Strategi Perancangan Kebijakan Umum APBD

advertisement
9
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Definisi Pembangunan
Secara normatif pembangunan diartikan sebagai proses yang memungkinkan
masyarakat meningkatkan kapasitas personal dan institusionalnya dalam mengelola
sumber daya untuk menghasilkan perbaikan kualitas hidup yang sesuai dengan
aspirasi mereka, berkelanjutan, adil dan merata (Korten 1990; Suryadi 2001).
Pembangunan merupakan proses yang direncanakan dalam upaya meningkatkan
pertumbuhan ekonomi, perubahan sosial dan modernisasi bangsa untuk mencapai
peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan (Suryono, 2001). Dalam UU 25/2004
tentang
Sistem
Perencanaan
Pembangunan
Nasional
dinyatakan
bahwa
pembangunan nasional diartikan sebagai upaya yang dilaksanakan oleh semua
komponen bangsa dalam rangka mencapai tujuan bernegara.
Adapun tujuan
bernegara secara umum adalah untuk menuju masyarakat yang adil dan makmur.
Pembangunan dapat juga dilihat dari sisi administrasi pembangunan dan
pembangunan administrasi.
Administrasi pembangunan berkaitan dengan
manajemen pembangunan sedangkan pembangunan administrasi adalah perbaikan
organisasi pemerintah dalam membangun. Menurut Kartasasmita (1997), dalam
analisis manajemen pembangunan dikenal beberapa fungsi manajemen pembangunan
yaitu perencanaan, pengerahan sumberdaya, pengerahan pembangunan oleh
pemerintah, koordinasi, pemantauan, serta evaluasi dan pengawasan.
Adapun
pembangunan adminsitrasi adalah keadaan yang memungkinkan tercapainya
efektifitas penggunaan sumberdaya.
9
10
2.2.
Pergeseran Paradigma Pembangunan
Menurut Suryadi (2001), dalam perkembangannya, pembangunan yang
dilakukan negara-negara di dunia mengalami beberapa pergeseran paradigma. Dalam
kurun 1960-1970 berkembang paradigma pertumbuhan (growth). Pada kurun 19701980 berlaku paradigma kesejahteraan (welfare) dan pada kurun 1980-1990
berkembang paradigma pembangunan manusia (people centered development). Adapun di
era 2000-an seperti saat ini, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melalui United Nation
Development Program (UNDP) telah menetapkan suatu millenium development goals yang
dideklarasikan pada September 2000.
Paradigma pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan, menekankan
pada pertumbuhan ekonomi suatu negara dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Alat ukur pertumbuhan ekonomi suatu negara yang utama adalah Produk Domestik
Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP). Menurut Mankiw (2003), GDP
adalah nilai pasar semua barang jadi dan jasa yang diproduksi sebuah negara selama
kurun waktu tertentu.
Untuk menggambarkan keterkaitannya dengan jumlah
penduduk, sering dipakai ukuran PDB per kapita atau lebih populer disebut
pendapatan per kapita.
Setelah berjalan sekian lama ternyata pertumbuhan ekonomi menimbulkan
persoalan kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan pendapatan.
Sejak itu
beralihlah paradigma pembangunan kepada pembangunan kesejahteraan yang
menekankan pada perwujudan kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial dalam waktu
yang sesingkat mungkin.
Dalam perjalanannya konsep pembangunan ini malah
menimbulkan pengaruh dominan dari pemerintah di tiap-tiap negara. Kritik yang
muncul terhadap konsep pemerataan pendapatan nasional adalah pelaksanaannya
yang sentralistik sehingga menimbulkan ketergantungan rakyat dengan pemerintah
10
11
atau ketergantungan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat atau juga
ketergantungan antara negara-negara berkembang dengan negara-negara maju. Pada
gilirannya konsep ini tidak menimbulkan pembangunan yang berkelanjutan
(sustainable development) karena adanya ketergantungan (Suryadi, 2001).
Suryadi (2001) menjelaskan bahwa kesadaran untuk lebih menekankan pada
adanya proses pembangunan berkelanjutan memunculkan paradgima pembangunan
manusia pada era 1900-an. Paradigma pembangunan manusia pada dasarnya adalah
pembangunan yang menekankan pada pembangunan yang berkelanjutan yang
didukung oleh pendekatan pembangunan manusia (human development) melalui aksiaksi pelayanan sosial (social service), pembelajaran sosial (social learning), pemberdayaan
(empowerment), peningkatan kapasitas (capacity building) dan peningkatan kelembagaan
(institutional building).
Pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia sejak masa kemerdekaan
hingga saat ini dapat dikatagerokian dalam beberapa periode yaitu periode orde lama
(1945-1966), periode orde baru (1966-1998) dan periode reformasi (1998-sekarang).
Menurut Dumairy (1996) selama dua puluh tahun pertama sejak merdeka
pembangunan di Indonesia berjalan relatif kurang menggembirakan. Hal tersebut
terjadi karena seringnya pergantian kabinet akibat adanya ketidakstabilan politik pada
masa itu.
Pertumbuhan ekonomi yang cukup menggembirakan dengan laju 6,9
persen dalam periode 1952-1958 turun secara drastis menjadi tinggal 1,9 persen pada
periode 1960-1965. Dampak kemerosotan pembangunan yang terjadi pada masa
tersebut berujung pada pergantian kekuasaan pemerintahan dari orde lama kepada
orde baru.
Pada masa orde baru dicanangkan Rencana Pembangunan Lima Tahun
(REPELITA) sejak 1969 dengan titik tekan pada adanya trilogi pembangunan yaitu
11
12
stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan hasil-hasil pembangunan.
Dalam PELITA I (1969-1974) prioritas pertama diarahkan pada stabilitas nasional,
pertumbuhan ekonomi dan pemerataan.
Pada PELITA II (1974-1979) sasaran
dibalik menjadi pertumbuhan ekonomi yang menempati prioritas pertama. Selama
dua PELITA ini kinerja perekonomian Indonesia sangat memuaskan. Pertumbuhan
ekonomi Indonesia pada era tersebut rata-rata mencapai 7 persen per tahun.
Investasi meningkat dengan laju yang menggembirakan dari 11 persen menjadi 24
persen dari produk domestik bruto (PDB). Hanya saja dominasi perekonomian pada
waktu itu ditopang oleh hanya satu sumber utama yaitu minyak bumi. Sumber utama
penerimaan devisa saat itu sebanyak 80 persen berasal dari minyak bumi (Dumairy,
1996).
Selama kurun dua pelita pertama ternyata terjadi ketidakmerataan
pendapatan nasional dan regional. Secara nasional pada akhir PELITA II diketahui
angka Gini Ratio Indonesia sebagai indikator pemerataan pendapatan mencapai
0,504. Koefisien Gini Ratio berkisar antara 0 – 1. Nilai Gini Ratio mendekati nol
berarti distribusi pendapatan semakin baik dan jika mendekati 1 berarti distribusi
semakin jelek.
Secara regional berlangsung pula ketidakmerataan distribusi
pendapatan antar lapisan masyarakat dan juga antara wilayah di Pulau Jawa dengan
Luar Jawa (Dumairy, 1996)
Kesadaran pentingnya pemerataan pembangunan muncul pada rencana
pembangunan Indonesia selanjutnya terutama sejak PELITA III (1979-1983). Pada
masa ini pemerintah banyak mempersiapkan proyek-proyek pembangunan di
berbagai daerah dengan tetap menempatkan kendali pembangunan pada pemerintah
pusat di Jakarta. Salah satu wujud keberhasilan pembangunan adalah tercapainya
swasembada beras tahun 1984.
Banyak saluran irigasi dan areal pertanian yang
12
13
dibangun serempak untuk mencapai prestasi terebut. Hal yang sama juga dilakukan
di bidang pendidikan dan kesehatan dengan dibangunnya banyak sekolah-sekolah
dasar berdasarkan Insturksi Presiden (INPRES) dan juga Pusat Kesehatan
Masyarakat (Puskesmas).
Pada PELITA IV (1983-1987), target pertumbuhan
ditetapkan hanya 5 persen per tahun, lebih rendah dari pada periode sebelumnya
sebesar 6 persen per tahun. Pada masa ini peran swasta dan masyarakat dalam
pembangunan mulai ditingkatkan dengan adanya deregulasi dan debirokratisasi. Pada
PELITA V (1988-1993) pertumbuhan ekonomi mencapai 6,7 persen per tahun.
Paket deregulasi dan debirokratisasi tetap dilanjutkan sehingga dapat meningkatkan
ekspor komoditas non migas. Pada PELITA VI (1994-1999) pemerintah mengalami
persoalan beban utang luar negeri yang sangat berat yang merupakan akumulasi
pembiayaan pembangunan tahun-tahun sebelumnya (Dumairy, 1996).
Terjadinya krisis ekonomi di tahun 1997 mengakhiri pemerintahan Orde Baru
yang telah memerintah selama kurang lebih 32 tahun. Persoalan yang ditinggalkan
pemeritahan orde baru yang paling memberatkan adalah pertumbuhan ekonomi yang
negatif pada tahun 1998 yaitu sebesar -6,21 persen (Bappenas, 1998). Pemerintah
saat ini menyadari kelemahan yang dilakukan oleh pemerintah sebelumnya dan mulai
menerapkan pendekatan pembangunan yang lain.
Salah satu pendekatan
pembangunan yang diterapkan adalah pendekatan pembangunan manusia yang
tertuang dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).
Salah satu misi
pembangunan yang tertuang dalam GBHN tahun 1999-2004 adalah perwujudan
kesejahteraan rakyat yang ditandai oleh meningkatnya kehidupan yang layak dan
bermartabat serta memberi perhatian utama pada tercukupinya kebutuhan dasar yaitu
pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan dan lapangan kerja.
13
14
2.3.
Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia
Salah satu ukuran keberhasilan pembangunan manusia adalah terpenuhinya
kebutuhan dasar manusia.
Menurut Todaro dan Smith (2003) pembangunan
memiliki tiga nilai inti yaitu tercapainya kemampuan hidup (life sustenance),
kemandirian (self esteem) dan kemerdekaan atau kebebasan (freedom). Kemampuan
hidup diartikan kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar.
Kemandirian berarti mempunyai harga diri, bermartabat atau berkepribadian.
Adapun kemerdekaan berarti memiliki kesanggupan untuk melakukan pilihan-pilihan
dalam hidup.
Kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan minimal yang diperlukan
manusia untuk hidup dengan layak. Kebutuhan dasar manusia meliputi kebutuhan
akan pangan, kesehatan, perumahan, pendidikan dan pekerjaan. Kebutuhan dasar di
atas dapat dibuat bertingkat tergantung urgensinya. Menurut Sumardjo (2007), Asian
Bank Development (ADB) telah menetapkan bahwa hierarki kebutuhan dasar
tersebut diawali dengan kebutuhan untuk bertahan hidup (survival) seperti kebutuhan
akan makanan dan gizi, kesehatan, sanitasi dan air bersih serta kebutuhan akan
pakaian yang layak.
Pada tahap selanjutnya adalah kebutuhan akan keamanan
(security) yang meliputi perumahan, pekerjaan, pendapatan dan kedamaian.
Pada
tahap akhir terdapat kebutuhan untuk berkembang (enabling) yang meliputi
pendidikan dasar, partisipasi, peranan keluarga dan psikososial.
Konsep tingkat kebutuhan manusia yang terkenal adalah yang diungkapkan
oleh Abraham Maslow. Kebutuhan manusia menurut pendapat Maslow bertingkattingkat. Tingkatan kebutuhan tersebut secara berurut adalah (1) kebutuhan fisiologis
seperti makan, minum, tidur, berkeluarga dan kebutuhan dasar lainnya, (2) kebutuhan
akan keamanan dan keselamatan, (3) kebutuhan akan kasih sayang, (4) kebutuhan
14
15
akan pengakuan dan penghargaan dari orang lain, dan (5) kebutuhan akan aktualisasi
diri (Flippo, 1990).
Kesadaran akan perlunya pemahaman mengenai kebutuhan dasar manusia
sangat penting. Setiap pemerintahan wajib mendahulukan pemenuhan kebutuhan
dasar manusia ini sebelum memenuhi kebutuhan yang lainnya. Perserikatan Bangsabangsa (PBB) juga telah menetapkan perlunya pemenuhan kebutuhan dasar manusia
ini sebagai bagian dari pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM) sebagaimana
tercantum dalam Piagam PBB yang dibuat pada tanggal 10 Desember 1948.
Pemerintah Republik Indonesia sebagai salah satu anggota PBB telah menetapkan
satu kebijakan mengenai pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang tertuang dalam
Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999-2004.
Pendekatan
pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam pembangunan saat ini telah diakui di
tingkat internasional.
PBB dalam hal ini telah menetapkan suatu tujuan
pembangunan milenium atau millenium development goals (MDGs) pada September
2000.
Tujuan pembangunan milenium pada intinya bertumpu pada konsep
pembangunan manusia.
Melalui delapan tujuan yang ditetapkan dalam MDGs,
pembangunan manusia seutuhnya diharapkan dapat dicapai.
Keterkaitan antara
tujuan MDGs dengan pembangunan manusia dapat dilihat pada Tabel 3.
2.4.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Satu kesulitan yang ditemukan dalam penerapan konsep pembangunan
manusia adalah dalam hal mengukur tingkat keberhasilan pembangunan. Hal ini
terjadi karena konsep tersebut menempatkan manusia sebagai pusat dari keseluruhan
proses pembangunan.
Pembangunan manusia mencakup hampir semua aspek
15
16
kehidupan manusia mulai dari kebebasan menyampaikan pendapat, kesetaraan jender,
kesempatan memperoleh pekerjaan, gizi anak, hingga kemampuan untuk membaca
dan menulis bagi orang dewasa.
Untuk keperluan mengukur hasil-hasil
pembangunan manusia, PBB melalui United Nation Development Program (UNDP) telah
menetapkan sebuah tolok ukur khusus yang dikenal sebagai human development index
(HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indeks ini dikembangkan pada
tahun 1990 oleh ekonom Pakistan bernama Mahbub ul Haq, dan telah digunakan
sejak tahun 1993 oleh UNDP pada laporan tahunannya (UNDP, 2003).
Tabel 3. Keterkaitan Millenium Development Goals dengan Pembangunan Manusia
Millenium Development Goals
Indikator Pembangunan Manusia
Hidup yang sehat dan usia yang
Tujuan 4,5,6 : menunrunkan angka kematian
panjang
anak, meningkatkan kesehatan ibu, dan
menangani penyakit utama
Pendidikan yang memadai
Tujuan 2,3 : menuntaskan pendidikan dasar,
kesetaraan jender dalam pendidikan, dan
memberdayakan wanita
Standar kehidupan yang layak
Tujuan 1 : mengurangi kemiskinan dan
kelaparan
Kondisi Penting Untuk
Keterkaitan dengan Millenium
Pembangunan Manusia
Development Goals
Kebebasan politik dan sosial dalam
Tidak termasuk tujuan tetapi termasuk
kehidupan bermasyarakat
sasaran yang penting dalam MDG
Kelestarian Lingkungan
Tujuan 7 : menjamin kelestarian lingkungan
Kesetaraan – terutama kesetaraan
Tujuan 3 : mempromosikan kesetaraan jender
jender
dan pemberdayaan wanita
Menyelaraskan lingkungan ekonomi Tujuan 8 : memperkuat kemitraan negara
global
kaya dan negara miskin
Sumber : UNDP (2003)
Menurut UNDP (2003), IPM pada dasarnya adalah nilai yang menunjukkan
tingkat kemiskinan, kemampuan baca tulis, pendidikan, harapan hidup, dan faktorfaktor lainnya pada negara-negara di seluruh dunia.
Nilai IPM menunjukkan
pencapaian rata-rata pada sebuah negara dalam tiga dimensi dasar pembangunan
manusia, yakni:
16
17
1. Usia yang panjang dan sehat, diukur dengan angka harapan hidup (AHH),
2. Pendidikan, yang diukur dengan dengan tingkat baca tulis atau angka melek huruf
(AMH) dengan pembobotan dua per tiga serta angka partisipasi kasar atau ratarata lama sekolah (RLS) dengan pembobotan satu per tiga
3. Standar hidup yang layak, yang diukur dengan produk domestik bruto (PDB) per
kapita pada paritas daya beli dalam mata uang Dollar AS.
Gambar 4. Bagan Alir penetapan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM )
Metodologi penghitungan angka IPM pada dasarnya cukup mudah. Pertama
kali harus diketahui data berupa : angka harapan hidup (AHH) dalam satuan tahun,
angka melek huruf (AMH) dalam persentase penduduk, angka rata-rata lama sekolah
(RLS) dalam satuan tahun dan angka pengeluaran per kapita dalam satuan mata uang.
Masing-masing data ini kemudian diubah menjadi indeks kesehatan, indeks
pendidikan dan indeks daya berli dengan membandingkannya dengan standar yang
ditetapkan oleh UNDP sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 4.
17
18
Tabel 4. Nilai Maksimum dan Minimum Komponen IPM
Komponen IPM
Angka Harapan
Hidup
Angka Melek
Huruf
Rata-rata Lama
Sekolah
Konsumsi Per
Kapita
Nilai
Maksimum
85
Nilai
Minimum
25
Keterangan
Standar UNDP
100
0
Standar UNDP
15
0
Standar UNDP
732.720
300.000
Standar UNDP yang
disesuaikan
Sumber : BPS Kab. Bogor (2005)
Untuk memudahkan penjelasan dimisalkan data awal komponen IPM
diketahui sebagai berikut : AHH : 67,8 tahun, AMH : 90,1%, RLS : 7 tahun dan
konsumsi per kapita : Rp. 576.300 per bulan. Indeks dihitung dengan rumus :
Indeks x(i) = [x(i) – x(i) min] / [x(i) maks – x(i) min]
Dengan demikian indeks kesehatan diperoleh sebesar : (67,8 – 25) / (85 – 25)
= 0,713. Indeks pendidikan ditentukan oleh dua komponen yaitu AMH dan RLS
dengan proporsi 2/3 untuk AMH dan 1/3 untuk RLS. Oleh karena itu indeks
pendidikan diperoleh sebesar : {(2/3) x [(90,1 – 0) / (100 – 0)]} + {(1/3) x [(7 - 0) /
(15 – 0)]} = 0,756. Adapun indeks daya beli diperoleh sebesar : (576,3 – 300) /
(732,7 – 300) = 0,636. Angka IPM dihitung dengan persamaan :
IPM = (1/3) x (indeks kesehatan + indeks pendidikan + indeks daya beli)
maka diperoleh IPM = (1/3) x [0,713 + 0,756 + 0,632] = 0,701.
Untuk
memudahkan pembacaan angka IPM tersebut kemudian dikalikan 100 sehingga
dinyatakan IPM sebesar = 70,10, (BPS Kab. Bogor, 2005). Penghitungan yang lebih
rumit diperlukan pada waktu menentukan besaran AHH, AMH, RLS dan daya beli.
18
19
Penghitungan akan bertambah rumit jika data dasar yang diperlukan berkenaan
dengan komponen-komponen tersebut kurang tersedia sebagaimana sering terjadi di
Indonesia.
2.5.
Peran Pemerintah Dan Pemerintah Daerah
Indikator yang terdapat dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yaitu
indikator pendidikan, kesehatan dan daya beli merupakan indikator yang
menggambarkan keberhasilan pembangunan sosial ekonomi di satu wilayah.
Penerapan otonomi daerah di Indonesia yang dilakukan pada tahun 1999 telah
memberikan beban tanggung jawab yang besar kepada pemerintah daerah propinsi
dan kabupaten/kota dalam upaya peningkatan angka IPM. Berdasarkan UU 22/99
yang telah diperbaharui oleh UU 32/2004 tentang Pemerintah Daerah, kewenangan
pemerintah daerah dalam pembangunan meliputi penanganan bidang pendidikan,
kesehatan, ketenagakerjaan, pertanian dalam arti luas, perindustrian dan perdagangan,
transportasi dan sebagainya.
Pemerintah Republik Indonesia menaruh perhatian yang besar pada upaya
peningkatan angka IPM sebagai indikator keberhasilan pembangunan. Pemerintah
RI memberikan Dana Perimbangan seperti Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana
Alokasi Khusus (DAK) kepada tiap daerah untuk keperluan pembangunan daerah.
Menurut salah satu ketentuan yang ditetapkan dalam PP 55 tahun 2005 tentang Dana
Perimbangan pasal 40 disebutkan :
1. Dana Alokasi Umum (DAU) untuk suatu Daerah dialokasikan berdasarkan
formula yang terdiri atas celah fiskal dan alokasi dasar.
2. Celah fiskal merupakan selisih antara kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal.
19
20
3. Kebutuhan fiskal diukur dengan menggunakan variabel jumlah penduduk, luas
wilayah, Indeks Kemahalan Konstruksi, Produk Domestik Regional Bruto per
kapita, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
4. Kapasitas fiskal diukur berdasarkan Pendapatan Asli Daerah dan Dana Bagi Hasil
(DBH).
5. Alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah.
Menurut ketentuan di atas tertulis jelas bahwa pemberian Dana Perimbangan
dari pemerintah pusat salah satunya adalah dalam rangka meningkatkan angka IPM di
tiap daerah.
Berdasarkan data yang ada diketahui bahwa sejak tahun 1999
pemerintah pusat telah mengalokasikan dan menyalurkan DAU kepada setiap
propinsi dan kabupaten/kota di Indonesia sesuai ketentuan perundang-undangan.
Pada tahun 2004, pemerintah mengalokasikan DAU untuk 32 propinsi di Indonesia
sebesar Rp. 80,3 triliun. Alokasi DAU tersebut menghasilkan angka IPM Indonesia
tahun 2005 sebesar 68,7. IPM tersebut adalah IPM kumulatif dari seluruh IPM yang
ada di tiap daerah.
Menurut Siregar (2007) pada kenyataannya korelasi antara DAU per kapita
dengan pertumbuhan angka IPM sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa DAU
tidak banyak digunakan untuk menghasilkan program-program pemerintah daerah
dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang menunjang
pertumbuhan angka IPM. Besaran DAU per kapita tahun 2004 dan angka IPM yang
dicapai tahun 2005 untuk 30 propinsi di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.
20
21
Tabel 5.
Dana Alokasi Umum (DAU) per kapita (Rp. Ribu) tahun 2004 dan IPM
tahun 2005
No
Propinsi
1 Papua
2 Maluku
3 Kalimantan Tengah
4 Maluku Utara
5 Gorontalo
6 Sulawesi Tengah
Nusa Tenggara
7
Timur
8 Sulawesi Tenggara
9 Aceh
10 Sulawesi Utara
11 B e n g k u l u
12 J a m b i
Kep. Bangka
13
Belitung
14 Kalimantan Timur
15 Sumatera Barat
DAU/
Kapita
IPM
2005
No
1,559.79
62.10
16
985.98
69.20
17
942.59
73.20
18
880.64
67.00
19
821.89
67.50
20
704.53
68.50
21
673.15
63.60
22
648.47
67.50
23
632.88
69.00
24
625.09
74.20
25
622.57
71.10
26
620.03
71.00
27
603.05
70.70
28
601.32
72.90
29
600.91
71.20
30
Propinsi
Kalimantan
Selatan
Kalimantan
Barat
Bali
Sulawesi
Selatan
DI Yogyakarta
Nusa Tenggara
Barat
Sumatera
Utara
Riau
Sumatera
Selatan
Lampung
Jawa Tengah
Jawa Timur
Jawa Barat
Banten
DKI Jakarta
DAU/
Kapita
IPM
2005
538.42
67.40
517.89
66.20
515.84
69.80
515.16
68.10
462.47
73.50
394.33
62.40
360.07
72.00
347.89
73.60
345.36
70.20
340.03
68.80
312.40
69.80
293.86
68.40
215.41
69.90
191.36
68.80
85.47
76.10
Sumber : Depkeu (2004), diolah
21
Download