Jalan Panjang Kultur Konstitusionalisme di Indonesia

advertisement
Sekretariat Negara Republik Indonesia
Jalan Panjang Kultur Konstitusionalisme di Indonesia
Jumat, 09 Pebruari 2007
Dr. Margarito Kamis, S.H., M.Hum
Dosen Fakultas Hukum Universitas Khairun Ternate dan Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara RI
Pengantar
Negara kuat, pada masa lalu, sekurang-kurangnya dalam kurun waktu 32 tahun, dimengerti oleh para penyelenggara,
hampir dari semua kalangan, sebagai negara yang serba tahu, serba mengatur, serba aman dan serba tertib. Negara
berada di atas segala-galanya, mendominasi seluruh aspek kehidupan masyarakat dengan cara-cara, yang sering
sangat tidak beradab. Menggelikan, tapi benar-benar nyata. Negara, bertindak sebagai penafsir tunggal, sekaligusÂÂ
memonopoli kebenaran. Apa yang dikatakan oleh pejabat selalu mesti benar. Kebenaran adalah milik negara.
Siapa saja, memiliki andil atau tidak dalam perjuangan kemerdekaan, atau perjuangan mendirikan dan memantapkan
Orde Baru, dari manapun dia, yang berbeda pendapat, dan menyuarakannya secara terbuka, pasti akan menuai
bahaya. Bahaya, karena negara di masa lalu, sangat terbiasa dan terlatih mencari alasan untuk menghentikan
pergerakan-pergerakan manusia, yang tentu melalui mata dan telinga negara yang ada disetiap sudut negara ini,
dianggap memiliki potensi untuk melakukan keonaran dalam kehidupan politik atau ekonomi.
Amankan dulu, peradilannya berikut, adalah hal yang sangat sering dialami para aktivis. Bayangkan saja, kalau orang
sekelas Adnan Buyung Nasution, Ismail Suny, Rahman Tolleng, Mohtar Lubis, Sadli, Yap Tien Hiem, Princen, dan
beberapa yang lainnya, yang dikenal hebat dalam prinsip dan teguh dalam keyakinan, ditangkapi dan dipenjarakan
begitu saja. Siapa yang tidak ngeri. Peradaban hukum macam apa yang ada di kepala penyelenggara negara kala itu.ÂÂ
Seolah membelakangi dan menantang sejarah, dari waktu ke waktu, selalu ada muncul upaya demi upaya untuk
menebarkan berita-berita yang tidak masuk akal. Ekonomi tumbuh dengan hebatnya, pernah mencapai 7%. Kita dipujipuji oleh sebagian penulis internasional, sebagai satu di antara beberapa negara di Asia Tenggara, yang akan jadi Singa
Asia. Kita pun begitu aktif di berbagai forum internasional, apalagi regional, terutama di bidang ekonomi, lingkungan, dan
keamanan. Praktis hebatlah kita. ÂÂ
Asal Usul Konsep Konstitusionalisme
Sejauh ini, tidak ditemukan jejak sejarah yang menunjukan siapa sebenarnya, yang pertama kali menggunakan
terminologi konstitusionalisme. Berbeda dengan penggunaan terminologi konstitusi. Sekurang-kurangnya Aristoteles,
dapat ditunjuk sebagai orang pertama yang secara sistematis menggunakan terminologi itu, ketika mengkaji sejumlah
konstitusi. Konstitusi atau – constitutio – politeia dalam Yunani, tidak selalu mudah dapat disarikan ma
secara tepat. Plato misalnya menunjuk, politeia sebagai jiwa dari negara - soul of the body polis. Tetapi pada lain
waktu atau bagian dari tulisannya, Plato juga menunjuk Laws, yang dimaksudkan sebagai konstitusi, ketika
membicarakan hukum sebagai sesuatu yang bernilai bagi perikemanusiaan.
Pada pertengahan abad ke-12 (tahun 1164), terminologi konstitusi digunakan secara terbuka untuk apa yang dikenal
dengan Clarendom Constitution. Seringkali konstitusi ini diandaikan sebagai konstitusi modern pertama, tentu yang
bersifat sekuler. Konstitusi ini dikenal juga dengan istilah avitae constitutiones of leges, a recordatio vel recognitio.
Penamaan seperti itu disebabkan oleh konstitusi itu mencantumkan aturan, yang menggariskan batas pemisah antara
kekuasaan sekuler raja di satu sisi dengan gereja, di sisi lain. Sebab pada kenyataannya sebagai kumpulan atas
instruksi atau keputusan yang dikeluarkan oleh raja, maka konstitusi itu juga dinamaka recordation. Di samping nama
lain lagi ialah Lex or Edictum, karena konstitusi itu juga merupakan Royal Edit.
Karena sifatnya sebagai suatu dokumen tertulis dengan susbtansinya jelas, untuk dijadikan pedoman bagi Royal
Magistraat dalam menyelenggarakan negara, maka dokumen-dokumen ini juga menjadi sesuatu yang terpublikasikan.
Sebagai aturan yang harus dipedomani oleh Royal Magistraat, karena substansi mencakup dua aspek penting, yaitu
kerangka alamiah – tatanan alamiah negara dan tujuan atau cita-cita negara – politeia atau hae contitutio
istilah Cicero, pada pertengan abad 13 di Yunani, konstitusi juga disifatkan sebagai Jus publicum regni - aturan yang
terpublikasi yang mengatur urusan publik.
Dalam maknanya sebagai jus, maka substansi konstitusi, dari sananya atau awalnya tidak pernah mewakili atau
http://www.setneg.go.id
www.setneg.go.id
DiHasilkan: 26 October, 2017, 05:51
Sekretariat Negara Republik Indonesia
melembagaan ide-ide murahan. Sesuai maknanya pula, konstitusi sebagai suatu dokumen, merupakan rekaman atas
ide-ide, dengan kualifikasi hebat untuk dijadikan patokan pengatruran dalam penyelenggaraan negara. Ide-ide yang
direkam atau dibentuk – constitutum – constitue inilah yang disebut juga sebagai konstitusi. Jadi Konstitus
diwujudkan ke dalam satu dokumen. Karena itulah, pada perkembangan hukum tata negara kemudian hari, dikenal
dengan istilah konstitusi tertulis dan konstitusi tidak tertulis. Oleh para ahli, konstitusi tertulis disebut Undang-Undang
Dasar.
Maraknya beragam konstitusi, sekurang-kurangnya sejak tahun 1164 hingga sebelum dibentuknya konstitusi Amerika
Serikat, belum cukup menjadikan konstitusi itu sebagai suatu isme. Setelah Konstitusi Amerika Serikat, barulah muncul
isme tentang konstitusi. Isme inilah yang kemudian dikenal dengan konstitusionalisme. Namun, kemunculan ini tidak
serta merta membuat terang, tahun berapa persisnya isme ini muncul. Demikian pula siapa persisnya yang
memunculkan isme ini yang menyedot perhatian begitu hebat, terutama setelah abad ke 20.
Betapapun semua hal itu tampak agak gelap, secara spekulatif dapat dikatakan kemunculan konstitusi sebagai suatu
isme, sambil menunjuk Amerika Serikat, dapat dikembalikan pada, sekurang-kurangnya dua hal. Pertama, bentuk
negara. Pilihan para pembentuk Konstitusi Amerika Serikat terhadap bentuk negara, yaitu Federal. Pilihan ini
memunculkan problem tersendiri, yaitu formulasi pembagian kekuasaan. Sebagai daerah yang sejak semula memilki
pemerintahan yang otonom, daerah-daerah setelah terbentuknya negara disebut negara bagian, tidak mau begitu saja
membentuk satu federasi. Namun pengalaman sebagai suatu konfederasi merangsang mereka untuk menerima pilihan
federasi, dengan pemerintahan pusat yang kuat atau dalam istilah John Jay pemerintahan pusat yang memiliki energi.
Kedua, untuk pemerintah yang memiliki energi inilah, maka haruslah dirumuskan secara tepat kekuasaan pemerintah
pusat. Pada level ini muncul isu lain, apakah kekuasaan pemerintah itu dilaksanakan oleh satu atau beberapa orang
secara kolektif. Apakah pemerintahan harus dipolakan sebagai model pemerintahan pada masa kolonial, yaitu
parlementer, sesuai negara induknya, Inggris atau tidak?
Semua masalah tersebut, akhirnya dipecahkan dengan satu formula, yaitu diatur dalam konstitusi. Karena sulitnya
mengatur secara rinci batas-batas pembagian kekuasaan, dan hal lainnya secara rigid, maka hanya prinsip-prinsipnya
saja yang diatur. Masalah ikutan yang muncul adalah, bagaimana membuat jaminan agar ketentuan-ketentuan dalam
konstitusi akan ditaati. Untuk masalah ini dipecahkan dengan kesepakatan konstitusi disifatkan sebagai Law of the
Land. Takrif sederhananya adalah konstitusi berlaku untuk seluruh wilayah, dan konstitusi merupakan hukum tertinggi
yang berlaku dalam negara. Keteguhan untuk taat pada konstitusi, dengan menempatkannya sebagai hukum tertinggi
dalam sistem, bukan hanya hukum, melainkan juga politik, bahkan dalam kehidupan berekonomi, itulah yang kemudian
bermetamorfosa dan memunculkan isme tentang konstitusi.
Apa yang hendak dijadikan rujukan untuk mengatur penyelenggaraan negara? Ketentuan-ketentuan yang bersifat tertulis
secara tegas dalam konstitusi yang dijadikan pedoman? Faktanya adalah negatif. Akan tetapi hal itu tidak dapat
diartikan bahwa ketentuan-ketentuan tersebut tidak dipedomani. Yang dipedomani justru hal yang jauh lebih
fundamental, yaitu nilai-nilai yang melandasi setiap pasal konstitusi. Para penyelenggara pemerintahan dari seluruh
cabang kekuasaan justru menyelami setiap dimensi pemikiran dasar yang membentuk pasal atau suatu ketentuan.
Itulah yang dilakukan.
Terdapat beberapa peristiwa yang membuktikan bahwa para penyelenggara menyelami ide-ide dasar yang melandasi
setiap pasal, ketika menghadapi suatu peristiwa ketatanegaraan, yang tidak memiliki landasan hukum secara terang.
Peristiwa pertama adalah ketidak-sediaan George Washington untuk kembali dipilih menjadi presiden. Bagi George,
kekuasaan yang terlalu lama akan memunculkan kembali feodalisme. Kekuasaan pun menjadi tak terbatas. Padahal
inilah yang secara tegas ditolak oleh Thomas Jefferson, tatkala membahas konstitusi. Peristiwa kedua yang cukup
spektakuler adalah penyelesaian kasus penolakan pengangkatan terhadap William Marbury menjadi hakim, setelah
terpilih, pada akhir masa jabatan John Adam. John Marsal, Chief of Supreme Court, harus menyelami pikiran-pikiran
dasar yang berkembang pada saat pembahasan konstitusi dalam menyelesaikan kasus. Hasil penyelidikan terhadapÂÂ
gagasan dasar yang berkembang pada saat pembahasan konstitusi, mengantarkan Marshal pada kesimpulan bahwa
tindakan penolakan terhadap Marbury merupakan tindakan inkonstitusional. Menurut Marbury, ide dasar yang
berkembang pada saat pembentukan konstitusi, tentu yang berhasil ditemukan selama bertahun menyelami perkara itu,
adalah kuatnya ide para pembentuk konstitusi untuk mencegah timbulnya tirani. Tirani, sebagaimana diyakini Thomas
Jefferson, John Jay, Hamilton dan beberapa yang lainnya, dipercaya sebagai pangkal timbulnya ketidak-adilan.
Dari waktu ke waktu dalam perkembangan penyelenggaraan pemerintahannya, setiap kali terjadi persoalan-persoalan,
terutama dibidang ekonomi, selalu dikembalikan pada ide dasar yang berkembang dalam pembahasan konstitusi.
Misalnya doktrin tentang keagungan nilai-nilai individual, yang merupakan bagian penting dari hak asasi manusia,ÂÂ
diterjemahkan demikian kuat, ketat dan kaku, ke dalam doktrin kebebasan berkontrak. Doktrin ini berakibat, pemerintah
tidak bisa ikut campur dalam urusan kontrak. Namun tatkala terjadi depresi ekonomi pada tahun 1930-an, doktrin ini pun
perlahan ditinggalkan. Pada tahun ini pula berkembang doktrin baru yaitu, substance due process of law, di samping due
process of law itu sendiri.
Gambaran sekilas tentang pertumbuhan praktek bernegara, khususnya pelembagaan dan ketaatan terhadap konstitusi,
menunjukan suatu proses bagaimana semestinya mesti ditemukan. Dalam beberapa kajian mutakhir, konsep
http://www.setneg.go.id
www.setneg.go.id
DiHasilkan: 26 October, 2017, 05:51
Sekretariat Negara Republik Indonesia
konstitusionalisme, dimengerti sebagai proses yang meliputi aspek-aspek sejarah dan kultur interpretasi atas teks,
meliptui pula konteks keberlakuan teks itu sendiri. Konstitusionalisme, dalam konteks ini dapat diinterpretasi sebagai
sebuah sistem yang memungkinkan berkembangnya interpretasi atas ketentuan-ketentuan konstitusi, termasuk di
dalamnya praktik dan harapan-harapan terhadap pemerintah.
Dalam aktifitasnya, pemerintah, bukan hanya harus menampakan tindakan yang bersifat evaluatif, tetapi juga harus
sejalan dengan prinsip tertinggi atau terdalam yang terkandung dalam konstitusi. Pemerintah harus melakukannya
secara sadar dan sukarela, bukan sebaliknya, karena didorong oleh rasa takut mendapat sanksi dari pengadilan.ÂÂ
Penyebutan pengadilan, harus dikembalikan dan atau didasarkan pada sistem ketatanegarannya. Amerika
menempatkan pengadilan sebagai institusi satu-satunya yang memonopoli interpretasi atas konstitusi. Tentu berbeda
dengan Perancis, yang tidak menempatkan pengadilan sebagai satu-satunya lembaga penafsir konstitusi. Begitu juga
Inggris dan Belanda. Karena penempatan hal itu harus dikembalikan dan dimengerti berdasarkan rezim
konstitusionalisme yang digariskan dalam konstitusinya.ÂÂ
Seperti halnya konsep konstitusionalisme, kultur konstitusi, terkonsepkan juga sebagai sebuah skema interpretative atas,
atau berkorelasi dengan norma, ketentuan-ketentuan, dan praktik-praktik, dari sebagian anggota dari komunitaskomunitas utama dalam satu sistem sosial kemasyarakatan, setidak-tidaknya mengidentifikasi dan memelihara dua
level sistem; norms and rules. Sesuai dengan konteksnya, maka kultur, bukan hanya konstitusi, melainkan hukum
secara umum, memiliki tingkat keragaman dan kompleksitas tersendiri. Kultur konstitusi harus dilihat dan dimengerti,
dengan memahami praktik yang terlembagakan oleh rakyat, dalam mengawasi pemerintahan mereka, daripada
memfokuskan perhatian pada teks-teks konstitusi, yang mengatur bagaimana masyarakat politik beroperasi secara
aktual, atau bagaimana masyarakat membayangkan bahwa hal itu akan beroperasi.
Keragaman interpretasi dan pemahaman, bahkan perbedaan tatanan aturan, yang di dalamnya meliputi konvensi
memungkinkan tindakan-tindakan yang bersifat identifikasi terhadap tatanan aturan pada level tertinggi. Yang hendak
diidentifikasi adalah: (i) ruang lingkupnya. (ii) pelaksanaan aturan, dan (iii) akibat yang menyertai pelaksanaan aturan
tersebut.ÂÂ
Persilangan Kultur Konstitusionalisme: ParadoksÂÂ
Sejak tahun 1848, kultur hukum kita sudah dibuat terbelakang oleh pemerintah jajahan Belanda. Diawali dengan
diberlakukannnya dengan Code du Commerce, selanjutnya ditopang dengan Regering Reglement, 1854. RR,ÂÂ
merupakan instrumen untuk memformalisasikan kekuasaan Belanda di Indonesia. Sesuai dengan politik hukum pada
masa itu, perlahan-lahan pemerintah Hindia Belanda membelah, boleh jadi juga mendiversifikasi kultur hukum kita.ÂÂ
Pembelahan awal, adalah pemberlakuannya Agrarische Wet pada 1870. Cukup menarik, pemerintah Hindia Belanda
menggunakan azas domein varklaring, di dalam Agrarische Wet itu. Azas ini bertentangan secara diametral dengan
filsafat bangsa Indonesia, karena kita menggunakan asas kolektif. Pemilikan atau penguasaan dilakukan secara
kolektif. Namun, Belanda tidak mau tahu dengan soal ini. Mereka tidak merasa perlu untuk bertanya lebih dulu kepada
orang bumi putra.ÂÂ
Satu hal yang sering dilupakan adalah tindakan pemberlakuan Agrarische Wet itu, bukan hanya memberlakukan hukum
modern, versi pemerintah Kolonial Belanda, yang berbeda dengan hukum yang berlaku di Hindia Belanda, melainkan
pemberlakuan ini, justru merusak nilai-nilai yang diyakini oleh orang bumi putra. Agrarische Wet, sejatinya merupakan
ekspresi atas cara pandang orang Belanda, sekurang-kurangnya kaum liberal yang menguasai parlemen Belanda kala
itu.
Bukan tidak mengalami penolakan di parlemen, ketika gagasan ini dimunculkan. Akan tetapi, watak kapitalis yang
melekat pada gagasan ini memiliki relevansi fungsional dengan tujuan penjajahan, akhirnya gagasan itupun masuk ke
Hindia Belanda. Ruh gagasan tersebut membuka jalan bagi kapitalis swasta di negeri Belanda untuk masuk
menanamkan modalnya di Hindia Belanda. Tentu menguntungkan Belanda.ÂÂ
Sambil tumbuh secara paradoksal, pada tahun 1903 pemerintah Hindia Belanda membuat Decentralische Wet. Undangundang ini, sepintas merupakan suatu terobosan untuk memperkenalkan pemerintahan modern yang sudah lebih dahulu
berkembang di Belanda. Akan tetapi, ruhnya adalah memangkas habis pemerintahan tradisional bumi putra kala itu.
Kota praja, sebagai anak yang baru lahir dari Decentralische itu, lama-kelamaan tumbuh, tentu untuk dan demi
kepentingan pemerintah Hindia Belanda, muncul beberapa provinsi.
Seperti halnya, Agrarische Wet, Decentralische Wet pun menyembunyikan, namun tetap dalam kerangka politik hukum
pemerintah Belanda, adalah memecah dan mengontrol, serta melunakan orang-orang bumi putra terhadap kejelekan
http://www.setneg.go.id
www.setneg.go.id
DiHasilkan: 26 October, 2017, 05:51
Sekretariat Negara Republik Indonesia
pemerintahan kaum penjajah. Untuk keperluan melengkapi struktur organisasi pemerintahan kota praja inilah,
pemerintah Hindia Belanda harus membentuk lembaga-lembaga peradilan. Peradilan landraad harus dibaca dalam
kerangka ini. Betapapun peradilan ini diperuntukan bagi golongan bumi putra, tak dapat disangkal, peradilan ini
merupakan perwujudan politik diskriminasi, dengan dalih pribumisasi pengadilan.ÂÂ
Akulturasi, atau transplantasi hukum model ini, diakui, ambil misalnya Lev, sebagai suatu politik yang membelakangi
realitas. Tidak salah, kalau Sutandyo Wignjosoebroto menilainya sebagai politik transplantasi yang tidak selalu
membuahkan hasil yang baik. Betapapun kegagalan itu, dari waktu ke waktu semakin nyata, Belanda memilih jalan lain.
Jalan itu diberi nama jalan etik – politik etik – balas budi. Namun, sebagaimana biasanya, politik inipun
menyembunyikan tujuan yang sebenarnya; melanggengkan kekuasaan penjajah di bumi ini. Dengan politik itu, walaupun
berhasil melahirkan segelintir orang menjadi orang sekolahan, bahkan bersekolah di negeri Belanda, diharapkan
secara perlahan-lahan kita mau menjadi bagian integral dari kerajaan Belanda.
Jauh sebelum pengadilan atas orator ulung, Bung Karno, sosok yang tumbuh dalam perjuangannya dengan politik non
koperatif, sebagai sebuah tren umum, karena dijadikan platform oleh Indische studie club, Algemene Studie Club,
Perhimpunan Pelajar Indonesia, dipenghujung tahun 1920-an dan permulaan tahun 1930-an, yang merupakan motor
pencerahan kala itu, hukum ditampakan secara nyata cuma sebagai alat kekuasaan kaum penjajahan. Apa yang dialami
oleh Bung Karno dalam Pengadilan di Sukamiskin Bandung adalah bukti; hukum dan pengadilan cuma alat kekuasaan.
Tak heran pula, kalau pada tahun-tahun sesudah itu, Bung Hatta, secara lantang mengeritik watak otoritas pemerintahan
Hindia Belanda. Hatta, menilai apa yang digembar-gemborkan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai pemerintahanÂÂ
yang didasarkan pada hukum – rule of law, justru sebaliknya rule by law. Hartzai artikelen, yang anehnya masih
dipertahankan sampai saat ini, oleh Hatta, orang yang kemudian dalam masa kemerdekaan memperoleh Doktor Honoris
Causa dalam bidang ilmu hukum, sebagai pasal yang membunuh orang bumi putra.
Periode penjajahan, berakhir dengan paradoks kultur hukum. Pemberlakuan hukum-hukum modern, dengan pranata
modern ala Belanda, bukan cuma gagal, akan tetapi memporak-porandakan nilai, orientasi dan ekspektasi orang bumi
putra tentang ideal-ideal kultur hukum yang pantas untuk ditumbuhkan.
Konvigurasi Sesudah Kemerdekaan
A. Babakan 1945-1960: Awal KekacauanÂÂ
 Memaknai kemerdekaan dengan apapun, tentu saja benar, tergantung bagaimana lensa – paradigma yang
digunakannya. Dilihat dari kacamata Hukum Tata Negara, peristiwa tanggal 17 Agustus 1945, adalah suatu pernyataan
tentang pemutusan tata hukum lama dan pada saat yang muncul tata hukum baru. Perkara kita masih tetap
menggunakan sebagian besar hukum produk pemerintah Hindia belanda, itu adalah soal lain. Soal ini menyangkut politik
hukum pemerintah kita.
Mungkin tidak terlalu simetris, akan apa yang terjadi di Perancis, dalam batas tertentu, dapat digunakan untuk
menerangkan gejala kita di atas. Code du Commerce dan Code Penal di Perancis sesudah kemerdekaan, baru berhasil
dibentuk beberapa tahun sesudah pernyataan kemerdekaan. Roberspire, yang memerintah Perancis segera setelah
pernyataan kemerdekaan tidak berhasil melakukannya. Pemerintahannya, malah dianggap sebagai pemerintahan teror,
karena keangkuhan golongan jakobin, golongan yang dianggap sebagai pemenang dalam pertarungan menjelang
kemerdekaan.
Menyelami tahun-tahun awal pemerintahan kita, betapapun tidak sedikit ahli tata negara dan politik, menerimanya
sebagai hal yang biasa-biasa saja, namun harus diakui, pergantian sistem pemerintahnan dari Presidensial model UUD
1945 (sebelum diubah) menjadi sistem pemerintahan parlementer, merupakan sesuatu yang berandil besar, dalam
menentukan jalannya pertumbuhan kultur hukum kita. ÂÂ
Di usia yang begitu muda, dengan alasan-alasan yang luar biasa rasionalnya, bila dilihat konteks sosial politiknya, kita
menorehkan kultur hukum yang kurang bagus, demi efektifitas usaha meyakinkan dunia Internasional, sekurangkurangnya, itulah pikiran terbuka Bung Sjahrir, pemerintahan presidensial ditingggalkan. Sebagai gantinya adalah
pemerintahan parlementer. Itulah yang terjadi pada tanggal 14 November 1945. Tanggal ini adalah tanggal
diresmikannya pemberlakuan pemerintanan parlementer. Sjahrir pun ditunjuk oleh Bung Karno menjadi perdana menteri
pertama dalam sejarah pemerintahan parlementer kita.ÂÂ
http://www.setneg.go.id
www.setneg.go.id
DiHasilkan: 26 October, 2017, 05:51
Sekretariat Negara Republik Indonesia
 Hanya dan demi eksistensi negara yang baru diproklamirkan, tidak seorang pun, dalam pandangan ilmiahnya, yang
mengkualifikasi tindakan pergeseran pemerintahan itu, sebagai awal kemunculan budaya hukum yang tidak menghargai
konstitusi. Pesan hukum konstitusi yang begitu jelas, dikesampingkan begitu saja. Dalil konvensi yang dipakai untuk
menjelaskan soal itu, bagi saya terlampau berlebihan. Konvensi, dalam maknanya yang hakiki, bukanlah sesuatu praktik
yang menginjak-injak ketentuan konstitusi. Praktik Amerika Serikat, sebagaimana sudah disebutkan di muka, bukanlah
suatu praktik yang menginjak-injak konstitusi. Praktik mereka adalah memboboti kehidupan bernegara dengan nilai-nilai
dasar konstitusi.
Paradoks lagi, itulah yang dapat dkatakan untuk melukiskan perkembangan kultur konstitusionalisme muda kala itu.
Betapa tidak, di usia yang begitu muda, muncul gagasan-gagasan yang menurut saya sangat cemerlang.
Kecemerlangannya, ditandai oleh dua peristiwa hukum. Pertama, maklumat Wakil Presiden untuk membuka ruang
ketatanegaraan bagi tumbuhnya partai politik. Mengagumkan, mereka menolak partai tunggal. Kedua, walaupun begitu
sederhana pikiran dasarnya, namun mengalih-fungsikan Komite Nasional Indonesia Pusat, sambil menunggu
pembentukan MPR, dijadikan badan legislatif, adalah tindakan yang sangat maju dilihat sudut pandang
konstitusionalisme. Pengalih-fungsian KNIP dari badan pembantu Presiden menjadi badan legislatif, sesungguhnya
sangat sejalan dengan gagasan dasar konstitusionalisme, yaitu membatasi kekuasaan presiden. Tujuannya adalah agar
kekuasaan tidak ber-evolusi menjadi kekuasaan tanpa batas. Inilah yang mengagumkan.
Sambil jalan, dan seolah telah terlatih pada periode paling awal ini, pemerintahan-pemerintahan parlementer periode
1950-1959, menandai sebuah periode paling menjengkelkan. Selalu saja tersedia alasan untuk gonta-ganti kabinet.
Fakta itu, cukuplah untuk ditandai sebagai bukti empirik, betapa rapuhnya kultur konstitusionalisme dalam periode ini.
Praktik politik tidak berkembang paralel dengan kebutuhan untuk mengembangkan sebuah budaya hukum. PraktikÂÂ
pengelolaan negara menjadi tidak efektif, apalagi mengkonsolidasi pertumbuhan gagasan-gagasan dasar
konstitusionalisme.
Padahal, sebagaimana pada periode awal kemerdekaan, pada fase ini terdapat beberapa fenomena yang
mengagumkan juga. Tindakan hukum yang tidak pandang bulu, tetap masih dapat tumbuh. Jaksa Agung Suprapto,
begitu kokoh sebagai pengawal hukum. Menteri pun dibawa ke pengadilan. Mengagumkan betul. Tetapi itu pulalah yang
menjadi paradoksnya.
B. Babakan 1960-1998: Puncak KemerosotanÂÂ
Konstitusionalisme
Seolah menjadi tiupan sangkakala, Dekrit Presiden 5 Juli 1959, mematikan semua ekspektasi, minimal sekalipun, ide-ide
konstitusionalisme. Segera setelah dekrit, dengan penuh keyakinan keadaan ketatanegaraan, berada dalam situasi
darurat. Revolusi pun memperoleh tempat basah. Untuk dan atas nama Revolusi yang selalu saja dianggap belum
selesai, hukum revolusi pun diberlakukan. Perlahan, tapi pasti, tata hukum yang telah terkonsepkan sebagai tata hukum
revolusi, dan memperoleh dukungan dari sebagian ahli hukum yang sangat idiologikal, loyal pada Bos revolusi, ide
hukum revolusi mengambil bentuk yang nyata. Tak berapa lama, hukum revolusi pun menentukan mangsanya, dan
segera saja memangsainya.
Dewan Perwakilan Rakyat, hasil pemilu 1955, yang diakui secara jujur oleh semua ilmuwan sebagai pemilu paling
spektakuler, karena berlangsung ditengah situasi kita belum terlatih dengan ihwal pilih-memilih, apalagi tingkat
pendidikan yang begitu rendah, dan alat komunikasi yang masih primitif, harus bubar. Penyebabnya sederhana sekali.
DPR menolak RAPBN yang diajukan oleh pemerintah. Padahal ini adalah hak konstitusionalnya. Presiden tahu soal ini.
Tapi, demi dan atas nama revolusi yang belum selesai, dan sesuai dengan tuntutan logika revolusi, diperlukan tindakan
revolusioner. DPR akhirnya dibubarkan. Lahirlah kemudian DPR-GR.ÂÂ
Sebelumnya penguasa terlebih menciptakan situasi politik yang sangat ketat, karena pengawasan pemerintah.
Pertemuan politik harus dibekali dengan izin. Tanpa izin dari penguasa, pertemuan, apapun tujuannya akan dibubarkan.
Dalam perkembangan yang begitu cepat, setelah DPR, moncong politik selanjutnya diarahkan ke partai-partai. Partai
Masyumi, sebuah partai yang dikenal gigih dan sangat kokoh berdiri di atas landasan konstitusionalisme, menjadi
target tembakan politik yang mematikan. Dengan alasan yang dicari-cari, Masyumi diminta untuk membubarkan diri atau
akan dibubarkan.
Masyumi akhirnya mengalami dikirimi surat yang substansinya adalah meminta untuk membubarkan diri. Respon
Masyumi sangat menarik. Masyumi memperkarakan tindakan Presiden yang meminta pembubaran itu. Sayang sekali,
Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Raya, saya lupa namanya, menolak memeriksa dan mengadili perkara itu. Alasannya
http://www.setneg.go.id
www.setneg.go.id
DiHasilkan: 26 October, 2017, 05:51
Sekretariat Negara Republik Indonesia
begitu sederhana, yaitu bukan masalah hukum. Andaikan saja, Ketua pengadilan memiliki nyali sebagai pengawal
keadilan, dan apalagi sebagai pengawal bangsa, perkara ini akan menjadi titik tumbuhnya kultur konstitusionalisme
Indonesia. Bagaimana tidak? Tindakan Presiden dinilai oleh pengadilan. Andaikan pula, pengadilan menyatakan
perbuatan Presiden bersifat melawan hukum, pasti akan menjadi putusan yang bernilai sangat tinggi dalam perspektif
konstitusionalisme.
 Selain DPR, Masyumi, dan larang-larangan atas kegiatan politik tertentu, pemerintah memenjarakan sejumlah warga
negara yang berbeda haluan politiknya. Interpretasi atas konstitusi yang bersifat manipulatif, juga digunakan oleh
pemerintah dalam memenjarakan Kasman Singadimedjo, Sjahrir, Yunan Nasution, dan beberapa yang lainnya. Praktik
pada bidang lainnya, ambil misalnya di bidang ekonomi pun tidak berbeda.
 Rezim Bung Karno, jelas bukan rezim konstitusional. Tak mengherankan, rakyat bergembira ketika pada tahun 1966,
muncul orde baru, yang retoris digembar-gemborkan sebagai Orde Konstitusional. Tepi, faktanya orde bikinan Presiden
murah senyum, Soeharto, pada level tertentu cukup mengerikan, walaupun pada bidang lainnya, prestasinya begitu
hebat. Di bidang pembangunan, rezim ini benar-benar hebat. Tidak sedikit Masjid dibangun, tak terhitung berapa milyar
kilo meter jalan dan jembatan dibangun, kapal laut dan pesawat terbang juga dibuat. Tak terhitung pula, berapaÂÂ
trilyunan rupiah dipakai untuk menyubsidi minyak, beras dan lainnya, demi kesejahteraan rakyat. Tak terhitung juga
berapa banyak SD Inpres dibangun, sama halnya dengan Puskesmas. Orde Baru jago di bidang ini.
Tetapi pada bidang lain, Orde Baru, jelas mengerikan dan menakutkan. Integralistik, yang diselami orde ini, melahirkan
pembenaran untuk menolak perbedaan pendapat, membenarkan tindakan sewenang-wenang, dalam semua bidang
kehidupan, hukum politik, ekonomi dan sosial budaya. Dengan landasan integralistik, Presiden murah senyum ini,
muncul seolah-olah sebagai raja. Negara seolah identik dengannya. Tidak ada yang dapat menolak kemauannya.
MPR, yang secara tekstual berada di atas Presiden, ternyata cuma jadi tukang stempel paling terlatih, begitu juga DPR.ÂÂ
Hukum cuma jadi alat, begitu peradilan. Ismail Suny, Adnan Buyung Nasution, Princen, Mochtar Lubis, dan beberapa
anak muda yang cerdas dan jujur, ambil misalnya Hariman Siregar, begitu juga Sjahrir dipenjarakan tanpa proses
pengadilan yang fair. Kebiasaan buruk yang diawali pada tahun 1974 terus dilanjutkan. Terlalu kasar, diujung
kejayaannya, entah demi negara atau dirinya sendiri atau keluarganya, Presiden murah senyum ini membenarkan
tindakan sewenang-wenang terhadap sejumlah anak muda. Anak-anak muda, yang dinilai sebagai tukang bikin onar
negara, padahal mungkin saja cuma memusingkan dirinya, keluarganya atau konco-konco ekonominya, ditangkap dan
disekap. Sebagian telah bebas, tetapi sebagian lagi wallahu alam, tak jelas rimbanya. Kalau sudah meninggal, kapan
meninggalnya. Kalau sudah dikuburkan, dimana kuburannya, kalau masih hidup dimana pula tempat tinggalnya.
Semuanya kabur.
Prestasi gemilang lainnya yang dicapai oleh rezim Soeharto, adalah praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.
Berlandaskan pada interpretasi integralistik, rezim ini tepo seliro kepada yang berbuat keliru. Feodalisasi negara yang
dibangunnya, menyulitkan penegakan hukum, dan perwujudan keadilan dalam semua dimensi kehidupan. Ekspektasi
rezim ini bersifat ganda dan tidak masuk akal. Ide-ide dasar yang berkembang dalam perdebatan pembentukan UUD
1945, diselami dan dianut secara sepotong-sepotong. Integralistik, misalnya hanyalah satu ide dasar, bukan satusatunya ide. Gagasan yang dikemukakan oleh Muh. Yamin dan Moh Hatta, tentang hak asasi manusia, tidak pernah
disentuh sama sekali. Karena dianggap mewakili nilai barat, HAM dinomorduakan, kecuali sejalan dengan kebutuhan
pembangunan.
Singkatnya, babakan 1960-1998 merupakan babakan kehancuran kultur konstitusionalisme. Manipulasi atas semangat,
norma dan aturan konstitusi terjadi begitu terbuka. Orde Lama dan Orde Baru sama-sama menggunakan cara seperti itu.
Namun alasannya berbeda. Kedua orde ini, tepat dikategori sebagai non constitutional government, atau otoritarian
government, dengan Bung Karno dan Pak Harto sebagai sumber dari segala sumber, bukan konstitusi itu sendiri.
Karena personalisasi keduanya, dengan level yang berbeda-beda, interpretasi atas konstitusi, dalam banyak hal
memunculkan nuansa feodal. Feodalisasi, boleh jadi disadari oleh keduanya, akhirnya merupakan buah atas interpretasi
ide-ide konstitusi 1945. Hasil akhirnya adalah hancurnya budaya berkonstitusi di Indonesia. Dapat disimpulkan bahwa
kehidupan politik dan konstitusi sejak tahun 1960-1966, jelas menutup jalan ke kultur konstitusionalisme.ÂÂ
Pergeseran Pemahaman: Mekar Lagi Konstitusionalisme Kita
Ketika Pak Harto, mantan Presiden RI yang murah senyum itu, berkali-kali ditetapkan menjadi presiden, ahli hukum,
politik dan sebagian fungsionaris partai politik, menandai tidak adanya ketentuan yang mengatur pembatasan masa
jabatan presiden sebagai penyebabnya. Padahal Amerika Serikat baru memiliki ketentuan yang mengatur
pembatasan masa jabatan presiden pada tahun 1952. Sebelumnya, sama sekali tidak ada ketentuan itu, persis seperti
kita. George Washington-lah yang memulai meletakan fundasinya. Dengan sukarela ia mundur dari pencalonannya
untuk ketiga kalinya. Apa yang dilakukan oleh Washington, menjadi tradisi konstitusionalisme yang bagus. Tradisi
http://www.setneg.go.id
www.setneg.go.id
DiHasilkan: 26 October, 2017, 05:51
Sekretariat Negara Republik Indonesia
berlanjut terus, sampai nanti Franklin Delano Rosevelt menjadi presiden. Bahkan fenomena Rosevelt inilah yang
merangsang rakyat Amerika Serikat memikirkannya. Kongres pun meresponnya dengan membuat aturan - amandmentÂÂ
- membatasi masa jabatan presiden.
Terabaikannya ketentuan yang secara exprecis verbis mengatur suatu atau beberapa soal, mestilah tidak dimanfaatkan
untuk mengacaukan gagasan konstitusionalisme para pendiri negara. Sebab teks-teks konstitusi, tidak pernah terbentuk
tanpa didahului argumen-argumen yang menyertainya. Biasanya argumen-argumen ini sangat mendasar,
komprehensif serta menembus waktu. Kalau hal ini dimengerti oleh para penyelenggara negara, sebagaimana
dilakukan oleh Washington, maka Pak Harto pasti dengan sukarela mau untuk tidak menjadi presiden berulang-ulang
kali. Dengan interpretasinya yang khas, dipadukan dengan praktiknya yang ketat, itulah yang menghasilkanÂÂ
kehancuran kultur konstituisi pada masanya.
Mengerti dan memahami teks pasal saja tidaklah cukup, walaupun tetap menjadi hal yang tidak dapat diabaikan.
Mengerti teks, haruslah meliputi atau menembus kotak hitam di belakangnya, yang berisi metavalue-meta ide
menyangkut semangat yang melandasi teks itu. Memahami semangat teks, tidak dapat dibatasi sebatas argumenargumen yang langsung berkaitan dengan satu pasal. Sebagai suatu sistem, pasal-pasal dalam UUD, merupakan
pengembangan lebih jauh dari prinsip dasar yang lebih tinggi.
Prinsip dasar konstitusi Amerika Serikat misalnya, adalah jaminan dan perlindungan terhadap hak individu. Prinsip
dasar ini yang dikembangkan ke dalam berbagai aspek. Pengorganisasian kekuasaan negara ke dalam tiga cabang
kekuasaan, tidak lain merupakan perwujudan gagasan dasar itu secara lebih instrumental dan operasional. Inilah yang
digunakan, oleh, misalnya John Marshal, Chief of Supreme Court, dalam menyelesaikan sengketa antara Marbury
versus Madison. Dengan berdiri di atas dan menyelami gagasan tentang penolakan terhadap tirani, yang sebenarnya
merupakan konsekuensi dari penghargaan atas hak-hak individu, maka Marshal sampai pada kesimpulan, bahwa
tindakan yang dikenakan pemerintah kepada Marbury bersifat inkonstitusional.
Kembali ke Indonesia, khususnya pasca perubahan UUD 1945. Kultur konstitusi macam apakah yang harus
dikembangkan setelah perubahan UUD 1945? Sama seperti UUD 1945 sebelum diubah, tidak ditemukan satupun teks
konstitusi yang mengatur – misalnya tentang keterbukaan, pemerintahan yang bertanggung jawab, akuntabilita
dan lainnya. Yang ditemukan adalah pembatasan masa jabatan presiden, perubahan cara pengisian jabatan presiden,
demikian juga cara pengisian keanggotaan DPR dan MPR, penyelenggaraan kekuasaan kehakiman, pengisian jabatan
jabatan hakim agung, dan sebagainya.
 Konstitusionalisme yang sedang tumbuh pada saat ini, yang berawal pada tahun 1998, tepatnya sejak sidang
istimewa MPR, menandai pergeseran yang signifikan. Hal itu terlihat pada produk-produk hukum sidang istimewa itu.
Dilihat dari sudut pandang kajian tentang konstitusionalisme, apa yang dihasilkan dalam Sidang Istimewa itu,ÂÂ
memperlihatkan secara ekspresif munculnya nilai, orientasi dan harapan baru. Semuanya bermuara pada pembentukan
pemerintahan yang bertanggung jawab. Perintah yang ditujukan kepada pemerintah untuk mengoreksi praktik
penyelenggaraan pemerintahan yang bersifat kolutif, koruptif, dan nepotisme, begitu juga terhadap sentralisasi versi
UU Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah, adalah sebagian buktinya.
Drama pergeseran ini, ternyata, hanya menjadi batu loncatan untuk perubahan yang lebih dramatis, setahun kemudian.
UUD 1945, yang pada masa Orde Baru, diperlakukan sebagai barang keramat, bukan hanya diubah, melainkan
direform. Sangat mengagumkan, karena tidak sedikit nilai, yang pada tahun 1945, sebagian ditolak atau diterima secara
samar-samar, justru dibuat jelas. Kekuasaan Presiden yang seolah tanpa batas, dilakukan pembatasan, sistem
pemerintahan, prinsip check and balances, susunan pemerintahan, wewenang MPR, kekuasaan DPR, bahkan muncul
lembaga baru dalam struktur MPR kita, eksistensi Badan Pemeriksa Keuangan, Bank Indonesia, kekuasaan
kehakiman, hak asasi manusia, semuanya mengalami pergeseran. Secara tegas prinsip-prinsip tersebut diatur masukan
ke dalam UUD 1945. Mengagumkan.
Tetapi jangan buru-buru berhenti memberikan perhatian yang bersifat kritis. Bila dilihat dari sudut gagasan
konstitusionalisme, khususnya aspek constitutional reform, apa yang sudah terjadi barulah berada atau menyentuh level
political game. Level ini merupakan, perwujudan permainan pada level tertinggi, karena, mungkin mereka tidak setuju,
tetapi pasti sulit ditolak, adanya soal memuaskan konstituensi. Sebagaimana sudah dikemukakan pada awal kajian ini,
masih harus ditunggu bagaimana interpretasi para penyelenggara kekuasaan negara terhadap konstitusi. Bagaimana
pula mereka mempraktikan norma dan aturan-aturan itu.
Pemerintahan yang bertanggung jawab, sering disebut constitutional government, sering dipertukarkan dengan
constitutional democratic, bukanlah barang yang sekali jadi. Kudeta di Thailand, tentu hanya satu bukti. Padahal para
ahli yang mengkaji perubahan dramatis dari pemerintahan otoriter ke konstitusional, pernah menunjuk apa yang dicapai
Thailand sebagai suatu lompatan mengagumkan dalam pertumbuhan constitutional government.
Tertatih-tatihnya kita dalam memberantas korupsi, me-reformasi birokrasi, menempatkan hukum sebagai panglima,
masih harus diusahakan secara sistematis. Energi yang sudah tertumpah, sejauh ini belum cukup mengantarkan kita ke
pintu gerbang pemerintahan yang efektif dan efisien. Good administration, sebagai satu elemen kunci dalam good
http://www.setneg.go.id
www.setneg.go.id
DiHasilkan: 26 October, 2017, 05:51
Sekretariat Negara Republik Indonesia
governance, masih harus diusahakan pula. Masalahnya, semua soal ini memiliki tali-temali yang saling berkorelasi, dan
muncul sebagai sebuah lingkaran yang utuh. Semua simpulnya harus digarap, agar menghasilkan sesuatu yang
bermakna. Good administration, hanya dapat diciptakan kalau tersedia aparatur yang berprilaku baik – good behaviour.
Hukum, akan menjadi supreme, kalau aparatnya bersih, baik moral maupun intelektualnya. Hanya dengan aparatur
semacam itulah, hukum tidak akan sedikit sulit dibengkokan untuk tujuan-tujuan yang tidak pantas.ÂÂ
Penutup
Transpalantasi hukum, yang dilakukan oleh pemerintahan jajahan, sebagai wujud politik hukum pemerintah Belanda,
dan idiologis politik baru yang sedang naik daun di negeri Belanda, melahirkan efek ganda. Disatu sisi Belanda berhasil
menanamkan cengkramannya, dan di di lain pihak, merusak nilai-nilai, keyakinan hukum dan orientasi orang bumi putra.
Karena itu, maka pengungkapan atas hal ini tidak dapat dinilai sebagai suatu kekesalan.
Tumbuh ditengah kehampaan tradisi hukum yang memiliki nilai konstitusionalisme, dan berhadapan dengan realitas
politik yang tidak menguntungkan untuk menjaga eksistensi negara yang baru merdeka, ternyata menjadi dorong,
melebihi semua dorong yang lain, untuk meninggalkan gagasan-gagasan konstitusionalisme, yang terkandung secara
sama-samar dalam UUD 1945 (sebelum diubah). Itulah yang terjadi pada tahap paling awal dalam suasana
kemerdekaan kita. Pergeseran sistem pemerintahan dari Presidensial ke parlementer, yang diresmikan pada tanggal 14
November 1945, merupakan bukti, bahwa dorongan untuk mempertahankan eksistensi kemerdekaan, mengalahkan
semua pesan konstitusionalisme. Kalau tidak demikian, maka fase ini pasti merupakan fase penuh paradoks.
Paradoks-paradoks yang sama juga muncul dan ditemukan lagi selama periode 1950-1959. Eskpektasi awal untuk
mewujudkan suatu pemerintahan demokratis dan konstitusional ala Eropa Barat, kalah pula dengan ekspektasi politik
yang berkembang. Selalu ada alasan untuk mengsampingkan pesan-pesan konstitusionalisme. Membawa dan mengadili
beberapa orang menteri, tentu menorehkan tradisi konstitusionalisme yang mengagumkan. Mengagumkan, karena
tindakan itu membuktikan bahwa elemen dasar konstitusionalisme - perlakuan yang sama di muka hukum, benar-benar
tumbuh pada periode ini. Sayang, tidak tertradisi, dan kalah dengan ekspektasi politik non konstitusional.
Sangkakala yang ditiupkan pada penghujung tahun 1959, benar-benar menghancurkan seluruh gagasan
konstitusionalisme. Lagi-lagi gagasan konstitusionalisme, tidak dapat mengalahkan dorongan politik yang naik daun
pada periode 60-an. Ditengah kehancuran yang begitu hebat, ditandai dengan pembubaran DPRS, pembatasan
kebebasan bergerak, berbicara, berorganisasi, serta penahanan yang bersifat arbitrer, muncul suatu usaha yang
mengagumkan. Masyumilah, partai yang dikenal gigih dan kokoh berdiri di atas gagasan konstitusionalisme,
dihancurkan. Sangat menarik dan mengagumkan, respon yang diberikan Masyumi. Perkaranya dibawa ke pengadilan.
Sayang, Ketua pengadilan tidak memiliki nyali. Perkaranya tidak diterima, dianggap bukan perkara hukum. Andaikan
berhasil, inilah satu-satunya pengadilan pertama atas seorang Presiden. Inilah preseden konstitusionalisme yang paling
mengagumkan. Namun, revolusi menghancurkan semuanya.
Keluar dari revolusi, kita masuk ke dalam pembangunan, ciri orde baru, yang selalu secara retoris, hendaknya menandai
rezim ini sebagai rezim yang tunduk, taat, dan melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Hasilnya, ribuan
kilometer jalan dan jembatan dibangun, sekolah dasar inpres, puskesmas, dllnya. Mengagunmkan juga. Tetapi ditengah
kekaguman itu, perbedaan pendapat dilarang. Melawan dibawa ke penjara. Sebagian melalui proses peradilan yang
telah direkayasa, sebagian lagi langsung saja masuk mendekam di dalam penjara. Ditengah itu semua, korupsi, kolusi
dan nepotisme juga merasuk ke seluruh sumsum kehidupan birokrasi. Negara pun menjadi keropos. TradisiÂÂ
konstitusionalisme? Tradisi konstitusionalisme adalah tradisi interpretasi tunggal rezim dan praktik rezim. Di luar itu,
salah. Pembangunan menghancurkan gagasan konstitusionalisme.
Namun semuanya kini mulai bergeser. Konstitusionalisme mulai tumbuh mekar. Diawali pada tahun 1998, dengan
Sidang Istimewa MPR. Segala yang buruk dikoreksi. Lompatan dramatis terjadi ketika UUD 1945 – barang keramat ini
– diubah oleh MPR. Seolah kelengkapan aturan dapat menghentika semua praktik buruk dalam berpemerintahan, MPR
memasukan segudang elemen konstitusionalisme ke dalam UUD 1945. Mengagumkan. Tetapi, membangun tradisi
konstitusionalisme, tidak dapat hanya dengan bertumpu pada teks-teks konstitusi. Interpretasi dan praktik secara riil,
dan kesedian rakyat untuk mengawasi jalannya pemerintahan adalah kunci untuk membangun tradisi ini. Kunci lainnya
adalah para penyelenggara negara mestilah memahami gagasan yang ada dibalik pasal konstitusi secara utuh, bukan
parsial, sebagaimana dilakukan dimasa Orde Baru. Kenali dan fahamilah secara komprehensif. Pemerintahan yang
bertanggung jawab, pasti akan tumbuh, walaupun perlahan, setahap demi setahap. Demikian juga dengan kultur
konstitusionalisme.***ÂÂ
 ÂÂ
http://www.setneg.go.id
www.setneg.go.id
DiHasilkan: 26 October, 2017, 05:51
Sekretariat Negara Republik Indonesia
1  Dosen Fakultas Hukum Universitas Khairun Ternate dan Staf Khusus
   Menteri Sekretaris Negara RI.
http://www.setneg.go.id
www.setneg.go.id
DiHasilkan: 26 October, 2017, 05:51
Download