Tn. S Usia 35 Tahun Dengan Skizofrenia Episodik Berulang

advertisement
Dian│Tn. S Usia 35 Tahun dengan Skizofrenia Episodik Berulang, Episode Kini Akut
Tn. S Usia 35 Tahun Dengan Skizofrenia Episodik Berulang, Episode Kini Akut
Dian Laras Suminar
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
Abstrak
Skizofrenia merupakan gangguan mental yang terklasifikasi berat dan kronik.Secara umum ditandai oleh distorsi pikiran,
persepsi yang khas, dan gangguan afek yang tidak wajar. Sifat perjalanan penyakit skizofrenia yang progresif, kronik,
eksaserbasi, memberikan kesan penderita tidak bisa disembuhkan.. Tn. S, 38 tahun, datang dengan keluhan marah-marah
tanpa sebab, mengamuk hingga menampar ibunya. Pasien mengatakan mendengar suara yang menyuruhnya serta ada
yang menggerakkan tubuhnya, ini adalah ke-enam kalinya pasien dibawa ke RSJ. Status psikiatrikus didapatkan kesadaran
jernih, perilaku normoaktif, sikap kooperatif, mood eutimia, afek terbatas, kurang serasi, bentuk pikir derealistik,
produktivitas cukup, arus pikir koheren namun terkadang asosiasi longgar, isi pikir delusion of control dan waham rujukan,
persepsi halusinasi auditorik, fungsi kognitif cukup baik, daya nilai kurang baik, tilikan satu dan dapat dipercaya.
Tatalaksana dengan psikofarmaka risperidon 2x2mg, psikoterapi suportif dan psikoterapi reedukatif terhadap pasien dan
keluarga. Diagnosis pasien ini skizofrenia episodik berulang, episode kini akut, pasien memiliki riwayat tidak taat berobat
sehingga perlu dipertimbangkan pemberian antipsikotik jangka panjang.
Kata kunci: psikoterapi, skizofrenia, waham
Mr. S 35 Years Old Man with Multiple Episodes Schizophrenia,
Currently in Acute Episode
Abstract
Schizophrenia is classified asa chronic severe mental disorder. Generally characterized by distortion of thinking, typical
perception, and abnormalaffective disorders. The nature of schizophrenia disease, which progressive, chronicand
exacerbate, giving the impression that patient can not be cured. Mr. S, 38 years old, came with complaints of angry without
cause, raged up to slap his mother. Patient told that he heard commanding voices and felt something moved his body, this
is the sixth time the patient was taken to the asylum. Psychiatric status obtained a clear awareness, behavior normoaktive,
cooperative attitude, mood eutimia, limited affect, less harmonious, thought form: derealistik, productivity enough,
thought continuity:coherent but sometimes loose association, thought contents:delusion of control and delusion of
reference, perception: auditory hallucinations, Cognitive function good enough, individual judgment less good, insight level
one and trustworthy. Patient treatment with psychofarmacology therapyrisperidone 2x2mg, also supportive and
reeducative psychotherapy to patient and his families. Patient’s diagnosis is multiple episodes schizophrenia, currently in
acute periode, patient had a bad compliance history of treatment so that necessary to consider long acting antipsychotic
administration.
Keywords: delusion, psychotherapy, schizophrenia
Korespondensi: Dian Laras Suminar, S.Ked, alamat jl. Sultan Haji, no. 99B, Kedaton, Bandarlampung, HP 082176274508,
[email protected]
Pendahuluan
Skizofrenia merupakan gangguan mental
yangterklasifikasi berat dan kronik.Secara
umum ditandai oleh distorsi pikiran, persepsi
yang khas dan gangguan afek yang tidak
wajar.Skizofrenia disebabkan oleh hal yang
multikompleks, seperti ketidakseimbangan
neurotransmiter di otak, faktor edukasi dan
perkembangan mental sejak masa anak-anak,
serta stressor psikososial berat yang
menumpuk.
Sifat
perjalanan
penyakit
skizofrenia yang progresif, cenderung menahun
(kronik),
eksaserbasi
(kumat-kumatan),
sehingga terkesan penderita tidak bisa
disembuhkan.1,2
Faktor risiko terpenting untuk terjadinya
skizofrenia adalah memiliki relatif dengan
skizofrenia.Tidak ada keraguan bahwa ada
komponen herediter merupakan etiologi
skizofrenia.Diketahui juga bahwa genetik bukan
satu-satunya etiologi skizofrenia.Konkordansi
pada kembar monozigot hanya sekitar 50%
pasien skizofrenia sisanya bergantung pada
lingkungan seseorang, sering dibagi menjadi
faktor lingkungan awal dan akhir. Faktor
psikososial tampaknya berkontribusi baik pada
onset maupun kekambuhan skizofrenia.3
Obat antipsikotik merupakan sarana
terbaik yang tersedia untuk mengobati gejala
orang yang menderita skizofrenia, namun ada
variabilitas yang signifikan dalam respon klinis
terhadap obat-obatan psikotropika.4,5 Selain itu,
sebanyak 30-40% dari pasien tersebut mungkin
menunjukkan respon yang tidak memadai atau
J Medula Unila|Volume 4|Nomor 3|Januari 2016|35
Dian│Tn. S Usia 35 Tahun dengan Skizofrenia Episodik Berulang, Episode Kini Akut
bahkan buruk untuk antipsikotik konvensional
dan sampai 50% dari mereka mungkin
mengalami efek samping yang serius oleh
pengobatan tersebut.5Respon yang buruk
terhadap terapi obat antipsikotik dan/atau
dalam fase pemeliharaan ditemukan efek
samping yang merugikan dapat menyebabkan
pasien tidak patuh, gangguan psikososial dan
hasil yang buruk.6,7
Efek samping antipsikotik meliputi efek
pada susunan saraf pusat (gangguan aktivitas
motorik yaitu sindrom ekstrapiramidal,
penurunan fungsi kognitif), sistem saraf otonom
(hipertensi atau hipotensi, takikardi, diaporesis
dan pallor), serta sistem endokrin.7,8
Kebanyakan obat antipsikotik yang tersedia
dapat menyebabkan peningkatan sekresi
prolaktin karena produksi prolaktin dihambat
oleh pelepasan dopamin di sirkuit hipotalamushipofisis dan dapat ditingkatkan dengan
menghalangi tipe 2 (D2) reseptor dopamin.
Peningkatan ini terkait dengan berbagai efek
samping: menurunnya libido dan disfungsi
ereksi pada pria, amenorea dan galaktorea
pada wanita, serta percepatan osteoporosis
pada wanita. 9-11
Diperlukan
terapi
suportif
dalam
memulihkan dan memperkuat pertahanan
pasien dan mengintegrasikan kapasitas yang
telah terganggu. Disamping itu juga diperlukan
psikoedukasi kepada keluarga untuk membantu
penyembuhan atau pemulihan pasien.2Dengan
output kesembuhan yang tidak begitu baik,
penderita skizofrenia memerlukan perawatan
yang komprehensif danberkesinambungan
untuk membantu diri mereka beradaptasi
dengan lingkungan keluarga, lingkungan sosial
serta layanan sosial ketika penderita skizofrenia
dipulangkan setelah menjalani rawat inap.12
Kasus
Tn. S, usia 35 tahun wajah sesuai dengan
usianya dengan kesan penampilan tidak rapi,
dibawa ke rumah sakit oleh adiknya dengan
keluhan mengamuk, marah-marah tanpa sebab
yang jelas dan menampar ibu pasien. Pasien
dibawa ke Rumah Sakit Jiwa ini untuk ke-enam
kalinya, pasien mengatakan bahwa ia
melakukan hal itu karena emosinya yang
memuncak saat melihat motor keluarganya
yang rusak setelah dipakai oleh adiknya namun
belum diperbaiki. Menurut pasien, pasien
mendengar suara-suara yang menyuruhnya
untuk mengamuk dan menampar ibunya, dan
J Medula Unila|Volume 4|Nomor 3|Januari 2016|36
pasien merasa ada yang menggerakkan
tubuhnya untuk melakukan perbuatan tersebut
namun pasien tidak bisa menahannya, keluhan
ini sudah berlangsung sejak satu tahun yang
lalu semenjak pasien berhenti bekerja.
Perilaku pasien berubah sejak 12 tahun
yang lalu, yaitu menjadi sering melamun, sulit
untuk tidur, gelisah, mondar-mandir, dan
merusak barang-barang di rumahnya. Pasien
sering mencurigai orang lain termasuk
keluarganya sendiri, pasien merasa bahwa
orangtuanya tidak adil padanya dan lebih
menyayangi adik-adiknya. Pasien merasa
orang-orang
di
sekitar
lingkungannya
membicarakan keburukannya, yang mana hal
tersebut tidak secara nyata didengar oleh
pasien.
Lima belas tahun yang lalu pasien pernah
merasa sakit hati karena kekasihnya menikah
dengan orang lain, pasien merasa putus asa
dan memutuskan untuk pergi ke Jakarta selama
2 tahun, perilaku pasien berubah menjadi
murung dan pemarah setelah kembali dari
Jakarta. Pasien mengatakan saat di jakarta
pasien pernah mengkonsumsi narkoba untuk
melampiaskan sakit hatinya namun berhenti
setelah 1 bulan. Pasien pernah dirawat kurang
lebih selama 1 bulan saat 15 tahun yang lalu,
kemudian pasien melakukan rawat jalan,
namun pasien malas untuk minum obat,
sehingga pasien sering kambuh sehingga
berulang kali dirawat di RSJ. Saat jeda waktu
perawatan di RSJ pasien melakukan rawat jalan,
dan dapat kembali bekerja, namun satu tahun
yang lalu pasien dikeluarkan dari pekerjaannya
karena
perilakunya
yang
terkadang
meresahkan lingkungan kerjanya sehingga
sekarang pasien menganggur.
Saat ini pasien tinggal serumah dengan
kedua orangtuanya serta kedua adiknya yang
sudah menikah, hal ini membuat pasien merasa
tertekan karena pasien merupakan anak tertua
dan belum menikah.Pendidikan terakhir pasien
adalah SMA.Riwayat keluarga yang pernah
mengalami gangguan jiwa disangkal. Riwayat
minum-minuman beralkohol (+) namun sudah
berhenti sejak 1 tahun yang lalu, riwayat
penggunaan obat-obatan terlarang (+) 14
tahun yang lalu, riwayat panas tinggi
disangkal, riwayat kejang disangkal, riwayat
trauma kepala disangkal, serta riwayat sakit
kepala hebat disangkal.
Pada
pemeriksaan
fisik
pasien
didapatkan keadaan umum baik, tekanan
Dian│Tn. S Usia 35 Tahun dengan Skizofrenia Episodik Berulang, Episode Kini Akut
darah 120/80 mmHg, nadi 76x/menit, laju
napas 18x/menit, suhu 36,0oC, status
generalis, neurologis maupun pemeriksaan
laboratorium dalam batas normal. Status
psikiatrikus didapatkan kesadaran jernih,
perilaku normoaktif, sikap kooperatif, mood
eutimia, afek terbatas, kurang serasi, bentuk
pikir derealistik, produktivitas cukup, arus pikir
koheren namun terkadang asosiasi longgar, isi
pikir delusion of control dan waham rujukan,
persepsi halusinasi auditorik, fungsi kognitif
cukup baik, daya nilai kurang baik, tilikan satu,
dan dapat dipercaya.
Diagnosis pasien berupa diagnosis
multiaksial yaitu aksis I: Skizofrenia episodik
berulang, episode kini akut, aksis II dan III: tidak
ada. Terapi psikofarmaka yaitu Risperidone
2x2mg, psikoterapi suportif dan psikoterapi
reedukatif terhadap pasien dan keluarga, serta
rehabilitasi sesuai bakat dan minat pasien.
Pembahasan
Berdasarkan Standar Kompetensi Dokter
Indonesia (SKDI) penyakit Skizofrenia yang
termasuk dalam golongan gangguan Psikosis
memiliki tingkat kemampuan 3A yang berarti
seorang dokter pada pelayanan kesehatan
primer harus mampu membuat diagnosis klinik
dan memberikan terapi pendahuluan pada
keadaan yang bukan gawat darurat, dokter
mampu menentukan rujukan yang paling tepat
bagi penanganan pasien selanjutnya dan
mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari
rujukan.13,14
Diagnosis berdasarkan sistem multiaksial
mencakup penilaian pada beberapa aksis,
setiap aksis merujuk kepada bidang informasi
yang berbeda yang dapat membantu seorang
dokter merencanakan penatalaksanaan dan
memperkirakan hasilnya.15 Terdapat 3 aksis
pada sistem multiaksial menurut DSM 5 yaitu,
Aksis I : Gangguan Klinis, Gangguan lain yang
menjadi fokus perhatian klinis; Aksis II :
Gangguan kepribadian, Retardasi Mental; Aksis
III : Kondisi Medik Umum.16,17 Pada kasus ini
diagnosis Aksis I adalah Skizofrenia episodik
berulang, episode kini akut(multiple episodes
Schizophrenia, currently in acute episode),yang
mana
memenuhi
kriteria
diagnostik
berdasarkanDiagnostic and Statistical Manual
of Mental Disorder (DSM) Vyaitu Kriteria A,
terdapatlebih
dari
duagejala
yang
khas:waham,halusinasi, adanya gejala negatif
seperti alogia; Kriteria B, terdapat disfungsi
sosial atau pekerjaan: penurunan nyata di
bawah tingkat yang dicapai sebelum onset
dalam suatu rentang waktu yang bermakna
sejak onset gangguan seperti pekerjaan,
hubungan interpersonal atau perawatan diri;
Kriteria C, durasi gangguan terus berlanjut dan
menetap lebih dari 6 bulan, meliputi 1 bulan
gejala-gejala fase aktif yang memenuhi kriteria
A, Kriteria D, gangguan skizoafektif dan mood
dengan gambaran psikotik dikesampingkan
karena tidak ada episode depresi, mania atau
campuran keduanya yang terjadi bersamaan
dengan gejala-gelala fase aktif; Kriteria E,
gangguan ini bukan disebabkan oleh efek
fisiologis langsung dari suatu zat (seperti obatobatan medikasi atau yang disalah gunakan)
atau oleh suatu kondisi medis umum; Kriteria
F, tidak
ditemukan
suatu
gangguan
perkembangan pervasif, Multiple episodes,
adalah episode berulang setelah minimal
terdapat dua episode (setelah episode
pertama, masa remisi dan minimal satu kali
kekambuhan); currently in acute episode adalah
periode
waktu
dimana
terdapatnya
18-20
karakteristik kriteria A.
Diagnosis Aksis II, tidak ada gangguan
kepribadian berdasarkan autoanamnesis dan
alloanamnesis, sejak kecil tidak terdapat pola
perilaku yang abnormal, gaya berhubungan
dengan orang lain cukup baik sebelum sakit,
dan pasien dapat mengikuti pembelajaran di
sekolahnya dengan baik tanpa tinggal kelas.
Pada pemeriksaan fisik maupun penunjang
laboratorium berupa pemeriksaan darah rutin
dan kimia darah tidak ditemukan adanya
kelainan sehingga tidak ada diagnosis aksis
III.21,22
Penatalaksanaan pada pasien Skizofrenia
meliputi fase akut, fase stabilisasi, dan fase
rumatan.Pada fase akut terapi bertujuan
mencegah pasien melukai dirinya atau orang
lain, mengendalikan perilaku yang merusak,
mengurangi beratnya gejala psikotik dan gejala
terkait lainnya misalnya agitasi, agresi dan
gaduh gelisah.18-20 Pada kasus ini pasien
diberikan terapi antipsikotik golongan atipikal
berupa Risperidon 2x2 mg dipertimbangkan
peningkatan dosis setiap 2-3 hari sesuai
dengan gejala. Hal ini sesuai dengan guideline
schizoprenia
dari
American
Psychiatric
Association 2010 yang menyatakan bahwa
terapi skizofrenia menggunakan antipsikosis
golongan atipikal sebagai first line. Untuk dosis
Risperidon dianjurkan pemberian 2-8 mg.21-23
J Medula Unila|Volume 4|Nomor 3|Januari 2016|37
Dian│Tn. S Usia 35 Tahun dengan Skizofrenia Episodik Berulang, Episode Kini Akut
Pada fase akut, obat segera diberikan segera
setelah diagnosis ditegakkan, dosis dimulai dari
dosis anjuran dinaikkan perlahan secara
bertahap dalam waktu 1-3 minggu sampai
dicapai sampai dosis optimal yang dapat
mengendalikan gejala, lalu dipertahankan
sampai 8-12 minggu sebelum masuk ke fase
rumatan lalu diturunkan tiap dua minggu
perlahan lahan selanjutnya dipertahankan
sampai dengan lima tahun.Risperidon memiliki
spektrum kerja yang luas bukan hanya pada
reseptor D2 melainkan juga untuk 5HT2A.Sehingga dapat mengatasi gejala positif
dan negatif.Risperidon juga memiliki efek
samping yang lebih aman jika dibandingkan
antipsikosis yang lain.5,7,19
Jikapasien dibawa oleh keluarga dalam
keadaan gaduh gelisah dapat diberikan
intervensi sementara injeksi intra muskular
haloperidol kerja cepat (short acting) 5 mg,
dapat diulangi dalam 30 menit sampai 1 jam
jika belum ada perubahan yang signifikan, dosis
maksimal 30 mg/hari.Untuk pemberian
haloperidol dapat diberikan tambahan injeksi
intra muskular diazepam untuk mengurangi
dosis
antipsikotiknya
dan
menambah
24,25
efektivitas terapi.
Farmakoterapi pada fase stabilisasi
bertujuan mempertahankan remisi gejala serta
meminimalisasi risiko kekambuhan dan
mengoptimalkan
fungsi
dan
proses
kesembuhan. Setelah diperoleh dosis optimal,
dosis tersebut dipertahankan selama lebih
kurang 8-10 minggu sebelum masuk ke tahap
rumatan.Pada fase rumatan dosis mulai
diturunkan secara bertahap sampai diperoleh
dosis minimal yang masih mampu mencegah
kekambuhan. Bila kondisi akut, pertama kali,
terapi diberikan sampai dua tahun, bila sudah
berjalan kronis dengan beberapa kali
kekambuhan, terapi diberikan sampai lima
tahun bahkan seumur hidup.20,22
Untuk pasien yang tidak taat berobat,
dapat dipertimbangkan untuk pemberian
injeksi depo (jangka panjang) antipsikotik
seperti haloperidol decanoate 50 mg atau
fluphenazine decanoate 25 mg. Bila terjadi efek
samping, misalnya sindrom ekstrapiramidal
(distonia akut atau parkinsonisme), langkah
pertama yaitu menurunkan dosis antipsikotika,
kemudian dapat diberikan triheksifenidil(2-4)x2
mg. Jika timbul distonia akut berikan injeksi
difenhidramin, jika timbul akatisia (gelisah,
mondar mandir tidak bisa berhenti bukan
J Medula Unila|Volume 4|Nomor 3|Januari 2016|38
akibat gejala) berikan propranolol (2-3)x(10-20)
mg.19,22
Selain terapi psikofarmaka, psikoterapi
juga berperan penting dalam proses
pengobatan. Psikoterapi merupakan suatu
bentuk intervensi, dengan berbagai macam
cara dan metode yang bersifat psikologik untuk
tujuan menghilangkan, mengubah, atau
menghambat gejala-gejala dan penderitaan
akibat penyakit.13,18 Psikoterapi yang dapat
diterapkan
diantaranya
psikoterapi
suportifkepada pasien dengan cara pengenalan
pasien terhadap penyakitnya, manfaat
pengobatan, cara pengobatan dan efek
samping pengobatan, memotivasi pasien agar
minum obat secara teratur dan rajin kontrol,
mendorong pasien untuk melakukan fungsinya
dengan seoptimal mungkin di pekerjaan dan
aktivitas harian lain, mendorong pasien untuk
menghargai norma dan harapan masyarakat
(berpakaian, berpenampilan dan berperilaku
pantas). Kemudian dapat dilakukan psikoterapi
reedukatif seperti terapi kelompok dan terapi
keluargayang bertujuan untuk mengobah pola
perilaku dengan meniadakan kebiasaan
tertentu dan membentuk kebiasaan yang lebih
menguntungkan.16,21,23
Simpulan
Diagnosis kasus ini adalah Skizofrenia
episodik berulang, episode kini akut (multiple
episodes Schizophrenia, currently in acute
episode) berdasarkan kriteria diagnostikDSM5.Penatalaksanaan
Skizofrenia
mencakup
Farmakoterapi (fase akut, fase stabilisasi, fase
rumatan) dan Psikoterapi (suportif, reedukatif)
yang membutuhkan dukungan keluarga serta
masyarakat di lingkungan pasien.Pada kasus ini
pasien memiliki riwayat tidak taat berobat
sehingga perlu dipertimbangkan pemberian
antipsikotik jangka panjang seperti haloperidol
decanoate 50 mg atau fluphenazine decanoate
25 mg.
DAFTAR PUSTAKA
1. Jeste DV, Dolder CR. Schizophrenia and
paranoid disorders. Dalam: Blazer DG,
Steffens DC, Busse EW, eds. Essentials of
Geriatric Psychiatry. Arlington: American
Psychiatric Publishing; 2000.
2. Pilpala, Triharim KS. Terapi supportif dan
psikoedukasi
untuk
meningkatkan
pemahaman diri pada penderita
skizofrenia paranoid. Procedia Studi
Dian│Tn. S Usia 35 Tahun dengan Skizofrenia Episodik Berulang, Episode Kini Akut
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
Kasus dan Intervensi Psikologi.2013;4651.
Stefan M, Travis M, Murray RM.
Epidemiology and risk factors on atlas of
schizophrenia. The Parthenon Publishing
Group; 2002.
Shaikh S, Collier DA, Sham P, Pilowsky L,
Sharma T, Lin LK, et al. Analysis
of
clozapine
response
and
polymorphisms of the dopamine
D4receptor
gene
(DRD4)
in
schizophrenic pati ents. Am. J Med.
Genet.(Neuropsychiatric
Genet).2005;541–5.
Shafti SS, Gilanipoor M. A comparative
study between olanzapine and risperidon
in the management of schizophrenia:
clinical study. Hindawi Publishing
Corporation Schizophrenia Research and
Treatment; 2014.
Arijaya DNK. Clozapine pada skizofrenia
paranoid dengan obesitas: sebuah
laporan kasus. Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana; 2010.
Kusumawardhani A, Elvira SD. Terapi fisik
dan psikofarmaka; psikoterapi. Dalam:
Buku Ajar Psikiatri. Edisi ke-2. Jakarta:
Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2013.
Baggaley M. Sexual dysfunction in
schizophrenia: focus on recent evidence.
Dalam: Human Psychopharmacology.
2008; 23(3):201–9.
Haddad PM, Wieck A. Antipsychoticinducedhyperprolactinaemia:
mechanisms, clinical features and
management. 2004; 64(20):2291–314.
O’Keane
V.
Antipsychotic-induced
hyperprolactinaemia, hypogonadism and
osteoporosis in the treatment of
schizophrenia. J of Psychopharmacology.
2008; 22(2):70–5.
Rajkumar
RP.
Prolactin
and
psychopathology
in
schizophrenia:
Review article. Hindawi Publishing
Corporation Schizophrenia Research and
Treatment; 2014.
Putri PK, Ambarini TK. Makna hidup
penderita skizofrenia pasca rawat inap.
Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan
Mental; 2012.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 5 Tahun 2014. Panduan
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
praktik klinis bagi dokter di fasilitas
pelayanan kesehatan primer;2014.
Konsil Kedokteran Indonesia. Standar
kompetensi dokter indonesia; 2012.
American
Psychiatric
Association.
Diagnosis dan statistical manual of
mental disorders
(DSM IV TR).
Washington DC: APA; 2000.
Maramis W. Psikoterapi dalam catatan
ilmu
kedokteran jiwa.
Surabaya:
Universitas Airlangga;2009. hlm.478-89.
Maslim
R. Buku
saku diagnosis
gangguan jiwa (PPDGJ III). Jakarta:
Fakultas
Kedokteran
Jiwa
Unika
Atmajaya; 2004. hlm. 56.
Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan &
sadock’s:
synopsis
of
psychiatry
behavioral sciences/clinical psychiatry,.
New York: Lippicontt Williams & Wilkins;
2007.
American
Psychiatric
Association.
Treatment
of
patients
with
schizophrenia. Edisi ke-2. Amerika
Serikat: APA; 2010.
Perhimpunan
Dokter
Spesialis
Kedokteran Jiwa (PP PDSKJI). Pedoman
nasional
pelayanan
kedokteran
jiwa/psikiatri; 2012.
Buckley PF, Miller BJ, Lehre DS, Castle DJ.
Psychiatric
comorbidities
and
schizophrenia. Schizophrenia Bulletin.
2009; 35(2): 383-402.
Lieberman JA, Stroup TS, McEvoy JP,
Swartz MS, Rosenheck RA et al.
Effectiveness of antipsychotic drugs in
patients with chronic schizophrenia. The
New England J of Medicine. Volume ke353. No. 12; 2005.
Turola MC, Comelini G, Galuppi A, Nanni
MG,
Carantoni
E,
Scapoli
C.
Schizophrenia in real life: courses,
symptoms and functioning in an Italian
population. International J of Mental
Health Systems. 2012; 6(12).
American
Psychiatric
Association.Diagnosis dan statistical
manual of mental disorders (DSM
5).Washington DC: APA; 2013.
Tandon R et al. Definition and description
of schizophrenia in the DSM-5.
Schizophrenia Research Elsevier; 2013.
J Medula Unila|Volume 4|Nomor 3|Januari 2016|39
Download