perlindungan hukum terhadap anak yang berhadapan dengan

advertisement
JUSTITIA JURNAL HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK YANG
BERHADAPAN DENGAN HUKUM DALAM KECELAKAAN
LALU LINTAS
Laras Astuti
Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Abstract
Traffic accidents can occur in children. Delinquency due to reckless driving does not
respect fellow road users often make children vulnerable to traffic accidents. This study
aims to determine the form of the protection of children in conflict with the law which
caused the death of another person along with recovery efforts. This research is
normative juridical approach statute approach. The results showed that children in
conflict with the legal form of the solution is to use a system of diversion is to perform
the transfer of the case out of the criminal justice system. Restorative justice approach
is used to emphasize the recovery process into its original state in order to fulfill the
rights and obligations of both the children in facing law conflict. Recommendations are
children in conflict with the law should be given protection in order to return in its
original state both physically and psychologically so that kids really can again become
a better person and not repeat their delinquency again.
Key Words: Children, Traffic accident, Legal protection
termasuk AQJ,
A. Pendahuluan
Kecelakaan lalu lintas menjadi hal
yang juga ikut menjadi
korban yang terkena luka dari peristiwa
naas itu.1
yang sering terjadi dan melibatkan anak
baik sebagai korban maupun pelaku. Kasus
Berkaca pada kasus kecelakaan lalu
yang menggemparkan terjadi ketika anak
lintas yang melibatkan anak tersebut
dari musisi kawakan Ahmad Dhani yang
tentunya
berinisial AQJ yang pada saat itu masih
dipersalahkan sepenuhnya kepada anak-
berusia
mobil
anak semata. Orang tua juga memiliki
Mitsubishi Lancer B 80 SAL yang
peran dalam proses tanggung jawab atas
menabrak mobil Toyota Avanza B 1882
apa yang terjadi pada anak-anaknya.
UZJ dan Daihatsu Gran Max B 1349 TFM.
Meskipun tanggung jawab secara pidana
Kejadian ini kemudian disebut sebagai
tidak dapat digantikan sehingga anak tetap
13
tahun
mengendari
tidak
serta
merta
dapat
kecelakaan maut di tol Jagorawi karena
menyebabkan
tujuh
orang
meninggal
1
http://megapolitan.kompas.com/read/201
3/09/26/0257097/Apa.yang.Bisa.Dipetik.dari.Kecel
akaan.Anak.Ahmad.Dhani. Diakses pada Rabu, 21
Desember 2016.
dunia, dan sebelas orang juga luka parah,
144
Volume 1 No.1 April 2017
ISSN Cetak: 2579-9983
E-ISSN: 2579-6380
JUSTITIA JURNAL HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
harus
mempertanggung
jawabkan
menimpanya dan tetap dapat meneruskan
ketika
hidupnya tanpa terikat dengan traumatis
kecelakaan tersebut ternyata memakan
yang mendalam akibat kecelakaan lalu
korban jiwa maupun korban dengan luka-
lintas yang menimpanya.
perbuatannya.
Terlebih
lagi
luka.
Anak yang menjadi pelaku dalam
B. Pembahasan
kecelakaan lalu lintas kemudian dapat
Penyelesaian
disebut sebagai anak yang berhadapan
Berhadapan dengan Hukum dalam Hukum
dengan hukum. Anak yang berhadapan
Positif di Indonesia
dengan hukum2 tentu harus mendapatkan
konsekuensi
atas
apa
yang
terhadap
Anak
yang
Anak yang berhadapan dengan
terjadi
hukum yaitu mereka yang dapat menjadi
kepadanya. Tidak hanya anak sebagai
pelaku, korban, bahkan saksi. Pengaturan
pelaku, korban dan saksi juga memiliki
anak yang berhadapan dengan hukum di
porsi konsekuensi yang harus diperhatikan
Indonesia dikenal dalam Undang-Undang
dan dipertanggungjawabkan.
Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem
Penyelesaian yang baik dan adil
selalu
menjadi
bagian
dari
Peradilan Pidana Anak dimana dijelaskan
bentuk
bahwa yang dimaksud dengan anak yang
konsekuensi atas kecelakaan yang terjadi.
dapat
Dalam penyelesaian tersebut harus dilihat
mereka yang berusia 12 (dua belas) tahun
bagaimana bentuk perlindungan terhadap
tetapi belum berusia 18 (delapan belas)
anak yang berhadapan dengan hukum
tahun. Sedangkan anak yang menjadi
terlebih
korban maupun saksi adalah mereka yang
dalam
kecelakaan
yang
menyebabkan orang lain meninggal dunia
menjadi
pelaku
pidana adalah
belum berusia 18 (delapan belas) tahun.
sehingga hak-hak dan kewajiban para
Proses peradilan pidana merupakan
pihak tetap terpenuhi dan terlindungi
suatu proses yuridis, dimana hukum
dengan
ditegaskkan
sebaik-baiknya.
Yang
lebih
dengan
tidak
penting lagi adalah bagaimana anak yang
mengesampingkan
berhadapan dengan hukum tersebut tetap
mengeluarkan pendapat dan pembelaan
dapat
dimana keputusannya diambil dengan
pulih
atas
kejadian
yang
mempunyai
2
Pasal 1 Butir 2 Undang-Undang Nomor
11 Tahun 2012 bahwa Anak yang Berhadapan
dengan Hukum adalah anak yang berkonflik
dengan hukum, anak yang menjadi korban tindak
pidana, dan anak yang menjadi saksi tindak pidana.
kebebasan
motivasi
mengesampingkan
tertentu.
kebebasan
Selain
dalam
mengeluarkan pendapat dan pembelaan
145
Volume 1 No.1 April 2017
ISSN Cetak: 2579-9983
E-ISSN: 2579-6380
JUSTITIA JURNAL HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
diperlukan
pula
hak-hak
anak
yang
dengan diaturnya pemidanaan anak dalam
seharusnya diperhatikan karena berkaitan
sistem peradilan pidana anak kemudian
dengan perlindungan hukum terhadap
memberikan batasan pertanggungjawaban
anak.3
bagi anak.
Tanggung jawab bukan mutlak
Undang-undang sistem peradilan
menjadi tanggung jawab anak semata
pidana anak memberikan ruang bagi
dalam
pelaku, maupun korban dan saksi untuk
perbuatan
yang
dilakukannya.
Dalam kecelakaan lalu lintas, justru orang
menyelesaikan
tua lah yang memiliki andil terbesar karena
sepanjang kesepakatan terjadi diantara
kelalaian dan keacuhan orang tua yang
mereka. Kesepakatan tersebutlah yang
membiarkan anak yang belum layak untuk
kemudian menjadi modal awal untuk
mengemudi berkeliaran dengan kendaraan
diterapkannya diversi. Hanya saja dalam
bermotor
jalanan,
undang-undang ini diversi baru dapat
meskipun tanggung jawab orangtua tidak
diterapkan5 dimana diversi hanya berlaku
menggantikan pertanggungjawaban pidana
terhadap tindak pidana dengan ancaman
anak sebagai pelaku.
pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun;
secara
bebas
di
Kembali kepada anak, bahwa anak
perkara
secara
damai
dan perbuatan tersebut bukan merupakan
perlu membangun kesadaran berlalu lintas
pengulangan tindak pidana.
dengan menyentuh dunia pendidikan sejak
Pidana
yang dijatuhkan dalam
dini, kesadaran tentang peraturan hukum
kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan
dan
Dengan
meninggalnya orang lain6 yaitu dengan
demikian anak akan mempunyai rasa
pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun
tanggungjawab dalam berkendara.
dan/atau
keselamatan
Kecelakaan
berkendara.
banyak
Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).
mengakibatkan korban meninggal dunia
Menilik dari pidana yang dijatuhkan
termasuk kecelakaan lalu lintas berat.4
tersebut sepanjang kecelakaan tersebut
Sehingga kecelakaan yang melibatkan
merupakan
anak
akan
pertama kali dan bukan pengulangan,
mendapatkan sanksi yang berat. Tetapi
apabila kecelakaan dilakukan oleh anak-
pengemudi
lintas
paling
yang
sebagai
lalu
denda
tentu
perbuatan
yang
dilakukan
5
Pasal 7 ayat (2) Undang-undang Nomor
11 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
6
Lihat dalam Pasal 310 ayat 4 UndangUndang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas
dan Angkutan Jalan
3
Wagiati Soetodjo, 2010, Hukum Pidana
Anak. Bandung. Refika Aditama. Hlm. 29.
4
Pasal 229 ayat 4 Undang-Undang Nomor
22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan
146
Volume 1 No.1 April 2017
ISSN Cetak: 2579-9983
E-ISSN: 2579-6380
JUSTITIA JURNAL HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
anak, maka sesungguhnya diversi dapat
yang kemudian dikenal dengan istilah
dilaksanakan.
meskipun
diversi. Diversi8 merupakan ide dasar
mengakibatkan
untuk menghilangkan dampak negatif dari
Karena
kecelakaan
tersebut
meninggalnya orang lain tetapi ancaman
sistem
pidana penjaranya hanyalah 6 tahun
menghasilkan
maksimal,
kemudian
sedangkan
syarat
untuk
diberlakukannya diversi terhadap tindak
peradilan
pidana
yang
selalu
negatif
yang
anak-anak
sesuai
stigma
melabel
dengan perbuatan yang terjadi kepadanya.
pidana dengan ancaman penjara dibawah 7
Ide dasar diversi mulai di gagas
tahun.
dalam United Nations Standard Minimum
Sejak di berlakukannya Undang-
Undang
Sistem
Anak
Juatice (SMRJJ) atau yang dikenal dengan
penyelesaian hukum terhadap anak yang
The Beijing Rules.9 Diversi merupakan
berhadapan
pemberian kewenangan kepada aparat
dengan
mengedepankan
kesejahteraan,
Peradilan
Rules for the Administration of Juvenile
hukum
nilai-nilai
dan
semakin
keadilan,
menjunjung
penegak
tinggi
hukum
untuk
mengambil
tindakan-tindakan kebijaksanaan
dalam
perlindungan hak asasi manusia terhadap
menangani atau menyelesaikan masalah
restoratif7
pelanggar anak dengan tidak mengambil
sebagaimana yang diamanatkan dalam
jalan formal antara lain menghentikan atau
undang-undang tersebut menjadi muatan
tidak meneruskan/melepaskan dari proses
yang benar-benar membawa angin segar
peradilan pidana atau memgembalikan/
dalam konteks penyelesaian tindak pidana.
menyerahkan kepada masyarakat dalam
Sehingga penyelesaian tidak lagi bertujuan
bentuk-bentuk kegiatan pelayanan sosial
untuk pembalasan semata tetapi lebih
lainnya.10
anak.
Nuansa
keadilan
ditekankan kepada pemulihan kembali
Diversi
dalam keadaan semula.
diamanatkan
sebagaimana
dalam
yang
Undang-Undang
Penyelesaian secara adil yang di
Sistem Peradilan Pidana Anak masih
kemas dalam bentuk keadilan restoratif
melibatkan instrumen penegak hukum
tersebut
kemudian
diwujudkan
dalam
8
Setya Wahyudi, 2011, Implementasi Ide
Diversi dalam Pembaharuan Sistem Peradilan
Pidana Anak di Indonesia. Genta Publishing.
Yogyakarta. Hlm. 14.
9
Angger
Sigit
Pramukti,
Fuady
Primaharsya, 2015, Sistem Peradilan Pidana Anak.
Pustaka Yustisia. Jakarta. Hlm. 67.
10
Ibid, Hlm. 68.
bentuk pengalihan penyelesaian perkara
yang keluar jalur sistem peradilan pidana
7
Afthonul
Afif,
2015,
Pemaafan,
Rekonsiliasi, dan Restorative Justice. Pustaka
Pelajar. Yogyakarta. Hlm. 328.
147
Volume 1 No.1 April 2017
ISSN Cetak: 2579-9983
E-ISSN: 2579-6380
JUSTITIA JURNAL HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
dalam sistem peradilan pidana. Sehingga
menelantarkan yang terjadi antara anak
diversi tidak benar-benar dapat dilakukan
dengan orang dewasa sekitarnya.
secara murni sebagai suatu penyelesaian
Anak merupakan faktor terpenting
yang mencoba keluar jalur dari sistem
dalam kemajuan maupun perkembangan
peradilan pidana. Konsekuensinya adalah
suatu negara. Sebagai generasi penerus
diversi menjadi tanggung jawab sejak
bangsa yang memiliki peranan penting,
tahap
dan
maka dibutuhkan seorang anak dengan
pengadilan sampai pembinaan di lembaga
mental yang kuat, serta kemampuan
pemasyarakatan.
dari
intelektual yang cukup merupakan hal
dibebankannya seluruh instrumen dalam
yang wajib untuk meneruskan suatu cita-
sistem peradilan pidana tersebut adalah
cita
untuk mengurangi efek negatif (negative
penyelesaian perkara anak harus benar-
effect) keterlibatan anak dalam proses
benar memperhatikan kondisi anak di
penyidikan,
tersebut.
penuntutan
Harapan
11
yang hakiki.13
bangsa
Sehingga
masa yang akan datang.
Penyelesaian
terhadap
anak
Diversi
menjadi
jawaban
atas
memang dirasa sangat bersifat khusus. Hal
tujuan dari penyelesaian perkara anak
tersebut dikarenakan sifat anak dilihat dari
secara adil. Hanya saja dalam menerapkan
usia
memiliki
diversi diperlukan beberapa persyaratan
kematangan baik secara fisik maupun
tertentu. Diversi baru dapat dilakukan14
mental
dengan melihat usia anak, sifat perbuatan
anak-anak
sehingga
belum
anak
belum
dapat
membedakan hal yang baik dan benar dan
tersebut
cenderung melakukan segala sesuatunya
dilakukan
secara spontan tanpa berpikir panjang.
pengulangan, diberlakukan dalam tindak
Diperlukannya perhatian khusus terlebih
pidana ringan, adanya persetujuan dari
bagi anak yang hidup
12
apakah
atau
baru
pertama
merupakan
kali
bentuk
dalam lingkungan
korban dan kesepakatan para pihak, serta
dimana lingkungan tersebut menghasilkan
kerelaan masyarakat untuk mendukung
suatu hubungan dengan penuh kekerasaan
proses diversi.
dan kecenderungan untuk tidak peduli atau
Catatan
penting
dalam
penyelesaian diversi kemudian adalah
11
Barda Nawawi Arief, 1998. Beberapa
Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan
Hukum Pidana. Citra Aditya. Bandung. Hlm. 165
12
Bagong Suyatno, 2010. Masalah Sosial
Anak. Kencana. Jakarta. Hlm.5
13
Darwan Prinst, 1997. Hukum Anak
Indonesia. Citra Aditya Bakti. Bandung. 1997. Hlm
4.
14
Setya Wahyudi, Op.Cit. Hlm. 15
148
Volume 1 No.1 April 2017
ISSN Cetak: 2579-9983
E-ISSN: 2579-6380
JUSTITIA JURNAL HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
diversi tidak lah selalu berhasil dilakukan.
sehingga mengarah pada kenakalan anak
Diversi hanya dapat diupayakan dan
(juvenile delinquency).15
ditawarkan kepada para pihak berdasarkan
Kenakalan anak dikaitkan dalam
kesepakatan dan terpenuhinya syarat untuk
teori kontrol sosial maka kenakalan atau
dilakukan diversi. Diversi yang berhasil
delinkuensi
membawa konsekuensi bahwa para pihak
beberapa variabel. Variabel tersebut lebih
harus melaksanakan keputusan tersebut
banyak
dengan kerelaan dan keikhlasan sesuai
kenakalan terjadi dilihat dari truktur
dengan
yang
keluarga, pendidikan, kelompok dominan.
tertuang dalam bentuk penetapan yang di
Reiss dalam buku Nandang Sambas16
keluarkan oleh Ketua Pengadilan Negeri
menjelaskan,
setempat. Apabila kesepakatan dan syarat
komponen dari kontrol sosial di dalam
diversi tidak terpenuhi maka perkara
menjelaskan
tersebut akan dikembalikan dan akan
Komponen tersebut dijelaskan sebagai
diproses secara formal
bentuk kurangnya kontrol internal semasa
butir-butir
kesepakatan
dapat
bersifat
dikaitkan
dengan
sosiologis
bahwa
ada
kenakalan
karena
beberapa
anak/remaja.
kecil, hilangnya kontrol tersebut sehingga
A. Kecelakaan Lalu Lintas ebagai Bentuk
tidak adanya pemahaman terhadap norma
Kenakalan Anak
sosial sehingga terjadinya konflik antar
Lingkungan dalam pergaulan anak
norma baik di sekolah dengan orang tua
jelas dapat mempengaruhi perkembangan
maupun lingkungan terdekat.
seorang anak. Lingkungan yang baik tentu
Travis
Hirschi
Sambas
juga
dalam
buku
akan membentuk anak menjadi sosok yang
Nandang
baik. Berkembangnya suatu zaman yang
bahwa teori kontrol sosial berangkat dari
semakin maju ternyata juga berdampak
anggapan dasar bahwa individu dalam
pada perkembangan seorang anak. Anak
masyarakat
akan mudah menjadi sosok yang kasar
yang sama untuk menjadi “baik” atau
apabila terlalu terbawa pada dampak
“jahat”.17
mempunyai
menerangkan
kecenderungan
negatif dari perkembangan zaman. Baik
lingkungan maupun perkembangan zaman
yang
15
Kartini Kartono, 2010, Patologi Sosial
:Kenakalan Remaja. Rajawali Press. Jakarta. Hlm.
7.
16
Nandang Sambas, 2010, Pembaharuan
Sistem Pemidanaan Anak di Indonesia, Graha Ilmu.
Yogyakarta. Hlm 123.
17
Ibid.
tidak baik tentu akan membentuk
anak menjadi sosok yang tidak baik dan
akan cenderung melakukan kenakalan
149
Volume 1 No.1 April 2017
ISSN Cetak: 2579-9983
E-ISSN: 2579-6380
JUSTITIA JURNAL HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
Kecelakaan lalu lintas sebagai bukti
menjadi baik. Begitu juga sebaliknya,
keteledoran dan ketidakpedulian akan
apabila
berkendara dengan baik menjadi perhatian
menjadi buruk maka anak akan ikut
lebih lanjut terutama para pihak yang
menjadi pribadi yang tidak baik. Begitu
terlibat adalah anak-anak. Anak baik
juga dengan kecelakan lalu lintas yang
sebagai pelaku, korban maupun saksi tentu
terjadi sebagai salah satu bentuk kenakalan
akan mengalami trauma yang sangat besar
anak dapat terjadi karena adanya faktor
terlebih
tersebut
internal yang dipengaruhi oleh keacuhan
kemudian mengakibatkan meninggalnya
orang tua dalam memberikan perhatian
orang lain atau mengakibatkan kegagalan
dan faktor eksternal dalam masyarakat
fungi tubuh tertentu sehingga menghalangi
yang terjadi karena keinginan anak-anak
gerak aktivitas secara normal.
untuk
apabila
kecelakaan
Kebut-kebutan, berkendara dengan
lingkungan
ikut-ikutan
masyarakatnya
sehingga
anak
terpengaruh dan melakukan kenakalan.
teledor dan tidak memiliki kesadaran
dalam berlalu lintas yang baik sehingga
Hak-hak dan Kewajiban Anak
mengganggu keamanan dalam berlalu
Berhadapan
lintas dan membahayakan jiwa sendiri dan
Kecelakaan Lalu Lintas
orang
lain
dapat
mengakibatkan
dengan
Hukum
yang
dalam
Akses transportasi di jalan raya
kecelakaan lalu lintas. Perilaku tersebut
baik
merupakan salah satu dari lima belas
penumpang saat ini tidak lagi hanya milik
tingkah
mereka yang dalam kategori dewasa.
laku
yang
menjurus
kepada
sebagai
pengemudi
masalah Juvenile Delinquency menurut
Anak-anak
yang
Alder dalam buku Kartini Kartono.18
berkembang
di
lahir
era
dan
maupun
tumbuh
transportasi
dan
Kesimpulan dari apa yang telah
teknologi yang maju dengan pesat tidak
dikemukakan tersebut bahwa bagaimana
lagi hanya berperan sebagai penumpang
perkembangannya seorang anak tersebut
kendaraan melainkan sudah aktif menjadi
tergantung
pada
pengemudi kendaraan tersebut. Tidak akan
masyarakatnya dan perkembangan zaman.
menjadi masalah apabila dilakukan jika
Jika masyarakat suatu lingkungan baik
sudah sesuai dengan kriteria yang disebut
maka
sebagai pengemudi. Sesuai dengan amanat
sepenuhnya
perkembangan
anak
kemudian
18
Alder dalam Buku Kartini Kartono, Op
Cit. Hlm. 21-23.
150
Volume 1 No.1 April 2017
ISSN Cetak: 2579-9983
E-ISSN: 2579-6380
JUSTITIA JURNAL HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
undang-undang.19 bahwa yang kemudian
didukung dengan ketidak pedulian orang
dapat dikatakan sebagai pengemudi adalah
tua
mereka yang telah memiliki surat izin
membebaskan
mengemudi.
mengemudikan
Sedangkan
untuk
dan
adanya
kecenderungan
anaknya
untuk
kendaraan
bermotor
mendapatkan surat izin mengemudi adalah
menjadi suatu hal yang kemudian menjadi
mereka yang sudah berusia minimal 17
permasalahan akibat keteledoran dalam
tahun.
mengemudikan kendaraan bermotor yang
Catatan
penting
dalam
berujung pada kecelakan lalu lintas.
perkembangan transportasi dan teknologi
Anak
sebagai
pelaku
tersebut ternyata melahirkan aktor baru
memiliki
sebagai pelaku maupun korban tindak
mempertanggungjawabkan perbuatannya.
pidana. Pelaku atau korban tindak pidana
Karena sifat khusus anak maka dalam
tidak lagi terbatas pada setiap orang
mempertanggungjawabkan
dengan kategori dewasa baik laki-laki
anak akan melalui tahap dalam sistem
maupun perempuan, melainkan juga sudah
peradilan pidana sepanjang diversi gagal
merambah pada setiap orang dengan
atau
kategori belum dewasa yakni anak-anak
diterapkan. Dalam tataran tertentu baik
yang dapat menjadi pelaku atau korban
anak yang masuk dalam ranah diversi
tindak pidana.20
maupun non diversi wajib diperhatikan
Fenomena yang terjadi kemudian
kewajiban
tentu
tidak
memenuhi
untuk
perbuatannya
syarat
untuk
hak-hak serta kewajibannya dalam rangka
adalah sudah banyak anak-anak yang
memenuhi
berusia dibawah 17 tahun kemudian
hukum terhadap anak yang berhadapan
dengan
dengan hukum.
bebas
kendaraan
menjadi
bermotor.
pengemudi
Secara
hukum
tujuan
dari
Konsekuensi
perlindungan
terburuk
apabila
mereka tentu sudah melanggar ketentuan
diversi tidak dapat dilaksanakan karena
undang-undang. Kurangnya pemahaman
tidak terjadinya kesepakatan adalah maka
mereka tentang bagaimana mengendarai
proses
kendaraan bermotor dengan baik, ketidak
Meskipun
tahuan terkait aturan berkendaraan, yang
mendapatkan perlindungan. Perlindungan
hukum
akan
demikian
tetap
anak
berlanjut.
tetap
tersebut dilihat dari hak-hak anak yang
19
Pasal 1 Butir 23 Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan
20
Anang Priyatno, 2012, Kriminologi.
Ombak .Yogyakarta. 2012. Hlm. 85.
151
Volume 1 No.1 April 2017
ISSN Cetak: 2579-9983
E-ISSN: 2579-6380
JUSTITIA JURNAL HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
akan
diberikan.21
Dasar
pelaksanaan
4. Setiap anak berhak untuk diperlakukan
perlindungan terpenting dari hak-hak anak
adil dan setara, bebas dari segala bentuk
22
adalah :
diskriminasi.
1. Dasar filosofis, mendasarkan pancasila
5.
Setiap
anak
berhak
untuk
dalam perlindungan anak disegala segi
mengekspresikan pandangan mereka
kehidupan.
dan didengar pendapatnya.
2. Dasar
etis,
dilaksanakan
profesi
yang
menghindari
perlindungan
sesuai
dnegan
berkaitan
dari
harus
6.
etika
perlakuan
sehingga
perlakuan
Setiap anak berhak dilindungi dari
yang
7.
dan
Setiap
anak
berhak
diperlakukan
dengan kasih sayang dan penghargaan
3. Dasar yuridis, harus berdasarkan pada
akan harkat martabat sebagai manusia
UUD 1945 dan peraturan perundangan
yang sedang tumbuh kembang.
yang berlaku kemudian.
8.
Supeno kemudian mengembangkan
Setiap anak berhak atas jaminan
kepastian hokum.
prinsip-prinsip perlindungan anak tersebut
9.
Program
pencegahan
menjadi 13 prinsip keadilan bagi anak
remaja
yaitu 23 :
perlakuan
dan
eksploitasi
1. Pelaku kenakalan anak adalah korban.
kenakalan
pencegahan
salah,
secara
terhadap
kekerasan,
umum
dan
harus
menjadi bagian utama dari sistem
2. Setiap anak berhak agar kepentingan
dijadikan
kekerasan
eksploitasi.
mungkin menyimpang.
terbaiknya
salah,
peradilan anak.
sebagai
10. Perenggutan kebebasan dalam bentuk
pertimbangan utama.
apa pun harus selalu digunakan hanya
3. Tidak mengganggu tumbuh kembang
sebagai upaya terakhir dan apabila
anak.
terpaksa
dilakukan
hanya
untuk
jangka waktu yang paling singkat.
21
Hak-hak anak terdapat dalam Pasal 2
huruf a-j Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012
tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
22
Arif Gosita, 1999, Aspek Hukum
Perlindungan Anak dan Konvensi Hak-hak Anak.
Era Hukum. Jurnal Ilmiah Hukum. No.
4/Th.V/April
1999.
Fakultas
Hukum
Tarumanegara. Jakarta. Hlm. 264-265.
23
Hadi Supeno, 2010, Kriminalisasi Anak :
Tawaran Gagasan Radikal Peradilan Anak Tanpa
Pemidanaan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Hlm. 90-91.
11. Perhatian
khusus
harus
diberikan
kepada kelompok paling rentan dari
anak, seperti anak korban konflik
senjata, anak di daerah konflik sosial,
anak di daerah bencana, anak tanpa
pengasuh utama, anak dari kelompok
152
Volume 1 No.1 April 2017
ISSN Cetak: 2579-9983
E-ISSN: 2579-6380
JUSTITIA JURNAL HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
minoritas, anak yang cacat, anak yang
keluarga berdasarkan kesepakatan dengan
terimbas migrasi, dan anak yang
keluarganya maka baik korban maupun
terinfeksi HIV/AIDS.
pelaku
12. Pendekatan peka gender harus diambil
wajib
mematuhi
kesepakatan
dan
poin-poin
tidak
boleh
di setiap langkah. Stigmasi dari
melanggarnya. Sedangkan bagi korban
kerentanan khas yang dialami anak
adalah wajib untuk menerima maaf dan
perempuan dalam sistem peradilan
memaafkan secara tulus atas perbuatan
harus diakui sebagai sebuah problem
yang dilakukan oleh pelaku sepanjang
nyata yang banyak berkaitan dengan
korban sudah menyepakati adanya diversi.
status dan peran gendernya sebagai
Karena diversi harus benar-benar
anak perempuan.
dilakukan dengan niat yang tulus dan
13. Mengembangkan perspektif futuristis
ikhlas, sehingga proses kembali menjadi
dengan meniadakan penjara anak.
sosok yang lebih baik lagi dapat tercapai
dan para pihak tetap dapat menjalin
Tidak berhenti pada hak yang akan
silaturahmi dengan sebaik-baiknya.
diterima oleh anak sebagai pelaku, anak
sebagai
pelaku
kecelakaan
kewajiban24
kendaraan
yang
lalu
untuk
terlibat
lintas
Undang-undang Sistem Peradilan
dalam
Anak25
Pidana
memiliki
memberikan
hak-hak
terhadap anak sebagai korban. Anak
menghentikan
korban
yang sedang dikemudikan,
maupun
memperoleh
segera memberikan pertolongan kepada
saksi
berhak
untuk
baik
medis
rehabilitasi
maupun sosial, dijamin keselamatannya
korban, melaporkan kecelakaan kepada
baik fisik, mental dan sosial serta tetap
Kepolisian Negara Republik Indonesia
mendapatkan
terdekat dan memberikan keterangan yang
informasi
mengenai
perkembangan perkaranya. Perlindungan
terkait dengan kejadian kecelakaan.
anak26 sebagai korban dapat pula berupa
Korban sebagai salah satu bagian
ganti kerugian, restitusi dan kompensasi.
dari anak yang berhadapan dengan hukum
Tujuan
juga memiliki hak dan kewajiban sebagai
diversi
ternyata
tidak
selamanya memberikan angin segar dalam
bentuk perlindungan terhadapnya. Apabila
diversi menjadi pilihan yang diambil oleh
25
Pasal 90 ayat 1 Undang-Undang Nomor
11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana
Anak
26
Rena Yulia, 2010, Viktimologi :
Perlindungan Hukum terhadap Korban Kejahatan.
Graha Ilmu. Yogyakarta. Hlm.178-180.
24
Pasal 231 ayat 1 Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan
153
Volume 1 No.1 April 2017
ISSN Cetak: 2579-9983
E-ISSN: 2579-6380
JUSTITIA JURNAL HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
penyelesaian
terhadap
anak
yang
Selain itu dengan di penjara justru
berkonflik dengan hukum. Kadang kala,
anak
meskipun anak sebagai pelaku telah
mengenai kejahatan dan bukan tidak
bertanggung jawab dan telah terjadi
mungkin
perdamaian
tahanan anak justru akan terjerat pada
dengan
keluarga
korban,
ternyata tidak menghentikan proses atau
menggugurkan
Meskipun
perkara
demikian
mendapatkan
selepas
perbuatan
pidananya.27
bantuan
akan
yang
ilmu
menghabiskan
sama
atau
baru
masa
mungkin
perbuatan yang lebih besar lagi levelnya. 28
yang
Pendekatan
keadilan
restoratif
diberikan kepada ahli waris korban yang
sebagaimana yang sudah diamanatkan
meninggal dapat meringankan hukuman
dalam Undang-undang sistem peradilan
bagi anak.
pidana
Sistem
peradilan
anak
anak
memberikan
pergeseran
paradigma pemidanaan,29 terutama dalam
pernah
berlandaskan pada keadilan retributif yang
perkara anak.
menekankan pada pembalasan atas apa
Pemidanaan tidak lagi merupakan
yang ditimbulkan dan hanya memberikan
hubungan antara pelaku dengan negara dan
wewenang
mendeskreditkan
korban
didelegasikan pada aparat penegak hukum
pembalasan
menjadi
seperti polisi, jaksa, hakim dan sipir
melainkan
penjara.
hubungan antara pelaku dengan korban,
kepada
negara
yang
yang
pemidanaan
kini
sehingga
tujuannya,
menjadi
Pelaku (Anak Berkonflik Hukum)
keluarga, dan masyarakat yang lebih
dan korbannya sedikit sekali mendapat
menekankan pada proses pemulihan untuk
kesempatan untuk menyampaikan versi
menghindari dampak negatif dari proses
keadilan yang mereka inginkan. Karena
peradilan.
disini negara yang menentukan derajat
Amanat
dalam
Undang-undang
keadilan bagi korban dengan memberikan
sistem peradilan pidana anak memandang
hukuman penjara pada pelaku. Sebagai
pidana penjara sebagai bentuk pidana
konsekuensi
anak
paling akhir. Sehingga tidak perlu lagi ada
dikenai sanksi pidana penjara. Padahal
anak yang harus dipenjara. Penjara ibarat
dari
perbuatannya
penjara bukan merupakan tempat yang
28
DS. Dewi, Fatahillah A. Syukur, 2011,
Mediasi Penal : Penerapan Restorative Justice di
Pengadilan Anak Indonesia, Indie Publishing,
Depok. Hlm 25-26.
29
Eva Achjani Zulfa, 2011, Pergeseran
Paradigma Pemidanaan. Lubuk Agung, Bandung.
Hlm 63-64.
baik untuk pertumbuhan mereka.
27
Lihat dalam Pasal 229 ayat 1 huruf c
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang
Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
154
Volume 1 No.1 April 2017
ISSN Cetak: 2579-9983
E-ISSN: 2579-6380
JUSTITIA JURNAL HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
sekolah yang menjadikan anak justru lebih
hukum tertulis maupun hukum tidak
pandai
tertulis.30
lagi
dalam
melakukan
kejahatannya.
C. Penutup
Penjara
sudah
seharusnya
Anak yang berhadapan dengan
ultimum
remidium
hukum tidak hanya terbatas pada pelaku
sebagaimana yang sudah diterapkan dalam
saja, melainkan anak sebagai korban dan
undang-undang sistem peradilan pidana.
anak sebagai saksi. Penyelesaian terhadap
Tekankan
pengembalian
anak yang yang berhadapan diatur dalam
kedalam keadaan semula agar para pihak
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012
tetap
kembali
tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
beraktifitas secara normal. Pemulihan baik
dimana terdapat diversi sebagai bentuk
fisik, mental dan sosial tetap harus
penyelesaiannya yaitu dengan melakukan
dilaksankan,
mungkin
pengalihan perkara keluar sistem peradilan
memaafkan tetapi akan sulit melupakan
pidana. Hanya saja untuk dapat diterapkan
apa yang terjadi pada dirinya. Sehingga
diversi diperlukan persyaratan tertentu
diperlukan kerjasama para pihak terutama
selain adanya kesepakatan dari para pihak,
keluarga untuk mengembalikan anak dan
yaitu tindak pidana yang diancam dibawah
membebaskan mereka dalam lingkaran
7 (tujuh) tahun dan tindak pidana tersebut
traumatis yang mendalam.
bukan
merupakan
pada
nyaman
proses
dan
karena
Perlindungan
dapat
anak
anak
merupakan
merupakan
tindak
pidana
pengulangan.
bentuk usaha untuk menciptakan agar anak
Hak-hak dan kewajiban korban
yang berhadapan dengan hukum dapat
sebagai bentuk perlindungan hukum juga
tetap melaksanakan hak dan kewajibannya
diatur secara lebih spesifik dalam undang-
dengan sebaik-baiknya. Semua dilakukan
undang sistem peradilan pidana anak yang
agar anak dapat tetap tumbuh dengan
didasarkan
wajar, baik secara fisik maupun psikis dan
hukum yang terdiri dari dasar filosofis, etis
sosial. Perlindungan anak sebagai bentuk
dan yuridis. Pendekatan keadilan restoratif
perwujudan eksistensinya keadilan dalam
sebagaimana
masyarakat.
undang-undang sistem peradilan pidana
Dengan
demikian
pada
prinsip
yang
perlindungan
ditawarkan
dalam
perlindungan anak akan selalu membawa
30
akibat hukum, baik kaitannya dengan
Maidin Gultom, 2010. Perlindungan Hukum
terhadap Anak dalam Sistem Peradilan Pidana
Anak di Indonesia. Refika Aditama. Bandung.
Hlm.33
155
Volume 1 No.1 April 2017
ISSN Cetak: 2579-9983
E-ISSN: 2579-6380
JUSTITIA JURNAL HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
anak
juga
menekankan
pada
proses
Hadi Supeno, 2010, Kriminalisasi Anak :
pemulihan kedalam keadaan semula dalam
Tawaran
rangka pemenuhan hak-hak dan kewajiban
Peradilan Anak Tanpa Pemidanaan,
baik terhadap anak yang berhadapan
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
dengan hukum.
Gagasan
Radikal
Eva Achjani Zulfa, 2011, Pergeseran
Paradigma
Pemidanaan,
Lubuk
Agung, Bandung.
Daftar Pustaka
Buku
Kartini Kartono, 2010, Patologi Sosial
Afthonul
Afif,
Rekonsiliasi,
2015,
Pemaafan,
:Kenakalan Remaja, Rajawali Press,
dan
Restorative
Jakarta.
Justice. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Anang
Priyatno,
2012,
Maidin
Kriminologi.
Sigit
Pramukti,
Anak,
Fuady
Refika Aditama, Bandung.
Pustaka
Nandang Sambas, 2010, Pembaharuan
Yustisia,
Sistem
Yogyakarta
Rena
Anak, Kencana. Jakarta.
Hukum
Pidana.
1997,
Citra
2010,
Viktimologi
Hukum
:
terhadap
Setya Wahyudi, 2011, Implementasi Ide
Diversi dalam Pembaharuan Sistem
Hukum
Aditya
Anak
Peradilan Pidana Anak di Indonesia,
Bakti,
Genta Publishing, Yogyakarta.
Bandung.
Wagiati Soetodjo, 2010, Hukum Pidana
DS. Dewi, Fatahillah A. Syukur, 2011,
Mediasi
di
Yogyakarta.
Citra Aditya, Bandung.
Indonesia,
Anak
Korban Kejahatan, Graha Ilmu,
Aspek Kebijakan Penegakan dan
Pengembangan
Yulia,
Perlindungan
Barda Nawawi Arief, 1998, Beberapa
Prinst,
Pemidanaan
Indonesia, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Bagong Suyatno, 2010, Masalah Sosial
Darwan
Perlindungan
Peradilan Pidana Anak di Indonesia,
Primaharsya, 2015, Sistem Peradilan
Pidana
2010,
Hukum terhadap Anak dalam Sistem
Ombak, Yogyakarta.
Angger
Gultom,
Penal
:
Anak, Refika Aditama, Bandung.
Penerapan
Restorative Justice di Pengadilan
Jurnal
Anak
Arif
Indonesia,Indie
Publishing,
Depok.
Gosita,
1999,
Aspek
Hukum
Perlindungan Anak dan Konvensi
Hak-hak Anak, Era Hukum. Jurnal
156
Volume 1 No.1 April 2017
ISSN Cetak: 2579-9983
E-ISSN: 2579-6380
JUSTITIA JURNAL HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
Ilmiah Hukum. No. 4/Th.V/April
1999.
Fakultas
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009
Hukum
tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Tarumanegara, Jakarta.
Jalan (LNRI Tahun 2009 Nomor 96)
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012
tentang Sistem Peradilan Pidana
Anak (LNRI Tahun 2012 Nomor
153)
3. Undang-Undang
157
Volume 1 No.1 April 2017
ISSN Cetak: 2579-9983
E-ISSN: 2579-6380
Download