Sekolah Tinggi lmu Kesehatan Ngudi Waluyo Ungaran Program

advertisement
Sekolah Tinggi lmu Kesehatan Ngudi Waluyo Ungaran
Program Studi Ilmu Keperawatan
Skripsi, Februari 2014
Hadlir Muhammad Al haq (010110a036)
Pengaruh Pemberian Terapi Musik Langgam Jawa Terhadap Tingkat Insomnia Pada
Lansia di Unit Rehabilitasi Sosial Pucang Gading Semarang
( xvi + 86 halaman + 9 tabel + 2 gambar + 12 lampiran)
ABSTRAK
Pengaruh proses penuaan menimbulkan berbagai penurunan organ dan sistem tubuh.
Salah satu sistem yang terganggu yaitu endokrin. Menurunnya hormon serotonin dan
melatonin dapat menyebabkan stress pada lansia yang mampu mengakibatkan gangguan tidur
seperti insomnia. Insomnia adalah suatu keadaan ketika seseorang mengalami gangguan
kuantitas dan kualitas tidur. Upaya untuk mengatasi insomnia adalah dengan musik langgam
jawa. Musik langgam jawa identik dengan tempo yang lamban, serta memiliki karakteristik
yang lembut dan santai. Tujuan dari penelitain ini adalah untuk mengetahui pengaruh
pemberian terapi musik langgam jawa terhadap tingkat insomnia pada lansia di Unit
Rehabilitasi Sosial Pucang Gading Semarang.
Rancangan penelitian menggunakan Quasy keperimental Design dengan rancangan
penelitian Non Equivalent Control Group Pretest-Posttest Design. Dengan populasi 115
orang dan sampel sebanyak 34 orang. Sampel diambil dari lansia yang tinggal Rehabilitasi
Sosial Pucang Gading Semarang dengan metode tehnik Purposive Sampling. Pengumpulan
data menggunakan kuesioner Kelompok Study Psikiatri Biologi Jakarta-Insomnia Rating
Scale KSPBJ-IRS). Analisis statistik menggunakan uji t-test independent (paired test).
Hasil penelitian menunjukan nilai t untuk kelompok eksperimen -3,366 dengan pvalue 0.002. p-value untuk kelompok eksperimen lebih kecil dari nilai α (0,05), sedangkan
pada kelompok kontrol p-value lebih besar dari nilai α (0,05), sehingga ada pengaruh terapi
musik langgam jawa terhadap tingkat insomnia pada lansia di Unit Rehabilitasi Sosial Pucang
Gading Semarang.
Bagi petugas di Unit Rehabilitasi Sosial Pucang Gading Semarang diharapkan dapat
menerapkan terapi musik langgam jawa sebagai salah satu intervensi untuk mengatasi
insomnia pada lansia.
Kata kunci
: Terapi musik langgam jawa, insomnia pada lansia
Daftar pustaka : 34 (2001-2013)
BAB I
suatu hal yang wajar akan dialami
PENDAHULUAN
semua orang yang dikaruniai umur
panjang.
Saat ini di seluruh dunia jumlah
proses
Hanya
tersebut
lambat
cepatnya
bergantung
pada
individu
yang
orang lanjut usia diperkirakan ada 500
masing-masing
juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan
bersangkutan. Adapun permasalahan
diperkirakan pada tahun 2025 akan
yang berkaitan dengan lanjut usia
mencapai 1,2 milyar, di negara maju
seperti pengaruh proses menua dapat
seperti Amerika serikat pertambahan
menimbulkan berbagai masalah baik
orang lanjut usia diperkirakan 1.000
secara fisik-biologik, mental maupun
orang per hari, jadi istilah Baby Boom
sosial ekonomis. Semakin lanjut usia
pada masa lalu berganti menjadi
seseorang, mereka akan mengalami
“Ledakan
Usia”
kemunduran
terutama
(Padila 2013). Jumlah lanjut usia dari
kemampuan
fisik,
tahun ke tahun semakin meningkat
mengakibatkan penurunan pada peran
sejalan dengan meningkatnya jumlah
sosialnya. Adanya gangguan di dalam
penduduk. (Depsos, 2010).
hal mencukupi kebutuhan hidupnya
Penduduk
Jumlah
Lanjut
di
bidang
yang
dapat
lansia yang semakin
dapat meningkatkan ketergantungan
meningkat, dapat dipandang sebagai
yang memerlukan bantuan orang lain
aset nasional, namun di sisi lain dapat
selain itu juga pada lanjut usia tidak
dipandang sebagai problematika sosial
saja ditandai dengan kemunduran fisik,
yang memerlukan perhatian khusus
tetapi dapat pula berpengaruh terhadap
yang disebabkan karena adanya siklus
kondisi mental (Padila 2013).
kehidupan manusia yang terus menerus
mengalami
proses penuaan secara
biologis.
Kondisi
tersebut
Semakin lanjut usia seseorang,
kesibukan sosialnya akan semakin
berkurang
yang
mana
akan
menimbulkan berbagai masalah, yaitu
mengakibatkan berkurangnya integrasi
menurunnya kemampuan fisik dan
dengan lingkungannya. Pada usia yang
mental, keterbatasan interaksi sosial,
telah lanjut permasalahan yang sering
menurunnya
muncul
produktifitas
kerja,
yaitu
masalah kesehatan yang signifikan
memfungsikan
(Potter & Perry 2005).
didalam
Proses
menua
di
bagaimana
kemampuan
situasi
mereka
keterbatasan
dalam
kesempatan kerja, tidak mempunyai
perjalanan hidup manusia merupakan
bekal hidup dan pekerjaan, juga tidak
mempunyai keluarga atau sebatang
produksi
hormon
kara, ingin dihargai dan dihormati
menurun,
fungsi
dalam masyarakat sehingga mereka
sekresinya tidak berubah, pertumbuhan
masih dapat berperan yang berguna
hormon pituitary ada tetapi lebih
bagi masyarakat. Permasalah terakhir
rendah dan hanya ada di pembuluh
yang berkaitan dengan lanjut usia
darah dan berkurangnya produksi dari
adalah memerlukan tempat tinggal atau
ACTH,
fasilitas perumahan yang khusus untuk
menurunya
mereka (Padila, 2013).
menurunya sekresi hormon gunads,
Pada lanjut usia selain banyak
TSH,
hampir
semua
paratiroid
FSH,
dan
produksi
dan
LH,
aldosteron,
progesteron, estrogen, dan testosteron,
permasalah yang timbul juga kondisi
dan
dan
semakin
menyebabkan hipotirodisme. Sistem
menurun sehingga semakin banyak
endokrin pada manusia mempunyai
keluhan
Beberapa
beberapa hormon, terdapat hormon
masalah yang sering muncul pada
yang diproduksi dalam jumlah besar
lanjut
immobility
pada saat stress dan berperan penting
(imobilisasi), instability (instabilitas
dalam reaksi mengatasi stress. Oleh
dan
karena
fungsi
tubuh
yang
pun
terjadi.
usia
yaitu
jatuh),
incontinence
defisiensi
itu
hormonal
dapat
kemunduran
produksi
(inkontinensia), intelectual impairment
hormon inilah yang membuat para
(gangguan
lansia
intelektual),
infection
kurang
mampu
(infeksi), impairment of visionand
menghadapi
hearing (gangguan penglihatan dan
menyebabkan gangguan tidur pada
pendengaran),
lansia (Padila, 2013).
isolation
(depresi),
inanition
(malnutrisi),
insomnia
(gangguan
tidur),
deficiency
(menurunnya
hingga
immune
kekebalan
tubuh) (Maramis, 2009).
stress,
dalam
Stress mampu mengakibatkan
gangguan
tidur
Adaptasi
fisiologis
terhadap
tress
kemampuan
tubuh
untuk
adalah
faktor,
mempertahankan
mempengaruhi
faktor
yang
keadaan
relatif
degenerasi
seimbang. Kemampuan adaptif ini
perubahan pada
adalah bentuk dinamik dari ekuilibrium
sistem endokrin yang dialami oleh
lingkungan internal tubuh. Lingkungan
dewasa lanjut atau lanjut usia yaitu
internal secara konstan berubah, dan
sistem endokrin,
adalah
lansia
dikarenakan adaptasi fisiologis pada
pada lansia dipengaruhi oleh berbagai
satu
pada
lansia tidak berperan dengan baik.
Masalah-masalah yang terjadi
salah
sehingga
mekanisme
aadaptif
tubuh
secara
Perubahan
pola
tidur
pada
kontinu berfungsi untuk menyesuaikan
lansia disebabkan adanya gangguan
diri terhadap perubahan ini dan untuk
tidur, gangguan pola tidur yang sering
mempertahankan
atau
dialami adalah salah satunya insomnia.
Homeostatis
Insomnia adalah suatu keadaan ketika
mekanisme
seseorang mengalami kesulitan tidur
ekuilibrium,
homeostatis.
dipertahankan
fisiologis
oleh
yang mengontrol
fungsi
dengan nyenyak. Insomnia berasal dari
tubuh dan memantau organ tubuh.
kata In artinya tidak dan somnus yang
Untuk
ini
berarti tidur, jadi insomnia berarti tidak
dan
tidur atau gangguan tidur, insomnia
endokrin. Tubuh membuat penyesuaian
ada tiga macam, yaitu pertama, initial
dalam frekuensi jantung, pernafasan,
insomnia artinya gangguan tidur saat
tekanan
memasuki
sebagian
dikontrol
oleh
mekanisme
sistem
darah,
saraf
suhu
tubuh,
tidur,
Kedua,
middle
keseimbangan cairan dan elektrolit,
insomnia yaitu terbangun ditengah
sekresi hormon, dan tingkat kesadaran
malam dan sulit untuk tidur lagi,
yang ditujukan untuk mempertahankan
Ketiga, late insomnia yaitu sering
adaptasi, ketika hal tersebut terganggu
mengalami masalah gannguan tidur
maka pola tidurpun akan terganggu
saat bangun pagi (David, 2004).
(Potter & Perry, 2005).
Berdasarkan
Ketika
uraian
diatas
tidur
juga
terjadi
perubahan gelombang listrik otak. Jika
sistem endokrin memberikan dampak
dalam
keadaan
siaga
bagi perubahan biologis yang terlihat
gelombang otak cenderung tinggi.
sebagai gejala-gejala kemunduran fisik
Dalam
seperti kulit mulai mengendur dan
memejamkan mata, otak mengeluarkan
wajah mulai keriput, rambut kepala
gelombang alpha dengan frekuensi 8 -
mulai memutih, gigi mulai lepas,
13 Hz. Menuju stadium tidur lebih
penglihatan dan pendengaran mulai
dalam,
berkurang,
keadaan
frekuensi
istirahat
gelombang
otak
dan
akan
mudah
lelah,
mudah
memperlambat diri, menjadi 3 - 7 Hz.
penyakit,
nafsu
makan
Gelombang ini disebut gelombang
menurun,
theta. Selanjutnya, bila tidur sangat
gerakan menjadi lamban, dan yang
dalam, timbul gelombang delta, 1 - 4
terakhir pola tidur pun juga berubah
Hz.
(Potter & Perry, 2005).
gelombang otak yang seharusnya alfa
terserang
menurun,
penciuman
pada
penderita
insomnia,
malah mengeluarkan gelombang betha
dengan frekuensi 13 hz - 30 hz.
mengakibatkan
Menurut beberapa peneliti, semakin
ketidakbahagiaan, dicekam kesepian
banyak gelombang kecil per detiknya,
dan yang terpenting, mengakibatkan
semakin
penyakit-penyakit
lelap
dan
tenang
tidur
banyak
hal
yaitu
degeneratif
yang
seseorang. Di kalangan penggemar
sudah diderita mengalami eksaserbasi
meditasi, gelombang delta justru dicari
akut, perburukan, dan menjadi tidak
karena membawa ketenangan yang
terkontrol.
Dampak
sangat tinggi. Bila terjadi sebaliknya,
diakibatkan
insomnia
tidur akan kurang lelap (Kaplan &
adalah
Shadock 2010).
meningkatnya nafsu makan makanan
Pola tidur yang berubah sangat
obesitas
yang
dapat
antara
karena
lain
memicu
berlemak, daya tahan tubuh menjadi
berkaitan sekali dengan usia lanjut,
meurun,
beresiko
Hasil survey epidemiologi (2008),
Diabetes,
mudah
didapatkan bahwa prevalensi kejadian
sering cemas, memicu rasa gelisah,
insomnia
memicu serangan jantung, resiko tinggi
pada lansia di Indonesia
sekitar 49% atau 9,3 juta lansia. Di
pulau
Jawa
dan
Bali
tinggi
terserang
tersinggung
dan
terkena kanker.
prevalensi
Setelah usia 65 tahun, 13% pria
insomnia juga cukup tinggi sekitar
dan 36% wanita dilaporkan perlu
44% dari jumlah total lansia. Di Jatim
waktu lebih dari 30 menit untuk bisa
45% dari jumlah lansia juga dilaporkan
jatuh tertidur. Hal itu biasanya timbul
mengalami gangguan tidur di malam
sebagai gejala suatu gangguan lain
hari (Dinkes, 2008).
yang mendasarinya, seperti kecemasan
Gangguan tidur pada malam
dan depresi atau gangguan emosi lain
hari (insomnia) akan menyebabkan
yang terjadi dalam hidup manusia.
rasa mengantuk sepanjang hari pada
Berkenaan
pagi harinya. Pada lanjut usia, terdapat
penatalaksanaan
beberapa
sangat diperlukan. Upaya yang selama
faktor
mempengaruhi
yang
mampu
terjadinya
insomnia
ini
dengan
insomnia
atau kecemasan,
menentramkan
depresi, kelainan
di
terhadap
dilakukan
pada lansia diantaranya adalah stress
hal
untuk
ialah
atas,
insomnia
mengatasi
dengan
cara
penderita
dan
kronis, efek samping pengobatan, pola
mengobati
gangguan
makan yang buruk, kafein, nikotin,
mendasarinya.
Bila
alkohol,
raga.
gangguan yang mendasarinya, maka
Gangguan tidur di malam hari akan
dilakukan psikoterapi suportif dibantu
dan
kurang
olah
tidak
yang
terdapat
dengan obat tidur bila perlu untuk
rileks, berstruktur, dan universal. Kita
mengembalikan ritme tidur penderita
perlu mengingat bahwa banyak dari
(Maramis, 2009).
proses dalam hidup kita selalu ber-
Selain upaya tersebut terapi
irama. Sebagai contoh, nafas kita,
relaksasi merupakan salah satu teknik
detak jantung, dan pulsasi semuanya
didalam terapi perilaku yang pertama
berulang dan berirama. Para peneliti
kali. Teknik ini melatih otot-otot dan
dari the neuro, melalui MRI scan
pikiran menjadi relaks dengan cara
membuktikan bahwa otak melepas zat
yang cukup sederhana seperti meditasi,
dopamin (hormon yang terkait dengan
relaksasi otot, mengurangi cahaya
sistem otak, memberikan perasaan
penerangan dan memutar musik yang
kenikmatan
menyejukkan
memotifasi seseorang secara proaktif
tepat
sebelum
tidur
dan
penguatan
(Yekti S. 2011). Memutar musik
melakukan
kegiatan
sampai
melakukan
terapi
saat
ini
menjadi
metode
relaksasi yang sering dilakukan untuk
kapasitas
mengatasi susah tidur (Dofi, 2010).
(Natalina, 2013).
Terapi musik adalah usaha
yang
untuk
tertentu)
musik
tidak
saat
dalam
berlebihan
Musik dipilih sebagai salah
meningkatkan kualitas fisik dan mental
satu
dengan rangsangan suara yang terdiri
menyebabkan
dari melodi, ritme, harmoni, timbre,
hormon
bentuk dan gaya yang diorganisir
mendengar suara musik yang indah
sedemikian rupa hingga tercipta musik
maka hormon “kebahagiaan” (beta-
yang bermanfaat untuk kesehatan fisik
endorfin) akan berproduksi (Natalina,
dan mental. Musik memiliki kekuatan
2013 ). Langgam jawa atau sering
untuk
disebut
mengobati
meningkatkan
penyakit
kemampuan
dan
alternatif
karena
tubuh
menghasilkan
beta-endorfin.
gendhing
musik
jawa
Ketika
misalnya,
pikiran
dengan alunan lembut iramanya, tempo
seseorang. Ketika musik diterapkan
yang lamban mampu membangkitkan
menjadi sebuah terapi, musik dapat
spirit tersendiri, hati bahagia bila
meningkatkan,
mendengarnya,
memulihkan,
dan
hingga
perasaan
memelihara kesehatan fisik, mental,
menjadi tenang. Langgam jawa dipilih
emosional, sosial dan spiritual. Hal ini
sebagai terapi yang digunakan untuk
disebabkan musik memiliki beberapa
mengatasi insomnia pada lansia karena
kelebihan, yaitu karena musik bersifat
langgam jawa merupakan suatu musik
nyaman,
yang mengandung unsur kebudayaan,
menenangkan,
membuat
dan lansia juga sangat antusias ketika
lansia tersebut mengatakan bahwa
bertemu dengan hal-hal yang bersifat
gangguan tidur yang mereka alami
spiritual dan tradisi kebudayaan, maka
umumnya disebabkan oleh beberapa
lansia akan merasa tenang dan nyaman
faktor diantaranya stress akibat teringat
ketika
yang
kehilangan jabatan sehingga mereka
sangat berkaitan erat dengan budaya
merasa sudah tidak berguna, ditinggal
jawa dan popular di masanya. Hal ini
keluarga
bisa mendorong untuk menjadikan
kesepian
musik langgam jawa sebagai terapi
memperhatikan, mengidap penyakit
untuk mengurangi insomnia (Dofi,
yang lama dan tidak kunjung sembuh
2010).
serta hubungan sosialnya dengan para
mendengarkan
musik
Berdasarkan penelitian yang
sehingga
dan
mereka
tidak
ada
merasa
yang
lansia lainnya.
dilakukan oleh Putrawan M (2008)
Dari 87 lansia yang mengalami
didapatkan hasil bahwa ada pengaruh
insomnia,
terapi musik klasik terhadap penurunan
mengatakan bahwa ketika sulit tidur
tingkat insomnia pada lansia di Unit
mereka
Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo
meminum air putih dan belum pernah
Ungaran, sebelum dilakukan terapi
diberikan
pemberian
didapatkan
langgam
jawa.
hasil
rerata
tingkat
34
orang
hanya
diantaranya
disarankan
terapi
Hasil
untuk
musik
wawancara
insomnia sebesar 15,47 dan setelah
dengan kepala Unit Rehabilitasi Sosial
dilakukan
13,47,
Pucang Gading Semarang, Di Unit
sedangkan standar deviasi 1,9. Derajat
Rehabilitasi Sosial tersebut belum
kemaknaan 5% dan kekuatan uji 95%.
pernah dilakukan terapi musik langgam
Jadi berdsarkan hasil diatas dapat
jawa sebagai teknik relaksasi untuk
disimpulkan
membantu menurunkan insomnia pada
terapi
bahwa
sebesar
terapi
musik
mampu berpengaruh pada penurunan
lansia.
tingkat insomnia.
Berdasarkan
Berdasarkan fenomena di atas,
Studi
penulis tertarik untuk mengadakan
pendahuluan yang dilakukan di Unit
penelitian tentang Pengaruh pemberian
Rehabilitasi Sosial Pucang Gading
terapi musik langgam jawa terhadap
Semarang pada tanggal 24 Oktober
tingkat insomnia pada lansia di Panti
2013, didapatkan 115 lansia, dari
Unit
jumlah tersebut sebanyak 87 lansia
Gading Semarang karena selama ini
mengeluh mengalami insomnia. Para
untuk mengatasi insomnia di Panti
Rehabilitasi
Sosial
Pucang
tersebut belum diberikan intervensi
yang tepat.
BAB V
HASIL PENELITIAN
Tabel 5.1 Distribusi
BAB IV
Berdasarkan
METODE PENELITIAN
Desain
penelitian
sebelum
yang
Intervensi
Unit Rehabilitasi Sosial
terhadap randomisasi, pada saat yang
Pucang
ancaman-
variabel-variabel
yang
Gading
Semarang, 2014
ancaman validitas dan tidak memiliki
karena
dan
Kelompok Kontrol di
mempunyai pembatasan yang ketat
ciri-ciri rancangan yang sebenarnya
Diberikan
Jawa pada Kelompok
suatu desain penelitian yang tidak
mengontrol
Lansia
Terapi Musik Langgam
Quasy Eksperimental Design yaitu
dapat
Tingkat
Insomnia
digunakan dalam penelitian ini adalah
sama
Frekuensi
Insomn
ia
Intervensi
Fre
Kontrol
Persen Freku Persen
seharusnya di kontrol (Notoatmodjo,
kue
tase
2010).
nsi
(%)
ensi
tase
(%)
Tujuan dari penelitian ini untuk
Rendah
0
0,0
0
0,0
mengetahui apakah intervensi atau
Sedang
9
52,9
9
52,9
perlakuan yang berupa
pemberian
Tinggi
8
47,1
8
47,1
Terapi Musik Langgam Jawa dapat
Jumlah
17
100
17
100
berpengaruh terhadap tingkat insomnia
pada
lansia
atau
tidak
dengan
mengguanakan pendekatan rancangan
penelitian Non Equivalent Control
Group
Pretest-Postest
Design.
Rancangan penelitian ini dibuat dalam
dua
kelompok
yaitu
kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol.\
Tabel 5.2 Distribusi
Berdasarkan
Insomnia
Sesudah
Frekuensi
Tingkat
Lansia
Diberikan
Terapi Musik Langgam
Jawa pada Kelompok
Intervensi
dan
Kelompok Kontrol di
Unit Rehabilitasi Sosial
Pucang
Gading
Semarang, 2014
Insomnia
Intervensi
Kontrol
Pucang
Frek
Persen
Freku
Persent
uensi
tase
ensi
ase (%)
Gading
Semarang, 2014
Tabel 5.5 Perbedaan
(%)
Insomnia
Rendah
5
29,4
0
0,0
Lansia
Sebelum
Sedang
10
58,8
10
58,8
Sesudah
Perlakuan
Tinggi
2
11,8
7
41,2
pada
Kelompok
Jumlah
17
100
17
100
Kontrol
di
Rehabilitasi
Tabel 5.3
Uji
Kesetaraan
Tingkat
Insomnia
Lansia
Sebelum
Perlakuan
antara
Kelompok
Intervensi
dan Kontrol di Unit
Rehabilitasi
Sosial
Pucang
Gading
Semarang, 2014
Tabel 5.4 Perbedaan
Lansia
Sosial
Pucang
Gading
Semarang, 2014
Tabel 5.6 Pengaruh
Pemberian
Terapi Musik Langgam
Jawa Pada Lansia antara
Kelompok Intervensi dan
Kontrol
di
Rehabilitasi
Sosial
Diberikan
Pucang
Jawa pada Kelompok
Semarang, 2014
Rehabilitasi
Unit
dan
Terapi Musik Langgam
Intervensi
Unit
Insomnia
Sebelum
Sesudah
dan
di
Unit
Sosial
Gading
sejumlah
BAB VI
10
sebagian
Tingkat
Insomnia
Pada Lansia Sebelum Dilakukan
Terapi Musik Langgam Jawa di
Unit Rehabilitasi Sosial Pucang
Gading Semarang
Berdasarkan hasil penelitian
yang
dilakukan
oleh
peneliti
kepada responden yang berjumlah
34 orang, dimana 17 kelompok
intervensi
dan
17
kelompok
kontrol, pada kelompok intervensi
sebagian
lansia
mengalami
insomnia sedang, yaitu sejumlah 9
lansia (52,9%), sedangkan pada
kelompok kontrol sebagian besar
lansia mengalami insomnia sedang,
yaitu sejumlah 9 lansia (52,9%).
lansia
Pada
Tingkat
Lansia
Insomnia
Sesudah
Di
Lakukan Terapi Musik Langgam
Jawa di Unit Rehabilitasi Sosial
Pucang Gading Semarang
Berdasarkan hasil penelitian
yang
dilakukan
oleh
peneliti
setelah dilakuakan terapi musik
langgam
jawa,
sebagian
lansia
kelompok
besar
intervensi
mengalami insomnia ringan, yaitu
sejumlah 5 lansia (29,4%), sedang
mengalami
insomnia sedang, yaitu sejumlah 10
lansia (58,8%).
1. Perbedaan
Pada
Tingkat
Lansia
Insomnia
sebelum
dan
sesudah diberikan terapi musik
langgam jawa pada kelompok
intervensi di Unit Rehabilitasi
Sosial Pucang Gading Semarang
Berdasarkan
dapat
diketahui
tabel
5.4,
bahwa
pada
kelompok intervensi, rata-rata skor
insomnia lansia sebelum diberikan
terapi musik klasik sebesar 28,12,
kemudian
berkurang
menjadi
22,71 setelah pemberian terapi
musik langgam jawa.
2. Perbedaan
2. Gambaran
(58,8%)
sedangkan pada kelompok kontrol
PEMBAHASAN
1. Gambaran
lansia
Pada
Tingkat
Lansia
Insomnia
sebelum
dan
sesudah diberikan terapi musik
langgam jawa pada kelompok
kontrol Pada Lansia di Unit
Rehabilitasi
Sosial
Pucang
Gading Semarang
Berdasarkan
dapat
diketahui
tabel
5.5,
bahwa
pada
kelompok kontrol, rata-rata skor
insomnia lansia sebelum perlakuan
sebesar 27,76, kemudian sedikit
berkurang menjadi 27,24 sesudah
lansia (29,4%), sedang 10 lansia
perlakuan.
(58,8%), sedangkan pada kelompok
kontrol sebagian besar mengalami
3. Pengaruh
Pemberian
Terapi
Musik Langgam Jawa Terhadap
Tingkat
Insomnia
Rehabilitasi
di
Sosial
Unit
Pucang
insomnia sedang, yaitu sejumlah 10
lansia (58,8%).
3. Ada perbedaan tingkat insomnia
lansia
sebelum
dan
sesudah
diberikan terapi musik langgam
Gading Semarang.
Berdasarkan tabel 5.6, rata-
jawa pada kelompok intervensi
rata skor insomnia lansia kelompok
dengan nilai p-value 0,000 < 
intervensi sesudah diberikan terapi
(0,05).
musik langgam jawa sebesar 22,71
4. Tidak
ada
perbedaan
yang
sedangkan pada kelompok kontrol
signifikan pada tingkat insomnia
sebesar 27,24.
lansia
sebelum
dan
sesudah
perlakuan pada kelompok control
dengan nilai p-value sebesar 0,475
>  (0,05).
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
5. Ada pengaruh terapi musik langgam
jawa terhadap tingkat insomnia
Hasil
penelitian
tentang
Pengaruh Terapi Musik Langgam Jawa
Terhadap
Tingkat
Insomnia
Pada
Lansia di Unit Rehabilitasi Sosial
Pucang
Gading
Semarang
dapat
lansia dengan nilai p-value 0,002 <
 (0,05).
A. Saran
1. Bagi lansia
Diharapkan agar menggunakan
disimpulkan sebagai berikut:
musik langgam jawa sebagai sarana
1. Sebagian besar tingkat insomnia
untuk mengatasi insomnia.
lansia pada kelompok intervensi
maupun
kelompok
mengalami
sebelum
insomnia
kontrol
2. Bagi Petugas di Unit Rehabilitasi
Sosial Pucang Gading Semarang
sedang
Diharapkan dapat menerapkan
diberikan terapi, yaitu
terapi musik langgam jawa sebagai
sejumlah 9 lansia (52,9%),
2. Sebagian besar tingkat insomnia
lansia pada kelompok intervensi
penurunan, yaitu ringan sejumlah 5
salah
satu
intervensi
untuk
mengatasi insomnia pada lansia.
3. Bagi institusi pendidikan
Diharapkan
4.
agar
dapat
untuk
peneliti
lain
diharapkan
dapat
menggunakan
pendekatan
menambah literatur kepustakaan
lain, misalnya dengan time series
tentang pemberian terapi musik
design agar lebih dapat mengetahui
langgam jawa terhadap tingkat
lamanya efek terapi musik terhadap
insomnia pada lansia
insomnia.
Bagi peneliti lain
Diharapkan
Penelitian ini menggunakan
Quasy
Eksperimen
menggunakan
Group
Non
dan
Equivalent
pretest-posttest
design,
juga
dapat
mengendalikan faktor-faktor yang
mampu
mempengaruhi
insomnia
dikunjungi
seperti
oleh
lansia
tingkat
yang
keluarganya.
DAFTAR PUSTAKA
American Musik Therapy Association.2006. Music Therapy in The Treatment and
Managemen to fpain .http://www.musictherapy.orgfactsheets.pain.pdf. Diakses
02 januari 2010
Amir,
N.
(2007). Gangguan Tidur pada Lanjut Usia.22 desember
From:http//Gangguan Tidur Lanjut Usia.html.(diakses 10 April 2012)
2009,
Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT. Rineka
Cipta
BPS,2010. Jumlah lansia meningkat, 19 Maret 2008, From : http://www.bps.go.id.(diakses
23 April 2012)
Campbell, Don. (2001) Efek Mozart: Memanfaatkan kekuatan Musik Untuk Tubuh. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama
Carpenito, Lynda Jual (2000). Diagnosa keperawatan aplikasi pada praktek klinis, Jakarta:
EGC
Dempsey, Patricia Ann & Arthur D. Dempsey. 2002. Riset Keperawatan Buku Ajar &
Latihan. Edisi 4. Jakarata : EGC
Dian Natalina. (2013) Terapi Musik Bidang Keperawatan. Jakarta. Mitra Wacana Media
Djohan. 2006. Terapi Musik teori dan aplikasi. Yogyakarta. Galangpress.
Djohan.2005.Psikologi musik. Yogyakarta. Buku Baik
Dofi, Bellvia Ariestia. (2010). Psikologi Musik Terapi Kesehatan. Jakarta: Golden Terayon
Press. Edisi ke 4 Jakarta: EGC.
Eliopolus. (2005). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta : EGC
Fina Yuli W. (2012). Perbedaan tingkat insomnia lansia sebelum dan sesudah pemberian
terapi musik keroncong di pelayanan sosial lanjut usia Tulungagung. Jurnal
Fakultas Kesehatan Universitas Brawijaya Malang. Retieved april, 2012, From:
http://pustaka. Unbra.ac.id
G, Widya.(2010). Mengatasi insomnia: cara mudah mendapatkan kembali tidur nyenyak
anda. Yogyakarta: Kata Hati.
Gunawan, L.(2003). Insomnia : gangguan sulit tidur. Jogjakarta : Kanisius.
Guyton (2009). Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Edisi Revisi, Jakarta : EGC
Halim,
Samuel.,2007. Efek Mozart dan terapi musik dalam
hhtp://www.tempo.co.id/medika. Diakses 03 maret 2010.
dunia
kesehatan.
Hartono. (2002). Insomnia. Online (http:// tempo.co.id). Tgl 17 oktober jam 15.00
Kaplan & Sadock (2010).Buku Ajar Psikiatri Klinis, Edisi 2, Jakarta : EGC
Kozier, B.E.G & Synder, S. (2004). Fundamental of nursing: Concpt, process and
practice.Canada: Upper Saddle River.
Maryam, R. Siti, dkk. 2011. Mengenal Lanjut Usia dan Perawatannya. Jakarta Salemba
Medika.
Notoatmodjo, S. (2007). Pendiikan dan Prilaku Kesehatan. Jaskarta: Rineka
Nugroho W. (2003). Keperawatan gerontik (Edisi 2). Jakarta : EGC
Nursalam & Pariani. (2001). Statistika Induktif. Jakarta : Bumi Aksara
Padilla (2013) Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Yogyakarta : Nuha Medika
Pandoe, Wing. 2006. Musik terapi. http://www.my-opera.com/paw. Diakses 03 maret 2010
Potter. P. A. dan Perry, A.G. (2006). Fundamental of nursing: concept, process,and practice.
4/E (Terj. Yasmin Asih, et al). Jakarta : EGC
Rafknowledge. (2004). Insomnia dan gangguan tidur lainya. Jakarta. PT. Elex Media
Komputindo.
Sugiyono. (2008). Metode Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta
Sukatmi S. (2010) Tembang Macapat. Yogyakarta : Panji Pustaka
Untung,
S.
2004.
Seni
dan
hiburan
http://www.wikipedia.org/wiki/langgam_jawa.html.
musik
langgam
jawa.
Wasis (2008) Pedoman Riset Praktis Untuk Profesi Perawat. Jakarta : EGC
Wicaksono, S. 2005. Simponi musik
http://www.jawapalace.org
jawa
bercita
rasa
keselarasan
hidup.
Willy F. Maramis (2009) Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2, Surabaya : Pusat
Penerbitan dan Percetakan (AUP).
Download