Informasi laba dalam laporan keuangan pada umumnya penting

advertisement
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
ACTIVITY BASED COSTING DALAM PENENTUAN TARIF RAWAT INAP
RUMAH SAKIT UMUM
Hendra Kurniawan
[email protected]
Dini Widyawati
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya
ABSTRACT
The hospital requires the inpatient service fares calculation method in order to generate accurate cost
information which is in appropriate with its service activities. It is very difficult in making of the decision in
determining hospital service fares since the information is inadequate and incomplete so the decision making
always collides with the data which is related to the determination of the service fares. This collision influence the
determination of the hospital service fares so it creates a problem in the decision making of service fares
determination which is provided to the customers. Therefore, a hospital should be able to manage and control
those cost professionally. The purpose of this research is to find out the difference of fares which is determined by
Dr. Wahidin Sudiro Husodo general hospital by using activity based cost method. Descriptive qualitative
method is applied in this research with 2012 data about inpatient service fares and the data is obtained by
conducting interview with related parties in accordance with the inpatient services. The result of the research
indicates that the activity based costing method becomes a new consideration for the hospital management in
which it can be an alternative in determining the inpatient service fares. Based on the result of the
calculation which is performed by using the activity based costing method it generates service fares
which is higher than the current service fares.
Keywords:
Activity, Fares, Activity Based Costing Method
ABSTRAK
Rumah sakit memerlukan metode perhitungan tarif pelayanan rawat inap untuk
menghasilkan informasi-informasi biaya yang akurat yang sesuai dengan aktivitas pelayanannya.
Akan tetapi, dalam penentuan tarif pelayanan rumah sakit sangat sulit dalam pengambilan keputusan
yang dilakukan karena informasi yang tidak memadai dan tidak lengkap sehingga untuk
mengambilan keputusan selalu terbentur dengan data-data yang berkaitan dengan penentuan tarif.
Hal tersebut mempengaruhi penentuan tarif pelayanan rumah sakit sehingga menimbulkan suatu
permasalahan dalam mengambil keputusan penentuan harga jual pelayanan yang diberikan kepada
masyarakat. Oleh karena itu, rumah sakit harus dapat mengelola secara profesional dalam
mengendalikan biaya. Tujuan penelitian ini, untuk mengetahui perbedaan tarif yang ditentukan oleh
Rumah Sakit Umum Dr. Wahidin Sudiro Husodo dengan menggunakan metode activity based costing.
Penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif dengan data tahun 2012, berupa data-data mengenai
tarif pelayanan rawat inap, dan melakukan wawancara dengan pihak terkait mengenai pelayanan
rawat inap. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode activity based costing menjadi suatu
pertimbangan baru bagi pihak manajemen rumah sakit yang dapat dijadikan alternatif dalam
penentuan tarif pelayanan rawat inap. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan metode
activity based costing menghasilkan tarif yang lebih tinggi dari tarif yang digunakan saat ini.
Kata kunci: Aktivitas, Tarif, Metode Activity Based Costing
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
2
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi berpengaruh besar terhadap pelayanan di bidang kesehatan,
seperti rumah sakit. Kondisi rumah sakit sekarang dituntut untuk menggunakan teknologi
yang terbaru di bidang kesehatan dan informasi untuk menunjang dalam memberikan
pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Dalam penggunaan teknologi ini juga
membutuhkan biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh rumah sakit sehingga secara
langsung berpengaruh terhadap tarif rawat inap rumah sakit.Dalam penentuan tarif
pelayanan rumah sakit sangat sulit dalam pengambilan keputusan yang dilakukan, karena
informasi yang tidak memadai dan tidak lengkap, sehingga untuk mengambilan keputusan
selalu terbentur dengan data-data yang berkaitan dengan penentuan tarif. Hal tersebut
mempengaruhi penentuan tarif pelayanan rumah sakit sehingga menimbulkan suatu permasalahan
dalam mengambil keputusan penentuan harga jual pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.
Oleh karena itu, rumah sakit harus dapat mengelola secara profesional dalam mengendalikan biaya
tersebut, maka pihak rumah sakit memerlukan metode perhitungan tarif pelayanan rawat inap untuk
menghasilkan informasi-informasi biaya yang akurat yang sesuai dengan aktivitas pelayanannya.
Dalam perkembangan rumah sakit saat ini dengan menggunakan prinsip pelayanan kesehatan
yang diutamakan sekaligus merupakan salah satu faktor penting yang menjadi tolak ukur berjalannya
sebuah pembangunan di negara Indonesia. Seiring dengan kemajuan dan perkembangan teknologi
yang sangat pesat dan tidak dapat terhindarkan lagi, seharusnya hal tersebut dapat menciptakan
kemajuan dalam hal pelayanan kesehatan, penentuan tarif pelayanan sudah ditentukan didalam pasal
12 Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1165/MENKES/SK/X/ 2007 tentang Kebijakan Tarif,
Pasal 2 (dua) mengenai Biaya penyelenggaraan Rumah Sakit dipikul bersama oleh masyarakat
(pasien) dan pemerintah dengan memperhatikan kemampuan keuangan Negara dan keadaan sosial
ekonomi masyarakat dan Pasal 3 (tiga) mengenai Tarif Rumah Sakit dihitung atas dasar unit cost dari
setiap pelayanan dan kelas perawatan. Bahwa saat ini pemerintah telah menyadari pentingnya dalam
perhitungan tarif pelayanan yang terjadi pada sektor pelayanan kesehatan.
Activity Based Costing merupakan metode perhitungan pada biaya yang terkait dengan produk
atau jasa dengan berdasarkan aktivitas yang dihasilkan dalam produksi. Didalam pendekatan activity
based costing menggunakan penggerak biaya pada aktivitas, dimana akan menimbulkan biaya dan
lebih akuratnya dapat diterapkan pada perusahaan yang kesulitan dalam mengidentifikasi biaya
setiap jenis produk yang dihasilkan.
Untuk pengertian secara umum, bahwa activity based costing adalah metode perhitungan yang
memfokuskan berdasarkan aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh organisasi dan mengelompokkan
biaya yang berdasarkan sifat yang terkait aktivitasnya. Jadi dapat disimpulkan activity based costing
merupakan metode penentu biaya produk atau jasa yang melibatkan konsumsi sumber daya yang
disebabkan oleh aktivitas.
Tujuan penelitian yang dilakukan, yaitu: untuk mengetahui perhitungan dengan menggunakan
activity based costing dalam penentuan tarif rawat inap pada Rumah Sakit Umum Dr. Wahidin Sudiro
Husodo Kota Mojokerto dan untuk mengetahui perbandingan penentuan tarif rawat inap yang
ditentukan oleh pihak manajemen dengan metode activity based costing dalam menghitung tarif rawat
inap di Rumah Sakit Umum Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto.
TINJAUAN TEORETIS
Biaya
Dalam penerapan activity based costing, pemahaman konsep dan klasifikasi dari biaya sangat
penting. Biaya-biaya yang terjadi di dalam kegiatan operasi perusahaan merupakan salah satu
informasi yang sangat mendasar untuk menghitung harga pokok jasa dengan menggunakan activity
based costing oleh karena itu terlebih dahulu diperlukan suatu pemahaman mengenai biaya itu sendiri,
ada beberapa pendapat yang dikemukan mengenai pengertian biaya:
Menurut Hansen dan Mowen (1999:34) yang menjelaskan bahwa biaya adalah kas atau nilai
ekuivalen kas yang dikorbanuntuk mendapat barang atau jasa yang diharapkan memberikan manfaat
saat ini atau masa datang bagi organisasi. Sedangkan menurut Horngren (2005:34) mendefinisikan
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
3
biaya merupakan suatu sumber daya yang dikorbankan (sacrified) atau dilepaskan (forgone) untuk
mencapai tujuan tertentu. Pada dasarnya biaya merupakan kas atau sumber daya yang dimiliki yang
harus dikorbankan agar mendapatkan suatu manfaat yang diharapkan oleh manajemen pada saat ini
atau dimasa datang. Apabila biaya telah digunakan atau dihabiskan dalam suatu proses kegiatan
yang menghasilkan pendapatan, maka biaya tersebut dinyatakan dengan beban.
Menurut Mulyadi (2005; 8) biaya merupakan objek yang diproses oleh akuntansi biaya.
Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang
telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Ada empat unsur pokok
dalam mendefinisikan biaya tersebut di atas: (a) biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi; (b)
diukur dalam satuan uang; (c) yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi; (d)
pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu.
Biaya merupakan pengorbanan sumber daya atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan
untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan member manfaat saat sekarang atau dimasa
akan datang bagi organisasi.
Objek Biaya
Pada sistem akuntansi manajemen itu sendiri agar dapat mengukur dan
membebankan biaya kepada entitas yang disebut dengan objek biaya. Menurut Hongren, et
al (2005:34) menjelaskan untuk memandu keputusan, manajer ingin mengetahui berapa
banyak biaya suatu hal (seperti biaya suatu produk, mesin, layanan, atau proses) hal ini
disebut dengan obyek biaya. Sedangkan menurut Hansen dan Mowen (1999:37) objek biaya
adalah setiap item seperti produk, pelanggan, departemen, proyek, aktivitas dan sebagainya,
di mana biaya diukur dan dibebankan. Sebagai contoh, menentukan biaya pelayanan rawat
inap, maka objek biaya adalah pelayanan rawat inap.
Pada objek biaya itu sangat penting bagi manajemen karena memberikan manfaat
pada manajer dengan tujuan digunakan dalam perencanaan, pengendalian, dan
pengambilan keputusan. Pembebanan biaya kepada objek merupakan penting karena dapat
memberikan informasi biaya yang berkualitas. Apabila pembebanan biaya tidak sesuai
terhadap objek biaya maka akan menimbulkan informasi biaya yang distorsi sehingga dapat
menimbulkan pengambilan keputusan yang tidak tepat.
Metode Penelusuran Biaya
Pada penelusuran ini adalah pembebanan aktual biaya yang terjadi pada objek biaya
yang dapat digunakan sebagai ukuran yang diamati atas sumber daya yang dikonsumsi oleh
objek biaya. Didalam penelusuran ini ada beberapa metode, menurut Hansen dan Mowen
(2009:50) yaitu: (a) penelusuran langsung, suatu proses pengidentifikasian dan pembebanan
biaya yang berkaitan secara khusus dan fisik dengan suatu objek. Metode ini dilakukan
dengan pengamatan secarta fisik; (b) penelusuran penggerak, penggunaan penggerak untuk
membebankan biaya pada objek biaya. Penggerak mertupakan faktor penyebab yang dapat
diamati dan faktor penyebab yang mengukur konsumsi sumber daya objek biaya, sehingga
penggerak salah satu faktor yang menyebabkan perubahan dalam penggunaan sumber daya
dan memiliki hubungan sebab-akibat dengan biaya yang berhubungan dengan objek biaya;
(c) pembebanan biaya tidak langsung, biaya tidak langsung adalah biaya-biaya yang tidak
dapat dibebankan pada objek-objek biaya, baik dengan menggunakan penelusuran langsung
maupun penggerak. Hal ini berarti tidak ada hubungan sebab-akibat antara biaya dan objek
biaya, atau penelusuran tidak layak dilakukan secara ekonomis. Pembebanan biaya tidak
langsung pada objek biaya disebut alokasi. Karena tidak terdapat hubungan sebab-akibat,
pengalokasian biaya tidak langsung didasarkan pada kemudahan atau beberapa asumsi
yang berhubungan. Akan tetapi, alokasi biaya tidak langsung mungkin bermanfaat untuk
tujuan lain disamping keakuratan.
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
4
Pengertian Perilaku Biaya
Menurut Bastian (2008 : 204) perilaku biaya (cost behavior) adalah bagaimana biaya
akan bereaksi atau menanggapi perubahan tingkat aktivitas lembaga. Biaya diklasifikasikan
ke dalam tiga kategori. Pertama, biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tidak
dipengaruhi oleh perubahan kegiatan organisasi. Biaya tetap mempunyai sifat sebagai
berikut: (1) jumlah totalnya tidak berubah walaupun kegiatan berubah; (2) biaya per unit
semakin kecil apabila kegiatan semakin besar. Biaya tetap menurut jangka waktu
merupakan biaya yang jumlah totalnya tidak berubah dalam jangka waktu tertentu,
sedangkan dalam jangka panjang jumlah totalnya dapat berubah. Biaya yang termasuk ke
dalam biaya tetap adalah biaya gaji direktur, biaya gaji bulanan atau tahunan, dan lain-lain.
Kedua, biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya dipengaruhi oleh perubahan
kegiatan. Biaya variabel mempunyai sifat: (1) jumlah totalnya ikut berubah secara
proposional ketika kegiatan organisasi berubah. Ini berarti apabila kegiatan bertambah,
biaya totalnya ikut bertambah dalam persentase yang sama dengan penambahan kegiatan,
dan begitu juga sebaliknya; (2) biaya per unit tidak berubah walaupun kegiatan berubah.
Biaya yang termasuk ke dalam biaya variabel pada organisasi manufaktur yaitu biaya bahan
baku dan biaya upah tenaga kerja langsung. Sedangkan contoh biaya variabel untuk
organisasi jasa adalah biaya administrasi dan biaya komisi.
Ketiga, biaya semivariabel adalah biaya yang memiliki unsur tetap dan variabel. Unsur
tetap adalah jumlah biaya minimum untuk menyediakan jasa, sedangkan unsure variabel
adalah bagaian dari biaya semivariabel yang dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan.
Biaya juga dapat diklasifikasikan menjadi dua, menurut Bastian (2008:205) yaitu: (1) biaya
langsung (direct cost) adalah biaya yang dipengaruhi secara langsung oleh adanya program
atau kegiatan yang direncanakan. Jenis biaya langsung adalah biaya staf dan relawan serta
biaya peralatan; (2) biaya tidak langsung (indirect cost) adalah biaya yang tidak dipengaruhi
secara langsung oleh adanya program atau kegiatan.
Pengertian dan Penggolongan Biaya Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya
tenaga kerja langsung. Biaya-biaya produksi yang termasuk dalam biaya overhead pabrik
dikelompokkan menjadi beberapa golongan menurut Mulyadi (2010:194) yaitu: (a) bahan
penolong adalah bahan yang tidak menjadi bagian produk jadi atau bahan yang meskipun
menjadi bagian produk jadi tetapi nilainya relatif kecil bila dibandingkan dengan harga
pokok produksi tersebut; (b) biaya Reparasi dan Pemeliharaan berupa biaya suku cadang,
biaya bahan habis pakai dan harga perolehan jasa dari pihak luar perusahaan untuk
keperluan perbaikan dan pemeliharaan; (c) tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja
pabrik yang upahnya tidak dapat diperhitungkan secara langsung kepada produk atau
pesanan tertentu; (d) biaya yang timbul sebagai penilaian terhadap aktiva tetap, biaya-biaya
yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adala biaya yang berkaitan dengan aktiva
tetap; (e) biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu, biaya-biaya yang termasuk
dalam kelompok ini antara lain adalah biaya-biaya asuransi gedung dan emplasemen,
asuransi mesin dan ekuipmen, asuransi kendaran, asuransi kecelakaan karyawan, dan biaya
amortisasi kerugian trial-run; (f) biaya overhead pabrik lain yang secara langsung
memerlukan pengeluaran uang tunai, biaya overhead pabrik yang termasuk dalam
kelompok ini antara lain adalah biaya reparasi yang diserahkan kepada pihak luar
perusahaan, biaya listrik PLN dan sebagainya.
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
5
Perhitungan Harga Pokok Berdasarkan Fungsi
Menurut Hansen dan Mowen (2009:162) perhitungan biaya produk berdasarkan fungsi
membebankan biaya dari bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung pada produk
dengan menggunakan penelusuran langsung. Di lain pihak, biaya overhead dibebankan
dengan menngunakan penelusuran penggerak dan alokasi. Secara spesifik, perhitungan
biaya berdasarkan fungsi menggunakan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan dalam
biaya seiring dengan perubahan jumlah unit yang diproduksi (penggerak aktivitas tingkat
unit) untuk membebankan biaya overhead pada produk.
Tarif perkiraan overhead berdasarkan fungsi membutuhkan spesifikasi dari penggerak
tingkat unit, yaitu suatu perkiraan dari kapasitas yang diukur penggerak dan perkiraan dari
overhead yang diharapkan. Contoh-contoh penggerak tingkat unit yang umumnya
digunakan untuk membebankan overhead, menurut Hansen dan Mowen (2009:162)
meliputi: (a) unit yang diproduksi; (b)jam tenaga kerja langsung; (c) biaya tenaga kerja
langsung; (d) jam mesin; (e) biaya bahan baku langsung.
Sistem ini mengalokasikan biaya ke produk melalui dua tahap yaitu: Pertama, tarif
keseluruhan pabrik, yaitu tarif overhead keseluruhan pabrik dihitung yang terdiri dua
tahap. Pertama, biaya overhead yang dianggarkan akan diakumulasi menjadi satu kelompok
untuk keseluruhan pabrik (pembebanan biaya tahap pertama). Biaya overhead dibebankan
secara langsung pada kelompok biaya tersebut dengan menambahkan seluruh biaya
overhead dalam satu tahun, tarif keseluruhan pabrik dihitung dengan menggunakan
penggerak tingkat unit (biasanya jam tenaga kerja langsung). Terakhir, biaya overhead
didbebankan pada produk dengan mengalihkan tarif tersebut dengan jumlah jam tenaga
kerja langsung aktual yang digunakan oleh tiap-tiap produk.
Kedua, tarif departemen, yaitu tarif departemen terdiri dari dua tahap. Pada tahap pertama,
biaya overhead keseluruhan pabrik dibagi dan dibebankan pada setiap departemen
produksi dan membentuk kelompok biaya overhead departemen. Kemudian biaya
dibebankan pada setiap departemen dengan menggunakan penggerak berdasarkan unit,
seperti jam tenaga kerja langsung dan jam mesin, digunakan untuk menghitung tarif
departemen. Produk yang diproses oleh berbagai departemen diasumsikan menggunakan
sumber daya overhead sesuai proporsi penggerak berdasarkan unit departemen. Pada tahap
kedua, overhead dibebankan pada produk dengan mengalihkan tarif departemen dengan
jumlah penggerak yang digunakan departemen terkait. Jumlah overhead yang dibebankan
pada produk secara sederhana adalah jumlah dari banyaknya overhead yang dibebankan
pada setiap departemen.
Activity Based Costing
Pengertian Activity Based Costing
Menurut Simamora (2002:123) activity based costing adalah sistem akuntansi yang
berfokus pada aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk menghasilkan produk atau jasa.
Activity based costing menyediakan informasi perihal aktivitas dan sumber daya yang
dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas tersebut. Sumber daya (resource) adalah unsur
ekonomik yang diterapkan atau digunakan dalam pelaksanaan aktivitas. Sedang aktivitas
(activity) adalah setiap kejadian atau transaksi yang merupakan pemicu biaya (cost driver)
yang bertindak sebagai faktor penyebab dalam pengeluaran biaya di dalam organisasi.
Manfaat Activity Based Costing
Pada proses biaya berdasarkan aktivitas banyak membantu kepada manajemen
perusahaan dalam mengambil suatu keputusan yang lebih akurat. Di dalam metode activity
based costing mempunyai manfaat dan keunggulan dalam mengkaji perhitungan harga
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
6
pokok sebagai berikut, menurut Tunggal (2000:23) menyatakan bahwa: (a) suatu pengkajian
activity based costing dapat meyakinkan manajemen bahwa mereka harus mengambil
sejumlah langkah untuk menjadi lebih kompetitif. Sebagai hasilnya, mereka dapat berusaha
untuk meningkatkan mutu sambil secara simultan memfokuskan pada mengurangi biaya;
(b) manajemen akan berada dalam suatu posisi untuk melakukan penawaran kompetitif
yang lebih wajar; (c) Activity based costing dapat membantu dalam keputusan membuat membeli yang manajemen harus lakukan; (d) dengan analisis biaya yang diperbaiki,
manajemen dapat melakukan analisis yang lebih akurat mengenai volume yang diperlukan
untuk mencapai impas (break even) atas produk yang bervolume rendah. (e) melalui analisi
data biaya dan pola konsumsi sumber daya, manajemen dapat mulai merekayasa kembali
(re-engineer) proses manufakturing untuk mencapai pola keluaran mutu yang lebih efisien
dan lebih tinggi.
Pengidentifikasi Aktivitas
Pada perhitungan biaya bedasarkan aktivitas itu memfokuskan terhadap aktivitas
yang harus diperhatikan. Oleh sebab itu, mengidentifikasi aktivitas adalah langkah utama
untuk penerapan activity based costing yang telah menjadi dasar sistem. Ada
pengidentifikasian aktivitas meliputi pengumpulan beberapa data dari dokumen yang
dimiliki oleh manajemen perusahan serta mencari data tambahan dengan melakukan
wawancara langsusng dan observasi kepada pihak manajemen perusahaan. Harapan
melakukan analisis aktivitas dapat memperoleh informasi yang akurat dan relevan terhadap
alokasi biaya pada masing-masing aktivitas sehingga manajemen dapat melakukan
pengambilan perencanaan yang tepat.
Menurut Hansen dan Mowen (2009:183) menjelaskan bahwa pengklasifikasian
aktivitas menjadi kategori umum ini akan memudahkan perhitungan biaya produk karena
biaya aktivitas yang berkaitan dengan tingkat yang berbeda akan merespons jenis penggerak
biaya yang berbeda (perilaku biaya berbeda berdasarkan tingkat). Aktivitas dapat
diklasifikasikan dalam empat kategori umum, yaitu: (a) aktivitas tingkat unit (Unit level
activities) adalah aktivitas yang dilakukan setiap kali sebuah unit diproduksi. Biaya aktivitas
tingkat unit bervariasi dengan jumlah unit yang diproduksi; (b) aktivitas tingkat batch (Batch
level activities) adalah aktivitas yang dilakukan setiap suatu batch produk diproduksi. Biaya
aktivitas tingkat batch bervariasi dengan jumlah batch, tetapi tetap terhadap jumlah unit pada
setiap batch; (c) aktivitas tingkat produk (Product level activities) adalah aktivitas yang
dilakukan bila diperlukan untuk mendukung berbagai produk yang diproduksi perusahaan.
Aktivitas ini menggunakan input yang mengembangkan produk atau memungkinkan
produk diproduksi atau dijual. Aktivitas ini dan biayanya cenderung meningkatkan sejalan
dengan peningkatan jenis produk yang berbeda.; (d) aktivitas tingkat fasilitas (Facility level
activities) adalah aktivitas yang menompang proses umum produksi suatu pabrik dan
memberikan organisasi pada beberapa tingkat, tetapi tidak bermanfaat bagi setiap produk
secara spesifik.
Penentuan Harga Pokok Berdasarkan Aktivitas
Menurut Supriyono (2002:230) sistem biaya berdasarkan aktivitas (activity based costing
system) Adalah system yang terdiri atas dua tahap yaitu pertama melacak biaya pada
berbagai aktivitas, dan kemudian ke berbagai produk. Di dalam penentuan harga pokok
berdasarkan aktivitas ini banyak menggunakan pemacu biaya (cost driver) dibandingkan
dengan penentuan harga pokok berdasarkan sistem tradisional yang menggunakan satu
atau dua pemacu biaya (cost driver) yang berdasarkan unit. Sistem ini lebih menekankan
pada penentuan harga pokok dan memberikan informasi biaya yang berkaitan dengan
berbagai aktivitas yang dilakukan pada kegiatan operasional. Namun apabila mengetahui
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
7
biaya yang kemungkinan memberikan suatu peluang untuk dilakukan penghematan biaya
yang dapat meminimalkan aktivitas dalam melakukan aktivitas, mengurangi aktivitas yang
tidak memberikan nilai tambah.
Menurut Supriyono (2002:230) dalam merancang sistem activity based costing, ada
tahapan yang harus dilakukan dalam penentuan harga pokok produk, yaitu: Pertama,
prosedur tahap pertama, yaitu pada tahap pertama penentuan harga pokok berdasarkan
aktivitas meliputi empat langkah sebagai berikut: (a) penggolongan berbagai aktivitas,
langkah pertama dalam prosedur tahap pertama activity based costing adalah penggolongan
berbagai aktivitas. Berbagai aktivitas diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok yang
mempunyai suatu interprestasi fisik yang mudah dan jelas serta cocok dengan segmensegmen proses produksi yang dapat dikelola; (b) pengasosiasian berbagai biaya dengan
berbagai aktivitas, langkah kedua adalah menghubungkan berbagai biaya dengan setiap
kelompok aktivitas; (c) penentuan kelompok-kelompok biaya (cost pool) yang homogeny,
langkah ketiga adalah penentuan kelompok-kelompok biaya yang homogen ditentukan.
Kelompok biaya homogen adalah sekumpulan biaya overhead yang terhubungkan secara
logis dengan tugas-tugas yang dilaksanakan dan berbagai macam biaya tersebut dapat
diterangkan oleh cost driver tunggal. Jadi, agar dapat dimasukkan ke dalam suatu kelompok
biaya yang homogen, aktivitas-aktivitas overhead harus dihubungkan secara logis dan
mempunyai rasio konsumsi yang sama untuk semua produk. Rasio konsumsi yang sama
menunjukkan eksistensi dari sebuah cost driver. Cost driver, tentunya harus dapat diukur
sehingga overhead dapat dibebankan ke berbagai produk; (d) penentuan tarif kelompok,
langkah ini adalah penentuan tarif kelompok. Tarif kelompok (pool rate) adalah tarif biaya
overhead per unit cost driver yang dihitung untuk suatu kelompok aktivitas. Tarif kelompok
dihitung dengan rumus total biaya overhead untuk kelompok aktivitas tertentu dibagi dasar
pengukuran aktivitas kelompok tersebut.
Kedua, prosedur tahap kedua, yaitu biaya untuk setiap kelompok biaya overhead
dilacak ke berbagai jenis produk dengan menggunakan tarif kelompok (pool rate) yang
dikonsumsi oleh setiap produk. Ukuran ini merupakan penyederhanaan kuantitas cost driver
yang digunakan oleh setiap produk. Overhead ditentukan dari setiap kelompok biaya ke
setiap produk dengan perhitungan sebagai berikut:
Overhead yang digunakan= Tarif kelompok × Unit-unit cost driver yang digunakan
Syarat Penerapan Sistem Activity Based Costing
Penerapan sistem activity based costing harus memiliki persyaratan, dimana
diversifikasi produk yang tinggi, persaingan yang ketat, dan biaya pengukuran yang relatif
kecil. Menurut Supriyono (2002:247) mengemukakan bahwa perusahaan yang akan
menerapkan activity based costing system, sebagai berikut: (a) biaya berdasarkan non-unit harus
merupakan prosentase yang signifikan dari biaya overhead. Jika hanya terdapat biaya
overhead yang dipengaruhi hanya oleh volume produksi dari keseluruhan overhead pabrik
maka jika digunakan akuntansi biaya tradisional pun informasi biaya yang dihasilkan masih
akurat sehingga penggunaan sistem activity based costing kehilangan relevansinya. Artinya
activity based costing akan lebih baik diterapkan pada perusahaan yang biaya overheadnya
tidak hanya dipengaruhi oleh volume produksi saja; (b) rasio konsumsi antara aktivitas
berdasarkan unit dan berdasar non-unit harus berbeda. Jika rasio konsumsi antar aktivitas
sama, itu artinya semua biaya overhead yang terjadi bisa diterangkan dengan satu pemicu
biaya. Pada kondisi ini penggunaan sistem activity based costing justru tidak tepat karena
sistem activity based costing hanya dibebankan ke produk dengan menggunakan pemicu
biaya baik unit maupun non-unit (memakai banyak cost driver). Apabila berbagai produk
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
8
rasio konsumsinya sama, maka sistem akuntansi biaya tradisional atau sistem activity based
costing membebankan biaya overhead dalam jumlah yang sama. Jadi perusahaan yang
produksinya homogen (diversifikasi paling rendah) mungkin masih dapat menggunakan
sistem tradisional tanpa ada masalah.
Menurut Rudianto (2006:286) sistem activity based costing diperlukan jika perusahaan
menghadapi persaingan yang sangat ketat dengan para pesaingnya dan penetepan harga
jual akan sangat berpengaruh pada keunggulan bersaing maka penggunaan sistem activity
based costing akan sangat diperlukan. Karena, sistem activity based costing menghasilkan
penetapan biaya produksi yang lebuh akurat dibanding dengan sistem tradisional maka
dapat menolong perusahaan dalam mengelola keunggulan kompetitif yang dimilikinya.
Dengan kemampuan menentukan biaya produksi yang lebih akurat maka penentuan harga
jual per jenis produk pun akan lebih tepat, sehingga perusahaan tidak salah menetapkan
harga jual yang kompetitif untuk suatu jenis produk tertentu.
Jika perusahaan memiliki diversitas produk yang sangat tinggi dalam hal volume,
ukuran, dan kompleksitas produk maka penggunaan sistem activity based costing akan sangat
bermanfaat. terutama jika biaya untuk mengimplementasikannya lebih rendah dibanding
dengan manfaatnya.
Penerapan Metode Activity Based Costing pada Perusahaan Jasa
Dalam penerapan metode activity based costing memang lebih banyak dilakukan di
perusahaan manufaktur, akan tetapi metode activity based costing dapat diterapkan dan
memberikan manfaat pada perusahaan jasa.
Menurut Lulu (2010:23) perusahaan jasa memiliki karakteristik yang berbeda dengan
perusahaan manufaktur, aktivitas-aktivitas untuk menghasilkan suatu produk cenderung
dilakukan dengan cara yang sama dan hal tersebut akan sulit dijumpai pada perusahaan
jasa. Berbeda dengan perusahaan manufaktur yang menghasilkan barang berwujud, output
perusahaan jasa yang berupa produk tidak berwujud membuat proses perhitungan biayanya
menjadi lebih rumit. Biaya overhead serta biaya-biaya tidak langsung pada perusahaan jasa
akan lebih sulit untuk dihubungkan dengan jasa yang dihasilkan.
Pengertian Jasa Pelayanan Rumah Sakit
Pelayanan rumah sakit saat ini merupakan salah satu isu terpenting dalam
meningkatkan kunjungan pasien rawat jalan dan rawat inap di suatu rumah sakit. Tujuan
pelayanan rumah sakit adalah memberikan kepuasan atas pelayanan yang paling mudah
dan murah yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Rumah sakit juga harus memiliki pelayanan berkarakter yang harus ditekankan pada
pihak manajemen rumah sakit agar dapat menarik pasien baru dan mempertahankan pasien
lama. Hal ini dapat membangun citra rumah sakit suatu pelayanan rumah sakit.
Metode Penentuan Harga Jual
Penentuan harga jual merupakan hal yang paling tersulit dalam menentukan oleh
pihak manajemen sehingga proses penerapan harga jual mengacu harga pada berbagai
pasar. Oleh karena itu, pihak manajemen harus memperoleh jaminan bahwa penentuan
harga jual jasa atau produk harus menghasilkan laba yang wajar. Peranan perusahaan dalam
penentuan harga jual jasa atau produk berbeda-beda.
Metode penentuan harga jual berdasarkan Activity Based Costing System dapat
menggunakan penentuan harga jual, menurut Mulyadi (2001:355) penentuan harga jual
ditentukan sebesar biaya penuh ditambah dengan laba yang diharapkan. Perhitungan harga
jual dilakukan dengan rumus sebagai berikut:
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
9
Persentase Markup %
Markup
Harga Jual per Unit
= (Laba yang diharapkan / Unit level Activity Cost) × 100%
= Persentase Markup % × Unit level Activity Cost
= (Total Biaya + Markup) / Jumlah Unit
Rerangka Pemikiran
Dengan perkembangan aktivitas yang dilakukan pada perusahaan jasa terutama pada
sektor pelayanan kesehatan, maka pihak manajemen dalam melakukan pengambilan
keputusan mengenai penetapan tarif dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan
masyarakat.
Perusahaan yang mampu mengelola kegiatan operasional dengan baik maka
perusahaan tersebut dapat bertahan dalam persaingan di era modernisasi. Berdasarkan
tinjauan teoritis serta permasalahan yang telah dikemukan, berikut ini gambar bagan
rerangka pemikiran dalam penentuan harga pokok tarif rawat inap di Rumah Sakit Umum
Dr. Wahidin Sudirohusodo Mojokerto.
Metode Pembebanan
Harga Pokok
Activity based Costing
Harga Pokok Jasa berdasarkan
Aktivitas
Tarif Rawat Inap
Gambar 1
Rerangka Konseptual
Penelitian Terdahulu
Dari penelitian terdahulu maka dapat digunakan sebagai acuan dalam penulisan
penelitian saat ini. Penelitian menurut Lulu (2010) dengan judul penelitian Penerapan
Activity Based Costing dalam Perhitungan Harga Pokok Jasa Sebagai Pedoman Penetapan
Tarif Pelayanan Rawat Inap di RSU Haji Surabaya.Yulianti (2011) dengan judul penelitian
Penerapan Activity Based Costing System Sebagai Dasar Penetepan Tarif Jasa Rawat Inap
pada RSUD. H. A. Sulthan Daeng Radja Bulukumba. Sedangkan penelitian menurut Dani
Saputri (2012) dengan judul penelitian Penerapan Metode Activity Based Costing dalam
Menentukan Besarnya Tarif Jasa Rawat Inap pada RS Hikmah Makassar. Dari hasil
penelitian yang diatas, dijadikan sebagai acuan untuk menambah wawasan mengenai
proses perhitungan menggunakan activity based costing dan menjadi dasar untuk menunjang
pembahasan masalah.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian dan Gambaran dari Objek
Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti menggunakan kualitatif dengan
pendekatan studi kasus (case study). Dalam penelitian dengan pendekatan studi kasus ini
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
10
digunakan untuk meneliti kasus tertentu seperti perhitungan harga pokok pelayanan ruang
bersalin yang terjadi pada saat ini dalam kehidupan nyata.
Gambaran dari penelitian ini, gambaran yang dapat diajukan dalam penelitian ini
adalah evaluasi penentuan tarif yang menjadi beban tiap produk yang dikeluarkan oleh
manajemen rumah sakit. Besaran tarif yang dihasilkan oleh manajemen rumah sakit kepada
customer harus memberikan timbal balik yang bersifat jangka pendek maupun jangka
panjang bagi perusahaan jasa seperti kepuasan pasien. Dalam penelitian ini diharapkan juga
dapat membantu manajemen mengambil keputusan dalam mengevaluasi penentuan tarif
yang dikeluarkan oleh pihak manajemen rumah sakit.
Teknik Pengumpulan Data
Data merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam proses penyempurnaan suatu
karya ilmiah dalam sebuah penelitian untuk mengetahui atau memperoleh gambaran
tentang permasalahan atau fenonema yang terjadi saat ini, selain itu data juga dapat
dipergunakan untuk membuat suatu keputusan dalam memecahkan permasalahan.
Dengan demikian data merupakan hal yang terbilang penting dalam melakukan suatu
penelitian dengan metode deskriptif kualitatif, dimana suatu data dapat diposisikan serta
digunakan untuk menunjang realibilitas dan validitas keilmiahan data-data yang berhasil
didapatkan dalam suatu penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah: Pertama, wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk
tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara
dengan informan atau orang yang diwawancara, dengan atau tanpa menggunakan pedoman
(guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial
yang relatif lama. (Bungin, 2008:108)
Kedua, dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data yang ditujukan pada subyek
peneliti, melalui beberapa dokumen yang dapat dipergunakan untuk menelusuri data-data
historis yang ada pada Rumah Sakit Umum Dr. Wahidin Sudirohusodo Mojokerto.
Dokumen-dokumen yang dimaksud adalah dokumen tertulis berupa: (a) sejarah Rumah
Sakit Umum Dr.Wahidin Sudirohusodo Mojokerto; (b) visi, Misi, dan Motto Rumah Sakit
Umum Dr.Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto; (c) struktur organisasi Rumah Sakit
Umum Dr.Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto; (d) tarif Ruangan dan Fasilitas Rumah
Sakit Umum Dr.Wahidin Sudirohusodo Kota Mojokerto; (e) data pasien bersalin Rumah
Sakit Umum Dr.Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto; (f) data mengenai biaya-biaya
aktivitas operasional Rumah Sakit Umum Dr.Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto.
Satuan Kajian
Dalam penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus
memberikan penjelasan mengenai masalah yang akan diteliti sekaligus dapat membantu
perusahaan dalam memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi. Oleh karena itu
diperlukannya satuan kajian untuk menentukan unit analisis yang sesuai dengan kebutuhan
penelitian.
Berdasarkan uraian diatas, maka komponen yang perlu dikaji dalam penelitian ini
adalah: Pertama, activity based costing adalah suatu perhitungan biaya yang berdasarkan
aktivitas untuk m’engetahui suatu proses pembiayaan yang terjadi pada jangka pendek
maupun jangka panjang yang menghasilkan biaya lebih akurat untuk mengambil suatu
keputusan dalam penentuan tarif.
Kedua, tarif pelayanan jasa merupakan biaya pelayanan atas jasa yang diberikan oleh
rumah sakit yang akan dibayarkan oleh pasien setelah menjalankan perawatan inap dan
besaran biaya atau tarif tergantung dari perbedaan pelayanan.
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
11
Teknik Analisis Data
Didalam penelitian ini, data yang sudah diperoleh dikaitkan dengan data-data lainnya
lalu diolah dan disusun secara sistematis, kemudian dibandingan dengan data-data atau
teori-teori yang telah penulis memahami sehingga dapat mengambil kesimpulan dalam
menyelesaikan permasalahan yang diteliti. Berdasarkan landasan teori yang telah
dikemukan oleh peneliti maka teknik analisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif.
Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan teknik analisa data yang digunakan dalam
penelitian kualitatif dengan bentuk studi kasus. Pertama, melakukan penelitian mulai dari
pengidentifikasi dan menelusuri jenis biaya berdasarkan aktivitas yang berkaitan dengan
operasional pada Rumah Sakit Umum Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto; Kedua,
dari hasil pengidentifikasian dan penelusuran biaya, kemudian di kelompokkan
berdasarkan masing-masing aktivitas (cost pool); Ketiga, melakukan perhitungan dalam
penentuan tarif pelayanan rawat inap Rumah Sakit Umum Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota
Mojokerto dengan menggunakan metode activity based costing; Keempat, mengevaluasi
penetapan tarif yang telah dilakukan dengan langkah perbaikan dan peningkatan pelayanan
rawat inap; Kelima, membuat kesimpulan dan saran secara keseluruhan dari hasil penentuan
tarif pelayanan rawat inap yang telah dilakukan oleh pihak manajemen.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Rumah sakit merupakan organisasi yang mengarah pada pelayanan bersifat sosioekonomi yang memberikan suatu jasa pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang
membutuhkan disamping itu tidak lepas dari akibat krisis ekonomi saat ini. Kendala yang
dihadapi pada saat ini adalah keuntungan dan tanggung jawab sosial yang harus
ditanggung oleh lembaga kesehatan masyarakat. Oleh sebab itu, untuk menyikapi kondisi
tersebut penetapan pola tarif pelayanan kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat dan
dapat digunakan secara baik. Hal ini merupakan salah satu kiat untuk menghadapi kendala
yang secara langsung dapat memelihara kesehatan masyarakat dan selanjutnya mampu
berkembang yang berorientasi pada sosial.
Saat ini, persaingan yang semakin tinggi membuat pihak manajemen rumah sakit
membuat beberapa strategi baru yang mengarah pada peningkatan mutu pelayanan yang
dilengkapi berbagai fasilitas-fasilitas yang memadai. Penentuan tarif pelayanan rawat inap
merupakan salah satu tujuan utama yang harus dipertimbangkan dalam perhitungan oleh
manajemen RSU Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto. Tarif yang sesuai dengan
situasi saat ini dapat dijadikan suatu pertimbangan oleh pihak manajemen yang mengenai
pelayanan rawat inap.
Dalam penentuan tarif pelayanan rawat inap RSU Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota
Mojokerto dengan menggunakan metode tradisional. Oleh karena itu RSU Dr. Wahidin
Sudiro Husodo Kota Mojokerto dapat memakai dengan cara lain untuk menetapkan tarif
pelayanan rawat inap dengan metode Activity Based Costing. Karena metode ini dapat
memberikan informasi yang lebih akurat dan relevan yang mengenai pada biaya-biaya jasa
pelayanan. Dengan data-data yang disediakan oleh metode Activity Based Costing maka
pihak manajemen RSU Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto dapat dijadikan sebagai
bahan pertimbangan dalam penentuan tarif pelayanan jasa rawat inap dan meningkatkan
kualitas pelayanan yang memadai.
Tarif Rawat Inap Rumah Sakit Umum Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto
Tarif rawat inap yang ada di Rumah Sakit Umum Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota
Mojokerto, dimana besaran tarif rawat inap yang diberikan terdapat tiga kelas yang terdapat
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
12
pada ruangan Gayatri tetapi yang diteliti hanya dua kelas yaitu kelas I dan kelas II. Dapat
dilihat pada tabel 1 berikut ini:
No
Kelas
Perawatan
Tabel 1
Daftar Tarif Kamar Perawatan
Rumah Sakit Umum Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto
Tarif
Total Tarif (Rp)
Jumlah Tempat
Per
Hari/
Orang
Tidur
Akomodasi (Rp)
Makan (Rp)
1
Kelas I
100.000
60,000
160,000
2
Kelas II
48.000
32,000
80,000
Sumber: Rumah Sakit Umum Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto
2
5
Data Jumlah Lama Hari Pasien Rawat Inap
Dalam penentuan tarif pelayanan rawat inap dengan menggunakan metode Activity
Based Costing diperlukan data jumlah lama hari pasien rawat inap, nampak pada tabel 2
berikut ini:
Tabel 2
Data Jumlah Lama Hari Pasien Rawat Inap
Tahun 2012
No
Kelas
Jumlah Lama Hari Rawat Inap
1
I
150
2
II
396
Sumber: RSU Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto
Penerapan Activity Based Costing, ada beberapa langkah yang akan dijelaskan pada
perhitungan tarif pelayanan rawat inap sebagai berikut:
Mengklasifikasi Biaya Terkait dengan Aktivitas Pelayanan Rawat Inap
Aktivitas-aktivitas yang terkait di tiga jenis kelas kamar pada rawat inap RSU Dr.
Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto yaitu kelas I, kelas II, dan kelas III. Adapun biayabiaya yang terkait aktivitas pada rawat inap, tabel 3 meliputi:
Aktivitas
Perawatan
kondisi
pasien
Pengadaan konsumsi
pasien
Sumber
daya
manusia
Pemeliharaan
Tabel 3
BiayaTerkait Aktivitas Rawat Inap
Biaya
Biaya listrik, air, dan telepon
Biaya bahan habis pakai
Biaya konsumsi
Biaya gaji dokter, bidan dan perawat
Biaya Pemeliharaan Gedung dan Fasilitas Gedung
Biaya cleaning service
Sumber: RSU Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto
Jumlah (Rp)
17,166,411
51,072,000
80,600,000
543,220,800
23,098,602
31,200,000
Analisis Metode Activity Based Costing
Pada tahap analisis terhadap perhitungan tarif dengan menggunakan metode activity
based costing antara lain:
Cost driver setiap aktivitas
Cost driver yang setiap aktivitas pelayanan rawat inap yang terdapat pada tabel 4
berikut ini:
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
13
Tabel 4
Cost Driver Setiap Aktivitas Rawat Inap
Cost driver
No
Aktivitas
1
Biaya gaji dokter, bidan dan perawat
Jumlah tenaga medis
2
Biaya konsumsi
Jumlah lama hari rawat
3
Biaya listrik, air, dan telepon
Jumlah lama hari rawat
4
Biaya bahan habis pakai
Jumlah lama hari rawat
5
Biaya cleaning servive
Jumlah lama hari rawat
6
Biaya pemeliharaan gedung dan fasilitas gedung
Jumlah lama hari rawat
Sumber: Hasil pengolahan data
Cost pool
Setelah menentukan cost driver maka langkah selanjutnya melakukan pengelompokan
biaya (cost pool). Setelah biaya-biaya diklasifikasikan kedalam kelompok biaya (cost pool)
maka aktivitas yang telah dikelompokkan mempunyai faktor pemicu timbulnya biaya akan
dapat diketahui besarnya pada setiap kelompok aktivitas, maka dapat dijelaskan pada tabel
5 berikut ini:
Aktivitas
Perawatan kondisi pasien
Pengadaan konsumsi pasien
Sumber daya manusia
Pemeliharaan
Tabel 5
Analisis Aktivitas Berdasarkan Unit (Cost Driver)
Cost Driver
Nama Biaya
Biaya listrik, air, dan telepon
Jumlah lama hari rawat
Biaya bahan habis pakai
Jumlah lama hari rawat
Biaya konsumsi
Jumlah lama hari rawat
Biaya gaji dokter, bidan dan perawat
Jumlah tenaga medis
Biaya Pemeliharaan Gedung dan Jumlah lama hari rawat
Fasilitas Gedung
Jumlah lama hari rawat
Biaya cleaning service
Sumber: Hasil pengolahan data
Penggolongan Aktivitas
Penggolongan aktivitas merupakan langkah kedua pada perhitungan metode activity
based costing. Pada saat melakukan analisis harus memahami aktivitas berdasarkan tingkat
aktivitas biaya. Didalam penelitian saat ini terdapat dua tingkat aktivitas yang telah
dianalisis. Pertama, berdasarkan unit level activities, yaitu biaya aktivitas tingkat unit bersifat
proposional yang berdasarkan kapasitas atau jumlah produk. Aktivitas ini merupakan
kegiatan yang sering dilakukan dalam operasional setiap hari untuk menjalani rawat inap
pada RSU Dr. Wahidin Sudiro Husodo. Aktivitas yang terjadi pada saat ini adalah: (a)
aktivitas bidan dan perawat; (b) aktivitas konsumsi pasien; (c) aktivitas listrik, air, dan
telepon; (d) aktivitas bahan habis pakai.
Kedua, berdasarkan facility level activities, yaitu biaya aktivitas fasilitas merupakan biaya
pendukung dalam kegiatan operasional menjalani rawat inap untuk mempertahankan
fasilitas yang dimiliki oleh RSU Dr. Wahidin Sudiro Husodo. Aktivitas yang terjadi pada
saat ini adalah: (a) biaya pemeliharaan gedung dan fasilitas gedung; (b) aktivitas cleaning
service
Pengidentifikasian biaya yang berbagai aktivitas dapat dilihat pada tabel 6 berikut:
No
1
Tabel 6
Penggolongan Biaya Berdasarkan Tingkat Aktivitas
Cost Driver
Jenis Biaya
Kategori Aktivitas
Unit level activities
Biaya gaji dokter, bidan, dan perawat
Jumlah tenaga
medis
Biaya konsumsi
Jumlah hari
lama rawat
Biaya listrik, air, dan telepon
Jumlah hari
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
14
lama rawat
Jumlah hari
lama rawat
Jumlah hari
lama rawat
Jumlah hari
lama rawat
Biaya bahan habis pakai
2
Biaya cleaning service
Biaya pemeliharaan
fasilitas gedung
Facility level activities
gedung
dan
Sumber: Hasil pengolahan data
Menentukan Cost Driver dan Cost Pools
Setelah langkah kedua maka selanjutnya adalah langkah ketiga, dimana langkah ini
menentukan pemicu biaya (cost driver) dan kelompok biaya (cost pools). Adapun dari
keterangan diatas dapat dilihat pada tabel 7 sebagai berikut:
Tabel 7
Cost Driver dan Cost Pool
Cost Driver
Aktivitas
Nama Biaya
Biaya (Rp)
Unit level activities
Biaya listrik, air, dan Jumlah lama
17,166,411
Perawatan kondisi telepon
hari rawat
pasien
Biaya
bahan
habis Jumlah lama
51,072,000
pakai
hari rawat
Pengadaan
Biaya konsumsi
Jumlah lama
80,600,000
konsumsi pasien
hari rawat
Sumber
daya Biaya gaji bidan dan Jumlah tenaga
543,220,800
manusia
perawat
medis
Facility
level Biaya
Pemeliharaan Jumlah lama
23,098,602
activities
Gedung dan Fasilitas hari rawat
Pemeliharaan
Gedung
Biaya cleaning service
Jumlah lama
31,200,000
hari rawat
Sumber: Hasil pengolahan data
Cost Pool (Rp)
68,238,411
80,600,000
543,220,800
54,298,602
Dalam perhitungan dengan menggunakan prosedur tahap kedua, setelah biaya-biaya
diketahui tarif tiap kelompoknya dari berbagai aktivitas maka dapat dibebankan tiap jenis
kelas rawat inap berdasarkan konsumsi masing-masing aktivitas. Berikut ini tarif pelayanan
rawat inap untuk masing-masing jenis kamar dapat dilihat pada tabel 8 dan tabel 9 sebagai
berikut:
Aktivitas
Perawatan
kondisi pasien
Pengadaan
konsumsi pasien
Sumber daya
manusia
Pemeliharaan
Driver
Jumlah lama
hari rawat
Jumlah lama
hari rawat
Jumlah tenaga
medis
Jumlah lama
hari rawat
Total biaya untuk kelas I
Jumlah lama hari rawat
Jumlah tarif per hari
Sumber: Hasil pengolahan data
Tabel 8
Tarif Pelayanan Rawat Inap
Kelas I
Pool Rate (Rp)
Pelayanan Rawat Inap
Driver
Biaya (Rp)
19,375
150
2,906,235
Sesuai Tarif
150
9,000,000
404,182
30
12,125,460
15,417
150
2,312,547
26,344,242
150
175,628
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
15
Dari hasil perhitungan yang diatas dengan menggunakan metode activity based costing
bahwa tarif pelayanan rawat inap kelas I sebesar Rp. 175.628,- untuk per hari dan per pasien.
Selanjutnya menghitung tarif pelayanan rawat inap kelas II dengan menggunakan
metode activity based costing. Adapun dapat dilihat perhitungan pada tabel 9 sebagai berikut:
Driver
Aktivitas
Perawatan
kondisi pasien
Pengadaan
konsumsi pasien
Sumber daya
manusia
Pemeliharaan
Jumlah lama
hari rawat
Jumlah lama
hari rawat
Jumlah pasien
Jumlah lama
hari rawat
Total biaya untuk kelas I I
Jumlah lama hari rawat
Jumlah tarif per hari
Sumber: Hasil pengolahan data
Tabel 9
Tarif Pelayanan Rawat Inap
Kelas II
Pool Rate (Rp)
Pelayanan Rawat Inap
Driver
Biaya (Rp)
19,375
396
7,672,460
Sesuai Tarif
396
12,672,000
404,182
30
12,125,460
15,417
396
6,105,124
38,575,044
396
97,412
Dari hasil perhitungan yang diatas dengan menggunakan metode activity based
costing bahwa tarif pelayanan rawat inap kelas II sebesar Rp. 97.412,- untuk per hari dan
per pasien.
Metode Penentuan Harga Jual Berdasarkan Activity Based Costing
Untuk harga jual yang telah ditentukan biaya penuh ditambah dengan laba yang
diharapkan. Tetapi pihak manajemen belum menetapkan laba yang diharapkan untuk tarif
pelayanan rawat inap, maka harga jual tiap kelas dapat dihitung dengan pendekatan activity
based costing.
Persentase Markup %
Markup
Harga Jual per Unit
1.
2.
= (Laba yang diharapkan / Unit level Activity Cost) × 100%
= Persentase Markup % × Unit level Activity Cost
= (Total Biaya + Markup) / Jumlah Unit
Tarif Rawat Inap Kelas I
Total biaya untuk kelas I
Rp. 26,344,242
Laba yang diharapkan
(0% X Rp. 26,344,242) Rp.
Unit level activity cost
Rp. 24,031,695
Markup (0% X Rp. 24,031,695)
Rp.
Harga Jual Kelas I ( Rp. 26,344,424 / 150 )
Rp.
175,628
Tarif Rawat Inap Kelas II
Total biaya untuk kelas II
Rp. 38,575,044
Laba yang diharapkan
(0% X Rp. 38,575,044) Rp.
Unit level activity cost
Rp. 32,469,920
Markup (0% X Rp. 32,469,920)
Rp.
Harga Jual Kelas II ( Rp. 38,575,044 / 396 )
Rp.
97,412
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
16
Perbandingan Metode Akuntansi Biaya Tradisional dengan Metode Activity Based
Costing Sebagai Penentuan Tarif Rawat Inap
Dari hasil perhitungan dengan menggunakan activity based costing dapat dijadikan
suatu perbandingan dari tarif yang ditentukan oleh rumah sakit. Adapun keterangan diatas
dapat dilihat pada tabel 10 sebagai berikut:
Kelas
Tabel 10
Perbandingan Tarif Rawat Inap
Metode Konvensional dan Metode Activity Based Costing
Tarif pelayanan rawat inap
Selisih
Activity based costing
Konvesional
I
Rp.
160,000
II
RP.
80,000
Sumber: Hasil pengolahan data
Rp.
Rp.
175,628
97,412
Rp.
Rp.
15,628
17,412
Setelah melakukan perhitungan berdasarkan metode activity based costing untuk
besaran tarif pelayanan rawat inap, dapat diketahui bahwa untuk kelas I sebesar Rp.
175,628.- , sedangkan untuk kelas II sebesar Rp. 97,412.-. Dari hasil perhitungan yang
diperoleh maka dapat dibandingkan dengan tarif yang telah ditentukan oleh pihak Rumah
Sakit Umum Dr. Wahidin Sudiro Husodo dengan menggunakan metode activity based
costing. Perbandingan tersebut dapat menunjukkan keakuratan dalam perhitungan tarif
pelayanan rawat inap yang dapat mempengaruhi pendapatan yang diperoleh. Selain itu
perbandingan dapat memberikan gambaran mengenai cost driver (pemicu biaya) yang
berdasarkan unit sedangkan cost driver (pemicu biaya) berdasarkan aktivitas dalam
membebankan biaya overhead. Untuk pembebanan biaya-biaya overhead berdasarkan
metode tradisional dengan menggunakan penggerak tingkat unit, seperti jam tenaga kerja
langsung. Hal ini dapat diasumsikan bahwa pembebanan menyebabkan pemicu biaya
berdasarkan unit tidak dapat menjelaskan konsumsi seluruh aktivitas overhead oleh produk
yang bersangkutan. Sedangkan untuk pembebanan berdasarkan aktivitas dapat menjelaskan
mengenai konsumsi overhead oleh produk, sehingga pada metode activity based costing
dapat memberikan perhitungan tarif yang lebih akurat.
Setelah terdapat perbandingan tarif rawat inap yang menggunakan activity based
costing maupun tarif rawat inap yang telah ditentukan oleh rumah sakit umum Dr. Wahidin
Sudiro Husodo, maka pada masa yang akan mendatang dapat dibuat acuan tarif pelayanan
rawat inap dan jasa pelayanan yang diberikan harus dipertahankan oleh rumah sakit umum
Dr. Wahidin Sudiro Husodo untuk tetap dapat bersaing dengan rumah sakit lainnya, untuk
harapannya rumah sakit umum Dr. Wahidin Sudiro Husodo dapat mempertahankan pasien
lama atau pasien baru yang dijadikan sebagai rujukan untuk mendapatkan suatu pelayanan
kesehatan. Hal ini rumah sakit umum Dr. Wahidin Sudiro Husodo harus melakukan
perbaikan pada suatu aktivitas-aktivitas yang ada, disamping itu harus ada komitmen untuk
mewujudkan harapan yang ada.
Tarif Pelayanan Rawat Inap Rumah Sakit “X”Sebagai Pembanding Tarif
Setelah melakukan perhitungan berdasar activity based costing pada rumah sakit
umum Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto mengenai tarif pelayanan rawat inap
maka dapat dibandingkan dengan salah satu tarif pelayanan rawat inap rumah sakit “X”
yang setara dengan rumah sakit yang diteliti saat ini.
Rumah sakit “X” ini mempunyai beberapa kelas tetapi yang dicantumkan pada
penelitian ini hanya kelas I dan kelas II yang dijadikan tarif pelayanan rawat inap sebagai
pembanding dengan tarif pelayanan rawat inap yang dilakukan dengan menggunakan
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
17
activity based costing sehingga dapat diketahui selisih tarif dengan rumah sakit “X”. Untuk
membandingkan maka dapat dilihat pada tabel 11 sebagai berikut ini:
Tabel 11
Perbandingan Tarif Pelayanan Rawat Inap Activity Based Costing
RSU Dr. Wahidin Sudiro Husodo dengan Rumah Sakit “X”
Kelas
Tarif Kamar / Pasien
Selisih
RSU Dr. Wahidin Sudiro
Rumah Sakit “X”
Husodo
I
Rp. 175,628
Rp. 200,000
Rp. 24,372
II
Rp.
97,412
Rp. 175,000
Rp. 77,588
Sumber: Hasil pengolahan data
Maka dapat diketahui dari selisih tarif antara Rumah Sakit Umum Dr. Wahidin
Sudiro Husodo Kota Mojokerto dengan Rumah Sakit “X”. Untuk kelas I terjadi selisih
sebesar Rp. 24,372,-; sedangkan untuk kelas II terjadi selisih sebesar Rp. 77,588,-. Jadi dapat
disimpulkan bahwa Rumah Sakit Umum Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto masih
dapat dijangkau oleh masyarakat dan Rumah Sakit “X” mengenai tarif lebih tinggi dari
rumah sakit yang dilakukan penelitian saat ini.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang dilakukan oleh penulis pada Rumah Sakit Umum
Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto, maka dapat disimpulkan bahwa perhitungan
dengan menggunakan metode activity based costing sebagai penentu tarif pelayanan rawat
inap. Pertama, Perbedaan mengenai tarif dipengaruhi oleh pembebanan biaya overhead tiap
produk. Untuk metode akuntansi biaya tradisional itu biaya overhead tiap produk hanya
dibebankan pada satu pemicu biaya (cost driver). Sedangkan untuk metode activity based
costing itu biaya overhead tiap produknya dibebankan pada banyak pemicu biaya (cost driver).
Kedua, dari perhitungan tarif pelayanan rawat inap dengan menggunakan metode
activity based costing pada salah satu ruangan yang telah diteliti dapat diketahui besaran tarif
untuk kelas I Rp 175.628,-; sedangkan untuk kelas II Rp. 97.412,-.
Ketiga, dari hasil perhitungan menggunakan metode activity based costing dapat
dibandingkan dengan tarif pelayanan rawat inap yang digunakan oleh rumah sakit selama
ini, dapat terlihat bahwa untuk kelas I, dan kelas II memberikan hasil perhitungan tarif yang
lebih besar dari tarif yang digunakan saat ini.
Saran
Rumah Sakit Umum Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto sebaiknya
melakukan pertimbangan mengenai tarif pelayanan rawat inap untuk kelas I dan kelas II
dengan menggunakan metode activity based costing karena akan membebankan biaya
berdasarkan aktivitas sehingga tingkat keakuratan lebih baik maka dapat mengambil
keputusan dengan tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Bastian, I. 2008. Akuntansi Kesehatan. Erlangga. Jakarta
Bungin, B. 2008. Penelitian Kualitatif: Komunikasi Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial
Lainnya. Kencana. Jakarta.
Hansen, Don R., dan Maryanne M Mowen. 2009. Managerial Accounting. Diterjemahkan oleh
Tim Penerjemah Penerbit Salemba dengan judul Akuntansi Manajemen. Edisi 8.
Buku 1. Salemba Empat. Jakarta.
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 8 (2013)
18
Hongren, Charles T. et al. 2005. Akuntansi Biaya: Penekanan Manajerial. Diterjemahkan oleh
Desi Adhariani. PT.Indeks. Jakarta.
Mulyadi. 2001. Akuntansi Manajemen: Konsep, Manfaat & Rekayasa, Edisi 3. Salemba Empat.
Jakarta.
________. 2010. Akuntansi Biaya. Edisi 5. STIM YKPN. Yogyakarta.
Rudianto. 2006. Akuntansi Manajemen: Informasi Untuk Pengambilan Keputusan Manajemen.
Grasindo. Jakarta.
Saputri, D. 2012. Penerapan Metode Activity Based Costing Dalam Menentukan Besarnya
Tarif Jasa Rawat Inap Pada RS Hikmah. Skripsi.
Simamora, H. 2002. Akuntansi Manajemen, Edisi 2. UPP AMP YKPN. Yogyakarta.
Supriyono. 2002. Akuntansi Manajemen, Proses Pengandalian Manajemen. STIE YKPN.
Yogyakarta.
_________. 2002. Akuntansi Biaya dan Akuntansi Manajemen untuk Teknologi Maju dan
Globalisasi. Edisi 2. Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Tunggal, A,W. 2000. Activity Based Costing: untuk manufaktur dan pemasaran. Harvarindo.
Jakarta.
Watul, L. 2010. Penerapan Activity Based Costing dalam Perhitungan Harga Pokok Jaa
sebagai Pedoman Penerpan Tarif Pelayanan Rawat Inap di Rumah Sakit Umum
Haji Surabaya. Skripsi. Program Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia.
STIESIA. Surabaya.
Yuliati. 2011. Penerapan Activity Based Costing System Sebagai Dasar Penetaan Tarif Jasa
Rawat Inap. Skripsi. Program Sarjana Universitas Hassanuddin. Makassar.
Download