Bab 2 - Widyatama Repository

advertisement
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Sistem Informasi Akuntansi
Setiap
perusahaan
mempunyai
tujuan
yang
telah
direncanakan
sebelumnya, salah satunya adalah untuk memperoleh laba terutama melalui
penjualan baik penjualan tunai maupun penjualan kredit. Untuk bisa mencapai
tujuan yang telah ditetapkan, maka perusahaan membutuhkan informasi yang
berkualitas dan dapat dipercaya, karena sangat berguna untuk memudahkan
pengawasan terhadap aktivitas perusahaan sehingga eksistensi perusahaan dapat
dipertahankan dan tujuan yang telah ditetapkan akan tercapai dengan baik.
Dengan adanya informasi yang dibutuhkan, manajemen dapat melakukan
pencegahan terhadap tindakan-tindakan penyelewengan, kecurangan dan
penggunaan harta perusahaan.
2.1.1
Definisi Sistem
Sistem pada dasarnya merupakan sekelompok unsur yang erat
hubungannya satu sama lain, yang berfungsi secara bersama-sama untuk
mencapai tujuan tertentu. Sistem diciptakan untuk menangani suatu yang
berulang kali secara rutin terjadi.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penulis mengutip pengertian dari
sistem. Menurut Marshall B. Romney dan Paul John Steinbart (2009:26),
yaitu menyatakan sebagai berikut:
“System is a set of two or more interrelated components that interact to
achive a gool”.
7
Menurut Azhar Susanto (2008:22) pengertian sistem adalah sebagai
berikut :
“Sistem adalah kumpulan/group dari sub sistem / bagian / komponen
ataupun phisik ataupun non phisik yang saling berhubungan satu
sama lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai satu
tujuan tertentu”.
Pada dasarnya sistem terdiri dari tiga unsur yaitu input (masukan), proses,
output (keluaran). Input merupakan komponen penggerak atau pemberi tenaga
kerja dimana sistem itu dioperasikan, sedangkan output merupakan hasil operasi.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa sistem adalah bagianbagian atau prosedur-prosuder yang saling berinteraksi antara satu dengan yang
lainnya dalam rangkaian secara menyeluruh untuk berfungsi bersama-sama
dalam mencapai tujuan tertentu.
2.1.2
Definisi Informasi
Didalam pengolahan sistem pada akhirnya menghasilkan informasi, untuk
itu
pendefinisian
informasi
diperlukan
untuk
menunjang
berhasilnya
pengembangan sistem yang akan dirancang. Informasi pada dasarnya merupakan
data yang telah diproses menjadi bentuk yang memiliki arti bagi penerima dan
dapat berupa fakta, suatu nilai yang bermanfaat.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penulis mengutip pengertian dari
informasi. Menurut Marshall B. Romney dan Paul John Steinbart (2009:27),
yaitu menyatakan:
“Informasi is data that have been organized and processed to provide
meaning to user”
Sedangkan definisi informasi menurut Zulkifli Amsyah (2005:2), yaitu
menyatakan :
”Informasi adalah data yang sudah diolah dengan cara tertentu
sesuai dengan bentuk yang diperlukan”.
8
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa informasi merupakan data
yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang
menerimanya.
2.1.3
Definisi Akuntansi
Akuntasi merupakan bahasa bisnis. Setiap perusahaan menerapkannya
sebagai alat komunikasi. Secara klasik akuntansi merupakan proses pencatatan
(recording), pengelompokan (classifying), perangkuman (summarizing), dan
pelaporan (reporting) dari transaksi-transaksi perusahaan. Untuk lebih jelas,
berikut ini adalah pengertian akuntansi menurut beberapa ahli:
Menurut Warren (2009:3) pengertian akuntansi adalah sebagai berikut :
“Accounting is an information system that provides reports to users
about the economic activities and condition of a business”.
Menurut Kieso dan Weygandt yang diterjemahkan oleh Dr. Winwin
Yadianti, S. E.,M.si, Ak. (2007:2), yaitu menyatakan bahwa :
“Akuntansi adalah suatu sistem informasi yang mengidentifikasi,
mencatat, dan mengkomunikasikan kejadian ekonomi dari suatu
organisasi kepada pihak yang berkepentingan”.
Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa akuntansi
mempunyai fungsi dan peranan yang sangat penting yang bersifat keuangan
dalam
kegiatan
perusahaan
dan
kepada
pihak-pihak
tertentu
yang
memerlukannya untuk mengambil keputusan atau memilih alternatif ekonomi.
2.1.4
Definisi Sistem Informasi Akuntansi
Definisi sistem informasi akuntansi menurut Marshall B. Romney dan
Paul John Steinbart (2009:28), menyatakan bahwa:
“Accounting information system is a system that collects, records,
stores, and processes data to produce information for makers”.
9
Definisi sistem informasi akuntansi menurut George H.Bodnar dan
William S. Hopwood (2010:1), menyatakan bahwa:
“Accounting information system is a collection of resources, such as
people and equipment, designed to transform financial and other data
into information”.
Menurut R. L. Hurt (2008:4) menyatakan bahwa:
“Accounting information system is a set of interrelated activities,
documents, and technologies designed to collect data, process it, and
report information to, diverse group of internal and external decision
makers in organizations”.
Dari defenisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem informasi
akuntansi merupakan suatu prosedur yang digunakan dalam menyampaikan data
kegiatan perusahaan terutama yang berhubungan dengan informasi keuangan
kepada pihak yang berkepentingan. Adapun unsur dari sistem akuntansi adalah
formulir, catatan, peralatan yang digunakan untuk mengolah data dalam
menghasilkan informasi keuangan yang diperlukan oleh manajemen.
2.1.5
Tujuan Penyusunan Sistem Informasi Akuntansi
Tujuan penyusunan sistem informasi akuntansi menurut La Midjan dan
Azhar Susanto (2001:37) adalah sebagai berikut :
1. Untuk meningkatkan kualitas informasi, yaitu informasi yang tepat guna,
lengkap dan terpercaya dengan kata lain sisstem informasi akuntansi harus
dengan cepat dan tepat, dan dapat memberikan informasi yang diperlukan
secara lengkap.
2. Untuk meningkatkan kualitas internal cek atau sistem pengendlian intern ini
berarti bahwa sistem informasi akutansi yang disusun harus juga mengandung
kegiatan sistem pengendalian intern.
3. Untuk dapat menekan biaya-biaya tata usaha, ini berarti bahwa tata usaha
untuk sistem informasi akuntansi harus seefisien mungkin dan harus jauh lebih
murah dari manfaat yang akan diperoleh dari penyusunan sistem akuntansi.
10
2.1.6
Unsur-unsur Sistem Informasi Akuntansi
Sistem
yang
dilaksanakan
dalam
suatu
perusahaan
mempunyai
karakteristik tersendiri yang disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan pada
perusahaan yang bersangkutan. Dalam penyusunan sistem informasi akuntansi
berbagai informasi akuntansi yang diperlukan pimpinan harus diperhatikan dalam
rangka menggambarkan pengendalian perusahaan.
Berdasarkan definisi sistem informasi akuntansi, setiap perusahaan dapat
berfungsi apabila memenuhi unsur-unsur yang merupakan dasar bagi
terlaksananya suatu sistem informasi akuntansi yang memadai.
Menurut Mulyadi (2001;3) unsur-unsur sistem informasi akuntansi
adalah :
“Unsur suatu sistem informasi akuntansi pokok adalah formulir,
catatan yang terdiri dari jurnal, buku besar, buku pembantu dan
laporan”.
Berikut ini adalah uraian lebih lanjut tentang pengertian masing-masing
unsur-unsur sistem informasi akuntansi tersebut :
1. Formulir
Formulir merupakan dokumen yang digunakan untuk merekam terjadinya
transaksi. Formulir sering disebut juga dengan istilah dokumen, karena dengan
formulir ini peristiwa yang terjadi dalam organisasi didokumentasikan diatas
secarik kertas. Formulir sering juga disebut dengan istilah media untuk
mencatat peristiwa yang terjadi dalam organisasi kedalam catatan. Contoh
formulir adalah: faktur penjualan, bukti kas keluar, dan lain-lain.
2. Jurnal
Jurnal merupakan catatn akuntansi pertama yang digunakan untuk mencatat,
mengklasifikasikan dan meringkas data keuangan atau data lainnya. Dalam
jurnal ini data keuangan untuk pertama kalinya diklasifikasikan menurut
penggolongan yang sesuai dengan informasi yang akan disajikan dalam
laporan keuangan. Dalam jurnal ini pula terdapat peringkasan data yang hasil
peringkasannya berupa jumlah data rupiah tertentu, kemudian diposting ke
11
rekening yang bersangkutan dalam buku besar. Contohnya: jurnal penerimaan
kas, jurnal pembelian, jurnal penjualan dan jurnal lainnya.
3. Buku Besar
Buku besar terdiri dari rekening-rekening yang digunakan untuk meringkas
data keuangan yang dicatat sebelumnya dalam jurnal. Rekening-rekening
dalam buku besar ini disediakan sesuai dengan unsur-unsur informasi yang
disajikan dalam laporan keuangan. Rekening buku besar ini satu pihak dapat
dipandang sebagai wadah untuk menggolongkan data keuangan, dipihak lain
dapat dipandang pula sebagai sumber informasi keuangan untuk penyajian
laporan keuangan.
4. Buku Pembantu
Jika data keuangan yang digolongkan dalam buku besar diperlukan rinciannya
lebih lanjut dapat dibentuk buku pembantu (Subsidiary ledger).
Buku pembantu in terdiri dari rekening-rekening pembantu yang merinci data
keuangan yang tercantum dalam rekening tertentu dalam buku besar. Buku
besar dan buku pembantu merupakan catatn akuntansi akhir (books of fund
entry), yang berarti tidak ada catatan akuntansi lain lagi sesudah data
akuntansi diringkas dan digolongkan dalam rekening buku besar dan buku
pembantu. Buku besar dan buku pembantu disebut juga dengan catatn
akuntansi akhir karena setelah data akuntansi keuangan dicatat dalam bukubuku tersebut, proses akuntansi selanjutnya adalah penyajian laporan
keuangan.
5. Laporan
Hasil akhir proses akuntansi adalah laporan keuangan yang dapat berupa
neraca, laporan laba-rugi, laporan laba ditahan, laporan harga pokok produksi,
laporan biaya pemasaran, laporan harga pokok penjualan, daftar umur piutang,
daftar uang yang akan dibayar, daftar saldo persediaan yang lambat
penjualannya. Laporan yang berisi informasi yang merupakan keluaran sistem
akuntansi. Laporan ini dapat berbentuk hasil cetakan komputer dan tayangan
pada layar monitor komputer.
12
2.1.7
Fungsi Sistem Informasi Akuntansi
Menurut La Midjan dan Azhar Susanto (2003:11) menyebutkan fungsi
sistem informasi akuntansi sebagai berikut :
“Fungsi informasi akuntansi mendorong seoptimal mungkin agar
akuntansi dapat menghasilkan berbagai informasi akuntansi yang
terstruktur yaitu tepat waktu, relevan, dan dapat dipercaya yang
secara keseluruhan informasi akuntansi tersebut mengandung arti
berguna”.
Menurut George H.bodnar dan Wiliam Hoppwood (2000:25) yang
diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf dan Rudi M Tambunan fungsi sistem
informasi akuntansi sebagai berikut :
“Fungsi sistem informasi akuntansi bertanggungjawab untuk
memproses data dan sistem informasi didalam perusahaan”.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi dari sistem
informasi akuntansi yaitu bertanggung jawab untuk pemrosesan data dan
mendorong seoptimal mungkin agar dapat menghasilkan berbagai informasi
akuntansi yang terstruktur yaitu tepat waktu, relevan, dan dapat dipercaya
sehingga informasi tersebut dapat berguna dalam organisasi.
2.2
Sistem dan Pengendalian Intern Resiko
Sistem pengendalian intern diperlukan dalam perancangan berbagai
sistem informasi akuntansi akuntansi dan dimasukan sebagai unsur yang melekat
dalam sistem informasi akuntansi. Sistem pengendalian intern menekankan
tujuan yang hendak dicapai, dan bukan pada unsur-unsur yang membentuk sistem
tersebut. Dengan demikian pengendalian intern berlaku baik dalam perusahaan
yang mengolah informasi secara manual, dengan mesin pembukuan, maupun
dengan komputer.
Organisasi atau perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya
akan menghadapi berbagai permasalahan. Permasalahan-permasalahan yang
13
timbul memerlukan sistem pengendalian intern untuk mendukung kegiatan
operasional perusahaan agar dapat berjalan dengan efisien sesuai dengan
kebijakan yang telah ditetapkan.
2.2.1
Definisi Sistem Pengendalian Intern
Dalam arti
sempit,
pengendalian
intern
merupakan
pengecekan
penjumlahan, baik penjumlahan mendatar maupun penjumlahan menurun.
Sedangkan dalam arti luas, menurut Mulyadi (2001:163) menjelaskan
bahwa :
“Sistem pengendalian intern meliputi stuktur organisasi, metode, dan
ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan
organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan dat akuntansi,
mendorong efisiensidan mendorong dipatuhinya kebijakan
manajemen.”
2.2.2
Tujuan Sistem Pengendalian Intern
Menurut Mulyadi (2001;163-164), berdasarkan tujuannya, sistem
pengendalian intern dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1. Pengendalian Intern Akuntansi (Internal AccountingControl)
Meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan
terutama untuk menjaga kekayaan organisasi dan mengecek ketelitian dan
keandalan akuntansi.
2. Pengendalian Intern Administratif (Internal Administratif contol)
Meliputi struktur organisasi, metode, dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan
terutama untuk mendorong efisiensi dan dipatuhinya kebijakan manajemen.
14
Menurut George H. Bodnar dan William S. Hopwood (2010:27),
menyatakan bahwa:
“Internal coontrol is a process designed to provide reasonable
assurance recording the achievement of objective in:
1. Reliability of financial reporting
2. Efectiveness and efficiency of operations
3. Compliance with applicable laws and regulations”
Tujuan sistem pengendalian intern tersebut menekankan pada tujuan yang
hendak dicapai dan bukan pada unsur yang membentuk sistem tersebut. Internal
kontrol juga menekankan untuk keandalan pelaporan keuangan, efektifitas dari
efesiensi operasi, kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku. Dengan
demikian tujuan pengendalian intern tersebut di atas berlaku baik dalam
perusahaan yang mengolah informasinya secara manual dengan mesin
pembukuan maupun komputer.
2.2.3
Komponen-komponen Sistem Pengendalian Intern
Menurut George H. Bodnar dan William S. Hopwood (2006:129),
pengendalian intern terdiri atas lima komponen yaitu :
1. Lingkungan Pengendalian
Merupakan dampak kumulatif atas faktor-faktor untuk membangun,
mendukung dan meningkatkan efektivitas kebijakan dan prosedur tertentu.
Faktor yang tercakup dalam lingkungan pengendalian adalah :
a. Nilai-nilai integritas dan etika
b. Komitmen terhadap kompetensi
c. Filosofi manajemen dan gaya operasi
d. Struktur organisasi
e. Perhatian dan pengarahan yang diberikan oleh dewan direksi dan
komitenya
15
f. Kebijakan sumber daya manusia dan prosedur
2. Penaksiran Risiko
Merupakan proses mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko yang
mempengaruhi tujuan perusahaan. Tahapan yang paling kritis dalam menaksir
risiko adalah mengidentifikasi perubahaan kondisi eksternal dan internal dan
mengidentifikasi tindakan yang diperlukan.
3. Aktivitas Pengendalian
Merupakan kebijakan dan prosedur yang dibangun untuk membantu
memastikan bahwa arahan manajemen dilaksanakan dengan baik. Aktivitas
pengendalian dapat berupa pengendalian akuntansi yang dirancang untuk
memberikan jaminan yang masuk akal atau memadai bahwa tujuan
pengendalian tertentu tercapai untuk setiap sistem aplikasi yang material
dalam organisasi :
a. Rencana organisasi mencakup pemisahaan tugas untuk mengurangi peluang
seseorang dalam suatu posisi pekerjaan tertentu untuk melakukan
kecurangan atau kesalahan menjalankan tugas sehari-hari mereka.
b. Prosedur mencakup perancangan dan penggunaan dokumentasi dan catatan
yang berguna untuk memastikan pencatatan transaksi dan kejadian yang
tepat.
c. Cek independen dan peninjauan dilakukan sebagai wujud akutabilitas
kekayaan perusahaan dan kinerja.
d. Akses terhadap aktiva hanya diberikan sesuai dengan otorisasi manajemen.
16
4. Informasi dan Komunikasi
Informasi mengacu pada sistem akuntansi organisasi, yang terdiri dari metode
dan catatan yang diciptakan untuk mengidentifikasi, merangkai, menganalisis,
mengelompokan, mencatat, dan melaporkan transaksi organisasi dan untuk
memelihara akuntabilitas aktiva dan utang yang terkait. Sistem informasi
dirancang dan diterapkan tidak hanya untuk menghasilkan buku besar dan
laporan keuangan, tetapi juga untuk menghasilkan informasi operasional dan
informasi guna mendukung pengendalian manajemen. Jadi, sistem akuntansi
dan pengendalian operasional berhubungan erat.
5. Pengawasan
Merupakan proses yang berkelanjutan untuk menaksir kualitas pengendalian
internal dari waktu ke waktu serta untuk mengambil tindakan koreksi yang
diperlukan. Pengawasan dicapai melalui aktivitas yang terus-menerus, atau
evaluasi terpisah, atau kombinasi keduanya. Fungsi audit internal merupakan
fungsi yang biasanya ada dalam perusahaan besar untuk mengawasi dan
mengevaluasi pengendalian secara terus-menerus. Tujuan fungsi audit internal
adalah untuk melayani manajemen dengan menyediakan bagi manajemen hasil
analisis dan hasil penilaian aktivitas dan sistem seperti :
a. Sistem informasi organisasi
b. Struktur pengendalian internal organisasi
c. Ketaatan terhadap kebijakan operasi, prosedur, dan rencana
d. Kualitas kinerja personel organisasi
17
2.2.4
Risiko yang Berkaitan dengan Sistem
Risiko merupakan ancaman terhadap asset dan kualitas informasi
perusahaan akibat terabaikannya atau tidak memadainya pengendalian. Menurut
Krismiaji (2002:215), ada beberapa risiko yang berkaitan dengan sistem yang
dihadapi perusahaan, yaitu :
1. Penggunaan sumber daya yang tidak efisien dan boros
2. Keputusan manajemen yang tidak baik
3. Kesalahan yang tidak disenggaja dalam pencatatan dan pemrosesan data
4. Kehilangan atau kerusakan catatan secara tidak sengaja
5. Kehilangan aktiva karena kecerobohan karyawan
6. Tindak ditaatinya kebijakan manajemen dan peraturan lainnya oleh para
karyawan
7. Perubahaan secara tidak sah terhadap sistem informasi akuntansi atau
komponen-komponennya
2.3
Sistem Informasi Akuntansi Penjualan Kredit
Sistem informasi akuntansi penjualan termasuk sistem informasi yang
penting yang harus didesain dalam perusahaan, karena penjualan kredit maupun
penjualan tunai merupakan sumber pendapatan perusahaan. Kegagalan dalam
kegiatan penjualan khususnya dalam penjualan kredit, baik menyangkut harga,
ketepatan penjualan yaitu menjual kepada pembeli yang tepat baik tingkat
keuntungannya maupun batas maksimum kredit yang diperkirakan akan
mempengaruhi pendapatan juga penagihan atas piutang.
18
2.3.1
Definisi Penjualan
Pengertian penjualan menurut Swastha yang dikutip oleh Basri
(2005:130) adalah sebagai berikut :
“Penjualan adalah ilmu dan seni mempengaruhi pribadi yang
dilakukan untuk mengajak orang lain agar bersedia membeli barang
atau jasa yang ditawarkannya”.
Dari definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa penjualan
merupakan suatu proses dan cara untuk mempengaruhi pribadi agar terjadi
pembelian barang atau jasa yang ditawarkan berdasarkan harga yang telah
disepakati oleh kedua belah pihak.
2.3.2
Definisi Penjualan Kredit
Definisi kredit menurut Hadiwidjaja dan Wirasasmita (2000:3) adalah
sebagai berikut :
“Kredit adalah pemberian prestasi lebih dulu kepada pihak lain,
berupa barang atau jasa untuk dibayar pada saat di perjanjian”.
Definisi penjualan kredit menurut La Midjan dan Azhar Susanto
(2003:7) adalah sebagai berikut :
“Penjualan kredit adalah penjualan yang dilakukan dengan tenggang
waktu rata-rata lebih dari satu bulan”.
Berdasarkan definisi para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
penjualan kredit adalah penjualan barang atau jasa dengan tenggang waktu yang
telah disepakati melalui perjanjian oleh kedua belah pihak setelah barangnya
diterima atau pembayarannya dilakukan secara tidak kontan atau tidak langsung.
19
2.3.3
Tujuan Penyusunan Sistem Informasi Akuntansi Penjualan Kredit
Menurut La Midjan dan Azhar Susanto (2001:170), Dalam aktivitas
penjualan kredit perlu disusun sistem akuntansi, disebabkan sebagai berikut :
1. Aktivitas penjualan merupakan sumber pendapatan perusahaan, kurangnya
pengelolaan aktivitas penjualan dengan baik secara langsung akan merugikan
perusahaan disebabkan selain sasaran penjualan tidak tercapai juga pendapatan
akan berkurang.
2. Pendapatan dari hasil penjualan merupakan sumber pembiayaan perusahaan
oleh karenanya perlu diamankan.
3. Akibat adanya penjualan akan merubah posisi harta menyangkut:
a. Timbulnya piutang kalau penjualan secara kredit atau masuknya uang
kontan kalau penjualan secara tunai
b. Kuantitas barang yang akan berkurang di gudang karena penjualan.
2.3.4
Fungsi dalam Sistem Informasi Akuntansi Penjualan Kredit
Fungsi yang terkait dalam sistem informasi penjualan kredit menurut
Mulyadi (2001:211) adalah sebagai berikut :
1. Fungsi Penjualan
Dalam transaksi penjualan kredit, fungsi ini bertanggung jawab untuk
menerima surat order pembeli, mengedit surat order dari pelanggan untuk
menambahkan informasi yang belum ada pada surat order tersebut (seperti
spesifikasi barang dan rute pengiriman), meminta otorisasi kredit menentukan
tanggal pengiriman dan dari gudang mana akan dikirim dan mengisi surat
order pengiriman, fungsi ini juga bertanggungjawab untuk membuat back
order pada saat diketahui tidak tersedianya persediaan untuk memenuhi order
pelanggan.
2. Fungsi Kredit
Fungsi ini berada dibawah fungsi keuangan yang ada dalam transaksi
penjualan kredit, bertanggung jawab untuk meneliti status kredit pelanggan
dan memberikan otorisasi pemberian kredit kepada pelanggan.
20
3. Fungsi Gudang
Fungsi ini bertanggung jawab untuk menyimpan barang dan menyiapkan
barang yang dipesan oleh pelanggan, serta menyerahkan barang ke fungsi
pengiriman.
4. Fungsi Pengiriman
Fungsi ini bertanggung jawab untuk menyerahkan barang atas dasar surat
order pengiriman yang diterimanya dari fungsi penjualan.
5. Fungsi Akuntansi
Fungsi ini bertanggung jawab untuk mencatat piutang yang timbul dari
transaksi penjualan kredit dan membuat serta mengirimkan pernyataan piutang
kepada para debitur, serta membuat laporan penjualan. Disamping itu, fungsi
ini bertanggung jawab untuk mencatat harga pokok persediaan yang dijual
kedalam kartu persediaan.
6. Fungsi Penagihan
Fungsi ini bertanggung jawab untuk membuat dan mengirimkan faktur
penjualan kepada pelanggan, serta menyediakan copy faktur bagi kepentingan
pencatatan transaksi penjualan oleh fungsi akuntansi.
2.3.5
Unsur-unsur Sistem Informasi Akuntansi Penjualan Kredit
Sistem informasi akuntansi penjualan kredit sesuai dengan yang
dikemukakan oleh Wilkinson (2000; 4) yang dialihbahasakan oleh Agus
Maulana, terdapat beberapa unsur atau komponen pokok di dalam sistem
informasi akuntansi adalah sebagai berikut :
a. Sumber Daya Manusia
Manusia merupakan unsur sistem informasi akuntansi yang paling berperan di
dalam pelaksanaan sistem informasi akuntansi, menentukan apakah suatu
sistem itu dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya serta berperan tidaknya
sisitem tersebut dalam proses pengambilan keputusan.
21
b. Alat-alat yang Digunakan
Alat merupakan unsur dari sistem informasi akuntansi, mulai digunakan pada
saat terjadinya transaksi, pencatatan transaksi sampai dengan dihasilkannya
laporan. Alat yang dimaksud dapat berupa alat sederahana; seperti formulir,
catatan, laporan sampai dengan alat teknologi seperti komputer.
1. Formulir
Formulir merupakan unsur pokok dalan sisitem informasi akuntansi yang
digunakan untuk mencatat suatu transaksi pada saat terjadinya sehingga
menjadi bukti tertulis dari transaksi yang terjadi seperti; faktur penjualan,
bukti kas keluar dan dapat digunakan juga untuk melakukan pencatatan
lebih lanjut. Yang dimaksud pencatatan lebih lanjut disini adalah mencatat
bukti-bukti transaksi dalam buku jurnal maupun buku besar.
2. Catatan
Didalam sistem informasi akuntansi terdapat beberapa buku catatan yang
digunakan untuk melakukan pencatatan transaksi. Bukti-bukti dan catatan
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Jurnal
Jurnal merupakan buku catatan pertama (book of original entry) yang
digunakan untuk mencatat, mengklasifikasikan, dan meringkas data
keuangan dan data lainnya. Sumber informasi pencatatan adalah
formulir. Dalam jurnal ini data keuangan untuk pertama kalinya
diklasifikasikan menurut penggolongan yang sesuai dengan informasi
yang akan disajikan dalam laporan keuangan. Dalam jurnal ini juga
terdapat peringkasan data yang hasil peringkasannya berupa jumlah
nominal transaksi tertentu kemudian diposting ke rekening yang
bersangkutan dalam buku besar.
b. Buku Besar (General Ledger)
Buku besar (general ledger), terdiri dari rekening-rekening yang
digunakan untuk meringkas data keuangan yang telah dicatat
sebelumnya dalam jurnal. Rekening-rekening dalam buku besar ini
disediakan sesuai dengan unsur-unsur informasi yang akan disajiakan
22
dalam laporan keuangan. Buku besar ini disatu pihak dapat dipandang
sebagai wadah untuk menggolongkan data keuangan, dipihak lain dapat
dipandang pula sebagai sumber informasi keuangan.
c. Buku Pembantu (Subsidiary Ledger)
Buku pembantu (subsidiary ledger), diperlukan jika data keuangan yang
digolongkan dalam buku besar diperlukan rincian lebih lanjut, dapat
dibentuk dalam buku pembantu. Buku pembantu ini terdiri dari rekeningrekening pembantu yang merinci data keuangan yang tercantum dalam
rekening tertentu dalam buku besar. Buku besar dan buku pembantu ini
merupakan catatan akuntansi akhir (books of find entry).
3. Laporan
Hasil akhir atau output dari sistem informasi akuntansi adalah informasi
keuangan dan informasi akuntansi manajemen. Informasi ini disampaikan
dalam bentuk laporan keuangan, yang dapat berupa neraca, laporan
laba/rugi, laporan perubahan laba yang ditahan, laporan harga pokok
produksi, laporan biaya pemasaran, laporan harga pokok penjualan, daftar
umur piutang, daftar hutang yang akan dibayar, daftar saldo persediaan
yang lambat penjualannya dan lain-lain. Laporan dapat berbentuk hasil
cetak komputer dan tayangan pada layar monitor komputer.
4. komputer
Komputer telah menjadi alat yang tidak dapat dihindarkan dalam sistem
informasi akuntansi disebagian besar perusahaan. Hal ini ditandai dengan
semakin banyaknya perusahaan, khususnya perusahaan menengah dan
besar, yang telah memasang perangkat komputer didalam perusahaannya
yang tidak hanya untuk mengolah data menjadi informasi, seperti
penggunaan komputer dalam sistem komunikasi, jaringan digital dan lainlain.
23
2.4
Flowchart
Flowchart dipergunakan untuk menggambarkan proses kegiatan dalam
suatu organisasi. Flowchart berupa bagan untuk keseluruhan sistem termasuk
kegiatan-kegiatan manual dan aliran atau arus dokumen yang dipergunakan
dalam sistem.
Penggambaran flowchart harus menggunakan cara-cara dan ketentuanketentuan yang berlaku secara lazim dalam sistem informasi akuntansi,
sehingga tidak menimbulkan kebebasan yang tidak mempunyai standar dalam
menggambarkan
sistem.
Dalam
sistem
informasi
akuntansi
diperoleh
kesepakatan dari pihak-pihak yang berkompeten untuk digunakannya standar
simbol yang dipakai untuk menggambarkan bagan atau flowchart.
Berikut ini akan disajikan simbol standar yang digunakan oleh analis
sistem untuk membuat bagan alir dokumen yang menggambarkan sistem tertentu
Tabel 2.4
Simbol Bagan Alir Dokumen
Simbol
Nama
Keterangan
Dokumen
Digunakan
jenis
untuk
semua
dokumen.
yang
merupakan formulir untuk
merekam transaksi
Dokumen rangkap
Menggambarkan
dokumen
asli dan tem
busannya
Catatan
Menggambarkan
akuntansi
yang
caiatan
digunakan
untuk mencatat data vang
direkam sebelumnya di dalam
dokumen
24
Display
Informasi yang ditampilkan
oleh perangkat output online
seperti terminal, monitor, atau
layar
Keying, Typing
Menggambarkan
data
ke
pemasukan
dalam
komputer
melalui on-line terminal
Terminal
atau
komputer Menggambarkan
pribadi
simbol
keying
digunakan
untuk
layar
dan
online
bersama-sama
mewakili
komputer
terminal,
pribadi,
dan
perangkat elektronik lainnya
mampu baik input / output
Pita transmittal
Disiapkan
secara
manual
kontrol total digunakan untuk
tujuan
kontrol
untuk
membandingkan jumlah total
yang
dihasilkan
oleh
komputer
Pengolahan computer
Menggambarkan sebuah
komputer melakukan fungsi
pengolahan;
mengakibatkan
biasanya
perubahan
pada data atau informasi
Drive manetik
Menggambarkan data yang
tersimpan pada pita magnetik
Auxiliary operation
fungsi pengolahan dilakukan
oleh perangkat yang tidak
komputer
25
Pita magnetik
Menggambarkan
komputer
arsip
yang berbentuk
pita magnetik
Manual operation
Menggambarkan
Operasi
pengolahan dilakukan secara
manual
File
Menggambarkan file dokumen
disimpan dan diambil secara
N
manual; tertera menunjukkan
file - urutan pemesanan
N=Numerically,
A=Alphabetically, D=By date
Dokumen atau proses aliran
Menggambarkan arah aliran
pemrosesan atau dokumen;
aliran normal ke bawah dan ke
kanan
Data arus informasi
Menggambarkan arah aliran
data
/
informasi;
sering
digunakan
untuk
menunjukkan
data
yang
disalin dari satu dokumen ke
yang lain
Link komunikasi
Menggambarkan
transmisi
data dari satu lokasi ke lokasi
lainnya
melalui
jalur
komunikasi
Penghubung
yang sama
pada
halaman Menggambarkan alir dokumen
dibuat mengalir dari atas ke
bawah dan dari kiri kekanan.
Simbol
penghubung
memungkinkan
yang
aliran
26
dokumen berhenti di suatu
lokasi pada halaman tertentu
dan kembali berjalan pada
halaman yang sama.
Penghubung
yang berbeda
pada
halaman Untuk menggambarkan bagan
alir dokumen suatu sistem
diperlukan lebih dari satu
halaman
Terminal
Sejak akhir, atau titik dari
gangguan dalam proses atau
program;
untuk
juga
digunakan
menunjukkan
pihak
eksternal
Keputusan
Menggambarkan
langkah
pembuatan
keputusan;digunakan
flowchart
dalam
program untuk
menunjukkan
percabangan
untuk alternatif
Anotasi
penambahan
deskriptif
komentar
pada
catatan
penjelasan sebagai klarifikasi
Sumber : Marshall B. Romney dan Paul John Steinbart. 2009 Sistem Informasi
Akuntansi. hal. 93-94
27
2.5
Prosedur yang Membentuk Sistem Informasi Akuntansi Penjualan
Kredit
Menurut Mulyadi (2001:219) jaringan prosedur yang membentuk sistem
penjualan kredit adalah sebagai berikut :
1. Prosedur Order Penjualan
Fungsi penjualan menerima order dari pembeli dan membutuhkan informasi
penting pada surat order pembelian.
2. Prosedur Persetujuan Kredit
Fungsi penjualan meminta persetujuan penjualan kredit kepada pembeli
tertentu dari fungsi kredit.
3. Prosedur Pengiriman
Fungsi pengiriman mengirimkan barang kepada pembeli sesuai dengan
informasi yang tercantum dalam surat order pengiriman yang diterima dari
fungsi penjualan .
4. Prosedur Penagihan
Dalam prosedur ini, fungsi penagihan membuat faktur penjualan dan
mengirimkannya kepada pembeli.
5. Prosedur Pencatatan Piutang
Fungsi akuntansi mencatat tembusan faktur penjualan kedalam kartu piutang
atau dalam metode pencatatan tertentu mengarsipkan dokumen tembusan.
6. Prosedur Distribusi Penjualan
Fungsi akuntansi mendistribusikan data penjualan menurut informasi yang
diperlakukan oleh manajemen.
7. Prosedur Pencatatan Harga Pokok Penjualan
Fungsi akuntansi mencatat secara periodik total harga pokok produk yang
dijual dalam periode akuntansi tertentu.
28
Sistem pengendalian yang harus diperhatikan dalam mendesain sistem
penjualan yang baik adalah sebagai berikut :
1. Fungsi penjualan harus terpisah dari fungsi kredit.
2. Fungsi akuntansi harus terpisah dari fungsi penjualan kredit.
3. Fungsi akuntansi harus terpisah dari fungsi kas.
4. Transaksi penjualan kredit harus dilaksanakan oleh fungsi kredit, fungsi
pengiriman, fungsi penagihan, dan fungsi akuntansi. Tidak ada transaksi
penjualan kredit yang dilaksanakan secara lengkap oleh satu fungsi tersebut.
5. Pengiriman barang kepada pelanggan diotorisasi oleh fungsi pengiriman
dengan cara menandatangani dan membubuhkan cap “sudah dikirim” pada
copy surat order pengiriman.
6. Secara periodik diadakan rekonsiliasi kartu piutang dengan rekening control
piutang dalam buku besar.
2.5.1
Prosedur Entry Pesanan Penjualan
Menerima pesanan dari pembeli, kemudian menuliskan order dalam
formulir order, formulir ini dikirimkan ke department order penjualan.
Menurut Krismiaji (2002:285) prosedur entry pesanan penjualan adalah
sebagai berikut :
1. Departemen Order Penjualan
1. Menerima order pembelian dari petugas penjualan dan mengumpulkannya
dalam satu kelompok (batch) yang berisi 50 transaksi.
2. Sebelum melakukan entry data, membuat jumlah kelompok (total batch)
untuk 50 transaksi kedalam secarik kertas secara manual.
3. Memasukan data pesanan pembelian kedalam komputer, mencakup elemen
data sebagai berikut :
29
a. Nomor rekening pelanggan.
b. Nomor petugas penjualan.
c. Kode produk.
d. Kuantitas produk.
e. Tanggal pengiriman yang diminta
2. Departemen Pengolahan Data
1. Setelah komputer menerima input data pesanan pembeli dengan
menggunakan file induk persediaan. Kode pelanggan digunakan untuk
mengakses record dalam file pelanggan pada tahap ini dilakukan edit
checks untuk menjamin akurasi input adalah sebagai berikut :
a. Cek validitas terhadap nomor rekening pelanggan dan nomor persediaan
dan membandingkannya dengan informasi dalam file induk pelanggan
dan file induk persediaan.
b. Cek pengulangan data terhadap nomor dan nama rekening pelanggan,
nomor dan nama barang untuk mendeteksi ada tidaknya kode rekening
atau kode barang valid namun tidak benar.
c. Cek field untuk menjamin bahwa hanya data numerik yang dimasukan
dalam seluruh field numerik dan untuk menghindari kesalahan
pemrosesan berikutnya.
d. Uji kewajaran untuk memverisifikasi akurasi kuantitas yang dipesan. Hal
ini dilakukan dengan membandingkan kuantitas dari pesanan dengan
standar jumlah pesanan normal sebagaimana ditunjukan dalam record
persediaan yang bersangkutan.
e. Cek kisaran terhadap order dan tanggal pengiriman untuk memastikan
kelayakannya.
30
f. Uji kelengkapan untuk memastikan bahwa setiap record transaksi telah
berisi seluruh elemen data yang tepat. Seluruh transaksi yang telah lolos
pengecekan ini dianggap telah akurat dan valid, sedangkan transaksi
yang tidak lolos pengecekan akan dilaporkan dalam laporan error dan
exception untuk diinvestigasi dan dikoreksi.
2. Menjalankan program penggabungan kelompok untuk kelompok transaksi
yang telah valid. Keluaran dalam proses ini adalah data order pembeli yang
digunakan untuk memutakhirkan berbagai file induk.
3. Menghitung nilai penjualan dan membandingkan dengan sisa jatuh kredit
(batas kredit dikurangi saldo piutang). Order yang tidak lolos dari uji batas
kredit akan ditampung dalam laporan penolakan kredit yang akan
diserahkan ke manajer kredit. Manajer kredit akan mengevaluasi dan
menentukan apakah akan menaikan batas kredit atau menolak untuk order
yang diterima akan di entry ulang bersama-sama dengan kelompok data
berikutnya. Selanjutnya program melakukan pengecekan apakah persediaan
barang mencukupi untuk memenuhi order, jika cukup mka saldo rekening
pelanggan di debet sebesar nilai penjualan field saldo dalam file persediaan
dikurangi sebesar order yang dipenuhi.
3. Departemen Order Penjualan
1. Menerima hasil perhitungan jumlah kelompok dan membandingkannya
dengan hasil perhitungan jumlah kelompok yang dibuat secara manual. Jika
terdapat perbedaan, dilakukan pembetulan selanjutnya file induk persediaan
diarsipkan sesuai dengan urutan tanggal.
2. Menerima order penjualan, kemudian didistribusikan sebagai berikut :
a. Lembar ke 1 diteruskan kedepartement penagihan.
b. Lembar ke 2 dikirim ke pembeli sebagai pemberitahuan bahwa
pesannanya sedang diproses.
31
c. Lembar ke 3 diteruskan ke department pengiriman dan berfungsi sebagai
slip pengiriman (packing slip).
d. Lembar ke 4 diarsipkan menurut urutan abjad nama pelanngan.
2.5.2
Prosedur Pengiriman Barang
Tahap kedua dalam siklus pendapatan adalah memenuhi order dan
mengirimkan barang. Bagian gudang bertanggung jawab untuk memenuhi order
pelanggan dengan mengeluarkan barang dari gudang sesuai dengan intruksi yang
tercantum dalam tiket pengambilan barang (picking ticket). Departemen
pengiriman bertanggung jawab untuk melakukan pengiriman barang ke
pelanggan.
Menurut Krismiaji (2002:290) prosedur pengiriman barang adalah
sebagai berikut :
1. Departemen Pengiriman
1. Departemen ini mula-mula menerima order penjualan, kemudian diarsipkan
menurut nomor urut, selanjutnya departemen ini menerima tiket
pengambilan barang bersama-sama dengan barangnya dari gudang.
2. Departemen pengiriman akan menghitung barang dan menbandingkan hasil
perhitungan fisik dengan kuantitas yang tertulis dalam tiket pengambilan
barang dan kuantitas yang ditunjukan pada slip pengepakan.
3. Kuantitas barang dimasukan kedalam komputer dengan menggunakan
terminal On-Line, pada tahap ini juga dilakukan pengecekan edit
sebagaimana pada akivitas input data sebelumnya. Untuk menjamin bahwa
data pengiriman valid, akurat, dan lengkap.
32
2. Departemen pengolahan data
Departemen ini menjalankan program edit data dan penyetakan dokumen
pengiriman, dengan menggunakan file induk persediaan dan file pengiriman.
Proses ini akan memutakhirkan field kuantitas dalam file induk persediaan.
Keluaran dari proses ini adalah surat muat dan seluruhnya diserahkan ke
department pengiriman.
3. Departemen pengiriman
Setelah menerima surat muat, departemen ini akan mendistribusikannya
sebagai berikut :
a. Lembar ke 1 diteruskan ke departemen penagihan untuk memberitahu
departemen penagihan agar mulai menyiapkan faktur penjualan,
b. Lembar ke 2 diserahkan ke perusahaan pengiriman,
c. Lembar ke 3 beserta barang dan slip pengepakan dikirimkan ke pembeli,
d. Lembar ke 4 bersama dengan tiket pengambilan barang diarsipkan dengan
urutan nomor agar dapat memantau pengiriman barang.
2.5.3
Prosedur Pencatatan Piutang
Prosedur pencatatan piutang bertujuan untuk mencatat mutasi piutang ke
perusahaan pada setiap debitur. Mutasi piutang adalah disebabkan oleh transaksi
penjualan kredit, penerimaan kas dari debitur, retur penjualan, dan penghapusan
piutang.
33
Menurut Mulyadi (2001:258) prosedur pencatatan piutang adalah sebagai
berikut :
1. Dokumen
Dokumen pokok yang digunakan sebagai dasar pencatatan ke dalam kartu
piutang adalah sebagai berikut :
a. Faktur Penjualan. Dalam pencatatan piutang, dokumen ini digunakan
sebagai dasar pencatatan timbulnya piutang dari transaksi penjualan kredit.
Dokumen ini dilampiri dengan surat muat (bill of lading) dan surat order
pengiriman sebagai dokumen pendukung untuk mencatat transaksi
penjualan kredit.
b. Bukti Kas Masuk. Dalam pencatatan piutang, dokumen ini digunakan
sebagai dasar pencatatan berkurangnya piutang dari transaksi pelunasa
piutang oleh debitur. Jika cancelled check dikembalikan kepada check
issuer melalui sistem perbangkan bukti kas masuk tidak perlu dibuat oleh
perusahaan yang menerima pembayaran, karena cancelled check dapat
berfungsi sebagai tanda terima uang kredit pembayaran. Sebagai dasar
pencatatan ke dalam kartu piutang digunakan surat pemberitahuan
(remittance advice) sebagai dokumen sumber.
c. Memo Kredit. Dalam pencatatan piutang, dokumen ini digunakan sebagai
dasar pencatatan retur penjualan. Dokumen ini dikeluarkan oleh bagian
order penjualan, dan jika dilampiri dengan laporan penerimaan barang yang
dibuat oleh bagian penerimaan merupakan dokumen sumber untuk
mencatat transaksi retur penjualan.
d. Bukti Memorial. Adalah dokumen sumber untuk dasar pencatatan transaksi
ke dalam jurnal umum. Dalam pencatatan piutang, dokumen ini digunakan
sebagai dasar pencatatan penghapusan piutang. Dokumen ini dikeluarkan
oleh fungsi kredit yang memberikan otorisasi penghapusan piutang yang
sudah tidak dapat ditagih lagi.
34
2. Catatan Akuntansi
Catatan akuntansi yang digunakan untuk mencatat transaksi yang menyangkut
piutang adalah sebagai berikut :
a. Jurnal Penjualan. Dalam prosedur pencatatan piutang, catatan ini digunakan
untuk mencatat timbulnya piutang dari transaksi penjualan kredit.
b. Jurnal Retur Penjualan. Dalam prosedur pencatatan piutang, catatan ini
digunakan untuk mencatat berkurangnya piutang dari transaksi retur
penjualan.
c. Jurnal Umum. Dalam prosedur pencatatan piutang, catatan ini digunakan
untuk mencatat berkurangnya piutang dari transaksi penghapusan piutang
yang tidak lagi dapat ditagih.
d. Jurnal Penerimaan Kas. Dalam prosedur pencatatan piutang, catatan ini
digunakan untuk mencatat berkurangnya piutang dari transaksi penerimaan
kas dari debitur.
e. Kartu Piutang. Catatan ini digunakan untuk mencatat mutasi dan saldo
piutang kepada setiap debitur.
3. Organisasi
Pencatatan piutang dilakukan oleh fungsi akuntansi. Tugas fungsi akuntansi
dalam hubungannya dengan pencatatan piutang adalah :
a. Menyelenggarakan catatan piutang kepada setiap debitur, yang dapat berupa
kartu piutang yang merupakan buku pembantu piutang, yang digunakan untuk
merinci rekening kontrol piutang dalam buku besar atau berupa arsip faktur
terbuka (Open Invoice File), yang berfungsi sebagai pembantu buku piutang.
b. Menghasilkan pernyataan piutang ( Account Receivable Statement ) secara
periodik dan mengirimkannya ke setiap debitur.
35
c. Menyelenggarakan catatan riwayat kredit setiap debitur untuk memudahkan
penyediaan data guna memutuskan pemberian kredit kepada pelanggan dan
guna mengikuti data penagihan dari setiap debitur.
2.5.4
Metode Pencatatan Piutang
Menurut Mulyadi ( 2001:261 ) metode pencatatan piutang adalah sebagai
berikut :
1. Metode Konvensional
Dalam metode ini, posting ke dalam kartu piutang dilakukan atas dasar data yang
dicatat dalam jurnal. Berbagai transaksi yang mempengaruhi piutang adalah :
a. Transaksi Penjualan Kredit. Adalah transaksi ini dicatat dalam jurnal
penjualan atas dasar faktur penjualan yang dilampiri dengan surat order
pengiriman dan surat muat yang diterima oleh bagian piutang dari bagian
penagihan. Transaksi timbulnya piutang ini di posting kedalam kartu
piutang atas dasar data yang telah dicatat dalam jurnal penjualan tersebut.
b. Transaksi Retur Penjualan. Transaksi ini dicatat dalam jurnal retur
penjualan atas dasar memo kredit yang dilampiri dengan laporan
penerimaan barang. Posting transaksi berkurangnya piutang dari transaksi
retur penjualan di posting kedalam kartu piutang atas dasar data yang telah
dicatat dalam jurnal retur penjualan.
c. Transaksi penerimaan kas dari piutang. Transaksi ini dicatat dalam
jurnal penerimaan kas atas dasar bukti kas masuk yang dilampiri dengan
surat pemberitahuaan (remminttance advice) dari debitur. Posting transaksi
berkurangnya piutang dari pelunasan piutang oleh debitur di posting ke
dalam kartu piutang atas dasar data yang telah dicatat dalam jurnal
penerimaan kas.
36
d. Transaksi penghapusan piutang. Transaksi ini dicatat dalam jurnal umum
atas dasar bukti memorial yang dibuat oleh fungsi kredit. Transaksi
berkurangnya piutang dari transaksi penghapusan piutang di posting ke
dalam kartu piutang atas dasar data yang telah dicatat dalam jurnal umum.
2. Metode Posting Langsung
Metode posting langsung ke dalam kartu piutang dibagi menjadi dua golongan,
yaitu :
a. Metode Posting Harian :
1. Metode Posting Langsung ke dalam Kartu Piutang dengan Tulis Tangan
Dalam metode ini, faktur penjualan merupakan dasar untuk pencatatan
timbulnya piutang di posting langsung setiap hari secara rinci ke dalam
kartu piutang.
2. Metode Posting Langsung ke dalam Kartu Piutang dan Pernyataan
Piutang
Dalam metode ini, media di posting kedalam pernyataan piutang dengan
kartu piutang sebagai tembusannya atau tembusan lembar ke dua
berfungsi sebagai kartu piutang.
b. Metode Posting Periodik :
1. Metode Posting Ditunda ( Delayed Posting )
Dalam keadaan tertentu posting ke dalam kartu piutang akan lebih praktis
bila dilakukan sekaligus setelah faktur terkumpul dalam jumlah yang
banyak. Dengan demikian faktur penjualan yang diterima dari bagian
penagihan oleh bagian piutang disimpan sementara, menunggu beberapa
hari untuk nantinya secara sekaligus di posting kedalam kartu piutang
bersama-sama dalam sekali periode posting dengan menggunakan mesin
pembukuan.
37
2. Metode Penagihan Bersiklus ( Cycle Billing )
Dalam metode ini, selama sebulan media disortasi dan di arsipkan
menurut nama pelanggan. Pada akhir bulan, dilakukan kegiatan posting
yang meliputi : (1) posting media yang dikumpulkan selama sebulan
tersebut ke dalam pernyataan piutang dan kartu piutang, (2) menghitung
dan mencatat saldo setiap kartu piutang.
3. Metode Pencatatan Tanpa Buku Pembantu ( Ledgerless Bookkeeping )
Dalam metode pencatatan piutang ini, tidak digunakan buku pembantu
piutang. Faktur penjualan beserta dokumen pendukungnya yang diterima
dari bagian penagihan oleh bagian piutang di arsipkan menurut nama
pelanggan dalam arsip faktur yang belum dibayar ( Unpaid Invoice File).
4. Metode Pencatatan Piutang dengan Komputer
Berikut ini diuraikan metode pencatatan piutang dengan komputer yang
menggunakan batch system. Dalam batch system ini, dokumen sumber
yang menggubah piutang dikumpulkan dan sekaligus di posting setiap
hari untuk memuktakhirkan catatan piutang.
2.5.5
Prosedur Penagihan piutang
Menurut La Midjan dan Azhar Susanto (2000:11) menyebutkan
1. Departemen Penagihan
1. Depatemen ini menerima tembusan order penjualan, lalu mengarsipkannya
sesuai dengan urutan nomor. Selanjutnya, departemen ini juga menerima
tembusan surat muat dari department pengiriman.
2. Departemen ini akan mencocokan dan membandingkan tembusan order
penjualan dan tembusan surat muat, kemudian mengarsipkannya sesuai
38
dengan urutan nomor, membuat jumlah kelompok secara manual dan
memasukan data penagihan ke komputer.
2. Departemen Pengolahan Data
Departemen ini menjalankan program pembuatan faktur penjualan, dengan
menggunakan file open sales order, file induk persediaan dan file induk
pelanggan. Keluaran dari proses ini adalah sebagai berikut :
a. Hasil perhitungan jumlah kelompok dan diserahkan ke departemen
penagihan.
b. Faktur penjualan sebanyak 3 lembar dan diserahkan ke departemen
penagihan.
c. File faktur penjualan, file sejumlah penjualan, file buku besar.
3. Departemen Penagihan
1. Departemen ini menerima hasil perhitungan jumlah kelompok, kemudian
membandingkannya dengan hasil perhitungan manual. Jika terdapat
perbedaan dilakukan pembetulan, selanjutnya kedua dokumen tersebut
diarsipkan urut tanggal.
2. Departemen ini menerima faktur penjualan dari departemen pengolahan
data, kemudiaan mendistribusikannya sebagai berikut :
a. Lembar ke 1 dan ke 2 dikirimkan ke pembeli,
b. Lembar ke 3 bersama-sama dengan tembusan order penjualan dan surat
muat, diarsipkan sesuai dengan urut abjad nama pembeli.
Perbedaan antara penagihan dan piutang dagang merupakan hal
penting untuk menjaga adanya pemsahan fungsin-fungsi. Penagihan
bertanggung jawab untuk membuat faktur-faktur transaksi-transaksi
penjualan sementara piutang dagang membuat catatan informasi rekening
pelanggang dan mengirimkan laporan posisi rekening secara periodic
39
kepada pelanggan. Penagihan tidak mempunyai akses ke catatan-catatan
keuangan (buku besar piutang dagang). Dan catatan-catatan keuangan
terpisah dari kegiatan pemfakturan, pengendalian total posting ke buku
besar piutang dagang yang dikirimkan ke buku besar oleh departemen
piutang dagang akan dibandingkan dengan jurnal tanpa bukti yang diterima
dari departemen penagihan untuk memvalidasi posting ke buku besar.
Dengan kata lain, pemisahan fungsi pengiriman dan produk jadi merupakan
hal penting dalam penetapan tanggungjawab pengeluaran produk jadi dari
persediaan.
2.5.6
Prosedur Penerimaan Kas
1. Petugas penanganan Surat masuk
1. Menerima amplop pelunasan dari pelanggan, kemudian dua orang petugas
membuka dan mengeluarkan cek berserta bukti kas masuk.
2. Setelah dilakukan pemeriksaan visual, departemen ini akan mengesahkan
cek dengan cara membubuhkan tanda tangan dan membuat daftar
penerimaan kas sebanyak tiga lembar.
3. Departemen ini akan mendistribusikan daftar penerimaan kas sebagai
berikut :
a. Lembar ke 1 bersama-sama dengan ceknya diserahkan kebagian kasir,
yang akan digunakan sebagai dasar untuk menyiapkan setoran ke bank.
b. Lembar ke 2 diserahkan ke bagian internal audit, yang akan digunakan
sebagai dasar untuk membuat rekonsialisasi bank setiap bulan.
c. Lembar ke 3 bersama-sama dengan bukti kas masuk diteruskan ke bagian
piutang untuk digunakan sebagai dasar memutakhirkan catatn piutang.
40
2. Departemen Pengolahan Data
1. Setelah komputer menerima data penerimaan kas, departemen ini akan
menjalankan program edit untuk memverifikasi akurasi entry data, yaitu
sebagai berikut :
a. Cek validitas terhadap nomor pelanggan dan nomor faktur.
b. Closed-loop verification untuk menjamin bahwa rekening yang dikredit
tepat setelah petugas memasukan nomor rekening pelanggan, sistem
menanyakan nama pelanggan yang berhubungan dengan nomor tersebut
dan menanyakan untuk konfirmasi bahwa nama yang ditanyakan telah
benar.
c. Cek field data untuk menjamin bahwa hanya nilai numerik yang
dimasukan untuk field nilai pembayaran.
d. Penjumlahan seluruh nilai yang dimasukan dan perbandingan total
tersebut dengan total batch yang telah dimasukan sebelumnya oleh
petugas, jika kedua angka tersebut cocok, maka batch diterima dan file
yang berhubungan dimutakhirkan.
2. Departemen ini akan menjalankan program pembaharuan catatan piutang,
untuk mengkredit file induk pelanggan sebesar nilai pelunasan, mencap
lunas faktur dan mencatatnya ke file sales history dan mencatat seluruh kas
yang diterima ke file penerimaan kas, selanjutnya komputer akan mencetak
bukti setor bank sebanyak dua lembar dan diserahkan ke kasir.
1. Bagian Kasir
a. Menerima daftar penerimaan kas dan cek dari petugas penanganan
surat masuk. Selanjutnya bagian ini menerima dua lembar bukti setor
bank dengan cek dan daftar penerimaan kas, setelah memverifikasi
dokumen-dokumen tersebut.
41
b. Kasir menyetorkan kas dan bukti setoran bank ke bank dan
mengarsipkan daftar penerimaan kas sesuai dengan urutan tanggal.
c. Kasir akan menyerahkan jurnal penerimaan kas ke bagian buku besar
untuk diproses.
2. Bagian piutang
Setiap bulan, bagian ini akan membuat dan mencetak laporan pelanggan
bulanan dan mengirimkannya kepada setiap pelanggan.
a. Menerima bukti kas masuk dari kasir, bagian ini membandingkan
bukti kas masuk dengan bukti kas masuk dengan daftar penerimaan
kas yang sebelumnya diterima dari bagian penanganan surat masuk,
setelah cocok lalu memposting pelunasan piutang tersebut ke rekening
buku pembantu piutang yang bersangkutan.
b. Mengarsipkan kedua dokumen ( bukti kas masuk dan daftar
penerimaan kas ) sesuai dengan urutan tanggal.
3. Bagian buku besar
Secara periodik bagian ini menerima jurnal penerimaan kas dari kasir
dan melakukan proses posting dari jurnal tersebut ke rekening-rekening
buku besar yang bersangkutan.
4. Bagian audit
a. atas dasar tembusan daftar penerimaan kas yang diterima dari bagian
penanganan surat masuk, bagian ini memeriksa nomor urut dokumen.
b. setiap akhir bulan bagian ini akan menerima laporan bank bulanan
beserta
tembusan
bukti
setor
bank
dari
bank,
kemudian
membandingkan daftar penerimaan kas dan bukti setor bank,
kemudian membuat rekonsialisasi bank.
c. mengarsipkan dokumen-dokumen tersebut secara terpisah.
Download