3
3
3
4
3
3
2
3
2
3
3
3
3
3
3
4
3
3
2
3
3
3
3
3
3
4
3
1
3
4
4
2
3
3
3
2
4
2
2
3
3
4
3
4
3
2
2
4
2
3
2
3
Jumlah
24
19
18
23
19
22
19
21
20
20
21
20
18
25
19
15
22
24
26
21
23
22
21
20
25
20
22
22
22
27
22
25
21
21
17
23
17
20
21
21
0.324
0.359
0.549
0.224
0.324
0.36
0.519
6.31
2.66
0.693
3
4
5
6
7
255
Pernyataan
Saya dapat mengikuti
pelajaran dengan baik
Saya dapat memahami
tujuan pembelajaran yang
selama ini saya ikuti
Saya dapat menjelaskan
konsep-konsep kimia yang
selama ini saya pelajari
Saya menyadari bahwa
saya harus banyak
membaca
Saya menyadari sejauh
mana saya bisa megerjakan
tugas
Saya dapat memilih
langkah-langkah yang
dipakai untuk memecahkan
soal
Saya mencari informasi
dari berbagai sumber untuk
memecahkan masalah dan
soal-soal kimia yang ada di
LKS
Hasil Analisis Kuesioner Siswa
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol
SS
S
TS STS SS
S
TS STS
2
36
0
0
12
25
3
0
1
36
0
1
4
28
7
1
3
31
2
1
3
26
18
3
16
22
0
0
32
7
1
0
6
32
0
0
12
25
3
0
5
32
1
0
2
25
12
1
7
30
1
0
8
21
10
1
Download