teori kritis dalam wacana teori arsitektur

advertisement
Handsout
01
Arsitektur dan terbentuknya ruang
Latar belakang.
Pemikiran Jurgen Habermas oleh Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, selama ini dikenal tiga khasanah teori yang diakui
ada dalam dunia arsitektur.
1. teori tentang arsitektur (theory about architecture) bersifat memaparkan tentang what is architecture
menurut posisi teoritis arsitek dan paradigma yang dianutnya.
2. teori di dalam arsitektur (theory in architecture) berupa teori "apa saja" yang digunakan oleh para
arsitek dalam praktik profesionalnya.
3. teori arsitektur (theory of architecture) yakni sebentuk teori yang khas arsitektur, mirip teori atom atau
teori gravitasi yang muncul serta berlaku dalam ilmu fisika. Teori arsitektur jenis ketiga ini sebenarnya
lebih tepat berada dalam kategori theory on architecture, yang menunjukkan adanya academic sense
daripada theory about architecture. Meskipun demikian, theory on architecture akan muncul dari
adanya theory about architecture, sebagai konsekuensi logis dan menjadi substansi dari paradigma
arsitektur yang dianut seorang pencetus teori.
Dalam pemahaman dunia akademik, suatu teori dikenal memiliki tiga sifat, yakni eksplanatif, prediktif, dan
kontrol. Teori dengan pengertian semacam itu umumnya berlaku bagi teori - teori dalam ilmu (scientific
theories), namun tidak berlaku dalam dunia arsitektur. Teori dalam dunia arsitektur bersifat unscientific,
spekulatif, subyektif, terkait dengan eksplanasi konsep desain, merupakan tuntunan praktik, atau iluminasi
tentang suatu desain arsitektur. Teori dalam arsitektur tidak mampu memberikan jaminan keberhasilan prediksi
seperti halnya teori dari khasanah ilmu. Dengan demikian, arsitektur hanya akan mendukung status quo,
menciptakan yang lama dalam situasi baru, maka tidak mampu menjadi sarana emansipatori kehidupan
manusia. Oleh karenanya, arsitektur tidak dapat lagi menggunakan teori tradisional atau bersifat spekulatif saja
karena tidaklah memadai untuk praktek arsitektur kini dan masa depan.
Arsitektur hingga kini telah semakin terlibat di dalam kehidupan masyarakat, bahkan menjadi sarana bagi
penyelesaian problematika kehidupan manusia, maka sudah selayaknya tidak hanya menggunakan teori - teori
yang bersifat spekulatif, melainkan perlu dilandasi dengan nilai - nilai etis. Arsitektur semestinya mampu
menjadi sarana emansipatori manusia, yakni pembebasan dari kealamiahan manusia maupun dari rintangan
yang dibuatnya sendiri. Hal itu berarti, arsitektur yang mau menjadi sarana emansipatori manusia hendaknya
selalu berada di dalam diskursus tanpa henti dengan pengalaman praktik (dimensi empiris) maupun dengan
teori - teori (dimensi transenden). Dunia arsitektur harus menyadari bahwa kebenaran yang telah ditemukan
(dibekukan menjadi teori) sebenarnya bersifat tentatif, dan hanya dengan refleksi dua kutub, maka kebenaran
sejati makin menampakkan diri. Arsitektur perlu belajar dari pemikiran Juergen Habermas, menjadi arsitektur
yang kritis karena hendak bersifat emansipatoris. Arsitektur semestinya tidak semata - mata berada di dalam
paradigma ilmu - ilmu empiris - analitis, atau ilmu - ilmu historis - hermeneutis, sebaiknya juga dilandasi
paradigma ilmu - ilmu tindakan yang berkepentingan emansipatoris.
Implikasinya, teori - teori dalam dunia arsitektur hendaknya selalu berada dalam kondisi dinamis, senantiasa
direfleksikan terhadap cita - cita etis dan emansipatori manusia karena teori yang berubah menjadi ideologi atau
mitos akan memutlakkan kebenaran - kebenaran ideologis serta menolak pemikiran - pemikiran kritis. Teori
semacam itu potensial menjadi pembatas gerak bagi kelestarian kehidupan. Teori arsitektur meskipun
berkembang di dalam sejarah arsitektur, dialektika teori - praksis, dan di dalam kritikisme, sebenarnya menjadi
bagian dari sejarah perkembangan ilmu - ilmu. Teori dalam arsitektur perlu selalu diinteraksikan dengan teori
dalam bidang - bidang ilmu lain, sehingga memiliki kekuatan yang makin efektif sebagai sarana emansipatoris.
(ydp.251200)
1
Teori Arsitektur 1, oleh X.Furuhitho, ST., MT
Konteks.
Arsitektur berkembang tidak di dalam ruang hampa, melainkan ada di dalam konteks kehidupan masyarakat.
Seperti pada ilmu – ilmu lain, keadaannya selalu berkaitan dengan dinamika kehidupan masyarakat. Hal itu
berarti terdapat hubungan timbal balik antara arsitektur dengan kehidupan masyarakat. Arsitektur dipengaruhi
oleh kehidupan masyarakat, demikian pula sebaliknya. Dengan demikian, arsitektur kadang menjadi obyek dan
kadang juga menjadi subyek dalam konteks hubungan timbal balik itu. Sebagai subyek, seringkali arsitektur
memiliki peran menentukan perubahan masyarakat, melalui karakteristik obyek – obyek arsitektur yang
muncul, baik berupa bangunan, maupun tata ruang luar pada berbagai tingkat keadaan (skala).
Arsitektur dalam konteks perubahan masyarakat : mungkinkah perubahan sosial masyarakat melalui partisipasi
arsitektur ? Menurut Victor Papanek (1984), perancang menghadapi dilema etikal yakni antara profit dan
tanggung jawab sosial (38), sedangkan desain & desainer harus memiliki kontribusi dalam kehidupan nyata
manusia dan sosial (39). Hal itu menunjukkan bahwa peran perancang (arsitek) berada di dalam ketegangan
diantara dua kutub, yakni kutub ideal dan kutub kehidupan nyata.
Menurut, Evans, Powell & Talbot (1982), perancang (arsitek) adalah agen perubahan (3) dan perancang harus
memikirkan dampak jangka panjang rancangannya pada kehidupan manusia (3). Juga dikatakan bahwa desain
dalam konteks sosial hendaknya bukan hanya suatu ungkapan diri, seyogyanya melayani masyarakat (6).
Dengan demikian, hakekat desain harus diubah ke arah plural view (interdiciplinary approach).
Permasalahannya : bahwa tujuan perubahan masyarakat adalah menuju masyarakat yang sempurna, bebas dari
penindasan, pembelengguan, keterbelakangan, maka desain seharusnya mengandung maksud emansipatoris
(ide dasar Marx, 1867). Pertanyaannya adalah (1) Bagaimana landasan rasional desain yang bertujuan
emansipatoris ? (2) Paradigma atau teori arsitektur manakah yang memadai sebagai landasannya ?.
Teori Kritis versi Juergen Habermas dapat dipertimbangkan menjadi alternatif untuk membangun kesadaran
baru berarsitektur.
Teori positivistik menceriterakan keadaan secara apa adanya, merumuskan realitas obyektif (“bebas nilai”).
Teori positivistik sebagai landasan aksi akan menghasilkan kenyataan obyektif lama muncul dalam konteks
baru (status quo). Teori positivistik bersifat ideologis dan apabila menjadi landasan aksi akan menciptakan
dilema usaha manusia rasional yang terjebak irasionalitas.Teori Kritis menjadi kritis terhadap teori – teori
positif karena bertujuan membangun dan membebaskan manusia dari segala belenggu yang muncul.
Kesimpulan.
Teori Arsitektur
1. untuk menelaah dan memahami arsitektur
2. mengetahui bagaimana proses merancang
3. sebagai unsure pendukung dalam proses merancang
4. berguna bagi arsitek untuk mengetahui dan menyelesaikan
a. system struktur
b. gaya
c. pola
d. enginnering
e. dll
Penerapan Teori Arsitektur
Dari sisi Ilmiah:
1. menentukan reaksi-reaksi psikologi ruang
2. meramalkan prilaku gaya-gaya pada struktur
3. pola perambatan bunyi
2
Teori Arsitektur 1, oleh X.Furuhitho, ST., MT
4. pencahayaan dan penghawaan
Dari sisi Sosial:
1. hirarki fisik (heritage, culture)
2. arsitektur swadaya
3. aritektur pemerintah
Terbentuknya ruang:
1. Unsur-unsur Pokok
“ semua bentuk gambar berawal dari satu titik yang membuat suatu gerakan …titik itu bergerak….dan
terbentuklah suatu garis__________ dikenal sebagai dimensi-pertama. Bila garis itu bergerak membentuk
sebuah bidang, maka kita dapat menentukan sebuah unsure dua-dimensi. Selama perkembangannya dari bidang
menjadi runag, pertemuan bidang-bidang tadi melahirkan suatu badan (tiga-dimensi)… Sebuah ringkasan
mengenai energi kinetic yang menggerakkan sebuah titik menjadi garis, garis menjadi bidang dan bidang
menjadi dimensi ruang”
Paul Klee
The Thinking Eye: The Notebooks of Paul Klee
1961
sebagai penyebab utama timbulnya suatu bentuk:
Titik
: menunjukkan posisi di dalam ruang
Sebuah titik yang diperpanjang akan menjadi sebuah
Garis
: yang memiliki:
 Panjang
 Arah
 Posisi
Sebuah garis yang diperluas akan menjadi sebuah
Bidang
: yang memiliki:
 Panjang dan lebar
 Wujud
 Permukaan
 Orientasi
 Posisi
Sebuah bidang yang dikembangkan akan menjadi sebuah
Ruang
: yang memiliki:
 Panjang, lebar dan tinggi
 Bentuk dan ruang
 Permukaan
 Oriantasi
 Posisi
3
Teori Arsitektur 1, oleh X.Furuhitho, ST., MT
1.1. Titik
Sebuah titik menandai sebuah posisi dalam ruang. Secara konseptual, titik tidak memiliki ukuran panjang,
lebar, maupun tinggi, dan karenanya bersifat statis, terpusat dan tidak memiliki arah.
Sebagai unsure utama di dalam perbendaharaan bentuk, maka sebuah titik dapat digunakan untuk menandai:
1. kedua ujung sebuah garis
2. persilangan antara dua garis
3. pertemuan garis-garis di ujung sebuah bidang atau ruang
4. titik pusat sebuah daerah
sebuah titik tidak memiliki dimensi. Untuk memperlihatkan keberadaan sebuah titik dalam suatu ruang atau di
atas permukaan tanah, maka titik itu harus diproyeksikan secara vertical menjadi suatu bentuk linier, seperti
sebuah kolom, tugu atau menara, setiap elemen kolumnar dalam gambar denah akan terlihat sebgai sebuah titik
dan oleh karena itu tetap mengandung cirri visual sebuah titik. Betuk-bentuk laninya yang merupakan turunan
dari titik, yang memiliki sifat visual yang sama adalah:
lingkaran
Silinder
Bola
: Kulil Tholos of Polycleitos, Eidauros
Yunani, 350 SM
: Tempat baptis di Pisa, Italia
1153-1265, Dioti Salvi
: Monumen Untuk Sir Isaac Newton.
Proyek, 1784, Etienne-Louis Boule
1.2. Dua titik
Dua buah titik melukiskan sebuah garis yang menghubungkannya. Meskipun titik-titik tersebut memberikan
pada garis panjang tertentu, garis itu juga dapat dianggap sebagai segmen darai garis yang panjangnya tidak
terbatas.
Selanjutnya dua buah titik juga dapat menunjukkan sebuah sumbu yang terletak tegak lurus terhadap garis yang
dilukisknnya, di mana keduanya adalah simetri. Karena sumbu tersebut panjangnya tidak terhingga, maka
dalam beberapa hal sumbu tersebut menjadi lebih dominant dibandingkan dengan garis yang dilukiskan tadi.
Namun dalam kedua kasus di atas, baik garis yang dilukiskan dan sumbu tegak lurus tadi terlihat menjadi lebih
dominant dibandingkan dengan kebanyakan garis yang mungkin meleawati masing-masing titik tersebut.
Dua buah titik yang diletakkan dalam ruang yang dibentuk oleh unsure-unsur kolom atau bentuk-bentuk
terpusat dapat menunjukkan adanya sebuah sumbu, suatu metoda penataan yang digunakan sepanjang sejarah
untuk menorganisir bentuk-bentuk bangunan dan ruang-ruang kosong. Dalam denah,dua buah titik juga dapat
menujukkan gerbang antara satu tempat ke tempat lain. Jika kedua titik tersebut diperpanjang secara vertical
dapat membentuk sebuah bidang untuk tempat masuk atau jalan masuk yang tegak lurus dengan titik tersebut.
1.3. Garis
Garis adalah unsure penting dalam pembentukan setiap konstruksi visual, garis dapat:
a. menggabungkan, menghubungkan mendukung mengelilingi, atau memotong elemen visual lainnya.
b. Menggambarkan adanya sisi-sisi dan memberikan adannya sisi-sisi dan memberikan wujud pada
bidang-bidang
c. Menegaskan sifat-sifat permukaan bidang-bidang
Meskipun secara teoretis sebuah garis hanya memiliki satu dimensi, garis harus menilili tingkat ketebalan
terntntu sehingga dapat dilihat oleh mata. Garis dikenali secara sederhana karena panjangnya mendominasi
4
Teori Arsitektur 1, oleh X.Furuhitho, ST., MT
sebarnya, karakter sebuah garis, baik lurus atau lengkung, jelas atau samar-samar, indah atau tidak teratur,
ditentukan oleh persepsi kita terhadap perbandingan panjang dan lebarnya, kontur serta tingkat
kesinambunganya. Bahkan pengulangan yang sederhana dari elemen yang mirip atau sama, jika cukup
berkesinambungan, dapat dianggap sebagai garis. Jenis garis semacam ini memiliki tekstur yang berarti.
Orientasi atau arah sebuah garis dapat mempengaruhi peranannya dalam sebuah konstruksi visual. Bila sebuah
garis vertical dapat menunjukkan keadaan seimbang dengan gaya tarik bumi, melambangkan kondisi manusia,
ataupun menunjukkan sebuah posisi di dalam ruang, sebuah garis horizontal dapat mewakili stabilitas,
permukaan bidang tanah, horizon ataupun keadaan badan terbaring.
Garis miring merupakan deviasi dari garis tegak atau horizontal. Garis tipe ini dapat terlihat sebagai garis
vertical yang roboh atau garis horizontal yang sedikit bangun. Dalam tiap kasus tersebut, baik garis yang jatuh
menuju suatu titik di bidang tanah ataupun bangun mengarah pada suatu titik di langit, semuanya menunjukkan
suatu dinamika dan aktivitas visual terlihat dalam keadaan tidak seimbang.
1.4. Unsur Linier
Unsure-unsur linier vertical, seperti kolom, tugu dan menara, telah dipergunakan sepanjang sejarah untuk
memperingati peristiwa-peristiwa penting dan menciptakan titik-titik tertentu di dalam ruang. Unsure-unsur
linier vertical jugadapt membentuk volume transparan ruang. Dalam contoh ilustrasi keempat menara minaret
membentuk bidang ruang di mana kubah Hagia Sophia berdiri dengan megahnya.
Bagian-bagian linier yang memiliki dasar kekuatan bahan dapat membentuk fungsi structural. Unsure-unsur
linier dapat:
1. menunjukkan pergerakan melintasi ruang
2. memberikan tumpuan pada suatu bidang
3. membentuk rangka struktur tiga-dimensi untuk ruang arsitektur
sebagai contoh: Jembatan Salginatobel. Swiss, 1929-30, Robert Maillart.
Serambi Caryatid. The Erechtheion, Athena, 421-405 SM, Mnesicles.
Bangunan-bangunan juga dapat berbentuk garis, terutama bila di dalamnya terdiri dari pengulangan ruangruang yang diatur sepanjang alur sirkulasi, terlihat bentuk-bentuk bangunan linier memiliki kemampuan untuk
melingkupi ruang-ruang eksterior dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan suatu tapak.
Dalam skala yang lebih kecil, garis-garis menegaskan sisi-sisi dan permukaan-permukaan bidang dan volume.
Garis-garis tersebut dapat ditunjukkan oleh pertemuan di dalam atau antar bagian-bagian bangunan, olah
rangka jendela atau pintu atau pada suatu struktur grid kolom dan balok. Sejauh mana unsure-unsur linier
tersebut mempengaruhi tekstur pemukaan akan sangat tergantung pada bobot visual, jarak dan arahnya..
1.5. Dari garis menjadi Bidang
Dua buah garis sejajar memiliki kemampuan untuk menggambarkan sebuah bidang. Sebuah membrane ruang
transparan dapat dibentangkan di antara kedua garis tersebut untuk memperjelas hubungan visualnya. Semakin
dekat jarak kedua garis tersebut, semakin kuat kesan bidang yang ditampilkannya.
Pengulangan sedert garis-garis sejajar akan lebih memperkuat persepsi kita terhadap bidang yang dibentuknya.
Apabila garis-garis ini diperpanjang sepanjang bidang yang dibentuknya, bidang maya tersebut akan menjadi
nya tad an bagian kosong di antara diantara garis-garis tadi menjadi seolah-olah jeda dari permukaan datar
tersebut
Diagram-diagram ini menggambarkan perubahan sebaris kolom berbentuk bundar, yang pada dasarnya
berfungsi menyangga sebagai diding, kemudian berubah menjadi kolom bujur sangkar yang merupakan
5
Teori Arsitektur 1, oleh X.Furuhitho, ST., MT
sekatuan bagian dari bidang diding, dan pada akhirnya kolom-kolom tadi menjadi pilar dengan relief sepanjan
permukaan bidang diding.
“Kolom adalah merupakan bagian dari dinding yang diperkuat, yang disusun tegak lurus muali dari pondasi ke
atas….Pada dasarnya, sebaris kolom merupakan sebuah diding, yang memiliki celah terbuka dan terputus di
beberapa tempat” Leon Battista Alberti.
1.6. Unsur linier pembentuk bidang
Sederet kolom yang menopang bidang datar di atasnya---colonade----sering dipergunakan untuk membentuk
tampak depan atau fasad bangunan, khususnya bangunan yang menghadap ke tempat umum utama. Fasad
dengan deretan kolom-kolom tadi dapat ditembus dengan mudah sebagai tempat masuk, memberikan suatu
perlindungan yang terbentuk dari unsure-unsurny, serta membentuk pemandangan semi transparan yang
menyatukan bentuk-bentuk bangunan individu di belakannya. (contoh: Museum Altes, Berlin, 1823-30, Karl
Friedrich von Schinkel)
The Bacilica, Vicenza,Italia dan Coister (beranda) dari Moissac Abbey, Perancis, 1100, adalah contoh
memperlihatkan bagaimana kolom-kolom dapat membentuk sisi-sisi ruang eksterior yang dibentuk olah massa
bangunan tersebuat selain memperjelas sisi-sisi massa bangunan didalam ruang
Batang-batang lurus pada trails dan pragola dapat memberikan bentuk dan tutupan yang cukup untuk ruangruang luar dengan tetap dapat tembus oleh cahaya matahari dan angin. Unsur-unsur vertical dan horizontal
secara bersama-sama dapat membentuk volume ruagn seperti contoh teras luar atau solarium. Perlu diketahui
bahwa bentuk suatu volume ditentukan semata-mata oleh konfigurasi unsure-unsur linier.
1.7. Bidang
Sebuah garis yang diteruskan kea rah yang berbeda dengan arah asalnya akan menjadi sebuah bidang. Pada
dasarnya, sebuah bidang memiliki panjang dan lebar, tetapi tidak memiliki tinggi.
Wujud adalah karakter utama yang dimiliki oleh sebuah bidang. Wujud ditentukan oleh kontur garis yang
membentuk sisi-sisi sebuah bidang. Karena persepsi kita tentang wujud dapat dikaburkan oleh pandangan
perspektif, maka wujud sebernarnya dari sebuah bidang hanya dapat dilihat jika kita memandannya dari arah
depan saja.
Cirri-ciri pendukung lain yang dimiliki sebuah bidang yaitu warna permukaannya, pola dan tekstur
mempengaruhi bobot dan stabilitas secara visualnya.
Dalam komposisi suatu konstruksi visual, suatu bidang berfungsi untuk membentuk batas-batas sebuath
volume. Bila arsitektur sebagai seni visual menguraikan secara spesifik tentang formasi volume massa dan
ruang 3-dimensi, maka bidang seharusnya diandang sebagai unsure kunci dalam perbendaharaan perancangan
arsitektur. Bidang-bidang di dalam arsitektur membentuk volume massa dan ruang 3-dimensi. Sifat-sifat suatu
bidang yang berukuran, wujud, warna dan tekstur dan juga hubungan antara satu dan lainnya akan menentukan
cirri-ciri visual dari wujud yang dihasilkan serta mutu ruang yang terbentuk di dalamnya.
Dalam perancangan arsitektur terdapat tiga jenis bidang yang sering dipergunakan:
Bidang atas:
Bidang atas dapat berupa bidang atap yang melindungi ruang-ruang interior bangunan terhadap unsureunsur iklim, atau bidang langit-langit yang menjadi penutup atas suatu ruang.
6
Teori Arsitektur 1, oleh X.Furuhitho, ST., MT
Bidang Dinding:
Bidang dinding, yang memiliki orientasi vertical, sangat menentukan dalam pembentukan dan
membatasi ruang arsitektural.
Bidang Dasar:
Bidang dasar dapat berupa bidang permukaan tanah yang berfungsi sebagai dasar pondasi dan dasar
visual untuk bentuk bangunan, atau bidang lantai yang membentuk permukaan tutupan bawah suatu
ruang dan menjadi dasar untuk kita berpijak.
1.8. Unsur bidang datar
Bidang permukaan tanah untuk mendukung seluruh konstruksi arsitektur. Bersama dengan kondisi iklimdan
kondisi lingkungan tapak, serta karakter topografis bidang tanah mempengaruhi bentuk bangunan yang
didirikan di lahan tersebut.
Bidang permukaan tanah dapat dimanipulasi dalam mendirikan suatu podium untuk sebuah bentuk bangunan.
Bidang tatanah dapat ditinggikan untuk menghormati suatu tempat suci atau tempat penting: direndahkan untuk
membentuk ruang luar atau menahan kondisi-kondisi yang tidak diinginkan; diukir atau dibuat bertingkat,
untuk menyediakan suatu lahan yang cocok uantuk bangun; atau dibuat bertangga untuk memudahkan
pencapaian daerah yang berbeda ketinggian
a. bentuk bidang lantai juga dapat dibuat bertangga atau bertingkat untuk memperkecil skala suatu ruang
sesuai dimensi manusia serta menciptakan tempat duduk-duduk atau untuk pementasan
b. bidang dinding eksterior memisahkan sebagai bagian ruang untuk menciptakan suatu lingkungan
interior yang terkontrol
c. sebagai suatu unsure perancangan, bidang dari suatu dinding eksterior dapat menunjukkan tampak
depan atau fasad suatu bangunan. Dalam suatu lingkungan perkotaan , fasad-fasad bangunan berperan
sebagai dinding yang membentuk tempat terbuka, jalan dan tempat-tempat pertemuan umum seperti
taman dan pasar
d. Plat-plat beton bertulang menunjukjan garis horizontal lantai dan bidang-bidang atap sebagai
Kantilever yang keluar dari sebuah inti vertical terpusat (contoh: Falling Water, Connerllsville,
Pennylvania 1936-37 Frank Lloyd Wright.
Bentuk keseluruhan bangunan dapat dipertegas dengan memperjelas kualitas bidang, dengan
menempatkan bukaan-bukaan yang menunjukkan sisi dari bidang vertical dan horizontal secara hatihati. Bidang datar ini dapat lebih jauh dibedakan dan ditekankan dengan perubahan-perubahan dalam
hal bahan, warna maupun tesktur.
1.9. Volume
Sehuah bidang yang diperluasdalam arah yang berbeda dari arah asalnya akan menjadi sebuah ruang. Secara
konsep, sebuah volume mempunyai tiga dimensi, yaitu: panjang, lebar, dan tinggi.
Semua volume dapat dianalisis dan dipahami terdiri atas:
 Titik atau ujung di mana beberapa bidang bertemu
 Garis atau sisi-sisi di mana dua buah bidang
 Berpotongan
Bidang atau permukaan yang membentuk batas-batas volume
Bentuk adalah cirri utama yang menunjukkan suatu volume. Hal ini ditentukan oleh wujud dan hubungan
antara bidang-bidang yang digambarkan batas-batas dari volume tersebut.
Sebagai unsure tida dimensi di dalam perbendaraan perancangan arsitektur, suatu volume dapat berbentuk
padat-ruang yang ditempati massa-atau ruang kosong- yaitu ruagn yang terdiri dari atau dibatasi oleh bidang-
7
Teori Arsitektur 1, oleh X.Furuhitho, ST., MT
bidang. Dalam arsitektur, suatu volumr dapat dilihat sebagai bagian dari ruang yang terdiri dan dibentuk oleh
dinding, lantai dan langit-langit atau bidang atap, atau kuantitas ruagn yang ditempati oleh massa bangunan.
Sangat penting untuk memahami keduanya, khususnya saat membaca rencana ortografik tampak dan potongan
8
Teori Arsitektur 1, oleh X.Furuhitho, ST., MT
Download