Alat – Alat Liturgi Bagian 1

advertisement
LITURGI
leitourgia, yang berarti kerja bersama. Kerja bersama ini mengandung makna
peribadatan kepada Allah dan pelaksanaan kasih, dan pada umumnya istilah liturgi lebih banyak
digunakan dalam tradisi Kristen, antara lain umat Katolik.
Masa Liturgi
Penanggalan liturgi Gereja dimulai pada hari Minggu Adven
dengan Hari
pertama, lalu akan ditutup
Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam.
Masa Adventus
Adventus dalam Bahasa Latin berarti "kedatangan", istilah ini dahulu kala
dipakai untuk umum dalam Imperium Romawi untuk kedatangan kaisar yang dianggap sebagai
dewa, kemudian dipakai oleh umat Kristiani untuk menyatakan kedatangan Kristus sang Raja
Masa Advent
dan Tuhan.
adalah masa persiapan sebelum Natal, yakni masa persiapan
untuk menghayati makna kedatangan Yesus, sesuai denngan penantian Mesias oleh umat Israel
yang terungkap dalam Perjanjian Lama, juga sehubungan dengan kedatanganNya pada akhir
zaman. Warna Liturgi masa Advent adalah Ungu untuk hari Minggu Advent I, II, dan IV, dan
warna merah muda untuk hari Minggu Advent III (Minggu Gaudete).
Masa Natal
Masa Natal dirayakan Gereja berturut-turut dimulai dari Hari Raya Kelahiran Tuhan
Yesus hingga hari sebelum hari raya Penampakan Tuhan. Warna liturgi yang digunakan adalah
warna Putih.
Masa Prapaskah
Masa Prapaskah merupakan masa persiapan sebelum paskah. Ada yang
memulainya dengan Septuagesima, yakni hari ke sembilan sebelum paskah. Tetapi yang lebih
umum adalah masa 40 hari sebagai persiapan dengan berpantang dan berpuasa. Masa Prapaskah
dimulai dengan Hari Rabu Abu. Warna liturgi selama masa Prapaskah adalah Ungu. Namun
pada Minggu Palma ada yang menggunakan warna Ungu tetapi ada juga menggunakan warna
Merah.
Masa Paskah
Masa Paskah dirayakan mulai dari Hari Raya Kebangkitan Tuhan Yesus,
sampai sebelum Hari Raya Pencurahan Roh Kudus (Pentakosta). Warna liturgi selama
masa Paskah adalah warna
Putih.
Masa Biasa
Masa biasa merupakan dimulai setelah hari raya Pentakosta. Dalam masa-masa ini
merupakan peringatan masa-masa Gereja berjuang di tengah dunia.
Hari Tuhan
Hari Minggu adalah hari di mana umat berkumpul merayakan liturgi, "untuk
mendengarkan Sabda Allah dan ikut serta dalam perayaan Ekaristi, mengenangkan
sengsara, kebangkitan dan kemuliaan Tuhan Yesus, serta mengucap syukur kepada Allah"
(Sacrosanctum Concilium no 106).
Peringatan Orang Kudus
Dalam daur tahunan, Gereja merayakan peringatan para martir dan orang kudus sebagai
perayaan Paska Tuhan di dalam mereka "yang telah menderita dan dimuliakan bersama Kristus.
Gereja memaparkan teladan mereka kepada umat beriman dalam menarik semua orang kepada
Allah Bapa melalui Kristus, dan atas pahala-pahala yang diterima para martir dan orang kudus,
Gereja memohon karunia-karunia dari Allah" (Sacrosanctum Concilium no 104).
Ibadat Harian (Horarium)
Horarium merupakan doa seluruh Gereja. Setiap orang ambil bagian di dalamnya sesuai dengan
tempatnya di Gereja dan menurut status hidupnya: para imam, biarawan dan biarawati, dan
awam menurut kemungkinan yang ada pada mereka. Ibadat Harian dapat dilakukan bersama atau
secara perorangan. Ibadat Harian seakan-akan merupakan kelanjutan dari perayaan Ekaristi.
arti warna
Warna
Penggunaan Wajib

Hari Tuhan dan Feria dalam Masa
Biasa

Hari Tuhan dan Feria dalam Masa
Adven
Hari Tuhan dan Feria dalam
Prapaskah
Liturgi pada Sabtu Suci (kecuali
Ibadat Malam Paskah)
Sakramen Tobat
Sakramen pengurapan orang sakit
Hijau

Ungu



Penggunaan Opsional (sebagai pengganti warna
wajib yang ditentukan)



Pink






Masa Natal (dari Natal hingga
Pembaptisan Tuhan)
Kamis Putih
Masa Paskah (dari Ibadat Malam
Paskah hingga sebelum Vigili
Pentakosta)
Hari Raya Tritunggal Mahakudus
Perayaan Tuhan kita selain
Sengsara-Nya
Hari Raya Maria[5]
Pesta para Malaikat
Perayaan-perayaan para santo
non-martir atau pengaku iman
Pesta Santo Yohanes
Pesta Takhta Santo Petrus
Pesta Bertobatnya Santo Paulus
Hari Raya Kelahiran Yohanes
Pembaptis
Hari Raya Semua Orang Kudus
Sakramen Baptis
Sakramen Perkawinan
Sakramen Imamat (Tahbisan)





Minggu Palma
Jumat Agung
Hari Raya Pentakosta
Peringatan Sengsara Tuhan
Peringatan Martir, Para Rasul, dan




Putih







Merah




Peringatan Mulia Arwah Semua Orang
Beriman
Misa Requiem dan ibadat harian bagi arwah
Minggu Gaudete (Minggu Ketiga Masa
Adven)
Minggu Laetare (Minggu Keempat Masa
Prapaskah)
Misa Requiem dan ibadat harian untuk arwah
di mana Konferensi Uskup setempat telah
memberikan izin.[6]
Misa Votif dan misa lainnya di mana
umumnya Hijau digunakan.
Misa Merah dan Misa Votif Roh Kudus
Pemakaman Paus (dan kardinal) — merah
adalah warna berkabung bagi Paus menurut
adat Bizantium kuno

Penginjil
Sakramen Penguatan

Hitam

Peringatan Mulia Arwah Semua Orang
Beriman
Misa Requiem
Alat – Alat Liturgi Bagian 1
Nah, teman-teman Putra Altar Putri Sakristi, kali ini saya akan membahas tentang alat-alat liturgi
yang wajib di ketahui oleh anggota PAPS pada umumnya. Semua materi ini saya kumpulkan dari
beberapa blog dan buku panduan Misdinar.
Monstran
Tempat untuk pentakhtaan Sakramen Mahakudus yang di gunakan untuk
perarakan Sakramen Mahakudus sekaligus pemberkatannya. Monstran terdiri dari
Lunula penjepit Sakramen Mahakudus dan Custodia yang merupakan bagian kacanya.
Sibori
Sibori hampir seperti piala tetapi di gunakan untuk tempat hosti-hosti kecil
yang akan di konsekrasikan menjadi Tubuh Kristus. Sibori umumnya memiliki tutup dan bila
akan di simpan di tabernakel maka sibori akan di tutup dengan kain.
Piala
Piala sering disebut juga dengan Chalix, adalah di mana air anggur akan di
konsekrasikan. Piala biasanya terbuat dari logam mulia yang biasanya di hias dengan indah dan
agung. Fungsi dari piala secara umum untuk menampung air anggur yang telah berubah menjadi
Darah Kristus
Purifikatori
Disebut juga dengan kain piala, kain ini berbentuk persegi empat
yang dilipat tiga memanjang. Digunakan untuk membersihkan piala dan alas selubung bagi
tangan petugas pembagi komuni
Cocelarium
Maaf untuk yang satu ini, gambarnya belum di upload.
Cocelarium atau istilah awamnya adalah sendok kecil yang di sertakan dalam piala, biasanya di
gunakan untuk mengambil air dari ampul untuk di campurkan pada anggur.
Patena
Patena adalah semacam piring kecil yang di gunakan untuk meletakkan hosti besar. Patena
biasanya di buat logam mulia yang di beri lapisan emas.
Pala
Pala berbentuk segi empat berwarna putih yang terbuat dari bahan yang pipih-keras dan dilapisi
kain putih. Fungsinya adalah menutup piala dari benda-benda seperti debu dan serangga
Korporal
Korporal adalah kain persegi empat yang dilipat simetris dua kali
dua, sehingga terdapat sembilan bujur sangkar saat di gelar.
Piksis
Sebuah tempat untuk membawa hoti-hosti suci yang akan di
gunakan untuk mengirim komuni orang sakit.
AMPUL
adalah dua bejana yang dibuat dari kaca atau
logam, bentuknya seperti buyung kecil dengan tutup di atasnya. Ampul
adalah bejana-bejana darimana imam atau diakon menuangkan air dan
anggur ke dalam piala. Selaluada dua ampul di atas meja kredens dalam
setiap Misa.
LAVABO
berasal dari bahasa Latin “lavare” yang berarti
“membasuh”, adalah bejana berbentuk seperti buyung kecil, atau dapat juga
berupa mangkuk,tempat menampung air bersih yang dipergunakan imam
untuk membasuh tangan sesudah persiapan persembahan. Sebuah lap
biasanya menyertai lavabo untuk dipergunakan mengeringkan tangan imam.
TURIBULUM
(disebut juga Pedupaan/wiruk), berasal dari bahasa Latin “thuris” yang
berarti “dupa”, adalah bejana di mana dupa dibakar untuk pendupaan
liturgis. Turibulum terdiri dari suatu badan dari logam dengan tutupterpisah
yang menudungi suatu wadah untuk arang dan dupa; turibulumdibawa dan
diayun-ayunkan dengan tiga rantai yang dipasang padabadannya,
sementara rantai keempat digunakan untuk menggerak-gerakkantutupnya.
Pada turibulum dipasang bara api, lalu di atasnya ditaburkanserbuk dupa
sehingga asap dupa membubung dan menyebarkan bau harum.Dupa adalah
harum-haruman yang dibakar pada kesempatan-kesempatanistimewa,
seperti pada Misa yang meriah dan Pujian kepada Sakramen Mahakudus.
NAVIKULA
(disebut juga Wadah Dupa) adalah bejana tempat menyimpan serbuk dupa.
Dupa adalah getah yang harum dan rempah-rempah yang diambil
daritanam-tanaman, biasanya dibakar dengan campuran tambahan
gunamenjadikan asapnya lebih tebal dan aromanya lebih harum. Asap dupa
yangdibakar naik ke atas melambangkan naiknya doa-doa umat beriman
kepadaTuhan. Ada pada kita catatan mengenai penggunaan dupa bahkan
sejak awalkisah Perjanjian Lama. Secara simbolis dupa melambangkan
semangat umatKristiani yang berkobar-kobar, harum mewangi keutamaankeutamaan dannaiknya doa-doa dan perbuatan-perbuatan baik kepada
Tuhan.
ASPERGILUM
berasal dari bahasa Latin “aspergere” yang berarti “mereciki”,
adalahsebatang tongkat pendek, di ujungnya terdapat sebuah bola logam
yangberlubang-lubang, dipergunakan untuk merecikkan air suci pada
orangatau benda dalam Asperges dan pemberkatan. Bejana Air Suci adalah
wadahyang dipergunakan untuk menampung air suci; ke dalamnya
aspergilumdicelupkan.
SACRAMENTARIUM
atau Buku Misa adalah buku pegangan imam pada waktu memimpin
perayaan Ekaristi, berisi doa-doa dan tata perayaan Ekaristi.
Simbol dari gerakan tubuh
Contoh simbol yang menggunakan gerakan tubuh antara lain:

Penumpangan Tangan. Penumpangan tangan mempunyai makna pencurahan Roh Kudus.
Biasanya dilakukan pada penahbisan pendeta atau imam.

Bersalaman, mengungkapkan wujud dari Kasih dan Persaudaraan. Bersalaman dilakukan
oleh umat ketika kita saling memberikan Salam Damai.

Berlutut, merupakan salah satu sikap doa yang mengungkapkan kerendahan hati
seseorang yang ingin memohon kepada Tuhan atau bersembah sujud kepada-Nya.[4]
Simbol dari benda alamiah
Roti dan Anggur, Air, Minyak, Garam merupakan contoh simbol liturgis dari benda alamiah.

Roti dan Anggur, yang digunakan dalam perayaan Ekaristi atau Perjamuan Kudus
menyimbolkan persekutuan dengan tubuh dan darah Kristus.

Air, dipakai dalam berbagai macam perayaan liturgi. Misalnya dalam baptisan memiliki
makna simbolis yaitu untuk mengungkapkan pembersihan dosa dan penganugerahan
keselamatan dan penciptaan baru

Minyak, yang biasa digunakan adalah minyak dari pohon zaitun (meskipun demikian,
menurut buku-buku pontifikal Romawi minyak liturgi bisa berasal dari tumbuhan lain).
Minyak dapat merupakan simbol bagi anugerah kepenuhan hidup dan kesuburan
(Mazmur 128:3 dan Mazmur 133:2). Minyak dalam liturgi juga melambangkan daya
kekuatan Allah yang memberi kekuatan bagi perjuangan hidup dan penyertaan Allah
dalam tugas kepemimpinan.[1]

Garam, biasanya digunakan sebagai pembersih atau pengawet. Dalam liturgi merupakan
simbol pembersihan dan digunakan secara fakultatif dalam persiapan perayaan
pembaptisan dan pemberkatan air suci.
Simbol dari benda buatan
Simbol-simbol yang berasal dari benda buatan seperti:

Salib, merupakan simbol keselamatan. Pengorbanan Kristus yang rela mati untuk
meenebus dosa-dosa manusia.

Lilin, sering dipakai juga dalam bermacam-macam perayaan liturgi dan salah satunya
adalah saat perayaan Paska. Lilin Paska menyimbolkan kehidupan yang baru yang
menyala. Api adalah lambang semangat yang berkobar-kobar. Yesus telah bangkit dan
lilin itu menyimbolkan kebangkitan Yesus. Lilin juga berfungsi sebagai pendorong dan
pembantu meditasi.[2]
Simbol warna

Warna putih
Warna putih mengungkapkan kegembiraan dan kesucian.[5] Warna putih juga dikaitkan dengan
kehidupan baru.[1] Selain itu juga warna putih dapat melambangkan sebuah kesempurnaan,
kejayaan dan kemuliaan abadi.[1] Biasanya warna ini dipertukarkan atau digunakan bersamasama dengan warna kuning.[5] Warna putih dapat dipakai pada hari raya seperti Natal, Paska,
Kamis Putih.[5]

Warna kuning
Hampir sama dengan warna putih, warna kuning mengungkapkan kemuliaan, kemenangan dan
kegembiraan.[5] Warna kuning umumnya dilihat sebagai warna yang mencolok sehingga lebih
kuat menunjukkan makna kemuliaan.[1] Warna ini juga dapat dipakai saat Natal, Paskah, Kamis
Putih.[1]

Warna merah
Warna merah biasanya melambangkan api dan darah.[1] Selain itu juga dapat menyimbolkan Roh
Kudus, cinta kasih, pengorbanan dan kekuatan.[1] Di dalam tradisi Romawi kuno, warna merah
digunakan sebagai simbol kekuasaan tertinggi yaitu kaisar.[1] Warna merah biasanya digunakan
ada saat hari raya Jumat Agung, Pentakosta, Minggu Palma.[5]

Warna hijau
Warna hijau pada umumnya menandakan sebuah ketenangan, kesegaran dan melegakan.[1] Selain
itu juga dapat melambangkan harapan, syukur, dan kesuburan.[5] Warna ini dipilih dan dipakai
dalam minggu biasa di dalam liturgi sepanjang tahun.[1] Pada masa-masa itu manusia dapat
menghayati hidupnya dengan penuh ketenangan terhadap karya-karya Tuhan.[1]

Warna ungu
Warna ungu merupakan simbol bagi kebijaksanaan, keseimbangan, sikap berhati-hati dan mawas
diri.[1] Selain itu warna ini juga mengungkapkan pertobatan.[5] Digunakan pada masa Prapaska
dan Adven[5] ketika manusia diundang untuk bertobat, mawas diri dan mempersiapkan diri bagi
perayaan Natal dan Paska.[1]

Warna hitam
Warna hitam biasanya dipakai untuk melambangkan kematian, kegelapan[1], kesedihan dan
kedukaan.[5]. Warna ini digunakan pada saat ibadah atau peristiwa kematian.[1]
ARTI SIMBOL DALAM LITURGI / SIKAP DALAM LITURGI
11 Juni 2010 pukul 22:41
ARTI SIMBOL DALAM LITURGI / SIKAP DALAM LITURGI
TANDA SALIB
Tanda salib dibuat ketika :
Memasuki gereja sambil menandai diri dengan air suci yang ada disamping pintu
masuk gereja sebagai tanda peringtan pembaptisan yang telah kita terima.
Mengawali dan Mengakhiri Perayaan Ekaristi
Menerima percikan air suci kalau dibuat sebagai Pernyataan Tobat. Tanda tersebut
mengungkapkan kesadaran kita sebagai anak-anak Allah dan kesetiaan pada janji
Baptis
Memulai bacaan injil dengan membuat tanda salib pada dahi, mulut dan dada untuk
mengungkapkan hasrat agar budi diterangi, mulut disanggupkan untuk mewartakan,
dan hati diresapi oleh sabda Tuhan.
Menerima berkat mengutusan pada bagian penutup
PERARAKAN
Perarakan imam, prodiakon, misdinar pada hari-hari biasa bergerak dari sakristi
langsung menuju altar. setelah selesai perayaan Ekaristi keluar melalui jalan yang
sama. Pada hari Raya, perarakan dari sakristi melewati lorong tengah umat menuju
altar.
urutan perarakan, misdinar paling depan, disusul oleh prodikaon dan imam
(terakhir). Perarakan masuk biasanya diiringi oleh lagu pembukaan, dimana umat
menyambut dengan berdiri.
maksdu dari lagu pembukaan adalah untuk mengarahkan perhatian umat kepada
perayaan yang mulai berlangsung, memeriahkan upacara suci, menciptakan
kebersamaan.
Perarakan biasanya juga dilakukan oleh beberapa wakil umat untuk mengantarkan
persembahan berupa: roti, anggur, lilim, bunga dan kolekte ke altar. Segala hasil
karya umat hendak disatukan dengan kurban Krsitus dalam Ekaristi. Inilah bukti
keterlibtan aktif umat dalam merayakan Ekaristi.
MEMERCIKI
Sebagai tanda penyucian dan peringatan akan pembatisan kita. memerciki dilakukan
pada permulaan Ekaristi 9kadang-kadang masih ada imam yang melakukannya). Dan
juga dilakukan setelah pembaharuan janji naptis pada Malam Paska, saat menerima
daun Palma pada perarakan Minggu Palma.
memerciki juga dilakukan untuk kepentingan pernikahan, pemakaman, pemberkatan
tempat/gedung, pemberkatan benda-benda devosi lainnya.
MEMBUNGKUK.
Imam agung yang memimpin ibadat berdoa dengan membungkuk, hal ini sudah
dilaksanakan sejak Perjanjian Lama, dimana juga gerakan ini dipakai untuk
mengiringi doa dan uangkapan menyembah Tuhan.
Membungkukan badan merupakan tanda penghormatan yang lebih besar daripada
menundukan kepadla. Rombongan imam, prodiakon, misdinar juga melakukan
penghormatan dengan membungkuk terhadp altar Tuhan.
membungkuk dilakukan :
oleh Imam dan para pembantunya (prodiakon, misdinar) didepan altar ketekika
memulai dan sesaat sebelum meninggalkan gereja (setelah berakhirnya perayaan
Ekaristi) oleh imam pada waktu Konsekrasi
oleh umat ketika mengucapkan “Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh
perawan Maria dan menjadi manusia" (syahadat Nicea Konstantinopel) atau “yang
dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan maria” (Syahadat para rasul),
sebagai tanda ungkapan iman
oleh umat ketika berada di depan salib
oleh umat ketika masuk di gereja atau kapel yang didalamnya tersimpan sakramen
mahakudus
MENGECUP
mengecup dilakukan oleh imam sebelum memakai pakaian liturgi, misalnya alba,
amik, stola, kasula dll, maknanya adalah ungkapan rasa hormat terhadap "barangbarang suci"
mengecup juga dilakukan oleh imam pada altar, sebelum dan sesudah perayaan
Ekaristi, Mkasudnya memberi penghormatan terhdapa altar sebagai menja
perjamuan Tuhan dan untuk menhormati Allah ditengah-tengah umat-Nya.
Mengecup juga dilakukan oleh umat, pada peringatan Jumat Agung, dimana semua
umat yang ikut didalam ibadat tersebut mendapat kesempatan mengcup salin,
tepatnya mengecup luka pada kaki Yesus. Dimana kita diajak untuk melakukan
penghormatan bagi Yesus kristus yang wafat disalib.
MENDUPAI
Mendupai dilakukan untu Paus atau uskup waktu perarakan menuju altar ktetika
akan merayakan Ekaristi Agung.
Untuk imam, altar, bahan persembahan, salib, umat dan barang lainnya yang
disucikan.
Maksdu dari pendupaan ini adalah untuk menciptakan suasana doa dan kurban bagi
Allah. Pendupaan altar bergerak dari bagian kiri ke kanan mengelilingi altar.
Pendupaan/mendupai dilakukan pada hari raya Paskahm natal, Pentakosta dan
peringatan para kudus atau martir dan saat-saat hening lainnya misalnya tahbisan
imam, uskup, upacara kematian. ma,un pada hari-hari biasapun
mendupai/pendupaan tetap dianjurkan.
Asap putih yang mengepul keatas sekan melambangkan persembahan kita diterima
oleh Allah.
MENUNDUKAN
Sikap hormat ini sebagai tanda penghormatan, dimana menundukan kepala
dilakukan oleh:
Imam ketika mengucapkan kata Yesus, Santa Perawan Maria dan santo santa yang
diperingati pada hari itu
Oleh imam sebelum dan sesudah mendupai salib, altar dan bahan persembahan
oleh misdinar sebelum dan sesudah mendupai imam dan umat.
MENUMPANGKAN
Penumpangan tangan dilakukan dalam Upacara tahbisan Imam, Uskup dan seluruh
Imam/Uskup yang hadir menumpangkan tangan diatas kepla calon imam baru.
menumpangkan tangan juga dilakukan untuk memberkati seorang tahbisan Diakon,
Imam, Uskup. Serta dilakukan pada saat mendatangkan penyembuhan jiwa dan
badan seseorang.
oleh lektor atau petugas lainnya yang akan menuju altar untuk menghormati altar
Tuhan dan imam.
MEMBERKATI
Memberkati dan menguduskan umat memang menjadi tugas seorang imam.
memberkati adalah Doa, ungkapan permohonan pada Tuhan, semoga yang diminta
umat-Nya terkabulkan, terjadi, terlaksana.
Memberkati disertai dengan gerakan tangan yang "bertanda salib" dengan
mengucapkan "Atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus". Tiada berkat imam yang
tidak diberikan dalam tanda salib!.
Memberikati dilakukan oleh Uskup sambil mengurapi kedua telapak tangan calon
imam baru. Telapak tangan dipilih sebagai tempat pengurapan supaya imam baru itu
ingat akan paku yang melukai telapak tangan Yesus yang wafat di salib.
Juga dilakukan oleh Imam pada waktu menerima persembahan dari wakil umat, pada
saat menjelang Konsekrasi, pada akhir perayaan Ekaristi.
Pemberkatan juga dilakukan oleh Imam pada : pernikahan, menempati
rumah/gedung baru, pemberkatan barang-barang devosi atau benda berharga
lainnya.
MENEGADAHKAN KEPALA
Sebagai sikap doa yang mengungkapkan permohonan dengan kebulatan hati.
menegadahkan kepala dilakukan oleh imam ketika mempersembahkan roti dan
anggur serta dilakukan oleh umat ketika berdoa pribadi dihadapan Yesus atau Bunda
Maria dengan kebulatan hati untuk memohon.
BERSALAMAN
Berjabat tangan atau bersalaman mengungkapkan wujud dari Kasih dan
Persaudaraan. Bersalaman dilakukan oleh umat ketika kita saling memberikan Salam
Damai. Ungkapan Salam Damai berbeda-beda menurut adat istiadat setempat. ada
yang mengungkapkannya berpelukan atau mencium pipi. Dan juga dilakukan oleh
Imam dengan para pembantunya (prodiakon atau mesdinar)
BERGANDENGAN TANGAN
Merupakan tanda kesatuan dan kebersamaan. Bergandengan tangan dilakukan oleh
imam dan umat saat menyanyikan atau mendoakan Bapa Kami (kalau tempatnya
memungkinkan)
DUDUK
Duduk dilakukan ketika Kitab Suci dibacakan (selain Injil) sebagai suatu ungkapan
kesediaan mendengar dan merenungkan sabda Tuhan. Persiapan persembahan
sebagai ungkapan kesediaan memberi diri kepada Tuhan dengan penuh penyerahan.
Petugas membacakan penguman sebagai tanda ungkapan kesediaan mendengarkan
dan melaksakan tugas kewajiban
BERSILA
Sikap duduk dengan melipatkan dan menyilangkan kedua kaki disebut bersila. Bersila
dilakukan bila tidak ada kursi atau bangku, perempuan kadang-kadang dengan
"bersimpuh". Bersila atau bersimpuh merupakan sikap doa umum di Asia khususnya
bagian selatan dan timur seperti Indonesia, Jepang serta India.
MERENTANGKAN TANGAN
Merupakan tanda penyerahan kita kepada kehendak Allah. Yesus merentangkan
tangan di kayu salib. Dengan merentangkan tangan, orang membuka seluruh
genggaman/kepalan tangan, dengan arti kita membuka seluruh genggaman/kepalan
sebagai wujud menyerahkan yang kita miliki kepada Tuhan.
Merentangkan tangan dilakukan oleh imam ketika mendoakan pembukaan dan
penutup ekaristi, doa persembahan, doa Bapa Kami, dan Doa Syukur Agung, serta
dilakukan oleh umat ketika menyerahkan hidup dan segala permohonan kepada
Tuhan
BERLUTUT
Berlutut merupakan sikap doa yang mengungkapkan kerendahan hati seseorang
yang ingin memohon kepada Tuhan atau bersembah sujud kepada-Nya.
Berlutut dilakukan:
Oleh umat ketika berdoa pribadi pada saat mengawali dan mengakhiri Ekaristi, saat
konsekrasi, serta sebelum dan sesudah komuni sebagai sikap sembah sujud untuk
hormat kepda Allah.
Mengucapkan Doa Tobat untuk menunjukan sikap kerendahan hati dan permohonan
ampun.
Waktu Mengucapkan “Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh perawan Maria
dan menjadi manusia" (syahadat Nicea Konstantinopel) atau “yang dikandung dari
Rohdukus, dilahirkan oleh Perawan Maria” (Syahadat para rasul) khusus pada Hari
Raya Natal sebagai tanda ungkapan iman yang mendalam.
Iman mendoakan kisah Institusi (Kisah Perjamuan Tuhan) dalam Doa Syukur Agung,
termasuk didalamnya kata-kata konsekrasi, sebagai tanda hormat dan pujian
oleh umat dihadapan Sakramen mahakudus atau tarbernakel
Oleh Imam dan umat untuk merenungkan wafat Tuhan Yesus pada saat pembacaan
Kisah sengsara pada hari raya jumat Agung.
Tahun Liturgi, yang disebut juga Tahun Kristiani, merupakan Kalender Kristiani/siklus
masa liturgi dalam gereja-gereja Kristiani yang menentukan kapan hari-hari orang kudus, hari-
hari peringatan, dan hari-hari besar harus dirayakan serta bagian mana dari Kitab Suci yang
diasosiasikan dengan hari-hari raya tersebut..
Tahun liturgi, warna liturgi dan Perayaan liturgi yang digolongkan dalam
beberapa tingkat, menurut pentingnya
Tahun Liturgi
Gereja Katolik memiliki kalender tersendiri yang mengatur perayaan, pesta, peringatan para
orang kudus, dan hari biasa, selama 1 tahun. Jadi, dalam kalender Gereja Katolik tersebut
diatur bacaan-bacaan Kitab Suci yang dibacakan dalam Ekaristi harian dan mingguan.
Kita umumnya mengenal Tahun Masehi yang berawal pada tanggal 1 Januari dan berakhir
tanggal 31 Desember. Tahun Liturgi berbeda dengan Tahun Masehi. Awal tahun liturgi dimulai
pada Hari Minggu Adven I [akhir November – awal Desember], yang menantikan kedatangan
Tuhan Yesus yang pertama. Akhir tahun liturgi jatuh pada Hari Raya Kristus Raja Semesta
Alam [akhir November], yang merayakan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya, yakni
pada akhir zaman. Sepanjang tahun liturgi, Gereja menghadirkan seluruh misteri keselamatan
Allah yang terlaksana dalam diri Tuhan Yesus Kristus.
Puncak Tahun Liturgi adalah Misteri Paskah Tuhan yang dirayakan selama Trihari Paskah yang
puncaknya pada Malam Paskah. Tahun Liturgi terbagi dalam 3 masa [Masa Khusus, Masa
Biasa, Pesta atau peringatan orang kudus]. Masa Khusus terdiri dari: lingkaran Natal [masa
Adven dan masa Natal] dan lingkaran Paskah [masa Prapaskah dan masa Paskah]. Masa
Biasa terdiri dari 34 pekan biasa yang puncaknya pada hari Minggu. Pesta peringatan orang
kudus merupakan kebiasaan Gereja untuk menghormati orang-orang suci, dan untuk
memuliakan dan menghormati Tuhan.
Mengapa tahun 2012 masuk Tahun B? Gereja membagi lingkaran Tahun Liturgi dalam 3 tahun.
Gereja membaginya berdasarkan Injil yang dibacakan. Tahun A, yaitu tahun 2005, 2008, 2011,
2014, dst : Injil Matius. Tahun B, yaitu tahun 2006, 2009, 2012, dst: Injil Markus. Tahun C, yaitu
tahun 2007, 2010, 2013, dst: Injil Lukas. Injil Yohanes diselipkan dalam ketiga tahun tersebut
berdasarkan misteri iman yang dirayakan. Cara menentukan Tahun A, B, C adalah dengan
membagi tahun bersangkutan dengan angka 3! Jika hasil baginya bersisa satu berarti tahun
bersangkutan adalah tahun A; jika hasil baginya bersisa dua berarti tahun bersangkutan adalah
Tahun B; jika tahun bersangkutan habis dibagi 3 berarti tahun C. Misalkan, tahun 2009 dibagi 3
= 669 sisa 2. Maka tahun 2009 adalah tahun B.
Tahun A, B, C di atas untuk menentukan bacaan Injil pada hari Minggu. Bacaan misa harian
diatur dalam tahun ganjil/genap [tahun I / tahun II]. Disebut tahun I , karena tahun ganjil [2007,
2009, dst]; tahun II , karena tahun genap [2008, 2010, dst]. Yang membedakannya hanya
bacaan pertama, sedangkan bacaan Injilnya sama.
Maka bila kita setia mengikuti Misa hari Minggu, dalam tiga tahun kita sudah “menyelesaikan”
hampir seluruh isi alkitab. Seandainya kita juga rajin mengikuti misa harian, hampir seluruh
alkitab sudah kita dengarkan dalam waktu dua tahun.
Makna yang terkandung dalam Tahun Liturgi
Pesta-pesta Yesus disusun menurut urutan historis, memberi kita kesempatan untuk
menghayati kembali peristiwa-peristiwa besar dari hidup-Nya melalui sikap doa dan meditasi.
Yesus adalah PENEBUS sejak inkarnasi-Nya. Maka dari itu, kita merayakan dan mengalami
kuasa penebusan-Nya dalam setiap peristiwa yang disajikan tahun liturgi Gereja kepada kita.
Dengan memasukkan peristiwa-peristiwa ke dalam perayaan liturgis, Gereja membantu
menghantar kuasa penebusan Kristus SECARA SAKRAMENTAL kepada kita. Apa yang dulu
pernah dilakukan Yesus dalam pelayanan historis-Nya, sekarang Ia lakukan (sebagai Tuhan
yang bangkit, melalui Roh Kudus) dalam misteri-misteri liturgi.
Berikut adalah perayaan liturgi yang digolongkan sebagai
tingkat “Hari Raya”, tingkat “Pesta” dan tingkat “Peringatan”,
masing-masing menurut pentingnya. (Bdk. PTL 59)
1. Hari Raya/ Solemnity:
Merupakan tingkatan tertinggi dari perayaan pesta/ feast. Hari Raya adalah untuk memperingati
peristiwa- peristiwa dalam kehidupan Yesus, Maria atau para rasul; di mana peristiwa- peristiwa
tersebut merupakan peristiwa utama/ sentral dalam rencana keselamatan Allah. Dalam Misa
Kudus, perayaan hari raya ditandai dengan bacaan – bacaan Kitab Suci yang sesuai (Bacaan
Pertama, Mazmur, Bacaan kedua dan Injil), pengucapan Kemuliaan, dan Aku Percaya. Setiap
hari Minggu adalah hari raya.
1 Januari: Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah
6 Januari: Hari Raya Penampakan Tuhan
Maret 19: Hari Raya St. Yusuf Suami SP Maria
Maret 25: Hari Raya Kabar Sukacita
Maret/ April (bervariasi): Hari Raya Triduum Paska
40 hari setelah Paskah: Hari Raya Kenaikan Tuhan
50 hari setelah Paskah: Hari Raya Pentakosta
Minggu setalah Pentakosta: Hari Tritunggal Mahakudus
Minggu setelah hari Tritunggal Mahakudus: Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus
Jumat setelah Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus: Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus
24 Juni: Hari Raya Kelahiran St. Yohanes Pembaptis
29 Juni: Hari Raya St. Petrus dan Paulus
15 Agustus: Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga
1 November: Hari Raya Semua Orang Kudus
November: Hari Minggu terakhir sebelum masa Adven: Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus
Raja Semesta Alam
8 Desember: Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda
25 Desember: Hari Raya Natal
Beberapa hari raya ini merupakan hari raya wajib (holy days of obligation) bagi umat Katolik,
untuk mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi. Ada hari raya yang hanya berlaku di
Indonesia, yaitu: Kemerdekaan Republik Indonesia (17/08).
2. Pesta/ Feast
Pesta/ Feast adalah perayaan liturgis pada tingkatan yang kedua, untuk memperingati hidup
Yesus, Bunda Maria atau rasul atau para orang kudus tertentu (major Saints). Hari Pesta ini
mempunyai juga bacaan yang sesuai, namun hanya ada dua bacaan, ditambah dengan
Kemuliaan (Gloria). Contoh: hari pesta hari kelahiran Bunda Maria 8 September, dan Pesta
Transfigurasi dan Pesta Salib Suci (14 September), Pesta peringatan hari arwah (2 November)
3. Peringatan/ Memorial
Peringatan/ Memorial adalah perayaan orang kudus yang berada di bawah tingkatan Pesta. Peringatan
ini ada yang wajib maupun fakultatif/ optional. Banyak hari peringatan merupakan pilihan/ tidak wajib,
yang dilakukan di keuskupan tertentu/ daerah/ negara tertentu. Peringatan orang kudus tidak akan
dirayakan/ diperingati jika jatuh bersamaan dengan hari raya/ solemnity, pesta, hari Minggu, hari rabu
Abu, Minggu paska atau Oktaf Paskah.
4. Masa musim liturgis
Masa liturgis tertentu, seperti Adven, masa Natal, Prapaska, Paskah) di mana tidak ada hari raya, pesta
atau hari peringatan khusus yang dilakukan.
5. Masa Biasa
Hari- hari dalam masa biasa.
Tentang Hari Raya, Pesta dan Peringatan: “Orang-orang kudus yang mempunyai arti penting untuk
seluruh Gereja, diperingati secara wajib di seluruh Gereja. Para kudus lainnya dicantumkan dalam
penanggalan umum sebagai peringatan fakultatif, atau peringatannya diserahkan kepada
kebijaksanaan Gereja setempat, bangsa atau tarekat yang bersangkutan.” (PTL 9)
“Dalam merayakan misteri Kristus sepanjang tahun liturgi, Gereja menghormati juga Santa Maria Bunda
Allah dengan cinta yang khusus. Kecuali itu para beriman diajak merayakan hari-hari peringatan para
martir dan para kudus lainnya.” (PTL 8)
“Perayaan-perayaan liturgi dibagi menurut pentingnya. Ada tingkat hari raya, tingkat pesta dan tingkat
peringatan. Hari raya merupakan hari liturgi yang paling besar. Perayaannya dimulai pada hari
sebelumnya dengan Ibadat Sore. Beberapa hari raya mempunyai Misa sore khusus pada hari
sebelumnya; rumus ini dipakai bila ada Misa sore.” (PTL 10-11)
Di Indonesia, ada 4 hari libur nasional dari tradisi Gereja Katolik, yang tidak selalu jatuh pada hari
Minggu: Tahun Baru (Gregorian) 1 Januari dan juga Kelahiran, Wafat dan Kenaikan Yesus Kristus. Di
negara-negara lain, ada juga hari libur nasional untuk Hari Raya Penampakan Tuhan (=Epifani, 6 Jan),
Tubuh dan Darah Kristus (=Corpus Christi, Kamis kedua setelah Pentakosta),
Hari Minggu selama tahun liturgi dianggap sangat penting. Terutama hari Minggu selama Adven,
Prapaskah dan Paskah. Hanya Pesta memperingati Tuhan atau Hari Raya yang jatuh pada hari Minggu di
luar 3 masa tersebut yang boleh menggantikan perayaan hari Minggu. Misalnya, Hari Raya St. Perawan
Maria Bunda Allah (1 Januari) jika jatuh hari Minggu maka akan dirayakan menggantikan hari Minggu.
Pesta Penampakan Tuhan misalnya, jika jatuh hari Minggu (di negara di mana harinya tidak dipindahkan
ke hari Minggu terdekat) akan tetap dirayakan menggantikan hari Minggu.
Pesta lain yang berkenaan dengan Santo/Santa, Pendirian Gereja, dsbnya akan diabaikan, karena lebih
rendah dari hari Minggu derajatnya. Selama 3 masa tersebut: Adven, Prapaskah, Paskah, derajat hari
Minggu menjadi mutlak dan tidak bisa digantikan oleh apapun. Jika ada Pesta Tuhan atau Hari Raya yang
jatuh pada hari Minggu pada masa-masa tersebut, maka akan digeser ke hari Sabtu. (DOKUMEN GEREJA:
PERAYAAN PASKAH DAN PERSIAPANNYA (LITTERAE CIRCULARES DE FESTIS PASCHALIBUS PRAEPARANDIS ET
CELEBRANDIS #11)
Dalam contoh kasus di atas, Pesta Salib Suci jatuh pada hari Minggu di luar 3 masa tersebut. Pesta ini
digolongkan pada Pesta Tuhan. Karenanya dirayakan menggantikan hari Minggu.
Warna Liturgi
Dalam Perayaan Ekaristi warna sangat dimanfaatkan sebagai unsur virtual yang sangat penting dalam
menciptakan suasana religius, sekaligus memberi sentuhan atmosfir sedemikian rupa sehingga sungguhsungguh dapat mengantar umat kepada pertemuan dengan yang Ilahi.
Gereja Katolik mempunyai pemahaman norma tersendiri dan baku akan warna. Setiap warna
merefleksikan nilai dan makna rohani tertentu. Begitu juga kapan waktu pemakaian warna tersebut
dipakai disesuaikan dengan masa-masa dan perayaan-perayaan atau pesta tertentu menurut
penaggalan kalender liturgi.
Warna yang dimaksud dalam liturgi adalah warna Stola (selempang/selendang) dan Kasula (Mantol
Lebar/Pakaian Paling Luar Imam) yang dipakai oleh Imam, begitu juga dengan warna yang dikenakan
Prodiakon, Lektor/Lektris dan Putra/Putri Altar disesuaikan dengan warna yang dipakai imam sesuai
kalender liturgi.
Penggunaan warna liturgi berkembang bersama-sama dengan pakaian luturgi dalam sejarah liturgi.
Perkembangan pemilihan warna liturgi berlatar belakang pada teknik pembuatan warna pada zaman
kuno. Pada zaman kuno bahan pewarna diambil dari getah utama keong dengan lama pemasakan, maka
orang mengatur warna yang diinginkan. Semakin lama pemasakan, semakin mahal harganya. Warna
merah tua dan gelap merupakan warna yang paling mahal, maka pesta liturgi yang disimbolkan juga
semakin meriah.
Pemilihan warna liturgi amat dipengaruhi oleh penafsiran makna atas simbol warna sebagaimana
dipahami suatu budaya dan masyarakat tertentu. De facto, penafsiran terhadap simbol warna bisa
bermacam-macam dan berbeda antarasuatu bangsa-budaya yang satu dengan yang lain. Meskipun
begitu, kita boleh meringkas makna simbolis warna-warna liturgi secara umum dan penggunaannya.
Dalam liturgi, warna melambangkan:
1. Sifat dasar misteri iman yang kita rayakan,
2. Menegaskan perjalanan hidup Kristiani sepanjang tahun liturgi
HIJAU (H)
Pada umumnya, warna hijau dipandang sebagai warna yang tenang, menyegarkan, melegakan, dan
manusiawi. Warna hijau juga dikaitkan dengan musim semi, di mana suasana alam didominasi warna
hijau yang memberi suasana pengharapan. Warna hijau pada khususnya dipandang sebagai warna
kontemplatif dan tenang.
Karena warna hijau melambangkan keheningan, kontemplatif, ketenangan, kesegaran, dan harapan,
warna ini dipilih untuk masa biasa dalam liturgi sepanjang tahun. Dalam masa biasa itu, orang Kristiani
menghayati hidup rutinnya dengan penuh ketenangan, kontemplatif terhadap karya dan sabda Allah
melalui hidup sehari-hari, sambil menjalani hidup dengan penuh harapan akan kasih Allah.
PUTIH DAN KUNING (U)
Warna putih dikaitkan dengan makna kehidupan baru, sebagaimana dalam liturgi baptisan si baptisan
baru biasa mengenakan pakaian putih. Warna putih umumnya dipandang sebagai simbol kemurnian,
ketidaksalahan, terang yang tak terpadamkan dan kebenaran mutlak. Warna putih juga melambangkan
kemurnian mutlak. Warna putih juga melambangkan kemurniaan sempurna, kejayaan yang penuh
kemenangan, dan kemuliaan abadi. Dalam arti ini pula mengapa seorang paus mengenkan jubah, single
dan solideo putih.
Warna kuning umumnya dilihat sebagai warna mencolok sebagai bentuk lebih kuat dari makna
kemuliaan dan keabadian, sebagaimana dipancarkan oleh warna emas. Dalam liturgi, warna putih dan
kuning digunakan menurut arti simbolisasi yang sama, yakni makana kejayaan abadi, kemuliaan kekal,
kemurnian, dan kebenaran. Itulah sebabnya warna putih dan kuning bisa digunakan bersama-sama atau
salah satu.
Warna putih atau kuning dipakai untuk masa Paskah dan Natal, hari-hari raya, pesta dan peringatan
Tuhan Yesus, kecuali peringatan sengsara-Nya. Begitu pula warna putih dan kuning digunakan pada hari
raya, pesta dan peringatan Santa Perawan Maria, para malaikat, para kudus bukan martir, pada hari
raya semua orang kudus (1 November), Santo Yohanes Pembaptis (24 Juni), pada pesta Santo Yohanes
pengarang Injil (27 Desember), Takhta Santo Petrus Rasul (22 Februari), dan Bertobatnya Paulus Rasul
(25 Januari)
MERAH (M)
Warna merah merupakan warna api dan darah. Maka, warna merah ini amat dihubungkan dengan
penumpahan darah para martir sebagai saksi-saksi iman, sebagaimana Tuhan Yesus Kristus sendiri
menumpahkan darah-Nya bagi kehidupan dunia. Dalam tradisi Romawi kuno, warna merah merupakan
simbol kuasa tertinggi, sehingga warna itu digunakan oleh bangsawan tinggi, terutama kaisar. Apabila
para kardinal memakai warna merah untuk jubah, singel, dan solideonya, maka itu dimaksudkan agar
para kardinal menyatakan kesiapsediaannya untuk mengikuti teladan para martir yang mati demi iman.
Dalam liturgi warna mereh dipakai untuk hari Minggu Palma, Jumat Agung, Minggu Pentakosta, dalam
perayaan perayaan sengsara Kristus, pada pesta para rasul dan pengarang Injil, dan dalam perayaanperayaan para martir.
UNGU (U)
Warna ungu merupakan simbol bagi kebijaksanaan, keseimbangan, sikap berhati-hati, dan mawas diri.
Itulah sebabnya warna ungu dipilih untuk masa Adven dan Prapaskah sebab pada masa itu semua orang
Kristiani diundang untuk bertobat, mawas diri, dan mempersiapkan diri bagi perayaan agung Natal
ataupun Paskah. Warna itu juga digunakan untuk keperluan ibadat tobat.
Pada umumnya, liturgi arwah menggunakan warna ungu sebagai ganti warna hitam. Dalam liturgi arwah
itu, warna ungu itu melambangkan penyerahan diri, pertobatan, dan permohonan belaskasihan dan
kerahiman Tuhan atas diri orang yang meninggal dunia dan kita semua sebagai umat beriman.
HITAM (T)
Warna hitam merupakan lawan warna putih dan melambangkan ketiadaan, kegelapan, pengurbanan,
malam, kematian, dan kerajaan orang mati. Maka, warna hitam dapat melambangkan kesedihan dan
kedukaan hati secara paling itntensif. Warna hitam bisa
Download