BAB II TINJAUAN PUSTAKA

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hasil Penelitian Terdahulu
Pada penelitian sebelumnya dengan judul “Hubungan Tingkat Pengetahuan
dan Sikap dengan Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Dokter” yang diteliti oleh
Yarza L.H et al, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara
sikap dengan penggunaan antibiotik tanpa resep dokter, tetapi tidak terdapat
hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dan kepemilikan asuransi
kesehatan dengan penggunaan antibiotik tanpa resep dokter. Metode yang
digunakan sama dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu dengan metode
cross sectional study analytic. Namun untuk variabel penelitian berbeda pada
penelitian tersebut. Pada penelitian yang dilakukan oleh Yarza L.H et al variabel
bebasnya yaitu tingkat pengetahuan, sikap dan kepemilikan asuransi. Untuk
variabel terikatnya yaitu penggunaan antibiotik tanpa resep dokter. Pada
penelitian yang akan saya lakukan untuk variabel bebasnya yaitu tingkat
pengetahuan dan pendidikan sedangkan variabel terikatnya yaitu rasionalitas
penggunaan antibiotik. Lokasi penelitian yang dilakukan oleh Yarza L.H et al di
kampung Seberang Pebayan RW IV kelurahan Batang Arau Padang Selatan.
Sedangkan penelitian yang akan saya lakukan yaitu di wilayah kabupaten
Banyumas.
B. Landasan Teori
1. Antibiotik
a. Definisi Antibiotik
Antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri,
yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman,
sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil (Tjay dan Raharja, 2007).
Obat antimikroba yang ideal memperlihatkan toksisitas selektif. Istilah ini
berarti bahwa obat ini merugikan parasit tanpa merugikan inang. Dalam
banyak hal, toksisitas selektif bersifat relatif daripada absolut, berarti bahwa
4
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
suatu obat dapat merusak parasit dalam konsentrasi yang dapat ditoleransi
oleh inang (Katzung, 1994).
b. Penggolongan Antibiotik
Berdasarkan spektrum atau kisaran terjadinya, antibiotik dapat dibedakan
menjadi dua kelompok yaitu (Pratiwi, 2008):
1) Antibiotik berspektrum sempit (narrow spektrum), yaitu antibiotik yang
hanya mampu menghambat segolongan jenis bakteri saja, contohnya
hanya mampu menghambat atau membunuh bakteri gram negatif saja.
Yang termasuk dalam golongan ini adalah penisilin, streptomisin,
neomisin, basitrasin.
2) Antibiotik berspektrum luas (broad spektrum), yaitu antibiotik yang
dapat menghambat atau membunuh bakteri dari golongan gram positif
maupun negatif. Yang termasuk golongan ini yaitu tetrasiklin dan
derivatnya, kloramfenikol, ampisilin, sefalosporin, carbapenem dan lainlain.
Antibiotik bisa diklasifikasikan berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu:
1) Menghambat sintesis atau merusak dinding sel bakteri, seperti betalaktam (Penisilin, Sefalosporin, Monobaktam, Karbapenem, Inhibitor
Beta-Laktamase), Basitrasin, dan Vankomisin.
2) Memodifikasi
atau
menghambat
sintesis
protein,
misalnya
Aminoglikosida, Kloramfenikol, Tetrasiklin, Makrolida (Eritromisin,
Azitromisin, Klaritromisin), Klindamisin, Mupirosin, dan Spektinomisin.
3) Menghambat enzim-enzim esensial dalam metabolism folat, misalnya
Trimetoprim dan Sulfonamid.
4) Mempengaruhi sintesis atau metabolisme asam nukleat, misalnya
Kuinolon, Nitrofurantoin (Permenkes, 2011).
Penggolongan antibiotik berdasarkan mekanisme kerja (Permenkes,
2011):
1) Obat yang menghambat sintesis atau merusak dinding sel bakteri :
a) Penicillin
Penicillin merupakan anti bakterial pertama yang digunakan untuk
terapi (sweetman, 2009) dan termasuk dalam kelas beta-laktam. Semua
5
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
obat golongan penicillin memiliki struktur cincin kimia yang sama dan
asam mono-basic yang terbentuk dari garam dan ester. Contoh antibiotik
penicillin adalah Mericillin, Ampicillin, Amoksilin, Carbenicillin,
Tenocillin, dan Mecillinam (Sweetman, 2009).
b) Sefalosporin
Sefalosporin adalah antibakterial semi sintesis yang berasal dari
antibakterial alami yaitu Cephalosporium acremonium. Golongan ini
bersifat bakterisida dan menghambat sintesis dari dinding sel, sama
seperti penicillin. Sefalosporin terbagi menjadi empat generasi. Generasi
pertama adalah Cefalotin; generasi kedua adalah Cefamandole,
Cefonicid,
Ceforamide,
dan
Ceoftiam;
generasi
ketiga
adalah
Cefotaxime, Cefixime, Ceftazidime, Cefoperazone, dan Cefpiramide; dan
generasi keempat adalah Cefepime, Cefpirome, Ceftobiprole. Selain itu
juga terdapat golongan semi sintesis dari sefalosporin yaitu Cephamycin
(Sweetman, 2009).
c) Karbapenem
Karbapenem merupakan
antibiotik lini ketiga yang mempunyai
aktivitas antibiotik yang lebih luas daripada sebagian besar beta-laktam
lainnya. Yang termasuk karbapenem adalah Imipenem, Meropenem dan
Doripenem. Spektrum aktivitas: Menghambat sebagian besar Grampositif, Gram-negatif, dan anaerob. Ketiganya sangat tahan terhadap
beta-laktamase. Efek samping: paling sering adalah mual dan muntah,
dan kejang pada dosis tinggi yang diberi pada pasien dengan lesi SSP
atau dengan insufisiensi ginjal. Meropenem dan doripenem mempunyai
efikasi serupa imipenem, tetapi lebih jarang menyebabkan kejang.
d) Basitrasin
Basitrasin adalah kelompok yang terdiri dari antibiotik polipeptida,
yang utama adalah basitrasin A. Berbagai kokus dan basil Gram-positif,
Neisseria, H.influenzae, dan Treponema pallidum sensitif terhadap obat
ini. Basitrasin tersedia dalam bentuk salep mata dan kulit, serta bedak
untuk topikal. Basitrasin jarang menyebabkan hipersensitivitas. Pada
beberapa sediaan, sering di kombinasi dengan neomisin dan atau
6
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
polimiksin. Basitrasin bersifat nefrotoksik bila memasuki sirkulasi
sistemik.
e) Vankomisin
Vankomisin merupakan antibiotik lini ketiga yang terutama aktif
terhadap bakteri Gram-positif. Vankomisin hanya diindikasikan untuk
infeksi yang disebabkan oleh S.aureus yang resisten terhadap metisilin
(MRSA). Semua basil Gram-negatif dan mikobakteria resisten terhadap
vankomisin. Vankomisin diberikan secara intravena, dengan waktu paruh
sekitar 6 jam. Efek sampingnya adalah reaksi hipersensitivitas, demam,
flushing dan hipotensi (pada infuse cepat), serta gangguan pendengaran
dan nefrotoksisitas pada dosis tinggi.
2) Obat yang memodifikasi atau menghambat sintesis protein:
a) Aminoglikosida
Spektrum aktivitas: Obat golongan ini menghambat bakteri aerob
Gram-negatif. Obat ini mempunyai indeks terapi sempit, dengan
toksisitas serius pada ginjal dan pendengaran, khususnya pada pasien
anak dan usia lanjut. Efek samping: Toksisitas ginjal, ototoksisitas
(auditorik maupun vestibular), blockade neuro muscular (lebih jarang).
b) Tetrasiklin
Antibiotik yang termasuk ke dalam golongan ini adalah Tetrasiklin,
Doksisiklin, Oksitetrasiklin, Minosiklin, dan Klortetrasiklin. Antibiotik
golongan ini mempunyai spektrum luas dan dapat menghambat berbagai
bakteri Gram-positif, Gram-negatif, baik yang bersifat aerob maupun
anaerob, serta mikroorganisme lain seperti Ricketsia, Mikoplasma,
Klamidia, dan beberapa spesies mikobakteria.
c) Kloramfenikol
Kloramfenikol adalah antibiotik berspektrum luas, menghambat
bakteri Gram-positif dan negatif aerob dan anaerob, Klamidia, Ricketsia,
dan Mikoplasma. Kloramfenikol mencegah sintesis protein dengan
berikatan pada subu nitribosom 50S. Efek samping: supresi sumsum
tulang, grey baby syndrome, neuritisoptik pada anak, pertumbuhan
kandida di saluran cerna, dan timbulnya ruam.
7
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
d) Makrolida (Eritromisin, Azitromisin, Klaritromisin, Roksitromisin)
Makrolida aktif terhadap bakteri Gram-positif, tetapi juga dapat
menghambat beberapa Enterococcus dan basil Gram-positif. Sebagian
besar Gram-negatif aerob resisten terhadap makrolida, namun azitromisin
dapat menghambat Salmonela. Azitromisin dan klaritromisin dapat
menghambat H.influenzae, tapi azitromisin mempunyai aktivitas terbesar.
Keduanya juga aktif terhadap H.pylori. Makrolida mempengaruhi sintesis
protein bakteri dengan cara berikatan dengan subunit 50s ribosom
bakteri, sehingga menghambat translokasi peptida.
(1) Eritromisin
Eritromisin dalam bentuk basa bebas dapat diinaktivasi oleh
asam, sehingga pada pemberian oral, obat ini dibuat dalam sediaan
salut enterik. Eritromisin dalam bentuk estolat tidak boleh diberikan
pada dewasa karena akan menimbulkan liver injury.
(2) Azitromisin
Azitromosin lebih stabil terhadap asam jika di banding
eritromisin. Sekitar 37% dosis diabsorpsi, dan semakin menurun
dengan adanya makanan. Obat ini dapat meningkatkan kadar SGOT
(Serum Glutamic Oxaloacetic ) dan SGPT (Serum Glutamic Pyruvic
Transaminase pada hati.
(3) Klaritromisin
Absorpsi klaritromisin peroral 55% dan meningkat jika diberikan
bersama makanan. Obat ini terdistribusi luas sampai ke paru, hati, sel
fagosit dan jaringan lunak. Metabolit klaritromisin mempunyai
aktivitas antibakteri lebih besar daripada obat induk. Sekitar 30% obat
diekskresi melalui urin, dan sisanya melalui feses.
(4) Roksitromisin
Roksitromisin mempunyai waktu paruh yang lebih panjang dan
aktivitas yang lebih tinggi melawan Haemophilus influenzae. Obat ini
diberikan dua kali sehari. Roksitromisin adalah antibiotik makrolida
semi sintetik. Obat ini memiliki komposisi, struktur kimia dan
mekanisme kerja yang sangat mirip dengan eritromisin, azitromisin
8
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
atau klaritromisin. Roksitromisin mempunyai spektrum antibiotik
yang mirip eritromisin, namun lebih efektif melawan bakteri gram
negatif tertentu seperti Legionella pneumophila. Antibiotik ini dapat
digunakan untuk mengobati infeksi saluran nafas, saluran urin dan
jaringan lunak.
Roksitromisin hanya di metabolisme sebagian, lebih dari separuh
senyawa induk diekskresi dalam bentuk utuh. Tiga metabolit telah
diidentifikasi
di
urin
dan
deskladinosaroksitromisin,
feses,
dengan
metabolit
N-mono
dan
utama
adalah
N-di-demetil
roksitromisin sebagai metabolit minor. Roksitromisin dan ketiga
metabolitnya terdapat di urin dan feses dalam persentase yang hampir
sama. Efek samping yang paling sering terjadi adalah efek pada
saluran cerna: diare, mual, nyeri abdomen dan muntah. Efek samping
yang lebih jarang termasuk sakit kepala, ruam, nilai fungsi hati yang
tidak normal dan gangguan pada indra penciuman dan pengecap.
3) Obat anti metabolit yang menghambat enzim-enzim esensial dalam
metabolisme folat:
Sulfonamid
dan
Trimetoprim
Sulfonamid
bersifat
bakteriostatik.
Trimetropim dalam kombinasi dengan sulfametoksazol, mampu menghambat
sebagian besar patogen saluran kemih, kecuali P.aeruginosa dan Neressia sp.
Kombinasi ini menghambat S.aureus, Staphylococcus koagulase negatif,
Streptococcus hemoliticus, H.influenzae, Neisseria sp, bakteri Gram-negatif
aerob (E.coli dan Klebsiella sp), Enterobacter, Salmonella Shigella, Yersinia,
P.carinii.
4) Obat yang mempengaruhi sintesis atau metabolisme asam nukleat :
a) Kuinolon
Kuinolon merupakan antibakteri sintesis yang digunakan untuk
menyaingi penggunaan antibakteri golongan beta-laktam dan makrolida
dalam terapi. Kuinolon memiliki sifat spektrum antibakteri untuk
melawan bakteri gram positif, gram negatif, dan patogen mikrobakterial
anaerob.
9
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
Kuinolon mengalami perkembangan dan perubahan sehingga saat
ini sudah banyak agen kuinolon yang baru seperti asam nalidiksat (NA)
dan nofloxacin (NLX) (Takashasi, 2003). Terdapat empat golongan
obat didalam kelompok kuinolon. Kelompok I adalah Norloxacin,
kelompok II adalah Enoxacin, Ofloxacin, dan Ciprofloxacin, kelompok
III adalah Levofloxacin, dan kelompok IV adalah Moxifloxacin (Frank,
2012).
b) Nitrofuran
Nitrofuran meliputi nitro furantoin, furazolidin, dan nitrofurazon.
Absorpsi melalui saluran cerna 94% dan tidak berubah dengan adanya
makanan. Nitrofuran bisa menghambat Gram-positif dan negatif,
termasuk E.coli, Staphylococcus sp, Klebsiella sp, Enterococcus sp,
Neisseria sp, Salmonella sp, Shigella sp, dan Proteus sp.
Berdasarkan struktur kimianya antibiotika dibagi menjadi 4 kelompok,
yaitu:
1) Antibiotika β-laktam dan penghambat sintesis dinding sel lainnya
contohnya
adalah
(Monobaktam,
Penicillin,
Inhibitor
Cephalosporin,
Beta-laktamase
dan
obat-obat
β-laktam
Karbapenem)
dan
penghambat sintesis dinding sel yang lain (Vancomycin, Teicoplanin,
Fosfomycin, Bacitracin, dan Cycloserine).
2) Chloramphenicol,
Tetracycline,
Macrolides,
Clindamycin
dan
Streptogramin. Golongan antibiotik ini bekerja sebagai penghambat
sintesis protein pada tingkat ribosom. Chloramphenicol, macrolides,
clindamycin dan streptogramin mengikat diri pada situs-situs terdekat
pada subunit 50S dari ribosom RNA 70S.
3) Aminoglycoside dan Spectinomycin
Aminoglycoside adalah golongan antibiotik bakteriosida yang memiliki
sifat-sifat
kimiawi,
karakteristik.
antimikroba,
Golongan
ini
farmaologis
meliputi
dan
Streptomycin,
toksik
yang
Neomycin,
Kanamycin, Amikacin, Gentamicin, Tobramycin, Sisomicin, Netilmicin
dan sebagainnya.
10
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
4) Sulfonamide, Trimethoprim, dan Quinolone
Sulfonamide
merupakan
analog
struktural
PABA
yang
dapat
menghambat dihydroperoate synthase secara kompetitif, dengan cara
menyekat sintesis asam folat secara reversibel. Contohnya Sulfasitin,
Sulfamethoksazole,
Sulfisoksazole,
Sulfadizine,
Sulfapiridin,
Sulfadoxine dan golongan Pirimidin.
c. Resistensi antibiotik
Manfaat penggunaan antibiotik tidak perlu diragukan lagi, akan tetapi
penggunaan antibiotik yang berlebihan akan segera diikuti dengan munculnya
kuman kebal antibiotik, sehingga manfaatnya akan berkurang. Infeksi oleh
kuman kebal terhadap berbagai antibiotik akan menyebabkan meningkatknya
angka kesakitan dan angka kematian, sehingga diperlukan antibiotik pilihan
ke dua atau bahkan pilihan ketiga, dimana efektifitasnya lebih kecil dan
kemungkinan mempunyai efek samping lebih banyak serta biaya yang lebih
mahal dibanding dengan pengobatan standar (Hadi, 2008).
Bakteri dikatakan resisten bila pertumbuhannya tidak dapat dihambat
oleh antibiotika pada kadar maksimum yang dapat ditolerir oleh pejamu.
Munculnya resistensi disebabkan karena penggunaan antibiotik yang tidak
rasional dan tidak hati-hati pada keadaan yang mungkin dapat sembuh tanpa
pengobatan atau pada keadaan yang tidak membutuhkan antibiotik (Mycek,
2001). Resistensi antibiotik merupakan konsekuensi dari penggunaan
antibiotik yang salah, dan perkembangan dari suatu mikroorganisme itu
sendiri, bisa jadi karena adanya mutasi atau gen resistensi yang didapat
(WHO, 2012).
1) Penyebab Resistensi Antibiotik
Menurut WHO (2012), ketidaktepatan serta ketidakrasionalan
penggunaan antibiotik merupakan penyebab paling utama menyebarnya
mikroorganisme
resisten.
Contohnya,
pada
pasien
yang
tidak
mengkonsumsi antibiotik yang telah diresepkan oleh dokternya, atau
ketika kualitas antibiotik yang diberikan buruk. Adapun faktor-faktor lain
yang dapat menyebabkan adanya resistensi antibiotik adalah:
a) Kelemahan atau ketiadaan system monitoring dan surveilans
11
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
b) Ketidakmampuan sistem untuk mengontrol kualitas suplai obat
c) Ketidaktepatan serta ketidakrasionalan penggunaan obat
d) Buruknya pengontrolan pencegahan infeksi penyakti
e) Kesalahan diagnosis dan pengobatan yang diberikan
2) Mekanisme Resistensi Antibiotik
Agar efektif, antibiotik harus mencapai target dalam bentuk aktif,
mengikat target, dan melakukan fungsinya sesuai dengan mekanisme
kerja antibiotik tersebut. Resistensi bakteri terhadap agen antimikroba
disebabkan oleh tiga mekanisme umum, yaitu: obat tidak mencapai
target, obat tidak aktif, atau target tempat antibiotik bekerja diubah.
a) Kegagalan obat untuk mencapai target. Membran luar bakteri gram
negatif adalah penghalang yang dapat menghalangi molekul polar
besar untuk masuk ke dalam sel bakteri. Molekul polar kecil,
termasuk seperti kebanyakan antimikroba, masuk ke dalam sel
melalui saluran protein yang disebut porin. Ketiadaan, mutasi, atau
kehilangan Porin dapat memperlambat masuknya obat ke dalam sel
atau sama sekali mencegah obat untuk masuk ke dalam sel, yang
secara efektif mengurangi konsentrasi obat di situs aktif obat. Jika
target kerja obat terletak di intraseluler dan obat memerlukan transpor
aktif untuk melintasi membran sel, resistensi dapat terjadi dari mutasi
yang menghambat mekanisme transportasi obat tersebut. Sebagai
contoh, gentamisin, yang target kerjanya ribosom, secara aktif
diangkut melintasi membran sel dengan menggunakan energi yang
disediakan oleh gradien elektrokimia membran sel bakteri. Gradien
ini dihasilkan oleh enzim–enzim pernapasan aerob bakteri. Sebuah
mutasi dalam jalur ini atau kondisi anaerob dapat memperlambat
masuknya gentamisin ke dalam sel, mengakibatkan resistensi.
b) Inaktivasi obat. Resistensi bakteri terhadap aminoglikosida dan
antibiotik beta laktam biasanya hasil dari produksi enzim yang
memodifikasi atau merusak antibiotik. Variasi dari mekanisme ini
adalah kegagalan bakteri untuk mengaktifkan prodrug yang secara
12
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
umum merupakan hal yang mendasari resistensi M.tuberculosis
terhadap isoniazid.
c) Perubahan target kerja antibiotik
Hal ini mencakup mutasi dari target alami (misalnya, resistensi
fluorokuinolon), modifikasi dari target kerja (misalnya, perlindungan
ribosom dari makrolida dan tetrasiklin), atau akuisisi bentuk resisten
dari target yang rentan (misalnya, resistensi stafilokokus terhadap
metisilin yang disebabkan oleh produksi varian Peniccilin Binding
Protein yang berafinitas lemah).
3) Konsekuensi Akibat Resistensi Antibiotik
Konsekuensi yang ditimbulkan akibat adanya resistensi antibiotik
yang paling utama adalah peningkatan jumlah bakteri yang mengalami
resistensi terhadap pengobatan lini pertama. Konsekuensi ini akan
semakin memberat. Dari konsekuensi tersebut, maka akibatnya adalah
penyakit pasien akan lebih memanjang, sehingga risiko komplikasi dan
kematian juga akan meningkat. Ketidakmampuan antibiotik dalam
mengobati infeksi ini akan terjadi dalam periode waktu yang cukup
panjang dimana, selama itu pula, orang yang sedang mengalami infeksi
tersebut dapat menularkan infeksinya ke orang lain, dengan bagitu,
bakteri akan semakin menyebar luas. Karena kegagalan pengobatan lini
pertama ini, dokter akan terpaksa memberikan peresepan terhadap
antibiotik yang lebih poten dengan harga yang lebih tinggi serta efek
samping yang lebih banyak. Banyak factor yang seharusnya dapat
menjadi pertimbangan karena resistensi antimicrobial ini. Dapat
disimpulkan, resistensi dapat mengakibatkan banyak hal, termasuk
peningkatan biaya terkait dengan lamanya kesembuhan penyakit, biaya
dan waktu yang terbuang untuk menunggu hasil uji laboratorium
tambahan, serta masalah dalam pengobatan dan hospitalisasi (Beuke
C.C., 2011).
d. Hipersensitivitas antibiotik
Hipersensitivitas antibiotik merupakan suatu keadaan yang mungkin
dijumpai pada penggunaan antibiotik, antara lain berupa pruritus-urtikaria
13
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
hingga reaksi anafilaksis. Profesi medik wajib mewaspadai kemungkinan
terjadi kerentanan terhadap antibiotik yang digunakan pada penderita.
Anafilaksis jarang terjadi tetapi bila terjadi dapat berakibat fatal. Dua pertiga
kematian akibat anafilaksis umumnya terjadi karena obstruksi saluran napas.
Jenis hipersensitivitas akibat antibiotik:
1) Hipersensitivitas tipe cepat
Keadaan ini juga dikenal sebagai immediate hypersensitivity. Gambaran
klinik ditandai oleh sesak napas karena kejang di laring dan bronkus,
urtikaria, angioedema, hipotensi dan kehilangan kesadaran. Reaksi ini dapat
terjadi beberapa menit setelah suntikan penisilin.
2) Hipersensitivitas perantara antibodi
(antibody mediated type II
hypersensitivity)
Manifestasi klinis pada umumnya berupa kelainan darah seperti anemia
hemolitik, trombositopenia, eosinofilia, granulositopenia. Tipe reaksi ini juga
dikenal sebagai reaksi sitotoksik. Sebagai contoh, kloramfenikol dapat
menyebabkan granulositopeni, obat beta-laktam dapat menyebabkan anemia
hemolitikautoimun, sedangkan penisilin anti pseudomonas dosis tinggi dapat
menyebabkan gangguan pada agregasi trombosit.
3) Immune hypersensivity - complex mediated (tipe III)
Manifestasi klinis dari hipersensitivitas tipe III ini dapat berupa eritema,
urtikaria dan angioedema. Dapat disertai demam, artralgia dan adenopati.
Gejala dapat timbul 1-3 minggu setelah pemberian obat pertama kali, bila
sudah pernah reaksi dapat timbul dalam 5 hari. Gangguan seperti SLE,
neuritisoptik, glomerulonefritis, dan vaskulitis juga termasuk dalam
kelompok ini.
4) Delayed Type Hypersensitivity
Hipersensitivitas tipe ini terjadi pada pemakaian obat topikal jangka lama
seperti sulfa atau penisilin dan dikenal sebagai kontak dermatitis. Reaksi paru
seperti sesak, batuk dan efusi dapat disebabkan nitrofurantoin. Hepatitis
(karena isoniazid), nefritis interstisial (karena antibiotik beta-laktam) dan
ensefalopati (karena klaritromisin) yang reversibel pernah dilaporkan.
14
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
e. Interaksi Antibiotik
Pada sebagian antibiotik, susu dapat menganggu penyerapannya. Susu
dan sebagian antibiotik dapat mengakibatkan terbentuknya khelatasi sehingga
dapat menurunkan kadar dan efektifitas antibiotik dalam tubuh. Jadi,
antibiotik tidak perlu selalu digunakan dengan susu. Selain itu alkohol juga
dapat berinteraksi dengan antibiotik dengan mengganggu absorbsi dan
metabolisme di gastrointestinal. Seperti pada eritromycin, alkohol dapat
menaikkan pengosongan lambung, dan pada isoniazid dapat mengakibatkan
gangguan hepar (Weathermon, 1999).
f. Prinsip penggunaan antibiotik yang bijak
Resistensi tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat diperlambat melalui
penggunaan antibiotik yang bijak sehingga dapat mencegah munculnya
resistensi antimikroba dan menghemat penggunaan antibiotik yang pada
akhirnya akan mengurangi beban biaya perawatan pasien, mempersingkat
lama perawatan, penghematan bagi rumah sakit serta meningkatkan kualitas
pelayanan rumah sakit (Permenkes, 2011).
Prinsip dalam penggunaan antibiotik yang bijak antara lain sebagai
berikut :
1) Penggunaan antibiotik bijak yaitu penggunaan antibiotik dengan
spektrum sempit, pada indikasi yang ketat dengan dosis yang adekuat,
interval dan lama pemberian yang tepat.
2) Kebijakan
penggunaan
antibiotik
ditandai
dengan
pembatasan
penggunaan antibiotik dan mengutamakan penggunaan antibiotik lini
pertama.
3) Pembatasan penggunaan antibiotik dapat dilakukan dengan menerapkan
pedoman penggunaan antibiotik, penerapan penggunaan antibiotik secara
terbatas (restricted), dan penerapan kewenangan dalam penggunaan
antibiotik tertentu (reverse antibiotic).
4) Indikasi ketat penggunaan dimulai dengan menegaskan diagnosis
penyakit infeksi, menggunakan informasi klinis dan hasil pemeriksaan
laboratorium seperti mikrobiologi, serologi, dan penunjang lainnya.
15
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
Antibiotik tidak diberikan pada penyakit yang dapat sembuh sendiri (selflimited).
5) Pemilihan jenis antibiotik harus berdasar pada:
a) Informasi tentang spektrum kuman penyebab infeksi dan pola
kepekaan kuman terhadap antibiotik
b) Hasil pemeriksaan mikrobiologi atau perkiraan kuman penyebab
infeksi
c) Profil farmakokinetik dan farmakodinamik antibiotik
d) Melakukan
de-eskalasi
setelah
mempertimbangkan
hasil
mikrobiologi dan keadaan klinis pasien serta ketersediaan obat
e) Cost effective: obat dipilih atas dasar yang paling cost effective dan
aman.
Penerapan penggunaan antibiotik secara bijak dilakukan dengan
langkah sebagai berikut (Kemenkes, 2011):
1) Meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan terhadap penggunaan
antibiotik secara bijak.
2) Meningkatkan ketersediaan dan mutu fasilitas penunjang, dengan
penguatan
pada
laboratorium
hematologi,
imunologi,
dan
mikrobiologi atau laboratorium lain yang berkaitan dengan penyakit
infeksi.
3) Menjamin ketersediaan tenaga kesehatan yang kompeten di bidang
infeksi.
4) Mengembangkan sistem penanganan penyakit infeksi secara tim
(team work).
5) Membentuk tim pengendali dan pemantau penggunaan antibiotik
secara bijak yang bersifat multi disiplin.
6) Memantau
penggunaan
antibiotik
secara
intensif
dan
berkesinambungan.
7) Menetapkan kebijakan dan pedoman penggunaan antibiotik secara
lebih rinci di tingkat nasional, rumah sakit, fasilitas pelayanan
kesehatan lainnya dan masyarakat.
16
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
g. Faktor-faktor penyebab berkembangnya resistensi antibiotik
Fenomena resistensi antibiotik yang terjadi secara alamiah dan
berkembang dengan sendirinya. Perilaku manusia sedikit banyak membantu
proses peningkatan dan penyebaran resistensi antibiotik. Tahun 2013 WHO
(World Health Organization) mengeluarkan faktor-faktor apa saja yang
menyebabkan berkembangnya resistensi antibiotik. Faktor-faktornya adalah
sebagai berikut :
1) Kurangnya respon yang komprehensif dan terkoordinasi.
2) Lemah atau tidak adanya sistem pengawasan akan resistensi
antimikroba.
3) Sistem yang tidak memadai untuk memastikan kualitas dan gangguan
pasokan obat-obatan
4) Penggunaan yang tidak tepat akan penggunaan antimikroba
5) Miskinnya praktik pencegahan dan pengendalian infeksi
6) Kurangnya peralatan untuk diagnosa, pencegahan, dan terapi.
h. Perilaku penggunaan antibiotik
Perilaku penggunaan antibiotik merupakan suatu tindakan dalam upaya
mencari pengobatan dengan menggunakan antibiotik yang diperoleh dengan
bermacam cara dengan orang yang berkompeten (Tahir dalam Rizal, 2011).
Perilaku penggunaan antibiotik berkaitan dengan pemahaman dan
pengetahuan tentang penyakit yang diderita dan antibiotik yang sesuai untuk
penyakitnya tersebut. Acuan yang biasa digunakan untuk menilai perilaku
penggunaan antibiotik adalah seperti (Sutama dalam Rizal, 2011):
1) Tempat mendapatkan antibiotik
2) Penggunaan terakhir antibiotik
3) Intensitas pemakaian antibiotik
4) Pengetahuan tentang aturan pakai
5) Tindakan mengganti antibiotik
6) Efek samping antibiotik
7) Pengetahuan tentang resistensi antibiotik
17
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
2. Rasionalitas penggunaan obat
Secara praktis, penggunaan obat dikatakan rasional jika memenuhi kriteria
(Kemenkes, 2011) :
1) Tepat diagnosis
Penggunaan obat disebut rasional jika diberikan untuk diagnosis
yang tepat. Jika diagnosis tidak ditegakkan dengan benar, maka
pemilihan obat akan terpaksa mengacu pada diagnosis yang keliru
tersebut. Akibatnya obat yang diberikan juga tidak akan sesuai dengan
indikasi yang seharusnya.
2) Tepat indikasi penyakit
Setiap obat memiliki spektrum terapi yang spesifik. Antibiotik,
misalnya diindikasikan untuk infeksi bakteri. Dengan demikian,
pemberian obat ini hanya dianjurkan untuk pasien yang memberi gejala
adanya infeksi bakteri.
3) Tepat pemilihan obat
Keputusan untuk melakukan upaya terapi diambil setelah diagnosis
ditegakkan dengan benar. Dengan demikian, obat yang dipilih harus yang
memiliki efek terapi sesuai dengan spektrum penyakit.
4) Tepat dosis
Dosis, cara dan lama pemberian obat sangat berpengaruh terhadap
efek terapi obat. Pemberian dosis yang berlebihan, khususnya untuk obat
yang dengan rentang terapi yang sempit, akan sangat beresiko timbulnya
efek samping. Sebaliknya dosis yang terlalu kecil tidak akan menjamin
tercapainya kadar terapi yang diharapkan.
5) Tepat cara pemberian
Obat Antasida seharusnya dikunyah dulu baru ditelan. Demikian
pula antibiotik tidak boleh dicampur dengan susu, karena akan
membentuk ikatan, sehingga menjadi tidak dapat diabsorpsi dan
menurunkan efektivtasnya.
6) Tepat interval waktu pemberian
Cara pemberian obat hendaknya dibuat sesederhana mungkin dan
praktis, agar mudah ditaati oleh pasien. Makin sering frekuensi
18
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
pemberian obat per hari (misalnya 4 kali sehari), semakin rendah tingkat
ketaatan minum obat. Obat yang harus diminum 3 x sehari harus
diartikan bahwa obat tersebut harus diminum dengan interval setiap 8
jam.
7) Tepat lama pemberian
Lama pemberian obat harus tepat sesuai penyakitnya masingmasing. Untuk Tuberkulosis dan Kusta, lama pemberian paling singkat
adalah 6 bulan. Lama pemberian kloramfenikol pada demam tifoid
adalah 10-14 hari. Pemberian obat yang terlalu singkat atau terlalu lama
dari yang seharusnya akan berpengaruh terhadap hasil pengobatan.
8) Waspada terhadap efek samping
Pemberian obat potensial menimbulkan efek samping, yaitu efek
tidak diinginkan yang timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi,
karena itu muka merah setelah pemberian atropin bukan alergi, tetapi
efek samping sehubungan vasodilatasi pembuluh darah di wajah.
Pemberian tetrasiklin tidak boleh dilakukan pada anak kurang dari 12
tahun, karena menimbulkan kelainan pada gigi dan tulang yang sedang
tumbuh.
9) Tepat penilaian kondisi pasien
Respon individu terhadap efek obat sangat beragam. Hal ini lebih
jelas terlihat pada beberapa jenis obat seperti teofilin dan aminoglikosida.
Pada penderita dengan kelainan ginjal, pemberian aminoglikosida
sebaiknya dihindarkan, karena resiko terjadinya nefrotoksisitas pada
kelompok ini meningkat secara bermakna.
10) Obat yang diberikan harus efektif dan aman dengan mutu terjamin, serta
tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau
Untuk efektif dan aman serta terjangkau, digunakan obat-obat
dalam daftar obat esensial. Pemilihan obat dalam daftar obat esensial
didahulukan dengan mempertimbangkan efektivitas, keamanan dan
harganya oleh para pakar di bidang pengobatan dan klinis. Untuk
jaminan mutu, obat perlu diproduksi oleh produsen yang menerapkan
19
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) dan dibeli melalui jalur resmi.
Semua produsen obat di Indonesia harus dan telah menerapkan CPOB.
11) Tepat informasi
Informasi yang tepat dan benar dalam penggunaan obat sangat
penting dalam menunjang keberhasilan terapi.
12) Tepat tindak lanjut (follow-up)
Pada
saat
memutuskan
pemberian
terapi,
harus
sudah
dipertimbangkan upaya tindak lanjut yang diperlukan, misalnya jika
pasien tidak sembuh atau mengalami efek samping.
13) Tepat penyerahan obat (dispensing)
Penggunaan obat rasional melibatkan juga dispenser sebagai
penyerah obat dan pasien sendiri sebagai konsumen. Pada saat resep
dibawa ke apotek atau tempat penyerahan obat di Puskesmas, apoteker
atau asisten apoteker menyiapkan obat yang dituliskan peresep pada
lembar resep untuk kemudian diberikan kepada pasien. Proses penyiapan
dan penyerahan harus dilakukan secara tepat, agar pasien mendapatkan
obat sebagaimana harusnya. Dalam menyerahkan obat juga petugas harus
memberikan informasi yang tepat kepada pasien.
14) Pasien
patuh
terhadap
perintah
pengobatan
yang
dibutuhkan,
ketidaktaatan minum obat umumnya terjadi pada keadaan berikut:
a) Jenis dan jumlah obat yang diberikan terlalu banyak
b) Frekuensi pemberian obat per hari terlalu sering
c) Jenis sediaan obat terlalu beragam
d) Pemberian obat dalam jangka panjang tanpa informasi
e) Pasien tidak mendapatkan informasi atau penjelasan yang cukup
mengenai cara minum atau menggunakan obat
f) Timbulnya efek samping (misalnya ruam kulit dan nyeri lambung),
atau efek ikutan (urine menjadi merah karena minum rifampisin)
tanpa diberikan penjelasan terlebih dahulu.
20
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
3. Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia terhadap objek melalui
indera yang dimilikinya. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui
mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan hal yang sangat penting
dalam terbentuknya tindakan seseorang (Pulungan, 2010). Terdapat enam
tingkat pengetahuan yang dicakup dalam kognitif. Tingkatan tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Tahu (know)
Tahu adalah mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya
dan mampu mengingat kembali secara spesifik keseluruhan materi yang
dipelajari atau diterima.
b. Memahami (comprehension)
Memahami adalah kemampuan yang menjelaskan secara benar suatu
objek dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar pula.
Seseorang yang sudah paham akan dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,
menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya apa yang ia ketahui.
c. Menerapkan (application)
Menerapkan adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan materi
yang dipelajari di kondisi sebenarnya.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjadikan materi atau objek ke
dalam komponen-komponen tapi masih dalam struktur organisasi dan masih
saling berkaitan.
e. Sintesa (synthesis)
Sintesis adalah kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian
didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau menyusun suatu formula
baru ataupun yang sudah ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan suatu penilaian terhadap
suatu objek atau materi. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria
yang ditentukan sendiri atau dengan menggunakan yang telah ada.
21
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
4. Pendidikan
a. Pengertian pendidikan
Dari
segi
etimologis,
pendidikan
berasal
dari
bahasa
Yunani
“Paedagogike”. Ini adalah kata majemuk yang terdiri dari kata “Pais” yang
berarti “Anak” dan kata “Ago” yang berarti “Aku membimbing”. Jadi
Paedagogike berarti aku membimbing anak. Orang yang pekerjaannya
membimbing anak dengan maksud membawanya ke tempat belajar, dalam
bahasa Yunani disebut “Paedagogos”. Jika kata ini diartikan secara simbolis,
maka perbuatan membimbing seperti dikatakan di atas itu, merupakan inti
perbuatan mendidik yang tugasnya hanya untuk membimbing saja, dan
kemudian pada suatu saat ia harus melepaskan anak itu kembali (ke dalam
masyarakat). Dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu adalah pengaruh,
bantuan atau tuntutan yang diberikan oleh orang yang bertanggungjawab
kepada anak didik (Hadi A.S, 2008).
b. Pendidikan sebagai suatu sistem
Sistem adalah kesatuan fungsional dari komponen-komponen yang
terdapat di dalamnya, yang saling bergantung dan berguna untuk mencapai
tujuan. Dengan demikian apabila salah satu komponen tidak berfungsi, maka
yang lainnya tidak berfungsi.
Pendidikan sebagai suatu sistem, juga memliki komponen-komponen
yang saling berinteraksi, saling tergantung dalam kesatuan fungsional.
Komponen-komponen itu antara lain: pendidik, anak didik, materi
pendidikan,
metode-metode
pendidikan,
lingkungan
pendidikan,
alat
pendidikan, tujuan pendidikan dan sebagainya.
22
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
C. Kerangka Konsep
Penelitian ini menganalisis pengaruh antara variabel bebas yang dalam
penelitian ini adalah tingkat pengetahuan dan pendidikan kader PKK (Pembinaan
Kesejahteraan Keluarga) di wilayah kabupaten Banyumas khususnya pada tingkat
kecamatan terhadap variabel terikat yaitu Rasionalitas penggunaan antibiotik.
Tingkat Pengetahuan Tentang Antibiotik
1.
2.
3.
4.
5.
Pengertian antibiotik
Resistensi antibiotik
Sifat farmakokinetik dan
farmakodinamik antibiotik
Interaksi dan efek samping
antibiotik
Prinsip penggunaan antibiotik yang
bijak
Rasionalitas penggunaan
Antibiotik:
1.
2.
3.
4.
Tingkat Pendidikan
1.
2.
3.
4.
5.
Tidak tamat SD
SD (Sekolah Dasar)
SMP (Sekolah Menengah Pertama)
SMA (Sekolah Menengah Atas)
Perguruan Tinggi
Ketepatan indikasi
Ketepatan obat
Ketepatan pasien
Ketepatan dosis dan
cara pemakaian
5. Kewaspadaan
terhadap efek
samping
Gambar 2.1. Kerangka konsep
D. Hipotesis
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Yarza L.H et al, hasil uji statistik
Chi Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara
tingkat pengetahuan dan kepemilikan asuransi kesehatan dengan penggunaan
antibiotik tanpa resep dokter. Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan
oleh Toraya A.N et al hasil uji Chi Square menunjukkan tidak terdapat
hubungan antara tingkat pendidikan dan status ekonomi dengan tingkat
pengetahuan mengenai penggunaan antibiotik di desa Sekarwangi kabupaten
Bandung. Sehingga hipotesis operasionalnya:
23
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
Ho
: berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat
pendidikan
dan
pengetahuan
terhadap
rasionalitas
penggunaan
antibiotik.
H1
:
berarti terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan
dan pengetahuan terhadap rasionalitas penggunaan antibiotik.
24
Hubungan Antara Tingkat…, Nadia Wahyu Pangestika, Fakultas Farmasi UMP, 2017
Download